Shinigami wo Tabeta Shoujo Indo:Bab 14

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 14 - Makanan Yang Dimakan Bersama-sama Setelah Olahraga Memang Nikmat[edit]

Jembatan Besar Sulawesi, markas unit pengalihan David.


Menganggap bahwa mereka telah berhasil mengunci pasukan utama musuh, David sedang dalam suasana hati yang sangat bagus. Dia dengan tenang duduk di kursi, dan menunggu berlalunya waktu sambil minum sari buah. Mungkin tak ada pertempuran yang senyaman ini. Hanya dengan memasang formasi tempur, kemenangan sudah ada ditangan mereka.


"Hmph, Pasukan Pemberontak itu bukanlah masalah besar. Mungkinkah ini sama seperti pemberontakan gadis-gadis kecil? Si bego Yalder kalah dari orang-orang seperti ini. Dia tak akan pernah disebut-sebut sebagai seorang jenderal pemberani lagi."


"Tentunya, Jenderal Yalder pikirannya lemah. Dia menerima apa yang sepantasnya untuk dia."


"Kali ini, tak akan ada ampun. Kita akan melanjutkan ke Antigua, dan Benteng Salvador juga akan jatuh. Kita akan membantai semua orang yang ada. Kita juga akan melenyapkan orang-orang yang bekerja sama dengan mereka. Agar masalah seperti ini tak terjadi lagi, kita akan menghabisi mereka secara menyeluruh."


David menikamkan sebuah pisau pada benteng Pasukan Pemberontak di peta.


"....Akan tetapi, mereka sama sekali tidak menunjukkan pergerakan apapun. Meskipun kita sudah berhadapan dengan mereka selama tiga hari. Mereka bahkan tak menunjukkan tanda-tanda mengubah arah. Apa mereka berencana mengabaikan Antigua?"


"Mereka mungkin takut pada serangan pengejaran dan tak bisa bergerak. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah sekumpulan lalat kecil. Mereka tak bisa maju maupun mundur, kemungkinan musuh menganggapnya demikian, malang sekali mereka. Mereka gak layak mendapatkan simpati."


Jawab David penuh kepercayaan diri pada perkataan Kepala Staf Perwira.


"Disaat kita seperti ini, mungkin sudah hampir waktunya pasukan utama kita sampai di Antigua. Aku yakin mereka sedang ditengah penyerbuan. Atau bahkan mungkin saja Antigua sudah jatuh."


"Umu. Mereka memang sekumpulan orang idiot. Mereka mungkin tau apa yang menimpa kastil mereka sekarang. Bagaimana kalau mengikat surat pada sebuah anak panah dan memberitahu mereka? Mereka akan berpikir itu palsu, tapi itu asli heh. Setelah mereka tau, mereka tak akan berdaya!"


Saat David tertawa keras, si Kepala Staf Perwira juga tersenyum. Kemenangan ada didepan matanya. Dia menduga informasi akan segera sampai bahwa mereka telah membuat Antigua menyerah. Jika musuh berencana tetap diam, maka mereka akan terjepit dari Antigua.


Momentum musuh akan terhenti, dan jika mereka mundur ke markas mereka, Benteng Salvador, pasukan Kerajaan akan mengejar. Setelah itu, mereka akan mulai pembersihan, dan itu akan menjadi kesempatan terbaik untuk mendapatkan prestasi.


Injak, rampas, dan kemudian bantai. Hal-hal yang diinginkan para prajurit. Para perwira militer juga akan dipenuhi dengan semangat bertarung. Pintu menuju kejayaan akan segera terbuka.


–Menganggu pemikiran dia, suara-suara terompet terdengar. Selanjutnya terdengar suara genderang dan lonceng.


"–Jadi mereka melakukan itu juga huh. Biarkan saja mereka bermain secara terang-terangan dan mencolok. Itu hiburan yang bagus."


"......? Tidak, mereka belum diberi perintah untuk melakukan serangan tipuan hari ini."


Seorang staf perwira mengatakan keraguannya, tapi dia diabaikan dengan kata "terserahlah". Karena unit itu saat ini tak bergerak, tak ada perlunya mempedulikan masalah regulasi militer.
Tak lama setelah itu, seorang pembawa pesan datang ke markas David membawa sebuah laporan.


"Permisi, Jenderal!"


Seorang staf perwira menanyai si pembawa pesan yang sedang memberi hormat.


"Ada apa?"


"Siap pak- Pasukan Pemberontak didepan kita melakukan pergerakan. Pasukan musuh yang kebanyakan terdiri dari infanteri bergerak ke Jembatan Besar Sulawesi!"


"Hmph, tipuan yang bodoh. Apa ini pergerakan yang penuh keputusasaan? Mereka sama saja dengan minta dihancurkan."


David menghabiskan minumannya sambil terheran-heran.


"Jenderal, tak ada perlunya panik. Kita tunggu saja lalu kita hujani panah. Aku yakin mereka hanya mencoba-coba saja. Jika kita menyerang, mereka akan segera mundur."


"Kuserahkan itu padamu Kepala Staf Perwira. Kuijinkan kau melakukan sedikit pengejaran. Tapi, hindari pengejaran yang terlalu jauh. Tak ada perlunya kehilangan pasukan pada sesuatu yang sepele."


"86- serahkan padaku. Aku akan segera mengusir mereka."


Kepala Staf Perwira memberi instruksi, dan si pembawa pesan kembali ke barisan depan.
Lalu, pembawa pesan yang lain datang. Kali ini, berbeda dengan yang sebelumnya. Wajahnya sangat gelisah.


"P-Permisi–!"


Wajahnya belepotan lumpur dan keringat, dia terluka, dan nafasnya acak-acakan. David secara refleks meringis dan memarahi si pembawa pesan sebelum dia bisa berbicara.


"Kau seorang pembawa pesan dari Pasukan Kerajaan yang mulia, kan? Dengan penampilan seperti itu, bisakah kau secara akurat menyampaikan informasi yang kau bawa?"


"K-Komandan, b-berita buruk-!"


"Tenanglah bego. Kau berisik, apaan yang terjadi!"


"Divisi Pertama yang menuju A-Antigua telah dihancurkan! Mayor Jenderal Alexei gugur dalam tugas! Unit kavalerinya dimusnahkan!"


Pada perkataan si pembawa pesan, tempat itu menjadi sunyi. Tak seorangpun bisa berkata. Si pembawa pesan melanjutkan dan melaporkan berita buruk.


"Divisi Kedua yang menyebrangi sungai yang berada dibelakang mereka tiba-tiba diserang! Mereka dikepung, kehilangan setengah dari jumlah mereka, dan bersiap melarikan diri-!!"


"JJangan ngaco! Mana mungkin sesuatu sekonyol itu terjadi-!! Periksa sekali lagi! Bukankah pasukan utama musuh ada didepan mata kita!?"


David membanting gelas ditangannya. Tapi, laporannya masih belum selesai.


"Musuh membangun ulang jembatan apung yang hancur dan menghancurkan Divisi Ketiga. Selain itu, mereka saat ini sedang menuju kesini!!"


Mereka menghancurkan Divisi Pertama, mengalahkan Divisi Kedua unit infanteri, dan setelah itu memperbaiki dan membangun ulang jembatan apung. Divisi Ketiga belum menyebrangi sungai bertemu dengan mereka. Karena mereka merupakan sebuah pasukan yang utamanya terdiri dari senjata penyerbuan dan barisan persediaan, mereka dimusnahkan tanpa perlawanan.


Setelah menyebrangi sungai, pasukan utama Tentara Pembebasan tidak menuju ke Belta tapi ke Jembatan Besar Sulawesi. Mereka tidak mempersiapkan senjata-senjata penyerbuan yang diperlukan untuk menyerang Belta, tapi yang lebih penting, Jembatan Besar Sulawesi merupakan sebuah posisi penting yang ingin mereka kuasai. Jika mereka mendapatkan tempat ini, itu sama seperti menerobos kedalam wilayah Belta.


"–Bohong. A-Aku tak percaya itu. Ini adalah informasi yang salah. Bukan, tak diragukan lagi itu kebohongan musuh!"


David berdiri sambil gemetaran. Wajah para staf perwira pucat. Jika ini memang benar, tetap berada disini sangatlah berbahaya, karena pasukan utama musuh yang menyeberangi sungai sedang menuju kemari. Mereka akan terjepit.


"Komandan, barisan depan telah memulai pertempuran di Jembatan Besar, dan musuh dalam jumlah banyak berusaha menyeberangi sungai menggunakan kapal-kapal feri!"


"Tembak mereka dengan panah!!! Jangan biarkan mereka mendekat!"


"Siap 86–!"


"Komandan, kita harus segera memanggil pasukan dari Belta. Jika seperti ini kita akan terjepit."


"Diam-, lanjutkan strateginya! Segera, sebuah laporan bahwa Antigua telah dikuasai pasti akan segera datang-! Mempercayai tipuan ini akan sesuai dengan rencana musuh kan!? Aku tak akan tertipu-!"


David menendang meja komandonya. Pasukan utama Tentara Keempat sangat kuat. Dia hanya bisa mempercayai itu. Musuh hanyalah para pemberontak yang kacau, suatu kekalahan adalah hal yang mustahil. Bahwa dia, David, akan dikalahkan merupakan hal yang mustahil.


–Informasi terakhir datang pada David yang gelisah.


"Lapor-! Pasukan musuh dalam jumlah besar telah dipastikan mendekat dari selatan, bendera mereka adalah bendera Pasukan Pemberontak! Kita diserang dari samping-!"


Suara ganas dari peperangan bisa terdengar. Dari kejauhan terdengar suara hentakan kuda. Bagi David, waktu terhenti.


* * * * * * *


Jembatan Besar Sulawesi, perkemahan Pasukan Pembebasan berada di tepi seberang.
Setelah mengkonfirmasi perkembangan pertempuran, seorang jenderal berambut perak mengangguk berkali-kali. Dia adalah komandan yang memimpin unit pasukan utama seperti yang diperkirakan David.


"Tidak mengetahui tipuan sejak awal, sungguh menyedihkan."


"Mereka sungguh payah huh. Setiap strategi mereka diketahui, hanya menilai dari para staf perwira mereka, mereka gila. Hanya memikirkannya saja membuatku merinding."


"Kalau dipertimbangkan, orang-orang yang membuat strategi ini mungkin para staf perwira. Mereka tak mengetahui pasukan kita tangguh. Orang-orang itu akan kalah sebagaimana mestinya."


Gumam pelan si Kolonel, dan seorang staf perwira setuju.


"Perkataan Kolonel sangat menusuk. Meskipun moral kita tinggi, kita tidak yakin dengan kemampuan kita...."


Unit pengalihan ini merupakan sebuah pasukan yang terdiri dari 10.000 prajurit reguler, 5.000 milisi, dan sisanya adalah relawan penduduk. Berkat bendera perang mereka dan prajurit palsu mereka, mereka terlihat berjumlah sekitar 30.000 atau 40.000.


"Tapi, seseorang tak bisa memenangkan pertempuran hanya dengan kemampuan. Moral prajurit adalah penentu akhirnya. Mereka harus didorong agar menang, mereka bukan apa tanpa itu. Tak peduli bagaimana seseorang menggunakan rencana, atau seberapa luar biasanya komando sang komandan."


"Memang benar. Kita memiliki sebuah ideal yang harus dicapai. Kita tak akan kalah pada Kerajaan yang telah sangat busuk."


"Itu baru namanya semangat. Tulang-tulang tua ini sudah agak lelah."


Sang Komandan bercanda sambil menepuk punggungnya, dan si Ajudan berbicara sambil tersenyum masam.


"Kami akan bekerja untukmu sampai akhir, Kolonel."


Dua monyet yang sangat kocak yang menampilkan umpan saling menatap satu sama lain. Mereka secara paksa melintas dari depan sungai menggunakan jembatan dan kapal-kapal feri kecil. Pasukan utama musuh akan menyerang dari samping. Situasinya telah sepenuhnya berbalik sekarang, dan mungkin penyerbuan perkemahan musuh hanyalah masalah waktu saja.


Pertahanan dan serangan di Jembatan Besar setara, tapi perbedaannya adalah bahwa musuh akan sepenuhnya terdesak dari samping oleh unit yang menyerang sayap mereka. Satu dorongan lagi, musuh yang jatuh kedalam keadaan kacau akan binasa, dan mereka akan menguasai Jembatan Besar Sulawesi. Mereka sudah menimbulkan kerusakan serius pada pasukan pertahanan musuh, dan mungkin tak lama lagi Kastil Belta juga akan jatuh.


Komandan tua itu teringat wajah pria muda yang mencolok di pertempuran ini–wajah dari sang pahlawan yang membawa masa depan Kerajaan di pundaknya. Dia adalah pria yang akan mewujudkan mimpi mereka. Dia bertanya-tanya apakah dia bisa melihatnya dengan matanya sendiri.


".....Kau tau, aku mendengar Letnan Kolonel Fynn membunuh komandan musuh lagi. Performa yang menakutkan seperti biasanya. Bendera Singa itu nampaknya bukan sekedar hiasan belaka."


Dia telah menghancurkan unit kavaleri musuh dan memenggal kepala Mayor Jenderal Alexei. Dia mengejar sisa-sisa Divisi Kedua musuh yang muncul.


"Aku yakin Letnan Kolonel Fynn akan segera menjadi Pahlawan dalam pertempuran ini. Ketenarannya diantara para prajurit juga meningkat. Jika dia dipromosikan lagi, dia akhirnya akan setara denganmu huh."


"Putri Altura, dan sekarang Letnan Kolonel Fynn, dengan ini, reputasi dari orang tua seperti kami akan tumbang. Hmph, sudah pasti kami tak mau kalah dengan para pemuda. Kami akan menunjukkan pada mereka perbedaan seberapa lama kami melayani, bagaimana?"


Sang komandan mendengus dan berdiri. Mungkin dia memang sudah tua tapi dia masih bisa menggerakkan tubuhnya. Dia mengangkat kapak perang miliknya dan mengayunkannya, hanya untuk pemanasan.


"Kolonel masih memiliki banyak pelayanan aktif..... Apa ini belum saatnya kita juga menyerang sekuat tenaga?"


"Baiklah! Majukan unit infanteri penjaga belakang ke barisan depan. Beritahu para warga sipil yang telah bekerja sama dengan kita agar mundur. Hasil dari pertempuran ini sudah kelihatan. Yang perlu dilakukan adalah menyerang mereka. Kita akan memenggal kepala komandan musuh, dan mencurahkan pertempuran kita pada Putri Altura, bagaimana?"


"Siap 86-!"


* * * * * *


–Pasukan Pembebasan, unit pengalihan Jembatan Besar Sulawesi, memulai serangan.


Pertempuran ini harusnya berakhir dengan satu serangan ini.


20.000 pasukan David dimusnahkan dari depan, dan mereka telah kacau balau. Mereka kalah jumlah, kekurangan kemampuan kepemimpinan, dan prajurit mereka tak memiliki kehendak bertarung. Sebagai konsekuensi dari perpaduan unit-unit yang mana dilebur secara sembarangan, Kerjasama masing-masing unit sangat menyedihkan. Unit-unit itu tak bertahan lama, dan Pasukan Pembebasan bisa mengalahkan mereka.


Setiap jenderal dari Pasukan Pembebasan didekat Jembatan Besar Sulawesi mengharapkan kemenangan yang sangat menguntungkan bagi Pasukan Pembebasan. Pertempuran ini harusnya akan segera berakhir.


Disaat para warga sipil yang ada dibelakang menghela nafas lega atas kemenangan mereka, seekor burung putih muncul. Itu adalah sebuah unit yang meluncur dengan kecepatan yang mengerikan, suatu kelompok tak diundang. Orang-orang memperhatikan mereka sambil tersenyum. Itu adalah bala bantuan dari Benteng Salvador. Mereka melambaikan tangan dan memberi isyarat pada kelompok itu. Seseorang bahkan bersorak. Mereka gembira dan tertawa.


Orang-orang ini tak lagi tertindas. Mereka akhirnya bebas, dan mereka merasa gembira dari dasar lubuk hati mereka.


–Sampai sebuah sabit berlumuran darah tanpa ampun membantai mereka.


* * * * *


Sekarang pada jarak yang sangat dekat, unit kavaleri milik Schera meluncur ke utara, menuju ke Jembatan Besar Sulawesi. Mereka menghabisi para pengintai Pasukan Pembebasan, dan mereka akhirnya sampai di belakang Jembatan Besar Sulawesi. Mereka beruntung bahwa mereka nggak bertemu dengan unit musuh.


Tak satupun penunggang yang tumbang. Tak satupun diantara mereka yang merupakan pembelot. Bagi sebuah unit yang berada ditengah kekalahan, ini hampir tak bisa dipercaya. Perbekalan yang mereka miliki sudah habis. Schera berada pada batas ketahanannya. Dia sangat lapar. Kenapa dia harus mengalami kelaparan sampai seperti ini.


"Mayor, ini adalah permen terakhir. Silahkan nikmati."


“…………”


Saat Katarina menawarkan sebuah persembahan pada sang Dewa Kematian, Schera dalam diam mengambilnya dan mengunyahnya.
Sudah pasti nggak cukup. Rasa jengkelnya karena rasa lapar nggak berhenti. Sabit miliknya yang ada dipundakya bergetar penuh kemarahan. Vander bertanya dengan hati-hati, berusaha nggak mengganggu kemarahan itu.


"Ma-Mayor. Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Didepan kita, unit musuh telah menunggu. Kita sudah sampai sejauh ini dengan selamat. Jika kita maju ke utara lebih jauh lagi, ada sebuah tepat dangkal yang bisa kita sebrangi–"


Dia memotong kata-katanya–karena dia dipelototi oleh mata merah. Jika dia berbicara secara sembarangan, itu seperti sabit yang haus darah itu akan terayun setiap saat. Schera saat ini sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.


"Padahal ada jalan pintas tepat didepan mata kita, kenapa harus mengambil jalan memutar? –Letnan Kedua Katarina. Apa kau punya pendapat yang sama?"


Sambil memancarkan aura haus darah dari tubuh kecilnya, dia menatap ajudan yang satunya.


"Memang tidak perlu. Kita akan menyerang mereka dari belakang, dan mereka akan hancur. Kita bisa menerobosnya. Aku akan mencurahkan segalanya."


"Begitukah? Kalau begitu gak masalah. Ayo maju."


"Siap-, tak ada masalah. Mayor Schera."


Katarina menekan kacamatanya, dan mengeluarkan sebuah tongkat dari pinggangnya dan memperpanjangnya. Itu adalah sebuah teleskopis, sebuah tongkat sihir portabel. Ini adalah pertama kalinya Vander melihat tingkat sihir itu. Dia sama sekali gak pernah mendengar bahwa Letnan Kedua rekannya ini memiliki ilmu sihir.


"O-Oi. Kau bisa menggunakan ilmu sihir? Aku nggak pernah mendengarnya."


"Aku cuma gak pernah mengatakannya. Tapi, gak perlu menyembunyikannya lagi. Demi Mayor Schera, aku akan mengerahkan semua kekuatanku. Aku telah memutuskan hal ini beberapa waktu yang lalu. Aku akan menggunakan sihir berhala dengan senang hati. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Putri seorang yang sesat adalah orang sesat."


Ucap Katarina dengan cepat. Matanya sama seperti para anggota kavaleri yang lainnya.


".....Apa maksudmu?"


Tanya Vander yang gak bisa memahaminya. Katarina nggak menanggapi pertanyaan itu.


2.500 kavaleri menunggu perintah. Menunggu perintah untuk menyerbu dan membantai. Kuda-kuda meringkik, merasakan rasa haus darah mereka, dan tubuh mereka gemetar.
Schera mengangkat sabit miliknya, dan memberi komando.


"Target: Jembatan Besar Sulawesi! Semua anggota serang-!! Bunuh mereka!"


““““““Ou-!!””””””


Teriakan mereka beresonansi, dan Schera melesat menuruni bukit sebagai barisan depan. Kedua ajudannya mengikuti, 2.500 kavaleri menghasilkan awan debu, dan mereka mulai meluncur layaknya gelombang ganas. Bendera Pasukan Pembebasan semakin dekat. Banyak prajurit musuh mulai menyadari Schera dan kelompoknya. Mereja segera bersorak dan melambaikan tangan mereka. Mereka menyambut sang Dewa Kematian. Para warga sipil tak bersenjata tersenyum. Namun, ekspresi Schera gak berubah. Didepan mata dia hanyalah musuh. Makanan sudah menunggu untuk dimakan.


"Tu-Tunggu, berhenti! Hentikan kuda–"


Sabit miliknya menebas beberapa warga sipil yang berusaha melarikan diri, dan dia melesat lurus kedepan. Kavaleri mengikuti dia sambil mengangkat tombak mereka, dan mereka menginjak dan membunuh banyak orang.


"Bunuh siapapun yang ada didepan kalian! Gak perlu repot-repot menanyainya siapa mereka! Bantai Pasukan Pemberontak-!"


Sang Dewa Kematian mengeluarkan komandonya, dan pembantaian oleh kavaleri itu dimulai. Para warga sipil tak bersenjata berlari, berusaha melarikan diri. Beberapa milisi bersenjata jelek melawan, tapi mereka tertikam oleh tombak-tombak dari atas kuda, dan mereka tewas.


Schera membantai musuh layaknya memotong rumput. Sabit miliknya berayun kekanan dan kiri, berputar seperti kincir air, dan memotong bagian tubuh secara sembarangan. Momentum miliknya tak berhenti, dan dia melesat ke depan perkemahan musuh.


"A-Ampuni kami. K-Kami bukan prajurit."

"Kalian, dari Kerajaan kan? Ke-Kenapa kalian melakukan ini"

"Ampuni kami–"


Dalam diam, kearah orang-orang ini yang tunduk di tanah, ujung sabit itu melesat, dan membunuh mereka.
Menyertai dia, Katarina mengarahkan tongkat sihirnya kearah mayat mereka dan merapal sebuah mantra. Itu adalah ilmu sihir hitam yang mana memanipulasi mayat tanpa jiwa. Itu adalah sihir untuk orang-orang yang telah menapaki jalan berseberangan dengan jalan Dewa. Hanya ada satu mantra yang bisa digunakan. Mayat-mayat itu gak bisa bergerak bebas seperti perapalnya. Dan juga mustahil menggerakkan ratusan mayat. Batas yang bisa dia lakukan adalah menggerakkan dua mayat. Dari pembelajarannya sendiri, dia hanya bisa mempelajari satu mantra ini.


".....Maju."


"Itu sungguh menarik. Menggunakan mayat, sangat menarik."


"Terimakasih banyak, Mayor Schera!"


"Apa yang terjadi setelah itu?"


"Begini. .....Meledak-!"


Mayat yang digerakkan merangkak ke tengah prajurit musuh, dan meledak. Ledakannya menyelimuti para prajurit disekitarnya, dan area itu dipenuhi dengan bau tubuh terbakar.


Schera mengamatinya, terlihat sangat puas, dan sekali lagi memulai pembantaian.


Vander hanya menghadapi orang-orang yang bersenjata sebagai lawannya. Didepan matanya jelas-jelas bukan prajurit. Hanya orang-orang yang sepertinya tinggal di desa-desa pertanian sampai beberapa hari lalu. Dia menjadi prajurit bukan untuk membunuh warga sipil, bukan untuk melakukan pembantaian tanpa pandang bulu semacam ini.
Dia berbeda. Dia berbeda dari mereka.


"Matilah-!"


"–Diam! Rasakan ini-!!"


Tombak-tombak yang ditusukkan saling bersilangan, dan menikam tubuh. Memanfaatkan celah itu, sebuah tombak ditusukkan kearah punggung Vander. "Sial", pikirnya, tapi lengan yang menusukkan tombak itu nampaknya belum ahli, dan ujung tombak itu mengikis armornya dan di tepis. Vander menarik tombaknya, berniat menyerang balik, dan dia bergegas memutar kudanya. Yang menyerang dia adalah seorang prajurit Pasukan Pembebasan yang memakai armor jelek. Dia pendek. Tampak seperti seorang prajurit remaja. Mungkin tinggi hampir sama dengan Schera, mungkin lebih pendek. Wajahnya masih kekanak-kanakan.


Dia gemetar terkejut bahwa tombaknya yang dia tikamkan sekuat yang dia bisa ditepis. Dia benar-benar kecewa.


"Cih-, menyerahlah bocah!! Apa kau bosan hidup!?"


“—-Hi- Ah, ah-”


"Jangan kurang ajar-!"


Vander menjatuhkan senjata milik bocah prajurit itu dengan tombak miliknya. Dia tak punya niat membunuh anak-anak.


–Tapi.


"Kubilang bunuh semuanya, Letnan Kedua Vander."


Dari belakang bocah prajurit yang tak bersenjata itu, sebuah bilah ganas diayunkan. Setelah menjerit keras, dia mati.


"....Dia masih anak-anak, Mayor."


Vander memarahi dia, tapi Schera gak peduli dan mengayunkan sabitnya untuk membersihkan darah yang menempel. Dia mengalihkan tatapannya, mencari mangsa selanjutnya.


"Lalu, kenapa dia ada di medan perang? Kalau kau mau membenci, bencilah orang yang membawa dia kesini."


"Dia sudah tak lagi bisa bertarung-"


"Kalau dia bisa mengambil pedang, dia masih bisa bertarung. Dan kemudian, dia akan menantangmu lagi. Apa kau bukan seorang prajurit? Atau kau orang suci? Apa kau pikir kita ini berada disebuah gereja?"


“—–!”


"Semua anggota, berkumpul-!! Kita akan menghancurkan musuh di Jembatan Besar-!!"


Dibawah komando Schera, para kavaleri berkumpul, dan memutar kuda mereka kearah Jembatan Besar.


* * * * * *


"Kolonel, ada serangan musuh dari belakang! Kavaleri melesat sambil membunuh para warga!!"


"Apa kau bilang? Darimana mereka datang!? Kavaleri musuh harusnya sudah dimusnahkan kan!?"


"T-Tapi mereka ada disini! Musuh memiliki bendera hitam bergambar burung putih! Ujung tombak mereka adalah seorang komandan memegang sabit!"


"Sang Dewa Kematian yang dirumorkan!? Baiklah, kita akan menghentikan mereka disini. Jangan biarkan mereka menerobos jembatan! Kita akan ditertawakan jika mereka bisa lolos!!"


Kavaleri penyerbu yang membawa petaka bagi kereta persediaan mereka sebelumnya. Suatu unit berhubungan dengan nama Dewa Kematian. Dia telah mendengar komandan mereka yang dirumorkan.


"Siap-! Unit infanteri! Buat formasi!! Kita akan menghadang serbuan Dewa Kematian!!"


Unit infanteri dikerahkan ke tengah jembatan, membentuk dinding tombak. Seorang kavaleri memang memiliki kekuatan menerjang, tapi mereka lemah terhadap tombak yang telah bersiap. Mereka pasti akan ragu-ragu, takut mati. Jika mereka mengepung musuh pada saat musuh ragu-ragu dan menyerang, tak ada lagi yang perlu ditakutkan.


"Barisan tombak, maju-!! Saling membahu-!"


"Pasukan tombak, siaaaaaaaaap–!!"


Pasukan tombak bermoral tinggi menyiapkan tombak mereka. Dari arah sekutu mereka berada, darah berhamburan, dan suatu pasukan datang menyerbu. Seraya mereka dalam formasi kolom, mereka mendekat dalam satu garis lurus.


“Uooooooooooooo–!!”


“Pasukan tombak-! Majuuuuuuuu-!!”


“Matilaaaaaaaaaaah–!!”


Pasukan yang membawa bendera hitam itu menerjang dinding tombak tanpa keraguan dan memutuskan untuk memporak-porandakan pasukan tombak itu dengan momentum kuda mereka. Mereka sama sekali tak merasa ragu.


Kuda-kuda dan penunggangnya tertikam. Seraya tertikam, mereka juga membunuh infanteri musuh. Para prajurit yang jatuh dari kuda mereka, menjatuhkan diri dari Jembatan Besar, memastikan untuk membawa musuh bersama mereka. Unit Schera telah membuka jalan pada dinding tombak itu dengan mengorbankan puluhan prajurit.


Dalam celah itu, Schera mengayunkan sabit miliknya dari atas kudanya. Katarina yang telah kehabisan kekuatan sihirnya, juga mengayunkan pedang. Para prajurit reguler dari Pasukan Pembebasan terdorong mundur. Mereka gak bisa menghentikan momentum musuh.


"Komandannya, bunuh komandan itu! Itu akan melemahkan momentum musuh-! Pasti akan menghentikan mereka-!"


"Kolonel, kau terlalu jauh kedepan! Harap mundurlah!"


Si ajudan menghentikan dia, tapi dia mengibaskan si ajudan dan memegang kapak perang miliknya. Dia menyerang seorang kavaleri yang menyerbu. Meskipun dia menimbulkan luka fatal, penunggangnya mau berdiri lagi, jadi dia memenggal kepalanya. Sungguh keberanian yang menakutkan, dalam hatinya dia sangat terkejut. Mereka jelas-jelas berbeda dari para prajurit lain dari Kerajaan.


"Diam! Jika dibiarkan mereka akan menembus jembatan ini-!! Dasar monster-! Apa-apaan kekuatan serbuan mereka ini-"


"–Kolonel, ini berbahaya!"


"Kepung mereka dengan para prajurit, ratakan mereka dengan jumlah yang besar!! Jangan beri mereka ampun!"


Mengeraskan suaranya, dia menyemangati para prajuritnya. Satu penunggang memakai armor hitam terlihat sangat mencolok. Tak diragukan lagi penunggang itu adalah komandan mereka. Saat Kolonel menatap gadis itu, dia membuat kontak mata dengannya.


Schera tersenyum seperti seorang gadis kecil... seraya wajahnya berlumuran darah. Sang Kolonel terpesona oleh Dewa Kematian itu.


“—-ah.”


Sebuah sabit kecil menikam wajah si Kolonel. Itu adalah sebuah lompatan tanpa ancang-ancang. Komandan dari Pasukan Pembebasan unit pengalihan tewas. Tenggorokan dari ajudan yang berusaha membantu dia, juga tertikam oleh sebuah sabit yang dilemparkan.


* * * * * *


Markas David, terjepit.
Laporan-laporan buruk terus berdatangan satu demi satu. Markas David juga dalam keadaan berbahaya. Dia menghunus pedang pusaka miliknya dan memperteguh dirinya saat waktunya tiba. Seorang bangsawan harus mati dengan terhormat.


"J-Jenderal. Kau harus kabur! Kami akan membuka jalan ke Belta!"


Ucap Kepala Staf Perwira, tapi David menggelengkan kepalanya.


"Aku, tak bisa. Jika aku melarikan diri sekarang, kita akan benar-benar dikalahkan. Jika aku harus melarikan diri dan mati secara tak terhormat, aku lebih memilih mati disini! Aku punya harga diri sebagai seorang bangsawan–"


"T-Tapi! Belta!"


Jika David melarikan diri, itu sudah pasti mereka akan kalah. Tapi dalam situasi ini, itu merupakan tugas komandan yang dikalahkan untuk menyelamatkan meski hanya satu prajurit dan memulangkannya ke Belta. David mungkin memiliki harga diri sebagai seorang bangsawan, tapi dia adalah komandan terburuk. Pada David yang berdiri dipuncak pasukan bersama para penjaga elitnya, sebuah laporan yang kesekian kalinya datang.


"Jenderal David-!"


"Kali ini apa lagi! Apa mereka akhirnya menembus jembatan!?"


"B-Bala bantuan! Bala bantuan dari pasukan telah datang!!"


"Omong kosong! Bala bantuan dari mana!? Jangan bilang mereka mengabaikan Belta!!"


David tidaklah sebodoh itu sampai-sampai meninggalkan Belta dalam keadaan kosong. Dia telah mengirim seorang pembawa pesan, dan dengan tegas memberitahu mereka untuk bertahan. Sejauh yang dia kuatirkan, sangat gak masuk akal jika ada bala bantuan dari wilayah Belta.


"Tidak-! Bala bantuan dari Jembatan Besar Sulawesi!! Mereka dengan berani menerobos perkemahan musuh!"


Sesaat, David menganggap pembawa pesan ini sudah gila. Para staf perwira juga berpikir demikian. Tapi, saat dia mengarahkan perhatiannya pada jembatan, situasinya aneh. Unit milik David yang terdesak kembali bangkit. Unit musuh penyebrangan sungai juga berbalik sebelum mencapai daratan.


"Siapa!? Unit siapa yang datang!? Apa itu unit kavaleri Alexei-!??"


David secara alami membungkuk kedepan karena gembira. Suaranya dipenuhi dengan antisipasi.
Siapa. Siapa yang datang? Apa unit kavaleri Alexei selamat? Bala bantuan dari Ibukota Kerajaan? Itu akan sangat sulit dipercayai, tapi itu tidaklah mustahil jika itu adalah para prajurit relawan.


"Bendera gagak putih dengan latar belakang hitam!! Komandannya tidak diketahui, tapi mereka mengobrak-abrik perkemahan musuh!!"


"J-jenderal. Silahkan gunakan ini."


Seorang staf perwira menyerahkan sebuah teropong. Teropong itu tak sebagus buatan Kekaisaran, tapi orang bisa melihat cukup dekat pada Jembatan Besar. David memperhatikannya dengan seksama. Sebuah bendera hitam dan lambang seekor gagak putih. Dia belum pernah melihatnya sebelumnya. Dia tak ingat ada lambang keluarga seperti itu. Hitam juga berarti nasib buruk.


Dia memperhatikan kavaleri yang memegang bendera itu. Semua orang bertarung dengan keberanian yang menakutkan. Mereka membantai musuh tanpa peduli terhadap tombak-tombak yang ditikamkan.


Dia memperhatikan komandannya yang memegang sabit. Gadis itu memakai helm, tapi si gadis memiliki karakteristik bertubuh pendek.
Wajah muda berlumuran darah merah. Dia adalah seorang komandan perempuan muda yang menebas mangsanya sambil tersenyum.


"I-Itu, M-Mayor Schera."


Nama Schera keluar dari bibir David, dan dia tak bisa berkata apa-apa. Terhadap cara bertarung yang menakutkan itu, dia tak bisa menjelaskannya. Schera membantai musuh seolah dia adalah seorang jenderal veteran. Saat David berpikir mereka telah menerobos jembatan, Schera memberi perintah, dan sekali lagi menyerbu kearah tepi yang berlawanan.


Semangat para prajurit musuh, yang tidak menduga mereka akan berbalik, sepenuhnya hancur. Unit musuh yang telah kehilangan pemimpin mereka layaknya para pemula yang berlarian kalang kabut menyelamatkan diri, berusaha melarikan diri dari sabit sang Dewa Kematian. Mengikuti mereka dari belakang adalah para kavaleri yang membantai mereka dengan ganas. Jembatan Besar banjir darah.


"J-Jenderal David! Kita tak boleh terus begini. Bawa pasukan kita yang ada di jembatan dan alokasikan mereka ke sayap kita, dan kemudian susun rencana untuk mundur! Kurasa kita tak memiliki kemampuan untuk melawan pasukan utama musuh dalam pertempuran berkelanjutan-!"


“………..:”


“—Komandan! Mayor Jenderal David, Komandan-! Segera beri perintah!”


"Ah, ya. Aku, serahkan itu padamu. C-Cepat urus."


“Siap-!”


Kepala Staf Perwira menyuarakan perintahnya pada para perwira militer. Mereka harus menghindari dimusnahkan bagaimanapun caranya. Mereka dalam keadaan putus asa.


"......I-Itu seorang Dewa Kematian. Sudah pasti, Kematian itu sendiri. Apa Y-Yalder benar?"


Sambil gemetaran, David memperhatikan gaya bertarung Schera, seolah terpesona. Dia sepenuhnya lupa soal mengkomando.


Setelah itu, pasukan unit David yang berada di tepi sungai dan Jembatan Besar berhasil bergerak ke sayap.


Pasukan Pembebasan yang menyerang dari samping disambut dengan serangan balik yang tak mereka sangka. Unit itu yang berada di ambang dikalahkan tiba-tiba mendapatkan angin segar dan berhasil bangkit.


Pasukan Pembebasan yang menyerang dari samping, yang menganggap mereka disebut pasukan utama, kebanyakan terdiri dari unit-unit yang bergerak cepat. Mereka menekankan kemampuan menjepit, dan membuat musuh porak poranda dengan serangan cepat. Setelah serangkaian pertempuran, mereka kelelahan, dan tenaga para prajurit telah melemah. Karena perbedaan stamina dan penurunan kekuatan, korban pada pihak Pasukan Pembebasan perlahan mulai meningkat.


Komandan Pasukan Pembebasan, Behrouz, memutuskan bahwa sekarang ini sudah cukup, sementara waktu menarik kembali pasukannya. Juga ada laporan bahwa banyak warga sipil dan milisi yang gugur. Dia dibutuhkan untuk menenangkan situasinya.


David lolos dari keadaan sulitnya dan berhasil kembali ke Belta. Para prajurit yang dikalahkan terus menerus kembali. Semua prajurit betul-betul kelelahan. Pasukan Kerajaan telah kehilangan banyak hal dalam pertempuran ini.


–Prajurit yang selamat dari Pasukan Keempat: 30.000
Sepertiga tewas dalam peperangan, dan yang lainnya membuang senjata mereka dan menyerah atau pergi.
Mundur ke Belta, Jembatan Besar Sulawesi telah direbut, dan bahkan tempat penyebrangan sungai direbut dari mereka. Setelah itu, Pasukan Pembebasan mungkin akan mendekat pada mereka layaknya jerat di leher mereka.


David sangat marah dan malu, dan dia merasa jengkel karena kecemasannya akibat pengutukan diri.
Pertempuran Penyebrangan Alucia berakhir dengan kekalahan menyedihkan untuk Pasukan Kerajaan. Kerugian mereka tidak hanya kehilangan pasukan dan Jembatan Besar Sulawesi. Saat matahari terbenam, warga menjadi tau bahwa Kerajaan tak lagi memiliki kekuatan untuk menghabisi Pasukan Pemberontak. Pasukan Pembebasan sebagai pihak yang menang, memasukkan para prajurit yang menyerah kedalam pihaknya dan meningkatkan kekuatan mereka lebih jauh lagi.


Schera dalam diam membawa pulang pasukan kavaleri miliknya bersamanya. Masing-masing prajurit berlumuran darah, tapi mereka memasuki kastil seolah bangga akan hal itu. Prajurit kastil yang mengantar mereka cuma bisa memperhatikan mereka sambil menahan nafas. Burung putih itu jadi berwarna merah. Berapa banyak nyawa yang telah direnggut.


Sambil memakai armornya yang berlumuran darah, Schera masuk kedalam kafetaria barak. Dia mengambil makanan sebanyak yang dia bisa, dan menuju ke tempat perkemahan dimana para prajuritnya sedang menunggu. Semua kavaleri yang selamat tersenyum sambil makan bersama komandan mereka. Bisa menikmati makan bersama rekan-rekannya membuat Schera sangat senang.
Setelah makan tiga porsi, Schera tertidur sambil tersenyum puas.


–Adapun untuk warga sipil yang jadi korban, kisah mereka akan diturunkan pada anak cucu sebagai "Tragedi Jembatan Besar Sulawesi." Mereka dengan gagah berani menghadapi serangan kejutan sang Dewa Kematian, bertarung, dan kemudian tewas terhormat, mereka adalah para pahlawan. Sebagai peringatan altruisme mereka, sebuah monumen besar untuk menghibur jiwa mereka akan dibangun disamping Jembatan Besar.

Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya