Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4 - Kembali ke Akademi[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah berpisah dengan Rinslet dan pergi dari wilayah Laurenfrost, kelompok Kamito menghabiskan malam di Frost Town di Pegunungan Kyria kemudian sampai di Akademi Roh Areishia keesokan harinya.

Berkat perlindungan Simorgh, perjalanan kembalinya cukup nyaman, dengan hembusan udara pagi yang menyegarkan sembari lapisan angin yang tipis menyelimuti mereka dimalam hari, mencegah mereka dari kedinginan.

"...Itu hanya beberapa hari saja, tetapi entah kenapa rasanya begitu nostalgia saat kembali."

Melihat gerbang Kota Akademi, dijaga oleh roh-roh penjaga, Kamito bergumam.

Itu terasa seperti waktu yang sangat lama telah berlalu sejak mendengar tentang tanda-tanda Restia dari Elemental Lord Air dan melintasi Pegunungan Kyria bersama Rinslet melewati badai salju yang ganas.

(Yah, banyak hal juga terjadi setelah itu.)

Kamito memalingkan kepalanya untuk menatap Restia yang berjalan disampingnya. Dengan mata melebar, dia melihat-lihat berbagai pemandangan Kota Akademi.

...Sebagai catatan sampingan, dia masih mengenakan seragam maid yang diberi Milla.

"Sungguh kota yang megah. Benar-benar berbeda dari yang aku bayangkan."

"Ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan ibukota kekaisaran. Ini hanya sebuah Kota Akademi."

Claire mengangkat jempol dan menjawab.

"Kota sebesar ini, semua ini milik Akademi...."

Mungkin tak ada kota yang lebih besar dari kota ini dalam ingatan Restia saat ini.

Teringat kenangan dari kunjungannya ke ibukota kekaisaran bersama Restia di masa lalu, Kamito merasakan sebersit rasa sakit dalam hatinya.

"Itu karena bagian kota ini tidak terlibat dalam serangan roh-roh militer dan juga para ksatria bergegas merekonstruksi kota. Sisi Akademi tetaplah sebuah reruntuhan puing yang sangat luas."

Ellis berbisik dengan ekspresi serius.

Kelompok Kamito melewati gerbang utama dan melangkahkan kaki kedalam Kota Akademi.

Setelah beberapa saat, mereka mulai melihat bangunan-bangunan runtuh sama seperti yang Ellis katakan. Ini adalah tanda-tanda yang ditinggalkan karena serangan yang dilakukan oleh Lurie, mantan anggota Number.

Kamito melihat kearah plaza dan menemukan sebuah roh batu sedang bekerja, memindahkan puing-puing.

"Dan itu—?"

"Ya, itu adalah Cabracan milik Rakka."

Ellis mengangguk.

"Aku akan pergi memberitahu mereka bahwa kita sudah kembali. Sampai jumpa lagi, Kamito."

"Ya, dimengerti. Kalau begitu kami akan kembali ke Akademi dulu."

Kamito melihat Ellis pergi sembari dia berjalan kearah teman-temannya.

"Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat dan mencari makanan atau sesuatu?"

Kemudia dia menanyai Claire.

"U-Umm...."

Untuk suatu alasan, Claire tersipu dan tergagap.

"A-Ada sesuatu yang harus aku lakukan di kota."

"Sesuatu untuk dilakukan?"

"Iya. Umm, aku akan membuat makan malam untukmu malam ini."

"...Huh?"

Mau bagaimana lagi, Kamito bertanya lagi.

"Makan malam? Kamu akan membuatnya, Claire?"

"Ya, aku akan memasak untukmu, Kamito!"

Menjadi merah cerah, Claire berteriak keras-keras.

Selama sesaat, Kamito khawatir.

....Kemudian dia berpikir lagi secara hati-hati.

(Aku mengerti, jadi dia ingin menunjukkan pada seseorang bahwa kemampuan memasaknya sudah meningkat.)

Kamito memiliki pengalaman yang serupa dimasa lalu.

3 tahun yang lalu, ketika tinggal di rumah Greyworth, Kamito dipaksa untuk memasak makanan yang tak pernah dia masak sebelumnya untuk memuaskan tuntutan si penyihir.

Standart Greyworth sangatlah tinggi. Dibawah tekanan yang besar setiap hari, Kamito mengembangkan sebuah hobi rahasia, yaitu untuk membuat orang yang dia sayangi, Restia, mencicipi kuliner buatannya yang terbaru.

(Saat itu, aku merasa begitu bahagia setiap kali Restia memujiku, yang mana juga membantuku untuk mengingat teknik-teknik memasak.)

Oleh karena itu, Kamito teringat gelombang kenangan nostalgia.

"Apa? Apa kau sekhawatir itu dengan masakanku?"

Claire cemberut.

"Aku tidak akan membuat arang lagi, oke..."

"Tidak, bukan itu yang aku pikirkan. Aku menantikan masakanmu, Claire, dengan cara yang normal."

Kamito dengan panik menggeleng.

"Be-Benarkah?"

"Ya."

Kamito mengangguk.

Claire merendahkan kepalanya sedikit.

Sebenarnya, kemampuan memasaknya memang telah meningkat. Ini bukan hanya karena fakta bahwa dia telah bisa mengendalikan api miliknya. Tinggal di Akademi bersama dia, Kamito mengetahuinya lebih baik dari siapapun juga bahwa Claire adalah seseorang yang bisa mengerahkan upaya ratusan kali lebih banyak daripada rata-rata orang.

"Kalau begitu, apa yang ingin kau buat?"

"U-Umm... aku ingin membuat makaroni gratin."

"Gratin huh? Untuk seorang pemula dalam memasak, bukankah itu cukup sulit?"

"Jangan khawatir, aku sudah menguasai pengendalian api, dan juga..."

Claire melihat kebawah dan memainkan kedua jari telunjuknya satu sama lain didepan dadanya.

"Hmm?"

"K-Kamito, kau menyebutkan sebelumnya bahwa gratin adalah makanan kesukaanmu."

"Eh... Oh... Aku mengerti. Aku terkejut kau masih ingat sesuatu semacam itu..."

Kamito memiliki ingatan yang samar bahwa dia mungkin telah menyebutkan hal itu selama perkenalan diri ketuka dia pertama kali masuk ke Akademi.

"T-Tentu saja aku ingat..."

"Mengesankan seperti biasa, siswi terhormat."

"B-Bukan seperti itu... Cukup sudah tentang hal itu. Pokoknya, aku akan membuat gratin kesukaanmu untuk makan malam malam ini, oke?"

"Ya, aku benar-benar menantikannya."

Kamito menepuk kepala Claire dan dia mendengkur seperti seekor kucing.

"K-Kalau begitu aku akan belanja sekarang... Hmm, saus krim, keju, makaroni... Persik kalengan, kepiting kalengan, mayonaise kalengan♪"

Claire dengan senang bersenandung sembari menuju ke distrik perbelanjaan.

(...Hmm, entah kenapa aku masih merasa sedikit khawatir.)

Mengerang diam-diam dalam hatinya, Kamito memalingkan kepalanya kearah Restia.

"Jadi, haruskah kita langsung kembali ke Akademi atau kamu mau berkeliling Kota Akademi sebentar?"

"...Huh?"

Restia sedikit memiringkan kepalanya.

"Yah, kamu melihat jalanan dengan penuh rasa ingin tau sejak awal. Apa ada suatu tempat yang membuatmu tertarik?"

"Ya, ada begitu banyak toko-toko yang berbeda. Hanya dengan melihatnya saja sudah sangat menarik."

Restia mengangguk dengan jujur.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar?"

"...Bolehkah?"

"Tentu. Itu akan menjadi cara yang sempurna untuk menghabiskan waktu sebelum makan malam."

Bagian 2[edit]

Dengan demikian, Kamito membawa Restia berkeliling kota.

Semakin dekat mereka dengan pusat kota, semakin ramai kerumunan orang. Meskipun matahari sudah terbenam dan langit sudah gelap, rekonstruksinya masih berlangsung.

Berjalan diantara keramaian itu di jalanan utama, para ksatria berseragam militer adalah yang paling mencolok. Bukannya para prajurit diasramakan di Kota Akademi, mereka adalah para ksatria baru yang dikirim dari ibukota kekaisaran. Setelah mengalami serangan dari roh-roh militer, para ksatria yang ditempatkan disini telah mengalami kelumpuhan fungsionalitas sejak hari itu.

"...Begitu banyak orang... Kyah..."

Kamito menggenggam tangan Restia tepat saat dia hendak tersapu kerumunan orang.

Kemudian dia menarik Restia ke sampingnya.

"U-Umm...."

"Kita harus berpegangan tangan dengan benar karena disini sangat ramai."

"...U-Uh..."

Tiba-tiba, kenangan nostalgia tertentu muncul dalam benak Kamito.

"Ini berlawanan dengan apa yang terjadi sebelumnya."

"...Sebelumnya?"

"Ya, enam tahun yang lalu, ketika kamu dan aku mengunjungi ibukota kekaisaran."

— Dihari Festival Roh Agung enam tahun yang lalu, saat itu Kamito berusia 9 tahun, Sekolah Instruksional mengirim dia pada sebuah misi untuk mencuru roh militer yang digunakan dalam upacara tersebut.

Masih seorang anak laki-laki kecil pada saat itu dan terkejut karena jumlah orang yang banyak dan melihat ibukota kekaisaran yang sangatlah besar untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kamito berjalan-jalan di jalanan, memegang tangan Restia.

"...Aku mengerti, jadi kita sudah saling mengenal satu sama lain selama itu."

"Awalnya, yang kita lakukan adalah bertarung sepanjang waktu."

Kamito berkata dengan senyum masam. Tetapi sebenarnya, daripada bertarung, sebenarnya itu lebih seperti Kamito dihajar secara sepihak oleh Restia.

"Lihat lihat, sebelah sana—"
"Raja Iblis Malam Hari punya pacar baru."
"Dipaksa berpakaian sebagai seorang maid."
"Apa dia sudah bosan dengan siswi-siswi didalam kelompoknya?"
"Benar-benar Raja Iblis..."

Dengan demikian, mereka mendengar para siswi berbisik diantara mereka dimana-mana di jalanan.

"...Raja Iblis?"

"Lupakan saja tentang komentar-komentar itu."

Kamito mengerang dan menjawab Restia yang memiringkan kepalanya kebingungan.

"Tapi Raja Iblis yang disebutkan oleh nona-nona muda itu mengacu pada..."

"N-Ngomong-ngomong, ayo pergi dari sini dulu!"

Menggenggam tangan Restia, Kamito mulai berjalan lebih cepat.

Bagian 3[edit]

Meninggalkan plaza pusat, mereka sampai di distrik perbelanjaan. Aroma lezat bertebaran diudara.

Ada banyak penjual disisi jalan mendirikan kios di tempat bekas bangunan yang telah dihancurkan oleh roh-roh militer.

Bisnis-bisnis tampaknya berjalan dengan baik bagi para penjual. Orang-orang yang bekerja pada rekonstruksi kota selama siang hari akan berkumpul disini dimalam hari.

"Ada aroma nikmat di udara."

Restia menatap para penjual dengan ketertarikan yang besar.

"Apa mungkin kamu lapar?"

"...!?"

Mendengar pertanyaan Kamito, Restia langsung tersipu.

"T-Tentu saja tidak...!"

"Oh yah, makan siang sudah berlalu cukup lama. Masakan Claire tampaknya akan membutuhkan waktu lama, jadi ayo kita cari makanan ringan untuk saat ini—"

"T-Tak apa-apa! Aku tidak bermaksud seperti itu—"

Restia membantah dengan panik.

Namun, dia tak bisa menipu Kamito yang telah tinggal bersamanya selama bertahun-tahun.

"Aku paham, aku paham..."

"...J-Jelas-jelas kamu salah paham..."

Kamito tersenyum masam dan mendekati penjual yang menjual crepe terdekat.

Tiba-tiba, Kamito merasakan tarikan kuat di tangan kanannya, menghentikan dia.

"Yah, tak perlu malu-malu... Huh?"

Tunggu, seharusnya tangan kirinya yang memegang tangan Restia.

...Tug. Tug.

Tangan kanannya ditaring dua kali lagi.

"....?"

Kamito memutar kepalanya.

"Kamito, aku sangat lapar juga."

"E-Est!"

Memegang tangan Kamito adalah seorang gadis muda yang cantik dengan rambut putih perak berkilauan.

Dengan mata ungu misterius, dia menatap Kamito tanpa ekspresi.

"Kamu sudah pulih?"

"Ya, aku sudah tidur nyenyak, Kamito."

Si roh pedang mengangguk ringan dan menjawab.

Karena menggunakan terlalu banyak energi, dia telah berada dalam wujud pedang sepanjang waktu setelah pertempura melawan Zirnitra. Akhirnya, dia pulih sekarang.

"...Gadis ini adalah Nona Roh Pedang?"

Restia menyela percakapan mereka, dengan demikian, Est akhirnya menyadari kehadirannya. Menatap Restia yang mengenakan seragam maid dengan seksama.

"...Roh kegelapan."

"Senang bertemu denganmu, Nona Roh Pedang."

Restia mengangguk ringan dan membungkuk.

"Jangan bersikap ramah padaku. Itu salah, roh kegelapan."

Rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble....!

Seketika, Est memancarkan aura mengerikan dari seluruh tubuhnya.

Ini adalah tekanan pedang yang berasal dari pedang suci legendaris yang membunuh Raja Iblis sebelumnya. Orang-orang biasa disekeliling berpaling untuk menatap mereka.

"...Permisi, N-Nona Roh Pedang?"

Ketakutan, Restia secara tidak sadar memeluk lengan Kamito.

Rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble....!

Dihadapkan dengan pemandangan ini, Est mulai memancarkan aura yang bahkan lebih kuat.

(Oh benar, mereka berdua memang tidak pernah akur sejak awal.)

"—Kamito, menyingkir dari sana sekarang. Jika tidak, aku tidak bisa melenyapkan roh kegelapan itu."

"T-Tunggu, Est, ini adalah cerita yang panjang—"

".....?"

Est memiringkan kepalanya.

"Umm, saat ini, Restia telah kehilangan semua ingatan dari masa lalunya."

Mendengar itu dari Kamito—

Aura kemarahan Est sedikit mereda.

"Kehilangan ingatannya...?"

"Ya. Bukan hanya lupa tentang kamu dan aku, tetapi bahkan fakta bahwa dia adalah seorang roh. Jadi dia sepenuhnya lupa tentang semua interaksinya denganmu—"

"....."

Est perlahan-lahan berpaling kearah Restia.

"Roh kegelapan, apa kau benar-benar lupa semua ingatanmu mulai dari hari-harimu sebagai seorang roh?"

"I-Iya..."

Restia mengangguk dengan penampilan gelisah.

"Apa kau juga lupa tentang menyerang Kamito berkali-kali dan bahkan secara paksa melepas kaus kakiku?"

"A-Apa aku melakukan sesuatu semacam itu!?"

(Oh. Melepas kaus kaki itu terjadi di Ragna Ys...)

"...."

Lalu, Est menatap mata Restia—

"...Aku mengerti. Kau benar-benar telah kehilangan ingatanmu."

Dia bergumam pelan.

"Dalam hal ini, roh kegelapan, kau dan aku adalah eksistensi yang sama."

"Est..."

—Kau dan aku sama. Kamito dengan cepat mengerti apa yang dia maksudkan.

Memang, Est terpisah dari eksistensi utamanya, menghasilkan sebuah keadaan yang hampir amnesia secara total.

"Roh kegelapan—"

Est tiba-tiba menunjuk Restia.

"Kau boleh berada di sisi Kamito ketika kau kehilangan ingatanmu, tapi—"

Dia berbicara tanpa ekspresi.

"Ingatlah ini dengan hati-hati. Aku sebenarnya adalah kakakmu."

"....kakak?"

Ketika Restia terkejut, Est berjalan kearah si penjual.

"...."

"—Oh yah, tampaknya masalahnya sudah selesai."

Menepuk kepala Restia, Kamito tersenyum masam dan berkomentar.

"Kamito, aku mau makan crepe juga."

"...Baik, baik."

Kamito dengan panik mengejar Est.

Di sekitar penjual crepe, Kamito mendengar suara yang akrab.

"Crepe lezat, cocok untuk seorang raja, maukah kau crepe yang masih baru matang?"

"....Umm, kenapa kau disini?"

"....Hwah, K-Kamito-sama!?"

Bekerja di kios crepe itu adalah Carol si maid.

Bagian 4[edit]

"Mungkinkah espedisi anda sudah selesai....?"

"....Uh, apa yang kau lakukan disini, Carol?"

Kamito bertanya dengan jengkel. Carol tersenyum ringan.

"Ya, itu terlalu membosankan karena nyonya tidak ada, jadi aku mau mencoba pekerjaan paruh waktu."

"Apa? Pekerjaan paruh waktu? Pernahkah kau berpikir dengan cermat tentang apa pekerjaanmu yang sebenarnya?"

Kamito berbicara sambil menyipitkan mata.

"Jadi nyonya tetap di Laurenfrost."

"Ya. Mereka memiliki segala macam masalah yang harus diselesaikan disana."

"....fufu. Nyonya sudah cukup luar biasa karena bertindak sebagai kepala keluarga Laurenfrost."

"Ayolah Carol, kau juga harus sedikit belajar dari Rinslet dan bekerjalah dengan serius."

"Ya, aku akan bekerja keras untuk membuat kios krepe ini makmur!"

Carol mengepalkan tangannya.

"Tidak, aku tidak berbicara tentang hal itu...."

"Bisakah anda merahasiakan bahwa aku bekerja paruh waktu dari nyonya?"

Carol mendekatkan jari telunjuknya pada bibirnya dan tersenyum.

"...Tentu, tak masalah. Kalau begitu! Bagaimana kalau kau memberiku diskon untuk krepenya?"

"...ini ya ini, itu ya itu!"

"...Kau menunjukkan nyali yang tak terduga disini."

Kemudian, Est menarik kemeja Kamito lagi.

"Kamito, apa krepenya belum siap?"

"...ya, maaf. Jadi kalian berdua, rasa apa yang kalian mau?"

"Aku mau krepe tahu."

"Umm, kurasa kau tak bisa memilih tahu."

"Meskipun tahu tidak tersedia, kau bisa memilih memilih marshmallow."

"Kalau begitu beri aku yang itu. Restia, kau mau rasa apa?"

"A-Aku ingin.... umm...."

Melihat menu pada papan, Restia kebingungan karena memiliki sangat banyak pilihan.

"Aku merekomendasikan krepe coklat pisang♪."

"Baiklah, kalau begitu aku mau yang itu."

"Dua krepe, satu marshmallow dan satu coklat pisang, kan?"

Carol mulai menyalakan kristal roh api dan mulai memasak krepe dengan terampil di wajan penggorengan.

"Carol, kau bisa menggunakan kristal roh?"

"Ya, meskipun aku tidak dilatih secara resmi, aku masih bisa menggunakan mereka jika itu hanya sekedar sihir roh sederhana."

"Potensi sebagai seorang elementalist huh... Ngomong-ngomong, aku cukup terkejut kau tau bagaimana membuat manisan."

"Ya, aku memakan manisan yang disiapkan oleh nyonya sepanjang waktu."

...Sembari mereka mengobrol seperti ini, krepenya dengan cepat selesai.

Bagian pancake dari krepe tersebut sedikit kecoklatan. Kemudian buah seperti pisang atau strawberi ditambahkan bersama krim segar. Topping coklat itu tampak benar-benar lezat.

"Silahkan nikmati. Jangan sungkan-sungkan."

"Hati-hati, jangan dijatuhkan ke tanah."

"Kamito, aku begitu senang♪"

"T-Terimakasih...."

Est mengunyah tanpa ekspresi sambil menikmati krepe miliknya. Disisi lain, Restia tampak gelisah, dihadapkan dengan makanan yang dia makan untuk pertama kalinya.

STnBD V14 103.jpg

"...Umph."

Restia menggigit dengan tegas. Krim keluar dari dalam krepe tersebut, menempel pada pipinya.

"Lihat, diwajahmu—"

Kamito mengusap pipi Restia dengan ujung jarinya.

Seketika, wajah Restia menjadi merah cerah.

".....~?"

"Ada apa?"

"B-Bukan apa-apa...."

Restia menundukkan kepalanya malu-malu dan mulai mengunyah, menirukan Est.

"....Lezat sekali."

Ekspresi Restia secara spontan berubah penuh kegembiraan.

Melihat dia seperti itu, Est berkata:

"Roh kegelapan, aku mau mencoba milikmu juga."

"Silahkan, Nona Roh Pedang."

"Ya."

Mengangguk ringan, Restia menyuguhkan krepe miliknya pada Est.

"Kalay begitu kau coba krepe marshmallow ini juga, roh kegelapan."

Kedua roh terkontrak bertukar krepe dan mengunyahnya.

...Mereka terlihat hampir seperti sepasang saudari yang sangat akrab satu sama lain.

"Fufu, mereka begitu dekat."

Carol melihat mereka dengan senang.

Lalu, Kamito berpaling kearah dia.

"Oh ya, apa sesuatu terjadi disini ketika kami pergi?"

Dia tiba-tiba bertanya tentang sesuatu yang telah mengganggu dia.

Kira-kira lima hari yang lalu ketika Kamito berangkat ke Laurenfrost, jadi seharusnya tak ada yang telah terjadi, tetapi bagaimanapun juga, sejak insiden itu, tak akan aneh untuk keributan seperti konflik diantara siswi untuk memanas, disebabkan oleh kegelisahan.

"Tak ada hal penting yang terjadi sejak hari itu."

Carol menggeleng.

"Namun, para ksatria dikirim dari ibukota kekaisaran telah meningkat seiring berlalunya waktu."

"...Ya, aku berpikir begitu juga."

Serangan teroris beberapa hari yang lalu menyebabkan Akademi kehilangan banyak ksatria roh dan roh-roh militer. Untuk menutupi kekosongan itu, ibukota kekaisaran telah mengirim para ksatria dari tentara mereka.

"Sylphid Knight juga bekerja keras untuk menegakkan peraturan dan ketertiban kota."

"...Aku mengerti. Yah, kurasa itu bagus bahwa tak ada yang tejadi—"

Tepat saat Kamito menghembuskan nafas lega.....

"O-Oh tidak!"

"Ada pemberontakan di Akademi!"

Orang-orang bisa didengar sedang berteriak dijalanan, menyebabkan keributan besar.

"...Pemberontakan?"

Mendengar kata-kata tak menyenangkan seperti itu, Kamito mengernyit.

"A-Apa sesuatu terjadi?"

"...Tebakanmu sama seperti tebakanku. Kalian berdua, ayo bergegas kembali ke Akademi terlebih dulu."

"Kamito, krepeku belum habis—"

Bagian 5[edit]

Membawa Est dan Restia, Kamito buru-buru kembali ke Akademi, dan menemukan keributan digerbang.

Para siswi Akademi telah memasang barikade didepan pintu masuk utama dan sepertinya mereka tengah berargumen ganas dengan para ksatria Kekaisaran.

Mengenakan armor, bahkan para Sylphid Knight telah memanggil roh mereka untuk suatu alasan, menahan para Imperial Knight yang hendak menerobos barikade tersebut.

Itu seperti sebuah tong serbuk yang menunggu dinyalakan setiap saat.

(...Apa yang terjadi?)

Kamito bertanya-tanya.

"Oh, itu kau, Kamito."

Membawa tas belanja yang tampak berat, Claire berlari kearah dia.

"Claire, apa-apaan yang terjadi disini?"

"Tampaknya kubu siswi memprotes terhadap penangkapan kepala sekolah."

".....Huh?"

Kamito meragukan telinganya.

"Greyworth dipenjara?"

"Baca ini—"

Claire mengeluarkan kertas dari saku depannya.

Itu adalah surat kabar ekstra yang dikeluarkan olej ibukota kekaisaran. Membacanya, mata Kamito melebar.

".....apa!?"

Fianna Ray Ordesia, Putri Kedua Kekaisaran, dan Dame Greyworth Ciel Mais, mantan peringkat pertama dari Number, telah ditangkap karena upaya pembunuhan kaisar yang gagal.

—Berikut adalah rinciannya.

Selama sidang dewan kekaisaran, Putri Kedua Kaisar, Fianna Ray Ordesia telah melepaskan roh iblis, berusaha membunuh Yang Mulia Kaisar. Sebuah petisi yang ditanda tangani oleh para anggota faksi anti-Arneus juga ditemukan di kamar Putri Kedua.

Berdasarkan pada hal ini, insiden tersebut diperkirakan merupakan sebuah konflik yang lahir dari masalah penerus kekaisaran.

Selain itu, roh iblis yang dilepaskan oleh Putri Kedua adalah roh terkontrak milik Dame Greyworth. Dengan demikian, dia juga dipejara sebagai seorang konspirator.

"Apa-apaan sih yang sedang terjadi?"

Kamito meremas kertas itu menjadi bulat dan berteriak.

"Jadi kau juga gak tau apa-apa tentang itu."

Claire menggeleng.

"Tetapi pasti ada suatu kesalahan disuatu tempat. Fianna jelas-jelas sudah meninggalkan posisinya dalam keluarga kerajaan...."

"Ya, yang kutakutkan adalah dia kemungkinan besar dijebak."

"...huahhhhhh!"

Mendengar suara yang tiba-tiba, Claire melompat ketakutan.

Keluar dari bayangan Claire, seorang wanita mengenakan setelan muncul secara diam-diam.

"Freya-sensei!"

Dia adalah Miss Freya, elementalist bayangan dan guru wali kelas dari kelas Gagak.

"Sensei, apa sebenarnya yang terjadi? Siapa yang menjebak—"

"Aku juga dalam proses mengumpulkan informasi. Claire Rogue, tenanglah."

"Bagaimana bisa aku tenang? Karena Fianna sekarang—"

Lalu, sebuah ledakan kecil terdengar dari luar barikade.

Seseorang dari kubu Akademi telah melepaskan sihir roh.

"Hentikan itu, idiot, jangan gunakan sihir roh!"

Dikelilingi oleh kekacauan, Ellis berteriak untuk menghentikan para siswi dari kerusuhan.

"T-Tapi Kapten—"

"Memenjarakan kepala sekolah adalah hal yang tak bisa dimaafkan! Bahkan tanpa vonis resmi—"

"Para Imperial Knight terlalu kejam!"

(....Ini adalah situasi yang buruk.)

Kamito menarik Restia yang ketakutan dan menyembunyikan dia dibelakangnya.

Meskipun Kamito benci mengakuinya, rasa hormat dan kekaguman yang diberikan para siswi pada si Penyihir Senja dan pahlawan dari Perang Ranbal menyaingi popularitas dari Ren Ashbell, si Penari Pedang Terkuat.

Tak akan mengejutkan jika kemarahan para siswi meledak sebagai hasil dari penahanan Greyworth.

Namun, kerusuhan pada kubu siswi akan memberi para Imperial Knight sebuah alasan untuk menekan mereka.

"Claudia-sama, tolong ijinkan kami menggunakan sihir roh."

"Ini adalah pertahanan yang sah. Mari kita segera tangkap para perusuh ini."

Si wanita bernama Claudia, berpakaian dalam armor ksatria berperingkat tinggi, mengeluarkan perintah dengan suara yang dingin.

Para ksatria roh dibawah komandonya mengeluarkan elemental waffe mereka pada saat yang bersamaan.

Pada gadis didalam barikade mulai merasa ketakutan. Hampir tak ada siswi yang mampu melawan para ksatria roh profesional. Pada akhirnya, hanya ada beberapa siswi terhormat yang bisa memanggil roh terkontrak dan mengeluarkan elemental waffe dengan pasti.

"A-Apa yang kau lakukann? Apa kau berniat melanggar hak otonomi Akademi—"

Ellis berteriak sekeras yang dia bisa, tetapi para Imperial Knight tanpa ampun menghancurkan barikade tersebut.

"Dame Claudia, tolong minta bawahanmu untuk mundur—"

Ellis berbicara pada si pemimpin dari kubu ksatria lawa.

Terukir pada armor dari ksatria bernama Claudia adalah sebuah simbol dari seekor elang dengan sayap yang direntangkan.

Itu adalah lambang keluarga Fahrengart. Dengan kata lain, para ksatria ini semuanya lebih rendah dalam posisi dibandingkan Ellis, putri dari kepala keluarga saat ini.

Namun, para ksatria bawahan mengabaikan Ellis dan dengan paksa menangkap para siswi yang melawan. Jeritan-jeritan datang dari para gadis yang tangan mereka ditangkap.

".....Kau—"

Mencapai ujung dari kesabarannya, Ellis memanggil Ray Hawk. Tepat pada saat itu....

Kobaran api panas muncul dari udara tipis, memblokir para Imperial Knight.

"Cukup sudah—"

Menggunakan kobaran api yang ganas milik Scarlet, Claire mengancam para ksatria sekeliling.

Melihat roh yang kuat, jauh melampaui level dari para siswi, para ksatria mundur.

"Claire.....?"

"Kau adalah adik Ratu Bencana."

Namun, Claudia berdiri diam ditempat dan menatap dingin pada Claire.

"Kalau begitu, orang yang disebelah sana pasti Kazehaya Kamito."

Kemudian dia memalingkan tatapannya kearah Kamito yang menyembunyikan Restia dibelakang punggungnya.

"...Ya, lalu apa?"

"Sempurna. Perintah dari para petinggi termasuk menangkapmu."

"....Apa?"

"Apa maksudmu dengan penangkapan?"

Claire menghunus pedangnya dan mengayunkan pedang itu pada Kamito.

"Karena teman-teman dari Putri Kedua tak bisa diijinkan berkeliaran bebas setelah upaya pembunuhannya pada kaisar!"

"...Fianna tak mungkin melakukan upaya pembunuhan!"

"Itu tak penting. Aku hanyalah pion yang mengikuti peritah militer."

Claudia mengacungkan pedangnya sementara para ksatria bawahannya dengan cepat mengepung Kamito dan teman-temannya.

(...Ada tujuh ksatria roh. Dari mereka semua, tiga orang sangat terampil.)

Kamito dengan tenang menilai kekuatan musuh sambil memegang tangan Est.

"Est, aku mengandalkanmu—"

"Ya, Kamito. Aku adalah pedangmu, keinginanmu adalah perintah untukku—"

Setelah Kamito melantunkan mantra pelepasan, sosok Est berubah menjadi partikel cahaya yang menghilang dalam udara tipis, berubah menjadi Demon Slayer, bersinar dengan kecemerlangan putih-perak.

"Apa yang bisa dilakukan oleh satu orang? Serang!"

Saat Claudia berteriak, para ksatria roh disekitar menyerbu.

Kamito menuangkan divine power kedalam Demon Slayer dan menendang tanah dengan keras.

"Absolute Blade Arts — Bentuk Ketiga, Shadowmoon Waltz!"

Sebuah kilatan dari banyak tebasan.

Didetik berikutnya, semua ksatria yang menyerang telah runtuh di tanah.

"Tak mungkin.... Dalam sekejap... tiga orang elit diantara para ksatria roh....?"

"Maaf, aku tak akan menahan diri jika prajuri adalah lawanku."

Kamito menyesuaikan kuda-kudanya dengan Demon Slayer dan menatap pada para ksatria yang tersisa.

"Jangan lupakan aku!"

Memegang Flametongue, Claire terus menekan para ksatria.

"Seperti yang diduga dari pemenang turnamen Blade Dance. Sepertinya cara biasa tidak akan cukup."

Claudia mengangkat bahu dan menikamkan pedangnya pada tanag. Selanjutnya—

"Yang mana kenapa suatu metode semacam itu—"

Dia menjentikkan jarinya.

"Ah!"

Dibelakang Kamito, Restia menjerit.

"Restia!"

Kamito menoleh kebelakang untuk melihat roh ular transparan melilit kepala Restia, mencekik tenggorokannya. Ini adalah roh militer kecil yang digunakan oleh para Imperial Knight untuk pengintaian.

"....Ack.... Urgh..."

"Gadis ini tampaknya penting bagimu, meskipun identitasnya tidak diketahui."

"....Dasar jalang!"

Kamito berteriak dan menatap marah pada pada Claire yang ada didepan dia.

"Jatuhkan elemental waffe milikmu, Kazehaya Kamito."

"Sial....!"

Kamito menggertakkan giginya dengan keras.

Dia menyalahkan dirinya karena gagal memperhatikan Restia dengan benar, tetapi apa semua ksatria dari pasukan Kerajaan serendah itu hingga mengambil sandra?

"Dame Claudia!"

Ellis berteriak penuh cercaan.

"Sebagai seorang anggota dari Fahrengart Knight, bagaimana bisa kau—"

"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang ksatria, Nona Ellis."

"...Apa yang kau bicarakan....?"

"...kk... Urghhhhh....!"

Tercekik pada leher, Restia mendesah kesakitan. Disaat hari-harinya sebagai roh kegelapan, dia bisa dengan mudah melumat roh militer berperingkat rendah, tetapi sekarang ini—

"....Aku paham. Hentikan....!"

Kamito menusukkan Demon Slayer pada tanah dan mengangkat tangannya untuk menyerah.

Claudia segera memerintahkan bawahannya:

"Tangkap Kazehaya Kamito dan adik Ratu Bencana."

"T-Tunggu, apa yang kau lakukan.... Kyah!"

Kamito dan Claire segera tertangkap oleh mantra pengikat milik tentara itu.

Bagian 6[edit]

"......Ooh.... Hmm...."

Didalam ruangan yang redup, Fianna terbangun.

Dia bisa merasakan dari ruangan ini sebuah tekanan yang tak biasa yang tidak berasal dari kesempitannya.

Tanpa jendela, tak ada cahaya matahari yang masuk. Satu-satunya sumber cahaya adalah kristal roh yang bersinar di sebuah tempat lilin.

Ini adalah Temple of World Isolation berlokasi dibawah tanah, dibawah Kuil Besar Areishia di pusat Ostdakia, ibukota kekaisaran. Dimasa lalu, ini digunakan sebagai tempat dimana princess maisen berdarah kerajaan berlatih.

Karena segel pada lantai bati, semua hubungan ke Astral Zero telah sepenuhnya terputus. Jangankan memanggil roh terkontrak, menggunakan sihir roh saja sudah mustahil.

Seorang princess maiden secara tak sengaja tewas selama pelatihan di ruangan ini selama pemerintahan kaisar yang sebelumnya. Sebagai hasilnya, ruangan ini tidak dibuka selama waktu yang lama sampai sekarang.

(Ternyata ini cukup ampuh sebagai sebuah tempat untuk memenjarakan princess maiden.)

Orang-orang yang mencoba merenggut nyawa kaisar biasanya akan dipenjara di tingkat paling bawah dari Penjara Balsas, tetapi penjara itu telah setengah hancur karena serangan beberapa hari yang lalu dan sedang dalam perbaikan.

"....Guh... Ah.."

Tangannya terasa sangat nyeri ketika dia memutar tubuhnya.

Terikat oleh rantai dengan mantra yang tertulis pada rantai itu, tubuh Fianna menggantung dari langit-langit. Gaun putih polos yang dikenakan pada pertemuan itu telah compang-camping dalam keadaan yang menyedihkan, kemungkinan besar tersobek ketika dia secara paksa dibawa kesini.

STnBD V14 115.jpg

Kesadarannya masih kabur.

Apakah itu sihir manipulasi pikiran? Atau mungkin mereka telah menggunakan suatu macam obat.

— Setelah insiden itu, Fianna segera ditahan dan dipenjara di ruangan ini.

Menurut para ksatria, petisi bertanda tangan faksi anti-Arneus ditemukan didalam kamar Fianna. Semua bangsawan besar yang tanda tangannya ada disana ditangkap.

Lord Conrad telah melakukan bunuh diri dengan racun di kamarnya sendiri. Menurut penafsiran dari para Imperial Knight, menteri utama melakukan bunuh diri sebagai konspirator utama setelah mengetahui rancananya telah gagal.

Normalnya, mustahil bagi Fianna untuk mempercayai penjelasan semacam itu. Penentangan dari menteri utama adalah untuk mencegah Arneus, bonekanya Kerajaan Suci, dari mewarisi tahta dengan segala cara.

(Menteri utama bukanlah orang bodoh. Bagaimana bisa dia menggunakan suatu metode sembarangan seperti membunuh kaisar?)

Tetapi dalam hal itu, kenapa menteri utama menyerahkan Bloodstone pada Fianna?

(....Apakah dia tidak tau bahwa roh iblis tersegel didalamnya?)

Mengasumsikan bahwa itulah yang terjadi, dia pasti telah jatuh kedalam kelicikan seseorang. Amukan roh iblis adalah suatu rekayasa dan dilakukan oleh faksi Arneus dengan tujuan menjatuhkan semua bangsawan faksi Fianna dalam sekali sambar, tetapi—

Masih ada satu lagi fakta yang mengganggu dia.

(Roh iblis yang mengamuk adalahh roh terkontrak milik kepala sekolah....)

Eksistensi dari Penyihir Senja, saat ini memegang pengaruh politik yang sangat besar, yang mana mungkin merupakan hambatan bagi faksi Arneus. Oleh karena itu, mereka menggunakan roh iblis yang dulunya digunakan oleh si penyihir agar berhasil menjebak dia. Namun, metode macam apa yang mereka gunakan untuk menyegel roh kelas archdemon, dan roh terkontrak milik Penyihir Senja...?

Dalam kesadarannya yang kabur, banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.

Lalu, sebuah suara berat dari pintu terbuka terdengar didalam Temple of World Isolation.

".....!?"

Sebuah sinar cahaya dari dunia luar masuk kedalam ruang redup itu, memaksa Fianna untuk menyipitkan mata.

"Kukuku.... Sungguh pemandangan yang indah, adikku—"

Mendengar suara itu membuat Fianna mengernyit jijik.

Masuk dengan lengannya di rentangkan penuh kesombongan adalah Arneus.

Fianna mengarahkan tatapan kemarahan yang penuh permusuhan pada wajah kakaknya.

"Untuk kakak yang terhormat—bukan, mungkin akan lebih baik untuk memanggilmu Yang Mulia Kaisar Arneus?"

"Aku bukan kaisar, masih belum—"

Tersenyum seperti itu, Arneus mendekatkan wajahnya, cukup dekat hingga Fianna bisa merasakan nafasnya.

"Namun, ayahku saat ini tertahan di tempat tidur, terinfeksi oleh racun dari roh iblis yang kau panggil. Menyebutku sebagai penerusnya hanyalah masalah waktu saja—"

"Pasti tidak mudah bagimu untuk merancang rencana semacam itu. Apakah Kerajaan Suci mendukungmu?"

".....!"

Wajah Arneus langsung berubah waspada.

"...Hmph, lagian kau akan dieksekusi dalam beberapa hari, Lost Queen."

Mengeluarkan kata-kata itu, dia meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya dengan kasar.

Bagian 7[edit]

"Yang Mulia, Pangeran Arneus."

Dia mendengar suara itu segera setelah dia melangkah keluar dari Temple of World Isolation.

Arneus memalingkan tatapannya kearah sumber suara itu. Dibayang-bayang dari pilar batu ada seorang wanita dalam seragam ksatria.

Rambut hitamnya sangat indah sampai pada titik menggoda. Mata biru gelap miliknya tampak dipenuhi dengan api gelap.

Dame Leschkir Hirschkilt, seorang anggota Number."

"Ah, Dame Leschkir—"

"Pidatomu sebelumnya sangat bagus, Yang Mulia."

Dengan senyum menggoda dibibirnya, dia mengatakan pujian.

Apa yang telah terjadi beberapa jam sebelumnya adalah pidato yang disampaikan untuk mengumpulkan perwakilan negara dari seluruh benua. Menangis penuh kesedihan untuk ayahnya yang terbaring sakit, sang Kaisar Ordesia, dia sangat mengecam dalang dibalik upaya pembunuhan yang gagal, sang Putri Kedua.

"Aku tak percaya kau mampu melakukannya, Dame Leschkir. Aku sangat ketakutan ketika roh iblis itu mengamuk....."

"Pada akhirnya, itu hanyalah bayangan dari kekuatan yang tersegel didalam kristal roh— hanya sebuah 'manifestasi'. Karena seseorang akan menyangka roh milik Penyihir Senja, bahkan seorang ksatria Number tak akan bisa keluar tanpa terluka dalam pertempuran melawannya."

"....Aku paham. Yah, bisa dikatakan, skill aktingmu adalah yang terbaik."

Arneus tersenyum keji.

"Namun, apa kau yakin kau ingin membunuh Yang Mulia Kaisar seperti itu?"

"....Tidak, membunuh dia bukanlah metode terbaik."

Arneus menggeleng dan berkata:

"Ayahku masih harus menyelesaikan tugas penting untuk menyebutku sebagai penerusnya. Dan juga, dia tak lagi bisa bangkit dari tempat tidur setelah mendekati roh iblis itu dan membuat kontak dengan racun kematian."

"Memang, dia sudah tak ada bedanya dengan orang mati."

Sebuah senyum menggoda muncul di wajah Leschkir.

Dipenuhi dengan potensi maksud jahat, senyum itu membuat Arneus merasakan perasaan dingin dipunggungnya.

Namun, itu hanya sebentar dan Leschkir segera meninggalkan dia.

"Kalau begitu aku akan pergi. Tak akan bagus jika seseorang menyaksikan pemandangan ini."

Setelah menunduk dengan anggun, dia menghilang kedalam bayangan dibalik pilar.

(Sungguh wanita yang mengerikan meskipun aku tau dia jelas-jelas ada dipihakku.)

Arneus menyeka keringat dari keningnya dan berbisik dalam pikirannya.

Meskipun dia membantu faksi Arneus, Leschkir bukanlah sekutu bagi dia secara pribadi.

Dame Leschkir adalah salah satu bawahan Lurie Lizardia. Dengan kata lain, dia berada dalam kesatuan dengan Kerajaan Suci.

(....Apa yang harus aku lakukan dengan Kerajaan Suci yang saat ini mendukungku?)

Arneus sama sekali tak punya ketertarikan pada tujuan Kerajaan Suci. Yang dia miliki adalah ambisi untuk menjadi kaisar seperti orang lain.

Menggunakan Kerajaan Suci sebagai jalan ke tujuan itu, itulah yang dia maksudkan sejak awal.

"Segalanya berjalan cukup mulus, Pangeran Arneus."

"...!?"

Arneus melompat ketakutan pada suara yang tiba-tiba dia dengar dari belakangnya.

Dia berbalik dan menemukan seorang pria dalam menterinya, berdiri disana tanpa dia ketahui, memegang sebuah tongkat ditangannya.

Arneus merasa menggigil di tulang punggungnya. Pria itu adalah Lord Conrad sang menteri utama yang seharusnya sudah mati, diracuni oleh bawahan Arneus.

"....Sungguh hambar, Lord Prime Minister. Jika seseorang melihatmu dalam kecerobohanmu...."

"Jangan khawatir, tak ada siapapun disini."

Meskipun dalam penampilan Lord Conrad, suara menggemaskan itu adalah milik seorang gadis.

Segera, penampilan menteri utama itu terdistorsi, berubah dalam sekejap.

Dihadapan matanya adalah seorang gadis manis berpakaian jubah sakral.

Penampilannya sekitar 12 atau 13 tahun, rambut pirang berkilauan cemerlang. Mata kanannya berwarna ungu misterius, tetapi mata kirinya tertutupi penutup mata.

Dia adalah salah satu dari kardinal Kerajaan Suci, Millennia Sanctus.

Memfasilitasi pemberontakan Sjora Khan di Teokrasi Alpha dan dalang dari serangan pada Akademi bersama Lurie Lizardia, dia adalah gadis dengan Kegelapan Dunia Lain yang bersemayam didalam dirinya.

Yang ada ditangannya adalah sebuah topeng putih murni yang mengganggu.

"Fufu, didapatkan dari Sjora, ini cukup nyaman dalam kemampuannya untuk menstimulasi ingatan dan kepribadian dari seseorang yang bayangannya dicuri selain pada penampilan mereka."

Tanpa sepengetahuan Arneus, topeng ditangannya adalah elemental waffe, Proteus Mask, dari roh iblis Baldanders. Selama turnamen Blade Dance, Sjora Khan telah menggunakan elemental waffe ini untukk membuat Tim Scarlet kesulitan serta membuat tim Four Gods dari Kekaisaran Quina jatuh kedalam perangkapnya.

Tebakan Fianna bahwa menteri utama telah dieksploitasi oleh faksi Arneus sebenarnya tidak jauh dari kebenarannya. Tadi malam, itu adalah Millennia Sanctus yang mengunjungi kamar Fianna dengan menyamar sebagai Lord Conrad. Menteri utama yang asli telah dibunuh dihari sebelumnya.

"Dengan semua bangsawan dalam faksi Putri Kedua telah dipenjara, tak ada lagi yang bisa menghentikanmu."

"Hmm, ya, aku sangat bersyukur untuk dukungan dari Kerajaan Suci Lugia."

Arneus menundukkan kepalanya secara tak wajar. Sejujurnya, akan sangat sulit bagi dia untuk mengambil tahta Ordesia tanpa dukungan Kerajaan Suci.

Namun, dia merasa entah kenapa terintimidasi oleh seorang gadis muda seperti itu.

"Jadi, akankah kau menyerahkan penyihir itu pada kami seperti persetujuan?"

Gadis itu memandang Arneus dan bertanya.

"Ya, seperti yang kau inginkan. Aku akan memindahkan wanita itu ke menara Guas Gibai dengan segera."

"Baiklah, aku akan menunggu di menara itu."

"Tetapi apakah ada nilai yang tersisa dari wanita itu untuk dieksploitasi? Setelah kehilangan kekuatan untuk mengontrak roh, penyihir itu tak lagi memiliki ancaman terhadap kita."

Arneus bertanya dalam bingung. Apa yang gadis ini inginkan adalah tubuh penyihir itu, apa yang terjadi sebenarnya?

"Itu bukan urusanmu, Yang Mulia."

Sebuah senyum menggemaskan muncul di wajah Millennia dengan tawa kecil.

Seketika, Arneus merasakan kehadiran yang sangat mengerikan.

"A-Aku paham. Memang, itu bukan urusanku..."

Layaknya boneka yang patah, dia terus mengangguk.

Bagian 8[edit]

Beberapa jam berlalu setelah Kamito dan temannya ditangkap oleh para Imperial Knight.

Sebuah kapal terbang tiba dilangit dekat Kota Akademi.

Itu adalah sebuah kapal yang aneh, kapal terbang yang bukan milik militer Ordesia.

Bentuk kapal itu menyerupai kapal perang yang biasanya digunakan selama era Perang Ranbal. Sebuah kapal tak terdaftar, lambungnya memiliki tanda-tanda modifikasi skala besar. Bukannya sebuah patung dari Elemental Lord sebagaimana umumnya, apa yang menghiasi haluan kapal itu adalah kepala singa, terselimuti kobaran api.

Menembus awan saat naik, kapal itu meluncur layaknya bayangan.

Ada dua sosok diatas dek kapal itu.

Seorang gadis mengenakan topeng merah dan seorang gadis berpakaian dalam armor ksatria.

"—Bagaimana situasinya?"

"Laporan dari bawahan yang menyusup kedalam Kota Akademi. Mereka semua telah ditangkap oleh tentara Ordesia."

Gadis dengan topeng merah itu memasukkan kristal roh yang dia pegang kedalam saku depannya. Itu adalah sebuah kristal roh yang digunakan secara resmi oleh militer Ordesia untuk komunikasi jarak jauh.

"Kita terlambat datang, kan? ...Apakah Ren Ashbell berada di fasilitas militer?"

"Kemungkinan besar—"

"Jika demikian, aku akan berangkat."

"Apa kau yakin? Lawanmu adalah Imperial Knight."

"Tak masalah, aku sudak meninggalkan kehidupanku sebagai seorang ksatria. Selain itu—"

Mengatakan itu, si gadis yang mengenakan armor itu menyentuh lokasi jantung pada dadanya denga ujung jarinya.

"Sebuah peluang sempurna untuk melakukan pengujian."

Suara bisikannya sedingin baja.


Back to Bab 3 Return to Halaman Utama Forward to Bab 5