Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14 Bab 7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 7 - Princess Maiden Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Berpisah dengan Kamito dan Claire di kamar tidur, Ellis pergi ke bagian perawatan dimana Velsaria berada.

"Sebelah sini—"

Saat gadis itu membuka pintunya, Ellis disambut dengan pemandangan yang mengejutkan.

"...! K-Kakak!"

Ellis terpaku di tempat karena terkejut.

Sebuah perangkat besar yang seperti peti mati berada ditengah ruangan perawatan tersebut, memancarkan suara yang aneh dan mengganggu. Bersinar samar, peti mati itu tersambung dengan sejumlah kabel.

—Dan didalamnya adalah Velsaria.

Tentu saja, dia tidak mengenakan elemental waffe yang menyerupai sebuah "benteng". Yang menutupi tubuh telanjangnya yang indah layaknya sebuah patung adalah sebuah gaun.

Diterangi samar-samar oleh kristal roh, dia sedang tertidur lelap.

"Apa-apaan ini...."

Ellis bergumam syok.

"Ini adalah peralatan pemulihan yang dibuat khusus untuk dia menggunakan kristal roh penyembuhan. Karena operasi diluar batas durasi kegiatan, harga yang sesuai harus dibayar."

Gadis itu yang aslinya berasal dari Sekolah Instruksional menjawab tanpa ekspresi.

"....Harga?"

Sambil mengatakan itu, Ellis mendekati mesin penyembuh itu dimana Velsaria tertidur didalamnya.

"Apa-apaan sih dengan elemental waffe itu!? Selain itu, kakakku seharusnya telah kehilangan kekuatan roh terkontraknya karena efek samping dari segel persenjataan terkutuk miliknya yang mengamuk—"

"—Itu bukanlah elemental waffe, itu adalah sebuah 'elemental lapis baja' percobaan.

"...!"

Mendengar suara yang familiar, Ellis tiba-tiba meningkatkan kewaspadaannya.

Dia menengok ke belakang dan melihat seorang wanita tinggi berdiri di samping pintu, menghembuskan asap dari pipa rokok.

Mata merah yang sangat mempesona, didampingi rambut emeral yang cantik.

Telinganya yang panjang dan runcing merupakan ciri khas dari ras Elfim, Penghuni Hutan.

"...! Vivian Melosa!"

Tubuh Ellis bergerak secara reflek.

Dia meluncur maju dan mendekat dalam sekejap, meraih kerah jubah lab miliknya.

"Apa yang dilakukan seorang perantara Murder disini—!?"

Wanita itu adalah pelaku kejahatan yang teman menanamkan segel persenjataan terkutuk pada jantung Velsaria.

Dia adalah seorang musuh yang tak bisa dimaafkan dari sudut pandang Ellis.

"Kau seharusnya telah dilempar ke Penjara Balsas—"

"Memang, bersama dengan kakakmu."

"...T-Terkutuk kau—"

Ellis mengerahkan lebih banyak kekuatan.

"Senang bertemu dengannmu juga. Aku adalah orang yang melakukan perawatan untuk dia."

"....Apa kau bilang?"

"Bagaimanapun juga, elemental berlapis baja ini adalah sesuatu yang aku renovasi. Aku bertanggung jawab atas perawatan kakakmu dan satu-satunya orang yang sangat mengetahui tentang kondisinya."

"Lelucon macam apa ini—"

".....Ellis, dia mengatakan.... kebenarannya...."

—Pada saat ini, Ellis mendengar suara penuh rasa sakit dari belakang.

"Kakak....!"

Kaca penutup mesin penyembuhan itu perlahan-lahan terbuka dan Velsaria keluar

Berdiri gemetaran, dia menatap tajam pada Vivian.

Tinggalkan aku, penyihir—"

"....Baiklah. Akan tetapi, aku harus menganalisa data pertempuran nanti."

Vivian mengangkat bahu. Setelah melirik Ellis yang masih melototi dia, dia meninggalkan ruangan itu.

Gadis dari Sekolah Instrusional yang memimpin jalan, juga menunduk sebagai tanda undur diri dan menghilang dalam keheningan.

Velsaria berpaling untuk menghadap Ellis.

".....Lama tak jumpa, Ellis."

Dia mulai berbicara sambil terbatuk.

"Kenapa...? Kenapa kau ada di kapal ini—"

Ellis dengan panik berlari kedepan untuk memapah kakak angkatnya yang tubuhnya terhuyung-huyung tampak seperti akan jatuh setiap saat.

"Dan juga, perangkat apa ini? Kenapa seorang perantara Murder ada disini?"

"Aku dijemput oleh Rubia Elstein untuk bergabung dengan League of Inferno miliknya. Hal yang sama juga terjadi pada si penyihir Murder itu. Ideologi dan keyakinan tidak berlaku disini. Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan yang direkrut untuk bergabung dibawah benderanya, itu saja—"

"...League of Inferno."

Ellis mengulangi nama itu.

"Kalau begitu, kau tau bahwa kegelapan itu—"

"Ya, aku telah mendengar segalanya dari si Ratu Bencana itu. Berasal dari tanah semacam itu, aku memutuskan untuk kembali ke medan perang, mempersembahkan diriku sendiri pada pertempuran untuk melenyapkan Kegelapan Dunia Lain yang menyerang alam manusia."

"......."

Ellis merasa terintimidasi oleh tatapan kuat dari Velsaria. Mata itu yanlak sama seperti ketika Velsaria memimpin Ksatria Sylphid, menghancurkan semuanya dengan kekuatan yang besar.

"T-Tapi kau seharusnya sudah kehilangan kekuatan dari roh terkontrak—"

"....Memang benar. Seperti yang dikatakan penyihir itu, gampangnya, apa yang kau lihat bukanlah sebuah elemental waffe."

"Yang kuingat itu disebut sebagai sebuah 'elemental panzer'—"

"Tepat, sebuah model percobaan yang diperoleh oleh Ratu Bencana dari Teokrasi, lalu dibentuk ulang oleh wanita itu. Mungkin akan lebih tepat untuk menggambarkannya sebagai pengubahan suatu roh militer menjadi elemental waffe? Perlengkapan yang diperkuat terbaru, menggunakan Bloodstone untuk reaktor didalam suatu kekuatan roh benteng yang tersegel didalamnya—Itu dioperasikan dengan menyerap kekuatan suci tanpa batas, prinsip yang sama dengan Jester's Vise milik gadis dari Sekolah Instruksional—"

"...!"

Memang, Velsaria telah kehilangan kekuatan untuk membuat kontrak dengan roh. Akan tetapi, kekuatan suci miliknya yang besar tetap ada. Menggunakan kekuatan dari teknik roh, sebuah elemental waffe buatan bisa diciptakan, memungkinkan dia untuk mendapatkan kembali kekuatan seorang elementalis.

"....T-Tapi dengan menggunakan perlengkapan semacam itu, tubuhmu akan....!"

"Ini adalah sebuah tubuh yang pernah terbaring di pintu kematian. Sudah rusak karena segel persenjataan terkutuk, misalkan tubuh ini bisa menghilangkan Kegelapan yang menyerang kekaisaran.... Uhuk....!"

"Kakak—"

"....Tak usah khawatir.... Aku, uhuk, seorang ksatria dari keluarga Fahrengart."

"......."

Mendengar kata-kata itu, Ellis tak bisa berkata apa-apa.

Tekad Velsaria tak bisa dihentikan oleh siapapun.

Sebagai adiknya, Ellis lebih tau mengenai hal ini daripada siapapun.

Dia adalah seorang ksatria Ordesia, lebih mulia dan berpikiran lebih tinggi daripada siapapun.

Saat Ellis terdiam—

"....Ellis, kudengar kau menjadi pemenang di Blade Dance."

Velsaria mengubah topik dan berbicara dengan tenang.

"Ya. Berkat Kamito dan teman-teman yang bertarung bersamaku, aku telah menjadi lebih kuat."

".....Teman-teman huh?"

Dia berbicara mengejek diri.

"Aku juga, kalau saja aku menyadarinya lebih awal...."

Segera, tatapan Velsaria melaui menerawang jauh—

"Ngomong-ngomong, aku punya pertanyaan untukmu—"

Dia berbicara seolah-olah itu muncul secara tiba-tiba padanya.

"Apa itu?"

"Kau dan Ren—bukan, Kazehaya Kamito—sudahkah kau melakukannya?"

".....K-Kakak!?"

Ellis berteriak sembari wajahnya merah merona.

Itu hampir mustahil untuk membayangkan kata-kata semacam itu keluar dari mulut Velsaria.

"A-Apa maksudmu dengan.... 'melakukannya'!?"

"U-Umm, yah...."

Mendengar itu, wajah Velsaria menjadi merah dan dia tergagap.

"Uh, b-berpegangan tangan?"

Suaranya begitu pelan hingga itu terdengar seperti dia bergumam pada dirinya sendiri.

".....Tangan?"

Ellis tampak bingung.

"B-Benar.... Ya, kami berpegangan tangan—"

"....Sungguh? Berpegangan tangan.... S-Sungguh perkembangan yang cepat...."

"......."

Mendengar bisikan kakaknya, Ellia mengucurkan keringat dingin.

Secara tak sadar, dia menyentuh ringan bibirnya sendiri dengan jarinya.

Dalam hal kedisiplinan, Velsaria bahkan jauh lebih ketat daripada Ellis.

....Lupakan tentang pegangan tangan, lebih dari itu telah terjadi. Namun, tak mungkin Ellis bisa mengatakannya dengan keras.

Bagian 2[edit]

Sebelum fajar, diranjang di kamar tidur, Kamito bangun.

Kecepatan yang digunakan untuk kabur dari kejaran Gargoyle The speed used to shake off the Gargoyle's pursuit was unsustainable after all. Hence, it looked like they were not going to reach the imperial capital until the following afternoon.

Claire dan Restia tidur di ranjang yang lebih rendah. Mungkin merasa lebih tenang dengan memeluk Est, Restia menggulungkan selimut beberapa kali pada pedang itu.

...Kamito tak bisa menahan senyum di wajahnya.

Lalu Claire berguling.

".....Huaaahhh.... Jangan, Kamito.... Bagaimana bisa kau... "...Huaahh... Don't, Kamito... How could you... A collar so suddenly... Hyah!"


".....M-Mimpi macam apa itu?"

Kamito keluar sambil bergumam.

Melewati lorong sempit, dia berjalan menaiki tangga ke sisi kapal dan sampai di dek.

Dia merasa seperti membeku.

(....Aku penasaran mimpi seperti apa yang miliki Fianna saat ini?)

Dia mungkin tidur di lantai dingin dari sel penjara saat ini.

Angin yang berhembus mengacakkan rambutnya. Kapal militer seharusnya mampu mengerahkan penghalang angin, tetapi saat ini, penghalang itu tampaknya tidak diaktifkan, kemungkinan untuk mengurangi konsumsi yang tak diperlukan.

Setelah mencapai dek—

"...Meow."

....Dia tiba-tiba mendengar seekor kucing.

Dia melihat sekeliling dan menemukan Scarlet mengeong dengan nyaman.

Rubia Elstein sedang berjongkok di lantai, membelai tenggorokan Scarlet.

Menyadari Kamito, dia segera berdiri.

"Apa, kau bermain dengan Scarlet?"

".....Apa yang kau lakukan disini, Ren Ashbell?"

Dia perlahan-lahan menoleh pada Kamito.

Mata ruby yang sama seperti Claire menatap tajam pada Kamito.

Rambut crimson yang panjang dan mempesona miliknya berkibar tertiup angin.

Kamito menyadari seberapa cantiknya dia.

"Aku hanya keluar untuk mencari udara segar."

Kamito menyandarkan punggungnya pada pagar dek.

Di kakinya, Scarlet mulai menggosokkan dirinya penuh kasih sayang pada kakinya.

"Uh, apakah kau sudah sehat sekarang?"

"Itu bukan urusanmu."

"Memang bukan, tapi itu sangat penting bagi adikmu, Claire."

Mata ruby milik Rubia bergetar lembut.

"Claire menghabiskan seluruh waktunya untuk mencarimu. Impiannya adalah untuk kembali ke Elstein dan tinggal bersama keluarganya lagi."

"Kembali ke masa lalu adalah hal yang mustahil."

"....Ya, tapi, apa yang hilang bisa dipulihkan."

"......."

Rubia berpaling.

"Aku gak punya niat mati begitu saja. Aku terikat oleh tugas yang harus diselesaikan."

Dengan ekspresi sedih, dia mungkin teringat gambaran dari kota-kota yang hancur akibat kemarahan Elemental Lord Api.

"Untuk mengakhiri ini, Ren Ashbell, aku membutuhkan kekuatanmu dari Elemental Lord Kegelapan."

"Maaf, aku tak bisa melakukan yang kau inginkan."

"Itu tak ada hubungannya dengan harapanku. Cepat atau lambat, kekuatan kegelapan itu akan menjadi tak bisa dikendalikan."

".....Apa maksudmu? Kekuayan kegelapan itu seharusnya telah lenyap—"

Kamito mau tak mau harus bertanya tetapi Rubia menggeleng.

"Memang benar bahwa kau telah menekan kekuatan Elemental Lord Kegelapan. Akan tetapi, itu hanyalah untuk sementara waktu saja. Suatu hari, kekuatan itu akan keluar dan menghancurkanmu. Kau pasti telah merasakannya juga."

"...!?"

Kamito tiba-tiba menyadarinya.

—Sudah pasti dia mengetahui sesuatu tentang apa yang dibicarakan Rubia.

(kekuatan kegelapan yang tak bisa dikendalikan.... Mungkinkah itu adalah—)

Dia berpikir tentang masalah ciuman yang disebutkan Rinslet ketika mereka meninggalkan Laurenfrost.... Dan juga, Ellis telah memberitahu dia sesuatu yang menghawatirkan.

"Kau pasti mengetahui sesuatu."

"....Ya, kurasa lebih baik aku memberitahumu."

Bagaimanapun juga, dia adalah pelaku yang telah memaksa Elemental Lord Kegelapan bangkit didalam diri Kamito.

Kamito meringkas secara singkat apa yang terjadi dengan Ellis dan Rinslet.

....Setelah mendengarkan dia, Rubia berpikir secara mendalam selama beberapa saat.

"Pernahkan kau mendengar Princess Maiden Raja Iblis legendaris?"

Akhirnya dia berbicara.

"Ya, hanya legenda."

Kamito mengangguk. "Princess Maiden Raja Iblis" adalah salah satu dari legenda Raja Iblis.

Seribu tahun yang lalu, Raja Iblis Solomln secara paksa telah menikahi para gadis dari negara-nagara yang ditaklukkan, mengambil mereka sebagai miliknya sendiri.

Selain itu, dia telah memilih gadis-gadis dengan bakat yang luar biasa untuk menjadi elementalis diantara para gadis tersebut dan memberikan kekuatannya pada mereka.

Para gadis yang menerima kekuatan Raja Iblis dikenal sebagai "Princess Maiden Raja Iblis." Bersama dengan 72 roh, mereka menebar teror pada pasukan Sacred Maiden dari dunia penyelamatan.

"Sepertimu, Raja Iblis Solomon adalah reingkarnasi dari Elemental Lord Kegelapan. Kemungkinan, dengan cara yang sama sepertimu, dia membagikan kekuatannya pada para princess maiden miliknya melalui ciuman—"

"....Maksudmu itu adalah kemampuan yang sama seperti milikku?"

"Kemungkinan besar. Kekuatan Elemental Lord Kegelapan memungkinkan suatu peningkatan yang besar pada kekuatan suci. Namun, kemungkinan ada syarat dipihak princess maiden'nya. Meskipun Raja Iblis memiliki ratusan selir, hanya ada sembilan orang yang bisa memperoleh kekuatannya—"

"Apakah itu adalah bakat sebagai seorang elementalis?"

"Benar, tapi mungkin saja ada syarat-syarat tambahan—"

Rubia bergumam sambil merenung.

Kamito menatap tangannya.

(...Jadi aku berbagi kekuatan Elemental Lord Kegelapan dengan mereka?)

Meskipun itu tidaklah sengaja, dia masih merasa bertanggung jawab.

"Uh, akankah mereka berakhir dilahap oleh kegelapan sepertiku?"

"Catatan dari para princess maiden Raja Iblis sangat samar. Beberapa mengatakan bahwa mereka dikalahkan oleh Sacred Maiden Areishia, sedangkan yang lain mengatakan bahwa kekuatan kegelapan itu dimurnikan oleh Demon Slayer. Mungkin diantara mereka, ada yang berakhir dilahap oleh kekuatan kegelapan—"

"...Dengan kata lain, kau tidak tau."

"Memang. Uji saja denganku."

".....Apa!?"

Mendengar saran Rubia yang terdengar serius, Kamito merasa panik secara spontan.

Namun, dia segera menyadari bahwa Rubia bercanda.

STnBD V14 206.jpg

"Jangan menggunakan kekuatan suci secara sembarangan kecuali kau ingin dilahap oleh kekuatan kegelapan itu, Ren Ashbell."

"....Ya, aku tau."

Kamito menghindari kontak mata dan mengangguk.

(...Kurasa akan lebih baik untuk menghindari menggunakan kekuatan suci untuk menyelesaikan masalah.)

Bagian 3[edit]

—Setelah beristihat. Didalam ruang pertemuan kapal terbang itu, sebuah rapat diadakan untuk menyusun rencana operasi penyelamatan Fianna.

Duduk disekitar meja bundar itu adalah Claire disamping Kamito, dan Ellis disampingnya. Restia dan Est mungkin masih tidur di kamar tidur.

Rubia merentangkan sebuah peta ibukota kekaisaran diatas meja.

"Fianna dipenjara di Great Shrine of Areishia di pusat distrik bangsawan.."

Dia menunjuk suatu lokasi pada peta.

"Great Shire of Areishia? Bukan Penjara Balsas?"

"Itu tidak akan mungkin, karena Muir memporakporandakan penjara itu ketika kami membebaskan Velsaria."

".....Ceroboh seperti biasanya."

Kamito mengerang.

"Kuil Pengasingan dari Dunia di Great Shrine of Areishia memiliki kemampuan untuk memurnikan kekuatan seorang princess maiden. Itu adalah tempat yang paling cocok untuk memenjarakan Fianna."

Mengatakan itu, Rubia mengeluarkan peta lain dan membukanya di meja. Kamito tidak tau koneksi macam apa yang dia gunakan untuk mendapatkannya, tetapi peta itu memiliki tata letak lantai yang rinci dari Great Shrine of Areishia.

"Kalian bertiga yang akan melaksanakan operasi penyelamatan itu. Sementara itu, kami akan menyerang basis militer disekitarnya sebagai pengalihan."

"Bagaimana dengan kakakku?"

"Dia tidak sesuai untuk operasi semacam itu. Dia akan tetap di Revenant sebagai bagian dari pengalihan."

".....Itu benar."

Memang, "benteng" milik Velsaria tidak cocok untuk suatu operasi penyelamatan.

"Bagaimana dengan rute penyusupan kedalam Great Shrine of Areishia?"

Claire mengajukan sebuah pertanyaan.

Ketika Konferensi Semua Negara diadakan, dengan insiden pembunuhan baru-baru ini, keamanan di ibukota kekaisaran pasti telah ditingkatkan pada tingkat tertinggi. Itu mungkin mustahil untuk mendekat secara terang-terangan.

"Pertama, sebuah kereta yang ditarik kuda akan dipersiapkan di pinggiran kota untuk kalian untuk menyusup ke kota. Untuk masuk, kalian akan menyamar sebagai seorang bangsawan beserta para selir. Dengan menunjukkan sebuah kartu pengenal masuk, kalian seharusnya bisa melewati interogasi penjaga gerbang."

Mengatakan itu, dia meletakkan sebuah kartu tanda masuk kekaisaran palsu di meja. Terukir ditengah kartu itu adalah sebuah segel sihir untuk mengacaukan roh penjaga.

"Tak disangka kau bahkan memilki benda semacam ini..."

"Sebuah penerapan dari segel persenjataan terkutuk. Vivian Melosa adalah seorang pembajak handal."

"Pemalsuan?"

Ellis yang ketat mengernyit.

"Apa kau akan menentang cara kotor ketika kau memberontak kekaisaran?"

"Y-Yah...."

"Kalaupun ada yang tidak menyenangkan, aku lebih khawatir dengan bagian 'selir' nya."

Meskipun Kamito membahasnya, semua orang mengabaikan dia.

"Bahkan setelah penyusupan ibukota kekaisaran, masih ada para ksatria roh yang disiagakan di distrik bangsawan sekitar Great Shrine of Areishia. Kurasa kita tak bisa masuk secara terang-terangan."

"Ada seorang perantara Murder didaerah kumuh yang sangat akrab dengan rute-rute ke distrik bangsawan. Carilah pria itu."

"...Murders? Bisakah kau mempercayai mereka?"

"Murders dan Kerajaan Suci telah berselisih bertahun-tahun. Mereka adalah suatu organisasi yang bertindak dengan menitik beratkan resiko dan keuntungan diatas ideologi. Jika Arneus bersekongkol dengan Kerajaan Suci, Murders akan membantu kita."

"....Aku mengert."

Murders telah mendirikan sebuah jaringan yang kokoh diseluruh benua dengan banyak cabang di banyak negara. Mamun, ada satu pengecualian.

—Yaitu, Kerajaan Suci Lugia.

Menyembah salah satu dari Lima Elemental Lord, Holy Lord Alexandros, sembari meyakini "keharmonisan seluruh benua" sebagai wahyunya, Kerajaan Suci telah melarang Murders sepenuhnya dan tidak mengijinkan organisasi itu masuk ke pintunya.

Dari sudut pandang Murders, mereka tidak menginginkan seorang kaisar Ordesia yang memiliki hubungan dekat dengan Kerajaan Suci.

"Setelah kalian menyelinap ke distrik bangsawan, pergilah ke Great Shrine of Areishia dan menyelamatkan Fianna. Hindari pertempuran sebanyak mungkin, terutama melawan Number."

".....Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana dengan rute kaburnya?"

"Fianna seharusnya mengetahui rute kabur khusus untuk keluarga kerajaan. Gunakan rute itu. Setelah kau berhasil kabur ke kota, aku akan mengirim roh militer dan Velsaria. Seharusnya itu sangat tepat untuk mengulur waktu."

".....Sungguh rencana yang sembrono."

Kamito mendesah tak berdaya. Dikatakan, hari yang diumumkan untuk eksekusi Fianna adalah tiga hari lagi. Itu tak akan realistis kecuali mereka mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi resiko dan mengambil langkah paksa.

"Lalu bagaimana dengan kepala sekolah?"

Kali ini Ellis yang bertanya, agak khawatir.

Hal yang sama juga mengganggu Kamito.

"Keberadaan si Penyihir Senja tidak diketahui."

"Kita harus mencari cara untuk menyelamatkan—"

"Tidak."

Rubia langsung menolaknya.

"K-Kenapa!?"

"Akan kukatakan kebenarannya, aku juga ingin menyelamatkan si Penyihir Senja. Namun, kita saat ini tak memiliki sumber daya yang banyak untuk digunakan untuk hal itu."

"T-Tapi...."

Ellis langsung terdiam. Tentu saja, itu tidak seperti Ellis tak bisa mengerti. Jika mereka membagi kekuatan sekarang, hal itu hanya akan membuatnya lebih sulit untuk menyelamatkan Fianna.

"Santai saja. Arneus tak akan berani mengeksekusi sang pahlawan Kekaisaran begitu saja."

"Kurasa begitu—"

Gumam Kamito. Bagaimanapun juga, sudah ada kekacauan di Akademi Roh Areishia dimana banyak putri bangsawan belajar. Kekaisaran akan sangat berhati-hati untuk berurusan dengan dia.

"Rubia benar. Menyerah saja dalam menyelamatkan Greyworth kali ini."

".....Dimengerti."

Ellis menggigit bibirnya penuh penyesalan dan mengangguk.

"Hanya kali ini saja, ya? Cepat atau lambat akan ada peluang. Mari kita tunggu saja dengan sabar."

"Baik...."

"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah menyelamatkan Fianna?"

Kali ini, Kamito menanyai Rubia.

"Setelah mengitari Pegunungan Kelbreth, kita akan kabur ke Kadipaten Naga Dracunia."

Rubia menggerakkan tanda pada peta itu lagi.

"Dracunia?"

"Tepat, negara itu memiliki hubungan yang sangat buruk dengan Kerajaan Suci."

"Benar. Persiapan sudah dibuat sejak awal untuk kabur kesana."

"....Lumayan."

Kamito menampar mulutnya sendiri. Meskipun kehilangan sebagian besar bawahannya, jaringan tersembunyi milik Rubia tampaknya masih ada.

"Bagaimana dengan setelah kita kabur ke Dracunia?"

Setelah mendengar pertanyaan Claire, Rubia perlahan-lahan mendongak dari peta itu.

"Aku berniat untuk mendukung Fianna untuk menjadi kaisar wanita."

Dia menyatakan dalam suara yang serius.

"Mendukung Fianna untuk menjadi kaisar?"

"Ya. Lalu pada timing yang tepat, 'Ordesia yang Sah' akan diumumkan."

"Ordesia yang Sah.....?"

"Benar. Mengangkat bendera untuk melawan Kerajaan Suci, Kekaisaran Ordesia yang sebenarnya."

"Pemerintah tersembunyi huh? ....Jadi kau sepenuhnya mengabaikan keinginan Fianna sendiri."

"League of Inferno membutuhkan pembenaran untuk mendeklarasikan perang pada Kerajaan Suci."

"T-Tapi ini—"

Claire mengumpulkan keberanian dan angkat bicara.

"Fianna jelas-jelas tidak ingin seperti ini. Dia sudah meninggalkan semua itu..."

"Mungkin memang begitu, pada akhirnya dia tetaplah seorang anggota keluarga kerajaan. Dia akan memahami misinya dan menerima takdir ini."

"Uh..."

"—Itulah kesimpulan dari rencana pertempuran kita."

Rubia menyatakan dengan dingin dan berdiri.

Tepat saat dia mengenakan jubahnya dan hendak meninggalkan ruangan pertemuan—

"Nee-sama..."

Untuk sesaat, Rubia berhenti di pintu.

"....Kuserahkam Fianna padamu."

Rubia berbisik dengan sangat pelan.

Kamito dan Claire langsung bertukar tatap.

Kata-kata Rubia membuat mereka sadar.

Pemusnahan Kegelapan Dunia Lain yang bertanggung jawab atas kegilaan dari para Elemental Lord—Itu adalah motivasi dari tindakannya.

Tapi selain itu.

Pastinya, dia—

Berharap untuk menyelamatkan Fianna sebagai sahabatnya dimasa lalu.

"—Ya, serahkan saja pada kami."

Saat Rubia melewati pintu itu, Kamito mengangguk.

Bagian 4[edit]

Setelah rapat strategi, Kamito pergi ke dek sendirian.

Dia ragu-ragu apakah harus memberitahu Claire dan Ellis mengenai yang Rubia katakan pada dia tentang Elemental Lord Kegelapan.

(...Tapi hal itu akan menyebabkan mereka khawatir kalau aku memberitahu mereka.)

Tatapan Kamito mengarah pada tangan kirinya yang tertutupi sarung tangan kulit.

Jangan menggunakan kekuatan suci secara sembarangan kecuali kau ingin terlahap oleh kekuatan kegelapan—Itulah yang diperingatkan Rubia pada dia.

(...Sebaliknya, kekuatan kegelapan tidak akan bangkit kalau aku tidak menggunakan kekuatan suci?)

Kalau itulah masalahnya, maka yang perlu dia lakukan adalah menghindari pertarungan sebanyak mungkin.

Tentunya, itu tak bisa dijamin.

—Merasakan suatu keberadaan dibelakangnya pada saat ini, Kamito berbalik.

"...Restia?"

Dia melihat Restia menaiki tangga sambil menggunakan pagar untuk pegangan.

Terterpa angin di dek, dia tampak seperti dia mengalami kesulitan mempertahankan keseimbangan.

"Kyah!"

"Hei, itu berbahaya—"

Kamito bergegas mendekat dan menangkap lengannya.

"Te-Terimakasih...."

Gadis roh kegelapan itu merendahkan kepalanya, pipinya sedikit tersipu merah

"Ada apa? Apa kamu susah tidur?"

"Ya."

Restia mengangguk dan menatap Kamito.

".....Kamu mau pergi?"

"Ah, kurasa kamu mendengarnya dari Claire dan yang lainnya."

Namun, Restia menggeleng.

"Tidak, aku entah kenapa merasakannya."

".....Benarkah?"

Mata berwarna senja itu, yang mana biasanya tersenyum tak kenal takut, menyampaikan suatu ekspresi gelisah.

....Itu tak terhindarkan lagi bahwa dia akan merasa khawatir.

Bagaimanapun juga, dia telah kehilangan ingatannya dan kelompok Kamito adalah satu-satunya orang yang bisa dia andalkan.

Namun, membawa dia ke ibukota kekaisaran akan sangat berbahaya.

Kamito telah mendengar bahwa orang-orang dari Kerajaan Suci mengintai di Ordesia. Selain itu, Kerajaan Suci jelas-jelas menargetkan Restia.

Saat ini, tempat paling aman diseluruh benua mungkin adalah kapal ini.

"Kami akan kembali segera setelah kami menyelamatkan teman kami."

Kamito dengan lembut meletakkan tangannya pada kepala Restia.

"Aku tau. Kamu saat ini berada dalam suatu takdir yang sangat besar. Oleh karena itu—"

Mengatakan itu, Restia menggenggam erat tangan Kamito.

"Kamu harus kembali—"

"Ya, tentu saja. Bagaimanapun juga, disampingmu lah tempatku berada."

Sebagai tanggapan, Kamito memeluk tubuh mungil Restia.

"Aneh sekali...."

Berada dalam pelukan Kamito, dia tersenyum.

"....Kenapa air mata ini jatuh?"

Sebelumnya Bab 6 Kembali Ke Halaman Utama Selanjutnya Bab 8