Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid17 Bab 6

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 6 - Pedagang Misterius[edit]

Bagian 1[edit]

Kamito dan rekan-rekannya pergi mengelilingi piramida, mengikuti jalanan untuk mencari penginapan.


Bangunan besar lain dengan penampilan mencolok muncul didepan mereka.


"Apa itu?"


"Sebuah bangunan yang aneh banget."


Ellis memiringkan kepalanya.


"Itu adalah sebuah barnea, sebuah tipe komplek akomodasi kuno."

Fianna mengangkat jari dan menjelaskan.


"Dengan kata lain, sebuah hotel?"


"Ya, cukup mirip. Harusnya ada fasilitas pemandian didalamnya, memungkinkan kita untuk memurnikan diri."


"Eh, benarkah?"


Wajah Claire yang tersenyum menjadi cerah.


"Itu bukan mandi pasir, kan?"


"Tentu saja bukan."


Menurut Fianna yang punya kontak dengan budaya asing sembari tumbuh di Divine Ritual Institute, barnea adalah fasilitas gabungan yang besar berpusat pada sebuah kuil untuk memuja para roh dan termasuk pemandian, restoran dan akomodasi. Meskipun itu langka di wilayah barat dari benua seperti Ordesia, tapi kuil-kuil semacam ini sebenarnya sudah umum di Teokrasi.


Ngomong-ngomong, banyak hotel yang dipesan untuk para bangsawan saat mereka menginap di Ragna Ys selama Blade Dance yang mirip dengan hotel ini juga. Festival Roh Air yang Kamito hadiri bersama Leonora sebagai partner yang diadakan di kolam pinggir danau juga bagian dari fasilitas hotel semacam ini.


"Haruskah kita membuat basis kita disini mulai dari sekarang?"


"Kurasa, tapi bukankah tarif kamarnya cukup mahal?"


Bertindak sepenuhnya nggak seperti seorang putri bangsawan dari mantan keluarga duke, Claire mengungkapkan sebuah kekuatiran warga sipil.


....Memang, harga disini terlihat jauh lebih mahal daripada penginapan biasa.


"Hmph, sepele sekali. Serahkan masalah semacam itu padaku."


Mengibaskan rambut pirang platinumnya, Rinslet menyatakan penuh kebanggaan.


"Aku tau sesuatu seperti ini akan terjadi, jadi aku membawa banyak uang dari rumah."


Dengan jentikan jarinya, Fenrir, yang duduk di samping kakinya, mengeluarkan koin emas kekaisaran.


"Kau memperlakukan seekor roh tingkat tinggi sebagai celengan...."


"Selalu berpersiapan seperti biasanya."


Rinslet dengan percaya diri membusungkan dadanya.


"Tapi apa mata uang Kekaisaran bisa digunakan di kota ini?"


Mendengar pertanyaan masuk akal dari Ellis—


"..."


Rinslet membeku dalam posturnya yang percaya diri.


"T-Titik buta yang sangat tak terduga!"


"....Sheeeesh, harusnya kau menyadarinya sejak awal."


Claire mendesah dalam-dalam.


Kamito menatap toko-toko disekitar. Mereka menggunakan uang, tapi berbeda dari uang yang beredar di benua.


"Ooh... nggak disangka aku membawa uang... tapi nggak berguna disini?"


Melihat tuannya menundukkan penuh kesedihan, Fenrir menjilat pipi Rinslet.


"Uh, kalau aku nggak salah ingat, koin emas kekaisaran Ordesia mengandung emas asli, kan?"


Kamito tiba-tiba teringat sesuatu dan menanyakannya.


"Ya, itu adalah koin emas asli."


"Kalau begitu nggak bisakah kau mencari seseorang untuk membeli koin-koin itu dengan emas?"


"Nggak bisa dipercaya Kamito bisa dapat idrle yang bagus. Meskipun mungkin kita akan rugi, sudah nggak ada pilihan lain."


Mendengar saran Kamito, Claire mengangguk.


"A-Apa boleh buat!"


Rinslet bersemangat lagi dan mengangkat wajahnya.


"Dan bukan cuma uang. Aku penasaran apakah jimat-jimat dan kristal roh bisa dijual disini juga?"


Kamito dan rekan-rekannya melihat ke sekeliling, mencoba mencari seorang pedagang untuk membeli koin-koin emas mereka.


Berharap mereka bisa menjualnya dengan harga yang bagus—


"Aku merekomendasikan jangan melakukannya. Para pedagang Alkazard sangatlah serakah. Mereka akan menipu kalian mentah-mentah segera setelah mengetahui kalian adalah para amatir."


"....!?"


Mendengar suara yang tiba-tiba itu, Kamito secara paksa memalingkan kepalanya ke belakang—


Yang berdiri disana adalah seorang pria dengan senyum yang ramah, mengenakan pakaian seperti seorang pedagang gurun. Dia muncul tanpa disadari oleh mereka.


"....Siapa kau?"


Kamito bertanya terkejut.


Pria itu terlihat sedikit lebih tua dari Kamito, mungkin 20 tahun atau lebih. Berkulit agak gelap. Bermata hitam. Wajahnya yang tegas sepertinya mengingatkan pada seekor elang liar.


"Maaf. Aku Safian, seorang pedagang dari Zohar."


Pria itu membungkuk pada kelompok Kamito.


"Zohar kau bilang?"


Claire berseru terkejut.


Berbicara secara logis, ibukota Teokrasi saat ini nggak akan ada dijamannya Raja Iblis, seribu tahun yang lalu.


Terlebih lagi, ada perbedaan yang jelas antara pria inu dan penduduk Kota Raja Iblis.


(...Dia menggunakan bahasa yang sama dengan kami, bahasa umum benua.)


Kamito bertukar tatap dengan Claire.


Claire mengangguk ringan. Sudah jelas, mereka telah menemukan sesuatu yang punya petunjuk.


"Kau bukan warga kota ini?"


Mendengar itu, pria itu mengangguk.


"Memang. Sama seperti kalian, orang-orang dari luar."


"Itu benar."


Sambil menatap mata pria itu, Kamito mengangguk penuh kewaspadaan.


"Sepertinya kalian punya pertanyaan untukku."


Pria itu tersenyum lalu memalingkan tatapannya kearah barnea.


"Yah, ini bukanlah tempat untuk berbincang-bincang. Gimana kalau kita bicara sambil makan?"

Bagian 2[edit]

Meskipun ada rasa curiga terhadap pedagang misterius yang muncul secara tiba-tiba—


Kamito dan rekan-rekannya masih memutuskan untuk mendengarkan apa yang mau dia katakan.


...Gimanapun juga, cuma ini satu-satunya petunjuk dalam situasi yang susah dipercaya dan sepenuhnya nggak masuk akal ini.


Mungkin pria ini punya informasi mengenai keberadaan Putri Saladia, atau mengetahui sesuatu tentang piramida aneh itu.


"Lebih baik jangan terlalu mempercayai dia. Gimanapun juga dia kelihatan mencurigakan."


Claire berbisik pelan di telinga Kamito.


"Kurasa nggak baik menilai dari penampilan."


"Memang benar.... Tapi berkebalikan dengan gimana aku terlihat, aku sebenarnya seorang dengan karakter yang punya penilaian yang mengagumkan."


"Benarkah? Aku ingat pertama kali kita bertemu, kau langsung menuduhku sebagai seekor binatang bejat."


"Kesan pertama itu nggak terlalu melenceng dari kenyataannya."


"Yang benar saja...."


"Hei Claire, apa yang kau bicarakan dengan Kamito-kun?"


Fianna mendekat pada mereka berdua, mencoba ikut dalam percakapan.


Nggak peduli dengan apa yang dilakukan Kamito dan yang lainnya—


Pedagang muda itu berjalan menuju ke pintu masuk sebuah barnea raksasa.


Didalamnya terdapat sebuah taman indah dengan sebuah air mancur. Bunga-bunga segala macam warna bermekaran.


"Quseir Amra ini awalnya sebuah tempat untuk memuja roh-roh di kota. Penampilan saat ini adalah hasil dari perluasan secara berkelanjutan, termasuk fasilitas pemurnian dan peristirahatan untuk para princess maiden dan sebuah kuil untuk membuat persembahan."


Safian manatap banguan besar didepan dia dan berbicara.


"....Aku mengerti."


Quseir Amra sepertinya adalah nama dari barnea ini. Penampilannya yang unik adalah hasil dari perluasan bukannya semacam desain artistik.


Lantai bawah bangunan ini adalah sebuah restoran besar yang menghadap pada taman. Didalamnya nggak banyak orang.


Safian membawa kelompok Kamito ke sebuah meja.


"Silahkan duduk—"


Dipersilahkan duduk, Kamito dan rekan-rekannya duduk pada sebuah sofa.


Para nona muda semuanya duduk disamping Kamito m meskipun ada ruang di samping pedagang muda itu, nggak seorangpun duduk disampingnya. Meskipun mereka lebih terbiasa dengan itu sekarang, tentunya para nona bangsawan muda ini nggak biasa membuat kontak dengan pria.


"Kamito, a-aku merasa seperti kita menarik perhatian...."


Ellis dengan gugup menunduk, dengan takut-takut melihat sekeliling pada meja-meja sekitar.


Memang, meja mereka cukup mencolok. Mereka bahkan bisa mendengar bisikan-bisikan dari sekeliling.


"Gimanapun juga, cara berpakaian kalian cukup langka. Terlebih lagi—"


Safian tersenyum masam.


"Ada lima cewek cantik, tentu saja, orang-orang akan memperhatikan."


"....Woi, aku laki-laki."


Kamito menatap tajam pedagang yang ada didepan dia.


"Bercanda. Tapi dengan sedikit dandanan kau pasti akan jadi seorang cewek yang cantiknya luar biasa—"


"Sialan kau—"


Kamito mengerahkan niat membunuh yang besar pada tatapannya, tapi Safian tetap nggak terpengaruh, cuma tersenyum.


"Ayo makan dulu. Aku kelaparan."


"Setuju!"


Mendengar saran Claire yang kelaparan, Rinslet setuju sepenuh hati.

Bagian 3[edit]

"Nah sekarang, darimana aku harus memulai?"


Mengarahkan tatapannya pada kelompok Kamito, Safian perlahan-lahan mulai berbicara.


"...Kau bukan warga kota ini, kan?"


Claire yang pertama menanyakan pertanyaan.


"Tepat, aku bukan dari sini. Selain itu, masih diperdebatkan apakah penduduk kota ini adalah manusia atau bukan."


Teringat pada penduduk yang lenyap segera setelah mereka meninggalkan gerbang kota, Kamito dan para cewek saling bertukar tatap satu sama lain.


Tentunya, apakah mereka semacam halusinasi bukannya orang asli...?


"Gimana kau bisa sampai ke sini? Orang biasa nggak mungkin bisa datang ke sini kan?"


Mendengar pertanyaan Kamito....


"Ya, aku sendiri mendapati itu cukup luar biasa juga—"


Safian menatap langit-langit dan mulai menceritakan kisahnya.


"Itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Aku bersama rekan-rekanku berangkat dari Zohar dengan sebuah karavan menuju ke Kekaisaran Quina. Dalam perjalanan, kami tiba-tiba diterjang badai pasir yang ganas—"


Menurut dia, dia menerima sebuah pekerjaan dari perkumpulan untuk mengangkut kristal-kristal roh ke Ibukota Kekaisaran Quina dan insiden terjadi saat perjalanan.


Saat berlayar di gurun, mereka terjebak dalam kekacauan leyline, membuat mereka terlempar jauh dari jalur mereka. Kecelakaan semacam itu sesekali terjadi di gurun.


Saat dia sadar, kapalnya tersesat di Ghuk-a-val, dan akhirnya hancur dan dimakan oleh binatang-binatang raksasa.


Meskipun dia bisa kabur, dia berakhir terpisah dari rekan-rekannya di kapal, berkeliaran di gurun selama berhari-hari.


Beberapa hari setelah itu, karena kehabisan makanan dan air, dia berada diambang kematian—


"....Roh itu muncul."


"Roh?"


"Ya, roh raksasa berkepala banteng."


Kamito dan para cewek saling bertukar tatap.


....Tentunya, mereka ingat roh itu juga.


Itu adalah Sphinx yang sebelumnya dilawan Kamito di gurun.


"Roh itu menyembuhkan tubuhku yang hampir mati dan membawaku ke kota aneh ini. Setelah itu, aku tinggal disini selama lebih dari setengah tahun dan bahkan memulai bisnis. Sungguh nggak bisa dipercaya. Seraya tinggal disini, aku perlahan-lahan bisa mengerti bahasa mereka."


Safian tersenyum masam dan mengangkat bahu.


"....Benarkah? Kau telah banyak menderita juga."


meski sependapat, Kamito masih gak bisa santai sepenuhnya.


Sphinx—roh itu menyebut dirinya penilai.


Apa mungkin seekor roh yang menyerang tanpa pandang bulu, yang cuma mempedulikan kelayakan Raja Iblis, betul-betul menolong seseorang begitu saja?


(Oh yah, mustahil bagi manusia untuk memahami roh, yang melakukan apapun yang mereka suka...)


Tiba-tiba, dia menatap segel roh yang ada di tangan kirinya, teringat seorang roh kegelapan yang melakukan apapun yang dia mau. Apa dia masih menyelidiki piramida itu?


"Apa ada orang lain sepertimu?"


Kali ini, giliran Fianna yang bertanya.


"Uh, itu, orang-orang yang dibawa kesini oleh roh—"


"Ya, aku sudah menjumpai beberapa orang. Dari apa yang mereka katakan padaku, mereka dibawa kesini setelah terdampar di Ghul-a-val seperti aku."


"Apa mereka nggak bisa pergi?"


"Jangan bilang kalau kau akan menghilang segera setelah kau keluar dari gerbang kota—"


Claire bergumam gugup, tapi Safian tersenyum dan menggeleng.


"Nggak perlu kuatir soal itu. Kau bisa keluar dari gerbang kapanpun, tapi—"


"Tapi?"


"Ada binatang-binatang menakutkan yang tinggal di Ghul-a-val diluar. Nggak ada kapal pasir disini, jadi upaya apapun untuk pergi mungkin akan membuatmu jadi mayat di gurun itu."


"....Aku paham."


Memang, sulit membayangkan orang biasa berjalan di gurun itu kecuali mereka adalah para elementalis. Para pedagang yang menaiki kapal pasir betul-betul mempertaruhkan nyawa mereka demi bisnis.


"Lalu kau berencana tinggal di kota ini selamanya?"


"Sepertinya itu nggak terlalu buruk. Setelah tinggal disini beberapa waktu, aku merasa cukup nyaman."


Safian sedikit mengangkat bahu.


....Ya, kurasa dia mengatakan yang sebenarnya.


"Kami adalah elementalis. Kami bisa membantumu kalau kau mau pergi."


"Terimakasih atas tawaran baiknya. Aku akan mempertimbangkannya."


Mendengarkan saran Ellis, yang memiliki rasa tanggung jawab yang kuat, Safian mengangguk ambigu.


"Ngomong-ngomong, baru-baru ini apa kau pernah bertemu seorang cewek yang datang dari luar seperti kami? Harusnya beberapa hari yang lalu—"


Kamito dengan santai mencoba bertanya tentang Putri Saladia—


"...Tidak, satu-satunya orang luar yang kutemui belakangan ini adalah kalian."


Akan tetapi, Safian cuma menggeleng.


Sepertinya dia nggak berbohong.


Kalau begitu, sang putri belum sampai?


Saat mereka bercakap-cakap, makanan dan minuman mereka diantar ke meja.


"Wow, kelihatannya lezat..."


Perut Claire bergemuruh pelan.


"Yah, mari kita lanjutkan percakapan kita nanti. Waktunya makan."


Safian mengangkat gelas anggurnya dan tersenyum tulus.


Bir beraroma mawar. Roti yang baru matang. Kambing asap yang dibuat dengan banyak rempah. Beberapa jenis acar. Campuran daging dan telur goreng...


Meskipun ada beberapa sayuran yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, makanan yang disajikan nggak jauh beda dari yang mereka makan di Teokrasi.


"Kelihatannya cukup enak."


"Y-Ya... Tunggu, apa itu betul-betul aman untuk dimakan?"


Claire kelihatan agak kuatir. Memang, Kamito sendiri juga punya keraguan apakah makanan yang dimasak di kota ini sama dengan makanan normal.


"Rasanya nggak buruk."


"Hmm... Seorang ksatria wajib memakan apa yang harus dimakan."


....Sangat kelaparan karena berjalan di gurun, Risnlet dan Ellis segera mulai memakan hidangannya.


(....Haaaaa, kurasa nggak apa-apa. Pedagang ini juga makan.)


Sebelum para nona muda menghabiskannya, Kamito mengambil beberapa daging dan memasukkannya kedalam rotinya untuk dimakan.


"Apa ini sate daging panggang?"


Mengambil sate daging hitam, Rinslet bertanya kebingungan.


"Daging paus pasir. Kau bisa menangkapnya di wilayah ini."


"Nggak mungkin. Paus pasir sudah punah sejak lama."


Mendengar itu. Claire yang memiliki pengetahuan luas bergumam pelan.


Kamito mencicipi daging paus pasir itu juga.


"....Ini rasanya nggak seenak itu."


Bukan cuma dagingnya keras, tapi juga memiliki rasa yang bahkan nggak bisa dihilangkan dengan bumbu.


"Hmm, tekstur ini lebih mirip dengan daging naga tanah yang ku makan di Dracunia...."


"Kamito, kau pernah makan daging naga sebelumnya?"


"Ya, di restoran di Dracunia, bersama Leonora.... Owwwww!"


Duduk disamping dia, Claire menginjak kakinya keras-keras.


"A-Apa yang kau lakukan!?"


"D-Disaat kami mempertaruhkan nyawa, berlatih di Dragon's Peak. Be-Berani-beraninya kau pergi kencan!?"


Rumble rumble rumble rumble rumble...!


Twintail milik Claire berdiri seperti kobaran api.


"P-Padahal aku menghormati Leonora-dono sebagai seorang ksatria terhormat—"


"Aku memang gak boleh menurunkan kewaspadaan."


Ellis dan Rinslet juga melotot marah pada Kamito.


"—Terimakasih atas makanannya."


Segera setelah selesai makan, mejanya dipenuhi dengan piring-piring kosong.


Melihat tumpukan piring kosong itu, orang-orang di meja sekitar mengeluarkan suara-suara tercengang.


Para cewek elementalis biasanya memang rakus. Mereka makan tanpa menahan diri karena menggunakan roh mengkonsumsi divine power.


"Biar aku yang bayar."


Berkata demikian, Safian mengeluarkan dompetnya.


Mendengar itu, Rinslet berdiri dan menyibakkan rambutnya dengan megah.


"Hmph, ketahuilah bahwa kami adalah bangswan. Kamu nggak jatuh serendah itu sampai-sampai membutuhkan belas kasihan dari warga sipil."


"Meskipun kami dalam pengasingan."


"K-Kesampingkan itu, makanan ini biar aku yang bayar atas nama margrave Laurenfrost. Maukah kau menukar coin-coin emas kekaisaran ini untuk aku?"


"Ya, sesuai keinginanmu."


Safian tersenyum canggung dan menukar mata uang kota dengan koin-koin emas kekaisaran.


Apa yang dia serahkan adalah koin-koin yang agak buruk bentuknya dengan gambar seorang pria muda.


"Aku nggak pernah melihat mata uang seperti ini di benua."


"Tentu saja, ini adalah koin-koin dari seribu tahun yang lalu."


"......."


Tiba-tiba, Kamito merasakan perasaan disonansi yang aneh dan terus menatap koin-koin itu.


"Ada apa, Kamito?"


"Oh, bukan apa-apa...."


Wajah di koin itu terasa agak familiar—


(...Apa aku cuma terlalu kepikiran?)


"Apa ada fasilitas pemurnian disini yang cocok untuk pembersihan badan?"


Lalu, Fianna menanyai Safian.


"Sebuah pemandian pemurnian untuk para princess maiden berlokasi nggak jauh dari sini."


"Bagus sekali. Akhirnya aku bisa mandi secara normal."


Claire menghela nafas lega.


"Apa rencanamu, Kamito? Maukah kau mandi bersama kami?"


Fianna menunduk ke depan, mengungkapkan belahan dadanya, menggoda Kamito.


"A-Aku akan ke kamar menaruh barang bawaan kita, lalu memeriksa piramida itu."


Kamito langsung tersipu dan berpaling.


"Eh, apa kau mau ke piramida sendirian?"


"Aku cuma mau jalan-jalan memeriksa sekeliling. Dan juga, Restia mungkin ada di sekitar sana."


Mengatakan itu, Kamito memalingkan wajahnya pada Safian lagi.


"....Ngomong-ngomong, apa kau mengetahui sesuatu tentang piramida itu?"


"Hmm. Aku gak tau apa-apa."


Safian menggeleng.


"Bahkan warga lokal pun nggak tau siapa yang membangunnya atau pun kenapa. Aku mencoba menyelidikinya sebelumnya, tapi nggak bisa menemukan apapun yang menyerupai pintu masuk—"


"....Aku mengerti. Sepertinya kita harus menyelidikinya dengan sabar."


"Baiklah, kami akan memurnikan diri kami dulu sebelum bergabung denganmu."


"Oke."


"Ijinkan aku membawa barang bawaan kalian, kalau kalian nggak keberatan. Agar nggak tersesat di Qusier Amra."


"....Makasih."


Mengangguk ringan, Kamito mengambil Demon Slayer dan berdiri.


Faktanya, itu adalah saran yang sempurna bagi Kamito.


Ada sesuatu yang ingin dia pastikan.

Bagian 4[edit]

Dengan Safian yang memimpin jalan, Kamito berjalan di tangga memutar di Quseir Amra. Mirip dengan bangunan Akademi Roh Areishia, tata ruang bagian dalamnya sangat rumit dan membingungkan. Dikatakan bahwa, tata ruang unik dari Akademi sejalan dengan prinsip dari mesin roh.


(...Tapi disini, pastinya karena peluasan berkelanjutan yang gak direncanakan.)


Terus memperhatikan pedagang yang berjalan di depan dia, Kamito merenung.


Setelah menapaki tangga melingkar dan melewati lorong lain, mereka sampai di blok peristirahatan.


"Penginapannya ada disini. Yang perlu kau lakukan adalah merapikannya."


"....Kau betul-betul membantu. Terimakasih banyak."


"Sama-sama. Gimanapun juga, sangat jarang menemukan orang yang masuk kota ini secara gak sengaja. Kalau boleh aku membantu—"


Sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, Kamito mendekat dengan cepat.


Seketika, dia menekankan jari telunjuknya pada leher pria itu.


"....?"


Pria itu kelihatan bingung.


"Kau—Siapa kau sebenarnya?"


Kamito bertanya dengan dingin.


Jari telunjuknya ditekankan pada arteri karotid. Ini adalah teknik pembunuhan yang Kamito pelajari saat masih kecil di Sekolah Instruksional. Membunuh orang ini sekarang ini sangatlah mudah.


Akan tetapi—


Safian tetap tenang dan tersenyum percaya diri.


Dia nggak mungkin nggak sadar dalam situasi seperti apa dia. Gimanapun juga, Kamito telah menunjukkan niatnya untuk membunuh, hingga cukup untuk membuat orang biasa merasakannya.


"Seorang pedagang biasa—Apa menurutmu aku akan betul-betul menelannya utuh-utuh? Saat kau pertama muncul di depan kami, sepenuhnya tanpa tanda."


Memang, saat pria itu berbicara pada mereka di jalan, Kamito nggak menurunkan kewaspadaannya terhadap sekelilingnya. Dia akan menjadi orang pertama yang menyadari segera setelah seseorang secara sengaja mendekati para cewek.


Akan tetapi, pria ini muncul didepan kelompok Kamito tanpa membuat sedikitpun suara.


"Aku bukannya membual kalau aku bilang kau bisa dihitung salah satu orang yang mampu melakukan ini di depanku. Setidaknya pada tingkat guruku atau salah satu anggota Number yang terspesialisasi dalam operasi pengintaian. Seseorang seperti itu adalah seorang pedagang biasa? Dibawa kesini oleh Sphinx saat sekarat di tengah perjalananmu? Mana ada orang yang akan percaya kebohongan semacam itu."


"...Begitu ya."


Safiab tersenyum masam dan mengangkat bahu.


"Tapi kau nggak betul-betul bisa menyalahkan aku karena nggak punya hawa kehadiran."


".....!?"


Seketika, Kamito membelalakkan matanya.


"Bagaimanapun juga, sejak awal aku memang seseorang yang nggak pernah ada."


Tanpa disadari...


Safian menghilang dari depan matanya lalu berdiri di belakang Kamito.


(...! Dia lenyap tanpa kusadari!?)


Keringat dingin mengucur di pipi Kamito.


....Ini mustahil. Perhatian Kamito nggak lepas dari pria yang ada didepannya, tidak sedetikpun.


Tapi faktanya dia telah memyelinap dari genggaman Kamito.


(....Sihir roh untuk pergerakan ganda? Tidak, itu bukanlah trik semacam itu—)


Pria itu pasti berpindah selama terjadi celah dalam perhatian Kamito. Nggak lebih dari itu.


Tubuh Kamito menjadi kaku. Safian berbicara pada dia.


"Kau harus menggunakan Demon Slayer kalau kau betul-betul berniat mengancam aku."


".....! Gimana bisa kau tau tentang Est!? Siapa kau sebenarnya—"


"Aku adalah sebuah pecahan."


"....Pecahan?"


"Ya, sebuah pecahan dari penyesalannya, tersisa di Kota Raja Iblis ini—"


"....? Apa yang kau bicarakan?"


Safian tersenyum dan berputar membelakangi Kamito, berjalan menuruni tangga yang tadi mereka lewati.


"Aku senang bertemu denganmu, penerus Raja Iblis dan pemegang Pedang Suci. Gadis itu pasti yang memandumu serta rekan-rekanmu kesini."


".....! Tunggu, apa-apaan maksudnya semua ini?"


Kamito buru-buru mengejar dia.


Akan tetapi Safian yang seharusnya sedang menuruni tangga, sudah lenyap tanpa suara.

Bagian 5[edit]

Sebuah kapal pasir besar telah sampai di kamp dari para ksatria Lugia.


Bukan sebuah kapal pedagang. Ini adalah sebuah kapal militer milik Kerajaan Suci.


Ini adalah sebuah kapal militer yang secara aktif digunakan untuk mengangkut persediaan selama Perang Ranbal. Akan tetapi, kebanyakan kapal ini sudah tidak dioperasikan lagi, hanya tinggal tujuh kapal yang menyandang nama kosong dari Armada Gurun.


Menimbulkan awan debu dan membawa bendera Kerajaan Suci, kapal itu berhenti di dekat kamp.


Diatas kapal itu adalah seorang kardinal dari Des Esseintes, dewan pemerintahan tertinggi dari Kerajaan Suci, dan delapan anggota Sacred Spirit Knight yang ditugaskan sebagai bodyguard—


Diatas pasir di depan kapal itu, Lurie Lizaldia menyapa kardinal.


"Lebih lama daripada yang diharapkan, Millennia—"


"Perbaikan kapal ini butuh banyak waktu. Kapal ini mengubah tiga roh militer menjadi arang segera setelah bangkit."


Seorang cewek muda yang menggemaskan mengenakan pakaian putih polos menuruni tangga.


Dia terlihat berusia 13 atau 14 tahun. Yang paling mencolok adalah rambut pirangnya yang berkilauan, kulitnya pucat dan selembut porselen, dan mata ungu yang jernih. Akan tetapi, yang nggak cocok dari penampilan cewek menggemaskan ini adalah sebuah penutup mata di mata kirinya.


Dia adalah Millennia Sanctus—Des Esseintes ketigabelas.


Meskipun peringkatnya nggak terlalu tinggi dalam kedudukan dewan internal, dia memiliki ikatan yang erat dengan kepemimpinan militer. Bahkan dalam Des Esseintes rahasia, dia memancarkan hawa keberadaan yang sangat mengerikan.


"Kau sepertinya sudah terlibat masalah."


"Sebuah penghalang yang menjengkelkan. Dan juga, ada Sphinx."


Lurie sedikit mengangkat bahu. Dalam hal hirarki, seorang kardinal Des Esseintes pastinya berperingkat lebih tinggi daripada Lurie, seorang tamu umum, tapi ada suasana diantara mereka yang seperti teman dekat.


STnBD V17 BW05.jpg


"Walah walah, harusnya menghilangkan penghalang sangatlah mudah bagimu?"


"Itu adalah penghalang yang cukup spesial. Berada dalam distorsi dimensi kecil antara alam manusia dan Astral Zero, seluruh Kota Raja Iblis berada disana."


Dimasa lalu, ruang pemakaman dimana roh-roh milik Raja Iblis tersegal telah muncul di bawah tanah Akademi Roh Areishia. Penghalang ini mungkin memiliki sifat yang mirip.


Itu memberi sebuah tantangan bahkan bagi Lurie yang terspesialis dalam sihir penghalang.


"Jadi begitu—"


Millennia Sanctus melihat kearah gurun yang panas menyengat.


Tiba-tiba, dia tersenyum gembira.


"Cewek itu ada disini—"


"...?"


"Kakakku—bukan, adik? Aku merasakan dia, dia dan aku layaknya saudara kembar."


"Mungkinkah Ren Ashbell ada disini?"


"Nggak salah lagi. Bagaimana cara mereka masuk ke Makam itu. Aku penasaran?"


Dengan jari di bibirnya, Millennia tersenyum.


"....Sepertinya aku bisa melawan laki-laki itu lagi."


Lurie Lizaldia menunjukan kilatan jahat di matanya.


"Itu adalah sesuatu yang layak dinantikan. Ren Ashbell sang Penari Pedang Terkuat melawan pemenang Blade Dance 15 tahun yang lalu—kalau kedua belah pihak bertarung habis-habisan, kira-kira siapa yang akan menang?"


"—Kau sudah tau jawabannya."


Mengatakan itu, Lurie menatap ke arah kapal.


"Apa Tuan sudah sepenuhnya bangkit? Sepertinya jadwal aslinya harus dipercepat."


"Tidak, masih setengah bangkit."


"Apa itu nggak menimbulkan masalah?"


"Itu sudah cukup untuk membuka penghalangnya."


Millennia mengayunkan tongkatnya sambil terkikih, membuat tongkatnya berdering.


Bagian sisi kapal terbuka. Para Sacred Spirit Knight mulai menurunkan sebuah box menggunakan tali.


Sebuah box logam berwarna putih. Bentuknya menyerupai sebuah peti mati.


Dipimpin oleh Luminaris, para paladin menunjukkan ekspresi gugup.


Di fasilitas laboratorium Ibukota Kerajaan Suci, entitas yang tertidur dalam peti mati ini telah membakar roh-roh militer menjadi arang dalam sekejap.


Millennia Sanctus dengan lembut menyentuh tepi peti mati itu.


Lalu dia merapalkan kata-kata pemanggilan yang digunakan oleh para Ratu.


"La ura me aluara shin, erul ragna volcas— ig alusiagi im, ys areisia—"


Artinya "Tirani agung, hadir dalam api abadi, melampui logika kebaikan dan kejahatan, sang eksekutor dari peradilan." ini adalah bahasa Ancient High yang mana sangat sedikit manusia yang mengerti.


Dahulu kal, bahasa ini telah hilang selama era Perang Roh—


"—Firg fomalhaut volcanicus."


Saat perapalan diselesaikan dengan kata-kata yang berarti "perwujudan dari seluruh api di dunia ini"....


Penutup peti mati itu langsung bersinar merah panas dan api merah berkobar.


Panas yang teramat sangat, yang mana terasa seperti itu akan membakar daging dari tubuh seseorang, menyebabkan para ksatria di sekitar melangkah mundur.


Lalu—


Dari kobaran api itu—menunjukkan penampilannya.


Yaitu—


Seorang cewek yang mengenakan pakaian berwarna merah.


Rambutnya sepinggang berwarna merah. Matanya seperti rubi yang disertai api yang terang didalamnya.


Di kepalanya ada dua tanduk yang melengkung.


Seindah karya seni yang terbuat dari kaca, ada suasana rentan pada tubuhnya.


Diselimuti api, cewek itu mengarahkan tatapannya pada para ksatria yang ada di sekelilingnya dengan ekspresi yang dingin diwajahnya.


Lalu dia menyuarakan ketidaksenangan.


"Apa kalian orang-orang yang berani mengganggu tidurku?"


Itulah yang dia katakan.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya