Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14 Bab 2

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 2 - Bangkitnya Sang Gadis[edit]

Bagian 1[edit]

"Silahkan lewat sini."

Dipimpin oleh kepala maid. Natalia, Kamito dan yang lainnya sampai di depan kamar Judia.

Untuk menghindari dia ketakutan karena terlalu banyak orang yang muncul sekaligus, hanya Rinslet, Mireille dan Kamito yang masuk kamar itu.

Awalnya, Kamito ingin menolak, berpikir bahwa itu akan lebih baik jika kedua Laurenfrost bersaudara saja yang masuk, tetapi keinginan Judia rupanya ingin Kamito masuk juga.

(...Oh yah, aku ingin menanyai dia beberapa hal juga.)

"—Judia, kami masuk."

Rinslet berkata dengan gugup kemudian mendorong pintu dengan ringan.

Cahaya matahari dengan lembut masuk kedalam ruangan melalui jendela.

Disana, berbaring di tempat tidur adalah seorang gadis muda yang menawan.

Mata emerald dan rambut pirang platinum miliknya adalah karakteristik umum yang dimiliki oleh Laurenfrost bersaudara. Namun, dia memancarkan getaran yang berbeda dibandingkan kedua saudaranya.

Dia tampak seperti seorang gadis yang ada dalam fantasi, begitu rentan sehingga dia mungkin hancur jika disentuh.

(Jadi gadis ini adalah Judia Laurenfrost...)

Kamito memeriksa gadis itu dengan cermat.

Pemenjaraan Judia didalam kutukan es oleh Elemental Lord Air telah terjadi sebelum pemberontakan Ratu Bencana, pada hari Festival Elemental Air yang diadakan di Laurenfrost empat tahun yang lalu.

3 tahun lebih muda dari Rinslet, dia seharusnya berusia 13 tahun sekarang, namun penampilanya jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya. Saat ini, dia tampak kira-kira seusia Mireille.

Ketika dia berbaring di tempat tidur saat ini, tatapan Judia yang kosong tiba-tiba berkeliaran.

"....Rinslet nee-sama?"

Kamito mendengar suaranya yang serak. Itu seperti memanggil seseorang yang berada jauh.

"Judia... Syukurlah... Ini benar-benar keajaiban..."

"Nee-sama... Nee-sama... Aku..."

Judia membenamkan wajahnya di dada Rinslet, menangis.

"Tak seharipun aku tidak memikirkan kamu."

Rinslet terdengar seperti dia hendak menangis. Itu benar-benar langka untuk melihat dia bertindak seperti ini didepan orang lain, mengingat harga dirinya yang sangat tinggi.

"Judia-oneesama..."

"...Suara ini, Mireille?"

Bereaksi pada suara Mireille, tatapan kosong Judia mulai berkeliaran lagi.

Itu adalah pergerakan tatapan yang tak alami membuat Kamito merasakan sesuasu telah salah.

(Tak mungkin...)

"Judia, Onee-sama?"

Mireille tampak menyadari sesuatu yang salah dan memiringkan kepalanya.

"Aku disebelah sini lho."

Dipanggil oleh adiknya, tatapan Judia mengarah ke ruang diatas kepaka Judia.

"Judia...?"

Rinslet mendongak secara tiba-tiba.

Seketika, ekspresinya membeku.

....Jadi dia menyadarinya juga.

"...Matamu, jangan bilang..."

Mata emerald Judia telah kehilangan kecemerlangannya.

Karena terpenjara didalam kutukan es selama beberapa tahun dan terpengaruh oleh Kegelapan Dunia Lain, tubuh dan pikiran gadis itu telah terkorosi—

"Tak usah khawatir, Nee-sama—"

Judia menggeleng ringan.

"Aku berdosa karena menyerahkan pikiranku kepada kegelapan itu dan menghancurkan Forest of Ice Blossoms—"

"Kamu tidak salah, Judia!"

"M-Memang. One-sama, kamu di rasuki oleh sesuatu yang buruk!"

"Tidak, bahkan jika pikiranku dikendalikan, faktanya tetap tidak berubah bahwa aku membuat Zirnitra bangkit dan menghancurkan kampung halaman Penghuni Hutan."

"Judia...."

Rinslet berbicara dengan suara yang menderita sembari dia dengan lembut melingkarkan lengannya pada bahu adiknya, memeluk dia ke dadanya.

"Aku akan mengerahkan para pemyembuh terbaik. Tentunya para penyembuh dari ibukota kekaisaran akan bisa melakukan sesuatu untuk matamu—"

"Terimakasih, Nee-sama, tetapi aku yakin bahwa sihir roh mungkin tak bisa menyembuhkan mata ini."

Judia menggelengkan kepalanya secara tak berdaya.

—Tiba-tiba, dia mendongak seolah menyadari sesuatu.

"Boleh aku bertanya siapa orang yang ada disebelah sana?"

"Aku Kazehaya Kamito, teman sekelas Rinslet."

Kamito mendekati tempat tidur dan berlutut didepan gadis itu.

"Kamu..."

Seketika, wajah gadis itu menjadi cerah.

"Itu adalah kamu yang membebaskan aku dan Zirnitra."

"Rinslet lah orang yang menyelamatkan kamu, bukan aku."

Kamito menggeleng.

"Jika dia tidak bergegas kesana saat itu, aku akan terjebak dalam kutukan es juga."

"Ya, aku masih ingat. Nee-sama dan kamu menyelamatkan aku bersama-sama."

"...Huh?"

Kamito berseru terkejut dan bertukar tatap dengan Rinslet.

"Kamu tetap sadar didalam kutukan es?"

"Aku terus berada dalam keadaan tidak sadar, di sebuah tempat yang pada dasarnya gelap gulita. Tetapi dari waktu ke waktu, aku mendapatkan kembali kesadaran seperti mimpi. Oleh karena itu, aku ingat bahwa Rinslet-neesama datang mengunjungiku di kuil berkali-kali."

"Be-Benarkah?"

Rinslet bertanya dengan suara bergetar dan Judia mengangguk.

Oleh karena itu, suara Rinslet, berpikir bahwa adiknya, telah—

Sudah pasti mencapai kedalam hati adiknya, terpenjara didalam Kegelapan Dunia Lain.

(Namun, jika demikian...)

Kamito merasa senang.

"Judia, aku punya sesuatu untuk ditanyakan padamu."

"...Kamu ingin menanyai aku tentang sesuatu?"

"Ya. Umm, meskipun itu mungkin menjadi sebuah ingatan yang tidak ingin kamu ingat lagi—"

Kamito berbicara sedikit ragu, tetapi segera membulatkan tekadnya.

"Apa kamu ingat apa yang terjadi ketika kegelapan itu melahapmu?"

Seketika, ekspresi Judia membeku.

Jari-jarinya, memegang lututnya, mulai gemetar tak terkendali karena rasa takut.

"Onii-sama?" "Kamito-san, itu terlalu—"

"...Apa kamu melihat sesuatu?"

Memegang tangan gadis itu yang gemetar, Kamito bertanya lagi.

Tak lama kemudian, getaran tangan itu mereda—

Judia mengangguk ringan dan mulai berbicara dengan lembut.

"Ya, aku masih ingat. Apa yang aku lihat pada hari itu, aku ingat dengan jelas."

"....."

"Pada hari itu, aku melihat didalam kegelapan, didalam kegelapan yang sangat pekat, malaikat yang tak terhitung jumlahnya—"

Mendengar kata-kata itu dari bibir si gadis—

Kamito secara spontan terkesiap.

(Malaikat... huh.)

Sesuatu jauh didalam benaknya tampaknya terluka.

(Ya, aku sudah jelas melihatnya juga—)

Pada hari itu ketika dia muncul sebagai pemenang dari turnamen Blade Dance, mendapatkan hak istimewa untuk bertemu dengan para Elemental Lord...

Tepat sebelum dia bisa mencapai singgasana Elemental Lord Api, seluruh tubuh Kamito dilahap oleh Kegelapan Dunia Lain.

—Aku telah melihatnya.

Menggeliat didalam kegelapan yang tidak ada didunia ini, mereka bukan roh maupun manusia.

—Ribuan atau mungkin puluhan ribu pasukan malaikat yang kuat dalam jumlah yang tak terhitung.

(Yakin sudah, aku tidak salah lihat.)

Keringat dingin keluar dari tangan yang dia pegang.

Raksasa humanoid bersayap bersinar dengan cahaya putih-perak.

Menurut legenda di benua, para malaikat adalah mahluk purba yang melahirkan para roh.

Namun, eksistensi dari mahluk-mahluk semacam itu tak pernah terbukti, tidak sekali pun.

—Aku tak berpikir adanya kesalahan dari apa yang kami lihat.

Kamito tidak tau apakah yang telah dia lihat benar-benar yang disebut malaikat. Tetapi pada akhirnya, mengingat penampilannya, itu tak terhindarkan lagi. Dia akan menganggap mereka sebagai mahluk-mahluk yang dia ingat dari cerita pengantar tidur.

(Tetapi tampaknya Judia berpikir dengan cara yang sama seperti aku...)

Mata Judia yang hampa berkeliaran sembari dia melanjutkan.

"Aku hanya tertegun pada pemandangan itu. Terlalu takut, aku tak bisa bergerak sama sekali. Pada saat itu, salah satu dari malaikat-malaikat itu sampai didepanku mengeluarkan aku dari kegelapan. Cahaya putih-perak menelanku—"

(Sebuah mahluk dari kedalaman Kegelapan Dunia Lain— seorang malaikat? Dan itu memilih Judia?)

Sejauh ini, Kamito telah menganggap Kegelapan Dunia Lain sebagai bencana yang merusak pikiran para Elemental Lord, sebuah eksistensi tanpa pikiran maupun kehendak bebas.

Namun, menurut apa yang diingat Judia, malaikat tersebut yang membuat kontak dengan dia jelas-jelas adalah mahluk.

"Umm, apa yang kamu rasakan ketika kamu ditelan oleh kegelapan tersebut?"

Kamito bertanya lagi.

Namun, Judia menggeleng.

"...Aku minta maaf tapi hanya sampai situ yang bisa aku ingat dari hari itu. Setelah itu, didalam kegelapan, yang aku punya adalah pecahan-pecahan bentuk ingatan beberapa kali ketika aku mendapatkan kesadaran kembali—"

Kemudian dia menggosok-gosok pelipisnya penuh kesakitan.

"Judia, apa kamu baik-baik saja?"

Rinslet bertanya khawatir.

"...Jangan khawatir. Aku hanya, sedikit sakit kepala..."

"Kalau begitu kamu lebih baik istirahat saja. Selain itu, kamu baru saja bangun dari koma-mu."

"...Memang. Ya, aku sedikit, lelah."

Gadis diatas tempat tidur itu tersenyum.

"...Maaf karena membuatmu mengingat hal-hal yang tak menyenangkan."

"Sama sekali tidak. Aku sangat senang karena bisa sedikit membantu."

Melihat gadis itu mengguncang kepalanya untuk mengumpulkan optimisme, Kamito berdiri dari sisi ranjang.

"Kalau begitu aku akan pergi duluan. Maaf karena mengganggu reuni kalian sebagai saudara."

"Kamu tak perlu khawatir tentang hal itu, Onii-sama. Bagaimanapun juga, kami berdua akan berakhir sebagai adikmu dimasa depan, Onii-sama."

"...Onii...-sama?"

Mendengar Mireille, Judia memiringkan kepalanya kebingungan.

"...Uh... M-Mireille, apa-apaan sih yang kamu bicarakan?"

Rinslet segera menjadi merah cerah dan mulai memukul-mukulkan tangannya pada bahu Mireille.

Tersenyum kecut, Kamito keluar dari kamar itu.

Bagian 2[edit]

(...Malaikat huh?)

Kamito bergumam sembari berjalan disepanjang koridor.

Dia awalnya berpikir bahwa dengan menanyai Judia tentang Kegelapan Dunia Lain, dia bisa mendapatkan petunjuk untuk memulihkan ingatan Restia yang hilang setelah kegelapan itu melahap dia.

(...Tapi sepertinya sesuatu yang sedikit tak terduga telah terjadi.)

Mengembara dikedalaman Kegelapan Dunia Lain, pasukan yang terdiri dari malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Hanya satu saja dari mereka yang merasuki princess maiden manusia untuk terwujud di dunia manusia sudah cukup untuk memporak-porandakan Forest of Ice Blossom.

(...Jika pasukan malaikat ini muncul didunia sekaligus...)

Hanya membayangkannya saja membuat dia merasakan teror yang menakutkan.

"...Oh, Kamito."

Dia bertemu Claire manaiki tangga.

"...Claire. Dimana yang lain?"

"Ellis tidur dikamar. Yah itu wajar saja karena dia telah menggunakan roh miliknya sepanjang malam sejak kemarin. Roh kegelapan ada di tenda, membantu merawat para prajurit yang terluka."

"Aku mengerti..."

Dimasa lalu, Kamito telah menerima perawatan Restia sebelumnya.

Tentu saja, sebagai seorang roh kegelapan, dia tak bisa menggunakan sihir roh tipe penyembuh. Yang bisa dia lakukan adalah hal-hal sederhana seperti menerapkan pengobatan dan perban.

(...Dia sangat kikuk dengan hal itu.)

"Kamito, ada apa?"

"Tidak, bukan apa-apa."

Kamito mengangkat bahu dan berjalan berdampingan dengan Claire.

(...Lebih baik aku tidak menyebutkan topik "malaikat" itu pada Claire dan yang lainnya untuk sekarang ini.)

Terlalu sedikit informasinya dan bahkan Kamito sendiri belum mengatur informasi yang sedikit itu didalam pikirannya.

Dan juga, tak seperti kamar Judia, seseorang mungkin menguping jika dia menyinggung topik itu disini. Mata-mata yang dikirim dari Ordesia mungkin sudah menyusup kedalam kastil ini.

"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Claire?"

"Karena semua orang merasa kedinginan, aku menggunakan sihir untuk menyalakan perapian di kastil."

"Itu benar-benar menakjubkan, Claire. Kamu luar biasa!"

"Ehehe... Hei, apa-apaan itu!? Tatapanmu tampak seperti kau memuji seorang anak kecil!"

Claire bertindak malu-malu sebentar kemudian cemberut marah.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Judia."

"Oh, dia saat ini beristirahat karena dia terlalu lelah, tetapi itu tidak tampak seperti dia memiliki masalah dengan ingatan. Namun—"

"Namun?"

"Matanya tak bisa melihat lagi—"

"...Huh?"

Claire terkesiap.

"Kupikir itu mungkin sesuatu seperti akibat karena terkunci dalam kutukan es selama jangka waktu yang lama. Dia mungkin pulih secara alami atau dengan penyembuhan dari roh sihir—"

"Benarkah..."

Claire bergumam dengan ekspresi rumit diwajahnya.

"Bahkan jika sihir roh digunakan, mencoba menyembuhkan mata yang telah menjadi buta tetaplah sangat sulit, terutama karena dia menghabiskan bertahun-tahun terpenjara didalam kutukan es dari Elemental Lord."

"Bahkan penyembuh terbaik dari ibukota kekaisaran tak bisa apa-apa?"

"Tak peduli seberapa tinggi kekuatan penyembuh milik mereka, mencoba untuk memulihkan daging yang hilang adalah suatu masalah yang sepenuhnya berbeda dalam tingkatan. Ini benar-benar sesuatu yang hanya bisa mengandalkan pada keajaiban dari Elemental Lord."

"Sebuah keajaiban...."

Pada saat ini, kata ini menyentak ingatan Kamito.

"Berbicara tentang keajaiban...."

"Hmm?"

"...Yah, aku bertanya-tanya jika itu adalah dia, dia mungkin bisa menyembuhkan Judia."

"Dia?"

"Number kedelapan dari ksatria kekaisaran— Lurie Lizaldia sang Keajaiban."

Kamito mengatakan nama yang muncul didalam benaknya.

"...A-Apa kau serius?"

"...Aku tau. Tapi ini hanyalah permisalan."

Dihadapkan dengan keterkejutan Claire, Kamito menggeleng.

Sejauh yang Kamito tau, Luria adalah penyembuh berperingkat teratas bahkan diseluru benua. Jika itu adalah dia, dia mungkin memiliki kesempatan untuk menyembuhkan Judia.

Tetapi tangan-tangan keajaiban penyembuhan itu saat ini menghilang.

Kenapa Lurie bersekongkol untuk menggunakan roh-roh militer untuk menyerang akademi? Motif dan tujuannya masih tidak diketahui. Dan juga, kenapa para petinggi dalam pasukan kekaisaran membatalkan misi yanng diberikan pada agen ksatria operasi khusus Virrey Branford, untuk berhenti melacak Lurie?

(...Oh yah, terserahlah, ini ya ini, itu ya itu.)

Kamito mencoba berpikir tentang hal itu. Alasan kenapa Lurie bisa mengintai selama bertahun-tahun diantara para Number adalah karena ada seorang penghianat diantara jajaran eselon atas dari Kekaisaran.

Kekaisaran Ordesia adalah sebuah negara besar dengan sejarah yang panjang. Justru karena hal itu, pengrusakan bagian dalamnya telah mencapai keadaan yang tak bisa diapa-apakan lagi.

Dulu ketika Kamito tinggal dirumah Greyworth, pengrusakan dilakukan oleh para bangsawan Kekaisaran sudah menjadi pemandangan yang umum. Dewan kekaisaran adalah tempat dimana para iblis berjalan dibumi, sebuah sarang iblis dari perjuangan politik dan kekuasaan.

Itu adalah sebuah dunia dimana kemampuan pedang milik Penari Pedang Terkuat tidak bekerja.

Pada poin ini dalam pemikirannya, Kamito mulai khawatir tentang Fianna yang ada di ibukota kekaisaran.

(...Fianna berada didalam sarang iblis itu sekarang.)

Meskipun Greyworth ada bersamanya, Kamito masih merasa sedikit khawatir.

—Dengan demikian Kamito dan Claire kembali ke kamar tidur mereka.

"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"

"Tujuan awalku sudah tercapai. Sekarang kita akan membawa Restia kembali ke Akademi."

Kamito menjawab pertanyaan dengan mengangkat bahunya.

"...Kita mungkin akan menjadi gangguan bagi Rinslet jika kita tinggal disini terlalu lama."

Bagian 3[edit]

—Dengan demikian, Kamito dan teman-temannya segera mulai berkemas dan siap untuk pergi.

"...K-Kamu bisa tinggal beberapa hari lagi sebelum pergi, kamu tau?"

Di aula Kastil Winter Gulf, Rinslet bergumam, tampak sangat kecewa.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Kamito dan yang lainnya, Milla dan Mireille telah pergi duluan bersama Claire, Ellis dan Restia, sepertinya untuk menyiapkan kuda.

Oleh karena itu, saat ini hanya ada Kamito dan Rinslet saja.

"Yah, itu karena kita menyelinap keluar dari Akademi karena keegoisanku. Dan juga, kami mungkin menjadi gangguan bagi orang-orang yang ada di kastil jika kami terus berada disini."

"...Tentu saja tidak."

Rinslet memegang keliman pakaian Kamito erat-erat.

Sampai Margrave Laurenfrost kembali dari menghandiri Konferensi Semua Negara di ibukota kekaisaran, Rinslet harus mengatur kastil sebagai kepala dari keluarha Laurenfrost.

Biasanya, dia bisa meninggalkan pekerjaan pada Mireille dan para Wolf Ritter yang ada dikastil, tetapi itu bukanlah sebuah pilihan mengingat situasi saat ini.

"Aku sangat berterimakasih padamu, Rinslet. Berkat kamu, aku bisa mendapatkan kembali Restia. Jika aku sendirian, aku pasti akan menemui ajalku di Pegunungan Kyria dalam badai es."

"Sama sekali tidak. Aku tak melakukan bantuan sebanyak itu~"

Rinslet menggeleng.

"Kamito-san, akulah yang seharusnya berterimakasih padamu. Kamu membantu aku menyelamatkan Judia dan Laurenfrost itu sendiri. Sebagai kepala keluarga Laurenfrost, aku dengan tulus memberikan rasa terimakasihku padamu."

Dihadapkan dengan Rinslet membungkukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh, Kamito tersenyum kecut.

"Baiklah, sampai jumpa di Akademi. Kamu bisa mengandalkan Claire dan aku untuk menyalin pelajaran untukmu."

"Oh, t-tolong tunggu sebentar—"

Tepat saat Kamito hendak pergi, Rinslet menarik pakaiannya.

"...Rinslet?"

"Oh, u-umm..."

Menarik lengan Kamito, dia menjadi gelisah karena suatu alasan yang tak diketahui, wajahnya menjadi merah cerah.

"...Ada apa?"

"U-Uh... Itu, umm..."

Smoooch♪

Sebuah ciuman kejutan.

"...Huh!?"

Bibir indah Rinslet ditekankan pada bibir Kamito—

Kemudian dengan enggan, Rinslet dengan ringan memisahkan bibirnya dari bibir Kamito.

"K-K-Kamu... Apa yang kamu lakukan...?"

Kamito berkata tak karuan karena tindakan Rinslet yang tiba-tiba.

"...~U-Umm... Aku, itu, huaaah...."

Dibandingkan dengan Kamito, Rinslet bahkan jauh lebih bingung. Seluruh wajahnya merah, bahkan telinganya.

"Tenang, Rinslet, aku yang seharusnya lebih bingung daripada kamu."

Komentar Kamito akhrinya menenangkan dia. Dia berdehem dan menatap Kamito dengan mata emerald-nya yang jernih.

(M-Manis sekali...)

Kamito terpesona oleh mata berair itu. Jantung berpacu keras.

Rinslet menarik nafas dalam-dalam dan bibirnya bergetar untuk berbicara.

"S-Selama perjalanan kita, Kamito-san, ada sesuatu yang sangat mengganggu aku."

"Sesuatu yang sangat mengganggu kamu?"

Rinslet mengangguk.

"Ah, ya, umm, ketika berada di pegunungan bersalju bersamamu... selama c-c-c-ciuman itu, aku merasa sebuah kekuatan misterius mengalir didalam diriku."

"T-Tunggu, apa yang kamu bicarakan?"

Kamito berteriak dengan panik.

"A-Aku tidak bohong. Itu sama seperti ketika naga es menyerang kastil. I-Itu berkat ciumanmu, Kamito-san, bahwa aku bisa mencapai kemenangan!"

"Apa-apaan yang sedang terjadi disini? K-Kenapa sebuah c-ciuman dengan aku menyebabkan...."

Tersipu, Kamito tergagap. Waktu itu di pegunungan yang dilanda badai es, serangkaian tindakan yang dia lakukan untuk menyembuhkan luka-lukanya mencul dengan jelas dalam pikirannya.

"...~Uh, aku sendiri tidak terlalu yakin kenapa fenomena ini muncul."

Rinslet memalingkan pandangannya karena rasa malu yang ekstrim.

"Tapi a-aku sudah pasti menerima kekuatan dari ciumanku dengan kamu, Kamito-san."

"T-Tidak mungkin...."

Sebelum dia bisa mengatakan "ini bisa terjadi", Kamito tiba-tiba menyadari sesuatu.

(Kalau dipikir-pikir....)

Dia teringat apa yang Ellis katakan padanya pagi ini.

...Sebelum berangkat ke Laurenfrost, apa yang telah terjadi sebelum meninggalkan akademi.

Ketika Kamito pergi mengunjungi Ellis yang dirawat dirumah sakit, Ellis mencium dia untuk memberi Perlindungan Angin, sebuah berkah untuk menjaga para pengelana tetap aman.

(Memang, aku mendengar bahwa Ellis memulihkan kekuatan fisiknya lebih cepat setelah itu—)

"...Kamito-san?"

Tampak sangat terkejut, Rinslet mengerutkan kening.

"Apa kamu menemukan suatu macam petunjuk dalam ingatanmu?"

"...T-Tidak, aku tidak berpikir itu seperti itu..."

Ketika Kamito dengan panik berusaha untuk menberi penjelasan atas semuanya untuk keluar dari situasi memalukan ini, Rinslet berpura-pura terbatuk.

"T-Tolong jangan salah paham. A-Aku hanya... ingin menerima kekuatan misterius itu, tidak lebih!"

Memutar-mutar ramburnya di jarinya, dia tampak sangat malu.

"....O-Oh oke, aku paham."

Ketika Kamito mengangguk berulang kali...

"Ya ampun! Kamito-san, kamu sama sekali tidak mengerti—"

Smoooch♪

Mencuri-curi ciuman kejutan lagi, Rinslet tersipu dan melarikan diri.

Bagian 4[edit]

"Kamito, apa-apaan sih yang kau lakukan?!"

"Matahari sudak akan terbenam jika kita tidak bergegas berangkat."

Di gerbang utama kastik, Claire dan yang lainnya sudah menyiapkan kuda, menunggu Kamito.

"...M-Maaf. Aku terlibat percakapan dengan Rinslet."

"Dengan Rinslet? ...Hmm, entah kenapa itu terdengar sedikit mencurigakan."

"Apa yang kamu bicarakan?"

Tatapan— Claire dan Ellis menatap Kamito dengan mata yang melebar.

"Meow—?"

Scarlet juga tampak memiliki kecurigaan tentang Kamito dan mengeong-ngeong sebelum mondar-mandir di kaki Kamito.

"I-Itu hanyalah percakapan perpisahan. Ayo cepat berangkat—"

Mengambil tali kendali kudanya di tangannya, Kamito menghindari kontak mata para gadis dan berbicara

"Ngomong-ngomong, dimana Restia?"

"Roh kegelapan itu ada disana—"

Kamito mengikuti arah yang ditunjuk jari Claire.

"...T-Tidak, bukan kesini...!"

Restia saat ini sedang berjuang dengan seekor kuda.

"Restia, kamu tidak tau bagaimana caranya menunggangi kuda?"

Kamito mendekati Restia dan bertanya. Restia merajuk.

"Aku tak tau apa-apa tentang kemampuan yang dibutuhkan untuk menunggangi kuda."

"...Yah, mau bagaimana lagi."

Restia mungkin tak pernah menunggangi seekor kuda sebelum kehilangan ingatannya, karena dia memiliki sepasang sayap hitam legam. Itu adalah sayap yang sangat cantik. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa ada roh yang akan menunggangi kuda ketika mereka memiliki sepasang sayap?

"Kalau begitu kamu menunggang saja bersamaku."

"...J-Jangan khawatir. Lihat saja dan aku akan menguasai kemampuan yang diperlukan untuk menunggangi seekor kuda!"

"Matahari akan tenggelam saat itu. Upsy-daisy."

Kamito tiba-tiba melingkarkan lengannya pada pinggang Restia dan mendudukkan dia di kudanya.

"...~!"

"Lihat, sekarang kamu menunggangi kuda, kan?"

"S-Serius, kamu menakuti aku...."

Restia cemberut dan merajuk.

"Hmm, Kamito....." "...Kamu terlalu memanjakan roh kegelapan!"

Ellis dan Claire cemberut marah.

"....Wow— rasanya lebih tinggi daripada yang aku duga."

"Kamu akan segera terbiasa. Pegang tali kendalinya erat-erat, oke?"

Restia menggeser dirinya maju sedikit dan Kamito memegang tali kendalinya juga.

"—Kalau begitu ayo berangkat. O burung kehancuran yang menguasai angin iblis, aku memohon kepada engkau untuk menggunakan sayap engkau untuk memandu kami kearah jalan yang benar!"

Diatas kuda, Ellis mengangkat tangannya dan mengisyaratkan, memanggil roh iblis angin untuk memandu jalan.

"Kehhhhhhhh!"

Muncul ditengah-tengah udara, Simorgh menanggapi panggilan tuannya, melayang di udara.

"Sungguh burung yang menggemaskan~"

"—Huh?"

Semua orang menatap Restia pada saat yang sama tanpa berpikir.

"....Apa kamu mengatakan manis?"

"Ya, bulu-bulu itu begitu halus, burung itu sangat manis."

Tetapi setelah mendengar pujian Restia—

Tiba-tiba, Simorgh menangis emosional sambil melayang di udara.

"Kehhhhh, kehhhhhhh!"

"Wow, Simorgh begitu senang hingga dia menangis...."

"...M-Menangis? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Sudah kuduga, roh milikmu sedikit menakutkan...."

Simorgh mengepakkan sayapnya dengan ganas, menciptakan hembusan angin yang besar. Roh-roh iblis angin adalah roh-roh yang memberi perlindungan angin kepada para pengembara.

"—Kalau begitu, mari kita bergegas kembali ke Akademi."

Dengan Ellis yang memimpin, Kamito dan rekan-rekannya melaju menunggangi kuda.

Pada saat ini, Kamito melihat kebelakang—

Berdiri di balkon Kastil Winter Gulf, Rinslet melambaikan tangan kepada mereka.

Melambai ringan pada dia sebagai balasan, Kamito berangkat dari wilayah Laurenfrost.


Back to Bab 1 Return to Halaman Utama Forward to Bab 3