Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 16 Bab 19

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 19 - Puteri Cahaya (Bulan ke-11 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Hari ke 7 Bulan ke 11 Kalender Dunia Manusia 380

20:00

Bagian 1[edit]

Pasukan Tanah Kegelapan baru saja bergerak, meninggalkan kepulan debu dibelakangnya. Debu tersebut kini mewarnai langit Tanah Kegelapan yang diterangi gemerlip bintang kemerahan di gelapnya malam.

Mengintip melalui teropong sederhana yang dibuat menggunakan Crystal Elements, Komandan Knight Bercouli menatap kedepan lalu sedikit mengomel.

“Sungguh mengherankan … Tampaknya Dewa Kegelapan Vektor ini tertarik padamu nona kecil. Seluruh pasukan mengejarmu lho.”

“Kita seharusnya… senang, kukira. Daripada kita diacuhkan.”

Alice cemberut seolah menghilangkan kegelisahannya ketika ia meminum Air Siral hangat.

Di daerah Tanah Kegelapan yang tak pernah dijelajahi — tentunya bagi mereka yang berasal dari Kerajaan Manusia —di bukit kecil sekitar lima kilo di selatan lembah, Pasukan Pertahanan pengecoh sedang beristirahat singkat.

Para penjaga begitu senang.

Karena seorang Integrity Knight telah mengorbankan dirinya ketika menghalau art skala besar yang membuat semua orang hampir tenggelam dalam keputusasaan, mereka semua kini yakin sekali lagi, bahwa mereka harus menghargai kesempatan hidup yang telah diberikan.

Sementara itu, Alice masih belum bisa menerima kematian Eldrie.

Meskipun belum lama berlalu sejak mereka berdua bertemu di Katherdal Pusat, begitu banyak hal yang telah terjadi. Eldire selalu mengusulkan untuk mencoba anggur maupun cemilan untuk Alice; membuat lelucon garing dari waktu ke waktu; tak ada waktu sepi jika bersama Eldrie.

Alice selalu bertanya-tanya apakah pemuda ini serius belajar ilmu pedang dan art, ataukah hanya ingin mencari masalah. Tetapi sekarang, ia mengerti. Ia mengerti jika Eldrie telah mengisi hatinya dengan sikap kesembronoan.

… hal-hal tersebut akan kelihatan normal jika aku menanggapinya. Mengapa aku baru menyadari betapa berharganya ia ketika ia telah tiada?

Ketika Alice menatap Barisan Peegunungan di Ujung yang membentang di langit timur laut, ia dengan lembut menyentuh gulungan cambuk yang berada di pinggangnya. Ia sekarang mengerti mengapa Kirito tak ingin melepaskan pedang milik Eugeo.

Sambil menunggu Alice membuka matanya, Komandan Knight berkata:

“Tentang strategi saat ini … sebenarnya, hingga keempat Integrity Knights di pasukan pengecoh ini gugur, kita akan tetap memancing pasukan musuh sejauh mungkin lalu menyerangnya. Apa kau setuju?”

Alice mengangguk tegap pada Komandan Knight yang sedang berdiri di puncak tertinggi batu besar di atas bukit.

“Inilah situasi yang telah terjadi sampai saat ini:kita telah menghabisi hampir separuh pasukan musuh yang berjumlah lima puluh ribu serta kita telah menghabisi Guild Pengguna Dark Art yang paling merepotkan. Kini kita tinggal mengatasi pasukan utama Tanah Kegelapan, yaitu Dark Knights Order dan Guild Petarung Tangan Kosong … lalu mengalahkan Dewa Kegelapan Vektor. Ketika kita mengalahkan mereka semua, sisa-sisa pasukan musuh tampaknya akan setuju dengan perjanjian perdamaian. Bagaimana menurutmu?”

“Hmm… masalahnya, siapa yang akan memimpin mereka setelahnya. Jika saja si bocah Shasta masih hidup …”

“Jadi, Jendral Kegelapan telah … Apa anda benar-benar yakin tentang hal itu, paman?”

“Ia tidak ada disana ketika aku memandang beberapa saat lalu. Bukan hanya Shasta, tetapi muridnya juga, si knight perempuan yang pernah melawanmu sebelumnya nona kecil.”

Bercoulli menghembuskan nafas. Alice tahu jika Bercouli secara rahasia memiliki harapan besar dari Jendral Kegelapan dan muridnya.

Menggelengkan kepalanya perlahan, si Knight tertua kini menurunkan nada bicaranya.

“Sekarang kita hanya bisa berharap jika Dark Knight yang menggantikan posisi Shasta juga mewarisi keinginannya. Sepertinya tidak, kurasa …”

“Sepertinya tidak?”

“Tidak. Orang-orang yang tinggal di Tanah Kegelapan tidak memiliki hukum tertulis seperti Taboo Index. Hanya ada satu hukum tak tertulis yang membuat mereka mematuhi yang kuat. Dan… tampaknya, Incarnation milik Dewa Kegelapan Vektor begitu kuat terasa … seorang pemula tak akan cukup kuat untuk membuat pembrontakan …”

Benar juga, ketika ia mengumumkan identitas dirinya di depan musuh beberapa saat lalu, sebuah energi kegelapan dingin serta tak berdasar terasa di pusat formasi musuh, dan itu dengan jelas menempel pada Alice. Itu pertama kalinya Alice merasakan sensasi macam itu sejak bangun menjadi seorang Integrity Knight. Jika Incarnation milik Pemimpin Tertinggi Administrator mirip dengan kilatan petir, maka apa yang Alice rasakan adalah kegelapan tak berdasar.

Alice merasa ngeri hanya memikirkannya. Menenangkan dirinya sendiri, Alice mengangguk.

“Aku paham…Aku kira tak akan ada orang yang tak mematuhi seorang Dewa.”

Tepat seolah Alice berkata seperti itu, Komandan Knight tertawa dan menabok punggung Alice.

“Meskipun kau berkata seperti itu nona kecil. Kau, Kirito dan Eugeo, kalian bertiga mampu menentang di Kerajaan Manusia. Semoga saja ada orang-orang yang bernyali di Tanah Kegelapan.”

Lalu, mendengar kepakan sayap yang begitu keras, keduanya menoleh keatas.

Naga milik Renri, Kazenui, telah mendarat. Si knight muda dengan tangkas melompat sebelum cakar sang naga menyentuh tanah. Ia berlari menuju Bercouli dan dengan tergesa-gesa ia berbicara.

“Komandan Tertinggi, lapor! Ada sebuah area hutan sekitar satu kilo di selatan yang tampaknya bisa menjadi tempat untuk serangan kejutan untuk pasukan musuh.”

“Bagus. Kerja bagus untuk pengintaiannya. Aku akan menyiapkan seluruh pasukan untuk mulai bergerak … naga milikmu pasti kelelahan, jadi berilah ia makanan dan minuman sebanyak yang ia mau.”

“Siap!”

Bercouli memandang Renri yang dengan cepat memberikan hormat ala knight, lalu sosoknya mulai pergi. Alice akhirnya menyadari bahwa ada sebuah senyuman pada wajah Komandan Khight.

“…Paman?”

Menurut pandangan Alice, Bercouli yang menggaruk dagunya untuk sesaat, sepertinya ia malu, dan agak menghiraukan pandangan Alice.

“Yah, uh… Para Integrity Knight tercipta karena synthesis ritual dengan mencuri ingatan berharga mereka serta Life para khight dibekukan, perbuatan tersebut tak bisa dimaafkan. Tetapi pada saat yang sama, aku hanya berpikir bahwa sedikit menyedihkan jika tak ada lagi knight muda sepertinya.”

Alice berpikir untuk sesaat, lalu senyum yang sama muncul di wajahnya:

“Tak ada seseorang yang akan menjadi Integrity Knight tanpa menghapus ingatan serta membekukan life mereka? Aku tak percaya bahwa itu benar, paman.”

Tangan kanan Alice dengan lembut memegang Frostscale Whip sekali lagi.

“Bahkan jika kita semua mati, aku yakin jika jiwa kita… keinginan kita akan diteruskan oleh orang lain.”

* * *

“Baiklah, kini giliran kita!!”

Memukulkan tangan kanan ke telapak tangan kirinya, ketua muda dari Guild Petarung Tangan Kosong, Iskahn, berteriak penuh semangat.

Aku telah lama duduk dan menunggu disini terlalu lama sejak peperangan ini memanas.

Pilar cahaya mengerikan yang membakar pasukan Demi-human, Guild Pengguna Dark Art juga telah menciptakan gelombang cacing mengerikan, dan Kaisar Vector sangat menginginkan Putri Cahaya hingga ia memberikan perintah penuh misteri. Namun hal-hal tersebut tidak memberikan efek pada semangat bertarung milik Iskahn.

Dunia miliknya hanya terbagi menjadi dua bagian: tubuhnya dan bukan tubuhnya. Iskahn benar-benar tidak tertarik pada hal apapun selain melatih tubuhnya. Di kepalanya, bahkan jika ia menjadi target art skala besar seperti yang baru saja ia saksikan, ia sangat yakin bisa menghalau setiap art yang datang hanya dengan tinju dan semangatnya.

Petarung Tangan Kosong mengenakan ikat pinggang pada tubuh telanjang dada penuh otot yang berwarna kemerah-merahan, serta hanya mengenakan celana pendek dan sandal. Iskahn memimpin lima ribu pria dan wanita kuat, dan Dark Knights Order mengikuti di bagian belakang guild ini. Mereka telah bergerak selama lima menit, tetapi ada jarak hampir seribu mel antara Guild Petarung Tangan Kosong dan Dark Knights Order.

“Para Knight menunggang kuda tetapi mereka itu lamban, seperti biasanya!”

Seorang pria kekar di samping Iskahn yang lebih tinggi dari si pemimpin. Tepat setelah mendengar cemooh si ketua, si pria kaku ini tersenyum muak.

“Itu tak bisa dihindari, Champion.”

Ia membalas ucapan Petarung Tangan Kosong Terkuat saat ini dalam bahasa kegelapan, si pria kekar melanjutkan ucapannya.

“Para knight dan kuda mereka mengenakan armor berat.”

“Benar-benar tak berguna!”

Setelah mendapat kesimpulan, Iskahn menatap ke depan lagi. Membentuk telapak tangan kanannya seperti teropong, ia lalu mengarahkan ke mata kanan miliknya.

Di pusat selaput matanya, retina miliknya membesar.

“Oh, prajurit Kerajaan Manusia juga mulai bergerak. Tampaknya mereka … tidak menuju kemari. Mereka sepertinya masih tetap ingin berlari?”

Membunyikan lidahnya.

Meskipun prajurit Kerajaan Manusia tampak seperti bintang, Iskahn bisa dengan sempurna menangkap aktivitas musuh yang jaraknya lebih dari limaribu mel. Ia berpikir sesaat, lalu berkata:

“Hei, Dampe. Perintah Kaisar itu untuk mengejar dan menangkap Putri Cahaya kan?”

“Sepertinya iya.”

“Baiklah…”

Ia menggosok hidung dengan ibu jarinya, lalu tersenyum penuh percaya diri.

“Ayo kita tambah kecepatan untuk sesaat. — Team Rabbit, maju kedepan!!”

Teriakan ‘OH!’ penuh dengan nada tinggi dan semangat menjawab perintah si ketua.

Tim yang terdiri dari seratus petarung ramping kini membentuk formasi rapi — katanya, otot mereka sekokoh cambuk dan memiliki volume yang imbang. Kepala mereka dibungkus oleh untaian tali berwarna putih.

“Ayo kita berkenalan dengan para Integrity Knights! Mulai!!”

OH!

“Martial Dance, langkah tujuhbelas, AYO!!”

Tangan kanan Iskahn dengan kuat memukul udara dan kakinya dengan keras menginjak tanah sambil berteriak.

Pendamping setianya, Dampe beserta seratus pria dari Team Rabbit melakukan hal yang sama secara serempak.

Zun, zat, zun zat.

Ooh, rah, ooh rah.

Langkah berirama dan teriakan semangat saling beriringan, tetesan keringat mulai membasahi rambut perunggu milik Iskahn, kemudian kulit kehitaman miliknya kini mulai berubah warna menjadi sedikit kemerahan. Hal yang sama juga terjadi pada teman-temannya.

Setelah lari-larian yang berlangsung selama satu menit, seratus dua petarung menghentikan gerakan mereka, uap mulai mengepul dari badan mereka.

Tidak, tidak hanya itu. Kulit mereka seperti kelihatan bersinar merah dalam gelapnya malam.

Petarung Tangan Kosong.

Sebuah suku yang selama ratusan tahun telah menemukan salah satu pemanfaatan bagian tubuh.

Baik swordsmen maupun pengguna dark art memfokuskan art mereka untuk ≪merusak target menggunakan Incarnation≫. Dengan kata lain, menulis kembali kejadian luar menggunakan imajinasi.

Akan tetapi, Petarung Tangan Kosong berpikir sebaliknya — menguatkan tubuh mereka sendiri menggunakan Incarnation. Melampaui batasan asli mereka, mereka akan menguatkan tubuh mereka menjadi pertahanan yang lebih dari baja, dan genggaman tinju mereka menjadi serangan yang bahkan bisa menghancurkan batu besar.

Dan tentu saja, mereka akan melatih kakinya untuk bisa berlari lebih cepat dari seekor kuda, dengan telanjang kaki.

“OOOOOH, RAAAAAH!!”

Dengan teriakan kuat tersebut, Iskahn mulai menendang tanah dan berlari kedepan. Dampe juga ikut beserta seratus Petarung lainnya.

Udara dibelakang mereka seolah terbelah; tanah terasa berguncang hebat.

* * *

“——!?”

Agar tetap dekat dengan para penjaga yang mulai bergerak menuju hutan untuk melakukan serangan kejutan, Alice berjalan agak belakang, lalu menoleh ketika ia merasa ada sesuatu yang aneh.

Ada yang datang.

Dan mereka cepat.

Ketika ia memfokuskan matanya, ia hanya bisa melihat kelompok seratus orang yang mulai mendekat dari pasukan musuh, mereka memotong jarak dengan kecepatan mengerikan. Mereka bahkan lebih cepat dari kuda tercepat. Untuk sesaat, Alice berpikir jika mereka adalah para Dragon Knight, tetapi ketika ia menyadari mereka ada banyak, dan fakta bahwa mereka bergerak di tanah.

“… Tampaknya mereka Petarung Tangan Kosong.”

Bercouli berguman di samping Alice.

“Mereka adalah…?”

Alice pernah mendengar nama tersebut sebelumnya, tetapi ini pertama kalinya ia melihat dengan matanya sendiri. Ini karena biasanya yang muncul di Puncak Barisan Pegunungan di Ujung kebanyakan adalah Goblin, Orc, dan yang jarang muncul, Dark Knight. Para Petarung Tangan Kosong tak pernah berusaha untuk menginvasi Kerajaan Manusia.

Bahkan, walaupun memiliki pengalaman seumur hidup, tampaknya Integrity Knight tertua juga pernah bertarung dengan para Petarung Tangan Kosong. Ia melanjutkan ucapannya agak gelisah.

“Mereka itu cukup menyusahkan. Biasanya sebuah pedang akan melukai tubuh mereka, tetapi mereka bisa menahannya.”

“Huh…? Menahan…?”

Tak mungkin ada orang yang bisa menahan sebuah tebasan, pikir Alice. Tetapi Bercouli mengangkat bahunya dan berkata lagi:

“Kau akan tahu maksudku jika bertarung dengan mereka. Lebih baik kita mengurus mereka bersama-sama nona kecil.”

“……”

Alice menelan ludah. Bercouli baru saja mengaku jika ia tak bisa menangani mereka jika seorang diri; mereka pastilah musuh yang sangat kuat.

Akan tetapi, apa yang dikatakan Komandan Knight selanjutnya menghancurkan rasa cemas dan semangatnya.

“Dan, omong-omong nona kecil… kau tak tahan jika telanjang, kan?”

“Haah!?”

Secara insting, Alice menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mengeluarkan suara nyaring.

“Ap-Apa yang paman katakan?! Tentu aku tak akan tahan jika bertelanjang!!”

“Bukan, bukan itu maksudku… Yah, maksudku seperti itu … aku hanya ingin berkata padamu jika armor dan pakaian tidak berguna menahan tinju mereka, dan mereka mungkin tidak akan menahan diri, jadi…”

Setelah berkata seperti itu sambil mengusap dagunya, Komandan Knight menggelengkan kepalanya dengan maksud, “Persiapkan dirimu”.

“Ngomong-ngomong, jika kamu ingin melawan mereka, siapkan Armament Full Control Art milikmu.”

“O… Oke.”

Kegelisahan mengisi tulang belakang Alice. seperti yang terlihat, regu musuh terdiri dari seratus pria. Jika ia memaksimalkan Fragrant Olive Sword hingga kekuatan penuh, mereka pastilah bukan musuh yang bisa dianggap enteng.

Akan tetapi, ada satu masalah.

Ketika ia melepaskan art ≪light pillar≫, dan ketika ia melawan pengguna dark art, ia telah menggunakan Armament Full Control Art dua kali, sehingga ia telah menggunakan Life Fragrant Olive Sword secara besar-besaran. Alice masih bisa menggunakan pedang tersebut jika untuk tebasan normal, tetapi ia khawatir berapa lama pedang miliknya bisa bertahan jika dalam serangan bentuk pecahan.

Hal yang sama juga berlaku pada Time Piercing Sword milik Komandan Knight. Dengan jarak yang cukup dekat, Alice telah melihat paman telah melakukan serangan berskala luas yang dengan segera menghancurkan ratusan Minion. Bisa dikatakan jika kedua buah pedang tersayang mereka butuh beristirahat dalam sarung pedangnya semalaman.

Tetapi dalam percakapan beberapa detik lalu, pasukan Petarung Tangan Kosong musuh telah mendekat hingga Alice mulai bisa melihat tubuh-tubuh berotot mereka. Ia tak bisa membiarkan mereka semakin mendekati para penjaga yang sedang bersiap-siap melakukan serangan penyergapan.

Alice menggigit bibirnya, mengangguk pada Komandan Khight yang akan turun dari batu besar yang menghadap ke utara.

Tepat setelah itu, sebuah suara malu-malu menjangkau mereka.

“Aku akan pergi.”

Alice berbalik terkejut, disisinya, mata Bercouli juga terbuka lebar.

Seseorang yang telah berdiri disana tanpa mereka sadari, adalah salah satu dari empat Integrity Knight yang ikut dalam pasukan pengecoh — selain Bercouli, Alice dan Renri.

Ia memiliki sosok tinggi nan langsing, serta mengenakan armor keabu-abuan. Rambutnya juga berwarna abu-abu bergaya ponytail, hingga tampak bahwa rambut tersebut adalah rambut palsu yang ditempelkan di kepalanya. Wajahnya bersih, tetapi tidak menunjukkan setetes emosi. Ia mungkin berusia sekitar duapuluh, seperti Alice.

Namanya adalah Sheyta Synthesis Twelve.

Divine Instrument yang ada di pinggangnya adalah ≪Black Lily Sword≫.

Akan tetapi, ia jarang memanggil nama pedangnya. Kapanpun setiap knight menyinggung namanya, mereka selalu memanggilnya dengan nama lain.

≪Si Pendiam≫.

Alice tak terkejut karena ia mengajukan diri melawan Petarung Tangan Kosong.

Alice terkejut karena ini pertama kalinya ia mendengar suara Sheyta Si Pendiam.

* * *

Melompati parit dan sungai kecil dengan begitu mudahnya, menghancurkan batu besar yang menghalangi hanya dengan sekali tendang, Iskahn, Dampe dan keseratus Petarung Tangan Kosong lainnya tetap melanjutkan lari cepat mereka.

Dalam sekejap, aku akhirnya akan bisa melawan para iblis ini, Integrity Knight. Menantikan momen menyenangkan tersebut, si Petarung muda membuat seringai senang.

Faktanya, Iskahn benar-benar tidak memiliki ketertarikan pada para Integrity Knight dari Kerajaan Manusia hingga ketika ia dipanggil untuk berperang. Ia menganggap jijik mereka, dengan anggapan bahwa mereka adalah para pecundang yang bersembunyi dibalik pedang dan armornya. Diantara manusia di Tanah Kegelapan, hanya ada satu Dark Knight yang ia hormati sebagai petarung sejati: Jendral Kegelapan Shasta yang telah tewas.

Tetapi ketika ia sedang bermeditasi sambil menunggu perintah untuk menyerang, ia telah merasakan semangat bertarung dan tenaga mengerikan milik para Integrity Knight, dan itu begitu menakjubkan. Setidaknya mereka tidak terlalu bergantung pada senjata kelas atas milik mereka, pikirnya.

Pastilah mereka memiliki tubuh yang telah terlatih dibalik armor dan pedang mereka.

Dengan harapan tinggi, Iskahn merasa sangat senang untuk menghadapi mereka.

Jadi.

Ketika ia akhirnya melihat seorang Knight di depan sebuah bukit dimana pasukan musuh berhenti beberapa menit lalu, mulut si ketua Petarung Tangan Kosong kini terbuka lebar, kaget atas sosok yang berdiri disana.

Begitu langsing.

Tampaknya ia adalah seorang wanita, jadi tubuhnya tidak kekar adalah hal yang wajar; tetapi, ia terlalu langsing. Meskipun ia memakai armor logam, ia terlihat lebih rapuh daripada petarung perempuan dari kelompoknya. Jika ia melepaskan armornya tubuhnya mungkin hanya seukuran para pengguna dark art. Bahkan pedang panjang yang tergantung di pinggangnya juga sangat tipis.

Mengisyaratkan teman-temannya untuk berhenti dengan tangan kanannya, Iskahn mendadak berhenti, menghilangkan debu yang berterbangan. Mengangkat alisnya yang agak keriting, ia membuka mulutnya.

“Siapa kau ini? Apa yang kau lakukan disini?”

Sedikit menggelengkan rambut lurus panjang keabu-abuan miliknya, si Knight perempuan memiringkan kepalanya. Ia melihat seperti sedang memikirkan apa yang ingin dikatakan — atau lebih tepatnya, apakah ia akan menjawab pertanyaan tersebut.

Alisnya, matanya, hidungnya, mulutnya, terlihat seperti terpahat oleh pisau tajam. Tanpa menunjukan setetes emosi, si knight perempuan menjawab pelan:

“Aku disini untuk menghentikanmu.”

Iskahn menghembuskan udara dari mulut dan hidungnya; tak ada yang tahu apakah ia sedang tertawa ataupun marah, tetapi ia menganggap enteng jawaban tersebut.

“Kau bahkan tak bisa menghentikan seorang anak kecil jika tubuhmu sepeprti itu. Oh, aku tahu… kau ini Knight yang mahir dalam art, kan?”

Ada keheningan lagi sebelum ia menjawab.

“Art bukanlah keahlianku.”

Emosi karena sikap musuh, Iskahn berkata: “Yah, terserah,” dan memanggil salah satu temannya. “Yotte, lawan dia.”

“Siap!!”

Seorang petarung perempuan kecil dari dalam formasi menjawab. Meskipun ia sedikit lebih kokoh daripada si knight perempuan. Melenturkan otot-ototnya dan berlari cepat kedepan, ia menunjukkan tatapan mata kejam yang sangat kontras dengan musuhnya.

“HAAH!”

Dari jarak lima mel jauhnya, petarung wanita tersebut menghantam udara, hingga menciptakan angin yang menggores rambut si knight perempuan.

Bahkan, tak ada secuilpun semangat bertarung dari wajah sang knight. Sebaliknya, ia menatap penuh keheranan dan berbisik pelan.

“… Hanya satu…?”

“Itu seharusnya ucapanku, dasar kerangka hidup!”

Mencibirkan bibir rapatnya, Yotte berteriak.

“Setelah aku memberimu pelajaran, aku akan memasukkan banyak daging kering ke mulut kecilmu itu sebelum aku membunuhmu! Cepat tarik pedangmu!!”

Dengan ekspresi muka ‘Sudah selesai ngomongnya’, si knight perempuan menggenggam gagang pedang di pinggang kirinya.

Shiyuran. Menatap pedang yang telah ditarik —

“…apa-apaan itu!?”

Iskahn yang telah mundur dan sedang menyillangkan tangannua kini berteriak.

“Tipis” adalah deskripsi yang cukup pantas. Sarung pedangnya sendiri terlihat tipis, tetapi pedang didalamnya hanya selebar satu cen, seukuran jari anak-anak. Pedang tersebut berwarna hitam pekat dan setipis kertas; menatapnya saja cukup sulit dalam langit tak berbintang. Sungguh rapuh.

Wajah Yotte berubah merah terisi emosi.

“… Kau pasti bercanda kan…”

Menyiapkan kuda-kuda, atau lebih tepatnya menendang tanah dengan kakinya, si petarung perempuan melaju lurus dan dengan cepat memotong jarak antara dirinya dan sang Knight.

Bahkan bagi Iskahn, gerakan tadi cukup mengagumkan. Petarung Tangan Kosong dalam Team Rabbit, tak seperti namanya, mereka adalah golongan elit yang tak hanya lincah, tetapi juga merupakan petarung yang handal.

Bibat!

Menebas udara, Yotte kini melaju.

Tak bisa menghindari serangan jarak pendek, si knight perempuan bertahan menggunakan pedang setipis kertas miliknya.

Suara yang timbul cukup keras, seolah bila kau menciptakan benturan antara dua buah objek logam. Bahkan benturan tersebut mengeluakan percikan bunga api.

Tiba-tiba setelahnya.

Pedang tersebut dengan mudah melengkung.

Iskahn tersenyum. Sebuah pedang biasa tak akan bisa menebas kulit seorang Petarung Tangan Kosong.

Anak-anak yang terlahir sebagai Petarung Tangan Kosong dimasukkan kedalam fasilitas pelatihan ketika mereka mencapai umur lima tahun. Latihan pertama mereka adalah mematahkan lempengan dan pisau besi dengan pukulan mereka.

Ketika mereka dewasa, lempengan besi akan diganti dengan besi yang telah ditempa, dan pisau akan digantikan dengan pedang panjang. Tak hanya disuruh untuk mematahkannya, mereka juga harus bisa bertahan dari tebasan tanpa menggunakan pelindung apapun. Melalui latihan tersebut, para remaja ini akan yakin jika pedang bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Aku tak bisa dilukai dengan pedang. Rasa percaya seperti itu — dengan kata lain, menggunakan Incarnation, tubuh mereka menjadi sekeras baja.

Sebagai ketua guild, Iskahn bisa menghentikan sebuah jarum berdiameter 2 cen hanya dengan bola matanya.

Walaupun Yotte, yang hanya petarung biasa belum bisa melatih Incarnation miliknya hingga menyamai miliknya, tetapi dia asalah salah satu dari sepuluh pemimpin dalam Team Rabbit. Tinjunya tak akan kalah dengan pedang apapun.

Apalagi melawan pedang menyedihkan tersebut.

Gambaran yang ada di kepala seluruh Petarung adalah: pedang hitam tipis yang melengkung tersebut akan patah dengan suara memalukan, dan sebuah pukulan akan bersarang pada wajah knight perempuan itu.

Thew.

Sebuah suara aneh, seperti cambuk yang memotong udara.

Yotte membeku, tinjunya hanya mengenai udara kosong. Tinjunya sedikit menyentuh pipi kanan sang knight, dan tangan si knight terangkat.

Iskahn tak bisa melihat pedang hitam dengan jelas dari posisinya.

— Apa-apaan? Sasaran sebesar itu bisa meleset.

Si pemimpin memaki. Bahkan jika Yotte menang dalam pertempuran tersebut, ia harus memulai latihan lagi dari awal dalam ruang kelas tiga. Tak peduli berapa keras pukulanmu, akan percuma jika tidak mengenai musuh …

Telapak tangan milik Yotte perlahan terbelah menjadi dua dari jari tengahnya.

“Appaa………”

Didepan Iskahn yang terheran-heran, potongan tersebut berlanjut dari pergelangan tangan menuju sikunya, lalu menuju tungkai lengan dan akhirnya menuju bahunya.

Menunjukkan potongan sempurna hingga ke tulang, otot, dan bahkan pembuluh darah yang paling kecil, bagian lengan kanan Yotte kini terjatuh ke tanah. Kemudian, darah mulai menyembur dari luka tersebut.

“— GHAAAAAAAAAAAA!!”

Mengeluarkan jeritan memilukan, Yotte ambruk ke tanah, Sembil memungut lengan kanannya.

Si knight perempuan meregangkan kembali tangannya, dan sedikit menghembuskan nafas.

Ketika ia tinggal di Katherdal Pusat, ≪Si Pendiam≫ Sheyta memang jarang berbicara. Ini bukan karena sikap introvert miliknya, maupun karena ia membenci orang lain.

Ia hanya ingin menghindari menjadi pusat perhatian para Integrity Knight lainnya — ia menyembunyikan sosoknya sendiri, berharap tak akan ada orang yang menantang dirinya ketika berlatih.

Jika ia memang harus menghunuskan pedangnya dengan orang lain, bahkan jika itu Komandan Knight Bercouli, ia bisa saja membunuh musuhnya.

Takut akan terjadi hal yang tidak-tidak, ia tetap diam selama ratusan tahun tinggal dalam Katherdal. Bahkan jika ia berbicara, keluarga penjaga dan si gadis pengoperasi disk elevator adalah sedikit orang yang pernah ia ajak bicara.

Sheyta adalah seorang swordswomen sejati, terkena synthesis ritual setelah memenangkan Turnamen Persatuan Empat Kerajaan.

Akan tetapi, hasil pertandingan pada tahun itu benar-benar terhapus. Alasannya adalah karena ia melanggar hukum dalam turnamen, terjadi pertumpahan darah disana: Sheyta telah membunuh setiap lawannya secara brutal.

Integrity Knight Peringkat Atas Sheyta Synthesis Twelve, dalam beberapa hal memiliki pikiran yang sama dengan Pemimpin Guild Petarung Tangan Kosong, Iskahn.

Iskahn hanya berpikir untuk memukul apapun maupun siapapun, sementara Sheyta tak tertarik pada hal apapun selain memotong sesuatu menjadi dua. Mengetahui hal itu, dari dalam hatinya, Sheyta tidak pernah menikmatinya.

Dia hanya memotong. Baik itu manusia maupun benda, ketika ia menghadapi sesuatu, Sheyta bisa dengan jelas melihat irisan potongannya. Kapanpun itu terjadi, ia tak bisa menghentikan dirinya untuk menyadarinya. Jika musuhnya adalah boneka kayu latihan, ia bahkan bisa melukainya hanya dengan menggunakan tangannya.

Sheyta selalu berusaha menahan sifat lapar untuk memotong miliknya.

Seseorang yang merasakan hasrat tersembunyi miliknya adalah Pemimpin Tertinggi Administrator.

Selama duaratus tahun, Administrator telah mencoba untuk menyimpulkan Teori Spacial Sacred Energy, yang mana kini sudah menjadi pengetahuan umum bagi pengguna art.

Sementara Pemimpin Tertinggi masih melakukan penelitian, ia menjadi tertarik dengan perang terbesar dalam Tanah Kegelapan, akhir ≪ Jaman Perang Besi Dan Darah ≫. Administrator jadi penasaran karena perang tersebut menjadi sia-sia kerena tidak ada orang yang mengumpulkan Sacred Energy tak terbatas yang dihasilkan dari pertarungan sengit antara lima ras penghuni Tanah Kegelapan, peperangan tersebut berlangsung di tanah gersang diantara Kerajaan Manusia dan Istana Kerajaan Obsidia.

Mengetahui hal tersebut, ia menjadi waspada agar tidak mengunjungi Tanah Kegelapan sendiri. Malahan, ia memanggil Knight Sheyta. Pemimpin Tertinggi telah membisikkan sesuatu pada Sheyta yang mana telah memperoleh julukan, ≪Si Pendiam≫:

— Pergilah kesana seorang diri dan carikan sesuatu dalam bekas lokasi peperangan. Hewan seperti iblis, atau hewan seperti itu yang tak terluka oleh perang lebih baik. Jika tidak, binatang besar lainnya juga boleh. Seekor burung atau serangga setidaknya. Temukanlah sesuatu yang mengandung Spacial Sacred Energy.

— Bawakan padaku, dan darinya. Aku akan buatkan sebuah Divine Instrument untukmu.

— Sebuah pedang dengan prioritas tertinggi, sebuah pedang yang bisa memotong apapun menjadi dua … bagaimana?

Sheyta tak bisa menahan godaan tersebut. Seorang Integrity Knight tak bisa menolak perintah yang datang dari Pemimpin Tertinggi, tetapi ia, tanpa menunggangi naga untuk melewati Barisan Pegununngan di Ujung, ia berjalan kaki ribuan kilo jauhnya menuju tanah yang kini telah menjadi abu, ia telah tiba di medan peperangan yang berbau darah.

Tak ada makhluk hidup yang selamat di lokasi kelima ras saling bunuh. Bahkan tak ada seekor tikus maupun gagak yang mampu bertahan, apalagi binatang buas.

Tetapi Sheyta tidak menyerah. Sebuah pedang yang mampu memotong apapun menjadi dua. Kata-kata tersebut telah tertanam dalam hatinya, membuat dirinya tak bisa berpaling ke hal lainnya.

Pada hari ketiga pencariannya —

Ia akhirnya menemukan sebuah bunga lili hitam, bergoyang-goyang bagaikan kertas tertiup angin.

Bunga kecil tersebut adalah benda yang bisa bertahan dalam sengitnya peperangam, terisi oleh Spacial Sacred Energy.

Pemimpin Tertinggi Administrator menciptakan sebuah pedang yang sangat tipis dari bunga yang dibawakan oleh Sheyta, lalu memberikan sebuah nama pada pedang tersebut ≪Black Lily Sword≫.

Setahun setelahnya, setelah membunuh seorang Integrity Knight dalam sebuah duel, ia dibekukan atas permintaannya sendiri.

Sheyta tak tahu apakah ia tak memiliki simpati maupun kesadaran ketika ia memotong tangan si Petarung Tangan Kosong perempuan tersebut.

Dia juga tak tahu mengapa ia mengajukan diri untuk menjaga tempat ini sepuluh menit lalu, meminta pada Komandan Knight dan memecahkan keheningannya. Terlebih lagi, ia tak menyadari motivasi apa yang membuatnya ikut dalam Pasukan Pertahanan setengah tahun yang lalu, lalu ikut serta dalam rapat yang mengundang semua Knight

Apakah itu karena aku berharap bisa melindungi Kerajaan Manusia, seperti Knight lainnya?

Ataukah karena aku hanya ingin memotong?

Ataukan — pedang ini membuatku ingin memotong?

Yah, itu tak penting lagi saat ini. Seperti inilah kondisi sekarang, tak ada yang bisa menghentikan pedang ini. Semoga saja tak ada banyak korban yang berjatuhan.

Sheyta dengan tenang mengangkat kepalanya, lalu memandang para Petarung Tangan Kosong yang terdiam ketakutan pada posisinya.

Tanpa adanya penyesalan maupun rasa takut, si Knight abu-abu menggenggam pedang hitam tipis miliknya lalu melaju menuju ratusan Petarung Tangan Kosong.

* * *

“… Sungguh kemampuan mengerikan.”

Pada komentar serak Alice, Bercouli juga mengimbuhi dengan suara rendah.

“Betul… aku akan katakan padamu tapi jangan ceritakan orang lain ya. Setengah tahun yang lalu, ketika aku membangunkan Shyeta dari tidurnya, aku sebenarnya sedikit takut.”

“Aku tak pernah tahu. Aku tak pernah tahu jika Sheyta-dono adalah orang yang mahir …”

Dibawah bukit, pertempuran antara seratus Petarung Tangan Kosong dan Integrity Knight Sheyta sedang berlangsung. Lebih tepatnya, pembunuhan besar-besaran.

Meskipun tebasan berasal dari pedang yang sangat tipis, perut musuh yang tertebas akan terpisah dari tubuhnya dan terjatuh ke tanah.

Sementara terkagum-kagum, Alice sedikit memperhatikan setidaknya ia harus memiliki tubuh langsing seperti tubuh Sheyta.

Alice tak bisa merasaka niat membunuh milik Sheyta. Tidak hanya itu, ia juga tak merasakan rasa permusuhan dari Sheyta.

Oleh karena itu, bagaimana mungkin ia bisa bertarung sehebat itu?

“Tak usah dipikirkan. Meskipun aku selalu memperhatikannya selama lebih dari seratus tahun, aku masih tak bisa memahaminya. Tak ada apapun.” Si Komandan Knight berbisik dan berbalik.

“Kita bisa meninggalkan pertarungan ini padanya. Pasukan utama musuh akan tiba sebentar lagi; kita harus segera menyiapkan serangan dadakan.”

“… Oke.”

Mengangguk dan berpaling dari pertarungan dibawahnya, Alice mengikuti Bercouli.

* * *

Sekitar seribu kilol di selatan dari Bercouli dan Alice, yang sedang menuruni bukit, hutan gundul akhirnya berakhir, dimana beberapa semak-semak tumbuh disekitarnya. Formasi utama dari pasukan pengecoh bersembunyi di semak-semak.

Mereka terdiri dari seribu Penjaga, duaratus Ascetics, dan pasukan persediaan yang terdiri dari lima puluh orang. Mereka harus melawan limaribu Petarung Tangan Kosong dengan jumlah mereka yang sedikit.

Integrity Knight Renri telah memerintahkan para penjaga dan regu Ascetics untuk bersembunyi di bayang-bayang pepohonan, lalu membagi mereka menjadi dua puluh tim. Tim persediaan telah membuat jalur yang membentang di seluruh area. Tujuannya adalah menyempitkan jarak serang pada musuh yang berjalan lebih dalam ke hutan.

Renri telah mendengar dari Komandan Knight jika pedang tak akan efektif melawan Petarung Tangan Kosong, dan ia juga telah mendengar kelemahan musuh.

Para Petarung Tangan Kosong memiliki pertahanan buruk pada Sacred Arts.

Di semak-semak bagian utara dimana tak ada lagi tanaman yang tumbuh, tak ada cukup Sacred Energy untuk melakukan art tinggi, tetapi udara di semak-semak cukup tebal. Para regu Ascetics yang bersembunyi dibalik pepohonan akan bisa melakukan serangan kejutan secara bersamaan, lalu mereka akan mundur ke selatan sambil melindungi para penjaga. Dari atas, lima ekor naga akan membakar musuh dengan apinya saat kondisi menjadi kacau.

Bersiap untuk mundur seketika, Renri menempatkan ke delapan kereta barang persediaan di bagian paling selatan semak-semak tersebut. Ia yakin jika semakin jauh dari garis serang, semakin aman kereta tersebut.

Akan tetapi, ketika Renri akan memantapkan rencana tersebut, kelima penjaga yang menjaga kereta barang tiba-tiba tewas satu persatu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

***

Sebuah bayangan bergerak tanpa suara, tubuhnya tertutup oleh armor hitam mengkilap serta mengenakan helm bertanduk.

Dihadapannya, seorang Penjaga dari Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan penuh waspada. Tetapi, lihatlah sedikit ke belakang, semua penjaga seharusnya bisa melihat tempat tersebut.

Si bayangan memasuki titik butanya, mendekati seolah melayang. Sebuah pedang panjang ada di pinggangnya, tetapi ia tidak menariknya. Malahan, ia mengangkat pisau kecil yang ada di tangan kanannya.

Ia merentangkan tangan kirinya bagaikan ular hitam, menutupi mulut dan hidung si penjaga.

Pada saat yang sama, tangan kanannya dengan seketika memotong tenggorokan sang korban.

Dalam keheningan, Life miliknya semakin berkurang. Tepat setelah tubuh si penjaga kehilangan kekuatan, si bayangan hitam mendorongnya ke semak-semak terdekat.

Dibalik tudung hitam yang menutupi wajahnya, sebuah suara yang hampir tak bisa didengar keluar.

“Five down.”

Si bayangan tertawa.

Ini bukanlah Sacred Tongue Kuno.

Bayangan ini sebenarnya adalah salah satu dari tiga orang dunia nyata yang ada di Underworld. Dia adalah Vassago Casals, jendral dibawah pimpinan Gabriel Miller yang berperan sebagai Kaisar Vector.

Sekitar satu jam lalu, Vassago melempar botol anggur merah miliknya untuk kesekian kalinya. Sementara itu, ia memandang art skala besar yang mengalahkan sebagian besar prajurit Tanah Kegelapan, ia akhirnya mengatakan sesuatu yang terdengar seperti sebuah saran.

“Hei, bro. Bagaimana kalau kita jangan terlalu berharap pada orang-orang ini. Sebaiknya kita coba sedikit kemampuan kita?”

Gabriel memutar matanya pada Vassago, mengangkat alisnya lalu menjawab.

“Oke, kau boleh bergerak.”

Instruksi yang keluar setelahnya bukanlah untuk menyerang lembah yang dilindungi Pasukan Kerajaan Manusia, tetapi untuk pergi menjauhi medan peperangan, ke bagian selatan.

Ketika musuh menghanguskan pasukan Demi-human dengan menggunakan laser seperti dalam film sci-fi, Gabriel telah memprediksi jika musuh akan memasuki Tanah Kegelapan.

Tetapi ketika Vassago mendengarnya, ia bertanya-tanya mengapa ia harus pergi ke selatan, tidak ke utara. Mendengar jawaban “Lihat, ada area kosong disana”, ia malahan semakin bingung. Tetapi karena musuh beneran datang kesana, ia mengakui kesalahannya dan mulai bergerak.

Tak peduli seberapa kuat pasukan Kerajaan Manusia, mereka akan berhenti jika persediaan makanan mereka hilang. Untuk melanjutkan ‘Waktu Membunuh’ yang ia lakukan pertama kalinya sejak dive ke dalam dunia ini, ia memandang hutan tersebut.

Setelahnya, ia menemukan kereta persediaan yang terselimuti cabang-cabang dan dedaunan.

Menjilat lidahnya yang tertutup topeng, si pembunuh mulai bergerak lagi.

Kemudian, sesuatu bergerak dibalik kereta tersebut. Ia berhenti mendadak dan bersembunyi dibalik sebuah pohon.

Seorang gadis muda berkulit cantik berambut kecoklatan, yang mana bukanlah manusia Tanah Kegelapan menjembulkan kepalanya dari atap kereta. Mungkin karena ia menyadari sesuatu karena ia melihat sekeliling dengan tatapan gelisah.

Meskipun Vassago masih tetap terdiam di posisi, tidak butuh waktu lama bagi si gadis untuk turun dari kereta. Ia membisikkan sesuatu pada seseorang didalam kereta, lalu ia perlahan mulai berjalan.

Mengenakan sedikit equipment pertahanan di atas pakaian abu-abu yang tampak seperti seragam sekolah, si gadis berjalan menuju tempat persembunyian Vassago.

Tak bisa menahan gejolak, si assassin menggenggam pisau di tangan kanannya semakin kencang.

* * *

“— JANGGAAANNN…”

Melihat Para Petarung kelompoknya yang dikalahkan dengan begitu mudahnya, Iskahn berteriak penuh kemarahan dalam keterkejutannya.

“JANGAN TERLALU SENANG, SIALAN!!”

Menendang tanah cukup keras, ia melaju kedepan.

Api muncul dari kepalan tangan kananya ketika ia melaju.

Ia memukul mengincar leher si Integrity Knight abu-abu. Percikap api muncul dari tinjunya, menciptakan lintasan api menuju targetnya.

Pada saat itu, si Knight baru saja selesai melakukan tebasan dengan pedang di tangan kanannya; ia mencoba untuk menahan pukulan Iskahn dengan sarung tangan kirinya.

— Dihadapan pukulanku … semua armor bagaikan kertas belaka!!

Serangan berlapis Incarnation mendarat di telapak tangan si Knight perempuan; percikan api terpancar ke segala arah.

Setelahnya, sarung tangan abu-abu hancur dengan bunyi retakan keras, lalu bagian armor di langan dan pundak kirinya juga hancur.

Banyak luka goresan muncul pada kulit putih mulus di tangan kirinya; tetesan darah mulai mengalir bagaikan jam pasir. Namun, mengherankannya, ia tak bisa mendengar bunyi tulang hancur.

Meskipun seharusnya serangan tersebut sangat menyakitkan, si Knight perempuan hanya menunjukkan sedikit ekspresi keheranan, tangan kanannya menebaskan pedang sangat tipis sambil memegangi lengan kanan Iskahn.

Kiiin! Suara benturan logam terdengar nyaring, dan percikan bunga api tersembur lagi dari siku si Petarung Tangan Kosong.

Sumber kekuatan Petarung Tangan Kosong adalah rasa percaya diri tak bisa terluka pada semua pedang. Untuk bisa mendapatkan rasa percaya diri semacam itu, mereka melilitkan tubuh mereka hanya dengan ikat pinggang, mengekspos kulit mereka. Saat ketika mereka bergantung pada equipment pertahanan apapun, Incarnation mereka akan melemah.

Namun, Iskahn mencoba untuk menahan pedang hitam yang akan memotong lengan kanannya hanya dengan ketetapan hatinya.

Tetapi.

Rasa dingin yang menyentuh kulitnya benar-benar berbeda dengan pedang yang pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan ketika ia menerima tebasan pedang-pedang dengan kutitnya saja.

Pedang setipis kertas ini tidak hanya besi dingin, tetapi ia memiliki keinginan kuat. Bukannya terisi keinginan untuk menang, melainkan pedang ini memiliki rasa haus untuk membelah.

Merasakan sensasi ini, Iskahn secara reflek memukulnya dengan tangan kirinya.

Po! Menghantam udara, pukulan miliknya hanya memukul ruang kosong dimana posisi si Knight wanita berada beberapa saat lalu.

Itu benar-benar kelincahan luar biasa, tetapi ia tak benar-benar menghindari pukulannya: pukulan miliknya menggores armor pelindung dadanya. Ketika si Knight melompat menghindar, pelindung dada tadi mulai retak seperti sarung tangannya.

Tetapi Iskahn juga bukannya tidak terluka.

Di bagian bawah sikunya, di titik dimana ia menyentuh pedang walaupun hanya sedetik, ada bekas goresan yang sedikit dalam. Tetesan darah mulai mengucur dari pusat luka. Hanya setetes — namun tak berhenti.

Menjilati luka tadi agar menutup, si Petarung muda tersenyum keji.

“… Hei, sialan. Kau ini kelihatan berbeda dari penampilan luarmu ya, huh.”

Si Knight abu-abu membalas agak gak nyambung.

“… Aku ini lebih tua darimu …”

“Huh? Terserahmu lah. Integrity Knights sepertimu itu monster yang tak akan menua sampai puluhan tahun kan? Apa kau ingin aku memanggilmu nenek?”

“……”

Dibawah bulu matanya, wajah si knight perempuan berubah marah, namun dengan cepat kembali tak berekspresi.

“… Aku memaafkanmu. Kau ini sungguh keras. Aku sedikit kesulitan memilih area untuk ditebas.”

“Tsk… Apa sih yang kau bicarakan?”

Iskahn memutar lidahnya, merasakan semangatnya muncul dari kelakuan musuhnya. Akan tetapi, ketika ia melihat para Petarung Tangan Kosong yang ada di sekitarnya, ia mulai marah.

Duapuluh dari mereka, baik itu laki-laki maupun perempuan kini masih mengerang kesakitan karena lengan maupun kaki mereka telah terpotong oleh pedang yang sangat tipis tersebut. Hal yang paling tak bisa dimaafkan adalah, tak hanya melukai teman-temannya tetapi ia membiarkan mereka hidup. Tak ada satupun teman-temannya yang kehilangan kepala. Dengan kemampuan yang ia miliki dan ketajaman pedang tersebut, si Knight bisa dengan mudah membunuh mereka jika ia mau.

“… Jadi kau menganggap kami seperti boneka kayu yang biasanya kau gunakan untuk latihan. Tak bisa dimaafkan… aku akan mebuatmu babak belur!!”

Zun, zat, zun!!

Sisa-sisa Petarung Tangan Kosong yang masih bisa bergerak menggunakan Martial Dance. Teriakan semangat terdengar dalam dentuman tanah yang bergetar.

Ooh, rah, oorarah. Ooh, rah, oorarah.

Ketika mereka menghantam dan menggetarkan tanah, para Petarung Tangan Kosong meningkatkan Incarnation miliknya. Cucuran keringat mengaliri kulit tembaga mereka, berubah menjadi percikan bunga api.

Sang Integrity Knight tidak bergerak, ia menunggu Iskahn untuk mencapai kondisi paling prima.

— Benar sekali.

Si juara Petarung kini telah menghentikan langkahnya; api menyala dari rambut keriting emasnya, dan cahaya terang muncul dari kedua telapak tangannya.

Si Knight perempuan yang menjadi musuhnya masih tetap diam. Di tangan kanannya, pedang hitam super tipis miliknya mengeluarkan energi dingin.

“Bersiapplaahhhh, SIAALLAAANNN!!”

Mengeluarkan pukulan udara dengan telapak tangannya, Iskahn dengan segera menipiskan jarak antara mereka.

Si Knight perempuan berusaha mengayunkan pedang di tangan kanannya.

Thew.

Tepat sebelum tebasan pedang hitam menyentuh bahu milik Iskahn —

Karena lebih cepat dari ayunan pedang, sebuah hantaman dari Petarung Tangan Kosong menghantam kaki kiri si Knight. Bukan sebuah pukulan, melainkan sebuah tendangan. Tendangannya mengenai langsung pelindung kaki si knight.

Secara reflex, Sheyta menghentikan pedangnya dan terhuyung kedepan untuk menghindari terjatuh tetapi pelindung kaki kanannya hancur berkeping-keping. Rok disekitar pinggangnya sobek, kaki langsing nan lembut miliknya kini terekspos.

“Jangan berpikir jika para Petarung Tangan Kosong hanya menggunakan pukulan!!”

Menyeringai penuh percaya diri, Iskahn mulai melancarkan tendangan menggunakan kaki kirinya.

Si Knight memutar pinggangnya, mencoba untuk menahan tendangan tersebut menggunakan pedangnya.

Saat pedang dan kaki saling berbenturan, bunyi benturan terdengar ditemani percikan bunga api. Pemimpin Petarung Tangan Kosong menarik kakinya karena merasakan rasa sakit, lalu ia melancarkan tendangan menggunakan kaki kanannya.

Bermandikan api merah, tendangan tersebut menghantam pelindung dada di bagian tengah.

Kaboom! Sebuah ledakan hebat membuat mereka berdua terlempar mundur. Iskahn berguling di udara dan mendarat di tanah.

Kaki kirinya terserang rasa sakit. Ia menatapnya.

Pada kaki kerasnya yang bisa menghancurkan baja, sebuah luka tebasan terukir disana. Darah merah kehitaman mulai keluar, mengalir menuju tanah.

Tertawa atas luka tersebut, ia mulai mangamati musuhnya.

Si Knight perempuan juga bisa menahan serangan tersebut, tetapi ia menggenggam bagian dadanya dan terbatuk beberapa kali. Pelindung dadanya yang sudah retak, kini hancur seketika; pelindung tangan kanan dan pakaian keabu-abuan yang menutupi dadanya adalah pakaian yang tersisa di tubuh atasnya. Sedikit juga yang tersisa di tubuh bagian bawahnya: hanya rok yang sudah sobek dan pelindung kaki bagian kanan. Karena terlahir di Kerajaan Manusia, kulit putih bagaikan salju miliknya tampak terang dalam kegelapan ini. Melihat ini, Iskahn tersenyum:

“Sekarang kau mirip seorang petarung, tapi tak ada otot sama sekali. Sana makan dan berlatih lagi, sialan.”

Para Petarung Tangan Kosong yang ada disekitarnya juga mulai mengejek, tetapi si Knight dengan tenang menyobek pakaian yang menggantung di bahu kirinya lalu mengangkat pedang di tangan kanannya. Kemudia berbicara.

“… Tetapi kau kelihatan sedikit lembut ya.”

“… APA YANG KAU KATAKAN?”

Lubang hidungnya terbuka tertutup lalu ia menggeramkan giginya.

Bahkan ketika ia menggertak, Iskahn merasakan jika nafasnya menjadi sedikit lebih cepat.

Tak mungkin semangatku akan menurun hanya dengan melihat seseorang membuka pakaiannya. Perempuan di kelompokku menunjukkan lebih banyak kulitnya setiap hari, hanya anak kecil yang gerogi melihatnya.

Seluruh dunia ini hanya berisi musuh yang harus aku kalahkan dengan tubuhku, meskipun itu perempuan langsing yang memiliki kulit putih dari negeri asing.

“Tak ada jalan lain … aku akan menunjukkan kemampuanku!!”

Mengaum seperti serigala, Iskahn mengacungkan jari tengahnya pada si Knight perempuan:

“Tunjukan padaku seluruh kemampuanmu, sialan!! Jangan tunjukkan wajah ngantukmu itu!!”

Setelah berkata seperti itu, si Knight menatap kebingungan lagi, lalu ia menyentuh pipinya sendiri dan dahinya menggunakan telapak tangan kirinya. Mengubah suduh pandang alisnya menjadi agak genit, ia berkata:

“Tunjukan seluruh kemampuanmu … kumohon.”

“…… Yeah, Akan aku tunjukkan.”

Aku akan berpikiran tidak-tidak jika mengikuti tingkahnya.

Iskahn menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan di perutnya, dan membungkukkan badannya.

Meletakkan tinjunya ke pinggang, dan mengarahkan tinju tangan kanannya pada musuh, ia lalu mengeluarkan nafas yang tadi telah dikumpulkan. Melakukan gerakan nafas tadi beberapa kali, kuda-kuda kakinya mulai menyala merah, menarik kekuatan dari dalam tanah. Tenaga yang ditarik ke tubuhnya dan berkumpul ke tinju miliknya.

Api kemerahan yang tadi menyala kini berubah menjadi kekunigan, dan akhirnya berubah menjadi api biru keputihan.

Kini tinju kanan Iskahn memiliki suhu yang dapat membakar udara, tinju tersebut membuat bunyi nyaring.

Si Knight perempuan agak menyamping, melebarkan tangan kirinya ke arah kanan dan jari lainnya erat menggenggam pedang dan siap untuk menebaskan pedang tipis di tangan kanannya. Lengannya membuat posisi garis lurus, memberikan kesan siap melancarkan kekuatan penuh.

Ketegangan dalam diri Iskahn begitu kuat terasa hingga ia merasa telah terbelah dari atas kepala hingga perutnya. Namun, ia malahan menyeringai senang.

— Ia-lah yang pertama akan terbakar tinjuku.

Keduanya bergerak dalam saat yang sama.

Pedang sang Knight membuat tebasan berbentuk bulan sabit di udara.

Tinju si Petarung Tangan Kosong menjadi komet berwarna putih. Pada saat serangan keduanya bertemu, gelombang kejut meledak, membuat tanah mereka berpijak berlubang. Para Petarung yang mengelilingi keduanya terpental kebelakang.

Pedang dan Tinju mereka hanya saling sentuh, namun mereka bertarung dengan sepenuh hati. Melampaui batasan mereka, tenaga kedua serangan tersebut berubah menjadi cahaya yang tersorot ke langit malam.

Dengan kemampuan bertarung milik Sheyta, ia bisa saja mengalahkan musuhnya tanpa perlu membuktikan tenaga brutal milik sang musuh.

Sedikit mengejutkan Sheyta, Incarnation kuat milik petarung muda ini berada pada level Knight Peringkat Atas. Bahkan, ia mengkonsentrasikan seluruh Incarnation miliknya ke kepalan tangan hingga tinju dan bagian tubuh lainnya berubah. Tampaknya ia bisa saja menghindari pukulan lurus dan memotong kepala sang musuh sekarang.

Sheyta, akan tetapi tidak memilih untuk melakukan hal tersebut; malahan, ia menerima pukulan musuh tersebut. Tak ada alasan dalam tindakan ini; ia hanya mengikuti tubuh dan pedangnya.

Sheyta sedikit bingung akan dirinya. Sejak seratus tahun lalu, ia telah menyadari jika ia tidak memiliki kualitas mental seperti Knight lainnya, seperti kebanggaan dan kebangsawanan. Ia akan memotong jika ia ingin, dan itulah yang selalu ia inginkan.

Seharusnya maknanya sama antara “menebas” dengan “membunuh”. Hanya ketika ia ditugaskan dalam misi mengamankan Puncak Barisan Pegunungan di Ujung, Sheyta bisa menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Ia telah membunuh banyak nyawa dari para Dark Knight maupun para Goblin dengan memotong leher mereka tanpa ampun.

Ia telah menekan sifat alaminya yang begitu mengerikan, faktanya, itulah mengapa ia dipanggil ≪Si Pendiam≫, tetapi mengapa ia tidak memilih untuk membunuh dalam pertempuran ini? Sheyta bertanya-tanya dalam hati.

Bahkan itu terlalu memusingkannya.

Sekarang, pada saat ini hanya ada dirinya sendiri, Black Lily Sword dan tinju dihadapannya.

— Sungguh keras. Dapatkah aku memotongnya?

— Sungguh menyenangkan.

Iskahn melihat sedikit bibir tak berwarna milik si Knight bergerak, sebuah senyuman di wajahnya.

Dan ia tahu jika senyum tersebut bukan untuk menghina dirinya — maupun pertarungan ini.

Alasannya adalah ia juga memiliki senyum yang sama di wajahnya.

— Jadi meskipun kau terlahir sebagai sosok lembut penduduk Kerajaan Manusia, tetapi kita memiliki sifat yang sama, huh.

Click. Getaran kecil terasa dalam tinjunya.

Iskahn merasa jika bunyi retakan tersebut bukan berasal dari pedang hitam milik musuh, tetapi suara tersebut berasal dari tulangnya yang retak.

— Gawat. Bahkan serangan ini tak bisa mengalahkannya, huh.

— Tetapi, well, sungguh petarungan menyenangkan.

Jika tinjunya benar-benar terpotong oleh si pedang hitam, pedang tersebut juga pasti akan menebas seluruh tubuhnya. Meskipun ia telah memikirkan akan terjadi hal tersebut, Iskahn tak merasakan rasa takut. Aku tak akan menemui musuh sehebat dirinya untuk kedua kali. Jika seperti itu, ini bukanlah cara bodoh untuk tewas.

Tepat setelah ia berpikir seperti itu, dan ketika ia akan memejamkan mata untuk beristirahat.

Takanan yang mendorong tinjunya perlahan berkurang.

Terdorong hingga batasnya, tekanan tersebut kini buyar, menerbangkan Iskahn dan si Knight bagaikan lembaran daun. Ia akhirnya menyadari mengapa Incarnation milik musuhnya melemah. Sosok besar mencoba untuk memasuki celah diantara keduanya.

Terduduk di tanah, Iskahn meneriaki sosok besar yang juga terlempar seperti dirinya.

“Dampe, kau sialan!! … Lihat apa yang telah kau perbuat!!”

“Waktu habis, Champion.”

Kata si wakil, sedikit membuka mata yang biasanya hampir tertutup. Ia berdiri, mengangkat lengan kanan berotot miliknya, dan menunjuk ke bagian utara.

Ketika Iskahn memandang arah yang sama, ia bisa melihat pasukan utama Petarung Tangan Kosong dan Dark Knight Order yang ada dibelakang hampir saling mendekat. Benar, sebagai pemimpin pasukan, aku seharusnya tidak terlalu terobsesi dengan petarungan pribadi dalam peperangan menggunakan pasukan seperti ini. Tetapi—

Seperti orang gila, ia kini berbalik. Dibalik debu yang beterbangan, sang musuh yang hampir kehilangan seluruh equipment dan pakaian miliknya kini mengembalikan pedang rampingnya ke sarung pedang, seperti ia tak peduli.

Sword Art Online Vol 16 - 231.jpg

“Hei, sialan! Jangan kau pikir telah menang seperti ini!!”

Si Petarung muda berteriak, lupa bahwa beberapa saat yang lalu ia berniat untuk mati.

Melambaikan rambut abu-abu miliknya, si Knight menatap Iskahn, dan menggelengkan kepalanya seolah mencari kata-kata yang tepat.

“Umm, itu, ‘sialan’… Bisakan berhenti menggunakan kata tersebut?”

“Lihat… di situasi seperti ini, aku tak tahu mengapa kau akan lar …”

Pada saat itu, hembusan angin kuat bertiup dari arah selatan. Pandangan Para Petarung yang mengelilinginya kini terpaku padanya.

Iskahn secara tak sadar berkedip. Dalam pandangannya, seorang Knight sedang mengendurkan tangannya, dan tiba-tiba seekor binatang raksasa turun. Sisik abu-abu miliknya bagaikan bintang; ini pastilah seekor naga.

Ketika sang Knight menggenggam kakinya, si Naga langsung terbang ke langit.

“Hei kau! … Katakan namamu sebelum melarikan diri!!”

Terganggu oleh suara kepakan sayap, suara lembut keluar dari mulutnya.

“… Aku tidak melarikan diri. Namaku… Sheyta Synthesis Twelve.”

Ia berdiri dibantu oleh uluran tangan Dampe; Iskahn menatap sosok sang naga yang kini menghilang dalam gelapnya malam, dan memutar lidahnya sekali lagi.

Jika ia boleh, ia akan dengan senang hati melawan musuh kuat sepertinya lagi setelah setahun berlatih, karena ia manyadari jika ia masih harus banyak berlatih.

Akan tetapi, Iskahn cukup matang untuk mengetahui jika hasrat pribadinya akan menjadi sia-sia dalam strategi peperangan.

Ketika timnya berkumpul dengan pasukan utama Petarung Tangan Kosong, kita akan mengalahkan musuh bersama dengan para Dark Knights. Tak mungkin ada kesempatan mereka berdua untuk bertarung lagi.

Jika aku bisa mendapatkan ≪Putri Cahaya≫ —

Setelah sesaat, Iskahn memutar lidahnya untuk ketiga kalinya, kali ini untuk dirinya sendiri setelah terlintas pikiran iseng.

— Betapa dungunya aku ini. Memohon Kaisar untuk menyelamatkan nyawa Sheyta sebagai hadiah? Seluruh suku pasti akan geram padaku.

Setelah menyadarkan diri, Iskahn menuju temannya yang membawa obat-obatan untuk menyembuhkan luka kaki kirinya.

Bagian 2[edit]

Benar.

Kemarilah.

Vassago sedang memikirkan kesenangan akan melakukan serangan kejutan, seperti rasa permen dalam mulutnya.

Persembunyianku sempurna. Meskipun armor logam ini memiliki beberapa kekurangan, armor tersebut masih bisa membuatnya menyatu dengan latar semak-semak.

Si gadis berambut coklat dengan penuh penasaran masih mengamati keadaan sekitar, tetapi matanya sedikit memperhatikan semak-semak tempat Vassago bersembunyi. Tinggal 7 meter… 5 meter…

— Bagus. Terasa menyenangkan. Aku sangat merindukan sensasi ini.

Mendekati jarak 3 meter, si gadis tiba-tiba berbalik ke kanan dan berjalan menuju tempat Vassago bersembunyi.

Ia bisa saja menunggunya untuk lebih dekat, tetapi, yah, hal itu tidak akan menguah keadaan.

Vassago keluar dari kegelapan tanpa membuat suara dan menuju belakang si gadis, mengulurkan lengan kirinya. Membekap mulut dan dengan enteng menggorok leher menggunakan pisaunya —

Apa yang dibayangkannya sungguh nyata hingga ia tak bisa bereaksi pada ujung pedang yang di hunuskan didepan matanya.

“… Whoa!”

Seketika ia mundur, ujung pedang tersebut sedikit menggores pipinya dimana kulitnya tak terlindungi.

Si gadis, yang tampaknya tidak menyadari keberadaannya, tiba-tiba menebas pedang dari pinggang kirinya menuju kearah Vassago tanpa berbalik. Itu benar-benar serangan balik yang luar biasa. Jika ia sedikit ke depan, tenggorokannya pasti akan teriris menjadi dua.

Setelah berputar, si gadis menggenggam pedangnya erat-erat. Vassago tak bisa melihat rasa terkejut dalam mata safir miliknya, meskipun mata tersebut menunjukkan rasa takut dan cemas. Vassago mengakui jika keberadaannya kini terlihat.

Memutar pisau dalam tangan kanannya, ia membuka mulutnya.

“Hey, baby.”

Ia akhirnya menyadari jika bahasa inggris tidak akan dipahami, lalu ia menggunakan bahasa jepang yang cukup fasih.

“Bagaimana kamu tahu keberadaanku, gadis kecil?”

Si gadis membalas dengan ucapan dingin sambil masih menggenggam pedangnya penuh kewaspadaan.

“…Senpai-ku pernah berkata: jangan terlalu bergantung pada matamu; rasakan juga mengunakan tubuhmu.”

“S-senpaaai…?”

Ia berkedip kebingungan, Vassago merasakan sengatan kenangan yang sangat lama. Aku pernah mendengar kata-kata tersebut sebelumnya …

Tetapi sebelum ia bisa berpikir jernih, si gadis mengambil nafas dalam dan mengeluarkan teriakan yang sangat nyaring.

“Musuh!! Ada musuh — !!”

Ia memutar lidahnya, lalu memasukkan pisau pendeknya ke pinggangnya.

Yah, kukira ini adalah akhir penyelundupanku.

Vassago mengangkat lengan kirinya dan berteriak juga.

“Kawan-kawan… saatnya bergerak!!”

Kali ini, mata si gadis yang terbuka lebar karena terkejut.

Dari semak-semak berjarak sepuluh meter dibelakang Vassago, ranting-ranting tumbuhan mulai bergerak-gerak; gerakan tersebut berasal dari tigapuluh pasukan berarmor ringan milik pasukan Dark Knight yang makin mendekat.

Seorang gadis lain melompat dari dalam kereta, bersama dengan sekitar sepuluh atau lebih Penjaga yang datang dari arah utara ketika mendengar teriakan si gadis, mereka semua terkejut.

* * *

“Apa… serangan musuh dari arah belakang!? Dan berjumlah sekitar tiga puluh orang!?”

Integrity Knight Renri bertanya, sulit mempercayai jika ada panggilan dari pasukan persediaan.

Ini buruk — Ini buruk!

Jika kereta barang diserang dan bahan persediiaan dibakar maupun dihancurkan, seluruh pasukan tak akan bisa melanjutkan perjalanan. Tak hanya itu, ada tiga orang disana: dua gadis yang berjanji akan melindungi kereta tersebut, dan juga seorang pemuda.

Aku harus mengirim tim penyelamat yang terdiri dari seratus orang, tidak, dua ratus orang. Tetapi jika aku membagi pasukan utama lebih lanjut, mereka mungkin tak akan bisa menahan pasukan musuh yang akan datang dari utara. Lalu, mereka akan kalah karena jumlah musuh yang sangat banyak.

Tunggu, mungkinkah serangan kejutan kami sudah diketahui? Jika iya, maka sebaiknya aku harus memerintah seluruh pasukan agar bergerak ke selatan dan menunggu kesempatan lain?

Tak bisa mengambil kesimpulan, Renri terdiam kaku. Lalu, sebuah suara serak sampai di telinganya.

“Aku tak pernah berpikir jika mereka akan memprediksi kita yang pergi ke selatan dan menunggu disini …”

Komandan Knight Bercouli dan Alice baru saja kembali dari bukit di arah utara satu kilol jauhnya. Renri melihat mereka berdua seolah memiliki kekuatan untuk membelah awan di atas sana, tetapi ia tak bisa melihat rasa tenang dalam wajah keduanya, khususnya Alice. dia terlihat seolah siap untuk terbang ke pasukan persediaan.

Melihat ke arah utara dibalik punggung Bercouli, dibalik bebukitan disana, Renri hampir bisa melihat kepulan debu yang menandakan datangnya pasukan musuh.

Kamandan Knight menutup matanya beberapa detik, lalu dengan cepat membuka mata keabu-abuan miliknya, dan:

“Renri, perintahkan pasukan utama untuk mundur. Nona kecil, pergilah ke pasukan persediaan sekarang juga. Aku akan menahan pasukan yang datang dari arah utara.”

“Tetapi, bagaimana mungkin? … ada lebih dari limaribu pasukan musuh, Paman! Dan bukankah kau berkata jika pedang tidak akan mempan pada mereka …”

“Jangan khawatir, aku akan menemukan suatu cara. Pergilah!! Nona kecil… tidak, Alice, kau-lah yang memutuskan untuk bertempur sampai akhir!!”

Meninggalkan kata-kata tersebut, Bercouli kemudian berbalik ke arah utara.

Tangan kanannya yang kasar seperti sebongkah batang pohon, perlahan menghunus Time Piercing Sword dari pinggang kirinya.

Memunculkan cahaya redup, siapapun bisa dengan jelas mengetahui jika pedang tersebut memiliki sedikit Life yang tersisa.

* * *

Percikan bunga api muncul untuk ketiga kalinya dalam kegelapan.

Si gadis perambut coklat yang melihat Vassago untuk pertama kalinya, menyerang dengan seluruh tenaganya.

Vassago bahkan menggunakan skill beruntun. Namun, ketika pedang tersebut terlempar dari tangan si gadis pada serangan ketiga dan tertancap ke pohon terdekat, si assassin hanya bisa bersiul menunjukkan kekaguman.

Bahkan, si gadis tersebut mengacungkan tinjunya, tetapi Vassago dengan mudah menjatuhkannya dengan serangan kakinya. Mendarat dengan punggungnya, si gadis berteriak kesakitan.

“Ronye ——— !!”

Seorang gadis berambut merah keluar dari dalam kereta barang; berteriak, ia melaju.

Menggenggam pisau di tangan kanannya, Vassago menekankan ujung pisaunya ke tenggorokan si gadis bernama Ronye, dengan maksud menahan gerakan si gadis berambut merah. Terserang rasa takut, kakinya berhenti mendadak.

“Kek… Kekek.”

Tawa aneh keluar dari balik topeng yang menutupi wajahnya.

— Inilah. Perasaan ini.

Inilah kesenangan memainkan life dan hubungan seseorang dengan menggunakan pedang. Inilah mengapa aku tak bisa berhenti melakukan PK.

“… Aku tak akan membunuhnya, selama kau berdiri disana dan menontonnya.”

Berbisik pada si gadis berambut merah, ia lalu merunduk di sebelah gadis bernama Ronye.

Dibelakangnya, sekitar tigapuluh prajurit haus darah semakin mendekat, selangkah demi selangkah.

Tetesan air mata ketakutan dan tertekan mengalir dari mata Ronye. Perasaan kuatnya kini mulai tenggelam dalam rasa keputusasaan, lalu ——

………?

Tiba-tiba, mata Ronye berganti fokus dari wajah Vassago menuju langit.

Sesuatu terpantul dalam mata ber-airnya.

— Cahaya.

Partikel putih cahaya turun perlahan, bagaikan salju.

Merasakan ada yang aneh, Vassago perlahan membalik kepalanya.

Langitnya benar-benar gelap. Bintangnya berwarna merah.

Dengan latar belakang seperti itu, sesosok bayangan melayang disana — namun hawa hehadirannya benar-benar mengerikan.

— Itu seseorang. Seorang wanita.

Ia mengenakan pelindung dada yang bersinar seperti mutiara. Pelindung tangan dan kaki miliknya juga bercorak sama.

Rok panjang miliknya dijahit dengan pakaian-pakaian kecil, seperti sayap yang mengepak. Rambut yang bergelombang dideru angin berwanra chestnut—

“Stacia… sama.”

Ronye berguman di bawah.

Kata-kata tersebut tidak didengar oleh Vassago. Seketika ia melihat wajah perempuan yang turun dari langit tersebut, si assassin merasakan kakinya terangkat seolah ia ditarik keatas.

Terbebas dari cengkraman Vassago, Ronye dengan cepat mundur dimana temannya berada, tapi Vasaggo tidak tertarik padanya lagi.

Sosok yang mengambang di udara kini merentangkan tangannya.

Ia perlahan menyapukan tangannya kesamping.

Laa ———————–

Seperti sebuah paduan suara ribuan malaikat, kekuatan mengerikan mengguncang dunia.

Spektrum cahaya menelan sosok Vassago.

Tanah tempatnya berpijak kini menghilang.

Ketika ia jatuh dalam kegelapan tak berdasar, Vassago melambaikan kedua tangannya keatas, mencoba untuk menggenggam sosok tersebut.

“Apa-apaan kau ini?… serius kau melakukan ini?”

Suara bergetar keluar dari dalam mulutnya.

Wajah itu.

Rambut itu,

Sensasi itu.

“Bukankah dia … ≪The Flash≫ dari Knight of the Blood?”

* * *

Komandan Knight Bercouli masih berdiri mengangkat pedang kesayangannya.

Dihadapannya, lubang menganga muncul di tanah, lebarnya kurang lebih seratus mel. Ia menatap lubang tersebut ke kiri dan kanannya, tetapi dalamnya tak terlihat. Kedalamannya tak bisa diukur; bebatuan di samping lubang masih berjatuhan, tetapi tak ada tanda benturan yang menyentuh ujung lubang sampai ke telinganya..

Sekitar sepuluh detik lalu, lubang tersebut tidak ada.

Dari langit, cahaya beraneka warna turun dengan suara nyanyian, dan ketika menyentuh tanah, lubang tersebut mulai terbentuk.

Hal semacam itu tak mungkin bisa dilakukan, bahkan dengan seribu Ascetics, atau bahkan sepuluh ribu Ascetics. Bahkan mungkin Pemimpin Tertinggi Administrator juga tak bisa melakukannya.

Inilah kekuatan seorang Dewi, seorang Dewi Cahaya.

Setelah Dewa Kegelapan Vector, Dewi lainnya turun di dunia manusia.

Bercouli berpikir dengan rasa hormat dan rasa takut, namun segera ia menghiraukan pikiran tersebut.

Di sisi lain, limaribu Petarung Tangan Kosong berdiri mematung, terserang rasa kaget.

Jika seorang Dewi berencana untuk membantu Kerajaan Manusia, memiliki hak untuk mengatur dengan bebas hidup dan mati manusia, ia bisa saja membuat lubang di tanah tempat Petarung Tangan Kosong berdiri dan menenggelamkan mereka ke kedalaman. Namun gertakan ini mampu menghentikan seluruh petarung yang tadi melaju dengan kecepatan penuh hingga menjadi berhenti.

Karenanya, Komandan Knight bisa merasakan rasa keragu-raguan untuk memusnahkan ribuan nyawa sekaligus.

Dengan kata lain, serangan tersebut ditujukan untuk mematahkan semangat seseorang.

Bagian 3[edit]

— Lebih cepat.

— Lebih cepat, cepatlah biarkan aku turun ketempat Kirito-kun berada.

Yuuki Asuna telah masuk ke dalam Underworld menggunakan Super Account 01, ≪Dewi Pencipta Stacia≫. Dilindungi dengan mekanisme keamanan ketika jatuh pada log pertama, ia menyebut nama kekasihnya berulang kali dalam hati.

Hampir satu jam berlalu sejak grup bersenjata tak dikenal menguasai kapal raksasa penelitian kehidupan laut, ≪Ocean Turtle≫.

“Aku akan pergi,” Asuna menetapkan keinginannya pada Kikuoka Seijirou, lalu dive menggunakan Soul Translator No. 5. Higa Takeru memasukkan koordinat untuk turun tepat diatas Kirito berada. Ketika ia mendarat, kekasihnya pasti akan menunggu kedatangannya.

Memiliki rasa rindu yang sangat kuat, rasa sakit juga menyerang kepala Asuna. Ia meringis untuk menahan rasa ketidaknyamanan tersebut.

Ia telah diperingatkan mengenai efek samping yang akan terjadi ketika menggunakan kemampuan ≪unlimited landscape alteration≫[1], hak administratif yang diberikan pada account Stacia. Area Mnemonic Data-nya benar-benar besar, ketika data tersebut ditransfer berulang kali antara STL yang dipakai Asuna dan Main Visualizer yang menyimpan data seluruh Underworld, Fluctlight milik Asuna mungkin akan mengalami overload.

Sebagai pemimpin teknisi dalam RATH, Higa melarangnya untuk mengubah dataran terlalu banyak — cukupilah ketika ia merasakan sakit kepala.

Dibawah Asuna ada sekitar seribu orang dari Kerajaan Manusia, dan dua kerumunan besar dari Tanah Kegelapan mendekat dari utara dan selatan. Ketika ia melihat kondisi dibawah sana, meskipun telah mendapat larangan dari Higa, Asuna mulai merapal perintah.

Ia menghentikan rombongan dari utara dengan menciptakan lembah luas dan panjang di depan mereka. Tetapi, untuk tiga puluh orang yang mendekat ke lokasi Kirito, ia tak memiliki pilihan lain selain menghapus tanah tempat mereka berpijak.

Mereka adalah manusia yang memiliki jiwa. Mereka adalah true bottom-up AI [2] yang ingin dilindungi oleh Kirito selama dua tahun terjebak di dunia ini.

Mungkin rasa sakit ini adalah ketakutan dan dendam dari mereka yang mengalir ke dalam STL.

Meskipun begitu, Asuna menutup matanya erat-erat, lalu membukanya lebar-lebar dan membuat keputusan.

Prioritas miliknya telah ditetapkan.

Untuk Kirito — Kirigaya Kazuto, ia akan menanggung dosa apapun. Ia siap menerima hukuman apapun.

Akhirnya, ia berhasil turun setelah melayang selama sepuluh detik yang terasa bagaikan seabad; ujung sepatu miliknya menyentuh tanah hitam.

Ia berada dalam daerah pepohonan yang berisi semak belukar. Tak ada bulan, hanya ada banyak bintang merah yang bersinar redup di gelapnya malam.

Asuna berusaha menghilangkan sakit kepalanya dengan meregangkan punggungnya. Tepat disampingnya, lubang dalam nan gelap terbuka lebar, ia telah menenggelamkan knight berarmor yang berasal dari Tanah Kegelapan. Agak berbahaya jika meninggalkan mereka di kedalaman, tetapi ia agak kesulitan untuk mengubah dataran lagi.

Ia mendengar deru kuda didekatnya; melihat ke arah suara itu berasal, ia sadar jika beberapa kereta ada dibalik semak-semak, tampaknya sengaja disembunyikan.

— Dimana…? Kamu dimana, Kirito?

Ketika hampir menangis mengucapkan nama kekasihnya, sebuah suara gemetar sampai di telinganya.

“… Stacia… sama?”

Ia membalikkan kepalanya, dan melihat dua gadis yang mencoba untuk berdiri. Mereka berdua mengenakan baju tak berlengan, semacam seragam sekolah.

Wajah mereka sedikit keheranan. Mereka tidak terlihat seperti orang jepang, mereka juga tidak terlihat seperti orang barat. Kulit mereka halus dan berwarna putih; si gadis yang ada di kanan memiliki rambut berwarna merah, dan si gadis di kiri memiliki rambut kecoklatan.

Dua pedang menggantung di pinggang mereka.

Si gadis berambut merah sedikit membuka mulutnya, dan sekali lagi suara terdengar dari mulutnnya.

“Apakah anda seorang… Dewi?”

Bahasa jepang mereka sungguh fasih, namun intonasi mereka agak aneh terdengar. Lalu, Asuna mengingat sejarah tigaratus tahun milik Underworld.

— Kikuoka-san, Higa-san, lihat apa yang telah kalian ciptakan.

— Bagi Rath, ini mungkin seperti simulasi, tetapi seluruh dunia ini dan orang-orang didalamnya benar-benar hidup.

“… Bukan… Maaf, aku bukan seorang dewi,” Asuna menjawab sambil menggelengkan kepalanya.

Si gadis berambut coklat menggenggam kedua tangannya.

“Tetapi, tetapi,” ia berbisik.

“Anda dengan baik hati telah menyelamatkan nyawa kami dengan sebuah keajaiban. Anda telah menyelamatkan kami semua dari prajurit mengerikan yang berasal dari Tanah Kegelapan… Anda telah menyelamatkan para Penjaga, Ascetic… dan Kirito-senpai.”

Ketika Asuna mendengar nama tersebut, terkejut, dan merasakan pisau yang menyayat hatinya.

Ia menetapkan tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan, dan akhirnya mengeluarkan suara lemah, bibirnya gemetaran.

“A… Aku datang kesini untuk bertemu dengannya, bertemu Kirito… Tolong katakan padaku… Dimana ia berada? Ijinkan aku menemuinya… Bawa aku menemui Kirito, kumohon.”

Menahan air mata yang mau menetes, Asuna memohon. Kedua mata dua gadis ini terbuka lebar, saling bertukar pandang, lalu mengangguk.

“… Ya. Mari ikuti kami.”

Para penjaga yang mengenakan armor di sekeliling membuat formasi lingkaran, menatap Asuna dari kejauhan; Asuna berjalan melewati pusatnya ketika kedua gadis tadi menunjukkan arah.

Ia diajak menuju belakang kereta. kereta tersebut ditutupi oleh kain dari atas, sehingga ia tak bisa melihat apa yang ada didalam.

“Kirito-senpai ada didal…”

Tanpa menunggu si gadis berambut merah menyelesaikan kalimatnya, Asuna membuka kain dengan kedua tangannya dan melompat kedalam. Ia tersandung ketika maju kedepan.

Menuju ke kabin, lentera kecil bercahaya redup diantara kotak kayu dan tong. Ia maju menuju area kecil diantara keduanya, semakin kedalam menuju kereta.

Tiba-tiba, ia merasa teringat akan bau ini, hangat seperti matahari, menyegarkan seperti rerumputan dan hutan.

Cahaya keperakan terpantul dalam mata Asuna, sehingga ia bisa melihat dalam kegelapan.

Cahaya tersebut berasal dari kursi roda yang terbuat dari logam dan potongan kayu.

Di kursi tersebut, ada sosok berpakaian hitam yang sedang duduk tanpa semangat, tubuhnya hampir seperti bayangan.

“…………Gh.”

Terkejut akan berbagai macam emosi, Asuna mematung. Meskipun ia telah memikirkan berbagai macam skenario terburuk, kata-kata yang bisa menggambarkan pertemuan keduanya seperti tersangkut di tenggorokannya.

Berbaring dalam STL No.4 di Ocean Turtle dalam Dunia Nyata, seseorang yang ia cintai kini berada di atas kursi roda, dalam bentuk sebuah jiwa.

Terluka, rusak, tetapi masih hidup.

Ketika Kirito menemuiku di rumah sakit Tokorozawa, ketika aku tidak bangun meskipun telah terbebas dari game kematian SAO, Kirito pasti mengalami rasa sakit yang sama, seperti apa yang aku rasakan sekarang ini.

— Kali ini giliranku. Aku akan menyelamatkanmu, tak peduli berapapun resikonya.

Menghembuskan nafas, Asuna berbisik:

“…… Kirito-kun.”

Tangan kanan milik Kirito hilang dari tubuhnya. Ia menggenggam pedang hitam dan pedang putih di depan tubuhnya, tangan kirinya bergerak ketika mendengar suara milik Asuna.

Wajahnya menatap bawah, dan kedua bola matanya kosong.

“Uh……”

Suara serak keluar dari bibirnya yang kering.

“Uh… Aaaa… Aahh……”

Taka, taka. Kursi roda bergetar. Tangan kirinya bergerak, urat milik Kirito bisa terlihat dari lehernya. Seolah ia ingin menyampaikan sesuatu.

Dua tetes air mata mengalir di pipi Asuna dan jatuh ke sarung pedang di tangan Kirito.

“Kirito-kun… Cukup, sudah cukup!!” Asuna berteriak.

Ia menunduk, dan dengan lembut namun erat, ia memeluk kekasihnya. Dari kedua matanya, ia merasakan cairan yang tak bisa berhenti mengalir.

Sword Art Online Vol 16 - 251.jpg

Saling tatap sekali lagi, mencoba untuk menyembuhkan jiwa Kirito, kesadarannya mungkin akan pulih—

Sebuah kebohongan jika Asuna tak ingin berharap seperti itu.

Namun, Asuna mengetahui jika kerusakan yang diterima inti Fluctlight milik Kirito terlalu parah, atau bisa dikatakan telah hancur. Selama tidak mengembalikan inti tersebut ke bentuk asalnya, tidak peduli berapapun pengobatan yang diberikan dari luar, percuma saja jika tidak melakukan penyembuhan dari dalam.

Kata-kata Higa bergema dalam pikirannya.

— Tampaknya Kirito memiliki pendamping … Maksudku seorang sahabat. Mereka Fluctlight buatan tentu saja. Dan sebagian teman-temannya telah tewas dalam pertarungan di Gereja, jadi ia mungkin menyalahkan dirinya sendiri ketika berhasil menghubungi kita. Dengan kata lain, ia menyerang Fluctlight miliknya sendiri.

Kesedihan, penyesalan, dan putus ada telah membuat lubang tak berdasar dalam hati Kirito.

— Bahkan jika lubang tersebut berisi kehampaan tiada batas, aku akan mengisinya. Jika aku tak bisa melakukannya seorang diri, aku akan meminta bantuan orang-orang yang memiliki ikatan dengan hati Kirito. Tak ada yang sesuatu yang bisa mengisi lubang tersebut selain cinta.

Asuna merasa jika ketetapan hatinya telah terisi kembali: ia tak ingin Kirito mengalami kesedihan lagi, walaupun sedikit.

— Aku akan melindungi dunia ini, dunia tempat Kirito tinggal dan dunia yang dicintainya. Aku akan melindunginya dari penyerang manapun. … bahkan dari RATH sendiri.

Setelah memeluk Kirito untuk terakhir kalinya, Asuna kini berdiri.

Ia berbalik; air matanya masih menetes di pipinya, ia tersenyum pada kedua gadis yang masih memandang.

“Terima kasih. Kalian berdua telah melindungi Kirito, benar kan?”

Si gadis berambut coklat mengangguk, dan berbalik bertanya dengan suara gemetar:

“Maaf, bolehkan aku..... mengetahui nama anda, kumohon? Jika anda bukan Stacia-sama, lalu… siapa anda?”

“Namaku Asuna. Aku manusia sepertimu. Dan juga seperti Kirito, aku datang dari dunia luar… untuk tujuan yang sama.”

Bagian 4[edit]

“Apa yang ingin kusampaikan adalah… Aku benar-benar terkejut.”

Pada lantai kedua kereta pengangkut kerajaan, disamping Gabriel yang melihat lubang besar di tanah, muncul suara yang terdengar agak tenang.

Ia berbalik dan menatapnya, muncul dari salah satu lubang di dek, wajah besar pria separuh baya terlihat. Ia mengingat jika namanya adalah Lengil, pemimpin Guild Perdagangan dan Industri. Lengil bergabung dengan pasukannya dan memberi hormat tulus.

Sementara ia menjadi salah satu dar Bangsawan yang tersisa, orang ini tampaknya tiidak memiliki kemampuan bertarung. Terus apa masalahnya? Gabriel mengangkat alisnya sebagai tanda pengakuan. Lengil menengok ke kiri dan kanan, tetapi tubuhnya masih menghadap Gabriel. Ia menyadari jika Vassago tidak ada di sekitar, namun ia tidak berani berkomentar dan memberi hormat sekali lagi.

“Yang Mulia. Bulan akan muncul sebentar lagi… Jika tidak ada perintah lain untuk dilaksanakan, aku meminta agar pasukan diijinkan untuk beristirahat dan makan.”

“Oke.”

Ia kini kembali menatap langit malam.

Pasukan yang dikirimkan informasi musuh masih belum kembali. Dengan kata lain, mereka berada tidak hanya beberapa mel. Dan ketika melihat itu, tampaknya lubang sebesar itu tak bisa diciptakan dengan kekuatan manusia manapun.

Memprediksi jika musuh telah mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Vassago. Namun jika Vassago sendiri tewas di dunia ini, ia akan terbangun di dunia nyata.

Sekarang ia harus menggunakan pasukan udara. Namun para Dark Knight hanya memiliki sepuluh naga. Ia tidak tahu harus berapa kali bolak-balik untuk mengangkut duapuluh ribu prajurit.

Mungkinkah melakukannya dengan Art. Tetapi menurut Pengguna Dark Art yang telah diajak berunding sebelumnya, mustahil menciptakan jembatan bagi pasukan untuk menyebrang. Jika mereka sekuat pemimpinnya, Dee Ai El, mungkin akan berhasil jika mengorbankan beberapa Demi-human lagi … tetapi menurut laporan jika Dee telah hangus dalam serangan balasan Integrity Knight sebelumnya.

— Bagi seseorang yang penuh ambisi, kau tewas terlalu cepat.

Gabriel berpikir dengan penuh penyesalan. Tetapi pada akhirnya nanti, seorang AI sepertinya hanyalah bidak dalam permainannya, dan keberadaannya akan segera hilang dari pikirannya.

Dengan kata lain —

Lubang menganga yang tercipta tadi mengatur “keseimbangan game” di dunia ini. Baik AI dari Kerajaan Manusia dan AI dari Tanah Kegelapan tak ada yang bisa menciptakannya.

Jika masalahnya seperti itu, kejadian ini adalah ikut campur seseorang dari dunia luar. Seseorang dari RATH, kemungkinan orang penting dari mereka telah log ini menggunakan super account sepertinya.

Mereka mungkin memiliki tujuan yang sama. Mengambil «Alice», lalu keluar ke dunia nyata menggunakan sebuah system console.

Meskipun kondisi saat ini sedikit merepotkan baginya, ia harus bisa membuat rencana matang.

Atau mungkinkah — hal ini malah menjadi semakin menarik.

Bibir Gabriel terangkat hingga membentuk senyuman. Setelah senyum tersebut menghilang, ia berbalik menghadap Lengil.

“Baiklah. Kita akan berkemah disini untuk malam ini. Berikan makanan bagi pasukan; besok akan menjadi hari yang merepotkan.”

“Baik pak. Yang Mulia sungguh baik hati.”

Mengungkapkan rasa hormatnya sekali lagi, Pemimpin Guild Perdagangan beranjak pergi dengan penuh semangat.

* * *

“Dari dunia yang sama dengan… Kirito-senpai?”

Kedua gadis bertanya secara bersamaan, mata bereka kebingungan.

“I-itu berarti… dunia dewa dan dewi? Dari dunia ketiga dewa yang menciptakan dunia ini … kerajaan di langit dimana dewa-dewi memberikan karunianya, dan malaikat tinggal disana …?”

“Tidak.”

Asuna menggelengkan kepalanya.

“Duniaku memang diluar dunia ini, tetapi bukanlah dunia para dewi. Karena… Lihatlah Kirito-kun, apakah kalian pikir penampilannya seperti seorang dewa atau malaikat?”

Mereka berdua melihat sosok yang ada di kursi roda, saling tatap, dan terkekeh. Mereka tak yakin, lalu mengangguk.

“Ya… Ya… Benar, tak ada dewa yang keluar tengah malam untuk membeli cemilan … benar kan…?”

Mendengar kata-kata si gadis berambut merah, kali ini giliran Asuna yang terkekeh. Ia masih tetap sama bahkan di dunia ini. Tak bisa berkata-kata dan senang, air mata menetes ke pipi Asuna sekali lagi.

Ia berkedip beberapa kali dan mengangguk. kemudian, si gadis berambut coklat bertanya:

“Uh… Um, dunia luar… kira-kira… seperti apa?”

Asuna berpikir sesaat, lalu menjawab:

“Akan sangat lama untuk menjawabnya. Aku ingin menceritakannya pada orang yang bertanggung jawab disini. Bisakah kalian mengantarkanku?”

“O-Oke. Mengerti.”

Para gadis setuju. Asuna bersiap mengikuti mereka, lalu berbalik untuk melihat Kirito sekali lahi.

Di wajahnya, bekas air mata miliknya masih bisa terlihat.

— Tak apa-apa, Kirito-kun. Kau bisa mengandalkanku…

Asuna berkata dalam hatinya, sambil dengan erat menggenggam tangan kirinya. Lalu ia berbalik, dan melompat dari belakang kereta.

Tepat ketika sepatu putihnya menyentuh tanah —

Cahaya keemasan muncul dihadapannya.

Kilauan dari sebuah mata pedang.

Sebelum ia bisa bereaksi, tubuhnya bergerak secara insting. Tangan kanannya menarik rapier di pinggang kirinya.

Kyariin!

Suara benturan logam terdengar dalam heningnya malam.

Ketika ia berhasil menghindari serangan tersebut, dorongan kuat yang tak terduga membuat lengan kanannya ngilu. Sungguh pedang yang berat.

Percikan bunga api dari benturan tersebut menyilaukan pandangan Asuna. Ia hampir tidak bisa melihat lintasan serangan kedua.

Serangan ini tak bisa ditahan dengan satu tebasan.

Seketika memikirkan hal tersebut, Asuna melaju ke arah musuh dan melancarkan tusukan beruntun dengan cepat.

Tusukan ketiga akhirnya berhasil menahan serangan musuh. Dengan penuh waspada, Asuna akhirnya menangkap sosok si penyerang.

Ia terkejut.

Seorang knight cantik berkulit seputih salju, kira-kira berusia sama dengannya, ia menatap Asuna. Mata saphire miliknya seolah memancarkan gelombang listrik kebencian.

Rambut emas miliknya, yang tampak serasi dengan serangan sebelumnya, bergelombang di udara. Armor dan pedang panjang miliknya juga berwarna keemasan.

Dari kejauhan, kedua gadis keheranan. Lalu, mereka berteriak.

“Knight-sama, tolong hentikan!!”

“Dia bukan seorang musuh, Alice-sama…!!”

— «Alice»!

Mendengar nama tersebut, Asuna terkejut sekali lagi.

Swordswoman yang berada dihadapannya, yang sedang menggenggam senjata seberat batu raksasa — adalah true Bottom-Up AI pertama di dunia, seorang artificial intelligence yang bisa beradaptasi dimanapun, ALICE? ia adalah tujuan dibentuknya Project Alicization, dan juga apa yang RATH dan para penyerang cari — dia adalah pusat segala permasalahan ini.

Tetapi mengapa Alice menyerang dirinya?

Mencoba memblokir pedang emas, sesaat sebelum Asuna mengatakan apa yang dipikirkan, sebuah suara semerdu musik keluar dari bibir kemerahan Alice.

“Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dari Kirito?!”

Seketika ia mendengar kata-kata tersebut.

Asuna menyingkirkan pikirannya tadi, perasaan emosi mengisi dirinya. Lebih tepat kalau disebut, rasa geram sesaat.

Jawaban yang keluar dari mulut Asuna malahan menambah minyak ke dalam api.

“Mengapa…? Karena dia itu milikku!!”

Menggertakkan gigi putihnya, Alice berteriak:

“Apa katamu?! Dasar orang barbar!!”

Kedua pedang yang masih bersentuhan kini mengeluarkan percikan bunga api ke segala arah.

Swordswoman berambut emas, dengan tangkas mundur, lalu seketika melancarkan tebasan atas. Tetapi seketika, Asuna menghindar, dan melancarkan serangan kombo.

Didalam kesunyian hutan, serangan keemasan dan serangan bagaikan komet, menimbulkan kilauan cahaya.

Benturan melewati siku Asuna hingga sampai ke pundaknya, benturan angin terasa di sekitar Asuna. Ia bisa menyeimbangi serangan musuh karena rapier yang dimiliki super account Stacia miliknya «Radiant Light», adalah sebuah «GM item» yang memiliki prioritas lebih tinggi daripada pedang panjang emas milik Alice.

Senjata mereka berdua bertemu lagi, tetapi kini keduanya saling menjaga jarak.

Suara serak kini mengisi keheningan sesaat ini.

“Ah, pemandangan disini luar biasa. Dua bunga yang sedang mekar. Ah, sungguh mengagumkan. Pemandangan mengagumkan.”

Sepasang lengan kuat muncul, jari-jarinya dengan santai menggenggam bagian tengah senjata milik Alice dan Asuna.

“?!”

Seolah roti isi yang mengapit daging, pedang keduanya tak bisa dipisahkan. Lengan tersebut berusaha memisahkan kedua pedang dimana pemiliknya masih terdiam, ia berusaha memisahkan dua orang swordswomen yang masih bertarung.

Seseorang yang sedang berdiri disana adalah sosok pria yang berusia sekitar empatpuluh tahun.

Diatas kimono yang dipakainya, ia mengenakan equip pertahanan berkuatilas rendah, sepertinya. Pedang panjang yang menggantung di pinggang maupun lengan miliknya dipenuhi dengan goresan. Ia benar-benar cocok dengan deskripsi seorang pejuang.

Seketika pria tersebut muncul, Alice menggelembungkan pipinya dan mulai memprotes seolah ia menjadi anak-anak:

“Mengapa menghentikanku, Paman! Orang ini mungkin saja mata-mata musuh …”

“Aku tak berpikir begitu. Nona muda ini menyelamatkanku dari kematian. Aku yakin hal yang sama juga terjadi pada kalian semua?”

Kata-kata tersebut ditujukan pada kedua gadis berpakaian abu-abu yang sedang berdiri disamping.

Keduanya mengangguk cepat, dan berbicara dengan suara rendah.

“Y… Ya, Komandan Knight Terhormat. Nona ini menyelamatkan kami.”

“Dia, dengan lambaian tangannya, membuat musuh tenggelam dalam jurang … Itu benar-benar keajaiban.”

Si pria yang bernama Komandan Knight menatap lembah yang diciptakan Asuna, lalu meletakkan tangannya ke pundak Alice dan berbicara:

“Aku juga melihatnya. Cahaya berwarna-warni turun dari langit, lalu tanah terbelah sejauh seratus mel. Bahkan para Petarung Tangan Kosong tak bisa meremehkan serangan tersebut, mereka panik. Faktanya, nona muda ini telah menyelamatkan pasukan kita dari kekalahan besar. Ini bukan waktunya untuk saling bertengkar.”

“……”

Pedang panjang emas masih ditangannya, Alice masih mematap Asuna dengan curiga.

“Lalu… apa yang ingin paman katakan adalah, orang ini bukan mata-mata musuh juga bukan seorang peniru sosok dewi, intinya paman ingin berkata jika dia ini Dewi Stacia yang asli kan?”

Asuna menggigit bibirnya sambil tetap terdiam. Jika Komandan Knight, pria yang memimpin pasukan ini, menganggap Asuna sebagai dewi, kondisi saat ini akan bertambah kacau.

Untungnya, mulutnya terbuka dan berkata.

“Mungkin bukan. Jika ia adalah seorang Dewi, ia mungkin seorang yang lebih dingin dan kejam daripada Pemimpin Tertinggi. Ia akan membunuh musuh tanpa belas kasihan?”

Alice tidak menampik jawaban tersebut. Rasa permusuhannya masih belum padam, ia menatap Asuna dengan api kemarahan lalu segera memasukkan pedang miliknya ke sarung pedang!

Asuna juga memiliki banyak pertanyaan. Mengapa kau menyerangku? Kau ini siapanya Kirito-kun? Tetapi dengan tarikan nafas, Asuna bisa menahan kemarahannya.

Misi Asuna adalah untuk membawa Alice menuju «Altar Ujung Dunia» di bagian paling selatan Underworld, lalu mengeluarkan Light Cube miliknya dari Light Cube Cluster.

Dengan kata lain, ia harus meyakinkan gadis ini, yang tidak cocok dengan dirinya untuk meninggalkan Pasukan Kerajaan Manusia. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertarung.

Menyarungkan senjata miliknya, Asuna berbicara pada Komandan Knight:

“Ya… Anda benar. Aku bukanlah seorang dewi; aku juga manusia seperti kalian semua. Tetapi, aku memahami situasi saat ini. Itu karena aku adalah manusia yang berasal dari dunia luar.

“Dunia luar, huh…”

Komandan Knight menggaruk dagunya, lalu tersenyum sederhana.

Hal yang kontras terjadi, mata milik Alice terbuka lebar dan ia bertanya dengan suara nyaring:

“Dari dunia luar…?! Jadi, kau datang dari dunia Kirito tinggal?”

Asuna mengangguk. Tampaknya Kirito telah menjelaskan beberapa hal tentang Underworld pada Alice.

Mengubah Fluctlight Acceleration Rate menjadi lebih cepat, Kirito telah berada di dunia ini selama tiga tahun. Asuna tak bisa berpikir berapa lama ia telah menghabiskan waktu dengan Alice di dunia ini.

Tampaknya Alice juga berpikir seperti itu. Sebelum ia bisa bertanya lagi, Komandan Knight menghentikannya dengan lambaian tangan.

“Apa yang kita bicarakan selanjutnya biarlah para Knight dan Penjaga yang tau. Kita akan membicarakannya sambil minum teh. Terlebih lagi, pasukan musuh tidak akan membuat gerakan saat malam hari.”

“… Aku mengerti.”

Alice mengangguk, wajahnya agak marah.

“Baiklah, sudah diputuskan… Kalian nona muda yang berdiri disana, bisakah membantu menyiapkan teh, dan juga ambilkan anggur untukku? Kalian berdua juga berhenti berkelahi.”

Menerima perintah Komandan Knight, Ronie dan Tiezé membalas dan memberi hormat.

Asuna ingi bertemu Kirito sekali lagi sebelum meninggggalkan tempat ini, tetapi sebelum ia bisa bergerak, suara nyaring Alice sampai di telinganya.

“Biar kuperjelas: mulai sekarang, tak ada yang boleh memasuki kereta tersebut tanpa izin dariku. Memastikan keamanan Kirito adalah tanggung jawabku.”

Hal buruk akan terjadi.

Asuna menenangkan emosi miliknya.

“… Hal yang sama juga berlaku untukmu, berhenti memanggil Kirito-kun milikku dengan namanya…”

“Apa katamu?!”

“… Tidak, bukan apa-apa.”

Hmph, Alice dan Asuna berbalik membuang pandang, dan mengikuti sosok Komandan Knight.

Ronie dan Tiezé tertinggal dibelakang — mereka berdua lega.

“Tampaknya… mulai sekarang akan menjadi kondisi yang sulit.”

Tiezé tiba-tiba melambaikan tangannya dan berkata pada sahabatnya:

Ayo, kita harus merebus air! Oya, kereta mana yang menyimpan anggur?… Ayo, Ronye!”

Sebelum mengejar Tiezé, Ronze berbisik tanpa seorangpun mendengar.

“… Dia juga, senpai milikku…”

Bagian 5[edit]

Asuna menggenggam cangkir teh dengan satu tangan sambil menatap bara api yang menyala.

Api tersebut terasa sangat nyata.

Api ini tidak diciptakan dengan cara yang sama oleh mesin SAO maupun ALO. Setiap bunga api muncul ketika kayu terbakar, membuat aroma di udara, bahkan ia merasakan kehangatan di wajah dan tangannya, semua sensasi terebut terasa lebih nyata dibanding api di dunia nyata.

Tak hanya api tersebut. Kekerasan kursi ini, sensasi kayu-nya, dan juga aroma teh; merasakan ketiganya, membuat Asuna sedikit terlena.

Sejak memasuki Underworld, setelah mengalami masalah yang tak kunjung habisnya, akhirnya Asuna bisa menikmati sensasi dunia ini. Mendapati rangsangan di indranya, ia benar-benar terpukau akan «Mnemonic Visual» yang dijalankan STL.

Pada mulanya, Kirito yang telah masuk ke dunia ini juga tak menyadari jika ini adalah dunia virtual, ia pasti terbiasa hingga akhirnya menyadari. Terlebih lagi — di dunia ini tidak ada seorangpun NPC.

Asuna berbalik dari api unggun dan menatap kerumunan orang-orang yang berkumpul di dalam hutan. Perkenalan singkat sudah dilakukan.

Duduk si samping kirinya dan masih memegang botol anggur adalah Komandan Integrity Knight Bercouli. Disampingnya yang mengenakan armor keemasan adalah Integrity Knight Alice. membelakangi api unggun, rambut emas miliknya semakin indah; Asuna terpukau akan kecantikan miliknya.

Di sisi kiri Alice adalah pemuda yang terlihat berusia sekitar limabelas atau enambelas tahun, yang tampaknya seorang Integrity Knight peringkat atas. Namanya adalah Renri.

Lebih jauh, sosok Knight langsing duduk sangat diam. Armor yang nampak baru benar-benar tidak cocok dikenakannya: dari tadi, ia mengeratkan armor, dan kadang-kadang armornya melorot, ia tampak seperti seorang pemuda dalam sebuah VRMMO. Tetapi ketika ia diperkenalkan dengan Sheyta, dalam beberapa detik ketika ia menatap mata-nya, keberanian yang tak dapat dideskripsikan terasa.

Di samping kiri Sheyta, berada di sisi lain api unggun, sekitar sepuluh orang yang dikenal sebagai Pemimpin Penjaga, duduk di kursi berjejer. Diantara sosok kekar mereka, ada seorang wanita.

Di sisi kanan Asuna, si kedua gadis yang tadi ia temui juga ada, mereka duduk sediam mungkin dan sejauh mungkin. Si gadis berambut merah bernama Tiezé dan si gadis berambut coklat bernama Ronye, mereka sepertinya murid pemula dalam akademi tempat Kirito belajar satu setengah tahun lalu.

Setelah menatap mereka semua, Asuna sungguh terkagum.

Tanpa keraguan, mereka adalah manusia, penampilan dan bahkan hembusan nafas mereka bukanlah buatan mesin. Terlebih lagi, fakta hanya ada satu Fluctlight buatan yang telah berhasil menembus «ketidakmampuan untuk menolak hukum dan perintah» sulit dipercaya.

Ia kini mengerti sepenuhnya keinginan Kirito untuk melindungi mereka semua.

Aku akan memegang keinginan tersebut.

Asuna menguatkan ketetapan hatinya, lalu mengambil nafas dalam, dan akhirnya berbicara:

“Salam kenal semuanya. Aku yakin ini adalah pertama kalinya kita bertemu. Namaku adalah Asuna. Aku berasal dari dunia luar.”


Walaupun telah berlalu delapan hari sejak keberangkatannya, Alice sedikit merasakan kerinduan atas waktu yang ia habiskan bersama dengan Kirito di pinggir Desa Ruild, ia merindukan saat ia mendorong kursi roda Kirito menuju ke peternakan terdekat.

Dikelilingi pohon kayu putih, domba yang memakan rumput tiada henti, dan diantara mereka ada beberapa kambing putih yang makan lebih banyak.

Alice terheran akan kehidupan indah tersebut. Tidak mengkhawatirkan dunia diluar desa, hidup dengan damai, dikelilingi oleh manusia.

Ia tak pernah menyangka jika —

Orang-orang yang tinggal di dunia ini hidup seperti para domba.

Kata-kata Asuna seolah mengguncang semua Knight dan Pemimpin Penjaga. Bahkan Komandan Knight Bercouli, yang biasanya menggaruk dagunya, kini pasti tergoncang didalam hati.

Asuna menyebut dunia dimana Kerajaan Manusia dan Tanah Kegelapan berada menggunakan sebuah kata dalam Sacred Tongue: “Underworld”. Dan dunia dilauar tersebut — bukan secara geografi, tetapi secara konsep — adalah dunia asing yang disebut dengan nama “Dunia Nyata”.

Tentu saja, para Pemimpin Penjaga banyak yang ingin tahu mengenai dunia itu, mereka menganggap dunia tersebut tak berbeda dengan dunia para dewa dewi.

Si Asuna menjawab. Orang-orang yang tinggal di Dunia Nyata juga seperti mereka, mereka adalah manusia yang memiliki emosi, keinginan, dan Life.

Dan sekarang ini, pada lokasi tertinnggi di Dunia Nyata, dua belah pihak telah berusaha untuk mengendalikan Underworld.

Asuna tampaknya adalah orang yang dikirim dari salah satu pihak. Tujuannya adalah melindungi Underworld.

Tujuan pihak lainnya adalah — untuk mengambil seseorang dari Underworld. Setelah itu, mereka akan menghancurkan dunia ini hingga menjadi ketiadaan.

Mendengar kata-kata tersebut, para Pemimpin Penjaga mulai membuat sedikit kegaduhan.

Apa yang menenangkan mereka adalah kata-kata lantang Bercouli.

Bukankah itu sama? Pahlawan berusia tiga ratus tahun itu mengutarakan pendapatnya. Dibalik Kerajaan Manusia ada Tanah Kegelapan yang terbentang luas, dengan sepuluh ribu pasukan yang berusaha untuk menginvasi Kerajaan Manusia. Hingga hari ini, tak ada seorangpun yang pernah memikirkan kenyataan ini. Dunia Nyata adalah dunia lain diluar dunia kita, apa yang perlu kalian khawatirkan?

Setelah mengeluarkan kata-kata yang meyakinkan, semua orang menerima kenyataan ini. Bercouli menatap Asuna dan bertanya: Siapakah orang yang dicari musuh?

Mata kecoklatan milik Asuna berbalik menatap Alice.

“… A… aku?”

Tak hanya Renri; Tiezé, Ronye dan bahkan Sheyta menunjukkan ekspresi keterkejutan. Hanya Bercouli yang mengangguk seolah sudah mengetahui jawaban tersebut.

“Sudah kuduga… seorang «Putri Cahaya»…”

Asuna tidak mengerti maksud perkataan Bercouli. Ia berkedip pada Komandan Knight, lalu berbalik untuk menjawab.

“Kita tak memiliki banyak waktu. Untuk mencegah Underworld dihancurkan, Alice harus pergi ke Dunia Nyata bersamaku. Jika Alice tidak berada di sini lagi, musuh akan berhenti mengganggu dunia ini…”

“Le… Lelucon macam apa itu?!”

Alice berteriak, tak bisa menahan dirinya lagi. Dia berdiri dari kursinya, menabok pelindung dada dengan tangan kanannya, ia berkata dengan suara tinggi:

“Memintaku untuk lari?! Mengabaikan dunia ini, mengabaikan semua orang disini, dan juga teman-temanku di Pasukan Pertahanan… lalu lari ke Dunia Nyata?! Tak mungkin! Aku adalah seorang Integrity Knight! Misi terbesarku adalah melindungi Kerajaan Manusia!!”

Kini Asuna berdiri. Menyibakkan rambut warna chestnut miliknya, ia membantah dengan suara senyaring loncenng:

“Karena alasan itu! Jika musuh… bukan berasal dari Tanah Kegelapan, tetapi seorang pencuri dari Dunia Nyata, dan jika mereka berhasil menangkapmu dan membawamu keluar dari dunia ini, semua orang disini… bukan hanya orang-orang, bahkan tanah, langit, semuanya akan hancur! Kita tidak tahu kapan musuh akan menyerang!”

“Tunggu, tentang hal itu, munngkin kamu sedikit ketinggalan info, Asuna-san.”

Komandan Knight menjawab pelan:

“Musuh yang kamu bicarakan sudah berada disini.”

“Uh…”

Asuna yang kini terkejut, Komandan Knight meminum seteguk anggur dan melanjutkan:

“Tampaknya semua sudah menjadi jelas. «Putri Cahaya». «Dewa Kegelapan Vektor » yang mengejarnya. Dewa Vector yang memerintah pasukannya sekarang ini pastilah seseorang dari Dunia Luar sepertimu.”

“Dewa… Kegelapan.”

Asuna berbisik, wajahnya menjadi pucat. Ia melanjutkan perkataannya dengan terbata-bata:

“Aku tak pernah berpikir jika… super account Tanah Kegelapan tidak dikunci dengan sebuah password atau semacamnya…”

“Ma… maaf.”

Memecah keheningan, Knight Renri dengan malu mengangkat tangannya.

Melihat semua orang menatapnya, ia bertanya pelan, wajahnya memerah:

“Tentang itu, apa sebenarnya Putri Cahaya? Dan juga siapa pencuri dari Dunia Nyata…? Mengapa mereka menginginkan Alice-dono?”

Seseorang yang menjawab pertanyaannya adalah oarng yang dari tadi terdiam terus dalam pertemuan ini, «Si Pendiam» Knight Sheyta.

“Karena ia berhasil menghancurkan Segel Mata Kanan.”

Alice terkejut, melupakan kemarahannya. Tangannya secara tak sadar bergerak ke mata kanan, lalu ia bertanya:

“Kau… Kau tahu tentang hal itu, Sheyta-dono?! Bagaimana?!”

“Terasa menyakitkan… kapanpun aku memikirkannya. Pada saat itu, ketika bisa mengalahkan… makhluk terkuat di dunia ini… Gereja Axiom yang tak terkalahkan … pasti terasa menyenangkan bukan.”

“…”

Para Knight dan Pemimpin Penjaga terdiam ketika mendengar perkataan tersebut. Bercouli berbatuk dan seolah tidak mendengarnya.

“Ah, aku yakin ada orang lain yang mengalami hal serupa. Jika ada sebuah keraguan maupun perlawanan atas kekuatan Pemimpin Tertinggi ataupun pada Gereja Axiom, bola mata bagian kanan milik seseorang akan berwarna merah, juga diikuti dengan rasa sakit. Umumnya, pikiran seperti itu akan mudah dilupakan karena ketidaknyamanan yang menyertainya. Tetapi jika orang tersebut tetap mempertahankan pemikiran tersebut, rasa sakitnya akan semakin kuat, dan mata kanan mereka akan semakin memerah — dan pada akhirnya …”

“Mata kanan mereka akan meledak.”

Alice berbisik, ingatan kejadian tersebut masih membekas.

“Jadi… Alice-dono…”

Mendengar suara ketakutan Renri, Alice mengangguk pelan dan melanjutkan ucapannya dengan suara rendah.

“Aku bertarung melawan Tetua Chudelkin, lalu Pemimpin Tertinggi Administrator. Untuk mendapat ketetapan hati seperti itu, aku kehilangan mata kananku.”

“Erm… Boleh saya bertanya…”

Sebuah suara yang lebih rendah dari Renri terdengar, suara tersebut milik Ronye dari Tim Persediaan yang dari tadi mendengarkan seluruh cerita.

“Eugeo-senpai juga, demi melindungiku … ketika ia mengayunkan pedangnya demi Tiezé dan aku, lalu melakukan sebuah taboo, mata kanannya … berdarah…”

Pasti sama seperti dirinya. Alice mengangguk. Bertarung beberapa kali sebagai seorang penduduk, bahkan mengalahkan Komandan Knight, dan juga bisa mengeluarkan Incarnation sempurna melawan Administrator. Pemuda tersebut pastilah bisa melepas Segel Mata Kanan.

Benar, ketika pertarungan di lantai paling atas Kathedral, Administrator tampaknya berkata mengenai Segel Mata Kanan kepada Alice. Apakah itu, Code Delapan Tujuh …?

Sebelum Alice bisa mengingat perkataan Administrator, Bercouli berkata sambil memegang dagunya.

“Hm… Dengan kata lain, musuh sedang mencari orang-orang yang telah mematahkan Segelnya sendiri. Asuna-san, apakah orang-orang di Dunia Nyata memiliki segel semacam ini juga?”

“… Tidak.”

Setelah beberapa saat berpikir.

“Aku tak pernah mengalami kejadian seperti itu. Mungkin yang membedakan penduduk Dunia Nyata dan penduduk Underworld adalah bisa tidaknya mereka melanggar hukum maupun perintah.”

“Itu berarti, keberadaan nona kecil Alice sekarang ini sama dengan penduduk Dunia Nyata? Tetapi bukankah itu aneh? Jika sama, mengapa mereka menempatkan kode semacam itu? Bukankah sudah ada banyak orang di Dunia Nyata yang bisa melanggar perintah?”

“Itu…”

Keragu-raguan memenuhi diri Asuna, ia terdiam.

Tetapi sesaat sebelum Asuna mengutarakan pendapatnya, teriakan Alice memecah keheningan.

“Itu dia! Code 871!”

Menepukkah kedua tangannya, ia menjelaskan:

“Pemimpin Tertinggi menyebut Segel Mata Kanan sebagai Code 871. Ia berkata jika kode tersebut ditambahkan oleh «orang itu»! aku tak tahu maksudnya, tetapi…itu bukanlah Sacred Tongue, jadi itu pastilah bahasa dari Dunia Nyata?!”

“Code… 87… 1…?”

Asuna mengulanginya, kebingungan. Alis matanya terangkat.

“… Apakah… seseorang dalam RATH menambahkan segel tersebutl…? Tetapi mengapa … apa tujuan mereka…?”

Ia duduk kembali, berpikir sesaat, lalu —

Ia kemudian seolah kaku. Bibirnya menjadi pucat, lalu berbicara dengan suara serak.

Tetapi Alice tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan Asuna.

“… Sialan!… ada penyusup di dalam RATH…! Dibalik tembok itu …!”

Asuna benar-benar terguncang.

Ambisi untuk mencari kekuatan yang lebih besar. Dengan tujuan menghapus satu-satunya kelemahan dalam diri Fluctlight buatan, Higa Takeru dan teknisi RATH telah menanamkan sesuatu.

Ini terjadi karena Fluctlights buatan saat ini tak bisa menilai perintah secara moral maupun tujuan tentang perintah yang mereka terima. Jika mereka dimasukkan dalam sebuah mesin perang, bahkan jika sistem perintah mereka kena hack oleh musuh dan mereka diperintahkan untuk menyerang pasukan sendiri maupun membunuh para penduduk, para Fluctlights tak bisa menilai perintah tersebut, malahan mereka dengan senang hati melakukannya. Mereka berbeda dengan pasukan dari negara barat, yang mana bisa menolak perintah.

Terlebih lagi, para teknisi kecerdasan buatan tak bisa menerobos pembatas tersebut, RATH melakukan simulasi eksperimen di Underworld yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Namun, jika Segel Mata Kanan ataupun «Code 871» dipasang guna mencegah eksperimen melampaui batas, jika kode tersebut dimasukkan oleh seseorang tak dikenal dalam RATH.

Maka serangan di Ocean Turtle mungkin memang sudah direncanakan.

Dan penyusup tersebut masih berkeliaran dengan bebas di bagian atas Ocean Turtle. Jika ia mau, ia bisa saja menyelinap dan memasuki ruang STL No. 2 dimana Kirito dan Asuna berbaring tanpa pertahanan.

Mencoba menghilangkan kengerian yang mengalir di punggung Asuna, ia lanjut berpikir:

Pilihan yang dimiliki Asuna saat ini adalah menjalankan akun «Dewi Pencipta Stacia» hingga HP miliknya turun menjadi nol — dengan kata lain hingga tewas. Tetapi jika itu terjadi, ia tak akan bisa log in kembali menggunakan super account ini. Karena sistem perintah masih dikunci, mereka tidak akan bisa mereset data akun.

Karena penyerang menggunakan Dewa Kegelapan Vektor, sebuah akun dengan level yang sama, ia tak akan bisa dikalahkan dengan akun rakyat biasa. Demi melindungi Alice, lalu log out secara aman, ia membutuhkan akun Stacia bagaimanapun juga.

— Apa yang harus aku lakukan?

Setelah memeras otaknya, Asuna mengambil nafas dalam-dalam, lalu memutuskan.

Ia akan memprioritaskan Underworld. Dunia ini berjalan seribu kali lebih cepat dibandingkan dengan waktu Dunia Nyata. Sebelum musuh bergerak terjadi di Dunia Nyata, mereka masih mengulur waktu.

Di saat ini, ia harus memiliki rencana untuk melindungi Alice dari musuh yang memimpin pasukan Tanah Kegelapan, kemudian membawanya ke Dunia Nyata. Jika ia gagal, dan Alice tertangkap oleh musuh, mereka akan menghancurkan semua Light Cubes tanpa segan-segan karena telah mendapatkan satu AI yang sesungguhnya. Mereka akan menghancurkan Underworld, dunia yang Kirito coba untuk lindungi.

* * *

Dari laporan yang mereka terima, tampaknya keputusan Yuuki Asuna memang benar.

Tetapi baik dirinya, Higa Takeru dan Kikuoka Seijirou yang berada di Ocean Turtle telah menyadari sebuah kebenaran penting.

Sejak Gabriel Miller dan Vassago Casals melakukan log in, ratio FLA telah dipelankan. Operasi ini telah dilakukan oleh Critter, teknisi dari tim penyerang, tetapi orang yang memberikan perintah adalah Gabriel.

Dalam waktu duapuluh jam, kapal bersenjata «Nagato» dari unit penghancur akan melakukan serangan. Dalam situasi ini, bisa dipahami jika menurunkan Kecepatan Akselerasi hanya akan menghambat tindakan musuh.

Tentu saja, alasan penurunan akselerasi ini diluar pikiran semua orang.

Tetapi —

Dalam waktu singkat, hanya satu orang yang bisa melihat siasat milik Gabriel.

Bersembunyi dalam terminal portable milik Yuuki Asuna, «ia», AI «Top-Down» paling maju di dunia, secara sembunyi-sembunyi bergerak melewati internet.

* * *

“Ada… yang salah?”

Alice berhenti menggunakan suara nyaringnya beberapa saat lalu. Mendengar perkataannya, Asuna lalu mengangkat kepalanya dan menggeleng.

“Tidak… Bukan apa-apa. Maaf.”

“Kau tidak mengganggu, kami masih menunggu jawabanmu.”

Alice menjawab tidak sabar.

“Jadi, kau punya petunjuk mengenai «Code 871»?

“Ya. Aku akan menjelaskannya.”

Asuna menjawab sok keren. Bahkan Alice agak binggung atas jawaban tersebut.

Asuna tak bisa mengingat pernah berargumen dengan seseorang sebelumnya. Ia pandai berteman — Lisbeth, Silica, Leafa, Sinon, dan bahkan teman-teman kelas di sekolahnya.

Ngomong-ngomong, kapan terakhir kalinya ia mengutarakan pendapatnya di depan seseorang? Ia terdiam sesaat dan hampir tertawa. Tak perlu menduga, orang yang sering mendengarkan pendapatnya adalah Kirito.

Sejak pertama kali mereka bertemu di lantai pertama Aincrad dan entah bagaimana menjadi sebuah hubungan untuk menyelesaikan permainan kematian, Asuna sering berteriak di depan wajah Kirito beberapa kali.

Mungkin, ada waktunya ketika ia bisa menjadi akrab dengan gadis bernama Alice ini.

— Tidak, sepertinya tak bisa.

Mengakhiri pikirannya, ia membuka mulutnya.

“… Nah, orang yang menanamkan «Code 871» ataupun Segel Mata Kanan pada nona kecil Alice adalah seseorang dalam Dunia Nyata… kemungkinan mata-mata pihak musuh.”

“Hmm… Nah, apakah tak ada cara lain untuk mematahkan Code tersebut selain menghancurkan mata kanan seseorang?”

Pada pertanyaan Bercouli, Asuna menggelengkan kepalanya untuk meminta maaf.

“Maaf, aku juga tak tahu… Aku tak berpikir jika segel seperti itu bisa dilepas dari dalam Underworld.”

Mendengar kata-kata Asuna, Alice merasa tak nyaman.

Tentu saja, kesan pertama yang diperoleh Alice sunggguh buruk. Asuna tiba-tiba berdekatan dengan Kirito tanpa adanya penjelasan lebih rinci. Setelah semua, dirinya adalah yang melindungi Kirito yang terluka selama ini.

Lalu, gadis yang bernama Asuna ini juga berasal dari Dunia Nyata sama seperti Kirito. Menilai dari perkataan dan tindakan Asuna, ia pasti memiliki ikatan tertentu. Lalu, karena ia mengejar Kirito bahkan sampai ke dunia lain, setidaknya ia harus mengatakan alasannya.

Kenapa dirinya begitu gelisah? Ia telah berpikir jika dirinya adalah satu-satunya orang di dunia ini yang berkewajiban melindungi Kirito, namun tiba-tiba ada pendatang lain yang berusaha menantang dirinya?

Ataukah kegelisahan ini berasal atas semangat untuk bersaing pada kemampuan berpedang mengerikan milik Asuna?

Itu pertama kalinya Asuna melihat serangan yang sangat cepat. Serangan tersebut bahkan tak bisa ditandingi oleh Wakil Komandan Knight Fanatio. Serangan tersebut bukanlah serangan beruntun biasa; serangan miliknya terasa seperti tusukan yang datang pada waktu yang sama. Jika pedang mereka saling bertubrukan satu sama lain, serangan musuh pasti akan bisa melanjutkan serangannya.

Ataukah kegelisahan ini berasal —

Karena Asuna sungguh sangat cantik, menatapnya membuat Alice tak percaya diri?

Sebuah wajah tanpa adanya sedikit ketegangan, seolah wajah tersebut menyatu dengan kata “cantik” itu sendiri. Api unggun seolah menerangi kulit putihnya dan juga rambut berwarna chestnut yang tampak seperti benang kualitas atas. Mata para Pemimpin Penjaga juga menunjukkan kekaguman. Jika Asuna menyebut dirinya sebagai Dewi Stacia, mereka pasti akan percaya dengan yakin.

Ia ingin tahu.

Bukan tentang Dunia Nyata maupun musuh, tetapi tentang Asuna sendiri. Hubungan dirinya dengan Kirito.

Terombang-ambing dalam pikirannya sendiri, Alice kembali tersadar dan mendengarkan penjelasan. Asuna menjelaskan kepada Komandan Knight.

“…«Musuh» takut pada orang-orang yang telah berhasil melepaskan Segel di Underworld… dengan kata lain, jika yang mereka sebut sebagai «Putri Cahaya» muncul dan berhasil ditarik keluar dari dunia ini. Karena Putri Cahaya di Dunia Nyata adalah seseorang yang benar-benar berharga.”

“Itulah yang aku tak pahami.”

Komandan Knight Bercouli bingung sambil memutar botol anggur miliknya.

“Yang kamu sebut «Putri Cahaya», atau nona kecil Alice, seharunya menjadi sosok yang setara dengan orang-orang Dunia Nyata, benar kan? Aku bertanya, mengapa mereka mau repot-repot mengambilnya? Baik itu musuh maupun Asuna-san, apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan setelah nona kecil dibawa?”

“Um…”

Asuna menggigit bibirnya.

Mata milik Asuna terpejam seolah ia menunjukkan ekspresi kesakitan.

“… Maaf, aku masih belum tahu alasannya. Karena, aku… harap jika Alice-san bisa melihat dan menilai sendiri Dunia Nyata dengan kedua matanya. Dunia kami bukanlah dunia para dewa dewi, juga bukanlah dunia surga. Malahan, dunia kami lebih buruk dan kotor dari dunia ini. Musuh juga pasti memiliki keinginan tersendiri karena mengejar Alice-san. Kurang lebihnya aku yakin jika Alice-san tidak akan memaafkan Dunia Nyata dan orang-orang yang tinggal disana. Tetapi… disana banyak orang-orang yang ingin melindungi dunia ini. Seperti… seperti Kirito-kun.”

Alice terdiam mendengarkan kata-kata rumit Asuna.

Namun ia mengangguk perlahan.

“… Oke. Aku tak ingin mengajukan pertanyaan lagi untuk sekarang.”

Alice perlahan melonggarkan kepalan tangannya, dan mengangkat bahu.

“Tak peduli apapun, aku tak akan melakukan hal yang tak ingin aku lakukan. Terlebih lagi, aku masih belum memutuskan mau pergi kesana atau tidak. Meskipun aku ingin melihat dunia luar, itu bisa didiskusikan setelah kita … mengalahkan Dewa Kegelapan Vektor dan pasukannya, lalu memperoleh kedamaian.”

Alice berpikir jika Asuna mungkin akan meledak lagi, tetapi ia hanya terdiam sesaat lalu mulai berbicara lagi:

“… Yeah. Karena pasukan Tanah Kegelapan sedang dikendalikan manusia dari Dunia Nyata, akan sedikit membahayakan bagi Alice-san dan aku jika pergi sendiri. Musuh juga mungkin berpikiran sama. Aku akan… bertarung bersama kalian. Serahkan Vektor padaku.”

Sorakan gembira terdengar dari para Pemimpin Penjaga. Bagi mereka, tak peduli siapapun Asuna, ia tak ada bedanya dengan Dewi Stacia. Setidaknya, karena ia memiliki serangan pengubah bentuk dataran. Serangan tersebut bisa mengalahkan duapuluh ribu maupun duaratus ribu.

Komandan Knight juga menginginkan hal yang sama. Ia menyilangkan tangannya dan bertanya:

“Baiklah, kita kesampingkan masalah Dunia Nyata untuk sekarang. Kembali ke masalah yang kita hadapi… Skill yang kamu gunakan tadi, Asuna-san, bisakah digunakan tanpa batas?”

“… Maaf, sepertinya tidak bisa.”

Asuna mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala.

“Kekuatan seperti itu memberikan tekanan yang kuat bagi mental pemakainya. Aku bisa menahan ketidaknyamanan yang muncul, tetapi jika aku menggunakannya secara berlebihan, aku mungkin akan dipaksa meninggalkan dunia ini karena dampak kerusakan mental. Jika itu terjadi, aku tak akan bisa kembali ke Underworld. Sayangnya, aku hanya bisa melakukan perintah seperti tadi sekitar satu atau dua kali lagi.”

Wajah-wajah di depan api ungun terlihat kecewa setelah mendengar kata-kata Asuna. Melihat ini, Alice berdiri sekali lagi.

“Bagaimana mungkin kita bergantung pada kekuatan seperti itu untuk melindungi dunia kita sendiri?! Ia lebih dari cukup memberikan pertolongan. Sekarang, giliran kita menunjukkan kemampuan para Knight dan Penjaga yang kita miliki!”

Setelah menyemangati mereka, Alice merasakan tatapan kagum milik Asuna dan ia mencoba berpaling dari mata Alice.

Seseorang yang setuju pertama kali adalah Renri, Knight termuda yang hadir saat ini.

“Y… Yeah! Kalian juga mendengar kan tadi, Asuna bukanlah seorang Dewi, ia manusia sama seperti kita! Kita seharusnya juga bertempur!”

Kata-kata miliknya tampak beresonansi dengan dua buah Divine Instruments yang menggantung di pinggangnya, si Knight termuda ini lalu menatap gadis berambut merah yang agak jauh dari Asuna. Alice tertawa dalam hati.

“Aku juga ingin… melawan lagi orang itu.”

«Si Pendiam» Sheyta berguman, lalu melempar topinya ke dalam api.

Para Pemimpin Penjaga satu persatu mulai setuju, mereka saling tatap satu sama lain.

Banar, kita akan bekerja sama melindungi apa yang kita cintai – teriakan tersebut datang dari para Penjaga yang berkumpul di sekitar area rapat. Seolah mengikat keinginan semuanya, api unggun mulai membara, asap yang dihasilkan lalu membumbung tinggi ke langit malam.

***

Apakah ini — tak apa?

Di tenda miliknya, Asuna mulai melepas armor berwarna mutiara putih miliknya.

Keinginan Higa dan Kikuoka di Dunia Nyata, Asuna seharusnya membawa Alice ke system console lalu memasukannya ruang sub control.

Lalu setelah itu? Menurut Kikuoka, selama RATH memperoleh Fluctlight milik Alice dan menganalisa strukturnya, mereka bisa saja memasukkannya kedalam senjata. Sepuluh ribu Fluctlight buatan lainnya tak berguna. RATH juga tak ingin menyia-nyiakan waktu dan sumber daya untuk memelihara Underworld.

Mereka hanya akan menyelamatkan Alice dan menghancurkan sisanya, apa yang akan dilakukan Kirito jika ia terbangun? Tidak, apakah mungkin ia akan terbangun …?

Tidak, ia tak boleh merasa bimbang lagi. Ia datang sejauh ini untuk bertemu dengan Kirito, jadi ia harus mencoba yang terbaik untuk terhubung dengannya, berbicara dengannya, dan menemukan cara untuk menyembuhkannya. Higa pernah berkata jika ia harus mencari sebuah keajaiban dalam Underworld untuk menyembuhkan Kirito.

Sekarang ini, ia hanya ingin berada dalam tenda persediaan tempat Kirito berada, dan berbicara dengannya. Asuna hanya ingin berada di sisinya. Ia tak ingin meninggalkannya dan menuju system console yang berada jauh di selatan.

— Setidaknya, untuk malam ini…

Membuat keputusan seperti itu, Asuna melepas semua armornya, dan berganti mengenakan baju perempuan, lalu ia melangkah menuju pintu masuk tenda.

Meskipun ia telah memprotes, Komandan Knight telah menempatkan Penjaga sebagai pengawal. Si pemuda agak gugup karena tugasnya sebagai pengawal pribadi Dewi Stacia, ia bolak-balik berkeliling tenda.

Ketika si penjaga melintasi rerumputan di depan dengan posisi membelakangi dirinya, Asuna dengan cepat meninggalkan tenda. Dalam waktu tiga detik, ia berhasil menyembunyikan diri dalam bayangan pohon besar yang jaraknya sepuluh meter dari tenda.

Menoleh kebelakang, ia melihat bahwa si penjaga belum menyadari kepergian Asuna. Setelah meminta maaf dalam hati, Asuna berjalan ke kegelapan hutan.

Pasukan Kerajaan Manusia telah kelelahan karena pertempuran berskala besar ini, yah untuk beberapa orang hal ini tidak berlaku. Beberapa prajurit berjaga-jaga di bagian luar hutan, jadi Asuna bisa menyelinap ke area tenda persediaan tanpa terdeteksi.

Tutup matamu dan fokus.

Ia tidak mengetahui jika itu adalah kemampuan super account yang dikenakannya ataupun murni intuisinya, tetapi ia bisa merasakan lokasi Kirito.

Berjalan beberapa langkah ke arah tujuan, Asuna tiba-tiba menyadari adanya kilatan emas di matanya.

Ketahuan — ia perlahan membuka matanya.

Sesosok orang duduk membelakangi tenda sambil menyilangkan tangannya. Seperti Asuna, ia juga memakai pakaian perempuan yang terbuat dari benang. Rambut emasnya bergelombang karena angin malam. Tatapan mata birunya menampilkan api menakutkan.

“… Aku tahu kau akan kemari.”

Alice mendengus pelan, menggoyangkan rambut emasnya.

Ditatap secara langsung oleh musuh yang memiliki tinggi, tubuh, dan umur yang sama, Alice berpikir untuk melanjutkan kata-katanya.

— Bukankah aku sudah katakan jika kau tak boleh kesini? Kembalilah ke tendamu dengan tenang.

Tetapi kata-kata tersebut sulit untuk diucapkan. Karena didalam mata Asuna, ia bisa melihat emosi yang tak bisa diungkapkan.

Kerinduan. Rasa sakit karena kerinduan, dan juga adanya keinginan yang timbul karena rasa rindu tersebut.

Fuu — menghembuskan nafasnya, Alice bertanya pada dirinya sendiri.

— Aku bukannya mengalah. Akulah orang yang memiliki tanggung jawab terbesar untuk memastikan Kirito segera terbangun. Kenyataan tersebut tidak akan berubah. Karena Kirito telah bertarung bersamaku, ia kalah juga karenaku.

Karena alasan tersebut —aku harus memastikan jika Kirito terbangun.

“… Ayo kita buat kesepakatan.”

Mendengar ucapan pendek Alice, Asuna berkedip kebingungan.

“Aku mengijinkanmu melihat Kirito. Aku juga akan mengatakan segala hal yang aku ketahui. Sebagai gantinya, kau harus mengatakan segala hal yang kamu ketahui tentang Kirito.”

Setelah beberapa saat kebingungan, Asuna tersenyum percaya diri.

“Baiklah. Tetapi ceritanya lama lho. Satu malam tidak akan cukup untuk menceritakannya.”

Merasa tak nyaman. Alice menjawab:

“Berapa lama kau mengenalnya?”

Lalu, mata kecoklatan Asuna kini menatap langit malam, kemudian ia mengacungkan jari sambil menjawab:

“Well… kami bertarung sebagai pasangan selama dua tahun. Kemudian kami berkencan selama satu setengah tahun. Kami bahkan pernah tinggal bersama selama dua minggu.”

— “Kencan” maksudnya sebuah hubungan romantis, benar kan? Tidak, mungkin … tetapi aku telah tinggal bersamanya selama …

Alice berbalik sedikit, lalu membalas:

“Aku telah menghabiskan semalaman penuh bertarung bersamanya. Kemudian aku merawatnya di rumah dan tinggal bersamanya selama setengah tahum.”

Kali ini giliran Asuna yang terkejut, tetapi ia cepat pulih. Jadi begitu — ia berguman.

Keduanya saling tatap, siap untuk bertarung seperti sebelumnya. Udara malam terasa panas, mereka berdua akan meledak: pishi, pishi.

Seseorang yang cukup berani memasuki pertarungan antara seorang Integrity Knight dan Dewi Pencipta tak lain dan tak bukan — adalah seorang gadis muda.

“Um…”

Terkejut, Alice berbalik ke arah datangnya suara. Asuna juga mengikuti.

Suara tersebut milik siswi dari tim persediaan yang mengenakan kain penutup rambut dan gaun malam berwarna abu-abu — ia adalah Ronye. Ia dengan malu-malu mengeratkan kedua tangan didepan dadanya, lalu berbicara.

“Sebenarnya, Aku, aku menghabiskan waktu dua bulan membersihkan kamar Kirito-senpai, dan ia juga mengajariku skill pedang, dan juga ia mentraktirku pai madu dari Jumping Deer Inn beberapa kali! Mungkin hal itu tak sebanding dengan kalian berdua, tetapi… aku juga ingin berbagi pengalaman…”

Alice berkedip beberapa kali sebelum kembali memandang Asuna. Mulut keduanya tersenyum masam, seolah mendesah.

“Tak apa, Ronye-san. Kamu juga teman kami kok.”

Alice mengangkat bahunya dan mengangguk pada gadis kecil tersebut. Ia tersenyum pada gadis ini: sungguh keberanian yang luar biasa.

Tetapi — ia bukanlah satu-satunya saingan.

“Bolehkan aku berbagi informasi juga?”

Sebuah suara maskulin, tetapi masih terdengar seperti suara seorang wanita. Seorang wanita yang cukup tinggi muncul dibawah cahaya bulan tanpa menimbulkan suara. Menatap sosoknya, Asuna mengeluarkan suara lirih.

“… Kamu adalah…”

Tanpa diduga. Ia adalah Pemimpin Penjaga wanita yang hadir di pertemuan sebelumnya.

Wanita ini memiliki rambut kecoklatan yang diikat ekor kuda.

“Aku adalah Sortiliena Serlut dari Knight Order Kerajaan Norlangarth Utara. Walaupun aku ingin menunggunya sampai perang ini selesai… atau begitulah yang aku pikirkan, tetapi karena hubunganku yang lumayan panjang dengan Kirito, aku ingin bergabung.”

Alice menghembuskan nafasnya lagi, mengangkat bahunya, ia berbicara pada Pemimpin Penjaga:

“… Dan hubungan macam apa itu, Pemimpin Penjaga Serlut?”

“… Jika tak keberatan, panggil saja aku «Liena», Knight-dono.”

Sortiliena berdeham pelan sebelum menunjukkan kartu andalannya:

“Ketika aku berada di Akademi Master Pedang Centoria Utara, Kirito melayaniku sebagai seorang valet selama setahun. Aku juga mewariskannya skill pedang beberapa kali padanya.”

“………”

Ketiga gadis lain terdiam mendengar rahasia tersebut.

Sword Art Online Vol 16 - 293.jpg

Kedua mata Asuna dan Alice bertemu, seolah menunjukkan ekspresi “Serius nih”, lalu mengangguk.

“Kamu pasti memiliki cukup informasi yang bisa dibagikan, Liena-san. Mari bergabung dengan kami.”

Dengan atmosfir yang agak canggung, mereka berempat dengan diam berjalan, Alice membawa mereka menuju tenda kecil. Tempat tidur sederhana dengan dua buah bantal di kedua sisi. Salah satu bantal tersebut tak digunakan, sementara pemuda berambut hitam sedang tertidur di bantal satunya. Tertutup selimut, kedua pedang panjang sedikit terlihat.

Melihat hal ini, bibir Asuna bergetar. Alice tampaknya memperhatikan.

“… Kenapa?”

Atas pertanyaan Alice, Asuna seolah melupakan ketegangan diantara mereka, lalu ia menjawab sambil tersenyum:

“Kirito si «Dual Blades». Itulah panggilan Kirito-kun di dunia sana.”

“… Hoh…”

Karena Asuna mengatakannya, ketika Kirito bertarung melawan Administrator, ia memang bisa mengayunkan pedang hitam miliknya dan pedang putih milik Eugeo secara bebas. Kemampuan tersebut tampaknya tak mudah dipelajari.

Alice duduk di dekat Kirito yang sedang tertidur. Ia mengisyaratkan gadis lainnya agar duduk juga:

“Nah bisa kita mulai sekarang.”


Langit malam menjadi semakin gelap dan semakin dingin, hanya ada bulan keunguan yang bersinar di atas Tanah Kegelapan.

Baik itu Penjaga dari Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia maupun para Dark Knight dan Petarung Tangan Kosong dari Pasukan Tanah Kegelapan yang sedang berada di tendanya masing-masing kini sedang beristirahat dan tidur.

Di sudut lain malam sunyi sebelum peperangan memasuki puncaknya, hanya ada cahaya dalam sebuah tenda yang tidak dimatikan. Suara tawa terdengar dari baliknya, tetapi hanya seokor burung hantu yang sedang bertengger di atas pohon yang bisa mendengar tawa mereka.

Setelah minyak dalam lentera habis, keempat wanita yang kelelahan mengobrol kini tertidur disebelah Kirito.

Sesaat kemudian, jauh di ibukota Centoria Pusat Kerajaan Manusia, sebuah bell berbunyi menandakan tengah malam. Tentu saja, suara tersebut tidak sampai ke perkemahan di Tanah Kegelapan.

Pada saat yang sama —

Sebuah sensasi cukup redup yang bisa dideskripsikan sebagai «getaran waktu» sampai ke setiap orang di Underworld. Itu adalah sensasi rasio FLA yang turun menjadi 1:1, tetapi ketika orang-orang terbangun, mereka akan sulit merasakan perubahan tersebut.

Underworld, Kalender Dunia Manusia, hari ke-8 bulan ke-11, Tahun 380, Pukul 0:00.

Dunia Nyata, Waktu Standar Jepang, 7 Juli 2026, Pukul 0:00.

Waktu kedua dunia telah menjadi selaras.

Bagian 6[edit]

— Apakah kau pernah merasakan tanda-tanda kematian?

Secara tiba-tiba, sebuah suara aneh terdengar oleh Bercouli Synthesis One, kemudian matanya terbuka.

Cahaya fajar, perlahan mulai menerangi gelapnya tenda. Udaranya masih sedingin es, dan hembusan nafas miliknya bisa menimbulkan uap keputihan.

Ia tahu jika saat ini masih pukul 4:20 AM. Bercouli memiliki sebuah Divine Instrument «Time Piercing Sword», yang mana dulunya sebuah jarum jam raksasa, tentu saja ia bisa dengan mudah menentukan waktu. Dalam sepuluh menit, ia akan menyampaikan pesan pada penjaga guna membunyikan terompet dan membangunkan semuanya.

Menyentuh kepala bagian belakang dengan jarinya, ia bisa merasakan kata-kata yang muncul dalam mimpinya.

Apakah kau pernah merasakan tanda-tanda kematian?

Seseorang yang bertanya padanya adalah Pemimpin Tertinggi Administrator.

Ia mulai lupa akan kenangan miliknya. Seratus tahun yang lalu? Ataukah seratus limapuluh tahun yang lalu? Di masa lampau, guna mencegah pikirannya rusak, kenangan yang tak diperlukan telah dihapus dari pikirannya. Bercouli tak bisa mengingat kenangan masa lalu secara urut.

Namun kenangan dalam mimpi tersbut masih bisa diingat dengan jelas.

Mungkin Administrator bosan dengan hari yang sama berulang-ulang — meskipun ia yang menginginkannya — Administrator kadang-kadang memanggil seseorang yang berusia sama dengannya untuk datang ke kamar miliknya lalu minum bersama, orang tersebut adalah Bercouli.

Si penguasa berambut perak berbaring di tempat tidur, hanya mengenakan kain tipis. Ia sering menanyakan pertanyaan sambil memainkan gelas anggurnya dengan malas.

Ia duduk didepannya sambil menyilangkan kaki. Setelah menggigit keju dan ditemani anggur, Bercouli menggerakkan bibirnya sambil memalingkan lehernya.

Ia telah membiasakan diri terhadap kelakuan Administrator; Bercouli tidak mencari kepuasan darinya, tetapi ia hanya ingin mengatakan apa yang ia ingin katakan.

— Sebuah tanda-tanda kematian. Ketika aku masih muda dan dikalahkan oleh seorang Dark Knight dari generasi tersebut maupun dari generasi sebelumnya, sungguh terasa menyakitkan.

Jadi Pemimpin Tertinggi tertawa sambil menutupi mulutnya, hingga mahkota kristal yang dikenakannya hampir jatuh.

— Tetapi aku berhasil memenggal kepalanya kan? Aku mengingat jika Administrator mengubah sebuah kristal dan menempatkannya di sana. Aku tak bisa mengingat kenangan tersebut.

— Benar, aku tak bisa mengingatnya. Tetapi mengapa aku kepikiran? Keberadaanku seharusnya tidak terikat oleh perasaan seperti itu.

Pada pertanyaan tersebut, Administrator menggerakkan tubuhnya dan menyilangkan kakinya, tersenyum malu.

— Oh sayang, kau tak memahaminya, Bercouli. Setiap hari… aku memiliki perasaan tersebut setiap hari, setiap hari. Kapanpun aku terbangun… tidak, didalam mimpiku juga. Karena aku masih belum menguasai semuanya. Masih ada musuh yang hidup, dan mungkin dimasa depan musuh baru akan muncul.

— Sungguh, menjadi Pemimpin Tertinggi sungguh pekerjaan yang melelahkan.

Seratus tahun setelah percakapan tersebut, jauh dari Kerajaan Manusia, di ujung hutan Tanah Kegelapan, Bercouli tersenyum takut.

— Sekarang, aku mengerti maksud perkataanmu.

Yang disebut tanda-tanda kematian hanyalah efek samping dari bahaya.

Musuh kuat yang bisa melihat segalanya, mencari kematian, tak peduli berapa kalipun kau melawan maupun berteriak … kau telah lama mencarinya.

Seperti aku.

Seperti aku yang bisa merasakan tanda-tanda kematian yang kapanpun bisa muncul…

Setelah kematian Administrator, Komandan Knight Bercouli yang mana menjadi manusia paling lama hidup di dunia, kini membuang pelindungnya dan mengenakan baju putih pada tubuh berototnya, mengikat tali sepatunya, dan mengaitkan pedang tersayang miliknya pada pinggang.

Berjalan menuju dinginnya udara pagi, Bercouli berjalan menuju penjaga guna membangunkan semuanya.

* * *

Tepat pada waktu yang hampir bersamaan.

Di perkemahan Tanah Kegelapan yang berjarak dua kilol di utara, ketika cahaya pagi mulai muncul, sepuluh naga kini terbang ke langit.

Para Dark Knight yang menunggangi naga memegang kumpulan tali besar. Masing-masing tali dililitkan pada kayu di tanah lembah besar tercipta.

Tali yang membentang tertiup oleh angin, para naga menyebrang hampir seratus mel ke ujung lembah di bagian selatan. Para Dark Knight yang menyebrang tidak membawa pedang, melainkan palu besar. Mereka mulai memasang patok di tanah dengan rasa tak senang.

Perintah terbaru Kaisar Vector adalah —

Guild Petarung Tangan Kosong dan Dark Knight Order akan menyebrangi lembah menggunakan tali tersebut.

Musuh pastinya akan menyerang, tetapi mereka harus menyebrang apapun yang terjadi.

Mereka yang terjatuh tak akan diselamatkan.

Makanan dan perlengkapan lain tidak dikirimkan ke seberang.

Dengan kata lain, mereka semua adalah orang-orang yang dikirim untuk bertarung sampai mati tanpa adanya bantuan makanan dan persediaan. Pemimpin Guild Petarung Tangan Kosong, Iskahn dan Pemimpin Dark Knight, mereka berdua memprotes.

Tetapi mereka tidak bisa menolak perintah Kaisar, sang pemimpin mereka.

Mereka hanya berharap agar bisa menyebrangi lembah tersebut sebelum musuh menyadari kedatangan mereka — namun apa yang diinginkan Kaisar sebelumnya adalah untuk menyerang musuh. Namun pasukan Kerajaan Manusia yang berpatroli menangkap gerakan pasukan Tanah Kegelapan.

* * *


Dengan mulut tertutup, Asuna mengunyah roti yang terisi keju, daging asap, dan buah kering. Ia masih mengantuk.

… Karena waktu berputar seribu kali lebih cepat, aku bisa memakan ribuan makanan daripada yang bisa kumakan di dunia nyata. Hal itu tak akan membbuatku gendut, bener kan.

Mencuri pandang pada orang didepannya, ia melihat Integrity Knight Alice dan Pemimpin Penjaga Sortiliena menggigit roti mereka, mata mereka juga kelihatan masih mengantuk. Meskipun tertutup pakaian wanita, Asuna bisa mengira bentuk tubuh mereka berdua, tak ada lemak.

Apakah tak ada gaya hidup tentang diet ataupun semacamnya di dunia ini? Ataukah suatu tubuh sudah ditentukan ketika lahir? Ataukah — tubuh terbentuk karena mental seseorang?

Disamping mereka berdua, Ronye mengiris roti isi ke ukuran sekali gigit kepada Kirito. Menurut Alice, life miliknya hanya tertopang oleh makanan, tetapi tubuh tersebut terlihat semakin kurus setiap hari.

Seolah ia akan menghilang dari dunia ini.

“… Kirito-senpai kelihatan lebih baik pagi ini.”

Ronye tiba-tiba berkata, seolah ia membaca pikiran Asuna.

“Dan juga ia makan cukup banyak.”

“Mungkin karena empat gadis cantik tidur bersamanya?”

Asuna hanya bisa tersenyum aneh atas perkataan Alice.

Kemarin malam akhirnya menjadi situasi dimana mereka berempat tertidur di samping Kirito karena keasyikan ngobrol sampai larut malam. Keempatnya saling berbagi kenangan tentang Kirito, tetapi karena kekurangan waktu untuk bercerita, mereka takluk akan rasa ngantuk.

Sesaat kemudian, bunyi terompet membangunkan mereka. Lalu, mereka menyantap sarapan yang dibawakan Ronye seperti saat ini, Asuna kepikiran tentang Kirito.

— Kirito-kun tidak berubah sampai kapanpun. Ia baik pada semua orang, hingga tampak seperti beban yang melukai dirinya sendiri.

— Tetapi kali ini terlalu berat. Karena menanggung beban dunia seorang diri. Kamu seharusnya bisa bergantung padaku dan orang lain. Karena semua orang sangat menyukaimu.

— Tentu saja, aku yang paling menyukaimu.

Hati Asuna terisi ketetapan sekali lagi. Ketika Kirito terbangun, ia harus berkata sambil tersenyum: Jangan khawatir, semuanya sudah diurus. Apa yang ingin kamu lindungi, aku dan taman-taman sudah melindunginya.

Keinginan Asuna tampaknya mempengaruhi ketiga gadis disekitarnya. Alice, Ronye dan Sortiliena memandang dirinya dengan mata terbuka sekarang, lalu mengangguk.

Kemudian, terompet berbunyi cepat menandakan musuh sudah mulai melakukan serangan.

Dengan roti yang masih menggantung di mulut, Alice berlari ke tendanya, memakai armor miliknya, menggenggam Fragrant Olive Sword dan berlari kembali.

Setelah bertemu dengan Asuna yang juga sudah siap untuk bertarung, ia berkata pada Ronye dan Tieze, “Tolong jaga Kirito”, lalu ia menuju bagian utara perkemahan.

Di perbatasan hutan, ia melihat sosok Bercouli dengan pedangnya. Setelah menerima laporan pasukan pengintai, Komandan Knight menatap Alice, Asuna, dan setelah beberapa detik, Renri dan Sheyta tiba, kemudian ia berguman dengan ekspresi serius:

“Jadi tampaknya musuh — orang dari Dunia Nyata telah menipu pasukannya. Kelihatannya Kaisar Vector tak memiliki rasa belas kasih.”

Apa yang dikatakan selanjutnya membuat Alice menggigit bibirnya.

Jembatan yang terbuat dari tali tebal yang membentang sejauh seratus mel. Jika kamu terjatuh, maka dipastikan tewas. Sebuah tugas yang tak mungkin dilakukan tanpa persiapan fisik dan mental. Untuk bisa menggunakan strategi semacam itu, Vector pasti tidak peduli — bisa dikatakan, ia memandang pasukannya bagaikan kertas toilet.

Jika seperti itu, bahkan jika sepertiga pasukan berhasil menyebrang jembatan tersebut, jumlah pasukan mereka masih tersisa tujuh ribuan. Seribu pasukan Kerajaan Manusia melawan mereka dipastikan tidak akan mennag.

Strategi awal mereka dengan menyerang menggunakan arts sambil sembunyi di hutan kini tak mungkin dilakukan karena cahaya pagi. Haruskan kita mundur lebih jauh ke selatan dan menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan kejutan lagi?

Kata-kata Komandan Knight Bercouli menyela kebingungan Alice.

“Ini peperangan.”

Si pahlawan legendaris berkata pelan. Urat nadi bisa terlihat di lehernya, ia melanjutkan:

“Mengesampingkan Asuna-san yang dari luar, ini bukan waktunya bersimpati pada pasukan Tanah Kegelapan. Jika kita ingin hidup kita harus mengambil kesempatan ini.”

“Kesempatan… kata paman?”

Pada Alice yang terkejut, Bercouli menjawab dengan tatapan tajam.

“Ya. … Knight Renri.”

Namanya tiba-tiba dipanggil, Integrity Knight muda tersebut kini meluruskan punggungnya.

“Y… Ya.”

“Berapa jarak maksimal Divine Instrument «Twin Winged Blades» milikmu?”

“Ya. Normalnya tigapuluh mel, tetapi ketika Release Recollection, sekitar tujuhpuluh, tidak, seratus mel.”

“Bagus. Nah… sekarang kita keempat Knight akan menyerbu pasukan musuh yang berada di lembah. Alice dan aku akan memimpin, kemudian Sheyta fokus melindungi Renri. Renri akan menggunakan Divine Instrument miliknya untuk merusak tali yang ada di ujung.”

Alice menelan ludah.

Jadi — musuh akan melindungi ujung tali dengan nyawa mereka. Bahkan menggunakan tubuh mereka untuk bertahan, pisau lempar akan dilemparkan, melewati kepala mereka dan memotong ujung tali. Seperti kata Bercouli, ini adalah strategi tanpa ampun.

Tetapi Knight muda yang berusia sekitar limabelas tahun mengepalakn tangan kanannya di depan dadanya, raut mukanya terisi keyainan.

“Ya, pak!”

Lalu, si Pendiam Sheyta berucap dengan suara lirih:

“Serahkan padaku. Aku akan… melindungi Renri.”

Selanjtnya Asuna yang tak diperintah Bercouli kini melangkah kedepan.

“Aku juga akan ikut. Semakin banyak yang melindungi maka semakin baik.”

Alice menutup matanya sesaat, lalu berkata pada dirinya sendiri:

Situasi sekarang ini — aku, yang telah membakar sepuluhribu pasukan Demi-human hingga tewas menggunakan art skala besar dan juga membunuh duaribu Pengguna Dark Art menggunakan Armament Full Control Art tak lagi berhak untuk mencari pertarungan terhormat.

Sekarang, aku hanya harus menghunuskan pedangku dan membunuh musuh.

“— Ayo kita lakukan.”

Menggangguk kepada mereka berempat, Alice menatap jembatan yang ada di utara. Tanah berwarna hitam kini sudah diterangi oleh cahaya pagi kemerahan.

* * *

Cepat!

Cepat, Cepat!

Mengepalkan kedua tangannya, Iskahn berteriak dalam hati.

Di atas lilitan sepuluh tali yang membentang sepanjang lembah, Para Petarung Tangan Kosong dan Dark Knight mulai menyebrang, satu persatu.

Mereka berusaha mengaitkan kedua tangan dan kaki mereka sambil bergelantungan, tetapi karena para prajurit belum pernah mengalami latihan semacam ini sebelumnya, mereka bergerak dengan sangat waspada. Jika mereka mempunyai cukup waktu mereka akan membagikan perlengkapan pengaman, tetapi Kaisar tidak mempedulikannya.

Terlebih lagi, permintaan Iskahn agar ia menyebrang terlebih dahulu langsung ditolak. Mungkin karena tadi malam, ia menerima hukuman karena membawa Tim Rabbit untuk melawan musuh seorang diri. Kalian harus mematuhi perintahku. Kata-kata sedingin es milik kaisar bergema di telinganya.

Dihadapan Iskahn yang sedang menggeramkan giginya dan menatap kedepan, teman-temannnya yang berada paling depan akhirnya sampai ke tengah-tengah jembatan tali.

Ia bisa melihat dari jauh warna kulit perunggu kemerahan dalam dinginnya pagi ini, keringat mereka terpantul cahaya. Sungguh tugas sulit.

Kemudian.

Hembusan angin kuat mendatangi lembah tersebut.

Pyoooo! Tali tersebut mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“AH…!”

Iskahn berteriak, mengutuk dirinya. Karena keringat menetes di telapak tangan, beberapa temannya tergelincir dan terjatuh ke jurang.

Teriakan bergema di lembah. Pemimpin muda Petarung Tangan Kosong menggeramkan giginya. Itu bukanlah teriakan ketakutan. Teriakan tersebut adalah teriakan penyesalan tak bisa mendapat kematian terhormat dalam peperangan, mereka malah dipaksa melakukan tindakan akrobatik menyebrang seutas tali.

Setelah angin berhenti berhembus, dua orang Petarung dan seorang Dark Knights terjatuh ke dalam kegelapan lembah.

Tetapi para prajurit pemberani dibelakang mereka siap untuk menyebrang. Setiap tiga mel, seorang prajurit baru akan menyebrang.

Semakin sering angin berhembus, setiap kali itu pula angin tersebut merenggut nyawa rekan-rekannya. Tanpa ia sadari, kepalan tangan Iskahn berubah kemerahan.

— Kematian sia-sia.

Tidak, bahkan tak seperti itu. Mereka bahkan tidak mendapat pemakaman yang layak.

Dan tujuan peperangan ini bukanlah harapan kelima ras Tanah Kegelapan; melainkan keinginan pribadi Kaisar untuk mendapatkan «Putri Cahaya». Ia tidak tahu bagaimana meminta maaf pada teman-temannya.

— Cepat, lebih cepat. Kalian semua cepatlah menyebrang, sebelum seseorang mengganggu jalan kalian.

Entah doa milik si pemimpin sampai pada anak buahnya maupun tidak, ataupun mereka mulai terbiasa, orang yang berada paling di depan meningkatkan kecepatan dan akhirnya sampai di ujung. Setelah lima detik berlalu, seorang lagi sampai di ujung.

Jika terus seperti ini, akan butuh waktu lebih dari satu jam bagi sepuluhribu pasukan menyebrangi jembatan tali ini. Dalam waktu selama itu, musuh pasti mengetahui keberadaan mereka.

Namun sekarang ini ia hanya bisa berharap agar mereka semua bisa selamat sampai seberang.

Matahari naik di langit timur dengan cepat, sinarnya sampai ke tanah.

Berlawanan dengan kecepatan matahari, jumlah prajurit yang berhasil sampai ke seberang masih sedikit. Makin banyak yang terjatuh ke dalam lembah, sedangkan yang berhasil menyebrang jumlahnya naik dari limapuluh menjadi seratus, duaratus, dan hampir menyentuh angka tigaratus.

Di ujung sana, lima sosok berkuda telah tampak.

Pada jarak seperti ini, bahkan Iskahn dengan kemampuan penglihatannya tak bisa melihat musuh yang menunggangi kuda dengan jelas.

— Hanya lima… hanya lima orang? Masih ada waktu sebelum jumlah musuh bertambah.

Penilaian tersebut, lebih tepatnya harapan tersebut hancur seketika.

Kelima Knights tiba-tiba melaju kedepan lembah dengan kecepatan mengerikan. Mengenakan pakaian putih, armor berwarna-warni. Dan apa yang membuat Iskahn sangat khawatir yaitu semangat bertarung musuh sangat hebat.

— Integrity Knight! Kelima-limanya!!

“Serangan musuh!! Bertahan!! Lindungi jembatan tali dengan segala cara!!”

Iskahn berteriak, tak tahu apakah suaranya sampai pada teman-temannya ataupun tidak.

Tampaknya mendengar perintah tersebut, separuh dari tiga ratus orang yang telah berhasil menyebrang berkumpul di pasak kayu, membuat formasi melingkar. Sisanya bersiap menerima serangan.

Musuh yang berjarak seribu mel dari hutan melaju dengan kecepatan mengerikan karena menggunakan kuda, mereka berkumpul, mengincar tali di sisi kanan.

Yang memimpin mereka adalah seorang pria berotot mengenakan pakaian putih. Di sisi kanannya adalah seorang Knight perempuan yang mengenakan armor emas. Di sisi kirinya adalah Knight perempuan yang ia pernah lawan, namanya Sheyta.

Dibelakang mereka bertiga adalah seorang Knight kecil, dan dibelakangnya sepertinya ada beberapa orang lagi, ia tak bisa melihat dengan jelas.

Keringat mulai mengucur di tubuhnya, sepuluh Petarung Tangan Kosong berlari kearah mereka.

“URAAAA — !!”

Dengan teriakan semangat, pukulan dan tendangan didilancarkan kearah Knight.

Cahaya, cahaya, cahaya. Banyak kilatan cahaya muncul.

Pancuran darah mengucur ke langit seperti air terjun terbalik. Kepala, kaki dan tangan mereka dengan mudah terpotong.

Lalu.

Cahaya keperakan bersinar terlintas ke udara dari balik tiga Knight.

Cahaya tersebut membentuk lintasan diatas kepala para Petarung — terbang lurus menuju tali paling kanan sambil diiringi banyak prajurit yang berjatuhan —

“TIDAKKK — !!”

Iskahn menutupi telinganya, bukan karena suaranya sendiri, melainkan terganggu oleh suara potongan yang terdengar.

Tali telah terputus, menari di udara seperti ular raksasa.

Puluhan prajurit terlempar seketika dan jatuh ke dalam lembah.

Pemandangan ini terekam oleh mata lebar miliknya, Iskahn merasakan kata-kata yang keluar dari bibirnya yang mati rasa.

“Apakah ini… peperangan? Bisakah kau sebut ini perang?”

Disampingnya, Dampe juga kehilangan kata-kata.

Dipaksa untuk menyebrang menggunakan tali, bawahannya bahkan tak bisa menahan serangan musuh, setelah berlatih lama untuk menghancurkan tanah, mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan hasil latihan mereka.

Bagaimana ia akan menjelaskan pada orang tua juga anak-anak mereka yang menunggu di kampung halaman? Mereka tidak tewas secara terhormat dalam peperangan — tetapi mereka menghilang tertelan bumi tanpa mendapat luka ditubuh mereka. Bagaimana ia akan menjelaskan hal seperti itu?

Mematung ditempat, telinga Iskahn berbunyi nyaring oleh penyesalan teman-temannya.

Aku akan membalaskan dendam kalian semua. Jadi maafkan aku. Kumohon maafkan aku.

Bahkan ketika ia berbisik dalam hatinya, Iskahn tak bisa menyalahkan siapa yang bertanggung jawab atas masalah ini.

Menghadapi musuh yang jumlahnya lebih banyak dari mereka, para Integrity Knight telah mengerahkan segenap kemampuannya. Memohon mereka untuk berhenti menyerang hingga setiap orang berhasil menyebrang sungguh tak mungkin. Di sisi lain, musuh gigih untuk mengambil kesempatan ini dan hanya mengirimkan lima orang sungguh luar biasa.

Lalu siapa?

Siapa yang harus membayar kematian para prajuri?

Pemimpin mereka, yang hanya bisa mengepalkan tangan dan berdiri seperti orang bodoh?

Ataukah —

Tiba-tiba, rasa sakit yang menyiksa di mata kanan Iskahn membuat ia semakin menggeramkan gigi. Darah merah mengaburkan penglihatannya. Namun dihadapannya, dua lagi jembatan tali terputus dan menari di udara.

* * *

Dalam sesaat, tiga dari sepuluh jembatan tali telah rusak. Gabriel Miller menonton dari bagian belakang, ia menyangga pipinya menggunakan tangan. Tampak bosan.

Seperti yang ia duga, dalam hal AI, Unit dari Kerajaan Manusia masih lebih unggul. Tidak, dalam situasi ini, ia bisa melihat perbedaan yang sangat mencolok. Termasuk pertarungan semalam, pasukan Tanah Kegelapan hampir unggul namun seketika mengalami kekalahan besar. Tak peduli bagaimana ia berpikir, peperangan ini tidak seperti permainan simulasi yang pernah ia mainkan melawan CPU.

Hasil peperangan yang Gabriel ikuti ini menunjukkan kekalahan lebih dari 70%. Tetapi ia tidak menunjukkan ketidaksabaran sedikitpun.

Bahkan ketika ia melihat ratusan pasukan utama dihabisi, ia hanya menunggu. Menunggu «saat itu».

Pada waktu ini, Critter yang berada dalam ruang kendali utama Ocean Turtle telah menurunkan ratio FLA menjadi 1:1, sebuah tindakan yang menyelaraskan waktu di dunia ini dengan dunia nyata. Ia memerlukan cukup waktu untuk mengurangi kecepatan dan juga agar tidak diketahui pekerja RATH yang memantau Underworld.

Pada saat yang sama, melalui jaringan satelit, ia telah mengirimkan sebuah URL kedalam website-website video game berskala besar di Amerika. Link tersebut menuju sebuah website yang Critter ciptakan dengan cepat.

Di website tersebut, sebuah iklan dengan spesial efek berwarna darah mengumumkan:

Sebuah VRMMO terbaru kini terbuka secara terbatas untuk melakukan closed beta.

Permainan PvP pembunuhan pertama di dunia.

Avatar manusia. Tidak ada level, tidak ada batasan moral.

Pengguna yang melihat kata-kata tersebut terpukau akan aturan perusahaan yang seperti itu.

Sekarang — Juli 2026, karena merupakan bagian gerakan anti terorisme, VRMMO Amerika telah mengalami dampak pembatasan peraturan. Bahkan bagi para pengembang game indie yang menggunakan paket softwere The Seed, jika game mereka belum di review oleh badan penilai dan belum menerapkan kode moral, menjalankan servernya saja sangat sulit.

Terlebih lagi, tindakan brutal sangat dilarang; jika pengembang ingin menambahkan konten «pemotongan bagian tubuh», karakternya harus berbentuk serangga. Pembatasan seperti ini lebih buruk daripada di Jepang dimana tempat lahirnya VRMMO, hal tersebut membuat pemain Amerika frustasi. Dan tiba-tiba sekarang ini, sebuah pengumuman closed beta misterius muncul tiba-tiba.

URL telah disebarkan melalui SNS, dan orang-orang mendownload, mengkopi, me-reupload dengan koneksi yang sangat cepat. Dalam beberapa jam saja, jumlah AmuSpheres yang terhubung dengan client yang Critter ciptakan telah mencapai koneksi tigapuluhribu.

Rencana terbesar Gabriel yaitu memasukkan orang-orang dunia nyata.

Ia memberikan akun Dark Knight yang ada di Tanah Kegelapan kepada seluruh pemain yang ada di Amerika, membiarkan mereka terhubung ke dalam Underworld untuk membuktikan kemampuan bertarungnya.

Bahkan Kikuoka Seijirou, pemimpin RATH, ataupun pengembang Underworld, Higa Takeru tak akan bisa memimpikan situasi macam ini.

Struktur yang ada dalam Underworld hanyalah paket softwere VRMMO The Seed yang ditingkatkan. Jika itu sebuah game yang terbentuk oleh poligon, siapapun bisa log in selama mereka memiliki AmuSphere, mereka akan bisa menyentuh objek — ataupun membunuh pemain lainnya.

Tak ada yang bedanya siapapun yang akan terbunuh baik itu orang-orang dari Dunia Nyata maupun penduduk Underworld.

Bagian 7[edit]

Rencana rahasia Gabriel dan Critter benar-benar diluar bayangan teknisi RATH.

Di sisi lain, bahkan jika mereka mengetahuinya, tak ada cara untuk memotong koneksi satelit jika ruang kendali sedang dikuasai.

Tetapi ketika Critter mengirimkan URL, seseorang berhasil menyadarinya.

Dari dalam terminal portable yang dibawa Yuuki Asuna, Top-Down AI yang sedang mengamati kondisi dalam Ocean Turtle — Yui, ia berhasil menyadari pengumuman dalam website dan dengan cepat mengungkap rencana Gabriel.

Ia mencari cara untuk mengirim tanda peringatan ke ruang sub kontrol yang terkunci, tetapi terminal milik Asuna tertinggal di kabin miliknya, tak peduli seberapa keras ia membunyikan ringtone terminal, tak ada seorangpun yang bisa mendengar.

Harapan terakhir, Yui hanya bisa menarik kesadaran dirinya untuk kembali ke jepang dan mengirimkan sinyal dari terminal portable yang lain.

* * *

Asada Shino, seorang gadis SMA di dunia nyata dan juga seorang sniper elit di dunua virtual terbangun karena terkejut, ia melompat dari tempat tidurnya di apartemen.

Jam kamarnya masih menunjukkan pukul 3:00 AM. Meskipun ia terbiasa bangun di jam seperti ini, ia tidak begitu mengantuk. Alasan ia cepat-cepat bangun adalah ia mendengar ringtone panggilan milik Kirigaya Kazuto.

Apakah ini Kirito, yang memanggilnya dalam ketidaksadaran?

Perlahan menekan tombol terminal dan mengarahkan ke telinganya, ia mendengar suara seorang gadis kecil yang ketakutan.

“Sinon-san, ini Yui!”

“Eh… Y-Yui?”

Tentu saja ia tahu «putri» Kirito dan Asuna — seorang kecerdasan buatan Yui. Seminggu yang lalu ketika ia mendiskusikan hilangnya Kirito bersama Asuna dan yang lain, ia menyaksikan sendiri kecepatan memproses informasi dan banyaknya ekspresi yang muncul dari Yui.

Tetapi, memanggil langsung menggunakan telepon benar-benar diluar nalarnya; Shino tak bisa berkata-kata sebentar. Sebuah suara terburu-buru namun merdu sampai di telinganya:

“Aku akan menjelaskan detailnya nanti. Bersiaplah keluar rumah dan ambil taxi. Aku akan mengirim tujuan rute terdekat ke terminalmu. Pertama-tama, aku akan memasukkan biaya taxi ke rekening elektronik milik Sinon-san.”

Lalu, suara nyaring terdengar. Terminal milik Shino menandakan adanya uang masuk.

“Hah… T-Taxi? Kemana…?”

Shino berdiri seperti yang Yui perintahkan, melepaskan pakaian tidurnya dan bertanya pada Yui. Tetapi perkataan Yui membuat kesadaran Shino terbangun seluruhnya bagaikan tersiram air es.

“Kumohon cepatlah. Papa dan Mama dalam bahaya!!”

* * *

“B… Bahaya?! Onii-chan dan Asuna-san?!”

Seorang gadis SMA dan seorang swordswoman, juga adik perempuan Kirigaya Kazuto, Kirigaya Suguha berteriak ketika mengancingkan celananya.

“Leafa-san, kamu akan membangunkan bibi Midori jika terlalu keras.”

Mendengar suara pelan dari dalam terminal, Suguha cepat-cepat menutup mulutnya.

“Ya…Ya. Hei… ini bertama kalinya aku menyelinap selarut ini …”

“Sangat disesali, tetapi tak ada waktu untuk menjelaskan pada obaa-sama. Tinggalkan saja sebuah pesan di server rumah jika kamu menghadiri aktivitas club di pagi hari.”

“O… Oke. Wow… Yui benar-benar perencana yang hebat.”

Suguha memuji ketika ia selesai berpakaian. Ia menuruni tangga dengan pelan, lalu menjangkau pintu rumah. Meskipun mereka tinggal di rumah bergaya jepang kuno, sistem keamanan rumah masih menyala di malam hari, tetapi tampaknya alarm telah rusak.

Setelah Kazuto menghilang, ibunya pulang cepat setiap hari. Merasa bersalah atas tindakannya, Suguha mengepalkan kedua tangannya dan meminta maaf sebellum meninggalkan halaman rumah.

— Maaf, ibu. Aku akan menyelamatkan onii-chan.

Setelah sampai di jalan, sebuah taxi menghampirinya. Mungkin taxi yang telah dipesan oleh Yui secara online. Meskipun si pengemudi sedikit terkejut atas usia Suguha, setelah menjelaskan jika saudaranya sedang sakit, lalu ia memandang terminalnya dan berkata:

“Um… Tolong menuju pelabuhan Tokyo.”

Ia seharusnya tidak menyebutkan terlalu rinci jika tujuannya adalah “Roppongi”

* * *

Higa Takeru merasa Bar Energi miliknya berkurang setelah terjatuh dari meja kerja, ia membuka matanya.

Setelah memaksa berkedip beberapa kali, ia memastikan waktu pada jam dinding. Masih ada beberapa menit sebelum pukul 4:00 AM di Waktu Standar Jepang. Menatap disampingnya, ia melihat teknisi RATH memandang ruang sub kontrol dengan ekspresi lelah.

Professor Koujiro Rinko duduk pada kursi di ruang console, kepalanya terangguk-angguk karena ngantuk. Letnan Kolonel Kikuoka tidak tertidur, tatapi mata miliknya yang sedang memandang monitor utama dari balik kacamata hitam, mata miliknya telah kehilangan ketajamannya.

Disisi lain, empat teknisi tergeletak bagaikan mayat pada matras di dekat dinding. Mempertimbangkan jika ada Petugas Pertahanan diantara Pasukan Pertahanan yang mungkin membocorkan informasi, Kikuoka telah menugaskan mereka untuk menjaga dinding anti tekanan dibawah ruang sub kontrol.

Setelah mereka diserang oleh kelomppok bersenjata, empatbelas jam telah terlewat.

Sepuluh jam masih tersisa sebelum Kapal Penghancur Aegis «Nagato», yang menjaga mereka dari kejauhan — atau begitulah semestinya — akan mulai menyerang Ocean Turtle. Dalam kondisi semacam ini, mereka menunggu sangat lama. Bahkan lebih lama dibanding waktu yang berlalu di Underworld.

Sepuluh jam berlalu sejak Yuuki Asuna masuk menggunakan Super Account 01. Menghitung kecepatan akselerasi satu banding seribu, seharusnya sudah terlewat sepuluhribu jam di Underworld — lebih dari setahun. Tetapi masih belum ada kabar apakah misi melindungi Alice telah gagal maupun sukses.

“Apakah sangat jauh… jarak antara Kerajaan Manusia menuju Altar Ujung Dunia …”

Higa memprotes, pikirannya merekonstruksi peta Underworld yang agak mirip dengan logo RATH — kemudian.

Telepon di ruang console berdering pi pi pi, pi pi pi. Higa meloncat tanpa berpikir.

“Ki… Kiku-san, teleponnya.”

Bertanya-tanya apakah ada yang terjadi di lantai bawah, ia mengingatkan komandan.

Menatap telepon, sosok yang mengenakan pakaian khas Hawai mulai mengangkat telepon, lalu berbicara.

“Ruang sub kontrol, ini Kikuoka!”

Meskipun suaranya agak serak, ia masih bisa menjawab. Setelah sesaat, suara datang dari telepon — bukan suara Kapten Nakanishi, yang bertugas sebagai Petugas Pertahanan, tetapi yang muncul adalah suara seorang pemuda.

“Uh, um, ini markas besar RATH yang mengembangkan STL … Benar kan? Aku Hiraki dari Cabang RATH Roppongi…”

“Hah? R-Roppongi?”

Menunjukkan rasa hormat pada Kikuoka, ini adalah situasi yang benar-benar diluar dugaan. Higa juga merasa hal yang sama.

Mengapa cabang Roppongi mengontak disaat seperti ini? Teknisi disana tidak mengetahui jika RATH sebenarnya hanyalah kamuflase pengembang bisnis virtual yang beroperasi dengan budget pemerintah, markas besarnya tidak berada di kepulauan Jepang melainkan di samudra Pasifik, dan Project Alicization seharusnya terdengar asing bagi mereka.

Tentu saja, mereka tidak tahu jika RATH sedang diserang oleh musuh. Cabang Roppongi hanyalah kamuflase pengembangan mesin STL, hanya kulit terluar organisasi.

Benar… STL…

Tiba-tiba, suatu perasaan mengalir di pikiran Higa, tetapi Kikuoka berbatuk sebelum Higa berhasil menyadari pikiran tersebut.

“Ah, ahh, ya. Aku Kikuoka dari markas pusat pengembangan STL.”

“Ah, hallo, hallo! Kita pernah bertemu sebelumnya. Lama tak jumpa, saya Hiraki. Sungguh terhormat bisa menjadi direktur pengembang di sini karena ditunjuk anda!”

— Tak perlu basa-basi, langsung ke inti saja!!

Higa berteriak dalam hati. Kikuoka memasang ekspresi yang sama, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar ramah.

“Ah, selamat dan terima kasih atas kerja kerasmu, direktur Hiraki. Ini masih malam, apa kau lembur?”

“Tidak, aku hanya ketinggalan kereta karena aku mabuk. Ini semua karena lokasi kantor kita. Oh, Roppongi. Ah, jangan katakan pada bos ya, heh heh.”

— Kau sedang bicara sama bos! Posisi paling atas! Katakan masalahmu sekarang!!

Entah perkataan hati Higa sampai pada si penelpon atau tidak, Hiraki menghentikan basa-basinya lalu mengubah nada bicaranya.

“Ah — benar, ini… kita punya masalah, itu… ada hal yang aneh. Sekarang ini, seseorang tiba-tiba muncul diluar tanpa ada janji …”

“Di luar? Seorang klien?”

“Bukan, tidak ada hubungannya… Anu, mereka seperti seorang gadis SMA, yang lebih parah ada dua gadis …”

“HAH?!”

Kikuoka dan Higa, juga Professor Koujiro yang kini telah berdiri berteriak bersamaan.

“Gadis… Gadis SMA?”

“Yeah. Aku coba mengusir mereka, karena aturan perusahaan yang sangat ketat, kau tahu kan aturannya. Tatepi… hal-hal yang mereka ocehkan, membuatku… “

Pada kata-kata bingung Hiraki, bahkan Higa kini juga ikut berdiri, kedua tangannya memegang console. Sekali lagi, Kikuoka menguatkan tekadnya dan bertanya tegas:

“Jadi, apa yang mereka katakan?”

“Aku mengingatnya seperti ini, segera hubungi Kikuoka Seijirou di markas pusat RATH, dan suruh dia: konfirmasi ratio kecepatan FLA di Underworld sekarang… itu yang mereka katakan.”

“Ap… Apppaaaaa?!”

Kedua pria yang ada di ruang ini berteriak hampir bersamaan.

Mengapa gadis SMA dari luar tau kata-kata tersebut?! kata-kata tersebut bukanlah hal yang biasa bagi orang-orang yang tidak mengenal Project Alicization.

Higa, mulutnya terbuka, lalu bertukar pandang dengan Kikuoka dan secara otomatis menoleh ke console, jari-jarinya mengetik di keyboard.

Di layar hitam monitor, ratio kecepatan saat ini yang muncul adalah.

x 1.00.

“Gh… Satu?! Kapan ini terjadi?!”

Higa berbalik, bernafas berat, seketika Kikuoka berteriak keras pada telepon.

“Katakan… Nama. Apakah gadis-gadis itu menyebutkan nama mereka?”

“Ah, ya. Itu lucu… Mereka mengatakan namanya, tetapi sepertinya bukan nama asli. Mereka berkata padaku untuk mengatakan pada Kikuoka-san jika mereka adalah ‘Sinon’ dan ‘Leafa’. Mereka orang jepang kok.”

Clack.

Suara keras terdengar karena baki yang dipakai di kaki kanan Kikuoka terjatuh ke lantai.

* * *

Hanya setelah kunci otomatis cabang RATH di Roppongi terbuka, Asada Shino serta Kirigaya Suguha masuk, apakah Yui merasa sedikit lebih tenang.

Dalam hal ini, ia menghembuskan nafas lega dan juga ia sedang menggunakan kekuatannya untuk menjalankan tugas lain saat ini.

Yui menyadari jika untuk mencapai tujuannya akan menemui berbagai rintangan, karena hal semacam ini tak bisa ia lakukan seorang diri.

Tetapi pada saat yang sama. Jika ia gagal, orang yang dicintainya, Kirito dan Asuna, akan berada dalam bahaya besar.

Menarik kesadarannya dari portable terminal milik Shino, Yui memandang keempat peri yang ada disekitarnya.

Yui dan yang lainnya sedang berada didalam VRMMORPG — «ALfheim Online», di kamar milik Kirito dan Asuna pada lantai 22 New Aincrad.

Dihadapan Yui yang sudah berubah menjadi Pixie Navigasi, adalah Ras Cait Sith Silica dengan ciri khas telinga segitiga dan gigi taring kecilnya.

Disampingnya dengan rambut pink adalah Lisbeth, ras Leprechaun.

Mencondongkan sikunya di meja dengan jarak agak jauh, rambut merah berdirinya diikat dengan bandana adalah Klein, seorang ras Salamander. Dan disampingnya adalah pria besar berkulit coklat sedang menyilangkan tangannya, ia adalah Agil, ras Gnome.

Mereka berempat adalam pemain VRMMO, juga dikenal sebagai SAO survivor yang telah hidup di dalam permainan kematian bernama «Sword Art Online», mereka juga teman dekat Kirito dan Asuna. Meskipun ini masih sangat pagi, seketika mereka menerima panggilan Yui, mereka cepat-cepat masuk kedalam ALO, mereka telah mendengar penjelasan dari Yui.

Mengencangkan bandana yang menutupi dahinya, Klein mengomel dengan nada serius:

“Sialan… si idiot itu selalu masuk dalam masalah besar… suatu dunia virtual yang diciptakan oleh Pasukan Pertahanan, dan juga seorang kecerdasan buatan asli yang bernama «Alice» muncul di dunia itu? Itu melebihi kadar sebuah game.”

“Mereka yang disebut kecerdasan buatan bukanlah seperti NPC dalam game … tetapi keberadaan yang setara dengan manusia seperti kita?”

Lisbeth bertanya. Yui berbalik padanya dan mengangguk kuat.

“Ya, itu benar. Struktur perintah milik Alice benar-benar berbeda dari AI sepertiku; ia memiliki jiwa. Dikenal juga dalam RATH sebagai «Fluctlight Buatan».”

“Dan mereka akan memasukkannya kedalam mesin untuk berperang …”

Memandang Yui dan naga kecil Pina yang meringkuk di kakinya, Silica mengerutkan alisnya.

“Sebenarnya, RATH bermaksud untuk menunjukkan AI sebagai teknologi untuk berperang… tetapi menurut pendapatku, para penyerang yang menduduki Ocean Turtle memiliki rencana tersendiri.”

Pada perkataan Yui, Klein menunjukkan wajah terkujut:

“Siapa mereka, para penyerang.”

“Ada 98% kemungkinan jika para penyerang tersebut memiliki hubungan dengan Militer USA ataupun badan intelegence USA.”

“Militer USA…?! Pasukan Amerika?!”

Yui mengangguk pada Lisbeth yang juga terkejut.

“Jika Alice jatuh ke tangan militer Amerika, hari dimana ia akan dimasukkan kedalam mesin perang akan lebih cepat terjadi. Papa dan Mama mungkin sedang berusaha mencegah hal itu terjadi semampu mereka. Karena… Karena…”

Tiba-tiba, Yui menjadi bingung akan efek emosi yang dihasilkan softwere miliknya.

Cairan mulai menetes di wajahnya.

Air mata.

— Aku menangis. Tetapi, mengapa…?

Sambil kebingungan atas hal ini, Yui mengepalkan kedua tangannya di depan dada lalu melanjutkan berbicara:

“Karena, Alice adalah bukti yang dicari sejak SAO dimulai, setiap dunia VRMMO dan banyak orang-orang hidup didalamnya, dan juga hasil dari pengolahan banyak sumber daya. Aku yakin. Tujuan diciptakannya paket softwere The Seed adalah demi lahirnya Alice.”

Keempat orang mendengarkan penuh konsentrasi. Air mata Yui mengalir tanpa henti ketika ia melanjutkan:

“… Itu karena, diantara banyaknya dunia yang saling terhubung, tawa, tangis, kesedihan, dan cinta banyak orang … cahaya jiwa mereka terpantul, jadilah jiwa manusia bisa lahir di dalam Underworld. Alice terlahir karena Papa, Mama, Leafa-san, Klein-san, Lisbeth-san, Silica-san, Agil-san, Sinon-san… dan dari jiwa banyak orang!”

Yui menutup mulutnya, tak ada orang yang berbicara untuk sesaat.

Sword Art Online Vol 16 - 328.jpg

Yui tak bisa menebak pikiran dan emosi dari orang-orang disekitarnya. Seorang AI yang hanya memiliki informasi tanpa adanya emosi, dan juga ia tak bisa menciptakan emosi sesungguhnya. Tak ada siapapun yang memahami selain dirinya sendiri.

Ya, keinginan kuat untuk melindungi Kirito dan Asuna, juga orang-orang yang ia sayangi menjadi sumber kode di dalam mental health counseling program miliknya.

Apa yang ia katakan hanyalah kata-kata sederhana dari informasi yang ia peroleh, ia tak yakin apakah bisa mempengaruhi hati manusia. Sebelum pertemuan ini terjadi — Yui takut akan hal semacam ini seketika ia meninggalkan Ocean Turtle dengan tugas yang ia emban.

Jadi ketika ia melihat air mata mengalir dari mata Lisbeth, Yui mengalami keterkejutan.

“Y… Ya. Semuanya terhubung. Waktu, orang-orang, seperti sebuah sungai.”

Silica, matanya menjadi berair, ia berdiri di depan Yui dan memeluknya dengan kedua tangan.

“Jangan khawatir Yui. Kami akan membantu Kirito dan Asuna. Kumohon, jangan menangis lagi.”

“Yup. Jangan perlakukan kita seperti orang asing, Yui-ppe. Tak mungkin kita akan meninnggalkan Kirito.”

Klein menyentak bandana-nya kebawah, ia setuju. Agil mengangguk sidampingnya, dan mengungkapkan kesetujuannya:

“Kami masih berhutang banyak padanya. Kali ini giliran kita untuk membayar.”

“… Semuanya…”

Dipeluk oleh Silica, Yui hanya bisa mengucapkan satu kata.

Karena ia tak bisa menghentikan tangisan yang mengalir beberapa saat lalu.

— Banyak waktu yang diperlukan untuk mengatakan kata-kata. Aku masih memiliki banyak hal untuk dikatakan. Dalam hal tindakanku, aku seharusnya bisa memproses informasi dengan tenang. Apakah sirkuit emosi buatanku telah rusak?

Tetapi Yui terlalu terikat oleh kode yang membatasi hidupnya selama ini, ia hanya bisa mengulangi kata-kata yang sama ketika ia menangis.

“… Terima kasih semuanya … Terima kasih semuanya …”

Setelah beberapa menit berlalu, Yui berhasil menahan tangisnya dan menjelaskan situasi saat ini kepada keempat pemain dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Situasinya adalah para penyerang telah menguasai Ocean Turtle, mereka telah membuat pengumuman dalam sebuah website untuk merekrut pemain lainnya. Mereka berharap pemain yang tertarik dalam website tersebut akan mulai bermunculan dalam jumlah besar di Underworld.

Klein mengangkat alisnya dan berbicara dengan nada seriu:

“Setidaknya akan ada tigapuluh ribu pemain dari Amerika … bahkan mungkin seratus ribu lebih… Bagi mereka, Kirito juga Asuna, serta pasukan Kerajaan Manusia beserta Alice hanyalah target PvP.”

“Bagaimana jika kita mengikuti postingan di website permainan Amerika? Mengungkap eksperimen dan penyerangan yang terjadi, lalu memancing mereka ke alamat URL palsu … Bagaimana menurut kalian?”

Atas saran langsung Lisbeth, Yui menggelengkan kepalanya secara perlahan.

“Kenyataan situasi ini adalah pasukan rahasia Jepang dan Amerika sedang melakukan kontak serangan. Jika kita mengungkap hal tersebut, mungkin akan berdampak sebaliknya.”

“‘Musuhmu itu manusia asli, jadi jangan sakiti mereka’… Jika kita menulis seperti itu, mungkin hanya akan menimbulkan masalah lebih, huh.”

Silica berbisik suram.

Suasana diam tiba-tiba dipecahkan oleh suara penuh energi milik Klein.

“Hei, mari kita melawan juga! Jumlah pengguna internet di sini tidak kalah dibanding Amerika. Ayo kita ciptakan website closed beta kita sendiri, um… RATH atau apalah harus menyiapkan beberapa akun, dan kita akan memiliki tigapuluh bahkan empatpuluh ribu pemain seketika!”

“Tetapi ada sedikit kendala.”

Agil berkata pelan, kedua tangannya masih disilangkan.

“Masalah apa itu?”

“Perbedaan Waktu. Waktu di Jepang masih pukul 4:30 AM, itu berarti hanya sedikit pemain yang online. Dilain pihak yaitu Amerika, sudah puluk 12:30 PM di Los Angeles, dan 3:30 PM di New York. Dalam hal jumlah pemain yang bisa online, pihak musuh memiliki keuntungan.”

“Hnnn……”

Klein berguman, seolah baru saja menyadari perbedaan waktu ini.

Yui mengangguk, karena memikirkan hal yang sama.

“Agil-san benar. Selain masalah perbedaan waktu, kita memiliki sedikit pemain VRMMO, jadi untuk merekrut orang-orang akan lebih lamban, yang berarti kita tak mungkin mengumpulkan sepuluh ribu pemain. Dengan kata lain, jika kita menggunakan akun yang memiliki level yang sama dengan musuh, kesempatan kita bisa menandingi mereka sangat tipis.”

“tetapi, akun tingkat Dewa seperti yang Asuna gunakan telah tiada kan? Tak ada waktu untuk meningkatkan level dari awal seperti yang dilakukan Kirito … Sepertinya kita hanya bisa menggunakan akun terkuat milik RATH dan melakukan semampu kita …”

Yui menatap Lisbeth yang berbicara dengan ekspresi kaku di wajahnya.

“Tidak… masih ada banyak akun. Ada akun-akun yang lebih kuat dibandingkan akun yang digunakan musuh dalam hal level dan equipment.”

“Eh… Di-Dimana?”

“Semua orang memilikinya. Akun-akun yang sedang digunakan semua orang sekarang ini.”

Keempat pemain penasaran, Yui mulai menjelaskan detail rencananya.

Ia tahu ia harus meminta mereka melakukan pengorbanan — lebih tepatnya, ia meminta separuh diri mereka.

Tetapi pada saat yang sama, Yui yakin jika orang-orang tersebut akan setuju.

“— Konversi Akun! Kalian berempat dan banyak pemain VRMMO lainnya akan mengubah karakter yang telah dilatih dalam banyaknya dunia yang diciptakan oleh The Seed, lalu mengirim akun-akun tersebut menuju Underworld!”

(Alicization Exploding Selesai)

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. kemampuan untuk mengubah bentuk daratan sesuka hati
  2. AI yang bisa berpikir sendiri tanpa menggunakan perintah