Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid13 Bab 7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 7 - Es Dominasi Zirnitra[edit]

Bagian 1[edit]

"...kena...pa..."

Dihadapkan dengan menghilangnya Judia Laurenfrost secara tak terduga—

Rinslet tampak benar-benar hilang seolah-olah jiwanya telah pergi.

"Kemana... Kemana dia pergi...?"

Didepan es terkutuk yang hancur, dia jatuh berlutut dalam syok.

"..."

Tatapan Kamito jatuh pada fragmen es terkutuk yang hancur di selruh lantai.

Pecahan tersebut tersebar dalam bentuk radial, menyiratkan bahwa es terkutuk itu tidak dicairkan dari luar namun sebaliknya dihancurkan dari dalam.

(Judia Laurenfrost menghancurkan sendiri sihir es itu? Itu benar-benar konyol—)

Kutukan es yang semua elementalist di negara tidak mampu untuk mencairkan tidak akan mungkin dihancurkan oleh kekuatan manusia.

Kemungkinan yang tersisa adalah «Elemental Lord Air» melepas kutukan es tersebut, tapi Iseria Seaward sendiri menolak gagasan tersebut.

Dia telah mengatakan bahwa dirinya sendiri tidak bisa mencairkan kutukan es tersebut sampai dia memulihkan kembali kekuatan penuhnya.

Selain itu, seandainya Judia telah terlepas dari kutukan es, maka kenapa dia tidak kembali ke keluarganya di Kastil Winter Gulf?

(...Apa yang sebenarnya terjadi disini?)

Saat Kamito terjebak dalam pemikiran mendalam—

Crash— kuil tersebut tiba-tiba berguncang.

"...sebuah gempa bumi?"

Gemuruh dalam terdengar dari bumi, gumpalan-gumpalan es jatuh jatuh dari langit-langit.

Kamito dengan panik melindungi Rinslet yang berjongkok.

"Terus disini lebih lama akan berbahaya, ayo kita keluar terlebih dulu."

"...ya... Benar."

Rinslet mengangguk, masih setengah linglung.

Setelah bergegas keluar dari kuil itu—

Mereka bertemu dengan sebuah pemandangan yang tak bisa dipercaya.

"...apa... itu!?"

Puluhan, tidak, ratusan—

Dekat puncak Pegunungan Kyria, naga es tak terhitung jumlahnya tengah berputar-putar di udara.

"Begitu banyak naga es, darimana sebenarnya mereka datang..."

Gemuruh, gemuruh gemuruh gemuruh gemuruh gemuruh—

Tanah berguncang keras.

"Pegunungan Kyria berguncang...!"

Pegunungan raksasa yang panjang. Salju yang menumpuk di permukaan gunung-gunung meluncur, menyebabkan longsor.

Dengan kilatan petir, robekan raksasa muncul di udara diatas Pegunungan Kyria.

"...hal itu, apa itu benar-benar sebuah gerbang ke «Astral Zero»!?"

"Mustahil, bagaimana bisa «Gerbang» besar semacam itu terbuka di alam manusia!?"

"Sesuatu keluar...!"

Robekan di udara meluas. Badai salju ganas mulai bertiup.

Muncul dari robekan tersebut naga es yang tak terhitung jumlahnya berputar-putar di udara serta—

Sebuah cakar besar, itu memperbesar robekan lebih jauh lagi.

"...!"

Membeku di udara, Kamito tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Itu adalah sebuah patung yang sangat besar terbentuk dari es biru.

Menyebarkan sayapnya di kegelapan, sang kaisar naga es.

Ada perasaan tragis dari keindahan tentang penampilannya.

"Roh es dominasi «Zirnitra»..."

Rinslet menahan nafasnya.

Ohhhhhhhhhhhhh—!

«Zirnitra» mengepakan sayapnya, menggetarkan atmosfer.

"...mungkinkah itu berarti Elfim di hutan melepaskan segel tersebut!?"

"Kenapa mereka melakukan hal semacam itu...!?"

"...tidak tahu."

Sambil bergumam, Kamito teringat sebuah kondisi tertentu.

(...Queen of Ice Blossom, princess maiden muncul dihutan huh?)

Apa kemunculan dari roh penjaga memiliki hubungan dengan itu?

Pada saat ini, segel roh di tangan kanannya menimbulkan sedikit rasa sakit.

'—Kamito, itu sepertinya mirip dengan aku.'

Dia mendengar suara Est di kepalanya.

"...sebuah «Roh Senjata» super kuno, kan?"

'Ya, Kamito—'

Roh Senjata—sebuah istilah umum yang digunakan untuk roh-roh yang dikerahkan dalam pertempuran selama «Perang Roh» yang terjadi beberapa ribu tahun yang lalu.

Selama Blade Dance, Kamito telah melawan «Valaraukar» milik Muir Alenstarl yang juga sebuah roh senjata. Tapi tekanan yang dia bisa rasakan dari roh es dominasi tersebut jauh melampaui roh api iblis itu.

Dari puncak tertinggi, roh es dominasi mengepakan sayapnya dengan keras, terbang ke udara.

Bercampur dengan hujan es, angin menyapu kearah hutan, menyebabkan banyak pecahan es menyayat tanah.

"...cih, dia menuju pusat hutan—"

Ada ketidaksabaran dalam suara Kamito. Hutan itu mungkin lokasi Restia.

"...Rinslet, kembalilah ke kastil terlebih dulu."

Mengatakan itu, dia meraih gagang «Demon Slayer».

Melihat itu, Rinslet tampaknya menyadari niat Kamito.

"...pergi sendirian akan saangat berbahaya."

"Aku tidak pergi untuk melawan roh itu. Aku hanya akan mencari Restia dan kembali."

"Apa yang kamu katakan? Ini sudah begitu gelap sekarang, bagaimana kamu pergi untuk mencari roh kegelapan itu—"

"Ketika aku mendekat, itu akan jelas."

Kamito menggeleng dan mengarahkan tatapannya pada segel roh di tangan kanannya.

"Selama dia masih hidup, pasti akan ada sebuah rekasi—"

Kamito menuangkan divine powernya kedalam «Demon Slayer».

Seketika, bilah tersebut memancarkan cahaya menyilaukan, menerangi sekeliling.

—tepat pada saat ini.

Banyak bayangan kegelapan mendatangi mereka.

"...!"

Sekelompok naga es, memperlihatkan taring dan cakar mereka. Berteriak meelngking, mereka menghembuskan udara dingin.

Kamito dengan cepat menarik pedangnya untuk memblokir udara dingin tersebut. Namun, dia tidak bisa membelokkan udara dingin yang dilepaskan dalam area luas. Oleh karenaa itu kakinya membeku di tanah. Saat cakar tajam menyerang dari samping Kamito, Kamito langsung menarik kembali pedang itu untuk membelokkan cakar tersebut. Kemudian menusukkan pedang ke tanah dan melepaskan divine power, dia langsung memecahkan es di tanah.

"Taring es pembeku, maju dan tembuslah -- «Freezing Arrow»!"

Begitu dia berbicara, mengarahkan panah secara langsung menembus kepala naga es dengan waktu yang sempurna.

"Kamito-san, aku akan melindungimu!"

"Terimakasih—"

Memutar «Demon Slayer» pada pegangan terbalik, Kamito langsung menebas dua naga es yang mendarat di belakangnya. Pada saat ini, gelombang proyektil selanjutnya dari Rinslet menghujani, merubah tubuh raksasa naga es menjadi patung es.

Meskipun dia telah mengalami pertempuran sulit di penunungan salju terakhir kali, hanya naga es tidak akan cocok untuk melawan Kamito. Mendarat satu demi satu, naga es jatuh pada serangan kombinasi Kamito dan Rinslet.

—bisa dikatakan, jumlah musuh cukup merepaotkan.

(Kita hanya akan memaksa menerobos.)

"Tarian, badai es pemanggil kehancuran—«Diamond Dust»!"

Tiba-tiba, sebuah suara terhormat terdengar di hutan.

Cahaya menyilaukan muncul di udara didepan mata mereka, saat Kamito berpikir itu akan meledak, badai salju kuat mulai bertiup dengan lokasi Kamito dan Rinslet sebagai mata badai.

"...!?"

Sebanyak puluhan naga es terjebak didalam es dalam sekejap mata, menjadi patung es tak bergerak. Ini adalah sihir roh tingkat tinggi serta kombinasi sihir yang membutuhkan beberapa casters kaliber top.

"Rinslet?"

"Tidak, itu bukan aku."

Saat Kamito berbalik untuk melihat dia, Rinslet menggeleng.

"Sihir roh ini harusnya—"

"—putri!"

Didampingi oleh suara nyaring dari kuku kuda, sebuah teriakan datang dari kegelapan.

Muncul beberapa ksatria menunggangi kuda abu-abu.

Pemimpin ksatria tersebut mengangkat obor, menerangi wajahnya.

"Kamu..."

Kamito membuka lebar matanya.

Seorang gadis mengenakan armor ringan perak-putih. Pada pemeriksaan lebih dekat, itu adalah kepala maid yang menyajikan makanan untuk makan malam di Kastil Winter Gulf.

(...Jadi dia benar-benar seorang ksatria roh.)

Para ksatria dengan cepat turun dan berlutut didepan Rinslet.

"Putri, apa anda terluka?"

"Natalia, kenapa kamu disini?"

"Mireille-sama mengatakan anda telah datang kesini, Putri... Cedera?"

"Aku baik-baik saja."

"Putri, harap kembali ke Kastil Winter Gulf segera. Kastil berada dibawah serangan naga es."

"...apa katamu!?"

Terkejut, Rinslet melihat kearah kastil.

Segerombolan bayangan berkumpul pada dinding kastil yang diterangi oleh banyak obor.

"Kenapa ini...?"

"Berkat penghalang isolasi, mereka masih bisa berhasil bertahan, tapi Mireille-sama tidak mampu memerintah «Wolf Ritters»—"

"...Hmm, kalau begitu aku harus segera kembali."

Rinslet mengangguk dan melihat Kamito.

"Uh, Kamito-san—"

"Aku..."

Apakah dia harus menuju hutan untuk mencari Restia atau kembali dengan Rinslet untuk mempertahankan Kastil Winter Gulf—

Saat Kamito ragu-ragu diantara dua pilihan—

"Kamito-sama, saya punya sebuah permintaan untuk anda."

Natalia angkat bicara.

"...sebuah permintaan?"

Kamito mengulangi kata-kata itu. Natalia mengangguk dan berkata:

"Ya, para elit dari «Wolf Ritters» telah kaluar untuk menyerang «Zernitra». Itu adalah harapan saya bahwa anda bisa bertemu dengan mereka, Kamito-sama, dan bergabung dengan kelompok penyerang."

"Kamu tidak berpikir melawan hal itu, kan?"

"Zirnitra adalah penyebab pemanggilan naga es. Kecuali kita memasukannya kembali ke Astral Zero, kastil akan benar-benar jatuh. Tanah Laurenfrost pasti akan rusak juga."

Natalia berbicara dengan sebuah ekspresi ketetapan hati.

"Namun, pasukan kami saat ini tidak cukup untuk mengalahkan sebuah roh setingkat itu. Juga, kami tidak memiliki pilihan lain. Selain membagi jumlah kami demi mempertahankan kastil... Kami memiliki pemikiran yang sangat bagus dari kekuatan anda, Kamito-sama, bagi anda yang telah berjuang bersama putri kami di «Blade Dance». Tolong pinjamkan kami bantuan anda."

"Kamito-san, aku mohon padamu juga."

Rimslet menghadap Kamito.

"Kamu adalah satu-satunya yang bisa melawan roh itu, Kamito-san."

"...aku mengerti."

Kamito mengangguk sedikit.

"Aku tidak bagus pada bergabung dengan yang lain, tapi aku akan mencoba yang terbaik. Rinslet, kamu bisa fokus pada melindungi Kastil."

"Sangat bagus, serahkan itu padaku."

Kamito memutar pandangannya pada roh es dominasi yang terbang menuju pusat hutan.

(...Jika itu dikalahkan, Restia seharusnya akan aman sampai batas tertentu.)

Crack— es yang menyegel naga es tersebut mulai menunjukkan celah.

Ketahanan sihir dari naga bukanlah apa-apa. Mereka mungkin akan keluar dari es segera.

"Cepat. Cepat sebelum naga es bangkit."

"Kamito-san, aku mengandalkan kamu."

Rinslet dengan gagah menaiki salah satu kuda abu-abu dari para ksatria.

"—semoga kamu menang."

"Ya, jangan khawatir."

Kamito mengangguk dan berlari kearah hutan dengan «Demon Slayer» di tangan.

Bagian 2[edit]

"—ketemu kau, roh kegelapan!"

Suara Luminaris bergema melalui hutan.

Tatapannya diarahkan lurus pada gadis yang berdiri di depan kuil.

Meskipun ada perubahan dalam pakaian, gadis di depan matanya tidak diragukan lagi roh kegelapan.

Di sekelilingnya, princess maiden Elfim bisa dilihat terjebak dalam balok es hitam.

(...Sebuah pertarungan internal? Atau apakah roh kegelapan yang melakukannya?)

Sambil menarik pedang sucinya dan memulai serangan, Luminaris dilanda keraguan mengenai situasi yang tak bisa dimengerti tersebut.

(Tidak, sekarang bukan saatnya untuk peduli tentang hal-hal seperti itu—)

Mangsa yang telah dia kejar akhirnya di depan matanya.

(—Dengan ini, aku dapat menebus kehormatan bawahanku.)

Menendang tanah untuk mengambil lompatan, dia menutup jarak pada roh kegelapan sekaligus. Dalam saat itu juga...

(...!?)

Rasa dingin di punggungnya memaksanya untuk berhenti.

Koreksi— Dia dihentikan.

Sumber kehadiran itu—Seorang gadis berdiri di depan kuil.

Rambut pirang platinumnya diterangi oleh api unggun.

Mata emerald kosong menatap Luminaris seakan mengamati dirinya.

"...Apa urusan yang kau miliki?"

Terkejut oleh suasana aneh yang dipancarkan oleh gadis itu, Luminaris memasang sikap dengan pedangnya.

(...Seorang princess maiden manusia?)

Ras Elfim adalah kebanggaan dan xenophobia. Sulit dibayangkan mereka menerima seorang gadis manusia sebagai princess maiden.

Za, zaza, zazazaza, za, zazaza—

Suara-suara aneh keluar dari mulut gadis itu.

"...!?"

Secara naluriah, Luminaris melompat mundur.

Es hitam terkutuk langsung menyebar, membekukan tanah sekitarnya.

(...Sehir roh? Tidak, ini adalah—)

Gagal untuk menghindar, kaki kirinya membeku, melumpuhkan posisinya.

"...!?"

Seketika, seluruh tubuhnya disambar oleh rasa yang kuat dari kelelahan.

(...Tidak mungkin, itu menyerap... divine powerku...!)

Luminaris hanya bisa gemetar. Es terkutuk ini tampaknya memiliki kemampuan untuk mencuri divine power.

Kemudian itu berarti para princess maiden yang terperangkap dalam es juga mendapati divine power mereka dicuri?

Es hitam terkutuk menyerang Luminaris yang kakinya tertangkap—

"—Luminaris-sama!"

Pada saat-saat terakhir, salah satu ksatria bawahannya diblokir di depannya.

Menikamnya pedang elemental waffenya ke dalam tanah, dia menggunakan seluruh tubuhnya untuk memblokir es terkutuk.

"...Aisha?"

"...Tolong cepat dan larilah...!"

Seiring dengan elemental waffenya, ksatria itu langsung terpenjara dalam es terkutuk.

"...Sialan!"

Menggunakan pedang suci untuk menghancurkan es terkutuk, Luminaris membuat sebuah tusukan pada gadis itu.

"Ohhhhhhhhhhhh!"

Swish—!

Menyiapkan pedangnya sambil dalam proses beelari, Luminaris mengayunkan «Murgleis» menyamping tanpa keraguan sedikitpun.

Tapi tidak ada perasaan dari menyerang sesuatu. Gadis itu lenyap dari pandangan seperti fatamorgana.

"...!"

"Luminaris-sama, roh kegelapan!"

Dia mendengar bawahannya memanggil dari belakang.

Dengan cepat memutar tatapannya, dia menemukan roh kegelapan berlari menuju kedalaman hutan.

"Jangan biarkan dia lolos, kejar dia!"

Tapi sebelum perintahnya bisa menjangkau mereka—

"Uwaaaaah!" "A-Apa ini?" "Kyahhhh!"

Tiba-tiba, badai salju yang kuat bertiup di hutan.

Pandangan langsung terblokir. Dia bisa mendengar bawahannya berteriak di sisi lain dari badai salju.

Sekelompok naga es terbang di atas hutan.

Terbang dengan bebas dalam badai salju, mereka menyerang.

"Luminaris-sama... Uwahhhhhh!"

"...Berkumpul kembali! Jangan kehilangan pandangan roh kegelapan!"

Sambil menebas naga es yang menyerang, Luminaris berteriak.

Tapi suaranya tenggelam oleh gemuruh angin badai salju.

"Sialan, aku tidak percaya ini akan terjadi, pada titik ini..."

Suara Luminaris gemetar.

(...Aku tidak akan membiarkan kau melarikan diri!)

Luminaris mengangkat pedang sucinya yang terhunus ke atas kepala.

Rambut pirangnya yang indah berdiri di tengah-tengah angin kencang yang menderu.

"Penjaga kuno dari Kerajaan Suci— Engkau «Murgleis», Pedang suci yang membela negara!"

Dia mengucapkan kata-kata pelepasan.

Menuangkan divine power melampaui batas, ini adalah «Waffe Release» dengan maksud menyebabkan elemental waffe untuk keluar kendali. Memancarkan cahaya kuat, «Murgleis» langsung meledak.

Disertai dengan cahaya menyilaukan, api suci melelehkan kepingan es yang terbang dengan acak, langsung membersihkan bidang pandang—!

Kobaran api suci langsung membakar pohon-pohon sekitarnya. Berputar-putar di atas, naga es juga jatuh satu demi satu dengan meraung kesakitan.

"Huff, huff, huff..."

Pedang suci kehilangan cahayanya. Menusukkan itu ke dalam tanah, Luminaris mengamati sekeliling. Tidak ada tanda-tanda princess maiden itu. Luminaris memutuskan dia pasti menyelesaikan skor dengan gadis itu dengan asumsi dia masih di daerah tersebut.

Para bawahannya, «Sacred Spirit Knights», selamat dan sehat karena api suci «Murgleis» akan benar-benar tidak membakar siapapun yang dilindungi oleh roh dengan atribut suci.

Juga—

(—roh kegelapan?)

Api suci «Murgleis» seharusnya menyebabkan rasa sakit luar biasa untuk roh-roh kegelapan. Bahkan jika dia menghindari pembakaran dari api suci, efek sekunder dari cahaya suci harusnya cukup untuk menghentikan dia dari bergerak.

Tapi harapan Luminaris segera berlari.

"Luminaris-sama, lihat di sana—!"

Mendengar suara bawahannya, dia mengalihkan pandangannya untuk melihat sosok roh kegelapan berlari melalui hutan.

"...Apa?"

Luminaris hanya bisa berseru.

(—cahaya suci dari «Murgleis» tidak berpengaruh pada kaki tangan kegelapan?)

—Pada jarak semacam ini, itu seharusnya menyebabkan cedera kritis pada roh kegelapan.

Luminaris mencengkeram gagang pedang suci erat-erat.

"—kejar dia. Setiap orang yang masih bisa bergerak, ikuti aku. Sisanya harus fokus pada penyembuhan lukamu."

Mengatakan itu, dia mengejar roh kegelapan yang menghilang ke dalam hutan.

Roh kegelapan berlari melalui hutan dengan langkah-langkah tersandung.

Dibandingkan selama «Balde Dance», Dia tampak jauh lebih lemah dari sebelumnya.

(...Apakah dia benar-benar roh kegelapan?)

Setidaknya, roh kegelapan itu adalah roh tingkat tinggi mampu melawan Luminaris pada kondisi yang sama.

Dia mampu menggunakan sihir roh yang kuat dari atribut kegelapan. Selama «Blade Dance», dia dipasangkan dengan Nepenthes Lore untuk mengalahkan sejumlah tim.

(Tapi dia saat ini? Tidak berbeda dari mangsa yang lemah—)

—Tiba-tiba.

"...!?"

Merasakan kehadiran yang kuat, Luminaris berhenti.

Di tanah adalah sebuah bayangan raksasa dari sesuatu yang menutupi langit malam.

Mendongak—

Dia melihat seekor naga es super besar, terbentuk dari es biru, terbang di udara, melihat pada dunia di bawah.

"...sebuah roh... itu?"

Luminaris bergumam kaget. Para ksatria di bawah pimpinannya semua berdiri terpaku di tempat, tak bisa berkata-kata.

Seorang elementalist setingkat dia akan dapat menyimpulkan tingkat roh dengan kehadiran saja.

Itu tidak diragukan lagi sebuah roh peringkat tertinggi, kelas Archdemon.

Sebuah rakasa yang memerlukan penyebaran pasti dari kekuatan utama para ksatria dalam rangka untuk mengalahkan.

ROAR, ROOOOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAR—!

Auman roh super besar itu menyebabkan pohon-pohon hutan untuk terguncang keras.

Seakan menanggapi suaranya, naga-naga es yang berputar-putar di dekatnya semua meraung, memanggil badai salju ganas.

"Apakah itu sesuatu seperti raja naga es?"

Saat dia bergumam pada dirinya sendiri, niat membunuh kuat muncul di belakang punggungnya.

"—Terkutuklah manusia!"

Sebuah panah terbang melewati lehernya dengan suara mengiris angin.

Kemudian segera, beberapa anak panah lebih ditembakkan dari pepeohonan.

"—O perlindungan «Perisai Suci»!"

Luminaris langsung melantunkan sihir roh untuk menyebarkan penghalang defensif dari cahaya.

"Tetap diluar jalanku, Elfim. Apa kalian ingin mencari kematian?"

Pemanah adalah seorang Elfim yang tinggal di hutan. Meskipun dia tidak ada konsekuensinya, memasuki pengejaran roh kegelapan adalah menjengkelkan.

"Manusia bodoh, «Zirnitra» akan menghancurkanmu!"

Menyiapkan busur dan panahnya, pemuda itu berteriak.

Seakan menanggapi suaranya, yang tentu saja, sebenarnya tidak mungkin—

Rasa naga es yang mendominasi langit meniup ke arah hutan di tanah.

Udara dingin yang kuat, mencakup area yang luas, langsung menelan pemukiman penghuni hutan.

"...D-Desanya!" "Zirnitra-sama!"

Jeritan Elfim terdengar satu demi satu.

«Zirnitra» mengepakkan sayapnya dan perlahan-lahan turun ke tanah.

Tanah bergetar sebagai hasilnya. Ekor es raksasa menyapu tanpa ampun melalui hutan, menebang pohon.

"Zirnitra-sama, harap tenangkan amarah anda!" "Hutan ini adalah domain Anda—" "Musuh Anda adalah manusia, bukan hutan!"

Jeritan tragis datang satu demi satu.

—Namun, permohonan mereka dengan mudah tenggelam oleh suara pohon-pohon yang hancur.

"...wajar saja."

Luminaris bergumam dengan agitasi.

"Bagaimana mungkin orang-orang seperti kalian bisa mengendalikan roh tingkat itu?"

Alasan mengapa sejumlah besar «Roh Militer Kelas Strategi» disegel dan dibatalkan karena bahkan kekuatan militer negara-negara besar tidak bisa menjamin 100% stabilitas dari pengendalian.

Tiba-tiba merasakan rasa disonansi, dia mengerutkan kening.

(...Orang-orang ini, apakah mereka benar-benar tahu tentang ini?)

Tidak, tidak mungkin.

Elfim adalah sebuah ras yang jauh lebih dekat dengan roh daripada manusia. Sulit untuk membayangkan mereka memanggil roh kelas Archdemon tanpa mempersiapkan metode pengendalian sebelumnya.

Maka itu berarti—

(—pengendalian pikiran yang kuat, huh.)

Merasakan kehadiran mengejutkan, Luminaris berbalik.

Princess maiden manusia yang telah hilang sebelumnya ada di sana.

Di belakang gadis itu anak laki-laki dan perempuan Elfim mengikutinya.

Semuanya menatap lemas pada Luminaris.

(...Semua Elfim mendiami pemukiman ini berada di bawah kendali pikiran?)

Namun, elementalist manusia tidak mungkin menggunakan pengendalian pikiran pada Elfim yang dari awal memiliki pertahanan sihir, dan pada banyak orang secara bersamaan.

"...Siapa kau? Apakah kau yang memanggil roh itu?"

Mengarahkan pedang suci padanya, Luminaris bertanya.

Dia bukan seorang princess maiden biasa.

Tapi dia tidak tampak seorang roh humanoid tingkat tinggi seperti roh kegelapan itu.

...Itu sesuatu yang bahkan lebih mengerikan.

Za, zazaza, za, zazazazaza, za—

Suara-suara aneh yang datang dari mulut princess maiden itu.

Seketika, anak-anak di belakangnya yang langsung terperangkap dalam es hitam terkutuk.

Rambut gadis itu memancarkan cahaya redup saat divine power dalam dirinya mengembang sekaligus.

"Luminaris-sama, ini adalah..."

Seorang ksatria bawahan tersentak.

"—Memang, seorang monster sebenarnya."

Ini adalah apa yang intuisi yang beritahukan pada Luminaris.

Hal di depan matanya adalah jauh lebih berbahaya daripada roh kelas Archdemon yang ada di udara di atas.

Gadis itu mengulurkan tangan pada ruang kosong dan membuat suara seolah-olah memanggil roh raksasa tersebut.

Za, zazaza, za, zazazazaza— La, lalala, la, dolulululu—

Tiba-tiba, tubuh gadis itu melayang ringan untuk mendekati roh itu.

Jari-jarinya menyentuh dada roh—

(Apa..!?)

Dengan itu, tubuh gadis itu tersedot, terkubur di dalam es biru.

"...tak bisa dipercaya, dia bergabung dengan roh itu?"

Menyaksikan sebuah pemandangan yang luar biasa, Luminaris hampir tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Bagian 3[edit]

"Penghalang sisi barat rusak, kirim pasukan kesana segera!" "Jangan takut, serang mereka!" "Para princess maiden perkuat penghalang, para pengguna sihir suci sembuhkan yang terluka!"

Dihadapkan dengan serangan sengit dari naga es yang tak terhitung jumlahnya, Kastil Winter Gulf mencoba yang terbaik untuk menjaga garis pertahanan.

Sebagai sebuah pusat benteng yang aman dan pertahanan perbatasan Ordesia, Kastil Winter Gulf tidak akan jatuh dengan mudah. Meski demikian, jika serangan-serangan sengit berlanjut pada tingkat ini, penghalang isolasi yang melindungi kastil akan mencapai batasnya cepat atau lambat.

"Tenanglah. Naga es adalah jenis naga dengan kemampuan terbang yang sangat baik. Senjata biasa tidak bisa menembus sisik naga tapi sayapnya tidak setangguh itu. Bidik pada sayapnya—"

Berpakaian sebagai seorang pembantu, Milla Bassett berpatroli di sekitar dinding kastil, mengarahkan prajurit biasa yang mengawaki ketapel. Meski kehilangan roh terkontrak dalam Mata Penyegel Iblisnya, dia terbiasa untuk menjadi seorang ksatria elit yang melayani di bawah «Rupture Division» dari Kerajaan Rossvale. Skill komando taktikalnya cukup luar biasa.

"...Milla, apa baik-baik saja?"

"Mireille-sama, jangan datang ke sini. Cepat dan kembali ke istana kastil—"

"...Ya, ya. Tapi aku khawatir tentang kamu, Milla..."

Mata emerald Mireille memendam kegelisahan.

Dia hanya tahu Milla dalam fase maidnya dan tidak tahu apa-apa tentang Milla Bassett yang lahir sebagai senjata militer dan milik ksatria yang melayani Kerajaan Rossvale.

Milla membelai lembut kepala Mireille.

"...Saya baik-baik saja. Terima kasih."

Biasanya tanpa ekspresi, dia tersenyum samar.

Pada saat ini, sorakan berasal dari plaza di kaki dinding kastil.

Milla menoleh ke belakang untuk melihat Rinslet di gerbang kastil. Natalia dari «Wolf Ritters» telah membawa Rinslet kembali.

"Onee-sama!"

Mireille tidak bisa menahan senyum.

"Ohoh, Putri!" "Sang putri telah kembali!" "Syukurlah dia aman dan sehat..."

"Semuanya, aku minta maaf untuk membuat kalian menunggu."

Setelah memasuki kastil dari lorong bawah tanah, Rinslet memberikan semangat kepada tentara yang terluka saat mendaki tangga menuju ke atas dinding kastil.

Natalia buru-buru mengikuti di belakangnya.

"Putri, dinding kastil sangat berbahaya. Anda setidaknya memerintah dari dalam—"

"Tidak, aku akan perintahkan dari sini. Mengambil kepemimpinan pada garis depan medan perang adalah bagian dari kewajibanku baik sebagai seorang bangsawan Ordesian dan seorang Elementalist. Lebih dari itu—"

Berdiri secara terbuka di dinding kastil, Rinslet mengangkat busur elemental waffenya.

Menembakkan banyak panah ke udara, dia menembak jatuh naga es yang terbang di langit.

"Aku menikmati menjadi pusat perhatian."

Dengan senyum yang tak kenal takut, dia memasang panah berikutnya.

"...haaa, tipe orang seperti itulah putri."

Natalia tersenyum masam dan mengangkat bahu.

"Kita tidak bisa kalah!" "Wow, sang putri menonton!"

Sosok heroik Rinslet yang berdiri di dinding benteng tampaknya membangkitkan semangat para prajurit didalam kastil."

Dipasang di dinding kastil, ketapel dan busur menembak bergantian pada naga es yang membeku dan jatuh di tanah.

"...ngomong-ngomong, jumlahnya terlalu besar."

"Ya. Memang. Kecuali raja naga es «Zirnitra» dikalahkan—"

Sambil menggunakan tombak elemental waffe untuk menembus sayap naga es, Natalia setuju.

Rinslet mengarahkan tatapannya menuju pusat hutan di kejauhan.

Zirnitra saat ini sedang mengamuk di «Forest of Ice Blossoms», Menghempaskan pepohonan.

(Tak terpikir bahwa roh penjaga Laurenfrost akan merusak hutan...)

Lebih dati itu—

(Judia...)

Dia khawatir tentang hilangnya adiknya secara tiba-tiba.

(...Kemana sebenarnya dia pergi?) "...Putri!"

Natalia berteriak saat seekor naga es menembus penghalang dan menabrak dinding kastil.

Pijakan mereka runtuh, sejumlah besar puing-puing jatuh ke plaza di bawah. Teriakan para tentara terdengar.

"...! Penghalang telah..."

"Penghalang Kastil Winter Gulf memanfaatkan leylines dalam «Forest of Ice Blossoms». Kemungkinan besar, Kebangkitan «Zirnitra» telah mengganggu leylines di daerah tersebut, menyebabkan penghalang kehilangan kekuatan aslinya."

Merusak dinding kastil, naga es menyerang Rinslet.

"Putri—"

Pada saat terakhir, Natalia memblokir di depan, menggunakan tombaknya untuk bertahan terhadap serangan ini.

Seketika, tombak elemental waffe tersebut hancur menjadi partikel es. Dia tampaknya telah menghabiskan sejumlah besar divine power melalui pertempuran berkelanjutan melawan naga es, menyebabkan kekuatan roh terkontraknya mencapai batas. Roh Natalia—seekor serigala kecil yang sangat mirip dengan Fenrir—berhamburan menjadi partikel cahaya dan menghilang.

"...!"

Naga es tersebut membuka rahangnya, mempersiapkan untuk menggunakan napas naga.

"...Tidak secepat itu!"

Rinslet langsung memasang tiga anak panah dan menembak secara bersamaan. Dua menyerang sayap sementara yang satu menyerang bagian dalam mulut. Kehilangan kendali, nafas tersebut meledak, menyebabkan naga es jatuh tembok kastil.

"Biarkan tentara mundur ke kastil. Aku akan menahan naga es dari sini."

Karena penghalang telah rusak, para prajurit biasa yang bukan elementalist akan mendapati waktu yang sulit melawan para naga.

Dengan cepat mengeluarkan perintah pada Milla Bassett yang bertugas memimpin sisi barat, Rinslet kemudian bergegas ke Natalia yang telah runtuh di tanah.

"Putri... Seribu... maaf..."

"Natalia, kamu harus kembali ke dalam dinding kastil juga."

"Tapi—"

"Jangan khawatir. Aku akan mengurus pertahanan di sini sendiri."

Rinslet berdiri dan menyiapkan lima panah pada waktu yang sama.

Dia menembakkan mereka secara bersamaan. Panah pembeku menghantam beberapa naga es pada saat yang sama.

"Putri, kapan tepatnya Anda mendapatkan kekuatan seperti itu..."

Melihat ke atas, Natalia menatap dengan mata terbelalak.

Sebagai pemanah «Tim Scarlet», setelah memperoleh kemenangan melalui ujian yang keras dari «Blade Dance», Tingkat kekuatan Rinslet saat ini sudah cukup untuk menandingi ksatria roh yang aktif bertugas.

Lebih dari itu, ini adalah wilayah yanh diwariskan generasi keluarga Laurenfrost, tempat yang paling cocok untuk mengeluarkan kekuatan penuh dari roh lokal «Fenrir».

—Tapi itu tidak semua.

Saat ini, tubuhnya juga menyimpan kekuatan lain yang tak pernah dia miliki sebelumnya.

(...Perasaan apa ini—)

Berlawanan dengan divine power yang mengalir dalam tubuhnya, divine power yang tidak diketahui.

Setiap kali dia menggunakan kekuatan roh, kekuatan itu secara perlahan akan memperkuat.

Itu adalah kekuatan yang dia rasakan selama ciuman dengan Kamito di gua es di Pegunungan Kyria.

Hatinya terus berdetak lebih cepat, sementara emosinya lebih dan lebih semakin tinggi.

"Pergilah dan hempaskan, badai es mengamuk—«Icicle Storm»!"

Menggunakan sihir roh tingkat tinggi yang dirilis melalui elemantal waffe, dia menghempaskan semua naga es yang berkerumun menuju dinding kastil.

"Huff, huff, huff... Akhirnya, aku menyapu bersih setengah dari mereka..."

Rinslet terus terengah-engah. Meskipun sudah mengalahkan sebagian besar dari mereka, jumlah di udara masih meningkat. Naga es dibekukan sementara juga akan keluar dari es pada akhirnya.

"Kastil ini tidak bisa... jatuh."

Tiba-tiba, serangan sengit para naga es berhenti sekaligus.

"...Huh?"

Rinslet hanya bisa berseru.

Itu adalah pemandangan yang sangat aneh.

Sebanyak ratusan naga es—

...menghadap ke arah yang sama, sepenuhnya tak bergerak di udara.

"...Apa... yang terjadi...?"

Tatapan para naga es diarahkan pada Zirnitra yang terbang di langit.

ROOOOOOOAAAAAAR!

Zirnitra meraung ke arah langit.

Atmosfer bergetar sebagai hasilnya. Kemudian badai salju yang menderu di «Forest of Ice Blossoms» langsung terhempas.

Detik berikutnya...

"—Putri, lihat!"

Natalia menunjuk ke langit dan berteriak.

naga es di udara yang mengelilingi kastil semuanya terbang menuju Zirnitra.

"..."

Keheningan yang aneh tiba.

Para prajurit di kastil semua bertukar pandang dengan ekspresi bingung di wajah mereka.

"Apa yang sebenarnya terjadi..."

Saat Rinslet bergumam pada dirinya sendiri, rasa sakit yang tajam tiba-tiba muncul di tangan kirinya.

'—... Rins... let...!'

"Iseria-sama!?"

'—Dengarkan aku... Aku punya... sesuatu, aku harus, memberitahu kamu."

Bagian 4[edit]

—Sementara itu, burung iblis raksasa terbang di udara di atas Pegunungan Kyria.

"Ellis, aku tidak pernah tahu rohmu bisa membawa dua orang sekaligus..."

"Hmm, itu biasanya tidak mungkin, tapi sekarang, aku dalam kondisi yang sangat baik."

Ini adalah roh angin iblis milik Ellis «Simorgh».

Simorgh yang diperbesar terbang dengan santai di atas Pegunungan Kyria setelah badai salju mereda.

Meskipun mereka tidak yakin mengapa badai salju di pegunungan tiba-tiba berhenti, situasi di hutan Laurenfrost di kaki gunung meninggalkan mereka dengan tidak ada perhatian pada terhindar untuk isu badai salju.

"Lihat, naga berkumpul di hutan."

Memeluk sayap burung iblis erat-erat, Claire menunjuk kebawah dan berkata.

"Itu—"

Pemandangan aneh yang menyebabkan Ellis untuk menahan napas.

Naga yang tak terhitung jumlahnya berputar-putar di udara di atas «Forest of Ice Blossoms».

Sebuah badai salju bertiup di udara di atas hutan. Massa es bisa terlihat samar-samar di tengah badai salju, tapi sulit untuk memahami pada penampilan penuhnya karena kegelapan malam.

"...Apa sebenarnya yang terjadi di hutan itu?"

"Ellis, turunkan ketinggian. Kita mungkin bisa melihat dengan jelas jika kita lebih dekat."

"Aku ingin melakukan itu juga, tapi mendekat akan berbahaya. Kita akan berada dalam kesulitan jika kita terjebak dalam badai salju."

Setelah melewati puncak gunung, cara terbangnya roh angin iblis telah menunjukkan ketidakstabilan skala besar.

"Uwahhhh!"

Hampir jatuh, Claire meraih bagian dasar dari sayap.

"...Kita tidak bisa terus terbang lagi. Mari kita mendarat terlebih dahulu."

"...mau bagaimana lagi. Ada sebuah desa di sana."

Roh angin iblis mendekut dan mendarat di sebuah desa kecil di kaki gunung.

Ketika mendarat, kedua gadis itu melompat dari sayap Simorgh.

Desa ini langsung dalam sebuah keributan.

"O-Orang apa kalian!"

Memegang obor, penduduk desa bergegas mendekat.

Api menerangi wajah Claire dan yang lainnya.

"...Eeek, i-ini burung iblis menakutkan!"

Melihat Simorgh muncul dalam kegelapan, penduduk desa berteriak dan jatuh di pantat mereka.

"Sungguh kasar. Perasaan Simorgh akan terluka."

Ellis mengatakan dengan ketidaksenangan.

"Jangan pedulikan mereka, Simorgh. Terima kasih."

"Ya, kau bekerja keras."

Ellis dengan lembut membelai kepala «Simorgh» dan burung setan tersebut mendekut, berubah menjadi bentuk elemental waffenya.

"M-Mungkinkah kalian berdua wanita bangsawan?"

Pada saat ini, seorang penduduk tua bertanya dalam keraguan.

"Kami adalah siswa dari Akademi Roh Areishia. Apa yang sebenarnya terjadi pada hutan ini?"

"Para penghuni hutan melakukannya. Orang-orang itu menghidupkan kembali «Zirnitra»!"

"...Penghuni hutan?"

Ellis mengerutkan kening.

"Ini adalah sebutan untuk Elfim yang tinggal di Forest of Ice Blossoms. Aku mendengar Rinslet menyebutkan itu sebelumnya. Lagi pula, apa ini tentang «Zirnitra»? Aku ingat itu menjadi roh penjaga Laurenfrost, disegel di jaman kuno, kan?"

Sebagai seorang siswa terhormat, Claire kira-kira tahu legenda yang beredar di berbagai negeri.

Orang tua itu memalingkan pandangannya ke tengah hutan dimana badai salju menderu.

"Ada naga es raksasa di pusat badai salju itu. Itu adalah «Zirnitra». Para penghuni hutan membangkitkan roh itu dalam upaya untuk mendapatkan kembali kendali atas tanah ini."

"Tapi roh itu tampaknya merusak hutan..."

Ellis dengan tenang menunjukkan. Seandainya Elfim telah menghidupkan kembali roh kuno, maka mengapa itu menghancurkan hutan tempat mereka hidup?

"Itu sudah mengamuk. Tidak mungkin roh semacam itu dapat dikendalikan dengan mudah."

Gumam Claire.

Pada saat ini, jeritan besar terdengar di alun-alun desa.

Angin kencang menumbangkan menara lampu, mengubah sekeliling gelap gulita.

"—datanglah, Scarlet!"

Claire menjentikkan jarinya, memanggil kucing neraka yang berapi-api di udara.

Api tersebut menerangi sekeliling, menunjukkan bayangan yang berkumpul di alun-alun.

Naga es dengan mata merah menyala.

"...Dua, tiga... Sebanyak enam huh..."

"Sedikit merepotkan—"

Menjilat bibir, Claire bergumam. Sisik naga memiliki ketahanan sihir luar biasa. Untuk Claire dan Ellis yang mengkontrak roh tradisional termasuk lima elemen utama, naga adalah musuh yang menantang.

(Dan jelas kami harus buru-buru dan menemukan Kamito...)

Claire tahu kekuatan Kamito cukup baik.

Hanya naga es bukanlah lawan untuk Kamito tidak peduli seberapa banyak.

...Tapi itu tidak berarti dia tidak akan khawatir.

(...Serius, berpikir dia membuat aku khawatir, aku harus memberinya pelajaran nanti!)

Claire merubah Scarlet menjadi elemental waffenya «Flametongue».

"Ellis, aku akan mengurus mereka. Kau belum sepenuhnya pulih, kan?"

"Hmph, tidak perlu khawatir."

Berdiri pungung dengan pungung dengan Claire, Ellis menyiapkan «Ray Hawk».

—Tepat pada saat itu...

"Tunggu, itu..."

"Hmm...?"

Saat Ellis hendak melepaskan pisau angin, Claire menghentikan dia.

Seekor naga es telah meletakkan seorang gadis ke tanah, mencoba untuk memakan.

"...Ah, hiks... hiks hiks...!"

Dia jelas mengenakan pakaian yang berbeda dari penduduk desa, pakaian hijau daun.

Itu adalah pakaian tradisional dari ras Elfim.

"Kenapa salah satu dari Elfim muncul di sebuah desa manusia—"

"...Selamatkan... aku..."

Di bawah kaki naga es, gadis itu mengerang kesakitan.

Begitu dia membuat kontak mata dengan gadis itu, Claire tersentak.

Diterangi oleh cahaya api, wajah gadis itu tampak akrab.

"Tidak mungkin... K-Kau!?"

Bagian 5[edit]

(...Sialan, apa sih yang terjadi?)

Cabang beku yang tajam mencabik pakaian Kamito sementara dia berlari menyusuri hutan.

«Forest of Ice Blossoms» sebuah lingkungan yang terlalu keras bagi manusia, benar-benar mustahil untuk melangkah masuk.

Penghalang Elfim sudah lenyap dan tidak lagi mengganggu menemukan jalan. Namun semakin dekat ke «Zirnitra», Semakin kuat badai salju tersebut.

Kamito menatap tubuh raksasa yang terlihat samar-samar di sisi lain dari badai salju.

(...Jadi itu adalah roh penjaga Laurenfrost, huh.)

Namun, mengingat caranya menghancurkan hutan sekitarnya, itu tidak terlihat seperti sebuah roh penjaga tidak peduli apa.

Sebaliknya, itu tampak seperti memiliki dendam terhadap hutan.

Dengan kilatan cahaya, hutan itu langsung terwarnai putih di bawah langit malam.

Seseorang rupanya mulai terlibat pertempuran dengan «Zirnitra».

Apakah itu «Wolf Ritters» yang telah pergi ke depan terlebih dulu, atau—

(—Pedang suci Luminaris, kan?)

Kamito meningkatkan kecepatan larinya lebih lanjut.

Dia menggunakan «Demob Slayer» untuk memotong segala cabang yang menghalangi jalannya.

Akhirnya, ruang terbuka lebar muncul di hadapannya.

Lalu—

"...!"

Melihat adegan aneh, Kamito tak bisa berbicara.

Di tanah adalah tubuh naga yang tak terhitung jumlahnya, naik ke pegunungan. Sejumlah pilar es raksasa berdiri tegak di atas tanah. Pemukiman Elfim rusak tak bisa dikenali.

"Apakah mereka dihapuskan oleh roh yang mereka panggil sendiri...?"

Kamito menuangkan divine power pada Est, seketika menerangi sekeliling dengan cahaya yang kuat.

Dalam sudut pandangannya, Kamito menemukan seorang gadis roboh di tanah.

Mengenakan pakaian ritual, seorang gadis dengan rambut hijau giok—salah satu dari Elfim.

"Hei, kau baik-baik saja?"

Kamito dengan panik bergegas mendekat dan mengambil gadis tersebut dalam pelukannya.

...Dia masih bernafas. Menempatkan tangannya di dadanya, dia menyuntikkan divine power untuk menerapkan kejutan, menyebabkan gadis itu untuk memulihkan nafasnya.

"...Siapa, itu...?"

Gadis itu membuka matanya sedikit, terengah-engah kesakitan.

...Itu tampak seperti hidupnya tidak dalam bahaya untuk saat ini. Kamito diam-diam menarik napas lega.

"...seorang... manusia...?"

"Ya, itu benar."

Kamito mengangguk.

"...Katakan padaku. Apa yang terjadi disini sebenarnya?"

Mendengar pertanyaan Kamito, princess maiden itu menggerakkan bibirnya yang bergetar.

"«Queen of Ice Blossoms»... memanggil, roh penjaga hutan..."

"...Ratu... Seorang princess maiden manusia?"

Gadis itu mengangguk sedikit dalam menanggapi pertanyaan Kamito.

"Ratu itu gagal mengendalikan roh tersebut?"

"...Tidak..."

Kali ini, dia menggeleng lemah.

"Dia... Tidak, itu, dari awal, berencana, menggunakan Zirnitra..."

"Apa maksudmu?"

"...Itu... bergabung dengan Zirnitra."

"Bergabung dengan roh?"

Kamito bertanya, tidak yakin maksudnya.

Mungkin gadis itu berbicara omong kosong karena kesadaran yang kabur.

—pada saat ini, badai salju yang bertiup berhenti.

Kamito menatap langit dengan heran. Lalu...

"...Apa, itu...?"

Dia mengerang di tenggorokannya.

Zirnitra yang terbang sedang menangkap dan memakan semua naga es di sekitarnya.

Menangkap naga-naga es yang mengitari satu demi satu, Zirnitra memakan mereka tanpa menahan sama sekali.

Setiap kali memakan naga es, tubuh raksasa roh es dominasi itu akan membesar lebih lanjut.

Crack, crack— Didampingi oleh suara keras dari pecahan, es tumbuh dari punggungnya.

Dahi Kamito itu mengucurkan keringat dingin. Memang, ada roh yang akan memakan makhluk di alam manusia untuk mengisi divine power mereka, tetapi hal ini—

(...Tidak menyerap divine power.)

Sebaliknya, itu menyerap naga es, asimilasi mereka sepenuhnya.

Bahkan roh iblis tidak bisa melakukan itu.

Ini bukan lagi roh tapi sebuah monster.

"...kumohon... kau..."

Gadis itu menyentuh wajah Kamito dengan jari-jarinya.

Mata merahnya mencerminkan rasa sakit di hatinya.

"Tolong, biarkan Zirnitra beristirahat dalam damai..."

"...Ya, aku mengerti."

Bahkan tanpa perlu dia untuk memohon, hal semacam itu tidak seharusnya ada di dunia ini.

Kamito mengangguk dan memindahkan gadis itu ke tempat yang dinaungi oleh pohon-pohon tumbang.

Pada saat ini, dia tiba-tiba teringat dan bertanya:

"Dapatkah aku mengajukan pertanyaan terakhir?"

"...?"

"Uh— Apakah kau pernah melihat seorang gadis?"

"...seorang... gadis...?"

"Ya, mengenakan gaun hitam one-piece... Seorang gadis yang sangat cantik."

Princess maiden itu melebar matanya tiba-tiba.

"...Kau melihatnya?"

Dia mengangguk.

"Gadis itu pasti disini. Aku bertanggung jawab untuk merawatnya."

"...! Lalu dimana dia sekarang?"

"...Tidak... yakin..."

Gadis itu menunduk dan menggeleng.

"...Mungkin, melarikan diri ke hutan."

"Aku mengerti."

Kamito berdiri.

Dia benar-benar ingin mengejar Restia.

Tapi saat ini—

(...Aku harus mengalahkan monster itu terlabih dulu.)

Dia menatap roh raksasa yang terus bergabung dengan sejumlah besar naga es.

Bagian 6[edit]

"...Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"

Rinslet menunggangi Fenrir, melewati hutan dimana pohon telah tumbang di kiri dan kanan.

Semua prajurit tinggal di kastil sementara dia berlari menuju bagian terdalam dari hutan.

Naga es yang telah menyerang Kastil Winter Gulf kini berkumpul di sekitar «Zirnitra», menawarkan diri mereka sendiri untuk dimakan. Setelah bergabung dengan sejumlah besar naga es, «Zirnitra» tidak lagi menyerupai bentuk aslinya. Seluruh tubuhnya digerogoti, menggembung dengan pilar-pular es hitam yang menyerupai tiang.

"Apa itu roh penjaga legendaris dari Laurenfrost?"

'Salah. Itu bukan lagi sesuatu yang dapat diklasifikasikan sebagai roh— Itu telah digantikan.'

Suara Iseria bergema dalam pikiran Rinslet.

"Apa maksud anda?"

'Itu adalah sebuah dosa yang diriku dimasa lalu lakukan—dosa Iseria Seaward.'

Lalu dia menceritakan seluruh kisahnya.

Kebenaran dari hari itu, terkubur dalam kenangan «Elemental Lord Air» gila.

Bagian 7[edit]

"O pedang suci yang melenyapkan kejahatan, engkau akan mengubah musuh menjadi abu—«Murgleis»!"

Melepaskan cahaya perak-putih, pedang tersebut merobek kegelapan untuk menembus kepala «Zirnitra».

—Tapi begitu saja. Setelah menyatu dengan naga es, berubah menjadi blok es yang aneh, monster tersebut dengam cepat berregenerasi.

"...Huff, huff... Monster ini!"

Luminaris berlutut di tanah, terengah-engah. Dia telah mengalahkan roh kelas Archdemon sebelumnya, tapi itu dicapai saat memimpin ksatria di bawah komandonya.

(Selain itu, hal ini tidak lagi dianggap sebagai roh...!)

Clang— clatter clatter!

Terkelupas dari tubuh Zirnitra, es jatuh di tanah, menyebabkan kebisingan dan hamburan debu.

"...!"

Wajah Luminaris langsung pucat.

Ada alasan mengapa dia tidak bisa meninggalkan tempat ini yang berada di bawah es jatuh.

Karena bawahannya dari «Sacred Spirit Knights», terperangkap dalam es terkutuk.

...Mereka harusnya masih hidup, tetapi mengambil mereka semua adalah tidak mungkin. Pada tingkat ini, mereka akan terjebak dalam serangan «Zirnitra» pada akhirnya, atau mati dari es terkutuk ketika benar-benar kehabisan divine power.

(Sebelum itu terjadi, monster ini harus dibasmi...!)

Tapi setelah pertempuran berkelanjutan melawan naga es dan satu instansi pelepasan waffe, Luminaris hampir kehabisan semua divine powernya. Mengengalikan dirinya saat ini hanyalah pendukung kemauan.

Tidak ada bala bantuan. Berjuang di sini, dia adalah orang terakhir yang tersisa. Ketiga «Wolf Ritters» yang dikirim dari Winter Gulf sudah dilahap oleh es terkutuk setelah menguras kekuatan mereka.

(...Oh yah, setidaknya itu bekerja dalam mengulur sedikit waktu.)

Menatap langit gelap gulita, Luminaris disesuaikan nafasnya.

Pada saat ini, Zirnitra mengalami perubahan di udara.

Tidak dapat menyangga berat badan setelah ekspansi yang berlebihan, itu mulai jatuh bebas.

Crash!

Dampak pendaratan mengguncang tanah.

Tekanan angin menyapu pohon-pohon di sekitarnya. Dampaknya menciptakan kawah kecil di tanah.

"...Guh—"

Luminaris buru-buru merilis «Perisai» sihir untuk melindungi bawahannya yang membeku.

Setelah mendarat di tanah, Zirnitra telah merilis udara dingin dari tubuh raksasanya, membekukan tanah di sekitarnya, menyebabkan pohon-pohon di «Forest of Ice Blossoms» layu secara bertahap.

"Itu sudah menjadi monster yang hanya tahu untuk melahap segalanya huh..."

Berdiri terhuyung-huyung, dia menyiapkan «Murgleis» lagi.

(Tetapi sementara itu telah jatuh di tanah, masih ada peluang untuk meraih kemenangan—)

Namun tak lama, dia menyadari bahwa gagasan miliknya ini terlalu naif.

Tiba-tiba, tanah menggembung saat pedang es yang tak terhitung jumlahnya muncul di sekitarnya.

Membaur dengan «Forest of Ice Blossoms», Zirnitra mengubah tanah itu sendiri menjadi pedang es.

Tidak siap, Luminaris bereaksi terlalu lambat.

"Guh, ahhhhhh—!"

Menusuk seluruh tubuhnya dengan pedang yang tajam dari es terkutuk, dia berteriak dari tenggorokannya.

(...Apakah ini... berakhir...?)

Air mata meluncur di pipi Luminaris. Sejak dia menderita kekalahan tiga tahun lalu di tangan «Penari Pedang Terkuat», dia bersumpah untuk tidak pernah meneteskan air mata lagi.

(...Ma... af...)

Pikiran terakhirnya pada bawahan yang mengikutinya dengan setia selama ini.

Jari-jarinya tidak memiliki kekuatan lagi. Pedang suci jatuh dari tangannya ke tanah.

Es terkutuk menyerbu sampai ke tingkat tenggorokan. Tepat saat Luminaris mendesah putus asa, pada saat itu...

"—Jangan menyerah. Dirimu di masa lalu tidak pernah menyerah ketika kau bertarung dengan dia."

(...?)

Sebuah kilatan cahaya putih. Es terkutuk yang menutupi seluruh tubuhnya hancur dengan suara renyah.

Terlempar ke udara, dia tertangkap oleh sepasang tangan yang kuat.

"—Kau terlihat seperti kau sedang berjuang, Nona Paladin."

"...Kau... adalah...!"

Elementalist laki-laki «Tim Scarlet».

—Kazehaya Kamito.



Back to Bab 6 Return to Halaman Utama Forward to Bab 8