Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 18 Bab 22

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 22 - Pertempuran Penentuan (Hari Kedelapan Bulan ke-11 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

“Sialan!”

Kata makian tersebut keluar dari mulut Critter, penyedia informasi bagi pasukan penyerang Ocean Turtle, ia masih memandangi layar besar diatas konsol.

Titik merah yang bedada di puncak 30.000 kini mulai menghilang seketika.

Dengan kata lain, pemain VRMMO Cina dan Korea yang dimasukkan kedalam Underword atas usul Vassago, dengan suatu alasan telah di log out paksa.

Titik biru Pasukan Kerajaan Dunia Manusia dan titik putih Pemain Jepang yang sebelumnya dikepung kini masih berjumlah ribuan. Itu jumlah yang tidak cukup banyak, dan jika mereka memiliki kemampuan untuk melenyapkan kombinasi pasukan Korea dan Cina, maka berarti mereka lebih berbahaya.

“… Apa yang dilakukan si sialan Vassago?…”

Critter mengomel sambil memandangai satu titik di monitor.

Hanya ada satu titik merah yang masih menyala berada di dekat pemain Jepang. Itu Vassago yang sebelumnya mengkonvert akun miliknya dan masuk menggunakan STL. Dia tepat berada didepan musuh, tetapi dia tidak bergerak sama sekali.

Apakah dia menjadi tawanan dan tak bisa bergerak? Atau dia masih memiliki rencana rahasia lain untuk mengalahkan musuh ─?

Critter memandangi ke ruang STL, ia ingin menampar Vessago dan membuatnya bangun.

Ia tak bisa mereset akun sementara Hak Istimewa Administrator Underworld masih terkunci. Dengan kata lain, jika ia memaksa Vassago log out, ia tak akan bisa menggunakan akunnya lagi. Apa yang bisa Critter lakukan saat ini adalah membatasi batas akselerasi, yang mana terpisah dari Program The Seed, ia harus berhati – hati menjalankannya.

Critter mengambil nafas dalam – dalam dan melebarkan peta dilayar.

Berada di bagian paling selatan Underworld, ia bisa melihat satu titik merah lain yang masih bergerak. Itu pastilah sang kapten operasi ini, Gabriel Miller.

Apa yang harus ia pertimbangkan adalah jika Pasukan Kerajaan Dunia Manusia bisa menyusul Captain Miller yang kini masih mengejar Alice.

Hasil mengirimkan banyak pemain dari Amerika, Cina, dan Korea bisa menghambat Pasukan Musuh yang ingin menuju selatan. Tetapi kini Kapten Miller telah berada ratusan mil jaihnya didepan sana. Sebuah jet tempur tak akan bisa menyusul jarak tersebut dengan seketika, tapi hal seperti itu tak mungkin ada di Underworld. Palingan hanya maksluk bersayap.

─Tak mungkin musuh bisa menyusul Kapten.

Critter akhirnya memutuskan setelah berpikir selama tiga detik.

Ia memandang jam yang ada di tangan kirinya. Jam tersebut menunjukkan tanggal 7 Juli pukul 9:40 AM.

Masih ada sekitar delapan jam dua puluh dua menit hingga Tim Pasukan Pertahanan Jepang menyerang. Kapten Miller telah memberikan perintah untuk mereset akselerasi ketika delapan jam tersisa, yaitu pada pukul 10:00AM. Tetapi karena semua pemain telah dihancurkan, ia tak bisa menunggu lagi.

Karenanya, ia akan mengubah akselerasi waktu menyadi 1.000 kali lipat, dan memberikan sedikit waktu bagi Kapten Miller agar bisa menangkap Alice.

“Tak mungkin … Bertahanlah sebentar lagi, Vassago.”

Berbicara kepada titik yang tak bisa bergerak di medan peperangan, Critter menjulurkan tangannya menuju tuas pengontrol rasio Akselerasi Fluctlight.

Ia melihat kecepatan yang ditampilkan di monitor, tetapi matanya tertahan pada skala yang ada di sisinya.

Jarum penunjuk kini masih berada di angka x1, jumlah angka tersebut ditandai setiap ×100, dan ×1.000 pada garis merah di pojok sana.

Lalu skala tersebut terus naik hingga x1.200. Tampaknya itu adalah batas aman bagi jiwa manusia yang masuk menggunakan STL.

Tetapi angka tersebut masih berlanjut hingga lebih jauh, dan berhenti di x5000. Jika tidak ada manusia yang dive ─ jika hanya penduduknya adalah Artificial Fluctlights, maka kecepatan akselerasi tersebut bisa ditinggatkan sampai titik tersebut.

Waktu akselerasi tersebut diatur menggunakan tuas yang ada di konsol, lalu menekan tombol yang ada di sisinya. Berhati – hati menyentuh tombol tersebut, Critter perlahan menekan tuas keatas seperti mengoperasikan sebuah pesawat yang akan lepas landas.

Kecepatan di layar meningkat, dan angka kecepatan akselerasi semakin naik.

Saat menyentuh ×1.000, ia mengalami sedikit masalah.

Ia menekan agak keras, lalu tuas tersebut bergerak lagi dan berhenti pada ×1.200. Saat ini, tuas tersebut tanda – tanda bisa digerakkan bagaimanapun ia mendorongnya.

“Oof……”

Rasa ingin tahu Critter memasukinya. Ia mulai melihat tuas logam tersebut.

Lalu ia seketika menyadari sebuah lubang kunci keperakan disamping tombol konfirmasi.

“Aku mengerti.”

Wajahnya mulai menyeringai saat ia menggaruk – garuk rambutnya.

Jika batas aman adalah 1.200 kali lipat, maka zona bahaya yang sebenarnya ada diatas itu. Sepertinya bukan masalah jika ia mencoba untuk membuka zona mas ketika saat – saat mendesak.

Memutar kursi disampingnya, Criter menjentikkan jarinya kepada anggota tim lain yang ada di Ruang Kontrol Utama.

“Hei, adakah yang ahli membuka sesuatu yang terkunci?”

***

─Begitu lembut… begitu harum…

Ini pastilah tidur paling nyenyak yang ia alami selama beberapa bulan ini. Itulah mengapa Higa Takeru selalu menolak sebuah suara yang terdengar di telinganya yang mencoba untuk membangunkannya.

“… ey, Higa-kun! Dengarkan aku! Hei, buka matamu!!”

─Suara itu sepertinya sangat keras kepala. Seolah ia akan mati atau semacamnya.

─Sekencang apapun. Aku tidak terkena tusukan kok; aku telah… tertembak…

“───AHH!!”

Ingatan milik Higa mulai bangun, Higa berteriak seketika ia membuka matanya.

Didepannya ia melihat sebuah wajah paruh baya yang memakai kacamata hitam menyilaukan.

“AHH?!”

Higa berteriak lagi.

Ia ingin mundur secara reflek, tetapi tubuhnya tak mematuhi sang tuan. Malahan ia merasakan rasa nyeri di pundak kanannya.

─Benar.

Aku telah ditembak oleh pria itu.

Aku kehilangan banyak darah tetapi aku menghiraukannya karena mementingkan menjalankan STL. Aku memasukkan Output Fluctlight milik ketiga gadis itu menuju STL milik Kirito-kun, tatapi ia masih tak terbangun... lalu aku memikirkan itu …

“… Ki-Kirito-kun, apakah ia─”

Higa bertanya, sambil menjaga jarak dari pria yang memandanginya dengan jarak yang sangat dekat.

Sebuah suara perempuan menjawabnya.

“Aktivitas Fluctlight milik Kirito-kun telah pulih, malahan sangat aktif.”

“Aku.. aku mengerti…”

Higa berguman, suaranya terdengar lega.

Pemulihan diri dari kondisi seperti itu seperti seuah keajaiban. Tetapi kondisi dirinya yang kehilangan banyak darah dan masih hidup lebih ajaib lagi ─

Higa berpikir sambil memastikan kondisi dirinya.

Dia terbaring di lantai pada Ruang Sub Kontrol. Bagian tubuh atasnya telanjang dan pundaknya di perban. Sebuah jarum tranfusi darah berada di lengan kirinya.

Orang mencurigakan, errr, Kikuoka Seijirou berada di samping kirinya. Ia duduk dilantai sedangkan dibagian kanan adalah Dr. Koujiro Rinko; ia telah melepaskan gaun putihnya. Berada di depan sana adalah Sersan Satu Class Aki Natsuki, seorang perawat yang sedang mengganti kantung darah Higa. Ia pastinya orang yang menyembuhkan lukanya.

Higa menatap lagi pada Kikuoka yang masih terdiam dari tadi, lalu berkata:

“Syukurlah… kan sudah kubilang jangan terburu – buru … ──Tidak, ini salahku karena tidak menyadari ada mata – mata di bagian teknisi …”

Rambut poni Kikuoka berantakan dan kucuran keringat menetes hingga ke kacamata miliknya. Setelah melihat lebih jelas, Rinko juga bercucuran keringat; tampaknya keduanya berusaha dengan gigih untuk membangunkan Higa. Maka dari itu, sensasi nyaman ketika ia mengigau adalah …

───Huh?

Siapa yang menekan dadaku dan melakukan pernafasan buatan?

Higa hampir keceplosan bertanya, tetapi langsung menutup mulutnya. Ada hal – hal di dunia ini yang lebih baik tak diketahui.

Malahan, ia menanyakan banyak pertanyaan yang lebih penting.

“Bagaimana kondisi Underworld… Bagaimana Alice?”

Kikuoka menekan bahu kiri Higa dan membalas:

“Pemain dari America, Cina, dan Korea telah ter log out. ─Dan juga, ada hampir 30000 pemain dari Cina dan Korea, tetapi mereka telah kalah …”

“Huh?… Cina dan Korea juga?! Bukan sebagai bantuan... melainkan musuh?!”

Ia hampir melompat, tetapi merasakan rasa sakit di pundak kanannya. Suster Aki datang mendekat.

“Tenanglah! Peluru tadi berhasil menembusmu, butuh waktu lama untuk menghentikan pendarahannya.”

“M-Mengerti…”

Higa akhinya teang, lalu Rinko menjelaskan seluruh kondisi saat ini.

“─Mengenai pemain Cina dan Korea, sepertinya media sosial digunakan untuk memancing pemain game online dan memicu konflik.”

“Apakah… tak apa…”

Higa berbisik pelan. Ia bergabung dengan Project Alicization karena… ia terinspirasi oleh sahabatnya dari Korea yang telah meninggal karena serangan bom teroris saat wajib militer di Iraq. Tetapi jika situasi saat ini disebabkan oleh serangan pemain Amerika, masih ada banyak situasi menegangkan antara pemain Jepang dan Korea.

Ia menggelengkan kepala dan sambil menahan rasa sakit, Higa mengajukan pertanyaan lain:

“Berapa jumlah pemain yang datang dari Cina dan Korea?”

“Sepertinya sekitar 30.000. sedangkan 2.000 pemain dari Jepang yang datang membantu benar – benar dikalahkan.”

Kikuoka memejamkan mata untuk sesaat, lalu melanjutkan:

“Pada saat itu, masih ada sekitar 20.000 pemain Cina dan Korea, sungguh tak beruntung bagi mereka ketika Kirito-kun terbangun dan tiba – tiba .... …”

“Tunggu, apaaa?”

Higa menyela jawaban sang komandan.

“Kirito-kun, seorang diri … dengan tiba – tiba mengalahkan 20.000 pemain? Tak mungkin, tidak ada senjata ataupun command di Underworld yang bisa mengalahkan musuh sebanyak itu. Ataukah... memang ada ya...”

Tiba – tiba, Higa akhirnya mengingat percakapan sebelum Yanai menembaknya.

Selain mata – mata bagi para penyerang, Bawahan Sugou Nobuyuki yang bernama Yanai juga terobsesi dengan Artificial Fluctlight bernama «Administrator». Situasi macam apa yang ia rencakan sampai sejauh ini?

Terlebih lagi, «Orang Keempat» yang terhubung kedalam STL milik Kirigaya Kazuto ─ adalah sebuah keadaan tak biasa dalam Main Visualizer. Meskipun begitu, tidak, dia telah menjadi kunci penting terbangunnya Kirito. Higa tidak menduga sebuah objek bisa menampilkan ekspresi seperti seorang manusia.

“… Hei… Kiku-san…”

Higa berguman pada komandan, sambil menahan rasa nyeri.

“Kita… mungkin telah… menciptakan sesuatu yang tak terpikirkan …”

Lalu.

Dari dalam speker di Ruang Sub Kontrol terdengar suara alarm.

Itu adalah sesuatu yang telah Higa pasang: suara Waktu Akselerasi telah dirubah.

***

Awan kelabu melewatiku dan Asuna dengan kecepatan mengagumkan. Langit merah darah dan tanah kehitaman membentang luas sejauh mata memandang.

Hanya ada satu orang yang bisa melakukan Art untuk terbang di seluruh Kerajaan Manusia, dialah Pemimpin Tertinggi ─ Integrity Knight Alice pernah berkata padaku. Karena Pemimpin Tertinggi dan «Belahan Jiwanya», yang bernama Cardinal telah tiada di Underworld. Tak mungkin ada cara untuk mempelajari bagaimana mereka bisa menggunakan Art Terbang. Itulah mengapa kemampuan yang kugunakan untuk terbang di Tanah Kegelapan tidak berhubungan denga Art jenis apapun, melainkan kemampuan yang kugunakan untuk memanipulasi hal menggunakan imajinasiku … kemampuan yang disebut para Integrity Knights dengan nama «Incarnation».

Binatang peliharaan milik Cardinal yang bernama Charlotte telah melindungiku sejak aku meninggalkan Desa Ruild, dan sekarang aku bisa mendengar kata – kata miliknya sekali lagi di dalam telingaku.

—Setiap macam Art adalah sebuah panduan untuk memfokuskan Incarnation milikmu … Imajinasimu. Kamu tak perlu perapalan kata – kata ataupun medium lagi.

—Sekarang, hapus air matamu dan berdiri. Rasakanlah. Doa – doa dari para bunga.

—Kebenaran dari Dunia ini.

Ketika aku menutup diri dari dunia di sekitarku setelah pertarungan dengan Administrator di lantai tertinggi Katherdal Pusat Gereja Axiom, hingga aku terbangun beberapa menit lalu, aku tampaknya bisa menghubungkan diri dengan «kebenaran» dari dunia ini.

Aku bisa merasakan dengan jelas, Sacred Power yang berputar di udara disekelilingku dan aku bisa mengubahnya dengan sangat mudah menjadi elemen – elemen yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah Art. Meskipun aku menggunakan Pelafalan saat menyembuhkan Life milik Klein dan Lisbeth. Aku seharusnya bisa menciptakan efek yang sama menggunakan imajinasiku.

Sekarang ini aku bisa terbang bersama Asuna dengan menciptakan Aerial Elements terus menerus dibelakang tubuh kami seperti sebuah mesin jet. Kita lebih cepat dari seekor naga, tetapi kita masih perlu waktu lima menit agar bisa menyusul Alice dan naga yang ia tunggangi ke selatan sana Amayori.

Ada banyak kata – kata, permintaan maaf, dan terima kasih yang ingin aku sampaikan kepada Asuna, tetapi sekeras apapun aku mencoba. Aku tak bisa menatap langsung matanya bahkan saat aku terbang.

Alasannya adalah—

Setelah aku terbangun, setelah semua darah dalam tubuhku berubah menjadi cahaya. Ingatanku perlahan mulai kembali dalam kepalaku.

Masalahnya ada pada kenangan malam sebelumnya.

Tubuhku diposisikan di tengah tenda, Asuna, Alice, Ronye, dan Sortiliena duduk melingkariku. Masing – masing mereka mengobrol mengenai kenangan tentangku... lebih tepatnya, mereka bergiliran mengungkapkan kelakuanku yang tak bagus. Kejadian tersebut untukku adalah suatu “Neraka Hidup”?

—Kirito-senpai sering keluyuran keluar Akademi untuk membeli sekantung Pai Madi dari toko Deer Leap atau Kue Buah dari toko Sunflower, lalu membagikannya padaku dan Tiese.

—Aku jadi teringat, ketika aku lulus dia membawakanku beberapa Bunga Zephyria yang hanya bisa ditemukan di Kerajaan Barat. Ia berkata padaku jika Kirito butuh waktu setahun untuk merawatnya hingga mekar.

Ketika Ronye dan Sortiliena membagikan pengalaman mereka...

—Ketika kami memanjat dinding luar Katherdal, Kirito mengambil daging dari kantongnya dan membagikan separuh porsi padaku. Ia memanaskan dagingnya terlalu cepat dengan Thermal Element dan hampir menghancurkannya.

—Ketika aku bertemu dengannya pertama kali, dia memberikanku sebuah roti hitam dengan cream diatasnya. Dan kami makan tart blueberry, dadar gulung, dan makan banyak makanan enak lainnya...

Alice dan Asuna mulai menggunakan cerita bertema makanan entah mengapa. Lalu berganti dengan hal – hal yang pernah aku lakukan...

“Ugh…”

Aku hanya bisa menggaruk kepalaku dan menguap saat kami terbang dengan kecepatan penuh.

“Arrrgh!”

Saat kesadaranku buyar, penciptaan dan pelepasan Aerial Elements terganggu. Angin kencang menerpa seluruh tubuhku dan mengguncang.

Sial, aku membuat jubahku menjadi sepasang sayap untuk menstabilkan diri. Tetapi saat aku akan melakukannya—

“… YAHHHHHHHH!!”

Asuna berteriak dan terjatuh seperti sebuah batu dari atas, aku merentangkan kedua tanganku dan menangkapnya.

Menghindari bahaya, aku menatap mata Asuna. Aku harus meminta maaf sekarang.

“Asuna, tidak seperti yang kamu pikirkan!!”

—Kata – kataku bagaikan alasan ketimbang permohonan maa, aku tak bisa menarik kata – kataku.

“Tak ada yang terjadi antara aku, Liena-senpai, Alice, juga Ronye, sungguh! Aku bersumpah pada Dewi Stacia, tak terjadi A-P-A-P-U-N!!”

Mendengar penjelasanku, wajah Asuna—

Menjadi tersenyum. Ia meraih wajahku dengan tangan rampingnya lalu berbisik:

“… Kamu tak berubah sama sekali Kirito-kun. Mereka berkata jika kamu sudah ada disini selama dua tahun, jadi kukira kamu akan lebih sedikit... dewasa....”

Seketika, air mata menetes dari mata Asuna. Ia lalu berkata dengan suara serak.

“Mengagumkan… Kamu Kirito-kun… kamu tidak… berubah sama sekali… Kirito-kun…”

Kata – kata Asuna menusuk hingga hatiku.

“…Aku… adalah aku. Tak mungkin aku berubah.”

“Karena… kamu seperti dewa dunia ini. Kamu membekukan seluruh pasukan tadi... menyembuhkan dua ribu orang sekaligus.. dan sekarang.. terbang...”

Aku hanya bisa tersenyum.

“Aku hanya terbiasa dengan dunia ini. Untuk terbang, dengan cukup latihan kamu bisa melakukannya juga kok, Asuna.”

“… Tak apa aku tak bisa terbang.”

“Huh?”

“Aku hanya ingin kamu menggendongku seperti ini terus.”

Asuna tersenyum, lalu memelukku erat –erat. Aku membalas pelukannya dan berkata lagi:

“Sungguh… terima kasih, Asuna. Bahkan ketika kamu terluka parah, kamu masih berusaha melindungi penduduk Underworld… pasti terasa menyakitkan …”

Dua tahun lalu, saat aku tertebas oleh goblin di Puncak Pegunungan di Ujung, aku menyadari bagaimana rasanya sakit di dunia ini. Itu hanyalah luka ringan di pundak, tetapi terasa begitu menyakitkan hingga aku tak bisa berdiri.

Tetapi Asuna telah menghadapi pasukan PoH secara langsung hingga detik – detik terakhir dengan seluruh luka di tubuhnya. Tanpa perjuangan Asuna, Tiese, Ronye, dan seluruh Pasukan Pertahanan, mereka pasti sudah kalah.

“Bukan… Bukan hanya aku saja.”

Asuna menggelengkan kepalanya lalu bercerita.

“Sinonon, Leafa-chan, Liz, Silica-chan, Klein-san, Agil-san… juga Sleeping Knights dan teman – teman dari ALO, mereka telah berjuang keras. Renri-san si Integrity Knight, para Penjaga Kerajaan Manusia, Sortiniena-San, Ronye-san, Tiese-san, juga…”

Pada titik ini, tubuh Asuna seolah menjadi tegang.

Sebelum mendengarkan lanjutannya, aku akhirnya menyadari.

“… Oh, benar, Kirito-kun! Komandan Knight… Bercouli-san juga mengejar si Kaisar sendirian …”

“……”

Aku mengangguk perlahan, dan menggelengkan kepala pelan.

Aku sadar Integrity Knight tertua yang tak pernah kutemui secara langsung, Bercouli Synthesis One, telah menghilang dari dunia ini.

Sebelum peperangan dimulai, kami bertemu melalui «Pedang Imajinasi». Dalam kenanganku yang perlahan bangkit, aku menyadari jika Bercouli telah siap menerima kematiannya.

Pada akhir masa hidupnya selama tigaratus tahun, ia memilih untuk melindungi Alice.

Memahami arti gelengan kepalaku. Asuna semakin memelukku erat dan menangis. Lalu ia mengusap matanya dan lanjut bertanya:

“… Apakah Alice-san… selamat…?”

“Ya, sdia masih belum tertangkap. Ia hampir sampai di ujung selatan Tanah Kegelapan … System Konsol Ketiga. Tetapi tampaknya ada hawa mengerikan yang mengejarnya …”

“Aku mengerti… kita harus melindunginya, demi Bercouli-san.”

Wajah Asuna perlahan menjauh dariku. Wajahnya berlinangan air mata, namun terisi tekad kuat. Aku mengangguk padanya. Namun aku melihat rasa ragu di mata Asuna.

“Tetapi untuk sekarang... walau hanya sebentar, kamu hanya milikku Kirito-kun.”

Bibirnya mencibir dan bertemu dengan punyaku.

Dibawah langit merah Tanah Kegelapan, aku mencium Asuna.

Pada saat itu, akhirnya. Aku menyadari mengapa aku terbangun di dunia ini dua tahun lalu.

Hari Minggu di bulan Juni di Dunia Nyata.

Ketika aku berjalan pulang menuju rumah Asuna, aku diserang oleh pelaku ketiga dalam «Insiden Death Gun », Johnny Black si pemimpin guild merah «Laughing Coffin». Ingatanku menjadi samar setelah aku disuntik dengan succinylcholine dari jarum suntik bertekanan tinggi. Aku mungkin berhenti bernafas atau mengalami kerusakan otak, jadi aku dimasukkan kedalam STL dan Underworld untuk pengobatan.

Dengan suatu alasan, PoH si pemimpin Laughing Coffin ada diantara orang – orang yang menyerang Ocean Turtle. Ia kini telah menjadi sebuah pohon di Tanah Kegelapan seperti pohon Gigas Cedar ukuran mini. Jika waktu akselerasi meningkat lagi sebelum disconnected paksa dari luar, aku tak bisa membayangkan berapa minggu ia akan terbangun dalam kondisi buta dan tuli akibat perbuatannya. Ia mungkin akan menjadi sepertiku selama setengah tahun ini. Terasa kejam bukan, tetapi aku tidak melebih – lebihkan.

Pria itu berusaha membunuh Asuna.. dan penduduk Underworld yang kusayangi.

Seletah agak lama berciuman, Asuna mundur.

“Mengingatkanku atas waktu itu…”

Asuna berkata lalu mulutnya tertutup. Aku tahu mengapa.

Ia mengingat ciuman yang kita lakukan dibawah matahari terbenam ketika kastil melayang mulai runtuh, setelah permainan kematian SAO diselesaikan. Itu adalah ciuman perpisahan.

Aku tersenyum dan mencoba menyingkirkan rasa canggung ini.

“Ayo. Kita kalahkan Kaisar Vector, menyelamatkan Alice, dan kembali ke dunia nyata …”

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku.

Sebuah suara nyaring terdengar dalam kepalaku.

“Kirito-kun!! Kirigaya-kun!! Kau bisa mendengarku?! Kirito-kun!!”

Suara serak ini—

“Hei… apa itu kau, Kikuoka-san? Bagaimana kau bisa menghubungiku tanpa sebuah system console…”

“Tak ada waktu menjelaskannya! Hal buruk telah terjadi.. Waktu Akselerasi.. FLA... mereka telah ...!!”

***

Wajah Brigg merah dan berjenggot ketika ia memasukkan dua kabel logam kedalam lubang kunci kemudian ia berbalik pada Critter dengan perasaan tak enak.

Serahkan masalah ini padaku. Ia telah mengajukan diri, tetapi siapapun yang mendesain mekanisme keamanan Waktu Akselerasi benar – benar berbeda dari apapun yang pernah ia temui. Jemari Brigg yang bergerak perlahan kini mulai menjadi liar, ia memaki tanpa henti dan suaranya semakin keras.

Duduk dibelakangnya, Hans melihat jam tangan di lengan kirinya:

“Kannn, tiga menit berlalu! Dua menit lagi kau hutang limapuluh dolar padaku!”

“Diam kataku! Dua menit cukup bagiku... untuk membuga benda ini... lalu berenang ke Hawaii... dan kembali …”

Ketika kabel didalam lubang kunci mulai berbunyi, Critter hampir berkata “Istirahat saja dulu”. Tetapi kedua orang ini mulau bertaruh dan tak mungkin mereka berhenti.

“Satu menit tersisa. Siapkan isi dompetmu.”

“Sialan!”

Brigg berteriak, berdiri dan melemparkan kabel ke lantai.

Menyerah nih? Critter berkomentar dalam kepalanya.

Tanpa berkata – kata lagi, si prajurit berwajah merah terdiam dan melihat lubang kunci.

“Hei, tunggu…”

Ia berteriak.

Semuanya menatap heran kepada Brigg yang sedang menyarungkan kembali pistolnya, ia menatap Hans lalu menuju Critter.

“Terbuka.”

Critter menatap sebuah lubang yang terbuka selebar dua inci di Kontrol Panel.

Kegelapan didalamnya berpercik beberapa kali lalu ia mulai menggerakkan tuas besi. Tuas itu bergerak lima inci, lalu berhenti lagi. Critter mengecek monitor dan melihat jumlah kecepatan adalah 1.200 sesuai yang ia inginkan — dan batasan angka tersebut berhenti pada ×5000.

“… Lima… rib……”

Tepat ketika Critter hendak menghitung berapa banyak waktu jika dibandingkan dengan satu detik dunia manusia dengan Underworld— ada bunyi logam terdengar.

Tuas kontrol yang seharusnya berhenti di angka batasan, kini mulai melaju lagi.

“App… apaan……”

Critter berguman dan dihadapan matanya, angka yang tampil di monitor melebihi 5000 — 1.0000…

—Tidak, kita masih oke. Selama aku tidak menyentuh tombol konfirmasi, kecepatannya tidak akan berubah. Kita masih bisa menggerakkan tuas kembali ke posisi semula..

“Hei… Jangan sentuh apapun!! Siapapun dilarang menyentuhnya!!”

Critter berteriak keras memantau Hans dan Brigg agar menjauh dari monitor.

Ia hendak menyentuhkan jarinya ke tuas, lalu menggerakkan tangan kanannya.

Bang.

Sebelum Criter menyentuh tuas, ada sebuah ledakan.

Pelindung tombol konfirmasi berwarna merah yang ada dihadapannya meledak.

Monitor besar yang ada di dinding Ruang Kontrol berubah berwarna merah, sebuah alarm terdengar dari dalam speaker. Hitung mundur lima belas menit muncul di monitor dan mulai turun dengan cepat.

***

Ketika ia mendengar suara alarm lagi, sebuah tanda jika seseorang telah bermain – main dengan Percepatan Watku, hal itu membuat Higa ingin berdiri tetapi hanya mengalamai rasa sakit.

“Higa-kun! Kan sudah kubilang jangan memaksakan diri …”

Dr. Koujiro berjalan dan menyentuh punggung Higa, tetapi seketika—

Monitor di Ruang Sub Kontrol beruah menjadi merah.

“Apa… Apa yang terjadi?!”

Kikuoka berteriak. Ia mencoba berdiri dibantu Rinko, Higa mencoba mengintip apa yang dilakukan si komandan pada console.

Yang muncul disana adalah sebuah pesan yang menunjukkan tiga lapis pelindung mekanisme mpengatur kecepatan waktu telah ditembus, dan seluruh Underworld telah memasuki tahap kecepatan maksimal.

“Apaa…………”

Higa hanya bisa berkata seperti itu, jadi Dr. Koujiro bertanya:

“Apa maksudnya ‘tahap kecepatan maksimum’?! bukankah batas Fluctlight Acceleration adalah 1.200 kali lipat?!”

“… Itu adalah batas orang – orang dari dunia nyata yang dive kedalam... batasan sebenarnya adalah 5.000 kali jika hanya ada Artificial Fluctlights didalamnya …”

Higa membalas, mata sang profesor terbuka lebar.

“5.000?! Makdusmu... satu detik disini adalah delapan puluh menit di Underwordl… Delapan belas detik disini berarti satu hari penuh didalam sana.!!”

Itu adalah hitungan kasar, tetapi Higa dan Kikouka menggelengkan kepalanya bersama – sama.

“Apa… Apa aku salah?”

“1.200 kali adalah batasan aman yang kami tentukan ketika «Jangka Hidup sebuah Jiwa» seorang manusia dari dunia nyata memasukinya… 5.000 kali adalah batasan apa yang bisa kita amati Underworld dari dunia kita… seperti itulah…”

Higa mencoba menjelaskan secara sederhana, dan tampaknya Dr. Koujiro sedikit memahami.

“Ma-Maka… apa maksudmu batasan…?”

“Yah, kamu tau kan jika Underworld diciptakan dan dihitung menggunakan photon. Kecepatan menerima photon secara teori terbatas dalam Main Visualizer… dengan kata lain, batasan tersebut ditentukan oleh bentuk server penghubung …”

“Oke oke, katakan saja langsung! Berapa jumlah batasan normal yang bisa diterima?!”

Higa memutarkan pandanganya dari monitor ke wajah Rinko, lalu berkata:

“Dalam tahap kecepatan maksimum.. kecepatan FLA sekitar diatas lima juta kali. STL yang terhubung dari kantor cabang Ropongi tidak bisa menerima kecepatan sehebat itu, maka meraka secara otomatis akan terputus jaringan.. tetapi bagi Kirigaya-kun dan Asuna-san, yang dive menggunakan STL dalam Ocean Turtle …”

Satu menit di dunia nyata – berarti sepuluh tahun di dalam Underworld.

Mungkin setelah menghitung dalam pikirannya, mata Rinko terbuka lebar.

“Ya Tuhan... cepat... cepat. Kita harus mengeluarkan Asuna-san dan Kirigaya-kun dari STL!”

Si professor akan berdiri sebelum Higa menggenggam tangannya.

“Jangan, Rinko-san! Akselerasi telah dimulai, jika kita mengeluarkan mereka secara paksa Fluctlight mereka akan rusak!”

“Maka cepatlah putuskan koneksinya!”

“Lalu mengapa aku harus merangkak hingga kesini? Mesin STL hanya bisa dioperasikan dari Ruang Kontrol Utama!”

Higa berteriak dengan marah. Lalu melihat sang komandan yang ada di depan konsol.

Kikuoka tampaknya mengetahui apa yang ingin Higa katakan.

“… Kiku-san. Aku akan pergi kesama.”

Seketika Aki mendengar hal ini, ia membuka mulutnya dengan ekspresi tertegun. Tetapi langsung menutupnya. Ia mendekat dan membisikkan “Aku akan melepas saluran pipa”.

Sang komandan mengangguk pelan.

“Mengerti. Aku juga akan ikut. Aku yakin aku masih cukup kuat untuk menaiki tangga.”

“Tidak… Tak boleh, letnan kolonel!”

Teriakan itu berasal dari Kapten Nakanishi, si pemimpin regu penyelamat. Wajahnya pucat, ia mendekat dengan langkah berat.

“Terlalu berbahaya, ijinkan saya …”

“Jangan, kami masih membutuhkan kalian untuk menjaga tangga ini. Kami akan segera membuka saluran ini... kita tak bisa menggunakan Ichiemom dan Niemom karena tak bisa bergerak.”

Kata – kata tersebut membuat mata semua orang tertuju ke pojok kiri ruang sub kontrol.

Sosok manusia yang dutopang rangka besi itu bukanlah manusia nyata, tetapi tubuh mesin yang diciptakan dan dikembangkan oleh Higa sebagai salah satu bagian Project Alicization: Electroactive Muscle Operative Machine Mark II, atau «Niemom» disingkat. Dibandingkan Mark I yang rusak berat karena digunakan sebagai umpan sebelumnya, tubuh Niemon lebih ramping; Niemom dari awal didesain untuk menampung sebuah Light Cube.

Pada saat ini, tak ada kabel yang tertancap ke kepalanya, jadi itu tak bisa bergerak bahkan jika tombol menyala diaktifkan. Dengan kata lain, Niemon tak bisa digunakan sebagai umpan seperti Ichiemom.

Berpaling dari sosok robot tersebut, Kikuoka memberikan perintah bagi Nakanishi dengan tatapan yang tak pernah dilihat sebelumnya.

“Melihat bahaya ini, seseorang yang benar – benar bahaya adalah kalian semua jika menerima tempakan dari musuh. Tetapi kami masih membutuhkan kalian.”

Nakanishi memberikan salam hormat pada perintah asatannya tersebut.

“Ya, siap pak!”

Higa mendengarkan percakapan mereka dan mengangkat tangan kanannya. Cukup menyakitkan tetapi jarinya bisa ia gerakkan.

Hitung mundur di monitor telah menunjukkan sekitar sepuluh menit sebelum tahap akselerasi maksimum dimulai.

Tetapi meskipun begitu, membuka saluran pipa lagi lalu menuruni tangga panjang dan melaksanakan pemutusan STL memerlukan waktu sekitar tigapuluh menit.

Selang waktu duapuluh menit akan menimbulkan jeda sekitar — dua ratus tahun dalam Underworld.

Itu melampaui batasan jiwa seorang manusia yaitu seratus limapuluh tahun

Lebih parah lagi, bagi manusia dari dunia nyata... tak akan bisa menahan durasi selama itu dalam Underworld.

Dalam Underworld…

“Be… benar!!”

Higa berteriak, dan melamnaikan lengan kirinya kepada Kikuoka.

“Ki-Kiku-san!! Saat aku mengerjakan STL. Aku bisa membuat kontak dengan Kirito-kun! Kumohon hubungi saluran C12!”

“T-Tapi… apa yang harus kukatakan …?”

“Katakan padanya untuk segera keluar!! Menuju system console dalam waktu sepuluh menit atau habiskan HP miliknya menjadi nol dan STL miliknya akan memulai proses disconnection!! Tetapi saat ia memasuki tahap kecepatan maksimum, console tak akan bisa digunakan dan tewas adalah skenario yang akan menunggumu!! Ia harus menghabiskan dua ratus tahun didalam sana … tolong peringatkan dia mengenai itu!!”

***

“Dua……”

Dua ratus tahun?!

Aku menelan ludah sebelum kata – kata itu keluar dari mulutku.

Sekarang ini, Asuna terlihat bingung. Ia tak bisa mendengar suara Kikouka.

“Dengarkan aku, Kirito-kun: kau punya waktu sepuluh menit! Dalam waktu itu kau harus sampai ke console dan keluar dari Underworld!! Jika kau tak bisa melakukaknnya, kau harus menghabiskan HP milikmu. Tetapi cara itu lebih tak meyakinkan dan sangat menyakitkan, karena…”

Karena ada kemungkinan aku akan menghabiskan duaratus tahun dalam kondisi tak bisa bergerak.

Aku mengerti, aku akan membalas Kikouka, aku menuntut:

“Aku mengerti, aku akan mencoba keluar melalui concole dan membawa Alice!”

“… Jika tidak merepotkan. Tetapi sekarang ini, keselamatan kalian berdua lebih diprioritaskan ketimbang Alice. Dengarkan aku: bahkan jika kita bisa menghapus ingatanmu setelah log out, duaratus tahun adalah melebihi batasan umur manusia! Kesempatan untuk selamat terbangun... adalah nol persen …”

Mendengar suara Kikuoka—

Aku membalas pelan.

“Jangan khawatir. Juga, Kikuoka-san. Setengah tahun lalu... tidak, kemarin malam, maaf aku berkata kasar padamu.”

“Tak apa... kita butuh kritikan. Kami akan menyiapkan perban setelah kalian keluar.… aku rasa Higa juga telah bersiap, nah aku harus pergi.”

“Oke. Sampai berjumpa sepuluh menit lagi, Kikuoka-san.”

Lalu sambungan terputus.

Aku masih mengepakkan sayap sambil memandang Asuna yang ada di pelukanku.

“… Kirito-kun, apakah Kikuoka-san menghubungimu? Apakah ada … masalah?”

Aku menggelengkan kepala perlahan dan membalas.

“Tidak… Percepatan Waktu akan dimulai sepuluh menit lagi, jadi ia meminta agar kita segera keluar secepat mungkin.”

Asuna berkedip beberapa kali lalu tersenyum dan mengangguk.

“Setuju, kita tak boleh terus disini. Demi Alice-san. Ayo kita selamatkan dia!”

“Iya. Ayo kita percepat.”

Menggendong Asuna erat – erat, aku menciptakan lagi Aerial Elements. Cahaya hijau mulai mendorong kami beruda.

Untuk mengejar Alice yang telah melaju ke langit selatan, dan mengalahkan sosok yang sedang mengejarnya — aku terbang.

Bagian 2[edit]

Ia akan meyusul.

Alice menggigit bibirna sambil menoleh ke belakang dari tunggangan Amayori.

Tanpa ditanya lagi, titik hitam yang melayang di langit merah semakin membesar ketimbang lima menit lalu. Bukan karena musuh semakin cepat, melainkan kekuatan Amayori dan Takiguri yang perlahan mulai melemah.

Tentu saja ini disebabkan karena mereka berdua telah terbang tanpa henti — suatu keajaiban mereka bisa sampai sejauh ini. Dalam waktu setengah hari sejak mereka melewati Central Capital Centria menuju Puncak Pegunungan di Ujung, jarak beberapa kali lipat ketimbang jarak tempuh Kerajaan Manusia. Kedua naga ini pasti telah menggunakan life mereka agar bisa tetap terbang.

Tetapi masalahnya, bagaimana si pengejar tidak kelelahan?

Menggunakan Art Penglihatan Jarak Jauh menggunakan Crystal Element, Alice telah memastikan jika musuh mengendarai sebuah makhluk, pastinya bukan naga. Makhluk itu berbentuk seperti disc bersayap dan tak seperti sesuatu yang pernah ia lihat di Kerajaan Manusia maupun Tanah Kegelapan.

Si pemanah yang bernama Sinon datang dari «Dunia Nyata» seperti Kirito mengatakan padanya jika ia tidak dikejar oleh Vektor, sang Kaisar Tanah Kegelapan. Sosok aslinya adalah seorang pria dari Dunia Nyata dan musuh Sinon dan Kirito.

Kaisar Vector yang telah dikalahkan oleh Komandan Knight Bercouli dengan bayaran mahal — dengan menggunakan Time Release Art dari Divine Instrument miliknya, Time Piercing Sword. Tetapi Vektor telah turun lagi ke dunia ini dengan nyawa baru dan kini mengejar Alice.

«Kebangkitan» miliknya seolah menghina kematian Bercouli, dan hal itu membuat hari Alice panas dan marah.

Tetapi ketika ia terbang sendirian, ia akhirnya menyadari apa yang harus ia lakukan.

Jika musuh tak bisa mati di dunia ini—

Maka ia harus membunuhnya di Dunia Nyata.

Untuk melaksanakan hal tersebut, ia harus sampai ke «Altar Ujung Dunia» dengan cara apapun.

Melihat kembali ke depan, ia berhasil menangkap sebuah menara besar di ujung langit merah sana. Berbagai macam legenda telah diturunkan mengenai bangunan itu: bernama «Dinding Ujung Dunia». Tebing yang mengelilingi Tanah Kegelapan tersebut tidak seperti Pegunungan di Ujung; tebing tersebut memiliki ketinggian tak terhingga.

Dihadapannya, ketinggiannya sama saat Alice terbang—

Disana, ada sebuah pulau kecil melayang.

Tak bisa ditebak kekuatan macam apa yang membuat pulau — yang berbentuk seperti cangkir anggur — bisa melayang di udara.

Setelah melihat lebih dekat, ia menyadari ada bangunan buatan manusia di tengah pulau tersebut. Itu pastilah «Altar Ujung Dunia» yang ia cari. Altar itu bukanlah sekedar pintu keluar dari dunia ini, tetapi pintu masuk menuju Dunia Nyata.

Ia hanya berjarak kurang dari sepuluh Kilol dari altar tersebut, namun sayangnya saat Alice mendarat ke pulau tersebut Kaisar Vektor pasti akan menangkapnya.

Alice perlahan mengambil nafas.

Ia mengelus lembut naga kesayangannya dan memberikan perintah:

“Terima kasih, Amayori dan Takiguri. Ini sudah cukup, kalian bisa istirahat.”

Kedua naga meraung pelan dan mulai turun.

Hanya beberapa saat lalu, tanah dibawah sana kini terlihat menjadi padang pasir keabu - abuan. Kedua naga mendarat di pasir luas — sepertinya mereka sangat kelelahan — sebelum akhirnya terguling dan jatuh.

Hururururu. Sebuah panggilan keluar dari tenggorokan Amayori saat tubuhnya menyentuh tanah. Alice langsung melompat dan mencari kantong di pinggangnya, lalu mengambil sebuah botol elixir terakhir miliknya.

Ia mengambil separuh isi botol yang erwarna kebiruan dan memasukkannya kedalam mulut Amayor, lalu memasukkan sisanya kedalam mulut saudaranya yang ada di samping. Bahkan elixir buatan Gereja Axiom tak akan bisa memulihkan Life seekor naga, tetapi pasti akan cukup untuk mengembalikan stamina untuk satu penerbangan terakhir.

Dengan kedua tangannya, Alice mengusap pipi sang naga.

“Amayori, Takiguri.”

Ketika ia memanggil nama keduanya, matanya mulai basah. Tetapi ia menahannya.

“Ini perpisahan. Perintah terakhirku adalah... terbanglah ke Kerajaan Manusia, kembali ke sarang naga di wilayah barat; Amayori, carilah seorang suami. Dan Takiguri, carilah seorang istri. Miliki banyak bayi naga, besarkan hingga menjadi naga yang kuat. Seorang anak naga kuat yang bisa ditunggangi para knight suatu hari nanti.”

Amayori megangkat kepalanya dan menjilat pipi Alice.

Moncong Takiguri menuju pinggang Alice dan menciumi Divine Instrument milik Eldrie yang menggantung disana: the Frostscale Whip.

Keduan naga mulai mengangkat kepala, Alice memberikan perintah dengan kencang:

“Pergilah sekarang!! Jangan menoleh, terbanglah lurus!!”

Kurururu!!

Kedua naga mengangkat leher mereka dan meraung panjang.

Bersama – sama, mereka mengangkat tubuh besarnya dan mulai terbang ke arah barat.

Sayap raksasanya mengembang dan terangkat oleh angin gurun, mereka melayang.

Kedua naga mulai mengepakkan sayapnya agar cukup kuat.

Dan, kemudian—

Leher panjang Amayori berputar.

Naga berharga Alice menatap mata sang majikan. Tetes air mata turun dari bola mata sang naga, bagaikan butiran kristal di udara.

“Ama… yori…?”

Sebelum Alice menyelesaikan perkataannya—

Kepala sang naga berbalik arah secara bersamaan.

Dengan kecepatan penuh, mereka turun lurus menuju arag utara. Mereka berdua langsung menuju si pengejar yang kini bisa tampak terlihat jelas.

“Tidak… TIDAK! AMAYORI, TIDAKKKK!!”

Alice menjerit dan mulai berlari.

Tetapi pasir gurun mulai menghambat sepatu Alice.

Alice melihat saat Amayori dan Takiguri semakin tinggi menuju kearah musuh.

Sisik keperakan terlihat bagaikan percikapn api di langit merah.

Taring kedua naga kini membuka lebar.

Setelah musuh memasuki jarak serang, kedua naga mulai melancarkan serangan terkuat mereka — nafas api. Cahaya putih menerangi langit, seolah mereka membakar live mereka sendiri,

Musuh yang mengendarai makhluk hitam aneh tidak mengubah arah terbangnya, meskipun ia melihat gelombang api hendak menerjang.

Musuh mengangkat tangan kirinya dan membuka kelima jari.

Tak mungkin ia bisa menahannya. Selain Armament Full Control Art milik Integrity Knight atau sebuah grup yang melancarkan Art kelas atas secara bersamaan, nafas api naga adalah serangan terkuat di dunia ini. Hanya dua cara itulah. Tak mungkin merapal Art pertahanan guna menahan serangan tersebut dalam waktu singkat.

Itulah yang dipikirkan Alice.

Namun.

Tepat dihadapan dua buah nafas api yang akan membakar musuh, sesuatu diluat nalar Alice terjadi.

Kegelapan pekat mulai berputar dan mengembang di tangan kiri musuh.

Seolah tertelan kegelapan, pemandangan sekitar mulai terdisortir. Bahkan serangan nafas api terkuat sang naga juga. Serangan tersebut mulai mengerucut dan terhisap ke tangan kiri musuh—

Nafas api keduanya tidak meledak, hanya menyisakan garis – garis cahaya.

Musuh yang hanya titik kecil di langit tidak menggunakan Art ataupun Sword Skill, Alice yakin ia melihat mush tersenyum.

Lalu.

Dengan suara gemuruh, percikan listrik mulai meledak dari tangan kiri mush.

Serangan ini, yang telah menelan serangan para naga lalu dialirkan kembali dalam bentuk energi, serangan ini menembus sayap dan perut milik Amayori dan Takiguri. Tubuh besar sang naga terluka, tetesan darah menetes dari langit sana.

“Ah… Ah……”

Alice kaget, ia menjulurkan tangannya menuju langit dan menjerit:

“AMAYORIIIII! LARIII! CUKUPPP, LARILAHHH!”

Seharusnya teriakan Alice sampai ke telinga para naga, tetapi mereka tetap mengepakkan sayap dan tetap melaju kedepan.

Rahang mereka terbuka kembali. Api mulai terkumpul dan cahaya keputihan akan ditembakkan.

WHOOSH!!

Sekali lagi, api naga menerangi langit.

Sekali lagi, musuh membuat perlindungan kegelapan untuk menghisap api naga.

Mengetahui jika akan ada serangan balasan, para naga tetap maju tanpa gentar. Mereka mengepakkan sayapnya secara kompak, masih terus melancarkan serangan api terhadap musuh.

Darah yang menetes dari tubuh sang naga berubah menjadi api. Sisik perak mereka terkelupas dan menjadi partikel cahaya.

Kudua naga perlahan berubah menjadi Luminous Elements.

Terus menembak dan membakar live mereka, api yang mengisi kegelapan mulai memenuhinya. Mungkin karena tak bisa menahan serangan terus menerus, tangan kiri musuh mulai mengeluarkan asap putih.

Tetapi — pada saat itu.

Seluruh tubuh mush mulai terbungkus jubah kehitaman. Pusaran kegelapan yang terisi serangan musuh kini menembakkan petir hitam dan mendorong api putih para naga.

Benturan serangan hitam dan putih terjadi di tengah langit sana, sebelum akhirnya salah satu mendorong serangan yang lain.

Petir hitam melaju menuju Amayori dan Takiguri yang kini telah terlihat kelelahan—

“AMAYORI! TAKIGURIIIIII!”

Tepat ketika teriakan Alice menggema di tengah udara.

Sebuah bintang jatuh.

Dua tembakan cahaya turun dari langit merah dengan kecepatan mengerikan.

Salah satu cahaya terbang lurus menuju arahnya.

Cahaya lainnya terbang menuju jarak diantara kedua naga dan musuh. Cahaya mulai menghilang dan menampilkan sosok yang ada didalamnya.

Seorang manusia.

Seorang swordsman.

Rambut hitam pendek dan mengenakan jubah kulit hita,. Dua pedang panjang berwarna hitam dan putih ada di punggungnya. Lengan miliknya ia pasang di dada, dengan tenang ia menahan serangan petir hitam yang melaju kearahnya.

Bang!! Menghilang!!

Bunyi ledakan petir menyambar si swordsman. Bukan, lebih tepatnya serangan tadi tidak menyentuhnya. Serangan petir telah dibelokkan. Serangan musuh ditahan oleh pelindung transparan di depan si swordsman yang berdiri di udara dengan lengan ia silangkan.

Alice menahan nafas dan matanya terbuka lebar.

Si swordsman berbaju hitam menolehkan kepalanya dan memandang Alice.

Wajahnya adalah wajah pemuda, ia tersenyu, dan mata hitamnya penuh tekad. Alice merasakan percikan api dalam hatinya. Api tersebut semakin meluas, dan menjadi bara api.

Alice menyadari jika ada air mata menetes menuruni pipinya lalu ia berbisik pelan:

“Kiri… to……”

Terbangun dari tidur panjangnya selama setengah tahun, ia mengangguk sambil tersenyum tenang kemudian ia mengangkat tangan kanannya.

Dihadapan tangannya adalah para naga yang sekarat. Ujung sayap dan ekor milik mereka perlahan menghilang ditelan cahaya.

Melihat Kirito yang pernah tinggal bersama Alice di pinggiran Desa Rulid, Amayori memanggil lemah: Kururu.

Kirito mengangguk padanya lalu menutup mata.

Seketika, kedua naga ditutupi oleh prisma. Seolah mereka diselimuti oleh gelembung sabun. Tetapi mereka tidak merasa takut; mereka melipat sayap, menggulung leher dan tubuh mereka.

Bola prisma lalu perlahan turun dari atas kepala Alice.

Jadi Alice memfokuskan pandangannya, ia melihat hal luar biasa terjadi.

Terselimuti cahaya berwarna - warni, tubuh besar Amayori dan Takiguri mulai menyusut. Bukan, mereka menjadi lebih muda.

Kuku mereka yang tajam kini menjadi bulat dan tumpul. Sisik keras keperakan milik mereka berubah menjadi bulu – bulu lembut. Ekor dan leher mereka memendek dan sayapnya mengecil dan tertutup bulu.

Saat keduanya mendarat ke tangan Alice yang terbuka, tubuh mereka tak lebi dari Limapuluh Cen. Ditutupi bulu keputihan dari kepala sampai ekor, mata Takiguri tertutup. Ia tertidur.

Tetapi Amayori telah kembali ke wujud asalnya ketika Alice pertama kali bertemu dengannya di Katherdal Pusat: ia diselimuti bulu kehijauan, lalu membuka mulut kecilnya dan memanggil:

“Kyuru.”

“Ama… yori…”

Tetesan air mata mengalir dari pipi Alice dan turun ke bulu para naga.

Kemudian, cahaya berwarna – warni menyelimuti kedua bayi naga seketika. Sensasi bulu lembut di tangan Alice berubah menjadi sensasi cangkang. Ia berkedip beberapa kali dan menyadari jika para bayi naga yang ada di tangannya telah berubah menjadi dua telur besar.

Telur putih keperakan menyusut hingga bisa ditangkap dengan kedua telapak tangan Alice, lalu cahaya warna – warni mulai menghilang.

Alice perlahan membawa kedua buah telur naga ke pipinya, ia menemak – nebak peristiwa apa yang sedang terjadi dihadapannya. Menyadai jika Live Amayori dan Takiguri tak bisa tertolong menggunakan Art. Kirito lalu menyusutkan batas Live mereka sekecil mungkin — dan mengubah mereka menjadi telur naga dan menyelamatkannya dari kehancuran.

Bahkan bagi Alice, pengguna Sacred Arts paling ahli di dunia ini. Tak mungkin baginya untuk menggabungkan beberapa Art hingga mencapai efek seperti ini. Tetapi ia tidak merasakan kesedihan. Ia akan bisa melihat kedua naga tersebut di masa depan nantinya.

Memeluk kedua naga dengan tangannya, Alice melihat ke langit sekali lagi.

“Terima kasih… Selamat datang, Kirito.”

Ia berbisik pelan.

Suaranya tak mungkin bisa sampai ke langit sana, tetapi sosok Kirito tersenyum dan menganggguk.

Alice bisa mendengar suara dalam telinganya.

—Akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah lama menunggu terlalu lama. Terima kasih, Alice.

—Ayo kita bertemu lagi di Dunia Nyata.

Lalu Kirito mengubah pandangannya sekali lagi, ia melaju ke musuh yang terselimuti kegelapan.

Mungkin karena tak bisa menahan Incarnations pusaran kegelapan dan pelindung transparan, kehampaan mulai memercikan api kecil.

“Kirito…”

—Bahkan kamu tak akan bisa mengalahkan musuh dengan serangan biasa.

Alice menggigit bibir agak khawatir.

Sebuah suara samar terdengar dari belakang.

“Jangan khawatir, Alice-san.”

Melihat kebelakang, ia melihat seorang gadis dari Dunia Nyata dengan pakaian mutiara keputihan.

“Asuna…”

Rambut panjangnya tertiup angin, Asuna tersenyum dan dan menepuk pundak Alice.

“Ayo kita percaya pada Kirito-kun. Kita harus segera menuju Altar Ujung Dunia secepat mungkin.”

“Y-Ya…”

Alice mengangguk tetapi tidak semudah itu.

Sword Art Online Vol 18 - 146.jpg

Alice berbalik ke arah selatan, melihat ke «Dinding Ujung Dunia» yang berdiri tegak di kejauhan beserta pullau putih mengapung yang ada disana.

“… Altar Ujung Dunia seharusnya ada di pulau mengambang itu. Tetapi kita tidak bisa menaiki naga lagi. Bagaimana kita bisa memanjatnya …?”

“Jangan khawatir, serahkan padaku.”

Asuna mengangguk dan menarik rapier cantik dari pinggangnya.

kemudian, laaaaaaaa; suara memekikkan yang ia dengar saat penyerangan Pasukan Kegelapan terdengar lagi.

Cahaya warna – warni turun dari langit menuju gurun ini.

Sebuah batu putih berbentuk jempol muncul di hadapannya.

BR-BRRRRRMMM!

Jempol lain muncul sedikit demi sedikit dengan cukup tinggi tanpa henti.

Dalam sepuluh detik, Alice melihat tangga leputihan muncul dihadapannya, menjulang tinggi hingga ke pulau mengapung.

Asuna menyelesaikan manipulasi dataran, merendahkan rapier miliknya dan terjatuh ke tanag.

“A-Asuna…!!”

“Aku… Aku tak apa... kita haya punya waktu delapan menit sebelum Altar tertutup …”

Tertutup—?

Alice tak bisa memahami maksud perkataan Asuna, tetapi sebelum ia bisa bertanya. Tangan kanannya terasa tertarik kekuatan besar.

Asuna berdiri dan mulai menyeretnya untuk mendaki tangga batu, Alice juga ikut berlari. Sambil berlari, ia melihat kebelakang sekali lagi, Kirito sedang berhadapan dengan musuh di langit sana.

—Kirito. Aku masih banyak berhutang padamu.

—Kamu harus menang dan kembali padaku lagi.

***

Melihat tangga batu putih yang terhubung ke pulau melayang dengan dua swordswomen yang sedang berlari dengan cepat membuatnya merasa sedikit lega.

Aku menoleh lagi dan yakin.

—Alice. Asuna.

—Aku… harus berpisah dengan kalian disini.

Tentu saja aku tidak mengatakan pada Asuna jika Percepatan Waktu selanjutnya adalah lima juta kali lipat, aku juga tak berniat mengatakan padanya jika kita akan menghabiskan dua ratus tahun di dunia ini jika tidak segera log out.

Karena jika mereka mengetahui hal itu, Asuna dan Alice pasti akan tinggal dan bertarung bersamaku. Bahkan jika mereka tak bisa keluar sebelum percepatan dimulai.

Seketika aku merasakan musuh macam apa yang mengejar Alice, aku merasakan keanehan padanya.

Tidak, tidak tetap jika menyebutnya melayang di udara. Apa yang ada dihadapanku adalah Bagian Kehampaan. Sebuah lubang hitam yang menelan segela informasi, bahkan sebuah cahaya tak akan bisa lolos darinya.

Jika aku akan mengalahkan musuh seperti ini sebelum batas waktu, kemungkinan kita bertiga bisa lolos sangatlah kecil. Dengan kata lain, kemungkinan seranganku akan akan hancur berkeping – keping.

Memastikan Asuna dan Alice bisa log out dengan aman dari Underworld.

Selain itu, aku tak boleh memikirkan hal lain. Tak boleh.

Aku memandang keduanya untuk terakhir kali, lalu berbalik menuju musuh yang ada dihadapanku.

«Benda» yang akan aku lawan adalah sosok yang diluar harapanku.

Dia seorang manusia. Pastinya benar.

Tetap itulah yang aku tahu.

Jika penampilan wajahnya adalah sebuah custom avatar, maka kemunggkinan ia bermaksud untuk «terlihat seperti orang kulit putih». Kirito melihat seksama, tetapi tak ada yang spesial darinya. Ia memiliki kulit putih, mata biru, dan rambut pirang.

Bagi pria kulit putih, tubuh fisiknya juga terlihat normal. Tubuhnya juga tidak terlalu kurus maupun gemuk dan ia mengenakan jaket militer. Apakah orang ini adalah seorang tentara? Aku tak yakin. Pola hitam dan abu – abu yang menutupi jaketnya bergerak – gerak seolah seperti slime. Terlebih lagi, ada sebuah longsword di pinggang kirinya yang terlihat seperti senjata kelas Divine Instrument.

Saat dalam perjalanan kemari, aku mendengar dari Asuna jika pria ini adalah salah satu pasukan yng menyerang Ocean Turtle. Itu berarti dia adalah tentara bayaran yang disewa menggunakan uang suatu organisasi ataupun perusahaan yang bertujuan untuk mencuri teknologi Artificial Fluctlight. Tetapi orang yang ada dihadapanku, dari pandangan matanya tidak memiliki minat seperti itu. Tidak, ia juga tidak sepenuhnya terlihat seperti manusia.

Setelah beberapa saat berpikir, aku membuka mulutku:

“… Siapa kau?”

Aku langsung mendapat jawaban. Si pria dihadapanku menjawab dengan suara agak seperti mesin:

“Seorang pencari, seorang pencuri, dan seorang perampas.”

Saat aku mendengar jawaban tersebut, aura biru kehitaman muncul dari tubuh si pria dan berputar kencang. Aku merasakan hembusan angin dari belakangku. Udara..., bukan, informasi penyusun dunia ini terhisap kedalam kegelapan.

“Apa yang kau cari?”

“Jiwa.”

Saat percakapan berlanjut, tidak hanya informasi dunia yang terhisap. Bahkan kesadaranku terasa terhisap oleh kehampaan.

Tiba – tiba sebuah ekspresi muncul di pojok bibir musuh. Itu adalah sebuah senyuman tanpa ekspresi.

“Akulah yang harus bertanya siapa kau. Mengapa kau disini? Apa alasanmu menghadangku?”

Siapa aku?

Seorang pahlawan yang turun dalam? — Tentu bukan.

Seorang knight yang melindungi Kerajaan Manusia? — Bukan.

Aku merasakan setiap kata – kata yang melintas di kepalaku ditolak oleh hatiku. Aku tak tahu alasannya; aku tak bisa berhenti berpikir.

Seorang pahlawan yang menyelesaikan SAO? — Tidak.

Pemain VRMMO terkuat? — Tidak.

«Si Black Swordsman»? «Dual Blades»? — Tidak, tidak.

Semua hal itu bukanlah apa yang aku inginkan.

Lalu, siapa aku…?

Seketika pikiranku tercerahi.

Aku merasakan suara yang pernah kudengar memanggil namaku.

Mengangkat kepalaku. Aku menyebutkan namaku

“Aku Kirito. Kirito si swordsman.”

CRACK!!

Sebuah percikan putih muncul dari kegelapan yang hendak menutupi tubuhku. Pikiranku langsung menjadi lebih jelas.

—Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah pria ini bisa memasuki kesadaranku dengan bantuan dua buah STL?

Aku menatap mata musuh sambil menguatkan pelindung transparanku. Tetapi apa yang ada disana adalah suatu kehampaan dan kegelapan pekat yang menghisap jiwa.

“… Siapa namamu?”

Aku bertanya tanpa berpikir.

Si pria diam sesaat lalu menjawab.

“Gabriel. Namaku Gabriel Miller.”

Instingku berkata jika nama tersebut bukanlah nama karakternya; itu adalah nama aslinya.

Aku bisa menebak karena wajahnya berubah. Matanya semakin tajam, sedingin es. Bibirnya semakin tipis dan pipinya ia kerutkan.

Saat ia kembali ke bentuk hitamnya, aura kehitaman semakin tebal menutupi tubuh.

Pada titik ini, aku akhirnya menyadari jika seleruh lengan kanannya telah terpotong. Kegelapan pekat yang berkumpul di lengannya kini memanjang dan menyentuh pedang di pinggang kirinya. around the sword at his left waist.

Pedang tersebut dikeluarkan dengan suara becek, tetapi tidak memiliki bentuk fisik sama sekali.

Pedang itu hanyalah kegelapan pekat, sepanjang satu meter. Sebuah keberadaan yang tak masuk akal.

Dengan getaran aneh, ia mulai menggenggam pedang dengan tangan bayangannya.

Aku membuat jarak dan menarik kedua pedang dari punggungku bersamaan. Tangan kiriku menggenggam Blue Rose Sword, dan tangan kananku menggenggam Night Sky Sword.

Jika dibandingkan menggunakan warna hitam, Night Sky Sword yang dipotong dari ujung Pohon Gigas Cedar tidak kalah gelap. Akan tetapi. Tubuh pedangku mengkilat seperti kristal hitam, sementara punya musuh benar – benar seperti kegelapan yang mengisi angkasa. Jika dibandingkan dengan Mate Chopper milik PoH dalam hal kemampuan menghisap Resource, mungkin berbeda jauh.

Bahkan melawan musuh kuat, aku tak bisa mundur. Sebelum Asuna dan Alice sampai ke ujung tangga, aku harus menahan musuh ini.

“—Kemarilah, Gabriel!!”

Dengan yakin meneriaki nama musuh, aku mengepakkan sayap dari jubahku.

Seketika aku mendapat dorongan dan menyilangkan kedua pedang di hadapanku.

“Generate all element!”

Membayangkan angkasa sebagai sebuah terminal dan menciptakan semua elemen, aku melaju dan menciptakannya dalam waktu bersamaan.

“DIscharge!!”

Panah api, tombak es, pedang angin, dan berbagai macam senjata terus menghujam dari langit.

Aku merapal Art dan mengangkat kedua pedang di tanganku.

Gabriel Miller tidak menunjukkan tanda – tanda akan menghindar.

Masih tersenyum, ia membuka lebar tangannya.

Delapan buah cahaya menusuk tubuhnya yang terbungkus kegelapan.

Tidak memberikan kesempatan pada tubuh bagian atasnya yang bergetar, aku mengayunkan pedang di tangan kananku menuju perutnya dan menusukkan pedang di tangan kiriku ke dadanya. Cairan kegelapan munncrat dan membuat rasa dingin di kulitku.

Tepat setelah aku menarik serangan dan menjaga jarak.

Apa yang mataku tangkap adalah—

Gabriel perlahan menghisap kegelapan dalam tubuhnya seolah tak ada yang terjadi. Jaket yang ia kenakan tidak tergores.

Aku mengerti.

Kemampuan yang pria ini miliki adalah kemampuan menghisap tebasan, tusukan, hawa dingin, hawa panas, angin, panah besi, aliran air, pedang kristal, serangan cahaya, dan kegelapan.

Kain pada jubah yang ada di pundak kananku yang terkena Void Blade saat kami saling serang kini hancur seolah terkelupas.

***

Gabriel Miller melihat sekilas menuju sosok «Putri Cahaya» Alice dan gadis lain yang sedang menaiki tangga putih, sepertinya butuh waktu lima menit untuk sampai ke system console.

Makanya, ia tak memiliki niat untuk meladeni pertarungan ini. Ia harus segera mengalahkan dan menuju ke pulau melayang adalah pilihan yang paling logis. Tetapi Gabriel merasakan sedikit ketertarikan pada musuh baru ini, jadi ia akan sedikit bermain – main.

Pada pandangan pertama, ia melihat sang musuh hanyalah pemuda biasa.

Dibandingkan dengan pertarungan sebelumnya yang tampak saling menghancurkan, kini ia tak merasakan rasa intimidasi sama sekali. Karena, musuh seperti «Sinon»: seorang pemain VRMMO yang berkomplot dengan RATH, tetapi melihat dari tekanan yang telah musuh berikan. Ia mungkin lebih kuat dibanding Sinon.

Itu karena fakta jika pemuda berambut hitam tampak tidak menunjukkan semangat bertarung.

Ia hanya sedikit menghisap informasi saat Gabriel menanyakan orang macam apa si pemuda, tetapi sirkuit tersebut langsung diputuskan. Kemudian dia terus menerus menolak pelemah mental Gabriel seolah dilindungi oleh pelindung transparan. Bertarung dengan musuh yang tak bisa dirasakan jiwanya tidak membuat Gabriel tertarik sama sekali.

Jika seperti itu, ia harus melenyapkan musuh segera dan mengejar Alice. Pikir Gabriel.

Tetapi setelah ia melihat pemuda ini mengubah jubah miliknya menjadi sayap dan menciptakan berbagai macam Art dalam beberapa saat. Hal itu mengubah pandangan Gabriel, pemuda ini pasti akrab dengan isi dunia ini.

Setelah mendapatkan Alice dan mengambil teknologi STL ke suatu negara, ia masih memiliki tujuan untuk menciptakan dunia virtual untuk dirinya sendiri, dunia dimana segala hal yang ia inginkan akan diciptakan. Melancarkan teknik memanipulasi pikiran pada pemuda ini lebih lanjut tampaknya bukan ide yang buruk agar misi miliknya selesai.

Maka dari itu, dia harus menghancurkan pelindung transparan miliknya.

Gabriel tersenyum lagi dan berbicara dengan di pemuda hitam dengan bahasa jepang:

“Kau punya waktu tiga menit. Hibur aku dengan kemampuanmu.”

***

“… Sungguh baik hati.”

Balasku, sambil mengusap luka pada pundak kananku dan menyembuhkannya.

Tetapi rasa percaya diri Gabriel Miller datang berdasarkan fakta bahwa dia sangat kuat. Karena ia berhasol menahan segala jenis serangan.

—Tidak, hanya ada satu jenis serangan yang efektif untuk menghadapinya. Sinon telah datang dan menghancurkan lengan kanannya. Ia mungkin menggunakan imajinasinya untuk menciptakan Hecate II lalu menembaknya. Itu berarti Gabriel tak bisa menghisap serangan tipe «Tembakan».

Dibalik fenomena aneh ini mungkin karena pakaian militer yang ia kenakan. Ia memiliki pengalaman di dunia nyata dan cukup akrab dengan senjata anti peluru, dan mungkin itulah mengapa ia tak bisa menahan damage yang diterima memenggunakan kemampuan imajinasi karena akan tertembak.

Terlebih lagi, hanya Sinon yang bisa menggunakan pistol dan peluru dengan leluasa di Underworld. Tak mungkin aku bisa melakukannya. Bahkan jika aku bisa membuat sebuah pistol, aku tak yakin dengan kemampuanku.

Dengan kata lain, aku harus menemukan cara lain selain serangan tembakan untuk membuat musuh menerima damage.

Itu berarti aku harus memabami Gabriel sebagai seorang manusia. Aku harus mengetahui bagaimana ia hidup, apa yang ia inginkan, dan mengapa ia masuk ke Underworld.

Aku menyiapkan kedua pedangku dan mulai tersenyum.

“Baiklah, akan kupastikan kau menikmatinya.”

***

Darimada datangnya rasa percayadiri itu?

Ia pasti telah log in dalam Underworld cukup lama dan terbiasa dengan sistem dunia ini, tetapi ia hanyalah bocah. Ia pasti sudah sadar jika serangan kedua pedangnya dan berbagai serangan sihir tidak berguna, mengapa ia masih bisa tersenyum seperti itu?

Gabriel berpikir, merasakan terganggu karena tingkah laku si pemuda. Ia yakin jika musuh hanyalah mengulur waktu.

Ia tahu jika Gabriel tewas di dunia ini, tubuhnya di dunia nyata tak akan tergores. Diatas itu semua, ia hanya mampu menahan pertarungan ini selama mungkin hingga temannya dan Alice bisa kabur.

Hanya seorang anak kecil. Tiga menit terlalu lama bagi Gabriel.

Mengangkat tangan kanannya yang tercipta menggunakan kekuatan tekad, ia perlahan mengayunkan Void Blade miliknya — Gabriel menusukkan pedang ke punggung makhluk bersayap.

Seperti pedang dan busur, makhluk ini adalah hasil Jetpack milik akun «Subtilizer» yang telah di konvert agar sesuai dengan lingkungan dunia ini. Meskipun ia bisa mengontrolnya dengan pikiran, berdiri dengan kedua kaki tidak membuatnya nyaman. Mungkin mengubah jetpack ini agar berbentuk seperti sayap lebih mudah digunakan seperti pemuda itu.

Saat pedang itu menusuk semakin dalam, si makhluk berteriak dan terhisap. Data mengalir dari pedang ke lengan kanan Gabriel lalu ia fokuskan ke punggung dengan pikirannya.

Sayap hitam mulai mengepak dari pundak. Tidak seperti sayap kelelawar. Namun sayap itu tertutup bulu burung pemangsa. Cocok dengan nama malaikat yang ia miliki

“… Sang Perampas.”

Gabriel berbisik saat ia mengarahkan Void Blade kepada sang pemuda.

***

Aku berencana melancarkan seranganku selanjutnya untuk menghacurkan makhluk bersayap yang dikendarainya, tetapi ia bertindak terlebih dahulu dan mengacaukan rencanaku.

Tidak melewatkan kesempatannya, Gabriel mengepakkan sayap hitam miliknya dan menghunuskan pedangnya menuju ke arahku.

Kecepatan tebasanya benar – benar mengejutkan dan ia tidak menarik mundur pedangnya. Aku menganggapnya tak ahli menggunakan Sword Skills, tetapi ia benar – benar mahir. Aku menyilangkan pedangku dan menebaskan keduanya dari bawah ke atas untuk memblokir serangan musuh.

Kissh!

Sebuah suara bising dan sebuah pedang yang terbuat dari kegelapan tertahan di depan hidungku.

Blue Rose Sword dan Night Sky Sword saling menahan satu sama lain. Inilah yang bisa kulakukan untuk menghindari agar tidak terhisap, tetappi aku merasa sedang diserang oleh kehampaan itu sendiri. Aku seolah bisa membayangkan kedua pedangku merasakan hal yang sama.

Tetapi itulah strategi yang terpikirkan olehku agar menahan pedang miliknya ketimbang menghindari serangan kebelakang. Tanpa menahan kekuatan mengerikan milik Pedang Gabriel, aku melompat dan memutar tubuhku ke kanan.

“Raah!”

Aku berteriak. Ujung sepatuku terlontar keatas dengan jejak cahaya orange, mengincar dagu miliknya. Kegelapan meledak dengan suara whap dan tubuh atas Gabriel melengkung ke belakang.

—Bagaimana?!

Sayapku mengepak hebat ketika aku membuat jarak dan melihat musuh. Jika aku tidak bisa membuat serangan tembakan, aku akan mencoba sebuah «Pukulan» — dan jika orang ini adalah seorang pasukan tentara khusus, ia pastinya akan memiliki kemampuan serangan jarak dekat.

Kepala Gabriel yang melengkung kebalakang kembali ke posisi semula, benar – benar tak terluka.

Tanpa meninggalkan jeda, kegelapan yang meledak dari dagunya berkumpul kembali dan meciptakan kulit baru. Musuh kaget dan mengelapnya dengan tangan kirinya, ia tersenyum

“Aku paham. Tetapi sayang sekali, tetapi serangan brutal seperti itu hanya ada di siaran televisi. Sebuah seni bela diri…”

Byuu!

Angin bertiup saat Gabriel terbang kearahku, seluruh tubuhnya sangan cepat sehingga terlihat seolah seperti kabut hitam. Dengan reflek aku menahan serangan yang datang dari bagian kiri dengan Blue Rose Sword dan membalas serangan menggunakan Night Sky Sword. Seranganku mengenai pundaknya, tetapi seolah terlumuri oleh cairankehitaman. Aku tak bisa menarik oedangku.

Tepat setelahnya, sesuatu yang licin melingkari lengan kananku, tangan kiri Gabriel sedang melilitku bagaikan ular besar, dan aku tak bisa menggerakkan pergelangan tanganku—

Lalu sebuah rasa sakit menusuk kurasakan hingga ubun – ubunku bagaikan serangan listrik.

“Gwah…”

Melihat wajahku yang kesakutan dari jarak dekat, Gabriel berguman:

“—Jadi seperti ini.”

Dan setelahnya, sebuah serangan mengerikan ia lancarkan.

Void Blade melancarkan serangan bertubi – tubi dengan keceptan mengerikan tiada akhir. Aku berusaha menahannya dengan pedang di lengan kiriku, tetapi pasti ada serangan miliknya yang tak bisa kutahan dan menggores tubuhku satu persatu. Tak ada waktu untuk menyembuhkan lengan kananku yang patah.

“Ah… Rrrgh…”

Aku tak bisa menahannya, dan mengepakkan sayapku untuh menjauh darinya.

Melompat kebelakang secepat mungkin, aku menyentuh lengan kananku dan dengan segenap keinginanku, aku berharap agar bisa memegang pedang.

Tepat saat cahaya keputihan akan berkumpul.

Gabriel mencengkramkan lengan kirinya; kelima jarinya ia buka bagaikan cakar.

Sepuluh atau lebih petir hitam ditembakkan lurus, menuju kearahku.

Aku menggertakkan gigiku dan menciptakan pelindung imajinasi. Inilah yang aku gunakan saat ia menyerang kedua naga milik Alice, tetapi saat ini aku sangat yakin bisa menahan petir tersebut, dan sekarang setengah konsentrasiku sedang kufokuskan pada menyembuhkan lenganku — hal ini membuat pelindung milikku menjadi lemah—

Aku merasakan hantaman mendarat pada beberapa bagian tubuhku.

Tiga serangan petir menembus pelidung, perutm dan kedua kakiku. Rasa dingin mengerikan menjalar ke seluruh tubuhku sebelum aku merasakan rasa sakit. Dihadapan mataku, luka – luka yang aku terima telah disusupi cairan hitam, seolah hendak menelan keberadaanku.

“Ugh…!”

Aku menggeram, lalu mengambil nafas dalam – dalam dan berteriak. Aku berhasil menyingkirkan cairan itu, tetapi darah mengucur dari lukaku.

“Ha ha ha…”

Aku melihat pada sosok Gabriel Miller yang sedang tertawa.

“Ha ha ha, ha ha ha ha ha…”

Tidak, itu bukanlah suara tawa. Bibirnya ia tutup ke atas, tetapu ujung bola matanya tidak bergerak sama sekali, bola matanya hanya terisi oleh rasa lapar yang semakin besar.

Gabriel perlahan menyilangkan kedua tangannya, sebuah posisi seolah ia sedang mengumpulkan kekuatan.

Aura hitam miliknya berputar semakin kencang. Bagaikan api yang semakin membara.

“HAAAAAAAAAAAAAA!”

Lengannya ia buka lebar – lebar dengan teriakan kencang.

Whoosh. Sepasang sayap baru muncul dai sayapnya yang telah ia munculkan. Lalu sepasang sayap baru muncul lagi di bagian bawah

Gabriel perlahan menambah ketinggian dengan total sayap berjumlah enam buah. Sebuah halo berwarna hitam muncul di atas kepalanya dan seragam kamuflase tentara miliknya kini berganti dengan pakaian hitam pekat.

Mata miliknya berubah menjadi tak berbentuk manusia. Bola matanys terisi oleh cahaya biru kehitaman.

Benar – benar seperti— seorang Malaikan Maut. Sebuah sosok yang akan memburu dan merampas jiwa manusia. Serangan macam apa yang akan bekerja melawannya?

Aku memalingkan dari sosok menakutkan itu dan mengecek kondisi Asuna dan Alice yang masih berlari menaiki tangga satu persatu. Mereka masih butuh waktu dua sampai tiga menit sebelum sampai ke Pulau Melayang.

Aku ragu bisa memberikan waktu lebih lama lagi

***

Sungguh luar biasa

Sword Art Online Vol 18 - 196.jpg

Sensasi kekuatan yang mengalir menuju seluruh tubuhnya membuat Gabriel mengeluarkan tawa hingga tiga kali.

Apakah ini kekuatan imajinasi — atau yang ia sebut dengan nama «Incarnation» di dunia ini?

Setidaknya ia telah mendapat kekuatan yang setara... tidak, bahkan melebihi sang pendekar pedang yang telah membunuhnya beberapa waktu lalu dengan tebasan waktu miliknya. Hingga sekarang Gabriel hanya memahami jika kekuatan musuh – musuhnya adalah efek dari system command yang belum ia pahami, tetapi kenyataannya berbeda. Dan ia telah menyadarinya akibat tindakan pemuda berambut hitam yang ada di depannya.

Aku akan memberikan beberapa menit sebagai ungkapan terima kasihku.

Gabriel mengembangkan keenam sayapnya dan mengangkat tinggi pedang kegelapan miliknya.

Dalam waktu semenit ia akan memotong tubuhnya menjadi berkeping – keping, mengekstrak jiwanya, dan menghisapnya sampai habis. Ia berencana menjadi semakin kuat.

Listrik kebiruan mengalir ke tubuh Gabriel saat ia mulai menyerang.

***

Aku menatap sosok musuh sekali lagi.

Aku tak bisa memikirkan cara untuk melawan atau memojokkan pria ini. Lengan kanannya yang seharusnya telah dihancurkan oleh Sinon telah pulih seutuhnya tanpa aku sadari.

Sejujurnya, aku tak siao secara mental untuk melawannya.

Aku tak memahami sosok Gabriel Miller. Udara mengerikan disekitarnya seolah menginginkan rasa lapar yang lebih besar. Tetapi aku masih belum kehilangan harapan untuk menang, bahkan sebelum pertarungan ini dimulai. Selama aku bisa mengulur banyak waktu — aku akan berusaha keras hingga Alice dan Asuna bisa log out, aku mungkin akan terperangkap dalam dunia ini selama lebih dari 200 tahun, tak bisa kembali ke dunia nyata lagi.

Ahh… Jadi seperti itu?

Mungkin aku sebenarnya mengharapkan hal semacam itu?

Sebuah dunia alternatif yang melebihi sosok Aincrad. Tanah ideal yang selalu diharapkan Kayaba Akihiko. Sangat cocok dengan nama“Underworld”.

Aku sering bertanya – tanya selama dua tahun terperangkap dalam SAO apakah aku memang ingin keluar. Aku ragu, karena sebagai anggota Lantai Atas yang selalu bertempur di garis depan, aku selalu merasa ketidakpastian jika hidup di dunia itu akan memiliki akhir. Hal yang sama juga akan terjadi pada tubuh asliku yang terbaring di kasur rumah sakit.

Tetapi waktu akselerasi di Underworld tidak terikat hal itu. Kecepatan 5,000,000 kali lipat dunia nyata berarti aku tidak perlu mengkhawatirkan konsisi tubuhku sama sekali. Hingga jiwaku habis, aku akan bisa tinggal disini selamanya. Apakah kesadaranku menginginkan hal seperti itu?

Jawabannya adalah—

Hal seperti itu tidak terlintas di kepalaku...

Bukan Suguha, Ibu, Ayah.

Yui, Klein, Agil, Liz, Silica… atau orang – orang yang telah menyelamatkanku berkali – kali.

Atau Alice.

Asuna.

Aku tak pernah berpikir betapa besarnya rasa sedih, rasa bersalah mereka, berapa banyak air mata yang telah mereka keluarkan.

Aku masih belum memahami perasaan orang lain.

Aku tidak pernah berubah, sejak sekolah menengah saat aku menelantarkan temanku yang minta pertolongan...

—Itu tak benar, Kirito.

Sebuah suara yang kukenal.

Aku merasakan suatu kehangatan yang mengalir dalam tangan kiriku yang sedingin es.

—Itu bukan demi dirimu sendiri jika tak ingin meninggalkan dunia ini. Itu karena kamu menyayangi orang – orang yang telah kamu temui.

—Kamu menyayangi Selka, Tiese, Ronye, Liena-senpai, Penduduk Desa Rulid, dan orang yang telah kau temui di Kota Pusat dan Academi, para Integrity Knights dan Penjaga … Cardinal-san, dan bahkan mungkin Administrator… juga mungkin aku.

—Itulah besarnya rasa sayangmu, begitu besar seolah engkau bisa menanggung beban seluruh dunia ini.

—Tetapi musuh – musuhmu tidaklah sama.

—Orang itu tidak memahami perasaan orang lain, itulah mengapa ia menghisap jiwa – jiwa, karena ia tak paham arti rasa sayang. Itulah mengapa ia menelannya bulat – bulat. Itulah mengapa ia merusaknya.

Karena ....

Ia takut.

***

Gabriel Miller melihat air mata yang menetes di pipi pemuda tersebut. Ia menggenggam pedangnya di dada, seolah takut.

Apakah ia akhirnya merasa ketakutan?

Haya rasa takut dan kengerian akan kematian yang bisa Gabriel bagi ke orang lain.

Gabriel telah mebgambil banyak jiwa demi mencari Jiwa Murni, bahkan sejak ia membunuh Alicia Klingerman di hutan dibelakang rumah masa kecilnya. Tetapi ia tak pernah lagi menyaksikan kejadian munculnya cahaya kecil yang keluar dari dahi Alicia. Maka ia telah mengisi rasa lapar dalah hatinya menggunakan rasa takut.

Bagaimana rasanya? Rasa takut dari seorang pemuda yang sebelumnya sangat percaya diri, kini mengetahui ia telah berada di ambang maut?

Perasaan yang mengisi tubuhnya membuat Gabriel menjila lidahnya sendiri, ia lalu mengangkat keujung jarinya.

Ia mengayunkan jarinya kebawah dan ia menembakkan leser sangat tipis berwarna kehitaman, menembus setiap tubuh si pemuda. Beberapa detik kemudian, darah menyemprot ke udara bagaikan sebuah kabut.

“HA HA HA HA!!”

Gabriel tertawa sambil ia mendekat mengayunkan Void Blade miliknya.

Pedang tersebut menusuk perut pemuda itu dengan sangat mudah.

Tubuh bagian bawahnya dari baju hingga jubah terpotong oleh pedang tersebut menjadi dua.

Darah, daging, dan organ dalam berhamburan ke segala arah.

Tangan kiri Gabriel meletakkan tangannya ke dada Kirito.

Ia masih merasakan detak jantungnya, lalu mengoyak dan mengambil jantung miliknya.

Jantung tersebut masih berdetak badump, badump, kemudian Gabriel membawanya ke mulut lalu berbisik kepada tubuh tak bernyawa milik si pemuda.

***

“Perasaan, Ingatan, semua milik hati dan jiwamu... akan aku hisap semuanya.”

Si malaikat maut berbisik. Aku menatapnya dengan mata yang hampir tertutup.

Bibir tak berwarna milik Gabriel Miller terbuka lebar, ia akan memakan jantung milikku.

…Squish.

Ada suara tak mengenakkan terdengar.

Wajah putihnya terkejut, banyak darah keluar dari mulutnya.

Tentu saja.

Ia telah memakan banyak pedang kecil yang aku ciptakan didalam jantungku menggunakan Metallic Elements.

“Unf…”

Gabriel menutup mulutnya dan mundur.

Aku berucap.

“Bagaimana kamu akan menemukan.... jiwa dan ingatanku disitu? Tubuhku hanyalah .... wadah. Ingatanku... akan selalu .....”

Disini.

Bersatu dengan kesadaranku, tak pernah terpisah.

Rasa sakit yang aku rasakan saat ia mencabik jantungku memang tak terkira. Tetapi itulah kesempatan terbesar milikku. Tak akan ada lagi kesempatan kedua jika aku gagal.

Eugeo masih bisa bertempur saat tubuhnya terpotong.

Aku melebarkan kedua pedang milikku, dan berteriak sambil batuk darah:

“RELEASE RECOLLECTION!!”

Cahaya putih dan kehitaman meluncur dengan waktu bersamaan.

Banyak sulur es meledak dari ujung Blue Rose Sword, mengikat tubuh Gabriel.

Dan Night Sky Sword yang kuangkat tinggi – tinggi—

Sebuah pilar besar menjulang ke langit.

Cahaya kehitaman menuju atas, menembus langit merah — lalu melebar kesegala arah seolah menelan sang matahari.

Perlahan, cahaya tersebut menelan langit.

Langit merah berubah warna dan siang hari telah menghilang.

Kegelapan menyelimuti angkasa, dan terus melebar.

Tidak, itu bukanlah kegelapan kekosongan, ia memiliki rasa hangat....

Sebuah langit malam tanpa batas

***

Sinon terbaring sendirian ditengah gurun tak berpenghuni dibawah bebatuan berbentuk aneh, menunggu HP miliknya berkurang menjadi 0.

Rasa sakit tiada tara masih muncul dari kakinya yang menghilang, membuatnya setengah mau pingsan. Ia menggenggam kalung di dadanya dengan sekuat tenaga. Tetapi ia perlahan mulai kehilangan tenaga.

Tepat saat pandangan miliknya akan memudar yang menandakan ia akan log out karena pingsan....

Langit berubah warna.

Langit merah cerah yang menandakan waktu siang kini berubah menjadi kegelapan dengan cepat dari arah selatan. Matahari tertutupi dan awan juga menghilang — kemudian, Sinon tertutupi oleh kegelapan pekat.

Tudak, bukan kegelapan pekat.

Sebelum ia menyadarinya, cahaya – cahaya kecil mulai nampak menyinari bebatuan di atasnya, pohon – pohon mati, dan rantai kalung miliknya. Sebuah angin sepoi – sepoi meniup poni Sinon.

Ini adalah kegelapan malam. Sebuah kegelapan malam yang begitu nyaman sedang menutupi seluruh dunia.

Sinon teringat akan kejadian di waktu lampau.

Ia pernah menghabiskan malam di tengah gurun pasir pada dunia yang lain. Dengan segenap kekuatannya, ia menangis, membentak, dan marah akan kejadian saat masa kecilnya. Ia memikirkan betapa banyak ingatan tersebut menghantuinya.langit malam yang kini ada diatasnya terisi oleh perasaan kuat namun lembut yang seolah memeluk tubuhnya dari belakang dan meringankan beban milik Sinon.

—Aku mengerti. Ini adalah jiwa milik Kirito.

Ia bukanlah matahari terang. Ia tidak menyinari orang lain dari depan dengan cahaya hangatnya.

Tetapi, saat kamu sedih, menderita, ia akan selalu mendukungmu dari belakang. Ia akan menyembuhkan lukamu dan menghapus air mata milikmu. Seperti sebuah bintang malam yang kecil.

Demi melindungi dunia dan semua orang, tampaknya Kirito sedang kesusahan menghadapi Kaisar Vektor, atau Subtilizer. Setelah berkali – kali melawan musuh yang sangat kuat, tampaknya ia telah memanggil sedikit kekuatan dalam dirinya.

Jika itu benar, maka — bawalah jiwaku kepadanya.

Sinon berdoa sambil melihat langit malam dengan mata menangis.

Sebuah bintang biru kecil di atasnya berkedip sesaat.

***

Leafa terbaring di tanah, di kelilingi oleh Para Petarung Tangan Kosong dan Kumpulan Orc. Ia menantikan saat terakhirnya.

Kaki kanannya tak memiliki kekuatan untuk berpijak dan menggunakan kemampuan penyembuhan Teraria. Tubuhnya yang penuh luka dan lubang kini sedingin es, tak bisa ia gerakkan.

“Leafa… jangan mati! Kau tak boleh mati!!”

Kepala Orc Rirupirin menunduk disampingnya sambil berteriak. Air mata yang mengalir dari mata kecilnya sungguh indah. Leafa memandang dan tersenyum, lalu berbisik:

“Jangan menangis… Aku akan kembali … aku yakin.”

Pada saat seperti ini, Rirupirin menundukkan tubuhnya, bahunya gemetaran. Melihatnya seperti ini, Leafa berpikir.

—Aku tak bisa menolong Onii-chan secara langsung, tetapi ini cukup. Aku telah melakukan tugasku. Benar kan ...?

Kemudian, seolah menjawab pikiran Leafa.

Warna langit merah menghilang.

Langit kemerahan cirikhas Tanah Kegelapan kini berganti langit malam; ekspresi terkejut mengisi wajah para Orc dan Petarung tangan kosong. Air mata Rirupirin ia hapus dan lalu memandang ke atas.

Tetapi Leafa tidak merasa terkejut maupun rasa takut. Ia bisa merasakan harum kakaknya pada angin malam yang menerpa pipinya dari arah selatan.

“Onii-chan…”

Ia berguman, mengambil nafas dalam – dalam.

Bagi Leafa — Suguha, Kirito selalu menjadi sosok terdekat sekaligus terjauh bagi dirinya.

Sepertinya kakaknya telah berhenti memandang kedua orang tuanya saat ini sebagai orang tua kandung tanpa ia sadari, bahkan sebelum ia menemukan kenyataan yang sebenarnya. Kirito telah menutup dirinya sendiri sangat lama seingat Suguha; ia tidak pernah terhubung dengan orang lain. Setiap saat persahabatan baru muncul, ia akan merusaknya dengan tangannya sendiri.

Kelakuan Kirito yang seperti ini telah membuat dirinya kecanduan game online, dan kegemaran tersebut membuarnya dikenal sebagai «Pahlawan yang menyelesaikan SAO», tetapi Suguha tidak memandang hal tersebut sebagai suatu insiden ataupun sebuah penebusan.

Itu adalah jalan yang dipilih sang kakak. Ia tak akan pernah berpaling, selalu menyelesaikannya sampai akhir. Itulah kekuatan terbesar Kirito.

Langit malam ini adalah bukti nyata jika Kirito telah menanggung beban dunia ini beserta orang yang tinggal di dalamnya. Karena —

…Onii-chan adalah pendekar pedang yang lebih hebat dariku.

Tangan Leafa telah kehilangan inderanya, tetapi Leafa berusaha mengumpulkan sisa – sisa kekuatan lalu menempatkan tangan ke depan dadanya, seolah memegang pedang bambu.

Lalu ia berdoa, Bawalah kekuatan jiwaku menuju pedang kakak.

Jauh di atas kepalanya, ia bisa melihat bintang hijau bersinar terang.

***

Lisbeth memegang tangan Silica erat – erat sambil melihat langit yang telah kehilangan matahari.

Suka atau tidak, pemandangan luar biasa dimana langit merah terselubungi kegelapan membangkitkan kenangan hari itu.

Saat itu sore hari di awal musim dingin setelah dua tahun SAO dimulai.

Membuka tokonya sendiri, Lisbeth mengetahui pemberitahuan sistem yang menyelimuti langit atas karena permainan kematian ini telah diselesaikan. Ia langsung tahu jika itu adalah Kirito. Kirito mengalahkan bos terakhir menggunakan pedang yang aku buat.

Kembali ke dunia nyata, Kirito berkata padanya:

—Aku sebenarnya telah kalah. Pedang milik Healthcliff menembus dadaku dan Hpku telah menjadi 0. Tetapi untuk beberapa alasam, avatar milikku tidak langsung menghilang. Hanya beberapa detik, aku bisa menggerakkan tangan kananku dan mengalahkannya. Aku rasa orang yang telah memberiku jeda waktu adalah kamu, Liz, dan Asuna, Silica, Klein, juga Agil. Aku bukanlah satu – satunya orang yang menyelesaikan SAO. Kalian semua adalah pahlawannya.

Liz menampar punggungnya dan tertawa “Kenapa rendah hati begitu?” pada saat itu, tetapi mungkin seperti itulah perasaan Kirito yang sebenarnya. Ia sebenarnya ingin berkata jika kekuatan terbesar yang ada dalam ikatan kamu dan aku.

“…Hei, Silica.”

Lisbeth memandang temannya yang ada di samping,

“Tampaknya… Aku masih suka Kirito.”

Silica tersenyum, lalu membalas:

“Aku juga.”

Kemudian, mereka kembali memandang langit malam.

Dihadapan matanya, ia melihat dua sosok: Klein mengangkat tinjunya, dan Agil seolah ingin berkomentar pada Klein.

Lisbeth mendengar suara – suara pemain Jepang yang sedang berdoa sepertinya.

—Kami masuk ke dunia ini menggunakan AmuSpheres… tetapi kamu masih bisa mendengar kami kan, Kirito? Karena jiwa kami masih terhubung.

Ratusan bintang yang tersebar di atas langit bersinar.

***

Integrity Knight Renri meletakkan tangan kirinya pada leher naga miliknya, Kazenui. Tetapi tangan kanannya masih menggenggam erat tangan kiri Tiese. Mereka memandang langit malam di atas sana.

Buku – buku sejarah dalam gereja tidak pernah menyebutkan peristiwa seperti ini, peristiwa dimana langit berubah menjadi langit malam. Tetapi Renri tidak takut sama sekali.

Saat ia mengambil dua tombak yang menancap di tubuhnya, ia yakin akan segera mati, hujan cahaya lalu turun dari langit dan menyembuhkan luka miliknya hingga sembuh total. Sekarang, langit malam ini juga terasa hangat seperti hujan cahaya sebelumnya.

Hal ini membuat Renri keheranan bahwa ia bisa selamat hingga akhir sebagai Integrity Knight yang paling lemah, tetapi pada saat yang sama ia tak bisa memaafkan perasaannya sendiri. Ia selalu yakin jika tewas secara terhormat di medan peperangan seperti Knight Dakira atau Knight Eldrie mungkin menjadi satu – satunya cara membayar kematian sahabatnya yang telah ia lupakan namanya.

Namun, Renri menemukan perasaan baru saat hujan cahaya menyembuhkannya.

Pendekar pedang berambut hitam yang membatu di kursi roda. Ia juga kehilangan satu – satunya sahabat. Ia memutuskan untuk menderita karena bertanggungjawab atas kematiannya, ia menyegel jiwanya sendiri.

Tetapi ia memilih untuk bangkit. Kemudian ia bisa mengendalikan pedang ganda yang merupakan milik sahabatnya, seperti Renri mengendalikan Divine Instrumentnya, Twin Edged Wings. Ia menunjukkan kekuatan yang hebat dengan mengirim puluhan ribu pemain ke dunia lain. Ia telah mengajari Renri.

Untuk hidup. Untuk terhubung dengan yang lain, bertarung, jiwa dan raga. Ini — adalah cara satu – satunya ....

“Hanya ini, bukti kekuatanmu.”

Renri berguman dan menggenggam tangan Tiese semakin erat.

Tiese di tangan lainnya menggenggam Ronye dan disisi Ronye ada Pemimpin Penjaga Sortiliena. Tiese menatap Renri, lalu mengangguk dengan mata berair.

Mereka berempat menatap langit malam sekali lagi sambil berdoa.

Dari ratusan bintang, empat bintang yang paling terang membentuk sebuah rasi bintang dan bersinar.

***

Berdiri di kejauhan, Pemimpin Petarung Tangan Kosong Iskahn menatap tajam namun terlihat sedih pada gadis sekarat berarmor hijau yang sedang di kelilingi Orc dan Petarung lainnya.

Cara gadis itu bertarung begitu mengerikan hingga deskripsi “Dewa yang Marah” sangatlah cocok. Setelah melihatnya, Ishkan akhirnya mengerti mengapa para Orc tidak mematuhi perintah langsung Kaisar dan datang untuk menyelamatkan para Petarung Tangan Kosong. Sang pemimpin Rirupirin dan 3.000 Orc memutuskan jika gadis ini lebih kuat dari sang Kaisar.

Hanya ada satu alasan mengapa setiap Orc mematuhinya, bukan, telah bekerjasama dengan gadis itu. Alasanya adalah karena gadis itu menganggap mereka seperti manusia; itulah yang dikatakan Rirupirin padanya. Di masa lalu, Rirupirin telah memiliki kebencian terhadap manusia. Tetapi saat ia menjelaskan situasi ini pada Iskahn, kemarahannya seolah menghilang tanpa jejak.

“Hei, wanita… bukan, Sheyta…”

Iskahn memanggil nama seorang knight wanita yang berdiri si sampingnya.

“Apa yang kita sebut kekuatan... apa yang kita sebut tenaga... sebenarnya itu apa? …”

Sheyta memiringkan kepalanya, rambutnya yang terikat teejatuh. Matanya bergerak dari sang naga yang beridiri di belakangnya menuju Dampe yang masih diperban, lalu menuju Iskahn. Senyum kecil muncul dari bibirnya.

“Kamu sudah tahu. Ada kekuatan yang lebih kuat daripada kemarahan dan kebencian.”

Tiba – tiba—

Langit merah Tanah Kegelapan menjadi hitam pekat.

Menahan nafas dan melihat keatas, Iskahn melihat sebuah bintang hijau bersinar tanpa suara.

Sheyta mengangkat tangannya dan menunjuk bintang itu.

“…Disana. Kekuatan yang sebenarnya. Suatu cahaya asli.”

“…Yeah. …Yeah, kau benar.”

Iskahn menjawab. Cairan yang meluap dari mata kirinya membuat bintang hijau tersebut semakin buram.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ia mengepalkan tangannya bukan untuk bertarung, ia kini berdoa untuk sebuah kemenangan.

Dari jarak yang cukup dekat dengan bintang hijau, bintang lain menyala merah seolah terbakar. Sebuah bintang abu – abu melayang di dekatnya.

Kemudian, sisa – sisa Petarung mulai menyanyikan sebuah lagu, dan ratusan bintang yang tersebar menyebar seketika.

Ribuan, puluhan ribu bintang.

***

Sisa – sisa pasukan utama Kerajaan Manusia di Gerbang Besar Timur, Integrity Knight Fanatio, Deusolbert, Knights-in-Training Linel dan Fizel, juga ratusan penjaga kehilangan kata – kata saat melihat langit malam.

Berbagai macam pikiran melintas di hati masing – masing, tetapi kekuatan doa dan harapan mereka tetap sama.

Fanatio berdoa atas keselamatan dunia yang dicintai Komandan Integrity Knight Bercouli, dan anak yang masih ada di perutnya.

Deusolbert memegang cincin kecil yang ada di jari kirinya agar dunia tempatnya hidup beserta seseorang yang pernah ia cintai selamat.

Linel dan Fizel berdoa agar suatu saat bisa bertemu lagi dengan si swordsman yang mengajarinya arti kekuatan sejati.

Knight yang lain dan para penjaga berdoa demi kedamaian kembali ke dunia ini dan agar bertahan selamanya.

Goblin gunung yang ada di bukit sebelah utara Tanah Kegelapan juga mulai berdoa, Goblin Padang Rumput di daerah barat juga mulai berdoa.

Para Orcs yang ada i Daerah Berair menunggu kembalinya para suami dan ayah sambil berdoa, juga Para Raksasa di daerah selatan pegunungan mulai berdoa.

Manusia yang tinggal di kota dekat Istana Obsidia, dan Ogre di padang rumput bagian selatan menutup mata dan berdoa.

Langit malam mulai menyelimuti pegunungan dan sampai ke Kerajaan Manusia.

Sister-in-Training Selka dari Desa Ruild di daerah Utara Kerajaan Norlangarth sedang mengambil air dari sumur, matanya terbuka lebar saat langit biru mulai berubah menjadi langit hityam, ia mematung di tempat. Tali di genggaman tangannya dan ember kayu langsung terjatuh ke dalam sumur, tetapi ia menghiraukannya.

Bisikan yang keluar dari bibirnya yang sedikit bergetar.

“……Onee-sama. ……Kirito.”

Sekarang, pada saat ini—

Selka bisa merasakan angin malam, dua orang yang ia sayangi pasti sedang mengalami pertarungan sengit.

Itu berarti Kirito telah terbangun. Ia telah kembali berjuang setelah kehilangan Eugeo.

Selka berlutut di tanah berumput, menggenggam erat tangannya di depan dada dan berbicara:

“Eugeo. Kumohon... lindungi Onee-sama dan Kirito.”

Saat ia berdoa dan menatap langit malam, sebuah bintang biru berkedip.

Berbagai macam bintang mengelilingi bintang biru tersebut. Selka melihat banyak anak – anak yang sedang bermain juga berlutut sambil menggenggam erat tangan mereka.

Para pedagang dan ibu – ibu di depan gereja.

Para petani di ladang gandum.

Ayah Alice yang ada di pusat desa, dan kakek Garitta di pojok hutan juga berdoa. Mereka semua tidak merasakan rasa takut.

Banyak bintang mengisi langit malam diatas Desa Ruild.

Juga, langit di atas Zakkaria di utara sana juga terisi bintang – bintang. Di dekat peternakan Walde, sang suami istri beserta putri kembarnya, Teline dan Telure terlihat berdoa sambil melihat dari jendela rumah.

Para penduduk desa dan kota di keempat penjuru kerajaan memanjatkan doa mereka.

Kemudian penduduk Kota Centoria yang berada di pusat Kerajaan Manusia. Siswa – siswa dan Guru di Akademi Master Pedang.

Bahkan pendeta dan sister di Gereja Axiom juga melakukannya.

Bagi gadis pengatur elevator diantara lantai 50 dan 80, ini pertama kalinya melakukan tindakan tersebut. Sambil melakukan Sacred Task miliknya, ia menarik tangannya dari kaca pipa Aerial Element, ia menatap langit malam berbintang dan mulai berdoa.

Ia sama sekali tidak mengetahui dunia diluar Kathedral. Kematian Administrator dan invasi Tanah Kegelapan sama sekali tidak mengubah hidupnya.

Jadi ia hanya berdoa untuk satu hal saja.

Berdoa akar bisa bertemu lagi dengan dua pemuda swordsmen.

Kini telah ada lebih dari sepuluh ribu bintang yang mengisi langit malam yang membentang di seluruh Underworld.

Dimulai dari lingkar terluar, bintang – bintang tersebut mengeluarkan bunyi satu persati, lalu turun menuju satu tempat yang sama.

Ujung dunia paling selatan.

Menuju sebuah pedang panjang berwarna hitam pekat yang diangkat ke langit, sebuah lemparan batu dari pulai melayang yang disebut Altar Ujung Dunia.

***

Alice terus berlari secepat mungkin dan akhirnya ia bisa melihat bagian atas pulau, saat melihat bayangannya sendiri. Ia terkejut jika sudah sejauh ini.

Melihat kesamping sambil berlari, Alice melihat pemandangan yang tidak biasa.

Musuh mengacungkan pedang hitam miliknya sambil membentangkan enam buah sayap besar.

Sulur es melilit tubuhhnya, membuatnya tak bisa bergerak.

Es tersebut muncul dari pedang putih yang bercahaya, digenggam oleh seorang swordsman dengan sayap hitam seperti naga di punggungnya.

Dada miliknya telah berlubang. Keinginannya untuk terus bertempur benar – benar luar biasa. Orang normal pasti akan langsung kehilangan Life mereka dalam kondisi seperti itu.

Tetapi keajaiban sebenarnya ada di atas kepala mereka.

Sebuah aliran kegelapan naik ke puncak langit dari pedang hitam yang di angkat tangan kanan Kirito, kegelapan tersebut menyelimuti seluruh dunia.

Tetapi itu bukanlah kegelapan mengerikan.

Langit bagian utara mulai memancarkan titik – titik cahaya. Berbagai macam bintang bersinar dengan berbagai macam warna.

Tiba – tiba—

Para bintang mulai bergerak.

Sambil mengeluarkan bunyi – bunyi indah, mereka menuju bagian selatan dunia. Putih, biru, hijau, kuning. Bagaikan pelangi di langit malam.

Insting Alice menebak jika itu semua adalah jiwa milik semua orang di dunia ini.

Orang – orang Kerajaan Manusia.

Penduduk Tanah Kegelapan.

Manusia.

Dan Demihuman.

Sekarang, dunia telah bersatu dalam satu harapan.

“Kirito……!”

Alice memanggil namanya, ia mengangkat tangan kirinya tinggi – tinggi.

Jiwaku juga. Aku mungkin hanyalah knight palsu yang dibuat seseorang, bukanlah jiwa diriku yang sebenarnya. Tetapi perasaan ini— perasaan yang mengalir di dadaku ini asli.

Sebuah bintang emas muncul dari tangan kirinya, lalu terbang menuju pedang Kirito.

***

Asuna tidak menoleh ke belakang.

Ia paham apa yang diinginkan Kirito sebenarnya. Ia takboleh menyia – nyiakan waktu yang telah diberikan Kirito dan harus segera ke system console.

Maka Asuna menarik tangan Alice dan melaju manaiki tangga batu dengan segenap tenaga.

Tetapi tampaknya Asuna kesulitan dengan banyaknya luka yang ada di tubuhnya.

Perasaan tersebut berubah menjadi dua tetes airmata, turun ke pipinya, dan terbawa angin.

Terbawa angin malam, dua tetes air mata tersebut bergabung menjadi satu, berubah menjadi binatng berwarna – warni.

Asuna hanya sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat bintang tersebut melaju dengan meninggalkan warna aurora dibelakangnya, lalu ia berlari tanpa menoleh lagi. Ia harus yakin.

***

Gabriel Miller berasa kagum karena bisa ditahan menggunakan sulur es saja.

Bukankah segala jenis serangan sihir, bahkan tebasan dari pedang panjang tidak memiliki efek padanya beberapa saat lalu?

Sebelumnya, mulutnya telah terluka oleh banyak pedang yang dibuat di dalam jantung si pemuda. Tetapi itu hanya terasa seperti mengunyah sesuatu. Kini seluruh tubuhnya telah dilindungi oleh barrier kegelapan baru.

—Aku adalah seorang perampas. Semua cahaya, panas, dan objek.

—Aku lah jurang kegelapan.

“TIA…DAAA!”

Suara yang tak tampak seperti manusia muncul dari dalam tenggorokannya.

Keenam sayap yang muncul dibalik punggungnya berubah menjadi Void Blade yang sangat mirip dengan pedang yang digenggam oleh tangan kanannya.

Ia menebaskan pedang dengan hebat. Sulur es putih yang melilitnya rusak dan ia kini bebas.

“AAAAAAAAA!!”

Masih berteriak, Gabriel memanjangkan ketujuh Void Blade ke segala arah.

Saat tangan kirinya ia ajungkan agar menembak api kegelapan kepada si pemuda.

Gabriel menyadari jika langit merah telah menghilang.

Dan juga, berbagai macam meteor telah turun dari atas.

***

Ketika aku melepas ingatan Night Sky Sword, aku sadar jika bisa menemukan gambaran yang tepat di kepalaku.

Satu – satunya hal yang ada di hatiku adalah kata – kata Eugeo saat ia memberikan nama pada pedang yang sering kupanggil «Si Hitam».

—Oh yeah. Kupikir «Night Sky Sword» adalah nama yang tepat untuk pedang hitammu, Kirito. Bagaimana pendapatmu?

—Menyelimuti... dengan lembut.... dunia kecil ini.... seperti langit malam....

Kegelapan yang keluar dari pedang ini mengubah siang menjadi malam, menciptakan sebuah langit gelap seperti namanya.

Aku mengerti apa yang akan terjadi setelahnya saat bintang – bintang melaju dari bagian utara ke pedang ini.

Kekuatan Night Sky Sword adalah kemampuan untuk menghisap Resources dengan jangkauan yang luas.

Dan Resource yang paling kuat di dunia ini bukanlah Spatial Resources yang diatur oleh system, seperti matahari atau tanah. Tetapi adalah kekuatan jiwa manusia. Doa, harapan, dan permohonan.

Bintang- bintang telah terhisap ke dalam pedang ini.

Kemudian, dua bintang terakhir yang masuk adalah bintang berwarna emas dan berwarna – warni yang menyelimuti pedang ini—

Night Sky Sword telah terisi oleh berbagai macam emosi dari banyak orang.

Cahaya yang mengalir dari gagang pedang ke lenganku, meresap ke seluruh tubuhku. Tubuh bagian bawahku yang ditebas Gabriel telah beregenerasi dengan cahaya kehangatan.

Cahaya tersebut mengalir ke lengan kiriku, membuat Blue Rose Sword juga bercahaya —

“OH…HHHHHHH!”

Aku menebaskan kedua pedangku dan berteriak.

“AAAAAAAAA!!”

Dihadapanku, Gabriel telah terbebas dari sulur es dan membuat teriakan mengerikan.

Ia tidak lagi mirip seorang manusia. He no longer resembled anything like a human. Terbungkus oleh api hitam, tubuhnya yang tertutupi cairan seperti logam membuatnya agak bercahaya, dan cahaya ungu kebiruan yang terpantul di matanya seperti api neraka.

Pedang besar di lengan kanannya ia angkat dan sayapnya kini menjadi pedang dengan panjang yang sama ke segala arah.

Lalu, ia mengangkat lengan kirinya kepadaku dan hendak menembakkan kegelapan.

“…OHH!!”

Aku membuat barrier cahaya dan berusaha menahannya.

Lalu aku membuka sayapku yang terbuat dari jubah panjang lebar – lebar.

Dengan pedang kiriku di depan dan pedang kananku di belakang, aku menendang udara dengan segenap tenaga.

Karena hanya ada sedikit jarak antara aku dengan musuh. Seharunya butuh waktu sedetik untuk melaju kearahnya dengan kecepatan penuh. Tetapi dengan kondisi saat ini, waktu rasanya seolah dipercepat.

Sosok manusia muncul di kananku.

Dia adalah seorang knight dengan armor hitam berkult hitam, menggunakan pedang besar panjang. Pria tersebut memegang pundak seorang knight wanita di dekatnya. Ia mengamatiku dan berkata:

“Kau harus melepas aura membunuhmu itu anak muda. Jiwa kosongnya tak akan bisa ditebas dengan Incarnation membunuh.”

Selanjutnya, sosok pria berambut pendek muncul di sisi kirinya. Ia mengenakan jubah biru dan memegang pedang panjang. Dia adalah Komandan Integrity Knight Bercouli, ia menyeringai.

“Jangan takut, pemuda. Pedangmu diisi oleh seluruh dunia.”

Sekarang seorang gadi berkulit putih dan rambut panjang perak muncul di sisi Beroculi. Pemimpin Tertinggi Administrator tersenyum padaku dan berkata:

“Majulah, tunjukan padaku kemampuan yang kau peroleh saat melawanku.”

Dan akhirnya, datang tepat di depan dadaku adalah seorang gadis muda mengenakan jubah. Dia adalah Pemimpin Tertinggi lainnya, Cardinal.

“Kau harus percaya mereka Kirito. Percayalah pada jiwa banyak orang yang kamu cintai dan orang yang mencintaimu.”

Dibalik kacamatanya, mata coklat miliknya terasa hangat.

Lalu mereka semua menghilang—

Mush terakhir yaitu Gabriel Miller kini sampai ke jangkauan serangan pedangku.

Dengan lenganku yang terisi penuh kekuatan yang belum pernah aku rasakan, aku melancarkan serangan Sword Skill yang paling aku andalkan milik Kudua Pedang.

Starburst Stream. Serangan 16-hit.

“WHO…OAAAAAAAAA!!”

Pedangku yang diselimuti cahaya melaju,

Pada saat yang sama, keenam pedang Gabriel diayunkan dari segala sisi.

Tiap benturan cahaya dan kegelapan menciptakan getaran yang mengguncang dunia.

Lebih cepat.

Harus lebih cepat.

“OHHHHHHHHHHH!!”

Aku berteriak dengan sepenuh jiwa dan raga, membuat tebasanku semakin cepat.

“TIADAAAAA!!”

Gabriel juga berteriak sambil melancarkan semua pedangnya.

10 serangan.

11 serangan.

Tak ada lagi kemaraha, tak ada lagi kebencian, tak ada lagi rasa haus darah di dadaku. Apa yang tersisa dan menggerakkan tubuhku adalah sebuah doa.

12 serangan.

13 serangan.

—Terimalah…

14 serangan.

—cahaya dari…

15 hits.

—jiwa semua orang di dunia ini!! Gabriel!!

Serangan ke 16 terakhir milikku kulancarkan dari atas kepala menuju sisi kiri, sedikit lebih lambat dari serangannya.

Yakin akan kemenangannya, mata Gabriel menyipit.

Lebih cepat dari tebasan milikku yang kelancarkan dengan segenap tenaga, sebuah sayap hitam menusuk dan memotong seluruh lengan kiriku.

Kemudian menjadi pecahan dan serpihan cahaya, meninggalkan Blue Rose Sword melayang di udara.

“AAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Void Blade di tangan kanannya ia ayunkan kebawah, diselimuti petir hitam.

Psht.

Dengan bunyi benturan, dua tangan muncul dan menggenggam gagang pedang Blue Rse Sword yang ada di udara.

Blue Rose Sword menahan serangan Void Blade dengan pasti.

Menggenggam sang pedang, Eugeo menatapku.

“Ayo — sekarang waktunya, Kirito!!”

“Terima kasih, Eugeo!!”

Aku berteriak lantang.

Sword Art Online Vol 18 - 196.jpg

“SIAPAAAA…AAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Aku memfokuskan seluruh kekuatanku pada serangan ke 17, sebuah tebasan dari kanan memuju lengan kanan Gabriel.

Pedangku menancap tajam, membuat cairan yang menutupi tubuh Gabriel pecah, lalu menusuk ke jantungnya berada.

Tiba – tiba —

Eugeo dan aku mengubah setiap cahaya yang ada di Night Sky Sword dan Blue Rose Sword menjadi gelombang cahaya yang memasuki jantung milik Gabriel.

***

Gabriel Miller bisa merasakan sebuah energi yang terdiri dari berbagai macam warna seperti air terjun raksana mengisi jurang kegelapan yang ada di tubuhnya.

Pandangannya tertutupi cahaya, dan pendengarannya terisi oleh banyak suara yang tiada henti.

—Tuhan, selamatkan dia …

—Jagalah anak itu …

—Akhiri perang ini...

—Aku mencintaimu …

—Biarkan dunia ini…

—Dunia ini…

—Lindungi dunia ini…

“…Ha, ha, ha.”

Bahkan saat pedang si pemuda menancap di jantungnya, Gabriel membiarkan lengan dan keenam sayapnya terbuka lebar.

“HA HA HA, HA HA HA HA HA HA!!”

Sebuah usaha yang sia – sia.

Cahaya itu mencoba mengisi rasa laparku, kehampaanku?

Sebuah usaha yang berani, seperti mencoba menghangatkan alam semesta menggunakan tangan manusia.

“Aku akang menghisap semuanya, sampai habis!!”

Gabriel berteriak, menembakkan cahaya hitam dari mata dan mulutnya.

“Kau?! Seseorang yang hanya memberi takut pada jiwa manusia?! Jangan bercanda!!”

Si pemuda berteriak, membuat cahaya emas memancar dari seluruh tubuhnya.

Pedang tersebut bersinar semakin terang, membuat cahaya dan rasa hangat kedalam hatinya yang membeku.

Pandangannya memudar, dan pendengarannya semakin redup.

Tetapi Gabriel tetap tertawa.

“HA HA HA HA HA, HAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA!!”

***

Aku sama sekali tidak takut.

Kehampaan yang ada di dalam lawannya bagaikan lubang hitam, tetapi tubuhku sendiri juga masih berputar dalm galaksi raksasa yang diciptakan oleh harapan semua orang.

Didalam cahaya yang ditembakkan dari mata dan mulut Gabriel, warnanya mulai berubah perlahan.

Dari keunguan menjadi merah. Lalu kuning... jingga, hingga menjadi warna putih.

Pshk.

Suara tersebut berasal dari retakan cairan logam yang melumuri Night Sky Sword.

Lalu kemudian...

Cahaya putih muncul dari retakan tersebut. Bagian bawah keenam sayap di punggungnya mulai terbakar.

Pinggir mulut Gabriel mulai retak, begitu juga lubang di pundak dan dadanya.

Bahkan saat cahaya muncul dari segala arah di seluruh tubuhnya, Gabriel masih tetap tertawa.

“HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Tawanya menjadi semakin melengking, berubah menjadi seperti suara logam.

Seluruh tubuhnya yang hitam kini terselimuti retakan cahaya keputihan—

Tak bisa ditahan lalu seketika.

Sebuah ledakan yang bisa menggetarkan seluruh dunia terdengar.

***

“——————Hahahahahahaha!!”

Gabriel Miller melompat keatas, tertawa.

Hal yang pertama ia lihat adalah sebuah dinding dengan lapisan logam keabu – abuan. Stiker peringatan menghiasi seluruh saluran dan kabel yang menempel di dinding.

“Hahaha, ha, ha……”

Gabriel meredakan tawanya sambil mengambil nafas bertahap. Saat nafasnya kembali stabil, ia bisa mengamati daerah sekitarnya.

Ia yakin jika ini adalah Ruang STL 1 di Ocean Turtle. Tampaknya ia telah log out secara otomatis karena suatu alasan.

Sungguh luar biasa. Ia sebelumnya berencana ingin menghisap seluruh cahaya dan menghabisi si pemuda.

Jika ia dive kembali sekarang, apakah ia masih memiliki waktu?

Dengan wajah tegang, Gabriel membalikkan kepalanya dan ia melihat ...

Seorang pria putih terbaring di STL, matanya tertutup.

…Who is that?

Pertanyaan muncul di pikirannya.

Apakah dia salah satu anggota timnya? Terlebih lagi, mengapa orang ini tidur di mesin yang aku gunakan untuk dive?

Lalu, ia akhirnya sadar.

—Ituu… Ini... wajahku....

Gabriel Miller, CTO dari Glowgen Defense Systems.

Maka, siapa yang aku lihat sekarang ini?

Gabriel mengangkat tangannya dan menatap. Yang bisa ia lihat adalah dua buah cahaya transparan.

Apa – apaan ini? Apa yang terjadi?

Setelahnya—

Ia mendengar suara lembut di belakangnya.

“…Kamu akhirnya datang ke sini, Gabe.”

Ia membalikkan kepalanya.

Sesosok gadis kecil mengenakan gaun putih berdiri disana.

Ia tak bisa melihat wajah si gadis, karena wajahnya tertutup oleh rambut pirangnya. Tetapi Gabriel bisa langsung mengenalinya.

“…Alicia.”

Menyebut namanya setelah hampir 20 tahun, ia tersenyum

“Apa ini? Mengapa kamu ada di tempat ini, Ali?”

Alicia Klingerman. Sahabat masa kecil Gabriel Miller dan korban pertama yang telah ia bunuh demi mencari tahu arti sebuah jiwa.

Telah sejak lama Gabriel menyesalinya karena melihat Jiwa Alicia waktu itu, tetapi tak bisa ia tangkap. Tetapi sebenarnya dia tidak kehilangan sama sekali. Dia selalu ada di sisinya.

Lupa kan kondisinya saat ini, Gabriel mengulurkan tangan kanannya.

Zip. Tangan kiri Alicia dengan cepat menangkap tangan Gabriel.

Terasa dingin, seperti es. Jarum – jarum es seperti menusuk kulit dan dagingnya.

Gabriel mencoba untuk melepaskannya. Tetapi jari kecil Alicia menggeggamnya dengan erat, lalu senyum menghilang dari wajah Gabriel.

“…Dingin. Lepaskan tanganku, Ali.”

Ia berucap, tetapi si gadis menggelengkan kepala.

“Tidak, mulai sekarang kita akan selalu bersama. Ayo ikut.”

“Pergi… kemana? Tidak, aku masih memiliki hal yang harus kulakukan.”

Gabriel membalas, kali ini ia menggoyangkan tangannya sekeras mungkin. Tetapi percuma, ia seperti terdorong kebawah.

“Lepaskan. Lepaskan aku, Alicia.”

Saat ia hendak bicara lagi dengan suara normalnya.

Kepala Alicia tersentak.

Saat ia melihat wajah dibalik rambut cantik Alicia—

Gabriel terpukul oleh sebuah emosi yang membuat hatinya hancur.

Organ dalamnya mual. Nafasnya semakin cepat. Kulitnya bercucuran keringat.

Apa – apaan ini? Apa perasaan ini?

“Ah… Ah, ah, ah…”

Mengerang aneh, Gabriel menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Lepaskan. Hentikan. Lepaskan.”

Ia mengangkat lengan kirinya tanpa pikir panjang, lalu mencoba mendorong Alicia, tetapi tangan tersebut juga dipegang. Rasa dingin menjadi semakin kuat.

Heeheehee.

“Inilah rasa takut, Gabe. Perasaan yang selama ini kamu cari, hebat bukan??”

Rasa takut.

Sumber ekspresi dari orang – orang yang telah ia bunuh.

Tetapi ia sulit mendeskripsikan perasaan ini sebagai sebuah rasa menyenangkan. Ini tidak menyennagkan. Aku tak ingin mengenal perasaan ini. Cepat akhiri.

Tetapi—

“Tidak, Gabe. Mulai sekarang, perasaan ini akan verlangsung selamanya. Hingga akhir nanti, kamu akan merasakan rasa takut.”

Sepatu milik Alicia perlahan terhisap lantai logam.

Kemudian kaki Gabriel juga.

“Ah… Be… Berhenti... lepaskan... hentikan.”

Secara tak sadar ini ia memohon, namun ia terus terhisap.

Tanpa peringatan, sebuah tangan putih mencuat dari lantai dan menyeret kaki Gabriel. Lalu muncul lagi. Muncul lainnya.

Gabriel tahu jika tangan – tangan tersebut adalah milik para korbannya.

Rasa takut semakin menjadi – jadi. Jantungnya semakin kecang dan keringat bercucuran.

“Berhenti... BERHENTI, BERHENTIBERHENTIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!”

Gabriel mulai berteriak.

“Critter, kemari! Bangun Vassago!! HANS!! BRIGG!!”

Ia memanggil nama kawannya, tetapi pintu dibalik ruang kontrol utama tetap diam tak bergeming. Vassago yang seharusnya dive si STL ruang sebelah, tidak menunjukkan tanda – tanda.

Sebelum ia sadari, lantai telah menelan hingga pinggangnya, Alicia yang menggenggam erat tangannya kini telah setinggi pundak Gabriel.

Sedetik sebelum tenggelam sepenuhnya, wajah sang gadis tersenyum gembira.

“AH… AHHH… WAAAAAHHHHHHHHHH!!”

Gabriel menjerit.

Ia terus tertelan.

Pundaknya, lehernya, wajahnya kini telah terjangkau tangan – tangan putih.

“AHHHH… Ahhh…… Ah………”

Kemudian, ia tenggelam dalam kegelapan.

Teriakan Gabriel Miller tak lagi terdengar, takdir yang ia benci akan menunggunya di masa depan selamamnya.

***

Kemudian—

Waktu di Underworld mulai berakselerasi.

***

Sinkronisasi kedua kini telah ditembus, ratusan pemain Jepang yang log in menggunakan AmuSpheres telah ter disconnect secara otomatis kini terbangun di net kafe dengan bergagai macam emosi.

Untuk sementara, mereka mencerna kecajian tersebut, mengingatnya di kepalam mengukir sebuah pengalaman dunia lain di hati mereka, dan akhirnya air mata menetes di mata lalu mengambil mengambil telepon dan AmuSpheres. Untuk mengenang teman – teman yang telah gugur di dunia lain dan terlog out, apa yang terjadi setelah itu.

Sinon dan Leafa telah meninggalkan Underworld karena kehilangan Life sebelum akselerasi terjadi.

Terbangun di cabang RATH Roppongi, keduanya menunggu perasaan rasa sakit menghilang sebelum saling tatap satu sama lain.

Shino dan Suguha yakin jika Kirito telah terbangun dan mengalahkan musuh terakhir, menyelamatkan dunia, dan akan kembali dengan selamat.

Saat mereka bertemu lagi, mereka akan—

Bahkan jika mereka berdua tidak bisa membuat ia merasakannya, Sinon dan Sugu akan mengungkapkan perasaan mereka pada Kirito.

Dengan tekad tersebut, keduanya menyadari pemikiran satu sama lain, lalu tersenyum.

Akan tetapi.

Pembatas kecepatan telah rusak, waktu dunia tersebut telah berdetik lebih cepat dari sebelumnya.

Lebih dari 1000x, lebih dari 5000x.

Di dinding penunjuk kecepatan yang jauh dari tempat ini, kecepatan akselerasi maksimal sudah sampai 5.000.000 kali lipat dari kecepatan dunia manusia.

***

Sesaat setelah ledakan cahaya menghilang, energi dalam tubuhku perlahan menghilang. Karena kelelahan, aku berusaha menahan tubuhku agar melayang di udara.

Lenganku yang telah terpotong tanpa aku sadari telah beregenerasi. Di lengan tersebut tergenggam erat Blue Rose Sword, aku mencoba menahan air mata agar tidak menetes.

Aku paham jika jiwa Eugeo telah menyelamatkanku berkali – kali saat Blue Rose Sword menahan pedang milik Gabriel.

Orang mati tidak akan kembali, baik itu di dunia nyata maupun di Underworld.

Itulah mengapa kenagngan begitu berharga.

“…Benar kan, Eugeo…?”

Aku berbisik, tetapi tidak ada jawaban.

Aku mengangkat kedua pedang perlahan dan menyarungkannya kembali pada sarung pedangnya di punggungku.

Pada saat itu, langit malam di atas kepalaku mulai memudar.

Kegelapan menghilang perlahan, dan langit kembali ke warna asalnya.

……Biru.

Langit di Tanah Kegelapan kini tidak berwarna merah darah, hanya ada warna biru sejauh mata memandang.

Aku tak yakin apakah ini akibat efek dari «Tahap Percepatan Maksimum», ataukah suatu keajaiban yang disebabkan oleh doa lebih dari sepuluh ribu orang.

Apapun alasannya, pemandangan ini begitu mengagumkan hingga bisa membuatmu meneteskan air mata. Sebuah perasaan membawa kenangan mengisi diriku.

Aku menutup mata, menghembuskan nafas panjang lalu perlahan mengalihkan pandanganku.

Saat aku membuka mataku, aku tidak melihat mereka masih di tangga batu.

Perlahan mengepakkan sayapku aku mulai turun. Aku hendak menuju pulau melayang itu.

Pulau berbentuk bundar yang melayang di udara dipenuhi dengan berbagai macam bunga dan hiasan warna - warni. Sebuah jalan dibuat di tengahnya, menuju sebuah bangunan yang mirip dengan kuil.

Aku mendarat di tengan jalan batu, lalu mengembalikan sayapku ke bentuk semula dan memandang sekeliling.

Serbuk sari dari nektar bunga memasuki hidungku. Beberapa ekor kupu – kupu biru beterbangan, kicauan burung terdengar dari pepohonan yang tumbuh subur di sekitarku. Langit biru cerah dan terik matahari membuat pemandangan di sekitarku seperti sebuah lukisan mengagumkan.

Dan — tak ada seorangpun di pulau ini.

Begitu juga bayangan di jalanan, ataupun di dalam kastil di depanku.

“…Syukurlah, mereka berhasi.”

Aku bernafas lega.

Setelah Gabriel Miller terlahap oleh ledakan cahaya dan menghilang, aku mulai merakasan waktu di dunia ini sudah mulai berakselerasi sekali lagi. Aku tak yakin apakah Asuna maupun Alice telah berhasil menuju system console dan ke dunia nyata. Tetapi tampaknya mereka telah berhasil sampai ke tujuan.

Alice — alasan mengapa dunia ini diciptakan, seorang knight wanita dan satu – satunya jiwa yang bisa melepas pembatas sebuah Artificial Fluctlight, ia telah pergi menuju dunia manusia.

Aku rasa banyak kesulutan yang akan menunggunya mulai sekarang. Dia harus beradaptasi dengan dunia yang memiliki hukum dan sosial yang berbeda, memiliki tubuh mekanis, dan kekuatan yang ingin memanfaatkan artificial intelligence untuk kepentingan militer.

Tetapi karena ini Alice, aku pikir ia akan bisa melaluinya. Karena dia adalah Integrity Knight yang paling kuat.

“……Semoga beruntung ……”

Aku sekali lagi melihat langit biru, berdoa pada si Knight Emas yang tak akan pernah kujumpai lagi.

Ya—

Sekarang percepatan maksimum telah dimulai, tak ada jalan bagiku untuk keluar dari dunia ini. Ketiga system console di duni telah berhenti berfungsi, dan bahkan jika Life milikku berkurang menjadi 0, aku harus menunggu dalam kegelapan, dalam ketidakpastian hingga tahap ini berakhir.

Kikuoka dan pekerja RATH yang lain seharusnya sedang mencoba menghentikan STL milikku, tetapi itu tak mungkin dilakukan dalam waktu 20 menit.

Dalam waktu itu, lebih dari 200 tahun telah berlalu di dunia ini.

Aku tak tahu apakah kesadaranku akan menghilang setelah menghabiskan seluruh jiwaku, atau bahkan menjadi gila karena percepatan hingga 5.000.000 kali lipat dunia manusia.

Satu – satunya hal yang aku yakin adalah aku tak bisa kembali ke dunia manusia.

Ibu, Ayah, Suguha. Sinon. Klein, Agil, Liz, Silica.

Teman – temanku di sekolah. Pemain yang kukenal di ALO.

Alice.

Dan, Asuna.

Aku tak akan bisa menjumpai orang – orang tersebut.

Aku berlutut di jalan batu.

Aku menopang tubuhku dengan kedua tangan, tetapi tubuhku seolah diambang kehancuran.

Penglihatanku menjadi buram, cahaya menyilauka mataku.

Untuk sekarang, sepertinya aku ingin menangis.

Apa yang terpenting bagiku tak mungkin aku miliki lagi, aku menangis. Isak tangis keluar dari gigiku yang kutahan, tetes air mata membasahi wajahku terus menerus.

Drip. Drip drip.

Aku bisa mendengar air mataku berjatuhan.

Drip.

Drip.

—Clack.

Clack, clack.

Tiba – tiba, aku mendengar suara keras.

Clack, clack. Semakin dekat. Getaran kurasakan dari ujung jari tanganku yang menyentuh lantai.

Udara berayun, aroma manis namun samar – samar menembus bunga di sekitar.

Clack.

…Clack.

Suara itu berhenti di depanku.

Kemudian, seseorang memanggil namaku.

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]