Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid15 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 4 - Raja Naga dari Dracunia[edit]

Bagian 1[edit]

Pucak sakral dari Pegunungan Kelbreth—pegunungan tertinggi di benua—yang mana juga merupakan tempat yang dijadikan habitat oleh lebih dari setengah spesies naga.

Selain naga merah dan naga hitam, juga ada tipe-tipe naga terbang seperti para wyvern, naga darat seperti geodragon, dan subspesies seperti drake. Dan dipuncaknya adalah Raja Naga Iblis dan Raja Naga Petir, dikenal sebagai spesies naga terkuat yang masih ada.

Terbang diantara puncak-puncak terjak itu, Revenant melanjutkan penerbangannya.

Seseorang bisa melihat para naga yang tak terhitung jumlahnya melayang diantara awan-awan—

(...Pada akhirnya, kami masih bergantung pada Kamito.)

Bersandar pada pagar didek sendirian, Claire mendesah.

Melihat Kamito bertarung dengan menakjubkan seperti biasanya, Claire benar-benar tercengang. Bagaimanapun, dia menghadapi salah satu dari Numbers, yang dikenal sebagai para ksatria terkuat di Kekaisaran, dan mampu mengalahkan ksatria itu dalam waktu yang singkat.

Kata-kata kakaknya muncul kembali dalam pikirannya.

—Kau masih belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatan sejati dari roh terkontrakmu.

(....Kurasa dia benar. Pada tingkat ini, aku hanya akan berakhir menjadi beban.)

Claire memiliki kebanggaan sebagai rekannya Kamito. Akan tetapi, itu pada akhirnya terbatas pada Blade Dance, sebuah kompetisi yang membutuhkan kerja tim.

Pada tingkat ini, dia tak akan pernah bisa mengimbangi kekuatan Kamito—itulah Ren Ashbell, Penari Pedang Terkuat.

(....Aku ingin bisa bertarung bersama Kamito.)

Lalu setelah dia mendapatkan kekuatan yang besar yang mana Kamito bisa mempercayakan punggungnya pada dia—

Mungkin dia bisa menemukan keberanian untuk menyampaikan kata-kata dan perasaan yang gagal dia sampaikan kemarin malam.

(....Sekarang bukan saatnya untuk depresi. Aku harus menjadi lebih kuat.)

Mengangguk, Claire mengepalkan tangannya.

Bagian 2[edit]

Revenant mendarat di sebuah pangkalan militer di Grand Dracunia, ibukota dari Dragon Duchy of Dracunia, berlokasi di pertengahan Pegunungan Kelbreth.

Meninggalkan Velsaria yang sedang dalam pemulihan, Vivian Melosa dan para cewek Sekolah Instruksional, Kamito dan rekan-rekannya keluar dari kapal.

Dibandingkan dengan ibukota Kekaisaran Ordesia, Ostdakia, iklim disini jauh lebih dingin. Berjalan digang mengenakan pakaian maidnya, Restia langsung menggigil.

"Apa kamu baik-baik saja, Restia?"

"Te-Terimakasih..."

Kamito melepaskan jaket seragamnya dan menyampirkannya pada pundaknya, membuat Restia berterimakasih pada dia.

Lalu, bayangan raksasa muncul diatas kepala.

Dia mendongak dan melihat para ksatria Dracunia menunggangi naga-naga terbang.

"Itu—"

Kamito teringat penampilan mereka.

Mereka adalah anggota dari Knights of Dragon Emperor yang dia lawan selama Blade Dance. Dan yang menunggangi naga hitam raksasa itu adalah—

"Aku nggak nyangka kita bertemu lagi secepat ini, Kamito."

"Leonora!?"

Kamito berseru.

Memang, inilah orang yang membantu Kamito di ibukota kekaisaran, Leonora Lancaster.

Leonora melompat turun dengan gagah dari punggung naga hitam itu—

"Para tamu dari Ordesia Yang Sah, selamat datang di Dragon Duchy of Dracunia."

Dia menundukkan kepalanya dengan khidmat pada kelompok Kamito.

"Aku, Leonora Lancaster, kapten dari Knights of the Dragon Emperor, aku ditugaskan untuk memandu Yang Mulia Putri Fianna dan kalian semua ke istana sesuai dengan perintah sang Raja Naga."

"Sungguh sopan. Terimakasih atas perhatianmu...."

Fianna mengangkat ujung roknya dan membungkuk dengan etika istana sebagai balasan.

"....Ngomong-ngomong, aku tak pernah menyangka mau keluar menyambut kami. Oh yah, tapi aku sudah menyangka bertemu denganmu disini di Dracunia."

Kamito menggaruk bagian belakang kepalanya saat dia berbicara.

"Aku secara sukarela bertindak sebagai pemandu. Ngomong-ngomong, kau keterlaluan sekali. Karena kau berencana kabur ke Negara Naga, kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal...?"

Leonora menggerutu sambil cemberut.

Melihat mereka berdua berinteraksi seperti itu—

"Hmmm, apa-apaan itu, mereka tampak begitu dekat." "Ada suasana keintiman!" "Kamito, kapan kau dan Leonora-dono...." "Kamito-kun adalah seorang Raja Iblis Malam Hari Internasional, aku paham sekarang..."

Para gadis muda dibelakangnya mulai berbisik diantara mereka sendiri.

Apa-apaan itu, Raja Iblis Malam Hari Internasional....

"Kami telah mempersiapkan kereta naga untuk mengantar kalian ke istana."

"Kereta naga?"

"Yah, iuu seperti kereta yang ditarik oleh kuda, bedanya cuma yang ini ditarik oleh naga."

Bagian 3[edit]

Kereta naga yang ada didepan kelompok Kamito adalah sebuah bentuk dari transportasi yang jauh lebih besar daripada kereta kuda, cukup untuk dinaiki semua orang. Kereta itu ditarik oleh seekor sebspesies naga tanpa sayap—jenis naga darat raksasa.

Setelah Kamito dan rekan-rekannya naik ke kereta, kereta itu perlahan-lahan bergerak maju.

Tampaknya seekor naga yang memiliki tubuh dan kekuatan yang besar secara berkebalikan memiliki kecepatan yang rendah.

Kereta naga itu meninggalkan pangkalan militer dan bergerak maju di sepanjang jalan utama menuju Ibukota naga, Grand Dracunia. Selain para naga yang berputar-putar di langit, pemandangannya tak beda jauh dari ibukota kekaisaran. Akan tetapi, dibandingkan dengan Ostdakia, desain arsitekturnya tampak lebih kokoh.

Mungkin penasaran tentang seperti apa jalanannya, Restia yang duduk disebelah Kamito terus melihat keluar jendela, bertanya ini itu pada Kamito. Kamito tiba-tiba teringat bagaimana segalanya terjadi diantara dia dan Restia ketika berjalan-jakan di jalanan, bedanya adalah sekarang peran mereka dibalik.

"Setelah sampai di istana, pertama kita harus memberi hormat pada Raja Naga."

Duduk berseberangan dengan Kamito, Leonora berkata.

"Itu membuatku merasa gugup..."

"Harap jaga perilaku didepan Yang Mulia. Kalau tidak, aku nggak bisa menjamin keselamatan nyawa kalian."

Mendengar peringatan dari Leonora, Kamito dan rekan-rekannya bertukar tatap.

....Kalai dipikir lebih jauh lagi, Kamito menyadari dia pada dasarnya tidak tau apa-apa tentang sang Raja Naga.

"Uh, berapa lama sang Raja Naga mulai tinggal disini?"

"Beberapa ratus tahun yang lalu."

"Bisa dibilang itu relatif baru. Apa yang dia lakukan seratus tahun lalu, saat Perang Raja Iblis?"

Merasa tertarik, Claire mulai menanyakan pertanyaan demi pertanyaan.

"Saat Perang Raja Iblis, karena Yang Mulia belum berkuasa secara langsung, oleh karena itu dia tidak ikut campur dalam konflik manusia. Ngomong-ngomong, apa diantara kalian ada yang tau kenapa negara ini disebut kadipaten'duchy'?"

"....? Oh, benar juga—"

Terpicu oleh pertanyaan Leonora, Kamito menyadari bahwa iti sedikit tidak biasa untuk sebuah negara yang diperintah oleh Raja Naga untuk disebut sebuah duchy. Biasanya seseorang akan menyebutnya sebuah kerajaan.

"Dahulu kala, dulunya ini wilayah kadipaten. Nama saat ini merupakan peninggalan dari saat itu."

Dimasa lalu, penguasa dari Pegunungan Kelbreth ini adalah Duke Marfelion, Dragon Duke, dan penerusnya. Meskipun sang Raja Naga sudah ada di negeri ini, Yang Mulia tidak secara aktif membuat kontak dengan manusia. Sama seperti roh-roh berperingkat tinggi yang lainnya, Raja Naga diabadikan didalam sebuah kuil sebagai objek untuk disembah.

Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintahan Dragon Dukedom memasuki kondisi menurun secara perlahan-lahan. Para penguasa bodoh yang mengancam rakyat layaknya properti sekali pakai muncul satu demi satu. Dengan demikian, rakyat perlahan-lahan memberi petisi pada Raja Naga untuk turun tangan. Akhirnya, sesuai dengan keinginan rakyat, Bahamut mulai memerintah negeri ini.

Ini terjadi 475 tahun yang lalu—Leonora menyimpulkan.

"Dikatakan bahwa pada awalnya, pemikiran tentang suatu roh memerintah alam manusia menerima penentangan keras. Tetapi sekarang kemakmuran Dracunia bisa dilihat sepanjang hari, kurasa nggak akan ada orang yang keberatan lagi."

Ketika mereka mengobrol, kereta naga itu melewati kota dan memasuki jalur pegunungan yang sempit dan berbahaya.

Sebuah tempat dengan tebing-tebing yang curam. Khawatir bahwa kereta naga itu mungkin tergelincir, Kamito terus gelisah sepanjang waktu.

"Sungguh nggak biasa untuk istana utama berada diluar kota."

Rinslet berkomentar. Memang, Istana Nefescal berada di pusat kota dari ibukota kekaisaran. Kebanyakan istana-istana di negara-negara lain juga sama.

"Karena awalnya itu bukanlah sebuah istana, melainkan sebuah kuil untuk menyembah Yang Mulia Raja Naga. Kalau kau menganggapnya sebagai sebuah istana seperti di Ordesia, mungkin ada suatu rasa disonansi."

Mengatakan itu, Leonora menunjuk puncak dari pegunungan tersebut yang bisa terlihat diluar jendela.

"Disebelah sana adalah Dragon's Peak."

"Dragon's Peak?"

Kamito bertanya dan melihat keluar jendela. Puncaknya diselimuti kabut tebal, menganggu pandangan. Akan tetapi, dia biadar melihat banyak naga berputar-putar disana.

"Kudengar itu adalah rumah hanya untuk Demin King Dragon di benua."

"Dulunya itu adalah sarang yang dihuni oleh naga hitam yang agung, Vritra. Menurut legenda, Vritra terlibat dalam penghancuran dan penjarahan dalam skala besar setelah turun ke alam manusia, tetapi seratus tahun yang lalu, dia dikalahkan oleh Sacred Maiden Areishia yang datang kesini, dan dengan demikian dia disegel di sebuah kuil di puncak itu."

"Eh... Hei Est, apa kamu masih ingat tentang saat itu?"

Kamito bertanya pada pedang yang ada disebelahnya.

"Tidak, nggak ada didalam ingatanku."

Est menjawab acuh tak acuh.

Setelah bergerak di sepanjang jalur pegunungan yang berliku-liku, kereta naga itu mencapai sebuah ngarai yang besar.

Sebuah jembatan batu telah dibangun melintang di jurang tersebut, yang mana kedalaman jurang tersebut sangatlah dalam sampai diluar jarak pandang. Sebuah bangunan besar bisa terlihat di seberang, menonjol dari sebuah bukit.

"Disanalah istana utama Dracunia, Dragon Rock Fortress—umumnya dikenal sebagai benteng pertahanan."

Bagian 4[edit]

"—Salam, para tamu terhormat dari Ordesia. Selamat datang di Dragon Rock Fortress."

Setelah mereka turun dari kereta naga ditaman didepan istana, para pelayan perempuan yang melayani istana segera datang menyambut mereka.

Melewati gerbang besi besar, Kamito dan rekan-rekannya mengikuti Leonora untuk memasuki istana.

"Memang, tata ruangnya benar-benar berbeda dengan Istana Nefescal..."

Fianna mengamati dinding dan langit-langitnya dan berkomentar.

Bukannya dibangun menggunakan batu, tampaknya itu dibuat menggunakan gua raksasa alami. Langit-langitnya menyerupai stalaktit, disertai banyak kristal roh yang ditanam disana untuk memancarkan cahaya seperti bintang-bintang yang berkilauan. Banyak relief naga diukir di dinding.

"Claire, jangan sentuh apapun tanpa ijin."

"N-Nggak usah dikasi tau aku juga udah tau..."

Berniat menyentuh sebuah ukiran naga, Claire diperingatkan oleh Ellis.

(Entah kenapa ada perasaan nostalgia...)

Teringat Gua Kastil di Sekolah Instruksional, Kamito terpikir demikian. Bisa dikatakan, itu bukanlah suatu ingatan yang ingin dia ingat.

"Besarnyaaaaa~~~"

Claire bergumam kagum.

"Orang-orang yang tidak terbiasa dengan tempat ini bisa tersesat. Harap berhati-hati."

"Sungguh tempat yang berbahaya... Restia, hati-hati jangan sampai terpisah."

"Y-Ya..."

Kamito memegang tangannya, menyebabkan Restia segera menundukkan kepalanya dengan ekspresi malu.

Tiba-tiba, Leonora berhenti berjalan dengan penampilan terkejut.

"Kamito, jangan bilang kau berniat membawa maidmu juga untuk menghadap Yang Mulia?"

"....Huh? Oh, benar juga—"

Memang, dari sudut pandang Leonora, Restia saat ini hanyalah seorang maid biasa. Membawa dia ke pertemuan resmi sangatlah tidak sopan.

"Uh, Restia bukanlah seorang maid, dia adalah—"

"Tunggu—"

—lalu, Rubia yang tetap diam sepanjang waktu, menarik Kamito mendekat dan berbisik dengan suara yang sangat pelan hingga Leonora tak bisa mendengar.

"Lebih baik jangan membawa roh kegelapan itu."

"Kenapa?"

"Raja Naga adalah seorang bawahan terpecaya dibawah komando Elemental Lord Kegelapan. Jika identitasnya terbongkar, itu mungkin akan menyurutkan ketertarikan pihak lain."

"....Oh benar."

Dia tepat sekali. Mungkin lebih baik menyembunyikan kehadiran Restia dari Raja Naga. Jika tidak, misalkan Raja Naga meminta Restia tetap berada disampingnya seperti yang terjadi dimasa lalu saat bersama Elemental Lord Kegelapan, maka Kamito akan dipaksa bertarung melawan Raja Naga.

"Maaf, Restia.... Bisakah kamu menungguku sebentar?"

"Baiklah, aku mengerti."

Kamito menepuk kepalanya dan Restia menyetujuinya dengan patuh.

"Ruangannya sudah dipersiapkan. Silahkan ikuti aku."

Segera setelah Leonora memberi isyarat, seorang pelayan perempuan segera bergegas mendekat untuk membawa Restia.

Mereka terus bergerak maju didalam gua tersebut. Lalu, kelompok itu mencapai ruang terbuka yang luas dengan langit-langit yang melengkung menyerupai kubah.

Para princess maiden yang mengenakan pakaian formal yang melayani sang Raja Naga berbaris didinding untuk menyambut Kamito dan rekan-rekannya.

"Apakah ini ruang tahta?"

"Bukan, ruang tahta ada didepan."

Leonora menggeleng.

"Semuanya, harap buat persiapan disini untuk menghadap Yang Mulia."

"Persiapan?"

Mengatakan itu, para princess maiden berjalan mendekat sambil membawa keranjang ditangan mereka.

"Persiapan apa?"

"Karena kalian akan menghadap Yang Mulia Raja Naga, kalian nggak boleh tetap berpakaian seperti ini."

"Apa kamu harus berganti pakaian ritual?"

Claire mengeluarkan ekspresi terkejut.

Seragam Akademi Roh Areishia merupakan pakaian ritual formal yang disahkan untuk upacara-upacara tingkat tinggi termasuk festival Blade Dance. Secara logis, menghadap seperti ini saja seharusnya bukanlah masalah—

"Tidak, nggak masalah mengenakan seragam ini. Akan tetapi—"

"Namun?"

"Kalian harus melepas daleman kalian."

"....EHHHHHHHHHHHHHH!"

Mendengar instruksi Leonora, Claire dan para cewek berteriak terkejut.

Bagian 5[edit]

"M-Melepas daleman kami, a-apa maksudnya ini!?"

"Para princess maiden yang melayani para naga nggak pakai daleman yang kotor."

Leonora menjawab dengan serius.

(....Oh benar, kurasa aku ingat sesuatu yang kayak gitu.)

Memang, selama Blade Dance, Leonora tidak mengenakan daleman juga.

Karena berjalan-jalan di jalanan tanpa daleman sangat berbahaya dalam segala macam arti, Kamito menyuruh dia untuk memakainya.

....Tampaknya Claire dan yang lainnya tidak tau mengenai hal ini.

"B-Bohong..... Bohong, mustahil....!"

"B-Bagaimana bisa pakaian gak tau malu kayak gitu diperbolehkan!??"

"Hmm, sebagai kapten Sylphid Knights yang bertanggung jawab atas moral publik, a-aku benar-benar gak bisa setuju dengan hal ini."

Claire dan para cewek memprotes sambil muka mereka merah semua.

"Kalian harus mematuhi aturan ini kalau kalian mau menghadap Raja Naga. Kalau fakta bahwa kalian memakain daleman diketahui, amarah Yang Mulia akan terpancing."

"N-Nggak mungkin...."

Claire dan para cewek saling menatap satu sama lain dengan penampilan gelisah.

....Seperti yang diduga, para cewek polos seperti mereka akan merasa gelisah pada persyaratan yang seperti itu.

—Lalu.

"Patuhi saja instruksi dari para princess maiden. Itu adalah pakaian formal dinegeri ini."

Rubia berbicara dengan tenang.

Claire melebarkan matanya dan bertanya:

"N-Nee-sama akan... melepas dalemanmu juga?"

"Aku sudah melepasnya di kapal."

Rubia menyatakan secara terang-terangan. ....Sialan.

"...~Oooh... Sigh, baiklah...."

Claire mendesah menyerah.

"Hmm, karena ini adalah etika negara ini, apa boleh buat, kan?"

"K-Kurasa begitu..."

Ellis dan Rinslet juga setuju meskipun penuh keengganan.

"Kadang aku pergi tanpa memakai daleman, jadi itu nggak menggangguku."

....Pada akhirnya cewek itu seperti menggumamkan sesuatu yang aneh. Kamito betul-betul berharap dia salah dengar.

Lalu, dia tiba-tiba ingat dan menanyai Leonora.

"Anu, apa aku harus melepas dalemanku juga?"

"Apa... Kau mau apa habis melepas dalemanmu, bajingan cabul!?"

"Apa-apaan itu!?"

"K-Kau, sejak awal bukanlah seorang cewek! K-Kau berniat untuk... mengungkapkan binatang suci-mu m-m-maaf, aku nggak bisa nemuin kata yang pas buat yang satu ini, jadi tolong jangan bully aku didepan sang Raja Naga, dasar laknat!"

Leonora berteriak dengan wajah yang memerah terang.
...Apa itu binatang suci?

(Yah, itu sebenarnya melegakan buatku...)

"Kamito, berbalik. Kalau kau berani menoleh ke belakang, aku akan memanggangmu sampai jadi arang."

"Iya, aku ngerti...."

Dipelototi oleh para cewek, Kamito berbalik untuk menghadap dinding.

Setelah beberapa saat—

Krusek krusek krusek.

Dengan mata tertutup, Kamito bisa mendengar suara gesekan kain dibelakangnya.

Kenapa mereka harus melepasnya disini sih?

....Bahkan hanya suara itu saja sudah cukup untuk membuat jantungnya mulai berdetak kencang layaknya genderang yang mau perang.

".....Ooh, s-sungguh memalukan..."

"Hmmm, a-ada perasaan aneh..."

"Wow, sebuah bordiran kucing. Itu benar-benar manis. Dimana kau membelinya?"

"K-kurasa kai bisa mendapatkannya dimana saja...."

"Kurasa itu pasti toko daleman di kota Akademi. Daleman mereka terkenal menggemaskan."

"Hwahh, Rinslet, k-kenapa kau mengatakannya!?"

"Hmm, aku mau melihatnya juga"

"...D-Dan kau, apa-apaan daleman itu? B-Bukankah itu terlalu tipis?"

"Fufu, aku membelinya ketika aku kembali ke ibukota."

"Uh, bukankah itu semacam kain tembus pandang? Gak tau malu."

"Masa sih? Tapi Ellis, bukankah kau memakai celana dalam yang menggemaskan juga?"

"Ah, a-apa yang kau lakukan!?"

"Ya ampun, bukankah ini...?"

"Y-Ya, ini adalah gaya yang sama yang dipakai Ren Ashbell-sama."

"—Apa?"

Kamito berbalik secara tak sadar.

(....Sial!)

Dalam sekejap, para cewek itu membeku.

"Hyah!" "K-Kamito-san!?" "K-Kamito!" "Waduh♪"

"M-Maaf!"

Kamito buru-buru berbalik lagi.

Akan tetapi, pemandangan itu sudah terekam dengan jelas pada retina Kamito.

Claire mengenakan celana dalam putih dengan bordiran kucing.

Rinslet mengenakan celana dalam biru muda.

Milik Fianna berwarna hitam dengan selera dewasa.

Dan Ellis mengenakan... daleman dengan hiasan lucu.

....Tentu saja, Kamito tak punya ingatan pernah mengenakan dalaman semacam itu.

Kemungkinan, itu adalah salah satu dari Presumably, it was one of those knock-offs taking advantage of Ren Ashbell's popularity. Although there were many products in the market that used Ren Ashbell's name without permission, he never expected them to go so far as to sell underwear.


"....Y-Ya ampun, dasar bajingan, kuubah kau jadi arang, arang!"

"Kamito-san brengsek!"

"Nggak tau malu!"

Tatapan menusuk dari para cewek menikam punggung Kamito.

STnBD V15 106.jpg

Bagian 6[edit]

"Ooooh.... Sudah kuduga, aku sama sekali gak bisa tenang..."

"Hmmm, ada perasaan sejuk dikakiku...."

Meninggalkan ruang besar itu, Claire dan para cewek bergumam sambil berjalan disepanjang koridor yang menuju ke aula pertemuan.

"Setelah kau terbiasa, kau akan mendapati bahwa dalaman memang tidak nyaman."

"Aku nggak mau terbiasa dengan hal ini..."

Claire mengerang menderita.

Setelah berjalan sebentar, mereka sampai di pintu besi raksasa di ujung koridor.

Kalau untuk kepentingan manusia, pintu itu keterlaluan besarnya.

"....Ini adalah ruang tahta Raja Naga."

Leonora menyentuh bagian tengah pintu tersebut dengan tangannya dan merapal suatu mantra dalam bahasa roh.

Lalu, pintu raksasa itu terbuka kearah dalam secara perlahan-lahan—

Ruang tahta itu merupakan sebuah aula gelap tanpa pencahayaan apapun.

Tampaknya ada suatu set tangga besar didalam. Dalam hal strukturnya, itu cukup mirip dengan aula pertemuan Elemental Lord yang mereka lihat saat Blade Dance.

Clak— pintu dibelakang mereka tertutup dengan suata yang berat.

Sesaat setelahnya—

"—Selamat datang, manusia."

Suara serak terdengar seolah berasal dari kedalam bawah tanah.

"...!"

Kamito dan rekan-rekannya menahan nafas mereka.

Suatu cahaya yang membutakan mata muncul dipuncak tanggal. Lalu, apa yang muncul adala siluet "entitas" raksasa duduk di singgasana dibelakang tirai besar yang tersampir dari langit-langit.

Siluet itu seperti seekor "monster".

Dua tanduk besar yang melengkung. Enam lengan ujungnya cakar melengkung. Sayap besar dengan bentuk yang menakutkan.

Siluet dari seekor monster seperti archdemon kuat sedang duduk di singgasana.

(...Itu adalah Raja Naga Dracunia—Bahamut!)

Hanya duduk disana saja, dia sudah memancar aura yang sangat kuat.

Ini adalah roh kelas archdemon—bukan, tekanan ini bahkan melampaui roh-roh kelas mythical yang hanya beraemayam di Astral Zero.

"K-Kamito, apa yang kau lakukan? Cepat berlutut—"

Setelah Claire menarik lengan bajunya, Kamito buru-buru berlutut.

Didepan penampilan yang menakutkan dari sang Raja Naga, tampaknya hampir semua orang berlutut secara spontan.

Terjadi keheningan.

Setelah keheningan yang terasa mencekam berlalu—

'—Apakah engkau sang putri dari Kekaisaran Ordesia?'

Bayangan dibalik tirai itu menatap Fianna, yang menunduk di barisan depan, dan berbicara padanya.

"Ya, aku adalah Putri Kedua— Fianna Ray Ordesia."

Fianna menatap bayangan Raja Naga dan menjawab.

'—Aku mengerti. Sungguh semangat yang mengagumkan dimata engkau. Engkau memang berdarah kerajaan.'

Raja Naga itu tampaknya memahami kemampuan Fianna hanya dengan sekali tatap.

'—Masalah politik belakangan ini pasti cukup berat bagi engkau.'

"Terimakasih atas kekhawatiran anda. Mengenai bantuan yang diulurkan oleh Dragon Duchy of Dracunia dan Yang Mulia, aku menyatakan rasa syukur terdalam sebagai penguasa Ordesia Yang Sah—"

Fianna membungkuk lagi. Perilakunya yang elegan dan bermartabat memancarkan suasana agung yang tak akan disangka siapapun dari perilakunya yanh ceria dan blak-blakan yang biasanya.

'Nggak usah dipikirkan. Mendukung Ordesia Yang Sah juga masih dalam cakupan ketertarikan Dracunia. Itu saja—'

Suara raungan Raja Naga menyebabkan udara di aula besar itu berguncang.

'Jika Kekaisaran Ordesia yang saat ini jatuh ketangan Kerajaan Suci, Negara Nagaku akan menjadi target yang selanjutnya. Engkau harus terus berhati-hati terhadap Kerajaan Suci.'

—Jadi memang benar bahwa Raja Naga menganggap Kerajaan Suci sebagai musuh.

Jika Raja Naga berniat menggunakan Ordesia Yang Sah sebagai kartu untuk bermain dengan Kerajaan Suci, itu akan cukup bisa dipercaya.

'Meski demikian, ada satu syarat sebelum Negara Naga membantu engkau.'

"Sebuah syarat..."

Fianna mendongak secara paksa.

Kamito melirik Rubia, tetapi tidak melihat adanya perubahan ekspresi. Dia pasti sudah menduga Raja Naga akan mengajukan syarat dan ketentuan.

'Tunjukkan kekuatanmu sebagai tes untuk melihat apakah engkau layak mendapat dukungan kami.'

"....Dimengerti. Bolehkan saya bertanya apa syaratnya—"

Fianna bertanya.

'Teokrasi Alpha jatuh kedalam kekacauan ketika putri mereka, Sjora Kahn, membunuh sang Penguasanya. Apakah engkau mengetahui hal ini—'

"Ya."

Perang sipil di Teokrasi Alpha adalah suatu masalah yang dikhawatirkan semua negara di benua. Kamito telah mendengar bahwa Dracunia telah mengirim delegasi yang terdiri dari Leonora dan yang lainnya sebagai perwakilan di Konferensi Semua Negara di ibukota kekaisaran dan mengusulkan langkah ikut campur militer. Akan tetapi, karena insiden upaya pembunuhan kaisar, kemajuan konferensi itu terhenti—

'Inilah syarat yang aku usulkan pada engkau—Selamatkan Saladia Khan yang dipenjara selama kudeta itu.'

Suara Raja Naga itu menggelegar seperti petir.

"Saladia Kahn adalah putri kedua dari Teokrasi, kan?"

'Tepat, dia adalah kartu as untuk melawan Sjora Khan si penghianat. Dia bisa bertindak sebagai pembawa bendera untuk pasukan bantuan yang saat ini sedang bertarung sampai titik darah penghabisan. Dengan dia berada digenggaman kita, keikutsertaan Dracunia pada Teokrasi akan terbuka pada arah yang positif.'

"Kami harus menyelesaikan misi itu—"

'Tepat. Membantu meredakan pertikaian internal Teokrasi akan memberi tambahan prestasi yang sebenarnya pada kekosongan khasanah dari Ordesia Yang Sah. Setelah Saladia Kahn mengambil kembali singgasana, engkau pasti akan menerima dukungan Teokrasi selain dukungan dari Dracunia. Ini bukanlah syarat yang merugikan bagi engkau.'

"....Itu memang benar."

Fianna bergumam pelan.

Kata-kata Raja Naga sangatlah logis. Tidak, lebih akuratnya, itu sangat tepat dari sudut pandang yang mengutamakan analisa keuntungan.

Meskipun mundur dari Konferensi Semua Negara, Dracunia mungkin tidak mau melakukan keikutcampuran militer pada Teokrasi secara langsung. Oleh karena itu, mereka berniat untuk membuat Ordesia Yang Sah, yang mana bukan bagian dari faksi manapun, untuk bertindak sebagai barisan depan mereka.

Kontras dengan penampilannya yang menakutkan, metode Raja Naga sangat bijaksana dan berpengalaman. Kamito mendecakkan lidahnya.

"...Sekarang saya memahami situasinya. Bolehkah saya meminta waktu sebentar untuk mempertimbangkan?"

Mengatakan itu, Fianna secara diam-diam melirik pada Kamito dan yang lainnya, tetapi—

'—Ditolak. Fianna Ray Ordesia, ketahuilah bahwa engkaulah yang harus memutuskan sebagai sang penguasa.'

Suara sang Raja Naga sangat memekakan telinga.

Dihadapkan dengan tatapan Fianna yang goyah, Kamito mengangguk ringan sebagai balasan.

Aku mengandalkanmu—

Fianna memejamkan matanya lalu berkata:

"—Kami akan mengerjakan seperti permintaan anda, Yang Mulia."

Bagian 7[edit]

Setelah meninggalkan ruang pertemuan, Claire menghela nafas dalam-dalam.

"Haaaaa.... Sungguh tekanan yang menakutkan, Raja Naga itu...."

"Ya, membutuhkan segala yang aku punya untuk mempertahankan suara yang tenang."

Fianna juga menaruh tangannya pada dadanya dan mendesah. Meskipun dia bersikap penuh martabat, dia pasti merasa sangat ketakutan didalam dirinya.

"Itulah yang aku sebut Raja Naga."

"Memang. Meskipun kita hanya melihat siluet dibalik tirai, aku mungkin akan pingsan karena ketakutan kalau aku melihat penampilan sejatinya."

"Dalam sejarah Dracunia, nyaris tidak ada yang melihat wujud sejati Yang Mulia. Sejujurnya, aku bahkan belum pernah memberi hormat kepada penampilan sejatinya yang ada dibalik tirai tersebut."

"Yang bener?"

Mendengar pengakuan Leonora, Kamito terkejut.

"Iya, dikatakan bahwa orang-orang yang cukup lancang yang berani mengintip wujud sejati Yang Mulia tak akan pernah melangkahkan kakinya lagi diluar aula pertemuan selamanya.... Akan tetapi, itu hanyalah rumor."

"....h-hanya rumor, kan?"

Kelompok Kamito bergidik kencang.

"Ngomong-ngomong, syarat sungguh sulit. Aku nggak bisa percaya bahwa kita harus melibatkan diri dalam perang sipil Teokrasi..."

Menopang dagunya. Fianna berkata dengan pelan.

"Tidak perlu melibatkan diri kan? Bukankah kita hanya harus menyelamatkan Putri Kedua saja kan?"

"Memang benar, tapi sulit dibayangkan bahwa segalanya akan semudah itu."

"....Kau benar juga."

Mendengar itu, Kamito setuju.

Meskipun Raja Naga sudah memperjelas niatnya untuk mendukung Ordesia Yang Sah, pada saat ini, mereka masih tak bisa mempercayai dia begitu saja. Bagaimanapun juga, ada kemungkinan bahwa mereka mungkin akan diperintah kesana-kemari dan digunakan sebagai tim gerilya yang tak memiliki hubungan dengan negara manapun, diekspoitasi atas kegunaan mereka lalu dibungkam dan dibuang.

Hanya saja Kamito tidak bisa mengatakan hal ini didepan Leonora, sang putri Dracunia—

"Ngomong-ngomong, kenapa Sjora tidak mengeksekusi Saladia Kahn?"

Sebagai hasilnya, Kamito menghindari mengeluarkan pemikirannya dan mengangkat topik lain.

"Memang benar, itu cukup nggak bisa dipercaya. Tak ada hal semacam belas kasihan untuk sesama selama perebutan kekuasaan diantara keluarga kerajaan."

Fianna berkomentar dengan sinis.

Faktanya, kakaknya, Arneus, telah mempersiapkan untuk mengeksekusi dia pada hari Festival Roh Agung. Tak disangka bahwa si kejam Sjora Kahn membiarkan Saladia hidup meskipun dia bisa bertindak sebagai pemegang kunci untuk pasukan penentang, apakah ada alasan dibalik hal itu...?

"Yah, apapun itu, kita nggak punya pilihan lain."

Claire mengangkat bahu dan mengatakan pemikirannya.

"Ya, tapi kalau kita nggak bisa memenuhi syarat ini yang telah diberikan oleh Raja Naga pada kita, memulihkan Ordesia hanya akan menjadi angan-angan belaka."

"Sebaliknya, ini adalah peluang yang sangat bagus untuk menggalakkan eksistensi kita pada negara-negara lain."

Ellis mengepalkan tinju dan mengangguk tegas.

Mendengarkan rekan-rekannya, para cewek muda, Kamito bergumam dalam pikirannya.

(...Teokrasi Alpha, itu adalah sebuah negara yang punya ikatan kuat denganku.)

Itu adalah negara yang didirikan oleh Raja Iblis Solomon. Pada saat yang sama, itu juga merupakan sarang Pemuja Raja Iblis yang membentuk fasilitas gila yang dikenal sebagai Sekolah Instruksional. Restia, ketika berada dibawah sebuah segel, memiliki kesamaan yang terungkap dari reruntuhan di Teokrasi.

Kamito merasa seolah takdir telah membimbing dia kesana.

Sesuatu yang ada disana sedang menunggu Kamito—

.....Entah kenapa, dia merasa bahwa ini adalah suatu firasat.

Bagian 8[edit]

Kembali ke plaza, para princess maiden dengan hormat mengembalikan pakaian dalam milik para cewek. Sembari Kamito menghadap ke dinding, para cewek dengan cepat memakai pakaian dalam mereka lagi.

Ketika semua orang sudah siap, Leonora berkata:

"Aku sudah mempersiapkan ruangan untuk kalian di istana. Silahkan gunakan ruangan-ruangan itu sesuka kalian selama kalian menginap."

"Aku menolak. Aku akan kembali ke kapal."

Rubia menggeleng.

"Kau tidak menginap di istana?"

Ketika Kamito bertanya, Dia menjawab pelan.

"Aku akan menjemput Muir Alenstarl dan Lily menggunakan Revenant. Mereka berdua diperlukan untuk operasi di Teokrasi."

"Benar... Ngomong-ngomong, apa yang mereka lakukan sekarang?"

Dia ingat bahwa terakhir kali dia bertanya, Rubia berkata kalau dia menugaskan mereka pada suatu misi yang penting—

"Mengintai Kerajaan Suci secara sembunyi-sembunyi, mencari keberadaan Elemental Lord Api yang hilang."

"Mereka mengerjakan misi yang berbahaya seperti itu?"

"Aku meminta mereka justru karena misi itu berbahaya. Mereka berdua adalah bawahan terbaik yang aku punya."

"Memang benar...."

Muir dan Lily secara berurutan berperingkat kedua dan keenam di Sekolah Instruksional. Dimasa lalu, mereka sering berkelompok dengan Kamito untuk mengerjakan misi. Lily adalah ahli penyusupan, akan tetapi Muir yang sekilas tampak tak sesuai untuk misi pengintaian, memiliki kemampuan pendeteksi bahaya yang tajam.

Selain itu, ketika penyamaran mereka terbongkar dan mereka dikejar, mereka juga memiliki kekuatan untuk menerobos secara paksa menggunakan roh-roh militer yang mereka miliki.

Bagaimanapun juga, sudah pasti kembalinya Muir dan Lily layak diandalkan. Terutama Muir, yang mampu melawan sekelompok ksatria roh sendirian.

"Hati-hati—"

"Kau lebih baik mempersiapkan dirimu juga. Jangan menahan diri terhadap si Penyihir Senja."

"......"

Dengan itu, Rubia berbalik dan pergi—

"N-Nee-sama..."

Kali ini Claire yang memanggil.

"Ada apa?"

"Aku akan menjadi lebih kuat. Pasti, aku akan mengeluarkan kekuatan Scarlet."

Setelah mendengar kata-kata ketetapan hati Claire—

Rubia masih tidak mengubah ekspresinya, akan tetapi,

"Begitukah? Kau yang sekarang ini, kau tak layak untuk bertindak sebagai pionku."

"Nee-sama..."

Pundak Claire sedikit bergetar saat dia menggigit bibirnya dalam kesedihan.

"Hei, ngomong-ngomong—"

Kamito mau tak mau menyela, tetapi kemudian—

"—Pergilah berlatih di Dragon's Peak. Yang kau perlukan ada disana."

"...Huh?"

Claire bereaksi terkejut.

Namun, Rubia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

"Dragon's Peak—Pergi kesana akan membuatku lebih kuat?"

"Lingkungan keras dari Dragon's Peak telah membuatnya menjadi sebuah tempat untuk berlatih bagi para princess maiden dari generasi ke generasi. Akan tetapi, belakangan ini hanya sedikit orang yang pergi kesana untuk berlatih—"

Leonora menjelaskan.

"Saat aku masih berusia 13 tahun, aku juga meminta para naga di gunung itu untuk berlatih denganku. Setelah mengasingkan diriku di pegunungan selama beberapa bulan, pada akhirnya aku membuat kontrak dengan roh naga Nidhogg."

...Mengasingkan diri di pegunungan diusia 13 tahun huh. Meskipun Kamito ingin mengeluarkan komentar gurauan, dia segera teringat bahwa dia telah jatuh pada rencana keji Greyworth saat dia masih berusia 13 tahun juga, dan berakhir dipaksa menghabiskan tiga bulan dikedalam Hutan Roh untuk pengalaman bertahan hidup diluar.

".....Aku mengerti sekarang. Sampai Nee-sama kembali, aku akan berlatih di Dragon's Peak!"

Claire mengepalkan tangannya dan membuat pernyataan.

"Itu adalah lingkungan yang sangat kejam. Satu salah langkah saja bisa berujung pada liang lahat."

Leonora memperingatkan dengan dengan ekspresi serius.

"Sempurna. Kalau aku nggak melakukan sampai sejauh itu, aku nggak akan bisa bertarung bersama Kami—m-menjadi lebih kuat!"

Tekad Claire tampaknya sangat kuat.

Lalu—

"Ya ampun, betapa nggak adilnya kamu, berniat menjadi kuat sendirian."

Sambil menyibakkan rambutnya yang panjang, Rinslet berkomentar.

"Hmm, aku merasa kalau aku telah mencapai jalan buntu dalam gaya berlatihku sendiri. Aku nggak bisa terus menyerahkan tugas barisan depan pada Kamito dan kakakku—"

"Aku juga akan pergi. Aku sudah bosan jadi putri yang terkurung."

Ellis dan Fianna juga setuju.

"Kalo gitu, aku juga ikut. Itu nggak kayak aku bisa ninggalin cewek kucing neraka sendirian."

Mendengar Kamito mengatakan hal itu....

"N-Nggak ada perlunya bagimu untuk menjadi lebih kuat, kan?"

"Itu salah.... Gimanapun juga, lawannya lain daripada yang lain."

Tarian pedangnya di ibukota kekaisaran telah mengalami kekalahan telak.

Kalau dia hendak menghadapi Greyworth, dia akan membutuhkan kekuatan yang melampaui masa kejayaan Ren Ashbell.

Akan tetapi—

"Sungguh disayangkan, Kamito, kau nggak bisa pergi kesana."

Leonora menggeleng.

"Kenapa?"

"Pria dilarang memasuki Dragon's Peak. Kalau kau berani masuk, yang aku takutkan kau akan menimbulkan amarah dari penguasa pegunungan itu, entah itu Raja Naga Iblis atau Raja Naga Petir."

"A-Aku mengerti...."

"Namun, kalau kau ber-crossdress, mungkin itu akan berhasil...."

"—Baiklah, aku nggak jadi ikut."

Kamito langsung menjawabnya.

Bahkan jika mereka adalah Raja Naga Iblis dan Raja Naga Petir, yang konon katanya merupakan para naga terkuat, sejujurnya Kamito tidak menganggap mereka adalah tandingannya. Akan tetapi, membuat mereka mengamuk munhoon akan mengganggu latihan para cewek.

....Selain itu, entah kenapa dia merasakan perasaan persahabatan demhan yang namanya "Raja Naga Iblis."

"Lalu apa yang harus aku lakukan...?"

Rubia sedang menuju ke Kerajaan Suci, Claire dan para cewek yang lain pergi untuk berlatih di Dragon's Peak, lalu hanya tinggal dia dan Est di istana bersama Restia, mereka bertiga—

"Uh, k-kalau kau nggak keberatan, aku secara pribadi bisa memandumu berkeliling ibukota naga, Grand Dracunia, lho..."

"Huh?"

Kamito merespon. Claire dan para cewek membeku sembari mulut mereka terbuka.

"Mengingat ini adalah kesempatan yang langka, uh, gimana kalau berjalan-jalan menikmati pemadangan kota?"

"Yah, aku nggak mau memaksa, karena gimanapun juga kau adalah seorang putri..."

Saat Kamito mau menolak...

"A-Aku diwajibkan untuk mengawasi kamu. Kalo kau dibiarkan sendirian, siapa yang tau, kau bisa saja mengarahkan cakar jahatmu pada para pelayan perempuan di istana—"

"Yang benar saja, siapa juga yang mau mengarahkan cakar jahat!"

"Yang betul? Ini adalah penyelidikan akurat yang dikumpulkan oleh bagaian penyelidik militer kami, Dragon Eye."

"Dragon Eye itu betul-betul buta!"

Kamito mau tak mau berteriak marah, tetapi....

"Kamito, kau betul-betul nggak peka."

"Hmm, tapi dari sudut pandang orang lain, kau betul-betul Raja Iblis Malam Hari!"

"Lupa diri yang menakutkan..."

Untuk suatu alasan, para cewek muda dalam kelompoknya menatap Kamito dan mulai berbisik pelan diantara mereka sendiri.

"A-Apa-apaan kalian..."

Kamito menyipitkam matanya dalam penderitaan.

"B-Baiklah, btw, makasih sudah mau jadi pemanduku. Aku kebetulan cukup tertarik dengan kotanya."

"B-Begitukah, kalo gitu—"

"Uh, kalo kau nggak keberatan, bisakah Restia—si maid—ikut kita?"

"Hmm... Y-Yah... Tentu, aku nggak keberatan..."

Mendengar pertanyaan Kamito, Leonora tergagap agak dilema.

"......?"

Lalu....

"Kamito-sama, maid anda sudah tidur dikamarnya."

Si pelayan perempuan yang baru saja mengantar Restia ke kamarnya, mendekati dia pelan-pelan dan memberitahu dia.

"....Hmm? Benarkah? Kalo gitu aku nggak mau bangunin dia."

"A-Aku setuju, bangunin seseorang dari tidurnya tidaklah sopan! Pepatah kuno dari Dracunia mengatakan, jangan pernah ganggu naga yang sedang tidur!"

Leonora terus mengangguk berulang kali. Lalu, Kamito menyadari si pelayan perempuan itu memberi tanda jempol pada Leonora.

....Apa mereka saling bertukar isyarat rahasia?

"K-Kalo gitu, mari kita berangkat. Sebelum maid itu bangun, cepat!"

"L-Leonora, kau menarik terlalu kencang..."

Dipegang lengannya, Kamito diseret keluar.

"Hmm, Leonora-dono adalah tipe karnivora huh..."

"Tipe ini belum pernah muncul sebelumnya."

"Kamito-san akan dimangsa!"

"Y-Ya ampun, Kamito bangsat..."

Dibelakang Kamito, Claire dan para cewek menatap dia penuh kebencian.

Bagian 9[edit]

Dilangit diatas Kekaisaran Ordesia—

Kapal perang kelas Crusader milik Kerajaan Suci Lugia terbang dengan tenang diudara.

Meskipun itu adalah sebuah kapal perang, penampilan luar kapal ini berbeda dengan kapal militer biasa. Desain uniknya menyerupai kuil yang menyembah roh-roh, dengan demikian, kapal itu mendapatkan julukan "Cathedral".

Cardinal Millennia Sanctus duduk di kursi di kabin komandan, berbicara pada seseorang dibelakangnya.

"Ya ampun, kaisar tolol itu tampaknya gagal lagi—"

"—Begitukah?"

Bayangan yang berdiri dibelakangnya menjawab dengan acuh tak acuh.

"Kau benar-benar bukan seorang cewek yang banyak bicara. Lurie-oneechan jauh lebih baik untuk teman ngobrol."

Millennia cemberut tak senang.

Perilaku manis itu membuat dia nyaris tampak seperti seorang anak biasa.

"Apa nggak apa-apa meninggalkan ibukota kekaisaran?"

"Nggak usah khawatir, aku meninggalkan diriku yang lain disana."

"......?"

Greyworth mengernyit terkejut, tapi tidak bertanya lebih jauh lagi.

Millennia tertawa dan melanjutkan.

"Hmm, boneka kecil yang manis, bagaimana pertarungan dengan anak laki-laki itu?"

"Apa maksudmu dengan bagaimana?"

"Sebagai lawanmu, apa dia menyenangkan?"

"Sejujurnya, masih kurang, akan tetapi—"

Mengatakan itu, si penyihir menyipitkan mata abu-abunya.

"Aku merasakan sesuatu yang nggak diketahui."

"Hmm, kau sedikit menyukai dia."

"......"

Millennia bangun dari kursinya dan menekankan jari telunjuknya pada bibir Greyworth.

"Apa kau masih mau melawan anak laki-laki itu?"

Mendengar itu, sudut bibir Greyworth sedikit melengkung.

"Darahku mendidih—"

Dia menjawab pelan.

"Fufu, aku suka anak yang jujur. Sungguh maniak pertempuran."

Millennia berbalik dan melihat ke belakang.

"—Silahkan saja. Ayunkan pedangmu sesuka hatimu."

"Dimengerti—"

"Fufu, tampaknya bakalan ada pesta yang menyenangkan."


Sebelumnya Bab 3 Kembali Ke Halaman Utama Selanjutnya Bab 5