Tate no Yuusha Jilid 3 LN Bab 13 (Indonesia)

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 13 - Persimpangan Jalan[edit]

Kami kembali ke kapal hantu dimana kami melawan inter-dimensional Soul Eater. Mungkin karena musuh sudah dikalahkan, kapal itu tergeletak di tanah. Para pahlawan dan party mereka juga ada disana, nggak sadarkan diri.


Para prajurit relawan dan para warga berdiri di sekitar mereka, sepertinya mereka melindungi para pahlawan. Mereka harusnya nggak perlu melakukannya.


Akhirnya, ini adalah saat untuk bagian terbaik dari seluruh bencana ini. Menambahkan material pada perisaiku. Sayangnya, Goblin Assault Shadow dan Lizard-Man Shadow jadi bayangan itu saja. Oleh karena itu nggak ada material lagi yang bisa kuserap. Yah, ada sedikit material bersifat bayangan, tapi aku cuma membuka satu perisai baru dengan material itu.


Shadow Shield
Kemampuan belum terbuka
Bonus equip: resistensi bayangan (kecil)


Ada beberapa hal lain, tapi semuanya cuma membuka peningkatan status, jadi aku akan mengabaikannya untuk saat ini.


Yang tersisa cuma inter-dimensional Soul Eater.


"Oooh. Lezat!"


"Jangan makan itu."


Filo memegangnya dan mau memasukkannya kedalam mulutnya saat aku menghentikan dia. Itu sudah cukup jelas apa yang menyebabkan dia menjadi gila dan ganas. Gimanapun kau melihatnya, itu pasti karena dia telah memakan inti naga.


"Ayolah!"


Aku mengulurkan tangan dan mengambil material dari Filo, tapi karena suatu alasan material itu langsung menembus jari-jariku dan jatuh ke tanah.


"Gimana caramu memegangnya?"


"Aku menggunakan sihir angin pada tanganku."


"Sungguh?"


Jadi kau nggak bisa memegangnya dengan tangan kosong? Itu aneh.


"Apakah ada masalah?"


Para prajurit relawan melihat wajahku yang kebingungan dan mendekat untuk membantu.


"Oh, ya. Aku cuma menanyai Filo gimana caranya dia bisa memegang monter ini."


"Monster-monster ini tidak punya tubuh fisik. Agar bisa memegang mereka, anda harus menggunakan sesuatu yang memiliki properti magis."


"Apa?"


"Itu sudah menjadi pengetahuan umum. Apakah anda tidak mengetahuinya, Pahlawan Perisai?"


"Enggak."


"Oh, yah, monster-monster tanpa tubuh fisik merupakan hal yang sangat langka. Jadi sangat tipis kemungkinannya anda bisa menemukannya."


"Terus apa kau punya sebuah senjata yang memiliki properti magis yang bisa kugunakan? Aku ingin memotong-motong monster ini."


Prajurit itu menanyai kelompoknya apakah ada yang punya senjata seperti itu, dan dia menemukan satu orang yang punya senjata dengan properti magis. Mereka meminjamkannya padaku, dan aku memotong-motong monster itu.


Filo memberitahuku gimana caranya dia memasang sihir pada tangannya, dan aku menirukan dia. Aku mengambil ekornya dan membiarkan perisaiku menyerapnya.


Soul Eater Shield
Kemampuan belum terbuka
Bonus equip: Skill "Second Shield", resistensi roh (medium), resistensi serangan spiritual (medium), peningkatan SP
Efek Khusus: Soul Eat, pemulihan SP (lemah)


Perisai itu terbuka cuma dengan menggunakan ekornya saja, dan itu nggak mereferensikan bagian-bagian yang lainnya—yang mana itu mungkin berarti bahwa memotong-motong Soul Eater lagi nggak akan memberiku yang lebih bagus lagi. Aku mencoba membiarkan perisaiku menyerap bagian-bagian yang lain, tapi nggak ada yang berubah.


Tapi apa Second Shield ini? Resistensi roh mungkin artinya bahwa aku bisa menahan serangan-serangan spiritual.


Efek khusus Soul Eat kedengarannya agak menarik. Kuharap itu bukan berarti bahwa aku bisa menahan jiwa. Itu nggak kedengaran bagus buatku.


Perlahan aku mengubah bentuk perisai. Itu seperti seluruh perisainya terbuat dari monster itu, dari kepala Soul Eater. Itu adalah sebuah desain yang aneh.


Dan Chimera Viper Shield memiliki tingkat pertahanan yang lebih tinggi.


Kalau efek khusus Soul Eat berarti bahwa aku bisa memakan jiwa, maka aku harusnya bisa memegang Soul Eater itu. Jadi aku mengulurkan tanganku. Tapi jari-jariku nggak betul-betul bisa menyentuh dagingnya.


Kurasa aku salah. Baguslah. Aku nggak tertarik memakan jiwa.


Itu mungkin semacam serangan balik. Mungkin itu "memakan jiwa musuh" dalam arti aku menyerap SP mereka.


Oke berikutnya, apa skill Second Shield ini? Aku mencobanya.


"Second Shield."


Air Strike Shield menjadi Second Shield.


Itulah yang dikatakan ikon yang berkilauan di bidang pandangku.


"Air Strike Shield!"


Aku menunggu untuk memastikan Air Strike Shield muncul di udara sebelum melanjutkan.


"Second Shield!"


Perisai lain muncul.


Jadi itu maksudnya. Sampai sekarang aku cuma bisa menggunakan satu Air Strike Shield pada satu waktu. Tapi sekarang sepertinya aku bisa memanggil dua Air Strike Shield. Mungkin ada banyak cara penggunaan yang berbeda dari skill itu, tapi itu nggak betul-betul membuatku senang.


Aku menatap sisa-sisa dari Soul Eater.


"Rasanya aku ingin menyerap semuanya dan nggak menyisakan untuk yang lainnya."


Tapi mereka pasti akan sangat jengkel dan memburuku.


Selain itu, kalau mereka nggak menjadi lebih kuat, maka itu akan buruk bagi semua orang, begitu pula denganku. Kalau aku harus bertarung bersama mereka, mereka kuat juga. Tentu, dalam pertempuran ini akulah MVPnya. Tetap saja, aku memutuskan untuk menyisakan materialnya untuk yang lainnya.


"Master, biarkan aku memakan sisanya!"


Filo berteriak, air liur menetes dari paruhnya.


"Apa boleh buat."


Aku memotong tulang belakangnya dan melemparkan ekornya pada Filo. Dia menelannya.


"Tulang-tulang ini begitu berlendir kayak slime!"


"Tunggu. Apa kita pernah bertemu slime?"


"Um....."


Percakapan yang selanjutnya nggak terlalu menarik, jadi aku potong saja disini. Katakan saja aku berakhir marah karena aku nggak bisa menggunakan pata Slime untuk membuka perisai baru.


* * * * *


"Baiklah! Ayo ke desa berikutnya dan kita lihat apakah kita bisa membantu mereka membangun ulang."


Kami telah menyelesaikan apa yang harus kami lakukan. Jadi para prajurit relawan dan aku membantu membersihkan mayat-mayat monster dan melakukan perbaikan di desa selanjutnya.


Kami jelas-jelas nggak bisa membantu semua pekerjaan yang perlu dikerjaan, jadi kami berfokus pada menyediakan makanan untuk orang-orang yang selamat dan mengobati luka mereka.


"Terimakasih banyak! Kami akan melakukan sebisa kami!"


Para prajurit relawan mendengarkan perintahku dan mematuhinya tanpa banyak protes. Kurasa itu artinya aku nggak perlu meragukan ketulusan mereka lagi.


Sehari berlalu sejak pertempuran kami yang panjang dan melelahkan—akhirnya, para knight tiba.


Pemimpin dari para knight sangat marah bahwa aku telah membawa para prajurit relawan bersamaku melawan gelombang.


"Bangsat! Kau pikir kau bisa mencuri para bawahanku dan menggunakan mereka untuk membentuk sebuah pasukan pribadi?!"


"Itu bukan kesalahan Pahlawan! Kami yang mendatangi dia dan menawarkan jasa. Dia hanya menerima tawaran kami."


"Apa? Dan kalian menyebut diri kalian prajurit dari Melromarc yang agung?! Kalian menjual diri kalian pada di Perisai?!"


"Dasar tolol. Apa kau betul-betul cuma mau fokus memarahi bawahanmu saat kau dikelilingi oleh semua tragedi ini? Apa kau tau seberapa buruk kerusakannya kalau mereka nggak ada disini?"


Para warga yang berkumpul di sekitar mendengar apa yang sedang terjadi. Mereka semua mengangguk setuju padaku.


"Dan asal kau tau, para pahlawan lain yang sangat kau andalkan, mereka semua dikalahkan bersama dengan party mereka selama gelombang, dan sekarang mereka terkapar di bangunan yang ada disebelah sana."


Nggak seorangpun yang meminta mereka melakukannya, tapi para warga telah mengumpulkan dan membawa para pahlawan yang gak sadarkan diri ke desa agar mereka bisa merawat mereka sampai sehat. Mereka punya obat yang dibutuhkan, tapi masih butuh beberapa hari sampai mereka bisa pulih lagi. Tetap saja, mereka pulih dengan cepat, dan mereka mungkin akan bangun sebelum hari berganti.


"Cepat serahkan para Pahlawan padaku! Aku akan membawa mereka ke sebuah rumah sakit yang bagus!"


"Luka mereka nggak separah orang-orang yang ada disekitar sini. Ada penduduk yang jauh lebih parah. Kau harus memprioritaskan mereka!"


"Kami harus memprioritaskan para Pahlawan demi negeri. Tidak, demi dunia!"


Orang ini betul-betul menjengkelkan.


Meski demikian, aku sudah menduga mereka akan bersikap kayak gitu, makanya kami memprioritaskan perawatan warga.


"Ya, ya. Pokoknya cepat bawa mereka pergi dari sini! Kami masih punya hal yang harus dikerjakan."


"Tunggu, Perisai."


Aku mengusir mereka dengan tanganku, tapi para knight berbicara tentang situasinya dengan para prajurit relawan, dan sekarang mereka memanggilku.


"Mau apalagi?"


"Kau diminta menghadap ke istana."


"Nggak usah makasih. Kau menjengkelkan."


"Kau harus ikut kami."


Aku ingin melihat mereka mencoba memaksaku. Kami punya masalah yang lebih penting untuk dikerjakan. Kenapa mereka selalu saja menggangguku?


Aku mengabaikan mereka dan berbalik untuk pergi, tapi para prajurit relawan melangkah maju, memohon. Mereka menunduk padaku.


"Kumohon, Pahlawan Perisai. Tolong ikutlah bersama kami."


Mereka telah melakukan segala sesuatu yang kuminta dan mematuhi semua perintahku. Rasanya kayak nggak benar kalau mengabaikan mereka sekarang. Selain itu, aku punya kereta baru yang harus ku ambil dari pemilik toko senjata.


"Astaga."


Aku menggaruk kepalaku dan perlahan berbalik.


"Baik. Yang perlu kulakukan adalah ikut bersamamu, kan? Aku berhutang budi sama para prajurit ini, jadi cuma itu alasanku melakukannya."


"Terimakasih banyak!"


Para prajurit relawan itu betul-betul berterimakasih bahwa aku ikut bersama mereka. Aku mengangguk perlahan.


Dan kami semua pergi ke istana.


* * * * *


Kami sampai esok harinya dan kami masuk ke istana.


"Kami ingin rekan-rekanmu menunggu di ruangan lain."


"Kau membawa kami semua kesini dan kemudian menyuruh mereka pergi?"


Orang-orang ini betul-betul membuatku gila.


"Boleh aku pergi dari sini?"


Itu nggak seperti mereka akan melalukan apapun yang bagus buatku. Semua ini cuma membuang-buang waktu.


"Kau tidak boleh pergi. Kami harus mendapatkan informasi yang kami perlukan darimu."


"Aku sudah mengatakan semuanya dalam perjalanan kesini."


Aku sudah memberitahu mereka tentang gimana para pahlawan dikalahkan dan kami lah yang tersisa untuk menghadapi musuh terakhir. Para prajurit relawan menyaksikan semua yang terjadi, meski dari kejauhan sih, jadi nggak ada ruang bagi mereka untuk meragukan apa yang kukatakan.


Si Sampah itu mungkin mencoba melakuan sesuatu, tapi kalau dia betul-betul melakukannya aku cuma perlu kabur saja.


Aku yang sekarang sudah cukup kuat untuk kabur, dan kalau Raphtalia dan Filo ada bersamaku, maka harusnya aku bisa menjatuhkan siapapun yang mencoba untuk mengejar kami.


"Diam! Kau ada di hadapan sang raja!"


Pintunya mengeluarkan suara berderit saat terbuka, dan kami berjalan menuju singgasana, dimana si Sampah itu duduk dan menatap tajam pada kami.


Aku yakin dia sudah diberitahu semuanya. Dia jelas-jelas jengkel pada seberapa suksesnya aku selama gelombang itu.


"Itu luar biasa kalau dipikir, tapi kudengar kau berhasil memukul mundur gelombang, Perisai. Adapun untuk aku sendiri, aku tidak mempercayai sedikitpun tentang itu."


"Begitukah cara elu menyatakan rasa terimakasih elu?"


"Kurang ajar! Aku punya pertanyaan untukmu—bukan berarti aku bisa mempercayai kata-katamu."


"Apa?"


Seberapa menjengkelkan orang ini? Apa dia perlu mengindikasikan ketidakpercayaannya setelah setiap kalimat yang dia katakan?


"Perisai, kudengar kau telah menemukan suatu kekuatan yang membuatmu lebih kuat daripada para Pahlawan yang lain. Aku tidak mempercayainya, tapi kau punya kewajiban untuk memberitahuku apakah itu benar. Bicaralah Sekarang. Bukan berarti aku mempercayaimu."


Dia begitu terang-terangan, si tolol itu. Dia penasaran apakah aku lebih kuat daripada para pahlawan yang lain, tapi dia nggak cukup jujur untuk menanyaiku secara langsung. Sampah itu membuatku muak.


Sejujurnya, aku nggak tau kenapa Glass mundur setelah dia mengalahkan para pahlawan yang lain.


Dia telah salah mengira kalau aku adalah pahlawan terkuat, dan setelah itu kami mulai bertarung. Namun kemudian, suatu penghitungan mengindikasikan batas waktu muncul, dan dia mundur.


Aku bisa bilang kalau jam pasir penghitung waktu memiliki hubungan dengan apa yang terjadi, tapi semuanya masih misteri. Apa yang terjadi kalau penghitungan itu telah habis?


Sangat banyak pertanyaan yang ada. Pada akhirnya kami harus menemukan jawabannya. Tapi aku nggak punya waktu untuk itu sekarang.


Tapi tetap saja. Aku bisa mengatakan apa yang sedang terjadi disini. Aku menghadap si Sampah itu dan tersenyum, mengatakan jariku me lantai didepanku.


"Kalau elu betul-betul pengen tau, merangkaklah kesini dan bersujudlah didepan gue."


Si Sampah itu begitu terkejut sampai dia tertegun sesaat. Wajahnya begitu merah. Aku berharap aku bisa mengambil fotonya.


"Apa perkataan gue gak jelas? Apa telinga lu budek? Kalau elu betul-betul pengen tau, turunlah kesini dan bersujudlah di lantai!"


"Uh... Uh.... Uh..."


"Apa yang lu gerutukan kayak seekor monyet? Atau kah elu cuma berusaha sebijak kayak seekor monyet? Raja itu sampah! Bukan berarti gue bakalan percaya sama perkataan seekor monyet sih."


Saat aku mempermainkan dan mengejek dia, wajahnya semakin marah dan kaku. Matanya melotot padaku, penuh kebencian. Apa kau tau? Itu terasa sangat menyenangkan.


"Bangsat kau!"


Sampah itu berteriak. Teriakkannya menggema diseluruh aula.


Musuh pertama adalah gelombang, dan yang kedua adalah Sampah itu. Tapi aku nggak akan kalah sama Sampah itu.


"Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi disini!"


"Elu yang minta gue buat datang! Elu kagak perlu meminta gue buat lama-lama dimari!"


Dan begitulah, aku mengucapkan perpisahan terakhir pada Sampah itu.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya