Tate no Yuusha Jilid 3 LN Bab 18 (Indonesia)

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 18 - Pembujukan[edit]

Kami melanjutkan perjalanan saat kami melihat mereka.


Motoyasu dan Itsuki ada disana bersama party mereka, mengawasi kereta-kereta yang ada di jalan.


Para prajurit juga ada disana.


Aku mengintip dari tempat persembunyianku. Ada para wizard di sekitar. Mereka merapal mantra-mantra.


"Itu dia! Dia ada di kereta itu!"


Aku punya kecurigaan, rasa takut—dan ternyata aku benar.


Motoyasu dan Itsuki berlari kearah kami.


Sialan! Gimana caranya mereka bisa tau?!


Pasti karena para wizard itu. Aku nggak tau apa yang mereka lakukan, tapi sudah pasti itu karena mereka.


Aku menyingkap kain yang kugunakan untuk bersembunyi dan melompat dari kereta. Filo memahami kalau sesuatu telah terjadi, dan dia segera berubah ke wujud Filolial Queen.


"Sudah kuduga! Dia ada disana!"


Dia pasti ada didekat sini, karena Ren juga sedang berlari kearah kami.


Sialan. Ini adalah situasi terburuk yang bisa kupikirkan.


"Ketemu kau! Lepasin Putri Melty!"


Itsuki mengarahkan jari telunjuknya padaku dan berteriak dengan suara yang membanggakan diri sendiri.


"Gue nggak bisa ngelepasin dia karena dia bukan tahanan gue! Dia juga nggak terikat kan?!"


"Terserah lu mau ngomong apa, kami punya bukti! Keadilan nggak berpihak sama elu."


"Keadilan? Ha!"


Kata ini berasal dari orang yang menyerahkan kehidupan dari para warga tak berdosa pada para knight selama gelombang? Memberitahuku tentang keadilan.


Apa orang-orang ini betul-betul berpikir tentang memenuhi keadilan mereka sendiri.


Tunggu sebentar. Ada satu pilihan. Aku bisa mencoba memberitahu mereka tentang semua yang telah terjadi. Aku ingat Ren merasa bersalah tentang desa yang dilanda penyakit yang dia tinggalkan, dan sudah jelas ada lubang dalam teori keadilan milik Itsuki. Mungkinkah aku bisa menggunakan itu?


Tetap saja, mereka jelas-jelas sudah bertekad untuk nggak mempercayai apapun yang kukatakan.


Tapi aku harus mencobanya. Aku harus membuat mereka mengerti. Aku harus membuat mereka memfokuskan keadilan mereka pada sesuatu yang lain. Mereka membutuhkan sebuah konspirasi jahat untuk dilawan. Itu adalah situasi yang mana akan disukai gamer manapun. Aku harus membuat mereka mempercayai aku, atau setidaknya aku harus membuat mereka mulai meragukan Sampah itu.


"Apa kalian begitu yakin kalau kalian benar? Apa kalian betul-betul yakin bahwa kalian ada di pihak keadilan?"


"Apa maksudmu?"


"Sang putri, seperti yang bisa kalian lihat, dia sepenuhnya gak terluka ataupun dalam bahaya."


Aku mempersiapkan perisaiku dan menunjukkan sang putri. Sebuah serangan bisa saja datang dari arah mana saja kapanpun.


"Pahlawan Pedang, Pahlawan Busur, Pahlawan Tombak—Pahlawan Perisai tidak bersalah. Dia sebenarnya menyelamatkan nyawaku."


Dia nggak berbicara seperti anak kecil lagi. Dia berbicara dengan nada agung.


Mereka mendengarkan dia, dan aku bisa melihat bayangan keraguan di wajah mereka.


Mungkinkah ada setitik kejahatan di sisi mereka? Kalau memang ada, ego dan rasa keadilan mereka yang tinggi pastinya nggak akan mentoleransi hal itu?


"Percayalah padaku. Ada konspirasi besar dibalik semua ini."


"Tapi Putri Melty, bukankah orang itu membawamu berkeliling secara sembunyi-sembunyi?"


"Ya, tapi dia melakukannya untuk menyelamatkan nyawaku. Aku yang meminta dia begitu."


Mel menjelaskan situasinya, dan Itsuki tersentak kebingungan.


"Bukankah itu tampak aneh? Apa yang diperoleh Pahlawan Perisai dengan menculikku?"


"Yah.... Itu...."


Apa dia mencoba memikirkan sebuah jawaban? Dia kelihatan kebingungan.


"Tapi... Tapi orang ini...."


"Apa kau pernah berpikir bahwa Melromarc memperlakukan Pahlawan Perisai, hanya Pahlawan Perisai, dengan sangat buruk?"


"Memang benar, tapi..."


"Bunda memberitahuku bahwa ini adalah saatnya bagi kita semua untuk bersama-sama dan melawan bencana yang datang. Negeri ini hanya tidak punya waktu atau sumber daya untuk memungkinkan para Pahlawannya untuk bersantai. Harap turunkan senjata kalian."


Ketiga pahlawan itu merenggangkan pegangan mereka pada senjata mereka.


Mereka mulai pergi. Gimanapun juga, mereka telah kalah dalam pertempuran sebelumnya selama gelombang.


Dan sang putri kedua memang benar. Kami betul-betul harus menghabiskan waktu kami pada leveling dan memperkuat senjata kami. Kalau mereka serius tentang mengikuti tujuan dari menjadi seorang pahlawan, mereka akan menyadari bahwa waktu yang dihabiskan bukan untuk leveling atau memperkuat senjata mereka adalah sia-sia.


"Apa kalian paham? Ini adalah sebuah konspirasi. Sekarang aku akan memberitahu kalian segala sesuatu yang kuketahui. Bisakah kalian memutuskan untuk ngelawanku setelah kalian mendengarkan aku?"


Lonte itu melangkah maju dari kerumunan.


"Kenapa kami harus mendengarkan perkataan seorang iblis?"


Apa yang dia mau? Apa dia mencoba mendapatkan poin karena karena berpura-pura kuatir pada adiknya?


"Bukankah tindakannya sudah cukup jelas? Dia pasti menggunakan Perisai Pencuci Otak!"


"Kakak!?"


Mel betul-betul terkejut. Dia menatap Lonte itu.


Beneran deh, aku betul-betul nggak tahan mendengarnya.


Apa-apaan itu Perisai Pencuci Otak? Kalau aku punya sesuatu seperti itu, nggak akan begini jadinya. Sangat mudah untuk mengabaikan buah dari upaya seseorang kalau kau cuma mengucap kata-kata seperti "pencucian otak!" Selain itu, pencucian otak dan kepercayaan itu cenderung berhubungan. Ha! Pencucian otak, yang benar saja.


"Perisai Pencuci Otak adalah sebuah perisai yang memiliki sihir yang sangat kuat. Tentu saja ceritamu terdengar janggal."


"Aku nggak tau kapan kau menemukan Perisai itu, tapi gereja menganggap itu pasti sekitar sebulan yang lalu."


Itu adalah sekitar waktu aku memulai bisnis kelilingku. Itu adalah saat aku memprioritaskan membuat obat untuk desa demi bisnisku. Itu adalah saat ketika orang-orang mulai memanggilku Holy Saint dewa burung.


Aku paham sekarang. Itu sangat sesuai. Dari sudut pandang gereja, itu adalah penjelasan yang sempurna—sebuah kebohongan sempurna.


"Aku merasa seperti situasinya sendiri telah menjelaskan dengan sendirinya. Kau bepergian jauh dan semuanya jadi bercampur. Dan sekarang kau ada disini, pada dasarnya bekerja dengan Naofumi! Semua orang tau kalau dia adalah seorang kriminal, namun kau malah membantu dia? Kenapa kau melakukan itu?"


"Semua orang sudah gila. Kubilang Pahlawan Perisai tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan pada dia—dan aku sudah bertemu dengan wanita tua yang pada dasarnya mengagumi dia."


"Wanita tua itu..." Aku sepertinya tau siapa yang dia maksud.


Meski begitu, apa-apaan yang mereka bicarakan?


Itu cuma sekedar fakta bahwa aku membantu dan menyelamatkan banyak orang. Tapi kebanyakan yang kulakukan adalah membersihkan kekacauan yang MEREKA tinggalkan.


Apa mereka betul-betul berpikir bahwa apapun yang nggak mereka ketahui itu artinya semacam strategi musuh? Serius deh, apaan sih yang ada didalam kepala mereka?


"Kemungkinan besar bahwa cuma dengan berdiri di dekat dia dan berbicara pada dia akan memungkinkan dia untuk mencuci otakmu. Saat ini juga para anggota gereja diantara kami akan menghilangkan mantra miliknya yang ada padamu."


"Dasar orang geblek yang gak ketulungan! Siapa yang punya kekuatan semacam itu?!"


Nggak seorangpun menanggapi teriakanku.


Sebenarnya Raphtalia, lalu Filo dan Mel tercengang.


Yang mereka maksudkan adalah bahwa mereka mencari-cari aku, dan bukannya mendengarkan apa yang dikatakan orang-orang, dan betul-betul mendengar hal-hal bagus yang orang-orang katakan, mereka cuma menganggap ini adalah karena Perisai Pencuci Otak, dan Lonte itu menggunakan itu untuk meyakinkan para pahlawan yang lain.


Itu adalah sebuah kebohongan yang keterlaluan. Dia betul-betul handal.


"Apa Pahlawan Perisai benar-benar memiliki kekuatan semacam itu?"


Putri kedua menatap aku, kuatir.


"Apa kelihatan seperti aku memilikinya?"


"Umm.... tidak."


"Kau nggak perlu ragu."


Kalau aku punya sebuah perisai dengan kekuatan semacam itu, hidupku akan jauh lebih mudah. Kalau aku punya perisai itu, aku pasti mencuci otak para prajurit, knight dan wizard. Aku akan mengambil alih seluruh kerajaan. Pada dasarnya, kalau aku punya kekuatan semacam itu, aku nggak akan berada dalam situasi semacam ini.


Dengan kata lain, fakta bahwa orang-orang yang mengejarku memiliki keraguan yang besar atas yang diduga Perisai Pencuci Otak itu.


Nggak bisakah para pahlawan memahami sesuatu yang sesederhana ini?


"Jadi itu artinya Raphtalia dan Filo di cuci otak oleh dia!"


"Itu nggak benar! Kami nggak di cuci otak!"


"Jangan kuatir, kami akan menyelamatkan kalian berdua."


"Aku bersama Master karena aku yang menginginkannya!"


Motoyasu masih belum menyerah mengejar Raphtalia dan Filo?! Seberapa terobsesinya dia itu?


"Baiklah, cukup sudah dengan teori-teori bodohmu. Dengar. Bergantung pada reaksimu, aku akan menyerahkan putri padamu."


"Apa?!"


Sang putri kedua berteriak terkejut.


"Baik, kami dengarkan."


Ren menjawab. Aku harus menjawab dengan cepat dan tepat. Aku nggak boleh salah bicara.


"Oke. Yang pertama, nggak ada pencucian otak. Selanjutnya...."


"Gue gak percaya elu!"


"Bacot! Gue gak bicara sama elu, Jenderal."


Sebelum aku selesai bicara, Itsuki menyela dan aku harus membungkam dia.


Aku nggak menggunakan kemunafikan yang akan memutuskan kebenaran dari sebuah pernyataan hanya dalam satu kalimat.


"Pokoknya... Ini adalah suatu konspirasi. Entah raja, wanita itu, atau gereja—aku gak tau. Tapi seseorang ingin sang putri ini mati, dan mereka mau memfitnahkan itu padaku."


"Dimengerti. Kalau begitu, kami akan mengikat elu dan elu musti ikut kami. Sebagai pertukaran untuk kesediaanmu, kami janji kami akan mamjamin keselamatan elu. Kami butuh waktu buat menyelidiki pernyataan elu."


"Kau percaya dia?! Penjahat keji ini?! Dia telah mencuci otak Filo!"


"Ya! Aku nggak percaya dia!"


"Pahlawan Pedang! Kau tidak perlu mendengarkan perkataan iblis itu!"


Ren sudah hampir percaya padaku saat Lonte dan yang lainnya ikut campur.


"Kalau kita bisa mengakhiri ini tanpa pertarungan, bukankah itu bagus? Kita bisa menyelidiki pernyataan dia nanti."


Seperti yang diharapkan, Ren bertindak keren—tapi setidaknya dia mencoba memahami situasinya dengan tenang.


Apa nggak apa-apa kalau mengasumsikan dia paham?


"Tidak."


Sang putri meraih dan meremas tanganku. Dia gemetar, dan wajahnya pucat.


"Menurutku... Menurutku mereka akan membunuh kita."


Dia mungkin benar. Aku memikirkan ulang hal itu. Ada peluang yang besar bahwa dia akan diperlakukan secara berbeda daripada kami.


Untuk membuat teori mereka terlihat meyakinkan, mereka mungkin akan menyerahkan sang putri pada para wizard jadi mereka bisa menggunakan mantra untuk menghilangkan pencucian otak. Tapi setelah itu apa yang akan terjadi? Mereka mungkin akan berpura-pura bahwa tepat saat mereka membersihkan dia dari pengaruhku, sebuah kutukan yang kuat diaktifkan dan membunuh dia—tapi tentu saja mereka akan membunuh dia secara sembunyi-sembunyi.


Kemungkinan besar skenarionya seperti itulah.


Kalau ini rencananya, maka Ren, yang kelihatan percaya pada apa yang kukatakan, sepenuhnya berbohong. Dia pasti betul-betul percaya kalau aku ini adalah seorang kriminal.


Kalau rencananya adalah untuk menuduhkan kejahatan lain padaku, maka bisa dipastikan kalau ada campur tangan dari Lonte itu. Tapi nggak disangka bahwa dia akan menentang adiknya sendiri....


"Tolong....."


Permohonannya sangat pelan. Suaranya serak. Dan aku begitu dekat mendapatkan simpati mereka.


Oh yah....


"Kau berjanji, ingat?"


"Apa?"


Dulu, saat mereka memfitnah aku atas pemerkosaan. Saat ketika nggak ada satu orangpun yang mempercayai aku.


Dan sekarang, sang putri kedua berdiri di ambang hidup dan mati.


Pencucian otak. Mereja menggunakan kata yang sederhana dan gampang sekali untuk meringkas semuanya. Lalu mereka akan membunuh dia.


Beneran deh, rencana itu sungguh kentara. Bahkan aku bisa memahaminya.


Kalau sang putri mati, itu artinya akhir dari kami. Siapa lagi yang akan memihakku—nggak seorangpun mempercayai aku.


"Maaf, aku nggak bisa mempercayaimu. Kalau kuserahkan putri, kurasa kau nggak akan bisa melindungi dia. Dan itulah yang kujanjikan pada dia: perlindungan."


Aku menaikkan Mel ke punggung Filo, dan kemudian menyuruh Raphtalia untuk naik juga.


"Filo, aku tau kau nggak mau mendengar ini, tapi kita akan meninggalkan keretanya. Lari sekencang mungkin!"


"Okeeeeeeee!"


"Sampai jumpa."


Filo sudah siap dan menunggu. Saat dia menyadari bahwa kami sudah ada di atas punggungnya dia langsung berlari.


"Tunggu!"


"Haikuikku!"


"Nggak akan kami biarkan!"


"Ap..."


Motoyasu mengeluarkan semacam ring dan melemparkannya pada kaki Filo.


Benda itu melingkar pada kakinya, menjerat dia. Kami terlempar ke tanah.


"Ugh!"


"Ahhhh!"


Raphtalia, Mel dan aku terlempar ke depan karena momentum Filo.


"Aduh...."


Sudah ada dua prajurit yang melompat kearah kami. Aku berdiri tepat waktu untuk menangkis serangan mereka.


Motoyasu sudah menduga "Haikuikku" milik Filo, dan dia mengganggunya tepat sebelum Filo menyelesaikannya. Aku betul-betul nggak bisa meremehkan dia.


"Ugh... Hrm... Aku nggak bisa melepasnya, Master! Aku nggak bisa melepasnya!"


Filo mati-matian melepaskan ring yang menjerat kakinya, tapi benda itu nggak menunjukkan tanda-tanda merenggangkan pegangannya pada kaki Filo.


Ring itu sendiri terlihat seperti terbuat dari besi hitam, tapi itu pasti punya efek khusus. Kalau itu adalah besi biasa, Filo harusnya lebih dari cukup kuat untuk melepasnya.


"Kau nggak bisa kabur, jadi gak perlu repot-repot. Nah sekarang, serahkan putri pada kami."


"Kenapa aku harus menurutinya?!"


Itu sangatlah jelas. Lonte yang tersenyum yang berdiri disamping dia adalah dalang dibalik semua ini.


Kalau mereka membunuh sang putri, aku nggak akan pernah bisa membuktikan ketidakbersalahanku!


"Filo!"


"Y...Ya! Ah...."


Filo berusaha berdiri, tapi semua kekuatannya lenyap dan dia terjatuh ke tanah lagi, kakinya terikat seperti sebelumnya.


"Aku.... Aku nggak bisa.... Aku nggak bisa bangun! Aku nggak punya tenaga!"


Filo mulai bersinar, dan kembali ke wujud manusianya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Bukan aku! Aku berubah menjadi manusia secara otomatis!"


Apa? Gimana bisa? Satu-satunya tebakanku adalah ring milik Motoyasu....


"Lihatlah. Aku menyuruh seorang alchemist membuatnya. Itu dibuat agar Filo menjadi bidadari kecil selamanya. Selama dia terjerat ring itu, dia nggak akan bisa menyerangku lagi."


"Ugh! Lepasin aku!"


Motoyasu berjalan mendekati Filo, dimana dia berjuang untuk berdiri. Motoyasu mengangkat dia agar dia berdiri dan menunjukkan dia pada kami.


"Alchemist itu hebat sekali. Dia bahkan bisa menyegel kekuatan magis milik Filo."


Sial, kupikir Filo bisa menjauhkan kami dari sini dengan kecepatannya. Itu sudah nggak memungkinkan lagi.


Gimana bisa aku tau kalau mereka punya kekuatan untuk mengubah wujud Filo dan kemudian menekan semua kekuatannya?


Dan juga apa-apaan ring geblek itu?! Apa dia segitunya menginginkan Filo? Tapi yah, kurasa dia terus mengoceh tentang "bidadari kecil" saat dikota. Dia pasti memesan ring itu secara khusus agar dia bisa menangkap Filo. Dan nggak disangka dia akan mendapatkan kesempatan menggunakan ring itu begitu cepat dan di situasi kayak gini? Apa-apaan ini?


Apapun itu, Kaki Filo sudah nggak bisa diharapkan, jadi kita nggak akan bisa lolos dari mereka.


"Filo!"


"Mel!"


Kedua cewek itu berteriak dan saling meraih satu sama lain. Tapi jari-jari mereka nggak bisa bersentuhan.


"Aku suka putri kecil yang ribut. Jangan kuatir, kalau kau ikut bersama kami, kau bisa bersama Filo."


"Ugh!"


Dia betul-betul berpikir dia yang paling unggul, kan? Sungguh orang yang gebleknya gak ketulungan! Kenapa dia nggak mengerti kalau dia pada dasarnya menyuruh mereka berdua mati?


"Hei...."


"Um....."


"Apa yang kalian lakukan? Pahlawan Busur dan Pahlawan Pedang! Cepat tangkap Pahlawan Perisai!"


"Tapi....."


Ren dan Itsuki nggak menanggapi apa yang sedang terjadi. Mereka membeku di tempat. Kalai mereka bertindak dan menyerang sekarang, semuanya akan berakhir.


Mereka semua terobsesi terhadap keadilan mereka sendiri. Mereka hanya memandang kami berusaha melarikan diri, dan dihentikan oleh Motoyasu. Diatas semua itu, Motoyasu menangkap sandera untuk mengendalikan tindakan kami. Itu bukanlah situasi dimana mereka mau melibatkan diri. Tapi apa yang akan mereka lakukan? Aku mulai gak bisa menebak.


Apa yang harus kami lakukan? Mereka menyandera Filo, jadi aku nggak bisa kabur.


Lonte itu berdiri diam di belakang Motoyasu. Siapa yang tau apa yang akan dia perbuat?


"Tunggu! Aku akan menyelamatkanmu Filo!"


"Bodoh!"


"Aku adalah sumber dari segala kekuatan. Dengarkan kata-kataku dan patuhilah! Tebas musuh dengan pedang air! Zweite Aqua Shot!"


Mel berlari kearah Motoyasu dan mengeluarkan sihir saat dia berlari.


"Ha!"


Motoyasu melompat ke samping untuk menghindari pedang air tersebut.


"Ugh! Lepasin aku!"


Saat Motoyasu melompat untuk menghindari serangan Mel, Filo berhasil membebaskan diri dari tangan Motoyasu.


Ya! Aku senang Filo berhasil lepas, tapi kemudian, seolah mengganti apa yang hilang, tangan Motoyasu terulur dan meraih leher Mel, menyandera dia. Dia menyerahkan Mel pada Lonte itu.


"Myne! Ini adikmu yang berharga. Lindungi dia!"


"Mel!"


"Filo! Lepasin aku! Kakak!"


Filo meraih Mel, tapi sebelum dia bisa menjangkau Mel, Motoyasu berusaha memegang tangan Filo lagi. Aku menarik Filo kebelakang.


"Aku nggak bisa melepaskan kamu, Melty. Iblis Perisai memanipulasi kamu. Aku akan membebaskanmu dari pengaruh pencucian otak itu."


Sekarang!


"Prison Shield!"


Aku segera mengubah perisaiku menjadi Shield of Rage II dan menggunakan skill pada Motoyasu.


"Ap..."


Belum.... Aku harus mengendalikan amarahku.....


"Change Shield (serangan)!"


Aku mengubah Shield Prison menjadi perisai serangan terbaik milikku, Bee Needle Shield.


"Sampai sini saja! Rasakan ini! Iron Maiden!"


Aku menggunakan semua SP ku dalam upaya terakhir untuk mengubah situasi dan menjatuhkan Motoyasu. Sejujurnya, aku lebih suka menggunakannya pada Lonte itu, tapi gak bisa kulakukan. Kalau aku bisa menghentikan Motoyasu dengan skill ini, maka itu layak. Itu mungkin cukup kuat.


"Jangan harap segampang itu! Shooting Star Sword!"


"Sudah kuduga kau itu jahat! Shooting Star Bow!"


Whoa! Ren dan Itsuki berbalik dan menggunakan skill terkuat mereka pada Iron Maiden.


Ada suara yang keras, dan sebuah retakan muncul pada Iron Maiden. Pintu yang menutup melambat.


"Semuanya! Sekarang! Hancurkan sekarang!"


"Baik! Ren!"


"Dimengerti, Itsuki!"


"Motoyasu, kami akan menyelamatkanmu!"


Ren, Itsuki dan anggota party Motoyasu mengeluarkan serangan dan sihir terkuat mereka dan menargetkan iron maiden. Terjadi dentuman keras. Dan kemudian iron maiden hancur berkeping-keping.


Sialan. Aku kehabisan SP karena serangan tadi.


"Te...Terimakasih semuanya!"


Motoyasu menerima damage dari serangan Bee Needle Shield, tapi dia tersenyum, mendapati dirinya terbebas dari Iron Maiden.


"Apa kau lupa pada kami."


"Ya. Kita telah menyelamatkan sang putri. Warga negeri kita ingin pencucian otak pada dirinya dihilangkan sesegera mungkin."


Ren dan Itsuki membantu Motoyasu. Diatas semua itu, Lonte itu telah menyandera Mel. Kalau kami nggak segera membebaskan dia, mereka akan membunuh dia.


Aku lupa. Setiap kali aku menggunakan Shield of Rage II, Filo akan menggila.


Tapi dengan Filo dalam wujud manusianya, nggak ada yang terjadi.


Kenapa? Tiba-tiba aku melihat perisaiku memancarkan sesuatu berwarna merah. Cahaya itu terbang ke arah Filo, tapi terpantul dari dia. Aku bertanya-tanya apakah ring itu memblokir mantra dukungan atau peningkatan statistik?


Pergerakannya mungkin dibatasi oleh sihir perlindungan, yang mana memiliki efek samping memblokir mantra milikku.


Kalau Filo menggila, kami nggak akan bisa mengendalikan dia, dan itu akan membuat bertarung menggunakan Shield of Rage II semakin sulit.


"Raphtalia! Bisakah kamu menyingkirkan ring yang ada pada Filo?"


Kalau kami bisa menyingkirkannya, aku berencana berganti perisai lain sesegera mungkin.


"Aku sedang mencobanya! Susah sekali!"


Raphtalia menebas ring itu dengan pedangnya, dan membuat area di sekitar situ dipenuhi dengan percikan api dan dentangan. Dia nggak tampak membuahkan hasil.


Seberapa kuat mereka membuat ring itu? Raphtalia menyerangnya kuat-kuat.


Apa yang harus kulakukan? Aku kehabisan SP, jadi aku nggak bisa menggunakan skill apapun. Filo terjebak dalam wujud manusia.


Yang tersisa hanya Raphtalia, tapi dengan pedangnya dan sihirnya saja, dia nggak akan bisa mengubah aliran pertarungan ini.


"Master!"


"Apa?!"


"Mereka nggak akan bisa menangkapku lagi!"


"Memang mudah bilangnya—mereka sudah menangkapmu sekali!"


"Aku baik-baik saja!"


Filo mengulurkan tangan kebawah salah satu sayap kecilnya dan mengeluarkan hadiah yang diberikan pemilik toko senjata yang aslinya buatku, sarung tangan.


Itu benar, itu adalah alat untuk mendapatkan kekuatan manusia super.


Filo memakai sarung tangan itu, dan kemudian menyilangkan tangannya. Aku bisa bilang kalau dia sedang berkonsentrasi.


"Sekarang adalah giliranku untuk menyelamatkanmu, Mel!"


"Sarung tangan apa itu? Kau pikir kau bisa mengalahkan aku dengan sarung tangan itu? Oh Filo, kau manis sekali! Lebih baik buang saja sarung tangan itu."


"Aku nggak akan kalah!"


"Ah, Filo!"


Aku mengulurkan tangan untuk menghentikan dia, tapi dia sudah mengayunkan pukulan yang kuat pada Motoyasu.


"Ugh...."


Motoyasu mengulurkan tangannya mencoba menangkap Filo lagi, tapi hal itu membuat celah yang besar pada bagian perutnya, dan Filo menghantamkan tinjunya pada perut Motoyasu.


Motoyasu meringkuk dan jatuh berlutut.


"Ini... Ini bukan... apa-apa."


"Hiya! Lepasin Mel! Hiya!"


"N...Nggak akan...."


Dia terhuyung-huyung dan mundur.


"Filo! Tenanglah dan kembalilah kesini!"


"Baik!"


Filo kembali ke kami setelah dia memukul Motoyasu.


"Menurutmu kau bisa menjatuhkan dia?"


"Lihat saja!"


"Bagus. Kau urus Motoyasu, Raphtalia dan aku akan mengurus dia yang lainnya. Siapa saja yang punya peluang membebaskan sang putri—lakukan."


Pada akhirnya, Motoyasu adalah seorang feminis—jadi dia nggak akan bertindak terhadap Filo, meskipun Filo menggila.


"Tuan Naofumi."


"Ada apa?"


"Aku punya ide. Apa kamu bisa menarik perhatian musuh?"


"Kamu punya rencana?"


"Ya...."


Hm... Jadi Raphtalia ingin mencoba sesuatu, tapi apa?


Aku paham. Dia ingin bersembunyi dan kemudian menyelinap kebelakang mereka. Dia ahli dalam hal itu.


Pasti itu yang dia rencanakan.


"Oke. Akan kulakukan sebisaku. Ayo!"


"Ayo lakukan."


"Okeeeeeeee!"


"Maju!"


Meski begitu, nggak ada peluang kami bisa menang melawan ketiga pahlawan itu. Tapi itu bukanlah rencanaku. Masih ada cara bagi kami untuk kabur.


"Raphtalia, jaga jarak."


"Baik."


"Ayo maju!"


"HIYAAAAAAAAAA!"


Filo menyerbu. Sama seperti yang kukatakan pada dia, dia berlari lurus ke arah Motoyasu. Tapi kali ini dia tau kalau Filo mengarah pada dia, dan dia menyiapkan tombaknya. Aku yakin dia nggak akan menusuk Filo dengan tombak itu.


"Nah sekarang Melty, aku memintamu untuk tidur dulu sebentar."


Lonte itu mengeluarkan sebuah obat kecil dan menciumkannya pada putri kedua.


Siapapun yang berasal dari dunia lain yang tau anime atau drama Jepang akan mengenalinya sebagai sebuah obat yang akan membuatmu pingsan.


Tapi aku sudah lumayan lama disini. Aku tau seperti apa sifatnya Lonte itu, jadi obat itu kemungkinan besar untuk membunuh Mel.


"Filo! Tolong!"


"Mel!"


Aku bisa merasakan, merasakannya secara fisik, Filo mengumpulkan kekuatan magisnya pada sarung tangan itu.


"Haikuikku!"


Dia terlihat seperti dia menjadi buram selama sesaat, dan kemudian, dalam sekejap, dia berada tepat didepan Motoyasu, dan dia mengayunkan tinjunya. Sarung tangannya terlihat berbeda. Dia telah mengisinya dengan sihir yang begitu banyak hingga sarung tangan itu memancarkan cahaya pucat, dan terdapat cakar magis pada sarung tangan itu.


Gimana bisa itu terjadi? Apa sihirnya mengkristal dan mengeras?


"Ugh! Apa itu?! Serangan dia begitu kuat! Hentikan! Filo, hentikan!"


Motoyasu dipaksa bertahan. Cakar pada sarung tangan itu mengenai sasarannya setiap kali dia mengayunkan tinjunya.


Kalau dia bisa mendorong mundur Motoyasu seperti itu, kekuatan serangannya pasti sangat kuat.


"Hiya! Rasakan ini! Hya!"


Filo bisa mengeluarkan kekuatan sejatinya dalam wujud Filolial Queen, tapi dari cara dia bertarung sekarang sambil menggunakan sarung tangan itu, dia pasti hampir memiliki kekuatan serangan yang sama atau bahkan lebih?


Karena dia memiliki seseorang yang diperjuangkan, dia akan bertarung dengan segala kekuatan magisnya.


Aku berkonsentrasi pada Ren dan Itsuki, tapi tetap sambil melirik Motoyasu.


Meskipun aku adalah target mereka, mereka tau serangan-serangan mereka nggak akan betul-betul efektif terhadapku, dan sepertinya mereka nggak mengerahkan banyak upaya.


Sebenarnya, Ren cuma memiringkan kepalanya saat dia mempertimbangkan situasinya. Dia cuma menonton.


Itsuki telah diperdaya kalau aku adalah musuhnya, tapi dia nggak menyerangku. Aku yakin dia akan mengerahkan upaya untuk melindungi Motoyasu—tapi kalau dipikir lagi, mereka berdua memiliki rasa keadilan yang kuat. Mereka nggak akan mau menganggu pertarungan satu lawan satu.


Mereka pasti telah memutuskan untuk bertindak dan menghentikan Iron Maiden milikku karena resiko bahwa Iron Maiden itu mungkin akan membunuh Motoyasu atau sesuatu semacam itu.


Pasti ada cara untuk menggunakan situasi ini menjadi keuntungan kami.


Aku harus terus membuat mereka berfokus padaku, bukan Raphtalia. Aku memastikan untuk nggak melihat kearah dia dan perlahan mundur untuk membuat mereka mengikuti aku.


Saat yang tepat untuk kabur masih belum datang.


Tapi kalau aku bisa membuat mereka fokus padaku....


"Aku paham cara menggunakan ini!"


Filo mengeluarkan cakarnya dan menyilangkannya.


"Torna..."


"Maaf! Kau membuatku nggak punya pilihan lain, Filo. Ini akan agak sakit."


Motoyasu menyiapkan tombaknya, mengacungkannya pada Filo, dan bersiap menggunakan sebuah skill.


"Chaos Spear!"


"Ugh!"


Filo mengacungkan cakarnya dan melompat ke arah musuh. Saat dia hampir menjangkau Motoyasu, dia mulai berputar, dan berlari kearah Motoyasu.


"Ap...."


Filo berputar menerobos hujamam tombaknya, menghantamkan cakarnya, dan membuat Motoyasu terlempar. Sekarang Filo menuju kearah si Lonte.


Tate no Yuusha Volume 3 Image 13.jpg


"Yaaaaaaaahh!"


Lonte itu mati-matian berusaha membuat Mel mencium obat itu sebelum Filo bisa menjangkau mereka. Tapi dia lambat. Saat Filo mendekat, dia melepaskan Mel dalam upaya melindungi dirinya sendiri.


"Mel!"


Filo berhenti berputar dan meraih tangan Mel dalam satu gerakan, dan kemudian mereka berdua berlari.


"Ugh...."


Motoyasu jatuh ke tanah keras-keras. Sekarang dia berusaha berdiri dan menatap kearah Filo dan Mel.


"Mundur, Mel. Aku akan mengurus pria tombak itu, lalu kau dan aku akan lari."


"Oke."


Filo berbalik kearah Motoyasu dan mempersiapkan cakarnya.


Ini adalah awal dari pertarungan baru. Dimana itu adalah pertarungan satu lawan satu antara Filo dan Motoyasu, sekarang Lonte itu membantu Motoyasu dan Mel membantu Filo.


Kami semua hanya menonton, dan tiba-tiba pertarungannya dimulai.


"Kamu bisa melakukannya, Filo! All Zweite Aqua Shot!"


"Kami nggak butuh adik yang berpikir dia lebih baik daripada kakaknya! Zweite Hellfire!"


Si Lonte dan Mel saling menembakkan sihir satu sama lain.


Dasar Lonte geblek. Apa yang ada di otaknya? Dia adalah penerus tahta terakhir, tapi malah berkelahi dengan adiknya?


Baiklah kalau begitu, kalau ini adalah pertarungan untuk menentukan pewaris, aku tau siapa yang harus aku dukung. Lonte itu nggak cocok buat duduk di singgasana.


"Zweite Earth Hammer!"


"Zweite Fire Arrow!"


Tapi para anggota party lain dari para pahlawan jauh lebih buruk dari yang kami duga.


Bukannya mengarahkan serangan mereka pada Filo, mereka menargetkan Mel.


"Apa yang kau lakukan?!"


Ren melompat dan menepis sihir yang mengarah pada Mel.


"Apa kau mau membunuh sang putri yang kita ditugaskan untuk melindunginya?! Bahkan jika dia di cuci otak, kita tetap harus melindungi dia! Pertimbangkan level dia!"


Itu benar. Putri kedua adalah yang harusnya dilindungi Ren, Itsuki dan Motoyasu.


Si Lonte mungkin ingin membunuh adiknya, tapi para pahlawan nggak mau itu terjadi.


Ini adalah peluang kami. Aku bisa membuat mereka memihak kami.


"Tapi putri telah di cuci otak oleh Pahlawan Perisai. Dia nggak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri."


"Meski begitu, kalau kau nggak menahan diri, kau akan membunuh dia! Dia jelas-jelas nggak berusaha menyerang kita!"


Situs milik putri jelas-jelas cuma gangguan, nggak lebih, karena setiap sihir cuma melintas diantara Filo dan Motoyasu. Ada banyak ruang bagi mereka untuk menghindarinya.


Sebenarnya terlihat seperti Lonte dan rekan-rekannya menggunakan sihir mereka secara langsung terhadap sang putri—seolah mereka berusaha membunuh dia. Itu sangat jelas sampai-sampai Ren bisa mengetahuinya.


"Kau tau bahwa levelnya nggak terlalu tinggi! Kalau kau menyerang dia dengan sihir itu, dia akan mati!"


Aku merasa seperti Lonte itu mungkin sangat mengetahui level milik Mel. Apa mereka nggak paham kalau dia BERUSAHA membunuh Mel?


"Itu... Itu benar...."


Lonte itu berpaling karena frustasi. Dia menghela nafas, lalu mengangguk.


"Ren, Itsuki. Dia menginginkan kematian sang putri. Nggak bisakah lu bedua memahaminya?"


"Apa?!"


"Myne adalah pewaris cadangan, sang putri kedua adalah pewaris sah saat ini. Aku yakin lu bedua bisa memahami sisanya."


"Jangan dengarkan kebohongannya! Pahlawan Busur! Pahlawan Pedang!"


"Apa yang lu omongin? Lu tau kalau itu betul. Tanyain saja sama anggota partymu."


Ren dan Itsuki jelas-jelas terguncang. Lonte itu bertindak begitu gila, harusnya itu terlihat jelas oleh siapapun. Mungkinkah mereka terombang-ambing oleh kepercayaan diriku? Terserahlah. Sebenarnya itu BENAR—kalau mereka memperhatikannya, mereka akan segera mengetahuinya.


"Begitulah cara dia mencuci otak orang! Jangan dengarkan dia!"


Alasan yang sungguh menjengkelkan.


"Dia benar! Mati sana! Pahlawan Perisai!"


Salah satu anggota party Itsuki yang mengenakan armor megah mengayunkan kapaknya padaku.


Itulah yang kutunggu-tunggu!


"Hiyaaaaaa!"


"Rasakan ini! Matilah! Iblis Perisai!"


Aku menggunakan perisaiku untuk menghentikan serangannya.


"Sekarang! Serang mumpung pertahanannya menurun!"


"Oke!"


"Jangan serang!"


"Ya, jangan! Kalian harus hati-hati, mereka berbahaya!"


Para anggota party Ren dan Itsuki mengabaikan perintah mereka untuk berhenti, dan mereka semua menyerbu kearah kami sekaligus.


Mereka membentuk sebuah kelompok besar dan menyerbu kami sekaligus—tapi mereka nggak terbiasa bertarung bersama.


Ini adalah kesempatan kami! Banyak dari mereka yang menganggap kalau aku nggak bisa menyerang balik—tapi mereka salah.


Aku menggunakan kutukan pembakar diri, berpusat pada diriku sendiri, dan membakar seluruh area.


"ARG!!!!!!!"


"Hiyaaaaaa!"


"A....Apa?!"


Itsuki diam tertegun. Dia menatap kami.


Ren melompat masuk dan menepis serangan sihir yang diarahkan pada sang putri. Dia mencoba menyerang balik, tapi dia terlalu lambat, dan berakhir meleset.


"Ugh.... Tubuhku...."


Semua orang, termasuk pria berarmor itu tumbang ke tanah. Mereka nggak mampu berdiri.


"Jangan pikir aku nggak bisa melawan balik. Perisai ini punya kekuatan yang besar."


"Ugh....."


Ren menghunus pedangnya dan mengerang. Itsuki melakukan hal yang sama.


Mereka menatap para anggota party mereka dan mulai mengeluarkan sihir penyembuh pada mereka. Sayang sekali. Kutukan pembakar diri telah mengutuk mereka—itu akan membuatnya sulit untuk menyembuhkan mereka.


Tapi menatap party mereka menderita nggak akan membuatku simpati pada Ren dan Itsuki. Negosiasi lebih lanjut akan susah.


"Hand Red Sword!"


"Arrow Rain!"


Ren dan Itsuki mengarahkan serangan mereka padaku.


Saat Ren meneriakkan Hand Red Sword, sejumlah pedang muncul di langit, lalu pedang-pedang itu mulai berjatuhan kearahku. Pada saat yang bersamaan Itsuki menarik tali busurnya dan mengarahkannya ke langit. Saat dia melepaskan talinya, anak panah cahaya mulai berjatuhan disekitar kami.


Keduanya adalah serangan jarak jauh.


"Ugh...."


Aku segera menutupi kepalaku dengan perisai dan memblokir pedang dan anak panah yang berjatuhan.


Sialan. Sakit sekali. Aku bisa merasakan otot-ototku tegang karena sakit.


"Ternyata begitu."


"Ya, kurasa juga begitu. Kekuatan miliknya itu nggak ada di game, tapi itu masuk akal kalau bekerja dengan cara itu."


"Serangan balik untuk serangan langsung."


Mereka benar. Kutukan pembakar diri terlihat seperti serangan yang sempurna, tapi itu cuma aktif dalam menanggapi serangan-serangan jarak dekat. Karena mereka sudah mengetahuinya, Shield of Rage II nggak terlalu berguna.


Cuma mengetahui kalau aku punya serangan balik otomatis yang akan melukai mereka hingga cukup untuk mencegah mereka menyerang kami. Tapi kalau mereka mengetahui bagaimana mengakalinya, maka mereka bisa saja menyerangku dari jauh sampai aku tumbang.


Kalau mereka mengetahuinya, maka pertarungan cuma akan semakin buruk.


Mau gak mau aku terus menggunakan Shield of Rage II dan berharap menang.


Kalau situasinya terus memburuk maka aku harus berganti perisai yang lain.


Yang mana artinya mereka harus menggungu untuk.... Tidak. Aku nggak tau berapa lama aku bisa terus mengunakan Shield of Rage II, jadi nggak ada perlunya mengikuti pemikiran itu.


Aku nggak perlu meletakkan kartuku di meja—menipu mereka adalah strategi yang bagus.


"Ada apa? Kalian menyadari bahwa aku bisa menangani serangan apapun yang kalian arahkan padaku, kan?"


"Aku yakin lu bohong."


"Ya, kalau kami semua menyerang sekaligus aku yakin itu akan efektif. Belum lagi semua knight berkumpul di jalan."


Sialan! Kelihayan mereka nggak tertipu.


Tapi bukan itu yang sebenarnya kuinginkan.


"Dia nggak bisa menyerang balik seranganku! Eagle Piercing Shot!"


Itsuki menembakkan panah padaku, dan saat anak panah itu meluncur, itu berubah bentuk menyerupai seekor elang.


Aku berfokus pada tembakan energi yang berbentuk elang tersebut, dan bisa melihat anak panah didalamnya. Anak panah itu terbang lurus dan cepat—sangat cepat.


Berdasarkan dari nama serangannya, sepertinya bisa diasumsikan bahwa itu adalah sebuah serangan penembus. Aku pernah memainkan RPG online, jadi aku cukup familiar dengan serangan busur. Tusukan artinya bahwa itu akan menembak tembus, meninggalkan lubang. Kalau skill miliknya adalah sebuah anak panah yang mampu mengeluarkan serangan penembus, mungkin itu artinya bahwa aku nggak akan bisa menghentikannya dengan perisaiku. Yang mana artinya bahwa kalau aku harus menanggapi, aku harus menjauh dari jangkauannya atau mencari cara untuk menjatuhkannya sebelum mengenai aku. Bisakah aku melakukannya? Itu akan berbahaya.


Berkonsentrasi, berfokus pada energi berbentuk elang yang terbang, mengulurkan tangan dan meraih kepalanya. Lalu jari-jariku menemukan lehernya. Aku menggenggam lehernya dan menghentikannya.


"Apa?! Dia menangkap Eagle Piercing Shot punyaku?!"


Itsuki berteriak. Dia jelas-jelas terkejut atas tanggapanku.


Energi elang itu, cukup mengejutkan bahwa itu nggak terlalu kuat. Aku meremasnya dan menghancurkannya.


"Lihat, gue menghentikannya. Ren, pikirkan lagi. Lu tau kalo pertarungan ini enggaklah betul."


"Gimana bisa gitu?"


"Semua orang ini keterlaluan sinis pada gue. Dan mereka menggunakan sebuah perisai pencuci otak imajinasi mereka untuk membenarkan tindakan mereka. Kalau Pahlawan Perisai punya senjata semacam itu, maka kalian pasti punya juga, kan?"


"......"


Ya. Aku ingin meluluhkan mereka dengan kata-kata, lalu membuat mereka pergi.


Adapun untuk Lonte itu—kalau para pahlawan nggak mendukung dia, dia nggak akan punya pilihan lain selain mundur.


Atau begitulah yang kupikirkan. Lonte itu segera mengeluarkan sebuah bola cahaya dan menembakkan kearah langit.


"Aku telah memanggil bala bantuan! Prajurit negeri ini akan segera sampai disini!"


Sialan. Saat ini mereka sedang mendekat.


"Hiya! Rasakan ini!"


Boom!


"Ugh....."


Filo menghantamkan pukulan-pukulan ganas pada Motoyasu. Filo hampir terlihat seperti dia sedang menari.


Dia berputar-putar melingkar dan memukul Motoyasu dengan cakarnya yang berputar. Motoyasu betul-betul nggak diberi ampun.


Aku terkejut pada seberapa hebatnya Filo bertarung dalam wujud manusianya.


Aku berharap membuat Ren dan Itsuki memihak kami, tapi apa itu masih memungkinkan?


Aku nggak punya waktu buat mengkhawatirkan hal itu. Para prajurit telah tiba.


"Akhirnya! Ketemu si Pahlawan Perisai yang menculik sang putri! Bunuh dia!"


"Baik!"


Para prajurit mempersiapkan busur mereka dan menyerang dari kejauhan.


"Tunggu! Aku belum selesai menjelaskan."


Sebelum aku bisa menyelesaikannya, anak panah mulai ditembakkan kearah kami. Ada anak panah sihir diantara semua anak panah itu.


Aku berdiri sendiri. Aku nggak tau apakah mereka memanipulasi anak panah itu dengan sihir atau semacamnya, tapi semua anak panah itu terbang ke arahku.


Para prajurit itu nggak sekuat para pahlawan, tapi mereka tetaplah cukup berbahaya.


"Myne! Kami masih berbicara!"


"Tidak, Tuan Ren. Kau nggak perlu mendengarkan si Perisai! Dia akan mengunakan Perisai Pencuci Otak untuk mengendalikanmu!"


Lonte itu, dia nggak pernah menyerah!


Dia bisa mengatakan apapun yang dia inginkan, dia nggak bisa membodohi aku. Bahkan sekarang dia mencoba menembakkan sihir pada Mel. Semua itu sangatlah jelas.


Para anggota party bertindak aneh. Seolah mereka ditahan di tempat oleh sihir.


Apa yang terjadi? Aku bisa merasakan kekuatan yang kuat dan mengintimidasi. Sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sihir yang biasanya.


"Rasakan ini! Ini akan mengakhiri semuanya!"


Si Lonte dan para prajurit disekeliling dia, selesai merapal sebuah mantra, tapi dia nggak menembakkannya kearahku. Dia menyerang sang putri.


"Group Magic."


Sebuah bola api besar muncul di udara. Kalau sihir itu mengenai sang putri, dia pasti akan mati!


Tapi kemudian...


"Maaf. Aku nggak bisa membiarkannya."


Dari belakang, dan tepat melewati bahu Lonte itu, bilah dari sebuah pedang muncul.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya