Tate no Yuusha Jilid 1 LN Extra 1 (Indonesia)

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Spesial Extra Chapter 1 - Lawakan Pahlawan Tombak[edit]

Namaku Motoyasu Kitamura.


Aku seorang mahasiswa, dan suatu hari aku mendapati diriku di transport ke dunia lain — dunia yang menyerupai sebuah game yang biasa kumainkan.


Aku dipanggil kesini untuk menjadi salah satu dari empat Pahlawan yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia, dan aku adalah sang Pahlawan Tombak.


Kurasa aku punya keberuntungan yang cukup besar. Dunia ini sangat mirip dengan game yang kuketahui yang mana aku sudah punya pengetahuan yang kuperlukan untuk menyelamatkannya, dan dalam proses melakukannya, aku mendapati diriku dikelilingi oleh cewek-cewek cantik.


"Hei, kau yang sebelah sana! Kau nganggur? Mau kencan?"


Negeri vini memberiku sebuah tugas, dan untuk menyelesaikannya aku harus pergi ke sebuah tempat bernama Guild.


Kalau misalnya ini sebuah game, ini adalah sebuah tempat dimana para player menerima quest, atau berpartisipasi dalam berbagai event. Namun, didunia ini juga ada banyak petualang yang berbeda untuk menghasilkan uang.


"Aku nggak tau... aku penasaran..."


Mata cewek manis itu mengarah pada tombak besar yang ada dipundakku.


"Apa kau tau gimana mengunakan itu?"


Aku mengulurkannya dan mengubah bentuknya tepat didepan matanya. Itu adalah kekuatan yang diberikan pada kami para pahlawan!


Menunjukkan kekuatan itu harusnya sudah cukup untuk membuktikan siapa aku ini.


"OOOH! Kau benar-benar sang Pahlawan Tombak! Keren!"


Dia bersemangat dan mulai berteriak dengan nada tinggi ciri khasnya para cewek.


Heh, heh, ini akan jadi hari yang menyenangkan.


"Tuan Motoyasu, Guild punya sebuah permintaan!"


Seorang cewek manis dengan rambut merah mendorong cewek lain (cewek yang sedang kuajak bicara) menjauh dan memberiku sebuah gulungan.


"Maaf nona, tapi Tuan Motoyasu punya pekerjaan penting, jadi kau lebih baik pergi."


"Ta...Tapi!"


Cewek yang datang membawa gulungan itu bernama Myne.


Nama aslinya adalah Malty S. Melromarc. Dia sebenarnya, bersimpati dengan Pahlawan Perisai, tapi si Pahlawan Perisai menghianati dia, jadi dia ikut denganku.


Sumpah deh, pria itu adalah yang terburuk.


Dia dikirim ke dimensi lain, tapi yang dia pikirkan cuma yang ada dalam celananya.


"Apa? Kau mau masuk ke party Tuan Motoyasu juga?"


Yang baru bicara namanya Lesty. Kayaknya dia adalah teman sekolahnya Myne. Beberapa hari setelah Myne satu party denganku, dia memutuskan dia ingin bergabung dengan kami.


Wajahnya sedikit lebih sinis daripada Myne. Kalau Myne 9, dia mungkin 8.


"Perjalanan Tuan Motoyasu sangat sulit. Apa kau benar-benar berpikir kau bisa mengatasinya?"


Itu adalah Elena. Dia satu party denganku sekitar seminggu setelah semua ini dimulai. Dia ikut bersamaku sama seperti Myne dan Lesty.


Para anggota yang lain terus datang dan pergi dengan frekuensi yang relatif.


Aku ada disini sekitar tiga minggu, tapi slot party tampaknya selalu terisi dengan orang yang berbeda.


Tapi, memang kayak beginilah game-game online. Kalau aku membiarkannya menggangguku, aku nggak akan bisa kemana-mana.


Saat pertama aku kesini, aku meminta banyak orang untuk pergi bersamaku, tapi mereka selalu pergi nggak lama setelah kami satu tim. Aku nggak terlalu peduli kalau laki-laki yang pergi, tapi aku selalu berusaha ekstra baik pada para cewek, dan mereka pergi juga. Aku bahkan nggak bisa mengingat berapa banyak yang sudah pergi. Mereka selalu mengatakan bahwa mereka nggak merasa cocok dengan party. Itulah satu-satunya jawaban yang kudapatkan.


Terserahlah. Lagian aku nggak suka cewek yang pilih-pilih.


Pokoknya, sudah tiga minggu sejak kedatanganku. Aku harus merayakannya dengan para cewek yang setia denganku. Tentu saja, itulah yang akan kami lakukan.


"Kau mau ikut bersama kami?"


"Ya!"


"Bagus, ayo pergi kalau begitu. Siapa namamu?"


"R...Rino."


"Baiklah, Rino, ayo berangkat."


Aku meraih tangannya dan mengirim undangan party pada dia.


Dia menerima undangan tersebut dan menjadi bagian dari partyku.


"......"


Aku merasa aku melihat Myne melotot pada Rino, jadi aku berbalik untuk melihat, tapi ternyata tidak. Myne tersenyum ramah.


"Jadi apa pekerjaan selanjutnya, Myne?"


"Sebuah bencana kelaparan melanda sebuah desa di Baratdaya. Kita akan melindungi kereta yang mengantarkan makanan pada mereka."


Apa ini? Aku sangat yakin aku sudah mendengar pekerjaan itu sebelumnya.


Quest yang sama tersedia di Guild didalam game yang pernah kumainkan. Perintahnya sudah ditempatkan, dan level kami sesuai dengan tugas tersebut.


"Paham. Dimana dan kapan kita bertemu dengan keretanya?"


"Keretanya berangkat besok pagi, dari sini di gudang Guild."


"Oke. Kurasa itu artinya kita bebas saat ini. Ayo pergi leveling, dan kemudian memanjakan diri kita malam ini."


"Yayyyyyy!"


Cewek-cewek itu berteriak kegirangan.


Kurasa pasa cewek didunia ini menyukai saat-saat yang menyenangkan. Selain itu, aku ingin membuang unek-unek.


"Baiklah cewek-cewek, waktunya beraksi!"


"Yayyyyy!"


Kami leveling di sekitar sini di sebuah tempat yang kutemukan.


Kami mencari sebuah tempat dimana monster muncul secara berkelompok dan mulai berburu. Seekor monster segera muncul.


Itu adalah seekor monster mirip burung bernama Sky Blue Wing.


Kemampuan terbangnya rendah, dan monster itu bukanlah pelari cepat seperti Filolial. Tapi monster itu masih memberi exp poin yang lumayan.


Ini merupakan cara yang sangat efesien untuk naik level saat kau berlevel sekitar 30 dan 40.


"Kalian mundurlah."


"Oke! Semoga beruntung!"


"Huh?"


Rupanya Rino nggak terbiasa bertarung dalam partyku, jadi dia melihat sekeliling dengan bingung.


"Kalian para cewek cantik nggak cocok dengan pertarungan berdarah ini. Jadi tetap saja dibelakang dan semangati aku."


"Oh... Baik..."


Ya! Aku mengeluarkan Air Strike Javelin pada Sky Blue Wing, dan monster itu tumbang dengan mudah.


"Woooow! Kau sungguh keren, Motoyasu!"


Sorakan-sorakan itu benar-benar membuatku bersemangat.


"Tuan Motoyasu! Ada satu lagi!"

"Argh!"

"Satu lagi!"

"Argh!"

"Tuan Motoyasu, aku haus!"

"Argh!"

"Tuan Motoyasu, boleh aku makan camilan?"

"Argh!"

"Tuan Motoyasu, kita akan istirahat."

"Argh!"


Kami menghabiskan hari dengan cara itu, dan aku naik level. Aku mencapai level 43, dan Myne level 39. Lasty level 38, dan Elena level 35. Si cewek baru, Rino, masih level 20.


"Cukup untuk hari ini. Ayo kembali."


Aku sudah cukup berkeringat hari ini, jadi kami mengakhirinya sebelum matahari terbenam dan kembali ke kota.


"Hari yang melelahkan."


"Tentu. Kalau kau nggak menyorakiku, aku mungkin nggak bisa melaluinya."


".....?"


Rino tampak kebingungan lagi. Ada apa dengan dia?


Tentunya dia nggak mau berlubang dalam lumpur dan naik level? Nggak mungkin! Cewek-cewek nggak menyukai hal semacam itu.


"Kalau sudah gelap, mari bertemu lagi di penginapan."


"Oke. Kami akan ke apa sampai saat itu."


"Bagus. Selamat bersenang-senang."


"Sampai nanti."


"Um..."


Rino nggak kelihatan paham apa yang terjadi. Itu cuma suatu cara bagi para cewek untuk membuat ikatan.


Aku nggak segitu noraknya sampai-sampai melompat masuk dan memaksakan diriku kedalam pertemanan mereka.


Yah, itu adalah hari untuk latihan. Aku harus ke pasar dan membeli beberapa makanan.


Aku pergi ke pasar dan membeli makanan lalu ke dapur dan mulai memasak. Saat persiapannya sudah selesai, matahari sudah terbenam, dan malam datang.


"Oh, tuan Motoyasu, kami kembaliiii!"


Aku memberitahu pemilik penginapan untuk datang ke dapur saat mereka tiba.


"Um... Apa yang kau lakukan di dapur?"


"Oh, aku cuma mau memberi kejutan untuk... Hei, dimana Rino?"


"Dia bilang bahwa saat kita berburu hari ini, dia menyadari bahwa dia nggak cocok dengan party kita. Dia memutuskan untuk pergi, tapi dia bilang, 'terimakasih untuk semuanya, dan kuharap kita bertemu lagi'."


"Oh...."


Lagi? Kayaknya nggak ada yang cocok dengan partyku.


Apakah itu karena Myne dan temannya adalah bagian dari keluarga bangsawan? Kau akan berpikir mereka masih bisa akrab, namun... Selain itu, semua orang setara dipartyku! Aku mencintai mereka secara merata.


"Jadi apa yang akan kita lakukan malam ini?"


"Yah, hari ini tepat 3 minggu sejak pertama aku di panggil ke dunia ini. Aku ingin merayakan bersama kalian semua, jadi aku memutuskan untuk memasak untuk kita."


"Woooow!"


Mereka menatap makanan buatanku.


Itu adalah makanan yang dimasak dengan menggunakan cara diduniaku, jadi aku nggak yakin mereka akan menyukainya. Hanya untuk memastikan, aku mencicipinya.


Aku belum memasak lagi selama beberapa saat, dan aku nggak pernah menerima sedikitpun keluhan.


Selain itu, aku adalah seorang yang jenius didapur. Aku bisa membuat apapun, dan para cewek menyukainya.


"Aku nggak tau kau bisa masak! Kau bisa melakukan apapun tuan Motoyasu! Kau menakjubkan!"


"Ya, kau sungguh sangat berbakat. Seorang panlawan sejati!"


"Mereka bebat! Perutku jadi keroncongan cuma dengan melihatnya!"


"Aku tau. Silahkan!"


Semuanya mengatakan makanan itu lezat, dan mereka makan banyak.


Tapi kurasa aku membuatnya terlalu banyak karena kayaknya sisanya masih banyak.


"Selamat malam."


Setelah kami selesai makan malam, dan selesai mandi, kami ngobrol sebentar sebelum para cewek pergi ke kamar mereka masing-masing.


Tapi kehidupan malam hariku belum usai.


Kurasa para cewek sudah nggak punya tenaga yang cukup untuk pergi malam hari, tapi aku masih punya banyak tenaga. Aku memutuskan untuk ke bar.


Aku meninggalkan penginapan dan berjalan di gang yang gelap. Gang itu membawaku ke area kumuh dibelakang area keramaian.


"Ah... Aku... Tidak..."


Aku bisa mendengar orang sedang melakukan sesuatu. Suara mereka menggema didalam sebuah bangunan kecil. Mereka kayaknya sedang menikmati malam hari.


Nggak peduli dimana kau berada, selalu ada orang mencari pelampiasan untuk kelakuan cabul mereka. Oh yah. Itu nggak kayak aku akan menerobos kesana dan menyelamatkan gadis itu atau semacamnya. Gimanapun juga itu adalah pekerjaan gadis itu.


Tapi suara itu terdengar kayak Rino. Aku yakin itu cuma kebetulan. Rino adalah seorang petualang, dan dia kayaknya memiliki kepala yang bagus. Dia nggak akan berkerja di tempat kayak gitu.


"Ah! Oh! Seseorang! Tolong aku!"


Kurasa si pelanggan bertindak agak kasar. Aku kabayang akan hal itu seraya aku berjalan di kota. Akhirnya, aku menemukan bar yang kelihatan bagus.



"Haaaaaaah!"


"Uooooah!"


"Dia... Dia sangat kuat. Dan lihat tombak itu!"


"Apa mungkin... dia si Pahlawan Tombak?!"


"Aku nggak akan memperkenalkan diri pada sampah kayak kalian!"


Kami sedang berada ditengah sebuah quest untuk melindungi kereta beserta barang bawaannya.


Perjalanan kami aman-aman saja sampai kami dihadang oleh para bandit. Aku mengalahkan mereka.


"Kau luar biasa, tuan Motoyasu! Wow!"


"Itu benar! Kau mengalahkan mereka dengan mudah! Kurasa aku jatuh cinta padamu!"


"Berjuanglah Motoyasu!"


"Oh, ayolah..."


Aku mengikat para bandit itu dan menyerahkan mereka pada pos penjagaan di desa terdekat. Kurasa itu adalah desa Riyute.


"Hm?"


Kupikir aku melihat Naofumi menuju ke pegunungan bersama seorang gadis kecil yang kotor. Mungkin cuma bayanganku.


Gadis itu kelihatan seperti anak pinggiran. Dia nggak terlalu manis. Bodo amat dah, kembali ke pekerjaan.


Nggak lama setelah itu kami sampai di desa yang dilanda kelaparan.


"Oh, makanan! Terimakasih banyak, Pahlawan Tombak."


"Oh, ini bukan apa-apa. Pastikan kau membagikan makanan secara merata."


Warga desa berkerumun di sekitar kereta dan kargonya. Ada anak-anak yang kelaparan dan kurus diantara mereka. Memilukan sekali rasanya hanya dengan melihat mereka. Aku harus menyelesaikan questnya. Tapi sebelum itu...


"Manis! Mau minum teh?"


"Aku...."


Beneran deh, nggak peduli didunia mana kau berada, cewek-cewek sungguh manis. Aku sampai bosan dengan hal itu, jadi kami memutuskan untuk menginap di kota.


Besok paginya, aku bangun dan pergi kekamar dimana para cewek tidur.


"N... Muuu...."


Aku melihat wajah tidur Myne. Dia menggumamkan sesuatu yang aneh.


Aku memutuskan untuk mencoret-coret wajahnya. Dia begitu terkejut saat dia bangun!


"Pahlawan Tombak... Akan pergi kemana kau sekarang?"


Wajahku merah karena ditampar Myne, bayaran yang setimpal untuk grafitiku. Aku berbicara dengan kepala desa.


"Cuma sedikit... Kau tau, memerangi bencana kelapara."


"Tuan Motoyasu, akan kemana kita hari ini?"


"Ke dungeon terdekat. Ada sebuah item yang akan menolong desa."


"Oh, memang tau segalanya, kan, tuan Motoyasu?"


"Jangan membuatku malu. Ayo pergi."


Ya, ada sebuah dungeon didekat sini. Ada sesuatu disana, didalam reruntuhan, yang akan memperbaiki keadaan desa.


Sebenarnya, aku harus melakukan beberapa penelitian di perpustakaan istana. Tapi aku sudah mendapatkan informasi lain, dan itu harusnya bukanlah masalah besar.


Selain itu, semakin cepat kami memecahkan masalah kelaparan, semakin sedikit orang yang menderita.


Itulah tujuannya. Kami segera sampai di reruntuhan itu.


Dungeonnya punya tiga lantai. Mereka mengatakan kau bisa masuk sendirian dengan level 30. Itu adalah sebuah quest yang cukup mudah.


Sekarang, apa ini sebuah game, kau mungkin bisa menetapkan tingkat kesulitan dari "instant dungeon" untuk menyesuaikan levelmu sendiri. Ini adalah sebuah instant dungeon, dan dungeon itu dengan segera dibuat hanya untukmu dan partymu saja. Ada sebuah peta, dan kau nggak akan bertemu dengan player lain didalam. Kau bisa menaklukkannya hanya dengan partymu saja. Sejujurnya, di level kami saat ini, menyelesaikannya adalah hal yang mudah.


Dungeon itu terbuat dari batu, dan jaraknya sekitar satu jam berjalan kaki dari desa. Dungeon itu ada di tebing tanah merah yang dimakan cuaca... sama seperti didalam game itu.


Kami memasuki reruntuhan berlumut itu dan menyalakan lilin yang ada disana. Aku ingat bahwa dungeon syarat akan jebakan.


"Kita harusnya nggak banyak bertemu monster disini, dan kita harusnya baik-baik saja dengan level kita saat ini."


"Oke!"


Nah sekarang, mengenai jebakannya kurasa ada hubungannya dengan lilin yang kami nyalakan di perjalanan. Keberhasilan atau kegagalan kami akan bergantung pada hal itu.


Kalau kami gagal, kami akan memulai semuanya dari awal.


Perangkap itu seperti ini: sebelum lilinnya mati, kau harus mengalahkan golem yang ada di ujung dungeon.


Didalam game, batas waktunya asalah 30 menit. Agar berhasil, kau harus sampai di lantai paling bawah. Itu mungkin sudah diatur seperti sebuah labirin, tapi aku sudah mengetahui jalannya.


Ada beberapa versi yang berbeda, tapi aku sudah mengingat semuanya, jadi kami harusnya baik-baik aja. Atau begitulah yang kupikirkan. Kami terus berjalan kearah jalan buntu. Yah ini aneh. Didalam game sudah pasti ini adalah jalan yang benar.


Meski begitu, kami berhasil sampai diujung dungeon dengan waktu yang ditentukan. Ruangannya dipenuhi dengan udara dingin. Dindingnya terbuat dari batu namun berwarna biru dan transparan seolah terbuat dari es. Tempat ini terasa mistis dan nggak nyata.


"Wow...."


Myne dan yang lainnya takjub saat melihat sekeliling.


"Baiklah, harusnya ada sebuah peti harta, disebelah sana."


Aku menunjuk sebuah kotak besar yang penuh hiasan di ujung ruangan.


"Tapi apa yang ada didalamnya?"


"Ada sebuah benih ajaibMiracle Seed disana yang akan menyelamatkan penduduk desa. Tapi pertama-tama kita harus mengalahkan siapapun yang menjaganya."


"Apa maksudmu?"


"Saat kau mendekati peti itu, bebatuan akan jatuh dari atas dan berubah menjadi golem. Jangan kuatir. Dia nggak terlalu kuat. Kalau kalian mendukungku dengan sihir, kita akan baik-baik saja."


"Baik!"


"Kami akan menjadi pendukungmu!"


"Kau bisa melakukannya, tuan Motoyasu! Itu seperti kau mengetahui segalanya!"


"Aku tau, aku tau. Berhentilah membuatku malu."


Kami berjalan mendekati peti harta itu. Tentunya, aku berada didepan dan para cewek mengikuti dibelakang.


Dan sama seperti yang kuduga, golem jatuh dari atas.


"Groooowl..."


Golem batu itu mengangkat tangannya untuk menyerangku.


"Aku akan melindungimu! Wing Blow!"


"First Aqua Shot!"


"Kau bisa melakukannya!"


Dengan serangan sihir para cewek dan skillku, golem itu dengan cepat tumbang. Dari bebatuan yang runtuh, inti dari golem itu mengapung di udara.


"Haah!"


Sebelum golem itu bisa bangkit lagi, aku segera membelah inti itu menjadi dua.


"Ha! Rasakan ini!"


"Kau begitu kuat, tuan Motoyasu!"


"Ya! Kau betul-betul mengalahkan golem besar itu!"


"Kau menakjubkan!"


Mereka terus menyoraki aku.


"Oh yah, itu nggak seberapa... Bercanda! Itu betul-betul luar biasa! Hahahaha!"


Nah sekarang, waktunya membuka kotak itu dan mendapatkan benihnya. Atau begitulah yang kupikirkan. Tapi kemudian....


Ada sebuah gemuruh yang kuat dan secara tiba-tiba. Lantainya berguncang.


"Ap...Apa ini?!"


"Gempa bumi?!"


"Ini... Ini..."


Aku memiliki perasaan yang sangat buruk.


"Ini aneh. Kita nggak gagal..."


"Apa itu?!"


"Kalau kau membuat kekacauan, reruntuhannya akan runtuh. Tentu saja ada jalan keluar, tapi kau harus memulainya dari awal lagi m dan untuk keluar dari sini, ada sebuah pinalti dungeon."


Ada sebuah item yang bisa kami dapatkan cuma di dungeon itu, tapi itu nggak seperti kami betul-betul memerlukannya. Saatbaki memainkan versi beta dari MMORPG, ada sebuah equipment yang sangat kuat yang bisa kau dapatkan saeu salah satu monster yang muncul selama evenr pinalti ini. Tapi sekarang kamu harus fokus pada rencana dengan level lebih rendah.


"Apa?"


Aku nggak mengerti. Kami harusnya masih punya waktu lebih dari 10 menit yang tersisa.


"Apa yang membuatmu gagal?"


"Ingat lilin yang kita nyalakan saat pertama kita masuk? Kita harus mengalahkan golemnya sebelum lilin itu habis. Dan tentu saja, jika lilin itu habis dalam waktu yang ditentukan, kita diijinkan untuk kembali dan menyalakan kembali. Bergantung pada tingkat kesulitan yang kau tetapkan, kau bisa dipaksa melakukan hal itu karena pertarungan akan membutuhkan waktu lebih lama."


"Huh....?"


Myne terdengar kebingungan.


"Ada apa?"


"Yah kupikir kita nggak membutuhannya, jadi aku memadamkannya."


"Apaaaaaaaa?!"


Saat aku berteriak, lantainya terbelah, dan kami jatuh kedalam retakan tersebut.


"Woooooaaaahhhhhh!"


"Yaaaaaaaaahhhh"


Kami jatuh ke semacam seluncuran batu yang besar, dan kami semua meluncur dengan cepat.


"M...Myne!"


"Tuan Motoyasu!"


Aku mengulurkan tanganku, tapi sebelum kami bisa saling berpegangan, kami terpisah kearah yang berbeda dan dipisahkan oleh dinding.


"Dimana ini?"


Seluncurannya berakhir. Aku menyalakan obor dan menyelidiki sekelilingku.


Kalau ini seperti game, maka jalur kami akan bertemu....


Aku membayangkan petanya didalam kepalaku dan mulai berlari.


Harusnya di dungeon ini nggak ada monster yang nggak bisa ditangani oleh Myne dan yang lainnya. Meski begitu, aku merasa lebih baik kalau kami bersama-sama.


"Kau tau?"


Aku mendengar seseorang berbicara.


"Pria bodoh itu perlu diberi pelajaran. Kau tau?"


"Dia cuma melihat payudara dan pantat kita. Itu membuatku gelisah."


"Dia mencoret-coret wajahku saat aku tidur! Dia perlu menyadari posisinya."


"Tapi dia mudah dimanfaatkan karena dia bodoh. Dia mendapatkan uang, dan dia adalah seorang pahlawan, jadi kita bisa melakukan apapun yang kita mau."


"Aku tau!"


"Meski begitu, yang kemarin itu? Nggak mungkin!"


"Lidahku yang malang. Makanan mengerikan dari dunianya itu menjijikkan."


"Aku tau!"


"Gimana dengan gadis yang berusaha untuk masuk kedalam tim kita tempo hari? Dia agak sesuatu!"


"Oh, aku tau! Apa kau ingat gimana kita menjual dia di toko itu? Aku memberitahu dia kita akan ke spa, dan dia berjalan sambil diborgol! Itu sangat mudah! Sangat sulit untuk menahan tawa!"


Aku ingat sekarang. Tema dungeon ini adalah penghianatan.


Ada peluang 30% bertemu dengan monster bernama Voice Fighter, dan monster itu menyamar menjadi suata dari anggota partymu. Monster itu mengatakan hal-hal yang terlalu keji untuk dipercaya.


Tentu saja, didalam game kau nggak bisa mendengar suara yang sebenarnya, tapi karaktermu akan berakhir kebingungan.


Di telingaku, itu terdengar seperti Myne dan yang lainnya mengatakan hal-hal yang keji.


Aku berjalan ke sudut dan mendapati diriku berada di ruang terbuka yang besar.


Dan Myne serta yang lainnya ada disana. Mereka barusaja mengalahkan Voice Fighter yang berada dalam wujud seekor kelelawar.


"Oh! Tuan Motoyasu!"


"Apa kalian baik-baik saja? Tempat ini memiliki monster berbahaya yang memainkan pikiranmu."


"Kami baik-baik saja!"


Betul juga, mereka sudah menghabisi monster itu sebelum aku tiba. Baguslah.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Sudah aman. Ikuti aku."


Aku menunjuk lorong yang akan membawa kami keluar. Kami mengikuti lorong itu dan mendapati diri kami ada diluar.


Kami baru sebentar didalam dungeon, tapi matahari terasa sangat menyilaukan.


"Oke, kalian tetaplah di pintu masuk dan jagalah lilinnya. Aku akan ke lantai bawah dungeon."


"Oke, tuan Motoyasu."


"Ya! Kami akan melindungi lilinnya dengan nyawa kami!"


"Serahkan pada kami!"


"Oke!"


Aku berlari menyusuri dungeon dan mendapatkan Miracle Seed.


Aku juga membiarkan tombakku menyerap inti golem dan beberapa batu yang ada disana. Tombak itu membuka sebuah item drop dan nggak terlalu berguna.


Equip bonusnya adalah peningkatan statistik. Mungkin akan berguna nantinya.


Kami kembali ke desa dan memberikan Miracle Seed pada kepala desa.


"Apa ini?"


"Itu adalah Miracle Seed yang menghasilkan makanan dalam jumlah yang melimpah saat kau menanamnya. Itu akan menyelesaikan masalah kelaparan disini, jadi aku berasumsi kau mau membelinya."


"Ini... Benih ini?"


"Ya, benih itu tersembunyi didalam dungeon disekitar sini. Rawatlah baik-baik."


"Tapi reruntuhan itu harusnya telah disegel oleh alkemis jahat yang kuat."


"Apa?"


"Oh, bukan apa-apa. Kalau Pahlawan Tombak berkata begitu, itu pasti benar."


Dia tersenyum, dan menanam benih itu di ladang.


Seketika benih itu berkecambah, tumbuh, dan menghasilkan buah. Penduduk desa bersorak.


"Terimakasih banyak, Pahlawan Tombak!"


"Ha ha ha! Untuk itulah aku ada disini, untuk menyelamatkan dunia!"


Itu terasa benar-benar menyenangkan untuk membantu orang-orang.


"Oh hei. Setelah kalian berdua mencapai level 40 kita harus kembali ke Kastil Kota untuk mengubah kelas kalian."


Keempat Pahlawan nggak bisa mengubah kelas mereka, yang mana berbeda dengan game. Tapi Myne dan yang lainnya bisa mengubah kelas mereka.


Perubahan kelas adalah sebuah upacara yang harus kau jalani untuk meningkatkan batas levelmu dan untuk meningkatkan statistikmu.


Mereka mengadakan upacaranya di Dragon Hourglass.


Myne ahli dalam sihir, jadi misalnya ini adalah game l, dia mungkin akan menjadi seorang wizard. Jika demikian, maka aku akan membuat dia jadi seorang wizard berlevel tinggi.


Selain itu, aku tau bagaimana cara kerja dunia ini, jadi keputusanku tentunya akan menjadi yang terbaik pada akhirnya.


"Ya!"


"Wow! Sudah waktunya buat menaikkan kelas?!"


"Menakjubkan! Sekarang kami bisa melakukan lebih banyak hal untukmu! Kami ingin membantumu, tuan Motoyasu!"


"Tentu!"


Aku mengarahkan tinjuku ke udara dan merayakan kemenangan kami.


Lalu mengarahkan tanganku ke pantat Myne dan meremasnya.


"Apa itu?! Oh, tuan Motoyasu, kuharap kau bisa mengendalikan dirimu sendiri."


"Ahahaha!"


Dunia ini memang menyenangkan.


Aku sudah mengetahui segala yang perlu kuketahui dari game, dan semua cewek menyukai aku.


Selain itu, wanita keji yang membunuhku nggak ada disini. Itu sangat menyenangkan! Aku nggak bisa berhenti tertawa.


Gelombangnya akan datang enam hari lagi. Dan aku mulai menantikannya.


Begitulah cara kami menjalani keseharian kami. Bersenang-senang dan leveling. Kami segera kembali ke Kastil Kota.


Itu adalah tempat yang bagus bagi dia, sebuah dunia ideal yang penuh dengan kegembiraan. Dia bangga berada disana.
Dalam Catatan Empat Senjata Suci dikatakan bahwa sang Pahlawan Tombak sangat memikirkan teman-temannya.
Jika dia melanjutkan tanpa memahami perbedaan antara kebaikan dan kenaifan, nasib seperti apa yang akan dia temui?
Pada saat itu, dia bukanlah pahlawan sejati. Dia tidak lebih dari seorang badut.
Dia hanya mendengar apa yang dia inginkan, dan mengabaikan apa yang menyinggung dia. Kepercayaanny pada teman-temannya tidak berdasar dan mengarahkan dia pada bahaya yang besar nantinya.


Apa yang terjadi pada kota yang dia selamatkan? Jawabannya tidak tertulis sebagai bagian dari kisah dia.
Kisah ini diwariskan oleh seorang petapa yang disampaikan seekor burung sakral.
Tapi bahkan hal itu tidak cukup untuk menghentikan gelombang besar yang datang.
Pada akhirnya, semuanya ditenggelamkan oleh gelombang-gelombang kehancuran....


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya