Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid7 Bab 2

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 2 - Kecurigaan Claire[edit]

Bagian 1[edit]

"... Serius, kemana perginya Fianna?"

Beberapa menit kemudian, Kamito dan Claire berjalan melewati hutan.

Penghalang yang dibangun oleh Fianna menjangkau area yang cukup besar. Meskipun Scarlet mencoba untuk mengendus jejak divine power-nya, itu sulit untuk melacak karena kekecauan inti.

Meskipun mereka telah memasuki kedalaman hutan, sang imperial princess tak bisa ditemukan.

"Mungkinkah itu serangan lain dari roh hutan ...?"

Bergumam pelan pada dirinya sendiri, Kamito menggunakan tangannya untuk memisahkan ranting-ranting padat.

- Seketika, dia menemukan dirinya di sebuah ruang yang terbuka lebar.

"Tempat ini adalah ..."

Banyak pohon tumbang terbaring sembarangan sedangkan permukaan tanah hangus dan tersayat.

Ini adalah dekat dengan garis pertahanan «benteng». Tadi malam, Tim Scarlet telah terlibat dalam pertempuran mematilan dengan Nepenthes Lore tepat di lokasi ini.

Tanah dan lumpur tersebar disekeliling. Meskipun seharusnya tidak ada risiko divine power akan dicuri lagi, Kamito masih ragu untuk melangkah.

"... Tampaknya masih cukup sulit dipercaya. Untuk berpikir kita mengalahkan monster semacam itu."

Menyaksikan pemandangan itu didepan mereka, Claire sedikit terpesona untuk sesaat. Kamito juga mengangguk ringan.

Nepenthes Lore - monster tak dikenal yang Restia sebut Kehendak Raja Iblis, adalah makhluk terkuat yang Kamito telah lawan dalam beberapa bulan terakhir.

(...Jika itu aku sendiri dua bulan sebelumnya, pasti aku tidak akan menang.)

Kamito diam-diam menghela napas dalam pikirannya. Satu-satunya alasan dia mampu untuk menang, hanya, karena dia mendapat dukungan dari rekan-rekan setimnya di samping pemulihan bertahap kekuatannya dari tiga tahun lalu.

"Hei, Kamito ..."

"Hmm?"

Seolah-olah tiba-tiba memikirkan sesuatu, Claire berbicara.

Tatapannya diarahkan pada bagian rawa gelap. Itu di mana Nepenthes Lore hancur.

"Saat itu, Kamito, kamu menggunakan skill pedang milik Ren Ashbell, kan?"

"...!"

Tubuh Kamito tiba-tiba membeku.

... Sepertinya Claire tidak lupa.

Bentuk Kesembilan Blade Arts Absolute -- «Brusting Blossom Spiral Blade Dance». Ini adalah teknik pedang mistik diajarkan oleh anggota utama yang dibanggakan Kekaisaran, yang terkenal sebagai elementalist terkuat di benua, Greyworth Ciel Mais.

Dan Kamito telah menggunakan gerakan itu di depan Claire dan yang lainnya.

Meskipun dia tidak punya kesempatan untuk menang kecuali menggunakan pedang rahasia, itu terlalu ceroboh untuknya.

Dia benar-benar lupa bahwa Claire dan para gadis mengidolakan dia dari tiga tahun lalu. Segera setelah dia menggunakan skill pedangnya, gadis-gadis pasti akan mengenali gerakan itu.

(Namun, pada akhirnya, identitas ku tidak terbongkar.)

...Dengan beberapa pemikiran, menutupi itu seharusnya tidak terlalu sulit.

Menyeka keringat di dahinya, Kamito sangat memutar otak untuk membuat alasan.

"Aku mempelajari skill pedang dari si tua bangka Greyworth. Mungkin gadis itu menerima instruksi pedang dari Greyworth juga."

"A-Apa tua bangka ... Jangan terlalu kasar pada Kepala Sekolah!"

"... Tidak, tapi dia benar-benar seorang tua bangka berdasarkan usianya. «Penyihir senja» adalah monster yang sebenarnya."

Kamito mengangkat bahu, berbelok ke kanan dan terus berjalan.

"Dia tidak ada disini juga, ayo kita kembali ke hutan --"

"Tunggu sebentar."

Claire mencengkram bahu Kamito erat-erat.

"... A-Apa yang kamu lakukan?"

Wajah Kamito berkedut.

"Baru saja, kamu sedang mencoba untuk menipu aku, kan?"

"... Tidak, aku tidak?"

"Kamu, kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"

Claire menatap tajam pada Kamito dengan mata ruby nya.

...Sepertinya alasan ini tidak cukup untuk meyakinkan dia.

"K-Kenapa aku perlu untuk menyembunyikan sesuatu dari kamu?"

"Umm, well, itu ..."

Claire cemberut, tenggelam dalam pikirannya.

Rupanya dia tidak menyadari bahwa Kamito sebenarnya adalah prnari pedang Terkuat tiga tahun lalu. Sebaliknya, kecurigaannya itu mungkin diarahkan pada hubungan antara Kamito dan Ren Ashbell -- mungkin sesuatu pada tingkat itu.

"elemental Waffe yang digunakan Ren Ashbell sebuah pedang iblis dengan atribut kegelapan, kan?"

Kali ini, Claire membawa ke sebuah titik krusial.

"Beberapa dari mereka, roh kegelapan tidaklah benar-benar langka. Jika kamu mencoba untuk mengatakan itu adalah Restia, kamu membuat kesalahan besar."

Meskipun perasaan kacau melintasi hatinya, Kamito mempertahankan ekspresi tenang saat dia menjawab.

"Kau mengatakan itu murni kebetulan?"

"Ya, kamu tampak menyimpan semacam harapan aneh, tapi izinkan aku mengklarifikasi terlebih dahulu. Aku bukanlah kenalan Ren Ashbell."

(... Karena aku adalah Ren Ashbell, bukan kenalannya.)

Kamito menyatakan dalam pikirannya.

"B-Benarkah..."

Mungkin karena nada suara Kamito telah menjadi kuat tanpa sadar, bahu Claire tampaknya sedikit kaku.

"Karena kamu menggunakan skill pedang yang sama, aku jadi bertanya-tanya jika kamu mungkin sesama murid dari guru yang sama ..."

"... Siapa yang tahu? Lagi pula, aku tidak tahu detailnya."

Meninggalkan kata-kata itu, Kamito melangkah dengan cepat ke dalam hutan.

"Tunggu, tunggu sebentar, tunggu, ayolah! ... Ada apa, kau marah?"

Twintails bergoyang, Claire buru-buru mengejarnya.

"... Tidak, tidak ada alasan untuk menjadi marah."

Kamito melambatkan kecepatannya dan menggaruk kepalanya sedikit meminta maaf.

"Kau tahu aku sangat mengagumi Ren Ashbell, kan?"

"Uh, ya ..."

Kamito mengangguk sambil menyembunyikan keraguan dalam hatinya.

(...Mengatakan dihadapanku seperti ini, itu cukup memalukan.)

"Bukan hanya aku, tapi semua elementalists dari benua terpikat oleh tarian pedang nya."

Namun -- tiba-tiba, Claire dengan murung menggeleng.

"-- Dia berubah, hanya dalam tiga tahun saja."

"..."

Kamito diam-diam berubah pandangannya ke tangan kirinya.

(Berubah eh ...)

Atau, Claire mungkin telah ditumpangkan kesan-kesannya Ren Ashbell dan kakak perempuannya.

Seorang yang mengkhianati Lord Elemental menjadi Ratu Bencana, Rubia Elstein.

Dia juga, pernah dihormati oleh semua elementalists dari seluruh benua.

"Namun --"

Claire menghentikan langkahnya.

"Sebenarnya aku mulai menyadari cukup awal -- Mungkin, Ashbell Ren yang mengikuti «Blade Dance» saat ini mungkin seorang penipu"

"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"

"Hanya intuisi. Atau mungkin angan-angan? Tapi semua orang di tim kita berpikir begitu."

"Yah, itu tidak dapat dikesampingkan untuk pastinya."

Kamito merasa bahwa bantahan langsung akan terlalu mencurigakan, sehingga dia memutuskan untuk menjawab ambigu sebagai gantinya.

"Namun, jika itu terjadi -- lalu kenapa Ren Ashbell yang asli tidak melangkah maju?"

"... M-Mungkin ada alasan lain?"

"Tepat. Misalnya -- Kamito-kun adalah Ren Ashbell atau semacamnya."

"...!?"

Tiba-tiba, terdengar suara dari suatu tempat.

"... Fianna!?"

Muncul dari dedaunan gemerisik adalah sang imperial princess dengan sebuah senyum nakal.

"Serius, apa yang kamu lakukan? Semua orang khawatir padamu!"

Claire memelototi Fianna dengan lengan bertolak pinggang.

"Mamperbaiki lubang di penghalang. Berkat pertempuran kemarin, ada banyak kawasan yang rusak."

Menjawab dengan cara itu, Fianna menatap bergantian pada Claire dan Kamito. Lalu dia berbicara:

"Bagaimana dengan kalian berdua, apa kalian berkencan di sini?"

"T-Tentu, t-tentu saja tidak. Jangan membuat suatu tuduhan yang aneh!"

Claire berteriak, wajahnya merah sepenuhnya.

"O-Omong-omong, apa yang kamu maksud dengan pernyataan barusan Itu? Kamito adalah --"

"Hoho, tepat seperti yang kata-kata itu nyatakan."

Sang Imperial princess tampak tersenyum penuh kegirangan.

(Hey hey, apa-apaan sih, Fianna!?)

Jantung Kamito berdebar-debar.

Dia dengan panik memberi isyarat dengan mata ke arah Fianna tapi dia pura-pura tidak tahu.

"... Sungguh tidak masuk akal, bagaimana mungkin? Mengabaikan masalah lain untuk saat ini, Ren Ashbell adalah seorang cewek, kamu tahu!"

Dengan ekspresi kaget, Claire langsung menolak pemikiran itu ... Oh yah, itu adalah yang reaksi normal.

"Itu benar, aku hanya menguji khayalan yang indah."

Fianna menjawab seolah mencoba mengalihkan pembicaraan, lalu dia segera memeluk lengan Kamito.

Boing Boing.

"Fianna!?"

Kelembutan dadanya mengejutkan Kamito, menyebabkan dia tersipu.

"A-Apa yang kamu lakukan?"

"Fufu. Hei Claire, bisakah aku pinjam Kamito-kun untuk sementara waktu?"

"Eh? T-Tidak mungkin! Kamito adalah milikku!"

... Claire langsung meneriakan pernyataan itu bagi pihak ketiga yang tidak tahu akan langsung salahpaham.

"Kapan dia menjadi kepunyaan Claire ... Selain itu, apa jawabanmu, Kamito-kun?"

Sang imperial princess berbalik tersenyum nakal ke arah Kamito.

Jika kamu menolak maka identitas sejati kamu akan terbongkar -- mata imperial princess sepertinya mengatakan itu.

"Ah ya ... Aku kebetulan punya sesuatu untuk didiskusikan dengan Fianna juga."

Kamito mengangguk berulang kali seperti boneka gantung.

"Ah, t-tunggu!"

"M-Maafkan aku, Claire ..."

Melilit lengan Kamito, Fianna membawanya dengan cepat menuju kedalaman hutan.

"B-Bajingan! Kamito idiot --!"

Dari belakang, suara cambuk bisa terdengar.

Bagian 2[edit]

"Fufu, itu sungguh nyaris."

"... Apa sih yang kamu coba lakukan? Kamu hampir meniup penutupku!"

Dalam semak belukar, Kamito sedang dibawa di lengannya oleh Fianna.

Meskipun sensasi lembut dari dadanya membuat jantung Kamito berdebar-debar, dia masih memprotes seolah-olah dia tidak senang.

"Kamito-kun, kamu begitu lucu ketika kamu gelisah."

"Ayolah, kamu ..."

Kamito mengerang dengan mata setengah-menyempit ... Serius, imperial princess ini menggenggam seperti ini.

"Hanya bercanda. Tapi kamu harus berterima kasih kepada ku karena aku benar-benar membantu kamu."

Kamito memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Membantu aku, bagaimana? Claire sudah mulai curiga bahwa aku adalah Ren Ashbell. Mengatakan sesuatu seperti itu hanya akan meningkatkan kecurigaannya --"

"-- Itulah sebabnya."

Fianna mengangkat jari telunjuknya.

"Tidak peduli berapa banyak dia curiga, fakta bahwa Kamito-kun ternyata adalah Ren Ashbell akan sangat mengejutkan -- sesuatu yang begitu konyol pasti akan dianggap sebagai mustahil untuk dipercaya, kan? Maka cukup mengambil risiko dan mengatakan yang sebenarnya, itu akan membawanya untuk mengesampingkan kemungkinan itu."

"Aku mengerti. Itu masuk akal."

Kamito merasa terkesan dengan Fianna.

... Seperti yang diharapkan dari sang imperial princess yang terampil dalam negosiasi. dia berpikir sejauh itu.

"Hmm, tapi bukankah ada risiko bahwa Claire mungkin benar-benar percaya itu?"

"Yah, dalam hal itu, aku akan memikirkan sesuatu dengan cepat."

"Kekagumanku padamu adalah sia-sia."

Dihadapkan dengan sikap acuh tak acuh Fianna, Kamito mendesah ringan.

"Tapi lebih baik untuk lebih berhati-hati. Gadis itu kadang-kadang entah kenapa sangat tajam dengan intuisinya. Dalam hal tertentu, dia benar-benar adik Rubia-sama, meskipun kepribadian mereka sama sekali berbeda ... Kita telah sampai, ini dia."

Fianna tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Cabang-cabang pohon yang padat bertautan disekeliling tempat ini, menciptakan jalan buntu.

"... Ini?"

"Ini adalah ruang dilindungi oleh penghalang khusus. Kamu bisa menyebutnya ruangan pribadiku."

Setelah Fianna mengulurkan tangannya dan melantunkan mantra bahasa roh, cabang berselang-persimpangan langsung tergerai.

Di bawah panduannya, Kamito melangkah menuju kedalaman.

"Ini adalah ..."

Ini adalah ruangan setengah lingkaran yang digambarkan oleh pohon-pohon berkembang. Sinar matahari lembut bersinar melalui lapisan daun untuk membentuk bayangan berbintik di tanah. Ruang ini tampak jauh lebih luas daripada yang dibayangkan sebagai ruang pribadi. Bahkan, itu sudah cukup untuk melakukan tarian pedang secara bebas.

"Sungguh aneh, aku tidak melihat ini ketika mencari kamu, Fianna."

"Karena dikelilingi oleh «Isolation Barrier» berskala kecil. Bahkan sebuah roh akan merasa kesulitan untuk membedakan."

...Aku mengerti. Jadi itulah mengapa hal itu tidak dapat ditemukan.

"Tapi kenapa kamu membawaku ke sini?"

"..."

"Fianna?"

Melihat Fianna tiba-tiba begitu canggung gelisah, tatapan Kamito berubah terkejut.

"Umm ... J-Jika di sini, maka kita tidak akan terganggu ..."

"Eh?"

Fianna tersipu karena malu dan segera --

Berdesir gemerisik. Dia perlahan-lahan meletakkan tangannya di bagian dada seragamnya.

"A-Apa yang kamu lakukan?"

"A-Aku hanya ingin mengulangi apa yang Kamito-kun lakukan dengan Est barusan."

"... Apa!?"

Kamito merasakan debaran tajam jantungnya.

Fianna malu-malu melepas seragamnya dan menanggalkan roknya.

Swish. Suara menggoda gesekan pakaian bisa didengar.

Dalam Detik berikutnya, yang muncul dalam pandangan Kamito adalah --

Dibalut warna putih mutiara pakaian perbudakan, sosok imperial princess.

... Meskipun itu mirip dengan apa Est kenakan, batasan seluruh tubuh Fianna memiliki desain yang lebih merangsang.

Rendahnya celana kulit memeluk pantatnya dengan erat itu cukup erotis.

"K-Kamu, pakaian ini ..."

Saat Kamito menatap shock --

"S-Serius, untuk berpikir kamu benar-benar menikmati melihat gadis berpakaian seperti ini ... Kamito-kun, kamu memeng mesum."

Fianna tersipu sambil mengusap kakinya bersama-sama malu-malu.

"T-Tidak, tunggu dulu, kamu salah paham tentang sesuatu!?"

Kamito dengan panik berteriak.

"... Salah salah?"

"Eh yah. Tentang itu, Bagaimana aku harus mengatakannya? Itu hanya kesalahan Est ... aku tidak memintanya untuk berpakaian seperti itu. Aku tidak memiliki ketertarikan semacam itu!."

"... Ya, aku paham."

Fianna mengangguk sedikit gugup.

"Apa yang kamu menikmati, Kamito-kun ... Ini bukankah peran M ... Tapi S, kan."

STnBD V07 051.JPG

"Tidak! Kau benar-benar salah!"

"Tidak perlu untuk menyembunyikannya. T-Tidak peduli sisi mana yang kamu inginkan, aku baik-baik saja dengan itu."

"Kau benar-benar punya pemikiran yang salah!"

Memprotes keras, Kamito mulai terengah-engah.

"Seperti aku katakan, sekarang ini adalah --"

Kamito berusaha keras untuk memperbaiki kesalahpahaman Fianna yang disebabkan oleh adegan Est di tenda.

Mendengar penjelasan Kamito, Fianna menampilkan sebuah ekspresi kaget --

"... Jadi, dengan kata lain, Kamito-kun, kamu benar-benar tidak tertarik di daerah itu?"

"Itu benar."

Kamito menjawab muram.

"Ini hanya... Kesalahpahamanku?"

"Uh yah, memang ..."

Setelah Kamito mengangguk -

"... ~!"

Wajah Fianna tiba-tiba jadi berwarna merah.

"Hiks hiks... S-Sebagai seorang imperial princess, aku telah mempermalukan diri sendiri jadi ..."

Karena malu yang berlebihan, dia menutupi wajahnya saat dia berguling di tanah.

Kamito belum pernah melihat Fianna begitu putus asa ... Rasanya agak lucu sebenarnya.

"aku bertindak begitu memalukan didepan Kamito-kun ... aku ingin mati, aku harus menggigit lidahku dan bunuh diri."

"T-Tunggu, hentikan ...!"

Karena putri kekaisaran menggumamkan kata-kata berbahaya, Kamito dengan panik menghiburnya.

"M-Meskipun aku tidak memiliki ketertarikan di daerah itu, Fianna, kamu tidak harus malu dengan pakaian itu ... Sebaliknya, umm, aku pikir kamu terlihat sangat cantik."

"... Benarkah?"

Fianna bertanya heran, sedikit memerah.

Tertahan oleh pakaian perbudakan ketat, dadanya menampilkan belahan dada yang tampak sangat menyilaukan.

Kamito menahan napas dan mengangguk.

"...aku sangat senang."

Dia langsung teryakinkan.

"S-Sebenarnya, berpakaian seperti ini membuat aku sangat malu."

...Itu wajar. Meskipun sang imperial princess selalu suka menggoda Kamito, dia pada dasarnya seorang gadis yang sangat murni dan polos.

"... Bisakah kamu berhenti bermain-main dengan aku. Ini menakutkan."

Kamito mengangkat bahu saat dia duduk di tunggul pohon.

"Tapi sudah jelas aku tidak mempermainkan ..."

"Hmm?"

"Bukan apa-apa, oke."

Imperial princess mengalihkan tatapannya seolah-olah tidak senang.

Meskipun Kamito tidak tahu kenapa dia marah --

"Tapi bagaimanapun, ini benar-benar tempat yang indah."

Menatap sinar matahari yang memancar dari antara cabang-cabang yang bertindak sebagai langit-langit, Kamito mengutarakan pendapatnya.

Ini cukup tenang. Di tempat seperti ini, dia pastinya mampu berkonsentrasi dan bermeditasi sendiri.

Pada saat ini, tatapan Kamito tiba-tiba tertarik pada cabang-cabang yang menutupi area ini.

(Patah dan rusak ... Tidak, ini dipotong oleh pedang yang tajam?)

Jika mereka telah dipangkas, hal itu dilakukan terlalu ceroboh. Rasanya seperti seseorang mengayunkan pedang dan memukul cabang oleh kecelakaan.

(Juga, jejak kaki ini ...)

Kamito sekali lagi mengalihkan pandangannya ke tanah. Ada tanda-tanda bahwa rumput telah terinjak keras dengan sembarangan. Kecuali aktivitas yang kuat telah terjadi di tempat ini, semacam jejak tersebut harusnya tidak tertinggal di rumput.

"Fianna, apa yang kamu lakukan di sini sampai sekarang?"

Sedikit curiga, Kamito bertanya.

"Tentu saja aku sedang berlatih untuk berciuman dengan Kamito-kun."

Fianna drngan cepat menjawab.

"..."

"S-Serius, Kamito-kun, jangan membuat aku mengatakan sesuatu yang sangat memalukan ..."

Sang imperial princess mencaci.

"...lalu pada kenyataannya?"

Batuk ringan sekali, Kamito bertanya lagi --

"... Kamu begitu bodoh sepanjang waktu, tetapi hanya di saat seperti ini kamu benar-benar tajam."

Fianna menghela napas seolah-olah dia menolak menyerah.

"Katakanlah, kamu bisa menjaga rahasia ini dari Claire?"

"...? Ah ya, aku tahu."

Melihat Kamito mengangguk, Fianna duduk di sampingnya.

"-- Aku di sini, menerima pelatihan pedang dari «Georgios»."

"Pedang ...?"

Dalam menanggapi pengakuan tenang Fianna itu, Kamito bertanya.

Dalam «Tim Scarlet», peran Fianna terletak pada dukungan melalui tarian ritual. Berdasarkan pada alasan ini, memiliki dia memegang pedang dalam pertempuran hampir tidak pernah terjadi. Selain itu, dia juga belum tahu dalam pelatihan tempur, tidak pernah dilatih sebagai elementalist di Akademi.

"Tentu saja, ini tidak ada pelatihan resmi, tapi aku hanya belajar beberapa keterampilan pedang untuk pertahanan diri. Setidaknya, aku berharap aku bisa melindungi diriku sendiri."

"Kenapa kamu tiba-tiba berpikir tentang ini? Namun skill pedang pertahanan diri tidak bisa dipelajari dalam semalam --"

"Aku tahu. Namun ..."

Fianna menggigit bibir bawahnya dengan keras.

Itu adalah ekspresi kehilangan ketenangannya yang biasa, penuh keputusasaan.

"... Aku tidak tahan. Bagi ku yang akan selalu dilindungi dan menjadi beban bagi orang lain."

"Fianna, kamu mendukung tim yang paling baik. Satu-satunya alasan kami mengalahkan Nepenthes Lore adalah berkat penghalang yang kamu bangun dengan sempurna."

"semua pengaruhnya terletak pada upaya Milla. Aku tidak membuat perbedaan sama sekali."

Fianna menggeleng.

"Pada saat itu, bahkan jika aku bergabung di garis depan aku hanya akan menjadi beban. Ketika Claire dan yang lainnya bisa mendukung kamu, Kamito-kun, sangat baik."

... Sepertinya dia kurang percaya diri.

(... Pertarungan melawan Nepenthes Lore adalah pemicunya.)

kemungkinan besar gagasan itu yang telah memasuki pikiran Fianna sejak lama.

"Aku tidak pernah berpikir kamu sebagai beban, Fianna."

Kamito berkata saat dia menatap langsung ke wajah Fianna.

"Claire, Ellis dan Rinslet adalah sama. Setiap orang percaya pada kamu."

"Kamito-kun ..."

Dihiasi oleh bulu manis, mata yang berwarna senja bergetar sedikit.

"...Terima kasih untuk menghibur aku."

"Ini bukan menghibur, aku hanya berbicara kebenaran."

Kamito dengan malu-malu memalingkan tatapannya.

"Fufu, Kamito-kun adalah tsundere."

Sebuah senyum nakal yang biasanya muncul di wajah Fianna saat dia diam-diam berdiri.

"Sudah hampir waktunya untuk kembali, atau Claire dan para gadis akan khawatir."

"Claire sudah tahu kita bersama. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan -."

"... Astaga, aku tidak berbicara tentang jenis khawatir yang seperti itu."

Saat Fianna mengangkat bahu tak berdaya, Kamito hanya bisa menonton dengan bingung.

Bagian 3[edit]

"Apa-apaan sih, Kamito adalah brengsek. Aku tidak peduli tentang dia ..."

Sementara itu, Claire duduk dengan lututnya di dadanya, melemparkan kerikil di sungai.

Di belakangnya, Scarlet itu berkeliaran bolak-balik seolah-olah khawatir tentang tuannya.

"Kamito milikku..."

...Plop. Air memercik di kejauhan.

Pada saat ini, suara seseorang menginjak tanah berpasir bisa didengar.

"C-Claire, apa yang kau lakukan? Kau terlihat begitu suram."

"Ellis ..."

Orang yang berbicara dengan Claire adalah Ellis. Meskipun hubungan mereka awalnya seperti musuh alami di Akademi, telah cukup berkembang setelah mereka menjadi rekan tim bahkan mereka sekarang bisa mendiskusikan banyak hal.

Sebagai catatan, Scarlet dengan panik menghilang secepat Ellis terlihat.

"Apakah Yang Mulia imperial princess telah ditemukan?"

"Ya. Dia mungkin Keluar dengan Kamito sekarang!"

Melemparkan sebuah batu besar, Claire menepuk roknya dan berdiri.

"...hmm. Apa yang kau bicarakan? Apa yang terjadi?"

Alis Ellis terangkat.

Melihat itu, Claire menceritakan apa yang baru saja terjadi di hutan.

"...aku paham. Kamito dibawa pergi oleh Yang Mulia imperial princess."

Mendengar penjelasan Claire, Ellis menunjukkan ekspresi serius dan mengangguk.

Sebagai catatan lebih lanjut, alasan kenapa dia selalu menyebut Fianna sebagai Yang Mulia imperial princess meskipun mereka sesama rekan tim, karena dia berasal dari keluarga ksatria yang melayani keluarga kekaisaran Ordesia seluruh generasi.

"Omong-omong ..."

Ellis mengistirahatkan dagunya di tangannya dan bergumam lirih.

"Jadi Claire, kamu memperhatikan juga. Skill pedang yang digunakan oleh Kamito."

"Ya. Meskipun Kamito mengatakan dia tidak tahu, dan itu hanya kebetulan bahwa mereka berdua belajar skill pedang yang sama dari kepala sekolah Greyworth."

"Benarkah? Karena Kamito mengatakan demikian, maka itu mungkin terjadi."

"... Tapi entah kenapa aku tetap merasa seperti dia menyembunyikan sesuatu. Tentang Ren Ashbell."

Claire mengerutkan kening, tenggelam dalam pikiran menyakitkan.

Jika tidak ada hubungan sama sekali, sikap Kamito terlalu mencurigakan.

(...Berpikir tentang itu.)

Tiba-tiba, kata-kata Fiana muncul dalam pikiran Claire.

-- misalnya, Kamito-kun adalah Ren Ashbell atau semacamnya?

(Tidak mungkin, kan ...)

Claire langsung menggeleng.

Mereka hanya menggunakan skill pedang yang sama ... Pemikiran Itu benar-benar menggelikan.

(Kamito adalah seorang yang aku idolakan, hal semacam itu --)

Tapi entah kenapa ... Claire tidak bisa menenangkan pikirannya.

Dari awal, intuisi Claire selalu sangat tajam. Sekarang gejolak di hatinya terasa mirip dengan perasaan itu. Atau mungkin, setidaknya di wilayah intuisi, Claire mewarisi sifat yang sama dengan kakaknya sebagai «Ratu».

Kamito mengatakan - aku bukan kenalan Ren Ashbell.

Tapi merenungkan ini lebih dalam --

(... Dia tidak mengatakan dia bukan Ren Ashbell.)

Claire menyuarakan pemikirannya tiba-tiba, tapi -

"... Apa yang kau bicarakan?"

Ellis mengangkat bahu dalam kejengkelan.

"Apa, Aku hanya mengatakan itu mungkin, itu saja!"

"Bagaimana bisa? Selain itu, tiga tahun lalu, bukankah Ren Ashbell seorang gadis muda yang cantik? Murni dalam hal kemungkinan, aku pikir itu lebih bisa dipercaya bahwa elementalist bertopeng yang kamu sebutkan dari «Tim Inferno» adalah satu-satunya."

"Gadis itu pasti penipu ulung yang menyamar sebagai Ren Ashbell. Ren Ashbell yang sebenarnya bukanlah seseorang seperti dia!"

"Tentu saja, aku juga berharap begitu -"

Ellis dengan penuh penyesalan berhenti bicara. Pada saat ini, Claire tiba-tiba teringat sebuah peristiwa tertentu.

"...! Ngomong-ngomong, aku pernah menyaksikan sekali penampilan cross-dressing Kamito."

"A-Apa!? Kamito memiliki fetish semacam itu!?"

"Tentu saja tidak. Itu adalah untuk tujuan menghancurkan «Brand of Darkness» diukir oleh Ren Ashbell ketika dia dan Fianna menyelinap ke «Divine Ritual Institute». Tetapi karena itu, aku melihat Kamito yang tampak seperti gadis super manis dalam segala hal. "

"Hmm ... A-Apakah dia benar-benar manis?"

Ellis bergumam, sangat tertarik.

"Satu hal lagi. Ren Ashbell berusia empat belas tahun ketika dia memenangkan «Blade Dance» terakhir kali. Menghitung dari itu, usia Kamito cocok dengan sempurna."

"...!"

Ellis tersentak.

"M-Mungkinkah itu benar, tidak mungkin ..."

"Ya, tentu saja, aku hanya setengah yakin pada poin ini ..."

Atau lebih tepatnya, Claire tidak benar-benar percaya pada kemungkinan itu.

Namun, sikap Kamito yang sebelumnya cukup mencurigakan. Ini berarti bahwa kemungkinan itu tidak nol.

"... Haruskah kita mengkonfirmasi itu?"

Ellis berbicara pelan seakan meyakinkan diri sendiri.

"Bagaimana kita mengkonfirmasi itu? Jika kita bertanya secara langsung, dia pasti akan mengubah topik pembicaraan."

"Aku punya ide. Malam ini aku diam-diam bisa mengujinya sementara kami bertugas jaga."

"Bisa itu benar-benar dilakukan?"

Claire memiringkan kepalanya dengan ekspresi ragu-ragu. Kapten ksatria ini lurus dan serius tidak tampak seperti dia terampil di area itu sama sekali.

"Ya, serahkan saja padaku."

Mengabaikan kegelisahan Claire, Ellis mengangguk mantap.

Bagian 4[edit]

Di kedalaman hutan jauh dari benteng «Tim Scarlet» --

Sebuah kuil oriental mewah dibangun di mana hutan telah dibersihkan.

Ini adalah kamp dari «Four Gods» yang mewakili Kekaisaran Quina.

Saat ini, didepan kuil, sebuah rapat kekaisaran diselenggarakan dengan putri di tengah.

"-- Kalau begitu, sampaikan pandangan kamu."

Sebuah suara serius bisa terdengar dari balik tirai.

Ini adalah suara dari putri ketiga kekaisaran Quina dan komandan dari «Four Gods», Yang Mulia Linfa Sin Quina.

Di depan kuil, tiga gadis berdiri siap, mengenakan gaya pakaian Quina.

"Saya menawarkan nasihat saya dalam keraguan, Linfa-sama."

Orang yang melangkah maju adalah seorang gadis dalam pakaian hijau.

Rao Rin -- pengguna dari roh binatang suci «Azure Dragon».

"Mungkin saya berani mengekspresikan perbedaan pendapat berkaitan dengan keterlibatan «Tim Scarlet» dalam pertempuran pada saat ini."

"Kenapa? Sampaikan alasan kamu."

"Memang, dengan Linfa-sama dan kekuatan gabungan dari «Four Gods», memusnahkan tim peringkat kedua bukanlah hal yang sulit. Namun, setelah bertarung melawan mereka, pada saat kita kelelahan, jika «Tim Inferno» yang dipimpin oleh Penari Pedang Terkuat menyerang --"

"Hmm ... Hakua, Shao, apa kalian berdua setuju dengannya?"

"Jika Rao mengatakan demikian, Hakua percaya itu baik-baik saja."

"Aku hanya peduli tentang pertempuran lawan yang kuat."

Hakua sang «Black Tortoise» dan Shao sang «White Tiger» menanggapi masing-masing.

"...Jawaban Kalian berdua itu benar-benar tidak menambah apa-apa untuk diskusi."

Sebuah desahan napas terdengar dari balik tirai. Rao melanjutkan terus.

"Saya dengan rendah hati mengajukan peemohonan Linfa-sama untuk mempertimbangkan kembali. Meskipun mereka adalah sebuah tim yang sedikit terkenal, «Tim Scarlet» tidak boleh diremehkan. Karena kita sudah mengamankan cukup «Magic Stones» untuk maju ke final, tidak perlu untuk mengambil risiko yang tidak perlu."

"Hmm, tapi kemudian ..."

Sang Imperial Princess tampak cukup bermasalah.

"Sebenarnya, pernyataan perang sudah dikirim."

"Apa! Ke-Kenapa Anda melakukan sesuatu yang sangat keras kepala! Anda harus berdiskusi dengan kami sebelum membuat keputusan penting, berapa kali saya harus mengulangi itu!?"

"Itulah tepatnya kenapa aku tidak mendiskusikan dengan kalian."

"Tolong berdiskusi dengan kami sebelum memutuskan!"

Rao berteriak marah, hampir meraung ... Dalam keadaan seperti ini, tidak ada lagi rasa hormat yang ditunjukan terhadap imperial princess.

"Kirimkan utusan segera untuk menariknya! Sekarang!"

"Tidak mungkin! Bagaimana mungkin sebuah deklarasi perang begitu mudah ditarik setelah dikirim!?"

"M-Memang, meskipun itu benar ..."

Shao menepuk Rao yang terdiam di bahu.

"Oh yah, jangan terlalu marah, oke? Setelah semua, apakah «Tim Scarlet» atau «Tim Inferno», bukankan baik-baik saja selama kita membantai mereka semua?"

"Bagaimana mungkin sesederhana itu? «Tim Scarlet» memiliki elementalist laki-laki yang mampu bertarung seimbang dengan Leonora Lancaster. Bahkan jika kita menang, itu pasti akan menjadi pertempuran yang sulit --"

STnBD V07 065.JPG

"Memang, elementalist laki-laki itu!"

Tiba-tiba, sang imperial princess berseru.

"... Linfa-sama?"

"Ini justru untuk misi membasmi tirani tak bermoral yang mengerikan itu aku telah mengeluarkan deklarasi perang!"

"Tirani tak bermoral yang mengerikan?"

"Hmm, kalian semua pasti mendengar rumor. tirani itu, Kazehaya Kamito, dikelilingi oleh para wanita bangsawan murni dan polos, tenggelam dalam kelakuan birahi yang amat buruk!"

"M-Memang, rumor tersebut telah sampai ke telinga kami ..."

Mengingat rumor itu banyak dan menakutkan, bahu Rao bergidik.

"raja binatang nafsu itu tidak hanya memaksa gadis-gadis manis untuk melayani dia di tempat tidur, tetapi juga memaksa mereka untuk berpakaian mesum dalam keadaan telanjang dengan hanya kaos kaki ."

"...sungguh bejat!" "Benar-benar bejat."

Shao dan Hakua mengerutkan kening.

"Lebih dari itu, selama «Blade Dance» ini, tidak puas dengan menekan para gadis dari tim musuh, dia bahkan menelanjangi mereka dan m-m-memper...."

"Memperkosa mereka?"

"H-Hakua, bagaimana kau bisa mengatakan kata seperti itu dihadapan sang putri!?"

Rao berteriak, wajahnya merah padam.

"D-Dalam kasus apapun, raja binatang nafsu tak senonoh itu harus dibasmi sesegera mungkin. Ini bukan lagi masalah tentang «Magic Stones»!"

"M-Memang itu benar ..."

"Oh yah, tapi tunggu sebentar, kita belum mendengar pendapat Rion sama sekali?"

Shao tiba-tiba menginterupsi.

Rion Sharma adalah anggota terakhir dari «Four Gods», pengguna roh binatang suci, «Vermillion Bird».

Dia dipercayakan dengan misi pengintaian untuk benteng «Tim Inferno».

... Meskipun mereka telah memintanya untuk kembali sebelum mereka mengadakan rapat kekaisaran saat ini, dia belum menunjukan kehadirannya.

"Mungkinkah dia telah gagal dalam misinya?"

"Tidak seperti kamu, Rion jauh lebih berhati-hati. Itu tidak akan --"

"-- Kepercayaan Mulia pada diri saya yang tidak berharga, terisi dengan keraguan."

Pada saat ini, sebuah suara sangat jelas bisa terdengar dari hutan, disertai dengan langkah kaki.

"Oh Rion, sungguh terlambat!"

"Apa yang telah kau lakukan? Semua orang begitu khawatir tentang kamu."

Yang muncul di depan mata mereka adalah seorang gadis berambut merah mengenakan pakaian crimson.

Gadis itu berjalan ke kuil dan berlutut di atas satu lutut didepan tirai.

"Rion Sharma, mengumumkan kedatangannya kembali."

"Ya, terima kasih untuk usaha kamu. Cepat dan laporkan pergerakan dari «Tim Inferno», oke?"

"Ya, Ren Ashbell dan sisanya nampaknya telah mengumpulkan jumlah «Magic Stones» yang cukup dan tidak berkeliaran dari «benteng» mereka. Mereka mungkin menyisihkan roh militer yang mereka siapkan dalam menunggu untuk final. Jika kita ingin menyerang «Tim Scarlet», sekarang akan menjadi kesempatan yang sempurna."

"Dengan kata lain, tidak ada yang perlu kita takutkan. -- Jadi diputuskan, kita dari «Four Gods» akan memusnahkan raja binatang tak bermoral yang bernafsu mengerikan, Kazehaya Kamito!"

Dengan teriakan perintah dari imperial princess Linfa, gadis-gadis dari «Four Gods» mengangguk serempak.

Hanya satu orang --

Tak seorangpun menyadari, tapi terlihat di bibir Rion Sharma sambil terus menjaga kepalanya menunduk adalah senyum ejekan.





Back to Bab 1 Return to Halaman Utama Forward to Bab 3