Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14 Bab 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 1 - Pagi Hari di Winter Gulf[edit]

Bagian 1[edit]

Ada sebuah ruangan di lantai tertinggi dari Kastil Winter Gulf, awalnya digunakan sebagai kantor Margrave Laurenfrost.

Saat ini, ruangan kastil tersebut dibuka untuk sejumlah prajurit yang terluka, oleh karena itu, kantor ini adalah satu-satunya tempat yang tersisa dimana Kamito dan rekan-rekannya bisa duduk untuk melakukan percakapan dengan tenang tanpa rasa takut dari roh-roh yang menguping.

Sebuah ruangan dengan hanya perabotan minimum, meja dan kursi—

"Dengan kata lain, kau kehilangan ingatanmu juga..."

"....Iya."

Sedikit mengalihkan tatapannya, gadis itu mengangguk ringan.

Kamito dan si gadis sendirian disini. Memutuskan bahwa itu mungkin lebih mudah bagi mereka berdua untuk berbicara sendirian, Rinslet dan yang lainnya secara bijaksana meninggalkan mereka berdua.

(...Ini Restia, kan?)

Kamito merenung. Dia sudah mengkonfirmasinya berkali-kali dengan matanya sendiri.

Bagaimanapun juga, dia tak mungkin salah pada penampilan ini.

Dia adalag roh terkontrak yang selalu ada disampingnya sepanjang waktu selama masa anak-anaknya.

Meski begitu, ketidakpercayaannya terbendung dari seberapa berbedanya si gadis saat ini, dibandingkan dengan Restia yang dia kenal dengan baik.

(...Restia yang aku kenal tak akan pernah menunjukkan tatapan semacam itu)

Sedikit rasa takut bisa terlihat dari matanya yang berwarna senja.

Tatapan itu, seolah melihat pada orang yang benar-benar asing, menghasilkan rasa sakit pada dada Kamito.

Beberapa hari telah berlalu sejak dia bangun di Forest of Ice Blossom.

Sembari dia berkeliaran di hutan, melarikan diri dari para Ksatria Kerajaan Suci yang mengincar dirinya, anak-anak Elf menemukan dia dan menyembunyikan dia di desa mereka.

Dia telah lupa semua ingatan sebelum kejadian itu, hanya mengingat nama "Restia". Jangankan ingatan tentang Kamito, dia bahkan tak ingat fakta bahwa dia adalah seorang roh.

(Itu sangat mirip dengan kejadian yang menimpaku ketika aku pertama kali bangun...)

Kamito teringat ketika dia terbangunn di akademi baru-baru ini.

Pada saat itu, Kamito berada dalam keadaan amnesia karena syok mental karena kehilangan Restia.

Karena kondisi ini, dia kehilangan semua ingatan yang berkaitan dengan Restia.

Tentu saja, tak peduli seberapa mirip gejala mereka, mengingat Kamito adalah seorang manusia dan Restia adalah seorang roh, mereka tak bisa dinilai menggunakan standart yang sama...

(...Lebih tepatnya, aku akan mengatakan ini lebih mirip dengan situasi Iseria.)

Iseria Seaward adalah perwujudan Elemental Lord Air yang memandu Kamito ke daratan ini. Pada satu titik, dia juga disegel dibawah tanah di Kota Terabaikan, kehilangan semua ingatannya selain namanya sendiri.

Meskipun kasus Iseria tampak lebih seperti seseorang telah secara sengaja memasang sebuah segel, mungkin itu memungkinkan bahwa kehendak seseorang akan campur tangan pada Restia juga—?

"Jadi, apa kau tau kenapa kau diteleport ke hutan ini?"

Restia sedikit menggelengkan kepalanya segera setelah Kamito menanyakan pertanyaannya.

"Tidak, aku benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa sebelum bangun di hutan itu."

"...aku mengerti. Jika saja ada suatu petunjuk untuk mendapatkan ingatanmu kembali."

Melihat Kamito mendesah, Restia tiba-tiba memikirkan sesuatu, mendongak dan berkata:

"Ngomong-ngomong, princess maiden dari Penghuni Hutan bilang bahwa Queen of Ice Blossom memanggil aku—"

"...Judia?"

Queen of Ice Blossom adalah gelar yang diberikan kepada princess maiden manusia, Judia Laurenfrost, oleh ras Elfim yang tinggal di Forest of Ice Blossom.

Kegelapan Dari Dunia Lain telah merasukinya 3 tahun yang lalu selama ritual yang gagal. Menggunakan dia sebagai perantara agar terwujud didunia manusia, dia memanggil Zirnitra sang roh penjaga ke negeri ini. Muncul dengan dengan Kegelapan Dunia Lain, Zirnitra menghancurkan Forest od Ice Blossom hanya dalam waktu satu malam.

Dibebaskan dari kegelapan tersebut oleh kekuatan Demon Slayer, Judia masih tertidur di sebuah ruangan di kastil ini.

(Judia telah memanggil Restia ke negeri ini. Jika iti benar—)

Selama sesaat ketika Restia lenyap, Kegelapan Dunia Lain keluar dari kuil Elemental Lord, atau semacamnya, bisa saja mengganggu Restia—

Kamito mendongak dan berpaling kearah Restia lagi.

"Apa ada sesuatu yang lain yang kau ingat? Apapun itu, seperti istilah individual yang terlintas dalam benakmu... Seperti 'Sekolah Instruksional' atau 'Penyihir Senja'—"

Namun, Restia hanya menggelengkan kepalanya dengan lembut.

"....Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa."

Dia berbisik penuh permintaan maaf.

"Aku masih tidak mengerti sepenuhnya... bahwa aku adalah seorang roh dan terkontrak padamu, hal-hal semacam—"

Suaranya sedikit bergetar.

"...Aku benar-benar minta maaf... Kurasa kau masih sangat bingung."

Kamito dengan panik meminta maaf dan meletakkan tangannya di kepala Restia.

"Tak apa-apa jika kau tak bisa mengingat aku. Yang lebih penting dari apapun juga, kau masih hidup dan kita berkumpul lagi, itu sudah cukup bagus—"

"......"

Kamito menatap mata Restia secara ragu-ragu.

(...Dia dulu membelai kepalaku dimalam hari setiap kali aku tidak bisa tidur.)

Mengingat kenangan masa lalu, Kamito tersenyum kecut.

Ini adalah pertama kalinya dia membelai kepala Restia. Pengalaman yang benar-benar baru.

"U-Umm, itu benar-benar geli..."

Bisikan gelisah datang dari Restia.

"Oh maaf, aku tidak sengaja..."

Pada saat ini, ada ketukan pada pintu dari ruangan yang tenang ini.

"Onii-sama, sarapannya sudah siap."

Kamito mendengar suara Mireille, adik Rinslet.

"Oh, ini sudah jamnya sarapan—"

Bangkit dari kursinya, Kamito membuka pintu.

Berdiri didepan pintu adalah Mireille bersama Milla si maid disampingnya.

"Selamat pagi, Onii-sama."

Sedikit mengangkat roknya dengan hormat, Mireille menyapa secara menggemaskan.

"Oh, selamat pagi. Apa tadi malam menakutkan?"

"Tidak masalah. Onee-sama dan Milla ada disampingku."

Mireille mengangguk dengan tegas.

Tadi malam, Kastil Winter Gulf ini hampir runtuh karena penyerangan oleh kawanan naga es yang dikendalikan oleh Zirnitra. Bahkan sebagai seorang putri kebanggaan dari bangsawan, Mireille hanyalah berusia 9 tahun. Itu seharusnya merupakan pengalaman yang menakutkan.

"Aku mengerti. Kau adalah anak yang pemberani, Mireille."

Kamito menepuk kepala Mireille.

"Ya ampun, aku benci ketika kau memperlakukan aku seperti anak kecil, Onii-sama."

Mireille cemberut.

"Kamito, ambil ini—"

"Apa yang harus aku lakukan dengan itu?"

Milla menyerahkan seragam maid yang memiliki desain yang sama seperti yang dia kenakan.

Menatap Restia yang ada dibelakang Kamito, Milla berkata dengan tenang:

"Memakai pakaian Elfim didalam kastil sangatlah mencurigakan. Akan lebih baik untuk memakai ini."

"....Dimengerti...."

Restia berbisik dan menerima seragam maid itu.

"Jadi, Onii-sama, tolong tinggalkan ruangan ini."

"—kenapa?"

"Ya ampun! Apa kau berniat mengintip seorang gadis berganti pakaian?"

"Oh benar..."

Disinggung langsung oleh Mireille, Kamito keluar ruangan dengan panik.

— Beberapa menit kemudian, Restia berjalan keluar ruangan, sudah berganti pada seragam maid yang manis.

STnBD V14 019.jpg

Rambut hitam panjang sampai pinggangnya, sangat sesuai dengan hiasan kepala maid berwarna putih miliknya.

Ketika memakai gaun kegelapan miliknya, Restia memancarkan sebuah aura dari pesona misterius, tetapi sekarang, penampilannya adalah seorang gadis biasa.

"Itu sangat cocok denganmu, Nona Roh."

"I-Iya kah?"

Sedikit malu, Restia tersipu.

"Yah, Onii-sama, tidakkah kau punya komentar?"

"O-Oh... Itu sangat manis."

Kamito menggaruk pipinya sambil berpaling.

"T-Terimakasih...."

Tersipu-sipu, Restia menunduk karena malu.

Bagian 2[edit]

"....Hoo, ini benar-benar dingin."

Udara dingin dari wilayah Laurenfrost membuat Kamito sedikit menggigil.

Membawa Restia yang memakai seragam maidnya, Kamito mengikuti dinding pembatas kearah plaza kastil.

Est tetap berada di kamar. Kamito ingin membatalkan wujud pedangnya, tetapi dia tampaknya cukup kelelahan setelah pertempuran dihari sebelumnya, tak memberi tanggapan apapun pada sentuhan Kamito.

(....Mau bagaimana lagi.)

Aula kastil itu dipenuhi dengan para prajurit yang terluka. Makanan harus dimakan diluar.

Biasanya, putri dari bangsawan tidak akan makan bersama dengan rakyat jelata, tetapi Rinslet memerintahkan untuk membuka plaza bagi siapapun didalam kastil untuk berbagi makanan bersama diluar.

Ini mungkin salah satu alasan kenapa keluarga Magrave Laurenfrost sangat dicintai dan dihormati oleh mayoritas warga mereka.

"...Meski begitu, aku kagum bahwa kastil itu masih berdiri setelah serangan semacam itu."

Dari tepi dinding yang rusak, Kamito melihat ke plaza yang ada dibawah.

Kira-kira beberapa jam yang lalu, kastil ini masih dibawah serangan dari para naga es.

Tumpukan puing-puing dan mayat-mayat besar dari para naga es. Para roh besar sedang bersih-bersih. Barisan panjang dari prajurit sedang menunggu untuk makan didekat tenda.

Melihat para prajurit terbungkus perban yang berlumuran darah, Restia bereaksi dengan penampilan kesakitan.

"Apa tak ada cukup orang untuk membantu perawatan?"

"Tidak, para penyembuh Wolf Ritter telah pergi bersama delegasi Ayah untuk menghadiri Konferensi Semua Negara. Kastil-kastil dari para bangsawan dengan para elementalis cukup jauh dari sini dsn akan membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mereka sampai."

Mireille menggelengkan kepalanya dan menjelaskan.

"Jika saja aku bisa menggunakan sihir penyembuh juga."

Restia menggigit bibirnya dan menunjukkan ekspresi menderita.

Melihat penampilan itu di wajah Restia, Milla menanyai Kamito dengan ekspresi yang rumit:

"Kamito, apa gadis ini benar-benar roh kegelapan itu?"

".....?"

Kamito mengerutkan kening sesaat, tetapi segera menyadarinya.

(Benar juga, tim Milla ada di Blade Dance—)

Milla adalah anggota dari Rupture Division, sebuah tim yang dihancurkan oleh kerja sama dari Nepenthes Lore dan Restia.

Setelah merasakan teror semacam itu, Milla mungkin sulit mempercayai bahwa Restia yang saat ini adalah orang yang sama yang dia temui dimasa lalu.

"...Sejujurnya, aku juga tidak yakin."

Kamito menggeleng dan menjawab.

"Dalam hal penampilan, sudah pasti itu Restia, tak ada yang salah tentang hal itu..."

Memang, melihat Restia saat ini, seseorang akan menyimpulkan bahwa ingatan dan kepribadian dari Restia yang dulu sudah lenyap sepenuhnya.

Apa kasusnya seperti kasus Kamito sebelumnya dimana ingatannya hanya tersegel? Atau mungkin—

"....Apa ada yang salah?"

Melihat Kamito berhenti berjalan, Reatia memiringkan kepalanya dan menatap dia.

— Perilaku ini jelas-jelas adalah sebuah kebiasaan dari roh terkontrak yang selalu bersama dia dimasa lalu.

Bagian 3[edit]

Kamito dan kelompoknya turun ke plaza melalui tangga di dinding pembatas.

Ditengah-tengah banyak tenda yang didirikan, erangan-erangan dari orang-orang yang terluka bisa terdengar.

— Diantara mereka, satu kelompok diisolasi.

"Ada apa yang disebelah sana?"

"Anak-anak Elfim dari Forest of Ice Blossom. Para Wolf Ritter melindungi mereka."

".....!"

Mendengar Milla mengatakan itu, Restia segera bergegas ke tenda itu.

"....Restia?"

Kamito mengejar Restia yang panik.

Didalam tenda terisolasi tersebut, dia melihat seorang gadis yang tampak akrab.

(Gadis ini pasti...)

Berbaring diatas tempat tidur sederhana adalah princess maiden Elfim yang pingsan di hutan.

Restia berlari ke samping tempat tidur dan memanggil nama gadis itu.

"...Rana!"

"...Res...tia...?"

Gadis itu membuka matanya yang berwarna merah.

"...Syukurlah. Aku senang sekali kau baik-baik saja."

Restia menghela lega dan memegang tangan si gadis.

Gadis bernama Rana itu berkedip-kedip—

"Restia, kau tidak marah?"

"Kenapa aku harus marah?"

"Karena kami melakukan hal itu padamu..."

Gadis itu menunduk dan tergagap karena malu.

Restia menggelengkan kepalanya dan menegang tangan gadis itu erat-erat.

"Jika orang-orangmu tidak menyembunyikan aku saat itu, para ksatria manusia itu akan menangkapku sekarang. Dan pada saat itu, pikiranmu dikendalikan oleh Queen of Ice Blossom."

"Restia..."

"Kalian saling kenal?"

Restia mengangguk ringan untuk menjawab pertanyaan Kamito.

"Ya. Gadis ini yang merawat aku saat aku di desa Elfim."

"Oh, gadis ini...."

"Kau...."

Rana memalingkan pandangannya kearah Kamito.

"Ngomong-ngomong, aku masih belum memperkenalkan diriku sejak bertemu denganmu di hutan. Aku Kazehaya Kamito."

"...Oh, itu kau yang membantu kami mengirim Zirnitra ke dalam peristirahatan."

Rana memegang tangan Kamito dan berterimakasih sangat pelan.

"Aku sungguh senang bahwa semua orang tampaknya baik-baik saja."

Restia melihat anak-anak yang ada didalam tenda.

Terikat oleh kutukan yang dikeluarkan oleh Queen of Ice Blossom, Para Penghuni Hutan melemah dan berada diambang kematian ketika mereka diselamatkan.

Namun, komentar ini menyebabkan Rana tampak muram.

"Tidak, meskipun hidup kami terselamatkan, Forest of Ice Blossom telah hancur. Kami tak lagi memiliki tempat pulang sekarang."

"Tak bisakah kalian tinggal disuatu tempat selain hutan? Bahkan tinggal di wilayah manusia juga—"

"Kami adalah ras yang hidup dan mati bersama hutan. Meminta kami membuang kebaggaan kami dengan cara ini adalah hal yang mustahil."

Rana menggelengkan kepalanya, tampak energinya terkuras.

Apa boleh buat, hutan itu adalah segalanya bagi mereka.

Disana—

"— Hutan itu tidak hancur, kau tau?"

Mireille menyela masuk.

"...Apa kau dari keluarga Margrave Laurenfrost?"

Rana melebarkan matanya karena terkejut untuk mengetahui bahwa putri penguasa feodal telah datang.

"House of Laurenfrost akan mengerahkan dukungan penuh mereka untuk membantu orang-orangmu dalam pemulihan Forest of Ice Blossom. Jika kita semua bekerja bersama, hutan itu pasti akan kembali sebagaimana asalnya."

Mireille mengepalkan tangannya erat-erat dan menyatakan dengan emosi yang dalam.

Rana menatap si putri penguasa itu tercengang.

Tunggal di Forest of Ice Blossom, ras Elfim bertentangan terhadap manusia di negeri ini.

Meskipun ada hubungan permusuhan ini, gadis muda ini—

Tanpa dalih apapun, dia mengulurkan bantuan pada mereka.

"Mari berteman mulai dari sekarang, oke?"

"....."

Rana menatap tangan kecil yang Mireille ulurkan—

Kemudian dia melihat anak-anak yang ada didalam tenda.

Menatap Rana, anak-anak itu semuanya menggangguk pada dia.

Rana menjabat tangan kecil yang diulurkan Mireille...

Kemudian seolah mengikuti sebuah etika bawahan, dia menundukkan kepalanya.

"Kami para Penghuni Hutan setuju untuk mengikrarkan kesetiaan kami sebagai bawahan pada House of Laurenfrost, untuk masuk dan tinggal didalam kastil dibawah kepengurusan Laurenfrost."

"Bukan sebagai bawahan. Apa yang kami, Laurenfrost inginkan adalah aliansi dalam kedudukan yang setara."

Mireille berbicara dengan riang.

Melihat bagaimana Mireille bertindak, Kamito berkata pelan pada Milla.

"Sepertinya, Mireille akan tumbuh menjadi seorang penguasa yang mengagumkan."

"...Tentu saja. Mireille-sama memang memiliki potensi seperti itu."

Milla tersenyum, menunjukkan ekspresi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagian 4[edit]

"Kamito! Kau telat!"

"Memang, perutku dari tadi sudah protes!"

Berdiri mengenakan apron, Claire dan Ellis cemberut, tampak sangat tidak senang.

Kerudung yang mereka pakai dikepala mereka tampak manis, sama seperti telinga kucing.

"....Maaf. Jadi kalian berdua membatu memasak untuk menyajikan makanan pada pengungsi?"

"Ya, tenaga kerjanya tampaknya kurang—"

"Aku memasukkan beberapa bahan dari kastil dan mencoba membuat sup."

Didalam tenda, ada panci besar dengan uap mengepul. Aroma harum memenuhi udara.

Roh kucing neraka berada dibawah panci itu sedang mengeluarkan api yang besar.

"Wow, bahkan Scarlet juga membantu. Kerja bagus."

Kamito menepuk kepala Scarlet sambil memuji. Scarlet mengeong dalam kegembiraan.

"Sayuran dengan ditambahkan cabai akan membantu menghangatkan tubuh. Juga ada kacang-kacangan, roti dan kentang rebus. Andai saja ada bahan-bahan lebih banyak lagi."

"....Ini semua karena badai salju di Pegunungan Kyria. Pengantaran persediaan makanan sangat terpengaruh."

Milla berbicara dengan nada meminta maaf.

"Tidak, itu sudah cukup bagus. Sup ini sangat lezat—"

Merasa ingin tau tentang sesuatu pada saat ini, Kamito menanyai Ellis.

"Ngomong-ngomong, Ellis, apa cideramu sudah baikan?"

Ini terjadi sebelum mereka beragkat dari Akademi. Ellis terluka parah karena Lurie Lizaldia dan seharusnya perlu dirawat lebih lama lagi. Karena dia telah memaksakan dirinya untuk mengunjungi Laurenfrost, Kamito sangat khawatir tentang cideranya.

"...~Uh, umm, itu karena...."

Mengatakan itu, wajah Ellis menjadi merah cerah karena suatu alasan.

"A-Aku sudah pulih. Bahkan aku sendiri merasa takut dengan tingkat pemulihan yang mencengangkan ini."

".....Benarkah?"

"Uh, iya, itulah intinya..."

Ellis memalingkan wajahnya, tampak sangat malu.

"Kurasa... itu mungkin... berkat kamu...."

"...Aku?"

"...~K-Karena, umm... denganmu... c-ciuman itu..."

Ellis tergagap sembari wajahnya berwarna merah. Lalu—

"Hei! Apa makanannya belum siap juga?"

"Kami semua kelaparan. Cepatlah!"

Suara-suara kasar dari para prajurit bisa didengar dari belakang. Bahkan didalam mimpi terliar mereka, para prajurit ini tak pernah membayangkan bahwa putri-putri bangsawan dari keluarga Fahrengart dan mantan keluarga Elstein memasak untuk mereka.

"Serahlan ini padaku. Kalian berdua pergilah sarapan duluan."

Milla meminta pergantian pekerjaan.

"...Ya, maaf tentang itu. Terimakasih karena melakukan ini."

"Itu sangat membantu. Scarlet, kau bisa istirahat juga."

"Meow—"

Scarlet merangkak keluar dari dalam kobaran api. Api dibawah panci melemah.

Bagian 5[edit]

"Sarapan lewat sini—"

Claire memimpin mereka kearah yang berlawanan dengan plaza kastil, ke tempat dimana ada beberapa bangku sederhana dan sebuah meja yang terbuat dari kayu.

"Simorgh dan aku menggunakan pohon tumbang dihutan untuk membuat meja ini."

"Seperti yang diharapkan dari Ellis, sungguh terampil dan penuh pertimbangan."

Ngomong-ngomong, ketika Kamito pertama kali mendaftar dk Akademi, Ellis membuat sebuah rumah kecil untuk dia yang meyerupai kandang kuda.

...Tapi rumah itu dimusnahkan dalam sekejap selama pertengkaran antara Claire dan Rinslet.

(...Kejadian itu sudah berlalu beberapa bulan yang lalu. Hal itu pastinya membawa kembali kenangan.)

Menempatkan piring-piring di meja untuk makan roti dan sup, mereka duduk dibangku itu.

Restia mengambil tempat duduk terpisah disamping Kamito.

"Benar juga, dimana Rinslet?"

"Onee-sama saat ini berjaga di kastil, aku menduga dia akan ada disini sebentar lagi."

"...Kalau begitu mau bagaimana lagi. Ayo mulai duluan."

Claire membuka penutup panci diiringi menyebarnya aroma sup.

"Wow, itu tampak nikmat..."

Saat Kamito mencium aroma itu, dia merasakan nafsu makan yang meluap-luap. Setelah menghabiskan kekuatan suci dalam jumlah yang banyak tadi malam dalam pertempuran melawan Zirnitra, dia sekarang merasa sangat lapar.

Ellis mengisi mangkok sup untuk Kamito. Mengambil sendok, Kamito mulai meminum sup itu dengan lahap.

"....Hmm, meskipun sedikit pedas... ini sangat enak!"

Kamito meminum sup harum itu dan memuji dengan mengangkat jempol.

"B-Begitukah....? Syukurlah...."

"...Tunggu, Kamito! C-Cobalah rotiku juga!"

"...Huh? Jangan bilang kau yang menbuat ini, Claire?"

Menatap tumpukan roti di keranjang, Kamito terkejut.

Roti gandum hitam mengelurkan aroma dari roti yang dipanggang secara sempurna.

Sekilas, tak ada satupun roti yang gosong menjadi arang.

"J-Jangan bilang ini adalah roti kalengan?"

"Kamito, aku akan marah lo."

"...M-Maaf! ...tapi bagaimana caranya kau melakukannya?"

Sebagai hasilnya, Claire membusungkan dadanya yang datar.

"Aku sekarang bisa mengendalikan api yang aku keluarkan."

"B-Benarkah? Tapi kenapa begitu—"

"...Aku sendiri tidak yakin. Sejak Nee-sama memaksaku untuk menjadi Ratu Kegelapan, aku bisa mengendalikan Api Elstein dengan sempurna."

Claire bergumam.

"Sebelum itu, aku selalu harus menekan apiku sebanyak mungkin, tetapi semuanya berbeda sekarang. Itu terasa seperti aku bisa mengeluarkan api kapanpun aku mau sekarang."

"Aku mengerti. Jadi alasan kenapa kau hanya bisa menghasilkan makanan yang seperti arang sebelumnya adalah karena kau tak bisa mengendalikan apimu dengan baik."

"Ya, aku merasa seperti aku bisa memasak apapun sekarang. Aku tidak akan kalah dari Ellis dan Rinslet lagi."

Claire tersenyum percaya diri dan membuat tanda kemenangan dengan tangannya.

"Hoo, dunia memasak sangatlah keras."

"Oh Onee-sama!"

Kamito memandang kearah plaza untuk melihat Rinslet didampingi oleh Fenrir.

"Hmm, akhirnya kau datang, Rinslet...."

"Segalanya akhirnya hampir selesai."

Rinslet tiba dimeja itu dan mengambil sepotong roti dari keranjang.

"Apa benar-benar Claire yang memanggang roti ini?"

"Itu benar!"

"Ya, aku tidak membantu dia sama sekali."

"Eh...."

Rinslet dengan anggun merobek sedikit dengan jarinya dan memasukkannya kedalam mulutnya.

"....."

"...B-Bagaimana?"

Rinslet menelan roti itu.

"...T-Tidak buruk... kurasa!"

"A-Apa!? Jika itu enak, maka jujur saja."

"Kau terlalu naif. Jalur dari pemanggangan roti sangatlah mendalam... Yah, jika kau memohon padaku secara tulus, itu tidak seperti aku tak bisa mengajarimu rahasia dari membuat roti, oke?"

"...J-Jangan harap... Oh yah, jika kau memohon padaku 'tolong ijinkan aku mengajarimu' maka itu tak seperti aku tak bisa mempertimbangkannya, oke?"

"Hmph, mustahil!"

"Aku juga sama!"

Dihadapkan dengan argumen penuh rasa nostalgia seperti itu, Kamito merasa terlalu lelah untuk berkomentar.

Melihat mereka berdua—

Restia terkikih dan mulai tertawa.

Semua orang memfokuskan tatapan mereka pada Restia.

"...Uh, m-maaf!"

Restia tersipu dan meminta maaf.

Claire dan Rinslet bertukar tatap dan duduk.

"Hei Roh Kegelapan, jangan malu-malu. Makanlah sebanyak yang kau mau."

Claire mengulurkan sepotong roti pada Restia.

"...Ya, terimakasih. Aku makan."

Restia menundukkan kepalanya dan mulai makan roti tersebut dengan cara yang sangat anggun.

"....Mm, benar-benar enak!"

"B-Benarkah? Ini adalah roti yang ditambahkan buah kenari."

"Buah kenari? Enak sekali...."

Melihat Restia bertindak seperto ini, Claire bergumam.

"Itu terasa tak biasa untuk melihat dia seperti ini. Tak terpikir dia adalah si roh kegelapan..."

"....Oh biarlah."

Mengangguk ringan—

Kamito teringat apa yang dikatakan Milla tadi.

— Apa gadis ini benar-benar roh kegelapan?

(...Dia benar-benar tampak seperti seorang gadis manusia. Tapi—)

Seorang roh terlahir kembali sebagai seorang manusia— bisakah sesuatu seperti itu benar-benar terjadi?

"...Ngomong-ngomong, bagaimana situasi di kastil?"

"Orang-orang yang terluka lebih banyak daripada yang diduga. Rekonstruksi kemungkinan akan membutuhkan waktu lebih lama."

Rinslet menggelengkan kepalanya dan menjawab Ellis.

"Aku sudah mengirim surat pada ayahku di ibukota kekaisaran. Namun, mereka saat ini sedang mengadakan Konferensi Semua Negara. Bahkan jika mereka bergegas kembali, itu akan membutuhkan beberapa hari."

"Yah, aku aku meminta dukungan pada kakek. Anggap saja itu sebagai bantuan kecil pada keluarga Laurenfrost."

"Terimakasih banyak. Itu akan menjadi sebuah bantuan yang besar, Kapten."

"Onee-sama, pemulihan hutan Elfim akan membutuhkan bantuan juga."

"Ya, aku tau. Tetapi sebelum itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubur sisa-sisa Zirnitra yang mencemari lingkungan hutan...."

Muncul bersama naga es yang tak terhitung jumlahnya, Zirnitra tidak diteleportasi secara otomatis kembali ke Astral Zero. Sisa-sisa tubuh yang besar masih ada di hutan.

Dibiarkan tanpa pengawasan seperti ini, pohon-pohon yang saat ini masih hidup akan menyerap aura kematian dari sisa-sisa tersebut dan akan segera musnah secara pasti.

"Meskipun masih ada segunung masalah yang menunggu untuk diselesaikan, aku percaya kamu harus beristirahat dulu sebentar."

Karena berdiri pada posisi penguasa dari keluarga Laurenfrost, Rinslet harus memastikan segalanya berjalan baik tetapi kelelahannya sudah mencapai batas. Tanda-tanda kelelahan yang jelas terlihat dalam sikapnya.

"Ya~ aku akan beristirahat setelah segalanya terselesaikan sampai pada poin dimana aku tidak perlu khawatir... Oh—"

Rinslet menatap Kamito seolah-olah dia tiba-tiba menyadari sesuatu.

"....Hmm? Ada apa?"

"U-Umm..."

Karena suatu alasan, wajahnya menjadi merah dan dia mulai menggosok-gosokkan lututnya secara canggung.

"S-Sebenarnya, ada sebuah metode yang sangat bagus yang bisa menghilangkan rasa lelahku..."

"Metode yang sangat bagus? Menggunakan kekuatan suci untuk pemijatan atau semacamnya?"

"B-Bahkan lebih efektif daripada itu...."

".....?"

"Metode apa itu? Rinslet, cepat katakan—"

"P-Pada dasarnya, umm... sebuah c-c-c-ciuman dengan Kamito-san—"

"—Putri!"

Rinslet terganggu oleh kepala maid, Natalia, yang datang tergesa-gesa.

"Natalia? Apa sesuatu terjadi?"

"Harap segera kembali! Judia-sama telah bangun!"

Bagian 6[edit]

Istana Nafescal di ibukota kekaisaran, Ostdakia—

"....hhaah, inilah kenapa aku membenci istana."

Saat fajar, Fianna menyeret tubuhnya yang kelelahan ke ranjangnya dan jatuh, mendesah dalam-dalam.

Suatu insiden tertentu sedang terjadi di Teokrasi Alpha baru-baru ini. Perwakilan dari negara-negara sekitar telah diundang untuk menghadiri Konferensi Semua Negara untuk mendiskusikan tindakan pencegahan.

Insiden ini kudeta secara mendadak dalam Teokrasi. Si dalang, Sjora Khan telah mengambil alih istana Scorpia hanya dalam waktu setengah hari dan memenggal sang Pemimpin.

Saat ini, Teokrasi terbagi antara faksi Sjora dan faksi mantan Pemimpin, menghasilkan perang saudara yang ganas. Api perselisihan internal berkobar dengan meningkatnya intensitas dan mulai mempengaruhi negara-negara tetangga.

Karena hubungan perdagangan jangka panjang dari Teokrasi, Kekaisaran Ordesia tak bisa diam saja dan menonton hal ini terjadi tanpa ikut campur. Oleh karena itu, Konferensi Semua Negara diadakan.

Dengan sejumlah istirahat, konferensi itu berlangsung hingga larut malam.

Alasan terbesar kenapa konferensi itu berkembang lambat adalah Kerajaan Suci Lugia, yang menggunakan kegigihan dalam garis keras terhadap Teokrasi, sekarang mengubah pendapat mereka dan menyatakan dukungan untuk dalang kudeta, Sjora Khan.

Sikap tak terduga dari kerajaan besar itu memberi penundaan pada delegasi-delegasi lain dari negara-negara lain, menenggelamkan konferensi kedalam kekacauan.

Dracunia mengusulkan menggunakan kekuatan. Dengan sebagian besar perdagangan berlangsung dengan Teokrasi, Kerajaan Balstan menyarankan mendukung Putri Kedua Saladia Khan. Kekaisaran Quina yang cerdas berpura-pura sebagai pihak pengamat, mengharapakan lebih banyak kekacauan diantara berbagai negara benua.

Setelah mendengarkan begitu banyak pendapat, Kaisar Ordesia tampaknya mendapatkan kesulitan mengklarifikasi posisi resmi. Bahkan diantara dewan kekaisaran, pendapat-pendapat terbagi antara faksi intervensi dan faksi non-intervensi.

Mereka yang memegang otoritas tertinggi setelah sang kaisar, yaitu, Lord Conrad sang menteri utama, keluarga Duke Finegas yang berdiri sebagai faksi terbesar dalam dewan kekaisaran, dan yang lainnya rupanya pendukung dari intervensi militer.

(Namun, para bangsawan dalam faksi Arneus tampaknya mendukung usulan Kerajaan Suci—)

Apa yang paling membuat Fianna khawatir adalah niat dari kakak tertuanya, Arneus.

Faktanya, orang yang meminpin Konferensi Semua Negara ini adalah Arneus bukannya sang kaisar.

Juga ada rumor-rumor bahwa sang kaisar akan segera turun tahta, mewariskan mahkota pada dia.

Namun, meskipun hal itu berkaitan dengan ini, dewan kekaisaran memiliki pendapat yang berbeda.

Ini adalah pertanyaan tentang kesanggupan Arneus.

Sejauh adiknya, Fianna, memandang masalah ini, Arneus akan menjadi seorang raja yang menyedihkan mengingat karakternya yang kasar dan tak kenal ampun. Dengan seseorang yang bodoh seperti dia sebagai kaisar, Kekaisaran Ordesia akan menjadi makanan bagi kekuatan-kekuatan besar negara tetangga dalam sekejap mata.

Disisi lain, ada para bangsawan yang berharap seorang pemimpin yang bodoh dan mudah dimanipulasi muncul.

(Bisa dikatakan, hal ini sama sekali tak ada hubungannya denganku...)

Fianna menggelengkan kepalanya. Meskipun ada juga orang-orang diantara para bangsawan yang mendukung Fianna, setelah memulihkan kekuatannya dari roh terkontrak, untuk menjadi kaisar wanita, Fianna sama sekali tak memiliki niat semacam itu.

"Tak peduli apa, tampaknya konferensi ini akan berlarut-larut."

Dia mendesah dalam-dalam lagi.

...Kecemasannya berakar dari ketidakpastian tentang akan jadi seperti apa masalah ini pada akhirnya.

(...Aku benar-benar ingin kembali ke Akademi untuk bertemi dengan Kamito-kun dan yang lainnya.)

Tepat saat dia hendak melepaskan gaun formalnya untuk berganti pakaian tidur, pada saat itu—

Dia mendengar ketukan ringan pada pintu.

".....!?"

Dia menghentikan apa yang sedang dia lakukan dan melihat kearah pintu. Petugas perempuan istana tidak diijinkan untuk memasuki ruangan ini. Fianna tak pernah menduga seseorang mengunjungi Putri Kedua pada jam ini.

(...Dan juga, seharusnya ada penjaga di koridor.)

Fianna meningkatkan kewaspadaannya dan menyembunyikan sebuah kristal roh dibalik gaunnya.

Berjalan kearah pintu, dia bertanya pelan.

"...Siapa?"

"—Ini saya, Putri, Yang Mulia."

Dia mendengar suara seseorang yang tak terduga.

"...Mungkinkah kau, Lord Conrad?"

Tak pernah menduga hal ini, Fianna terkesiap.

Duke Conrad Batimas adalah menteri utama Kekaisaran Ordesia, orang yang memegang hak untuk bicara atas nama sang kaisar pada dewan kekaisaran.

"Putri, saya ingin berbicara dengan anda mengenai beberapa masalah yang dirahasiakan. Apa anda luang saat ini?"

"....I-Iya."

Meski agak ragu-ragu, Fianna memutuskan dia tak boleh membuat menteri utama Kekaisaran menunggu terlalu lama di koridor.

Fianna membuka pintu dengan kuncinya dan diam-diam melihat keluar.

"Saya benar-benar minta maaf karena mengganggu di jam segini, Yang Mulia—"

Seorang pria yang lebih tua dengan rambut putih membungkukkan kepalanya dengan sopan.

Dia tampaknya sendirian tanpa satupun pelayan.

"Lord Conrad, silahkan masuk dulu."

"Baik, maafkan kelancangan saya."

Lord Conrad masuk kedalam kamar, berjalan menggunakan tongkat.

Lord Conrad sering memperhatikan Fianna selama masa anak-anaknya sebelum mendaftar di Divine Ritual Institute. Setelah Fianna kehilangan kekuatan dari roh terkontraknya, Lord Conrad terus memperlakukan Fianna sama seperti sebelumnya. Ini adalah kebaikan yang mulia yang dia miliki.

Justru karena itu, kesan Fianna pada dia cukup baik. Namun—

(....Kata-kata yang dirahasiakan untukku dari menteri utama Kekaisaran?)

...Entah kenapa, dia mendapatkan perasaan buruk tentang hal ini.

"Siapa prajurit yang ada di koridor?"

"Prajurit-prajurit disini semuanya adalah bawahan saya yang setia karena mereka yang asal-usul tidak jelas tidak boleh mendekati anda, Putri."

Lord Conrad mengarahkan tatapannya keseluruh dinding kamar.

"Tampaknya tidak ada roh dikamar ini?"

"...Ya, aku menggunakan penghalang."

"Baiklah. Kalau begitu saya langsung ke pokok masalahnya."

Lord Conrad mengangguk ringan, menatap mata Fianna.

"Yang Mulia, saya ingin mendukung anda sebagai kaisar yang selanjutnya?"

"....Eh?"

Kata-katanya sangat tidak terduga. Tepatnya, Fianna tau bahwa tak mungkin ada alasan lain bagi menteri utama Kekaisaran untuk mengunjungi dia diwaktu seperti ini.

Namun, meski begitu, dia masih tak bisa menekan keraguan dalam hatinya.

"Lord Conrad, aku—"

"Yang Mulia, silahkan lihat ini."

Lord Conrad menyela penolakan refleksif Fianna dan mengeluarkan sebuah gulungan dari dadanya, membukanya didepan mata Fianna.

"....Ini—"

Tertulis pada gulungan itu adalah nama-nama dari banyak orang dengan jejak-jejak darah padanya.

Fianna kebanyakan memiliki suatu kesan pada setiap nama itu. Mereka adalah aristokrat yang memegang kekuasaan dan pengaruh di Kekaisaran Ordesia.

"Memang, ini adalah petisi bertanda darah dari banyak bangsawan yang mendukung anda untuk menjadi kaisar."

"...Eh, tak mungkin..."

Termasuk menteri utama, total ada 24 nama yang tercatat pada gulungan tersebut. Ini mewakili kira-kira seperempat dari dewan kekaisaran. Ada sebanyak ini bangsawan yang ingin Fianna untuk naik tahta kekaisaran.

"Memang, Arneus adalah kakakku yang bodoh. Namun, untuk memintaku menjadi kaisar, ini—"

"Jika Pangeran Arneus menjadi kaisar, Kekaisaran Ordesia akan runtuh cepat atau lambat. Dia bisa dianggap tak lebih dari dieksploitasi oleh para bangsawan yang ada dalam faksi Arneus. Tak ada yang lebih buruk dari hal ini—"

Lord Conrad merendahkan suaranya dan berbisik pada Fianna.

"Karena Kerajaan Suci secara rahasia mendukung Pangeran Arneus."

"....Kerajaan Suci?"

Fianna bertanya tanpa sadar.

Jika Kerajaan Suci Lugia memasukkan bayangnya pada kaisar Ordesia, memang, itu wajar saja bagi Lord Conrad untuk khawatir sebagai menteri utama.

(...Pendapat Arneus dalam Konferensi Semua Negara secara tak wajar sepaham dengan Kerajaan Suci kali ini.)

...Itu adalah sebuah saran yang masuk akal. Sejak berakhirnya Perang Ranbal, Kerajaan Suci mulai memandang Ordesia dengan serakah.

"Apa Yang Mulia Kaisar tau tentang ini?"

"Sangat disayangkan, Pangeran Arneus telah mendapatkan kepercayaan yang mendalam dari Yang Mulia. Lebih tepatnya, itu akan lebih baik untuk mengatakan bahwa Yang Mulia sendiri kemungkinan telah jatuh dibawah perlindungan Kerajaan Suci—"

"Tak masuk akal....."

"Saya yakin bahwa Yang Mulia Kaisar tidak mengambil garis keras terhadap Teokrasi pada kejadian ini mungkin sebagian karena pertimbangan terhadap keinginan Kerajaan Suci."

Mata Lord Conrad menatap tajam pada Fianna.

"Antara anda, yang sudah lulus dari Divine Ritual Institute, Putri Pertama Linnea dan keturunan langsung dari garis keturunan kerajaan yang berada dalam garis pewaris, Putri Fianna, anda adalah satu-satunya orang yang dipilih oleh roh keluarga kerajaan."

"...Tapi sebagai penerus yang paling sesuai? Apa kau yakin kau tidak salah?"

"Silahkan maki saya jika kata-kata saya menyinggung anda, tetapi demi kebaikan masa depan negri kita, saya bersedia untuk menanggung kebencian anda, Yang Mulia."

"Seorang kaisar wanita akan menghadapi penentangan dari negara-negara sekitar. Divine Ritual Institute telah menetapkan bahwa para princess maiden yang melayani roh dilarang terlibat dalam politik."

"Ada contoh masa lalu dari kaisar wanita dalam sejarah. Dalam kasus Dracunia, sebuah spirit naik tahta. Cara alternatifnya, jika Yang Mulia memilih seorang suami dari diantara bangsawan Kekaisaran—"

"...Tidak, sudah pasti tidak...!"

Fianna berteriak secara reflek.

(...Karena aku punya seseorang yang aku cintai!)

"...Putri?"

"T-Tidak, itu..."

Wajah Fianna menjadi merah. Dia batuk secara sengaja untuk memicu pemahaman.

Lord Conrad menurunkan bahunya dan berbicara layaknya menceramahi.

"...Memang, itu sangat wajar bagi Yang Mulia untuk merasa ragu-ragu. Hal ini membutuhkan waktu bagi anda untuk memikirkannya."

"Aku tidak akan menjadi seorang kaisar."

"Waktunya masih belum datang. Ini tak apa-apa sekarang. Lalu—"

Lord Conrad menyela dia dan mengeluarkan sesuatu dari dadanya.

Itu adalah kristal roh bersinar dengan cahaya menyeramkan, semerah darah.

Fuanna telah melihat kristal roh ini sebelumnya.

"—Jangan bilang ini adalah Bloodstone!?"

Tipe kristal roh yang sangat langka, berada pada tingkat harta nasional, Bloodstone hanya bisa ditambang dari tempat suci Astral Zero.

Ini adalah tipe kristal roh yang sama yang Fianna curi ketika dia melarikan diri dari istana kekaisaran. Namun, roh yang tersegel di Bloodstone miliknya hilang selama pertempuran melawan Jio Inzagi.

Menteri utama meletakkan kristal roh yang bersinar secara menyeramkan itu ditelapak tangan Fianna dan menutup tangannya.

"Ini adalah sesuatu yang bisa melindungi anda. Harap terus simpan ini sepanjang waktu."

"Melindungi aku?"

"Para bangsawan di faksi Arneus ingin membunuh anda, Putri. Kata-kata Dame Greyworth tak lagi memiliki kuasa atas dewan kekaisaran. Anda harus melindungi diri anda sendiri dengan hati-hati sekarang."

"...Sungguh ironis. Dulu semua orang memanggilku Lost Queen, tak seorangpun berpikir untuk merenggut nyawaku, karena aku tak layak dibunuh—"

Fianna menggigit bibirnya dan berbica dengan cara mengejek diri sendiri.

"Entah itu kawan maupun lawan, tak ada lagi yang meremehkan anda di istana ini, Yang Mulia."

Menteri utama menggelengkan kepalanya dan berjalan ke pintu.

"—Sampai jumpa lagi di dewan kekaisaran."

Pintunya tertutup dengan suara kering.

Fianna menggenggam Bloodstone erat-erat.


Back to Prolog Return to Halaman Utama Forward to Bab 2