Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14 Bab 8

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 8 - Penyusupan ke Ibukota Kekaisaran[edit]

Bagian 1[edit]

—Ibukota kekaisaran, Ostdakia.

Ini adalah kota yang dijadikan benteng oleh Sacred Maiden selama Perang Raja Iblis seribu tahun yang lalu untuk melawan pasukan Raja Iblis.

Setelah Perang Raja Iblis berakhir, lokasi kota ini, sama dengan pusat Kekaisaran saat ini, menjadikannya pusat perdagangan yang menghubungkan segala bagian benua. Perlahan-lahan tumbuh semakin makmur, dan akhirnya berkembang menjadi kota metropolis tertinggi di benua.

Dan lokasi di pusat ibukota kekaisaran adalah aula pertemuan yang besar dimana pertemuan kekaisaran diadakan, serta Istana Nefescal yang bertindak sebagai kediaman kekuatan kerajaan dan kuil yang paling penting di Ordesia.

(....Ironis sekali. Tak disangka penerus Raja Iblis akan kembali ke kota yang telah bertindak sebagai benteng pertahanan untuk melawan sang Raja Iblis.)

Mengendarai kereta kuda sambil memegang erat-erat tali kemudinya dari kursi kusir, Kamito bergumam pada dirinya sendiri.

Faktanya, ini bukanlah pertama kalinya menyusup ke ibukota kekaisaran. Saat dia masih kecik, dia menyelinap ke ibukota kekaisaran bersama Muir, Lily dan Restia sebagai bagian dari misi Sekolah Instruksional.

"Sejujurnya, akankah metode ini benar-benar berhasil?"

Suara cemas Claire terdengar dari dalam kereta.

".....Siapa yang tau. Jujur saja, aku juga nggak yakin."

Berpakaian sebagai dayang, Kamito mendesah dari kursi kusir.

Dia adalah model sempurna dari dayang yang bekerja di istana kerajaan, nggak peduli bagaimana kau melihatnya.

"Kau benar-benar manis, Kamito."

Claire tertawa riang.

"....Y-Yang benar saja."

Kamito meringis dan menatap balik Claire.

Duduk didalan kereta, Claire mengenakan gaun putih. Rambut crimsonnya telah dicat pirang.

Cerita samarannya adalah bahwa Claire merupakan seorang putri dari keluarga bangsawan dan Kamito adalah dayangnya. Adapun untuk Ellis, dia bersembunyi didalam tumpukan peti kemas.

Peran bangsawan jatuh pada Claire karena wajahnya tidak terkenal Ellis yang sering kali datang ke ibukota kekaisaran sebagai seorang putri dari keluarga Fahrengart dan dengan demikian dikenal secara luas. Kunjungan terakhir Claire ke ibukota kekaisaran sudah lebih dari empat tahun yang lalu.

"Kita akan segera sampai di gerbang utama. Jangan mengeluarkan kepala kalian dari kereta dan pastikan untuk bertindak seperti seorang bangsawan."

Kereta yang membawa ketiga orang itu perlahan,lahab mendekati gerbang kota yang besar dari ibukota kekaisaran.

Sebuah obor besar dinyalakan didepan gerbang ketika para pedagang membentuk antrian panjang dengan barang dagangan mereka di kereta.

"Ohohohoho, aku seorang aristokrat dari keluarga kelas atas—!"

Claire tiba-tiba mengeluarkan suara aneh, menyebabkan Kamito melihat kebelakang karena kaget.

"K-Kau mencoba jadi siapa sih!?"

"Apa maksudmu, siapa...? Aku hanya meniru Rinslet. Bukankah itu sangat kelihatan bangsawan?"

"....Y-Yang benar saja. Dia pasti akan marah kalau dia melihat ini."

"Hmph, aku gak habis pikir kau memihak Rinslet...."

Claire cemberut tak senang.

"Bersikap saja seperti diriku yang biasanya dan itu sangat mencerminkan kebangsawanan."

"B-Begitukah?"

Mendengar itu, Claire tampaknya cukup senang, tersipu.

Diatas pintu masuk yang besar tersebut, sepasang patung singa yang menakutkan menatap kelompok Kamito.

Tunggu dulu, mereka bukan patung—Mereka adalah roh penjaga yang menjaga gerbang utama ibukota kekaisaran.

Kamito mengeluarkan tanda masuk kekaisaran yang ditempa oleh Vivian dari dadanya.

"Kita bisa masuk menggunakan ini?"

"Ya, kurasa....."

Dari dalam kereta, Claire mengangguk sedikit gugup dan membalas.

"Aku benar-benar ingin melancarkan serangan udara secara langsung menggunakan Simorgh."

"Itu hanya akan membuat kita ditembak jatuh oleh pertahanan anti-udara ibukota kekaisaran."

Kamito berhenti berbicara dan mengangkat tanda masuk didepan gerbang itu.

Terukir pada tanda tersebut, rune sihir bersinar sesaat dan segara menghilang. Bahkan ketika kereta itu mendekat, para roh penjaga di gerbang tidak bereaksi sama sekali, hanya duduk diam disana.

(....Tampaknya kita berhasil masuk.)

Kamito mendesah lega secara mental.

Berikutnya, penjaga bersenjata memblokir kereta tersebut.

"Harap ijinkan aku untuk memeriksa barang bawaanmu. Apa kau bersedia membuka penutup petinya?"

"Aku benci menunggu. Kuberitahu kau, aku sedang buru-buru."

Claire berbicara dari dalam kereta.

"Ya, aku sungguh minta maaf. Perintah dari atas mengharuskan kami untuk memeriksa..."

Si penjaga membuka penutup peti tersebutm ada dia kotak kayu didalamnya.

Membuka kotak yang atas, penjaga itu menemukan tempat lilin dan perlengkapan ritual lainnya serta sebuah kristal roh langka.

"Apa ini?"

"Aku membelinya saat aku pergi ke Kerajaan Balstan. Lihat, bukankah itu indah?"

Claire mengangkat kristal roh itu untuk menunjukkan pada si penjaga.

"Meskipun itu tidak terlalu berharga, maukah kau menerima ini sebagai hadiah, tuan penjaga?"

Claire menyerahkan sebuah kristal roh dengan roh air tersegel didalamnya kepada si penjaga. Orang biasa tak bisa menggunakan kristal roh, tetapi mereka nida mendapatkan uang yang cukup banyak dengan menjualnya pada toko-toko khusus.

".....Eh, a-apakah tidak apa-apa?"

"Tentu, tetapi sebagai gantinya, aku ingin kembali ke kediamanku secepat mungkin karena aku sudah capek. Boleh aku lewat?"

Dia menyampaikan niatnya untuk menggunakan penyuapan sebagai cara untuk melewati pemeriksaan, tetapi—

"Tidak, perintah dari atas mengharuskan melakukan pemeriksaan—"

Si penjaga menggeleng, berniat untuk memegang teguh prinsipnya.

"...Eh?"

Melihat itu, ekspresi Claire membeku.

(....H-Hei, apalagi yang akan kau lakukan sekarang?)

Kamito memberi isyarat pada Claire dengan tatapan.

Mereka tidak menduga situasi ini. Mereka awalnya berpikir bahwa pemeriksaan atas barang bawaan dari bangsawan hanyalah formalitas belaka setelah mereka melewati titik pemeriksaan.

Faktanya, pemeriksaan barang bawaan milik bangsawan di ibukota kekaisaran adalah suatu kejadian yang tidak biasa. Dulu, penyuapan penjaga bisa dijamin berhasil dimasa lalu.

(....Apakah ibukota kekaisaran berada dalam kewaspadaan pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkan?)

"Kalau begitu, ijinkan aku untuk memeriksa."

Meskipun goyah, si penjaga masih berniat untuk membuka kotak kayu yang bawah.

Dikotak inilah tepatnya Ellis bersembunyi.

"Tu-Tunggu—"

"Aku benar-benar minta maaf, ini adalah peraturannya—"

Penjaga itu mengabaikan Claire yang memprotes dan menyentuh kotak kayu yang bawah.

(....Oh tidak!)

Lalu......

Sesuatu keluar dari kotak kayu tersebut dan terbang keluar dengan ganas..

"Kehhhhhhhhhhh!"

"U-Uwahhhhhhh!"

Penjaga itu teriak karena terkejut, langsung terjatuh.

"Kehhh, kehhhhhhhhhhh!"

Menjulurkan kepalanya dari kotak kayu tersebut adalah seekor burung iblis, mengekuatkanu suara menakutkan.

"N-Nyonya, a-apa itu...."

"....U-Uh, itu adalah burung peliharaanku yang aku beli dari pasar saat aku bepergian. Manis kan?"

"M-Manis....?"

Menatap burung iblis itu, wajah penjaga itu dipenuhi dengan teror.

"Itu salahmu sendiri karena sembarangan menyentuh kotak kayu itu. Bagaimana caramu untuk bertangung jawab?"

"A-A-A-A-Aku sungguh minta maaf, nyonya....!"

Penjaga itu terus menundukkan kepalanya untuk meminta maaf.

"T-Tolong maafkan aku. Kau boleh lewat!"

"Hmph, terserahlah. Ayo cepat—"

Pada desakan Claire, Kamito mengendarai kereta itu melewati gerbang.

Sesaat setelah memasuki kota—

"....Phew, akhirnya kita bisa lewat."

Kamito menghembuskan nafas lega yang panjang.

"Wajah menakutkan Simorgh ternyata berguna."

"Kururu..."

Mendengar itu, roh angin iblis mendengkur dengan bangga dari kotak kayu itu.

"Jad, penyusupan berhasil huh?"

"Tidak, pertunjukan utamanya baru dimulai sekarang."

Bagian 2[edit]

Tata ruang ibukota kekaisaran pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua bagian.

Ada distrik kediaman bangsawan dengan Istana Nefescal dipusatnya, dan area perkotaan disekitarnya.

Kedua area itu dipisahkan oleh dinding. Yang menjaga gerbang raksasa itu bukanlah para prajurit biasa, melainkan para ksatria roh dari pasukan. Biasanya, tingkat kewaspadaan lebih tinggi secara drastis dan mereka tak bisa menggunakan cara curang menggunakan kartu pengenal buatan seperti sebelumnya.

Kamito memparkirkan kereta itu ditempat parkir. Meninggalkan kereta tersebut disana, mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan jalan kaki ke kota.

"......Phew, aku hampir mati lemas."

Keluar dari kotak kayu, Ellis merenggangkan badan.

"Barusan, itu semua berkat pemikiran Ellis yang cepat."

"Ya, tapi aku nggak pernah membayangkan aku akan menyelinap kedalam ibukota kekaisaran seperti ini...."

Sebagai seorang ksatria Fahrengart, dia pasti merasa cukup gak nyaman tentabg menyelinap secara diam-diam ke ibukota kekaisaran.

"Pertama-tama, ayo hubungi perantara Murders itu."

Claire mengeluarkan sesuatu dari kotak kayu tersebut saat dia berbicara. Perlengkapan penguatab dan kristal roh didalam kotak kayu tersebut bukan hanya untuk mendapatkan kepercayaan dari penjaga gerbang, tetapi juga untuk menyuap si perantara Murders.

"Toko peralatan sihir di Distrik 5."

Mengenakan jubah abu-abu, trio itu berjalan cepat di gang-gang.

"Tempat ini jauh lebih ramai daripada saat terakhir kali aku berkunjung...."

Dibawah tudungnya, Kamito berbisik.

"Sepertinya suasana gelisah menyelimuti warga kekaisaran karena insiden itu."

Setelah melewati beberapa gerbang perbatasan diantara distrik-distrik, mereka memasuki sebuah distrik kumuh.

Bahkan kota paling sejahtera di benua memiliki sisi gelapnya.

Toko peralatan sihir adalah satu-satunya toko didalam distrik tersebut.

Tanpa memeriksa dengan cermat ketika mereka berjalan, itu akan sangat mudah untuk menemukan toko itu.

Sangat mencolok, itu adalah sebuah toko biasa pada penampilannya. Dari sudut pandang warga biasa yang tidak berpengalaman dalam peralatan penguatan dan kristal roh, yang bisa dikatakan oleh seseorang adalah itu merupakan sebuah toko yang agak berantakan.

Claire mengetuk empat kali dengan interval yang telah ditentukan.

Itu adalah sinyal rahasia. Segera setelahnya, pintu iti terbuka dengan suara yang tenang.

Wajah tersenyum dari seorang pria pendek muncul dicelah pintu.

"....Aku sudah menunggu kalian, nona-nona."

"Apakah kau pemandunya?"

Mendengar pertanyaan Claire, pria itu tertawa pelan dan memberi isyarat dengab matanya pada mereka untuk masuk.

Memasuki toko tersebut, Kamito dan rekan-rekannya berganti pakaian menjadi seragam sekolah biasa lagi.

Lalu mereka memakai jubah hitam diatas seragam mereka. Ditenun dengan sihir perlindungan, seragam akademi memiliki daya tahan yang menakjubkan, sebanding dalam kemampuannya dengan seragam militer dari para Imperial Knight. Meskipun itu sedikit mencurigakan, seragam sekolah tersebut masih layak dikenakan.

"—Kau sudah menerima perintah dari utusan Cardinal, kan?"

"Benar, sebuah permintaan untuk meminta bantuanku.... Sungguh sopan. Bagaimanapun juga Cardinal adalah salah satu pelanggan setiaku."

Si perantara Murders menyeringai.

Claire menyerahkan sesuatu dari kantong ditangannya pada si penjaga toko.

"Ini adalah hadiah dari Cardinal untukmu—"

".....Wow, baik hati sekali. Semuanya adalah harta berharga."

Mengambil sebuah kristal roh kecil untuk dimainkan ditangannya, si pedagang tersenyum puas.

"Cardinal juga tekah membebaskan Vivian Melosa dari Penjara Balsas. Ini adalah suatu hadiah yang cukup untuk Murders, kan?"

"Ya, tentu, tentu. Dari sudut pandang kami, itu tak seperti kami bisa mengabaikan kenaikan tahta dari Pangeran Arneus, yang bersekutu dengan Kerajaan Suci—"

Si pedagang menggosok-gosokkan tangannya sembari berbicara.

"Baru-baru ini, bisnis menjadi sulit. Meskipun kami mendapatkan keuntungan dari berbagai negara diseluruh benua selama Perang Ranbal, dijaman sekarang, satu-satunya sumber penghasilan kami terbatas pada roh militer tua dan segel persenjataan terkutuk yang murah—"

"...B-Bangsat, sungguh kurang ajar! Hanya karena orang-orang sepertimu hingga kakak angkatku—"

"Ellis, hentikan—"

Melihat Ellis hendak mencabut pedangnya secara impulsif, Claire buru-buru menghentikan dia.

"...T-Tapi bisakah pria ini dipercaya?"

"Tak ada pilihan lain. Bantuannya sangatlah penting."

"Jangan khawatir. Semua perantara Murders memiliki timbangan didalam hati mereka untuk menimbang resiko dan keuntungan. Selama timbangan tersebut tidak berat sebelah, penghianatan sudah pasti tidak akan terjadi."

Si pedagang tersenyum dan membuka sebuah pintu dibagian dalam toko.

"Lewat sini—"

Bagian 3[edit]

Sebuah tangga rahasia mengarah ke bawah tanah berada dibalik barisan rak dibelakang toko.

Memegang sebuah obor untuk penerangan, si pedagang terus turun kedalam kegelapan.

"Ini adalah sebuah tempat yang digunakan Murders untuk menyelundupkan barang-barang."

"....Sebuah saluran air? Tetapi jika demikian, harusnya ada suara air..."

Sambil menggunakan sebuah kristal roh untuk menerangi dinding, Kamito berkomentar.

"Reruntuhan bawah tanah. Sebuah peninggalan yang berasal dari Perang Raja Iblis ketika Sacred Maiden Areishia mengubah kota ini menjadi benteng pertahanan miliknya. Reruntuhan bawah tanah seperti ini sangat banyak di ibukota kekaisaran, lebih banyak daripada yang bisa kau hitung."

"Sheeesh, nggak bisakah kau mengingat pelajaran dari Freya-sensei?"

"Oh benarkah?"

"Aku ingat pernah mendengar tentang hal itu juga, tetapi ini adalah pertama kalinya aku memasuki salah satunya—"

Ellis memeriksa dinding disekitar dia sambil bergumam pelan.

"Kekaisaran mengabaikan tempat-tempat seperti ini begitu saja?"

"Mengubur semua reruntuhan bawah tanah yang luas ini adalah hal yang mustahil. Selain itu, militer Ordesia menemukan nilai-nilai dalam lorong-lorong bawah tanah seperti ini."

Lalu, seekor tikus besar berlari melewati kaki Claire.

".....Huahh, t-tikus!"

"Hati-hati, ada tikus-tikus yang bahkan lebih buruk di bagian ini."

"....Tikus huh. Aku ingat bahwa itu adalah eufemisme untuk ksatria operasi khusus dari Umbra."

"Ya, itu sebabnya lebih baik tetap diam dari sini karena bisa saja kita bergerak kearah mereka."

....Bergerak maju dalam diam selama sekitar setengah jam.

Lalu Kamito, mempertahankan fokus tingkat tinggi, mendengar suara kecil.

Gemerincing dari sepatu. Suara nafas dari banyak orang didalam kegelapan.

(...Ya ampun.)

Kamito mendesah dan berhenti berjalan.

"Kamito?"

Berjalan didepan, Claire dan Ellis terkejut.

"Katakan, tuan pedagang...."

"Ada yang bisa aku bantu?"

Pedagang itu tersenyum ramah dan memutar kepalanya kebelakang.

"Kau menyebutkannya sebelumnya, kan? Sesuatu tentang timbangan di setiap hati perantara Murder—"

"....Tentu, ada apa?"

"Apa sisi lain dari timbanganmu?"

Kamito bertanya dengan tenang.

Mendengar itu, si pedagang menopang dagunya dengan tangannya dan membuat penampilan berpikir.

"Hmm, ya. Contohnya, kalau aku menyerahkan kalian pada Imperial Knight, aku mungkin bisa mendapatkan keuntungan yang besar. Bagaimanapun juga, kalian adalah kriminal borunan, para pelangganku yang terhormat."

"Tapi kau adalah seorang pedagang ilegal. Kau tak biaa membuat kontak dengan para ksatria, kan?"

"Tepat. Timbangannya condong kearah kalian, para pelanggan. Tenang saja."

"Oh benarkah? Kalau begitu—"

Lalu, Kamito mencabut sebuah belati dari pinggangnya—

Dan menepis kilauan perak yang melintas dalam kegelapan.

"Apa maksudnya ini?"

"...! Kamito, kita dikepung!?"

"Ya—"

Kamito memfokuskan pikirannya dan mendeteksi kehadiran dalam kegelapan.

(....Ada cukup banyak. Tujuh atau delapam didepan dan tiga atau empat dibelakang?)

Dalam kegelapan semacam ini, itu bukanlah tugas yang gampang untuk memastikan jumlah musuh. Mungkin saja bagi beberapa orang untuk mengelabuhi dalam penyergapan.

(Jangan bilang bahwa mereka semua adalah para elementalis?)

Senyum samar pada wajah si pedagang yang sebelumnya telah menghilang.

"....Aku tak bisa percaya kau menepis semua pisau dari para pembunuh—"

"Kalau mereka adalah para pembunuh, mereka lebih baik berlatih lebih keras bagaimana caranya menuembunyi niat membunuh mereka, oke? Meskipun aku nggak bisa melihat mereka, arah keberadaan mereka sangat jelas bagiku—"

"Penghianat!"


Mengatakan itu, Claire melepaskan elemental waffe miliknya, Flametongue.

Kobaran api merah menerangi kegelapan didalam lorong bawah tanah itu.

Suatu kelompok bertopeng terdiri dari usia dan penampilan yang berbeda terlihat.

Bukannya Imperial Knight dari Ordesia, mereka kemungkinan besar adalah—

(....Elementalis jahat disewa sebagai tentara bayaran huh.)

Meskipun jarang, bakat sebagai seorang elementalis terkadang akan tumbuh pada orang-orang tanpa garis keturunan bangsawan. Orang-orang itu akan dipaksa dikirim ke institut pendidikan untuk para elementalis, tapi bergantung pada keadaan, beberapa dari mereka akan berakhir dibawa oleh Murders dan organisasi kriminal lainnya untuk menjadi tentara bayaran ilegal.

Meskipun mereka jauh lebih lemah daripada para elementalis yang dilatih di Akademi—kebanyakan dari mereka mampu mengeluarkan elemental waffe—para elementalis ini telah melalui pelatihan tempur yang sebenarnya, sehingga mereka masih bisa mengungguli lawan yang tangguh melalui jumlah.

"Sudah kuduga. Seorang perantara Murders bajingab memang tak bisa dipercaya sejak awal."

Ellis menyiapkan Ray Hawk dan melotot marah pada si pedagang dihadapannya.

"Hoho.... Kukatakan kebenarannya, aku telah mendapatkan keuntungan yang cukup banyak dengan menjual roh-roh militer pada Cardinal. Akan tetapi, itu tidak cukup untuk mencondongkan timbanganku pada dia, itu saja."

"Lalu, berat pada siapa timbangan itu?"

Mendengar pertanyaan Kamito, si pedagang mengangkat bahu.

"Gampangnya, otorisasi untuk berdagang di Alexandria di Kerajaan Suci Lugia. Bisakah kalian menawarkan sesuatu yang lebih baik dari hal itu, pelangganku?"

".....Nggak mungkin! Kerajaan Suci nggak mungkin membuat kesepakatan dengan Murders!"

Claire membelalakkan matanya.

"Situasi global berubah setiap detiknya, nona kecil."

"Apakah Arneus adalah pelanggan terbarumu?"

"Ups, kurasa aku sudah bicara terlalu banyak."

Si pedagang tertawa dan melangkah mundur kedalam kegelapan.

"Aku gak mau terlibat dalam hal ini, jadi aku akan kabur sekarang."

Membuang obornya ke tanah, dia berlari kedalam lorong bawah tanah.

".....! Tunggu, berhenti disana!"


Claire mengayunkan cambuk api miliknya—

Tetapi sebelum itu, sebuah dinding batu terbentuk. Itu adalah sebuah roh yang digunakan oleh seorang elementalis jahat.

"....Kamito, kita harus mengejar dia. Kalau dia kabur, kita tidak akan bisa keluar—"

"Ya—"

Kamito menghunus Demon Slayer dan menyerang dinding batu tersebut. Akan tetapi, pedagang itu sudah tak terlihat lagi. Menggantikan dia, sejumlah elementalis jahat memblokir jalan dengan senjata-senjata yang siap menyerang.

Biasanya, lawan dengan jumlah ini bukanlah tandingan kelompoknya Kamito. Namun, didalam lorong bawah tanah yang sempit ini dengan jarak pandang yang terbatas, mengalahkan mereka semua tampaknya membutuhkan waktu yang agak lama.

(Menerobos secara paksa tampaknya adalah satu-satunya pilihan huh—)

Kamito memasuki sikap untuk pertarungan kelompok. Meskipun dia ingin menghindari membuang-buang terlalu banyak kekuatan suci, keadaannya tidak mendukung—

Lalu, disaat yang bersamaan.....

"...Gahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

Suara jeritan terdengar dari kedalaman lorong bawah tanah.

"....!?"

Itu adalah suara si pedagang. Kamito dan teman-temannya saling bertukar tatap. Para elementalis yang disewa oleh si pedagang juga berhenti.

"K-Kenapa!? Kenapa kau ada disini....!?"

"Sangat disayangkan buatmu, ini adalah taman belakangku, tikus kecil."

Sebuah suara manis terdengar, disertai dengan langkah kaki yang ringan, berdiri dengan kejam berkebalikan dengan jeritan pedagang itu.

Cahaya kristal roh mendekat, menerangi lorong bawah tanah.

Tangan si pedagang diputar dibelakang punggungnya. Ditekankan pada sisi kepalanya adalah sebuah senjata dengan penyebaran yang sangat teebatas diseluruh benua—Sebuah pistol.

Kamito mengingat pistol ini yang ditanami kristal roh.

"Kau—!?"

Bagian 4[edit]

"...Guh, uh... Huff, huff, huff..."

Didalam dunia yang didominasi oleh keheningan dan kegelapan....

Fianna saat ini memfokuskan pikirannya.

Entah itu stamina fisik maupun kehendaknya, dia sudah hampir mencapai batasnya. Meski demikian, mata berwarna senja miliknya masih tidak kehilangan cahayanya. Karena dia memiliki alasan yang memungkinkan dia untuk berjuang membebaskan diri dari keputusasaan.

(...Kamito-kun... akan datang...)

—Beberapa jam yang lalu. Ksatria operasi khusus yang menyatakan bekerja dibawah Greyworth akhirnya mengontak dia untuk yang kedua kalinya. Umbra tak pernah menggunakan metode komunikasi yang sama untuk kedua kalinya, oleh karena itu kali ini adalah selembar kertas bukannya sebuah kristal roh.

Setelah menerima kertas itu, Fianna membaca pesan singkat berbunyi "Dia sudah ada disin" yang tertulis di kertas tersebut.

Itu sudah cukup.

Dengan ini saja, dia bisa menahan segala macam penderitaan.

Dia menggigit bibirnya keras-keras.

Menempatkan darah pada jarinya, dia menggambar ditanah dengan hati-hati.

(—Binding Spell No.14, dikombinasikan dengan segel lapis ganda, kurasa?)

Dia menutup matanya dan menganalisa komposisi dari lingkaran sihir yang terukir pada lantai batu. Lalu menggunakan darah pada jarinya, dia dengan hati-hati menulis ulang unsur-unsur utama lingkaran sihir tersebut.

Tugas yang rumit dan jelimet ini yang bisa membuat otak seseorang meledak, dia mengulanginya lagi dan lagi.

Menggambar lapisan lain dengan pola yang rinci diatas darah yang sudah kering, dia mengulangi hal ini secara terus-menerus. Sebuah lingkaran sihir yang amat sangat rumit perlahan-lahan terbentuk ketika dia menenggelamkan dirinya sendiri kedalam pekerjaannya.

Tentunya, menggunakan darah untuk menulis ulang suatu lingkaran sihir bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh princess maiden biasa. Ini adalah prestasi tingkat tinggi yang hanya bisa dicapai oleh Fianna yang memiliki bakat menakjubkan ditambah pengetahuan yang luas mengenai penghalang.

Dia sudah kehilangan banyak darah, sampai pada titij dimana mempertahankan kesadaranbya terasa sangat sulit.

Namun, upaya dari kerja keras yang berat ini akhirnya membuahkan hasil.

(...Kamito-kun... datang... Itu sebabnya, aku juga—)

Beberapa jam telah berlalu sejak dia mulai menggambar lingkaran sihir. Sudah hampir waktunya para penjaga berpatroli. Dan kalau ditemukan, semua upayanya sejauh ini akan berakhir sia-sia.

Kecemasan memenuhi pikirannya. Akan tetapi, semuanya akan sia-sia jika dia kehilangan kewaspadaan sekarang.

"—Aku... memerintahkan engkau.... untuk yang ketiga kalinya.... Patuhi, perjanjian darah—"

Dengan bibirnya yang berdarah, dia merapal kata-kata terakhir dari mantra tersebut.

".....Bebaskan aku.... dari jerat-jerat ini—!"

Akhirnya, Fianna menyelesaikan lingkaran sihir terakhir.

Tergambar di lantai, lingkaran sihir dari darah menyala biru-putih.

—Berhasil. Sebuah lingkaran eksorsisme telah selesai, mampu memecahkan lingkaran sihir tingkat tinggi ini yang membatasi Kuil Isolasi Dunia dari hubungan ke Astral Zero.

(....Dengan ini... Hubungan dengan Astral Zero telah dipulihkan.)

Fianna menghela nafas lega dan jatuh terduduk di lantai, bersandar pada dinding.

Dia memenjamkan matanya dan berkonsentrasi sejenak. Segera, dia bisa merasakan tubuhnya terhubung pada Astral Zero dengan kekuatan suci mengalir diseluruh tubuhnya.

(....Pertama, aku harus.... menemukan Kamito dan yang lainnya...)

—Berapa banyak waktu yang telah berlalu sejak menerima laporan terakhir dari ksatria operasi khusus itu?

Mungkin mereka sudah berada didalam ibukota kekaisaran.

(....Kuharap mereka tidak tertangkap oleh para Imperial Knight—)

Mengatur jarinya dalam sikap spiritual, dia mengingat-ingat sosok Kamito dalam pikirannya.

Ini adalah kemampuan peramalan yang dibanggakan milik Fianna, memungkinkan seseorang untuk mencari orang tertentu dengan hubungan mental yang dalam dengan meningkatkan kemampuan penginderaan seorang princess maiden sampai ke batas mutlak. Meskipun itu jauh lebih lemah dalam akurasi dibandingkan dengan Clairvoyance milik Putri Linfa, dia masih bisa mendapatkan perkiraan lokasi asalkan targetnya tidak terlalu jauh.

Dengan kelima indera miliknya berada pada fokus tingkat tinggi, dia terhantam oleh perasaan pusibg saat semua uratnya disatukan menjadi benang reonasi tunggal. Kesadarannya meluas dari tubuhnya, keluar dari penjara ini, ke kuil di luar penjara, ke dunia diluar kuil—

(Tunggu aku, Kamito-kun—)

Sebelumnya Bab 7 Kembali Ke Halaman Utama Selanjutnya Bab 9