Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid17 Bab 10

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 10 - Dua Penari Pedang[edit]

Bagian 1[edit]

—Ratu baja tak berpihak, pedang suci yang diselimuti kegelapan sejati.
—Sekarang wujudkanlah Sword of the Celestial Demon dan jadilah kekuatan di tanganku!


Lurie Lizaldia mengulurkan tangan ke udara.


Lalu tubuh Millennia Sanctus berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.


Melihat benda yang terwujud di tangan Lurie sesaat setelahnya—


(....! Apa-apaan itu?)


Kamito terkejut.


Ingatannya dari pertempuran di bawah tanah kota Akademi terbangun. Elemental waffe yang dia saksikan saat itu seharusnya sebuah pedang iblis yang mengerikan, mirip dengan pedang iblis milik Greyworth.


Tapi kali ini, ditangannya adalah pedang bermata dua bersinar dengan cahaya sakral berwarna putih-perak.


Millennia Sanctus.


Meskipun Iris mendeskripsikan dia sebagai mahluk yang bukan roh maupun manusia—


Karena dia bisa berubah menjadi sebuah elemental waffe, itu artinya dia adalah seorang roh?


Kamito menatap pedang putih-perak yang ada ditangan Lurie.


Mungkin seorang roh pedang seperti Est. Dekorasi gagangnya tampak cukup mirip.


Meski mungkin bukan di kelas yang sama sebagai Demon Slayer, mengingat Millennia Sanctus juga bisa berwujud manusia, maka pastinya dia adalah roh tingkat tinggi.


Leher Kamito sedikit berkeringat.


"Serahkan relik sakral itu, Ren Ashbell."


"Relik sakral?"


"Apa yang tersembunyi di bagian terdalam Makam ini."


Lurie mengacungkan elemental waffe miliknya yang berbentuk pedang secara miring.


Kamito gak pernah melihat kuda-kuda semacam itu sebelumnya. Itu bukanlah ilmu pedang Ordesia.


"Ironis sekali. Kerajaan Suci menganggap Peti Mati Raja Iblis sebagai sebuah relik sakral?"


"—Fufu, orang bodoh yang gak ketulungan."


Seketika, rasa haus darah milik Lurie memancar.


"...!?"


Dalam sekejap mata, Lurie menutup jarak.


Ini adalah pengurangan medan, sebuah kemampuan teknik beladiri yang dilakukan dengan mengkonsentrasikan divine power dibawah kaki lalu meledakkannya. Akan tetapi, kecepatan Lurie sangat tinggi. Hanya sekejap mata saja, dia sudah menutup jarak dengan Kamito yang berada di kejauhan untuk bertarung.


Percikan api berhamburan. Dentuman baja yang berhantaman menggema di seluruh kuil.


Menggunakan Demon Slayer, Kamito memblokir serangan pertama.


(...! Apa-apaan kekuatan yang gila ini!?)


Menggunakan momentumnya, Lurie mengayunkan pedangnya kuat-kuat.


Kamito terhempas karena dampaknya.


"Sialan....!"


Kamito dengan cepat menikamkan Demon Slayer pada lantai untuk mengurangi tekanannya.


Dengan seringai ganas di wajahnya, Lurie melangkah maju.


Boom—dengan suara yang menyerupai tembakan proyektil, dia menyerbu.


Kamito mengayunkan pedang sucinya dari posisinya yang menghadap ke bawah, menggunakan reaksi kekuatan dari pergerakannya untuk menepis pedang milik Lurie.


Saat pedang membentuk tebasan semi-memutar, Kamito melompat disaat yang bersamaan.


Moonlit Sky Dash—Ini adalah pergerakan setengah matang dari Absolute Blade Arts yang gak mengkonsumsi divine power.


Jubah hitam milik Raja Iblis berkibar di udara. Lalu—


"Absolute Blade Arts, Bentuk Kedua—Meteor!"


Kamito menyilangkan kedua pedangnya dan mengayunkannya ke bawah.


BOOOOOOOOM!


Dampak yang besar dilepaskan bersamaan dengan suara ledakan.


Lantai batu itu terhempas, membentuk sebuah retakan besar.


—Akan tetapi, dia terlambat. Lurie sudah melompat.


Dengan punggungnya menghadap puing-puing yang berhamburan, Kamito menghentak tanah, melakukan serangan lanjutan.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning."


Dia melepaskan ledakan divine power seketika. Meninggalkan afterimage, dia menyerbu lurus kearah musuh.


Kecepatan aktivasi dari teknik ini secepat petir yang menyambar di langit, karena itulah diberi nama begitu.


Akan tetapi, Lurie sudah siap. Bibirnya sedikit tersenyum.


"—Hari kemurkaan, pedang utusan, bergegaslah ke posisi kalian!"


"...!?"


Apa yang muncul didepan Kamito adalah pedang cahaya yang tak terhitung jumlahnya bermunculan dari lantai.


Ini adalah sihir roh berafinitas baja. Akan mudah menggunakan kekuatan Demon Slayer untuk menghempaskan pedang-pedang itu, tapi—


(jebakan, huh?)


Kamito merasakannya melalui nalurinya. Ada sesuatu yang gak menyenangkan pada kuda-kuda pedang Lurie.


Sihir roh itu adalah sebuah taktik untuk memancing dia menyerbu.


Clang—!


Kamito menikamkan pedangnya ke lantai untuk menghentikan pergerakannya. Lalu dia segera melompat ke samping.


Mata Lurie sedikit melebar. Pastinya, dia berencana untuk menyerang balik.


Semua pedang cahaya yang mengarah pada Kamito mulai mengejar dia layaknya sekawanan ikan.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga—Shadowmoon Waltz, Putaran Ganda!"


Tiga tebasan pedang beruntun sepenuhnya menjatuhkan pedang-pedang cahaya itu.


Dia mendarat. Saat ujung pakaiannya menyentuh tanah, Lurie langsung mendekat dari depan.


"—Mistral Arc!"


Menusuk dengan tajam, dia mengeluarkan teknik pedang pembunuh.


Itu adalah tusukan yang cepat menyaingi Purple Lightning yang barusaja Kamito gunakan.


Terlambat untuk memblokir. Kamito memiringkan kepalanya tepat waktu dan menghindar. Pipinya tergores ringan, menghasilkan sepercik darah. Jika dia terlambat menghindar sedikit saja, kepala Kamito akan terlepas dari tubuhnya.


"...!"


Kamito sedikit kehilangan kesimbangan. Segera setelahnya—


"—Éclair Orage!"


Serangan pedang ganas yang seperti badai menyerang Kamito.


Kamito bergegas menggunakan kedua pedangnya untuk bertahan. Akan tetapi, dia gagal menepis semua serangan itu. Gerakan-gerakan pedang bewarna putih-perak yang membabi buta tanpa ampun menebas bahu Kamito.


"Gah...!"


‘—Kamito!’


Est berteriak.


"...Ohhhhhhhhh!"


Kamito menghela nafas panjang. Bukannya goyah, dia melangkah maju.


Karena terkejut, Lurie buru-buru mundur.


"—Maju dan tembuslah, Vorpal Blast!"


Dilepaskan dari bilah pedang iblis, petir hitam legam ditembakkan ke arah Lurie—


"—Hari penghakiman, lindungilah yang telah ditandai!"


Sebuah lingkaran sihir muncul didepan dia. Penghalang cahaya yang menetralisir petir iblis kegelapan.


Grand Alexandros—Sihir roh tingkat atas yang hanya orang-orang yang memiliki peringkat saint yang bisa menggunakannya.


"—Sayang sekali. Kekuatan roh kegelapan gak mempan padaku."


Memang, sihir roh suci yang dia digunakan sangat tidak menguntungkan bagi Restia, seorang roh kegelapan. Inilah tepatnya kenapa saat Blade Dance tiga tahun lalu, Ren Ashbell menghadapi pertarungan yang sangat sulit melawan paladin Luminaris.


(Dia kuat—)


Diantara semua lawan yang pernah Kamito lawan, Lurie gak diragukan lagi memang tingkat atas.


Jika pedang Greyworth seperti badai, maka pedang Lurie seperti angin kencang.


Pastinya, terakhir kali mereka bertarung di bawah tanah Akademi, dia cuma menguji Kamito.


"Kuat seperti yang mereka katakan, seperti yang diharapkan dari Penari Pedang terkuat."


Lurie mengatakan pujian.


"Hal yang sama juga untukmu. Miraculous Healer, yang benar saja."


Memegang bahunya, Kamito mengucapkan julukan Lurie saat dia masih bagian dari Number.


"Penyembuhan adalah profesiku. Ilmu pedang cuma sekedar hobi."


"Bohong. Kau lebih kuat daripada siapapun di Number."


Mengatakan itu, Kamito meludahkan darah ke kakinya.


"Yggdra Saint Asoritess, pemenang Blade Dance 15 tahun yang lalu."


"Ah, jadi kau tau—"


Mendengar dia, Lurie tersenyum masam.


"Meski penampilanku sepenuhnya berbeda dari saat itu."


Dia adalah penyembuh tingkat atas. Mengubah penampilannya akan sangat mudah.


"Kenapa kau bergabung dengan Kerajaan Suci meski kau adalah seorang pemenang Blade Dance?"


Memasang kuda-kuda dengan pedang ganda kegelapan dan baja di tangannya, Kamito bertanya.


"Aku akan mengatakannya padamu kalau kau bisa mengalahkan aku."


Demikian pula dengan Lurie, dia memasang kuda-kuda dengan pedang suci miliknya dimiringkan.


"Kita berdua sama-sama pemenang Blade Dance. Mari kita putuskan disini siapa yang layak menyandang nama Penari Pedang terkuat."


"....Sama-sama pemenang? Ayolah—"


Kamito tertawa tak kenal takut.


"Ada banyak pemenang Blade Dance, tapi akulah yang terkuat sepanjang waktu, gak ada orang lain lagi."


Mengatakan itu, Kamito melepas Garb of the Lord yang dia pakai.


"....? Apa yang kau lakukan—"


Gak bisa memahami tindakan Kamito, Lurie mengernyit.


Kamito menggerakkan lehernya memutar dan menekankan tanganya pada bahunya.


Nggak ada luka di tempat dimana pedang Lurie menebas.


Kemungkinan, Garb of the Lord telah melindungi dia. Nama artifak legendaris memang bukan pajangan belaka, propertinya bukanlah gurauan.


‘Kamito, apa yang kau lakukan!?’


Melihat Kamito melepas jubahnya, Restia menggerutu.


"....Tunggu, kamu pasti sudah menyadarinya."


‘.....’


Saat dihadapkan dengan argumennya, roh kegelapan itu tetap diam karena malu.


"Sepertinya aku harus meminta maaf pada Iris-san, tapi ini sangat jauh dari gayaku sendiri."


Faktanya, Kamito sudah merasakan sedikit perasaan disonansi saat dia pertama kali memakai jubah hitam itu—


Dia memastikannya saat dia mengeluarkan Absolute Blade Art—Purple Lightning.


Rupanya, kutukan yang ada dalam kain hitam itu akan mengganggu aliran divine power.


Meskipun sifat pertahanannya sangat luar biasa. Memakainya akan menumpulkan ketajaman Absolute Blade Arts yang membutuhkan pengendalian divine power secara tepat.


Pastinya, ini adalah sesuatu yang hanya bisa digunakan dengan efek penuh oleh Raja Iblis Solomon.


Kembali dalam penampilan seragam Akademi Roh Areishia yang akrab dengannya, Kamito melakukan beberapa ayunan pedang dengan gerakan yang santai.


"Sudah ku duga, pakaian ini yang dipersiapkan oleh nenek peot itu sangat sesuai denganku."


"Apa kau yakin? Ren Ashbell."


Melihat dia, Lurie berbicara.


"Berkat pakaian hitam itulah kau lolos dari luka kritis barusan, kan?"


"Kurasa begitu...."


Kamito mengakuinya dengan sederhana.


Sama seperti yang Lurie katakan, kalau tebasan yang sebelumnya mengenai dia secara langsung, bahunya akan terluka parah.


Akan tetapi—


"Jangan kuatir. Pedangmu nggak akan mengenai aku lagi."


"...! Lucu sekali—Ren Ashbell!"


Rasa haus darah Lurie memancar.

STnBD V17 BW10.png

Bagian 2[edit]

"Apaan sih yang kau lakukan!?"


"A-Apa aku punya pilihan? Kita akan dibakar sampai jadi arang kalau aku menolak."


"Memang sih..."


Sambil berjalan di jalan utama, Ellis dan Claire saling berbisik.


Mereka melirik ke belakang mereka—


Seorang roh dengan penampilan seorang cewek muda berjalan beberapa langkah dibelakang mereka, memperhatikan bangunan-bangunan dengan penasaran.


Karena suatu alasan yang gak diketahui, roh itu sepertinya menyukai Claire, bertanya tentang ini itu di sepanjang jalan dan bahkan bertanya tentang hal-hal yang ada di alam manusia.


(...Siapa sebenarnya cewek ini?)


Gak diragukan lagi dia adalah roh berperingkat tinggi, tapi jika begitu, kenapa dia bersama para ksatria Kerajaan Suci? Misalkan dia adalah roh yang digunakan untuk militer, nggak mungkin dia bisa bertindak begitu bebas dan seenaknya sendiri.


(Atau mungkin dia bukan bagian dari kelompok mereka?)


Apapun itu, situasi saat ini sangatlah tak terduga bagi para ksatria Kerajaan Suci juga.


Saat ini, para ksatria itu pastinya mengirim roh-roh untuk melacaknya. Meskipun Ellis mengirim roh-roh angin untuk mengganggu pelacakan, akan tetapi—pertarungan sudah pasti akan terjadi segera setelah mereka bertemu.


(Sebelum itu terjadi, kami harus bertemu dengan Kamito secepatnya...)


Sambil berjalan di jalanan bersama cewek itu dan membuat dia terus senang, mereka harus mencari Kamito tanpa ditemukan oleh para ksatria Kerajaan Suci. Ini merupakan misi yang cukup sulit.


"Gadis kucing neraka, bangunan apa itu? Aku merasakan kekuatan roh api sejenisku."


Dengan mata yang dipenuhi keingintahuan, cewek itu menunjuk sebuah bangunan yang memiliki sebuah cerobong asap.


"Itu adalah sebuah tempat pembuatan tembikar. Didalamnya, mereka menggunakan roh-roh api untuk membakar tembikarnya."


Sebagai seorang siswa terhormat yang berpengetahuan, Claire menjelaskan pada dia.


"Oh aku mengerti... Bumi memang bagus. Meskipun bumi keras kepala, kami bisa rukun."


Cewek itu mengangguk puas, bergumam sendiri.


"Tempat pembuatan tembikar yang besar juga punya roh air dan angin, serta para princess maiden untuk melayani mereka. Roh-roh air bertugas mengadoni tanah liat sedangkan roh-roh angin bertugas mengeringkannya."


"Air... Cewek itu susah dihadapi buatku..."


Menarik lengah Ellis, Claire berbisik pada telinganya.


"Hmm, dia sepertinya bukan roh yang jahat. Kita lanjutkan pengamatan."


"Aku setuju. Akan tetapi, kenapa cuma padamu saja dia bersikap begitu ramah? Apa kau tau sesuatu?"


"Seperti yang kubilang, aku cuma kebetulan mirip dengan princess maiden yang dulunya kontraktornya—"


"Apa kebetulan semacam itu bisa terjadi?"


"Siapa yang tau...."


"Apa yang kalian berdua bisikan?"


".....!"


Berbicara secara sembunyi-sembunyi, kedua cewek itu langsung terkejut.


"B-Bukan apa-apa!"


"C-Cuma membicarakan kemana melanjutkan tur kita selanjutnya."


"Hmmm, kalau begitu gak apa-apa—"


Mendengar jawaban Claire, cewek itu segera kembali bersuasana hati bagus—


"Terus tempat apa yang ingin kau tunjukkan padaku berikutnya?"


Dengan mata yang dipenuhi dengan rasa penasaran, dia menatap mereka.


Claire merenung sebentar—


"Sebelum aku menunjukkan jalannya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan."


"Permintaan diterima. Kau memperoleh ijinku. Tanyalah."


Selalu mempertahankan sikap angkuhnya, cewek itu mengangguk.


"Barusan di alun-alun, bukankah kau bersama dengan para ksatria Kerajaan Suci? Apa mereka temanmu?"


"Orang-orang itu, huh—"


Mendengar itu, cewek itu memainkan rambutnya karena bosan.


"Aku cuma meminjamkan sedikit kekuatan pada mereka karena mereka bilang mereka ingin meminta bantuanku. Mengenai apa yang mereka lakukan, aku gak tau."


(...Dengan kata lain, meskipun mereka bekerja sama, dia tidak diperintah?)


Claire merenung.


"Jadi mereka lah yang memintamu untuk menghancurkan kota?"


"Hmm. Lebih tepatnya, mereka meminta untuk membuat lubang di piramida itu."


"A-Aku mengerti...."


Pastinya, penghancuran dalam garis lurus di kota adalah sekedar membuat jalan pintas.


"A-Apa!? Aku nggak bisa mempercayainya kau menghancurkan kota karena alasan semacam itu!"


Seperti yang diduga, Ellis mulai marah.


"Kenapa kau begitu marah? Bukannya itu cuma sekedar bangunan saja?"


"...Apa!?"


"Ellis, tenanglah!"


Claire buru-buru menahan Ellis yang memiliki rasa keadilan yang tinggi—


Lalu dia menanyai cewek itu yang memiringkan kepalanya kebingungan.


"...Aku paham sekarang. Tapi tolong jangan bakar kota lagi."


Claire menatap mata cewek itu.


Sebagai tanggapan, cewek itu mengedipkan matanya, yang kebetulan berwarna sama dengan mata Claire—


"....Begitu mirip, seperti yang kuduga."


Cewek itu bergumam pelan.


"Baiklah. Aku membakarnya hanya karena itu menghalangi jalanku. Penghancuran yang tidak diperlukan bukanlah kesenanganku."


(...Hmm, dia bisa diajak bicara.)


Sebenarnya kuatir kalau dia mungkin marah, Claire menghela nafas lega.


...Berikutnya, mereka bertiga melanjutkan berjalan di jalanan, sampai di alun-alun lain.


Nggak ada satupun orang yang ada di alun-alun ini. Mungkin karena ledakan yang sebelumnya, semua orang telah melarikan diri.


"Sepertinya Kamito sempat berada di alun-alun ini—"


Mendengar bisikan dari angin, Ellis berbicara.


"Astaga, kemana sih perginya dia....!?"


Tak pernah terpikir oleh kedua cewek itu bahwa Kamito sudah berada didalam piramida.


Lalu, cewek roh itu mengendus udara.


"Ada aroma di udara. Gadis kucing neraka, apa itu?"


Dia menunjuk pada sebuah toko yang gak ada penjualnya.


"Itu adalah toko makanan. Sampai belum lama ini, tempat ini seharusnya merupakan sebuah pasar yang sangat ramai—"


"Tapi semua orang nampaknya sudah melarikan diri."


"A-Aku sudah bilang aku nggak akan melakukannya!"


Cewek itu berpaling karena malu.


"Ngomong-ngomong, apa itu sebuah persembahan?"


Disertai kibaran pakaian merahnya, dia berjalan dengan cepat mendekati toko itu.


"Oh tidak, jangan mengambil sesuatu tanpa ijin!"


"Mencuri itu dosa!"


Claire dan Ellis buru-buru mengejar dia.


Nampaknya itu adalah sebuah toko yang menjual makanan panggang.


Nggak seperti toko-toko yang penuh gaya di kota Akademi, toko itu nggak memiliki jendela kaca untuk pameran atau semacamnya disini.


Apa yang menarik minat cewek roh itu adalah makanan panggang yang mirip donat dengan taburan banyak gula diatas kue yang dipanggang.


"Gadis kucing neraka, aku mau yang satu itu."


"Mau sih tidak masalah, tapi kau harus membayarnya."


"Tidak. Bukankah itu sudah sewajarnya bahwa apapun yang aku mau harus dipersembahkan padaku?"


Dia mengatakan filosofi barbar sebagai tanggapan.


"Kalau tidak dipenuhi, aku mungkin harus membakar segalanya—"


"T-Tunggu, hentikan! Kenapa kau menyimpulkan seenaknya begitu!?"


Melihat sebuah bola api muncul di tangan cewek itu, Claire mau tak mau harus berteriak.


"Bukankah kau baru saja berjanji untuk tidak menghancurkan kota!?"


"Hmmm, betul juga...."


Secara tak terduga, cewek itu mengangguk patuh dan menghilangkan api itu.


"*sigh* aku merasa aku seperti cuma bisa menurut saja...."


Claire mendesah dan mengeluarkan beberapa perak yang dia tukarkan sebelumnya.


"Kita harus menaruh uangnya dengan benar. Maka itu nggak apa-apa, kan?"


"....Itu tetaplah kurang tepat, tapi aku akan mengabaikan yang satu ini."


Ellis yang tegas tampak menyetujuinya.


"..."


Memegang sebuah donat, cewek roh itu menatap donat itu.


"Ada apa, kau gak mau memakannya?"


"Bagaimana cara memakan ini?"


"Gigitlah, seperti ini—"


Claire membuka mulutnya dan menggigit sebuah donat. Para putri bangsawan biasanya memiliki peluang yang sangat sedikit menemui makanan seperti ini, tapi Rinslet sering membuat donat sebagai selingan.


Meskipun donat itu nggak baru keluar dari pemanggang, rasanya manis, empuk dengan permukaan yang renyah. Sangat lezat.


"Hmm..."


Menirukan Claire, cewek itu mulai menggigit.


"Aku mengerti. Ini enak. Layak dipuji."


Dengan mulutnya penuh dengan donat, dia tampak sama menggemaskannya dengan seekor peliharaan kecil.


Mungkin karena dia dalam suasana hati yang bagus, di ujung dari tanduknya yang melengkung ada api kecil yang menyala.


(....Kalau aku punya adik, akankah dia seperti ini?)


Claire tiba-tiba teringat sesuatu.


"Hei...."


"Ada apa, gadis kucing neraka?"


"....Aku tanya lagi, siapa namamu?"


"Claire, umm—"


Ellis memasang wajah panik.


Menanyakan nama pada seorang roh tingkat tinggi akan dianggap sebagai perilaku kasar.


Faktanya, cewek itu tampak cukup marah saat Claire menanyakan nama aslinya sebelumnya.


Akan tetapi—


"Gimanapun juga, susah untuk memanggil dia tanpa sebuah nama."


Claire berargumen balik.


"Nggak harus nama sejati, sebuah nama panggilan seperti Scatlet juga nggak apa-apa."


"Hmm, sebuah nama panggilan, huh? Kalau begitu—"


Cewek roh itu mengangguk.


"Panggil aku Penguasa."


"...Huh?"


"Hmm, ada apa dengan teaksimu?"


"Uh, sepertinya kau salah tangkap—"


Tepat saat Claire mau mengeluh...


"—Lord Volcanicus!"


Sebuah suara keras menggema di seluruh alun-alun.


"......!?"


Claire berbalik—


Dan melihat sekelompok ksatria dengan pedang terhunus, mengepung alun-alun itu.


Suara itu milik Luminaris dari Sacred Spirit Knight.


"....! Kita ketahuan—!?"


Ellis segera mengeluarkan elemental waffe miliknya—Ray Hawk.


Ayla Cedar adalah seorang pasukan khusus di Scared Spirit Knight. Dia terspesialisasi dalam pengintaian dan pelacakan. Sepertinya, roh bayangan miliknya, Shade Wolf, telah mengikuti mereka.


Mata Luminaris terbelalak kaget.


"Claire Rouge dari Ordesia. Kenapa kau ada disini!?"


"....! Claire, apa yang harus kita—"


Ellis menggigit bibirnya dan menanyai Claire yang ada di belakangnya.


....Tapi Claire tidak menjawab.


"Claire?"


Ellis menoleh ke belakang—


"....Apa kau bilang Volcanicus?"


Dengan wajah pucat pasi, Claire menatap cewek roh itu.

Bagian 3[edit]

"—Hiver Défense!"


Tikaman Lurie Lizaldia meninggalkan jejak lintasan seperti petir. Ini adalah sebuah teknik pedang yang dilakukan dengan penguasaan pengurangan medan yang sangat tinggi. Kecepatannya setara dengan kecepatan Purple Lightning.


Dihadapkan dengan sebuah serangan semacam itu—


"Jangan pikir kau masih melawan aku yang barusan—"


"!?"


Saat dia petarung itu berpapasan, Kamito menggunakan pedang iblis miliknya untuk menyerang balik teknik milik Lurie.


Perhitungan waktu yang sempurna untuk memperhitungkan kecepatan pedang musuhnya dan bahkan sudut dari pedang musuh, Kamito melakukan sebuah serangan balik sempurna.


Tikaman Lurie di desain untuk melakukan serangan lanjutan setiap saat meski serangan pertama gagal.


Tapi Kamito dengan mudah menggagalkan niat itu.


Lurie terhempas ke samping, terlempar sambil terseret di tanah.


Divine power yang terang meninggalkan jejak afterimage dalam kegelapan. Lalu, dia mulai berputar dan menghentak tanah, mengayunkan pedangnya seperti sebuah cambuk.


Akan tetapi, Kamito sudah membaca serangannya terlebih dahulu. Secara paksa melakukan serangan saat keseimbangan rusak akan menyebabkan pembukaan yang kritis—Kamito mengangkat Demon Slayer dengan lihai.


Dengan suara keras dari benturan logam, tangan Lurie dipantulkan keatas.


Kamito segera mengayunkan pedang iblis kegelapan, menyerang dia dengan kuat.


"Gah...!"


Menyaksikan pergerakan tarian pedang miliknya yang nyaris tampak seperti pertunjukan yang spektakuler, Lurie gemetar dalam teror.


Pergerakan seluruh tubuh Kamito sepenuhnya berbeda dari dia yang barusan.


Apa perubahan sebesar itu bisa dilakukan cuma dengan melepaskan pakaian hitam miliknya?


"....Aku paham. Sepertinya kau gak cuma membual saja."


Mungkin menyadari dia akan kewalahan dalam pertarungan jarak dekat, Lurie menghentak lantai dan mundur.


Lalu membuat sebuah tanda tangan, dia dengan cepat merapal sihir roh.


Zap zap—tujuh bola cahaya disertai petir muncul, mengarah pada Kamito.


Ini adalah Lightning Ball—sihir roh tingkat tinggi yang menembakkan bola berelemen petir suci.


Hanya ada segelintir elementalis di Kerajaan Suci yang mampu merapalkan mantra tujuh kali secara bersamaan.


"Bisakah kau menghindari semuanya, Ren Ashbel!?"


"Aku gak perlu menghindar!"


Kamito menarik nafas dan berputar, mengayunkan Demon Slayer.


Bersinar dengan cahaya putih-perak, pedang itu menyapu bola-bola petir yang mengelilingi Kamito sekaligus.


"Kau menghapusnya cuma dengan aura pedang!?"


Wajah Lurie dipenuhi keterkejutan.


Secara menakjubkan, hanya menyentuh divine power yang menyelimuti bukan pedang suci sudah cukup untuk menghapus sihir roh tingkat tinggi.


"Maaf, trik murahan gak akan mempan terhadapku—"


Kamito meledakkan divine power dibawah kakinya terhadap tanah, menutup jarak dalam satu gerakan.


Sebelum dampaknya sampai, tebasan dari pedangnya datang terlebih dulu.


"Absolute Blade Arts, bentuk perantaraIntroductory Form—Bursting Cherry Blossom Flurry!"


Suatu serangan pedang disertasi afterimage yang tak terhitung jumlahnya.


Ini adalah sebuah teknik turunan dari Bentuk Penghancur, bentuk kesembilan dari Absolute Blade Arts.


Sebuah teknik pedang anti-personil yang merupakan kunci untuk menguasai teknik ultimate, Bursting Blossom Spiral Blade Dance.


Sebuah tarian tebasan yang membabi buta dari cahaya dan kegelapan.


Serangan beruntun tak terhitung jumlahnya yanb dilakukan oleh kedua pedang itu mengungguli pertahanan Lurie dengan kuantitasnya.


Kecepatan dan ketepatan dari pedang miliknya berada pada tingkatan yang sepenuhnya berbeda dari yang sebelumnya.


Tak lama setelah itu, pertahanan Lurie dipaksa terbuka dan dia melakukan gerakan yang salah.


"—Sudah lama aku menantikan ini, Lurie."


Melihat itu, Kamito berkata.


"—Inilah Ren Ashbell, sang Penari Pedang Terkuat."


"...!?"


Menggunakan Demon Slayer, Kamito menghantam serangan kuat pada pedang suci milik Lurie yang terangkat.


Dengan percikan api yang berhamburan, tubuh mungilnya terlempar karena dampaknya.


"...Uhuk... Huff—"


"..."


Menatap dia yang tersungkur di lantai, Kamito mengacungkan pedang suci miliknya pada dia.


"Seseorang setingkat kau seharusnya bisa paham. Kau nggak bisa mengalahkan aku."


"Ini belum, berakhir... Ren Ashbell...!"


"...!?"


Lurie berdiri, menikamkan pedang suci miliknya pada lantai.


Seluruh tubuhnya diselimuti cahaya suci lalu luka-lukanya perlahan mulai sembuh.


Dia tersenyum sinis.


(..Jadi begitu—)


Kamito menyadari apa yang mendukung kekuatan yang besar milik Lurie.


Siapapun itu—


Meskipun ahli bela diri yang terkenal pun akan rentan pada rasa takut naluriah dalam alam bawah sadar mereka.


Akan tetapi, Lurie tidak takut cidera.


Bakatnya sebagai seorang penyembuh ajaib adalah bawaan lahir dan akan secara otomatis menyembuhkan luka tubuhnya tanpa perlu niat yang disengaja.


Oleh karena itu, rasa takut naluriahnya terhadap cidera sudah melemah.


Memanhg, ini bisa dianggap suatu kekuatan juga.


(Akan tetapi, itu—)


Suatu kekuatan yang sangat rumit. Ini juga merupakan suatu kekuatan yang hanya bisa didapatkan oleh maso sejati seseorang dengan melalui pengalaman-pengalaman yang menyakitkan.


Lurie menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat pedang suci miliknya yang bersinar.


"Majulah, ayo lanjutkan tarian pedang kita, Ren Ashbell—"


"..."


Kamito menyiapkan pedang gandanya lagi.


‘—Kamito, aku paham, kan?’


"Ya."


Mendengar suara Restia, Kamito mengangguk ringan.


Meskipun dia yang memiliki keuntungan disepanjang waktu ini—


....Ini gak bisa dipertahankan. Pertarungan tidak boleh berlangsung lama.


Secara berturut-turut menggunakan Absolute Blade Arts akan mengkonsumsi divine power, menyebabkan cadangan divine power milik Kamito sendiri terkuras.


(Ini akan buruk kecuali aku menyelesaikan semuanya secepat mungkin.)

Bagian 4[edit]

"...Apa kau bilang Volcanicus?"


Claire begitu terkejut hingga seluruh tubuhnya membeku.


Mungkin nggak ada seorangpun di benua yang gak tau nama ini.


Elemental Lord Api Volcanicus, memerintah atas roh-roh api, salah satu dari lima Elemental Lord.


(Jangan bilang... cewek ini adalah...?)


Pikirannya kacau, Claire tiba-tiba teringat sesuatu.


(Kalau dipikir-pikir lagi, Nee-sama sebelumnya mengatakan—)


Dia ingat itu adalah saat mereka pergi untuk menyelamatkan Fianna yang dipenjara—


Di atas kapal terbang, kakaknya telah menyebutkannya.


Di kuil Elemental Lord, mereka tekagr membebaskan Elemental Lord Api dari perusakan Kegelapan Dunia Lain.


Disaat itu, Elemental Lord Api lenyap dan dipindahkan ke suatu tempat—


Bukankah itu ibukota suci Alexandria?


(Betul, nggak salah lagi....)


Claire menggigit bibir keras-keras.


Cewek ini adalah perwujudan dari Elemental Lord Api.


Dia sama dengan perwujudan Iseria Seaward yang dipindahkan ke Astral Zero.


Jika begitu, ini wajar saja bagi dia memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan sebuah kota dalam sekejap.


(Cewek ini adalah Elemental Lord Api... yang menghancurkan kampung halamanku....!)


"Lord Volcanicus, tolong menjauhlah dari orang-orang itu!"


Di pintu masuk alun-alun, Luminaris berteriak.


Akan tetapi, cewek roh itu melotot pada dia.


"Apa-apaan kalian ini? Aku sekarang sedang bersenang-senang dengan mereka."


Rambut merah cewek itu berdiri tegak, melambai seperti api.


Aura kemarahan yang mencengangkan itu membuat para Sacred Spirit Knight membeku.


Hanya Luminaris yang mampu berdiri tegak.


"O Penguasa, harap maafkan kami. Kami hanya memenuhi tanggungjawab kami sebagai bodyguard anda."


"Oh? Memangnya kau siapa sampai-sampai mengkhawatirkan keselamatanku?"


".....!?"


Dihadapkan dengan amarah Elemental Lord Api yang membara, Luminaris menjadi pucat pasi.


Satu-satunya alasan kenapa Elemental Lord Api tidak mengubah para ksatria itu menjadi arang adalah karena dia telah berjanji pada Claire barusan.


"Aku gak perlu bodyguard. Aku akan tetap bersama orang-orang ini."


Mengatakan itu, dia menoleh pada Claire.


Sekarang, dia menyadarinya untuk pertama kalinya.


Tatapan Claire pada dia telah sepenuhnya berubah.


"Sungguh, ah...."


"...ada apa?"


"Kau benar-benar Elemental Lord Api..."


Twintail milik Claire berdiri tegak layaknya kobaran api.


Seolah melihat musuh bebuyutan, Claire melotot pada cewek itu.


"Kenapa, gadis kucing neraka?"


"Kau, semuanya karena kau, Nee-sama dan orangtuaku...!"


Air mata mengalir dari mata jernihnya yang seperti rubi.


Hujan api. Kota-kota yang terbakar. Teriakan penderitaan yang tiada henti. Orang-orang yang berlari ke kastil.


Dengan kutukan-kutukan dari orang-orang di latar belakangnya, pada hari itu dia di buang dari kastil bersama dengan orangtuanya


"....Apa yang kau bicarakan?"


Cewek roh itu menampilkan penampilan bingung, berdiri diam membeku.


Kemungkinan besar menyimpulkan ini adalah peluang terbaik untuk mendapatkan dia kembali—


"Harap tinggalkan mereka, Penguasa."


Luminaris menghunus pedangnya dan menyerbu dengan cepat. Dia berniat untuk memanfaatkan peluang ini untuk menjatuhkan Claire.


"—Jangan harap kau akan berhasil!"


Memegang Ray Hawk, Ellis memblokir dia.


"Menyingkirlah, lalat kecil!"


Luminaris mengayunkan pedang suci miliknya, Murgleis.


Dihadapkan dengan pedang itu yang bersinar dengan cahaya suci—


"...!"


Ellis memblokir menggunakan gagang dari tombak sihir miliknya.


"Apa?"


Luminaris membelalakkan mata birunya karena terkejut.


Dia tak pernah menduga serangan tak kenal ampun miliknya diblokir.


"Apa cuma itu yang bisa kau lakukan, Dame Luminaris?"


"...Gah!?"


Angin berkumpul di ujung tombak Ray Hawk, menghasilkan gemuruh yang menggelegar.


"Rasakan ini....!"


Melemparkan udara yang terkompres, Ellis menghempaskan pedang suci itu.


Tak menduga sebuah serangan balik dari orang yang dia anggap lalat kecil, Luminaris kehilangan keseimbangan.


Ellis nggak melewatkan kesempatan ini. Dengan segera, dia memutar tombak sihir miliknya dan menyerang dengan kecepatan kilat.


Terselimuti dalam angin sihir, ujung tombak itu menembus gauntlet mitril milik paladin itu, menghancurkannya.


"Sialan kau!"


Luminaris jatuh dalam keadaan kebingungan.


Ellis Fahrengart.


Putri kedua dari Duke Fahrengart, berasal dari sebuah keluarga bangsawan Ordesia yang ternama dengan generasi-generasi tradisi militer.


Sejauh itulah yang diketahui Luminaris tentang Ellis.


Saat memasuki Blade Dance, Luminaris memfokuskan hampir semua perhatiannya pada kakak angkat Ellis, Velsaria Eva, sepenuhnya nggak peduli pada adiknya.


"Dame Luminaris, aku dulu mengagumi, karena bertarung di Blade Dance melawan Ren Ashbell—"


Memutar tombak sihir angin di satu tangan dengan lihai, Ellis berbicara.


"—Tapi itu dulu, aku yang sekarang lebih kuat daripada kau."


Dia melangkah maju, menutup jarak.


Tusukan berkecepatan dewa yang diselimuti badai, ditepis oleh Luminaris menggunakan pedang suci itu.


"Jangan terlalu sombong, ksatria siswa!"


"Aku kembalikan kata-kata itu padamu. Jangan meremehkan Sylphid Knight!"


Elemental waffe mereka berhantaman lagi dengan ganas.


Sebuah badai yang seperti angin puyuh mengelilingi bilah yang bersilangan.


Saat tarian pedang mereka semakin sengit—


Claire dan Elemental Lord Api terus saling menatap dalam diam.


"Gadis kucing neraka—"


Volcanicus yang pertama memecah keheningan.


"Apa kau membenciku?"


"...Uh—"


Claire tak bisa berkata apa-apa.


Dia bahkan nggak yakin dengan perasaannya sendiri.


(....Apa cewek ini betul-betul Elemental Lord Api yang menghancurkan kampung halamanku?)


Tidak, tunggu, cewek ini nggak diragukan lagi adalah perwujudan dari Elemental Lord, tapi—


Claire teringat perwujudan Elemental Lord Air yang dia temui di Ragna Ys.


(Dia kehilangan hampir semua ingatannya sebagai seorang Elemental Lord....)


Jika demikian, Elemental Lord ini mungkin telah kehilangan ingatannya juga.


Dengan kata lain, dia mungkin tidak ingat apa yang dia lakukan di masa lalu.


"....Bisakah aku menanyakan sebuah pertanyaan?"


Kata Claire.


"Apa kau masih ingat nama princess maiden yang sangat mirip denganku?"


"......."


Elemental Lord itu menggeleng pelan.


"Aku tidak ingat namanya, tapi—"


Dia menjawab dengan kesedihan yang terlihat jelas.


"Dia adalah temanku yang berharga. Inilah satu-satunya hal yang bisa kuingat dengan jelas."


"...Aku mengerti. Kalau begitu—"


Mendengar itu—


Claire menguatkan tekad dalam hatinya.


Cewek ini adalah musuh yang menghancurkan Elstein. Akan tetapi—


"Volcanicus, aku ingin membawamu menemui seseorang."


"....apa?"


"Buatlah keputusan sekarang. Akankahbkau kembali pada orang-orang Kerajaan Suci itu atau ikut bersama kami?"


"...!"


Elemental Lord itu menatap mata Claire yang seperti rubi. Mungkin melalui Claire, dia melihat sosok teman tercintanya yang sangat mirip dengan Claire.


Setelah beberapa saat keheningan—


"....Itu tidak mungkin."


Dia menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku terikat sebuah perjanjian dengan orang-orang itu. Aku tidak bisa melanggarnya."


"Tidak mungkin....!"


Dengan senyum lemah, Elemental Lord Api mengibaskan pakaiannya.


"Meski sebentar, aku sangat menikmati kesempatan ini, gadis kucing neraka."


Dikelilingi oleh kobaran api yang ganas, cewek itu perlahan-lahan menghilang.


Claire cuma bisa bilang "ah" tapi tak bisa mengejar dia.


"...A-Apa-apaan ini!"


Tak mampu menekan emosi yang tak bisa dia sebutkan apakah itu kemarahan atau sesuatu yang lain, Claire terus menghentak-hentak tanah.


Lalu—


"Claire—"


Memegang tombak sihir, Ellis mendarat pelan di samping dia.


"Dia kembali ke Astral Zero, kan?"


"Ya, kemungkinan besar begitu...."


Mengangguk, Claire meluruskan postur berdirinya.


Dia melihat sekeliling, dan mendapati mereka berdua dikepung oleh 10 anggota Sacred Spirit Knight.


....Mempertimbangkan semua hal, peluang menangnya tipis kalau mereka harus melawan ksatria sebanyak ini secara bersamaan.


"Terobos pengepungan dan kabur."


"...Ya."


Mengatakan itu, Ellis mengacungkan Ray Hawk sedangkan Claire mengeluarkan Flametongue.


Kedua cewek itu berlari secara bersamaan.

Bagian 5[edit]

Di panggung dimana Raja Iblis dan Sacred Maiden berduel, terdengar suara benturan pedang yang tiada hentinya.


Secara kebetulan, salah satu pertarungnya adalah seorang princess maiden yang orang-orang sebut sacred maiden ajaib—


Sedangkan yang satunya adalah penerus Raja Iblis, memegang Demon Slayer.


Tarian pedang dilakukan di seluruh aula besar ini tampak seperti perulangan dari era legenda masa lalu.


"Hari ini, langit biru meratap, bumi berguncang marah—"


Jubah putih polos berkibar. Lurie Lizaldia merapal sihir roh.


Pedang cahaya suci yang tak terhitung terbang, memotong barisan pilar batu yang ada di jalurnya.


Akan tetapi, Kamito sudah menghilang dari lantai.


Melompat dengan bebas diantara pilar-pilar batu yang runtuh, dia mengarah pada Lurie untuk menyerang.


Ini adalah pergerakan tiga dimensi tingkat tinggi—tenik pembunuhan dari Sekolah Instruksional.


Bagi seseorang yang setingkat Kamito, dinding dan lantai tidak ada bedanya bagi dia.


"—Maju dan tembuslah, Vorpal Blast!"


Dilepaskan dari suatu sudut mati, petir hitam legam diikuti lintasan yang tak bisa diprediksi menyerang Lurie.


Sebagai tanggapan, Lurie merapal sihir pertahanan untuk menetralisir petir iblis itu.


"Kekuatan roh kegelapan nggak berguna terhadapku."


"Tentu saja aku tau itu!"


Craaash!


Karena jatuhnya pilar-pilar batu, terjadi awan debu yang tebal.


Dalam lingkungan yang mengganggu pandangan mereka sepenuhnya, bilah putih-perak berkilauan.


Demon Slayer dan pedang suci tanpa nama milik Lurie saling bertebasan, menghasilkan percikan api berulang kali.


"...!"


"Ini bukanlah ilmu pedang seorang ksatria, Ren Ashbell. Apa kau cemas?"


"Kita sedang duel sekarang, bukan melakukan sebuah tarian pedang untuk penonton."


Bersilangan pedang dalam jarak dekat, Kamito berteriak.


Kecepatan, kekuatan, penilaian, pengalaman, divine power, tingkatan roh terkontrak—


Dalam semua aspek ini, Kamito lebih unggul dari Lurie.


Akan tetapi—


(Tapi akulah yang terpojok, huh?)


Dia mengerang.


Jubah Lurie bersinar pendar.


Luka-lukanya akan selalu sembuh dalam sekejap. Kekuatan aneh bawaan lahir itu—sebuah kekuatan yang bisa seseorang sebut sebuah kutukan—terus melindungi dia secara otomatis.


Itu akan selalu seperti itu meski dia sendiri tidak menginginkannya, kan?


Mengalahkan sacred maiden ajaib dibutuhkan melakukan serangan fatal pada dia dalam satu serangan.


Akan tetapi, Kamito nggak mau membunuh Lurie. Gimanapun juga, ada hal-hal yang ingin dia tanyakan.


...Tidak, itu bukanlah alasan yang sebenarnya.


(Aku bukan lagi seorang pembunuh dari Sekolah Instruksional.)


Restia dan teman-teman yang dia temui di Akademi telah memberi dia hati seorang manusia.


Oleh karena itu, dia nggak akan pernah menggunakan kekuatan para roh untuk merenggut nyawa orang lain.


Lalu, satu-satunya cara untuk mengalahkan regenerasi tanpa akhir milik Lurie adalah menunggu sampai dia kehabisan divine power.


Akan tetapi, Kamito nggak bisa melakukan itu juga.


Dia memiliki batas waktu yang merepotkan.


Kalau dia terus mengerahkan divine power seperti ini—


Kekuatan Elemental Lord Kegelapan akan melahap dia.


Tidak, kekuatan kegelapan sudah mulai menggerogoti kesadaran Kamito.


Waktunya sudah habis.


Dia harus memutuskan.


"—Pedangmu melambat, Ren Ashbell!"


Pedang suci milik Lurie melintas.


Bukannya menggunakan ilmu pedang ksatria ortodoks, dia menggunakan teknik modifikasi dari tarian para princess maiden.


Dia sudah terlatih dalam tarian pedang, awalnya dimaksudkan untuk melakukan persembahan pada para roh, dan mencapai penguasaan yang sangat tinggi.


"—Senang sekali."


"Apa kau menyindir?"


Sambil memblokir serangan-serangan pedang, Kamito berbicara.


"Aku merasa sangat gembira karena bertarung dengan Penari Pedang Terkuat."


"—Sungguh?"


Kamito merasakan sengatan yang tahan dalam hatinya, seolah ditusuk oleh duri kecil.


Apa yang akan dilakukan Kamito—


Dalam arti tertentu, itu mungkin lebih kejam daripada merenggut nyawa Lurie.


Kalau dia menggunakan teknik dari Absolute Blade Arts ini, Lurie tak akan pernah bisa menari pedang lagi.


Ini adalah sebuah Absolute Blade Arts tabu yang dilarang oleh Greyworth untuk Kamito gunakan.


Setelah menggunakannya sekali, dia telah bersumpah untuk tidak pernah menggunakannya lagi.


Kamito menghentak tanah, melompat mundur.


Lurie berhenti di tempat bukannya mengejar dia.


Mereka berdua sama-sama mundur.


"Apa kau kehabisan pilihan, Ren Ashbell?"


"Tidak."


Mengatakan itu, Kamito menusukkan Vorpal Sword ke tanah.


‘....Kamito?’


Restia bereaksi dengan suara terkejut.


"—Maaf, Restia. Teknik Absolute Blade Arts ini nggak bisa digunakan dengan dua pedang."


Dan juga, elemen kegelapan gak mempan pada Lurie.


Restia tampaknya menyadari apa yang akan dilakukan Kamito dan segera terdiam.


Kamito memegang Demon Slayer dengan dua tangan.


"Kau mau apa?"


"Aku gak akan bilang 'jangan benci aku'. Persiapkan dirimu."


Dia mengkonsentrasikan peredaan divine power dari seluruh tubuhnya ke bilah pedang.


—Dia nggak menggunakan teknik ini selama tiga tahun.


Tapi tubuhnya masih mengingat Absolute Blade Arts ini.


Ironisnya, itu karena dia paling was-was pada teknik yang satu ini.


Mungkin merasakan tekanan tenang dari Kamito...


Lurie menuangkan divine power kedalam pedang suci tanpa nama miliknya.


Lalu—


Mereka berdua bergerak.


Keduanya melangkah maju disaat yang bersamaan dan berlari.


"—Hiver Défense!"


Lurie menggunakan sebuah teknik yang mirip dengan Purple Lightning.


Sebuah tikaman sembrono yang dilakukan oleh orang yang tidak takut cidera.


"Ohhhhhhhhhhhhhh!"


Adapun untuk Kamito—


Dia menerima serangan itu dengan tangan kirinya.


Bilah pedang itu masuk kedalam dagingnya disertai rasa sakit yang teramat sangat, tapi Kamito menahannya dan—


Mengincar jantung dimana semua saluran peredaran berkumpul, dia menikamkan pedang suci miliknya tepat disana.


"Cough—Huff—"


Bukannya baja, Demon Slayer itu merupakan sebuah pedang cahaya murni.


Sampai saat ini, segalanya terjadi sama seperti saat dia menikam jantung Velsaria—


Saat itu, Kamito menghapus segel persenjataan terkutuk.


"Teknik Pedang absolut, Bentuk Hampa—Penghancur JiwaAbsolute Blade Arts, Void Form—Soul Extinction!"


Disaat Kamito berteriak, divine power yang dilepaskan mengamuk didalam tubuh Lurie.

Bagian 6[edit]

"Sepertinya ini adalah akhirnya."


Memegang pedang suci miliknya, Lurie Lizaldia tumbang di tempat.


Dia nampaknya mengerti apa yang terjadi pada dirinya.


Cahaya pendar yang menyelimutinya menghilang. Kemungkinan besar kekuatan ajaib nggak akan lagi menyembuhkan dia.


Tertikam oleh Demon Slayer, dadanya tidak menunjukkan goresan ataupun luka.


Akan tetapi, sesuatu yang terpenting bagi para elementalis telah dihancurkan oleh Kamito.


Absolute Blade Arts, Void Form—Soul Extinction.


Absolute Blade Art yang dilarang oleh gurunya.


Dia telah menghancurkan sistem peredaran dalam tubuh manusia untuk mengendalikan divine power.


Lurie tak lagi bisa merapal sihir roh ataupun membentuk kontrak dengan roh.


Kekuatan ajaib untuk menyembuhkan orang lain. Kekuatan ini, yang mana telah menyelamatkan banyak sekali orang dimasa lalu, telah hancur di tangan Kamito.


Kamito tidak menyesalinya. Gimanapun juga, kemungkinan mustahil mengalahkan dia dengan cara lain.


Tepatnya karena Lurie kuat, Kamito harus menggunakan teknik terlarang dari Absolute Blade Arts.


Kamito menatap Lurie yang terkapar di lantai.


Lalu—


"Kau berjanji bilang padaku kalau aku menang, kan? Bisakah kau memberitahuku kenapa kau melayani Kerajaan Suci padahal kau sudah merupakan salah satu dari Number Kekaisaran?"


"....Kurasa aku memang sudah berjanji. *sigh* mau gimana lagi."


Lurie bergumam sendiri.


"Aku lahir dengan kekuatan untuk menyembuhkan. Aku berpikir bahwa menggunakan kekuatan ini untuk menyelamatkan orang adalah misi yang dipercayakan padaku, jadi aku menyembuhkan banyak orang cidera di medan perang."


Akan tetapi—Dia tersenyum lemah.


"Kepercayaanku salah. Untuk setiap nyawa yang kuselamatkan, dua kali lipat dari itu akan hilang saat orang-orang yang kuselamatkan kembali ke medan perang. Ke-absurd-an semacam itu berulang lagi dan lagi."


Lurie bercerita dengan suara tenang, yang mana membuat keputusasaannya semakin nampak.


"Oleh karena itu, karena itulah aku ingin berubah. Untuk mengubah dunia yang tak masuk akal ini dan—"


"Lalu kau ikut Blade Dance untuk—"


"Ya, berharap untuk mengubah dunia, aku menempatkan semua harapanku pada keinginan yang diberikan oleh para Elemental Lord—"


Lurie menatap keatas, pikirannya mengambang seolah mengenang lima belas tahun yang lalu.


"Uh, keinginanmu...."


Di pertengahan kalimat, Kamito berhenti.


....Itu sudah sangat jelas kalau dia berpikir tentang keadaan saat ini di benua.


"Ya, itu mustahil. Bahkan keajaiban dari para Elemental Lord tak bisa mengabulkan harapanku—"


"......"


"....Tapi pada saat itu, dalam kekecewaanku, aku mendengar suara tuanku di pikiranku."


"Tuanmu?"


Kamito mengulangi kata-katanya. Lurie melanjutkan.


"Tiga tahun yang lalu, saat kau menang, bukankah ada sebuah singgasana yang kosong?"


Kamito terkesiap.


Lord of Light—Holy Lord Alexandros.


Apakah Lurie yang membebaskan Holy Lord?


"Apa tujuan Holy Lord? Apa niatnya dalam secara rahasia mengendalikan Kerajaan Suci dari balik layar?"


Suara Kamito menjadi kasar saat dia menanyai Lurie.


Lurie tertawa pelan, mungkin karena dia menikmati melihat Kamito kehilangan ketenangannya.


"Tuanku berniat membangun kembali dunia dari nol, untuk mengembalikan segalanya pada keadaan yang tepat. Untuk mengubah dunia ini, yang mana telah melenceng ke jalan yang salah karena kesalahan Elemental Lord Kegelapan—"


"...! Apa maksudmu—"


"Pada akhirnya kau akan mengerti, Ren Ashbell. Di kuil Elemental Lord, kau melihatnya juga, kan?"


Kamito dalam diam menelan ludah.


Di kuil Elemental Lord, dilahap oleh Kegelapan Dunia Lain—


Kamito melihat pemandangan itu.


—Suatu pasukan yang terdiri dari para malaikat dalam jumlah yang tak terhitung berdiri ditengah kegelapan yang tak berujung.


"Cepat atau lambat, itu akan ada disini."


Lurie Lizaldia berbicara dengan suara sadistik.


"....Apa kau bilang!?"


Kamito tak bisa berkata apa-apa.


....Apa maksudnya dia?


"Yang bisa kita lakukan cuma bersiap ketika waktunya tiba. Untuk tujuan ini, Peti Mati yang tersembunyi didalam Makam ini sangatlah penting—"


Lurie menggeleng pelan lalu bangkit berdiri.


"...! Lurie, kau...?"


Kamito mengernyit.


Dia yang sekarang ini, dia seharusnya gak bisa melakukan apapun, tapi—


‘Kamito, aku punya firasat buruk tentang ini—’


Suara Restia memperingatkan didalam pikirannya.


Lalu, Kamito menyadari.


Ada cahaya mengerikan dari jantung Lurie saat dia berdiri seperti hantu!


(Itu.....!)


Bersinar di dadanya adalah sebuah kristal roh seukuran kepalan tangan.


Dan juga itu adalah Bloodstone berwarna merah darah—


"...Sebuah Bloodstone!"


Kamito mengerang secara spontan.


Ini adalah sebuah kristal roh dengan kemurnian tertinggi yang hanya bisa diambil dari Astral Zero.


Sebelumnya, Kamito melihat Jio Inzagi menggunakan kristal itu untuk memerintah para roh.


Dibandingkan dengan kristal roh normal, Bloodstone mampu menyegel roh-roh yang jauh lebih kuat.


"Apa kau pernah mendengar senjata bernama ledakan roh?"


Mengatakan itu, Lurie Lizaldia tersenyum jahat.


"...!?"


Ledakan roh adalah sebuah senjata dari era Perang Ranbal yang ditunjuk disegel dengan perjanjian internasional.


Itu mampu menyegel ratusan roh secara bersamaan, mengkompres mereka lalu merangsang mereka untuk bereaksi satu sama lain untuk menghasilkan suatu ledakan besar.


Daya ledaknya cukup untuk menghancurkan sebuah kota kecil dengan mudah.


Itu adalah sebuah hasil dari kegilaan yang diciptakan selama masa peperangan.


"Piramida ini digunakan untuk melindungi segel Peti Mati itu. Oleh karena itu, yang perlu kulakukan adalah menghancurkan piramida itu sendiri."


"...! Kau merencanakan ini sejak awal—"


".....Ini hanyalah upaya terakhir."


Lurie tersenyum.


"....Aku merasa sangat terhormat karena melakukan tarian pedang dengan Penari Pedang Terkuat. Ini adalah perasaan sejatiku."


Mengatakan itu, dia menusuk jantungnya sendiri dengan pedang suci miliknya.


Lalu, cahaya merah meledak.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya