Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid 9 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4 - Pedang Iblis Kegelapan[edit]

Bagian 1[edit]

Ditutupi oleh hamparan pepohonan adalah reruntuhan dari kota besar.

"... Haaa, sungguh malang. Dari semua tempat aku berakhir dipinggiran kota."

Claire cemberut tidak senang saat dia berjalan ditengah-tengah puing-puing reruntuhan.

Dia telah ditransport di sisi terjauh dari pusat kota yang ditinggalkan.

Dari penampilannya, tampaknya cukup mudah untuk keluar meskipun dikelilingi dinding besar karena ada bagian yang runtuh diseluruh tempat. Namun, karena penghalang yang kuat telah dipasang oleh «Lord Elemental» diluar dinding kota, baik manusia ataupun roh tidak bisa keluar.

"Meow--!"

Saat ini, Scarlet berjalan didepan dengan telinga yang diangkat, melotot pada pusat dari kota yang ditinggalkan.

-- sekejap berikutnya, didampingi oleh raungan yang bergemuruh, pilar besar. Dari api muncul dari pusat.

"...!?"

Claire merasakan getaran intens disepanjang tulang punggungnya.

"Benar-benar roh yang sangat kuat..."

Tidak seperti api Scarlet yang mulia.

Itu berasal dari jenis yang sama sebagai «Iblis Api» yang menyebarkan kurusakan dan kehancuran.

(...Siapa yang mengontrak roh itu?)

Baik «Knight of the Dragon Emperor» atau «Sacred Spirit Knight» harusnya tidak memiliki elementalit api pada tingkat itu.

Atau mungkin itu roh terkontrak dari «Ren Ashbell» --?

(...Tidak, itu tidak benar.)

Claire mengesampingkan kemungkinan itu.

Selama pertempuran di hutan, Ren Ashbell memang menggunakan sihir roh yang di klasifikasikan dalam sistem api.

Namun, pilar api yang terbakar itu tidak memberikan kesan yang sama seperti dia.

Meninggalkan kontrol pada roh, hanya melepaskan kekuatan besar secara sembarangan -- ini tidak seperti dia.

(Bicara tentang seorang yang "mengendalikan" roh semacam ini...)

Claire punya pemikiran.

Gadis berambut abu-abu yang menganggap Kamito sebagai Onii-sama.

Pengguna roh militer dari «Tim Inferno» --Muir Alenstarl dari «Intruksional School».

Kabarnya, dengan menggunakan roh militer kelasvtaktikal, dia memusnahkan beberapa tim seorang diri.

Tampaknya, dia menggunakan roh militer yang bahkan lebih kuat di final.

(...Jadi pertarungan sudah dimulai.)

Claire merasa sedikit khawatir.

(Mungkinkah, Kamito bertarung...?)

Dia tidak bisa menyangkal kemungkinan seperti itu.

Dalam kasus apapun, pertama itu perlu untuk menyelidiki kekuatan dari roh iblis api.

"Scarlet, jalan mana yang akan mengarah kesana?"

"Meow--?"

Roh kucing neraka itu memiringkan kepalanya seolah-olah sangat bermasalah.

"...oh benar. Kau hanya seekor kucing."

Claire sedikit mengangkat bahu.

Kota besar yang ditinggalkan mungkin tipe struktur yang menjadi rumit setelah mendekati pusat.

Tanpa menggunakan sebuah «Guide Spirit», itu npmungkin tidak mudah untuk mendekat.

"...malam mungkin akan datang sebelum aku mencapai tempat itu."

--saat Claire menghela nafas.

"...!?" Dari suatu tempat, suara dari benturan senjata bisa terdengar samar-samar.

(...Seseorang sedang terlibat dalam tarian pedang?)

Claire tiba-tiba menahan nafasnya dan dengan cepat melihat ke sekeliling.

Suara itu terdengar cukup dekat. Namun, tidak ada seseorang yang terlihat di sekitar.

"Meow, meow--!"

"...diatas?"

Diingatkan oleh suara Scarlet, Claire melihat keatas pada langit, dan dalam sekejap --

"...!"

Dia bisa melihat seorang gadis yang jatuh dari menara lonceng terdekat.

Didampingi oleh bulu hitam yang berhamburan, gadis yang jatuh itu mengenakan gaun.

(Dia adalah...)

Bahkan dari kejauhan, Claire yakin dia mengenali dengan benar.

Gaun yang berwarna gelap malam dan keindahan sayap hitam itu.

(Roh kegelapan milik Kamito, kenapa dia disini!?)

Claire berteriak dalam pikirannya.

"K-Kita harus bergegas kesana, Scarlet!"

Dengan cepat melantunkan kata-kata pelepasan elemental waffe, dia merubah bentuk roh kucing neraka menjadi cambuk api.

Sampai saat ini, roh kegelapan itu terlibat dalam rahasia intrik berkali-kali, membuat pergerakan pada Kamito.

Meskipun situasinya tidak jelas, Claire memutuskan itu adalah kesempatan yang langka.

(...Aku harus menangkap dia, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan!)

Mengandalkan hanya pada arah nya, Claire berlari kedalam reruntuhan yang seperti labirin untuk menuju menara lonceng.

Seperti kakaknya, princess maiden yang luar biasa, intuisi Claire cukup tajam.

Setelah berjalan pada jarak tertentu --

(Aku ingat dia jatuh di suatu tempat dekat sini --)

Claire berhenti dan menyapukan pandangannya ke puing-puing yang berserakan di sekelilingnya.

Biasanya, seorang akan mencari sebuah roh dengan mengikuti jejak dari divine powernya, tapi karena kekacauan dari leyline kota yeng ditinggalkan ini, metode itu tidak lagi bisa digunakan.

Lidah api di tangan, Claire maju dengan hati-hati.

Bahkan jika terluka, roh kegelapan itu masih roh peringkat tinggi yang sangat kuat. Dia tidak bisa bertindak ceroboh.

Juga --

(...Seseorang yang menjatuhkan roh kegelapan itu harusnya masih berada didekat sini.)

Segera setelah mereka bertemu satu sama lain, sebuah pertempuran kemungkinan besar tak terelakan lagi.

Tiba-tiba.

"...ooh, ah..."

"...!?"

Terbawa oleh angin, sebuah suara rintihan lembut memasuki telinga Claire.

Hanya untuk menemukan disana--

Sebuah bulu hitam berkilauan samar-samar terjatuh di tanah.

"Itu adalah bulu dari roh kegelapan itu."

Segera setelah dia mengambil itu, bulu itu hancur menjadi partikel cahaya.

...Dengan pemeriksaan lebih lanjut, bulu yang serupa telah tersebar diseluruh lantai di area ini.

"...ooh, ah..."

Suara itu terdengar lagi. -- kali ini, itu terdengar sangar dekat.

Dengan cepat menekan suara langkah kakinya, Claire memutari dinding ke sisi lain dimana suara itu berasal.

"...!"

-- disana.

Gadis roh kegelapan terbaring mengerang di reruntuhan. Wajahnya yang cantik menampilkan ekspresi penderitaan.

Gaun kegelapan robek terbuka. Bulu hitamnya bertebaran menyedihkan.

Kulit pucatnya menampilkan memar kebiruan sementara matanya yang berwarna senja secara bertahap meredup.

Selain itu --

Dada kirinya ditembus oleh sebuah tombak panjang.

"K-Kau, kenapa..."

"...ara, sungguh kebetulan... Nona kucing neraka..."

Menyadari Claire, gadis itu -- Restia -- menggeser tatapan yang berwarna senja kearahnya.

Bibir ceri nya yang indah membengkok seolah-olah mengejek diri.

"Oh sungguh memalukan... Untuk kamu menyaksikan aku... Dalam situasi semacam ini, ooh, ah..."

Ditengah-tengah kalimatnya, dia meringkukkan tubuhnya kesakitan.

Cahaya suci dipancarkan oleh tombak menyebabkan rasa sakit. Membuat dia menderita.

(Itu adalah cahaya dari atribut suci...?)

Claire tiba-tiba teringat.

"Kau pastinya dikalahkan oleh «Sacred Spirit Knight»!"

Tadi malam, Ellis telah menyebutkan selama rapat strategi. «Sacred Spirit Knight» dari Kerajaan suci Lugia rupanya telah membawa «Divine Armaments» dari negara asal mereka.

«Divine Armaments» adalah perelatan sihir yang paling efektif untuk menangkap roh kegelapan. Segera setelah mereka memukul target, mereka akan terus memberi kerusakan suci secara terus-menerus.

(...Namun, kenapa «Sacred Spirit Knight» ingin menyingkirkan roh kegelapan ini?)

"...yah... Ah..."

"T-Tunggu sebentar, kau terlalu memaksakan diri!"

"...aku...tidak bisa, di tempat...semacam ini...!"

"...!"

Claire menahan nafasnya.

Gadis roh kegelapan ini selalu tersenyum dalam ketenangan.

Tapi sekarang wajahnya mengernyit karena rasa sakit saat dia terengahaiengah putus asa.

Bahkan meskipun tubuhnya hangus oleh cahaya suci, dia masih --

"Kami...to..."

Begitu bibirnya mengucapkan nama itu--

Tangan Claire secara alami bereaksi.

"B-Biarkan aku melekukannya!"

Menggenggam tombak suci yang menusuk dada Restia, Claire menariknya keluar dalam satu gerakan cepat --!

"...ooh, ah..."

Restia menatap dengan matanya yang berwarna senja terbuka lebar.

"..."

Untuk Claire --

Dia menatap kedua tangannya sendiri seolah-olah tidak percaya pada apa yang baru saja dia lakukan.

Kenapa aku melakukan itu...?

"...apa maksudmu, nona kucing neraka?"

Restia bernafas berat saat dia menatap pada Claire.

...Claire telah kehilangan kata-kata.

"...a-aku tidak tahu, kenapa."

Roh kegelapan itu tanpa diragukan lagi adalah musuh dari Claire dan timnya.

Dia adalah seorang yang bertanggung jawab atas roh raksasa yang mengamuk di kota akademi serta serangan Jio Inzagi di akademi.

Selama «Tempest», dia telah menggunakan monster Nepenthes Lore untuk menghancurkan «Benteng» Tim Scarlet.

Bahkan Claire sendiri hampir terbunuh oleh dia.

Berbicara jujur, Claire tidak memiliki baik alasan atau keharusan untuk memolong dia.

--meski demikian, tubuhnya bereaksi sendiri.

Restia terus menatap Claire dengan curiga.

Claire hanya bisa menghindari kontak mata.

"S-Setelah semua, kau -- kau adalah roh terkontrak milik Kamito."

Itu adalah apa yang dia katakan.

Bagimana berharganya keberadaan gadis roh kegelapan ini di hati Kamito, Claire memiliki pemikiran yang cukup baik.

Ini adalah gadis yang memberikan sebuah hati manusia pada Kamito yang dibesarkan sebagai pembunuh oleh «Instrusional School». Alasan Kamito mengikuti «Blade Dance» kali ini adalah mendapatkan dia kembali.

Perasaan mendalam, benar-benar tak tergantikan, ada diantara mereka berdua.

...Saat pikiran ini terlintas di benaknya, Claire merasakan rasa sakit yang menyengat yang tak bisa dijelaskan.

"Jika kau menghilang dari dunia ini, Kamito akan sangat sedih. Itulah kenapa aku menolongmu."

Claire kembali menatap Restia.

"D-Dan juga, aku punya banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Bagaimana bisa aku membiarkan kau mati begitu mudah di tempat semacam ini?"

"..."

"Ikut aku, roh kegelapan."

"Kau pikir aku akan mematuhi kamu?"

"Jangan meremehkan aku. Bahkan jika aku harus menggunakan cara paksa aku akan membawa mu bersama ku."

"--kau, apa kau bisa melakukan itu?"

Restia tersenyum dan berdiri dengan goyah.

Seperti ini, mereka menatap mata satu sama lain untuk beberapa saat --

Tiba-tiba Restia roboh seperti seebuah boneka tak berbenang.

"H-Hei!?"

Dalam sekejap, tubuh Restia mulai menghilang diudara sebagai partikel cahaya.

"A-Apa? ...apa yang terjadi!?"

"Ku..."

Wajahnya yang cantik berputar dalam penyesalan, gadis roh kegelapan itu terus menghilang.

Saat sosoknya benar-benar menghilang, sebuah suara metalik tajam terdengar dengan sebuah dentangan.

"...ini?"

Claire menahan nafasnya.

Sebuah pedang jatuh di tanah dimana Restia berada barusan.

Sebuah pedang kegelapan yang menampilkan keindahan yang ramping -- sebuah pedang lurus untuk penggunaan satu tangan.

Memberikan kegaguman atas keindahannya dalam penampilan, namun meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan, ini adalah pedang iblis kegelapan.

Tampaknya dia telah bertransformasi dari penampilan manusia nya menjadi bentuk pedang iblis kegelapan karena terlalu kelelahan.

Ini mengikuti prinsip yang sama seperti Est yang akan tidur dalam bentuk pedang.

"...tombak suci itu diimbui dengan «Geis»."

Itu adalah mantra untuk memutus «Circuit» hubungan roh dengan tubuh utamanya, memaksa roh untuk tetap di dunia ini. Terutama digunakan untuk menangkap roh peringkat tinggi, itu mencegah target untuk kembali ke lokasi tubuh utamanya selama beberapa hari.

Claire mengulurkan tangan pada pedang iblis yang ada di tanah.

--tepat pada saat itu.

Sebuah kehadiran muncul dibelakangnya.

"--siapa?"

Berbalik dengan segera, Claire mengayunkan lidah api.

Namun, tebasan api merah di belokkan oleh perisai sihir yang bercahaya--!

"...ah, kau adalah--!"

Orang yang muncul adalah ksatria perempuan berambut pirang dalam seragam «Sacred Spirit Knight».

"...Luminaris Saint Leisched"

Claire mengerang dalam tenggorokannya.

(...Seperti yang diperkirakan, mungkin situasi yang terburuk.)

Untuk bertemu seorang elementalis tingkat ace sebagai lawan tempur yang pertama, benar-benar nasib yang buruk.

"Serahkan pedang iblis itu. Pengguna kucing neraka Ordesia."

Luminaris mendekat benatlr-benar tanpa rasa takut.

Meskipun banyak luka ditubuhnya, kemungkinan besar dari pertemburan dengan Restia, hawa dari keberadaan cukup menakutkan.

"Luminaris, kenapa kau menargetkan roh kegelapan ini?"

Dihadapkan dengan pertanyaan Claire --

"Siapa yang tahu. Alasannya tidak disebutkan pada kami."

"...apa yang kau maksud dengan itu?"

"Kami hanya melaksanakan perintah yang diperintahkan oleh «Des Esseintes»."

"«Des Esseintes» --"

Ini disebut organisasi politik dibagian inti dari kerajaan suci Lugia. Tampaknya, politik kerajaan benar-benar ditentukan oleh «Des Esseintes» dari belekang ratu.

"--wow, sungguh anjing yang patuh, setia pada misimu."

"Mari kita akhiri obrolan kosong ini. Cepat dan serahkan pedang iblis itu."

Peringatan Luminaris meningkat dengan ketajaman nadanya.

"Aku berniat menyelesaikan misi ini secepat mungkin, untuk menyelesaikan hal-hal meyakinkan dengan Ren Aashbell dari tiga tahun lalu. Setelah semua, aku tidak dalam kondisi puncak. Oleh karena itu jika kau menyerahkan itu dengan patuh, aku akan berpura-pura aku tidak pernah melihat kamu."

"..."

-- bukan sebuah usul yang tidak menarik.

Meskipun dengan luka-lukanya, Luminaris bukanlah lawan yang bisa ditangani Claire seorang diri.

Dia mungkin akan menjaga kata-katanya. Bahkan jika itu hanya sebuah janji lisan. Elementalist penuh kebanggaan umumnya tidak akan menarik kembali janji mereka setelah diberikan.

"Apa yang perlu diragukan? Bukankah roh kegelapan itu juga seorang musuh di sisimu?"

Apa dia merasa cemas karena Claire tidak menjawab? Luminaris mengambil langkah maju.

"..."

--benar, Restia tanpa diragukaan lagi adalah musuh «Tim Scarlet».

Dia sudah pasti berencana untuk menggunakan Kamito dalam suatu rencana.

(Namun...)

Claire dengan erat menggenggam pedang iblis itu ditangannya.

"Aku benci ini..."

"...apa?"

"Luminaris, aku minta maaf tapi aku tidak akan menyerahkan pedang kegelapan ini kepada kamu."

Menatap lurus pada Luminaris didepannya, Claire menjawab.

Tidak peduli apapun, Restia adalah roh terkontrak milik Kamito yang berharga.

Jika dia menghilang, Kamito pastinya akan sedih.

(...Pada kasus itu, aku harus melindungi dia!)

"Bodoh--"

Luminaris mendesah dengan jengkel.

"Maka aku akan mendapatkannya dengan paksa!"

Seketika melangkah pada tanah untuk mendapatkan kecepatan, dia berlari kedepan, mengayunkan tinjunya dengan energi tempur suci.

Claire langsung bereaksi. Menggunakan lidah api untuk memukul tanah, dia membuat reruntuhan meledak.

Dia tidak berharap itu akan memberikan kerusakan tapi setidaknya itu akan memberikan gangguan penglihatan.

Merebut kesempatan, Claire melompat mundur.

"Pergi dan lahaplah, terik bola kebakaran -- «Fireball»!"

"--api akan dikalahkan, «Sacred Shield»!"

Luminaris lansung melafalkan sihir pertahanan untuk membelokkan «Fireball» yang datang.

Kecepatan pelafalannya cukup cepat. Tidak hanya dia ahli dalam seni bela diri, dia juga terampil dalam pengendalian elemental waffe nya.

Mengabaikan rintangan api, Luminaris tetap menyerang kedepan.

(...Bagaimana ini bisa terjadi!?)

Sesaat sebelum dia memukul dengan tinju yang diresapi dengan energi tempur --

Dia menghentikan langkahnya.

"...?"

Dari celah-celah reruntuhan, banyak lengan bayangan terulur menahannya.

(A-Apa...?)

"...sialan hantu-hantu dari kota yang ditinggalkan, mereka berani mengganggu disaat seperti ini!"

Sekelompok bayangan merayap kepermukaan secara terus menerus.

Sepertinya mereka bereaksi pada kekuatan suci yang telah dilepaskan Luminaris.

(...M-Meskipun aku tidak cukup mengerti apa yang terjadi, ini merupakan kesempatan yang sangat bagus!)

Melepaskan api yang menyilaukan ke segala arah, Clair mengambil pedang iblis kegelapan dan mulia melarikan diri.

Bagian 2[edit]

"Orang-orang ini terus berdatangan tidak peduli seberapa banyak yang aku kalahkan...!"

Dengan kecerahan menyilauan, «Demon Slayer» menyapu bersih kelompok «Forsaken Spirit».

Banyak bayangan menghilang kedalam ketiadaan, didampingi dengan jeritan yang dipenuhi kebencian.

--namun, jumlah mereka tidak menunjukan tanda-tanda mereda.

"Aku tidak punya waktu untuk bermain dengan kalian sekarang ini--!"

Berputar untuk melepaskan sebuah tebasan, kamito memotong bayangan yang mendekat dari belakang.

Bahkan roh terkenal dimasa lalu akan kehilangan sebagian kekuatan aslinya setelah mereka menjadi hantu.

Yang merepotkan adalah bahwa kontak dengan bayangan akan mengakibatkan kontaminasi, sehingga memakan divine power. Jika seseorang menyerang sembarangan pada kawanan itu, divine power mungkin akan habis dalam waktu singkat.

Karakteristik ini sangat mirip dengan monster kegelapan yang dibawa Restia, «Nepenthes Lore».

Ohhhhhhhhhhhhhhhh--!

Dalam sekejap mata, Kamito mendapati dirinya dikelilingi lagi saat dia menyeka keringat di alisnya,

Bilah «Terminus Est» di tamgannya juga kehilangan sinarnya secara bertahap.

Normalnya, kontaminasi dari «Forsaken Spirit» berpengaruh pada elemental waffe juga.

Meskipun Est dinobatkan dengan gelar «Demon Slayer» yang menaklukan Raja Iblis, dalam kenyataannya, dia bukanlah roh yang memiliki atribut suci tapi seorang roh pedang dengan atribut «Baja».

Dia tidak memiliki kekuatan untuk memurnikan kotoran.

Dengan kata lain, setiap kali Est membuat kontak dengan hantu-hantu itu dalam pertempuran, kekuatannnya tetap termakan.

Jika ini berlanjut, Est akan mencapai batasnya sebelum terlibat pertempuran dengan elementalist dari tim lawan,

(...Cih, ini buruk.)

--saat dia mendecakkan lidahnya.

Punggung dari tangan kirinya mulai terasa sakit yang menyengat.

"...guh, ah...!"

Rasa nyeri yang tajam menyebabkan Kamito mengeluarkan teriakan penderitaan.

Melepaskan sarung tangan kulitnya untuk melihat, dia mendapati darah menetes dari pergelangan tangannya ke tanah.

Biasanya, «Spirit Seal» nyaris tak terlihat tapi sekarang itu bersinar dengan cahaya yanng kuat.

(...Restia!?)

Sejak hari itu tiga tahun yang lalu, «Spirit Seal» di tangan kirinya tidak pernah bereaksi sekuat ini sebelumnya.

"Guh, apa yang terjadi...!"

Kamito menikamkan «Demon Slayer» ketanah untuk menghentikan dirinya dari terjatuh.

Disepanjang jalan, para «Forsaken Spirit» menyerbu sekaligus.

Jika Kamito tertangkap dan terjerat, divine powernya akan benar-benar dikeringkan dan dia bahkan bisa kehilangan nyawanya.

(-- bagaimana mungkin aku membiarkan kalian berhasil!)

Kamito meresapkan divine power maksimum pada «Demon Slayer».

"Absolut Blade Arts -- Bentuk Ketiga, Shadowmoon Waltz!"

Dia mengeluarkan teknik anti-tentara dari Absolut Blade Arts.

Menyerupai gambaran dari bulan yang tercermin pada air, ayunan tebasan ini disampaikan seperti sebuah tarian cepat.

Sebuah tebasan yang mengikuti perputaran, selanjutnya diikuti dengan tebasan setelah berputar.

Bahkan ketika puluhan musuh mengelilingi dia, mereka tidak akan bisa menyentuh bahkan lengan bajunya.

Melepaskan tebasan seperti sebuah badai, Kamito menghancurkan barikade.

Kekuatan penghancurnya yang luar biasa itu menyapu bersih area dari hantu.

"Huff, huff, huff--"

Mengyunkan pedangnya, Kamito tetap terengah-engah.

Menggunakan pergerakan itu yang melampaui batas dari tubuhnya menyebabkan semua otot-ototnya menjerit kesakitan.

...Aku tahu itu, Absolut Blade Arts milik Greyworth terlalu banyak mengorbankan tubuh.

Selain itu, memotong «Forsaken Spirit» juga menyebabkan kontaminasi pada pedang «Terminus Est», menyebabkan berkilau redup secara bertahap.

Meskipun penurunan dalam jumlah besar dari para hantu, yang baru terus merangkak keluar tanpa akhir.

"Sialan..."

Tatapan Kamito bertumpu pada tengan kirinya.

Rasa sakit tajam sudah tenang dan cahaya dari «Spirit Seal» secara bertahap menghilang.

"Restia--"

Memakai sarung tangan kulitnya lagi, Kamito memanggil namanya.

Kemudian.

"--mito...Kami...to."

"...?"

Tiba-tiba -- angin berbisik.

Itu adalah suara yang samar-samar, seperti suara gemerisik daun yang bergesekan satu sam lain.

Melihat keatas secara tiba-tiba, Kamito menemukan seekor kupu-kupu kecil seperti peri mengendarai angin.

(...Bukankah itu roh angin milik Ellis?)

Tidak ada kesalahan tentang itu. Satu-satunya yang memanggil nama Kamito adalah suara Ellis.

Dia pastinya menggunakan roh untuk membawa suaranya dan membawanya ke sekeliling.

(...Mungkinkah dia ada didekat sini?)

Didalam kota yang ditinggalkan ini, harusnya tidak mungkin untuk mengirimkan roh angin dengan jangkauan luas karena mereka relatif berkekuatan lemah. Setelah semua, roh tingkat rendah tanpa penegasan kehendak yang baik kemungkinan besar akan ditangkap dan dimakan oleh hantu-hantu sebelum mereka bepergian jauh.

--pada saat ini, suara samar-samar dari benturan senjata bisa terdengar dari kejauahan.

"...!"

Kali ini, itu bukanlah suara yang dibawa ole angin.

Seseorang didekat sini sedang melakukan sebuah tarian pedang.

"Ellis--"

Menyapu gerombolan hantu dengan pedangnya, Kamito berlari kearah suara itu berasal.

Bagian 3[edit]

Kesadarrannya berkabut seakan diliputi oleh lapisan kabut tipis --

"...mi, to... Kami... to.."

Ellis mengulang-ulang nama Kamito.

Mungkin karena racun yang dikeluarkan oleh duri-duri dari roh pohon iblis telah menyebar, dia bahkan tidak bisa mengangkat jari.

Tidak, bahkan tanpa kelumpuhan, itu mustahil untuk melarikan diri dari tanamam merambat yang menjerat seluruh tubuhnya. Menahan keempat anggota tubuhnya, tanaman merambat iru mengoyak celana ketatnya, menusukan duri tajam kedalam daging kenyalnya.

"...ah, hah, ooh..."

Ellis merasa tubuhnya seperti terbakar.

Perasaan dari rasa manis yang melemahkan menyebabkan Ellis membuat desahan kesakitan.

"Guh... Untuk berpikir kau akan menggunakan racun... Yah..."

"Pembunuh tidak pernah mempedulikan cara apa yang digunakan. Aku tidak punya alasan untuk menampung perasaanmu sebagai ksatria."

Anak yatim dari «Intruksional School», Lily Flame, menatap pada Ellis dengan mata tanpa belas kasihan.

"Roh pohon iblis «Titania» telah disegel dalam pohon keramat di Desa Elfim. Ini dapat memperbaiki beberapa ratus jenis racun, termasu racun fatal, racun pelumpuh, racun hallucinogenic dan aphrodisiac. Namun racun fatal tidak bisa digunakan karena peraturan diskualifikasi --"

"Guh..."

Tanaman merambat yang menggeliat masuk kebawah seragam Ellis dan mulai mencari payudaranya.

"Ooh, yah, ah...!"

Mereka mencoba menemukan «Magic Stone» yang tersembunyi di seragamnya.

Setelah «Magic Stone» diambil, tubuh pemiliknya secara paksa akan di teleport ke «Ragna Ys» dan keluar dari «Blade Dance» kecuali batu itu diambil lagi dalam tiga puluh detik.

Pop. Pop. Pop.

Saat kancing dari seragamnya terlepas, payudara besar yang dibalut pakaian dalam hitam terekspos.

"...ooh..."

Ellis menggigit bibirnya dengan keras dalam penghinaan.

Dari dalam sakunya, «Magic Stone» bergulir keluar.

"...dengan ini, satu anggota telah dieliminasi dari «Tim Scarlet»."

Membungkuk, Lily mencoba mengambil «Magic Stone» itu.

"... Tidak... Jangan...!"

Ellis berjuang dan dengan mati-matiam megulurkan tangannya meskipun tanaman merambat melilit lengannya.

Meskipun itu membuat banyak luka goresan di lengannya, dia masih mengerahkan seluruh kekuatannnya.

"Guh... Ah...!"

"Sunnguh tak sedap dipandang, Ellis Fahrengart."

Lily memyapu lengan Ellis kesamping dengan mengejek.

"Pada akhirnya, kalian, yang hanya berlatih seolah-olah kau bermain di sebuah bak pasir, tidak mungkin bisa mengalahkan pembunuh yang tumbuh di neraka yang sebenarnya."

"...apa kau bilang..."

Mendengar pernyataan itu --

Ellis menggertakkan giginya dengan keras.

Wajah dari rekan timnya di akademi melintas di pikirannnya satu per satu.

-- Rakka, Reishia, rekan tim dari «Sylphid Knights».

Kakak angkatnya Velsaria yang berdoa untuk kemenangan Ellis.

Terakhir tapi bukan yang paling kecil, keempat rekan timnya yang berjuang di pertandingan yang sama.

Pernyataan Lily saat ini setara dengan menghina semua rekan Ellis di akademi.

"Tarik kembali kata-kata itu--"

"...?"

"Untuk menyebutnya bermain di bak pasir -- tarik kembali kata-kata itu!"

Mengumpulkan divine power di kedua tangan -- Ellis melepaskan itu semuanya sekaligus.

Saat angin tajam yang mengiris mulai bertiup, semua tanaman merambat yang melilit tubuhnya terputus.

"-- racun pelumpuh tidak bekerja!? Tidak--"

Lily Flame menampilkan kewaspadaan di wajahnya.

Ellis dengan cepat meraih «Magic Stone» dan menggenggamnya.

... Racun itu pastinya bekerja. Kesadaran Ellis tetap berkabut dan nyaris tidak bisa tetap bertahan.

Meski begitu -- sebagai salah satu dari «Sylphid Knights», ada hal-hal yang harus dia bela dengan segala biayanya.

"...untuk teman-temanku yang mempercayakan impian kemenangan pada ku--"

Dia melepaskan «Ray Hawk» ditangan kanannya, sebuah badai berkumpul diujungnya.

"Aku tidak bisa dikalahkan ditempat semacam ini!"

"Cih!"

Ellis mengayunkan «Ray Hawk» dengan semua kekuatannya.

Dihadapkan dengan gelombang serangan pedang angin --

Lily melompat, menghindari pedang angin saat dia melemparkan pisau.

Dua pisau menyerang kaki Ellis.

"Guh... Ah..."

Menelan jeritan yang hanpmpir dia keluarkan, Ellis menatap pada musuh dihadapannya.

Untungnya, racun pelumpuh yang tersebar mengurangi intensitas rasa sakit.

"-- jika kau berhenti melawan, kau akan segera terbebas dari penderitaan."

Lily menggerutu dengan tenang saat dia menjentikan jarinya.

Tanaman merambat dari roh pohon iblis yang terputus segera beregenerasi.

"...sial, itu bahkan memiliki kekuatan regenerasi semacam itu...!"

Untuk elemental waffe milik Ellis yang diarahkan pada serangan tebasan, roh pohon iblis itu adalah pertarungan yang buruk.

Jika itu adalah roh api milik Claire atau roh iblis es milik Rinslet, pertarungan mungkin akan lebih menguntungkan mereka --

Bidang pandangan Ellis secara keseluruhan telah kabur, dalam kondisi keracunan, dia tidak bisa sepenuhnya memulihkan divine power nya.

Namun --

(Aku tidak bisa membiarkan rekan-rekanku di akademi menyaksikan sebuah tarian pedang yang tidak sedap dipandang--)

Ujung tombak «Ray hawk» sekali lagi mengumpulkan angin.

Sebuah pertempuran berkepanjangan harus dihindarikemenangan harus diputuskan dalam satu serangan.

"--bantai pengorbanan bodoh, «Titania»!"

Tanaman merambat menggeliat tak terhitung jumlahnya mengarah pada Ellis.

Pada saat itu.

"Tombak Fahrengart style, teknik rahasia -- «Flash Gale»!"

Badai kekerasan dilepaskan dengan seluruh kekuatannya berakhir menembus tanah jauh dari sasaran.

"Sebuah perjuangan yang sia-sia --"

Sebuah ekspresi mengejek muncul di wajah Lily.

Pada saat yang sama, tanaman merambat milik roh pohon iblis terulur pada awan debu untuk menangkap Ellis --

"...apa!?"

Namun, detik berikutnya -- ekspresi "ily membeku.

Dibalik awan debu, Ellis tak bisa ditemukan.

"-- dia diatas!?"

Dia tiba-tiba menyadari -- tapi sudah sangat terlambat.

Tersembunyi diantara hamburan debu dan angin yang beterbangan, Ellis telah terbang tinggi di udara.

(-- meski kakiku tidak bisa bergerak, aku terbang menggunakan angin!)

"Sukses --!"

Mengendarai angin, dia mengubah lintasannya di udara.

Mengeratkan pegangannya pada «Ray Hawk» yang memnggembung dengan badai ganas, Ellis dengan cepat turun saat dia membidik pada Lily yang ada di tanah.

BOOM--!

Begitu ujung tombak membuat kontak dengan tanah, sebuah badai meledak.

"...!"

Pada detik-detik akhir, Lily mencoba menghindar.

Namun, tubuh mungilnya terlempar, menghantam keras pada dinding.

Mendarat di tanah, Ellis berakselerasi sekali lagi, menyerang dalam rangka memberikan pukulan yang menentukan.

Tapi -- angin telah mulai kehilangan koordinasi.

"Ap...!"

Kehilangan keseimbangan, Ellis tiba-tiba roboh di tanah.

(...Ooh, tubuhku, terasa panas terbakar..!)

Sirkulasi dari divine power telah menyebabkan racun pelumpuh menyebar lebih cepat.

Saat angin menyelimuti dirinya tersebar, Ellis hampir tidak bisa mengangkat satu jari.

"...guh, hanya sedikit lagi.."

Ellis mencakar permukaan lantai, berusaha mati-matian mencoba mengumpulkan kekuataan terakhirnya --

"... Aku terlalu ceroboh, aku meremehkan mu."

Namun, yang pertama berdiri adalah Lily Flame.

Meskipun dia menderita cidera dari serangan barusan, dia lebih dari cukup untuk melanjutkan pertempuran.

"Namun, perjuangan selanjutnya adalah sia-sia --"

"-- belum tentu."

Tiba-tiba.

Dalam kondisi kesadarannya yang kabur, Ellis mendengar suara yang familiar.

"...apa!?"

Lily Flame berbalik untuk menatap tangga besar direruntuhan.

(Kau, benar-benar...)

Melihat sosoknya dalam pandangannya yang kabur secara bertahap, Ellis tiba-tiba tersenyum.

(--memang, aku sudah menunggu suara ini.)

Ellis percaya dengan tegas dia pasti akan datang.

Oleh karena itu dia mampu bertahan dan terus berjuang.

"...ka...mito...!"

"Maaf membuatmu menunggu, Ellis."

Kamito melompat turun dari tangga besar dan mendarat di samping Ellis.

"...bagaimana...kamu bisa kesini?"

"Ellis, suaramu telah terbawa oleh angin,"

"Aku...mengerti--"

Kamito menekan sebuah «Kristal Roh» penyembuhan pada tangan Ellis dan berdiri pelan-pelan. Kemudian berputar kearah Lily yang telah membuat sikap bertempur.

"Anggota kelima dari «Tim Inferno» ternyata adalah kau."

"Kamito..."

Gadis Elfim itu mengerang ditenggorokannya.

...Sepertinya, keduanya tampaknya saling mengetahui satu sama lain.

Tapi karena mereka berdua datang dari «Instruksional School», itu adalah kemungkinan yang melintas dipikiran Ellis --

"Aku sangat senang, kau dan Muir baik-baik saja... Yah, meskipun reuni dalam cara seperti ini bukanlah apa yang aku harapkan."

Saat Kamito mendesah.

"...guh, maju dan bantailah, «Titania»!"

Menanggapi suara Lily, tanaman merambat dari roh pohon iblis menyerang Kamito.

"-- Kamito!"

Ellis berteriak. -- namun, kekhawatiran semacam itu tidak perlu.

Menarik keluar «Demon Slayer», Kamito dalam sekejap memotong semua tanaman merambat itu.

"Hentikan itu. Kau tidak bisa mengalahkan aku... Aku yakin kau pasti tahu itu dengan baik , kan?"

"Tapi.."

Lily menggigit bibirnya dalam perasaan kecewa.

"A-Aku akan mundur sekarang!"

DIa dengan cepat melompat ke roh pohon iblis yang tumbuh dari tanah.

Melompat kedalam bunga merah besar, kelopak bunga itu langsung menutup dan menghilang. Kedalam tanah.

Dalam sekejap mata, roh pohon iblis itu telah menelan Lily dan menghilang tanpa jejak.

"...trik semacam itu lagi. Gadis ini pastinya menyukai trik yang mewah seperti bagaimana dia biasanya."

Kamito hanya bisa berseru.

"Ellis, apa kau baik-baik saja?"

"Ah, hmm... Karena kau ada disini...ah"

Masih ambruk ditanah, Ellis mengangguk.

Segera, wajahnya tiba-tiba menjadi merah cerah.

"K-Kamito, katakanlah..."

"...hmm?"

Tiba-tiba, Kamito mendapi pandangannya tertarik ke arah lokasi tertentu.

Payudara yang seksi itu, mengenakan pakaian hitam, sepenuhnya terekspos dalam pandangan karena kancing seragam yang terbuka.

"B-Berhenti melihat... Bajingan!"

"M-Maaf...!"

Kamito dengan panik memutar pandangannya menjauh saat dia memerah.





Back to Bab 3 Return to Halaman Utama Forward to Bab 5