Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid2 Bab7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 7: Pertarungan di Tambang yang Terlantar[edit]

Bagian 1[edit]

Saat ini tengah malam ketika, setelah menaiki kuda mereka sepanjang hari, kelompok akhirnya mencapai pintu masuk Kota Tambang.

Karena semua anggota secara teknis mengendara kemari tanpa istirahat, mereka benar benar kelelahan.

Namun, tak mungkin bagi mereka untuk beristirahat dengan santai.

“Ini Kota Tambang Gado.........seperti Kota hantu.”

Rinslet, yang melompat turun dari kuda, bergumam dengan tenang.

“Itu karena beberapa dekade sudah berlalu sejak itu menjadi tambang terlantar. Pastinya tak ada manusia yang tinggal disini.”

“Manusia—ya.”

Claire menyudutkan matanya menatap ke dalam kegelapan.

Untaian putih kebiruan tengah melayang disini dan disana di dekat reruntuhan.

Mereka adalah Roh Peringkat Rendah yang tengah beterbangan. Dalam reruntuhan semacam ini, ada banya Roh Roh liar berkumpul.

Sama halnya kondisi [Hutan Roh] di malam hari.

Di sisi lain dari kota terlantar, masih terisi lorong lorong tak terhitung jumlahnya, tambang besar berdiri menjulang sepanjang sekelilingnya.

Tambang Gado—dahulu pernah memproduksi Bijih Roh dalam jumlah besar, merupakan Tambang terbesar Kekaisaran.

Sepanjang peperangan, seluruh Bijih Roh digali sampai habis, dan bahkan belum sampai dua puluh tahun sejak ia menjadi tambang yang terlantar.

Dibawah tambang itu, Jormungandr Roh Militer-Tipe Strategi tengah tertidur; tersegel oleh para Ksatria Ordeshia pada saat itu.

“—Ngomong ngomong, kamu sebaiknya menjauh dari dia.”

Claire memelototi Fianna, yang dengan erat menempel di lengan Kamito.

“Aku nggak mau, apalagi, Kamito-kun akan melindungiku.”

“Kamu mungkin dalam posisi untuk dilindungi. Namun, sejak awal, ada masalah apa dengan Roh Terkontrakmu? Karena Kontraktor Roh itu mungkin sedang dalam persembunyian, buatlah dia dalam kondisi dimana kamu bisa segera menggunakannya.”

“Itu—“

Kata kata Fianna terhenti secara tidak normal.

Dia menutup bibirnya erat erat dan membuang wajahnya dengan canggung.

“I-Ini masih belum waktunya. Roh Terkontrak dari Keluarga Kerajaan Ordeshia tak boleh dipanggil secara tak terhormat. Ia jelas jelas berbeda dari kucingmu.”

“A-Apa apaan itu......!”

Tanah dimana mereka berempat berdiri mendadak berguncang dengan kuat.

“Gempa bumi.....?”

“Sepertinya kita harus buru buru. Aku dapat firasat buruk.”

Claire menggumam dengan lembut, dan di telapak tangannya, api sihir Roh menyala.

Tempat tujuan mereka ditemukan dalam sekejap bahkan tanpa mencari.

Di bagian terdalam dari jalan utama yang menuju ke Tambang terlantar—di depan pintu masuk kota, terdapat Kuil Agung raksasa.

Itu adalah Kuil megah yang menggunakan beberapa pilar batu raksasa.

Kuil Agung sebesar ini hanya ada di Ibukota bahkan di Kekaisaran Ordeshia.

Namun—

“Sungguh mengerikan, ini.........”

Kuil Agung, yang mana semua patungnya hancur, semua Bijih Roh yang terdapat di batu pilarnya dirampok dan membuat Roh disekitarnya kegirangan, telah bertransformasi menjadi reruntuhan yang bahkan nampak tragis untuk dilihat.

“Sungguh aneh—“

Seorang, yang menyadari fenomena tak biasa, adalah Fianna, yang telah menerima latihan sebagai Tuan Putri Roh.

“Apanya yang aneh?”

“Kuil ini, meskipun sudah menjadi reruntuhan, menunjukkan jejak kalau seseorang pernah repot repot menampilkan ritual. Lebih jauh lagi, beberapa kali sepanjang periode bulan bulan ini.”

“Ritual?”

Mengangguk pada Claire, yang mengernyitkan alis, dengan wajah serius, Fianna berlutut ke tanah.

Sepertinya ia tengah mencari jejak kaki dan jejak jejak luka dan semacamnya dari jalan batu.

“Tarian ini—Mungkin adalah ritual pelepasan. Nampaknya kurang lebih sangat diatur dengan baik, menurutku.”

“Ritual pelepasan...........”

Kamito menggumam dalam nada rendah.

Itu karena dia mengingat bagaimana Kontraktor Roh, yang juga Kontraktor Roh laki laki seperti kamito, menyerbu Akademi dan mencuri material sangat rahasia mengenai spesifikasi penyegelan.

“Apa bocah itu benar benar berniat melepaskan segel pada Jormungandr?”

Mustahil bagi setiap Kontraktor Roh untuk mengendalikan Jormungandr secara individual.

Kalau memang begitu, lantas apa tujuannya?

Yang jelas, kalau segel Roh itu dilepaskan, sudah tentu kalau kota di sekitarnya akan berubah menjadi daratan hangus.

“Apa segel itu hampir terlepas?”

“Belum, masih baik baik saja. Kuil ini bukan «Kuil Sejati» yang superior.”

“«Kuil Sejati».......? Apa maksudmu?”

“Kuil Agung disini, paling paling tujuannya adalah untuk menyembunyikan Kuil yang asli—yang mana berada di tempat penting seperti tambang. Ada banyak Kuil Agung megah yang dibangun tanpa tujuan di atas tanah untuk menyembunyikan eksistensi Kuil yang asli. Tentu saja, bukan berarti kuil ini tak bisa dipakai, sih.”

“Itu artinya ada Kuil yang asli entah dimana?”

“Ya, kemungkinan besar ia tersembunyi jauh di dalam tambang.”

Fianna mengangkat tangannya, pada saat itu.

“Hati hati, ada sesuatu disini!”

Rinslet, yang tengah mengawasi sekelilingnya, mendadak berteriak.

Kamito menoleh.

Di sekeliling kuil tempat mereka berada, terdapat kerumunan sosok sosok manusia yang meronta.

“Manusia? Bukan, mereka........”

“Api, menyalalah!”

Claire melafalkan mantra, dan Roh Api sihir menyala di ruang kosong.

Sosok yang disinari oleh cahaya api adalah—

“A-Apa!?”

Itu adalah sosok beberapa tengkorak yang memegang pedang dan tongkat berkarat di tangan mereka.

Dari celah tulang tulang mereka, sesuatu seperti kabut hitam mengepul.

“Apa, apa mereka.......Roh!?”

“Tengkorak yang dibiarkan sendiri sepertinya dirasuki oleh Roh Roh Level Rendah.”

Sambil bergumam—kamito menyadari sesuatu dengan “hmm”.

Claire sedikit menggenggam lengan seragam Kamito.

“......Kamu, jangan jangan, apa kamu takut dengan hal hal horor seperti ini?”

“Bu-Bukan itu! — Kamu pikir aku ini siapa!?”

“Kamu nggak perlu memaksa dirimu, tuh, lihat.”

“.....Sa-Sama sekali nggak seram!”

Claire, yang menyembunyikan wajahnya sambil menggigit bibirnya, nampak sangat imut.

“Yang jelas, ini aneh sekali.........”

Normalnya, yang dinamakan Roh Level Rendah tak akan merasuki makhluk tak bernyawa.

Biarpun ada saat saat langka ketika mereka menyerang manusia, seharusnya tak mungkin bagi mereka membentuk kelompok seperti ini.

“Kamito-kun, makhluk makhluk ini, kamu tahu. Merekalah yang melakukan ritual disini.”

“Apa apaan itu?”

Kamito terkejut dan menoleh. Fianna mengangguk.

“Pergerakan semua tengkorak itu sangat kasar, tapi.........sangat mirip Ritual Pelepasan.”

“Jangan jangan, para Roh Level Rendah itu melakukan Ritual Pelepasan lebih jauh?”

Kamito menatap pada sosok sosok yang mendekat. Sesuai ucapan Fianna, Kamito bisa melihat kalau semua tengkorak itu dirasuki Roh Roh yang bergerak dengan keteraturan tetap.

“Tidak, hal semacam itu mustahil.......Pasti ada praktisi yang memanipulasi Roh Roh itu.”

“Jadi, bukankah itu artinya makhluk makhluk ini takkan menyerang kita?”

Claire menggenggam erat lengan seragam Kamito sambil mengatakan itu.

Sekelompok tengkorak berjalan menaiki tangga Kuil dalam cara berjalan yang lamban.

“Taring Es Pembeku, tembuslah [Panah Pembeku]!”

Panah es, yang dilepaskan oleh Rinslet, terkumpul dan menggilas sekelompok tengkorak yang meronta.

Itu adalah Senjata Elemental dari Roh Es Sihir Peringkat Tinggi [Fenrir].

Bagi Kontraktor Roh, musuh selevel ini hanyalah lalat kecil.

Dari tengkorak yang remuk, kabut hitam mengepul keluar dan lenyap ke ruang kosong.

“Itu Roh beratribut kegelapan—“

Tiba tiba, sebuah kilasan melintas di pikiran Kamito.

“Jangan jangan—“

Ia mengarahkan pandangannya pada tangan kirinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam.

Rasa sakit seperti ditusuk terasa di tempat segel rohnya, pada saat itu—

“....!?”

Suara ledakan besar menderu keras dari arah Tambang.

“Jangan jangan pertarungan sudah dimulai!?”

“Ayo pergi, Kamito!”

Claire menyentakkan cambuk di tangannya, dan mulai berlari.


Bagian 2[edit]

Ini adalah tambang bijih Roh yang menjulang di atas kota terlantar. Mereka akhirnya sampai di pintu masuk—

Dari dalam lorong, suara keras benturan senjata menggema.

“Kamito, itu—“

Pada dalamnya kegelapan yang Claire tunjuk, sebuah percikan kilat terjadi.

Seorang, yang tengah bertarung, adalah Ellis Fahrengart, memegang tombak senjata elementalnya.

Rambut kuncir kudanya berayun di dalam angin yang menderu sangat keras.

Penampilannya adalah armor Ksatrianya hancur dan penuh bagian yang terkoyak. Dari itu, Kamito bisa melihat kalau terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya.

“Ha, seperti yang kuduga dari Ketua Ksatria-sama, kau benar benar bisa menghiburku, bukan begitu?”

Tawa keras yang menghajar telinga menggema sepanjang lorong.

Di hadapan Ellis, berdiri seorang lelaki dengan mata merah melotot tajam.

Jio Inzagi—Kontraktor Roh laki laki, yang menyebut dirinya sebagai Penerus Raja Iblis.

Rakka dan Reishia, jatuh tergeletak di kakinya, penuh luka.

“Brengsek kau, teman temanku, beraninya kau—“

Ellis mengayunkan [Elang Cahaya]nya.

Dinding lorong hancur, dan batu batuan dasar yang keras pecah berkeping keping seperti kaca.

Jio menampakkan tawa menakutkan sambil melompat. Itu bukan gerakan yang mungkin bagi manusia—mungkin ada semacam Roh pemerkuat tubuh yang merasukinya.

“Hei, hei, apa itu saja? Apa menjadi Ksatria adalah bagian permainan anak anak?”

“Brengsek kau!”

Ellis mengamuk oleh hinaannya pada Ksatria.

"Angin jahat, engkau, jadilah pedang tak terhitung jumlahnya dan tebaslah musuhku—"

Ia melepaskan kekuatan [Elang Cahaya]nya—senjata elemental dari Roh Angin Sihirnya, [Simorgh].

Itu adalah tombak yang menciptakan bilah bilah angin, yang sudah cukup menyiksa Kamito dalam duel di Akademi. Biarpun dia menghindarinya dengan jarak setipis kertas, tak terhitung bilah angin yang ditambahkan setelahnya akan memotong lawannya kecil kecil—

Namun.

“Ceroboh sekali—pantulkanlah, Dinding cermin!”

Momen ketika Jio berteriak, cermin merah berkilau muncul di hadapan Ellis.

Momen ketika ujung tombak udaranya, yang terselimuti angin, menyentuh permukaan cermin, tak terhitung bilah bilah angin berbalik dan menyerang Ellis.

“.....!?”

Diserang oleh bilah bilah yang menari dengan ganas, tubuh Ellis terlempar ke dinding.

“—Ellis!”

Kamito berlari dengan Est Pemusnah di tangannya.

Sepertinya sudah menyadari kehadiran mereka—Jio menoleh, dan mendengus.

“Yo, makin banyak idiot yang berkeliaran.”

“Kamito, jangan!”

Pergerakan Kamito berhenti untuk sesaat ketika mendengar suara Claire dari belakang.

Pada saat itu, ukiran segel Roh di tangan kanan Jio bersinar—

“—Hembuskanlah hingga isi dalam paru paru mereka pedih, terwujudlah, Rafflesia!”

Kabut ungu kebiruan tebal mengepul dengan suara menggelegar.

Kabut racun yang bisa membakar kulit menyelimuti seluruh tubuh Kamito, dan menyerang paru parunya—

“Ga, ha....!”

Rasa sakit menyerbu matanya. Tenggorokannya panas seolah tengah dibakar.

Dari celah diantara jarinya yang menutupi mulutnya, darah mengalir dan menetes ke tanah.

“Ini Roh beratribut racun............apa kabut ini sendiri adalah Senjata Elemental!?”

Rintihan bergumam menggema di dalam lorong.

Menahan rasa sakit seperti terbakar, Kamito sedikit membuka matanya.

Ellis dan kedua gadis, bernafas tersengal sengal dalam kabut beracun, tengah gemetaran dalam kesakitan.

“Ellis......kuu!”

Otot tenggorokannya terasa kelu, sehingga ia tak bisa berbicara dengan lancar. Masih mungkin untuk berdiri disini, namun kalau dia terus bergerak maju, dia akan kehilangan kesadarannya sebelum bisa mencapai para gadis.

“......Kenapa dia tak terpengaruh oleh racun?”

Roh Tipe pemusnahan berskala besar seperti Rafflesia tak mungkin bisa ditangani secara normal.

Karena mengendalikannya sulit, kalau dia salah mengontrolnya, bisa bisa dia terkena racun dalam kabut juga.

Namun, Jio Inzagi hanya berdiri dengan tenang di dalam kabut racun mematikan.

—Kemudian, Kamito menyadarinya.

Ada sedikit aliran udara yang mengelilingi pria itu.

“......Begitu, dia menggunakan Roh beratribut Angin di saat yang sama.”

Kontraktor Roh yang menggunakan sejumlah Roh Terkontrak—dalam hal itu, dengan menggabungkan kekuatan dari roh roh lain, dia dengar kalau dia juga bisa menggunakan Roh yang pada dasarnya sangat sulit ditangani.

“.......Sialan, bukankah ini sama saja curang!?”

Kamito mengutuk dalam hatinya.

“Kalau pakai panah sihir Rinslet, bisakah dia menembak dari luar jarak efektif kabut beracun?”

Dia menoleh dan mengintip kebelakang, namun—

Rinslet mentakik panah esnya, dan tanpa bergerak, ia membatalkan incarannya pada Jio.

“—Dia tidak menembak?”

Keputusan Rinslet sangat benar.

Jio tengah menggunakan Dinding Cermin, yang telah memantulkan Senjata Elemental Ellis.

Kalau dia menembak sembarangan, bisa bisa dia ikut menghabisi Ellis dan yang lainnya, yang tergeletak di dekatnya.

Sepertinya Claire tengah berdiri di sana seolah sedang melindungi Fianna, yang sudah menyiagakan senjata elemental atribut apinya.

Itu hanya berpikir beberapa detik, namun selama itu, tubuh Ellis dan yang lainnya sedang dimangsa oleh racun.

“Sialan........”

Tubuhnya mengalami rasa sakit seperti terbakar.

—Pada saat itu.

Di lorong gelap, suara gemuruh kecil menggema.

“Ellis!?”

"Oh.....Angin, gilaslah lawanku—[Bom Angin]! "

Pada saat itu, hembusan angin kencang yang dilepaskan menyingkirkan seluruh kabut beracun tanpa meninggalkan jejak.

Dan kemudian—

“Haa, haa......kaa.....haa!”

Ellis menusuk tombak sihir anginnya ke tanah, dan berdiri.

Seragam kebal tusukannya robek robek, dan seluruh tubuhnya penuh dengan luka.

Kedua kakinya, yang tertutupi oleh kaos kaki panjang yang sobek sobek, mengalami kram serius.

Biarpun begitu, penampilannya ketika berdiri dengan kuat dan teguh adalah—

Sangat cantik sampai sampai Kamito dalam sekejap terpesona olehnya.

Ellis mempersiapkan tombak senjata elementalnya, kemudian dia memelototi Jio dan menyatakan dalam suara keras.

“Dengan mempertaruhkan nama Ksatria Sylphid, biarpun aku kalah.......kau akan dikalahkan!”

“Itu sakit.......kau pelolos kematian.”

Jio, yang menerima serangan langsung dari deru angin tadi, menyudutkan bibirnya, dan mendecak lidahnya.

“Kalau memang begitu, aku akan menghajarmu sampai mati sesuai harapanmu!”

Segel Roh yang terukir di seluruh tubuh Jio menyala dengan terang—

“—Mana bisa kubiarkan!”

Di saat yang sama ketika Kamito menghindar, dua hembusan bola api dilepaskan dan menyerang Jio.

Itu adalah Claire yang melindunginya. Momen ketika Jio menangkis bola api, Kamito mengambil kesempatan ini dan meluncur cepat—menutup jaraknya dengan Jio.

Dan kemudian, seperti mengisi seluruh ruang tempat Jio berada, Kamito secara langsung mengayun dengan diagonal memakai Est Pemusnah.

*Gaa+--batu batuan dasar, tersentuh oleh pucuk pedang, hancur berkeping keping.

“Haa, jangan buat wajah seram begitu, hei!”

Jio, yang mengelak dari ayunan pedang, melompat dan mendarat di atas area berbatu yang hampir runtuh.

Tanpa mengejar, Kamito bergerak ke arah Ellis dan yang lainnya.

Ellis nampak kehabisan nafas, dan sepertinya dia bisa pingsan kapan saja.

“Ellis, kamu baik baik saja, aku akan—“

“Ja-jangan lakukan hal........tidak perlu.”

Saat dia mencoba memberinya bantuan ketika Ellis nampak goyah, ia menggeleng kepalanya.

“Aku tak butuh semua bantuan—“

“Jangan keras kepala untuk hal sepele, pikirkanlah soal mereka!”

Ekspresi wajah Ellis membeku. Rakka dan Reishia tengah tergeletak di atas tanah. Mereka nampaknya masih hidup, tapi kalau mereka tetap dibiarkan seperti itu, nyawa mereka akan dalam bahaya.

Ellis sendiri berada dalam kondisi dimana dia nyaris tak kuat untuk berdiri.

“Guu........Kazehaya Kamito, aku berhutang padamu.”

“Itu bukan sesuatu seperti hutang. Wajar wajar saja untuk membantu temanku.”

“.....!”

Pipi Ellis bersemu merah oleh ucapan Kamito.

Membaringkan Ellis yang terluka di dinding untuk beristirahat, Kamito mengarahkan tatapannya pada Jio.

“Kau, beraninya kau—“

Ellis Fahrengart—ia adalah gadis dengan rasa keadilan kuat, dengan keseriusan dan keberaniannya.

Hanya dengan melihat penampilannya yang penuh luka, kemarahan muncul dan nampaknya terus mengalir.

“Jangan halangi aku, itu perpisahan yang lama dinanti dimana aku ingin menghajar wanita kurang ajar itu sampai mampus.”

Jio menyeringai sambil turun dari area berbatu.

“—Aku lega.”

Kamito memegang pedangnya dan melotot pada Jio.

“Kalau lawannya bocah menjijikkan sepertimu, aku bisa menghajarmu habis habisan.”

“Haa, bicara apa kau ini! Sayang sekali ya, tapi mustahil bagimu untuk mengalahkanku.”

“Kami juga ada disini!”

Claire dan yang lain datang dengan berlari. Memegang Lidah Apinya, dia berdiri di samping Kamito.

Rinslet mentakik panah di busur es sihirnya, dan Fianna memegang Bijih Roh di kedua tangannya.

“Fianna, bisakah aku mengandalkanmu untuk merawat Ellis dan yang terluka disini?”

“Ya, aku membawa beberapa Bijih Roh Penyembuh. Namun, efeknya terbatas pada sekedar memberi rasa kelegaan pikiran.”

Fianna mengangguk dengan ekspresi tegang.

“Kamito, kamu dan aku akan menyudutkan lelaki itu. Rinslet akan jadi baterai pendukung jarak jauh.”

“Apanya yang baterai pendukung jarak jauh! Aku ini pemanah handal!”

Rinslet mengomel, namun Claire tak merespon.

“—Hei, apa diskusinya sudah selesai?”

Jio tertawa dengan tenang sambil bergerak mendekat.

Segel roh yang terukir di tangan kanannya bersinar menyilaukan, dan kilatan putih kebiruan halilintar mendadak menyembul keluar.

Yang muncul di tangan itu adalah—pedang senjata elemental yang sama dengan Est.

“Bisakah kita cari tahu siapa yang lebih kuat, Gladius atau pedang itu?”

“Jangan melucu. Lebih baik kau tak menyamakan Est ku dengan roh pedang kelas tiga itu!”

Memegang Est Pemusnah, Kamito berteriak dengan ganas.


Bagian 3[edit]

Dan kemudian, Tarian Pedang dimulai.

Suara metalik bernada keras menggema bersamaan. Kapanpun kilatan pedang berlangsung, percikan menyebar di dalam cahaya suram.

“Jio Inzagi—apa sebenarnya tujuanmu!?”

“Hah, aku tak punya sesuatu bernama tujuan. Jujur saja, bagiku, aku tak peduli soal Jormungandr. Aku akan mengalahkanmu dan membuktikan kalau akulah penerus Raja Iblis—itu saja!!”

“Apanya yang Penerus Raja Iblis! Kau bocah megalomaniak!”

Kamito, yang melangkah di area ini, mengayunkan Est Pemusnah dengan kedua tangannya.

Tekanan pedang itu begitu luar biasa. Jio berhasil bertahan memakai Gladius—namun,

“Apa!?”

Disertai dengan suara logam bernada keras—Gladius Jio hancur berkeping keping.

Ekspresi Jio menjadi berubah dalam kekagetan.

“Hei, hei, sungguh senjata elemental hebat—melakukan itu pada Gladiusku dalam satu serangan?”

“Maaf, Est ku adalah Roh Pedang terkuat.”

Kamito melangkah lebih dekat.

Jio melafalkan mantra pemanggilan, dan memanggil Roh Pedang ke tangannya lagi.

“Aku masih punya banyak, pertarungan baru dimulai!”

“Sia sia saja—“

Mengincar Roh Pedang yang muncul dari ruang kosong, Kamito tanpa ampun mengayunkan pedangnya.

Terdengar suara logam pecah, dan Roh Pedang keduanya juga lenyap secara tragis.

Selain membuat Roh Pedang keduanya lenyap, Est Pemusnah tak memiliki bilah tajam pada sisinya.

Itu adalah Senjata Elemental yang memiliki dua nama, [Pedang Suci Pembunuh Raja Iblis], dan [Pembunuh Iblis].

Sangat mengerikan karena bahkan dengan ini, ia tak berada dalam kondisi sempurnanya.

Namun, Jio masih mempertahankan ekspresi tenangnya.

“Hmm, kalau begitu, ini akan jadi selanjutnya!”

Dari segel Roh di sekujur tubuhnya, kilatan cahaya memancar keluar—Pedang ketiga muncul di tangan Jio.

“.....Pria ini, apa apaan dia, berapa banyak Roh yang menjalin kontrak dengannya?”

Sudah diduga, bahkan wajah Kamito menampakkan ketidaksabaran.

Bahkan Roh Pedang terkuat Est memiliki titik lemah.

Konsumsi kekuatan spiritualnya terlalu besar.

Sebagai hasil terbiasa mengendalikannya, Kamito tak akan pingsan tiba tiba seperti sebelumnya, namun kalau pertandingan berlangsung lama, dia yakin kalau pada akhirnya dia akan kelelahan.

Kalau dia beranggapan bahwa Jio Inzagi benar benar mengontrak tujuh puluh dua Roh—

“Gawat kalau ini terus berlanjut—“

Ini bukan lawan yang bisa dia putuskan kemenangan dengan satu serangan, seperti Roh raksasa yang mengamuk di Kota Tambang.

Kalau ini menjadi pertandingan jangka panjang, kondisinya akan sangat tak menguntungkan.

“.......Namun, apa kekuatan spiritual pria itu tak ada habisnya?”

Kalau Jio menggunakan Roh sebanyak itu, konsumsi kekuatan spiritualnya seharusnya meningkat dengan cepat, namun—

“Kamito, aku akan menutupimu!”

Pada saat itu, Claire mengayunkan Lidah Apinya, dan ia datang meluncur membentuk busur.

Terdapat bekas bekas merah panas yang bersinar dalam kegelapan—cambuknya yang diarahkan dengan hati hati dengan cepat menebas wajah Jio.

“Cih, jangan halangi aku!”

Jio memanggil Roh sebagai bola es tembus pandang, dan mengarahkannya pada Claire, lalu melemparkannya.

“Apa, hal semacam itu!”

Claire melepaskan bola api sihir roh untuk menangkis Roh es—

Namun, itu adalah jebakan.

“....!?”

Bola es, yang meledak di depan matanya, bertransformasi menjadi jarum jarum tak terhingga, dan menyerbu seluruh tubuh Claire.

“Kyaa!”

“Claire!”

Konsentrasi Kamito goyah untuk sesaat karena teriakan Claire.

“Jangan melihat kemana mana!”

Memanfaatkan kesempatan itu, Jio dengan cepat maju dan menebas—

Kamito mati matian berhasil menghentikan serangan itu dengan Est Pemusnah.

Namun, Jio tak memperlambat serangannya. Dia terus maju, menekan dan semakin mendekat—

“Ada apa, Ren Ashbell—hanya inikah kemampuanmu?”

Sambil ia menghentikan pedang yang menekannya ke belakang, Kamito menggertakkan giginya.

Kalau dia masih seorang Ren Ashbell seperti tiga tahun silam—

Dia yakin untuk tak menoleh ke arah Claire dan memberi Jio kesempatan untuk menggunakan Rohnya.

Sebagai Kontraktor Roh, itu adalah masa kekosongan tiga tahun yang fatal.

Dia memiliki Roh Terkontrak yang bahkan tak bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya.

“Ah, aku memang menjadi lemah. Namun—“

Menghirup nafas keras keras—Kamito mendadak melompat ke belakang.

“Taring Es Pembeku, tembuslah [Panah Pembeku]!”

Pada saat itu, Rinslet melepaskan panah es yang menghujani tempat mereka berdua berada.

Itu adalah serangan langsung—sosok Jio tertelan oleh derasnya hujan panah dan lenyap.

“Hmm, akan merepotkan kalau kamu melupakanku.”

Menempatkan tangannya di pinggangnya, Rinslet dengan cepat menyibakkan rambut pirang platinanya.

Selagi Kamito menghentikan pedang, Rinslet mencoba mengarahkan incarannya pada Jio.

Dari area bebatuan runtuh, terdapat kabut debu tebal yang mengepul ke atas.

Mereka tak berpikir kalau dia akan baik baik saja setelah terkena hujan panah.

Namun.

“Hn, apa kau tadi melakukan sesuatu?”

Jio—berdiri dari dalam kabut debu.

Dia menyeringai, dan menoleh pada Rinslet.

“Tak mungkin......seharusnya itu serangan langsung!”

“[Argos]—Roh Bumi yang melindungi Kontraktor Rohnya secara otomatis.”

Di sekeliling Jio, kerucut kerucut batu yang menyembul keluar dari tanah berdiri tinggi tinggi.

Panah pembeku Rinslet tertahan oleh benda benda itu.

“.....Apa apaan itu.......”

“Dan kemudian, yang satu ini, uh—bisa juga digunakan dengan cara seperti ini.”

Jio mengayunkan pergelangan tangannya.

“Kyaaa!”

STnBD V02 197.jpg

Pada saat itu, kerucut kerucut menyembul keluar dari tanah tempat Rinslet berdiri, dan mengekangnya ke dinding.

Seragam Akademinya robek robek, dan kulit putih berseminya menjadi terekspos.

Dengan kedua tangan terkunci di tembok, Rinslet menggigit bibirnya dengan rasa malu.

“Guu......I-Ini tak termaafkan......melakukan hal seperti itu.......padaku.....”

Melotot tajam pada Jio, tubuh Rinslet menggigil, sepertinya ketakutan.

“—Jio Inzagi!”

Kamito mengamuk, dan menyerang dengan Est Pemusnah.

Tebasan besar terkumpul dan menghancurkan kerucut yang berdiri tegak, lalu terus menyerbu ke arah Jio.

Namun, hanya sampai disitu saja.

“Guu.....”

Est Pemusnah yang merupakan Pedang berukuran besar mendadak menjadi pedang berukuran kecil.

Itu adalah hasil dari Est, yang mengkonsumsi kekuatan spiritual dalam jumlah besar, tak mampu mempertahankan wujudnya sebagai Senjata Elemental.

“Ren Ashbell—Kau bukan lagi Penari Pedang Terkuat.”

Jio mendengus.

“Mungkin itu benar. Apalagi, aku mengalami kekosongan tiga tahun.”

“Bukan, bukan karena itu. Alasan kau menjadi lemah adalah—“

Pada saat itu, tombak cahaya tercipta di telapak tangan Jio.

Itu buka senjata jarak dekat, namun senjata elemental untuk ditembakkan.

Kamito, yang membuat keputusan dalam sekejap, hendak mengelak, namun—

“—salah!”

Tepat sebelum itu, dia menyadari arah incaran Jio.

“Seperti ini!”

Itu bukan serangan yang diarahkan pada Kamito.

Tombak cahaya itu—

Diarahkan dan diluncurkan kepada Fianna dan para Ksatria yang terluka di belakang Kamito.

“Sial....!”

Kamito menyerbu ke arah itu secepat mungkin, dan menangkap tombak cahaya dengan seluruh tubuhnya.

Bagian 4[edit]

“—Apa?”

Fianna, yang tengah merawat Ellis dan yang lainnya, mengangkat wajahnya dengan kaget.

Pada saat itu, kilatan menyilaukan tercipta, dan ledakan yang seolah meledakkan gendang telinga menggema.

Dia secara refleks menutup matanya. Pecahan pecahan puing, yang terbang ke arahnya, menyerbu tubuhnya.

.....Tak lama kemudian, suara menggelegar itu berhenti.

“U.....”

Dia merintih kesakitan, sambil ia perlahan membuka matanya—

Di hadapannya, Kamito, yang terluka, telah jatuh.

“.....Ka-Kamito-kun?”

“.....Fia....nna.....kamu baik baik saja?”

Kamito menusukkan Est Pemusnah ke tanah, menempatkan lututnya di tanah, dan mencoba keras untuk berdiri.

Telah menerima serangan dari titik buta, seragam Akademinya, yang unggul dalam kemampuan pertahanan, telah sobek sobek tak karuan.

Ia nampaknya mencoba menahan rasa sakitnya, dan keringat dingin menetes di dahinya.

Fianna dengan cepat meneliti sekelilingnya.

Ellis dan kedua Ksatria lain sudah jatuh. Mereka sama sekali bukan dalam kondisi dimana mereka bisa berdiri.

Claire tengah terluka dan kehilangan kesadarannya, dan Risnlet tengah terkunci di dinding.

Dan kemudian—dari arah depan, Jio Inzagi perlahan mendekat.

—Hampir seperti Dewa Kematian.

“Itulah kelemahanmu. Aku tak peduli apakah kau melakukannya dengan sadar atau tidak, tapi kau terus menerus menghiraukan orang orang di belakangmu selagi kau bertarung.”

“Fianna.......mundurlah.”

Kamito memerintah Fianna, yang hendak mendekatinya, dengan tangannya.

“Kamito-kun!”

Dengan tubuh itu, tak mungkin ia bisa bertarung.

Dia juga tak bisa memakai Senjata Elementalnya secara efisien, dan kondisi saat ini sangat susah payah, dan namun disamping itu—

“Aku tak mau kehilangan hal hal penting—takkan pernah lagi.”

Kamito menghadap depan, dan berdiri.

Bukan cahaya harapan yang ada di matanya. Yang menutupi pupil matanya adalah keputus asaan gelap.

Meski begitu, ia tetap berdiri.

Pria ini yang dulu pernah disebut Penari Pedang Terkuat.

“........”

Jio mengangkat bahunya seolah dia sudah tak tertarik lagi.

Dan kemudian, berkata padanya dengan suara kejam.

“—Begitu. Maka, matilah.”

Segel Roh di sekujur tubuhnya memancarkan cahaya terang, dan kabut hitam berputar di tangan kanannya.

“Thanatos—ini salah satu Roh terkuat yang aku punya. Aku menerimanya dari Roh Terkontrakmu.”

“Roh Terkontrak......ku.....?”

Kamito bergumam dalam suara kering.

“.....Jangan jangan....ini soal Restia---!?”

Ujung ujung jari kematiannya mendekati Kamito, yang tak bisa bergerak dengan bebas—Tepat sebelum itu.

Fianna menyibakkan rambut hitam panjangnya, dan dengan cepat berdiri.

“Hei, bisakah kamu tidak menyentuh bendaku seenaknya begitu?”

“....Ah?”

Jio—begitu kaget sampai ia membuka mulutnya.

“.....Fianna?”

Kamito menatap profil wajahnya dengan ekspresi kebingungan lagi.

“Minggirlah, Kamito-kun.”

Fianna dengan tenang berdiri di depan Jio dan memblokir jalannya.

“Hei, apa ada yang salah dengan kepalamu, ojou-sama?”

“Awasi mulutmu, kamu pikir siapa aku?”

Fianna mengarahkan tatapan tajamnya pada Jio, yang mendengus.

Empat tahun lalu—seperti waktu itu dimana dia berdiri tegak dan mencoba menghalangi sang Ratu Bencana.

“Fianna, bodoh, cepat lari!”

Claire, yang merangkak dari puing puing tanah, berteriak.

Fianna perlahan menggelengkan kepalanya—

“Kamu sudah melindungiku—Karena itu kali ini, aku akan melindungimu!”

"—Akan kukatakan namaku, Fianna Ray Ordeshia, Tuan Putri Kekaisaran kedua Ordeshia! "

"—Aku adalah penghukum sebagai Penegak Keadilan, dan seorang yang membawa Keadilan suci dalam nama Raja! "

Pada saat itu, kilatan menyilaukan tercipta dari dada Fianna.

Ya, sumpah yang baru dia teriakkan memang—kata kunci pelepasan Roh.

Ia dengan cepat melepas tali yang mengikat dadanya, dan batu merah kemilau berguling ke telapak tangannya.

Itu adalah Bijih Roh yang dicetak seperti berlian berbentuk koma.[1]

“Tak mungkin, itu.......jangan jangan, Batu Darah!?”

Claire, yang menyadari identitas aslinya, melebarkan matanya.

“Dasar penyihir......!”

Dia mungkin secara insting merasakan datangnya ancaman, saat Jio melepaskan Thanatos pada gadis di hadapannya—

"Keluarlah, engkau, pedang keadilan yang mengubur kegelapan—Raja Suci dari Kehancuran [Magna Carta]! "

Bijih Roh merah meledak.

Tercipta kilatan yang sangat menyilaukan. Pilar cahaya raksasa menyerbu ke arah Jio Inzagi.

Dan kemudian, disertai suara menggelegar, langit langit lorong runtuh.

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Lihat Magatama.
Back to Bab 6 Return to Halaman Utama Forward to Bab 8