Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid18 Bab 5

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 5 - Perayaan[edit]

Bagian 1[edit]

—Setelah matahari terbenam.


Api unggun dinyalakan di tengah alun-alun besar Scorpia untuk merayakan penobatan sang putri.


Lantai alun-alun itu dilapisi dengan karpet yang bersulam pola yang indah, sebuah keahlian lokal Theokrasi Alpha. Disajikan pada peralatan-peralatan emas dan perak, hidangan dan buah-buahan satu per satu dibawa ke tempat beserta tempat wine.


Setelah mandi, Claire dan yang lainnya duduk di karpet, melihat pesta megah yang ada didepan mereka.


"Makan lesehan begini merupakan pengalaman yang baru."


Claire yang kulitnya lembut dan lembab setelah mandi, menyibakkan rambutnya sambil berbicara.


"Kudengar ini adalah adat perjamuan tradisional di Theokrasi."


"Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan ini."


Mengingat kembali hari-harinya di Sekolah Institusional, Kamito berkomentar.


Karena Sekolah Institusional berasal dari penganut Raja Iblis dari Theokrasi, Kamito lebih akrab dengan budaya gurun daripada budaya cewek-cewek bangsawan muda dari Ordesia.


"Karpet ini bagus sekali. Aku penasaran bagaimana mereka menyulamnya?" Ellis bergumam sangat tertarik.


Kamito bisa mencium aroma bunga dari leher Ellis, mungkin karena dia menggunakan sabun mawar yang dibuat secara khusus.


"Ini adalah karya dari para princess maiden yang terspesialisasi dalam menyulam, dipandu oleh para roh. Hasilnya, tekstil khas Theokrasi Alpha yang mengandung berkah dari para roh."


Claire yang berpengetahuan luas mengangkat jari telunjuk dan menjelaskan.


"....Jadi begitu. Gak heran rasanya begitu nyaman diduduki."


Mendengar itu, Kamito berkomentar kagum sambil duduk diantara Claire dan Ellis.


Selain kelompok Kamito, para tamu yang diundang termasuk jenderal dari penjaga kerajaan, para pemimpin militan lokal dan orang-orang istana yang dipenjara oleh Sjora Kahn.


Pada dasarnya semua pengikut yang dengan serakah menerima hak-hak istimewa dan wewenang yang diberikan oleh Sjora sekarang ini telah dipenjara. Mereka tidak di eksekusi karena Putri Saladia ingin menujukkan dia gak punya niat untuk melanjutkan teror pemerintahan kakaknya.


Adapun untuk Saladia ssendiri, dia saat ini duduk di singgasana, mendengarkan laporan-laporan para pengikutnya.


Duduk disana, dengan anggun dan memancarkan kesan mengagumkan, sangat sulit untuk membayangkan dia sebagai seorang cewek di usia yang sama dengan Kamito dan rekan-rekannya.


"Putri Saladia dihadapkan dengan pekerjaan yang sulit di depan."


"Ya, masih ada cukup banyak panglima perang lokal yang menginginkan melanjutkan dinasti Kahn."


Saat Claire menatap sang putri dan berkomentar, Ellis sependapat.


Lalu—


"Maaf atas keterlambatanku."


Kamito dan rekan-rekannya mendengar suara Fianna dari belakang.


"Beneran deh, kemana saja kau?"[1]

"Hmm, ada urusan mendadak..."


Menjawab pelan, lalu Fianna duduk dengan anggun disamping Ellis.


"Ellis, aku secara pribadi menulis sebuah surat pada Dracunia, bisakah kamu mengirimkannya pada Raja Naga?"


"Dimengerti. Saya akan mengutus roh angin paling cepat untuk mengirimkannya."


Ellis merapal sebuah mantra dan memanggil roh angin dalam wujud seekor falcon.


Sekilas, roh itu tampak mirip dengan Simorgh namun lebih kecil. Falcon itu memegang surat tersebut dengan paruhnya, lalu terbang layaknya hembusan angin.


Dikarenakan status mereka sebagai Tuan Putri Kekaisaran dan anak cewek duke, Fianna dan Ellis terbiasa agak terlalu formal satu sama lain, tapi sejak Ellis mulai bekerja sebagai sekertaris Fianna, mereka menjadi lebih dekat.


"Jika Dracunia membuat aliansi resmi dengan kita, aku yakin Arneus tak akan bertindak gegabah."


"Ya, dengan ketidakpastian situasi internal Kekaisaran, dia akan berpikir dua kali sebelum menyulut kemarahan salah satu dari kekuatan militer tingkat atas di benua—"


Disaat Claire dan para cewek ngobrol, makanan mewah istana di sajikan hidangan demi hidangan.


Ada roti jelai yang di oven, roti tawar, babi panggang utuh, sebuah hidangan dimana ayam utuh yang diisi berbagai bahan, kadal gurun goreng, kalajengking merah goreng yang dibumbui garam, domba rebus beraroma sayuran, daging yang dipasangkan dengan saus buah, untaian anggur yang disajikan pada wadah perak, hidangan penutup apel panggang yang dilumuri madu....
(T/N: kalo nama hidangannya aneh, yaa maaf. Aku lemah dalam nerjemahin makanan dan nama ikan)


"Wow... Semuanya kelihatan sangat enak!"


"Ada hidangan-hidangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya!"


Tatapan Claire terkunci pada hidangan penutup yang dipenuhi persik.


Setelah makanannya disajikan, sebuah esembel musikal yang terdiri dari para princess maiden melakukan pertunjukan mereka di pusat plaza dan mulai memainkan musik eksotik.


Tertarik oleh musik dan pesta mewah tersebut, para roh terus berdatangan. Area ini nampaknya disukai oleh para roh tanah. Banyak roh kadal bersisik keras dan roh kalajengking dengan ujung ekor yang seperti martil bisa ditemukan disekitar.


Roh-roh terkontrak milik Tim Scarlet berkeliaran bebas di plaza.


Ini merupakan sebuah pemandangan yang cukup langka untuk ditemui saat perkumpulan para bangsawan Ordesia.


Para pengikut mulai mengobrol gembira seraya memegang gelas wine. Beberapa dari mereka bahkan mengarahkan daging yang ditusuk pada ekor Scarlet untuk memanggangnya saat Scarlet sedang berjalan-jalan di plaza.


"Claire, apa itu betul-betul gak apa-apa? Melakukan hal itu pada seekor roh berperingkat tinggi?"


Melihat itu, Kamito menoleh pada Claire yang ada disamping dia dan bertanya.


"Tentu, lagian Scarlet cuma pergi jalan-jalan meminta makanan..."


"Seperti candle service[2] huh?"


"Yah, kurasa begitu."


"Rasanya kayak menyimpang...." Ellis menyindir halus.


"Hmph, kita gak boleh kalah, Fenrir!"


Menyibakkan rambut pirang platinumnya, Rinslet berdiri.


Disertai badai es, Fenrir yang dipanggil membekukan buah persik dan anggur yang disajikan, seketika menghasilkan serbat.


"Hmm, lumayan...."


"Claire, ayo melakukan kontes. Menentukan roh siapa yang paling populer di perjamuan ini!"


"Siapa takut!"


"Kenapa juga kalian mengadakan kontes?"


Melihat kedua siswa Kelas Gagak berseteru, Kamito menghela nafas.


"Yah, ini gak buruk-buruk amat. Gak setiap hari kita menghadiri perjamuan."


Fianna menanggapi sambil mengangkat bahu.


"Omong-omong, Georgios jarang dipanggil pada perjamuan seperti ini."


"Gimanapun juga, sebagai roh pusaka kerajaan, dia gak boleh ditampilkan secara sembarangan."


"Apa dia memakan makanan manusia seperti Scarlet dan yang lainnya?"


Para roh gak memerlukan untuk memakannya, tapi sebagian besar dari mereka akan memakan makanan dengan senang saat disajikan.


"Hmm, dia sepertinya lebih menyukai besi untuk dimakan. Georgios sering mekanan benda-benda seperti pedang patah yang gak berguna dan semacamnya."


"A-Aku mengerti.... Itu gak terlalu mengejutkan sih."


Mengatakan itu, Kamito sedikit menengadah.


Dia bisa melihat seekor burung sakral berekor pelangi terbang diatas mereka.


Para pengikut sang putri mnegatupkan tangan mereka dan memberi hormat pada burung itu.


"Rasanya mereka seperti menyembah Simorgh..."


"Ya, itu membuatku takjub barusan."


Ellis sama-sama bingungnya.


"Teokrasi sepertinya menyembah roh-roh berwujud burung. Kurasa itu karena seekor burung raksasa membawa Raja Iblis ke pertempuran menurut legenda—"


Saat Fianna mulai menjelaskan...


"Onii-sama~!"


"Uwah... Uh—"


Sesosok mungil diam-diam mendekati dan memeluk Kamito.


"Muir!?"


"Ehehe..."


Kamito menoleh—


Dan melihat Muir tersenyum malu-malu dibelakang dia.


Bukannya memakai pakaian tempur Sekolah Instruksional-nya yang biasanya, dia mengenakan pakaian gurun. Rambut abu-abunya diikat di kiri-kanan kepalanya, melambai-lambai riang.


"Muir, kau sudah pulih."


"Ya, aku sudah sehat sekarang, Onii-sama♪"


Mengatakan itu, Muir mengangguk riang.


Dalam misi pengintaian di Zohar sebelumnya, dia dan Lily diserap oleh Leviathan si roh kelas strategi. Alhasil mereka terbaring di tempat tidur saat tim Kamito pergi ke Ghul-a-val.


"Apa Lily sudah pulih juga?"


"Dia sudah bisa berjalan sekarang, tapi dia gak mau datang ke sini."


"Jadi begitu. Dia memang seperti itu."


Kamito tersenyum masam. Lily adalah seorang anggota ras Elf dan membenci kerumunan manusia.


"Onii-sama, biarkan aku menyuapimu."


"...Woah!?"


Muir melompat dan duduk di pangkuan Kamito.


"T-Tunggu sebentar, apa yang kau lakukan!?"


Melihat itu, Claire melotot pada Muir.


"Hmph, Onii-sama adalah kursi pribadi Muir, sang adik."


"K-Kau bukanlah adiknya!"


"Benar, adik angkat. Adik angkat bisa dinikahi, jadi statusnya jauh lebih tinggi daripada adik kandung."


".....! D-Dinikahi....!"


Wajah Claire seketika memerah terang.


Lalu, Demon Slayer di samping Kamito tiba-tiba bersinar.


"Menyingkir dari situ, itu tempatku—"


"E-Est!?"


....Karena suatu alasan, bahkan Est juga ikutan.


"Gak mau, ini adalah tempatnya Muir."


"....."


Est tetap tanpa ekspresi, tapi dia secara paksa mencoba duduk di pangkuan Kamito.


STnBD V18 BW03.jpg


Rambut peraknya berkilauan samar.


...kayaknya dia agak marah.


"H-Hei, kalian berdua...!"


"K-Kamito, ini adalah perilaku yang gak tau malu!"


"Memaksa dua cewek untuk melayanimu, kayaknya kau menikmatinya!"


"...~B-Berubahlah jadi arang, arang!"


"Woah, tunggu, Claire!?"


"—Ribut sekali."


Tiba-tiba, cewek bersayap hitam legam turun perlahan-lahan didepan kelompok Kamito.


Terkikih, Restia tersenyum nakal.


"Hmm, muncul juga kau, roh kegelapan..."


Sebagai tanggapan, Muir menatap penuh kewaspadaan pada Restia.


"Aku tidaklah pelit sampai-sampai mengatakan sesuatu seperti menguasai Kamito sendirian."


Restia menyatakan dengan ekspresi penuh kepercayaan diri.


"Apa kau serius?"


"Kenapa kita nggak berbagi Kamito saja?"


"Berbagi?" Karena merasakan perasaan buruk, Kamito bertanya.


"Ya, kami akan membagi waktu kapan kami bisa memonopoli Kamito. Aku akan menguasai Kamito di malam hari, sedangkan siang harinya jatah kalian berdua untuk menguasai dia."


"Enak aja!"


Kamito buru-buru memprotes saran Restia.


"Meskipun mewujudkan diri saat siang hari bukanlah masalah untuk roh tingkat tinggi seperti aku, gimanapun juga para roh kegelapan merasa malam hari lebih nyaman♪"


"Untuk kenyamananmu sendiri, huh!?"


"Gak mungkin aku akan menyetujuinya. Kau akan menguasai Onii-sama sendirian di malam hari!"


"Roh kegelapan, sudah kuduga, kita memang harus menyelesaikan masalah superioritas diantara kita—"


Kali ini, Muir dan Est mulai bersekutu.


"Kalian semua akrab sekali."


Melihat mereka, Fianna menghela nafas dan bergumam.


Para musisi memainkan melodi indah dan para princess maiden mulai menari.


Para princess maiden yang melayani para roh biasanya merupakan para cewek cantik dan kali ini juga. Akan tetapi, karena Kamito didampingi oleh para kecantikan tingkat atas dari Kekaisaran, dia lebih fokus pada hidangan gurun yang langka daripada tariannya.


"Est, kamu mau apa? Aku akan mengambilkannya untukmu."


"Ya. Aku mau daging yang berputar-putar itu."


Mendengar tawaran Kamito, Est menunjuk pada daging yang ditusuk, diputar sambil dipanggang.


"Nona Roh Pedang, itu namanya kebab."


"Kebab?"


"Domba yang dipotong di panggang diatas bara api sambil diputar-putar."


"Lalu kamu menggulungnya dengan sayuran dan memakannya dengan saus pedas manis."


"Kamito, aku mau kebab."


Est sudah memegang garpunya, mata ungunya bersinar terang.


Kamito memotong dagingnya. Lalu menyadari sesuatu yang aneh pada perilaku Claire.


"....Claire, apa yang kau lakukan?"


"Hyah!"


Saat Kamito menanyai dia, Claire tersentak.


Sentakan itu menyebabkan beberapa persik menggelinding keluar dari balik seragamnya.


"....ini tak sedap dipandang untuk seorang tamu pada sebuah perjamuan. Dan kau dulunya seorang putri duke juga."


"A-Aku cuma berencana memakannya di kamarku!"


Claire mengguncangkan twintailnya dengan sungguh-sungguh dan mulai memunguti persik yang berjatuhan.


"Beneran deh, apaan sih yang kau lakukan...?"


Ellis berkomentar dengan jengkel.


"Ellis, maaf atas keterlambatanku."


"Kakak—"


Lalu, Velsaria duduk disamping Ellis, memegang sebuah tempat wine.


Sepertinya, dia sudah selesai mengatur roh benteng miliknya di tempat Vivian Melosa.


"Ellis, apa kau mau minum?"


"Ya, kakak."


Ellis mengangguk dan mengangkat gelasnya.


"Ku dengar kau bertarung melawan Luminaris di Kota Raja Iblis."


"Ya, dia sesuai dengan reputasinya sebagai lawan yang tangguh."


"Meski demikian, kau melawan dia dengan setara kan?"


"Aku merasa terhormat bahwa aku memiliki kesempatan untuk menghadapi Luminaris-dono dalam pertempuran. Meskipun dua adalah seorang ksatria dari Kerajaan Suci, pedangnya murni dan jujur."


"Begitukah? Sebuah pengalaman yang berharga, aku mengerti."


"Ya, kak—"


Ellis tersenyum. Velsaria juga tersenyum lembut.


...Hubungan kakak beradik mereka, yang mana dulunya cukup kaku, telah menjadi jauh lebih harmonis.


Melihat itu, sesaat Claire terlihat sedih.


"Nee-sama belum kesini..."


"Kurasa Rubia gak terlalu suka perayaan."


"Salah besar. Dulu, Nee-sama dulu sangat senang setiap kali festival dan perayaan diadakan."


Kedua twintailnya terkulai lesu dalam kekecewaan.


"Nee-sama sangat ahli dalam bermain Old Maid."


"Benarkah..."


Melihat Claire seperti itu...


"Rubia-sama sebentar lagi akan kesini. Dia sedang bersiap-siap saat ini." Fianna menjelaskan.


"Bersiap? Bersiap untuk apa?"


"Sebentar lagi kau akan tau."


Mengatakan itu, Fianna terus memandang Putri Saladia yang ada di singgasana.


Meskipun dalam suasana perjamuan, Fianna tampak gugup.


—Tiba-tiba.


Musik berhenti dan ruang singgasana menjadi hening.


Tatapan semua orang mengarah pada pintu masuk plaza.


Yang muncul disana adalah—


"Nee-sama...!?"


Duduk di samping Kamito, Claire berseru pelan.


Memang, itu adalah Rubia Elstein.


Akan tetapi, bukannya mengenakan seragam militernya yang biasanya, dia mengenakan pakaian ritual seorang princess maiden.


Bisikan demi bisikan bisa terdengar dari para tamu.


"Rubia-dono, untuk apa pakaian ini?"


Putri Saladia bertanya terkejut.


Rubia berjalan pelan-pelan ke arah singgasana dan membungkuk dengan anggun.


"Untuk merayakan penobatanmu, Putri Saladia, aku ingin melakukan sebuah tarian ritual."


"Kau yang akan melakukan tarian ritual?"


Saladia mengernyit dan bertanya.


Memang, ini merupakan reaksi yang wajar bagi siapapun yang gak mengetahui bahwa Rubia Elstein dulunya adalah Ratu yang melayani Elemental Lord Api.


"Putri Saladia, Rubia-dono adalah seorang princess maiden dari Divine Ritual Institute. Aku yakin dia bisa memuaskan para roh yang ada disini."


Fianna berdiri dan memberi dukungan.


"Aku paham. Jika begitu, aku menantikan pertunjukanmu."


Sang putri mengangguk dan sedikit mengangkat tangannya. Suara musik kembali dimainkan.


Mereka memainkan musik untuk menghibur para roh.


Dengan kibaran rambut merahnya yang tampak seolah terbakar, Rubia mulai menari dengan anggun...


"Nee-sama..."


Claire membelalakkan matanya yang seperti rubi. Sudah bertahun-tahun sejak dia terakhir kali melihat kakaknya menari sedekat ini. Terakhir adalah saat Festival Roh Agung di ibukota kekaisaran.


Dengan mata tak berkedip, Claire menatap sosok kakaknya yang menari yang seperti api.


Api kecil dihasilkan dari kipas miliknya, berputar-putar di sekitar Rubia.


Para roh yang berkumpul di perjamuan tersebut mengungkapkan kegembiraan mereka dengan berkilauan secara terus-menerus.


Bermain-main didalam api, Rubia begitu cantik hingga Kamito terpesona.


STnBD V18 BW04.jpg


"Aku gak tau apapun tentang tarian, tapi ini betul-betul indah..."


"Ya. Inilah tarian Nee-sama, Kamito."


Claire berbicara penuh kebanggaan.


Dimasa lalu, Kamito pernah menyaksikan Rubia melakukan persembahan tarian ritual di ibukota kekaisaran.


Tapi saat itu, dia sepenuhnya berfokus pada misi yang diberikan Sekolah Instruksional dan gak punya waktu untuk memperhatikan kecantikan Rubia.


Tarian Rubia memanas layaknya kobaran api saat musiknya semakin meningkat intensitasnya.


Lalu, Kamito tiba-tiba menyadarinya.


Duduk di singgasana, ada sesuatu yang aneh pada Putri Saladia.


(...Apa yang terjadi?)


"...Ah...Ah..."


Dia mulai mengerang seolah mengalami kejang.


"Saladia-sama, apakah ada sesuatu yang mengganggu anda?"


Para pengikut menyadari kejanggalan tersebut dan mulai ribut.


"Putri, apa anda baik-baik saja?"


Rinslet berdiri kuatir.


Akan tetapi, saat dia hendak mendekat, Fianna menghentikan dia.


"Tunggu, Rinslet."


"Yang Mulia? Ada apa—"


"Semuanya, tolong tenanglah."


Fianna berdiri dan berteriak.


Seketika, ruang singgasana itu menjadi hening.


"Ah, guh, oh, ohhh, ohhhhhhhhhh—"


Memegang dadanya kesakitan, Saladia jatuh ke lantai.


Suara serak pria tua itu bukanlah suara Saladia.


Terdengar seperti banyak hantu, suaranya cukup menakutkan.


(Suara ini—!)


Kamito terkejut. Dia ingat suara itu.


Itu adalah suara kasar yang sama persis yang disuarakan oleh Sjora Kahn tepat sebelum dia mati.


"Terkutuk, beraninya kau bersekongkol melawan kami, cewek sialaaaaaaaaaan—"


Seperti kabut hitam legam, racun hitam keluar dari sang putri yang terjatuh.


Para pengikut di sekitar pingsan satu per satu segera setelah racun tebal itu menyentuh mereka.


"Bagaimana rasanya? Penguasa Pemuja Raja Iblis—"


Menatap dingin racun hitam itu, Rubia berbicara.


"Pertama kali aku menyadari identitas aslimu saat aku menyelidiki grimoire tentang mantra terlarang yang ditinggalkan Sjora Kahn. Sebuah tipe sihir tertentu membuatku tertarik."


"...Guh... Urgh. Sialan kauuuuuuuuuuu...!"


"Sihir reinkarnasi. Meninggalkan tubuh fisik kemudian menggunakan pikiran seseorang untuk merasuki orang lain—"


"Sialan kau sialan kau sialan kauuuuu...!"


Racun hitam mengerikan keluar dan merayap di lantai, berusaha kabur.


Akan tetapi, sekeliling sudah dikelilingi oleh sebuah penghalang cahaya.


"Sebuah penghalang isolasi. Mustahil untuk kabur."


Memegang Save the Queen disaat Kamito menyadarinya, Fianna berbicara tegas.


"Apa yang Rubia-sama lakukan adalah tarian ritual gaya pertama—Exorcism Dance. Tujuannya adalah untuk memaksa keluar iblis yang menguasai tubuh Saladia."


"C-Cewek sialan, tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan!"


Racun hitam itu menabrak penghalang isolasi, namun terbakar oleh penghalang cahaya tersebut.


"Penguasa pendendam yang menakutkan, kau harus hancur disini saat ini juga!"


Api putih-biru yang tak terhitung jumlahnya menyala di ujung kipas Rubia yang diangkat.


"Api itu adalah...."


Terkejut, Claire berseru.


Memang, api ini bukanlah dari sihir roh.


Itu merupakan kemampuan khusus yang diwariskan dari generasi ke generasi dari keluarga Elstein. Bahkan mampu membekukan api—


"—Absolute Flame."


Api tak biasa itu menelan jiwa pendendam Penguasa bersama dengan penghalang cahaya tersebut.


"Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"


Terbakar perlahan-lahan, racun hitam itu menjerit, meronta kesakitan.


Secara sembunyi-sembunyi memanipulasi dinasti Kahn dari bayangan selama beratus-ratus tahun, si Penguasa—


Dengan mudah dihancurkan disini saat ini.


"Saladia-sama, apa anda baik-baik saja!?"


Para pengikut bergegas ke samping Saladia yang tak sadarkan diri.


"Tenanglah. Dia hanya pingsan."


Setelah Fianna merapal sihir roh untuk membangunkan seseorang, Saladia segera membuka matanya.


"...mm, ooh... oohhh..."


"Apa kau sudah merasa baikan, Putri Saladia?"


Saladia berkedip-kedip kebingungan.


"Uh, apa yang terjadi? Apa yang kulakukan..."


"Kegelapan yang merasukimu telah dihancurkan."


Rubia mendekat dan menjelaskan semuanya pada dia.


Setelah mendengar itu, Saladia memejamkan matanya—


"Kejahatan yang mengintai didalam diriku sama halnya yang terjadi pada Sjora kakakku kan?"


Secara mengejutkan, dia dengan tenang menerima kenyataan itu.


"Jika dipikirkan lebih jauh lagi, sudah ada tanda-tanda peringatan. Perubahan Sjora dan bagaimana aku secara tak bisa dipercaya memutuskan untuk pergi ke Ghul-a-val demi mencari Peti Mati Raja Iblis keduanya adalah karena kegelapan itu, kurasa."


"Penguasa beruntun dari Pemuja Raja Iblis telah menggunakan mantra reinkarnasi terlarang untuk mengintau didalam garis keturunan keluarga kerajaan untuk menguasai Teokrasi Alpha. Akan tetapi, sejarah itu telah berakhir hari ini."


"Terimakasih banyak, Rubia-dono. Dan kau juga, Putri Fianna—"


Saladia membungkuk. Segera setelahnya, para pengikut bertepuk tangan secara alami.


"—Baiklah, kembali ke perjamuan. Musik untuk menghibur para roh akan dilakukan selanjutnya."


Saladia menepukkan tangannya.


Melori gembira sekali lagi bergema di istana.

Bagian 2[edit]

Larut malam—


Kamito diam-diam meninggalkan perjamuan dan kembali ke kamarnya di vila kerajaan.


Menurut adat Teokrasi, perayaan akan berlangsung sampai pagi, tapi dia juga terlalu lelah untuk ikut terus.


Gimanapun juga, runtuhnya Kota Raja Iblis kurang dari satu hari berlalu.


Claire dan para cewek juga meninggalkan perjamuan di pertengahan dan kembali ke kamar mereka.


Setelah menyandarkan Est dan Restia yang telah kembali ke wujud pedang mereka setelah makan sepuas hati mereka pada dinding, Kamito berbaring diatas ranjang.


Ranjang bulat berhiaskan kanopi. Ini pasti ranjang yang digunakan Raja Bejat di masa lalu.


(...Kalau kupikirkan lagi, perasaanku jadi campur aduk.)


Merentangkan tangannya, dia menatap kanopi.


...Meskipun dia gak mabuk, ada sedikit alkohol dari wine yang masih ada didalam tubuhnya.


"Aku gak pernah menyangka Velsaria akan seagresif itu dalam memaksa orang lain untuk minum bersama dia..."


...Kalau dipikir-pikir lagi, Velsaria pasti masih mabuk disana.


Tubuhnya masih terasa panas. Sulit untuk tidur.


Meskipun misi di Teokrasi dianggap sudah selesai, masih ada banyak hal yang perlu dipikirkan.


(Kebangkitan Sacred Maiden Areishia... Dan Alexandros, huh—)


Pelaku sebenarnya yang menciptakan Raja Iblis Solomon seribu tahun lalu.


Elemental Lord yang paling banyak disembah di benua, kenapa dia melakukan sesuatu seperti itu?


(Lurie Lizaldia menyebutkan membangun ulang dunia...)


Dan juga, tentara malaikat yang Kamito lihat mendekati alam manusia—


...Apa maksudnya itu?


Seraya dia menatap kanopi ranjang, berpikir secara mendalam—


"Kamito—"


Dia merasakan sesuatu yang menggeliat dibawah selimutnya.


"Est?"


Kamito terkejut dan duduk.


Dia melihat Est duduk diam di ranjang, telanjang kecuali kaos kaki selutut.


"...Kenapa kamu berubah lagi dari wujud pedang?"


"Melihat kamu gak bisa tidur, aku akan bertindak sebagai bantalmu, Kamito."


"B-Bantal...?"


"Ya."


Mengangguk ringan, Est menyadarkan tubuh telanjangnya pada dia.


"...!?"


Kamito hampir berteriak.


....Bantal, yang dia maksudkan bantal peluk, huh?


(Dia dingin, yang mana rasanya nyaman, tapi...!)


Dengan afinitas elemen baja, suhu tubuh Est cukup rendah.


Tubuh Kamito terasa mendidih karena alkohol, jadi sensasi dingin dari Est sangat sempurna.


"....Tunggu, berhenti, pakai pakaianmu dulu!"


"Bantal gak pake pakaian."


"....!"


Est sedikit memiringkan kepalanya, menatap dia dengan mata ungunya yang jernih. Dia biasanya sangat patuh, tapi hari ini, dia sangat keras kepala.


....Lalu Kamito menyadari.


Pipi Est sedikit memerah.


"Jangan bilang kamu mabuk?"


"Persembahan gak boleh ditolak."


Est berbicara tanpa ekspresi.


....Jadi itu yang terjadi. Sudah jelas, dia mabuk karena alkohol dari wine suci yang dipersiapkan untuk para roh.


"Hua... Aku ini roh pedang. Aku gak bisa mabuk."


"Orang mabuk selalu mengatakan itu..."


Mengangkat bahu tak berdaya, Kamito menyerah mencoba membujuk Est.


Dia mengikuti suasananya dan berbaring lagi di ranjangnya. Tiba-tiba kepikiran sesuatu, dia bertanya.


"Est—apa kamu bermimpi tentang dia lagi?"


"Dia" yang dia maksudkan adalah Sacred Maiden Areishia.


Dalam perjalanan ke Kota Raja Iblis, Est bermimpi tentang dia.


"Enggak lagi sejak yang terakhir kali."


Est menggeleng.


"Aku mengerti."


"Ada apa, Kamiyo?"


"Nggak ada—"


Kamito dalam diam mengabaikan masalah itu. Dia awalnya berpikir bahwa kebangkitan dari Sacred Maiden Areishia, kontraktor Est yang asli, akan membuat Est bimbang.


(Tidak, kurasa akulah yang bimbang...)


Kamito menertawai dirinya sendiri dalam hatinya.


"Kamito—"


"Hmm?"


"Selamanya aku akan jadi pedangmu, Kamito."


"Ya, itu benar—"


Kamito dengan lembut membelai rambut putih-perak milik Est yang berkilauan.


Lalu—


"Tunggu sebentar, aku harus memberitahumu bahwa aku adalah pedang pertamanya Kamito—"


"...!?"


Bulu-bulu hitam legam melayang dan jatuh perlahan di ranjang.


Lalu, Restia melompat kearah Kamito.


Payudaranya yang lembut, seperti buah yang matang, menekan ujung hidung Kamito.


"Restia, apa kamu mabuk juga!?"


"Aku menegaskan hak kepemilikanku."


Restia melingkarkan tangannya pada pinggang Kamito seolah bersaing dengan Est.


"Roh kegelapan, kau menghalangi. Pergi sana."


"Astaga, bukankah kau yang harus pergi?"


"H-Hei, kalian berdua.... Uwah!"


Click.


Lalu, ada suara sesuatu yang keras tertekan.


Sebuah mekanisme tersembunyi oleh bantal sepertinya terpicu.


Lalu suara seperti gear berputar—


Ranjang besar itu mulai berputar.


"Apa?"


Suatu nada aneh mulai dimainkan dari kotak musik seraya cahaya roh merah muda menerangi seluruh kamar.


....Ngomong-ngomong, vila kerajaan ini milik Raja Bejat legendaris.


Gak akan mengejutkan kalau ruangan ini pernah digunakan oleh keluarga kerajaan untuk menyembunyikan wanita simpanan.


"A-Apa ini, ini mulai berputar!!"


"Hua, Kamito, mataku puyeng."


Kamito berputar-putar, dipeluk oleh dua roh diatas ranjang.


"A-Apa ini yang namanya kebab roh?"


Dengan mata berputar-putar, pemikiran bodoh ini terlintas dalam benak Kamito.

Bagian 3[edit]

—Disaat perayaan diadakan di Teokrasi...


Suatu insiden mengguncang ibukota kekaisaran di Ordesia.


"...Pemberontakan kau bilang!?"


Dibangunkan dari tidurnya, Kaisar Arneus berteriak marah pada para pengikutnya.


Insiden tersebut terjadi beberapa jam sebelumnya.


Setelah penobatan Arneus ke singgasana, di kota Akademi yang berada dibawah kendali Imperial Knight, para siswa dan beberapa guru membuat kegemparan.


Meskipun penyebab pemberontakan masih dalam penyelidikan, sudah jelas bahwa penindasan Imperial Knight yang menguasai Akademi, yang menjunjung tinggi prinsip kebebasan dan pemikiran independen, telah menimbulkan lebih banyak perlawanan.


Dalam isolasi, itu nggak akan terlalu buruk. Gimanapun juga, tidaklah jarang bagi para siswa untuk mengadakan protes-protes radikal, dan menenangkan mereka akan mudah hanya dengan mengerahkan pasukan Imperial Knight yang ditempatkan ke kota Akademi.


Akan tetapi, waktunya sangat mengerikan kali ini.


Setelah penobatan, kebijakan-kebijakan Arneus menimbulkan ketidakpuasan dari bangsawan. Penindasan brutal dari para bangsawan dari faksi anti-Arneus juga menyebabkan kebencian dalam masyarakat.


Dikabarkan, bahkan para bangsawan netral yang memiliki pangkat dakam dewan kekaisaran telah meninggalkan Arneus, secara sembunyi-sembunyi dan sering kali bertukar surat dengan Fianna sang putri kedua yang diasingkan.


Dibawah situasi semacam itu, sekarang pemberontakan malah dimulai.


Ini seperti menjatuhkan korek menyala pada sebuah tong mesiu.


Semua perasaan negatif terhadap Kekaisaran akan meledak sekaligus.


"Mendukung pemberontakan di kota Akademi, Marquess Boderalume, semua keluarga Haldery, dan Earl Edelgart telah mengarahkan pasukan mereka."


Bertugas dalam masalah militer, Duke Cygnus Fahrengart dengan tenang melaporkan.


"Meskipun belum dipastikan, juga ada rumor tentang pergerakan di wilayah Margrave Laueenfrost—"


"Sialan, kenapa!? Kenapa mereka tidak mematuhi perintahku, perintah kaisar!?"


Kaisar Arneus dengan jengkel melemparkan sebuah gelas.


Dia sudah bertindak sampai sejauh mengambil singgasana kekaisaran dengan bantuan Kerajaan Suci...


Tapi satu-satunya yang mengakui dia sebagai kaisar hanyalah para pengikut penjilat.


"Redam pemberontakan sekaligus! Aku mengijinkan penggunaan dari roh-roh militer—"


"Menggunakan roh-roh militer terhadap para siswa? Para bangsawan akan sangat menentangnya."


Duke Fahrengart berbicara dengan tenang.


"Aku tidak peduli. Mereka harus diberi pelajaran. Akan aku buat orang-orang tau akibat dari menentangku."


"Mengerahkan roh militer terhadap Akademi membutuhkan ijin dari dewan kekaisaran."


"....diam! Ini adalah perintah kaisar!"


Arneus memukul meja ruang pertemuan, seketika para pengikut langsung terdiam.


Akan tetapi, Duke Fahrengart tetap sepenuhnya tak bergeming, bahkan tidak mengangkat alisnya.


"Pemberontakan di kota Akademi bisa ditekan menggunakan pasukan yang ditempatkan disana. Akan tetapi, para bangsawan yang terlibat dalam mempersenjatai pemberontakan harus dihukum. Pasukan militer akan segera dikumpulkan."


Setelah berbicara tanpa emosi apapun, Duke Fahrengart undur diri.


"Sialan, kenapa... kenapa...!?"


Setelah membubarkan para pengikutnya, di dalam ruang pertemuan militer—


Arneus mulai minum sendirian dengan cemberut.


Membunuh kaisar, memfitnah adiknya dengan kejahatan upaya pembunuhan, segalanya berjalan dengan sangat baik.


Tapi kenapa?


"Kenapa kau menghela nafas seperti itu, Yang Mulia?"


Lalu, datang tanpa membuat Arneus menyadarinya—


Seorang cewek berdiri dibelakang Arneus.


"Dame Millennia!?"


Tersentak terkejut, Arneus berdiri.


Cewek itu adalah kardinal Kerajaan Suci yang menghasut Arneus untuk naik ke singgasana kekaisaran.


"Secara pribadi aku akan mengunjungi kota Akademi."


"A-Apa? Tapi jika Kerajaan Suci ikut campur dengan pasukan militer, secara tak bisa dihindari—"


Jika itu terjadi, dewan kekaisaran pasti akan menyuruh Arneus bertanggung jawab.


"Pasukan Kerajaan Suci tidak akan dikerahkan. Aku berniat melakukan sebuah percobaan pada lokasi itu."


"Sebuah percobaan?"


"—Ya. Untuk meleyapkan seluruh kota Akademi dari muka bumi."


Catatan Penerjemah[edit]

  1. TL note: kalau ada yang bertanya/mempermasalahkan kenapa aku menggunakan bahasa informal (kasar) buat Claire dan Kamito saat ngomong sama Fianna, sedangkan Ellis sama Rinslet berbicara sopan dan formal pada Fianna, ini udah pernah dijelaskan di volume awal (aku udah lupa volume berapa tepatnya), awal-awal Fianna muncul. Itu karena Kamito bukan bangsawan dan Claire sudah gak punya kebangsawanan, jadi mereka berdua gak menganggap Fianna sebagai Putri Kekaisaran dan cuma menganggap Fianna teman sebaya tanpa memandang status.
  2. ini semacam adat keagamaan, aku gak mau menerjemahkan (takut salah), dan untuk definisinya silahkan googling sendiri, aku gak mau mencantumnya disini (takut salah)


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya