Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid 9 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 3 - Percikan Api Yang Tersebar di Seluruh Medan Perang[edit]

Bagian 1[edit]

Membuka matanya, Kamito menemukan langit kelabu terpampang dihadapannya.

"...apa ini tempat untuk ronde final?"

Mengalami pusing karena efek samping dari «lompatan», Kamito mengamati sekeliling.

Memasuki pandangannya adalah reruntuhan dari kota yang luasnya mencengangkan.

Struktur monolitik menyerupai kuil berdiri tegak dimana-mana, atau lebih tepatnya, reruntuhan dan puing-puing berbentuk pegunungan. Pohon aneh yang tumbuh dari tanah, menggusur ubin batu, menciptakan sebuah adegan seperti lautan pepohonan.

"Sebagai babak yang dipersembahkan oleh kagura untuk «Lord Elellmental», ini benar-benar sebuah tempat yang mengerihkan."

Kota yang ditinggalkan, «Megidoa» --- sebuah medan perang bersejarah dari «Perang Roh» ribuan tahun yang lalu.

Seruan angin meniup pasir dan debu ke pipinya.

Kehadiran kehancuran --- sebuah kekerasan yang dapat digambarkan sedemikian rupa, menempel pada kulit seseorang.

Ini adalah tempat yang sama sekali tanpa hawa kehidupan.

Bahkan kehadiran roh, yang biasanya ada di seluruh dunia, juga ---

"... Bagaimanapun, tampaknya tidak ada tim musuh manapun aku akan berjalan lurus."

Kamito mulai berjalan saat dia mempertajam kewaspadaan pada sekeliling.

Struktur besar ini memberikan sebuah kehadiran mengintimidasi hanya dengan keberadaan yang ada.

Meskipun ini didalam «Aztral Zero», sebuah dunia dimana waktu setengah terhenti, pemandangan dari struktur yang berusia ribuan tahun masih berdiri utuh cukup mencengangkan.

-- tiba-tiba, Kamito menyadari sesuatu saat dia mendekati dinding yang mengelilingi kota yang ditinggalkan.

(...Mungkin, material bangunan ini bukan hanya sekedar batu?)

Orang biasa menyebut mereka batu, tapi permukaan mereka sangat halus seperti cermin.

... Itu sulit untuk dibayangkan bahwa sebuah objek itu telah bertahan dari terpaan angin dan hujan selama ribuan tahun bisa tetap dalam kondisi ini.

Saat dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh permukaannya, percikan tercipta dimana ujung jarinya membuat kontak.

(... Ini, tidak mungkin)

Kamito melebarkan matanya.

Jika seorang bertanya tentang benda apa yang bisa bereaksi pada divine power milik elementalist, hanya ada satu jawaban yang muncul dipikiran.

(Reruntuhan ini pada dasarnya dibangun dari «Kristal Roh» mentah!?)

Benar-benar tidak masuk akal --- namun berdasarkan apa yang dia saksikan, itu adalah satu-satunya kesimpulan.

Kota tertinggalkan ini pastinya memiliki tambang besar untuk kristal roh.

Hanya karena kemurnian dari kristal itu rendah, mereka tidak digunakan bahkan setelah pengolahan.

Berdiri disana dalam ketakjuban untuk sesaat --

(... Ngomong-ngomong, sekarang bukan waktunya melakukan hal semacam ini. Aku harus menemukan Claire dan yang lainnya secepat mungkin.)

Kembali pada kesadarannya, Kamito segera memulai pencarian.

"... Nagomong-ngomong, aku mungkin harus mencoba ini."

Mencari-cari di saku seragamnya, dia mengeluarkan sebuah kristal roh komunikasi.

Meresapi sedikit divine power pada melalui jari-jarinya, dia mengonsentrasikan kesadarannya --

Kx kxkxkxk -- kxkxkxk --

Membawa itu ke telinganya, apa yang dia dengar adalah suara yang tidak stabil.

"... Tidak berguna. Yah, aku tidak pernah berharap pada itu. Jadi, bagaimana dengan ini?"

Selanjutnya, Kamito mengeluarkan tipe kristal roh yang berbeda dan dengan tenang melantunkan kata-kata untuk pelepasan.

Didalamnya adalah «Guide Spirit» tersegel yang sangat berguna ketika tersesat.

Kamito menangkap itu di «Hutan Roh» didekat akademi sebelun «Blade Dance» dimulai.

Peri cahaya segera terpanggil dan mulai terbang begitu saja didepan hidung Kamito.

"Katakan padaku, yang mana arah utara?"

Saat dia mencoba bertanya --

... Namun, peri itu hanya memiringkan kepalanya yang kecil dan tetap berputar melingkar ditempat yang sama.

"...ya ampun, aku rasa aku tidak punya pilihan lain selain mencari dengan kedua kakiku."

Ini karena penghalang pemisah telah didirikan didalam medan, atau itu properti dari kota tertinggalkan itu sendiri? Bagaimanapun dia tidak bisa mengandalkan kristal roh.

Tentu saja, ini sudah diantisipasi sesaat setelah mereka mendengarkan peraturan dari event «Cross Fire».

Mudah-mudahan, dia bisa bertemu setidaknya satu dari anggota «Tim Scarlet» sebelum malam datang --

"...hmm?"

Saat ini, «Terminus Est» mengeluarkan cahaya redup saat tergantung dipinggangnya.

"...Est?"

Kamito menyentuh gagang pedang suci dan mengalirkan sedikit divine power --

Dalam sekejap mata, pedang itu berubah bentuk menjadi seorang gadis polos berambut perak.

"Ada apa, Est?"

"Kamito, aku mengenali tempat ini."

"Bagaimana ceritanya?"

Memang, Est adalah seorang roh yang telah hidup selama ratusan tahun --- tidak, ribuan tahun.

Mengenali tempat yang telah menjadi sebuah medan perang selama «Perang Roh» bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal.

Namun, Est saat ini seharusnya hanya membawa sebagian kekuatan yang memisahkan diri dari «Demon Slayer» ketika kontrak dengan Kamito dibuat. oleh karena itu, hanya potongan ingatannya yang tetap --

"...mungkinkah ingatanmu kembali?"

"Tidak."

Est menggeleng tanpa ekspresi.

"Tapi pemandangan ini memang tersimpan dalam ingatanku --"

-- pada saat ini.

Sebuah kehadiran mengerihkan tiba-tiba muncul.

"...!?"

"Kamito, sebuah kehadiran mengerihkan..."

"Ya, aku tahu."

Segera, disana tidak ada kehadiran sisekeliling, bahkan roh pun tidak ada.

Tapi sekarang, Kamito bisa merasakan permusuhan yang begitu kuat hingga menusuk kulitnya.

(Seorang elementalist musuh? Bukan--)

Dalam sekejap, seolah-olah dimuntahkan dari tanah, banyak bayangan muncul disekeliling.

"...apa!?"

Bayangan humanoid dengan garis tidak jelas.

"Apa, orang-orang ini? Mereka... Roh?"

"Ini adalah hantu-hantu dari roh yang hancur -- «Forsaken Spirit», Kamito."

"... Hantu dari roh?"

"Ya, ketika roh mati dengan kebencian yang berlebihan, kadang-kadang mereka kehilangan kualitas spiritual mereka, menjadi hantu yang mendiami suatu tempat -- kota ditinggalkan ini tampaknya menjadi pelabuhan sejumlah besar hantu-hantu ini."

"...aku mengerti. setelah semua, ini adalah situs sejarah dari sebuah medan perang."

Bergumam, Kamito menjilat bibirnya.

Meskipun roh memiliki berbagai macam bentuk, hantu-hantu ini semua generik humanoid tanpa terkecuali. Apakah semua roh akan menjadi seperti ini ketika mereka kehilangan kualitas spiritual mereka --?

Para hantu mengeluarkan suara marah mereka ketika mendekati Kamito.

Kamito dengan panik memegang tangan Est saat dia menghindari lengan-lengan yang mendekat dari segala arah.

"...cih, orang-orang ini tidak menargetkan aku tapi Est!?"

"Sepertinya begitu, Kamito. Sangat mungkin, aku --"

Seolah-olah merendahkan kata-kata Est --

Gerombolan «Forsaken Spirit» menyerang sekali lagi.

"...cih!"

"Ah, Kamito!?"

Kamito dengan cepat memeluk Est dengan kedua lengannya dan mengeluarkan lompatan terbang.

"Berurusan dengan mereka satu per satu akan memakan waktu yang sangat lama, kita harus menerobosnya dalam satu kali jalan, Est."

"Ya, aku adalah pedangmu, keinginanmu adalah tugasku--"

Est mengangguk di udara.

--engkau, ratu baja yang tidak memihak, pedang suci yang menghancurkan iblis!

-- sekarang dan ditempat ini, berubahlah menjadi pedang baja untuk menjadi kekuatan ditanganku!

Saat «Spirit Seal» memancarkan cahaya menyilaukan, sebuah pedang bersinar putih-perak muncul ditangan Kamito.

"Maaf, aku tidak punya waktu untuk menangani obsesimu.

Memegang elemental waffe terkuat, Kamito menyerang grombolan hantu.

Bagian 2[edit]

"...angin berhembus dengan banyak halangan, tempat ini."

Ponytailnya melambai diudara, Ellis bergumam dengan ekspresi terkejut.

Mengenai tempat «Lompatan» yang telah mentransport Ellis pada interior dari bangunan yang besar dalam reruntuhan.

Tempat ini seperti sebuah aula besar, ditutupi oleh langit-langit yang runtuh.

Ditengah aula, sisa-sisa sebuah altar berdiri disana dalam tumpukan. Sangat mungkin, tempat ini digunakan sebagai kuil di zaman kuno yang digunakan untuk membuat persembahan pada roh.

"O angin --"

Ellis melebarkan tangannya diudara dan memanggil angin.

Namun angin yang biasanya merespon pada panggilan dia sangat tenang sekarang.

Apa yang bisa dia dengar adalah suara-suara latar belakang yang samar.

(...Aku tidak bisa merasakan kehadiran roh. Leyline juga telah robek benar-benar terpisah, kan?"

Dia mengertakkan giginya dalam pikirannya.

-- situs medan perang dari «Perang Roh». Seorang akan mendapati kesulitan membayangkan tempat semacam ini dipersembahkan untuk melakukan tarian pedang dalam persembahan.

«Lord Elemental», mengapa mereka memilih tempat seperti ini sebagai tahap yang paling penting dalam upacara festival?

(... Ngomong-ngomong, aku harus buru-buru dan bertemu dengan Kamito dan yang lainnya.)

Meskipun dia telah mengirim «Angin» untuk pengintaian, dibawah kondisi dari kekacauan leyline, mereka pastinya tidak dapat terbang begitu jauh.

Seperti yang dia duga, dia harus mencari dengan kedua kakinya.

Untuk berjalan keluar dari reruntuhan ini, Ellis berbalik ke tangga di aula. Tepat saat ini.

Angin bergetar sedikit.

"...!?"

Ellis segera berhenti dan menegangkan tubuhnya.

(-- seseorang mendekat?)

Dia langsung memanggil roh iblis angin «Simorgh» miliknya, melepaskannya sebagai elemental waffe «Ray Hawk» miliknya.

Dengan angin yang berputar-putar di ujung tombak, dia tetap dalam kewaspadaan tinggi dari sekelilingnya.

(Tidak ada tanda-tanda seseorang di dekat, namun...)

Tiba-tiba, lantai dibawahnya bergetar.

(...Dari bawah!?)

Ellis seketika membuat keputusan untuk melantunkan sihir «penerbangan» dan melompat kearah atas.

Segera setelahnya, sebuah tanaman raksasa muncul dari posisi dimana dia berdiri.

Banyak tanaman merambat menggeliat memanjang dan mengejar Ellis ketika dia terbang diudara.

"Apa--!"

Dihadapkan dengan serangan tak terduga, reaksi instan Ellis terlalu lambat.

Tanaman merambat itu dengan cepat melilit pergelangan kakinya dan menyeret Ellis ke lantai.

"Rasakan ini --"

Memutar «Ray Hawk» dalam pegangan terbalik diudara, dia memutuskan tanaman merambat --

Namun, detik berikutnya, dia tiba-tiba merasakan rasa sakit terbakar.

(...Ini racun pelumpuh!?)

Konsentrasinya rusak, sihir «penerbangan» terhalau, Ellis terjatuh lurus ketanah.

Saat tubuhnya hendak menghantam permukaan --

"--angin iblis, maju dan mengamuklah!"

Ellis melancarkan «Ray Hawk» berkekuatan penuh.

Badai yang dilepaskan merobek tanah, melindungi Ellis dari dampak jatuhnya.

Bergulung ditanah, Ellis mencoba berdiri tapi gerakannya terhalang oleh satu kakinya yang lumpuh.

"Guh, apa-apaan ini..."

Sebuah tanaman besar tiba-tiba keluar dari tanah.

Ditengah dimana bunga merah yang mekar --

"-- menggunakan angin untuk menetralisir dampak. Tidak buruk."

Seorang gadis berdiri.

"Kau... Adalah...!"

Rambut hijau misterius. Mata merah tidak menyenangkan bersinar dengan cahaya bencana.

Ellis telah melihat penampilannya, berpakaian seragam militer Teokrasi, di «True Sanctuary» sebelum acara utama.

(Aku ingat dia, anggota dari «Tim Inferno» --)

Meskipun dia menutupi wajahnya dengan tudung waktu itu -- tidak mungkin ada kesalahan.

Telinga tajam dan runcing itu adalah ciri khas dari ras Elfim.

"...cih, seharusnya tidak ada hawa kehadiran dari elementalist di area ini --"

"Oh, yang kau maksudkan roh-roh angin yang kau lepaskan disekeliling? Bagaimana mungkin hal semacam itu menemukan aku yang dilatih khusus dalam operasi rahasia?"

Gadis itu mengangkat bahu seolah-olah bukan apa-apa.

"Mungkin, elementalist angin sangat mengagumkan dalam mengumpulkan informasi dan mencari musuh. Namun, baik dalam penggunaan roh atau penyembunyian kehadiranmu, kau sebetulnya amatir."

(... Jadi lokasiku ditemukan oleh jejak terbalik...!)

Sebagai seorang ksatria, Ellis tidak mahir dalam memata-matai. Bahkan meskipun dia telah menjalani pelatihan demi «Blade Dance», memang benar dia tidak bisa meningkatkan. Fleksibilitasnya dalam penggunaan angin.

Meski begitu, dia tidak pernah menduga lokasinya ditemukan begitu mudah --

Ellis sekali lagi memeriksa gadis kontraktor roh itu.

Roh dalam bentuk tanaman menakutkan -- tidak diragukan lagi itu memiliki atribut bumi.

(...Atribut bumi, dengan kata lain, tipe yang mencari musuh dengan merasakan getaran di tanah, kan?)

Ras Elfim memiliki pendengaran superior dibandingkan manusia biasa. Mengikuti suara langkah kaki, menentukan lokasi bukanlah tugas yang sulit.

(Lawanku muncul seorang diri, namun...)

Menggunakan «Ray Hawk» untuk membantunya berdiri secara bertahap. Kaki kirinya terluka tapi setidaknya sensasi dari rasa sakit yang ada di kaki tidak benar-benar melumpuhkan.

Gadis dihadapannya adalah anggota dari peserta tim terkuat, «Tim Inferno».

Namun, karena gadis ini adalah eelementalist spesialisasi dalam pengumpulan informasi, kemampuan tempurnya seharisnya tidak terlalu tinggi. Jika gadis ini, yang bertugas mencari musuh, dikalahkan disini, kemudian mereka bisa bertarung dengan «Tim Inferno» dalam keadaan yang lebih menguntungkan --

(Namun...)

Ellis menghentikan pemikiran ini.

Selama rapat, «Tim Scarlet» telah memutuskan -- tidak akan pernah bertarung dalam pertarungan seorang diri.

Dalam tim mereka, Ellis yang mampu menggunakan sihir tipe pencari. jika dia dikalahkan disini, pertemuan tim akan sangat tertunda.

(Dibandingkan pada kehormatan ksatria, kemenangan rekan timku jauh lebih penting--!)

Segera membuat keputusannya, Ellis melantunkan mantra bahasa roh.

"O angin, sapulah musuhku -- «Wind Bombs»!"

Namun, targetnya bukanlah gadis didepannys.

Angin ribut meniup pasir dan debu ditanah, menutupi penglihatan dalam area luas.

Disaat yang sama, Ellis melompat kearah tangga besar dipintu masuk reruntuhan--

Menggunakan momentum dari angin yang kuat dia dalam sekejap meninggalkan tempat itu --

(...Guh, kakiku!?)

Namun, rasa sakit tajam tiba-tiba menjalar sekali lagi.

Racun pelumpuh tampaknya benar-benar memberi efek sekarang.

-- namun, dia tidak berhenti.

Jika dia gagal memanfaatkan serangan tiba-tiba untuk melarikan diri, sudah pasti tidak ada kesempatan lain.

"Aku todak akan membiarkan kau melarikan diri. Tangkap dia, roh pohon iblis «Titania»!"

Ditengah awan pasir dan debu, banyak tanaman merambat mengejar mengikuti Ellis.

"...cih, angin ibli, maju dan mengamuklah!"

Melihat kebelakang, Ellis dengan segera mengayunkan «Ray Hawk».

Melepaskan pedang angin seketika memotong tanaman merambat.

"Hal semacam itu --"

Namun, tanaman merambat dari roh pohon iblis dengan cepat meregenerasi. Kemudian terbagi dalam beberapa rangkaian, mereka menyerang seolah-olah mencoba melilit tubuh Ellis.

"Aku penyihir yang berlari kencang melintasi kangit biru -- «Air Wings»

Saat dia hendak tertangkap oleh penjara dari tanaman merambat, Ellis melantunkan sihir untuk penerbangan berkecepatan tinggi.

Segera angin yang dilepaskan berkumpul dibawah kakinya, dia terbang secepat mungkin ketempat dekat langit-langit aula.

(Jangkauan serangan roh pohon iblis itu seharusnya bukan tidak terbatas--)

Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri keluar -- saat Ellis berpikir seperti itu.

Ditengah-tengah awan debu yang menutupi penglihatan itu, seseuatu cahaya.

(...Sebuah pisau!?)

Ellis dengan panik mencoba untuk menghindar --

Namun, itu mustahil bisa cepat meengatur postur seseorang di udara.

Bilah pisau itu menyerempet armor dadanya, menciptakan sebuah suara metalik.

(Itu meleset? Tidak --)

Tiba-tiba, hawa membunuh yang inten bisa dirasakan -- datang dari bawah Ellis dalam penerbangan.

"Ap--!"

Melihat keatas pada langita-langit yang runtuh, Ellis kehilangan kata-kata.

Memegang sebuah pisau dengan genggaman terbalik, gadis itu menendang permukaan langit-langit dan turun dengan cepat.

(Apa dia juga menggunakan sihir «Penerbangan» juga!?)

-- tidak, itu tidak mungkin.

Roh pohon iblis itu tidak diragukan lagi beratribut bumi.

Sistem dibawah atribut bumi seharusnya tidak berisikan sihir «penerbangan» apapun.

"Rasakan ini --!"

Ellis dengan cepat memutar «Ray Hawk» dan menggunakan batangnya untuk memblokir serangan pisau itu --

"-- sungguh naif. Teknik tempur ksatria yang kuno."

Gadis itu menggunakan batang tombak sebagai dukungan untuk membuat lompatan.

Sekali lagi, dia menendang langit-langit untuk mempercepat arahnya yang terbalik dan melepaskan tebasan yang bahkan lebih cepat.

(...Tipe serangan ini adalah!?)

Ellis tiba-tiba menyadari.

-- mereka sangat mirip dengan Kamito.

bedaan dari keterampilan tempur normal, mereka melibatkan pengendalian gerakan tiga dimensi dalam berbagai bentuk.

"Mungkinkah ini sama seperti Kamito --"

"Sama? Itu akan agak kasar daripada dia --"

Pada saat itu, pisau itu secara langsung didorong membuat garis miring dangkal di lengan Ellis.

Luka itu sendiri bukanlah kritikal. Namun langsung --

"...oh, ah...!"

Rasa sakit intens menjalar diseluruh tubuhnya seperti aliran listrik.

Merebut pembukaan sesaat ini, banyak tanaman merambat menahan seluruh tubuh Ellis, mengikat tubuhnya kedalam rangkaian dan menyeretnya ke tanah.

"...ah, guh..."

Duri tajam merobek paha Ellis dan menancap pada dagingnya, sepenuhnya mengunci pergerakannya.

Sepenuhnya merampas kebebasannya, Ellis menyaksikan pengguna roh pohon iblis mendarat pelan-pelan.

"Nomor tujuh dari «Instruksional School» -- sang «Racun», Lily Flame."

"...!"

"Pertama aku akan mulai dengan menyingkirkan kamu --"

Tanaman merambat yang melilit tubuh Ellis bergerak sekaligus.

Bagian 3[edit]

"...t-tidaaaaaaaaaaak!"

Disebuah gang kecil di kota yang ditinggalkan dimana pohon-pohon tumbuh memutar dan bengkok, jeritan seorang gadis terdengar.

Fianna dengan putus asa melarikan diri dari sekelompok «Forsaken Spirit» yang terus bermunculan.

Lengan bayangan menakutkan terulur pada dia dari segala arah.

"J-Jangan berani-berani kau menyentuh aku begitu saja, hanya satu yang diijinkan untuk menyentuh aku adalah Kamito-kun!"

Saat dia dengan cepat menunjuk dan melantunkan sihir pertahanan, hantu-hantu itu menarik tangan mereka seolah-olah takut.

...Namun, dihadapkan dengan barisan dari «Forsaken Spirit», upaya semacam ini bukanlah apa-apa kecuali setetes air dalam ember.

Mengguncang mereka hanya untuk sesaat, dalam sekejap mata, jumlah hantu-hantu itu meningkat lebih banyak dan melanjutkan pengejaran.

"-- «Georgios», aku memerintahkan kamu memotong semua yang tidak patuh!"

Roh ksatria itu dengan tenang mengikuti perintah sang imperial princess.

Memegang sebuah pedang suci dengan kedua tangan, dia membersihkan sekelompok hantu dihadapannya dalam sekali tebas.

Merebut kesempatan dari pembukaan jalan untuk sesaat, Fianna berlari keluar.

-- dari beberapa waktu yang lalu, ini telah terulangi lagi dan lagi.

"...ini benar-benar bukan waktunya untuk terjebak di tempat semacam ini --"

Memegang peran strategic dalam tim, itu lebih penting bagi Fianna untuk berkumpul dengan rekan timnya lebih dari siapapun juga.

Dengan dirinya sendiri, itu mustahil untuk mengeluarkan nilai sebenarnya dari elemental waffe yang kuat «Save The Queen». Selain itu, dia satu-satunya orang dalam tim yang bisa menggunakan sihir penyembuhan yang sebenarnya.

-- tiba-tiba disaat ini.

«Forsaken Spirit» yang menduduki tempat ini tiba-tiba menghentikan gerakan mereka.

"...a-apa?"

Keheningan yang aneh turun.

Itu seperti ketenangan sebelum badai --

ROOOAAAAAAAARRRRRR--!

"Yah!"

Tiba-tiba, raungan menakutkan mengguncang suasana, menyebabkan tanah bergetar.

Getaran itu menyebabkan pasir dan debu yang terkumpul ditanah terhembuskan.

Sebagai tanggapan, sang roh ksatria dengan cepat mempersiapkan perisainya dan melindungi Fianna dari puing-puing yang beterbangan.

(Sungguh divine power yang sangat kuat --!)

Itu adalah perasaan teror yang menusuk tulang.

Fianna melihat keatas kearah dari raungan.

Kemudian --

(Itu, apa itu...?)

Ditengah dari kota yang ditinggalkan, sebuah pilar besar dari api.

Sebuah pilar api yang mencapai langit, menyapu semua puing-puing yang ada di sekitarnya.

Meskipun dia cukup jauh dari itu, Fianna bisa merasakan panas yang membakar dikulitnya.

"...roh api?"

Itu bukan roh kucing neraka milik Claire.

Ini api yang lebih mengerihkan -- api iblis yang menghancurkan semua keberadaan.

"..."

Fianna memegang dadanya dan menatap ke arah itu --

Hanya untuk melihat pilar besar yang terbakar api secara bertahap berubah bentuk setelah sesaat.

Memuntahkan api secara terus menerus, itu adalah tubuh yang menyerupai lava hitam.

Matanya seperti tungku bersuhu tinggi, memancarkan cahaya merah, asap terus keluar dari mulutnya tanpa henti.

Tergenggam di tangannya adalah cambuk api yang besar.

Itu -- pada dasarnya adalah sebuah iblis ganas.

"-- roh militer yng ditunjuk untuk penyegelan, «Valaraukar»!"

Fianna telah melihat penampilannya pada bahan meterial di «Divine Ritual Institute» sebelumnya

Roh iblis api yang dikirim ke pertempuran menjelang akhir dari perang Ranbal. Tapi itu dilaporkan terlalu tidak stabil dan telah disegel dan ditinggalkan setelah digunakan dua kali --

(...Menyeret hal semacam itu kesini, apa yang sebenarnya yang mereka pikirkan?)

-- pada saat ini, Fianna tiba-tiba menyadari.

Segerombolan hantu yang berkumpul di area itu menghilang tanpa jejak seperti pasang surut.

"...kenapa?"

Fianna mengerutkan kening.

Tiba-tiba, pemandangan yang sulit dipercaya memasuki pandanganya.

Dikejauhan, dipusat dari kota yang ditinggalkan --

Segerombolan dalam ratusan, ribuan, «Forsaken Spirit» tengah menyerang iblis api yang ganas itu.

Dihadapkan dengan serangan dari hantu-hantu, sang iblis api yang ganas menyapu mereka semua dengan cambuk yang besar.

Namun, «Forsaken Spirit» terus melompat kedalam kobaran api seperti tertarik kedalam api.

"...?"

Adegan yang sulit dipercaya menyebabkan Fianna berdiri tercengang disana --

"A-Aku harus mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri dari tempat ini... Ayo pergi, «Georgios»!"

Kembali ke indranya, Fianna dan roh ksatrianya berlari keluar dari jalan kecil itu bersama-sama.

Bagian 4[edit]

Dipinggiran kota yang ditinggalkan, pohon-pohon aneh tumbuh didinding kota.

Terletak di tepi menaraa lonceng yang menonjol keluar dari dinding kota --

"-- bagaimana kalian semua telah jatuh."

Seorang gadis tersenyum lembut, mengenakan sebuah pakaian berwarna naungan dari kegelapan.

Kulit putih bersih. Sayap hitam yang indah tumbuh dipunggungnya dengan megah.

Matanya yang berwarna senja menatap pada segerombolan bayangan.

Ini adalah hantu-hantu yang telah tewas dalam «Perang Roh» di masa lalu.

Tidak mematuhi logika dunia, mereka adalah eksistensi kotor yang berlama-lama, berkelanjutan murni oleh kebencian dan dendam.

"...yah, ini tidak seperti aku dalam posisi yang lebih baik."

Gadis roh kegelapan berbisik dalam pembantahan diri.

"Setelah semua, tiga tahun yang lalu di hari itu, aku menjadi sebuah eksistensi yang bukan lagi diriku sendiri."

Dikendalikan oleh kebencian, hantu-hantu itu melonjak sekaligus, berniat untuk melahapnya.

"Namun, aku masih -- tidak bisa menjadi seperti kamu."

Restia menyimpitkan sedikit matanyam

"Petir hitam yang membakar bahkan jiwa ke ketiadaan -- «Hell Blast»!"

Dia tanpa ampun merilis sihir pemusnah area luas tingkat tinggi.

Petir hitam legam meledak, langsung memusnahkan kawanan dari «Forsaken Spirit».

Itu adalah kekuatan yang luar biasa sebagai roh petingkat tertinggi.

Namun --

(...Sepertinya kerusakannya telah meningkat pesat.)

Menekan tangannya didadanya, erangan menyakitkan keluar dari bibir Restia.

Kekuatan Restia sebenarnya bukan hanya pada tingkat ini.

Dimulai dari tiga tahun lalu, ketika «keinginan» hitam dari «Lord Elemental» melahap dia dihari itu, eksistensinya secars bertahap rusak dari dalam.

Setengah dari kebenaran dirinya telah hilang.

Membuat hal-hal buruk adalah fakta bahwa kekuatan yang tersisa telah sangat dihabiskan oleh pertarungan dengan Kamito beberapa hari yang lalu.

"Siapa yang tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan ..."

Tumit Restia meratakan sebuah hantu yang telentang ditanah.

"Tapi aku punya sebuah misi yang harus aku selesaikan. Aku tidak akan memebiarkan diriku musnah disini."

Mengambang di pikirannya adalah wajah seorang pria muda yang bertukar janjidengan dia dihari itu.

"Aku harus membuat Kamito bangkit sebagai «Raja Iblis» --"

Tepat pada saat ini.

"...?"

Dia menyadari kehadiran baru.

Langkah kaki dari sepatu militer yang kaku bisa didengar menaiki tangga spiral dari batu.

Bukan sebuah roh, ini adalah kehadiran seorang elementalist, memancarkan duvine power yang intens.

"Aku tahu itu, kau belum pulih dari luka-luka yang kau dapatkan ketika kau dikalahkan oleh Kazehaya Kamito, roh kegelapan."

"...."

Seseorang yang muncul -- seorang ksatria muda yang pirang memegang pedang suci.

Sang «Paladin» -- Luminaris Saint Leisched.

"Ara, salam untu kamu. Nona muda dari tiga tahun lalu."

Restia menggerakkan dirinya dari dinding terluar dimana pohon-pohon telah tumbuh dikeseluruhannya.

Ini adala reaksi pencegahan terhadap kekuatan lawan.

Selama «Blade Dance» tiga tahun yang lalu, Restia tidak pernah mengungkapkan bentuk manusianya didepan publik.

Namun, gadis ini rupanya telah melihat identitas sejatinya Restia.

"Apa kau punya urusan dengan ku?"

"--ya."

Ksatria perempuan muda itu langsung menyiapkan pedangnya.

"Aku datang untuk melenyapkan roh kegelapan yang berdiri sebagai musuh dunia -- kau."

Menendang batu dilantai, dia dalam sekejap menutup jarak.

Dorongan kuat dan penuh kekuatan merobek melalui udara seperti halilintar.

Sebagai tanggapan, Restia melebarkan sayapnya dan melarikan diri keudara untuk menghindar--

"...!"

Dalam detik berikutnya, banyak anak panah cahaya menembus salah satu sayapnya.

(...Sebuah penyergapan dari menara terdekat!?)

-- aku mengerti. Jadi dia berani memunjukan dirinya agar menarik perhatian dari penyergapan disebelah sana.

Dengan hamburan bulu hitam legam dan sayapnya tertembus, Restia kehilangan keseimbangan dan jatuh dilantai batu.

"Berhasil!"

Luminaris berbalik dan membuat serangan yang lain.

"...cih, lenyaplah dari hadapanku -- «Hell Blast»"

Kehilangan ketenangannya, Restia sekali lagi merilis bola petir hitam legam.

Namun ---

"-- kejahatan akan dibersihkan, «Sacred Shield»!"

Luminaris segera merilis sihir roh pertahanan. Dengan mudah membelokkan sihir roh dari peringkat tertinggi, dia memotong sisa sayap Restia yang masih utuh itu.

STnBD V09 105.jpg

Pertarungan antara atribut suci dan kegelapan adalah sangat buruk. Selain itu, Luminaris tidak diragukan lagi mengkontrak roh peringkat tinggi. Dalam pertarungan satu lawan satu, Restia memiliki sedikit kesempatan untuk menang.

"...kau telah tumbuh galam kekuatan, wanita muda."

"Jangan meremehkan orang lain, roh kegelapan."

Pedang elemental waffe mengayun horisontal. Meskipun gaun kegelapan bisa membelokkan semua sihir dengan tragis menyengat dan robek, hanya ketika menyerempet cahaya suci yang terpancar dari bilah pedang itu.

Namun, mencoba melarikan diri melalui udara hanya akan berakhir menjadi target penyergapan lagi.

Sayap ini yang saat ini tidak berguna, mungkin lebih baik ditinggalkan.

"Pukulan balik dan deru, badai pedang iblis -- «Blade Storm»!"

Saat Luminaris mengayunkan pedang suci, membuat tebasan dangkal di bahu Restia --

Sayap berbulu tersebar menjadi pedang yang tak terhitung jumlahnya lalu terbang menuju Luminaris.

Ini adalah sihir pertahanan anti-manusia untuk melukai dan membunuh. Namun --

"-- kau akhirnya menunjukan celah, roh kegelapan."

Wajah Paladin menampilkan senyum kasihan--

Tanpa mengambil posture pertahanan, dia menyerang secara langsung.

"...!?"

"Tombak suci yang melenyapkan kegelapan -- «Lance of Longius»!"

Ditengah-tengah gemilang badai pedang, Luminaris mengulurkan lengannya.

-- kemudian dari lingkaran sihir yang muncul diudara, dia memanggil sebuah tombak.

(Itu adalah...!)

Restia segera mengerti . -- sifat dasar dari senjata ituam

(Dijiwai dengan sihir anti-kegelapan, sebuah potongan dari «Divine Armament»...!"

Meskipun menderita luka yang tak terhitung banyaknya, Paladin terus melanjutkan serangan melalui pedang yang berputar-putar.

Menunjukan sihir roh yang kuat meninggalkan lemparan rentan untuk jangka waktu yang singkat setelah itu.

Luminaris teelah menunggu untuk saat-saat tertentu ini.

"... Musuh dari dunia, kembalilah ke kegelapan abadi!"

Lemparan «Lance of Longius» menusuk Restia di dada.





Back to Bab 2 Return to Halaman Utama Forward to Bab 4