Skeleton Knight Going Out to the Parallel Universe (Indonesia): Jilid 1 Bab 15

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

「Aku Menerima Sebuah Permintaan Pekerjaan」[edit]


Bau menyengat dari isi perut dan darah yang berceceran tersebar ke area sekitar. Dengan satu ayunan, pedangku menghempaskan sekelebat percikan darah, dan kembali ke kilauan biru mudanya yang semula. Lalu kusarungkan kembali pedangku, menyembunyikannya di balik mantel hitamku.


Tepat ketika aku melangkah menuju gerobak tersebut, sebuah suara lantang seorang wanita terdengar dari belakangku.


“Jangan bergerak!! Jangan melakukan gerakan apapun!!”


Menengok ke belakang, kulihat wanita dark elf tersebut memberikanku tatapan mengintimidasi dengan pedangnya yang diarahkan ke arahku. Di belakangnya, si elf pria turun dari pohon dan mendekat perlahan dengan tetap mengangkat busurnya.


“Aku bukan orang yang mencurigakan. Aku hanya kebetulan sedang di dekat—“


Saat aku mencoba memberikan penjelasan, pada akhirnya aku malah mengucapkan kalimat yang biasa diucapkan orang-orang yang mencurigakan. Aku meratapinya dalam hati betapa hal ini malah membuatku terlihat lebih mencurigakan.


“Diam! Jangan bergerak! Donnaha, cepat cari kuncinya!”


Lagi pula, sepertinya dia juga takkan mendengarkan penjelasanku. Setelah memberikan perintah pada si elf pria itu, wanita tersebut mengambil posisi untuk memisahkanku dengan anak-anak yang ada di dalam gerobak. Pria bernama Donnaha diam menjawab dengan anggukan, dan mulai mencari kunci kandang yang memenjara ras mereka di tubuh mayat-mayat.


Bahkan sembari wanita dark elf tersebut terus memantau pekerjaan rekannya, dia tetap mengacungkan pedangnya ke arahku tanpa goyah. Saat itu juga, Ponta merasakan ketenangan telah kembali setelah pertempuran berakhir dengan cepat. Dia menguraikan tubuhnya, yang tadi melilit di sekitar leherku, dan melompat ke tempatnya yang biasa sebelum mengeluarkan sebuah jeritan.


“Kyun!”


Setelah melihat Ponta, mata emas wanita dark elf tersebut melebar saking terkejutnya. Ia menurunkan pedangnya sebelum berbicara padaku.


“Tidak mungkin, bukankah itu fluffy fox? Bagaimana bisa seorang manusia berhasil menjinakkan seekor hewan ruh?!”


Sama seperti elf yang kutemui sebelumnya, dia terkejut dengan kehadiran Ponta. Kelihatannya kejadian semacam ini adalah hal yang jarang terjadi.


“Elf yang kutemui beberapa hari yang lalu juga terkejut akannya. Aku hanya menyembuhkan lukanya dan memberinya sedikit makanan... Kemudian, sepertinya ia kini menyukaiku.”


Kuambil tas barangku yang kutaruh di semak-semak sebelum memasuki pertempuran tadi, dan mengambil sekantung kacang mirip kenari hijau dari dalam tas. Saat kutaruh isi kantung tersebut di telapak tanganku, Ponta dengan lembut beranjak dari kepalaku untuk mengambil kacang yang ada di tanganku. Dia mengupas kulitnya dengan mahir sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya, memakannya dengan sangat nikmat.


Setelah si dark elf itu melihat kejadian ini, dia menarik maksud jahatnya dan menyarungkan pedangnya. Meskipun dia masih tetap bersikap waspada, sepertinya sekarang dia mau mendengarkan penjelasanku.


“Seorang elf yang kau temui beberapa hari lalu?”

“Aku bertemu dengannya di kota Diento. Sepertinya dia juga ingin membebaskan para elf yang diperbudak di kota.”


Meskipun elf tersebut bilang dia tak berbicara ke manusia manapun, sepertinya dia telah membagikan tujuan utamanya pada dua orang ini, maka dari itu kusebut dirinya. Setelah menyadarinya dengan cepat, wanita itu dengan cepat menanyakan pertanyaan lebih lanjut; sepertinya kewaspadaannya telah sedikit berkurang.


“Kau bertemu dengan Danka?! Tidak mungkin...”

“Tidak, dia tak menjelaskan semuanya dengan jelas...”


Untuk saat ini, aku menahan kecurigaannya dengan sebuah penjelasan. Aku masih ragu apakah mereka akan mempercayaiku atau tidak.


Tiba-tiba, si elf pria yang sedari tadi mencari kuncinya, Donnaha, memanggil.


“Ariane, aku menemukannya.”


Setelah menyatakannya, Donnaha berjalan menuju gerbong berjendela dengan tralis besi dan membuka gemboknya. Dengan sebuah suara logam yang lantang, pintu kandangnya terbuka, dan empat anak di dalamnya keluar, yang masing-masing dari mereka memiliki berbagai macam luka. Salah satu dari mereka bahkan menyeret kakinya untuk keluar.


Untuk mendapatkan sedikit kepercayaannya, dan meningkatkan laju rencanaku untuk membuat hubungan baik dengan para elf, kutawarkan sebagian kegunaan dari kemampuanku kepada si dark elf Ariane.


“Kulihat beberapa dari mereka terluka, aku bisa menggunakan sihir penyembuhan untuk menyembuhkan luka mereka. Kalau kau tak masalah, aku akan melihat luka anak-anak itu.”

“Bukankah kau seorang manusia? Membantu para elf... sebenarnya apa tujuanmu?”


“Tidak semua manusia membenci para elf... sederhananya seperti itu. Lagi pula, apakah kau bisa melihat keanehan dari sudut pandang manapun?”


Setelah aku menjawab, dia menatapku dan Ponta yang tengah berada di tangaku, untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia, terdiam dan memberikan semacam gestur tubuh. Sepertinya aku telah mendapat izinnya.


Jadi agar aku tak membuat anak-anak itu takut, kubawa Ponta, yang masih memakan kacangnya bersamaku. Benar saja, anak-anak itu ketakutan, dilihat dari salah satunya bersembunyi di balik Donnaha. Aku berlutut dan mengulurkan Ponta ke anak-anak tersebut.


Gadis kecil dengan kaki yang terluka, yang mana mungkin ia dapati saat ia gagal melarikan diri, memasang wajah gugup.


Dengan perlahan kuulurkan tanganku mendekat dan merapalkan 【Heal】. Sebuah cahaya terang melilit kakinya, memusat ke lukanya, dan menutup lukanya dalam hitungan detik. Saat ia melihat lukanya telah sembuh, ekspresi gugupnya berubah menjadi sebuah senyuman kecil.


“Heh, bisa menggunakan sihir penyembuhan tanpa merapalkan mantra... sungguh menakjubkan”


Ariane mengutarakan rasa kagumnya. Kelihatannya, seseorang harus merapalkan mantra sihirnya jikalau ia ingin menggunakan sihir. Karena di dalam game terdapat waktu cooldown untuk menggunakan sihir, kau bisa mengaktifkan sihir-sihir tersebut tanpa perlu membacakan mantranya. Lagian, untunglah berita tentang seseorang yang bisa menggunakan sihir tanpa mantra masih belum terdengar di dunia ini.


Anak-anak lainnya memutuskan untuk mempercayaiku setelah melihat luka pada gadis tadi telah disembuhkan, dan mulai berkumpul di sekelilingku untuk kuberikan perawatan juga. Setelah aku menggunakan 【Heal】 pada ketiga anak yang tersisa, mereka semua mengucapkan terima kasih padaku dengan pelan.


“Ariane, di leher anak-anak itu terpasang 『Magic-Eating Collars』. Dalam keadaan seperti itu, mereka takkan bisa menggunakan sihir; apa yang harus kita lakukan?”


Seperti yang telah disebutkan oleh Donnaha, di sana terpasang sebuah kalung logam hitam yang terpasang di leher tiap anak. Sebuah garis pola yang rumit terukir di tiap kalung tersebut.


“『Magic-Eating Collars』?”


Kutanyakan hal yang tidak familier tersebut.


Berdasarkan atas penjelasan dari Donnaha, benda itu adalah sebuah benda magis yang menyerap mana dari orang yang mengenakannya hingga titik mereka akan kesulitan untuk menggunakan sihir. Bisa dibilang jikalau para elf mengenakan kalung tersebut, mereka takkan mungkin menggunakan sihir ruh kebanggaan mereka.


“Ariane, setelah ini pergilah bertemu dengan Danka. Pada saat yang sama, aku akan menuntun keempat anak yang sihirnya telah tersegel ini sendirian, yang mana mungkin ini akan menjadi perjalanan yang tak cukup aman hingga kita bisa sampai di desa terdekat... Entah bagaimana kita harus melakukannya...”


Sembari Donnaha menatap anak-anak yang baru sembuh tersebut dengan sebuah ekspresi serius di wajahnya, Ariane tiba-tiba menengok padaku sembari menanyakan sesuatu.


“Hey, kau. Pria Zirah! Kalau kau bisa menggunakan sihir penyembuhan, maka harusnya kau punya kekuatan yang setara dengan Shrine Maiden atau seorang Shaman, kan? Kalau benar begitu, bukannya seharusnya kau juga bisa menghilangkan kutukan pada kalung-kalung itu?” [TL Note: Shrine Maiden (Miho) : Gadis Kuil. Shaman : Dukun. Semua ini merujuk pada Job Class turunan Priest.]


Sebuah kelas khusus perempuan, Shrine Maiden memang ada dalam game, tapi di sana tidak terdapat kelas Shaman. Akan tetapi, saat aku memikirkan kembali pertanyaannya tadi, kelas Priest mungkin dapat melakukannya. Kalau aku tak salah ingat, kelas Bishop level menengah punya skill 【Anti Curse】, dan kelas Pope tingkat lanjut punya skill 【Holy Purification】.


【Anti Curse】 adalah sebuah skill sihir yang dapat menghilangkan atribut kutukan baik yang ada di dalam suatu benda, maupun yang mengenai seseorang, sedang 【Holy Purification】adalah sebuah skill sihir yang di mana, sebagai tambahan menghilangkan kutukan-kutukan, juga dapat memberikan kerusakan dalam skala besar pada spesies undead.


“Aku bukan Pria Zirah; aku Arc. Kurang lebih, ada kemungkinan untuk menghilangkan kutukannya dengan menggunakan sihir... tapi aku tak tahu apakah akan ada efek samping dengan melakukannya.”


Lagipula, aku tak pernah menggunakan sihirnya dalam kehidupan nyata... Dengan pemikiran tersebut, kuletakkan tanganku di atas kalung salah satu anak dan mengaktifkan 【Anti Curse】. Sebuah lingkaran sihir rumit muncul di atas telapakku sebelum akhirnya terserap ke dalam kalung tersebut. Saat itu juga, terdengar sebuah suara sangat jelas saat kalung itu hancur dengan mudahnya dan terjatuh ke tanah.


Anak yang kini telah bebas dari kalungnya itu menyentuh area sekitar lehernya untuk sesaat sebelum memberikan senyum yang cerah padaku.


“Terima kasih! Paman Zirah!!”


Yep, tak diragukan lagi aku telah memberikan kesan yang baik pada para elf. Aku diam-diam kegirangan dalam benakku. Anak-anak lainnya yang telah melihatnya mendekat padaku. Lalu kusuruh mereka untuk berbaris dan melepaskan kutukan pada kalung mereka bergantian.


“Nah sekarang... kalian semua, bukankah kalian sudah dibilangi jangan keluar dari desa tanpa izin dari kepala desa dan orang tua kalian? Sungguh berbahaya.”


“...Maaf. Sebuah ruh tengah terganggu dan terus memanggil kami, ‘tolong, tolong’, dan kupikir aku harus...”


Saat salah satu anak mulai menitikkan air mata sembari menjelaskan keadaannya, Ariane bertanya padanya.


“Sebuah ruh yang terganggu? Di mana dia?”


“Saat aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh ruh tersebut, aku melihat seekor fluffy fox terperangkap di sana... Ia telah tertangkap oleh manusia, jadi kupikir aku harus menolongnya...”


Mendengar perkataannya, kedua mata Ariane dan Donnaha menengok padaku, memberikan sebuah hawa yang terasa seperti kesan baik yang baru saja kubuat tadi telah dihancurkan dalam sekejap. Tak ada pilihan lain, aku harus menjelaskannya, dan memperjelas kesalahpahaman ini.


“Jangan salah paham, aku menolong Ponta ini yang telah tertangkap di dalam sebuah markas bandit. Pastinya kau takkan percaya aku akan melakukan sesuatu seperti memancing keluar dan menangkap anak-anak itu, kan?”


“‒‒Oh yah, kurasa begitu. Fluffy fox, dikenal akan kewaspadaan mereka, takkan pernah melekat dengan dalam pada seseorang yang telah menyakitinya...”


Ariane menggerutu sembari mengangkat bahunya, lengannya disilangkan di bawah buah dadanya yang besar. Donnaha mengangguk setuju, dan dengan ini, tatapan tajam yang mengarah padaku telah lenyap. Sepertinya aku telah berhasil memecahkan kesalahpahaman ini dengan benar.


Sembari memikirkan hal tersebut, kulihat anak-anak elf tersebut mengerumuni Ponta dan perlahan mengelus-elus bulunya yang lebat. Mereka bilang bahwa para fluffy fox punya tingkat kewaspadaan yang tinggi dan mereka jarang melekat dalam pada seseorang. Akan tetapi, dengan kejadian semacam ini di depan mata mereka, siapapun pasti akan mulai meragukan kebenarannya.


“Baiklah, aku akan mengantar anak-anak ini ke desa terdekat terlebih dahulu. Kita akan berpisah sejenak; sebentar lagi malam tiba. Apa kalian semua bisa menggunakan sihir ruh setidaknya untuk melindungi diri kalian sendiri?”


Saat Donnaha menanyakan mereka, anak-anak tersebut memberikan sebuah jawaban yang semangat sebelum mulai masuk ke dalam hutan. Bahkan anak-anak kecil tersebut bisa menggunakan sihir ruh. Sepertinya dalam rangka mempertahankan dirimu di dalam hutan berbahaya ini, kau harus memiliki kemahiran bertarung yang tinggi.


“Hati-hati, Donnaha. Tadi kau bilang namamu adalah Arc? Kalau kau sedang nganggur, bagaimana kalau kau memberiku sedikit bantuan? Membereskan mereka...”


Sembari berbicara, ia mengisyaratkan dengan dagu tirusnya ke area di sekitar gerobak di mana pemandangan dari mayat yang berceceran dari kelompok bersenjata dapat terlihat.


Hmm, kurasa, daripada melakukannya sendirian, akan lebih cepat selesai kalau dilakukan bersama. Di samping itu, bisa diperintah oleh seorang Onee-san cantik bisa dibilang sebuah pengalaman yang langka.


Sembari kami mengumpulkan mayat para perampok itu dalam satu tempat, aku mengumpulkan uang yang ada di saku mereka, begitu juga dengan senjata-senjata yang kelihatannya masih bisa dijual. Setelah melihat hal ini, alis elok Ariane mengerut sambil cemberut.


“Melakukan hal hina seperti mengambil barang-barang dari para mayat... Sungguh sebuah misteri mengapa seekor fluffy fox bisa melekat pada orang sepertimu.”


“Dalam kehidupan manusia, tak peduli bagaimana, seseorang takkan bisa bertahan hidup tanpa uang. Terlebih lagi, biaya untuk perjalanan sangatlah banyak; aku tak bisa melewatkan kesempatan semacam ini... Apakah ras elf tak memiliki mata uang?”


Mendengar pertanyaanku tadi, Ariane membentak, “Para elf juga punya koin emas!”


Sepertinya, sistem dasar barter adalah hal yang biasa dilakukan di desa-desa elf, sedang koin emas hanya mereka gunakan untuk transaksi eksternal.


Daripada menggunakan emas campuran pada koin mereka seperti yang manusia lakukan, para elf menggunakan emas murni; dan sepertinya koin emas mereka lebih berharga daripada yang manusia miliki. Ariane menceritakannya dengan bangga tentang bagaimana, setelah para elf menggunakan koin emas mereka dengan maksud untuk bertransaksi beberapa kali hingga mendapat perhatian, bisnis-bisnis manusia dalam skala besar mulai berebutan untuk menukarkan koin mereka dengan koin para elf.


Aku merasakan sebuah hawa kemewahan di sekitar Onee-san yang menggairahkan ini; akan tetapi, sosoknya yang bercerita dengan bangga adalah sesuatu yang manis dan memikat hati. Meskipun kalau aku mengatakannya, mata emasnya yang tajam mungkin akan menatapku, jadi aku hanya terdiam saja.


Setelah semua mayatnya telah terkumpul di satu tempat, Ariane langsung melangkah maju dan duduk, mengisyaratkanku untuk mengikutinya.


Saat aku menurunkan tubuhku, pada saat yang sama Ponta muncul dan meringkukkan tubuhnya di posisi di sekitar pahaku sebelum aku terduduk. Ponta kelihatannya tengah mengamati pergerakan Ariane dilihat dari kupingnya yang berkedut.


『─Jadilah Satu dengan Tanah─』


Ariane meletakkan tangannya di atas tanah, dan, setelah bergumam sebentar, permukaan tanah di sekitar mayat-mayat itu tiba-tiba mulai berombak-ombak. Bisa dibilang tanahnya hampir seperti hidup, lalu tanah itu mulai menelan mayat-mayat tersebut. Setelah beberapa saat, gunung tumpukkan mayat tersebut telah menghilang tanpa bekas.


“Kurasa dengan ini, dengan menjadi pupuk untuk hutan ini, mereka akan sedikit berguna.”


Saat ia mengatakan hal tersebut, Ariane menepukkan debu di tangannya dan mulai berdiri.


Ponta berulang kali menggaruk tanah yang tak lama tadi berombak dengan kaki depannya, dan memiringkan kepalanya ke samping kebingungan.


Itu adalah sebuah tipe sihir yang sangat cocok untuk mengurusi mayat-mayat tersebut.


“Hmm, jadi seperti itu sihir ruh. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang menggunakannya.”


Hanya memiliki pengetahuan tentang hal tersebut hingga saat ini, bisa dibilang setelah menyaksikannya dalam kenyataan secara pribadi, perasaanku sangat tergerak karenanya.


Dengan selesainya penguburan mayat-mayat tersebut, Ariane melepaskan ikat pada kuda-kuda yang terpasang di kereta kuda dan menampar bokong mereka, yang mana membuat mereka lari. Sepertinya kali ini kami membiarkan kuda-kuda tersebut bebas.


Hanya ada gerobak dan kandang di dalamnya yang tersisa dari peristiwa penyerangan ini. Mungkin kita bisa mendapat sedikit uang dengan menjualnya, namun mencoba menjual benda semacam ini ke kota akan terlihat sangat mencurigakan tak peduli bagaimanapun kau melihatnya. Tak ada pilihan lain kecuali meninggalkannya di sini.


“Aku memiliki sihir ruh api dan tanah sebagai keahlianku. Oh, aku masih belum mengutarakan terima kasihku dengan benar. Terima kasih, kau telah menyelamatkan kami. Aku Ariane. Ariane Glenys Maple.”


Dia berbalik dan memperkenalkan dirinya. Bersamaan dengan rambut panjang seputih saljunya yang berpasangan dengan alis lengkung yang panjang, di bawahnya di mana sepasang mata berwarna emas terpancar, menengok ke arahku, senyum yang menggoda muncul di bibir eloknya. Daya tarik yang ia pancarkan dari tubuhnya cukup untuk merangsang orang yang tak kompeten dengan nafsu.


Selain itu, namanya juga terdengar sedikit manis...


“Arc. Seorang petualang pengembara biasa. Dan yang duduk di sini adalah Ponta.”


“Kyun!”


Setelah aku memberikan perkenalan sederhana, Ponta mendongak dan mengaum. Kelihatannya itu tadi tidak ditujukan untuk perkenalan diri. [TL Note: Gak yakin rubah mengaum :D ada usul terjemahan lain?]


Mengikuti arah pandangan Ponta, aku melihat seekor burung besar dengan bulu biru hijau yang indah mendekat ke sini. Saat Ariane juga menyadarinya, ia menengok ke langit.


Setelah melesat melalui celah-celah antar pepohonan yang lebat, burung itu perlahan mendarat di lengan kiri Ariane yang ia julurkan.


Meskipun sedikit lebih kecil dari seekor gagak, burung itu bisa dibilang masih cukup besar jika dilihat dari dekat. Puncak kepalanya berdiri layaknya sebuah ahoge. [TL Note: Ahoge = rambut yang mencuat ke atas, seperti Araragi Koyomi atau Hachiman Hikigaya, biasa disebut rambut bodoh.]


“Umumnya disebut Burung Pembisik, burung ini juga seekor hewan ruh.”


Setelah ia menjelaskan nama burung itu dengan singkat, paruh burung tersebut terbuka dan mulai berbicara dengan fasih dalam suara yang maskulin.


『Danka telah menemukan markas orang-orang itu di Diento. Ariane, bergabunglah dengan Danka dan selamatkan rekan-rekan kita..』


Burung Pembisik itu menutup paruhnya setelah hanya mengatakan itu dan memiringkan kepalanya. Karenanya, Ariane mengeluarkan sebutir kacang merah dari sebuah kantung kulit yang terikat di pinggulnya, dan Burung Pembisik itu membungkuk dengan lihai untuk menyantapnya. Setelah mengelus kepalanya dengan lembut, Ariane mulai berbicara pada si burung.


“Aku dan Donnaha telah berhasil menyelamatkan empat anak; Donnaha kini tengah kembali ke desa. Aku akan bergabung dengan Danka secepatnya.”


Setelah dia selesai berbicara, ia sedikit mengangkat lengan kirinya di atas kepala. Menggunakan momentum tersebut, si Burung Pembisik terbang, menghindari tiap dedaunan pohon dengan lihai sembari terbang menjauh di dalam lebatnya hutan, lalu lenyap dari pandangan kami.


Sepertinya burung itu sama seperti merpati pembawa pesan. Kecuali, kemampuannya yang bisa menirukan suara seseorang dengan sempurna. Menggunakan Burung Pembisik tadi sebagai basisnya, kurasa pesan Ariane akan tersampaikan dengan cara yang sama.


Saat aku melihatnya dalam keadaanku yang tengah tercengang, Ariane mulai tertawa lepas padaku.


“Apakah karena manusia sebegitu sulitnya untuk menjinakkan hewan ruh hingga kau tak tahu hal semacam itu? Omong-omong, tadi kau bilang kau adalah petualang, kan? Apa kau berkenan dipekerjakan olehku?”


Ariane melempar sebuah tatapan provokatif padaku sembari ia mengeluarkan lima koin emas dari kantung kulit yang terikat di pinggangnya, dan memberikan sebuah tawaran.


“Lima koin elf di awal, dan lima lagi setelah selesai. Bukan tawaran yang buruk, kau setuju kan?”


Apakah pesan dari Burung Pembisik tadi berbicara mengenai bantuan untuk misi pembebasan para elf yang ada di Diento? Apakah elf yang kutemui waktu itu telah menemukan di mana para elf yang tertangkap berada? Kalau benar begitu, patroliku waktu itu sungguh sia-sia...


Kalau dipertimbangkan lagi, mengapa dia ingin mempekerjakanku...? Padahal di sini kelihatannya ada sedikit hubungan buruk antara manusia dan para elf. Kalau dilihat secara objektif, kau seharusnya tak mempercayai seseorang yang tertutup dengan full body armor dengan mudah, kan?


Kusilangkan lenganku dalam rangka agar terlihat seperti orang penting, aku bertanya pada orangnya langsung.


“Hmm. Apakah kau bisa mempercayai seorang manusia sepertiku?”


“Aku tak mempercayaimu. Fluffy fox yang ada di sana, Ponta? Aku hanya percaya padanya. Bahkan kalau seekor hewan ruh berpasangan dengan seorang manusia, biasanya dengan anak-anak... Seorang manusia dewasa menjinakkan mereka, orang itu pasti adalah orang yang berperilaku baik atau dia hanyalah orang yang tak punya otak.”


Betapa kasarnya ejekan yang kau utarakan tadi? Sebenarnya, biasanya aku tak terlalu memedulikan hal rumit semacam itu, tapi bisa dibilang aku hidup hanya dengan mengandalkan instingku saja...


Di kakiku, Ponta tengah memiringkan kepalanya ke samping kebingungan sembari menatap padaku.


“Hmm, bukankah para petualang dipekerjakan seperti ini?”


“Ada aturannya. Hey!”


Ia melemparkan lima koin emas di tangannya ke arahku. Aku menangkapnya dengan sigap di udara.


Berbeda dengan koin emas dari negara ini, koin emas ini seukuran dengan sebuah koin seratus Yan, dengan desain mencolok terpahat di kedua sisinya; koin-koin ini sudah pasti berkualitas tinggi. Hanya dengan melihatnya saja, aku bisa mengetahui kemajuan teknologi para elf dibandingkan dengan para manusia.


Koin-koin ini benar-benar terbuat dari emas murni; dengan sebuah kemilau, seseorang bisa mengetahuinya kalau koin-koin ini lebih berharga dibanding jenis koin milik para manusia.


Aku menyimpan koin emas kaum elf tersebut ke dalam kantung di dalam tasku.


Yah, misi untuk menyelamatkan para elf yang tertangkap biasanya dilakukan secara diam-diam. Bergerak secara terang-terangan tentu takkan berhasil, jadi pergerakan praktis yang biasa kugunakan pasti akan sangat berguna.


Para elf sepertinya lebih dapat dipercaya daripada para manusia yang bodoh itu; ini pastinya adalah kesempatan yang bagus untuk memperkuat hubungan yang baru ini.


Ini adalah permintaan pekerjaan pertamaku sebagai seorang petualang; pastinya ini semua akan berjalan dengan lancar‒‒



Mundur ke Bab 14 Kembali ke Halaman Utama Teruskan ke Bab 16