Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid2 Bab6

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 6: Pagi Keberangkatan[edit]

Bagian 1[edit]

—Empat tahun silam, adalah hari dimana hati si gadis yang masih kecil benar-benar hancur.

Api berkobar satu demi satu sepanjang kuil.

Api mengepulkan asap hitam dan berkobar dengan dahsyat. Terdengar teriakan dari para penjaga yang panik.

Pada hari itu, di kuil itu, dimana Sang Raja Elemental disembah, peristiwa besar yang mengguncang Kerajaan tengah berlangsung.

Tuan Putri Roh Api mendadak menyatakan pembangkangan dan mencuri Laevatein, Roh Api terkuat, dari dalam kuil.

Orang orang macam Ksatria Roh sama sekali bukan tandingannya. Laevatein yang mengamuk memegang Pedang Sihir Roh raksasa dan dengan mudahnya menggilas semua Roh yang menghalanginya.

Didalam lautan api dan asap hitam pekat, seorang gadis tengah berlari seorang diri.

Sang Tuan Putri dari [Institut Upacara Kedewaan], yang terbangun di kamar tidurnya, sudah kabur ke arah luar bangunan.

Namun tujuan si gadis bukan untuk melarikan diri.

Namun untuk menghentikan dia.

Gadis seniornya—Rubia Elstein, yang dia kagumi layaknya kakak perempuan dan sangat hormat padanya dari lubuk hatinya.

Ini pasti kesalahan, Rubia-sama tak mungkin melakukan hal—

Si gadis hampir kehabisan nafas, dan akhirnya mencapai gerbang masuk kuil.

Sang Tuan Putri Roh—ada disana.

Rambut merahnya berkibar di tengah hembusan angin kencang, dan di tangannya terdapat Pedang Api Merah membara.

Di malam mematikan itu, wajahnya, disinari oleh cahaya api, tampak sangat cantik.

“Rubia-sama.”

Si gadis menelan ludahnya.

Dia datang jauh jauh kemari untuk menghentikannya namun—

Di hadapan hawa haus darah mengerikan, berdiri saja sudah sulit baginya.

Namun, dia mengeraskan suaranya dengan berani.

Dia harus menghentikannya. Itulah tugas seseorang yang lahir dalam keluarga Kerajaan.

“Jangan — halangi aku.”

Sang Tuan Putri Roh memberi peringatan dengan suara tanpa emosi.

Pupil merah delimanya, membawa kobaran api panas, memandang rendah gadis di hadapannya seperti menembaknya habis habisan.

“Jangan, Rubia-sama. Tak mungkin saya akan membiarkan anda lewat begitu saja.”

Melotot balik pada mata tajam itu, si gadis melafalkan mantra pemanggilan Roh.

—Engkau, pelayan dari Sang Anak Raja, Ksatria dan Master Pendekar Pedang!
—Dengan Kontrak darah lama, jadilah pedang yang melindungiku, lekas dan datanglah ke sisiku!

Roh Terkontrak di gadis adalah Roh Suci peringkat tinggi, yang sudah melayani Keluarga Kerajaan Orudeshia selama beberapa generasi.

Meskipun dia tak bisa menang, dia seharusnya mampu mengulur sedikit waktu—

—Itulah yang dia pikirkan.

Namun.

“Kubilang jangan menghalangi aku.”

Pada saat itu, Sang Tuan Putri Roh mengayunkan Pedang Api Merah di tangannya.

Hanya dalam sesaat. Kilatan merah membunuh berkilau, dan Roh Suci yang baru saja dipanggil terkungkung dalam kobaran api membara dan lenyap.

“Ap......a.....”

Bukk. Si gadis jatuh di atas lututnya di tempat itu.

Sangat sulit untuk bernafas. Tenggorokannya terasa kram, dan dia bahkan tak bisa menghela nafas.

Itu adalah Roh Terkontrak yang selama ini sangat dia percayai.

Ksatria terkuat, yang selalu melindunginya sejak masih kecil, lenyap begitu cepat.

“T-Tidak, tolong aku......”

Ketakutan sia sia menghancurkan hati si gadis, yang sudah mengandalkan rasa kepercayaan dirinya, menjadi berkeping keping.

Membuang semua kehormatannya sebagai Bangsawan, si gadis menitikkan air mata dan mundur.

Si gadis itu bukanlah Tuan Putri kedua Kerajaan, maupun Gadis Tuan Putri elit dari [Institut Upacara Kedewaan].

Dia hanyalah gadis lemah dan tak berdaya.

Sang Tuan Putri Roh menepuk pinggangnya dengan lembut. Seluruh tubuh si gadis gemetar hanya karena itu.

“Fianna Ray Ordeshia—jangan pernah muncul di hadapanku lagi.”

Dia berbisik sangat dekat di telinganya, dan menghilang begitu saja di tengah tengah kobaran api.


Bagian 2[edit]

“......!?”

Fianna melompat dari ranjang.

Nafasnya tersengal sengal. Perasaan lengket tak nyaman tengah terasa di pakaiannya.

“Mimpi..........”

Setelah bergumam dan mengatur nafasnya, dia dengan erat menggenggam seprai ranjang.

Ini adalah kamar Claire di asrama Kelas Raven. Bersinar dari jendela adalah cahaya mentari pagi.

Sepertinya dia dibiarkan tidur sambil masih mengenakan seragamnya. Tak bisa dikatakan kalau itu nyaman untuk tidur, namun seragam dari [Institut Upacara Kedewaan], yang diperkuat oleh atribut suci, memiliki efek pemulihan rasa lelah.

Rahasiaku, sepertinya masih belum terekspos......

Sedikit membuka area dadanya, Fianna menghela nafas lega.

—Dan kemudian, ia ingat. Tentang tadi malam.

Kalau dia tak melindungiku pada waktu itu, mungkin sekarang aku—

Dia menggigit bibirnya, dan memperkuat tangannya yang menggenggam seprai.

.......Sama seperti hari itu. Pada akhirnya aku tak bisa berbuat apa apa.

Pada saat itu, pintu kamar mendadak terbuka—

“Fianna........kamu sudah bangun?”

“Kyaaa!?”

Fianna secara refleks berteriak, dan dengan cepat menutup area dadanya yang masih terbuka.

“M-Maaf!”

Kamito panik dan lekas membuang tatapannya.

“K-Kenapa kamu tiba tiba masuk..........”

“Maaf..........aku dapat sensasi yang sama seperti membangunkan seorang Ojou-sama, yang selalu bangun kesiangan.”

Sambil menggaruk kepalanya, Kamito meminta maaf. Di wajahnya nampak warna ketidaknyamanan.

“Tanganmu terluka. Apa nggak apa apa?”

“Ah, bukan hal besar. Apalagi Claire sudah memanggil tim medis.”

Kamito dengan santai mengibaskan tangannya, yang ditebas oleh Roh, untuk ditunjukkan padanya.

Kelihatannya luka lukanya memang sudah sembuh, namun ekspresinya tampak seperti ia tengah menahan rasa sakitnya.

“Maaf, gara gara aku. Karena aku tidak berguna.”

“Tidak, Fianna, kalau kamu tak memakai Bijih Roh waktu itu, habislah aku. Makasih sudah menolongku. Soal pelepasan Bijih Roh, bukankah harganya sangat mahal?”

“Bu-bukan hal istimewa, kamu pikir aku ini siapa?”

“Begitu.......kamu adalah mantan Tuan Putri Kerajaan.”

Sambil tersenyum garing, Kamito duduk di samping ranjang.

......Ng-nggak mungkin, kenapa wajahku jadi hangat, ada apa?

Jantung Fianna berdegup kencang.

Padahal aku hanya ingin memanfaatkannya tapi kenapa......

Entah kenapa supaya wajahnya tidak kelihatan, Fianna meletakkan tangannya di dekat lututnya dan melihat kebawah.

“Soal penyusup kemarin, sepertinya para Ksatria Sylphid masih menyelidikinya. Para Guru juga nampaknya dalam kondisi panik, namun, rencana kita berangkat untuk investigasi di Kota Tambang sudah direncanakan.”

Kamito memotong ucapannya disitu—

“Itu dia—sebelum kita berangkat untuk misi, ada yang harus kita bicarakan.”

“Bukankah terlalu awal untuk melamarku?”

“......Jangan pura pura bodoh. Kamu tahu kan? Tentang persoalan itu.”

Ujar Kamito dengan nada jengkel, dan kata, suara kecil terdengar dari luar ruangan.

Fianna tersenyum nakal. Itu adalah wajah seorang gadis saat ingin mempermainkan seseorang.

Sambil menyibakkan rambut hitam glamornya, dia dengan lembut meletakkan bibirnya dekat telinga Kamito—

“Aku paham. Hanya kita berdua saja, di tempat tanpa Claire, ada yang harus kita bicarakan berdua.”

“Hn? Ah, jadi begitu, tapi.....”

Cara bicaranya mengandung ketidak jelasan — Kamito mengernyit, dan pada saat itu—

Bam—pintu ruangan mendadak terbuka.

“Hei, Kamito, hanya kalian berdua saja, di tempat tanpa aku, hal penting macam apa yang kalian berdua bicarakan?”

*Gogogogogogogogogo......!*

“Claire!? Tu-tunggu, kamu salah paham, kata kata barusan bukan bermakna percakapan semacam itu—“

“Scarlet!”

Ketika Claire mengucapkan namanya, Kucing Neraka Panas muncul dari ruang kosong.

“K-K-Kamu punya dua pilihan.........dipanggang atau dibakar!?”

“—Fianna, mari kita kabur!”

“Eh.......Kyaaaaa!”

Kamito dengan lembut membopong Fianna, menendang jendela kamar dan melompat keluar.

“Ah, j-jangan kabur, tunggu!”


Bagian 3[edit]

Lapangan Akademi terasa sejuk dengan kabut pagi.

Rinslet Laurensfrost mengajak maid dan serigalanya berjalan jalan pagi.

“Carol, mari kita sarapan di ruang makan?”

“Baik, Nyonya.”

Carol mengangguk, sepertinya senang. Si serigala putih yang berjalan di sampingnya juga mengaum.

Kontras dengan penampilannya yang sangat garang, serigala ini secara mengejutkan membuat mata bundar yang imut. Ia adalah Roh Es Sihir peringkat tinggi [Fenrir], yang sudah melayani keluarga Laurensfrost selama beberapa generasi.

Mengajak jalan jalan Roh Terkontrak bukan hal yang aneh.

Roh sebenarnya sangat suka jalan jalan di hutan. [Hutan Roh] yang mengelilingi Akademi adalah lingkungan yang memberikan perasaan sangat bagus bagi Roh yang terwujud di dunia ini.

Para gadis dari Ksatria tengah berlari terburu buru di koridor Akademi yang mengelilingi lapangan.

“Ada apa ini? Sejak pagi berisik sekali.”

“Sepertinya ada pencuri yang menyusup ke Akademi tadi malam, Nyonya.”

“Sampai menyusup ke Akademi ini, berani betul pencuri itu—Ah?”

Tiba tiba mengernyit, Rinslet menaikkan suaranya.

Kamito tengah berjalan ke arah Hutan Roh dari Gedung Akademi.

Kamito tengah berjalan dengan gadis yang sangat cantik.

“Ah, itu Tuan Kamito. Gadis di sampingnya, kalau tidak salah, adalah siswa pindahan baru, Fianna-san.”

“......”

Rinslet menggembungkan pipinya, nampaknya cemberut.

“Entah kenapa, dadaku jadi terisi penuh oleh kemarahan.”

“Ah, Nyonya, apa anda membenci Tuan Kamito?”

“Iya, aku benci dia! Orang nggak tahu malu macam dia!”

“Namun, Nyonya, anda sepertinya sangat perhatian pada Tuan Kamito.”

“A-Aku cuma ingin mencuri budak Claire Rogue!”

Wajah Rinslet memerah, dan ia membuang mukanya.

—Dan kemudian, disana, ia mendapati kemunculan orang yang sangat dikenalnya dan mengernyit.

Tepat pada saat itu juga, Claire keluar dari gerbang terluar asrama kelas Raven.

Dia entah kenapa kelihatan aneh. Wajahnya dipenuhi oleh mimik depresi tak seperti biasanya.

Bahkan kuncir dua merahnya yang ia banggakan sekarang nampak kuyu.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Rinslet bergumam, sepertinya cemas.

.......Dia mungkin rivalku, tapi tetap saja aku tak bisa mengabaikannya.

Biarpun mereka selalu berantem, dia tetap saja mengkhawatirkan teman kecilnya yang satu itu.

Meninggalkan Carol dan Fenrir di tempat itu, Rinslet dengan cepat mendekat dari belakang.

“Ke-Kenapa dia, apa dada besar itu bagus, gumpalan lemak itu.......”

“Ada apa dengan dada, Claire Rogue?”

“.....! Ri-Rinslet!”

Claire terkesiap dan berteriak.

“Bukankah dadamu yang kurang berkembang itu hal biasa?”

“Di-diam.......Oke, sudah cukup. Selain itu, apa kamu melihat Kamito?”

“Kamito-san, aku kebetulan melihatnya beberapa saat lalu. Dia sedang berjalan bareng cewek, hanya berdua saja.”

“A-Apa apaan itu!”

“Mereka masuk ke arah dalam Hutan. Kalau kamu mengejar mereka sekarang, mungkin masih sempat.”

Claire.......merintih.

“A-Aku nggak peduli sama cowok itu lagi! Kuharap dia mati tercekik karena tenggelam dalam dada!”

“Hei, Claire, apa yang sebenarnya terjadi?”

Rinslet bertanya, sepertinya kebingungan.

Claire menggigit erat bibirnya—

“Rinslet, jangan malu dan dengarkan.........Ke-kenapa dadaku kecil?”

Rinslet tersenyum ramah pada Claire, yang wajahnya membara merah.

“Kamu sama sekali nggak salah. Justru dadamu yang kurang berkembang itu yang salah. Selain itu, yang namanya pria maniak, seperti cowok itu, ada banyak di masyarakat.”

“Rinslet, bukankah kamu baru mengatakan hal penghancur hati sambil pura pura ingin menghiburku!?”

“Pasti cuma imajinasimu.”

Ujar Rinslet dengan enteng.

“Nggak masalah kok kalau aku bisa berbagi dan memberi dadaku buatmu, tapi—“

Dia bergumam—mendadak, Rinslet mengingat sebuah artikel yang ia baca dari suatu majalah.

“Claire, aku ingat metode untuk membesarkan dadamu.”

“Eh?”

Claire menatap Rinslet dengan mata penuh antisipasi untuk sesaat.

.......Namun, ia sekejap menggeleng kepalanya.

“.....Bo-bohong, nggak mungkin cara seperti itu ada. Aku pernah dengar rumor kalau ada Roh Dada Besar Legendaris di [Hutan Roh] waktu masih kecil dulu dan pernah memburunya, namun ternyata itu hanya rumor palsu.”

“Eh, ka-kamu sampai melakukan hal seperti itu?”

Rinslet, sudah diduga, terkejut setengah mati.

“D-Diam......sudah cukup. Biar kudengarkan metodemu itu.”

Ahem. Claire berdehem dan berbicara.

Dia bersikap seolah olah tidak tertarik, namun rasa keingintahuannya sudah ketahuan.

Hmm. Rinslet meletakkan tangannya di dagunya.

........Ini mungkin bisa kumanfaatkan untuk melakukan pertukaran.

Nampaknya kekhawatiran Claire bukan hal yang serius.

Kalau memang begitu, akan disayangkan kalau begitu saja memberi informasi pada rivalnya.

.......Jadi teringat, Tim Claire baru saja dapat misi peringkat-S.

Rinslet mengingat tentang hal yang tanpa sengaja ia dengar dari Carol kemarin.

“Nggak masalah sih. Tapi, aku nggak bisa mengatakannya secara gratis.”

“A-Apa?”

“Aku juga ingin diberi hak ikut serta dalam misi yang baru diambil Tim Scarlet.”

“......Hah? Kenapa juga kamu harus ikut?”

“Nggak adil kalau kalian saja yang bisa pergi piknik. Selain itu, akan merepotkan kalau pelayanku bisa dijinakkan sesuka hatimu di tempat yang nggak terjangkau mataku.”

“Itu bukan piknik, tapi misi. Selain itu, Kamito bukan pelayanmu.”

Claire dengan kesal menggeleng kepalanya. Itu wajar saja. Kalau jumlah anggota yang ikut serta dalam misi bertambah, maka poin peringkat yang diberikan per orang pasti akan berkurang.

“Begitu, sayang sekali ya, tapi aku nggak bisa mengatakan metode untuk membesarkan dadamu.”

“Guu.......”

Claire menggeretakkan giginya, sepertinya menimbang nimbang.

Selama beberapa detik, ia melotot tajam pada Rinslet—

“.......A-Aku paham.”

Pada akhirnya, ia mendesah tanda menyerah.

“Kamu boleh ikut serta. Namun, membentuk tim denganmu hanya sementara saja.”

“I-Itu sudah jelas! Siapa yang sudi bergabung kedalam timmu!”


Bagian 4[edit]

Sepanjang waktu itu, Kamito dan Fianna sudah berada jauh di dalam [Hutan Roh].

Di malam hari, ini adalah hutan kegelapan dengan Roh Roh berkeliaran dimana mana, namun sepanjang pagi, ia memberikan kesan layaknya kuil suci, sehingga [Hutan Roh] itu memiliki dua wajah berbeda.

Jadi teringat, aku ketemu Claire disini.........

......Namun itu, dalam banyak hal, adalah pertemuan terburuk yang pernah ada.

“Berjalan jauh jauh ke tengah Hutan berduaan saja. Rasanya seperti sedang kencan.”

“Ini bukan tempat yang cocok buat kencan. Ada Roh Roh yang nggak bisa terlihat mata berkeliaran dimana mana.”

“Nggak apa apa. Anggap saja aku tipe yang lebih bersemangat kalau dilihat jelas.”

“.....Ap.....Tuan Putri tak boleh mengatakan hal semacam itu!”

“Cuma bercanda. Kenapa wajahmu mesti memerah?”

Sambil berdialog seperti itu, keduanya sampai di lahan kosong di tengah tengah Hutan.

Kamito tak perlu khawatir ada orang yang mendengar obrolan mereka.

“Baiklah, ada satu hal yang mau kutanyakan—“

“Warna pakaian dalamku hitam.”

“Jangan seenaknya memberi jawaban. Bukan itu, aku nggak berniat mengajukan pertanyaan macam itu.”

Kamito menimpali dengan mata serius. Sangat gawat kalau dia terseret kedalam arus pembicaraan si Tuan Putri.

Ahem, dia terbatuk, dan menatap lurus ke mata Fianna—

“Kenapa kamu tahu identitas sejatiku?”

“.........”

Terjadi beberapa detik kesunyian.

Dan kemudian, Fianna dengan tenang mendesah.

Warna kekecewaan yang tak bisa dia ungkapkan muncul di wajahnya.

“.....Hei, apa kamu benar benar nggak mengingat apa apa?”

“Maaf, tapi aku nggak punya satupun kenalan Tuan Putri.”

Fianna mendesah lagi oleh jawaban Kamito.

Dia menggembungkan pipinya, ketimbang terkejut, dia tampak sedang marah.

“Petunjuk satu, apa kamu mengingat sesuatu setelah melihat Hutan ini?”

“Hutan?”

“Ya. Hutan di [Astral Zero].”

Astral Zero........ada sesuatu yang tersangkut di pikiran Kamito.

“Petunjuk dua, festival [Tarian Pedang].”

“Tarian Pedang, maksudmu yang tiga tahun lalu?.......jangan jangan, kamu salah satu lawan yang kuhadapi di Tarian Pedang itu?”

“Petunjuk tiga, gaya rambut.”

Berteriak dengan suara jengkel, Fianna mengikat rambutnya dengan kedua tangannya.

Dia menarik rambut glamornya di kedua sisi, wajah itu—

“Ah!”

Kamito secara spontan mengeraskan suaranya.

“........A-Aku ingat!”

Tiga tahun lalu, dia adalah gadis yang dia selamatkan saat tengah diserang oleh Roh di Hutan Astral Zero.

Selain itu, Kamito terlihat saat ia tak mengenakan pakaian wanitanya pada saat itu.

“Gadis yang waktu itu ternyata kamu, Fianna.”

“.....Iya, huuuuh.”

Fianna cemberut sambil menggembungkan pipinya.

“Emm, tapi atmosfirmu berbeda sekali........”

Kamito berbicara tak jelas. Bukannya dia tak mengingatnya sama sekali, namun waktu itu dia gadis yang masih belum tumbuh seperti sekarang.

“Apa, Kamito-kun, kamu sendiri juga sudah banyak berubah.”

“Banyak hal terjadi.”

Kamito dengan canggung mengalihkan tatapannya.

Tanpa sengaja pandangannya berhenti pada tangan kirinya yang terbungkus sarung tangan kulit.

—Tiga tahun silam tepat ketika segalanya berubah.

Apalagi, itu adalah hari Kamito kehilangan dia, mengulurkan tangannya pada [Permohonan] yang seharusnya tak pernah ia harapkan.

“Padahal sudah janji bertemu lagi, padahal aku menunggu sepanjang waktu ini. Kamu lenyap begitu saja.”

“......Maaf.”

Kamito meminta maaf dengan jujur.

Fianna meletakkan tangannya di pinggangnya,dan mendesah dalam kekecewaan.

“Nggak apa apa. Aku sudah memaafkanmu. Aku jengkel karena kamu nggak mengingatku, tapi, yah, itu saja. Bagi kamu, itu hanya satu gadis yang kebetulan kamu selamatkan.”

“Tapi hei—“, dia bergumam dengan tegas.

Mendadak, ia menekan lembut ujung jarinya ke bibir Kamito.

“Kamu sebenarnya cinta pertamaku.”

“Ap.....!?”

“Cuma bercanda.”

“......Ke-Kenapa kamu.”

Kamito melotot dengan tatapan serius, dan Fianna tertawa kecil.

“Begitu, jadi kamu gadis yang waktu itu.....”

Namun, meskipun demikian—

Kenapa dia harus mendekati Kamito? Alasan itu masih belum jelas.

“Fianna, kenapa kamu datang ke Akademi ini?”

“Tentu saja, untuk mencium Kamito-kun tercintaku.”

“.....Tidakkah kamu merasa malu mengatakan itu?”

“Y-Ya......barusan itu memang sedikit memalukan.”

Fianna tersipu malu dan melihat kebawah..........tentu saja, dia pasti malu.

“Aku datang kemari karena aku mendengar tentang Kamito-kun.”

“Tentang aku?”

“Yea. Beberapa hari lalu, aku dengar rumor dari butler di istanaku. Bahwa terdapat Kontraktor Roh laki laki, yang mengalahkan Roh Militer yang mengamuk. Setelah menyelidiki, nama itu—“

“Adalah namaku, yaitu orang, yang menghilang tiga tahun silam.”

“Itu dia. Namun, aku segera tahu dari bagian Kontraktor Roh laki lakinya.”

“Terus, kenapa kamu harus datang menemuiku?”

“I-Itu untuk berciuman dengan Kamito-kun—“

“Sudah cukup.”

Kamito menyela, dan Fianna sedikit cemberut sambil terus diam.

Dan kemudian, ia dengan tenang membuka mulutnya.

“Aku bermaksud mengancammu dengan rahasia masa lalumu dan dengan paksa bergabung kedalam timmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kalau aku berada satu tim dengan Ren Ashbell, Sang Penari Pedang Terkuat, kupikir aku bisa menjuarai Tarian Pedang kali ini.”

“......Begitu. Maksudnya metode pendekatan penuh godaanmu yang tak alami itu juga bagian dari rencanamu?”

“Emm........ketahuan deh.”

“Tindakanmu terlalu ganjil. Tapi, kupikir kamu sudah berjuang bagus.”

Yang pasti, dia adalah Tuan Putri sungguhan, dan dengan cara keras, dia adalah Gadis Tuan Putri terkenal dari [Institut Upacara Kedewaan]. Karena berhubungan dengan bidang itu, katakan saja, bahwa dia gadis yang lebih lugu dari para Nona muda di Akademi ini.

“Namun, jangan salah paham! H-Hal semacam itu hanya akan kulakukan padamu saja, Kamito-kun!”

“Nggak, justru bagian itulah yang merepotkan.”

Kamito menggerutu dengan tatapan malas dan mendesah.

“Namun, kenapa kamu berniat mengikuti [Tarian Pedang]?”

“Itu......”

Fianna membuat ekspresi menimbang nimbang—

“Bukankah sudah jelas? Kalau aku memenangkan Tarian Pedang, aku bisa merebut kembali status dan kehormatanku yang hilang. Semua orang, yang terus melecehkanku—Sang Ratu Hilang, Tuan Putri tak berguna—akan kembali mengakui diriku.”

“.......Begitu.”

—Itu pasti bohong. Kamito menyadarinya. Bukan itu alasan sejatinya.

Pupil dinginnya mirip dengan Claire, membawa kehendak kuat menuju tujuan mereka.

Dengan alasan semacam itu, tak mungkin dia memiliki tatapan seperti itu.

“Hei, Kamito-kun. Kamu tak marah?”

“Hm, kenapa?”

“Soalnya, aku mencoba memanfaatkanmu.”

Kamito mengangkat bahunya pada Sang Tuan Putri, yang menjadi serius di waktu yang aneh.

“Bukan apa apa. Greyworth selalu memperalatku. Disamping itu, Claire memberiku perlakuan ala budak. Biarpun masalah nambah satu atau dua, nggak akan ada bedanya.”

“Ternyata Ren Ashbell juga punya banyak kesulitan.”

Fianna tersenyum pahit, pada saat itu—

Semak semak bersuara, dan suara dingin terdengar.

Kamito menoleh, dan seorang gadis, yang wajahnya sangat ia kenali, muncul dari sisi lain semak.

“Ellis?”

“.......Oh, ternyata Kamito.”

Ellis menghela nafas kelegaan dan menyarungkan pedangnya, kemudian, ia keluar dari semak semak dan berjalan ke arahnya.

Tak lama dari belakang, Rakka dan Reishia dari Ksatria muncul.

“Ellis, ada masalah apa? Kenapa kamu ada di tengah hutan?”

“Itu kata kata kami. Karena penyusup kemarin, para Ksatria jadi super sibuk. Aku ingin kamu lebih berhati hati dalam bertindak.”

Tak lama kemudian, sudut pandang Ellis berpindah pada Fianna, yang berdiri di samping Kamito.

Ekspresinya mendadak suram.

“Ka-Kalian, apa yang kalian lakukan berduaan saja di tempat semacam ini!?”

Sebelum Kamito menyadarinya, pedang sudah diacungkan di depan lehernya.

.......seperti biasa, cabutan pedangnya secepat Dewa.

“Tak mungkin, kalian—“

“Bodoh sekali, dengan pria dan wanita berduaan saja di hutan hanya satu hal yang perlu dipikirkan.”

“A-Apa apaan itu!”

Wajah Ellis memerah padam oleh ucapan Fianna.

Sudut tajam pedang semakin diacungkan ke arah Kamito.

“Oi, Fianna!?”

Kamito berteriak, namun Fianna pura pura bodoh.

“A-Akademi memang tak memiliki aturan yang melarang hubungan seksual terlarang. Tapi, itu karena sejak awal disini nggak ada lawan jenis. Namun, meski tak tertulis di aturan , para Ksatria tetap melarangnya! Apa yang kalian lakukan, ayo ngaku!”

“Anu, yang tadi kami lakukan. Pokoknya, apa saja yang kamu bayangkan di imajinasimu.”

Fianna menekan dadanya erat erat ke lengan Kamito.

Mata Ellis semakin meningkat level bahayanya.

“Fianna, kenapa kamu selalu bikin perkara, yang seperti menumpahkan minyak ke api?”

“Pa-padahal opiniku padamu sudah membaik..........kamu, dasar pria mata keranjang!”

Ia mengayunkan pedangnya.

Kamito melompat ke belakang dalam kepanikan oleh serangan tanpa ampun itu.

“Tu-Tunggu, Ellis! Bantu aku, para Ksatria, ada setan pembunuh mengamuk disini!”

“Dasar bodoh, aku juga Ksatria!”

“Sungguh ironis!”

Kamito berteriak.

“Ketua, kamu hanya membuang buang waktumu.”

Rakka meletakkan tangannya di bahu Ellis.

“Mohon maaf, saat ketua kami ada denganmu, emosinya selalu nggak stabil.”

“......I-Itu nggak benar!”

Wajah Ellis memerah padam, dan dia melotot pada Reishia, yang terkikik.

Untuk sementara waktu, sepertinya ancaman bahaya sudah lewat. Kamito menghela nafas lega.

“Astaga, Ellis, apa yang kamu lakukan pagi pagi begini?”

“Ah, sudah diputuskan kalau kami berangkat ke Tambang untuk misi. Untuk mencari sumber cahaya dalam lorong, kami datang untuk menangkap Roh beratribut cahaya.”

Yang menjawab tadi adalah Rakka.

Itu benar. Mereka membawa lentera yang terisi oleh Bijih Roh kecil di tangan mereka.

“Tambang? Jangan jangan, kalau tidak salah, misi investigasi Kota Tambang Gado seperti kami?”

“Ah, itu benar. Namun, misi kami bukan untuk menginvestigasi.”

“Apa maksudnya?”

“Itu misi yang baru kami terima pagi ini. Rinciannya adalah menangkap penyusup dan mengambil kembali material super rahasia yang dicuri.”

“Penyusup—bocah Jio Jinzagi itu.”

Dia adalah Kontraktor Roh laki laki, yang menggunakan beberapa Roh Terkontrak.

Kamito sepertinya mengetahui sesuatu tentang tujuan pria itu.

“Itu benar. Kami belum mengungkap identitas bocah itu, namun material super rahasia yang dicuri dari perpustakaan adalah benda yang sudah mencatat, Roh Militer Tipe StrategiJormungandr, yang tersegel di periode paska perang di Kota Tambang Gado. Sepertinya ada orang orang yang secara rahasia mengendalikan wilayah terluar Kota Tambang.”

Ellis menahan kemarahannya, meski masih nampak kesal.

“Gara gara Jio Jinzagi—bocah itu—kehormatan Ksatria Sylphid jatuh begitu rendah. Untuk mengembalikan harga diri Ksatria, aku, pemimpin Ksatria, harus menangkapnya.

Rakka dan Reishia mengangguk kuat oleh ucapan Ellis.

.......Sepertinya takkan berakhir sebagai investigasi gempa bumi biasa.

Sebuah firasat muncul di kepala Kamito.

Terdapat material super rahasia tentang Roh Militer Tipe Strategi yang dicuri.

Dan kemudian, muncul seorang Assasin, yang entah bagaimana mengenal identitas Kamito.

Mungkinkah Greyworth tahu sesuatu tentang Assasin itu?

Kamito sejujurnya tak paham apa yang Si Penyihir Senja itu rencanakan kali ini. Namun, ia berpikir kembali, sampai Greyworth memberikan misi peringkat S di waktu semacam ini, ia merasa ada unsur kesengajaan.

Penyihir itu.....

Kamito menggerutu dengan kesal.

Setelah itu, dia menghadap Ellis—

“.....Hei, Ellis. Karena tujuan kita sama, kenapa kamu tak bergabung dengan kami saja?”

Assasin bernama Jio Jinzagi itu sudah jelas bukan lawan yang biasa.

Kamito, tentu saja, mengetahui kemampuan Ellis, namun dia bukan lawan yang bisa dihadapi dengan keahliannya.

Namun, Ellis dengan tegas menggelengkan kepalanya.

“Kamito, kuhargai ajakanmu, tapi aku tak bisa begitu saja meminjam bantuanmu. Ini sesuatu yang harus diselesaikan oleh Ksatria Sylphid.”

“Baiklah, kalau itu memang keputusanmu, tapi jangan memaksakan dirimu.”

“A-Ah.......kamu juga.”

Ellis tersipu malu dan memalingkan wajahnya.

Fianna, yang melihat situasi itu, membulatkan pipinya, entah kenapa terlihat cemberut.


Bagian 5[edit]

Pada waktu itu, Claire tengah memeluk bantal di ranjangnya sambil berkhayal sendiri.

“Meminta laki laki yang aku su-sukai untuk menggosok da-dadaku!”

Dia berteriak dengan wajah merona merah, dan memukul mukul bantal. Boshun boshun.

—Untuk membesarkan dadanya, cara terbaik adalah meminta seorang laki laki untuk menggosoknya.

Rinslet yang mengatakan itu.

“Ng-nggak mungkin aku bisa lakukan itu! Selain itu, laki laki yang aku su-suka—“

Sambil memeluk bantal erat erat, dia berguling sembarangan di ranjangnya...........dan mendadak berhenti.

“............”

Pada waktu itu, wajah Kamito entah kenapa muncul dalam pikiran Claire.

Seperti pangeran dalam novel percintaan yang ditargetkan pada remaja, yang Claire suka baca, Kamito, dalam imajinasinya, dengan paksa mendorong Claire di ranjang—

“Fuwaaa, a-apa yang kamu lakukan, idiot, mesum!”

“Tak kusangka ternyata kamu punya payudara.”

“Eh?.......A-apa iya? Itu nggak benar, biasa saja, biasa saja kok.”

“Akan kubuat lebih besar lagi. Dengan teknik menakjubkan milikku ini.”

“Jangan, hei, fua, a-aa♪.”

Jemari Kamito dalam imajinasinya dengan erat meremas dada Claire.

Satu gosokan, dua gosokan, tiap tiap waktu dadanya terus membesar seperti kue yang mekar.

“Fua, hn, a-apa ini, sungguh hebat......!?”

Kancing seragamnya lepas seperti meletus, dan pakaian dalamnya robek, lalu—

“.........Nggak mungkin itu akan terjadi!”

Claire memukul bantal, dan merintih.

“A-Apanya yang teknik menakjubkan........bukankah aku i-idiot!”

“Nyaa?”

“Li-Lihat lihat apa kamu, Scarlet!”

Dia menghadap lantai dan melempar bantal, dan si Roh Api kabur dengan panik.

“Ahh, se-semua ini salah cowok itu!”

Sambil memeluk bahunya dengan kedua tangannya, dia mempercepat nafasnya.

.......Ada apa denganku. Kenapa aku jadi merasa panas. Apa mungkin aku demam.

Entah kenapa tubuhnya terasa panas. Claire menempatkan kedua tangannya di pipinya, dan mendadak dapat ide.

.......A-Apa mungkin bisa menjadi besar, kalau aku menggosoknya sendiri.

“Ku-Kucoba saja dulu.”

STnBD V02 171.jpg

Dengan jemarinya, dia sedikit memegangi dadanya.

“Ah, hn.....”

Dia tanpa sadar mengeluarkan suara karena sensasi kelu menyenangkan.

A-Apa yang sudah kulakukan..........tapi terasa begini nyaman.

Funyuu. Funyuu.

“Fua, ah, hn, nggak, ini.........terasa enak, tapi, hn.”

Dia terus menggosok dadanya dalam kondisi setengah sadar.

Gacha—suara pintu kamar yang terbuka terdengar.

“.....Ka-Kamu, lagi ngapain kamu?”

Kamito tengah berdiri disana dengan wajah nampak bingung.

“......Fua!? ng-nggak, ini bukan begitu!”

Tak lama kemudian, tak terhitung bola api yang diluncurkan Claire mementalkan Kamito.


Bagian 6[edit]

Dengan ini dan itu, satu jam telah lewat. Di plaza di depan gerbang, Kamito tengah mempersiapkan keberangkatan.

Itu bukan tempat yang jauh dari Akademi. Jaraknya mungkin bisa dicapai tak sampai sehari menaiki kuda melewati jalan utama.

Sepertinya tim Ellis sudah berangkat lebih dulu. Bagi gadis gadis itu, yang menerima perlindungan Dewa Roh Angin, mereka pasti sudah sampai ke tempat itu lebih awal.

Membawa Est, yang sudah berwujud pedang, di pinggangnya, ia sudah menyiapkan perlengkapannya.

“Maaf terlambat, Kamito-san.”

Ojou-sama pirang platina datang sambil menuntun kuda.

“Eh, Rinslet juga datang?”

Kamito bertanya pada Claire.

“Yea, itu adalah strategi pertukaran informasi kelas tinggi. Sebagai ganti informasi penting yang dia miliki, aku mengizinkannya ikut dalam misi ini.”

“Informasi penting? Apa itu?”

“Itu ra-rahasia......pokoknya itu informasi penting, jadi nggak bisa kukatakan padamu.”

“Memang, itu informasi penting buatmu. Metode untuk membesarkan dadamu—“

“Hei, Rinslet Laurensfrost, apa kamu mau diubah jadi batubara?”

“Hei, Claire, matamu, matamu serius sekali.”

Rinslet bergidik.

“Ah, saya khawatir, Nyonya. Sampai pergi ke tempat berbahaya itu.”

Di sampingnya, Carol, si maid, sangat mengkhawatirkan majikannya dengan kedua tangannya dikatupkan seolah sedang berdoa.

Karena dia bukan Kontraktor Roh, wajar kalau dia tak ikut dalam misi. Dia adalah pengurus Akademi.

“Nggak apa apa Carol. Justru aku yang khawatir padamu.”

Rinslet memeluk maid pemberaninya dengan rasa perhatian layaknya seorang majikan.

“Kuharap kamu masih bisa bangun pagi meski aku nggak ada. Makanlah teratur tiga kali sehari. Untuk mencuci, selesaikanlah sebelum tertutupi gelembung lagi.”

“Baik, Nyonya, saya akan terus bekerja keras meski Nyonya tidak ada.”

“.......Tunggu, itu aneh sekali.”

Kamito menimpali keduanya, yang entah kenapa nampak begitu bahagia, dengan tatapan serius.

“Ngomong ngomong, mungkinkah Carol adalah maid yang nggak bisa apa apa?”

Mendengar itu, Rinslet dengan jengkel menoleh dan melotot pada Kamito.

“Bicara apa kamu, nggak masalah asal maid itu imut!”

“Yah, kalau kamu maunya yang seperti itu, nggak apa apa sih, tapi.....”

Atau haruskah kukatakan kalau Rinslet adalah wanita super dalam semua pekerjaan rumah tangga?

......Hal itu nyaris sulit dipercaya.

“Masakan yang Nyonya buat sangat lezat.”

“Carol, kamu juga harus berusaha.....”

Kamito takjub melihat maid yang tak bisa apa apa itu.

“Be-berhenti, kubilang hentikan!”

Teriakan tersebut terdengar dari arah belakang.

Kamito menoleh, dan Fianna, yang berada di atas kuda, tengah diayun ayunkan—

“Kyaaa!”

—Thud! Pantatnya jatuh ke tanah. Sepertinya refleksnya sangat tidak bagus.

“Astaga, padahal Tuan Putri Kerajaan, kamu nggak bisa naik kuda? Menaiki kuda itu keharusan bagi setiap bangsawan, tahu?”

“Me-metode untuk menaiki kuda nggak pernah diajarkan di [Institut Upacara Kedewaan]!”

Sambil menepuk nepuk tanah yang melekat pada roknya, Fianna menjawab balik.

“Latihan mengendara kuda adalah subjek utama dalam Akademi, itu sesuatu yang harus kamu biasakan. Tapi, dengan dada segede itu, mungkin akan susah buat keseimbanganmu, sih?”

“Yea, benar sekali. Karena aku nggak punya dada aero[1]yang nggak menahan hambatan udara sepertimu, aku mungkin nggak cocok naik kuda. Karena aku menangkap hambatan udara.”

“Ap.......dada aero, apa! Jangan seenaknya membuat kata baru!”

Rinslet datang ke tempat dimana mereka kedua tengah bertengkar.

Menyibakkan rambut pirang platinanya, dia menghadap Fianna dan tersenyum.

“Aku Rinslet Laurensfrost, senang berkenalan denganmu. Dan, karena Kazehaya Kamito adalah pelayanku, bisa tolong kamu nggak dekat dekat dengannya sesukamu?”

“Ah, aku nggak berencana dekat dekat dengannya. Karena dia pelayanmu, bagaimana kalau kamu mendisiplinkannya dengan baik?”

“Kamu sungguh pandai bicara, yang Mulia.....hohoho.”

“Fufufu......”

Diantara mereka berdua, percikan api berkilapan.

“Kalian.......”

Kamito, yang berada di atas kuda, hanya terdiam sambil mendesah.

Fianna berbalik ke arah Kamito, dan senyuman nakal muncul di wajahnya.

“Hei, karena aku nggak bisa naik kuda, Kamito yang akan memberiku tunggangan.”

“Ha?”

Sebelum Kamito menjawab, Fianna sudah melompat di belakangnya.

“Ap.....!”,”Hei.....!”

Claire dan Rinslet mengeraskan suara mereka hampir bersamaan.

Fianna melingkarkan tangannya disekitar pinggang Kamito, dan memeluknya erat erat.

*Fuyon!* Sensasi payudara lembutnya terasa dengan jelas.

“Ke-kenapa aku? Minta Rinslet atau Claire yang memberi tunggangan.”

“Aku mau naik bareng Kamito. Atau, kamu mau identitasmu ketahuan?”

“Grh.....”

“Ng-Nggak bisa, itu nggak boleh!”

Claire menghajar tanah dengan sabetan cambuknya.

“Ah, kenapa?”

“Ke-kenapa........pokoknya, itu nggak diperbolehkan!”

“Biarpun kamu Putri Kerajaan, itu nggak adil!”

Rinslet juga dengan cemberut membulatkan pipinya.

.......Kamito tak paham bagian mana yang tidak adil.

“Ya ampun, makin banyak masalahku......”

Kamito mendesah dalam di atas kuda dengan Fianna duduk di belakangnya.

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Aero seperti dalam 'Aerodinamis', maksudnya desain objek yang dirancang memiliki hambatan udara sekecil mungkin. Seperti bagaimana mobil dan pesawat dirancang,
Back to Bab 5 Return to Halaman Utama Forward to Bab 7