Tate no Yuusha Jilid 3 LN Bab 15 (Indonesia)

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 15 - Iblis Perisai[edit]

"Tuan Naofumi, tidakkah menurutmu kami harus berbicara dengan dia?"


"Mudah mengatakannya, tapi coba pikirkan tentang itu. Dia adalah putrinya si Sampah, dan adiknya si Lonte! Aku nggak bisa membayangkan dia sebagai seorang yang waras."


"Memang benar sih. Tapi dia pernah membantu kita. Dan sebelum itu, dia adalah rekan perjalanan kita meskipun cuma sebentar."


Hmm... Raphtalia benar. Dia pernah membantu kami, saat Motoyasu menggila di kota.


Tapi tetap saja, itu mungkin strategi untuk mencuri Filo dari kami. Kalau kami membiarkan dia terus bicara, dia mungkin akan merebut Filo. Filo sudah sangat lengket dengan dia.


"Baik. Kalau mereka menyusul kita, aku akan mendengarkan dia."


"Itu ide yang bagus. Gimanapun juga dia adalah temannya Filo."


"Mel itu orang baik!"


"Dia cuma pura-pura baik. Pokoknya, fokus pada tugas yang dikerjakan."


"Kita akan menjual barang-barang disepanjang perjalanan, kan?"


"Ya. Maksudku, kita harus memperhatikan perjalanan dan semua equipment kita, belum lagi nafsu makan Filo."


Filo akan membantu kami keluar dari sini, tapi kami harus terus membuat dia kenyang kalau kami ingin terus bergerak cepat, dan itu akan menghabiskan biaya yang banyak. Aku akan membiarkan dia memakan monster yang kebetulan kami temui, tapi itu nggak akan cukup untuk mencakup pola makannya. Aku nggak tau kemana perginya semua uang, tapi aku tau kalau kami harus memperbanyak uang saat kami punya kesempatan. Kami bisa saja membuat toko di desa-desa dan kota-kota yang kami singgahi dalam perjalanan.


"Huh?"


Di sudut kereta ada sebuah tas yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Penasaran apa itu, aku membuka tas itu dan menemukan secarik surat bercampur dengan semua item yang ada didalamnya.


Untuk Bocah,
Aku terlalu malu untuk memberikan ini padamu secara langsung. Aku membuat beberapa macam alat untukmu yang kupikir mungkin akan berguna. Gunakan kalau kau suka.


Pak tua pemilik toko senjata! Dia sangat baik dan begitu penuh pertimbangan.


Aku mengambil item paling atas.


Itu adalah sebuah pedang panjang. Pedang yang sama yang digunakan Raphtalia, pedang yang sudah patah.


Pak tua itu pasti telah memperhatikan kami dengan cermat. Dia sangat teliti. Aku betul-betul tersentuh. Kupikir aku mungkin menangis.


"Raphtalia."


"Ya?"


"Pak tua itu memberimu hadiah."


"Tapi ini sangat mahal. Aku nggak tau harus berkata apa."


Raphtalia menerima pedang itu, matanya penuh dengan air mata. Pak tua itu nampaknya betul-betul peduli pada kami.


"Apa lagi yang ada didalamnya?"


Tas itu dipenuhi dengan berbagai item, dan semua item itu diberi tanda nama-nama kami.


Suratnya juga termasuk deskripsi singkat dari item-item itu. Dia pasti buru-buru menulisnya karena tulisan tangannya cepat dan tergesa-gesa.


Jadi yang pertama adalah untukku. Itu adalah sebuah item untuk permata di perisaiku. Itu diletakkan diatas permata seperti semacam penutup.


Menurut catatan dari dia, itu akan membantuku melihat informasi tentang perisainya.


Yah, perisai ini adalah seluruh alasan aku nggak betul-betul bisa bertarung sendirian. Apapun yang dia lakukan untuk membuatnya lebih mudah untuk dipahami sangatlah bagus.


Item itu sangat pas ditempat permatanya.


Yang selanjutnya adalah untuk Raphtalia. Itu adalah pedang pendek. Tapi kenapa? Aku memberikannya pada dia.


"Dia bilang ini untukmu juga."


"Pedang lagi?"


Dia segera menariknya dari sarungnya. Ada suara halus, dan ternyata nggak ada bilah pada gagang tersebut.


Untuk apa itu?


"Apa itu adalah tahap permulaan atau semacamnya?"


"A...Aku nggak tau."


Catatannya mengindikasikan bahwa itu adalah sebuah percobaan dari dia: sebuah pedang sihir. Dia mengatakan itu akan bisa digunakan melawan monster-monster bayangan yang nggak punya tubuh fisik.


Dia menulis catatan itu seolah dia mengharapkan kami untuk tau apa yang dia maksudkan. Biasanya dia akan menjelaskannya pada kami, tapi dia pasti malu karena dia lupa menulis gimana caranya menggunakannya. Dimana bilahnya? Apa maksudnya bahwa cuma monster-monster bayangan yang bisa melihatnya?


"Pasti ada alasan kenapa bilahnya nggak ada. Aku akan mencoba melihatnya nanti."


"Ya, kurasa dia nggak akan memberi kita sesuatu yang gak bisa kita gunakan."


Baiklah. Raphtalia akan melakukan penelitian tentang pedang sihir itu.


"Selanjutnya...."


Kupikir itu untuk Filo, tapi ternyata untuk aku.


"Apa itu sebuah sarung tangan?"


Itu kelihatan seperti sarung tangan dengan permata yang dipasang padanya. Itu kelihatan sangat keren.


Coba kulihat. Yup, ada sebuah catatan yang menjelaskannya.


Membacanya membuatku tegang.


Itu ditujukan untuk membantu jika kami berada dalam sebuah situasi dimana Filo nggak bisa menarik kereta. Sepertinya kalau aku memakai sarung tangan itu, aku akan bisa menarik kereta juga.


Efeknya entah gimana terhubung dengan tingkat kekuatan sihirku saat ini. Jadi kurasa itu semacam sarung tangan kekuatan. Bukannya aku mau menarik kereta berat dan besar. Kalau dia ingin berbuat baik, dia sudah hampir salah jalan.


"Filo. Ini untukmu."


Aku menyadari bahwa yang terbaik menyerahkan tugas menarik kereta pada Filo. Gimanapun juga, dia adalah satu-satunya yang menyukainya.


"Tanganku nggak akan cukup untuk sarung tangan itu!"


Kurasa itu nggak akan bisa dipakai saat dia berada dalam wujud Filolial Queen. Yah, itu wajar sih.


"Kau bisa memakainya saat kau dalam wujud manusia. Gunakan saja untuk bermain atau semacamnya."


Bahkan dalam skenario terburuk, aku bisa menggunakannya untuk membuat sesuatu.


"Okeeeee!"


Serius deh, aku dikelilingi oleh orang-orang bangsat, tapi hanya mengetahui bahwa ada orang-orang yang seperti pemilik toko senjata diluar sana, yah, itu membuatku ingin terus bergerak maju.


Ada peluang yang besar kami akan berhadapan dengan Glass saat gelombang berikutnya. Kami harus menjadi cukup kuat untuk menghadapi dia sebelum itu terjadi.


Yang mana itu artinya bahwa kami mungkin butuh pak tua itu membuatkan kami senjata sebelum gelombang berikutnya. Aku merasa seperti upayaku nggak akan sia-sia—seperti aku harus menjadi lebih kuat, demi dia juga.


"Ayo pergi!"


"Ya."


"Yay! Waktunya berangkat!"


Kami kembali melakukan perjalanan.


* * * * *


Esok harinya, setelah sarapan ringan, kami meninggalkan penginapan pagi-pagi.


"Tungguuuuuuuuuu! Tolong bicaralah pada ayahku!"


Aku menghela nafas dan menepuk jidatku. Aku tau mereka mengejar kami, tapi aku nggak menyangka mereka akan menyusul secepat ini.


Kalau mereka bisa menyusul Filo, mereka pasti bergerak dengan sangat cepat. Dan sempat kepikiran, aku secara sengaja mengatahkan Filo ke arah yang salah untuk menjauhkan mereka.


"Akhirnya kami bisa menyusulmu!"


"Ah, Mel."


Filo berhenti, jadi aku turun dari kereta dan menghadap bocah itu.


"Maaf, dan bicaralah padaku!"


Dia sangat sopan awalnya. Sekarang kurasa dia berpikir dia bisa memerintah kami. Dan jadi begitulah, monster itu menunjukkan dirinya. Aku tau dia mengincar Filo.


"Maaf. Ada apa."


"Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada ayahku!"


Ugh, diamlah. Aku nggak bisa menangani berbicara dengan bocah kurang ajar.


"Kalau kau nggak melakukannya, bunda akan membuat dia menerima akibatnya."


"Apa yang kau bicarakan?"


Aku berpikir tentang melompat naik ke kereta dan kabur. Tapi Raphtalia sudah menegur aku tentang perilaku semacam itu. Kurasa aku harus mendengar dia, kali ini saja.


Sejujurnya, gadis ini nggak pernah melakukan sesuatu yang buruk pada kami. Adapun untuk menculik Filo, itu cuma tebakanku. Dia nggak pernah aneh-aneh pada kami dan selalu baik. Namun, kali ini dia, memohon padaku untuk berbicara dengan Sampah itu. Aku nggak bisa membayangkan apapun, aku lebih suka nggak melakukannya.


Apa yang dia maksudkan bahwa ibunya akan membuat Sampah itu menerima akibatnya? Apa Sampah itu akan menerima pukulan?


"Apa yang kau mau untuk kulakukan?"


"Itulah yang ingin kukatakan! Aku mencoba membuat ruang untuk Pahlawan Perisai dan Raja untuk berbaikan."


Kelompok knight dibelakang dia mengabaikan pembicaraan kamu dan mencabut pedang mereka.


Apa itu? Salah satu knight dibelakang mengarahkan sebuah bola kristal kearah kami.


Huh? Apa itu? Lalu aku menyadari. Nggak satupun dari mereka yang menatapku.


Tiba-tiba aku memiliki perasaan yang betul-betul buruk. Rasa dingin menjalar di tulang belakangku.


Itu adalah perasaan yang sama dengan yang kurasakan saat aku menyadari Lonte itu telah menghianati aku.


Ketegangan, dipenuhi rasa takut. Itu adalah perasaan yang berusaha ku lupakan.


Perasaan penghianatan—udaranya diliputi perasaan itu.


Tanpa berhenti berpikir, aku segera berlari kearah para knight. Penyebab rasa takutku semakin besar segera terlihat. Para knight mengatakan pedang mereka pada putri kedua.


"Ahhhhhhh!"


"Air Strike Shield!"


Bocah itu mengeluarkan jeritan serak. Air Strike Shield muncul didepan dia tepat waktu.


"Apa yang kau lakukan?"


Dalam sekejap aku berada didepan bocah itu, menatap para knight.


"Kau—Perisai! Kau menggunakan putri sebagai sandera?!"


"Huh?"


Merekalah yang menyerang dia! Apa yang mereka katakan?


Kelihatannya putri kedua memahami apa yang terjadi—wajahnya pucat.


"Si Perisai adalah musuh kami! Kita sudah mengetahuinya dari awal!" Para knight berteriak, dan menyerbuku.


Aku menyiapkan perisaiku untuk melindungi putri kedua. Segera setelah itu bunyi dentuman dari hantaman pedang pada perisai terdengar.


"Ugh...."


Para knight dibelakang sibuk merapal mantra. Dan mulai menghujankan api.


Nggak ada waktu lagi. Aku menutupkan jubahku pada sang putri dan menunggu apinya padam.


"Kau... Iblis Perisai!"


"Filo! Raphtalia!"


"Dimengerti."


"Okeeeee!"


Mereka tau apa yang kumaksudkan, dan mereka berdua menyerang musuh dengan cepat.


Para knight tau serangan balasan mendekat. Mereka melompat naik keatas kuda mereka dan melarikan diri.


"Dasar tolol."


Filo jauh lebih cepat daripada kuda manapun. Dalam waktu kurang dari satu detik, dia menjatuhkan salah satu knight dari kudanya.


"AHHHHHH!"


"Tidak! Iblis!"


Kami sudah melumpuhkan salah satu dari mereka, tapi saat kami mengejar yang lainnya, satu per satu, para knight yang lain bisa melarikan diri.


"Apa-apaan itu?"


Bukankah mereka disini untuk melindungi putri kedua? Gimana bisa jadi kayak gini? Kami mengikat salah satu knight dengan tali dan menginterogasi dia.


"Baiklah, bangsat. Kenapa kalian mencoba membunuh sang putri didepanku? Lebih baik kau bicara."


"Aku nggak perlu bicara pada para iblis."


Ha! Jadi aku sekarang adalah seorang iblis? Sudah cukup lama sejak orang-orang begitu kasar padaku. Ada banyak orang yang mengatakan bahwa Pahlawan Perisai adalah seorang iblis tanpa mengetahui bahwa akulah orang yang dimaksud. Aku penasaran apa maksud mereka, tapi aku nggak pernah punya kesempatan untuk bertanya.


Dan kemudian disini, orang ini mengatakan dia nggak perlu bicara pada seorang iblis.


"Kau nggak paham posisimu saat ini kan?"


Aku memanggil Filo.


"Makan siang?"


Wajah knight itu menjadi pucat. Tapi dia segera pulih dan berbicara.


"Meskipun aku mati, aku akan mati syahid karena sebab yang suci. Dewa akan membimbimku."


Jadi dia sangat religius. Ancaman mungkin nggak akan berhasil terhadap fanatik seperti ini.


"Hei Putri, apa kau tau sesuatu?"


Putri itu gemetar ketakutan. Dia menggeleng.


"Huh, gimana bisa? Religi apa yang kau bicarakan? Aku yakin itu pasti semacam kultus bodoh."


"The Church of the Three Heroes! Dasar iblis! Kau menghujat Dewa kami?!"


Tentu saja. Para fanatik nggak akan tinggal diam kalau kau mulai mengejek kepercayaan mereka.


Aku bisa menggunakan itu untuk menguras informasi dari dia.


"Itu adalah keagamaan besar disini."


Raphtalia berbisik padaku.


"Kamu tau itu?"


"Yah, kebanyakan orang adalah bagian dari gereja disini. Desaku memiliki religi yang berbeda, jadi aku bukan bagian dari religi itu. Tuan Naofumi, maksudmu kami nggak pernah mendengarnya?"


"Enggak pernah."


"Kupikir kamu tau."


"Kenapa pemilik toko senjata itu nggak memberitahuku apapun tentang itu?"


"Dia mungkin mencoba melindungi perasaanmu."


Mungkin dia berpikir aku akan melakukan sesuatu yang sembrono kalau aku mengetahui alasan sejati kenapa semua orang memperlakukan aku begitu buruk. Ada saat-saat bahwa aku harus melakukan sesuatu. Terakhir kali aku melihat dia, aku nggak mempedulikan percakapan juga, jadi aku nggak tau apakah dia sebenarnya mencoba memberitahuku. Aku harus lebih mendengarkan orang lain.


"Baiklah. Geledah barang bawaan mereka dan lihat apakah kami bisa menemukan apapun yang berkaitan dengan kepercayaan itu."


"Oh, oke."


Raphtalia menggeledah barang-barang mereka dan kembali sambil membawa sebuah tasbih.


Bisa kubilang itu hanya sebuah item biasa, terbuat dari material biasa, dan tanpa properti khusus.


"Taruh di tanah."


"......."


Sungguh simbol yang aneh. Ada tiga senjata yang dirangkai menjadi satu desain. Pedang, Tombak, dan Busur. Itu adalah pilihan senjata yang aneh.


Itu mengingatkan aku, gereja yang kami kunjungi untuk membeli air suci memiliki simbol yang sama. Kurasa aku memasuki gereja tanpa mengatakan apapun, jadi Raphtalia menganggap aku sudah tau tentang gereja itu.


"Baiklah, kalau kau gak mau mulai bicara, aku akan menginjak barang ini."


"Tidak! Tidaaaaaaaak!"


Urat yang ada di kepala orang itu menonjol saat dia berteriak.


Dia gampang sekali marah. Apa serangkaian manik-manik kecil ini betul-betul sepenting itu?


Saat didunia asalku ada kelompok religius yang cukup fanatik untuk pergi berperang. Orang-orang ini pasti seperti itu.


"Well, well."


Aku perlahan-lahan menurunkan kakiku sampai hampir menyentuh tasbih itu, dan kemudian mengangkat kakiku lagi. Lalu aku berpura-pura menginjaknya lagi, mengangkat kakiku disaat-saat terakhir. Aku melakukannya lagi dan lagi.


"Dasar iblis! Dewa kami tidak akan pernah memaafkan kelakuanmu!"


"Emangnya aku peduli apa yang dilakukan Dewa mu? Sekarang beritahu aku kenapa kau mencoba membunuh sang putri. Gak mau? Apa imanmu begitu tipis?"


"Ugh....?"


"Apa kau akan membiarkan aku, seorang IBLIS, menginjak tasbih kecilmu yang berharga? Dewa mu pasti sangat pemurah."


Ini adalah kebalikan dari fumie[1] Jepang. Jika mereka betul-betul percaya aku adalah seorang iblis, mereka nggak punya pilihan lain selain menghentikan.


"Kalau kau memberitahuku yang sebenarnya, aku nggak akan menginjaknya."


"Aku nggak akan termanipulasi oleh mu!"


"Sayang sekali."


Aku menginjak tasbih itu dengan tumitku, menghancurkannya di tanah.


"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaak!"


Hmm, apa yang akan dia lakukan? Aku mungkin harus membersihkan kesalahpahaman pertama.


"Hei Putri? Siapa orang-orang ini? Apa mereka para knight?"


"Aku... Umm..."


Dia masih terguncang oleh upaya yang mengancam nyawanya. Wajahnya pucat, dan dia gemetaran.


"Mel! Master dan aku ada disini, jadi nggak apa-apa!"


"Filo!"


Mel kembali tersadar dan berpaling kearahku, berbisik.


"Um... Orang-orang ini adalah knightnya ayah."


"Sampah itu... Maksudmu dia segitunya ingin membunuhku sampai-sampai dia mau mengorbankan putrinya sendiri?"


Gak bisa dipercaya. Apa dia betul-betul segitunya membenciku?


"Aku... Um... Kurasa tidak begitu."


"Kenapa tidak?"


"Kurasa ayahku nggak tau apa-apa soal ini. Saat dia bermain game strategi, dia amat sangat cerdas—bunda bahkan nggak bisa mengalahkan dia. Kalau ini adalah rencana dia, itu akan sempurna. Sejujurnya, rencana ini nggak akan disetujui bunda."


"Kurasa kau benar."


Dari sudut pandangku, itu semua terlihat sangat buruk. Kurasa kami nggak bisa berharap banyak dari ibunya juga.


"Nampaknya ini seperti sesuatu yang akan dipikirkan oleh kakakku. Sama seperti yang dikatakan bunda. Kami harus terus mengawasi dia."


Hmm... Aku mungkin sudah terlalu banyak membacanya, tapi itu terdengar seperti ada yang berkelakuan buruk diantara saudari ini.


"Jadi menurutmu itu adalah kelakuan kakakmu?"


Mel adalah pewaris tahta, jadi ada motif bagi dia untuk mencoba menyingkirkan adiknya—adiknya sepertinya adalah yang utama. Lonte itu tau hal itu, dan suatu rencana seperti ini tentunya nggak akan aneh.


"Dia mungkin menginginkan tahta. Dia harus menyingkirkan aku untuk mendapatkannya."


"Itu memang kedengaran seperti sesuatu yang akan dia lakukan."


"Kakakku, sejak masih muda, suka menghancurkan kehidupan orang. bunda mengatakan bahwa dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."


Kedengarannya seperti, setidaknya, dia memiliki pegangan dasar.


"Tapi ayah tidak memahami itu. Dia terus mengatakan bahwa kakakku serius dan baik."


Jadi si Sampah mempercayai Lonte itu. Putri kedua nggak menganggap perkataan Sampah itu bisa di pegang.


"Mungkinkah raja cuma nggak mau kau mewarisi segalanya?"


"Bukan begitu."


"Kenapa tidak?"


"Karena bunda lah yang bertugas memilih seorang penerus. Dan bunda tidak mempercayai kakak."


"Ibu... Ibumu... apa wanita berambut ungu, orang yang berjalan bersamamu dan mengatakan, 'tuan'?"


"Itu adalah seorang pengganti—mereka berpura-pura menjadi bunda didepan publik."


"Seorang pengganti? Jadi kurasa ibumu mirip dengan pengganti itu."


Aku nggak bisa melupakan rambut ungunya.


"Ya. Pengganti terlihat sama persis dengan bunda, tapi cara bicaranya aneh."


"Huh."


"Karena bunda adalah ratu, jauh lebih berkuasa daripada raja."


Lagi-lagi begini, mengatakan berita besar seolah itu bukanlah hal yang penting.


"Apa maksudnya?"


"Ibunya lebih berkuasa daripada ayahnya."


"Huh?"


"Tuan Naofumi, Melromarc adalah sebuah negara martilinear[2]. Aku mengetahuinya belum lama ini."


Raphtalia ikut berbicara, menambahkan lebih banyak informasi seolah itu adalah hal yang paling jelas didunia.


Apa maksudnya ini? Artinya Sampah itu menikahi keluarga kerajaan!


"Apa yang kamu tertawakan, Tuan Naofumi?"


"Gimana bisa aku nggak ketawa? Sampah itu cuma menikahi keluarga kerajaan! Ahahaha!"


"Master, sepertinya aku sedang gembira."


"Jangan berkata jelek tentang ayahku!"


"Kenapa tidak? Dia membuangmu."


"Dia tidak melakukannya! Wahhhhhhhh!"


Oh oh, putri kedua menangis dan mulai memukul-mukul aku dengan tangan mungilnya.


Ha! Dia bertindak seperti orang dewasa sepanjang waktu. Tapi sekarang dia kembali ke asalnya. Dia hanyalah seorang anak kecil.


Maksudku, saat kami pertama kali bertemu dia, aku tau kalau dia seorang anak kecil. Tapi sekarang aku tau bahwa dia betul-betul bertindak sesuai usianya.


Namun, dia berbicara dengan cara yang berbeda daripada saat pertama kali kami bertemu. Kalau dia adalah seorang putri, dia harus bersikap penuh kehormatan saat dia berada didepan publik. Kurasa apa yang kukatakan adalah bahwa gadis kecil yang menangis dan merengek ini adalah putri kedua yang sebenarnya.


"Tidaklah benar menertawai seorang anak kecil yang menangis."


"Pada dasarnya dia di usia yang sama denganmu!"


Apa Raphtalia lupa kalau dia berperilaku sama dua bulan yang lalu?


Maka itu menjelaskan hubungannya dengan Filo—itu adalah kesempatannya untuk menjadi kakak.


Itu juga menjelaskan kenapa dia memberi memberi Sampah itu lebih dari bagian keuntungannya. Akan mudah untuk mendapatkan sekelompok fanatik kepercayaan untuk membunuhku—mereka sudah memiliki motif, dan Sampah itu bisa dengan mudah membantah keterlibatan. Meskipun dia nggak terlibat, penjelasan dari Lonte itu berusaha mendapatkan tahta untuk dirinya sendiri membuatnya masuk akal.


"Tuan Naofumi...."


"Aku tau!"


Raphtalia mulai marah, jadi aku memutuskan untuk berperilaku lebih serius.


"Apa ada cara buat kami untuk membersihkan nama kami, dan juga untuk melindungi nyawa putri kedua?"


Sejujurnya, aku nggak punya alasan kenapa aku harus melindungi putrinya si Sampah atau adiknya si Lonte. Aku nggak menyukai fakta bahwa mereka memiliki darah yang sama. Tapi aku nggak bisa meninggalkan dia begitu saja, dan aku nggak bisa membunuh dia pula.


Meski begitu, aku bisa bersimpati pada keadaan buruk yang dia alami. Dihianati oleh keluarganya sendiri dan dibiarkan mati dalam keputusasaan. Aku gimana rasanya. Hmm... Pasti ada suatu cara untuk jalan keluar....


"Sang ratu... Dimana bundamu berada?"


Itulah yang pertama terlintas dibenakku. Kalau ratu nggak mengetahui tindakan si Sampah, kami bisa mencari dia dan menjelaskan situasinya.


Dia memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada si Sampah, jadi kalau kami bisa membuat dia berpihak pada kami, itu akan menyelesaikan masalahnya.


Kalau kami menempuh jalan itu, putri kedua akan menjadi alat pertukaran yang penting.


Kalau kami bisa melindungi dia, dia akan berguna bagi kami. Dia nampaknya cukup cerdas dalam hal percakapan yang serius. Yang jadi satu-satunya masalahnya adalah kalau satu sama gebleknya dengan si Sampah. Jika demikian, ratu nggak akan mempercayai apa yang kukatakan.


"Aku nggak tau dimana dia berada. Tapi, tapi bunda bilang bahwa beliau ingin aku berteman dengan Pahlawan Perisai."


"Dan kau tau bahwa dia nggak terlibat dengan ini?"


Itu adalah sebuah kemungkinan yang nggak bisa kami abaikan. Memberikan hak penerus pada putrinya yang termuda mungkin merupakan bagian dari rencananya untuk menemukan dan membunuhku.


"Uh...."


"Jangan nangis, Mel! Aku akan membantumu! Aku janji!"


Si putri kedua mulai menangis lagi, jadi Filo menghibur dia.


"Woi, jangan menjanjikan apapun pada dia!"


"Tapi Master... Aku... Aku ingin membantu dia!"


"Gak boleh."


"Tapi aku ingin membantu! Aku ingin membantu!"


"Ugh! Diam!"


Sialan. Aku punya perasaan buruk tentang semua ini. Apa yang sedang terjadi?


Kami mondar-mandir beberapa kali sebelum aku menyadari bahwa knight itu sedang tertawa.


"Sepertinya si iblis akhirnya memahami posisinya."


"Diam. Aku gak punya waktu untuk melayani pecundang macam kau saat ini."


"Itu salah. Ini artinya kami telah mencapai tujuan kami."


"Apa maksudnya?"


"Kematian dari sang putri akan menjamin pendapat publik terhadapmu, iblis, tapi bahkan tanpa kematian sang putri nggak ada masalah besar. Sekarang ini, pasti ada harga yang tinggi untuk kepalamu."


Yah kurasa aku sudah menduganya sampai sejauh itu.


"Kau bisa membunuh seorang anggota keluarga kerajaan dan lari ke negara lain, tapi jangan berpikir bahwa kau gak akan dikejar!"


"Tunggu. Aku gak paham kenapa kau harus membunuh putri didepan mataku."


Kalau mereka mencoba memfitnah aku atas kematiannya, kenapa harus repot-repot sampai melakukan sejauh ini? Lonte itu memfitnah aku cuma dengan menunjuk padaku, dan semua orang mempercayai dia. Tapi mereka membawa sang putri kedua ke tempat yang jauh, membunuh dia, terus memfitnah aku atas kematiannya? Kenapa mereka harus repot-repot menyusul kami saat mereka bisa membunuh dia setiap saat?


Lalu aku ingat knight yang berada dibelakang yang membawa bola kristal. Sebagian besar knight yang ada di barisan belakang berhasil kabur. Gimana kalau.... Gimana kalau bola itu memiliki fungsi seperti kamera?


"Iblis Perisai, pembunuhan yang kau lakukan terhadap sang putri kedua sekarang ini telah diketahui di seluruh negeri. Aku nggak punya tempat untuk bersembunyi, gak punya tempat untuk kabur."


Aku mulai memahaminya. Terakhir kali, mereka mencoba memfitnah aku di negara mereka sendiri. Kalau aku lari ke negara lain, mereka gak perlu melakukan pengusiran paksa terhadapku. Yang mana itu akan mengarah pada pengasinganku ke negara lain—dan itu akan memberiku peluang untuk merekrut simpatisan.


Tapi kali ini berbeda.


Mereka memiliki sebuah bola kristal yang mengandung sebuah adegan dariku melompat pada sang putri. Itu akan menjadi bukti yang mereka butuhkan. Mereka bisa dengan mudah menunjukkan itu pada negara-negara tetangga, dan itu akan mengakhiri pemberontakan domestik yang mungkin akan mereka hadapi.


Sejujurnya, aku sangat terkesan. Jadi hal ini memberiku pilihan-pilihan utama.


Pilihan 1

Meninggalkan sang putri dan melanjutkan perjalananku.

Para knight yang dikirim Sampah itu untuk menjaga sang putri akan membunuh putri, dan itu akan membuat Sampah itu memiliki semua penyebab yang dibutuhkan untuk memburuku. Sang ratu akan memasang hadiah besar untuk kepalaku. Kabar itu akan menyebar ke negara-negara tetangga, dan beberapa orang akan selalu mengejarku.

Aku akan berada dalam bahaya besar saat gelombang berikutnya tiba. Mereka akan menangkapku saat aku di teleport ke tkp.


Pilihan 2

Membawa kembali sang putri pada Raja Sampah itu dan menjelaskan situasinya pada dia.

Itu akan menyelamatkan nyawa sang putri, tapi kami harus berhadapan dengan si Sampah. Aku bertanya-tanya apakah dia akan mencoba menuduhku melakukan penculikan. Pada dasarnya, itu akan menyelamatkan sang putri, tapi aku gak bisa menjamin ketidakbersalahanku akan diterima.

Sang Ratu mungkin akan bertindak untuk menyelamatkan aku—tapi aku gak tau dimana dia berada, jadi kami gak bisa menemui dia. Kami harus menunggu dia mendatangi kami. Kami tentunya nggak punya keharusan untuk menempatkan diri kami dalam situasi semacam itu. Dan kalau sang Ratu adalah dalang dibalik semua ini selama ini, maka itu akan jadi akhir bagi kami.


Pilihan 3

Kami kembali ke istana dan membunuh Sampah itu sendiri.

Kejahatan dan dosaku akan dikenal luas, jadi gereja dan para knight akan memburuku dan membunuhku.

Mengingat kemungkinan kegagalannya, resikonya mungkin sangat tinggi.


"Apapun yang kita lakukan, aku nggak bisa membuktikan ketidakbersalahanku!"


Kenapa Sampah dan keluarganya harus melakukan sampai sejauh ini untuk membuatku sengsara?


"Ahaha! Ini akan jadi akhir dari Perisai Iblis. Sekarang kau akan menderita karena mengancam gereja kami."


"Diam!"


Aku memerintahkan Filo untuk memakan mereka, dan mereka akhirnya bisa diam. Aku bisa saja membunuh mereka, tapi bukan itu masalahnya—beberapa dari mereka sudah melarikan diri. Dengan bola kristal ditangan mereka, gak lama lagi aku akan di tuduh pembunuh. Meski demikian, Church of the Three Heroes...


Church of the Three Heroes adalah sebuah gereja dengan tiga pahlawan. Jadi, itu pasti arti dari namanya.


Simbol dari tiga senjata itu menunjukan seberapa mereka menghargai kehidupan alam baka mereka.


Tapi ada sesuatu yang gak masuk akal.


Seharusnya ada empat senjata legendaris, pedang, tombak, busur, DAN perisai.


Bukan cuma para knight yang mencoba memfitnah aku setiap kali mereka mendapat kesempatan, tapi sepertinya gereja juga menolak perisai juga.


Itu menjelaskan alasannya, saat pertama kali aku tiba di dunia ini, nggak satupun para petualang yang dikumpulkan mau bergabung denganku.


Kalau raja mengumpulkan para petualang, maka itu gak masalah untuk mengasumsikan mereka memilih orang-orang yang mereka rasa bisa dipercaya.


Kalau dipikir-pikir lagi mengenai gereja besar yang ada di kota, dan perilaku dari para knight disini, itu jelas bahwa gereja memegang kekuasaan besar di Melromarc. Kalau gereja mengatakan bahwa perisai adalah iblis, orang-orang pasti akan mengikutinya.


Kenapa juga ada orang yang bersedia berkelompok dengan seorang iblis secara sukarela dengan kehendak mereka sendiri? Itu bukan masalah apakah mereka mengetahui aku atau memiliki semua informasinya. Dengan dorongan sedikit saja maka semua akan berjalan mulus.


Kalau semua ini benar, itu akan menjelaskan penampilan sinis yang ku terima kemanapun aku pergi.


Fanatisme dari para knight ini sesuai dengan konteks itu, karena mereka berada dibawah kendali dari Raka dan gereja.


Kalau dipikir-pikir lagi tentang semua itu, mereka bertindak secara aneh terhadap aku bahkan sebelum si Lonte memfitnah aku atas pemerkosaan. Mereka secara sengaja mengabaikan aku dan kemudian menuduh aku tanpa sedikitpun bukti, yang mana itu akan lebih mudah dengan kekuasaan dari gereja yang mendukungmu. Orang-orang nggak butuh bukti kalau menyangkut aku. Kalau aku di tuduh atas sesuatu yang buruk, mereka akan menerima tuduhan itu karena aku merupakan seorang iblis di mata mereka.


Saat aku pergi untuk melihat Dragon Hourglass, para biarawati sangatlah dingin terhadapku, memperlakukan aku seperti musuh sejak awal. Itu adalah bukti yang kuperlukan.


Aku mulai paham apa yang dipikirkan Sampah itu.


Kalau dia ingin mempertahankan posisinya, dia harus memperlakukan Pahlawan Perisai secara berbeda dari cara dia memperlakukan para pahlawan yang lain. Selama sekitar sebulan terakhir, masyarakat mulai menganggap bahwa mungkin Pahlawan Perisai tidaklah seburuk itu. Aku bertindak sebagai orang suci dewa burung dan berpergian ke berbagai tempat. Aku menyelamatkan orang-orang. Belakangan, bahkan di Kastil Kota, orang-orang lebih sopan terhadapku daripada yang sebelumnya.


Itu ada hubungannya dengan ajaran dari gereja—pasti begitu.


Yang harus mereka katakan adalah bahwa ketiga pahlawan terancam, dan itu nggak sepenuhnya sebuah kebohongan. Itu sebabnya mereka menggunakan kartu as mereka, sang putri yang akan mewarisi tahta.


Semua ini cuma tebakan saja. Dan itu gak akan membersihkan namaku.


Tetap saja, lari ke negara lain....


Lalu aku ingat yang dikatakan oleh pak tua pemilik toko senjata.


Kurasa dia mengatakan bahwa warga Siltvelt merupakan supremasi para demi-human. Yang mana itu artinya bahwa mereka mungkin nggak punya hubungan dekat dengan Melromarc. Kalau kami membawa sang putri, pewaris Melromarc kesana untuk melakukan negosiasi, sang ratu mungkin akan menunjukkan diri.


Tentu saja, aku adalah seorang manusia, jadi kemungkinan besar aku nggak akan menerima sambutan yang hangat. Tapi ada Raphtalia bersama kami. Itu mungkin akan jadi tempat persembunyian yang sempurna.


Ngomong-ngomong, Silvelt berada di arah timur laut, dan Shieldfreeden berada di tenggara. Tapi aku harus melewati dua negara lain untuk sampai kesana. Seperti yang kuketahui sebelumnya, keduanya sangat jauh. Aku harus terus maju dan berharap bahwa sesuatu menjadi lebih baik.


"Baiklah, kita akan menuju ke Silvelt untuk saat ini. Disana mungkin kita akan terbebas dari semua masalah ini—kalau kita bisa sampai disana."


"Itu adalah negeri demi-human, kan?"


Raphtalia mengangguk.


"Um....."


Sang putri kedua bergumam, nggak yakin apa yang dikatakan.


"Ada apa?"


"Oh... Bukan apa-apa."


"Baiklah. Raphtalia, setelah kita sampai, kuserahkan semua negosiasi padamu."


"Dimengerti!"


"Baiklah, Putri—kau harus ikut kami, demi kebaikanmu. Aku janji akan melindungimu, jadi tenang saja. Kalau kau gak mau mati, ikut kami."


"Baik."


Sang putri perlahan-lahan naik ke kereta kami, tapi dia nggak kelihatan sangat senang. Aku nggak masalah dengan anak baik yang gak paham dengan apa yang sedang terjadi. Beginilah. Tapi ini mungkin kesempatan yang bagus untuk memberitahu dia tentang ayah Sampahnya dan kakak Lontenya, untuk memberitahu dia tentang seberapa busuk dan rusaknya dunia ini. Dia akan hidup atau mati bersama kami, jadi kalau nasib kami terhubung, dia lebih baik mempelajari tentang dunia ini.


Dia masih anak-anak. Jadi aku bisa memberitahu dia kebenarannya, pelahan-lahan, lalu dia akan melihat segalanya dari sudut pandangku.


"Yay! Mel dan aku bersama lagi!"


"Ya. Makasih, Filo."


Filo begitu gembira bahwa dia mendapatkan kesempatan untuk bepergian bersama temannya.


"Jadi apa yang dikerjakan Ratu? Kenapa dia meninggalkan kerajaan?"


"Beliau selalu bepergian untuk mempertahankan hubungan diplomatik kami. Aku biasanya ikut bersama beliau."


"Sungguh... Diplomasi, huh? Dan gimana dengan kami?"


"Bunda mengatakan beliau ingin aku menemui ayah, dan mencari Pahlawan Perisai dan berteman dengannya. Beliau bekerja begitu keras setiap hari untuk menjauhkan kami dari perang. Beliau bilang gelombang kehancuran membuat dunia menjadi gila, dan aku harus ada dirumah untuk melindungi Melromarc."


Dari cara Mel menggambarkan sang ratu, dia tampaknya jauh lebih masuk akal daripada Sampah itu. Itu dia, kalau dia bukanlah dalang dibalik semua ini. Meski begitu, semua ini berdasarkan perkataan dari seorang anak kecil, anak yang mendatangi kami untuk bertarung untuk melindungi Sampah itu.


Kami menyembunyikan para knight yang gak sadarkan diri di hutan terdekat dan dengan penuh kewaspadaan menempuh perjalanan menuju Silvelt.

Catatan Penerjemah[edit]

  1. langsung saja ke [wikipedia bahasa indo]
  2. diwariskan pada garis keturunan perempuan


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya