Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid13 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4 - Kota Beku[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah berangkat dari Akademi pagi ini, beberapa jam telah berlalu. Menunggangi kuda di sepanjang jalan, Kamito dan Rinslet akhirnya tiba di sebuah tempat yang disebut «Kota Beku». Dari sini, Pegunungan Kyria bisa terlihat di kejauhan.

Mencapai kampung halaman Rinslet memerlukan melintasi Pegunungan Kyria yang terjal, menjulang di depan mata mereka. Meskipun ketinggiannya lebih rendah daripada Pegunungan Colbresse dari Dracunia, Pegunungan Kyria sebenarnya yang paling berbahaya di benua. Di hutan konifer yang luas tumbuh di pegunungan, disana hidup banyak binatang sihir yang buas.

Meskipun ada jalan gunung yang disiapkan, mereka tidak mungkin untuk digunakan dalam kondisi bersalju saat ini. Sebagian besar pedagang bepergian bolak-balik antara Laurenfrost dan ibukota kekaisaran akan mengambil rute panjang mengelilingi gunung dengan pergi selatan.

(...Yah, bagi kami, itu akan memakan waktu terlalu lama.)

Menunggangi kuda, Kamito mendesah, menghembuskan napas kabut putih.

Jika mereka mengambil rute panjang mengelilingi gunung, itu adalah tebakan siapapun kapan mereka akan tiba di «Forest of Ice Blossom». Dalam upaya untuk sampai kesana secepat mungkin, melintasi Pegunungan Kyria secara langsung adalah satu-satunya pilihan.

Selain itu, matahari secara bertahap berada di barat sekarang. Setelah memacu untuk satu hari, kuda-kuda tersebut hampir di batas mereka. Jika dia tidak menerima «Perlindungan Angin» dari Ellis sebelum berangkat, mereka mungkin tidak akan berhasil sampai ke kota ini hari ini.

"Tapi ngomong-ngomong, perubahan pemandangan di sini benar-benar sangat dramatis—"

Mencapai gerbang kota, Kamito tidak bisa tidak berseru dengan emosi sepenuh hati. Jalan-jalan dan tembok kota semua seputih salju.

"Setelah melewati gerbang kota ini, kamu pada dasarnya memasuki wilayah Laurenfrost."

Rinslet dengan anggun turun dan menunjukkan lambang keluarga Laurenfrost pada penjaga—Lambang dari serigala raksasa. Penjaga itu langsung panik dan buru-buru mengantar mereka berdua ke kota.

Meninggalkan kuda di kandang di pintu masuk kota, Kamito dan Rinslet memasuki kota. Begitu mereka melangkah masuk, «Perlindungan Angin» yang diterapkan pada para penjelajah telah menghilang, menyebabkan medan angin disekitar mereka berdua menghilang. Setelah dilindungi oleh sebuah kota, mereka tidak lagi dianggap penjelajah.

"Dingin, itu begitu dingin... Aku kira kita akan lebih baik cepat-cepat dan menemukan tempat untuk tinggal."

"Lalu bagaimana kalau kita menuju kesana untuk mendapatkan beberapa makanan panas terlebih dulu?"

Jari Rinslet menunjuk pada sebuah kedai di mana tanda "The Sunny Fox" menggantung.

Bagian 2[edit]

Mengabaikan pelanggan lain di kedai tersebut, Rinslet berjalan lurus ke bar.

Rambut panjang pirang platinumnya yang menyilaukan menarik setiap pasang mata di kedai.

(...Oh yah, itu suatu pemandangan yang diharapkan.)

Kamito merasa sedikit tak berdaya di dalam. Meskipun itu tidak berarti bahwa pelanggan kedai berperilaku buruk, dalam hal akal sehat, ini benar-benar bukan sebuah pendirian wanita keturunan bangsawan biasanya akan mengunjungi.

Tapi Rinslet tidak keberatan sama sekali, berjalan langsung ke konter.

"Segelas minuman keras menghangatkan, yang terbaik yang Anda miliki."

"N-Nona bangsawan... Yang terbaik yang kami miliki adalah hanya vintage sepuluh tahun dari Abachan..."

"Tidak masalah. Juga, bawakan beberapa makanan sederhana."

"Umm, aku sama juga—"

Kamito duduk di samping Rinslet.

"Katakanlah, Rinslet, kamu benar-benar minum?"

Minuman beralkohol pada dasarnya dilarang di Akademi Roh Areishia, dengan hanya pengecualian ketika princess maiden memberikan persembahan tarian kagura.

"Penduduk Laurenfrost sering minum minuman keras hangat untuk tetap hangat. Satu tegukan kecil sudah cukup untuk menghangatkan seluruh tubuhmu... Jadi, bagaimana dengan kamu, Kamito-san?"

"Dalam kasusku, aku hanya bisa minum sedikit."

Kamito menjawab ambigu. Dia benar-benar tidak seburuk itu pada menahan alkoholnya, tapi itu hanya selama mantan hari-harinya bekerja di bawah Greyworth, dipaksa untuk menjadi teman minumnya setiap malam telah meninggalkan dia dengan trauma mental yang cukup besar, sehingga mencegah dia dari menikmati minum dalam perasaan aktif lagi. Itu adalah kebenaran yang sebenarnya.

Dua gelas ditempatkan di konter, diisi dengan minuman keras menghangatkan. Sebuah wewangian manis dari jahe mentah dan buah citrous tercium. Mengambil sesapan ringan, Kamito langsung merasakan sebuah sensasi terbakar ke tenggorokannya.

"...Minuman keras ini benar-benar bekerja efek yang besar."

Dia bisa merasakan aliran hangat menyebar bertahap dalam tubuhnya.

"Ya, ini adalah minuman yang sangat diperlukan untuk musim dingin Laurenfrost."

Dengan elegan menikmati minuman keras tersebut, Rinslet menjadi sedikit merah di pipi. Di bawah pencahayaan redup, pemandangan ini hampir membuat Kamito kehilangan kontrol.

(...A-Ada apa dengan debaran gila pada jantungku ini?)

Kamito dengan panik menjauhkan matanya dari profil gadis itu.

"Oh benar, ada beberapa hal yang aku ingin tanyakan—"

Rinslet meletakkan gelas anggurnya dan berbicara.

Bukan pada Kamito tetapi pada barkeep yang berdiri di dalam bar.

"Apakah badai salju besar ini bertahan selama ini?"

(...Aku mengerti.)

Kamito menyadari tujuan Rinslet memilih untuk duduk di konter. Sebelum memasuki Pegunungan Kyria, mereka setidaknya harus mengumpulkan beberapa informasi yang berguna dari penduduk setempat.

"Ya, nona bangsawan. Meskipun tidak setiap hari, cuaca sudah seperti ini selama dua minggu terakhir. Setelah tim perwakilan Kekaisaran memenangkan «Blade Dance», Kami awalnya berharap untuk iklim di sini untuk menjadi lebih ringan..."

Mendengar keluh kesah barkeep itu, Kamito tiba-tiba punya sebuah pikiran yang terjadi padanya.

(...Oh yah, itu harusnya baik-baik saja.)

Penonton «Blade Dance» kebanyakan bangsawan dari berbagai negara di benua. Kesampingkan nama «Tim Scarlet», orang biasa mungkin tidak akan tahu wajah Kamito dan rekan setimnya.

"Sejak badai salju dimulai, apa ada yang memasuki Pegunungan Kyria?"

Ini adalah pertanyaan Kamito.

"Itu tidak mungkin. Mencoba untuk melintasi pegunungan sama saja bunuh diri. Juga—"

Barkeep menurunkan suaranya tiba-tiba.

"Ini bukan hanya karena badai salju. Rumor mengatakan bahwa monster telah muncul."

"...Monster?"

Kamito dan Rinslet bertukar pandang.

"Baru-baru ini, orang telah melihat «Ice Dragon» terbang di udara dekat pegunungan. Rumor-rumor memenuhi kota sekarang."

"Naga es?"

"naga es dari Laurenfrost sudah punah. Mungkinkah ada kesalahan?"

Rinslet ragu-ragu.

Kekaisaran Ordesia adalah rumah bagi naga yang kuat, tapi itu ada di sisi timur perbatasan Dracunia. Mereka tidak seharusnya terbang menuju ke tempat seperti Laurenfrost.

"Memang. Itu sebabnya ada juga banyak warga kota mengatakan ini mungkin peringatan tanda-tanda kebangkitan «Zirnitra». Karena «Ice Dragon» adalah pelayan dari roh penjaga ini."

"Aku tidak tertarik pada rumor konyol seperti itu."

Rinslet sedikit kecewa.

"Ini hanyalah rumor bagaimanapun juga, nona bangsawan. Aku tidak tahu apa situasi sebenarnya. Satu-satunya hal yang aku yakin adalah bahwa memasuki pegunungan sekarang akan bunuh diri."

Barkeep itu menggeleng.

(...Monster di pegunungan salju, huh.)

Meninggalkan keduanya pada percakapan mereka, Kamito jatuh ke dalam pemikiran yang mendalam.

Naga memang ras yang kuat tetapi bagi Kamito sekarang, mereka tidak lebih dari pakan ternak. Dalam kenyataannya, Kamito sudah mengalahkan monster dan roh lebih kuat daripada naga pada berbagai kesempatan.

(...Tapi di pegunungan dimana itu sulit untuk berjalan di salju...)

Jika mereka diserang di tebing, bertarung sekaligus melindungi Rinslet—

"Pokoknya, akan lebih baik untuk beristirahat di kota ini untuk saat ini."

"...Ya. Mari kita berangkat setelah fajar."

Mendaki gunung yang tertutup salju di malam hari cukup tidak bijaksana. Selain itu, tubuh mereka saat ini cukup lelah juga.

Makan malam yang disediakan oleh kedai terdiri dari sup lobak kacang-kacangan, roti hitam dan salmon asap goreng dengan buah kering.

Rasanya tidak buruk meskipun makanan yang sederhana. Untuk perut Kamito yang kosong, tidak ada makanan yang lebih baik dari ini.

Sambil minum minuman keras hangat, mereka berdua menikmati makan malam dengan kepuasan besar.

Masalahnya adalah apa yang terjadi setelahnya...

Bagian 3[edit]

"...Tidak ada kamar kosong lainnya?"

"Ya. Karena salju lebat, banyak penjelajah tidak dapat melanjutkan dan tinggal di «Frost Town» ini."

Pemilik penginapan menggeleng sangat meminta maaf.

...Satu-satunya kamar yang tersisa adalah sebuah kamar tunggal.

Juga, itu adalah ruang yang digunakan untuk penyimpanan karena itu biasanya kosong.

Ruangan semacam itu mungkin di luar apa yang Rinslet bisa mentolerir.

"...apa boleh buat, mari kita pergi memeriksa tempat-tempat lain."

"Aku pikir tempat-tempat lain pasti penuh juga. Aku pernah mendengar bahwa banyak orang yang tidur di kandang."

"Kandang... Bukankah mereka takut menjadi beku sampai mati?"

"Masih jauh lebih baik daripada tidur di jalanan, kan? Bagaimana? Aku akan memberikan diskon untuk ruangan tersebut."

Kamito berpaling ke Rinslet.

Tersipu merah, Rinslet bergumam sesuatu yang tak terdengar.

"...~b-berpelukan dalam sebuah ruangan bersama-sama, h-hal semacam itu..."

"...Hei Rinslet—"

"Y-Ya!"

Rinslet membuat suara aneh.

"Penguasa kota ini harusnya pengikut Laurenfrost, kan? Jika kamu mengumumkan statusmu, Rinslet, kamu seharusnya mampu untuk mendapatkan kita akomodasi untuk semalam."

Kamito membuat saran yang sangat praktis, tapi—

"Itu mungkin memang, namun..."

Rinslet ragu-ragu dan menggeleng.

"Meskipun aku seorang bangsawan, aku tidak pernah mengandalkan statusku untuk melakukan sesuatu."

"...Oh, aku mengerti."

....Benar. Sebagai seorang wanita muda bangsawan lebih terlindung daripada rata-rata orang, harga dirinya pasti tidak akan membiarkan dia meminta orang lain untuk membantu dengan mengandalkan status keluarganya.

Seolah-olah siap dengan tekad, Rinslet menatap lurus pada pemilik penginapan tersebut.

"Tidak masalah. Bawa kami ke ruangan itu."

"...Rinslet?"

"T-Tidak masalah. Bahkan jika itu berarti berbagi kamar dengan kamu, Kamito-san, aku tidak keberatan sama sekali. Bukankah kamu tidur di kamar Claire selama ini, Kamito-san?"

"Itu benar tapi masih..."

"A-Atau maksudmu... kamu tidak suka berbagi kamar dengan aku?"

Rinslet memanyunkan bibir cherrynya, sedikit merajuk.

Mata emerald jernihnya menatap Kamito.

"...B-Baiklah, aku mengerti."

Kamito menyerah. Karena Rinslet sudah mengatakan dia tidak keberatan, jika dia masih menolak, dia akan menjadi orang yang tidak sopan.

"Kalau begitu mari kita memesan kamar tersebut. Tolong bawa kami ke sana."

"Oke, silakan datang ke lantai dua."

Dipimpin oleh pemimpin penginapan «The Sunny Fox», mereka berdua menaiki tangga berderit.

Satu-satunya kamar yang tersisa sudah pasti berantakan benda yang disimpan.

Pemilik penginapan menyalakan sebuah lampu. Melihat sekeliling, Kamito dan Rinslet terkejut tak bisa berkata-kata.

"Ini... bahkan lebih... dari yang diduga..."

"Lebih sempit..."

Memang, bahkan kamar tunggal ini terlalu sempit. Sama seperti yang mereka bisa lihat, hanya ada satu tempat tidur sementara meja dan kursi semua memiliki artikel acak ditumpuk di atas mereka. Tempat tidur juga tertutup debu abu-abu. Jelas tempat tersebut tidak dibersihkan selama beberapa hari.

"Maaf semua yang kami miliki adalah ruangan standar ini. Silakan gunakan sesuai keinginan Anda."

Rinslet melangkah ke kamar dengan ragu-ragu.

Berderit suara, debu terbang ke seluruh udara—

"Sebuah tempat untuk mandi... Sepertinya tidak ada."

"Hanya asrama sekolah yang akan memiliki fasilitas kamar mandi yang terpasang di setiap kamar."

Kamito mengangkat bahu. Beberapa bulan sebelumnya, selama hari-harinya mencari Restia, Kamito telah sering tinggal di kamar seperti ini.

"...Apakah tempat ini benar-benar baik-baik saja?"

"T-Tentu saja. Serigala Laurenfrost tidak akan pernah menarik kata-katanya."

Rinslet mengangguk dengan tekad kemudian memulai dengan cepat membersihkan debu di dalam ruangan menggunakan sapu dengan pegangan yang rusak.

...Dalam beberapa saat, kamar tersebut sudah dibersihkan ke keadaan yang layak.

"Wow! Haruskah aku mengatakan ini adalah mengejutkan atau sesuatu? Aku tidak pernah tahu kamu sebagus ini!"

"Hmph, asalkan aku serius, ini sama sekali bukan apa-apa."

Hmph hmph~ Rinslet membusungkan dadanya dengan bangga.

Tempat tidur tersapu bersih dan rapi, sampah berantakan semua ditangani. Menyaksikan keterampilan yang bahkan akan menempatkan maid profesional untuk malu, Kamito hanya bisa menatap dengan takjub.

"Oke, mari kita beristirahat lebih awal untuk besok. T-Tolong cepat kesini."

Menyiapkan seprai, Rinslet kembali menatap Kamito.

"Uh, umm..."

Kamito dengan panik menggeleng. Meskipun ruangan itu sudah dibersihkan, fakta dari satu tempat tidur tidak berubah. Oleh karena itu, Kamito tidak berniat tidur disana, tapi—

"Kamu tidak bisa menjamin pemulihan energi yang cukup kecuali jika kamu tidur dengan benar di tempat tidur."

"Tapi dua orang tidur di satu tempat tidur benar-benar sedikit..."

"Dalam hal ini, aku akan tidur menggunakan Fenrir sebagai kasur."

"...Oke oke, aku mengerti! Aku akan tidur di tempat tidur, jadi tolong jangan lakukan itu!"

Karena Rinslet sudah mengatakan itu, Kamito tidak punya pilihan selain patuh. Tetapi jika fakta tidurnya dengan Rinslet bocor keluar, dia pasti akan dibasmi oleh pengikut Laurenfrost, kan?

(...Atau mungkin, aku hanya berlebihan memikirkan?)

Mengangkat bahu tak berdaya, Kamito berjalan ke tempat tidur.

Namun, Rinslet mencengkeram seprai tanpa bergerak.

"Permisi, Kamito-san?"

"Huh?"

"Aku tidak bisa berganti pakaian saat kamu di sini, Kamito-san!"

"Oh, maaf!"

Kamito dengan panik meninggalkan ruangan.

Kemudian setelah menunggu di pintu untuk sementara waktu—

"Kyah! Ada apa dengan gaun tidur ini?"

Sebuah jeritan kecil terdengar dari dalam ruangan.

"Rinslet?"

"Tidak, bukan apa-apa. Umm... Kamu bisa masuk sekarang."

"Oh, oke..."

Dia tampaknya telah selesai berganti. Kamito mengambil napas dalam-dalam dan membuka pintu.

(...!)

Tapi dia tersentak, otaknya menjadi kosong.

Piyama Rinslet adalah—

Sebuah gaun tidur yang sangat tipis, bordir indah.

(P-Pakaian dalamnya benar-benar terlihat...)

Melalui kain tipis dari gaun tidur itu, model pakaian dalamnya benar-benar jelas untuk dilihat.

Rinslet dengan panik memegang selimut di depan dadanya.

"J-Jangan salah paham! Ini pasti kesalahan Carol... Aku tidak pernah memakai gaun tidur tak tahu malu seperti ini..."

Suara Rinslet tumbuh lebih kecil dan lebih kecil.

...Itu tampak seperti Carol telah membuat kesalahan yang lain lagi.

"A-Aku mengerti..."

Kamito menelan ludah dan perlahan-lahan berjalan ke ruang dibawah suasana yang jauh lebih tegang.

Lampu samping tempat tidur menyinari wajahnya yang terbakar rasa malu.

Kamito perlahan-lahan mendekat. Rinslet begitu malu bahwa dia membenamkan kepalanya dalam selimut.

"...Umm, apa ini benar-benar tidak apa-apa? Tidur bersama-sama..."

"Seorang bangsawan tidak pernah menarik kembali kata-katanya!"

Rinslet berpaling.

Sementara Rinslet berpaling, Kamito dengan cepat melepas seragamnya dan berganti pada piamanya. Menekan kebimbangan dalam hatinya, dia meremas ke seprai.

Tempat tidur dingin dan keras, tidak seperti yang ada di Akademi sama sekali.

"Jadi, bukankah hanya satu selimut akan dingin?"

Berbaring dengan punggung mereka berhadapan satu sama lain, Kamito memadamkan lampu di samping tempat tidur.

"Kita tidak bisa menyia-nyiakan kristal roh api sembarangan."

Rinslet berbisik ringan disamping telinganya.

"Juga, Pegunungan Kyria adalah jauh lebih dingin daripada ini."

"Kamu benar..."

Di bawah selimut, Kamito menggigil kedinginan.

Dalam kegelapan, suara gemerisik gesekan antara pakaian bisa terdengar—

Boing~♪

Menggunakan kedua tangan, Rinslet memeluk Kamito dari belakang.

"R-Rinslet!? Apa yang kamu—"

"S-Seperti ini, itu akan menjadi sedikit lebih hangat."

Rinslet membenamkan wajahnya ke punggung Kamito dan berkata lembut.

"Benar, ini akan lebih baik untuk kehangatan, tapi..."

Dirangkul oleh tangannya, Kamito tidak bisa bergerak sama sekali.

Rambut halus tergesek bagian belakang lehernya... Begitu menggelitik...

(...Situasi ini buruk!)

Ingin mengubah posisi tidur nya, Kamito berbalik sedikit.

Boing~♪

"Ah... Mmm...♪"

"...!"

"K-Kamito-san... Tolong jangan bergerak tiba-tiba, mmm..."

"...Hmm?"

Boing, boing♪

"...Ah, mmmmm..."

Kamito bergerak lagi, menyebabkan suara-suara aneh untuk terdengar.

"Mmm... H-Hah... Serius, Kamito-san, kamu begitu buruk."

Ingin menggeser posisi tidurnya, Kamito merasa bahwa sesuatu telah tertangkap pada pakaiannya.

(Dalam hal ini, aku harus menggunakan gerakan itu...)

Kamito menutup matanya—

Merilekskan seluruh tubuhnya, membuat pikirannya diam seperti air.

"...Kamito-san?"

"Zzz...Zzz..."

...Poke, poke.

"Zzz..."

Tidak ada reaksi bahkan ketika terpukul di pipi. «The Act of Mental Oblivion»—Dilatih sebagai skillset seorang pembunuh, itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan siapapun.

"...Serius, dia sudah tertidur."

Rinslet mengatakan sedikit kecewa.

"...maka aku akan tidur juga."

Merilekskan lengannya sedikit, Rinslet bertahap tertarik ke dalam mimpinya.

(...Itu adalah cara jatuh tertidur terlalu mudah!)

Claire juga tipe orang yang mudah jatuh tertidur. Mungkin semua wanita muda bangsawan seperti ini?

Dan juga karena kelelahan. Tidak peduli apa, mereka harus buru-buru dalam perjalanan mereka pagi berikutnya.

Dalam kasus apapun, Kamito menarik napas lega. Sedikit, dia menggerakkan tubuhnya di bawah selimut.

Mereka masih diperlukan untuk mempercepat ekspedisi mereka besok, bertujuan untuk menyeberangi pegunungan yang dilanda angin dingin dan salju tebal sebelum matahari terbenam.

Menutup matanya, Kamito tidur yang sebenarnya kali ini.

Bagian 4[edit]

"...Segera, aku akan dapat melihat... judia."

Mungkin di tengah-tengah mimpi, kata-kata ini menyelinap keluar dari mulutnya.

(...Judia?)

Kamito terkejut.

Judia Laurenfrost. Dia adalah adik Rinslet yang telah gagal dalam persembahan tarian kagura kepada elemantal lord dan disegel ke dalam kutukan es abadi beberapa tahun yang lalu.

Alasan Rinslet untuk memasuki «Blade Dance» adalah untuk menyelamatkan dia. Tapi pada akhirnya, keinginan ini tidak bisa direalisasikan. Sampai Iseria Seaward mendapatkan kembali kekuatan penuhnya, mematahkan kutukan es tersebut adalah mustahil.

Meskipun suasana angkuhnya di sekolah, pikirannya selalu bersama adiknya yang disegel didalam es.

"Aku pasti... menyelamatkan kamu..."

"... Rinslet."

Kamito menggenggam tangan Rinslet erat-erat.

Bagian 5[edit]

Keesokan paginya, Kamito terbangun sebelum matahari telah benar-benar terbit.

"Gah... Begitu dingin... Tempat ini membeku!"

Membalik selimut, dia menarik napas dari udara dingin.

Saat Kamito peregangan, sebuah suara familiar terdengar dari tempat tidur.

Berbaring di samping Kamito, mengenakan baju tidur, Rinslet masih tertidur. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang rentan dan tanpa penjagaan yang hampir mustahil untuk dilihat secara normal.

Tak sengaja mengingat apa yang terjadi tadi malam, Kamito merasa wajahnya memanas.

Agar tidak membangunkannya, Kamito dengan lembut turun dari tempat tidur dan membuka jendela kecil di sudut ruangan.

Meskipun badai telah berhenti bertiup, salju terus turun. Timbunan salju di pinggir jalan sedang dicairkan oleh roh api yang seseorang telah dipanggil. Meskipun memanggil roh di pinggir jalan tanpa izin dilarang oleh Kekaisaran, apa boleh buat dalam kondisi seperti itu.

(...Tapi tampaknya masih ada badai di sisi itu.)

Kamito melihat keluar pada pegunungan di kejauhan.

Pegunungan tersebut memiliki awan tebal berkumpul di atasnya. Itu tidak mungkin untuk melihat puncaknya dari lokasi dia.

"...Meskipun pria pemilik penginapan menyebutkan kemunculan monster..."

"Kamito, kamu sudah bangun?"

"...Hmm?"

Kamito berbalik pada suara di dalam ruangan tersebut.

STnBD V13 097.jpg

Berdiri di sana adalah peri salju.

"...E-Est, ada apa dengan penampilan itu?"

Kamito hanya bisa melebarkan matanya.

Est mengenakan jaket musim dingin besar dengan sarung tangan tebal di tangannya dan topi bulu halus silinder. Sangat manis.

"Ini adalah perlengkapan musim dingin standar untuk penduduk setempat. Aku menyihir itu dengan menggunakan pejalan kaki di jalanan untuk referensi."

Est menjawab sambil berputar tanpa ekspresi.

Rambut putih-peraknya yang panjang, mengkilap semenyilaukan salju di bawah sinar matahari.

"Kamito, bagaimana menurutmu?"

"O-Oh. Itu sangat manis."

Kamito mengungkapkan perasaan jujurnya.

(...Roh-roh tidak seharusnya merasa dingin, kan?)

Kamito mengatakan dalam hatinya. Oh yah, terserahlah, itu manis lagipula.

Saat dia mengatakan itu, Est berputar lagi—

"Bagaimana?"

"Ya! Itu sangat manis!"

"Aku sangat senang, Kamito."

Est berputar lagi dan lagi.

...Berputar, berputar.

...Berputar, berputar.

"Uwah, Kamito. Mataku mulai berputar—"

"Hei, kamu baik-baik saja?"

"...Kalian berdua, apa sebenarnya yang kalian lakukan?"

Bangun, Rinslet memiringkan kepalanya dengan bingung.

Bagian 6[edit]

Saat kelompok Kamito hendak berangkat menuju Pegunungan Kyria—

Claire telah kembali ke Akademi dari tanah Elstein.

"...Jika itu Kamito, dia harusnya baik-baik saja tanpa aku di sisinya, kan?"

Menyenandungkan lagu dalam suasana hati yang baik, Claire berjalan menuju ruang kelas dari kelas Raven.

Dia membawa sebuah kotak yang berisi ciri khas Elstein yang terkenal, roti kukus musim panas.

"Jika aku tidak ada di sini, dia pasti sangat kesepian... Dia bahkan mungkin sampai bersenda gurau."

Bagaimanapun juga, setelah menghabiskan saat-saat bahagia bersama keluarganya, Claire saat ini sedang dalam suasana hati yang sangat penuh kegembiaraan.

"Lain kali, aku harus mengajak Kamito dalam perjalanan ke sumber air panas Elstein. Karena Kamito memasak untukku sepanjang waktu— Ini dianggap sebagai hadiah untuk semua bantuan yang dia berikan padaku secara teratur."

Claire berhenti di depan jendela Kelas Raven.

Mengatur twintailnya dengan tangannya, dia kemudian memeriksa pakaiannya.

(...Apa yang membuat aku menjadi tegang tinggi?)

Tiba-tiba merasa gugup untuk beberapa alasan, pipi Claire berubah merah cerah.

(I-Ini hanya beberapa hari aku tidak melihat dia...)

Membersihkan tenggorokannya, Claire melangkah maju lagi.

(Fianna telah pergi ke Konferensi Semua Negara, jadi kamar tersebut tersisa untuk h-hanya kamu berdua...)

Dalam perjalanan ke asrama siswa, Claire merasa gugup yang misterius, jantungnya berdebar-debar tanpa henti.

Akhirnya mencapai pintu asrama, dia mengambil napas dalam-dalam dan membuka pintu.

"Kamito, aku kembali... Oh?"

Masih memegang gagang pintu, Claire memiringkan kepalanya dengan bingung.

...Tak ada seorang pun di dalam ruangan.

"...Hmm? Kamito?"

Dia mencari di seluruh ruangan sekali, tapi tidak menemukan apa-apa.

"...Hmph, apa ini...? Jadi kegugupanku menjadi sia-sia."

Claire melemparkan souvenirnya ke meja dan melemparkan dirinya ke tempat tidur Kamito, bermain dengan rambutnya.

"Apa artinya ini, Kamito si brengsek itu..."

...Buk, Buk, Buk.

Melampiaskan kemarahannya pada bantal, Claire kemudian membenamkan wajahnya ke dalamnya.

Memeluk bantal dengan cara ini—

Baru-baru ini, dia tampaknya telah memperoleh kebiasaan semacam ini... Hanya dengan memeluk bantal milik Kamito seperti ini, perasaannya akan tenang.

(Pergi ke toko atau apapun tidak apa-apa, kembalilah dengan segera, kau si brengsek besar...)

...Mengubur wajahnya di bantal, dia mengambil napas dalam-dalam.

"..., ...Kami... to..."

...Apa yang harus dilakukan? Setelah hanya beberapa hari terpisah, berpikir dia akan merasa kesepian.

Dia ingin mendengar suaranya secepat mungkin. Dia ingin Kamito untuk membelai kepalanya dengan lembut.

"...Ohh... Cepat—dan—kembalilah..."

...Guling, guling, guling.

Memeluk bantal seperti itu, Claire berguling dan berguling-guling di tempat tidur.

Tiba-tiba, dia jatuh dari tempat tidur dengan suara berdebam—

STnBD V13 102.jpg

"...Hmm?"

Sesuatu tampaknya telah jatuh dari tempat tidur... Sesuatu seperti catatan.

"...Apa ini?"

Claire naik kembali dan mengambil catatan di lantai.

"...Hmm... 'Pergi keluar pada perjalanan panjang untuk saat ini. Jika kamu perlu makan malam, makanlah di luar...'"

Tangannya gemetar karena marah sementara rambut merahnya berdiri sampai ujung seperti api.

"Apa-apaan maksudnya ini——!"

Catatan itu dibakar menjadi abu di tangan Claire.

...Satu jam kemudian.

Suasana menindas akhirnya ditaklukkan oleh serangan menggelitik ekor Scarlet.

Bagian 7[edit]

Kota Akademi. Di dalam sebuah ruangan di Rumah Sakit Saint Sairaelle...

"Nona Ellis Fahrengart, kamu dapat meninggalkan rumah sakit hari ini. Selamat."

Princess maiden penyembuh datang untuk menginformasikan Ellis berita ini.

"Tapi ngomong-ngomong, aku benar-benar terkejut. Meskipun para elementalist memiliki kemampuan pemulihan jauh lebih kuat daripada orang biasa, aku tidak pernah menduga kamu untuk sepenuhnya sembuh begitu cepat—"

"...Ya, aku sendiri terkejut juga."

Ellis mengangguk dengan ekspresi serius.

Dia awalnya mengira dia akan beberapa hari lagi untuk keluar dari rumah sakit.

"Apakah kamu punya pendapat apapun tentang alasannya?"

Penyembuh yang bertanggung jawab atas Ellis bertanya tak percaya.

Sebuah kontrak dengan roh suci atau roh air akan sedikit dimengerti, tapi Ellis dikontrak pada roh angin, yang tidak mungkin memberi kemampuan pemulihan besar tersebut.

"Hmm, yah, bahkan jika kamu bertanya, aku juga tidak tahu..."

Ellis menghindari kontak mata dengan si penyembuh.

"...Hmm, benarkah?"

"T-Tentu saja!"

Ellis menjawab dengan rasa bersalah di bawah tatapan skeptis si penyembuh.

...Tentu saja, dia tidak tidak tahu sama sekali.

Ellis sudah mulai pulih dengan cepat selama waktu kemarin.

(...Pada saat itu, aku merasa semacam kekuatan tak terlihat mengalir ke dalam tubuhku, itu adalah perasaan.)

Ellis menyentuh ringan bibirnya dengan tangannya, wajahnya langsung menjadi panas.

(...Aku tidak bisa percaya aku melakukan sesuatu yang begitu tak tahu malu!)

Sebagai Kapten Ksatria, Ellis seharusnya menjadi panutan para siswa, menjunjung tinggi moral publik dengan contoh. Namun—

Sensasi bibir itu begitu nyata. Di kedalaman pikirannya, dia mengingat perasaan itu mengagumkan manis.

"Nona Ells, ada apa denganmu?"

"Tidak ada yang salah!"

Wajah merah terang, Ellis menggeleng tegas.

Sudah keluar dari rumah sakit, Ellis berjalan ke gedung sekolah untuk mencari tahu tentang pekerjaan Ksatria.

(...Meski begitu, itu benar-benar sangat luar biasa.)

Sepanjang jalan utama di kota, Ellis berpikir sambil berjalan.

(Mungkinkah itu kekuatan Kamito mengalir secara terbalik pada tubuhku? Hal semacam itu tidak seharusnya terjadi—)

Misalnya, ketika Fianna menerapkan sihir penyembuhan pada Kamito melalui kontak langsung, dia tidak pernah mengatakan apa-apa tentang kekuatan yang mengalir secara terbalik.

(...S-Sepertinya aku harus mengujinya lagi.)

Aku harus menguji itu lagi secara seksama— Ellis membuat keputusan pada kemauannya sendiri.

—Tepat pada saat itu, ada keributan di sisi jalan.

"...Hmm, apa yang terjadi?"

Dengan cepat beralih kembali ke mode ksatria yang serius, Ellis melihat kesana.

Dalam arah plaza, api saat ini berkobar ganas.

...Bukan api biasa, ini adalah pekerjaan roh.

"Memanggil roh di Kota Akademi bertentangan dengan aturan...!"

Ellis dengan panik bergegas ke keributan.

Tapi saat dia tiba, di sana itu—

"Ap... Claire?"

Gemuruh gemuruh gemuruh gemuruh gemuruh gemuruh...!

Terselimuti dalam api, twintail merahnya berayun-ayun di angin.

Tergantung pada atribut roh, berbagai efek dapat terjadi pada tubuh elementalist.

Claire rupanya sumber sebenarnya dari api yang terlihat dari jauh.

"C-Claire, apa sebenarnya yang terjadi?"

Mendengar suara Ellis, Claire menatapnya.

"Tidak ada di sini, tidak ada disana, tidak ada dimanapun!"

Terintimidasi oleh kekuatannya, Ellis menghentikan langkahnya.

...Dia tampak sangat marah.

"Kamito, Kamito, dia meninggalkan aku sendirian... H-Hiks hiks~..."

Claire meledak dalam menangis, twintailnya yang mengintimidasi juga jatuh ke bawah kembali.

"...T-Tunggu. Aku benar-benar gagal untuk memahami apa yang kamu bicarakan. Pertama ceritakan seluruh ceritanya."

"O-Oke... Hiks..."

—Claire menceritakan semuanya dari awal, yang mengarah ke keributan di plaza.

"...Apa? Pergi dengan Rinslet, hanya mereka berdua!?"

Kemarin ketika mengunjungi Ellis, Kamito jelas telah mengatakan dia akan pergi ke Laurenfrost.

Namun—

"H-Hanya mereka berdua... Aku tidak pernah mendengar tentang hal itu!"

Ellis berteriak marah. Ini adalah insiden besar!

Karena berbicara tentang dua orang dalam sebuah perjalanan—

(...Itu berarti menghabiskan malam di luar bersama-sama!)

Hanya membayangkan itu sedikit membuat wajah Ellis menjadi merah terang.

...Tidak bagus, aku harus percaya pada Kamito. Meskipun itu hanya mereka berdua bepergian bersama-sama, Kamito pasti tidak akan melakukan sesuatu yang pengecut, kan? Tapi perjalanan menawarkan peluang bagus untuk meningkatkan hubungan laki-perempuan. Dalam hal itu, itu tidak akan mengejutkan jika sesuatu terjadi.

Juga, Claire tampak seperti dia tidak akan menyerah sampai dia mengejar Kamito.

"...A-Aku akan pergi juga!"

Ellis menyatakan.

"...Eh?"

Mata merah dan bengkak karena menangis, Claire memiringkan kepalanya dalam bingung setelah mendengar Ellis.

"...Tidak apa-apa jika kamu tidak ikut. Juga, kamu memiliki pekerjaan Ksatria, kan?"

"Bagaimana bisa aku mengabaikan sesuatu yang tak tahu malu sebagai seorang anak laki-laki dan seorang gadis bepergian sendiri bersama-sama? Memperbaiki praktek-praktek kurangnya moral ini justru bagian dari pekerjaan Ksatria!"

"I-Itu hanya membuat alasan, kan? Kamu tidak harus keluar dari caramu untuk ikut."

"Hmm, apakah kamu benar-benar yakin ini baik-baik saja?"

"...Apa maksudmu?"

Ellis mengangkat jari telunjuk dan menjelaskan.

"Dengarkan baik-baik. Keduanya berangkat dari Akademi kemarin pada siang hari. Jika kamu mulai mengejar sekarang, itu cukup tak realistis dalam hal waktu."

"Benar, kamu ada benarnya, tapi..."

"Namun, dengan bantuan dari roh angin iblis dengan terbang dan kemampuan pelacakan, mengejar mereka dalam satu atau dua hari bukan tidak mungkin."

"Guh..."

Claire tidak bisa menemukan alasan apapun untuk keberatan.

...Saat Ellis menunjukkan, tanpa bantuan roh angin iblis, tidak ada cara untuk mengejar Kamito dan Rinslet.

"Bagaimana sekarang? Apakah kamu membuat keputusanmu?"

"Uh~huh."

—Jadi, begitulah.

Pada akhirnya, situasinya menjadi Claire dan Ellis mengejar Kamito bersama-sama.

Bagian 8[edit]

"Luminaris-sama, pohon itu tampak akrab—"

"...Kita berputar-putar kembali ke sini lagi? Apa yang sebenarnya terjadi?"

—Di kedalaman «Forest of Ice Blossoms». Tertutup oleh salju tebal, hutan tersebut diselimuti kabut tebal. Ksatria Kerajaan Suci sudah berputar-putar selama puluhan jam.

Di tengah hutan, kabut disekitar semakin padat dan padat. Roh-roh dengan yang penampilan seperti pohon menggunakan perubahan terampil dari penampilan mereka untuk menipu mata para penyusup.

Rasanya seperti seluruh hutan menolak mereka masuk.

(...Ngomong-ngomong, kenapa menjadi seperti ini?)

Luminaris hanya bisa menunjukkan ekspresi pahit di wajah bermartabatnya.

Sebagai bagian dari «Sacred Spirit Knight» dengan kemampuan bela diri mereka yang luar biasa, mereka mungkin bisa disingkirkan oleh musuh jika mereka terus berputar-putar tanpa tujuan di hutan yang tertutup salju seperti ini. Namun di sisi lain, meningkatnya kepadatan kabut disekeliling telah menunjukkan bahwa mereka semakin dekat dan lebih dekat ke tujuan mereka.

Kabut tebal ini pasti bukan fenomena alam— sebuah «Penghalang» sihir.

Bukan kelakuan roh kegelapan. Kembali ketika pasangan tua dari desa menemukan dia, dia tidak mampu berjalan, bahkan tidak mampu berbicara. Dalam keadaan dirinya saat ini, membuat penghalang semacam ini adalah mustahil.

(...tidak salah lagi, «Penghalang» ini pasti berasal dari ras Elfim.)

Sebuah «Penghalang» yang mampu mencakup seluruh hutan sudah pasti tidak mungkin untuk disebarkan dengan upaya satu orang saja. Sangat mungkin, ini didirikan dengan menggunakan reruntuhan kuno sebagai sebuah fondasi.

Juga, dengan kepastian yang besar, roh kegelapan itu bersama dengan ras Elfim.

(...Jadi, kami tidak akan goyah di sini.)

Luminaris mengeluarkan perintah pada bawahannya.

"Mulai sekarang, kita akan dibagi menjadi dua tim untuk bertindak secara terpisah. Jika kalian menemukan tablet batu kuno atau pohon-pohon tua di hutan, menghancurkan mereka secara langsung. Mereka sangat mungkin menjadi fondasi penghalang."

"...!"

Keempat bawahan memandang satu sama lain.

"Tapi bukankah itu bertentangan dengan perjanjian—"

Bahkan selama waktu perang, menghancurkan reruntuhan kuno tidak diizinkan. Ini adalah bagian dari persyaratan yang bangsa-bangsa telah putuskan diantara mereka. Namun, Luminaris mengeluarkan perintah untuk menghancurkan reruntuhan.

"bertindaklah sesuai dengan perintahku, karena aku akan bertanggung jawab. Jika tidak, kita akan mati di negeri salju ini pada tingkat ini."

Dihadapkan dengan perintah Luminaris yang tak dapat dibantah, ksatria Kerajaan Suci mengangguk dengan tekad.



Back to Bab 3 Return to Halaman Utama Forward to Bab 5