Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 10

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Ilustrasi Novel[edit]

Di bawah ini adalah ilustrasi novel yang ada di jilid 10.


Bab 2 - Project Alicization[edit]

Bagian 1[edit]

Bulan purnama yang bersinar putih keperakan, terbagi menjadi 4 bagian oleh bingkai jendela, terlihat menjulang tinggi di langit.

Di sudut barat daya dari ALFheim, di wilayah kaum Sylph, jalanan di ibu kota Sylvain telah diselimuti kegelapan yang pekat

Terlihat sebagian besar pintu-pintu besi kokoh dari deretan toko-toko telah tertutup, dan ada sejumlah pemain tampak berjalan di jalanan utama kota. Hal ini dikarenakan sekarang masih jam 4 subuh, saat di mana paling sedikit orang-orang terhubung ke server.

Asuna mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah meja di hadapannya, lalu mengambil cangkir yang masih beruap. Ia mendekatkan cangkir, yang berisi teh berwarna pekat, ke bibirnya, dan ia dapat merasakan rasa panas semu seakan-akan menyerang lidahnya. Walaupun ia tak mengantuk, ia merasa kalau pikirannya sedikit kabur, itu karena dirinya sudah tidak tidur selama 3 hari ini.

Asuna menaruh kembali cangkir itu ke meja lalu ia menutup matanya dan menggunakan jari-jarinya untuk menepuk-nepuk pelipisnya perlahan. Seorang gadis Sylph yang melihat hal ini dengan rasa khawatir bertanya,

"Kamu gak apa-apa khan Asuna-san? Aku tahu kalau kamu belum sempat tidur."

"Iyaaa .. Aku gak apa-apa kok, Lyfa. Kamu sendiri juga pasti capek khan setelah berjalan hilir mudik ke sana kemari?"

"Tubuh asli-ku sih beristirahat dengan baik di atas ranjang ... jadi yah aku baik-baik aja."

Meskipun keduanya sama-sama bilang kalau mereka baik-baik saja, mereka sebenarnya menyadari kalau gak ada satu-pun di antara mereka berdua yang sepertinya bersemangat, dan memunculkan senyuman masam.

Tempat ini adalah rumah dari Lyfa, avatar kepunyaan Kirigaya Suguha di ALfheim Online. Tembok yang mengelilingi ruangan bundar ini sangatlah mengkilap, dipenuhi warna-warni yang berganti-ganti secara teratur, membuat suasana di ruangan itu seakan-akan bukan di alam nyata. Meja mutiara putih dan beberapa kursi yang sesuai dengan meja itu, terletak di tengah-tengah ruangan, 3 di antara kursi-kursi itu sekarang sedang dipakai.

Mendengar percakapan kedua gadis tadi, seorang gadis lain, yang memiliki rambut berwarna biru terang dengan kuping berbentuk segitiga, menepukkan jari-jarinya di atas meja dan membuka mulutnya,

"Kalau kalian terlalu memaksakan diri, pikiran kalian gak akan bisa kerja dengan baik di saat-saat genting. Walaupun kalian gak bisa tidur, akan sangat beda hasilnya walaupun kalian cuman menutup mata kalian."

Pemilik suara yang kalem itu adalah Asada Shino, ia menggunakan avatar Cait Sith yang telah ia gunakan selama setengah tahun. Nama karakter-nya sama persis dengan username- Sinon dari Gun Gale Online. Asuna memandangnya dan mengangguk.

"Oke... Setelah pertemuan ini berakhir, tolong izinkan aku untuk menggunakan tempat tidur disini. Huff... andaikan aja sihir tidur bisa mempengaruhi pemain juga ..."

"Aku pikir kau cuman bisa tidur nyenyak kalau onii-chan tidur di atas kursi itu..."

Asuna dan Sinon tersenyum kepada gerutuan Lyfa, tapi hanya senyuman capek yang muncul di bibir keduanya.

Lyfa menaruh cangkir, yang ia pegang dengan kedua tangannya, di atas meja, dan menghela nafas yang dalam, kemudian mengubah ekspresinya.

"Oke kalo gitu ... kita mulai dengan informasi yang telah kita dapatkan hari ini, eh bukan, kemarin. Kesimpulannya kita gak bisa menemukan bukti yang kuat kalau onii-chan telah dibawa ke «Tokorozawa National Defense Medical College Hospital»[1]. Data telah membuktikan kalau dia telah di pindahkan ke departemen bedah syaraf di lantai 23, tapi mereka menolak semua akses ke dalam ruangan perawatan, bahkan seluruh lantai tak bisa diakses sama sekali. Juga tak ada petunjuk yang menandakan adanya ambulan darurat tiba di sana pada jam yang semestinya. Kami tahu ini dengan pasti karena Yui telah meng-hack dan masuk ke dalam kamera pengawas serta mengecek rekaman yang tertangkap oleh kamera tersebut."

"Dengan kata lain... Kemungkinan besar Kirito tak ada di Defense Medical Hospital[2].... bener gak seperti itu?"

Lyfa mengangguk, setuju dengan pernyataan yang Sinon sampaikan.

"Ini memang sulit dipercaya... Tapi aku terkejut karena bahkan anggota keluarganya gak boleh menjenguknya. Ini sangat aneh bagaimana-pun kita memikirkannya ..."

Perkataan yang lain tak diucapkan hanya digantikan oleh gelengan kepala yang serempak dari ketiganya. Pada saat itu, suasana ruangan menjadi sangat sunyi.

Kakak lelaki Lyfa, Kirito - Kirigaya Kazuto, diserang oleh buronan dari insiden Death Gun, 'Johnny Black' — Kanemoto Atsushi 2 hari yang lalu, pada tanggal 29 juni.

Pada saat itu, Kazuto disuntik dengan obat yang tingkat bahayanya sangat tinggi, succinylcholine, oleh Kanemoto, di dekat rumah Asuna, di jalanan Setagaya, wilayah Miyasaki 1-chome, di Tokyo. Di bawah pengaruh obat yang membuatnya lumpuh dan tidak berdaya, ia segera mengalami kondisi jantung berhenti. Bahkan setelah dilakukan CPR dan perawatan yang dilakukan di ambulan, hilangnya oksigen menyebabkan jantungnya berhenti segera setelah itu. Ia dimasukkan ke dalam kasus Death on Arrival (DOA) sesaat setelah ia sampai di Rumah Sakit Umum Setagaya.

Entah karena keahlian para dokter di UGD atau kehendak yang sangat kuat dari Kazuto untuk tetap hidup, atau keberuntungan sangat besar menaungi kedua kemungkinan itu, sehingga jantung Kazuto kembali berdetak dan bernafas secara normal setelah pengaruh obat mulai menunjukkan reaksinya. Ia terhindar dari cengkeraman sang maut secara ajaib. Saat Asuna mendengar berita ini dari dokter yang keluar dari UGD, wajah tegang dan khawatirnya segera menjadi rileks tapi ketika mendengar perkataan selanjutnya dari sang dokter, Asuna tak bisa mengatakan apapun juga.

Dokter memberitahu Asuna bahwa jantung Kazuto telah berhenti selama lebih dari 5 menit, dan ada kemungkinan kalau otaknya menderita kerusakan dikarenakan terhentinya pasokan oksigen ke otak. Dan kemungkinan itu adalah kerusakan dari proses berpikirnya atau fungi motoriknya, atau keduanya, dan dalam situasi yang paling buruk, Kazuto mungkin saja tidak akan pernah sadar lagi - dan,

Dokter menyimpulkan bahwa investigasi secara rinci menggunakan MRI sangat diperlukan untuk mengetahui apa benar itu kasusnya, dan mungkin mereka akan memindahkannya ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik. Asuna bergumul melawan rasa cemas yang menyerangnya kembali dan segera menghubungi adik perempuan dari Kazuto, Suguha untuk menjelaskan situasinya. Pada akhirnya Asuna mulai menangis sesaat setelah ia melihat Suguha mendatanginya.

Malam itu, ibu Kazuto, Kirigaya Midori datang terburu-buru dari tempat kerjanya di Iidabashi dan menginap di kursi di depan ruangan UGD.

Hari berikutnya, pada tanggal 30 Juni, Asuna dan Suguha diyakinkan oleh seorang pengawas kalau kondisi Kazuto sudah 'lepas dari bahaya'. Keduanya merasa lega dan segera kembali ke rumah Asuna yang lebih dekat, sementara Midori kembali ke rumahnya di Kawagoe untuk sementara waktu, mengurus asuransi kesehatan Kazuto.

Setelah mereka berdua mandi, mereka menghubungi sekolah mereka masing-masing dan memberitahu kalau mereka akan absen, setelah berbincang-bincang selama beberapa jam, mereka tidur sejenak. Sekitar satu jam kemudian, Asuna terbangun oleh bunyi telepon, panggilan dari Midori

Asuna segera bergegas menuju ke terminal portable nya dan Midori memberitahunya bahwa sangat disayangkan, Kazuto maih belum kunjung sadar, tapi dia telah dipindahkan ke Defense Medical College Hospital yang lebih dekat dengan rumahnya di Kawagoe untuk pengamatan yang lebih seksama dan mendapatkan fasilitas yang lebih bagus. Setelah itu, ambulan datang untuk memindahkan Kazuto. Midori berkata kalau dirinya akan memanggil taxi setelah ia selesai dengan prosedurnya, dan Asuna berkata padanya bahwa mereka juga akan segera menuju ke rumah sakit yang baru.

Kazuto yang tak sadarkan diri telah dipindahkan dari Rumah Sakit Setagaya melalui pintu keluar darurat menuju ambulan pada jam 1.45 siang pada tanggal 30. Yui benar-benar mengamatinya dengan jelas dari kamera pengawas rumah sakit. Rekaman tersebut menunjukkan bahwa ambulan mencapai Defense Medicine College Hospital di Tokorozawa di Saitama. Kazuto dengan segera dimasukkan ke departemen bedah syaraf di lantai 23 untuk perawatan intensif, dan di bawah pengawasan — Asuna dan Suguha tanpa ragu percaya akan hal tersebut dan pergi mengunjungi nya dua hari yang lalu pada malam hari, tapi mereka tak diizinkan untuk melihat Kazuto atau bahkan melihatnya dari kejauhan.

Asuna memikirkan baik-baik perkataan Lyfa lalu menggangguk dan berkata,

"Memang benar kalau Kirito-kun dibawa dari rumah sakit di Setagaya ke National Defense Medical University Hospital menggunakan ambulan. Bahkan ada laporan penerimaan yang bertuliskan 'Kirigaya Kazuto'... tapi gak ada laporan tentang kondisi Kirito-kun, atau rekaman dari kamera pengawas. Mungkin saja ambulan yang dinaiki Kirito-kun pergi ke tempat lain selain rumah sakit... Seperti pertukaran pasien atau kejadian lain— tapi kayaknya gak begitu ..."

"Ada niat untuk membohongi kita, berarti ini mungkin telah direncanakan oleh seseorang ... Mungkinkah ini .. Penculikan?

Sinon berkata dengan nada yang tenang, walapun kuping segitiganya menyentak sangat kuat.

"Tapi di situasi seperti itu, ambulannya harus disamarkan khan? Selain paramedis, kendaraan nya seharusnya palsu kan? Aku pikir rasanya gak mungkin ada orang yang sudah meramalkan kalau onii-chan akan di serang di Setagaya oleh orang yang namanya Kanemoto atau apa lah, dan dibawa ke rumah sakit. Dan juga, ini baru aja 18 jam setelah onii-chan di masuk-kan ke rumah sakit."

"Secara fisik mustahil untuk mengatur ambulan palsu setelah mereka tau kalau Kirito-kun jatuh pingsan"

Asuna mulai ragu lagi dengan pertanyaan yang Sinon katakan.

"Tapi jika demikian, kalau ada penculikan pasien yang menggunakan ambulan palsu, bagaimana jika orang yang merencanakan hal ini dari awal mengincar Kirito itu hanyalah sebuah kebetulan..."

"Kayaknya gak begitu deh."

Lyfa mengibaskan rambut ekor kudanya ke samping dan mulai menjelaskan dengan nada yang semakin mendesak.

"Fuu, saat rumah sakit memindahkan seorang pasien, mereka harus melakukan panggilan untuk mendatangkan ambulan dari area komando kendali darurat, tapi berdasarkan penyelidikan dari Yui, gak ada yang membuat panggilan pada hari itu, dan ambulan misterius tiba-tiba muncul pada saat itu. Berarti, hal yang sama juga terjadi pada paramedis yang ada di dalam ambulan, dan situasi di Tokorozawa Defense College Hospital seharusnya juga sama. Bukan cuma itu, mereka bahkan tau nama onii-chan. Pengawas yang saat itu bertanggung jawab berkata bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apapun."

"...Berarti, mereka mengincar Kirito dari awal dengan maksud menculik-nya."

"Iya, si pelaku mendapat kabar tepat setelah Kirito-kun masuk ke rumah sakit dan mengirim ambulan asli untuk kepentingan pribadi mereka."

Mereka berdua mengangguk dengan ragu sebagai tanda reaksi akan hal yang dikatakan Asuna.

Alasan mereka berdua ragu-ragu karena hal itu sangat menyeramkan untuk menghubungkan semuanya itu. Asuna sendiri merasakan hal yang sama. Jika semuanya benar, musuh yang menculik Kazuto ialah orang yang punya kedudukan untuk menggerak-kan ambulan.

Sejujurnya, pemikiran tersebut bisa jadi hanya pemikiran yang berlebihan.

Bisa jadi Kazuto sedang dirawat di Defense Medical University Hospital, gambaran ruangan rumah sakit tak bisa dilihat karena terdapat suatu alat yang sangat canggih, dan pada saat dia tiba disitu, mungkin tidak ada rekaman dari kamera pengawas karena hal itu tidak diperbolekan... Gak, bisa dibilang pemikiran ini gak normal. Kenyataan nya, Ibu dari Kazuto dan Suguha, Midori gak ragu akan penjelasan dari rumah sakit. Penculikan dan informasi palsu hanya imajinasi dari tiga orang gadis yang sedang khawatir. Eksistensi pelaku gak nyata, dan perawatan Kazuto akan berhasil dan mereka akan diberitahu kabarnya saat Kazuto telah kembali sadar...

Tapi, satu sisi dari akal sehat Asuna meragukan feeling tersebut. Hal itu juga pasti terjadi kepada adik perempuan Kazuto, Lyfa, dan Sinon yang hampir mengunjungi kematian bersama Kazuto.

Mereka bukannya menduga kalau 'Death Gun' ketiga, Kanemoto menyerang Kazuto dengan succinylcholine itu adalah bagian dari rencana. Tapi, seseorang mungkin memanfaatkan insiden itu untuk menculik Kazuto.

"Apakah itu sebuah organisasi atau seseorang, mereka bisa dibilang 'musuh' di situasi seperti ini"

Asuna mengatakannya dengan suara yang tegar. Sinon mengedipkan matanya dan menunjukan sedikit senyum. "Sebelum aku sampai disini... hari ini, aku fikir kalian berdua akan sangat sedih dan putus asa sehingga aku menjadi khawatir. Bagi Lyfa, itu karena dia adalah kakak yang sangat penting, Bagi Asuna, itu karena yah.... dia kekasihnya... dan orang itu menghilang saat tak sadarkan diri pada situasi seperti ini"

Aku gak terlalu terkejut seperti yang aku pikirkan seteah aku mendengar kata-kata yang tak terduga seperti ini. Aku menangis begitu keras saat aku melihat Kirito-kun tak sadarkan diri pada malam itu... Asuna merasakan perasaan yang sulit dipercaya saat dia memikirkan hal ini, dan Lyfa, yang kedua tangan-nya tergenggam erat di depan dada-nya berkata,

"Yah... Sudah pasti aku khawatir. Tapi, saat aku menyadari kalau onii-chan mungkin gak ada di rumah skit, aku merasakan sesuatu yang aneh dan feeling kalau hal itu terjadi seperti ini. Onii-chan pasti terlibat insiden aneh lagi... Aku bener-bener gak bisa ngebayangin sekacau apa tempat itu berhubung aku gak ada di sana. Hal itu sama seperti di insiden SAO, dan sama seperti inisiden Death Gun itu... Makanya kali ini, Aku pasti..."

"Iya... Aku mengerti."

Jadi aku gak bisa dibandingkan dengan adik perempuan yang udah tinggal bersama nya dalam waktu yang sangat lama Asuna berbicara dalam hati dan mengangguk keras.

"Kirito-kun pasti sedang bertarung seperti biasanya di suatu tempat, jadi kita harus melakukan pertarungan yang kita bisa lakukan."

Tentu saja Sinon melirik kesamping sesaat dan kembali melihat ke arah mereka berdua.

"Sinonon gak keliatan khawatir juga"

"Eh... Itu karena... bagiku, aku percaya kalau hanya aku yang bisa mengalahkan-nya..."

Setelah bertukar pandangan yang ragu dengan Sinon yang gagap untuk sementara, Asuna kembali ke topik awal.

"Namun demikian... Setelah ngeliat ambulans saja, aku pikir pengaruh dari musuh cukup besar."

"Gimana kalau kita laporkan ini ke polisi? Kalau kita bersama polisi, rumah sakit minimal akan membolehkan kita untuk memberitau suatu informasi kan?"

Saran dari Sinon sangat masuk akal, tapi Asuna menggelengkan kepalanya dan gak setuju.

"Di server rumah sakit itu, waktu Kirito-kun tiba dan waktu pas departemen bedah syaraf membawa nya semuanya terekam. Rekaman itu menunjukkan kalau Kirito-kun benar benar ada di rumah sakit itu. Dasar dari asumsi kita kalau dia diculik itu 'Gak ada imej dari Kirito-kun sampai' ke tempat itu, dan polisi gak akan bergerak karna alasan yang seperti itu, ku pikir begitu.... dan juga, orang yang mengecek rekaman visual tersebut itu..."

"Yui-chan yang ngehack kedalam nya."

Sinon meringis sedikit sambil bergumam, dan terlihat berfikir hal yang lain sambil melanjutkannya,

"Ah.. tapi kalau seperti itu, bisa gak kita ngehack ke jaringan kamera didalam rumah sakit dari kamera pengawas di luar rumah sakit? Kalau kita bisa mengecek gambar dari ruangan yang ditempati Kirito-kun..."

"Tapi sistem pengaman didalam rumah sakit berbeda dari yang diluar. sistem nya mungkin dilindungi oleh firewall yang sangat kuat yang bahkan Yui-chan gak bisa menrobos firewall tersebut."

Lyfa menggelengkan kepala dengan lemah.

Kemarin, Lyfa pergi untuk melakukan macam-macam investigasi di Rumah Sakit Setagaya dan di National Defense Medical College Hospital yang sangat berjauhan lokasinya. Walaupun dia diberi bantuan oleh AI Yui yang ada di terminal portable, untuk melakukan kemajuan aja sangat susah.

Dan tentu saja Asuna sendiri juga ikut pergi dan sepertinya kondisi Kirito sudah stabil, tapi Asuna sudah bolos sekolah selama 2 hari berturut-turut tanpa izin. Terminal pembayaran uang elektronik yang seharusnya menjadi backup power dititipkan kepada Lyfa saat mereka berada di taxi, dan wajar saja kalau Asuna sama sekali gak bisa konsentrasi di kelas.

Di sekolah, alasan kenapa Kazuto absen diberitahukan kalau dia terkena penyakit yang parah, hal itu juga diberitahukan ke teman-teman sekelasnya. Diantara teman-temannya, Lisbeth/Shinozaki Rika dan Silica/Ayano Keiko sama sekali gak tau tentang penyerangan terhadap Kazuto. Perasaan bersalah atas menyembunyikan kebenaran terhadap mereka berdua yang cemas akan Kazuto mengoyak hati Asuna.

Namun, hal ini sudah didiskusikan dengan Lyfa kemarin pagi. Sebelum mereka tau situasi sebenarnya— apakah itu Kazuto benar-benar ada di National Defense Medical College Hospital, mereka bertiga, termasuk Sinon akan menjaga rahasia ini.

Alasan mengapa mereka hanya menghubungi Sinon karena dia bertemu Kazuto di 'Dicey Cafe' sebelum penyerangan dan karena dia terlibat di insiden Death Gun. Namun, berkat hal ini ketenangan dan kecerdasan Sinon meningkatkan kepercayaan diri semuanya. Asuna memandang ke arah wajah sang sniper Sinon, wajah yang gak pernah berubah di ALO, dan berkata,

"Aku merasa senjata terkuat yang kita punya yakni kita mengerti Kirito-kun lebih dari siapapun. Jadi, mari mengambil langkah mundur dan berdiskusi. Kirito-kun ditarget oleh musuh, tapi apa alasan-nya?"

"Jika alasan-nya karena uang, yang diculik harusnya Asuna, dan juga si pelaku gak pernah menghubungi kita kan?"

"Telepon, e-mail, atau surat, gak ada satupun. Selain itu, penculikan ini terlalu sembrono. Mereka bahkan menyiapkan ambulans palsu untuk menculik onii-chan dari rumah sakit, yang bahkan bukan orang penting."

"Kalau begitu... Aku gak mau memperhitungkan ini, tapi bagaimana kalau karena dendam...? Apa kalian tau orang yang membenci Kirito...?"

Kali ini, Asuna menggelengkan kepala-nya sedikit.

"Walaupun ada orang yg selamat dari SAO yang membenci Kirito karena telah mengirim mereka ke penjara dan karena telah menamatkan game, satu-satunya musuh yang punya kekuatan finansial dan kekuatan organisasi ialah..."

Asuna mengingat wajah dari Sugou Nobuyuki, orang yang ambisius yang pernah menjebak pemain SAO untuk dijadikan tes subjek untuk penelitiannya dan diserahkan kepolisi oleh Kirito. Namun, orang itu terkunci diantara tembok penahanan, dan percobaannya untuk kabur ke luar negeri menyebabkan permohonan pembebasannya dengan menyogok ditolak.

"...Iya, kita masih belum memikirkan siapa yang bisa melakukan hal itu."

"Ini bukan karena uang atau dendam hah...? hmm..."

Sinon menundukkan kepalanya untuk sementara waktu, menggunakan jarinya untuk mengetuk ujung telinga-nya, dan mengatakan sesuatu.

"...Yah, aku pikir itu hanya dugaan tanpa basis... Motif nya bukan karena uang ataupun dendam, tapi dia tetap masih diculik. Itu berarti bagi si musuh, Kirito adalah eksistensi yang masih harus tetap hidup. Lebih jelasnya lagi, yang mereka mau itu Kirito itu sendiri, atau hal yang Kirito punya... Dari segi game, 'elemen' nya kan? Apa yang bisa kita pikirkan?"

"Ilmu pedang."

Asuna segera menjawab nya tanpa ragu. Kapanpun dia menutup matanya dan membayangkan siluet Kirito, hal pertama yang akan muncul ialah jubah hitam Kirito yang menggunakan dua pedang dan menebas musuh seperti angin topan. Sepertinya Lyfa mempunyai tanggapan yang sama tentang dia setelah bertualang berasamanya di ALO dan lanjut menjawab pertanyaan Sinon

"Kecepatan reaksi."

"Kemampuan untuk bereaksi dengan sistem."

"Pemahaman terhadap situasi."

"Kemampuan bertahan hidup... Sepertinya."

Sword Art Online Vol 10 - 025.jpg

Asuna dan Lyfa melanjutkan dengan berbagai kelebihan yang dimiliki Kirito lalu sepertinya mereka menyadari sesuatu dan kemudian terdiam. Sinon juga sepertinya menyadari sesuatu lalu mengangguk-kan kepalanya.

"Hey, itu semua kelebihan-nya dari VRMMO... dunia virtual kan?"

Kata Sinon, lalu Asuna tersenyum masam,

"Kirito-kun juga punya banyak sisi baik di dunia nyata kok."

"Tentu saja, seperti saat dia mentraktir kita makanan, tapi itu dari sudut pandang kita, Kirito di dunia nyata, kalau boleh aku bilang, dia hanya murid SMA biasa kan? Dengan kata lain, motif dibalik penculikan itu karena kelebihan Kirito di dunia virtual kan?"

"Bagaimana bisa...? kalau begitu, mereka mau dia menamatkan suatu game VR... Tapi onii-chan sedang tak sadarkan diri sekarang. Dia bahkan belum melakukan check up, hanya perawatan saja"

Lyfa menggenggam tangannya dengan erat dan lagi-lagi merasa khawatir akan kondisi Kirito yang sekarang. Mata biru Sinon mengarah ke arah permukaan meja besi dan berfikir sejenak lalu menyempitkan matanya dengan tajam sebelum menjawab,

"Motif yang gak jelas... Walaupun kalian berkata seperti itu, itu cuma apa yang kita bisa lihat dari luar. Bagaimana kalau bukan mesin yang menyambung ke otak, tapi melalui mesin yang bisa menyambung langsung ke jiwa..."

"Ah..."

Oiya, kenapa kita gak mikir itu dari tadi? Asuna shock lalu mengela nafas yang dalam

"Yah, andaikan seperti itu, seharusnya ada petunjuk untuk organisasi 'musuh'. Cuma ada satu organisasi di dunia ini yang punya mesin yang bisa terhubung dengan jiwa, dan Kirito menjadi pengetes mesin itu beberapa hari yang lalu."

Asuna setuju dengan perkataan Sinon lalu menganggukkan kepala dan berkata,

"...Organisasi yang menculik Kirito-kun adalah organisasi bernama RATH yang sedang mengembangkan Soul Translator...? Memang benar mereka bisa saja menggerakkan ambulans jika mereka mempunyai kemampuan untuk membuat mesin seperti itu..."

"RATH...? Itu perusahaan tempat onii-chan bekerja untuk beberapa hari yang lalu kan?"

Mendengar perkataan Lyfa, Asuna tak bisa mencegah untuk menegangkan tubuhnya,

"Lyfa-chan, apa kau tau sesuatu tentang RATH?"

"Ah, enggak... Tapi kudengar perusahaan itu berada di Roppongi."

"Kupikir aku pernah mendengar tentangnya. Tapi walaupun kau bilang itu berada di Roppongi, itu wilayah yang terlalu besar... pusat penelitian milik RATH berada di suatu tempat disana, dan Kirito mungkin ada disana. Polisi gak akan bergerak sendiri kan?"

Asuna memperhatikan Sinon menggigit bibirnya dan Lyfa merendahkan matanya secara gelisah, dan berkata dengan nada yang ragu,

"...Yah, aku mau bilang ini nanti, jadi aku gak bilang tadi. Bahkan, masih ada hubungan kecil yang masih mengontak Kirito-kun, tapi ada kemungkinan kalau mereka sudah memutuskan hubungan itu suatu hari..."

"... Apa itu Asuna?"

"Kamu tadi udah bilang kan, Sinonon. implan Kirito-kun."

Asuna menggunakan jari tangan kanannya untuk menunjuk ke tengah dadanya.

"Ah, aku mengerti... sensor daya hidup kan? Memang benar sih kalau informasinya dikirim melalui net dalam realtime ke terminal milik mu, Asuna..."

"Walaupun sinyal-nya udah terputus, kalau kita bisa melacak lokasi ambulans palsu saat mereka mengantar Kirito-kun, kita mungkin bisa menemukan dimana dia sekarang. Itu yang aku pikirkan, jadi aku minta tolong supaya hal itu di selidiki."

"...Siapa?"

Asuna menatap ke arah langit lalu mengutarakan sebuah nama,

"Yui-chan, bagaimana?"

Tiba-tiba, sebuah partikel cahaya muncul beberapa milimeter diatas permukaan meja dan berubah wujud menjadi siluat sosok manusia kecil dan setelah bercahaya dengan terang, cahaya itu menghilang.

Yang muncul dari cahaya itu adalah seorang gadis yang tinggi-nya kurang dari 10 sentimeter. Rambutnya hitam panjang dan memakai baju tipe one-peace berwarna putih, dan 4 sayap pelangi di punggungnya bergerak sedikit. Gadis itu— sebuah pixie membuka lebar matanya yang berada dibawah bulu mata-nya yang panjang, dan menggerak-kan mata-nya yang anggun lalu melihat kearah Asuna, lalu melihat kearah Lyfa dan kemudian Sinon. Tentu saja, saat dia akan menjawab Sinon, pertama-tama dia mengapung di udara dan menunduk"

"Lama tak berjumpa, Sinon-san."

Dia memanggil Sinon dengan suara yang halus lalu Sinon tersenyum sedikit dan menggangguk balik,

"Selamat sore, Yui-chan.... eh, aku harusnya bilang 'selamat pagi' disini"

"Sekarang jam 4:32am. Matahari terbit jam 4:32am hari ini, jadi sekarang bisa dibilang pagi. Selamat pagi, Lyfa-san, mama."

Yui, asisten pemain, AI yang berasal dari SAO, berbalik 60 derajat sambil menyapa, lalu Yui kembali melayang di depan Asuna.

"Pencarian sinyal dari denyut papa yang terkirim ke terminal mama sekarang sudah berjalan 98%."

"Oh begitu. Jika sinyal itu muncul dari dekat Roppongi, basis dari tebakan kita akan menguat... Jadi begitu toh..."

Asuna mengangguk dengan keras ke arah Sinon. Termasuk Lyfa, ketiga gadis menatap kearah Yui dengan pandangan yang penuh harap

"Kalau begitu, sekarang aku akan menyampaikan analisis ku kepada semuanya. Sangat susah untuk mencari sinyal lewat terminal, apalagi lawan-nya adalah National Defense Medicine College hospital, sayang sekali, aku cuma bisa mendapatkan 3 sinyal.

Setelah berkata seperti itu, Yui dengan cepat melambaikan tangan kanan-nya, dan di atas permukaan meja yang berada di bawah kaki-nya, muncul hologram yang berwarna seperti air, menampilkan map yang detail dari pusat Tokyo. Sayap milik Yui berhenti mengepak lalu mendarat, mengambil beberapa langkah kedepan dan menunjuk suatu bagian dari peta. *pon*. Titik cahaya berwarna merah pun muncul.

"Ini adalah Rumah Sakit Setagaya yang dimana pertama-tama papa dibawa kesana. Disini tempat sinyal pertama ditangkap."

Yui berpindah beberapa langkah ke titik cahaya yang baru.

"Meguro Aobadai, Sanchome, waktunya sekitar 29 Juni 2026 jam 20.50pm. Kita bisa memperkirakan jalur yang mereka tempuh."

Kedua titik kemudian disambungkan dengan garis cahaya berwarna putih. Yui lalu berpindah beberapa langkah ke baratdaya lagi, dan titik ke 3 muncul menunjukkan suatu lokasi. Jejak dari garis putih terus memanjang.

"Shirokanedai Minato-ku Ichome, waktunya sekitar 21.10pm pada hari itu. Lokasi ini adalah tempat dimana sinyal kedua ditangkap."

Bukannya ini terlalu selatan dari Setagaya menuju Roppongi? fikir Asuna dengan gelisah, tapi dia hanya bisa menuntup mulutnya dan menunggu Yui menyelesaikan laporannya.

"Lalu... sinyal ketiga ditangkap disini."

Dugaan ketiga gadis benar-benar terhambat— Yui menunjuk ke arah tempat pembangunan yang sangat jauh ke arah timur dari Roppongi.

"Shinkiba, Koutou, Yonchome, waktunya 21.50 pada hari itu. Sekitar 30 jam yang lalu, sebelum sinyal dari papa terputus."

"Shinkiba...!?"

Asuna tak bisa menahan kata-katanya, lalu setelah berfikir tentang hal itu, disana terdapat banyak bangunan intelijen baru yang sedang di kembangkan. Mungkin disana ada markas kedua dari RATH.

"Yui-chan... Fasilitas seperti apa yang ada disana?"

Dia bertanya dengan jantung yang berdebar-debar, namun jawaban yang didapat tak sesuai harapannya.

"Fasilitas yang ada disana adalah 'Tokyo Heliport'."

"Eh...? Itu, tempat peluncuran untuk helikopter kan?"

Sinon bergumam dengan ekspresi yang shock, dan Lyfa tiba-tiba mengubah ekspresinya.

"Helikopter!? ...Itu berarti... onii-chan dibawa ke suatu tempat yang sangat jauh... Kan?"

"Tapi... Tunggu."

Asuna mencoba untuk menghapuskan kebingunannya lalu berkata,

"Yui-chan, sinyal nya benar-benar terputus setelah dia dibawa dari Shinkiba, kan?"

"Iya..."

Pada saat ini, untuk pertama kalinya, wajah manis Yui, sang pixie menunjukkan ekspresi yang sedih.

"Gak ada tanda-tanda keberadaan monitor device papa yang terhubung ke terminal station manapun di seluruh Jepang."

"Kalau begitu... Setelah dia dibawa dari Shinkiba menggunakan helikopter, dia mendarat di suatu gunung yang gak bisa dicapai oleh sinyal listrik dari terminal... Atau gurun, hutan lebat dan hal semacamnya kan?"

Sinon menggelengkan kepalanya untuk membantah perkataan Lyfa.

"Walaupun mereka mendarat disuatu tempat, disana pasti ada suatu fasilitas. Mereka bisa saja memasuki suatu area dengan teknologi elektronik paling maju lalu bertukar tempat pada saat itu..."

"Bagaimana kalau bukan di Jepang... tapi diluar..."

Gak ada yang langsung bisa memberikan jawaban kepada suara gemetar Asuna.

Satu-satunya hal yang menghapuskan suasana sunyi itu adalah suara Yui yang murni dan tenang.

"Hanya satu helikopter militer yang bisa terbang dari Tokyo ke luar negeri. Aku gak bisa yakin karena data yang kurang, tapi aku rasa papa masih berada di suatu tempat di Jepang."

"Iya. RATH meneliti suatu yang bisa melampaui teknologi virtual yang sekarang, kan? Mereka itu perusahaan kelas tinggi, sangat sulit untuk membayangkan kalau tempat penelitian nya berada di luar negeri."

Mendengar perkataan Sinon, Asuna mengangguk setuju. Perusahaan elektronik gabungan yang dipimpin ayah nya mengalami krisis karena mata-mata perusahaan berpindah pihak. Tempat penelitian yang penting dilindungi dengan sangat ketat seperti Bukit Tama. Katanya keamanan di tempat penelitian harus ketat. Kalau ada banyak markas diluar negeri, kemungkinan bocor-nya informasi akan jadi lebih besar dibanding dengan mempunyai markas hanya di dalam negeri saja.

Lyfa menunjukkan wajah yang kelihatan sedang berfikir keras, menundukkan kepalanya kemudian berkata.

"Kalau begitu.. Pasti ada di suatu tempat di Jepang yang jauh dari orang-orang, kan...? Tapi apa bisa mereka membuat tempat penelitian yang sangat rahasia seperti itu di kondisi Jepang yang sekarang?"

"Masalahnya bukan hanya tentang mereka bisa melakukan nya secara sangat rahasia... Yui-chan, apakah ada hal yang kamu ketahui tentang RATH?"

Saat Asuna bertanya, Yui kembali mengambang di udara, berhenti di ketinggian pandangan ketiga gadis, dan berkata,

"Aku menggunakan 12 search engine umum dan 3 search engine pribadi untuk menyelidiki, tapi aku gak bisa menemukan data yang cocok yang berhubungan dengan nama perusahaan, nama fasilitas, atau bahkan barang yang berhubungan dengan teknisi VR. Dan juga, aku gak bisa menemukan informasi apa-apa yang berhubungan dengan teknologi 'Soul Translator', termasuk penyelesaian permintaan hak paten nya."

"Mereka bahkan gak membuat hak paten untuk penemuan yang luar biasa seperti itu... penemuan yang bisa membaca jiwa manusia dan merekam nya... Benar-benar rahasia yang dilindungi dengan sangat ketat..."

Sepertinya kita gak akan bisa menemukan bocoran dari luar RATH. Asuna menghela nafas, dan Sinon menggelengkan kepalanya secara tak menunjukkan perasaan.

"Untuk suatu alasan.. Kita seperti menduga-duga apakah perusahaan itu memang benar-benar ada. Jika aku tau hal ini akan terjadi, aku harusnya bertanya lebih banyak kepada Kirito tentang perusahaan itu... Apakah pada terakhir kita bertemu, dia menyinggung suatu hal yang mungkin bisa membantu kita...?"

"Umm..."

Dia mengerutkan dahi-nya dan berusaha keras untuk menggali ingatan-nya. Serangan Kanemoto dan kecurigaan terhadap penculikan membuat dia sangat shock, dan percakapan tenang yang dia alami di Dicey Cafe menjadi samar-samar seperti terhalang kabut, seperti sudah sangat lama terjadi.

"Waktu itu, memang benar kalau... kami bicara tentang Soul Translator, dan tanpa sadar sudah lewat sore. Setelah itu... Aku pikir dia menyinggung sedikit tentang dari mana asal nama RATH..."

"Ahh... Ada monster entah yang mana adalah babi atau kura-kura di 'Alice in Wonderland'. Emang sedikit aneh untuk menyebutnya seperti itu, berhubung babi sama sekali gak mirip dengan kura-kura."

"Lewis Carroll, orang yang membuat nama itu sepertinya gak menyebutkan apa itu, dan kemudian analisa terhadap Alice tampak menjelaskannya seperti itu..."

Asuna merasakan sesuatu di pikiran-nya, lalu dia berbicara, dan tiba-tiba berhinta

"Alice...? Apakah Kirito-kun mengatakan sesuatu tentang Alice waktu dia keluar dari toko?"

"Eh?"

Sinon dan lyfa, yang sedang terdiam, melebarkan mata mereka.

"Apakah onii-chan mempunyai suatu hal yang harus dilakukan yang berhubungan dengan Alice in Wonderland?"

"Bukan, bukan seperti itu... Di tempat penelitian RATH, bukannya Alice itu suatu wujud singkatan atau apalah... Yah, itu sangat umum, kan? coba Ambil masing-masing huruf dari Alice dan coba cari makna tiap huruf nya lalu hubungkan menjadi suatu makna"

"Oh, itu yang disebut 'Acronym' kan? Departemen yang berhubungan dengan pemerintah America sering menggunakannya supaya gampang dibaca."

Sinon menimpali mendengar informasi itu, dan Lyfa mengibaskan ponytail nya lalu berkata,

"Dengan kata lain... Kalau kita menggabungkan 5 huruf, kita punya A, L, I, C, E... gitu?"

"Iya, seperti itu. Kirito-kun menyinggung hal itu..."

Dia menguatkan konsentrasinya dengan sepenuh tenaga, dan jauh dilubuk telinganya, terdengar suara familiar milik Kirito. Dengan hati-hati dia menjelaskannya,

“...Aateifisharu...Reibiru...Interijen... Aku gak bisa ingat kepanjangan dari C dan E, tapi kupikir yang barusan aku sebutkan itu kepanjangan dari A, L dan I."

Asuna akhirnya mengerti lalu kepala-nya terasa sedikit sakit, mungkin karena dia juga mengolah ingatan-nya dengan keras. Namun, kedua gadis lain-nya lanjut berfikir walau pandangannya terlihat sepertinya mereka tidak menyadari sesuatu.

"Aatefisharu... Itu jadi 'artificial'. Interijen... Itu jadi 'intelligence'... Terus, sebutan inggris dari kata Reibiru jadi apaan?"

Sinon mengajukan pertanyaan, dan Yui, yang berada di udara, langsung menjawab.

"Dari pengucapan-nya, kupikir sebutan yang paling cocok ialah 'labile', sangat adaptif."

Setelah jeda singkat.

"'Artificial Labile Intelligence'. Kalau kita terjemahkan, itu berarti 'Artificial Intelligence yang sangat adaptif."

"Artifical...Intelligence."

Asuna kemudian berkedip tanpa reaksi saat hal itu disebutkan.

"Ahh aku ngerti... Artificial Intelligence bararti 'AI', sesuatu hal yang berhubungan dengan eksistensimu, Yui. Tapi apa yang dilakukan suatu perusahaan yang mengembangkan Brain-Machine Interface merek baru dengan AI?"

"Bukannya itu berhubungan dengan karakter yang bisa bergerak di ruang virtual? Seperti NPC disana itu?"

Sinon mengangkat tangan kanan-nya dan menunjuk kearah jendela sambil berkata hal itu. Asuna kembali berbicara, sambil befikir kalau mereka belom menemukan poin utamanya.

"Tapi... Kalau perusahaan RATH ini berasal dari nama 'Alice In Wonderland', lalu istilah 'Alice' yang digunakan RATH adalah codeword untuk suatu hal yang berhubungan dengan Artificial Intelligence... Buaknnya itu aneh? Itu berarti tujuan perusahaan itu bukannya ingin mengembangkan generasi selanjutnya dari VR, tapi untuk membuat AI dari penelitian mereka?"

"Hmm— Benar kah...? Tapi NPC di dalam game gak terlalu berharga... Piringan disk yang berisi program AI sudah dijual dimana-mana. Apakah hal itu benar-benar sesuatu yang spesial, yang bahkan perlu disembunyikan perusahaan dan bahkan sampai menculik orang?"

Saat Sinon bertanya seperti itu, Asuna gak bisa menjawab langsung. Tiap langkah maju yang dia tempuh, dia merasakan suatu feeling yang membuat gelisah. Apakah tebakan kami salah besar?

"Hey, Yui-chan. Sebenarnya, yang namanya 'Artificial Intelligence' itu apaan pula?

Yui kemudian menunjukkan senyum pahit yang langka di wajahnya dan mendarat di meja.

"Apa mama yakin bertanya seperti itu kepadaku? Bagi mama, itu sama saja seperti bertanya 'Apa itu manusia'.."

"Emang bener sih."

Tegasnya, definisi seperti 'Ini adalah Artificial Intelligence' itu mustahil. Di dunia ini, Artificial Intelligence yang sebenarnya belum pernah ada, apakah itu di masa lalu ataupun sekarang."

Yui mencondongkan tubuhnya sedikit diujung teko, dan kata-katanya membuat ketiga gadis mengedipkan matanya dengan kaget.

"Eh, ta-tapi... Kamu itu sebuah AI, kan, Yui-chan? Itu berarti kamu itu Artifical Intelligence, kan?"

Lyfa mengatakannya dengan terbata-bata, dan Yui memiringkan kepalanya, tetap terdiam seperti seorang guru yang sedang berfikir bagaimana cara menjelaskan sesuatu kepada muridnya, dan mengangguk sedikit, lalu mulai menjelaskan.

"Mari kita mulai dari apa yang kita sebut AI selama ini— Di abad sebelumnya, orang-orang yang mengembangkan AI mempunyai tujuan yang sama melalui dua jalur, Salah satunya ialah 'top-down-type AI', dan yang lainnya ialah 'bottom-up-type AI'.

Asuna menajamkan telinganya, mencoba yang terbaik untuk mengerti akan hal yang akan diucapkan suara yang murni dan polos dari Yui.

"Pertama-tama, top-down AI adalah sesuatu yang sepenuhnya bergantung kepada arsitektur komputer untuk mendapatkan pengalaman dari pertanyaan dan jawaban yang simpel, pada akhirnya menjadi intelektual nyata lewat melalui pembelajaran. Termasuk aku, sebagian besar AI adalah top-down-type, artinya... 'kecerdasan' yang aku punya mungkin hampir sama dengan yang mama punya, tapi sebenarnya itu benar-benar berbeda. Singkatnya, eksistensi seperti diriku ini hanya kumpulan dari sebuah sistem yang hanya bisa 'mendapat pertanyaan A dan menjawab dengan B'."

Yui berkata seperti itu lalu pipi putihnya menunjukkan tanda-tanda kesepian. Apakah mata-ku ini menipu-ku? Fikir Asuna.

"Jika, bagaimana mama bertanya 'Apa itu AI?, dan bagaimana aku menjawab dengan menunjukkan 'senyum pahit' atau variasi yang lain-nya, itu karena papa sering menunjukkan ekspresi seperti itu, dan aku mendapat pengalaman dan mempelajarinya saat aku bertanya tentang diriku sendiri. Basis-nya sendiri gak terlalu berbeda dari aplikasi input 'predictive text' di terminal portabel milik mama —Karena hal ini, top-down-type AI yang sekarang itu jauh dari level AI yang sebenarnya. Ini adalah 'apa yang disebut AI' yang aku baru saja jelaskan kepada Lyfa-san, jadi tolong pahami seperti itu."

Setelah berkata seperti itu, Yui memalingkan matanya ke arah bulan yang jauh diluar jendela.

"...Sekarang, Aku akan menjelaskan tentang yang lain-nya, yaitu 'bottom-up AI'. Ini sangat mirip dengan otakmu, mama... Semua orang punya miliar-an sel otak yang semuanya terhubung dengan organ biologis, dan tujuan untuk menciptakan hal ini menggunakan perangkat elektronik buatan ialah untuk menciptakan kesadaran."

Itu terlalu ambisius... konsepnya sangat konyol dan mustahil. Asuna pun tak bisa menahan dirinya untuk bergumam.

"Bu...Bukannya itu terlalu gak masuk akal...?"

"Benar."

Yui menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.

"Sejauh yang aku tau, penelitian bottom-up-type berhenti diteruskan bahkan sebelum mereka merencanakan eksperimen. Kalau itu benar-benar diwujudkan, kesadaran yang bersemayam didalamnya akan berbeda dengan yang aku punya, eksistensi nya akan berada di level yang sama dengan manusia seperti-mu, mama, dan semua orang..."

Yui mengalihkan pandangan-nya dari kejauhan, menghela nafas yang dalam, dan membuat kesimpulan.

"Seperti yang sudah aku bilang, sekarang ini, ada dua dasar pemikiran untuk istilah Artificial Intelligence — AI. Salah satunya adalah yang seperti diriku, sebuah NPC yang adalah bagian dari program analitis dan bagian dari karakter. Sebuah AI palsu. Yang satunya lagi adalah sesuatu yang bisa mengembangkan konsep, sesuatu yang mempunya kemampuan untuk menciptakan dan beradaptasi sambil mempelajari sesuatu, yaitu sebuah Artificial Intelligence yang sebenarnya."

"Kemampuan beradaptasi..."

Asuna bergumam lalu mengucapkan kata-kata.

"'Artificial Intelligence dengan kemampuan beradaptasi yang tinggi'."

Dia kembali menatap kedua gadis dan juga Yui, satu per satu, sedikit demi sedikit membentuk sebuah kesimpulan di fikirannya, lalu pelan-pelan menjadikannya sebuah kata-kata.

"Ba...Bagaimana kalau RATH mengembangkan STL (Soul Translator) bukan sebagai tujuan, tapi sebagai sarana...? Yah, memang benar kalau Kirito-kun sebelumnya sedikit ragu. RATH ingin melakukan sesuatu dengan STL, jadi... Jika terhubung langsung dengan jiwa manusia, kalau begitu.... bottom-up AI pertama didunia ini akan... Kalau itu terjadi..."

"Kalau begitu, codename dari AI itu adalah 'Alice'... bukannya begitu?"

Mendengar kata-kata Asuna, Lyfa bergumam. Sinon mempunyai ekspresi kosong yang sama lalu melanjutkan,

"Dengan kata lain, RATH bukanlah perusahaan yang mengembangkan generasi lanjut dari VR... Tapi sebenarnya, perusahaan yang bertujuan untuk mengembangkan AI... Begitu kan?"

Seiring mereka melanjutkan untuk berdiskusi tentang situasi dengan 'musuh', lama-lama kondisi yang parah kian menjadi semakin jelas. Perkembangan situasi tersebut membuat ketiga gadis terdiam. Sepertinya Yui sendiri gak bisa mengatasi semua informasi itu, secara ia mengerutkan keningnya.

Asuna menggapai mug dengan tangannya, dipanaskan ulang dengan pop-up menu, lalu meminum-nya, "houu", ia menghela nafas, lalu berbicara, mengutarakan opininya tentang kekuatan 'musuh'

"Kalau RATH adalah 'musuh', yang kita lawan bukanlah sebuah perusahaan biasa. Mempertimbangkan cara yang mereka gunakan untuk melakukan penculikan -mengirim ambulans palsu lalu helikopter, dan juga ada mesin yang seperti monster yang bernama STL di tempat penelitian-nya -kita bahkan gak tau dimana lokasi-nya, dengan tujuan menciptakan AI yang setara dengan manusia. Kalau begitu... Orang yang menawarkan Kirito-kun untuk berkerja di RATH adalah Chrysheight... Kikouka-san dari Kementrian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi. Orang itu punya banyak koneksi dengan dunia yang berhubungan dengan VR, dan omong-omong, RATH mungkin memiliki beberapa hubungan nasional ... "

"Kikuoka Seijirou. Sudah kuduga, dia bukan hanya orang berkacamata yang pura-pura bodoh seperti yang aku lihat... Apakah kita masih bisa menghubungi-nya?"

Sinon, yang cemberut, dengan lemah menggelengkan kepalanya.

"Dua hari yang lalu, kami gak bisa menghubunginya dengan telepon, dan dia gak juga mengirim pesan untuk sebuah balasan. Berhubung kondisinya darurat, aku ingin segera ke divisi virtual dari Kementrian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi, tapi sepertinya hal itu akan sia-sia."

"Yah... Meskipun Kirito pernah mencoba melacak pria itu, dengan mudah orang itu membuat Kirito pergi, atau setidaknya itulah yang dikatakan Kirito..."

4 tahun setelah insiden SAO, «SAO Incident Victims Rescue Countermeasure Team» ditempatkan di Kementrian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi, dan setelah insiden itu diselesaikan, Tim itu ditinggalkan dan menjadi divisi yang menangani masalah yang berhubungan dengan virtual. Salah satu dari mereka adalah PNS dengan kacamata berframe hitam, Kikuoka Seijirou, yang sepertinya membuat hubungan dengan Kazuto setelah Kazuto kembali ke dunia nyata. Untuk suatu alasan, dia membayar mahal untuk mendapakan servis dari seorang siswa SMA biasa di dunia nyata, Kazuto, dan meminta tolong-nya untuk menyelidiki insiden Death Gun.

Asuna bertemu dengan-nya beberapa kali di dunia nyata, dan juga membuat party dengan avatar miliknya di dunia ALO, Undine Chrysheight. Namun, dia merasakan bahwa dibalik sikapnya yang santai dan ramah, ada sesuatu yang disembunyikan, sebuah kesan yang gak bisa Asuna acuhkan bagaimanapun juga, bahkan sampai sekarang. Dia menyebut dirinya PNS tapi gak punya tempat kerja permanen dan diperlakukan dingin, jadi mungkin dia berasal dari departemen yang lebih eksklusif —Kazuto mempunyai keraguan akan hal ini juga.

Kikuoka mengenalkan Kazuto kepada organisasi misterius yang disebu RATH untuk kerja paruh waktu. Asuna mencoba menghubunginya berkali-kali setelah Kazuto menghilang, tapi terminal portabel miliknya disetting menjadi auto-reply dan Kazuto gak bisa dikontak.

Dengan marah dia menelpon Kementrian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi, hanya untuk diberitahu kalau Kikuoka sedang bekerja keluar negeri. Memang wajar kalau Kikuoka gak bisa dihubungi karena alasan itu— Tapi kalau dipikir-pikir, apakah hilangnya Kazuto ada hubungannya dengan pria itu? Asuna mau tak mau menjadi heran.

"Tapi..."

Pada saat ini, Asuna dan Sinon menatap wajah cemberut satu sama lain, lalu Lyfa pelan-pelan berkata,

"Jika Kikuoka itu menjadi penghubung RATH dan negara, mengapa dia masih bekerja diam-diam apapun yang terjadi? Memang ada keharusan untuk melindungi suatu rahasia untuk kepentingan perusahaan, tapi jika itu adalah rencana yang berusaha dicapai oleh negara, bukannya akan lebih baik kalau mempromosikannya besar-besar secara normal?"

"Kalau dipikir-pikir... Itu memang benar..."

Sinon mengangguk dan menjawab.

Dalam setahun terakhir, hal ini, bersamaan dengan mengembangan teknologi ruang virtual, adalah dua merek baru yang saling berbatasan. Sementara masing-masing negara dengan cepatnya berkembang -Amerika, lalu kemudian Jepang mengumumkan pembuatan pesawat ruang angkasa yang gak memakai external boosters, sebuah markas buatan di bulan, dan pembangunan space station elevator. Perkembangan Artificial Intelligence yang sesungguhnya belom pernah terjadi sebelumnya, dan masing-masing pemerintah punya alasan-nya masing-masing untuk melindungi rahasia mereka -yang tak terpikirkan oleh Asuna

Kalau itu benar, jika penculikan Kirito adalah sesuatu yang bisa digolongkan ke level nasional, kalau begitu mustahil untuk berfikir kalau mereka akan berbuat macam-macam kepada murid SMA normal... Selain itu, area itu gak bisa dimasuki kalau gak ada campur tangan polisi. Asuna terpukul oleh kelemahan-nya dan merundukkan bahunya, dan pandangannya bertemu dengan Yui yang sedang melihat kearahnya dari atas meja.

"Yui-chan...?"

"Kuatkan dirimu, mama. Papa gak pernah menyerah saat mencari mama di ALFheim."

"Ta...Tapi...A..Aku..."

"Sekarang giliran mama untuk mencari papa!"

Pada saat itu, Yui, yang menyatakan kalau respon-nya adalah bagian dari program pembelajaran yang simpel, menunjukkan senyuman yang hangat yang gak bisa dibayangkan oleh kata-katanya.

"Pasti ada cara untuk menghubungi papa. Walaupun musuhnya adalah pemerintahan Jepang, aku yakin hal itu pasti gak akan menghancurkan ikatan antara mama dan papa."

"...Makasih, Yui-chan. Aku gak akan menyerah. Walaupun musuhnya adalah negara... Aku akan menerobos ke parliamen lalu mencekik leher para mentri dan pejabat!"

"Itu baru namanya semangat!"

Asuna dan anak-nya menatap satu sama lain dan tersenyum. Sinon tersenyum saat melihat mereka, dan tiba-tiba mengerutkan dahi dengan keras.

"...? Ada apa, Sinonon?"

"Enggak, anu... Sekarang, masalahnya itu walaupun RATH itu organisasi penelitian nasional, kupikir pemerintah ataupun parliamen masih gak tau spesifik dari penelitian mereka."

"Ya... lalu?"

"Kalau hal ini adalah rencana rahasia dari departemen gelap, aku gak merasa kalau menyembunyikan departemen itu mudah, kan?"

"Apa...?"

"Budget! Mau itu tempat penelitian ataupun STL, pasti butuh banyak budget. Aku gak yakin itu butuh berapa juta atau berapa miliar atau lebih, tapi aku yakin mustahil untuk mengeluarkan budget sebesar itu secara diam-diam... Dengan kata lain, mereka butuh rekening yang adalah bagian dari budget negara yang diatasnamakan suatu nama, kan?"

"Iya, tapi... menurut hasil yang Yui-chan cari, hasil yang berhubungan dengan teknologi VR yang membutuhkan budget besar itu gak a... Ah, aku ngerti sekarang... Istilahnya salah...? Itu bukan teknologi VR, tapi Artificial Intelligence...?"

Yui melihat kearah Asuna dan mengangguk dengan ekspresi serius, berkata padanya untuk menunggu sebentar sebelum melebarkan lengan-nya lebar-lebar. Jari tangannya menyala ungu, dan dia menyambung ke network dari ALO.

Ketiga gadis menghabiskan beberapa detik dengan penuh harapan dan gelisah. Yui membuka mata-nya yang lebar dan berbicara dengan nada yang tanpa emosi seperti suara elektronik yang benar-benar berbeda dari beberapa detik yang lalu.

"Terhubung ke data informasi budget dari masing-masing kementrian dan instansi. Artificial Intelligence, AI, 38 network yang mirip sedang di proses sekarang... 18 universitas, 7 departemen pihak ketiga, di konfirmasi. Budget yang digunakan untuk masing-masing projek, semuanya kecil.... Projek lahan intrastruktur dan pembangunan eksplorasi maritim... projek pembangunan Automobile... menyimpulkan hal diatas tidak ada hubungannya..."

Setelah itu, Yui mengajukan beberapa hal yang sulit dimengerti, tapi hal itu juga sepertinya gak ada hubungannya, lalu lanjut kembali untuk mengajukan beberapa contoh lain sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya pelan-pelan.

"...Aku gak bisa menemukan apapun yang cocok dan budget besar yang menyimpang menggunakan pencarian normal dan pencarian spesial. Mungkin budget itu dipisah-pisah menjadi budget-budget kecil dan disamarkan, yang membuatnya menjad sulit dicari."

"Oh begitu... Seperti yang sudah diperkirakan, kita mendapati bahwa udah gak ada jalan yang dibiarkan terbuka oleh mereka..."

Sinon melipat lengannya sambil mengerang. Asuna terdengar seperti dia mencengkeram sedotan saat dia mengangkat suaranya berteriak, "Tapi."

"—Mungkin ada budget yang disembunyikan oleh RATH diantara hal-hal yang Yui-chan temukan. Kenapa kita gak bisa menemukan-nya? Yah, kupikir sumber daya laut gak ada hubungan-nya dengan ini... Jadi kenapa mereka harus melakukan penelitian semacam itu?"

"Erm..."

Yui melebarkan matanya lagi, menghubungkan dirinya ke database yang relevan, dan dengan segera mengangkat kepalanya.

"...Kupikir itu sebuah bentuk dari penelitian seperti mencari minyak dibawah laut atau endapan logam mulia di permukaan dasar laut dan membiarkan kapal selam kecil bekerja dengan sendirinya. Ada kemungkinan butuh budget yang agak besar untuk kapal selam yang menggunakan prioritas AI."

"Heh... Hal seperti itu harus dijadikan robot yah... Dimana mereka mengembangkan hal itu?"

"Projek nya terletak di... «Ocean Turtle». Projek nya selesai tahun ini, sebuah raksasa yang mengapun yang bertujuan untuk meneliti lautan."

"A-Aku melihat-nya di berita."

Sela Lyfa.

"Wujudnya sedikit mirip seperti kapal dengan piramid yang mengambang diatas laut."

Asuna terdiam dan mengerutkan dahi. Dia menundukkan kepalanya sejenak lalu mengangkatnya kembali,

"Omong-omong, aku pernah mendengar tentang ini sebelumnya. Ocean... Turtle..."

"Hey, Yui-chan... Apa kamu punya gambar dari tempat penelitian itu?"

"Iya, tunggu sebentar yah."

Yui melambaikan tangan kanan-nya, dan muncul sebuah layar tampilan di atas meja seperti peta yang sebelumnya, sebelum berubah menjadi gambar 3D dari laut. Yang muncul adalah gambar rangka yang rumit yang tergambar di tengah-tengah layar dengan tekstur halus.

Yang muncul di lautan kecil itu adalah hal yang orang bisa langsung menyebutnya piramid hitam.

Tapi, dilihat dari atas, bentuknya gak kotak, tapi persegi panjang yang perbandingan sisi-sisinya 2 banding 3. Tinggi piramid diperkirakan sama panjang dengan sisi pendek-nya.Jika menghilangkan jendela yang panjang dan sempit, eksterior akan terlihat seperti mengeluarkan cahaya mengkilap berwarna abu-abu gelap. Kalau seseorang melihat nya, orang itu akan mendapat gambaran dari segi enam sama sisi yang punya panel solar yang ditempatkan dengan erat.

Ada proyeksi dari empat penjuru, dan pada salah satu sisi pendek, bisa terlihat jembatan komando kecil yang menempel disana. Logo H di atap itu pasti helipad, tapi itu terlihat sedikit kecil. Dari perhitungan berdasarkan skala panjang-nya, sangat mengejutkan bahwa panjangnya 400m.

"Oh begitu... 4 kaki, 4 sisi kepala, tampak luar yang seperti piramid, ini terlihat seperti kura-kura. Tapi bukannya ini terlalu besar..."

Ucap Sinon dengan sedikit kagum. Asuna terhuyung ke sekitar untuk melihat, dan menunjuk kearah jembatan dari Ocean Turtle dengan jari telunjuk dari tangan kanan-nya.

"Tapi, lihat, kepala yang ini terlihat seperti tonjolan dari bagian depan wajah. Bisa gak kalian tau binatang apa ini?"

"Ah— Benar. Itu terlihat seperti babi. Seekor kura-kura-babi yang bisa berenang."

Ucap Lyfa dengan suara yang polos.

Lalu, terlihat seperti terkejut oleh perkataan-nya sendiri, dia melebarkan matanya, menggerakkan bibirnya terus menerus sebelum mengeluarkan suaranya yang serak.

"Kalau itu kura-kura.... dan juga babi..."

Asuna, Sinon dan Lyfa bertukar pandangan satu sama lain, lalu berteriak,

“—RATH!”

Bagian 2[edit]

Helikopter Type-EC135 terbang melewati kabut tebal diatas permukaan laut, dan dari jendela dapat terlihat bentangan besar berwarna biru dibawah.

Tak seperti pemandangan dari pesawat penumpang dari ketinggian -dari sini, puncak ombak dapat terlihat jelas dan cahaya matahari terpantul silau oleh permukaan laut dan Koujiro Rinko berfikir,Sudah berapa tahun lamanya sejak terakhir kali aku bermain di laut..

Hanya butuh sekitar satu jam bagi Rinko untuk pindah dari tempat kerjanya yang sekarang, California Technical Institute ke area San Fransisco Bay, tapi meskipun dia bisa dengan enjoy berjemur kapanpun dia mau, dia gak pernah melangkah ke pantai selama dua tahun dia bekerja di universitas.

Sudah pasti itu bukan karena dia gak suka angin laut atau cahaya matahari, dan sepertinya butuh banyak waktu sebelum dia bisa pergi berlibur dimana dia bisa menikmatinya. Rinko menyadari sepertinya akan butuh 10 atau 20 tahun lagi di luar negeri yang dia tak tau untuk melupakan masa lalu nya.

Jadi, Rinko -yang berfikir tak akan kembali ke Jepang, kampung halamannya lagi, sekarang terbang menuju tempat yang berhubungan dengan masa lalu yang sudah ditinggalkannya sembari melihat ke luar jendela dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Empat hari yang lalu, dia menerima e-mail yang agak panjang yang dikirim oleh orang yang tak terduga. Dia bisa saja segera menghapus e-mail itu dan melupakannya, namun untuk suatu alasan, Rinko gak melakukannya. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mempertimbangkannya, dia membalas e-mail itu dan mereservasi penerbangan. Saat ia memikirkan 2 tahun terakhir, ia menyadari kalau setiap hari pikirannya menjadi dingin dan walau dia tau usaha nya sia sia, ia memutuskan untuk tetap pergi.

Ia melakukan penerbangan dari San Fransisco kembali menuju Tokyo, bermalam di hotel di Narita, dan dengan hati-hati naik helikopter ini, Rinko menghela nafas saat ia berbicara pada dirinya sendiri dalam hati Setelah aku melihat apa yang harus kulihat dan mendengar apa yang harus kudengar, jawaban yang kubutuhkan akan datang sendiri kepadaku.

Ya, terakhir kali dia pergi berenang itu 10 tahun yang lalu, waktu tahun pertama di perguruan tinggi saat ia belum tau apa-apa. Dia mengajak senior nya yang berada di tahun kedua, Kayaba Akihiko dan meminjam uang untuk membeli automobile ringan untuk pergi ke Enoshima. Gadis lugu 18 tahun itu gak sadar akan nasib yang kelak akan dia temui...

Pikiran rinko berkelana dari merenungi masa lalunya lalu penumpang disebelah nya berteriak kepada nya dengan suara yang gak kalah dengan suara rotor.

"AKU MELIHATNYA!"

Mata yang berada dibawah rambut pirang panjang dan tersisir rapih, dan kacamata yang miring, dan benar, di sisi lain dari jendela kaca yang melengkung dari kendaraan ini, terlihat tubuh hitam kecil di pojokan permukaan laut yang sangat luas.

"Itukah... Ocean Turtle...?"

Rinko bergumam sembari melihat cahaya pelangi yang menyilaukan karena pantulan dari solar panel berwarna hitam. Co-pilot yang memakai seragam berwarna hitam yang berada di bangku kemudian menjawab dengan pelan.

"Benar. Tinggal 10 menit lagi sebelum kita sampai."

Helikopter telah menempuh jarak kira-kira 250km perjalanan dari Shinkiba menuju Tokyo -dan disekeliling tempat penelitian ombak yang sangat besar «Ocean Turtle» mereka pergi menuju tempat mendarat.

Rinko terkagum-kagum oleh pemandangan yang sangat megah. Istilah 'kapal' sudah tak dapat mendeskripsikan tempat ini. Piramid besar yang berdiri tegak di tengah lautan dengan ukuran 1.5 kali lebih besar dari kapal terbesar yang ada di dunia, Nimitz. Tingginya setara dengan gedung tingkat 25 —ia udah menyelidiki data ini sebelumnya, namun perbedaan dari kenyataan dan imajinasinya seperti jarak antara Bumi dan bulan.

Piramid empat sisi yang panjangnya 400m dan lebar nya 250m mempunya panel hitam yang bercahaya yang menutupi nya seperti cangkang. Seluruh panel itu sama besarnya dengan helikopter yang sekarang ia naiki. Berapa banyak dana yang mereka gunakan untuk membuat tempat ini? Rinko bertanya-tanya dalam hatinya. Dalam setahun terakhir, ada rumor bahwa mereka menginvestasi penuh untuk logam mulia di dasar laut di Sagami Bay Coast, dan setelah melihat tubuh besar yang diluar akal sehat, siapapun bisa tau kalau itu bukan hanya rumor.

Konstruksi raksasa mekanik yang mengapung di lautan terlihat seperti dikembangkan untuk generasi lanjut dari tempat ekstraksi minyak laut —seharusnya begitu, tapi kenyataannya, yang ada didalamnya adalah tempat penelitian untuk generasi lanjut dari mesin Full Dive yang disebut «Soul Translator» yang dapat membaca jiwa manusia -itu yang diberitahukan kepadanya lewat e-mail satu minggu yang lalu. Rinko sendiri meragukan hal ini, tapi setelah datang ketempat itu, ia gak punya pilihan selain percaya dengan isi e-mail tersebut.

Kenapa, Kenapa tempat penelitian untuk teknologi Full Dive terbaru, Brain Machine Interface harus ada di laut yang berada jauh dari kepulauan Izu? Ia gak tau alasan dibalik hal tersebut, tapi didalam piramid hitam ini, terdapat mesin hasil gabungan dari Nerve Gear yang Kayaba Akihiko ciptakan dan Medi-cuboid yang Rinko kembangkan untuk perawatan medis, dan saat ia memikirkan hal ini, tiba-tiba ia sadar...

Dua tahun hidupnya ke luar negeri hanya membuat luka nya mati rasa; luka itu gak pernah sembuh sepenuhnya. Yah, pada akhirnya, ia menduga kalau apapun yang dia lihat di kapal ini akan menyembuhkan luka nya -atau merobek nya dan membiarkan darah menyembur keluar.

Rinko pelan pelan menghela nafas dalam didalam helikopter yang perlahan turun dan melihat ke arah penumpang lain, yang mengangguk pelan dengan kacamatanya, dan menyiapkan diri untuk turun.

Mungkin pilotnya adalah veteran yang handal, mesin helikopter gak banyak bergoyang saat mendarat di helipad yang berada di atap jembatan Ocean Turtle. Pertama-tama, pria yang memakai seragam hitam, yang menjadi guide, turun dari helikopter dengan sigap dan memberi hormat, lalu pria dengan seragam yang sama datang dengan berlari.

Rinko lalu berjalan keluar dan mengangguk kepada orang yang datang dengan berlari, ia berfikir kalau memakai celana jeans adalah pilihan yang baik saat ia melompat dari ketinggian 40cm. Sol dari sepatu olahraga mendarat di daratan buatan dan sangat sulit untuk membayangkan kapal yang punya stabilitas dan keamanan yang tinggi.

Selanjutnya, penumpang lain yang mempunyai rambut pirang berkilauan melangkah keluar dengan kacamatanya dan melengkungkan punggungnya. Rinko juga membentangkan lengan-nya lebar-lebar untuk menikmati angin laut yang mempunyai aroma ombak.

Pria yang menunggu di kapal menunjukkan ekspresi serius di wajah coklat nya dan dengan segera memberi hormat kepada Rinko.

"Profesor Koujiro. Selamat datang di Ocean Turtle. Dan dia?..."

Pria itu melihat ke arah penumpang lain, lalu Rinko menunduk lalu memperkenalkan.

"Dia adalah asisten-ku, Mayumi Reynolds."

“Nice to meet you.

Co-passenger berbicara dengan bahasa inggris yang fasih lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam nya dengan agak kikuk. Pria itu lalu memperkenalkan dirinya.

"Saya Letnan satu Nakanishi, ditugaskan untuk membawa kalian berdua. Petugas lain akan membawa barang-barang kalian nanti. Mari, ikuti saya—”

Pria itu melambaikan tangan kanannya ke anak tangga yang bisa dilihat dari heliport dan melanjutkan.

"Letnan Kolonel Kikuoka sudah menunggu."

Udara di lama jembatan terasa seperti musim panas dan bau garam dari Samudra Pasifik, tapi setelah melewati elevator, jalanan panjang dan melewati Ocean Turtle itu sendiri —pintu besi yang tebal di dalam piramid hitam, udara yang dingin meniup ke arah wajah Rinko.

"Apakah kapal ini membutuhkan AC seperti itu?"

Ia bertanya kepada Letnan satu Nakanishi yang sedang berjalan di depan nya. Petugas Pertahanan-Diri yang masih muda itu berbalik ke arah belakang, mengangguk dan berkata,

"Ya. Banyak mesin yang rumit disini, jadi kami harus mengatur temperatur udara nya di sekitar 23 derajat dan kelembapan dibawah 50%."

"Apa tenaga yang digunakan berasal dari listrik bertenaga matahari?"

"Gak juga. Panel solar bahkan gak bisa memenuhi 10% dari energi yang dibutuhkan. Mesin utama menggunakan reaktor nuklir air yang bertekanan tinggi untuk listrik."

"...Oh begitu."

Banyak hal yang menjadi makin rumit. Rinko menggelengkan kepalanya.

jalanan yang punya panel berwarna abu-abu bening, bentuk manusia menjadi lebih dan lebih menyimpang. Informasi yang ia baca sangat terbatas, dan berfikir kalau mungkin ada ratusan peneliti yang pindah kesini, sepertinya ada lebih dari cukup ruang berhubung dengan ukuran tempat ini.

Mereka mengambil belokan ke kanan, ke kiri lalu maju untuk sekitar 200m, dan tepat di depan pintu yang tiba-tiba muncul didepan mereka, muncul pria yang berpakaian seragam biru tua. Orang bisa saja mengira kalau itu seragam milik security, tapi dengan segera dia memberi hormat setelah melihat Letnan satu, perilaku seperti itu sudah pasti bukan apa yang rakyat biasa akan lakukan.

Si Letnan satu membalas hormat nya dan berkata dengan nada yang lantang,

"Permohonan izin untuk peneliti Profesor Koujiro dan asisten nya Reynolds untuk memasuki area S3."

"Menjalankan konfirmasi."

Petugas keamanan mengaktifkan terminal logam di tangan-nya, lalu menggunakan tatapan tajam nya dan monitor menscan bolak-balik ke wajah Rinko. Ia mengangguk lalu melihat ke arah asisten dibelakang Rinko, menggunakan tangan-nya untuk menggaruk janggut nya yang rapi sebelum memindahkan nya ke samping mulutnya.

"Maaf, bisakah anda melepas kacamata itu?"

"Oh begitu."

Sang asisten melepas kacamata nya yang agak besar, dan rambut pirang terang serta kulit putih mulus dapat terlihat. Petugas keamanan harus memiringkan matanya menatap wajah nya yang mempesona itu, dan mengangguk kembali.

"Telah dikonfirmasi. Silahkan."

Hou. Rinko menunjukkan senyum pahit dan berkata kepada Letnan satu,

"Keamanan yang cukup ketat meskipun kalian berada di tengah-tengah lautan yah."

"Kami sudah mengurangi 'body check' dan prosedur yang lain-nya. Kami hanya mengecek metal dan bahan peledak sekitar 3 kali."

Jawab pria itu. Pria dengan jas mengeluarkan sebuah CD dari kantung di dada nya dan meletakkan nya di piringan di samping pintu, lalu menggunakan tangan kanan nya untuk mendorong nya ke panel sensor. Sesaat kemudian, pintu itu terbuka dengan suara motor, dan pintu menuju pusat dari Ocean Turtle terbuka.

Setelah melewati pintu tebal itu, tertiup udara yang lebih dingin, cahaya berwarna oranye bersinar, dan sedikit suara dari mesin bergema. Kan, kan, suara langkah kaki bergema di ruangan didalam kapal yang gak ada satu orang pun yang bisa membayangkan besarnya, dan si pemandu -Letnan satu Nakanishi menyadari hal ini lalu berhenti di depan suatu pintu.

Melihat keatas, papan simpel bertulisan 'Primary Control Room' dapat terlihat disana.

Akhirnya, kita sekarang berada di tempat terakhir yang ditinggalkan Kayaba Akihiko. Rinko menghela nafasnya dan menatap punggung Petugas Pertahanan-Diri yang sedang memeriksa keamanan terakhir.

Apakah ini permulaan dari awal yang baru—

sisi lain dari pintu yang terbuka dengan berat, kegelapan pekat mengelilingi nya seperti kain kafan, menyebabkan Rinko gak bisa bergerak untuk beberapa saat. Tidak peduli seberapa kuat ia menolak kegelapan itu, bagaimana pun ia muak akan apa yang ia rasakan, ia dipaksa untuk menerimanya.

"...Sensei."

Suara sang asisten dari belakang nya membuat kesadarannya kembali.

Letnan satu Nakanishi berjalan kearah ruangan gelap, mengambil beberapa langkah, lalu berbalik arah untuk melihat ke arah Rinko. Setelah pemeriksaan yang lebih dalam, bagian dalam dari 'Primary Control Room' gak sepenuhnya gelap, dan ada cahaya oranye yang berkedip di lantai.

Rinko mengambil nafas yang dalam dan menggerakkan kaki kanan-nya melangkah maju dengan sikap yang yakin. Sang asisten melangkah maju, dan pintu dibelakang mereka tertutup.

Mereka mengikuti penanda di lantai sembari bergerak diantara network besar dari mesin server, dan setelah berjalan melewati lembah penuh mesin, Rinko kaget dan melebarkan matanya.

"......Eh......!?"

Secara tak sadar ia melenguh. Disana terdapat jendela besar di tembok di depan nya yang melalui nya ia bisa melihat pemandangan yang tak bisa dipercaya.

Jalanan... Bukan, itu mungkin kota. Tapi, itu tak seperti kota di Jepang. Semua bangunan-nya terbuat dari batu putih, dan ada atap berbentuk kubah yang aneh. Walaupun sepertinya terlihat sekitar setinggi 2 lantai, bangunan itu tampak sangat kecil, ini semua karena bangunan itu dikelilingi oleh pepohonan raksasa dan dedaunan yang tumbuh di seluruh tempat.

Batu putih yang sama digunakan sebagai bahan untuk membuat jalanan dan beberapa anak tangga dan juga jembatan yang melengkung melewati hutan; dan orang-orang berjalan kemana-mana —sudah jelas mereka bukan orang-orang dari zaman modern.

Gak ada satupun pria yang menggunakan jas atau wanita yang menggunakan rok pendek. Semua orang berpakaian seperti layak nya jaman pertengahan, seperti jubah one-piece atau mantel panjang. Disana ada juga beraneka ragam warna rambut -pirang, coklat dan hitam. Sangat sulit untuk menggolongkan apakah mereka orang barat atau orang timur.

Dimana tempat ini? kapan kami pindah dari kapal penelitian menuju dunia bawah tanah atau dunia lain nya? Terkaget, Rinko melihat-lihat, dan di ujung jalanan yang membentang menuju kejauhan, disana terdapat menara raksasa berwarna putih. Menara utama di kelilingi oleh 4 menara tepi, dan membentang ke langit biru yang jauh yang bahkan tak dapat terlihat dari jendela.

Rinko mengambil beberapa langkah kedepan untuk melihat seberapa tinggi menara yang menggapai langit itu, dan akhirnya menyadari pemandangan yang berada di depan mata nya itu bukan berasal dari jendela, tapi sebuah gambaran yang ditampilkan panel monitor yang besar. Segera, cahaya dari langit-langit mulai menerang, menghapus kan kegelapan di dalam ruangan.


"Selamat datang di ocean Turtle."


Suara yang tak terduga datang dari arah kanan, dan Rinko segera memindahkan tatapan nya.

Muncul siluet dari dua pria di depan layar teater mini dengan panel monitor, di sebuah konsol dengan keyboard, sub-monitor dan banyak hal lainnya.

Salah satu dari mereka duduk di kursi dengan punggung nya menghadap semua orang, mengetik sebuah keyboard dengan relax. Namun, orang yang lainnya yang berada di ujung konsol dengan segera menyempitkan matanya lewat kacamata nya saat matanya bertukar pandang dengan Rinko.

Itu adalah senyuman yang ia lihat berkali-kali sebelumnya, sebuah senyuman yang mudah detemui tapi sulit untuk dibaca. Dia adalah Petugas Pertahanan-Diri yang dikirim ke Kementrian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi, Letnan Kolonel Kikuoka Seijirou, tapi—

"...Pakaian apa itu."

menggantikan salam untuk dua orang yang tak bertemu selama 2 tahun adalah wajah cemberut dari Rinko sembari bertanya. Letnan satu Nakanishi yang memakai seragam dengan segera bertukar hormat dengan Kikuoka Seijirou. Ia memakai yukata berwarna biru dengan pola nasi Kurume, sebuah kaku obi terikat disekeliling nya, dan sandal bakiak kayu dibawah kaki nya.

"Kalau begitu, saya izin pergi."

Letnan satu Nakanishi memberi hormat pada Rinko dan pergi -sekali lagi terdengar suara pintu yang tertutup. Kikuoka, yang masih berdiri, bersender dengan santai di sebuah konsol, dan menjelaskan sesuatu dengan suara serak dan tenang,

"Tapi aku masih harus tinggal di lautan ini untuk sebulan kedepan. Aku gak tahan terus memakai seragam seperti itu."

Ia membentangkan lengannya dengan lebar dan tersenyum.

“—Professor Koujiro, Nyonya Reynolds, sebuah perjalanan yang panjang. Aku sangat lega kalian mau datang ke RATH, dan undangan kami telah membuktikan nilai nya."

"Yah, mumpung kita ada disini, kami akan memperkenalkan kepada kalian, meskipun kami gak bisa menjamin kalau hal ini bisa berguna."

Rinko mengangguk, dan asisten disebelah nya menyapa Kikuoka dengan sikap yang sama. Alis Kikuoka melingkar sembari pandangan nya tetap mengarah ke rambut pirang yang anggun milik asisten, dan kemudian tersenyum.

"Bagaimanapun juga, kamu sangat sempurna untuk rencana ini, orang terakhir diantara trio kurasa akan menjadi bagian dari rencana ini. Akhirnya, kalian bertiga dapat berkumpul di pusar kura-kura ini."

"Oh, aku mengerti... salah satu dari mereka pasti adalah kau, Higa-kun."

Ucap Rinko, dan tangan orang kedua yang sampai sekarang punggung nya menghadap mereka berhenti bergerak dan kursinya berbalik arah.

Ia hampir sama tinggi nya dengan Kikuoka, tapi terlihat sedikit lebih pendek. Rambut yang sedikit beruban terlihat berdiri seperti ujung pedang, dan ia memakai kacamata bulat yang tak terlihat elegan. Pakaian T-shirt nya terlihat luntur, tiga perempat panjang jeans dan sepatu kets yang sol nya sedikit rusak membuat nya terlihat tak berbeda dengan saat ia masih di universitas

Higa Takeru, seseorang yang ia tak bertemu selama 5, 6 tahun, menunjukkan senyum malu di wajah yang kekanak-kanakan nya yang cocok dengan ukuran tubuhnya, dan berkata,

"Itu adalah aku. Sebagai murid terakhir dari lab Shigemura, jika aku gak mewarisi tekad guru ku, siapa lagi?"

"Benar-benar... kau tetap sama seperti sebelumnya."

Shigemura di Touto University Electrical and Electronic Engineering mempunyai dua sosok yang hebat, Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki, dan Higa adalah orang yang bersembunyi dibalik bayang-bayang eksistensi mereka berdua. Kapan dia terlibat dalam rencana besar-besaran seperti ini? Fikir rinko sembari menjulurkan tangan-nya untuk menggenggam tangan mantan anak didik nya.

"...Lalu? Siapa orang ketiga?"

Rinko bertanya tentang orang ketiga, namun sang Petugas Pertahanan-Diri menunjukkan senyum misterius yang gak pernah berubah dan menggelengkan kepalanya.

"Sayang sekalu, aku gak bisa memperkenalkan dia untuk saat ini. Jangan khawatir, dalam beberapa hari..."


"Kalau begitu, aku akan membantu-mu untuk menyebutkan nama itu keras-keras, Kikuoka-san."


—Orang yang berbicara bukanlah Rinko, tapi 'asisten' yang berdiri dibelakang nya dengan tenang, seperti bayangan,

"Apa...!?"

Akhirnya kau telah jatuh ke dalam jebakan. Rinko memberikan sebuah ekspresi saat ia melihat Kikuoka melebarkan matanya dengan kaget, dan mengambil langkah kebelakang menjauhi asisten.

Sang asisten melangkah maju dengan anggun, dan menggunakan tangan kanan-nya untuk melepas wig rambut pirang nya dan tangan kiri untuk melepas kacamata nya yang besar. Mata berwarna merah kecoklatan menatap tepat ke arah Kikuoka dan berkata,

Sword Art Online Vol 10 - 061.jpg

"Dimana kalian menyembunyikan Kirito-kun?"

Terlintas Ekspresi kaget dan panik yang gak familiar dengan wajah Letnan Kolonel dan bingung melalui berbagai emosi dan terus menerus membuka dan menutup mulutnya, sebelum akhirnya berbisik,

"...Kupikir identitas milik peneliti sudah di cek melalui database di Institut Teknik California."

"Ehh, sensei dan aku sudah lama mengecek nya."

«Flash» Asuna, Yuuki Asuna, menggunakan identitas dari asisten Rinko, Mayumi Reynolds untuk menyamarkan dirinya dan menyusup ke Ocean Turtle, dan menatap tepat ke arah mata Kikuoka lalu menegakkan dirinya dan menjawab,

"Kami cuma menukar foto dari database dengan foto ku seminggu yang lalu. Kami punya seseorang yang sangat handal dalam urusan menerobos keamanan."

"Sedikit info saja, Mayumi yang asli sedang berjemur dengan nikmat di San Diego."

Tambah Rinko lalu ia tersenyum.

"Sekarang, aku yakin kau sudah mengerti kenapa aku menerima undangan mu kan, Kikuoka-san?"

"Ahh... Aku sudah mengerti sekarang."

Kikuoka dengan lemah menggelengkan kepalanya lalu menggaruk sisi samping kepalanya dengan ujung jarinya. Kuku, Higa, yang dari tadi menatap mereka dengan tenang, tiba-tiba mulai tertawa.

"Lihat, Kiku-san. Inilah sebabnya aku berkata kalau bocah itu adalah lubang terbesar dari keamanan rencana ini."

Empat hari yang lalu, pada tanggal 1 Juli, Rinko telah menerima e-mail dari pengirim yang bernama 'Yuuki Asuna'. E-mail itu berisi tentang sesuatu yang bisa menggerakkan Rinko, yang sampai sekarang terus berkeliling diantara rumah nya dan kampus seperti gelandangan.

Asuna menulis tentang teknologi «Medicuboid» yang Rinko sediakan untuk Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan di Jepang, dan tentang bagaimana desain dasarnya digunakan untuk mengembangkan mesin mutakhir bernama Soul Translator, yang dioperasikan oleh organisasi misterius bernama RATH.

Tujuan utama mengembangkan mesin itu adalah untuk menghubungkannya dengan jiwa manusia yang kemungkinan besar untuk membuat bottom-up Artificial Intelligence yang pertama di dunia. Seorang anak yang membantu mereka dalam experimen, Kirigaya Kazuto yang sedang tak sadarkan diri, diculik dari rumah sakit, dan kemungkinan tujuannya adalah kapal penelitian raksasa yang mengapung bernama Ocean Turtle. Dalang dibalik semua ini adalah PNS yang mempunya hubungan yang cukup dalam dengan Kazuto setelah insiden SAO, Kikuoka Seijirou —kata-kata yang gak bisa dipercaya ini tertulis di e-mail yang dikirim ke pada Rinko.

"Aku menemukan alamat pribadi milik Profesor Koujiro dari alamat email PC milik Kirito-kun. Hanya kau yang bisa memberikan ku kesempatan untuk membawa Kirito-kun kembali. Tolong pinjam kan kekuatan mu—”

E-mail nya berakhir seperti itu.

Rinko sangat tersentuh dengan perkataan Yuuki Asuna yang sepertinya bukanlah suatu kebohongan. Untuk alasannya, sekitar 1 tahun yang lalu, Kikuoka Seijirou menggunakan posisinya sebagai Letnan Kolonel untuk berkali kali mengundang nya ke projek pengembangan untuk generasi lanjut dari Brain Machine Interface.

Rinko mengangkat kepalanya dari monitor, melihat ke pemandangan malam dari kota Pasadena melalui jendela kondominium milik nya, dan mengingat wajah dari anak bernama Kirigaya dari sebelum ia meninggalkan Jepang.

Anak itu menjelaskan tentang eksperiman terhadap manusia yang illegal yang dilakukan oleh Sugou Nobuyuki, yang akhirnya membuat ia menambahkan perasaan ragunya tentang apa yang ia bincangkan dengan Kayaka Akihiko di dunia nyata, dan permohonan rahasia untuk inti «Cardinal System» dengan maksud yang gak diketahui.

Setelah memikirkan hal itu, ia menyadari kalau intensitas dan output tinggi dari scanner otak yang digunakan Kayaba Akihiko untuk mengakhiri nyawanya adalah desain original untuk Medicuboid dan Soul Translator. Jadi semuanya berhubungan. Gak ada yang berubah. Apa sebaiknya aku menerima permohonan dari Yuuki Asuna—?

Malam berikutnya, Rinko membuat keputusan dan mengirim balasan setuju kepada permohonan Asuna.

Hal ini memang pertaruhan yang membahayakan, tapi sepertinya gak rugi melakukan perjalanan kesini dari Pasifik, dapat melihat wajah kaget Kikuoka Seijirou adalah hal yang sepadan. Rinko tersenyum. Ia mungkin lebih unggul dari Kikuoka yang bekerja secara diam-diam setelah insiden SAO dan selalu terlihat kalau ia mengontrol segalanya, tapi masih terlalu cepat untuk merasa lega.

"Kalau begitu, berhubung kita ada disini, kupikir kau sudah mengerti segalanya sekarang... Kikuoka-san? Kenapa kau, seorang Petugas Pertahanan-Diri, menyamar menjadi posisi rendah di Kementrian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi untuk memasuki dunia VR? Apa yang kau rencanakan di dalam kura-kura raksasa ini? Dan... kenapa kau menculik Kirigaya-kun?"

Rinko melantarkan pertanyaan satu demi satu, dan Kikuoka hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengehla nafas lalu menunjukkan senyuman yang mustahil untuk dibaca.

"Pertama-tama, izinkan aku untuk menjelaskan kesalahpahaman yang dari awal gak pernah terjadi... Aku memang menyeret Kirito-kun kedalam RATH melalui cara yang entah bagaimana sedikit memaksa, dan aku minta maaf atas hal itu. Tapi itu karena kami ingin menolongnya."

"...Apa maksudmu?"

Kalau di pinggang Asuna terdapat sebuah pedang, ia pasti sudah menaruh tangannya di gagang pedang. Wajah kuatnya sudah terlihat jelas saat ia bertanya.

"Kirito-kun diserang oleh pelaku dari insiden "Death Gun" dan jatuh koma. Aku tau pada hari itu juga. Otak nya menerima banyak kerusakan karena kekurangan oksigen, dan aku sangat yakin kalau luka pada level itu gak bisa diobati walaupun dengan obat modern."

Wajah Asuna tiba-tiba berubah kaku.

"Gak bisa.... diobati..."

Sejumlah sel saraf yang membuat jaringan saraf didalam otaknya hancur. Walaupun ia dimasukkan kedalam rumah sakit, gak ada dokter yang bisa tau kapan ia akan bangun. Mungkin saja ia gak akan pernah bangun lagi... oke, kamu gak perlu menunjukkan ekspresi seperti itu, Asuna-kun. Bukannya aku bilang begitu jika menggunakan obat modern?"

Kikuoka memberikan 200% ekspresi yang sangat serius lalu melanjutkan,

"Namun, di dunia ini, hanya RATH yang punya teknologi untuk menyembuhkan Kirito-kun. Itu adalah STL yang sudah kau ketahui, Soul Translator. Sel otak yang sudah mati gak bisa disembuhkan, tapi masih mungkin untuk meningkatkan tingkat regenerasi dari jaringan saraf di otak dengan membangkitkan Flucklight menggunakan STL. Hanya tinggal menunggu waktu."

Lengan kanan Kikuoka yang mengulur keluar dari lengan yukata menunjuk kearah langit-langit.

"Saat ini, Kirito-kun sedang terhubung ke saluran utama dari kekuatan maksimum STL. Kami gak bisa melakukan operasi yang rumit di cabang Roppongi, jadi kami harus kembali kesini. Setelah perawatannya berakhir dan ia sadarkan diri, kami akan menjelaskan semuanya kepada keluarganya dan Asuna-kun dan mengirimnya kembali ke Tokyo secara pantas."

Setelah mendengar hal itu, tubuh Asuna menjadi lemah, dan Rinko segera menggenggam tangannya untuk mendukungnya.

Seorang gadis yang memiliki wawasan yang luar biasa dan keyakinan untuk menerobos ke sisi orang yang ia cintai tiba-tiba kehilangan seluruh ketegangannya, kemudian sebuah air mata yang jatuh menuju pipinya, ia mengelapnya, dan bangkit sekali lagi.

"Kalau begitu, apakah Kirito-kun gak apa-apa? Apa ia bisa bangun lagi?"

"Ahh, aku bisa menjaminnya. Perawatan disini gak lebih rendah dari rumah sakit besar manapun. Kami bahkan menugaskan penjaga berpengalaman untuknya."

Pandangan kuat Asuna mencoba untuk menduga maksud asli dari Kikuoka dan relaks untuk beberapa saat, dan ia mengangguk pelan.

"...Aku mengerti. Aku akan mempercayai kalian untuk hari ini."

Kikuoka menghela nafas sebagai pertanda lega dan bahunya menjadi relaks saat ia mendengar perkataan itu. Rinko mengambil langkah kedepan dan bertanya,

"Tapi kenapa Kirigaya-kun itu penting dalam pengembangan STL? Kenapa kalian harus menculik murid SMA normal sepertinya untuk rencana rahasia yang dilakukan ditengah lautan seperti ini?"

Kikuoka bertukar lirik dengan Higa, dan mengangkat bahu nya, Yare Yare...

"Aku harus membicarakan banyak hal untuk menjelaskan hal itu."

"Gak apa-apa. Masih banyak waktu."

"...Berhubung aku harus menjelaskan semuanya, kau juga harus membantu perkembangan STL juga, Profesor Koujiro."

"Aku akan memutuskannya setelah aku mendengar penjelasan mu."

Petugas Pertahanan-Diri terlihat sedikit kesal lalu menghela nafas lagi. Ia mengeluarkan sebuah tabung kecil dari lengan yukata nya, mereka menduga-duga apa isi dari tabung yang ternyata berisi manisan rasa lemon yang murah. Ia memasukkan 2, 3 manisan kedalam mulutnya dan menawarkannya kepada Rinko dan Asuna.

"Mau?"

"tidak, terima kasih."

"Yah... kalau begitu, kupikir aku bisa menganggap kalian berdua tau basic dari STL kan?"

Asuna mengangguk.

"Itu adalah mesin yang bisa membaca jiwa manusia... «Fluctlight» dan membuat dunia virtual yang benar benar mirip dengan dunia nyata."

"Hm. Kalau begitu, apa tujuan dari rencana ini?"

"Pengembangan dari bottom-up... «Highly adaptive Artificial Intelligence». AI yang memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi.”

Higa bersiul dan sepasang mata dibalik kacamata bundar menunjukkan pandangan kagum, menggelengkan kepalanya menunjukkan ketidakpercayaan.

"Luar biasa, Kirito-kun gak mungkin memahami hal ini sampai sejauh itu. Bagaimana kalian bisa menginvestigasi sampai sejauh itu?"

Asuna melihat kearah Higa dan berkata dengan nada yang kaku,

"...Aku mendengar istilah «Artificial Labile Intelligence» dari Kirito-kun..."

"Haha, Aku mengerti sekarang. Sepertinya akan lebih baik bagimu untuk mengecek keamanan rahasia di Roppongi, Kiku-san."

Ucap Higa dengan wajah nyengir nya, dan wajah cemberut Kikuoka berpaling.

"Aku sudah siap kalau ada beberapa informasi yang bocor ke Kirito-kun. Aku sudah memikirkan resiko-nya, tapi bantuan darinya juga sangat dibutuhkan. Kau harusnya mengerti kalau.... ngg, sampai dimana kita tadi? Oh, AI yang memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, kan?"

Kikuoka sekali lagi mengeluarkan manisan lemon dan melemparnya keudara kemudian menangkap nya dengan mulutnya. Letnan Kolonel kemudian melanjutkan dengan nada ceramah,

"Bottom-up-type AI adalah sebuah replika dari konstruksi kesadaran manusia, dan hal itu diduga dari dulu kalau itu hanyalah impian kosong. Tapi walaupun kami menyebutnya konstruksi kesadaran manusia, kami sama sekali gak tau bagaimana struktur nya dan bagaimana hal itu dibentuk —kami hanya menggunakan data yang disediakan Koujiro-sensei dan mesin yang sangat interpretif dan imajinatif, «Soul Translator» yang diciptakan Higa-kun, dan akhirnya berhasil menangkap jiwa manusia -sebuah medan quantum yang kami sebut «Fluctlight», dengan sukses. Berhubung kami dapat sampai ke tahap ini, kami merasa bahwa kami juga bisa berhasil dalam pengembangan bottom-up AI... Kalian tau memgapa?"

"Kalau kalian bisa membaca jiwa manusia, kalian hanya perlu mengkloningnya... benarkah?"

Rinko merasakan sedikit perasaan dingin saat mengucapkannya.

"Tentu saja, walaupun ada pertanyaan tentang medium yang dibutuhkan untuk menampung copy dari sebuah jiwa..."

"Un, itu masalahnya. Elemen yang dulu digunakan untuk sistem komputer quantum gak cukup. Jadi, ini adalah «Quantum Particle Gate Crystallization» yang membutuhkan banyak dana untuk membuatnya, dan mudahnya disebut «Lightcube». Konstruksi 5cm ini yang dibuat dari Praseodymium dapat menampung ratusan juta qubits. Dengan kata lain... kami sudah berhasil mengkloning jiwa manusia."

Rinko terpaksa memasukkan tangannya kedalam celana jeans yang ia pakai untuk menyembunyikan perasaan dingin di jari-jarinya. Asuna, yang berdiri disampingnya, mulai pucat.

"...Kalau begitu, penelitiannya sudah berhasil kan? Kenapa kalian masih memanggil kami kesini."

Tanpa rasa takut ia mengerahkan kekuatan kedalam perutnya saat ia bertanya. Kikuoka bertukar lirik dengan Higa lagi, menunjukkan senyum lemah di sisi kiri dari wajahnya, dan pelan-pelan mengangguk.

"...Yah, kami memang berhasil mengkloning jiwa, tapi kami gak sadar akan kebodohan kami sendiri. Ada suatu kesenjangan besar yang tak bisa dimengerti diantara kloning manusia dan Artificial Intelligence yang sebenarnya... Higa-kun, perlihatkan benda itu."

"Ehh—jangan doong. Bakal jadi kacau banget."

Higa menggelengkan kepalanya karna segan, tapi setelah itu menghela nafas dan mulai menjalankan konsol itu dengan segan.

Kemudian, layar yang menampilkan kota misterius itu menjadi gelap.

"Kalau begitu, memuat modul copy HG001."

Tan. Higa memasukkan kunci masuk -dan muncul cahaya fraktal yang bersinar ditengah layar. Cahaya ditengah itu hampir berwarna putih, dan perbatasan luar yang tajam dari cahaya merah berkedip kedip tak teratur.

“...Pengambilan sampel nya sudah selesai belum?”

Suara yang tak terduga dapat terdengar dari speaker diatas, membuat Rinko dan Asuna kaget. Mereka mendengar suara Higa, tapi terdapat perasaan melankolis dibalik suara itu, mungkin karena efek logam tebal.

Higa, yang sedang duduk di kursi, mengambil mikrofon yang ada dikonsol dan menjawab dengan suara yang mirip dengan suara sebelumnya,

"Ahh, pengambilan sampel Fluctlight buatan sudah selesai tanpa hambatan."

“Oh begitu. Baguslah kalau begitu. Tapi...apa yang terjadi? Benar-benar gelap disini. Aku gak bisa menggerakkan tubuhku. Apakah STL nya rusak? Maaf, tolong keluarkan aku dari mesin.”

"...sayang sekali, aku gak bisa melakukan hal itu."

“Oi oi, apa lagi sekarang? Apa yang kau katakan? Siapa kamu? Aku gak pernah denger suara kamu sebelumnya.”

Higa mengeluarkan keringat dingin dan terdiam selama beberapa saat, lalu menjawab dengan pelan,

"Aku Higa. Higa Takeru."

“...”

Cahaya merah menyala-nyala, dan tiba-tiba meringis kembali. Setelah beberapa saat terdiam, ekstremitas tajam melebar seperti sedang menolak sesuatu.

“Brengsek, apa yang kau katakan!? Aku, Higa ada disini! Keluarkan aku dari STL!”

"Tenang, jangan marah. Kayak bukan kamu saja."

Pada saat ini, Rinko akhirnya mengerti maksud dari adegan didepan matanya.

Higa sedang berbicara dengan klon dari jiwa nya sendiri.

"Kalau begitu, pikirkan dengan tentang, coba dan ingat kembali. Memori mu harus dihalangi saat kau masuk kedalam STL untuk mengekstrak klon dari Fluctlight buatan."

“...Terus kenapa? Ya emang begitu kan. Aku tak sadarkan diri saat di scan.”

"Kau ingat apa yang kau katakan sebelum kau masuk kedalam STL, kan? Kalau kamu gak merasakan tubuhmu saat kau bangun, dan kalau ada kegelapan disekelilingmu, itu berarti kau adalah klon dari Higa Takeru."

Cahaya itu kemudian mengecil seperti semacam mahluk laut. Suasana diam terus berlanjut untuk sementara waktu, lalu muncul 2, 3 lonjakan keluar.

“...Mustahil. Gak mungkin seperti itu. AKu bukan klon, Aku adalah Higa Takeru yang asli. Aku...Aku punya memori ku sendiri. Aku ingat semuanya dari taman kanak-kanak, universitas sampai saat aku berada di Ocean Turtle...”

"Itu benar, tapi itu sudah diperkirakan. Kami mengkloning seluruh memori dari Fluctlight buatan... Sebagai klon, kau adalah Higa Takeru yang sebenarnya. Kalau begitu, kau seharusnya mempunyai kecerdasan yang tinggi. Tenangkan dirimu dan analisa situasi ini lagi dan lagi. Ayo bekerja keras untuk mencapai tujuan kita."

“...Tujuan kita...kau bilang kita?...”

di suara metalic dari klon itu, terdapat perasaan yang sangat emosional, dan pada saat itu, tangan Rinko bergetar kencang. Ia gak pernah melihat 'experimen' yang kejam dan mengerikan sebelumnya.

“...Gak...gak, Aku gak percaya. Aku adalah Higa yang asli. Eksperiemn macam apa ini? Aku baik-baik saja sekarang. Cepat keluarkan aku dari sini. Kiku-san... Apakah kau disana? Jangan main-main dan keluarkan aku dari sini.”

Mendengar hal ini, Kikuoka menunjukkan ekspresi sedih, membungkuk, dan mendekatkan mulutnya ke mikrofon.

"...Ini aku, Higa-kun. Bukan... Aku seharusnya memanggilmu dengan nama HG 001. Sayang sekali, kenyataannya kau memang benar-benar sebuah klon. Kau mendapat banyak intruksi sebelum discan, berbicara dengan ku dan teknisi lain, dan kau seharusnya sudah siap secara mental untuk muncul sebagai klon. Kau memasuki STL karna sudah tau tentang kemungkinan ini."

“Tapi... tapi... gak... GAK ADA YANG MEMBERITAHU KU KALAU AKAN JADI SEPERTI INI!!!”

Suara yang lantang dari klon berbunyi di ruang kontrol.

“A..AKU ADALAH AKU! JIKA AKU ADALAH KLON, KAU HARUSNYA BISA MEMBERIKAN KU SEBUAH KENYATAAN SEBAGAI KLON... HAL SEPERTI ITU... HAL SEPERTI ITU TERLALU...GAK... KELUARKAN AKU DARI SINI!!”

"Tenang. Tetaplah tenang. Pengoreksian kesalahan fungsi dari Light Cube gak sehebat seperti yang ada di otak. Seharusnya kau tau bahaya dari kehilangan ketenangan mu saat berfikir."

“AKU SEMPURNA!! AKU HIGA TAKERU! KALAU ITU MASALAHNYA, BAGIAMANA KALAU SEKARANG KITA LAKUKAN LOMBA MENGINGAT PI DENGAN HIGA PALSU ITU!? OI, AYO MULAI! 3.1415926535897932.........”

Cahaya merah itu membesar, hancur berantakan dari layar dan kemudian hilang. Sedikit suara yang beresonansi dari mikrofon hilang.

Higa Takeru menghela nafas panjang, dengan lemah menekan tombol di konsol, dan menyatakan sesuatu,

"Fuh, sudah hilang. 4 menit 27 detik."

Setelah mendengar gumaman itu, Rinko pelan-pelan melepaskan kepalan-nya yang keras, tangannya basah oleh keringat dingin.

Asuna mendekatkan tangan kanannya ke mulutnya saat ia melihat kloning itu hilang. Kikuoka, yang melihat hal itu, menendang pelan kursi dengan roda dibawahnya dari bawah konsol menuju ke arah mereka. Asuna yang pucat segera mengambil dan duduk diatas kursi itu.

"Kamu gak apa-apa?"

Mendengar hal itu, Asuna mengangkat kepalanya dan mengangguk.

"Ehh...maaf, Aku gak apa-apa."

"Jangan memaksakan dirimu. Lebih baik tutup matamu untuk sementara."

Rinko meletakkan tangan nya diatas bahu Asuna, mengecek apakah Asuna sudah tenang, menatap kearah wajah Kikuoka lagi, dan berkata,

"Selera vulgar mu harus ada batas nya, Kikuoka-san."

"Maaf, tapi kupikir kau bisa mengerti kalau aku gak bisa menjelaskan hal ini kecuali dengan membiarkan kau melihatnya sendiri."

Petugas Pertahanan-Diri menggelengkan kepalanya, menghela nafas lalu melanjutkan,

"Higa-kun ini adalah genius yang IQ nya nyaris 140. Kami membuat klon darinya dan klon itu gak bisa menerima kalau dia adalah sebuah klon. Kami membuat lebih dari 10 Fluctlights buatan, termasuk milikku, tapi semua hasilnya sama saja. Dalam waktu sekitar 3 menit, logika mereka mulai bergerak tak kendali tanpa pengecualian."

"Normalnya aku gak akan memanggilnya seperti itu. Aku takkan menggunakan kata 'ore'. Tapi aku yakin kau bisa mengerti, Rinko-sempai."

Higa Takeru menunjukkan ekspresi enggan dan kuat lalu melanjutkan,

"Hal itu bukan lagi masalah pemahaman kemampuan dan kondisi mental dari sebuah klon, tapi kesalahan struktur dari menggunakan Light Cube untuk mengklon Fluctlight buatan secara penuh, atau yah... itulah yang kurasakan... —Koujirou-sempai, apa kau tau istilah «Resonansi Otak»?"

"Eh? Resonansi otak... Aku ingat hal itu berhubungan dengan tehnik mengkloning, tapi detailnya..."

"Yah, itu adalah teori yang aneh dan fantastis. Kalau kita bisa menciptakan klon yang benar-benar mirip dengan aslinya, medan magnet yang dikeluarkan oleh otak kedua orang itu akan membuat resonansi, atau gema yang kuat seperti dua mikrofon yang didekatkan, dan kedua nya akan menjadi tidak stabil. Gak gampang bagiku untuk mempercayainya —tapi jika kesadaran manusia gak bisa menahan kenyataan bahwa kita bukanlah eksistensi yang unik, mungkin ada kemungkinan seperti... yah, jangan memperlihatkan ekspresi gelisah seperti itu. Kalau gak mungkin, bagaimana kalau kau mencobanya, Rinko-sempai?"

"Gak akan."

Rinko merasa diintimidasi dan menolak dengan segera. Asuna, yang duduk di kursi dengan mata tertutup, berbisik ditengah kesunyian ketiga orang itu.

"...Sepertinya Kikuoka-san bertemu dengan nya berkali-kali di ALO. Top-down-type AI yang Yui-chan katakan sebelumnya... Bahkan dia, yang mempunyai konstruksi yang benar-benar berbeda dengan manusia, merasa takut menjadi sebuah kloning. Jika suatu insiden menyebabkan backup copy miliknya menjadi aktif dan bergerak, mereka mungkin akan bertarung satu sama lain untuk saling menghancurkan..."

"Heh, menarik. Sangat menarik."

Higa seketika membenarkan kacamata nya dan membungkuk kedepan.

"Kiku-san satu-satu nya orang yang melihatnya? Itu terlalu licik. Tolong izinkan aku untuk bertemu dengan nya lain kali. Ya, aku mengerti... sesuai dugaan, memang mustahil bagi sebuah klon untuk mengembangkan intelek... atau mungkin, satu-satu nya kemungkinannya jika intelek nya belum dikembangkan..."

"Tapi itu..."

Rinko merenung untuk sementara, membuka lengannya lebar, dan menghadap ke arah Kikuoka, dan berkata,

"Mengkloning sangat lah luar biasa, tapi kalian gagal untuk mempertahankan tujuan dari penelitian kalian, kan? Aku gak tau berapa dana yang kalian gunakan, tapi menggunakan uang milik negara hanya untuk menciptakan hal seperti ini..."

"Gak gak gak."

Kikuoka tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya,

"Kalau itu hasilnya, kepalaku sudah digoreng sekarang. Dan bukan hanya aku...beberapa orang penting di departemen pengawasan juga akan mati."

Dia bermain main dengan tabung berisi manisan lemon lagi, dan setelah sadar isinya kosong, ia mengeluarkan kotak berisi manisan susu putih dari lengan baju yang lainnya dan mengunyah satu dari manisan tersebut.

"Kenyataannya, kamu bisa bilang kalau ini hanyalah awal dari projek. Mustahil untuk mengkloning jiwa yang berkembang, benar kan... dan jika itu gagal, apa yang menurutmu harus kami lakukan, profesor?"

"...Boleh minta permen-nya satu?"

Ia mengambil permen rasa susu yang Kikuoka berikan dengan senang hati, membuka bungkusnya dan memasukkannya kedalam mulutnya. Rasa manis yang seperti yogurt itu menyebar di mulutnya. Rasa bumbu amerika bukanlah seleranya, tapi gula di permen itu menghilangkan pemikiran seperti itu.

"...Bagaimana kalau kalian batasi memori mereka? Contohnya... hilangkan informasi pribadi seperti nama dan alamat. Jika kamu gak tau siapa dirimu, kamu gak akan membuat tingkah histeria seperti yang terjadi barusan..."

"Sempai memang hebat, bisa langsung berfikir seperti itu."

Higa menggunakan nada universitas nya yang lama lalu melanjutkan,

"Kami menghabiskan waktu sekitar satu minggu berdiskusi sebelum akhirnya mendapat pemikiran hal itu. Kami kemudian mencoba hal itu, tapi... Fluctlight buatan gak mudah untuk dimanipulasi seperti file di OS kalkulator. Mudahnya, ingatan dan kemampuan mereka terikat satu sama lain. Jika kita berfikir tentang itu, sudah pasti kemampuan kita gak kita dapatkan dari awal, tapi dari pembelajaran."

Lalu, Higa mengambil memo dari meja dan menggunakan dua jari dari tangan kanannya untuk memegangnya.

"Pembelajaran juga bagian dari memori. Sekali kau melupakan memori dari menggunakan gunting untuk memotong kertas untuk pertama kalinya, kau akan lupa bagaimana cara menggunakan gunting... Dengan kata lain, menghapus memori yang merupakan bagian dari tumbuh dewasa akan menghapus kemampuan yang berhubungan. Kondisi tragis dari klon seperti itu gak ada bandingannya dengan klon yang sudah berkembang seperti yang tadi. Oiya, mau lihat?"

"Enggak...gak usah."

Rinko dengan segera menggelengkan kepalanya untuk menolak.

"Terus... kalau memori dan kemampuan akan terhapus bagaimanapun juga, bagaimana kalau melakukan pembelajaran dari awal? Gak... itu gak realistis. Akan makan waktu yang sangat lama."

"Ehh, itu masalahnya. Selain itu, belajar kemampuan dasar seperti bahasa dan hitung hitungan akan lebih susah untuk kita, orang dewasa yang mempunyai ruang yang lebih sedikit untuk mengembangkan otak kita untuk belajar. Aku pernah mencoba belajar bahasa Korea, dan aku sudah belajar sistem bahasa mereka untuk entah berapa tahun lamanya... Toh, proses pembelajaran adalah pengembangan dari jaringan saraf seperti yang ada di komputer quantum... dengan kata lain, efisiensi akan berkurang semakin jauh seseorang berevolusi dari keadaan 'lahir'."

"Kalau begitu, memori... bukan hanya terbatas oleh data, tapi juga oleh pikiran dan logika? Apa STL bisa melakukan hal seperti itu...?"

"Jika itu ingin dilakukan, aku gak mikir gak ada yang gak bisa dilakukan. Hanya saja kita harus menghitung jumlah waktu yang kita butuhkan untuk menganalisa Fluctlight buatan di qubit yang jumlah nya miliaran, menetapkan fungsi dari masing-masing qubit. Beberapa tahun...dekade, kita gak tau berapa lama. Tapi... ada cara yang lebih langsung dan simpel yang paman ini pikirkan. Kupikir itu adalah suatu ide yang gak bisa kita, para peneliti pikirkan..."

Rinko berkedip dan menatap kearah Kikuoka, yang punggung nya bersender di konsol. Poker face yang terlihat tenang, dan masih gak mungkin untuk membaca pemikiran orang ini.

"...Cara yang simpel...?"

Meski sudah berfikir keras, Rinko gak bisa memikirkan sesuatu, dan kelihatan sudah menyerah dengan bertanya kepada Kikuoka, *GATAN*, Asuna, yang berada di kursi yang agak jauh, berdiri seperti sehabis melompat.

"Ja...jangan bilang kalau, kalian, melakukan hal yang mengerikan seperti itu..."

Wajahnya masih agak pucat, tapi mata nya kembali memberikan pandangan bersikeras. Kecantikan yang jauh diatas gadis normal di Jepang menunjukkan kemarahan yang kuat sembari Asuna menatap ke arah Petugas Pertahanan-Diri.

"...Kau...kau mengklon jiwa dari bayi yang baru lahir? untuk mendapatkan Fluctlight sempurna yang belum tau apa-apa?"

"Kamu memang memiliki persepsi yang luar biasa. Kamu dan Kirito-kun berdua telah menamatkan SAO... Pahlawan yang mengalahkan Kayaba Akihiko. Kupikir tidak sopan bagi ku untuk berkata seperti ini, bukankah begitu?"

Kikuoka lanjut untuk tersenyum dan menunjukkan ekspresi kagum.

Hati Rinko tiba-tiba sakit saat tak menduga akan mendengar nama Kayaba.

Setelah mengenal Asuna selama beberapa hari, Rinko memiliki kesan yang baik kepadanya. Tegasnya, Asuna mempunyai hak untuk menceramahi, mengutuk dan menghakimi Rinko, dan bahkan setelah menyembunyikan banyak hal, Rinko masih menolong Kayaba Akihiko dalam rencana mengerikan nya, menyebabkan Asuna terperangkap didalam game kematian yang kejam itu selama 2 tahun.

Namun, tak satupun dari Asuna atau Kirigaya Kazuto, yang dulu bertemu dengannya, pernah menyalahkan Rinko. Itu seperti mereka berkata kalau kejadian itu pasti terjadi bagaimanapun juga.

Kalau begitu, apakah Asuna berikir kalau «Insiden RATH» ini adalah sesuatu yang pasti terjadi? —Rinko terus menatap kedepan sambil tak sengaja memikirkan hal itu, dan Asuna mengambil langkah menuju Kikuoka lagi.

"Apa kau pikir... Pasukan Pertahanan-Diri, negara bisa melakukan apapun yang kalian mau? menempatkan tujuan mereka sebagai prioritas?"

"Bagaimana bisa begitu?"

Kikuoka terlihat sangat terluka lalu menggelengkan kepalanya dengan keras.

"Memang terlalu berlebihan untuk kami menculik Kirito-kun, tapi pada waktu itu, aku gak bisa bilang semua rahasia kami kepada Asuna-kun dan keluarga Kirito-kun. Kami menggunakan koneksi kami dengan National Defense Medical College Hospital untuk membawa Kirito-kun ke Ocean Turtle, dan bahkan kami harus bertarung setiap saat dan kami harus menggunakan cara yang ekstrim untuk membawa nya ke sini untuk dirawat dengan STL secepatnya. Aku benar-benar sangat menyukai nya."

Letnan Kolonel berhenti sejenak, menunjukkan yang mungkin disebut senyuman polos, membetulkan kacamata hitam nya dan melanjutkan.

"...Pada sisi lain, Aku melakukan yang terbaik untuk menuruti hukum dan perintah, dibanding dengan perusahaan perusahaan di luar negeri di seluruh dunia. Itu sama saja entah kau setuju atau tidak. Tentu saja, kami mendapat izin dari orang tua dari bayi yang baru lahir itu untuk menggunakan STL untuk menscan Fluctlight mereka, dan memberi mereka uang terima kasih. Kantor cabang di Roppongi dipersiapkan untuk hal itu... Sama saja dengan rumah sakit kebidanan."

"Tapi kalian gak menjelaskan semuanya ke orang tua mereka, kan? Tentang seperti apa mesin yang bernama STL itu."

"Ahh... memang benar kalau kami hanya menyampaikan kalau kami melakukannya untuk mendapat sampel gelombang otak... tapi itu gak bohong. Fluctlight adalah gelombang elektrik didalam otak."

"Kalian hanya mencari-cari alasan. Itu sama saja dengan mengekstrak DNA dari anak kecil yang gak tau apa-apa dan mengklon mereka."

Pada saat ini, Higa, yang dari tadi diam, tanpa diduga mengangkat tangannya sebaga tanda timeout untuk Kikuoka.

"Itu benar-benar agak berlebihan, Kiku-san. Kurasa ada pertanyaan tentang moralitas dari mengkloning Fluctlight bayi yang baru lahir secara rahasia. Tapi...Yuuki-san? Pemahaman-mu sedikit melenceng. Fluctlight gak punya kelaian fisik pada mereka seperti pada gen, khususnya saat mereka lahir."

Ia menyentuh ujung kacamata ber-frame silver layaknya seorang supervisor, sepertinya sedang memilih kata-kata yang akan digunakan.

"Hmm... Bagaimana kalau aku jelaskan hal ini. Contohnya, sebuah perusahaan memproduksi komputer dengan model yang sama, dan pada saat di produksi, spesifikasi dan tampak luar nya sama semua. Namun, saat mereka berada di tangan pengguna, bisa dibilang mereka akan berubah menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda dalam setengah tahun, atau satu tahun. Itu sama saja dengan Fluctlight manusia. Pada akhirnya, kami berhasil mengkloning Fluctlight buatan milik 12 anak, tapi setelah membandingkannya satu sama lain, kami menemukan bahwa kapasitas otak nya gak ada bedanya. Sekitar 99.98% dari mereka benar-benar identikal dari konstruksinya, dan perbedaan 0.02% nya bisa dibilang dari memori yang diperoleh nya setelah mereka lahir. Dengan kata lain, kemampuan berfikir manusia dan kepribadian semuanya ditentukan setelah mereka lahir. Teori kalau kemampuan dan kepribadian itu diturunkan oleh genetik benar-benar ditolak. Aku benar-benar ingin menusuk dan melubangi kesalahan fatal yang dipercayai oleh orang yang percaya pada eugenik."

"Kau bisa membuat lubang itu setelah rencana ini selesai."

Ucap Kikuoka dengan ekspresi yang sepertinya sudah lelah.

"Toh, Higa-kun sudah menjelaskan hal ini. Kesimpulannya, klon dari Fluctlight dari bayi yang baru lahir gak punya kepribadian khusus dari kloning. Jadi, jika kami bisa dengan hati-hati menghilangkan perbedaan yang 0.02% itu dari 12 sampel, kami bisa mendapatkan apa yang kami sebut,"

Lengannya tampak seperti mereka menanggung sesuatu yang sangat penting—

“«Spiritual Prototype»... «Soul Archetype».”


"...Kau baru saja memikirkan istilah yang berlebihan seperti itu.. Dengan kata lain, itu adalah 'diri' dari psikologi Jung, kan?"

Kikuoka hanya bisa memberikan senyum masam untuk merespon pertanyaan Rinko, dan mengangkat bahu.

"Bukan bukan, Aku gak terlalu ingin menjelaskannya secara detail. Tapi hanya penjelasan dari pengerjaannya. Ya... Spiritual Prototype yang semua manusia punyai bisa dibilang seperti inti CPU, ku pikir hal itu bisa menjelaskannya. Saat manusia berkembang, inti nya akan menjalani banyak proses dan menginstal memori sampai struktur inti nya berubah... itu tak cukup bagi kita untuk memasukkan tipe «completed item» dari klon dasar itu kedalam Light Cube dari awal... Menuju dunia virtual dan membiarkannya tumbuh, pikirkan apa yang akan terjadi."

"Tapi..."

Asuna gak terlihat mengerti. Rinko meletakkan tangannya dibahu Asuna untuk menyuruhnya duduk kembali, dan menyela,

"Membiarkannya tumbuh. Walaupun kalian berkata begitu, itu berbeda dari tanaman dan peliharaan, kan? Itu sama dengan anak manusia, Spiritual Prototype itu. Kalau begitu, kupikir gak perlu untuk dunia virtual dibuat benar-benar luas, sebuah imitasi yang selevel dengan masyarakat sekarang... apa kalian benar-benar bisa melakukan hal seperti itu?"

"Mustahil."

Menghela nafas, Kikuoka mengakui.

"Itu adalah dunia virtual yang diciptakan oleh STL. Itu berbeda dengan dunia VR yang kita punya karna STL gak butuh objek 3D, tapi masih sangat sulit untuk memakai masyarakat modern yang kompleks dan eksotis untuk membuatnya —apa kau ingat suatu karakter di sebuah movie sebelum kau lahir, Asuna-kun? Disana diberikan situasi dimana kehidupan seorang pria difilm kan menjadi sebuah movie dan ditayangkan dari kelahirannya. Setting yang rapi yang didirikan di kota berkubah yang sangat besar yang dihuni oleh 100 aktor sementara, hanya si protagonis yang gak tau kalau dia salah satu dari mereka... di dalam situasi yang diciptakan untuk hal ini. Namun, pria itu tumbuh besar, belajar di dunia itu, menemukan berbagai keanehan dari dunia itu dan akhirnya menyadari kenyataan..." [3]

"Aku menontonnya. Aku sedikit menyukai movie itu."

Ucap Rinko, dan Asuna menunjukkan rasa setuju nya. Kikuoka mengangguk dan melanjutkan,

"Dengan kata lain... jika kita ingin selesai memproses dunia, harus ada informasi penting yang harus kita masukkan... Dunia adalah suatu tubuh yang besar dan melingkar, dan disana mungkin ada banyak negara didalamnya atau kira kira seperti itu lah. Kami berusaha untuk tidak membuat kesalahpahaman kepada manusia yang sedang tumbuh besar di simulasi yang mungkin menyebabkan mereka merasa canggung dan menjadi masalah. Bahkan STL pun gak bisa benar-benar membuat replika dunia virtual."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian menurunkan level masyarakat di simulasi itu kembali ke masa lampau? Masa dimana manusia menemukan sains dan filosofi, saat mereka ada di zaman itu dari lahir sampai mati... Jika hal itu terjadi, bukannya tujuan kalian untuk membiarkan Spiritual prototype itu berkembang?"

"Un, itu mungkin cara yang berputar putar, dan akan memakan banyak waktu... di STL, pertama-tama, seperti yang Profesor Koujiro duga, kami berusaha mencoba untuk memelihara generasi pertama dari sebuah AI didalam suatu kondisi. Spesifiknya, berada di desa Jepang yang kecil pada abad ke-16, tapi..."

Pada saat ini, Kikuoka berhenti dan mengangkat bahunya, Higa kemudian berbicara,

"Hal ini tidak lah semudah yang kau bayangkan. Kami hanyalah seorang amatir dalam urusan budaya dan norma sosial pada era itu. Kami tau kalau data dalam jumlah besar sangat diperlukan untuk membuat rumah, dan kami harus menghimpit himpit otak kami untuk berfikir sebelum akhirnya melakukannya. Itu adalah suatu hal yang simpel, gak perlu untuk membuat ulang zaman pertengahan. Kami mengerti kalau daerah dan cukai yang terbatas akan membuat setting yang berbeda dimana kami bisa seenaknya mengaturnya, dan semua isu yang menyusahkan bisa diselesaikan dengan istilah 'sihir'. Dunia seperti itu sendiri sudah seperti sebuah lapangan, di jaringan dunia yang Asuna-kun dan Kirigaya-kun sudah familiar dengannya."

"...Dunia VRMMO.:

Higa menatap ke arah Asuna, kemudian berbisik dengan suara yang serak, dan menghentakkan jarinya.

"Aku sebenarnya mencoba memainkan nya, walaupun bisa dibilang aku selalu menabrak tembok. Namun, meskipun aku gak tau siapa yang membuatnya, Aku mendengar kalau mereka bahkan punya paket gratis untuk membuat game baru seperti itu?"

“...!”

Higa berbicara tentang «The Seed»... yang dibuat Kayaba Akihiko, versi inti dari Sistem Cardinal yang disadari oleh Kirigaya Kazuto. Rinko menghela nafas dari udara dingin kemudian mengerti tentang hal ini, tapi sepertinya Higa dan Kikuoka gak menyadari darimana program ini berasal.

Segera, Rinko menyadari bahwa masih ada sesuatu yang tersembunyi dari insiden itu, dan pura-pura gak tau apapun sembaru meyentuh bahu Asuna dengan jarinya. Sepertinya Asuna menerima apa yang ingin Rinko katakan lalu ia diam dan menggelengkan kepalanya.

Higa gak sadar kalau ada yang gak beres dengan dua orang itu lalu melanjutkan dengan nada yang open-minded

"Kalau kita membuat dunia virtual didalam mainframe STL, kita gak butuh data 3D apapun. Tapi dalam kasus ini, akan sangat gak menarik untuk menciptakan model data dari kamera pengawas. Karena itulah kami buru-buru dan segera mendownload The Seed dan menggunakan editor yang ada didalam-nya dan dengan panik membuat sebuah desa dan bentang alam yang ada di sekelilingnya sebelum menggunakan visual mnemonic dari STL untuk mentransfernya."

"Begitukah... Dengan kata lain, dunia nya dibentuk dua kali, kan? server ber prioritas rendah beroperasi melalui dunia VR dengan pertukaran data umum, sedangkan mainframe STL yang berprioritas tinggi beroperasi melalui dunia VR dengan design yang spesial. Kalau begitu apa yang akan terjadi jika kita menukar keduanya... bagiamana?"

Ya, Higa mengangguk, dan pertanyaan lain muncul sebelum ia sempat berfikir.

"...Kalau begitu, bagaimana kalau kita gak menggunakan STL untuk server berprioritas rendah tapi melakukan dive in dengan AmuSphere, mungkinkah hal itu?"

"Erm... yah, secara teori, itu mungkin, tapi frekuensi nya harus diturunkan dua kali lipat... visual mnemonic dan data polygon gak bisa meliputinya..."

Higa mulai gagap, dan Kikuoka menggesek tangannya lalu menyela,

"Toh, setelah banyak kemunduran, kami akhirnya dapat menyelesaikan langkah pertama kami."

Petugas Pertahanan-Diri terlihat seperti sedang mengenang masa lalunya saat pandangannya goyah di udara.

"Desa pertama yang kami buat mengandung 16 Spiritual Prototype di dua keluarga peternak... dengan kata lain, kami membiarkan AI yang masih anak-anak tumbuh sampai berumur 18."

"Wa, wa, grow up... siapa orang tua yang mengasuh mereka? Jangan bilang kalau itu adalah AI yang sudah ada?"

"Kami mendiskusikannya sebelumnya, dan sehandal apapun AI yang ada di The Seed, itu mustahil untuk mengasuh anak menggunakan nya. Orang tua generasi pertama adalah manusia, empat teknisi laki-laki dan perempuan berperan sebagai orang tua dan hidup selama 18 tahun didalam STL. Walaupun memori mereka dihapus sebelumnya -terpaksa kami lakukan untuk eksperimen, kami hanya bisa melakukan hal itu. Hadiah uang saja gak cukup."

"Enggak, tak terduga tapi sepertinya mereka menikmatinya."

Rinko menatap kosong ke wajah Kikuoka dan Higa yang sedang asik ngobrol, dan akhirnya mengeluarkan sebuah kata-kata dari mulutnya.

"18 tahun...? Kudengar Soul Translator mempunyai fungsi akselerasi waktu... berapa lama 18 tahun itu di dunia nyata?"

"Sekitar 1 minggu."

Jawaban yang langsung itu membuatnya kaget. 18 tahun kira-kira ada 940 minggu, berarti kecepatan akselerasi di dalam STL sekitar 1000 kali lipat.

"Bukannya.... akan ada masalah jika otak manusia berakselerasi 1000 kali lipat dari pemrosesan tingkat normal?"

"STL gak terhubung ke otak manusia, tapi ke partikel quantum yang membuat kesadaran. Kami membiarkan sinyal elektrik memicu neuron di neurotransmitter menciptakan berbagai fenomena biologis dan membiarkannya untuk berakselerasi. Dengan kata lain, secara teori, kamu bisa menganggap waktu yang dibutuhkan untuk berfikir dipercepat, dan gak akan ada luka sedikitpun terhadap otak."

"Dengan kata lain, gak ada batasannya...?"

Rinko yang sudah tau sedikit tentang fitur akselerasi yang dimiliki Soul Translator, tapi ia gak tau angka yang pasti, dan hanya bisa mencoba semampunya untuk mengerti, tak bisa berkata apa-apa.

Sampai sekarang, ia selalu berfikir kalau fitur tercanggih dari STL ialah untuk mengcopy jiwa manusia, tapi kekagetan nya setelah mendengar fitur akselerasi waktu gak kalah dengan sebelumnya. Itu karena kemungkinan secara teori dari menambah efisiensi kerja di ruang virtual sudah cukup untuk membuatnya kaget.

"Namun... masih ada masalah yang belum dikonfirmasi, jadi batas maximum nya sekitar 1500 kali lipat."

Pikiran Rinko menjadi agak pusing karena kaget, tapi menjadi tenang kembali setelah melihat ekspresi depresi dari Higa Takeru.

"Masalah?"

"Ada yang mengajukan bahwa jiwa juga mempunyai umur nya sendiri dibanding dengan otak yang merupakan bagian dari organ tubuh..."

Rinko gak bisa langsung mengerti lalu memiringkan kepalanya untuk berfikir. Higa menatap kearah Kikuoka, memberikan tatapan yang berkata 'boleh kah aku melanjutkannya?' Petugas Pertahanan-Diri itu kemudian melihat seolah-olah permen manis rasa susu di mulutnya itu tiba-tiba menjadi pahit, dan langsung berkata,

"Yah, kami masih belom menyelesaikan fase hipotesis. Sederhananya, komputer quantum yang kami sebut «Artificial FluctLights» atau Fluctlight buatan mempunya kapasitas yang terbatas, dan jika kami melewati batas nya, konstruksinya akan mengalami degradasi... Kami belum mengetes hal itu, jadi kami gak bisa menjelaskannya dengan rinci, tapi kami mengeset FLA maximum limit untuk tujuan keamanan."

"...Dengan kata lain, tubuh sudah bertambah tua selama bertahun-tahun sementara dari luar hanya seminggu telah berlalu? Bukannya kalau begitu fitur akselerasi waktu akan sia-sia? Apa gak ada cara untuk menghindari fenomena seperti itu?"

Rasa penasaran sebagai seorang peneliti membuat Rinko mau gak mau bertanya, dan saat ini, Higa menunjukkan ekspresi yang terlihat depresi.

"Erm, yah, secara teori... bukannya kami gak pernah mempunya fantasi yah. Kami pernah berfikir untuk membuat alat STL portabel, dan menggunakan alat itu untuk menyimpan memori selama akselerasi ke alat eksternal jadi kapasitas dari Fluctlight gak akan pernah habis. Namun, mustahil untuk mengecilkan STL seperti itu. Meskipun kami bisa menemukan suatu cara untuk melakukan hal itu, masih ada masalah yang menakutkan dari kehilangan memori saat melakukan akselerasi setelah kita melepas alat portabel nya."

"...Pada dasarnya itu hanya mimpi yang melampaui fantasi. Mempercepat kinerja otak tanpa menggunakan memori eksternal... Aku juga mau hal itu terjadi walaupun aku menjadi tes subjek nya."

Rinko menggelengkan kepalanya sembari bergumam, dan mengarahkan ulang pemikirannya yang melenceng dari topik,

"Toh, tentang hal itu, untuk saat ini gak ada cara untuk menghindari masalah dari penekanan kapasitas... kalau begitu... tu, tunggu dulu. Kikuoka-kun tadi kau bilang para teknisi tinggal di STL selama 18 tahun untuk mengasuh para Spiritual Prototype kan? Apa yang terjadi dengan Fluctlight mereka? Apakah kemampuan otak mereka menurun selama 18 tahun?"

"Enggak, gak seperti itu... mungkin."

Mungkin? Rinko menatap kearah Kikuoka, namun ia dengan santai mengacuhkan tatapan Rinko dan lanjut menjelaskan,

"Mengenai kapasitas dari Fluctlight, kami memperkirakan pada laju dimana ia habis, «Umur Jiwa» milik kita sekitar 150 tahun lamanya. Dengan kata lain, jika kita benar-benar sehat, dan dengan beruntung otak kita menghindari segala suatu penyakit, bisa dibilang kecerdasan kita bisa bertahan paling lama kira-kira sampai 150 tahun. Tentu saja, hal itu mustahil karena mustahil kita hidup selama itu. Jika kita mengambil batas aman nya, kita bisa mengira-ngira kalau akan aman bagi kita untuk tinggal selama 30 tahun di dalam STL."

"Dan satu abad dari sekarang, takkan ada teknologi inovatif yang dapat memperpanjang umur kita..."

Rinko menyela dengan sarkasme, tapi bukan masalah bagi Kikuoka dan kemudian ia menjawab,

"Meskipun kita mengembangkan teknologi seperti itu, Aku menduga kalau kita gak akan mendapatkan kenikmatan yang berbeda dengan masyarakat lain. Yah, kami sudah mengkonfirmasi batas umur dari sebuah jiwa, jadi kita bisa melanjutkan topik kita. Berkat kerja sukarelawan yang empat orang teknisi kerjakan, kebanggaan yang kami miliki dalam membuat 16 anak muda yang tumbuh dengan cepat... Sederhana saja, kami memanggil mereka «Artificial Fluctlights», sudah agak memuaskan. Mereka semua mendapatkan kemampuan berbahasa —tentu saja, kita bicara tentang Jepang disini —dan perhitungan dasar untuk menjaga proses pikiran mereka yang lain, dan hidup dengan bahagia di dunia virtual yang kami ciptakan. Mereka adalah anak yang baik... sangat menurut kepada orang tua mereka, bangun pagi-pagi untuk mengambil air, menebang pohon, berkebun... sebagian dari mereka jujur, sebagiannya suka memamerkan kepribadiannya, dan pada dasarnya baik dan ramah."

Kikuoka, yang tersenyum setelah mengucapkan hal itu, menunjukkan ekspresi yang agak bermasalah di bibirnya, atau mungkin itu hanya imajinasi Rinko?

"Mereka tumbuh besar... kedua keluarga mempunyai empat laki-laki dan perempuan, masing-masing saudara laki-laki dan perempuan, dan mereka jatuh cinta. Kemudian, saat kami memutuskan kalau mereka sudah cukup dewasa untuk membesarkan anak mereka, fase pertama dari eksperimen telah berakhir, dan 16 anak muda menjadi 8 pasangan dan mempunyai keluarga mereka sendiri dan berpencar untuk hidup mandiri. Empat teknisi yang merupakan orang tua mereka semuanya 'mati' karena suatu wabah satu per satu dan dikeluarkan dari STL. Memori 18 tahun hidup mereka dihadang ttal, dan memori mereka kembali ke memori yang mereka punya satu minggu yang lalu sebelum memasuki STL. Mereka mulai menangis saat melihat anak mereka menangis di upacara kematian mereka lewat monitor external."

"Benar-benar pemandangan yang menakjubkan..."

Kikuoka dan Higa mengangguk dengan tenang satu sama lain, dan Rinko pura-pura batuk untuk memicu pembicaraan kembali.

"...Dan lalu, setelah teknisi manusia itu log out, gak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dengan laju FLA (FluctLight Acceleration), jadi kami menaikkannya menjadi 5000 kali lipat dari waktu dunia nyata. Delapan pasangan itu mempunyai masing-masing 10 anak, Spiritual prototype, dan mereka semua dibesarkan. Anak-anak ini dengan cepat tumbuh dewasa dan membuat keluarga, dan secara bertahap mulai menggantikan NPC yang berperan sebagai warga desa, dan akhirnya membuat desa yang hanya dihuni oleh Fluctlight buatan. Seiring berubahnya era, keturunan mereka semakin berlipat ganda... dalam 3 minggu di dunia nyata, di dalam dunia STL sudah berjalan selama 300 tahun simulasi, dan akhirnya bisa membangun masyarakat besar dengan 80.000 orang didalam nya."

"80.000...!?"

Rinko gak bisa menahan keinginannya untuk mengucapkannya dengan keras. Setelah menggerak-gerakkan bibirnya entah berapa kali, ia akhirnya dapat memilih kata-kata yang cocok dari bibirnya.

"...Kalau begitu... itu udah lebih condong ke simulasi peradaban dibandingkan permulaan AI."

"Benar, tapi dalam beberapa pengertian, sudah dapat diduga kalau hal ini akan terjadi. Manusia adalah makhluk yang menyesuaikan diri dengan masyarakat... dan mereka hanya bisa tumbuh dengan menjalin hubungan dengan orang lain. Selama 300 tahun ini, Fluctlight buatan menyebar luas dari desa kecil ke lahan luas yang sudah kami atur. Mereka mampu membuat struktur pemerintahan pusat yang terkemuka tanpa sedikitpun perang berdarah, dan disana bahkan ada agama... Kupikir hal itu adalah alasan mengapa mereka terbiasa menjelaskan segala aspek dari sistem kepada anaknya, mereka gak menggunakan sains, tapi tuhan. Higa-kun, tunjukkan peta sepenuhnya di monitor."

Higa mengangguk setuju, dan segera mengerjakannya di konsol. Monitor besar yang tadinya menampilkan eksperimen mengerikan sekarang menunjukkan map yang detal dari fotografi udara.

Tentu saja, Jepang dan seluruh dunia berbeda dengan negara itu.

Gak ada lautan sama sekali, dan dataran yang berbentuk bulat semuanya di kelilingi oleh pegunungan yang tinggi. Banyak hutan yang membentang dan padang rumput, banyak juga sungai dan danau. Sangat terlihat seperti tanah yang subur. Melihat skala dari peta, dataran yang dikelilingi pegunungan itu sepertinya berdiameter 1500km, dan ukurannya sekitar 8 kali dari Honshu, Jepang.

"Hanya 80.000 orang di tempat seluas itu? Benar-benar populasi yang sangat sedikit."

"Atau mungkin, Jepang sendiri yang abnormal."

Higa tertawa kecil terhadap Rinko dan menggerakkan tangan nya yang ada diatas mouse, menunjuk ke tengah-tengah peta dan berputar disekelilingnya.

"Area disekitar sini adalah ibu kota nya, populasinya berjumlah 20.000. Mungkin kita gak terlalu merasakan apa-apa, tapi itu adalah kota yang mutakhir. Instansi pemerintah yang para Fluctlight buatan sebut «Integrity Church» ada disini, dan diperintah oleh «Pendeta». Pengaruh nya benar-benar menakjubkan, dan gak ada perang yang terjadi— pada saat ini, kami merasa kalau eksperimen kami sudah berhasil. Di dunia virtual, Fluctlight buatan berkembang dengan tingkat kecerdasan yang sama dengan manusia. Kami sudah cukup senang untuk memasuki fase berikutnya yang akan mencapai tujuan kami, yaitu berkembangnya «Highly Adaptive Artificial Intelligence», tapi..."

"Kami menemukan masalah yang serius."

Kikuoka menatap ke arah monitor, lalu berkata,

"...Gak ada masalah yang kamu dengar sampai sekarang, kan?"

"Mungkin bisa dibilang... sesuatu hal yang salah di tempat ini adalah gak ada hal yang salah. Dunia ini terlalu damai. Mungkin hal ini terjadi karena terlalu tertib dan bekerja dengan sempurna. Kami harus nya sudah menyadari kalau hal ini sangat aneh melihat seluruh 16 anak sangat patuh terhadap orang tuanya... gak aneh bagi manusia untuk berkelahi satu sama lain, atau sebetulnya, itu bagian dari kodratnya. Tapi, gak ada perang disini, gak sekalipun, ambil contoh pembunuhan. Perkembangan populasi di dunia itu terlalu cepat, kemungkinan adanya penyakit dan wabah alami terjadi pada dasarnya gak ada, dan semua manusia gak akan mati selain karena bertambah tua..."

"Itu seperti masyarakat ideal."

Higa mendengus terhadap perkataan Rinko dan berkata,

"Apa benar kalau «Mitos Utopia» itu benar-benar Utopia?"

"...Yah, kalau itu bukan, ya gak bisa dibilang legenda... Apa kamu gak melihat ada sesuatu yang menakjubkan di masyarakat virtual ini?"

"Tentu saja kami gak melihat, kami hanya mencoba melihat kenyataan kami sendiri."

Suara sandal bakiak mendarat di lantai menggema, dan Kikuoka, yang melompat ke konsol, menyalakan monitor besar dan mulai menjelaskan lagi,

"Fluclight buatan seharusnya memiliki keinginan yang sama dengan kita, namun kenapa gak ada perang yang terjadi... kami menginvestigasi sepenuhnya ke gaya hidup mereka. Kami lalu menemukan bahwa didunia ini, mereka membuat peraturan yang sangat ketat. Itu adalah «Taboo Index» yang dibuat para pendeta. Disitu, terdapat larangan tak boleh membunuh. Tentu saja hukum yang sama terdapat di dunia kita juga, tapi entah kita menurutinya atau tidak dapat dilihat di berita harian. Fluctlight itu sendiri ternyata mematuhinya... dengan sikap yang terlalu patuh. Dengan kata lain... mereka gak bisa melanggar hukum atau aturan. Itulah kodrat mereka."

"...Bukannya itu hal yang bagus?"

Rinko memberikan pandangan yang bingung saat ia melihat sisi samping dari wajah suram Kikuoka.

"Mendengarkan sampai sini, bukannya mereka lebih istimewa dari pada kita?"

"Yah... kamu bisa bilang seperti itu. Higa-kun, bisa kau perlihatkan gambar dari «Centoria»?”

"Oke."

Higa mengetuk keyboard yang ada di konsol, dan monitor besar lagi-lagi menampilkan gambar dari kota dunia lain yang ditampilkan saat Rinko dan Asuna masuk. Bangunan yang terbuat dari batu putih dikelilingi oleh pepohonan yang besar, dan orang-orang yang memakai pakaian yang simpel dan bersih berjalan santai di dunia yang lain ini.

Sword Art Online Vol 10 - 099.jpg

"Ah... lalu, apa ini?"

Rinko terpikat saat melihat gambaran itu dan bertanya. Higa mengangguk dengan rasa puas.

"Ee, ini adalah ibu kota dari dunia para Fluctlight buatan, «Centoria». Sebenarnya, bentuknya sama persis dengan apa yang kita lihat sekarang. Centoria menggunakan tampilan visual polygon dari server bawah, dan kejernihan nya sangatlah kurang. Laju yang ditampilkan hanya 1/1000 dari waktu disana."

"Centoria...hal itu bahkan mempunyai sebuah nama yang layak. Tentang dunia dimana mereka lahir, apakah juga ada nama nya?"

"Punya... sepertinya. Bukan Fluctlight buatan yang namain sih, tapi dari codename yang kami gunakan pada fase awal dari rencana kami yang kami tinggalkan disana. Dunia itu dinamakan «Underworld».”

"Under...world."

Sepertinya nama nya berasal dari «Alice in Wonderland». Rinko sendiri sudah mendengarnya dari Asuna, tapi ia gak menyangka mereka akan menggunakan nama itu untuk dunia itu. Sepertinya Higa dan yang lainnya gak menamai dunia itu menggunakan konsep original «Underground World», tapi menamai nya dengan arti «The World of Reality at the Bottom». Keindahan dari kota yang seperti fantasi yang terlihat di layar monitor itu mungkin adalah sebuah visualisasi dari surga.

Kikuoka terlihat membaca pikiran Rinko dan ia berkata,

"Memang benar kalau kota ini sangat bagus. Perkembangan teknologi disana cukup baik sejak kami mulai memberikan mereka rumah dari kayu yang simpel sebagai rumah bertani. Namun... kalau aku harus bilang, jalanan disitu terlalu indah, terlalu rapi. Sama sekali gak ada sampah, gak ada pencuri, dan tentu saja, gak ada kasus pembunuhan. Itu semua karena peraturan yang ketat dari «Integrity Church» yang bisa terlihat dari kejauhan, adalah alasan mengapa gak ada satu orang pun yang melanggar nya."

"Lalu, apa yang salah dengan hal itu?"

Ia mengertukan dahi dan ingin bertanya lagi, namun Kikuoka terdiam oleh suatu alasan, sepertinya sedang mencari jawaban. Higa menoleh kesamping secara gak natural dan sepertinya gak punya niat untuk berbicara.

Yang memecahkan keheningan di ruang kontrol yang besar itu adalah Asuna yang dari tadi diam. Murid SMA yang paling muda disini menurunkan suara nya dan berkata dengan tenang, menahan dirinya,

"Kalau begitu, Kikuoka-san dan yang lainnya akan mendapat masalah, Profesor Rinko. Itu karena tujuan terakhir dari rencana ini bukan hanya untuk menciptakan bottom-up=type AI yang mempunya kemampuan beradaptasi tinggi... tapi untuk membuat AI yang bisa membunuh prajurit musuh dalam perang."

"A..Apa..."

Ketiga orang itu terengah keheranan, Asuna melirik ke arah Rinko, Kikuoka dan Higa tanpa berbicara apapun, dan melanjutkan,

"Bagiku, sebelum aku sampai disini, Aku bingung kenapa Kikuoka-san... dari Pasukan Pertahanan-Diri ingin membuat AI dengan level setinggi itu. Beberapa waktu yang lalu, Aku dan Kirito-kun menyimpulkan bahwa Kikuoka-san tertarik dengan VRMMO karena dia ingin menggunakan teknologi itu untuk latihan polisi atau Pasukan Pertahanan-Diri. Karena itulah, penciptaan sebuah AI merupakan bagian dari hal itu, awalnya kami menduga AI itu akan digunakan sebagai sarana latihan untuk melawan pasukan musuh. Tapi... jika kami berfikir tentang hal itu, latihan didalam dunia VR gak akan ada bahaya yang seperti di dunia nyata, dan mereka bisa saja membagi para prajurit ke dalam beberapa grup dan berlatih. Itu karena kami sering melakukan simulasi seperti itu juga."

Ia berhenti sejenak dan melihat kearah mesin-mesin di sekeliling nya dan monitor didepan matanya.

“—Dan, rencana itu sendiri terlalu besar untuk hal yang hanya untuk mengembangkan program latihan. Kikuoka-san, aku sama sekali gak tau kapan kau memikirkan tentang 'langkah berikutnya', membesarkan AI di dunia virtual dan menggunakan nya untuk perang yang sesungguhnya.

Setelah momen-momen yang mengejutkan, wajah yang sedang menatap kearah mata jernih milik sang gadis berubah menjadi ekspresi tanpa emosi yang gak bisa dimengerti, lalu tersenyum dengan tenang.

"Sejak awal."

Terdapat ketangguhan yang seperti besi dibalik suara yang lembut itu,

"Penelitian untuk memadukan teknologi VR kedalam latihan militer sudah lazim sebelum teknologi Full-Dive tercipta, saat kita masih menggunakan alat yang dipasang dikepala, yang menampilkan sensor tampilan dan gerak. Barang antik yang dikembangkan oleh pasukan Amerika itu masih berada di pusat penelitian di Ichigaya. Lima tahun yang lalu, saat Nerve Gear dikembangkan, Pasukan Pertahanan-Diri dan pasukan Amerika, keduanya menggunakan hal itu untuk mengembangkan program latihan, tapi setelah mencoba close beta dari SAO yang terjadi setelahnya, aku mengubah pikiranku. Dunia ini, teknologi mempunyai kemungkinan yang lebih besar. Konsep dari perang sudah berubah sejak awal... dan lalu, saat akhir tahun, saat insiden SAO terjadi, aku pindah ke Kementrian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi atas kehendakku sendiri dan menjadi bagian dari satgas mereka. Aku telah membuat diriku berkaitan dengan perkembangan dalam insiden ini... semua demi rencana ini. Setelah menghabiskan waktu 5 tahun, akhirnya aku sampai disini."

“...”

Pembicaraannya telah berkembang ke arah yang gak ada satupun bisa membayangkannya, sembari Rinko gak bisa berkata apa-apa untuk sementara waktu. Ia sedikit bisa menjernihkan pikirannya yang sedang bingung dan mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya yang kering.

"...Aku masih di sekolah dasar saat perang Iraq, dan Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ada banyak berita tentang bagaimana tentara Amerika menggunakan pesawat jet dan mini-tank tanpa pilot untuk menyerang musuh. Apakah itu yang kau maksud? Itu berarti senjata yang ada AI didalam nya menyerang sendiri. Kau berfikir tentang hal itu..."

"Bukan hanya aku. Seluruh negara telah meneliti tentang teknologi ini, terutama Amerika yang selalu mengejar hal ini selama bertahun-tahun. Walaupun hal ini bisa jadi kenangan yang menyakitkan untukmu, Asuna-kun..."

Kikuoka terdiam sebentar, menatap ke arah Asuna, mengecek apakah ia masih tenang, dan melanjutkan,

"...Sugou Nobuyuki, yang memenjarakan mu di dunia virtual dan menggunakan banyak pemain SAO sebagai bahan eksperimen, ingin menjual hasil penelitiannya kepada perusahaan di Amerika, apa kau ingat? Grojean Micro Electronics yang ada hubungan kontak dengannya adalah perusahaan yang paling maju dalam dunia VR, tapi terkenal karena sering melakukan hal ilegal karena menggunakan teknologi VR untuk kepentingan militer. Industri amunisi di Amerika adalah yang paling terkenal dalam mengembangkan pesawat tanpa awak yang baru saja kau sebutkan. Salah satunya adalah pesawat terbang —Unmanned Aerial Vehicle, atau singkatnya «UAV»."

Barangkali Higa terlalu siap sembari ia tanpa berkata apa-apa memindahkan mouse untuk mengganti gambar di layar monitor, dan yang muncul adalah pesawat kecil tanpa awak dengan badan yang kurus dan panjang, dan juga terpasang beberapa sayap. Sayap mekanik mempunyai misil incar yang terpasang dibawahnya, dan gak ada jendela sama sekali di pesawat itu.

"Ini adalah pesawat penyerang dan pengintai tanpa awak milik pasukan America. Ukurannya kecil karena gak diperlukan kokpit, dan bisa dibuat dengan bentuk untuk penerbangan sembunyi-sembunyi jadi pesawat itu gak akan terdeteksi oleh radar. Semua mesin dari generasi sebelumnya menggunakan remote kontrol dari jarak jauh dengan operator yang menggunakan pedal dan joystick agar pesawat bisa terbang, tapi hal yang ingin kami lakukan berbeda."

Saat ia berkata seperti itu, ia kemudian mengganti gambar yang ada di monitor, dan kali ini, gambarnya adalah seorang prajurit yang menjadi operator. Seorang prajurit yang berbaring di kursi baring dan mengistirahatkan badannya. Lalu, Rinko melihat helm berkabel yang familiar terpasang dikepalanya —itu adalah Nerve Gear. Kalau diperhatikan, cat yang ada di bagian luarnya dan beberapa suku cadang nya terlihat berbeda, tapi sudah jelas benda itu adalah model yang sama.

Rinko melirik kesamping untuk melihat ekspresi beku Asuna dengan mata yang terbuka lebar. Ia lalu berbalik, dan Kikuoka kembali melakukan penjelasan,

"Disini, operator berada di kokpit virtual. Hal ini menunjukkan kalau sepertinya dia benar-benar mengendalikan mesin itu, dan dia bisa memantau pasukan musuh dan menembakkan misil incar kearah mereka. Namun, masalahnya itu kita menggunakan gelombang elektromagnetik untuk mengontrol mereka, dan mereka masih tergolong lemah jika melawan ECN... Electronic Counter Measures. 10 tahun yang lalu, UAV pengintai yang digunakan pasukan Amerika untuk menyusup masuk ke negara di timur tengah terkena gangguan, dan terpaksa mendarat, dan akhirnya tertangkap dan menyebabkan situasi yang genting yang hampir memulai perang."

"Kalau begitu, AI...kan? Agar pesawat bisa terbang dengan sendirinya..."

Kikuoka memalingkan matanya menjauh dari monitor, dan melihat kearah Rinko, dan mengangguk.

"Tujuan terakhirnya adalah untuk menembak jatuh seluruh pesawat tempur yang dikendalikan manusia dalam pertempuran udara. Kupikir akan ada kemungkinan yang besar bagi Fluctlight buatan yang sekarang untuk berkembang begitu kami beri mereka program yang cocok untuk tumbuh bersama nya. Namun, ada malasah yang besar, dan hal itu adalah, bagaimana cara mereka, prajurit tanpa tubuh, bisa mengerti konsep dari «war»... membunuh sendiri adalah perbuatan yang jahat, tapi hal itu harus dilakukan untuk mengalahkan prajurit dalam parang; saat ini, Fluctlight buatan gak bisa menerima pemikiran yang melawan asas berhubung gak ada satupun hal yang dilanggar dalam peraturan mereka."

Petugas Pertahanan-Diri itu membenarkan kacamata nya, dan mengerutkan dahi,

“—Kami sudah mengatur «Overload Experiment» untuk mengetes akan menjadi seberapa patuh kah para penduduk di Underworld itu. Detail nya, kami memilih desa yang terisolasi, menyebabkan hasel panen dan ternak di peternakan menjadi mati dan membuat para penduduk gak akan bisa bertahan di musim dingin, membuat situasi dimana jika desa itu bisa bertahan, mereka akan meninggalkan kelompok masyarakat mereka, membunuh dan mengambil stok makanan milik orang lain, dan memaksa mereka untuk melanggar Taboo Index dimana pembunuhan itu dilarang. Namun, yang terjadi adalah... mereka memilih untuk membagi gabungan dari hasil panen mereka sama rata kepada semua orang di desa, dari tua ke muda, dan hasilnya semua orang mati karena kelaparan saat musim semi datang. Mereka adalah eksistensi yang gak bisa melanggar hukum dan aturan karena alasan tertentu, dan hasilnya sangat tragis. Dengan kata lain... jika mereka adalah pilot yang membawa senjata, mereka harus mengerti dasar pemikiran yang pertama, 'membunuh itu gak apa-apa'. Tapi keadaan seperti apa yang bisa membuat mereka berkembang seperti itu, kami gak bisa membayangkannya..."

Petugas Pertahanan-Diri itu menyilangkan lengannya dan menggelengkan kepalanya dengan lemah.

Rinko gak bisa membayangkan pemandangan dimana, saat pesawat tempur dan senjata perang tanpa awak yang berbentuk aneh menggunakan misil dan machine gun nya untuk membunuh tanpa pandang bulu, gak peduli mereka prajurit atau penduduk. Tangan nya menggigil sedikit sembari menggesekkan kedua tangannya satu sama lain.

"...Kalian gak bercanda tentang hal ini, kan? Kenapa kalian harus mempunyai AI di senjata yang sangat berbahaya seperti itu? Walaupun terbatas, bukannya kalian bisa mengendalikannya dengan remote dari kejauhan? Uun, sedikit tambahan saja... Aku gak mau menerima eksistensi dari senjata tanpa awak itu sendiri."

"Yah, bukannya aku gak mengerti perasaan seperti itu. Saat aku melihat kaliber besar dari senjata milik Amerika yang terpasang di kendaraan tanpa awak, Aku sangat bersyukur bahwa aku bukanlah salah seorang dari mereka yang tinggal disana. Namun... senjata tanpa awak sudah menjadi hal yang harus pada zaman ini, dan para negara maju gak bisa menahan tuntutan waktu."

Kikuoka mengangkat jarinya seperti guru sejarah dan melanjutkan,

"Oke, kita ambil pasukan militer terbesar di dunia, Amerika sebagai contoh. Korban jiwa pasukan Amerika pada perang dunia ke-2 berjumlah sekitar 400.000 orang. Walaupun korban nya sebanyak itu, Presiden Roosevelt saat itu menerima banyak dukungan dari orang-orang di negeranya, dan menghabiskan 13 tahun, 4 masa jabatan yang memiliki kewenangan tertinggi sampai ia meninggal karena stroke. Meski aku gak suka sikap seperti itu saat itu terjadi 80 tahun yang lalu, mengorbankan prajurit dalam jumlah besar untuk menentukan kemenangan adalah bagian dari semangat."

Jari kedua teracung dari tangan Kikuoka.

"Lalu, semasa perang Vietnam, ada gerakan anti-perang yang dimulai oleh para murid sekolah, dan Presiden Johnson dicegah untuk menjalankan masa jabatan kedua. Pada saat itu, 60.000 orang meninggal dalam medan perang. Semenjak bendera Anti-Komunisme didirikan, para prajurit di kirim ke medan perang dan mati satu persatu —Namun, di perdamaian sementara yang sekarang disebut Cold War, perasaan orang-orang sedikit berubah... dan lalu, era ini berakhir dengan jatuh nya Uni Soviet. America, yang kehilangan lawan bernama Komunisme, melangkah ke tahap yang disebut perang melawan terorisme agar dapat mempertahankan industri munisi militer yang sudah mendarah daging ke negara tersebut.

Kikuoka mengangkat jari ketiga dan melanjutkan dengan lancar,

Tapi di medan perang itu, gak ada tanda-tanda penduduk menerima kematian para prajurit. Semasa Perang Iraq pada awal abad, tentara Amerika yang dikirim kesana dan sekitar 4000 orang meninggal dan jumlah itu sendiri sudah menggoyahkan dukungan kepada Administrasi Bush. Tentu saja, gak hanya karena ini tapi juga karena faktor-faktor lain, popularitas kepresidenan-nya hilang. Bisa dibilang hal itu sudah bisa diperkirakan saat ia mendukung kandidat republik McCain yang kalah oleh Demokrat Obama yang berjanji untuk menarik mundur tentara dari Iraq —dengan kata lain..."

Ia menurunkan tangannya, mengambil nafas pendek, dan menjeda kesimpulannya yang panjang untuk sejenak.

"Dalam negeri itu, sudah bukan era nya lagi bagi manusia untuk bertarung dalam perang. Namun, mereka gak bisa menghentikan alokasi dana kepada sesuatu yang disebut anggaran pertahanan. Masa depan dari perang kemudian telah berubah wujud menjadi senjata tanpa awak vs manusia atau senjata tanpa awak melawan senjata tanpa awak."

"...Aku bisa mengerti situasi di Amerika, tapi itu hal lain yang entah apakah kita bisa menerima hal itu."

Rinko mengangguk pelan sembari merasa kesal oleh pemikiran luar biasa dari menggunakan senjata tanpa awak untuk melakukan perang tanpa luka. Ia kemudian menatap ke arah Kikuoka dan bertanya,

"Tapi kenapa kau sebagai Petugas Pertahanan-Diri, mengikuti jejak bangsa perang yang bodoh itu? Atau penelitian «RATH» ini dimulai oleh militer?"

"BAGAIMANA MUNGKIN!?"

Kikuoka menolak hal itu dengan suara amat keras yang lanka, tapi kemudian kembali ke senyum nya yang biasa dan melepaskan tangannya yang daritadi menyilang dengan keras.

lebih tepatnya, merupakan pilihan yang tepat bagi kami untuk mengapung di tengah lautan ini untuk sembunyi dari tentara Amerika. Pangkalan yang berada di daratan dapat terlihat dengan jelas —dan karena itu lah kami harus mengembangkan senjata tanpa awak dengan gila-gilaan... sangat mudah untuk menjelaskan hal itu. Bolehkah aku bertanya kepada Kayaba-sensei mengapa dia ingin menciptakan SAO?"

"Tentu saja."

Jawab Rinko dengan ekspresi datar, dan Kikuoka menunjukkan senyum lebar yang terlihat dipaksakan sembari menaikkan bahu nya,

"Maaf kan kelancangan ku karena telah mengucapkan hal yang seharusnya tak boleh kuucapkan. Ya... alasan terbesarnya karena, sekarang di Jepang, sederhananya, teknologi pertahanan kita terlalu lemah"

"Teknologi... Pertahanan?"

"Kupikir kamu bisa mengatakan nya seperti ini; persenjataan dikembangkan dan diproduksi dari nol, tapi hal itu sudah diperkirakan berhubung gak ada negara yang mengekspor persenjataan ke Jepang. Itu sama saja untuk produsen, berhubung menggunakan anggaran Pasukan Pertahanan-Diri untuk melakukan penawaran akan menjadi sia-sia. Pada akhirnya, kami harus membeli peralatan terbaru dari Amerika dan akhirnya bisa melaksanakan pengembangan bersama-sama. Tapi, sederhananya... istilah bersama-sama disini hanya sebutan, hal yang berat sebelah."

Petugas Pertahanan-Diri itu membenarkan kerah dari yukata nya, menyilangkan tangan nya, dan lanjut menjelaskan dengan nada yang agak pahit,

"Contohnya, jet tempur support yang kami pakai saat ini sedang dikembangkan bersama-sama dengan Amerika, tapi kenyataannya, mereka menyembunyikan teknologi terbaru mereka dan mendapatkan teknologi maju yang diciptakan Jepang. Tentang persenjataan yang kita beli, bisa apa persenjataan itu? Jet tempur utama yang baru kami beli tampak seolah-olah software nya -otak nya, telah dihilangkan. Jadi tentara Amerika memberikan kami teknologi yang sudah ketinggalan zaman dan menyimpan barang-barang yang bagus...hm, Aku tampak seperti seorang idiot, mengatakan hal seperti ini..."

Kikuoka meringis lagi sembari melipat kaki nya diatas meja konsol, membuat bakiak di kakinya bergetar.

"Sehubung dengan situasi ini, sebuah kelompok dari Petugas Pertahanan-Diri kami dan sebuah kelompok dari teknisi muda dari pabrik kecil dan sedang yang berhubungan dengan urusan pertahanan sudah merasakan hal yang membahayakan. Bolehkah kami tetap bergantung kepada Amerika sebagai pokok dari teknologi pertahanan kami? Perasaan itu adalah kekuatan pendorong dibalik penciptaan RATH, dimana kami ingin membuat teknologi milik Jepang sendiri. Itulah yang kami harapkan."

Meskipun kata-kata Kikuoka terdengar sangat mengagumkan, sampai sejauh mana kata-kata itu harus harus diterima? Pikir Rinko sambil menatap ke mata hitam dibalik kacamata berbingkai hitam nya itu. Namun, mata sang Petugas Pertahanan-Diri itu gak menunjukkan apapun, seolah-olah ia adalah kacamata hitam itu sendiri.

Rinko berpaling dan melihat ke arah Higa Takeru yang duduk disamping Kikuoka.

"...Apakah motifmu sebagai bagian dari rencana ini juga sama sepertinya, Higa-kun? Aku gak tau kalau kamu punya kepedulian terhadap Pertahanan Nasional."

"Enggak."

Higa Takeru menggaruk kepalanya dengan malu-malu untuk merespon perkataan Rinko,

"Untuk motif ku sendiri - yah, itu urusan personal. Aku mempunya seorang teman saat aku masih menjadi murid di Universitas Korea, dan dia dikirim ke Iraq untuk urusan militer, hanya untuk terbunuh dalam pemboman bunuh diri. Yah... meskipun dunia ini harus berperang, Kuharap manusia gak akan mati untuk alasan yang bodoh seperti itu, sepertinya begitu."

"...Tapi Petugas Pertahanan-Diri itu ingin membiarkan persenjataan tanpa awak itu untuk menjadi teknologi yang hanya dimiliki oleh Pasukan Pertahanan Diri kan?"

"Ya, Kiku-san bilang seperti itu sebelumnya, bahwa meskipun memiliki kepemilikan tunggal dari teknologi ini itu mustahil, dia mengerti teknologi itu gak akan hanya digunakan untuk tujuan ini jadi kami bisa memikirkan bagaimana untuk mengambil inisiatif... seperti itulah."

Petugas Pertahanan-Diri itu meringis kepada perkataan Higa yang sangat langsung. Pada saat ini, Asuna, yang dari tadi diam mendengarkan pembicaraan ketiga orang itu, berkata dengan suara yang indah namun juga dingin dan jelas,

"Kalian gak pernah bilang idealisme kalian ke Kirito-kun, kan?"

"...Kenapa kamu berfikir seperti itu?"

Kikuoka memiringkan kepalanya, dan Asuna menatap lurus ke arah nya dengan tatapan yang teguh.

"Jika kau bilang hal itu kepada Kirito-kun, dia pasti gak mau membantu kalian. Ada kelemahan yang penting dari kata-katamu."

"...Dan itu?"

"Hak Asasi milik AI."

Mendengar perkataan itu, Kikuoka menyentakkan bulu matanya dan mengerutkan dahi.

"...Enggak, emang benar kami gak pernah bilang tentang hal yang baru saja kami katakan kepada Kirito-kun, tapi itu hanya karena kami gak punya kesempatan untuk mengatakannya. Dia orang yang sangat realis juga, kan? Kalo enggak, mustahil baginya untuk menamatkan SAO."

"Kamu belum mengerti. Kalau itu Kirito-kun, sekalinya ia tau kenyataan dari Underworld, ia pasti akan murka terhadap para operator. Baginya, dimanapun tempatnya, adalah kenyataan baginya. Dia gak berfikir dunia virtual itu kehidupan virtual... makanya dia bisa menamatkan SAO."

"Aku gak mengerti. Fluctlight buatan gak punya darah daging. Kenapa kamu bilang hal itu bukanlah nyawa yang gagal?"

Mata Asuna penuh kesedihan... bukan, kilauan kecil itu menunjukkan kalau ia merasa bahwa para orang dewasa didepannya sangat kasihan lalu pelan-pelan melanjutkan,

"...Meskipun aku bilang begitu, kalian gak akan bisa mengerti... di sebuah kota di lantai 56 di Aincrad, Aku mengatakan hal yang sama persis dengan yang kalian katakan. Disana ada boss monster yang bagaimanapun caranya harus kami kalahkan, dan untuk mengalahkannya, kami berencana untuk menggunakan NPC... penduduk yang dikendalikan oleh AI untuk bertarung. tapi Kirito-kun menyatakan kalau hal itu gak boleh dilakukan, NPC itu hidup dan pasti ada cara lain. Orang-orang yang merupakan anggota guild-ku tertawa... tapi pada akhirnya, dia benar. Meskipun mereka adalah Fluctlight buatan, sebuah copy dari media yang diproduksi massal, Kirito-kun gak akan membantu kalau mereka akan digunakan sebagai alat perang untuk membunuh satu sama lain, pasti."

“—Bukannya aku gak mengerti apa yang kau coba katakan. Memang benar kalau Fluctlight buatan memiliki kemampuan berfikir yang sama dengan kita, manusia. Dalam hal itu, memang benar kalau mereka itu hidup. Namun, ini merupakan pertanyaan prioritas. Bagiku, nyawa dari ratusan atau ribuan Fluctlight buatan gak sebanding dengan nyawa satu orang Petugas."

Debat ini gak akan ada akhirnya... pikir Rinko. Tentang apakah AI sendiri juga punya hak asasi —itu adalah pertanyaan yang gak akan bisa disimpulkan, meskipun bottom-up AI yang asli muncul dan dimana perdebatan akan berakhir.

Tentang apa yang ia pikirkan, Rinko sendiri masih belum yakin. Sebagai ilmuan, realisme dalam diriku mengatakan kalau jiwa yang di klon bukanlah mahluk hidup. Tapi pada saat yang sama, apa yang akan orang itu pikirkan? Bagaimana jika orang itulah yang mengharapkan «suatu tempat yang gak ada», menciptakannya dan gak pernah kembali—?

Rinko memecahkan keheningan dalam situasi ini untuk menyeret jejak pemikirannya kembali.

"Omong-omong, kenapa Kirigaya-kun harus ada dalam rencana ini? Ada resiko kalau informasi paling rahasia milik kalian bocor, kalau begitu kenapa harus dia...?"

"—Ahh, Kita melakukan percakapan ini untuk menjelaskannya. Tapi aku jadi melenceng dan hampir lupa tentang apa yang harusnya kita bicarakan."

Kikuoka terlihat seperti ingin lepas dari tatapan Asuna yang seperti magnet lalu tersenyum, batuk, dan melanjutkan kata-katanya,

"Kenapa penduduk Underworld gak bisa melanggar Taboo Index... hal itu ada hubungannya dengan konstruksi dari Light Cube yang menampung Fluctlight, atau apakah kesalahan dalam mendidik mereka? Mari kita ulang diskusi kita. Jika masalahnya yang pertama, kami harus mempertimbangkan tentang mendesain ulang medium nya, dan kalau masalahnya yang kedua, kami mungkin bisa saja membetulkannya. Jadi, kami mencoba ekesperimennya. Satu dari teknisi kami, seorang manusia, memorinya dihadang sepenuhnya dan menjadi anak muda lagi. Kami membiarkannya tumbuh di Underworld untuk melihat apakah tindakannya akan sama atau tidak dengan Fluctlight buatan yang lain."

"Me...melakukan hal seperti itu, apakah otak test subjek nya gak akan ada masalah? Kalau kehidupan mereka diulang... bukannya akan kekurangan memori?"

"Gak sama sekali... Fluctlight bisa menyimpan memori selama sekitar 150 tahun, aku sudah mengatakan hal itu sebelumnya, kan? Tentang mengapa muncul batas yang sebesar itu, kami gak tau apa-apa... menurut kitab suci, orang-orang pada zaman Nabi Nuh dapat hidup ratusan taun, jadi kupikir kita tau apa yang mereka bicarakan. Pertama-tama, meskipun kami bicara tentang tumbuh dewasa, kami hanya membiarkan nya tumbuh sampai sekitar 10 tahun, yang harusnya sudah cukup bagi kami untuk tau apakah dia bisa melanggar Taboo Index. Tentu saja, memori yang didapat di Underworld akan dihadang juga, jadi saat dia kembali ke dunia nyata, dia akan tetap dalam kondisi seperti sebelum menggunakan STL."

"...Lalu, hasilnya...?"

"Kami merekrut delapan petugas untuk menjadi tes subjek, membiarkan mereka masuk ke dalam Underworld dan membiarkan mereka tumbuh pada lingkungan yang berbeda. Pada akhirnya... hal yang mengejutkan ialah gak ada satupun orang yang melanggar Taboo Index sebelum mereka berumur sepuluh. Malahan, hasilnya merupakan kebalikan dari yang kami duga... mereka lebih gak bersemangat dibanding Fluctlight yang lain dan gak suka main keluar. Mereka gak menunjukkan rasa ingin mengetahui sekelilingnya. Kami menyimpulkan bahwa itu karena ada perasaan gak nyaman."

"Perasaan gak nyaman?"

"Meskipun kami menghadang seluruh memori dari lahir, hal itu gak bisa menghapus seluruhnya. Kalau hal itu terjadi, mereka mungkin gak akan bisa kembali ke dunia nyata. Omong-omong, ini bukan masalah «Pengetahuan», tapi «Insting» yang menunjukkan bagaimana tubuh kita bergerak, mencegah para peneliti untuk merasa nyaman di Underworld. Se-nyata apapun hal itu, gak ada bedanya dengan dunia virtual yang diciptakan The Seed. Sekali mereka masuk, mereka dapat mengerti kalau disana sedikit berbada dengan bergerak di kenyataan. Hal itu sama dengan rasa gak nyaman seperti saat aku pertama kali menggunakan Nerve Gear untuk mencoba closed beta dari SAO."

"Itu karena perasaan gravitasi."

Sahut Asuna,

"Gravitasi...?"

"Gak seperti pengelihatan atau pendengaran, bagian dari penelitian terhadap gravitasi dan keseimbangan sedikit terlambat. Itu karena sebagian besar dari sinyal bergantung kepada gravitasi untuk mengatur otak kita, jadi bagi mereka yang gak terbiasa dengan hal itu gak bisa bergerak semau mereka."

"Ya, itulah hal yang kami sudah terbiasa."

Pa-tch, Kikuoka menjentikkan jarinya dan setuju,

"Jika kami ingin mengulang segala sesuatu di eksperimen nya, kebutuhan untuk dapat terbiasa bergerak didalam dunia virtual adalah sebuah keharusan, dan kami menyadari hal itu. Itu bukan lah eksperimen yang butuh waktu beberapa hari atau bulan atau tahun. Kupikir kamu mengerti sekarang. Untuk alasan itulah aku butuh pertolongan seseorang yang paling terbiasa dengan dunia virtual.

"—Tunggu sebentar."

Asuna lagi-lagi mencela Kikuoka dengan suara yang tegas.

"Apa kalian berbicara tentang «Diving dalam tiga hari berturut-turut» yang Kirito-kun bicarakan? ...Tapi Kirito-kun bilang ke kami kalau fitur FLA maksimum hanya 3 kali lipat, jadi dia menghabiskan waktu 10 hari disana. Apa kalian berbohong padanya? Apa itu sebenarnya 10 tahun...?"

Kikuoka dan Higa berasa diserang pandangan yang menyengat lalu menundukkan kepala mereka dengan ekspresi khawatir.

"Maaf, tentang hal itu, itu adalah kesalahan dari cabang di Roppongi. Itu karena aku memberi intruksi untuk merahasiakan informasi dari kecepata akselerasinya..."

"Itu lebih parah lagi! 10 tahun umur jiwa Kirito-kun digunakan untuk hal itu. Kalau perawatan ini gagal karena hal ini, Aku gak akan memaafkan kalian."

"Itu gak bisa dijadiin suatu alasan, tapi Higa-kun dan Aku berkontribusi dalam eksperimen lebih dari 20 tahun —jadi, 10 tahun Fluctlight yang Kirito-kun kontribusikan disana jauh lebih sedikit dari Fluctlight para petugas disini."

"Dengan kata lain, dia melakukan sesuatu yang melanggar Taboo Index saat tumbuh besar di Underworld?"

Sela Rinko, dan Kikuoka tersenyum dan menggelengkan kepalanya,

"Tegasnya, bukan seperti itu, namun, Aku bisa bilang kalau hasilnya lebih dari yang diperkirakan. Dari usia muda, Kirito-kun menunjukkan antusiasme yang belum pernah terlihat dalam rasa ingin tau dan aktifitasnya, hal itu membuatnya berkali-kali hampir melanggar Taboo Index —tentu saja, jika Fluctlight miliknya berakhir melanggar Taboo Index, itu menunjukkan kalau Fluctlight buatan itu struktur nya cacat, dan aku gak akan senang mendengar hal itu. Namun, kami terus mengamati tingkah lakunya dan setelah ia menghabiskan waktu 7 tahun atau lebih disana... Higa-kun ini menyadari sesuatu yang sangat menarik."

Higa menyela Kikuoka dan melanjutkan kata-katanya,

"Ya, awalanya aku gak setuju Kirigaya-kun mengambil bagian dalam ekspremen, dengan alasan moral dan keamanan, dan saat aku mengetahui kenyataannya, Aku harus bilang kalau aku terkesan oleh pandangan bijaksana Kiku-san. Kami mendigitalisasi beberapa pasal penting didalam Taboo Index dan mengecek kemungkinan yang dipunyai setiap warga untuk melanggarnya. Fluctlight buatan yang dimiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang berinteraksi dengan Kirigaya-kun... -atau Kirito-kun, kemungkinan mereka untuk melanggar Taboo Index itu meningkat."

"Eh...? berarti..."

"Dengan kata lain, Kirito-kun dengan memori dan kepribadian dunia nyata nya di segel, dapat mempengaruhi tindakan dari Fluctlight buatan yang ada di sekelilingnya. Mudahnya, rasa antusias miliknya menyebar ke yang lain, atau kira-kira seperti itulah."

Rinko melihat bibir Asuna yang menunjukkan sedikit senyuman setelah mendengar perkataan Higa. Mungkin perkataan itu mudah dimengerti oleh Asuna.

"...Saat ini, alasan mengapa Fluctlight buatan gak melanggar aturan, kami belum bisa mengetahuinya. Itu mungkin karena elemen yang digunakan untuk membuat Light Cube, tapi kami merasa sudah gak perlu lagi untuk menganalisa hal itu sebagai sebuah prioritas. Bagi kami, kami gak ingin menyelesaikan masalah sepenuhnya, kami hanya ingin satu pengecualian, sebuah AI dengan kemampuan beradaptasi yang tinggi yang mempunya konsep «Peraturan sebagai prioritas», dan jika kami mengklon nya, kami harusnya bisa mendapatkan beberapa alasan."

"Aku gak terlalu suka pemikiran seperti itu... tapi dulu, pemecahan masalah selalu dilakukan dengan cara itu, kupikir"

Menghembuskan nafas sedikit, Rinko bertanya kepada Higa,

"Lalu, apa kalian sudah mendapat pengecualian itu?"

"Ada satu yang sudah jatuh ketangan kami. Seorang gadis yang paling dekat dengan eksistensi Kirito-kun akhirnya melanggar Taboo Index sebelum eksperimen berakhir, dan itu adalah tindak kriminal yang berat yaitu «Memasuki Wilayah Terarang». Setelah memeriksa rekamannya, kami menemukan kalau ada Fluctlight buatan lain yang mati di daerah terlarang yang gadis itu lihat. Kemungkinan besar, gadis itu ingin menyelamatkannya, dan jika aku harus bilang, gadis itu mementingkan nyawa orang lain melebihi Taboo Index. Itu adalah adaptasi yang kami cari-cari. Yah, itu sangat berbeda dengan mewujudkan senjata; «melawan etika dan membunuh seseorang» adalah suatu hal yang ironis."

"...Kau bilang hal itu sebelumnya, kan?"

"Ah —ya. Sayang sekali... kami gak bisa memegang erat-erat sebuah permata yang jatuh ke tangan kami..."

Higa menurunkan bahunya dan kemudian menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan,

"...Seperti yang sudah aku bilang, waktu didalam Underworld berjalan 1000 kali lipat dari waktu di dunia nyata. Mustahil untuk mengamati mereka dari luar dalam waktu yang sebenarnya, jadi kami memotong apa yang kami rekam kedalam beberapa segmen dan pelan-pelan menayangkan ulang rekaman dengan banyak petugas kami untuk menonton-nya. Meskipun, pasti ada banyak jeda dibandingkan dengan waktu didalam sana. Kami menghentikan server nya pada saat kami menemukan gadis itu melanggar Taboo Index dan ingin mencabut Light Cube untuk menyimpan Fluctlight milik gadis itu... pada saat itu, sekitar dua hari sudah berjalan disana. Dan yang mengejutkan, Integrity Church telah membawa gadis itu ke ibu kota dan dalam waktu dua hari melakukan suatu bentuk koreksi terhadap Fluctlight milik gadis itu."

"Ko...koreksi? Kau memberi kewenangan sebanyak itu terhadap hal yang sedang kau amati?"

"Bukan itu masalahnya... atau mungkin bukan. Penduduk Underworld mempunyai kewenangan untuk menjaga hukum dan perintah, dan mereka yang mampu mencapai batas dari sistem yang para warga kelas tinggi sebut «Sacred Arts» adalah para pendeta yang ada di Integrity Church, orang-orang yang mempunyai kewenangan tertinggi. Mungkin bukan hanya batas umur yang bisa mereka manipulasi, tapi mereka menemukan backdoor ke sistem tanpa kita ketahui...yah, aku akan membaca data untuk lebih detail lagi nanti; Taboo Breaking Index «Alice» yang sekarang dan yang sudah lalu."

"Alice...?"

Asuna tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menggumam. Rinko mulai mengerti arti dari istilah itu. Itu seharusnya merupakan sebuah nama yang menjadi singkatan dari «Highly Adaptive Artificial Intelligence» yang Kikuoka dan Higa incar.

Kikuoka sepertinya menyadari kecurigaan mereka lalu mengangguk setuju dan berkata,

"Benar. Itu adalah nama gadis yang hidup bersama Kirito-kun dan satu anak laki-laki yang lain. Nama dari seluruh penduduk Underworld semuanya benar-benar ditentukan dengan acak, jadi kami benar-benar kaget dengan kebetulan yang luar biasa ini saat kami tau nama gadis itu adalah Alice. Karena nama itu merupakan konsep dari seluruh rencana yang RATH punya."

"Konsep?"

"Eksistensi sebuah AI dengan kemampuan beradaptasi yang tinggi, Artificial Labile Intelligence Cybernetic Existence. Kalau kita ambil huruf pertama dari masing-masing kata «A, L, I, C, E»... tujuan dari penelitian kami adalah untuk membiarkan awan foton yang tersegel didalam LightCube menjadi «Alice». Para petugas menyebutnya «Alice-ing».”

Letnan Kolonel Kikuoka Seijirou masih menunjukkan senyuman yang tak bisa dibaca meskipun rahasianya sudah terbongkar, dan berkata,

"Selamat datang, di «Project Alicization».”

Bagian 3[edit]

—Kalian membuat benda yang tak masuk akal sebanyak ini..

Meskipun mesin itu terbuat dari data yang ia miliki, Koujiro Rinko hanya bisa terkagum-kagum melihatnya.

Ruangan yang bersebelahan yang terisolasi oleh kaca yang tebal mempunyai dua objek persegi panjang rakasasa yang hampir setinggi langit-langit. Bagian luarnya adalah aluminium yang gak diwarnai, dan warna perak gelap bersinar dari mesin itu. Benda itu berkali-kali lipat lebih besar dari mesin high-tech Medi-Cuboid yang digunakan untuk perawatan medis, apalagi kalau dibandingkan dengan Nerve Gear.

Tentu saja, logo dari perusahaan ada disana, hanya tulisan berbahasa inggris yang simpel; «Soul Translator» pada sisi samping dan sebuah angka yang ukurannya cukup besar di atasnya. Mesin yang ada di bagian kiri bernomorkan 4 dan mesin di bagian kanan bernomorkan 5. Akhirnya aku bisa melihat «Soul Translator» Rinko menatap mesin itu selama lebih dari 10 detik, mengerutkan dahi lalu bergumam,

"4...ini mesin ke 4... kalau begitu, mesin ke 5 itu...?"

Angka-angka itu hanya dapat menjelaskan hal itu, tapi ruangan bersih di sisi lain dari dinding kaca gak punya mesin seperti disini. Ia sedikit memiringkan kepalanya dan mendengar penjelasan singkat dari sisi kanan.

"Model eksperimen 1 ada di ruang utama di Roppongi dan terhubungkan dengan satelit. Model 2 dan 3 ada di Ocean Turtle, tapi seperti yang bisa kamu lihat disini, mereka disimpan poros bawah. Dengan kata lain... model terbaru nomor 4 dan 5 gak bisa disimpan disana karena keterbatasn ruang dan akhirnya diletakkan di poros atas, disini."

Yang berbicara adalah orang yang membawa Rinko dan Asuna kesini. Dia bukan Kikuoka, Higa atau Letnan Nakanishi, dan bukan juga seorang pria. Seragam putih bersih yang menutupi tubuhnya tinggi dan langsing, ia memakai sandal ber-hak rendah, dan dikepalanya terdapat topi suster—seorang wali perempuan.

Untuk suatu alasan, Rinko heran mengapa ada seorang wali disini, ditempat seperti ini, tapi setelah mengingat kalau tempat ini adalah kapal yang sangat besar, pasti ada kru medis, dan pasti ada petugas seperti itu disini.

Suster itu mempunyai rambut yang dikepang tiga lapis dan memakai kacamata tanpa bingkai. Tablet terminal ditangannya dengan cepat ditekan dan menampilkannya kepada Rinko. Terlihat tampilan yang sepertinya adalah peta tata ruang dari Ocean Turtle. Ia menggunakan ujung jarinya yang mempunyai kuku yang rapi untuk menarik bagian kapal besar.

"Wilayah pusat dari piramid mempunyai pipa penyeimbang yang berdiameter 20m dan tinggi 100m yang disebut «Pilar Utama». Pilar itulah yang menyokong semua lantai di kapal ini dan lapisan yang melindungi fasilitas-fasilitas yang penting. Didalamnya adalah Control System dari kapal itu sendiri, tulang belakang dari rencana Alicization...tempat dimana terdapat 4 mesin STL dan mainframe dari «Light Cube Cluster»."

"Fuun...itu mencangkup area atas, kan? bagaimana dengan area bawah?"

"Itu adalah sebuah konstruksi yang terbagi menjadi bagian atas dan bawah pada wilayah pusat. Bagian tengah adalah kompartemen titanium yang seperti dinding. Yang ada diatas adalah poros atas, dan dibawah ada poros bawah. Saat ini, kita ada di «Ruang Kontrol ke-2» di poros atas. Para petugas menyebutnya «Sub-Con».”

"Oh begitu. Jadi tempat pertama kali kami dibawa, Ruang Kontrol Pertama yang ada di poros bawah adalah «Main-Con», kan?"

"Sebuah jawaban yang luar biasa, Profesor Koujiro."

Rinko memberikan senyum masam kepada suster yang tersenyum sembaru berkata seperti itu, lalu berbalik ke arah kiri.

Gadis yang berdiri disana dengan tenang—Yuuki Asuna menyenderkan tangan nya di tembok kaca, memperhatikan mesin nomor 4 di sisi lainnya dengan seksama. Lebih tepatnya, ia memperhatikan seorang anak laki-laki yang terbaring di sebuah kasur dan terhubung ke mesin nomor 4 itu.

Banyak elektroda yang menempel dibalik baju putih pasien, dan sebuah micro-injector menempel pada tangan kiri. Bagian diatas bahu semuanya tertutupi oleh STL dan gak bisa dilihat, tapi Asuna tau kalau orang itu adalah Kirigaya Kazuto yang sedang ia cari-cari.

Sword Art Online Vol 10 - 125.jpg

Asuna terus menatap kearah Kirito tanpa menyadari tatapan Rinko, dan bulu mata panjangnya akhirnya sedikit tertutup sambil membisikkan sesuatu pelan-pelan. Air mata keluar dari matanya, dan terhuyung kesamping sebelum jatuh.

Rinko sangat ingin menghibur Asuna yang sedang dalam kondisi seperti itu, dan sebelum ia melakukannya—

"Jangan khawatir, Asuna-san. Kirigaya-kun pasti akan kembali."

Suster yang memakai kacamata itu berkata demikian dengan nada yang agak mengejutkan. Ia berjalan kesamping Asuna, menggantikan Rinko yang mengambil langkah kebelakang, dan menggerakkan tangan nya ke bahu gadis itu. Namun, Asuna tiba-tiba membalikkan badannya seolah olah menghindarinya dan menggunakan ujung jarinya untuk mengelap air mata nya, menjawab dengan nada yang mengejek entah mengapa.

"Tentu saja. Tapi... kenapa kau ada disini, Aki-san?"

"Eh...? Kalian berdua sudah saling kenal?"

Rinko bertanya dengan bingung, dan Asuna mengangguk,

"Un. Aki-san ini adalah seorang suster yang bekerja di RS Chiyoda. Kenapa orang ini ada di perairan Kepulauan Izu, aku gak tau."

"Tentu saja, Aku disini untuk merawat Kirigaya-kun."

"Lalu, apa pekerjaan mu? Atau seperti Kikuoka-san? Apa kamu juga menyamar menjadi seorang suster?"

Suster yang dipanggil Aki itu gak menunjukkan sedikitpun rasa takut saat ia menerima tatapan tajam Asuna, dan menunjukkan sedikit senyum sembari menurunkan bahu nya.

"Bagaimana mungkin? Aku gak seperti oji-sama itu, Aku suster asli. Aku punya ijazah nasional. Akan tetapi, aku lulus dari «Tokyo Self-Defense Senior Nurse Academy».”

"...Aku bisa percaya itu sedikit."

Asuna mengangguk, dan Rinko melanjutkan tanpa rasa peduli.

"Yah, Aku sama sekali gak mengerti... pada akhirnya siapa sebenarnya Aki-san ini?"

"Suster beneran, kupikir, tapi bukan cuma itu saja."

Asuna berbalik menghadap Rinko lagi lalu berkata dengan lancar.

"Kalau dia adalah suster yang lulus dari Akademi Perawat yang berhubungan dengan Pasukan Pertahanan Diri, secara teknis seharusnya ia bekerja di RS Pasukan Pertahanan-Diri. Namun, Aki-san adalah suster di RS Chiyoda pada saat insiden SAO, itu berarti hal ini juga merupakan kerjaannya Kikuoka-san... apakah aku benar?"

"Jawaban yang luar biasa, Asuna-san."

Suster Aki mengulang apa yang ia katakan kepada Rinko sebelumnya lalu tersenyum. Asuna terus menatap ke arah suster yang tinggi dan langsing itu sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata,

"Dan juga, ada satu hal lagi. Aku membaca sebuah data kalau mereka yang menjadi anggota di Akademi Perawat di Pasukan Pertahanan-Diri diperlakukan sama seperti orang baru yang masuk militer dibawah pedoman promosi akademi. Kalau begitu, Aki-san adalah suster dan juga..."

Jangan bilang siapa-siapa. Ucap suster aki sembari menggunakan tangan kanannya untuk menutup mulut Asuna. Ia mengangkat tangannya setinggi kepalanya, dan menunjukkan posisi memberi hormat—

"PETTY OFFICER SECOND CLASS AKI NATSUMI! SAYA PRIBADI AKAN MELINDUNGI NYAWA KIRIGAYA-KUN!... yah."

Suster yang juga seorang Petugas Pertahanan-Diri itu memberikan kedipan tegasnya, dan Asuna menatap wajahnya dengan setengah ragu sebelum menghela nafas dan menundukkan kepala nya dan berkata,

"Mohon kerjasama nya."

Ia kemudian kembali berbalik untuk melihat kearah mesin STL nomor 4 yang terpisah darinya oleh sebuah dinding kaca, memperlihatkan tatapan yang rindu kearah seorang anak yang berbaring di tempat tidur gel yang panjangnya 3m,

"...Kamu harus kembali, Kirito-kun."

Gumam Asuna dengan air mata yang menetes, dan Suster Aki mengangguk dengan tegas, kali ini menaruh tangan kirinya diatas bahu Asuna.

"Tentu saja. Meskipun kondisinya seperti ini, Fluctlight milik Kirito-kun sedang bekerja aktif di proses perawatan. Jaringan saraf nya sudah berhasil tumbuh kembali, dan takkan lama ia akan bangun. Dan juga... anak itu adalah «pahlawan» yang menamatkan SAO, kan?

Kata-kata itu meninggalkan rasa sakit yang tajam pada dada Rinko. Ia kemudian menghela nafas dalam, menyimpannya, berdiri disamping Asuna dan menatap kearah mesin besar dibalik tembok kaca itu.


8pm.

Rinko mengangkat kepalanya dari jam yang ada di tangan kirinya dan mengangkat tangan kanan nya dengan yakin lalu menekan tombol logam yang bertuliskan 'call'. Beberapa detik kemudian, speaker yang terpasang disamping pintu memberikan balasan yang simpel,

“...Ya.”

"Ini aku, Koujiro. Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?"

"Tentu saja, Kubuka pintunya sekarang."

Saat suara itu berbunyi, indikator panel telepon itu berganti warna dari merah menjadi hijau, dan dengan suara mesin, sebuah pintu terbuka.

Rinko memasuki ruangan, dan Asuna, yang berdiri disamping tempat tidur, mengangguk sembari mengontrol rimot kendali utama di tangan kanan nya. Pintu dibelakangnya tertutup, dan suara mengunci bisa terdengar.

Kabin itu desain nya sangat mirip dengan kamar Rinko. Ruang 6 tatami yang terbuat dari resin berwarna putih, dan hanya ada satu tempat tidur, meja, sofa dan terminal kecil yang bisa digunakan untuk mengakses jaringan kapal. Letnan naganishi, yang memandu mereka kesini, berkata 'ini adalah kabin kelas pertama'. Rinko tak bisa menahan untuk membayangkan kabin penumpang yang mewah seperti yang ada di kapal pesiar, tapi sepertinya ruangan personal yang dilengkapi kamar mandi ini sudah tergolong kelas pertama.

Namun, ruangan yang ditempati Asuna berbeda dengan ruangan Rinko. Ruangan itu memiliki jendela yang panjang dan sempit disamping tempat tidur. Dengan kata lain, ruangan ini ada di area tepi dari Ocean Turtle, area yang terhubung ke generator panel-tingkat. Ia dengan sengaja pergi ke elevator naik untuk menikmati matahari terbenam di lautan yang sangat indah dari jendela, tapi saat ini, hanya kegelapan pekat yang ada di sekeliling, dan sayang sekali, langit mendung menandakan kalau bintang-bintang gak akan bisa terlihat.

"Silahkan lakukan apa yang kamu mau. Aku gak keberatan."

Ucap Asuna. Rinko menaruh botol plastik Teh Oolong yang ia beli di vending machine yang ada di pojokan elevator diatas meja sebelum ia duduk di sofa yang keras itu. 'Tunggu dulu' tiba-tiba ia bergumam tanpa sadar sebelum menutup mulutnya. Ia sendiri masih muda, tapi setelah melihat kecantikan Asuna yang memakai T-shirt dan celana pendek, ia akhirnya sadar kalau suaranya sudah mendekati 30 tahun.

"Minumlah kalau kamu mau."

Asuna mengambil botol itu sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya,

"Makasih banyak. Kebetulan aku sedang haus."

"Kamu udah nyoba air dispenser nya?"

Asuna memberikan senyuman menggoda saat mendengar nya.

"Saluran air di Tokyo mungkin terasa lebih enak."

"Yah, itu sepertinya air laut yang dimurnikan. Kupikir gak akan ada trihalometana yang tercampur. Secara tak terduga, mungkin nutrisi nya lebih banyak dibanding air yang dijual oleh para perusahaan."

Ia melepas tutup botol Teh Oolong itu dan meneguk cairan dingin itu. Ia benar-benar ingin minum bir, tapi menyerah saat ia berfikir harus pergi ke kantin di poros bawah untuk membelinya.

Menghembuskan nafas, Rinko menatap kearah Asuna lagi.

"...Sayang sekali kamu gak bisa melihat Kirigaya-kun."

"Tapi entah kenapa aku merasa sangat termotivasi, sangat senang rasanya seperti mimpi."

Asuna tersenyum, dan Rinko bisa merasakan kalau kegelisahan Asuna sudah hilang.

"Benar-benar pacar yang merepotkan; tiba-tiba menghilang ke tengah lautan seperti ini. Kamu sebaiknya mengikat leher nya dengan tali."

Asuna tersenyum dan menundukkan kepalanya.

"Aku benar-benar, benar-benar ingin berterimakasih, Koujiro-sensei, untuk menerima permohonan yang gak masuk akal dariku... Aku gak tau gimana caranya untuk berterimakasih."

"Gak perlu begitu. Panggil saja aku Rinko...dan juga, hal ini sama sekali gak menghilangkan rasa bersalah ku kepada mu dan Kirigaya-kun."

Rinko menggelengkan kepalanya, membulatkan tekadnya, dan menatap kearah Asuna,

"...Ada hal yang ingin kukatakan kepadamu. Un, bukan hanya kepadamu...tapi juga kepada seluruh pemain dari SAO..."

“...”

Rinko mencoba semampunya untuk menerima hal ini lalu terus menatap mata Asuna. Ia kemudian mengambil nafas panjang dan menghembuskannya, melepaskan dua kancing dari kemeja katun nya. Ia membuka kerah bajunya, melepas kalung perak nya, menunjukkan bekas luka yang ada berada di samping kiri tulang dada nya.

"Apa kau tau sesuatu...tentang bekas luka ini...?"

Asuna terus menatap bagian kanan atas dari jantung Rinko, dan akhirnya mengangguk.

"Ya. Itu adalah tempat micro-bom yang dikendalikan dari jarak jauh ditanam. Jadi sensei... Rinko-san diancam oleh Guild Leader...Kayaba Akihiko selama dua tahun."

"Itu benar...Aku dipaksa ikut bagian dalam rencana mengerikan itu dan merawat tubuh orang itu selama ia dive in dalam waktu yang lama...—itulah yang seluruh dunia anggap. Itu sebab nya aku gak dituntut, nama ku gak disebutkan, dan aku kabur ke Amerika seorang diri..."

Rinko memakai baju dan kalung nya itu kembali lalu meneruskan semampunya dan berkata,

"Tapi fakta nya bukan seperti itu. Memang benar bom itu dikeluarkan di RS polisi, dan ada kemungkinan bom itu meledak, tapi aku tau kalau bom itu gak akan meledak—itu hanya sebuah kedok. Setelah insiden berakhir, Aku gak pernah mempermasalahkan hal itu lebih jauh karena senjata palsu yang orang itu tanam adalah satu-satunya hadiah yang ia berikan kepadaku."

Meskipun setelah mendengar hal itu, ekspresi Asuna sama sekali gak berubah. Mata yang jernih dan murni itu terlihat seolah olah dapat melihat kedalam hatinya terus memandang Rinko dengan penuh perhatian.

“—Kayaba-kun dan Aku mulai berkencan saat aku masuk universitas, dan jika menghitung waktu yang kami habiskan untuk studi lebih lanjut, kami menjadi sepasang kekasih selama 6 tahun...tapi hanya aku yang berfikir seperti itu. Aku sudah jelas lebih tua darimu, tapi Aku jauh lebih bodoh darimu karena aku sama sekali gak bisa tau isi hati Kayaba-kun. Hanya satu hal yang ia mau, dan Aku sama sekali gak tau hal itu

Sembari ia melihat ke lautan yang sangat luas di malam hari, Rinko mulai berbicara tentang kata-kata yang ingin ia sampaikan selama 4 tahun. Tak terduga ia mengucapkan sebuah nama yang biasanya menyebabkan rasa sakit di kepalanya pada saat ia berfikir tentang hal itu.

Pada waktu ia terdaftar di universitas industrial yang terkenal di Jepang, Kayaba Akihiko sudah menjadi kepala dari cabang pengembangan ke-3 dari Argus Corporation. Kayaba menandatangani lisensi persetujuan di SMA sebagai game programmer, dan Argus bangkit dari perusahaan kelas 3 menjadi perusahaan pembuat game yang top di seluruh dunia, jadi dapat dimengerti kalau dia diberikan posisi manajemen setelah dia masuk universitas.

Bisa dibilang kalau Kayaba punya gaji tahunan lebih dari 100 juta yen saat dia masih berumur 18, dan termasuk biaya lisensi, ia seharusnya sudah berada di level yang mengejutkan. Wajar, banyak gadis-gadis di kampus yang mendekatinya dengan berbagai maksud, tapi banyak yang mundur setelah menerima tatapan nya yang lebih dingin dari pada es yyang menandakan kalau ia sama sekali gak tertarik.

Oleh sebab itu, Rinko gak bisa mengerti kenapa Kayaba gak pernah menolaknya, gadis yang satu tahun dibawahnya dan biasa-biasa aja. Mungkin karena gadis itu gak pernah mendengar tentang Kayaba sebelumnya? Atau mungkin karena gadis itu mempunyai otak yang handal yang diperbolehkan keluar masuk lab Shigemura? Satu hal yang pasti adalah kalau Kayaba tertarik padanya bukan karena penampilannya.

Kesan pertama Rinko tentang Kayaba setelah ia memeluknya adalah bahwa ia adalah sebuah toge yang kekurangan gizi. Wajah nya yang pucat, pakaian putih kusut nya, perangkat inspeksi yang selalu ada dengannya seperti sebuah kebutuhan; ia mengingat kejadian itu dengan jelas seolah-olah baru saja terjadi kemarin, dan tentang bagaimana ia memaksa nya pergi ke Shounan untuk menyewa mobil.

"Kalau kamu gak sesekali pergi keluar untuk berjemur, niatan untuk pergi keluar gak akan muncul!"

Rinko berkata seperti itu dengan sikap yang tak terduga, dan Kayaba, yang ada di kursi penumpang, terlihat terkejut dan menatap nya balik. Pada akhirnya setelah beberapa lama, kamu gak akan ingin kulitmu menerima cahaya matahari yang berlebihan. ia akhirnya berbicara, menyebabkan Rinko terkaget.

Beberapa saat setelahnya, ia menyadari sisi lain ketenaran yang menyertai Kayaba muda; bisa dibilang kalau gak ada cara efektif untuk mengubahnya secara sosial. Dia selalu menjadi toge yang kekurangan gizi, kapanpun Rinko masuk ke kamar Kayaba, ia akan menegurnya dan membuatnya memakan masakan yang Rinko masak.

Orang itu gak pernah menolak ku. Mungkin dia mencoba untuk meminta pertolonganku, tapi aku gak menyadarinya, mungkin? Rinko bertanya pada dirinya sendiri berkali-kali, tapi ia gak pernah mendapatkan sebuah jawaban. Orang yang gak pernah bergantung kepada orang lain selain kepada dirinya sendiri sampai saat terakhir. Dia hanya ingin satu hal. «sebuah dunia yang gak ada disini», ia ingin melangkah menuju pintu yang terlarang untuk manusia yang bukan tuhan.

Berkali-kali, Kayaba berbicara tentang kastil raksasa yang mengapung diudara yang muncul di mimpi nya. Kastil itu terdiri dari banyak lantai, dan tiap lantainya terdapa jalanan, hutan dan rerumputan yang membentang ditempat itu. Orang-orang harus menggunakan tangga yang panjang di sisi samping nya, dan di langitnya tampak istana indah yang seperti mimpi.

"Apakah ada seseorang disana?"


Pada saat Rinko bertanya, Kayaba tersenyum dan menjawab, Aku gak tau.

—Saat aku masih sangat muda, Aku selalu bermimpi untuk pergi ke istana itu tiap malam. Tiap malam, aku mendaki anak tangga satu demi satu dan menuju ke arah langit. Tapi pada suatu hari, Aku gak bisa menggapai istana itu lagi di mimpiku. Aku hampir melupakan mimpi tak berguna itu.

Namun, pada hari dimana Rinko menyelesaikan tesis sarjana nya, Kayaba melakukan perjalanan ke istana yang ada di angkasa itu dan gak pernah kembali lagi. Ia hanya menggunakan tangannya untuk menjadikan istana mengapung itu menjadi kenyataan, mengambil 10.000 pemain, dan meninggalkan Rinko sendirian di bawah—


"Aku tau tentang insiden SAO dari berita dan melihat nama dan foto Kayaba-kun. Aku gak bisa percaya hal itu, tapi setelah aku mengendarai mobil ke tempat tinggal nya, aku menyadari kalau itu benar-benar terjadi saat aku melihat banyak mobil patroli yang parkir disana."

Rinko merasakan sedikit rasa nyeri di suaranya yang gak muncul dalam waktu yang lama, dan melanjutkan dengan perasaan yang terganggu,

"Orang itu gak pernah bilang apapun kepada ku sampai akhir. Itu sama seperti saat ia memulai perjalanannya. Ia gak pernah mengirim satupun e-mail kepadaku. Un...Aku benar-benar seorang idiot. Aku membantu nya membuat desain Nerve Gear juga, dan aku tau kalau dia membuat game di Argus. Tapi, aku gak pernah tau apa yang ia pikirkan... saat Kayaba-kun menghilang tanpa jejak, aku pergi keliling Jepang untuk mencarinya. Aku berhasil memikikan hal itu. Suatu hal yang aneh yang aku pikirkan; dulu, ada tanda di sebuah gunung di Nagano di navigation log mobilnya. Insingku berkata kalau disitulah tempatnya. Kalau aku memberitahu polisi tentang tempat itu, insiden SAO mungkin akan menuju ke arah yang berbeda..."

Mungkin kalau polisi masuk kedalam villa di gunung itu, Kayaba mungkin sudah membunuh semua pemain seperti yang ia nyatakan. Namun, dia sendiri bilang kalau hal itu gak akan ia biarkan. fikir Rinko.

"—Aku menghindari penjagaan polisi dan pergi ke Nagano seorang diri. Aku menghabiskan waktu 3 hari untuk mencari villa itu berdasarkan ingatanku, dan tanpa sadar, aku benar-benar sudah penuh lumpur...namun, Aku berkerja keras bukan untuk membantunya. Aku...ingin membunuh Kayaba-kun."

Dan seperti saat pertama kali mereka bertemu, Kayaba gak pernah menunjukkan keraguan di wajahnya saat ia menyambut Rinko. Ia gak bisa melupakan perasaan dingin dan berat dari sebuah pisau yang ia genggam dibelakangnya.

"Tapi...maaf, Asuna-san. Aku gak bisa membunuhnya."

Rinko gak bisa menahan suaranya yang gemetaran itu, namun, ia melanjutkannya saat ia mencoba menahan air matanya.

"Aku gak bisa bohong tentang insiden itu lagi. Kayaba-kun tau kalau aku punya pisau dan hanya berkata 'orang yang merepotkan' seperti biasanya, lalu memakai Nerve Gear lagi dan kembali ke Aincrad. Sewaktu dive in pada waktu yang lama itu, ia gak pernah peduli terhadap jenggot panjang yang tumbuh, dan banyak alat-alat yang menempel di lengan nya, Aku...Aku hanya..."

Rinko gak bisa berkata apapun lagi dan berusaha untuk mengatur nafasnya.

Akhirnya ia kembali tenang. Lalu asuna berkata,

"Kirito-kun dan Aku gak pernah menyalahkanmu, Rinko-san."

Gadis yang 10 tahun lebih muda itu mengangkat kepalanya, menunjukkan senyuman yang samar-samar lalu menatap kearah Rinko.

"...Tentang hal itu...Aku mungkin gak sama dengan Kirito-kun, tapi aku benar-benar sangat membenci ketua...Kayaba Akihiko, dan aku belum menyelesaikan masalah ku dengan nya."

Rinko mengingat kalau Asuna adalah anggota dari guild yang Kayaba ciptakan didunia itu.

"Memang benar kalau insiden itu menyebabkan kematian 4000 orang. Kalau aku membayangkan...seberapa besar perasaan takut dan putus asa yang mereka rasakan saat mereka mati, Aku benar-benar gak bisa memaafkan tindak kriminal ketua. Namun... memang egois bagiku mengatakan hal ini, tapi pada waktu yang pendek itu aku hidup di dunia itu bersama Kirito-kun, itu mungkin adalah momen paling indah yang kurasakan dalam hidupku."

Asuna memindahkan tangan kirinya dan membuat gerakan, terlihat seperti akan memegang sesuatu yang dekat dengan pinggang nya.

"Dan seperti perasaan bersalah ketua, Aku merasa bersalah, Kirito-kun merasa bersalah, dan kau juga merasa bersalah, Rinko-san... Namun, aku merasa gak ada yang bisa mengkompensasi nya dengan hukuman. Kemungkinan besar, kita mungkin gak akan melihat hari penebusan itu, tetapi meskipun demikian, kita harus terus melawan rasa bersalah kita."

Malam itu, Rinko bermimpi tentang saat yang ia lama lupakan—waktu ia menjadi seorang murid, waktu ia gak tau apapun.

Orang yang gampang bangun, Kayaba selalu bangun lebih pagi dari pada Rinko, minum kopi dan membaca koran. Rinko selalu bangun saat matahari terbit sepenuhnya, dan Kayaba tersenyum seperti ia sedang menghadapi anak kecil yang mengantuk, dan akan berkata, selamat pagi.


"Kau benar-benar orang yang merepotkan, datang ke tempat seperti ini."


Suara yang berat itu menyebabkan Rinko melebarkan matanya. Ia menyadari kalau ada sosok yang tinggi di tengah kegelapan.

"Masih malam..."

Rinko kemudian menutup matanya lagi sambil tersenyum dan bergumam. Udara berhembus sedikit, dan sebuah langkah kaki beranjak pergi. Kemudian, ia mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup.

Ia hendak kembali ke tidur nyenyak nya lagi, tapi tepat sebelum itu terjadi—

“—!!”

Rinko menghela nafas dalam saat ia bangun. Perasaan nyaman tiba-tiba lenyap, dan hatinya menangis keras seperti suara alarm. Ia gak bisa tau lagi mana dunia mimpi dan kenyataan pada saat itu. Ia mencari sebuah rimot dan menyalakan lampu di ruangan nya.

Gak ada seorang pun di kabin yang tak berjendela. Namun, Rinko merasakan ada aroma samar-samar seseorang yang tersisa di udara.

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu dengan kaki telanjang. Ia menekan panel dengan gelisah, membuka pintu dan berjalan menuju lorong melewati sela-sela pintu yang terbuka.

Gak ada seorang pun di lorong yang diterangi cahaya oranye, di kiri, dikanan atau dimanapun yang dapat ia lihat.

Sebuah mimpi...?

Ia berfikir begitu, tapi ada suara yang berbunyi dari software itu jauh didalam telinga nya. Rinko tanpa sadar memegang liontin yang selalu ada bersamanya.

Yang ada didalam nya, yang dilas dan tidak bisa dibuka lagi, adalah miniatur bom yang disegel diatas dada Rinko. Liontin itu sepertinya mengeluarkan panas nya sendiri seolah olah membakar telapak tangan-nya.


Bab 3 - Turnamen Seni Pedang Zakkaria (Bulan ke-8 Kalender Dunia Manusia 378)[edit]

Bagian 1[edit]

—Benar-benar bocah yang gak bisa dipahami.

Melihat kebawah kearah wajah tidur yang polos dari atas balok yang tinggi, ia tanpa sadar berfikir seperti itu.

Dua bocah itu menggunakan jerami kering dan keras yang ditumpuk di gudang yang sangat tua sebagai tempat tidur, tertidur nyenyak. Secara penampilan, mereka gak terlihat terlalu aneh. Bocah yang tertidur secara horizontal itu memiliki rambut berwarna kuning muda, dan mata yang sedang tertutup itu berwarna hijau tua. Keduanya adalah warna yang bisa ditemukan dimana saja di area NNM... «Norlangarth Northern Middle». Tinggi badan dan fisik mereka semuanya sesuai rata-rata yang dimiliki bocah seumuran mereka.

Sebaliknya, bocah yang tertidur di kiri yang kakinya terbuka lebar mempunyai rambut dan mata yang berwarna hitam pekat, benar-benar langka. Kesempatan melihat warna gelap lebih umum di area Timur dan Selatan, dan peluang untuk melahirkan anak dengan mata dan rambut hitam di wilayah Utara sangatlah langka, bahkan ada yang bilang kalau peluang itu gak ada sama sekali. Berhubung populasi dari Kerajaan Manusia telah berkembang sampai sedemikian luas, mungkin hal itu bisa terjadi. Bentuk tubuh nya sangat mirip dengan bocah yang disebelah nya, seolah-olah mereka adalah saudara kembar.

163 hari yang lalu, ia diperintahkan oleh «Master» untuk secara langsung mengamati dua bocah itu. ia datang jauh-jauh kesini dari Central Centoria, dan entah kenapa merasa kecewa. Entah itu karena penampilan atau veralism, mereka gak terlihat terlalu berbeda dari orang-orang yang seumuran dengan mereka, tapi ia merasa kalau perencanaan dan kemampuan mereka untuk menghindari bahaya dalam kondisi yang berbahaya itu dibawah rata-rata.

Sudah setengah tahun lamanya ia mengikuti dua bocah itu, berhati-hati agar gak ketauan.

Musim hujan sudah lewat, dan saat musim panas hampir lewat, ia pelan-pelan mengerti kenapa «Master» menyukai kedua bocah itu.

Kurangnya perencanaan dan mematuhi peraturan hanyalah wujud dari rasa ingin tau mereka. Dan juga, imajinasi dan gerakan bocah berambut hitam itu mengagetkan bahkan baginya, yang sudah hidup di dunia ini selama lebih dari 200 tahun. Sejak ia mulai memperhatikan mereka, sering kali ia merasa khawatir kalau bocah itu akan melanggar Taboo Index.

Memikirkan hal itu dengan seksama— itu bukanlah masalah. Bocah itu gak akan bisa melakukan hal seperti itu. Dia melakukan hal yang mirip dengan [dia] yang «Master» anggap sebagai musuh bebuyutan nya, menghancurkan perbatasan permanen yang berserakan di seluruh dunia dalam beberapa hari...

Pada saat ini, bocah berambut hitam yang tertidur mulai menggerakkan kaki nya seolah-olah melihat sesuatu. Baju yang berperan sebagai piyama nya itu terbuka sedikit, dan ia hanya bisa menghela nafas, dan bocah itu mulai bergerak-gerak lagi tanpa peduli kalau pusar nya kelihatan.

Musim panas sudah berakhir, dan angin malam terasa agak dingin di wilayah yang bisa disebut wilayah Norlandgarth utara. Banyak celah di gudang ini, dan kalau bocah itu terus tidur di atas jerami dengan pusar terbuka, kemungkinan «Life» miliknya mendapat sedikit penyakit akan sangat besar. Hari berikutnya— Kalender Dunia Manusia 378, Agustus 28th bisa dibilang adalah rintangan terbesar selama perjalanan untuk mereka.

Mereka hanya bisa menghasilkan uang dengan bekerja di peternakan ini selama musim panas, dan meskipun ia berkali kali ingin memberitau agar mereka setidaknya tidur di penginapan di kota, ia gak bisa berinteraksi dengan mereka secara langsung. Sembari ia memperhatikan mereka dengan cemas, kedua bocah itu melanjutkan tidur mereka di gudang yang simpel itu—

Dan pada akhirnya, berakhir seperti ini.

...Mau gimana lagi. Kalau aku ikut campur dengan cara sepert ini, «Master» akan memaafkan ku, pasti.

Ia berdiri diatas balok tinggi dan melambaikan tangan kanan nya. Mengucapkan sebuah mantra, ujung jari nya mengeluarkan cahaya berwarna hijau, membentuk cahaya dari «Elemen Angin».

Ia secara hati-hati membiarkan «Elemen Angin» itu jatuh disamping bocah berambut hitam, 30 cen menuju jerami kering, dan pelan-pelan «melepaskan» nya.

Sedikit angin sepoi-sepoi tercipta dari cahaya itu, menggulung tumpukan jerami yang pelan-pelan menyelimuti pusar bocah yang terbuka itu. Benda itu bukan selimut yang bagus, tapi sepertinya cukup untuk menghalangi angin dingin yang berhembus dari celah gudang.

Ia menurunkan tangan nya dan meneruskan untuk menatap kearah dua bocah yang gak sadar apa yang terjadi sebelum mulai memikirkan apa yang akan dilakukan setelahnya.

Life itu beku permanen, dan penyihir itu sudah menjalankan tugas yang mirip dari «Master» itu selama hampir 200 tahun. Namun, ia gak pernah punya ingatan apapun tentang dirinya merasa tertarik dengan pihak yang diamati. Tapi, ia harus menjadi sebuah fungsi yang tak memiliki «emosi». Tubuh ini bukan tubuh yang dimiliki manusia... Atau lebih tebatnya, bukan sebuah Unit Manusia di «UnderWorld» ini.

Meskipun ia bisa memprediksi kalau bocah itu akan terkena flu tepat sebelum ujian penting nya, masalahnya adalah kenapa ia gak mengacuhkan hal ini, tapi malah menggunakan sihir untuk ikut campur. Atau bahkan, jika bocah itu ambruk, jika sihir itu gagal, misi panjang nya untuk mengamati mereka akan berakhir, dan ia bisa kembali ke pojokan dari perpustakaan besar yang ia rindukan...

Dengan kata lain... bukannya pulang, perjalan nya dengan dua bocah itu akan berakhir seperti ini saja?

Mustahil. Hal ini terlalu gak logis. Ini seperti aku terpengaruh oleh gerak-gerik tak wajar dari mereka berdua.

Aku gak boleh terus memikirkannya. Ini bukan bagian dari misi. Yang harus aku lakukan hanyalah mengikuti dan memperhatikan mereka berdua. Aku harus memperhatikan kedua orang ini— bocah berambut kuning muda Eugeo dan bocah berambut hitam Kirito, pergi ke tempat tujuan mereka.

Ia melengkungkan tubuhnya mundur 5 mil dan melompat dari balok. Ia gak boleh membuat Life nya capek dengan tubuh yang kecil ini, dan ia gak perlu menggunakan sihir. ia mendarat seperti jerami yang mendendap, dan pelan-pelan memindahkan kaki kurus nya ke posisi yang biasanya— ke dalam rambut hitam yang agak panjang dari bocah yang bernama Kirito.

Ia mengencangkan badannya di berbagai helai rambut yang mempunyai warna yang sama dengan nya, dan untuk suatu alasan, menegur dirinya sendiri untuk tubuh kecil nya.

Kedamaian, kenyamanan, keyakinan; di tengah-tengah semua ini, ada semacam emosi yang kuat dari semua hal itu... Dan ia gak bisa berfikir kenapa ia merasa demikian.

—Benar benar bocah yang gak bisa dipahami.

Ia lagi-lagi mempunya pemikiran seperti ini, menutup matanya, dan kemudian tertidur.

Bagian 2[edit]

Besok adalah hari terakhir dari bulan Agustus, dan merupakan pagi hari yang sangat jelas.

Kirito meregangkan pungung nya dan membuka mata nya. Ia terlihat agak terkejut saat ia meraih tumpukan jerami yang menyelimuti tubuh nya, dan bangun dengan segera. Ia menggelengkan kepalanya untuk membangunkan dirinya, dan si pengamat yang bersembunyi di rambut nya mengeluarkan lengan dan kaki nya keluar.

Ia pindah ke ujung dari beberapa helai rambut hitam itu dan pindah ke sisi samping nya. Itu adalah tempat yang ia tetapkan untuk mengobservasi. Berhubung Kirito kadang-kadang suka menggaruk kepalanya, ia harus selalu waspada. Life yang dibekukan hanya berarti agar gak berkurang secara natural karena umur, dan Life tetap berkurang saat tubuh mengalami luka. Namun, nilai maksimum dari Life milik nya jauh lebih besar dari pada manusia, dan setelah tubuhnya menyusut, hampir seluruh ketangguhannya masih tersimpan, jadi pukulan mendadak atau apapun itu masih bisa ditahan.

Kirito gak menyadari si pengamat sebesar butiran beras yang bersembunyi di rambut nya dan menyingkirkan tumpukan jerami itu. Ia menggapai tangannya ke pundak partner nya yang sedang tertidur.

"Oi Eugeo. Bangun. Udah pagi."

Goncangan yang kasar dari Kirito menyebabkan bulu mata bocah yang warna nya sama dengan rambut nya menyentak sedikit saat ia membuka matanya. Mata hijau itu terlihat pusing, tapi setelah mengedip keras beberapa kali ia sepertinya meringis dan menyempitkan nya.

"...Pagi, Kirito. Kau masih sama seperti biasanya, bangun pagi-pagi banget setiap hari."

"Kamu nya saja yang kesiangan mulu, bangun, bangun! Kita harus menyelesaikan apa yang harus kita lakukan pagi hari; ayo latihan beberapa «style» sebelum sarapan. Aku masih gak terlalu ngerti «Style» ke-7.”

"Itulah kenapa aku bilang padamu untuk latihan «styles» mu daripada latih tanding melulu... Sulit dipercaya yah kamu itu, jadi 'all-nighter'[4] pada pagi hari turnamen...Eh, agak aneh bilang gitu di pagi hari. Yah..."

"Lupakan tentang 'all-morning' atau 'all-nighter' atau apapun itu, kita hanya punya satu kesempatan ini."

Ucap Kirito lalu memaksa Eugeo untuk bangun, mengumpulkan jerami yang ia gunakan sebagai tempat tidur, dan menyimpan nya di tong kayu di dekat tembok. Ia mengangkat tong kayu yang berisi jerami itu dan pergi menuju pintu keluar.

Pada saat ia berjalan keluar gudang, cahaya yang bersinar dari matahari menyambut matanya. Si pengamat menjauhkan diri dari sinar itu dan bersembunyi di dalam rambut hitam Kirito. Mungkin ia masih terbiasa di pojok perpustakaan besar yang gelap, ia sepertinya terlalu sensitif terhadap cahaya matahari. Namun, Kirito dengan riang mengambil nafas dari udara pagi dan mengatakan hal ini entah kepada siapa.

"Udara pagi memang sangat sejuk. Beruntung aku gak kena flu pada hari yang penting ini."

"Bisa-bisa nya kau berkata seperti itu. Aku gak akan menolong lagi kalau kau tidur dengan pusar terbuka seperti kemarin." Ucap si pengamat dalam hati, dan Eugeo, yang bergerak kebelakang Kirito, berkata,

"Cepat atau lambat kita pasti bakal muak tidur di gudang itu dengan tumpukan jerami. Bagaimana kalau kita gunakan uang kita untuk tidur di penginapan mulai besok?"

"Gak, gak perlu."

Kirito nyengir —tentu saja, mustahil untuk melihat wajahnya dari belakang kulit kepala nya, tapi Eugeo bisa tau kalau ia sedang nyengir nakal— dan berkata,

"Karena, mulai besok, kita akan tinggal di Asrama Zakkaria."

"...Tolong beritau aku darimana kamu mendapat kepercayaan diri seperti iu. Ampun deh..."

Yare yare. Eugeo menggelengkan kepalanya sembari mengangkat tong kayu berisi jerami, seperti yang dilakukan Kirito. Mereka berdua terlihat bersantai, tapi berat dari tong kayu kokoh yang berdiameter 1-mil ini sangat mengejutkan walaupun hanya terisi kumpulan jerami. Seorang anak muda biasa yang seumuran mereka mungkin hanya mampu berjalan 20 langkah sambil mengangkat tong itu.

Alasan mengapa dua bocah kurus ini bahkan gak berkeringat, itu karena «Object Control Authority»[5] milik mereka sangat tinggi. Mereka berdua mampu menggunakan pedang panjang yang bersender di dinding gudang— sebuah objek Kelas 45 «Divine Instrument», semau mereka.

Lalu, bagiamana bisa mereka berdua yang terlihat seperti anak muda yang normal, yang tinggal di pedesaan, memiliki «Object Control Authority» yang sangat besar? Sudah setengah tahun aku mengamati mereka, tapi aku masih gak mengerti kenapa. Tapi, setidak nya bisa dibilang kalau latihan biasa atau latih tanding sampai sekarang gak akan bisa menghasilkan nilai sebesar itu. Mungkin mereka bertarung melawan monster liar level tinggi, tapi monster-monster yang berkeliaran disekeliling desa seharusnya sudah diburu sampai hampir punah. Lebih penting nya lagi, mereka berdua gak punya «Hunter» sebagai Sacred Task kedua mereka, dan jika mereka memburu monster liar lebih dari yang diizinkan, mereka harusnya sudah melanggar dua pasal dari Taboo Index. Jika anak yang sangat aktif dan energetik seperti Kirito gak bisa melakukan itu, berarti anak yang loyal dan jujur seperti Eugeo juga gak mungkin—

Ada satu kemungkinan lagi yang tersisa; mereka mengalahkan musuh yang memberikan peningkatan besar pada «Object Control Authority» mereka yang bahkan gak bisa didapatkan dengan mengalhkan monster liar saja... suatu «Penyusup dari Dark Territory». Tapi pada sisi lain, hal ini gak mungkin dilakukan. Mereka berdua bukan penjaga, dan mustahil bagi mereka untuk melawan Dark Army. Dan juga, Dark Knight yang suka berdatangan, dan goblin pemantau seharusnya sudah dibereskan oleh Integrity Knights yang dikirim dari ibu kota Centoria ke «Mountain Range at the Edge».

Jika di dekat desa Kirito terjadi «invasi» mendadak... itu merupakan masalah yang lebih besar dibanding pertumbuhan mereka yang abnormal. Mungkin itu adalah sebuah pertanda. Hal itu dapat menjadi «Waktu yang Dijanjikan» yang akan tiba suatu hari nanti, yang tadinya disangka akan terjadi lebih jauh lagi di masa depan...

Menyembunyikan dirinya di dalam rambut hitam dan merenungkan tentan hal ini, kedua anak muda telah memindahkan tong yang berisi jerami itu ke kandang disamping gudang. Mereka mengisi penuh ember berisi makanan untuk sepuluh kuda dan mengambil sikat untuk menyikat tubuh kuda saat mereka mulai makan. Pekerjaan ini adalah hal pertama yang harus Kirito dan Eugeo lakukan di pagi hari berhubung mereka tinggal sementara di «Peternakan Wilde» yang berada di pinggiran Zakkaria.

Setelah bekerja selama lebih dari 5 bulan, teknik yang mereka berdua lakukan dalam menyisir kuda bisa membuat orang mengira kalau mereka memiliki Sacred Task «Merawat Kuda». Mereka berdua selesai menyisir kuda terakhir, dan semua kuda telah menghabiskan makanan nya. Kemudian, suara lonceng jam 7 tepat berbunyi dari gereja Zakkaria yang jauhnya 3 kilolu dari sini. «Bell of Time-Telling» yang dibangun Gereja Axiom di seluruh desa dan kota dapat terdengar dengan jelas dalam radius 10 kilolu yang suaranya gak akan melemah sama sekali, tapi akan sulit mendengar nya diluar radius itu. Ini mungkin adalah pemikiran psikologis untuk memastikan agar Unit Manusia gak berfikir untuk pergi terlalu jauh, tapi sepertinya hal itu sama sekali gak berpengaruh ke pihak Kirito.

Mereka berdua menggunakan ember yang berisi air untuk membersihkan tangan mereka dan menggantung sikat kuda ke gantungan di pillar. Mereka menggunakan tangan kanan mereka untuk mengangkat tong kosong, dan meninggalkan kandang. Pada momen ini, sambutan yang penuh semangat dapat terdengar, sepertinya sedang menunggu mereka berdua.

““Selamat pagi, Kirito, Eugeo!””

Ke dua suara itu bertumpang tindih satu sama lain. Pemilik suara itu adalah anak gadis kembar berumur 9 tahun dari pemilik peternakan— Telin dan Telulu. Rambut dan mata mereka berwarna coklat kemerahan, dan baju dan rok yang mereka pakai benar-benar sama persis. Satu-satu nya cara untuk membedakan mereka yaitu dengan melihat warna dari pita yang mereka pakai di ponytail mereka. Saat mereka memperkenalkan diri mereka, gadis dengan pita merah adalah Telin, dan gadis dengan pita biru adalah Telulu. Namun, dua gadis yang sangat mirip ini sering kali menukar pita mereka untuk membuat Kirito dan Eugeo salah mengidentifikasi mereka.

"Selamat pagi, Teli..."

Eugeo hampir membalas sambutan mereka seperti biasa, tapi Kirito menghentikan nya dari belakang.

"Tunggu dulu! ada yang sedikit aneh disini..."

Kedua gadis yang mendengar ini menatap satu sama lain, lalu tertawa,

"Ada yang aneh?" "Itu cuma imajinasi mu?"

Suara mereka, wajah mereka, jumlah bintik-bintik di wajah mereka benar-benar sama persis. Kirito dan Eugeo berfikir dan bergumam, menoleh kedepan dan belakang.

Alasan mengapa ada Unit Manusia yang kembar... atau lebih langka nya kembar tiga, bahkan «Master» sendiri gak mengerti sepenuh nya. Setelah berturut-turut ada beberapa kasus kematian Unit Manusia yang terjadi di area sekitar, jumlah anak kembar yang lahir semakin meningkat. Ini mungkin merupakan bagian dari sistem pengaturan populasi manusia, dan kalau itu benar penyebab nya, harusnya gak perlu membuat semuanya sama. Namun, gak ada kelemahan atau kekuatan yang bisa digunakan untuk memastikan hal itu.

—Meski begitu, si «Pengamat» hanya perlu melihat Status Window dari Unit itu secara normal...dalam istilah mereka, disebut «Stacia Window», jadi mudah saja untuk membedakan kedua anak kembar yang menukar pita mereka itu. Dengan kata lain, insting Kirito benar.

Percayalah dengan insting mu sendiri. Si pengamat yang berbaring diatas akar rambut hitam kirito itu bergumam. Kirito gak mendengar suara itu, tapi ia mengangkat tangan kirinya dan menunjuk gadis dengan pita merah.

"Selamat pagi, Telulu!"

Kemudian, ia menunjuk gadis dengan pita biru.

"Selamat pagi, Telin!"

Pada saat ia selesai, gadis kembar itu menatap satu sama lain dan berseru, "Kau benar!" mereka menggerakkan tangan mereka yang bersembunyi dibalik badan mereka ke depan, masing-masing memegang keranjang rotan persegi panjang.

"Ini hadiah mu karena sudah menebak dengan benar. Sarapan pie Mulberry!"

"Kami sangat antusias dalam memetik mulberries! Kami menghabiskan waktu seharian untuk memetik nya jadi kalian berdua bisa memenangkan turnamen hari ini!"

"Oh. Aku sangat senang. Terima kasih, Telulu, Telin."

Kirito meletakkan tong kayu kesamping kaki nya dan menjulurkan kedua tangan nya untuk membelai kepala kedua gadis itu. Gadis kembar itu tersenyum dan menatap Eugeo dengan ekspresi agak khawatir.

"...Apa kamu gak senang, Eugeo?"

"Jangan bilang kalau kamu benci mulberry?"

Segera, anak dengan rambut kuning muda nya itu melambaikan tangan nya dengan buru-buru.

"Enggak, bukan seperti itu. Aku juga suka! ...Aku hanya memikirkan masa lalu. Terima kasih."

Mendengar hal itu, gadis kembar itu menunjukkan senyum lega dan berlari ke meja bundar yang terletak diantara kandang dan lahan pengembalaan. Kirito memalingkan wajah dari kedua gadis yang sedang menyiapkan sarapan dengan gerakan yang segar kemudian berjalan menuju Eugeo dan menepuk pundak nya dari belakang.

"Kita harus memenangkan turnamen hari ini dan segera menjadi ranking top dari prajurit jadi kita bisa pergi menuju Centoria tahun depan... Menuju Alice. Ya kan, Eugeo?"

Eugeo mengangguk keras lalu berkata dengan suara yang lembut namun juga kuat.

"Ya, itu benar. Aku menghabiskan waktu lima bulan mempelajari «Aincrad-Style» darimu untuk tujuan itu, Kirito."

Memang hanya percakapan singkat, tapi terkandung banyak pesan penting didalam nya.

Diantara pesan-pesan tersebut, ada istilah yang si pengamat, yang sudah hidup selamat lebih dari 200 tahun sebagai penyihir, gak tau— yaitu nama dari sword style yang gak bisa dibayangkan itu"

Dan juga, ada satu tujuan akhir dari mereka berdua— Unit yang dipanggil «Alice».

Jika Alice yang disinggung disini adalah Unit yang sama dengan Alice yang ada di ingatan nya... keinginan mereka berdua akan sangat jauh dan samar.

Itu karena dia ada di tempat yang sangat, sangat tinggi di «Centoria Cathedral» yang ada di Centoria pusat...

"Kirito! Eugeo! Apa yang kalian berdua lakukan!"

"Cepat kesini! Atau Telin dan Aku akan menghabiskan sarapan nya!"

Gadis kembar yang telah menyelesaikan persiapan nya berseru, dan Kirito segera mendorong pundak Eugeo dan berlari.

Sentakan ini menginterupsi pikiran si pengamat dan menyebabkan nya kembali ke kenyataan. Selama lebih dari 5 bulan, ia telah berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa berfikir bukanlah pekerjaan yang pengamat lakukan. Tapi pada akhirnya ia selalu juga berfikir... Bukan, ia khawatir akan masa depan kedua bocah itu.

Ia berpegangan erat pada sehelai rambut hitam dan menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini.


Setelah sarapan yang berisik, gadis kembar itu meninggalkan sebuah kata-kata, "Kami akan mendukung kalian!" dan pergi.

Mereka menyiapkan sepuluh kuda ke ladang peternakan dan membersihkan kandang. Biasanya, mereka akan menggunakan pedang kayu untuk berlatih, namun hari ini berbeda. Mereka berdua membersihkan tubuh dan rambut mereka disamping sumur —pada saat ini, si pengamat meninggalkan kepala Kirito dan sembunyi di atas pohon yang dekat— dan mereka mengganti pakaian kerja nya dengan pakaian mereka sendiri. Mereka kemudian menghadap ke rumah petani yang gak terlalu jauh.

Istri dari pemilik peternakan, Toriza Wilde mempunyai kepribadian yang polos sebagai pemilik dari peternakan. Itu mungkin alasannya kenapa ia dengan tulus hati menerima mereka berdua yang terlihat agak aneh. Hal itu sama dengan hari ini saat ia menyemangati Kirito dan Eugeo, yang datang untuk menyapa nya, dengan suara lembut dan menyiapkan bekal mereka. Saat ia menyuruh mereka pergi, ia kemudian berkata "Kalau kalian gagal, lupakan tentang menjadi prajurit di kota ini. Jadilah suami Telin dan Telulu!", dan perkataan ini membuat kedua anak muda itu menunjukkan senyum yang agak ruwet.

Mereka meninggalkan rumah itu dan berjalan 3 kilolu di jalanan yang mengarah ke kota. Mereka berdua pada dasarnya gak pernah bicara satu sama lain, dan situasi itu sendiri gak pernah terjadi sebelum nya. Kemungkinan besar, itu karena perasaan gugup. Tiap tahun, pada tanggal 28 Agustus, kota Zakkaria akan mengadakan «Kompetisi ahli pedang area Norlangarth Utara», dan banyak orang dari lebih dari 50 kota atau desa sekeliling yang ikut serta. Pada dasarnya, seluruh peserta adalah orang yang memiliki Sacred Task «Penjaga», dan Kirito dan Eugeo adalah satu-satunya yang ikut tanpa peran seperti itu.

Hanya dua orang bisa bergabung ke pasukan prajurit Zakkaria, yaitu satu perwakilan dari blok timur dan satu dari blok barat, dan mereka berdua gak boleh gagal kalau mereka ingin mewujudkan mimpi mereka, yang merupakan rintangan terberat bagi mereka. Namun, masalah nya adalah apa yang akan terjadi jika mereka berdua berada di blok yang sama, dan kedua anak muda ini mungkin sama sekali gak memikirkan hal itu—

Seiring mereka membiarkan pikiran mereka kemana-mana, suara retakan dari sesuati, *BON*, dapat terdengar.

Ia menjulurkan kepalanya keluar dari kulit kepala Kirito, dan melihat ke jalanan yang ada di sisi lain dari bukit pendek, terbuat dari batu pasir yang berwarna coklat kemerahan. Itu pasti kota terbesar di area NNM, Zakkaria. Pada saat ini, populasi nya berjumlah 1950, dan angka itu gak sampai 10% dari populasi Central Centoria, tapi harusnya hari ini akan tetap ramai di turnamen terbesar yang diadakan tiap tahun ini.

Seiring mereka berjalan ke gerbang Barart, Eugeo berbisik,

"...Sebenarnya, kalau Aku gak melihat nya langsung, Aku mungkin mengira-mengira apakah kota Zakkaria itu benar-benar ada."

"Kenapa?"

Anak berambut kuning muda itu tersenyum mendengar pertanyaan Kirito,

"Itu karena... Pada dasarnya gak ada satupun orang dewasa di Desa Rulid yang pernah melihat Zakkaria. Mantan kepala-penjaga Doyke punya hak untuk ikut serta dalam turnamen, tapi gak pernah melakukan nya sampai kemudian ia pensiun. Aku bahkan gak pernah mendapat kesempatan untuk pergi ke Zakkaria atau semacam nya sebagai «Penebang Gigas Cedar». Kalau itu adalah tempat yang gak ada satupun dari orang-orang di desa pernah kesana sebelumnya, dan tempat yang aku gak bisa lihat..."

"Jadi kamu membuktikan nya dengan mata kepalamu sendiri."

Kirito menggumam menggantikan Eugeo, kemudian tersenyum dan menambahkan.

"Baguslah Zakkaria itu benar-benar ada. Jika kota ini ada, itu menjadi bukti kalau Centoria bukanlah sekedar kebohongan."

"Ya. Itu... benar-benar sulit dipahami. Kita melakukan perjalanan dari Rulid selama lebih dari 5 bulan, dan meskipun kita tau kalau dunia ini bukan hanya desa itu saja, itu masih berasa luar biasa sekarang... Benar-benar luar biasa."

Meski ia dapat mengerti kata-kata yang diucapkan Eugeo, ia merasa kalau kekaguman Eugeo benar-benar aneh. Penyihir yang mengabdi pada «Master» yang sudah hidup bertahun-tahun lamanya sudah melihat Centoria dan seluruh dunia manusia yang besarnya 1.500 kilolu. Kapasitas informasi nya jauh melebihi seluruh Unit Manusia kecuali para «Integrity Knights». Namun, ada area yang gak diketahui juga. Itu adalah sisi lain dari «Mountain Range at the Edge» yang mengitari dunia manusia... Dark Territory. Hanya ada beberapa rumor seperti bagaimana disana ada beberapa kota dan desa dan bagaimana disana bahkan ada kota hitam pekat yang sangat besar disana... Suatu hari, ia pasti akan mendapatkan kesempatan untuk membuktikan eksistensi itu dengan mata kepala nya sendiri.

Mustahil... Semua itu hanya khayalan tanpa dasar, tapi jika kami terus mengamati kedua bocah ini, mungkin suatu hari—

Sepertinya, ia berfikir tentang hal seperti itu.

Goncangan yang tak diduga hampir membuat ia meloncat keluar dari kepala Kirito. Ia dengan panik berpegangan erat ke rambut hitam dan melihat kedepan tanpa berfikir apa-apa.

Yang terlihat oleh mata nya adalah seekor kuda yang mengangkat kaki depan nya. "Hihihihihi", kuda itu mengeluarkan suara yang seolah-olah sedang menangis dan kelihatan sedang mengusir penjaga Zakkaria yang sedang naik diatas nya. Goncangan yang tadi mungkin adalah Kirito yang membungkukkan badan nya, mencoba untuk menghindari amukan kuda.

Di gerbang Barat 10 Mel dari kota, penjaga yang mengendarai kuda ada di atas jembatan batu di depan parit, dan kuda itu mulai mengamuk tanpa kendali saat Kirito sedang menyebrang jembatan itu.

"Be...Berhenti, BERHENTI!"

Penjaga yang duduk diatas pelana itu mati-matian mencoba untuk menarik tali kekang, mencoba untuk menenangkan kuda itu, tapi sepertinya gak berpengaruh apa-apa. Binatang hidup seperti kuda butuh Control Auhority yang besar, tapi Unit yang memiliki «Penjaga» sebagai Sacred Task nya seharusnya dapat memenuhi kondisi ini.

Kalau begitu, ada beberapa alasan mengapa kuda itu gak mau mendengar pengendara nya dan mengamuk. Contohnya, kurangnya makanan atau air yang menyebabkan Life nya berkurang, atau kuda itu merasakan adanya monster buas yang berbahaya sedang mendekat— Namun, sepertinya dua kondisi ini gak ada hubungan nya.

Saat ia lanjut untuk mencari kesimpulan, kuda yang mengamuk itu mulai mengangkat kaki depan nya. Kirito, yang ada tepat dibawah nya yang menunduk untuk menghindari nya, gak bisa sepenuh nya menghindar. Orang-orang yang lewat, yang melihat situasi aneh yang sedang terjadi ini, berteriak. Bahkan Life pria dewasa bisa berkurang setengah jika diinjak oleh kuda dengan momentum seperti itu...

"BA-BAHAYA...!"

Seseorang berteriak, dan dalam sekejap, Kirito bergerak, bukan kebelakang — namun kedepan. Ia menghindari nya dengan mengelak ke samping kaki kuda itu, menggunakan tangan nya untuk menahan kepala kuda dengan kencang, lalu berkata dengan nada yang tajam,

"Eugeo, belakang!"

Saat ia berkata seperti itu, si partner sudah bergerak terlebih dahulu. Sementara Kirito menahan kuda itu, Eugeo pergi kebelakang dan dengan cepat menarik ujung ekor nya yang dari terus bergerak-gerak dengan kedua tangan nya. Tangan nya yang secepat kilat mengambil sesuatu dari ekor coklat kuda itu, kemudian, kuda yang mengamuk itu tiba-tiba menjadi tenang.

Kirito dengan lembut membelai hidung kuda yang terengah-engah itu.

"Oke, oke, udah gak apa-apa sekarang— Tuan penjaga, tolong lepaskan tali itu."

Penjaga yang masih muda yang ada diatas pelana itu menganggukkan kepala nya yang pucat dan mengendorkan tali kekang yang terikat dengan ketat. Pada saat yang sama, Kirito menggerakkan tangan nya menjauhi kepala kuda itu dan melangkah kebelakang. Kuda itu kemudian berbalik kebelakang dan dipacu kembali ke lokasi yang ditentukan di samping kanan dari jembatan batu. Penonton yang ramai itu mengeluarkan suara lega.

Si pengamat yang masih berada di rambut Kirito menghembuskan nafas dengan lega bersamaan dengan penonton. Tanpa sadar menjulurkan tangan nya untuk melindungi dirinya sendiri dari depan. Ia hampir saja menggunakan sihir pelindung nya untuk melindungi Kirito dari tendangan kuda itu. Gak, jika saat itu Kirito gak mengambil tindakan, ia mungkin sudah menggunakan sihir itu. Sebagai pengamat, hal itu adalah sesuatu yang gak boleh dilakukan.

Bocah yang gak tau tentang keberadaan penumpang kecil diatas kepalanya menghela nafas nya sembari menaruh tangan nya didekat dada nya, berjalan ke samping partner nya, dan berbisik,

"...Seekor «Lalat Rawa»?"[6]

"Tepat."

Eugeo membalas nya dengan pelan dan meliha kesekitar. Setelah ia mengecek para pejalan kaki yang tadinya berhenti dan kembali berjalan dan penjaga yang sedang fokus ke kuda kesayangan nya, ia memberikan sesuatu yang ada di tangan kanan-nya kepada Kirito.

Yang ada di tangan nya adalah serangga bersayap yang panjang nya 4 cen dengan belang merah dan hitam di daerah perutnya. Itu terlihat seperti lebah, tapi gak ada sengatan beracun di badan nya. Namun, ada satu tonjolan tajam di mulut nya.

Diantara «serangga berbahaya» yang ada untuk membatasi gerakan Unit Manusia, serangga ini gak berbahaya karena gak akan memberikan gangguan langsung kepada manusia. Meskipun bisa saja memberikan sedikit serangan ke Life setelah menghisap darah, serangga itu hanya menyerang kuda, hewan ternak, dan kambing. Alasan mengapa kuda kesayangan penjaga itu mengamuk karena kuda itu telah digigit oleh Lalat Rawa dibagian bokong.

"Rasanya aneh..."

Kirito bergumam sembari meraup serangga yang terbunuh saat tertangkap oleh tangan Eugeo.

"Seharusnya gak ada rawa-rawa disekitar sini, kan?"

"Ya. Aku diberitau pada hari pertama kita bekerja di peternakan Wilde. Rawa terdekat ada di dekat hutan di barat, dan kita seharusnya gak boleh membawa kuda kesitu."

"Hutan di timur itu sekitar... 7 kilolu dari Zakkaria. Harusnya gak mungkin bagi Lalat Rawa yang tinggal di rawa itu terbang jauh ke sini."

Merespon pertanyaan Kirito, Eugeo memiringkan kepalanya sedikit, dan kemudian berkata dengan nada yang samar,

"Meskipun begitu... Masih mungkin bagi mereka untuk menyelinap ke barang bawaan suatu pedagang yang datang kesini, kan?"

"...Yah, mungkin saja."

Seiring mereka berbincang, serangga yang ada di antara jari-jari Kirito kehilangan warna merah nya dengan cepat. Life dari serangga itu sangat rendah, dan «Serangga Mati» bahkan mempunyai Life yang lebih rendah, jadi mayat mereka hanya akan bertahan sekitar satu menit.

Segera, Lalat Rawa yang berwarna abu-abu terang mengeluarkan suara pelan lalu hancur seperti pasir, membebaskan dirinya dari tubuh yang kecil yang kemudian lenyap.

"Fuu", Kirito meniup jari-jari nya, dengan acuh melihat kesekeliling, dan kemudian sedikit mendengus.

"Yah, mau itu kau atau aku, kita benar-benar beruntung gak terluka tepat sebelum turnamen yang penting ini. Syukurlah kita tinggal dengan kuda di peternakan setiap hari."

"Ah, iya. Kalau kita menjadi prajurit, bagaimana kalau kita mencoba jadi pasukan berkuda?"

"Kita datang jauh-jauh kesini, jangan bilang kata-kata 'kalau', Eugeo. Kita pasti menjadi prajurit tak peduli apapun rintangan yang menghadang."

Eugeo menatap balik wajah nyengir Kirito dengan ekspresi yang terkaget.

"Rintangan... Kita harus memenangkan turnamen, jadi pasti akan ada banyak lawan."

"Ah... Ya, itu benar. Yang ingin aku katakan adalah, jangan sampai lengah sebelum turnamen. Mungkin saja akan ada banyak kejadian tak terduga seperti yang terjadi barusan."

"Eh, sangat tak terduga kalau ternyata kamu itu orang yang sangat hati-hati, Kirito."

"Tentu saja. Aku gak bisa akrab dengan orang-orang ceroboh yang gak berfikir dulu sebelum bertindak."

Setelah berkata seperti itu, Kirito menepuk punggung Eugeo,

"Oke, ayo isi perut kita dulu sebelum turnamen."

Bagian 3[edit]

Zakkaria adalah sebuah kota yang dikelilingi oleh tembok persegi panjang dari timur ke barat.

Ukuran kota ini sepanjang 900 Mel dari Utara ke Selatan dan 1300 Mel dari Timur ke Barat. Luas nya sekitar 5 kali lipat dari desa Rulid di utara tempat mereka berdua berasal. Berhubung desa itu berada ditengah-tengah padang rumput, gak ada sungai atau danau yang dekat dengan desa itu, dan sumber air yang digunakan adalah air dari sumur. Demikian, desa itu terlihat seperti tempat yang kering, tapi disana ada lebih banyak tanaman dibanding Kerjaan Utara yang dipenuhi oleh kota-kota.

Jalanan dan bangunan pada dasarnya terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan, dan penduduk yang datang dan pergi memakai pakaian berdasarkan warna merah juga. Jadi, pakaian dengan warna dasar biru yang dipakai dua anak muda itu, yang datang dari Utara, terlihat mencolok. Eugeo menundukkan kepalanya, terlihat khawatir akan pandangan orang-orang lain, tapi Kirito kelihatan acuh sembari melihat-lihat ke toko-toko yang ada dipinggir jalan.

"Oh, roti daging yang dijual di toko ini keliatan enak... tapi toko kebab itu menjualnya lebih murah 2 Shears[7]. Ah...Eugeo, kamu mau makan yang mana?"

Ucap Kirito dengan santai lalu membalikkan kepalanya. Ia kemudian menyadari sikap yang partner nya itu tunjukkan. Mata hitam nya berkedip dengan bingung.

"...Oi, Eugeo. Ini udah ketiga kali nya kita di Zakkaria. Gak perlu tegang begitu."

"Ah benar juga, ini udah ketiga kalinya... Tapi ini pertama kali aku melihat begitu banyak orang setelah meninggalkan desa."

"Kalau kamu bilang kayak gitu setelah melihat orang-orang di Zakkaria, apa yang bakal kamu bilang saat kita pergi ke Centoria? Dan juga, akan ada seratusan orang yang akan ikut turnamen pedang nanti. Dan juga, Paman dan Bibi bilang mereka akan membawa Telin dan Telulu siang ini untuk mendukung kita. Jangan sampai mereka melihat mu yang dalam kondisi seperti itu."

Egueo, yang pundak nya ditepuk oleh Kirito, dengan ekspresi iri.

"...A-Aku mengerti. Aku hanya iri dengan sifat santai mu itu, Kirito..."

"Kau masih bisa berkata seperti itu dengan wajah pucat begitu, Eugeo-kun. Bersikap santai adalah salah satu trik dari teknik pedang Aincrad-style."

"Eh, be-beneran?"

"Beneran, beneran?"

Seiring mereka mengobrol, mereka sudah berjalan menuruni jalan utama Timur yang jarak nya sekitar 500 Mel. Bangunan panjang terlihat tepat didepan mereka. Itu adalah «Meeting Venue», fasilitas terbesar di Zakkaria. Alun-alun berbentuk persegi panjang yang terlihat lebih kecil secara proporsional karena dipenuhi oleh para penonton yang beridiri. Alun-alun itu adalah tempat serbaguna yang sering digunakan untuk pidato, konser dan pertunjukan, dan tentu saja, digunakan untuk turnamen ilmu pedang hari ini.

Berhubung gratis, banyak penduduk yang berkumpul disini bahkan 2 jam sebelum pembukaan turnamen dimulai. Bagi Unit Manusia yang dengan ketat dikekang oleh «Sacred Task», «Taboo Index» dan hukum-hukum lain nya, turnamen yang diselenggarakan setahun sekali adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk mendapatkan hiburan.

Namun, atmosfir yang intensif yang datang dari arena sepertinya menambah tekanan yang Eugeo rasakan, wajah nya sudah jadi lebih putih daripada Kirito dan pucat.

"...Apa, apakah kita benar-benar harus bertarung ditempat ini...?"

Kirito menggenggam lengan partner nya yang berkata seperti itu dengan suara yang serak, mengacuhkan emosi dan komplein darinya dan menyeret nya kesana, ke tempat pendaftaran yang ada di pintu masuk Meeting Venue.

Mungkin saja sebagian besar dari peserta, yang tinggal di kota ini atau sudah menjadi penduduk Zakkaria, sudah selesai mendaftarkan diri. Penjaga yang agak tua yang berjenggot duduk di dekat meja kios sementara itu. Kirito tanpa rasa takut berjalan ke meja itu dan berkata dengan lantang.

"Dua orang. Kami ingin mendaftar."

Mendengar hal itu, si penjaga menaikkan alis abu-abu nya, dan melihat Kirito dan Eugeo dengan ekspresi yang ragu sebelum sedikit batuk, dan berkata,

"Orang yang bisa ikut serta dalam turnamen ini hanya orang yang punya Sacred Task sebagai penjaga dari kota dan desa di utara, atau mangang penjaga di Zakkaria, atau secara alternatif..."

"Kami «alternatif». Sepertinya."

Kirito menyikut Eugeo dari samping, yang dengan buru-buru menggerakkan tangan nya ke kantung baju nya, mengeluarkan amplop kertas, dan mengeluarkan sebuah surat.

"Coba sini kulihat...fm, jadi ini surat tertulis dari kepala desa di Rulid. 'Dua anak muda yang dipercayakan membawa surat ini telah menyelesaikan Sacred Task mereka yang diberikan oleh God Stacia. Mereka ingin mencari jalur yang baru, dan ini adalah buktinya' Aku mengerti."

Pada saat ini, penjaga paruh baya itu menggaruk jenggot nya.

"Dengan kata lain, dua bocah dari Rulid, desa paling utara, yang bukanlah seorang penjaga, ingin mencari Sacred Task baru dan ingin menjadi salah satu dari penjaga di Zakkaria."

"Itu benar."

Kirito membalas nya dengan senyum yang tanpa takut, dan kemudian berkata,

"Tapi kami gak akan lama menjadi penjaga disini. Berikutnya, kami akan pergi ke Cen—”

Eugeo menjitak nya di samping kepala. Ia kemudian meneruskan perkataan partner nya yang terdiam dengan nada yang cepat,

"Ya-Ya begitulah. Tolong izinkan kami untuk mendaftar untuk turnamen pedang selanjutnya."

"Fm. Oke."

Penjaga itu mengangguk, membuka taplak meja dan memberikan pulpen yang terbuat dari tembaga merah.

"Tulis nama, tempat lahir dan sekolah pedang kalian."

"...Se-Sekolah, kau bilang?"

Tangan Eugeo yang ingin mengambil pulpen itu berhenti, dan Kirito mengambil pulpen itu dari samping. Kertas itu bukan kertas yang awet, tapi merupakan kertas naskah yang terbuat dari rumput sutra putih. Ada berbagai nama dengan gaya tulisan yang berbeda, memenuhi kertas.

Anak berambut hitam menuliskan nama Kirito dengan bahasa umum di Dunia Manusia ini dan tempat lahirnya di desa Rulid. Ia meletakkan pulpen nya sebentar, dan kemudian meneruskan untuk menulis nama sekolah. «Aincrad Style».

Sudah lebih dari lima bulan lamanya semenjak si pengamat memperhatikan kedua anak itu, dan dari berbagai keraguan yang ia rasakan, yang paling besar adalah nama ini. Kira-kira ada 30 sword style di dunia ini, tapi ini pertama kali nya ia mendengar nama Aincrad-style.

Mungkin itu adalah style yang diciptakan Kirito yang nakal itu setelah mendapat beberapa sword skill. Itulah yang pertama aku pikirkan, tapi sepertinya gak gitu. Sekolah Aincrad yang misterius ini berbeda dengan sekolah lain nya; bukan hanya memiliki satu «Secret Style»,sekolah itu mungkin memiliki minimal 10...

sembari ia merenung, Eugeo telah mengisi pendaftaran nya setelah Kirito —dan tentu saja, sekolah yang diisi sama— dan mengembalikan pulpen itu kembali kepada penjaga. Penjaga itu menaruh kembali pulpen itu, mengambil kertas pendaftaran nya kembali, dan menaikkan alis nya lagi.

"Fm. Dulu aku menggunakan pedang untuk waktu yang sangat lama, tapi aku gak pernah mendengar tentang sekolah ini sebelum nya. Apakah di dekat Rulid ada sekolah seperti itu?"

Pertanyaan si penjaga sudah bisa diperkirakan. Meskipun ada lebih dari 50 nama peserta yang tertulis di kertas pendaftaran, setengah dari mereka menggunakan «Zakkalight Style», dan sekitar setengah nya lagi berasal dari «Norgal Style» yang tersebar luas ke penjuru Kerajaan Norlandgarth. Gak ada nama sekolah kecil yang aneh seperti ini.

Namun, Kirito menunjukkan ekspresi yang tenang.

"Sekolah itu baru akhir-akhir ini dibuat."

Ia menjawab, dan wajah Eugeo yang agak pucat mengangguk juga. Tentu saja, si penjaga gak akan menolak pendaftaran hanya karena nama sekolah, dan setelah mengangguk 'Aku mengerti', ia memberikan mereka dua piringan perunggu, masing-masing diukir dengan nomor. Kirito mendapat '55' dan Eugeo mendapat '56'

"Tolong pergi ke tempat istirahat peserta sebelum 11.30. Kami akan membagi peserta ke blok timur dan barat melalui undian. Pada jam 12, kami akan mengadakan babak penyisihan, yang menggunakan pertunjukan ilmu pedang untuk mengurangi 8 peserta dari tiap blok. Kalian harus menampilkan 1 sampai 10 gerakan secara berurut. mengerti?"

Setelah mendengar pertanyaan penjaga, Eugeo dengan segera mengangguk, dan Kirito menunjukkan ekspresi yang agak ragu lalu mengangguk.

"Sip. Berikut nya adalah pertunjukan utama. Kami akan mengadakan pertandingan untuk mengurangi jumlah peserta dari 8 menjadi 4, menjadi 2 dan akhirnya menjadi 1... pemenang dari tiap blok akan dianugrahkan Sacred Task menjadi penjaga Zakkaria."

Pada saat ini, mereka berdua mengangguk bersamaan. Pengamat yang bersembunyi di rambut Kirito menggeleng dan mulai berfikir hal yang sama dengan yang ia pikirkan sekitar satu jam yang lalu.

Tujuan mereka berdua adalah menjadi penjaga. Demikian, mereka berdua harus ada di masing-masing blok Timur dan Barat, lolos babak penyisihan dan memenangkan turnamen. Tapi, kalau mereka berdua ada di blok yang sama, rencana mereka akan gagal. Tentang masalah ini, kedua bocah ceroboh ini seharus nya punya suatu rencana...

-Ia mendapatkan jawaban nya saat mereka berdua menyelesaikan pendaftaran mereka, pergi ke alun-alun terdekat, dan membagi roti daging dan kebab.

"...Oiya, Eugeo... Apa yang akan kita lakukan kalau kita ada di grup yang sama?"

Kirito, yang dengan cepat menghabiskan roti daging yang dibagi dua itu, bertanya.

"...Apa yang kau katakan, Kirito?"

Eugeo, yang menyelesaikan kebab nya, menjawab.

Dengan kata lain, mereka berdua gak memikirkan nya. Hal itu memang sudah diduga, tapi kepala si pengamat terasa seperti mau copot.MIKIR! ia berusaha untuk mencegah keinginan nya untuk berteriak dan menarik rambut pelan-pelan untuk menghilangkan frustasi nya. Kirito mengangkat tangan kanan nya, dan si pengamat buru-buru pindah tempat sementara Kirito menggaruk rambut nya. Pada keadaan seperti ini pun, anak ini hanya mengatakan sesuatu yang optimis.

"Yah, jangan khawatir. Kita pasti ada di blok yang berbeda. Aku sudah berdoa kepada Stacia-sama dan Solus-sama dan Te...Teriri..."

"Terraria-sama!"

"Yup, Aku memohon kepada Terraria-sama itu."

"Haa", pengamat yang ada di kepala Kirito menghela nafas sedikit yang bersamaan dengan Eugeo. Ia kembali ke posisi awal nya dan bergumam dalam hati.

...Gak ada yang bisa kalian lakukan. Tapi apa itu gak apa-apa, anak muda?


30 menit kemudian, tepat saat bel mau berbunyi pada jam 11.30. mereka berdua memasuki ruangan istrirahat peserta.

Ruangan lebar yang panjang nya kira-kira 20 Mel mempunyai 4 bangku panjang yang kelihatan kokoh di sisi barat ruangan; dan para peserta menghadap ke timur. Ada 4 kursi yang kelihatan mewah terletak disana. Kursi itu kosong untuk sementara, namun ada penjaga di resepsionis.

Saat Kirito dan Eugeo melangkah masuk ke ruangan ini, mereka ditatap oleh 54 peserta lain nya.

Para orang dewasa semuanya kelihatan nya memiliki kemampuan yang hebat. Diantara mereka, 10 dari mereka mengenakan seragam magang penjaga Zakkaria. Kebanyakan dari mereka masih muda, tapi orang-orang dari kota tetangga yang terpilih sebaga penjaga sepertinya sedang dalam kondisi prima mereka. Ada juga orang dengan jenggot panjang dan orang yang memiliki bekas luka yang menyeramkan.

Eugeo menguatkan punggung nya karena kaget ditatap oleh orang-orang kuat dan menyeramkan itu, tapi Kirito terlihat tenang dan melihat-lihat kesekliling dan dengan halus berkata,

"...Bagus..."

"A-Apanya yang bagus?"

Kirito menengok ke arah Eugeo, yang mengatakan hal itu dengan suara yang tegang, dan dengan halus menjawab,

"Gak ada peserta perempuan."

"...Oalah, Kirito..."

"Kamu juga sama. Akan sulit bagimu kalau lawan nya perempuan."

"Me-Memang benar... atau begitulah kira-kira. Aku gak pernah memikirkan kemungkinan seperti itu sebelum nya."

"Kalau mungkin. Aku benar-benar berharap situasi seperti itu gak akan terjadi sampai kita mencapai Turnamen Persatuan Empat Kerajaan itu atau yang semacam nya."

"Jangan bilang begitu. Kudengar sebelumnya kalau Kerajaan Barat mempunyai pasukan ksatria yang semua anggota nya perempuan."

“.........Ah!?”

Dan begitulah, mereka memulai pembicaraan normal mereka tanpa rasa tegang dan 54 peserta menakutkan itu kehilangan rasa tertarik mereka terhadap kedua anak muda tersebut, memalingkan wajah mereka yang sepertinya berkata 'dua anak muda ini seperti nya akan terelminiasi di babak penyisihan' dan mulai mengecek pedang yang dipinjamkan panitia dan mengatur sarung tangan kulit mereka.

Kirito melihat-lihat kesekeliling lagi, terlihat seperti memikirkan sesuatu, berjalan menjauhi Eugeo, dan menuju ke bangku panjang yang diduduki para peserta. Kirito pindah ke tengah-tengah kursi panjang dan menghela nafas berat dengan cepat dan gak ada yang bisa bilang kenapa dia melakukan hal itu.

Setelah melihat-lihat selama sekitar 5 menit, Kirito selesai menginspeksi smua peserta, dan kemudian kembali kedekat Eugeo. Ia mendekatkan mulut nya ke telinga partner nya yang bingung, dan bergumam,

"Jangan gerakkan kepalamu. Bangku kedua, pria yang paling jauh, kau bisa melihat nya?"

Eugeo menyempitkan matanya dan mengikuti apa yang Kirito bilang, dan mengangguk.

"Ya, pria yang memakai seragam magang penjaga?"

"Hati-hati kalau kau melawan pria itu. Dia mungkin akan melakukan sesuatu."

Mendengar hal itu, si pengamat, yang sama kaget nya dengan Eugeo, menjulurkan kepala nya dari rambut Kirito. Ada seorang pria dengan rambut berwarna pasir yang melengkung kan badan nya sedikit, dan ia memakai seragam berwarna coklat kemerahan. Dilihat dari data dari «Stacia Window», dia berumur 18 tahun dan Life dan juga Object Control Authority nya dibawah rata-rata, jadi seharusnya gak ada untung nya memperhatikan nya.

"Eh...Apa dia seseorang yang kau tau?"

Eugeu menggumam dan Kirito menggelengkan kepalanya.

"Enggak, tapi... Tapi kamu mungkin mengerti kalau aku menjelaskan nya seperti ini. Orang itu memiliki sifat yang mirip dengan Jink."

Unit yang bernama Jink adalah kapten penjaga di Rulid dimana mereka berdua lahir. Bagi mereka, orang itu sangat picik dan gak ramah.

Unit Manusia harus menuruti banyak peraturan dan ketentuan, tapi itu bukan berarti mereka semua ramah. Contoh nya, kalau ada orang yang dengan tulus kepada orang lain dengan baik seperti di peternakan Wilde, ada juga orang yang memandang rendah kepada orang lain, mengganggu orang lain atau memanfaatkan orang lain dengan cara yang gak ada di pasal. Jink dari Rulid adalah orang yang seperti itu, dan kalau perkataan Kirito itu benar, magang penjaga yang kelihatan tak berbahaya itu akan—

Sword Art Online Vol 10 - 173.jpg

"...Seseorang yang seperti Jink. Ia mungkin akan melakukan sesuatu seperti menaruh jus rumput Shikami di pedang ku atau yang lainnya."

Eugeo mengerutkan dahi sembari mengatakan hal itu, dan Kirito memiringkan kepala nya.

"Yah... Bukannya hal itu gak melanggar peraturan?"

"Hal itu gak akan mengurangi Life dari pedang, tapi itu bisa digunakan untuk memoles pedang. Sangat susah mencium nya sekali dipoles dengannya. Aku dikerjai Jink berkali-kali saat aku masih kecil, dan gak bisa konsentrasi dalam latihan, jadi aku harus memberikan pedang ku kepada nya."

"...Aku mengerti. Kalau begitu, jangan kehilangan pedang yang kamu pinjam ini. Jangan lengah saat pertandingan. Gak apa-apa dimasukkan dalam grup yang sama dengan pria itu, tapi..."

"Kalau hal itu terjadi, jangan lakukan hal yang berlebihan meskipun dia melakukan sesuatu, Kirito."

"...Akan kucoba."

Kirito tertawa kecil dengan tenang sembari mengangguk dan berbalik arah. Ia pergi ke tempat pendaftaran, mendaftar menggunakan papan perunggu nya. Ini adalah pertandingan, namun bukan pedang kayu, tapi pedang logam, yang digunakan. Meskipun prioritas nya rendah, kekuatan nya sudah cukup untuk mengurangi Life manusia. Tentu saja, ada peraturan kalau mereka hanya bertarung sampai mereka hampir terkena serangan langsung, dan pasti— gak mungkin mengalami pendarahan

Mereka berdua memegang pedang nya erat-erat, dan 4 pria berjalan dari pintu yang masuk yang gelap dan duduk di kursi depan. Mereka adalah penjaga yang memakai seragam merah terang, dan penjaga berjenggot yang ada di tempat pendaftaran sebelum nya ada di antara mereka.

Pria tua berumur 40 taun dengan emas pemimpin di bahunya memberikan sambutan singkat, dan prajurit muda memindahkan box yang sangat besar ke ruang istirahat. Pemimpin itu menepuk box itu dan berkata,

"Di box ini, terdapat bola-bola kecil berwarna biru dan merah, masing-masing bernomor 1 sampai 28, seluruhnya ada 56. Masing-masing dari kalian harus memasukka tangan kalian ke lubang yang ada diatas box ini dan mengambil bola tersebut. Warna merah berarti blok timur, dan warna biru berarti blok barat. Penampilan dari tiap penyisihan diurutkan berdasarkan nomor. Kalau gak ada pertanyaan, silahkan ambil masing-masing satu bola, dimulai dari yang paling depan..."

Sebelum pemimpin itu menyelesaikan kata-kata nya, Kirito dengan segera berdiri dan berjalan keara box. Eugeo buru-buru mengikutinya, dan segera, peserta lain nya mulai pada berdiri. *Gatagata*

Ia pindah dari rambut Kirito ke ujung rambut dan melihat, dan it dapat melihat lubang yang kira-kira berdiameter 10 cen di box kayu itu. Namun, sangat gelap didalam, dan mata pengamat hanya bisa mengidentifikasi bentuk dari bola itu. Pada saat yang bersamaan, Kirito mengilik lidah nya, dan si pengamat mengerti maksud nya untuk mengambil duluan. Kalau banyak bola yang tersisa di dalam box, masih mungkin untuk melihat warna dari bola yang berada di paling atas melalui lubang. Ia mungkin menunggu momen-momen itu.

Benar-benar, bagaimana dia masih bisa santai? Ia pasti bocah yang handal, tapi sayang sekali, ia kurang pengetahuan. Di dunia ini, ada aturan kalau 'cara mengintip biasa gak akan berhasil kalau mencoba nya pada box pengundian yang gak bisa dilihat dari dalam'. Ia harus punys sesuatu yang bisa menyingkirkan sifat box itu- seperti sihir yang menciptakan sinar cahaya didalam box atau sihir untuk meningkatkan pengelihatan

"Ada masalah, anak muda? Ambil satu."

Ucap si pemimpin, dan Kirito pelan-pelan menjulurkan tangan kanan nya kedalam box itu. Ia hanya bisa bergantung kepada keberuntungan agar Eugeo dan dia gak masuk kedalam blok yang sama berhubung mereka gak bisa melihat warna dari bola itu, tapi-

...Kali ini aku akan menolongmu.

Si pengamat menggumamkan pikiran nya sembari ia tiba-tiba melompat dari rambut Kirito pada saat Kirito menjulurkan tangan kanan-nya kedalam box. Ia memanfaatkan bayangan dari lengan Kirito untuk sembunyi dan mengendap kedalam lubang dan masuk ke dalam box.

Tangan yang masuk kedalam box itu meraih bola pertama yang ia sentuh, dan mengeluarkan nya. Si pengamat mampu melihat warna dari bola itu dari dalam box. Kirito mengambil bola berwarna biru - blok barat.

Setelah ia mengetahui hal itu, ia mengatur ukuran tubuhnya dari 5 mil ke 10 cen. 20 kali lipat dari ukuran sebelum nya; meskipun masih sangat kecil dibanding ukuran nya yang sebenar nya, ukuran ini sudah cukup. Lengan nya meraih bola kayu dan mengangkat nya sedikit. Tentu saja, bola yang berwarna merah.

Beberapa detik kemudian, lengan putih menggapai box, dan meskipun tanpa «window», ia bisa tau kalau itu milik Eugeo. Si pengamat mendorong bola merah kearah tangan yang bergerak-gerak dengan liar, berbeda dengan Kirito yang yakin. Tangan itu tersentak dengan agak kaget, tapi dengan cepat mencengkram sebuah bola dan mengeluarkan nya dengan cepat. Dan pada saat yang bersamaan, ia mengeluarkan suara "Ehh!", yang terdengar sangat penuh kegembiraan.

Mungkin perlu beberapa detik bagi nya untuk membuka tangan nya, dan setelah itu, terdengar teriakan, "Yeah, Kirito! Warna merah!" Setelah itu, mereka berdua berlarian dan terlihat digerutui oleh peserta ke 3.

...Benar-benar, selalu menyusahkan orang lain.

Ia menggerutu, menyusutkan badan nya, dan saat hampir keluar dari box pengundian, ia tiba-tiba memikirkan sesuatu.

Kenapa Kirito sangat khawatir akan magang penjaga muda dengan rambut pasir nya itu? Si pengamat itu sangat ingin tau alasan nya. Yah, kalau begitu. Dari pada melawan Eugeo, aku akan membiarkan pria itu melawan Kirito.

Aku akan keluar sekarang dan kembali lagi nanti, atau mungkin aku sebaiknya tetap didalam untuk sementara. Siapapun yang membuka box ini dan melihat kedalam pasti akan kaget. Ukuranku hanya sebesar 10 Cen, tapi disini gak ada organisme Unit Manusia yang sekecil ini.

Ia menyembunyikan keberadaan nya untuk beberapa menit. Setelah beberapa saat, lengan yang agak kurus masuk kedalam, dan dilihat dari «window», ia bisa tau kalau lengan itu adalah lengan milik si magang penjaga. Ia memberikan nya bola biru yang sudah ia siapkan kearah tangan yang sedang mencari-cari dengan sikap yang agak gila. Pria itu gak mencurigai apapun dan menarik tangan nya keluar untuk mengecek, dan si pengamat menghela nafas lega. Kali ini, ia menyusutkan badan nya sekecil-kecil nya dan keluar dengan menaiki lengan yang masuk selanjut nya.

Ia berpegangan erat ke lengan orang itu sampai ia mencapai kursi panjang, dan mengambil resiko dengan berlari di lantai kearah kaki milik anak yang duduk di bagian paling jauh. Ia kemudian mendaki sepatu kulit nya yang ada beberapa retakan, melewati bagian belakang dari baju berwarna cyan, dan bersembunyi didalam rambut hitam. Ia kembali ke bagian depan rambut dan menghela nafas berkali-kali.

Apapun yang terjadi, ikut campur dalam pengundian menentang tugas sebagai pengamat. Kalau «Master» mengetahui hal ini, Aku bisa dimarahi.

Enggak. Aku mungkin bisa mengamati mereka lebih efisien dengan memisahkan Kirito dan Eugeo ke blok yang berbeda, dan Aku memasukkan Kirito dan magang penjaga itu kedalam blok yang sama untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut. Aku benar-benar gak berfikir selain hal itu. Meskipun kalau- magang penjaga itu mempunya niat buruk, Aku gak akan ikut campur dengan menggunakan sihir dalam pertandingan nya melawan Kirito. Aku pasti gak akan melakukan hal seperti itu.

Bagian 4[edit]

«Bell of Time-Telling» di Gereja Zakkaria berbunyi dengan lantang di tengah hari.

Ditengah-tengah suara tepuk tangan, 56 peserta turnamen berbaris dalam dua barisan, berjalan keluar dari ruang istirahat menuju ke arena. Barisan Eugeo berbelok ke kanan menuju panggung untuk blok Timur, dan barisan Kirito belok kanan menuju blok Barat. Ke 56 peserta berbaris didekat panggung dan membungkuk ke pemimpin Zakkaria yang duduk di blok Selatan, bangku VIP.

Pemimpin saat ini, Kelgam Zakkalight menyelesaikan pidato singkat nya, para penonton memberikan tepuk tangan singkat, dan akhirnya turnamen dimulai. Meskipun begitu, ini hanyalah babak penyisihan yang akan mengurangi jumlah peserta tiap blok dari 28 menjadi 8. Kontestan berjalan menuju panggung Timur dan Barat satu persatu, dan menampilkan «Style» mereka.

Istilah 'style' disini mengacu pada ilmu pedang, dan tentu saja, mengacu pada rangkaian gerakan teknik pedang. Yang dinilai adalah ketepatan gerakan, keganasan dan keanggunan dari style mereka. Bagi si pengamat yang telah memperhatikan latihan kedua anak itu selama 5 bulan, lupakan Eugeo, merasa aneh pada Kirito. Ia memiliki «Aincrad-style» misterius yang ia ciptakan, tapi turnamen ini menyatakan kalau style yang ditunjukkan harus berasal dari Zakkalight style, dan yang memberi penilaian adalah penjaga Zakkaria dan beberapa penduduk kota. Mereka memperhatikan peserta yang aneh dengan tatapan galak, dan kelihatan nya mereka gak akan ragu-ragu.

Sembari ia menonton dengan khawatir turnamen yang sedang berjalan, nomor Eugeo di blok Timur disebutkan. Wajah nya masih pucat seperti sebelum nya, tapi ia tetap memanggil keberanian nya pada momen-momen penting, menunduk di panggung dan gak memperlihatkan sedikitpun kekakuan lalu menghunus pedang nya.

Eugeo menghabiskan sekitar 10 detik tiap style, 100 detik total nya untuk menunjukkan style nya tanpa melakukan kesalahan, menunjukkan sesuatu yang anggun bagaikan tarian. Sepertinya ini adalah hasil dari latihan keras siang dan malam nya, dan juga karena mempunyai Object Control Authority yang sangat besar. Baginya, pedang yang ia gunakan di turnamen ini mungkin sangatlah ringan bagaikan sebuah ranting.

Para penonton bersorak dan bertepuk tangan melihat penampilan Eugeo dan suara nya jauh lebih keras dibanding para peserta sebelum nya, berhubung ia bukan seorang penjaga atau magang penjaga. Para juri sepertinya memberikan peserta misterius ini nilai yang besar dari hatinya, tapi gak bisa bertindak atas dorongan hati mereka karena ada nya suatu pembatasan dalam pasal yang 'Mereka hanya bisa mendapatkan nilai berdasarkan performa'. Akan beda ceritanya jika mereka gak dikekang oleh peraturan para «Bangsawan Kerajaan» tingkat bawah.

Eugeo, yang telah menyelesaikan penampilan nya, turun dari panggung, mengelap keringat di dahi nya, dan nyengir kehadapan partner nya yang sedang menunggu giliran nya di sisi panggung Barat. Kirito mengacungkan jempol sebagai balasan dari cengiran Eugeo, Tapi benar-benar deh, kamu itu membuat orang khawatir saja

Setelah 2 menit, nomor Kirito akhirnya dipanggil. Ia berjalan kearah tangga lebar panggung Barat, gak menunjukkan sedikitpun rasa tegang, tapi hal ini membuat cemas si pengamat. Jangan menunjukkan aksi yang mencolok untuk sekarang. Lakukan dengan normal. Si pengamat menyembunyikan dirinya dibagian depan rambutnya, berharap untuk memberi komando pada Kirito seperti ini, tapi berhasil menahan nya.

Kirito berdiri di panggung yang tanpa celah, gak terbuat dari batu pasir, tapi dari marmer merah. Ia membungkuk kepada pemimpin yang ada di tempat duduk VIP, dan langsung menghunus pedang nya. Aksi yang gak sabaran seperti itu membuat juri yang duduk tepat dibawah kanopi itu mengerutkan dahi. Namun, Kirito sama sekali gak memikirkan hal itu dan mengangkat pedang yang ada di tangan kanan nya. Pertama-tama, style pertama—

*Zun*, sabetan yang kuat mengguncangkan seluruh arena. *Buush*, angin yang meluncur dari ayunan pedang meraih penonton yang berdiri 20 Mel jauh nya. Teriakan kaget dan sedikit teriakan takut menyebabkan para bangsawan meninggalkan tempat duduk nya sementara. Hal itu bisa dimaklumi karena style yang Kirito harusnya butuh waktu 10 detik untuk menyelesaikan nya, dilakukan dalam waktu 2 detik dengan sangat memaksa.

Apa yang kau pikirkan!? Si pengamat ingin merobek rambut nya, dan menyadari suatu hal penting pada saat ini. Di peraturan nya, saat menampilkan style, gak ada indikasi berapa detik yang dibutukan untuk menyelesaikan nya. Dengan kata lain, menyelsaikan nya dengan secepat mungkin itu gak melanggar peraturan... Tapi tetap saja.

Ia mengatur postur tubuh nya yang sedang mengayun pedang, menghadap ke penonton yang ada di utara dan menampilkan style kedua. Angin dari amukan pedang itu tertiup lagi menyebabkan rambut para penonton di bangku depan menari-nari, dan kali ini, meskipun teriakan rasa takut bercampur, suara sorakan terdengar jauh lebih keras. Lalu, seiring Kirito melanjutkan ke style nomor 3, 4 dengan sangat cepat, suara dukungan menjadi lebih keras, dan terus dihujani suara tepuk tangan. Kalau dipikir-pikir, akan sangat membosankan bagi penonton untuk melihat aksi yang sama terus menerus. Itu mungkin alasan kenapa turnamen ini dibagi menjadi dua blok.

Kirito sama sekali gak melambatkan gerakan nya dan kemudian menyelesaikan sepuluh style. Ia menyarungkan pedang nya dan membungkukkan badan, dan disambut oleh tepuk tangan yang amat ramai dan dukungan yang menghujani nya dari seluruh arena. Ia melihat-lihat ke arah para penonton yang antusias, dan melihat gadis kembar Wilde di bangku penonton blok Barat, Telin dan Telulu. Seperti yang telah dijanjikan, mereka dibawa kesini oleh orang tua mereka untuk mendukung Eugeo dan kirito.

Tentu saja, yang berlarik kecil kearah Kirito, yang melambai ke penonton blok barat dan berjalan begitu saja adalah Eugeo. Ia terlihat menahan hasrat nya untuk menarik baju Kirito, tapi ia dengan bijak hanya memekik dengan suara yang sangat halus,

"A-Apa yang kamu lakukan?"

"Yah, Aku hanya merasa kalau akan sangat lama untuk melihat performa orang lain... Jadi, kupikir lebih baik menyelesaikan hal ini secepat nya."

"Itu mungkin gak melanggar peraturan, tapi kamu gak bisa yah melakukan nya dengan normal?"

"Kalau aku melakukan nya dengan cepat, meskipun ada sedikit kesalahan, para juri gak akan bisa melihat nya, kan..."

“...”

Eugeo menunjukkan ekspresi yang 70% kaget dan 30% kagum, menurunkan bahu nya, dan menghela nafas berat.

"...Berdoa saja kalau para juri akan menilai kita berdasarkan tepuk tangan..."

Mendengar perkataan lemas Eugeo, si pengamat hanya bisa berfikir Otak yang bagus berfikir sama.

Babak penyisihan berlangsung selama satu jam kemudian, dan selesai saat bel berbunyi pada jam 2pm. Para peserta berdiri di atas panggung, dan perwakilan dari juri memanggil nomor dan nama peserta yang lolos dan dapat ikut serta di final.

Si pengamat merasa lega setelah mendengar nama Eugeo lolos penyisihan, disusul oleh Kirito beberapa detik kemudian. Ia gak pernah punya perasaan ini dalam beberapa tahun ini, dan merenung.

—Benar-benar, kapan terakhir kali aku sangat emosional saat mengamati seseorang? Enggak, Aku bisa bilang ini pertama kalinya.


40 Peserta lain menurunkan bahunya dengan sedih sembaru meninggalkan area, dan hanya 16 pendekar pedang yang menunggu di ruang tunggu arena. Mereka semua diberi Air Siral dari sumur yang dalam dan makanan ringan, dan pada saat ini, para penonton sedang beristirahat sejenak. Setelah istirahat 30 menit telah berlalu, final akan dimulai. Pada turnamen eliminasi ini, 3 ronde pertandingan akan diadakan, dan pemenang akan ditentukan dari kedua blok Timur dan Barat.

Menurut perkataan pemilik peternakan Wilde, Banou menjelaskan kepada Kirito dan Eugeo, kalau beberapa dekade sebelum nya, ada pertandingan final yang diadakan antara pemenang dari blok Timur dan Barat. Alasan mengapa acara itu dibatalkan karena ada insiden yang terjadi pada suatu tahun karena pertarungan yang sengit dari final itu, menumpahkan darah yang seharusnya gak boleh terjadi.

Di seluruh wilayah Norlandgarth, di Turnamen Zakkaria— Enggak, di seluruh turnamen ahli pedang yang diadakan di seluruh Dunia Manusia, peraturan ini diberlakukan dengan ketat.

Peraturan ini berdasarkan Taboo Index yang absolut «Didalam situasi yang gak berhubungan dengan pasal lain, dilarang membahayakan nyawa orang lain secara sengaja». Itulah mengapa kemampuan yang bersifat paradoksikal dibutuhkan di turnamen ini— Jadi mereka bisa menjaga keselamatan orang lain sambil membuat mereka menyerah.

Alasan mengapa tiap sekolah fokus dengan «styles» mereka adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan dengan memastikan pernafasan petarung dan lawan ada di tingkat yang sama. Style vs Style; ini merujuk pada mengulang serangan dan pertahanan yang sama, dan yang pertama capek dan kehilangan konsentrasinya bisa dibilang akan kalah. Satu-satu nya momen dimana darah dibolehkan untuk tumpah adalah saat turnamen tingkat tinggi di Centoria dimana peraturan «First Strike» atau saat organisasi bergengsi seperti Integrity Knight atau Master Arts Academy ikut serta.

Namun, Unit Manusia mempunyai suatu hal yang objek hidup lain gak punya, sesuatu yang bernama «perasaan». Karena hal inilah mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa, tapi bisa juga kehilangan ketenangan nya dan melakukan hal-hal yang tak terduga.

Insiden yang Banou Wilde bicarakan adalah hasil dari perasaan 'ingin menang' dari kedua pendekar, menyebabkan kedua pedang yang seharusnya beradu malah menghunus tubuh satu-sama lain. Tentu saja, gak ada luka fatal —kalau masalah nya seserius itu, Gereja Axiom sudah akan campur tangan— Namun, hanya beberapa tetes darah menyebabkan penduduk kota menjadi ketakutan. Tentu saja, bisa dimengerti kenapa pertarungan final antara blok Timur dan Barat dihilangkan.

Tentu saja, dua pendekar muda itu gak tau tentang hal ini. Tujuan mereka adalah menjadi pemenang di turnamen ini, berada di peringkat atas para penjaga, mendapatkan hak untuk mengikuti ujian masuk ke Master Arts Academy di Centoria, melewati rintangan satu demi satu, dan suatu hari, mereka berharap untuk bertemu «Alice» di Centoria Cathedral milik Gereja Axiom.

Hal itu sangat mengejutkan, tapi mereka berdua sedang menuju kearah yang benar. Hal ini sangat merepotkan dan sangat jauh, tapi sebuah jalan pasti akan membimbing mereka menuju ke Cathedral. Namun...jika Kirito dan Eugeo berhasil mendapatkan hak untuk memasuki menara puti, mereka berdua akan...

Pikiran tersebut terputus oleh bel yang berbunyi pada jam 2.30pm Setelah itu, orkestra yang berbaris di pojok bangku penonton memainkan March yang megah, menunjukkan bahwa final akan dimulai.

Kedua anak muda, yang telah menyelesaikan makanan simpel nya, berdiri dengan sigap dari kursi lipat yang ada di ruang tunggu. Mata hitam dan hijau bertukar pandang satu sama lain, dan mengadu tinju mereka, berbalik arah seolah-olah gak ada kata-kata yang perlu disampaikan kemudian pergi menuju panggung blok Timur dan Barat. Bangku penonton yang ada beberapa yang kosong saat babak penyisihan, terisi penuh sekarang, dan hujan sorakan turun seperti angin yang menderu.

Para penjaga yang ditugaskan untuk tugas yang bermacam-macam memindahkan papan besar dan kertas biasa menuju para juri di atrium. Huruf-huruf yang tertulis dengan tinta hitam menunjukkan tabel final turnamen yang bersistem eliminasi. Pada blok Timur, pertandingan pertama Eugeo adalah pertandingan ketiga. Pertandingan Kirito juga ada di pertandingan ketiga— tapi pandangan si pengamat sepertinya tertarik dengan magang penjaga muda yang bernama Egome, orang yang entah kenapa dicemaskan oleh Kirito.

Aku telah membiarkan pria itu ada di blok yang sama dengan Kirito. Tubuh 5 mil itu merasakan feeling yang misterius yang ia gak rasakan saat pengundian. Ia berfikir tanpa dasar. Ia gak mungkin mempunyai fungsi yang sama dengan manusia.

Perhatian Kirito sangat berbeda dengan si pengamat yang gak bereaksi bahkan setelah melihat nama Egome. Setelah pidato dari pemimpin berakhir, ia kemudian berjalan menuruni panggung dan duduk di kursi di ruang tunggu blok Barat. Eugeo datang kesini saat mereka sedang memakan makanan mereka, tapi pada saat ini, ia hanya bisa tinggal diam di area blok Timur, jadi gak ada kesempatan untuk berbicara padanya.

Ia menonton pertandingan pertama dan kedua dari kepala Kirito, dan melihat pertandingan nya dimenankan dengan lancar.

Peserta yang menyerang terus dengan teknik dasar setelah gerakan ketiga dan keempat, dan peserta yang bertahan terus menerima serangan tanpa memperlihatkan celah, membuat suara gemerincing. Kemudian, peran mereka bertukar saat suara keras dari pedang yang beradi dapat didengar. Orang mungkin bisa salah kira ini latihan, tapi mereka menggunakan pedang logam sungguhan. Siapapun yang bertahan atau menyerang, Life mereka akan berkurang karena kelelahan. Saat Life mereka berkurang pada titik tertentu, gerakan mereka akan membuka celah, dan pertahanan mereka akan menjadi aneh. Peserta yang gagal mempertahankan dirinya akan membuat ujung pedang lawan menyentuh bagian kanan dari tubuh nya— 'Sudah cukup!' atau seperti itu lah kira-kira.

Hal ini terasa sangat berbeda dengan kecepatan turnamen tingkat-Central yang para petarung nya akan berlari dan mundur. Namun, turnamen yang diselenggarakan di Utara seharusnya juga seperti itu. Pria bernama Egome seharusnya gak punya kemampuan yang mencolok, dan kalau begitu, pertandingan ketiga dari turnamen ini akan dimenangkan Kirito dengan mudah berhubung ia mempunyai Object Control Authority yang lebih besar. Si pengamat menghilangkan pemikiran cemas nya kemudian ia memasuki panggung marmer merah itu bersama Kirito, yang namanya telah dipanggil.

Beberapa saat kemudian, nama Eugeo dipanggil di blok Timur. Namun, setelah dilihat-lihat, ia bisa tau kalau lawan Eugeo terlalu antusias dan sudah keringatan, jadi sudah gak perlu khawatir lagi. Pada sisi lain, Kirito dan Egome saling berhadapan di panggung barat, dan mata dibawah rambut berwarna pasir itu menatap Kirito dengan ganas. Ia mengecek Stacia window lagi, tapi status nya lebih rendah dari rata-rata peserta turnamen. Jadi kenapa Kirito sangat waspada terhadap nya—?

Mereka berdua mulai berjalan, menarik pedang mereka pelan-pelan. Kemudian juri mengangkat tangan kanan nya dan mengayunkan nya kabawah, berteriak,

“—MULAI!”

Pada saat yang sama, Egome mulai bertindak. Normal nya, kedua sisi pertama-tama akan menatap satu sama lain dan memulai pertandingan setelah mengecek pola nafas lawan, jadi ada sedikit kegaduhan dari penonton. Namun, hal ini gak melanggar aturan. Meskipun menyerang tiba-tiba untuk menang gak dianjurkan, hal itu adalah strategi bertarung.


“OHHH!”

Egome mengayunkan pedang dari sisi kanan atas dengan sangat kuat, dan Kirito berlari kearah nya untuk menerima serangan itu. *KLANG!* Terdengan suara metalik misterius yang gak pernah didengar di turnamen hingga saat ini, dan cahaya kuning yang meledak menyala pada wajah mereka.

Pedang yang seharus nya terpental itu terus beradu satu sama lain, bergemetar sedikit. Kirito membalas nya dengan kecepatan yang luar biasa, benar-benar mengacuhkan fakta kalau dirinya akan lebih lambat kalau mengayunkan pedang nya keatas, menyebabkan tekanan pada lawan. Kedua pedang mengeluarkan suara gerinda yang menggema kepenjuru blok barat yang sunyi.

Pada saat ini, Kirito bergerak maju, mendekatkan wajah nya pelan-pelan ke batang hidung wajah Egome yang mengertukan dahi—dan bergumam,

"Ada bau Nedge Lezta ditubuh mu."

"...Terus kenapa?"

Egome mengeluarkan suara yang seperti suara logam menggiling. Kirito kemudian berkata dengan suara yang lebi dalam,

"Hanya ada satu kegunaan Nedge Lezta. Ketika dikeringkan dan dibakar, asap yang dihasilkan nya akan mengundang serangga beracun. Contohnya... «Lalat Rawa».”

“...”

Mata Egome yang sempit kemudian melebar, dan pada saat yang bersamaan, si pengamat yang bersembunyi di kepala Kirito mengedip.

Itu berarti Kirito berjalan-jalan di tengah-tengah para peserta di ruang istirahat itu untuk mencari seseorang yang memiliki bau Nedge Lezta. Kalau begitu, alasan nya untuk—

"...Pagi ini, di Gerbang barat Zakkaria. Kau yang menaruh Lalat Rawa itu... serangga yang menyebabkan kuda itu mengamuk kan?"

Merespon pertanyaan tajam ini, Egome hanya mencemooh dengan licik.

"Aku gak perlu menjawab gelandangan sepertimu. Tapi meskipun begitu... yang aku lakukan hanya melepaskan serangga yang gak akan membahayakan siapapun. Aku gak melanggar peraturan atau Taboo Index."

Yang magang penjaga katakan itu adalah benar. Kalau Lalat Rawa itu bisa membahayakan manusia secara langsung... kalau organisme itu bisa mengurangi Life, membawanya ke dalam area dimana manusia tinggal akan dinyatakan ilegal. Namun, melepaskan serangga yang hanya menggigit kuda gak akan melanggar peraturan apapun sama sekali.

Namun, hal itu tidak lah simpel. Gak peduli semuda apapun orang nya, mereka seharusnya mengerti kalau Lalat Rawa yang terbang disekitar kuda akan menggigit kuda itu... untuk mengurangi Life kuda. Bisa dibayangkan kalau kuda itu akan mengamuk dan bisa melukai orang-orang dijalanan.

Kebanyakan Unit Manusia yang menyadari kemungkinan ini mungkin akan mengurungkan ide untuk membiarkan Lalat Rawa pergi. Hal ini dikarenakan peraturan Taboo Index yang «Tidak boleh mengurangi Life orang lain» diingat oleh tubuh mereka. Namun, meskipun tau kalau hal ini akan melukai Kirito atau Eugeo... Gak, itu karena menginginkan Kirito dan Eugeo terluka, pria yang bernama Egome itu melepaskan Lalat Rawa itu. Bagi mereka, itu adalah pemikiran «Aku hanya membebaskan serangga yang gak akan membahayakan manusia. Aku gak tau apa yang akan terjadi selanjut nya», pemikiran yang melampaui peraturan Taboo Index.

...Darah bangsawan.

Pria ini menyebabkan rumor-rumor sisi gelap dari bangsawan. Ia benar-benar berbeda dengan orang-orang di peternakan Wilde, orang yang mempercayai bahwa «Apapun yang gak melanggar peraturan itu diperbolehkan».

“...Kenapa?”

Egome terlihat meludah dan menjawab pertanyaan singkat Kirito,

"Aku gak menyukaimu. Gelandangan sepertimu, yang gak punya Sacred Task, ingin menantangku? Egome Zakkalight-sama ini? Kau ingin bergabung dengan pasukan penjaga kami? Aku gak akan emmbiarkan mu. Aku ingin menghancurkan mu saat Aku melihat mu datang untuk mengambil kertas peraturan turnamen bulan lalu."

"...Aku mengerti, salah seorang bangsawan. Tapi meskipun kamu punya latar belakang yang penting, kau hanya orang rendahan yang melakukan hal ini. Maaf, bisakah kita segera menyelesaikan hal ini sekarang?"

Meskipun setelah mendengar kalau Egome sedarah dengan pemimpin Zakkaria, Kirito gak merasa takut sedikitpun saat mengatakan hal itu. Ia mengerahkan tenaga kedalam pedang nya yang masih saling berbenturan satu sama lain, kelihatan nya mencoba untuk membuat jatuh lawan nya. Tapi pada saat itu,

Egome lagi-lagi nyengir, dan setelah itu, ada suara retakan yang terdengar. Kirito menunjukkan sedikit rasa kaku. Kalau dilihat-lihat, saat kedua pedang itu berbenturan, hanya pedang Kirito lah yang mengeluarkan bunyi retakan kecil.

Kenapa hanya satu pedang yang terkena efek nya, padahal kedua pedang itu sama-sama dipinjamkan dari turnamen? ia buru-buru membuka «Window» kedua pedang, dan ada sesuatu yang tak terduga disana.

Pedang Kirito adalah objek level 10, sementara pedang Egome berlevel 15. Kalau dilihat lebih dalam, sepertinya ada perbedaan kecil dari cahaya dari pedang mereka.

“Ku...!”

Kirito mengerang sambil menarik kembali pedang nya. Kali ini, Egome yang menyerang maju. *Pnk*, *pnk*. Suara retakan itu terus terdengar sembari hanya pedang Kirito yang Life nya terus berkurang.

"Omong-omong, hal ini gak melanggar peraturan juga."

Egome bergumam sambil menunjukkan wajah nya yang penuh kemenangan.

"Menurut ketentuan turnamen, semua peserta harus bertarung menggunakan pedang logam yang dipinjamkan oleh juri. Kalau begitu... gak melanggar peraturan kalau ada pedang tajam yang tercampur dengan pedang-pedang yang lain dan Aku lah yang mendapatkan nya."

"...Jadi kau menyogok penjaga untuk meminjamkan pedang yang bagus."

"Aku gak tau apa-apa. Tapi apa gak apa-apa melanjutkan pertandingan ini, heh pengembara? Bagaimanapun kau mencoba, kau hanya akan mengurangi Life dari pedangmu itu."

Egome berkata hal itu sambil terus mengayun pedang nya dengan sekuat tenaga, sementara Kirito melakukan sesuatu yang tak terduga.

Kirito gak melawan musuh secara frontal namun sengaja jatuh dan menyelinap melewati lengan lawan. Pedang Egome mengeluarkan suara keras *GLANK* karena berbenturan dengan marmer yang besar. Recoil nya membuat tubuh Egome tercengang, sementara Kirito menggunakan kesempatan ini untuk melompat kebelakang dan menjaga jarak nya.

Pada momen ini, para penonton menonton nya dengan cemas ramai bersorak. Mereka gak pernah melihat aksi seperti menyelinap kebawa lengan lawan ditengah-tengah pedang yang beradu, dan mereka, yang gak tau apa yang mereka berdua bicarakan, menghujani mereka dengan tepuk tangan yang sangat meriah.

Egome akhirnya pulih dari kesemutan dan menghadap Kirito dengan wajah yang marah.

Ini berbahaya. Insting pengamat menyadari hal ini. Tentu saja, sebagai bangsawan, dia tetap gak bisa melanggar Taboo Index, jadi ia gak akan menggunakan pedang untuk melukai Kirito secara langsung— Namun, pada sisi lain, kalau Kirito terluka karena kecelakaan kecil, masih dianggap gak apa-apa. Hebat sekali dia bisa berfikir sesuatu seperti ini. Fikir si pengamat.

Namun hipotesis seperti itu dibalikkan oleh gerakan Egome selanjut nya.

Ia mengangkat pedang level 15 yang ia pakai dengan tangan kanan nya, dan berhenti pada ketinggian sebahu— Terlihat seperti ia menaruh nya di bahu nya. Lalu, ia sepertinya menunggu sesuatu sembari menghabiskan beberapa detik untuk mengatur posisi nya. Akhirnya, pedang itu di kelilingi oleh cahaya terang berwarna biru.

"...Serangan Penghabisan Zakkalight Secret Art, «Azure Wind Slash»”[8]

Para penonton lagi-lagi bertepuk tangan dengan keras— termasuk tepuk tangan dari blok Timur. Wasit yang ada di panggung terlihat kesulitan dan melihat kearah bangku juri, tapi seperti nya kondisi mereka juga sama seperti wasit. Seperti namanya, «Secret Arts Styles» disini mengacu pada serangan penghabisan dari tiap sekolah, gerakan yang normal nya gak bisa digunakan, tapi gak ada ketentuan seperti itu di peraturan yang harus dipatuhi, jadi para peserta boleh memilih untuk menggunakan nya atau tidak. Saat Egome memutuskan untuk menggunakan nya, gak ada siapapun yang bisa menghentikan nya.

Namun, masalah nya adalah kekuatan dari «Secret Arts» yang lebih besar dibanding style normal yang lain, dan sekali diaktifkan, gak bisa dihentikan ditengah jalan. Tubuh pengguna nya akan bergerak dengan sendirinya, bukan oleh kemauan nya, tapi oleh kekuatan supernatural yang mirip dengan Sacred Arts. Dengan kata lain, jika pertahanan Kirito gagal, itu bukan hanya akan memojokkan nya, tapi akan menghancurkan tubuh nya. Egome mengerti hal ini dengan jelas, dan meskipun begitu, ia ingin menggunakan Secret Art itu— Kemungkinan besar, ia berfikir kalau meskipun ada darah yang tumpah, itu adalah kesalahan peserta yang bertahan karena gak bisa menahan nya dengan baik.

Namun, masih ada cara untuk menghentikan gerakan Egome.

Yaitu membiarkan Kirito menaruh pedang nya dan pasrah dihadapan serangan musuh. Pada saat ini, keteguhan Egome akan hancur, dan menggunakan Secret Art disini akan dianggap melanggar Taboo Index. Gak peduli darah bangsawan apapun yang ia punya, ia gak akan bisa mengabaikan kewenangan Taboo Index, kekuatan dari Gereja Axiom. Hal itu adalah pembatas absolut yang tertanam pada diri Unit Manusia.

Letakkan pedang mu. Si pengamat menahan sekuat mungkin niat nya untuk memberi saran pada Kirito. Meskipun aku gak bilang begitu, dia pasti menyadari hal ini. Cepat, letakkan pedang itu...

"...Jadi kau akan menggunakan teknik rahasia."

Tiba-tiba, Kirito bergumam dengan suara yang bahkan si pengamat dikepala nya itu gak bisa dengar.

ia memindahkan tangan kirinya dari gagang pedang, seperti yang Egome lakukan, dan mengatur posisi nya dengan posisi seperti menaruh pedang di sisi kiri dari pinggang nya. Saat tubuh nya berhenti bergerak, cahaya ungu bersinar dari pedang nya.

Melihat hal ini, para penonton dan juri menahan nafas mereka. Eugeo, yang ada di panggung sebelah, menggelengkan kepalanya yare yare. Ia ingat kalau kapanpun pemandangan ini terjadi, semuanya akan berakhir.

Wajah Egome gemetar dan bengkok sembari menguatkan gigi nya.

“KYYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAA—!!”

Dengan teriakan seperti Objek burung yang besar, teknik itu diaktifkan. Ia mengambil langkah yang berat kedepan dengan kaki kiri nya, mengangkat pedang logam yang ada di bahu nya, dan mengayun pedang nya secara diagonal yang diarahkan ke Kirito.

Aku harus menghentikan pertandingan ini. Pada saat ini, si pengamat dengan serius memikirkan tentang hal ini. Namun, sudah terlambat untuk menggunakan Sacred Art sekarang. Aku harus lompat dari kepala Kirito dan memperlihatkan wujud ku yang sebenarnya. Hal itu akan benar-benar melanggar peraturan— Tapi meskipun aku harus menerima hukuman apapun dari Master, itu masih jauh lebih baik daripada membiarkan orang yang kuamati...

Tapi pada saat ini.

*—Shuu!!*

Kirito menunjukkan momentum yang tajam dan ia pun bergerak.

Tanpa rasa takut ia melesat kearah cahaya biru yang dikeluarkan Egome. Tangan kanan nya bergerak dan mengeluarkan garis terang berwarna ungu di cahaya dari kiri ke kanan, dan juga serangan yang lain nya— dari kanan ke kiri.

*KIIN!!* Suara logam yang tajam terdengar, melewati tembok arena, dan sepertinya dapat terdengar sampai jalanan dan pojokan Zakkaria.

Sepotong cahaya menari-nari di udara, memantulkan cahaya dari Solus dilangit dan kemudian pelan-pelan mendarat. Pedang yang terpotong ujung nya menusuk panggung dari marmer merah itu.

Sword skill Kirito sangat cepat bahkan si pengamat itu sama sekali gak menyadarinya. Namun, ia melihat momen yang sangat penting.

Pedang yang berayun dari kiri ke kanan dan tiba-tiba berayun dari kanan ke kiri. Karena kecepatan nya itu sangat cepat, kelihatan nya seperti Kirito menyerang dengan dua pedang dari sisi kiri dan kanan. Tapi faktanya, hanya ada satu suara metalik. Dua serangan ini menyerupai gigitan hewan buas yang dengan sangat akurat nya menggigit titik yang sama— dan menghancurkan pedang Egome. Dengan pedang turnamen yang Life nya sudah berkurang setengah, pedang tajam yang lebih tinggi 5 level itu...

Mata Egome melebar sambil terdiam. Ia, yang mengayun pedang nya kebawah dari kiri secara vertikal, tak bisa menahan gemetaran nya. Kirito, yang juga mempertahankan posisi ayunan pedang nya, berbisik ke telinga kanan Egome dari posisi yang dekat,


Sword Art Online Vol 10 - 195.jpg

“Aincrad style Skill Tebasan-kembar-beruntun... «Snake Bite»”


Mendengar kata-kata itu—

Si pengamat merasa seluruh rambut nya berdiri.

Manusia bernama Kirito ini... benar-benar memiliki hal yang unik yang jauh melampaui perkiraan nya. Meskipun dalam sejarah 378 tahun UnderWorld, melihat orang seperti dia sangtlah langka... Bahkan mungkin ia berdiri sejajar dengan Master, «Orang itu».

Ia terus merasakan perasaan yang gak bisa dijelaskan itu, enggak, perasaan ini yang bahkan ia gak sadar, ia hanya memikirkan satu hal.

Aku ingin menyaksikan akhir dari perjalanan mereka berdua, Kirito dan Eugeo.

Disana, disana pasti akan—


Di Kalender Dunia Manusia 378, pemenang blok Barat dan Timur dari turnamen pendekar pedang Zakkaria adalah anak muda yang gak mempunyai Sacred Task, yang datang dari sebuah desa di utara. Sesuai tradisi, mereka mendapatkan hak untuk bergabung dengan pasukan penjaga.


Pada akhirnya, hanya pertandingan pertama yang agak merepotkan Kirito, dan ia gak pernah menggunakan «Dua-serangan Beruntun» setelah nya. Musim semi berikut nya, Kirito dan Eugeo mendapat surat rekomendasi untuk masuk Royal Swordsmanship Academy, alasan nya sudah jelas dan gak perlu dipertanyakan lagi.


Bab 4 — Master Sword Academy (Bulan ke-3 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

—Sebisa mungkin, Aku gak ingin bertarung melawan wanita sampai Turnamen Kesatuan Empat Kerajaan.

Aku bilang begitu kepada Eugeo sebelum Turnamen Pendekar Pedang Zakkaria. Sejak saat itu, satu setengah tahun pun berlalu.

Sudah sekitar dua tahun sejak kami memotong «Pohon Iblis» Gigas Cedar di Rulid dan meninggalkan desa. Setengah tahun kemudian, kami bergabung dengan pasukan penjaga di Zakkaria, dan setengah tahun kemudian lagi, kami sampai di Pusat. Dan sudah setahun sejak kami mengetuk pintu akademi ini.

Memang sepertinya sangat lama, tapi saat aku mengingat hal ini, benar-benar luar biasa. 2 tahun berarti sama lama nya dengan saat Aku terjebak di kastil udara Aincrad.

Beruntung— Aku harusnya berkata seperti ini, dunia virtual «UnderWorld» yang kumasuki dengan cara yang tak kuketahui ini beroperasi dengan super-teknologi yang jauh melebihi imajinasiku.

«Fluctlight Acceleration Function»— secara ajaib mengubah rasa terhadap waktu dan mengakselerasi nya kepada orang yang sedang dalam dive mode. Secara teori, fitur itu bisa berakselerasi sampai 1000 kali lipat waktu di dunia nyata. Dengan kata lain, tubuh fisik dari Kirigaya Kazuto yang berbaring di dunia nyata hanya dive in selama 18 jam sampai saat ini.

Kalau aku memikirkan saat aku bangun di hutan dekat Rulid, menghabiskan waktu 2 tahun untuk mencapai Akademi di Kerajaan Norlangarth, dan belum sampai satu hari berlalu di dunia nyata, Aku merasa sedikit pusing, dan juga lega.

Aku gak ingin membuat khawatir orang tua ku, Suguha, teman-teman ku, dan tentu saja Yui dan Asuna. Tentu saja, mengetahui Asuna dan yang lain, mereka gak akan hanya duduk dan khawatir; mereka pasti akan melakukan sesuatu. Hal ini lah yang paling membuatku cemas.

Yang manapun itu, situasi sekarang telah membuat Asuna dan yang lain nya terpukul, dan diriku di dunia ini mencoba untuk mengingat agar gak berinteraksi dengan wanita. Aku membuat keputusan ini saat aku menginjakkan kaki keluar Rulid —baguslah Eugeo itu seorang laki-laki— Aku sepenuhnya bersumpah untuk menjalani sumpah ku dan mengatakan berbagai hal di Zakkaria, namun...

Yang gak aku pernah prediksi adalah kalau aku akan latih tanding secara rutin dengan pendekar pedang wanita selama setahun terakhir ini di Centoria.


"Aku disini untuk merevisi mu, Kirito."

Orang yang memberi perintah dengan suara yang jelas adalah senior yang memakai seragam warna ungu dengan rambut coklat tua yang diponytail dengan rapi, «Senior» ku.

"Mengerti, Rina-senpai."

Aku menjawab, dan menarik pedang kayu latihan dari sarung pedang kulit di sisi kiri pinggang ku. Itu adalah pedang kayu, tapi itu dibuat dari platinum oak berkualitas tertinggi, dan orang bisa saja salah mengira nya logam yang mengkilap. Pedang itu gak punya bilah pedang dan gak punya kemampuan untung memotong, jadi meskipun menggesek sebuah baju, Life baju itu gak akan berkurang. Tapi dalam masalah prioritas, jauh lebih besar dari pada pedang logam kasar yang aku pinjam di turnamen Zakkaria.

Pendekar wanita itu melihat ku yang mengambil kuda-kuda dengan pedang yang telah dihunus, dan pendekar wanita itu kemudian menarik pedang nya juga dengan tenang. Postur yang ia buat agak berbeda, posisi miring dimana bagian kanan dari tubuh nya menghalangi tangan kiri nya. Ini adalah style dasar dari «Celurute Fluid Combat Skills» yang diwariskan turun temurun dari keluarga nya.

"...Ini adalah yang terakhir. Gak apa-apa kok kamu gunakan tangan kirimu itu."

Aku mengatakan nya dengan sedikit tertawa, dan ia menjawab nya dengan tatapan yang tegas, "Begitukah..." Ia kemudian memposisikan tangan kirinya dibelakang pinggang nya, tepat dibawah selempang.

Pendekar wanita itu berdiri 10 Mel jauh nya, bukan, 10 meter jauh nya saat ia membuat postur itu, dan cara nya menunjukkan tekad nya terlihat sangat indah.

Dari segi tinggi badan, dia lebih tinggi 3cm dari tinggi ku yang 1.7m. Rambut yang mengalir diikat dengan pita berwarna rotan yang sangat cocok dengan rambut coklat tua nya. Keganasan dari seorang pendekar dan keanggunan dari seorang bangsawan menyatu di wajah yang menawan nya. Warna biru-laut dari mata nya seperti langit yang memudar menjadi senja.

Jaket dari seragam nya yang rapi dan rok panjang yang berayun dengan halus berwarna ungu-glacial. Itu bukanlah warna yang menarik, tapi warna itu terlihat lebih mempesona lebi dari apapun yang ia kenakan. Namun, tubuh yang terbungkus didalam baju itu seperti besi yang diolah, dan Aku mengetahui hal ini karena peran ku.

"...Ini akan menjadi yang terakhir."

Dia— Solterina Celurute, anak dari bangsawan Norlangarth dan peringkat dua di Master Sword Academy— mempertahankan posisi yang tanpa celah sembari mengatakan hal itu.

Aku— Siswa Pemula di Master Sword Academy, Kirito, adalah «Valet» nya. Aku mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata dan menurunkan bagian bawah tubuh ku.

Setiap hari, pelajaran dan latihan akan berlangsung dari 9am pagi hari sampai 3pm siang, dan setelah itu, Aku harus menjadi valet nya selama satu jam. Fisik dan mental ku terkuras, tapi semua jenis rasa capek itu telah lama hilang berhubung Aku bisa bertanding melawan Solterina-sempai. Waktu sudah menunjukkan jam 5pm, dan hanya kami berdua yang tersisa di lapangan latihan yang dibangun di asrama Elit, yang berlokasi di lapangan atas dari kampus.

Eugeo mungkin sedang menghela nafas di asrama siswa latihan karena Aku melanggar jam malam pada saat ini, tapi berhubung dia juga seorang valet pendekar lain, ia seharusnya bisa mengerti.

Fikir ku, dan kemudian memfokuskan kesadaran ku ke pedang di tangan kanan ku ini. Mata Rina-senpai tiba-tiba menjadi kusam dan udara terlihat seperti menunjukkan kilatan listrak, membuat ku tegang. Lampu menerangi lapangan latihan yang luas bergoyang sedikit, terlihat seperti gak bisa menahan rasa tegang ini.

Meski tanpa wasit disini, kami berdua mulai bergerak saat pernafasan kami ada di tempo yang sama.

Strategi remeh gak akan mempan terhadap Solterina-senpai, yang disebut «Mobile Tactics Overload», jadi Aku mengambil langkah kedepan, menutup jarak yang 10m, dan melakukan tebasan vertikal yang tak terduga.

Para guru pasti sudah akan menghentikan ku kalau aku menggunakan skill ini pada sparing yang sebenar nya, tapi Aku pasti akan langsung dijatuhkan kalau aku menggunakan Norlangarth style yang lambat itu di pertandingan ini. Celulute-style yang digunakan Solterina-senpai adalah sword style paling praktis dari semua sword style yang aku tau di UnderWorld.

Serangan tercepat yang aku keluarkan ditangkis dengan pedang kayu di tangan kanan Solterina-senpai. Namun, gak ada pengaruh sama sekali. Ia menggunakan kelembutan lengan nya, bahu dan pinggang nya saat ia menerima serangan ku dengan memiringkan sisi dari pedang nya. Ini mungkin adalah Secret Art dari Celulute-style, «Active Water». Ia telah mengajarkan ku gerakan ini selama setahun terakhir, tapi Aku gak bisa melakukan nya secara penuh bahkan setelah mengetahui nya.

Sedikit info, bahasa yang digunakan untuk menulis dan berbicara di dunia ini adalah sepenuh nya Jepang (dan beberapa bahasa asing), tapi hanya ada sedikit kanji. Mungkin, sekitar sama dengan 30% dari JIS Level 1, dan hanya menggunakan 1000 huruf kanji. Meskipun dengan pembatasan seperti itu, mereka mampu menciptakan banyak sekali nama yang unik dari sword skill mereka.

Imajinasi orang-orang di UnderWorld sangat luar biasa. Saat ini, hanya ada buku cerita untuk dibaca anak kecil. Dalam 100 tahun, gak aneh untuk melihat seseorang menulis novel. Kalau itu dijual di Jepang di dunia nyata dan mendapatkan hits yang sangat besar, pasti luar biasa...

Aku melompat keserong kanan depan, sepertinya mencoba untuk menghilangkan fikiran macam-macem di otak ku. Itu karena Aku mempelajari pelajaran ku setelah senpai merusak keseimbangan ku dengan «Active Water» dan menyerang balik.

Aku berputar di udara dan mendarat dekat tembok lapangan latihan. Kaki kanan ku menginjak tembok hitam yang berkilau, dan menyerbu kedepan— Saat aku melakukan hal ini, tangan kiri Rina-sempai melakukan sesuatu.

Tangan kiri nya bergerak dari belakang pinggang nya kedepan tubuh nya, memperlihatkan lengkungan yang anggun sembari cahaya putih meluncur dari ujung jari nya. Tentu saja, ini bukan karena ia menggunakan Sacred Art yang disebut «Light Element». Wujud sebenarnya adalah cambuk yang terbuat dari kulit putih yang halus, senjata yang dikuasai penuh oleh nya selain menggunakan pedang.

Cambuk latihan dibuat dari kulit kambing yang halus dan gak akan mengurangi Life bahkan jika terkena serangan telak, tapi akan merasa sakit yang cukup untuk mengeluarkan air mata. Aku secara insting ingin pindah ke posisi bertahan, tapi pedang ku akan dililit oleh cambuk kulit itu dan dihentikan. Namun, kalau aku gak melakukan itu dan mundur, serangan kedua, dan ketiga akan datang kearah ku.

Aku sekuat tenaga memalingkan badan ku ke kiri, mencoba untuk menghindar ke samping untuk menghindari nya. Ujung dari cambuk kulit itu menyerempet pipi kanan ku dan lewat kebelakang, dan memanfaatkan kesempatan ini, aku menyerbu kedepan.

Namun, cambuk kulit ini yang mengeluarkan suara yang lantang, melengking di udara dan melingkar seperti ular dan ditark kembali. Aku harus menyerang nya sebelum serangan selanjut nya dilakukan nya. Aku memutuskan kalau sangat mustahil bagiku untuk menggapai nya dengan hanya berlari, menempatkan pedang kayu ku paralel dengan kaki kanan ku, dan menarik nya kembali. Posisi badan ku tetap turun dan membentang kedepan, dan pada saat ini, cahaya biru keluar dari pedang.

Rina-senpai tiba-tiba menyempitkan mata nya dan membuka tangan kiri nya. Ia buru-buru melepaskan cambuk kulit yang ada di tangan kirinya dan menempatkan nya di gagang pedang yang tangan kanan nya itu genggam.

Segera setelah nya, tubuhku berakselerasi seolah-olah digerakkan oleh sebuah tangan yang tak terlihat. Hal ini disebut Aincrad-style, tapi itu sebenarnya adalah «sword skill» yang berasal dari SAO— skill yang menusuk lawan dari bawah dengan satu tangan, «Rage Spike». Aku terus mengurangi jarak yang 7m itu sembari merasakan kalau Aku sedang bersatu dengan angin.

Sebalik nya, Rina-sempai memiringkan pedang yang ia pegang dengan kedua tangan ke bagian kanan. *Don*, ia melangkah kedepan dengan kaki kiri, dan pedang kayu itu mengeluarkan cahaya emerald. Itu adalah Secret Skill milik Celulute, «Linker».

Pedang kayu ku mengayun keatas dari sisi bawah kanan, dan bertabrakan keras dengan pedang milik senpai saat mengayun secara horizontal. Pedang kayu kami mengeluarkan suara seperti logam yang bertabrakan, dan kilatan hijau dan biru yang keluar langsung menerangi lapangan latihan secara samar-samar.

Aku menegakkan tubuhku saat pedang kami masih menempel satu sama lain, dan wajah Rina-senpai berada 10cm jarak nya dari wajah ku. Ia terlihat keren dan tenang seperti biasanya, dahi putih salju nya gak mengeluarkan sedikitpun keringat. Meskipun begitu, ia bisa membuat banyak tekanan kepada pedang ku. Kalau aku gak hati-hati, Aku akan dikalahkan nya.

Di dunia ini, kemampuan dari manusia, «Character Status», agak rumit.

Meskipun aku membuka sesuatu yang mereka sebut «Stacia Window», kebanyakan yang hal itu tunjukkan adalah jumlah saat ini/jumlah maksimum dari Hit Point dan dua indikator level «Object Control OCAuthority», dan «System Control SCAuthority».

Diantara hal itu, OC Authority mengontrol penggunaan dari senjata dan armor, sementara SC Authority mengontrol penggunaan Sacred Arts. Dengan kata lain, yang pertama seperti STR[9]STR, sementara yang kedua sepertinya adalah intelligence INT. Hal ini adalah kesimpulan simpel yang aku buat pada awal nya. Namun, STR sendirian sepertinya gak menentukan OC Authority. Sepertinya ada faktor-faktor lain seperti usia, fisik, kesehatan, pengalaman dan latihan dan parameter lain nya.

Aku telah memikirkan hal ini. Jika OC Authority seorang anak kecil meningkat ke maksimum karena suatu alasan, dan jika STR ditetapkan lewat nilai itu sendiri, akan ada anak kecil dengan kekuatan seperti monster. Jika aku memulai dengan tujuan untuk bertahan hidup di dunia ini, Aku gak akan suka fenomena aneh seperti itu.

Aku gak bisa mengecek milikku sendiri, tapi jika kami membandingkan OC Authority, punya ku seharusnya jauh lebih besar dari Rina-senpai. Mungkin begitu, tapi senpai mampu menahan diri saat bertarung melawan ku, jadi itu kemungkinan karena jumlah latihan yang ia lakukan setiap hari. Selama dua tahun terakhir ini, Eugeo dan Aku selalu berlatih, mau itu pagi atau malam, tapi itu sepertinya gak sebanding dengan level latihan yang senpai lakukan yang bisa membuat semua orang gemetar. Latihan seperti itu meningkatkan STR nya dan juga 'kekuatan' yang gak bisa diindikasikan dengan nilai.

Namun, yang lebih menakutkan nya lagi, meskipun ada orang yang sepertinya, ia hanya menempati ranking ke-dua dianara 12 pendekar elit— Dengan kata lain, ada satu orang lain yang ranking nya diatas Rina-senpai.

Eugeo dan Aku akan ikut serta dalam ujian naik pangkat menjadi pendekar elit bulan depan. Sepertinya 12 orang dengan nilai tertinggi akan diberikan posisi «Swordsmanship Specialist» sebagai pendekar elit. Menjadi pendekar pedang adalah sebuah keharusan untuk kami, dan kami harus menjadi ranking satu dan dua. Jika tidak, kami gak akan bisa ikut serta dalam kompetisi kekaisaran, secara resmi nya dinamakan «Norlangarth Imperial Swordsmanship Tournament», setelah kami lulus.

Di kuliah dua tahun Akademi Pedang ini, tiap tahun ada 120 murid. Dengan kata lain, Eugeo dan Aku harus mengalahkan 118 murid lain nya— Sejujur nya, memikirkan Rina-senpai bukanlah «Nomor 1» meskipun dia sehebat ini, Aku merasa sedikit, enggak, aku merasa sangat cemas...

“—Kamu sudah berkembang, Kirito."

Tiba-tiba, ia bergumam kepadaku dari jarak yang sangat dekat, terlihat seperti telah membaca pikiran ku. Aku menggelengkan kepalaku, mempertahankan tekanan yang kukerahkan yang gak bisa lepaskan.

"Enggak... Aku masih harus berusaha lebih keras lagi."

"Jangan merendahkan diri begitu. Kamu kurang lebih sudah mempelajari cara mengatasi cambuk ku."

"Itu karena kamu gak pernah menahan diri."

Mendengar jawaban itu, bibir yang mempesona menunjukkan sedikit senyum.

"Aku gak perlu menahan diri saat melawan mu, Kirito. Itu karena ini adalah yang terakhir... «Aincrad Style» milikmu mempunyai beberapa gerakan yang belum kulihat."

Uuu. Mau gak mau aku terdiam. Pedang ku tertarik kebelakang 5cm, mungkin karena aku bimbang, dan Rina-senpai menekan ku dari atas.

Mata biru-laut nya menatap kepadaku, dan kemudian mengeluarkan kata-kata,

"Setahun yang lalu, saat Aku menunjuk mu sebagai valet ku, Aku merasakan sesuatu seperti sword style. Benar-benar berbeda dengan Norlangarth style yang dituntut akademi... sword style ini bukan untuk ditunjukkan, tapi untuk menang. Celulute style yang kugunakan itu mencoba untuk berkembang mencapai tujuan dengan praktis, tapi itu terlalu kaku dibandingkan dengan style milikmu, Kirito. Aku mengerti hal itu selama setahun ini."

Aku hanya bisa melebarkan mataku kearah lawan yang membuat pengakuan ini.

Penggunaan sword skill nya berbeda, kalau Aku harus bilang, itu benar. Aku bukan berasal dari Underworld. Sword skill ku dinamakan Aincrad-style karena semua sword skill itu aku pelajari di kastil melayang itu, di dunia game kematian dimana kami harus mempertaruhkan nyawa kami di seluruh pertarungan.

Sebalik nya, di Underworld pada dasar nya gak ada pertarungan yang sebenar nya. Semua pertarungan yang dilakukan adalah «kompetisi». Pada kompetisi lokal, lawan akan dinyatakan kalah saat terpojok, dan di level yang lebih tinggi di Central, peserta yang melukai duluan akan menang. Tanpa resiko kehilangan nyawa, sangat logis bagi sword skill untuk dikembangkan untuk estetika yang ideal.

Namun, hal ini gak berarti sword skill milik pendekar pedang di UnderWorld itu rendahan. Hal ini juga adalah sesuatu yang kupelajari selama 2 tahun kebelakang. Selama mereka terus melatih «style» yang sama berulang ulang, kekuatan dari tiap serangan yang telah ia habiskan waktu untuk melatih nya akan menutupi kelemahan dari gak punya pengalaman bertarung yang sebenarnya.

Ini semua karena kekuatan dari «Imajinasi».

UnderWorld adalah dunia virtual, tapi konstruksi nya sangat berbeda dengan Aincrad. Di dunia ini, kekuatan imajinasi yang diciptakan oleh jiwa— oleh Fluctlights, kadang-kadang akan mempengaruhi hasil.

Seberapa kuat orang itu akan ditentukan oleh imajinasi orang itu yang telah ia gunakan untuk melatih skill yang sama berulang-ulang selama 10, 20 tahun sejak muda... Pada sisi lain, Aku, yang mempunyai kelebihan di OC Authority, dipukul mundur oleh Rina-senpai seperti di situasi yang sekarang, yang menunjukkan kalau hal itu benar. Kekuatan imajinasi gak ditunjukkan dengan angka, tapi kekuatan sebenar nya yang tersembunyi didalam dunia ini. Hal itu adalah sesuatu yang baik aku, yang bangun di dunia ini baru dua tahun, atau Eugeo, yang memulai latihan pedang nya di waktu yang sama, bisa memahami nya dengan mudah.

Murid di akademi ini kebanyakan lahir di keluarga «Bangsawan», elit yang memulai latihan seni bermain pedang sejak 3, 4 tahun. Meskipun begitu, hanya beberapa golongan yang menghabiskan waktu dan usaha mereka untuk benar-benar berlatih. Namun di situasi seperti ini, Eugeo dan Aku harus mengalahkan orang-orang kuat itu dan menjadi ranking top pada tahun ini.

Karena hal ini, satu-satu nya senjata yang bisa kuandalkan adalah Aincrad-style— sword skill.

Kenapa sword skill ada di Underworld, aku sendiri gak tau, bahkan sampai sekarang.

Namun, sepertinya pendekar pedang di dunia ini hanya mengetahui skill dasar single-strike, atau lebih tepatnya, mereka hanya menggunakan skill seperti itu.

Setahun yang lalu, saat Turnamen Zakkaria, magang penjaga bernama Egome menggunakan Zakkaligt style «Azure Wind Slash». Di istilah swords skill SAO, itu adalah serangan diagonal satutangan «Slash». Gerakan Celulute-style yang Rina-senpai gunakan tadi, «Linker», adalah tebasan pedang berputas dua-tangan, «Cyclone». Gerakan lain yang kulihat adalah Norlangarth-style «Lightning Slash», yang adalah sword skill satu-tangan «Vertical», sementara skill level tinggi Norlangarth, «Heavens and Mountains Break» adalah tebasan vertikal dua-tangan «Avalanche».

Itu semua adalah semua secret move dari tiap sekolah, dan sepertinya gak ada gerakan super yang seperti ultimate move. Kemudian, dua, tiga serangan beruntun yang kukuasai mungkin adalah senjata yang bisa menyaingi pedang kuat milik para elit disini. Hal itu hanyalah perkiraan sekarang, tapi Aku harus bilang kalau itu adalah tindakan yang agak tercela. Namun, kami gak disini untuk mendapat kebanggaan menjadi yang terkuat di dunia manusia. Kami hanya ingin melewati gerbang Centoria Cathedral milik Gereja Axiom yang terletak di bukit beberapa kilometer jauh nya dari Master Sword Academy, menara raksasa yang benar-benar diluar batas bagi kami.

Demi untuk membantu Eugeo bertemu dengan Alice yang dibawa saat kecil.

Dan aku ingin bertemu dengan «Pemimpin» dunia ini.

Jika kami bisa mencapai tujuan kami, gak masalah meski orang-orang menjuluki kami sebagai orang hina saat turnamen. Aku harus ikut serta di semua turnamen pendekar pedang level tinggi yang aku tau, dan terus menang, sampai aku menjadi yang terbaik di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan dan mendapatkan hak untuk menjadi «Integrity Knight».

Inilah alasan mengapa aku menyegel gerakan yang lebih dari dua serangan beruntun selama setahun ini sejak Aku menjadi murid di Akademi ini. Yang aku gunakan hanyalah skill menerobos, «Rage Spike».

Namun, sepertinya senior yang cantik ini dapat melihat secret move yang kusembunyikan,

Rina-senpai kemudian mendekatkan wajah nya beberapa sentimeter, dan membisikkan sesuatu dengan suara yang halus seolah-olah sebuah rahasia.

"Leluhur keluarga Celulute membuat sang Kaisar gak senang pada masa lalu, dan sejak saat itu, mereka dilarang mewariskan sword skill tradisional «High level Norlangarth style». Kemudian, kami mulai menggunakan senjata yang gak lazim seperti cambuk dan pisau, dan menghabiskan banyak waktu bergantung hanya pada sword skill yang halus. Ini adalah Celulute-style... Jangan salah, aku benar-benar bukannya gak senang. Aku bangga menjadi satu-satu nya pewaris dari style ini, dan selalu berlatih sampai sekarang..."

Tangan putih mulus itu gemetar sedikit, gak seperti yang baru saja ia katakan. Pedang kayu yang sedang berbentrokan mengluarkan suara gemerincing. Meskipun ini mungkin kesempatan ku untuk menarik pedang ku kembali, Aku gak melakukan hal itu dan kembali mempertahankan posisi ini untuk menunggu kata-kata nya yang berikut nya.

"Dan ayahku mengharapkan ku untuk lulus sebagai murid ranking top dari Akademi ini dan memenangkan turnamen Kekaisaran untuk membangkitkan kembali kehormatan keluarga Celulute. Namun, bukan nya ini sedikit ironis? Kalau aku menjawab ekspektasi ayah ku dan membuat sang Kaisar untuk menarik kembali larangan untuk mewariskan Norlangarth-style tingkat tinggi... keluarga kami akan menyerah dalam Celulute style, kan? Kalau begitu... bagaimana dengan kebanggaan yang kusimpan dalam hati sejak Aku masih kecil?"

Aku gak bisa membuat jawaban cepat untuk pertanyaan ini.

Akhir-akhir ini, kesadaran ku kadang entah menjadi lemah, tapi Aku merasa kalau Rina-senpai didepan ku, partner penting ku Eugeo, semua murid dan instruktur di Akademi ini... dan semua orang yang hidup di UnderWorld adalah manusia yang berbeda dari ku dalam arti tertentu. Mereka hanya diberikan istilah «Unit Manusia» di dunia virtual bernama UnderWorld ini.

Meskipun begitu, mereka berbeda dari para NPC yang ada di VRMMO. Mereka adalah «Fluctlight Buatan», dikopi dari Fluctlight dari jiwa manusia dan ditempatkan di suatu medium yang spesial. Mereka adalah— kemungkinan besar, mereka adalah AI tipe baru yang dibuat oleh suatu organisasi di dunia nyata, mungkin oleh perusahaan misterius «RATH»—

Namun, emosi yang mereka tunjukkan kadang-kadang lebih besar dibanding orang-orang di dunia nyata. Mereka bisa merasakan sesuatu, merasa repot, menerima takdir yang dunia ini berikan kepada mereka. Saat aku melihat mereka seperti ini, Aku merasa akan mustahil untuk merasa gak gelisah. Eksistensi mereka... Enggak, eksistensi dari Solterina-senpai yang beradu pedang dengan ku dalam jarak dekat ini pada dasar nya seperti keajaiban.

“...Senpai.”

Mendengar hal itu, Rina-senpai menunjukkan sedikit senyuman yang mengejek diri nya sendiri.

"Aku selalu mempunyai keraguan di dalam hatiku sebelum Aku masuk Akademi ini. Selama dua tahun ini, Aku gak pernah bisa mengalahkan pria itu, dan itu mungkin karena aku sudah merasa hilang."

«Pria itu» mengacu pada pendekar pedang elit top yang ranking nya gak berubah tahun ini, seorang pria bernama Uolo Levanteinn. Ia berasal dari keluarga bangsawan kelas dua yang diwariskan tradisi keluarga nya untuk dilatih oleh Ksatria Kerajaan Norlangarth, seorang pengguna Mighty Sword yang mengintimidasi. Imajinasi dan kekuatan yang berasal dari pria ini ada di kedudukan yang sangat tinggi. Aku melihat nya menggunakan pedang kayu untuk membelah kayu bundar manjadi dua.

Pendekar elit, terbaik di Akademi ini diberi ranking dari pertama sampai 12. Ranking ini akan berubah selama tes yang dilakukan 4 kali dalam setahun.

Tentu saja, Aku menonton nya dari bangku penonton terdepan selama 3 turnamen terakhir, Mereka menggunakan sistem turnamen eliminasi yang sama dengan turnamen Zakkaria dan mengurangi jumlah orang dari 12 menjadi 3 dalam dua ronde. Orang yang berada di ranking top sebelumnya akan menjadi unggulan. Selama tiga final penentuan, Rina-senpai bertarung melawan Uolo, dan tiga kali kalah melawan nya.

Sejauh yang aku lihat, kemampuan bermain pedang mereka sangat berbeda. Rina-senpai menggunakan style tajam dan halus dibandingkan dengan style Uolo yang keras. Rina-senpai membatalkan serangan yang sangat kuat seperti aliran air, dan kadang-kadang akan melancarkan serangan balasan yang tajam. Skill milik senpai pada dasar nya sempurna. Mereka berdua gak pernah bisa melancarkan serangan yang sukses, tapi ketika waktu sudah mulai habis, Uolo menggunakan skill tingkat tinggi Norlangarth, serangan memotong dari atas kepala, dan selama tiga pertandingan, Rina-senpai gak pernah bisa mengatasi serangan itu. pedang kayu nya terlempar dua kali dan tersentak sekali.

Keputusan juri dibutuhkan untuk menentukan ketiga pertandingan, dan sudah jelas mereka akan memilih Uolo sebagai pemenang. Kemudian pada tahun ini, Uolo menjadi ketua, dan senpai tetap menjadi wakil-ketua, posisi mereka gak pernah berubah.

Sekedar tambahan, ranking tiga juga gak pernah berubah. Ia adalah pria besar, Gorgolosso Valto, yang selalu dikalahka Rina-senpai di semifinal. Dan juga, yang menjadi valet Gorgolosso-senpai adalah teman baik ku, Eugeo.

'Ini adalah yang terakhir' yang Rina-senpai katakan sebelum latihan ini dimulai mengacu pada «Kontes Kelulusan» ke-4 yang akan diselenggarakan dua hari kemudian. Hal itu akan menjadi penentuan ranking yang terakhir. Dua hari kemudian, para murid tingkat tinggi termasuk 12 pendekar elit akan lulus.

Dengan kata lain, turnamen dua hari kemudian akan menjadi kesempatan terakhir bagi Rina-senpai untuk mengalahkan Uolo-senpai. Lebih akurat nya, dua orang ranking teratas akan mendapatkan hak untuk ikut serta dalam «Imperial Swordsmanship Tournament». Ia bisa saja bertemu Uolo disana, tapi kurasa senpai, yang selalu dikalahkan nya di sekolah, gak akan bisa mengalahkan nya.

"...Aku akan jujur disini."

Rina-senpai terus membiarkan pedang nya beradu dengan ku dan ia menurunkan suaranya dan berkata padaku,

"Kapanpun Aku melihat «Splitting Wave of Heavens and Mountains» milik pria itu... Aku pasti merasa takut. Gak peduli berapa kali Aku berlatih, Aku gak punya keyakinan untuk bisa menerima serangan dari nya. Sejak saat kami menjadi murid pemula... Enggak, sejak saat pertama kali aku melihat pedang nya saat ujian masuk dua tahun yang lalu, aku selalu merasa seperti itu..."

Ini pertama kali nya aku melihat senpai seperti ini, sembari merasa kaget, Aku dengan tulus setuju.

Sesuai dugaan, gak ada perbedaan dari kemampuan senpai dan Uolo. Itu hanyalah kekuatan dari imajinasi... Seberapa kuat kepercayaan-diri nya, ini adalah faktor penting yang menjadi kelemahan senpai.

Seperti yang sudah aku simpulkan, jika UnderWorld adalah dunia virtual yang dibentuk oleh «Mnemonic Visual Data», kekuatan imajinasi akan menjadi faktor yang penting dalam menentukan suatu hasil. Itu karena Rina-sanpai dan Aku lihat dan apa yang kami sentuh bukanlah poligon, tapi «memory imagination» yang didapatkan dari Fluctlight.

Tiap orang harusnya mempunyai keunikan mereka, data imajinasi yang sedikit berbeda, kan...? Mungkin data yang dibebaskan oleh Fluctlight yang banyak bisa ditempatkan di sebuah «Main memory holder» dan disamakan. Kemudian, jika Fluctlight seperti itu muncul, kekuatan imajinasi yang dibebaskan akan cukup untuk mempengaruhi data, dan gak akan sulit untuk membayangkan kalau suatu kejadian akan dirubah oleh kemauan pribadi.

Ambil contoh Uolo Levanteinn, alasan kenapa pengguna Mighty Sword ini begitu kuat adalah karena hal ini. Ia memiliki keyakinan yang kuat kepada sword skill dan style nya. Imajinasi nya disokong oleh keyakinan yang kuat ini, dan karena imajinasi yang seperti itu lah ia bisa menampilkan kekuatan serangan yang luar biasa seperti itu.

Sebaliknya, Rina-senpai selalu merasa hilang pada sword skill nya. Alasan nya karena Celulute-style yang ia sebutkan sebelum nya. Norlangarth style tingkat tinggi terlarang untuk diwariskan, jadi mereka hanya bisa membuat style nya sendiri sebagai pengganti. Hal ini menyebabkan tercipta nya suatu bentuk «Inferioritas» di hatinya. Karena hal ini, mau gak mau ia dikalahkan oleh Uolo-senpai, yang mempunyai keyakinan yang kuat terhadap sword skill milik nya... Mungkin seperti itu.

Namun, Aku ingin Rina-senpai menang kali ini. Ini bukan karena bagaimana komposisi dan imajinasi dunia ini akan ditulis ulang, tapi Aku ingin ia berdiri dengan bangga dan lulus dari Akademi ini. Senpai mempunyai hak dan kehormatan untuk hal ini. Pada tahun ini, diantara 12 pendekar elit, senpai—

"...Senpai, kamu menghabiskan waktu yang lebih banyak dari pada siapapun untuk berlatih keras, termasuk Uolo-senpai. Apakah hal itu belum cukup untuk membuat mu lebih percaya diri...?"

Mendengar hal itu, Rina-senpai terdiam sejenak, dan dengan lembut menggelengkan kepalanya,

"Ya... Sepertinya masih belum cukup. Semakin banyak Aku melatih Celulute style, semakin banyak pula aku memikirkan nya. Apa yang akan terjadi kalau itu bukan sparing menggunakan pedang kayu, tapi menggunakan pedang besi; apa yang akan terjadi kalau cambuk dan pisau bisa digunakan. Kalau hal itu bisa digunakan, gak perlu khawatir akan ceroboh melawan Norlangarth style. Tapi itu semua hanya alasan. Di Dunia Manusia ini, sparing sebenarnya... pertarungan sebenarnya gak akan terjadi. Sampai Aku berhenti membuat alasan untuk kegagalan ku ini, Aku gak akan pernah bisa untuk melawan serangan dari pedang Uolo..."

Sebelum Aku sempat memberi respon, senpai tersenyum sedikit dan melanjutkan,

"Tapi kamu berbeda, Kirito. Aku gak bisa merasakan sedikitpun perasaan inferioritas meskipun kamu juga pengguna style yang unik. Aku selalu memperhatikan mu selama setahun ini, dan akhirnya mengerti alasan nya. Aku mengatakan ini sebelum nya... Itu bukan seluruh nya dari «Aincrad Style», kan? Seharus nya ada lebih banyak lagi skill luar biasa yang kamu punya, makanya hatimu gak pernah goncang. Itu seperti hal yang kamu sebutkan sebelum nya, pohon besar yang terletak di hutan dekat kampung halaman mu... Gigas Cedar itu."

Tanpa sadar, lengan kami menjadi rileks dan juga pedang kayu yang berbentrokan satu sama lain itu. Meskipun begitu, senpai gak menggerakkan tubuh nya; atau malahan, ia memiringkan tubuh nya kedepan, mencoba menggunakan kekuatan tubuh nya untuk mendorong ku kebawah. Ia kemudian mengatakan suatu hal degan suara yang agak berat untuk seorang wanita.

"Pohon itu sudah tertanam didalam hatimu, kurasa. Gak peduli seberapa kuat angin nya, pohon itu gak akan bengkok, dan terus melihat keatas ke Solus di langit... Kirito, Aku ingin melihat kekuatan yang kamu sembunyikan."

“...”

"Ini gak ada hubungan nya dengan pertandingan melawan Uolo. Tapi hanya, Aku ingin melihatnya... Bukan, Aku ingin tau. Aku ingin tau semua nya tentang dirimu sebagai pendekar pedang sebelum Aku lulus dari Akademi ini."

Jauh didalam mata biru nya, sebuah bintang kecil terlihat bersinar tepat didepan mata ku.

Wajah cantik yang terlihat dapat mengambil jiwa siapapun itu tanpa kusadari jarak nya hanya 5mm dari ku. Pada saat ini, sedikit nyeri terjadi tepat didepan rambut ku, menyebabkan ku untuk pulih segera. Aku mengedip dan mulai berfikir lagi.

Sword Art Online Vol 10 - 216.jpg

Aku gak pernah menunjukkan Aincrad style yang «luar biasa», sword skill tingkat tinggi kepada Rina-senpai, bukan karena suatu alasan yang licik seperti menyimpan nya sebaga senjata rahasia.

Itu karena Aku gak bisa menggunakan nya dengan pedang kayu level 15 yang digunakan untuk latihan dan kompetisi. Yang terbaik yang bisa kugunakan adalah skill dua serangan beruntun «Snake Bite» dan «Vertical Arc». Sekeras apapun Aku mencoba, Aku gak bisa mengeluarkan tiga serangan beruntun. Aku mencoba nya dengan pedang besi yang level nya sama, tapi hasil nya nihil. Aku hanya bisa mengeluarkan sword skill empat serangan beruntun saat aku menggunakan Divine Tool level 45, «Blue Rose Sword» yang menebang jatuh Gigas Cedar. Aku masih gak tau kenapa, tapi gak ada batasan seperti itu di SAO dulu.

Bagaimanapun juga, berhubung senpai ingin melihatku mengeluarkan «seluruh nya», Aku gak bisa menipu nya hanya dengan menggunakan dua serangan beruntun. Hanya ada satu cara yang tersisa. Aku harus meminjam Blue Rose Sword dari Eugeo, pada saat itu, Aku bisa mengeluarkan skill 4 serangan beruntun terkuat dengan pedang itu.

Kalau aku meminta Eugeo, ia pasti akan membolehkan nya, tapi sejujur nya, Aku masih merasa agak ragu. Blue Rose Sword adalah milik Eugeo, dan sebuah pedang mempunyai jiwa seorang pendekar. Kepercayaan ini sudah tertanam didalam pikiran ku. Untuk suatu alasan, Aku gak bisa membayangkan diriku mengeluarkan skill terbaik-ku karena batas kesadaran kalau aku menggunakan benda yang kupinjam. Namun, Aku gak bisa meminjam pedang dengan prioritas tertinggi dari toko senjata Akademi, dan itu bukanlah pedang milik ku.

Memang gak ada cara lain. Sepertinya aku harus meminjam Blue Rose Sword. Aku membuat keputusan itu dan berkata,

"—Aku mengerti. Tapi maaf, tolong berikan aku waktu satu hari. Besok, pada saat yang sama, Aku pasti akan menunjukkan nya padamu... sword skill terbaik yang kupunya."

Setelah Aku selesai, bibir Rina-senpai menunjukkan sedikit senyuman di wajah nya, tapi sepertinya segera menyadari sesuatu dan mengerutkan dahi,

"Tapi besok adalah hari istirahat. Dilarang untuk berlatih. Kamu gak bisa menggunakan lapangan latihan ini."

"...Ini bukan latihan."

Jawabku. Untuk suatu alasan, senpai menunjukkan ekspresi yang agak tertarik sembari memiringkan kepalanya,

"Terus, apaan dong?"

"Eh, itu..."

Aku menyusun kata-kata ku sebentar dan mengatakan apa yang kupikirkan,

"Itu hadiah. Kamu mengajarkan ku berbagai hal selama setahun ini, senpai. Kudengar ada tradisi di Akademi ini, kalau valet harus memberikan hadiah kepada senior nya pada hari sebelum kelulusan. Aku akan memberikan mu sword skill, senpai. Kalau itu hadiah, gak apa-apa meskipun besok adalah hari istirahat."

Kata-kata ku ini menyebabkan senpai menunjukkan sedikit senyum masam.

"Kamu gak berubah sama sekali. Aku gak pernah dengar menggunakan sword skill sebagai hadiah kelulusan sebelum nya... Tapi pada saat ini, Aku sebaiknya mengatakan hal ini kepadamu..."

"Eh... Apaan tuh?"

"Sebenarnya, aku menunjuk mu sebagai valet itu sudah melanggar tradisi. Sebuah tradisi bodoh disini... kalau «Anak bangsawan harus memilih bangsawan lain yang kelas nya lebih rendah pada saat memilih valet». Saat aku menunjuk mu, banyak perwakilan bangsawan datang ke asrama untuk protes."

"Fufufu." Rina-senpai mengeluarkan ketawa yang agak aneh, tapi mau gak mau jadi kaku karena ini pertama kali nya Aku mendengar hal seperti ini...

Bangasawan yang senpai maksud mengacu pada kelas spesial dari Kerajaan Norlangarth, mereka semua diranking dari «Bangsawan Kelas-1» sampai «Bangsawan Kelas-6», dan ranking diatas mereka adalah keluarga kerajaan. Keluarga Uolo Levanteinn adalah Bangsawan Kelas-2, sementara keluarga Celulute adalah Kelas-3. Dengan kata lain, posisi mereka lebih tinggi daripada keluarga pemimpin Zakkaria yang merupakan Kelas-5.

Sebalik nya, diriku di dunia ini (dan di dunia nyata) hanyalah penduduk normal, dan tak diragukan lagi, Aku berada di populasi kelas paling rendah. Kalau kita bicara tentang seseorang yang bukan bangsawan, tapi sangat terkenal di dunia sosial dan mempunya banyak tanah— Aku akan menyebut nama kepala desa dari Rulid, Gasupht Schuberg, dan Bano Wilde, yang Eugeo dan Aku menetap disana. Mereka mempunyai nama keluarga setelah nama mereka itu sendiri, tapi orang terendah dari yang terendah gak dibolehkan untuk melakukan hal itu.

Hanya setelah Eugeo dan Aku berhasil masuk di Imperial Master Sword Academy yang sebagian besar murid nya kebanyakan adalah bangsawan dan anak dari saudagar kaya; mereka yang kelahiran biasa hanya 20% dari seluruh nya. Itu adalah standard saat penerimaan siswa. Eugeo dan Aku menghabiskan waktu setengah tahun untuk mendapatkan surat rekomendasi dari kapten di Zakkaria untuk ikut tes masuk, tapi setelah Aku melihat kalau bangsawan bisa ikut serta tanpa kondisi apapun, Aku merasa ingin mengirim surat komplein ke Liberal Arts Department.

Toh, setelah Aku masuk, dengan peraturan sekolah, bangsawan gak diperlakukan berbeda dengan yang kelahiran biasa... Tapi ada perbedaan yang tak terlihat. Aku (dan Eugeo kemungkinan besar juga sama), menjalani satu tahun mengacukan rumor yang orang lain sebarkan, tapi Aku gak pernah sekalipun berfikir ini karena Rina-senpai memilihku sebagai valet nya.

"Meskipun... Meskipun ada tradisi seperti itu, mengapa kamu masih memilih ku...? Kalau berdasarkan ranking, ada 6 orang lain yang berada diatas ku. Mereka semua bangsawan, jadi kalau kamu memilih salah satu dari mereka, mungkin gak akan ada yang protes..."

"Tapi 6 orang itu hanya mendapat poin dari performa, kan? Aku sama sekali gak tertarik dengan ke indahan suatu style. Bagi ku, performa-mu lah yang paling menarik dibandingkan dengan yang para instruktur pilih. Enggak, dari pada dibilang menarik, Aku harus bilang kalau..."

Rina-senpai gak meneruskan kata-kata nya lalu menutup mulutnya, menunjukkan sedikit senyum, dan melanjutkan kata-katanya,

"...Untuk sekarang, Aku gak akan bilang kenapa Aku memilih mu. Itu karena sebentar lagi Aku akan lulus. Yang lebih penting, tentang besok. Kalau hadiah yang akan kau berikan padaku adalah penampilan dari teknik rahasia Aincrad-style, dengan senang hati akan kuterima, Kirito."

"Ah, i-iya. Aku senang kamu menyukai nya."

"...Namun, Aku sedikit kepikiran. Dari penjelasan yang kamu berikan tadi, sepertinya kamu memutuskan hal ini disini karena kamu lupa kalau kamu harus memberikan ku hadiah— Kupikir Aku bisa menganggap nya seperti itu..."

"Enggak, tentu saja enggak, aku sama sekali gak lupa! Aku udah memikirkan nya sejak awal. Beneran!"

Buru-buru aku menolak nya. "Kalau begitu sudah cukup untuk hari ini." Rina-senpai menunjukkan ekspresi yang cool, kemudian berubah,

"Kita simpan hal itu untuk nanti. Ini waktunya untuk menentukan pemenang dari pertandingan kita."

“Eh? —Ah.”

Pada saat ini, Aku baru ingat kalai kami masih ditengah-tengah pertandingan sparing. Namun, sebelum aku sempat merespon, pedang kayu yang bersentuhan satu sama lain itu memberikan dorongan yang kuat. Itu bukan sword skill, tapi lebih tepat nya, salah satu dari sedikit teknik menangkis dari Celulute style «Still Water» yang digunakan untuk mementalkan musuh ketika kedua pedang saling bersentuhan.

Aku melompat kebelakang dengan sekuat tenaga, gak menerima serangan itu langsung. Gak seperti «Active Water» sebelumnya, «Still Water» memberikan beban yang berat ke kaki, dan setelah menggunakan nya, akan ada sedikit jeda. Dan juga, senpai gak punya cambuk di tangan kiri nya.

Mari akhiri ini dengan lompatan kedepan. Aku mendarat, dan mengangkat tinggi pedang ku.

Pada momen ini, Aku merasakan hawa dingin di tulang belakang ku.

Rina-senpai benar-benar menggenggam pedang kayu itu dengan kedua tangan— Tapi cambuk yang seharus nya ada dibelakang nya menghilang. Kemana cambuk itu menghilang? Aku melebarkan mataku, namun Aku gak bisa menghentikan sword skill ku. Serangan menerobos satu-tangan «Sonic Leap» telah teraktifkan, dan pedang ku mengeluarkan cahaya biru...

Pada saat yang bersamaan dengan aktif nya sword skill ku.

Tangan kiri Rina-senpai pindah dari pedang kayu menuju keatas. Ia terlihat sedang menggenggam sesuatu dan kemudian melemparkan nya. Sebuah benda putih yang seperti ular terbang dari genggaman nya, menuju kearah ku, melilit tubuh ku yang sudah siap untuk menyerbu.

Cambuk yang kukira terbang jauh ternyata ada di atap diatas lapangan. Cambuk itu sudah menggantung disana sementara pedang kami beradu.

Menyadari hal ini, Aku terjatuh kearah belakang dan bagian belakang kepalaku membentur lantai.

Aku dengan tatapan hampa melihat kearah bintang yang muncul di pandangan ku, dan tampak merasakan menarik nafas panjang 'haa' datang dari kepalaku.

Bagian 2[edit]

Kerajaan Norlangarth, kota terbesar di Dunia Manusia «Centoria» adalah yang dibentengi oleh tembok yang melingkar mengelilingi nya dan berdiameter 10km... atau dengan satuan di dunia ini, 10 KiloMel.

Lantai pertama dari kastil melayang Aincrad juga berbentuk bundar dengan diameter 10km. Dengan kata lain, dua area besar ini serupa dari segi bentuk dan luas, Kota ini mempunyai ukuran yang gak bisa dijelaskan untuk sebuah kota di dunia virtual, dan populasi nya mencapai 20.000.

Juga, kota ini mempunyai struktur yang unik. Tembok kuat dari kota ini bertemu pada sebuah titik, membentuk perpotongan X dan membagi kota menjadi empat area. Penjelasan lain nya, 4 tembok ini memotong dengan sudut 90 derajat membuat bentuk kipas saat mereka bertemu. Yang paling mengagetkan adalah empat kota ini bernama «Centoria Utara», «Centoria Timur», «Centoria Barat» dan «Centoria Selatan», ibu kota dari 4 Kerajaan yang menguasai seluruh Dunia Manusia.

Dengan kata lain— ibu kota 4 Kerajaan Besar semuanya ada di tengah-tengah Dunia Manusia, hanya dipisahkan oleh sebuah dinding.

Aku sangat kaget saat mendengar hal ini. Raja dan pasukan utama, Markas besar para Ksatria, pasti ada disuatu tempat di ibu kota. Bukan nya akan langsung menjadi 'final battle' kalau terjadi perang? — Aku hampir mengatakan hal itu kepada Eugeo, tapi masih sempat menghentikan diriku sendiri. Di dunia ini, dimana pencurian, dan pembunuhan gak akan terjadi sama sekali, akan sangat mustahil terjadi nya perang antar Kerajaan.

Meskipun butuh identifikasi untuk melewati tembok marmer besar ini —yang sepertinya disebut «Immortal Wall»— melihat lebih dalam Centoria Utara dimana kita berada, terdapat lumayan banyak orang-orang berambut hitam dari Kerajaan Timur, orang berkulit coklat dari Selatan dan orang kurus dari Barat yang merupakan pedagang atau turis. Mereka semua orang asing, tapi mungkin menggunakan bahasa yang sama (meskipun ada beberapa logat), gak ada perselisihan antara mereka.

Aku bahkan gak bisa merasakan perasaan permusuhan antar kerajaan, apalagi perang. Alasan nya sudah pasti adalah menara putih murni yang berdiri kokoh di tengah-tengah ibu kota, pusat dari Dunia Manusia.

Centoria Cathedral milik Gereja Axiom.

Atap nya selalu terselimuti, seperti bersatu dengan langit, jadi Aku gak bisa melihat pasti berapa ratus meter tinggi nya menara itu. Mungkin akan terlihat sangat megah jika dilihat dari bawah, tapi tanah Gereja yang melingkar juga dikelilingi oleh tembok yang tinggi, jadi gak mungkin untuk mengintip kedalam. «Immortal Wall» yang ada di tengah-tengah Centoria tersambung dengan erat ke empat penjuru dari tembok Cathedral... atau lebih tepatnya, akan lebih baik mengatakan kalau tembok itu menjulur keluar dari Cathedral.

Sedikit tambahan, Immortal Wall ini gak hanya menyelimuti jalanan Centoria. Itu juga mencapai pilar kota, yang membentang keluar melewati padang rumput, hutan, padang pasir, dan sampai ujung dari «Mountain Range at the Edge», 750km jauh nya.[10]. Secara natural, dunia ini gak punya mesin konstruksi atau semacam nya, jadi benar-benar menakutkan membayangkan berapa lama dan berapa jumlah pekerja untuk membangun tembok seperti ini.

Itu berarti kewenangan Gereja Axiom adalah absolut.

Menara yang mencengangkan ini, kastil ini, dimana orang bisa melihat 4 Kerajaan tempat para Raja tinggal dari atas, berdiri dipusat Dunia Manusia. Mungkin, di UnderWorld ini, pembedaa antara orang-orang dari negara yang berbeda hampir sama seperti «penduduk Tokyo» dan «penduduk Saitama» bagiku— itu adalah feeling yang kurasakan.

Kalau begitu, apa guna nya membagi Dunia Manusia yang bahkan populasi nya gak sampai 100.000 menjadi 4 Negara? Fikiran ku mempunyai pertanyaan seperti ini, dan sampai sekarang, Aku masih belum menemukan jawaban nya. Pada saat yang sama, Aku sama sekali gak bisa tau alasan kenapa ada Gereja Axiom yang eksis diatas negara.

Di Gereja Axiom, ada petugas sipil seperti «pendeta» dan «patriark», dan juga petugas militer yang bernama «Integrity Knight», tapi jumlah mereka gak banyak. Sepertinya jumlah mereka gak lebih dari 100. Rina-senpai memberitaukan hal ini sebelum nya. Sebaliknya, jumlah total dari ksatria dan prajurit di 4 Kerajaan berjumlah sekitar 2000 orang. Namun, gak ada sejarah raja menentang Gereja sebelum nya... Apakah ini karena bahkan seorang raja gak bisa melawan Gereja dan Taboo Index? Atau karena beberapa Integrity Knights masih lebih kuat dari pada pasukan 2000 orang? Atau karena kedua nya—?

Keagungan dari Centoria Cathedral yang memanjang keangkasa bisa dilihat darimanapun dari kampus Master Swords Academy. Setelah Aku menyelesaikan yang bisa-disebut-latihan dengan Rina-senpai, Aku dengan capat berjalan keluar asrama pendekar elit, melewati udara dingin sore dari musim semi, dan melihat keatas kearah menara putih besar yang terlihat oranye dan biru dari kejauhan.

Pada saat ini, si pengamat, yang berdiri di atap menara itu dan melihat kebawah ke Dunia Manusia ini, seseorang dari dunia nyata seperti ku? Atau apakah ia seseorang dari UnderWorld, sebuah Fluctlight buatan? Meskipun rencana kami sukses, akan butuh waktu satu setengah tahun lagi untuk menemukan jawaban pertanyaan ini. Tentu saja, kalau akselerasi berjalan 1000 kali tanpa gangguan, hanya 10 jam berlalu di dunia nyata, tapi itu masih sangat lama dari pandangan ku.

Sudah dua tahun lamanya sejak aku bangun di hutan dekat Rulid. Selama dua tahun ini, Aku telah diburu oleh malam tanpa tidur yang membuat ku gemetar, oleh kegelisahan akan tak mengertinya situasi ku dan keinginan untuk bertemu Asuna, Suguha, orang tua dan teman-teman ku.

Tapi pada saat yang sama— Aku sedikit merasa takut untuk menemukan «pintu keluar» di puncak Cathedral. Sekali aku log out dari dunia ini, itu berarti Aku akan mengucapkan selamat tinggal kepada banyak orang di dunia ini. Selka dan anak-anak lain yang sudah lama tidak kutemui, beberapa teman ku di sekolah, Solterina-senpai yang selalu melatih ku sebagai valet nya selama setahun ini, dan tentu saja, satu-satu nya «partner» ku, Eugeo.

Sejak lama sekali, Aku gak bisa memperlakukan mereka seperti AI. Selain perbedaan kecil yaitu berada di medium jiwa yang berbeda, mereka adalah manusia seperti ku juga. Kami membutukan waktu dua tahun pindah dari Rulid ke Zakkaria, dan akhirnya ke Centoria, dan aku punya perasaan yang kuat tentang hal ini sekarang.

Enggak, itu bukan hanya persahabatan dan kasih sayang yang simpel dengan Eugeo dan yang lain nya. Ke dunia yang indah dan sangat luas ini, Aku...

Aku memotong pikiran ku, mengambil nafas panjang, dan mengubur nya dalam-dalam.

Aku melihat kearah tempat yang kutuju, bangunan yang terlihat tua yang ada di depan pandangan ku. Bangunan batu yang tinggi nya 2 lantai, dan atap nya diletakkan dengan ubin batu hijau. Ini adalah asrama dimana 120 murid di Centoria Master Swords Academy tinggal.

Kalau bisa, Aku benar-benar ingin melompat ke atap dari lantai kedua dan kembali ke ruangan ku untuk lebih simpel, tapi menurut aturan asrama, Aku gak bisa melakukan nya. Gak seperti asrama pendekar elit yang santai, asrama murid pemula dan menengah yang berlokasi agak berdekatan mempunyai aturan yang ketat seperti Knight of Blood di SAO.

Aku meyakinkan pikiran ku dan berjalan menaiki tangga batu di pintu masuk, berhati-hati dan mendorong pintu asrama. Aku untuk sementara melangkah ke lobi, mengambil 1, 2 langkah maju— dan tiba-tiba ada suara batuk dari sisi kanan. Dengan deg-degan, Aku berbalik arah untuk melihat sumber suara itu, dan saling memandang dengan wanita yang duduk dibelakang counter. Rambut berwarna teh nya diikat dengan rapi, dan penampilan nya adalah perwujudan dari istilah 'galak'. Wanita itu berumur 25 tahun.

Aku meletakkan tangan kiri ku dekat dengan pinggang, meletakkan kepalan tangan kanan di sisi kiri dadaku, memberikan 'Salam Ksatria', dan dengan keras berseru,

"MURID PEMULA KIRITO TELAH KEMBALI KE ASRAMA!"

"...Tapi sepertinya kau terlambat dari waktu yang ditentukan selama 38 menit."

Gak ada jam didunia ini, jadi manusia hanya bisa mengecek jam dengan «Bells of Time-Telling» yang ada di seluruh penjuru kota, termasuk di Akademi, yang berbunyi tiap 30 menit. Normalnya, butuh sihir spesial tingkat tinggi untuk menentukan waktu dengan akurat, tapi untuk suatu alasan, wanita itu— Nyonya Azurika, supervisor asrama, sepertinya menggunakan kemampuan sistem luar atau apapun itu untuk mengetahui kalau sekarang jam 5.38pm.

Aku mempertahankan posisi salam ku, menurunkan suara ku sedikit, dan menjawab,

"Itu karena Saya mendapat pelajaran tambahan dan tips praktis dari mentor ku, pendekar elit Celulute."

Mendengar perkataan itu, Suster[11] Azurika menatap ku dengan mata hijau kebiruan nya. Entah karena aura galak yang mengelilingi nya atau karena nama yang familiar, Aku teringat akan seseorang. Aku pernah berfikir ingin bertanya sebelum Aku pergi "Apa kamu punya saudara di Utara bernama Suster Azariya?" , tapi sayang sekali, Aku gak pernah punya kesempatan untuk melakukan nya. Kapan pun Aku berbicara dengan nya, Aku selalu mendapatkan peringatan, seperti sekarang.

"...Memang gak bisa diapa-apain berhubung tugas valet adalah untuk menerima bimbingan dari pendekar elit. Tapi Murid Pemula Kirito, mungkin kamu gak pernah menggunakan nya sebagai tugas, tapi sebagai alasan untuk telat pulang... Kamu gak pernah menghapuskan kecurigaan ku selama ini."

Mendengar hal ini, Aku melepaskan Salam Ksatria ku, meletakkan tangan kanan ku kebelakang kepala, melemaskan otot-ku dan tersenyum dengan paksa,

"A-Anda benar-benar suka bercanda yah, Nyonya Azurika. Tujuan ku hanya mengembangkan sword skill, Telat pulang hanyalah efek samping nya. Saya gak pernah pulang telat dengan sengaja, gak akan pernah!"

"Aku mengerti. Jadi kamu menghabiskan setahun bekerja keras sampai melanggar jam lama. Sepertinya kau mungkin sudah melatih dirimu sendiri sampai tingkat yang terolah. Kalau kamu benar-benar ingin melihat hasil latihan mu, Aku akan benar-benar senang untuk menjadi lawan tanding mu, kau mau?"

"Hukk." Aku membeku lagi saat mendengar hal ini.

Sacred Task Nyonya Azurika adalah menjadi 'Supervisor Asrama Murid Pemula, Master Swords Academy Centoria Utara', dan bukan sebagai instruktur. Namun, semua orang dewasa di akademi ini pada dasarnya lulusan Akademi ini, jagi dengan kata lain, kemampuan sword skill mereka bukan main. Setiap murid disini tau kalau murid yang gak melanggar peraturan, tapi melakukan sesuatu yang menentang nya, akan diberikan remedial spesial yang mengerikan dari nya, seorang pengguna Nolgea-style.

Kalau begitu, apa yang akan terjadi jika ada murid yang melanggar peraturan— Untunglah, hal seperti itu gak akan terjadi. Orang-orang yang tinggal di dunia ini, Fluctlight buatan mempunyai sifat unik yang 'gak bisa melanggar peraturan'. Hanya ada satu pengecualian, Aku, seseorang dari medium Fluctlight yang berbeda.

Memikirkan hal itu, benar-benar ajaib bahwa Aku gak pernah sekalipun melanggar peraturan sekolah ini selama setahun kebelakang. Aku menelan pikiran ini dan menggelengkan kepalaku dengan keras.

"Enggak, kenapa Saya berani-berani nya merepotkan mu, Azurika-sensei? Saya baru saja menyelesaikan tahun pertama latihan saya."

"Beneran? Kalau begitu, tunjukkan hasil latihan mu padaku setelah kamu menyelesaikan tahun kedua mu."

"...Ya, pasti."

Aku harus menundukkan kepala ku dan berdoa sungguh-sungguh agar ia melupakan tentang hal ini tahun depan. Nyonya Azarika akhirnya memalingkan mata nya menuju dokumen di tangan nya dan berkata,

"Waktu makan malam 17 menit lagi. Jangan telat."

"Y-Ya! Permisi!"

Aku kemudian menunduk, dengan cepat berbalik arah, dan berlari keatas melalui tangga besar didepan dengan kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Eugeo dan Aku tinggal di ruangan 206 di lantai dua. Ada 10 orang yang tinggal di ruangan, tapi 8 orang lain nya semuanya baik-baik. Mereka dari ruangan 106, tempat perempuan tinggal, dan ruangan 206 ini semuanya adalah murid dengan latar belakang rakyat jelata. 100 orang lain nya semuanya anak bangsawan dan anak saudagar kaya. Ini dilakukan untuk mencegah interaksi yang canggung di ruangan... dan beberapa alasan lain. Aku dengan mulus menghindari murid yang sedang berbincang dan tertawa di koridor sambil menuju ke kantin, membuka pintu di ujung bagian barat, dan pada saat aku memasuki ruangan—

"Kau sangat lambat, Kirito!"

Sebuah suara menyambut ku.

Tentu saja, yang berbicara adalah partner yang duduk di tempat tidur kedua dari belakang di sisi kanan...bukan, partner yang sudah berdiri, Eugeo.

Tubuh yang berdiri dengan kedua tangan di pinggang nya lebih tinggi 3cm dibanding 2 tahun yang lalu, dan fisik nya terlihat lebih kuat. Sudah dapat diperkirakan, berhehubung ia berumur 19 tahun ini— Namun, wajah ramah dan kilauan di mata hijau nya sama sekali gak berubah sejak pertama kali Aku bertemu dengan nya. Selama dua tahun ini, ada beberapa kejadian yang gak menyenangkan, mau itu pada tahun pertama saat masa-masa menjadi pasukan penjaga Zakkaria, atau pada tahun kedua saat kami belajar di Akademi ini, tapi jiwa yang teguh itu gak pernah menunjukkan sedikit pun kegoyahan.

Sebaliknya, kalau berbicara tentang diriku, secara personal Aku gak pernah berubah, tapi yang menakutkan adalah fisik ku sudah berubah seperti partner ku. Aku tambah tinggi, dan otot ku tambah kuat. Aku berumur 17 saat masuk kedalam dunia ini. Dengan kata lain, ada perbedaan waktu 2 tahun antara diriku yang ada di UnderWorld dengan diriku yang ada di dunia nyata.

Setelah menghabiskan waktu 2 tahun di SAO sebelum bebas, Aku bisa mengatasi ketidaknyamanan itu, tapi ketika aku melihat kondisi yang sekarang, sepertinya aku mungkin harus menghabiskan 3-4 tahun sebelum berasil keluar... sambil berfikir tentang hal seperti itu di pikiran ku, Aku berjalan kearah partner ku, membuat isyarat 'maaf' dengan tangan kanan ku, lalu berbicara,

"Maaf membuatmu menunggu. Latihan ku dengan Rina-sanpai kali ini extra panjang..."

"...Yah, hari ini adalah yang terakhir, jadi bukan nya aku gak ngerti."

Ucap Eugeo sambil menatap ku. Setelah itu, ia tiba-tiba menunjukkan sedikit senyum.

"Tapi sebenarnya, Aku juga telat 12 menit. Aku keasyikan ngorol dengan Gorgolosso-senpai di ruangan nya."

"Apa, jadi kamu baru sampai juga... Tapi benar-benar gak terduga. Kupikir Golosso-senpai itu orang yang akan menggunakan pedang nya untuk memberikan pelajaran terakhir nya."

Aku berjalan melewat Eugeo, menuju ke tempat tidur paling jauh yang dekat dengan tembok dan menyatu dengan meja, dan menaruh sarung tangan, pelindung siku dan pelindung lutut diatas laci. Kalau ini di dunia nyata, alat pelindung untuk kendo pasti akan mengeluarkan bau yang menjijikkan kalau aku tinggalkan seperti ini, tapi gak perlu khawatir tentang hal seperti itu saat bakteri gak eksis di dunia ini. Seragam yang tadinya basah karena keringat saat latihan sekarang sudah mengering dengan ajaib — meskipun Rina-senpai gak pernah berkeringat sama sekali dari awal sampai akhir.

Setelah melepaskan beban dari tubuh ku, Aku mengangkat kepala ku, dan Eugeo memberikan senyum masam dan menjawab.

"Kamu harusnya gak melihat Gosso-senpai seperti itu, ia sebenarnya banyak fokus ke masalah teori juga... Bukan, kurang tepat kalau aku mengatakan nya begitu. Ia bilang kalau aspek mental dan estetika sangat penting juga..."

"Ahh, Aku bisa mengerti itu. Valto style yang pria itu gunakan terasa lebih fokus ke one-hit-ko dibanding dengan Nolgea style."

"Itu benar. Dasar dari Aincrad style kita untuk merespon pada saat genting. Namun, senpai sering bilang padaku, 'Sesekali, pendekar pedang harus mempertaruhkan segala nya pada momentum kuat yang gak bisa digoyahkan untuk melancarkan serangan yang kuat!'"

"Aku mengerti. Hal itu mungkin benar. Sekarang kau mengatakan nya, Kurasa gerakan pedangmu menjadi lebih berat akhir-akhir ini... Tapi kalau aku bilang begitu, bagaimana kalau Aku menggabungkan Aincrad-style dimana Aku harus merespon pada situasi genting dengan Celulute-style yang terus berubah?"

—Kami berdua berjalan keluar kamar sambil bertukar pikiran seputar topik ini.

Sepertinya 8 orang lain nya sudah keluar ke kantin berhubung kami gak bisa melihat mereka di koridor. Asrama ini, satu-satu nya peraturan tentang makan malam ialah kami harus menyelesaikan makanan kami sebelum jam 7pm, jadi kami harus sampai disana jam 5 lewat sedikit, tapi kami akan mendapat masalah kalau kami ketinggalan waktu berdoa sebelum makan malam. Bagi murid-murid lain yang seorang bangsawan, kami hanyalah 'cowok arogan yang hanya rakyat jelata, tapi terpili menjadi salah satu dari 12 valet'.

Kami berjalan secepat nya dan menuju ke kantin besar di sisi paling Timur. Bukan suatu kebetulan bahwa kamar rakyat jelata berada paling jauh dari kantin. Kudengar asrama pendekar elit juga sama-sama terletak paling jauh bagi rakyat jelata, tapi pada bulan April, kami gak perlu melewati jalan panjang ini— Kupikir. Itu karena kami akan menjadi salah satu dari 12 murid top saat ujian kenaikan pada akhir bulan, dan dipastikan menjadi pendekar pedang elit.

Pada saat ini, seperti nya Eugeo memikirkan hal yang sama dan dengan pelan berkata,

"...Sudah gak banyak lagi sisa hari dimana kita harus 'berjalan melewati koridor dengan cepat'"

"Ahh, dibandingkan disini, asrama pendekar elit benar-benar kebebasan... Tapi Eugeo, ada sesuatu yang Aku belum terbiasa tentang kehidupan pendekar elit..."

"Gak perlu kamu bilang juga Aku udah tau. Ini tentang memiliki valet, kan?"

"Jawaban yang bagus. Aku senang Aku bisa membantu Rina-senpai melakukan sesuatu dan menerima bimbingan nya... Tapi kalau Aku ada di posisi senpai..."

"Ya... Aku gak tau apa yang akan terjadi kalau anak bangsawan menjadi valet kita..."

Kami berdua menghela nafas yang panjang.

Pada saat ini, kami akhirnya melewati koridor yang panjang. Kami mendorong pintu didepan kami, dan atmosfir yang berdegung keluar dari dalam, mengelilingi kami. Kantin ini menduduki lantai pertama dan kedua, dan satu-satu nya fasilitas umum yang laki-laki dan perempuan gunakan bersama-sama. Kebanyakan dari laki-laki, yang merupakan mayoritas dari 120 murid, duduk berkelompok di meja mereka, sama juga seperti perempuan, tapi di tengah, ada beberapa orang berkemampuan tinggi dari jenis kelamin yang berbeda asyik ngobrol dan tertawa. Hal itu gak terlalu berbeda dengan dunia nyata.

Eugeo dan Aku buru-buru menuruni tangga, mengambil nampan yang makan malam nya sudah disiapkan dari counter, dan pergi ke meja kosong di pojokan. Kemudian bel jam 6 berbunyi. Sepertinya kami gak telat. Aku sedikit menghela dengan lega.

Murid laki-laki (tentu saja, bangsawan kelas atas) yang merupakan ketua asrama berdiri dan menjunjungkan doa kepada Gereja Axiom. Semua murid mengucapkan sebuah kata-kata bersama-sama «Awai Ardmina». Aku sama sekali gak tau apa arti kata-kata ini. Akhirnya, waktunya untuk makan.

Menu makan malam hari ini adalah whitefish goreng yang diberi saus vanilla, salad, sup sayuran dan dua roti. Ini gak terlalu berbeda dengan makanan yang disiapkan Gereja di Rulid dan peternakan Zakkaria, jadi benar-benar mengejutkan untuk melihat sekolah berisi banyak bangsawan menyediakan makanan pribumi, tapi mereka gak menunjukkan rasa gak puas dan dengan normal memakan nya.

Itu karena, meskipun mereka bangsawan, gaya hidup mereka tak terduga ternyata simpel— atau enggak. Sepertinya «Sumber Daya» yang unik dari UnderWorld adalah alasan nya.Untuk menjelaskan hal ini, ada sebuah sistem, 'batasan dari berapa banyak objek yang bisa diproduksi di area tertentu'. Itu berarti mereka hanya bisa mendapatkan beberapa jumlah hasil panen, ternak, hewan liar dan ikan pada waktu tertentu, dan batasan itu gak bisa dirusak.

Kalau ada bangsawan yang memonopoli makanan dalam jumlah besar, berarti akan ada beberapa dari rakyat jelata yang akan mati kelaparan. Life mereka akan berkurang. Ini adala sesuatu yang melanggar Taboo Index 'tidak boleh mengurangi Life orang lain tanpa alasan yang valid', dan bahkan bangsawan atau raja pun gak bisa melanggar nya. Demikian, dengan cara ini, desakan untuk memiliki berbagai jenis makanan itu berhubungan dengan mempertahankan Life, dan memonopoli makanan itu sudah terlarang dari awal... atau seperti itulah masalah nya kira-kira."

Tapi meskipun mereka gak menuntut makanan mewah, bukan berarti kalau semua bangsawan itu orang baik.

"...Itu benar-benar bikin iri, Tuan Raios!"

Pada saat kami tak sengaja mendengar kata-kata itu dari belakang kami, Eugeo dan Aku menunjukkan wajah yang jengkel.

Sword Art Online Vol 10 - 237.jpg

"Kita bekerja keras dan berkeringat membersihkan kantin, tapi beberapa orang hanya perlu datang dengan santai dan tinggal makan. Bukan nya itu bikin ngiri?"

Suara yang lain mengucapkan kata-kata itu yang sangat jelas ingin orang lain mendengar,

"Yah, jangan bilang begitu, Wanbell. Valet juga bekerja keras di tempat yang gak bisa kita lihat."

"Kuku, bener juga. Kudengar kalau valet harus menuruti semua kata-kata mentor nya."

"Kalau, kita bertemu mentor yang latar belakang nya rakyat jelata atau latar belakang terlarang, kita gak akan tau akan dipaksa melakukan apa saja."

Kami akan terjebak pancingan mereka kalau kami bereaksi. Karena itulah Aku hanya membelakangi mereka dan berkonsentrasi menggerakkan garpu ku. Tapi meskipun Aku bisa menahan tindakan ku, Aku gak bisa menahan kemarahan didalam hatiku. Bukan masalah kalau hanya Eugeo dan aku, tapi yang mereka singgung 'rakyat jelata' disini adalah mentor Eugeo, Gorgolosso-senpai, dan 'terlarang' merujuk pada mentor ku, Solterina-senpai.

Pola mereka mengejek kami bukan hanya terbatas pada mengejek mentor kami. Mereka sudah berusaha memancing kami dari awal saat mereka berkata 'beberapa orang hanya perlu datang dengan santai'. Meskipun ada banyak valet lain disini selain Eugeo dan aku, hanya kami berdua yang masuk saat hampir makan malam dimulai. Dengan kata-lain, ejekan itu memang sudah ditargetkan pada kami.

Kami bertemu beberapa orang yang mengesalkan di Zakkaria sebelum nya. Saat turnamen, orang itu, Egome Zakkalight yang menjadi lawan ku adalah orang yang agak standard dari segi kearoganan nya, tapi cara sinting mereka menentang kami di Akademi benar-benar membuatku terkesan. Ini adalah salah satu alasan kenapa 'semua penduduk didunia ini adalah Fluctlight buatan, AI' dihapus seluruh ingatan nya, dan itu mungkin karena kaya akan kosakata yang mereka punya.

"...Cukup bertahan selama beberapa hari."

Yang berbicara dengan pelan adalah Eugeo, yang duduk disamping ku sambil merobek roti.

Kata-kata itu mempunyai arti dari 'kita akan menjadi pendekar elit, kita akan pergi ke asrama yang berbeda dengan orang-orang itu'. Bagi Eugeo, mungkin ini kata-kata yang kompetitif, tapi bukan berarti pemikiran tanpa dasar.

Dari 120 Murid, hanya 12 yang akan menjadi «Valet», dan mereka semua dipilih oleh 12 «Pendekar Elit» murid tahun kedua dari murid kelas satu yang top.

Kalau menjadi valet, mereka gak perlu membersikan asrama atau memperbaiki peralatan mereka. Namun, setelah sekolah, valet harus pergi ke kamar pendekar elit, mentor mereka, membersihkan kamar mereka, melayani mereka, dan menjadi lawan sparing mereka.

Gak ada dari mereka berdua yang mengucapkan kata-kata sarkasme yang menjadi valet, itu berarti nilai mereka lebih rendah dari pada Eugeo dan Aku pada saat penerimaan. Selama satu taun ini, mereka selalu mondar-mandir diantara peringkat 20 sampai 30, jadi Eugeo bukan hanya asal memprediksi kalau mereka gak akan menjadi pendekar elit.

...Tapi sebenarnya, apa yang terjadi...?



Aku bergumam dalam hati sambil memegang pisau makan, menatap sosok dibelakang ku yang terpantul di pisau silver yang berkilau ini.

Dua orang yang duduk di meja yang agak jauh terus melanjutkan pembicaraan sarkastik mereka sambil melihat kesini. Orang yang duduk dikiri dengan rambut abu-abu yang disisir kebelakang, menutupi bagian belakang kepala, bernama Wanbell Jezeku, dan dia adalah anak bangsawan kelas-4. Di kanan, murid dengan rambut pirang keriting yang diikat kebelakang adalah anak tertua dari suatu bangsawan kelas-3 bernama Raios Antinos. Di akademi ini, gak ada bangsawan kelas-1 (sepertinya mereka sudah memanggil guru privat sendiri dan menjadi murid mereka), dan mereka yang bangsawan kelas-2 ialah Uolo Levanteinn dan beberapa orang lain nya. Kemudian, bangsawan kelas-3 disini adalah golongan yang dihormati disini.

Namun, gak semua bangsawan kelas atas seperti mereka. Aku sebenar nya gak banyak berinteraksi dengan mereka, tapi Uolo-senpai adalah tipe prajurit yang selalu diam, dan Rina-senpai, yang merupakan bangsawan kelas-3 seperti Raios, adalah orang yang sangat jujur dan beradab.

Dengan kata lain, Raios dan Wanbell benar-benar tipe 'tuan muda yang cuman bisa ngomong dan gak bisa apa-apa'... Tapi apa cuma begitu saja? Aku bertanya-tanya. Aku gak pernah bertanding melawan mereka sebelum nya, tapi ada kemungkinan kalau mereka hanya main-main saat melakukan ujian tiap 3 bulan... Atau bahkan saat tes masuk.

Tentu saja, alasan kenapa mereka melakukan hal itu karena 12 murid top semuanya akan dipilih menjadi valet pendekar elit. Dan di Akademi, hal ini biasanya adalah suatu kebanggaan, tapi bagi Raios dan yang lainnya yang punya harga diri paling besar di sekolah, mereka mungkin merendahkan ranking mereka dengan sengaja agar enggak menjadi valet dan disuruh ini dan itu oleh mentor mereka.

Tentu saja, ini hanya tebakan asal, tapi di latihan yang sebenarnya, Aku merasakan sedikit tekanan saat melihat «styles» mereka. Aku merasakan rasa tinggi-diri absolut yang dimiliki hanya oleh bangsawan kelas atas, dan kekuatan imajinasi yang keluar dari hal itu.

"...Oi Kirito, piring nya udah kosong tuh."

Eugeo menyenggol ku dengan siku, dan Aku akhirnya sadar. Aku telah menggunakan garpu di tangan kiriku untuk mencoel salad yang ternyata sudah habis. Aku buru-buru menurunkan pisau di tangan kanan ku dan berniat untuk memotong ikan goreng, tapi ternyata ikan goreng itu sudah menghilang tanpa sadar. Aku seperti nya terlalu fokus kepada grup Raios dan gak punya waktu untuk menikmati momen makan malam-ku, yang merupakan momen kedua dimana aku paling bahagia. Kayak nya Aku udah terpancing oleh mereka.

Dan juga, hal yang membuat ku paling senang, yaitu latihan ku dengan Rina-senpai sudah berakhir hari ini—...

Belum, belum berakhir. Tugas ku sebagai valet resmi nya berakhir hari ini, tapi besok, pada hari istirahat, ada janji yang penting. Janji untuk menunjukkan sword skill milik ku.

Aku akhirnya mengingat sesuatu yang penting, menaruh garpu dan pisau ku, dan mendekatkan wajah ku ke Eugeo,

"Dengarkan aku, Eugeo. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu nanti. Setelah makan malam, datang ke halaman bersama ku."

"Aku mengerti, oke. Aku penasaran gimana kabar 'kebun bunga' mu, Kirito."

"Fufu, lancar. Pasti cukup waktu nya untuk upacara kelulusan."

"Heh, Aku menantikan hal itu."

Setelah kami menyelesaikan bisik-bisik kami, kami mengangkat nampan kami dan berdiri. Kami melewati grup Raios yang masih mengoceh, meninggalkan mereka dan buru-buru pergi karena hidung kami hampir mati-rasa karena mencium aroma tajam mereka yang seperti binatang itu.

Setelah kami mengembalikan alat makan kami ke counter, kami berjalan keluar kantin dan menghela nafas berat secara bersamaan.

Bel yang berbunyi beberapa menit yang lalu berbunyi lagi, jadi sekarang, waktu nya sudah lewat 6.30pm. Jam bebas dari sekarang sampai 10pm, tapi kami gak boleh keluar asrama, dan pada jam 8pm, kami harus kembali ke kamar kami. Demikian, kami hanya bisa berlatih atau belajar pada saat ini— Tapi ada satu PR yang harus aku kerjakan setelah makan malam setiap hari.

Disisi barat asrama (lawan arah dari kantin), ada pintu kecil, dan ada kebun kecil diluar. Kebun itu dikelilingi pagar besi yang tinggi, dan meskipun gak ada atap, disini masih dihitung area asrama.

Kebun yang kotak terbagi menjadi 4 blok petak bunga. Tiap petak mempunyai tanaman yang berbeda, yang tumbuh, ataupun yang mekar. Beberapa murid ditugaskan untuk menjaga bunga ini, tapi bunga ini bukan cuman berfungsi untuk dipandang. 4 jenis bunga ini adalah material katalis yang digunakan untuk pelajaran Sacred Arts. Bunga-bunga ditanam tiap 3 bulan, jadi buah nya bisa dibudidayakan sepanjang tahun. Kalau buah yang kering dihancurkan dengan jari, Sacred power akan keluar dari nya, dan murid-murid menggunakannya sebagai sumber daya latihan Sihir.

Tentu saja, Bumi dan Matahari terus menerus memberikan sumber daya, tapi kekuatan Bumi di kota sangat lemah, dan Matahari suka terpengaruh oleh cuaca. Harus ada energi dengan bentuk selain kedua hal itu jadi 120 murid setiap tahun dapat menggunakan sihir mereka dengan handal.

Seperti hal nya musim semi ini, bunga yang mekar musim ini adalah Anemone biru yang ada di sisi Timur Laut. Sepertinya adalah prioritas tinggi seperti Marigold di Musim Panas, Dahlia di Musim Gugur dan Cattleya di Musim Dingin... Dengan kata lain, bunga-bunga inilah yang memberikan sumber daya terbesar.

Selama kira-kira 380 tahun UnderWorld ada, segala bentuk kehidupan mempunyai perubahan unik mereka tersendiri, tapi mereka tetap sama jenis nya dengan seperti di dunia nyata. Aku bisa mengerti penting nya tanaman ini, tapi Aku gak begitu yakin kalau mereka sama seperti yang di dunia nyata.

Setelah bunga layu, mereka akan menghasilkan buah yang berbentuk seperti bola. Jika seseorang menggunakan jari nya untuk menghancurkan nya, cahaya hijau (Sacred Power) akan mengapung... Jadi hal ini sama sekali gak ada hubungan nya dengan yang dunia nyata.

Selama pelajaran Sacred Arts, guru pernah menyebutkan sebelum nya kalau selain «4 Bunga Suci», ada tanaman ajaib bernama «Mawar» yang memberikan sumber daya yang besar dan menghasilkan bunga berkali-kali setiap tahun. Para penduduk, dan bahkan bangsawan dan raja gak dibolehkan menanam nya. Kalau ingin melihat nya, mereka harus pergi ke tempat langka dimana mawar itu tumbuh di sebuah gunung. Begitu mendengar nya, Aku menyadari kalau Aku gak pernah melihat mawar asli sejak Aku datang ke dunia ini. Kalau begitu, berarti mawar itu mungkin digunakan sebagai tanda Sacred Tool.

Aku terus menikmati dan menatap Anemones yang indah itu saat Aku segera melewati jalanan berbentuk X dan pergi ke arah barat. Ada gudang yang besar di ujung, dan sekop, selang dan alat-alat bercocok tanam lain nya ditaruh disana dengan rapi.

Di tempat tertutup di gudang, ada pot bunga keciil. Eugeo dan Aku jongkok di depan nya.

"Benar, tumbuh dengan baik. Bukannya akan menghasilkan buah disini?"

Aku mengangguk mendengar perkataan partner ku,

"Udah gagal 3 kali. Baguslah kalau bisa mekar kali ini..."

Yang kami besarkan di pot bunga ini adalah tanaman dengan daun yang tajam yang hampir seluruhnya biru. Tanaman yang bernama Zephyria, dan sepertinya merupakan tanaman langka di UnderWorld. Memang gak menghasilkan banyak sumber daya, tapi memiliki keindahan yang sangat luar biasa... setidak nya menurut kami seperti itu. Alasan kenapa kami gak tau? Itu karena Eugeo dan Aku dan semua orang di Kerajaan Norlangarth gak pernah melihat Zephyria asli sebelum nya.

Bunga Zephyria ini adalah tanaman yang tumbuh di sisi lain dari «Immortal Wall», tanaman dari «Kerajaan Wesdarath». Gak ada yang menanam ini di Kerajaan Utara.

Ada transaksi antar kerajaan meskipun bunga bukan hal utama, jadi gak mengagetkan untuk melihat bunga-bunga dan apapun yang berhubungan dengan bercocok tanam. Namun, bukan begitu yang terjadi. Alasan kenapa gak ada Sacred Task seperti «Tukang Bunga» adalah karena 'bunga yang gak bisa dimakan seharus nya ditanam untuk kepentingan pribadi. Mubazir Sacred Power kalau dijual'. Ada yang namanya 'penjual herbal', dan mereka menanam tanaman di perkebunan, tapi hanya 4 tanaman suci. Dunia ini memanfaatkan ideologi ini dengan efektif.

Kalau begitu, darimana Aku mendapatkan bunga Zephyria ini—?

"Aku yakin ini pasti dari sekumpulan biji yang kamu dapatkan, kan, Kirito?"

Aku mengangguk mendengar pertanyaan Eugeo.

"Ahh, ini yang terakhir... kesempatan terakhir. Paman dari toko rempah itu bilang suplai selanjutnya akan datang musim gugur berikut nya."

—Ya, meskipun gak ada yang menjual bunga, tapi ada orang yang menjual biji. Saat biji Zephyria ditumbuk menjadi bubuk, mereka mengeluarkan aroma harum vanilla. Demikian, beberapa biji akan di impor dari kerajaan Barat sebagai bumbu dari suatu makanan... ini adalah sesuatu yang kudapat musim gugur terakhir.

Pada waktu itu, Aku pada dasarnya gak pernah menggunakan uangku, gaji yang kudapatkan sebagai penjaga Zakkaria, jadi Aku membeli sebanyak mungkin dari pedagang rempah —namun, ia hanya memiliki kantung kecil penuh biji— dan aku mencoba untuk membesarkan nya.

Ada dua alasan kenapa Aku tiba-tiba tertarik bercocok tanam.

Pertama, ini adalah eksperimen terhadap sesuatu yang tersembunyi didalam dunia ini, yang kunamakan «Imagine System».

Paman dari Toko Rempah bilang padaku kalau bunga Zephyria gak akan bisa tumbuh di tanah Norlangarth. Aku berfikir untuk menggunakan tanah dari Kerajaan Barat untuk membesarkan nya, dan bahkan berlari sepanjang jalanan di pinggir Central dan menggali sedikit tanah. Namun, biji pertama yang kutaruh gak pernah tumbuh, dan kemudian, Life nya berkurang menjadi 0 kemudian menghilang di pot bunga. Namun, hal ini gak ditentukan oleh orang-orang di dunia nyata yang mendesain dan mengoperasikan UnderWorld ini. Bunga ini berbeda dengan Anemone dan Cattleya dan yang lainnya; bunga ini gak ada di dunia nyata.

Kalau begitu, kenapa bunga Zephyria bisa tumbuh di Kerajaan Barat, tapi enggak di Kerajaan Utara?

Itu pasti karena— orang-orang di dunia ini percaya dengan kuat akan hal itu. Imajinasi yang para penduduk sebut ilmu pengetahuan menyebabkan parameter dari «Zephyria» di memori pokok menjadi seperti itu. Terus, kalau, kalau Aku punya imajinasi yang 10 kali lebih kuat dari pada «akal sehat para penduduk» dan mengumpulkan nya di biji ini, apakah Aku bisa menulis ulang paramter itu, meskipun hanya untuk sementara...?

Menggunakan kekuatan imajinasi satu orang untuk melampaui ribuan orang mungkin terdengar mengada-ngada, tapi, apa yang akan terjadi?

Yang ingin kutantang adalah pengetahuan umum yang kuno yang telah menyebar dari kata-kata sejak beratus ratus tahun yang lalu. Di UnderWorld yang sekarang, gak banyak orang yang berfikir Zephyria hanya bisa tumbuh di Kerajaan Barat! ...atau mungkin gak ada satupun. Dengan kata lain, parameter Zephyria di memori utama gak punya belenggu yang kuat.

Kalau begitu, kalau aku meneruskan hal ini setiap hari, kalau aku mengumpulkan imajinasi ku pada biji ini... Enggak, kalau Aku berdoa agar biji ini mekar setiap hari, mungkin kah bagiku untuk melampaui pengetahuan umum yang kuno ini?

Mempertimbangkan hal ini, Aku mulai menyiram bunga ini dari musim gugur terakhir dengan air dan imajinasi.

Pertama-tama gagal, dan kemudian gagal kedua kalinya. Tapi untuk yang ketiga, biji itu tumbuh sekitar 5mm. Memang hampir layu, tapi ini sudah menjadi hasil dari melakukan hal yang 'mustahil'. Aku mengacuhkan sisa biji yang lain di eksperimen ke empat ini, dan akan datang kesini setiap hari, sebelum Aku masuk kelas pagi hari, dan setelah makan malam, dan menggumam kepada nya sambil mengumpulkan lebih banyak konsentrasi dari yang sebelumnya, mengucapkan "Kamu pasti akan tumbuh, berkembang dan menjadi bunga yang indah."

Akhir-akhir ini, kalau aku menggumamkan hal itu kepadanya, Aku kadang-kadang melihat kilauan yang samar-samar dari kecambah lunak nya. Apapun itu, hal ini pasti kesalahan mataku...atau kesadaran ku, tapi aku percaya kalau 23 kecambah yang kulihat di bunga ini pasti akan tumbuh menjadi bunga yang indah.

"Nih, Kirito. Aku bawa air."

"...Ah, maaf ngerepotin."

Sepertinya Eugeo telah mengisi penyiram untuk ku saat Aku sedang jongkok didepan pot bunga ini. Aku berterima kasih pada nya, menerima penyiram itu, dan partner ku tersenyum sambil berkata,

"Tapi omong-omong, Kirito, kita udah bersama-sama selama dua tahun, tapi Aku gak tau kalau kamu tertarik akan hal yang beginian."

"Yah anu, sebenarnya, Aku sebenarnya juga gak tau kenapa..."

Itu hanya jawaban asal, dan gak ada makna tertentu dibalik nya. Namun, ekspresi Eugeo berubah saat ia mendekatiku, sebelum berkata,

"Gak, ini adalah tanda kalau ingatan mu mulai pulih. Kamu mungkin merawat bunga di rumah sebelum muncul di Rulid, Kirito... Atau mungkin Sacred Task aslimu adalah sesuatu seperti ini atau semacam nya."

Mendengar hal itu, Aku menunjukkan tatapan kosong ke wajah partner ku. Kemudian buru-buru berdehem dan berkata,

"Oh-Oh begitu...kenapa yah? Aku gak tau apapun tentang tanaman. Yang kulakukan hanya belajar dari tukang kebun Miller dan yang lain nya."

Aku sebenarnya hampir lupa akan hal ini, tapi Aku adalah «Lost Child of Vector»... Manusia yang ingatan nya diambil oleh Dewa Kegelapan Vector dan dilempar ke tempat yang jauh dari desa. Di Akademi, tempat lahir ku adalah Rulid, jadi hanya Eugeo lah yang tau asal usul ku. Dan juga, akhir-akhir ini dia gak pernah membicarakan apapun tentang ingatan ku, jadi kupikir dia udah gak memikirkan nya— tapi kayaknya gak gitu.

Mendengar jawaban ku, Eugeo mengangguk, tapi gak meneruskan nya dan memalingkan pandangan nya ke pot bunga,

"Sip, ayo cepat siram bunga nya. Mereka menyuruh kita untuk bergegas."

"Oh, jadi sekarang kamu bisa mendengar mereka, Eugeo-kun?"

"Tentu saja, Aku sudah mengurus mereka bersama Kirito-kun."

Itu semua hanya candaan lalu Aku bersiap-siap didepan pot bungi dan mulai bergumam dalam hati.

...Pot ini memang kecil, tapi itu adalah negara mu. Gak ada yang bisa mengancam mu. Kamu harus besenang-senang dibawah matahari, serap air ini dan tumbuhlah menjadi bunga.

Aku membiarkan imajinasi ku ini masuk kedalam air di penyiram, dan menyiram nya dengan tangan kanan ku. Tetesan air mendarat di batang biru yang agak tipis dan daun dari Zephyria, melembabkan nya, mengalir kebawa dan menghilang di tanah hitam.

Pada saat ini, Aku sepertinya melihat kilauan hangat yang menyelimuti ke 23 kecambah.

Apakah ini imajinasi sepert sebelumnya? Ataukah— selagi aku berfikir seperti ini, Aku berbalik untuk melihat Eugeo yang ada disamping ku, tapi ia sepertinya menutup mata nya dan gak menyadari hal ini. Saat aku memalingkan pandangan ku kembali ke pot bunga, cahaya putih telah hilang tanpa jejak.

Aku merasa segan ke Eugeo, yang melakukan hal ini bersama ku demi kesenangan pribadi ku (alasan untuk sebuah experimen), tapi Aku gak pernah bilang kepadanya kalau ini adalah bunga Zephyria. Ia pikir ini hanyalah biji yang gak diketahui yang kudapatkan dari toko.

Alasan kenapa Aku gak mengatakan kebenaran kepadanya adalah karena kalau Aku bilang kepada nya, akal sehat Eugeo akan terkikis oleh imajinasi ku. Tujuan dari eksperimen ku bukan untuk bertarung di pertarungan kehendak melawan partner ku, dan ini sudah pasti bukan lah keinginan pribadi ku. Jujur saja, Aku selalu takut kalau saat kami menjalani ujian sparing antara pendekar elit, Aku akan melawan Eugeo...

“...Hey, Kirito.”

Tiba-tiba, Aku dipanggil oleh Eugeo, yang melebarkan matanya. Secara naluri Aku menengok untuk melihat, tapi, meskipun ini bukan suara dari hatiku, yang Eugeo katakan benar-benar tak kuduga,

"Kirito, kalau ingatanmu kembali, apa yang akan kau lakukan setelah nya...?"

"Eh...? Apa yang akan kulakukan? Apa maksudmu?"

"Kau tau, Kirito, kamu bekerja keras, belajar untuk menjadi pendekar elit di Akademi ini... untuk akhirnya menjadi Integrity Knight. Kamu hanya perlu menemani ku untuk mencapai tujuan ku, benar kan? Tujuan ku adalah untuk menemui Alice, yang dibawa pergi oleh Gereja Axiom 8 tahun yang lalu, tapi... Kalau ingatan mu pulih dan memikirkan kampung halaman mu..."

...Kamu pasti ingin kembali, kan?

Eugeo gak mengatakan hal itu tapi bertanya dengan mata nya.

Apa Aku ingin kembali ke kampung halaman ku? —Tentu saja, jawaban ku adalah 'ya'. Tapi, kampung halaman ku gak ada dimanapun di UnderWorld. Tempat dimana rumahku berada, dimana orang-orang menunggu ku, adalah negara yang bernama Jepang di dunia nyata, diluar dunia ini.

Kalau Aku ingin log out dari sini, Aku harus menemukan Sistem Admin atau Sistem Konsol atau semacam nya. Dan kalau Aku harus menebak dimana letak benda seperti itu, jawaban nya adalah area Pusat dari Centoria Cathedral, Gereja Axiom. Demikian, Aku mempunyai alasan yang berbeda untuk menjadi Integrity Knight dibandingkan dengan alasan Eugeo.

Aku menahan keinginan ku untuk memberitau partner ku, bukan, teman baikku; memindahkan botol kosong ke tangan kiri nya dan menepuk pundak nya dengan tangan kanan ku. Aku menaruh tangan kanan ku di pundak nya dan berkata dengan pelan,

"...Enggak, meskipun jika ingatanku benar-benar pulih, Aku gak akan kembali. Aku benar-benar merasa kalau aku adalah «Pendekar Pedang» dari tempat Aku berasal... Meskipun aku punya ketertarikan akan menanam bunga, bukannya tujuan akhir ku adalah mencapai Turnamen Persatuan Empat Kerajaan di Centoria?"

“...”

Mendengar kata-kata ku, bahu Eugeo sedikit gemetaran.

Ia tetap berada dalam posisi jongkok nya sambil menundukkan kepala dengan rambut berwarna kuning muda nya dan berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"...Aku, benar-benar orang yang lemah. Kalau aku gak bertemu dengan mu dibawah Gigas Cedar, Aku mungkin masih akan mengayunkan kapak ku setiap hari. Aku hanya akan menggunakan Sacred Task ku sebagai alasan dan gak pernah serius berfikir akan meninggalkan desa... dan akhirnya, melupakan tentang Alice..."

Eugeo menatap kearah batu bata disamping nya, dan ia mengutarakan apa yang ia pikirkan selama ini dengan suara yang amat kecil.

"...Itu juga sama dengan saat Aku bergabung dengan pasukan penjaga di Zakkaria, dan sama dengan saat Aku bisa pergi ke Centoria dan masuk ke Akademi ini. Itu semua karena kamu ada didepan ku jadi Aku bisa melakukan semua itu, Kirito. Jadi setidaknya... Aku harus menjadi sekuat dirimu sebelum Aku lulus, Kirito, itu yang kupikirkan. Tapi, saat kamu bilang gak akan kembali ke kampung halaman mu meskipun ingatan mu pulih... Aku merasa lega..."

Tangan ku merasakan sedikit gerakan karena terkejut.

Aku menyalurka tenaga ke tangan kanan ku, dan mulai menggumam dalam hati seperti yang kulakukan terhadap bunga. Kamu sangat kuat, kamu lah yang memutuskan untuk meninggalkan desa untuk mencapai tujuanmu di dunia yang penuh dengan berbagai hukum, aturan, dan segala batasan ini. Aku bergumam.

"...Dengarkan aku, Aku gak mungkin bisa mencapai Central sendirian."

Sembari Aku bergumam dalam hati, Aku mengatakan hal ini kepadanya.

"Aku gak tau jalan nya, Aku gak mungkin bisa mengingat hukum-hukum Kerajaan... Dan yang paling penting, Aku bahkan gak punya sepeserpun Shears. Alasan kenapa kita bisa sampai ke Akademi ini karena kita berdua menjalani nya bersama-sama. Hal itu akan sama dengan hari ini dan seterus nya. Kalau kita enggak bekerja sama, kita gak mungkin bisa mengalahkan para bangsawan muda dan para elit Imperial Knight yang sudah belajar saat mereka baru belajar berjalan. Sangat terlambat untuk berusaha keras sendirian dan menjadi Integrity Knight."

“...”

Bahkan setelah mendengar kata-kata ku, Eugeo tetap terdiam. Tapi setelah beberapa saat, ia balas berbisik,

"Ahh... Ahh, benar. Kita sudah sampai sejauh ini. Jadi kita harus sampai di menara putih itu."

"Ya. Untuk itu, kita harus menjadi top 12 pada tes bulan ini... Selain skill praktis, Aku benar-benar gak terlalu ngerti tentang Sacred Arts... Ajarin aku dengan cara yang mudah setelah kita kembali ke kamar."

"...Haha, oke. Kita mulai dari «Compressed Power» lagi."

"O-Oke."

Aku menepuk pundak Eugeo dan berdiri.

Eugeo, yang berdiri agak belakangan, meninggalkan senyuman tenang yang biasanya. Pada saat ini, partner ku memiringkan kepalanya, dan sepertinya mengingat sesuatu lalu berkata,

"Omong-omong, apa yang mau kamu bicarakan dengan ku di kantin?"

"Eh...? Aah, ahh, iya, Aku hampir lupa tentang hal itu.:

Aku membalikkan badan ku dan menghadap nya, lalu berbicara dengan nada ku yang biasanya.

"Eugeo, boleh kupinjam «Blue Rose Sword» mu untuk kugunakan besok?"

“Hmm, okay.”

Eugeo sepertinya setuju dengan sepenuh hati sambil mengangguk, dan kemudian memiringkan kepalanya.

"Tapi kenapa? Bukannya kamu bilang akan lebih baik berlatih dengan pedang kayu karena kau bilang feel nya bakal ilang?"

"Itu yang Aku bilang tapi... Masalah nya seperti ini. Aku kemarin berjanji pada Rina-senpai kalau Aku akan menunjukkan sword skill ku yang sebenar nya untuk yang terakhir kali. Aku mungkin hanya bisa mengeluarkan skill dua serangan beruntun dengan pedang kayu."

"Oh, jadi begitu. Kalau begitu, kamu harus sepenuhnya menunjukkan Aincrad-style yang sebenarnya. Kamu bisa memakai Blue Rose Sword, tapi..."

Pada saat ini, Eugeo berhenti sejenak, dan kemudian berkata dengan ekspresi yang agak bingung,

"Haduh, Kirito, apa kau lupa? Hari istirahat besok adalah 'hari itu'."

"Eh? 'Hari itu' apaan..."

"Oi oi, tanggal 6 Maret. Kamu sangat menanti hari itu kan."

"...Ah, ahh, benarkah? Hari benda itu selesai? ...Yah, bukannya Aku lupa...tapi Aku gak mengira kalau akan makan waktu setahun...."

"Bukannya kamu udah lupa?"

Ahaha, Eugeo tertawa, dan bertanya lagi,

"Jadi, bagaimana? Blue Rose Sword, atau..."

"Enggak, Aku ingin menggunakan pedang ku sendiri. Sepertinya Stacia-sama benar-benar telah membimbing ku. Kamu bilang kamu bersedia meminjamkan pedang mu, maaf."

"Gak apa-apa. Kalau begitu, ayo kembali ke kamar, oke? Aku akan mengajarimu dengan benar sampai lampu mati."

"...Mo-Mohon bimbingan nya."

Aku meletakkan alat penyiram kembali ke gudang dan berlari mengejar Eugeo, yang berjalan keluar.

Aku menengok kebelakang melihat pot bunga untuk terakhir kali, dan melihat puncak dari pohon muda itu, terdapat tetesan air di kuncup bunga yang menunjuk kearah langit malam.

Alasan kedua kenapa Aku memutuskan untuk menanam Zephyria untuk eksperimen ini— Jujur saja, Aku merasa ragu setiap Aku memikirkan tentang hal itu.

Karena alasan nya itu sedikit, enggak, sangat memalukan.

Bagian 3[edit]

Di UnderWorld, terdapat berbagai macam Sacred Task, tapi diantara nya, mustahil untuk menemukan sesuatu yang masuk kedalam kategori 'penjelajah'.

'Pedagang' yang melewati batas negara untuk berjualan terlihat mirip dengan 'penjelajah', tapi sedikit rumit untik mendeskripsikan pergerakan mereka sama seperti 'penjelajah'. Itu karena mereka hanya memindahkan barang-barang mereka dari satu penjuru dari Central yang bulat ini ke tempat lain, seperti dari Centoria Utara ke Centoria Timur, atau sebalik nya. Jarak nya juga paling jauh hanya 5km.

Desa di perbatasan terlihat efisien, dan obat-obatan atau barang-barang logam yang diproses yang mereka gak bisa produksi semuanya dikirim dari kota terdekat menggunakan kereta kuda (contoh nya, seperti Zakkaria bagi Rulid). Sacred Task seperti «Penghibur Keliling» dan «Penyanyi Jalanan» gak ada, jadi mereka yang ingin pergi berlibur saat waktu bebas nya akan ada waktunya saat hari istirahat tiap minggu.

Satu-satu nya pengecualian ialah «Integrity Knights» yang bisa terbang menggunakan wyvern dari Centoria ke Mountain Range at the Edge 750km, tapi Sacred Task itu terlalu unik.

Demikian, penduduk di UnderWorld pada dasar nya gak akan berpindah terlalu jauh. Namun, hal ini bukan berarti kalau bepergian itu dilarang. Mereka bisa dibolehkan pergi jauh selama mereka mengikuti aturan Sacred Task mereka seperti agen furnitur Centoria yang pergi ke Zakkaria di Utara yang jauh. Di samping itu, Aku sendiri mengikuti peraturan dunia ini dan bahkan telah melewati sebuah negara.

Dengan kata lain, tergantung kepribadian mereka ingin pergi melakukan perjalanan atau tidak. Dan untuk kepribadian, 99% dari penduduk UnderWorld semuanya konservatif.

Namun, bukan berarti kalau gak ada satupun orang yang punya selera yang tinggi akan petualangan.

Salah satunya adalah seorang pengrajin, Satore, yang membuka toko nya di distrik ke-7 Centoria Utara


"Lihatlah benda ini!"

Selagi suara yang kasar itu berbunyi, beberapa beberapa lempengan batu berbentuk persegi panjang dilempar tepat didepan ku dan Eugeo, mengeluarkan suara gemeretak. Tablet batu hitam yang mempunyai tekstur yang halus terlihat seperti batu asah dari Kerajaan Timur. Namun, saat ini, tebal semua batu itu telah menjadi kurang dari 2cm, dan bagaimanapun juga, sepertinya gak bisa digunakan lagi.

"Batu asah Corengan hitam ini bisa digunakan untuk 3 tahun, tapi benda milikmu itu sudah menghancurkan 6 milikku!"

"Be-benarkah begitu...Sa-Saya minta maaf..."

Aku terus meminta maaf pada pemilik toko yang menggelegak merah.

Di toko «Satore Metalcraft» ini, peralatan dari besi, ornamen dan bahkan senjata semuanya berjejer. Diantara nya, yang paling menarik perhatian sudah pasti pedang-pedang yang tergantung di tembok didalam toko ini. Kenapa sebuah pengrajin tangan mempunyai pedang? Pertama kali Eugeo dan Aku datang kesini, kami dgn takut menanyakan ini kepada pemilik toko yang kelihatan galak. Ia sendiri memberikan jawaban yang simpel, "Orang tua ini ingin menjadi padai besi, jadi orang tua ini membuat pedang."

Aku menanyakan nya tentang apa perbedaan antara pandai besi dan pengrajin di dunia ini, dan tak terduga, hanya peralatan lah yang membedakan mereka. Pandai besi bekerja menggunakan tungku pembakaran, landasan dan palu untuk membuat produk. Sebalik nya, pengrajin menggunakan pahatan, palu dan alat ukir. Dengan kata lain, itu hanya perbedaan menempa dan mengukir.

Di dunia nyata, Aku menggunakan dua jenis peralatan, «aluminum tempa» dan «aluminum pahat» di sepeda gunung ku, jadi kupikir disini agak sama... dan jadi saat Aku asal mengatakan 'kalau mereka berdua memproduksi pedang, gak apa-apa buat nyuruh pengrajin'. Namun, saat aku mengatakan hal itu, si pemilik toko Satore memelototi ku dengan pandangan yang tajam dan berkata, "Meskipun jenis besi yang digunakan sama, hasil jadi nya gak akan sama".

Dari caranya mengucapkan hal ini, seperti nya meskipun besi yang sama persis digunakan, pedang yang ditempa diengan temperatur tinggi akan mempunyai prioritas yang lebih besar (Level Objek atau semacam nya) dibanding memahat pedang. Karena hal inilah, Satore dipandang sebagai seorang 'penempa palsu' saat ia mulai membuat pedang.

Pada saat itu, jiwa muda dan petualang Satore membawa dengan amarah dan motivasi. Ia bekerja keras untuk menyiapkan produk yang setahun nilai nya, menitipkan tokonya kepada istri dan murid nya, dan melakukan perjalanan panjang untuk menemukan material yang bisa membuat pedang yang lebih bagus dipahat daripada ditempa.

Tapi meskipun itu adalah perjalanan, seorang pengrajin gak akan mendapatkan izin untuk meninggalkan negara, jadi ia hanya bisa pindah ke Centoria Utara. Untuk beberapa bulan, ia pindah dari kota ke kota, desa ke desa, menemukan beberapa material prospektif tapi mereka gak bisa memenuhi harapan nya. Akhirnya ia mencapai pohon besar yang tumbuh melewati awan di hutan dekat perbatasan Utara.

Itu adalah sebuah pohon cedar besar berwarna hitam pucat yang tak terkalahkan yang gak akan terbakar oleh api, dan gak akan hancur oleh ayunan pedang atau kapak... tentu saja, itu adalah «Pohon Iblis» Gigas Cedar.

Pada saat itu, ia bertemu «Penebang» si tua Garitta (yang seharusnya masih muda pada saat itu) dan menjadi teman. Ia berniat untuk memotong cabang dari Gigas Cedar untuk mendapatkan material untuk sebuah pedang, jadi ia memanjat pohon itu melalui pertolongan Garitta, menggunakan parutan untuk mencoba menggilas cabang yang ia sukai, tapi bahkan gak bisa membuat sedikitpun potongan selama 3 hari 3 malam.

Satore mulai menangis saat ia menyerah akan niat nya itu, dan bilang pada si tua Garitta untuk mengabari nya kalau suatu hari pohon ini berhasil ditebang. Pada saat itu, ia pasti akan kembali ke hutan ini untuk mengambil cabang nya.

Si tua Garitta memenuhi permohonan Satore dengan cara yang agak berbeda.

Bulan Maret terakhir, saat kami akhirnya mencapai tujuan dari perjalanan panjang kami, Centoria Utara, kami mengikuti perkataan si tua Garitta dan mengunjungi toko besi Satore. Satore terdiam tak bisa berkata-kata selama 3 menit saat ia melihat sebuah cabang disajikan kepadanya. Ia menghabiskan waktu 5 menit untuk memeriksa nya, lalu berkata,

-Beri aku waktu setahun. Setahun kemudian, cabang ini akan menjadi pedang yang tak bisa dipercaya.

—Saking tak bisa dipercaya nya sampai-sampai divine tool milik Integrity Knights gak akan bisa dibandingkan dengan nya.

Dan kemudian, setelah satu tahun— pada suatu hari, Kalender Dunia Manusia Tahun 380, Hari ke-7 dari bulan Maret, hari ini, si pemilik menyambut Eugeo dan aku, yang mengunjungi toko nya ini, dengan ekspresi yang menggelora.

"Te-Terus... A-Apa pedang nya udah selesai?"

Aku dengan takut menyela komplein tak berakhir dari Satori.

Tutup mulutmu. Si pemilik toko yang menatap langsung kearah ku dengan jenggot abu-abu nya mengeluarkan dengusan dan membungkuk kebawah. Satore mengeluarkan bungkusan paket yang panjang dan sempit dari bawah kasir dengan kedua tangan nya, mengerahkan tenaga dari tubuh keras nya untuk mengangkat paket itu.

*GONK!* Paket itu mengeluarkan suara tumpul ketika mendarat di kasir. Si pemilik toko enggak membukanya langsung.

Ia membiarkan paket nya begitu saja ditangan kanan nya, menggunakan tangan kiri nya untuk menggaruk jenggot nya, lalu berbicara,

"Anak muda, Aku masih belum bicara tentang pembayaran."

“Ugh.”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Master Swords Academy dikelola oleh negeri, jadi bayaran sekolah nya gratis. Tapi selama ini, Aku telah menggunakan uang ku untuk makanan atau hal lain saat hari istirahat, jadi Aku menghabiskan cukup banyak uang yang kutabung dari pasukan penjaga Zakkaria. Saat ini, pembayaran untuk pedang (belum lagi biaya usaha 1 tahun dan 6 batu asah tingkat tinggi) sepertinya gak murah disini.

"...Jangan khawatir, Kirito. Aku membawa smua uang ku kesini untuk jaga-jaga."

Aku benar-benar sangat lega mendengar perkataan Eugeo yang ada dibelakang ku, tapi untuk suatu alasan, Aku mempunya perasaan yang sangat buruk tentang hal ini.

Jika, hanya jika, total uang kami masih belum cukup untuk membayar ini... apakah kami akan melanggar Taboo Index? Apakah polisi, bukan, para Integrity Knights akan segera datang terbang kesini untuk menangkap dan mengirim kami ke penjara...?

"—Bukannya aku gak bisa memberikan nya secara gratis."

Setelah beberapa saat, Satore akhirnya mengatakan kata-kata ini, jadi Eugeo dan Aku punya keinginan untuk menghela nafas panjang yang lega. Namun, tepat sebelum itu, ia meneruskan "Tapi",

"...Tapi, anak muda, kalian harus bisa memakai monster ini. Benda ini dan material nya sendiri sangat lah berat, dan sepertinya kalian punya cukup kemampuan untuk menenteng material ini jauh dari Utara sampai ke Centoria... benda ini mungkin akan menjadi lebih berat ketika menjadi pedang. Penempa dan pengrajin semuanya dilindungi oleh God Terraria, jadi gak peduli seberapa kuat pedang nya, seharusnya gak akan ada masalah memindahkan nya... tapi bahkan orang tua ini hanya bisa mengangkat nya setinggi 1 Mel meskipun sudah sekuat tenaga."

"...Monster, huh?"

Aku menggumamkan kata-kata ini selagi menurunkan kepalaku untuk melihat paket itu.

Meskipun dibungkus dengan karung yang sangat tebal, Aku bisa merasakan eksistensi yang mendistorsi ruangan keluar darinya. Untuk suatu alasan, Aku gak bisa bergerak menuju benda yang sangat menggiurkan bagiku... atau mungkin tubuhku ini termagnetasi oleh nya selagi Aku ragu.

2 tahun yang lalu, Eugeo dan Aku melakukan perjalanan ke Selatan.

Eugeo mempunyai Blue Rose Sword, yang disimpan di bawah tempat tidur asrama murid pemula, diikat di pinggang nya, dan Aku mempunyai cabang pohon hitam pekat yang kupotong dari Gigas Cedar. Si tua Garitta meminta tolong padaku langsung untuk meminta pengrajin Satore untuk mengolah nya, tapi pada momen itu, Aku dikendalikan niatan apakah Aku harus menguburnya dalam-dalam di hutan atau tidak.

Meskipun sampai sekarang, Aku masih gak ngerti kenapa. Logis nya, akan lebih nyaman bagi dua pendekar pedang untuk masing-masing memiliki pedang nya sendiri dibanding harus berbagi, dan lebih natural. Demikian, Aku harusnya senang kalau ada cara untuk membuat pedang yang setara dengan Blue Rose Sword.

Aku menepis sedikit firasat ini dengan akal sehat logika ku dan Aku membawa cabang Gigas Cedar ini ke Centoria dan memberikan nya ke Satore.

Dan kemudian, pada hari ini, setahun kemudian, cabang ini akhirnya berubah menjadi sebuah pedang, menungguku untuk membuat kontak pertama dengan nya dibalik karung goni.

Aku mengambil nafas panjang, menghembuskan nya, dan menjulurkan tangan kiri ku. Aku menggenggam paket itu dan mengangkat nya dari kasir. Perasaan tebal dan berat bertekanan tinggi terasa, dan berat nya seperti nya mirip dengan Blue Rose Sword.

Karung goni itu hanya menyelimuti paket itu sedikit, jadi bagian atas nya akan jatuh kalau dinaikkan keatas, menampakkan gagang nya.

Pelana nya berbentuk gelendong yang simpel, dan ada lapisan dari kulit tipis yang diukir membungkus nya dengan kuat. Knuckle-guard nya terlihat agak kecil, mungkin karena itu adalah cabang. Gagang pedang nya berwarna hitam transparan dari Gigas Cedar, dan kulit yang membungkus nya hitam berkilau.

Sarung yang membungkus pedang juga dibuat dari kulit berwarna hitam. Aku menjulurkan tangan kanan ku, membiarkan jari-jariku membungkus disekitar pegangan, dan mengerahkan tenaga dalam satu terjangan.

Sampai saat ini, Aku telah memakai banyak pedang, tapi sebagian besar darinya adalah equipment di dunia VRMMO. Pengecualian nya hanyalah pedang bambu tua di rumah. Tapi meski begitu— atau lebih tepat nya, karena hal ini, Aku merasakan suatu jenis feeling kapanpun Aku menggenggam gagang pedang. Perasaan seperti es menjulur ke telapak tangan kanan ku, melewati pergelangan tangan, lengan, bahu, dan punggung.

Pada lantai pertama Aincrad, saat Aku memakai «Anneal Blade» yang kudapatkan dari misi pertama.

Pada lantai sembilan, saat Aku memakai «Queen's Knightsword» yang diberikan dark elf queen.

Pada lantai 50, saat Aku memakai longsword hitam «Elucidator» yang didrop oleh boss.

Saat Aku memakai longsword putih «Dark Repulser» yang blacksmith Lizbeth tempa untukku.

Dan di dunia peri ALFheim, saat Aku memakai senjata legendaris «Excaliber» setelah usaha keras dan menyakitkan—

Perasaan dingin yang sama, atau mungkin kuat, menjulur ke seluruh tubuh ku, membuatku gak bisa bergerak untuk sementara waktu, Kemudian getaran itu menghilang dan Aku mengerahkan tenaga ku kedalam daerah perutku, menarik pedang dari sarung pedang hitam itu.

*Jiiinnn—!!* Suara pedang yang lebih berat dari Blue Rose Sword menggema keseluruh ruangan. Pedang ini berat, tapi gak ada rasa kalau ini adalah besi yang keras. Tentu saja, ini berbeda dengan pedang kayu. Ini adalah suara yang menunjukkan tingkat kekerasan yang tak terdefinisikan, dan juga menunjukkan kekokohan yang jauh lebih besar. Aku membalikkan pergelangan tangan ku dan mengarahkan pedang itu ke langit, *riiiin*, dan bilah pedang nya mengeluarkan sedikit seruan.

“Mu...”

Pengrajin Satore bergumam,

“Wa...!”

Eugeo mengeluarkan sedikit suara.

Dan Aku menahan nafas ku, terpikat oleh pedang di tangan kanan ku.

Panjang bilah pedang nya bisa dikatakan sama persis dengan pedang lama kesayangan ku «Elucidator», tapi Aku lah yang memotong cabang ini dari Gigas Cedar, dan Aku lah yang mengira-ngira panjang nya, jadi hal itu sudah bisa diduga.

Bilah pedang nya juga ditutupi warna hitam pekat seperti gagang nya. Namun, ada sedikit rasa transparan ketika cahaya matahari menyinari nya melewati jendela dari sebuah sudut, mengeluarkan cahaya emas. Bentuk nya seperti pedang lurus satu-tangan yang biasa, tapi sedikit lebih lebar dibanding Blue Rose Sword.

Ujung pedang nya terlihat menakutkan, dan sepertinya kulit ku akan terpotong kalau Aku menyentuhnya bahkan di bagian terlembut nya dengan tangan ku.

"...Bisakah kau mengayun nya?" Ucap Satore dengan suara yang berat.

Aku gak menjawab, tapi melihat kesekeliling untuk melihat gak ada pelanggan lain. Murid yang masih muda gak terlihat akan pergi meninggalkan toko.

Aku menggerakkan tubuh ku dan berpose paralel dengan counter yang panjang. Ada ruang lebih dari 5m panjang nya kedepan, dan itu akan cukup untuk mengetes pedang ini. Aku menggenggam sarung pedang dengan tangan kiri ku, melebarkan kaki-ku dan condong ke bawah. Aku membuat postur untuk tebasan vertikal satu-tangan berhubung Aku gak ada niat untuk menggunakan sword skill.

Tepat didepan ku ada perisai bundar yang terbuat dari besi. Aku menggunakan benda itu yang kira-kira berjarak 5m dari ku sebagai target imajiner dan mengayunkan pedang ku.

Selama setahun ini, Aku selalu berlatih hanya dengan pedang kayu dengan tangan kanan, dan pedang hitam ini terasa sangat berat. Namun, itu bukanlah hal yang buruk. Pedang ini seperti memotivasi ku atau memohon padaku untuk menggunakan nya dengan baik, perasaan berat yang nyaman.

Selagi pedang ini mengarah ke atas, Aku mengambil langkah kedepan. Menggunakan momentum yang dihasilkan dari pergeseran bukannya dari kekuatan pergelangan tangan ku dan mengumpulkan imajinasi ku. Dengan seluruh energi yang terkumpul di ujung pedang— Aku mengambil langkah tajam kedepan dan melepaskan momentum ku.

“Sh...!”

Cahaya hitam melesat di garis lurus. Setelah setelah sesaat, *swoosh*, suara robekan bisa terdengar di udara. Ujung pedang berhenti tepat sebelum menyentuh lantai, tapi kekuatan ayunan nya melesat keluar dan membuat lantai nya bergetar.

Aku pelan-pelan bangun. Eugeo mulai bertepuk tangan, dan Satore berkata dengan kasar.

"Oh... jadi, murid dari Akademi bisa mengayun benda itu, huh?"

"Ini adalah pedang yang bagus."

Aku merasa kalau gak perlu mengatakan hal yang lain sembari menjawab. Mendegar hal ini, si pengrajin akhirnya menunjukkan senyum dan menggaruk jenggot nya sambil berkata,

"Benar-benar kata-kata yang berlebihan. Benda itu menghabiskan 6 batu asah Corengan... Tapi, janji adalah janji. Aku gak akan meminta bayaran. Tapi setelah kau menjadi terkenal, cukup sebarkan kata-kata kalau pedangmu itu dibuat oleh pengrajin Satore. Benda itu menjadi milikmu sekarang."

"...Saya benar-benar bersyukur."

Aku menundukkan kepalaku, dan Eugeo melakukan hal yang sama. Mengangkat kepalaku dan menyarungkan pedang ini.

Satore menatap pedang hitam ini selama dua detik, dan kemudian tertawa kecil.

"Kau bisa menentukan nama pedang itu. Pedang itu akan menjadi tanda toko ku. Jangan berikan nama yang aneh-aneh."

“Uu...”

Aku sedikit terdiam mendengar kata-kata ini. Kemungkinan besar, itu karena semua equipment ku sebelumnya sudah mempunyai nama, jadi Aku gak terlalu handal memberi nama.

"...Sa-Saya akan memikirkan nya dengan hati-hati. Terus, kalau Life pedang ini turun, Saya akan datang kesini untuk meminta memperbaiki nya..."

"Um. Pertama-tama aku akan mengatakan ini. Jangan harap untuk mendapatkan nya gratis selanjutnya."

"Te-Tentu saja."

Kami bertukar kata-kata, dan Aku menunduk lagi untuk terakhir kalinya sebelum melangkah kearah pintu keluar dengan Eugeo.

Pada saat ini, *GLANK!* Suara keras logam bisa terdengar dari belakang, membuat ku sedikit melompat karena kaget. Aku membalikkan kepalaku dan melihat mata Satore yang melebar melihat kearah tembok barat.

Aku mengikuti pandangan nya, dan yang Aku lihat adalah perisai yang untuk dijual terbelah dua dan bagian kanan nya jatuh ke lantai.


1. Dengan sengaja menghancurkan barang jualan di toko itu melanggar Taboo Index.

2. Tak membayar barang yang hancur secara tak sengaja itu melanggar Taboo Index

3. Kalau si pemilik toko memaafkan orang yang bersangkutan di 2, hal itu gak akan melanggar Taboo Index.

Aku mengingat hal ini saat Aku ingin buru-buru kembali ke Akademi. Disebelah ku, Eugeo membisikkan tentang apa yang terjadi sekarang ini dengan ekspresi pucat.

"...Itu hanya mengetes pedang. Gak perlu ngeluarin teknik rahasia! Siapapun bisa menduga kalau suatu barang akan hancur saat kau menggunakan gerakan seperti itu tadi!"

"I-Iya— ...tapi Aku gak pernah berniat untuk menggunakan sword... enggak, teknik rahasia atau semacam nya..."

"Jangan boong. Aku melihatnya, Kirito. Saat kau mengayun pedang itu kebawah, pedang itu mengeluarkan sedikit cahaya. Apakah itu teknik rahasia selain teknik Aincrad-style yang hanya diketahui oleh ku?"

"I-Iya... tapi kesan ku kayaknya Aincrad-style gak punya gerakan seperti itu..."

Kami melanjutkan pembicaraan kami, dan tiba-tiba, aroma harum secara tak sadar masuk kedalam hidungku, menyerang kepalaku.

Jalanan di Centoria Utara terbagi dalam beberapa area. Area paling utara, area 1 (yang paling dekat dengan Gereja Axiom) adalah kota imperial, area 2 adalah Area Pemerintah Kerajaan, 3 dan 4 adalah jalanan untuk rumah bangsawan. Bangsawan kelas atas yang membangun mansion di area 3 sangat mewah yang bahkan mansion milik Asuna gak ada bandingan nya, yang lebih mengagetkan lagi adalah bangsawan kelas 1 sampai kelas 3 mempunyai tanah luas yang mereka sebut «Tanah Pribadi» diluar jalanan Centoria.

Tanah pribadi itu mempunyai desa kecil didalam nya, dan penduduk disana diperlakukan seperti pelayan bangsawan. Terkadang, anak yang tumbuh di suasana seperti itu akan menjadi tuan muda yang tak beradab seperti Raios dan Wanbell.

Dan kemudian, di area 5, ada fasilitas dengan nama «Imperial», seperti markas ksatria dan arena. Tentu saja, Imperial Master Sword Academy terletak disana juga.

Area 6 dan 7 adalah distrik bisnis, dan di area utara 8, 9, 10, adalah jalanan dimana penduduk Centoria tinggal.

Berdasarkan apa yang kupelajari saat pelajaran geografi, struktur nya sama persis dengan ibu kota Kerajaan yang lain, Centoria Timur, Barat, dan Selatan. Bagaimanapun Aku memikirkan nya, hal ini pasti bukanlah kebetulan, tapi merupakan hal yang mustahil untuk membayangkan 4 raja berkumpul bersama dan ngobrol dengan ramah. Kupikir ini adalah hal yang dirancang oleh atasan dari Geraja.

Lalu—

Kalau Aku ingin kembali dari toko besi Satore di area 7 ke Master Sword Academy di area 5, Aku harus melewati area 6, dan area 6 adalah distrik bisnis dipenuhi dengan toko makanan dan restoran, tempat yang penuh godaan. Aku harus bilang kalau seluruh koin perunggu dan perak yang ada di dompetku semuanya kugunakan disini kapanpun Aku pergi selama tahun ini.

Yang paling membahayakan adalah saat jam 2pm pada hari istirahat siang ini. Ada restoran di Jalan Timur 3 bernama «Jumping Deer Inn», dan saat mereka memanggang pai madu ciri khas mereka, aroma harum nya akan menyebar kesepanjang jalanan, menggoyahkan dan mengetes niat ku untuk berhemat. Aku gak pernah bisa melewati tes ini dengan sukses sebelum nya.

"...Hey, Eugeo. Untunglah kita gak disuruh mengganti rugi perisai yang rusak itu."

Aku melambat saat Aku mengatakan nya, dan partner ku mengangguk dan menjawab,

"...Iya. Aku baru tau setelah kita masuk Akademi kalau Satore-san adalah orang terkenal yang mempunyai bukti sebagai pengrajin kelas-satu. Kalau kita membayar perisai itu, mungkin total uang kita masih gak akan cukup untuk membayar nya."

"Heh... —Kalau begitu, ini memang agak telat... tapi apa yang akan terjadi kalau gak cukup? Apakah kita akan ditangkap ditempat?"

"Mereka gak akan melakukan sejauh itu. Pada saat itu, dia akan mencatat nya, dan kamu harus datang membayarnya dengan bunga tiap bulan."

"O-Oh begitu..."

Gak seperti Aincrad, yang menggunakan sistem «Cardinal» untuk mengontrol sistem pertukaran col[12], dunia ini sepertinya kurang lebih mempunyai aktifitas ekonomi nya dengan penduduk. Kemudian, sebagai murid yang miskin, haruskah Aku bekerja keras untuk mendapatkan kemakmuran ini?

Aku menyimpan motif bangsawan ini dan meminta sesuatu ke Eugeo,

"...Berhubung kita udah menyelesaikan masalah uang, bagaimana kalau 3?"

Partnerku menghela nafas dengan perasaan Aku tau ini akan terjadi,

"Paling banyak dua."

Ia menjawab. Aku nyengir dan mengangguk, dan merubah posisi kaki ku ke sisi kiri atas sebelum berlari ke onee-san penjaga toko yang menyajikan pai madu yang baru dipanggang itu di corner take-out.

Tanpa sadar, tubuhku sudah benar-benar terbiasa dengan pedang hitam ini, yang ada di punggung ku dengan tali pengikat, dan sepertinya gak merasakan berat itu lagi. Aku merasa seperti pedang itu sudah berada disana selama beberapa tahun.

Bagian 4[edit]

Harmoni dari madu dan gula yang cair menari-nari, menghasilkan sebuah simfoni. Saat kami sampai di Akademi, Aku berpisah dengan Eugeo, yang ingin pergi ke kamar Gorgolosso-senpai, dan pergi ke Kantor di asrama pemula. Hal ini kulakukan untuk mendapat izin dari manajer asrama, Nyonya Azurika untuk menyimpan pedang ini sebagai barang pribadi ku.

Di dunia nyata, kalau Aku membawa barang tajam yang panjang nya lebih dari 1m, Aku pasti akan di marahi oleh guru, atau bahkan memanggil polisi untuk menangkap ku. Namun, Akademi ini, di dunia lain ini, adalah organisasi yang penuh dengan pendekar pedang. Asalkan Aku hanya punya satu pedang asli, Aku akan diperbolehkan untuk membawa nya.

Alasan kenapa Aku hanya boleh membawa satu, itu karena di dunia ini, semua senjata, termasuk pedang, akan menyerap Sacred Power sedikit demi sedikit— menyerap sumber daya. Lebih spesifik nya, senjata yang Life nya berkurang sedikit dalam pertarungan akan memulihkan Life nya pelan-pelan jika disarungkan dengan benar... Jadi pedang pada dasar nya menyerap Sacred Power di sekeliling. Tentu saja, kalau pedang nya menjadi tumpul dan gak bisa pulih dengan sendirinya, Aku harus mencari pengasah, dan tukang besi kalau hancur atau semacam nya.

Kalau gak ada pembatasan dari memperbolehkan murid untuk membawa pedang mereka sendiri, murid yang seorang maniak senjata mungkin akan membawa seratusa pedang, dan setelah itu, kamar nya akan menyerap jumlah Sacred Power yang abnormal. Sepertinya ini lah alasan kenapa satu orang hanya boleh memasukkan satu pedang kedalam.

Karena sekarang hari istirahat, Nyonya Azurika gak ada di counter resepsi, tapi duduk di ruangan kantor dengan pintu yang terbuka, sedang menyorting dokumen. Setelah mendengar ketukan ku, ia mengangkat kepala nya dan mengedipkan mata biru ke abu-abuan nya.

"Ada apa, Murid Pemula Kirito?"

"Permisi... Saya kesini hari ini untuk meminta izin untuk memiliki pedang sebagai barang pribadi."

Aku menunduk, berjalan masuk dari pintu, dan melihat-lihat dengan singkat. Banyak folder kulit yang tertutup di rak buku disamping tembok, tapi hanya ada sebuah meja dan kursi. Dengan kata lain, wanita ini sendirian mengurus kinerja asrama yang diisi 120 murid ini.

Setelah mendengar kata-kata ku, Nyonya Azurika memiringkan kepala nya sedikit, tapi segera bangun, dan mengambil folder dari dokumen yang ada di rak buku tanpa ragu. Ia kemudian mengambil salah satu dari dokumen dan menaruh nya tepat didepan ku.

"Tulis keterangan yang perlu disitu."

"Ya, mengerti."

Aku untuk sementara menurunkan kepalaku dan melihat-lihat. Di formulir ini, ada hal-hal yang simpel seperti nama, nomor murid dan prioritas pedang. Selagi Aku memikirkan tentang bahwa Aku gak perlu tanda tangan wali saat ini, Aku mengisi nama dengan katakana 'Kirito', nomor murid '7' —dan tiba-tiba, Aku berhenti menggerakkan pulpen. Aku mengingat-ingat, dan meskipun Aku mencoba mengayunkan pedang ini sebelumnya, Aku gak pernah membuka «window» untuk mengecek.

Dengan Nyonya Azurika menatapku, Aku buru-buru melepas karung goni di punggung ku dan melepas tali kulit yang terikat. Aku membuka sedikit sisi, berniat untuk membuka window dengan menunjukkan gagang nya, dan pada saat itu,

“...!”

Aku mengangkat kepalaku saat mendengar engahan tajam itu. Yang terlihat dimata ku adalah Nyonya Azurika yang melebarkan matanya yang jarang kulihat karena biasanya ia selalu menunjukkan ekspresi yang tenang.

"A-Ada apa?"

Nyonya Azurika berkedip beberapa kali setelah mendengar suara ku, dan kemudian menggelengkan kepalanya, "Enggak, gak ada apa-apa." . Sepertinya gak ada hal lain yang ingin ia sampaikan tentang hal ini, jadi Aku memalingkan pandangan ku kembali ke pedang, dan menggunakan dua jari tangan kanan ku untuk memasuki layar command. Aku menyentuh gagang pedang itu dengan pelan, dan window properti nya muncul dengan efek suara yang berbunyi.

Prioritas yang terlihat adalah—«Level 46».

Prioritas nya lebih tinggi 1 level daripada Divine Tool Blue Rose Sword. Pantas saja pedang ini sangat berat. Setelah Aku mengisi angka di kolom ketiga, Aku mengembalikan pedang ini ke kondisi sebelum nya, dan menyerahkan formulir yang sudah kuisi.

...Apakah ada masalah. Jangan bilang kalau ada batasan di prioritas? Pikirku dengan tak sabar.

"Murid Pemula Kirito."

"Y-Ya."

"Kau punya... memori tentang pedang itu..."

Ia berbicara sampai sini, tapi tiba-tiba berhenti. Nyonya Azurika menutup mata nya, dan saat ia menaikkan alis nya kembali, mata nya kembali ke mata galak supervisor asrama yang biasa nya.

"...Gak, lupakan. Aku telah menerima aplikasimu. Kupikir gak perlu bagiku untuk menegaskan hal ini, tapi ingat, pedang sungguhan hanya boleh digunakan untuk latihan sendiri. Gak bisa digunakan di ujian dan latihan berkelompok, mengerti?"

"Mengerti!"

Aku dengan semangat menjawab nya dan menaruh pedang hitam yang disarungkan itu dipunggung ku, dan bertanya-tanya apakah Aku harus menanyakan tentang hal yang tadi ingin dikatakan Nyonya Azurika. Tapi sepertinya, Aku gak akan mendapatkan jawaban darinya. Demikian, Aku hanya melakukan salam ksatria dan meninggalkan kantor.

Aku berjalan melewati koridor depan, dan berfikir dengan bingung,

Memori... pedang?

Benar-benar kata-kata yang gak bisa dijelaskan. Memang benar kalau di dunia ini, semua barang, termasuk pedang disimpan dengan bantuan Mnemonic Visual. Tapi itu adalah teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan «RATH» di dunia nyata, jadi penduduk UnderWorld seharusnya gak akan bisa menyadari hal ini.

Dengan kata lain, 'ingatan pedang' yang Nyonya Azurika sebutkan tadi mengartikan hal yang lain. Pedang hitam ini mempunyai suatu bentuk memori. Tapi memori seperti apa itu? Apa yang ia lihat di pedang hitam ini...?

Aku mencari-cari jawaban dari keraguan ini selagi Aku berjalan keluar asrama, dan mendengar melodi bel jam 3pm yang berbunyi dari menara bel yang memanjang dari atap. Suara nya lebih dalam dari bel yang kudengar di Gereja Rulid, tapi melodi nya sendiri sama persis.

Waktu yang dijanjikan Rina-senpai adalah jam 5pm.

Aku gak bisa merasakan sedikitpun perasaan aneh saat Aku mengetes nya di toko Satore... Aku bisa bilang terasa agak lega, seolah-olah pedang tercintaku bangkit lagi dari waktu Aku ada di SAO. Namun, akan lebih baik bagiku untuk mengetes apakah Aku bisa menggunakan nya dengan teknik rahasia Aincrad, atau sword skill.

Hari istirahat ini berlangsung tiap minggu, dan hampir semua murid yang lahir di Centoria pulang kerumah, beberapa murid yang lahir di tempat lain biasanya pergi keluar untuk berjalan-jalan, dan lapangan Akademi yang luas ini terasa kosong. Dan juga, ada hutan dan sungai di lapangan kampus, jadi ada beberapa tempat untukku untuk melatih gerakan ku— meskipun Aku bilang begitu, Aku masih ingin menghapuskan kemungkinan orang lain melihat ku. Itu karena Aku ingin berlatih «Skill Serangan Beruntun» yang gak dimiliki style yang ada di dunia ini.

Kenapa ada sword skill di UnderWorld?

Kenapa gak ada skill serangan beruntun?

Aku telah berada di dunia ini selama hampir dua tahun, tapi bahkan samapi sekarang, Aku masih belum menemukan jawaban nya. Satu-satunya hal yang bisa kubayangkan adalah saat teknisi RATH yang mengkonstruksi UnderWorld, dia mungkin menggunakan paket «The Seed» dengan suatu cara... Tapi meskipun itu adalah faktanya, hal itu masih belum menjelaskan seluruhnya.

Untuk kenapa, itu karena «The Seed» yang beredar dengan bebas— versi simpel dari sistem «Cardinal» gak punya sword skill didalam nya. Saat ini, ditahun 2026, diantara sekian banyak VRMMO, hanya ALO, duplikat copy dari server lama SAO, mempunyai sword skill. Sangat gak mungkin kalau perusahaan «Ymir», operator ALO, membantu RATH disini.

Setelah itu, Aku hanya bisa memikirkan berbagai tebakan yang sama sekali gak berdasar. Kalau Aku ingin mengetahui kebenaran, Aku harus bertemu dengan pemimpin di puncak Centoria Cathedral, dan gak ada jalan lain.

Lalu— teknik rahasia dari para pendekar pedang di UnderWorld ini semuanya adalah skill satu-tebasan; seperti «Vertical» dan «Avalanche».

Untuk alasan dibalik masalah ini, Aku sudah mempunyai sebuah bentuk deduksi. Sepertinya hal ini adalah alasan kenapa UnderWorld gak punya pertarungan yang sebenarnya. Dengan hukum absolut dari Taboo Index, dengan prajurit tak terkalahkan dari Integrity Knight melindungi UnderWorld, seluruh pertarungan pastinya akan menjadi sebuah «pertandingan». Yang menunjukkan kemenangan yang indah dan elegan. Apakah ini hal yang para pendekar di dunia ini cari selama ratusan tahun? Untuk melakukan pose yang perkasa dari kejauhan sebelum menggunakan skill satu-serangan untuk menang?

Dan juga, alasan yang lain mungkin untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Pertandingan di turnamen lokal berlangsung sampai satu pihak terpojok, dan bahkan di tingkat Central dan turnamen level tinggi, kemenangan hanya ditentukan dengan sistem first-strike.

Di situasi seperti ini, kekuatan lengan dan fisik akan mendapatkan keunggulan, berhubung mereka akan mendapatkan kepercayaan diri yang absolut pada kekuatan dari satu serangan mereka... Jadi sudah bisa ditebak kalau orang-orang seperti kepala pendekar elit, Uolo Levanteinn yang merupakan pengguna mighty sword bisa menjadi kuat.

Ini juga adalah alasan yang sama kenapa Solterina-senpai terus terusan kalah oleh Uolo-senpai selama dua tahun ini.

Meskipun Aku menunjukkan skill serangan beruntun kepada Rina-senpai, mustahil baginya untuk mempelajarinya. Bahkan Eugeo, yang gak punya pengalaman apa-apa dengan style yang ada, butuh beberapa bulan untuk belajar skill dua-serangan-beruntun «Vertical Arc».

Namun, kalau Aku bisa menunjukkan kalau sword skill itu bukan hanya tentang tebasan hebat dari atas, kalau aku bisa menggoyahkan kebimbangan di hati senpai tentang bagaimana Aincrad-style dan Celulute-style itu berbeda dengan Norlangarth-style tingkat tinggi, ia seharusnya bisa mempunyai peluang untuk menang di duel kelulusan.

Aku terus memikirkan tentang hal ini selagi berjalan ke timur, dan tanpa sadar, Aku telah sampai di sisi timur dari kampus.

Kampus sekolah yang dikelilingi oleh tembok berbentuk kipas mempunyai kampus pusat, arena latihan yang besar, perpustakaan, asrama murid dan instruktur, asrama pendekar elit dan banyak bangunan lain nya, dan masih banyak ruang yang kosong. Tembok di sisi utara dan selatan mempunyai gerbang besar, ada bukit yang agak tinggi di sisi barat, dan hutan yang agak besar di sisi timur. Dimanapun itu, Aku gak melihat satupun murid disekeliling.

Meskipun begitu, Aku memilih hutan dengan banyak nya halangan untuk jaga-jaga. Aku menemukan ruang kosong di hutan dan berhenti. Rumput yang tipis dan pendek tumbuh berapatan seperti rumput di lapangan football, jadi seharusnya gak ada tempat yang bisa membuatku tersandung. Aku melihat kesekeliling, mengecek dan hanya ada 2-3 kupu-kupu disekitarku, dan menjulurkan tangan ku kebelakang punggung.

Aku mencari, melepaskan kain karung, dan memegang gagang pedang yang tampak. Setelah merasakan pegangan yang terasa seperti menempel ke tangan ku, Aku segera menarik pedangku keluar.

Longsword hitam pekat yang disinari oleh cahaya matahari melewati ranting dan dedaunan aslinya terbuat dari cabang Gigas Cedar, jadi secara teknis, pedang ini adalah «Pedang Kayu». Tapi bilah pedang nya memantulkan sinar yang gak bisa dibayangkan siapapun. Pengrajin terkenal Satore menghabiskan waktu setahun untuk membuat pedang ini, pada pandangan pertama, orang bisa merasakan jumlah prioritas yang menakutkan... Tapi Aku gak bisa melihat apapun yang seperti «memori» dari benda yang gak bisa berbicara ini.

Aku mengesampingkan keraguan ku dan memperagakan postur dasar. Kali ini, pikiranku berimajinasi dengan kuat, gak seperti saat Aku mengetes pedang ini di toko. Aku mengimajinasikan sword skill satu-serangan diagonal yang telah kugunakan berkali-kali sampai tak terhitung— «Slant».

Setelah mengumpulkan dengan sekejap, bilah pedang ku mengeluarkan cahaya terang berwarna air. Aku menggunakan belakang kaki ku dan tangan kanan untuk mengakselerasi sword skill dan tubuhku bergerak seperti didorong tangan yang tak terlihat.

*Shoobash!* Suara tajam dapat terdengar, dan lintasan dari tebasan keluar di udara. Garis yang miring itu menghilang seperti api matahari selagi angin dari tebasan melintas lurus, meniup rerumputan di tanah.

Aku menahan tubuhku di posisi menebas kebawah dan menatap kearah ranting pohon yang berada 5m didepan ku. Namun, gak ada tanda-tanda ranting pohon itu hancur bahkan setelah efek dari skill itu menghilang.

Hal ini sudah bisa ditebak. Jarak skill dasar «Slant» hanya 2.5m. Kekuatan nya gak bisa meraih jarak yang dua kali lebih jauh.

Tapi, meskipun kalau begitu... perisai bundar yang jaraknya sama-sama 5m di toko pengrajin seharusnya gak terbelah. Mustahil kalau pada saat itu, Life perisai itu secara kebetulan sudah hampir habis, dan Aku benar-benar gak mengeluarkan sword skill apapun. Eugeo mengatakan kalau 'pedang nya bersinar'... Tapi Aku sama sekali gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku benar-benar gak tau apa-apa. Aku masih belum tau banyak hal tentang dunia ini.

Aku menghela nafas dan berdiri tegak. Aku mengatur nafasku dan masuk ke posisi untuk skill selanjut nya.

Aku menebas kebawah dari atas kanan, dan tepat saat pedang hampir menyentuh tanah, Aku menarik ujung pedang keatas kembali seolah-olah terpantul keatas dan mengayunnya keatas lagi. Skill dua-serangan-beruntun «Vertical Arc». Angin dari tebasan nya lebih ganas dari sebelum nya terbang dan menggoyangkan tanah berumput dengan kasar.

Sampai sekarang, Aku telah melatih sword skill yang bisa kugunakan dengan pedang kayu. Aku mengubah postur kaki ku, menaruh pedang di pinggang ku, dan memutar tubuhku ke kanan.

“...!'”

Aku mengumpulkan tenaga dan mengeluarkan tebasan horizontal ke kiri. Tebasan nya terlihat seperti menabrak suatu benda yang tak terlihat didepanku selagi gerakan horizontal tiba-tiba berhenti dan berbelok ke kanan atas. Aku melangkah kedepan dan mengeluarkan tebasan jarak-pendek yang kuat kearah depan. Ini adalah skill tiga-serangan-beruntun «Savage Fulcrum».

Aku tanpa suara menatap jejak berwarna merah tua yang berbentuk seperti angka 4 Arab[13] menghilang di udara. Aku mengangguk dan lanjut untuk menyiapkan sword skill berikut nya. Aku mengangkat pedang ku tepat keatas ku dan melakukan ayunan dari belakang kepala.

Aku melakukan tebasan level-tinggi, tebasan level-rendah, dan tebasan kedepan yang dihubungkan, dan kemudian mengangkat pedang kebelakang punggung ku sebelum melepaskan tebasan yang ganas. Cahaya biru yang melesat di udara terus berputar sambil maju kedepan. Jarak nya sangat jauh, dan hanya ada sedikit celah. Ini adalah sword skill yang kusukai di SAO, «Vertical Square».

Aku berhasil melakukan 4 jenis sword skill dengan sukses tanpa pengecualian.

Kalau begitu, ini berarti pedang hitam ini mempunyai level prioritas yang sama dengan Divine Tool «Blue Rose Sword» milik Eugeo. Namun, Aku sudah menebaknya saat Aku membuka «window» di kantor asrama dan melihat angka level 46.

Sepertinya Aku bisa menepati janji ku untuk menunjukkan sword skill tingkat tinggi ku kepada Rina-senpai. Sebelum Aku menghela nafas lega, ada feeling lain yang bergemuruh di pikiran ku.

Kapanpun Aku menggunakan Blue Rose Sword, Aku hanya bisa menggunakan sword skill sampai empat-serangan-beruntun. Tak peduli berapa kali kucoba, Aku gak bisa mengeluarkan skill 5-serangan-beruntun atau lebih. Kalau begitu, bagaimana dengan pedang hitam ini? Berhubung Aku harus melakukan nya cepat atau lambat, dan berhubung gak ada orang disekitar, bukannya sekarang kesempatan yang bagus?

Aku memegang pedang ku dengan erat, mengambil langkah besar kedepan dengan kaki kanan, dan mengumpulkan imajinasi yang terisi dengan kekuatan kearah pedang yang ada di bahu kiri ku, siap diluncurkan.

Tanpa sadar, Aku merasakan sedikit rasa nyeri dari poni ku, seperti memberi peringatan padaku, tapi Aku menghilangkan pikiran yang tak perlu itu dan fokus untuk membuat sword skill ku.

*Chka*, *chka*, Aku melihat bilah pedang ku mengeluarkan kilatan oranye.

Itu adalah cahaya samar-samar yang berbeda dengan efek cahaya yang kulihat selama ini. Aku berusaha semampu ku untuk membayangkan sword skill dan mempertahankan sikap siap, tapi kilatan itu terus terbang dan gak ada tanda-tanda akan tenang.

Aku terus bersikeras sampai postur yang udah gak stabil ini gak bisa menahan nya lebih lama, dan segera memulai gerakan ku.

“Uooh...!”

Aku tanpa sadar mengeluarkan geraman yang dalam, dan kaki kanan yang melangkah menggetarkan tanah. Pedang yang mengayun dari sisi atas kiri ke kanan bawah mengeluarkan tebasan tajam dengan sudut yang tajam dengan bantuan sistem— seharusnya begitu. Namun, pedang nya gak berhenti dan menabrak landasan.

Recoil yang sangat kuat terasa di tangan kanan ku. Kalau Aku memaksa untuk menarik pedang ku kembali, Aku pasti akan terluka saat ini, ini adalah keputusan yang dengan sekejap kubuat. Aku menggertakkan gigi ku dan menarik pedang yang menancap di tanah sedalam 20cm, kelihatan nya menancap saat Aku terjatuh kebelakang.

*ZPANG!* Suara dampak yang tumpul berbunyi dibelakang ku. Aku berbalik kebelakang dan punggung ku mendarat di tanah penuh rumput.

—Jadi Aku gagal? Apa yang kurang? Level ku? Prioritas pedang? Ataukah keduanya...?

Yang terlihat oleh mata dari tubuhku yang berbaring di tanah—

Banyak tanah dan rumput yang terbang oleh tebasan itu.

Dan sosok pria yang berdiri di pojokan sunyi dari ruang kosong ini di sisi lain.

Yang menutupi tubuh tinggi dan kurus itu adalah seragam sekolah, tapi warnanya bukan berdasarkan warna abu-abu. Terlihat garis biru kobalt terang di seragam yang sepertinya berwarna dasar putih mutiara. Itu adalah hak istimewa bagi pendekar elit untuk bisa memodifikasi warna seragam mereka semau nya.

Rina-senpai berwarna ungu. Gorgolosso-senpai berwarna hijau tua. Dan untuk putih mutiara dengan biru... itu seharusnya warna milik kepala pendekar Uolo Levanteinn—

Rambut pirang terang nya dibuat pendek, dan tak salah lagi, orang yang menatap ku dengan mata biru tanpa emosi itu adalah pria terkuat di Akademi ini.

Sembari berbaring di tanah, Aku menatap ke noda tanah hitam di bagian seragam putih itu, yang diterbangkan pedang ku.


Jujur saja, bukan nya aku gak pernah punya pikiran untuk melarikan diri.

Kalau ini Aincrad, dan lawan nya adalah atasan dari Guild Divine Dragon Alliance, Aku mungkin sudah kabur tanpa ragu. Tapi di dunia ini, kabur adalah pilihan terburuk kalau Aku membuat suatu masalah. Akan ada hukuman atas kejahatan ku, dan pada akhirnya, akan «melanggar Taboo Index» yang menakutkan.

Demikian, Aku hanya bisa terdiam selama beberapa saat, dan segera berlutut sambil menaruh pedang ku di tangan kananku ke tanah —untuk menunjukkan respek paling tinggi— menundukkan kepala ku dan berseru,

"SAYA BENAR-BENAR MINTA MAAF, TUAN PENDEKAR ELIT LEVANTEINN!! MOHON MAAFKAN SIKAP TAK TERHORMAT INI!"

Satu-satu nya saat lain Aku meminta pengampunan dengan mati-matian sepertinya saat di lantai 61 Aincrad saat Asuna menghajarku di ruangan nya. Aku terus memikirkan tentang hal yang tak berguna itu selagi berlutut.

"Kalau tidak salah, seperti nya kau adalah valet dari pendekar elit Celulute."

Aku mendengar suara yang dalam.

Aku untuk sementara mengangkat kepala ku, dan melihat mata biru baja nya segera sebelum menganggukkan kepala.

"Ya, Saya Murid Pemula Kirito."

"Begitukah."

Pendekar elit itu menatap pedang hitam di tanah berumput, dan kemudian melanjutkan dengan suara pria bernada tinggi,

"Menurut aturan Akademi 'mengotori baju senior' akan mendapatkan hukuman karena merupakan perbuatan kurang ajar..."

Mendengar hal ini, Aku gak bisa menahan untuk mengerang dalam hati.

«Hak menghukum» ini adalah hak yang dimiliki pendekar elit. Mereka boleh menghukum murid yang melanggar peraturan ringan akademi dengan cara gak sengaja tergantung kebijaksanaan nya. Aku telah berkali-kali diberikan latihan mengayun karena Aku telat datang ke kamar Rina-senpai.

Lalu, apa yang akan mereka lakukan kepada orang yang melanggar keras peraturan akademi— Di dunia ini, hal seperti itu gak akan terjadi. Tentu saja, melanggar keras peraturan secara natural bukanlah sesuatu yang bisa terjadi karena gak sengaja, dan Fluctlight buatan itu sendiri gak bisa melanggar peraturan ini dengan sendiri nya. Satu-satu nya orang yang bisa disini hanyalah Aku, sebuah Fluctlight natural, tapi untunglah, Aku gak melakukan apapun yang menarik perhatian dan berhasil bertahan selama setahun dengan aman. —Namun.

Untuk mengotori seragam Uolo-senpai dengan kotoran tanah... hal itu bisa jadi kejahatan yang parah disini...

"—Namun, Aku gak membencimu karena sembunyi-sembunyi dari yang lain dan berlatih pada hari istirahat, meskipun kau gak peduli kalau «berlatih pada hari istirahat» itu sendiri melanggar peraturan."

Gehhh—Lagi-lagi Aku mengeluarkan tangisan dalam hati.

Saat ini— mungkin itu masalah nya. Namun, kalau Aku setuju tentang hal ini sekarang, mungkin akan berakhir dengan menambah kemungkinan hukuman yang akan diberikan. Tapi aku gak tau apakah hal ini percuma atau tidak, tapi Aku harus berjuang.

"I-Ini bukan seperti yang anda pikirkan, Tuan Uolo. Ini bukan latihan... EH, erm, yah, Saya hanya mengetes pedang baru ku. Perbaikan dari pedang ini yang kuminta pada sebuah toko di area 7 sudah selesai, dan Saya gak bisa nunggu sampai besok..."

Pada saat ini, Aku akhirnya menyadari suatu hal penting.

Pria berambut pirang pendek ini... Kapan ia pertama kali melihatku? Bukan, sebelum itu, kenapa dia ada disini?

Aku sengaja datang jauh-jauh ke hutan ini untuk berlatih «skills serangan beruntun» yang tak dimiliki sword skill di UnderWorld. Alasan Aku melakukan hal ini adalah untuk menunjukkan nya kepada Rina-senpai. Namun, pria ini melihat nya sebelum Aku sempat menunjukkan nya kepada senpai. Bukannya ini benar-benar kebalikan dari apa yang ingin kulakukan?

—Kelihatan nya pria terkuat di Akademi ini menyadari pikiran ku dan memberikan senyum masam.

"...Kau bilang kau ada disini untuk mengetes pedang mu, tapi teriakan mu terlihat terlalu kuat. Omong-omong, Aku hanya melihatmu menggunakan pedang itu untuk menebas ke tanah dan terlempar kebelakang. Aku hanya akan menyikapi nya sebagai... gak bisa berdiri dengan tegak saat menggunakan pedang yang belum terbiasa kau gunakan, itu saja. Aku akan menganggap kalau kau gak melanggar peraturan berlatih di hari istirahat, berhubung Aku datang kesini untuk alasan yang sama."

Selagi Aku merasa lega mendengar hal ini, Aku memiringkan kepalaku dengan bingung,

"Alasan... yang sama?"

"Anggap saja bukan hanya kau yang mencoba mengayunkan pedang pada hari istirahat untuk alasan ini."

Bibir nya menunjukkan senyuman penuh percaya diri lalu Uolo memalingkan pandangan nya ke tanah kosong tempat Aku berlatih.

"Tapi Aku menemukan tempat ini duluan. Dan setuju untuk meninggalkan tempat ini untuk valet ku setelah Aku lulus. Jadi kau harus mencari tempat lain."

—Oh begitu. Pantas saja. Pikir ku. Pria yang berdiri didepan ku telah menemukan alasan kalau ini bukanlah latihan, tapi hal yang lain, dan datang kesini untuk berlatih pada hari istirahat... Ruang kosong ini biasa digunakan untuk berlatih, dan Aku hanya kebetulan tiba ditempat ini pada waktu yang sama, itu saja. Alasan kenapa tanah berumput ini sangat rapi karena Life nya ter-reset setiap minggu saat Uolo menginjak nya.

Kalau begitu Aku akan mencari tempat dengan lebih banyak rumput. Aku membuat keputusan seperti itu didalam hati dan menundukkan kepalaku lagi.

"...Saya mengerti, Saya akan melakukan nya. Terima kasih atas kemurahan hati anda..."

"Terlalu cepat untuk mengucapkan terima kasih padaku, murid pemula Kirito."

"A-Apa?"

"Aku memang bilang kalau Aku gak akan mempermaslahkan tentang berlatih pada hari istirahat, tapi Aku gak pernah bilang kalau Aku akan memaafkan mu tentang hal ini."

Aku pelan-pelan mengangkat kepala ku, dan melihat sang pendekar elit itu menaikkan tangan kanan nya dengan ekspresi serius di wajah nya sambil menunjuk ke dada di seragam nya. Ia menunjuk kearah noda hitam di baju putih mutiara nya.

"Ta-Tapi, senpai, bukannya tadi senpai bilang 'gak membenci' saya karena hal itu..."

"Ahh, Aku bilang seperti itu. Karena itulah Aku gak akan memberikan mu hukuman seperti membersihkan seluruh asrama atau menulis 1000 baris kalimat sihir."

Phew. Aku merasa mendengar hal itu.

Pendekar terkuat berambut pendek itu menggunakan jarinya untuk membersihkan noda di seragam nya dan mengatakan sesuatu yang tak bisa dipercaya.

"Murid pemula Kirito, hukuman mu adalah sparing melawan ku satu kali. Bukan menggunakan pedang kayu, tapi menggunakan pedang yang kau gunakan itu. Aku akan menggunakan pedang ku juga."

Pada momen ini, Aku akhirnya menyadari kalau pedang yang ada di pinggang kiri dari pendekar elit itu mempunyai gagang berwarna emas murni dan sarung pedang berwarna biru tua. Siapapun bisa tau kalau itu adalah pedang sungguhan dengan prioritas yang sangat tinggi.

"...Spa-Sparing...? Di-Dimana?"

"Istilah sparing hanya berarti 'berlatih dengan format bertarung', gak ada yang lain. Namun, tempat ini mempunyai ruang yang terlalu sedikit. Arena latihan yang besar seharusnya kosong pada hari istirahat, jadi ayo pindah kesana."

Setelah mengatakan nya dengan sangat lancar, kepala pendekar itu hanya berbalik kebelakang.

Selama dua detik, Aku menatap kosong ke punggung putih yang terlihat melancar dibawah pepohonan. Setelah pikiranku akhirnya memahami situasi ini, Aku dengan serius memikirkan apakah Aku harus kabur, tapi «gak melakukan hukuman ku» akan menjadi pelanggaran serius kali ini. Aku gak bisa membiarkan diriku diusir dari Akademi ini kalau Aku ingin menadi pendekar elit saat ujian promosi pada akhir bulan ini seperti Uolo.

Aku mengangkat pedang hitam yang berbaring didepan ku dan menyarungkan nya dibelakang ku sebelum berdiri. Gak ada kemauan untuk menyerah, Aku menatap dua kali ke tembok batu dari Akademi yang terlihat melewat pepohonan, membuat keputusan dengan segan, dan mengejar pria berambut pirang pendek itu.

Ada segala macam gulma dan rumput menjuntai disekitar kaki dari tanah kosong satu langkah jauh nya, tapi Uolo gak pernah menunjukkan sedikitpun tanda terkejut.

...Bukannya sangat mudah bagi pria ini untuk menghindari atau memukul jatuh tumpukan kotoran itu?

Pada momen ini, Aku menyadari hal itu, tapi semuanya sudah terlambat.

Bagian 5[edit]

Aku berjalan keluar hutan, mengejar Uolo di jalanan batu, dan bel jam 4pm berbunyi.

Tanpa sadar, langit sudah diwarnai dengan warna langit malam, dan kampus mulai menunjukkan tanda-tanda para murid kembali dari jalanan. Mereka semua melebarkan mata mereka ketika mereka melihat sosok dengan seragam putih dan biru berjalan didepan ku.

Hal ini sudah diperkirakan. Sejak saat Uolo Levanteinn menjadi pendekar pedang elit, ia bisa dibilang gak pernah muncul selain di asrama. Ia adalah karakter yang jarang sekali muncul bahkan selain valet nya, murid lain hanya akan melihat nya pada saat tes yang diadakan 4 kali dalam setahun. Bahkan Aku, valet Rina-senpai, hanya melihatnya beberapa kali di koridor bahkan setelah keluar masuk asrama nya setiap hari. Kalau harus bilang, ini adalah pertama kalinya Aku benar-benar bertemu dengan nya.

Dan tepat dibelakang eksistensi legendaris ini adalah murid pemula yang adalah rakyat jelata... dan lokasi nya adalah arena besar untuk latihan, jadi pasti akan menarik perhatian. Namun, yang paling menakutkan pada saat ini adalah beberapa murid yang mengetahui hal ini segera berlari dari kampus ke asrama nya. Pada saat ini, seluruh akademi seperti 'Ada sesuatu yang menarik di arena latihan!', dan berita ini pasti sudah tersebar kemana-mana.

Jam malam pada hari istirahat adalah jam 7pm, yang masih agak lama, jadi lebih dari setengah murid-murid masih berada di luar pada saat ini. Tapi meskipun begitu, ada sekelompok besar murid-murid yang berdatangan kemari untuk mengamati, bukan, menonton hal ini. Dalam kasus ini, Aku hanya perlu buru-buru, menyelesaikan hal ini, dan sembunyi di kamar Rina-senpai sampai keributan berakhir.

"Eh, tunggu. Bagaimana cara nya menenangkan keributan ini..."

Seperti yang Uolo katakan, «sparring» di akademi ini pada dasarnya adalah duel yang tak tuntas yang lebih dari latihan. Peraturan nya adalah kami bertarung sampai satu sisi terpojok, tapi kalau kedua pihak setuju, peraturan «first strike wins» seperti di era SAO akan dilakukan. Dengan kata lain, saat satu sisi mendapat pukulan dari lawan, pertarungan akan berakhir.

Dalam situasi ini, yang kalah pasti akan menerima beberapa luka. Hal ini adalah salah satu pengecualian untuk peraturan «Dengan sengaja mengurangi Life orang lain» di Taboo Index yang terlarang. Duel 'first strike win' yang bahkan gak dibolehkan di penjaga Zakkaria diperbolehkan di Akademi ini, dan alasan untuk itu adalah medical office sudah mengumpulkan berbagai macam obat mahal dan para guru dapat mengeluarkan Sacred Arts level tinggi. Dengan kata lain, meskipun mendapatkan luka berat pada sparing, akan baik-baik saja kalau bisa dirawat.

Meskipun Aku bilang begitu, Uolo bilang ia akan menggunakan pedang sungguhan pada sparing ini, jadi peraturan nya harusnya kami bertarung sampai satu sisi terpojok. Kalau Aku ingin menang, Aku hanya perlu menghindar atau menangkis serangan dari atas kepala nya yang kuat itu, dan memastikan pedang ku berhenti sebelum Aku mengenai nya saat membalas.

"Tentu saja, Aku bisa bilang kalau hal itu sangat sulit. Enggak, sebelum itu, apakah Aku benar-benar harus menang?"

Uolo adalah tujuan terbesar Rina-senpai yang ingin ia kalahkan. Apakah boleh bagiku, seorang valet yang menjalani latihan dari senpai, untuk mengalahkan lawan nya? Apakah Rina-senpai benar-benar akan senang kalau Aku menang...

Selagi Aku mulai menundukkan kepalaku dan memikirkan hal ini, dua pasang langkah kaki yang terburu-buru tanpa sadar memasuki telinga ku.

Aku tiba-tiba tersadar, mengangkat kepala ku dan melihat ke arah kiri. Yang terlihat dimataku adalah pemandangan Pendekar Elit Solterina Celulute dengan rok panjang nya yang berkibar selagi ia berlari kesini dan partner ku Eugeo yang berlari dibelakang nya. Mereka berdua gak berlari melewati jalanan, tapi pergi langsung melewati bukit yang tertutup rerumputan.

Kesampingkan Eugeo, Aku gak pernah melihat Rina-senpai terengah-engah ketika berlari sampai saat ini. Uolo, yang berjalan didepanku, tiba-tiba berhenti dan menengok ke kiri.

Rina-senpai hanya memerlukan beberapa detik untuk sampai ke jalanan, memberikan ku ekspresi khawatir, dan menghadap Uolo. Ia merapikan rok ungu ke abu-abuan nya, menegakkan punggung nya, dan berkata,

"...Levanteinn-dono, apa maksudnya ini?"

Di Akademi ini, Rina-senpai adalah satu-satu nya murid yang gak menggunakan kata-kata formal kepada Uolo. Murid-murid disekeliling dari kejauhan menjadi ribut.

Pendekar top itu menatap tajam mata biru tua itu tanpa bergeming. Kepala berambut pirang pendek itu memiringkan kepalanya sedikit dan dengan tenang menjawab,

"Seperti yang kau lihat, Celulute-dono, valet mu ini melakukan sesuatu yang tidak sopan. Aku mempertimbangkan kalau akan agak tidak pantas untuk menghukum nya pada hari istirahat... Jadi Aku berniat untuk latih tanding melawan nya."

Keributan disekeliling kami bertambah keras.

Rina-senpai akhirnya menyadari noda hitam di badan seragan Uolo. Seperti nya ia bisa mendeduksi apa yang telah terjadi saat ia dengan lembut mengigit bibir nya.

Sementara pendekar elit peringkat satu dan dua berhadapan satu sama lain, Aku menyelinap kearah partner ku yang menatap kosong dekat kedua tembok manusia itu. Wajah nya menunjukkan ekspresi yang sangat familiar— campuran dari ekspresi 'Apa yang kau lakukan kali ini' dan 'Jangan bilang kalau... Kau melakukan nya lagi...?'

"...Cepat sekali kau sampai kesini."

Aku berbisik. Eugeo mengangguk beberapa kali.

"Aku ada di kantin di asrama, dan valet Zobun-senpai datang berlari dan mengatakan kalau Uolo-senpai akan bertarung melawanmu. Aku kemudian berfikir 'Bagaimana mungkin?', tapi berlari kesini bersama Celulute-senpai... Tapi, seperti nya gak mustahil sama sekali."

"Ahh, yah... begitulah."

Aku mengangguk. Eugeo sepertinya ingin mengatakan sesuatu ketika mengambil nafas yang dalam, tapi setelah jeda beberapa detik, ia hanya menghela nafas.

"...Enggak, udah keajaiban bagi kamu udah gak membuat masalah apapun sampai sekarang, Kirito. Jadi, tunjukan semua masalah yang telah kamu kumpulkan selama setahun untuk yang satu ini."

"Seperti yang diharapkan darimu yang sudah sangat lama bersamaku, partner."

Aku secara tak sadar tertawa. Eugeo menepuk pundak ku, membuatku untuk melihat kearah lain.

Rina-senpai masih menatap Uolo-senpai dengan ekspresi yang galak, tapi bahkan Aku, yang sulit mengingat peraturan, tau kalau keluar dari jalan buntu ini mustahil.

Aku meninggalkan Eugeo dan pergi ke sisi Senpai, mengangguk dengan lembut ke mentor tercinta ku.

"Aku sangat minta maaf telah membuatmu khawatir, senpai. Tapi Aku baik-baik saja... Atau lebih tepatnya, Aku merasa beruntung bisa berhadapan melawan Uolo-senapi."

Aku berbisik selagi Aku menatap mata biru tua senpai, mencoba untuk membaca perasaannya. Aku ingin tau apa yang ia rasakan tentang valet nya yang akan berhadapan dengan lawan terbesarnya.

Namun— Aku tiba-tiba merasakan penyesalan akan tindakan ku. Aku hanya bisa melihat kekhawatiran jauh di mata senpai.

"Kirito... Bagaimana caramu untuk memenangkan sparing ini?"

Pertanyaan ini terlalu tiba-tiba, jadi Aku mengedip dan menjawab,

"Eh...? Kami menggunakan pedang sungguhan, jadi kupikir kami akan bertanding sampai terpojok..."

"Oh iya, Aku lupa menjelaskan."

Uolo menyela lalu menjelaskan dengan ekspresi tenang nya,

"Aku gak akan melakukan sparing dimana kita bertarung sampai satu sisi terpojok karena itu hanya akan menumpulkan serangan pedang ku. Ujian yang Akademi tentukan adalah sesuatu yang diluar kehendakku, tapi secara pribadi, Aku selalu menggunakan peraturan 'first strike' di pertarungan ku."

"Eh...? Kalau begitu, dengan kata lain..."

Kepala pendekar itu menunjukkan sedikit perubahan ekspresi yang mengejutkan ku. Ia terlihat seperti memamerkan... atau lebih tepatnya, memperlihatkan taring nya seperti karnivora.

"Tapi omong-omong, kita hanya bisa melakukan pertandingan first strike atas persetujuan dua pihak. Hal ini ditentukan oleh Taboo Index, jadi prioritas nya melebihi aturan hukuman dari pendekar elit... Aku membiarkan mu untuk memilih, Kirito."

Keributan yang diam-diam berdengung tiba-tiba mereda.

Tentu saja kamu harus memilih bertarung sampai satu sisi terpojok! Sepertinya Aku mendengar suara Eugeo, dan Aku gak perlu mendengar Rina-senpai berbicara untuk memberitau kalau sangat ceroboh untuk melaksanakan pertandingan first strike dengan pedang sungguhan, dan lawan nya adalah pria terkuat di Akademi.

Itulah yang Aku rasakan, tapi—

"Aku akan membiarkanmu memilih, Levanteinn-dono. Aku lah orang yang dihukum."

Namun, kata-kata itu seperti keluar dari mulutku secara otomatis.

Helaan nafas Eugeo yang murung bisa terdengar dari belakang, Rina-senpai menguatkan tinju nya keras-keras dan menahan helaan nafas nya. Dan juga, seseorang terasa menghela nafas di rambut ku, 'yare yare' — itulah yang kurasakan.


Nama 'Master Swords Academy Large Practice Field' mungkin terdengar menakjubkan, tapi kenyataan nya, itu hanyalah lapangan olahraga yang besar. Lantai putih di poles cerah, dan ada empat arena sparing berwarna hitam. Tempat duduk penonton dibangun disekeliling, kapasitas nya sampai 260— cukup untuk menampung seluruh murid dan guru pada saat acara terbesar di akademi, ujian ilmu pedang.

Aku berdiri di arena timur yang dipilih Uolo, dan melihat sudah ada 50 murid disekeliling. Berhubung sekarang hanya tepat sebelum jam malam untuk hari istirahat hari ini, sepertinya seluruh murid yang tinggal di Akademi semuanya kembali kesini. Ada sekitar tiga instruktur, dan yang mengejutkan adalah bahkan supervisor asrama murid pemuli Nyonya Azurika ada disana.

Dan juga, yang paling mengagetkan diantara para murid-murid yang menonton, adalah keberadaan dua bangsawan kelas atas yang menjengkelkan... Raios dan Wanbell. Mungkin mereka datang kembali dari mansion mereka lebih cepat dari biasanya. Mereka duduk di tempat duduk terdepan, menunjukkan nyengir yang keji saat melihat kesini. Kelihatannya wajah mereka mengatakan kalau mereka ingin melihatku dicincang oleh Uolo.

Saat Uolo membiarkan ku memilih, Aku mengatakan dengan terang-terangan kepadanya kalau 'Dia bisa menentukan peraturan nya', dan Aku gak menyesali nya... Atau lebih tepatnya, di situasi sekarang, Aku gak punya pilihan lain.

Tapi pada sisi lain, ada keraguan lain yang bersemayam di pikiran ku.

Haruskah Aku sparing melawan Uolo?

Aku ingin menantang pendekar pedang yang dibilang paling kuat di akademi ini. Aku gak bisa menggoyahkan pikiranku itu. Pada dasarnya, objektif ketiga saat Aku datang jauh-jauh dari Rulid yang berada di ujung utara ke Central Centoria ini adalah untuk tujuan kuno dalam bermain, yaitu keinginan untuk 'bertarung melawan lawan yang kuat'.

Tapi pada saat ini, di hati ku, ada permintaan yang jauh lebih kuat dibanding bertarung melawan Uolo.

Aku ingin membiarkan Rina-senpai menang melawan pria ini di pertarungan terakhir. Untuk membiarkan nya mengalahkan pria ini dan membebaskan nya dari keadaan terikat nya. Selama setahun Aku melayani nya, Aku gak pernah melihat senyuman tulus dari nya sebelum nya.

Selagi hatiku diganggu oleh pemikiran ini, Aku terus menatap Uolo, yang berdiri di sisi lain arena, memeriksa bilah yang tajam dari pedang tercinta nya—

“Kirito.”

Suara Rina-senpai datang dari belakang ku, membuatku berpaling kebelakang seperti terlempar.

Pendekar peringkat dua itu menatap tepat kearah ku dengan mata biru-laut nya, dan berbisik kepada ku dengan suara yang nyaris tak terdengar,

"Aku percaya akan kekuatan mu, Kirito. Aku mempercayai mu, jadi Aku akan mengatakan hal ini kepadamu. Keluarga Levanteinn yang mengajarkan ksatria Kerajaan mempunyai ajaran keluarga rahasia yang disebut 'Pedang meminum darah dari yang kuat. Kekuatan akan menjadi milikku'."

"...Darah, huh?"

Senpai mengangguk balik kepada ku yang berbisik.

"Ya. Uolo mungkin telah melakukan pertandingan first strike yang cukup banyak di tanah pribadi nya sebelum dia masuk Akademi. Pengalaman itu mungkin menciptakan pedangnya yang kuat dan menakutkan itu. Dan saat ini, dia... ingin mengubah kekuatan dari pedang mu itu menjadi darah segar dan menyerapnya seperti makanan."

Kata-kata itu sulit dimengerti dengan langsung, tapi Aku mengubah nya ke pemahaman yang Aku sudah familiar di otak ku, dan segera menjawab "Oh begitu" dan mengangguk.

Itu semua karena «Imagine Power». Seperti hal nya bagaimana pendekar pedang dari keluarga Celulute dikekang oleh pemikiran kalau 'Celulute-style adalah style rendahan karena mereka terlarang untuk mewariskan sword style tradisional', generasi keluarga Levanteinn mempunyai imajinasi dari 'Semakin pedang diwarnai oleh darah dari lawan yang kuat, semakin kuatlah mereka', dan hal ini memberikan Uolo kekuatan kepada pedang nya.

Kemungkinan besar, pria itu melihat tebasan dari serangan beruntun milikku di ruang kosong di hutam itu dan pedang hitam dengan prioritas tinggi dan menganggap ku sebagai lawan yang berharga untuk pedang nya diwarnai oleh darahku. Itu terdengar terhormat, tapi faktanya, itu gak jauh beda dari 'mangsa berkualitas tinggi'.

Dengan kata lain, kalau Aku mendapat serangan di sparing ini dan berdarah, imajinasi Uolo akan bertambah kuat, dan jujur saja, kemungkinan hal itu akan terjadi sangat tinggi.

Aku gak boleh membiarkan diriku menolong musuh sebelum pertarungan terakhir Rina-senpai. Pada saat ini, Aku harus menarik kembali kata-kata ku dan mengganti aturan menjadi pertandingan sampai terpojok... saat Aku berfikir tentang ini.

Senpai menepuk pundakku yang merunduk tanpa sadar dan berkata,

"Tapi Aku akan mengatakan ini lagi. Aku mempercayaimu. Aku percaya kalau kamu bukanlah pendekar yang akan menerima gerakan pria itu dengan mudah... Kamu enggak lupa tentang hal yang kamu janjikan hari ini, kan?"

"Yang Aku janjikan...?"

Aku mengulangnya, dan mengangguk dengan keras,

"Ya. Aku berjanji padamu kalau Aku akan memperlihatkan mu segalanya, senpai."

"Oke. Kondisinya memang agak berbeda sekarang, tapi tunjukan saja disini, Kirito. Keluarkan seluruh kekuatan dan skill yang kamu punya dan kalahkan Uolo Levanteinn."

Saat Aku mendengar kata-kata itu, Aku merasakan seluruh keraguan dalam diriku lenyap.

Keraguan ku akan mengabaikan senpai dan melawan Uolo, dan ketakutanku akan membuat musuh menjadi lebih kuat setelah kekalahan ku, itu semua hanyalah alasan terburuk yang hanya dipikirkan oleh pecundang. Aku hampir memberikan kekacauan itu kepada senpai yang kuhormati sebagai hadiah. Sekali Aku menggenggam pedang, Aku hanya perlu memfokuskan seluruh jiwaku kedalam nya dan mengayunnya dengan semua yang kupunya. Aku mungkin datang sampai kesini dengan menggunakan hal itu sebagai filosofi nomor 1 ku.

Aku tersenyum kepada senpai, mengangguk, dan menengokkan kepalaku ke kanan. Aku bertukar tatapan dengan Eugeo, yang sepertinya menyenderkan tubuhnya di pegangan tangga bangku penonton. Aku menyengir kearah nya, dan ia memberikan ku ekspresi khawatir yang biasanya sambil menaikkan kepalan tinju nya kearah ku.

Aku menjawab dengan tindakan yang sama, dan berpaling ke Rina-senpai lagi.

"Aku akan memenuhi janjiku."

Aku hanya mengatakan kata-kata ini, dan senpai mengangguk tanpa berkata apa-apa sebelum melangkah pergi. Suara yang mantap kemudian datang dari sisi lain arena, sepertinya menunggu untuk momen ini.

"Sepertinya kau sudah selesai, Murid Pemula Kirito."

Aku pelan-pelan berbalik arah, berjalan kearah ujung dari arena hitam, dan menjawab "Ya". Uolo dan Aku kemudian memberikan salam ksatria yang simpel dengan menaruh kepalan tangan kanan ke dada kiri. Berhubung ini bukan kontes sparing resmi, gak ada instruktur yang menjadi wasit. Namun, Aku gak merasa ragu sama sekali tentang kondisi kemenangan. Yang pertama terpukul pedang lawan dan berdarah akan kalah.

Aku mengambil langkah kedepan dan melangkah keatas arena. 2 langkah, 3 langkah, setelah Aku mengambil 4 langkah, Aku berdiri di garis mulai yang ditandakan dengan warna putih.

Kami menarik pedang kami, lawan ku menarik dari pinggang kiri nya, dan Aku dari punggung. Aku melihat pedang Uolo yang gagang nya berwarna emas dan bilah berwarna besi yang telah ditempa, dan murid-murid disekeliling mengeluarkan teriakan kagum "Ohh". Setelah melihat pedang ku, kata-kata itu menjadi gumaman ragu. Gak ada yang pernah melihat pedang sungguhan dengan gagang dan bilah berwarna hitam.

"Oh astaga, astaga. Berfikir bahwa orang desa akan mempunyai pedang khusus yang diwarnai dengan tinta hitam, Raios-dono!"

Wanbell, yang duduk di bangku penonton, berpura-pura berbisik selagi ia mengucapkan nya dengan suara yang lantang yang cukup untuk bisa didengar semua orang.

"Jangan bilang begitu, Wanbell. Valet-dono ini gak punya waktu untuk memoles pedang nya."

Rainos namun berkata dengan kata-kata sarkasme nya yang biasanya, menyebabkan para murid bangsawan disekeliling menjadi terhibur.

Namun, sekejap saat Uolo mulai mengayun pedang nya, atmosfir disekeliling menjadi diam. Mungkin itu karena respek yang mereka punya terhadap kepala pendekar, tapi Aku menebak kalau mereka merasakan tekanan yang kuat dari postur nya itu.

—Sebesar itu kah perbedaan antara pedang kayu dan pedang sungguhan?

Aku bergumam dalam hati.

Sebagai valet Rina-senpai, Aku telah menyaksikan gerakan yang Uolo Levanteinn gunakan pada tiga ujian yang dilaksanakan di arena— Northlangarth style «Avalanche», beberapa kali. Namun, tekanan yang kurasakan benar-benar berbeda saat lawan menggunakan pedang sungguhan daripada pedang kayu, dan lawan nya saat ini adalah Uolo.

Uolo yang berambut pirang dan pendek, yang sedikit lebih kurus daripada ku, mempunyai kesan pilgrim. Namun, Aku akhir mengerti pada saat ini kalau itu adalah kesalahan yang serius. Saat ini, mata biru-baja nya itu memiliki suatu bentuk cahaya tersembunyi didalam nya, cahaya dari seorang pendekar pedang pengamuk yang hanya ingin menggunakan pedang besi nya untuk merobek tubuh lawan.

Di dunia game ini, pedang Uolo bisa diklasifikasikan sebagai «Bastard Sword». Uolo menggunakan kedua tangan untuk mengangkat gagang dan bilah pedang yang agak panjang. Bilah nya terasa seperti dikelilingi oleh api membara dari matahari, dan itu bukanlah ilusi. Itu adalah prioritas dari pedang dan 'kekuatan' yang dihasilkan dari kekuatan imajinasi pemilik nya yang menyebabkan ruangan ini bergetar.

*Zun*. Suara gemuruh yang berat terbebaskan, dan kepala pendekar itu telah menyelesaikan postur diatas kepalanya.

Sekali ia menarik pedang nya jauh kebelakang, «Heavens and Mountains Break»... yang bisa juga disebut serangan menusuk dua-tangan «Avalanche», akan teraktifkan.

Ini seperti waktu dulu sekali, tapi terasa seperti baru kemarin saat Aku menghabiskan waktu ku di kastil melayang Aincrad. Aku melakukan banyak pertarungan, termasuk pertandingan satu lawan satu. Salah satu dari pengguna pedang dua-tangan yang memberi kesan terbesar pada diriku adalah seseorang dari guild «Knights of Blood», pengawal dari wakil ketua Asuna, pria bernama Kuradeel.

Aku, yang ditantang duel oleh nya, membaca serangan pertama nya «Avalanche» dan menggunakan serangan tusukan yang mirip, «Sonic Leap» untuk mengincar sisi senjata dan berhasil mencapai tujuan ku untuk menghancurkan senjata nya dengan skill Arms Blast.

Memori ini muncul lagi, membuat ku tiba-tiba mempertimbangkan apakah Aku harus menggunakan taktik yang sama seperti yang dulu atau tidak. Namun, Aku dengan cepat membuang ide ini. Jangan kan menghancurkan pedang Uolo, Aku mungkin akan berakhir menghancurkan pedangku sendiri— pedang ku pasti akan dimentalkan, dan Aku akan ditebas oleh nya di pundak.

Bentuk original dari «Heavens and Mountains Break» adalah «Avalanche», tapi gerakan yang Uolo lakukan benar-benar berbeda dengan Kuradeel dari sisi kecepatan dan kekuatan. Ia mempunya kepercayaan yang tinggi kepada kekuatan serangan nya, membuat pedang nya bertambah kuat karena nya. Kalau Aku gak bisa menemukan imajinasi yang cukup kuat untuk menahan nya... Sebuah imajinasi menghancurkan organ dan tubuh sampai ujung pedang nya menembus ke sisi lain, Aku gak akan bisa berdiri sejajar dengan nya.

Sekarang bukan waktunya untuk menganggap hal ini sparing biasa. Aku harus menggunakan serangan-beruntun.

Jadi Aku memikirkan gerakan yang mempunyai skill level paling tinggi yang dapat kulakukan sampai sekarang— 4-serangan-beruntun «Vertical Square». Skill ini memang membutuhkan kontrol tingkat tinggi, tapi Aku harus nya bisa menggunakan serangan pertama, kedua, dan ketiga untuk meniadakan Avalanche lawan dan balas menyerang dengan yang keempat untuk menang.

Aku mengangkat pedang di tangan kanan ku, menghadap wajah Uolo, dan menunjukkan postur yang kokoh. Saat menggunakan sword skill untuk melawan sword skill yang lain, timing sangatlah penting. Aku harus menggunakan sword skill ku sementara menepatkan timing aktivasi sword skill lawan. Dengan kata lain, Aku harus 'aktivasi belakangan, serang duluan'.

Ujung pedang hitam yang bergerak melengkung pelan-pelan ke puncak dari lingkarang yang tergambar dan mulai sedikit memiring. Pada saat itu,

“...HAA!!”

Uolo mulai melakukan tindakan sambil mengeluarkan raungan yang menggetarkan tulang.

Bilah dari broadsword dikelilingi oleh cahaya emas kemerahan. Tebasan dua-tangan dari atas kepala yang menghancurkan «Cyclone» milik Rina-senpai tiga kali itu terlihat seperti nyala api yang semakin mendekat.

Pada saat ini, tubuhku mulai bergerak. Aku melangkah dengan kuat untuk mengaktifkan «Vertical Square» dengan waktu persiapan minimum, dan tebasan pertamaku berakselerasi mengeluarkan tusukan yang terbang selagi bergerak maju.

*KIINN!!* Selagi suara keras logam berbunyi, tubrukan kuat terasa di tangan kanan ku. Serangan pertama ku dalam sekejap dijatuhkan dengan muda. Murid-murid dan instruktur di sekeliling mungkin berfikir kalau gerakan ku barusan adalah teknik rahasia Norlangarth «Lighting Strike», skill satu tebasan «Vertical». Kalau memang begitu, pemenang nya sudah ditentukan sekarang. Namun, pertunjukan sebenarnya dimulai sekarang.

Meskipun Aku bertubrukan dengan gerakan musuh, kalau postur ku enggak goyah, sword skill yang aktif akan dilanjutkan. Serangan kedua dari Vertical Square adalah menebas ke kanan atas dari bawah. Sword skill ku belum berakhir.

“ZAA!!”

Aku membelokkan seluruh tubuh ku ke kiri, dan mengayun pedang ku keatas dengan tajam. Suara tubrukan terdengar kembali. Cahaya biru yang menyelimuti pedang ku bercampur dengan cahaya oranye milik pedang Uolo, membentuk cahaya putih yang menyilaukan yang menerangi arena latihan yang agak gelap.

Kali ini, pedang ku terpantulkan lagi. Namun, Avalanche lawan juga melambat. Aku menggertakkan gigi ku dan segera mengeluarkan serangan ketiga, tebasan vertikal kebawah.

*GAGIINN!!* Suara yang jauh lebih keras dari sebelum nya berbunyi saat kedua pedang beradu.

Ternyata benar, serangan ketiga ku gak cukup untuk mementalkan pedang Uolo, tapi gerakan Uolo terhenti.

Kalau Aku bisa menekan nya sekarang, Avalanche akan terhenti, tapi Aku masih punya serangan terakhir dari 4 serangan ku.

“U...ohhh!!!”

“Nu...nn!!”

Uolo dan Aku mengerang bersamaan, mati-matian untuk menangkis masing-masing pedang lawan.

Pada saat ini, kekuatan serangan dari sword skill ku dan bantuan sistem atau apapun itu tak berarti. Ini sudah menjadi imajinasi vs imajinasi, pertarungan tekad. Kedua pedang yang bertabrakan mengeluarkan cahaya putih terang dari perpotongan nya, mengeluarkan kilatan kecil yang terang. Lantai dari arena ini mengeluarkan suara berderik, menahan tekanan yang sangat besar dari duel kami.

Kalau ada seseorang mengamati main memory installasi dari seluruh UnderWorld pada saat ini, ia akan melihat kalau ada cahaya putih yang terang di medium quantum. Fluctlight kami mengeluarkan sinyal, mati-matian mencoba menghancurkan satu sama lain untuk menang. Lawan ku sudah kehilangan ketenangan nya dan di wajah nya, dahi nya sudah mengerut dan bibir nya sudah melengkung. Wajah ku mungkin juga mengeluarkan ekspresi yang sama.

Pada saat itu Situasi ini bertahan selama 2, 3, 4 detik—

Aku melihat sesuatu yang tak terduga.

Disamping dan dibelakang pendekar elit Uolo Levanteinn, Aku melihat samar-samar lebih dari 5 sosok yang mirip, tapi jelas berbeda dengan nya.

Yang bisa kulihat adalah tubuh transparan yang memegang pedang dengan postir yang sama dengan Uolo, tapi instingku mengatakan kalau pendekar itu pasti adalah pemimpin keluarga Levanteinn dari generasi sebelum nya yang mewariskan julukan instruktur Imperial Knight turun temurun keluarga nya.

Dengan kata lain, ini adalah Uolo yang hanya seorang murid tanggung menjadi pemimpin keluarga... Atau lebih tepatnya, yang ia dipaksa untuk menanggung nya. Sumber sebenarnya dari kekuatan yang tersembunyi dalam tebasan Uolo.

—Aku... gak boleh kalah disini!!

Aku sepertinya mendengar raungan ini. Pada saat selanjut nya, kekuatan yang jauh lebih berat dan tekanan yang lebih mendesak dari sebelum nya menyerang bahu ku.

Broadsword yang diselimuti cahaya oranye seperti api mendorong pedang hitam ditangan ku ini, terlihat seperti mencoba menghancurkan nya. Aku mati-matian mencoba untuk bertahan, tapi kaki-ku pelan-pelan terdorong kebelakang.

Kalau Aku terdorong sampai 10... enggak, 5cm, sword skill ku akan terhentikan dengan paksa. Pada saat itu, pedang ku akan dipentalkan, dan tubuh ku akan tertebas dengan keras.

380 tahun.

Kata-kata itu tiba-tiba muncul di benak ku.

Sejumlah waktu ini telah lewat sejak UnderWorld tercipta. Meskipun dilindungi oleh hukum absolut, meskipun dunia ini menjadi dunia yang gak ada pertarungan sebenarnya, pendekar pedang yang lahir disini terus menerus menurunkan sword skill yang mereka tempa untuk generasi selanjutnya selama sejarah ratausan tahun ini. Hasil nya sudah jauh melampaui konsep «skill serangan game VRMMO».

*Zuu*. Kaki kanan ku terdorong kebelakang lagi, dan cahaya yang menyelimuti pedang hitam ku mulai bergetar dan berkelap kelip.

—Namun.

Aku pastinya bukan bertarung hanya untuk menambah exp atau semacam nya.

Demi teman baik ku yang pertama kali kutemui, yang melampaikan tangan hangat nya kepada ku, Eugeo. Demi Rina-senpai, yang dengan lembut dan juga galak membimbing ku dan mengajari ku berbagai hal, dan demi orang-orang di dunia nyata yang menunggu ku untuk kembali, Asuna, Suguha, Klein, Liz, Sinon, Agil, Silca dan banyak lain nya.

"Aku juga... GAK BOLEH KALAH DISINI...!!!"

Yang membalas raungan respon ku bukanlah sebuah suara—

*DOKUN!* Pedang di tangan kanan ku bergemetar.

Cahaya emas muncul di tengah-tengah cahaya biru yang hampir menghilang. Cahaya itu terus berlipat ganda, akhirnya memenuhi seluruh pedang. Sementara fenomena ini terjadi, sekeliling tiba-tiba menjadi lebih gelap secara drastis, tapi Aku sepertinya gak menyadari hal ini.

Itu karena sesuatu yang lebih aneh sedang terjadi pada pedang ku sendiri.

*KIN*, *KIN*. Pedang ku pelan-pelan berkembang. Diselimuti oleh efek cahaya yang kuat, hanya Uolo dan Aku yang bisa melihat kalau pedang ku hanya berkembang beberapa centimeter. Namun, hal itu sudah jelas dan pasti bukanlah sebuah ilusi.

Bilah pedang, dan bahkan gagang nya sedikit bertambah panjang. Aku menjulurkan tangan kiri ku, seperti dibimbing, dan menggunakan kedua tangan untuk menggenggam gagang pedang berwarna hitam.

Kalau ini adalah Aincrad, ini akan menjadi equipment yang irregular, dan sword skill akan berakhir dengan paksa. Tapi pada saat ini, cahaya biru dari Vertical Square yang hampir musnah sekali lagi memperoleh cahaya nya saat tangan kiriku menggenggam nya, menyatu dengan cahaya emas didalam pedang, dan sepertinya berputar seperti pusaran air.

Aku melihat kekuatan liar yang keluar dari pedang hitam di tangan ku, dan untuk suatu alasan, mengingat bentuk asli nya... Aku mengingat «Gigas Cedar». Gigas Cedar yang menjulang tinggi ditengah-tengah hutan utara dari Rulid, Aku mengingat bagaimana pohon itu menyerap sejumlah besar dari sumberdaya dari bumi dan matahari, pohon raksasa hitam pekat yang gak pernah tumbang selama lebih dari 300 tahun.

...Memori... pedang.

Kata-kata itu bangkit lagi di telingaku, dan segera ditutupi dengan raungan ku.

“O...OOOOOOOHHHH!!!”

Aku mengeluarkan seluruh kekuatan dan tekad ku yang tersisa, dan mengangkat kaki kanan ku—maju.

*ZUN*. Pada saat kaki kanan ku mendarat di lantai, intensitas dari energi yang disebabkan oleh bentrokan antara dua pedang melewati batas dan meledak.

Hal itu disebabkan oleh sihir Sacred Art level tinggi yang mudah terbakar, melempar Uolo dan aku sementara kami gak bisa menahan nya. Namun, kami berdua menolak untuk mundur dan lanjut untuk menatap kedepan dan menguatkan kaki kami. Sol yang sudah keras bergesekan dengan lantai arena, dan bau dari asap tercium. Kami menyeret dua garis tanda terbakar dan Uolo dan Aku berhenti tepat di tepi arena.

Kedua sisi pedang nya terpentalkan dengan keras. «Avalanche» milik Uolo berakhir dan cahaya oranye nya pelan-pelan menghilang.

Namun— «Vertical Square» ku masih terus aktif dengan kedua tangan ku menggenggam pedang.

“SEIAAAAHHH!!”

Aku mengeluarkan momentum ku, melangkah kebelakang dan mengeluarkan serangan terakhir dengan melepaskan tebasan dari atas kepala. Pedang ku melancarkan garis biru terang... tepat kearah dada Uolo yang tak terlindungi.

*Chuu*. Pelan-pelan merayap, dan berhenti tepat didepan ubin lantai yang rusak. Vertucal Square bukanlah serangan menyergap. Aku berusaha semampuku untuk melebarkan jarak serangan nya, tapi itu belum cukup untuk mencapai seluruh arena.

Uolo dan Aku menatap satu sama lain dari jarak dekat... Pada saat itu, suara yang tajam berbunyi.

"SUDAH CUKUP!!"

Aku secara insting melompat kebelakang, melebarkan jarak ku dan menurunkan pedang ku. Uolo melakukan hal yang sama di sisi lain dan merelakskan mode bertarung nya.

Sword Art Online Vol 10 - 308.jpg

Menyadari hal ini, Aku melihat kearah sumber dari suara itu dengan ragu-ragu, bertanya-tanya siapa yang berani-berani nya mengganggu sparing kepala pendekar yang gak punya wasit ini. Lalu, Aku kaget tak bisa berkata apa-apa saat Aku melihat Nyonya Azurika, si supervisor asrama murid pemula.

Kenapa dia, seorang supervisor asrama dan bukan seorang instruktur, membuat keputusan yang seperti wasit itu? Dan kenapa Uolo mendengarkan nya dengan patuh?

Aku menatap kosong sementara dua keraguan ini mengelilingi ku. Pada saat ini, kepala pendekar yang menurunkan pedang nya berisik pada ku dari kiri,

"Keputusan nyonya itu harus ditaati."

"...Eh, anu... Kenapa begitu?"

"Karena wanita itu adalah perwakilan pendekar pertama dari Kerajaan Norlangarth pada saat turnamen Persatuan Empat Kerajaan 7 tahun yang lalu."

EHH—!?

Uolo Levanteinn kembali menghadap ku, dengan mata ku yang nyaris keluar, dan mengagguk dengan ekspresi pilgrim, bukannya dengan ekspresi pendekar pengamuk yang seperti sebelum nya.

"Hukuman untuk mu telah berakhir, murid pemula Kirito. Harap berhati-hati untuk tidak menodai baju orang lain dengan kotoran lagi."

Setelah mengatakan itu, Uolo menyarungkan pedang nya kembali ke pinggang kiri dan berbalik.

Seragam putih dan biru itu dengan santai melewati seluruh arena, dan pada saat ia menghilang keluar dari pintu keluar—

"UWAAHHH!!" Tepuk tangan yang amat meriah menghujani seluruh lapangan latihan yang besar ini. Terkejut, Aku melihat ke sekeliling, dan melihat hampir 100 murid dan bahkan guru-guru di bangku penonton bertepuk tangan. Di barisan terdepan, berdiri tepat disamping supervisor asrama Azurika, yang bertepuk tangan dengan ekspresi serius yang biasanya, adalah partner ku yang mengeluarkan air mata— Eugeo, bertepuk tangan. Aku mengangkat kepalan tinju kiri ku kepadanya dengan lembut. Disebelah nya adalah tubuh besar mentor nya, Gorgolosso-senpai yang muncul tanpa kusadari.

Akhirnya, Aku menatap pedang yang ada di tangan kanan ku, mengecek apakah pedangku kembali ke ukuran yang semula, dan menyarung kan nya dengan bunyi chiin— sesaat.

*BOSSN!*

Bahu ku dipukul dengan keras, membuatku melompat sedikit. Tangan putih mulus secara sembrono membalikkan badan ku, dan Aku melihat Solterina-senpai memberikan tangisan yang lebih parah daripada Eugeo.

"...Kupikir tadi kau akan ditebas."

Aku mendengar nya dengan suara yang mungkin hanya Aku yang bisa dengar, dan mengangguk.

"Iya... Kupikir juga begitu."

"...Kamu tau itu dan tetap gak menyerah...... Kamu, dasar bodoh."

Senpai menutup matanya, dan bulu matanya mengejang sedikit. Namun, kelihatan nya ia akhirnya bisa menghentikan tangisan nya dan kemudian ia mengambil nafas yang dalam dan membuka lebar matanya. Mata biru-laut nya memiliki cahaya lembut yang gak pernah kulihat sebelumnya.

"Tadi itu benar-benar indah... Benar-benar pertandingan yang seru, Kirito. Izinkan Aku untuk berterimakasih. Sayang sekali Aku gak bisa melakukan nya... Tapi, kamu telah menunjukkan pertarungan dengan seluruh kekuatan mu seperti yang telah kamu janjikan... Terima kasih."

"Eh... Tapi, hasil nya seri..."

"Apa kau masih gak senang hasilnya seri, meskipun lawan nya adalah Levanteinn itu?"

"Bu-Bukan, bukannya begitu."

Melihat kepala ku yang menggeleng seperti gelombang, senpai mengeluarkan tertawa genit yang sangat jarang terlihat, mendekatkan bibir nya ke telinga ku dan berbisik.

"Ini bukan masalah menang atau kalah. Performa mu di pertandingan tadi menunjukkan sesuatu yang penting... Sesuatu yang sangat penting. Aku merasa sangat bangga menjadi pewaris Celulute-style... dan senang... karena bisa menjadi mentor mu juga."

*Pon*. Rina-senpai menepuk bahu ku, menegakkan tubuh nya, dan berkata dengan beberapa bekas senyuman di bibir nya,

"Masih ada waktu sampai jam malam tiba. Bagaimana kalau kamu datang ke kamar ku untuk merayakan nya? Kamu bisa mengajak Eugeo-kun juga... Untuk mentor nya, yah, Aku akan mengizinkan nya juga."

Mendengar perkataan senpai, Aku nyengir dan mengangguk. Aku berbalik, mengangkat tangan ku kearah Eugeo, dan menunjuk kearah pintu keluar. Aku melihat nya dan Gorgolosso-senpai berjalan kesana, dan Aku berjalan bersebelahan dengan Rina-senpai keluar dari arena yang masih penuh semangat ini.

Kali ini, yang 70% ada dipikiran ku bukanlah red wine milik senpai yang ia sembunyikan, bukan tentang penjelasan penuh hasrat tentang sejarah sword skill dari Gorgolosso-senpai—

...Aku bisa saja menyerah saat sparing hukuman itu berlangsung!!!

Tapi hal itu.

Dari tepi mata ku, Aku bisa melihat Raios dan Wanbell memberikan pandangan yang aneh kearah sini, tapi Aku gak ambil repot dan mengacuhkan mereka.

Bagian 6[edit]

Di kastil melayang Aincrad yang pernah tercipta, ada minuman beralkohol yang seperti red wine dan bir.

Tapi berbicara secara logika, meskipun Aku meneguk satu tong besar penuh alkohol kuat, mustahil bagiku untuk mabuk. Itu karena tubuh fisik yang berbaring di dunia nyata gak meneguk setetespun alkohol.

Disini, yang paling mengagetkan adalah di dunia ini, alkohol adalah benda asli— Dengan kata lain, Aku akan mabuk kalau Aku meminum nya. Teori dibalik ini kemungkinan besar karena Fluctlight memiliki sinyal «Kondisi mabuk» dan membisikkan nya. Namun, seperti nya pendesain yang mendesain dunia tak kenal ampun itu memiliki sedikit kesadaran meskipun mabuk, itu adalah 'kondisi aktif dimana orang gak kehilangan pikiran nya'. Berhubung gak akan ada pemabuk yang akan membuat kerusuhan dan mulai berteriak, gak akan ada orang yang melanggar hukum karena sedang mabuk.

—Meskipun begitu, gak ada yang bisa menjamin apakah fitur protektif ini akan efektif terhadap ku, jadi Aku berhenti setelah meminum dua gelas anggur di 'perayaan' yang berlangsung di kamar Rina-senpai. Namun, senpai membuka rahasia yang sudah tersimpan selama lebih dari 100 tahun, membuat ku, seorang amatir kalau masalah anggur, menyerukan kalau ini adalah anggur yang bagus, jadi membutuhkan tekad yang banyak dariku agar bisa menahan diri menjaga rahasia ini.

Senpai, Eugeo, Golgosso-senpai dan Aku berkumpul dan mengobrol tentang kenangan selama setahun ini, prediksi kami untuk duel promosi/kelulusan, dan ajaran penuh hasrat tentang sword skill dan style. Waktu berjalan, dan sekarang sudah 15 menit sebelum jam malam asrama murid pemula.

Aku ogah-ogahan pergi dari asrama pendekar elit dan kembali ke asrama kami bersama Eugeo. Aku meninggalkan partner ku yang mabuk berat di kamar dan pergi ke pot bunga di sisi barat. Meskipun ini hari istirahat, Aku harus menyiram bunga Zephyria. Aku berjalan turun tangga dari lantai kedua dan membuka gerbang di asrama.

Saat Aku membaringkan Eugeo di kamar dan menaruh pedang hitam ku didekat lemari, jejak terakhir dari cahaya menghilang dari langit, dan diluar diselimuti oleh kegelapan malam.

Aku menutup mataku dengan lembut dan perlahan merasakan angin sepoi malam hari yang dingin dan harum Anemone— Sementara Aku melakukan nya, secara tak sadar Aku mengerutkan dahi. Ada bentuk aroma lain yang berbeda dari bunga-bunga yang kutanam, bau lengket seperti binatang tercampur sedikit. Dan juga, Aku mempunyai impresi terhadap bau ini. Itu adalah bau yang kucium saat makan malam terakhir... Tapi, ini adalah bau yang seharusnya gak ada.

Aku tiba-tiba membuka lebar mataku, memfokuskan pandangan ku ke jalanan yang membagi petak bunga menjadi dua sisi, dan dua sosok muncul di sisi lain dari kegelapan. Mereka mengenakan seragam abu-abu, seperti ku, seragam murid pemula. Namun, mereka gak mengenakan lebih dari 3 kancing didepan dada nya, sepertinya memamerkan kaos yang warnanya aneh yang ia kenakan didalam. Yang memakai kaos merah berkilau adalah Raios Antinos, dan yang memakai kaos berwarna kuning neon terang adalah Wanbell Jezeku.

Kenapa mereka, yang gak ditugaskan untuk menanam dan gak terlihat kalau mempunyai ketertarikan untuk menanam, ada di kebun... Ketika pikiran ini muncul di otak ku, sebuah firasat buruk mencapai ku. Aku, yang mengambil langkah kebelakang dari pintu tembok barat di asrama, gak bisa bergerak. Tepat didepan ku, Rainos dan Wanbell datang tepat kearah ku, dan kemudian berhenti 1m jauh nya dariku.

"Oh astaga, astaga. Benar-benar kebetulan sekali, Kirito."

Rainos menggunakan suara yang kasar... dan licik yang penuh niat buruk.

"Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Hal ini akan menghemat pekerjaan."

Wanbell, yang berdiri dibelakang, mengeluarkan kotekan yang penuh semangat, seperti memberikan melodi ke kata-kata itu. Aku menengok kembali ke Raios, dan dengan dingin berkata,

"...Apa yang kalian inginkan?"

Mendengar kata-kata dingin itu, wajah Wanbell menggeliat, tapi Raios mengayun tangan kanan nya untuk menghentikan nya dan menjawab pertanyaan ku.

"Tentu saja, Aku ingin memuji mu untuk pertandingan yang bagus tadi. Siapa yang menduga kalau seorang valet yang diberi kekangan bisa bertanding seimbang melawan Levanteinn-dono itu?"

"Oh astaga, astaga, itu benar. Sword skill yang seperti mainan itu benar-benar membuat chairman-dono kesulitan."

"Ku ku ku." Mereka berdua mengkotek bersamaan setelah mereka selesai. Aku merendahkan suaraku, dan berkata,

"Apa kalian memuji ku? Atau kalian ingin membuat ku menjual pertarungan untuk kalian?"

"Hahaha. Bagaimana mungkin? Bangsawan kelas atas gak akan pernah meminta orang desa untuk menjual apapun! Tentu saja, asrama tetap akan menjadi asrama!"

Setelah tertawa dengan riang untuk beberapa saat, tangan kiri Raios menggapai kantung seragam nya, dan mengeluarkan sesuatu yang tipis dan panjang.

"Untuk memuji aksi mu... permisi, untuk duel yang sangat berani mu tadi, izinkan Aku untuk memberikan ini. Kamu harus menerima nya."

Raios mengambil langkah kedepan dan menaruh sesuatu kedalam kantung dada di seragam ku.

"...Kalau begitu, kami pergi duluan. Mimpi indah, Kirito-dono."

Raios bergumam sedikit kepadaku dari jarak dekat sambil menyeringai. Ia menggelengkan rambut pirang nya dan melewati ku. Wanbell kemudian mengikuti nya dan memperlihatkan wajah nya kesini.

"Jangan terlalu belagak, anak desa tanpa nama keluarga."

Ia meninggalkan kata-kata itu dan mengikuti Raios.

*BAM!* Bahkan setelah mereka berdua berjalan ke pintu dan menutup nya dengan membanting, Aku gak bisa bergerak untuk sementara. Itu karena—

Yang Raios taruh di kantung ku adalah tunas bunga yang mempunyai daun yang hampir berwarna biru dan hampir mengeluarkan nya. Aku menggunakan tangan kanan ku yang dingin seperti es untuk mengeluarkan nya dari kantung ku dan menatap nya dengan hati-hati.

Batangnya yang lembut dengan kejam terputus, dan itu bukan salah satu dari «4 Sacred Flowers» yang tumbuh di petak bunga. Itu adalah bunga dari Kerajaan Barat, bunga Zephyria yang terus kurawat dengan susah payah gak peduli seberapa banyak Aku gagal selama setengah tahun ini.

Saat Aku menyadari hal ini, Aku menggertakkan gigiku dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan tunas itu. Kalau Aku memegang pedang sekarang, mungkin Aku sudah berlari ke asrama dan mencincang Raios dan Wanbell menjadi serpihan. Aku menggenggam kencang tunas bunga berwarna air di tangan kanan ku dan berlari kearah kebun. Aku berlari melewati persimpangan X dan ke gudang dekat tembok. Porselein putih yang tertanam diletakkan di sudut gudang memasuki mata ku.

“...Ah, ahhh....”

Tenggorokan ku mengeluarkan suara yang serak.

23 bibit Zephyria yang tumbuh dari benih yang kubeli dari pedagang rempa, benih yang biasanya tumbuh di negeri asing, dan hampir saja tumbuh— semuanya dengan kejam tersentak terbelah dua.

Kuncup bunga bundar hancur dan jatuh disekitar penanam, dan mereka kehilangan warna biru kehijauan yang unik itu. Batang yang tersisa di tanah merosot, dan sudah jelas, Life mereka berkurang drastis.

Ditengah-tengah bunga yang mati ini, senjata yang melakukan kekejaman ini menancap seperti batu nisan. Itu adalah sabit yang panjang dan miring yang digunakan untuk tanaman dengan buah yang bundar. Seseorang... Bukan, Raios dan Wanbell mengayunkan sabit ini dan dengan kejam menghancurkan bunga ini.

Kaki ku kehilangan seluruh kekuatan nya, dan Aku berlutut didepan pot itu dengan gedebuk.

Aku menatap kosong kearah bunga yang yang tersebar-sebar, berfikir dengan pikiran yang udah setengah mati.

Kenapa? Sementara Aku mengetahui motif dan cara nya dengan jelas, tapi kenapa mereka bisa melakukan sesuatu seperti ini? Dengan sengaja menghancurkan benda milik orang lain itu melanggar Taboo Index. Bahkan bangsawan kelas atas seharusnya gak bisa melanggar hukum absolut ini.

Di UnderWorld, hak kepemilikan dari seluruh barang ditentukan tanpa error. Aku tau hal itu setelah melakukan perjalanan. Saat membuka «window» ku yang unik, benda yang hak kepemilikan nya adalah milikku akan mempunyai tanda P kecil di pojok. Pada sisi lain, benda yang gak punya tanda P berarti bukan milikku, jadi mustahil bagi mereka untuk mencuri atau menghancurkan nya.

Memang benar kalau tanaman yang tumbuh ini bukan milik siapa-siapa, tapi kepemilikan pupuk, dan tanah adalah milik semuanya. Tanaman yang ditanam di tanah siapapun akan menjadi milik orang itu. Anemone yang tumbuh di petak bunga adalah milik Akademi. Dan juga, Kupikir bunga Zephyria yang ada di pot ini adalah barang personal milikku karena Aku membeli nya dari toko di distrik 6 dan menanam nya di pot didepan ku. Itu yang kupikirkan.

Pikiranku, yang bercampur aduk dengan amarah dan keputusasaan, berfikir sampai sini. Aku memikirkan sesuatu yang membuat ku melebarkan mataku.

Tanah. Tanah hitam yang ada di pot... gak digali dari tanah di Akademi ataupun dibeli dari toko. Itu dibawa dari tanah diluar Central, dari alam liar yang bukan milik siapa-siapa. Aku pernah mengatakan ini ke Miller dari komite tanaman dan yang lain. Raios dan kelompok nya tau hal ini dan memutuskan,

"Berhubung tanah ini dari alam liar yang bukan milik siapa-siapa, bunga ini berarti bukan milik siapa-siapa juga, kan?"

Kalau masalah nya seperti ini, kalau begitu, ini adalah kesalahan yang kubuat. Berhubung Aku meninggalkan nya di kebun bunga yang bisa diakses siapapun, Aku harusnya berhati-hati dan memikirkan tentang masalah kepemilikan.

Orang-orang di UnderWorld gak akan melanggar hukum. Tapi bukan berarti semua penduduk dunia ini ramah-ramah. Beberapa dari mereka adalah orang yang bahkan berfikir kalau 'apapun yang gak dilarang hukum berarti boleh dilakukan'.

Aku seharusnya menyadari hal ini semenjak turnamen di Zakkaria.

"...Maaf..."

Aku mengambil tunas bunga yang terpisah-pisah di lantai dengan tangan kanan ku dan mengumpulkan nya di tangan kiri. Namun, yang tadinya berwarna biru kehijauan sekarang berubah warna menjadi lebih abu-abu di tangan ku.

Saat Aku mengambil seluruh 23 batang dan tunas bunga, Life mereka berkurang menjadi 0. Tunas bunga membentuk partikel cahaya biru kehijauan yang seperti mimpi dan menghilang di udara.

Tanpa sadar air mata telah mengalir dari mata ku.

Aku memaksakan bibir ku untuk tersenyum, kelihatan seperti mencoba untuk mentertawakan diri sendiri karena telah membiarkan anak yang jahat merusak bunga ku. Namun, pipiku mati rasa. Air mata yang kuhasilkan akhirnya jatuh, dan genangan kecil mendarat di batu bata disamping ku.

Aku akhirnya mengerti apa yang kuharapkan saat menanam bunga Zephyria ini.

Alasan pertama membesarkan bunga ini adalah untuk mengetes kekuatan imajinasi di UnderWorld.

Alasan kedua... untuk mengabulkan permohonan Rina-senpai, yang pernah bilang kepadaku 'Aku ingin melihat bunga Zephyria yang asli sekali saja'.

Namun, ada alasan ketiga yang gak pernah Aku temukan sampai saat ini. Aku benar-benar mencoba untuk menggunakan bunga ini sebagai peninggalan ku dengan mati-matian mencoba untuk menumbuhkan bunga ini di negeri asing. Aku ingin membagi beban ku dengan bunga ini, kesepian dan beban... dari meninggalkan orang-orang yang kucintai di dunia nyata, tanpa tau kapan Aku akan kembali...

Air mata terus berjatuhan dan meluncur di pipi ku, menetes ke lantai.

Aku mati-matian menahan tangisan ku dan meringkuk, mencoba untuk menggunakan tangan ku untuk menghibur diriku sendiri di lantai.

Aku lagi-lagi mengingat suara itu.


—Terus dan Percaya.

—Terus dan Percaya akan kekuatan dari bunga yang akan tumbuh di negeri asing. Dan juga, percaya akan kekuatan mu sendiri karena telah menumbuhkan bunga itu sampai sekarang.

Aku mendengar suara yang tak dapat dijelaskan ini berkali-kali saat melakukan perjalanan panjang ku. Sepertinya suara perempuan, tapi itu bukan suara yang familiar dengan ku. Dan juga, itu bukanlah suara dari gadis muda yang kudengar di gua yang melewati Mountain Range of the Edge 2 tahun yang lalu. Suara ini tenang, bijaksana, lembut dan hangat...

"...Tapi, semuanya... sudah tiada."

Aku bergumam. Suara itu dengan tenang menjawab.

—Tidak masalah.

—Batang yang tumbuh di dunia ini masih mencoba sekuat tenaga untuk bertahan hidup. Dan...kamu merasakan nya. Seluruh Sacred Flower di petak bunga ini mencoba untuk menolong teman kecil mereka. Mereka ingin memberikan kekuatan Life nya. Kamu bisa mengabulkan permohonan ini ke batang Zephyria.

"...Aku gak bisa melakukan nya. Aku gak bisa menggunakan Sacred Arts level tinggi itu."

—Sihir hanyalah sebuah cara untuk menyusun pikiran dan membimbing «emosi»... Kekuatan imajinasi yang digunakan lewat mulut. Saat ini, sihir dan medium tidak diperlukan.

—Ayo, hapus air matamu dan berdiri. Pergi rasakan, rasakan doa dari bunga-bunga itu.

—Rasakan, hukum dari dunia ini...


Suara itu berakhir disini, seperti menghilang disuatu tempat di tengah-tengah langit malam.

Aku mengambil nafas yang dalam ke dadaku yang masih gemetar, mengeluarkan nya, menggunakan lengan seragam ku untuk mengelap air mata, menguatkan diri dan berdiri.

Aku pelan-pelan berbalik, dan pemandangan yang tak bisa dipercaya muncul tepat didepan ku. 4 Sacred Flower yang tumbuh di 4 bagian petak bunga... Anemone yang mekar, Marigold yang bahkan belum bertunas, Dahlia yang tumbuh batang kecil dan bahkan Cattleya yang bersembunyi dibawah tanah semuanya memberikan cahaya hijau di malam yang gelap.

Sacred Power. Sumber daya. Kata-kata itu semuanya gak berarti dihadapan cahaya yang hangat, stabil tapi sangat kuat.

Aku menjulurkan lengan ku ke 4 Sacred Flower itu,

"...Tolong, berikan Aku kekuatan... Life, berikan sebagian untuk ku."

Aku menggumam sedikit dan membayangkan. Aku membayangkan Sacred Flower memberikan Life, menggunakan diriku sebagai katalis dan mengalir ke sisa bunga Zephyria di pot ini.

Sangat banyak garis hijau yang berkelip muncul di petak bunga. Mereka kemudian saling mendekat dengan satu sama lain, menenun dengan satu sama lain, dan akhirnya menjadi ikatan tebal yang tak terhitung jumlah nya. Aku melambaika jariku, dan mereka menari di udara sebelum akhirnya bergerak ke satu titik.

Pada saat ini, Aku hanya perlu melihat mereka. Ikatan cahaya menyelimuti pot yang hanya disisakan batang yang layu, tampaknya menyelimutinya berkali-kali... dan tampaknya membentuk bunga besar saat mereka diserap oleh tanah dan menghilang.

Dan kemudian,

Ke 23 batang pelan-pelan tumbuh dalam kecepatan yang bisa dilahat mata telanjang.

Tunas bunga pelan-pelan berkembang, tampak nya menyebarkan daun-daun nya yang tajam seperti pedang, dan tampak dilindungi oleh nya.

Aku melihat pemandangan ini, dan untuk kedua kali nya mengeluarkan air mata.

Ini benar-benar... dunia yang tak dapat dijelaskan. Semuanya seharusnya hanyalah benda virtual, tapi itu mempunyai keindahan yang bahkan dunia nyata gak bisa menyaingi... kekuatan dari Life... dan dari tekad yang kuat.

"...Terima kasih."

Aku berterimakasih kepada 4 Sacred Flowers di petak bunga dan pemilik dari suara misterius itu. Aku merenung sementara, dan mengeluarkan emblem sekolah dari baju seragam ku yang menempel dengan pin. Aku menjulurkan tangan ku, menaruh nya di pojokan pot, dan tampaknya berseru: Ini adalah teritori-ku.

Saat Aku kembali ke kamar, Aku akan meminta maaf pada pedang hitam yang bersender di lemari... kepada cabang Gigas Cedar. Dan kemudian, Aku akan berterimakasih kepadanya karena telah menolongku saat duel melawan Uolo.

Selagi memikirkan hal ini, Aku terus menatap bunga Zephyria yang memulihkan Life nya. Bel 7.30pm berbunyi, dan Aku akhirnya berdiri dari petak bunga dan berjalan menuju asrama.

Aku tanpa sengaja menengokkan kepalaku tepat didepan pintu, dan segalanya, pagar batu yang mengelilingi petak bunga, bagian belakang dari atap arena latihan dan Centoria Cathedral milik Gereja Axiom yang kelihatan seperti memotong langit malam penuh bintang ini memasuki mataku. Cahaya oranye keluar dari banyak jendela seperti pencakar langit di dunia nyata, tapi itu jauh lebih tinggi dan lebih indah dibanding pencakar langit itu.

—Tiba-tiba, sebuah cahaya meninggalkan menara dari menara yang tinggi.

Bagaimana bisa? Aku menatap cahaya itu, tapi itu bukan kesalahan mataku atau ilusi. Buktinya titik cahaya itu terus bertambah terang nya dan mendekat di jalanan Centoria Utara. Cahaya itu kemudian mempertahankan ketinggian nya lalu pelan-pelan meluncur, identitas aslinya adalah...

"...Naga yang terbang!"

Aku gak mungkin salah sekarang. Itu adalah cahaya dari lampu besar di armor naga yang terbang di udara. Itu bukanlah sebuah cahaya sinyal atau peringatan, tapi lampu untuk membiarkan orang-orang di tanah menunjukkan ketakutan dan kekaguman nya. Yang mengendarai punggung naga itu adalah salah satu dari penegak hukum terkuat di dunia ini— seorang «Integrity Knight».

Naga besar itu membuka sayap nya, tampak nya meluncur melewati langit malam dan terbang ke timur laut. Kemungkinan besar sedang menjalankan tugas nya untuk melindungi dunia manusia dan terbang ke Mountain Range of the Edge. Eugeo dan Aku menghabiskan waktu setahun untuk melewati 750km itu, namun naga itu hanya memerlukan waktu sehari.

Cahaya dari lampu itu menghilang, Aku berbalik untuk menyaksikan kemegahan Cathedral. Integrity Knight itu mungkin terbang dari ¾ ketinggian nya. Mungkin ada tempat semacam bandara disana. Aku terus melihat keatas, dan lantai tertinggi nya bercampur dengan langit malam, jadi Aku gak bisa melihatnya. Seharusnya ada pintu yang terhubung dengan dunia nyata, yang kucari-cari.

Namun— Ada feeling yang lemah akan ingin pulang kerumah, bertambah besar hari demi hari. Apakah itu hanya imajinasi ku? Aku juga merasakan feeling ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia ini, berbeda dengan yang Aku inginkan. Apakah Aku terlalu banyak berfikir...?

Aku menghirup aroma bunga-bunga ini dan pelan-pelan menghembuskan nya. Aku berpaling dari Cathedral dan dengan halus mendorong gerbang besar tua untuk keluar.

Pada akhir bulan maret—

Pendekar elit peringkat dua Solterina Celulute mengalahkan pendekar elit peringkat satu Uolo Levanteinn saat pertandingan seleksi kelulusan yang terakhir, dan lulus sebagai murid top dari Norlangarth Master Swords Academy.

Saat ia pergi, Aku memberiakn nya pot yang berisi penuh dengan bunga Zephyria. Rina-senpai menunjukkan seyuman yang berseri-seri untuk pertama kalinya, ditemani dengan air mata.


Dua minggu setelah ia lulus, ia ikut serta dalam «Empire Swordsmanship Tournament» yang diselenggarakan di arena kerajaan, tapi dicocokkan melawan anggota dari Ksatria Norlangarth. Sayang sekali, setelah pertandingan yang sengit, ia kalah.


Selingan II[edit]

Suara sepatu boot bergema di seluruh ruangan luas .


"Swordsman Elit dalam pelatihan Eugeo-dono, Saya melapor! Tugas menyapu hari ini selesai!"


Sumber suara itu adalah seorang gadis muda berpakaian seragam abu-abu pemula swordman dalam pelatihan.

Belum sebulan ini sejak dia masuk sekolah di musim semi dan menjadi valet, sikapnya penuh akan kegugupan.

Eugeo telah mencoba memperlakukan dia sebaik mungkin, tapi apapun yang dia katakan, dia tak pernah bisa santai... Tapi Eugeo mengerti situasi ini karena dia seperti itu tahun lalu. Dalam beberapa hal, fakta bahwa hanya ada 12 swordman elit yang lebih menakutkan dari para instruktur sendiri untuk murid pemula.

Butuh waktu sekitar 2 bulan untuk melakukan percakapan biasa, dan sama juga untuk Eugeo. Akan tetapi,bagaimanapun dia bukan rekan yang tipikal, dan ini hanya akan menjadi satu-satunya pengecualian.

Setelah menutup buku teks tua seni suci, Eugeo berdiri dari kursi bersandaran tinggi dan mengangguk sambil berkata.

"Terima kasih untuk semuanya, Teiza. Sekaran kamu bisa kembali ke asramamu... Eh, erm..."

Pandangannya berpaling pada gadis berambut warna teh berdiri di sebelah Teiza yang berambut merah tua, yang juga menegakkan punggungnya.

"...Maaf, Ronie. Aku menyuruh orang itu kembali setelah ruangannya disapu ..."

Eugeo meminta maaf untuk rekannya yang menghilang setelah latihan, pemula dalam pelatihan bernama Ronie melebarkan matanya dan menggelengkan kepala,

"Ti-tidak apa, tugasnya hanya selesai setelah laporan!"

"Begini, meskipun ini memalukan, tunggulah sebentar lagi. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya, beginii... Aku meminta maaf atas kelakuan teman sekamarku.."

Akademi Master Pedang Kekaisaran Norlangarth adalah institusi yang mengumpulkan putra dan putri bangsawan di Norlangarth dan mendidik mereka untuk menjadi swordsman terbaik. Tapi sekali mereka melewati gerbang sekolah, mereka yang berdarah bengsawan harus memulai dari dari garis yang sama dengan pemula dalam pelatihan lainnya.

Untuk kelas satu, hampir tak ada kesempatan unutk menyentuh pedang sungguhan, jadi hal yang mereka hanya bisa lakukan berlatih terus menerus dengan pedang kayu, mempelajari Seni Pertarungan dan Seni Suci. Juga, Para pemula dalam latihan harus menyelesaikan tugas bermacam-macam lainnya sambil belajar.

Tugas yang diserahkan pada mereka ditentukan dari nilaimu dalam ujian skill pedang. 90% dari siswa ditugaskan untuk membersihkan sekolah dan merawat peralatan ,atau menanam Bunga-bunga suci. 12 siswa teratas ditugaskan menjadi valet untuk para swordsman elit, dan sering menjadi sasaran kecemburuan ,keirian dari rekan-rekannya dan 2 bulan kegelisahan.

Tapi, meskipun mereka disebut valet, tugas-tugas yang mereka yang dapat tak berbeda jauh dibandingkan dari murid-murid lain. Mereka membersihkan ruangan para swordsman elit seperti kawan-kawannya membersihkan ruang kelas dan area latihan. Jika siswa yang valet ikuti adalah orang buruk yang membuang sampah dengan sengaja, membuat masalah atau cenderung pergi keluar dan menghilang, valet itu akan kesusahan setiap hari.

"...Jika kamu mau, Ronie, Aku bisa berbicara pada guru dan mengganti guru pribadimu... Jika kamu tetap mengikuti orang itu, ini akan menjadi tahun yang susah buatmu."

"I-ini tidak susah sama sekali!"

Setelah mendengar ide Eugeo, Ronie sekali lagi menggelengkan kepala, dan saat itu juga, ada suara yang akrab datang bukan dari pintu, tapi dari jendela terbuka yang dipenuhi cahaya kuning matahati terbenam.

"Fufu, apa yang kamu bicarakan di belakangku?"

Orang yang baru tiba di ruangan melalui jendela lantai 3 itu yang berpakaian seragam swordsman elit, Kirito. Penampilannya sama, tapi seragamnya berwarna hitam pekat, tak seperti milik Eugeo yang biru dan abu-abu. Warna dari seragam bisa dipilih karena merupakan salah satu dari banyak hak istimewa bagi swordsman elit dalam pelatihan.

Setelah melihat Kirito membawa kantong yang berbau sangat sedap, Ronie menunjukkan wajah lega,tapi segera menunjukkan ekspresi tegang lagi, dan suara sepatu boot bergema dalam ruangan.

"Swordsman elit Kirito-sama, Saya melapor! Tugas menyapu hari ini selesai tanpa tertunda!"

"Oke, terima kasih untuk semuanya."

Kirito dengan malu menggaruk kepalanya saat menjawabnya, tak terbiasa dengan mempunyai valet biasanya. Melihat ke arahnya, Eugeo tersenyum masam dan mulai menanyai rekannya apa yang terjadi.

"Uh, Kirito, Aku takkan bilang untuk tidak keluar dari kampus, tapi gadis-gadis ini lebih sibuk dari kamu, jadi kembalilah sebelum tugas menyapu selesai. Lagian, kenapa kamu harus datang melalui jendela?"

"Datang melaui jendela merupakan jarak terdekat jika kamu datang dari Jalan Selatan ke3. Ingat itu juga, Ronie dan Teiza. Mungkin akan berguna di masa depan."

"Jangan ajari mereka hal-hal aneh! ...Bicara tentang Jalan Selatan ke3, benda dalam kantong kertas itu pie madu kan?"

Bau manis yang tercium dari tangan Kirito dengan hebat merangsang perut pra-makan malam Eugoe

"...Benar itu enak, tapi kau tak perlu membeli banyak-banyak."

"Fufu, kamu hanya perlu mengatakannya langsung jika kamu mau, Eugeo-kun."

Kirito menyeringai sambil mengambil 2 pie madu segar keemasan. Dia meletakkan satu di mulutnya, satu di sebelah Eugeo, dan dengan lembut meletakkan kantong kertas yang tersisa di tangan Ronie.

"Saat kamu kembali ke asrama, makanlah ini dengan teman sekamarmu."

"WAAA!" Segera, Ronie dan Teiza memekik senang seperti gadis umur 15-16 tahun seharusnya lakukan, tapi segera dengan cepat berdiri kembali.

"Ter-Terima kasih banyak, Swordsman elit dalam pelatihan-sama!" ujar Ronie.

"Ayo cepat kembali ke asrama agar "Nyawa" makanan tidak berkurang terlalu banyak! Sampai jumpa besok!" kata Teiza dengan keras.

Setelah melakukan hormat simpel cepat, keduanya berjalan melalui ruangan dengan sepatu boot mereka berbunyi, membuka pintu, dan keluar dari koridor.

Mereka mengangguk sedikit sambil menutup pintu, pekikan senang bisa didengar dengan langkah kaki yang cepat menghilang ketika mereka semakin menjauh.

Sword Art Online Vol 10 - 331.jpg

"..."

Sambil menggigit potongan besar pie panggang segar, Eugeo menatap Kirito.

"...Apa?"

"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir, oh swordsman elit dalam pelatihan Kirito-sama, bahwa kamu mungkin telah melupakan alasan sebenarnya mengapa kita disini."

"Ha, siapa yang bisa melupakan itu?"

Kirito dengan cepat manghabiskan pienya, dan setelah menjilati ibu jarinya, matanya yang hitam segera melihat ke jendela- jauh di atas asrama swordsman pemula adalah menara besar Gereja Axiom yang berdiri di tengah tengah Centoria.

"3 kali lagi... Kita akhirnya sampai disini. Pertama, kita harus mengalahkan 10 swordsman elit lainnya saat tes kelulusan, dan mendapatkan peran sebagai perwakilan sekolah ini. Kemudian, kita harus mengalahkan om-om, para kesatria dan penjaga saat Turnamen Kepiawaian Berpedang Kekaisaran. Setelah itu, kita harus menjadi 2 terakhir yang tersisa dalam Turnamen Persatuan Empat Kekaisaran. Akhirnya, kamu bisa menjadi seorang Kesatria Integritas dan bebas masuk menara itu."

"Mn... 1 tahun lagi... kemudian, kita akhirnya dapat..."

—Dapat bertemu dengannya, gadis berambut pirang, temanku yang dibawa oleh Kesatria Integritas di depan mataku sendiri delapan tahun yang lalu.

Eugeo mengalihkan matanya dari Katedral Pusat jauh, dan memfokuskannya pada pedang hitam dan putih tergeletak pada dinding ruangan.

...Selama pedang-pedang takdir yang menuntun kita masih disini, kita pasti takkan pernah gagal...

Eugeo sangat percaya tanpa keraguan sedikitpun.


(Alicization Running Selesai)


Catatan Pengarang[edit]

Saya adalah Kawahara Reki. Ini adalah «Sword Art Online 10 Proyek Alicization Running» untuk semuanya.

Tulisan «Running» maknanya sama seperti yang tertulis, bagaimana proyek itu berjalan, proses berjalannya. Saya tidak mengharapkan volume ini untuk memberi kesan “berjalan” tetapi… setengah awal ceritanya benar-benar dipenuhi dengan penjelasan mengenai situasinya (hal-hal seperti ini biasa terjadi saat saya menulis buku). Kapan tepatnya pedang menjadi seni? Saya rasa ada beberapa pembaca yang memikirkannya. Saya akan mengatakan kata-kata yang biasa melalui tulisan ini. Saya benar-benar minta maaf karena punya banyak sekali penjelasan.

Sebagai catatan sampingan, saya ingin mengaku kepada semuanya. Bagian yang dipertanyakan di mana Kikuoka-shi, yang seharusnya berperan protagonis, mulai berbicara tentang semua hal-hal itu bukanlah gambaran dari pemikiran penulis. Motifnya dibangun dari kedudukannya. Tentu saja, ada banyak karakter pemain dengan motif berlawanan (kenyataannya, Asuna menolak pemikiran Kikuoka…). Saya tidak ingin melakukan ini «menjauhkan karakter pemain dengan penulis» pada awalnya dan menjelaskan kedudukan saya di cerita utama kepada pembaca, tetapi bagian tulisan saya ini tidak terlalu positif… Saya melanjutkan bekerja keras dalam meningkatkan kemampuan menulis saya, dan saya harap semuanya dapat memahami.


Juga, ada hal lain yang saya harus minta maaf. Buku ini dikeluarkan pada tanggal 10 Juli 2012, memecahkan format menjual tradisional «beberapa bulan tertentu setelah dikeluarkan» sejak dikeluarkan. Saya ingin menyamakan waktu dikeluarkannya dengan diputarnya anime TV SAO, tetapi memang benar saya mengambil risiko pewaktuannya. Saya benar-benar minta maaf kepada semua pembaca yang berharap untuk waktu pengeluaran yang biasanya! Selain itu, saya memprediksi (atau mungkin, saya harap) kalau «Accel World 12» setelah volume ini akan dikeluarkan Agustus seperti yang direncanakan. Setelah itu saya akan kembali mengeluarkannya setiap bulan berselang-seling. Saya pikir saya benar-benar harus bekerja keras dalam hal-hal yang saya harus lebih bekerja keras. Kalau ada hari di mana jadwalnya tidak sesuai, saya akan meminta maaf sepenuhnya kemudian…meskipun saya berkata demikian, saya akan sangat minta maaf jika ‘hari itu’ akan terjadi pada tahun ini…


Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, premier anime TV seharusnya dimulai saat volume ini dikeluarkan. SAO, yang dimulai dari sudut tertentu di sebuah website novel 10 tahun yang lalu, diserialkan oleh Dengeki Bunko, diubah menjadi manga, menjadi CD drama, dan animasi. Tentu saja, saya sangat senang, tetapi saya masih merasa sedikit rasa tidak percaya. Ini bukan naskah game, tetapi ada banyak poin pelanggaran di sini. Kalau atasannya bukan Miki-shi, ilustratornya bukan abec-san, kalau saya tidak memenangkan grand prize dari kontes novel ringan oleh Dengeki Bunko ke-15, kalau serial websitenya dihentikan, kalau saya tidak punya ide ‘menulis game mematikan VRMMO’ sepuluh tahun yang lalu, kemungkinan situasi ini tidak terjadi. Saya pada dasarnya seseorang yang akan melakukan sesuatu jika saya ingin dan pasti tidak saya lakukan ketika tidak ingin, tetapi tulisan ini yang disebut Sao memberi kekuatan begitu besar yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tentu saja, sebagian besar dari ini adalah kekuatan para pembaca yang hebat yang mendukung tulisan ini dan penulis. Cerita ini akan berlanjut, dan jika saya dapat melanjutkan untuk menemani Kirito di perjalanannya, saya akan sangat berterima kasih.


Tanpa sadar, sekarang halaman ke-3. Saya ingin menulis tentang beberapa situasi baru-baru ini…tetapi saya tidak bisa memikirkan sesuatu yang baik untuk dituliskan…! Sepeda yang saya suka memiliki jarak bepergian tetap, persis sama dengan treadmill yang saya miliki di rumah. Saya bertanya-tanya apakah outputnya akan menurun dengan inputnya atau tidak, sehingga saya mencoba yang terbaik untuk berpikir tentang apa yang ingin saya lakukan, berjalan ke mana-mana untuk bepergian dan hal sejenisnya, tetapi karena keterbatasan waktu, ketertarikan saya terbatas. Sejujurnya, saya benar-benar ingin melakukan hal-hal ini sekarang! Itulah yang saya rasakan ketika menulis naskah asli (tertawa). Bahkan jika saya melakukannya, kecepatan menulis saya tidak akan meningkat, yang benar-benar membuat marah hatiku.

Hanyalah 3 tahun setelah keluaran yang saya mengungkapkan pikiran seperti itu, tetapi saya sangat beruntung untuk menulis apa yang ingin saya tulis. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya, sangat, sangatlah susah. Dan bahkan jika saya bekerja keras, yang bisa saya lakukan semakin sedikit dan sedikit…untuk kesehatan saya, saya harus terus bersepeda. Tujuan saya adalah untuk bersepeda 150km setiap minggu.


Masih ada 14 baris, tetapi batas waktu untuk menyerahkan naskah adalah 10 menit lagi, sehingga saya harus berhenti di sini. Kalau ini adalah saya yang dulu, saya akan menulis 5 baris tulisan terima kasih, tetapi saya hanya dapat menulis beberapa hal di sini, sehingga saya akan menggunakan perkembangan ke depannya…

Di volume ke-3 «seri Alicization», Kirito dan Eugeo akhirnya bergerak ke pusat Underworld. Bagaimana dunia itu tersusun, dan siapa yang memimpinnya akan terungkap…iini seharusnya untuk perkembangan ke depannya, jadi tolong terus dukung seri selanjutnya.

Saya harap dukungannya untuk anime dan SAO edisi game yang dikembangkan oleh pembuatnya. Saya rasa itu tidak akan menjadi game mematikan di mana kamu tidak bisa log out!


Suatu hari tertentu pada Mei 2012, Kawahara Reki



Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. dibiarkan seperti ini karena akan jadi terlalu aneh namanya jika di terjemahkan.
  2. sama seperti referensi sebelum nya
  3. en.wikipedia.org/wiki/The_Truman_Show
  4. all-nighter : orang yang bekerja semalaman tanpa tidur, contohnya A belajar semalaman untuk ujian besok
  5. Object Control Authority : status di underworld, bisa dibilang seperti 'tenaga', semakin besar status nya maka semakin mudah untuk memakai benda yang lebih kuat atau lebih berat. contoh nya jika suatu pedang mempunyai syarat authority 50, tapi authority eugeo kurang dari itu, eugeo gak bisa memakai pedang itu
  6. Large Marsh Horsefly = lalatkuda besar yang tinggal di rawa. karena terlalu panjang dan gak efisien jika digunakan ditengah-tengah kalimat maka disingkat jadi lalat rawa saja
  7. mata uang di Underworld
  8. 蒼風斬
  9. status dalam game
  10. kalau sulit membayangkan nya, lihat gambar ini : http://www.baka-tsuki.org/project/images/thumb/9/9c/Sword_Art_Online_Vol_11_-_008.jpg/402px-Sword_Art_Online_Vol_11_-_008.jpg
  11. inggris : sister; suster disini bukannya suster yang kerja di rumah sakit, tapi 'suster' yang suka ada di gereja katolik
  12. mata uang di Aincrad
  13. ٤ or 4.