Bagian 2: Si Orang yang Tak Seharusnya Hidup

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

“Apa yang terjadi?" Itulah kata-kata Naigrat seusai dia mengobati. "Kenapa kamu bisa jadi begini?"

"Hahaha, yah, sepertinya tubuhku sudah jadi lemah. Sudah lama aku tidak memegang pedang, jadi tubuhku tidak kuat."

"Jangan bercanda. Ini tubuhmu sendiri, kamu seharusnya mengerti betul apa yang terjadi."

Wajah Naigrat serius, dan entah kenapa matanya sedikit merah. Juga, Willem merasa suara dia sedikit seperti mengigil. Tampaknya ia tidak bisa menertawakannya jika begini.

"Kalau boleh aku bilang, kamu ini sudah kacau. Hampir semua tulangnya ada retakan kecil yang tidak sembuh sendiri. Banyak tendon[1] kamu yang tidak bisa pulih setelah lemas. Hampir setengah organ-organ kamu tidak berfungsi dengan baik. Aku yakin aliran darahmu juga juga kacau, meskipun aku tidak mahir dalam memahaminya."

Willem sudah mengira hal-hal ini. Meski ia tidak tahu banyak mengenai hal-hal medis, ia sadar kalau kondisi tubuhnya buruk.

"Dengan luka sebanyak ini di dagingnya, aku yakin gigiku saja sudah cukup untuk memotongnya tanpa perlu pakai pisau..."

Ia berharap tidak dengar itu darinya dengan mimik sedih pada roman Naigrat.

"Terus luka-luka ini bukan dari yang kemarin atau hari ini. Kebanyakan luka-luka lama yang jadi semakin parah. Jadi kamu hidup terus selama ini sambil menyembunyikan semua itu?"

"Yah, aku tidak merahasiakannya."

"Kalau kamu bertingkah seolah baik-baik saja dan tidak buka mulut, ya itu sama saja. Bagaimana bisa kamu berjalan dan bergerak dengan biasa dalam kondisi begini..." Naigrat mendesah. "Luka-luka ini... ini akibat menjadi batu, kan?"

"Lebih tepatnya, ini karena cedera dari pertarungan sebelumnya. Lagipula, ini ajaib juga karena aku masih bisa hidup, jadi aku tidak pantas mengeluh."

"Itu bukan alasan untuk kamu menganggap enteng hidup kamu."

"Mungkin..." Willem tadinya akan mengangkat bahu sebelum merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, jadi ia hanya memasang senyum tipis.

"Jangan memaksakan diri," kata Naigrat saat dia memegang tangannya. jantung Willem sontak berdetak sedikit lebih kencang. "Rasa kamu nanti malah hilang." Ia sudah mengira hal semacam itu darinya.

"Tidak masalah kan kalau aku beritahu anak-anak?"

"Ya, seperti yang aku katakan, aku memang tidak merahasiakannya. Kalau menurutmu memang perlu, ceritakan saja."

“Baiklah, aku pergi sekarang. Kamu tinggal dulu dan istirahat sebentar. Aku yakin kamu sudah tahu, tapi kamu tidak boleh melakukan apa-apa yang bisa memberatkan tubuhmu. Aku bahkan heran kenapa kamu masih bisa hidup."

"Oke. Lagipula aku tidak ingin jadi makan malammu."

"Jangan bercanda. Aku sedang serius."

"Ah... oke."

Naigrat tampak sangat marah, padahal baru saja dia berkata tentang rasanya belum lama tadi. Willem merasa ini agak irasional, namun memilih untuk tidak menggodanya lagi. Ia tahu kalau ini adalah yang terbaik bagi mereka, apalagi ia tahu kalau membalas rasa pedulinya Naigrat dengan candaan bukanlah hal yang sopan.

Dia memilih ruang makan sebagai tempat yang paling pas untuk melakukan pertemuan. Dengan mata dari sekitar dua puluh gadis peri terfokus padanya, Naigrat mendesah.

"Melihatku dengan begitu tidak akan membuat apa yang akan aku katakan jadi menarik..."

"Kami yang akan menilai. Sekarang, kami ingin dengar kebenarannya, terserah menarik atau tidak," kata Aiseia, yang lain pun mengikuti dengan anggukan.

Sadar tidak akan bisa menolak, Naigrat memilih menghela nafas dan mulai menjawab.

"Waktu itu masih musim semi tahun kemarin, sebelum aku dikirim kemari. Aku diutus untuk membantu grup pemburu dari Perusahaan Perdagangan Orlandri.

"Pemburu!"

Berbinar mata beberapa peri karena kekaguman. Bagi mereka pemburu adalah pahlawan yang berani membahayakan diri demi mengejar harta dan cinta, mereka cukup populer di kalangan anak-anak Regul Aire. Yah, biasanya anak laki-laki, tapi...

"Grup pemburu ini biasanya tidak begitu beruntung. Mereka berkali-kali turun ke tanah bawah, tapi tidak pernah sampai mendapat keuntungan besar. Hari itu pun sama. Kami baru saja akan kembali dengan tangan kosong, sampai salah satu anggota salah melangkah dan jatuh ke dalam tanah. Di sana, ia temukan danau bawah tanah beku yang besar. Dan yang tenggelam di dasar danau itu adalah patung batu dari lelaki muda yang tidak bertanda."

"Sama seperti Peti Es!" Salah satu anak meneriakkan judul salah satu kisah dongeng.

"Tapi yang di dalam bukan ratu, melainkan patung. Salah satu rekanku yang bisa melihat sihir memastikan kalau itu bukan patung biasa, tapi manusia sungguhan yang berubah jadi batu karena kutukan. Jadi, tentu, kami tidak bisa meninggalkannya begitu saja.

Butuh waktu dan usaha, tapi akhirnya kami berhasil menghancurkan es yang mengelilingi patung itu dan membawanya ke pulau. Setelah sekitar sebulan di rumah sakit, batu ini mulai lepas dari tubuh laki-laki ini dan ia pun bangun.

Awalnya agak susah. Ia langsung ketakutan ketika melihat Borgle atau Orc, dan ia sama sekali tidak mengerti bahasa kita. Akhirnya kami berhasil bicara, setelah memakai jasa penerjemah khusus dari Perusaan Perdagangan.

Dan pada saat itulah kami tahu. Ia Emnetwyte yang sesungguhnya. Prajurit terakhir yang mengubah setiap ras lain di tanah bawah menjadi musuhnya. Kami tidak tahu kenapa, tapi yang pasti ia sudah tidur di dasar danau beku itu untuk ratusan tahun..."

“Ia sudah di bawah sana untuk waktu lama, tapi tidak pernah dimakan oleh Makhluk Buas?"

"Mungkin karena ia jadi batu. Aku rasa itu yang membuatnya beruntung saat itu."

Kemudian, mereka menemukan cara untuk mengatasi masalah bahasa dengan mudahnya. Di samping es yang membungkusnya, ada banyak Talisman yang memberikan penggunanya kemampuan untuk mengerti setiap bahasa. Dengan itu, si pemuda menceritakan semua dan mulai mengerti kenyataan yang ia hadapi sekarang. Naigrat tidak akan pernah bisa melupakan wajah putus asa atau ratapan derita pemuda itu.

Emnetwyte terakhir. Naigrat dan rekannya memutuskan untuk merahasiakan identitasnya seperti yang ia minta. Dia tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya. Ia jadi hidup di Pulau ke-28, meskipun di sana sangat tidak ramah terhadap yang tak bertanda, ia terus bekerja non-stop untuk membayar setiap utang-utangnya. Dia hanya dengar semua itu dari seorang pemburu.

Setelah itu... ia datang kemari. Dalam kurun waktu enam bulan sejak kedatangannya, ia telah tumbuh lebih tinggi, mulai lebih sering tertawa, dan menunjukkan kebaikan-kebaikan pada anak-anak. Namun perasaan gelap dan muram masih ada dalam matanya, yang belum berubah dari saat itu.

"Hanya itu yang aku tahu."

Naigrat telah mencoba mengatakan sebisanya dengan tetap membiarkan mereka berpendapat sendiri. anak-anak itu saling menatap satu sama lain dan berbisik-bisikkan.

"Aku tidak bisa cerita apa-apa lagi. Tapi aku minta satu hal. Mungkin sulit, tapi aku tidak mau ada yang takut padanya atau menganggapnya asing. Itu saja."

Setelah selesai, Naigrat meninggalkan kafeteria. Saat dia jalan di lorong, dia mengira-ngira, apakah dia melakukan kesalahan atau tidak. Emnetwyte adalah ras yang dibenci. Meskipun Willem mungkin tidak ada hubungannya secara langsung, mereka tetaplah jadi yang melepas ke-17 Makhluk Buas, membawa kehancuran pada dunia.

Dia tidak merasa anak-anak akan bersikap sama juga seperti masyarakat lainnya, tapi mungkin reaksi mereka pun akan tetap sama. Itu karena, mereka ada untuk dijadikan senjata yang bisa dipakai kembali hanya untuk melawan Makhluk Buas. Emnetwyte bisa dikatakan yang menjadi biang yang menciptakan takdir ini. Walau begitu, jika mungkin, dia berharap anak-anak tidak akan menolak Willem.

Ia tidak pantas di dunia ini. Jadi dia tidak ingin ia hancur di sini; di tempat yang mungkin jadi satu-satunya wadah untuk ia tersenyum. Willem sendiri tidak begitu peduli, karena ia ingin mencari tahu kenyataan para peri dan bahkan memberi mereka petunjuk mengenai masa lalunya. Tetapi, dia masih belum menyerah pada keinginannya. Mungkin ini egois, tapi dia ingin agar anak-anak tetap di sisi Willem, sama seperti enam bulan ini.

Tiba-tiba saja dia berhenti berjalan. Perasaan tidak enak menjalar ke belakang lehernya. Tidak. Jangan sekarang. Jangan begini, pikirnya. Namun di saat yang sama, dia bisa melihat kalau itu terjadi. Mereka akan melakukan itu. Cepat-cepat dia berbalik dan berlari ke klinik. Baru saja dia akan berbelok...

"Willem! Kami dengar semua tentangmu!"

"Emnetwyte mirip dengan kita, ya!"

"Sangat menarik. Tolong ceritakan lagi mengenai generasiku."

"Um... Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi... cepat sembuh, ya!"

Peri-peri memenuhi klinik, mengganggu Willem yang lemah terbaring di kasur dengan luka serius hingga hampir mati, dengan suara mereka yang keras dan penuh enerji.

"..."

Naigrat terpaku di depan pintu dan terkejut untuk sekitar sepuluh detik, kemudian ditambah lagi lima detik karena hal bodoh yang dia pikirkan beberapa menit lalu. Dia harusnya sudah mengira hal ini, tapi kenapa dia perlu khawatir sekali? Dia menenangkan diri selama tujuh detik dengan menghela nafas panjang.

"Kalian..."

Anak-anak berhenti berkicau setelah dengar suara Naigrat dan perlahan menggerakkan leher mereka untuk menghadap pintu.

"Ia pasti sangat lelah sekarang dan butuh istirahat, jadi tolong kecilkan suaranya. Kalian tahu kan..." Naigrat dengan perlahan mengeluarkan senyum lebar. "Apa jadinya anak nakal yang tidak mau dengar?"

Dalam sepuluh detik, anak-anak langsung bertebaran keluar dan lari di lorong.

"Ohh, bisa berhasil, ya" kata Aiseia yang mendekat dari belakang.

"Kalau kamu akan keras-keras juga, aku akan kejar kamu juga, lho."

"Hahaha, tidak akan, kok," jawab Aiseia dengan tawa, kemudian ekspresinya berubah ambigu. Entah ini wajah canda atau serius, Naigrat tidak tahu. "Tapi, aku ingin konfirmasi sedikit sama si Tuan yang Hampir Mati ini. Boleh?"

"... ingin tanya apa?"

Sebelum Naigrat berkata-kata, Willem sendiri sudah menjawabnya. Sudah begini, dia tidak bisa ikut campur. Aiseia bergerak masuk dengan senyumnya yang biasa dan mengambil kursi untuk duduk di samping kasur.

"Pertama, hanya memastikan. Kamu ini Emnetwyte, kan?"

“Mhm, aku rasa mereka disebut begitu baru kali ini. Waktu aku masih di bawah sana, kami tidak punya nama khusus untuk kami sendiri. 'Orang' saja sudah mengarah pada kami, dan ras lain sama saja monster bagi kami."

"Kurang ajar banget, ya?"

"Yah, memang... jadi, apa yang ingin kau tanya?"

Senyum Aiseia berubah jadi serius, kemudian dengan suara pelan, dia bertanya, "Kenapa seorang Emnetwyte begitu peduli pada kami? Aku senang sama yang kamu lakukan, Pak Teknisi Senjata Terkutuk. Tapi setelah kami tahu siapa kamu, aku tidak mengerti kenapa kamu berjuang begitu. Seperti kamu bertarung dengan Kutori dengan tubuh yang sudah bobrok begitu. Kamu tahu kamu membahayakan nyawa, kan? Sampai sejauh itu tanpa ada alasannya... itu terlalu aneh, kan?"

"Baik pada perempuan itu wajar."

"... itu saja?" Wajah Aisesia sedikit lebih cerah dari sebelumnya dan sekarang menggaruk pipi.

"Yah, aku rasa pakar-pakar biologis juga berkata lelaki baik pada wanita itu sudah jadi standar."

Ras Leprechaun tidak memiliki laki-laki, setidaknya sampai saat ini belum pernah ada. Karena mereka berkembang biak secara alami, muncul, dan bukan bereproduksi dengan lawan jenis, tidak adanya laki-laki tidak mempengaruhi kelangsungan hidup ras mereka. Tapi, karena mereka tidak pernah merasakan adanya perbedaan gender, Aiseia mungkin tidak mengerti apa yang Willem maksudkan.

"Hmm, oh. Kau suka kucing?

“Ahh… suka, seperti yang lain."

"Apa kau jadi seperti mau melindunginya waktu lihat itu?"

"Aku rasa... sama seperti yang lain."

"Ya intinya sama saja seperti itu."

"Aku belum paham..."

Willem berpikir untuk sesaat.

"Aku dengar ini sudah sejak lama. Semua yang tampak imut tidak tiba-tiba ada. Semua itu didapat karena insting atau kebutuhan mereka untuk dilindungi dan dicintai. Itu kenapa anak-anak selalu imut, entah mereka manusia atau hewan. Mereka sangat ingin diurus... atau semacam itu."

"... jadi maksudnya kami ini begitu juga?"

"Kalau wujud asli kalian ini hanya 'ruh', maka ruh ini bentuknya bisa berubah-ubah sesukanya, kan? Tapi ruh ini malah mengambil bentuk seperti anak-anak perempuan. Mengerti, kan?"

"Jadi ras kami ini kayak bayi-bayi yang inginnya dimanja terus... kalau kamu memang sukanya sama anak kecil, aku rasa itu wajar."

"Tidak, lah!"

Keduanya tertawa lepas.

Melihat mereka, Naigrat mulai merasa sedikit berlebihan karena khawatir tadi. Pada akhirnya, baik Willem maupun para peri tidak memikirkan semua ini dengan terlalu berlebihan seperti yang dia bayangkan. Mereka semua hanya mengikuti pertimbangan atau insting mereka sendiri. Atau, dengan kata lain, mereka ini sekumpulan orang bodoh. Dan tentunya, mereka bodoh karena mereka tidak bisa tumbuh bijak dengan mudahnya. Mereka bodoh karena mereka bisa terus tertawa dengan bebas.

Ahh... aku sayang kalian semua. Setiap kali Naigrat mengatakannya dengan keras, orang-orang biasanya langsung kelihatan takut, jadi dia hanya bisa meneriakkan hal itu dalam hatinya.








Catatan Penerjemah[edit]

  1. Urat keras yang menghubungkan otot dengan tulang.



Bagian 1: Hari di Masa Lalu Halaman Utama Bagian 3: Si Peri Hilang dan Si Kadal Terbang