Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 6 Bab 10

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 10[edit]

Sinon menghela napas sebentar, dan menghabiskan waktu yang sama untuk mencoba menghembuskan udara dingin keluar dari paru-paru virtualnya.

Ia perlahan mencoba untuk menyesuaikan napasnya dengan detak jantungnya, dan reticle[1] hijaunya mulai membesar dan menyusut.

Ia melihat tepat di tengah-tengah layar. Seorang pemain sedang bergerak di antara semak-semak. Ia membawa sebuah senapan serbu «Yatei» kecil, dan meskipun senjata lainnya tidak dapat terlihat, ada beberapa bagian yang seperti menonjol padanya. Mungkin, ia mengurangi senapannya sebanyak mungkin, dan menggunakan perisai optik berteknologi tinggi dan armor multi lapis untuk mengatasi peluru, untuk mengisi kekurangannya. Selain itu, ia memakai helm dengan pelindung wajah, dan terlihat seperti babi jantan raksasa. Namanya adalah «Shishigane», dan data menunjukkan bahwa ia adalah pemain bertahan yang fokus pada VIT. Meskipun ia mengambil bagian di final terakhir, Sinon tidak menghadapinya secara langsung.

Dengan jarak lebih dari 1.200m, bahkan senapan sniper anti-tank «Ultima Ratio Hecate II» tidak bisa menyebabkan tembakan fatal terhadap armor tebal itu. Tentu saja, akan berbeda jika dia mampu menembak dua kali berturut-turut, tetapi sang musuh bukanlah orang bodoh. Sekali dia tertembak, dia akan segera menghilang dalam kegelapan dan tidak akan muncul lagi. Jika Sinon menunggunya untuk muncul pada posisi tersebut, pemain-pemain lain yang mendengar tembakan pertama itu pasti akan berkumpul, dan akan ada sekumpulan senapan mesin berkerumun di sekitarnya seperti sarang lebah.

Sembari Sinon berbaring tengkurap di antara batu-batu besar dan semak-semak, pelatuk di jarinya diam-diam bersuara,

“…Datanglah kemari.”

Ketika jarak antara musuh dan dirinya sekitar 800m, ia percaya bahwa ia dapat menembus bagian tipis dari armor, wajah, dan memberi jumlah kerusakan lebih besar untuk menyingkirkan pemain ini.

Namun, harapan Sinon tidak terjadi karena musuh berbalik dan menjauh darinya. Ia juga cukup berhati-hati untuk meletakkan armor yang berat di punggungnya, dan dapat dikatakan bahwa tidak ada celah untuk menyerangnya. Hal ini sangat disayangkan, tetapi sepertinya pilihan terbaik adalah Sinon harus menyerah pada buruannya kali ini dan menunggu musuh selanjutnya. Hanya sesaat ketika Sinon hendak menggerakan mata kanannya dari teropongnya, ia menyadari adanya sebuah benda bulat pada pinggang kanan si musuh.

Itu adalah granat plasma besar, ada dua. Mungkin ia menggunakannya untuk maksud perlindungan karena dia tidak membawa senjata dukungan. Tetapi, di permainan ini, «barang-barang murah tetapi efektif seperti itu» biasanya memiliki unsur bahaya baginya. Sinon membuat dirinya tegang dan menyipitkan matanya pada teropong. Ia memindahkan teropongnya turun dari punggung musuh ke bagian kanan bawah, dan akhirnya membidik crosshair[2]nya ke arah bola logam yang bergetar (granat). Menghirup napas, menghembuskan. Ia menghirup—dan berhenti.

Ketika bayangan untuk sukses menghapus semua pikiran acaknya, tubuh dan tangannya pada senapan sniper akan menyatu untuk sesaat, dan menentukan titik yang tepat. Gadis itu tentunya akan menarik pelatuk.

Kemudian, ada benturan mengenai tubuhnya. Matanya dengan segera berwarna putih karena percikan yang dihasilkan oleh moncong senjatanya. Tetapi, penglihatan Sinon segera kembali saat dia memeriksa teropongnya, dan melalui penglihatannya, ia dapat melihat granat yang ada di pinggang kanan lelaki itu meledak ‘bam’, dan ia memalingkan wajahnya dari senjata.

“Bingo.”

Ketika dia bergumam, sebuah ledakan biru terjadi di tengah bukit jauh di sana, dan semua pohon di sekitarnya rubuh. Sekian detik kemudian, suara petir terdengar, dan ia tidak perlu memeriksa untuk mengetahui bahwa HP dari lelaki itu berkurang menjadi nol.

Pada saat itu, Sinon berdiri, meluruskan kakinya, dan membawa Hecate[3]nya. Karena suara tembakan dan percikan dari moncong senjata mengungkap posisinya, beberapa menit setelah penembakan akan menjadi momen paling berbahaya untuk seorang sniper. Ia dengan cepat mengamati sekitar dan kemudian menentukan rute yang akan dituju.

Jalan ini banyak semak-semaknya di sekitar, sehingga ia tidak akan ditemukan dengan mudah. Selain itu, musuh-musuh yang ada di dekatnya akan tertarik pada ledakan besar si laki-laki mirip babi jantan tadi. Tetapi, meskipun mengetahui ini, Sinon tidak berhenti, malah melanjutkan berlari lebih dari satu menit sebelum berlutut di bawah pohon besar yang mati dan menghela napas. Ketika dia melihat ke atas, melalui celah di antara lapisan awan yang tebal, ia dapat melihat matahari yang berwarna merah darah tenggelam di barat. Sudah kira-kira 30 menit berlalu sejak turnamen “Bullet of Bullets” akhirnya dimulai.

Laki-laki tadi adalah yang kedua Sinon tembak dan singkirkan, tetapi para pemain tidak dapat mengetahui seberapa banyak yang selamat sampai satelit melakukan scan setiap 15 menit. Gadis itu mengeluarkan «Satellite Scanner»[4] nya yang pipih, mengaktifkannya untuk menunjukkan peta seluruh area dan dengan diam menunggu intel membaharui data.

Waktu di kiri layar menunjukkan bahwa waktu di dunia nyata adalah 8:30pm, dan peta yang sangat mendetail menunjukkan banyak sekali cahaya berkedip. Ada 21 buah, atau dengan kata lain, 9 orang telah disingkirkan. Sinon terus mengamati layar sambil mencoba memeriksa strateginya saat itu.

Tempat yang menjadi lahan turnamen adalah 10km pulau melingkar yang terisolasi. Utara pulau tersebut adalah padang gurun, dan selatannya semua adalah hutan-hutan dan bukit-bukit. Selain itu, ada sebuah kota terabaikan di tengah pulau. Sekarang ini, Sinon berada pada perbukitan paling selatan. Sedikit ke utara, ada sebuah sungai mengalir, memisahkan perbukitan dari hutan-hutan.

Sekarang ini, ada 3 titik cahaya dalam radius 1 km. Sinon menggunakan ujung jarinya untuk menandai nama-nama pada cahaya tersebut. Yang terdekat adalah «Dyne», yang bergerak menjauh 600m ke timur laut. Sedikit jauh ke timur adalah «Pale Rider» yang sedang mengejar «Dyne». Dan terakhir, titik cahaya terakhir yang berjarak 800m dari situ adalah «Lion King Richie».

Richie dilengkapi dengan senjata senapan mesin berat berteknologi tinggi «Vickers». Mungkin ia ingin mendapatkan poin tertinggi di area itu dan menyingkirkan semua pemain yang mendekatinya. Ia menggunakan strategi yang sama saat turnamen terakhir, dan harus mengundurkan diri karena kehabisan peluru. Tetapi, ia seharusnya memiliki strategi melawan saat ini. Yang manapun itu, ia dapat meninggalkan musuh ini, yang tidak bergerak sendiri.

Masalahnya adalah titik cahaya «Dyne», yang kelihatannya sedang berlari untuk menyelamatkan dirinya, dan «Pale Rider», yang sedang mengejarnya. Dyne bukan hanya pemimpin pasukan di mana Sinon mengikut, tetapi juga seorang veteran yang masuk ke final BoB 3 kali. Ia memiliki senapan serbu «SG550» dengannya, dan spesialisasinya di pertarungan semi dekat. Orang ini memang tidak layak dihormati dalam sisi karakteristik, tetapi dia bukan musuh yang bisa diremehkan.

Dan untuk Pale Rider, yang mengejar Dyne, juga bukan seseorang yang layak diremehkan. Sejujurnya, Sinon belum pernah bertemu dengannya, dan tentu saja tidak pernah melawannya. Apakah ia benar-benar kuat? Apakah hanya karena senjatanya sesuai dengan keadaan sekitar? Baru saja Sinon merasa curiga, satelit di langit terlihat akan hilang, dan semua titik cahaya yang ada di peta berkedip-kedip. Intel akan segera menghilang dalam waktu 10 detik.

Sinon mengangkat tangannya secara reflek, siap untuk menghitung 18 titik yang jauh. Tetapi, baru saja ketika telunjuknya akan menyentuh layar, tangannya mengepal tinju. Itu karena ia menyadari bahwa ia mencari sebuah nama khusus tertentu.

“…Mengapa aku harus terganggu, oleh seorang lelaki seperti dia.”

Sinon bergumam perlahan. Tidak perlu baginya untuk mengkhawatirkan laki-laki seperti itu—apakah pengguna pedang cahaya yang keji «Kirito» masih hidup atau tidak. Sekarang ini, ia harus fokus pada mangsa yang memasuki jangkauan Hecatenya. Jika Kirito memasuki jangkauan itu, ia hanya perlu membidik, menembak, dan mengakhiri hidupnya dengan segera tanpa perasaan apapun.

Cahaya-cahaya yang berkedip akhirnya menghilang diam-diam. Sinon menempatkan alat scannernya ke dalam kantongnya dan berlari lagi menembus hutan.

Di bawahnya adalah sebuah bukit bertingkat, dan berlawanan dengan itu adalah sebuah hutan lebat. Sekarang ini, Dyne dan Pale Rider ada di bagian hutan terdalam, bergerak dari kanan Sinon ke kiri. Seharusnya, keduanya menuju sungai yang membagi area menjadi dua dan jembatan yang terbentang di sungai. Dyne yang berhati-hati pasti berusaha menghindari pertarungan di hutan yang memiliki risiko tinggi dan memilih untuk bertarung di jembatan di mana jangkauan penglihatannya bagus untuk menghadapi sang pengejar, Pale Rider.

Sinon lebih dekat dengan jembatan dibandingkan mereka. Jika dia lari sekarang, ia mungkin dapat mencapai posisi menembak pertama kali. Ia ingin melihat pertarungan mereka dari sana dan menembak pemenangnya ketika ia lengah.

Menyiapkan Hecate di bahu kanannya, Sinon merendahkan tubuhnya dan lari menembus hutan lagi.

Gadis itu berhasil melewati daerah perbukitan berwarna merah teh dengan selamat, dan sebuah pantulan cahaya merah tua terlintas di penglihatan Sinon, tepat ketika ia menukik ke bawah semak-semak terakhir di sana.

Itu adalah sebuah sungai. Mengalir dari perbukitan selatan, dengan megah berkelok-kelok melalui tengah dari keseluruhan peta menuju utara sebelum menghilang dari pandangan berkabut dari reruntuhan kota yang terabaikan yang jauh. Di seberang sungai ada sebuah hutan yang memiliki banyak pepohonan tua, dan sedikit ke bawah pohon-pohon itu, ia dapat melihat jalan berbatu yang meliuk-meliuk. Jalan itu mencapai sungai 200m ke utara di mana Sinon bersembunyi, dan terhubung ke sebuah jembatan logam sederhana. Saat ini, kedua pemain seharusnya sedang berlari menuruni jalan—

Intuisinya sepertinya benar karena, sesosok wajah datang berlari dari kegelapan pepohonan tua yang tumbuh di antara jalan dan jembatan logam. Sinon dengan segera menyiapkan Hecate nya di tanah dan mengatur matanya sebelum dia bahkan menyejajarkan matanya pada teropong.

Badannya mengenakan pakaian bermotif woodland[5], dan dagunya dapat terlihat dari bawah helmnya. Selain itu, dari senapan SIGnya memastikan bahwa laki-laki itu adalah Dyne. Ia berlari dengan mulus menuruni jalanan seperti seorang veteran, dan setelah meninggalkan hutan beberapa detik. Ia dengan cepat berlari 50m ke bawah menuju jembatan logam, ke samping di mana Sinon bersembunyi dan segera menunduk ke tanah, tiarap.

“…Jadi begitu.”

Sinon bergumam dengan rasa hormat. Dalam situasi ini, ia dapat menyerang musuh yang akan menyeberangi jembatan logam. Tetapi, ia masih tetap terlalu ceroboh. Untuk seorang musuh yang mungkin bersembunyi di seberang sungai, ia menunjukkan punggungnya dalam keadaan tidak terlindung sama sekali.

“Kau harus melindungi punggungmu tidak peduli kapan itu, Dyne.”

Sinon bergumam sembari crosshair nya menyejajarkan dan menangkap sebuah wajah yang kasar. Sekarang ia dapat mengambil langkah langsung tanpa harus menunggu Dyne dan Pale Rider untuk bertarung. Meskipun Pale Rider akan mengetahui keberadaan Sinon, ia harus menyeberangi jembatan kalau dia ingin mendatanginya. Sinon hanya 200m jauhnya dari jembatan logam itu, dan bahkan jika musuh berlari dengan seluruh kekuatannya, ia yakin kalau itu akan menjadi tembakan pasti-mati.

--Tentu saja, aku hanya akan berkata maaf untuk mereka yang menonton dari galeri..

Sinon berpikir sembari diam-diam menempatkan jarinya ke pelatuk Hecate, tetapi pada detik selanjutnya…

Ada hawa dingin di belakangnya.

Juga ada seseorang di belakangnya.

--Bodoh! Aku lupa mengawasi belakangku karena fokus menembak!

Ketika Sinon berteriak di kepalanya, ia dengan cepat memindahkan tangan kanannya dari Hecate. Ia berbalik 180 derajat seperti badannya adalah pegas dan menggunakan tangan kanannya untuk mengeluarkan senjata lainnya, «MP7» senjata sub-mesin. Ketika melakukan itu, pikirannya melepaskan lintasan-lintasan pikiran yang terganggu.

--Tapi bagaimana bisa ada seseorang di belakangku? Hanya ada Lion King Richie ketika kuperiksa di «Satellite Scanner» beberapa menit lalu, ya kan? Orang itu tidak mungkin berlari menuruni gunung. Dan aku tidak mungkin tidak menyadari jejak kaki musuh jika ia berlari dengan sebuah senjata mesin berat. Berbicara tentang itu, hampir mustahil untuk musuk selain Richie untuk berada di belakangku di waktu yang singkat. Apa yang terjadi—siapa itu—

Meskipun dia sangat terkejut, Sinon meraih MP7 di belakangnya dan menempatkan moncongnya di depannya. Tentu saja, dia tidak terlalu memperhatikannya, ia tidak dapat mempercayai kalau seseorang telah mendahuluinya.

Sekarang ini, dia tidak bisa menghindari penyerangan itu. Mereka akan segera menggunakan semua peluru pada magasin untuk mengurangi HP yang lain—Sinon menyiapkan diri untuk menekan pelatuk setelah menyiapkan dirinya untuk ini. Tetapi hanya ketika dia akan menekan pelatuk dan menembakkan peluru…

Penyerangnya bergumam perlahan sambil mengangkat tangan kanannya, seperti ingin menghentikan Sinon,

“Tunggu!”

“Uehh…!?”

Sinon membuka matanya lebih lebar dan berbalik dari moncong senjata ke wajah musuh untuk melihat.

Ia segera melihat rambut hitam sepanjang pinggang, dan kulit lembut putih bahkan di bawah matahari terbenam, dan sepasang mata sipit yang berkilau. Musuhnya, Kirito terlihat setengah tergeletak, membawa FiveSeven pistol dengan tangan kirinya dan membidik ke arahnya.

Setelah menyadari situasi itu, Sinon merasakan beberapa perasaan sekaligus, semua menyatu menjadi satu dalam suasana. Ia melupakan moncong senjata di depan matanya dan secara tidak sadar menggertakkan giginya, melemparkan pandangan gusar, dan bergerak untuk menembakkan MP7 di tangan kanannya.

Tetapi Kirito sekali lagi berkata dengan suara tenang yang membuat Sinon berhenti mengerahkan kekuatan pada jarinya.

“Tunggu. Aku punya penawaran.”

“…Apa yang bisa ditawarkan pada situasi seperti ini…”

Sinon membalas argumennya dengan nada halus tetapi penuh dengan niat membunuh.

“Apa yang bisa ditawarkan dan dikompromikan pada situasi ini!? Kita hanya menunggu untuk melihat siapa yang mati duluan!”

“Aku dapat saja menembakmu duluan kalau aku ingin menembak!”

Kata-kata Kirito menjadi tegang tiba-tiba, menyebabkan Sinon terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang lebih menyusahkannya daripada ditodong ujung laras senapan.

Dan meskipun ia tidak senang dengannya, apa yang Kirito katakan benar. Kalau dia dapat mendekatinya dengan mudah, ia dapat menyerangnya dari belakang dengan menembakkan peluru atau menggunakan pedang cahaya.

“…”

Menghadapi Sinon, yang terpaksa diam, Kirito sekali lagi melanjutkan berbicara halus,

“Aku tidak ingin kedua orang itu mendengar kita menembak satu sama lain.”

Mata Kirito tiba-tiba melihat ke belakang Sinon, di jembatan logam di mana pertarungan lain akan segera dimulai.

“Uehh…? Apa maksudmu…”

“Aku ingin melihat pertarungan di jembatan sampai pemenangnya ditentukan. Tolong jangan melakukan apapun sampai saat itu.”

“…Melihat? Dan apa yang akan kamu lakukan setelah itu? Apakah kamu akan berkata sesuatu yang bodoh seperti, "ayo mulai menyerang satu sama lain" setelah itu?”

“Kita harus mengamati keadaan…tetapi aku akan pergi, jadi aku tidak akan menyerangmu.”

“Tetapi aku bisa menembakmu dari belakang, kau tahu?”

“Itu tidak bisa dipungkiri. Tolong bertahanlah denganku. Pertarungan dimulai!”

Ketika Kirito dengan gelisah berpaling untuk melihat ke arah jembatan logam, ia benar-benar menurunkan FiveSeven di tangan kirinya. Meskipun musuh mengarahkan senjata sub-mesin tepat di dahinya, ia tetap menempatkan pistol kembali ke dalam sarungnya.

Meskipun ia marah, Sinon merasa itu tidak bisa tertolong, dan bahunya menjadi rileks.

Jika ia mengerahkan sedikit lagi kekuatan pada jarinya yang ada pada pelatuk, 24 buah peluru 4.6mm Mp7 dapat menembak dan menghabisi semua HP Kirito. Tetapi, Sinon sudah terlanjur melihat Kirito sebagai musuh terbesarnya, sehingga ia sangat tidak ingin untuk menyudahi pertarungan melawan dia dengan cara yang tidak karuan seperti itu.

Kalo itu Kirito, mungkin ia dapat menghindari tembakan dari Hecate bahkan lintasannya. Sinon sudah merencanakan ini dan memikirkan semua cara agar ia dapat melawannya satu lawan satu. Jika mereka harus bertarung, tentu saja ia berharap agar Kirito dan dirinya adalah dua orang terakhir yang bertahan dari 30 pemain dan kemudian bertarung di sebuah pertarungan deadmatch yang akan menggunakan semua hati dan jiwa mereka.

“…Maukah kau melawanku dengan sebagaimana mestinya setelah ini selesai?”

“Ya.”

Kirito menganggukan kepala, dan Sinon meletakkan senjata sub-mesinnya setelah melihat mata Kirito untuk setengah detik. Ia tahu kalau ini tidak menyenangkan, tetapi untuk mencegah Kirito dari tiba-tiba menyerangnya, ia tetap tidak memindahkan jarinya dari pelatuk. Tetapi, Kirito sendiri segera merilekskan seluruh tubuhnya dan menelungkupkan badannya di semak-semak sebelah Sinon. Ia mengambil teropong kecil dari sabuk sarung pistolnya dan mulai menonton pertarungan.

Tindakan ini, yang sama sekali tidak memperhatikan untuk mempertimbangkan Sinon sebagai potensi ancaman membuatnya marah dan segan di saat yang sama. Mengapa orang ini harus menyaksikan orang lain bertarung? Berbicara tentang itu, kapan dia muncul? Tidak ada nama Kirito dalam jangkauan 1km sekitarnya ketika dia memeriksa «Satellite Scanner» beberapa menit yang lalu.

Tetapi, Sinon tetap menelan keraguannya kembali dan meletakkan MP7 di pinggang kanannya. Ia kemudian membawa Hecate dengan dua tangan dan menggunakan teropong untuk menyaksikan kedua orang yang sedang bertarung.

Di jembatan logam, Sinon masih dapat melihat Dyne dalam posisi telungkup di dekatnya. SG550 yang menempel di wajahnya tidak bergerak sama sekali, dan konsentrasi yang tidak terbuyarkan ini menunjukkan bahwa dia bukanlah seseorang yang patut diremehkan. Tentu saja, Pale Rider yang mendesar Dyne ke situasi sulit seperti ini tidak mungkin muncul dengan mudah dari hutan melewatinya.

“…Pertarungan yang kau cari mungkin tidak akan terjadi.”

Sinon bergumam pada Kirito, yang ada di sebelahnya, dengan nada mengejek.

“Dyne tidak akan terus-menerus telungkup di sana. Sekali laki-laki itu bersiap untuk bergerak, aku akan menembaknya dulu.”

“Dalam hal itu, kau boleh mengambil tindakan…tidak, tunggu.”

Jawaban Kirito tiba-tiba menjadi tegang. Sinon memindah matanya dari teleskop secara reflek dan melihat ke arah jembatan logam dengan mata telanjang. Pada waktu itu, sebuah sosok tiba-tiba muncul dari jalan yang ada di dalam hutan lebat.

Sosok itu adalah seorang pemain yang tinggi dan kurus, menggunakan baju kamuflase biru dan putih misterius. Karena dia memakai sebuah helm hitam, mereka tidak dapat melihat wajahnya. Orang itu hanya dipersenjatai dengan senapan «ArmaLite AR 17» ringan. Orang ini seharusnya— tidak, ia tentunya adalah «Pale Rider» yang mengejar Dyne.

Dyne yang berbaring di sisi seberang jembatan, segera menegang di bagian bahu, dan atmosfir tidak biasa ini menyebar sampai ke Sinon yang jauh. Sebaliknya, ia tidak merasakan adanya tekanan dari sikap berdiri Pale Rider. Ia tidak terlihat takut akan SIG di tangan Dyne karena ia hanya menyeberangi jembatan dengan mudah.

“…Orang itu kuat…”

Sinon tidak dapat memungkiri dan mengatakan hal itu, dan di sebelahnya, Kirito tiba-tiba menggerakkan badannya sedikit. Sinon melihat sekilas ke arahnya dan menemukan bagian samping wajahnya yang mirip seperti seorang gadis menunjukkan ketegangan yang sangat. Dengan kata lain, Kirito sedang memperhatikan Pale Rider? Meskipun itu adalah pertama kali Sinon melihat nama dan penampilan pemain itu, tindakannya menunjukkan kalau dia memang memiliki kemampuan tertentu.

GGO memiliki kemampuan membantu prediksi «Bullet Line» yang tidak ada di kehidupan nyata. Tidaklah mudah mendekati musuh dengan sebuah senjata mesin otomatis. Biasanya, ada penghalang-penghalang untuk seseorang bersembunyi di belakang, sehingga ia dapat lari dari satu tempat ke tempat lainnya, menggunakan pergerakan menyamping untuk mendekati musuh.

Tetapi, Pale Rider hanya melangkah menuju jembatan logam tanpa perlindungan dengan santai. Tidak ada apapun, tidak ada bentang alam ataupun benda untuk menghalangi peluru. Bahkan Dyne, yang melarikan diri untuk menciptakan situasi ini hanya dapat terus telungkup di tanah, dan sedikit keraguan dapat terlihat di belakangnya.

Tetapi, Dyne adalah pemimpin pasukan dalam waktu yang cukup lama, sehingga pengalamannya membuatnya mengabaikan keraguannya. Sedetik kemudian, senapan serbu SG550 nya menembak dengan suara kuat yang menyerupai mesin Swiss, dan segera menyebar ke seluruh permukaan sungai.

Tetapi, Pale Rider sendiri menghindari peluru-peluru 5.5mm yang banyak sekali yang ditembakkan dengan cara yang tidak disangka oleh Sinon. Ia kemudian berlari ke kawat yang menyangga jembatan dan menggunakan tangan kirinya untuk memanjat. Dyne dengan terburu-buru mencoba membidikkan senjata padanya, tetapi sulit untuk seseorang dalam keadaan telungkup untuk menembak ke musuh yang ada di atas, sebagai akibat tembakan keduanya tidak mengenainya, Pale Rider menggunakan hentakan tali untuk melompat ke jembatan pada posisi yang lebih dekat dengan Dyne. “Pengguna STR, menggunakan peralatan cahaya dan mempercepat gerakan 3 dimensi…poin skillnya lumayan tinggi juga.”

Saat Sinon bergumam, Dyne berdiri untuk menunjukkan kalau dia tidak akan dibodohi untuk kedua kalinya dan menekan pelatuk untuk ketiga kalinya. Tetapi, serangan ini telah diantisipasi oleh Pale Rider. Dengan demikian ada celah kecil pada jalur penembakan dan tanah, sosok biru dan putih itu bergegas menyerbu masuk tanpa jatuh menggunakan tangan kirinya untuk menyangga tanah dan berguling ke depan. Ia hanya berjarak 20 cm dari Dyne ketika bangun.

“Sialan kau…!”

Dyne mengeluarkan makian yang biasa digunakan dan mencoba mengganti dengan cepat 30-peluru magasin yang kosong. Tetapi…

ArmaLite di tangan kanan Pale Rider mengeluarkan kilasan diam.

Pada jarak sedekat itu, peluru-peluru senapan tidak akan sepenuhnya meleset. Dyne seketika terjatuh ke belakang ketika spesial efek kilat tersebar di seluruh badannya. Tetapi, bukan main, ia tidak berhenti malah mengisi dan menyiapkan senjatanya di depan wajahnya—tetapi, ada suara tembakan kedua.

Pale Rider sekali lagi mendekat dan menembak untuk kedua kalinya yang menyebabkan Dyne kehilangan keseimbangan. Ini adalah bagian paling menakutkan dari senapan, menyebabkan efek yang lama di samping damage yang biasa, memperbolehkan seseorang untuk terus-menerus diserang tanpa daya.

--Tidak perlu untuk membawa SIG ke depannya karena kilatan dari moncong senjata, yang ditembakkan dari pinggang, sangatlah kuat.

Tetapi, pikiran Sinon tidak dapat tersalurkan ke otak Dyne, dan sudah terlambat. Pale Rider terus mendekat dan perlahan mengisi AR17 sebelum menekan pelatuk di depan Dyne untuk ketiga kalinya. 12 gauge shell[6] meledak, meluncurkan hujan peluru dan membuat sisa HP Dyne menjadi nol.

Dyne, yang berada di tanah dengan lemas, mendapat sebuah kata [Dead] yang besar berwarna merah yang perlahan berputar. Sekarang ia tersingkir dari final. Ia tidak akan bisa log out selama itu untuk mencegah para pemain untuk bertukar informasi di dunia nyata. «Jenazah» ini hanya dapat menonton siaran langsung dengan sadar sampai turnamen selesai.

“Pemain berbaju biru itu luar biasa...”

Di sebelahnya, Kirito berbicara dengan perlahan. Sinon dengan tidak sadar hampir menganggukkan kepala sebagai respon, dan segera mengerutkan alisnya mendengar apa yang dikatakannya selanjutnya,

“…Apakah orang itu…salah satu orang yang kita bicarakan dalam daftar…?”

Sinon merasa sangat curiga, tetapi segera mengingat bahwa «Pale Rider» adalah satu dari tiga pemain yang Kirito khawatirkan. Dengan kata lain, Pale Rider dapat menjadi target. Keduanya mencoba saling membunuh di sebuah game VRMMO yang Kirito mainkan sebelumnya, dan nama game itu adalah—tidak, mungkin game itu adalah yang namanya menjadi terkenal…

Saat ini, Sinon memaksa dirinya untuk berhenti berpikir.

Kirito seharusnya memiliki masalah sendiri, tetapi itu adalah masalahnya. Tidak seorang pun seharusnya menghalangi, tidak seorang pun seharusnya menanggung tanggung jawab itu.

Sinon terlihat seperti ingin menghilangkan sedikit keraguan ini dan melepas pengaman Hecate nya sebelum berkata perlahan dan santai,

“Aku akan menembak orang itu.”

Tanpa menunggu respon dari Kirito, ia menempatkan jarinya pada pelatuk. Setelah Pale Rider menyingkirkan Dyne dengan serangan mengagumkan, ia meninggalkan jembatan dan siap untuk menuju ke utara. Crosshair Sinon segera menangkap penglihatan punggung kurusnya, dan mempertimbangkan arah angin dan jarak sebelum mempersiapkan dirinya.

Pada saat ini, Kirito akhirnya menjawab dengan suara parau,

“Ahh…Aku mengerti. Tetapi, jika dia adalah orang itu…”

--Lalu, mengapa kalau dia adalah orang itu? Apa kau berusaha memberitahuku kalau dalam jarak kurang dari 300m dengan memunggungi, ia dapat menghindari tembakan spesialku «tembakan pertama tanpa jalur peluru»?

“…Berhenti bercanda.”

Sinon hanya menggerakkan bibirnya untuk menjawab Kirito dan mulai menarik pelatuk tanpa keraguan—

Tetapi pada saat itu…

Sinon melihat sebuah penglihatan yang tidak dapat dipercaya dari teropongnya. Sebuah peluru kecil keluar dari bahu kanan baju kamuflase biru putih Pale Rider, dan orang tinggi dan kurus ini rubuh ke kanan, lebih seperti ia terpukul daripada terkena peluru.

““Ahh…!””

Sinon dan Kirito, yang melihat adegan itu dengan teropongnya dari kiri, berteriak pada waktu yang sama.

Meskipun terkejut, Sinon tetap fokus pada pendengarannya secara naluri. Tentu saja, ini untuk memeriksa suara tembakan yang mengenai Pale Rider, dari mana itu berasal dan kualitas suaranya. Tetapi…

Tidak peduli seberapa tajam telinganya, yang dapat didengarnya hanyalah angin kering dan air mengalir di sungai.

“…Apakah aku melewatkannya…?”

Sinon bergumam, dan Kirito, yang terlihat berpikir tentang itu, dengan perlahan menjawab,

“Tidak, aku tidak mendengar apapun juga. Apa yang terjadi…?"

“Satu-satunya hal yang dapat kupikirkan…adalah bahwa itu merupakan senapan laser yang mengeluarkan suara sangat pelan…atau senjata dengan peredam. Tetapi…”

“Ap..apa?…?”

Sinon melihat sekilas ke samping dan menatap ke arah Kirito yang kebingungan, memikirkan berapa banyak yang harus diajarkan kepadanya dan mulai menjelaskan. “Itu adalah muffler[7]. Sebuah peralatan yang diletakkan di depan senjata untuk meredam suara tembakan.”

“Jadi, jadi itu adalah peredam…”

“Kau bisa menyebutnya seperti itu. Namun demikian, sebuah senapan yang dilengkapi dengan ini dapat meredam suara tembakan hanya sampai batas tertentu. Tetapi alat ini akan mempengaruhi ketepatan, jangkauan tembak, dan cukup mahal.”

“Aku mengerti…”

Kirito menganggukkan kepalanya saat matanya melihat sekilas ke ujung Hecate II milik Sinon. Bagian depannya hanyalah sebuah muzzle brake[8], dan bahkan seorang pemula seperti Kirito tahu bahwa itu bukanlah peredam. Sinon menambahkan sebelum Kirito berkata sesuatu,

“Ini bukan untuk menghemat uang, tetapi karena alat-alat seperti itu bukanlah gayaku.”

Menyenangkaaan.

Ia mendengus dan sekali lagi melihat melalui teropong. Pale Rider, yang rubuh ke tanah, tidak seperti akan berdiri, tetapi itu bukanlah tembakan yang fatal. Kalau iya, akan ada tulisan merah ‘dead’ seperti yang ada pada Dyne, yang tidak jauh darinya. ‘’Ia masih hidup, lalu kenapa dia tidak lari atau melawan balik’—

Selain itu, ada keraguan yang lain juga. 10 menit lalu, di peta «Satellite Scan», Sinon memeriksa kalau tidak ada siapapun dalam jarak 1km. Dengan kata lain, penembak misterius itu menembak dari jarak yang cukup jauh. Tapi jika itu benar, musuh akan menggunakan caliber yang lebih besar untuk menembak. Di GGO, semakin besar gunbarrel[9], semakin lemah efek peredam, dan ketepatan serta jangkauan tembak akan lebih terpengaruh. Tetapi, tidak ada suara tembakan terdengar, dan ia tidak dapat memahami mengapa.

Ketika ia berpikir, Sinon tiba-tiba teringat kalau ia juga bertanya-tanya tentang hal yang sama tentang pemain yang ada di sebelahnya saat ini, dan merasa kalau ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya. Ia berbalik dan berkata dengan halus,

“…Ngomong-ngomong, Kirito, dari mana kamu muncul? Kamu tidak ada di sekitar perbukitan ini 10 menit lalu di satellite scan.”

“Eh…? Aku mengikuti Pale Rider sekitar 500m jauhnya, jadi seharusnya aku muncul di layar…tidak, ahh, aku tahu.”

“Tahu apa?”

“Ngomong-ngomong, aku seharusnya sedang mengarungi sungai 10 menit yang lalu. Mungkin itu karena aku bersembunyi di bawah air sehingga satelit tidak menemukan aku…”

—KAU, KAU BERENANG MELEWATI SUNGAI!?

Sinon mencoba menahan suaranya sebisanya, dan tidak berteriak.

Telah diketahui bahwa sungai-sungai dan danau-danau di game ini bukanlah area terlarang, dan tidak akan menyebabkan pemain mati jika masuk ke dalam. Tetapi, HP akan terus turun di air, dan pemain tidak akan bisa berenang karena beratnya perlengkapan yang ada di badan. Jadi, hampir tidak mungkin untuk pemain manapun berenang di sungai lebar itu kecuali untuk pasukan katak-tipe pemain dengan peralatan bernapas.

“Bagaimana, bagaimana kau melakukannya…?”

Setelah akhirnya ia menanyakan pertanyaannya dengan kesusahan, Kirito hanya mengangkat bahunya dan menjawab,

“Tentu saja aku melepas semua perlengkapanku untuk waktu itu. Semua VRMMO yang menggunakan rincian dari «The Seed» dapat melepas perlengkapannya dari window back pribadi ke kotak item. Jadi, tidak perlu membawanya kan?”

“…”

Mungkin ini bisa dikatakan sebagai contoh yang cocok untuk mendeskripsikan seseorang yang sangat kaget sampai-sampai tidak bisa memberi respon. Lupakan tentang berenang, keberanian untuk melepas semua senjata dan perisai di tengah-tengah medan perang sangatlah tidak bisa dipercaya.

“…Orang-orang akan senang tentunya melihat karaktermu memakai pakaian dalam seperti itu.”

“Arr, bukankah siaran langsung hanya menunjukkan adegan pertarungan?”

Melihat Kirito menjawab dengan kalimat jangan-coba-dan-bodohi-aku, Sinon hanya mendengus dengan dingin dan menjawab,

“…Ngomong-ngomong, jadi «Satellite Scanner» tidak bisa mendeteksi orang yang ada di dalam air. Akan kuingat itu. Tetapi, Pale Rider yang kau ikuti dengan mengarungi sungai cukup kuat, tetapi bukan pemain terhebat. Ia tidak sanggup bangun setelah tertembak sebuah peluru, sepertinya ia…”

Baru saja Sinon akan berkata ‘tidak akan bertahan hidup’, ia disela oleh Kirito, yang menaikkan teropongnya kembali.

“Tidak…Aku tidak berpikir dia terlalu takut sampai tidak sanggup bangun…lihatlah dia, bukankah ada cahaya terang aneh di avatarnya…?”

“Eh…”

Sinon segera membesarkan jangkauan teropongnya. Meskipun susah ditebak karena matahari tenggelam begitu terik, baju kamuflase biru putih Pale Rider memang bercahaya biru di sekujur tubuhnya. Sinon tidak melihat efek itu sebelumnya, dan itu adalah—

“Sebuah…sebuah peluru setrum elektrik…!?”

“Ap, apa itu?”

“Seperti namanya, itu adalah sebuah peluru unik yang dapat menyebabkan tegangan listrik tinggi begitu mengenai target. Tetapi memerlukan senapan caliber cukup besar untuk mengisinya, dan bahkan sebutir peluru sangatlah mahal, sehingga jarang digunakan di PvP. Itu adalah perluru yang digunakan ketika suatu kelompok memburu Mob besar.”

Kenyataannya, ketika Sinon menjelaskan, cahaya yang melumpuhkan Pale Rider mulai meredup. Beberapa detik kemudian, dan efeknya akan hilang. HP nya seharusnya tidak akan turun, tetapi sekarang ia sama sekali tidak mengerti mengapa musuh mau melakukan tembakan yang sangat sulit seperti—

“—!”

Sinon tidak dapat menebak apakah rasa gemetar itu datang darinya atau dari Kirito di sebelahnya.

200m ke utara dari di mana mereka berdua bersembunyi adalah jembatan logam besar yang terbentang ke arah timur dan selatan. Di bagian barat jembatan ada Dyne, yang telah mati. Pale Rider rubuh oleh sebuah peluru setrum yang datang dari hutan bagian timur, dan sekarang 5m ke utara darinya. Tetapi, ia sudah siap bangun.

Tepat di antara badan Pale Rider dan Dyne, sesosok hitam keluar dari bayang-bayang sebuah tiang logam penyangga.

Sekilas, tidak Nampak seperti seseorang (pemain). Avatarnya benar-benar tertutup dengan kehadiran misterius. Setelah mencoba melihat dengan jelas, Sinon akhirnya mengerti mengapa ia tidak bisa melihatnya. Orang itu berkerudung mantel abu-abu, dan tudungnya berkibar-kibar tidak karuan seperti bahan yang tipis dan kecil karena angin. Itu adalah sebuah Ghillie Suit yang seorang sniper kenakan. Tidak, itu seharusnya disebut «Ghillie Mantle». Tetapi—

“…Sejak kapan dia menunggu di sana…?”

Sinon bergumam tidak sadar. Orang bermantel itu pastinya adalah orang yang menembak Pale Rider. Tetapi, sejak kapan dia berpindah dari hutan dan menyeberangi jembatan? Meskipun dia memakai Ghillie Mantle yang memiliki kemampuan menyamar yang tinggi, ia tentu akan ketahuan kalau dia melewati jembatan logam tanpa seorang pun memperhatikan. Atau dia berenang di sungai seperti Kirito? Tetapi kalau itu benar, ia yakin tidak pernah melihatnya membuka window dan mengatur perlengkapan badannya.

Tetapi pada detik selanjutnya, terungkapnya rahasia dengan mengejutkan yang mengguncang seluruh keraguan Sinon terjadi.

Mantel yang tersobek itu melangkah ke depan, dan mengungkapkan senjata utama yang tersembunyi di badannya di tangan kanannya.

“—«Silent Assasin».”

Ia mengeluarkan suara seperti terengah-engah.

Itu adalah sebuah senapan sniper besar yang kira-kira sepanjang Hecate nya. Meskipun senjatanya sendiri lebih pipih dibandingkan Hecate, beberapa lubang baut yang melewati rakitan mesin, cengkeraman yang sangat canggih yang memiliki pegangan untuk ibu jari dan body senjata yang abu-abu tua mengkilap semuanya memberi rasa merinding pada tulang. Tetapi, spesialisasi yang paling unik darinya adalah peredam besar yang terpasang dengan moncong senjata. Tidak, tidak tepat mengatakannya terpasang, lebih cocok dikatakan, itu adalah senjata sniper yang didesign untuk tujuan menggunakan peredam.

Nama sebenarnya adalah «Accuracy International L115A3», dan senjata itu menggunakan peluru Lapua Magnum .338 inci. Meskipun peluru itu jauh lebih rendah mutunya dibanding .50 BMG yang Hecate II gunakan, L 115 bukanlah senjata anti-tank[10]. Dapat dikatakan bahwa senjata ini awalnya memang dilengkapi dengan peredam untuk menembak orang. Karena jangkauan terbesarnya lebih dari 2.000m, mereka yang tertembak peluru tidak bisa melihat penembaknya, dan tidak bisa mendengar suara tembakan sebelum mati. Sehingga, orang menyebutnya—«Silent Assassin».

Sinon memang pernah mendengar tentang senjata ini di GGO, tetapi ia belum pernah melihatnya. Berbicara tentang itu, ia belum pernah mendengar seorang sniper yang mampu bekerja sendiri selain dirinya. Tetapi, orang bermantel itu mampu menembak dari kedalaman hutan menyeberangi sungai dan menembak Pale Rider. Tidak mungkin melakukannya tanpa skill yang cukup, konsentrasi, pengaturan dan detak jantung.

—Siapa orang itu?

Sinon secara naluri memeriksa jam tangan di tangan kirinya. Sekarang pukul 8.40pm. Masih ada 5 menit sebelum «Satellite Scan» yang ketiga, dan pada situasi ini, waktu terasa sangat lama.

Orang bermantel misterius yang ada di teropongnya itu memberi kehadiran kematian dengan mengikatkan L115 nya ke bahu kanannya. Sinon membuka matanya lebih lebar untuk melihat apakah ada tanda pengenal atau anggota suatu kelompok, tetapi tidak ada yang aneh selain mulut senjata dan tudung abu-abu tuanya. Ketika Sinon memperhatikannya, orang bermantel itu terlihat meluncur sambil berjalan menuju Pale Rider yang terjatuh ke tanah.

Sword Art Online Vol 06 -103.jpeg

Pale Rider, yang mampu mengalahkan Dyne tanpa mendapat luka satupun, adalah seorang pemain yang mengeluarkan tanda kehadiran yang kuat. Sinon tidak pernah mendengar namanya sebelumnya, tetapi di daratan utara yang jauh, ia sepertinya terkenal seperti «Behemoth» yang menggunakan minigun. Tetapi, melihat keduanya seperti ini, keberadaan orang bermantel adalah yang paling mengejutkan. Ketika ia mendapat Hecate nya pertama kali, Sinon mengalahkan monster mirip boss sendirian, dan orang bermantel itu membuat Sinon merinding yang lebih hebat dibandingkan ketika menghadapi monster itu—tidak, orang itu memberi rasa takut yang lebih hebat daripada monster itu.

Tetapi ketika dia menyadari kemampuan orang bermantel itu, Sinon memiliki sebuah pertanyaan yang tidak bisa dia pahami.

Meskipun dia mempunyai sebuah senjata langka dan teknik sniper yang sangat tinggi, mengapa ia menggunakan peluru setrum dan bukannya peluru sungguhan. Pale Rider memiliki perlengkapan sedikit, jadi sebuah Laqua .338 seharusnya dapat membunuhnya kalau mengenai kepala atau jantung. Tetapi, strategi kalau ia ingin menginginkan seseorang lumpuh sebelum menembak dengan lebih tepat, tidak bisa dimengerti. Tetapi, orang bermantel itu muncul dari hutan, menembakkan peluru setrum yang pertama dan berjalan menuju Pale Rider yang HP nya masih banyak, mengungkapkan posisinya. Bukankah tembakan sulit itu akan menjadi tidak berguna? Kegelisahan yang datang karena tidak berhasil menebak maksud musuh membuat Sinon menggigit bibirnya.

Ngomong-ngomong, Kirito, yang ada di sebelahnya menjadi diam. Meskipun Sinon ingin memeriksa keadaan dengannya, ia bingung haruskah ia memalingkan matanya dari orang bermantel itu dan melihat hanya lewat teropong di Hecate nya. Orang bermantel itu bergerak ke depan Pale Rider dan memasukkan tangan kanannya ke dalam tudung sambil membawa L115. Apakah ia akan menghabisinya dengan senjata lain? Sinon berpikir. Bahkan senapan mini pun dapat membuat HP Pale Rider menjadi nol jika jaraknya sangat dekat—

“…Eh…”

Tetapi Sinon sekali lagi mengeluarkan suara terkejut.

Yang dikeluarkan orang bermantel adalah sebuah pistol. Karena bayang-bayang akibat matahari tenggelam terlalu mengganggu dan segera pistol itu tertutup badan, Sinon tidak bisa menebak jenis apakah itu, tetapi siluetnya sudah cukup untuk menunjukkan kalau itu adalah sebuah pistol otomatis biasa.

Sebuah tembakan dari pistol tidak akan menyebabkan damage lebih banyak dari sebuah senapan, tetapi bahkan setelah menekan pelatuk berturut-turut, ia tidak dapat menembak secara otomatis, dan akan membutuhkan waktu lebih banyak sebelum HP musuh dapat turun. Sekarang ini, Pale Rider sedang terbaring di tanah, dan akan segera pulih dari kelumpuhan. Di saat ia dapat bergerak, tentunya ia akan menembakkan senapan di tangan kanannya. Pada waktu itu, satu-satunya yang akan mati adalah orang bermantel itu.

Meskipun demikian, pemain misterius ini hanya berdiri di sana, menunggu angin malam untuk meniup Ghillie mantle nya. Tidak ada rasa gelisah maupun keraguan di benak nya. Ia terus mengarahkan tangan kanannya ke arah Pale Rider, yang terbaring di tanah, dan kemudian mengangkat tangannya dari dalam mantel. Tangannya tidak memegang apapun. Tidak jelas apa yang orang bermantel itu akan lakukan tetapi ia meletakkan jari kirinya di dahinya. Kemudian ke dada, akhirnya kiri kemudian kanan.

Tindakan ini disebut Cross-sign[11]— apakah ia berencana mendoakan musuh yang akan segera mati? Tetapi dia tidak punya waktu untuk ini. Apakah dia berpikir dapat menghindari tembakan pada jarak sedekat itu? Ataukah, ia hanya orang sombong yang beruntung mendapatkan senjata langka…?

Pertanyaan-pertanyaan tidak perlu itu membuat Sinon menggigit bibirnya dengan gelisah. Tiba-tiba, sebuah suara halus terdengar di telinga kanannya.

“…Cepatlah dan tembak dia, Sinon.”

Itu adalah suara Kirito. Kalimat pendek itu memiliki unsur mendesak yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sinon tidak bisa menahan diri untuk bertanya,

“Eh? Menembak siapa?”

“Tembak orang bermantel itu!! Tolong, tembaklah! Tembak sebelum ia melakukan sesuatu!!”

Suara gelisah yang tidak biasa itu sesungguhnya menyebabkan Sinon mengerahkan kekuatan pada jari telunjuk kanannya yang ada pada pelatuk Hecate nya. Sinon biasanya akan menggerutu, tetapi saat ini, dia membidik melalui crosshairnya punggung orang bermantel itu. Ia memprediksi arah angin dan kelembaban dari efek debu sekitar dan sedikit bergeser menyesuaikan sudut tembaknya. Ketika dia menekan jarinya yang ada di pelatuk, lintasan peluru hijau segera mengarah ke musuh.

Logisnya, Sinon akan menunggu pemenang di antara keduanya. Kalau ia menyerang orang bermantel itu sekarang, Pale Rider akan pulih dari kelumpuhan dan kabur ke semak-semak di kiri, dan Sinon tidak akan punya kesempatan untuk menembaknya. Tetapi bahkan setelah mengetahui hal itu, Sinon tidak mengurangi kekuatan yang diberikannya pada jarinya. Untuk alasan tertentu, ia merasa ia harus menembak tidak peduli apapun. Ia berhenti bernapas, membiarkan dinginnya udara berhenti di dadanya. Rasa dingin itu dapat membuatnya lebih rileks. *Bekun*…*bekun*…hanya ketika reticlenya menyusut dan detak jantungnya seperti berkumpul di sebuah lingkaran kecil—

Sebuah suara tembakan.

Muzzled brake yang besar mengeluarkan sebuah api besar yang terlihat seperti api naga.

Jaraknya hanya 300m antara ia dan targetnya, jadi tidak mungkin ia meleset. Sinon bahkan dapat melihat sebuah ilusi di mana avatar itu memiliki lubang besar di sana.

—Tetapi,

Kenyataannya, pada saat Sinon menekan pelatuknya, badan bagian atas orang bermantel itu membungkuk mundur seperti hantu yang tidak berwujud. Peluru pasti-mati menyerempet dadanya dan membuat lubang besar di kejauhan.

“Ap…”

Sinon tidak mampu berkata-kata dan merasakan perasaan tidak yakin. Ia mengetahui bahwa orang itu memalingkan kepalanya menuju lokasinya, dan melihatnya dari dalam mantelnya. Wajah keji itu memberi senyuman, dan Sinon terengah-engah secara tidak sadar.

“Or…orang itu, ia tahu kita di sini…dari awal…”

“Bagaimana mungkin…! Ia tidak pernah melihat kita sekalipun!”

Mendengar suara Kirito yang sama terkejutnya, Sinon menggelengkan kepalanya sedikit dan berkata,

“Tidak mungkin untuk menghindari ini tanpa melihat arah peluru. Dengan kata lain, ia mulai mengetahui keberadaanku dari waktu tertentu dan memeriksanya lewat sistem…”

Ketika dia mengatakan ini, tangan kanannya secara otomatis mengisi peluru ke dalam Hecate. Sinon sekali lagi siap untuk menembak, tetapi mulai ragu-ragu. Menghadapi musuh yang memiliki kecepatan respon seperti itu, ada kemungkinan 99% kalau peluru ini akan dihindari. Ia dapat menembakkan 4 peluru dari magasinnya, tapi kalau ia menggunakan semuanya, akan mudah bagi musuh untuk menyerang balik. Apa yang harus aku lakukan…apa yang harus aku lakukan.

Orang bermantel itu membalikkan badannya ke depan seperti ia mengetahui keragu-raguan Sinon yang singkat.

Ia sekali lagi mengarahkan pistol otomatis di tangan kanannya ke arah Pale Rider, dan menjentikkan pengaman dengan ibu jarinya. Tangan kirinya yang menyangga, dan ia dengan santai menekan pelatuk.

Sebuah kilatan muncul. Setelah beberapa detik, Sinon dapat mendengar tembakan di telinganya.

“Ahh…!”

Kirito merintih, terlihat seperti ketakutan akan sesuatu.

Tentu saja, peluru itu mengenai Pale Rider. Itu ada damage fisik, tetapi siapapun di dunia ini tidak akan segera mati karena sebuah peluru bundar 9mm tidak peduli di manapun ia tertembak. Selain itu, Pale Rider juga memiliki HP kurang lebih 90%. Tapi untuk alasan tertentu, orang bermantel itu berhenti menembak. Ia hanya memegang pistol dan diam di sana. Ia tahu kalau Sinon membidiknya, tetapi ia tidak pernah berpikir untuk berlindung. Ia mungkin percaya kalau ia dapat menghindari peluru manapun.

1 detik, 2 detik, 3 detik—

Pada waktu itu, efek peluru setrum yang melumpuhkan Pale Rider menghilang. Lelaki yang berbaju kamuflase biru putih kemudian melompat dan dengan cepat mengangkat senjata AR17 nya dengan kecepatan kilat dan meletakkannya di dada orang bermantel. Jaraknya nol, dan semua pelurunya dapat menembus jantung orang itu. Kekuatannya berbeda dari pistol, dan orang bermantel itu dapat terbunuh hanya dengan sekali tembak.

Sinon dan Kirito, yang berbaring di sebelahnya, dan semua penonton di seluruh dunia GGO dan dunia nyata yang menyaksikan siaran langsung ini pastinya menonton dengan mata lebar-lebar.

Tembakan serangannya—tidak pernah terdengar.

Yang menggantikannya adalah sekilas suara sebuah benda berat jatuh. Itu adalah suara AR17 di tangan kanan Pale Rider yang jatuh ke tanah berpasir berwarna coklat gelap.

Kemudian, Pale Rider terjatuh dengan posisi berlutut seperti sendi-sendinya telah dihancurkan layaknya sebuah boneka dan miring ke kanan perlahan sebelum akhirnya terjatuh di tanah.

Dari posisi Sinon, ia dapat melihat bibir di bawah helm Pale Rider. Ia membuka mulutnya, seperti membuat suara menangis perlahan dan seperti kesulitan menghirup napas.

Ia tiba-tiba mengangkat tangan kirinya dengan tenaga lemah, memegang dada tengahnya. Dan sesaat kemudian—

Badan yang memakai baju kamuflase biru putih itu terlihat dikelilingi cahaya yang statis dan tiba-tiba menghilang.

Akhirnya, yang tersisa darinya hanyalah sebaris kecil cahaya menunjukkan tulisan [PUTUS KONEKSI], tetapi segera tulisan itu memudar dan menghilang. “…Apa, apa itu?”

Beberapa detik kemudian, Sinon akhirnya berhasil mengatakan kata-kata itu. Orang bermantel itu hanya menembakkan pistol ke Pale Rider. Pada saat ini, seharusnya Pale Rider masih memiliki sisa HP. Kemudian, Pale Rider terbebas dari kelumpuhan dan siap untuk melawan balik dengan senapan. Tetapi hanya ketika ia akan menembak, sayangnya sambungan nya terputus , dan membuatnya ditendang keluar dari game. Jika diperlukan penjelasan akan apa yang baru saja terjadi di hadapannya, ini adalah penjelasan paling masuk akal.

Tetapi bagaimana bisa putus koneksi di saat yang benar-benar tepat? Dan, kebetulan nya, orang bermantel yang hampir kalah itu kelihatannya tahu kalau putus koneksi ini akan terjadi. Tidak, ini lebih dari itu—

Ini serasa dia mampu menendang Pale Rider keluar dari game semaunya. Tapi itu tidak mungkin. Tidak mungkin untuk ikut campur jaringan koneksi pemain lain dalam game.

Bagaimanapun, orang bermantel itu tidak terlihat kaget dengan hilangnya Pale Rider sama sekali, malahan ia hanya memasukkan tangan kirinya ke dalam mantelnya. Kemudian, ia mengangkat pistol di tangan kanannya dan membidik ke satu titik tertentu. Sinon segera mengetahui apa itu. Itu adalah kamera video yang menyiarkan siaran langsung turnamen. Turnamen itu menyiapkan sebuah benda berwarna terang di langit untuk menunjukkan kepada pemain kalau mereka sedang direkam. Dengan kata lain, itu adalah pernyataan kemenangan kepada semua penonton. Tetapi, apa yang ia nyatakan? Baru saja, pertarungannya dengan Pale Rider tidak berlaku karena terjadinya putus koneksi, jadi itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk dibualkan. Atau—hilangnya pemain baru saja adalah kemenangan sesungguhnya untuk orang bermantel itu? Dengan kata lain…

“Orang itu…dapat memutus koneksi pemain lain dari server…?”

Sinon bergumam dengan suara parau.

Dan di sebelahnya, Kirito terlihat melamun sambil menjawab,

“Salah…bukan itu. Itu bukan hanya kekuatan biasa.”

“Apanya yang bukan kekuatan biasa? Itu adalah masalah besar! Bagaimana caranya dia bisa memakai cara curang seperti itu? Apa yang dilakukan perusahaan Zasker…?”

“SALAH!”

Kirito tiba-tiba menggenggam bahu kiri Sinon dengan kuat. Sinon ingin melepaskannya secara naluri, tetapi kata-kata selanjutnya membuatnya membeku.

“Orang itu tidak menendang pemain keluar dari server. Ia membunuhnya. Pale Rider baru saja…Pale Rider yang asli sudah meninggal!!”

“…Kau…”

Apa yang kau katakan?

Sinon baru akan mengatakannya, tetapi apa yang Kirito katakan selanjutnya membuat Sinon menelan kata-katanya kembali.

“Jadi aku benar. Orang itu…orang itu adalah «Death Gun»—«Death Gun»!”

Sinon pernah mendengar namanya sebelumnya. Setelah pengetahuan samar-samar muncul dari ingatannya, ia kemudian berkata.

“…Death…Gun. Apakah ini tentang rumor aneh…? Tentang seseorang yang menembak pemenang turnamen terakhir «Zexceed», dan «Usujio Tarako» yang mendapat posisi tertinggi, di bar di jalan dan di alun-alun, dan mereka tidak pernah log in lagi setelah itu…”

“Ya, itu benar…”

Kirito menganggukkan kepalanya dan kemudian melihat ke wajah Sinon. Matanya yang besar dan hitam menunjukkan dampak yang kuat dan ketakutan yang belum pernah Sinon lihat sebelumnya. Selain itu, ia juga gemetar karena suatu perasaan.

“Aku merasa…itu tidak mungkin. Kemarin, saat menunggu di kubah, aku bertemu dengannya dan masih terus menyangkal kemungkinan ini. Tetapi aku tidak perlu meragukannya lagi…orang itu jelas menggunakan suatu cara untuk membunuh pemain di dunia nyata. Bahkan, jenazah «Zexceed» dan «Usujio Tarako» baru saja ditemukan baru-baru ini…”

“…”

—Bagaimana kau tahu mengenai ini? Siapa kau? Apa hubunganmu dengan orang bermantel itu…?

Tentu saja, Sinon masih tidak dapat mempercayai ini sejujurnya. Membunuh seseorang di dunia nyata dari game? Itu terlalu jauh untuk dikaitkan…dan bukankah ini berlawanan? Jika sesuatu di dalam game mempengaruhi kehidupan di dunia nyata, maka itu bukanlah game lagi. Tetapi, melihat Kirito yang serius, suara dan tatapan yang tidak seperti virtual avatar dapat lakukan, ia hanya merasa ini bukan sesuatu untuk ditertawakan. Siapa—siapa sebenarnya kamu ini…

Pikiran Sinon campur aduk dan hanya bisa terdiam. Saat ini, Kirito yang terus menatap dengan tajam akhirnya berhasil mengalihkan pandangan darinya ke jembatan logam, dan Sinon melihat ke sana juga seperti ia dibimbing untuk melihat ke arah sana.

Orang bermantel misterius yang membuat Pale Rider «log out» menurunkan pistol yang terarah pada kamera dan berbalik melihat Dyne yang ada di selatan. Dyne, yang memiliki tanda [Mati] di perutnya, masih log in, tetapi tidak bisa berbicara, dan tidak bisa membuat ekspresi apapun, sehingga tidak ada yang bisa mengetahui hal-hal seperti apa yang dipikirkannya tentang pertandingan yang aneh ini.

Orang bermantel itu meletakkan pistolnya kembali ke sarungnya, menali L115 nya di bahunya dengan suara shyari, dan mulai berjalan menuju Dyne. Apakah ia akan menyerang «jenazah» Dyne? Sinon tidak bisa menghindari tetapi terkesiap memikirkan hal itu, dan Kirito sepertinya berpikir hal yang sama karena badan rampingnya mengejang sedikit, seperti ia akan bergegas keluar dari hutan.

Tetapi mungkin Dyne—sangat beruntung karena orang bermantel itu tidak mengeluarkan pistol otomatisnya, tetapi berjalan melalui Dyne dan bergerak ke arah jembatan logam. Ia tidak menyeberanginya tetapi menghilang di balik tiang besar dan tebal seperti pertama ia muncul. Ia tentunya berjalan di sungai yang sedikit dangkal. Meskipun mereka tidak bisa melihatnya sekarang, kemungkinan posisi orang itu adalah menuju utara atau turun ke selatan sungai. Jika ia mulai bergerak sekarang, ia akan melihat orang itu lagi—…

“…Masih belum muncul…”

Kirito bergumam. Sinon masih menganggukkan kepalanya. Bahkan setelah 10 detik, orang bermantel itu tidak muncul. Ini berarti dia masih sembunyi di bayang-bayang di belakang jembatan. Sepertinya ia khawatir dengan senapan Sinon.

Sekarang ini, sekilas suara getaran dering yang dirasakan dari pergelangan tangan kirinya, dan Sinon memeriksa jam tangannya. 8.44pm 50 detik. Ada 10 detik tersisa sebelum «Satellite Scanner» yang ketiga. Sinon menarik peralatannya keluar dari kantong pinggangnya dan melihat ke layar.

“Kirito, perhatikan jembatannya. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk memeriksa nama orang itu.”

“Mengerti”

Mendengar jawaban singkat itu, Sinon menunggu peta untuk memperbaharui data. Masih ada 3 detik…2, 1, scan dimulai. Satelit mata-mata seusia perang galaksi terbang di langit, dan melakukan scan ke semua permukaan tanpa melewatkan satu titik pun. Mata elektroniknya dapat dengan mudah membaca melalui penutup mini. Tidak ada cara untuk bersembunyi kecuali bersembunyi di gua atau berenang di air seperti Kirito.

"PaPaPaPaa"….Setelah beberapa kali ketukan, cahaya-cahaya baru muncul di layar. Lion King Richie masih berkemah di puncak perbukitan jauh di selatan. Ia tidak akan bisa menuruni perbukitan sebelum turnamen usai.

Sekitar 800m di utaranya, ada dua titik berkelap-kelip bersembunyi antara hutan dan perbukitan adalah Kirito dan Sinon. Untuk pemain-pemain yang jauh dari mereka, mereka tentu berpikir kalau mereka sedang bertarung dalam jarak dekat. Mereka seharusnya tidak akan menyangka kalau mereka terdorong sedikit demi sedikit, bersembunyi di semak-semak. Tentu saja, Sinon berdoa agar pemain lainnya tidak mengetahuinya.

Dan 200m ke utara, ada kerlipan cahaya agak terang, menunjukkan Dyne, yang sudah mati. Sedikit ke utara, dan itu adalah titik cahaya Pale Rider, tetapi petanya tidak menunjukkan itu. Dan di sisi kiri Dyne, adalah titik cahaya orang bermantel yang ada di bawah jembatan—

“Eh…Eh, tidak ada di sana?”

Sinon berkata dengan kaget sehingga dia memandang dengan tajam ke layar itu. Tetapi tidak peduli seberapa lama dia melihat, di sekitar jembatan logam hanya menunjukkan titik cahaya Dyne. Orang bermantel itu sudah pindah ke suatu tempat. Tetapi jika ia berpindah dari sungai, ia pasti mengetahuinya. Sinon kemudian panik karena berpikir apa yang terjadi, tetapi kemudian ia segera berpikir lagi. Hanya ada satu kemungkinan yang dapat ia pikirkan. Ia menggunakan cara yang sama yang dilakukan Kirito dan mengarungi sungai untuk menghindari satellite scanner. Jika benar, itu artinya…

“…Ada kemungkinan.”

Mendengar Sinon menggumam, Kirito memberengut. Sinon memandangnya sekilas dan kemudian dengan cepat menjelaskan situasinya.

“Orang bermantel itu tidak muncul di layar, jadi sudah pasti ia sembunyi di dalam sungai. Jika itu benar, ia pastinya melepas semua perlengkapannya. Bahkan jika ia ingin keluar dari sungai, akan dibutuhkan waktu paling sedikit 10 detik untuknya membuka window dan melengkapi dirinya. Kita hanya perlu menyerangnya…”

“Bagaimana jika itu hanyalah sebuah pistol? Ia pasti bisa bergerak jika hanya membawa senjata ringan seperti itu, kan?”

Sebelum ia selesai, Kirito menanyakan keraguan yang sama. Sinon hanya dapat menjawab dengan malas,

“Aku belum pernah mencoba ini sebelumnya, tetapi nilai STR dan VIT cukup tinggi, jadi seharusnya…tapi meskipun begitu, kita seharusnya bisa mengalahkan seseorang yang berpistol dengan mudah…”

“TIDAK!”

Kirito mendadak berhenti meredam suaranya dan berteriak, dengan paksa menggenggam tangan kiri Sinon.

“Kau juga melihatnya, kan? Pistol orang itu membuat Pale Rider menghilang! Kamu mungkin akan benar-benar mati jika tertembak!”

Sinon tidak bisa mengalihkan wajahnya dari mata hitam bersinar Kirito. Ia memaksa dirinya untuk tidak melihatnya, menggelengkan kepalanya, dan menjawab,

“…Tetapi aku tetap saja tidak bisa percaya kalau akan ada kematian nyata yang diakibatkan penembakan di game…Uun, atau lebih ke, kalau ini benar-benar nyata, orang bermantel itu dapat membunuh siapa saja sesukanya, kan? Bagaimana itu mungkin…Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya. Bagaimana bisa seseorang seperti dia ada di GGO…di VRMMO…”

Itu benar. Bahkan di dunia «Gun Gale Online» yang kejam, di mana keinginan membunuh ada di mana-mana, itu tetaplah «dunia damai» untuk Sinon/Shino.

Dunia ini tidak memiliki niat yang benar-benar jahat atau niat membunuh. Alasan mengapa mereka menggantikan komunikasi dengan peluru dan asap semata-mata karena mereka ingin mengungguli teman-temannya, untuk lebih kuat dari siapapun. Di dunia ini, tidak peduli berapa kali mereka tertembak atau berapa banyak peluru yang mengenai, mereka tidak akan kehilangan setetes darah pun. Selain itu, mereka pasti juga tidak merasakan rasa sakit, luka, atau kerusakan yang nyata. Jadi, meskipun mereka merasa menyesal setelah kalah dalam suatu pertarungan, mereka tidak akan mendendam terhadap musuh. Seperti pertarungan berat sebelumnya. Sekujur kaki kiri Sinon tertembak oleh minigun milik Behemoth, dan Behemoth tertembak oleh Hecate milik Sinon. Tetapi setelah pertarungan itu, Sinon merasa percaya diri, cerminan dan rasa hormat untuk Behemoth yang kuat. Ia percaya bahwa Behemoth juga merasakan hal yang sama tentangnya. Karena itulah Sinon memutuskan memilih dunia GGO ini, suatu bantalan yang melindunginya dari dirinya yang lemah dan ingatan mengerikan di dunia nyata. Ia percaya bahwa jika ia terus bertarung di sini, kepercayaan diri yang dibuatnya di dunia virtual suatu hari akan melampaui dendam yang sangat dideritanya di dunia nyata.

Tidak akan ada kebencian apapun di sebuah dunia virtual. Tidak akan menjadi suatu kenyataan pahit yang selalu ditakutkan dan dihindari Sinon…

“Aku…benar-benar tidak bisa percaya kalau benar ada seorang pemain VRMMO yang membunuh seseorang selain PKing.”

Mendengar Sinon berbisik—

Kirito menjawab dengan suara benar-benar sedih,

“Tetapi mereka memang ada. Orang bermantel itu……«Death Gun», ia terbiasa membunuh banyak orang yang ada di VRMMO yang kumainkan sebelumnya. Bahkan setelah mengetahui musuh akan benar-benar meninggal, ia tetap mengayunkan pedangnya. Sama seperti bagaimana ia menembak Pale Rider baru saja, dan…aku…”

Saat ini, Kirito berhenti berbicara, melihat ke bawah dan melepaskan tangan Sinon. Namun, dengan menyatukan kata-kata berat itu dan percakapan yang dilakukannya dengan Kirito sebelumnya, mudah untuk mengetahui apa yang tidak ia katakan.

Tiga tahun yang lalu—di akhir AD 2022, «insiden itu» mengejutkan seluruh Jepang. Bahkan Sinon, yang tidak tertarik pada VRMMO pada saat itu mengetahui kejadian ini dengan jelas karena laporan panjang dari media setiap hari. Ada lebih dari 10.000 orang muda yang terperangkap hidup di dunia virtual; dan dua tahun kemudian, mereka yang dibebaskan dan kembali ke dunia nyata adalah sekitar 6.000. Dengan kata lain, 4.000 nyawa melayang karena insiden itu.

Tanpa diragukan, Kirito adalah salah satu dari «orang yang selamat» dari dunia itu. Dan meskipun ia tidak berbohong, «Death Gun» seharusnya sama dengannya. Tidak, bukan itu. Ada suatu kebenaran yang lebih mengerikan di balik pengakuan Kirito.

Mereka yang mati di game itu pada dasarnya meninggal di dunia nyata. «Death Gun» mengetahui kalau mereka akan meninggal dan membunuh banyak pemain semaunya. Ia adalah «pemain yang benar-benar membunuh seseorang di VRMMO» Sinon berkata. Orang itu di GGO…pada saat ini, ia ada di medan «final BoB ke-3», dan bahkan mengambil nyawa pemain-pemain di dunia nyata tanpa alasan yang diketahui. Itu adalah yang dimaksud Kirito.

Sinon akhirnya berhasil memahami sesuatu dari pikirannya yang campur aduk, dan segera merinding di sekujur tubuhnya.

Pandangannya mulai menggelap dari pusatnya. Sepertinya ada sesuatu mengawasinya dari kegelapan. Tatapan itu—tatapan tak bernyawa, lemah, dan seperti tatapan lekat itu adalah…

“…-non. Sinon!”

Tiba-tiba, Sinon mendengar seseorang memanggil namanya, menyebabkan ia bangun dengan terpaksa. Di belakang bayangan hitam yang bergerak, Kirito melihatnya dengan tatapan khawatir. Melihat kemurnian dan rupanya yang indah mempesona, gadis itu merasa terganggu karena itu melawan norma yang ada, menyebabkan ketakutannya teredam.

Sinon menghela napas perlahan dan menjawab,

“…Jangan khawatir, aku hanya sedikit terkejut. Sejujurnya…Aku benar-benar tidak bisa mempercayai kata-katamu secara langsung…tapi aku tidak merasa ini semua adalah kebohongan atau cerita buatan.”

“Terima kasih. Itu saja sudah cukup.”

Kirito menganggukan kepalanya sedikit. Pada saat yang sama, titik-titik cahaya pada alat di tangan kanan Sinon berkedip-kedip. Satelit di langit akan segera menghilang. Sinon dengan cepat mengubah peta menjadi keseluruhan medan dan mulai menghitung jumlah titik. Sekarang ini, ada 17 titik-titik cahaya, yang berarti ada 11 titik cahaya mati, 28 seluruhnya. “Jumlahnya tidak pas bagaimanapun juga…”

Ada 30 orang pada awalnya. Dikurangi menghilangnya Pale Rider yang putus koneksi, masih ada satu orang. Yang seharusnya adalah «Death Gun» yang menyelam untuk menghindari scan. Tidak, mungkin dia hanya menunggu diam di bawah air. Tetapi, sulit untuk mengatakan apakah ia berniat untuk bergerak ke sini atau menjauh dari kita. Jika ia mendekat, ia akan segera keluar dari sungai di bagian timur semak-semak di mana Sinon dan Kirito bersembunyi dan melancarkan serangan dengan tegas…

Ketika Sinon berpikir tentang hal itu, seluruh cahaya pada layar menghilang. Sekarang, mereka hanya bisa mencari musuh dengan kelima inderanya untuk 15 menit ke depan.

Sinon melihat ke arah timur sekilas, tetapi tidak bisa mendeteksi adanya pergerakan. Orang bermantel itu seharusnya bergerak dari dasar sungai ke utara. Meskipun senjata utamanya L115A3 «Silent Assassin» adalah senjata yang menakutkan, itu adalah senapan yang dioperasikan dengan tangan seperti Hecate II, sehingga tidak cocok untuk pertarungan jarak menengah atau jarak dekat. Kemungkinan besar, ia tidak akan menyerang, tetapi mundur untuk menyembunyikan keberadaannya.

Memikirkan hal itu, Sinon menghembuskan napas, dan bergumam,

“Pertama-tama kita harus pergi dari sini dulu… mereka yang jauh akan berpikir kita berdua bertarung dan akan datang kemari untuk mengumpulkan penghasilan dari seorang penangkap ikan.”

“…Ya, kau benar…”

Kirito seketika itu juga melihat ke bawah, tetapi segera berpaling melihat ke arah Sinon dan berkata,

“Kalau aku memberitahumu untuk mencari satu tempat bersembunyi sampai turnamen selesai…kau tidak akan mendengarkanku, kan?”

“TENTU…TENTU SAJA TIDAK!”

Sinon segera berteriak dengan suaranya yang paling keras.

“Bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh seperti yang «Tukang Kemah Richie» lakukan! Selain itu, tidak ada tempat yang benar-benar aman di pulau ini. Ada gua-gua di gurun utara di mana satelit tidak bisa melacak, tetapi aku jelas akan mati jika seseorang melemparkan granat ke dalam.”

“…Aku mengerti. Kalau begitu, mari berpisah di sini.”

“Eh…”

Kata-kata yang tidak terduga ini menyebabkan Sinon tidak bisa berkata-kata. Ia berkedip selama beberapa detik dan akhirnya berkata dengan tenang,

“La-Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku, Aku ingin…melanjutkan mengejar «Death Gun». Tidak bisa membiarkannya menggunakan pistol itu untuk menembak orang lain. Dan…aku akan menghadapi nya satu lawan satu, dan dengan ini aku pasti akan bisa mengingat namanya. ” Saat ini, bibir bercahaya Kirito tertutup rapat. Ia mengambil napas dalam-dalam dan memandang Sinon tepat di wajahnya.

“…Sinon, tolong jauh-jauh dari orang bermantel itu. Aku akan menepati janjiku. Aku akan bertarung dengan semua yang kupunya jika kita bertemu lagi di suatu tempat di pulau ini…Hanya sekarang, terima kasih untuk tidak menembakku dan telah mendengarkanku.”

Setelah menganggukkan kepalanya, pemegang pedang cahaya berbaju hitam itu menyelinap keluar dari semak-semak.

“Ah…tunggu…”

Baru saja Sinon akan memanggilnya, ia mendarat di tanah berwarna teh tua dan bangun lalu berjalan menuju jembatan logam di utara tanpa berbalik. Setelah memandangi sosok ramping itu yang perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, Sinon memaksa menutup matanya.

“…”

Udara yang terpaksa untuk dihirup dihembuskan dengan keras dengan perkataan ‘sudah cukup!’ yang pelan, dan Sinon segera bangun. Semak-semak yang rusak karena tindakan kasarnya meninggalkan daun-daun tersebar sebelum menghilang.

“TUNGGU!”

Gadis itu berteriak dengan lantang, dan orang yang berada 20m jauhnya itu berhenti. Ia segera mengambil Hecate nya dan membawanya di pundak kanannya sebelum berlari menuju Kirito. Tidak peduli jika orang itu memberikan ekspresi yang benar-benar terkejut, Sinon memandang ke arah lain dan berkata,

“…Aku ikut denganmu juga.”

“Eh…?”

“Kau berniat untuk melawan «Death Gun», kan? Orang itu adalah seorang ahli bahkan tanpa senjata sekalipun. Bagaimana kamu bisa menepati janjimu jika kamu kalah duluan sebelum menghadapiku? Aku tidak benar-benar ingin, tapi aku rasa kita perlu bekerja sama untuk menyingkirkan orang itu dari pulau ini…dan turnamen final BoB ini.”

Setelah mengatakan semua kata-kata yang terlintas di benaknya, Sinon melihat sekilas ke arah Kirito. Akhirnya, meskipun pembawa pedang cahaya itu tidak setuju, ia menggulung bibirnya, dan terlihat aneh. Kirito bergumul sebentar, kelihatannya masih khawatir dengan keselamatan Sinon, kemudian menggoyangkan rambutnya yang hitam dan berkata,

“Tidak…kau baru saja menyaksikan pertarungan itu juga, kan? Orang itu sangat berbahaya. Sekali kamu tertembak, badanmu di dunia nyata mungkin…”

“Kita tidak tahu ke mana «Death Gun» berlari, tetaplah berbahaya baik aku denganmu atau tidak. Ngomong-ngomong, pemula sepertimu yang akan terus berlari tanpa menyadari hal yang berada sekitarmu tidak punya hak untuk mengkhawatirkanku!”

“…Ya, yang kau katakan masuk akal…”

Kirito sekali lagi ragu-ragu untuk sekian detik, tetapi akhirnya melepaskan ketegangan di bahunya dan menganggukkan kepalanya, tepat sebelum mengayunkan tangan kanannya dengan kecepatan kilat. Saat Sinon menyadari pedang cahaya telah dikeluarkan dari pinggangnya, pedang energi biru dan ungu muncul dari gagang di tangan Kirito.

Ah, apakah orang ini akan menyerangku sekarang untuk memenuhi janjinya? Sinon tidak bisa berpikir selain berhenti bernapas, tetapi Kirito kemudian melihat ke arah barat. Sinon melihat ke arah itu, dan saat itu, sekitar 100m jauhnya, di bawah bayang-bayang sebuah batu besar, ada beberapa garis merah muncul—lintasan jalur peluru yang ditujukan.

Senjata mesin sepenuhnya otomatis milik musuh tidak dikenal menderu, dan pedang cahaya Kirito meninggalkan beberapa afterimage[12] sambil menjatuhkan semua peluru pada badai peluru yang tidak membiarkan adanya kesempatan untuk melarikan diri sama sekali. Sinon terperangah dengan adegan yang tidak pernah ia lihat di GGO sebelumnya ini, dan hanya dapat berdiri di sana seperti sepotong kayu, tetapi setelah satu detik, ia segera memulihkan kemampuan berpikirnya dan menunduk. Ia mengeluarkan Hecate nya di udara, dan sambil berbaring dalam posisi telungkup, ia menyiapkan pijakannya di tanah.

Pada titik ini, mereka dapat memastikan bahwa musuh menggunakan sebuah senjata mesin yang sepenuhnya otomatis, tetapi hasil meneropong tidak menunjukkan adanya Ghillie mantle milik «Death Gun». Musuh memiliki sebuah helm terbuka dengan tutup, dan mata kanannya memiliki lensa mata untuk menepatkan bidikan. Sinon mengingat kalau ia pernah bertemu orang ini sebelumnya. Ia adalah pemburu yang mengikuti turnamen terakhir, bernama «Xiahou Dun». Senjata di tangannya adalah «Norinco CQ». Meskipun dia adalah seorang veteran dengan skill luar biasa, ia terkejut sampai-sampai dagunya yang kokoh tidak mampu merapat. Tidak dapat disalahkan jika ia bereaksi seperti itu, karena semua peluru pada magasin yang ditembakkannya dibelokkan oleh pedang cahaya, sebuah senjata yang semua orang pikir hanya untuk pertunjukkan.

“Tidak mungkin~!”

Wajah Xiahou Dun yang tegas seperti jenderal Cina pada zaman dahulu yang berjenggot mengeluarkan suara yang tidak tepat dan kembali bersembunyi di bayang-bayang batu. Kirito merendahkan kepalanya, melihat sekilas ke arah Sinon, mengangkat bahu dan berkata,

“Kita akan mengurus orang itu. Aku akan menyerbu. Kamu melindungiku dengan menembak.”

“…Aku paham.”

Sekarang semuanya menjadi menarik. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Meskipun Sinon berpikir seperti ini, ia tetap menempelkan pipinya ke bahan kayu dari senjata kesayangannya.


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. sebuah pola yang ditempatkan di lensa mata dari instrumen optik, yang digunakan untuk menetapkan skala atau posisi. http://en.wikipedia.org/wiki/Reticle
  2. garis berpotongan tegak lurus seperti bentuk salib untuk membidik
  3. Hecate dapat diartikan sebagai dewi sihir pada kebudayaan Yunani kuno, tetapi Hecate di sini adalah senjata sniper tentara Prancis. http://en.wikipedia.org/wiki/PGM_Hécate_II
  4. alat untuk melacak keberadaan seseorang menggunakan satelit
  5. tanah yang tertutup dengan pohon-pohon kayu dan semak-semak
  6. peluru yang dirancang untuk ditembakkan dari senapan. http://en.wikipedia.org/wiki/Gauge_(bore_diameter), http://en.wikipedia.org/wiki/Shotgun_shell
  7. alat untuk mengurangi jumlah suara yang dihasilkan dari hasil pembakaran internal knalpot dan sejenisnya. http://en.wikipedia.org/wiki/Muffler
  8. sesuatu yang biasa dipasang pada moncong senjata api. http://en.wikipedia.org/wiki/Muzzle_brake
  9. tabung, biasanya logam, yang mana ledakan gas dilepaskan untuk mendorong peluru keluar dengan kecepatan sangat tinggi. http://en.wikipedia.org/wiki/Gun_barrel
  10. senjata yang didesign untuk menembus baju besi atau kendaraan besi, seperti tank
  11. gerakan tangan membentuk tanda salib, biasanya dilakukan oleh orang Katholik
  12. semacam bayangan ilusi yang masih timbul setelah sesuatu terjadi karena efek cahaya yang sangat terang