Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid7 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 3 - Pertanyaan Ellis[edit]

Bagian 1[edit]

- Pada hari keempat di «Blade Dance», tidak ada pertempuran berskala besar yang terjadi.

Dalam rangka untuk mempersiapkan pertempuran yang akan datang melawan «Four Gods» di hari berikutnya, Kamito dan kelompoknya memilih untuk memperkuat pertahanan mereka di «benteng» mereka.

Meskipun ada pertempuran terisolasi di sekitar «benteng», musuh dengan mudah diusir oleh combo Kelas Raven Claire dan Rinslet yang dikirim untuk pengintaian.

Malam itu setelah makan malam, tim berkumpul untuk diskusi tentang formasi mereka untuk tarian pedang esok hari.

Secara khusus, Kamito sendirian mengambil peran sebagai penyerang barisan depan. Dukungan ditugaskan pada Ellis dan Claire di penjaga tengah. Bagian belakang terdiri dari Fianna yang bertanggung jawab atas dukungan dan Rinslet untuk melindunginya ketika melakukan tugas sniper.

Karena percakapan siang tadi, Kamito sedikit khawatir tentang Fianna tapi sikap secara signifikan tidak berbeda dari biasanya. Jangankan Kamito, dia pasti tidak punya keinginan membiarkan gadis-gadis lain tahu tentang perasaannya yang merendahkan diri.

Setelah rapat, Fianna sekali lagi menghilang seorang diri, mengklaim untuk memperbaiki penghalang.

"... Fianna, aku bisa mengerti kecemasan kamu, tetapi harap berhati-hati untuk tidak memaksakan diri terlalu banyak."

Mendengar kata-kata Kamito itu, Fianna menjawab:

"Jangan khawatir. Aku akan melakukan yang terbaik untuk pertempuran besok."

Dia tersenyum dan mengangguk.

-- Kemudian malam tiba.

Sesuai dengan jadwal shift, Kamito dan Ellis mulai patroli malam mereka.

Walaupun kemungkinan roh musuh menyerang benteng secara langsung sangat rendah, kemungkinan itu tidaklah nol. Bahkan jika hanya demi penahanan, itu perlu untuk waspada.

Pasangan ini menyalakan kayu bakar di tepi hutan saat mereka melihat untuk tanda-tanda yang mencurigakan.

"... Tidak ada yang menyerang. Jika tidak, kita bisa mengeliminasi mereka secara langsung."

Api berderak.

Ellis duduk dengan satu lutut sementara menatap ujung tombak «Ray Hawk» saat berbicara.

"Mungkin karena penghalang Fianna yang buat adalah sangat kuat, sehingga sulit untuk menembus dan menyerang."

Duduk berhadapan dengannya, Kamito setuju saat dia dengan halus mengalihkan tatapannya.

Ini karena Ellis yang menaikan lutut yang telah mengangkat roknya, memberikan pandangan menggoda dari apa yang ada di bawahnya. Karena kenyataan bahwa Ellis dalam posisi untuk melompat ke dalam tindakan segera, Kamito tidak repot-repot dengan komentar yang tidak perlu karena hanya akan membuatnya marah.

"Tapi ngomong-ngomong, rasanya seperti pertempuran antar tim saat ini tidak sering terjadi."

"... Ah, ya, memang, «Tempest» ini sedikit tidak normal."

"Bagaimana bisa begitu?"

Ellis memiringkan kepalanya dengan ekspresi kosong.

"Terlalu banyak tim tersingkir di awal. Seperti «Rupture Division» Milla dan dari Akademi kita sendiri «Tim Wyvern». Selain dua itu, beberapa tim lain juga telah dimusnahkan. Hanya dalam periode singkat selama tiga hari, dan terutama dilakukan oleh satu tim."

Kamito mengangkat jari saat dia berbicara.

"Mendengar rumor ini, tim lain pastinya berusaha untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap «Tim Inferno» dan memilih untuk mengamankan benteng mereka sebagai gantinya. Dan alasan yang lebih sederhana karena jumlah elementalist yang tersisa di lapangan lebih sedikit. Meskipun beberapa tim belum telah benar-benar dimusnahkan, ada banyak kasus anggota disingkirkan."

"... Hmm, aku paham."

Ellis menunjukkan sebuah ekspresi seolah-olah dia hanya setengah paham.

(Tapi tidak hanya itu ...)

Kamito diam-diam menambahkan dalam pikirannya.

(... «Blade Dance» saat ini juga agak aneh.)

Misalnya, adanya eksistensi dari Nepenthes Lore.

Monster itu bukanlah elementalist -- lebih dari itu, bahkan tidak bisa dihitung sebagai manusia.

eksistensi abnormal semacam itu seharusnya tidak memenuhi syarat untuk bersaing dalam «Blade Dance».

(... Dan berbicara tentang abnormal, juga ada Restia.)

Terlepas dari kebenaran yang sebenarnya, karena kontrak roh nya dengan Kamito belum dibatalkan, dia seharusnya masih roh terkontrak milik Kamito. bagaimana dia bisa terdaftar sebagai anggota dari «Tim Inferno», Kamito masih memiliki keraguan.

Saat Kamito jatuh ke pemikiran yang mendalam --

Duduk di depannya, tiba-tiba Ellis menggigil.

"Ada apa, apa kamu kedinginan?"

"... Ya, api itu nampaknya telah sedikit mereda."

Meskipun seragam akademi Areishia dilengkapi dengan sihir anti-dingin, «Ragna Ys» di malam hari masih cukup dingin. Hanya panas dari api unggun tidak cukup untuk tetap menghangatkan.

"Ellis, kamu tidak bisa menggunakan tipe sihir angin kamu untuk melindungi tempat ini?"

"A-Aku kira aku bisa, jika itu harus dilakukan ..."

Ellis mengangguk, tapi jawabannya tampak cukup ambigu.

Entah bagaimana Kamito merasa bahwa penghalang untuk melindungi dua orang harusnya benar-benar mudah untuk dia --

"Pokoknya, selain itu, Kamito ..."

"Hmm?"

Ellis terbatuk datar untuk membersihkan tenggorokannya.

... Wajahnya memerah misterius.

"Umm, boleh aku duduk di sampingmu?"

"Eh?"

"S-Selama kita bersandar berdekatan, m-maka bukankah kita tetap hangat!?"

"Yah, itulah yang orang katakan ..."

Sementara Kamito masih ragu-ragu, Ellis dengan cepat di memutari api dan mendekat untuk duduk pada jarak yang dekat dari dia, dengan bahu mereka begitu dekat mereka bisa dengan baik bersentuhan.

Kali ini lututnya ditarik sementara tulang kering nya miring ke arah luar. Sebuah cara duduk yang kekanak-kanakan.

Sambil memegang roknya dengan tegang, dia menurunkan pandangannya ke tanah.

"..."

Menjaga postur ini, Ellis menatap kosong selama beberapa detik.

"Umm, ada apa? Bagi kamu untuk tiba-tiba bertingkah seperti ini ..."

"Ah ... Umm, a-apa duduk di samping kamu menyebabkan kamu kesulitan?"

Ellis dengan panik berbicara.

Memerah padam, dia canggung meremas ujung roknya.

"Bagaimana mungkin itu benar? Jangan tiba-tiba menjadi begitu formal dan menjauh."

"Uwah!"

Melihat Kamito mendekat dengan kemauannya sendiri, Ellis menjerit panik.

Didepan api unggun, keduanya bersandar erat, bahu dengan bahu.

...Aku mengerti, ini terasa cukup hangat.

"Haah, fu ..."

...Meskipun Kamito mulai merasa menyadari suara nafas Ellis.

"Ada apa, Ellis? Apakah kamu mengalami demam?"

"A-Aku baik-baik saja, tapi aku masih merasa agak dingin. Jika kita lebih mendekatkan bersama-sama, aku pikir aku mungkin akan cukup hangat!"

Ellis menggeleng dan menekan bahunya lebih dekat.

"T-Tunggu dulu! Jika kamu lebih mendekat, itu akan menjadi buruk!"

Kamito panik mencoba untuk menjaga kembali jaraknya.

Jika ini berlanjut, membiarkan bahunya, bahkan payudara lembut dan halus milik Ellis akan menyentuh lengan Kamito.

"T-Tidak, jangan pikirkan hal-hal lain, tidak ada cara yang lebih baik untuk membuat dingin pergi!"

"Tidak, bagaimana mungkin aku bisa tidak keberatan!?"

Hanya dengan sensasi lembut dari dadanya itu membuat Kamito memerah dan jantungnya berpacu...

Sekelompok kecil api melompat keluar dari semak-semak di samping mereka dengan sebuah letupan.

"... A-Apa?"

Kamito menatap tajam pada kelompok kecil api tiba-tiba muncul di depan matanya.

Itu adalah kadal kecil dengan ekor terbakar.

Sebuah roh api tingkat rendah.

"Oh, itu salamander. Sungguh beruntung. Ini akan sedikit memperkuat api."

Kamito mencubit salamander pada ekornya dan meletakkannya di api unggun.

Dengan segera, api unggun semakin kuat.

"L-Lihat, dengan ini kita bisa tetap hangat tanpa terlalu dekat bersama-sama."

"... Sniff, roh ini muncul pada waktu yang sangat salah."

Ellis tampaknya berada di ambang air mata saat ia memelototi salamander di api unggun.

"Apa yang kamu katakan?"

"Tidak ada!"

Dia dengan marah memalingkan wajahnya.

... Kami akhirnya mendapatkan penghangatan, tapi untuk beberapa alasan suasana hatinya tiba-tiba memburuk.

"..."

"..."

Untuk sementara waktu, keduanya tetap terdiam --

"Kamito ..."

"Hmm?"

Ellis adalah orang pertama yang memecah keheningan.

Mengambil pena dan notebook dari dada seragamnya, dia menatap tajam wajah Kamito.

"... Apakah kamu mengambil beberapa jenis catatan?"

Kamito mengerutkan kening dengan bingung.

Ellis terbatuk ringan dan berbicara.

"Kamito, mulai sekarang, aku akan menanyakan beberapa pertanyaan. Aku harap kamu bisa menjawab dengan jujur."

"...? Eh pasti ..."

Meskipun Kamito tidak tahu apa niat Ellis, dia bisa melihat dari matanya bahwa Ellis serius.

Kamito mengangguk dan dengan gugup menahan napas.

"Jadi, pertanyaan pertama, Kamito, kamu --"

Mata cokelat Ellis bersinar tajam.

"A-Apakah kamu suka permen kapas halus dan lembut?"

"...... Huh?"

Kamito berseru, benar-benar tertegun.

"A-Apa-apaan sih, pertanyaan macam apa itu?"

"I-Ini penting, tolong dijawab."

Namun demikian, Ellis tetap sangat serius seperti biasa.

Sepenuhnya kalah, Kamito tidak punya pilihan selain menjawab.

"... Oh yah, bukannya aku tidak menyukai itu, tapi aku tidak terlalu menggilai tentang hal itu."

Kamito tidak memiliki preferensi khusus dalam makanan, tapi berbicara permen kapas, yang terasa lebih seperti makanan dimaksudkan untuk anak perempuan.

"A-Aku paham..."

Ellis menghela napas lega untuk beberapa alasan dan mencatat sesuatu di buku catatannya.

"... Apa yang kamu tulis?"

"Nah, pertanyaan berikutnya --"

mengabaikan pertanyaan Kamito, Ellis mendongak dari buku catatannya.

"S-Saat mandi, bagian tubuh mana yang kamu cuci terlebih dahulu?"

"...K-Kenapa kamu menanyakan pertanyaan semacam ini!?"

"Ini penting! ... Atau kamu menyiratkan kamu memiliki sesuatu yang disembunyikan?"

Tatapan mematikan Ellis lurus pada Kamito.

...Tidak tidak, aku telah benar-benar tidak tahu apa yang dia curigai.

"benar-benar tidak seperti itu ... Oh yah, biasanya aku mulai dengan lengan."

"Lengan ... Aku paham ..."

Ellis mengangguk seolah-olah dia tahu sesuatu yang kemudian membuat catatan di bukunya.

(... A-Apa yang terjadi di sini!?)

Pertanyaan serupa ditanyakan satu demi satu dengan cara ini --

"K-Kalau begitu, inilah pertanyaan terakhir."

"... Akhirnya yang terakhir eh."

Kamito mendesah kelelahan.

"Umm, kamu..."

Dengan ekspresi malu, Ellis menatap wajah Kamito.

Dengan suara nyaris tak terdengar, dia berkata:

"... Apakah kamu suka cewek dengan dada besar?"

"Eh?"

-- Sebuah pertanyaan semacam itu.

"S-Sebaliknya, apakah kamu membenci gadis-gadis dengan dada besar ...?"

"M-Mengapa kamu harus menanyakan itu ..."

"J-Jangan membuat aku mengulanginya, kamu brengsek ..."

Ellis menggigit keras bibirnya yang berwarna ceri.

Menahan dirinya dengan kedua tangan di tanah, ia perlahan-lahan menarik wajahnya mendekat.

STnBD V07 079.JPG

"... E-Ellis!?"

"L-Lalu jawab aku ..."

Kamito bisa menangkap sekilas dari belahan dadanya di bagian depan seragamnya. Leher ramping menunjukkan tanda-tanda keringat secara samar.

Sebuah wewangian feminin unik mulai membuat kesadaran Kamito menjadi kabur --

-- Pada saat ini.

"Panas, panas sekali!"

Tiba-tiba, sebuah percikan api kecil melompat keluar dari api unggun.

"Hei, kamu mencoba untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut? Apa kamu ingin berubah menjadi arang!?"

"...!?"

Dari suatu tempat datang sesuatu yang akrab ... Suara Claire.

Kamito melihat sekeliling tapi tidak bisa menemukan tanda-tanda kehadiran Claire.

Tidak --

"... Serius, kamu adalah orang yang mengklaim kamu bisa mengujinya diam-diam. Itulah kenapa mempercayakan tugas itu padamu."

Sumber dari suara Claire adalah salamander di api unggun.

"Claire, a-apa kamu benar-benar melihat semuanya sampai sekarang!?"

Ellis berteriak dengan wajah merah padam.

"... Apa yang terjadi?"

Kamito menanyai salamander di api unggun.

"Salamander ini adalah familiarku. Saat ini aku telah mengsinkronkan indera ku dengan itu, dalam rangka untuk pengawasan untuk melihat apakah kalian berdua melakukan sesuatu yang tidak senonoh."

"Seperti ada orang yang akan melakukan sesuatu seperti itu saja!"

"... Hmph, siapa yang tahu?"

Salamander dengan dingin memelototi keduanya.

"Y-Ya itu benar! A-Aku pasti tidak akan memikirkan hal mesum ..."

Ellis memutar-mutar jari-jarinya canggung saat berbicara, tapi untuk beberapa alasan, tatapannya diarahkan ke arah suatu tempat di kejauhan.

Bagian 2[edit]

"Engkau, hamba raja anak manusia, ksatria dan master pendekar pedang!"

Dalam sedikit ruang dalam hutan, sebuah badai mengamuk.

"Dengan kontrak darah lama, jadilah pedang yang melindungi aku, maju dan lakukan perintahku!"

Dari bibir manis, kata-kata untuk pelepasan roh sedang dilantunkan.

Saat rambut hitam cantik nya berkibar tertiup angin, segel roh yang terukir pada dadanya bersinar dengan cahaya menyilaukan.

-- Dalam Detik berikutnya, disertai dengan kilatan cahaya murni, seorang ksatria berarmor dipanggil keluar dari ruang kosong.

Armor perak berat bersinar dan berkilauan di bawah cahaya bulan yang memancar dari antara cabang-cabang.

Ini adalah «Georgios» -- roh ksatria peringkat tinggi yang melayani keluarga kekaisaran Ordesia selama beberapa generasi.

Fianna membelai armor dingin dengan tangannya saat dia melihat dengan ekspresi tidak sabar pada ksatria hadapannya.

"Tolong, «Georgios» jadilah kekuatan ku --!"

Menutup kedua mata, Fianna sekali lagi melantunkan mantra bahasa roh.

"Engkau akan menjadi pedangku, engkau akan menjadi perisaiku, dengan cahaya menjulang terbatas, memurnikan dan mengusir mereka yang termasuk kegelapan --"

Cahaya yang kuat yang dipancarkan dari seluruh roh ksatria seolah siklon inten menyapu sekeliling.

Suatu kekuatan roh tangguh sedang dilepas dan diangkat ke tingkat di ambang ledakan.

"Ooh ..."

Fianna sebenarnya menyembunyikan satu fakta lagi dari Kamito.

Latihannya di sini tidak hanya dalam ilmu pedang.

Dia juga diam-diam mencoba untuk menggunakan Elemantal Waffe.

"... Ah ... Ooh ..."

Karena rasa sakit yang tajam membakar, Fianna berteriak serak dari kedalaman tenggorokannya.

Tidak dapat mengontrol ledakan kekuatan roh, dia sedang menderita reaksi dari arus balik divine power.

"... Aku mohon, dengarkan aku!"

Mampu menggunakan «Elemental Waffen» dengan bebas adalah syarat untuk seorang elementalist untuk menunjukan nilai sejati mereka.

Namun demikian, elementalists yang mampu melepaskan roh terkontrak mereka sebagai Elemental Waffe jumlahnya sedikit.

Meskipun Claire dan yang lain tampaknya melakukannya dengan mudah, dalam kenyataannya itu adalah keterampilan yang membutuhkan bertahun-tahun pelatihan tingkat tinggi di samping bakat bawaan. Tentu saja, sebagai mantan kandidat «Ratu», bakat Fianna adalah luar biasa. Namun, bahkan untuk dia, ini bukan sesuatu yang bisa dicapai dalam semalam.

(Meskipun aku menyadari hal ini cukup sembrono, tetap saja, aku--! "

"- Ingin bertempur bersama Kamito-kun!"

Seakan menanggapi panggilan Fianna --

Tubuh roh ksatria berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang ke udara.

(Sangat bagus, hanya sedikit lebih jauh lagi...!)

Dalam pikirannya dia membayangkan pedang yang bisa memotong semua ciptaan.

Pedang yang dia saksikan dari «Penari Pedang Terkuat», Ren Ashbell, gunakan tiga tahun lalu.

Tergenggam di tangannya, imajinasinya terwujud dan berkumpul --

Namun, sesaat sebelum selesai ...

"... Yah!"

Cahaya kental meledak dan kekuatan tak terlihat mengirim Fianna terbang.

Tubuhnya jatuh dengan keras ke tanah.

Karena gagal melepaskan Elemental Waffe serta dampak arus balik dari divine power.

"...Oooh...k-kenapa ..."

Bahunya sedikit gemetar, Fianna mencengkeram tanah.

-- Pada akhirnya, bahkan dengan bantuan dari lingkaran sihir, dia tidak berhasil dalam mewujudkan elemental Waffe.

"... Kenapa tidak bekerja!?"

... Aku ingin menjadi lebih kuat.

Jelas, Aku tidak ingin tetap sebagai putri yang harus dilindungi.

"Aku masih ... Belum menyerah, ayo lakukan ini sekali lagi --"

Menggigit keras pada bibir, Fianna mendukung dirinya dengan satu lutut melawan tanah dan berdiri.



Back to Bab 2 - Kecurigaan Claire Return to Halaman Utama Forward to Bab 4 - Kedatangan Ular