Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid2 Bab1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 1: Pertarungan Tim[edit]

Bagian 1[edit]

“U.....h......”

Akademi Roh Areishia, asrama kelas Raven.

Di sebuah ruangan, ke arah cahaya matahari pagi yang menyegarkan bersinar, Kazehaya Kamito bangun.

Hn, kalau kuingat ingat hari ini.......ada pertarungan tim di pagi hari

Biasanya, ia akan menikmati waktu bermalas malasan di ranjang, namun, hari ini ia tak bisa melakukan hal itu.

Ia sudah sering terlambat dan menerima omelan dari gurunya, Freya.

Berniat melipat selimutnya dan bangun, dia mengulurkan kedua tangannya, kemudian—

*Funyuu*.

......Tangannya memegang sesuatu yang lembut.

Apa ini? Kecil, lembut, agak dingin...........tapi terasa nyaman

*Funyuuu. Funyuuu*.

Masih setengah bangun, ia tengah bermain main dengan benda lembut misterius di telapak tangannya, kemudian—

“Kamu akhirnya bangun, Kamito.”

“..........”

Pada saat itulah, gerakan Kamito seketika membeku.

STnBD V02 023.jpg

Gadis cantik telanjang tengah duduk di atas dadanya.

Rambut peraknya berkilau disirami cahaya matahari pagi. Kulitnya yang kencang dan lembut terlihat seputih susu.

Tubuhnya, yang terdiri atas lekuk-lekuk lembut, terlihat kecil, namun menampakkan pesona wanita pada umumnya.

Pupil ungu misteriusnya melihat ke arah Kamito tanpa ekspresi.

“Ada apa? Kamu nggak mau bermain main dengan payudaraku lagi?”

“........Owaaaaa!”

Kamito bangkit dalam kepanikan dan sambil mengacungkan telunjuknya pada gadis didepannya,

“Ap......ap......apa yang kamu lakukan!? Dan lagi, kenapa kamu telanjang?”

“Aku nggak telanjang. Aku mengenakan kaos kaki selutut.”

Sambil menunggangi perut Kamito, gadis itu mengangkat lututnya untuk ditunjukkan padanya.

Terpana oleh tindakan itu, yang entah kenapa sangat erotis, Kamito membuang wajahnya dengan gugup.

“Nggak, itu lebih buruk! Karena dibandingkan telanjang, telanjang berkaos kaki itu lebih, emm......itu!”

“Jadi kamu mau aku melepas kaos kakiku? Kamito.........mesum.”

Ketika si cantik berambut perak masih tanpa ekspresi, ia menggosokkan lututnya dengan halus.

Kamito tak paham kenapa ia harus malu karena hal itu tapi, entah kenapa, bagi Roh ini, menunjukkan kaki telanjangnya sepertinya lebih memalukan.

Ya. Gadis cantik seperti Peri Salju ini bukan manusia.

Ia adalah Roh Pedang Est.

Ia adalah ‘Roh Tersegel’ yang memiliki kekuatan sangat besar dan membuat Kontrak Roh dengan Kamito beberapa hari yang lalu.

Namun dalam kondisinya sekarang, ia bahkan tak bisa menggunakan sepersepuluh dari kekuatan sesungguhnya.

Di dalam alam bawah sadarnya, Kamito terus menolak Kontrak Roh dengannya dan hasilnya, ia tak lagi mampu kembali ke Astral Zero dimana wujud aslinya berada.

“Po.......pokoknya minggirlah dulu, Est.”

“Paham, Kamito.”

Meskipun Est tampak tidak puas, namun ia dengan patuh meminggirkan posisinya.

Ia sedang menggeliat dalam selimut...........sensasi dari pahanya yang lembut sangat berbahaya bagi jantung Kamito.

Sambil menggaruk kepalanya dengan lega, Kamito akhirnya bangun dan pada saat itulah—

Cup.

“........!?”

Serangan yang betul-betul mengejutkan.

Meskipun menyadari kalau ia sedang dicium, situasi terhenti sesaat selama beberapa detik.

Sensasi dari bibir lembutnya terpisah dengan lembut. Pipi Kamito memerah panas.

“Kamu.......ap......apa yang kamu lakukan tiba-tiba!”

“Ciuman bangun tidur, Kamito.”

Est menjawab masih tanpa ekspresi.

“Tapi kenapa—“

“Karena kamu nggak adil. Apa hanya Claire? Apa itu karena kamu nggak mau melakukannya denganku?”

Menghadapi nada Est yang menyalahkan, Kamito memilih mengecilkan ucapannya.

“Kamu m.....melihatnya, kan?........I-itu....”

“Ya. Karena pada saat itu, aku juga berada disana.”

“..........Ah, kalau dipikir-pikir, benar juga ya.”

Kamito akhirnya mengingat peristiwa itu dan mendesah dengan berat.

Satu minggu yang lalu, waktu ketika ia bertarung dengan Roh Militer yang lepas kendali di Kota Akademi.

Est saat itu memang berada disana—dalam bentuk Pedang sebagai Senjata Elemental.

Sepertinya ia mengobservasi betul adegan pada waktu itu.

Adegan ketika Claire mencium Kamito, yang sudah kehilangan energinya, untuk membangunkannya.

Hal itu memang membangkitkannya dalam satu serangan, namun.........kalau dipikir-pikir sekali lagi, rasanya sangat memalukan.

“Kudengar ciuman adalah Upacara resmi dalam Kontrak Roh. Kalau begitu, Est juga.”

Est dengan lembut menyibakkan rambut perak yang menggantung di pipinya.

Ia menutup matanya, sedikit memajukan bibirnya yang berwarna merah delima, dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Kamito.

“Terus, kenapa perkembangannya jadi seperti ini?”

“Itu hak alamiku. Karena aku adalah Roh Terkontrak Kamito.”

“..........!”

Meski dia adalah Roh Terkontrak, yang menyembunyikan kekuatan dahsyat, wujud Est saat ini adalah gadis manusia yang imut.

Didekati secara agresif seperti ini, tak bisa dipungkiri kalau jantung Kamito berdetak kencang.......ia lalu berpikir,

“He......hei, Est.......”

“Tutuplah matamu, Tuanku.”

Tepat sebelum bibir mereka berdua saling bersentuhan.

“Kamito, karena ada pertarungan tim pagi ini, buatkan sarapan yang lebih mewah dari—“

“........!”

Bam! Pintu kamar mandi dibanting terbuka.

Disana—

“Ap.....ap......ap.....ap......ap........”

Gadis cantik berambut merah tengah berdiri sambil membuka lebar pupil mata merah delimanya.

Tubuhnya terbalut handuk mandi dan menampakkan lekuk wanita yang menawan.

Payudaranya memang selevel anak kecil, tapi sedikit tonjolan itu juga cukup mempesona.

Dari ujung rambut merahnya yang basah, tetes-tetes air berjatuhan ke lantai.

Di atas ranjang, di hadapannya terdapat E—bukan........Est telanjang berkaos kaki.

Dan kemudian, waktu membeku sejenak.

“Claire.........kamu salah paham, ini........!”

Pada saat itulah ketika Kamito bangkit dalam kepanikan untuk menjelaskan,

*Gogogogogogogogo.............!*

“Ap.....apa yang kamu lakukan, dasar maniak seks mata keranjang......!”

“Guoo!”

Cambuk kulit, yang dipakai melatih hewan, datang meluncur tiba-tiba dan mendaratkan sabetan keras di pipi Kamito.

Kamito terjungkir dari seprai ranjang di sekitar tubuhnya dan jatuh ke lantai.

“A.....aku sudah salah menilaimu, kamu hewan liar, binatang buas.....!”

Sambil memegang handuk mandi dengan satu tangannya, gadis itu berjalan dengan kasar dan menginjak injak kepala Kamito, yang menggeliat di lantai, dengan tumit kaki telanjangnya.

Claire Rogue.

Temannya dari kelas yang sama, yang terikat hubungan kontrak Majikan-Pelayan dengan Kamito, karena takdir yang menggelikan.

Setidaknya wajahnya memang sangat cantik, namun, seperti inilah kepribadiannya, brutal ekstrim.

“Ap......apa yang tadi kamu lakukan? Hei, barusan apa yang mau kamu lakukan dengan Roh Pedang itu?”

*Pyashhh! Pyashhh! Pyashhh!*

“Hei, tunggu, stop.......guoo!”

Itu adalah sabetan cambuk yang terus diayunkan ke arah bawah. Rambut merahnya yang tergerai nampak bagaikan kobaran api.

--Kemudian, sepanjang sabetan dari cambukannya.

Kamito sadar. Ia menyadarinya—sangat.

“Tu.....tunggu Claire, bukankah ini gawat?”

Dan kemudian, karena sudah menyadarinya, ia harus mengatakannya, demi gadis itu.

Bodohnya, untuk hal yang semacam ini, entah kenapa Kamito menjadi pribadi yang sangat jujur.

“........? Apa?”

Mata merah delimanya melotot tajam ke arah Kamito.

“Emm, sudut itu.........bisa kelihatan,”

“Eh?”

Claire—selagi menempatkan kakinya di kepala Kamito, mengedipkan matanya.

Dan kemudian, ia akhirnya sadar.

Di atas kepala Kamito, dari celah handuk mandinya, pahanya, yang tak tertutupi apa-apa, sedang diintip.

“.........!”

Seluruh tubuh Claire terasa panas.

Ia membetulkan posisi handuk mandinya dengan gugup dan bahunya bergetar hebat.

“K......k.....ka........kamu..............kamu.........”

*Gogogogogogogo...........!*

“Tu.......tunggu, ini salah paham, rileks! Emm, aku nggak melihatnya sampai ke bagian dalam kok.”

Pernyataan jujur dari Kamito—

“..........”

--Menjadi senjata makan tuan.

“........Oh, aku paham.”

Claire berujar padanya dengan nada kalem menakutkan.

“Setelah ini, akan kuberikan dua pilihan, jawablah dengan jujur.”

Kamito menelan ludahnya dan mengangguk momen demi momen.

Disini, dia harus menjawab dengan hati-hati. Bergantung dari jawabannya, masih mungkin ia tak diubah menjadi batubara.

“Soal perencanaan masakanmu, lebih enak setengah matang? Atau yang matang?”

........Sejak awal yang namanya pilihan memang tidak ada.

“Ka.......kalau bisa, setengah matang juga boleh....”

Di saat yang sama Kamito menjawab,

“Scarlet!”

Dari ruang kosong, kucing neraka yang terselimuti oleh kobaran api muncul.

“Dipanggang, ya, sudah diputuskan.”

Bersama dengan senyum kematiannya yang menyegarkan, seolah ia bahagia secara spontan,

---

Kilatan ledakan kembali membahana di asrama kelas Raven seperti biasanya.


Bagian 2[edit]

Akademi Roh Areishia.

Sekolah latihan, dimana para gadis Tuan Putri, yang berkumpul dari seluruh Kerajaan, berlatih sebelum menjadi Kontraktor Roh resmi.

Di wilayahnya yang sangat luas, Akademi menguasai ‘Hutan Roh’dan Kota Akademi, beserta perumahan Guru, yang memiliki kekuatan sebanding dengan Ksatria Roh ibukota Kerajaan, tak jauh beda dengan negara kecil.

Ini adalah waktu ketika kabut pagi mulai lenyap dan lonceng pelajaran berbunyi, ketika terdapat sebuah kereta kuda mengunjungi Akademi.

Seorang butler tua berjas rapi tengah duduk sebagai pengemudi dari kereta satu kuda tersebut.

Si pengemudi turun dari kuda di depan gerbang dan membuka pintu kereta dengan cara yang elegan.

“Kita telah sampai, Nyonya Fianna.”

“Terima kasih untuk kerja kerasnya, pak.”

Yang keluar dari kereta adalah gadis cantik sekitar lima belas atau enam belas tahun.

Rambut hitam berkilaunya tergerai oleh hembusan angin lembut. Matanya yang tampak dingin memancarkan kehendak yang kuat. Kulit putih cemerlangnya bisa dibandingkan dengan gadis-gadis salju dalam keluarga Laurensfrost, dan seragam hitam dengan desain gaun nampak bersinar.

Si gadis, yang bernama Fianna, turun dari kereta dan menatap bangunan sekolah di hadapannya dan terpana.

“Ini adalah Akademi Roh Areishia, tempat dimana Kontraktor Roh dari seluruh Kerajaan berkumpul.”

“Mohon berhati-hati, Nyonya Fianna. Sangat mustahil untuk mengelabui mata Penyihir Senja itu dengan tipuan kecil.”

“Aku paham.”

Dengan anggukan, Fianna dengan lembut meraih sebongkah bijih Roh, yang tersembunyi dibalik lengan seragamnya.

Menurut mata uang Kerajaan, di sebuah artikel yang payah-tak ada-apa-apanya, bernilai sekitar 20 juta rood sepotongnya.

“Adik Rubia Elstein sepertinya juga ada di Akademi ini.”

“Tuan Putri, nama itu sangat tabu. Lebih baik anda tak mengatakannya disini.”

“Ah, benar juga.”

Ratu Bencana, yang pernah membawa bencana tak terduga pada Kerajaan.

Nama asli orang itu bahkan dilarang diucapkan dan akhirnya menjadi tabu.

Hanya dengan melafalkan namanya, dikatakan kalau kesucian seorang gadis akan tercemar.

Ia menganggap itu rumor yang menggelikan. Tak mengherankan bagi orang-orang, yang melihatnya di tempat terdekat di masa lalu, mereka merasa kalau tak ada secuilpun kebenaran dalam kemalangan itu.

.......Itu benar. Kebenarannya adalah aku harus terikat oleh terornya

Gadis itu menjernihkan tenggorokannya dan kemudian ia merendahkan suaranya lalu berbisik.

“Selain itu, aku juga penasaran dengan Kontraktor Roh bernama Kazehaya Kamito.”

“Hmm, Kontraktor Roh laki-laki itu? Beberapa hari lalu, dikatakan kalau ialah yang mengalahkan Roh Militer yang lepas kendali di Kota Akademi.”

“Ya, berdasarkan ucapan semua saksi mata, sepertinya dia menampilkan Tarian Pedang luar biasa yang sangat mirip dengan Ren AshbellPenari Pedang Terkuat.”

Suara Fianna terdengar senang seolah ia tengah bergembira.

Si butler tua menatapnya dalam kondisi seperti itu.

“Tuan Putri, jangan-jangan, anda jatuh cinta dengan laki-laki itu, ya kan?”

“Ja......jatuh cinta?.........”

Suara Fianna bergetar hebat. Pipinya memerah panas.

“I.....itu tidak mungkin, kan? Apalagi aku belum pernah menemui dia sebelumnya.......aku hanya tertarik mengetahui orang macam apa Kontraktor Roh laki-laki itu.”

Itu bohong.

Kontraktor Roh laki-laki, yang mengalahkan Roh Militer yang lepas kendali di Kota Akademi.

Momen ketika Fianna mendengarkan nama laki-laki itu, ia segera menyadari.

Memang dia.

Tiga tahun lalu, laki-laki itu, yang menyelamatkannya di hutan Astral Zero.

Meski berjanji untuk bertemu lagi, ia menghilang secara misterius setelah festival Tarian Pedang.

---Namun, aku akhirnya menemukannya

Saat ia mendengar laporan di hari lain, Fianna memutuskan untuk mendaftar ke Akademi Roh Areishia.

Kalau laki-laki itu mengumumkan keikutsertaannya dalam Tarian Pedang lagi—

Itu akan menjadi kesempatan emas baginya.

“Kamito, aku memaafkanmu meski sudah melanggar janji.”

Fianna menatap bangunan Akademi dan senyuman nakal muncul di wajahnya,

“Namun, aku nggak akan membiarkan kamu lolos lagi♪.”


Bagian 3[edit]

Sekitar delapan menit telah berlalu sejak awal pertandingan.

Di hutan yang lebat, yang diselimuti oleh kabut berwarna keunguan, dua bayangan tengah bergerak dengan cepat.

“Claire, awasi bagian semak belukar kiri. Ada serbuan dari sana!”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Intuisi. Kalau itu aku, pastinya aku akan menyerbu dari arah sana—“

Pada saat itulah, peluru-peluru kilat putih-kebiruan ditembakkan dari arah semak belukar kiri, seperti yang Kamito prediksi.

“Cih—“

Kamito menendang tanah dan mempercepat geraknya. Ia melompat di depan Claire dan menangkis tembakan peluru kilat pada kecepatan suara menggunakan pedangnya.

Itu bukan kemampuan yang bisa dilakukan oleh pedang biasa. Diperkuat oleh kemampuan ketahanan sihir Roh, Senjata Elemental dari Roh Pedang Est—‘Est Pemusnah’ membuat semua macam serangan sihir tidak efektif.

“Claire!”

Sebelum Kamito berteriak, Claire sudah menangkap targetnya. Rambut merahnya tersapu oleh angin. Di bawah roknya yang bergelombang, sarung cambuk bisa terlihat jelas.

Selagi ia menempatkan kakinya di cabang pohon dan menghindari hujan peluru kilat yang ditembakkan, ia melepaskan Senjata Elementalnya—‘Lidah Api’.

Terjadi suara ayunan tajam dan memotong. Lidah Api, yang mampu memotong segalanya, dengan mudah memotong barisan pohon-pohon tinggi.

Dari tengah kumpulan pepohonan yang menjadi gundul dalam sekejap, Gadis Kontraktor Roh Petir muncul.

Itu adalah gadis, yang kedua matanya tertutup oleh kunci dahi dan terlihat sangat pemurung.

Terdapat pusaran peluru petir berwarna putih-kebiruan mengapung di sampingnya.

Itu bukan Roh level tinggi seperti Scarlet atau Est. Itu adalah Roh level rendah yang hanya bisa berada dalam kondisi tak-berwujud. Namun, cukup berguna sebagai baterai untuk menggunakan Sihir Roh.

Sepertinya peran gadis itu adalah pengalih perhatian dengan tembakan pendukungnya.

“Humph, Sniper yang menunjukkan dirinya sama saja kura-kura yang naik ke daratan!”

Claire menyabetkan cambuknya dalam deklarasi kemenangan. Sambil dikawal oleh Roh Petir di sampingnya, gadis Sniper itu berlari ke tengah-tengah hutan dalam ketakutan—

“Kamu tak akan bisa lolos, kejar dia, Scarlet!”

Di saat yang sama Claire berteriak, Senjata Elemental Lidah Apinya bertransformasi kembali ke bentuk Kucing Neraka, terselimuti oleh api.

Karena dirasuki oleh Roh Sinting, Scarlet pernah hanya seukuran anak kucing, namun, saat ini, dia sudah pulih sepenuhnya. Bentuknya adalah kucing imut namun kekuatannya sepadan seekor singa yang mengaum garang.

Kobaran Api merah menyerbu ke arah Gadis Kontraktor Roh Petir.

Namun, panas membara itu, yang bahkan bisa melelehkan logam, tak mampu membakar satupun bagian dari gadis itu.

Itu karena tempat ini adalah medan tempur di Astral Zero, yang dikendalikan oleh Akademi untuk latihan praktek.

Sehingga, ini adalah dunia lain, tempat tinggal para Roh.

Di dunia nyata, Roh harus berubah menjadi perwujudan kekuatan fisiknya namun disini, Roh bisa digunakan sebagai perwujudan kekuatan spiritual murni.

Dengan kata lain, kemungkinan mendapatkan luka fisik pada tubuh adalah nol.

Meski begitu, bukan berarti kejutan, rasa sakit, dan sebagainya hilang, konsekuensinya adalah luka yang sebanding akan diterima oleh pikiran; misalnya, kalau seseorang dicabik oleh cakar Scarlet, sudah tentu orang itu akan pingsan dan tak mampu bertarung lagi.

Sambil menghanguskan banyak pohon dalam hutan, Scarlet terus mengejar gadis itu. Namun, gadis itu sepertinya berpengalaman tempur baik dan sambil mengelabuinya dengan sihir Roh, ia dengan cepat meloloskan diri ke tengah hutan yang lebat.

“Erghh! Jangan kemana-mana!”

Kehilangan kesabarannya, Claire melompat ke tanah dari celah pepohonan.

“Karena sudah begini, aku akan melenyapkan semuanya sekaligus dengan sihir Roh terkuatku.”

“Tunggu, Claire, ada yang aneh dengan tanah disini—“

Kamito berteriak dan pada saat itu, Gempa dan pasir dalam jumlah besar meledak dari posisi kaki Claire.

“Ap.......!?”

Muncul dari tanah adalah gunting kepiting raksasa.

“Ketidaksabaran adalah musuh terbesar seseorang, Claire Rogue.”

Dari dalam tanah pasir beterbangan dan lubang besar terbuka di tanah, perisai karapaks raksasa yang tak terhitung jumlahnya bermunculan.

Itu adalah tipe Senjata Elemental yang menutupi seluruh tubuhnya dalam armor.

Claire terlempar oleh ledakan itu dan jatuh ke tanah. Serangan langsung Roh, apapun juga, serangannya, pasir, tanah, dan sebagainya akan memberi tubuh luka yang sebanding.

“Claire!”

Sebelum Kamito berlari ke arahnya, Kontraktor Roh Karapaks sudah siap menyerang. Ini bukanlah serangan kebetulan. Mereka dengan hati-hati mengincar momen ketika Claire jatuh ke tanah.

“Rasakan ini, Senjata Elemental dari KurasteRoh Karapaks—‘Lengan Penghancur’!”

“—Guu, api! Menarilah di tanganku, menarilah!”

Claire, yang terjatuh, melepaskan bola-bola api tak terhitung jumlahnya dari tangannya.

Namun, Senjata Elemental tipe armor tetap tak bergerak meski dihantam oleh bola-bola api.

“Ha, atribut api takkan efektif menghadapi Roh karapaks. Bukankah kamu mempelajari itu di kelas?”

Gaa—Pukulan bahu dari armor Karapaks kembali melempar tubuh Claire.

Kamito menendang tanah dan lekas berbalik posisi. Memegang Est di satu tangannya, ia dengan erat menerima dan menghentikan tubuh Claire yang terlempar.

“U...gh....”

Claire mengeluarkan suara kesakitan di lengannya.

Sepertinya dia sudah menguras banyak kekuatan spiritualnya dari serangan yang tadi; namun, sepertinya dia masih sadarkan diri.

Tepat sebelum hantaman, dia melepaskan bola api di tanah dan menghancurkan posisi lawannya. Hebat betul dia

“Hei, kamu baik-baik saja?”

“I.......i........iy.........iya...........Hei, apa yang kamu lakukan!?”

Tiba-tiba, wajah Claire menjadi merah.

Tubuh mungil Claire dibawa dengan cara punggung dan lututnya dipegang oleh kedua tangan Kamito.

Itulah yang dinamakan gendongan Tuan Putri.

“Fua.......Bo......bo.........bodoh! Lekas turunkan aku.......!”

“He.....hei! Jangan meronta, nanti kamu jatuh!”

“Diam! Diam! Pokoknya turunkan aku!”

Buk! Buk! Buk! Buk!

Claire, yang memukul-mukul dada Kamito selagi digendong seperti Tuan Putri, entah kenapa sangat imut seperti hewan kecil.

“Kalau soal aku, kamu nggak usah khawatir. Toh tubuhmu itu ringan.”

“Apa i....itu......karena dadaku rata?”

“Nggak, aku nggak bilang seperti itu. Aku hanya berpikir kalau kamu tampak manis seperti hewan kecil.”

“Ma.....manis..........?”

Selagi wajahnya memerah, Claire melihat ke arah bawah.

Dengan mendesah panjang, Kamito menurunkan Claire.

Kontraktor Roh karapaks sudah menghilang. Karena Claire kalah dalam serangan barusan, sepertinya dia menunggu kesempatan lain untuk serangan kejutan.........Dibandingkan penampilan luarnya, dia ternyata tipe yang hati-hati.

Dari kedalaman hutan, Scarlet, yang sejak tadi mengejar gadis Kontraktor Roh Petir, kembali.

Mereka sepertinya tak mendapatkan luka namun mereka tampaknya membiarkan mangsa lolos.

“Kontraktor Roh Petir itu sengaja menunjukkan dirinya pada kita.”

“Ya, saat aku turun ke tanah selagi mengejarnya, karapaks armor itu menghentikanku dengan serangan kejutan. Kita sudah cukup kesusahan oleh kerjasama tim mereka.”

Claire dengan kesal menyabetkan cambuknya ke tanah.

“Memang begitulah tim licik dari kelas Wolverine (manusia serigala)”

“Bukan berarti mereka licik atau semacamnya, mempertimbangkan kemampuan Roh Terkontrak mereka, itu adalah strategi yang alami.”

Ujar Kamito sambil mengangkat bahunya dan Claire dengan cemberut menutup mulutnya.

“Namun, aneh kalau mereka tak datang mengejar kita. Aku paham kalau mereka sangat hati-hati—biar begitupun—“

“Benar sekali. Sejak beberapa saat yang lalu, pergerakan Kontraktor Roh Petir itu hanya bisa dianggap sebagai cara mengulur waktu.”

Hutan Astral Zero kembali sunyi senyap.

Kamito tak bisa merasakan kehadiran mereka sama sekali, bukan dari semak di sekelilingnya, juga bukan dari bawah tanah.

Dengan strategi mengulur waktu, apa mereka punya senjata rahasia?

“Aku ingin mengirimkan pengintai untuk mencari lawan kita sih,”

“Kalau itu bisa dilakukan, pasti sudah kulakukan dari tadi.”

Yang jelas, hanya tinggal tiga orang tersisa di tim lawan. Dibandingkan mereka, mereka hanya punya dua orang. Tergantung situasinya, bisa jadi satu orang harus menghadapi dua atau tiga orang. Dalam pertarungan satu-lawan-satu, baik Kamito atau Claire tak akan kalah. Namun, kalau mereka dikepung dan diserang oleh lebih dari dua orang terkoordinasi, kemenangan akan menjadi sangat berat.

Juga, bahkan kalau terjadi pertarungan satu-lawan-satu, kemampuan Roh Terkontrak harus dipikirkan. Ada juga persoalan kecocokan bahwa atribut lebih efektif daripada kemampuan sejati Kontraktor Roh dalam pertarungan sebenarnya.”

“—Sepertinya kamu cukup kesulitan, Kazehaya Kamito.”

Tiba-tiba dari belakang, sebuah suara terdengar.

Kamito menoleh dan, dari dalam bayangan di permukaan tanah, sosok hitam muncul dengan cepat.

Sosok hitam itu segera berubah bentuk menjadi seorang wanita dewasa.

Ia memiliki rambut hitam kemilau. Ia memiliki penampilan intelektual berkacamata.

Ia mengenakan rompi putih berlengan panjang diatas pakaiannya, wanita cantik itu adalah—

“Guru Freya?”

Pengajar wali kelas Raven dan pengawas pertarungan ini, Freya Grandol.

Soal tentang ia bisa datang dari dalam bayangan adalah kemampuan dari Roh Terkontraknya—

“Apa tidak apa-apa? Muncul di tengah tengah pertarungan.”

“Apa, tak ada masalah memberi nasehat pada siswa yang bernilai jelek .”

Freya tiba-tiba tersenyum dan menaikkan kacamatanya.

“Meskipun yang sedang kalian hadapi saat ini adalah tim berperingkat lebih tinggi, cukup wajar kalau kalian mendapat banyak kesulitan. Menurut kekuatan individual, kalian berdua tak terkalahkan tapi kekuatan tim kalian sangat kurang.......Ngomong-ngomong, kenapa kamu terluka sebelum pertandingan?”

“Pagi ini, saya dipanggang.”

Ia melotot ke arah Claire di sampingnya dengan mata tajam dan Claire lekas membuang tatapannya.

“Sejak awal, kupikir aneh untuk melakukan pertandingan lima-lawan-dua sih,”

Meski memiliki dua orang, tim lawan yang mereka hadapi, punya lima orang. Mereka sudah kalahkan dua selain si sniper Kontraktor Roh Petir, tipe petarung jarak dekat Kontraktor Roh Karapaks, dan kemudian orang terakhir, yang belum menunjukkan dirinya, masih tersisa.

“Tahukah kalian? Fakta kalau tim kalian hanya punya dua orang itu buruk. Kalian takkan bisa masuk Festival Tarian Pedang tahun ini tanpa lima orang. Lantas apa rencana kalian selanjutnya?”

“Kami akan menemukan anggota sebelum batas akhir. Kami tak betul-betul membutuhkan semua lima anggota adalah Kontraktor Roh level tinggi. Bagaimanapun, rencana saya adalah saya, sendiri, dan Roh Budak ini untuk memenangkan semua ini.”

Claire bercuap cuap seenaknya dan Freya melotot ke arahnya dengan wajah serius.

“Jangan anggap enteng pertarungan tim, Claire Rogue. Kamu memang Kontraktor Roh yang hebat tapi kamu pastinya takkan bisa melawan tim yang terkoordinasi dengan baik.”

Setelah itu, dia menoleh pada Kamito.

“Pernah main catur?”

“Greyworth sering menjadikan saya lawannya. Namun, saya belum pernah menang.”

“Ratu adalah bidak terkuat di atas papan catur, jarang sekali ia kalah. Namun, tergantung situasinya, kadang ia bisa saja dijatuhkan oleh bidak pion, yang jelas tak punya kemampuan apa-apa.”

“Saya tahu hal seperti itu.”

“Tapi kamu tak memahaminya. Metode pertarungan kalian terasa—betul betul terisolir.”

Tanpa bisa menjawab balik, Kamito menutup mulutnya.

Pria ini, yang dulu pernah disebut—Penari Pedang Terkuat. Ia, yang dibesarkan sebagai assasin di sebuah institusi gila, ’Sekolah Instruksional’, belum pernah mengalami pertarungan dalam kerjasama tim dengan orang lain.

Menyusup dari punggung lawan dan menggorok lehernya—itulah cara bertarung aslinya.

Karena tuntutan Raja Roh, aturan Tarian Pedang diubah setiap kali diselenggarakan.

Tarian Pedang, lima belas tahun silam, adalah sistem pertarungan penghabisan.

Tarian Pedang, tiga tahun silam, adalah pertarungan eliminasi individual.

Dan kemudian, kali ini adalah Pertarungan Tim.

Jujur saja, dia tak berpikir kalau kerjasama timnya dengan Claire akan berjalan dengan lancar.

Sebagai Kontraktor Roh, ia telah mengalami tiga tahun masa kekosongan yang fatal.

Ia memiliki Roh Terkontrak, yang bahkan tak bisa menggunakan sepersepuluh dari kekuatan aslinya.

Ada banyak faktor yang mesti ia tangani.

“Claire Rogue, kamu juga. Kamu tak paham apa artinya bertarung dalam sebuah tim.”

“Saya selalu sendiri. P.....pria ini hanya Roh Budak.”

“Astaga, kalian berdua sama sama menyulitkan,yah.”

Guru Freya menghilang dan kembali menjadi bayangan lagi.

“.........Hmm, karena percakapan tadi, dua menit sudah usai. Waktu yang tersisa adalah lima menit.”

Karena itulah, kalau tak ada yang berhasil mencapai kemenangan, maka peringkat kedua tim di sekolah akan jatuh.

Bagi keduanya, yang masih peringkat bawah, hal itu akan menjadi pukulan berat.

--Kemudian, si Kucing Neraka, yang menggeliat disamping kaki Claire, mengeluarkan auman.

“Hei, Scarlet mengucapkan sesuatu.”

“Iya, hutan jadi kelihatan aneh. Apa ada Roh liar yang lepas kendali lagi?”

Claire entah kenapa mengernyit dengan wajah serius—

“Di sana—“

Dia tiba-tiba menghadap hutan dan menembakkan Sihir Roh atribut api.

Itu adalah bola api—sihir Roh level tinggi yang akan mengubah target menjadi abu dengan api super-panas.

Api merah panas benar-benar meratakan tanah dan hutan di sekitarnya berubah menjadi abu.

Dengan asap hitam mengepul ke atas, sebuah sosok muncul dan berjalan dengan gaya santai.

“Waw, sungguh Nona muda yang mengerikan.”

Gadis yang mengenakan armor karapaks sebagai Senjata Elemental di sekujur tubuhnya.

Meski menerima serangan langsung dari bola api, tak ada sedikitpun bekas terbakar padanya.

“Sungguh diluar dugaan........kamu datang juga. Apa kalian sudah menyerah dengan serangan kejutan?”

“Peran kami sudah selesai. Persiapan Ketua kami telah siap.”

“Persiapan?”

Claire dan Kamito mengernyit bersamaan.

Ke arah dimana asap hitam mulai menghilang—

“Hah....?”, ”Apa.....itu?...”

Sejumlah gelondongan kayu raksasa tampak digabungkan bersamaan.

Meski strukturnya sederhana, tanpa ragu itu berbentuk seperti kuil.

Di atasnya, terdapat gadis kecil, yang mengenakan seragam Akademi, sedang melakukan Tarian Upacara untuk suatu alasan.

Ia adalah gadis cantik berambut pirang platina, yang membawa tongkat kayu.

“Penjaga kami, sekaranglah waktunya, turunkanlah palu besi pada si pemangsa hutan.”

Dari puncak tumpukan raksasa, ia menghadap ke arah sini dan mengacungkan tongkatnya dengan keras.

“Ap....apa yang terjadi? Gadis itu.........kapan dia membangun kuil sebesar itu?”

“Kami mempersiapkannya tadi malam untuk pertarungan hari ini.”

Gadis Kontraktor Roh Karapaks dengan bangga mengacung acungkan sepasang capitnya.

......Memang, dengan kekuatan Roh, membangun kuil dalam waktu semalam bukan hal yang sulit.

“I....itu nggak adil! Hal seperti itu, Tarian Upacara Kagura!”

“He-eh, itu nggak adil! Tanpa Upacara berskala besar, aku takkan bisa memanggil Roh Terkontrakku.”

Si gadis, yang berdiri di puncak bangunan dan memegang tongkatnya, berteriak.

“Diam! Anak kecil jangan berisik!”

“Unn, siapa yang kamu sebut anak kecil, bukannya ukuran dadamu itu yang mirip anak kecil!?”

“Apa.......katamu!?”

Pakii! Suara ranting yang patah terinjak dan patah terdengar. Rambut merah Claire nampak menyala seperti kobaran api.

“Keluarga Druid.......”

Sambil menghapus tetes keringat di dahinya, Kamito menggumam,

Keluarga Druid adalah bangsawan di Kerajaan Orudeshia. Adalah Keluarga Kontraktor Roh kuno yang terhormat, yang sudah menempati hutan Roh sejak sebelum pendirian Kerajaan dan mewariskan hubungan darah dari Gadis Tuan Putri dengan cara orisinil mereka.

“Roh Terkontrak gadis itu cukup istimewa. Pemanggilannya butuh waktu.”

“Begitu, itulah alasanmu mengulur waktu....”

Tanah bergetar dengan hebat. Api dari obor, cahaya dari sekeliling dari kuil, mulai terbakar dengan gila-gilaan.

......Kamito merasakan udara yang sangat menekan. Yang gadis itu akan gunakan adalah Roh kelas tertinggi. Mungkin sebanding kekuatannya dengan Roh Militer yang mereka lawan tempo hari.

“—Tak akan kubiarkan, Scarlet!”

Claire melepaskan Scarlet dalam wujud Senjata Elementalnya, Lidah Api, dan memukul tanah dengan sangat keras.

“Kamito, aku akan menyibukkannya, kamu hancurkanlah kuil itu!”

“Paham!”

Kamito mengangguk dan berlari dengan ‘Est Pemusnah’ yang berkilau keperakan di tangannya.

Sebagai Kontraktor Roh, Claire adalah jenius.

Meskipun kompatibilitasnya dengan Roh Karapaks cukup buruk, dalam pertarungan satu lawan satu dia tak akan kalah.

Ada jarak yang cukup jauh ke arah kuil namun dengan kaki Kamito, ia masih bisa tepat waktu.

“......!?”

Mendadak tanah di depannya meledak.

Dari dalam gumpalan tanah, peluru petir sihir roh ditembakkan.

Itu adalah gadis Kontraktor Roh Petir yang tadi. Alaminya, Kamito sudah bisa memprediksi serbuan tak terduga didalam hutan.

Namun—

“Toryaaaa!”

“Uaaa....!”

Ini sungguh tak terduga—Kontraktor Roh itu sendiri ikut maju menyerbu.

Mustahil diabaikan. Kamito berhenti dan menoleh ke arahnya.

Aku akan menyelesaikannya dalam satu serangan--

Ia dengan cepat menyerbu maju dan mengarahkan pedangnya ke perut si gadis.

Pada saat itu, intensitas cahaya tinggi mendadak menerjang matanya.

Roh Petir, yang digunakan gadis itu, meledakkan dirinya tepat di depan Kamito.

Hujan serangan cahaya berintensitas tinggi menyerbu Kamito. Rasa sakit yang tajam dan rasa kekakuan menyebar di seluruh tubuhnya.

Tidak sampai membuatnya tak bisa bergerak, namun, gerakannya betul-betul terhenti.

Di depan matanya, si gadis, yang ikut terkena ledakan pingsan, dia sudah kalah.

Gadis itu memang sengaja menjadi umpan sejak awal--

Itu adalah taktik yang tak mungkin digunakan dalam pertarungan individual namun kalau memikirkan kemenangan tim, hal itu bukanlah pilihan yang buruk.

Tugasnya adalah menghentikan Kamito apapun yang terjadi. Dan ternyata, dia berhasil.

“Habislah kita......”

“Datanglah, Penguasa Tirani! Engkau, Raja Hewan pasukan kehancuran yang menghancurkan dan melenyapkan segalanya!”

Di puncak kuil, si gadis penari mengangkat tongkatnya ke udara dan melafalkan mantra pemanggilan.

Upacara pemanggilan telah sempurna.

“.....Nama dari Roh Raja Hewan ini adalah ‘Cernunos’!”

Dari arah sini dan disana dalam hutan, auman Hewan Buas yang tak terhitung jumlahnya terdengar.

“Roh Kelompok Hewan........Roh yang merasuki apapun dalam wilayah luas!”

Itu sama dengan Roh Sinting yang membuat gila Scarlet milik Claire dan Roh Militer, tipe Roh yang bisa merasuki targetnya—versi yang lebih luas.

*Dodododododododo!*

Sekelompok Hewan Sihir, yang dirasuki oleh Roh kelompok Hewan, membuat goncangan tanah keras dan datang membabi buta.

“Ka........karena mereka bukan Roh, kalau mereka diinjak, mereka akan mati. Normalnya.”

“Ka....kalau soal menangani binatang, aku juga nggak akan kalah!”

*Pishi! Pishi!* Claire, yang mengalahkan Kontraktor Roh Karapaks, menyabetkan cambuknya.

“Menyerah saja Claire, kita sudah kalah.”

“—Pertandingan selesai.”

Guru Freya, yang muncul secepat bayangan, meniup peluit yang menandai akhir pertarungan.


Back to Prolog Return to Halaman Utama Forward to Bab 2