Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid17 Bab 5

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 5 - Kota Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Sebuah kota tiba-tiba muncul dari balik badai pasir.


Saat Kamito dan para cewek sampai di gerbang kota, fajar sudah hampir menyingsing.


"Kamito... Apa kita berhalusinasi? Ataukah ini adalah sebuah fatamorgana?"


"Itulah yang kupikirkan—"


Kamito bergumam. Pemandangan didepan dia sangatlah mencengangkan, membuat dia diam terpaku.


...Bahkan dengan semua ini berada tepat didepan matanya, itu tetaplah sulit dipercaya.


Dikelilingi oleh dinding kota yang kokoh, tempat ini bukanlah semacam reruntuhan kuno—


Sebaliknya, itu adalah sebuah kota metropolitan yang sangat sibuk, dipenuhi dengan kerumunan orang yang riuh dan ramai.


"....N-Nggak mungkin, gimana bisa kota semacam ini ada di tengah-tengah gurun?"


Claire terus berkedip-kedip dan bahkan dia mencekik leher Kamito.


"....Hentikan, sakit tau."


Meskipun mereka semua punya banyak pertanyaan dalam benak mereka—


Kamito dan rekan-rekannya tetap melangkah masuk melewati gerbang.


Jalan utamanya terbentang dari gerbang kota yang mana dipenuhi warga yang tak terhitung jumlahnya dan toko-toko yang berbaris di sisi kiri-kanannya. Kereta-kereta kuda yang penuh muatan mondar-mandir di plaza.


Orang-orang di jalanan mengenakan pakaian yang mirip dengan pakaian dari Teokrasi, tapi ada sedikit perbedaan dalam desain aksesorisnya dan cara mereka memakai sorban dibandingkan dengan warga Mordis.


"Ini bukan hasil dari sihir roh atau sebuah penghalang—"


Menyeka keringat dari keningnya, Fianna berbicara.


"Orang-orang disini kelihatan hidup."


Claire dan para cewek saling bertukar tatap. Kalau ini adalah sebuah halusinasi yang dihasilkan oleh sihir roh atau penghalang, Fianna akan mengetahuinya—itulah yang mereka pikirkan.


"M-Mustahil! Gimanapun juga, ini adalah gurun kematian!"


"Itu benar. Sulit untuk mempercayai meskipun aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


"Aku juga nggak bisa mempercayainya. Bukan masalah roh apa, hal semacam ini—"


"Mustahil—aku nggak yakin dengan itu, Yang Mulia."


Bulu-bulu hitam legam melayang di langit saat roh kegelapan muncul mengenakan pakaian berwarna hitam.


"Restia—"


"Kalau seseorang meminta pada roh yang kuat, seperti Elemental Lord, bukankah hal semacam ini bisa saja terjadi?"


"Apa, kau bilang kau mengetahui sesuatu, roh kegelapan?"


Mendengar ini, Claire mengernyit, tapi Restia menggeleng.


"Ini nggak bisa dibilang tau, tapi aku bisa membayangkan seseorang yang mampu melakukan ini selain roh-roh yang kuat."


"Raja Naga Dracunia, contohnya?"


"Memang. Itu mungkin saja bagi roh setingkat itu."


"Ini Makam Raja Iblis, kan?"


Kali ini Kamito yang bertanya.


"Ya, meskipun secara teknis, ini lebih tepat kalau dibilang Kota Raja Iblis daripada Makam. Nggak diragukan lagi ini adalah Alkazard, ibukota Zoldia, kerajaan Raja Iblis Solomon. Selain itu, kota ini kelihatan sama persis seperti seribu tahun yang lalu."


Restia mengangguk dan berbicara dengan ekspresi yang agak bingung.


Nggak seorangpun meragukan dia. Gimanapun juga, dia telah melihat sendiri Kota Raja Iblis seribu tahun yang lalu dengan matanya sendiri—


"Uh, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Siapa tau...?"


Restia memejamkan matanya dan menggeleng.


Sepertinya kenyataan ini juga membuat dia bingung.


Ini adalah Kota Raja Iblis, yang seharusnya sudah dihancurkan oleh Sacred Maiden Areishia seribu tahun yang lalu.


Kenapa kota ini masih ada tanpa berubah sedikitpun sampai hari ini?


"Lihat! Orang-orang yang keluar dari gerbang menghilang secara perlahan-lahan—"


Mendengar suara Claire, Kamito dan yang lainnya melihat ke arah gerbang kota.


"A-Apa yang terjadi sebenarnya...?"


"A-Apa mereka adalah halusinasi? Tapi—"


Rinslet merasa takut. Ellis bergumam sambil memasang penampilan yang menunjukkan bahwa dia gak bisa memahami semua ini.


"....Yah, diam saja disini nggak ada gunanya."


Claire mengangkat bahu dan mengalihkan tatapannya pada alun-alun yang dipenuhi orang.


"Ayo masuk dan memeriksanya."


"Yeah—"

Bagian 2[edit]

Kamito dan rekan-rekannya berjalan di jalan yang mengarah ke alun-alun.


Ada sebuah kanopi yang dipasang diatas jalan utama yang penuh dengan orang-orang yang datang dan pergi. Keramaian dan suasana ini mengingatkan pada pasar di Mordis.


Pastinya, seorang pria berjalan bersama lima cewek manis di kota akan menarik banyak perhatian. Disepanjang jalan, para pria di toko-toko terus melirik Kamito.


Dilatih di Sekolah Instruksional, Kamito sedikit memahami bahasa lain selain dari bahasa yang dipakai sehari-hari. Akan tetapi, dia sama sekali nggak bisa memahami apa yang dikatakan para pedagang.


Dia cuma bisa mengatakan bahwa bahasa itu agak mirip dengan bahasa Teokrasi—


"Restia, apa kamu bisa mengerti apa yang mereka katakan?"


Oleh karena itu, dia menanyai Restia yang berjalan disamping dia.


"Hmm, binatang cabul, raja iblis bejat, penghipnotis, dan sebagainya...."


...Dia mendapatkan jawaban yang sepenuhnya nggak ingin dia ketahui.


"Nggak mungkin! Bukankah Raja Iblis Bejat adalah julukan dari Akademi!?"


"Fufu, legenda Kamito sebagai Raja Iblis Malam Hari sudah cukup untuk menembus ruang dan waktu."


"Yang benar saja!"


Melihat Kamito membantah jengkel, Restia terkikih.


Lalu, Claire yang melihat-lihat sekeliling, bergumam dengan penampilan rumit di wajahnya.


"....Dari yang terlihat, aku bisa bilang kalau mereka terlihat seperti orang normal."


"Ya, dan kau bisa menyentuh mereka juga. Sulit untuk menganggap semua ini sebagai sebuah halusinasi."


Sambil menopang dagunya, Fianna setuju.


"....Siapa yang melakukan ini, dan kenapa?"


Melewati jalan utama yang ada penutupnya, mereka sampai di jalanan yang langsung diterangi oleh langit biru yang cerah.


Tiba-tiba, Ellis menyadari sesuatu dan berbicara.


"....Apa itu?"


Diarah dia menunjuk—


Sebuah bangunan raksasa berbentuk segi empat berdiri di tengah kota.


Dindingnya yang berwarba abu-abu dengan kilauan metalik memantulkan cahaya matahari.


Dibandingkan dengan pemandangan kota yang sibuk, gaya bangunan bersejarah ini terlalu mencolok.


"Apa itu... Sebuah tempat bersejarah? Di pusat kota ini?"


"Aku belum pernah melihat tempat kayak gitu dimanapun di benua."


Mendengar pertanyaan Claire, Fianna menjawab.


"Kelihatannya itu bukan kastil."


"Restia, apa kamu tau apa itu?"


Saat Kamito bertanya....


"Tidak, dilokasi itu dulu adalah istana Raja Iblis."


Restia menggeleng.


"Apa yang terjadi?"


Awalnya Kamito berpikir kota ini adalah replika asli dari Kota Raja Iblis seribu tahun yang lalu.


Namun, keberadaan segi empat raksasa itu telah meruntuhkan tebakannya.


Karena bangunan semacam ini ditempatkan secara sengaja di bagian tengah, itu pasti mewakili semacam tujuan dari pendiri kota ini—


"Mungkinkah itu adalah Makam Raja Iblis?"


"....Kemungkinan besar begitu."


Kamito setuju dengan pikiran Claire.


Sebuah bangunan raksasa menggantikan istana original.


Itu nggak butuh lompatan logika yang besar untuk menebak bahwa ini adalah Makam Raja Iblis.


"Pertama-tama, kurasa kita harus menyelidiki piramida itu."


"Yeah—"


Lalu, Kamito menyadari.


Restia sedang merenung sambil menopang dagunya, menatap piramida itu.


"Ada apa, Restia?"


"Entah kenapa, bangunan itu betul-betul membuatku merasa ganjil—"


Dia menjawab secara ambigu.


"Ya, itu mungkin benar, tapi—"


Merentangkan sayapnya yang hitam legam, Restia melayang di udara, membuat pasir bertebaran.


"Aku akan memeriksanya dari dekat—"


"H-Hei, Restia!?"


Sebelum Kamito bisa menghentikan dia—


Roh kegelapan itu terbang ke arah piramida.


Menatap punggungnya saat dia terbang menjauh, Kamito cuma bisa tersenyum masam.


"....Seperti biasa, dia melakukan apapun sesuka dia."


"Beneran deh, tetap bersama salah dasar-dasar dari kerja sama tim!"


Claire begitu jengkel hingga twintailnya berdiri tegak.


"Untuk sekarang ini, kita harus menyelidiki kota ini terlebih dahulu."


Ellis memberi saran.


"....Ya, ada sangat banyak misteri disini."


Mendengar itu, Kamito setuju.


Dan juga, dia cukup kuatir apakah Putri Saladia ada disini atau tidak. Gimanapun juga, menemukan kota ini adalah hal yang mustahil jika seseorang menerima kualifikasi penilaian dari Sphinx.


"Sebelum itu, kita harus membuat basis dulu di suatu tempat dan beristirahat."


"Ya, pemurnian yang tepat akan bagus—"


"S-Setuju!"


Tersiksa oleh panasnya gurun, Rinslet menyuarakan persetujuannya penuh kegembiraan.

Bagian 3[edit]

Dengan sayap hitam legam miliknya dibentangkan, roh kegelapan menatap piramida itu dari atas.


Istana Raja Iblis legendaris—The Zohar Palace—pasti telah dihancurkan oleh Pasukan Pembebasan yang dipimpin oleh Sacred Maiden Areishia.


Kalau dipikir-pikir, piramida itu pasti batu nisan untuk mengingat Raja Iblis, kan?


(...nggak ada pintu masuk. Apa dindingnya terbuat dari orihalcum?)


Restia mencabut sehelai bulu dan menjatuhkannya pada bangunan raksasa yang ada dibawahnya.


Petir hitam legam segera meledak dipermukaan piramida.


Lalu buku itu menghilang tanpa bekas.


(Nggak disangka sihir dariku ditangkis, sungguh roh tingkat tinggi....)


Memasang ekspresi seolah harga dirinya telah terluka, Restia bergumam.


Sebuah penghalang telah dipasang, penghalang yang mampu menetralkan serangan dari roh-roh tingkat tinggi.


Ini membuktikan bahwa ini bukanlah bantuan raksasa bersejarah biasa.


"....Selanjutnya, apa yang harus kulakukan?"


Restia menyilangkan tangannya dan menghela nafas.


"Karena sihirku gak mempan, maka untuk menghancurkan penghalangnya dibutuhkan Nona Pedang Suci yang diresapi dengan divine power milik Kamito dalam jumlah yang besar, atau api dari cewek kucing neraka itu?"


Aku harus menyelidiki lebih banyak lagi terlebih dahulu—tepat saat dia hendak mendarat....


"Apakah kau Restia Ashdoll sang roh kegelapan....?"


"....!?"


Tiba-tiba, dia mendengar suara dalam benaknya.


(...Apa?)


Dia mempertajam kewaspadaannya terhadap sekelilingnya, tapi nggak bisa mengetahui darimana asal dari suara itu.


Lalu—


"Aku telah menunggumu begitu lama—"


Suara itu berbicara lagi.


Pada saat yang sama, sebuah perubahan terjadi pada dinding yang barusaja dia serang.


"....Eh?"


Permukaan piramida itu berputar seperti marshmallow.


Lalu tiba-tiba terbuka mengungkapkan sebuah lubang besar.


Lubang itu nampaknya memberi isyarat pada dia untuk masuk.


"Apa kau memanggilku?"


"Ya. Kau, serta penerus yang kau pilih—"


Lalu, Restia akhirnya menyadarinya.


Identitas dari penguasa Kota Raja Iblis yang misterius ini.


"Aku paham sekarang—"


Menyipitkan matanya yang berwarna senja, dia bergumam pelan—


Lalu, roh kegelapan itu mengepakkan sayapnya dan mendatar di lubang yang terbuka.

Bagian 4[edit]

"Huh? Apa-apaan kota ini!?"


Disuatu tempat di kota, seorang pria muda sedang mengutuk dengan jengkel.


"Masing-masing dari mereka bertindak seperti hidup padahal mereka sebenarnya sudah mati! Ini membuatku muak!"


"Tenanglah, Jio Inzagi."


Seorang cewek muda mengenakan cadar mencoba untuk menenangkan si pria muda yang kehilangan ketenangannya.


"Ini adalah Kota Raja Iblis, nggak berubah sejak seribu tahun yang lalu. Fakta bahwa kota ini tetap terpelihara sampai hari ini adalah bukti bahwa kekuatan Raja Iblis tersembunyi disini."


"....Gak perlu kau katakan aku juga sudah tau, putri."


Jio Inzagi mengungkapkan temperamen yang liar.


"Akan tetapi, peti matinya ada didalam makan besar yang bodoh itu. Nggak ada pintu masuk, dan aku juga nggak bisa menghancurkannya. Apa-apaan ini! Kita sudah dua hari kan berada disini?"


Memang, merekalah yang pertama melangkahkan kaki ke kota aneh ini dua hari yang lalu.


Setelah berjalan tanpa arah di Ghul-a-val, mereka bertemu dengan Shpinx.


Terhadap roh yang menyebut dirinya sendiri sebagai penjaga Makam, Jio Inzagi bukanlah tandingannya.


Itu bukanlah musuh yang bisa dikalahkan dengan trik-trik murahan dan segel persenjataan terkutuk.


Oleh karena itu, dia tidak diakui layak memasuki makam.


Akan tetapi, berbeda dengan Saladia Khan.


Dia tidak mengalahkan roh kuat itu dengan kekuatan.


Saat dia memanggil grimoire elemental waffe miliknya—Alf Laylah Wa-Laylah—dan merapal sesuatu, semacam kode, Sphinx itu lenyap tanpa melakukan apapun.


Lalu, kota ini tiba-tiba muncul di gurun.


Sang putri kedua, mewarisi garis keturunan dinasti Kahn, sudah pasti memiliki kunci yang mampu memasuki makam.


Jio mendapati itu gak bisa dipercaya bahwa Sphinx nggak mengakui dia, penerus Raja Iblis—


Tapi terserahlah, gimanapun juga mereka berhasil masuk ke kota Raja Iblis ini.


Akan tetapi, masalah mereka masih jauh dari kata selesai. Menurut sang putri, peti mati Raja Iblis tersembunyi dibawah tanah di dalam Makam Raja Iblis yanh ada di pusat kota.


Namun, mereka nggak bisa menemukan pintu masuk kedalam piramida itu.


Dan juga, ada penghalang pengaman yang menyelimuti dinding luarnya.


"Sialan, kekuatan Raja Iblis sudah didepan mata, namun aku—"


Menatap piramida raksasa itu, Jio Inzagi mengepalkan tangannya erat-erat.


"Mungkin garis keturunan dinasti Kahn saja nggak cukup untuk mengaktifkan Makamnya."


"Huh? Lalu buat apa aku membawamu kesini?"


"I-Itu nggak seperti aku memohon padamu untuk menyelamatkan aku!"


Saladia Kahn membantah nggak senang.


"Huh, apaan ini, lelucon garing? Dasar gak berguna!"


"Jaga perkataanmu! Dasar kurang ajar, ketahuilah bahwa aku, dari dinasti Kahn, aku—"


"Tunggu."


Tiba-tiba—


Jio Inzagi membungkam mulut Saladia.


"...! Mmph, mmmph, mmph!"


"Tenanglah. Hei, apa itu?"


"...?"


Jio Inzagi menatap keatas.


Saladia mengernyit dan mengikuti tatapannya, disana—


Sesosok aneh melayang di udara diatas piramida.


Seorang cewek cantik, dengan sayap hitam legam—


"Apa itu seorang roh...?"


Melepaskan tangan Jio dari mulutnya, Saladia berbisik.


Mata Jio Inzagi terbelalak, menatap cewek yang melayang itu.


"....Urgh... Aku tau, ah... Aku, tau... roh itu—"


"Ada apa denganmu?"


"...Dia adalah roh, yang menghapus, ingatanku..."


Dari tenggorokannya keluar suara menggerang.


Roh kegelapan dari Sekolah Instruksional yang menjadi partner dia sebelumnya.


Kenapa dia ada di tempat seperti ini?


"....Roh, kegelapan... Resti... a... Restia Ashdoll!"


Dipenuhi kemarahan, raungan Jio Inzagi menggema di jalanan.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya