Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid18

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

Crack—


Suara retakan menggema di seluruh Makam Raja Iblis.


Tersegel dalam kristal roh raksasa yang mengapung di udara adalah roh Iris, satu-satunya roh terkontrak Raja Iblis Solomon, ratu dari Kota Raja Iblis ini.


Cahaya suci berwarna-warni memancar dari retakan-retakan, menerangi ruang pemakaman.


Didalam kristal dimana cahaya dipantulkan secara acak, roh Iris mendesah putus asa.


(Sepertinya tugasku sebagai penjaga, yang berlangsung selama seribu tahun, akhirnya berakhir...)


Menargetkan Peti Mati Raja Iblis, penyusup itu mengorbankan nyawanya sendiri untuk menggunakan senjata yang mengerikan, dengan begitu berhasil menghancurkan penghalang kokoh dari Makam Raja Iblis.


Saat ini, mengandalkan kekuatannya sendiri, dia tak lagi bisa mempertahankan segel Peti Mati tersebut. Dengan kata lain, mahluk yang disegel oleh Raja Iblis Solomon menggunakan kekuatan terakhirnya sekali akan bangkit di dunia ini.


Crack, crack, crack—


Retakan kecil tak terhitung jumlahnya memenuhi permukaan kristal tersebut, selebihnya memblokir pandangan pengamat pada Iris.


Lalu—


Plink—


Dengan suara nyaring, kristal itu pecah, berhamburan.


Gelombang cahaya yang keluar seketika menghapus kegelapan ruang pemakaman. Pecahan-pecahan kecil dan transparan dari kristal itu berhamburan di udara seperti salju.


Pemandangan keindahan yang mulia ini yang hampir menggunggah dunia akan menghilang.


Lalu—


Ditengah kecerahan itu, sosok seorang cewek muncul.


Itu adalah seorang cewek bermata biru es dan rambut pirang yang cemerlang.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 1 - Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

"....Roh-roh ini gak kenal menyerah!"


"Mereka kemungkinan besar mengikuti aroma dari divine power kita—"


Ellis mengeluh kesal sambil berlari di jalanan Kota Raja Iblis dengan kecepatan seperti angin.


Roh-roh yang dikirim oleh para Sacred Spirit Knight berada di belakang, mengejar mereka. Mereka adalah bagian dari operasi khusus Ayla Cedar yang mengkontrak roh serigala bayanganShade Wolf yang merupakan roh gabungan. Sebagai tipe roh yang sepenuhnya mandiri, mereka bisa terus berada di bayangan Claire dan Ellis dan terus mengikuti mereka ketika mereka terus berlari.


Beberapa menit sebelumnya, mereka berdua berhadapan dengan Sacred Spirit Knight di sebuah alun-alun di Kota Raja Iblis.
Luminaris sedang mencari avatar Elemental Lord Api yang mana mereka kehilangannya jejaknya, yang mana Ellis dan Claire kebetulan sedang bersama dengan Elemental Lord Api tersebut.


"Kerajaan Suci telah mengetahui kita berada disini."


"Ya, sepertinya akan lebih bijak untuk bertemu dengan Kamito dan yang lainnya lalu keluar dari sini!"


Ellis memutar tubuhnya dan mengayunkan Ray Hawk.


Pedang angin yang dihasilkan dari ujung tombak itu memotong bayangan yang mengejar menjadi dua.


Akan tetapi, anjing yang terbelah dua itu meresap kedalam tanah, lalu muncul dari bayangan bangunan lain.


"Percuma saja!"


"Para roh gabungan terspealisasi dalam kemampuan pelacakan, sungguh menjengkelkan..."


"Aku dikejar oleh anjing bayangan itu saat babak final di Ragna Ys. Sepertinya nasib mempertemukan kami lagi."


Anjing itu menyerang dari atas. Kali ini, Claire menghadangnya dengan menggunakan Flametongue.


Dengan suara angin yang terbelah, anjing itu seketika terbakar habis.


(...Pengejaran semacam ini menguntungkan musuh. Ini buruk.)


Bahkan tanpa melirik bayangan yang telah terbakar, Claire merenung. Kemungkinan para ksatria dibawah komando Luminaris sedang menunggu di ujung jalan ini.


Mengingat tingkat Claire dan rekan-rekannya saat ini, mereka mungkin bisa menghadapi Luminaris atau para ksatria roh Kerajaan Suci. Akan tetapi, melawan begitu banyak ksatria disaat yang bersamaan tetaplah cukup sulit.


(Bisa dikatakan, kami juga gak bisa menggunakan sihir angin milik Ellis untuk terbang—)


Itu sama saja dengan bermain di tangan musuh, karena Sacred Spirit Knight juga memiliki para penembak jitu profesionalnya.


"Ampun deh, kemana sih perginya Kamito disaat-saat seperti ini!?"


"Aku benar-benar ragu kalau Kamito sudah tertangkap oleh Kerajaan Suci—"


"Lewat sini, kepung dan tangkap mereka!"


Komando Luminaris terdengar di jalan utama.


Didepan mereka, suara langkah kaki dari banyak orang mendekat.


"Mereka sudah mengepung kita dari depan dan belakang. Apa yang harus kita lakukan?"


"Apa gak ada cara lain selain menerobos mereka secara langsung...!?"


Claire dan Ellis mempersiapkan diri mereka, berhenti untuk mengeluarkan elemental waffe mereka. Lalu....


Sebuah suara ledakan yang mengerikan terdengar. Tanah berguncang keras.


"....A-Apa!?"


"Tanahnya terbelah!?"


Retakan-retakan bermunculan di bangunan-bangunan batu, yang mana selanjutnya runtuh karena gempa bumi yang kuat tersebut.


Ini bukanlah serangan dari Sacred Spirit Knight, karena mereka bisa melihat Luminaris dan para bawahannya yang ada didepan di jalan utama kebingungan sama seperti Claire dan Ellis.


"—Claire, kita akan terbang!"


"Dimengerti!"


Claire segera mengangguk dan Ellis memegang tangannya. Menggunakan saat kebingunan ini akan memungkinkan mereka untuk mengambil celah dalam para penembak jitu musuh. Sungguh suatu penilaian yang nekat namun akurat.


STnBD V18 BW01.jpg


Ellis mengayunkan Ray Hawk dengan satu tangan, menghasilkan angin kencang yang membentuk angin puyuh. Kedua cewek itu segera melewati atap bangunan dan terbang.


Para penembak jitu menembakkan panah cahaya suci seperti hujan. Akan tetapi, karena mereka bereaksi terlambat karena kekacauan tersebut, mereka melakukan kesalahan yang fatal.


Berputar dengan cepat di udara, Ellis menghindari hujan panah tersebut secara spektakuler.


"Berubahlah jadi arang!"


Sebagai balasan, Claire menembakkan sebuah Fireball, meledakkan semua penembak jitu yang bersembunyi di bayangan bangunan.


"Pokoknya, ayo kabur ke hotel dimana Fianna dan yang lainnya berada—"


"Ya, tapi gempa bumi apa yang barusan...?"


Ellis menyeka keringat dengan lengan bajunya sambil menatap Kota Raja Iblis yang ada di bawah mereka.


Sebuah retakan besar yang muncul secara tiba-tiba di tanah yang menelan jalanan dan bangunan, tampak semakin membesar.


"Ini bukanlah gempa bumi biasa—"


"Ya. Mempertimbangkan semua hal, gempa bumi merupakan fenomena yang disebabkan oleh para roh tanah yang marah. Di Ghul-a-val ini yang merupakan daratan yang ditinggalkan oleh para roh, gempa bumi seharusnya merupakan hal yang mustahil—"


"Ellis, lihatlah! Ada sesuatu didalam retakan itu!"


"...Apa itu?"


Ellis melihat kearah yang ditunjuk Claire.


Di dalam retakan raksasa itu, ditengah kegelapan yang menakutkan, suatu bayangan raksasa berusaha merangkak keluar.


"Mungkinkah itu adalah roh....?"


"...Duh, apaan sih yang sedang terjadi!?"

Bagian 2[edit]

"Apa yang terjadi....?"


Dikelilingi oleh Kegelapan, tak bisa melihat tangannya sendiri, Kamito membuka matanya.


Dia merasakan gelombang rasa sakit dari kepalanya.


Sudah berapa lama waktu yang berlalu sejak dia kehilangan kesadaran?


"....Dimana sih ini?"


Sambil menekan keningnya, Kamito melihat sekeliling.


Sebuah lampu kecil disertai dengan sebuah tempat lilin perak kuno menyala, menyediakan penerangan.


Lantai batu berlumut dipenuhi tiang-tiang batu yang rubuh.


Lukisan di dinding telah nyaris terkelupas, mengindikasikan keadaannya yang menyedihkan.


Kemungkinan besar ini adalah semacam reruntuhan kuil kuno. Kamito teringat babak final Blade Dance, yang mana diadakan di reruntuhan Megidoa yang merupakan kota terabaikan.


(Tunggu, kenapa aku ada disini....?)


Kamito semakin dan semakin bingung.


Ingatannya sebelum kehilangan kesadaran telah terputus secara tiba-tiba.


(—Aku ingat aku seharusnya sedang bertarung melawan Lurie di bawah tanah di Makam Raja Iblis.)


Pembunuh yang dikirim oleh Kerajaan Suci untuk menargetkan Peti Mati Raja Iblis adalah Lurie Lizaldia, pemenang Blade Dance lima belas tahun yang lalu. Setelah bertarung sengit melawan dia, Kamito mengalahkan dia.


Akan tetapi, dia masih memiliki upaya terakhir.


Dia mengaktifkan bom roh yang terpasang pada jantungnya sendiri, sebuah senjata penghancur masal menggunakan kekuatan dari para roh, berniat menghancurkan Makam Raja Iblis yang dilindungi oleh sebuah penghalang.


Secara ironis, dia yang membenci perang dan memiliki harapan terhadap para Elemental Lord untuk menghilangkan perang— sekarang malah menggunakan senjata paling mengerikan yang dibuat selama era Perang Ranbal.


(....Aku masih ingat segala sesuatu sampai poin ini. Apa yang gak bisa ku ingat adalah yang selanjutnya—)


Saat itu, apa yang terjadi pada dia, yang merupakan orang yang paling dekat dengan pusat ledakan?


"Jangan bilang..."


Kamito memikirkan kemungkinan yang mengerikan dan merinding.


Meskipun dia selamat dari banyak bahaya berkat Perlindungan Baja milik Est, gak seorangpun akan menduga dia akan selamat tanpa terluka dari bom roh, sebuah senjata penghancur masal yang mana kekuatan ledakannya cukup untuk memusnahkan sebuah kota sepenuhnya setelah diaktifkan.


(—Sewajarnya, aku akan hancur tak berbekas.)


Pasti begitu.


Mencoba menjelaskan kenapa dia masih ada, Kamito menyimpulkan...


"....Aku sudah mati, jadi tempat ini adalah Valhalla?"


Berpikir dengan tenang, Kamito mencapai kesimpulan seperti itu.


Valhalla adalah suatu tempat peristirahatan bagi jiwa-jiwa orang mati.


Legenda menyebutkan itu adalah sebuah surga yang berlokasi di suatu tempat di Astral Zero. Akan tetapi, ini merupakan apa yang dikatakan oleh Divine Ritual Institute pada dunia luar. Gak seorangpun yang tau apakah itu benar-benar ada atau tidak.


Sebagai sebuah surga, lokasi Kamito saat ini cukup kejam.


(Tidak tunggu, sekarang bukan waktunya buat bersantai!)


Kamito hendak berdiri—


Lalu dia tiba-tiba menyadari—


Tangan kanannya menyentuh lantai batu hitam.


Segel roh di punggung tangannya bersinar samar.


Kalau dia sudah mati dan pergi ke alam baka—


Maka kontrak roh dia dengan Est akan hilang, oleh karena itu segel rohnya akan terhapus.


Kamito melepas sarung tangan yang ada di tangan kirinya.


Lambang pedang bersilangan dan bulan—segel roh milik Restia—juga masih ada.


(Oh ya, dimana mereka!?)


Kamito menuangkan divine power pada segel roh yang ada di kedua tangannya untuk memanggil kedua roh pedang itu.


...Tapi tak ada tanggapan. Jika segel roh masih tampak, maka koneksinya seharusnya tidak terputus—


"Tenang. Aliran waktu disini terpisah dari alam manusia."


".....!?"


Kamito mendengar suara yang sepertinya pernah dia dengar di suatu tempat sebelumnya.


Pada saat yang sama, seorang pria secara tiba-tiba muncul didepan dia.


"....Kau....?"


Kamito kesulitan mengucapkan kata-kata.


Pria muda itu berpakaian seperti seorang pedagang gurun.


Dia adalah Safian, pedagang Zohar yang Kamito temui di Kota Raja Iblis.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau ada disini?"


Kamito berdiri, menatap tajam pada pria yang ada didepannya. Meskipun dia mengklaim bahwa dia adalah seorang pedagang malang yang mengalami kecelakaan kapal di gurun dan berakhir nyasar ke Kota Raja Iblis, hal ini jelas-jelas mustahil.


....Siapa sebenarnya dia?


"Jangan sewaspada itu. Aku gak mencoba memanfaatkanmu, tapi setidaknya aku menyelamatkan nyawamu."


"Kau?"


Kamito menatap Safian dengan penampilan skeptis pada matanya.


"Dimana ini? Kita gak berada di dalam piramida, kan?"


"Tempat ini adalah celah dimensi—bukan di alam manusia ataupun Astral Zero."


"Celah dimensi?"


"Setelah perang roh, dunia yang awalnya bersatu terbagi menjadi alam manusia dan Astral Zero. Disaat yang sama, beberapa celah dimensi terbentuk secara tiba-tiba. Ini adalah salah satu celah dimensi tersebut."


"....Jadi ini dimensi yang berbeda dari Makam Raja Iblis, huh?"


"Kau cepat sekali paham. Seperti yang diharapkan dari penerus Raja Iblis. Atau mungkin, kau sudah menanyai Iris?"


"Dia menyebutkan bahwa Kota Raja Iblis ini merupakan pecahan ingatan Raja Iblis yang ditempatkan di celah dimensi menggunakan kekuatan dari Makam Raja Iblis. Sejujurnya, aku gak sepenuhnya memahaminya, tapi ada tempat-tempat lain selain Kota Raja Iblis yang berada di celah dimensi, kan?"


"Memang. Dan dimensi ini merupakan sebuah celah kecil yang bisa kugunakan secara bebas."


Seolah membanggakan ruang pribadi miliknya, Safian merentangkan tangannya.


"Dimensi ini tidak tampak begitu menyenangkan. Reruntuhan apa ini?"


"Dulunya ini adalah sebuah tempat bersejarah milik para Elf. Akan tetapi, sebagian besar tempatnya telah hancur saat Perang Roh."


...Jadi itu sebabnya tempat ini memiliki suasana yang mirip dengan reruntuhan di Ragna Ys.


"Yah, terimakasih. Sepertinya kau betul-betul menyelamatkan aku."


"Aku senang aku tepat waktu. Terlambat sedikit saja kau akan lenyap."


"Ya."


Kamito berbicara pelan.


"Apa yang terjadi pada Est dan Restia? Apa mereka ada disini juga?"


"Tidak, cuma kau satu-satunya yang dipindahkan ke sini. Gimanapun juga, semua itu terjadi sangat mendesak. Akan tetapi, gak ada yang perlu dikuatirkan mengenai kedua roh itu. Gimanapum juga mereka adalah pedang suci legendaris dan pedang iblis milik Raja Iblis."


"Jadi kau bahkan tau tentang Est dan Restia?"


Kamito membalas. Safian mengangkat bahu dan tersenyum masam.


"Safian, siapa kau sebenarnya? Sekarang ini, apa kau masih akan bersikeras kau hanyalah seorang pedagang biasa?"


"Oh? Kupikir kau telah menyadari identitas asliku setelah bertemu Iris."


"Yah, aku punya tebakan kasar sih—"


Kamito mengeluarkan sebuah koin emas dari saku dadanya dan menjentikkannya dengan ibu jarinya.


"Ini adalah koin emas dari Kota Raja Iblis yang kau tukarkan untukku. Sepanjang waktu aku bertanya-tanya mirip wajah siapa yang ada di koin itu... Kalau aku perhatikan lebih cermat, itu sangat identik dengan wajahmu."


"Hmmm, lalu?"


"Koin emas memiliki nilai tertinggi diantara semua koin. Wajah yang ada pada koin tersebut pastilah wajah dari penguasanya. Dan penguasa Kota Raja Iblis adalah—"


"Aku paham."


"Kau adalah Raja Iblis Solomon, kan?"


"....."


Safian tersenyum tanpa menjawab.


Kamito menganggapnya sebagai jawaban iya dalam bentuk diam dan melanjutkan.


"Tapi masih baru sekarang aku yakin atas hal ini. Di ruang pemakaman, aku melihat apa yang terjadi seribu tahun yang lalu. Meskipun wajah Raja Iblis diburamkan, setidaknya aku tau dia gak seperti monster yang dikatakan legenda."


"Begitukah? Apa Iris menunjukkan segala sesuatunya padamu?"


"Ya. Bagaimana kau disebut seorang pahlawan, lalu jatuh menjadi Raja Iblis. Aku melihat semuanya."


Kamito menatap pria yang ada di hadapan dia.


Pria inilah tepatnya yang dikenal sebagai seorang pahlawan pada sebuah kerajaan kuno—


Raja Iblis Solomon yang jahat, yang telah membawa teror dan kekacauan yang mengerikan pada benua.


"Kau setengah benar."


"Setengah benar?"


Kamito mengernyit terkejut.


"Aku berbeda dari Raja Iblis yang digambarkan dalam legenda. Aku adalah hasil dari penyesalan dari saat-saat terakhir dari seorang manusia bernama Solomon Yelsion. Kau bisa menyebutnya suatu dendam yang terus membara. Seorang mahluk menyedihkan tanpa kekuatan Raja Iblis dan cuma bisa berkeliaran diantara celah-celah dimensi."


Mengatakan itu, sang Raja Iblis, yang tampak seperti seorang pria muda, tertawa mengejek diri.


...Jadi begitu. Pria ini adalah sebuah pecahan ingatan seperti yang disebutkan roh Iris.


Seperti penduduk Kota Raja Iblis, apa dia suatu eksistensi yang seperti buih?


Dari saat ketika dia masih seorang pahlawan manusia sebelum dia dikenal sebagai Raja Iblis—


(...Bisa dikatakan, gambaran ini sangat berbeda dari legenda-legenda Raja Iblis yang beredar di masyarakat.)


Kamito bergumam dalam hati.


Dari penampilan, dia seperti seorang pria muda baik-baik.


Dalam kasus Kamito, yang sama-sama seorang elementalis laki-laki, namun dia dipanggil Raja Iblis Malam Hari. Nama jahat ini sepenuhnya disebarkan oleh pendapat umum.


"Lalu apa tugasmu?"


"Apa maksudmu dengan tugas?"


Dia memiringkan kepalanya bingung pada pertanyaan Kamito.


"Roh Iris merupakan penjaga dari segel Peti Mati Raja Iblis. Kau punya tugas juga, kan?"


"....Memang. Kalau dia adalah penjaga tempat ini, maka aku adalah pengelola Kota Raja Iblis. Memperbaiki celah dimensi, terkadang mengirim kembali pengelana ke alam manusia saat mereka tertarik kesini secara kebetulan atau secara sengaja, dsb. Kurasa hal semacam itu terhitung sebagai tugas yang kita bicarakan."


"Aku gak percaya gak ada tugas yang penting."


"Aku sudah mengatakannya. Aku gak punya kekuatan dari Raja Iblis."


Safian—Raja Iblis Solomon—tersenyum masam.


"Dan sekarang, tugasku hampir berakhir."


"....Apa maksudmu?"


"Kota Raja Iblis akan segera lenyap."


Kamito terdiam gak bisa berkata apa-apa.


Apa bom roh yang digunakan oleh Lurie menyebabkan kehancuran dengan skala sebesar itu...?


(Tidak, Bloodstone itu seharusnya gak lebih besar daripada jantung—)


Itu seharusnya gak punya kekuatan ledakan untuk menghancurkan sebuah kota secara keseluruhan.


"Kota ini bertopang pada piramida, Makam Raja Iblis, untuk tetap berada di celah dimensi. Saat piramida itu rusak, maka kota ini akan runtuh. Terlebih lagi, kota ini berada di sebuah dimensi yang tidak stabil, ibaratnya sebuah bangunan yang dibangun diatas pasir."


"Lalu dia—"


Apa yang terjadi pada roh Iris, penjaga dari Makam Raja Iblis?


Solomon menggeleng. Dia mengetahui apa yang Kamito pikirkan?


"Eksistensinya tak bisa dipisahkan dari Makam Raja Iblis. Saat tempat ini runtuh, tentu saja dia akan lenyap begitu pula dengan aku."


Secara mengejutkan, gak ada kesedihan dalam suaranya.


Apa dia sudah mempersiapkan diri untuk datangnya hari ini?


"Saat Iris kehilangan kekuatan, segel pada Peti Mati Raja Iblis akan terangkat. Wanita yang kau lawan pasti sudah mengetahui hal ini, yang mana itu sebabnya dia menggunakan bom roh disana."


"...Jadi apa sebenarnya yang tersegel didalam Peti Mati Raja Iblis?" Tanya Kamito.


Menurut legenda yang disebarkan oleh pemuja Raja Iblis, dikatakan pada dia oleh Restia, sisa-sisa Raja Iblis terbaring didalam peti mati. Seseorang yang akan mendapatkan kekuatan yang besar seharusnya adalah orang yang mendapatkan peti mati itu.


Tapi—


"Betul-betul bodoh—"


Itulah yang dikatakan Lurie Lizaldia.


Yang tertidur didalam peti mati itu bukanlah kekuatan Raja Iblis—


Tapi sebuah relik suci dari Kerajaan Suci.


Solomon menggeleng.


"—Sebenarnya, yang dibilang Peti Mati Raja Iblis itu sejak awal tidak ada."


"....Huh?"


Kamito cuma bisa membelalakkan matanya.


"Itu gak lebih dari sebuah rumor yang disebarkan oleh pemuja Raja Iblis."


"Lalu apa yang dijaga oleh Roh Iris disini?"


Kamito terkesiap.


"Kau sudah melihatnya."


"Apa yang kau bicarakan?"


"Kristal roh yang menyegel roh Iris, itulah yang dia lindungi selama seribu tahun ini."


"....Kristal itu?"


Kristal raksasa yang memancarkan sinar berwarna-warni.


Itulah yang roh Iris jaga sampai sekarang—


Lalu, api pada lilin itu tiba-tiba padam.


Bukan karena tertiup angin. Disini gak ada angin.


Saat Kamito melihatnya, Solomon memasang ekspresi serius, menatap kegelapan di ruang kosong.


"....Sepertinya dia sudah bangkit."


"Dia?"


"—Ya. Sacred Maiden yang tersegel."

Bagian 3[edit]

"Apa yang terjadi?"


"Aku juga gak tau—Kyah!"


Gempa bumi yang dahsyat terjadi. Melihat tanah didepan mereka tiba-tiba terbelah, Georgios, yang menggendong Fianna di tangannya, melompat melewati retakan itu.


Dengan suara dentangan logam, roh ksatria ini mendarat dengan aman.


"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?"


Berada didepan, Rinslet menoleh kebelakang sambil menunggangi punggung Fenrir.


"Aku baik-baik saja, meskipun secara gak sengaja menggigit lidahku."


Mengernyit, Fianna menjulurkan lidahnya yang memerah.


"Kita keluar dari kota dulu. Bangunan yang ada disini sangat padat, yang mana itu berbahaya."


"Bagaimana dengan Claire dan yang lainnya? Dan juga, kita belum menemukan Kamito-kun."


"Mereka bertiga akan baik-baik saja. Keamanan anda adalah yang paling penting, Yang Mulia."


Mendengar Rinslet, Fianna menggigit bibirnya.


Saat ini, dia adalah simbol dari faksi anti-Kaisar Ordesia.


Dia gak boleh tewas disini.


"....Aku mengerti. Georgios, lari kearah gerbang kota!"


<Baik, Master!>


Menjawab dengan suara kosong, roh ksatria tersebut mulai berlari, menghancurkan ubin batu di bawah kakinya.


"Waktunya pergi, Fenrir!"


"Woof!"


Gak seorangpun dijalanan yang memperhatikan dua cewek yang lari itu. Saat kota mulai runtuh, penduduk Kota Raja Iblis berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.


(...piramida itu perlahan-lahan menghilang.)


Dari lengan roh ksatria, Fianna menatap terkejut pada pemandangan itu.


Bangunan besar itu yang berdiri dimana Istana Raja Iblis dulunya berada, bisa terlihat dari seluruh kota.


Saat ini, bangunan itu perlahan-lahan menghilang, berubah menjadi partikel cahaya seolah meleleh ke udara.


Apa ada hubungannya antara Piramida yang perlahan-lahan menghilang itu dan gempa bumi yang tiba-tiba terjadi?


Ditengah-tengah guncangan gempa bumi yang dahsyat—


Georgios dan Fenrir secara paksa melompat melewati tanah yang menyembul dan terus berlari.


Tiba-tiba, Fenrir berhenti.


"Yang Mulia, berhenti!"


Rinslet berteriak.


"Ada apa?"


"Ada sesuatu yang muncul!"


"...!?"


Grr, Fenrir menggeram sebagai sebuah peringatan.


Lalu...


Sebuah ledakan terdengar. Tanah didepan mereka terbelah.


Disertai kepulan debu, suatu bayangan raksasa muncul dari bawah tanah.


ROAR!


"A-Apa itu?"


Raungan mengerikan mengguncang udara.


Dari retakan di tanah, muncul binatang buas. Seekor binatang yang sangat besar.


Binatang itu memiliki dua kepala serta cakar dan gigi yang menyala.


"Mungkinkah ini roh...?"


Fianna melebarkan matanya.


Selain itu, ini merupakan roh yang memiliki tingkatan yang cukup tinggi. Roh kelas archdemon yang langka, sangat jarang ditemui meski di kedalaman Hutan Roh, tidak, bahkan di Astral Zero—


"Kenapa ada roh di tempat seperti ini!?"


"A-Aku juga nggak tau... Oh tidak, masih ada lagi!?"


Setelah roh singa itu, sesosok roh raksasa berbalut armor pedang es muncul.


Tingginya jauh melampaui bangunan sekitar. Dengan bilah es dalam jumlah banyak yang menjulang dari tangannya, tangan itu tampak seperti bisa menghancurkan rumah batu dalam sekejap.


"Gak bisa dipercaya...."


"Apa yang sebenarnya terjadi....!?"


Kedua roh itu perlahan-lahan merangkak keluar dari tanah, saling menatap dan mulai berhadapan.


ROAR!


Mereka meraung bersamaan—


Mereka mulai bertarung.


"...! T-Tunggu sebentar, ini bercanda, kan!?"


Pecahan batu besar terlempar mendekat, Georgios menepisnya menggunakan pedangnya.


Hantaman tinju melawan cakar membuat ubin batu di tanah terhempas, menciptakan retakan.


"Sepertinya jalur ini buntu. Ayo kita memutar."


"K-Kurasa begitu—"


Sambil berhati-hati agar gak ditemukan oleh roh-roh yang bertarung itu, kedua cewek ini pergi diam-diam.


Lalu....


"....Tolong... aku!"


Mendengar sebuah teriakan, begitu samar hingga seolah itu adalah imajinasi mereka, kedua cewek itu saling bertukar tatap.


"Apa kau dengar barusan?"


"Ya, itu... teriakan minta tolong, kan?"


Rinslet mengangguk.


Penduduk kota ini seharusnya sudah lenyap.


Lalu suara siapa barusan?


Woof woof. Fenrir menggonggong dua kali.


"Ada apa?"


"Bau seseorang berasal dari arah sana!"


Rinslet segera menyuruh Fenrir ke arah sana.


Sampai di tumpukan puing-puing yang runtuh saat gempa bumi, Fenrir berhenti.


"Apa ada orang disini?"


Rinslet berteriak keras seraya ledakan-ledakan terus bergema.


Akan tetapi, dia gak mendengar tanggapan apapun.


"Georgios, bongkar puing-puing ini!"


Dengan perintah Fianna, roh ksatria itu mulai membongkar puing-puing besar itu.


Setelah puing-puing paling besar diangkat—


"Tunggu, ada seseorang!"


Fianna berteriak.


"...Ooh... Oooooh... Ooh..."


Seorang cewek mengenakan jubah abu-abu sedang mengerang. Kakinya tertindis puing-puing.


"A-Apa kau baik-baik saja!?"


"Tetaplah sadar. Aku akan menyembuhkanmu."


Fianna bergegas mendekat dan memerintahkan Georgios untuk membersihkan puing-puing disekitar. Saat dia merapal sihir roh penyembuhan, luka pada kaki cewek itu perlahan menghilang.


"...T-Terimakasih... banyak..."


Meskipun masih menampilkan ekspresi kesakitan di wajahnya, cewek itu masih mengucapkan rasa terima kasihnya.


Gimanapun juga, sihir roh hanya bisa menyembuhkan namun gak menghilangkan rasa sakit.


"Kakimu sepertinya belum bisa dipakai berjalan. Biar Georgios yang menggendongmu."


"Boleh aku tanya kamu siapa...?"


"Aku Rinslet dari Keluarga Laurenfrost."


"Lauren....?"


Mendengar itu, cewek itu memiringkan kepalanya kebingungan.


Lalu—


BOOOOOOOOOOOOOOM!


Suara ledakan yang sangat keras terdengar dari dekat. Bangunan yang saling berdekatan runtuh secara bersamaan.


Menghasilkan kepulan debu yang menyebabkan Fianna dan yang lainnya batuk secara terus-menerus.


"Bicaranya nanti saja. Kita harus keluar dari sini terlebih dahulu."


"B-Baik—"


Cewek itu mengangguk dan diangkat oleh Georgios.


Tiba-tiba Fianna melihat benda tertentu yang dipegang erat-erat cewek itu di dadanya.


Itu adalah sebuah buku yang ditulis dalam bahasa High Ancient.


"Buku itu—"


Sebagai seorang princess maiden berbakat, Fianna bisa tau hanya dengan melihatnya sekilas bahwa buku itu bukanlah buku biasa.


Memancarkan aura misterius, ini adalah sebuah elemental waffe berbentuk buku.


Dengan kata lain, cewek ini adalah seorang elementalis.


"...Mungkinkah kau Putri Saladia!?"


"Eh!?"


Mendengar nama yang digumamkan Fianna, Rinslet terkejut.


Mata cewek itu terbelalak dan menutup bibirnya rapat-rapat.


Kalau diperhatikan lebih cermat...


Wajahnya memang mirip dengan kakaknya, Sjora.


"B-Bukan, aku...."


Berkata begitu, dia dengan panik menyembunyikan wajahnya dengan tudungnya dan mencoba membantah.


Akan tetapi, Fianna memegang tangan cewek itu dan memperkenalkan dirinya sendiri.


"Aku Fianna Ray Ordesia, putri kedua Ordesia."


"Putri... kedua...?"


"Kami menyambutmu dengan hangat, Putri Saladia."


Cewek itu membelalakkan mata merahnya.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 2 - Sacred Maiden[edit]

Bagian 1[edit]

"....Sacred Maiden, katamu?"


Suara Kamito menggema didalam celah dimensi itu.


Kamito sama sekali gak bisa memahami apa yang dikatakan Solomon.


"...Apa yang kau maksud adalah Sacred Maiden Areishia?"


"Tepat."


Solomon mengangguk dan menjawab untuk meyakinkan Kamito.


"Identitas sejati dari apa yang tertidur didalam Peti Mati Raja Iblis adalah jiwa Sacred Maiden yang telah hilang seribu tahun yang lalu."


"....Apa maksudmu?"


Kamito mendengar bahwa sisa-sisa Raja Iblis lah yang di segel didalam Peti Mati tersebut.


Tapi tidak, Kamito sendiri sejak awal gak percaya pada eksistensi dari hal semacam itu.


Dia menganggap ini lebih seperti sebuah legenda yang dibuat oleh Penganut Raja Iblis untuk memperkuat keyakinan mereka.


Akan tetapi, pria ini mengatakan bahwa Sacred Maiden tersegel didalam sana.


"Lelucon ini sama sekali gak lucu."


Kamito menggeleng.


"Setelah mengalahkan Raja Iblis, Sacred Maiden Areishia seharusnya berubah menjadi batu karena kutukan Demon Slayer."


Kamito pernah melihat mimpi Est sebelumnya.


Didalam mimpi itu, Kamito menyaksikan saat-saat terakhir dari Areishia Idriss.


Dia melihat seluruh tubuhnya berubah menjadi batu karena kutukan pedang suci, lalu hancur berkeping-keping—


"Ya, tubuh fisik Sacred Maiden berubah menjadi batu dan hancur."


Solomon mengangguk dan mengakuinya.


Akan tetapi, dia melanjutkan.


"Batu ini, berisikan divine power milik Sacred Maiden, berubah menjadi kristal roh paling murni di dunia. Bahkan sekarang, kristal itu terus menyegel jiwa Sacred Maiden didalamnya."


"....! Jangan bilang—"


Kamito membelalakkan matanya.


"Memang, kristal itu adalah hasil dari Sacred Maiden Areishia yang berubah menjadi kristal."


Solomon menyatakan dengan nada suara yang tenang.


"Apa...!?"


Kristal roh raksasa itu memproyeksikan roh Iris.


(...Aku gak bisa percaya bahwa kristal itu berasal dari Sacred Maiden.)


Menghadap Kamito yang terdiam—


Solomon mengatakan pernyataan yang bahkan lebih mengejutkan.


"Dia masih hidup, hanya tersegel didalam kristal, dalam keadaan tertidur."


"Apa kau bilang...?"


Kamito gak bisa berkata apa-apa.


Pengungkapan ini betul-betul gak bisa dipercaya.


Dalam keadaan normal, seseorang pasti akan menertawakan hal gak masuk akal seperti ini.


Akan tetapi, orang yang memberitahu ini pada Kamito adalah—


Tak lain tak bukan adalah Solomon sendiri, sang Raja Iblis dalam legenda, meski dia cuma pecahan ingatan saja.


Dan kristal roh raksasa itu memang betul-betul ada.


"Misalkan apa yang kau bilang itu memang benar—"


Kamito mendesah dalam-dalam dan mulai berbicara.


"Kenapa kau menjaga sesuatu seperti itu?"


Lalu—


"—Kalau begitu, ijinkan aku menanyakan sebuah pertanyaan padamu. Pertama-tama, apa itu Sacred Maiden?"


Raja Iblis menjawab dengan pertanyaannya sendiri.


"Apa-apaan itu, kenapa melenceng?"


"Jawab aku."


Solomon menatap tajam mata Kamito.


"Sacred Maiden adalah musuh alami Raja Iblis. Mahluk yang diciptakan oleh Lima Elemental Lord Agung untuk melenyapkan Raja Iblis."


Kamito mengangkat bahu dan menjawab.


Saat babak final Blade Dance saat mereka bertarung, Rubia memberitahu hal ini pada dia.


Sacred Maiden adalah kelahiran yang berlawanan dalam menanggapi kebangkitan Raja Iblis.


"Tepat. Seperti yang kuharapkan dari penerusku."


"Apa kau mempermainkan aku?"


Kamito menatap Raja Iblis sambil menyipitkan matanya.


"Memang, para Elemental Lord memberi dia kekuatan yang besar sebagai seorang elementalis. Akan tetapi, Alexandros—sang Penguasa yang berdiri sebagai pemimpin dari Kelima Elemental Lord—juga memasukkan sebagian dirinya sendiri, apa yang kau sebut dengan jiwa, kedalam Areishia Idriss."


"...Apa kau bilang?"


Alexandros. Pelaku sebenarnya yang menciptakan Raja Iblis Solomon—


Dia memasukkan sebagian dari dirinya sendiri pada Areishia Idriss?


"...Apa yang terjadi? Apa tepatnya maksudnya ini?"


"Aku curiga itu adalah untuk mencegah Sacred Maiden dari kehancuran sebagai sebuah wadah." Kata Solomon


"Tubuh seorang manusia tak bisa menampung kekuatan yang diberikan oleh para Elemental Lord. Oleh karena itu, Holy Lord menjadikan dia sebuah wadah yang sesuai dengan memasukan sebagian dirinya pada Sacred Maiden."


"....Jadi begitu."


Itu masuk akal.


Seperti mayoritas orang yang mewarisi kekuatan Elemental Lord Kegelapan berubah menjadi Nepenthes Lore, kekuatan besar yang diberikan oleh para Elemental Lord akan melampaui kemampuan tubuh manusia.


"Jadi itu alasannnya kenapa kami menyegel Sacred Maiden."


Solomon berbicara dengan tenang.


"Awalnya, setelah Sacred Maiden menyelesaikan misinya untuk menghancurkan Raja Iblis, jiwa yang dimasukkan kedalam tubuhnya seharusnya kembali ke Holy Lord. Akan tetapi—"


"Aku paham sekarang—"


Kamito akhirnya mengerti.


Berubah menjadi batu karena kutukan Terminus Est—


Membawa jiwa Holy Lord bersama dia, dia tersegel didalam kristal roh itu....?


"Dengan kata lain, Iris dan kau menyegel jiwa Holy Lord. Apa itu maksudmu?"


Jika jiwa Holy Lord yang ada didalam Sacred Maiden tetap tersegel—


Maka itu gak bisa bereinkarnasi dari era ke era seperti Elemental Lord Kegelapan.


"Memang. Adapun untuk alasannya, karena kau sudah melihat masa laluku, gak ada perlunya bagiku untuk menjelaskannya."


Apa yang memicu sang pahlawan, pria dari Kerajaan Zoldia, menjadi Raja Iblis adalah karena kesempatan yang ditawarkan oleh Holy Lord Alexandros, pemimpin dari para Elemental Lord.


Menciptakan Raja Iblis dengan tangannya sendiri, disisi lain— Sambil memberi sebagian jiwanya pada Sacred Maiden untuk menghancurkan Raja Iblis.


Kenapa Holy Lord melakukan hal semacam itu?


"Menyegel jiwa Holy Lord Alexandros didalam Sacred Maiden merupakan hal terakhir yang bisa kulakukan untuk penebusan dosa dan membalas dendam karena membawa bencana mengerikan pada benua."


Kamito bisa melihat api samar menyala didalam mata pria muda itu.


"....Akan tetapi, segel Sacred Maiden telah dihancurkan oleh Kerajaan Suci."


"Ya, memang."


Raja Iblis mengangguk.


Pada saat itu, apa yang menyerupai suara gempa bumi terdengar dari kejauhan.


Solomon menengadah.


Mengikut tatapannya, Kamito melihat banyak retakan kecil menyebar pada ruang gelap itu.


"...Apalagi sekarang?"


"Makam Raja Iblis runtuh. Dimensi ini akan segera lenyap."


"Apa yang akan terjadi saat dimensi ini lenyap?"


"Kau akan terjebak didalam celah dimensi, tak bisa kembali ke alam manusia."


"....! W-Woi!?"


"Tenanglah. Aku akan mengantarmu keluar dari sini dengan aman."


Bilang begitu, Solomon mulai merapal mantra dalam bahasa High Ancient.


Sebuah retakan muncul disertai cahaya terang masuk melalui retakan tersebut.


"Kota Raja Iblis ini akan menghilang. Pergilah secepat mungkin sebelum Sacred Maiden sepenuhnya bangkit. Jika tidak, dia akan menghabisimu, sang Raja Iblis."


"....Ya, aku mengerti."


Kamito mengangguk.


Meskipun dia cukup penasaran dengan kontraktor Est seribu tahun lalu, karena sekarang Holy Lord terlibat, itu adalah masalah yang sepenuhnya berbeda.


Dia harus bertemu dengan Claire dan yang lainnya lalu meninggalkan kota secepat mungkin.


"Ngomong-ngomong, ijinkan aku memberikan ini padamu, Raja Iblis juniorku. Sebuah hadiah perpisahan dariku."


Mengatakan itu, Solomon mengeluarkan sesuatu dari saku dadanya.


"....Apa ini?"


Kamito memiringkan kepalanya.


Itu adalah sebuah cincin perak kuno tanpa hiasan apapun.


"Sebuah cincin yang digunakan oleh Raja Iblis di masa lalu. Ini pasti akan berguna bagimu."


"...Gak ada kutukan aneh pada cincin itu, kan?"


"Tenanglah, kau akan baik-baik saja."


"Apa maksudnya....?"


Dengan mata curiga, Kamito menerima cincin tersebut.


"Selanjutnya, aku punya satu hal lagi—"


"Apa lagi?"


"Ya, ambil ini juga.... Topeng Iblis terkenal dalam legenda."


Entah dari mana, dia mengambilnya—


Sebuah topeng yang terlihat sedikit gak asing.


...Itu sangat mirip dengan topeng Raja Iblis palsu yang dibuat oleh Rubia.


"Tidak, terimakasih, aku gak mau."


Kamito menolaknya.


"Kenapa? Ini adalah artifak sihir kelas legendaris yang cuma bisa didapatkan penganut Raja Iblis dalam mimpi mereka."


"Siapa juga yang menginginkan sesuatu yang gak jelas seperti itu!"


"Aku gak percaya kau menyebutnya gak jelas..."


Raja Iblis kaget... Dia terlihat sedikit terkejut.


Memasukkan cincin itu kedalam sakunya, Kamito berdiri didepan retakan itu.


Dia menoleh ke belakang.


"Apa yang akan terjadi padamu setelah Kota Raja Iblis menghilang?"


"Eksistensiku layaknya pantulan di permukaan air. Aku akan menghilang setelah piramida itu lenyap."


"Jadi begitu...."


Dengan ekspresi campur aduk, Kamito menundukkan kepalanya.


Solomon Yelsion, Raja Iblis yang terlahir seribu tahun lalu.


Kamito bertanya-tanya apa dia terlalu sentimental... Tapi setelah bertemu dengan seseorang seperti dia untuk pertama kalinya, dia merasakan semacam kesetiakawanan.


"Jangan memasang penampilan seperti itu, penerusku. Senang sekali bertemu denganmu."


"...Terimakasih sudah menjagaku."


"Gak perlu. Mengirim para pengelana tersesat ke jalan mereka adalah tugas utamaku."


Menatap Kamito, yang tersenyum sambil menundukkan kepalanya, Solomon tertawa riang.


Setelah berjabat tangan dengan sang Raja Iblis, Kamito melangkah masuk kedalam retakan tersebut.


"Berjalanlah di jalan yang berbeda denganku, Kazehaya Kamito."


Dengan kata-kata terakhir ini—


Pandangan Kamito menjadi putih polos.

Bagian 2[edit]

"....! Tempat ini....?"


Saat dia membuka matanya—


Kamito mendapati dirinya berada di alun-alun kota, agak jauh dari piramida.


Ditempat dia membeli cincin sebagai hadiah untuk Est.


Hampir semua bangunan yang ada di sekitar telah rubuh. Debu yang tebal menyebar di udara.


Dia mau bangun saat sebuah gempa bumi terjadi. Udara berguncang karena raungan yang mengerikan.


(...Apa itu?)


Menengadah ke langit, Kamito mengernyit.


Dia melihat seekor naga merah, dipenuhi sisik yang merah menyala, bertarung di udara melawan seekor burung raksasa.


Naga merah itu menyemburkan api. Disaat yang sama, burung raksasa itu mengepakkan sayapnya untuk menciptakan badai.


Ini adalah pertarungan diantara roh-roh tingkat tinggi, jarang ditemukan meski di Astral Zero.


"Kenapa roh-roh seperti ini...? Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya terjadi!?"


Kamito menggerutu tentang Raja Iblis Solomon yang gak lagi ada.


(Setidaknya katakan padaku apa yang terjadi diluar sebelum mengembalikan aku...)


Yang jelas, berada dibawah roh-roh ini akan sangat berbahaya.


Kamito berdiri dan bersiap meninggalkan alun-alun. Lalu...


Segel roh ditangan kirinya bereaksi.


"Kamito, menghilang kemana kamu!?"


Dengan kilatan kegelapan didepan matanya, cewek berpakaian hitam muncul.


"Restia—"


"Sheesh, aku terus memanggilmu sepanjang waktu!"


Dengan sayap hitam legam terbentang, roh kegelapan yang cantik itu mendarat di tanah.


Dia membawa Demon Slayer di tangannya.


Sepertinya Est kehabisan kekuatannya saat pertarungan melawan Lurie.


"...Maaf, aku mengunjungi Raja Iblis sebentar."


"...?"


Mendengar itu, Restia mengernyit kebingungan.


"Kita bicarakan nanti saja. Kita harus segera keluar dari sini secepatnya."


Retakan lain terbuka di tanah, menyebabkan bangunan di alun-alun runtuh.


Sebuah bayangan menyerupai seekor raksasa bertanduk bisa terlihat dibalik debu yang mengepul.


Selain roh-roh yang bertarung di langit, ada roh-roh yang mengamuk di kota.


"...Darimana roh-roh ini berasal?"


"Mereka adalah roh-roh milik Raja Iblis yang disegel."


"Roh-roh milik Raja Iblis?"


"Ya, beberapa dari 72 roh yang diperintah oleh Raja Iblis disegel disini, mungkin bertindak sebagai penjaga Kota Raja Iblis seperti Sphinx. Akan tetapi, karena piramidanya menghilang, mereka mulai mengamuk."


"...Jadi begitu. Itu sebabnya mereka semua merupakan roh-roh yang merepotkan."


Karena mereka dulunya digunakan oleh Raja Iblis, naga merah dan burung raksasa itu pastinya gak lebih lemah dari roh kelas archdemon.


"—Eh, tunggu sebentar. Apa barusan kamu bilang piramidanya menghilang?"


Pada pernyataan Kamito, Restia menunjuk ke belakang dia.


"Lihat. Piramidanya, yang bahkan sihir roh gak bisa merusaknya sedikitpun, telah lenyap sepenuhnya."


".....!?"


Kamito berbalik untuk melihatnya—


Restia benar. Piramidanya telah menghilang.


Yang menggantikannya adalah sebuah pilar cahaya, bersinar dengan cahaya suci.


Akan tetapi, karena suatu alasan, cahaya yang indah ini tampak gak menyenangkan bagi Kamito.


(Sacred Maiden Areishia—)


Sambil menatap pilar cahaya suci itu dengan wajah tegang, Kamito bergumam dalam hati.


Kontraktor Est seribu tahun lalu.


Mahluk dengan jiwa Holy Lord Alexandros tersegel didalamnya.


Dan juga—


(...Orang yang melenyapkan Raja Iblis, huh?)


Apa pilar cahaya itu tanda dari kebangkitan Sacred Maiden?


Dengan ekspresi serius, Kamito mengarahkan tatapannya pada Restia.


"Apa Claire dan yang lainnya sudah kabur dari sini?"


"Siapa yang tau? Mengingat situasi saat ini, kabur bukanlah hal yang mudah."


"Jadi begitu...."


Suara Kamito dipenuhi dengan kekhawatiran. Meski sudah berkumpul, mereka masih berada di tengah Ghul-a-val, Gurun Merah Kematian. Tanpa kapal pasir, mereka gak punya cara untuk pergi.


(...Solomon sialan itu, menyuruhku pergi. Ngomong memang gampang! Tapi gimana caranya aku kabur?)


Kamito menggerutu dalam hati pada Raja Iblis itu. Lalu—


"Apa itu, Kamito?"


Restia menanyai dia dengan penasaran.


Restia menatap saku dada seragam Kamito.


"Oh, ini? Seseorang memberikannya padaku—"


Kamito mengeluarkan cincin itu dan menunjukkanya pada Restia.


Seketika, Restia melebarkan matanya.


"Kamito, bukankah itu cincin Raja Iblis!?"


Roh kegelapan ini yang sangat tertarik dengan artifak-artifak sihir mengepakkan sayapnya penuh kegembiraan.


"Kamito, darimana kamu dapat cincin ini?"


"Dia sendiri yang memberiku."


"....?"


"Lupakan soal cincin ini untuk sekarang. Kita harus cari cara untuk keluar dari sini—"


"Apa yang kamu bicarakan!? Kamito, tuangkan divine power kedalam cincin itu."


"...Eh?"


"Tuangkan divine power pada cincin itu. Cepat—"


"B-Baik..."


Didesak oleh Restia, Kamito menuangkan divine power pada cincin itu sambil ekspresi kebingungan terpampang jelas di wajahnya.


Lalu, kata-kata dalam bahasa High Ancient muncul di permukaan cincin.


"Apa ini? Ada kata-kata yang muncul."


"Jangan khawatir. Kalau ini adalah Cincin Raja Iblis yang asli—"


Restia menengadah.


Lalu, Sesuatu yang mencengangkan terjadi.


Salah satu dari dua roh yang bertarung di langit diatas, burung raksasa, meninggalkan naga merah dan meluncur ke arah Kamito, melesat lurus kearah alun-alun.


"Restia, burung raksasa itu mendekat!"


"Gak usah kuatir."


Akan tetapi, Restia tenang-tenang saja, menggunakan tangannya untuk menahan rambutnya yang tertiup angin.


Roh burung raksasa itu mengepakkan sayapnya di udara dan mendarat di alun-alun.


Mata burung pemangsa itu, yang bersinar emas, menatap Kamito.


...Kamito merasa seperti dia akan dimakan kalau dia bergerak.


"...Apa!?"


Saat Kamito membeku terkejut—


Restia dengan lembut membelai paruh burung raksasa itu dan menoleh pada Kamito.


"Kamito, roh burung raksasa ini, Roc, adalah pelayan setiamu."


"Apa yang kamu bicarakan?"


"Cincin ini memiliki kekuatan untuk mengendalikan 72 roh di bawah komando Raja Iblis. Bersama dengan Garb of the Lord dan Demon's Mask, semua itu dikenal sebagai artifak-artifak legendaris."


"Cincin ini?"


Kamito dengan cermat memeriksa cincin yang bersinar redup itu.


Nyatanya, roh burung raksasa yang tadi bertarung dengan ganas di langit, berdiri diam dengan patuh seolah menunggu perintah Kamito.


"Jadi orang itu memberi sesuatu yang begitu berharga, huh?"


"Kalau kita menggunakan roh ini, harusnya mudah untuk mencari Nona Kucing Neraka dan yang lainnya, dan melintasi gurun juga."


Restia membelai paruh Roc. Roh burung raksasa itu mendengkur, ternyata suaranya menggemaskan.


"Aku gak sepenuhnya yakin, tapi gak ada waktu buat ragu-ragu..."


Kalau Kota Raja Iblis ini runtuh, Kamito dan rekan-rekannya kemungkinan besar akan terjebak didalam celah dimensi, diluar alam manusia maupun Astral Zero.


Memegang cincin itu erat-erat, Kamito melompat menaiki burung raksasa itu.


"...Uh, yang perlu ku lakukan adalah memberi perintah?"


"Ya."


"Kalau begitu... Terbanglah, Roc si roh burung raksasa!"


Pada perintah Kamito—


Roc mengepakkan sayapnya, naik ke langit diatas Kota Raja Iblis yang dipenuhi debu dan asap.

Bagian 3[edit]

"....! Jadilah arang!"


Flametongue milik Claire menghantamkan serangan kuat pada raksasa bermata satu yang merangkak keluar dari retakan di tanah.


Akan tetapi, roh raksasa itu gak tampak menerima luka.


Sambil menyeringai, roh raksasa itu mengangkat tangannya berusaha menangkap Claire.


"Claire!"


Lalu, Ellis menyerang punggung raksasa itu dengan ujung tombak Ray Hawk.


Clang! Serangan ini menghasilkan percikan api yang berhamburan seolah dia memukul baja menggunakan tombaknya.


Memanfaatkan kesempatan saat raksasa itu teralihkan perhatiannya, Claire segera bergerak menjauh...


Raksasa itu cuma menggaruk punggungnya dengan santai, sepenuhnya tak terpengaruh.


"Sial, aku gak bisa menimbulkan kerusakan sedikitpun, huh..."


Ellis menampilkan kecemasan pada wajahnya. Setelah bertarung melawan para Sacred Spirit Knight, dia dan Claire telah menggunakan divine power dalam jumlah besar. Hanya mempertahankan elemental waffe mereka saja sudah cukup kesulitan.


Roh-roh kuat yang muncul dari bawah tanah satu per satu memblokir jalur Claire dan Ellis. Kekuatan seorang elementalis nampaknya menarik para roh ini.


"...Kuh, ini gak ada habisnya!"


Claire berbicara sambil terengah-engah.


"Ya, ini sangat sulit...."


Ellis menancapkan Ray Hawk pada tanah dan mengeluh. Setelah bertarung satu lawan satu melawan Luminaris dan menggunakan sihir roh untuk terbang secara terus-menerus, dia sudah pada batasnya.


"Beristirahatlah dulu. Aku dan Scarlet akan membuka jalan."


"Tapi...."


Roh raksasa itu menyebabkan gempa bumi sambil mendekati mereka.


"Ayo maju, Ortlinde—"


Tepat saat Claire hendak melepaskan teknik ultimate miliknya, pelepasan nama sejati....


"Taring es beku, melesat dan tembuslah—Freezing Arrow!"


Panah es yang tak terhitung jumlahnya menghujani kepala raksasa itu.


Karena matanya terkena tembakan dengan akurasi yang tinggi, raksasa itu mengeluarkan raungan mengerikan dan berguling di tanah karena kesakitan.


Claire terkejut dan melihat kearah datangnya hujan panah itu—


"Nyaris sekali, Claire."


Diatas tumpukan puing-puing. Rinslet membusungkan dadanya, memegang busur miliknya.


"Rinslet, kau selamat...!"


"Hmph, tentu saja, kau pikir aku ini siapa?"


"Rinslet, dimana Yang Mulia?" Tanya Ellis.


"Ya. Dia bersamaku."


Setelah jeda sesaat, suara dentuman armor bisa terdengar.


Muncul dari balik kepulan debu dan pasir—


Georgios, menggendong Fianna dan seorang cewek gak diketahui di tangannya.


"....Yang Mulia, aku senang sekali."


Melihat itu, Ellis bisa berhenti kuatir.


"Fianna, baguslah kau baik-baik saja... Uh, siapa cewek ini?"


"Ijinkan aku memperkenalkan Putri Saladia Khan."


Turun dari tangan Georgios, Fianna mengumumkan.


"Apa kau bilang!?"


"Apa!?"


Claire dan Ellis berseru terkejut.


"Apa yang sebenarnya—"


"Aku akan menjelaskan nanti. Kita harus kabur dari sini terlebih dahulu secepat mungkin."


"Ya, kau benar...."


Claire mengangguk.


Kalau diperhatikan lagi, roh raksasa itu hendak berdiri.


Kemungkinan, cidera setingkat itu bisa segera disembuhkan.


"Aku dan Fenrir akan memimpin jalan untuk keluar dari kota!"


Membuat busur es sihir miliknya kembali ke wujud serigala, Rinslet naik ke punggung Fenrir.


"Dimengert!"


Dia hendak mulai berlari lalu seketika itu...


Claire merasa teror yang mengerikan dan berdiri membeku ditempat.


"Claire, ada apa?"


"Barusan, sesuatu—"


Dia bisa menyadari kemungkinan itu karena nalurinya sebagai seorang princess maiden turunan dari garis keturunan yang sama dengan kakaknya.


Claire perlahan memutar kepalanya dan melihat ke belakang.


Pilar cahaya yang menyilaukan terpampang jelas.


"Apa itu?"

Bagian 4[edit]

Roh burung raksasa itu berputar-putar di langit seraya percikan api berhamburan dibawah.


Asap hitam mengepul di seluruh kota. Bangunan-bangunan rubuh menghasilkan tumpukan puing-puing di tanah.


Terbebas, Para roh milik Raja Iblis sepertinya sedang mengamuk.


"—Ketemu. Disebelah sana."


Dari belakang Kamito, Restia menunjuk kebawah.


"Dimana?"


"Lihat, di jalan yang mengarah ke gerbang kota."


Kamito melihat kebawah dan memfokuskan matanya.


Karena asap yang terus mengepul, daya pandangnya cukup buruk.


"Mereka sepertinya sedang melawan roh, terkunci dalam pertarungan yang sulit."


"Apa kamu tau gimana caranya menggunakan Cincin Raja Iblis untuk membantu?"


"Sayang sekali, cincin itu cuma bisa mengendalikan satu roh pada satu waktu."


"Benarkah..."


Gimanapun juga, cincin ini cuma memiliki sedikit kekuatan Raja Iblis yang tersegel didalamnya. Karena itulah, kekuatannya untuk mengendalikan jauh lebih lemah daripada kekuatan Raja Iblis sendiri.


"Roc, mendaratlah di dekat sana."


Kamito memasukkan pemikirannya kedalam cincin tersebut, memerintahkan roh burung raksasa itu.


Roc berteriak dan mematuhi tuannya, menikuk sambil meluncur di udara.


"—Kamito."


Lalu, Est, yang tidur dalam wujud pedang suci, berbicara.


"Kamu bangun, Est!?"


"Kamito, cepat tinggalkan tempat ini."


Est berbicara dengan nada suara gugup, yang mana itu sangat jarang terjadi.


"—Dia bangkit."


"Dia?"


Kamito terkejut dan menoleh ke belakang.


—Terjadi perubahan pada pilar cahaya yang ada di pusat Kota Raja Iblis.


(...Apa-apaan itu?)


Cahaya berwarna pelangi berpusat pada satu titik di udara, menyatu menjadi sebuah bola kecil.


Didalam bola itu terdapat sosok cewek muda yang mengapung.


Seorang cewek pirang mengenakan armor suci berwarna putih polos.


Dia memegang sebuah pedang ditangannya.


STnBD V18 BW02.jpg


Itu adalah pedang suci Milllenia Sanctus, pedang yang digunakan Lurie sebelumnya.


Saat dia melihat cewek itu—


Jantung Kamito mulai berdetak kencang.


Semua divine power dalam tubuhnya seperti terbalik, mendidih.


Suatu aliran emosi yang tak terkendali mengamuk didalam diri Kamito.


Secara naluri, Kamito merasa bahwa ini adalah musuhnya yang ditakdirkan.


—Memang, musuh yang ditakdirkan.


Satu-satunya orang yang mampu membunuh Raja Iblis yang bertindak sebagai wadah untuk kekuatan Ren Ashdoll sang Elemental Lord Kegelapan—


Areishia Idriss, sang Ratu Suci.


Setelah berbagi mimpi Est dimasa lalu, Kamito mengenali wajahnya.


Dan yang ada di bola cahaya itu, penampilan cewek itu identik dengan Sacred Maiden yang dia lihat dalam mimpi.


Akan tetapi, suasana disekitar dia sepenuhnya berbeda.


Tuannya Est di dalam mimpi menampilkan ekspresi manusia di wajahnya.


Sebaliknya, wajah cewek itu sama sekali gak menunjukkan emosi.


"—Kamito, itu bukan Areishia."


"Ya, aku setuju."


Misalkan apa yang dikatakan Raja Iblis Solomon benar—


Apa yang bangkit setelah seribu tahun bukanlah sang Sacred Maiden—


Tapi wadah yang berisikan jiwa Holy Lord Alexandros.


Lalu—


Mata tajam cewek itu menatap Kamito—setidaknya, itulah yang Kamito rasakan.


(...! Kita ditemukan?)


Secara naluri, dia merasakannya.


Lalu—


Sang Sacred Maiden dengan santai mengangkat pedang di tangannya—


"—Roc, menghindar!"


Kamito buru-buru berteriak.


Roc langsung mematuhinya dan turun dengan cepat.


Lalu, sebuah tebasan berwarna putih polos melintasi sayap besar milik Roc, meluncur ke area gurun di kejauhan.


BOOOOOOM!


Pandangan Kamito menjadi putih.


Dia merasakan gelombang kejut yang kuat menghantam dia.


"...!?"


Roh burung raksasa itu berputar di udara, terkena hantaman angin yang kencang.


Roc mengepakkan sayapnya berulang kali sebelum akhirnya bisa menstabilkan diri lagi.


Badai pasir yang ganas memblokir pandangan mereka.


"...! A-Apaan yang barusan itu!?"


Kamito berseru terkejut.


"—Deus Ira." Restia menanggapi. "—Sihir roh kelas pemusnah yang digunakan di era Perang Roh."


"Restia, kamu—"


Menengok ke belakang, Kamito menatap dengan mata terbelalak.


Setengah dari sayap Restia telah hilang tanpa jejak.


Cahaya tadi sepertinya mengenai sayapnya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Y-Ya... Yang lebih penting lagi, kita harus pergi secepatnya—"


"Ya—"


Dengan kepakan sayap Roc, pasir dan debu langsung terhempas.


Lalu, dari gerbang kota, Kamito melihat Claire dan yang lainnya tiarap di tanah.


Sepertinya gelombang kejut sebelumnya telah membuat mereka jatuh, tapi mereka sepertinya baik-baik saja.


"Roc, ambil mereka!"


Gooroorooroorooroorooroo!


"A-Apa ini!?"


Terbaring di tanah, Claire menengadah, gak yakin dengan apa yang sedang terjadi.


"Kalian semua, cepat naiklah!"


Kamito tiba-tiba berteriak keras.


"K-Kamito!? Apa maksudmu, naik? Secara mendadak begini!"


"A-Ada apa dengan burung ini...?"


Claire dan Rinslet kebingungan.


Akan tetapi, Roc terus meluncur kearah mereka—


Membuka paruhnya, Roc menelan Fenrir dan Georgios.


"Kyahhhhhhhhh!"


"A-Apa-apaan ini!? Kyah—"


Lalu Claire dan Rinslet berteriak.


"W-Woi, apa yang kau lakukan? Cepat keluarkan mereka!"


Melihat tindakan yang tak terduga itu, Kamito dengan panik memukul leher Roc, tapi...


"Jangan khawatir, didalam Roc terhubung dengan dimensi yang aman."


"...Apa kamu serius?"


"Serius. Pokoknya lakukan apa yang kita bisa untuk kabur. Kita mungkin gak seberuntung yang tadi untuk menghindari tembakan yang berikutnya—"


Restia mengarahkan tatapannya pada gurun di kejauhan.


Sebuah retakan besar terbentuk dimana tembakan cahaya Deus Ira melintas.


...Satu serangan yang mengandung kekuatan yang cukup untuk melenyapkan sebuah kota.


"Kurasa kamu benar—"


Kamito menuangkan divine power pada cincin itu. Roc seketika melesat kencang.


Badai pasir yang ganas memblokir pandangan mereka dari Sacred Maiden.

Bagian 5[edit]

"....Jadi mereka sudah pergi?"


Di suatu sudut dari Kota Raja Iblis yang perlahan-lahan menghilang—


Menatap roh yang terbang kearah gurun, Raja Iblis bergumam.


Tubuhnya sudah diambang menghilang. Kemungkinan besar, sebelum kota ini lenyap sepenuhnya, dia akan menghilang tanpa jejak seperti butiran pasir yang tertiup angin.


Dia menatap batu kecil yang bersinar di tangannya.


Itu adalah pecahan terakhir dari roh Iris.


Kemungkinan besar, Iris akan lenyap bersama dengan Kota Raja Iblis ini.


Bagi para roh yang memiliki tentang hidup tanpa akhir, seribu tahun tidaklah lama.


Akan tetapi, Solomon menikmati waktu yang dia habiskan bersama Iris.


Para roh milik Raja Iblis yang mengamuk sesuka hati mereka, mulai kembali ke Astral Zero.


Adapun untuk para ksatria dari Kerajaan Suci, dia telah menempatkan mereka di gurun. Meskipun dia gak punya kewajiban untuk membantu mereka, gimanapun juga itu adalah tugasnya. Kalau cukup beruntung, mereka akan diselamatkan.


Lalu, di Kota yang seharusnya telah kosong ini...


"Hei kau, apa yang kau lakukan disini?"


Sebuah suara kasar berbicara pada dia.


Dia berbalik dan melihat seorang pria muda berkulit gelap berdiri disana.


"Kau sendiri siapa?"


"Huh? Aku?"


Mendengar itu, pria muda itu menyeringai.


"Aku Jio Inzagi, penerus Raja Iblis."


Pria muda itu memperkenalkan dirinya sendiri.


"Huh...?"


Sang Raja Iblis cuma bisa mengeluarkan suara terkejut.


....Jadi begitu, cuma seorang anak malang yang penuh delusi.


"Hei, siapa kau?"


"Aku Safian, seorang pedagang keliling."


"Seorang pedagang? Dasar orang aneh."


Aku bisa mengatakan hal sama padamu. Menahan kata-kata ini, sang Raja Iblis berbicara.


"Tempat ini akan segera runtuh. Kau harus segera lari."


"Kau sendiri?"


"Tidak, bagaimanapun juga, ini adalah kampung halamanku."


"...Hmph. Cocok denganmu."


Pria muda itu tampak kehilangan minat dan bersiap pergi.


Lalu, sang Raja Iblis tiba-tiba punya ide dan memanggil pria muda itu.


"Oh, tunggu sebentar."


"Apa lagi?"


"Kurasa pertemuan kita ini sudah ditakdirkan. Anggap ini hadiah dariku untukmu."


"....Apa ini?"


Melihat dia mengeluarkan Topeng Iblis secara tiba-tiba, Jio Inzagi mengernyit terkejut.


"Sisa dari barang daganganku. Aku tidak memerlukan ini."


"...Eh, kalau kulihat baik-baik, desainnya gak buruk-buruk amat."


"Hmm, sepertinya jiwa estetikamu cocok dengan Raja Iblis."


"Baiklah, aku terima. Selamat tinggal—"


"Ya."


Pria muda itu menerima Topeng Iblis tersebut dan segera berlari dengan cepat.


Kemampuan fisiknya jauh melampaui orang normal.


...Meskipun sang Raja Iblis tidak tau siapa dia, dia merasa pria muda itu cukup lucu.


Setelah melihat pria muda itu menghilang ke gurun—


"Baiklah, waktuku sudah hampir habis—"


Tatapannya mengarah pada cahaya ditangannya.


"—Harapanku adalah untuk apa yang didapatkan raja itu, jiwa putriku tercinta, mendapatkan kedamaian."


Lalu, setelah memastikan bahwa cahaya redup itu menghilang—


Seperti butiran pasir yang tertiup angin, dia lenyap tanpa jejak.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 3 - Kembalinya Sang Ratu[edit]

Bagian 1[edit]

"Sh-Sheeesh, apa sebenarnya yang terjadi...?"


Tiba-tiba ditelan oleh burung raksasa, Claire berteriak didalam kegelapan.


Dia menyalakan api kecil di telapak tangannya untuk menerangi sekelilingnya.


Dia menduga dirinya berada didalam perut burung raksasa itu—


Tapi yang ada dihadapannya adalah sebuah ruangan megah yang dilapisi karpet beludru.


"...T-Tempat apa ini?"


"Ini adalah dimensi milik Roc."


Lalu, suara Restia terdengar dari atas—


Sebuah lampu kristal roh yang terpasang di dinding segera menyala.


"A-Apa yang terjadi?"


"Kalau aku gak salah ingat, kurasa seekor burung dengan penampilan menakutkan menelan kami."


Rinslet dan Ellis juga memeriksa sekeliling mereka, gak yakin apa yang harus dilakukan.


"Roh kegelapan, aku minta penjelasan yang sejelas-jelasnya!"


Claire menunjuk langit-langit dan berkata.


"Hmph, kalian saat ini berada didalam seekor roh di bawah komando Kamito."


"Roh milik Kamito? Burung raksasa itu?"


"Ya, Kamito baru saja menjinakkannya."


"Menjinakkan..."


"Seperti yang diharapkan dari Kamito-kun..."


Fianna mendesah pilu.


"....Aku gak tau apa yang sedang tejadi, tapi apa ini aman?"


"Ya, asalkan gak terjadi kecelakan."


"Kecelakan seperti apa..."


"Misalnya, kalau roh ini dimusnahkan, kalian semua akan ikut musnah juga."


"Bukankah itu sangat buruk!? Turunkan kami sekarang!"


"Aku sih gak keberatan menurunkan kalian, tapi asal kalian tau saja, kita saat ini sedang terbang diatas Ghul-a-val."


Mendengar itu, Claire terdiam gak bisa berkata apa-apa.


"...Apa yang terjadi disana? Pilar cahaya apa tadi?"


"Apa yang terjadi pada Piramida itu?"


"Itu bukanlah masalah penting untuk saat ini. Untuk penjelasannya, tunggu sampai kita tiba di Zohar. Sampai jumpa nanti—"


Mengatakan itu, Restia mengakhiri percakapan.


"Tunggu, roh kegelapan! Ampun deh...."


Claire menatap langit-langit dengan jengkel.


"Mau gimana lagi. Satu-satunya pilihan kita cuma menunggu disini dengan tenang."


"Untungnya, tempat ini cukup nyaman."


"Karena ada sofa dan dapur. Kita bisa tinggal disini selama seminggu atau lebih."


"Ada camilan di rak juga."


"Sungguh gak biasa. Seekor roh dengan ruang penuh kehidupan didalamnya..."


"Georgios punyamu bisa masuk juga, dan dengan pelatihan pengendalian iklim."


"Astaga, Georgios cuma untuk penggunaan pribadi—"


"Maaf..."


Kali ini, sebuah suara datang dari sudut ruangan. Itu adalah Saladia Kahn, yang ikut ditelan gak lama setelah dia diselamatkan tanpa tau apa yang sedang terjadi.


"Putri Saladia, apa lukamu masih sakit?"


Fianna bertanya penuh kepedulian.


"Tidak, sudah tidak sakit, semuanya berkat kamu. Aku akan baik-baik saja setelah beristirahat beberapa saat."


Mempertahankan sikap tenang, Saladia menggeleng.


Tetap tenang dalam situasi seperti ini, seperti yang diharapkan dari dia sebagai seorang anggota keluarga kerajaan.


"Roh ini menuju ke Zohar, apa benar begitu?"


"Ya, sepertinya. Tenanglah, Yang Mulia, kami akan memastikan anda sampai disana dengan selamat."


Mendengar Claire bilang begitu, Saladia menghela nafas dan tampak lega.


"Kalian berasal dari Ordesia...?"


"Lebih tepatnya, itu adalah Ordesia Sah."


"Sebuah pemerintahan yang diasingkan, diburu oleh Kaisar."


Fianna tersenyum masam dan mengangkat bahu.


"Kenapa kalian mencari aku?"


"Alasannya cukup rumit—"


Berkata demikian, Fianna menceritakan apa yang telah terjadi sampai sejauh ini.


Aliansi mereka dengan Dracunia. Misi yang diberikan oleh Raja Naga.


Lalu ada kakaknya Saladia, Sjora Kahn yang tewas bersama Leviathan, roh militer kelas strategi.


"...Jadi begitu. Kakakku mengorbankan nyawanya untuk Leviathan..."


"Ya. Saat Kamito menyerbu kesana, sudah terlambat untuk menyelamatkan dia..." Claire menambahkan.


"Tindakan bodoh kakakku telah menyebabkan hilangnya nyawa penduduk. Terimakasih semuanya karena menghentikan dia. Tentunya, lebih banyak korban akan kehilangan nyawa mereka jika kalian tidak bertindak."


Dengan ekspresi sedih, Saladia menyatukan tangannya seolah berdoa.


"Ngomong-ngomong, Yang Mulia, kenapa anda pergi ke Kota Raja Iblis?" Tanya Rinslet.


"Uh, itu..."


Saladia sejenak kebingungan karena pertanyaan itu.


"Karena legenda tentang Peti Mati Raja Iblis, kan?"


"Jadi kamu sudah mengetahuinya—"


Mendengar komentar Claire, sang putri menyerah dan mengangguk.


"Tepat. Aku mengikuti legenda tentang Peti Mati Raja Iblis dan pergi ke tempat itu. Karena sebagian besar pengikutku di bunuh oleh kakakku, aku sendirian tanpa adanya dukungan. Oleh karena itu, aku harus mendapatkan bukti dari otoritasku sebagai penguasa Teokrasi."


"Menderita karena perang sipil, penduduk Terokrasi mengharapkan kamu kembali. Kurasa tak ada perlunya mengandalkan legenda semacam itu untuk menunjukan otoritasmu—"


"Ya, kamu ada benarnya. Kalau aku pikir-pikir lagi, aku bertanya-tanya kenapa pemikiran seperti bisa terpikirkan olehku...."


Sang putri memiringkan kepalanya kebingungan dan mulai bergumam sendiri.


".....?"


Melihat dia seperti itu, Fianna merasakan disonansi aneh.


"Ngomong-ngomong, Yang Mulia, apa anda punya bodyguard?" Ellis kepikiran sesuatu dan bertanya.


"Soal itu, benar juga." Rinslet menimpali.


"Tapi tak ada seorangpun yang bersamamu di tempat anda jatuh."


Mendengar itu, wajah Saladia berkedut.


"P-Pria itu bukan seorang bodyguard! Hanya seorang bajingan kurang ajar!"


"J-Jadi begitu....."


"Dia meninggalkan aku dan pergi entah kemana! Aku bodoh karena mulai mempercayai dia!"


Menghadapi sang putri yang tiba-tiba kesal, Claire dan para cewek saling bertukar tatap, gak bisa berkata apa-apa.

Bagian 2[edit]

Roh burung raksasa itu terbang melintasi gurun Ghul-a-val yang luas dengan mudah, sampai di ibukota Teokrasi, Zohar, cuma dalam waktu setengah hari.


Sambil menghasilkan angin kuat yang menumbangkan barisan pepohonan, Roc mendarat di taman istana Scorpio.


Dihadapkan dengan kemunculan yang tiba-tiba roh raksasa itu, para penjaga istana segera mulai menyerang. Akan tetapi, senjata dari para prajueit biasa yang bukan para elementalis gak menimbulkan luka pada Roc sedikitpun.


Gyaaaaaaaaaaaaa!


Karena marah, Roc bergerak dan para penjaga segera melarikan diri ketakutan.


Menunggangi punggung burung raksasa itu dan memperhatikan situasinya, Kamito berteriak pada mereka.


"Tunggu! Aku membawa Putri Saladia kembali!"


Beberapa penjaga mungkin merasa penasaran dan langsung berhenti.


Kamito turun dari punggung Roc. Mengangkat cincin Solomon, dia memberi perintah pada Roc.


"Uh, keluarkan semua orang."


Mendengar itu, Roc dengan patuh merendahkan kepalanya dan perlahan-lahan membuka paruhnya.


"Hyah!"


"Aduh!"


Claire dan para cewek langsung terjatuh keluar dari ruang gelap di mulut Roc.


"Sheeesh, apaan sih tiba-tiba gini...!"


Claire begitu marah hingga rambutnya berdiri tegak.


"....Tempat ini?"


Dia mengamati sekelilingnya.


"Ini adalah istana di Zohar."


"Ah, Kamito...."


"Jadi kita sudah sampai di tujuan."


Setelah Claire dan Rinslet, Ellis dan Fianna juga keluar.


"Kalian, kuharap penerbangannya gak terlalu buruk."


"Hmm, awalnya aku terkejut, tapi sebenarnya cukup nyaman."


Sambil berkata begitu, Fianna membelai paruh burung raksasa itu.


"Ada sofa yang sangat empuk dan berbagai kebutuhan keseharian."


"Itu cukup bagus selama kau nggak berpikir kau berada didalam perut seekor burung."


....Secara mengejutkan, cewek-cewek itu gak kelihatan marah.


"Sudah aku bilang kan. Roc cukup nyaman untuk di tunggangi."


Sebagai tanggapan, Restia berkomentar penuh kebanggaan.


"S-Siapa kalian sebenarnya...?"


Para penjaga mengangkat tombak mereka dan bertanya penuh kewaspadaan.


Lalu—


"Hentikan tindakan tidak sopan ini. Turunkan senjata kalian."


Sebuah suara tegas tegas terdengar dari paruh burung itu—


Lalu seorang cewek pirang mengenakan jubah pengelana muncul.


"Y-Yang Mulia, Putri Saladia?"


Kapten penjaga itu melebarkan matanya.


Para penjaga disekitar kelompok Kamito segera menurunkan senjata mereka dan berlutut di tanah.


"Aku telah kembali. Oleh karena itu, aku akan mengelola tempat ini menggantikan kakakku. Buat persiapan untuk upacara penobatan sekarang."


"Siap, laksanakan!"


Mendengar perintah dari sangpl putri yang telah kembali, para penjaga segera menanggapi dan berlari ke pintu masuk istana.


Saladia Kahn berbalik ke kelompok Kamito.


"Aku sangat berterimakasih atas bantuan kalian. Silahkan beristirahat di vila kerajaan untuk saat ini. Aku harus bersiap untuk penobatan."


"Terimakasih atas keramahanmu, Putri Saladia."


Fianna sedikit menundukkan kepalanya.


Dikawal oleh para penjaga, Putri Saladia berjalan kearah istana.


"Apa kita bisa beristirahat tanpa perlu kuatir?"


"Kurasa begitu, aku betul-betul ingin membersihkan diri..."


Berkata begitu, Claire mengibaskan rambutnya untuk menghilangkan pasir yang menempel.


"Ngomong-ngomong, Kamito, apa yang akan kau lakukan pada burung ini?"


Ellis bertanya agak kuatir.


Bahkan dengan sayap terlipat, burung raksasa ini hampir memenuhi taman istana ini.


...Meskipun Roc gak kelihatan dia akan berperilaku buruk, Kamito gak mau meninggalkannya disini tanpa penjagaan.


"Restia, apa yang harus kulakukan?"


"Gak ada. Roc sudah mengakuimu, Kamito, orang yang memegang cincin itu, sebagai tuannya. Itu sebabnya dia akan mematuhi perintahmu."


"Aku mengerti—"


Kamito membelai paruhnya dengan tangannya. Burung raksasa itu mulai mendengkur.


"Um, terimakasih sudah mengantarkan kami kesini. Mulai sekarang kau bebas."


"Kamito, itu sayang sekali. Roc adalah seekor roh tingkat tinggi lho."


"Biarpun begitu, aku gak bisa meninggalkannya disini..."


...Para penjaga istana mungkin akan ketakutan kalau Roc ada disini terus.


Dan juga, dia merasa gak enak menggunakan kekuatan Raja Iblis untuk mengekang para roh.


Kamito menepuk paruhnya. Roc tiba-tiba berdiri dan membentangkan sayapnya yang besar.


Ngyahhhhh!


Lalu memekik, mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit.


Bertengger di pundak Ellis, Simorgh terlihat kesepian, memekik kooroorooroo.

Bagian 3[edit]

Tak lama kemudian, para pembantu perempuan di istana datang dan mengantar kelompok Kamito ke vila kerajaan yang agak jauh dari Scorpio.


Vila Serpent putih polos dibangun menggunakan marmer. Dikatakan bahwa Bahar Kahn, yang dikenal sebagai Raja Bejat, membangun bila ini untuk keempat selirnya.


"Kamito-kun, kamu itu Raja Bejat, Raja Bejat♪ "


"A-Apa-apaan itu...."


Melihat Fianna yang bergembira, Kamito gak tau gimana menanggapinya.


"Legenda mengatakan bahwa Bahar Kahn meniru Raja Iblis Solomon yang agung dan menikahi banyak selir. Vila Serpent inilah tempat mereka tinggal."


Seorang pembantu perempuan mengatakan itu sambil tersenyum.


"Kamar Mandi Raja yang terkenal juga dibangun untuk Raja Bahar untuk mandi bersama selir-selirnya."


"Fufu, kalau begitu Kamito-kun harus bergabung bersama kami nanti."


"A-Apa, a-apa yang kau bicarakan? Dasar bejat!"


"I-Itu sangat gak tau malu dan tak bermoral!"


Tiba-tiba dituduh yang gak karu-karuan, Kamito dan kelompoknya sampai di sebuah aula yang terdapat kursi dan meja.


"Silahkan tunggu disini. Kami akan mempersiapkan kamarnya sesegera mungkin."


Para pembantu perempuan itu membungkuk sopan, lalu mereka berbalik dan pergi.


"....Jadi kita sudah kembali."


"Itu terasa seperti mimpi."


Menekan keningnya, Rinslet bergumam.


...Baru tiga hari kemarin kelompok Kamito berangkat ke Ghul-a-val. Didalam Kota Raja Iblis itu yang telah menghilang seperti sebuah fatamorgana, mereka mengalami begitu banyak hal.


"Hei, Kamito, apa yang terjadi didalam piramida?" Tanya Claire.


"Ceritanya panjang. Akan aku jelaskan sambil menunggu Rubia sampai disini."


"....Oke."


Berita tentang kembalinya mereka sudah dikirim oleh Ellis dengan menggunakan roh angin. Yang perlu mereka lakukan cuma menunggu Rubia tiba disini.


"Kurasa perang sipil Teokrasi akhirnya berakhir."


"Hal itu akan bergantung pada sang putri gimana dia menangani semuanya."


"Meskipun dia masih muda, putri tampaknya cukup bisa diandalkan."


"Ya, sepenuhnya berbeda dari kakaknya, Sjora Kahn."


Mendengar Ellis bergumam, Claire setuju.


Akan tetapi, Fianna tampak agak bingung.


"Uh, tentang Putri Saladia—"


"Kenapa dengan dia?"


"Apa gak ada yang merasa seperti ada sesuatu yang salah?"


"......?"


Claire dan yang lainnya bertukar tatap kebingungan.


"...Lupakan saja. Aku mungkin terlalu memikirkannya."


"Putri Saladia adalah seorang pengguna roh iblis. Mungkin pancaran divine power miliknya berbeda dari milik kita."


"Ya, kemungkinan begitu. Pasti cuma bayanganku saja..."


Mengatakan itu, Fianna melambaikan tangannya untuk menganggap masalah itu sebagai sebuah kesalahan saja.

Bagian 4[edit]

Seraya berada di aula menunggu Rubia, Kamito menceritakan apa yang terjadi didalam piramida pada para cewek itu.


Di ruang bawah tanah di Makam itu, dia bertemu dengan Ratu Kota Raja Iblis. Disana, dia menyaksikan kebenaran dibalik lahirnya Raja Iblis Solomon seribu tahun lalu. Lalu kematian Lurie Lizaldia, identitas sejati Safian si pedagang, dan kebangkitan dari Sacred Maiden Areishia yang mana didalam tubuhnya bersemayam jiwa Holy Lord—


Setelah mendengarkan semua ini, Claire berkata jengkel.


"...Baru sebentar saja aku gak mengawasimu, kau sudah terlibat dalam begitu banyak masalah."


"Bukan berarti aku yang cari masalah." Kamito membantah dengan jengkel.


"Ngomong-ngomong, aku gak pernah menyangka bahwa pedagang mencurigakan itu adalah Raja Iblis Solomon...."


"Sungguh mengejutkan."


Ellis dan Rinslet menunjukkan keterkejutan di wajah mereka, bergumam pelan.


Dalam pelajaran di Akademi, Raja Iblis Solomon digambarkan sebagai seorang tirani yang menemui ajalnya. Citra ini sangat jauh berbeda dari orang yang aslinya.


"Yah, tapi sepertinya dia merupakan sosok yang berbeda dari Raja Iblis sendiri." Kamito menambahkan.


"Dibandingkan dengan itu, masalah tentang Sacred Maiden Areishia yang hidup kembali jauh lebih serius. Gimanapun juga, jiwa Holy Lord Alexandros bersemayam didalam dirinya...."


"....Ya. Meskipun tujuan Holy Lord gak diketahui, menilai dari tindakan Kerajaan Suci saat ini, jelas-jelas itu bukanlah sesuatu yang bagus."


Holy Lord adalah pelaku yang sebenarnya yang bertangung jawab atas Perang Raja Iblis, karena menciptakan Raja Iblis dan Sacred Maiden. Dan Kerajaan Suci Lugia, yang memuja Elemental Lord itu, telah memicu perang sipil di Teokrasu dan secara rahasia mengendalikan Kaisar Arneus dari Ordesia.


Apakah tujuan dia adalah untuk menebar kekacauan di seluruh benua?


Bahkan mungkin Perang Ranbal juga dimulai karena rancangan Kerajaan Suci.


Dan sekarang jiwa Holy Lord telah bangkit bersama dengan tubuh Sacred Maiden, apa yang akan diperbuat oleh Kerajaan Suci selanjutnya?


"Apa yang terjadi pada kalian?"


Saat Kamito bertanya—


Claire dan Ellis bertukar tatap.


"Yah itu...."


Dengan ekspresi campur aduk, Claire bergumam.


"Di alun-alun kota, kami bertemu dengan avatar Elemental Lord Api."


"Huh?"
"Apa kau bilang?"
"Apa kau serius?"


Bukan cuma Kamito, bahkan Fianna dan Rinslet juga terkejut.


"Ya, dia bersama dengan Sacred Spirit Knight. Dia lah yang menghancurkan piramida."


"Jadi, Elemental Lord Api yang telah dibebaskan jatuh ke tangan Kerajaan Suci, huh...."


Sebelumnya, Rubia telah memprediksi bahwa Elemental Lord Api mungkin telah di pindahkan ke Alexandria, ibukota Kerajaan Suci. Tebakan dia ternyata benar.


"Jangan bilang kau membuat kontak dengan Elemental Lord Api?"


"Itu benar, betul-betul kebetulan. Aku gak tau kenapa, tapi kami bahkan membawa dia berkeliling melihat-lihat kota."


"....Apa-apaan itu?" Kamito gak bisa menahan diri dari berteriak.


"Tapi dia gak kelihatan seperti orang yang jahat." Claire berbicara dengan ekspresi campur aduk.


"Bukankah Elemental Lord Api yang menghancurkan kampung halamanmu?"


"...Aku tau, tapi dia sepertinya kehilangan ingatan."


"Aku paham sekarang, kondisi yang mirip dengan Iseria, huh?"


"Memang, kemungkinan besar begitu."


Di Megidoa kota terabaikan di Ragna Ys, mereka bertemu dengan Iseria Seaward, avatar Elemental Lord Air, yang bahkan lupa dengan identitasnya sendiri. Setelah melalui Ritual Pelepasan yang dilakukan oleh Fianna, dia mengingat siapa dirinya.


"Dia sepertinya ingat Nee-sama..."


"Benarkah?"


"Sungguh—"


Lalu, suara sepatu terdengar dari luar aula.


"Aku terlambat—"


Berkata demikian, Rubia yang berpakaian seragam militer muncul.


Dia sepertinya bergegas kesini dari Mordis secepat mungkin saat dia mendengar berita kembalinya kelompok Kamito. Gak seperti biasanya, kerahnya berantakan dan perlu dirapikan.


"Nee-sama..."


Claire tiba-tiba terdiam.


Setelah memperhatikan semua orang yang berkumpul, Rubia berbicara.


"Kalian telah memastikan keselamatan Putri Saladia. Kerja bagus."


"Ya, itu butuh kerja keras...." Kamito mengangkat bahu.


"Apa ada berita lain yang penting?"


"Gak ada yang spesial. Hanya saja faksi bangsawan di Ordesia yang menentang kaisar nampaknya semakin lama semakin banyak. Di Akademi Roh Areishia, pertentangan diantara siswa dan ksatria semakin parah. Aku berharap bahwa berita tentang kembalinya Putri Saladia akan berpengaruh besar pada Kekaisaran juga."


"Aku cukup penasaran dengan niatnya para bangsawan..." Sambil menopang dagunya, Fianna bergumam.


"Apa kau mau mendengar tentang apa yang terjadi di Kota Raja Iblis?"


"Tidak, aku akan mendengarkan laporannya nanti." Rubia menggeleng.


"Aku dan Fianna akan mengunjungi Putri Saladia terlebih dahulu."


"Yah, kurasa itu memang lebih penting."


Rubia bisa mempertimbangkan de facto[1] penguasa dari pasukan pemberontak di Mordis. Karena pemerintahan Teokrasi telah kembali pada pemerintahan Saladia, sudah sewajarnya, ada masalah yang harus dibicarakan.


"Aku mengerti. Ayo kita kesana, Rubia-sama—"


"Ya, kalian beristirahatlah."


Setelah menatap Claire, Rubia keluar bersama Fianna.


"Apa betul-betul gak apa-apa kau gak menyebutkan tentang Elemental Lord Api?"


"Ya, kurasa lebih baik gak membahasnya dulu." Claire menggigit bibirnya.


"....Kurasa kau benar."


"Aku juga gak tau apa yang harus dilakukan. Dalam hatiku, masih ada emosi yang menolak memaafkan Elemental Lord Api karena menghancurkan kampung halamanku.."


Dia teringat hari dimana hujan api menghancurkan kampung halamannya.


Didalam hati kakaknya, pastinya api pada hari itu masih berkobar sampai sekarang.


Tapi—


"Aku ingin bertemu dia lagi. Dan mengobrol dengan dia..." Claire bergumam pelan.


"....Aku butuh waktu untuk berpikir. Apa yang harus dilakukan mulai dari sekarang."


Kamito menyilangkan tangannya dan menatap langit-langit aula.


Holy Lord yang tersegel didalam Sacred Maiden telah bangkit kembali.


Kekaisaran Ordesia tenggelam dalam kekacauan yang lebih parah, menabur benih kekacauan internal.


"....Sepertinya kita harus menyelidiki lebih banyak tentang Holy Lord."


"Ya. Ayo periksa perpustakaan Teokrasi nanti."


"Akan tetapi, aku merasa pustaka Divine Ritual Institute gak akan banyak memberi informasi."


"Memang sih, tapi mungkin ada suatu petunjuk."


"Ah—"


Lalu, Claire berteriak.


"Tapi kita kebetulan punya sumber yang bisa kita tanyai tentang para Elemental Lord!"


"Dimana?"


Claire menunjuk Rinslet dan berkata:


"Iseria Seaward, sang Elemental Lord Air."


Catatan Penerjemah[edit]

  1. de facto dalam bahasa latin adalah ungkapan yang berarti "pada kenyataannya (fakta)" atau "pada praktiknya". Istilah ini biasa digunakan sebagai kebalikan dari de jure (yang berarti "menurut hukum") ketika orang mengacu kepada hal-hal yang berkaitan dengan hukum, pemerintahan.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 4 - Princess Maiden Air[edit]

Bagian 1[edit]

"S-Sudah kuduga, ini sangat memalukan. Gak bisakah aku memakai seragam Akademi saja?"


Menghadap Rinslet, yang dengan canggung menggosok-gosokkan lututnya dengan wajah memerah—


"Enggak. Meskipun seragam Akademi bisa bertindak sebagai pakaian ritual kasar, kau harus pakai pakaian tradisional untuk memanggil Elemental Lord." Claire berbicara dengan serius.


Mereka berada di sebuah kuil kecil di kota Zohar yang digunakan oleh para princess maiden untuk berkomunikasi dengan para roh.


Didalam Teokrasi dimana penyembahan Raja Iblis begitu berakar, sangat sedikit kuil yang didedikasikan untuk Lima Elemental Lord Agung. Bahkan di tempat-tempat berkelas tinggi seperti istana, hanya ada sebuah kuil untuk menyembah Elemental Lord Tanah saja.


"....Ooh~, terakhir kali aku mengenakan Pakaian Air adalah saat aku masih kecil."


Mengenakan pakaian tipis yang membuat kulitnya agak tembus pandang secara menggoda, Rinslet cuma bisa menundukkan kepalanya tak berdaya.


Dia melakukan Ritual Ketenangan Musim Dingin di Laurenfrost saat dia masih kecil, tapi sejak adiknya, Judia, disegel didalam es, pada dasarnya dia gak pernah memakai pakaian ini lagi.


Pakaian Air adalah pakaian ritual tertinggi yang dikenakan oleh princess maiden yang memuja Elemental Lord Air. Dibandingkan dengan pakaian ritual api, yang dipakai oleh Fianna, Rubia dan bahkan Ren Ashbell, pakaian ini jauh lebih terbuka, dengan sebuah desain yang secara khusus menekankan lekukan tubuh.


Sebuah kain tembus pandang yang menutupi kulit cewek bangsawan muda. Rok dengan belahan rok yang tinggi, dibawah pusarnya yang manis, membungkus lekukan pinggangnya yang anggun.


Setiap kali Rinslet memutar tubuhnya karena malu, paha putihnya bisa terlihat, membuat Kamito kebingungan kemana harus memandang.


Meskipun itu merupakan pakaian ritual formal yang dirancang Divine Ritual Institute yang bahkan juga dikenakan oleh Ratu Air, itu sangat merangsang saat dipakai oleh Rinslet yang polos.


"K-Kamito-san! Ini semakin memalukan saat kamu terus menatapku seperti itu..."


Matanya Rinslet yang berkaca-kaca melotot pada Kamito dengan jengkel.


Terpesona secara naluriah, Kamito buru-buru memalingkan muka.


"M-Maaf...! Itu karena kamu sangat cantik..."


"....Ooh, astaga, a-a-apa yang kamu katakan!?"


Rinslet meringkuk sambil asap mengepul dari kepalanya.


Diatas altar untuk memuja Elemental Lord terdapat sebuah tempat air yang besar.


Kamito mendengar bahwa Elemental Lord akan menyampaikan perkataannya ke alam manusia menggunakan air sebagai perantara.


"Akankah tarian persembahannya lancar?" Tanya Claire.


"Tentu saja. Aku mulai memimpin ritual sejak aku masih kecil."


Mengatakan itu, Rinslet berjalan naik ke altar.


Lonceng-lonceng yang dia pakai di pergelangan kakinya berbunyi.


"—O air yang mengalir, sumber dari segala kehidupan. Yang memeluk bumi dengan lembut, berilah berkah engkau pada bumi—"


Lonceng-lonceng itu terus berbunyi—


Mengenakan Pakaian Air, Rinslet mulai menari di depan tempat air tersebut. Dalam kegelapan, rambut pirang platinumnya berkilauan indah. Jari-jarinya yang anggun sangat mempesona.


Sebuah tarian yang mengalir, gak kalah spektakuler dari tarian yang dilakukan oleh princess maiden dari Divine Ritual Institute.


"Tetesan kasih sayang yang lembut, angin dan salju kemarahan, O penguasa agung dari air yang menguasai semuanya—"


Segel Mawar es yang ada di punggung tangan kiri Rinslet bersinar terang.


Ini adalah segel yang diberikan oleh Iseria Seaward pada dia di kota terabaikan di Ragna Ys.


Meskipun itu bukanlah sebuah segel kontrak roh formal, Rinslet mampu membuat koneksi dengan dia melalui segel ini.


"—Saya memohon engkau mendengarkan suara dari princess maiden engkau!"


Cahaya yang memancar dari gambar mawar es itu membuat sekeliling menjadi putih—


"—Ada apa, Rinslet?"


Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari mulut Fenrir yang meringkuk di sudut kuil.


"A-Apa!?"


Kamito berseru terkejut.


"Di sebelah sana!?"


Mendengar suara itu, Rinslet berteriak meski sedang di pertengahan melakukan tarian persembahannya.


Mengabaikan Kamito dan rekan-rekannya yang gak bisa berkata apa-apa—


Fenrir perlahan-lahan berdiri dan berjalan tak stabil ke arah Rinslet.


"Dibandingkan dengan cermin air itu, merasuki roh terkontrakmu lebih mudah, kan?"


"S-Sungguh?"


"Ya. Sebelumnya aku pernah menggunakan mulut roh anjing ini untuk berbicara, kan?"


Memang, sebelumnya, Kamito menerima suatu petunjuk tentang keberadaan Restia dari Iseria yang berbicara melalui Fenrir. Gak disangka tempat air yang dipersiapkan secara khusus itu menjadi sia-sia.


"Rinslet, kenapa kau memanggilku?"


"Y-Ya, kami ingin bertanya tentang sesuatu pada anda, Iseria-sama."


Berlutut di tanah, Rinslet menundukkan kepalanya di depan Fenrir.


Claire dan yang lainnya bergegas melakukan hal yang sama.


....Itu adalah pemandangan yang cukup konyol dari sudut pandang orang yang melihatnya.


"Abaikan saja formalitas. Aku tidak lebih dari avatar Elemental Lord Air."


"Tidak, sudah pasti tidak bisa."


Rinslet menggeleng perlahan.


"...Baiklah. Lalu apa yang ingin kau tanyakan padaku?"


"Tentang Holy Lord Alexandros yang agung, pemimpin dari para Elemental Lord—"


Rinslet menyampaikan pada Iseria, yang dalam wujud seekor serigala putih, tentang apa yang terjadi di Kota Raja Iblis.


"...Sungguh sulit dipercayai, aku tidak pernah menyangka Alexandros akan bangkit di alam manusia."


Beberapa saat kemudian—


Setelah mendengarkan seluruh ceritanya, Iseria memasang pose termenung dengan rahang Fenrir di sangga dengan kaki depannya.


Karena dia terlihat seperti Fenrir, itu tampak cukup lucu—


"Iseria-sama, boleh saya tanya apa yang anda tau tentang Holy Lord?"


Fenrir menggeleng.


"...Aku minta maaf. Aku nyaris tidak punya ingatan saat aku seorang Elemental Lord. Berkat bantuan kalian aku akhirnya bisa memulihkan sebagian ingatan dan kekuatanku."


"Yah, memang sih..."


"H-Hei, perhatikan sikapmu!"


Mendengar gumaman Claire, Ellis menegur.


"Sebagai penguasa dari kebijaksanaan dan kekuatan, Alexandros adalah pemimpin dari kami para Elemental Lord. Akan tetapi, di akhir Perang Roh, dia tercemar oleh Kegelapan Dunia Lain yang dipanggil oleh Elemental Lord Kegelapan Ren Ashdoll, seperti kami—"


"Saya mendengar bahwa Holy Lord merayu pahlawan Solomon dan menciptakan kesempatan untuk penciptaan Raja Iblis. Kenapa dia melakukan itu?"


Kali ini Kamito yang menanyakan sebuah pertanyaan.


"Ini adalah pertama kalinya aku mendengar Holy Lord campur tangan di alam manusia. Akan tetapi, itu memang aneh. Kami para Elemental Lord memberikan kekuatan pada Sacred Queen demi menghapus kekacauan yang dibawa oleh Raja Iblis."


"Ternyata benar, pasti ada suatu rahasia pada Sacred Maiden..."


Menyilangkan tangannya, Kamito bergumam.


Apa yang Alexandros lakukan setelah mendapatkan tubuh fisik Sacred Maiden Areishia?


Dan juga, Lurie menyebutkan mengatur ulang dunia, apa tepatnya—


"Apa anda mengetahui sesuatu tentang Elemental Lord Api?"


Kali ini, giliran Claire yang bertanya.


Mungkin karena Iseria menggunakan penampilan Fenrir, Claire gak menunjukkan banyak rasa hormat. Kamito gak bisa menyalahkan dia setelah melihat Fenrir menggeleng sambil menggaruk telinganya menggunakan kaki belakangnya—


"...Yah, dari apa yang ku dengar, meskipun aku tidak yakin, kemungkinan Volcanicus terikat oleh suatu perjanjian dengan Holy Lord."


"Perjanjian?"


"Ya. Dalam Perang Roh, para Elemental Lord membuat penjanjian mutlak satu sama lain. Untuk membuat aliansi solid untuk melawan Ren Ashdoll."


"Jadi itu sebabnya dia gak bisa ikut bersama kami..."


Claire bergumam penuh penyesalan.


"Apakah ada sesuatu yang aneh terjadi?"


"Hmm, seperti biasanya—Oh."


"...Ada apa?"


"Yah, bicara soal hal aneh, ada satu masalah yang membuatku sedikit kuatir."


Iseria berbicara dengan nada serius.


"Apa itu?"


"Gerbang ke Astral Zero sepertinya telah terbuka di alam manusia."


"....? Bukankah itu terjadi sepanjang waktu?"


Di tempat-tempat seperti Hutan Roh, roh-roh kuat terkadang melewati gerbang-gerbang yang terbuka secara alami untuk menyerang alam manusia. Mengurus roh-roh seperti itu juga merupakan bagian dari tugas Syphid Knight.


"Kuantitasnya cukup besar. Meskipun penyelidikan sedang dilakukan, sudah pasti telah terjadi sesuatu di Astral Zero."


"....Jadi begitu."


Suatu fenomena semacam itu sudah pasti mengkhawatirkan. Akan tetapi, sepertinya itu gak berkaitan dengan masalah yang saat ini dihadapi oleh Kamito dan rekan-rekannya.


"Hanya seginilah yang aku tau. Aku minta maaf karena tidak bisa banyak membantu."


"Anda terlalu merendah, Iseria-sama."


Rinslet menggeleng dengan panik.


"Selamat tinggal. Aku menantikan kue mu jika kau kebetulan melintasi Astral Zero."


Kilauan cahaya di mata Fenrir menghilang, mengembalikannya ke mata bulat aslinya.


"...Sejujurnya, itu gak terlalu berguna."


"C-Claire! Yang kau bicarakan itu seorang Elemental Lord, lho."


"Aku sampai repot-repot memakai pakaian ini!"


Mendengar komentar Claire, Ellis marah dan Rinslet menggerutu.


"Yah, mau gimana lagi, dia kehilangan ingatannya. Selanjutnya, kita harus melakukan lebih banyak penelitian tentang Holy Lord."


"...Ya."


Claire berdiri.


"Ayo kembali ke istana, Putri Saladia bilang dia telah mempersiapkan sebuah pesta."


"A-Aku harus ganti pakai seragamku dulu."


"Kamu mau melepas pakaian cantik ini? Sayang sekali."


"K-Kamito-san!"

Bagian 2[edit]

"Aku, Saladia Kahn, putri dari Rajihal Kahn, menyatakan rasa terimakasihku atas bantuan kalian dalam hal ini. Oleh karena itu, aku bersumpah membuat aliansi dengan Ordesia Sah."


"Terimakasih banyak, Putri Saladia—"


Di ruang tahta di Scorpia, Fianna dan Putri Saladia berjabat tangan.


Saladia telah menyelesaikan upacara penobatannya, meskipun sederhana. Banyak pengikut yang melayani Sjora Kahn telah ditangkap dan dipenjara oleh pasukan dibawah komando dia.


Bagi Ordesia Sah, ini adalah sekutu yang kuat yang mereka dapatkan selain Dracunia.


Meskipun mereka nggak bisa banyak berharap dalam hal bantuan militer, fakta bahwa mereka mendapatkan negara sekutu baru sudah pasti membantu dalam mengamankan dukungan dari para bangsawan Ordesia.


"Aku telah mempersiapkan perjamuan kecil untuk memperdalam persahabatan antara negara kita. Dimohon kehadiran kalian."


"Terimakasih atas keramahan anda, Putri Saladia—"


Fianna membungkuk anggun lalu pergi bersama Rubia, meninggalkan ruang tahta.


Saat mereka berjalan keluar dari istana, matahari sudah terbenam. Kerumunan kecil dari para roh mulai berkumpul di taman. Mereka pasti telah menyadari bahwa para manusia sedang mengadakan pesta perayaan.


"Dengan ini, kita telah merekrut dua sekutu negara."


"Ya, orang-orang di Kekaisaran pasti akan bertindak setelah mendengar laporan tentang ini."


"Para bangsawan akan memberontak?"


"Tidak, itu masih terlalu dini—"


Lalu, Rubia tiba-tiba berhenti berjalan dan melihat sekeliling taman.


"Rubia-sama?"


"Fianna, apa kau merasakannya?" Rubia bertanya pelan.


"...Huh?"


"Yang ku maksudkan adalah Putri Saladia. Dari jarak dekat, apa kau merasakan sesuatu?"


Fianna melebarkan matanya.


"Benar juga, kau menyadarinya juga, Rubia-sama?"


"Memang. Sesuatu yang gak menyenangkan jelas-jelas mengintai dari dalam Putri Saladia."


"....Ya."


Fianna mengangguk.


Kalau itu bukan seorang kandidat Ratu atau mantan Ratu, mereka mungkin gak akan menyadari hawa keberadaan jahat yang samar itu.


"Sesuatu nampaknya telah merasuki sang putri."


"Yang aku kuatirkan itu adalah entitas yang sama dengan yang telah merasuki Sjora Kahn." Kata Rubia.


"Saat babak final Blade Dance, kepribadian penyihir itu sepenuhnya berubah. Aku curiga kali ini, itu meninggalkan tubuh Sjora Kahn dan merasuki Putri Saladia."


"Apa sesuatu seperti itu bisa?"


"Generasi dari Pemuja Raja Iblis mewariskan kutukan kuno yang gak diketahui pada Divine Ritual Institute. Aku curiga itu termasuk sihir semacam ini."


Rubia memalingkan kepalanya pada Scorpia dan berkata pelan.


"—Malam ini kita berburu. Bersiaplah."

Bagian 3[edit]

Ibukota suci Alexandria dari Kerajaan Suci Lugia yang berlokasi di kaki gunung suci Rodinia, tempat kelahiran Areishia Idriss, sang Sacred Queen legendaris.


Itu adalah sebuah kota pegunungan yang dikelilingi oleh dinding berwarna putih polos. Sebagai ibukota dari salah satu tiga negara besar di benua bersama dengan Ordesia dan Quina, ukuran kota ini cukup kecil serta penduduk yang sedikit.


Seluruh kota berubah menjadi sebuah kuil raksasa yang didedikasikan untuk menyembah Holy Lord, karena fungsi inti politik dan perdagangan dari kota ini telah dipindahkan ke ibukota kedua Meria sekitar dua ratus tahun yang lalu.


Ini adalah sebuah kota dimana tuntutan pendidikan dan ritual penyembahan diajarkan oleh para princess maiden.


Di pusat ibukota suci Alexandria...


Di katedral besar yang dikenal sebagai Ivory Tower—


Seorang cewek berpakaian putih polos masuk.


Itu adalah sebuah tempat yang kosong.


Raja yang dijunjung jelas-jelas tidak ada.


Cewek itu berdiri diatas sebuah peta benua yang diukir di lantai.


"—Est, kau ada disini, kan?"


Tiba-tiba dia memanggil entah kemana.


Partikel cahaya muncul, lalu seorang kardinal mengenakan pakaian putih polos muncul.


"—Apakah ada yang bisa saya bantu, Holy Lord?"


Cewek yang dipanggil "Est" itu—


Tak lain tak bukan adalah kardinal Kerajaan Suci, Millennia Sanctus.


Tercermin pada mata ungunya yang jernih adalah wajah Areishia Idriss.


Ekspresi Areishia sedikit santai.


"—Bagus, Est. Kau berhasil membebaskan wadahku."


Millennia membungkuk.


"Akan tetapi, pengikut setia anda, Lurie Lizaldia, mati."


"Ya, memang. Itu adalah kenyataan yang menyedihkan."


Areishia menggeleng tenang.


"Meski demikian, harapannya akan membuahkan hasil. Sama seperti harapanmu."


Sacred Maiden itu menengadah menatap lukisan pada langit-langit katedral dan berbicara dengan suara yang dipenuhi kesedihan.


Lukisan itu menggambarkan Holy Lord menjatuhkan hukuman pada Elemental Lord Kegelapan Ren Ashdoll.


Itu adalah sebuah lukisan dinding purba bernama Final Judgment.


"Waktunya telah tiba. Wadah Sacred Maiden telah bangkit. Waktunya menjalankan rencana itu, Est. Kita harus memperbaiki dunia yang telah diarahkan oleh dosa-dosa Elemental Lord Kegelapan pada jalan menuju kehancuran."


"Semuanya telah siap, tuan. Saya menunggu perintah anda."


"Apa lokasi kandidatnya telah dipilih?"


"Ya, bagaimana jika disini—?"


Millennia mengangguk dan menghentakkan ujung tongkatnya pada peta di lantai.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 5 - Perayaan[edit]

Bagian 1[edit]

—Setelah matahari terbenam.


Api unggun dinyalakan di tengah alun-alun besar Scorpia untuk merayakan penobatan sang putri.


Lantai alun-alun itu dilapisi dengan karpet yang bersulam pola yang indah, sebuah keahlian lokal Theokrasi Alpha. Disajikan pada peralatan-peralatan emas dan perak, hidangan dan buah-buahan satu per satu dibawa ke tempat beserta tempat wine.


Setelah mandi, Claire dan yang lainnya duduk di karpet, melihat pesta megah yang ada didepan mereka.


"Makan lesehan begini merupakan pengalaman yang baru."


Claire yang kulitnya lembut dan lembab setelah mandi, menyibakkan rambutnya sambil berbicara.


"Kudengar ini adalah adat perjamuan tradisional di Theokrasi."


"Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan ini."


Mengingat kembali hari-harinya di Sekolah Institusional, Kamito berkomentar.


Karena Sekolah Institusional berasal dari penganut Raja Iblis dari Theokrasi, Kamito lebih akrab dengan budaya gurun daripada budaya cewek-cewek bangsawan muda dari Ordesia.


"Karpet ini bagus sekali. Aku penasaran bagaimana mereka menyulamnya?" Ellis bergumam sangat tertarik.


Kamito bisa mencium aroma bunga dari leher Ellis, mungkin karena dia menggunakan sabun mawar yang dibuat secara khusus.


"Ini adalah karya dari para princess maiden yang terspesialisasi dalam menyulam, dipandu oleh para roh. Hasilnya, tekstil khas Theokrasi Alpha yang mengandung berkah dari para roh."


Claire yang berpengetahuan luas mengangkat jari telunjuk dan menjelaskan.


"....Jadi begitu. Gak heran rasanya begitu nyaman diduduki."


Mendengar itu, Kamito berkomentar kagum sambil duduk diantara Claire dan Ellis.


Selain kelompok Kamito, para tamu yang diundang termasuk jenderal dari penjaga kerajaan, para pemimpin militan lokal dan orang-orang istana yang dipenjara oleh Sjora Kahn.


Pada dasarnya semua pengikut yang dengan serakah menerima hak-hak istimewa dan wewenang yang diberikan oleh Sjora sekarang ini telah dipenjara. Mereka tidak di eksekusi karena Putri Saladia ingin menujukkan dia gak punya niat untuk melanjutkan teror pemerintahan kakaknya.


Adapun untuk Saladia ssendiri, dia saat ini duduk di singgasana, mendengarkan laporan-laporan para pengikutnya.


Duduk disana, dengan anggun dan memancarkan kesan mengagumkan, sangat sulit untuk membayangkan dia sebagai seorang cewek di usia yang sama dengan Kamito dan rekan-rekannya.


"Putri Saladia dihadapkan dengan pekerjaan yang sulit di depan."


"Ya, masih ada cukup banyak panglima perang lokal yang menginginkan melanjutkan dinasti Kahn."


Saat Claire menatap sang putri dan berkomentar, Ellis sependapat.


Lalu—


"Maaf atas keterlambatanku."


Kamito dan rekan-rekannya mendengar suara Fianna dari belakang.


"Beneran deh, kemana saja kau?"[1]

"Hmm, ada urusan mendadak..."


Menjawab pelan, lalu Fianna duduk dengan anggun disamping Ellis.


"Ellis, aku secara pribadi menulis sebuah surat pada Dracunia, bisakah kamu mengirimkannya pada Raja Naga?"


"Dimengerti. Saya akan mengutus roh angin paling cepat untuk mengirimkannya."


Ellis merapal sebuah mantra dan memanggil roh angin dalam wujud seekor falcon.


Sekilas, roh itu tampak mirip dengan Simorgh namun lebih kecil. Falcon itu memegang surat tersebut dengan paruhnya, lalu terbang layaknya hembusan angin.


Dikarenakan status mereka sebagai Tuan Putri Kekaisaran dan anak cewek duke, Fianna dan Ellis terbiasa agak terlalu formal satu sama lain, tapi sejak Ellis mulai bekerja sebagai sekertaris Fianna, mereka menjadi lebih dekat.


"Jika Dracunia membuat aliansi resmi dengan kita, aku yakin Arneus tak akan bertindak gegabah."


"Ya, dengan ketidakpastian situasi internal Kekaisaran, dia akan berpikir dua kali sebelum menyulut kemarahan salah satu dari kekuatan militer tingkat atas di benua—"


Disaat Claire dan para cewek ngobrol, makanan mewah istana di sajikan hidangan demi hidangan.


Ada roti jelai yang di oven, roti tawar, babi panggang utuh, sebuah hidangan dimana ayam utuh yang diisi berbagai bahan, kadal gurun goreng, kalajengking merah goreng yang dibumbui garam, domba rebus beraroma sayuran, daging yang dipasangkan dengan saus buah, untaian anggur yang disajikan pada wadah perak, hidangan penutup apel panggang yang dilumuri madu....
(T/N: kalo nama hidangannya aneh, yaa maaf. Aku lemah dalam nerjemahin makanan dan nama ikan)


"Wow... Semuanya kelihatan sangat enak!"


"Ada hidangan-hidangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya!"


Tatapan Claire terkunci pada hidangan penutup yang dipenuhi persik.


Setelah makanannya disajikan, sebuah esembel musikal yang terdiri dari para princess maiden melakukan pertunjukan mereka di pusat plaza dan mulai memainkan musik eksotik.


Tertarik oleh musik dan pesta mewah tersebut, para roh terus berdatangan. Area ini nampaknya disukai oleh para roh tanah. Banyak roh kadal bersisik keras dan roh kalajengking dengan ujung ekor yang seperti martil bisa ditemukan disekitar.


Roh-roh terkontrak milik Tim Scarlet berkeliaran bebas di plaza.


Ini merupakan sebuah pemandangan yang cukup langka untuk ditemui saat perkumpulan para bangsawan Ordesia.


Para pengikut mulai mengobrol gembira seraya memegang gelas wine. Beberapa dari mereka bahkan mengarahkan daging yang ditusuk pada ekor Scarlet untuk memanggangnya saat Scarlet sedang berjalan-jalan di plaza.


"Claire, apa itu betul-betul gak apa-apa? Melakukan hal itu pada seekor roh berperingkat tinggi?"


Melihat itu, Kamito menoleh pada Claire yang ada disamping dia dan bertanya.


"Tentu, lagian Scarlet cuma pergi jalan-jalan meminta makanan..."


"Seperti candle service[2] huh?"


"Yah, kurasa begitu."


"Rasanya kayak menyimpang...." Ellis menyindir halus.


"Hmph, kita gak boleh kalah, Fenrir!"


Menyibakkan rambut pirang platinumnya, Rinslet berdiri.


Disertai badai es, Fenrir yang dipanggil membekukan buah persik dan anggur yang disajikan, seketika menghasilkan serbat.


"Hmm, lumayan...."


"Claire, ayo melakukan kontes. Menentukan roh siapa yang paling populer di perjamuan ini!"


"Siapa takut!"


"Kenapa juga kalian mengadakan kontes?"


Melihat kedua siswa Kelas Gagak berseteru, Kamito menghela nafas.


"Yah, ini gak buruk-buruk amat. Gak setiap hari kita menghadiri perjamuan."


Fianna menanggapi sambil mengangkat bahu.


"Omong-omong, Georgios jarang dipanggil pada perjamuan seperti ini."


"Gimanapun juga, sebagai roh pusaka kerajaan, dia gak boleh ditampilkan secara sembarangan."


"Apa dia memakan makanan manusia seperti Scarlet dan yang lainnya?"


Para roh gak memerlukan untuk memakannya, tapi sebagian besar dari mereka akan memakan makanan dengan senang saat disajikan.


"Hmm, dia sepertinya lebih menyukai besi untuk dimakan. Georgios sering mekanan benda-benda seperti pedang patah yang gak berguna dan semacamnya."


"A-Aku mengerti.... Itu gak terlalu mengejutkan sih."


Mengatakan itu, Kamito sedikit menengadah.


Dia bisa melihat seekor burung sakral berekor pelangi terbang diatas mereka.


Para pengikut sang putri mnegatupkan tangan mereka dan memberi hormat pada burung itu.


"Rasanya mereka seperti menyembah Simorgh..."


"Ya, itu membuatku takjub barusan."


Ellis sama-sama bingungnya.


"Teokrasi sepertinya menyembah roh-roh berwujud burung. Kurasa itu karena seekor burung raksasa membawa Raja Iblis ke pertempuran menurut legenda—"


Saat Fianna mulai menjelaskan...


"Onii-sama~!"


"Uwah... Uh—"


Sesosok mungil diam-diam mendekati dan memeluk Kamito.


"Muir!?"


"Ehehe..."


Kamito menoleh—


Dan melihat Muir tersenyum malu-malu dibelakang dia.


Bukannya memakai pakaian tempur Sekolah Instruksional-nya yang biasanya, dia mengenakan pakaian gurun. Rambut abu-abunya diikat di kiri-kanan kepalanya, melambai-lambai riang.


"Muir, kau sudah pulih."


"Ya, aku sudah sehat sekarang, Onii-sama♪"


Mengatakan itu, Muir mengangguk riang.


Dalam misi pengintaian di Zohar sebelumnya, dia dan Lily diserap oleh Leviathan si roh kelas strategi. Alhasil mereka terbaring di tempat tidur saat tim Kamito pergi ke Ghul-a-val.


"Apa Lily sudah pulih juga?"


"Dia sudah bisa berjalan sekarang, tapi dia gak mau datang ke sini."


"Jadi begitu. Dia memang seperti itu."


Kamito tersenyum masam. Lily adalah seorang anggota ras Elf dan membenci kerumunan manusia.


"Onii-sama, biarkan aku menyuapimu."


"...Woah!?"


Muir melompat dan duduk di pangkuan Kamito.


"T-Tunggu sebentar, apa yang kau lakukan!?"


Melihat itu, Claire melotot pada Muir.


"Hmph, Onii-sama adalah kursi pribadi Muir, sang adik."


"K-Kau bukanlah adiknya!"


"Benar, adik angkat. Adik angkat bisa dinikahi, jadi statusnya jauh lebih tinggi daripada adik kandung."


".....! D-Dinikahi....!"


Wajah Claire seketika memerah terang.


Lalu, Demon Slayer di samping Kamito tiba-tiba bersinar.


"Menyingkir dari situ, itu tempatku—"


"E-Est!?"


....Karena suatu alasan, bahkan Est juga ikutan.


"Gak mau, ini adalah tempatnya Muir."


"....."


Est tetap tanpa ekspresi, tapi dia secara paksa mencoba duduk di pangkuan Kamito.


STnBD V18 BW03.jpg


Rambut peraknya berkilauan samar.


...kayaknya dia agak marah.


"H-Hei, kalian berdua...!"


"K-Kamito, ini adalah perilaku yang gak tau malu!"


"Memaksa dua cewek untuk melayanimu, kayaknya kau menikmatinya!"


"...~B-Berubahlah jadi arang, arang!"


"Woah, tunggu, Claire!?"


"—Ribut sekali."


Tiba-tiba, cewek bersayap hitam legam turun perlahan-lahan didepan kelompok Kamito.


Terkikih, Restia tersenyum nakal.


"Hmm, muncul juga kau, roh kegelapan..."


Sebagai tanggapan, Muir menatap penuh kewaspadaan pada Restia.


"Aku tidaklah pelit sampai-sampai mengatakan sesuatu seperti menguasai Kamito sendirian."


Restia menyatakan dengan ekspresi penuh kepercayaan diri.


"Apa kau serius?"


"Kenapa kita nggak berbagi Kamito saja?"


"Berbagi?" Karena merasakan perasaan buruk, Kamito bertanya.


"Ya, kami akan membagi waktu kapan kami bisa memonopoli Kamito. Aku akan menguasai Kamito di malam hari, sedangkan siang harinya jatah kalian berdua untuk menguasai dia."


"Enak aja!"


Kamito buru-buru memprotes saran Restia.


"Meskipun mewujudkan diri saat siang hari bukanlah masalah untuk roh tingkat tinggi seperti aku, gimanapun juga para roh kegelapan merasa malam hari lebih nyaman♪"


"Untuk kenyamananmu sendiri, huh!?"


"Gak mungkin aku akan menyetujuinya. Kau akan menguasai Onii-sama sendirian di malam hari!"


"Roh kegelapan, sudah kuduga, kita memang harus menyelesaikan masalah superioritas diantara kita—"


Kali ini, Muir dan Est mulai bersekutu.


"Kalian semua akrab sekali."


Melihat mereka, Fianna menghela nafas dan bergumam.


Para musisi memainkan melodi indah dan para princess maiden mulai menari.


Para princess maiden yang melayani para roh biasanya merupakan para cewek cantik dan kali ini juga. Akan tetapi, karena Kamito didampingi oleh para kecantikan tingkat atas dari Kekaisaran, dia lebih fokus pada hidangan gurun yang langka daripada tariannya.


"Est, kamu mau apa? Aku akan mengambilkannya untukmu."


"Ya. Aku mau daging yang berputar-putar itu."


Mendengar tawaran Kamito, Est menunjuk pada daging yang ditusuk, diputar sambil dipanggang.


"Nona Roh Pedang, itu namanya kebab."


"Kebab?"


"Domba yang dipotong di panggang diatas bara api sambil diputar-putar."


"Lalu kamu menggulungnya dengan sayuran dan memakannya dengan saus pedas manis."


"Kamito, aku mau kebab."


Est sudah memegang garpunya, mata ungunya bersinar terang.


Kamito memotong dagingnya. Lalu menyadari sesuatu yang aneh pada perilaku Claire.


"....Claire, apa yang kau lakukan?"


"Hyah!"


Saat Kamito menanyai dia, Claire tersentak.


Sentakan itu menyebabkan beberapa persik menggelinding keluar dari balik seragamnya.


"....ini tak sedap dipandang untuk seorang tamu pada sebuah perjamuan. Dan kau dulunya seorang putri duke juga."


"A-Aku cuma berencana memakannya di kamarku!"


Claire mengguncangkan twintailnya dengan sungguh-sungguh dan mulai memunguti persik yang berjatuhan.


"Beneran deh, apaan sih yang kau lakukan...?"


Ellis berkomentar dengan jengkel.


"Ellis, maaf atas keterlambatanku."


"Kakak—"


Lalu, Velsaria duduk disamping Ellis, memegang sebuah tempat wine.


Sepertinya, dia sudah selesai mengatur roh benteng miliknya di tempat Vivian Melosa.


"Ellis, apa kau mau minum?"


"Ya, kakak."


Ellis mengangguk dan mengangkat gelasnya.


"Ku dengar kau bertarung melawan Luminaris di Kota Raja Iblis."


"Ya, dia sesuai dengan reputasinya sebagai lawan yang tangguh."


"Meski demikian, kau melawan dia dengan setara kan?"


"Aku merasa terhormat bahwa aku memiliki kesempatan untuk menghadapi Luminaris-dono dalam pertempuran. Meskipun dua adalah seorang ksatria dari Kerajaan Suci, pedangnya murni dan jujur."


"Begitukah? Sebuah pengalaman yang berharga, aku mengerti."


"Ya, kak—"


Ellis tersenyum. Velsaria juga tersenyum lembut.


...Hubungan kakak beradik mereka, yang mana dulunya cukup kaku, telah menjadi jauh lebih harmonis.


Melihat itu, sesaat Claire terlihat sedih.


"Nee-sama belum kesini..."


"Kurasa Rubia gak terlalu suka perayaan."


"Salah besar. Dulu, Nee-sama dulu sangat senang setiap kali festival dan perayaan diadakan."


Kedua twintailnya terkulai lesu dalam kekecewaan.


"Nee-sama sangat ahli dalam bermain Old Maid."


"Benarkah..."


Melihat Claire seperti itu...


"Rubia-sama sebentar lagi akan kesini. Dia sedang bersiap-siap saat ini." Fianna menjelaskan.


"Bersiap? Bersiap untuk apa?"


"Sebentar lagi kau akan tau."


Mengatakan itu, Fianna terus memandang Putri Saladia yang ada di singgasana.


Meskipun dalam suasana perjamuan, Fianna tampak gugup.


—Tiba-tiba.


Musik berhenti dan ruang singgasana menjadi hening.


Tatapan semua orang mengarah pada pintu masuk plaza.


Yang muncul disana adalah—


"Nee-sama...!?"


Duduk di samping Kamito, Claire berseru pelan.


Memang, itu adalah Rubia Elstein.


Akan tetapi, bukannya mengenakan seragam militernya yang biasanya, dia mengenakan pakaian ritual seorang princess maiden.


Bisikan demi bisikan bisa terdengar dari para tamu.


"Rubia-dono, untuk apa pakaian ini?"


Putri Saladia bertanya terkejut.


Rubia berjalan pelan-pelan ke arah singgasana dan membungkuk dengan anggun.


"Untuk merayakan penobatanmu, Putri Saladia, aku ingin melakukan sebuah tarian ritual."


"Kau yang akan melakukan tarian ritual?"


Saladia mengernyit dan bertanya.


Memang, ini merupakan reaksi yang wajar bagi siapapun yang gak mengetahui bahwa Rubia Elstein dulunya adalah Ratu yang melayani Elemental Lord Api.


"Putri Saladia, Rubia-dono adalah seorang princess maiden dari Divine Ritual Institute. Aku yakin dia bisa memuaskan para roh yang ada disini."


Fianna berdiri dan memberi dukungan.


"Aku paham. Jika begitu, aku menantikan pertunjukanmu."


Sang putri mengangguk dan sedikit mengangkat tangannya. Suara musik kembali dimainkan.


Mereka memainkan musik untuk menghibur para roh.


Dengan kibaran rambut merahnya yang tampak seolah terbakar, Rubia mulai menari dengan anggun...


"Nee-sama..."


Claire membelalakkan matanya yang seperti rubi. Sudah bertahun-tahun sejak dia terakhir kali melihat kakaknya menari sedekat ini. Terakhir adalah saat Festival Roh Agung di ibukota kekaisaran.


Dengan mata tak berkedip, Claire menatap sosok kakaknya yang menari yang seperti api.


Api kecil dihasilkan dari kipas miliknya, berputar-putar di sekitar Rubia.


Para roh yang berkumpul di perjamuan tersebut mengungkapkan kegembiraan mereka dengan berkilauan secara terus-menerus.


Bermain-main didalam api, Rubia begitu cantik hingga Kamito terpesona.


STnBD V18 BW04.jpg


"Aku gak tau apapun tentang tarian, tapi ini betul-betul indah..."


"Ya. Inilah tarian Nee-sama, Kamito."


Claire berbicara penuh kebanggaan.


Dimasa lalu, Kamito pernah menyaksikan Rubia melakukan persembahan tarian ritual di ibukota kekaisaran.


Tapi saat itu, dia sepenuhnya berfokus pada misi yang diberikan Sekolah Instruksional dan gak punya waktu untuk memperhatikan kecantikan Rubia.


Tarian Rubia memanas layaknya kobaran api saat musiknya semakin meningkat intensitasnya.


Lalu, Kamito tiba-tiba menyadarinya.


Duduk di singgasana, ada sesuatu yang aneh pada Putri Saladia.


(...Apa yang terjadi?)


"...Ah...Ah..."


Dia mulai mengerang seolah mengalami kejang.


"Saladia-sama, apakah ada sesuatu yang mengganggu anda?"


Para pengikut menyadari kejanggalan tersebut dan mulai ribut.


"Putri, apa anda baik-baik saja?"


Rinslet berdiri kuatir.


Akan tetapi, saat dia hendak mendekat, Fianna menghentikan dia.


"Tunggu, Rinslet."


"Yang Mulia? Ada apa—"


"Semuanya, tolong tenanglah."


Fianna berdiri dan berteriak.


Seketika, ruang singgasana itu menjadi hening.


"Ah, guh, oh, ohhh, ohhhhhhhhhh—"


Memegang dadanya kesakitan, Saladia jatuh ke lantai.


Suara serak pria tua itu bukanlah suara Saladia.


Terdengar seperti banyak hantu, suaranya cukup menakutkan.


(Suara ini—!)


Kamito terkejut. Dia ingat suara itu.


Itu adalah suara kasar yang sama persis yang disuarakan oleh Sjora Kahn tepat sebelum dia mati.


"Terkutuk, beraninya kau bersekongkol melawan kami, cewek sialaaaaaaaaaan—"


Seperti kabut hitam legam, racun hitam keluar dari sang putri yang terjatuh.


Para pengikut di sekitar pingsan satu per satu segera setelah racun tebal itu menyentuh mereka.


"Bagaimana rasanya? Penguasa Pemuja Raja Iblis—"


Menatap dingin racun hitam itu, Rubia berbicara.


"Pertama kali aku menyadari identitas aslimu saat aku menyelidiki grimoire tentang mantra terlarang yang ditinggalkan Sjora Kahn. Sebuah tipe sihir tertentu membuatku tertarik."


"...Guh... Urgh. Sialan kauuuuuuuuuuu...!"


"Sihir reinkarnasi. Meninggalkan tubuh fisik kemudian menggunakan pikiran seseorang untuk merasuki orang lain—"


"Sialan kau sialan kau sialan kauuuuu...!"


Racun hitam mengerikan keluar dan merayap di lantai, berusaha kabur.


Akan tetapi, sekeliling sudah dikelilingi oleh sebuah penghalang cahaya.


"Sebuah penghalang isolasi. Mustahil untuk kabur."


Memegang Save the Queen disaat Kamito menyadarinya, Fianna berbicara tegas.


"Apa yang Rubia-sama lakukan adalah tarian ritual gaya pertama—Exorcism Dance. Tujuannya adalah untuk memaksa keluar iblis yang menguasai tubuh Saladia."


"C-Cewek sialan, tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan!"


Racun hitam itu menabrak penghalang isolasi, namun terbakar oleh penghalang cahaya tersebut.


"Penguasa pendendam yang menakutkan, kau harus hancur disini saat ini juga!"


Api putih-biru yang tak terhitung jumlahnya menyala di ujung kipas Rubia yang diangkat.


"Api itu adalah...."


Terkejut, Claire berseru.


Memang, api ini bukanlah dari sihir roh.


Itu merupakan kemampuan khusus yang diwariskan dari generasi ke generasi dari keluarga Elstein. Bahkan mampu membekukan api—


"—Absolute Flame."


Api tak biasa itu menelan jiwa pendendam Penguasa bersama dengan penghalang cahaya tersebut.


"Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"


Terbakar perlahan-lahan, racun hitam itu menjerit, meronta kesakitan.


Secara sembunyi-sembunyi memanipulasi dinasti Kahn dari bayangan selama beratus-ratus tahun, si Penguasa—


Dengan mudah dihancurkan disini saat ini.


"Saladia-sama, apa anda baik-baik saja!?"


Para pengikut bergegas ke samping Saladia yang tak sadarkan diri.


"Tenanglah. Dia hanya pingsan."


Setelah Fianna merapal sihir roh untuk membangunkan seseorang, Saladia segera membuka matanya.


"...mm, ooh... oohhh..."


"Apa kau sudah merasa baikan, Putri Saladia?"


Saladia berkedip-kedip kebingungan.


"Uh, apa yang terjadi? Apa yang kulakukan..."


"Kegelapan yang merasukimu telah dihancurkan."


Rubia mendekat dan menjelaskan semuanya pada dia.


Setelah mendengar itu, Saladia memejamkan matanya—


"Kejahatan yang mengintai didalam diriku sama halnya yang terjadi pada Sjora kakakku kan?"


Secara mengejutkan, dia dengan tenang menerima kenyataan itu.


"Jika dipikirkan lebih jauh lagi, sudah ada tanda-tanda peringatan. Perubahan Sjora dan bagaimana aku secara tak bisa dipercaya memutuskan untuk pergi ke Ghul-a-val demi mencari Peti Mati Raja Iblis keduanya adalah karena kegelapan itu, kurasa."


"Penguasa beruntun dari Pemuja Raja Iblis telah menggunakan mantra reinkarnasi terlarang untuk mengintau didalam garis keturunan keluarga kerajaan untuk menguasai Teokrasi Alpha. Akan tetapi, sejarah itu telah berakhir hari ini."


"Terimakasih banyak, Rubia-dono. Dan kau juga, Putri Fianna—"


Saladia membungkuk. Segera setelahnya, para pengikut bertepuk tangan secara alami.


"—Baiklah, kembali ke perjamuan. Musik untuk menghibur para roh akan dilakukan selanjutnya."


Saladia menepukkan tangannya.


Melori gembira sekali lagi bergema di istana.

Bagian 2[edit]

Larut malam—


Kamito diam-diam meninggalkan perjamuan dan kembali ke kamarnya di vila kerajaan.


Menurut adat Teokrasi, perayaan akan berlangsung sampai pagi, tapi dia juga terlalu lelah untuk ikut terus.


Gimanapun juga, runtuhnya Kota Raja Iblis kurang dari satu hari berlalu.


Claire dan para cewek juga meninggalkan perjamuan di pertengahan dan kembali ke kamar mereka.


Setelah menyandarkan Est dan Restia yang telah kembali ke wujud pedang mereka setelah makan sepuas hati mereka pada dinding, Kamito berbaring diatas ranjang.


Ranjang bulat berhiaskan kanopi. Ini pasti ranjang yang digunakan Raja Bejat di masa lalu.


(...Kalau kupikirkan lagi, perasaanku jadi campur aduk.)


Merentangkan tangannya, dia menatap kanopi.


...Meskipun dia gak mabuk, ada sedikit alkohol dari wine yang masih ada didalam tubuhnya.


"Aku gak pernah menyangka Velsaria akan seagresif itu dalam memaksa orang lain untuk minum bersama dia..."


...Kalau dipikir-pikir lagi, Velsaria pasti masih mabuk disana.


Tubuhnya masih terasa panas. Sulit untuk tidur.


Meskipun misi di Teokrasi dianggap sudah selesai, masih ada banyak hal yang perlu dipikirkan.


(Kebangkitan Sacred Maiden Areishia... Dan Alexandros, huh—)


Pelaku sebenarnya yang menciptakan Raja Iblis Solomon seribu tahun lalu.


Elemental Lord yang paling banyak disembah di benua, kenapa dia melakukan sesuatu seperti itu?


(Lurie Lizaldia menyebutkan membangun ulang dunia...)


Dan juga, tentara malaikat yang Kamito lihat mendekati alam manusia—


...Apa maksudnya itu?


Seraya dia menatap kanopi ranjang, berpikir secara mendalam—


"Kamito—"


Dia merasakan sesuatu yang menggeliat dibawah selimutnya.


"Est?"


Kamito terkejut dan duduk.


Dia melihat Est duduk diam di ranjang, telanjang kecuali kaos kaki selutut.


"...Kenapa kamu berubah lagi dari wujud pedang?"


"Melihat kamu gak bisa tidur, aku akan bertindak sebagai bantalmu, Kamito."


"B-Bantal...?"


"Ya."


Mengangguk ringan, Est menyadarkan tubuh telanjangnya pada dia.


"...!?"


Kamito hampir berteriak.


....Bantal, yang dia maksudkan bantal peluk, huh?


(Dia dingin, yang mana rasanya nyaman, tapi...!)


Dengan afinitas elemen baja, suhu tubuh Est cukup rendah.


Tubuh Kamito terasa mendidih karena alkohol, jadi sensasi dingin dari Est sangat sempurna.


"....Tunggu, berhenti, pakai pakaianmu dulu!"


"Bantal gak pake pakaian."


"....!"


Est sedikit memiringkan kepalanya, menatap dia dengan mata ungunya yang jernih. Dia biasanya sangat patuh, tapi hari ini, dia sangat keras kepala.


....Lalu Kamito menyadari.


Pipi Est sedikit memerah.


"Jangan bilang kamu mabuk?"


"Persembahan gak boleh ditolak."


Est berbicara tanpa ekspresi.


....Jadi itu yang terjadi. Sudah jelas, dia mabuk karena alkohol dari wine suci yang dipersiapkan untuk para roh.


"Hua... Aku ini roh pedang. Aku gak bisa mabuk."


"Orang mabuk selalu mengatakan itu..."


Mengangkat bahu tak berdaya, Kamito menyerah mencoba membujuk Est.


Dia mengikuti suasananya dan berbaring lagi di ranjangnya. Tiba-tiba kepikiran sesuatu, dia bertanya.


"Est—apa kamu bermimpi tentang dia lagi?"


"Dia" yang dia maksudkan adalah Sacred Maiden Areishia.


Dalam perjalanan ke Kota Raja Iblis, Est bermimpi tentang dia.


"Enggak lagi sejak yang terakhir kali."


Est menggeleng.


"Aku mengerti."


"Ada apa, Kamiyo?"


"Nggak ada—"


Kamito dalam diam mengabaikan masalah itu. Dia awalnya berpikir bahwa kebangkitan dari Sacred Maiden Areishia, kontraktor Est yang asli, akan membuat Est bimbang.


(Tidak, kurasa akulah yang bimbang...)


Kamito menertawai dirinya sendiri dalam hatinya.


"Kamito—"


"Hmm?"


"Selamanya aku akan jadi pedangmu, Kamito."


"Ya, itu benar—"


Kamito dengan lembut membelai rambut putih-perak milik Est yang berkilauan.


Lalu—


"Tunggu sebentar, aku harus memberitahumu bahwa aku adalah pedang pertamanya Kamito—"


"...!?"


Bulu-bulu hitam legam melayang dan jatuh perlahan di ranjang.


Lalu, Restia melompat kearah Kamito.


Payudaranya yang lembut, seperti buah yang matang, menekan ujung hidung Kamito.


"Restia, apa kamu mabuk juga!?"


"Aku menegaskan hak kepemilikanku."


Restia melingkarkan tangannya pada pinggang Kamito seolah bersaing dengan Est.


"Roh kegelapan, kau menghalangi. Pergi sana."


"Astaga, bukankah kau yang harus pergi?"


"H-Hei, kalian berdua.... Uwah!"


Click.


Lalu, ada suara sesuatu yang keras tertekan.


Sebuah mekanisme tersembunyi oleh bantal sepertinya terpicu.


Lalu suara seperti gear berputar—


Ranjang besar itu mulai berputar.


"Apa?"


Suatu nada aneh mulai dimainkan dari kotak musik seraya cahaya roh merah muda menerangi seluruh kamar.


....Ngomong-ngomong, vila kerajaan ini milik Raja Bejat legendaris.


Gak akan mengejutkan kalau ruangan ini pernah digunakan oleh keluarga kerajaan untuk menyembunyikan wanita simpanan.


"A-Apa ini, ini mulai berputar!!"


"Hua, Kamito, mataku puyeng."


Kamito berputar-putar, dipeluk oleh dua roh diatas ranjang.


"A-Apa ini yang namanya kebab roh?"


Dengan mata berputar-putar, pemikiran bodoh ini terlintas dalam benak Kamito.

Bagian 3[edit]

—Disaat perayaan diadakan di Teokrasi...


Suatu insiden mengguncang ibukota kekaisaran di Ordesia.


"...Pemberontakan kau bilang!?"


Dibangunkan dari tidurnya, Kaisar Arneus berteriak marah pada para pengikutnya.


Insiden tersebut terjadi beberapa jam sebelumnya.


Setelah penobatan Arneus ke singgasana, di kota Akademi yang berada dibawah kendali Imperial Knight, para siswa dan beberapa guru membuat kegemparan.


Meskipun penyebab pemberontakan masih dalam penyelidikan, sudah jelas bahwa penindasan Imperial Knight yang menguasai Akademi, yang menjunjung tinggi prinsip kebebasan dan pemikiran independen, telah menimbulkan lebih banyak perlawanan.


Dalam isolasi, itu nggak akan terlalu buruk. Gimanapun juga, tidaklah jarang bagi para siswa untuk mengadakan protes-protes radikal, dan menenangkan mereka akan mudah hanya dengan mengerahkan pasukan Imperial Knight yang ditempatkan ke kota Akademi.


Akan tetapi, waktunya sangat mengerikan kali ini.


Setelah penobatan, kebijakan-kebijakan Arneus menimbulkan ketidakpuasan dari bangsawan. Penindasan brutal dari para bangsawan dari faksi anti-Arneus juga menyebabkan kebencian dalam masyarakat.


Dikabarkan, bahkan para bangsawan netral yang memiliki pangkat dakam dewan kekaisaran telah meninggalkan Arneus, secara sembunyi-sembunyi dan sering kali bertukar surat dengan Fianna sang putri kedua yang diasingkan.


Dibawah situasi semacam itu, sekarang pemberontakan malah dimulai.


Ini seperti menjatuhkan korek menyala pada sebuah tong mesiu.


Semua perasaan negatif terhadap Kekaisaran akan meledak sekaligus.


"Mendukung pemberontakan di kota Akademi, Marquess Boderalume, semua keluarga Haldery, dan Earl Edelgart telah mengarahkan pasukan mereka."


Bertugas dalam masalah militer, Duke Cygnus Fahrengart dengan tenang melaporkan.


"Meskipun belum dipastikan, juga ada rumor tentang pergerakan di wilayah Margrave Laueenfrost—"


"Sialan, kenapa!? Kenapa mereka tidak mematuhi perintahku, perintah kaisar!?"


Kaisar Arneus dengan jengkel melemparkan sebuah gelas.


Dia sudah bertindak sampai sejauh mengambil singgasana kekaisaran dengan bantuan Kerajaan Suci...


Tapi satu-satunya yang mengakui dia sebagai kaisar hanyalah para pengikut penjilat.


"Redam pemberontakan sekaligus! Aku mengijinkan penggunaan dari roh-roh militer—"


"Menggunakan roh-roh militer terhadap para siswa? Para bangsawan akan sangat menentangnya."


Duke Fahrengart berbicara dengan tenang.


"Aku tidak peduli. Mereka harus diberi pelajaran. Akan aku buat orang-orang tau akibat dari menentangku."


"Mengerahkan roh militer terhadap Akademi membutuhkan ijin dari dewan kekaisaran."


"....diam! Ini adalah perintah kaisar!"


Arneus memukul meja ruang pertemuan, seketika para pengikut langsung terdiam.


Akan tetapi, Duke Fahrengart tetap sepenuhnya tak bergeming, bahkan tidak mengangkat alisnya.


"Pemberontakan di kota Akademi bisa ditekan menggunakan pasukan yang ditempatkan disana. Akan tetapi, para bangsawan yang terlibat dalam mempersenjatai pemberontakan harus dihukum. Pasukan militer akan segera dikumpulkan."


Setelah berbicara tanpa emosi apapun, Duke Fahrengart undur diri.


"Sialan, kenapa... kenapa...!?"


Setelah membubarkan para pengikutnya, di dalam ruang pertemuan militer—


Arneus mulai minum sendirian dengan cemberut.


Membunuh kaisar, memfitnah adiknya dengan kejahatan upaya pembunuhan, segalanya berjalan dengan sangat baik.


Tapi kenapa?


"Kenapa kau menghela nafas seperti itu, Yang Mulia?"


Lalu, datang tanpa membuat Arneus menyadarinya—


Seorang cewek berdiri dibelakang Arneus.


"Dame Millennia!?"


Tersentak terkejut, Arneus berdiri.


Cewek itu adalah kardinal Kerajaan Suci yang menghasut Arneus untuk naik ke singgasana kekaisaran.


"Secara pribadi aku akan mengunjungi kota Akademi."


"A-Apa? Tapi jika Kerajaan Suci ikut campur dengan pasukan militer, secara tak bisa dihindari—"


Jika itu terjadi, dewan kekaisaran pasti akan menyuruh Arneus bertanggung jawab.


"Pasukan Kerajaan Suci tidak akan dikerahkan. Aku berniat melakukan sebuah percobaan pada lokasi itu."


"Sebuah percobaan?"


"—Ya. Untuk meleyapkan seluruh kota Akademi dari muka bumi."


Catatan Penerjemah[edit]

  1. TL note: kalau ada yang bertanya/mempermasalahkan kenapa aku menggunakan bahasa informal (kasar) buat Claire dan Kamito saat ngomong sama Fianna, sedangkan Ellis sama Rinslet berbicara sopan dan formal pada Fianna, ini udah pernah dijelaskan di volume awal (aku udah lupa volume berapa tepatnya), awal-awal Fianna muncul. Itu karena Kamito bukan bangsawan dan Claire sudah gak punya kebangsawanan, jadi mereka berdua gak menganggap Fianna sebagai Putri Kekaisaran dan cuma menganggap Fianna teman sebaya tanpa memandang status.
  2. ini semacam adat keagamaan, aku gak mau menerjemahkan (takut salah), dan untuk definisinya silahkan googling sendiri, aku gak mau mencantumnya disini (takut salah)


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 6 - Perebutan Kembali Ibukota Kekaisaran[edit]

Bagian 1[edit]

"...Hm, mmm...?"


Kamito bangun dan mendapati perasaan lembut di hidungnya.


Helaian rambut halus membelai pipinya. Jari-jari ramping dengan lembut menyisir rambut hitam Kamito.


Itu seperti seseorang sedang mengelus kepala. Dalam keadaan setengah tidur, Kamito menyadarinya.


Sungguh perasaan yang nostalgia. Dia ingat ini sering terjadi di masa kecilnya.


Dia mendengar suara nyanyian yang indah diatas kepalanya.


Nyanyiannya juga merupakan sesuatu yang sering dia dengar saat dia masih muda.


"...Restia?"


Kamito bergerak sedikit dibawah selimutnya.


Seketika, lagu pengantar tidur Restia berhenti.


"Apa tidurmu nyenyak, Kamito?"


Dia tersenyum.


Dia sepertinya berbaring di samping bantal, menatap wajah tidur Kamito.


"Uh, ya..."


Merasa jantungnya berdetak kencang, Kamito duduk. Karena Est dan Restia menolak untuk menyerah tadi malam, dia gak punya pilihan selain membiarkan mereka bertiga tidur bersama di ranjang yang sama.


"Hua... Met pagi, Kamito."


Lalu Est mengucek matanya dan bangun.


...Dia masih dalam keadaan yang sama seperti tadi malam, telanjang kecuali kaos kaki selutut.


"Tadi malam sangat menyenangkan, Nona Roh Pedang. Kita semua berputar-putar."


Restia tertawa kecil. Meskipun roh-roh yang memiliki kontraktor yang sama sering bertengkar, Restia nampaknya memiliki sisi lembut untuk Est juga.


"Aku gak bisa membantahnya, roh kegelapan."


Est mengangguk tanpa ekspresi.


....Sepertinya dia cukup menikmati ranjang berputar.


"Tunggu, itu akan mustahil untuk tidur kalau terus berputar-putar."


Menggaruk kepalanya, Kamito bergumam.


—lalu...


Kamito mendengar langkah kaki. Pintunya tiba-tiba terbuka.


"K-Kamito, kabar buruk...!"


Claire nyelonong masuk sambil wajahnya terlihat panik.


"....Tunggu sebentar, a-apa yang kau lakukan dengan roh-roh terkontrakmu!?"


Melihat pemandangan diatas ranjang, Claire berteriak, tersipu merah sampai telinganya.


"T-Tunggu, ini—"


Kamito dengan panik mencoba menjelaskan, tapi sepenuhnya gak meyakinkan, mengingat bahwa Restia memakai gaun tidur menggoda dan Est yang telanjang kecuali kaos kaki selutut sedang bersandar pada dia.


"Fufu, apa kalian mau ikutan?"


"Eh? ....O-Omong kosong, a-apa yang kau bicarakan!?"


"S-Sungguh bejat! Pergilah ke neraka, jadilah kebab!"


Masuk bersama dengan Claire, Ellis menghunus pedangnya yang ada di pinggangnya.


"Kami sudah jadi kebab..."


"Hah, apa maksudmu?"


Mengacungkan pedangnya, Ellis bertanya kebingungan.


"S-Sudah cukup! P-Pokoknya, cepat ikut!"

Bagian 2[edit]

Di aula vila kerajaan, para anggota tim yanh lain sudah duduk. Selain Rubia, Fianna dan Rinslet, Muir dan Velsaria juga ada.


Muir kelihatan sangat mengantuk, mengangguk-angguk ketiduran.


Direntangkan di meja adalah sebuah peta besar.


Kalau diperhatikan lagi, sepertinya itu adalah peta Kekaisaran Ordesia dan sekitarnya.


"Kau terlambat. Apa yang kau lakukan?"


Saat Kamito melihat peta, Rubia tiba-tiba memarahi dia.


"Nggak ada, cuma tidur dikamarku..."


"Sepertinya dia menikmati putaran roh sampai larut malam."


Dengan nada dingin, Claire mengatakan apa yang Kamito lakukan pada kakaknya.


"Apa kau bilang?"


Mendengar itu, Rubia melotot tajam pada Kamito.


"....L-Lupakan itu. Apa yang terjadi?"


Kamito buru-buru mengubah topik dan mengarahkan tatapannya pada peta.


Ada sejumlah bidak kayu berwarna ditempatkan diatas peta. Bidak-bidak ini juga digunakan oleh Akademi selama pelajaran pelatihan taktik.


"Tadi malam, pemberontakan siswa terjadi di Akademi Roh Areishia."


"....Apa?"


Pikiran Kamito yang pusing langsung pulih seketika.


Kalau diperhatikan lebih cermat, dia memang melihat ada bidak yang ditempatkan di lokasi Akademi.


"...Dan penyebabnya?"


"Itu dimulai dengan para Imperial Knight menangkap para siswa yang memprotes mereka. Sebagai hasilnya rasa tidak puas semakin menyebar."


"Jadi dari percikan itu berubah menjadi kobaran api?"


Rubia mengangguk pelan.


"Dilaporkan, para siswa bersama dengan Sylphid Knight berunjuk rasa dan mendirikan penghalang berskala besar di distrik Undine kota Akademi. Perlawanan mereka masih berlanjut."


"Masih berlanjut? Jadi para ksatria belum mengerahkan roh militer?"


Sebagai pasukan utama Ordesia, bagi Imperial Knight seharusnya sangat mudah untuk meredam pemberontakan siswa jika mereka serius. Karena mereka belum bertindak, itu artinya mereka masih mengamati situasinya.


"Sepertinya begitu. Jika mereka menyerang para siswa menggunakan roh militer, mereka akan dikritik bukan cuma didalam Kekaisaran saja tapi oleh negara-negara lain. Aku menganggap mereka memberitakan ini ke dunia luar hanya sebagai suatu protes siswa bukannya suatu pemberontakan."


"Jadi begitu—"


....Akan tetapi, itu cuma masalah waktu saja.


Bahkan tanpa menggunakan roh-roh militer, pasukan yang ditempatkan di Akademi merupakan para ksatria roh yang kuat.


"Bagaimana dengan penduduk kota Akademi?"


"Mereka sudah dievakuasi paksa. Kekaisaran telah menutup gerbang-gerbang kota, menolak siapapun masuk."


"Jadi mereka bersiap-siap untuk suatu pertempuran peredaman." Gumam Claire.


"Yang berikutnya adalah masalah yang sebenarnya."


"—Kok bisa?"


"Mendukung pemberontakan di Akademi, para bangsawan dalam faksi anti-Kaisar telah mengerahkan pasukan mereka." Kata Fianna.


Kamito sekarang paham bahwa bidak-bidak yang berhamburan di peta Kekaisaran mewakili para bangsawan itu.


"Para siswa Akademi Roh Areishia semuanya merupakan putri-putri dari keluarga bangsawan. Penindasan Akademi telah menyebabkan kebencian terhadap Kaisar meledak."


"Kampung halamanku, Laurenfrost sepertinya sudah siap bergerak juga."


Rinslet menunjuk pada bidak berbentuk serigala.


"Keluarga Fahrengart ada di pihak Kaisar." Ellis bergumam sedih.


Keluarga bangsawan besar dari Duke Fahrengart telah melayani keluarga kekaisaran Ordesia dari generasi ke generasi. Kakek Ellis mungkin berencana tetap setia sampai akhir meskipun Kaisarnya tak kompeten.


"Apa para bangsawan dari pemberontakan itu punya peluang menang?"


Rubia menggeleng pada pertanyaan itu.


"Para pemberontaknya semuanya adalah para penguasa kecil. Mengingat jumlah mereka saat ini, itu sia-sia."


Dia berbicara dengan nada gak kenal ampun.


"Akan tetapi, jika seorang pemimpin muncul dalam pemberontakan ini, mungkin para bangsawan netral yang mengamati situasinya mungkin akan goyah dan bergabung dengan kita."


"Maksudmu Fianna?"


"Memang. Banyak warga Kekaisaran memgharapkan kembalinya sang putri kedua."


Rubia mengangguk.


Kamito menatap Fianna, dan melihat dia mengangguk juga.


(....Jadi dia sudah membulatkan tekadnya, huh?)


"Kalau aku tidak kembali sekarang, itu akan sama saja dengan mengabaikan para pemberontak yang berdiri menentang Arneus."


...Dia benar. Akan tetapi, semua orang yang ada disini selain Muir pasti memikirkan pertanyaan yang sama sekarang ini.


Bahkan jika Fianna kembali ke negaranya, menghadapi kekaisaran yang kuat, apa betul-betul ada peluang menang?


Mungkin menebak apa yang dipikirkan oleh semua orang, Rubia berbicara.


"Situasinya akan berkembang sangat berbeda segera setelah kita mengamankan benteng yang bertindak sebagai simbol perlawanan."


"Maksudmu Akademi, kan?" Kata Claire.


Memang, Akademi Roh Areishia merupakan sebuah lokasi simbolik di Ordesia.


Jika pasukan pemberontak menguasai tempat ini, peta kekuasaan bisa berubah total.


"Apa para bangsawan pemberontak bergerak ke Akademi?"


Velsaria, yang diam sampai sekarang, bertanya. Jika mereka bergerak untuk mendukung para siswa, mereka pasti mengirim bala bantuan—


"Tidak, Akademi dikelilingi oleh wilayah yang dikuasai Kekaisaran. Itu akan menjadi perang skala penuh jika mereka mengirim pasukan kesana. Saat ini, mereka mungkin dalam tahap mengumpulkan pasukan mereka dan mengamati situasinya."


Para penguasa dalam faksi anti-Kaisar mungkin menunggu untuk melihat gerakan selanjutnya dari Fianna dan Dracunia.


Arneus mungkin melakukan hal yang sama.


"Jadi apa yang akan kita lakukan? Dari posisi Ordesia Sah."


Terhadap pertanyaan Kamito, Rubia mengambil sebuah bidak di peta.


"Kita akan berpencar menjadi dua kelompok. Fianna dan aku akan pergi ke ibukota kekaisaran untuk menarik perhatian Kekaisaran."


Mengatakan itu, dia menaruh sebuah bidak di wilayah Laurenfrost.


"Kalian akan menuju ke Akademi."


Lalu dia menaruh bidak lain di Akademi Roh Areishia.


"Ke Akademi—"


"Hanya kami, apa itu benar?"


"Tepat."


Melihat Claire dan Rinslet terkejut, Rubia mengangguk.


"Bukankah Akademi berubah menjadi sebuah benteng yang dijaga oleh Imperial Knight?"


Para ksatria roh merupakan para elementalis elit. Selain itu, mereka dilengkapi dengan roh-roh militer.


Bergerak ketempat semacam itu merupakan suatu tindakan yang betul-betul nekat.


"Tak perlu merebut Akademi. Yang perlu kalian lakukan adalah bertarung bersama para siswa yang memberontak dan mengalahkan para Imperial Knight yang menyerang mereka. Setelah perlawanan mereda, para bangsawan akan goyah dan memihak kita."


"Kedengarannya sederhana."


Velsaria berkomentar.


"Pertama-tama, bagaimana cara kami memasuki kota Akademi?"


Ellis bertanya. Menurut apa yang barusaja dikatakan, Akademi Roh Areishia dan wilayah sekeliling berada dibawah kendali Kaisar. Dalam situasi seperti ini, melewati wilayah itu untuk sampai ke Akademi mungkin akan sulit.


Akan tetapi, Kamito sudah menebak apa yang akan dikatakan Rubia selanjutnya.


"Melalui Hutan Roh."


Ellis dan yang lainnya saling bertukar tatap.


Hutan Roh yang luas merupakan bagian dari wikayah Akademi. Roh-roh kuat mendiami hutan itu, mencegah para penyusup.


"Memang sih,tak seorangpun akan menduga rute itu." Claire menyimpulkan.


Suatu pasukan penyerang besar sudah pasti mustahil. Akan tetapi, melewati hutan itu hanya dengan beberapa elementalis mungkin bisa dilakukan.


"Bagaimanapun juga, pemberontakan dari para siswa saja akan dengan mudah dihancurkan pada tingkat ini. Ayo lakukan."


"...Kau benar."


"Aku setuju."


Mendengar apa yang dikatakan Claire, semua orang membulatkan tekad dan mengangguk.


"—jadi sudah ditetapkan. Segera buat persiapan. Waktunya mepet."

Bagian 3[edit]

Pelabuhan Areishia, kota yang berafiliasi dengan Akademi Roh Areishia, biasa dikenal kota Akademi.


Itu adalah sebuah kota terencana yang dibangun dengan bangunan sekolah Akademi sebagai pusatnya dan dirancang untuk melayani baik roh maupun elementalis.


Di suatu bagian kota itu, distrik Undine, para siswa dan beberapa guru telah mendirikan barikade jalan yang kokoh untuk mempertahankan perlawanan terhadap para Imperial Knight.


Konflik dimulai dari para Imperial Knight, yang menduduki Akademi, menahan organisasi-organisasi siswa yang memprotes didepan bangunan sekolah. Dengan ini sebagai pemicu, semua kebencian terhadap ketidakadilan para Imperial Knight meledak seketika, merubahnya menjadi kekacauan yang bahkan melibatkan para guru.


Api konflik seketika menyebar. Saat ini, situasinya telah berubah menjadi sesuatu yang seluruh Kekaisaran perhatikan.


Tak bisa menggunakan roh-roh militer terhadap para siswa, yang merupakan putri dari keluarga bangswan, para Imperial Knight harus menangkap para pemberontak satu per satu. Disaat yang sama, para siswa memiliki keuntungan medan karena mereka sangat familiar dengan susunan rumit dari kota Akademi.


Akan tetapi, Kekaisaran tidak mungkin membiarkan ini berlanjut lama.


Sekarang berita itu telah menyebar ke seluruh Kekaisaran, dalam waktu 24 jam, Kekaisaran mungkin akan memperkuat diri untuk mengerahkan roh-roh militer untuk menyelesaikan masalahnya.


Larut malam, di kota Akademi yang dipenuhi dengan kedamaian palsu, seorang pengelana berada di jalan.


Dia mungil, mengenakan jubah bertudung berwarna abu-abu.


Dia juga memakai topeng perak di wajahnya.


Mengingat situasi saat ini, tak seorangpun yang akan keluar sendirian. Para Imperial Knight biasanya bergerak dalam skuad tiga orang atau lebih, yang mana para siswa gak akan meninggalkan penghalang mereka untuk pergi keluar barikade.


Semua gerbang kota Akademi ditutup. Sudah sewajarnya gak satupun pengelana yang bisa keluar atau masuk.


Pengelana itu berjalan dalam kegelapan. Di pinggangnya terdapat sebuah pedang panjang berwarna merah dengan dekorasi yang menakutkan. Dibandingkan dengan sosok mungilnya, itu terlihat sangat tidak sesuai.


Lalu, tiga ksatria mengenakan seragam militer mendekat dari depan cewek itu.


Sebuah skuad Imperial Knight. Mereka berpatroli di jalan.


"Siapa kau?"


Si pemimpin bertanya.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, sosok bertopeng itu dengan ringan menghunus pedang panjang di pinggangnya.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 7 - Kembali Ke Akademi[edit]

Bagian 1[edit]

28 jam setelah keberangkatan dari Zohar, tim Kamito mengambil jalur darat untuk memasuki Hutan Roh di wilayah Alzanu perbatasan Teokrasi.


Seperti yang diprediksi Rubia, menyelinap ke Ordesia tidaklah sulit. Meskipun Earl Alzanu adalah jajaran bangsawan di pihak Kaisar, dia tidak mengerahkan pasukan untuk mengawasi Hutan Roh, wilayah mengerikan yang terkenal.


(....Kurasa hanyalah pasukan yang bosan hidup yang akan menyerbu hutan seperti ini.)


Sekarang ini malam hari. Tim Kamito terus bergerak melalui hutan yang lebat.


Karena malam ini bulan baru, tak ada cahaya rembulan di hutan. Akan tetapi, bahkan saat bulan purnama, cahaya rembulan kemungkinan besar akan sulit menembus hutan yang lebat ini.


Tanahnya cuma diterangi oleh api di ekor Scarlet saja.


"....Nakutin banget. Aku dengan jelas bisa merasakan hembusan nafas, tapi sama sekali nggak ada suara dari binatang buas."


"Hutan Roh membenci mahluk hidup. Sepertinya kedatangan kita nggak direstui."


Mendengar gumaman Claire, Kamito menjawab.


"Usahakan sebisa mungkin jangan membuat suara. Roh-roh di hutan sangat membenci orang luar."


"Ya, aku tau."


Di alam manusia, Hutan Roh adalah lokasi paling dekat dengan Astral Zero. Di kedalaman dimana kepadatan divine power adalah yang tertinggi, tidaklah jarang menemui roh-roh kelas archdemon.


(....Greyworth pernah membawaku kesini sebelumnya.)


Lalu Kamito teringat sebuah kenangan yang gak menyenangkan.


Meskipun dia dilatih sebagai seorang pembunuh di Sekolah Instruksional, meninggalkan Kamito yang berusia 12 tahun di tempat kayak gini bukanlah sesuatu yang akan dilakukan orang normal.


Dikatakan, tak diragukan lagi ini adalah rute paling cepat ke Akademi.


Kalau mengabaikan pertimbangan keamanan, itu memang benar.


"Onii-sama, ini menakutkan♪"


Remas.


Memeluk lengan Kamito, Muir menekankan payudaranya yang berkembang pada lengannya.


Meskipun dia baru berusia 13 tahun, payudaranya sudah mulai menampilkan wujudnya.


"M-Muir!?"


"B-Berhenti, menjauh dari dia sekarang!"


"Gak mau. Onee-chan, bukankah masih ada tangan satunya yang masih bebas?"


Percikan terbang dari twintail Claire saat rambutnya menyala.


"Kalian berdua tenanglah. Roh-roh di hutan mulai bergerak."


Berjalan didepan, Ellis memperingatkan.


"Kapten, apa kita belum sampai di area Akademi?"


"Harusnya kita sudah dekat...."


Ellis bergumam. Bertengger di tangannya, Simorgh memekik.


Di hutan ini, peta dan kompas sepenuhnya tak berguna.


Yang bisa mereka andalkan adalah arahan dari Simorgh yang mana tempat berburunya adalah hutan.


8 jam telah berlalu sejak mereka memasuki Hutan Roh. Bahkan bagi para elementalis handal, melalui hutan yang dipenuhi bahaya di malam hari tanpa istirahat tentunya cukup melelahkan.


"Aku bisa menggendongmu kalau kau lelah. Bilang saja, jangan malu-malu."


"A-Aku masih kuat!"


"Temple of the Contract seharusnya sudah dekat."


"Temple of the Contract?"


"Itu adalah tempat dimana aku melepaskan Est."


Claire melirik Kamito yang ada disampingnya dan menjelaskan.


"Benarkah? Jadi kita sudah hampir sampai disana..."


Itu adalah sebuah tempat dimana Kamito sangat menderita segera setelah dipindahkan ke Akademi. Untuk melindungi Claire dari Est yang lepas kendali, Kamito bertindak dan membuat kontrak roh dengan Est.


Gagal mendapatkan Est, Claire mengeluh dan bersikeras menjadikan Kamito sebagai roh budak miliknya—


(....Kalau kupikir-pikir lagi, segalanya dimulai di kuil itu.)


Kamito mengenang disertai emosi yang campur aduk dalam dirinya.


Meskipun itu baru beberapa bulan, hari-hari membingungkan di Akademi benar-benar terasa lama bagi dia daripada 3 tahun yang dia habiskan berkeliaran mencari Restia.


"K-Kurang ajar! Kau mengingat-ingat pemandangan dari tubuh telanjangku, d-dan grepe-grepe dadaku, kan!?"


Claire melotot pada Kamito.


"Apa? Aku gak pernah mendengar tentang ini!"


"Ini adalah pertama kalinya aku mendengarnya!"


Ellis dan Rinslet menginterogasi.


"K-Kalian salah paham! Itu salah Claire sendirilah yang mengayunkan Flametongue secara liar...."


"....! Apa, kau menggrepe aku kan!? Dan kau bahkan mengatakan sesuatu tentang payudara yang menyedihkan dan gak punya ketertarikan pada tubuh anak kecil, kan!?"


(....Sial, apa aku betul-betul sudah memukul sarang tawon!?)


Mungkin teringat pengalamannya saat itu, Claire mulai marah.


"Malangnya dirimu! Claire, payudaramu sudah tumbuh meski cuma sedikit!"


"Tunggu sebentar, Rinslet!?"


"Onii-sama, aku gak bisa percaya kau mengatakan kau gak tertarik pada tubuh anak kecil. Aku gak bisa mengabaikan itu!"


Saat kelompok itu mulai bertengkar—


"Kalian diamlah—"


Velsaria yang berada agak jauh, berbicara dengan tegas.


Dimarahi oleh mantan kapten Sylphid Knights, Claire dan para cewek langsung diam.


Velsaria menempatkan tangannya pada pedang di pinggangnya dan terus menatap ke kegelapan.


Jauh dibalik pepohonan yang saling bersilangan, ada seekor rusa dengan tanduk yang besar.


"Itu adalah—"


"Seekor roh binatang suci yang menghuni Hutan Roh. Jangan buat suara."


"...!?"


Semua orang menahan nafas mereka. Ini adalah roh tingkat tinggi yang penampilannya mirip dengan hewan.


"Aku gak pernah menyangka menemui roh setingkat itu di bagian hutan yang gak terlalu dalam...."


"Kurasa lebih baik kita ambil jalan memutar."


"Ya, gak peduli butuh waktu seberapa lama jalan itu—"


Saat Claire bersiap mundur.


Whoosh, ada suara sesuatu melintas di udara.


Bayangan yang tak terhitung jumlahnya menyerang kelompok Kamito dari celah-celah pepohonan.


"...!?"


Kamito buru-buru melompat dan menebas bayangan yang mendekati kakinya.


Akan tetapi, cuma Kamito yang berhasil bereaksi tepat waktu pada kejadian yang tiba-tiba itu.


"Hyah, hyahhhhh!"


"Kyahhh, apa yang dilakukan benda ini... Ahhh♪"


Bayangan-bayangan yang menyerupai tentakel itu menjerat kaki para cewek dalam sekejap mata, mencoba menarik mereka ke pepohonan.


"....Guh... A-Apa ini...? Uwah, ja-jangan sentuh aku disana!"


Meski memakai armor, payudara Ellis yang besar rentan terhadap segala macam rabaan.


"S-Sial... Aku gak bisa percaya aku akan seperti ini, ah..."


Tertahan pada pose yang aneh, Velsaria meronta.


Roknya tersingkap. Kamito bisa melihat celana dalam putihnya yang menggoda membalut pangkal pahanya yang mulus.


"...! R-Ren Ash—Kazehaya Kamito, apa yang kau lihat!?"


"N-Nggak—"


Dipelototi oleh matanya yang berwarna biru es, Kamito dengan panik menghindari kontak mata.


"Yahh, Onii-sama, selamatkan aku...♪"


Cuma Muir yang kelihatan agak senang.


Kamito mendekati tentakel yang menggeliat itu sambil membawa Demon Slayer yang bersinar.


Segera setelahnya, dia melihat identitas sebenarnya dari tentakel itu.


....Sepertinya itu hanyalah tanaman merambat biasa.


"Sepertinya itu gak berbahaya."


Kamito menghela nafas lega.


"Apa yang kau katakan? Bukankah aku sekarang dalam bahaya? Hyahhhhhhhh♪"


"T-Tanaman ini bahkan menyelinap ke celana dalamku... Nnnn♪"


"....D-Didepan Kamito... Huahhh♪"


Dijerat oleh tanaman itu, para cewek itu terus mengerang.


STnBD V18 BW05.jpg


"Meow?"


Kamito gak tau apakah Scarlet berpikir tuannya sedang bermain atau apakah itu karena naluri seekor kucing, tapi Scarlet terus melompat-lompat.


"K-Kamito, berhentilah menonton dan bantu kami!"


"A-Aku mengerti!"


Kamito segera mengayunkan Demon Slayer.


Lalu—


"Apa yang kalian lakukan disini!?"


Suara seorang cewek menggema di hutan yang lebat itu.


"...! K-Kau—?"


Kamito berbalik—


Dan melihat seorang cewek yang akrab menunggangi seekor serigala besar.

Bagian 2[edit]

Didalam sebuah kuil di hutan, cahaya api berkedip-kedip. Menggantung di dindingnya adalah dekorasi besar terbuat dari tulang-tulang. Aroma herbal yang tajam memenuhi udara.


"Aku minta maaf pada kalian semua."


Mengatakan itu, cewek itu menunduk pada kelompok Kamito yang duduk di dekat api.


Matanya biru sejernih permukaan danau. Dia memiliki rambut pirang platinum.


Seperti Kamito dan rekan-rekannya, dia mengenakan seragam Akademi.


Nama cewek itu adalah Horin Shareilia.


Dia adalah cewek druid dari Tim Cernunnos.


Seorang elementalis kuat pengguna roh kawanan hewan, dia pernah mengalahkan Kamito dan Claire sebelumnya dalam turnamen sekolah. Dia adalah salah satu dari sedikit elementalis kuat di Akademi.


Sebelumnya, Kamito dan rekan-rekannya telah memicu perangkap yang dia pasang di hutan.


"Tidak, kamilah yang salah melintas."


Kamito meminta maaf. Hutan di bagian sini sepertinya layaknya taman belakang bagi dia.


Lahir dari sebuah klan hutan, Shareilia adalah seorang elementalis langka yang gak berasal dari keluarga bangsawan.


Karena itu, meski dia bersekolah di Akademi, dia mendapatkan ijin khusus untuk tinggal di Hutan Roh ini bersama binatang.


"Kalau rumahmu disini, itu artinya Akademi sudah gak jauh lagi, kan?"


Claire bertanya sambil meminum teh herbal.


"Hmm, kau akan segera sampai setelah melewati bukti itu."


"Bagaimana situasi di kota Akademi?"


"....Hmm, maaf."


Shareilia menggeleng pada pertanyaan Ellis.


Dia ada di hutan saat konflik terjadi antara siswi dan Imperial Knight, itu sebabnya dia gak bisa kembali ke Akademi. Gak punya pilihan lain, dia datang ke kuil ini untuk tidur. Saat itu terjadi, Kamito dan kelompoknya memicu perangkap yang ada di hutan.


"Kenapa kau memasang perangkap seperti itu?"


"Akan berbahaya kalau para siswi secara gak sengaja berkeliaran di hutan."


Mendengar peringatan Rinslet....


"—Aku memasang perangkap itu untuk mencegah orang-orang merusak tempat-tempat bersejarah di hutan."


Dia menjawab dengan penampilan serius.


"Apa kau mengatakan tempat-tempat bersejarah?"


Claire dan yang lainnya saling bertukar tatap.


Ada banyak tempat bersejarah di Hutan Roh, berasal dari jaman prasejarah..


Misalnya, kuil yang didedikasikan untuk menyembah Est adalah salah satu dari tempat-tempat bersejarah ini. Tempat bersejarah paling terkenal di hutan mungkin adalah gerbang yang membuat orang berpindah ke Astral Zero.


"Hmm, sekelompok orang aneh memasuki hutan dan mengambil gerbang tempat bersejarah di dekat danau."


"Mengambil? Bagaimana cara mereka mengambilnya—"


"Mereka menggunakan roh-roh militer—"


Shareilia berbicara sambil terlihat sedih.


Menurut dia, kelompok mencurigakan telah melepas roh-roh militer di hutan, memotong batu besar yang menopang tempat bersejarah tersebut dan membawanya.


"Mereka bukan ksatria Kekaisaran?" Tanya Ellis.


"Aku gak tau. Mereka semua memakai topeng aneh. Para binatang pergi karena orang-orang itu menebang pohon-pohon di hutan."


"Itu sulit dipercaya para Imperial Knight melakukan sesuatu seperti ini—"


Tempat-tempat kuno merupakan peninggalan dari jaman kuno ketika Astral Zero dan alam manusia masih jadi satu. Teknologi dari ilmu roh modern tak mampu mereplikasi kekuatannya meskipun itu adalah situs-situs bersejarah yang paling sederhana.


Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah dilindungi oleh undang-undang internasional. Jangankan merusaknya, memindahkannya saja sudah dilarang keras. Kalau pasukan Kekaisaran mengambil tempat tersebut, itu pasti akan menghasilkan kritik keras dari bangsawan domestik dan negara luar.


"Apa yang mereka rencanakan dengan mengambil sebuah tempat bersejarah?"


"....Aku punya firasat buruk tentang ini."


"Ya, lebih baik kita bergegas—"


Kamito mengangguk. Mendengar itu, Shareilia berdiri dan bersiul.


"Ada jalan pintas ke Akademi. Aku meminta para serigala untuk menunjukkan jalannya pada kalian."

Bagian 3[edit]

S.. Scr... Screeeeeeeeech...!


Suara sesuatu yang besar sedang di seret bisa terdengar di tempat latihan yang luas di Akademi Roh Areishia.


Dibawah pengawasan Imperial Knight, beberapa roh militer besar tipe Glasya-Labolas sedang menyatukan bebatuan besar, masing-masing batu itu setinggi para roh itu sendiri.


Ini adalah tempat bersejarah yang mereka curi dari Hutan Roh, gerbang yang sudah ada sejak jaman prasejarah.


"Menakjubkan. Ini adalah sebuah gerbang yang menakjubkan."


Duduk di pundak salah satu roh militer, seorang cewek berbicara.


Millennia Sanctus, seorang kardinal dari Kerajaan Suci.


Dia berbeda dari Millennia yang ada di istana kekaisaran di ibukota, namun juga merupakan mahluk yang sama.


Kemampuan untuk berada ditempat yang berbeda secara bersamaan merupakan bagian dari kekuatannya sebagai seorang roh.


Roh-roh militer itu dikerahkan oleh para priestess Kerajaan Suci bukannya Imperial Knight.


Mengenakan topeng-topeng putih, mereka bagian dari pasukan eksekusi dibawah komando langsung dari Des Esseintes—


Memindahkan sebuah gerbang dari jaman prasejarah. Meskipun suatu kekejaman seperti itu terjadi didepan mata mereka, Imperial Knight Ordesia tak bisa mengganggu.


Karena Kardinal Millennia datang kesini membawa titah dari Kaisar Arneus.


Para ksatria Kekaisaran hanya di beritahu bahwa gerbang tersebut akan digunakan untuk melakukan percobaan sihir pemanggilan berskala besar.


"Dame Millennia, set ketiga telah selesai. Apa kita mulai seperti yang direncanakan?"


Lalu, seorang priestess bertopeng memberi laporan.


"Baiklah, mari kita mulai sesegera mungkin."


Berkata demikian, Millennia tersenyum.


"—Astral Shift yang pertama kalinya."

Bagian 4[edit]

Dipimpin oleh para serigala hutan melewati jalan pintas, kelompok Kamito segera melihat pemandangan yang familiar dari kota Akademi.


Dikelilingi oleh dinding kota, pusat kota tersebut menampilkan penggunaan dari cahaya-cahaya pengawasan.


Itu adalah lokasi dari bangunan sekolah Akademi Roh Areishia.


Barikade yang dibuat oleh para siswi yang melakukan perlawanan berada di distrik Undine dimana bioskop kecil, kafe-kafe, toko-toko pakaian dan berbagai fasilitas hiburan yang lain berada.


Ini adalah bagian kota yang paling familiar bagi para siswi. Kamito dan rekan-rekannya sering pergi kesana untuk berbelanja dan bahkan pernah mengadakan pesta di sebuah restoran.


Masih banyak waktu sebelum fajar menjelang.


Diatas kepala ada roh-roh militer terbang sambil membawa lampu sorot.


"Jangan lihat keatas, hati-hati jangan sampai terlihat."


Di bawah bayangan pepohonan, Claire berbisik.


"Hmph, sebagai seorang bangsawan, aku nggak suka menyelinap diam-diam. Biar aku tunjukkan padamu bagaimana menembak jatuh roh itu."


Rinslet menarik busurnya dengan percaya diri.


"Tahan—Hentikan itu!"


Claire buru-buru menarik dia mundur dengan menjambaknya.


Suara leher gemeretak bisa terdengar.


"Sakit sekali! Apa yang kau lakukan!?"


Rinslet memprotes sambil berlinang air mata.


"Para roh militer yang berpatroli semuanya saling terhubung. Segera setelah kau menyerang, tentara akan tau dimana kita berada."


Melihat mereka, Muir berkata dengan jengkel.


"Tingkat keamanan segini mah cuma mainan anak kecil. Ayo cepat."


"Tunggu, Muir. Kau sendiri sih gak masalah, tapi dengan orang sebanyak ini, kita pasti akan ketahuan kalau kita bergerak bersama-sama."


"Astaga, Onii-sama, tinggal bunuh saja siapapun yang melihat kita."


Muir membalas dengan polos.


....Orang-orang yang berasal dari Sekolah Instruksional semuanya memang seperti ini. Kamito menghela nafas.


Gak ada yang perlu dikatakan tentang kemampuan Kamito dan Muir. Claire dan Ellis sepertinya bisa melakukan operasi penyusupan, tapi Rinslet dan Velsaria gak kelihatan cocok untuk operasi penyusupan.


"Fufu, sepertinya ini giliranku untuk memasuki panggung—"


Lalu, Restia kembali ke wujud aslinya dan membentangkan sayapnya yang hitam legam.


"Apa kamu punya solusi?"


Mendengar pertanyaan Kamito, Restia mulai merapal sihir roh.


"O kegelapan malam, balut aku dengan jubah hitam—Darkness Mist."


Kelompok Kamito segera diselimuti kabut hitam.


"Hyah! A-Apa ini!?"


"Betul-betul gelap gulita!"


"Sihir roh dari elemen kegelapan. Dengan ini, kalian bisa maju tanpa terlihat, tersembunyi didalam kegelapan."


"Tapi pandanganku juga gelap. Gimana caranya kami melakukan sesuatu dengan ini?"


"Matamu akan segera terbiasa."


Sama seperti yang dikatakan Restia, kegelapan yang menyelimuti pandangan mereka perlahan-lahan menjadi jelas.


Sepertinya memungkinkan untuk melihat keluar kabut tersebut.


"Aku mengerti, ini betul-betul berguna."


Kamito berseru.


Diselimuti kabut hitam, kelompok Kamito menggunakan sihir angin untuk mendarat di dinding kota.


Tak terlihat oleh roh-roh militer yang berpatroli, mereka bergerak ke arah distrik Undine. Selain menyembunyikan mereka dari pandangan, sihir Darkness Mist sepertinya menghapus jejak kaki dan hawa kehadiran juga.


Saat mereka mencapai sebuah dinding yang memisahkan distrik—


"....Seseorang mendekat."


Kamito berbalik dan menghentikan kelompoknya.


....suara langkah kaki dari beberapa orang yang berlari terdengar mendekat.


"Imperial Knight?"


Claire bertanya pelan.


"Siapa yang tau? Bukannya suara sepatu militer, suara itu terdengar agak ringan—"


".....Tunggu, suara ini familiar."


Ellis terkejut. Dia merapal sihir roh angin untuk mengumpulkan suara disekitar.


"Ini adalah suara Rakka. Dan juga para Sylphid Knight—"


"Sungguh?"


"Ya, gak salah lagi—"


Ellis mengangguk pada pertanyaan Claire.


Segera setelahnya, para cewek berseragam Akademi muncul. Mengenakan armor Sylphid Knight diatas seragam, mereka familiar bagi Kamito.


"Rakka! Dan Reishia—"


Segera setelah Ellis memanggil mereka, kabut hitam itu secara otomatis terlepas.


"....Kapten!?"


Ellis aslinya satu tim dengan Rakka sebelum bergabung dengan Tim Scarlet untuk mengikuti Blade Dance. Rakka bergegas mendekat.


"Aku minta maaf karena membuatku kuatir."


"Kau selamat, Kapten—"


Sama seperti para mantan anggota tim Ellis yang lain, Reishia berlinang air mata.


"Maaf Kapten, kenapa kau dan timmu ada disini?"


Lalu Rakka bertanya.


Dengan demikian, Ellis memberi penjelasan singkat dan sederhana tentang apa yang membuat mereka datang untuk merebut kembali Akademi.


"Aku paham. Itu melegakan."


Reishia menjawab dengan gembira.


"Semua orang akan sangat termotivasi sekarang karena tim pemenang Blade Dance telah kembali ke Akademi."


"Lalu kenapa kalian ada disini? Bukankah semua orang ada di distrik Undine?"


"Kami datang untuk mengumpulkan persediaan. Bagaimanapun juga, gerbang-gerbang kota telah ditutup."


Rakka menjawab pertanyaan Claire. Meskipun distrik Undine sendiri memiliki banyak restoran dan nggak kekurangan makanan, sebagian besar kebutuhan harian harus diambil dari distrik Sylph, lokasi mereka saat ini.


"Tentu saja, kami mencatat semua toko tempat kami meminjam persediaan. Sylphid Knight akan membayar setiap hutangnya."


"Gimanapun juga ini adalah keadaan darurat. Kau tak punya pilihan."


Mendengar penjelasan Reishia, Ellis mengangguk.


"Berapa banyak Imperial Knight yang ditempatkan di Akademi?" Tanya Kamito.


"Kurang lebih seratus ksatria reguler. Komandannya adalah Dame Alendora dari Number."


"Dame Alendora huh—"


Velsaria menyilangkan tangannya dan bergumam.


"Kau tau dia, Velsaria?"


"Number ketujuh. Aku dengar dia cukup handal."


"Seratus ksatria roh, dan lagi seorang anggota Number huh..."


Mengingat masing-masing ksatria roh adalah seorang prajurit tangguh, bisa dikatakan bahwa Kekaisaran Ordesia telah mengumpulkan kekuatan militer yang besar disini. Selain itu, mereka mungkin memiliki banyak roh militer.


"Di pihak siswi, nggak banyak orang yang bisa bertarung. Mayoritas adalah guru merupakan para peneliti dan para siswi yang menggunakan roh terkontrak yang berorientasi tempur sangat sedikit. Hanya masalah waktu saja sampai penghalang dan barikadenya bisa ditembus—"


Rakka yang biasanya riang, berbicara dengan nada serius.


"Yang penting sekarang kita ke barikade dulu. Tunjukkan jalannya."


"Ya, lewat sini!"


"Semua orang pasti akan menyambutmu, Kapten."


Mendengar Ellis, Rakka dan Reishia mengangguk.


Lalu, bilah Demon Slayer bersinar.


"Kamito, aku merasakan aura yang gak menyenangkan."


"Est?"


"Ya, aku juga merasakannya—"


Restia menyetujuinya.


"Apa itu!?"


Restia menunjuk ke udara.


"....Apa-apaan Itu!?"


Kamito membelalakkan matanya terkejut.


Pilar cahaya besar muncul di bangunan sekolah Akademi.


Pilar cahaya itu menembus awan, membuka lubang besar di langit.


Cahaya merah menakutkan keluar dari celah awan, memerangi kota.


Disaat yang sama....


Ada suara ledakan berulang-ulang di kejauhan.


"Suara apa itu?"


"—Barikadenya ada diarah sana!"


Rakka berteriak dan mulai berlari ke arah suara tersebut.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 8 - Terbukanya Alam Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Sebuah pilar api muncul dijalan. Udara berguncang.


Kobaran api di malam yang gelap menampilkan pemandangan yang aneh.


"Apa itu?"


Berlari tak jauh dari sana, Kamito cuma bisa melongo, terpaku di tempat.


Retakan yang tak terhitung jumlahnya muncul di udara—


Mahluk-mahluk dengan bentuk aneh yang menakutkan merangkak keluar dari retakan-retakan tersebut.


Meskipun mahluk-mahluk itu memiliki penampilan yang berbeda, dalam hal jumlah, setidaknya ada beberapa ratus.


"....! Para roh iblis, darimana asalnya sebanyak itu!?" Claire berteriak.


Roh-roh iblis merupakan sebutan untuk roh-roh yang struktur mentalnya aneh yang mana membuatnya mustahil bagi mereka untuk membentuk kontrak dengan para elementalis.


Mayoritas roh iblis bersifat ganas dan memiliki kecenderungan menyerang manusia dan roh-roh lain.


Akan tetapi, hampir gak ada laporan mengenai roh-roh iblis muncul di alam manusia.


Meskipun ada elementalis seperti Sjora Kahn, yang dikenal sebagai penyihir dan mampu mengkomando roh-roh iblis, mereka merupakan pengecualian.


"Kenapa roh-roh iblis berada di kota Akademi?"


"Sepertinya itu ada hubungannya dengan gerbang aneh itu..."


Kamito menengadah menatap lubang besar di udara diatas bangunan sekolah Akademi.


Roh-roh iblis itu sepertinya menyerang barikade yang dibuat oleh para siswi. Meskipun para siswi membuat penghalang untuk bertahan, pada tingkat ini, pertahanan mereka akan hancur.


"Rakka, kalian pergilah melindungi barikade. Biar kami yang menghadapi roh-roh iblis itu."


Ellis memberi arahan pada rekan-rekan Sylphid Knight-nya.


"Kapten, tapi...."


"Tidak usah khawatir. Terlepas dari jumlah mereka, aku nggak melihat musuh yang cukup kuat."


"Ya, serahkan pada kami."


Mengatakan itu, Ellis dan Claire mengeluarkan elemental waffe mereka.


Rakka mengangguk dalam diam dan berlari kearah barikade.


Menyadari pergerakan mereka, roh-roh iblis itu meluncur kearah mereka.


Akan tetapi—


"Tak akan aku biarkan mereka berhasil! Taring es pembeku, tembuslah—Freezing Arrow!"


Panah-panah es sihir meluncur layaknya hujan, menusuk puluhan roh iblis dalam sekali serang.


Rinslet menyibakkan rambutnya dengan bangga dan mengeluarkan suara "hmph".


"Aku akan memberi tembakan perlindungan. Baiklah, bergegaslah—"


"....! Terimakasih banyak, putri Margrave Laurenfrost!"


Para Sylphid Knight dikelilingi oleh anak panah es yang gak terhitung jumlahnya. Roh-roh iblis yang menyerbu mereka semuanya ditembak dengan kemampuan bidikan yang akurat milik Rinslet.


"Roh-roh iblis rendahan, beraninya kalian mengacau kota Akademi yang ada dibawah perlindungan kami—"


Amarah yang bergelora bisa terlihat di mata Velsaria yang berwarna biru es. Dia menempatkan tangannya di dadanya.


Didalam sebuah kristal roh yang memancarkan cahaya menakutkan, roh benteng miliknya disegel di dalam kristal itu.


Juggernaut adalah roh penghancur masal, yang bahkan mampu membunuh roh-roh kelas archdemon.


Kalau dia menggunakan kekuatan ini, pemusnahan roh-roh iblis itu dalam sekali serang akan mudah.


"Kakak—"


Saat dia hendak menggunakan rohnya, Ellis meraih tangannya.


"....?"


"Roh benteng milikmu sangat menggabiskan tenaga, serahkan ini pada kami—"


"Oh? Kau memerintahku sekarang, Ellis?"


Velsaria menatap adik angkatnya dan tersenyum.


"....! Kakak, aku—"


"Tidak, aku memujimu."


Velsaria menggeleng dan menurunkan tangannya.


"Kekuatanmu yang telah matang selama Blade Dance. Tunjukkan padaku."


"B-Baik!"


Ellis segera menegapkan punggungnya dan memegang Ray Hawk.


"Roh-roh militer milik Muir bisa dengan mudah menyelesaikan ini. Tapi biar Muir melihat kemampuan para Onee-chan ini terlebih dulu."


Mengatakan itu, Muir dengan lincah melompat ke atas atap.


"Tunggu, ayolah....!"


"Tidak, itu sempurna."


Kamito menghentikan Claire, yang melotot pada Muir.


Kekuatan khusus milik Muir, Jester's Vice, mirip dengan kutukan dan akan mengendalikan roh-roh militer sampai ke titik tumbang.


Sebelum mengetahui kenapa roh-roh iblis itu muncul dalam jumlah besar, akan lebih baik menyimpan kartu as-nya.


"Kita bertiga akan melakukannya. Claire, apa formasinya?"


"Anti-army Blitz Lightning—Musnahkan mereka sekaligus."


"—Oke."


"Dimengerti!"


Kamito, Claire dan Ellis mengeluarkan elemental waffe mereka masing-masing.


Tim Scarlet menggunakan kode nama untuk formasi taktis mereka untuk memenangkan turnamen Blade Dance. Totalnya ada 24 kombinasi, bisa dengan cepat menyesuaikan dengan karakteristik musuh di medan pertempuran. Karena inti pertahanan mereka, Fianna, tidak ada, sedangkan Rinslet sedang memberi tembakan perlindungan pada barikade, formasi itu dilakukan oleh mereka bertiga kali ini.


Kamito yang merupakan spesialis pertarungan jarak dekat, berada ditengah, diapit oleh Claire dan Ellis.


Ini adalah sebuah formasi serangan super mengabaikan semua pertahanan, dimaksukan untuk membombardir musuh.


"Ayo maju—Est, Restia!"


"Ya, Kamito. Keinginanmu adalah perintah bagiku—"


"Fufu, Ayo menggila."


Menuangkan divine power pada pedang kembar baja dan kegelapan, Kamito menyerbu kearah kerumanan roh-roh iblis.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga—Shadowmoon Waltz, Black Thunder Dual Strike!"


Demon Slayer yang ada ditangan kanannya diayunkan sambil meninggalkan jejak cahaya putih perak.


Vorpal Sword di tangan kirinya melahap kegelapan, memancarkan petir hitam legam.


Kemanapun Kamito bergerak, lambaikan berwarna hitam dan putih mengikuti dia layaknya bayangan, tanpa ampun memotong setiap roh iblis.


"Kita maju juga, Scarlet!"


Claire mengayunkan Flametongue.


Dengan deruan, ada suara tebasan di udara—


"Kalian semua, jadilah arang—Flare Blaze!"


Dalam sekejap, para roh iblis yang ada di depan dia semuanya terbakar.


Ini adalah sebuah teknik yang dilakukan dengan memberi Flametongue sihir roh ultimate, Hell Blaze. Menyertai tebasan yang menyapu kegelapan, kobaran api ganas terus menyala untuk melahap roh-roh iblis tanpa henti.


Dengan twintailnya berayun-ayun di udara, dia menari spektakuler di malam hari, mengingatkan pada tarian ritual Rubia.


Adapun untuk barikade di jalanan, para siswi kocar-kacir karena kedatangan tim Kamito yang tiba-tiba.


Dibawah cahaya suci dari penghalang isolasi, suara-suara ribut terdengar.


"Bukankah itu Tim Scarlet!?"


"Anak bermasalah dari Kelas Gagak, Claire Rouge si Kucing Neraka!"


"Anak laki-laki itu... Uh, Kazehaya... Si Raja Bejat... Itu benar, si Raja Bejat!"


"Raja Iblis Malam Hari!"


.....Meskipun ada komentar aneh bercampur disana, setidaknya sepertinya mereka telah menyadari kedatangan kawan.


"Ellis, kuserahkan yang di sebelah sana padamu!"


"Ya—!"


Berlari, Ellis memutar-mutar Ray Hawk dan terbang.


Lalu—


"Teknik Tombak Aliran Fahrengart—Wind of Death!"


Dengan sebuah nama teknik yang menakutkan, dia melemparkan tombaknya pada roh-roh iblis yang tersisa.


Tombak sihir itu terbang seperti petir dan terus menembus para roh iblis.


Itu adalah sebuah serangan tombak absolut yang tak bisa dihindari, pasti kena.


Dengan residual momentumnya, Ellis mendarat di barikade.


"Heh, itu cukup bagus."


Melihat itu, Muir bersiul dari atas atap.


Dibawah serangan kombinasi dari tim Kamito, para roh iblis tersapu habis.

Bagian 2[edit]

Saat Kamito dan rekan-rekannya berjalan ke arah barikade, para siswi langsung bersorak.


Gimanapun juga, mereka adalah tim pemenang pada turnamen Blade Dance. Dari para senior sampai adik kelas, tak seorangpun yang tidak tau tim Kamito.


"R-Raja Iblis Malam Hari datang, apa yang harus kulakukan..."


"Kudengar kau akan hamil cuma dengan menatap matanya—"


"Tapi barusan, dia kelihatan lumayan keren, kan?"


"Y-Ya, itu benar..."


...Akan tetapi, ketenaran Kamito nampaknya memiliki alur yang berbeda.


Lalu—


"—Perfect timing."


Suara yang familiar terdengar dari tengah-tengah para siswi.


"Freya-sensei!"


Guru wali kelas dari Kelas Gagak, bu Freya Grandol.


Sudah pasti, beliau ikut serta dalam gerakan penentang para siswi.


"Aku telah mendengar ringkasannya dari mereka. Selamat datang."


Mengatakan itu, bu Freya mengisyaratkan dengan tatapannya pada Rakka dan yang lainnya.


Disaat Kamito dan rekan-rekannya bertarung melawan roh-roh iblis, para cewek Sylphid Knight sepertinya memberitahu guru itu tentang mereka.


"Kami juga sudah mendengar apa yang terjadi disini secara garis besarnya. Semuanya benar-benar gila."


"Memang, siapa yang menyangka Imperial Knight yang mulai memanggil roh-roh ibils?"


Bu Freya berbicara pelan sambil memasang ekspresi merendahkan.


"Apa tepatnya roh-roh iblis itu...?"


"—entahlah."


Freya menggeleng pada pertanyaan Claire.


"Aku melihat sebuah pilar cahaya muncul di atas Akademi dan kemudian tiba-tiba mereka sudah ada disini."


"Siapa yang menyangka roh-roh iblis muncul di alam manusia...."


"Itu betul-betul tak pernah terjadi sebelumnya."


Rinslet mengangguk dengan ekspresi aneh.


Seperti yang dia katakan, para roh iblis biasanya gak muncul di alam manusia.


Meskipun Sjora Kahn memanggil kawanan besar roh iblis saat turnamen Blade Dance, itu bisa dilakukan didalam Astral Zero.


Sekarang ini, apa sebenarnya yang terjadi?


"Apapun itu, berkat kalian pertahanan kami masih selamat. Ijinkan aku menyatakan rasa terimakasihku."


"Terlalu dini untuk mengatakan itu. Tak ada yang tau kapan roh-roh iblis itu muncul lagi."


Kamito melihat ke arah bangunan sekolah Akademi, menatap pilar cahaya yang menjulang ke langit.


"....Itu benar."


Berkata demikian, Freya berbalik dan mengajak kelompok Kamito masuk.


"Ini bukanlah tempat untuk mengobrol. Kesini, mari kita diskusikan langkah kita yang selanjutnya."


"Kita akan kemana?"


"Ada sebuah restoran didekat sini bernama Sablefish Pavilion. Itu adalah sebuah tempat pertemuan yang sempurna."


"Aku tau itu. Sebuah toko masyarakat biasa, kan?"


"Ya, itu adalah sebuah tempat—"


Itu adalah tempat dimana Vivian Melosa dari Murders menyamar sebagai seorang pelayan.


Kamito ingat Est memesan parfait ekstra besar disana. Itu merupakan situasi yang gila pada saat itu.


"Apa ada yang terluka saat serangan barusan?"


Dengan ekspresi sedih, Ellis melihat ke kiri-kanan lorong.


Beberapa siswi menerima perawatan menggunakan sihir roh.


"Ya. Tapi berkat kalian, tidak ada yang tewas."


"Kami tak akan sampai tepat waktu jika dia tidak memberitahu kami jalan pintas."


"Kalau dipikir-pikir lagi, aku terkejut kita sampai tepat waktu..."


"Kami datang—"


Freya membuka pintu Sablefish Pavilion.


"S-Selamat datang! Apakah anda ingin makan? Atau beristirahat—Kyah!"


Lalu, seorang cewek berjalan menuruni tangga dengan cepat—


Lalu dengan suara keras, dia jatuh secara spektakuler.


"Ooooh~, sakit sekali..."


Mengusap kepalanya sambil berdiri, cewek berpakaian main ini sangat akrab bagi mereka.


"Carol, apa kau baik-baik saja!?"


"N-Nyonya!?"


Cewek berpakaian maid itu segera berdiri dan melompat ke pelukan Rinslet.


"Nyonya, saya sangat khawatir pada anda!"


"Ya, Carol, aku sangat merindukanmu."


Tuan dan pelayan dari keluarga Laurenfrost saling berpelukan erat.


STnBD V18 BW06.jpg

Bagian 3[edit]

Saat kelompok Kamito lari dari Kekaisaran dan mengasingkan diri ke Dracunia, Carol tetap berada di Akademi bukannya kembali ke keluarga Laurenfrost.


Niatnya adalah untuk bertahan dan menunggu kembalinya tuannya sebagai maid dari Rinslet, tapi justru karena itulah, dia jadi terlibat dalam pemberontakan Akademi.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja saat saya tidak ada?"


Menarik sebuah kursi untuk tuannya, Carol menyeka sudut matanya sendiri.


"Ya, tenanglah."


"S-Saya mengerti...."


Mendengar itu, Carol terlihat agak depresi.


"Ah, uh, tentu saja, aku sedih tidak melihatmu!"


"N-Nyonya...."


Rinslet buru-buru ngeles, menghibur Carol dengan memeluk dia erat-erat lagi.


"Carol, apa kau kerja di toko ini?"


Lalu Claire bertanya.


"Ya, saya bekerja disini paruh waktu."


"...Kau cukup ulet."


"Ngomong-ngomong, saya juga bekerja di toko crepe."


Sepertinya dia cukup serius mengenai pekerjaannya selain menjadi seorang maid.


"Setelah Akademi dikuasai, apa yang terjadi pada kamar-kamar kami?"


"Para ksatria mengambil alih bangunan asrama Kelas Gagak, sepertinya untuk digunakan sebagai markas mereka."


"....Yah, sepertinya begitu."


Bahu Claire merosot sedih.


"Apa buku-buku berharga dan hartaku dibuang?"


"Sungguh menjengkelkan."


"Tenanglah, Nona Claire."


"Eh?"


"Semua barang pribadi dari kamar anda sekalian ada di saya."


"B-Benarkah!?"


"Ya, saya mengambil semuanya dan lari saat kami diusir."


"Kerja bagus, Carol."


"Sungguh menakjubkan!"


Carol tersenyum, mengeluarkan sebuah buku catatan dan menjilat ujung pena miliknya.


"Kotak harta milik Nyonya Rinslet berisikan stempel Laurenfrost. Pusaka keluarga, Belati Es SihirDagger of Magic Ice. Dan juga boneka yang diberikan oleh Nona Claire pada beliau saat mereka berusai 7 tahun, sebuah cincin mainan dari Nona Claire di usia 8 tahun, dan juga...."


"C-Cukup!"


Rinslet tersipu merah padam dan membungkam mulut Carol.


"....K-Kau menyimpan semuanya sebagai harta."


Claire bergumam pelan.


"Harta pribadi Nona Claire termasuk persik kaleng, buku-buku spiritology, tersimpan jauh didalam rak buku merupakan Gadis Bangsawan Muda Berkembang Di Malam Hari, Apa Kau Suka Kucing Garong?, Roh Payudara Raksasa Benar-Benar Ada—"


"T-Tunggu sebentar! Kenapa kau tau tentang buku-buku tersembunyi!?"


"Maaf, apa semua putri bangsawan membaca buku-buku cabul semacam itu?"


"T-Tentu saja tidak!"


"Menurut aturan, buku-buku tak bermoral harus disita."


Ellis berbicara tegas.


"Catatan buletin Fan Club Ren Ashbell-sama milik Nona Ellis juga disimpan dengan aman."


"T-Terimakasih banyak! Itu adalah baham-bahan berharga yang mustahil untuk dikumpulkan lagi."


Ellis memegang tangan Carol penuh rasa terimakasih.


(Disisi lain, aku lebih senang membakar semua itu sesegera mungkin...)


Kamito mengerang didalam benaknya.


Carol tersenyum senang dan berkata:


"Biar saya bawakan sesuatu yang hangat untuk anda sekalian. Saya yakin anda sekalian lapar."


"Biar aku yang masak. Carol, apa ada bahan?"


"Ya. Meskipun tidak banyak, kami memiliki sedikit tepung."


"Cukup bagus. Claire, aku pinjam Scarlet."


"Meow—"


"Tunggu, Scarlet!"


Scarlet berjalan mengikuti Rinslet.


"Muir akan membantu mencicipi rasanya."


Mengatakan itu, Muir berjalan ke dapur juga.


Menatap panggung adik adopsinya, Kamito merasa hatinya menjadi hangat

Bagian 4[edit]

Saat Rinslet berada di dapur, Kamito menjelaskan segala sesuatu yang telah terjadi sampai sejauh ini pada Freya.


"—dan begitulah, Kami kembali untuk merebut kembali Akademi."


"Aku mengerti—"


Guru wali kelas yang cerdas itu segera memahami perkataan Kamito dan mengangguk.


"Dengan kata lain, entah pemberontakan Akademi berhasil atau tidak, menentukan pergeseran kesetiaan dan tatanan politik dalan Kekaisaran."


"Ya. Setelah berita tentang perebutan kembali Akademi menyebar, para bangsawan netral akan memberikan dukungan mereka pada Fianna."


"Memang benar, harapan akan kembalinya sang putri kedua bukanlah hal yang tak biasa didalam masyarakat. Berita tentang pencapaian hebatmu di Teokrasi dalam menghentikan Leviathan telah sampai ke sini juga."


"Semua rakyat Kekaisaran mengharapkan penobatan Fianna." Kata Claire.


"Memang. Saat ini, pemerintahan Arneua sangat buruk tak peduli bagaimana kalian mengatakannya. Akan tetapi, ada para bangsawan yang lebih suka menerima penguasa tak kompeten daripada melihat putri yang cantik dan bijaksana memegang kekuasaan."


"Apakah orang-orang ini menyadari bayangan Kerajaan Suci dibalik Kaisar saat ini?"


"Tentu saja mereka menyadarinya. Kardinal Kerajaan Suci berada di Istana Nefescal. Akan tetapi, mereka masih memilih untuk patuh dan mengambil hati orang-orang yang berkuasa."


Bibir indah bu Freya membentuk senyum ejekan.


"Ngomong-ngomong, aku tak pernah menduga Imperial Knight menggunakan trik-trik semacam itu—"


Ellis berbicara keras, penuh kemarahan di wajahnya.


Karena mengagumi para ksatria, dia mungkin tak bisa menerima tindakan kekejaman seperti itu.


"Jadi mereka telah mengabaikan moral mereka—"


Karena memasang sebuah segel persenjataan terkutuk pada dirinya sendiri sebelumnya, Velsaria bergumam.


"Akan tetapi, itu tak bisa dipahami. Setelah berita tentang melepaskan para roh iblis terhadap para siswi menyebar, itu pasti akan menyebabkan kemarahan yang besar."


"....itu memang benar."


Freya setuju dengan Claire.


Selain Teokrasi Alpha, roh-roh iblis merupakan tabu di setiap negara.


Jika para ksatria Ordesia menggunakan roh-roh iblis, itu akan membuat semua negara di benua mengutuk mereka. Para bangsawan di Kekaisaran juga akan membenci Arneus karena memberi ijin pada tindakan semacam itu.


Dan juga, jika mereka meredam pemberontakan dengan segala cara, mereka bisa menggunakan roh-roh militer secara langsung. Kenapa juga harus sampai memanggil roh-roh iblis?


"Kemungkinan besar pemanggilan roh-roh iblis merupakan sebuah efek samping."


"Restia?"


Dengan tebaran bulu-bulu hitam, Restia muncul disamping Kamito.


"Tujuan sejati mereka mungkin sesuatu yang lain."


"Apa maksudmu?"


"Menurutmu pilar cahaya itu apa?"


Berkata demikian, Restia menatap keluar jendela.


Pilar cahaya yang mereka lihat dari jalanan sebelumnya, saat ini menebus awan-awan tebal di langit.


Cahaya merah menakutkan keluar dari celah awan-awan.


Semua orang menggeleng dalam diam. Bahkan Freya pun tak paham.


"—Itu adalah sebuah gerbang menuju alam iblis."


"Alam iblis?"


"Ya, kontras dengan tempat suci, ada suatu tempat di Astral Zero yang dikenal sebagai alam iblis. Itu adalah tempat dimana mayoritas roh-roh iblis tinggal."


Restia menatap Kamito dan yang lainnya.


"Pilar cahaya itu merupakan garbang untuk membuka koneksi dengan tempat itu."


"Sebuah gerbang penghubung dengan Astral Zero? Gimana caranya membuka sesuatu seperti—"


Di pertengahan kalimat, Claire melebarkan matanya.


"Jangan bilang, mereka menggunakan reruntuhan dari Hutan Roh...!?"


"Ya, tepat sekali."


Restia mengangguk pelan.


"Suatu gerbang sebesar itu memungkinkan untuk dibuka selama resonansi dihasilkan dari kekuatan banyak reruntuhan. Para roh iblis yang sebelumnya datang dari alam iblis melalui gerbang tersebut."


"Lalu kenapa mereka melakukan ini....?"


"Kalau itu aku nggak tau..."


Mengatakan itu, dia menggeleng.


"Tapi kalau kita membiarkan itu berlanjut, gerbangnya akan menelan kota ini cepat atau lambat."


"Apa kau bilang!?"


"Apa yang terjadi!?"


Claire dan Ellis berteriak bersamaan. Velsaria juga mengernyit.


"Lihatlah. Bukankah cahaya mereka diantara awan itu meningkat?"


"...!"


Kalau diperhatikan lagi, dia benar. Tingkat keterangan cahaya merah itu telah meningkat dari sebelumnya.


Cahaya itu berasal dari Astral Zero, huh—


Misalkan gerbang itu terus membesar, maka pasti roh iblis dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya akan keluar ke kota Akademi.


"....Jangan sampai mereka berhasil!"


Didalam mata Claire yang seperti rubi api berkobar.


"Ya. Sebagai kapten dari Sylphid Knight yang melindungi Akademi, aku tak boleh membiarkan ini terjadi!"


Ellis juga berdiri.


"Jadi apa yang bisa kita lakukan?"


Lalu, bu Freya berbicara.


"Karena mereka menggunakan kekuatan reruntuhan untuk membuka gerbang ke alam iblis, yang perlu kita lakukan adalah menghancurkan reruntuhan tersebut dan gerbangnya akan lenyap, kan?"


"Tepat. Gerbang menuju ke Astral Zero sangat tidak stabil. Setelah reruntuhannya dihancurkan, gerbang itu seharusnya lenyap."


Mendengar Claire, Restia mengangguk.


"Tapi Akademi telah dijadikan sebuah benteng oleh Imperial Knight. Menyusup kesana tidak akan mudah." Kata Velsaria.


"Tidak bisakah kita menggunakan sihir banyangan milik anda untuk masuk, bu Freya?"


"Sayang sekali, itu tak akan berhasil. Alarm pasukan akan terpicu."


"Jadi begitu...."


Biasanya, itu gak masalah, tapi mengingat situasi saat ini, mungkin ada banyak perhalang tipe pendeteksi yang dipasang. Jika demikian, bahkan Kamito dan Muir akan kesulitan menyelinap masuk tanpa diketahui.


"Bagaimana dengan negosiasi? Ellis kenal banyak orang didalam ksatria itu kan?"


"....Negosiasi mungkin akan sulit. Aku gak punya hak untuk mengkritik siapapun, tapi Imperial Knight sangat keras kepala."


"Kalau kau sampai bilang begitu, maka kekeraskepalaan mereka sudah pasti bukan kekeraskepalaan biasa."


Claire sedikit mengangkat bahu.


"Jadi hanya tersisa menyerbu masuk dari depan huh—" gumam Kamito.


"....Cuma itu satu-satunya cara."


"Apa kalian semua serius?" tanya bu Freya.


"Aku tau itu sangat sembrono, tapi aku tak bisa diam saja dan melihat Akademi dihancurkan oleh roh-roh iblis."


Kamito mengangguk pelan.


"Bagiku, Akademi adalah sebuah tempat yang sangat penting."


"Kamito..."


Claire terlihat terkejut saat dia menatap Kamito.


Sama terkejutnya, Restia juga menatap Kamito.


Ini adalah perasaan sejati Kamito yang keluar secara alami.


Meskipun dia cuma tinggal di Akademi selama dua bulan—


Kamito telah mengalami begitu banyak hal baru untuk pertama kalinya dalam masa waktu itu.


Bertemu rekan-rekannya. Berlatih siang-malam untuk berpartisipasi dalam pertempuran tim. Bekerja paruh waktu di kota Akademi, Festival Valentine, kamp pelatihan, misteri hot pot, dan bahkan berburu roh payudara raksasa legendaris.


Setiap kejadian merupakan kenangan berharga bagi Kamito—


Dan kenangan-kenangan itu terlahir di tempat bernama Akademi Roh Areishia.


"Ya, aku juga."


Lalu, Ellis menambahkan.


"Aku juga, Kamito!"


"Sama halnya denganku!"


Lalu, Rinslet keluar dari dapur, membawa roti lapis.


"Ini adalah pesona keberuntungan Laurenfrost."


"Sangat lezat."


Muir menjejali mulutnya... Manis sekali, seperti seekor tupai.


"Tapi aku tidak setuju dengan menyerbu tanpa rencana. Mari kita diskusikan rencana tindakan kita terlebih dahulu."


"...Kurasa kau benar."


Kamito menempelkan tangannya di meja dan berpikir mendalam.


Memang, menerobos masuk kedalam Akademi dari depan mungkin akan sangat sulit.


Misalkan ada cara lain untuk menyebabkan pengalihan perhatian yang besar terlebih dahulu—


"...Oh."


Tiba-tiba Kamito terpikir sesuatu.


"Hei, Ellis—"


"Ada apa?"


"Saat aku lupa ingatan, bukankah ada suatu tempat harta dari Raja Iblis yang muncul dibawah tanah kota Akademi?"


Dia menanyai Ellis.


"Ya, Burial Chamber itu kan?"


Ellis mengangguk. Dia memasuki Burial Chamber itu bersama Kamito.


Memang, kejadian itu merupakan alasan kenapa Imperial Knight mulai ditempatkan di Akademi.


Dihasut oleh Millennia, para roh di Akademi mengamuk, menyebabkan bencana besar.


Pada saat itu, Kamito amnesia karena syok kehilangan Restia, tapi setelah membuat kontak dengan Est di Burial Chamber dibawah Akademi, dia mendapatkan kembali ingatannya.


Terpanggil sebagai hasil dari kebangkitan Kamito, Burial Chamber merupakan tempat dimana banyak artifak dan tempat disegelnya roh-roh tersegel yang pernah digunakan oleh Raja Iblis Solomon legendaris dimasa lalu.


"Kau ingin mengambil senjata-senjata milik Raja Iblis yang bersemayam di Burial Chamber, kan?"


Claire segera bereaksi.


Tapi bu Freya menggeleng.


"Sayang sekali, kau sudah terlambat."


"Kenapa?"


"Kabarnya, Imperial Knight telah mengambil semua harta di tempat bersejarah dibawah tanah tersebut. Artifak-artifak kuno dan roh-roh tersegel yang kuat, aku menduga semua itu di simpan di Perpustakaan Tersegel milik Akademi sekarang."


Itu masuk akal juga. Itu wajar bahwa musuh akan turun tangan saat artifak-artifak kuno dan berharga muncul.


"Sepertinya rencanamu gagal."


"Tidak, tidak sepenuhnya digagalkan. Malah sebaliknya, ini adalah suatu peluang."


Berkata demikian, Kamito memasukkan tangannya ke saku dadanya.


"Ah. Kamito, aku tau apa yang kamu pikirkan."


Melihat itu, Restia berbisik pelan.


Seperti yang diharapkan dari partner lamanya.


"Ya, kita akan menggunakan segala yang kita bisa."

Bagian 5[edit]

Membawa Fianna sang Putri Kedua, pemimpin Ordesia Sah, Revenant bertemu dengan Ksatria Naga Terbang dari Dracunia di wilayah udara Laurenfrost.


Terdiri dari para penunggang naga, Ksatria Naga Terbang dikenal sebagai yang terkuat di benua.


Bahkan ada rumor bahwa Dracunia secara terang-terangan menolak membuat armada kapal terbang besar karena mereka merasa bahwa kapal-kapal militer yang lebih lambat daripada para penunggang naga tak memiliki nilai strategi.


Dibawah cahaya rembulan, puluhan naga terbang tersusun dalam formasi yang rapi dan teratur.


Di darat, api unggun besar dinyalakan di Kastil Winter Gulf. Para prajurit yang melayani Margrave Laurenfrost bersiap untuk pertempuran secara teratur.


Fianna dan Rubia berdiri di dek untuk mengumpulkan moral.


"Para bangsawan netral masih belum menyatakan posisi mereka."


Sambil menatap Pegunungan Kyria yang membentang di depan, Fianna berbicara.


Meskipun ada beberapa bangsawan yang secara rahasia berhubungan dengan dia dan telah setuju untuk bergerak, pada akhirnya, yang menanggapi panggilan dia untuk bertindak adalah para bangsawan anti-Arneus.


"Sampai situasinya jelas, aku ragu mereka akan bertindak. Akan tetapi, setelah kita merebut kembali Akademi, keadaannya akan condong pada kita."


Rubia menjawab. Dalam suaranya sama sekali tak ada gejolak emosi.


Fianna menjauhkan tangannya dari tangga disisi kapal.


"Apa kau khawatir pada Claire?"


STnBD V18 BW08.jpg


"..."


Kali ini, Rubia tak menjawab.


Akan tetapi, ketegangan lembut di jari-jari Rubia tak luput dari mata Fianna.


"Dia akan baik-baik saja. Bagaimanapun juga, ada Kamito-kun bersama dia."


"Ya—"


Angin yang berhembus membuat rambut panjang kedua cewek itu berkibar.


Perang mereka melawan Kekaisaran akan dimulai pada pagi hari.


(...Kami harus bergegas.)


Fianna menggigit bibirnya yang telah kehilangan warnanya karena angin yang dingin.


Lalu, kristal ditangan Rubia bersinar.


Disaat yang sama, sebuah gambaran besar diproyeksikan di udara.


Itu adalah sebuah bayangan hitam dengan penampilan dari seekor naga raksasa.


"....! Raja Naga!"


Terkejut, Fianna menengadah.


"Putri dari Ordesia, usahamu bagus sekali dalam misi untuk meredam perang sipil Teokrasi."


Suara kalem dari siluet naga raksasa itu terdengar diseluruh anjungan.


"Oleh karena itu aku mengakui Ordesia Sah sebagai sekutu Dracunia dan berjanji untuk melawan Kerajaan Suci bersama-sama."


"Terimakasih atas bantuan anda, Raja Naga."


Fianna membungkuk dalam-dalam pada sosok di udara tersebut.


"Jadi, bagaimana situasi pertempurannya?"


"Lebih dari setengah bangsawan berpihak pada Kaisar. Sisanya akan bergantung pada situasi di Akademi."


"—Hmm, sudah sewajarnya. Akademi itu sama saja dengan jantung Kekaisaran."


Raja Naga Dracunia berkata muram.


"Tapi tenanglah. Aku telah membuat persiapan untuk hal itu juga sejak awal."


"....Apa maksud anda?"


Fianna mengedip-kedipkan matanya.


"Aku sudah mengirim naga terkuat ke jantung itu."

Bagian 6[edit]

"Kakak, kuserahkan ini padamu."


"Tenanglah. Bahkan seekor semut pun tak akan kubiarkan lewat."


Menatap Ellis yang berada di depan barikade yang menengok ke belakang, Velsaria mengangguk.


Menurut rencana serangan Claire, Velsaria dan Muir akan tetap berada di belakang menjaga barikade.


Roh-roh iblis yang menyerang pasti akan kembali. Karena gerbang yang terhubung dengan Astral Zero terus meluas, kemungkinan besar gelombang berikutnya akan lebih besar daripada yang sebelumnya. Terlebih lagi, celah-celah hampir terlihat pada penghalang yang buat oleh para princess maiden.


Oleh karena itu, diperlukan bagi Velsaria, yang mampu menggunakan roh benteng ultimate, dan Muir yang mampu mengerahkan roh-roh militer, untuk tetap berada di belakang sebagai penjaga.


"Serahkan ini pada kami, Kapten."


Kata Rakka sambil membawa palu elemental waffe miliknya di pundaknya.


"Sebagai wakil kapten dari Sylphid Knight, aku akan melindungi para siswi."


Berkata begitu, Reishia juga mengangguk.


"Ya, semoga beruntung."


Ellis bersalaman erat dengan para sahabatnya.


"...Ah~ ah~, Muir mau ikut Onii-sama juga."


Muir cemberut tak senang.


"Kenapa Muir harus melindungi lalat kecil?"


"Karena kau lah yang paling sesuai untuk tugas itu. Memburu dan menghabisi para roh iblis."


Claire berkata sambil menyilangkan tangannya.


"Berhentilah memerintah orang lain dan bertindak paling tinggi, dasar cewek arang berdada rata."


"A-Apa yang kau katakan!? K-Kau lah yang paling rata!"


Dengan twintailnya berdiri tegak, Claire berteriak marah.


"Ya~ betul~, Muir masih tumbuh. Benarkan Onii-sama?"


Berkata begitu, Muir memeluk pinggang Kamito.


"Uh, ya, benar..."


Kamito menepukkan tangannya pada kepala Muir.


"Muir, aku mengandalkanmu. Lindungi semua orang."


Dia dengan lembut membelai rambut abu-abu Muir.


"....B-Baik, dimengerti, Onii-sama."


Muir setengah menutup matanya dalam kegembiraan dan mengangguk patuh.


"Kamito, manjakan aku juga."


Melihat Est memeluk dia juga, Kamito mulai membelai kepalanya di saat yang sama.


"Hua..."


"Ampun deh, yang kau lakukan cuma memanjakan adik angkatmu dan Est!"


Melihat itu, Claire begitu marah hingga dia memukulkan cambuknya keras-keras.


Di belakang Kamito dan yang lainnya—


"M-Masih ada lagi, kyah—"


"Uwawa, Nyonya, apa anda baik-baik saja!?"


Memberikan cemilan pada mereka yang ada dibarisan depan, Rinslet dikelilingi oleh para roh.


"Rinslet, berhentilah bermain-main. Kita harus pergi."


"A-Aku nggak main-main!"


Kamito tersenyum masam dan menatap Akademi yang berada di kejauhan.


Pilar cahaya itu, menjulang ke awan, itu mengingatkan dia pada cahaya dari Sacred Maiden yang dia lihat di Kota Raja Iblis.


"Kamito, kami mengandalkanmu."


Mendengar kata-kata bu Freya, Kamito mengangguk ringan.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 9 - Pernyerbuan Akademi[edit]

Bagian 1[edit]

Awan tak menyenangkan mengambang rendah di langit.


Kamito dan rekan-rekannya berlari di kota Akademi dimana racun tebal berputar-putar.


Melewati distrik Sylph, area pemukiman padat, mereka berlari ke pintu masuk utama bangunan sekolah Akademi—


Jarak ini cukup dekat bagu seorang elementalis terlatih, tapi yang jadi kekhawatiran adalah bahwa semakin dan semakin banyak roh iblis yang akan muncul dari celah dimensi seiring berjalannya waktu.


(...Kami balapan dengan waktu.)


Menatap gerbang raksasa di langit, Kamito bergumam dalam benaknya.


"Bagunan sekolah Akademi sudah terlihat."


"Serbu secepatnya!"


"Ya!"


Claire mengayunkan Flametongue di tangannya.


Dengan sebuah tebasan merah yang melintas di udara, para roh iblis yang muncul secara tiba-tiba langsung dihancurkan.


Menyadari situasi yang tak biasa, para penjara didepan gerbang mewujudkan elemental waffe di tangan mereka.


Jumlahnya ada lima orang. Mereka tampak seperti ksatria roh elit.


(...Seperti yang diduga dari para ksatria Kekaisaran. Mereka tangguh.)


"Menyerbu kami hanya dengan empat orang saja... Apa mereka sinting!?"


Yang terlihat seperti pemimpinnya berteriak, mengayunkan sebuah palu besar.


Gelombang kejut dilepaskan secara radial, menghancurkan ubin batu yang ada di jalan.


"O sihir es abadi, berubahlah menjadi sebuah dinding kastil yang kokoh—Ice Wall!"


Rinslet segera merapal sihir roh pertahanan.


Menjulang dari tanah, dinding es memblokir gelombang kejut tersebut dan puing-puing yang menyertainya.


Menghentak keras dinding es yang ada di depannya, Ellis melompat ke udara.


Mengangkat Ray Hawk, dia melemparkannya ke pintu masuk utama.


"Teknik Tombak Aliran Fahrengart, teknik rahasia—Storm Strike!"


BOOM—


Angin puyuh mulai berputar, berkumpul di ujung tombak.


Ray Hawk yang dilemparkan melesat di udara seperti kilatan cahaya, menghasilkan gelombang kejut yang berputar-putar.


Gerbang Akademi segera mengerut, lalu terhempas seketika.


Tombak itu kembali ke wujud roh burung. Berputar-putar di udara, Simorgh kembali ke lengan Ellis.


Berdiri di dinding es, Ellis menatap para ksatria Kekaisaran seraya rambut birunya berkibar tertiup angin.


Melihat dia seperti itu—


"...! Jangan bilang itu adalah Nona Ellis!?"


Yang kelihatannya seperti pemimpin para ksatria ini berseru terkejut.


"Kau adalah utusan Fahrengart, Inase-dono dari keluarga Van Browa kan?"


"Memang. Aku Inase Van Browa, Kapten dari Imperial Knight!"


Menjawab Ellis, Kapten itu memperkenalkan diri secara terbuka. Sebagai utusan Fahrengart, dia seharusnya merupakan seorang ksatria yang bersumpah setia pada Ellis.


Akan tetapi, Inase terus menyiagakan elemental waffe miliknya.


Sepertinya, dia berniat untuk tetap setia pada posisi militernya.


"Inase-dono, kenapa seorang ksatria terhormat sepertimu menindas para siswi!?"


Ellis benci berbelit-belit dan menggunakan gayanya yang biasanya, langsung ke intinya.


"Aku adalah seorang ksatria yang melayani Yang Mulia Kaisar. Aku harus menyelesaikan misi yang telah diberikan."


Jawaban kapten itu tak memberi ruang untuk belas kasihan.


"Jadi metode Imperial Knight termasuk menggunakan roh-roh iblis sekarang?"


Kali ini, Claire lah yang berteriak.


".....! Itu adalah tindakan Kerajaan Suci. Tak ada hubungannya dengan kami."


"Kerajaan Suci kau bilang!?"


(....Seperti yang diduga, Kerajaan Suci terlibat, huh?)


Kamito bergumam dalam benaknya. Tentunya, dia sudah berpikir bahwa kemungkinan itu sangat tinggi sejak awal. Akan tetapi, memanggil roh iblis dalam jumlah besar merupakan sebuah tindakan yang akan mengarah pada bencana setelah negara-negara tetangga mengetahuinya. Karena tindakan semacam itu menerima persetujuan militer, itu artinya para petinggi Ordesia tak punya kekuatan untuk menolak Kerajaan Suci.


"Kau telah mengakui kesalahanmu. Kalau kau diam saja dan membiarkannya, berarti kau terlibat!"


".....!"


Mendengar kritik keras dan valid dari Rinslet, kapten itu terdiam.


"Inase-dono, kau hanya akan membawa aib pada nama keluarga Van Browa kalau kau terus membiarkan Kerajaan Suci bertindak sesuka mereka."


"Meski begitu, aku tak akan pernah berpaling dari sumpah kesetiaanku!"


Inase Van Browa menjawab penuh tekad.


"....! Meski aku gak layak mengatakan ini, aku bisa menyebutmu keras kepala!"


"Ellis, sepertinya kau sebenarnya cukup fleksibel untuk seorang ksatria..."


"Kapten, aku telah mengubah pendapatku tentangmu."


"D-Diam...."


Ellis berdeham dan menyiapkan Ray Hawk.


"Tak ada gunanya melanjutkan percakapan. Ijinkan kau menerobos dengan paksa!"


"Menerobos dengan paksa? Apa kau berniat menjadikan setiap ksatria roh yang ditempatkan disini menjadi musuh!?"


Alarm terus berbunyi. Para roh militer pengintai terbang di udara mengarahkan lampu sorot pada kelompok Kamito.


Bala bantuan sepertinya sudah datang.


(...Baiklah, waktunya berjudi.)


Kamito menyeka keringat dingin sambil merogoh saku dadanya.


Apa yang dia keluarkan adalah sebuah cincin perak bertuliskan dalam bahasa High Ancient.


Ini adalah Cincin Raja Iblis untuk memerintah 72 roh.


Meskipun Kamito cuma bisa menggunakan cincin ini untuk mengendalikan satu roh dalam satu waktu—


Kalau dia mengabaikan pengendalian dan hanya menggunakannya untuk membebaskan roh-roh tersegel, maka tak ada batasnya.


Kamito mengangkat cincin tersebut dan menuangkan divine power kedalamnya.


"Sebagai penerus Raja Iblis, dengan ini aku memberi perintah. Bangunlah dari tidur panjangmu dan tunjukkan kekuatanmu sepuas hatimu!"


Cincin itu memancarkan cahaya terang.


Cahaya menyilaukan itu menakuti para ksatria Kekaisaran.


Rumble, rumble rumble, rumble rumble rumble rumble rumble rumble...!


Lalu, suara gempa bumi terus terdengar—


Sebuah ledakan besar terjadi di Akademi.


"A-Apa yang terjadi...!?"


Kapten Imperial Knight itu terdengar kebingungan.


Mereka berbalik—


Dan melihat sebuah pemandangan tak bisa dipercaya terjadi di depan mata mereka.


Roh naga raksasa berkepala delapan. Seekor raksasa berkepala dua memegang tongkat kayu yang sangat besar. Seekor ular besar yang dikelilingi petir. Seekor kura-kura dengan gunung batu yang aneh punggungnya. Seorang prajurit mengenakan armor baja—


Setiap roh cukup kuat untuk menyaingi kelas archdemon.


"—Lima, tidak, ada enam. Lebih banyak dari yang kuduga."


Suara Restia bergema dalam kepala Kamito.


Apa yang Kamito bebaskan adalah roh-roh anak buah Raja Iblis yang diambil para ksatria dari Burial Chamber Raja Iblis untuk diamankan. Meskipun awalnya Restia tak yakin apakah roh-roh purba yang kuat mau mendengarkan suara Kamito, sekarang sudah jelas kalau dia menenangkan taruhan itu.


Dihadapkan dengan kemunculan yang tiba-tiba dari beberapa roh kelas archdemon, para Imperial Knight kalang kabut.


"Mengamuklah sesuka kalian, para pelayan Raja Iblis!"


Kamito terus menuangkan divine power pada cincin tersebut dan berteriak. Cincin Raja Iblis itu langsung hancur berkeping-keping.


"Kamito, gaya Raja Iblis itu cukup bagus. Aku memberimu 6 poin Raja Iblis."


"Poin bodoh apaan itu..."


Mendengar Restia yang terdengar agak senang, Kamito cuma bisa membantah saja.


"Nah sekarang waktunya menyerang!"


Dengan pedang ganda hitam dan putih di tangannya, Kamito menyerbu para ksatria itu.

Bagian 2[edit]

"....! Apa yang terjadi!?"


Penguasa ruangan kepsek saat ini berdiri dari kursinya dan berteriak cemas.


Diambil alih oleh Imperial Knight, ruangan kepsek Akademi Roh Areishia telah menjadi ruangan milik Alendora Eva Abyne, komandan dari pasukan yang ditempatkan disini.


Diantara keluarga bangsawan, keluarga Duke Abyne merupakan yang kedua setelah Keluarga Fahrengart dalam hal pengaruhnya. Selain latar belakang keluarganya, kekuatan Alendora sebagai seorang ksatria roh juga tingkat atas. Lulus dari Akademi sebagai pembaca pidato perpisahan, dia saat ini memegang posisi Number Ketujuh. Dia dikenal luas sebagai pengguna roh void.


Sebagai seseorang yang memiliki reputasi seperti itu, Alendora tertegun tak bisa berkata apa-apa setelah melihat pemandangan diluar jendela.


Roh-roh besar yang aneh telah menghancurkan Perpustakaan Tersegel Akademi dan keluar.


Mereka mengamuk dan saat ini menyerang bangunan sekolah Akademi.


Gak seorangpun memahami situasi saat ini.


Kenapa roh-roh yang seharusnya tersegel ini tiba-tiba bangkit?


"...Sialan—"


Dengan ekspresi jengkel, Alendora memukul jendela ruangan kepsek.


"Fufu, kenapa kau begitu gelisah? Mengingat kau adalah Number Ketujuh."


"....! Kau!"


Dia berteriak marah dan menoleh ke belakang, dan melihat Kardinal Kerajaan Suci berdiri didepan pintu.


"Aku tidak mengijinkanmu untuk masuk, Dame Millennia."


"Aku tidak perlu ijinmu."


Cewek muda yang mengenakan penutup mata dan berpakaian jubah itu tersenyum tak peduli.


"Ketahuilah bahwa aku dikirim oleh Yang Mulia Kaisar Arneus dan mendapatkan wewenang penuh."


"...!


Alendora menggertakkan giginya. Dia selalu tak menyukai kardinal ini yang melakukan apapun yang dia mau, memanfaatkan titah Kaisar, meskipun berada diantara para Imperial Knight.


"Apa yang terjadi dengan kekacauan ini? Jangan bilang ini adalah eksperimenmu yang lain?"


"Tidak, salah. Ini adalah ulah Raja Iblis—"


"Apa kau bilang?"


"Kazehaya Kamito sepertinya datang bersama rekan-rekannya untuk merebut kembali Akademi."


"Kazehaya Kamito—"


Sekarang ini mungkin tak seorangpun di Ordesia yang tidak tau nama ini.


Dia adalah satu-satunya elementalis laki-laki di dunia.


Dia juga merupakan andalan dari Tim Scarlet yang memperoleh kemenangan di turnamen Blade Dance.


Disaat yang sama, dia juga merupakan kriminal yang dicari yang telah menyelinap ke ibukota kekaisaran untuk membantu pelarian Putri Kedua Fianna dari penjara.


"Lucu sekali! Bagaimana bisa segelintir orang ingin memgambil alih benteng militer ini—"


"Dia menghentikan Leviathan roh militer kelas strategi di Teokrasi."


Kardinal itu tertawa, cukup menjengkelkan.


".....!"


Memang, dia bukanlah lawan yang bisa diremehkan.


Saat ini, para Imperial Knight sedang kalang kabut—


"Aku sendiri yang akan berada di barisan depan. Kurasa bahkan para ksatria peringkat tinggi mungkin tak akan bisa menghadapi seorang pemenang Blade Dance."


Dengan kibaran jubah putihnya, Alendora dengan gagah berbalik dan keluar ruangan.


Setelah menatap dia beberapa kali saat dia pergi—


Millennia Sanctus bergumam pelan.


"Sayangnya, kau sendiri juga bukan tandingan dia."


Dia berputar dan menatap langit yang memerah di luar jendela yang retak.


"Waktunya mulai. Astral Shift."


Lalu, retakan yang tak terhitung jumlahnya muncul di udara.

Bagian 3[edit]

"Guooooooooooooooo!"


"Kishaaaaaaaaaaaaa!"


Enam roh, anak buah Raja Iblis, dibebaskan dari tidur panjang mereka, mengamuk, terlihat seolah mereka memamerkan kekuatan mereka. Itu seperti pertempuran diantara para monster raksasa.


Semuanya berjalan seperti yang diharapkan Kamito. Para Imperial Knight kalang kabut.


"Disisi lain, aku kuatir kalau Akademi mungkin akan hancur rata dengan tanah!"


Sambil mengalahkan para Imperial Knight yang menghadang dia, Kamito berkomentar.


"Karena mereka memiliki begitu banyak ksatria, aku yakin mereka akan menemukan cara."


Berlari di sampingnya, Claire membalas.


"K-Kurasa begitu..."


Total enam roh, menyaingi atau bahkan melampaui kelas archdemon...


Akan tetapi, kalau mereka mengerahkan batalion ksatria roh yang dilengkapi dengan roh-roh militer, mereka harusnya bisa melenyapkan para roh itu.


"Kirim anti-roh Kerberos! Kerahkan semua Glasya-Labolas juga!"


Kamito bisa mendengar apa yang terdengar seperti suara seorang komandan ksatria. Meskipun para ksatria mengerahkan para roh militer secara terpisah, mereka segera kalah pada roh-roh Raja Iblis karena mereka tak bisa menggunakan formasi yang terorganisir.


"Roh-roh militer terbaru di habisi satu per satu!"


Berkata demikian, Ellis menjadi pucat.


"A-Akankah mereka menuntut kompensasi nantinya?"


"Sheeeesh, gak ada gunanya terlalu mengkhawatirkan hal itu!"


"Putri akan memikirkan sesuatu!"


Kamito mengayunkan Demon Slayer, membelah Glasya-Labolas yang besar menjadi dua.


Di bagian tengah tempat latihan yang luas, pilar cahaya menjulang ke langit, membentuk sebuah gerbang raksasa di udara. Tiga pilar cahaya yang lebih kecil menopang gerbang itu.


Di bawah pilar cahaya itu mungkin reruntuhan yang diambil dari Hutan Roh.


Para Imperial Knight tampaknya gak menyadari bahwa kelompok Kamito menargetkan reruntuhan itu.


Untuk menghancurkan reruntuhan di tiga lokasi sekaligus, sebelum mereka bisa memperkuat pertahanan mereka—itu adalah rencana yang disusun oleh Claire.


"Kita akan berpencar tiga arah disini."


"Ya."


Kamito bertugas untuk reruntuhan yang ada di bagian terdalam Akademi, berlokasi di area tempat latihan. Ellis dan Rinslet bertugas untuk reruntuhan yang berada di katedral tua yang terletak di barat laut. Adapun untuk bangunan asrama yang berada di timur laut—


Kamito melepas Vorpal Sword.


Pedang iblis hitam legam berubah menjadi kegelapan tak berujung yang kemudian berubah menjadi roh kegelapan bersayap hitam.


"—Aku menantikan bekerja sama denganmu, Claire Rouge."


Tepat, Claire dan Restia adalah yang bertugas pada reruntuhan ketiga.


Asalakan dia punya Est di tangan, Kamito sudah cukup untuk bertarung sendirian.


Ini adalah kesimpulan yang dicapai setelah mempertimbangkan keseimbangan diantara ketiga tim.


"Oke, mari bergegas!"


"Ya!"


Lalu saat mereka hendak berpencar...


Crk, crk crk—


Tiba-tiba, retakan muncul di udara disekitar mereka.


"...A-Apa!?"


Claire melompat terkejut dan melihat sekeliling.


Lalu—


Keluar dari retakan di udara, roh-roh iblis dengan penampilan aneh muncul satu per satu.


"....! Kenapa ada roh-roh iblis disini!?"


Memanggil roh iblis yang tak bisa dikendalikan dalam jumlah yang besar didalam area Akademi.


Melakukan ini sama saja dengan menambah kekacauan.


Dan juga, jumlah roh iblis itu jauh melampaui apa yang mereka lawan di barikade jalan.


Bahkan peringkat roh-roh itu diklarifikasikan sebagai tingkat pertengahan atau diatasnya.


Retakan dalam jumlah yang tak terhitung bermunculan, memenuhi seluruh Akademi.


"Mungkinkah mereka mencoba melepaskan roh iblis diseluruh kota Akademi!?"


Ellis berteriak terkejut.


"....! Kita harus bergegas. Hentikan reruntuhan itu!"

Bagian 4[edit]

Crk, crk crk crk—!


Dengan suara distorsi ruang, banyak retakan muncul di udara.


"Mereka datang. Para senior, siapkan elemental waffe kalian!"


Berdiri didepan barikade, Freya berteriak.


Para siswi Sylphid Knight terbaik dan para senior dengan pencapaian tertinggi, semuanya mengeluarkan elemental waffe mereka. Rakka dan Reishia juga memegang senjata mereka, bersiap menghadapi musuh.


"Bentuk skuad yang terdiri dari tiga orang atau lebih! Yang terluka harus mundur ke belakang, jangan terlalu memaksakan diri!"


"B-Baik!"


Sekitar setengah dari siswi Akademi Roh Areishia yang membuat kontrak dengan roh-roh berperingkat menengah keatas, tapi hanya sekitar 30% yang mampu menggunakan elemental waffe.


Dan cuma segelintir yang benar-benar pernah melihat roh-roh iblis sebelumnya dalam pertempuran yang sebenarnya.


Dihadapkan dengan suatu kelompok besar dari roh iblis, menunjukkan gigi mereka saat mereka mendekat, kalo para sisiwi mulai gemetar.


"—Jangan takut. Aku adalah benteng yang akan melindungi kalian semua."


Velsaria Eva Fahrengart.


Kapten Sylphid Knight yang sebelumnya, pemegang gelar terkuat.


Dihadapkan dengan roh iblis dalam jumlah yang besar, berdiri gagah di barisan depan, sosoknya membawa keberanian pada para siswi.


"Datanglah elemental waffe—Juggernaut!"


Dengan kilatan cahaya, dinding benteng yang melayang disertai meriam yang tak terhitung jumlahnya muncul di sekitar dia.


Menoleh ke belakang pada para siswi yang berseru terkejut, Velsaria berkata.


"Mundurlah beberapa langkah. Elemental waffe punyaku mungkin agak merusak—"


Boom! Boom boom boom boom boom!


Meriam yang tak terhitung jumlahnya menembak secara bersamaan.


Udara berguncang. Daya tembak yang mencengangkan menyapu para roh iblis.


Tembakan ganas itu membuat para siswi bersorak.


"Hmph, lumayan—"


Lalu, melihat dari atap sebuah bangunan, Muir tersenyum gembira.


Dia melompat turun dengan lincah dari atap dan berjalan ke arah barikade di arah uanh berlawanan.


"Muir juga akan unjuk gigi."


Melepas artifak gelang, dia merapal mantra pelepasan segel.


Segel persenjataan terkutuk yang ada di punggung tangannya memancarkan cahaya menakutkan.


Lalu, ruang terdistorsi dan roh militer berbentuk seperti kumbang raksasa muncul.


Ini adalah Gargantua, roh yang terspesialisasi dalam membentuk galian di medan pertempuran.


Meskipun bukan roh tipe tempur, kekuatannya jauh melampaui roh-roh monster biasa.


Ohhhhhhhhhhhhh!


Dengan Jester's Vice melepas batasannya, Gargantua mengayunkan kedua tangan besarnya untuk menghancurkan para roh iblis yang melayang.


"Ahahaha, hancurkan mereka—Gargantua."


Pemandangan yang mengerikan ini membuat para guru Akademi terkesiap.


"Muir akan mendapatkan pujian Onii-sama."

Bagian 5[edit]

"Roh-roh iblis? Kerajaan Suci biadab, apa yang ada di otak mereka!?"


Melihat kekejaman di hadapam matanya, Alendora Eva berteriak jengkel.


Banyak roh iblis yang muncul dari celah dimensi untuk menyerang para ksatria Kekaisaran tanpa pandang bulu.


Sistem komandonya kacau total. Meski dia sampai di barisan depan sebagai komandan tertinggi, menyusun kembali pasukan yang kacau bukanlah tugas yang gampang.


(Setidaknya, aku harus memahami apa yang sedang terjadi—)


Selain para roh iblis, roh-roh yang dibebaskan dari Perpustakaan Tersegel juga mengamuk.


Dengan elemental waffe miliknya—Nether Void—di tangannya, dia berjalan ke arah tempat latihan.


Meskipun para roh yang mengamuk cukup kuat, sebagai salah satu dari Number kebanggaan Kekaisaran, dia mampu mengalahkan roh kelas archdemon seorang diri.


—Diarah yang dia tuju...


Tiba-tiba, sosok mungil muncul.


"....?"


Orang itu mengenakan jubah bertudung berwarna abu-abu.


Diwajahnya mengenakan topeng perak.


(Seorang prajurit dari Kerajaan Suci? Tidak, bukan...)


Alendora berhenti dan memeriksa lawan di depannya dengan hati-hati.


"Apa itu kau? Apa kau yang membebaskan roh-roh di Perpustakaan Tersegel—"


"..."


Sosok bertopeng itu tidak menjawab. Dia dalam diam menghunus pedangnya dari dadanya.


Itu adalah sebuah pedang panjang berwarna merah darah tanpa ornamen.


"Aku paham. Kau lebih suka penyiksaan dan interogasi militer. Akan aku kabulkan keinginanmu."


Alendora berbisik dingin dan menuangkan divine power pada Nether Void.


"Ini adalah hari sialmu. Menantang salah satu Number terkuat kekaisaran—"


Udara sekitar berguncang. Sebongkah tanah dikakinya terhempas.


"—Terkuat di Kekaisaran, huh?"


Heh, lawan nampaknya tertawa dibalik topengnya.


Dia terdengar seperti seorang cewek muda. Kemungkinan seorang siswi dari Akademi—


Tiba-tiba, lawan menghilang dari pandangan Alendora.


".....!?"


Dia bahkan tak punya kesempatan untuk berteriak.


Pedang itu bergerak seperti purple lightning. Alendora Eva tumbang di tanah.


Untuk mempertahankan kehormatannya, perlu diketahui—


Tanpa kemampuan pada tingkat Number, dia mungkin tak akan bisa melihat kecepatan pedang itu.


Menatap langit malam yang memerah, cewek bertopeng itu bergumam.


"Apa mereka berniat melakukan Astral Shift disini?"


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 10 - Astral ShiftPergeseran Astral[edit]

Bagian 1[edit]

Dibawah langit malam, tarian megah kobaran api dimulai.


Melewati tempat latihan yang luas, Claire berlari kearah reruntuhan di timur laut.


Perangkat alarm terus berbunyi seraya lampu-lampu sorot mengejar dia terus-menerus.


Akan tetapi, serangan-serangan sihir roh yang diarahkan pada Claire di blokir satu per satu oleh sepasang sayap hitam.


"Roh kegelapan, aku gak pernah menyangka akan ada hari dimana kau dan aku bertarung berdampingan satu sama lain—"


"Fufu, apa kau masih bisa melanjutkan?"


"Jangan remehin aku, lihat ini—!"


Flametongue milik Claire menghancurkan banyak roh iblis.


Dihadapkan dengan sekawanan roh iblis yang tiba-tiba muncul, para Imperial Knight kalang kabut.


Apakah itu karena komandan mereka tidak ada? Koordinasi diantara unit tidak karu-karuan.


"Ngomong-ngomong, aku masih berhutang budi padamu—" tiba-tiba Restia berbicara.


"Hutang budi?"


"Ya, di Ragna Ys. Kau menyelamatkan aku dari orang-orang dari Sacred Spirit Knight."


Claire teringat. Itu adalah ketika babak final Blade Dance.


"Kau gak perlu membalasnya. Lagian aku melakukannya untuk Kamito."


"Gak boleh begitu, Claire Rouge—"


Restia merentangkan sayap hitam legam miliknya.


"Menderulah, badai pedang iblis—Blade Storm!"


Bulu-bulu hitam legam yang ditembakkan berubah menjadi sebuah badai kegelapan, melenyapkan para roh iblis.


STnBD V18 BW07.jpg


Menyaksikan kekuatan mencengangkan milik roh kegelapan, Claire cuma bisa terkesiap.


"...! Nggak buruk, kau mungkin setara dengan Ortlinde, mungkin?"


"Kalau kau bisa mengeluarkan kekuatan penuh kucing neraka, yah, mungkin dia bahkan bisa bertarung." Restia tertawa pelan.


"Harus ku akui, kau cukup bisa diandalkan saat kita berada di pihak yang sama."


"Kau sudah meningkat juga."


Meskipun mereka berdua selalu berseteru, secara mengejutkan mereka sangat sinkron saat bekerja sama.


Sampai di alun-alun dibelakang asrama siswi, mereka bisa melihat pangkal dari pilar cahaya tersebut.


Itu adalah lingkaran batu yang dibentuk dari bongkahan-bongkahan batu besar.


Ini merupakan reruntuhan yang digunakan untuk membentuk gerbang didalam Akademi. Claire pernah menggunakannya sebelumnya.


"Reruntuhan itu!"


"Ayo hancurkan sebelum mereka membawa bala bantuan."


"Ya, aku tau! Menarilah, api merah pemanggil kehancuran—Hell Blaze!"


Claire merapal sihir roh tipe api terkuat sambil berlari.


Akan tetapi—


"...A-Apa!?"


Sebuah mantra tertulis dalam bahasa High Ancient yang terukir pada reruntuhan bersinar dan menghapus api itu.


"...! Nampaknya serangan biasa gak bisa merusaknya."


Orang-orang Kerajaan Suci sepertinya sudah memasang banyak penghalang.


...Jika demikian, satu-satunya pilihan adalah mencoba menggunakan elemental waffe untuk menyerang berulang kali untuk menghancurkannya.


Kalau melakukan itu perlahan-lahan, bala bantuan akan tiba cepat atau lambat.


"Roh kegelapan, apa kau punya cara untuk menghancurkannya?"


"...Aku bisa, tapi itu butuh waktu. Tentu saja, akan sangat mudah kalau Kamito yang melakukannya menggunakan wujud elemental waffe'ku."


"Oke, baik."


Claire mengangkat bahu dan berjalan mendekati reruntuhan.


"....Apa rencanamu sekarang?"


"Aku akan menunjukkan kekuatan sejati Scarlet padamu."


Claire menuangkan divine power kedalam Flametongue.


—Engkau sang valkyrie pemberani, orang yang memandu jiwa prajurit ke medan pertempuran terakhir.
—Engkau sang penghancur, penguasa kobaran api yang panas, pembaca kehancuran sejati.
"Tanggapilah panggilanku, dengan ini aku mengumumkan nama sejati engkau—Ortlinde!"


Lalu, Flametongie ditangan Claire berubah bentuk.


Bilah-bilah berwarna merah pekat, saling terhubung seperti rantai, terbakar api merah.


—Sebuah rantai pisau yang terbentuk dari api.


"Elemental waffe bentuk kedua—Flame Blossom!"


Disertai twintailnya yang berayun naik turun, Claire melakukan sebuah tarian pedang seperti seorang princess maiden.


Bilah tajam yang diimbuhi dengan kekuatan api, merobek penghalangnya, menghancurkan reruntuhannya dan membuatnya tak bisa dikenali lagi.


STnBD V18 BW09.jpg

Bagian 2[edit]

Tim Ellis dan Rinslet pergi ke barat laut, menuju ke katedral tua.


Itu adalah bangunan yang dulunya digunakan oleh Sylphid Knight sebagai markas mereka.


"Rinslet, beri aku perlindungan!"


"Hmph, lihatlah kemampuan menembakku yang spektakuler!"


Rinslet menarik busur elemental waffe miliknya dan menembakkan sebuah panah ke langit.


Seperti hujan lebat, anak panah yang tak terhitung jumlahnya melesat turun.


Panah-panah es itu menyebabkan ledakan beruntun saat panah-panah itu mendarat, mengunci kaki para roh militer.


Memanfaatkan celah saat gerakan mereka terhenti, Ellis terbang seraya diselimuti badai.


"Ohhhhhhhh!"


Elemental waffe bentuk kedua—Ray Hawk Ragna.


Angin puyuh yang dihasilkan dari ujung tombak itu menghempaskan para ksatria Kekaisaran yang berdiri di depan mereka dalam sekali serang.


Itu adalah sebuah tarian pedang yang menakjubkan.


"Bagus, Kapten."


"Kau juga, Rinslet—"


Tanpa berpaling ke belakang, Ellis menjawab Rinslet yang segera menyusul.


"Roh-roh iblis itu ternyata lebih merepotkan daripada Imperial Knight."


"Ya, mereka gak ada habisnya."


Reruntuhan yang menembakkan cahaya itu mulai memanggil roh iblis dalam jumlah besar.


"Ayo kita habisi mereka dalam sekali serbu, Rinslet."


"Dimengerti."


Rinslet memjawab dengan pemahaman yang tinggi.


Ellis mengayunkan tombaknya yang diselimuti angin puyuh, sedangkan Rinslet menembakkan anak panah yang seperti badai.


" "Ice Storm!" "


Ini adalah sebuah teknik kombinasi elemental waffe.


Badai pedang tajam tersebut menderu seraya menyerang para roh iblis.


Rinslet mengembalikan busurnya ke wujud Fenrir, lalu menunggangi punggungnya.


"Kapten, reruntuhannya!"


"Ya—!"


Ellis mengeluarkan serangan berkekuatan penuh pada pilar batu melingkar tersebut.


Akan tetapi, serangannya di mentahkan dengan mudah.


"...! Ada sebuah penghalang, dan penghalang itu cukup kokoh."


"Bala bantuan ksatria akan segera tiba kalau kita tidak bergegas."


"...!"


Ellis menuangkan divine power pada Ray Hawk Ragna dan terus menyerang.


"Rinslet—"


Lalu. Ada suara dari belakang.


"....?"


Rinslet berbalik dan melihat Fenrir menarik lengan bajunya dengan mulutnya.


"Ini aku, Rinslet—"


"Iseria-sama!?"


Rinslet membelalakkan matanya karena terkejut.


"Dengarkan aku. Sebuah insiden serius terjadi di Astral Zero."


"Uh, maaf, Iseria-sama, saat ini kami cukup sibuk—"


"Ini juga mengenai kamu."


Iseria yang merasuki Fenrir berbicara dengan serius.


"A-Apa maksud anda?"


"Di koordinatmu saat ini di alam manusia, sebuah gerbang raksasa telah terbuka. Pada tingkat ini, Astal Shift akan terjadi."


"...Astral Shift?"


Mendengar sebuah istilah yang asing, Rinslet cuma bisa mengernyit.


"Sederhananya, itu adalah sebuah kondisi ketika alam manusia dan Astral Zero tumpang tindih."


"Itu akan sangat berbahaya... Apa yang anda katakan?"


Rinslet berteriak.


Lalu, retakan muncul di udara. Lalu diikuti kemunculan roh iblis dalam jumlah yang besar.


"....! Kita terkepung!"


Ellis mengangkat tombaknya dan melihat sekeliling.


Kira-kira ada 30 roh iblis dan mereka jelas-jelas lebih besar daripada roh-roh iblis yang sebelumnya.


"Ini buruk—"


Keringat dingin mengucur di leher mereka.


Lalu, sebuah tebasan pedang melihat melalui kegelapan, menebas ke segala arah.


Roh-roh iblis berkumpul di dekat reruntuhan dilenyapkan sekaligus.


"...eh?"


"A-Apa yang terjadi!?"


Diatas reruntuhan itu mereka melihat—


Seorang cewek muda mungil mengenakan tudung abu-abu, memegang sebuah pedang panjang berwarna merah.


"—Siapa itu?"


Ellis bertanya. Lalu...


"Kalian semua harus pergi sekarang—"


Cewek itu melepas tudungnya dan mengungkapkan identitas sejatinya pada mereka.


" "A-Anda!?" "


Ellis dan Rinslet melebarkan matanya, tak bisa berkata apa-apa.

Bagian 3[edit]

"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga—Shadowmoon Waltz!


Tebasan pedang menimbulkan afterimage yang tak terhitung, seketika menebas para roh iblis yang berkumpul.


Memegang Demon Slayer yang bersinar dengan cahaya putih-perak, Kamito terus menerjang kedepan.


Gak seorangpun yang bisa menghentikan dia. Dalam bayangan terliar para Imperial Knight sekalipun tak pernah mereka membayangkan mereka akan berhadapan dengan Penari Pedang Terkuat.


(—hei, koordinasi diantara timnya betul-betul buruk, mengingat mereka adalah para ksatria militer.)


Sambil menerjang para Imperial Knight dan bergegas ke tempat reruntuhan, Kamito bergumam dalam benaknya.


(....apa yang dilakukan komandan mereka?)


Menerobos taman yang dipenuhi dengan roh, dia mendekati reruntuhan yang menghasilkan pilar cahaya itu.


"Itu dia. Kepung dia!"


Didalam kegelapan, seorang ksatria berteriak.


Tapi sudah terlambat. Kamito memadamkan sinar dari pedang suci miliknya lalu menyelinap, menggunakan punggung pedangnya yang bermata satu untuk mengalahkan para Imperial Knight satu per satu.


Menggunakan tarian pedang yang spektakuler untuk menarik perhatian terlebih dahulu lalu menggunakan teknik pembunuhan dari Sekolah Instruksional untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam sekejap. Gaya bertarungnya yang selalu berubah membuat para ksatria menari di telapak tangannya.


Reruntuhan kuno itu memancarkan cahaya putih pucat.


Itu seperti gak bisa dihancurkan dengan kekuatan biasa.


Akan tetapi—


"Est, ayo lakukan—"


"Ya, Kamito."


Kamito memegang Demon Slayer erat-erat dengan kedua tangannya.


Lalu—


"—Tak akan aku ijinkan kau menghancurkan reruntuhannya."


"...!?"


Seorang cewek berpakaian jubah putih muncul dari kegelapan.


Melayang di udara, cewek itu menatap Kamito sambil tersenyum.


"Millennia Sanctus...!"


Kamito menyiapkan pedang sucinya.


"Apa tujuanmu memanggil roh iblis?"


"Roh-roh iblis itu cuma afek samping saja."


Millennia menggeleng.


"Tujuan dia adalah menyebabkan Astral Shift."


"Apa maksudmu?"


...Astral Shift. Sebuah istilah yang asing.


"—Untuk membuat alam manusia dan Astral Zero bersatu."


"Apa....?"


"Ini merupakan sebuah eksperimen. Untuk mengembalikan dunia ini ke kondisi awalnya. Dan memulai ulang—"


—Untuk membangun kembali dunia dari nol.


Itulah yang dikatakan Lurie Lizaldia.


Membuat alam manusia dan Astral Zero menjadi satu untuk memenuhi tujuan itu?


"Jangan menggangu, Kazehaya Kamito—"


Millennia tertawa kecil dan melepas penutup mata yang ada di mata kirinya.

Bagian 4[edit]

Roh-roh iblis yang keluar dari retakan di langit semakin banyak.


Meskipun bombardir dari roh benteng tidak berhenti, terhadap jumlah sebanyak itu, penghalang barikade sudah diambang kehancuran.


"...!"


Meremas dada kirinya, Velsaria batuk darah.


Roh benteng mengkonsumsi divine power dalam jumlah yang sangat besar. Karena kalah pada segel persenjataan terkutuk yang ada di jantungnya, tubuhnya tak lagi bisa menahan operasi berkelanjutan untuk waktu yang lama.


"Velsaria-sama!"


"Panas sekali...!"


Para siswi senior dari Sylphid Knight membantu menopang Velsaria yang hampir jatuh.


Tubuhnya terasa panas seakan uap akan muncul setiap saat. Dalam keadaan seperti itu, Velsaria mempertahankan roh benteng menggunakan kehendaknya yang luar biasa.


"Velsaria-sama, tempat ini tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Mundurlah."


"...Aku gak boleh... mun...dur..."


Nafas Velsaria tersenggal-senggal saat mengibaskan tangan seorang ksatria.


Ada banyak siswi terluka dan tak bisa bergerak disini. Kalau dia menarik mundur garis pertahanan roh benteng, itu sama saja dengan mengorbankan mereka.


"Tapi...!"


"...! Tunggu, nggak mungkin, gimana bisa ini terjadi!?"


Di sisi lain barikade, suara Muir yang hampir seperti teriakan bisa terdengar.


Velsaria berpaling untuk melihat.


...Dan melihat sebuah pemandangan yang menyebabkan keputusasaan.


Keluar dari sebuah retakan yang sangat besar di langit—


Sesosok roh iblis yang sangat besar merangkak keluar.


Itu adalah sesosok roh berwujud rahang tanpa badan maupun bibir, hanya barisan gigi yang sangat banyak.


Retakannya terbuka, seolah tertawa—


Sesaat kemudian, roh itu menghancurkan roh militer milik Muir, Gargantua, menggunakan giginya.


"....! Nggak mungkin, itu adalah roh militer besar yang bisa membangun benteng!?"


Muir membelalakkan matanya.


Baris pertahanannya hancur seketika. Para roh iblis menyerbu penghalangnya.


"Unit barisan depan, mundur sambil menyerang balik. Mundur ke belakang Benteng!"


Velsaria segera memberi perintah.


Dia mengerahkan semua meriam untuk menembak secara bersamaan.


Meskipun sebagian besar musuh segera dimusnahkan, para roh iblis terus bermunculan seperti asap.


Roh benteng miliknya gak akan bertahan lama lagi.


Yang membuat masalahnya lebih buruk lagi adalah—


"N-Nggak mungkin...?"


Suara Muir terdengar kebingungan.


Sesosok roh iblis muncul dari retakan, diikuti oleh roh iblis dengan tipe yang sama.


Satu, dua, tiga, empat, lima....


Roh-roh iblis besar memporak porandakan barikade sambil melahap para roh iblis disekitar.


"...! Sialan—!"


Boom! Boom! Boom!


Meriam utama milik Valsaria menghancurkan salah satu roh iblis besar itu.


Akan tetapi, itu adalah batasnya.


"Uhuk... Huff..."


Sambil terbatuk keras, Velsaria tumbang ditempat.


Inti dari pertahanan, roh benteng, mulai runtuh, berubah menjadi partikel cahaya lalu menghilang.


"....Maaf, Ellis—"


Velsaria yang tumbang menghunus pedang di pinggangnya. Itu adalah sebuah pedang biasa bukannya sebuah elemental waffe. Akan tetapi, kalau seseorang menuangkan divine power pada bilahnya, pedang itu mampu membunuh roh iblis kecil—


"Velsaria-sama, mundurlah!"


"Lindungi kapten!"


Para siswi senior di Sylphid Knight membentuk formasi melingkar, melangkah maju untuk melindungi dia.


"Ka...lian..."


"Harap mundurlah. Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk mengulur waktu."


"...Tubuhku ini seharusnya sudah mati sejak lama. Aku akan bertarung disini sampai titik darah penghabisan."


"Velsaria-sama..."


Seolah mengejek mereka, para roh iblis raksasa membuat suara riuh saat mendekat—


Lalu, para roh iblis raksasa yang mendekat hancur.


"...Ap...a...!?"


Sebuah pedang baja besar dengan kilauan metalik telah memotong kepala roh iblis itu dalam sekali tebas.


Desain kepala naga terukir pada gagang pedang besar itu.


"—Kayaknya aku tepat waktu."


Seorang cewek turun ke tanah, mencabut pedang besar yang menancap di tanah dengan mudah.


"Kau...."


"Leonora Lancaster, Kapten dari Knight of Dragon Emperor."


Cewek berseragam militer itu memperkenalkan dirinya sendiri.


"Karena perintah dari Raja Naga, aku datang untuk memberi bantuan."


Dia dengan santai mengayunkan pedang besar yang ada di tangannya dan menghabisi roh iblis yang lain.


Lalu, para penunggang naga yang menunggangi naga terbang mendarat satu per satu.


Mengangkat Dragon Slayer dengan satu tangan, Leonora memutar bilahnya.


"Para naga dari Dracunia memperoleh kekuatan saat berada diambang kematian—"


Tak mampu menyembunyikan naluri seekor naga, matanya dipenuhi dengan kegembiraan akan pertempuran.


"—Saksikan kekuatan dari seekor naga yang telah bangun."


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Chapter 11 - Malaikat dari Dunia Lain[edit]

Bagian 1[edit]

"...Ah, ooh, ahhhhh... Ahhhhhhhhh!"


Kegelapan yang keluar dari mata kiri Millennia Sanctus menyebar di tanah.


Kegelapan yang pekat ini mampu merusak para Elemental Lord dan membuat mereka gila—


Millennia menggeliat kesaktian, mata kirinya berlinang air mata.


Kegelapan yang keluar mengotori jubah putih polos miliknya, perlahan melahap dia.


"....! Apa yang kau lakukan—"


Dihadapkan pada cewek yang dilahap oleh kegelapan yang dia hasilkan sendiri, Kamito gak tau harus berbuat apa.


...Apa dia gak bisa mengendalikan Kegelapan Dunia Lain itu?


Tidak. Itu gak mungkin—


Kardinal ini telah mengendalikan Kegelapan Dunia Lain berkali-kali sebelumnya.


"Kamito, hati-hati."


Est yang dipegang di tangan kanannya berbicara.


"—Ada sesuatu didalamnya."


"....Apa!?"


"Fufufu, jadi kau merasakannya, saudariku—"


Dengan setengah tubuhnya telah dilahap oleh Kegelapan Dunia Lain, Millennia mencibir.


"Kegelapan Dunia Lain yang ada didalam diriku adalah kunci untuk membuka sebuah gerbang—"


"Gerbang kau bilang?"


"Untuk memanggil.... Dunia Lain...."


Kegelapan Dunia Lain yang bergejolak sepenuhnya melahap Kardinal Millennia.


Berubah menjadi sebuah bola hitam yang melayang di udara, bola itu mulai bergetar dan mengeluarkan suara yang memekakan telinga.


"Apa yang terjadi...?"


"Kamito, cepat hancurkan bola itu—"


"...! Dimengerti!"


Mendengar suara desakan Est, Kamito segera beraksi.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketujuh—Biting Dragon!"


Dia melepaskan semua divine power yang dikumpulkan pada kakinya sekaligus dan melesat ke udara untuk mengeluarkan Absolute Blade Art anti-serangan udara.


Divine power yang bersinar meninggalkan jejak cahaya di malam hari, melesat di udara layaknya seekor naga panjang.


Akan tetapi—


Wwwwwn!


Sebuah penghalang tak kasat mata muncul di sekitar bola itu, memantulkan pedang putih perak tersebut.


(....Apa!?)


Hampir seperti terpental, Kamito terhempas menghantam tanah.


Kamito mendarat.


(...Apaan barusan itu!?)


Apa itu sebuah dinding yang dihasilkan oleh penghalang, atau sihir roh—


"....! Gak bisa kupercaya itu menangkis Demon Slayer..."


Kamito menengadah dan menatap langit.


Lalu, sebuah retakan tiba-tiba muncul di tengah bola hitam yang menelan Millennia—


Sesaat setelahnya, bola itu terpecah dari dalam.


Kegelapan Dunia Lain menerembes layaknya darah lalu jatuh, membuat reruntuhannya menjadi berwarna hitam.


Lalu, dua lengan bersinar muncul dari pusat retakan tersebut membelah bola itu.


"...!?"


Kamito langsung merasa merinding.


Dia merasakannya secara naluriah.


Ini adalah sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini—


Bola hitam tersebut hancur dan kemudian itu muncul di dunia ini.


Sosok dari seorang prajurit, tiga kali lebih tinggi dari manusia, memiliki sayap emas yang bersinar.


Wajah cantik yang terbentuk dari batu putih murni yang tampak maskulin serta feminim.


Matanya yang seperti permata bersinar terang menatap dingin pada tanah.


(....Roh?)


Bergumam dalam benaknya, Kamito menganggapnya bukan roh dan menggeleng.


(...Bukan. Aku pernah melihat sesuatu yang mirip dengan itu sebelumnya—)


Di Forest of Ice Blossoms di Laurenfrost, bergabung dengan roh dominasi es Zirnitra.


Mahluk ini merasuki adiknya Rinslet, Judia Laurenfrost—


Didalam Kegelapan Dunia Lain yang muncul di kuil Elemental Lord, Kamito telah melihatnya.


"....Malaikat."


Keringat dingin perlahan mengucur di tangannya.


Demon Slayer di tangannya sepertinya juga sedikit bergetar.


Millennia Sanctus mengatakan bahwa dia merupakan gerbang untuk memanggilnya.


Untuk memanggil pengujung ini dari Dunia Lain, bukan dari alam manusia maupun Astral Zero—


Malaikat itu perlahan-lahan turun ke tanah dan memunculkan sebuah pedang bermata satu di tangannya.


Panjangnya pedang itu dua kali lipat dari Demon Slayer.


Dihadapkan dengan itu, Kamito menyiapkan Demon Slayer dan menuangkan divine power kedalam pedangnya.


"Kamito—"


Lalu, pedang yang menyala putih perak itu berbicara.


"Ya, aku tau. Itu—"


"Aku diciptakan untuk tujuan menghancurkan mereka."


"Huh?"


Mendengar apa yang dikatakan Est, Kamito balik bertanya.


"Est, kamu tau mahluk itu?"


"Ya. Ingatan lama yang tertidur dalam diriku memberitahuku. Aku— Bukan, tujuan asli dari setiap roh senjata diciptakan di dunia ini adalah untuk menghancurkan para malaikat seperti itu."


Dipegang di tangan Kamito, Est memancarkan permusuhan yang sangat besar dari bilahnya.


Itu seperti seekor binatang menghadapi musuh alaminya dengan dendam yang tak bisa dimaafkan—


"Roh-roh senjata huh—"


Istilah itu telah diucapkan oleh Est sendiri berkali-kali sebelumnya.


Mereka merupakan senjata-senjata kuat yang digunakan untuk memusnahkan para roh saat Perang Roh. Seperti dia, Ortlinde Scarlet Valkyrie juga merupakan seorang roh senjata.


Kalau tujuan aslinya adalah untuk melawan para malaikat dari Dunia Lain—


(...Terus siapa yang menciptakan mereka?)


Seolah untuk mengganggu pemikiran Kamito—


Kiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin—


Malaikat itu mengeluarkan suara bernada tinggi yang aneh.


"—Kamito, dia datang."


Malaikat itu bertindak.


Malaikat itu melesat layaknya terbang. Sesaat setelahnya, malaikat itu tiba-tiba menghilang dari pandangan.


".....!"


Gerakan yang cepat, bergerak dengan kecepatan suara—


Sebagai tanggapan, Kamito menggunakan Demon Slayer untuk memblokir.


Mengerahkan divine power seluruh tubuhnya, dia mengerahkan segalanya untuk menahan dampak yang mampu menghempaskan tanah.


"Kamito, aku butuh divine power lebih banyak lagi—Atau kita akan kalah."


".....! Aku sudah habis-habisan ini!"


Meskipun dia telah mengerahkan divine power dalam jumlah yang sangat besar dalam satu tarikan nafas, Kamito masih terdorong mundur.


Dengan kakinya yang terseret di tanah, Kamito terdorong sampai ke sebuah bangunan di tempat latihan.


"Uhuk... Huff—!"


Nafasnya terhenti sesaat, Kamito memuntahkan darah.


Tanpa Perlindungan Baja milik Est, dia mungkin sudah hancur berkeping-keping.


Yang ada didepan matanya adalah wajah cantik menakutkan yang terukir dari batu putih polos.


Tanpa ekspresi apapun, malaikat itu terus menggumamkan nada aneh sepanjang waktu.


(.....! Kekuatan yang amat sangat besar... Ah....!)


Dibandingkan dengan penampilannya yang tampak anggun, kekuatannya jauh melampaui roh-roh militer besar sekalipun.


"Koneksi domain ingatan tempur terhubung. Analisa selesai—Kamito, ini adalah Dunamis."


"Apa? Itu adalah nama mahluk ini?"


"Bukan, sebuah klasifikasi untuk membedakan tipe. Tipe yang muncul sebelumya adalah tipe pengintai, tapi yang ini adalah—"


Lalu, bahu malaikat itu terbuka dan mengeluarkan banyak lengan yang memegang pedang cahaya.


"Tipe tempur murni—"


"...! Ohhhhhhhh!"


Kamito berteriak. Menghentak dinding tempat latihan, dia membuat divine power yang terkumpul meledak.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketujuh—Biting Dragon Revised!"


Kekuatan dari Absolute Blade Art anti-udara ini seharusnya diarahkan secara vertikal, tapi dia melepaskannya kerah depan.


Boom—


Dengan suara yang seperti peluru meriam, dinding itu langsung hancur. Divine power yang dikeluarkan menghasilkan lubang besar di tanah.


Disaat yang singkat itu, Kamito menepis pedang yang mendekat dan segera berbalik. Merendahkan kuda-kudanya, dia menyerbu kearah dada musuh.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—"


Lalu, kedua sayap malaikat itu beresonansi untuk menghasilkan suara aneh.


Lalu, sesuatu yang menyerupai rune kecil yang bersinar terus bermunculan di sekitar malaikat itu.


(....Sihir pertahanan? Itu gak ada gunanya!)'


Tak terpengaruh, Kamito mengeluarkan teknik pedang miliknya.


"—Purple Lightning, Flare!"


Pedang yang melesat dengan kecepatan dewa pada jarak mati itu mengeluarkan petir saat mengenai perut malaikat itu.


Akan tetapi, ujung pedang suci tersebut dimana divine power terkonsentrasi, diblokir oleh penghalang rune yang bersinar.


(....Apa!?)


Rune yang berputar cepat disekitar malaikat itu agak mirip dengan High Ancient.


(....! Apa, jadi itu bukan sihir roh!?)


"Anti-medan—penghalang pertahanan ini telah meniadakan atribut bajaku pada tingkat konseptual."


"Apaan itu!?"


"Bukan sihir roh. Penulisan ulang peraturan. Sebuah fenomena yang bukan berasal dari dunia ini—"


Sebuah lingkaran cahayahalo muncul di kepala malaikat itu.


Riiiiiiiiiiiiiiii—


Mengeluarkan lolongan yang menyerupai gelombang supersonik, malaikat itu menghempaskan Kamito.


"Guh—"


Kamito berguling sambil memperbaiki keseimbangannya lalu segera menyiapkan pedangnya.


"....Apa kamu mengatakan atribut bajamu di tiadakan? Apa maksudmu?"


"Menghubungkan pada domain ingatan tempur—memulai analisa."


Saat Est mengatakan itu, kata-kata High Ancient muncul pada bilahnya dan berkedip-kedip.


"Est? Apa yang kamu lakukan—"


"Karena kontak dengan musuh alami, sebagian dari domain ingatan roh senjata telah dilepaskan. Kamito, aku akan menganalisa penghalang itu. Sampai aku selesai, ulur waktu."


Dia mendengar suara Est yang tenang didalam pikirannya.


"Kalau aku mengulur waktu, kamu akan bisa menghadapi penghalang sialan itu?"


"Ya, Kamito. Demi nama Terminus Est—"


Demon Slayer yang ada ditangan memancarkan cahaya putih perak.


Didepan musuh, mode tempur Est yang aslinya nampaknya telah bangkit.


"....Aku mengerti. Aku mengandalkanmu, Est."


Sambil menjaga jarak. Kamito mengulur waktu dengan hati-hati.


Meskipun pergerakan berkecepatan suara itu merupakan sebuah ancaman, tidaklah mustahil untuk menghindarinya asalkan dia melihat waktu aktivasi dari gerakan itu.


(—Ren Ashbell gak akan kalah dalam kontes kecepatan.)


Malaikat itu merentangkan sayap cahayanya dan mengarahkan satu tangan ke langit.


Lalu, rune cahaya itu berubah menjadi lingkaran yang sangat banyak, menangkap para roh iblis yang melayang di udara.


(...Apa lagi yang akan dia perbuat kali ini?)


Dengan Demon Slayer dalam posisi siaga, Kamito terus waspada.


Seolah memberi perintah, malaikat itu mengayunkan sebuah pedang besar kebawah.


Lalu, seekor roh iblis meraung dan menyerbu kearah Kamito.


Roh iblis itu membuka rahangnya, menunjukkan giginya yang mengerikan dan terbang kearah dia layaknya peluru meriam.


(....Jangan bilang malaikat itu bisa mengendalikan para roh iblis!?)


Itu berbeda dari bagaimana para elementalis menggunakan para roh.


Itu hampir seperti eksistensi roh itu sendiri telah di tulis ulang—


Kamito langsung bereaksi dan mengayunkan pedangnya—


"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga—"


"Kamito, jangan!"


Suara Est bergema. Diwaktu yang tepat, Kamito memilih menghindar.


Lalu, roh iblis itu meledak.


"...!"


Ledakan ganas terus berdengung di telinganya. Kamito berguling di tanah, menghindari gelombang panasnya.


Kalau dia menyerang roh iblis itu bukannya menghindar, dia akan diledakkan hingga berkeping-keping.


"Para roh bisa menjadi pasukan bom bunuh diri?"


"Ya. Malaikat itu menulis ulang sifat roh iblis itu untuk melancarkan serangan bunuh diri."


"Mahluk itu bahkan bisa melakukan hal itiu?"


Sambil menghindari para roh iblis yang terus terbang mendekat untuk menyerang, Kamito bergumam.


Malaikat itu mengangkat tangannya lagi, mengendalikan para roh iblis yang terus keluar melalui retakan di langit.


"Sialan—"


Gelombang panas dari ledakan-ledakan memanggang kulit Kamito.


Itu seperti menggunakan divine power yang sangat besar yang dimiliki oleh para roh, mengubahnya menjadi energi untuk ledakan.


Sederhananya, ini seperti penciptaan bom roh kecil dengan pelacak otomatis yang gak ada habisnya.


Menggunakan sebuah elemental waffe yang terspesialisasi pertarungan jarak dekat untuk menghadapi mereka merupakan kompatibilitas yang sangat buruk.


(....Aku gak bisa memanggil Restia kembali, kan?)


Kalau dia memanggil Restia sekarang, Claire akan bertarung sendirian.


Menargetkan Kamito yang menghindari bombardir, malaikat itu menembakkan proyektil roh iblis baru.


(....Amunisi tanpa batas!?)


Dia menengadah menatap langit yang memerah dan menggerutu dalam benaknya. Lalu....


Tiba-tiba Kamito menyadari perubahan pada pemandangan sekitar.


"....dua bulan?"


Berada di langit diatas Akademi merupakan bulannya Astral Zero.

Bagian 2[edit]

"...A-Apa yang terjadi!?"


Didepan reruntuhan yang hancur, Claire tercengang melihat sekeliling.


Seperti kabut darah, racun dari para roh iblis menyebar ke sekitar, menurunkan daya pandang.


...Lingkungan yang akrab dari Akademi pada dasarnya sudah menjadi pemandangan yang berbeda.


"—Astral Shift telah terjadi."


Restia berbicara pelan dan tenang.


"...Astral Shift?"


Bahkan seorang siswi berprestasi seperti Claire tak pernah mendengar istilah itu.


"Itu adalah sebuah fenomena ketika alam manusia dan Astral Zero tumpang tindih. Meskipun terkadang terjadi didalam Hutan Roh, aku gak pernah melihat yang berskala sebesar ini."


"A-Apa itu..."


Claire berbicara dengan penampilan gelisah.


"Bukankah inti dari penciptaan gerbang adalah untuk memanggil roh iblis?"


Ketika Claire dalam keadaan kebingungan, roh iblis dalam jumlah banyak masih terus keluar. Retakan yang membelah udara menjadi semakin besar. Para roh iblis besar mulai bermunculan.


"Jelas-jelas aku sudah menghancurkan reruntuhan yang ada disini—"


"Sepertinya Astral Shift hanya terbatas pada lingkungan Akademi. Misalkan reruntuhan ini belum dihancurkan, mungkin seluruh kota Akademi akan bersatu dengan alam iblis."


"Terus itu artinya bahwa ada reruntuhan yang belum dihancurkan."


"Ya—"


Mata Restia yang berwarna senja menatap ke kejauhan.


Claire menyadari tanda-tanda kekhawatiran dalam mata itu.


(Roh kegelapan ini kuatir pada Kamito.)


Dia pasti ingin segera ke sisi Kamito.


Claire menggenggam Flametongue erat-erat.


"Pergilah, roh kegelapan—"


"Huh?"


"Biar aku dan Scarlet yang menangani tempat ini. Kau kembalilah ke sisi Kamito—"


"Claire Rouge..."


Restia berpikir sejenak—


"Tak bisa diterima. Aku berjanji pada Kamito untuk melindungimu."


Dia menggeleng.


"Setelah nama sejati Scarlet dilepaskan, divine powermu pasti terkuras."


"Uh..."


Claire menggigit bibirnya.


Dia benar, Claire memang telah mengerahkan cukup banyak energi.


Tapi meski begitu—


"Aku bisa melindungi diriku sendiri. Gimanapun juga, aku adalah rekan tim Kamito."


"......"


Mendengar kata-kata Claire—


Restia mengangkat bahu dan mendesah ringan.


"...Baiklah. Claire Rouge, aku telah mengubah sedikit pendapatku tentangmu."


Berkata demikian, dia mencabut beberapa bulu dari sayapnya dan menyerahkannya pada Claire.


".....Apa ini?"


"Jimat Kegelapan. Itu akan melindungimu."


Bulu-bulu dari Restia si roh kegelapan biasa dikenal sebagai berkah kegelapanBlessing of Darkness.


Itu merupakan jimat tingkat tinggi yang mungkin tak akan bisa dibeli dari toko manapun gak peduli seberapa besar seseorang menginginkannya. Dimasa lalu, bahkan pernah ada keluarga kerajaan negara besar memulai perang demi bulu itu. Itu memang artefak legendaris.


Akan tetapi, Claire gak tau seberapa berharganya pemberian itu.


"...m-makasih."


Dia menerimanya.


"—Kupercayakan Kamito padamu."


"Tentu—"


Restia mengangguk lalu merentangkan kedua sayap hitamnya dan terbang ke langit malam.

Bagian 3[edit]

Dua bulan, merah dan putih, ada di langit diatas Akademi.


Menatap bulan Astral Zero, Kamito terpaku ditempat.


"Apa yang terjadi, Est?"


Meskipun dia menanyai partnernya, Est tidak menjawab.


Dia sepenuhnya memfokuskan semua perhatiannya pada menganalisa malaikat Dunamis itu.


(—Millennia mengatakan itu untuk membuat alam manusia dan Astral Zero bersatu.)


Astral Shift mengacu pada fenomena seperti itu?


(Apa tujuan melakukan hal itu...?)


Tunggu sebentar, musuh didepan dia jauh lebih penting saat ini.


Dunamis terus menulis ulang para roh iblis yang keluar dari gerbang menjadi roh-roh peledak.


Mungkin karena efek Astral Shift, sekeliling perlahan-lahan rusak karena alam iblis—


Para roh iblis yang bertindak sebagai bahan mentah menjadi jauh lebih besar daripada yang sebelumnya.


...Membayangkan daya ledaknya saja sudah membuat Kamito ngeri.


Sayap malaikat itu bersinar terang.


—Disaat yang sama, Dunamis mengayunkan pedang besarnya layaknya seorang algojo.


Tujuh roh peledak yang terbentuk dari roh-roh iblis raksasa segera melesat kearah Kamito.


Karena daya ledaknya telah meningkat, Kamito menyimpulkan bahwa menghindar dengan jarak yang tipis seperti sebelumnya gak akan berhasil.


Dia gak punya metode unyuk menangani bom-bom bunuh diri yang datang dari tujuh arah yang berbeda disaat yang bersamaan.


(Apa yang bisa kulakukan? Haruskah aku menggunakan sihir baja untuk menciptakan belati dari divine power dan menikam ketujuh roh itu bersamaan?)


Percuma saja. Para roh iblis itu semuanya tingkat menengah atau diatasnya.


Menggunakan sihir roh untuk menciptakan senjata sebisanya gak akan cukup untuk menimbulkan kerusakan, mungkin.


(Aku harus bertaruh dan menggunakan kecepatan dewa dari Purple Lightning untuk kabur dari ledakan—)


Kamito mengkonsentrasikan divine power dalam jumlah besar pada kakinya.


Kegagalan sama artinya dengan diledakkan sampai berkeping-keping.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—"


"O petir hitam yang mampu membakar jiwa-jiwa menjadi kehampaan—Hell Blast!"


—Sesaat sebelum Kamito melepaskan divine power miliknya...


Petir hitam legam yang ganas menembus ketujuh roh iblis raksasa itu.


BOOOOOOOOOOM!


Terjadi reaksi berantai disertai ledakan yang memekakan telinga. Gelombang panas dari kobaran api membuat kulit Kamito terasa sakit.


"....!?"


Seraya melindungi matanya dari percikan api yang berhamburan, Kamito menengadah.


Dan melihat ditengah kobaran api yang tampak menerangi langit malam—


Mengepakkan sayap hitam legam, roh kegelapan turun perlahan-lahan.


"Restia!?"


"Fufu, sepertinya kami mengalami pertarungan yang sengit, Kamito—"


Segel roh di tangan kirinya bersinar terang.


Mendarat di tanah, Restia mengangkat tangannya dan menghempaskan kobaran api tersebut.


"Restia, kenapa—"


"Reruntuhan di sebelah sana sudah dihancurkan oleh Claire Rouge."


Restia menjawab Kamito yang terkejut yang bertanya mengenai apa yang terjadi.


"Claire baik-baik saja, kan?"


"Aku sudah memberi dia bulu-bulu yang bertindak sebagai jimat. Dia harusnya bisa bertahan sampai dia berkumpul dengan rekan-rekannya."


Restia tertawa pelan.


"Kau kembalilah ke sisi Kamito—Itulah yang dia katakan. Anak yang sungguh menggemaskan."


"Sungguh—"


Perasaan Claire menghangatkan hati Kamito.


"Kalau kamu kuatir pada nona kucing neraka itu, cepat kalahkan mahluk itu."


"Ya, kamu benar—"


Kamito mengangguk dan segera menggenggam tangan Restia.


"Datanglah, penguasa malam. O dewi kegelapan yang tak kenal ampun—jadilah engkau pedang kebijaksanaan, penembus kebenaran—!"


Dia merapal kalimat pelepasan elemental waffe.


—Demon Slayer dan Vorpal Sword.


Memegang pedang suci dan iblis terkuat, Kamito menghadapi malaikat Dunamis lagi.


"—Maaf membuatmu menunggu. Aku Ren Ashbell, Penari Pedang Terkuat."


Sayap cahaya milik malaikat itu berkedip. Wajah cantik layaknya ukiran itu tetap tak menunjukkan ekspresi—


Tapi sepertinya mahluk itu tampak kebingungan.


"Kamito, analisa konsep penghalang itu telah selesai—"


Kata-kata High Ancient muncul pada bilah Est.


"—Gak ada yang gak bisa dipotong baja terkuat."


"Bagus, Est."


"Ya, Kamito."


Gambaran Est membusungkan dadanya penuh kebanggaan muncul dalam pikiran Kamito.


"Kalian berdua, saatnya beraksi—"


"Ya." "Aku adalah pedangmu, keinginanmu adalah perintah bagiku—"


Kedua roh pedang itu menjawab bersamaan.


Meskipun sering bertengkar, mereka berdua sangat sinkron saat beraksi.


Dunamis mengangkat pedang besarnya. Mengeluarkan suara aneh, dia menciptakan bom dari para roh iblis.


"—Berhentilah menganggap kau akan menang dengan teknik gerakan yang sama!"


Kamito menarik nafas panjang dan menghentak tanah keras-keras.


Sambil berteriak, dia menargetkan para roh iblis yang melesat ke arahnya.


"O kegelapan, tembuslah—Vorpal Blast!"


Menggunakan teknik original Ren Ashbell, dia memusnahkan mereka dalam sekali serang.


Diantara kobaran api dan gelombang panas, Kamito menyelimuti dirinya sendiri dengan divine power dan menyerbu.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning Revised!"


Menarik Demon Slayer, dia melepaskan divine power.


Seketika, Kamito menutup jarak dengan targetnya, menusukkan pedang putih perak pada armor yang menyerupai pelindung dada.


Rune cahaya muncul didepan ujung pedang untuk membentuk sebuah penghalang, namun—


Disaat yang bersamaan, rune cahaya yang serupa muncul pada Demon Slayer dan menetralisir penghalang yang terbentuk.


Bilah putih perak menusuk pelindung dada tersebut, menghancurkan tubuh yang seperti marmer itu.


(Serangannya berhasil!)


Kamito bersorak dalam pikirannya. Lalu...


Menargetkan tubuh besar malaikat yang terhuyung-huyung, dia mengeluarkan serangkaian teknik pedang secara beruntun—


"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga—Shadowmoon Waltz!"
"Absolute Blade Arts, Bentuk Keenam—Crushing Fang!"
"Absolute Blade Arts, Bentuk Keempat—Blaze Slash!"
"Absolute Blade Arts, Bentuk Pengantar—True Bursting Cherry Blossom Flurry!"
"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga, Variasi Alfa—Shadowmoon Waltz, Putaran Ganda!"
"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketujuh—Biting Dragon Double Blossom!"


Setiap serangan dari Absolute Blade Art itu, yang mana masing-masingnya mampu melakukan one-hit kill, berhasil didaratkan—


Armor yang menutupi malaikat itu mulai retak dan hancur.


Lalu—


"Absolute Blade Arts, Bentuk Kedua—Obverse Meteor, Peerless Zetsura!"


Sebuah teknik pedang ganda menggunakan seluruh tubuhnya, dia menghempaskan tubuh besar Dunamis.


Crash!


Menghantam reruntuhan, malaikat itu kehilangan lengannya yang terpotong secara tragis.


<—La—La...>


Malaikat itu sepertinya tak mampu memahami fenomena didepan matanya.


Tanpa ekspresi, malaikat itu menatap bagian tubuhnya yang rusak.


"....Apalagi sekarang? Baru pertama kali terluka?"


Kamito menyeringai jahat.


Dia bisa merasakan kekuatan ganas yang bersemayam didalam dirinya perlahan-lahan terbangun.


Aliran divine power yang menyelimuti seluruh tubuhnya berubah menjadi warna hitam.


Setelah dia kehabisan divine power miliknya sendiri, kekuatan Ren Ashdoll mulai keluar.


Lalu, tubuh besar malaikat itu perlahan-lahan berdiri.


Dia mengarahkan pedangnya ke langit, menulis ulang para roh iblis yang beterbangan.


".....Ha, apa kau gak ingat sama sekali—"


Kamito menggunakan Vorpal Sword untuk memanggil petir iblis hitam legam. Akan tetapi—


Bukannya menyerang Kamito, para roh iblis berkumpul disekitar malaikat yang terluka.


"Apa....?"


Saat para roh iblis yang berbentuk aneh menyentuh armor malaikat itu—


Mereka diserap layaknya es yang mencair.


Tubuh malaikat yang terluka perlahan mulai beregenerasi—atau lebih tepatnya, membentuk ulang.


"....Apa-apaan itu, apa kau bercanda?"


Kamito mengerang.


"—Dia menulis ulang struktur roh iblis untuk menyatu dengan dirinya sendiri."


"Darimana dia mendapatkan begitu banyak teknik curang itu..."


Mendengar suara Est dalam pikirannya, Kamito cuma bisa berseru putus asa.


Seluruh tubuh malaikat itu tertutup oleh armor yang menyerupai sebuah cangkang keras.


(...Kalau diingat-ingat lagi, malaikat di Laurenfrost juga bergabung dengan para roh dan para naga es.)


Lalu, Kamito teringat kejadian itu.


Itu seperti mereka memiliki otoritas untuk menulis ulang eksistensi dunia ini.


Pada dasarnya begitu....


"....Sialan. Sepertinya cuma buang-buang upaya saja kalau aku gak menghabisi dia dalam satu serangan."


Kamito mengangkat bahu dan tertawa.


....Dihadapkan dengan mahluk tak masuk akal seperti itu, dia cuma bisa tertawa.


(—Bursting Blossom Spiral Blade Dance, kurasa?)


Kamito mengatur nafasnya sambil memasang kuda-kuda dengan dua pedangnya.


Absolute Blade Art paling mematikan, dimaksudkan untuk digunakan terhadap roh-roh besar.


Kalau teknik ini gagal—


"Maka tamatlah kita—"


Kamito bergumam sinis. Lalu—


"—Ketegasan merupakan hal yang bagus, tapi ada garis yang tipis yang memisahkan ketegasan itu dari kecerobohan, bocah."


Sebuah suara berbicara pada dia disebrang lautan api.


"...!?"


Kamito berpaling ke belakang, dan melihat seorang cewek mungil mengenakan tudung abu-abu mendekati dia.


Membawa sebilah pedang iblis mengerikan yang berwarna merah darah, cewek itu berjalan kearah dia.


Dibawah tudung itu, dia bisa melihat mata abu-abu, bersinar samar dalam kegelapan.


"...! Kau—"


Tak bisa berkata apa-apa, Kamito membelalakkan matanya.


Cewek itu melepas tudungnya, rambutnya yang berwarna abu-abu seketika berkibar diterpa angin.


"Greyworth!"


Teriakan Kamito menggema di sekitar.


Ya, cewek itu tak lain tak bukan adalah—


Greyworth yang menghilang setelah jatuh ke jurang di Dracunia.


Setelah mendapatkan kembali kemudaannya serta kemampuan puncaknya, dia menjadi seorang pembunuh untuk Kerajaan Suci—


"Greyworth, sudah kuduga, kau masih hidup!"


"Pastilah. Gimana bisa Penyihir mati?"


Berkata demikian, Greyworth muda menyeringai.


Melihat ekspresi nostalgia itu, Kamito mengerti.


"....Kau mendapatkan kembali ingatanmu?"


"—Ya. Aku ingat semuanya. Semuanya."


Greyworth mengangguk dan menatap malaikat yang terus menyerap para roh iblis


"24 tahun lalu, aku melihatnya juga."


"24 tahun lalu—"


Itu adalah tahun ketika Greyworth Ciel Mais menenangkan Blade Dance.


"Akan tetapi, kita simpan saja ceritanya untuk nanti. Kita harus mengakhiri ini sebelum mahluk itu selesai merekonstruksi dirinya sendiri."


"Ya, kau benar—"


Armor malaikat Dunamis membesar. Beratnya sudah cukup untuk menghancurkan tanah dibawah kaki.


Selain para roh iblis, malaikat itu bahkan mulai menyerap reruntuhan yang mempertahankan gerbangnya.


Greyworth mengacungkan pedang iblis berwarna merah darah—elemental waffe Vlad Dracul.


Begitu juga dengan Kamito, dia menyiapkan kedua pedangnya dan berdiri di samping Greyworth.


Ren Ashbell, sang Penari Pedang Terkuat, dan sang Penyihir Senja—


STnBD V18 BW10.jpg


"—Bisakah kau mengimbangiku, bocah?"


"Aku mau menanyakan hal yang sama padamu. Ngomong-ngomong, bukankah aku menang dalam tarian pedang di Dracunia?"


"Aku kehilangan ingatanku saat itu. Jadi gak dihitung."


"....Kau pakai alasan kayak gitu? Terserahlah. Aku akan menang gak peduli berapa kali kita mencobanya lagi."


"Oh? Kayaknya mulutmu sudah semakin pandai bersilat lidah, bocah yang pernah bekerja sebagai seorang maid di kediamanku."


"....Ampun deh, hilang ingatan aja lagi dah."


Mereka berdua adu mulut seraya memperkuat divine power mereka.


"—Selesaikan pertarungan ini dalam satu serangan. Akan buruk kalau kekuatan Ren Ashdoll terus menggerogoti aku."


"Niatku juga begitu—"


Mereka berdua menghentak tanah disaat yang bersamaan.


Seperti kilatan dari petir ungu, mereka langsung melesat ke arah malaikat Dunamis besar untuk melakukan pertarungan jarak dekat.


Malaikat itu mengangkat keempat tangannya dan memasuki posisi bertahan.


"—Bisakah kau menerobosnya, Greyworth?"


"Hmph, kau pikir kau itu bicara dengan siapa?"


Malaikat itu meraung. Terhadap serangan tebasan yang seperti badai—


Dengan gerakan menghindar yang mengalir, Greyworth melakukan serangan kuat yang diarahkan pada sendi.


"Absolute Blade Dance, Bentuk Alternatif—Ice Storm Rakshasa!"


Sebuah es menjalar dikeluarkan dari bilah pedang iblis untuk menjerat seluruh tubuh malaikat itu.


Ini adalah Absolute Blade Art unik dari Penyihir, dengan sebuah kombinasi dari sihir roh dan teknik pedang.


Pergerakan malaikat itu terhenti.


—Akan tetapi, rune cahaya segera muncul, cuma butuh waktu sekejap untuk menghapus es sihir yang menyaingi Ice Nein milik Rinslet.


"Oh?"


"Disintegrasi instan dari konstitusional elemen. Semua efek magis akan di netralisir."


Est menjelaskan dalam pikiran Kamito.


"Cocok denganku. Coba kita lihat berapa kali kau bisa menetralisir!"


Terselimuti petir iblis, Vorpal Sword menghantam kaki malaikat itu. Pedang iblis milik Greyworth menepis pedang besar yang mengarah pada Kamito, lalu berputar untuk memotong lengan yang memegang pedang besar itu.


Tebasan demi tebasan pedang menghiasi malam hari—


Teknik-teknik pedang-pedang ini hampir seperti sebuah tarian pedang yang dipersembahkan pada para roh.


(Jadi ini sang Penyihir Senja di masa keemasannya, huh—)


Kamito mendegus dalam benaknya. Dia beruntung bisa menang saat duel di Dracunia.


"Absolute Blade Dance, Flash Form—Death Butterfly Flash Dance!"


Menghindari gempuran serangan-serangan ganas, Greyworth melakukan serangan balik. Meskipun malaikat itu berusaha mengerahkan sebuah rune penghalang, Est menghapusnya.


Dua lengan telah terpotong. Celah muncul pada pertahanan musuh. Di waktu yang sangat singkat itu...


Gak dibutuhkan yang namanya aba-aba.


Seolah mereka sudah membicarakannya sebelumnya....


Mereka berdua mengeluarkan Absolute Blade Art ultimate disaat yang bersamaan.


" "Absolute Blade Arts, Bentuk Penghancur—Bursting Blossom Spiral Blade Dance, Hundred Combination Ashura!" "


Tebasan pedang yang tak terhitung jumlahnya saling bersilangan silih berganti, menghasilkan cahaya yang menerangi area sekitar.


Itu adalah teknik pedang ultimate yang aslinya cuma ada dalam teori saja.


Dengan Raja Iblis dan Penyihir mengeluarkan Double Absolute Blade Art terkuat bersama—


—Malaikat Dunamis musnah.


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya

Epilog[edit]

Bagian 1[edit]

Claire berlari melintasi tempat latihan yang dipenuhi oleh kabut aneh.


"Meow..."


Dikakinya, Scarlet berteriak lemah.


Menerobos pengepungan roh iblis saja telah menguras divine power miliknya, sampai ke titik dimana dia bahkan tak bisa mengerahkan energi untuk mempertahankan elemental waffe miliknya. Tanpa perlindungan dari jimat Restia, dia tak akan bisa kabur kesini.


"....Waduh, dimana ini?"


Didalam kabut alam iblis yang memenuhi area sekitar, Claire memperhatikan sekelilingnya dengan cemas. Tempat latihan Akademi yang seharusnya akrab bagi dia, saat ini tampak seperti tempat lain.


"Kamito..."


Dia secara alami menyebut namanya, lalu....


"Claire, apa kau disana!?"


Suara Rinslet yang familiar terdengar.


"Rinslet? A-Aku disini!"


Segera setelah dia berteriak, Rinslet dan Ellis muncul, menunggangi Fenrir.


Dan juga, karena suatu alasan, mereka diikuti oleh beberapa Imperial Knight.


"Aku senang kau baik-baik saja. Sepertinya reruntuhan disini sudah dihancurkan."


"....Ya. Bagaimana dengan kalian?"


"Ya. Tapi bukan kami yang menghancurkannya."


Ellis tampak agak ragu dengan kata-katanya.


"...?"


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa bulan Astral Zero ada disini?"


Para Imperial Knight bertanya kebingungan.


Dihadapkan dengan kemunculan yang ganjil dari para roh iblis, mereka tampak seperti mereka gak punya waktu untuk mengurus kegemparan yang dibuat para siswi.


"Aku sendiri juga gak yakin—"


Claire menggeleng. Lalu....


"Ah, pilar cahayanya lenyap!"


Rinslet menunjuk langit dan berteriak.


Pilar cahaya paling besar yang ada di pusat Akademi telah menghilang tanpa jejak.


"Sepertinya Kamito berhasil menghancurkan reruntuhannya."


"Lalu para roh iblis akan berhenti muncul?"


"Ya, asalkan gerbangnya tertutup—"


Claire menjawab, membuat para Imperial Knight menghela nafas lega.


Menatap langit, dia melihat bulan Astral Zero semakin meredup, hampir menghilangkan.


Tiba-tiba, dia melihat banyak siluet terbang di langit diatas Akademi.


"Roh iblis lagi?"


"Bukan, mereka adalah bala bantuan dari Dracunia!"


Menunggangi naga-naga terbang, satu per satu, para ksatria memasuki Akademi.


Dengan menghilangnya ksatria Number yang bertindak sebagai komandan tertinggi dan mayoritas Imperial Knight tak mau bertarung lagi, perebutan kembali Akademi hanya tinggal menunggu waktu saja.


"....Kurasa misi telah selesai."


Claire bergumam sendiri.

Bagian 2[edit]

Kabut alam iblis perlahan-lahan memudar.


Setelah mengeluarkan Absolute Blade Art, Kamito langsung berbaring di tanah menghadap keatas.


Setelah reruntuhannya dihancurkan dan berhenti beroperasi, Astral Shift tampaknya telah berhenti.


Roh-roh iblis yang jumlahnya mengerikan perlahan-lahan juga lenyap.


Pecahan sisa-sisa malaikat Dunamis berubah menjadi rune cahaya dan menghilang.


"....Sepertinya kita berhasil."


Kamito bergumam kelelahan.


Bulannya Astral Zero telah menghilang. Sinar lemah memancar dari celah-celah awan.


"....Greyworth, apa yang kau lakukan sampai sekarang?"


Kamito menanyai Greyworth yang berdiri di sampingnya.


Mendengar itu, Greyworth menyibakkan rambut abu-abunya.


"Mencari cara bagaimana mengambil kembali Akademi dari orang-orang tolol itu. Aku gak bisa mentoleransi orang-orang yang mengacau di halamanku."


Dia tersenyum masam dan menjawab.


"Melakukan ini sendirinya agak sembrono, tapi kalian muncul disaat yang tepat."


"Jujur saja. Kau mau menyelamatkan para siswi, kan?"


"....Muridku yang gak berguna. Jadi kau sudah belajar untuk membalas perkataan, huh?"
TL note: Greyworth disini mengatakan murid perguruan/ilmu pedang bukan murid siswa/siswi. Dan muridnya Greyworth cuma Kamito saja sejauh yang aku tau


Dengan penampilan jengkel di wajahnya, dia mengernyit.


Bahkan sikapnya yang gak menyenangkan saat ini tampak agak manis ketika dilakukan dengan penampilan cewek muda yang menggemaskan itu.


"Hei, gimana bisa seorang elementalis sepertimu bisa di cuci otak?"


Lalu Kamito bertanya.


...Itu adalah sebuah pertanyaan yang dia pikirkan sampai saat ini.


Dia mendapati itu sangat sulit dibayangkan bahwa sang Penyihir Senja begitu mudahnya menjadi alatnya musuh.


"Pencucian otak, huh? Kuharap itu yang terjadi."


"....?"


Kamito mengangkat alisnya terkejut.


"Apa yang mengekang jiwaku adalah perjanjian 24 tahun yang lalu."


Greyworth menjawab.


"Perjanjian?"


"Ya, perjanjian yang kubuat dengan Holy Lord Alexandros."


".....!?"


Mendengar itu dari bibirnya—


Kamito cuma bisa terkesiap.


"....Baiklah, karena aku sudah berjanji, aku akan memberitahumu."


Dengan penampilan serius di wajahnya, Greyworth memulai.


"—Tentang apa yang aku tau dari kuil Elemental Lord 24 tahun yang lalu."

Kata Penutup[edit]

—Bagiku, Akademi merupakan tempat yang sangat berharga.


Halo semuanya, Shimizu disini. Terimakasih atas kesabaran kalian.


Saya mempersembahkan kepada kalian semua, Seirei Tsukai no Blade Dance Jilid 18, Perebutan Kembali Ibukota Kekaisaran.


Tamu Kerajaan Suci, Lurie, menggunakan bom roh untuk membuat Makam Raja Iblis runtuh. Terjebak dalam ledakan, Kamito diselamatkan oleh pedagang Safian yang tak diketahui yang Kamito temui di Kota Raja Iblis. Dia mengungkapkan identitas sejatinya pada Kamito dan memberitahu Kamito kebenaran Peti Mati Raja Iblis. Dengan dilepasnya segel yang berumur seribu tahun, apa yang bangkit adalah—


Inilah bagaimana paruh pertama dari Jilid 18 mengakhiri arc Kota Raja Iblis dari Jilid 17. Paruh kedua adalah tentang kisah setelah kembali ke Teokrasi. Dengan kemunculan orang yang tidak memakai celana dalam* dan orang yang menghilang, rasanya seperti plotnya memasuki sebuah klimaks... Kelompok Kamito, dalam pengasingan dari Ordesia sejak Jilid 14, akhirnya kembali ke Akademi Roh Areishia setelah bepergian ke berbagai tempat termasuk Dracunia, Teokrasi dan Kota Raja Iblis. Akankah Kamito dan gadis-gadis bangsawan muda dari Tim Scarlet kembali ke kehidupan keseharian biasa yang dulunya mereka jalani?
TL note: * kalian pasti tau siapa yang gak suka pakai CD :v


Berikutnya ucapan terima kasih. Shimesaba Kohata-sensei, yang telah menggambar ilustrasi-ilustrasi indah sejak Jilid 17, terimakasih banyak. Restia-sama yang ada di sampul sangat cantik... Versi princess maiden air dari Rinslet di ilustrasi berwarna juga menakjubkan. Adapun untuk pakaian princess maiden api yang dikenakan Rubia dan Ren Ashbell, desainnya berbeda karena masing-masing Elemental Lord memiliki preferensi yang berbeda.
Sebagai catatan sampingan, pakaian ritual princess maiden angin sangat erotis sampai-sampai Ellis tidak mau memakainya.


Editor-sensei, maaf karena memberi anda segala macam masalah lagi. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat ending yang paling mengagumkan. Harap dukung saya terus!


Demikianlah, kita akhirnya sampai di Jilid 19 berikutnya. Mari kita bertemu lagi dengan Elemental Lord Kegelapan. Disaat yang sama, nantikan berita lebih banyak tentang drama audio!


Shimizu Yuu, April 2018

Kata Penutup Ilustrator[edit]

STnBD V18 00.jpg

Halo, saya Shimesaba Kohada.


Jilid 18, akhir mendekat! Ini adalah jilid kedua saya sejak saya mengambil alih ilustrasi mulai dari volume sebelumya.


Ada banyak karakter di Jilid 18 yang saya gambar untuk pertama kalinya. Untuk memahami karakter, saya harus membaca jilid-jilid sebelumnya berulang kali, berusaha sebaik mungkin untuk membawakan setiap detail. Saya harap saya memenuhi harapan dari setiap fans Blade Dance.


Saya akan terus berusaha sebaik mungkin untuk dua jilid berikutnya~


Sebelumnya Halaman Utama