Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 14 Bab 13

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 13 - Pertarungan Penentuan (Bulan ke-5 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

—Ooh, pidato yang sangat bagus.

Aku mengatakan pendapat yang sedikit jujur dari pidato hebat Alice di dalam hatiku sementara mendengarkannya.

Aku kelihatannya akan kalah dari tekanan yang mengancamku hingga membuatku membeku dan berakhir melangkahkan kaki ke belakang jika tidak mendengarnya.

Lantai keseratus dari Katedral Pusat yang aku akhirnya berhasil tiba adalah ruangan luas, berbentuk lingkaran, mungkin sekitar empat puluh meter secara keseluruhan. Tempat tidur, besar dan lingkaran juga, diletakkan di bagian tengah ruangan itu dan kelihatannya hanya satu-satunya perabotan di ruangan ini.

Dan yang masih berdiri di atas tempat tidur adalah gadis yang benar-benar sangat cantik, dalam keadaan telanjang bulat.

Tidak ada keraguan bahwa dia adalah penguasa tertinggi dari Gereja Axiom—atau lebih jauh lagi, Dunia Manusia—pemimpin tertinggi, Administrator. Keberadaan hebat yang dia keluarkan hanya dengan berdiri di tempat itu dengan sekejap menghempaskan pengakuanku dari dunia ini, Underworld, sebagai dunia virtual dan bagaimana penduduknya, termasuk dia, adalah AI, atau «artificial fluct lights», yang disimpan di media penyimpanan yang dibuat oleh manusia.

Tidak, itu sebelum aku menempatkan pandanganku pada rambut perak indahnya dan mata perak indahnya, kedua tangannya sudah basah dengan keringat, rasa takut yang gelap meningkatkan perasaaan takut di punggungku, pada saat aku menaiki disk elevator di lantai kesembilan puluh sembilan untuk sampai di sini.

Setelah semua, hawa dingin «keberadaan kematian» yang masih tertinggal di lubang gelap yang menuju lurus ke atas dari disk elevator jauh lebih berat dibandingkan dengan seseorang yang ada di dalam ruangan boss yang pernah aku alami saat berada di Kastil Melayang Aincrad.

Tubuh fisikku, Kirigaya Kazuto di dunia nyata dibandingkan dengan Kirito yang seorang elite-swordsman-in-training, tidak akan mati di Soul Translator bahkan jika aku kehilangan semua lifeku di Underworld. Tetapi, gadis yang memanggil dirinya pemimpin tertinggi, Administrator, yang memiliki kekuatan untuk membuatku melalui penyiksaan yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan kematian yang sebenarnya.

Itu benar, penyihir, Cardinal, telah mengatakan hal tersebut, bukan? Bahwa Administrator tidak terikat oleh Taboo Index yang diciptakan oleh dirinya sendiri, tapi dia masih tidak dapat untuk melakukan pembunuhan disebabkan oleh konsep taboo yang diajarkan padanya ketika dia masih kecil.

Tetapi, pembatasan itu adalah justru alasan kenapa pemimpin tertinggi dapat membuatnya menderita dari nasib yang sangat buruk—sebagai contoh, memaksaku dalam situasi seperti tetua yang mirip seperti mesin, menghubungkanku ke dalam pipa, untuk selama-lamanya.

Itu dapat dikatakan—

Rasa takutku, yang berasal dari pengetahuanku yang sangat luas, tidak dapat sebanding dengan Alice atau Eugeo.

Kelihatannya Eugeo telah mendapati «piety modulenya» telah dilepaskan oleh Administrator, tapi milik Alice masih tertanam di dalam fluctlightnya. Aku bahkan tidak dapat membayangkan rasa takut yang dia tahan, berdiri sambil berhadapan dengan penguasa tertinggi seperti ini.

Tapi meskipun begitu, knight emas itu dengan tegas membusungkan dadanya dan melanjutkan pidatonya dengan suara jelas sampai bagian paling terakhir.

"Misi utama kita bukanlah melindungi Gereja Axiom! Itu adalah untuk melindungi kehidupan damai dan ketentangan dari sepuluh ribu orang yang tidak memiliki kekuatan! Di sisi lain, pemimpin tertinggi yang suci, perbuatanmu hanya menjadi sebagai kerugian kedamaian umum dari semua orang yang ada di Dunia Manusia!"

Berdiri satu langkah ke depan, rambut pirang Alice bahkan bersinar lebih terang, seolah-olah dipancarkan dengan cahaya keyakinan. Suara kuat dan jelasnya memotong udara dingin yang memenuhi ruangan luas itu dan menyingkirkannya.

Tetapi, penguasa itu masih berdiri di kejauhan benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan pada peringatan jelasnya, bahkan ujung dari mulutnya sedikit bergerak ke atas seolah-olah mengekspresikan kekagumannya.

Teriakan dengan suara keras yang menggores gendang telingaku, berasal dari Kepala Pemimpin, Chudelkin, yang bersembunyi di bawah tempat tidur untuk suatu alasan.

"Di-Di-Diaaaamlaaaaaaah!!"

Memantul keluar dari balik seprai yang tergantung dengan kuat, dia berguling ke depan sebelum berdiri. Mungkin itu membuatnya pusing saat dia menjadi terhuyung-huyung untuk sesaat sebelum memperbaiki posisi berdirinya dan memutar kepalanya ke belakang, mencoba untuk terlihat keren yang dia bisa dengan tubuh pendeknya, diantara pemimpin tertinggi dan kita.

Pakaian merah dan birunya telah sobek di berbagai tempat dan gas beracun yang sudah diisi kembali keluar sekali lagi karena dia tertelan oleh armament full control art Fragrant Olive Sword yang Alice keluarkan di lantai bawah.

Alice telah menggunakan tehnik menganggumkan yang terpencar menjadi ratusan dari serpihan kecil, menciptkana badai bunga emas, untuk melarikan diri dari hadiah perpisahan Eugeo, penjara es, tapi dia tanpa ampun memasukkan Chudelkin setelah dia turun dari atas dengan tawa yang aneh, melompat ke bagian tengah ruangan.

Sementara pakaiannya sudah robek, dia berhasil untuk melarikan diri tanpa menderita luka parah sedikitpun dengan menunjukkan salah satu dan satu-satunya kemampuannya, melarikan diri, tapi tidak ada tempat lain untuk melarikan diri di lantai tertinggi.

Tapi mungkin dipengaruhi oleh Administrator yang berdiri di belakangnya, Chudelkin mengangkat tangannya dengan tinggi, lalu kemudian menghunuskan kedua jarinya pada Alice.

"Boneka knight rusak seperti dirimuuuuuu!? Misi!? Melindungi!? Kau membuatku tertawa, hoo—hoh, hoh, hoh, hoh——!!"

Dia berputar sementara tertawa dengan suara serak, memperlihatkan celana dalamnya dengan garis vertical merah dan biru saat pakaian badut robeknya berkibar. Menaruh kedua tangannya pada pinggangnya, dia mengarahkan jari di kaki kirinya pada Alice untuk kali ini dan melanjutkan teriakannya.

"Kalian semua knight yang ada!! Kalian tidak lebih dari boneka kayu yang hidup hanya untuk mengikuti perintahku dengan benaaar!! Kalian akan menjilat kakiku jika aku menyuruh, dan kalian akan menjadi mainan kuda jika aku menyuruh itu jugaaa!! Sadaaaarilaaah itu adalah misi yang diberikan pada kalian Integrity Knight, hooooohh!!"

Dia kehilangan keseimbangannya pada saat itu juga, dengan tubuhnya hampir terjatuh ke belakang dan kepala besarnya jatuh terlebih dahulu, tapi dia secara tipis menghindarinya dengan memutar kedua tangan di sampingnya.

"Bahkan sejak awaaaal! Bagaimana mungkin sebuah Order dapat dihancurkan, itu cukup menggeeeeee—likaaan! Bahkan tidak ada sampai sepuluh dari kalian yang keluar dari Order, termasuk dengan nomor satu dan dua sialan itu! Jadi aku masih memiliki lebih dari dua puluh pion di ujung jariku! Peraturan gereja tidak akan goyah bahkan sedikitpun dari sedikit perkataan sendirimu, yang mencolok, gadis emas!!"

Meskipun bermaksud sebagai ejekan, kelihatannya ejekan kecil badut itu mengambil sebagian besar ketegangan dari Alice. Mendapatkan kembali sifat tenang dan tegasnya, knight Alice perlahan menggelengkan kepalanya dan merespon dengan suara dingin.

"Kau adalah seseorang yang bodoh di sini. Apa kau memiliki jerami dan kain sebagai pengganti dari otak yang ada di kepala lingkaranmu?"

"Ap...Apaaaaaaaaa!!"

Lebih banyak darah yang dengan cepat mengalir ke kepalanya yang sudah berwarna merah, tapi sebelum dia dapat meneriakkan apapun, Alice melanjutkan perkataannya dengan nada seperti es pada Chudelkin yang sekarang berkulit ungu.

"Sepuluh diantara dua puluh knight yang tersisa masih tidak dapat bergerak dikarenakan «reset» yang dikatakan oleh pemimpin tertinggi yang suci...mengubah ingatan mereka melalui art. Dan setengah dari sisanya menaiki naga terbang bahkan sampai sekarang, melakukan pertarungan di Puncak Barisan Pegunungan. Kau tidak mungkin dapat memanggil mereka. Pada saat kau melakukan itu, peraturan Gereja Axiom akan runtuh oleh kekuatan kegelapan yang menyerbu menuju Dunia Manusia melalui gua utara, barat dan selatan dari Puncak Barisan Pegunungan, dan melalui «Gerbang Besar Timur» juga."

"Guh...mghghh..."

Alice mengucapkan kalimat terakhirnya untuk menghabisi Chudelkin yang wajahnya melebihi warna ungu dan berubah menjadi hitam legam saat dia merintih.

"Tidak—Itu sudah runtuh. Sepuluh knight dan naga terbang tidak dapat bertarung terus untuk selamanya. Tetapi, tidak ada satupun yang mampu mengambil tempat mereka yang tersisa di katedral. Atau mungkin kau akan bergerak menuju Dark Territory secara pribadi dan melakukan pertarungan melawan Darkness Knight yang terkenal untuk keberanian mereka, Chudelkin?"

Aku tidak dapat melakukan apapun selain sedikit mengarahkan pandanganku ke bawah saat aku masih tetap berada di belakang Alice ketika dia mengatakan itu. Eugeo dan aku adalah seseorang yang mengirimkan knight pengganti, pada dasarnya adalah Eldrie, Deusolbert, dan «Four Oscillation Blades», ke rumah sakit.

Tetapi, sebelum aku dapat melihat ke bawah, tekanan di kepala Chudelkin melewati batasnya.

"Mmhooooo!! S-Sun-Sungguh tidak sopaaaan!! Jangan berpikir bahwa kau sudah menang untuk yang satu itu, gadis!!"

Mengeluarkan nafas yang kelihatannya benar-benar kuat seperti arus air melalui hidungnya, badut itu terhuyung-huyung saat dia melangkahkan kaki di lantai.

"Ini adalah hukumanmu karena melakukan tindakan tidak sopan padaku!! Aku akan menaruhmu di Puncak Barisan Pegunungan selama tiga tahun setelah melakukan reset padamuuu!! Tidak, aku akan membuatmu melakukan ini dan itu sebagai mainanku sebelum ituuuuuuu!!"

Mengikuti itu, Kepala Pemimpin yang mulai meneriakkan rencananya pada Alice dengan suara serak dalam sekejap menjadi terdiam oleh ucapan singkat dari Administrator yang ada di belakangnya.

"...Hmm."

Benar-benar menghiraukan Chudelkin yang wajahnya berubah menjadi putih sekali lagi dan berdiri memperhatikan dengan tenang, pemimpin tertinggi berbalik pada Alice dan perlahan memiringkan kepalanya.

"Itu tidak kelihatan seperti kesalahan berada dalam sirkuit logikamu, setelah semua. Dan piety module itu masih aktif...Jika memang seperti itu, apakah «Code 871» yang dipasang orang itu terlepas secara bebas...? Dibandingkan dengan melalui emosi yang tidak terduga...?"

—Sebenarnya apa yang dibicarakan olehnya? Orang itu...? Code, delapan, tujuh, satu...?

Aku mengerutkan dahiku, tidak mampu menangkap arti dibalik perkataan Administrator.

Gadis berambut perak itu tidak memberitahu informasi lebih lanjut dan menggerakkan rambutnya yang terurai di belakang bahunya dengan tangan kanannya saat dia mengganti nada bicaranya.

"Baiklah, aku tidak akan membuat kemajuan dari pemahamanku tanpa analisa yang lebih lanjut....Baiklah sekarang, Chudelkin. Aku akan bermurah hati dan memberikanmu kesempatan untuk mengembalikan harga dirimu setelah kau melarikan diri. Cobalah semampumu untuk membekukan mereka dengan artmu. Untuk Life mereka, baiklah, apapun selama sekitar dua sampai sepuluh sudah baik."

Dia secara sembarangan mengayun ujung jari tangan kanannya setelah dia berbicara.

Dengan itu, tempat tidur besar yang berada di bawah kaki pemimpin tertinggi dengan segera mulai berputar dengan suara berat saat mataku terbuka lebar.

Tempat tidur, yang memiliki ukuran sepuluh meter keseluruhan dan terhubung dengan kanopi, tenggelam ke dalam lantai seperti sekrup besar. Kepala Pemimpin, Chudelkin, yang bersikap angkuh di sisi yang terdekat, melompat ke samping dengan "hohii".

Dengan seluruh tepat tidurnya yang sekarang tersimpan dengan rapi di bawah lantai, kanopinya, juga, berputar saat kasur berada tepat dibawah lantai, tidak meninggalkan apapun selain dari pola lingkaran yang tersusun oleh karpet. Setelah jeda pendek, pemimpin tertinggi mendarat pada lantai tanpa satupun suara sama sekali.

Sebuah pikiran terlintas di pikiranku dan aku melihat ke bawah kakiku sekali lagi, melihat pola yang sama di lantai yang berada di disk elevator yang membawa Alice dan aku ada di sini. Kelihatannya ruangan ini dibuat untuk memiliki sesuatu yang terangkat dari suatu tempat dan tenggelam ke dalam lantai, dan aku melihat ke arah sekitar, tapi satu-satunya pola lainnya yang aku temukan adalah pola kecil yang ada di dinding kejauhan. Aku tidak dapat menebak apa yang dapat keluar dari sana.

Lantai tertinggi terasa benar-benar sangat luas dengan tempat tidur itu menghilang.

Dinding melengkungnya benar-benar dipenuhi kaca yang bahkan sama sekali tidak memiliki noda sementara pilar emas menahan kubah melengkungnya. Kanopi tersebut dihiasi dengan bagian seni yang rumit yang kelihatannya berdasarkan pada mitos penciptaan, dengan kristal yang tertanam di semua tempat berkelap-kelip seperti bintang.

Entah bagaimana sedikit mengejutkan dengan bagaimana pedang emas tiruan itu menghiasi setiap dari salah satu dari pilar. Bahkan yang paling kecil memiliki panjang satu meter, sementara yang paling besar memiliki panjang tiga meter, jadi pedang tersebut kelihatannya benar-benar mustahil untuk ditarik keluar dari pilar untuk mengayunkannya sebagai senjata, dengan gagangnya yang benar-benar kecil. Bilahnya sama sekali tidak terlihat tajam juga.

Bagaimanapun juga, lantai keseratus dari katedral sama sekali tidak ada tempat berlindung, ruangan yang sangat tidak menguntungkan ketika bertarung melawan pengguna sacred art. Setelah memikirkan itu sesaat, aku berpikir bahwa akan lebih baik untuk menyerbu ke depan sebelum Chudelkin memiliki kesempatan untuk mengucapkan artnya dan mengganti keseimbanganku pada kaki kananku.

Tapi bahkan sebelum aku dapat bergerak secara nyata, Alice perlahan menggelengkan kepalanya.

"Akan berbahaya untuk menyerbu tanpa pesiapan. Pemimpin tertinggi yang suci seharusnya memiliki art yang dibutuhkan untuk menangkap kita dengan sentuhan saja. Dia pasti mengincar celah yang dibuat oleh Chudelkin untuk menantang kita pertama kali."

"Itu mengingatkanku..."

Di sini, Eugeo, yang tetap diam hingga sejauh ini, berbisik dengan suara tegang.

"Itu terasa seperti pemimpin tertinggi tidak membunuhku meskipun dia memiliki kesempatan. Sebagai tambahan, Kepala Pemimpin secara sengaja melakukan...Tidak, menyentuh Bercouli-san ketika mengubahnya menjadi batu."

"Aku mengerti, «aturan sentuhan langsung», huh."

Aku mengangguk pada saat itu sementara berguman. Selain dari art penyerangan jarak jauh, seperti api atau pedang es, suatu art secara umum membutuhkan sentuhan pada targetnya dengan satu tangan—meskipun kaki seharusnya bekerja juga—untuk mebuat efek apapun. Itu adalah peraturan dasar dari sacred art yang bahka diketahui oleh novice trainees.

Dengan kata lain, tidak ada kekhawatiran dari menderita art mengubah menjadi batu yang mengerikan selama kita mencegah sentuhan langsung dengan Chudelkin dan Administrator. Tapi di saat yang sama, itu akan membuat pedang kita diluar jangkauan.

Karenanya, situasi kita sekarang masih tetap tidak menguntungkan. Kemampuan Alice dalam sacred art jauh dari jangkauan Eugeo dan aku dan jika ini berubah menjadi pertarungan pertukaran art jarak jauh, Chudelkin kelihatannya dapat mengalahkan kita bertiga hanya dengan dirinya saja sebagai Kepala Pemimpin.

Eugeo melanjutkan berbicara tentang sesuatu sementara aku mengigit mulutku dan melanjutkan berpikir.

"Di samping itu... Seluruh tubuh pemimpin tertinggi..."

Tapi sebelum dia dapat mengatakannya, Chudelkin yang terjatuh pada bagian belakangnya melompat dengan kakinya yang seperti jarum jam.

"Hohohohh!"

Dia menunjukkan kita, yang mempersiapkan diri kita dengan cepat, senyuman menjijikan yang berbeda dari sebelumnya saat dia memuji penguasa yang ada di belakang dirinya.

"...Pemimpin Suci, sungguh bermurah hati, untuk menyingkir dari jalanmu dan memberikannya padaku kesenangan ini ketika kau dapat menghancurkan tiga pengganggu sialan itu dengan satu ayunan jari kecilmu! Pelayan rendahmu menangis! Dia benar-benar menangis! Hgh, hghghgh..."

Kita hanya dapat merasa kebingungan saat air mata yang kental terjatuh dari ujung matanya sama seperti yang dia telah katakan.

Mungkin Administrator sudah lelah berurusan dengannya juga, tapi dia bergerak lima meter ke belakang denagn perkataan singkat.

"...Baiklah, cukup lakukan itu."

"Y-Yaaa! Pelayan rendahmu akan bertarung dengan seluruh kekuatannya untuk memenuhi harapanmuuuuuuu!!"

Chudelkin menekan kedua ibu jarinya pada dahinya dan air matanya tiba-tiba menjadi berhenti, seolah-olah ada tombol yang ada di sana, badut kecil itu tersenyum lebar saat dia menatap pada kita.

"Sekarang, sekarang, sekarang... Kalian semua tidak akan keluar dari tempat ini hanya dengan meminta maaf sajaaaa. Aku akan mengurangi setidaknya hingga delapan puluh sampai sepuluh dari Lifemu sedikit demi sedikit, sebelum kalian merangkak sambil menangis di tanah, jadi bagaimana kalau kalian mempersiapkan diri kalian?"

"...Aku sudah cukup mendengar perkataan bodohmu. Seperti yang telah aku katakan di lantai bawah, aku akan memotong lidahmu dari dasarnya, jadi berhenti berbicara dan datanglah."

Bahkan tidak ingin memberikan sedikitpun dalam pertarungan kata-kata, Alice menjawab, kemudian dia mengenggam gagang pedang kesayangannya dengan tangan kanannya dan memperkuat pusat gravitasinya.

Sekali lagi, Chudelkin menyilangkan tangannya di depan dadanya dalam pose aneh yang kira-kira lima meter jauhnya.

"Nnnnnn, tidak dapat dimaafkaaaaaan! Jika kau berkeinginan untuk dijilat oleh lidah indahku sebanyak itu, aku akan menjilat sebanyak yang kau sukaaaa! Setelah kau dibekukan menjadi batu!! ...Hoaaah—!!"

Chudelkin melompat tinggi dengan teriakan itu dan melemparkan dirinya ke belakang di udara, mendarat dengan suara keras setelah satu setengah putaran dan berbalik. Tidak dengan tangan maupun kakinya, tapi dengan bagian atas kepalanya.

"........."

Eugeo dan aku bukanlah satu-satunya orang yang tidak dapat berkata apa-apa, hal yang sama berlaku pada Alice. Memang, Kepala Pemimpin mungkin jauh lebih stabil dengan posisi terbalik karena kepala lingkaran super besarnya pada badan yang seperti tongkat, tapi apa sebenarnya yang dia pikirkan, menghambat pergerakannya?

Tapi orang yang dipertanyakan, Chudelkin memiliki ekspresi sangat serius pada wajahnya—yang sulit untuk dikenali, dengan dia dalam posisi terbalik—saat semua anggota geraknya terulur, sebelum dia meneriakkan kalimat awal untuk sacred art dengan suara yang menusuk telinga.

"System...caaaaall—!!"

Sebagai reaksinya, Alice menarik pedangnya dengan suara keras. Meskipun kehilangan reaksi yang tepat, Eugeo dan aku mempersiapkan diri kami dengan pedang kita juga.

"Generate cryogenic elementt!!"

Chudelkin meneriakkan art penciptaan untuk cryogenic elements dengan sangat cepat.

Kekuatan dan skala dari art penyerangan jarak jauh sebagian besar dapat diperkirakan dari jumlah element yang diciptakan pada awalnya. Aku menyipitkan mataku agar tidak kehilangan pandangan pada titik cahaya yang muncul di tangan Kepala Pemimpin.

Paan!! Chudelkin menepuk kedua tangannya secara bersamaan sementara melakukan headstand[1] dan membuka lebar tangannya. Titik cahaya biru diciptakan pada jari kedua tangannya dengan suara, yang terdengar samar-samar—berjumlah sepuluh.

"Sial, maksimal, huh."

Aku mengeluh tanpa berpikir panjang, tapi tidak seperti aku tidak menduganya. Bahkan pemula seperti diriku yang tidak mengetahui apapun selain dari dasar hanya dapat menciptakan lima di tanganku jika aku fokus. Chudelkin adalah pengguna art terkuat di Gereja Axiom, jika tidak termasuk Administrator, dan itu adalah hal normal, bahkan, untuknya untuk menciptakan sepuluh di kedua tangannya.

Alice masih terdiam, tapi aku melangkah ke kanan dan mengulurkan tangan kiriku untuk menciptakan thermal elements, element yang berlawanan. Eugeo, juga, melakukan posisi yang benar-benar sama. Jika kita berhasil menciptakan lima element secara masing-masing entah bagaimana, kita mungkin akan mampu untuk bertahan dari cryogenic elements Chudelkin—

Tetapi, itu terjadi ketika aku hendak memulai teriakanku.

Paan!! Suara dari tepukan terdengar sekali lagi.

Itu adalah suara yang dibuat oleh Chudelkin, yang berdiri dengan kepalanya, ketika dia dengan cepat menepuk kedua kakinya secara bersamaan. Bagian kedua kakinya terpisah kemudian dan terulur menjaid garis lurus seperti kedua tangannya. Dengan segera, sepuluh di bagian ujung sepatunya, memiliki cryogenic elements diciptakan pada jari-jari dengan suara seperti es yang terjatuh.

Kalimat yang Eugeo katakan dengan suara serak di samping kiriku adalah kata yang aku sepenuhnya setuju.

"...Tidak mungkin..."

Sementara mempertahankan sejumlah dua puluh element biru di tangan dan kakinya, Chudelkin menunjukkan senyuman lebar dengan mulutnya yang terbalik.

"Ohoh, ohohohoho...Bergemetar di kaki kalian, buang air kecil di celana kailan? Aku merasa tidak senang bahwa kalian menyamakan aku dengan pengguna art pemula itu, kau tahu?"

Di Underworld, pengendalian pada sacred art, atau mengatakannya lebih jelas, sihir, dilakukan melalui perintah suara dan imajinasi penggunanya. Mengambil art penyembuh sebagai contoh, menahan kebencian di dalam hatimu kepada target akan membuat penolakan kuat pada efeknya sementara berdoa pada seseorang agar menjadi sembuh dengan semua usahamu dapat membuat art penyembuh melebihi kemampuan seseorang.

Hal yang sama berlaku juga art penyerangan yang memanipulasi element.

Membentuk element yang diciptakan dan menembakkannya membutuhkan lebih dari perintah suara atau kalimat dari art. Penunjuk imajinasi pengguna, yang menghubungkan pada kesadaran, benar-benar sangat penting.

Dapat dikatakan, secara singkat, satu jari. Seseorang harus mempertahankan gambaran dari element yang menghubungkan satu jari selama durasi pengucapan art.

Dengan kata lain, tidak peduli bagaimana tingginya rangking pengguna art itu, adalah hal yang normal untuk memanipulasi jumlah maksimum yang hanya sepuluh dari kedua tangan. Untuk menembus pembatasan tersebut dan menggunakan jari pada kaki sebagai sirkuit imajinasi, seseorang harus terus melayang di udara—atau melakukan headstand dengan satu kepala. Seperti Kepala Pemimpin Chudelkin.

"Ohh, hohohoo...!"

Melanjutkan teriakan kerasnya, Chudelkin mengucapkan perintah untuk membentuk element dengan kecepatan yang sangat cepat dan mengayunkan tangan kiri dan kanannya pada kita, yang masih berdiri, satu demi satu dengan sedikit jeda diantara itu.

"Dischaaaar—geee!!"

Whoosh!!

Memotong melalui udara, lima es itu melepaskan hembusan angin dingin sementara tertembak ke depan. Lima es lainnya mengejar di belakang.

Bahkan jika kita ingin menghindarinya, dua lapisan dari tombak es itu, tertembak dengan tinggi dan rendah, tidak memperlihatkan kelemahan saat itu menyebar dalam bentuk kipas sementara terbang ke sini. Memikirkan bahwa aku hanya dapat menangkis es itu yang kelihatannya akan mengenai diriku, aku dengan erat menggenggam pedang kesayanganku di tangan kananku dan melihat ke arah—

Serpihan emas yang menghalangi pandanganku.

Dengan ayunan horizontal, Fragrant Olive Sword Alice terbagi menjadi serpihan kecil yang tidak terhitung jumlahnya, dimulai dari ujungnya, dan berterbangan saat itu tersebar dengan berputar.

Ini bukanlah pertama kalinya aku melihat armament full control art Alice, tapi baik Eugeo dan aku mendapati nafas kita terambil oleh keindahan menakutkannya.

Hanya cahaya bulan putih kebiruan yang bersinar dari kaca jendela dari sisi selatan yang menyinari lantai tertinggi katedral. Tapi meski begitu, kelopak bunga emas menarik jejak warna terang kuning emas, seolah-olah memancarkan cahaya sendiri, melayang tinggi seperti hujan meteor tebal.

"Hahh!"

Alice mengayun ke bawah gagang yang tersisa di tangannya dengan teriakan tajam.

Badai bunga melayang di udara mengikuti arahan gerakannya dan menelan sepuluh es, menciptakan suara keras dari sesuatu yang hendak dipotong. Seperti es batu yang dilemparkan pada blender berkecepatan tinggi, sumbernya menjadi tersebar sia-sia di udara.

"...Nhn...gngngnngnnn..."

Dengan sacred art yang ditembakkan dengan sangat bangga dengam mudah dibuat menjadi tidak berdaya, Chudelkin menggigit mulutnya dengan keras dan menggeretakkan rahang atas dan bawahnya satu sama lain sementara berteriak dengan suara marah.

"...Jangan berpikir bahwa kau sudah menang dengan pemarut kasar seperti ituuuu! Bagaimana kalau iniiii! Hooooohh!!"

Dia mengayun kedua kakinya, yang rendah dalam posisi horizontal dengan sepuluh element masih ada padanya, ke atas dari samping dengan kuat.

Cryogenic elements yang terbang tinggi ke atas, menarik garis biru yang sejajar, menyatu menjadi satu di dekat langit-langit dan menciptakan lapisan es persegi.

Es itu terus membesar sementara suara, keras dan berat bergema, membentuk menjadi kubus yang setiap sisi mungkin memiliki ukuran setidaknya dua meter panjangnya. Perubahan es tersebut tidak berhenti di situ dan duri tajam yang sangat mengerikan terdorong keluar di sepanjang dalam formasi rapat.

Sword Art Online Vol 14 - 113.jpg

Jika hukum fisika di Underworld disesuaikan dengan hukum yang ada di dunia nyata, kubus es yang berada di udara akan memiliki berat yang mencapai lebih dari tujuh ton. Dengan cepat mencapai kesimpulan bahwa menahan sesuatu seperti itu dengan pedang adalah mustahil, aku tanpa sadar mengambil langkah ke belakang.

"Hohihii...Bagaimana dengan itu, bagaimana rasanya dari art terhebat dan terbaikku!! Sekarang, ini adalah waktunya untuk meratakan kalian semuaaaaa—!!"

Sementara dalam posisi terbalik, Chudelkin mengayunkan ke bawah kakinya yang terulur lurus ke atas. Kubus berduri itu mulai terjatuh dengan suara keras.

Eugeo dan aku kehilangan pemikiran kita dan melompat ke samping. Tapi sekali lagi, Knight Alice tidak mengambil satu langkahpun ke belakang. Dia dengan kuat memahami objek besar, yang menjulang bahkan lebih dekat untuk menghancurkannya, dengan pandangannya sementara berdiri tegak—

"Ha...aaaaah——!!"

Mengeluarkan teriakan yang jauh lebih keras dibandingkan dengan teriakan apapun dalam pertarungan hingga sejauh ini, dia mengangkat gagang dari pedang kesayangannya di tangan kanannya dengan sangat tinggi ke atas.

Pisau emas kecil yang melayang di sekitarnya berkumpul dengan suara metal, yang tajam dan menciptakan kerucut yang ukurannya mungkin sekitar tiga meter panjangnya. Bor dengan tidak terhitung duri di sepanjang permukaan kerasnya dan berputar saat serpihan pedang menahan kubus es yang terjatuh.

Suara keras yang sangat kuat dan cahaya menyilaukan telah diciptakan pada saat dua benda itu betemu, menyebabkan ruangan ini bergetar sangat keras.

"Kuhnnuhooooohh...h-han-hancurkan...ituuuuu!"

"......Hancurkan itu. O, bunga...!!"

Ekspresi dari Kepala Pemimpin dan Integrity Knight yang menyandarkan pada jumlah sama dari skala keindahan, meskipun itu pada arah yang berbeda, saat mereka meneriakkan teriakan keras.

Ketika kemampuan dalam skala ini berhantaman, jumlah prioritas normalnya akan mengambil bagian, tapi faktor yang paling terpenting untuk kemenangan adalah kekuatan tekad seseorang dan potensi dalam imajinasi.

Balok es biru dan spiral emas berjuang untuk beberapa saat dengan ujung yang bersinar putih dengan sinar terang diantaranya, tapi tidak membutuhkan waktu lama sebelum perlahan mulai hancur. Cahaya yang menyilaukan dan suara yang menusuk telinga dari hantaman membuat itu mustahil untuk mengetahui apakah kubus itu menghancurkan bor dengan beratnya atau jika bor itu menusuk melalui kubus saat berputar.

Hasil dari pertarungan itu hanya menjadi jelas ketika dua objek dapat dikatakan saling bersentuhan satu sama lain.

Crack, suara tajam dari sesuatu yang hancur terdengar dan retakan tersebar pada seluruh kubus es.

Dengan segera setelahnya, balok es yang bahkan dapat memenuhi gubuk kecil menjadi bagian yang sangat besar saat tersebar ke segala arah. Udara di sekeliling dalam sekejap berwarna putih dan aku menahan gelombang dari hawa dingin yang datang dengan tangan kiriku.

"Hyaaa!?"

Teriakan panik datang dari Kepala Pemimpin Chudelkin.

Masih berdiri dengan kepalanya, anggota geraknya yang seperti tongkat bergemetar secara keseluruhan.

"Tidak...Tidak mungkin, ini semua menggelikan...B-Bagaimana mungkin art yang sangat indah dan benar-benar hebat yang telah diberikan Pemimpin Suci padaku..."

Senyuman mengejek akhirnya menghilang dari mulutnya, jadi mulut merah itu terlihat seperti beracun, tapi meski begitu, Alice bukan berarti tidak terluka meskipun dia secara baik berhasil menghancurkan balok es besar. Serpihan kecil yang membentuk kerucut itu kembali pada penampilan asli pedang panjangnya dengan ayunan tangan kanannya dan Alice dengan berani masih tetap bertahan dengan kakinya, meskipun posisinya sepenuhnya terjatuh dalam kekacauan. Dia pasti telah terkena beberapa bagian dari balok es yang hancur dalam jangkauan jarak dekat padanya.

"Alice...!"

Menahanku kembali dengan tangan kirinya ketika aku berlari ke arahnya, Alice mengarahkan ujung pedang kesayangannya pada Chudelkin di kejauhan.

"Chudelkin, tehnik tanpa keyakinan seperti itu tidak lebih dari balon kertas yang ditiup oleh angin! Sama seperti tubuhmu sendiri!"

"Ap...Apa yang kau katakan..."

Cacian dan umpatan Chudelkin menjadi berhenti pada saat menerima teguran Alice, yang tajam seperti semua tebasannya. Kepala lingkarannya berubah hingga batasnya dan bergetar dengan hebat, saat keringatnya mengalir dari arah sebaliknya dengan deras seperti air terjun.

Sampai saat itu—

Ketika pemimpin tertinggi, Administrator, yang telah menonton pada pertarungan dari bagian belakang ruangan akhirnya berbicara dengan perkataan yang berdasarkan pada kebosanannya.

"Sejujurnya, kau masih saja tetap bodoh tidak peduli berapa banyak tahun telah berlalu, bukan, Chudelkin?"

Anggota gerak Kepala Pemimpin dalam sekejap menyusut.

Berbalik dengan Chudelkin yang menyusut menjadi ukuran anak-anak, pemimpin tertinggi memiringkan tubuhnya dengan gerakan yang indah dan berbaring di tengah udara, pada apa yang terlihat seperti sofa yang tidak terlihat. Perlahan melayang ke atas dengan posisi itu, dia lalu menyilangkan kaki rampingnya saat dia melanjutkan.

"Fragrant Olive Sword yang dimiliki Alice memiliki prioritas fisik yang dapat dianggap kelas atas bahkan diantara semua sacred instrument yang pernah ada. Dan gadis itu dengan sungguh-sungguh mempercayai fakta tersebut. Untuk berpikir bahwa kau akan mencoba art pernyerangan bersifat fisik pada musuh seperti itu, apa kau bahkan melupakan dasar dari sacred art?"

"Hah...hohohohii..."

Air mata tiba-tiba mengalir dari kedua mata Chudelkin sementara suara tinggi keluar darinya. Dia dalam posisi terbalik, jadi air mata mengalir ke bawah pada dahinya satu demi satu, menciptakan noda dari karpet saat itu mencapai ujung kepalanya.

"Ohoohh...Sungguh disayangkan, sungguh berharga, sungguh menginspirasi!! Untuk Pemimpin Suci mengatakan ajarannya pada pelayang rendahnya secara langsung...?! Harapanmu tidak akan menjadi sia-sia, Chudelkin akan memastikan kebaikanmu akan terbayaaaaaaaaarrrrr!!"

Kelihatannya suara Administrator memiliki lebih banyak efek dibandingkan dengan art penyembuh pada Chudelkin. Kepala Pemimpin yang ketakutan dari waktu sebelumnya tersapu dalam sekejap dan dia memperlihatkan tatapan aneh pada Alice yag dipenuhi dengan apa yang mungkin bentuk tekad uniknya sendiri.

"Nomor tiga puluh! Kau mengatakannya, bukan, bahwa aku adalah balon kertas dengan tanpa bahan di dalamnya!!"

"...Dan kau mempercayai bahwa kau dapat menyangkal itu?"

"Aku bisa——!! Aku bisa, aku bisa, aku bisaaa!!"

"Bahkan aku memiliki sesuatu yang aku percayai!! Dan hal itu adalah cinta!! Cintaku yang sama sekali tidak ada kebohongan pada Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi yang suci dan cantik kitaaaaaaaaa—!!"

Aku tidak akan pernah menduga bahwa perkataan yang awalnya tidak berasal dari apapun selain dari drama kelas rendah, tapi untuk waktu dan situasi sekarang yang membiarkan itu bergema melalui ruangan, secara kuat, dengan nada menyedihkan. Bahkan jika itu adalah badut yang setengah telanjang, sementara terbalik dengan kepala besarnya, yang mengatakan itu.

"P-Pe-Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi!!"

"Ada apa? Chudelkin."

"Pemimpin Suci, pelayan rendahmu, Kepala Pemimpin, Chudelkin, memohon padamu untuk mengabulkan tidak sopan, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun melayani dibawah perintahmu!! Pelayanmu sekarang akan mempertaruhkan hidupnya untuk mengalahkan pemberontak!! Jika dalam hal ini dia berhasil, akankah Pemimpin Suci!! A-Akankah Pemimpin Suci mengabulkan kesediaan untuk tangan dan mulut ini bersentuhan dengan tubuh bangsawanmu, dan untuk b-berbagi satu malam yang indah dengan itu, aku memohon padamu, aku memohon padamu, aku memohon padamu, kumohoooooon!!"

—Itu adalah permintaan hebat secara langsung pada penguasa mutlak dari Dunia Manusia.

Tapi aku tidak memiliki keraguan bahwa apapun dari teriakan itu adalah perasaannya yang sebenarnya, emosi yang diekspresikan dari dalam hati yang dimiliki oleh orang yang bernama Chudelkin.

Mendengarkan pada monolog yang melebihi tragis dan bahkan dapat dianggap sangat berani, Eugeo, Alice dan aku menjadi terdiam di tempat karena kehilangan kata-kata.

Di sisi lain, pemimpin tertinggi, Administrator, mendengar permintaan Chudelkin saat dia melayang di kejauhan dari ujung ruangan itu dan— Mulut abu-abu mutiaranya dengan tajam melengkung seolah-olah dia mengetahui bahwa dia benar-benar menggelikan hingga tidak dapat tertahan.

Ekspresi cemohan dan ejekan terlihat di matanya yang seperti cermin yang memantulkan semua cahaya. Tangan kanan Administrator menutup mulutnya saat dia berbicara dengan suara, yang dipenuhi kasih sayang, berlawanan dengan ekspresinya.

"...Baiklah, Chudelkin."

Atau seperti itu yang dia bisikkan.

"Aku akan bersumpah pada Dewi Pencipta, Stacia. Kau boleh melihat setiap bagian dari tubuh ini untuk satu malam pada saat kau menyelesaikan tugasmu."

Aku mengetahui bahwa tidak ada kebenaran dari perkataan itu seperti manusia di dunia nyata yang kelihatannya tenggelam pada kebohongan dan penipuan.

Manusia di dunia ini, yang kelihatannya disebabkan oleh struktur artificial fluct lights, tidak mampu untuk melanggar hukum atau peraturan yang ada di atas mereka. Hukum itu termasuk hukum daerah di desa dan kota, Hukum Dasar Kerajaan, Taboo Index, dan sumpah pribadi kepada dewi.

Jumlah hukum yang mengikat setiap orang akan semakin berkurang saat seseorang tersebut memiliki rangking yang lebih tinggi dalam struktur pemerintahan, tapi peraturan itu juga berlaku pada supervisor dengan posisi tertinggi, Cardinal dan Administrator, juga sama. Kode dari perilaku yang diturunkan oleh orang tua mereka masih ada, dengan Cardinal tidak dapat menaruh cangkir teh di meja dan Administrator tidak dapat membunuh manusia.

Tapi mata milikku sudah melihat pada bagaimana Administrator tidak terikat oleh sumpahnya pada dewi beberapa saat yang lalu. Dengan kata lain, dia bahkan tidak memiliki bahkan tidak memiliki sedikitpun keyakinan pada tiga dewi. Dewi Pencipta Stacia, Dewi Matahari Solus, Dewi Tanah Terraria, yang memberikan kekuasaan Gereja Axiom.

Tapi tentu saja, Chudelkin tidak dapat mengetahui kebohongan masternya.

Pada saat mendengar perkataan Administrator sementara menahan tawanya, senjumlah besar air mata yang mengalir sekali lagi dari kedua mata Chudelkin.

"Ohh...ohh......Pelayan rendahmu sekarang...dipenuhi dengan kebahagiaan yang tidak dapat dibandingkan dengan lainnya...tekad...tekadku menjadi naik seratus kali lipat dan semangatku sangat besar, untuk menaruhnya secara kata-kata, pelayan rendahmu sekarang tidak terkalahkaaaaaan!!"

Air matanya dengan jelas menguap.

Sebuah sinar terang menyelimuti seluruh badan Chudelkin, seperti api.

"Syss! Temm! Caaaaall!! Generateee thermaaal elemeee——ntttt!!"

Tangan dan kakinya terulur melalui udara dan titik cahaya, merah terang, terbentuk di anggota geraknya, yang sekarang terulur lurus pada ujung jari tangan atau jari kaki. Fakta bahwa ini adalah serangan terhebat dan terkuat Chudelkin menjadi jelas bahkan untukku yang berdiri di belakang Alice.

Seperti cryogenic elements sebelumnya, jumlah dari thermal elements yang diciptakan, yang bersinar seperti ruby, berjumlah dua puluh.

Kedua kaki Chudelkin yang terbebas dari tugasnya untuk menahan tubuhnya saat dia berdiri dengan kepalanya. Tapi dapat dikatakan, secara pribadi untuk membayangkan setiap element di jari kaki diantara sepuluh jari di kakinya tidak akan mungkin tanpa melakukan sejumlah latihan yang sangat luar biasa.

Aku benar-benar terfokus pada penampilan dan kepribadian anehnya, tapi dengan pengalaman bertahun-tahun, Chudelkin adalah lawan berat yang tidak dapat dianggap remeh sama seperti Integrity Knight yang lama—bahkan mungkin melebihi mereka dengan jumlah pengalaman bertahun-tahunnya.

Mungkin dia merasakan gemetarku, tapi mata Chudelkin menyipitkan matanya dengan perasaan menang, kemudian melebarkannya sebanyak yang dia bisa. Mata kecilnya memancarkan cahaya merah dan ketakutanku berubah menjadi keterkejutan. Aku berpikir jika kekuatan tekadnya telah berubah menjadi api dan beralih menuju matanya seperti protagonist berdarah panas, tapi kemudian menyadari bahwa itu salah.

Cahaya yang terbakar dihadapan kedua mata Chudelkin adalah thermal elements berukuran besar. Orang itu bahkan menggunakan kedua matanya sebagai penghubung dan menciptakan element kedua puluh satu dan element kedua puluh dua.

Pancaran dari sumber element dengan sifat yang sesuai dengan tipenya sebelum ditembakkan, meskipun samar-samar. Itu hanya akan terasa sedikit hangat dengan thermal elements yang diciptakan beberapa sentimeter dari jarimu, tapi dia tidak akan pernah bertahan tanpa luka ketika mempertahankan element sebesar itu dihadapan matanya. Kulit disekitar matanya mulai bergetar pada saat itu juga.

Tapi Kepala Pemimpin kelihatannya benar-benar tidak mempedulikan baik pada panas maupun rasa sakit. Chudelkin tersenyum dengan seluruh wajahnya, berganti dari ekspresi aneh menjadi jahat dengan matanya menjadi menghintam, lalu berteriak dengan suara yang lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya.

"Lihatlaaaaaaaah, ini adalah sacred art terhebaaaaat daaan terkuatkuuuu...! Datanglah, monster!! Bakarlah pemberontak itu menjadi abu!!"

Anggota geraknya yang telah ditarik terayun dengan cepat dibandinggkan dengan mata yang dapat ikuti. Sebagai ganti dari perubahan dengan segera, dua puluh element yang ditembakkan berkumpul dengan sendirinya menjadi lima barisan horizontal di udara saat itu melayang di antara Chudelkin dan kita dengan kecepatan mengerikan.

Lintasannya menyala merah dan menciptakan bentuk manusia besar secara keseluruhan saat aku melihatnya, tidak dapat mengatakan apapun.

Kaki pendek. Perut gemuk yang menyembul keluar. Tangan panjang yang aneh. Dan kepala yang memakai mahkota dengan tanduk yang tidak terhitung jumlahnya terbentang dari itu. Hampir sama seperti Chudelkin sebelum dia melepaskan smoke screen[2] dari pakaiannya, yang menjadi lebih besar beberapa kali, seperti badut raksasa.

Meskipun mengikuti wajah Chudelkin, wajah badut, yang ada jauh tinggi di atas hingga aku harus melihat ke atas, yang kelihatannya beberapa kali lebih jahat. Lidah api yang berkelap-kelip dari celah diantara mulut tebal dan hawa dingin yang terpancar dari celah yang ada di mata sipit, panjang, miringnya meskipun bagaimana itu adalah api raksasa.

Chudelkin mengayun tangannya dan kakinya saat dia menyusun badut dengan thermal elements dan untuk menyelesaikan hal itu, dia menutup matanya dimana dua element terakhir berada dengan kekuatan yang cukup untuk membuat suara. Dengan itu, thermal elements bergerak menuju rongga mata yang gelap dan meletakkan di dalamnya sebagai mata, merah menyala.

Seolah-olah dirasuki oleh jiwa Chudelkin sendiri, badut raksasa itu menatap pada kita dengan tatapan membunuh. Raksasa tersebut mengangkat ke atas kaki kanannya yang memakai sepatu lancip dan melangkah secara keras pada lantai yang berada sedikit di depan. Getaran hebat bersamaan dengan api yang keluar dari kaki raksasa saat hawa panas mengguncang sekelilingnya.

Eugeo dan aku berada dalam kondisi tidak melakukan apapun selain tetap berdiri, kebingungan, tapi perkataan dari Alice yang berdiri di depan kita mendorong kita menggenggam pedang kita dengan kebingungan.

"...Aku tidak mengetahui bahwa dia mampu menggunakan art sampai tingkat ini juga."

Perkataan Alice tetap tenang bahkan dalam situasi seperti ini, tapi itu berakhir dengan nada serak, mungkin mencerminkan kegelisahan di dalam hatinya.

"Kelihatannya aku telah meremehkan Chudelkin. Sayangnya, bungaku tidak mampu untuk menghancurkan api besar yang berwujud seperti itu. Bahkan jika aku memfokuskan pada pertahanan, itu tidak seperti aku dapat menahan selama."

"...Dengan kata lain, kita hanya dapat menyerang Chudelkin secara langsung untuk saat ini, huh..."

Alice mengatakan instruksi keras padaku di saat aku berguman dengan suara serak.

"Seperti itu, aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk bertahan selama sepuluh detik. Kirito, Eugeo, kalahkan Chudelkin di waktu itu. Tetapi, kalian tidak boleh mendekat hingga cukup dekat untuk bertarung dengan pedang kalian. Itu adalah apa yang pemimpin tertinggi yang suci incar."

"Sepuluh..."

"...Detik."

Eugeo dan aku berguman secara bersamaan dan saling bertukar pandangan.

Dia telah melebihku dengan ketenangan seperti es ketika kita saling menyilangkan pedang di lantai bawah, tapi kelihatannya Eugeo telah mendapatkan kembali emosinya ketika dia terbebas dari status knight. Sementara merasa lega, meskipun dalam situasi kita sekarang, pada ketakutan dan kepanikan yang ditunjukkan wajah partnerku, aku memutar otakku.

Jika Alice menginginkan aku untuk menyerbu sementara dia berhadapan dengan badut api, aku dengan senang hati melakukannya. Aku telah melakukan tugas itu ketika mengalahkan boss di saat Aincrad lama dan di samping itu, Chudelkin seharusnya benar-benar mudah diserang ketika dia mengontrol badut.

Tapi dia memang benar tentang bagaimana kita tidak memiliki jaminan bahwa Administrator akan tetap diam saat kita maju. Karena itu, kita harus menyerang Chudelkin tanpa mendekatinya, tapi di saat kita termasuk kelas swordsman, Eugeo dan aku hanya memiliki dua cara untuk menyerang dari jarak jauh.

Cara pertama adalah menggunakan sacred art seperti yang dia gunakan. Tetapi dengan kemampuan art Eugeo dan aku yang dapat lakukan, aku meragukan bahwa kita dapat menembus pertahanan dari pengguna art berangking tinggi seperti Chudelkin untuk mengurangi Lifenya.

Cara lainnya adalah menggunakan secret move yang telah aku simpan—atau dengan kata lain, armament full control art, tapi itu terdapat masalahnya sendiri. Mengaktifkan itu membutuhkan pengucapan art panjang yang disusun oleh Cardinal. Itu pastinya akan mustahil dalam waktu sepuluh detik. Eugeo mampu menggunakan full control art tanpa pengucapan ketika dia diubah menjadi Integrity Knight, tapi dia mungkin tidak dapat melakukannya dengan keadaan dia sekarang. Tentu saja, aku juga tidak bisa.

"........."

Seolah-olah mengejek padaku sementara aku menggigit mulutku, badut yang terbakar itu mengayunkan tubuh besarnya dari sisi ke sisi saat itu perlahan mulai berjalan. Gerakannya benar-benar tidak cepat, tapi itu besar, setelah semua. Setiap langkah membawa itu satu meter lebih dekat.

Itu tepat setelah badut api itu mendekat hingga cukup untuk membuat kita merasakan hawa panas yang memancar pada kulit kita ketika Alice akhirnya mengambil tindakan.

Dia mengangkat Fragrant Olive Sword di tangan kanannya hingga di atas kepala. Tangan kirinya, terulur lurus ke belakang, dan kakinya, terbuka menuju ke depan dan ke belakang, menegang seperti tali busur.

Badai yang seperti tornado tiba-tiba muncul dari kaki Alice, dengan keras membuat rok putih panjangnya dan rambut pirang panjangnya terurai. Pedang Fragrant Olive Sword terpisah menjadi ratusan kelopak bunga yang diselimuti cahaya emas dan mulai meluncur melalui udara dalam barisan.

"——Berputarlah, bunga!!"

Teriakan yang kelihatannya mustahil dengan tubuh sangat kurus seperti dia bergetar di udara.

Di saat yang sama, kelopak bunga emas berputar dengan kecepatan yang sangat cepat saat berkumpul menjadi satu benda, membesar menjadi tornado besar secara tiba-tiba.

Itu secara padat berkumpul bersama dan menciptakan kerucut yang menghancurkan balok es sebelumnya, tapi itu dalam posisi terbalik untuk kali ini. Itu terbentang keluar seperti corong, yang secara diagonal mengarah ke atas menuju ke langit dari tangan Alice, dengan diameter mendekati lima meter bahkan pada ujung sempitnya.

Badai emas yang menghisap udara di sekelilingnya, menjadi badai yang berhembus tanpa bentuk atau susunan, menguncang Eugeo dan aku.

Hanya jangkauannya saja akan menutupi jarak yang tersisa diantara kita, badut api itu melompat tinggi ke atas dengan cemohannya yang tidak menghilang, hampir mencapai langit-langit, lalu tanpa perasaan takut turun menuju tornado Alice.

Dobaaa! Suara keras yang menyerupai tungku api yang terbakar menghapus suara lainnya.

Tornado emas terbentang hampir lurus ke atas dan menelan kaki badut api itu di dalamnya sendiri. Api yang telah disobek oleh serpihan yang berputar dengan kecepatan tinggi dan tersebar seperti kembang api besar, membakar udara.

Tetapi, badut itu mendapatkan kembali ukuran besarnya dan menunjukkan senyuman lebar di sepanjang seluruh wajahnya saat itu perlahan, perlahan melangkah pada tornado. Kaki Alice secara samar-samar bergetar saat dia menahan itu secara lurus dari bawah dan secara sekilas melihat ekspresinya dari samping aku menunjukkan ekspresi muram.

Seolah-olah tidak mampu untuk menahan hawa panas badut, kelopak bunga yang membuat tornado itu terlihat memerah. Alice dan Fragrant Olive Sword yang dia genggam pasti secara terus menerus kehilangan Life bahkan sampai saat ini.

Hanya ada—delapan detik tersisa.

Itu akan menjadi mustahil untuk mengalahkan Chudelkin dengan sacred arts. Tidak ada cukup waktu untuk full control art juga. Satu-satunya cara yang tersisa untukku adalah pedang hitam di tangan kananku dan tehnik yang aku latih di dalam diriku.

Selama dua tahun yang aku habiskan di Underworld, aku telah melatih banyak skill pedang yang aku ketahui dari masa lalu agar dapat mengajari Eugeo «Aincrad style». Melalui itu, aku menyadari skill pedang di dunia ini terkadang menunjukkan kekuatan yang jauh melebihi apa yang dimiliki di dunia SAO.

Setelah semua, hampir semua gerakan yang membawa pada hasilnya tidak ditentukan oleh sistem kontrol tapi kekuatan tekad penggunanya, imajinasi mereka. Laba-laba kecil yang telah melihatku untuk waktu yang lama, Charlotte, dan Knight Alice menyebut kekuatan itu, «penjelmaan».

Karena itu, kekuatan dan jangkauan dari skill pedang yang secara keras ditahan oleh sistem di waktu Aincrad lama dapat diperkuat melalui kekuatan penjelmaan—mungkin.

Tapi ketika memikirkan itu dari sisi yang lain, ketakutan, kepanikan, keraguan, dan emosi negatif seperti itu akan melemahkan tehnik seseorang juga.

Di dalam diriku, keinginan untuk berpisah dan untuk melupakan dari siapa aku di hari-hari selama di SAO—avatar itu yang diberikan dua nama, «Black Swordsman» dan «Dual Blades»—telah menyebarkan akarnya hingga ke dalam.

Bahkan aku tidak dapat menyediakan analisis akurat dari dimana emosi itu awalnya berasal. Meskipun itu mungkin disebabkan perasaan enggan untuk diperlakukan sebagai pahlawan, atau perasaan bersalah pada seseorang yang gagal aku selamatkan atau seseorang yang mati, itu mungkin saja alasan itu benar-benar salah.

Tetapi, aku dapat mengatakan ini dengan yakin. Sebanyak aku membenci itu, «Black Swordsman» pasti adalah bagian dari diriku dan memberikan bentuk pada diriku, memberikanku kekuatan, bahkan sampai sekarang.

Ya, «dia», yang bertarung di dunia itu, sekarang berada di sini—tidak, itu seharusnya justru «aku».

Tujuh detik tersisa.

Merasakan, di pipiku, hawa panas dari langkah raksasa itu pada tornado Alice, aku menggerakkan tubuhku ke kanan dan merendahkan pinggangku.

Membawa pedang hitam di tangan kananku hingga ke atas pada bahuku, aku mengayunkan itu secara horizontal dan menarik itu kembali.

Aku menaruh tangan kiriku pada ujung pedang seperti ketapel pesawat terbang[3].

Skill ini adalah salah satu skill yang aku tidak pernah gunakan sampai saat ini, entah untuk mengajari Eugeo maupun untuk hanya diciptakan. Aku tahu alasannya. Ini adalah skill pedang yang «Black Swordsman» paling mengerti, skill yang paling dia sering gunakan. Kau bahkan dapat mengatakan bahwa ini adalah simbol dari dirinya.

Aku dapat melihat Kepala Pemimpin Chudelkin, pada kepalanya, pada titik lima belas meter dari ujung pedang hitam yang sedikit transparan. Matanya, dengan bagian pinggirnya menghitam, telah tertutup, tapi aku tidak memiliki keraguan bahwa dia menghubungkan pandangannya pada badut api itu melalui suatu jenis tehnik. Dengan kata lain, dia seharusnya telah menyadari perbuatanku.

Aku hanya memiliki satu kesempatan untuk menyerang dan aku tidak mungkin bertahan atau menghindar. Dalam hal itu, jarak lima belas meter ini terasa benar-benar jauh. Chudelkin kelihatannya tidak mampu bergerak cepat sementara menahan dirinya dengan kepalanya, tapi aku sudah melihat kegigihannya di saat yang penting dibadingkan dengan yang aku ketahui. Bahkan seperempat detik lebih dari cukup, aku harus membuat Chudelkin mengalihkan perhatiannya dari diriku.

Enam detik tersisa. Aku berbisik pada partnerku dengan perkataan secepat yang dapat aku katakan.

"Matanya."

"Aku mengerti."

Aku memperlihatkan tatapan pada jawabannya secara langsung dan melihat anak panah es, bercahaya biru, digenggam di tangan kanan Eugeo, meskipun aku sama sekali tidak mengetahui ketika dia membuat itu. Itu sama sekali tidak besar, tapi sinar menyilaukannya membuat itu sebagai bukti dari prioritas tingginya. Bahkan aku tidak menyadari itu pada saat berdiri di sampingnya, tapi dia pasti telah mengubah sumber udara dingin yang dilepaskan pada saat pertarungan sebelumnya diantara Alice dan Chudelkin menjadi element.

Lima detik tersisa, tangan Eugeo bergerak seolah-olah itu menarik tali busur panjang yang tidak terlihat dan menembakkan panah es yang mengeluarkan cahaya biru.

"Discharge!!"

Panah es yang ditembakkan dengan perintah pendek itu, tapi itu tidak lurus menuju Chudelkin.

Tangan kiri Eugeo menggerakkan itu pertama menuju sisi kanan badut terbakar itu, lalu menuju ke sisi kiri dengan belokan besar saat itu melambung ke atas. Garis biru ditarik oleh panas es di ruangan berwarna merah oleh api bersinar terang dari beberapa perbedaan. Mata badut api, juga, berbalik saat itu mengejar anak panah itu.

Empat detik tersisa. Hanya sebelum panah es mencapai langit-langit dari ruangan itu, Eugeo menggenggam tangan kirinya dengan erat. Dengan itu sebagai sinyal, anak panah itu menukik turun dalam garis lurus dengan kecepatan beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya. Anak panah tajam itu mengarah—

Bukan menuju Kepala Pemimpin Chudelkin.

Itu menuju seseorang yang berbaring terlentang secara sembarangan di tengah udara yang berada jauh di belakangnya, pemimpin tertinggi, Administrator.

Tiga detik tersisa.

Gadis berambut perak itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda panik bahkan saat penurunan cepat dari panah es yang diciptakan oleh kekuatan penuh Eugeo. Dia memperlihatkan tatapan jengkel, lalu menutup mulut abu-abu mutiaranya dan mengeluarkan helaan nafas ringan. Itu saja sudah cukup untuk menghancurkan panas es dengan itu masih berada satu meter dari pemimpin tertinggi.

Tetapi, tujuan sebenarnya dari serangan Eugeo bukanlah Administrator sendiri—itu adalah keterikatan aneh Chudelkin padanya.

Pada saat anak panah itu melesat ke belakangnya, mata sebenarnya Chudelkin terbuka dan kepalanya berputar dengan seluruh tubuhnya saat dia meneriakkan.

"Pemimpin Suci, berhati-hatilaaaaah."

Dua detik tersisa.

Tubuhku memulai gerakannya sebelum teriakan Chudelkin mencapai diriku.

System assist[4] mulai menggerakkan tubuhku. Secara bersamaan, aku menghentakkan kakiku ke lantai dengan kedua kakiku, yang terbuka lebar, di depan dan belakang. Mengubah percepatan itu menjadi gaya putaran, aku mengirimkan itu pada bahu kananku melalui punggungku. Mengubah gaya putaran menjadi gaya linear, aku mendorong ke depan pedang hitam yang telah bersatu dengan tangan kananku.

Suara metal dari jet engine[5] terdengar keluar bersamaan dengan cahaya merah yang jauh lebih terang dibandingkan dengan api.

Skill pedang satu tangan, tehnik satu tebasan. «Vorpal Strike».

Alasan untuk penggunaanku yang sering dari skill ini selama di SAO lama adalah itu mungkin memperbolehkan mengakhiri pertarugan dalam satu serangan dan jangkauan panjangnya yang tidak umum dari skill pedang satu tangan. Efek cahaya merah tua akan menembus melalui udara dalam jarak dua kali lipat dari pedang itu. Jangkauan maksimumnya, dengan tangan seseorang yang benar-benar dibentangkan, memiliki jangkauan hebat yang bahkan melebihi tombak panjang pada saat itu.

Tetapi, targetku, Kepala Pemimpin Chudelkin, berada lima belas meter jauhnya. Vorpal Strike normal tidak akan pernah mencapainya.

Aku harus memanjangkan jangkauan skill ini yang aku gunakan untuk pertama kalinya di Underworld sebanyak lebih dari lima kali melalui kekuatan imajinasi...Penjelmaan.

Itu tidak akan mudah.

Tapi aku meragukan bahwa itu mustahil. Aku mengetahui hal itu.

Keyakinan Knight Alice padaku telah membuat dia mengarahkan pedang kesayangannya dan dirinya pada api besar itu. Eugeo, sahabat terbaikku, telah mengerahkan semua kekuatan tekad dan pengetahuannya dalam menembak sacred art itu untuk menyediakan celah ini untuk seranganku. Aku tidak memiliki hak untuk memanggil diriku swordsman jika aku gagal untuk menandingi tekad mereka di sini.

Ya, sebelum semua hal itu, aku adalah swordsman, Kirito.

"U...oooohh——!!"

Aku melepaskan teriakan keras dari dalam diriku dengan semua kekuatanku.

Sarung tangan, hitam tanpa jari mengalir keluar dari tengah udara dan menutupi tangan kananku.

Mengikuti itu, pakaian hitam yang terlihat di atas bagian lengan yang robek dan melanjutkan menuju bahu dari tangan itu, sebelum akhirnya mencapai bagian tubuhku. Dengan cepat berubah menjadi jubah panjang dan kerah yang menghiasinya menjadi sangat berantakan.

Efek cahaya yang sangat kuat menyelimuti pedang itu seolah-olah itu telah meledak. Cahaya merah tua yang meluas hingga cukup jauh untuk meniadakan warna merah tua yang disebarkan badut terbakar itu dan mengkosentrasikannya pada ujung pedang.

"Ooohh!!"

Aku melepaskan kekuatan terakhirku dengan teriakan keras.

Satu detik, tersisa.

Bagian 2[edit]

—Suara apa itu!?

Mata Eugeo terbuka lebar pada suara aneh yang terdengar keluar tepat disampingnya.

Semua secret moves menciptakan cahaya kuat dan suara. Tetapi, ini berbeda dari semua yang pernah dia dengar hingga sejauh ini. Itu jauh lebih dalam, berat, keras, dan tajam, itu seperti seolah-olah pedang itu sendiri meneriakkan kemarahannya—

Sumber dari suara keras itu adalah pedang hitam yang digenggam tangan kanan Kirito. Pedangnya dengan cahaya hitam kristal mendapati ujungnya bergetar dengan keras sementara mengeluarkan suara yang menusuk telinga. Perbuatannya tidak hanya dapat didengar. Sinar merah yang membanggakan menyelimuti seluruh pedangnya.

—Itu adalah secret moves. Tapi aku tidak pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya.

Eugeo menahan nafasnya. Fenomena yang benar-benar mengejutkannya, tetapi, itu hanya terjadi dengan segera setelahnya.

Cahaya menyilaukan, yang tiba-tiba menyelimuti seluruh partnernya yang menggenggam pedang itu dan dia berubah dengan pakaian yang benar-benar berbeda dibandingkan dengan sebelumnya.

Kirito seharusnya memakai baju hitam dan celana panjang dengan warna yang sama, yang sobek dari banyak pertarungan hebat. Tetapi, gelombang cahaya bergerak dari tangannya, menuju badan dan kakinya, dengan mantel panjang dari kulit hitam dengan kerah tinggi dan lengan baju yang panjang yang secara langsung muncul seperti tadi dan celananya, juga, dengan sekejap berubah menjadi celana yang terbuat dari kulit.

Proses itu berakhir lebih cepat dibandingkan dengan sekejap mata, tapi fenomena itu tidak berakhir di situ. Perubahan nyata terjadi pada tubuh Kirito sendiri juga, meskipun pada skala yang lebih kecil dibandingkan dengan pakaian itu.

Pertama, rambut hitamnya menjadi sedikit memanjang dan menyembunyikan setengah bagian samping wajahnya.

Kemudian, mata hitam yang terlihat dari celah rambutnya yang terurai memancarkan cahaya yang dia tidak pernah lihat sebelumnya. Cahaya yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan ketika dia bertarung melawan kelompok goblin di Gua Utara, atau ketika dia menebas tangan Raios Antinuous, atau ketika dia bersilangan pedang dengan Deusolbert, Fanatio, dan Integrity Knight lainnya. Itu seolah-olah Kirito sendiri telah bersatu dengan pedang, menjadi ujung yang tajam.

Teriakan yang dipenuhi dengan kekuatan terdenagr keluar dari balik mulut terbukanya tepat setelahnya.

"U...ooooohh——!!"

Suara metal dan cahaya merah tua dari pedang yang memperkuat kekuatannya dan dengan segera mengikuti itu, tangan kanan Kirito yang ditusukka ke depan dengan sangat cepat, itu terlihat seperti menghilang. Ujung dari jubah panjangnya berkibar dengan keras seperti sayap monster.

Itu adalah secret move Aincrad-style. Itu sudah pasti.

Tapi meskipun begitu—sungguh skill menusuk yang sangat hebat. Itu adalah skill tebasan kuat yang berbeda dari yang pernah Kirito ajarkan padanya hingga sejauh ini, skill yang kelihatannya mendekati pada High Norkia style, jika dia harus memilih, tapi itu melepaskan secara sepenuhnya tujuan traditional style yang memfokuskan pada keindahan style itu, satu serangan yang dikhususkan untuk menusuk pada musuh—

".........!"

Dengan nafasnya tertahan, Eugeo entah bagaimana mengikuti cahaya merah tua dengan matanya.

Sword Art Online Vol 14 - 136.jpg

Sasaran Kirito, tentu saja, Kepala Pemimpin Chudelkin yang mengendalikan badut api. Tetapi, terdapat jarak lima belas mel menuju tempat dimana musuh menempatkan dirinya. Tidak ada secret move yang mungkin dapat mencapainya selama seseorang itu masih menggunakan pedang.

Chudelkin tidak melihat ke arah mereka pada saat Kirito melepaskan skill menusuknya. Pandangannya mengarah pada bagian belakang dari ujung aula itu dimana panah es yang ditembakkan oleh Eugeo telah melewatinya beberapa detik yang lalu.

Dia telah menempatkan semua pengetahuan dan tekadnya pada art itu, tapi itu sama sekali tidak efektif terhadap Administrator, hancur dengan satu nafas darinya. Tetapi, Chudelkin berbalik ke belakang dan memperingatkannya dengan suara serak daripada menghiraukan serangan yang menargetkan penguasa seperti yang Eugeo telah prediksi, jadi dia seharusnya telah memenuhi permintaan Kirito untuk mengalihkan perhatiannya.

Mungkin merasa lega setelah panah es itu hancur tanpa ada kesulitan, tapi Chudelkin membalikkan wajahnya kembali sementara masih berdiri dengan kepalanya.

Mata sipitnya terbuka lebar sebanyak yang dia bisa dalam sekejap saat itu dipenuhi dengan kumpulan emosi yang tercampur.

Emosi pertama adalah keterkejutan, pada cahaya dan suara yang dikeluarkan pedang Kirito saat menusuk ke depan di saat ini juga.

Emosi berikutnya adalah kelegaan, pada bagaimana itu hanyalah skill menusuk yang tidakl mungkin dapat mencapainya.

Emosi terakhirnya adalah ketakutan, pada pedang dengan cahaya merah tua yang terbentang tanpa henti dihadapan matanya saat itu secara kuat mengeluarkan suara metal.

Dia lupa untuk bernafas saat keterkejutan mengambil alih dirinya, hal yang sama terjadi pada Eugeo. Cahaya berwarna merah darah melewati samping kiri Alice saat dia menahan badut api itu di depan Kirito, yang menyerbu pada jarak lima belas meter dalam sekejap—

Dan dengan mudah menusuk tepat pada bagian tengah tubuh Chudelkin, yang tipis seperti tiang, sementara dia masih berdiri dengan kepalanya.

Pedang yang bercahaya itu hampir menjangkau jarak dua meter lainnya sebelum itu hancur menjadi percikan api merah yang melayang di udara. Percikan darah asli yang banyak mengikuti itu dengan segera setelahnya. Sumber dari luka itu adalah bagian tengah dari dada Chudelkin, yang cukup besar untuk hampir dapat membelahnya.

"Ohoooooohhhhh......"

Suara lemah, yang tidak memiliki kekuatan, terdengar keluar untuk waktu yang lama.

Tubuh yang berdiri dengan kepalanya perlahan kehilangan keseimbangannya dan terjatuh pada genangan darah yang diciptakannya sendiri.

Saat lebih banyak darah dibandingkan yang kelihatannya mungkin dari tubuh kurusnya yang mengalir keluar secara terus menerus, Chudelkin mengangkat tangan kanannya yang bergetar dan mengulurkannya pada Administrator yang melayang di tengah udara.

"......Aah......aah, Pe...Pemimpin...Suci......"

Ekspresi orang itu, saat dia mengeluarkan suara lemah, sama sekali tidak terlihat di pandangan Eugeo dari posisinya. Tangannya terjatuh pada karpet dengan suara pelan dan kemudian, Kepala Pemimpin Chudelkin berhenti bergerak.

Dengan itu, badut api yang sudah dalam posisi hampir melangkah pada tornado emas di atas dari keberadaan Knight Alice, juga, menghilang saat perut lingkarannya berubah menjadi banyak uap putih dan senyumannya menguap di udara. Serpihan emas kecil yang dikendalikan oleh Alice mengurangi kecepatannya secara perlahan dan melayang di udara seolah-olah itu kehilangan tujuannya dengan penghancuran musuhnya.

Telinga Eugeo menjadi terasa kaku dengan keheningan secara tiba-tiba, pada penyelesaian seperti itu sementara dia perlahan mengembalikan pandangannya menuju ke samping kanan.

Kirito telah menghentikan semua gerakannya dengan pinggangnya yang masih direndahkan dan tangan kanannya yang terhunus sejauh yang itu bisa.

Cahaya yang tersisa di permukaan pedang hitam itu dengan cepat menghilang dan ujung dari jubah panjangnya berkibar untuk terakhir kalinya sebelum itu tergeletak di bawah. Eugeo melihat itu dengan nafasnya masih tertahan saat penampilan partnernya menjadi kabur dan kembali pada penampilan sebelumnya, yang dimulai dari ujung jubah itu.

Bahkan setelah penampilannya kembali pada pakaian hitam sederhana dan celana panjang, Kirito masih tetap dalam posisi itu untuk beberapa saat. Tangan kanannya pada akhirnya terayun ke bawah secara perlahan dan ujung pedang hitamnya menyentuh karpet dengan suara keras.

Eugeo sekali lagi memikirkian jika dia seharusnya memanggil partnernya yang kepalanya tertunduk ke bawah.

Kirito, yang bahkan membantu Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio, kelihatannya tidak merasakan kegembiraan pada kehilangan Life dari Kepala Pemimpin Chudelkin, bahkan jika dia adalah musuh. Ekspresi wajahnya dari samping terlihat melalui celah rambut itu, yang sekarang memiliki panjang aslinya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ekspresi dingin seperti es yang dia miliki beberapa saat selama serangan itu.

Seseorang yang memecah keheningan selama beberapa detik itu adalah Alice saat kumpulan serpihan kecil kembali menuju pedangnya dengan suara metal, yang tajam. Merasakan ketegangan dari punggung knight itu, Eugeo mengalihkan pandangannya lebih jauh menuju aula itu sekali lagi.

Melayang di udara, Administrator mengulurkan tangan kiri rampingnya pada Kepala Pemimpin saat dia terbaring lemah di lantai.

Chudelkin sudah jelas berada di akhir hidupnya, tapi apakah dia bermaksud menggunakan art penyembuh padanya? Atau akankah pemimpin tertinggi menghidupkan dan mengembalikan Lifenya dari kematian—?

Itu terjadi ketika Eugeo menarik nafas dalam.

Bahkan tanpa memperlihatkan satupun emosi, suara pemimpin tertinggi dengan santai mengalir keluar.

"Setidaknya jauhkanlah dia, sungguh menyakitkan."

Gelombang sederhana dari tangan kirinya menghempaskan mayat Chudelkin seolah-olah itu sangat ringan seperti boneka kertas dan dia menabrak pada jendela yang ada di sisi timur di kejauhan sebelum terjatuh ke lantai bawah dan tergulung menjadi kecil.

"...Apa yang kau lakukan..."

Alice berguman dengan suara pelan pada saat melihat perbuatan pemimpin tertinggi.

Kepribadian gadis itu mungkin telah diubah menjadi seperti kumpulan Integrity Knight, tapi Eugeo, juga, mengerti bahwa dia memiliki keinginan besar untuk berbicara. Dia tidak memiliki perasaan menghargai apapun untuk Chudelkin, tapi setidaknya, dia telah kehilangan hidupnya dalam pertarungan dimana dia mengeluarkan semua kekuatan dari dirinya untuk masternya. Setidaknya, mayatnya pantas mendapat pemakaman yang layak.

Tetapi, Administrator bahkan tidak membiarkan pandangan lainnya menuju mayat Chudelkin yang dibiarkannya, sebaliknya, dia kelihatannya telah menghapus semua jejak keberadaan Kepala Pemimpin dari ingatannya saat dia menunjukkan senyuman misterius yang sama seperti sebelumnya dan berbicara.

"...Baiklah, itu mungkin adalah pertunjukan yang membosankan, tapi aku berhasil mengumpulkan sedikit data yang berguna dari itu."

Pemimpin tertinggi memasukkan perkataan yang tercampur dengan Pengucapan Suci[6] dalam suara indah, tanpa cacat. Masih terbaring pada sofa yang tidak terlihat, dia perlahan meluncur lima meter di udara dan bergerak menuju bagian tengah dari aula lingkaran itu.

Menguraikan helai rambu perak yang tertiup oleh angin. Administrator, perlahan menyipitkan matanya, yang bergetar dengan cahaya prisma, dan melihat ke arah samping Eugeo dengan tatapan tertarik—memfokuskan pada Kirito yang masih menundukkan kepalanya.

"Anak laki-laki irregular. Aku tidak dapat mengakses propertimu secara lengkap, tapi aku berpikir bahwa kau adalah unit tidak terdaftar yang lahir dari pernikahan irregular...tapi itu tidak benar. Kau berasal dari tempat itu, bukan? Manusia dari «sisi lain»...bukan?"

Eugeo yang hampir tidak dapat mengerti satupun perkataan yang dikatakan dalam bisikan.

—Tempat itu? Sisi lain...?

Kirito, partner berambut hitamnya, yang terlihat di hutan Selatan Rulid dua setengah tahun yang lalu dengan ingatannya menghilang seperti «Anak hilang Vector».

Kepala Desa telah memberitahu Eugeo bahwa fenomena seperti manusia yang muncul di setiap waktu tertentu adalah perbuatan jahat yang dilakukan oleh Vector, Dewa Kegelapan, mengulurkannya dengan tangan panjangnya dari balik Puncak Barisan Pegunungan dan menghapus ingatan seseorang, tapi Eugeo hanya benar-benar mempercayai itu ketika dia masih anak-anak.

Ada beberapa waktu ketika seseorang menghadapi situasi sangat menyakitkan dan menyedihkan hingga mereka mlepaskan ingatan itu berdasarkan keinginan mereka sendiri, bahkan mengambil hidup mereka sendiri pada saat itu. Seseorang yang mengajari Eugeo tentang itu adalah kakek Garitta, penebang kayu generasi sebelumnya. Di waktu lalu, dia kehilangan istrinya pada insiden tenggelam dan kesedihannya yang sangat besar mengambil setengah ingatan mengenai istrinya. Kakek tua itu tertawa pada saat itu, mengatakan bahwa ini adalah perbuatan baik kebaikan maupun hukuman dari Dewi yang memerintah kehidupan, Stacia.

Karena itu, Eugeo menduga Kirito berada di dalam situasi yang sama dan karena itu, menyimpan itu di dalam dirinya bahkan sampai sekarang. Dia berpikir sesuatu yang memilukan dan menyedihkan pasti telah terjadi padanya di kampung halamannya, seperti daerah timur atau selatan ketika menilai dari rambutnya dan warna matanya, akhirnya mencapai desa Rulid setelah mengembara untuk waktu yang lama dengan ingatannya yang hilang.

Salah satu alasan kenapa dia tidak menanyakan Kirito tentang masa lalunya selama perjalanan menuju Centoria Pusat dan hari-hari selama di akademi. Tentu saja, dia tidak dapat menolak rasa takut bahwa dia mungkin akan kembali ke kampung halamannya pada saat mendapatkan kembali ingatannya mungkin akan mengaarah padahal itu juga.

Tetapi.

Pemimpin tertinggi yang memiliki kemampuan untuk melihat seluruh Dunia Manusia mengatakan tempat lahir Kirito dengan perkataan aneh.

Sisi lain. Dengan kata lain, dia mengatakan itu dibalik Puncak Barisan Pegunungan—Dark Territory, tanah kegelapan? Adalah salah satu dan satu-satunya petunjuk yang dia miliki menuju tempat lahir Kirito, Aincrad style dengan skill tebasan beruntunnya, berasal dari tanah kegelapan?

Tidak, pemimpin tertinggi seharusnya memiliki informasi yang lengkap bahkan di Dark Territory. Integrity Knight di bawah perintahnya melewati Puncak Barisan Pegunungan dengan bebas dan bersilangan pedang dengan Darkness Knight. Karena itu, dia meragukan Administrator yang memerintah mereka tidak mengetahui daerah dan kota di Dark Territory, bersamaan dengan semua yang hidup di sana. Dia tidak perlu mengekspresikan dengan perkataan yang tidak jelas seperti mengatakan itu di sisi lain.

Mengikuti perkataan pikiran itu—

Apakah perkataan Administrator mengarah pada bagian luar dari dunia ini, suatu tempat bahkan dimana pandangannya tidak mampu mencapainya...? Bahkan melebihi tanah kegelapan...Bahkan mungkin lebih jauh dibandingkan dengan itu, di suatu tempat yang bahkan dapat dikatakan dunia lain...?

Pikiran seperti itu terasa terlalu absurd untuk Eugeo dan dia bahkan tidak dapat menemukan pekataan untuk mengekspresikan pikirannya sendiri. Tetapi, intuisinya memberitahunya bahwa dia hampir menemukan sesuatu yang sangat penting, apa yang dapat dianggap sebagai rahasia dibalik dunia ini. Tersiksa oleh keinginan yang hebat itu, Eugeo mengalihkan pandangannya dan menatap pada langit malam yang terbentang dibalik jendela besar.

Kumpulan bintang yang terlihat di dalam celah di antara awan hitam yang melayang.

Dibalik langit itu...apakah Kirito lahir di daratan sana? Tempat seperti apa itu? Dan apakah Kirito mendapatkan kembali ingatannya tentang itu...?

Seseorang yang memecahkan kehingan selama beberapa detik itu adalah partner berambut hitamnya yang perlahan mengangkat wajahnya.

"Itu benar."

Kirito menjawab dengan penegasan pada pertanyaan pemimpin tertinggi dengan kalimat pendek namun terasa berat.

Hampir menjadi kaku dengan keterkejutan, Eugeo melihat ke arah samping partnernya. Jadi Kirito benar-benar mendapatkan kembali ingatannya.

Tidak—Mungkin dari awal, dia sudah...?

Mata Kirito memperlihatkan pandangan sekilas pada Eugeo. Hal yang terkuat diantara berbagai emosi yang terlihat di mata hitam itu adalah cahaya yang terlihat bagi Eugeo sebagai permohonan untuk kepercayaannya.

Pandangannya dengan segera kembali menuju Administrator yang berdiri di hadapannya. Meskipun ekspresinya tegang, Kirito perlahan mengulurkan tangannya keluar dengan senyuman yang entah bagaimana terlihat masam.

"...Itu dapat dikatakan, level kemampuan yang diberikan padaku sebanding dengan penduduk dari dunia ini, yang sangat sulit untuk mendekati milikmu, Administrator...tidak, Quinella-san."

Pada saat dia mengatakan nama yang terdengar sangat asing itu, senyuman di wajah cantik pemimpin tertinggi sedikit melemah.

Tetapi, itu hanya untuk waktu sebentar saja, saat senyuman yang jauh lebih indah dibandingkan dengan sebelumnya, terlihat pada, mulut Administrator yang berwarna abu-abu mutiara mengkilap.

"Jadi anak di ruangan perpustakaan itu tidak berhenti menceritakan cerita yang membosankan itu...Dan? Apa alasan sebenarnya kau diturunkan menuju duniaku, anak muda? Dan tanpa satupun kemampuan supervisor juga?"

"Aku memiliki beberapa pengetahuan bahkan jika aku tidak memiliki kemampuan itu."

"Oh? Misalnya? Aku sama sekali tidak tertarik dengan cerita masa lalu yang tidak berarti itu."

"Kalau begitu bagaimana dengan cerita dari masa depan?"

Kirito menghadap pemimpin tertinggi dengan kedua tangannya yang diletakkan pada pedang hitam yang tertusuk di lantai. Ekspresi muramnya kembali, menegangkan area di sekitar pipinya, seperti cahaya hebat yang bersinar di matanya.

"Quinella-san, kau akan menghancurkan duniamu di masa depan."

Senyuman yang diperlihatkan di mulut Administrator hanya menjadi lebih dalam bahkan saat dia mendengar perkataan yang sangat berpengaruh padanya.

"...Aku akan melakukannya? Bukankah kau yang membawa penderitaan sebanyak ini pada boneka manisku, anak muda, dan bukan aku?" "Ya, setelah semua, kesalahanmu adalah membentuk Integrity Knight Order untuk melawan semua penyusup dari Dark Territory... Tidak, pembentukan itu sendiri adalah kesalahan."

"Fufu. Ufufufu."

Kelihatannya setelah kesalahannya ditunjukkan untuk pertama kalinya bahkan semenjak dia menjadi penguasa, jari pemimpin tertinggi menyentuh mulutnya sementara bahunya bergetar seolah-olah dia menahan diri dari tawa kuat.

"Fufufu. Itu benar-benar terdengar seperti yang anak itu akan katakan. kelihatannya anak itu telah mempelajari trik baru, untuk memikirkan bahwa dia mampu menipu anak laki-laki dengan penampilan seperti itu. Sungguh menyedihkan...Baik anak itu yang mengejarku hingga seperti itu dan anak laki-laki ini yang tertangkap karena kecerobahannya."

Tawa pemimpin tertinggi terus berlanjut melalui tenggorokan kecilnya.

Mulut Kirito terbuka untuk berbicara lebih jauh, tapi gema keras dari suara tajam terdengar keluar beberapa saat lebih cepat.

"Jika aku boleh mengatakan sesuatu, pemimpin tertinggi yang suci."

Seseorang yang mengambil langkah ke depan dengan armornya yang berbunyi adalah Integrity Knight Alice yang tetap diam sampai sejauh ini. Rambut pirang panjangnya berkilauan oleh sinar bulan seolah-olah melawan rambut perak berkilauan Administrator.

"Pemikiran mengenai ketidakmampuan dari Integrity Knight Order yang sekarang untuk menangani secara sempurna serangan gabungan dari tentara kegelapan yang sudah diperkirakan untuk waktu yang tidak akan lama adalah salah satu pikiran yang diperkirakan Komandan Integrity Knight Bercouli, yang terhormat, dan juga Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio-dono. Dan...Aku, juga, menyetujuinya. Normalnya, kita, Integrity Knight Order, telah mempersiapkan diri untuk bertarung hingga knight terakhir kita, tapi pemimpin tertinggi yang suci, apakah kau memiliki cara untuk melindungi orang biasa yang tidak berdosa setelah kematian kita? Aku sangat meragukan itu bahkan ketika kau mempercayai bahwa kau mampu untuk memusnahkan kekuatan hebat di tanah itu hanya dengan tangamu sendiri saja!"

Suara Knight Alice yang kuat namun sangat indah bertiup di sepanjang aula seperti angin yang menyejukan, menguraikan rambut Administrator. Dengan senyumannya menghilang, pemimpin tertinggi menatap ke bawah pada knight emas dengan ekspresi yang hanya memiliki jejak keterkejutan.

Dan perkataan Alice mengejutkan Eugeo dalam hal yang berbeda.

Integrity Knight Alice Synthesis Thirty. Kepribadian sementara yang menempati tubuh teman masa kecilnya yang sebelumnya, Alice Schuberg.

Gadis yang seharusnya berkepala dingin sebagai penegak hukum seperti yang dia tunjukkan ketika dia mendaratkan hantaman keras pada pipi Eugeo di aula besar akademi beberapa hari yang lalu. Knight Alice seharusnya benar-benar tidak memiliki banyak emosi yang Alice miliki seperti, kebaikan, keluguan dan di atas semua itu perasaan kasih sayang.

Tetapi, perkataan Knight Alice sebelumnya kelihatannya benar-benar seperti apa yang Alice akan katakan, bahwa dia tetap seperti dirinya dan hidup sebagai Integrity Knight.

Tidak menunjukkan tanda-tanda dia menyadari pandangan dari Eugeo yang menelan nafasnya, Integrity Knight itu menusuk Fragrant Olive Sword di lantai dengan suara yang keras dan menentang lebih jauh.

"Pemimpin tertinggi yang suci. Aku telah mengatakan bahwa obsesi dan kebohonganmu telah membawa Integrity Knight Order menuju kehancuran di waktu sebelumnya. Obsesi mengacu pada bagaimana kau mengambil semua senjata dan kekuatan dari penduduk Dunia Manusia, sementara kebohongan mengacu pada bagaimana kau sama sekali menipu kita sebagai Integrity Knight! Kau telah membuat kita berpisah dari keluarga kita...Istri dan suami kita, saudara kita, dan menyegel ingatan kita sementara menanamkan ingatan palsu tentang bagaimana kita telah dipanggil dari suatu tempat khayalan seperti Celestial World..."

Alice kelihatannya mendapati menundukkan kepalanya ke bawah dalam sekejap. Tetapi, knight itu dengan segera meluruskan punggungnya dan melanjutkan perkataannya dengan suara yang lebih tegas dibandingkan dengan sebelumnya.

"...Aku tidak akan menyalahkanmu jika itu memang dibutuhkan untuk melindungi dunia ini dan penduduknya. Tetapi, kenapa kau meragukan kesetiaan dan kehormatan kita terhadap Gereja Axiom dan dirimu, pemimpin tertinggi yang suci?! Kenapa kau melakukan upacara yang mengubah jiwa kita untuk memaksa kita untuk menurutimu?!!"

Eugeo melihatnya saat beberapa tetesan air kecil yang terjatuh dari garis melengkung yang membentuk pipi Alice sementara dia bertanya seolah-olah mengeluarkan perasaan dari dalam hatinya.

Air mata.

Integrity Knight yang sebenarnya telah kehilangan semua emosi, Alice, sedang menangis.

Eugeo menelan nafasnya dari keterkejutan, dihadapan matanya, knight itu membusungkan dadanya dengan tegas ke depan saat dia melihat ke atas pada penguasa tanpa menyeka pipinya.

Meskipun dihujani dengan perkataan yang jauh lebih tajam dibandingkan dengan pedang, Administrator memperlihatkan senyuman dingin, yang samar-samar seolah-olah dia tidak merasakan apapun dari itu, menganggap itu sebagai di bawah tingkatan nafas di udara.

"Oh, oh, Alice-chan. tampaknya kau telah memahami beberapa ide yang sedikit rumit di dalam pikiranmu. Ini mungkin baru lima...atau enam tahun? Itu semua telah berlalu...semenjak kau telah diciptakan."

Suara yang tidak ada kesungguhan, seperti biasanya, dengan tidak adanya semua emosi. Tetapi, nadanya yang sudah dipoles, menyerupai perak murni. Bahkan sedikit kehangatan sama sekali tidak ada dalam perkataan itu.

"...Aku tidak memiliki kepercayaan pada integrator units, kau bilang? Itu sedikit membingungkan. Aku telah menaruh begitu banyak kepercayaan pada kalian semua...Kalian adalah boneka manisku, membandingkan pada posisimu seperti jarum jam yang sangat indah, setelah semua. Bukankah kau, juga, mempoles pedang kesayanganmu dengan teliti agar tidak berkarat, Alice-chan? Itu juga sama. Hadiah yang aku berikan pada kalian semua, yakni piety modules itu berperan sebagai bukti dari cintaku. Jadi kalian boneka akan tetap indah untuk selama-lamanya. Jadi kalian tidak akan terganggu oleh kekhawatiran sederhana dan menderita dari pengaruh seseorang."

Administrator membawa tangan kirinya ke atas dengan senyuman kesepian dan menutar prisma segitiga itu dengan ujung jarinya. Itu adalah piety module yang ditingkatkan yang dikeluarkan dari dahi Eugeo.

Melihat ke bawah pada Alice melalui cahaya ungu, dia perlahan berbisik.

"Alice-chan yang menyedihkan. Wajah cantikmu telah menjadi sangat berantakan. Apa kau merasa sedih? Atau mungkin marah? ...Jika kau tetap menjadi bonekaku, kau akan terselamatkan dari emosi yang tidak berarti itu untuk selama-lamanya."

Suara lembut dari air mata yang terjatuh dari pipi Alice terdengar saat itu terjatuh pada armor emasnya yang bersamaan dengan suara kaku lainnya.

Fragrant Olive Sword yang berada di dekat kaki knight itu telah tertusuk pada karpet tebal itu dan telah tertusuk bahkan melalui lantai marbel itu.

Sementara menaruh cukup kekuatan di kedua tangannya yang bahkan dapat merusak material yang membuat Katedral Pusat tidak dapat hancur, Alice memaksakan perkataan dengan suara bergetar.

"...Paman...Integrity Knight Bercouli, yang terhormat, tidak pernah mengkhawatirkan ataupun menderita sedikitpun dari hari tanpa akhir dari tiga ratus tahun dia hidup sebagai Integrity Knight, apakah kau mempertimbangkan itu, pemimpin tertinggi yang suci? Apa kau mengatakan bahwa kau tidak menyadari kesedihan yang dimilikinya, yang mencurahkan kesetiaan terdalamnya padamu, secara terus menerus yang terbawa di dalam hatinya?"

Tusukan yang lebih tajam yang dapat disadari terdengar dari balik pedang itu. Alice berteriak di saat yang sama dengan kekuatan yang melebihi perkataan sebelumnya.

"Bercouli, yang terhormat, selalu menderita selama misinya untuk melindungi kesetiaannya terhadap Gereja Axiom dan penduduknya! Kau pasti telah mengetahui bahwa Bercouli yang terhormat telah memohon kepada Ruangan Para Tetua untuk meningkatkan kemampuan kelompok knight kerajaan, yang benar-benar tidak berguna, tidak terhitung jumlahnya! Paman...yang terhormat bahkan menyadari segel yang tertanam di mata kanan kita. Itu sudah jelas menjadi bukti bahwa dia adalah seseorang yang paling menderita, bukan?!!"

Pertanyaan yang diwarnai dengan air mata yang sebenarnya ditanyakan dengan banyak rasa sakit—

Tetapi, meskipun begitu, Administrator merespon dengan senyuman dingin, pada wajah cantik pucatnya.

"...Sungguh menyedihkan. Untuk memikirkan cintaku dapat dianggap sangat dangkal. Aku mengetahui hal itu, sejujurnya."

Sebuah ekspresi kekejaman terlihat melalui senyuman indahnya—atau seperti itu kelihatannya.

"Aku akan memberitahu ini, Alice-chan yang menyedihkan. Ini bukan pertama kalinya nomor satu...Bercouli mencemaskan pada masalah tidak berharga itu. Sejujurnya, anak itu telah mengungkapkan pikiran yang sama seratus tahun lalu. Karena itu, aku memperbaikinya."

Suara tawa yang indah keluar darinya.

"Aku telah melihat pada ingatan Bercoli dan menghapus semua kekhawatiran yang memenuhi itu hingga menyusahkannya. Tidak hanya dia...Hal yang sama berlaku pada semua knight setelah menghabiskan waktu seratus tahun. Aku membiarkan mereka semua melupakan semua ingatan menyakitkan itu. Jangan khawatir, Alice-chan. Aku tidak akan marah pada perbuatan jahat dari dirimu. Aku akan memastikan menghapus semua ingatan yang membuat wajah menyedihkan dari dirimu. Aku akan memastikan bahwa kau akan kembali menjadi boneka yang tidak perlu berpikir."

Administrator menahan tawa sama sekali mengguncakan semua keheningan dingin, yang kelam.

Itu tidak lagi perbuatan manusia.

Saat gemetarnya melanda pada saat itu dan menutupi seluruh tubuhnya dengan perasaan merinding, Eugeo telah membuktikan fakta itu.

Kemampuan untuk menghapus dan mungkin menulis kembali ingatan manusia seperti yang diinginkan. Eugeo telah mengalami ketakutan itu dengan tubuhnya sendiri. Administrator telah menyegel ingatannya dan mengubahnya menjadi Integrity Knight yang mengacungkan pedangnya pada Kirito dan Alice setelah dia mengucapkan art yang hanya terdiri dari tiga kata.

Jika Administrator melakukan Synthesis Ritual dengan cara yang benar, dia kelihatannya tidak akan pernah mampu untuk mendapatkan kembali kesadarannya seperti sekarang. Dia menggunakan celah yang sudah ada di ingatan Eugeo—meskipun dia tidak mengerti kenapa itu ada di sana—yang mengakibatkan keselamatannya.

Tetapi, dia masih belum menebus kesalahan dari dosanya. Eugeo tidak melakukan apapun selain dari mengalihkan Chudelkin dengan art selama pertarungan itu. Dia tidak dapat memaafkan dirinya hanya dengan itu. Dia merasa dirinya tidak pantas bahkan untuk berdiri di samping Kirito sekarang, untuk saling berdampingan, jika berbicara secara jujur...

Dia mengeratkan genggamannya pada Blue Rose Sword yang tergantung ke bawah dari tangan kanannya, lalu merasakan tatapan Kirito di pipi kanannya. Tetapi, suara rendah Alice berguman sebelum dia memiliki kesempatan untuk mengembalikan tatapannya.

"...Memang benar, aku merasakan cukup tersiksa dan menderita hingga dadaku terasa hancur. Ini bahkan sudah cukup aneh bahwa aku masih dapat berdiri dengan kakiku."

Suara bergetar, tapi perlahan mendapatkan kembali kekuatannya.

"...Tetapi, aku tidak menginginkan rasa sakit ini...perasaan ini yang aku rasakan untuk pertama kalinya untuk dihapuskan. Setelah semua, rasa sakit ini adalah apa yang benar-benar mengajariku bahwa aku bukanlah boneka knight, tapi seorang manusia. —Pemimpin tertinggi yang suci, aku tidak menginginkan cintamu. Aku tidak membutuhkan bantuanmu."

"...Boneka yang berhenti menjadi boneka."

"Itu bukanlah manusia. Alice-chan. Itu tidak lebih dari boneka yang rusak. Sayangnya, pemikiranmu sama sekali tidak penting. Selama aku melakukan synthesize padamu sekali lagi, setiap bagian dari emosimu di saat ini akan terhapus, setelah semua."

Itu adalah ketika pemimpin tertinggi mengucapkan perkataan menakutkan dengan senyuman lembut.

"Seperti apa yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri—bukan, Quinella-san?"

Kirito, yang tetap diam hingga sejauh ini, memanggil Administrator dengan nama lamanya sekali lagi.

Seperti sebelumnya, senyuman gadis itu terlihat muram pada saat mendengar itu.

"Sekarang, anak muda, bukankah aku sudah memberitahumu untuk mengakhiri cerita lama itu?"

"Akankah kebenaran akan terhapus jika aku melakukan itu? Bahkan kau tidak dapat mengubah masa lalumu seperti yang kau inginkan. Kau tidak dapat menghapus fakta bahwa kau, juga, terlahir sebagai anak manusia, merupakan seorang manusia...Bukankah begitu?"

Aku mengerti, Eugeo menyetujui itu di dalam hatinya. Kirito pasti telah mendengar cerita mengenai nama sebenarnya dan kelahiran Administrator dari penyihir di Ruangan Perpustakaan Besar, Cardinal.

"Manusia...Manusia, kau bilang."

Senyuman itu dengan segera kembali terlihat pada Administrator dan dia berguman dengan nada yang berbeda dari sebelumnya, entah bagaimana dipenuhi dengan sikap sinis.

"Ketika kau adalah seseorang yang mengatakan itu, anak laki-laki dari «sisi lain», itu sedikit terdengar rumit. Dengan kata lain, anak muda, apakah kau menyatakan bahwa dirimu jauh lebih unggul? Bahwa Underworld hanyalah sesuatu yang rendah...Apakah itu yang ingin kau katakan?"

"Tidak, tidak, bukan sesuatu seperti itu."

Kirito mengangkat bahunya dan menolak perkataan pemimpin tertinggi.

"Sebaliknya, manusia dunia ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan manusia di sisi lain dari berbagai hal. Tapi mereka berdua adalah manusia pada dasarnya, memiliki jiwa yang sama. Kau bukanlah pengecualian. Tidak peduli berapa ratus tahun telah berlalu, manusia tidak mungkin dapat menjadi tuhan, bukan?"

"...Dan apa masalahnya dengan hal itu? Apa kau menyarankan bahwa kita duduk sambil meminum secangkir teh sebagai sesama manusia?"

"Aku sepenuhnya setuju dengan itu...Tapi apa yang aku maksud sebagai manusia, kau bukanlah suatu keberadaan yang sempurna, seperti itu. Manusia membuat kesalahan. Dan kesalahanmu sudah melebihi apa yang bisa diperbaiki. Dengan Integrity Knight Order yang sebagian sudah hancur. Dunia Manusia akan hancur jika invasi gabungan dari Dark Territory dimulai pada saat ini."

Kirito lalu menatap pada Eugeo dan melanjutkan perkataan itu dengan suara tenang.

"...Dua tahun lalu, Eugeo dan aku telah bertarung melawan kelompok goblin yang melewati pintu masuk gua di sisi lain yang melewati Puncak Barisan Pegunungan. Integrity Knight yang bertugas di dalam area itu pasti telah diabaikan oleh mereka. Dan insiden seperti itu akan terjadi lebih sering dari sekarang. Pada akhirnya, melewati batasan itu akan berubah menjadi invasi dan dunia ini yang kau telah berusaha keras untuk kau atur...atau kau jaga agar tetap damai akan terkena kehancuran dan kekejaman tanpa ampun. Tentu saja, aku mempercayai bahwa kau tidak mengingkan hal itu bukan?"

"Perkataan besar untuk seseorang yang hendak menghancurkan knight itu, anak muda. Meskipun begitu, itu tidak apa-apa. Lalu?"

"Jika kau hanya berharap untuk menyelamatkan hidupmu, kau hanya akan memulai kembali setelah itu...Tentunya kau mungkin akan berpikir seperti itu."

Kirito berbicara dengan nada yang jauh lebih dipaksakan dan menggerakkan kaki kanannya setengah langkah ke depan.

"Untuk mengikat penduduk dari tanah kegelapan yang menyerbu menuju Dunia Manusia dan menjadi manusia yang tersisa dengan hukum, lalu membuat organisasi baru untuk memerintah di sana...Gereja Kegelapan, mungkin? Aku meragukan bahwa itu akan melebihi kemampuanmu, tapi meski begitu, itu tidak akan terjadi. Ada beberapa orang yang memegang kekuasaan mutlak dari dunia ini di «sisi lain». Ini adalah apa yang mereka akan pikirkan...Kali ini terjadi kegagalan, mari diulang lagi dari awal. Dan dengan satu kali menekan tombol, seluruh dunia ini akan menghilang. Gunung, sungai, kota...dan semua manusia yang hidup di dunia ini, termasuk kau, akan menghilang dalam sekejap."

Perkataan Kirito telah melebihi pemahaman Eugeo.

Hal yang sama mungkin berlaku pada Alice. Dia mengalihkan wajahnya pada swordsman berambut hitam itu dengan ekspresi kebingungan, matanya menjadi merah pada bagian ujungnya.

Tetapi, taampaknya pemimpin tertinggi saja yang benar-benar telah memahami apa yang Kirito katakan. Senyumannya benar-benar hampir menghilang dari mulutnya dan cahaya dingin menyala di mata peraknya yang menyipit.

"...Aku akan mengakui bahwa itu sama sekali tidak menyenangkan. Untuk seseorang memberitahuku secara jelas...Bahwa dunia ini adalah miniatur taman yang dapat dimanipulasi oleh keberadaan yang tidak diketahui."

Jari lembut di kedua tangannya saling bertautan dan menyembunyikan bagian bawah dari wajah cantiknya. Suara yang diucapkan oleh mulutnya yang tidak terlihat telah kehilangan nada bercanda ketika berbicara dengan Alice.

"Tetapi, jika memang begitu, bagaimana denganmu...Seseorang dari «sisi lain»? Apa kau selalu menyadari kemungkinan bahwa duniamu sendiri diciptakan oleh keberadaan yang lebih tinggi dan berusaha untuk menggembirakannya dengan perkembangan kalian?"

Sepertinya pertanyaan itu melebihi dugaan Kirito juga.

Melihat ke bawah pada swordsman yang menggigit mulutnya dan tetap terdiam dari atas, Administrator perlahan mengangkat dirinya dari kursi tidak terlihat itu dan mengulurkan tangannya ke samping. Kaki panjangnya, juga, terulur ke depan seolah-olah dia menaruh itu pada penahan. Tubuhnya memiliki kecantikan yang melebihi patung dari dewi dan memancarkan cahaya saat itu terkena cahaya bulan, menyebarkan perasaan suci yang sangat besar di aula tersebut.

"...Tentu saja tidak. Sifat egoismu telah membuat penciptaan dunia dan kehidupannya, dan kau akan menghapusnya pada saat itu kehilangan kegunaannya. Dan kau, anak dari dunia seperti itu, apakah kau memiliki hak untuk menantang pilihanku?"

Pemimpin tertinggi mengalihkan pandangannya menuju ke langit-langit...Tidak, menuju langit malam di kejauhan di balik kanopi itu dan dengan suara keras mengatakan.

"Aku tidak menyukai itu. Memuji permainan mereka sebagai keberadaan suci dari penciptaan dan memohon mereka untuk melanjutkan keberadaan dunia ini sama sekali menyedihkan. Kau seharusnya telah mengetahui jika kau telah mendengar cerita lama dari anak itu, anak muda...Satu-satunya alasanku hidup adalah untuk memerintah. Keinginan itu saja yang menggerakkanku dan membuatku tetap hidup. Kedua kaki ini untuk berjalan ke depan pasti untuk menekuk ke bawah untuk berlutut karena menyerah pada keberadaan lain!!"

Udara yang mengalir dengan teriakan itu dan rambut perak murninya yang menjadi sangat berantakan.

Dikuasai oleh kekuatannya yang tidak memperbolehkan jawaban, Eugeo tanpa sadar menarik kaki kanannya ke belakang. Administrator adalah seseorang yang menulis kembali ingatan Alice, musuh yang mengabaikan perbuatan buruk para bangsawan, tapi meski begitu, Eugeo harus mengakuinya sekali lagi bahwa dia adalah penguasa tertinggi dari dunia ini—keberadaan mutlak, demigod[7], bahwa seseorang tanpa nama keluarga seperti dirinya tidak akan pernah mendapat perhatiannya.

Partner berambut hitam Eugeo yang teah memandunya hingga sampai di sini, juga, kelihatannya telah dibebani dengan bagian atas tubuhnya bergetar, tapi dia mengambil satu langkah ke depan daripada ke belakang. Dia menusukkan pedang hitam di tangan kanannya ke lantai seolah-olah itu memberikan keberanian pada dirinya.

"—Jadi!!"

Perkataannya cukup keras untuk menguncangkan kaca jendela di belakang.

"—Jadi, kau berencana untuk mengabaikan Dunia Manusia saat itu dihancurkan dan duduk untuk mempercayai tahta, sebagai penguasa negara tanpa penduduknya, sementara menunggu, kehancuranmu, yang dalam keadaan kesepian?!!"

Dalam sekejap dia mendengar itu, bagian sifat perempuan dari wajah cantik Administrator menghilang, diganti dengan kemarahan murni dari waktu lama yang dia telah lalui. Tetapi, ekspresi itu dengan segera menghilang setelahnya dan senyuman aneh menghiasi mulut abu-abu mutiaranya sekali lagi.

"Mengenai permasalahan invasi gabungan yang kau katakan, anak muda, itu akan benar-benar menyedihkan jika kau hanya berpikir bahwa aku tidak memiliki apapun untuk direncakan. Aku memiliki banyak waktu untuk berpikir...Waktu saja yang merupakan temanku, tidak seperti sesoerang dari sisi lain."

"...Jadi, kau menyatakan bahwa kau memiliki cara untuk mencegah akhir seperti itu?"

"Kau mungkin dapat mengatakan itu mengakhiri, dan tujuan juga. Aku hanya ada untuk memerintah...Tidak ada batas yang diperlukan untuk itu."

"Apa...? Apa yang kau maksud?"

Sebagai gantinya, aura misterius yang menemani senyuman di mulutnya sebelum dia perlahan menepuk kedua tangannya secara bersamaan seolah-olah menyatakan bahwa percakapan itu sudah berakhir.

"Aku akan membiarkanmu mendengar sisa ceritanya setelah kau menjadi salah satu bonekaku, anak muda. Tentu saja, kalian juga Alice-chan, Eugeo. Jika aku boleh menambahkan suatu hal...Aku tidak memiliki keinginan untuk tetap diam dalam hal tidak hanya mengenai reset pada Underworld, tapi juga «final load experiment». Art untuk tujuan itu sudah selesai....Bergembiralah, aku akan memberikan kalian kesempatan untuk melihatnya sebelum semua orang."

"......Sebuah art...?"

Kirito menjawab dengan kaku.

"Kau bergantung pada system commands yang dipenuhi dengan batasan? Apa kau berencana untuk memusnahkan kekuatan kegelapan dengan suatu perintah yang hanya dapat digunakan kau saja? Meskipun bagaimana kau bahkan tidak dapat menangani kami bertiga sekarang?"

"Oh, untuk sekarang?"

"Tentu saja. Kau tidak lagi memiliki kesempatan untuk menang. Alice dapat menghentikan art penyerangan jarak jauh dalam beberapa detik sementara Eugeo dan aku akan menebasmu di waktu yang ada. Jika kau berpikir melumpuhkan kita dengan perintah yang membutuhkan syarat kau menyentuh kita, aku akan menebasmu dengan skill yang mengalahkan Chudelkin sebelumnya. —Aku tidak ingin mengatakan ini sekarang juga, tapi seorang penyihir art yang tidak dilindungi oleh satupun penjaga tidak dapat menang melawan beberapa swordsman. Itu seharusnya adalah peraturan mutlak bahkan di dunia ini."

"Satu...Satu, kau bilang?"

Administrator tertawa dari dalam tenggorokannya.

"Itu sangat baik bagaimana kau mengatakan itu. Ya, jumlah yang menjadi permasalahan pada akhirnya. Pengendalianku terbatas ketika terlalu banyak pion. Atau setidaknya, final load experiment akan menjadi terlalu banyak. Aku telah menambahkan Integrity Knight Order sementara mempertahankan keseimbangan itu, tapi..."

Penguasa tertinggi yang seharusnya tidak memiliki apapun selain dirinya sendiri setelah kehilangan pelayan setianya, Chudelkin, memperlihatkan ketenangan yang tidak terbatas dihadapan tiga pemberontak saat dia berbicara pada dirinya sendiri.

"Sejujurnya, kelompok knight itu hanyalah cara untuk mengakhirinya. Kelompok militer yang mungkin aku inginkan tidak perlu berpikir, lupakan memiliki ingatan atau perasaan. Itu hanya cukup menjadi keberadaan yang setia hanya untuk menghancurkan musuh dihadapannya tanpa akhir. Dengan kata lain...Itu tidak harus manusia."

"...Apa yang kau katakan..."

Menghiraukan perkataan Kirito, Administrator mengangkat tangan kirinya. Tergenggam di dalamnya adalah prisma segitiga, berkilauan dengan cahaya ungu yang indah—itu adalah piety module yang dikeluarkan dari dahi Eugeo.

"Dia mungkin adalah badut yang bodoh, tapi bahkan Chudelkin juga berguna. Dia telah memberikanku waktu untuk mengumpulkan setiap bagian dari art panjang ini, setelah semua. Sekarang...Bangunlah, pelayan setiaku, pengeksekusi tanpa jiwa!!"

Eugeo segera mengerti pada saat dia mendengar perkataan itu.

Itu adalah art yang terdengar secara perlahan dari dalam tempat tidur ketika dia kembali menuju ruangan ini setelah mendapatkan kembali kepribadiannya. Sacred art yang benar-benar sangat panjang yang bahkan dapat dianggap sebagai art paling tinggi bahkan oleh tingkatan pemimpin tertinggi, dengan pengucapan yang dia tidak dapat singkat menggunakan kekuatan pikirannya. Itu adalah art yang hendak dilepaskan di saat ini.

Ketika gadis berambut perak itu dengan keras meneriakkan dua kata yang terlalu pendek untuk dihentikan namun memiliki kekuatan yang melebihi semua kata lainnya.

"Release recollection!!"

Inti dari armament full control art. Sacred art untuk melepaskan ingatan senjata dan menarik kekuatan yang melebihi semua sacred arts— Tetapi, Administrator yang telanjang itu sama sekali tidak memiliki apapun pada dirinya, bahkan tidak satu pisau kecil. Apakah itu adalah piety module yang digenggam di tangan kirinya? Tetapi, prisma segitiga itu seharusnya tidak memiliki ingatan untuk dilepaskan.

Sebuah suara pelan namun jelas menusuk telinga Eugeo saat dia melihat ke atas pada pemimpin tertinggi dari sisi lain dengan keterkejutan. Clink, clink, suara keras dari metal terdengar dari belakang...tidak, dia mendengar itu, dari samping kanan dan kiri.

Eugeo dengan cepat berbalik dan nafas tajam keluar dari dirinya dikarenakan keterkejutan yang meliputi dirinya.

Tidak terhitung pilar yang melingkari aula luas itu yang memiliki ukuran empat puluh meter secara keseluruhan. Pedang imitasi, bersinar emas dan dibuat dalam berbagai ukuran, yang menempel pada itu sedikit bergetar.

"Apa...Apa itu...!?"

Suara Eugeo bergema bersamaan dengan perkataan "Mustahil...!" dari Alice.

Pedang imitasi yang paling besar diantara itu memiliki panjang yang mencapai tiga meter. Bahkan Administrator tidak akan mampu untuk mengayunkan itu dengan mudah. Bahkan sejak awal, pedang yang Eugeo lihat bukanlah satu-satunya pedang yang bergetar. Fenomena yang sama terjadi pada setiap pilar yang terpasang di sekitar aula itu. Jumlah pedang imitasi pedang tersebut kelihatannya berjumlah sekitar tiga puluh.

Release recollection art tidak dapat digunakan kecuali senjata itu sudah berada dalam tingkat keakraban yang dapat dikatakan bagian dari dirimu sendiri—Ingatan pedang kesayangannya hanya dapat pertama kali digunakan setelah itu dihubungkan dengan penggunanya dengan ikatan yang dalam.

Pemimpin tertinggi yang memikirkan anak buahnya hanya sebagai alat tidak mungkin dapat membuat ikatan seperti itu dengan semua tiga puluh pedang imitasi itu. Karena itu, apa sebenarnya ingatan yang dia lepaskan, dan apa sebenarnya pedang itu—?

Dihadapan mereka bertiga yang masih berdiri, sebuah gema yang sangat kuat terdengar keluar dan pedang besar itu terlepas dari pilarnya saat itu melayang ke atas.

Dengan salah satu pedang itu menggores rambut Eugeo saat dia membungkuk dalam keadaan kebingungan, pedang itu berputar dengan cepat saat itu menjulang ke atas dan berkumpul di udara tepat di atas pemimpin tertinggi, di bagian tengah aula itu. Fenomena yang bahkan jauh lebih mengejutkan dibandingkan dengan sebelumnya terjadi tanpa henti.

Tiga puluh pedang dengan berbagai ukuran itu mengeluarkan suara metal saat itu terhubung dan terkumpul menjadi tumpukan besar. Eugeo dengan segera menyadari bahwa itu entah bagaimana terlihat sama seperti sosok manusia.

Tulang punggung yang tebal tertusuk melalui bagian intinya sementara tangan panjangnya terulur keluar dari samping. Kakinya yang terbentang dari sisi bawah, keempat kakinya, memiliki ukuran dua kali dari manusia.

Berbalik menuju pedang yang dengan cepat berubah menjadi raksasa aneh, tidak, monster, Administrator mengulurkan piety module yang digenggam di tangan kirinya.

—Prisma segitiga itu adalah kunci dari release recollection art pemimpin tertinggi.

Tepat saat Eugeo memikirkan hal itu, Kirito berteriak dari sampingnya.

"Discharge!!"

Dia menatap dan melihat burung yang terbuat dari api keluar dari ujung jari di tangan kanannya yang terulur ke depan. Kirito saja yang mengucapkan art itu sementara Eugeo dan mungkin Alice, juga, melihat penggabungan pedang ini dengan keterkejutan.

Burung api yang tertembak keluar itu melesat menuju prisma yang digenggam Administrator sebagai targetnya. Terdapat beberapa jenis art penyerangan yang menggunakan thermal elements, tapi art «bentuk burung» yang Kirito gunakan memiliki sifat bergerak otomatis menuju tujuannya. Sebagai tambahan, pandangan pemimpin tertinggi berkosentrasi pada pedang besar di atasnya dan tidak menyadari gerakan Kirito. Itu seharusnya akan kena—!

Eugeo sangat yakin hal itu.

Sedangkan Administrator, dia benar-benar menghiraukan satu perbuatan itu dan perlahan melepaskan prisma segitiga di tangan kirinya. Daripada dia melemparnya, prisma segitiga itu terangkat dengan sendirinya, tertarik menuju bagian dalam tiga pedang yang membuat punggung raksasa itu.

Cahaya ungu itu perlahan terangkat, dan segera terhenti tepat dimana jantung raksasa itu seharusnya berada, yang tepatnya untuk mahluk hidup, dan kemudian mengeluarkan cahaya yang perlahan menjadi semakin kuat.

Cahaya itu tersebar melalui seluruh tubuh raksasa itu dan tidak terhitung pedang, bersamaan dengan pedang hiasan, yang melingkar itu, mendapatkan bagian tajam saat suara metal itu terdengar keluar. Dalam sekejap, Eugeo mengerti, secara insting, bahwa art pemimpin tertinggi itu telah selesai.

Administrator tersenyum dengan matanya menyipit.

Raksasa berpedang itu membentangkan keempat kainya dan melesat di udara—memposisikan dirinya diantara pemimpin tertinggi dan mereka bertiga, dan mendarat dengan suara keras dari getaran yang hebat.

Eugeo melihat ke atas dengan terdiam pada raksasa besar, dan aneh itu, yang kelihatannya memiliki tinggi lebih dari lima mel.

Punggung dan tulang rusuknya, dan bahkan kedua tangan dan keempat kakinya semua terkumpul oleh pedang imitasi—tidak, pedang—sebenarnya. Seperti mainan yang dibuat dari rautan batang kayu...atau mungkin tulang monster yang menghuni di daerah terjauh dari tanah kegelapan.

"...Mustahil..."

Perkataan itu terdengar entah bagaimana seperti rintihan yang berasal dari Knight Alice.

"Menggunakan full control art hingga skala seperti ini untuk beberapa...Lupakan tiga puluh senjata akan menjadi tidak konsisten dengan prisip dibalik perbuatan itu. Bahkan untukmu, pemimpin tertinggi yang suci, melanggar prinsip dasar dari sacred arts seharusnya tidak mungkin...Siapa kau sebenarnya..."

Suara Alice kelihatannya mencapai telinga Administrator juga, tapi gadis yang melayang di belakang raksasa dari pedang itu menghiraukan pertanyaannya dan memperlihatkan tawa pusa, yang tertahan sebagai gantinya.

"Ufufu...fufu, fufufu. Ini benar-benar kekuatan yang aku inginkan. Kekuatan murni yang mampu bertarung untuk selama-lamanya. Sebuah nama...Ya, aku rasa memanggil itu «sword golem» sudah cukup bagus."

Meskipun dalam situasi seperti itu, Eugeo masih menebak arti dibalik kata tidak dikenal dari Pengucapan Suci itu.

Dia mengetahui bahwa «sword»[8] adalah kata yang mengacu pada pedang. Tetapi «golem» adalah kata yang tidak pernah muncul di semua buku teks yang ada di akademi. Bahkan Alice yang seharusnya jauh lebih ahli dalam hal Pengucapan Suci dibandingkan dengan Eugeo kelihatannya tidak dapat mengatakan apapun.

Keheningan singkat telah dipecahkan oleh perkataan Kirito dengan suara serak.

"Robot...Pedang."

Terjemahan itu dalam Pengucapan Umum entah bagaimana kelihatannya sangat akurat. Administrator tersenyum lebar dan dia perlahan menepuk tangannya secara bersamaan.

Sword Art Online Vol 14 - 165.jpg

"Aku mengetahui bahwa kau menguasai Pengucapan Suci...Tidak, Bahasa Inggris. Bagaimana kalau menjadi sekertarisku sebagai gantinya, jika kau lebih menyukai itu daripada menjadi knight? Aku hanya ingin kau menjatuhkan pedangmu, meminta maaf untuk kesombonganmu, dan menjanjikan kesetiaan abadi padaku di saat sekarang, bagaimanapun juga."

"Sayangnya, aku meragukan bahwa kau akan mempercayai sumpah dariku. Di samping itu...Aku masih belum mengakui kekalahanku untuk saat ini."

"Aku sama sekali tidak memiliki apapun untuk melawan semangat itu, tapi aku benar-benar tidak dapat menerima kebodohan seperti itu. Mungkin kau sebenarnya mempercayai bahwa kau dapat mengalahkan golemku...Atau apapun seperti itu? Boneka ini terbuat dari pedang yang memiliki prioritas dengan tingkatan yang sama seperti sacred instrument? Persenjataan terhebat yang telah aku berikan setiap dari bagian ingatanku yang berharga untuk diselesaikan...?"

Persenjataan, dia pernah mendengar kata itu sebelumnya.

Itu seharusnya telah disebutkan dalam perkataan Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio. Ketika pemimpin tertinggi mencoba memfokuskan cahaya Solus pada satu titik dengan ribuan panel cermin, jadi itu menyebabkan api yang sangat panas tanpa penggunaan sacred arts, di waktu dulu di masa lalu. Pemimpin tertinggi telah menyebut percobaan itu, «eksperimen persenjataan»—

Jadi persenjataan adalah peralatan yang secara efektif memperlihatkan kekuatan yang melebihi sacred arts? Dan sword golem yang berdiri dihadapan pandangan mereka sekarang adalah bentuk sempurna dari persenjataan itu...Apakah seperti itu?

Mungkin setelah menatap pada ekspresi dari mereka bertiga saat mereka masih berdiri, Administrator menunjukkan senyuman dingin saat dia perlahan mengayunkan tangan kanannya.

"Sekarang...bertarunglah, golem. Hancurkanlah musuhmu."

Seolah-olah itu telah menunggu perintah seperti itu semenjak beberapa saat lalu—

Jantung dari raksasa berpedang itu bersinar terang dengan cahaya ungu.

Monster berkaki empat itu dengan segera menyerbu ke depan dengan teriakan suara metal.

Ukuran dari raksasa berpedang itu tidak dapat sebanding dengan badut api yang diciptakan oleh Kepala Pemimpin Chudelkin sebelumnya. Tetapi, monster berbentuk aneh dengan sambungan yang tidak terhitung jumlahnya berbunyi menginspirasikan ketakutan dingin di dalam hati Eugeo.

Seseorang yang pertama kali merespon pada kedua tangan golem itu, yang setiap tangan dibuat dari tiga pedang, yang terayun tinggi ke atas adalah Knight Alice yang melihat dengan kebingungan sampai sekarang. Menjadi lebih lambat hanya dalam waktu setengah detik, knight itu dengan kuat menghadapi serangan monster itu dari depan.

"Yaaaaahh!!"

Teriakan bertarungnya dengan suara keras melebihi suara metal yang berasal dari golem. Kedua tangan Alice mengenggam pada Fragrant Olive Sword dan dia merendahkan tubuhnya sampai batasnya sebelum mengayun itu ke bawah.

Kirito, juga, mulai bergerak pada saat itu. Menyerbu menuju ke samping kirinya, dia berputar di sekitar panggul golem itu.

Meskipun diliputi oleh hawa dingin dan ketakutan, Eugeo masih mampu untuk menebak tujuan Kirito dan Alice.

Mereka berdua telah menilai bahwa sambungan diantara punggung dan keempat kaki golem itu, bagian dimana panggul manusia berada, dapat menjadi kelemahan yang fatal bahkan jika itu memilikinya sejak awal. Tetapi, itu akan menjadi jauh terlalu berbahaya untuk menargetkan panggulnya dengan serangan langsung. Karena itu, Alice akan menjadi umpan dan menarik perhatian golem—bahkan jika itu hanya satu bagian, sayangnya—sementara Kirito akan menebas pada titik kelemahan musuh dari panggul itu. Sebuah strategi yang pada dasarnya sama dengan yang mereka lakukan untuk mengalahkan Chudelkin.

Eugeo melihat, merasakan baik kekaguman yang dalam dan rasa sakit yang ringan pada bagaimana mereka berdua dapat dengan segera memulai serangan kombinasi tanpa diskusi sebelumnya.

Pedang Alice menyerbu ke bawah seperti busur, meninggalkan jejak yang menyerupai cahaya Solus.

Tangan kanan monster itu, juga, terayun ke bawah dengan suara yang sangat keras. Hantaman yang cukup besar untuk menggetarkan seluruh katedral terdengar keluar pada saat pedang emas, besar dan kecil saling berhantaman, menghantam pada Eugeo sebagai angin kuat.


Dua detik berlalu semenjak serangan mereka berdua.

Dan kemudian, setiap dan semua permasalahan yang dapat dianggap "pertarungan" berakhir dalam sekejap.


Fragrant Olive Sword Alice—sacred instrument yang terbaik diantara yang terbaik, sacred instrument yang memiliki sifat «keabadian yang terus ada»—dengan mudah dikembalikan oleh tangan kanan golem itu.

Tidak mampu untuk menarik kembali pedang yang terdorong ke belakang, knight itu sedikit terangkat dari lantai dengan keseimbangannya runtuh.

Menargetkan Alice saat dia berusaha untuk mencoba untuk tetap berdiri tanpa terjatuh, pedang kiri golem itu menusuk ke depan pada kecepatan yang lebih cepat dibandingkan yang dapat diikuti oleh mata.

Suara keras terdengar, suara yang jauh terlalu biasa ketika dibandingkan dengan hantaman sebelumnya. Tapi di saat yang bersamaan, itu adalah suara yang menentukan pertarungan itu.

Ujung dari pedang besar yang kasar itu terlihat dari belakang punggung langsing Alice dan memercikan tetesan berwarna merah tua. Rambut panjang, pirang indahnya terurai sementara terkena darah segar.

Pelindung dadanya, terbelah menjadi dua, dalam sekejap kehilangan Lifenya dan kedua sisinya hancur menjadi berkeping-keping. Fragrant Olive Sword terlepas dari tangan kanan knight itu dan terjatuh ke lantai.

Dan akhirnya, pedang kiri golem itu tertarik keluar dengan tidak acuh, membiarkan Integrity Knight itu terjatuh ke depan.

"U...aaaah!!"

Teriakan yang terdengar seperti jeritan.

Itu terdengar keluar dari Kirito. Swordsman berambut hitam yang berputar menuju sisi kanan raksasa itu menyerbu cepat dengan cahaya terang di kedua matanya.

Pedang hitam itu melepaskan cahaya biru terang. Itu adalah secret move, «Vertical».

Golem itu tampaknya akan berhenti jika piety module yang tersimpan di punggungnya hancur, tapi pedang tebal yang melindungi itu dan perbedaan pada ketinggiannya menahan secret move untuk mencapainya. Karena itu, target Kirito adalah sambungan diantara punggung dan kaki golem itu. Tentu saja, raksasa itu menjadi tidak dapat bergerak jika bagian yang terbuka itu rusak.

Golem itu, yang baru saja mengayunkan kedua tangannya, seharusnya tidak memiliki cara untuk menahannya.

Tetapi, dengan segera setelah pedang Kirito bergerak.

Setengah bagian atas dari raksasa itu berputar dengan kecepatan yang kuat menggunakan tulang punggungnya sebagai poros. Tangan kiri raksasa itu, berbalik secara horizontal dengan gerakan yang mustahil bagi manusia, menebas Kirito dari sisinya.

Suara keras dari hantaman itu. Kirito telah mengalihkan lintasan dari secret movenya dengan refleks melebihi manusia dan menahan serangan golem itu.

Tetapi, pemadangan yang Eugeo lihat beberapa saat lalu terulang kembali di pandangannya.

Tidak mampu untuk menahan hantaman itu, Kirito melayang ke atas. Tanpa ada jeda, kaki kiri bagian belakang golem itu menyerang, menuju bagian dadanya yang tidak berarmor.

Suara keras itu terdengar sekali lagi. Terlempar keluar dari samping, Kirito menabrak pada jendela di sisi timur. Darah segar berjumlah mengerikan mewarnai kaca jendela sebelum swordsman berjubah hitam itu meluncur ke bawah dan terjatuh ke lantai.

Bahkan tidak mampu untuk membuat suara sedikitpun, Eugeo menatap pada genangan darah yang menyebar keluar dai bawah partnernya yang terjatuh dengan menghadap ke bawah.

Kaki dan tangannya benar-benar tidak dapat merasakan apapun. Itu terasa seperti tubuhnya dimiliki oleh orang lain, dia tidak dapat melakukan apapun selain menahan rasa gemetarnya.

Semua yang dapat dia gerakan adalah wajahnya dan Eugeo perlahan menghadap ke atas, menuju sword golem di jalan lima atau enam mel jauhnya. Monster itu, juga, melihat lurus ke bawah pada Eugeo. Gagang pedang di puncak punggungnya terlihat sama seperti wajah. Permata yang dimasukkan di kedua penahan itu berkedip tidak teratur seperti mata.

Tidak mampu untuk bergerak maupun berbicara, Eugeo hanya mengulangi suatu perkataan yang ada di pikiran lumpuhnya.

—Ini semua bohong.

—Bohong. Ini semua adalah kebohongan besar.

Knight Alice dan Kirito dapat dikatakan merupakan swordsman terkuat di Dunia Manusia sekarang. Bahkan dengan suatu monster aneh atau suatu jenis «persenjataan» sebagai lawan mereka, mereka berdua seharusnya tidak akan kalah seperti ini. Mereka akan segera berdiri kembali di waktu sekarang dan mempersiapkan pedang mereka sekali...

Hehe. Hehehe.

Tawa yang pelan mengalir keluar, disertai dengan suara metal, pelan yang selalu dikeluarkan golem itu.

Pandanganya bergerak dan melihat pemimpin tertinggi, Administrator, yang melayang di belakang dan dengan gembira melihat ke bawah pada tragedi itu. Mata transparannya tidak memantulkan apapun selain warna merah dari darah Kirito dan Alice. Tidak ada satupun perasaan kasih sayang yang ada di dalam itu.

Raksasa aneh itu mulai bergerak sekali lagi untuk melaksanakan perintah masternya.

Mengangkat kaki kanan depannya, itu mengambil langkah panjang, dan menusukkan itu ke bawah pada lantai dengan suara metal. Diikuti oleh kaki kiri depannya.

Cairan merah mewarnai tangan kiri raksasa yang menjulang itu. Eugeo memutuskan itu, setidaknya, dia akan mati dari tebasan tangan itu. Ketakutannya tidak ada lagi dan dunia itu menjadi tenang, jauh terlalu tenang—

Tanpa peringatan, sebuah suara memecahkan pikirannya seperti gelembung, itu membutuhkan beberapa saat sebelum dia menyadari bahwa suara itu nyata.

[Gunakan pisau itu, Eugeo!]

Itu adalah suara perempuan dengan gema yang entah bagaimana sangat dalam namun sangat indah.

Suara itu tidak terlalu terkenal untuk menjadi halusinasi di ambang kematiannya. Membuat tatapan ke bawah menuju sisi kanannya, Eugeo melihat—

Sesuatu yang berada di atas bahu kanan Kirito yang terbaring dengan ukuran yang hanya sama seperti ujung kuku seseorang, laba-laba berwarna hitam legam.

Itu adalah hal yang mustahil untuk serangga sekecil itu untuk berbicara. Tetapi, suara yang mendorong Eugeo untuk mempercayai itu. Semua keraguan pada pemilik dari suara itu menghilang dari pikiran lumpuhnya sementara mahluk kecil itu mengangkat kaki kanan depannya seolah-olah memarahinya.

"Itu...Itu tidak akan bekerja. Pisau itu tidak akan mencapai Administrator."

Dia menjawab dengan suara kecil dan laba-laba itu dengan kuat melambaikan tangannya yang terangkat.

[Tidak! Jalan masuk! Tusukan itu pada disk elevator yang ada di lantai!!]

"Eh..."

[Aku akan mengulurkan waktu! Cepatlah!!]

Laba-laba itu, meneriakkan kata-kata itu keluar sementara taring kecilnya terlihat dari mulutnya yang bergerak, menatap pada pipi pucat Kirito dan perlahan menyentuhnya dengan kaki kanannya, sebelum melompat menuju lantai.

Pada saat itu menyentuh ke bawah tanpa suara menuju lantai, laba-laba sangat kecil itu—

Berbalik menuju sword golem, yang kelihatannya memiliki ukuran sepuluh ribu dari ukurannya, dan berlari lurus ke arahnya.

Bagian 3[edit]

Aku berpikir aku telah mengatasi penderitaan rasa sakit fisik untuk beberapa waktu.

Di waktu yang sedikit lebih dari dua tahun lalu, aku menyilangkan pedang dengan goblin yang menyusup dari Dark Territory di gua utara dari Desa Rulid. Dalam pertarungan itu, aku mendapati bahu kiriku tertebas oleh golok yang dimiliki oleh pemimpin goblin itu dan meskipun itu jauh dari mematikan, rasa sakit yang menyakitkan—atau lebih tepatnya, rasa takut dari rasa sakit yang ditahan—membuatku bergemetar, gelisah, dan menyebabkan aku tidak dapat bergerak.

Pengalaman itu telah memperlihatkan kelemahanku di Underworld. Mungkin disebabkan oleh waktu panjang yang aku habiskan di dunia yang tidak ada rasa sakit, berkat fungsi pain absorber[9] yang terpasang pada Nerve Gear dan AmuSphere, aku telah kehilangan ketahananku terhadap itu.

Semenjak itu, aku telah mengendalikan diriku agar tidak memundurkan kembali diriku ketika diserang oleh pedang kayu pada saat berlatih dengan Eugeo atau pertandingan akademi dan mungkin sebagai hasilnya, luka yang aku derita di pertarunganku dengan Integrity Knight tidak membiarkanku terdiam dalam ketakutan, setidaknya. Setelah semua, di Underworld, kau dapat memulihkan diri secara penuh bahkan dengan tangan dan kakimu tertebas selama Lifemu tidak mencapai nol.

Tapi—

Tepat sebelum bagian akhir dari perjalanan panjang ini, aku telah diajari pelajaran pahit bahwa aku sebenarnya sama sekali tidak pernah berhasil untuk mengatasi itu dengan diriku saja.

«Sword golem», persenjataan militer yang diciptakan oleh pemimpin tertinggi, Administrastor memiliki kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Kemampuannya yang sangat hebat bahkan melebihi dari penguasa dunia ini. Itu sudah keajaiban bahwa aku mampu untuk menahan serangan pertama dari tangan kirinya, serangan kedua yang menggunakan kaki belakang bahkan jauh lebih cepat dibandingkan dengan apa yang dapat diikuti oleh mataku.

Pedang yang berperan sebagai kaki golem kelihatannya telah menusuk melalui organ dalamku, dari sisi kanan hingga sisi kiriku. Aku menyadari hawa dingin membeku menyentuh perutku dari hantaman keras itu, tapi yang aku rasakan pada saat melayang di udara, menghantam pada jendela itu, dan terjatuh ke lantai adalah rasa sakit yang mengalir pada seluruh tubuhku seolah-olah aku telah mengorbankannya. Tidak ada satupun dari jariku yang dapat bergerak sementara aku tidak dapat merasakan bagian bawah dari tubuhku sama sekali. Itu tidak akan aneh bahkan jika tubuhku terbelah dua dengan hanya satu lapisan kulit yang bersatu dengan itu.

Itu benar-benar misteri tentang bagaimana aku mendapatkan kembali kemampuanku untuk berpikir.

Atau mungkin itu dikarenakan rasa sakit yang jauh melebihi keputusasaanku.

Lifeku seharusnya berkurang dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. Aku pasti tidak memiliki lebih dari beberapa menit yang tersisa sebelum itu mencapai nol.

Dan Integrity Knight Alice bahkan memiliki waktu yang lebih sedikit dari waktu yang tersisa. Knight emas itu, terbaring di lantai dari kejauhan, telah tertusuk di dadanya oleh pedang dari sword golem itu. Kelihatannya dia telah menghindari serangan langsung pada jantungnya, tapi darahnya pasti mengalir keluar dengan kecepatan yang membahayakan. Kemungkinan bahkan untuk art penyembuh berangking tinggi tidak dapat menghentikan itu sangatlah tinggi. Fluct light yang secara ajaib menembus «segel di dalam mata kanan» yang terpasang pada semua penduduk Underworld dengan kekuatan tekadnya saja akan dihapuskan dihadapan mataku.

Hidup dari sahabat terbaikku yang tidak dapat dapat tergantikan, Eugeo, yang berdiri di luar daerah pandanganku seperti lilin yang terkena angin juga. Kekuatannya telah melebihiku, tapi Itu bukanlah musuh dimana ilmu pedang itu dapat melawannya.

Pandangan kaburku menunjukkan sword golem yang bergerak, menunjukkan getaran seperti sebelumnya.

Bahkan ketika aku mencoba memanggilnya untuk melarikan diri, hanya nafas lemah yang keluar dari mulutku.

Tidak, bahkan jika aku dapat memanggilnya, Eugeo tidak akan lari. Dia akan menggenggam Blue Rose Sword dan berdiri melawan musuh yang luar biasa ini untuk menyelamatkan Alice dan aku.

Musibah terburuk ini hanya dapat dihubungkan dengan kesalahpahamanku—perkiraan bodoh bahwa Administrator tidak akan membunuh.

Di Ruangan Perpustakaan Besar, penyihir, Cardinal, telah menjelaskan dasar dari apa yang membuat «taboos» di dunia ini dengan cangkir teh. Apa yang dia inginkan untuk menyampaikan bahwa semua taboo memiliki celahnya sendiri. Administrator mungkin telah menembus pembatasan pada dirinya dengan menciptakan persenjataan otomatis untuk membantai musuhnya daripada melakukannya dengan tangannya sendiri.

Rasa sakit yang kelihatannya terasa sakit seperti terbakar perlahan-lahan berubah menjadi mati rasa.

Lifeku dengan segera akan menjadi nol. Aku mungkin akan dikeluarkan dari dunia ini dalam sekejap, terbangun di STL, dan staff dari Rath akan memberitahuku. Tentang penghapusan Underworld dalam kondisi sekarang—bersamaan dengan setiap fluct light, termasuk Alice dan Eugeo tanpa pengecualian.

Jika Lifeku memiliki arti yang sama seperti Eugeo dan orang lainnya.

Jika hanya aku dapat menemui kematian yang sebenarnya seperti mereka berdua di sini.

Bagaimana aku dapat meminta maaf kepada mereka dengan apapun selain dari itu?

Keempat kaki yang bergerak dari sword golem dan cahaya dari rambut pirang Alice yang terbaring menyala dan bergetar pada pandangan yang perlahan menjadi gelap.

Bahkan cahaya itu, juga, perlahan meninggalkanku.

Itu adalah ketika suara pelan, namun kuat, terdengar di telingaku.

[Gunakan pisau itu, Eugeo!]

Itu terdengar lembut hingga terasa seperti aku pernah mendengar suara itu dari suatu tempat. Aku melanjutkan mendengarkan pertukaran pembicaraan diantara suara mezzo-soprano[10] dan Eugeo dengan pikiranku kosong.

Pemilik suara itu memberikan beberapa instruksi pendek sebelum menyatakan bahwa dia akan mengulur waktunya dan bergerak menuju telingaku. Itu terasa seperti sesuatu yang hangat menyentuh pipi kananku dalam sekejap.

Kehangatan yang membawa kembali sedikit perasaan menuju tubuhku dan aku berusaha mengangkat kelopak mataku yang setengah terbuka. Dihadapan mataku, sesuatu yang melompat ke bawah pada karpet yang dinodai dengan darahku tanpa suara—

Adalah laba-laba yang benar-benar, sangat kecil yang bersinar dengan cahaya hitam.

Itu tidak mungkin selain dari Charlotte. Familiar dari penyihir, Cardinal, yang mengawasi di sekitarku selama dua tahun untuk mengumpulkan informasi.

Tapi kenapa dia berada di sini sekarang? Laba-laba kecil ini seharusnya telah terlepas dari tugasnya oleh perintah masternya dari Ruangan Pepustakaan Besar dan menghilang pada celah diantara rak buku.

Rasa sakit dan takut telah meninggalkan pikiranku untuk sesaat dari keterkejutan yang luar biasa, mahluk yang jauh terlalu kecil memulai serangannya menuju golem raksasa yang ada dihadapan mataku.

Keempat kaki rampingnya dengan kuat terhentak di karpet. Tetapi, jarak yang dilalui langkah laba-laba itu sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan golem itu. Cukup bagaimana dia berencana untuk mengulur waktu dengan golem yang menyerang pada Eugeo?

Atau seperti itu yang aku pikirkan sebelum nafas lemah keluar dari diriku, yang diserang oleh keterkejutan yang lebih hebat.

Laba-laba itu berubah menjadi ukuran yang jauh lebih besar.

Setiap kali kaki tajamya menusuk ke lantai, ukuran dari laba-laba itu dengan cepat bertambah. Dia menjadi lebih besar dibandingkan dengan tikus, kucing, anjing, dan terus menjadi lebis besar bahkan dari itu. Sebelum aku mengetahui itu, pipiku yang menyentuh karpet itu dapat merasakan getaran kuat dari kaki Charlotte yang terhentak pada karpet.

"—Gigii!"

Membiarkan suara metal, yang berputar, sword golem akhirnya menyadari Charlotte. Dua permata di wajahnya berkedip seolah-olah menilai musuhnya.

"Shaaaa!"

Mengeluarkan teriakan keras, yang mengintimidasi, laba-laba hitam yang panjang keseluruhannya melebihi dua meter, juga, memiliki empat mata tersendiri yang bersinar dengan cahaya kuat.

Meskipun tingginya gagal untuk mencapai bahkan setengah dari golem, Charlotte yang memiliki tubuhnya ditutupi dengan kerangka yang terlihat keras berlawanan dengan musuhnya yang terbentuk hanya dari pedang, panjang tipis. Kerangka berwarna hitam legam yang bersinar seperti warna Rasta[11] yang diwarnai dengan cahaya emas dan cakar yang terlihat di delapan kakinya, juga, seperti kristal hitam.

Kedua kakinya yang terlihat lebih besar, berperan sebagai tangannya, dan cakarnya yang cukup panjang untuk terlihat menyerupai dengan pedang juga. Mengangkat kaki kanan itu secara tinggi, Charlotte mengayunkan ke bawah pada kaki kiri golem itu.

Hantaman metal, yang berat, seperti hantaman diantara pedang besar, bergema melalui ruangan itu. Percikapan api orange yang menyinari aula gelap dengan cahaya menyilaukan.

Kilaun cahaya itu membawa perhatian pada sosok Eugeo yang mulai berlari tanpa kusadari.

Tidak menuju golem itu. Maupun menuju Alice atau aku.

Dia berlari menuju pola lingkaran yang ada di dinding sisi selatan untuk melaksanakan instruksi Charlotte untuk menusuk pisau itu pada disk elevator.

Di belakang Eugeo, meskipun satu serangan yang berasal dari Charlotte merusak sedikit posisi sword golem itu, itu tanpa susah payah berdiri di lantai dan dengan segera mengangkat tangan kanannya ke atas dengan tinggi.

Golem itu kelihatannya benar-benar telah mengidentifikasi laba-laba hitam raksasa, yang muncul tiba-tiba sebagai musuhnya dan kedua mata putih kebiruannya bersinar tajam saat itu mengayunkan tangan kanannya ke bawah dengan sebuah teriakan.

Charlotte menahan serangan itu dengan kaki kirinya.

Pedang emas dan cakar kristal hitam saling berhantaman di tengah udara dan menimbulkan gelombang kejut sekali lagi. Getaran yang melintas melalui lantai menggetarkan ke dalam tubuhku juga.

Satu serangan dari sword golem itu dengan mudah menghempaskan baik Alice dan aku telah ditahan oleh laba-laba raksasa itu saat dia dengan kuat merendahkan keenam kaki belakangnya.

Mereka berdua melanjutkan perjuangan hebat yang sama dalam usaha untuk memaksakan yang lainnya untuk jatuh. Kerangka kuat yang membungkus kaki Charlotte saat dia menahan beban berat sementara tiga pedang yang membentuk tangan kanan golem itu berderit pada penghubungnya juga.

Pertarungan itu hanya berakhir dalam waktu tiga detik.

Seseorang yang hancur dengan suara keras adalah kaki kiri depan Charlotte. Cairan putih susu menyembur dari penghubungnya, mewarnai kerangka hitamnya.

Tetapi, laba-laba bahkan tidak mengambil langkah ke belakang dan menyerbu ke depan dengan kaki kanan depannya yang tersisa. Tujuannya adalah celah diantara tiga pedang besar yang membuat punggung sword golem itu. Cahaya ungu bersinar di dalam itu—piety module.

Cakarnya yang terulur keluar seperti cahaya petir hitam menusuk pada prisma itu, kelemahan terbesar dari golem itu—pada saat aku melihat itu, tidak terhitung pedang yang berbaris di sisi kiri dan kanan dari tulang belakang saat tulang rusuknya bergerak di saat bersamaan.

Jakiiin!! Suara metal seperti mesin yang memotong kertas terdengar keluar. Empat pedang di setiap sisi saling bersilangan. Tertahan di dalam itu, kaki kanan Charlotte terpotong dengan tidak berdaya dan aliran dari cairan tubuhnya menyembur keluar sekali lagi.

Tulang rusuk golem itu perlahan terbuka dan setengah dari kakinya yang terpotong terjatuh dari dalam. Mungkin meyakini kemenangannya, kedua mata golem itu berkedip dengan apa yang hampir terlihat seperti ejekan.

Charlotte mempertahakan keberaniannya bahkan dengan kedua kaki depannya yang hilang.

Mengeluarkan teriakan keras sekali lagi, dia menyerang ke depan untuk menggigit dengan taring pendek, tebal yang berada di mulutnya. Tetapi, serangannya tidak mencapainya. Kaki golem itu menendang dengan kecepatan yang lebih cepat dibandingkan dengan yang dapat diikuti oleh mata, menebas kedua kaki kiri lainnya dari Charlotte, dan laba-laba raksasa itu terjatuh ke lantai dengan suara keras, keseimbangannya hancur.

Itu cukup—larilah.

Aku mencoba untuk berteriak.

Aku tidak pernah berbicara secara langsung dengan laba-laba hitam bernama Charlotte.

Tapi dia selalu memperhatikanku. Dia bahkan memberitahuku bunga zephyria yang aku pelihara di taman bunga asrama masih dapat diselamatkan setelah Raios dan Humbert menghancurkannya. Meskipun bagaimana misinya dari Cardinal hanyalah untuk mengawasiku.

Ya—dia seharusnya tidak mati dalam pertarungan sia-sia seperti ini untuk tidak lebih dari mengulur waktu.

Larilah, aku mencoba untuk berteriak sekali lagi, tapi itu gagal untuk membuat suara sedikitpun.

Bangkit entah bagaimana dengan empat kakinya yang tersisa, Charlotte merendahkan dirinya untuk melancarkan serangan sembarangan sekali lagi.

Tapi tangan kiri golem itu yang datang dari lurus di atas dengan cepat menusuk secara dalam pada tubuh laba-laba hitam itu setelah membuat garis lengkungan indah.

"......Ah..."

Suara, yang jauh terlalu lemah untuk dianggap sebagai teriakan, keluar dari tenggorokanku.

—Itu terjadi pada saat itu.

Cahaya ungu dengan tiba-tiba terhapus dari pandanganku.

Itu adalah cahaya yang pernah aku lihat sekali sebelumnya. Kumpulan cahaya tersebar melalui aula itu adalah semua kumpulan dari huruf kecil. Cahaya sama tercipta ketika aku menggunakan pisau yang diberikan Cardinal padaku untuk menolong Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio.

Eugeo seharusnya telah mencapai disk elevator itu dan menusukkan pisau yang dia miliki. Aku sama sekali tidak yakin bagaimana hasil yang akan terjadi, tapi Eugeo sama sekali tidak membuang waktu yang diulur oleh Charlotte dengan serangan yang dia lakukan dengan mempertaruhkan hidupnya.

Dikelilingi cahaya yang perlahan-lahan menghilang, laba-laba hitam legam itu mencakar di lantai dengan kakinya yang tersisa, seolah-olah dia ingin untuk berdiri bahkan dengan tubuhnya tertusuk di semua tempat. Tetapi, tubuh raksasanya tenggelam dengan tidak berdaya di genangan darah putih setelah golem itu menarik tangannya dengan suara pelan.

Keempat mata induvidualnya yang terbaris di wajahnya telah kehilangan sebagian besar cahaya terang yang menyerupai rubi. Setelah memastikan kondisi dari disk elevator tersebut dengan matanya, Charlotte berguman dengan suara lemah saat darah bahkan mengalir dari celah diantara taringnya.

[Untunglah...Aku berhasil.]

Kaki kanannya bergetar dan mengubah arah yang dia lihat. Empat matanya menatap lembut padaku.

[Aku sangat senang...Aku dapat, bertarung...dengan kalian...di sini......]

Perkataannya berhenti seolah-olah itu menghilang di tengah udara. Cahaya merah di mata lingkaran, berkilauannya bergetar dan menghilang.

Saat pandanganku perlahan terhapus, aku menyadari bahwa air mataku masih mengalir bahkan sampai sekarang sementara aku mendekati kematianku sendiri. Laba-laba hitam raksasa itu menyusut dengan tenang. Genangan putih itu, juga, dengan cepat menguap, tidak meninggalkan apapun selain dari mayat yang berukuran seperti ujung jariku, menghadap ke atas dengan keempat kakinya terpotong.

Sword golem itu berbalik ke belakang seolah-olah kehilangan semua perhatiannya dalam sekejap untuk hidup yang telah diakhiri sementara dua matanya yang bersinar melihat pada Eugeo.

Sosok raksasa itu berbalik sekitar sembilan puluh derajat dan dengan berat menusukkan ujung dari kakinya yang terbentang di lantai. Pita dari cahaya ungu terus bergetar dimana itu terus bergerak.

Aku berusaha dengan semua kekuatanku untuk menggerakkan leherku beberapa sentimeter dan sumber dari cahaya itu mulai terlihat.

Lingkaran cahaya bergetar di lantai di sisi selatan dari aula lingkaran itu, di jarak pendeka dari jendela kaca. Itu adalah disk elevator yang Alice dan aku gunakan untuk menuju lantai keseratus ini.

Sesuatu seperti selang yang benar-benar kecil tertusuk di bagian tengah lingkaran itu. Itu adalah bagian dari pisau tembaga kemerahan yang Cardinal berikan pada kita. Pisau itu diciptakan dari sumber yang diambil dari ujung rambut yang dia jaga selama dua ratus tahun dan dapat membuka koridor yang menghubungkan ruangan diantara Cardinal dan apapun yang tertusuk dengan itu.

Eugeo telah menusuk cara terakhir untuk melawan Administrator pada disk elevator yang ada di lantai seperti yang diperintahkan oleh Charlotte, laba-laba hitam itu.

Disk elevator itu benar-benar bersinar dengan cahaya ungu. Gelombang frekuensi tinggi seperti garpu tala bergema dengan satu sama lain membesar saat pisau itu menjadi hancur dengan sendirinya, menghubungkan disk elevator dan kanopi dengan sinar cahaya sempit.

Eugeo yang masih berdiri di samping menutupi wajahnya dengan tangan kirinya, tidak mampu untuk menahan sinarnya. Sword golem itu yang bergerak menujunya, juga, mendapati penghubungnya berderit hingga berhenti seolah-olah menjadi ragu pada fenomena yang tidak dapat dijelaskan.

Sinar cahaya itu perlahan-lahan menjadi luas. Permukaan, coklat gelap berkilauan—papan—terlihat dari dalam itu. Tidak, itu bukanlah papan yang normal. Dikelilingi oleh kerangka persegi, itu memiliki gagang perak menonjol dari satu sisi, itu adalah pintu.

Pada saat aku menyadari hal itu, cahaya itu memperlihatkan sinar kuat, kemudian menghilang. Gelombang frekuensi tinggi itu berkurang juga dan keheningan kembali menuju aula itu.

Baik Eugeo dan aku melihat pada pintu tebal dengan bentuk dan warna yang dikenal mereka dengan terdiam.

Mungkin programnya berlanjut setelah ketidaknormalan itu mereda tapi sword golem itu mengambil langkah ke depan dengan kaki kanannya.

Pada saat itu—

Gagang perak itu perlahan berputar. Suara keras dengan segera bergema sekali lagi, diikuti oleh pintu itu terbuka secara perlahan.

Pintu itu berdiri di lantai dengan sendirinya, jadi seharusnya tidak ada lagi aula yang sama dibalik itu. Tapi sebaliknya, tidak ada cahaya bulan memasuki melalui celah diantara kerangka kayu dan pintu. Di dalamnya tenggelam pada kegelapan mutlak.

Pintu itu terus berayun hingga terbuka dan berhenti pada saat celah sekitar lima puluh sentimeter terbuka. Seseorang di dalamnya tetap tersembunyi dari pandangan. Sword golem itu melanjutkan gerakannya, menghiraukan pintu itu. Pedang besarnya akan berada dalam jangkauan Eugeo dalam tiga langkah...dua—

Tanpa peringatan, cahaya kuat yang luar biasa mengalir keluar dari kegelapan di balik pintu itu.

Cahaya putih murni dari petir itu secara horizontal terdorong ke depan.

Gagaan!! Hantamannya membuat suara yang menusuk telingaku melebihi semua sacred art yang pernah aku lihat. Petir yang mengenai secara langsung pada sword golem bergerak seperti mahluk hidup dan berubah menjadi bentuk raksasa menjadi sosok hitam.

Serangan petir itu menyebar untuk beberapa detik sebelum akhirnya menyusut dan golem, yang kelihatannya meningkatkan ketahanannya mendekati tidak terkalahkan, menjadi terhenti saat bagian atas tubuhnya goyah. Asap putih yang samar-samar terangkat dari sepuluh pedang dan kedua matanya berkedip secara sembarangan.

Monster yang dengan gigih mencoba untuk melanjutkan bergerak telah diserang secara keras untuk sekali lagi oleh serangan petir lainnya yang dikeluarkan dari pintu. Itu merupakan kecepatan tembakan yang tidak dapat dipercaya untuk sacred art dengan kekuatan seperti itu yang seharusnya membutuhkan pengucapan yang terdiri dari sepuluh kalimat. Dengan berbagai bagian hangus terbakar, golem itu mengeluarkan teriakan keras saat itu mengambil langkah ke belakang, tapi iu segera terkejar hanya setengah detik kemudian.

Suara petir yang jauh lebih kuat dari sebelumnya dibandingkan sebelumnya terdengar keluar dan serangan petir ketiga menyerbu ke depan. Diserang oleh cahaya putih, yang jauh lebih kuat daripada dua serangan sebelumnya, persenjataan militer yang memiliki tinggi lima meter dengan mudah terlempar seperti model kertas. Berputar di tengah udara, itu melewati tepat di samping kanan dari Administrator yang melayang dan menyerbu pada lantai di ujung aula itu di kejauhan. Aku merasa Katedral Pusat itu sendiri bergetar dari hantaman saat itu terjatuh.

Golem terbalik itu akhirnya berhenti bergerak, tapi ujung dari tangan dan kaki pedangnya masih bergetar dalam gerakan kecil yang menunjukkan bahwa Lifenya masih belum habis. Tapi meski begitu, kelihatannya tidak seperti itu dapat berdiri dengan kakinya untuk waktu yang dekat.

Aku menggerakkan pandanganku kembali dan melihat kegelapan dibalik pintu itu sekali lagi.

Aku sudah mengetahui secara pasti siapa yang akan muncul dari tempat itu. Tidak ada seorangpun yang mampu menembakkan secara cepat sacred art luar biasa seperti itu selain dari pemimpin tertinggi, Administrator, dan satu orang lainnya.

Apa yang pertama kali terlihat dari balik kegelapan adalah tongkat tipis dan tangan ramping yang menggenggam itu. Mengikuti itu adalah lengan baju yang longgar pada pergelangan tangan rampingnya. Beberapa lapisan menutupi pada jubah hitam beludru. Topi tajam yang dihiasi dengan untaian. Sepatu datar yang menyembul dari ujung jubahnya mengambil langkah ke depan dan melangkah tanpa suara pada karpet.

Cahaya bulan menyinari rambut keriting kecoklatan yang terlihat lembut dan kaca mata kecil berbingkai perak. Mata besarnya dimana perasaan muda dan kebijaksanaan yang tidak terikat berdampingan secara berkialuan dibalik lenasa itu.

Penyihir, Cardinal, yang memiliki tingkat kekuatan yang sebanding dengan pemimpin tertinggi, Administrator, sebagai dirinya yang lain dan tinggal di Ruangan Pepustakaan Besar yang terisolasi untuk waktu yang dapat dikatakan selama-lamanya, dengan tenang berjalan keluar dari cahaya bulan putih kebiruan, dan kemudian menghentikan kakinya. Pintu di belakangnya tertutup dengan sendirinya dengan segera setelahnya.

Bagaimana mungkin Cardinal mencapai aula ini dari ruangan perpustakaan yang terisolasi tersebut?

Kuncinya, tentu saja, pisau tembaga kemerahan yang Eugeo genggam. Pisau itu ditusukkan pada disk elevator oleh instruksi Charlotte telah terhubung dengan Cardinal. Jika memang begitu, menggunakan art untuk mengubah tempat tujuan yang terhubung pada disk elevator menuju ruangan pepustakaan seharusnya merupakan tugas mudah untuk gadis itu.

Penyihir kecil memeriksa pada lantai tertinggi dari katedral itu yang kelihatannya dia lihat untuk pertama kalinya dengan ekspresi tegang seperti seorang guru.

Kemudian, dia mengalihkan pandangannya pada Eugeo yang berdiri di samping dan memperlihatkan anggukan singkat. Dia juga menatap secara keras pada Knight Alice yang terbaring tidak berdaya di kejauhan. Menggerakkan pandangannya padaku pada posisi yang sanam, dia memperlihatkan senyuman kecil seolah-olah untuk menenangkanku dan mengangguk sekali lagi.

Dan akhirnya—

Cardinal dengan tegas menegakkan tubuh kecilnya dan menatap pada Administrator yang terus melayang di aula dengan diam. Ekspresi samping dari penyihir itu tidak memperlihatkan tanda-tanda dari emosi kuat yang dia mungkin miliki dalam pertemuan melawan musuh besarnya setelah dua ratus tahun.

Setelah mengkonfirmasi situasi ini, Cardinal perlahan mengangkat tongkat di tangan kanannya. Sosok kecilnya dalam sekejap melayang ke atas dan dia meluncur di udara menuju dimana Alice dan aku terbaring.

Turun menuju lantai, dia pertama memberikan punggung Alice sentuhan lembut dengan bagian atas tongkatnya. Partikel cahaya berkilauan itu bergerak dan berputar di sekitar ketika dia melakukannya, masuk ke dalam tubuh knight itu.

Kemudian, dia mengetukkan tongkat tipis pada bahuku. Cahaya hangat muncul sekali lagi dan membungkus tubuhku yang telah kehilangan semua sensasi.

Perasaan dingin dari kekosongan yang aku rasakan, seperti aku tidak lagi ada, pertama menghilang sebelum rasa sakit yang hebat kembali pada perutku yang menerima serangan langsung dari golem itu. Aku memaksa untuk menahan keinginanku untuk berteriak dan rasa sakit itu dengan segera mencair oleh gelombang kehangatan. Sensasi tubuhku kembali pada saat rasa sakit itu berkurang dan aku mencoba melenturkan tangan kananku yang kaku hingga tidak terhitung banyaknya sebelum merasakan luka di perutku dengan ketakutan.

Sentuhan itu menunjukkan bahwa bekas luka tebasan itu tersisa bagaimanapun juga, luka dalam yang hampir memisahkan tubuhku benar-benar telah tertutup, aku tidak dapat melakukan apapun selain terkejut. Jika aku ingin membuat efek yang sama dengan art penyembuh, aku harus mengucapkan kalimat secara terus menerus selama satu jam di hutan yang dipenuhi dengan sinar matahari.

Aku selamat—pikiran sederhana kebahagiaan kelihatannya bahkan tidak pantas untuk art yang sangat menakjubkan itu, tapi normalnya, bayaran dari nilai yang sesuai harus diperlukan. Tidak perlu dibilang bahwa seseorang yang membayar harga itu bukanlah aku, namun penyihir, Cardinal. Setelah semua, pemimpin tertinggi, Administrator, tidak akan membiarkan—

Seolah-olah benar-benar tidak mempedulikan pada imajinasi menakutkanku. Cardinal perlahan melayang ke atas sekali lagi.

Tempat dia mendarat setelah beberapa saat adalah dihadapan mayat hitam kecil yang terbaring di karpet.

Tongkat itu tertusuk pada lantai dengan suara pelan. Bahkan saat terpisah dari tangan pemiliknya, tongkat itu tetap berdiri tegak tanpa ada sedikitpun gerakan.

Cardinal dengan tenang membungkuk dan perlaha mengambil sedikit bagian dari mayat dari lantai dengan kedua tangannya. Menekankan tangan yang membukus laba-laba hitam, Charlotte, menuju dadanya, gadi itu menundukkan kepalanya ke bawah, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan hingga aku tidak dapat mendengarnya.

"Kau...sungguh keras kepala. Bukankah aku sudah membebaskanmu dari tugasmu, berkat usaha kerasmu, dan memintamu untuk tinggal seperti yang kau inginkan di setiap sudut rak buku yang kau sukai?"

Bulu matanya berkedip dua, tiga kali, dibalik kaca mata lingkarannya.

Aku menggenggam pedang hitamku yang terjatuh di sampingku dengan tangan kananku yang akhirnya dapat bergerak dengan benar, dan lalu menggunakan penahan itu untuk berdiri. Setelah bergerak mendekat menuju Cardinal, aku menyimpan perkataan yang seharusnya aku katakan dan justru, bertanya untuk pertama kali.

"Cardinal..Apakah itu bentuk sebenarnya...Charlotte...?"

Penyihir yang rambut keritingnya bergoyang saat dia mengangkat wajahnya dengan mata basah dan menjawab dengan nada yang kelihatannya bahkan sangat dirindukan.

"...Banyak hewan mistis dan aneh yang menghuni hutan dan tempat liar bahkan di Dunia Manusia semenjak dahulu. Kau seharusnya sudah mengenal mahluk seperti itu."

"...Monster yang memiliki nama...Tapi...Charlotte mampu berbicara dengan bahasa manusia dan dia bahkan memiliki emosi...Apakah dia memiliki fluct light...?"

"Tidak...Dalam perkataan dari duniamu, dia akan sebanding dengan NPC. Diberikan sistem kecerdasan buatan di bagian sudut dari Main Visualizer, dibandingkan dengan light cube, dia adalah bagian dari sistem, jika dikatakan. Tidak terhitung hewan besar, pohon kuno, batu raksasa, dan sesuatu seperti itu yang mampu merespon Pengucapan Suci yang diletakkan di Dunia Manusia juga. Tetapi...Mereka semua sudah menghilang sekarang. Setengahnya telah dimusnahkan oleh Integrity Knight sementara setengah lainnya digunakan sebagai sumber energi objek oleh Administrator."

"Aku mengerti...Jadi seperti naga penjaga yang diubah menjadi tulang di gua utara di Puncak Barisan Pegunungan..."

"Ya. Aku berpikir itu menyedihkan dan mengambil AI yang baru diciptakan sebanyak yang aku bisa. Meskipun banyak familiar yang aku gunakan adalah units kecil tanpa sistem kecerdasan, ada beberapa AI di dalam pengawasanku hingga aku mempekerjakan mereka seperti Charlotte. Setelah semua, mereka tidak akan menderita banyak luka bahkan setelah menyusutkan penampilan luar mereka berkat status tinggi mereka. Dia tetap tidak terluka meskipun bagaimana banyaknya keributan yang kau perbuat sementara bersembunyi di dalam pakaianmu dikarenakan hal itu."

"T-Tapi...Tapi meskipun begitu..."

Aku menatap secara keras pada mayat Charlotte yang terbaring di atas telapak tangan Cardinal dan melanjutkan pertanyaanku sementara menahan air mataku yang terdorong untuk mengalir keluar sekali lagi.

"Perkataan dan perbuatan Charlotte tidak mungkin berasal dari suatu jenis AI palsu. Dia menyelamatkanku. Dia mengorbankan dirinya untukku...Kenapa.. Bagaimana mungkin..."

"Aku yakin bahwa aku pernah mengatakan ini sebelumnya, bahwa anak ini sudah hidup selama lima puluh tahun. Dia terus berbicara dengan diriku dan mengawasi banyak manusia pada saat itu. Meskipun itu sangat singkat, dua tahun telah berlalu semenjak dia telah menempel padaku...Dengan waktu sebanyak itu yang dihabiskan bersama, bahkan tanpa fluct light, dia—"

Nada Cardinal tiba-tiba meningkat dengan kuat dan dia menyelesaikan perkataannya, dengan tegas.

"Bahkan jika bentuk sebenarnya dari kecerdasan itu tidak lebih dari data input dan output yang sia-sia, hati yang sebenarnya masih tetap berada di dalam itu. Ya, bahkan untuk saat ini, bahkan cinta. —Bahkan waktu selama-lamanya tidak akan cukup untukmu agar mengerti tentang itu, sayangnya...Administrator, keberadaan kosong!!"

Memanggil dengan suara keras, penyihir seperti anak-anak itu akhirnya menggerakkan kedua matanya pada musuh bebuyutannya selama dua ratus tahun.

Mengambang di kejauhan dan melihat pada situasi dengan terdiam, pemimpin tertinggi tidak dengan memberikan jawaban untuk sesaat.

Tangannya yang tergenggam menutupi mulutnya, tidak menunjukkan apapun selain cahaya misterius di mata transparannya.

Berdasarkan pada cerita yang diceritakan Cardinal padaku di ruangan perpustakaan, ketika Administrator bergabung dengan Cardinal System yang sebelumnya, dia memanipulasi fluct lightnya dan menghilangkan sebagian besar emosinya agar mencegah pemberontakan dari perbaikan sendiri dari sub-process—kepribadian kedua yang membuat dasar dari Cardinal yang sekarang.

Bahaya dari sub-process memiliki tubuhnya telah berlalu setelah mereka terpisah menjadi dua manusia unik, tapi meski begitu, dia seharusnya telah mengetahui bahwa emosi itu tidak berguna dan tidak perlu untuk mengambil kembali.

Karena itu, bayangan yang aku miliki dari keberadaan yang dikenal sebagai Administrator adalah sosok manusia yang mengerjakan tugas seperti mesin, sesuatu yang benar-benar seperti program komputer. Tapi pemimpin tertinggi yang aku hadapi di lantai tertinggi dari katedral ini benar-benar berbeda dari imajinasiku. Aku tidak dapat merasakan sesuatu yang salah mengenai senyuman yang dia miliki saat dia melihat Chudelkin dengan rasa jijik dan bermain dengan kita.

Dan bahkan sekarang—

Tawa merdu terdengar keluar dari mulut gadis berambuk perak, bermata perak yang disembunyikan kedua tangannya saat kedua matanya menyipit.

Hehe. Hehe, hehe.

Menganggap perkataan Cardinal, yang dikatakan dengan sangat berat, seolah-olah itu tidak berarti dibandingkan dengan angin sepoi-sepoi, bahu langsingnya bergetar saat dia melanjutkan tawanya.

Tidak lama kemudian, dia menambahkan kalimat pendek diantara tawanya—suatu kata yang membawa hidupku menuju ketakutanku yang sebelumnya.

"Aku berpikir bahwa kau akan datang."

Hehe, hehehehehehe.

"Aku berpikir bahwa kau akan keluar dari gudang kotor itu jika aku cukup mengusik anak-anak ini. Itu batasmu, pendek. Mengirimkan pionmu untuk berhadapan denganku, namun tidak meninggalkan mereka seperti pion yang seharusnya. Manusia benar-benar melebihi semua pertolongan."

Seperti yang aku—

Seperti yang aku takutkan, tujuan sebenarnya Administrator adalah untuk memancing keluar Cardinal dari Ruangan Perpustakaan Besar yang terisolasi dengan mendorong kita hingga batasnya. Dengan kata lain, pemimpin tertinggi masih memiliki kartu truf yang mampu menjamin kemenangannya dalam situasi ini.

Tapi sword golem, yang seharusnya menjadi senjata terkuatnya, hampir dihancurkan oleh Cardinal dan baik Eugeo dan aku mampu untuk bertarung entah bagaimana. Sebuah tatapan yang mengkonfimasi bahwa Alice seharusnya mendapatkan kembali kesadarannya juga saat dia mencoba untuk berdiri dengan tangannya menekan pada lantai.

Seperti dua sisi dari koin yang sama, Cardinal dan Administrator sudah pasti akan berakhir seri jika mereka bertarung satu sama lain secara satu lawan satu, jadi kita seharusnya memiliki keuntungan besar dengan situasi sekarang.

Dengan kata lain, Administrator seharusnya berhenti menonton dan memulai serangan dengan semua kekuatannya pada saat pintu yang terhubung menuju ruangan perpustakaan itu terbuka. Tapi kenapa dia tidak menolak kehancuran dari sword golem, pemulihan Alice dan diriku, dan tidak perlu dibilang bahwa percakan itu diantara Cardinal dan aku sama sekali tidak pendek?

Normalnya, Cardinal seharusnya memiliki perasaan khawatir yang sama denganku. Tetapi, bagian wajahnya hanya memperlihatkan senyuman yang tetap.

"Hmm. kelihatannya kau, juga, telah mendapati terbiasa dengan sikap manusia dari dirimu. Apakah kau menghabiskan seluruh dua ratus tahun dengan mengasah tawa itu dihadapan sebuah cermin?"

Administrator mengkesampingkan perkataan keras itu sekali lagi dengan tawanya.

"Oh, hal yang sama berlaku padamu, pendek, apa yang kau pikirkan dengan cara berbicara seperti itu? Kau bergetar sangat hebat ketika kau dibawa menuju hadapanku dua ratus tahun yang lalu. Bukan begitu, Lyceris-chan?"

"Jangan memanggilku dengan nama itu, Quinella! Namaku adalah Cardinal, sebuah program yang ada hanya untuk menghapus dirimu!"

"Ufufu, jika kau mengatakan itu. Maka aku adalah Administrator, seseorang yang mengatur semua program. Aku meminta maaf untuk perkenalan diri yang terlambat, pendek. Itu membutuhkan sedikit waktu untuk mempersiapkan art untuk menyambutmu."

Menyelesaikan perkataan itu dengan senyuman, Administrator perlahan mengangkat tangan kanannya.

Jari-jari yang terentang itu menekuk seolah-olah itu menghancurkan sesuatu yang tidak terlihatl. Pipinya yang tetap berwarna putih murni sampai sekarang samar-samar menjadi merah sekarang dan cahaya kuat terlihat di mata peraknya. Hawa dingin mengalir di punggungku pada saat menyadari pemimpin tertinggi menjadi benar-benar serius untuk pertama kalinya.

Tapi tidak ada waktu untuk melakukan apapun. Waktu sekejap adalah semua yang dibutuhkan Administrator untuk menggenggam tangan kanannya.

Dengan itu—

Gasshaaan!! Sejumlah besar dari suara pecah yang tedrangr keluar dari setiap bagian aula itu. Aku berpikir bahwa dinding kaca raksasa yang mengelilingi aula itu semuanya pecah.

Tetapi, itu juga salah.

Apa yang pecah adalah sesuatu dibalik jendela—kumpulan awan, hitam yang bergerak,langit yang dipenuhi bintang, cahaya bulan bersinar terang dengan cahaya putih kebiruan, sluruh langit malam.

Aku terlihat, tercegang, saat langit itu menjadi bagian tipis yang tidak terhitung jumlahnya, melayang di sekitar, dan tersebar, terjatuh dan hancur menjadi bagian kecil saat itu menabrak satu sama lain. Apa yang terlihat setelah bagian yang memperlihatkan langit berbintang itu menjadi hancur adalah pemandangan yang hanya dapat dianggap sebagai «ketiadaan».

Ruangan hitam dan ungu yang menyatakan tidak ada luasnya itu membuat pola marbel itu bergetar dengan keras. Dunia yang benar-benar hitam yang akan menghisap pikiran seseorang jika menatapnya untuk waktu terlalu lama.

Itu benar-benar berbeda dari warna dan keindahan, tapi meski begitu, aku merasa itu menyerupai pemandangan dari waktu itu. Kumpulan cahaya putih yang aku lihat sekali menyelimuti langit matahari tenggelam saat kastil melayang, Aincrad, hancur.

Underworld tidak mungkin menjadi hancur dan menghilang, bukan? Dunia Manusia, Dark Territory, desa dan kota... bersamaan dengan semua orang yang tinggal di dalamnya, semuanya?

Apa yang menarikku kembali dari perasaanku panikku adalah suara tegas, dan teguh, meskipun tidak spenuhnya kebal dari keterkejutan.

"Kau...memutuskan kordinat itu, bukan?"

—Apa maksudnya...?

Aku melihat ke depan, tidak mampu untuk mengalihkan pandanganku dari Administrator bahkan di dalam kebingunganku, dan gadis berambut perak itu perlahan merendahkan tangan kanannya saat dia menjawab dengan bisikan.

"...Aku memang adalah seseorang yang bersalah untuk dua ratus tahun lalu ketika kau melarikan diri diambang kematian, pendek. Gudang kotor itu secara pribadi terpasang sebagai kordinat yang terputus dari diriku, bukan? Karena itu, aku memutuskan untuk belajar dari kesalahan itu. Untuk mengurungmu di sisi ini di waktu beikutnya saat aku memancingmu keluar. Sebuah kandang untuk tikus yang diburu oleh kucing."

Menutup mulutnya, pemimpin tertinggi menjentikkan jarinya dengan tangan kirinya untuk kali ini, seolah-olah untuk menaruh sentuhan akhir.

Suara pecah, yang lebih pelan dibandingkan dengan sebelumnya, dengan segera terdengar keluar saat pintu coklat yang berdiri di belakangnya tersebar. Bagiannya tersebar bahkan menjadi bagian lebih kecil sementara berada di tengah udara, pada akhirnya menghilang. Sebagai tambahan, pola lingkaran yang menandai posisi dari disk elevator menghilang dari lantai juga.

Eugeo yang berdiri di samping itu mengulurkan kakinya dengan terkejut dan menghentakkan kaki ke karpet tidak terhitung jumlahnya. Sebelum mengangkat wajahnya dan memperlihatkan tatapannya saat dia melihat ke arahku.

Dengan kata lain, ini adalah bagaimana itu terjadi?

Apa yang Administrator hancurkan bukanlah dunia dibalik jendela itu, tapi penghubung sebenarnya diantara dunia dan lantai tertinggi katedral yang ada di sini.

Bahkan jika kita entah bagaimana memecahkan jendela kaca di sekeliling, kita tidak dapat pergi melewati itu. Karena tidak ada satupun tempat untuk pergi. Saat metode untuk mengurung seseorang di dunia virtual, itu jauh terlalu sempurna, seseorang yang benar-benar dperbolehkan melakukan itu adalah seseorang yang memiliki kemampuan supervisor. Dibandingkan dengan ini, di area penjara yang berlokasi pada Kastil Besi Hitam di lantai pertama dari Aincrad lama bahkan dapat dianggap naif.

Administrator tidak membuang beberapa menit semenjak kemunculan Cardinal, tapi menggunakan itu untuk mempersiapkan art hebat ini—seperti itu.

Tapi.

Jika penghubung diantara ruangan itu benar-benar terputus.

"Aku yakin kiasan itu masih ada yang kurang, sayangnya."

Kelihatannya dengan mudah untuk mencapai kesimpulan yang sama denganku, Cardinal membantah dengan suara rendah.

"Bahkan jika hanya membutuhkan beberapa menit untuk memutuskannya, menghubungkannya kembali bukanlah tugas yang mudah. Karena itu, kau, juga, benar-benar terkurung di tempat ini. Dan aku mempercayai bahwa itu akan sangat sulit menentukan kelompak yang akan menjadi kucing atau tikus dalam situasi ini. Setelah semua, kita berempat dan kau sendiri. Kau akan membuat kesalahan besar jika kau meremehkan anak muda ini, Quinella."

Ya, itu benar.

Dengan keadaan yang seperti sekarang, Administrator seharusnya tidak akan mampu melarikan diri dari ruangan ini dengan mudah. Dan baik Cardinal dan dia adalah pengguna sihir yang memiliki kemampuan yang benar-benar sama. Kita dapat mengakhiri pertarungan dengan menebasnya sementara Cardinal menahan sacred arts yang mengarah pada kita—itu adalah apa yang dapat disimpulkan.

Tapi bahkan setelah Cardinal secara terbuka mengatakan itu, pemimpin tertinggi tetap mempertahankan senyuman tipisnya.

"Empat melawan satu? ...Tidak, perhitunganmu hanya sedikit meleset. Untuk lebih akuratnya... itu akan menjadi empat melawan tiga ratus. Bahkan tanpa menghitung aku, seperti itu."

Suara manis itu terpotong pada saat gumpalan metal—sword golem yang seharusnya hampir hancur—di belakang pemimpin tertinggi terdengar dengan suara yang menusuk telinga.

"Apa..."

Cardinal berteriak dengan nada dalam. Dia pasti telah menduga bahwa itu benar-benar terhapus setelah terserang tiga serangan petir beruntun yang dia tembakkan dengan semua kekuatannya. Aku tidak memiliki masalah untuk mempercayai itu juga.

Tapi cahaya di kedua mata golem yang seharusnya menghilang beberapa saat lalu sekarang bersinar terang seperti dua bintang. Mengarahkan cahaya kejam pada kita, raksasa mengangkat tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya seolah-olah itu telah pulih dari lukanya dalam sekejap sebelum menusukkan keempat kakinya pada lantai dan berdiri tegak dengan teriakan keras dari perutnya.

Jika melihat dari dekat itu menunjukkan kumpulan pedang yang seharusnya telah terbakar di berbagai tempat oleh serangan petir Cardinal telah mendapatkan kilauan baru tanpa kusadari.

Itu memang benar bahwa senjata dengan prioritas tinggi dilengkapi dengan kemampuan untuk memulihkan Lifenya di dunia ini, tapi itu hanya ketika mereka dirawat dengan benar dan disarungkan. Meski begitu, memulihkan setengah Lifenya akan membutuhkan waktu satu hari penuh dan sejak awal, pedang yang membentuk tubuh golem itu adalah bagian hiasan yang terpasang pada pilar itu.

Bahkan jika semua dari bagiannya memiliki tingkat prioritas yang sebanding dengan sacred instrument seperti yang dikatakan Administrator, tidak ada alasan untuknya untuk pulih dari kerusakan secepat ini.

Tapi sword golem yang berdiri di belakang pemimpin tertinggi diselimuti oleh aura yang benar-benar sama—tidak, lebih kuat dibandingakn dengan apa yang aku rasakan sebelum itu menerima serangan petir itu. Jika golem ini dapat diproduksi secara massal, itu mungkin akan benar-benar cukup untuk bertarung melawan invasi gabungan dari Dark Territory, kekuatannya bahkan membuat golem tersebut terlihat sangat kuat.

Suara merdu dari penyihir itu mencapai telingaku saat aku masih berdiri kehilangan kata-kata.

"Kirito, Alice, Eugeo, ke belakangku! Kalian tidak boleh bergerak dari belakangku!"

Pada saat mendengar instruksinya, dua orang lainnya yang belum berada di belakang Cardinal dari sejak awal segera berlari. kelihatannya luka yang Alice derita dari dada kanannya yang tertusuk hampir pulih secara sepenuhnya juga. Dia kehilangan pelindung dada emasnya dan korset biru, pakaiannya sebagai knight, dimana bagian bawahnya robek dengan sangat buruk tapi gerakannya tidak menunjukkan tanda luka apapun.

Berdiri dengan kuat dengan Fragrant Olive Swordnya, Alice perlahan berbisik padaku.

"Kirito...Siapa sebenarnya dia...?"

"Namanya adalah Cardinal. Pemimpin tertinggi lainnya yang bertarung dengan Administrator dan terusir dua ratus tahun yang lalu."

Dan—berbeda dengan seseorang yang mengatur (Administrator), dia adalah seseorang yang mereset (Formatter). Seseorang yang akan mengembalikan dunia menjadi awal tanpa belas kasihan.

Tapi normalnya, aku akan menyimpan di dalam diriku untuk sekarang. Aku melanjutkan penjelasanku pada Alice yang memiliki ekspresi ragu padanya.

"Tidak apa-apa, dia berada di pihak kita. Dia adalah seseorang yang membantu Eugeo dan aku serta menuntun kita sampai d sini. Dia mencintai dan menyayangi dunia ini dari lubuk hatinya"

Setidaknya, itu adalah kebenaran yang nyata. Alice kelihatannya tidak mampu untuk menyingkirkan semua keraguan dan kekhawatiran, tapi dia perlahan menggerakkan tangan kirinya pada bagian kanan dari dadanya—bagian yang disembuhkan oleh kekuatan ajaib Cardinal—dan mengagguk dengan dalam.

Sword Art Online Vol 14 - 201.jpg

"...Aku mengerti. Sacred arts berangking tinggi mencerminkan hati dari penggunannya...Aku akan mempercayai kehangatan dari kekuatan orang itu yang menyembuhkan lukaku."

Memang seperti itu, aku mengangguk sebagai balasannya, karena terharu.

Bahkan jika itu adalah art penyembuh terlemah yang hanya terdiri dari satu kalimat, efeknya akan sangat bervariasi berdasarkan pada apakah itu dilakukan oleh seseorang secara sembarangan atau dengan doa yang tulus.

Art penyembuh Cardinal dipenuhi dengan kelembutan yang sebenarnya melelehkan semua penderitaan dengan kehangatannya. Itu adalah alasan sebenarnya kenapa aku masih berpegang pada harapan dan mempercayai tekadnya untuk mengembalikan seluruh Underworld menjadi nol sampai menjadi diskusi—tapi itu, juga, hanya dapat terjadi jika kita memenangkan pertarungan ini.

Apa yang membuat sword golem memiliki kemampuan pemulihan dalam sekejap setelah kehilangan semua kekuatannya dan bagaimana seharusnya menanganinya, kita harus menemukan jawaban dari misteri itu terlebih dahulu.

Dengan seluruh tubuhnya berkilauan emas dengan warna hitam, golem dengan acuh tak acuh memulai gerakannya.

Cardinal menguatkan tongkatnya, bersiap untuk menahan itu, tapi dia tidak dapat menggunakan sacred art kuat untuk serangan awal seperti beberapa menit lalu. Administrator pasti bertujuan untuk kesempatan untuk menyerang, pada saat Cardinal menggunakan art apapun.

—Pikirkan. Apa yang dapat aku lakukan sekarang.

Kemampuan penyembuh otomatis itu mungkin diberikan oleh release recollection art. Jika memang begitu, «sesuatu» dari tiga puluh pedang yang membentuk tubuh raksasa golem itu seharusnya memiliki suatu sifat yang memperbolehkan itu.

Apa yang pertama kali terlintas di pikiranku mengenai pemulihan otomatis dari Life itu adalah pohon besar yang menjadi sumber dari pedang hitam yang digenggam tangan kananku, Gigas Cedar, tapi kemampuan pemulihan yang hebat itu hanya disebabkan oleh sumber energi tempat yang disediakan oleh cahaya matahari dan tanah.

Tapi satu-satunya sumber energi di aula ini adalah cahaya bulan menyinari dari sisi selatan. Aku sangat meragukan bahwa itu jumlahnya akan cukup untuk kerangkan raksasa itu untuk pulih dalam sekejap. Dengan kata lain, sword golem itu tidak berasal dari object alam seperti Gigas Cedar.

Karena itu, kemungkinan yang tersisa adalah object bertipe mahluk hidup yang memiliki kemampuan pemulihan yang tidak bergantung pada sumber energi tempat? Tapi Cardinal sudah pasti telah mengatakan mosnter besar yang pernah menghuni di dunia ini sudah punah. Sementara itu, unit hewan normal seperti beruang dan sapi tidak memiliki tingkat prioritas yang mampu untuk mencapai kemampuan menyerang yang absurd. Bahkan jika sepuluh ribu darinya secara bersamaan diubah menjadi pedang, hasilnya mungkin akan jauh dari mencapai sacred instrument dari Integrity Knngiht. Itu adalah bagaimana rendahnya Life dari hewan itu. Prioritas dan ketahanan harus sebanding, sehingga menciptakan tiga puluh dari senjata itu akan membutuhkan seribu atau sepuluh ribu dari unit hewan besar—

Tunggu.

Bukankah Administrator mengatakan sesatu yang aneh sebelumnya?

Empat melawan tiga ratus.

Units yang digunakan untuk menciptakan sword golem bukanlah objects bergerak seperti hewan. Mereka adalah units manusia, manusia yang tinggal di dunia ini. Tidak perlu dibilang—itu membutuhkan tiga ratus dari itu. Jumlah yang akan membutuhkan seluruh desa kecil untuk dimusnahkan unutk memenuhinya.

Aku telah meyakini bahwa aku mencapai kesimpulan benar setelah beberapa saat berpikir yang sangat cepat hingga terasa seolah-olah pikiranku telah terbakar. Tapi itu tidak memberikan keringanan. Justru, apa yang menyerangku adalah ketakutan yang sangat besar. Buluk kuduk dengan cepat berdiri di semua kulitku, dari kepala hingga kaki.

Penduduk dari Underworld tidak hanya suatu object yang mampu bergerak. Mereka memiliki fluct lights, jiwa, seperti kita, penduduk dari dunia nyata. Dan bahkan ketika diubah menjadi pedang, fluct light mereka tidak akan menghentikan perbuatan mereka selama mereka masih dalam bentuk nyata.

Dengan kata lain, seseorang yang diubah menjadi bagian golem itu mungkin masih memiliki kesadaran mereka di dalam metal itu, bahkan jika mereka tidak memiliki mata, telinga, atau mulut.

Kelihatannya telah mencapai kesimpulan yang sama dengan diriku, sosok kecil Cardinal samar-samar bergetar. Tangan kecilnya berubah menjadi pucat dengan bagaimana dia menggenggam dengan erat tongkat yang diangkat ke atas.

"......Kau mengerikan."

Perkataan yang dikeluarkan menjadi terpotong dengan kemarahan seperti itu yang melebihi suara manisnya.

"Kau...Bagaimana...Bagaimana tidak berperikemanusiaan kau sebenarnya?! Kau adalah penguasa mereka! Bukankah orang yang kau ubah menjadi boneka pedang adalah orang yang kau seharusnya lindungi pada awalnya?!!"

Dua rintihan terdengar dari sisi kiriku dalam sekejap.

"Orang...? Orang, maksudmu, seorang...manusia?"

Eugeo mengambil langkah ke belakang dengan terhuyung-huyung saat dia berguman.

"Orang, kau bilang...Itu mengerikan...?"

Alice meletakkan tangan kirinya pada dadanya lagi saat dia merintih juga.

Keheningan dingin, menegangkan menyelimuti aula itu.

Tidak lama kemudian, Administrator menjawab dengan senyuman seolah-olah dia memahami perasaan kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan kita.

"Itu, benar. Jadi kau akh—irnya menyadarinya. Dengan tingkatan yang kita lalui, aku sempat khawatir bahwa semua orang akan mati sebelum aku mengungkapkan itu."

Dengan suara indah, yang tidak berdosa seolah-olah dia lega dari dalam hatinya, penguasa mutlak itu menepuk tangannya secara bersamaan dan mrlanjutkan dengan "Meskipun begitu"

"Aku sedikit kecewa dengan dirimu, pendek. Meskipun mengawasiku selama dua ratus tahun dari ruangan bawah tanah itu, kau masih belum memahamiku, bukan? Dan aku seharusnya adalah ibumu dalam arti tertentu."

"...Omong kosong! Aku jauh lebih menyadari kepribadian buruk dari dirimu!"

"Lalu ada apa dengan perkataan yang tidak berguna? Seperti, orang yang seharusnya aku lindungi dan sesuatu seperti itu. Kenapa aku akan terganggu oleh hal yang biasa seperti itu?"

Senyumannya tetap seperti yang biasanya, tapi udara di sekitar Administrator kelihatannya telah mencapai titik beku. Perkataan yang mengalir seperti butiran es dari mulutnya menunjukkan senyuman pada suhu yang sangat dingin.

"Aku adalah penguasa. Aku tidak membutuhkan apapun selain dari sesuatu dibawah peraturanku untuk melanjutkan keberadaan mereka di dunia ini berdasarkan keinginanku. Baik mereka itu manusia atau pedang, sama sekali bukanlah masalah besar."

"Kau...monster..."

Suara Cardinal mengering dan terhenti.

Aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk berbicara juga.

Kondisi mental dari gadis ini, tidak, keberadadan yang bernama Administrator telah melebihi dari jangkauan pemahamanku. Benar sesuai dengan namanya, dia adalah sistem dan dianggap oleh penduduk Dunia Manusia sebagai tidak lebih dari file data yang akan ditulis ulang. Sebuah analoginya akan seperti pecandu internet yang terus mendownload file berukuran besar hanya demi untuk mengkoleksi dan mengaturnya, mungkin? Dengan hampir tidak ada kepedulian dengan apa isi dari file itu.

Pada saat percakapan di Ruangan Perpustakaan Besar, Cardinal telah mengatakan bahwa perilaku dasar yang terpasang pada jiwa Administrator «menjaga keseimbangan dunia ini». Itu mungkin benar, tapi kenyataannya itu jauh lebih rumit.

Apakah Cardinal System generasi pertama, program pengatur yang tidak berjiwa, dari dunia di SAO lama benar-benar mengakui kita seorang plyaer sebagai manusia...sebagai kecedasan dari mahluk hidup?

Jawabannya adalah tidak.

Kita tidak lebih dari data untuk diatur, disusun, dan dihapus.

Gadis itu, Quinella, dari waktu yang dulu mungkin tidak pernah melakukan pembunuhan.

Tetapi, sosok manusia tidak lagi merupakan manusia untuk Administrator yang sekarang.

"Oh, apa ada masalah, kehilangan semua suara kalian pada saat yang bersamaan?"

Melihat ke bawah pada kita dari atas, Administrator dengan manis memiringkan kepalanya.

"Kau tidak mungkin menjadi terkejut oleh perubahan dari tiga ratus unit saja, bukan?"

"Saja...kau bilang?"

Pemimpin tertinggi menjawab dengan anggukan tenang pada pertanyaan Cardinal yang hampir tidak dapat didengar.

"Saja, hanya, dan itu tidak lebih dari itu, pendek. Berapa banyak fluct lights yang kau pikir telah mati sebelum boneka ini selesai? Bahkan sejak awal, ini hanya prototype, kau tahu? Produksi massal dari versi yang sempurna sudah cukup untuk berhadapan dengan load experiment akan membutuhkan kira-kira setengah dari itu, aku rasa."

"Setengah...kau bilang..."

"Setengah dari setengah. Setengah dari kira-kira delapan ribu unit manusia di Dunia Manusia...empat ribu unit. Aku rasa sebanyak itu seharusnya sudah cukup. Untuk bertarung melawan invasi dari Dark Territory dan menginvasi sisi itu, seperti itu."

Setelah mengatakan perkataan menakutkan seperti itu tanpa ada kegembiraan sedikitpun, Administrator menggerakkan mata peraknya menuju knight yang berdiri di sisi kiriku.

"Sekarang, apa kau sudah puas, Alice-chan? Dunia Manusiamu yang berharga sudah pasti akan aman, bukan?"

Alice tidak melakukan apapun selain dari mendengarkan suara tawa mengejeknya dengan diam.

Aku menyadari tangannya sedikit bergetar saat itu menggenggam gagang Fragrant Olive Sword, tapi aku sama sekali tidak tahu untuk sekarang apakah itu disebabkan oleh rasa takut atau kemarahan.

Dengan segera, apa yang datang dari dirinya adalah satu pertanyaan dengan yang dia sangat tahan saat dia dapat mengatakannya.

"...Pemimpin tertinggi yang suci. Perkataan manusia tidak akan mencapaimu. Karena itu, aku akan bertanya sebagai pengguna dari sacred arts. Tiga puluh pedang yang membentuk boneka itu...Siapa sebenarnya pemiliknya?"

Aku menjadi ragu untuk sesaat. Seseorang yang melakukan ritual release recollection dari tiga puluh pedang dan menyusun mereka menjadi golem adalah Administrator sendiri. Karena itu, aku selalu berpikir bahwa pemimpin tertinggi akan menjadi pemiliknya meskipun itu akan berlawanan dengan aturan dasar.

Tapi perkataan Alice berikutnya mengabaikan dugaanku.

"Pemimpin tertinggi yang suci, kau tidak mungkin menjadi pemiliknya. Bahkan jika kau dapat menentang peraturan mengenai hanya satu pedang yang dapat dikendalikan sepenuhnya, kau tidak dapat menentang peraturan berikutnya. Melepaskan ingatannya membutuhkan pedang dan pemiliknya untuk terhubung dengan ikatan kuat. Seperti yang ditunjukkan oleh Fragrant Olive Sword dan dirinya, knight lainnya dan sacred instrument mereka, atau bahkan Kirito dan Eugeo dengan pedang mereka. Pemiliknya harus mencintai pedang dan dicintai sebagai balasannya. Pemimpin tertinggi yang suci, jika asal dari pedang yang memberikan bentuk pada boneka itu adalah penduduk tidak berdosa seperti yang kau bilang—kau tidak mungkin dapat dicintai oleh pedang itu!!"

Alice menyatakan itu dengan suara yang terhormat.

Apa yang memecahkan keheningan itu adalah tawa Administrator yang tertahan, yang sulit dipahami sampai sekarang.

"Ufufufu...Aku ingin tahu apa tenaga besar dari jiwa, muda dan bodoh, seperti ini. Sungguh perasaan sentimental yang seperti apel yang baru dipetik... Kau memberikanku dorongan untuk meenghancurkan pada saat ini, untuk meminum setiap tetes terakhir dari cairan tersebut."

Mata transparannya memperlihatkan cahaya pelangi seolah-olah memperlihatkan kegembiraan di dalam hatinya.

"Tapi ini masih belum waktunya. Alice-chan, apa yang ingin kau katakan, adalah bahwa aku tidak mampu memperlihatkan imajinasi yang diperlukan untuk menulis kembali pedang ini, bukan? Kau benar. Bagian dari ingatanku tidak lagi mampu menahan untuk menyimpan ingatan pedang ini dengan ketepatan yang tinggi."

Di sisi lain dari dimana pemimpin tertinggi perlahan menunjuk adalah sword golem yang diciptakan dari tiga puluh pedang, yang masih bergerak sedikit demi sedikit.

Sejauh yang aku mengerti, armament full control art membutuhkan pemiliknya untuk mengingat informasi senjata, seperti penampilan, tekstur, dan berat, dan menggabungkan itu dengan bantuan dari perintah, untuk menciptakan tehnik yang mampu mengubah senjata dengan kekuatan imajinasi seseorang.

Dengan kata lain, kondisi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan art adalah pemiliknya harus menyimpan semua informasi dari senjata itu pada ingatannya sendiri.

Sebagai contoh, jika aku ingin untuk menggunakan armament full control art pedang hitamku, seharusnya bahkan tidak ada sedikitpun, perbedaan kecil diantara A, informasi dari pedang di penyimpanan ingatan yang terbagi di bagian tengah Light Cube Cluster, Main Visualizer, dan B, informasi dari pedang yang ada di fluct lightku. Itu kemudian akan membantuku mengubah B dengan imajinasiku dan menulis kembali A dengan itu, yang berarti perubahan itu akan terbagi dengan semua orang lainnya. Logika ini kelihatannya sama dengan «fenomena perubahan» yang terjadi pada tubuhku sebelumnya.

Di sisi lain, kapastias light cube Administrator seharusnya sangat penuh dengan ingatan dari kehidupannya selama tiga ratus tahun. Mengingat informasi dari tiga puluh pedang dengan detail yang tepat kelihatannya sagat sulit baginya. Alice mungkin menunjukkan itu dari keyakinan pribadinya, tapi meskipun begitu, itu adalah sistem ukuran yang akurat.

Karena itu—Pedang yang menyusun golem itu seharusnya memiliki pemilik unik mereka. Dengan setiap jiwanya memegang pada ingatan pedang itu di dalam light cubenya dan memiliki keinginan buruk, yang mengerikan seperti itu.

Tapi dimana? Ruangan ini sekarang terisolasi dari dunia luar dalam berbagai hal maupun arti. Karena itu, kecuali pemiliknya berada di aula ini, logika ini seharusnya tidak akan bekerja...

"Jawabannya berada di hadapan matamu."

Administrator tiba-tiba melihat ke arahku dan mengatakan itu.

Melanjutkan itu, dia mengalihkan pandangannya ke sisi kirinya.

"Eugeo seharusnya telah mengetahui itu."

"......!?"

Menahan nafas, aku melihat ke arah Eugeo yang berdiri di sisi berlawanan dari Alice.

Partnerku yang berambut kuning muda menatap pada pemimpin tertinggi tanpa bergerak sedikitpun saat darahnya meninggalkan wajahnya.

Mata coklatnya yang tidak berperasaan hingga tingkatan yang sangat menakutkan, pada saat itu sedikit bergetar dan berbalik ke atas menuju langit-langit.

Mengikuti petunjuknya, aku melihat ke atas juga. Miniatur dengan mitos penciptaan sebagai temanya yang tergambar pada kanopi yang sedikit berkubah dan kristal yang terpasang di berbagai tempat perlahan bekedip.

Aku telah berpikir baik hasil seni dan kristal yang ada di langit-langit tidak lebih dari hiasan hingga sejauh ini. Tapi ekspresi Eugeo sangatlah hampa selain dari kedua matanya yang bersinar dengan cahaya kuat saat itu menatap pada lubang di langit-langit.

Beberapa saat kemudian, partnerku memaksakan keluar suara serak melalui mulutnya.

"Aku mengerti...Jadi apakah seperti itu?"

"Eugeo... Apakah kau menemukan sesuatu!?"

Eugeo perlahan berbalik ke arahku ketika aku bertanya dan berguman dengan ekspresi yang dipenuhi dengan ketakutan yang sangat besar.

"Kirito... Kristal yang terpasang di langit-langit. Itu semua...tidak hanya hiasan. Itu pasti...«bagian ingatan» yang diambil dari Integrity knight."

"Apa..."

Cardinal dan Alice, juga, mengeluarkan suara terkejut sementara aku kehilangan kata-kata.

Bagian ingatan dari Integrity Knight.

Itu mengacu pada ingatan dari paling berharga yang dikeluarkan dari manusia untuk mengubahnya menjadi knight melalui «Synthesis Ritual». Ingatan itu pastinya adalah seseorang yang paling disayangi oleh mereka. Untuk Eldrie, adalah ibunya. Untuk Deusolbert, adalah istrinya. Jika itu memang benar—kristal itu adalah pemilik dari pedang yang membentuk sword golem itu?

Tidak. Kristal itu seharusnya tidak lebih dari bagian informasi yang tersimpan di fluct light. Itu bukan pengganti dari jiwa sempurna yang memiliki pemikiran tersendiri. Aku sangat sulit untuk membayangkan itu mampu untuk terhubung dengan pedang dan mengaktifkan full control art.

Tidak—Terdapat sesuatu yang menusuk di pikiranku.

Jika kristal itu adalah bagian ingatan dari semua Integrity Knight, lalu itu seharusnya termasuk ingatan Knight Alice yang diambil melalui synthesis enam tahun lalu.

Dan ini adalah lantai tertinggi dari Katedral Pusat.

Dua tahun lalu, Eugeo menderita luka parah setelah bertarung dengan kelompok goblin di gua utara di Rulid. Aku sangat yakin mendengar suara misterius yang sementara merawat luka itu.

Suara, yang menyerupai suara anak perempuan, telah memberitahuku bahwa dia telah menunggu Eugeo dan aku di lantai tertinggi dari katedral. Dan dengan itu, sacred energy mengalir pada kita dan menyembuhkan Eugeo.

Bagaimana jika suara itu dimiliki oleh bagian ingatan Alice? Dengan kata lain, bukankah itu akan berarti ingatan yang diambil dari knight itu memiliki pemikiran tersendiri?

Tetapi, masih ada aturan dari seseorang berhubungan dengan targetnya untuk semua sacred arts. Bahkan Administrator tidak dapat mengirimkan suaranya dan kekuatan penyembuh dari Katedral Pusat menuju Rulid, dalam jarak tujuh ratus lima puluh kilometer jauhnya.

Keajaiban seperti itu hanya dapat diciptakan oleh «fenomena penulisan kembali» yang sama sebagai dasar armament full control art. Karena itu, ingatan yang tersimpan di bagian ingatan Alice secara efektif—secara efektif sudah...

Teriakan Cardinal, yang berkobar seperti api, menghentikan pikiranku yang berpikir dengan cepat.

"Aku mengerti...Jadi seperti itu! Sialan kau, Quinella...Sejauh apa kau bermaksud untuk bermain dengan umat manusia, kau monster?!!"

Aku kembali pada kesadaranku dan melihat penguasa berambut perak tersenyum dengan tenang dihadapanku.

"Oh, seperti yang diduga dari dirimu...Aku rasa aku seharusnya memberikanmu nilai yang sangat baik, pendek? Kelihatannya kau mengetahui itu lebih cepat dibandingkan dengan yang aku pikirkan, berdasarkan kemunafikanmu yang membela kebaikan. Lalu sekarang, biarkan aku bertanya sekali lagi, apa jawabanmu?"

"Pola yang terbagi pada semua fluct light. Apakah seperti itu?!"

Cardinal mengayunkan tongkat hitam di tangan kanannya menuju Administrator.

"Dengan memasukkan bagian dari ingatan yang dikeluarkan melalui Synthesis Ritual pada model metal yang dimasukkan ke dalam light cube baru, itu dapat dianggap sebagai unit imitasi manusia. Meskipun begitu, kecerdasannya akan benar-benar sangat terbatas...keberadaan yang hampir tidak memiliki apapun selain dari instingnya, jadi itu sama sekali tidak dapat terbayangkan bahwa itu dapat melakukan perintah sangat hebat seperti armament full control art."

Aku dengan susah payah mencoba memahami arti dibalik perkataan membingunkannya.

Cardinal seharusnya telah mengatakan ini di Ruangan Perpustakaan Besar. Bahwa bayi di dunia ini terlahir dengan menyusun secara bersamaan prototype fluct light, yang dimasukkan ke dalam light cube baru, dengan bagian ciri-ciri luar, pola pikir, dan sifat dari orang tua mereka. Itu seharusnya merupakan dasar yang sama dengan itu. Dengan bagian ingatan dari knight yang dimasukkan daripada informasi yang diturunkan dari kedua orang tuanya.

Dengan kata lain, kristal yang berkilauan di langit-langit adalah bayi yang diberikan ingatan dari seseorang yang paling mereka sayangi...seperti itu? Tapi jika memang begitu, bagaimana mungkin «Alice» berbicara denganku dua tahun lalu? Bayi yang baru lahir sangat sulit untuk dapat berbicara dengan cara seperti itu.

Perkataan dari Cardinal mencapai telingaku sementara aku menjadi bingung pada keraguaanku yang tidak berakhir.

"...Tetapi, batas itu, juga, memiliki celah. Itu akan menjadi ketika bagian ingatan itu dimasukkan ke dalam prototype fluct light dan informasi berstruktur dari senjata yang terhubung memiliki pola yang sama pada keduanya dengan mengabaikan perbedaannya. Untuk lebih lengkapnya..."

Perkataan penyihir itu terhenti untuk sesaat sebelum dia dengan keras mengetuk bagian bawah tongkatnya pada lantai dan berteriak.

"—Sesuatu yang tersimpan di dalam ingatan yang diambil dari Integrity Knight, itu adalah seseorang yang mereka sayangi, telah digunakam sebagai sumber untuk menciptakan pedang. Apakah itu benar, Administrator?!!"

Perasaan kuat dari ketakutan dan jijik membekukan seluruh tubuhku dalam sekejap saat kebingungan singkatku menghilang.

Pemiliki pedang itu adalah ingatan yang diambil dari Integrity Knight mengenai seseorang yang mereka sayangi.

Dan pedang itu telah diciptakan dengan seseorang yang dicintai mereka sebagai material mentahnya...Ibu Eldrie, istri Deusolbert, dan kemungkinan besar, seseorang yang berhubungan sangat dekat dengan mereka juga.

Itu adalah yang dimaksud oleh Cardinal.

Eugeo dan Alice kelihatannya mengerti di saat yang lebih lambat saat tatapan ketakutan terlihat dari mereka di saat yang bersamaan.

Memang benar, jika itu benar, fenomena release recollection akan mungkin secara logika. Setelah semua, A dan B, informasi dari Main Visualizer dan fluct light, seharusnya akan menjadi keberadaan yang sama. Jika fluct light yang baru terlahir diberikan bagian ingatan yang memiliki suatu jenis emosi kuat untuk terhubung dengan pedang, fenomena itu kemungkinan besar dapat terjadi.

Masalahnya adalah suatu hal apa yang menjadi «suatu cara». Jenis dorongan atau emosi apa yang berasal dari bagian ingatan, yang seharusnya tidak lebih dari tingkat kecerdasan yang baru terlahir, mengisi sword golem raksasa itu...?

"Keserakahan."

Seolah-olah dia telah melihat pada keraguanku, Administrator mengatakan kata itu tanpa jeda.

"Keinginan untuk menyentuh. Untuk memeluk. Untuk membuat orang lain menjadi miliknya. Keserakahan yang tidak baik itu menggerakkan boneka pedang ini."

Fufu. Ufufu. Mata peraknya menyipit dan gadis itu perlahan tertawa.

"Individual buatan dengan bagian ingatan knight yang dimasukkan ke dalamnya hanya memiliki satu keinginan—untuk membuat seseorang itu yang mereka ingat menjadi miliknya, hanya itu. Mereka merasakan keberadaan dari seseorang yang terdekat itu sementara mereka hanya terperangkap di langit-langit. Tapi mereka tidak menyentuh mereka. Mereka tidak dapat membuat hubungan. Semua yang mereka lihat dalam rasa lapar dan haus menggilakan adalah musuh yang berdiri di jalan mereka. Jika mereka menebas pada musuh itu, seseorang yang mereka inginkan menjadi miliknya. Karena itu, mereka bertarung. Tidak peduli sebanyak apa luka yang mereka terima, tidak peduli berapa banyak mereka terjatuh, mereka akan bangkit dan bertarung untuk selama-lamanya....Bagaimana? Bukankah kau dapat mengatakan ini adalah desain yang indah? Mengagumkan...Kekuatan dari keserakahan benar-benar mengagumkan!"

Suara serak Administrator bergema saat kedua mata dari sword golem di dekatnya berkedip dengan sangat cepat.

Suara metal, yang kejam keluar dari seluruh rangkannya—untukku, itu terdengar seperti teriakan kesedihan dan keputusasaan.

Raksasa itu bukanlah persenjataan otomatis yang mengiginkan pembantaian.

Untuk bertemu sekali lagi dengan seseorang yang diingatnya, pemikiran seperti itu yang terkumpul pada penderitaan, pada anak yang menghilang dan menggerakkan itu.

Administrator mengekspresikan tenaga itu sebagai keserakahan. Tetapi itu adalah—

"...Salah!!"

Teriakan yang bersamaan dengan pikiranku berasal dari Cardinal.

"Ingin untuk bertemu dengan orang lain sekali lagi, untuk menyentuh mereka dengan tangan mereka sendiri, keinginan seperti itu hanya menjadi buruk dengan perkataan itu! Itu—Itu adalah cinta yang sejati!! Kekuatan terhebat yang dimiliki manusia dan keajaiban terakhir mereka...Itu bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan olehmu!!"

"Itu adalah hal yang sama, kau pendek yang bodoh."

Administrator mengulurkan kedua telapak tangannya pada sword golem pada saat mulutnya dipenuhi dengan kegembiraan.

"Cinta untuk menguasai...Cinta adalah keserakahan! Dan bentuk sebenarnya tidak lebih dari sinyal output yang berasal dari fluct light! Aku hanya menggunakan secara baik sinyal dengan kekuatan terkuat. Dalam berbagai hal, ini jauh lebih pintar dibandingkan dengan cara yang kau gunakan!!"

Suara penguasa itu terdengar tinggi seolah-olah meyakini kemenangannya.

"Apa yang telah kau lakukan tidak lebih dari menipu dua atau tiga anak-anak yang tidak berkekuatan. Tapi aku berbeda. Boneka yang aku ciptakan dipenuhi dengan energi keserakahan dari tiga ratus unit termasuk yang berada di dalam bagian ingatan itu! Dan yang paling terpenting..."

Perkataan yang dikeluarkan setelah keheningan singkat itu terbawa ke dalam pikiran seperti sengatan mematikan.

"...Sekarang kau telah menyadari hal itu, kau tidak dapat menghancurkan boneka ini. Setelah semua, meskipun bentuk mereka telah berubah, pedang yang dimanipulasi ini masih merupakan sosok manusia hidup!!"

Pernyataan Administrator bergeman untuk beberapa saat sebelum perlahan-lahan menghilang.

Aku menatap dengan keheranan saat tongkat Cardinal, terangkat menuju sword golem itu, perlahan terjatuh.

Suara yang datang dari Cardinal beberapa saat kemudian benar-benar sangat merdu.

"Aah...Itu memang benar. Aku tidak dapat membunuh. Itu adalah sesuatu penghambat yang aku pastinya tidak dapat hancurkan...Aku telah menghabiskan dua ratus tahun untuk meningkatkan artku agar dapat membunuhmu dan tubuhmu yang telah menyimpang dari manusia...Tapi kelihatannya telah menjadi sia-sia."

Aku mendengarkan, dengan kebingungan, pada perkataan yang mengakui kekalahannya yang jauh terlalu tidak berbahaya.

Tapi jika pedang dari sword golem itu benar-benar manusia, Cardinal tidak dapat mengakhiri hidup mereka...Tidak, dia tidak akan melakukannya. Bahkan jika ada metode untuk mengabaikan penahan perbuatannya seperti kasus dari cangkir teh dan cangkir sup.

Sword Art Online Vol 14 - 219.jpg

Kuku. Kukukuku.

Mulut Administrator terbuka lebar sebanyak yang dapat dilakukan dan memecahkan suasana tegang itu dengan suara seraknya, seperti dia menahan tawa seraknya.

"...Sungguh bodoh...Sungguh menggelikan."

Kuku. Kukukuku.

"Kau seharusnya telah cukup mengetahui tentang itu. Bentuk sebenarnya dari dunia ini. Apa yang membentuk kehidupan di dunia ini tidak lebih dari gabungan data yang ditulis kembali. Dan kau masih menganggap data itu sebagai sosok manusia dan terus terikat dengan pembatasan untuk tidak membunuh...Seharusnya ada batasan pada kebodohanmu..."

"Tidak, mereka adalah manusia, Quinella."

Cardinal membantah dengan apa yang terdengar seperti nada yang menasihati.

"Setiap dan semua orang yang hidup di Underworld memiliki emosi yang sebenarnya, itu adalah apa yang kita telah hilangkan. Perasaan untuk tertawa, untuk berduka, untuk bergembira, untuk mencintai. Apa lagi yang dibutuhkan manusia untuk menjadi manusia? Apakah wadah untuk jiwa mereka adalah light cube ataupun otak organik, itu sama sekali bukan masalah. Aku meyakini hal itu. Karena itu—Aku dengan bangga akan menerima kekalahanku, dengan bangga, seperti itu."

Beberapa perkataan terakhir yang dia katakan tergali dengan dalam di inti dari hatiku. Tapi apa yang menyebabkan rasa sakit tajam yang benar-benar menyakitkan adalah perkataan yang mengikuti itu.

"Tetapi, dengan satu syarat. Kau boleh mengambil hidupku...dan sebagai gantinya, ampunilah anak muda ini."

"......!"

Aku mencoba mengambil langkah ke depan, nafasku tertahan. Baik Eugeo maupun Alice menjadi tegang juga.

Tapi aura dari tekadnya yang kuat keluar dari punggung kecil Cardinal membuat gerakan kita menjadi terhenti.

Mata Administrator menyipitkan matanya pada seperti kucing dengan mangsanya tergantung dengan kukunya dan sedikit memiringkan kepalanya.

"Oh...Apakah akan ada keuntungan menerima kondisi seperti itu yang diberikan padaku dengan keadaan kalian yang sekarang?"

"Aku telah mengatakannya sebelumnya, bukan, bahwa aku telah mencurahkan diriku untuk meningkatkan artku. Jika kau menginginkan pertarungan, aku akan mengurangi setengah Lifemu bahkan sementara menyegel gerakan boneka menyedihkan itu. Bukankah itu akan memperlihatkan beban yang berlebihan pada kapasitas ingatanmu yang sudah tidak berdaya menuju bahaya yang lebih besar?"

"N-Nn..."

Memperlihatkan senyumannya pada akhirnya, Administrator menaruh jari telunjuk dari tangan kanannya pada dagunya dan bertingkah seolah-olah dia memikirkan tentang itu.

"Aku meragukan pertarungan dengan pemenangnya yang telah ditentukan akan menjadi ancaman yang besar, tapi baiklah, itu akan menjadi merepotkan...Mengirim mereka keluar dari ruangan tertutup ini menuju suatu tempat di dunia ini akan lebih dari cukup untuk «melepaskan mereka», bukan? Aku akan menolak jika itu termasuk dengan tidak meletakkan tanganku pada mereka sekali lagi."

"Tidak, itu akan lebih dari cukup untuk membuat mereka melarikan diri untuk kali ini. Mereka pasti akan..."

Cardinal membiarkan sisa perkataannya untuk tidak diucapkan. Sebagai gantinya, kerah dari jubahnya berkibar saat dia berbalik pada kita dengan cahaya lembut yang terlihat di matanya.

Aku ingin untuk berteriak padanya agar menghentikan leluconnya. Kehidupan sementaraku tidak mungkin dapat sebanding dengan kehidupan sebenarnya Cardinal dalam hal nilai. Aku benar-benar serius memikirkan jika aku seharusnya menebas Administrator pada saat ini juga dan mengulur waktu agar Cardinal melarikan diri.

Tapi aku tidak dapat melakukannya. Itu akan berakhir dengan mengorbankan kehidupan Eugeo dan Alice pada taruhan yang beresiko tinggi.

Tangan kanannku mengenggam gagang pedangku dengan sangat erat hingga terasa sakit dan kaki kananku melangkah di lantai dengan sangat keras hingga itu membuat suara keras. Suara Administrator mencapai telingaku sementara memperjuangkan antara dorongan dan alasan yang ada di dalam diriku.

"Oh, baiklah."

Memperlihatkan senyuman indah, gadis yang tersenyum itu dengan bermurah hati mengangguk.

"Aku tidak apa-apa untuk meninggalkan semua kesenangan sedikit terlambat juga, kau tahu? ...Aku akan bersumpah pada Dewi, Stacia, maka. Aku akan..."

"Tidak, janganlah bersumpah pada dewi, tapi pada apa yang paling berharga dari dirimu...Fluct lightmu sendiri."

Cardinal memotong dengan singkat dan Administrator memperbaikinya sekali lagi, dengan senyumannya berubah menjadi sedikit sinis.

"Oh, baiklah, kalau begitu, aku akan bersumpah pada fluct lightku dan data berharga yang terkumpul. Setelah membunuhmu, pendek, aku akan membiarkan mereka bertiga yang ada di belakangmu tidak terluka. Aku tidak akan mampu untuk melanggar sumpah itu...Untuk beberapa saat, setidaknya."

"Baiklah."

Setelah menyetujui itu, Cardinal mengalihkan pandangannya menuju Eugeo dan Alice, yang masih berdiri, untuk setiap beberapa detik, lalu akhirnya melihat ke arahku sekali lagi. Senyuman lembut terlihat pada wajah mudanya dan mata coklat gelapnya tidak memperlihatkan apapun selain cahaya yang dipenuhi dengan kelembutan, emosi yang sangat kuat mengalir dari hatiku dan terjatuh sebagai air mata, mengaburkan pandanganku tanpa ada cara untuk menahan itu.

Mulut Cardinal bergerak dan membisikkan dengan suara pelan, "Maaf.".

Dari kejauhan, Administrator menyatakan itu, dengan jelas dan kejam, "Selamat tinggal, pendek.".

Dengan ayunan ringan dari tangan kanan pemimpin tertinggi, sword golem yang mencapai bagian tengah ruangan itu segera berhenti.

Membiarkan tangan kanannya terangkat dengan tinggi, dia menutup telapak tangannya seolah-olah menggenggam sesuatu dan partikel cahaya merembes keluar dari udara tipis, berterbangan dan berkumpul menjadi bentuk, panjang yang sempit.

Objek yang muncul adalah rapier perak. Itu memiliki warna yang sama seperti cermin, pedangnya, yang sempit seperti jarum, penahan elegan dan semuanya. Bentuknya yang tipis seperti hiasan, tapi hanya dengan melihat pada prioritas yang sangat besar yang dikeluarkan sebagai aura telah menghentikan nafasku bahkan dari jarak sejauh ini.

Sacred instrument pribadi miliki Administrator, sebanding dengan tongkat hitam Cardinal—itu pasti adalah sumber terbesar dari energi yang dibutuhkan untuk mendukung artnya.

Rapier itu terdengar seperti suara lonceng saat itu bergerak dan mengarah lurus pada Cadinal.

Melihat ke depan, Cardinal itu mulai berjalan dengan langkah kuat tanpa menunjukkan tanda-tanda ketakutan sedikitpun menuju sacred sword. Alice dan Eugeo membungkuk ke depan seolah-olah mereka ingin untuk mengejar dibelakangnya. Tapi aku mengulurkan tangan kiriku dan menahan mereka.

Aku sejujurnya ingin untuk mengangkat pedangku dan menebas pada Administrator. Tapi menyerbu ke depan karena dorongan itu hanya akan menyia-nyiakan tekad dan pengabdian Cardinal. Karena itu, aku tidak dapat melakukan apapun selain dari menahan air mataku, menggeretakkan gigiku, dan berdiri di tempat itu.

Warna pelangi yang menandakan kegembiraannya terlihat di mata Administrator saat dia melihat ke bawah pada dirinya yang lain.

Dengan segera setelahnya, cahaya dari seranga petir yang kuat itu terpancar dari ujung pedang tajam itu, mewarnai seluruh aula itu menjadi warna putih, dan menusuk pada sosok kecil Cardinal.

Di bagian tengah dari pandangaku yang menjadi kabur saat lingkaran cahaya itu terlihat, sosok kecil itu membungkuk ke belakang secara keras seolah-olah itu terlempar ke belakang.

Energy dari serangan petir raksasa itu bahkan membakar udara saat itu tersebar dan aku melawan tekanannya, berusaha menjaga mataku tetap terbuka bahkan saat aku mengambil langkah ke belakang.

Penyihir muda itu masih tetap berdiri. Bahkan saat tubuhnya bersandar pada tongkat panjang, kedua kakinya melangkah dengan kuat di lantai dan wajahnya melihat ke atas pada musuh bebuyutannya dengan ketetapan hatinya.

Tapi jejak dari lukanya benar-benar menyakitkan untuk dilihat. Topi dan jubah berwarna hitam legam terbakar di berbagai tempat, dengan asap terangkat dari tempat itu dan bagian dari rambut keriting coklatnya sekarang telah hangus terbakar dari kondisi rambut berkilauan yang sebelumnya.

Hanya lima meter dihadapan kita, yang masih berdiri dengan diam. Cardinal perlahan mengulurkan tangannya ke atas dan dengan santai mengusap rambutnya yang terbakar. Meskipun serak, suaranya dengan kuat memenuhi udara di sekitar.

"Wh...ew, apakah itu semua...yang artmu dapat lakukan? Tidak peduli, berapa banyak...yang kau tembakkan..."

Gagaaan!!

Dunia itu bergetar sekali lagi dengan suara yang bergemuruh.

Serangan petir yang lebih hebat dibandingkan dengan sebelumnya tercipta dari rapier Administrator dan tanpa ampun menusuk pada tubuh Cardinal.

Topi persegi empatnya terlempar dan hancur saat itu tersebar menjadi bagian kecil. Tubuh kecilnya berguncang dengan menyedihkan dan tergoyang menuju ke kanan, tapi masih mampu berlutut di lantai saat dia hendak terjatuh ke samping.

"Aku tentu saja menahan diriku, pendek."

Bisikan Administrator mengguncang udara yang terbakar seolah-olah dia entah bagaimana menahan perasaan senang, yang meluap.

"Itu akan menjadi sangat menyedihkan jika itu berakhir dalam sekejap. Maksudku, aku telah menunggu selama dua ratus tahun untuk saat ini...bukan!!"

Gagaa!!

Serangan petir yang ketiga.

Itu menarik garis melengkung dan menyerang Cardinal dari atas seperti cambuk dan dia terlempar ke bawah pada lantai dengan kekuatan yang luar biasa. Sosok yang terlempar ke atas dengan kuat menghantam ke bawah sekali lagi dengan suara keras dan terbaring di samping, tidak berdaya.

Sebagian besar jubah beludrunya telah terbakar dengan tidak terhitung lubang telah terbuka di kemeja putih dan celana yang dia pakai di dalamnya. Luka bakar itu tersebar pada kulitnya yang seperti salju di tangan dan kakinya hingga seperti ular hitam.

Dia menekan bagian ujung tangannya pada lantai dan mencoba untuk sedikit mengangkat tubuhnya.

Seolah-olah mengejek usahanya yang menyedihkan untuk mengumpulkan kekuatannya, serangan petir yang baru bergerak dari samping. Sosok anak-anak itu dengan tidak berdaya terlempar dan berguling di sepanjang lantai untuk beberapa meter.

"Fu...ufufu. Fufufufu."

Berada di udara dari kejauhan, Administrator kelihatannya gagal untuk menahan tawanya lebih lama lagi.

"Fufu, aha. Ahahaha."

Batas diantara iris dan pupil puith dari mata transparan itu menghilang saat cahaya menyilaukan dari prisma itu bersinar di dalamnya.

"Ahahaha! Hahahahahaha!!"

Dari ujung rapier yang dia genggam ke atas pada saat dia tertawa dengan keras—

Menembakkan serangan petir yang tidak terhitung jumlahnya secara beruntun, itu secara bersikeras menusuk pada Cardinal yang sudah tidak bergerak. Di setiap waktu tubuhnya terlempar seperti bola, semuanya telah terbakar, pakaiannya, kulitnya, rambutnya, setiap bagian dari keberadaannya.

"Hahahahaha!! Ahahahahahahaha!!"

Tawa keras yang berasal dari Administrator baru saja mencapai telingaku, tubuhnya berputar dalam kebahagiaan dan rambut peraknya menjadi kusut.

Air mata yang dipenuhi emosi mengalir dari mataku dan mengubah pandanganku menjadi kabur bukan karena banyak cahaya yang tertangkap di mataku. Emosi yang memenuhi hatiku sama sekali tidak memiliki cara untuk keluar.

Meratapi pada hilangnya Life Cardinal dihadapan mataku, kemarahan pada Administrator untuk menikmati eksekusi tanpa ampun, dan yang paling penting, kemarahan pada ketidakberdayaan dari diriku yang hanya melihat tanpa melakukan apapun.

Aku tidak dapat mengangkat pedangku maupun mengambil langkah ke depan. Bahkan jika itu akan menimbulkan akibat yang terburuk—dengan pengorbanan Cardinal menjadi sia-sia—sebuah suara yang tanpa henti memberitahuku untuk menebas Administrator dengan pedang di tangan kananku, tapi tubuhku hanya tetap seperti itu seolah-olah itu menjadi lumpuh.

Dan aku bahkan mengetahui alasan dari itu.

Jika kekuatan penjelmaan adalah apa yang membiarkan aku untuk menghancurkan batasan dengan serangan jarak jauh Vorpal Strike yang menusuk Kepala Pemimpin Chudelkin, maka itu, juga, adalah apa yang mengubahku menjadi boneka kayu sekarang.

Beberapa menit lalu, aku menderita luka parah bahkan tanpa mampu untuk membuat tebasan pada sword golem dengan pedangku ketika aku mencobanya. Sensasi dingin dari pedang yang menusuk ke dalama tubuhku telah membuat bayangan kuat dari kekalahan padaku. Rasa takut mengelilingi di sekitar anggota tubuhku dan menolakku untuk mengingat kembali bayangan «The Black Swordsman» sekali lagi di tempat ini.

Aku tidak memiliki kesempatan untuk menang dalam kondisiku yang sekarang melawan Integrity Knight, tidak, bahkan melawan trainee manapun dari Akademi Master Pedang. Lupakan menebas pada pemimpin tertinggi, tidak mungkin aku dapat melakukannya.

"...Kuh...ugh......"

Rintihan yang menyedihkan keluar dari tenggorokanku yang bergetar dan mencapai telingaku.

Cardinal telah mengerti dia telah kalah dan menerima, tapi dia masih tetap gagah untuk terus berdiri, perasaan kuat dari membenci dirinya sendiri memenuhi diriku untuk menerima kehilangan hidupnya dengan pasrah, tanpa ada satupun usaha untuk menyelamatkannya meskipun itu terjadi dihadapan mataku.

Alice menggeretakkan giginya di samping kiriku dan tubuh Eugeo sedikit bergetar saat air mata mengalir dengan tenang ketika aku berpikir untuk memeriksanya. Aku tidak mengetahui apa yang mereka rasakan di dalam hati mereka, tapi setidaknya, itu adalah bukti bahwa mereka juga menanggung dengan kurangnya kekuatan mereka sendiri.

Bahkan jika kita dapat melarikan diri dari sini, cukup apa yang dapat kita lakukan dengan luka yang terukir di dalam hati kita—?

Administrator memegang rapier dengan apa yang kelihatannya adalah serangan petir terakhir dan terkuat mengalir melalui pedang yang diangkat, sangat tinggi, saat kita melihat, dengan tidak berdaya.

"Sekarang...Aku rasa ini adalah waktunya untuk mengakhiri ini. Pada permainan petak umpet kita selama dua ratus tahun. Selamat tinggal, Lyceris. Selamat tinggal, anak perempuanku...Dan diriku yang lain."

Dengan perkataan yang terdengar sentimental keluar dari mulutnya yang melengkung dengan perasaan gembira, pemimpin tertinggi mengayunkan rapiernya ke bawah.

Serangan terakhir, memancar seperti ribuan serangan petir, tertembak menuju tubuh Cardinal, terbaring di lantai, terbakar dan menghancurkan itu.

Penyihir itu melayang tinggi di udara dan terjatuh di dekat kaki, sementara kaki kanannya yang hangus berubah menjadi bagian yang tidak terhitung jumlahnya dimulai dari lututnya. Suara keras terdengar keluar dengan hampir tidak ada berat dari tubuhnya. Asap hitam tersebar dari seluruh tubuhnya dan menghilang di udara.

"Ufufu...ahaha...ahahahahaha! Aah-hahahahahaha!!"

Tawa keras sekali lagi terdengar keluar dari Administrator sementara dia memutar pedang di tangan kanannya dan memutar badannya seolah-olah dia menari.

"Aku melihatnya...Aku melihatnya, aku melihat Lifemu mengalir keluar, sedikit demi sedikit! Aah, sungguh indah...setiap dan semua dari Life yang menetes keluar itu terlihat seperti permata terindah...Sekarang, biarkan kita, melihat adegan terakhir. Aku bahkan akan memberikanmu waktu untuk mengucapkan beberapa kata perpisahan."

Lututku melemas dan aku mengulurkan tanganku pada tubuh Cardinal seolah-olah dengan patuh mengikuti perkataan itu.

Wajah gadis itu hangus terbakar di samping kanan dan kelopak mata kirinya tertutup. Tetapi, tanda-tanda kehangatan dari kehidupan, diambang menghilang, membuat itu diketahui dengan sendirinya di ujung jariku saat itu menyentuh pipinya.

Kedua tanganku tanpa sadar mengangkat Cardinal ke atas dan mendekapnya menuju dadaku. Air mataku yang tidak dapat berhenti menetes pada luka bakar mengerikan, satu demi satu.

Kelopak matanya yang luput dari serangan membakar itu sedikit bergetar dan terbuka. Bahkan diambang kematiannya, cahaya dari kasih sayang yang tidak terhingga masih memenuhi mata coklat tua Cardinal.

[Jangan menangis, Kirito.]

Perkataan itu bergema di dalam kesadaranku melalui pikiranku dibandingakan dengan suara.

[Ini sama sekali bukanlah akhir yang buruk. Aku bahkan tidak dapat mempercayai...Bahwa aku dapat mati dengan cara seperti ini...Di tangan seseorang yang dapat terhubung dengan hatiku...]

"Maafkan aku...Maafkan aku."

Perkataan yang keluar dari mulutku hampir tidak dapat membuat apapun selain dari menggerakkan udara. Mendengar itu, Cardinal memperlihatkan senyuman samar-samar dengan mulut yang secara ajaib tidak terluka.

[Untuk apa...Kau harus...Meminta maaf. Kau masih...memiliki tugas...bukan. Kau, dengan Eugeo, dan... Alice juga...Kalian bertiga... untuk, dunia, indah ini...kumohon...]

Suara Cardinal dengan cepat menghilang saat tubuhnya menjadi semakin ringan sekali lagi.

Alice yang berlutut di sampingku tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya dan menutupi tangan kanan Cardinal.

"Kita akan melakukannya...Kita akan melakukannya."

Baik suaranya maupun pipinya benar-benar basah dengan air mata yang mengalir.

"Kehidupanmu yang telah kau berikan padaku...kau dapat meyakini, itu pasti akan berperan sebagai tekadmu."

Kali ini, tangan Eugeo terulur keluar dari sisi lainnya.

"...Aku juga."

Suara yang berasal dari Eugeo dipenuhi dengan tekad yang kuat yang berasal dari partner yang menahan diri dan baik yang aku kenal selama ini.

"Aku juga, akhirnya telah mengerti apa yang aku butuhkan untuk mencapai hal itu."

Tapi—

Baik Alice maupun diriku tidak menduga perkataan yang mengikuti itu, Cardinal kelihatannya juga sama.

"Dan di waktu sekarang, juga. Aku tidak akan melarikan diri. Aku...memiliki tugas yang harus aku penuhi dengan mempertaruhkan hidupku."

Bagian 4[edit]

—Ketidakberdayaan.

—Kenapa aku sama sekali tidak berdaya?

Eugeo tenggelam pada pemikiran itu saja sementara pemimpin tertinggi, Administrator, membakar penyihir, Cardinal, dengan serangan petir yang mengerikan.

Sword golem yang awalnya dia anggap sebagai suatu monster dari tanah kegelapan awalnya merupakan manusia seperti Eugeo...Memang benar, dia menjadi terkejut pada saat mendengar itu dan merinding ketakutan karena pemimpin tertinggi memikirkan dan melakukan perbuatan itu. Tetapi, apa yang paling menyerang Eugeo adalah keputusasaan dari ketidakmampuannya secara keseluruhan.

Alasan kenapa mereka, yakni Kirito, Knight Alice, laba-laba hitam, Charlotte, pemimpin tertinggi sebelumnya, Cardinal, dan dirinya berakhir dengan bertarung melawan pemimpin tertinggi di lantai tertinggi dari katedral ini. Itu akan menjadi keinginan Eugeo untuk menyelamatkan teman masa kecilnya, Alice Schuberg, dari Gereja Axiom. Eugeo adalah seseorang yang menarik orang lain menuju bahaya ini. Karena itu dia harus bertarung di garis depan, seseorang yang harus paling terluka.

—Dan meskipun begitu, aku.

Berakhir dengan menyerah pada rayuan Administrator, mengarahkan pedangku pada Kirito sebagai Integrity Knight, dengan ingatan yang tersegel. Kembali menuju lantai tertinggi setelah menjebak Kirito dan Alice dengan tujuan untuk mengalahkan pemimpin tertinggi tanpa bantuan dari semua orang, yang justru datang di dalam kumpulan asap. Menutupi pandangan Kepala Pemimpin Chudelkin dengan art di pertarungan itu namun berakhir dengan tidak melakukan apapun selain dari menonton saat sword golem itu menebas Charlotte, Kirito, dan Alice.

—Apakah aku tidak berdaya seperti ini?

—Bagian ingatan Alice hanya sekitar sepuluh meter jauhnya...Di suatu tempat pada miniatur yang menutupi kanopi ini. Akankah aku mendapati hidupku diselamatkan oleh pengorbanan Cardinal dan dikeluarkan dari katedral bahkan tanpa mengambil itu kembali? Akankah itu akan menjadi bagaimana perjalananku akan berakhir?

Pemimpin tertinggi pasti akan mengusir Eugeo, Kirito, dan Alice menuju beberapa lokasi yang sangat jauh. Mereka bahkan mungkin akan dilemparkan diluar Kerajaan Norlangarth Utara. Dalam kasus terburuk, dia mungkin tidak akan bertemu Kirito maupun kembali menuju Rulid lagi. Dia mungkin berakhir sendirian, di daerah asing, yang tidak dikenal, dengan ketakutan pengejar dari Gereja Axiom...Menyesali kebodohan dan ketidakberdayaan dari dirinya sendiri...

Setidaknya, dia seharusnya menjaga pandangannya agar tidak menutup, pemikiran itu yang pertama kali terlintas di pikirannya saat dia dengan serius menatap pada petir menyilaukan yang menyerang Cardinal.

Eugeo kemudian menyadari itu pada akhirnya. Bahwa menyerahkan dirinya pada nasib untuk dikirim menuju daerah asing...Akan menjadi pilihan yang paling memalukan yang dia dapat lakukan.

Pemimpin tertinggi telah mengatakan itu. Bahwa dia akan mengubah empat ribu manusia, setengah dari penduduk Dunia Manusia, menjadi pedang. Bahwa dia akan menciptakan monster menakutkan namun menyedihkan dalam jumlah besar untuk bertarung melawan kekuatan dari tanah kegelapan.

Itu akan berarti semua keluarga dan seseorang yang disayangi akan dipaksa berpisah dari satu sama lain. Seperti Eldrie dan ibunya. Seperti Deusolbert dan istrinya. Seperti Alice dan keluarga Schuberg.

Dan mereka semua akan diubah menjadi persenjataan mengerikan, yang menakutkan.

Ketidakadilan seperti itu tidak dapat dimaafkan, benar-benar tidak dapat dimaafkan.

—Menghentikan tragedi itu akan menjadi tugas terakhir yang diberikan padaku. Aku ada di sini, sekarang, untuk alasan itu. Aku tidak memiliki ilmu pedang yang dimiliki Kirito dan Alice, maupun keahlian dalam art yang dimiliki Cardinal...Tetapi, sudah pasti masih ada sesuatu yang aku dapat lakukan. Jika aku memiliki waktu untuk meratapi ketidakberdayaan dari kekuatanku, aku seharusnya menggunakan waktu itu untuk mencari cara untuk bertarung.

Eugeo berusaha berpikir saat dia masih berdiri.

Meskipun Blue Rose Sword mungkin dapat menghancurkan pelindung yang menghalangi semua metal karena setengahnya terbuat dari es, serangan gegabah untuk menebas pemimpin tertinggi hanya akan berakhir dengan terbakar hingga mati oleh serangan petir atau tertebas oleh sword golem itu. Release recollection art itu hanya akan menghentikan gerakan pemimpin tertinggi untuk sesaat dalam kondisi yang terbaik.

Bahkan dengan usaha untuk menghancurkan sword golem terlebih dahulu, serangan itu tidak akan mencapai satu-satunya kelemahannya, piety module. Bahkan jika itu berhasil, itu akan membutuhkan serangan akurat melalui celah satu cen diantara tiga pedang besar yang membentuk punggungnya. Tidak perlu dibilang itu harus melewati serangan dari pedang tulang rusuknya. Itu akan membutuhkan kemampuan untuk melayang di udara seperti pemimpin tertinggi dan armor yang mampu menahan pedang tajam.

Itu mungkin lebih baik berubah menjadi es keras dan bersatu dengan pedang seperti apa yang terjadi dalam bayangan sekilas, di Ruangan Perpustakaan Besar, dari ingatan mawar biru dan es abadi.

Dalam sekejap.

Kedua mata Eugeo terbuka lebar.

Ada suatu metode untuk mengabulkan permintaan itu. Itu seharusnya ada.

Tetapi, bahkan jika itu diwujudkan, masih ada sesuatu lain yang dibutuhkan. Kekuatan yang sama mengisi sword golem itu. Kekuatan menakjubkan yang menciptakan release recollection art.

Lalu tiba-tiba, dia mendengar namanya dipanggil—atau seperti itu yang dia pikirkan.

Seolah-olah sesuatu menariknya ke sana, dia melihat ke atas pada kanopi aula itu.

Seni yang menggambarkan mitos peristiwa penciptaan yang telah tergambar pada semua kanopi luas itu selain dari bagian tengahnya.

Dewi yang menciptakan langit dan bumi di Dunia Manusia. Manusia jaman dahulu yang diberikan kesempatan untuk tinggal di sana. Pada akhirnya, dewi itu memilih suatu media untuk membimbing manusia di tempat mereka. Dan Gereja Axiom telah tercipta, dengan menara putih marbel yang dibangun di bagian tengah dari ibu kota, Centoria Pusat.

Sama seperti penjelasan dari mitos penciptaan yang Eugeo telah tenggelam dalam bacaannya di tempat sunyi dari Ruangan Perpustakaan Besar. Tetapi, itu semua kelihatannya merupakan karangan. Sebuah cerita yang dibuat oleh pemimpin tertinggi, Administrator, untuk mengendalikan penduduk.

Miniatur dari burung kecil yang berada pada bagian ujung dari kanopi yang dipenuhi dengan kebohongan seperti itu. Itu terbang secara sungguh-sungguh dengan tangkai gandum di paruhnya. Sebuah bagian seni dari burung biru kecil yang mati saat itu membawa gandum menuju daerah perbatasan dari ladang di sekitar ibu kota yang dikendalikan secara ketat oleh bangsawan kelas atas. Itu adalah salah satu dan satu-satunya cerita yang dia mungkin masih percayai bahwa itu adalah kebenaran.

Kristal yang terpasang di mata burung kecil itu bersinar warna biru.

Cahaya yang selalu berada di samping Eugeo semenjak waktu yang lalu. Cahaya yang bersinar dengan terang di mata gadis dengan rambut pirang yang berumur sama—

Dan karenanya, Eugeo akhirnya mengerti misi yang dipercayakan padanya.

Bagian 5[edit]

Eugeo...Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?

Aku mengalihkan pandanganku dengan pemikiran itu.

Anak muda berambut kuning muda itu, sahabat terbaikku, Eugeo yang merupaka swordsman dengan Aincrad-style, pandangannya bertemu dengan pandangaku untuk sesaat dan mengangguk dengan senyuman. Dia dengan segera mengembalikan pandangannya menuju Cardinal dan mengatakan perkataan itu.

"Cardinal-san. Dengan kekuatanmu yang tersisa, tolong ubah diriku—tubuh dari diriku—menjadi pedang. Sama seperti boneka itu."

Mungkin perkataan itu menarik kesadarannya kembali—

Mata Cardinal, yang hampir kehilangan semua cahayanya, terbuka dengan lemah.

[Eugeo...Kau...]

"Jika kita melarikan diri dari tempat ini sekarang...Administrator akan mengubah setengah manusia di dunia ini menjadi monster yang mengerikan. Kita sudah pasti tidak dapat membiarkan itu. Harapan terakhir yang kita miliki untuk mencegah tragedi itu seharusnya berada di dalam art ini..."

Memperlihatkan senyuman jelas seolah-olah dia mengerti segalanya, Eugeo menutupi tangan kiri dengan kedua katanya dan mengucapkan kata dengan bisikan.

"System call. …Remove core protection."

Aku tidak pernah mendengar art seperti itu.

Kelopak mata Eugeo perlahan tertutup setelah dia mengucapkan perkataan itu.

Pola rumit yang menyerupai rangkaian listrik tergambar pada dahi halusnya dalam garis cahaya ungu. Itu tersebar dari pipinya menuju lehernya saat aku melihat pada itu, lalu mencapai bahu, tangan, dan ujung jarinya.

Sirkuit yang bersinar itu bahkan merambat pada tangan kiri kecil Cardinal, yang digenggam oleh kedua tangan Eugeo, dan berkilauan pada bagian ujungnya saat itu mencapai bagian itu seperti yang telah diperkirakan.

Remove core protection.

Menilai dari arti dari kalimat itu, Eugeo pasti telah memberikan Cardinal kewenangan untuk memodifikasi tanpa batasan pada fluct lightnya sendiri. Aku tidak mengerti kenapa dia mengetahui art seperti itu, tapi setidaknya, tiga kata itu dipenuhi dengan tekad dan ketetapan hati Eugeo tang kuat.

Penyihir yang menerima perintah seperti itu diambang kematiannya membuka baik mata kirinya yang tidak terluka dan mata kanannya yang terbakar saat mulutnya bergetar. Pikirannya yang bergetar terlihat dengan sendirinya melalui kulit kita yang bersentuhan.

[Apa kau yakin...Eugeo? Tidak ada jaminan...bahwa kau dapat kembali...menjadi bagaimana kau yang seharusnya.]

Dengan permukaan sirkuit cahaya pada dahi dan pipinya, Eugeo mengangguk secara dalam dengan kedua matanya masih tertutup.

"Itu tidak apa-apa. Ini adalah tugasku...Alasan kenapa aku berada di sini sekarang. Itu benar, ada satu hal yang harus aku katakan untuk pertama kali. Cardinal-san...dan kalian berdua juga, Kirito, Alice. Senjata metal tidak akan mencapai pemimpin tertinggi. Karena itu aku tidak dapat menusuknya dengan pisau yang kau berikan padaku."

"......!"

Alice dan aku menarik nafas tajam pada bisikan Eugeo.

Tapi Cardinal hanya mengedipkan matanya dan mengangguk tanpa menunjukkan keterkejutan apapun—atau mungkin dia bahkan tidak memiliki energi untuk melakukan itu. Dengan sedikit gelengan kepalanya, Eugeo melanjutkan perkataannya.

"Baiklah kalau begitu...Tolonglah. Sebelum Administrator menyadarinya."

"......Tidak, hentikan itu, Eugeo!"

Aku menggerakkan mulutku yang kering dan memaksakan keluar perkataan itu.

"Maksudku, jika kau tidak dapat kembali menjadi normal...dirimu...mimpimu......"

Jika kita berhasil memenangkan pertarungan ini dan Eugeo tidak dapat kembali menjadi bentuk manusianya. Keinginannya yang dia tahan selama delapan tahun...Harapannya untuk mengambil kembali Alice dan kembali menuju Desa Rulid dengannya akan berakhir tidak terpenuhi.

Hanya ada dua orang yang mampu menggunakan sacred art berangking sangat tinggi yang mampu mengubah daging dan darah manusia menjadi senjata. Administrator dan Cardinal. Salah satu merupakan musuh terbesar dan orang lainnya mulai menghilang. Dengan kata lain, bahkan jika kita dapat membalikkan keadaan berbahaya ini, maka mungkin tidak ada pengguna art yang mampu mengubahnya kembali menjadi manusia.

Diselimuti cahaya ungu, Eugeo mengalihkan pandangannya menuju langit-langit sebelum memperlihatkanku anggukan kuat saat aku mencoba melanjutkan berbicara.

"Tidak apa-apa, Kirito. Aku harus melakukan ini."

".........!"

Aku tidak memiliki kata-kata untuk membantah tekad kuat dari sahabat terbaikku.

Sesungguhnya, apa yang dapat aku katakan?

Sebagai seseorang yang berguncang hingga ke dalamnya, tidak mampu untuk mengayun pedang maupun melangkah ke depan, hanya setelah satu kekalahan. Aku memperlihatkan ekspresi memohon pada Alice yang ada di sampingku.

Kesedihan dan menghargai memenuhi mata biru knight itu secara seimbang. Alice merendahkan kepalanya dengan dalam di waktu berikutnya. Menuju kriminal yang dia serang dengan emosi yang tidak terlihat di auditorium besar di akademi dua hari lalu.

Cardinal sedikit mengangguk dengan kelopak matanya masih terbuka di dalam pelukanku, darah mengalir dari mulutku saat aku perlahan menggigit itu.

[Baiklah, Eugeo. Aku akan memberikan hidupku untuk art terakhirku...Pada tekad kuatmu.]

Suaranya mendapatkan kembali kekuatannya untuk sesaat, seperti lilin yang hampir padam, dan bergema di bagian inti dari kepalaku.

Cahaya ungu menempati mata coklatnya yang terbuka.

Sirkuit cahaya yang menghubungkan Eugeo dan Cardinal melalui tangan mereka bersinar dengan terang. Cahaya yang merambat pada tubuh Eugeo dalam sekejap dan keluar pada saat mencapai pola yang ada di dahinya, membentuk pilar cahaya yang terbentang ke atas menuju langit-langit.

"Apa...?!"

Suara itu dimiliki oleh Administrator yang kelihatannya telah meyakini kemenangannya di sisi lain. Penguasa itu berteriak dengan kuat setelah merasakan kemenangannya yang dengan segera menghilang dari wajahnya dan mata peraknya bersinar dengan kemarahan.

"Apa yang kau pikir akan lakukan, setelah melarikan diri dari kematian?!!"

Rapier di tangan kanannya mengarah pada Eugeo dan aku, dan sebagai tambahan, Cardinal. Percikan api putih murni menyelimuti di sekitar pedangnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu!"

Integrity Knight Alice berteriak sebagai balasannya.

Jyaa, bilah pedang dari Fragrant Olive Sword yang seharusnya telah mencapai batasnya dalam hal Life tersebar dengan suara keras dan berputar melalui udara seperti rantai emas. Suara yang menusuk telinga terdengar di waktu yang sama, melepaskan tembakan petir raksasa.

Ujung dari rantai itu bersentuhan dengan petir berwarna putih murni. Aliran energi yang dialirkan melalui rantai itu dalam sekejap, mendekati Alice.

Tapi pada saat itu, rantai emas itu telah terbentang dengan sendirinya ke arah belakang dan menusuk ujung kecil di lantai itu. Tidak mampu untuk terlepas dari kawat yang terpasang di tanah, semua energi yang sangat besar mengalir menuju struktur menara dan menghilang, menyebabkan suara ledakan dan asap putih.

Alice mengarahkan jari telunjuk tangan kirinya pada Administrator dan menyatakan.

"Petir tidak akan bekerja pada diriku!!"

"Sungguh tidak sopan... Bagi seorang boneka knight!!"

Mengatakan itu keluar saat mulutnya membengkok, penguasa itu memperlihatkan senyuman berbahaya sekali lagi sebelum mengangkat rapier putih peraknya dengan sangat tinggi.

"Lalu...Bagaimana dengan ini!?"

Bobobohh!! Udara bergetar dan tidak terhitung titik cahaya merah terlihat di sekitar pedang itu. Itu sudah jelas berjumlah lebih dari tiga puluh. Jika seandainya itu semua adalah thermal elements, maka jumlahnya akan dengan mudah melebihi batas manusia yang mengontrol dua puluh element.

Fakta bahwa full control art Fragrant Olive Sword lemah terhadap serangan api yang tidak dapat dipahami telah dibuktikan dari pertarungan sebelumnya melawan Chudelkin. Tapi knight emas itu tidak menunjukkan tanda-tanda mundur ke belakang dan bahkan mengambil langkah kuat ke depan dengan kaki kanannya, sebuah suara terdengar keluar dari tumit sepatunya. Seolah-olah mengerti tekad dari masternya, pedang kecil yang membentuk rantai itu, juga, tersebar dengan suara metal yang terdengar jelas, menyusun dengan sendirinya menjadi pola jaringan.

Cahaya ungu yang menyelimuti Eugeo bahkan tanpa henti bersinar lebih kuat sementara mereka berdua saling berhadapan.

Tubuh Eugeo kemudian terhuyung saat itu kehilangan kekuatannya tanpa peringatan. Tapi daripada terjatuh, hal yang sebaliknya terjadi dengan dia perlahan melayang di udara.

Pakaian itu menghilang dari tubuh Eugeo seolah-olah itu telah menguap sementara dia melayang secara horizontal dengan kelopak matanya tertutup.

Partikel cahaya yang terangkat dari dahinya telah mencapai langit-langit. Dengan itu, kristal yang terpasang pada miniatur yang tergambar—sebuah kristal yang ditanam pada mata burung kecil yang melayang melalui langit jaman dulu—bersinar dengan terang seolah-olah itu telah dipanggil dan membalas dengan baik.

Kristal yang berjumlah tiga puluh, bagian ingatan yang diambil dari Integrity Knight, terpasang di kanopi seharusnya semuanya telah diaktifkan sebagai «pemilik» dari sword golem. Meskipun begitu, kristal di burung biru yang tertinggal di kanopi saat cahaya yang bergetar, turun melalui partikel cahaya itu.

Itu mungkin, tidak, tanpa kesalahan adalah bagian ingatan Knight Alice.

Aku telah menduga bahwa ingatan yang diambil dari Alice melalui Synthesis Ritual mungkin berhubungan dengan saudara perempuannya, Selka, tapi jika itu memang benar, Selka seharusnya telah diculik dari Gereja Rulid dan diubah menjadi pedang di ruangan ini sebelum dua tahun lalu.

Jika itu bukanlah Selka...Cukup siapa yang ada di ingatan yang tersimpan di kristal itu?

Tanpa memberikanku jawaban apapun pada keraguan yang teraduk di dalam diriku, kristal yang berbentuk prisma segi enam, dengan dua bagian tajam, perlahan turun lebih dekat. Blue Rose Sword yang tergeletak di lantai terangkat juga dan berputar sebelum berhenti dengan ujungnya mengarah pada jantung Eugeo.

Tubuh berotot Eugeo, pedang bersinar Blue Rose Sword, dan kristal prisma transparan itu bersatu.

Di saat yang bersamaan, Administrator mengayunkan ke bawah rapiernya dengan teriakan dari sisi lain.

"Terbakarlah, kalian semua!"

Tiga puluh thermal elements yang melayang di sekitar rapier itu bergabung dan menembakkan bola api yang sangat besar.

"Aku bilang...Aku tidak akan membiarkanmu!"

Pedang berbentuk salib kecil yang sejajar di udara dengan segera terkumpul bersama dan membentuk perisai raksasa. Menyandarkan dirinya pada perisai itu, knight itu menghentakkan kakinya ke tanah, dan menusuk pada bola api yang sangat besar.

Sebuah hantaman.

Keheningan sejenak.

Ledakan yang mengikuti itu menggetarkan seluruh ruangan yang terisolasi. Hawa panas yang meluap dan cahaya yang memenuhi ruangan luas itu bersamaan dengan gelombang kejut, dengan sebagian karpet yang terbentang di sepanjang lantai terbakar hingga menghilang. Bahkan sosok raksasa dari sword golem itu telah menghentikan gerakannya dari jarak yang jauh bergetar dengan kuat sementara Administrator yang jauh dibelakang melindungi wajahnya dengan tangan kirinya.

Tapi aku hanya mendapat nafasku telah terambil oleh hawa panas, berkat perlindungan yang diberikan perisai Alice. Baik Cardinal, yang aku tahan di tanganku, dan Eugeo yang melayang kelihatannya tidak terpengaruh ledakan itu.

Pusaran api yang menghilang dari aula itu dalam sekejap seperti itu semua hanyalah kebohongan—

Alice terjatuh dari pusat ledakan itu dengan suara keras. Beberapa saat kemudian, Fragrant Olive Sword, kembali pada bentuk aslinya, berdiri dengan tegak di samping masternya seolah-olah itu kehilangan kekuatannya.

Asap yang terangkat dari berbagai tempat yang terbakar di seragam biru dan putih Alice Bahkan terdapat lukan bakar dari anggota tubuhnya juga, membuat itu menjadi bukti bahwa Lifenya berkuarang sangat banyak. Kelihatannya knight itu telah kehilangan kesadarannya saat dia tetap terbaring, detik berharga yang dia dapatkan sama sekali tidak sia-sia, tetapi, art terakhir Cardinal hanya tinggal beberapa saat penyelesaiannya.

Terbungkus oleh partikel cahaya ungu tubuh Eugeo kehilangan kepadatannya dan dengan tenang berubah menjadi transparan. Blue Rose Sword di bagian tengah dadanya membuat hal yang sama saat itu bersatu dengannya seolah-olah tertarik ke arahnya.

Tubuh Eugeo terpisah menjadi pita cahaya yang tidak terhitung jumlahnya di atas saat aku tanpa sadar menyipitkan matanya. Itu terkumpul sekali lagi saat saat itu berputar di sekitarnya dan tercampur.

Apa yang melayang di sana bukan lagi tubuh manusia.

Pedang yang sangat besar dengan bilah pedang yang benar-benar putih sementara terlihat biru dan penahan silang.

Panjang dari pedang itu sangatlah panjang dan lebar seperti tubuh Eugeo. Garis indah dari bentuk itu terbentang dari dasar dan berkumpul menuju ujung tajamnya. Kristal prisma yang melayang mendekat menuju lekuk lubang kecil yang ada di tengah dan bersatu dengan itu setelah suara pelan terdengar.

Tangan kiri Cardinal kehilangan kekuatannya dan terjatuh ke lantai.

Mulut penyihir itu sedikit bergetar dan kalimat terakhirnya mengalir keluar seperti angin sepoi-sepoi.

[Release... recollection.]

Kiiiin!! Prisma segi enam dengan dua bagian ujung yang tajam—bagian ingatan Alice—bersinar terang dengan suara bergema yang berbeda. Pedang Eugeo, juga, bersuara dengan merdu seolah-olah meresponnya sementara melayang lebih tinggi.

Pedang besar berwarna putih murni sekarang beroperasi secara bebas dengan logika yang benar-benar sama seperti sword golem. Atau dengan kata lain, melalui pedang yang ditempa dari daging manusia, bagian ingatan sebagai pemiliknya, dan perasaan yang menggabungkannya—kekuatan cinta.

Tapi sword golem memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Pedang Eugeo.

Prisma segitiga ungu yang dimasukkan Administrator pada hati golem itu. Piety module. Itu tepatnya adalah apa yang membungkus kekuatan cinta yang menggerakkan golem itu, mendorong untuk membantai.

"Sialan kau, Lyceris...untuk membuatku tidak dapat ikut campur di jalanku...!!"

Memalingkan wajahnya dengan apa yang terlihat seperti kebencian pada cahaya yang dipancarkan pedang besar itu, Administrator berteriak.

"Kau mungkin mencoba meniru artku...Tapi satu pedang tipis itu tidak akan pernah memiliki harapan untuk bertahan melawam senjata penghancurku! Aku akan mematahkan itu dalam satu serangan!!"

Administrator memerintah dengan ayunan tangan kirinya dan mata sword golem yang tetap diam hingga sejauh ini bersinar putih kebiruan sekali lagi. Giiin, sosok raksasa itu dengan kuat memulai gerakannya dengan suara logam yang menusuk telinga.

Pedang Eugeo memutar bilah pedangnya secara horizontal tanpa ada satupun suara dan mengarahkan ujungnya pada raksasa dengan tinggi lima mel.

Pedang putihnya menguatkan cahayanya bahkan lebih jauh sementara partikel cahaya tersebar dengan berputar di sekitar itu.

Dengan segera setelahnya, pedang besar yang terbang dengan suara yang membawa pikiran pada suara lonceng. Cahaya putih murninya menarik garis panjang di udara seperti komet.

[...Sungguh indah...]

Cardinal mengeluarkan pemikiran samar-samar dari dalam pelukanku.

[Cinta...Manusia. Dan cahaya, dari tekad, merekal...Sungguh...Indah...]

"Ya...Memang benar."

Air mata mengalir dari mataku sekali lagi saat aku mengatakan jawabanku.

[Kirito...Aku meninggalkan, sisanya padamu...Lindungilah...Dunia ini dan...Peduduknya... kumohon...]

Menggerakkan wajahnya dengan kekuatannya yang tersisa, Cardinal menatap padaku dengan mata yang jelas dan memperlihatkan senyuman lembut.

Pada saat mengkonfirmasi persetujuanku tanpa kata-kata, penyihir terhebat di dunia, gadis ini perlahan menutup matanya dan mengeluarkan nafas pelan—dan tidak akan bernafas lagi.

Sedikit beban yang ditahan kedua tanganku perlahan terasa menghilang sementara menahan tangisanku.

Di pandanganku, yang dipenuhi dengan warna, pedang besar putih murni yang telah mewarisi tekad Cardinal mengepakkan sayapnya saat itu melayang lurus.

Menahan serangannya, monster raksasa itu membentangkan kedua tangan pedang besarnya dan pedang kecil yang berperan sebagai tiang rusuk yang lebar. Aura kegelapan menyelimuti pedang yang tidak terhitung jumlahnya yang bersinar saat itu berubah menjadi taring mengerikan.

Hanya berdasarkan nilai dari prioritasnya, pedang besar yang hanya terbentuk dari tubuh Eugeo dan Blue Rose Sword tidak mungkin sebanding dengan golem yang diubah dari tiga ratus manusia.

Dan meskipun begitu, Pedang Eugeo bahkan bergerak lebih cepat, menyerbu menuju kumpulan pedang yang sudah menunggu.

Itu mengarah pada bagian tengah dari badan golem itu—bahkan dibalik tulang rusuk yang terbentuk dari tiga pedang di bagian tengahnya. Cahaya ungu mengalir keluar dari celah diantara pedang itu.

Piety module.

Pedang emas dan putih murni saling berhantaman beberapa saat kemudian. Cahaya putih dan hitam terhubung, berputar, dan meluap.

Sejumlah besar suara metal, yang menyerupai teriakan hewan, dilepaskan saat pedang yang membentuk tangan dan tulang rusuk golem itu saling bersilangan dalam sekejap.

Tapi tepat sebelum itu. Pedang putih itu menusuk dengan dalam melalui celah yang terbuka di tulang rusuk itu.

Suara pecah yang pelan tidak lepas dari pendengaranku. Cahaya ungu yang tersebar dari tulang punggungnya tersebar menjadi pecahan yang tidak terhitung jumlahnya.

Sebuah cahaya terang menyelimuti tiga puluh pedang besar yang tergabung oleh kegelapan pekat hingga sejauh ini, tersebar dari dimana pedang putih besar itu tertusuk.

Sepertinya cinta diantara Eugeo dan Alice benar-benar menghilangkan kesedihan karena terpisah oleh orang yang disayanginya.

Giiii! Suara kematian yang bergema diubah menjadi nada musik yang berirama indah dalam sekejap, terdengar sangat indah saat itu tersebar.

Beberapa saat kemudian. Semua pedang yang membentuk persenjataan penghancur yang mendorong kita hingga diambang kematian terpisah dan terlempar ke segala arah.

Pedang itu, berputar saat itu terbang dengan tinggi, menarik tiga puluh garis seperti parabola dan secara bersamaan menusuk pada lingkaran luar dari aula itu dengan suara suara keras.

Bagian ujung besar yang tertusuk tepat di belakangku juga, seperti tanda untuk kuburan. Tidak ada kesalahan bahwa itu adalah kaki kiri golem yang menebas badanku, tapi aura kegelapan yang mengelilingi itu telah menghilang dan sekarang itu tidak lebih dari metal yang dingin.

Kristal yang berada di kanopi yang menggerakkan golem itu, juga, memiliki cahaya yang tidak teratur berkedip menjadi redup dan pada akhirnya menjadi berhenti. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi pada kesadaran «mereka», tapi setidaknya, full control art Administrator yang menggunakannya sebagai sumber energi telah hancur dan pemanggilan kedua kelihatannya tidak mungkin.

Pedang besar putih yang memisahkan sword golem itu dengan satu serangan masih tergeletak secara horizontal di udara, menyebarkan partikel cahaya yang menyilaukan.

Bagian ingatan Alice berkilauan pada bagian tengah pedangnya. Pengetahuan dari apa yang tersimpan di dalamnya terlintas pada diriku seperti pencerahan secara tiba-tiba.

Integrity Knight berjumlah tiga puluh satu. Pedang dari sword golem itu berjumlah tiga puluh. Bagian ingatan seseorang yang tidak digunakan dimiliki oleh Alice, itu telah dibuktikan dengan bagaimana itu bergabung dengan Pedang Eugeo.

Lalu kenapa Administrator tidak menciptakan pedang yang untuk berpasangan dengan ingatan Alice?

Ingatan Alice...Cinta yang tersegel di dalamnya pasti terlalu besar. Alice muda mencintai Eugeo, Selka, orang tuanya, setiap semua orang yang tinggal di desa, Desa Rulid itu sendiri, bersamaan dengan waktu yang dia habiskan dengan seseorang yang dia cintai dan waktu yang akan datang.

Bahkan pemimpin tertinggi tidak dapat mengubah ruang dan waktu. Karena itu, Administrator tidak dapat menciptakan pedang yang terhubung dengan Alice.

Dan itu akan menjadi alasan yang sebenarnya kenapa pedang yang diciptakan oleh Alice dan Eugeo bersinar dengan indah.

"Aah...Itu memang sangat indah."

Aku memeluk mayat Cardinal dengan erat dan berbisik pada jiwa gadis itu yang telah memulai perjalanan jauh melebihi baik Underworld dan dunia nyata.

Tidak ada suara untuk menanggapinya, tapi aku merasa cahaya samar-samar menyelimuti sosok kecil di kedua tanganku. Cahaya murni yang berjenis sama saat cahaya mengaggumkan dilepaskan oleh pedang putih yang dipenuhi dengan cahaya itu.

Itu adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Cardinal, atau gadis bernama Lyceris, adalah manusia dengan emosi yang sebenarnya dan cinta, dibandingkan dengan suatu program seperti apa yang telah membuat dia menjadi dirinya sendiri dari waktu ke waktu.

Sedikit kehangatan yang ditemani dengan cahaya, menembus pada tubuhku yang menggigil sementara keberadaan mayatnya perlahan menghilang. Meredup hingga menjadi transparan, itu perlahan tersebar dan menghilang sebagai cahaya putih murni.

Menyinari semua bagian dari ruangan yang terisolasi itu, gelombang cahaya yang kelihatannya untuk menyucikan—

Telah terpotong oleh suara pelan yang kelihatannya bersikeras untuk melawan mereka sampai akhir.

"Sungguh perjuangan membosankan dan sia-sia diambang kematian, pendek. Apa kau benar-benar perlu untuk menodai ingatan sangat mengembirakan seperti ini?"

Administrator memperlihatkan senyuman dingin, sombong bahkan dengan kartu trufnya telah dihancurkan.

"—Tapi baiklah, aku rasa menghancurkan satu prototype adalah batas untuk kalian. Aku menciptakan ratusan atau ribuan seperti itu dari waktu sekarang, setelah semua."

Ujung jari dari tangan kirinya yang menggenggam pada rapier perak murni saat dia menyombongkan diri, terlihat benar-benar mekanis seolah-olah benar-benar tidak memiliki semua emosi meskipun bagaimana dia seharusnya adalah salinan dari Cardinal. Seperti gas beracun, gelombang hitam pekat perlahan menyelimuti di sekitar tubuhnya, yang berkulit putih murni yang kelihatannya bersinar dan rambut peraknya yang berkilauan.

Hawa dingin yang dinamakan rasa takut mengangkat kepalanya dari bagian bawah tubuhnya sekali lagi. Aku dengan erat menggenggam tanganku, yang sekarang kosong, secaara bersamaan tanpa berpikir.

Sword golem yang aku pikir tidak terkalahkan telah hancur, namun bayarannya sangatlah mahal. Kita telah kehilangan salah satu dan satu-satunya penyihir di dunia ini dengan kemampuan yang sebanding dengan kekuatan luar biasa Administrator.

Berbalik denganku, yang hanya melihat ke atas pada pemimpin tertinggi, bahkan tidak mampu mengeluarkan perkataan apapun—

Masih melayang, Pedang Eugeo mengeluarkan suara jelas dan mengarahkan ujungnya yang lurus pada musuh terburuk dan terakhirnya.

"Oh, ya ampun."

Menyipitkan mata transparannya, Administrator berguman.

"Masih ada yang lain lagi, anak muda? Merasa berani sekarang setelah menghancurkan bonekaku dengan menusuk melalui celah itu?"

Aku tidak tahu apakah perkataan itu akan mencapai Eugeo yang sekarang saat dia diubah menjadi pedang besar. Tapi pedang putih itu tidak bergetar sedikitpun, mempertahankan ujung tajamnya menuju pemimpin tertinggi. Sinar yang mengelilingi pedangnya semakin kuat sekali lagi sementara bergetar, kiin, kiin, yang nadanya semakin tinggi juga.

"...Hentikan, Eugeo."

Aku memaksakan keluar suara serak sementara mengulurkan tangan kiriku menuju pedang yang bersinar itu.

"Jangan...Jangan bergerak seorang diri."

Memaksakan perbuatanku dengan gangguan yang sangat besar, aku menyeret lututku pada lantai yang terbakar dengan kaki yang sama sekali tidak ada kekuatan. Salah satu partikel cahaya yang tersebar dari pedang itu bersentuhan dengan jariku yang berusaha terulur ke depan, terpental, dan menghilang.

Beberapa saat kemudian.

Sayap cahaya terbentang keluar sekali lagi dari gagang pedang besar itu. Mengepakkan sayap kuat itu, pedang besar putih itu menyerbu secara lurus menuju Administrator.

Senyuman kejam terlihat dari mulut abu-abu mutiara penguasa itu. Rapier seperti cermin itu terayun ke bawah dengan suara keras dan membalas dengan memancarkan petir, yang sama atau lebih kuat dari petir yang membakar Cardinal hingga mati.

Ujung pedang itu menyentuh serangan petir itu.

Gelombang kejut yang melebihi dari ketika sword golem itu hancur terhempas keluar, menghantam seluruh tubuhku saat aku berlutut di kejauhan.

Aku membuka mataku selebar yang aku bisa saat aku bahkan menarik tubuhku dan melihat saat serangan petir Administrator tersebar menjadi garis tipis yang tidak terhitung jumlahnya.

Vaaaaa!! Percikan api yang tersebar ke segala arah dengan suara keras yang disebabkan ledakan kecil di dalam ruang tersebut. Pedang itu melesat meskipun retak melalui aliran deras energi secara langsung. Pecahan kecil terkelupas dari permukaan pedang putihnya, tersebar satu demi satu. Dan setiap dari itu seharusnya merupakan bagian dari tubuh Eugeo, Lifenya.

"Eugeo!!"

Angin yang kuat menghapus teriakanku.

"Anak muda...!!"

Senyuman menghilang dari mulut Administrator.

Pada sumber dari serangan terakhir pertir itu, pedang putih besar itu mendaratkan hantaman, tebasan akurat, pada rapier dengan ujung seperti jarum.

Gema yang dihasilkan itu menggetarkan ruangan yang terisolasi itu dengan frekuensi yang sangat tinggi. Rapier perak, sebuah sumber energi yang mendukung kekuatan suci Administrator, dan gabungan dari tubuh Eugeo dan Blue Rose Sword, melanjutkan perjuangannya untuk beberapa saat. Kelihatannya terjadi penahan yang mutlak, tapi semua kulitku memberitahuku firasat dari kehancuran akan segera terjadi.

Fenomena yang pada akhirnya terjadi kelihatannya terjadi untuk selama-lamanya, seperti dalam gerakan lambat.

Rapier Administrator hancur menjadi pecahan kecil yang tidak terhitung jumlahnya.

Pedang besar putih itu patah menjadi dua bagian saat itu memancarkan partikel cahaya.

Setengah bagian, pedang itu, berputar saat itu terlempar dan menebas tangan kanan Administrator dari bagian atas bahunya tanpa suara.

Suara dan getaran dengan segera mengejar pada pemandangan yang terlihat di mataku.

Sejumlah besar dari kekuatannya mengalir keluar dari rapiernya yang hancur menyebabkan ledakan, besar berwarna yang menyelimuti seluruh aula itu.

"Eugeo————!!"

Teriakanku sekali lagi tertutupi oleh suara keras dari elektromanetik yang sangat besar. Gelombang kejut yang tersebar menghantam ke arahku dan menerbangkanku menuju jendela selatan.

Menahan gelombang kejut di balik pedang yang tertusuk di lantai, bagian dari sword golem sampai beberapa menit yang lalu, Aku berjalan terhuyung-huyung dan melihat—

Pada Administrator yang berdiri dengan kedua kakinya sendiri, menekan pada luka di bahu kanan dengan tangan kirinya.

Dan dua bagian besar yang rusak tergeletak di kakinya.

Cahaya putih, samar-samar masih berada pada Pedang Eugeo yang rusak.

Tapi detakannya, sama seperti detakan jantung, saat cahaya menghilang menjadi ketiadaan, sementara aku menatap dengan kebingungan.

Pedang putih yang kehilangan zat penyusunnya sebagai pedang dan perlahan mulai kembali menjadi bentuk manusia.

Bagian dari bagian tengah pedangnya menuju bagian tajam itu menjadi bagian bawah dari tubuh itu.

Dan bagian atas yang termasuk penahan silang itu menjadi bagian atas tubuhnya.

Eugeo telah menutup kelopak matanya sementara tangan kanannya, berada di atas dadanya, menggenggam kristal prisma. Itu terjadi pada saat itu, ketika rambut kuningnnya dan kulit putihnya mendapatkan kembali sifat manusiannya.

Darah yang berjumlah mengerikan menyembur keluar dari dua bagian tubuhnya yang terpotong, dengan segera membasahi telapak kaki Administrator.


"Ah......ah......"

Suara serak yang dipaksa keluar dari tenggorokanku kelihatannya berasal dari kejauhan.

Dunia telah kehilangan hampir semua warna, aroma dan suara, juga, telah mengalir ke bawah hingga hampir sepenuhnya tertahan.

Darah merah yang meluas itu saja terlihat sangat terang pada bagian tengah dari dunia membeku ini. Sesuatu berkilauan melesat menuju ke samping Eugeo saat dia terbaring di tengah genangan darah.

Itu tertusuk pada genangan darah, menciptakan riak pelan dengan sebuah ketukan, itu adalah pedang tipis panjang yang berwarna putih kebiruan—Blue Rose Sword. Pedang tersebut kelihatannya tidak rusak, atau seperti itu yang kupikirkan untuk sesaat sebelum setengah bagian bawah itu pedang itu secara tiba-tiba menjadi retak pada kristal es itu dengan suara hancur yang pelan.

Kehilangan penahannya, setengah bagian atas dari pedang itu perlahan menjadi miring dan terjatuh pada wajah Eugeo. Darah yang bercipratan mengenai pipi Eugeo dan mengalir ke bawah.

Aku mengambil dua, tiga langkah goyah ke depan sebelum lututku terjatuh ke lantai.

Tanganku memeluk di sekitar tubuhku seolah-olah memegang pada apa yang tersisa dari kehangatan Cardinal sementara mata kosongku tetap terbuka. Tetapi, kehangatan samar-samar itu tidak dapat mengisi kehancuran yang tersebar di dalam diriku. Semuanya terasa kosong, kesadaranku, dagingku, bahkan jiwaku. Biarkan itu berakhir di sini.

Pikiran itu terlintas dari dalam ketiadaan seperti gelembung dan meletus.

Kita, tidak, aku telah kehilangan semua cara yang dapat aku bayangkan.

Satu-satunya alasan kenapa aku berada di sini sekarang adalah untuk melepaskan jiwa Eugeo menuju dunia nyata, bukan? Meskipun begitu, aku sebenarnya dilindungi oleh pengorbanan Eugeo dan sekarang bergemetar seperti ini, tidak berdaya. Aku, yang hanya akan logged out menuju sisi lain bahkan jika aku kehilangan Lifeku di sini.

—Sekarang aku hanya perlu untuk menghilang secara perlahan dari dunia ini, hanya perlu menghilang.

—Aku tidak ingin melihat lebih lama lagi. Aku tidak ingin mendengar lebih lama lagi.

Aku hanya mengingkan kematian yang cepat pada diriku.

Tetapi.

Underworld, juga, adalah kenyataan itu sendiri dan penguasanya tidak akan berhenti saat mencapai layar Bad End[12].

Tanda-tanda emosi yang terlihat pada wajah cantik, putih, Administrator dan sekarang menjadi tidak memiliki ekspresi sebelum menghilang dengan segera. Suara indahnya mengalir keluar dari mulutnya menggetarkan keheningan di aula.

"Ini pasti pertama kalinya aku menderita luka hingga tingkatan ini semenjak pertarunganku melawan Lyceris dua ratus tahun lalu."

Perkataan itu kelihatannya termasuk dengan tanda-tanda pujian.

"Pedang yang diubah dari tubuh Eugeo...Itu tidak mungkin dapat sebanding dengan «Silvery Eternity» dalam hal prioritas, tapi sungguh kejadian yang benar-benar tidak terduga. Juga, itu merupakan kesalahanku untuk menganggap pedang itu berasal dari metal."

Tetesan darah yang menetes dari luka di bahu kanannya, satu demi satu, menimbulkan riak di permukaan air merah pada kakinya. Administrator menangkap tetesan itu dengan telapak tangan kirinya, mengubah darah tersebut menjadi luminous elements yang tidak terhitung jumlahnya, dan menyentuh lukanya. Bekas tebasan itu tertutup dalam sekejap, ditutupi dengan kulit halus.

"Sekarang..."

Selesai dengan penyembuhan lukanya, penguasa itu mengedipkan kelopak matanya dan mengarahkan mata transparannya ke arahku.

"Sedikit mengejutkan bahwa kau menjadi satu-satunya orang yang tersisa, anak laki-laki dari sisi lain. Aku sedikit penasaran kenapa kau datang ke sini tanpa ada kemampuan supervisor...Tapi aku bosan dan mengantuk sekarang. Aku akan meninggalkan pertanyaan itu untuk «orang itu» melalui terminal untuk saat nanti, mari kita akhiri pertarungan ini dengan darah dan teriakanmu, anak muda."

Administrator menutup mulutnya dan mulai berjalan dengan elegan, benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda dipengaruhi oleh luka berat dari kehilangan tangannya. Melangkah pada tubuh Eugeo yang terpisah, dia meninggalkan jejak kaki dari darah segar pada lantai marbel sementara mendekati diriku.

Gadis itu mengulurkan tangan kirinya lurus ke sampingnya saat dia berjalan. Sesuatu yang putih bergerak menujunya dari belakangnya. Itu adalah tangan kanan rampingnya—bagian dari dirinya yang tertebas oleh Pedang Eugeo.

Aku berpikir dia akan menyambungkan tangan tersebut pada bahunya, tapi Administrator mengangkat tangannya sendiri dihadapan wajahnya dari pergelangan tangannya dan perlahan menghembuskan nafas pada tangan tersebut. Cahaya ungu dengan segera mengambil tangan itu dan susunannya berubah pada saat suara metal itu terdengar.

Apa yang terlihat adalah pedang perak panjang dengan desain sederhana, namun dengan bilah pedang dan gagang yang indah.

Itu tidak dipoles seperti permukaan cermin yang sempurna seperti rapier yang telah hancur, tapi seperti yang diharapakan dari sesuatu yang terbuat dari tangan yang dimiliki oleh manusia yang memiliki prioritas terbesar di dunia, kekuatan yang tersembunyi di dalamnya kelihatannya cukup untuk memotong leherku dengan satu serangan.

Kematian mendekat dengan langkah kaki yang samar-samar. Aku menunggu dengan berlutut.

Kecantikannya yang mempesona bahkan dengan kehilangan sebuah tangan, Administrator bergerak tepat dihadapan mataku hanya dalam waktu beberapa detik dan melihat ke arahku.

Tatapanku yang terangkat berhadapan dengan cahaya berwarna dari mata transparannya.

Dengan kedua mata yang diselimuti warna yang samar-samar, dengan senang, gadis itu berbisik.

"Selamat tinggal, anak muda. Mari kita bertemu lagi di sisi lain suatu hari nanti."

Pedang panjang itu terangkat, bersinar saat itu memantulkan cahaya bulan.

Pedang itu menarik garis biru di udara dengan ujung tajam seperti pisau saat itu mendekat menuju leherku.

Dalam sekejap.

Sesosok manusia memaksakan dirinya untuk berdiri di pandanganku.

Rambut panjang terurai di udara.

Knight perempuan itu yang ditutupi dengan banyak luka membentangkan tangannya secara luas, tercegang, aku menatap pada punggungnya.

Ini bukan.

Pertama kalinya aku melihat hal ini.

Berapa banyak.

Aku.

Harus——

——mengulangi kesalahan ini?!!

Pikiran itu terlintas seperti sinar cahaya dan waktu menghentikan semua gerakan untuk sesaat.

Tidak terhitung kejadian yang terjadi terbaris di dunia hitam putih yang telah kehilangan semua suara dan warna.

Sebuah tangan kecil perlahan menyentuh tangan kananku, yang bergelantung dengan tidak berdaya.

Telapak tangan yang hangat mencairkan ketakutan dan kesedihan dingin yang sedikit memenuhi seluruh tubuhku.

Bayangan kekalahan tidak segera menghilang.

Tapi itu baik-baik saja untuk mengakui kelemahanmu, pemiliki tangan itu membisikkan itu padaku.

—Kau tidak perlu menang di setiap waktu yang ada. Bahkan jika kau terjatuh, bahkan jika kalah, itu sama sekali bukan masalah selama di dalam hatimu, tekadmu akan selalu hidup pada orang lain.

—Semua dari hal yang telah dihabiskan dalam waktu sedikit bersamamu seharusnya meyakini hal itu, anak muda. Normalnya, hal yang sama juga berlaku padaku.

—Karena itu, kau, juga, masih dapat berdiri.

—Jika kau ingin untuk melindungi semua orang yang kau sayangi.


Aku menyadari kehangatan lembut dari dalam tubuhku, atau mungkin kesadaranku, telah memperluas sirkuit cahaya dari fluctlightku yang membeku.

Dari dalam bagian tengah dadaku, melewati bahu kananku, melalui tanganku, diakhiri dengan ujung jariku.

Hawa panas menyelimuti lima digit angka yang kaku itu.

Bergerak lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya, tangan kananku dengan erat menggenggam gagang pedang hitamku yang tergeletak tepat di sampingku. Dan waktu bergerak sekali lagi.


Pedang Administrator turun, menargetkan bahu kiri Knight Alice saat dia berdiri dan membuka lebar tangannya dengan lebar dalam usaha untuk melindungiku.

Itu benar-benar terjadi saat ujung pedang tajam menebas pada lengan seragam knight yang terbakar hingga sampai di kulit pucatnya.

Ujung dari pedangku, diayun keras secara diagonal ke atas sementara aku berdiri dengan kakiku, dengan segera menahan pedang perak itu, mengeluarkan percikan api yang sangat terang.

Hantaman itu membuat Administrator menjauhkan dirinya dari Alice dan diriku, mendorong kita ke belakang.

Menahan Alice dengan tangan kiriku saat dia terjatuh ke depan, aku terlempar ke belakang menuju jendela sekali lagi dan menguatkan kakiku untuk mencegah menabrak pada kaca jendela. Menyandarkan kepalanya pada bahu kananku, Alice sedikit menggerakkan kepalanya ke kiri dan melihatku dengan mata birunya.

"Cukup lihat dirimu..."

Tersenyum dengan pipinya yang masih kasar dengan luka bakar setelah menahan serangan api Administrator, knight Alice berguman dengan suara serak.

"Jadi kau dapat bergerak...bukan."

"...Yeah."

Aku mengumpulkan secara bersamaan dari apa yang dapat dianggap sebuah senyuman sebagai balasannya.

"Serahkan ini padaku."

"Aku hanya...akan melakukan itu."

Pada saat menyelesaikan perkataan singkatnya, Alice kehilangan kesadarannya sekali lagi saat kakinya berlutut.

Merendahkan knight itu pada lantai saat aku menahan tangan kirinya, aku menyandarkan punggungnya pada kaca jendela dan mengambil nafas dalam sementara aku berdiri.

—Serahkan apa yang tersisa pada diriku dan beristirahatlah, aku mohon.

Hidup ini yang telah dipercayakan Charlotte, Cardinal, dan Eugeo padaku...Aku akan menghubungkannya pada kalian.

Bahkan jika Alice saja yang tersisa, aku harus mengeluarkannya dari ruangan terisolasi ini dengan semua cara yang dibutuhkan. Untuk itu, aku harus bertarung melawan Administrator dan membuat pertarungan ini berakhir seri jika aku tidak dapat menang. Bahkan jika semua anggota tubuhku tertebas, bahkan jika jantungku tertusuk, bahkan jika leherku terpenggal.

Menguatkan tekadku, aku mengalihkan pandanganku ke atas dan menatap ke atas menuju musuhku.

Semua senyuman itu telah menghilang dari Administrator dan dia melihat ke arah pedang yang dia genggam di tangan kirinya. Mungkin hantaman dari sebelumnya telah melukai bagian tangannya yang terlihat halus hingga terdapat goresan berwarna merah.

"...Bahkan aku tidak dapat menahan kejengkelanku untuk waktu yang lama."

Nafasnya berhembus keluar dengan dingin.

Mata transparannya mengarah padaku yang membeku seolah-olah lapisan es telah turun pada mereka.

"Ada apa dengan kalian semua? Kenapa kau berjuang sangat keras melawan hal yang sia-sia? Hasil dari pertarungan ini sudah jelas dari awal. Apa artinya dari proses dari menentukan akhirnya?"

"Proses itu adalah apa yang benar-benar berarti. Apakah mati dalam keadaan menyerah atau mati dengan pedang berada di tanganku. Itulah mengapa kita... hidup sebagai manusia."

Sementara menjawab itu, aku menutup kelopak mataku dan memanggil kembali bayangan kuat dari siapa aku sebenarnya.

Bayangaku «Black Swordsman Kirito» yang aku selalu tetap simpan untuk waktu yang sangat lama. Diriku yang lain yang tidak akan pernah kalah—seseorang seperti kutukan yang tidak akan pernah meninggalkanku dimanapun aku berada saat aku hampir kalah, atau seperti itu yang aku takutkan dari dalam hatiku.

Tapi aku tidak dapat lagi terikat oleh kecemasan dan gangguan apapun.

Rambut panjang yang terurai di mataku ketika kau membuka mataku. Setelah menyisirnya dengan tangan kiriku, ditutupi dengan sarung tangan tidak berjari, dan membentangkan keluar jubah kulit hitam panjangku, aku mempersiapkan diriku dengan tangan panjang di tangan kananku.

Berdiri pada jarak yang cukup dekat, Administrator sedikit mengerutkan dahinya sebelum memperlihatkan senyuman kejam yang mendekati dari apa yang dia perlihatkan ketika dia mengambil hidup Cardinal.

"Penampilan hitam legam itu... hampir sama seperti Darkness Knight dari Dark Territory. ...Baiklah. Jika kau ingin untuk menderita sampai saat terakhir, Aku akan memberikanmu nasib yang benar-benar, benar-benar mengerikan. Suatu nasib yang akan membuatmu memohon dengan sungguh-sungguh untuk mengakhiri hidupmu."

"Itu tidak cukup...Aku tidak dapat menebus kebodohanku hanya dengan ini."

Dengan pinggangku direndahkan setelah perkataan itu, aku melihat pada pedang panjang perak yang digenggam di tangan kiri pemimpin tertinggi.

Administrator telah memperlihatkan kekuatan sacred art penghancurnya tidak terhitung jumlahnya, namun sekarang rapier perak murninya, yang kelihatannya bernama «Silvery Eternity», yang berperan sebagai sumber dari kekuatannya telah hancur, dia kelihatannya tidak mampu menembakkan art berprioritas tinggi secara beruntun. Karena itu dia mengubah tangannya sendiri menjadi pedang baru.

Aku sudah siap untuk pertarungan pedang, tapi aku tidak memiliki informasi sama sekali kemampuan lawanku. Dia menggunakan style seperti knight, sepenuhnya berfokus pada satu tebasan kuat, tapi pertarunganku dengan Knight Alice di lantai kedelapan puluh dari katedral sudah jelas menunjukkan bahwa itu sama sekali dapat diremehkan.

Nilai dari prioritas senjataku mungkin jauh lebih buruk, hanya ada sedikit Life yang tersisa di pedang hitam yang akan habis setelah menggunakan beberapa skill tebasan beruntun. Aku tidak memiliki pilihan lain selain dari berada dalam jangkauannya dan membuat kemenangan dengan skill tebasan beruntun yang seharusnya dia tidak ketahui.

Menguatkan tekadku, aku merendahkan pusat dari gravitasiku lebih jauh untuk persiapan menyerbu. Kaki kanan dan kiri diletakkan pada lantai di depan dan belakang secara berurutan.

Lawanku, Administrator, berdiri dengan tenang saat dia mengangkat pedang di tangan kirinya dengan sangat tinggi menuju ke belakang. Seperti yang diduga, itu adalah posisi dari High Norkia style, style tradisional. Kecepatan dan beban absurd dibalik serangan itu mungkin akan membunuhku dalam satu tebasan dan mustahil untuk menahannya. Aku harus menghindarinya entah bagaimana dan menyelinap lebih dekat.

"............"

Aku mengambil nafas dalam dan mengumpulkan kekuatan di perutku.

Pada saat pedang Administrator membuat sedikit gerakan, aku menghentakkan kakiku ke lantai dengan semua yang aku punya dan bergerak.

Pedang panjang musuhku diwarnai dengan cahaya biru. Menyadari bahwa dia melepaskan gerakan secret move, tidak, skill pedang yakni «Vertical», aku melangkah dengan kaki kiriku dan mengganti serbuanku menuju ke kanan. Saat Vertical merupakan satu tebasan vertikal, itu akan sulit untuk mengejar musuh yang melarikan diri di luar jangkauannya.

Menarik garis biru, pedang panjang perak itu menyerbu dengan kecepatan mengerikan. Dengan tubuhku yang terbuka menuju sisi kiri dan aku berusaha mencoba untuk melewati ujung pedang itu. Serangan lurus merobek bagian kerah dari jubah panjangku saat berkibar dengan kuat.

—Hindari itu!

Kali ini, aku melangkah secara keras di lantai dengan kaki kananku dan memulihkan arah dari serbuanku sementara mengangkat pedang di tangan kananku.

Tapi.

Cahaya pada pedang Administrator tidak menghilang.

"......!?"

Aku tersentak karena keterkejutan saat pedang yang hampir seluruhnya terayun ke bawah hingga ke kakiku melambung kembali ke atas dengan kecepatan yang menghiraukan inersia[13]. Tidak ada waktu untuk menghindar. Menarik pedangku yang telah aku angkat, aku entah bagaimana berhasil memotong jalur tebasan itu.

Gaiiiin! Suara metal yang sangat keras dikeluarkan dengan percikan api yang sangat besar. Meskipun pertahananku berhasil entah bagaimana, aku harus melompat ke belakang untuk mencegah posisiku goyah dan terjatuh ke bawah pada tekanan yang cukup berat untuk membuat tulang di tangan kananku retak. Menghindari tebasan ke atas dari musuhku, dengan sebuah langkah, aku dengan segera melakukan serangan balik—

Tapi kemampuan Administrator dengan pedang telah melebihi prediksiku sekali lagi.

Pedang itu kembali ke atas kepala setelah menarik gatis berbentuk V dan terdengar suara keras sekali lagi saat itu terayun ke bawah. Dengan keseimbanganku bergeser ke depan, aku tidak dapat dengan segera menghindari serangan ketiga dan itu membuat tebasan dangkal pada bagian kiri dari dadaku. Itu hanya goresan, tapi apa yang mengalir di dalam tubuhku adalah ketakutan dan ketakutan dibandingkan dengan rasa sakit.

Jika skill pedang yang dilakukan Administrator adalah skill pedang yang aku ketahui.

Pedang itu akan menebas pada diriku jika aku mencoba menghindar atau menahan dengan setengah hati di saat ini.

"O...oohh!!"

Membuang ketakutanku dengan sebuah teriakan, aku mengaktifkan skill pedang dari posisi yang sedikit tidak masuk akal. Skill pedang satu tebasan, «Slant».

Dugaanku akhirnya tepat sasaran untuk kali ini dan pedang Administrator kembali menuju di atas kepala dengan sangat cepat hingga kelihatannya seperti berteleportasi sebelum melepas serangan keempat dengan semua kekuatannya.

Aku menahan pedang perak putih yang mendekat lurus dari atas dengan pedang hitamku. Efek ledakan cahaya yang unik ketika skill pedang itu saling berhantaman satu sama lain tercipta dan menyala baik pada wajah pemimpin tertinggi maupun wajahku.

Serangan keempat dari skill pedang empat tebasan itu tidak dapat sepenuhnya ditahan dengan skill pedang satu tebasan dasar secara normal. Namun sangat beruntung bagaimana Administrator sekarang tidak memiliki tangan kanannya. Posisi itu mengganggu keseimbangannya dan menyebabkan tebasannya bergeser diagonal ke bawah, menuju sisi kiri.

Gyariin! Kedua pedang itu terpisah dengan suara metal dan aku melompat ke belakang, secara keras, di waktu yang sekarang, meninggalkan jangkauannya.

Warna merah secara samar-samar mengotori jariku setelah menyentuh luka di dadaku dengan tangan kiriku. Itu tidak perlu untuk menyembuhkan luka pada tingkat seperti ini dengan art, tapi daripada darah segar, itu adalah benang kotor dari jubah kulit dengan nilai prioritas yang jauh lebih tinggi dari kelihatannya—meskipun itu berdasarkan dari bayanganku—itu membuatku merinding.

Aku tidak dapat berbicara, berbalik dengan diriku, Administrator dengan santai meluruskan tubuhnya sementara dia mengatakan.

"—Skill pedang satu tangan, empat tebasan, «Vertical Square»...bukan?"

Terdapat sedikit jeda sebelum suara yang mencapai telingaku berubah menjadi perkataan yang berarti.

Nama skill pedang itu seperti yang aku telah duga. Tapi—

Skill pedang.

Apakah Administrator baru saja mengatakan itu?

Memang benar, Underworld memiliki kelompok skill pedang yang sama dengan dunia lama dari SAO. Tapi mereka menyebutnya «secret moves» dan menganggap kekuatan yang tersimpan di pedang itu sebagai latihan yang panjang daripada system assist.

Tidak perlu dibilang bagaimana secret moves yang digunakan di Dunia Manusia hanyalah sebatas skill satu tebasan seperti «Lightning Flash Slash», «Whirl Current», dan «Heavenly Mountain Rending Wave». Itu adalah alasan kenapa aku dapat memenangkan banyak pertandingan, latihan dan pertarungan sebenarnya, dengan «Skill tebasan beruntun Aincrad-style» dan aku berpikir bahwa itu akan menjadi satu-satunya kesempatan untuk memenangkan pertarungan terakhir ini juga.

Tapi jika Administrator dapat menggunakan skill pedang, dan skill hebat yang sampai empat tebasan sebagai tambahannya, keuntungan itu tidak akan ada lagi.

Sosok Eugeo, terbaring karena luka parah, terlihat di pandanganku yang perlahan sedang melarikan diri sementara kebingungan dan kegelisahan menyerangku. Darah masih mengalir dari dimana dia tertebas. Cukup berapa menit yang tersisa sampai Lifenya habis?

Aku berpikir saat kegelisahan terpikir olehku lebih jauh.

Eugeo mendapati ingatannya beberapa saat tersegel dan bertarung melawanku sebagai Integrity Knight. Itu berarti ingatannya telah diperiksa melalui Synthesis Ritual. Itu berarti ada kemungkinan bahwa pemimpin tertinggi telah mempelajari nama dan gerakan untuk Vertical Square dari ingatan Eugeo.

Jika tebakan ini terbukti akurat, Administrator seharusnya hanya mampu menggunakan tidak lebih dari skill menengah pedang satu tangan. Setelah semua, aku tidak pernah menunjukkan partnerku satupun skill kelas atas. Karena itu, aku memiliki kesempatan untuk menang jika aku melakukan skill dengan tebasan lebih dari empat kali.

Skill pedang terbaik dari pedang satu tangan seharusnya memiliki tebasan lebih dari sepuluh tebasan. Ini bukan lagi waktunya untuk menahan diri.

Administrator mengeluarkan tawa kecil saat dia melihat ke arahku yang dengan cepat memisahkan kakiku dan memperkuat genggaman pada pedang hitamku.

"Oh...Matamu masih dapat tetap telihat sangat menentang? Baiklah, hiburlah aku lebih lama lagi, anak muda."

Meskipun sebagian besar dari Lifenya seharusnya telah menghilang bersamaan dengan tangannya, pemimpin tertinggi masih dapat mengatakan itu dengan ketenangan yang sangat hebat. Aku tidak mengatakan apapun sebagai balasannya, mengambil nafas dalam dan menahannya.

Aku dengan jelas mengingat kembali dengan bayangan skill pedang yang terukir baik pada tubuhku dan ingatanku. Penampilan yang memperlihatkan efek cahaya putih kebiruan sudah mulai menutupi pedang di tangan kananku.

Pedangku menarik garis melengkung saat aku mengayun dari sisi kanan menuju lurus di atas kepala—

"—Haahh!!"

Aku mengeluarkan teriakan keras yang tajam sementara mengaktifkan skill pedang yang paling hebat untuk pedang satu tangan, «Nova Ascension».

Dibantu oleh kekuatan yang tidak terlihat, tubuhky menyerbu di udara dengan kecepatan yang sangat cepat. Tebasan pertama adalah tebasan cepat mengarah ke bawah yang hampir melampaui semua skill pedang lainnya dalam kecepatan. Tidak ada skill pedang yang melebihi kecepatan ini untuk pedang lurus satu tangan.

Tebasan itu hanya setengah detik sebelum itu akan menebas pada bahu kiri Administrator.

Sensasiku menjadi lebih cepat dan di waktu itu, dimana semuanya terlihat sangat berat seperti jelly yang terendam—

Pedang panjang perak mengarahkan ujungnya lurus ke araku.

Lintasan pedang perak itu menarik cahaya berbentuk salib.

Dokakakakakaa!! Enam tusukan menyerbu dengan kecepatan mengerikan secara vertical untuk pertama kali, lalu secara horizontal menuju tubuhku.

"Gah..."

Darah segara mengalir dari mulutku.

Skill sepuluh tebasanku, terganggu pada tebasan awalnya, dihentikan dengan cahaya biru dinginnya tersebar dengan sia-sia.

Aku bahkan tidak dapat mengatakan apa yang terpikir di dalam pikiranku, lupakan membuat dugaan dari penyebabnya. Dipenuhi oleh rasa sakit dan ketakutan, aku menatap pada pedang Administrator, yang ditarik dari perutku, saat aku terhuyung ke belakang.

Enam tebasan beruntun yang sepenuhnya terdiri dari tusukan.

Tidak ada skill pedang seperti itu yang berada pada kategori skill pedang satu tangan.

Darah segar menyembur keluar secara bebas dari luka kecil yang berlubang pada bahu, dada, tenggorokan, dan perutku. Aku terlempar ke belakang, kekuatan meninggalkan kakiku, dan dengan segera menusukkan pedang pada lantai saat aku berjuang agar tidak terjatuh.

Setelah menjaga jarak seolah-olah ingin menhindari semburan darah itu, Administrator menyembunyikan mulutnya dengan pedangnya yang kelihatannya menjadi lebih sempit dibandingkan dengan sebelumnya.

"Ufufufu...Sungguh menyedihkan, anak muda."

Dengan ujung bagian atas dari mulutnya sedikit terlihat dibalik ujung tajam, penguasa cantik itu menyatakan dengan sinis.

"Skill enam tusukan, rapier, «Crucifixion»."

——Tidak mungkin.

Aku belum mempernah memperlihatkan skill itu pada Eugeo. Bahkan sejak awal, aku tidak dapat menggunakan skill itu. Aku hanya melihat skill ini dari waktu ke waktu, di waktu dulu, di Aincrad.

Dunia ini kelihatan bergerak. Tidak, aku adalah seseorang yang bergerak. Aku dengan panik mencari jawaban untuk perkembangan tidak terduga yang menusuk pada diriku.

—Apakah dia melihat pada ingatanku?

—Dia mengambil skill itu dari fluct lightku...? Bahkan meskipun begitu, dapatkah pemimpin tertinggi secara sempurna melakukan skill yang pernah aku lihat tapi telah terlupakan...?

"Tidak mungkin..."

Sebuah perkataan keluar dari mulutku, perkataan yang sangat serak hingga aku sangat sulit untuk mempercayai bahwa itu adalah suaraku sendiri.

"Mustahil...Ini mustahil..."

Gigiku yang tertutup menggeretak. Mungkin menunggu meredam kemarahan yang tidak dapat dijelaskan dan ketakutan yang menolak untuk meninggalkan punggungku, aku secara keras menarik pedangku dari lantai, berdiri kuat dengan kakiku yang tidak stabil pada lantai, dan tidak berusaha untuk menyembunyikan posisiku.

Tangan kiri tertarik keluar dan tangan kanan tertarik ke dalam. Posisi untuk skill pedang satu tebasan yang dapat membunuh secara pasti yang mengalahkan Chudelkin, Vorpal Strike.

Jarak diantara kita kira-kira lima meter. Itu benar-benar lebih dari cukup.

"U...aaaah!!"

Aku meneriakkan kata-kata keluar dari dalam perutku, secara paksa mengeluarkan kekuatan imajinasiku yang sedikit. Pedang yang ditaruh di atas bahuku bersinar terang dengan warna merah tua. Apakah itu warna darah—atau keinginan membunuh yang terlihat?

Administrator, merespon—

Memisahkan kakinya ke depan dan belakang dan merendahkan pinggangnya seperti diriku, sebelum mengarahkan rapier di tangan kirinya menuju sisi kanan dari pinggangnya dalam gerakan lembut dan berhenti sampai di situ.

Membuktikan pemikiranku selama beberapa detik yang lalu bukanlah halusinasi, pedang yang berubah menjadi rapier tipis mengganti bentuknya sekali lagi.

Sebuah pedang, lebih tebal dengan lebarnya yang bertambah, memiliki lengkungan indah. Pedang melengkung sempit, berujung tajam. Itu hampir terlihat seperti.

Tidak, ini bukan lagi waktunya untuk berpikir. Kemarahan ini adalah semua yang aku butuhkan.

"——Uoaaahh!!"

Pedangku menusuk ke depan dengan teriakan kerasku.

"——Shii!!"

Teriakan yang berasal dari mulut Administrator juga, terdengar tenang namun sangat tajam.

Pedang yang berada di pinggang kanannya bersinar perak dengan menyilaukan.

Dengan lebih cepat menarik keluar, lintasan melengkung yang jauh lebih indah dibandingkan dengan Vorpal Strike milikku di saat menyerbunya.

Cahaya yang digabungkan dengan gerakan menarik dengan serangan tebasan yang sama menebas pada dadaku.

Hantamannya sedikit melemparkanku beberapa saat setelahnya seperti pukulan dari raksasa. Beberapa banyak Lifeku yang tersisa tersebar di udara sebagai cairan merah sementara aku terlempar ke atas.

Perkataan yang datang dari Administrator dengan tangan kirinya terayun secara samar-samar mencapai telingaku.

"Skill satu tebasan, katana, «Absolute Void»."

Skill pedang yang melebihi pemahamanku.

Terserang oleh apa yang seperti kehancuran dunia di sekitar diriku, yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan ketakutan biasa, aku terjatuh ke lantai. Suara pelan bergema saat darah segar tersebar di sekitar diriku.

Tapi darahku tidak mengalir dari diriku. Aku telah terjatuh pada genangan darah mengerikan yang luas dari yang mengalir keluar dari tubuh Eugeo yang terpotong.

Aku sepenuhnya membeku, hanya mataku yang dapat bergerak. Aku secara sungguh-sungguh mengarahkan itu pada Eugeo...Bagian atas dari tubuhnya yang pada saat itu juga terbaring di sampingku.

Partneku selama dua tahun perjalan ini memiliki wajah pucat yang mengarah pada diriku dengan kelopak matanya tertutup. Darahnya masih mengalir, secara perlahan, dari luka tebasannya dan aku tidak dapat mengatakan apakah Lifenya sudah habis, atau jika itu masih ada sedikit yang tersisa, tapi aku meragukan kesadarannya akan kembali lagi.

Hanya ada satu hal yang aku yakini.

Aku telah menyia-nyiakan hidupku yang telah dia selamatkan.

Aku tidak dapat menang melawan Administrator.

Pertarungan dengan sacred arts akan berakhir dengan kesimpulan yang dapat diduga, dan pemimpin tertinggi bahkan melebihku dalam pertarungan diantara pedang.

Aku tidak lagi memiliki cara untuk mengetahui bagaimana sebenarnya dia telah mempelajari berbagai skill pedang. Setidaknya, itu sudah pasti tidak berasal dari ingatan Eugeo maupun ingatanku.

Skill pedang sama sekali tidak dimasukkan dalam paket rencana umum, «The Seed», yang digunakan sebagai pembangunan Underworld. ALfheim Online, yang diwarisi server SAO lama, adalah satu-satunya game yang terinstal dengan skill pedang. Tapi petugas dari Rath yang membangun Underworld seharusnya tidak dapat mengambil sistem skill pedang dari server ALO, lupakan Administrator sendiri.

Itu sama sekali tidak berarti memikirkan itu tanpa melakukan sesuatu lebih jauh. Bahkan jika aku mengetahui kebenarannya, fakta bahwa aku tidak memiliki apapun yang tersisa sudah ditetapkan saat ini.

Pengabdian Charlotte, tekad Eugeo, ketetapan hati Alice...Dan keinginan Cardinal, aku telah—

"—Sungguh ekspresi yang indah."

Suara yang mengelus leherku seperti pedang es dingin saat aku terbaring di lantai.

Telapak kaki Administrator melangkah di sepanjang lantai marbel saat aku merasakan keberadaannya secara anggun mendekat.

"Apakah ini berkat memperlihatkan emosi yang berbeda dengan manusia dari sisi lain, setelah semua, aku ingin tahu? Aku harap aku dapat menyimpan ekspresi sedih dari dirimu sebagai hiasan untuk selama-lamanya."

Suara merdu yang sementara menahan tawa.

"Meskipun begitu, aku selalu berpikir pertarungan pedang sebagai sesuatu yang menyusahkan dan tidak lebih dari itu, tapi ini memiliki daya tarik tersendiri dalam melakukannya. Itu merupakan perasaan indah untuk merasakan penderitaan musuhmu secara langsung. Aku sangat sulit menemukan kesempatan ini, anak muda, jadi dapatkan kau bertahan sedikit lebih lama? Biarkan aku menikmati menebas anggota tubuhmu hingga saat terakhirmu."

"...Lakukan seperti yang kau inginkan."

Aku menjawab dengan suara yang tidak dapat didengar.

"Lukai aku sebanyak yang kau inginkan, lalu bunuhlah aku..."

Aku seharusnya menderita sepuluh kali lebih banyak dari apa yang Eugeo dan Cardinal alami sebelum aku menghilang dari dunia ini, setidaknya. Dengan kekuatanku untuk berbicara menghilang, kekuatan di tangan kananku, berada pada gagang pedangku, juga, menghilang—

Pada saat itu.

Seseorang berbisik di telingaku.

"Ini tidak...Seperti dirimu. Untuk...Menyerah."

Secara terputus-putus, dan diambang menghilang.

Namun cukup jelas untuk mengetahui pemilik suara itu tanpa keraguan.

Aku tidak dapat memikirkan apapun saat pandanganku bergerak sekali lagi.

Mata hijau yang kukenal yang hampir menarik keluar air mata dari diriku melihat ke arahku dari balik kelopak mata yang baru saja terbuka.

"Eu...geo."

Berbalik ke arahku saat aku memanggil namanya dengan suara serak, partnerku memperlihatkan senyuman tipis.

Aku dipaksa untuk tidak dapat bergerak dari rasa sakit dan ketakutan setelah serangan sword golem itu menebas pada perutku. Tapi luka ini tidak dapat dibandingkan dengan luka yang Eugeo derita. Tulangnya, organ dalamnya sepenuhnya benar-benar telah tertebas di dalamnya. Rasa sakit itu seharusnya bahkan lebih dari cukup untuk menghancurkan fluct lightnya—

"Kirito."

Eugeo berbicara sekali lagi dengan suara yang entah bagaimana terdengar aneh.

"Di waktu lalu, aku...tidak melakukan apapun ketika...Meskipun bagaimana kau...masih muda...Kau dengan berani, berdiri dihadapan, Integrity Knight..."

"...Eugeo..."

Aku dengan segera mengerti bahwa dia menunjuk pada ingatannya saat Alice diambil pergi dari Rulid delapan tahun lalu.

Tapi aku tidak berada di sana. Aku ingin tahu jika dia telah menggabungkan itu dengan kejadian lainnya untuk saat ini, tapi cahaya terang yang berada di mata hijaunya menyakinkanku, tanpa ada sedikitpun keraguan, bahwa dia memberitahuku kebenarannya.

"...Jadi...Ini adalah giliranku...Untuk mendorongmu ke depan. Sekarang, Kirito...Kau masih dapat, berdiri kembali. Tidak peduli, berapa banyak yang dibutuhkan untuk itu, kau masih...masih dapat berdiri kembali..."

Tangan kanan Eugeo bergetar.

Aku melihat melalui air mataku yang mengalir saat jari itu mengambil sesuatu yang metal, bersinar perak kebiruan, dari genangan darah—Gagang Blue Rose Sword.

Menggenggam pedang kesayangannya yang hampir kehilangan setengah dari bilah pedang di dalam darah yang mengalir dari dalam dirinya, Eugeo menutup matanya.

Secara tiba-tiba, cahaya hangat berwarna merah menyelimuti kita. Genangan merah itu bergetar dengan cahaya yang berada di bawah kita.

"Apa yang...!?"

Administrator meneriakkan perkataannya dengan suara yang dipenuhi dengan kemarahan. Tapi penguasa mutlak itu melindungi wajahnya dengan tangan kirinya, seolah-olah ketakutan dengan cahaya merah itu, dan melangkah ke belakang.

Kilauan dari genangan darah itu semakin kuat tanpa ada batasnya dan akhirnya, berubah menjadi titik cahaya yang tidak terhitung jumlahnya saat itu melayang menjadi satu.

Setelah melayang di udara untuk sesaat, titik cahaya itu berputar saat turun sekali lagi, menarik Blue Rose Sword yang digenggam Eugeo.

Bilah pedang baru muncul dari posisi terpotongnya.

Perubahan.

Nafasku menjadi berhenti saat keajaiban, yang seharusnya hanya mampu dilakukan oleh dua supervisor di dunia ini, terjadi dihadapan mataku. Emosi yang sangat kuat mengalir keluar dari dalam hatiku dan menetes keluar sebagai air mata yang baru.

Pada saat mendapatkan kembali panjang aslinya dalam sekejap. Blue Rose Sword yang memiliki mawar yang terukir secara detail, sesuai dengan namanya, berubah menjadi warna merah. Bilahnya, gagangnya semua menjadi berwarna merah terang.

Eugeo memberikan pedang yang indah, pedang yang seharusnya dinamakan kembali sebagai «Red Rose Sword», padaku dengan tangannya yang bergemetar.

Meskipun bilah pedang itu patah sampai beberapa saat yang lalu, tangan kiriku bergerak dan menggenggam gagang pedang itu bersamaan dengan tangan Eugeo seolah-olah ditarik oleh tangannya.

Dengan segera, energi mengalir ke dalam, bagian terdalam dari tubuhku.

Ini sama sekali bukan art.

Ini sudah pasti kekuatan yang tercipta dari tekad Eugeo. Kekuatan, penjelmaan, diciptakan hanya dari pikirannya saja.

Aku secara jelas merasakan getaran dari jiwa kita, melewati dunia ini dari fluct light Eugeo menuju diriku.

Kekuatan menghilang dari tangan Eugeo dan tangan itu terjatuh, dengan lemah, pada saat memberikan pedang tersebut padaku. Perkataan singkat datang dari mulutnya yang memperlihatkan senyuman lainnya, tidak, itu berasal dari kesadarannya menuju diriku.

[Sekarang, berdirilah, Kirito. Sahabat...Terbaikku...Pahlawanku......]

Rasa sakit dari luka tusukan pada seluruh tubuhku menghilang.

Kehampahan dingin di dalam hatiku mencair oleh hawa panas yang membakar.

Aku menatap dengan kuat pada wajah Eugeo, kelopak matanya tertutup lagi, dan berbisik.

"Yeah... Aku akan berdiri. Aku akan berdiri tidak peduli berapa banyak yang dibutuhkan untuk itu, demi dirimu."

Menahan kedua tanganku yang tidak merasakan apapun sampai beberapa detik yang lalu, aku menusukkan pedang hitam dan merah yang digenggam tanganku menuju lantai dan berdiri saat aku menggeretakkan gigiku.

Tubuhku yang hampir tidak memperhatikan perintahku. Kaki bergemetar dalam sentakan kecil dan tanganku yang terbebani seperti besi. Tapi meski begitu, aku melangkah dengan terhuyung-huyung ke depan, dua langkah.

Administrator perlahan mengarahkan wajahnya yang terpaling ke arah kita, api putih dari kemarahannya terlihat di matanhya saat itu terfokus pada diriku.

"——Kenapa."

Suara yang keluar itu sangat dalam, terdistorsi, dengan suara metal.

"Kenapa kau melawan nasibmu dengan sangat menyedihkan?"

"...Hanya ada satu alasan..."

Aku menjawab dengan suara serak, yang dalam.

"Melawanmu adalah satu-satunya alasan kenapa aku berada di sini."

Kaki ini bahkan berjalan lebih jauh, bergerak secara sungguh-sungguh bahkan saat hampir terjatuh dari waktu ke waktu.

Dua pedang yang aku genggam di kedua tanganku benar-benar terasa sangat berat.

Tapi itu karena kehadiran nyatanya yang memberikanku kekuatan, menggerakkan kedua kakiku ke depan.

Aku telah memasuki pertarungan dengan dua pedang di tanganku dan hidupku dalam keadaan terancam seperti tidak terhitung banyak di waktu dulu, waktu dulu sekali, di dunia yang berbeda. Ini adalah...Bentuk Kirito yang sebenarnya «Dual Blades».

Pada saat mengingat fenomena menulis kembali dengan imajinasiku sekali lagi, jubah kulit panjangku memperbaiki robekan yang berada di berbagai tempat dalam sekejap. Meskipun luka yang aku derita masih tetap tersisa. Tidak ada gunanya untuk memikirkan dengan bagaimana banyak Lifeku yang tersisa. Aku masih dapat bertarung selama aku mampu menggerakkan tanganku dan mengayunkan pedangku.

Sword Art Online Vol 14 - 282.jpg

Dengan ekspresi yang dipenuhi dengan kemarahan yang mengarah padaku, Administrator mengambil langkah pelan ke belakang.

Mungkin menyadari bagaimana dia telah mundur beberapa detik kemudian, wajah cantik, pucatnya memperlihatkan ekspresi kemarahan seperti dewi yang marah.

"...Tidak dapat dimaafkan."

Mulutnya bergemetar dibalik api transparan yang terbentuk dari perkataan yang diucapkan tanpa menggerakkan mulutnya.

"Ini adalah duniaku. Aku tidak mungkin dapat memaafkan tindakan seperti itu dari penyusup yang tidak diundang. Berlututlah. Serahkan kepalamu. —Bersumpahlah bahwa kau akan setia!!"

Teriakan pemimpin tertinggi terdengar di udara dan aura kegelapan biru kehitaman terangkat dari kakinya, berputar di sekitarnya berulang kali. Setelah kembali dalam posisi dari skill pedang satu tangan untuk katana, pedang itu mengarah lurus menuju ke arahku sementara kegelapan menyelimuti di sekitarnya.

"...Tidak."

Menghentikan kaki kananku sebelum memasuki jangkauan dari skill pedangnya, aku mengatakan perkataan terakhirku.

"Kau hanya mengambilnya. Seseorang yang tidak mencintai dunia ini...Dan penduduk yang hidup di dalamnya sama sekali tidak memiliki hak menjadi penguasanya!!"

Aku mengambil posisi pada saat aku mengakhiri perkataanku. Red Rose Sword di tangan kiriku berada di depan, pedang hitam di tangan kanannku di belakang.

Menarik kembali kaki kananku. Merendahkan pinggangku.

Administrator, juga, perlahan mengayunkan pedang perak di tangan kirinya dan mengangkatnya secara tinggi. Perkataan dari mulut mutiara abu-abunya berulang tanpa henti membawa perasaan mengintimidasi yang tidak terukur.

"Cinta adalah dominasi. Aku mencintai semuanya. Aku mendominasi semuanyaaaaa!!"

Pedang perak itu bertambah panjang saat memancarkan kegelapan pekat. Cahaya merah terang tercampur dengan aura kegelapan dari pedang itu yang bertambah panjang dalam sekejap hingga ukuran pedang dua tangan. Pedang besar itu dengan segera terasa seperti gelombang yang bergetar. Secret move High Norkia style, «Heavenly Mountain Rending Wave»—juga dikenal sebagai skill pedang dua tangan, satu tebasan, «Avalanche».

Aku dengan kuat menahannya, dengan dua pedangku yang disilangkan, simbol dari bangsawan di Underworld dan skill yang selalu menyiksa Eugeo dan aku hingga seperti ini. Skill pertahanan senjata, dua pedang, «Cross Block».

"Ooohh!"

Aku mengumpulkan semua kekuatanku dengan teriakan dan menangkis pedang musuhku. Keterkejutan yang samar-samar mengalir melalui mata pemimpin tertinggi.

"Sungguh tidak sopan!"

Teriakan pemimpin tertinggi ketika melompat ke belakang dengan jauh saat dia mengangkat pedang perak panjangnya, yang sekarang kembali menjadi bentuk aslinya yakni pedang satu tangan, dengan tinggi dari bahu kirinya.

Aku, juga, menarik pedang hitam di tangana kanannku yang berada di belakang dalam posisi yang berlawanan.

Gema sama yang menyerupai mesin pembakaran di bagian luar kendaraan tercipta dari kedua pedang itu, bergema dengan keras secara bersamaan.

Pedang hitam dan perak itu mengeluarkan cahaya merah.

Administrator dan aku menghentakkan kaki kita ke lantai secara bersamaan dan melepaskan skill pedang yang benar-benar sama—Vorpal Strike.

Membentuk bayangan cermin secara sempurna untuk satu sama lain, kedua pedang itu ditarik hingga batasnya seperti busur dan efek cahayanya tercipta setelah beberapa saat kemudian menyerbu, menusuk ke depan.

Setiap pedang itu bergerak dalam garis yang sama dan ujungnya sedikit menggores satu sama lain saat saling melewati.

Hantaman keras menebas tangan kananku dari bagian bawah bahuku.

Tapi pedangku, juga, menebas tangan kiri Administrator dari dasarnya.

Kedua tangan yang masih memegang pedang itu berputar secara tinggi di udara saat itu menarik sinar cahaya merah tua.

"Kau sialaaaaaaaan!!"

Setelah kehilangan kedua tangannya, mata Administrator menyala dengan warna api yang terang.

Rambut perak panjangnya menjadi lurus pada bagian ujungnya seolah-olah hidup dan membentuk duri bergerak yang tidak terhitung jumlahnya. Bagian ujung yang mengarah padaku yang tidak terhitung jumlahnya menjadi tajam seperti jarum saat itu menyerbu untuk menusuk pada diriku.

"Masih beluuuuuuum!!"

Red Rose Sword yang aku genggam di tangan kiriku memancarkan cahaya merah yang baru bersamaan dengan teriakanku.

Tebasan kedua dari Vorpal Strike dengan dua pedang, yang mustahil di Aincrad, menembus kumpulan rambut perak yang menyerbu itu.

Dan tertusuk ke dalam bagian tengah dari dada Administrator.

Sword Art Online Vol 14 - 286.jpg

Perasaan kaku yang absurd dan ketahanan yang nyata terselimuti secara dalam melalui telapak tanganku. Sensasi yang sangat jelas, hingga menghilangkan rasa sakit di pikiranku dari ketika rapier menusk pada diriku, dari waktu ketika ditebas dari katana, dan dari ketika tangan kananku terpotong oleh pedang lurus itu.

Aku sepenuhnya menyadari ujung pedangku merobek pada kulit halus Administrator, menghancurkan tulang dadanya, dan, menghancurkan jantung yang ada di dalamnya—mengambil hidup manusia, dengan kata lain. Sebuah perbuatan yang aku selalu takuti di dalam hatiku semenjak aku menyadari manusia di dunia ini memiliki fluct light yang sebenarnya. Rasa takut itu tidak menghilang bahkan ketika aku melepaskan skill pedang pada Kepala Pemimpin Chudelkin.

Tapi tidak ada satupun keraguan pada satu serangan ini. Bimbang di tempat ini sudah pasti tidak dapat dimaafkan kepada masa depan yang dipercayakan Cardinal kepada kami.

Dan hal yang sama mungkin juga berlaku pada penguasa sombong, Administrator.

Pemikiran seperti itu terlintas di dalam pikiranku dalam sekejab.

Red Rose Sword, menusuk pada bagian tengah dada pemimpin tertinggi, mengeluarkan cahaya menyilaukan yang dengan mudah melebihi efek cahaya dari skill pedang.

Pedang yang diperbaiki dari sumber energi dari darah Eugeo bersinar terang, seperti bagian dari bintang—

Beberapa saat kemudian, semua sumber energi itu tersebar, itu dapat dikatakan, sebuah ledakan besar telah terjadi.

Kedua mata Administrator terbuka hingga sampai batasnya dan teriakan pelan keluar dari mulutnya.

Garis cahaya tipis yang dikeluarkan dari tubuh telanjang yang paling indah di seluruh dunia, tersebar keluar dalam pola lingkaran.

Dan sebuah ledakan energi murni menelan itu semua saat itu menjadi membesar.

Terlempar ke belakang seperti kapas yang ditarik, aku menghantam pada kaca jendela di selatan. Aku merasa darah menyembur keluar dari luka di bahu kananku pada saat aku terjatuh dan menghantam menuju lantai.

Itu bahkan kelihatannya terasa aneh bahwa aku masih memiliki darah sebanyak ini setelah semua tebasan itu. Aku ingin tahu jika Lifeku akhirnya mencapai nol untuk saat ini, tapi tugasku masih belum berakhir. Aku harus hidup sedikit lebih lama lagi.

Sebuah tatapan pada pedang di tangan kiriku menunjukkan bahwa pedang itu panjangnya telah kembali menjadi setengah dan mawar yang terukir, juga, berubah kembali menjadi biru. Perlahan menaruh pedang itu di lantai. Aku menggenggam bahu kananku dengan semua jariku.

Anehnya, cahaya putih mengalir dari telapak tanganku bahkan tanpa mengucapkan art apapun dan dengan hangat merembes menuju lukaku. Aku melepaskan tanganku pada saat aku merasa aliran darahku berhenti. Aku seharusnya tidak menggunakan sumber energi tempat terlalu banyak yang seharusnya hampir habis.

Menahan tangan kiriku, dimana cahaya menghilang dari itu, ke lantai, aku mengangkat diriku.

Dan mengeluarkan nafas dalam.

Dibalik titik cahaya, sisa-sisa dari ledakan, perlahan melayang di udara—

Gadis berambut perak yang seharusnya telah meledak tanpa ada sisa berdiri dengan kedua kakinya yang tidak seimbang.

Dia sangat sulit untuk dapat dianggap sebagai manusia untuk saat ini. Kedua tangannya tertebas, lubang besar terbuka dari bagian tengah dadanya, dan retakan seperti keramik yang hampir pecah, tersebar di seluruh tubuhnya.

Apa yang mengalir keluar dari luka yang tidak terhitung jumlahnya bukanlah darah.

Apa yang menyerupai percikan api perak dan ungu berdesir saat itu menyembur keluar secara keras dan tersebar melalui udara. Pada saat melihat kejadian ini, aku tidak dapat melakukan apapun selain berpikir bahwa Administrator, juga, tidak memiliki tubuh dari daging dan darah seperti seseorang yang diubah menjadi pedang.

Rambut panjang yang pernah sekali seperti platina cair kehilangan cahaya juga dan terurai ke bawah secara berantakan. Mulutnya bergerak di balik kegelapan dan rintihan yang keluar mencapai telingaku.

"...Untuk berpikir...Bahwa akan ada, dua pedang... yang bukan, metal...Fufu, fu..."

Bahu penguasa itu terguncang dengan kuat seperti boneka rusak saat dia mengeluarkan tawa singkat meskipun dalam keadaan seperti itu. "Tidak terduga...Sungguh, hasil, yang tidak terduga..."

Aku tidak dapat melakukan apapun selain membayangkan mimpi buruk dimana Administrator menyembuhkan lukanya dalam sekejap dan mengeluarkan nafas tipis yang tersangkut di tenggorokanku.

Dengan satu kakinya yang hancur, penguasa itu perlahan membalikkan tubuhnya yang hampir hancur. Percikan api keluar dari berbagai lukanya sementara dia mulai mengambil langkah secara kaku seperrti mainan yang baterainya hampir habis.

Tujuannya ada di sisi utara dari aula itu. Tidak ada satupun benda berada di sana, tapi pasti ada sesuatu. Aku harus menghabisinya sebelum dia mencapai tempat itu.

Aku mengangkat kakiku setelah usaha keras dan menatap pada sosoknya, yang kelihatannya sudah lebih jauh dari sebelumnya, dari belakang. Aku segera mengejarnya, menarik kakiku dengan cara yang bahkan jauh lebih kaku dibandingan dengan pemimpin tertinggi.

Administrator yang sudah sekitar dua puluh meter di depan kelihatannya menuju tempat tertentu. Tapi gadis itu yang seharusnya tidak memiliki cara apapun untuk melarikan diri dari ruangan terisolasi yang kekurangan sumber energi tempat. Setelah semua, Cardinal telah mengatakan bahwa itu bukanlah tugas yang mudah untuk menghubungkannya kembali bahkan dalam waktu beberapa menit dan Administrator tidak membantah itu.

Benar-benar tidak ada apapun dimana pemimpin tertinggi berhenti selama beberapa detik kemudian.

Tapi setelah membalikkan tubuhnya yang ditutupi dengan luka, gadis itu melihatku yang mengejar di belakang dan mengeluarkan tawa yang dalam.

"Fu, fu...Dengan hal, yang sudah terjadi, aku tidak...memiliki pilihan lain. Itu akan, sedikit lebih cepat, dari yang aku rencakan...Tapi aku rasa aku harus membuat, satu langkah lebih cepat."

"Ap...Apa yang..."

-kau katakan, itu terjadi sebelum aku dapat bertanya.

Administrator mengangkat kaki kanannya yang ditutupi dengan retakan dan melangkah dengan suara keras.

Pola lingkaran misterius dari sisa karpet yang terbakar di bawah kakinya. Pola yang benar-benar sama dengan pola yang digunakan disk elevator di belakangku, namun entah bagaimana terlihat berbeda.

Dari lingkaran dengan diameter lima puluh sentimeter muncul cahaya ungu—warna yang kukenal dari sistem dunia ini secara umum.

Itu tertarik keluar dari dalam lingkaran yang bersinar dengan getaran pelan.

Pilar marbel putih.

Di atas itu terdapat satu notebook komputer.

"Apa......"

Kakiku tersandung dari keterkejutan yang luar biasa dan aku terjatuh yang dimulai dari kakiku.

Itu tidak benar-benar seperti notebook PC di dunia nyata. Pembungkusnya berwarna transparan, hampir sama seperti kristal, dan hal yang sama berlaku pada layar ungu terangnya. Layarnya yang sangat besar menyerupai system console di dunia virtual yang pernah aku lihat sekali saat berada di Aincrad. Dengan kata lain, itu adalah benda itu.

«Alat komunikasi menuju dunia luar» yang telah aku cari selama dua tahun.

Didorong oleh keinginan yang dapat dikatakan sangat sakit, aku meletakkan tangan kiriku di lantai dan merangkak ke depan. Tapi gerakanku benar-benar sangat lambat dan tempat dimana Administrator berdiri kelihatannya sangat jauh.

Dengan kehilangan kedua tangannya, penguasa itu telah menggerakan rambutnya yang terangkat ke atas seperti mahluk hidup dan dengan cepat mengetik pada keyboard dengan ujungnya. Window kecil terbuka dengan layar hologram dan suatu jenis indikator yang memulai hitung mundur.

Pilar cahaya ungu dengan segera terlihat di kaki Administrator—

Tubuhnya yang terluka terangkat ke atas dengan tenang.

Di tempat itu, gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arahku.

Ekspresinya yang meningkatkan kecantikannya bahkan dalam kondisi tragis. Retakan besar tercipta di sisi kirinya dan kegelapat pekat memenuhi dimana mata itu seharusnya berada. Mulutnya yang berkilauan abu-abu mutiara, juga, yang sekarang seperti kertas, tapi senyumannya yang terlihat membawa hawa dingin yang sangat dingin seperti biasanya.

Mata kanannya yang tidak terluka dengan cepat menyipit dan Administrator mengeluarkan tawa singkat sekali lagi.

"Fu, fu...Selamat tinggal, anak muda. Mari...Kita bertemu lagi. Kali ini, di duniamu."

Aku akhirnya menyadari tujuan Administrator pada saat mendengar perkataan itu.

Gadis itu mencoba melarikan diri menuju dunia nyata.

Dia berencana untuk menyelinap keluar dari Underworld ini dengan batasan yang ditentukan Life dan menjaga fluct lightnya. Seperti apa yang hendak aku lakukan pada Eugeo dan Alice.

"Tu...Tunggu!!"

Aku berteriak saat aku merangkak dengan susah payah.

Jika aku adalah dia, aku akan menghancurkan terminal itu di saat pelarianku. Seluruh harapanku akan hancur jika itu terjadi.

Seluruh tubuh Administrator perlahan namun pasti terangkat menuju tangga cahaya itu.

Senyuman lebar di mulutnya mengatakan salam perpisahan tanpa suara.

Sela-mat-

tingg-

al...

Itu tepat sebelum dia menyelesaikan membentuk huruf terakhirnya.

Sebuah teriakan terdengar keluar dari seseorang yang telah merangkak dari dasar console itu dengan tanpa Administrator maupun aku menyadarinya.

"Pemimpin suci......Bawalah aku, bersamamu, jugaaaaaaaa......"

Kepala Pemimpin Chudelkin.

Badut, yang tubuhnya seharusnya telah tertusuk oleh skill pedangku dan dilempar oleh Administrator, memperlihatkan ekspresi aneh pada wajah lingkaran tidak berwarnanya dan mengulurkan kedua tangannya menuju langit, jarinya menekuk seperti cakar.

Sosok kecilnya memancarkan api yang membakar.

Apakah ini adalah art atau mungkin ini adalah kekuatan dari penjelmaan—? Setelah mengubah dirinya sendiri menjadi badut yang terbakar, Chudelkin terbang dalam bentuk spiral.

Bahkan Administrator yang tidak terpengaruh saat wajahnya juga, memperlihatkan keterkejutan dan apa yang kelihatan seperti ketakutan.

Bahkan saat pemimpin tertinggi mencoba mencapai gerbang koridor cahaya, kedua kakinya tertangkap oleh kedua tangan Chudelkin yang terbakar.

Menggeliat untuk waktu yang lama, tubuh badut itu terus merangkak menuju tubuh telanjang Administrator secara melingkar dan mengelilingi di sekitar tubuhnya seperti ular. Api merah yang terbakar membungkus mereka berdua.

Rambut Administrator terbakar dari ujungnya seolah-olah itu meleleh.

Mulutnya melengkung dan mengeluarkan teriakan yang hampir sama seperti jeritan.

"Lepaskan...! Lepaskan aku, kau orang kasar!!"

Tapi senyuman sangat bahagia terlihat pada wajah lingkaran Chudelkin seolah-olah perkataan masternya terdengar seperti pernyataan cinta.

"Aaaah...Pada akhirnya...Pada akhirnya, kita dapat menjadi satu, Pemimpin Suci..."

Kedua lengan pendeknya memeluk tubuh Administrator dengan erat. Retakan pada kulit gadis itu menjadi merah terang dan serpihan kecil terlepas satu demi satu.

"Terhadap badut jelek...Seperti dirimu...Aku...!"

Perkataan itu hampir diteriakkan keluar. Percikan api perak menyembur dari tubuh Administrator yang terhubung dengan api Chudelkin dan menyinari aula itu dengan cahaya yang menyilaukan.

Tubuh Chudelkin kehilangan bentuknya sebelum aku mengetahui itu dan menjadi kumpulan api. Ekspresi bahagianya yang tersisa pada initinya dan mengeluarkan kata-kata terakhirnya.

"Aah...Pemimpin Suci......Administrator...sa...ma..."

Dan tubuh Administrator, juga, mulai meledak dan terbakar dari bagian ujungnya.

Rasa takut dan kemarahan menghilang dari wajah penguasa itu, terbungkus di dalam api, saat mata perak itu melihat ke atas langit. Pemimpin tertinggi mendapatkan kembali kecantikan indahnya sekarang meskipun benar-benar hancur.

"......Dunia......Untuk diriku......Aku......"

Aku tidak dapat menangkap apapun lebih dari itu.

Api yang membakar itu dengan cepat menghilang.

Itu melepaskan cahaya perak.

Dibandingkan dengan ledakan, kelihatannya lebih seperti semuanya berkurang menjadi cahaya, memenuhi ruangan itu. Tidak ada suara gemuruh ataupun getaran, sebuah pemikiran hanya tersebar keluar, bahkan melewati dinding dari ruangan yang terisolasi ini, jiwa yang telah hidup untuk waktu yang lama di Underworld telah menghilang.

Kilauan cahaya perak dengan tenang terus ada untuk beberapa waktu, seperti seolah-olah dunia itu mungkin tidak akan pernah menjadi sama lagi.

Tapi pada akhirnya, itu mulai menghilang dan warna kembali terlihat di pandanganku.

Aku mengedipkan kedua mataku, air mata mengalir dari mataku mungkin disebabkan kilauan dari cahaya itu sementara berusaha mengarahkan itu menuju pusat ledakan.

Bahkan tidak ada satupun jejak dari gadis dan badut yang baru saja ada sejauh yang dapat aku lihat. Pilar cahaya itu menghilang juga, hanya meninggalkan pilar marbel dan virtual console kristal menonjol keluar dari lantai.

Aku mengerti, baik secara rasional maupun insting, bahwa pemimpin tertinggi, Administrator, atau gadis bernama Quinella benar-benar telah dilenyapkan pada akhirnya. Lifenya berubah menjadi nol dan light cube yang menyimpan fluct lightnya telah tereset.

Mungkin hal yang sama terjadi saat light cubenya kelihatannya terbaris di samping, light cube Cardinal.

"......Ini sudah berakhir...Bukan......?"

Aku berguman tanpa berpikir dengan lututku masih berada di lantai.

"......Apakah itu sudah cukup...Cardinal...?"

Tidak ada jawaban.

Tapi aku merasa angin sepoi-sepoi dari ingatanku berhembus pada pipiku.

Angin sepoi-sepoi yang diselimuti dengan aroma ketika tubuh kita saling berpelukan di bagian dasar Ruangan Perpustakaan Besar, aroma Cardinal—bersama buku tua, lilin, dan makanan manis.

Aku mengusap air mataku dengan tangan kiriku. Menyadari di saat sekarang bahwa lengan bajuku kembali menjadi pakaian hitam dari jubah kulit panjang, aku berbalik dan merangkak menuju Eugeo yang terbaring di dekat bagian tengah ruangan ini.

Darah masih terus menetes dari tubuh partnerku yang tertebas secara kejam, dengan jeda panjang di antara. Bahkan tidak ada waktu satu menit sampai Lifenya habis.

Setelah mencapai Eugeo setelah gerakan panikku, aku pertama membawa bagian bawahnya yang tergeletak di tempat yang jauh dan secara sempurna menggabungkan itu tepat dimana itu terpotong untuk menghentikan pendarahannya.

Dan mengulurkan tangan kiriku pada luka itu, aku membayangkan gambaran cahaya penyembuh.

Cahaya putih yang diciptakan di bawah telapak tanganku sangat samar-samar hingga titik dimana itu tidak dapat dilihat kecuali seseorang menyipitkan matanya. Tapi meski begitu, aku dengan sungguh-sungguh mendorong cahaya itu dan mencoba menutup luka itu.

Tapi—

Cairan merah, Life Eugeo, terus mengalir dari bagian yang terpotong dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Tingkat prioritas dari art penyembuh itu benar-benar tidak cukup untuk tingkat luka seperti ini. Pikiranku mengerti tentang itu, namun tanganku bergerak tanpa henti dan aku berteriak.

"Berhenti...Berhenti! Kenapa!!"

Imajinasi menentukan semua yang ada di Underworld. Keajaiban apapun dapat diciptakan jika seseorang mengharapkan itu secara keras. Bukankah itu bagaimana itu seharusnya?

Aku mengeluarkan semua jiwaku untuk berdoa, memohon, dan berharap.

Tapi darah Eugeo masih menetes, setiap tetes demi tetes.

Menulis kembali berdasarkan imajinasi hanya terbatas pada posisi objek dan penampilan luar, itu tidak dapat mengganti status angka seperti tingkat prioritas dan daya tahan—

Logika itu yang terlintas di bagian ujung kesadaranku, tapi aku menolak untuk mengakui hal itu.

"Eugeo...Kembalilah padaku! Eugeo!!"

Aku berteriak sekali lagi, lalu menahan pergelangan tangan kiriku dengan mulutku untuk persiapan menggigit pada itu. Aku mengetahui bahwa itu tidak mungkin akan cukup, tapi meski begitu, aku harus memberikan semua sumber energi yang dapat aku ciptakan sekarang. Bahkan jika itu berakhir dengan Life kita berdua berubah menjadi nol.

Itu tepat ketika aku membenamkan gigiku pada bibirku untuk merobeknya keluar dengan dagingku..

Bisikan yang hampir tidak dapat didengar memanggil namaku.

"......Kirito."

Wajahku tersentak.

Eugeo sedikit membuka kelopak matanya dan tersenyum.

Wajahnya berwarna putih kebiruan, bahkan jauh lebih berwarna dibandingkan dengan cahaya bulan, warna benar-benar tidak ada pada mulutnya. Itu adalah bukti Lifenya masih menurun, tanpa perubahan. Tapi mata hijaunya masih sama seperti ketika kita pertama kali bertemu, menatapku sementara itu dipenuhi dengan cahaya lembut.

"Eugeo...!"

Aku berteriak dengan serak.

"Tunggulah, aku akan menyembuhkanku sekarang! Aku tidak akan membiarkanmu mati...Aku pasti tidak akan membiarkanmu mati!"

Aku mencoba menggigit pada pergelangan tangan kiriku sekali lagi.

Tapi beberapa saat lebih cepat. Sebuah tangan kanan, dingin seperti es namun hangat seperti bermandikan sinar matahari, menutupi pergelangan tangan kiriku dan perlahan menahan itu.

"Eu..."

Aku melihat Eugeo menahan diriku sementara tersenyum padaku. Password[14] yang saling bertukar diantara kita tidak terhitung jumlahnya di waktu dulu di akademi keluar dari mulut itu.

"Stay cool...Kirito."

"......!"

Nafas dalam tertarik menuju dadaku yang bergetar.

Aku mengajari Eugeo kata itu sebagai kata yang digunakan sebagai perpisahan. Tapi aku tidak mengajarinya agar mendengar itu dalam keadaan seperti ini...Di tempat seperti ini. Aku sangat yakin tentang itu.

Bisikan Eugeo masuk ke telingaku sekali lagi sementara aku menggelengkan kepalaku tanpa henti.

"Ini...Tidak apa-apa. Ini...tidak apa-apa, Kirito."

"Apa yang kau katakan! Tentu saja ini sama sekali tidak baik!!"

Senyuma Eugeo entah bagaimana senyumannya yang tersisa kelihatannya terpenuhi bahkan setelah mendengar teriakanku yang kira-kira seperti jeritan. "...Aku...Telah menyelesaikan, apa yang aku harus selesaikan...Di sini dimana...jalan kita, terpisah..."

"Tidak itu tidak akan terpisah! Aku tidak akan menerima sesuatu seperti takdir!! Tidak mungkin aku akan menerima hal seperti itu!!"

Seolah-olah menegurku yang membantah secara keras seperti anak kecil, dengan tangisan tercampur diantara perkataanku, Eugeo perlahan menggelengkan kepalanya. Bahkan gerakan kecil itu pasti mengambil usaha yang sangat besar, tapi partnerku tidak menunjukkan tanda-tanda meringis dan melanjutkan berbicara.

"...Jika aku tidak, berakhir seperti ini...Kau dan aku, kelihatannya akan harus, bertarung... demi Alice, dalam jalan kita masing-masing. Aku...hendak mengembalikan ingatan Alice...Dan kau, untuk melindungi, jiwa Integrity Knight Alice..."

Nafasku tertahan dalam sekejap.

Itu adalah masa depan yang persis dengan yang aku takutkan jauh di dalam hatiku namun aku memlih untuk terus mengalihkan kesadaranku terhadap itu. Setelah semua pertarungan itu berakhir, akankah aku benar-benar dapat setuju dengan perbuatan mengembalikan «bagian ingatan» Alice Schuberg pada fluct light Knight Alice—terdapat suatu keraguan.

Aku tidak memiliki jawaban untuk itu, bahkan sampai sekarang.

Aku mendorong keraguanku pada Eugeo dengan air mataku.

"Lalu...Kita akan bertarung!! Kita akan menyembuhkan semua lukamu dan lalu bertarung!! Kau sudah lebih kuat dari diriku!! Jadi, bertarunglah denganku...Demi Alicemu...!"

Tapi senyuman Eugeo yang jelas tetap tersisa.

"Pedangku...sudah...rusak. Di samping itu...Kelemahanku...Telah membuat pemimpin tertinggi mendominasi hatiku...Dan mengarahkan pedangku pada dirimu, Kirito. Aku harus...menebus dosa...dari diriku..."

"Itu bukanlah dosa! Kau tidak membuat dosa apapun!!"

Menggenggam tangan kanan Eugeo sebagai balasannya dengan tangan kiriku, aku memaksakan keluar suara tangisanku.

"Kau selalu bertarung dengan sangat hebat! Jika kau tidak berada di sini, kita tidak akan mengalahkan Chudelkin, atau sword golem, atau Administrator! Jadi, tolonglah, kau tidak perlu untuk menyalahkan dirimu sendiri lebih lama lagi, Eugeo!!"

"......Benar-benar sekarang...Itu akan...sangat bagus......"

Air mata besar terlihat dari mata Eugeo setelah perkataannya dan perlahan mengalir dengan tenang.

"...Kirito. Aku selalu...iri terhadap dirimu. Kau lebih kuat dari semua orang...Dicintai oleh semua orang...Aku berpikir...Bahkan Alice akan...Itu memnbuatku takut...Tapi...Aku mengerti sekarang. Cinta...Bukanlah sesuatu yang dicari...Itu adalah sesuatu yang diberikan. Alice...mengajariku...hal itu..."

Eugeo memotong kata-katanya dan mengangkat tangan kirinya.

Telapak tangannya, sakit dan kelelahan dari pertarungan hebat, menggenggam kristal kecil. Prisma segi enam yang mengarahkan kedua ujungnya. Bagian ingatan Alice.

Prisma transparan berkedip secara samar-samar saat itu bersentuhan dengan tangan kiriku.

Cahaya putih itu menyelimuti dunia ini.

Itu semua menghilang, baik itu lantai keras atau rasa sakit dari tangan kananku yang terpotong. Aliran lembut membawa jiwaku menuju suatu tempat yang jauh. Bahkan kesedihan dalam yang mengisi di dalam hatiku perlahan mencair di dalam cahaya hangat itu.

Dan lalu—


Pemandangan hijau yang terang terlintas di pandanganku, bergerak tinggi dari atas.

Sinar matahari bersinar melewati pohon itu.

Seolah-olah memuji cahaya matahari musim yang akhirnya berada di tempat ini, pohon kecil mencapai itu dengan semua bentuk kecilnya, bergemerisik oleh angin sepoi-sepoi. Burung kecil yang tidak diketahui terbang dari batang hitam, mengkilap menuju batang lainnya saat itu saling mengejar satu sama lain.

"Ayolah, buat tangan itu bergerak, Kirito."

Tiba-tiba namaku dipanggil, aku mengarahkan pandanganku kembali dari atas pohon.

Gadis berambut pirang yang duduk di sampingku yang rambutnya berkilauan dengan indah di bawah sinar matahari yang bersinar melalui pohon. Setelah berkedip beberapa kali, aku mengangkat bahuku dan menjawab.

"Bukankah kau sendiri sedang melihat keluarga kelinci lembut dengan mulutmu yang terbuka dengan lebar, Alice?"

"Mulutku tidak terbuka dengan lebar!"

Memalingkan wajahny dengan humph, gadis yang memakai pakaian dan pinafore biru dan putih—Alice Schuberg—mengangkat apa yang berada di tangannya sebelum memegang itu di bawah sinar matahari.

Sebuah sarung kulit yang dijahit secara hati-hati untuk pedang kecil. Permukaannya berkilauan setelah dipoles dengan kain dan minyak, dan itu memiliki gambar naga yang terjahit dengan benang putih murni. Naga yang entah mengapa kelihatan bersahabat itu hanya memiliki setengah ekornya yang terpotong, dengan jarum benang yang tergantung dari ujungnya.

"Lihat, aku akan selesai dalam waktu beberapa saat lagi. Bagaimana denganmu?"

Aku merendahkan pandanganku menuju pangkuanku seperti yang diperintahkan.

Di tanganku terdapat pedang pendek yang diukir dari batang kayu oak platinum, jenis kayu terkuat kedua dapat ditemukan pada kayu jenis ini. Dengan metode memproses itu berasal dari kakek Garitta yang mengetahui hutan secara baik, aku telah membuat kayu ini, yang kuat seperti baja, sebuah bentuk mulai terlihat setelah menghabiskan dua bulan untuk membuatnya. Bilah pedangnya sudah selesai dan aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk memperindah gagangnya.

"Aku lebih cepat darimu. Ini semua yang tersisa."

Alice berbicara dengan senyuman cerah setelah mendengar jawabanku.

"Maka teruskanlah lebih lama lagi dan segera selesaikan itu."

"Baiklah."

Setelah melihat ke atas melalui batang pohon sekali lagi menujukkan bawha Solus sudah melewati bagian tengah dari langit itu. Kita telah bekerja semenjak pagi hari di tempat rahasia ini, jadi aku rasa itu benar-benar lebih baik untuk segera kembali menuju desa.

"Hei...Kita harus segera kembali dengan segera. Dia akan menyadarinya."

Aku mengatakan seperti itu sementara menggelengkan kepalaku dan Alice merengutkan mulutnya seperti anak kecil.

"Kita masih aman. Cukup sedikit lagi... Cukup sedikit lagi, oke?"

"Kurasa tidak ada yang dapat diharapakan dari itu. Cukup sedikit lagi, kau mengerti?"

Kita saling bertukar anggukan dan memfokuskan diri kita pada pekerjaan kita masing-masing untuk beberapa menit.

"Aku selesai!"

"Sudah selesai!"

Kedua suara kita yang dikatakan secara bersamaan disertai dengan suara gemerisik dari langkah kaki yang berasal dari belakang.

Aku mengayun itu sementara menyembunyikan apa yang ada di tanganku ke belakang punggungku secara panik.

Berdiri di sana dengan ekspresi kosong adalah anak laki-laki dengan rambut kuning yang terlihat lembut dengan potongan keriting pendek—Eugeo.

Mata hijau Eugeo yang terang berkedip dan dia berbicara dengan suara yang dipenuhi dengan kecurigaan.

"Aku berpikir dimana kalian berdua berada semenjak pagi ini, tapi kalian berdua berada di tempat seperti ini, huh. Cukup apa yang kalian berdua lakukan?"

Alice dan aku menunduk, kepala kita merendah, saat kita saling bertukar pandangan.

"Kucing yang keluar dari tasnya bukan?"

"Karena itu aku memberitahumu seperti itu. Sekarang ini semua menjadi berantakan, huh."

Alice mengambil pedang kayu yang baru saja selesai dari tanganku dan dengan cepat memasukkan ke dalam sarung pedang kulit dengan tangannya yang tersembunyi di belakang.

Dan dengan lompatan menuju Eugeo, dia berteriak dengan senyuman yang sangat cerah seperti sinar matahari.

"Seharusnya masih ada tiga hari lagi...Tapi Eugeo, selamat ulang tahun!!"

Mata besar Eugeo berubah menjadi terbuka lebar pada saat melihat pedang kecil dari kayu oak platinum yang tersimpan di sarung dengan jahitan naga putih yang secara cepat diberikan padanya.

"Eh...ini, untukku...? Sesuatu yang sangat hebat...?"

Dengan bagian yang bagus diambil oleh Alice, aku menjelaskan dengan senyum masam.

"Eugeo, kau mengatakan bahwa kau merusak pedang kayu yang diberikan ayahmu padamu, bukan? Jadi...Baiklah, ini mungkin akan kalah dengan pedang asli seperti kakak laki-lakimu, tapi ini jauh lebih baik dari semua pedang kayu yang dijual di toko!"

Pada saat menerima pedang kayu dengan tangan gemetarnya, yang terulur, Eugeo membungkuk ke depan seolah-olah terkejut dengan bebannya dan kemudian, memperlihatkan senyuman lebar yang tidak kalah dari Alice.

"Kau benar...Ini bahkan jauh lebih berat daripada pedang kakak laki-lakiku! Wow...Aku... Aku akan menyimpan ini. Terima kasih, kalian berdua, aku sangat senang...Ini adalah pertama kalinya hadiah ulang tahun membuatku sangat senang..."

"H... hei, jangan menangis!"

Aku berteriak dengan gugup, melihat sesuatu yang kecil bersinar pada ujung mata Eugeo.

Aku tidak menangis, Eugeo mengusap wajahku dan melihat lurus ke arahku.

Dan tersenyum sekali lagi.

Senyuman itu tiba-tiba berubah menjadi cahaya yang berwarna.

Secara tiba-tiba, rasa sakit menyesakkan bagian dadaku. Perasaan nostalgia yang kuat dan kehilangan melebihi apa yang dapat aku hadapi. Air matakau menetes tanpa henti dan mengalir di pipiku.

Alice dan Eugeo yang berdiri di sampingku, juga, menangis dengan senyuman mereka masih ada—

Kita berbicara, secara bersamaan.

"Kita...Kita bertiga pasti akan hidup melalui waktu yang sama."

"Kita mungkin akan berpisah di sini...Tapi meski begitu, ingatan itu akan terus ada selamanya."

"Itu akan...ada selamanya di dalam dirimu. Jadi, lihatlah—"


Dan pemandangan yang diselimuti sinar matahari yang bersinar melalui pohon itu menghilang dan aku sekali lagi di bawa kembali menuju lantai tertinggi dari Katedral Pusat.

"Jadi, lihatlah—Jangan menangis, Kirito."

Kekuatan meninggalkan tangan Eugeo setelah bisikannya, tangan kanannya terjatuh ke lantai dan tangan kirinya, berada di dada. Prisma yang berada di dalam telapak tangannya juga berhenti berkedip juga.

Pemandangan yang aku kenang kembali melalui kejadian di pikiranku adalah tanpa kesalahan merupakan kejadian dari ingatanku. Aku tidak dapat mengingat lebih dari satu kejadian itu, tapi meski begitu fakta bahwa Alice, Eugeo, dan aku hidup dari waktu muda bersama-sama dan juga sahabat terbaik, terhubung dengan ikatan yang tidak tergoyahkan, memenuhi tubuhku dengan kehangatan dan mengurangi rasa sakitku meskipun hanya sedikit.

"Yeah...Ingatan itu semuanya berada di sini."

Aku menekan jari dari tangan kiriku pada dadaku dan berbisik dengan tangisan.

"Itu akan terus ada di sini selamanya."

"Itu benar...Jadi, Kita adalah, sahabat terbaik, selamanya. Dimana kau berada...Kirito, dimana kau pergi..."

Cahaya di matanya menghilang saat itu bergerak dan Eugeo memanggil namaku dengan senyuman masih terlihat di wajahnya.

Aku mencondongkan diriku ke depan dan memeluk kepala Eugeo dengan tangan kiriku. Air mataku yang mengalir menetes pada Eugeo, satu demi satu.

"Aku ada di sini, berada di sini."

"Yeah..."

Menatap di suatu tempat yang jauh, Eugeo memperlihatkan senyuman bahagia.

"Aku melihatmu...Bersinar sangat terang, di kegelapan ini...Sama seperti bintang...Bintang di langit malam...Seperti yang aku lihat setiap malam, seorang diri...Di bawah Gigas Cedar...Bersinar sama seperti...Pedangmu......Kirito......"

Perlahan kehilangan cahayanya, suara Eugeo perlahan menggetarkan jiwaku.

"Seperti itu...Kirito, pedang hitammu......«Night Sky Sword»......Akan menjadi nama yang bagus. Bagaiamana menurutmu......?"

"Yeah...Terdengar bagus. Terima kasih, Eugeo."

Aku memeluk sahabatku dengan erat saat dia perlahan menjadi lebih ringan. Kata-kata terakhirnya berdesir melalui pikiran kita yang terhubung seperti air yang terjatuh pada permukaan air.

"Selimutilah......Dunia kecil ini......dengan lembut...seperti......langit malam......"

Air mata yang terang terlihat di kelopak matanya menghilang sebagai titik cahaya.

Dengan sedikit beratnya tersandar di tanganku, kelopak mata Eugeo perlahan tertutup.

Bagian 6[edit]

Eugeo berdiri di koridor gelap yang tidak diketahui oleh dirinya.

Sword Art Online Vol 14 - 311.jpg

Tetapi, dia tidak seorang diri.

Menggenggam dengan erat tangan kirinya adalah Alice, tersenyum, dalam pakaian biru.

Dengan hanya sedikit kekuatan pada genggamannya, Eugeo berbicara pada teman masa kecil perempuannya.

"Ini...Semua untuk yang terbaik, bukan?"

Pita besar mengikat rambut pirang Alice bergetar dan dia memperlihatkan anggukan kuat.

"Ya. Mari kita tinggalkan sisanya pada mereka berdua. Aku yakin mereka akan menuntun dunia ini pada bagaimana itu seharusnya."

"Aku rasa kau benar. Baiklah...bolehkan kita pergi sekarang?"

"Ayo."

Meskipun dia tidak mengetahui ketika itu terjadi, Eugeo telah berubah menjadi muda juga. Dengan tangannya dengan kuat menggenggam dan digenggam oleh gadis yang berumur dan tinggi yang sama, Eugeo mulai berjalan menuju cahaya putih yang terlihat pada bagian ujung koridor itu di kejauhan.


Di saat itu—

Daya tahan dari unit manusia yang ditetapkan sebagai ID, NND7-6361, menjadi nol.

Menerima sinyal itu, program yang mengontrol Light Cube Cluster mengeluarkan perintah pada light cube yang menyimpan fluct light yang sesuai.

Menerima perintah itu, penghubung antar muka itu dengan cepat mereset penghubung struktur kristal praseodymium.

Ratusan juta dari photon qubits yang tersimpan di dalamnya hanya meninggalkan satu kilauan cahaya terakhir dan tersebar—

Jiwa bernama Eugeo yang bahkan tidak hidup lebih dari dua puluh tahun yang secara abadi dipindahkan dari cube kecil.

Di waktu yang hampir bersamaan.

Cube lainnya, yang tersimpan sedikit lebih jauh dari light cube Eugeo, melakukan operasi yang sama.

Fluct light, memiliki ingatan yang terpisah dari jiwa bernama Alice Schuberg, diciptakan dari metode irregular juga dipindahkan dari kurungan kristalnya.

Tidak ada yang tahu dimana kumpulan photon yang membentuk dua jiwa itu akan pergi.

Bagian 7[edit]

Aku tetap berada di sana, secara berlutut, sampai tubuh Eugeo dan bagian ingatan Alice yang berada di dadanya berubah menjadi titik cahaya dan menghilang seperti mayat Cardinal.

Sudah berapa lama semenjak itu berlalu?

Ruangan terisolasi yang bergetar di balik kaca jendela itu menghilang pada saat aku menyadarinya dan langit dipenuhi dengan bintang telah kembali. Cahaya samar-samar dari waktu fajar terlihat dai Puncak Barisan Pegunungan di kejauahan yang terbentang di sepanjang cakrawala timur.

Mengeluarkan hampir semua kemampuanku untuk berpikir, aku secara goyah mengangkat diriku sendiri dan mendekat menuju Knight Alice yang terbaring di kejauhan.

Luka Alice sangat mengerikan juga. Tapi untungnya, sebagian besar lukanya adalah luka bakar dengan tidak ada pendarahan, jadi penurunan Lifenya secara terus menerus seharusnya berhenti. Aku mengangkat tubuhnya dengan tangan kiriku dan dia tidak mendapatkan kembali kesadarannya, tapi alisnya sedikit bergerak sementara nafas tipis keluar dari mulutnya.

Membawa Alice, aku perlahan, perlahan berjalan menuju bagian utara dari aula itu.

Terminal sistem kristal adalah semua yang tetap tidak rusak hingga sekarang dan itu mengeluarkan kilauan mekanik saat itu menyambutku.

Perlahan membaringkan Alice di lantai, aku menekan satu tombol transparan dengan jari kiriku. Monitor itu terangkat, memperlihatkan layar pengaturan yang rumit.

Pengunaan perangkat itu sebagain besar dalam Pengucapan Suci, tidak, Bahasa Inggris, tapi pada akhirnya aku menemukan apa yang aku cari setelah menyentuh layar itu beberapa kali.

External observer call.

Aku menatap pada tombol yang memiliki nama itu untuk sesaat.

Observer. Seseorang yang membuat dunia ini, membuat ini menjadi bergerak, dan mengawasi dunia ini.

Mereka, anggota staff dari perusahaan, Rath, dengan kata lain, mereka telah memberitahuku hanya satu kebohongan—tapi itu adalah kebohongan yang jauh terlalu berat.

Juni 2026, di dunia nyata yang terasa sudah lama berlalu. Jadi, aku telah berpartisipasi sebagai tester dari eksperimen operasi kelanjutan yang diperpanjang untuk mesin full dive generasi selanjutnya, «Soul TransLator», diciptakan oleh Rath.

Test itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Melalui fungsi Fluct Light Acceleration dari STL, aku telah menghabiskan sepuluh hari, kira-kira 3,3 kali dari waktu yang telah berlalu di dunia nyata, di dunia Virtual untuk test itu dan mendapat ingatanku diblokir agar memastikan kerahasiaannya. Itu adalah bagaimana Rath menjelaskannya padaku.

Tapi itu adalah kebohongan. Tempat dimana aku melakukan dive selama test itu sama sekali bukan tempat khusus untuk test itu, tapi di Underworld ini dimana aku berada sekarang. Dan sepuluh hari sangat sulit untuk sebanding dengan berapa lama aku menghabiskan waktu di tempat ini. Itu mungkin lebih dari tiga ratus kali...Kelihatannya waktu yang berlalu lebih dari sepuluh tahun.

Ya. Dalam waktu tiga hari test itu, aku telah mengalami pengalaman masa kecil untuk kedua kalinya sampai sebelas tahun di desa kecil di daerah utara dari Dunia Manusia. Bermain hingga teman masa kecilku, anak laki-laki berambut kuning dan gadis berambut pirang, dan aku dipenuhi dengan lumpur dan kembali ke desa melalui jalur di samping sungai ketika itu sudah tiba sore hari, berjalan saling berdampingan, setiap hari.

Pemandangan sore hari yang aku lihat di sungai yang berada di hutan di dunia ini dua tahun lalu. Perasaan bahwa Eugeo dan aku selalu berbuat nakal dengan pedang sebagai sesama anak-anak ketika aku bertarung melawan Eugeo. Dan kejadian yang melibatkan pedang kayu oak platinum yang terlintas pada diriku beberapa saat lalu ketika Eugeo berada diambang kehilangan hidupnya, itu sama sekali bukan halusinasi.

Bagian ingatan yang sudah pasti aku alami, terhapus. Aku telah hidup di Desa Rulid dengan Eugeo, dan Alice juga, dan aku telah melupakan tentang itu sampai hari ini.

Demikian juga, Eugeo dan Alice yang hidup dengan ingatan kita yang hidup bersama-sama telah terhapus. Itu mungkin adalah alasan sebenarnya kenapa mereka berdua tidak benar-benar kehilangan kepribadian mereka seperti Integrity Knight lainnya ketika melakukan synthesized.

Aku tidak peduli alasan kenapa Rath menggabungkanku, orang luar, pada simulasi peradaban di waktu sekarang yang semuanya telah dimulai dari waktu dulu. Tapi ada sesuatu yang aku tidak mungkin dapat lupakan.

Pada saat ketika Alice muda diambil pergi oleh Integrity Knight Deusolbert.

Eugeo terus menerus menyalahkan dirinya untuk waktu yang sangat lama. Dia terus menyesali bagaimana dia tidak menyelamatkan Alice. Pada awalnya, aku seharusnya menanggung semua penyesalan itu. Tapi aku harus pergi dan melupakan masa lalu itu...Tidak menyadari bagaimana dalamnya penderitaan Eugeo sampai saat dia mengorbankan hidupnya sendiri.......

"U...ug...gh...!"

Suara aneh keluar dari tenggorokanku. Gigi gerahamku secara keras menggeretak satu sama lain dengan kekuatan yang dapat aku kumpulkan.

Mengangkat tangan kiriku yang kaku, aku menyentuh tombol untuk memanggil pengawas itu dengan jari yang bergemetar.

Sebuah kalimat dalam Bahasa Jepang diperlihatkan dengan nada peringatan ketika aku melakukan itu.

[Ketika operasi ini dilakukan, kecepatan rata-rata Fluct Light Acceleration akan diatur menjadi 1.0. Apa kau yakin?]

Aku menekan tombol OK tanpa ada keraguan sedikitpun.

Itu terasa seperti udara berubah menjadi lebih kental secara tiba-tiba.

Suara, cahaya, dan semuanya terbentang menuju kejauhan sebelum menjadi terkejar dan kembali. Sensasi yang aneh menyerangku dalam sekejap, seperti gerakanku sendiri dan bahkan pikiranku sendiri menjadi gerakan yang sangat lambat, dan menghilang sebelum aku dapat bereaksi.

Sebuah window hitam terbuka di tengah layar itu. Tingkat meteran suara yang diperlihatkan di bagian tengah dengan kata, "SOUND ONLY", berkedip di atas itu.

Meteran berwarna pelangi menjadi tersentak

Diikuti oleh peningkatan secara tajam. Suara mekanis mencapai telingaku di saat yang bersamaan.

Sebuah suara dari dunia nyata, aku berpikir seperti itu.

Dunia dari «sisi lain» dengan hari-hari damainya yang terus berulang dengan sama sekali tidak ada hubungan dengan dunia Underworld. Dunia nyata dengan darah, rasa sakit, dan kematian tidak lebih dari kejadian yang jarang terjadi

Dengan kumpulan emosi kuat di dalam diriku Aku entah bagaimana mengetahui bahwa itu meningkat, aku bergemetar.

Menarik wajahku mendekat menuju terminal, aku meneriakkan nama dari laki-laki yang membawaku menuju Underworld sekeras yang aku bisa.

"Kikuoka...Dapatkah kau mendengarku, Kikuoka?!!"

Jika tangan milikku dapat mencapai Kikuoka Seijirou atau Administrator lainnya di waktu sekarang, aku sebenarnya mungkin akan mencekik orang itu hingga mati.

Menghantamkan tangan kiriku yang bergemetar dengan tanpa target untuk kemarahanku pada meja marbel, aku berteriak sekali lagi.

"Kikuokaaaa!!!"

Dengan segera setelahnya—suatu jenis suara mengalir keluar dari layar itu.

Itu bukanlah suara yang berasal dari manusia. Katatata, katatatata, suara keras yang tajam.

Apa yang terlintas di pikiranku pada saat itu juga adalah suara submachine gun[15] dengan tembakan cepat yang aku pernah dengar pada game VRMMO yang disebut Gun Gale Online, sesuatu dari satu tahun lalu. Di sisi lain dari layar ini seharusnya adalah fasilitas penelitian dari perusahaan kecil. Kenapa terdapat suara seperti itu?

Aku masih berdiri dan telingaku menangkap suara manusia untuk kali ini...sebuah pergantian teriakan yang tegang.

[—gative, penyusup itu menempati jalur A6! Kita harus melarikan diri!!]

[A7, balas tembakan entah bagaimana! Tahan mereka sampai kita mengunci semua sistemnya!!]

Sekali lagi, suara dari tembakan senjata api. Bersamaan dengan ledakan secara tiba-tiba yang tercampur dengan itu.

Ada—apa sebenarnya ini?

Film...? Apakah ini menangkap suara audio dari suatu film yang terputar pada anggota staff yang menonton di ruangan penelitian?

Tapi kemudian, suara yang tidak kukenal memanggil nama seseorang yang aku kenal.

[Komandan Kolonel Kikuoka, kita sudah sampai batasnya! Kita harus meninggalkan ruangan kontrol utama dan menutup penahan pelindung tekanan!!] Suara terputus yang tertuju padanya menjawab.

[Maaf, ulurlah waktu selama dua menit lagi! Kita tidak dapat membiarkan mereka mengambil tempat ini sekarang!!]

Kikuoka—Seijirou, laki-laki yang membawaku menuju dunia ini.

Aku tidak pernah mendengar suaranya setegang ini. Apa yang sebenarnya terjadi dibalik layar ini?

—Mungkinkah mereka dalam kondisi sekarang? Rath? Tapi kenapa...?

Dan sekali lagi, suara Kikuoka terdengar.

[Higa-kun, apakah itu masih belum terkunci!?]

Aku mengingat suara yang menjawabnya juga. Higa Takeru, peneliti dari Rath yang hadir pada saat test diveku.

[Delapan detik lagi...tidak, tujuh detik...—Aa......aaaahh!?]

Suara Higa menjadi serak seolah-olah terkejut pada sesuatu.

[Kiku-sann!! Seseorang memanggil dari dalam! Tidak, dari dalam Underworld!! Ini...aaahh, itu dia, itu Kirigaya-kunn!!]

[Ap...Apaaa!?]

Langkah kaki terdengar. Pengeras suara itu tersentak saat seseorang menggenggam itu.

[Kirito-kun, kau di sana!? Apa kau berada di sana!?]

Ini sudah pasti Kikuoka Seijirou. Menyingkirkan keraguanku, aku berteriak.

"Itu benar! Dengarlah, Kikuoka...kau...kau sialan...!"

[Aku akan menerima semua kritikmu nanti! Dengarkan aku untuk sekarang!!]

Aku tidak dapat melakukan apapun selain menutup mulutku pada keputusasaannya yang tidak cocok dengan dirinya sama sekali.

[Dengar...Kirito-kun, Carilah seorang gadis bernama Alice! Dan lalu...]

"Carilah...Dia tepat berada di sini!"

Aku berteriak kembali dan Kikuoka dalam sekejap menjadi terdiam untuk kali ini. Mengikuti itu, dia terdengar sangat tidak tenang saat—

[Aku-Aku tidak dapat mempercayainya...Ini adalah keajaiban! Be...nar, pada saat ini komunikasi akan terputus, aku akan mengembalikan Fluct Light Acceleration kembali menjadi seribu kali, jadi bawalah Alice dan pergilah menuju «Altar Ujung Dunia»! Konsol bagian dalam yang kau gunakan sekarang terhubung dengan konsol utama, tapi tempat ini akan segera runtuh!]

"Runtuh...Tunggu, apa yang baru saja..."

[Maaf, tidak ada waktu untuk menjelaskan! Dengar, Altar itu berada lurus ke depan setelah kau keluar dari Gerbang Besar Timur...]

Pada saat itu, suara pertama yang aku dengar bergema dari jarak yang sangat dekat.

[Komandan Kolonel, kita akan mematikan penahan A7, tapi beberapa menit kita...Tidak, aah, sial! kelihatannya mereka mulai memutuskan kabel listrik utama!!]

[Eeehh, tidak mungkin, ini benar-benar akan sangat buruk!!]

Jawaban itu tidak berasal dari Kikuoka, tapi teriakan keras yang berasal dari Higa.

[Kiku-sann, memutuskan kabel listrik utama untuk sekarang akan menyebabkan gelombang! Light Cube Cluster akan aman... Tapi akan terdapat lonjakan pada ruangan sub kontrol dimana STL Kirigaya-kun berada...Itu akan menghanguskan fluct lightnya!!]

[Apa...Itu menggelikan, terdapat banyak pembatas pengaman pada STL...]

[Kita telah memutuskan semua itu! Dia menjalani perawatannya tepat sekarang!!]

Apa yang sebenarnya mereka katakan?

Apa yang akan terjadi pada fluct lightku jika listrik itu terputus?

Seseorang yang memecahkan sedikit dari beberapa detik keheningan adalah Kikuoka sekali lagi.

[Aku akan mengunci tempat ini! Higa-kun, kau jemputlah Professor Koujiro dan Asuna-kun, larilah menuju ruangan bagian atas, dan terus jaga keselamatan Kirito-kun!!]

[T-Tapi bagaimana dengan Alice!?]

[Aku akan meningkatkan kecepatan FLA sampai batasnya!! Kita akan memikirkan sisanya nanti, keselamatannya...]

Aku hampir menangkap semua pertukaran teriakan yang terus berlanjut.

Sebuah nama pada perkataan Kikuoka mengetuk pada kesadaranku dan bergetar hingga seperti badai...

—Asu...na?

—Asuna berada di sana? Di Rath...Tapi kenapa dia berada di sana?

Wajahku mendekat menuju terminal untuk menanyakan Kikuoka pertanyaan itu.

Tapi itu terjadi beberapa saat sebelum suaraku keluar. Pemilik dari suara pertama yang aku dengar berteriak dengan menderita.

[Tidak...Listriknya telah terputus!! Baling-baling itu telah berhenti, semua orang, bersiap untuk hantaman!!]

Dan—

Aku melihat sesuatu yang aneh.

Pilar cahaya putih dengan tenang menjulang tinggi dari langit, menusuk melalui kanopi katedral.

Tidak ada rasa sakit, tidak ada hantaman, tidak ada sensasi apapun.

Tapi meskipun begitu, aku mengetahui bahwa aku menerima luka yang sangat serius hingga aku tidak dapat pulih dari itu. Cahaya itu menusuk lurus pada jiwaku sendiri, dibandingkan dengan dagingku... tampak seperti itu.

Sesuatu yang menentukan keberadaanku, sesuatu yang berharga, telah dihancurkan menjadi bagian dan mulai menghilang.

Waktu, ruang, dan bahkan ingatanku hancur hingga menjadi hampa, kekosongan yang tidak berwarna.

Aku—

Sama sekali merasa tidak masuk akal bahkan pada kata-kata itu.

Aku mendengar suara dari suatu tempat, suatu tempat yang jauh, beberapa saat sebelum kemampuanku untuk berpikir terambil dari diriku.


[Kirito-kun...Kirito-kun!!]


Suara tersebut terdengar sangat merindukan, suara tersebut membuatku ingin menangis, suara tersebut terdengar sangat berharga hingga aku hampir menjadi gila. Suara itu adalah milik——


——Suara siapa itu, aku ingin tahu...?


(Alicization Uniting Selesai)


Catatan Penerjemah[edit]

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Head_stand
  2. asap yang digunakan untuk melindungi diri dari serangan musuh
  3. ini adalah alat yang membantu pesawat lepas landas, biasanya alat ini digunakan untuk pesawat yang berada di atas kapal
  4. suatu sistem yang membantu tubuh kita untuk melakukan skill pedang, kau cukup membuat gerakan awal dan sistem itu yang menjalankannya
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Jet_engine
  6. Dalam hal ini pemimpin tertinggi mencampurkan bahasa Inggris asli ke dalamnya, saya tetap mengartikannya tetapi kata itu ditunjukkan huruf miring di perkataan pemimpin tertinggi
  7. http://en.wikipedia.org/wiki/Demigod
  8. Kata ini memang dibiarkan Bahasa Inggris karena artinya akan dijelaskan oleh Eugeo
  9. suatu sistem yang menyerap rasa sakit yang terjadi di dunia virtual
  10. http://en.wikipedia.org/wiki/Mezzo-soprano
  11. warna kulit orang yang berasal dari Karibia
  12. Akhir yang buruk dari suatu game, biasanya jika suatu karakter mati atau tidak memenuhi syarat tertentu
  13. http://id.wikipedia.org/wiki/Inersia
  14. Perkataan rahasia
  15. http://en.wikipedia.org/wiki/Submachine_gun