Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 3 - Rancangan Konspirasi Jahat[edit]

Bagian 1[edit]

Dipagi hari, langit ibukota kekaisaran dikelilingi oleh awan gelap.

Setelah menyelesaikan sarapan yang terdiri dari persembahan sederhana seperti roti dan sup, Fianna berganti memakai gaun formal dan menuju ke aula pertemuan dimana para bangswan telah dipanggil untuk sesi dewan kekaisaran. Tujuan utama dari pengumpulan ini adalah untuk menyatukan sudut pandang didalam Kekaisaran sebelum Konferensi Semua Negara yang akan dilanjutkan nanti siang.

(...Dengan semua intrik ini akan berjalan sesuai pertanyaan penerus, itu akan konyol untuk mengharapkan semua sudut pandang menjadi kompak.)

Fianna mendesah dengan perasaan yang suram.

Dia telah menyembunyikan petisi bertanda tangan darah dengan hati-hati didalam sebuah kotak dikedalaman mejanya. Fianna juga mempertimbangkan untuk menyimpan petisi tersebut didalam Georgios demi menjamin kerahasiaannya. Namun, ada peluang dari barang-barang akan menghilang didalam lingkungan Astral Zero yang tidak stabil. Karena alasan inilah, dia tidak akan menyimban barang-barang penting disana.

(Aku tak pernah berniat terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan para bangsawan, tapi—)

Kata-kata Lord Conrad terus bergema didalam pikirannya.

(—Arneus meminta kerajaan Suci secara rahasia mendukungnya.)

Jika hal ini benar, kemusnahan Kekaisaran bisa dengan mudah diprediksi dari naiknya boneka negara lain ke tahta Kekaisaran Ordesia.

(...Jika itu benar-benar terjadi, rakyat akan menderita.)

Dengan pemikiran-pemikiran ini melintas dalam benaknya, dia sampai di depan bangunan pertemuan sebelum dia menyadarinya.

Sebuah bangunan megah dibangun dengan marmer, gedung pertemuan berlokasi agak jauh dari Istana Nefescal. Setelah identitasnya diverifikasi oleh roh penjaga pintu, Fianna memasuki gedung pertemuan.

Semakin dekat dia mendekati aula pertemuan, rasanya semakin berat langkah kaki Fianna.

Tempat ini adalah sarang iblis dimana seseorang akan terjebak dalam perjuangan politik. Mungkin bereaksi pada kegelisahan Fianna, Bloodstone tampaknya bergetar samar, tersembunyi didalam dadanya.

Tersegel didalam Bloodstone tersebut adalah seorang penjaga yang seharusnya bisa melindungi dia. Meskipun Georgios adalah roh kelas atas, dia tidak sesuai untuk melindungi dirinya dari pembunuh.

(Ada banyak orang disini yang ingin menargetkan hidupku—)

Cerobioh sesaat saja maka belati milik seorang pembunuh mungkin akan menusuk tenggorokannya. Fianna tanpa sadar mengarahkan Bloodstone didepan dadanya dan memegangnya erat-erat.

"Ada apa, Yang Mulia? Kau tampaknya cukup sibuk dalam pikiranmu."

"...hyah!?"

Tiba-tiba mendengar suara menggoda, Fianna berteriak kaget.

"T-Tolong jangan mengagetkan aku—"

Orang yang tiba-tiba berbicara padanya adalah sang Penyihir Senja berpakaian dalam gaun hitam.

"Aku tak menghapus hawa kehadieanku. Ngomong-ngomong, apa sesuatu membuatmu gelisah?"

"Tidak..."

"Hmm, itu akan lebih baik—"

Greyworth dan Fianna berjalan berdampingan.

(...Kurasa aku seharusnya mengatakan segalanya kepada kepala sekolah.)

Fianna menekan desakannya untuk melakukan hal itu. Tak peduli apa, ini bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan pembicaraan semacam itu. Didalam gedung pertemuan, tak ada jaminan tak ada orang yang menguping.

"Ngomong-ngomong, bencana roh berskala besar sepertinya terjadi di wilayah perbatasan."

Greyworth mengeluarkan subjek tersebut seolah itu adalah pembicaraan santai sambil berjalan.

"Di Laurenfrost?"

Laurenfrost terletak di perbatasan antara Kekaisaran Ordesia dan Kerajaan Suci. Ada rumor baru-baru ini tentang badai salju ganas di Pegunungan Kyria, tetapi adapun untuk sebuah bencana roh—

"Seberapa luas area yang tercakup dalam bencana roh tersebut? Apa orang-orang yang tinggal disana selamat?"

"Kalau itu aku tidak tau rinciannya. Namun, menurut rumor—"

Greyworth tiba-tiba merendahkan suaranya dan berkata:

"Sepertinya, ada saksi mata yang melaporkan tentang para Sacred Spirit Knight dari Kerajaan Suci terlihat dihutan dimana bencana roh tersebut terjadi."

"...pasukan ksatria Kerajaan Suci?"

Fianna mengerutkan kening dalam menanggapi penyebutan yang tiba-tiba dari Kerajaan Suci.

"Apa yang dilakukan para ksatria Kerajaan Suci di Laurenfrost?"

"Tujuan mereka tetap tak diketahui, tetapi mereka sepertinya terjebak dalam bencana roh berskala besar tersebut dan berakhir dipaksa untuk mundur."

Greyworth mengangkat bahu dan menggeleng.

Pada saat ini, Fianna tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Ini jelas-jelas sebuah pelanggaran perbatasan negara! Jika ini disampaikan selama Konferensi Semua Negara siang nanti, hal itu akan memungkinkan untuk negosiasi yang efektif dengan Kerajaan Suci—"

"Memang. Tetapi untuk suatu alasan, badan inteligen Kekaisaran, Umbra, telah menutupi berita ini."

"Apa maksudnya itu?"

"Dengan kata lain, inti dari Umbra dikendalikan oleh seseorang yang ingin menghancurkan Kekaisaran Ordesia. Hmm, penyusupan dengan mengambil keuntungan dari ketika aku tidak ada disana untuk mengawasi semuanya."

"......"

Kata-kata menteri utama dipagi ini muncul dalam pikiran Fianna.

(—Arneus meminta Kerajaan Suci secara rahasia mendukung dirinya.)

"Umm, karena Umbra menutupi berita ini, lalu bagaimana caramu mengetahuinya, kepala sekolah?"

"Sungguh pertanyaan yang bodoh. Kau pikir siapa aku ini?"

(Memang, itu adalah pertanyaan yang bodoh...)

Kemasyuran Greyworth dimasa lalu termasuk posisi seperti sang pahlawan dari era Perang Ranbal, ksatria peringkat pertama diantara para Number, dan ketua Umbra. Dia seharusnya tau sisi gelap Kekaisaran lebih baik daripada siapapun juga. Meskipun dia telah kehilangan kekuatan dari roh terkontrak miliknya, pengaruhnya terhadap Kekaisaran tak akan menyusut.

"Aku memiliki pion yang cukup luar biasa dipihakku, memberiku akses pada hampir semua informasi."

Tersenyum sugestif, Greyworth melangkah kedalam aula pertemuan.

Ditempat duduk yang diatur seperti tangga, banyak bangsawan telah duduk di kursi mereka. Mereka melakukan diskusi panas tentang masalah yang diangkat selama Konferensi Semua Negara malam sebelumnya.

Kaisar Ordesia tidak ada di kursi keluarga kerajaan, tetapi banyak bangsawan penjilat bisa terlihat disana, berada disekitar Arneus.

(...Dikelilingi oleh para bangsawan yang ambisinya sudah sangat jelas, mau jadi raja boneka seperti apa dia.)

Pikir Fianna.

Pada saat ini, mata mereka bertemu. Tak senang, Arneus kemudian menghindari kontak mata dengan Fianna dan memulau percakapan secara rahasia dengan rombongan bangsawan penjilatnya.

Tak senang karena tatapan menjengkelkan ini, Fianna meninggalkan area tempat duduk keluarga kerajaan dan duduk disamping Greyworth.

—Pada saat ini, Fianna tiba-tiba merasakan perasaan disonansi.

"Ada apa?"

Melihat Fianna mengerutkan kening, Greyworth bertanya.

"Yah, kupikir aku tidak melihat menteri utama...."

"Kudengar bahwa Lord Conrad tidak hadir karena merasa tidak sehat. Memaksakan dirinya untuk menangani beban kerja yang berat berkaitan dengan Konferensi Semua Negara, dia akhirnya jatuh sakit—"

"...Tidak hadir?"

Fianna tidak melihat ada yang tidak beres dengan dia ketika dia berkunjung pagi tadi.

(Entah kenapa, aku memiliki perasaan yang sangat buruk tentang hal ini....)

Intuisi tajam dari seorang princess maiden memenuhi kegelisahannya yang besar.

Bagian 2[edit]

Dengan sang kaisar telah duduk, dewan kekaisaran memulai sesinya tanpa kehadiran menteri utama.

Tujuan utama pertemuan adalah menentikan kebijakan Kekaisaran terhadap Teokrasi Alpha.

Untuk mengamati tanpa campur tangan atau untuk menyelesaikan melalui kekuatan militer, ada perpecahan yang besar dalam pendapat, menenggelamkan majelis tersebut kedalam kekacauan.

"Kita tidak diwajibkan untuk setuju dengan Kerajaan Suci."

"Tetapi jika kita tidak menggunakan kekuatan, Kekaisaran Ordesia akan kehilangan pengaruhnya dan terintimidasi Teokrasi Alpha."

"Dragon King dari Dracunia telah mengumumkan secara sepihat menggunakan campur tangan militer."

"Satu langkah yang salah dan ini akan mengulangi Perang Ranbal."

Perdebatan tak berguna berlanjut terus-menerus tanpa adanya tanda-tanda keputusan. Sangat jelas, jika rapat berlanjut pada tingkat ini, tak ada keputusan akhir yang akan dicapai.

—Kebuntuan dari rapat tersebut berubah setengah jam kemudian.

"Maaf karena lancang, Yang Mulia!"

—Salah satu bangsawan perlahan-lahan berdiri.

Itu adalah Earl Darss, salah satu bangsawan yang berada disekitar Arneus sebelumnya.

"Sampai poin ini, majelis tak lagi bisa mencapai sebuah keputusan yang bersatu. Alasannya sudah jelas bagi kita semua. Dibalik masalah-masalah Teokrasi yang kita bahas, masalah dari penerus kekaisaran melanda kita."

Kata-kata si earl menghasilkan keributan dalam diskusi tersebut, karena hampiir semua orang yang hadir, diam-diam memikirkan pertanyaan yang sama.

"Pangeran Arneus telah mengusulkan mengambil pendekatan yang sama dengan Kerajaan Suci Lugia. Hasilnya, mereka yang menentang naiknya Pangeran Arneus bersikeras pada campur tangan militer."

Mengatakan itu, Earl Darss menatap kearah Fianna.

"Kenapa kita tidak memutuskan masalah penerus kekaisaran disini sekarang? Jika tidak, rapat ini hanya akan berlarut-larut membuang-buang waktu—"

"M-Memang..."
"Earl Darss ada benarnya."
"Eksistensi dari faksi-faksi pendukung dan penentang Pangeran Arneus mengarah pada rapat ini tak bisa mencapai sebuah keputusan."

Suara-suara di aula pertemuan secara bertahap semakin keras.

(...A-Aku tak pernah menduga pertikaian akan berlangsung disaat seperti ini.)

Fianna menggigit bibirnya ringan.

Darss telah menunggu kesempatan ini saat dewan terjebak di jalan buntu. Meskipun dia telah menimbulkan argumen tak masuk akal, itu menghasilkan hasil yang sangat bagus dalam memecahkan kebuntuan.

(...Dan sekarang, andalan dari faksi anti-Arneus, perdana menteri, tidak ada.)

Bahkan jika itu adalah kebetulan, timing semacam ini sangat tidak mungkin.

(Mungkin perdana menteri telah diracuni oleh faksi Arneus?)

—Namun, Bangsawan lain berbicara pada saat ini.

"Lord Darss, sesi pertemuan ini hanya untuk tujuan membahas kebijakan kita terhadap Teokrasi Alpha."

Orang yang berbicara adalah kakek Ellis, Duke Cygnus Fahrengart. Lahir dari keluarga militer yang bergengsi, dia adalah seorang bangsawan yang mempertahankan netralitas, tak memihak faksi manapun.

"Sebaliknya, Lord Duke. Diskusi ini mengenai kebijakan kita terhadap Teokrasi hanyalah fenomena dangkal. Inti masalah yang sebenarnya adalah pertanyaan tentang penerus kekaisaran."

Earl Darss menjawab dengan beberapa tindakan ketidaksenangan.

"Tapi Lord Darss—"

Kali ini, bangsawan lagi berdiri untuk menentang Earl Darss.

Fianna mengalihkan pandangannya ke arah tempat duduk keluarga kekaisaran pada saat ini. Mulai dari beberapa waktu lalu, sang kaisar telah diam sepanjang waktu, seolah-olah mendengarkan mereka mendiskusikan hal-hal yang tidak relevan baginya. Tatapannya berkeliaran tanpa tujuan ke arah ruang kosong. Duduk di sampingnya, Arneus bercucuran keringat dingin di dahinya, melihat pergantian gelombang pendapat dengan wajah pucat.

"Astaga, kemampuan sebagai seorang penguasa akan menjadi masalah terbesar. Tanpa tingkat minimum intimidasi dalam keadaan semacam ini..."

Greyworth tampaknya bergumam terkejut disebelah Fianna.

Pada saat ini...

"—Lord Darss, apa anda menganggap bahwa pemikiran-pemikiran ini juga terjadi pada pikiran setiap orang tanpa terkecuali?"

Duduk ditengah diantara berbagai kursi, seorang bangsawan berdiri dan berbicara.

(Orang itu adalah—)

Setelah melihat wajahnya, Fianna terkesiap.

Itu adalah Duke Finegas Bodo, salah satu dari para bangsawan berpengaruh yang ada petisi yang Fianna terima.

"Oh? Dan apa khususnya yang anda maksud dengan 'pemikiran-pemikiran ini'?"

"Maafkan pemilihan kata-kataku yang kurang ajar, tapi Pangeran Arneus, yang anda dukung, tidak memiliki kemampuan sebagai seorang kaisar."

Seketika, aula pertemuan berubah berisik lagi.

Ini adalah kata-kata yang biasanya akan dijaga sebagai bisikan-bisikan dibelakang punggung orang. Untuk menyuarakannya secara terbuka di sebuah konteks umum didepan orang tersebut akan benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.

Malu dan marah, Arneus melotot kejam di Finegas.

"...Hmmm, maka dalam hal ini, siapa yang anda anggap memenuhi syarat untuk tahta Ordesia, Lord Finegas?"

Mempertahankan ketenangan yang dangkal, Darss menanyai Finegas.

—Lalu si duke menghembuskan nafas.

"Aku percaya bahwa penerus sah kaliber Putri Kedua Fianna ini akan memenuhi syarat!"

Dia menyatakan secara terbuka dengan suara nyaring, terdengar bagi semua orang yang hadir di aula.

(...K-Konyol!)

Fianna mau tak mau berdiri dari tempat duduknya.

Semua mata tertuju pada dirinya. Orang-orang di aula memulai obrolan diantara mereka sendiri lagi.

"Yang Mulia Putri Kedua?"
"Aku tak pernah berpikir dia akan merekomendasikan Lost Queen itu."
"Apakah kau sudah tidak waras? Wanita dikecualikan jika kau mempertimbangkan pesaing untuk tahta!"
"Tapi dibandingkan dengan Pangeran Arneus—"
"Roh ksatria keluarga kerajaan memilih dia—"

Tentu, tak ada orang yang lebih terganggu dari Fianna sendiri, dibawah tatapan semua orang yang hadir.

(...A-Apa sebenarnya yang mereka rencanakan?)

Dia melirik Finegas yang berdiri di posisinya, dengan ekspresi siap diwajahnya.

(Aku tidak akan menjadi kaisar wanita, benar-benar tidak...)

Namun, jika dia mengungkapkan pendapatnya sekarang, mayoritas bangsawan mungkin akan beralih mendukung Arneus. Dengan demikian, seorang kaisar bodoh akan dipilih, mengubah Kekaisaran Ordesia menjadi sebuah boneka yang dimanipulasi oleh bangsawan korup dan Kerajaan Suci.

"Berikutnya, saya mempersilahkan Yang Mulia(Fianna) untuk mengungkapkan maksud beliau!"

Suara nyaring Finegas bergema di seluruh aula.

"...T-Tunggu, tunggu sebentar, bagiku, maksud semacam ini—"

Sembari semua orang sedang melihat Fianna dengan saksama, menunggu dia untuk berbicara, pada saat ini—

Sebuah bencana terjadi.

(...Huh?)

Bloodstone yang tersembunyi didadanya tiba-tiba bersinar dengan cahaya menyilaukan.

"A-Apa!?"

Fianna panik mengeluarkan Bloodstone dari dadanya.

—Lalu dia segera menyadari. Ditengah dari kristal roh berwarna darah, sebuah massa gelap gulita berputar-putar sembari racun menjijikkan keluar dari dalam.

"...A-Apa, apakah ini... Kyah!?"

Sebuah retakan kecil muncul di permukaan Bloodstone ditangannya. Lalu—

Kristal roh berwarna merah itu hancur di tangan Fianna dan jatuh ke tanah.

Racun hitam keluar dari pecahan-pecahan yang tersebar. Pecahan-pecahan dari ledakan tersebut meninggalkan luka pada kulit Fianna.

"...!!"

Racun tersebut berputar dalam pusaran menggelegar, mengamuk layaknya sebuah badai ditengah-tengah aula pertemuan.

"A-Apa ini!?"
"Sebuah roh, roh mengamuk!"
"Uwahhhhhhhhhh!"

Panik, para bangsawan menjerit.

(...A-Apa-apaan sih yang terjadi...?)

Fianna menatap terkejut pada pecahan-pecahan dari Bloodstone tersebut yang berserakan dilantai.

Roh tersegel didalam kristal roh tidak lepas secara kebetulan. Tentunya, dia sendiri tidak pernah mengeluarkan mantra pelepasan. Membebaskan sebuah roh mengharuskan seseorang untuk melepaskan divine power terlebih dulu.

—Tidak, ada kemungkinan lain.

(Jika sebuah mantra pelepasan ditulis didalam kristal roh sebelumnya—)

"Putri, a-apa sebenarnya yang terjadi—"

Menarik tangan Fianna, Greyworth mendorongnya ke lantai.

"U-Untuk melepaskan sebuah kristal roh begitu sembarangan—"

"Ini bukan kristal roh biasa. Tanda-tanda ini mengindikasi—"

Angin kencang menghancurkan jendela, menghamburkan pecahan-pecahan ke seluruh lantai. Racun yang mengamuk tengah berkumpul didekat langit-langit aula itu, segera berubah menjadi awan hitam raksasa.

Fianna merasa rasa dingin menjalar dipunggungnya.

Ini adalah sebuah kehadiran yang mengerikan dan mematikan, membuat dia merasa seperti hatinya sedang diremas-remas dengan keras.

(Sebuah roh kelas archdemon...)

Fianna tersentak dan bergumam dalam hatinya, rasa merinding menjalar diseluruh tubuhnya.

Ini adalah roh kelas terkuat di Astral Zero seperti yang disertifikasikan oleh Asosiasi Investigasi Roh.

"...M-Mustahil. Kenapa itu disini?"

Berbaring di lantai diatas Fianna, Greyworth bergumam. Tak bisa dipercaya, tak terpikir bahwa Penyihir Senja bisa terdengar begitu terguncang—

"Kepala Sekolah, apakah anda mengenali roh itu!?"

"...Tentu saja iya."

Greyworth menyeka keringat dari dahinya.

"—Itu adalah roh terkontrakku!"

"...Eh?"

"Meskipun sulit dipercaya, aku tak mungkin keliru. Ini adalah roh terkontrakku yang hilang— Dis Pater."

"...Dis Pater."

Fianna pernah mendengar nama roh itu sebelumnya. Selama Perang Ranbal, roh itu telah membawa teror dan keputusasaan pada para ksatria dari Kerajaan Suci Lugia sebagai malaikat maut di medan perang.

—Roh iblis terkuat.

(...Kenapa itu ada didalam kristal roh?)

Roh tersegel didalam Bloodstone yang diberikan pada Fianna oleh perdana menteri seharusnya menjadi penjaga yang bisa melindungi Fianna dari pembunuh.

Namun, roh iblis yang terselimuti racun hitam itu benar-benar bukanlah roh penjaga.

Roh ini hanya membawa kehancuran dan pembantaian, didorong oleh keinginan sendiri.

"Putri, darimana kau mendapatkan Bloodstone ini?"

"I-Itu—"

Fianna hendak menjawab ketika—

Sejumlah besar racun mulai meluas dan meledak.

"...!!"

Sebagai hasil dari kehadiran mematikan terkonsentrasi, Fianna terhempas sepenuhnya. Seluruh tubuhnya gemetar. Untuk sesaat, dia mengalami ilusi seolah-olah hatinya telah dicengkeram. Atau mungkin, hanya dia dengan perwatakan sebagai seorang princess maiden yang mengagumkan yang bisa merasakan suatu aura yang kuat dari kematian.

"...A-Ah... Ahh, ah..."

Keluar dari awan hitam berputar-putar tersebut, apa yang muncul dari sana adalah—

Malaikat maut, berpakaian hitam, memegang sabit hitam pekat.

Malaikat maut itu perlahan mengangkat sabit di tangannya—

"—Tiarap sekarang, dia akan mencuri jiwa!"

Greyworth berteriak dengan suara yang sangat keras, menyebabkan setiap orang yang hadir secara reflek tiarap dilantai.

Bilah sabit itu menyapu ruang kosong, menghasilkan angin ganas yang diresapi dengan kehadiran kematian.

"Uwahhhhhhhhh!"
"L-Lari, cepat—"

Para bangsawan semuanya berlari menuju pintu masuk aula. Meskipun tindakan tanpa berpikir dari para bangsawan sedikit impulsif, itu mungkin menjadi keputusan yang tepat juga. Apa yang disukai roh iblis berperingkat tertinggi adalah jiwa-jiwa murni orang yang benar daripada jiwa manusia-manusia bodoh.

Namun, diantara para bangsawan yang kalang-kabut, ada juga orang-orang yang diam ditempat, tak berani bergerak sama sekali.

Sang kaisar Ordesia adalah salah satu dari mereka. Untuk suatu alasan, tatapannya kosong dan menerawang. Meski demikian situasi yang tidak normal terjadi didepan matanya, dia menatap seolah-olah sama sekali tidak ada yang terjadi.

Melihat kearah sang kaisar, roh iblis itu menyeringai agak gembira.

(...Kau harus tepat waktu, Georgios...!)

Merangkak di lantai, Fianna memanggil roh ksatria.

—Namun, Dia tidak berhasil tepat waktu.

Sabit hitam legam itu perlahan berayun kebawah—

Pada saat itu, kepala si malaikat maut itu terlempar.

(...Huh?)

Fianna berkedip-kedip.

Senjata yang memenggal kepala roh iblis dan membuatnya terlempar adalah sebuah kapak tempur raksasa.

"—Apa anda baik-baik saja, Yang Mulia!?"

Seorang ksatria roh berambut perak mengenakan armor putih-perak telah menerobos dinding aula dan muncul.

Number keempat— Dunei Lampert.

"Ohhhhhhhhhhhhh!"

Ksatria putih-perak itu melompat dan melancarkan serangan ganas terhadap si roh iblis yang terpenggal.

Kapak tempur dua tangan, sebuah elemental waffe dengan divine power menyelimuti bilah-bilahnya —Namun, roh iblis itu langsung berubah menjadi racun yang mengapung dan dengan mudah menghindari serangan tersebut.

"...Sialan kau! Apa yang dilakukan roh kelas archdemon disini?"

Dunei berteriak. Dis Pater mengambil bentuk malaikat maut lagi dan mengayunkan sabit raksasa pada si ksatria Number.

Angin iblis berwarna hitam menderu. Dunei terhempas oleh angin kehancuran yang kuat, menghantamkan dia ke dinding dengan keras.

Jika itu adalah ksatria roh yang lain, dia pasti akan tewas karena serangan ini. Namun, Dunei membanggakan diri sebagai anggota terkuat dari Kekaisaran, Number, dan juga menjalin kontrak dengan roh tanah, terkenal memiliki pertahanan terkuat. Dia tersandung dan berdiri, melotot marah pada roh iblis yang melayang di udara.

"Gah..."

Meskipun kehilangan kepalanya, Dis Pater masih bisa mengeluarkan tawa sombong yang bisa terdengar. Dia mengangkat sabit hitam legamnya lagi tanpa ragu-ragu, menebas pada ksatria Number yang terluka berat yang gerakan telah melambat.

—Dalam sekejap...

"Aku mohon kepadamu untuk menangkap dan menghancurkan, O sangkar gravitasi!"

Tubuh roh iblis itu menjadi lemas. Sebuah bola yang menyerupai bayangan yang berputar-putar muncul sekitar Dis Pater, mendistorsi ruang sekitarnya.

Berputar dengan kecepatan tinggi, bola yang seperti bayangan menekan tubuh roh iblis, menghancurkannya bersama-sama dengan udara.

(...Bukankah itu roh gravitasi milik Dame Leschkir, Typhon!?)

Fianna melihat kearah suara itu.

Di depan pintu masuk aula pertemuan yang sudah setengah rusak, ksatria lain telah muncul.

Berkebalikan dengan Dunei, dia adalah seorang yang cantik berambut hitam dengan suasana pesona yang menggoda.

Leschkir Hirschkilt, peringkat ketiga dari Number dan diuluki Gravity Queen.

"Dunei, aku telah menangkap roh itu sekarang. lenyapkan dia dengan cepat—"

"...Dimengerti!"

Memegang elemental waffe kapak tempur miliknya, Dunei menyerbu kearah roh iblis yang tak bisa bergerak yang terpenjarakan oleh sangkar gravitasi.

Menuangkan seluruh divine power kedalam kapak tempur miliknya, dia mengayunkannya dengan keras.

"Ohhhhhhhhhhhhhh!"

Racun hitam legam itu menyembur keluar seperti darah, muncrat dan menetes ke armor milik Dunei.

Benar-benar dicincang menjadi dua, Dis Pater tertawa mengerikan sebelum menghilang dari dunia ini.

Tentunya, roh kelas archdemon tidak mungkin dihancurkan oleh serangan setingkat ini. Dilepaskan dari kontrak Bloodstone, roh itu mungkin kembali ke Astral Zero.

"Yang Mulia, anda baik-baik saja—?"

Dunei bergegas ke sisi kaisar yang pingsan.

Dalam hal waktu, tidak lebih dari satu atau dua menit yang berlalu. Namun, aula pertemuan sudah rusak tak bisa dikenali dengan lantai bernoda merah dari darah orang-orang yang terluka.

(...Kenapa... Kenapa ini terjadi...)

Dihadapkan dengan adegan mengerikan di depan matanya, Fianna itu tenggelam kedalam kebingungan.

—Pada saat itu...

"K-Kau, apa yang kau lakukan!? Dame Leschkir!"

Dalam proses melarikan diri aula, Arneus berteriak keras.

"Cepat dan menangkap gadis itu! Dia akan membunuh sang kaisar jika kau terlambat!"

"...Huh!?"

Fianna memandang sekelilingnya dengan terkejut.

"Sungguh menakutkan..."
"Aku tak percaya dia mencoba untuk membunuh semua orang dalam dewan kekaisaran..."
"Jangan bilang dia adalah kaki tangan dari Teokrasi ini Sjora Kahn—"

"...T-Tidak, salah, aku—"

Fianna baru mau menyangkal tuduhan tersebut ketika Dame Leschkir berdiri di depannya dan menghalangi dia.

"Putri Kedua, anda akan memiliki banyak waktu untuk menjelaskannya sendiri nanti."


Back to Bab 2 Return to Halaman Utama Forward to Bab 4