Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid18 Bab 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 1 - Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

"....Roh-roh ini gak kenal menyerah!"


"Mereka kemungkinan besar mengikuti aroma dari divine power kita—"


Ellis mengeluh kesal sambil berlari di jalanan Kota Raja Iblis dengan kecepatan seperti angin.


Roh-roh yang dikirim oleh para Sacred Spirit Knight berada di belakang, mengejar mereka. Mereka adalah bagian dari operasi khusus Ayla Cedar yang mengkontrak roh serigala bayanganShade Wolf yang merupakan roh gabungan. Sebagai tipe roh yang sepenuhnya mandiri, mereka bisa terus berada di bayangan Claire dan Ellis dan terus mengikuti mereka ketika mereka terus berlari.


Beberapa menit sebelumnya, mereka berdua berhadapan dengan Sacred Spirit Knight di sebuah alun-alun di Kota Raja Iblis.
Luminaris sedang mencari avatar Elemental Lord Api yang mana mereka kehilangannya jejaknya, yang mana Ellis dan Claire kebetulan sedang bersama dengan Elemental Lord Api tersebut.


"Kerajaan Suci telah mengetahui kita berada disini."


"Ya, sepertinya akan lebih bijak untuk bertemu dengan Kamito dan yang lainnya lalu keluar dari sini!"


Ellis memutar tubuhnya dan mengayunkan Ray Hawk.


Pedang angin yang dihasilkan dari ujung tombak itu memotong bayangan yang mengejar menjadi dua.


Akan tetapi, anjing yang terbelah dua itu meresap kedalam tanah, lalu muncul dari bayangan bangunan lain.


"Percuma saja!"


"Para roh gabungan terspealisasi dalam kemampuan pelacakan, sungguh menjengkelkan..."


"Aku dikejar oleh anjing bayangan itu saat babak final di Ragna Ys. Sepertinya nasib mempertemukan kami lagi."


Anjing itu menyerang dari atas. Kali ini, Claire menghadangnya dengan menggunakan Flametongue.


Dengan suara angin yang terbelah, anjing itu seketika terbakar habis.


(...Pengejaran semacam ini menguntungkan musuh. Ini buruk.)


Bahkan tanpa melirik bayangan yang telah terbakar, Claire merenung. Kemungkinan para ksatria dibawah komando Luminaris sedang menunggu di ujung jalan ini.


Mengingat tingkat Claire dan rekan-rekannya saat ini, mereka mungkin bisa menghadapi Luminaris atau para ksatria roh Kerajaan Suci. Akan tetapi, melawan begitu banyak ksatria disaat yang bersamaan tetaplah cukup sulit.


(Bisa dikatakan, kami juga gak bisa menggunakan sihir angin milik Ellis untuk terbang—)


Itu sama saja dengan bermain di tangan musuh, karena Sacred Spirit Knight juga memiliki para penembak jitu profesionalnya.


"Ampun deh, kemana sih perginya Kamito disaat-saat seperti ini!?"


"Aku benar-benar ragu kalau Kamito sudah tertangkap oleh Kerajaan Suci—"


"Lewat sini, kepung dan tangkap mereka!"


Komando Luminaris terdengar di jalan utama.


Didepan mereka, suara langkah kaki dari banyak orang mendekat.


"Mereka sudah mengepung kita dari depan dan belakang. Apa yang harus kita lakukan?"


"Apa gak ada cara lain selain menerobos mereka secara langsung...!?"


Claire dan Ellis mempersiapkan diri mereka, berhenti untuk mengeluarkan elemental waffe mereka. Lalu....


Sebuah suara ledakan yang mengerikan terdengar. Tanah berguncang keras.


"....A-Apa!?"


"Tanahnya terbelah!?"


Retakan-retakan bermunculan di bangunan-bangunan batu, yang mana selanjutnya runtuh karena gempa bumi yang kuat tersebut.


Ini bukanlah serangan dari Sacred Spirit Knight, karena mereka bisa melihat Luminaris dan para bawahannya yang ada didepan di jalan utama kebingungan sama seperti Claire dan Ellis.


"—Claire, kita akan terbang!"


"Dimengerti!"


Claire segera mengangguk dan Ellis memegang tangannya. Menggunakan saat kebingunan ini akan memungkinkan mereka untuk mengambil celah dalam para penembak jitu musuh. Sungguh suatu penilaian yang nekat namun akurat.


STnBD V18 BW01.jpg


Ellis mengayunkan Ray Hawk dengan satu tangan, menghasilkan angin kencang yang membentuk angin puyuh. Kedua cewek itu segera melewati atap bangunan dan terbang.


Para penembak jitu menembakkan panah cahaya suci seperti hujan. Akan tetapi, karena mereka bereaksi terlambat karena kekacauan tersebut, mereka melakukan kesalahan yang fatal.


Berputar dengan cepat di udara, Ellis menghindari hujan panah tersebut secara spektakuler.


"Berubahlah jadi arang!"


Sebagai balasan, Claire menembakkan sebuah Fireball, meledakkan semua penembak jitu yang bersembunyi di bayangan bangunan.


"Pokoknya, ayo kabur ke hotel dimana Fianna dan yang lainnya berada—"


"Ya, tapi gempa bumi apa yang barusan...?"


Ellis menyeka keringat dengan lengan bajunya sambil menatap Kota Raja Iblis yang ada di bawah mereka.


Sebuah retakan besar yang muncul secara tiba-tiba di tanah yang menelan jalanan dan bangunan, tampak semakin membesar.


"Ini bukanlah gempa bumi biasa—"


"Ya. Mempertimbangkan semua hal, gempa bumi merupakan fenomena yang disebabkan oleh para roh tanah yang marah. Di Ghul-a-val ini yang merupakan daratan yang ditinggalkan oleh para roh, gempa bumi seharusnya merupakan hal yang mustahil—"


"Ellis, lihatlah! Ada sesuatu didalam retakan itu!"


"...Apa itu?"


Ellis melihat kearah yang ditunjuk Claire.


Di dalam retakan raksasa itu, ditengah kegelapan yang menakutkan, suatu bayangan raksasa berusaha merangkak keluar.


"Mungkinkah itu adalah roh....?"


"...Duh, apaan sih yang sedang terjadi!?"

Bagian 2[edit]

"Apa yang terjadi....?"


Dikelilingi oleh Kegelapan, tak bisa melihat tangannya sendiri, Kamito membuka matanya.


Dia merasakan gelombang rasa sakit dari kepalanya.


Sudah berapa lama waktu yang berlalu sejak dia kehilangan kesadaran?


"....Dimana sih ini?"


Sambil menekan keningnya, Kamito melihat sekeliling.


Sebuah lampu kecil disertai dengan sebuah tempat lilin perak kuno menyala, menyediakan penerangan.


Lantai batu berlumut dipenuhi tiang-tiang batu yang rubuh.


Lukisan di dinding telah nyaris terkelupas, mengindikasikan keadaannya yang menyedihkan.


Kemungkinan besar ini adalah semacam reruntuhan kuil kuno. Kamito teringat babak final Blade Dance, yang mana diadakan di reruntuhan Megidoa yang merupakan kota terabaikan.


(Tunggu, kenapa aku ada disini....?)


Kamito semakin dan semakin bingung.


Ingatannya sebelum kehilangan kesadaran telah terputus secara tiba-tiba.


(—Aku ingat aku seharusnya sedang bertarung melawan Lurie di bawah tanah di Makam Raja Iblis.)


Pembunuh yang dikirim oleh Kerajaan Suci untuk menargetkan Peti Mati Raja Iblis adalah Lurie Lizaldia, pemenang Blade Dance lima belas tahun yang lalu. Setelah bertarung sengit melawan dia, Kamito mengalahkan dia.


Akan tetapi, dia masih memiliki upaya terakhir.


Dia mengaktifkan bom roh yang terpasang pada jantungnya sendiri, sebuah senjata penghancur masal menggunakan kekuatan dari para roh, berniat menghancurkan Makam Raja Iblis yang dilindungi oleh sebuah penghalang.


Secara ironis, dia yang membenci perang dan memiliki harapan terhadap para Elemental Lord untuk menghilangkan perang— sekarang malah menggunakan senjata paling mengerikan yang dibuat selama era Perang Ranbal.


(....Aku masih ingat segala sesuatu sampai poin ini. Apa yang gak bisa ku ingat adalah yang selanjutnya—)


Saat itu, apa yang terjadi pada dia, yang merupakan orang yang paling dekat dengan pusat ledakan?


"Jangan bilang..."


Kamito memikirkan kemungkinan yang mengerikan dan merinding.


Meskipun dia selamat dari banyak bahaya berkat Perlindungan Baja milik Est, gak seorangpun akan menduga dia akan selamat tanpa terluka dari bom roh, sebuah senjata penghancur masal yang mana kekuatan ledakannya cukup untuk memusnahkan sebuah kota sepenuhnya setelah diaktifkan.


(—Sewajarnya, aku akan hancur tak berbekas.)


Pasti begitu.


Mencoba menjelaskan kenapa dia masih ada, Kamito menyimpulkan...


"....Aku sudah mati, jadi tempat ini adalah Valhalla?"


Berpikir dengan tenang, Kamito mencapai kesimpulan seperti itu.


Valhalla adalah suatu tempat peristirahatan bagi jiwa-jiwa orang mati.


Legenda menyebutkan itu adalah sebuah surga yang berlokasi di suatu tempat di Astral Zero. Akan tetapi, ini merupakan apa yang dikatakan oleh Divine Ritual Institute pada dunia luar. Gak seorangpun yang tau apakah itu benar-benar ada atau tidak.


Sebagai sebuah surga, lokasi Kamito saat ini cukup kejam.


(Tidak tunggu, sekarang bukan waktunya buat bersantai!)


Kamito hendak berdiri—


Lalu dia tiba-tiba menyadari—


Tangan kanannya menyentuh lantai batu hitam.


Segel roh di punggung tangannya bersinar samar.


Kalau dia sudah mati dan pergi ke alam baka—


Maka kontrak roh dia dengan Est akan hilang, oleh karena itu segel rohnya akan terhapus.


Kamito melepas sarung tangan yang ada di tangan kirinya.


Lambang pedang bersilangan dan bulan—segel roh milik Restia—juga masih ada.


(Oh ya, dimana mereka!?)


Kamito menuangkan divine power pada segel roh yang ada di kedua tangannya untuk memanggil kedua roh pedang itu.


...Tapi tak ada tanggapan. Jika segel roh masih tampak, maka koneksinya seharusnya tidak terputus—


"Tenang. Aliran waktu disini terpisah dari alam manusia."


".....!?"


Kamito mendengar suara yang sepertinya pernah dia dengar di suatu tempat sebelumnya.


Pada saat yang sama, seorang pria secara tiba-tiba muncul didepan dia.


"....Kau....?"


Kamito kesulitan mengucapkan kata-kata.


Pria muda itu berpakaian seperti seorang pedagang gurun.


Dia adalah Safian, pedagang Zohar yang Kamito temui di Kota Raja Iblis.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau ada disini?"


Kamito berdiri, menatap tajam pada pria yang ada didepannya. Meskipun dia mengklaim bahwa dia adalah seorang pedagang malang yang mengalami kecelakaan kapal di gurun dan berakhir nyasar ke Kota Raja Iblis, hal ini jelas-jelas mustahil.


....Siapa sebenarnya dia?


"Jangan sewaspada itu. Aku gak mencoba memanfaatkanmu, tapi setidaknya aku menyelamatkan nyawamu."


"Kau?"


Kamito menatap Safian dengan penampilan skeptis pada matanya.


"Dimana ini? Kita gak berada di dalam piramida, kan?"


"Tempat ini adalah celah dimensi—bukan di alam manusia ataupun Astral Zero."


"Celah dimensi?"


"Setelah perang roh, dunia yang awalnya bersatu terbagi menjadi alam manusia dan Astral Zero. Disaat yang sama, beberapa celah dimensi terbentuk secara tiba-tiba. Ini adalah salah satu celah dimensi tersebut."


"....Jadi ini dimensi yang berbeda dari Makam Raja Iblis, huh?"


"Kau cepat sekali paham. Seperti yang diharapkan dari penerus Raja Iblis. Atau mungkin, kau sudah menanyai Iris?"


"Dia menyebutkan bahwa Kota Raja Iblis ini merupakan pecahan ingatan Raja Iblis yang ditempatkan di celah dimensi menggunakan kekuatan dari Makam Raja Iblis. Sejujurnya, aku gak sepenuhnya memahaminya, tapi ada tempat-tempat lain selain Kota Raja Iblis yang berada di celah dimensi, kan?"


"Memang. Dan dimensi ini merupakan sebuah celah kecil yang bisa kugunakan secara bebas."


Seolah membanggakan ruang pribadi miliknya, Safian merentangkan tangannya.


"Dimensi ini tidak tampak begitu menyenangkan. Reruntuhan apa ini?"


"Dulunya ini adalah sebuah tempat bersejarah milik para Elf. Akan tetapi, sebagian besar tempatnya telah hancur saat Perang Roh."


...Jadi itu sebabnya tempat ini memiliki suasana yang mirip dengan reruntuhan di Ragna Ys.


"Yah, terimakasih. Sepertinya kau betul-betul menyelamatkan aku."


"Aku senang aku tepat waktu. Terlambat sedikit saja kau akan lenyap."


"Ya."


Kamito berbicara pelan.


"Apa yang terjadi pada Est dan Restia? Apa mereka ada disini juga?"


"Tidak, cuma kau satu-satunya yang dipindahkan ke sini. Gimanapun juga, semua itu terjadi sangat mendesak. Akan tetapi, gak ada yang perlu dikuatirkan mengenai kedua roh itu. Gimanapum juga mereka adalah pedang suci legendaris dan pedang iblis milik Raja Iblis."


"Jadi kau bahkan tau tentang Est dan Restia?"


Kamito membalas. Safian mengangkat bahu dan tersenyum masam.


"Safian, siapa kau sebenarnya? Sekarang ini, apa kau masih akan bersikeras kau hanyalah seorang pedagang biasa?"


"Oh? Kupikir kau telah menyadari identitas asliku setelah bertemu Iris."


"Yah, aku punya tebakan kasar sih—"


Kamito mengeluarkan sebuah koin emas dari saku dadanya dan menjentikkannya dengan ibu jarinya.


"Ini adalah koin emas dari Kota Raja Iblis yang kau tukarkan untukku. Sepanjang waktu aku bertanya-tanya mirip wajah siapa yang ada di koin itu... Kalau aku perhatikan lebih cermat, itu sangat identik dengan wajahmu."


"Hmmm, lalu?"


"Koin emas memiliki nilai tertinggi diantara semua koin. Wajah yang ada pada koin tersebut pastilah wajah dari penguasanya. Dan penguasa Kota Raja Iblis adalah—"


"Aku paham."


"Kau adalah Raja Iblis Solomon, kan?"


"....."


Safian tersenyum tanpa menjawab.


Kamito menganggapnya sebagai jawaban iya dalam bentuk diam dan melanjutkan.


"Tapi masih baru sekarang aku yakin atas hal ini. Di ruang pemakaman, aku melihat apa yang terjadi seribu tahun yang lalu. Meskipun wajah Raja Iblis diburamkan, setidaknya aku tau dia gak seperti monster yang dikatakan legenda."


"Begitukah? Apa Iris menunjukkan segala sesuatunya padamu?"


"Ya. Bagaimana kau disebut seorang pahlawan, lalu jatuh menjadi Raja Iblis. Aku melihat semuanya."


Kamito menatap pria yang ada di hadapan dia.


Pria inilah tepatnya yang dikenal sebagai seorang pahlawan pada sebuah kerajaan kuno—


Raja Iblis Solomon yang jahat, yang telah membawa teror dan kekacauan yang mengerikan pada benua.


"Kau setengah benar."


"Setengah benar?"


Kamito mengernyit terkejut.


"Aku berbeda dari Raja Iblis yang digambarkan dalam legenda. Aku adalah hasil dari penyesalan dari saat-saat terakhir dari seorang manusia bernama Solomon Yelsion. Kau bisa menyebutnya suatu dendam yang terus membara. Seorang mahluk menyedihkan tanpa kekuatan Raja Iblis dan cuma bisa berkeliaran diantara celah-celah dimensi."


Mengatakan itu, sang Raja Iblis, yang tampak seperti seorang pria muda, tertawa mengejek diri.


...Jadi begitu. Pria ini adalah sebuah pecahan ingatan seperti yang disebutkan roh Iris.


Seperti penduduk Kota Raja Iblis, apa dia suatu eksistensi yang seperti buih?


Dari saat ketika dia masih seorang pahlawan manusia sebelum dia dikenal sebagai Raja Iblis—


(...Bisa dikatakan, gambaran ini sangat berbeda dari legenda-legenda Raja Iblis yang beredar di masyarakat.)


Kamito bergumam dalam hati.


Dari penampilan, dia seperti seorang pria muda baik-baik.


Dalam kasus Kamito, yang sama-sama seorang elementalis laki-laki, namun dia dipanggil Raja Iblis Malam Hari. Nama jahat ini sepenuhnya disebarkan oleh pendapat umum.


"Lalu apa tugasmu?"


"Apa maksudmu dengan tugas?"


Dia memiringkan kepalanya bingung pada pertanyaan Kamito.


"Roh Iris merupakan penjaga dari segel Peti Mati Raja Iblis. Kau punya tugas juga, kan?"


"....Memang. Kalau dia adalah penjaga tempat ini, maka aku adalah pengelola Kota Raja Iblis. Memperbaiki celah dimensi, terkadang mengirim kembali pengelana ke alam manusia saat mereka tertarik kesini secara kebetulan atau secara sengaja, dsb. Kurasa hal semacam itu terhitung sebagai tugas yang kita bicarakan."


"Aku gak percaya gak ada tugas yang penting."


"Aku sudah mengatakannya. Aku gak punya kekuatan dari Raja Iblis."


Safian—Raja Iblis Solomon—tersenyum masam.


"Dan sekarang, tugasku hampir berakhir."


"....Apa maksudmu?"


"Kota Raja Iblis akan segera lenyap."


Kamito terdiam gak bisa berkata apa-apa.


Apa bom roh yang digunakan oleh Lurie menyebabkan kehancuran dengan skala sebesar itu...?


(Tidak, Bloodstone itu seharusnya gak lebih besar daripada jantung—)


Itu seharusnya gak punya kekuatan ledakan untuk menghancurkan sebuah kota secara keseluruhan.


"Kota ini bertopang pada piramida, Makam Raja Iblis, untuk tetap berada di celah dimensi. Saat piramida itu rusak, maka kota ini akan runtuh. Terlebih lagi, kota ini berada di sebuah dimensi yang tidak stabil, ibaratnya sebuah bangunan yang dibangun diatas pasir."


"Lalu dia—"


Apa yang terjadi pada roh Iris, penjaga dari Makam Raja Iblis?


Solomon menggeleng. Dia mengetahui apa yang Kamito pikirkan?


"Eksistensinya tak bisa dipisahkan dari Makam Raja Iblis. Saat tempat ini runtuh, tentu saja dia akan lenyap begitu pula dengan aku."


Secara mengejutkan, gak ada kesedihan dalam suaranya.


Apa dia sudah mempersiapkan diri untuk datangnya hari ini?


"Saat Iris kehilangan kekuatan, segel pada Peti Mati Raja Iblis akan terangkat. Wanita yang kau lawan pasti sudah mengetahui hal ini, yang mana itu sebabnya dia menggunakan bom roh disana."


"...Jadi apa sebenarnya yang tersegel didalam Peti Mati Raja Iblis?" Tanya Kamito.


Menurut legenda yang disebarkan oleh pemuja Raja Iblis, dikatakan pada dia oleh Restia, sisa-sisa Raja Iblis terbaring didalam peti mati. Seseorang yang akan mendapatkan kekuatan yang besar seharusnya adalah orang yang mendapatkan peti mati itu.


Tapi—


"Betul-betul bodoh—"


Itulah yang dikatakan Lurie Lizaldia.


Yang tertidur didalam peti mati itu bukanlah kekuatan Raja Iblis—


Tapi sebuah relik suci dari Kerajaan Suci.


Solomon menggeleng.


"—Sebenarnya, yang dibilang Peti Mati Raja Iblis itu sejak awal tidak ada."


"....Huh?"


Kamito cuma bisa membelalakkan matanya.


"Itu gak lebih dari sebuah rumor yang disebarkan oleh pemuja Raja Iblis."


"Lalu apa yang dijaga oleh Roh Iris disini?"


Kamito terkesiap.


"Kau sudah melihatnya."


"Apa yang kau bicarakan?"


"Kristal roh yang menyegel roh Iris, itulah yang dia lindungi selama seribu tahun ini."


"....Kristal itu?"


Kristal raksasa yang memancarkan sinar berwarna-warni.


Itulah yang roh Iris jaga sampai sekarang—


Lalu, api pada lilin itu tiba-tiba padam.


Bukan karena tertiup angin. Disini gak ada angin.


Saat Kamito melihatnya, Solomon memasang ekspresi serius, menatap kegelapan di ruang kosong.


"....Sepertinya dia sudah bangkit."


"Dia?"


"—Ya. Sacred Maiden yang tersegel."

Bagian 3[edit]

"Apa yang terjadi?"


"Aku juga gak tau—Kyah!"


Gempa bumi yang dahsyat terjadi. Melihat tanah didepan mereka tiba-tiba terbelah, Georgios, yang menggendong Fianna di tangannya, melompat melewati retakan itu.


Dengan suara dentangan logam, roh ksatria ini mendarat dengan aman.


"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?"


Berada didepan, Rinslet menoleh kebelakang sambil menunggangi punggung Fenrir.


"Aku baik-baik saja, meskipun secara gak sengaja menggigit lidahku."


Mengernyit, Fianna menjulurkan lidahnya yang memerah.


"Kita keluar dari kota dulu. Bangunan yang ada disini sangat padat, yang mana itu berbahaya."


"Bagaimana dengan Claire dan yang lainnya? Dan juga, kita belum menemukan Kamito-kun."


"Mereka bertiga akan baik-baik saja. Keamanan anda adalah yang paling penting, Yang Mulia."


Mendengar Rinslet, Fianna menggigit bibirnya.


Saat ini, dia adalah simbol dari faksi anti-Kaisar Ordesia.


Dia gak boleh tewas disini.


"....Aku mengerti. Georgios, lari kearah gerbang kota!"


<Baik, Master!>


Menjawab dengan suara kosong, roh ksatria tersebut mulai berlari, menghancurkan ubin batu di bawah kakinya.


"Waktunya pergi, Fenrir!"


"Woof!"


Gak seorangpun dijalanan yang memperhatikan dua cewek yang lari itu. Saat kota mulai runtuh, penduduk Kota Raja Iblis berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.


(...piramida itu perlahan-lahan menghilang.)


Dari lengan roh ksatria, Fianna menatap terkejut pada pemandangan itu.


Bangunan besar itu yang berdiri dimana Istana Raja Iblis dulunya berada, bisa terlihat dari seluruh kota.


Saat ini, bangunan itu perlahan-lahan menghilang, berubah menjadi partikel cahaya seolah meleleh ke udara.


Apa ada hubungannya antara Piramida yang perlahan-lahan menghilang itu dan gempa bumi yang tiba-tiba terjadi?


Ditengah-tengah guncangan gempa bumi yang dahsyat—


Georgios dan Fenrir secara paksa melompat melewati tanah yang menyembul dan terus berlari.


Tiba-tiba, Fenrir berhenti.


"Yang Mulia, berhenti!"


Rinslet berteriak.


"Ada apa?"


"Ada sesuatu yang muncul!"


"...!?"


Grr, Fenrir menggeram sebagai sebuah peringatan.


Lalu...


Sebuah ledakan terdengar. Tanah didepan mereka terbelah.


Disertai kepulan debu, suatu bayangan raksasa muncul dari bawah tanah.


ROAR!


"A-Apa itu?"


Raungan mengerikan mengguncang udara.


Dari retakan di tanah, muncul binatang buas. Seekor binatang yang sangat besar.


Binatang itu memiliki dua kepala serta cakar dan gigi yang menyala.


"Mungkinkah ini roh...?"


Fianna melebarkan matanya.


Selain itu, ini merupakan roh yang memiliki tingkatan yang cukup tinggi. Roh kelas archdemon yang langka, sangat jarang ditemui meski di kedalaman Hutan Roh, tidak, bahkan di Astral Zero—


"Kenapa ada roh di tempat seperti ini!?"


"A-Aku juga nggak tau... Oh tidak, masih ada lagi!?"


Setelah roh singa itu, sesosok roh raksasa berbalut armor pedang es muncul.


Tingginya jauh melampaui bangunan sekitar. Dengan bilah es dalam jumlah banyak yang menjulang dari tangannya, tangan itu tampak seperti bisa menghancurkan rumah batu dalam sekejap.


"Gak bisa dipercaya...."


"Apa yang sebenarnya terjadi....!?"


Kedua roh itu perlahan-lahan merangkak keluar dari tanah, saling menatap dan mulai berhadapan.


ROAR!


Mereka meraung bersamaan—


Mereka mulai bertarung.


"...! T-Tunggu sebentar, ini bercanda, kan!?"


Pecahan batu besar terlempar mendekat, Georgios menepisnya menggunakan pedangnya.


Hantaman tinju melawan cakar membuat ubin batu di tanah terhempas, menciptakan retakan.


"Sepertinya jalur ini buntu. Ayo kita memutar."


"K-Kurasa begitu—"


Sambil berhati-hati agar gak ditemukan oleh roh-roh yang bertarung itu, kedua cewek ini pergi diam-diam.


Lalu....


"....Tolong... aku!"


Mendengar sebuah teriakan, begitu samar hingga seolah itu adalah imajinasi mereka, kedua cewek itu saling bertukar tatap.


"Apa kau dengar barusan?"


"Ya, itu... teriakan minta tolong, kan?"


Rinslet mengangguk.


Penduduk kota ini seharusnya sudah lenyap.


Lalu suara siapa barusan?


Woof woof. Fenrir menggonggong dua kali.


"Ada apa?"


"Bau seseorang berasal dari arah sana!"


Rinslet segera menyuruh Fenrir ke arah sana.


Sampai di tumpukan puing-puing yang runtuh saat gempa bumi, Fenrir berhenti.


"Apa ada orang disini?"


Rinslet berteriak keras seraya ledakan-ledakan terus bergema.


Akan tetapi, dia gak mendengar tanggapan apapun.


"Georgios, bongkar puing-puing ini!"


Dengan perintah Fianna, roh ksatria itu mulai membongkar puing-puing besar itu.


Setelah puing-puing paling besar diangkat—


"Tunggu, ada seseorang!"


Fianna berteriak.


"...Ooh... Oooooh... Ooh..."


Seorang cewek mengenakan jubah abu-abu sedang mengerang. Kakinya tertindis puing-puing.


"A-Apa kau baik-baik saja!?"


"Tetaplah sadar. Aku akan menyembuhkanmu."


Fianna bergegas mendekat dan memerintahkan Georgios untuk membersihkan puing-puing disekitar. Saat dia merapal sihir roh penyembuhan, luka pada kaki cewek itu perlahan menghilang.


"...T-Terimakasih... banyak..."


Meskipun masih menampilkan ekspresi kesakitan di wajahnya, cewek itu masih mengucapkan rasa terima kasihnya.


Gimanapun juga, sihir roh hanya bisa menyembuhkan namun gak menghilangkan rasa sakit.


"Kakimu sepertinya belum bisa dipakai berjalan. Biar Georgios yang menggendongmu."


"Boleh aku tanya kamu siapa...?"


"Aku Rinslet dari Keluarga Laurenfrost."


"Lauren....?"


Mendengar itu, cewek itu memiringkan kepalanya kebingungan.


Lalu—


BOOOOOOOOOOOOOOM!


Suara ledakan yang sangat keras terdengar dari dekat. Bangunan yang saling berdekatan runtuh secara bersamaan.


Menghasilkan kepulan debu yang menyebabkan Fianna dan yang lainnya batuk secara terus-menerus.


"Bicaranya nanti saja. Kita harus keluar dari sini terlebih dahulu."


"B-Baik—"


Cewek itu mengangguk dan diangkat oleh Georgios.


Tiba-tiba Fianna melihat benda tertentu yang dipegang erat-erat cewek itu di dadanya.


Itu adalah sebuah buku yang ditulis dalam bahasa High Ancient.


"Buku itu—"


Sebagai seorang princess maiden berbakat, Fianna bisa tau hanya dengan melihatnya sekilas bahwa buku itu bukanlah buku biasa.


Memancarkan aura misterius, ini adalah sebuah elemental waffe berbentuk buku.


Dengan kata lain, cewek ini adalah seorang elementalis.


"...Mungkinkah kau Putri Saladia!?"


"Eh!?"


Mendengar nama yang digumamkan Fianna, Rinslet terkejut.


Mata cewek itu terbelalak dan menutup bibirnya rapat-rapat.


Kalau diperhatikan lebih cermat...


Wajahnya memang mirip dengan kakaknya, Sjora.


"B-Bukan, aku...."


Berkata begitu, dia dengan panik menyembunyikan wajahnya dengan tudungnya dan mencoba membantah.


Akan tetapi, Fianna memegang tangan cewek itu dan memperkenalkan dirinya sendiri.


"Aku Fianna Ray Ordesia, putri kedua Ordesia."


"Putri... kedua...?"


"Kami menyambutmu dengan hangat, Putri Saladia."


Cewek itu membelalakkan mata merahnya.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya