A Simple Survey (Indonesia):Jilid 1 File15

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

File 15: Lebih Baik Daripada Yang Asli[edit]

Seorang gadis dengan muka seperti anak kecil dan dada besar berlutut di suatu halaman di belakang sebuah stasiun televisi. Dia sedang mengaduk sesuatu di dalam panci yang diletakkan di atas kompor portabel, tapi ia tidak sedang memasak kari untuk acara berkemah.

“Bos, apa kau tidak merasa seperti membuang-buang makanan ketika kau memasak saos tomat seperti ini? Dan bahkan ada mizuame[1] juga di dalamnya.”

“Dua puluh persen uang yang diperoleh dari acara kita selalu diberikan kepada Palang Merah. Orang-orang yang hanya menyumbangkan uang receh di kotak yang ada di minimarket tak punya hak untuk mengkritik kita. ....Sial, baunya parah sekali. Cat tidak seharusnya dimasak di atas panci.”

Karena bau inilah, kami harus membuat properti ini diluar, tidak di dalam gudang. Properti ini adalah rahasia perusahaan. Aku harap tidak ada yang menirunya ketika kami membuatnya di tempat terbuka.

Si gadis baru (dengan dada besar) mengaduk isi panci itu seakan-akan ia sedang memasak semur daging.

“Bos, kenapa kita tidak membeli darah palsu dari perusahaan lain saja?”

“Tidak. Darah palsu yang biasa kurang bagus. Warnanya terlalu lemah.”

“Terlalu lemah?”

Si gadis baru memiringkan kepalanya meskipun tak ada kamera yang sedang merekam. Aku lalu menjelaskan padanya dengan jelas.

“Drama televisi harus benar-benar mencolok, benar? Coba lihat riasan para aktor, kostumnya, serta latar tempatnya. Warna-warna yang dipakai juga harus lebih mencolok daripada aslinya karena sinar lampu yang sangat cerah akan meneranginya. Kita tak bisa menggunakan darah yang warnanya biasa saja. Kalau kita menggunakan darah yang asli, justru akan nampak tidak asli di layar.”

“Oh, jadi warnanya harus lebih terang dari darah yang asli?”

“...Kau mencampurkan bahan-bahannya tanpa tahu kenapa?” aku mendesah panjang. “Setelah kau mendapatkan warna dasarnya, campurkan warna hitam, sedikit demi sedikit.”

“Kenapa? Kupikir warnanya harus lebih terang?”

“Ada beberapa warna yang dipakai tergantung seberapa lama darah itu keluar. Darah yang asli, warnanya berubah terhadap waktu, tapi darah palsu tidak. Itu berarti kita harus membuat beberapa jenis warna darah palsu untuk menunjukkan waktu pengerasannya.”

“Repot sekali.”

“Dan bahkan meskipun repot sekali membuatnya, sekarang darah palsu sudah tidak begitu banyak digunakan. Sekarang semakin sedikit orang yang tahu bagaimana membuat darah palsu. Dan itulah kenapa seseorang dengan gelar yang panjang di kartu namanya seperti aku harus bekerja membuat darah palsu.”

“Kalau dipikir-pikir, revisi dari undang-undang penyiaran membuat adegan-adegan yang berdarah semakin sedikit.”

“Turunnya popularitas drama sejarah dan drama polisi adalah faktor lainnya.”

“Tapi masih ada drama polisi kok.” Gadis itu membuat pistol dari tangan yang tidak ia pakai untuk mengaduk dan berkata, “Dor.”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Tapi mereka tak punya adegan tembak-tembakan atau semacamnya. Tak salah juga, ketika semuanya harus diselesaikan dengan adegan tembak-tembakan, maka akhirnya akan lebih mudah ditebak. Sedangkan drama-drama forensik selalu membuktikan bahwa mereka bisa menangkap penjahatnya dari bukti-bukti yang sangat kecil, tapi aku selalu tak paham kenapa tidak ada noda darah sama sekali disana.”

“Bagaimana dengan drama kedokteran? Adegan operasi seharusnya menggunakan darah, namun tanpa kekerasan.”

Si gadis berdada besar mencoba meniru gerakan dokter yang sedang mengoperasi, tapi yang kulihat dia justru seperti sedang memotong-motong daging dengan pisau dan garpu.

“Drama-drama seperti itu selalu lebih mementingkan drama yang terjadi antar karakter yang berujung pada operasi, jadi adegan operasinya sendiri tidak begitu penting. Mereka cukup menampilkan wajah si dokter yang berkeringat.”

“Itu karena operasi aslinya menghabiskan waktu berjam-jam. Gerakan dokternya sangat sedikit, jadi sulit sekali untuk membuat bagian itu menarik untuk penonton.”

“Ya, jadi mereka hanya perlu memainkan musik latar secara acak dan menampilkan anggota keluarga yang berdoa untuk keselamatan pasien yang dioperasi. Mereka cukup menggunakan sprayer untuk memberikan efek keringat di muka.”

Kucoba untuk menyendok isi panci itu untuk mengecek warna darah palsunya.

...Tidak begitu bagus.

“Daripada menambahkan cat hitam, sepertinya lebih baik kita biarkan darah palsu ini gosong sedikit demi sedikit.”

“Saya pikir cara seperti itu akan membuatnya lebih sulit dibuat ketika kita membutuhkan darah palsu dalam jumlah banyak.”

“Sesuatu yang gelap...gelap... Gula jawa, mungkin?”

“Kalau saja kita tak menambahkan cat, kau bisa saja memakan darah palsu itu.”

“Tapi memakai cat memang cara yang paling mudah, sih.”

Bekerja di industri penyiaran memang kedengarannya keren, tapi yang dilakukan sebenarnya juga hal-hal yang seperti ini.

“Omong-omong, anak baru. Apa kau mencatat apa saja dan berapa banyak yang kau masukkan ke panci?”

“Yap. Aku ingin membuat buku resep untuk membuat darah palsu. Aku tak ingin harus terus-menerus menebak-nebak setiap kali membuat darah palsu.”

Si gadis baru menunjukkan buku memo yang tergeletak di aspal yang menjadi jalur pejalan kaki di halaman ini. Di halaman buku memo itu ada gambar beruang, ayam, dan binatang-binatang maskot lainnya, jadi sepertinya akan sulit dipakai. Sekilas hidungku mencium bau manis, tapi aku tak yakin bau itu datang dari darah palsu di panci atau dari gadis berdada besar itu sendiri.

“Omong-omong, bos, darah ini akan dipakai untuk acara apa?”

“Acara hiburan.”

“...Di acara semacam itu, sepertinya orang tak akan marah kalau akan ada sedikit darah.”

“Seorang mantan pegulat akan datang sebagai bintang tamu. Kita akan menghajarnya dengan kontainer 18 liter dan membuatnya ‘berdarah’.”

“Dan itu bukan pura-pura?!”

“Di layar televisi akan ada tulisan bahwa semua ini hanya buatan, tapi si mantan pegulat sendiri tidak akan tahu. Seberapa serius reaksinya akan membuat penonton tertawa.”

“Ohh.” Si gadis baru terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. “Jadi anda mendapatkan rating dengan mengacaukan seseorang?”

“Dia sendiri yang menyerah dari dunia gulat, dan sekarang dia sendiri yang memohon-mohon minta dibayar untuk tampil di acara TV. Kita harus mempermalukannya sedikit.”

“Tapi, bos.”

“Apa?”

“Anda membuat jauh lebih banyak darah palsu ketika dulu anda masih baru disini, bukan?”

“Ya, drama polisi pada jamanku dulu benar-benar berbeda. Kita menggunakan begitu banyak darah palsu sampai-sampai si aktor nyaris tenggelam.”

“Kalau begitu bukannya seharusnya anda sudah hapal di luar kepala bagaimana membuat darah palsu yang paling baik?”

“Aku tahu. Atau, dulu aku tahu. Harus menggunakan kata dulu disini.”

“Kenapa kita tidak menggunakannya? Oh, atau jangan-jangan ada masalah dengan paten atau stasiun TV?”

“Tidak. Catatan mengenai bagaimana cara membuat darah palsu itu hilang.”

“Bagaimana bisa begitu?”

“Ketika aku baru disini, stasiun TV ini selalu membuat darah palsu sendiri. Alasan lain kami melakukannya adalah karena dengan membuat sendiri, biayanya lebih murah daripada membeli dari perusahaan lain. Omong-omong, tahukah kau acara apa yang menggunakan darah palsu paling banyak?”

“Sejenis drama polisi legendaris? Drama sejarah seharusnya tidak begitu banyak menggunakan darah palsu karena tidak begitu banyak adegan pembantaian.”

“Bukan keduanya.”

Tiba-tiba aku ingin merokok.

Mungkin karena aku diingatkan dengan masa lalu.

Atau mungkin aku ingin sesuatu untuk menenangkan pikiranku karena aku harus menceritakan masa itu.

“Acara penelitian kriptid [2].”

“Eh? Apa itu?”

“Kupikir kau tidak akan tahu kalau kau lahir di masa Heisei[3]. Pada acara-acara semacam itu biasanya para kru akan pergi ke luar negeri untuk mencari monster misterius yang dikenal sebagai Bigfoot. Biasanya, acara-acara semacam itu isinya hanya tipuan belaka. Namun, hal-hal semacam itu sudah dilarang oleh undang-undang penyiaran, jadi acara-acara itu sudah ditiadakan.”

“Lalu untuk apa darah palsu di acara semacam itu? Apakah para kru pura-pura diserang oleh monster yang tak dikenal?”

Si gadis berdada besar meniru suara geraman dan meengangkat lengannya, seperti monster. Namun tangannya masih memegang sendok sayur yang digunakan untuk mengaduk darah palsu, muncratlah darah palsu itu.

“Ahh! Bodoh! Ini jasku!!”

“Harganya 30 ribu yen[4] sepasang, kan? Bahkan itu sudah termasuk dengan bawahan dan dasi.”

“Kalau kau pikir jumlah sebesar itu kecil, ganti jasku ini!!”

“Anda tahu sendiri berapa gajiku per jam, kenapa anda menyuruh saya menggantinya?! Tulis saja sebagai biaya usaha. Toh, rusaknya juga terjadi ketika sedang bekerja! Omong-omong, kembali lagi ke masalah kriptid tadi. Bagaimana darah palsu dipakai di acara itu?”

Jujur saja, “Entahlah.”

Ya.

Dua puluh tahun berlalu, tapi aku masih tak menemukan jawabannya.

“Acara penelitian kriptid adalah suatu program khusus yang disiarkan setiap 6 bulan sekali, jadi mereka meminta banyak sekali darah palsu. Tapi itu saja yang kutahu. Aku tak pernah tahu untuk apa mereka menggunakannya. Di acara yang disiarkan, tidak pernah ada adegan dengan menggunakan darah palsu. Tak ada yang tahu untuk apa darah palsu itu. Yang aku tahu hanya...”

“Hanya...?”

“Ketika acara itu akan dibatalkan, seseorang mengacak-acak gudang stasiun TV, membuang semua cadangan darah palsu kemana-mana. Kuncinya tidak diutak-atik, tapi yang kelihatannya terjadi adalah pintu yang dibuka paksa dengan kekuatan yang sangat besar. Resep untuk membuat darah palsu juga disimpan bersama dengan darah palsu itu sendiri. Resepnya sendiri terendam dalam darah palsu dan sudah tak bisa dibaca lagi. Orang yang membuat resep itu telah mengundurkan diri sebelumnya dan dia lupa berapa pastinya jumlah dari bahan-bahan tertentu yang ditambahkan, jadi kami menyerah begitu saja.”

“Eh? Apa maksudnya ‘dengan kekuatan yang sangat besar’? Apakah menurut anda semua hal itu dilakukan oleh si sutradara?”

“Mungkin saja.” Aku menguap. “Si sutradara yang pergi ke lokasi di luar negeri itu, rumahnya juga diacak-acak dengan cara yang sama, dan ia tak pernah kembali lagi ke rumahnya. Kami juga menerima beberapa panggilan telepon mencurigakan dari luar negeri, tapi kami hanya mendengar suara geraman hewan. Tebakanku adalah bahwa semua ini adalah usaha terakhir untuk meningkatkan minat penonton dan mempertahankan rating acara itu supaya tidak turun lebih jauh.”



Catatan Penerjemah[edit]

  1. Sejenis pemanis yang dibuat dari tepung kanji, memiliki sifat yang sangat kental dan tidak berwarna.
  2. Kriptid adalah hewan-hewan yang keberadaannya belum jelas dan hanya ada di mitos, seperti Loch Ness atau Yeti
  3. Jepang masa kini. Era sebelumnya dikenal sebagai masa Showa (1926-1989).
  4. Sekitar 3,24 juta Rupiah.