Date A Live (Indonesia):Jilid 2 Prolog

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog: Keseharian Baru[edit]

“Shido! Aku memanggang sesuatu yang disebut kue kering!”

Rambut berwarna gelapnya berkibaran dekat pinggangnya.

Matanya berbinar bagaikan kristal berkilauan.

Seorang gadis dengan kecantikan yang tidak masuk akal mengucapkan kata-kata tersebut dengan bersemangat, sambil mengulurkan kotak yang dipegangnya pada Shidou.

Itsuka Shidou sedang berada dalam tekanan luar biasa saat membalikkan badannya dan memanggil nama gadis itu.

“To-Tohka...”

“Ummu? Apa!?”

Menyunggingkan senyum cerah yang seolah dapat membuat bunga-bunga bermekaran di sekitarnya, gadis itu —— Yatogami Tohka menjawab.

“... err, mengenai itu...”

Terlalu banyak hal-hal yang ingin dikatakannya, tapi ia tidak menemukan kata-kata yang cocok menghadapi senyum menawan itu.

Tanpa menyadari ada yang aneh dengan ekspresi Shidou, Tohka mengangkat penutup kotaknya.

“Yang lebih penting lagi Shido, coba lihat!”

Berbagai macam benda di dalamnya berbentuk tidak karuan dan dapat terlihat bekas gosong di mana-mana. Semua itu hampir tidak bisa dibilang kue kering.

Shidou dan Tohka berada pada kelas yang sama, tapi agar ‘setiap murid secara individual mendapatkan pendidikan menyeluruh’... atau begitulah alasan yang dibuat, berbagai hal seperti praktikum lab dan PKK[1]-pun dilakukan secara berkelompok kecil.

Dengan kata lain, hanya para gadis yang mengikuti PKK hari ini.

“Ini...”

“Ummu, aku meminta yang lainnya untuk mengajariku. Aku sudah membuatnya, jadi cobalah!”

“...”

Shidou menggigil.

Perasaan ini bukanlah disebabkan oleh kue-kue buatan Tohka.

Untuk bicara gampangnya —— di dalam ruangan kelas, anak-anak lelaki lainnya sedang menontoninya dengan pandangan sebal.

Tapi hal itu bukannya tidak beralasan.

Kenyataan bahwa ia dapat menikmati kue buatan tangan sang gadis menjadikannya target kecemburuan anak lelaki lainnya.

Apalagi, dengar-dengar tepat setelah pindah, si Yatogami Tohka langsung meroket naik di Most Wanted Girlfriends Ranking (yang dirumorkan).

Yang paling dekat dengannya, sahabat yang ada tepat di sampingnya, Tonomachi Hiroto sedang memasang pandangan hampa (“Fuck, fuck, fuuuuck... Itsuka yang baik hati cuma Itsuka yang mati.”) sambil menggerutu tentang sesuatu dibalik tarikan nafasnya.

“? Kenapa Shido? Kau tidak mau makan?”

“Err... b-bukan... mengenai itu...”

Shidou berkata selagi pipinya berkedut karena gugup. Bahu Tohka mulai terkulai sedikit demi sedikit.

“Muu... begitu ya, karena Shido pandai memasak...”

“! B-bukan karena itu. i-itadakimasu!"[2]

Shidou memantapkan keputusannya, dan mengambil sepotong kue kering dari kotak itu.

Lalu, saat ia perlahan mengangkatnya ke mulut——

“...!?”

Ketika perhatiannya terarah ke lain tempat, sebuah bayang-bayang keperakan terbang lurus di depan matanya.

Tembakan itu datang dari arah koridor, setelah menghancurkan kue di tangan Shidou menjadi serpihan-serpihan kecil, benda itu menghujam dinding.

“A-apa...!?”

Ia berteriak setelah tubuhnya menjadi kaku dengan sendirinya.

Setelah mengamati ulang lintasan bayang-bayang keperakan itu, ia melihat sebuah garpu tersangkut di dinding. *jriiing*... begitu bunyi getarannya. Garpu itu berdesain simpel. Mungkin dari kafetaria.

“Apa, siapa yang melakukannya!? Bahaya, tahu!”

Tohka berteriak sambil berbalik ke arah koridor. Shidou juga melakukannya, matanya tertuju pada arah tersebut.

“......”

Sedang berdiri di sana seperti baru saja melempar sesuatu beberapa detik yang lalu, seorang gadis terdiam dengan tangan kanan yang dijulurkan.

Dia berkulit terang, dan memiliki rambut yang menyapu bagian atas bahunya. Fitur dirinya tidaklah umum, namun anggun; dia tidak menampilkan ekspresi seperti apapun pada wajahnya, memberikan impresi layaknya boneka tak bernyawa.

“To-Tobiichi?”

“Nu.”

Peluh menyusuri pipi Shidou, sedangkan Tohka mengernyitkan alisnya dengan tidak senang.

Gadis ini——Tobiichi Origami, perlahan mendekati mereka sambil menatap keduanya.

Setelah berhenti di hadapan Shidou, dia mengangkat penutup kotak yang dipegang tangan kirinya. Mengulurkannya sebagaimana Tohka telah melakukannya beberapa saat yang lalu.

“Kamu tidak perlu memakan yang dibuat Yatogami Tohka itu dengan mulutmu. Kalau kamu mau sesuatu untuk dimakan, coba ini—”

Di dalam kotak itu, kue-kue kering berbentuk sempurna dan serupa ditempatkan dengan rapi. Terlihat seperti produk keluaran pabrik.

“E—Errrr...”

“Jangan mengganggu! Shido baru saja mau memakan kueku!”

Selagi Shidou sedang kesulitan membalasnya, Tohka menjawab dengan nada tinggi.

Namun. Origami tidak bergeming sekalipun. Ekspresinya bahkan tidak mengernyit saat dia menggelengkan kepala.

“Yang mengganggu itu kamu. Sebaiknya kamu pergi secepatnya.”

“Apa kau bilang? Kau datang setelahku tapi bertingkah sok dan seenaknya!”

“Urutan kedatangan kita tidaklah penting. Saya tidak bisa membiarkannya menelan kuemu.”

“A— Apa kau bilang!?”

“Kamu tidak mencuci tanganmu cukup bersih. Apalagi, ketika memanggang, kamu tersedak ketika tepung terigumu sedang mengembang saat fermentasi, membuatmu bersin tiga kali. Kuemu tidak higienis.”

“Ap......”

Seolah baru saja dilemparkan ke tengah-tengah ruang hampa, mata Tohka berputar-putar.

Entah kenapa, pada saat Origami selesai berbicara, para siswa di sekitar mulai berisik dan bersemangat. Semua pandangan tertuju pada kue Tohka.

Namun Tohka tidak terlihat menyadari bahwa perhatian padanya sedang meningkat; *Grrr...* dia mengepalkan tangan.

“Shi-Shido kan kuat, jadi sebegitu saja tidak apa-apa baginya!”

“Kamu sepertinya tidak sadar akan konsekuensinya —— Dan lagi, kamu salah menakar bahan-bahanmu. Saya pikir dengan meloncati beberapa tahapan dalam resep, kue-kue kering itu tidak bisa dibilang selesai.”

“...?!”

Ketika Origami mengatakan itu, Tohka mengernyit, dia menatap Origami beserta kue-kuenya.

“Ap... kenapa kau tidak bilang-bilang tadi saat pelajaran?”

“Bukan keharusan bagi saya untuk menegaskan itu. ——Bagaimanapun juga, sudah jelas kalau kue saya lebih berpeluang untuk memuaskan Shidou.”

“Be-berisik! Tidak mungkin kue dari orang sepertimu bisa enak!”

Tohka menyahut, matanya berputar-putar pada kecepatan tak terhentikan. Dia mengambil sebuah kue dari kotak Origami, dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Lalu terdengar suara renyah selagi dia mulai mengunyah——

“Fuaa...”

Pipinya bersipu warna pink sakura, sambil membuat ekspresi penuh sukacita. Kelihatannya kue itu enak.

Namun Tohka langsung mengubah ekspresinya dengan cara menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Fu-Fuun, tidak jadi masalah! Kalau kuemu seperti itu, punyaku pasti lebih enak!”

“Sepertinya itu tidak mungkin. Sebaiknya kamu akui kekalahanmu dengan terhormat.”

“Apa kau bilang!?’

“Apa?”

“Te-tenanglah, kalian berdua”

Kalau mereka dibiarkan, bisa-bisa terjadi pertarungan begitu saja; karena itu Shidou memotong dan membuat jarak di antara mereka, sambil berkata “Oi, oi” untuk menenangkan mereka.

“Nu... kalau begitu Shido, kue kering siapa yang mau kau makan?”

“Eh?”

Dan, menghadapi kalimat seperti itu dengan tiba-tiba, Shidou mengeluarkan suara bodoh.

Tohka dan Origami, dari kiri dan kanan pada saat bersamaan, mengulurkan kotak mereka.

“Jadi, Shido?”

“...”

Mata Tohka dan Origami membersitkan kilatan cahaya yang mampu menghujam dan menumbangkan musuh, dan ketika mereka menatap Shidou, peluh mulai membasahi pipinya.

DAL v02 019.jpg

… sepertinya, suasana itu menandakan tidak peduli yang manapun yang ia makan, ia akan terbunuh.

Shidou mengikuti instingnya untuk bertahan hidup— mengambil kue kering dari kedua kotak dengan kedua tangannya, lalu menaruhnya di mulut pada waktu bersamaan.

“Uh, y-ya, enak! Kue kalian sama-sama enak!”

Tohka dan Origami melihat kondisi Shidou.

“Ummu, kueku dimakan sedikit lebih cepat!”

“Punya saya 0.02 detik lebih cepat.”

Kedua kalimat tersebut dikatakan pada waktu tepat bersamaan.

“...”

“...”

Kemudian, sambil diam mereka bertemu muka.

“... errr”

Hari ini bukanlah pertama kalinya suasana seperti itu terjadi.

Shidou ingin menyerah saja atau semacamnya, alih-alih demikian ia meloncat ke tengah mereka berdua lagi.

Dan pada saat itulah, seperti yang diduga-duga, kekesalan menumpuk yang ditempatkan pada tinju mereka dilepaskan pada bagian vital masing-masing dari kedua sisi ——dan berakhir menghantam kepala dan perut lelaki malang yang menengahi mereka.


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, atau dalam Bahasa Inggris disebut Home Economics.
  2. Itadakimasu - ucapan yang dapat diartikan dengan ‘selamat makan!’, namun bisa juga sebagai tanda terima kasih setelah menerima pemberian dari orang lain.