Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 6 Bab 15

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 15[edit]

Sejak ia dipindahkan dari pulau terpencil «ISL Ragnarok» ke tempat menunggu, Sinon terus melihat ke daftar urutan dan menghitung mundur sampai log out sambil mencoba menenangkan dirinya.

Meskipun turnamen telah selesai, konflik dengan «Death Gun» tidak, komplotan Death Gun mungkin masih ada di dekatnya di dunia nyata. Kirito mengatakan kalau polisi seharusnya akan datang segera, tetapi waktu log out nya akan sama dengan Sinon. Selain itu, ia perlu menghubungi rekannya, jadi itu akan membutuhkan waktu minimal 10 menit. Selama waktu ini, Sinon hanya dapat melindungi dirinya sendiri.

Pertama, ia harus memeriksa kalau kamarnya sendiri aman. Kemudian, ia akan meminta Shinkawa Kyouji untuk datang ke rumahnya. Meskipun ada kesempatan kalau ia akan bertemu dengan Death Gun, orang-orang ini tidak menggunakan senjata pistol atau pisau sebagai senjata, tetapi suntikan dengan racun—seperti yang Kirito kira—jadi mereka tidak akan secara acak menyuntikkan obat ke orang yang terbangun. Tentu saja, Sinon sudah siap untuk memberitahunya untuk berhati-hati. Timer penghitung mundur yang besar dengan cepat berlalu, dan hanya ada 10 detik tersisa untuk log out.

Ia melihat ke layar besar yang menunjukkan hasil turnamen untuk terakhir kalinya. Sinon dan Kirito, yang menang di waktu yang sama bersinar pada level tertinggi. Meskipun tujuan utamanya ketika bermain GGO adalah untuk membiarkan namanya muncul di sana, sayangnya hasilnya kali ini sepertinya tidak akan dihitung. Keadaan terlalu tidak biasa, jadi ia harus menunda harapannya di turnamen ke-4. Tidak ada tempat ke-2. Tempat ke-3 adalah Death Gun dengan nama log in «Sterben». Sinon sendiri tidak tahu bagaimana nama itu seharusnya dibaca, tetapi untuk orang bermantel itu, «Death Gun» adalah nama aslinya, jadi nama log in nya pasti digunakan untuk menutupi identitas sebenarnya.

Tempat ke-4 adalah «Yamikaze». Kebanyakan orang mempertaruhkan uangnya untuk dia seperti mereka merasa kalau dia akan menjadi pemenang, sehingga perusahaan pertaruhan resmi seharusnya sedang menghasilkan banyak uang sekarang. Mulai dari posisi ke-5, ada nama yang lebih familiar, tetapi setelah nama seperti «Dyne» dan «Xiahou Dun»—rankingnya berakhir di angka 28.

Posisi terbawah menunjukkan nama-nama dua pemain yang putus koneksi, «Pale Rider» dan «Garret».

Seperti yang diduga, ada 2 korban dari Death Gun di turnamen ini. Ini artinya dia memiliki 2 rekan. Organisasi macam apa yang ketiga orang itu ambil bagian di sebuah VRMMO, pengalaman macam apa yang mereka punya sehingga menyebabkan mereka mengambil bagian dalam suatu rencana yang begitu mengerikan…

Saat timer penghitung mundur mencapai angka nol, Sinon tidak merasakan kegembiraan kemenangan, tetapi merinding yang tidak biasa.

Perasaan yang mengambang menghinggapi Shino, dan saat perasaan ini menghilang, ia sudah terbaring di ranjangnya di kamarnya di dunia nyata.

Tidak—mungkin kalau ada lebih dari satu orang. Ia berkata pada dirinya sendiri untuk tidak segera membuka mata atau bergerak.

Shino tidak bergerak sama sekali tetapi hanya menutup mata dan mulai memperhatikan sekitarnya.

Sekarang ini, ada suara-suara kecil yang terdengar di telinganya. Pertama adalah napasnya sendiri, dan kedua, adalah suara detak jantung yang cukup cepat.

Di bawah dekat langit-langit adalah AC yang memberi udara hangat, dan juga ada pengatur kelembaban yang mengeluarkan suara mendengung. Ia dapat mendengar suara kendaraan dari kejauhan, dan ada juga suara berat dari sebuah stereo dari sebuah kamar di apartemen ini.

—Tetapi selain suara-suara ini, tidak ada suara aneh apapun.

Kali ini, Shino mencoba menarik napas dalam perlahan. Hidungnya menghirup partikel-partikel udara, dan ada sedikit aroma wangi. Shino tahu kalau itu adalah sabun berbau vanilla yang ia letakkan di atas kotak penyimpanan yang berfungsi sebagai penyegar udara.

Tidak ada orang lain di dalam kamar.

Meskipun ia berpikir seperti itu, Shino tetap tidak bisa membuka matanya segera. Mungkin seseorang sedang memperhatikannya di sebelah ranjangnya—ketakutan ini tetap ada di hatinya.

Tidak, bahkan jika orang itu tidak ada di kamar, ia mungkin bersembunyi di dapur atau kamar mandi... atau di balkon... bahkan di tempat kecil seperti ini, ada banyak tempat untuk seseorang bersembunyi kalau ia mau. Selain itu, ada kemungkinan besar kalau ia bersembunyi di bawah ranjang.

Tidak, aku tidak mau bangun.

Sekarang ini, Kirito— Kirigaya Kazuto seharusnya sudah menghubungi polisi lewat temannya, dan ia seharusnya dapat mendengar suara sirine mobil patrol polisi. Kalau begitu, mungkin ini adalah cara teraman untuk tidak bergerak.

Saat Shino memikirkan hal ini dan bersiap untuk memejamkan mata erat-erat—

AC yang sudah lama itu tiba-tiba turun suhunya, dan angin dingin yang ditiupkannya mengenai paha Shino yang terbuka. Udara dingin menyelimuti kulitnya, membuatnya gatal di hidung.

Shino sendiri kira-kira bertahan selama 2 detik. Kemudian, alis dan hidungnya naik ke atas, menghasilkan bersin yang keras. Shino terdiam, menunggu reaksi dari bersinnya dari sebuah tempat di kamarnya.

Tetapi, tetap tidak ada pergerakan di ruangan.

Shino kemudian dengan melirik membuka mata kanannya.

Di dalam kamar gelap yang lampunya mati, cahaya lampu jalanan dari celah di korden adalah satu-satunya yang menerangi. Shino memeriksa dulu untuk meyakinkan kalau ia bisa melihatnya dari matanya, dan kemudian perlahan menggerakkan kepalanya sedikit-sedikit untuk memeriksa kamarnya.

Tetapi, sepertinya tidak ada seorangpun di pandangannya. Meskipun ia hanya bersin, Shino berhati-hati melepas AmuSphere di kepalanya dan meletakkannya di sebelah bantalnya. Ia menggunakan kekuatan perutnya untuk bangun dan melihat seluruh bagian kamar dengan cepat.

—Sepertinya tidak ada perbedaan dari sebelum ia dive in.

Bukan air mineral yang ada di atas meja, bukan juga sound box besar di sebelah meja atau tas sekolah yang ditinggalkan di lantai, tidak ada yang berpindah sama sekali.

Shino meletakkan tangannya di kasur dan menggerakkannya ke sepanjang tempat tidur. Ia menelan ludah dan kemudian menjulurkan badannya untuk melihat ke bawah tempat tidur. Jelas-jelas kosong di bawah.

Ia melihat ke atas, dan memeriksa korden yang jendelanya terkunci. Kemudian, ia turun dari tempat tidur bertelanjang kaki, menjulurkan lehernya untuk melihat adakah pergerakan di dapur. Berbicara tentang itu, di tempat yang hanya muat 3 keset itu sepertinya tidak ada tempat untuk sembunyi.

Sekarang ini, Shino akhirnya bangun dan dengan tidak sadar berjalan ke arah dinding sebelum menekan tombol lampu. Kamar itu segera dipenuhi cahaya putih, dan bahkan koridor di belakang dapur menjadi terang.

Melihat dengan seksama, kunci di pintu sepertinya tidak ada yang menyentuh. Shino berdiri sebentar sebelum menyadari tidak adanya suara aneh apapun dari tempat di belakang dinding—kamar mandi. Kesimpulannya, tidak ada apapun yang aneh. Walaupun begitu, ia sekali lagi berjingkat ke arah dapur.

Pintu kamar mandi tertutup rapat, tetapi tidak terkunci, dan tidak ada cahaya di dalamnya.

Shino memegang kenop pintu aluminium dengan tangan kanannya yang penuh keringat dingin.

Ia mengambil napas dalam-dalam, menahannya, dan menarik pintu kamar mandi sambil tangan kirinya menyalakan lampu.

“…”

Shino tanpa berkata-kata memeriksa kamar mandi dalam waktu singkat.

“Mengapa aku menakuti diriku sendiri…”

Ia bergumam. Kamar mandi berwarna putih itu jelas-jelas kosong.

Kali ini, Shino akhirnya menurunkan leher dan bahunya di kedua sisi untuk merilekskan tubuhnya. Ia berputar setengah lingkaran dan menyandarkan seluruh tubuhnya di dinding sebelum duduk.

Tidak ada orang lain di kamar, dan ia tidak melihat adanya tanda-tanda orang lain telah masuk.

Tentu saja, ada kemungkinan jika—penyusup yang mendobrak kunci elektronik yang sudah tua, menggunakan handphone nya untuk memeriksa siaran langsung GGO lewat telepon, dan segera pergi setelah melihat Death Gun dikalahkan.

Kalau benar begitu, penyusupnya mungkin masih ada di sekitar apartemen. Karena ia tidak bisa menjamin kalau orang itu tidak akan kembali, ia harus bergegas, menelepon Shinkawa Kyouji dan mengundangnya ke rumahnya. Shino merasa harus melakukan itu, tetapi rasanya dia tidak bisa melakukannya.

Ia melihat sekilas ke arah timer yang diletakkan di kulkas. Itu juga berfungsi sebagai jam, dan angka-angkanya menunjukkan 10.07pm.

—Sudah tiga jam lamanya. Tempat yoghurt yang ada di kantong sampah di depannya baru saja dilemparkan ke sana sebelum ia dive in, tetapi seperti sudah lama sekali.

Dan perasaannya merasa sesuatu telah berubah, tetapi kenyataannya tidak. Tetapi, paling tidak kegelisahan dalam dirinya untuk waktu yang lama sudah hilang. Selama waktu yang lama ini, mungkin rasa gelisahnya yang hanya menyadari kalau ia harus bertambah kuat semuanya sia-sia. Ia harus meraihnya perlahan.

“Oke…!”

Shino perlahan menguatkan dirinya dan berdiri sebelum menyadari kalau ia sangat haus. Ia pergi ke dekat wastafel, menggunakan cangkir untuk menadahi air yang mengalir dari keran dan menelannya.

Dan baru saja ia akan meminum secangkir lagi—

DING DONG. Bel pintunya berbunyi…

Shino menegangkan tubuhnya secara insting dan berbalik untuk melihat ke arah pintu. Ia tiba-tiba berpikir kalau orang itu bisa membuka pintu sendiri dan tidak bisa bernapas sama sekali.

Setelah dipikirkan, mungkin saja itu polisi. Ia kemudian berbalik melihat jam, tetapi waktu sejak ia log out kurang dari 3 menit, dan itu terlalu cepat. Baru saja Shino berdiri di sana, bel berbunyi lagi. Shino menahan napasnya dan mengendap-endap ke arah pintu.

Lebih baik untuk mengaitkan rantai di pintunya. Baru saja ia memikirkannya, ia dengan ketakutan menjulurkan tangan kanannya, tetapi ketika ia akan menyentuh rantai pintu—

“Asada-san, kau di sana? Ini aku, Asada-san!”

Kunci elektronik yang punya fungsi speaker memberikan sekilas suara tajam seorang anak laki-laki. Shino agak akrab dengan suara itu.

Shino sendiri segera menghela napas lega. Ia menginjak sandal rumahnya dan membawa wajahnya mendekati pintu, dan kemudian melihat keluar pintu untuk alasan keamanan. Ia melihat seorang anak laki-laki berdiri di koridor, terlihat goyah karena efek kecembungan. Orang itu adalah teman yang siap ia telepon untuk datang—mantan teman sekelasnya yang mengajak Shino bermain GGO, Shinkawa Kyouji.

“Shinkawa-kun…?”

Shino memanggil nama orang itu melalui speaker, dan kemudian sebuah suara ragu-ragu terdengar.

“Yah... Aku tidak bisa menahan untuk berkata selamat untukmu... Aku membawa ini dari toko keperluan, tetapi ini hanya sedikit selamat...”

Setelah mendengar kata-kata ini, Shino sekali lagi melihat lewat lubang pengintip. Kyouji di luar membawa sebuah kotak kue kecil.

“Kau, kau benar-benar cepat...”

Shino tidak bisa menahan untuk bertanya. Bahkan setelah menghitung waktunya untuk log out, itu hanya sekitar 5 menit sejak turnamen selesai. Melihat hal-hal ini, ia mungkin tidak melihat siaran dari rumahnya, tetapi berada di sekitar taman di dekat sana dan menunggu untuk membeli kue dari toko keperluan yang sudah direncanakan sebelum menuju ke sini. Kelakuannya yang impulsif seperti apa yang tipe AGI- Spiegel mungkin lakukan.

Tetapi ini akan membuatnya tidak perlu menghubunginya sendiri. Shino menghembuskan napas dan menjulurkan tangannya ke pintu.

“Tunggu. Aku akan membuka pintu.”

Ia berkata sambil menurunkan kepalanya, dan menyadari kalau ia masih menggunakan tank top dan celana pendek yang menunjukkan pahanya. Gadis ini merasa kalau ini seperti buka-bukaan, tetapi ia tetap menggenggam dan membuka pintu. Setelah membuka pintu, Shinkawa Kyouji tersenyum berdiri di depan pintu. Ia menggunakan sepasang jeans dan jaket militer dengan bulu di atasnya. Memang kelihatan tebal, tetapi tidak perlu dipertanyakan kalau jaket itu mampu melawan dinginnya udara di luar.

Shino gemetar karena udara dingin di kakinya dan mulai berkata,

“Wah, ini dingin. Cepat masuk.”

“U, uh. Permisi kalau begitu.”

Kyouji menganggukkan kepalanya, mengangkat lehernya kembali dan memasuki koridor dengan lantai keras. Melihat Shino, ia menyipitkan matanya seperti matanya sakit.

“Apa, apa yang... cepat dan tutup pintunya, atau kamarmu akan dingin. Ah, ingat untuk menguncinya.”

Mata Kyouji membuat Shino semacam malu, dan ia berpura-pura marah untuk menyembunyikan perasaannya. Ia kemudian berbalik dan berjalan ke kamar. Di belakangnya, suara elektronik pintu dikunci dapat terdengar. Shino kembali ke ruangan sebesar 6 keset, mengambil remote control di meja dan menaikkan suhu udara. AC nya terbuka turun, dan menghembuskan udara hangat yang menggantikan udara dingin di kamar.

Shino dengan cepat duduk di tempat tidur, melihat ke sekitar, dan menemukan Kyouji berdiri di pintu seperti orang kebingungan.

“Silakan duduk. Ah... mau minuman?”

“Tidak usah. Tidak perlu kok.”

“Aku lelah sekarang. Kalau kau berkata begitu, ya sudah.”

Gadis itu bercanda, dan wajah Kyouji akhirnya menunjukkan sebuah senyuman. Ia meletakkan kuenya di meja dan duduk di bantal di sebelahnya.

“... Maaf untuk kedatanganku yang tiba-tiba, Asada-san. Tetapi... seperti yang aku katakan sebelumnya, aku benar-benar ingin merayakan ini denganmu secepatnya.”

Ia menutupi lututnya seperti anak-anak dan kemudian melihat ke arah Shino.

“Yah... selamat sudah menjadi pemenang BoB. Asada-san... Sinon benar-benar hebat. Kau akhirnya menjadi penembak terkuat di GGO. Tetapi... aku mengetahuinya. Asada-san suatu saat akan berhasil. Karena Asada-san memiliki kekuatan sesungguhnya tidak seperti yang lainnya...”

“Makasih...”

Shino merasa semacam malu, dan kemudian ia menggerakkan lehernya.

“Tetapi ada dua pemenang kali ini... Dan kalau kau melihatnya di siaran langsung, kau seharusnya melihat ada banyak hal-hal tidak biasa yang terjadi... mungkin, turnamennya akan dinyatakan gagal...”

“Eh...?”

“Itu... bagaimana aku mengatakannya...”

Untuk waktu singkat, Shino tidak bisa berpikir bagaimana untuk menjelaskan insiden «Death Gun» kepada Kyouji yang bingung. Ia benar-benar tidak mengetahui keseluruhan ceritanya juga, dan tidak bisa melanjutkan menjelaskan. Dan—sekarang, ia bahkan mulai bertanya-tanya apakah ini adalah ilusi.

Mungkin...

Semua ini hanyalah disebabkan oleh kebetulan? Mungkinkah menembak seseorang di dunia virtual benar-benar membunuh seorang pemain dengan racun di dunia nyata. Sejujurnya, Shino hanya melihat Pale Rider putus koneksi. Kalau ia dan pemain lainnya yang putus koneksi benar-benar meninggal, artinya kejahatan Death Gun adalah nyata, tetapi Shino tidak punya bukti apapun sampai ia mendengar berita kematian mereka.

Polisi seharusnya akan datang 10 menit lagi, dan kemudian aku harus menjelaskan semuanya ke Kyouji, kan? Shino memikirkan hal itu dan mengubah topic pembicaraan.

“Oh itu... bukan apa-apa. Hanya ada seorang pemain aneh. Tetapi kau benar-benar cepat. Turnamen baru saja selesai 5 menit lalu.”

“Ah, yaa... Aku berada di dekat rumahmu dan menggunakan handphone untuk melihat siaran langsungnya sehingga aku bisa langsung menyelamatimu...”

Kyouji segera mengatakannya, dan Shino tersenyum melihatnya.

“Aku sudah menduga kalau begitu kejadiannya. Dingin di luar. Kau akan terkena flu. Biarkan aku membuatkanmu teh.”

Tetapi Kyouji menggelengkan kepala untuk menghentikan Shino. Wajahnya perlahan kehilangan senyumannya, menunjukkan ekspresi gugup. Shino hanya dapat berkedip.

“Itu... Asada-san...”

“Ap, apa?”

“Aku... melihat jejak kaki di gua di padang pasir itu... dari siaran langsung.”

Shino dapat menebak dari kata-kata ini dan ekspresi Kyouji yang tidak dikatakannya. Memikirkan apa yang terjadi di gua itu, Shino tidak bisa menahan untuk tidak memerah.

“It... itu adalah...”

Shino melupakan semuanya—atau lebih tepatnya, ia dengan sengaja melupakannya. Tetapi ia berbaring di lutut Kirito ketika ia duduk menyandar di dinding, menangis dan berteriak. Kyouji melihat jejak itu. Ia hanya dapat berkata kalau ia terlalu ceroboh dan menyebabkan semuanya seperti ini. Shino menundukkan kepalanya seperti meminta maaf, tetapi Kyouji melanjutkan. Ia pikir ia akan menanyakan hubungannya dengan Kirito, tetapi apa yang dikatakannya selanjutnya mengejutkannya.

“Orang itu... pasti mengancammu, kan? Kau melakukan itu hanya karena ia memiliki sesuatu padamu, kan?”

“Ap, apa?”

Shino melihat dengan terkejut.

Mata Kyouji memberi cahaya aneh saat ia memajukan dirinya dengan posisi setengah berlutut. Suara parau muncul dari bibirnya yang bergerak tidak beraturan,

“Kau diancam olehnya, dan bahkan menembak pemain yang ia sedang lawan... tetapi kau membuat orang itu rileks dan kemudian membunuhnya dengan granat, kan? Tetapi... Aku tidak berpikir itu cukup, Asada-san. Aku sudah mengatakan sebelumnya... kau harus menunjukkan ke dia suatu etika.”

“Ah... itu...”

Shino tidak bisa berkata apapun, dan kemudian gelisah memikirkan bagaimana menjelaskannya.

“Tidak... aku tidak diancam. Aku tahu itu memang terlalu aneh di turnamen... tetapi aku hampir panik ketika melakukan diving... dan dalam kekacauan ini... aku mengarahkan kemarahanku ke Kirito... orang itu. Ngomong-ngomong, aku terlalu banyak berkata-kata.”

“…”

Kyouji membuka matanya lebih lebar dan dengan diam mendengarkan Shino.

“Tetapi... orang itu membuatku marah, tetapi ia seperti... seperti ibuku. Karena itu, aku menangis seperti anak kecil... benar-benar memalukan, kan?”

“... Asada-san... te... tetapi kau melakukannya karena tertekan, kan? Kau... tidak punya perasaan spesial ke orang itu, kan?”

“Eh...?”

“Asada-san, kau berkata kalau kau ingin aku menunggumu, kan?”

Berlutut dan mencondongkan badannya ke depan, Kyouji melihat dengan tatapan sangat gugup.

“Kau mengatakannya sebelumnya, kan? Kalau aku menunggu, kau akan menjadi milikku, kan? Itu... itu kenapa aku...”

“... Shinkawa-kun...”

“KATAKAN! KATAKAN KALAU KAU TIDAK ADA APA-APA DENGAN ORANG ITU. KATAKAN KALAU KAU MEMBENCINYA!”

“Ad... ada apa denganmu... tiba-tiba...”

Shino memang mengingat kalau ia meminta Kyouji ‘menunggunya’ ketika mereka ada di taman sebelum turnamen.

Tetapi, artinya bukanlah untuk ‘menunggu sampai akhirnya ia mengusir setannya’. Dan kemudian ia akan menjadi gadis biasa saat hari itu tiba.

“A... Asada-san, kau kuat sekarang karena kau telah menjadi pemenang, jadi kau tidak akan terjatuh lagi. Jadi kau tidak membutuhkan orang itu. Aku akan menemanimu selalu. Aku akan... melindungimu selamanya.”

Kyouji mulai bergumam seakan ia bermimpi dan berdiri sebelum melenggang ke arah Shino dan mengambil beberapa langkah—ia kemudian tiba-tiba membuka lengannya dan memeluk Shino tanpa menahan kekuatannya.

“Uu...?!”

Shino merasa sangat tegang karena ia sangat terkejut. Tulang-tulang di lengan dan perutnya mulai terasa sakit, dan udara di paru-parunya mulai habis.

“... Shin... kawa-ku... n...”

Akibat pelukan dan kekuatan itu menyebabkan Shino terengah-engah. Tetapi, Kyouji menggunakan paksaan dan menekankan berat badannya ke Shino seperti ia ingin membawanya ke ranjangnya.

“Asada-san... Aku mencintaimu kamu. Aku mencintaimu kamu. Asada-san ku... Sinon ku.”

Suara Kyouji yang parau dan memecah keheningan tidak terdengar seperti pengakuan cinta, tetapi mirip mengutuk.

“Henti... kan...!”

Shino mencoba sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya untuk menyangga badannya di tempat tidur. Kemudian ia menambah kekuatan di kakinya dan menggunakan bahu kanannya untuk menjauhkan dada Kyouji—

“... Hentikan!”

Meskipun ia hanya dapat mengeluarkan suara parau, ia akhirnya berhasil mendorong badan Kyouji ke belakang, dan mengambil udara banyak-banyak seperti terengah-engah.

Kyouji sendiri terguling ke tempat duduknya dan terjatuh ke belakang. Ia kemudian menabrak set cangkir dan kotak yang berisi kue jatuh dan mengeluarkan suara kecil.

Tetapi, Kyouji sendiri tidak terlihat menyadarinya karena ia hanya terus memandang Shino. Ekspresi keterkejutan di wajahnya menunjukkan kalau ia tidak percaya Shino menolaknya.

Mata lebar itu kemudian kehilangan sinarnya—dan suara kosong keluar dari mulutnya yang bergetar,

“Ini tidak akan bisa, Asada-san. Kamu tidak bisa mengkhianatiku. Hanya aku yang dapat menyelamatkan Asada-san, jadi kamu tidak boleh memandang lelaki lain.” Setelah mengatakan hal itu, ia mendekati Shino.

“... Shin, Shinkawa-san...”

Shino masih kaget sehingga ia hanya dapat bergumam dengan kebingungan.

Benar kalau ia merasa niat berbahaya di mata Shinkawa ketika ia mengundangnya makan malam dan ketika ia dipeluk olehnya di taman. Tetapi, Shino merasa hal itu terjadi karena ia adalah seorang laki-laki, dan Shino tidak bisa membayangkan Shinkawa yang ramah dan lemah itu bisa melakukan sesuatu di luar batas.

Tetapi, untuk Shino, yang tidak bisa bergerak di tempat tidurnya, Shinkawa yang melihat ke arahnya, memiliki kilau misterius di matanya yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.

Astaga, Apakah Shinkawa-kun akan memperkosaku...

Pikiran mengganggu itu terbesit di benak Shino, dan ketakutan yang dirasakannya merasuki seluruh tubuhnya yang melebihi akibat pelukan tadi.

Tetapi—

Meskipun Shino berpikir di arah yang benar, ini benar-benar bukan gayanya. Kyouji membuka mulutnya sedikit dan mengeluarkan suara napas yang berat. Ia kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam jaket militernya dan terlihat memegang sesuatu.

Tangan kanannya yang dikeluarkan menunjukkan sesuatu yang agak aneh. Benda itu panjangnya sekitar 20cm, terbuat dari plastic tembus pandang berwarna susu putih.

Ujungnya meruncing, dan ada silinder setebal 3 cm. Di belakangnya, ada sesuatu yang seperti pegangan yang menonjol keluar secara diagonal, dan tangan kanan Kyouji berada di sana. Juga, ibu jarinya diletakkan di tombol hijau yang ada di antara pegangan dan silinder.

Ujung silinder bundar itu memiliki bagian logam perak, dan sesuatu yang bisa disebut ujung runcing itu memiliki sedikit bukaan. Normalnya, itu terlihat seperti senjata laser anak-anak biasa mainkan, tetapi tidak menutupi fungsi tertentu meskipun terlihat sederhana.

Tangan kanan Kyouji gemetar sedikit, dan kemudian ia meletakkan silinder bundar itu dengan ceroboh ke leher Shino. Rasa dingin itu membuat seluruh rambut di kulit Shino berdiri.

“Shin... kawa... kun...?”

Shino dengan kesusahan berhasil mengatakan kata-kata itu dari bibirnya yang kaku, tetapi sebelum ia bisa menyelesaikannya, Kyouji berkata dengan suara berat,

“Jangan bergerak, Asada-san. Kamu tidak boleh berteriak juga. Ini... adalah sebuah needleless syringe[1]. Benda ini mengandung obat yang disebut «Succinylcholine[2]». Otot tidak bisa bergerak jika ini disuntikkan, dan jantung akan segera berhenti.”

Kalau otaknya benar-benar memiliki kerangka pelindung mental, kerangka Shino pasti akan memiliki beberapa lapisan kebocoran hari ini.

Udara dingin yang datang dari belakang lehernya membuat anggota tubuh Shino beku. Ia menyadari kalau anggota tubuhnya mulai kaku selagi ia memeras otaknya untuk memahami apa yang dimaksud oleh Kyouji.

Maksudnya adalah—Kyouji ingin membunuh Shino. Kalau ia tidak mendengarkannya, ia akan menggunakan suntikan seperti mainan di tangannya dan menyuntikkan obat yang nama Inggrisnya panjang sekali ke badan Shino untuk menghentikan jantungnya.

Memikirkan hal ini, sudut lain dari benak Shino sedang berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri,

Apakah ini lelucon? Bagaimana mungkin Shinkawa-kun melakukan hal seperti itu?

Tetapi kenyataannya, bibir Shino tidak bergerak seperti terbebani berton-ton. Dan silinder logam keras yang dingin yang ditekankan pada lehernya—atau lebih tepatnya—itu 5cm di bawah telinga kirinya. Perasaan dingin ini terus menyangkal kemungkinan kalau Kyouji sedang bercanda.

Shino tidak bisa melihat ekspresi Kyouji karena ia menghadap cahaya, tetapi masih memandang ke wajahnya tanpa melihat apapun. Wajah bundarnya yang lembut mengejangkan dagunya sedikit, mengeluarkan suara yang tanpa ditahan.

“Tidak apa-apa, Asada-san. Kau tidak perlu takut. Tidak lama... kita akan bersama menjadi satu. Aku ingin menawarkan perasaan yang sudah terkumpul selama ini- kepadamu. Aku akan menyuntikannya ke dirimu perlahan... sehingga kamu tidak akan merasakan sakit sama sekali. Jangan khawatir, biarkan aku yang mengurusnya.”

Shino tidak dapat memahami apa yang dikatakannya sama sekali. Itu terdengar seperti bahasa Jepang, tetapi terdengar seperti bahasa Suriname atau Zimbabwe. Dua kalimat terus terngiang di telinganya.

Ini disebut needleless syringe... dan dapat menghentikan jantungmu.

Suntikan, jantung. Sepertinya... ia mendengar kata-kata ini di suatu tempat sebelumnya.

Di gurun di bawah langit malam, di dalam gua kecil, anak laki-laki yang terlihat seperti seorang perempuan mengatakannya sebelumnya. «Zexceed» dan «Usujio Tarako» mungkin disuntik suatu obat yang menyebabkan kegagalan jantung... tetapi itu seperti sesuatu yang terjadi di alam mimpi yang jauh.

Jika itu benar—ber—berarti...

Bibir Shino bergerak seperti kesemutan, dan kemudian, ia mendengar suara paraunya sendiri.

“Arti... artinya... kau... kau adalah «Death Gun» yang satu lagi?”

Suntikan yang diletakkan di lehernya tiba-tiba tersentak. Kyouji memberi senyuman kekaguman seperti yang ia akan lakukan ketika berbicara dengan Shino.

“... Heh, itu terlalu hebat. Seperti yang diharapkan dari Asada-san... kau menebak rahasia «Death Gun». Itu benar. Aku adalah «Death Gun» yang satu lagi. Meskipun begitu, aku yang mengontrol «Sterben» sebelum BoB. Aku sangat senang kau melihatku menembak Zexceed di bar Gurokken. Tetapi, untuk hari ini, aku ingin aktif di dunia nyata. Aku tidak bisa menerima lelaki lain menyentuh Asada-san. Bahkan bila kami adalah saudara.”

Keterkejutan yang kesekian kalinya menyebabkan tubuh Shino menegang lagi. Kyouji memang menyebutkan sebelumnya kalau ia memiliki seorang kakak laki-laki yang lebih tua, tetapi ia hanya menyebutkan bagaimana kakaknya selalu sakit sejak muda dan selalu dipindahkan dari rumah ke rumah sakit. Ia tidak pernah mengatakan apapun selain itu, sehingga Shino tidak pernah bertanya.

“K... Kakak... kakak laki-laki? Yang bergabung di red guild di SAO... adalah... kakak laki-lakimu?”

Kali ini, Kyouji lah yang membelalakkan mata karena kaget.

“Wow, jadi kau bahkan tahu tentang hal itu. Shoichi nii-san mengatakan hal sebanyak itu di turnamen? Mungkin nii-san benar-benar mengagumi Asada-san. Tetapi Asada-san, kau bisa rileks. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu. Sebenarnya... aku tidak berniat menyuntikkan ini ke Asada-san. Nii-san akan marah. Tetapi karena Asada-san, kau bilang kalau kau akan menjadi milikku di taman...”

Kyouji berhenti. Senyum seperti orang mabuk di wajahnya menghilang, dan ekspresinya kembali menjadi blank.

“... Tetapi... Asada-san, dan orang itu, sebenarnya... kau pasti sudah dikelabuhinya. Aku tidak tahu apa yang ia katakan, tetapi aku akan mengenyahkannya segera. Aku akan membuatmu melupakannya.”

Ketika suntikan masih dipegang di leher Shino, Kyouji memakai tangan kirinya untuk mencengkeram bahu kanan Shino dan mendorong Shino ke tempat tidur. Kemudian ia naik ke tempat tidur dan bergerak ke paha Shino. Ketika melakukannya, ia masih bergumam seperti melamun.

“Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan Asada-san sendirian. Aku akan menemanimu segera setelahnya. Kita seharusnya dilahirkan kembali di GGO- tidak, di game yang lebih fantasi, dan kemudian kita akan menjadi suami dan istri dan memiliki hidup yang bahagia. Kita akan berpetualang... dan kemudian mempunyai anak. Itu akan sangat hebat!”

Meskipun Shino mendengar kata-kata tidak jelas yang tidak masuk akal dari Kyouji itu, bagian tubuhnya memang lumpuh tetapi kemampuan berpikirnya masih bisa berfungsi normal—

polisi akan berada di sini segera, sehingga aku harus berbicara dengannya lebih lama.

“Tetapi... kalau kau di sini tidak sebagai rekan, kakak laki-lakimu akan berada dalam masalah... da.. dan, aku tidak tertembak di game. Kalau aku meninggal, rumor tentang Death Gun yang kalian bangun susah payah itu akan diragukan.”

Shino terus menggerakkan lidahnya yang kelu saat mengatakan semua itu, dan Kyouji memindahkan suntikannya di tangan kanannya dan menekankannya ke tulang selangkangan Shino, menunjukkan senyum kaku.

“Jangan khawatir. Ada tiga target hari ini, sehingga nii-san membawa orang lain juga. Ia adalah anggota guild yang lain di SAO. Orang itu akan segera mengambil alih posisiku, dan... bagaimana aku bisa menyamakan Asada-san dengan sampah seperti Zexceed dan Usujio Tarako? Asada-san bukanlah milik Death Gun, tetapi adalah milikku. Setelah Asada-san meninggal... aku akan membawamu ke kedalaman tanpa batas, dan aku akan mengikutimu sesudahnya. Jadi, tolong tunggu aku di tengah perjalanan.”

Tangan kiri Kyouji dengan hati-hati bergerak ke perut Shino di balik tanktop dengan malu-malu. Ia menyentuh dengan ujung jarinya beberapa kali sebelum menggunakan semua bagian tangannya.

Ketakutan dan merasa terganggu membuat Shino merinding, tetapi ia benar-benar ingin berbicara terus. Kalau ia bergerak atau berteriak, anak laki-laki yang terlihat ramah di depannya pasti akan menekan suntikan itu. Celakanya, suara dan ekspresi Kyouji menunjukkan kalau ia pasti akan melakukannya. Meskipun begitu, Shino hanya dapat berpura-pura santai dan berkata,

“... I, itu... kau belum menggunakan suntikan ini di dunia nyata, kan...? Masih ada waktu. Kau bisa berpikir lagi. Jangan memikirkan untuk meninggal... kau masih harus mengikuti Tes Kemampuan Umum Skolastik setara SMA? Dan masih ada kelas remedi, kan? Tidakkah kau ingin menjadi seorang dokter...?”

“Tes Kemampuan Umum Skolastik...?”

Kyouji memiringkan kepalanya seperti ia baru saja mendengarnya untuk pertama kali. Ia mengulanginya beberapa kali sebelum akhirnya berkata ‘ahh...”. Tangan kanannya meninggalkan Shino dan masuk ke dalam jaketnya.

Ia mengeluarkan selembar kertas tipis dari kantongnya.

“Apa kau ingin melihatnya?”

Ia memberi senyum mengejek dirinya sendiri dan memberikan kertas itu ke Shino. Shino cukup familiar dengan kertas itu yang memiliki nomor-nomor tertentu—itu adalah lembar hasil tes percobaan sebelum tes sesungguhnya[3]. Tetapi, nilai dan bagian untuk tiap mata pelajaran dapat dikatakan sangat buruk sampai tidak ada yang mempercayainya.

“Sh... Shinkawa-kun... ini...”

“Lucu bukan? Kalau dipikir ada nilai seperti itu...”

“Te... tetapi, orang tuamu...”

Yang dimaksud Shino adalah ‘orang tuamu masih akan membiarkanmu bermain dengan AmuSphere setelah melihat nilai seperti itu’, dan Kyouji dengan segera menyadari apa yang ingin dikatakannya.

“Fufu, ini semacam kertas hasil... aku bisa membuatnya dengan printer. Selain itu, aku memberi tahu orang tuaku kalau aku memakai AmuSphere untuk belajar jarak jauh. Mereka tidak akan membantuku membayar biaya bulanan GGO, tetapi sedikit uang bisa dihasilkan dari game... seharusnya mudah untuk menghasilkannya, awalnya...” Senyum di wajah Kyouji tiba-tiba menghilang. Ia mengerutkan dahinya, dan giginya yang mengertak terlihat.

“Aku sudah muak dengan dunia membosankan ini. Entah itu orang tuaku, orang-orang di sekolah, mereka semua hina. Setelah aku menjadi yang terkuat di GGO, aku puas. Aw... awalnya, «Spiegel» seharusnya jadi yang terkuat...”

Shino merasakan tangan Kyouji gemetar dari suntikan yang diletakkan di lehernya, dan menahan napasnya karena ia khawatir kalau Kyouji akan menekannya.

“Tetapi... Zexceed, sampah itu... berbohong tentang tipe AGI adalah yang terkuat... Anak haram terkutuk itu menyebabkan Spiegel tidak bisa bahkan menggunakan sebuah M16, sialan... sialan!”

Kemarahan dari suara Kyouji sangat dalam sampai tidak ada orang yang akan mengira ia membicarakan tentang game.

“Sekarang... aku bahkan tidak bisa menghasilkan biaya untuk koneksi perbulan... GGO adalah segalanya bagiku. Aku menyerah pada semua yang ada di dunia nyata.”

“... Jadi itu mengapa... mengapa kau membunuh Zexceed...?”

Meskipun ia berpikir apakah Kyouji membunuhnya karena alasan ini atau tidak, Shino tetap menanyakannya. Kyouji berkedip cepat beberapa kali dan kemudian menunjukkan senyum seperti orang mabuk.

“Ya. Untuk menciptakan legenda «Death Gun» menjadi yang terkuat di GGO... Tidak, di semua VRMMO, orang itu akan menjadi korban terbaik! Setelah aku membunuh Zexceed dan Usujio Tarako, kemudian Pale Rider dan Garret yang muncul di turnamen ini, tidak peduli seberapa bodoh pemain lainnya, mereka tahu kalau Death Gun benar-benar punya kemampuan untuk membunuh. Yang terkuat... aku adalah yang terkuat!”

Mungkin tidak kuat menahan kegembiraan yang melonjak dalam dirinya, seluruh tubuh Kyouji mulai gemetar.

“... Sekarang tidak perlu membuang waktu di dunia membosankan seperti ini. Kemari... Asada-san. Mari melangkah ke «langkah selanjutnya».

“Shi... Shinkawa-kun...”

Shino dengan putus asa menggelengkan kepalanya dan memohon ke Kyouji.

“Tidak. Kau... masih bisa mundur. Kau masih bisa memulai yang baru. Ikut dan serahkan dirimu bersamaku...”

“...”

Tetapi Kyouji hanya melihat ke kejauhan dan menggelengkan kepalanya.

“... Tidak ada sesuatu yang layak dipertahankan di dunia nyata. Ayo, jadilah satu denganku, Asada-san...”

Tangan kiri itu mulai menepuk wajah Shino sambil menemani suaranya yang lemah, dan jari-jarinya memegang rambut Shino.

Ujung jari-jari Kyouji sangatlah kering. Saat kapal yang ada di jarinya membelai kulit halus Shino di sebelah telinganya, ia dapat merasakan sedikit rasa sakit. Tetapi, Kyouji terlihat tidak menyadari ekspresi Shino karena ia terus terlihat melamun.

“Asada-san... Asada-san ku... Aku selalu menyukaimu... sejak pertama aku... mendengar tentang situasi Asada-san... di sekolah... aku selalu...”

“... Eh...”

Shino ragu-ragu sedikit sebelum menyadari apa yang dikatakan Kyouji. Tetapi setelah memikirkan tentang itu, ia tidak bisa tidak membelalakkan matanya.

“Ap... apa... yang terjadi...”

“Aku selalu menyukaimu... selalu mengagumimu...”

“... Jadi kamu...”

Shino bergumam di kepalanya ‘tidak mungkin’, dan kemudian bertanya dengan suara yang hampir hilang,

“Kau... berbicara padaku... karena kau tahu tentang insiden itu...?”

“Tentu saja.”

Tangan kiri Kyouji membelai wajah Shino seperti menenangkan seorang anak kecil dan kemudian mengangguk dengan semangat.

“Aku rasa kalau ada seorang gadis yang pernah menggunakan sebuah senjata nyata untuk menembak dan membunuh seseorang, kau adalah satu-satunya orang di Jepang yang melakukannya. Itu sangat keren. Bukankah aku berkata kalau Asada-san punya kekuatan nyata? Itulah mengapa aku memilih «Pistol Tipe-54» untuk menciptakan senjata terhebat «Death Gun». Sebuah senjata yang Asada-san paling kagumi. Aku mencintaimu... aku mencintaimu... aku mencintaimu lebih dari siapapun...”

“... Bagaimana... mungkin...”

—Untuk berpikir kalau ada orang seaneh itu.

Shino pernah berpikir kalau anak laki-laki ini adalah teman satu-satunya yang bisa bergaul baik dengannya melebihi saudara-saudaranya. Tetapi—pikirannya sudah terlanjur ada di dunia lain. Dari awal, keduanya memiliki jarak begitu besar yang tidak bisa diukur.

Perasaan Shino akhirnya tenggelam dalam kedalaman keputusasaan. Pandangan, pendengaran, dan semua indranya kehilangan kegunaannya seperti dunia perlahan meninggalkannya.

Shino kehilangan semua kekuatan di tubuhnya.

Pada pandangannya yang kehilangan fokus, mata Kyouji di atasnya tidak jelas seperti lubang hitam. Mata itu terlihat seperti terowongan ke dunia yang jauh ke kegelapan—

Itu adalah mata dari orang itu.

Orang itu yang bersembunyi di bayang-bayang jalanan, jendela yang terbuka, topeng «Death Gun» dan semua kegelapan, mencari kesempatan, masih kembali pada akhirnya.

Jari-jari Shino mendadak menjadi dingin. Rasa di ujung jari-jarinya mulai meninggalkan tubuhnya

Di bagian terdalam dari cangkang yang disebut tubuh manusia ini, Shino yang terperangkap di kegelapan yang sempit dan mengekang kembali ke waktu di mana ia masih anak-anak, semua berbayang. Ia tidak ingin melihat atau merasakan apapun.

16 tahun di hidupnya sangatlah tidak ramah dan kejam. Ia telah mengambil ayahnya yang belum pernah dilihat Shino sebelumnya, mengambil jantung ibunya, dan bahkan mengambil sebagian jiwa Shino dengan kedengkian.

Orang dewasa di dunia ini yang melihatnya akan terlihat tertarik seperti mereka melihat seekor hewan aneh dan juga merasa sangat terganggu karenanya. Akan tetapi anak-anak seusianya mengejeknya dan mempermalukannya.

Tetapi dunia ini sendiri tidak terlihat puas karena ia ingin mengambil nyawa Shino di saat dia telah kehilangan semuanya. Ia tidak ingin mengakui kalau ini adalah «kebenaran» di dunia ini.

Tetapi, ini bukanlah kenyataan. Ini hanyalah beberapa hal tertentu yang terjadi di dunia yang tumpah tindih ini. Di dunia ini, seharusnya ada «sebuah dunia di mana tidak ada hal buruk terjadi».

Tidak pernah mengenal Shinkawa Kyouji, tidak pernah melewati insiden di kantor pos, ayahnya tidak meninggal di kecelakaan lalu lintas. Suatu dunia yang seharusnya membiarkan seorang Asada Shino yang biasa-biasa saja memiliki kehidupan yang damai. Shino melingkar di kegelapan dan perlahan menjadi benda tidak bernyawa, tetapi jiwanya terus mendorongnya untuk mencari sosok senyuman di matahari yang hangat.

Sekarang ini, Shino tiba-tiba merasakan keinginan untuk menyanggah dirinya dari keterpurukan.

Kalau ia tidak bisa menerima kenyataan yang kejam dan melarikan diri ke dunia fantasi, bukankah ia sama seperti Shinkawa Kyouji dalam beberapa hal.

Diganggu di sekolah, diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya, tekanan berat dalam tes... Shinkawa Kyouji menyerah pada «kenyataan-kenyataan» ini dan pergi ke dunia virtual untuk terbebas. Kyouji percaya kalau ia bisa menjadi yang ‘terkuat’ di dunia virtual, dia akan bisa menutupi dirinya yang lemah di dunia nyata. Tetapi sekarang harapan itu menghilang, ia hancur juga.

Seperti Kyouji, Shino mendambakan untuk menjadi yang terkuat di dunia yang disebut Gun Gale Online, dan ia merasa kalau tujuan ini akan menciptakan suatu inspirasi, dan ia berpikir kalau ia menemukan sebuah cara untuk menyelesaikan masalahnya.

Tangan dingin beku yang datang dari kedalaman di dalam timbunan memori Shino akhirnya mencengkeramnya dan siap menariknya ke kedalaman yang gelap. Tetapi, ia tidak bisa melawan, dan bahkan tidak bisa membuka matanya. Semua usahanya sia-sia.

Shino hanya bisa berpikir dalam keadaan terganggu seperti gelembung-gelembung air mengambang dari palung sungai, tetapi, ia tiba-tiba teringat...

Kalau orang yang ada di posisiku adalah orang itu, apa yang akan dia lakukan?

Anak laki-laki yang terperangkap di penjara virtual selama 2 tahun, yang mengambil banyak nyawa di dalamnya, pasti telah kehilangan orang-orang penting dalam pertarungannya yang panjang. Ia seharusnya merasakan rasa bersalah, kan? Ia pasti akan membenci dunia virtual yang telah mengambil banyak hal darinya, benar kan?

Tidak, ia tidak akan melakukannya. Tidak peduli cobaan macam apa yang dihadapinya, ia tidak akan mengabaikan kewajiban yang dimilikinya. Itu karena dia adalah tipe orang yang mampu menang dalam pertarungan keputusasaan melawan Death Gun.

—Kau benar-benar sangat kuat, Kirito.

Shino bergumam di dalam kedalaman yang gelap.

—Kau akhirnya berhasil menyelamatkanku... tetapi aku mengkhianati maksud baikmu. Maaf...

Kirito berkata kalau ia akan memanggil polisi setelah ia log out. Ia tidak tau berapa lama waktu berjalan sejak dia log out, tetapi sepertinya sudah terlambat. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan dipikirkannya kalau ia tahu Shino terbunuh. Ini akan membuatnya benar-benar khawatir.

Memikirkan hal itu, pikirannya mulai membuat sebuah reaksi berantai, dan suatu kekhawatiran memberi secercah cahaya terang dalam kegelapan di hati gadis itu seperti lampu yang lemah.

Kirito---akankah semua berakhir setelah pejuang yang menggunakan pedang cahaya itu menghubungi rekannya? Mungkin ia bahkan akan pergi ke apartemennya.

Tetapi dalam hal ini, mungkin sudah terlambat. Setelah Kirito bertemu Shinkawa Kyouji di kamar ini, Kyouji mungkin akan melakukan sesuatu. Ia mungkin akan berlari atau berhenti melawan... atau lebih mungkin, akankah ia menyerang Kirito dengan suntikan di tangannya? Dari cara Kyouji menunjukkan kebenciannya kepada Kirito, sepertinya itu akan dilakukannya.

Mungkin ia ditakdirkan untuk meninggal.

Tetapi—setelah memikirkan bagaimana ini semua melibatkan anak laki-laki itu—itu akan—

Itu akan menjadi sebuah kasus yang berbeda sama sekali.

Meskipun begitu, tidak ada cara lain.

Shino muda, yang terbaring di tengah kegelapan, melingkar dan menolak untuk menerima informasi apapun melalui mata maupun telinganya. Sekarang ini, gadis sniper dengan muffler berwarna seperti gurun, Sinon, berlutut di sebelahnya, meletakkan tangannya di bahunya yang ramping dan berkata dengan lembut,

... Sampai sekarang, kita hanya memikirkan diri kita sendiri, bertarung untuk kita sendiri, sehingga kita tidak bisa mendengar suara hati Shinkawa. Tetapi—itu mungkin sudah terlambat, tetapi setidaknya kita bisa bertarung untuk orang lain.

Shino membuka matanya perlahan ketika ia tenggelam di kegelapan. Sebuah tangan putih, ramping tetapi kuat meraihnya. Shino dengan penuh rasa takut menggapai tangan itu.

Sinon dari game tersenyum dan membantu Asada Shino keluar. Ia menggerakkan bibir pinknya dan berkata dengan jelas.

Ayo, kita pergi.

Keduanya menendang kegelapan dan mulai bergerak naik ke cahaya di permukaan air. Shino berkedip kesusahan dan sekali lagi kembali ke dunia nyata.

Kyouji masih memegang suntikan di tangan kanannya saat ia menekankannya ke leher Shino, dan tangan kirinya mencoba melepaskan tank top Shino. Tetapi, ia tidak bisa melepasnya dengan satu tangan, dan menunjukkan ekspresi kegelisahan. Segera sesudahnya, ia mulai menarik kain yang hampir sobek.

Shino berpura-pura tertarik olehnya dan mengarahkan tubuhnya ke kiri. Ujung suntikan itu meleset dari tubuh Shino dan menancap di tempat tidur.

Shino segera menggunakan kesempatan ini untuk mengambil silinder itu dengan tangan kirinya, dan kemudian menggunakan tangan kanannya untuk dengan kuat memukul rahang bawah Kyouji.

‘Gu!’, dengan suara akibat pukulan itu, Kyouji terhuyung-huyung ke belakang, dan beban yang menekan badan Shino menghilang. Ia kemudian menggunakan tangan kanannya untuk mendorong beberapa kali dan menarik suntikan itu dengan tangan kirinya. Kalau ia tidak menggunakan kesempatan ini, harapan terakhirnya akan menghilang.

Tetapi, Kyouji menggunakan tangannya yang paling kuat untuk mencengkeram pegangannya, dan Shino hanya memegang bagian silinder licin dengan tangan kirinya, sehingga Shino berada dalam situasi merugikan di tarik-tambang ini. Kyouji pulih dan menarik tangan kanannya, membuat suara aneh saat ia mengayunkan tangan kirinya.

“Gu...!”

Tinjunya mendarat dengan keras di bahu kanan Shino. Saat suntikan itu terlepas dari tangan kirinya, Shino menggelinding ke belakang dari tepi depan tempat tidur. Ia menabrak meja tulis dengan punggungnya, dan salah satu lacinya meluncur keluar, terjatuh, dan menyebarkan semua isinya ke semua tempat.

Terluka di punggung, Shino mendadak tidak bisa bernapas dan hanya bisa terengah-engah untuk menghirup udara. Kyouji menekankan rahang bawahnya di tempat tidur, kemudian ia segera mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Shino. Matanya membulat, dan bibirnya yang mengkilat karena air liurnya menjadi kaku. Dari melihat bibirnya yang berdarah, sepertinya ia menggigit lidahnya sendiri. Tidak lama kemudian, ia mengeluarkan suara parau,

“Mengapa...?”

Ia perlahan menggelengkan kepalanya, terlihat merasa tidak percaya.

“Meng, mengapa harus seperti ini...? Asada-san hanya punya aku! Aku satu-satunya yang mengerti Asada-san! Aku selalu membantumu... selalu melindungimu!”

Mendengar kata-kata ini, Shino mengingat beberapa hari lalu. Saat dia dalam perjalanan pulang dari sekolah, ia dikepung oleh Endo dan yang lain dan diperas, dan Kyouji tiba-tiba lewat dan menyelamatkannya—

Melihat hal ini sekarang, itu bukanlah kebetulan.

Lebih mungkinnya adalah Kyouji mengikuti Shino setiap hari setelah ia meninggalkan sekolah sampai ia masuk ke rumahnya, dan log ke GGO untuk menunggu Shino masuk ke game.

Itu hanya bisa disebut kegilaan. Shino sepertinya menyadari sedikit kalau ia memiliki beberapa aspek berbahaya tentangnya, tetapi tidak pernah menyadari sikap mengerikannya sama sekali. Apakah ini akibatnya tidak pernah terbuka dengan seseorang? Bahkan di situasi ini, Shino masih merasa pahit di dalam.

“Shinkawa-kun...”

Shino menggerakkan bibir kakunya dan berkata,

“... Segalanya menyakitkan... tetapi aku masih menyukai dunia ini. Aku rasa aku akan lebih menyukainya ke depannya. Jadi... aku tidak bisa pergi denganmu.”

Sambil mengatakannya, Shino siap untuk bangun. Ketika menyangga dirinya di lantai dengan tangan kanannya, ujung jarinya merasakan sesuatu yang berat dan dingin.

Ia dengan segera mengetahui benda apakah itu. Itu adalah sebuah benda yang selalu ia sembunyikan di dalam laci itu. Itu adalah simbol semua ketakutannya di dunia nyata. Itu adalah hadiah yang didapatkannya dari turnamen BoB kedua karena telah berpartisipasi—model senjata «Procyon SL».

Shino meraba-raba dengan jarinya sebelum mengambilnya, dan kemudian perlahan mengangkat senjata berat itu kearah Kyouji.

Senjata di tangan kanannya terasa sangatlah dingin seperti es. Tangan kanan Shino segera terasa melambat, dan kekakuan menjalar ke lengannya.

Ia tau ini bukanlah perasaan dingin di dunia nyata. Meskipun ia mengetahui kalau itu adalah sebuah penolakan mental, ia tidak bisa menghentikan perasaan ini. Ketakutan yang tidak bisa dijelaskan itu keluar dari dalam hatinya seperti cairan hitam.

Wallpaper putih yang bersih tanpa bercak terlihat bergelombang seperti air, dan retak abu-abu di belakang dinding itu mulai muncul di hadapannya. Lantai dari kayu luntur warnanya menjadi karpet lenan berwarna hijau. Jendela yang menonjol berubah menjadi meja pajangan juga. Saat Shino pulih, ia menemukan dirinya berdiri di tengah-tengah sebuah kantor pos tua.

Wajah Kyouji yang ditodong tiba-tiba meleleh. Kulitnya berubah menjadi seorang dengan kulit kuning berminyak, banyak kerutannya, dan satu set gigi kuning di mulut keringnya. Suntikan di tangan kanannya tanpa diketahui alasannya menjadi pistol tua otomatis yang memberi pendaran gelap—dan senjata di tangan Shino menjadi benda yang sama.

Menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, Shino tenggelam dalam kepanikan yang hebat. Perutnya terasa ditekan, dan otot-ototnya menegang.

Tidak, aku tidak ingin melihat. Aku benar-benar ingin membuang Blackstar di tanganku ini dan pergi dari sini.

Tetapi jika ia kabur sekarang, semuanya akan sia-sia. Benda yang sama pentingnya dengan hidupnya juga akan menghilang.

Ia sedang melawan ketakutannya sebagai Asada Shino ketika ia kambuh, dan ia sedang melawan banyak lawan kuat seperti Sinon si sniper. Mungkin pengalaman-pengalaman ini tidak pernah memberi hasil. Tetapi—

Hal yang disebut kekuatan ini adalah proses untuk maju.

Shino mengertakkan giginya dan mengokang senjatanya dengan ibu jarinya. Bayang-bayang hantu yang muncul di depannya menghilang dengan suara keras dan berat. Kyouji, yang berlutut di tempat tidur, melihat Procyon SL yang diarahkan ke dia dan mundur perlahan. Mungkin merasa ketakutan, ia terus berkedip. Ia membuka mulutnya, dan suara parau kemudian terdengar.

“... Apa yang akan kau lakukan, Asada-san. It... itu hanyalah model senjata, kan? Apa kau benar-benar berpikir benda seperti itu bisa menghentikanku?”

Shino meletakkan tangan kirinya di atas meja, mengerahkan kekuatan ke kakinya yang tak bernyawa untuk berdiri dan menjawab Kyouji,

“Kau yang mengatakannya sebelumnya. Aku memiliki kekuatan nyata. Kau yang mengatakan sebelumnya kalau tidak ada gadis lain yang menggunakan sebuah pistol untuk menembak orang lain sebelumnya.”

“…”

Wajah Kyouji berubah seputih kertas dan menegang, mundur.

“Jadi ini bukanlah model senjata lagi. Sekali aku menekan pelatuknya, aku akan menembakkan peluru sungguhan untuk membunuhmu.”

Shino mengarahkan pistol itu ke arah Kyouji dan kemudian perlahan bergerak ke dapur.

“Ka... kau ingin... membunuh... ku?”

Kyouji bergumam seperti melamun dan perlahan menganggukkan kepalanya.

“Asada-san ingin... membunuhku...?”

“Ya. Kau akan menjadi satu-satunya yang pergi ke dunia itu.”

“TIDAK... TIDAK... AKU TIDAK INGIN... SENDIRI...!!!”

Mata Kyouji kehilangan semua tanda kesadaran. Ia melihat ke atas tanpa pandangan apapun dan jatuh berlutut di tempat tidur.

Melihat tangan kanannya melonggar dan suntikan hampir jatuh ke seprai, Shino ragu-ragu apakah ia harus menggunakan kesempatan ini untuk merebut benda itu. Tetapi, kalau ia telah menggoncangkan mental Kyouji, ia mungkin akan kehilangan akal sehatnya dan menyerang. Meskipun demikian, Shino terus bergerak perlahan ke dapur.

Ketika matanya tidak bisa melihat Kyouji, ia dengan segera menendang lantai dan berlari ke pintu.

Hanya jarak 5m terasa sangat jauh. Ia mencoba sebaik mungkin untuk tidak mengeluarkan suara langkah kaki ketika berjalan melewati dapur. Saat ia berlari ke koridor dan menjejakkan kaki di sana...

Keset itu meluncur ke belakang, dan Shino terjatuh. Ia mengayunkan tangan kanannya untuk mencari keseimbangan, dan model senjatanya terlempar dan jatuh di wastafel, membuat suara gaduh.

Meskipun ia tidak jadi jatuh, tempurung lutut kirinya mengenai lantai, membuat Shino kesakitan. Tetapi, ia terus mencoba dan mendorongkan badannya dan menggunakan tangan kanannya untuk mencengkeram pegangan pintu.

Tetapi, pintunya tidak mau terbuka. Saat ini, Shino menyadari kalau pintunya masih terkunci dan mengertakkan giginya ketika membukanya.

  • CLAK *. Hanya ketika suara pintu terbuka kuncinya sampai ke jari Shino—

Sebuah tangan dingin memegang pergelangan kaki kanannya dengan keras.

“…!”

Shino menahan napas dan melihat ke belakang, dan menemukan Kyouji yang kelimpungan berbaring di lantai dan memegang kakinya. Ia tidak tahu ke mana suntikannya hilang.

Shino mencoba mengenyahkannya dan menggerakkan kakinya dan tangannya sekuat tenaga, terjulur untuk mencoba dan menarik pintunya agar terbuka. Tetapi, jarinya memang menyentuh pegangan pintu, tetapi ia tidak memegangnya. Itu karena kekuatan Kyouji yang hebat menariknya ke belakang.

Bahkan setelah Kyouji menariknya ke dapur untuk beberapa centimeter, Shino masih menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram sisi koridor untuk melawan.

Kalau ia berteriak sekarang, suaranya mungkin terdengar dari luar. Tetapi baru saja Shino akan berteriak, tenggorokannya terjebak dan tidak bisa mengambil udara, menyebabkan hanya suara parau yang keluar.

Kekuatan Kyouji bisa dikatakan jauh lebih kuat dari biasanya. Badan kurusnya yang hampir setinggi Shino menunjukkan kekuatannya. Tangan kiri Shino akhirnya tertarik dari sisi koridor, dan tertarik jatuh ke arah dapur.

Wajah Kyouji segera tertekan ke bawah. Meskipun Shino memegang tangan kanannya dengan erat dan siap untuk mendorong dagu bawahnya, Kyouji mencengkeramnya dengan tangan kirinya saat ia menyentuh kulitnya. Pergelangan tangan itu terasa sangat kencang seperti jebakan untuk harimau, dan rasa sakit yang tajam meledak dalam otaknya.

“AsadasanAsadasanAsadasan...”

Setelah beberapa saat, Shino menyadari kalau suara aneh yang dibuat Kyouji sebenarnya adalah namanya. Wajah Kyouji kehilangan semua fokusnya dan mulutnya mengeluarkan buih putih saat ia perlahan mendekatkan mulutnya. Mulut itu sangat besar, menunjukkan dua baris gigi yang terlihat seperti siap mengoyak kulit Shino. Shino ingin mendorongnya menjauh dengan tangan kirinya, tetapi tangan kirinya segera dicengkeram oleh tangan kanan Kyouji.

Tangan Shino terkekang, tetapi ia berniat menunggu Kyouji untuk mendekat dan menggigit lehernya. Baru saja mulut Shino menegang saat itu— Udara dingin tiba-tiba berhembus melewati bahu Shino. Kyouji melihat ke belakang Shino, dan mata dan mulutnya terbuka lebar.

Baru saja Shino berpikir apa yang terjadi, sebuah kelebat hitam masuk di hadapannya dari pintu yang terbuka tidak tahu bagaimana caranya—itu seharusnya adalah seseorang, paling tidak, karena ia menggunakan lututnya untuk menendang wajah Kyouji.

  • Dodo *, dengan suara seperti itu, Shino hanya dapat melihat dengan takjub saat ia menyaksikan penyusup misterius yang menggelinding masuk dengan Kyouji.

Kyouji, yang rubuh ke lantai, berdarah dari hidung dan mulutnya, dan seorang pemuda yang ia tidak pernah jumpai sebelumnya ada di atasnya.

Orang itu memiliki rambut hitam yang sedikit panjang, dan memakai baju yang hampir sama dengan baju hitam pengendara. Shino berpikir ia mungkin adalah penghuni lain di apartemen tetapi ketika orang itu—atau anak laki-laki itu berbalik untuk berteriak, Shino segera tahu identitasnya yang sebenarnya.

“CEPATLAH DAN PERGI, SINON! MINTA TOLONG SESEORANG!”

“Kiri...”

Sword Art Online Vol 06 -371.jpeg

Saat ia bergumam tidak jelas, Shino segera bangun. Ia tahu ia harus pergi dari tempat ini secepatnya, tetapi kakinya tidak mau menurut.

Akhirnya, Shino mencengkeram ujung wastafel dan akhirnya berhasil berdiri. Jadi ia sendirian datang dari Ochinomizu. Ini artinya polisi akan segera tiba. Saat itu, Shino memaksa dirinya untuk menggerakkan kakinya yang lemas ke pintu masuk dan berlari beberapa langkah—

Shino teringat sesuatu yang penting.

Kyouji punya sebuah senjata fatal. Ia harus memperingatkan Kirito.

Baru saja ia berbalik dan akan berteriak,

Kyouji, yang tertekan ke bawah di lantai, benar-benar kehilangan akal sehatnya dan mengeluarkan raungan seperti binatang liar. Badan Kirito terdorong ke samping, dan keduanya bertukar tempat.

“JADI ITU ADALAH....... KKKKKKKKKKKAAAAAAAAAAAAUUUUUUUUUU!!!”

Raungan Kyouji terdengar seperti gema dari sebuah pengeras suara besar, dan volumenya begitu keras sampai hampir memecahkan gendang telinga orang-orang di sekitarnya.

“JANGAN DEKAT-DEKAT ASADA-SAN KUUUUUUU!!!”

Kyouji meraung.

Kirito siap untuk menyangga badannya, tetapi tinju kiri Kyouji menghantam wajahnya dan mengeluarkan suara keras. Kyouji kemudian meraih tangan kanannya ke kantong jaketnya dan mengeluarkan senjata berbentuk suntikan yang kejam.

“KIRITO—!”

Baru saja Shino berteriak…

“PERGIIIIIIII KEEEEEEE NERAKKKKKAAAAAA!!!!!!!!”

  • Byutsu * Suntikan bertekanan tinggi menancap di dada Kirito, di T-shirt yang terlihat di bawah jaket pengendara itu, dan mengeluarkan suara halus, tajam tapi tidak jelas.

Yang menakutkan adalah suara itu benar-benar mirip dengan peredam kemampuan tinggi yang ditaruh di senjata-senjata.

Tentu saja, Shino hanya tahu efek suara dari senjata khayalan di Gun Gale Online, dan kenyataannya, ia tidak tahu seperti apa suaranya kalau benar-benar diredam di kehidupan nyata. Tetapi, untuk Shino, yang familiar dengan suara ini, artinya ia harus bangkit dan menghadapi ancaman. Saat ia pulih, ia menemukan dirinya sedang berlari ke depan.

Ia mengambil beberapa langkah, berlari melewati dapur, dan dengan tidak sadar mencari senjata paling efektif. Akhirnya, ia memilih stereo di atas meja, dan mengambil pegangannya dengan tangan kanannya.

Mesin yang digunakan Shino untuk waktu yang lama cukup punya sejarah, dan bisa dikatakan sangat besar, hampir sebesar speaker dinding modern. Shino menggunakan pinggangnya untuk menyangga kotak yang beratnya kurang dari 3 kg dan dengan cepat mengayunkan ke belakangnya.

Dan kemudian ia menggunakan gaya berputar untuk memukul wajah Kyouji bagian kiri, yang menujukkan senyum yang terlihat seperti kehilangan senyumannya.

Shino hampir tidak merasa terkejut atau perasaan apapun ketika memukulnya, tetapi setelah Kyouji terlempar jauh, kepalanya menghantam sudut tepi bedframe, mengeluarkan suara berat yang masih jelas terngiang di telinganya.

Setelah setengah detik, Kyouji, yang ada di kedua sisi tempat tidur, mengerang saat dia rubuh ke lantai. Tangan kanannya melonggar, dan suntikan tekanan tingginya menggelinding keluar dari genggamannya.

Shino tidak tahu apakah benda itu dapat terus menyuntikkan obat atau tidak, tetapi ia tetap mengambilnya. Kyouji sudah menunjukkan mata putih dan mengerang. Kelihatannya ia tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.

Shino berpikir untuk menggunakan sabuk atau sesuatu untuk mengikat tangan Kyouji, tetapi sebelumnya, ada sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan. Ia kemudian berbalik...

“Kirito...!”

Ia menangis perlahan dan berlutut di samping anak laki-laki itu.

Anak laki-laki ini yang lembut sama seperti karakternya di game menyadari Shino dan berkata dengan suara parau,

“Aku sudah... berpikir... kalau ia punya sebuah suntikan...”

“Di mana? Di mana kamu tertikam?”

Membuang suntikan ke samping, Shino dengan segera membuka resleting jaket Kirito.

Aku harus menelepon rumah sakit. Tetapi sebelumnya, aku harus memberi pertolongan pertama dulu. Tetapi apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan racun dari dadanya—bentak Shino terus dipenuhi pikiran semrawut, dan jari-jarinya mulai gemetar.

Di bawah jaket adalah sebuah T-shirt biru luntur, dan apa yang tepat ada di jantungnya adalah bercak kegelisahan. Ia tidak tau seberapa kuat «kemampuan menikam» suntikan itu, tetapi itu bukanlah sesuatu yang bisa ditahan dengan T-shirt tipis.

“Kau tidak boleh mati…kau tidak boleh mati seperti ini!” Shino meratap dengan suaranya yang kecil saat ia menggulung T-shirt dari celana jeans Kirito.

Perut rata dan dada Kirito segera terlihat, dan kulitnya cukup putih untuk seorang laki-laki. Tetapi, sedikit ke kanan dari tengah dadanya, di mana ada bercak di T-shirt nya adalah—ada sesuatu tersangkut di sana.

“…?”

Shino terlihat bingung saat melihat benda itu.

Itu adalah benda bulat tebalnya sekitar 3cm. Piringan bundar silvernya memiliki alat untuk menghisap yang terbuat dari karet kuning. Juga, ada sesuatu di tepi alat bundar itu yang terlihat seperti stop kontak, tetapi tidak ada apapun di situ.

Logam bundar itu basah semua di permukaan, dan ada cairan mengalir turun. Cairan bening itu seharusnya adalah obat fatal «Succinylcholine» yang Kyouji katakan. Shino segera melihat ke lantai sekitar, dan menemukan sekotak tisu, ia menarik dua tisu keluar dan dengan hati-hati mengelap cairan itu. Ia membawa wajahnya beberapa centimeter dari dada Kirito, dan kemudian dengan seksama mengecek apakah ada cairan yang tersuntikkan di dekat alat misterius itu.

Tidak peduli bagaimanapun ia melihat, dada Kirito tidak terlihat ada luka. Suntikan tekanan tinggi itu kelihatannya tembus ke T-shirt nya dan mengenai alat logam bundar yang hanya beberapa centimeter lebarnya, dan cairan yang disuntikkan tertahan oleh benda keras di luar ini. Ia mencoba meletakkan tangannya di alat itu, dan kemudian merasakan sebuah detak jantung yang kuat dan tegas.

Shino berkedip dan menaikkan matanya, melihat wajah Kirito mengerang dan menutup matanya.

“Hey... dengarkan aku...”

“Uu... Aku tidak akan berhasil... aku tidak bisa bernapas...”

“Hey, dengarkan aku.”

“... Sialan... Aku tidak bisa memikirkan... kata-kata terakhir... saat ini... ”

“Apa sih yang kau pikirkan?”

“... Eh?”

Kirito sekali lagi membelalakkan matanya, menurunkan kepalanya dan melihat ke dadanya. Kemudian ia mengerutkan dahi terkejut dan menggunakan jari tangan kanannya untuk menyentuh alat logam bundar itu.

“... Jangan bilang... obatnya mengenai tempat ini?”

“Sepertinya begitu... apa yang terjadi?”

“.. Yah... ini adalah elektroda dari ECG...”

“Ap... Apa? Mengapa ada alat seperti itu... apakah jantungmu buruk?”

“Sebenarnya tidak... hanya jaga-jaga kalau aku bertemu «Death Gun»... Ya, ya itu benar, aku panik jadi kabelnya terlepas dan masih ada satu di badanku.”

Kirito menghela napas berat dan berkata dengan lembut,

“Beneran... aku benar-benar takut sampai mau mati.”

“Aku...”

Shino menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram kerah Kirito dan mengangkatnya.

“—AKU SEHARUSNYA YANG BERKATA SEPERTI ITU! AKU... AKU PIKIR KAMU MATI TADI!!”

Mungkin setelah berteriak, ketegangannya hilang karena Shino tiba-tiba merasakan kegelapan di depan matanya. Ia perlahan menggerakkan kepalanya dan melihat ke Kyouji yang rubuh di tempat agak jauh.

“Apakah... dia masih hidup?”

Saat Kirito bertanya padanya, Shino dengan takut-takut menjulurkan tangannya untuk memegang pergelangan tangan kanannya yang lemas. Untungnya, tangannya memberi detak yang jelas. Shino mempunyai pikiran untuk mengikat Kyouji, tetapi ia benar-benar tidak bisa melihat lurus ke arahnya karena matanya tertutup, dan hanya dapat melihat ke kejauhan. Shino tidak ingin memikirkan Kyouji lagi. Meskipun ia tidak menyimpan marah atau kesedihan, masih ada kekosongan yang hebat di dirinya.

Shino berlutut dan tanpa pandangan melihat ke suntikan bertekanan tinggi yang menggelinding ke lantai—ia harus memanggilnya «Death Gun» yang sebenarnya. Beberapa detik kemudian, ia akhirnya berkata,

“Ngomong-ngomong...terima kasih sudah datang untuk membantu...”

Kirito tersenyum seperti biasa dan menganggukkan kepalanya.

“Jangan khawatir... aku tidak banyak membantu... dan aku hampir terlambat, jadi maaf. Karena Kiku... rekanku tidak mengerti penjelasanku... kau tidak apa?”

Shino menganggukkan kepalanya.

Sekarang ini, setetes cairan mengalir dari matanya.

“Eh... ini aneh...”

Meskipun pikirannya kosong dan tidak bisa berpikir, air mata yang mengalir menuruni wajahnya terus turun dan sampai di lantai.

Shino terus terdiam, dan air mata hanya mengalir keluar dari matanya. Ia tahu kalau ia mulai berbicara, ia akan mulai menangis.

Dan Kirito tidak melakukan apapun dengan kata lain dia tetap diam juga.

Setelah beberapa saat, Shino menyadari sirine mobil polisi yang datang dari kejauhan, tetapi air matanya tidak punya niat untuk berhenti. Tetes air mata besar akhirnya mengalir, dan ia menyadari—kalau kekosongan di hatinya datang dari kehilangan yang begitu besar.


Referensi[edit]

  1. http://www.wisegeek.com/what-is-a-needleless-syringe.htm
  2. biasa digunakan untuk merilekskan otot dan dapat menyebabkan paralisis (kelumpuhan). http://en.wikipedia.org/wiki/Suxamethonium_chloride
  3. terjemahan Inggrisnya adalah ‘mock exam’ yang adalah sebuah kebiasaan di luar negeri yang mengadakan tes sebelum tes sesungguhnya dengan cara yang sama persis seperti aslinya. http://mocktest.org/