Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 10 Bab 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4 — Master Sword Academy (Bulan ke-3 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

—Sebisa mungkin, Aku gak ingin bertarung melawan wanita sampai Turnamen Kesatuan Empat Kerajaan.

Aku bilang begitu kepada Eugeo sebelum Turnamen Pendekar Pedang Zakkaria. Sejak saat itu, satu setengah tahun pun berlalu.

Sudah sekitar dua tahun sejak kami memotong «Pohon Iblis» Gigas Cedar di Rulid dan meninggalkan desa. Setengah tahun kemudian, kami bergabung dengan pasukan penjaga di Zakkaria, dan setengah tahun kemudian lagi, kami sampai di Pusat. Dan sudah setahun sejak kami mengetuk pintu akademi ini.

Memang sepertinya sangat lama, tapi saat aku mengingat hal ini, benar-benar luar biasa. 2 tahun berarti sama lama nya dengan saat Aku terjebak di kastil udara Aincrad.

Beruntung— Aku harusnya berkata seperti ini, dunia virtual «UnderWorld» yang kumasuki dengan cara yang tak kuketahui ini beroperasi dengan super-teknologi yang jauh melebihi imajinasiku.

«Fluctlight Acceleration Function»— secara ajaib mengubah rasa terhadap waktu dan mengakselerasi nya kepada orang yang sedang dalam dive mode. Secara teori, fitur itu bisa berakselerasi sampai 1000 kali lipat waktu di dunia nyata. Dengan kata lain, tubuh fisik dari Kirigaya Kazuto yang berbaring di dunia nyata hanya dive in selama 18 jam sampai saat ini.

Kalau aku memikirkan saat aku bangun di hutan dekat Rulid, menghabiskan waktu 2 tahun untuk mencapai Akademi di Kerajaan Norlangarth, dan belum sampai satu hari berlalu di dunia nyata, Aku merasa sedikit pusing, dan juga lega.

Aku gak ingin membuat khawatir orang tua ku, Suguha, teman-teman ku, dan tentu saja Yui dan Asuna. Tentu saja, mengetahui Asuna dan yang lain, mereka gak akan hanya duduk dan khawatir; mereka pasti akan melakukan sesuatu. Hal ini lah yang paling membuatku cemas.

Yang manapun itu, situasi sekarang telah membuat Asuna dan yang lain nya terpukul, dan diriku di dunia ini mencoba untuk mengingat agar gak berinteraksi dengan wanita. Aku membuat keputusan ini saat aku menginjakkan kaki keluar Rulid —baguslah Eugeo itu seorang laki-laki— Aku sepenuhnya bersumpah untuk menjalani sumpah ku dan mengatakan berbagai hal di Zakkaria, namun...

Yang gak aku pernah prediksi adalah kalau aku akan latih tanding secara rutin dengan pendekar pedang wanita selama setahun terakhir ini di Centoria.


"Aku disini untuk merevisi mu, Kirito."

Orang yang memberi perintah dengan suara yang jelas adalah senior yang memakai seragam warna ungu dengan rambut coklat tua yang diponytail dengan rapi, «Senior» ku.

"Mengerti, Rina-senpai."

Aku menjawab, dan menarik pedang kayu latihan dari sarung pedang kulit di sisi kiri pinggang ku. Itu adalah pedang kayu, tapi itu dibuat dari platinum oak berkualitas tertinggi, dan orang bisa saja salah mengira nya logam yang mengkilap. Pedang itu gak punya bilah pedang dan gak punya kemampuan untung memotong, jadi meskipun menggesek sebuah baju, Life baju itu gak akan berkurang. Tapi dalam masalah prioritas, jauh lebih besar dari pada pedang logam kasar yang aku pinjam di turnamen Zakkaria.

Pendekar wanita itu melihat ku yang mengambil kuda-kuda dengan pedang yang telah dihunus, dan pendekar wanita itu kemudian menarik pedang nya juga dengan tenang. Postur yang ia buat agak berbeda, posisi miring dimana bagian kanan dari tubuh nya menghalangi tangan kiri nya. Ini adalah style dasar dari «Celurute Fluid Combat Skills» yang diwariskan turun temurun dari keluarga nya.

"...Ini adalah yang terakhir. Gak apa-apa kok kamu gunakan tangan kirimu itu."

Aku mengatakan nya dengan sedikit tertawa, dan ia menjawab nya dengan tatapan yang tegas, "Begitukah..." Ia kemudian memposisikan tangan kirinya dibelakang pinggang nya, tepat dibawah selempang.

Pendekar wanita itu berdiri 10 Mel jauh nya, bukan, 10 meter jauh nya saat ia membuat postur itu, dan cara nya menunjukkan tekad nya terlihat sangat indah.

Dari segi tinggi badan, dia lebih tinggi 3cm dari tinggi ku yang 1.7m. Rambut yang mengalir diikat dengan pita berwarna rotan yang sangat cocok dengan rambut coklat tua nya. Keganasan dari seorang pendekar dan keanggunan dari seorang bangsawan menyatu di wajah yang menawan nya. Warna biru-laut dari mata nya seperti langit yang memudar menjadi senja.

Jaket dari seragam nya yang rapi dan rok panjang yang berayun dengan halus berwarna ungu-glacial. Itu bukanlah warna yang menarik, tapi warna itu terlihat lebih mempesona lebi dari apapun yang ia kenakan. Namun, tubuh yang terbungkus didalam baju itu seperti besi yang diolah, dan Aku mengetahui hal ini karena peran ku.

"...Ini akan menjadi yang terakhir."

Dia— Solterina Celurute, anak dari bangsawan Norlangarth dan peringkat dua di Master Sword Academy— mempertahankan posisi yang tanpa celah sembari mengatakan hal itu.

Aku— Siswa Pemula di Master Sword Academy, Kirito, adalah «Valet» nya. Aku mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata dan menurunkan bagian bawah tubuh ku.

Setiap hari, pelajaran dan latihan akan berlangsung dari 9am pagi hari sampai 3pm siang, dan setelah itu, Aku harus menjadi valet nya selama satu jam. Fisik dan mental ku terkuras, tapi semua jenis rasa capek itu telah lama hilang berhubung Aku bisa bertanding melawan Solterina-sempai. Waktu sudah menunjukkan jam 5pm, dan hanya kami berdua yang tersisa di lapangan latihan yang dibangun di asrama Elit, yang berlokasi di lapangan atas dari kampus.

Eugeo mungkin sedang menghela nafas di asrama siswa latihan karena Aku melanggar jam malam pada saat ini, tapi berhubung dia juga seorang valet pendekar lain, ia seharusnya bisa mengerti.

Fikir ku, dan kemudian memfokuskan kesadaran ku ke pedang di tangan kanan ku ini. Mata Rina-senpai tiba-tiba menjadi kusam dan udara terlihat seperti menunjukkan kilatan listrak, membuat ku tegang. Lampu menerangi lapangan latihan yang luas bergoyang sedikit, terlihat seperti gak bisa menahan rasa tegang ini.

Meski tanpa wasit disini, kami berdua mulai bergerak saat pernafasan kami ada di tempo yang sama.

Strategi remeh gak akan mempan terhadap Solterina-senpai, yang disebut «Mobile Tactics Overload», jadi Aku mengambil langkah kedepan, menutup jarak yang 10m, dan melakukan tebasan vertikal yang tak terduga.

Para guru pasti sudah akan menghentikan ku kalau aku menggunakan skill ini pada sparing yang sebenar nya, tapi Aku pasti akan langsung dijatuhkan kalau aku menggunakan Norlangarth style yang lambat itu di pertandingan ini. Celulute-style yang digunakan Solterina-senpai adalah sword style paling praktis dari semua sword style yang aku tau di UnderWorld.

Serangan tercepat yang aku keluarkan ditangkis dengan pedang kayu di tangan kanan Solterina-senpai. Namun, gak ada pengaruh sama sekali. Ia menggunakan kelembutan lengan nya, bahu dan pinggang nya saat ia menerima serangan ku dengan memiringkan sisi dari pedang nya. Ini mungkin adalah Secret Art dari Celulute-style, «Active Water». Ia telah mengajarkan ku gerakan ini selama setahun terakhir, tapi Aku gak bisa melakukan nya secara penuh bahkan setelah mengetahui nya.

Sedikit info, bahasa yang digunakan untuk menulis dan berbicara di dunia ini adalah sepenuh nya Jepang (dan beberapa bahasa asing), tapi hanya ada sedikit kanji. Mungkin, sekitar sama dengan 30% dari JIS Level 1, dan hanya menggunakan 1000 huruf kanji. Meskipun dengan pembatasan seperti itu, mereka mampu menciptakan banyak sekali nama yang unik dari sword skill mereka.

Imajinasi orang-orang di UnderWorld sangat luar biasa. Saat ini, hanya ada buku cerita untuk dibaca anak kecil. Dalam 100 tahun, gak aneh untuk melihat seseorang menulis novel. Kalau itu dijual di Jepang di dunia nyata dan mendapatkan hits yang sangat besar, pasti luar biasa...

Aku melompat keserong kanan depan, sepertinya mencoba untuk menghilangkan fikiran macam-macem di otak ku. Itu karena Aku mempelajari pelajaran ku setelah senpai merusak keseimbangan ku dengan «Active Water» dan menyerang balik.

Aku berputar di udara dan mendarat dekat tembok lapangan latihan. Kaki kanan ku menginjak tembok hitam yang berkilau, dan menyerbu kedepan— Saat aku melakukan hal ini, tangan kiri Rina-sempai melakukan sesuatu.

Tangan kiri nya bergerak dari belakang pinggang nya kedepan tubuh nya, memperlihatkan lengkungan yang anggun sembari cahaya putih meluncur dari ujung jari nya. Tentu saja, ini bukan karena ia menggunakan Sacred Art yang disebut «Light Element». Wujud sebenarnya adalah cambuk yang terbuat dari kulit putih yang halus, senjata yang dikuasai penuh oleh nya selain menggunakan pedang.

Cambuk latihan dibuat dari kulit kambing yang halus dan gak akan mengurangi Life bahkan jika terkena serangan telak, tapi akan merasa sakit yang cukup untuk mengeluarkan air mata. Aku secara insting ingin pindah ke posisi bertahan, tapi pedang ku akan dililit oleh cambuk kulit itu dan dihentikan. Namun, kalau aku gak melakukan itu dan mundur, serangan kedua, dan ketiga akan datang kearah ku.

Aku sekuat tenaga memalingkan badan ku ke kiri, mencoba untuk menghindar ke samping untuk menghindari nya. Ujung dari cambuk kulit itu menyerempet pipi kanan ku dan lewat kebelakang, dan memanfaatkan kesempatan ini, aku menyerbu kedepan.

Namun, cambuk kulit ini yang mengeluarkan suara yang lantang, melengking di udara dan melingkar seperti ular dan ditark kembali. Aku harus menyerang nya sebelum serangan selanjut nya dilakukan nya. Aku memutuskan kalau sangat mustahil bagiku untuk menggapai nya dengan hanya berlari, menempatkan pedang kayu ku paralel dengan kaki kanan ku, dan menarik nya kembali. Posisi badan ku tetap turun dan membentang kedepan, dan pada saat ini, cahaya biru keluar dari pedang.

Rina-senpai tiba-tiba menyempitkan mata nya dan membuka tangan kiri nya. Ia buru-buru melepaskan cambuk kulit yang ada di tangan kirinya dan menempatkan nya di gagang pedang yang tangan kanan nya itu genggam.

Segera setelah nya, tubuhku berakselerasi seolah-olah digerakkan oleh sebuah tangan yang tak terlihat. Hal ini disebut Aincrad-style, tapi itu sebenarnya adalah «sword skill» yang berasal dari SAO— skill yang menusuk lawan dari bawah dengan satu tangan, «Rage Spike». Aku terus mengurangi jarak yang 7m itu sembari merasakan kalau Aku sedang bersatu dengan angin.

Sebalik nya, Rina-sempai memiringkan pedang yang ia pegang dengan kedua tangan ke bagian kanan. *Don*, ia melangkah kedepan dengan kaki kiri, dan pedang kayu itu mengeluarkan cahaya emerald. Itu adalah Secret Skill milik Celulute, «Linker».

Pedang kayu ku mengayun keatas dari sisi bawah kanan, dan bertabrakan keras dengan pedang milik senpai saat mengayun secara horizontal. Pedang kayu kami mengeluarkan suara seperti logam yang bertabrakan, dan kilatan hijau dan biru yang keluar langsung menerangi lapangan latihan secara samar-samar.

Aku menegakkan tubuhku saat pedang kami masih menempel satu sama lain, dan wajah Rina-senpai berada 10cm jarak nya dari wajah ku. Ia terlihat keren dan tenang seperti biasanya, dahi putih salju nya gak mengeluarkan sedikitpun keringat. Meskipun begitu, ia bisa membuat banyak tekanan kepada pedang ku. Kalau aku gak hati-hati, Aku akan dikalahkan nya.

Di dunia ini, kemampuan dari manusia, «Character Status», agak rumit.

Meskipun aku membuka sesuatu yang mereka sebut «Stacia Window», kebanyakan yang hal itu tunjukkan adalah jumlah saat ini/jumlah maksimum dari Hit Point dan dua indikator level «Object Control OCAuthority», dan «System Control SCAuthority».

Diantara hal itu, OC Authority mengontrol penggunaan dari senjata dan armor, sementara SC Authority mengontrol penggunaan Sacred Arts. Dengan kata lain, yang pertama seperti STR[1]STR, sementara yang kedua sepertinya adalah intelligence INT. Hal ini adalah kesimpulan simpel yang aku buat pada awal nya. Namun, STR sendirian sepertinya gak menentukan OC Authority. Sepertinya ada faktor-faktor lain seperti usia, fisik, kesehatan, pengalaman dan latihan dan parameter lain nya.

Aku telah memikirkan hal ini. Jika OC Authority seorang anak kecil meningkat ke maksimum karena suatu alasan, dan jika STR ditetapkan lewat nilai itu sendiri, akan ada anak kecil dengan kekuatan seperti monster. Jika aku memulai dengan tujuan untuk bertahan hidup di dunia ini, Aku gak akan suka fenomena aneh seperti itu.

Aku gak bisa mengecek milikku sendiri, tapi jika kami membandingkan OC Authority, punya ku seharusnya jauh lebih besar dari Rina-senpai. Mungkin begitu, tapi senpai mampu menahan diri saat bertarung melawan ku, jadi itu kemungkinan karena jumlah latihan yang ia lakukan setiap hari. Selama dua tahun terakhir ini, Eugeo dan Aku selalu berlatih, mau itu pagi atau malam, tapi itu sepertinya gak sebanding dengan level latihan yang senpai lakukan yang bisa membuat semua orang gemetar. Latihan seperti itu meningkatkan STR nya dan juga 'kekuatan' yang gak bisa diindikasikan dengan nilai.

Namun, yang lebih menakutkan nya lagi, meskipun ada orang yang sepertinya, ia hanya menempati ranking ke-dua dianara 12 pendekar elit— Dengan kata lain, ada satu orang lain yang ranking nya diatas Rina-senpai.

Eugeo dan Aku akan ikut serta dalam ujian naik pangkat menjadi pendekar elit bulan depan. Sepertinya 12 orang dengan nilai tertinggi akan diberikan posisi «Swordsmanship Specialist» sebagai pendekar elit. Menjadi pendekar pedang adalah sebuah keharusan untuk kami, dan kami harus menjadi ranking satu dan dua. Jika tidak, kami gak akan bisa ikut serta dalam kompetisi kekaisaran, secara resmi nya dinamakan «Norlangarth Imperial Swordsmanship Tournament», setelah kami lulus.

Di kuliah dua tahun Akademi Pedang ini, tiap tahun ada 120 murid. Dengan kata lain, Eugeo dan Aku harus mengalahkan 118 murid lain nya— Sejujur nya, memikirkan Rina-senpai bukanlah «Nomor 1» meskipun dia sehebat ini, Aku merasa sedikit, enggak, aku merasa sangat cemas...

“—Kamu sudah berkembang, Kirito."

Tiba-tiba, ia bergumam kepadaku dari jarak yang sangat dekat, terlihat seperti telah membaca pikiran ku. Aku menggelengkan kepalaku, mempertahankan tekanan yang kukerahkan yang gak bisa lepaskan.

"Enggak... Aku masih harus berusaha lebih keras lagi."

"Jangan merendahkan diri begitu. Kamu kurang lebih sudah mempelajari cara mengatasi cambuk ku."

"Itu karena kamu gak pernah menahan diri."

Mendengar jawaban itu, bibir yang mempesona menunjukkan sedikit senyum.

"Aku gak perlu menahan diri saat melawan mu, Kirito. Itu karena ini adalah yang terakhir... «Aincrad Style» milikmu mempunyai beberapa gerakan yang belum kulihat."

Uuu. Mau gak mau aku terdiam. Pedang ku tertarik kebelakang 5cm, mungkin karena aku bimbang, dan Rina-senpai menekan ku dari atas.

Mata biru-laut nya menatap kepadaku, dan kemudian mengeluarkan kata-kata,

"Setahun yang lalu, saat Aku menunjuk mu sebagai valet ku, Aku merasakan sesuatu seperti sword style. Benar-benar berbeda dengan Norlangarth style yang dituntut akademi... sword style ini bukan untuk ditunjukkan, tapi untuk menang. Celulute style yang kugunakan itu mencoba untuk berkembang mencapai tujuan dengan praktis, tapi itu terlalu kaku dibandingkan dengan style milikmu, Kirito. Aku mengerti hal itu selama setahun ini."

Aku hanya bisa melebarkan mataku kearah lawan yang membuat pengakuan ini.

Penggunaan sword skill nya berbeda, kalau Aku harus bilang, itu benar. Aku bukan berasal dari Underworld. Sword skill ku dinamakan Aincrad-style karena semua sword skill itu aku pelajari di kastil melayang itu, di dunia game kematian dimana kami harus mempertaruhkan nyawa kami di seluruh pertarungan.

Sebalik nya, di Underworld pada dasar nya gak ada pertarungan yang sebenar nya. Semua pertarungan yang dilakukan adalah «kompetisi». Pada kompetisi lokal, lawan akan dinyatakan kalah saat terpojok, dan di level yang lebih tinggi di Central, peserta yang melukai duluan akan menang. Tanpa resiko kehilangan nyawa, sangat logis bagi sword skill untuk dikembangkan untuk estetika yang ideal.

Namun, hal ini gak berarti sword skill milik pendekar pedang di UnderWorld itu rendahan. Hal ini juga adalah sesuatu yang kupelajari selama 2 tahun kebelakang. Selama mereka terus melatih «style» yang sama berulang ulang, kekuatan dari tiap serangan yang telah ia habiskan waktu untuk melatih nya akan menutupi kelemahan dari gak punya pengalaman bertarung yang sebenarnya.

Ini semua karena kekuatan dari «Imajinasi».

UnderWorld adalah dunia virtual, tapi konstruksi nya sangat berbeda dengan Aincrad. Di dunia ini, kekuatan imajinasi yang diciptakan oleh jiwa— oleh Fluctlights, kadang-kadang akan mempengaruhi hasil.

Seberapa kuat orang itu akan ditentukan oleh imajinasi orang itu yang telah ia gunakan untuk melatih skill yang sama berulang-ulang selama 10, 20 tahun sejak muda... Pada sisi lain, Aku, yang mempunyai kelebihan di OC Authority, dipukul mundur oleh Rina-senpai seperti di situasi yang sekarang, yang menunjukkan kalau hal itu benar. Kekuatan imajinasi gak ditunjukkan dengan angka, tapi kekuatan sebenar nya yang tersembunyi didalam dunia ini. Hal itu adalah sesuatu yang baik aku, yang bangun di dunia ini baru dua tahun, atau Eugeo, yang memulai latihan pedang nya di waktu yang sama, bisa memahami nya dengan mudah.

Murid di akademi ini kebanyakan lahir di keluarga «Bangsawan», elit yang memulai latihan seni bermain pedang sejak 3, 4 tahun. Meskipun begitu, hanya beberapa golongan yang menghabiskan waktu dan usaha mereka untuk benar-benar berlatih. Namun di situasi seperti ini, Eugeo dan Aku harus mengalahkan orang-orang kuat itu dan menjadi ranking top pada tahun ini.

Karena hal ini, satu-satu nya senjata yang bisa kuandalkan adalah Aincrad-style— sword skill.

Kenapa sword skill ada di Underworld, aku sendiri gak tau, bahkan sampai sekarang.

Namun, sepertinya pendekar pedang di dunia ini hanya mengetahui skill dasar single-strike, atau lebih tepatnya, mereka hanya menggunakan skill seperti itu.

Setahun yang lalu, saat Turnamen Zakkaria, magang penjaga bernama Egome menggunakan Zakkaligt style «Azure Wind Slash». Di istilah swords skill SAO, itu adalah serangan diagonal satutangan «Slash». Gerakan Celulute-style yang Rina-senpai gunakan tadi, «Linker», adalah tebasan pedang berputas dua-tangan, «Cyclone». Gerakan lain yang kulihat adalah Norlangarth-style «Lightning Slash», yang adalah sword skill satu-tangan «Vertical», sementara skill level tinggi Norlangarth, «Heavens and Mountains Break» adalah tebasan vertikal dua-tangan «Avalanche».

Itu semua adalah semua secret move dari tiap sekolah, dan sepertinya gak ada gerakan super yang seperti ultimate move. Kemudian, dua, tiga serangan beruntun yang kukuasai mungkin adalah senjata yang bisa menyaingi pedang kuat milik para elit disini. Hal itu hanyalah perkiraan sekarang, tapi Aku harus bilang kalau itu adalah tindakan yang agak tercela. Namun, kami gak disini untuk mendapat kebanggaan menjadi yang terkuat di dunia manusia. Kami hanya ingin melewati gerbang Centoria Cathedral milik Gereja Axiom yang terletak di bukit beberapa kilometer jauh nya dari Master Sword Academy, menara raksasa yang benar-benar diluar batas bagi kami.

Demi untuk membantu Eugeo bertemu dengan Alice yang dibawa saat kecil.

Dan aku ingin bertemu dengan «Pemimpin» dunia ini.

Jika kami bisa mencapai tujuan kami, gak masalah meski orang-orang menjuluki kami sebagai orang hina saat turnamen. Aku harus ikut serta di semua turnamen pendekar pedang level tinggi yang aku tau, dan terus menang, sampai aku menjadi yang terbaik di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan dan mendapatkan hak untuk menjadi «Integrity Knight».

Inilah alasan mengapa aku menyegel gerakan yang lebih dari dua serangan beruntun selama setahun ini sejak Aku menjadi murid di Akademi ini. Yang aku gunakan hanyalah skill menerobos, «Rage Spike».

Namun, sepertinya senior yang cantik ini dapat melihat secret move yang kusembunyikan,

Rina-senpai kemudian mendekatkan wajah nya beberapa sentimeter, dan membisikkan sesuatu dengan suara yang halus seolah-olah sebuah rahasia.

"Leluhur keluarga Celulute membuat sang Kaisar gak senang pada masa lalu, dan sejak saat itu, mereka dilarang mewariskan sword skill tradisional «High level Norlangarth style». Kemudian, kami mulai menggunakan senjata yang gak lazim seperti cambuk dan pisau, dan menghabiskan banyak waktu bergantung hanya pada sword skill yang halus. Ini adalah Celulute-style... Jangan salah, aku benar-benar bukannya gak senang. Aku bangga menjadi satu-satu nya pewaris dari style ini, dan selalu berlatih sampai sekarang..."

Tangan putih mulus itu gemetar sedikit, gak seperti yang baru saja ia katakan. Pedang kayu yang sedang berbentrokan mengluarkan suara gemerincing. Meskipun ini mungkin kesempatan ku untuk menarik pedang ku kembali, Aku gak melakukan hal itu dan kembali mempertahankan posisi ini untuk menunggu kata-kata nya yang berikut nya.

"Dan ayahku mengharapkan ku untuk lulus sebagai murid ranking top dari Akademi ini dan memenangkan turnamen Kekaisaran untuk membangkitkan kembali kehormatan keluarga Celulute. Namun, bukan nya ini sedikit ironis? Kalau aku menjawab ekspektasi ayah ku dan membuat sang Kaisar untuk menarik kembali larangan untuk mewariskan Norlangarth-style tingkat tinggi... keluarga kami akan menyerah dalam Celulute style, kan? Kalau begitu... bagaimana dengan kebanggaan yang kusimpan dalam hati sejak Aku masih kecil?"

Aku gak bisa membuat jawaban cepat untuk pertanyaan ini.

Akhir-akhir ini, kesadaran ku kadang entah menjadi lemah, tapi Aku merasa kalau Rina-senpai didepan ku, partner penting ku Eugeo, semua murid dan instruktur di Akademi ini... dan semua orang yang hidup di UnderWorld adalah manusia yang berbeda dari ku dalam arti tertentu. Mereka hanya diberikan istilah «Unit Manusia» di dunia virtual bernama UnderWorld ini.

Meskipun begitu, mereka berbeda dari para NPC yang ada di VRMMO. Mereka adalah «Fluctlight Buatan», dikopi dari Fluctlight dari jiwa manusia dan ditempatkan di suatu medium yang spesial. Mereka adalah— kemungkinan besar, mereka adalah AI tipe baru yang dibuat oleh suatu organisasi di dunia nyata, mungkin oleh perusahaan misterius «RATH»—

Namun, emosi yang mereka tunjukkan kadang-kadang lebih besar dibanding orang-orang di dunia nyata. Mereka bisa merasakan sesuatu, merasa repot, menerima takdir yang dunia ini berikan kepada mereka. Saat aku melihat mereka seperti ini, Aku merasa akan mustahil untuk merasa gak gelisah. Eksistensi mereka... Enggak, eksistensi dari Solterina-senpai yang beradu pedang dengan ku dalam jarak dekat ini pada dasar nya seperti keajaiban.

“...Senpai.”

Mendengar hal itu, Rina-senpai menunjukkan sedikit senyuman yang mengejek diri nya sendiri.

"Aku selalu mempunyai keraguan di dalam hatiku sebelum Aku masuk Akademi ini. Selama dua tahun ini, Aku gak pernah bisa mengalahkan pria itu, dan itu mungkin karena aku sudah merasa hilang."

«Pria itu» mengacu pada pendekar pedang elit top yang ranking nya gak berubah tahun ini, seorang pria bernama Uolo Levanteinn. Ia berasal dari keluarga bangsawan kelas dua yang diwariskan tradisi keluarga nya untuk dilatih oleh Ksatria Kerajaan Norlangarth, seorang pengguna Mighty Sword yang mengintimidasi. Imajinasi dan kekuatan yang berasal dari pria ini ada di kedudukan yang sangat tinggi. Aku melihat nya menggunakan pedang kayu untuk membelah kayu bundar manjadi dua.

Pendekar elit, terbaik di Akademi ini diberi ranking dari pertama sampai 12. Ranking ini akan berubah selama tes yang dilakukan 4 kali dalam setahun.

Tentu saja, Aku menonton nya dari bangku penonton terdepan selama 3 turnamen terakhir, Mereka menggunakan sistem turnamen eliminasi yang sama dengan turnamen Zakkaria dan mengurangi jumlah orang dari 12 menjadi 3 dalam dua ronde. Orang yang berada di ranking top sebelumnya akan menjadi unggulan. Selama tiga final penentuan, Rina-senpai bertarung melawan Uolo, dan tiga kali kalah melawan nya.

Sejauh yang aku lihat, kemampuan bermain pedang mereka sangat berbeda. Rina-senpai menggunakan style tajam dan halus dibandingkan dengan style Uolo yang keras. Rina-senpai membatalkan serangan yang sangat kuat seperti aliran air, dan kadang-kadang akan melancarkan serangan balasan yang tajam. Skill milik senpai pada dasar nya sempurna. Mereka berdua gak pernah bisa melancarkan serangan yang sukses, tapi ketika waktu sudah mulai habis, Uolo menggunakan skill tingkat tinggi Norlangarth, serangan memotong dari atas kepala, dan selama tiga pertandingan, Rina-senpai gak pernah bisa mengatasi serangan itu. pedang kayu nya terlempar dua kali dan tersentak sekali.

Keputusan juri dibutuhkan untuk menentukan ketiga pertandingan, dan sudah jelas mereka akan memilih Uolo sebagai pemenang. Kemudian pada tahun ini, Uolo menjadi ketua, dan senpai tetap menjadi wakil-ketua, posisi mereka gak pernah berubah.

Sekedar tambahan, ranking tiga juga gak pernah berubah. Ia adalah pria besar, Gorgolosso Valto, yang selalu dikalahka Rina-senpai di semifinal. Dan juga, yang menjadi valet Gorgolosso-senpai adalah teman baik ku, Eugeo.

'Ini adalah yang terakhir' yang Rina-senpai katakan sebelum latihan ini dimulai mengacu pada «Kontes Kelulusan» ke-4 yang akan diselenggarakan dua hari kemudian. Hal itu akan menjadi penentuan ranking yang terakhir. Dua hari kemudian, para murid tingkat tinggi termasuk 12 pendekar elit akan lulus.

Dengan kata lain, turnamen dua hari kemudian akan menjadi kesempatan terakhir bagi Rina-senpai untuk mengalahkan Uolo-senpai. Lebih akurat nya, dua orang ranking teratas akan mendapatkan hak untuk ikut serta dalam «Imperial Swordsmanship Tournament». Ia bisa saja bertemu Uolo disana, tapi kurasa senpai, yang selalu dikalahkan nya di sekolah, gak akan bisa mengalahkan nya.

"...Aku akan jujur disini."

Rina-senpai terus membiarkan pedang nya beradu dengan ku dan ia menurunkan suaranya dan berkata padaku,

"Kapanpun Aku melihat «Splitting Wave of Heavens and Mountains» milik pria itu... Aku pasti merasa takut. Gak peduli berapa kali Aku berlatih, Aku gak punya keyakinan untuk bisa menerima serangan dari nya. Sejak saat kami menjadi murid pemula... Enggak, sejak saat pertama kali aku melihat pedang nya saat ujian masuk dua tahun yang lalu, aku selalu merasa seperti itu..."

Ini pertama kali nya aku melihat senpai seperti ini, sembari merasa kaget, Aku dengan tulus setuju.

Sesuai dugaan, gak ada perbedaan dari kemampuan senpai dan Uolo. Itu hanyalah kekuatan dari imajinasi... Seberapa kuat kepercayaan-diri nya, ini adalah faktor penting yang menjadi kelemahan senpai.

Seperti yang sudah aku simpulkan, jika UnderWorld adalah dunia virtual yang dibentuk oleh «Mnemonic Visual Data», kekuatan imajinasi akan menjadi faktor yang penting dalam menentukan suatu hasil. Itu karena Rina-sanpai dan Aku lihat dan apa yang kami sentuh bukanlah poligon, tapi «memory imagination» yang didapatkan dari Fluctlight.

Tiap orang harusnya mempunyai keunikan mereka, data imajinasi yang sedikit berbeda, kan...? Mungkin data yang dibebaskan oleh Fluctlight yang banyak bisa ditempatkan di sebuah «Main memory holder» dan disamakan. Kemudian, jika Fluctlight seperti itu muncul, kekuatan imajinasi yang dibebaskan akan cukup untuk mempengaruhi data, dan gak akan sulit untuk membayangkan kalau suatu kejadian akan dirubah oleh kemauan pribadi.

Ambil contoh Uolo Levanteinn, alasan kenapa pengguna Mighty Sword ini begitu kuat adalah karena hal ini. Ia memiliki keyakinan yang kuat kepada sword skill dan style nya. Imajinasi nya disokong oleh keyakinan yang kuat ini, dan karena imajinasi yang seperti itu lah ia bisa menampilkan kekuatan serangan yang luar biasa seperti itu.

Sebaliknya, Rina-senpai selalu merasa hilang pada sword skill nya. Alasan nya karena Celulute-style yang ia sebutkan sebelum nya. Norlangarth style tingkat tinggi terlarang untuk diwariskan, jadi mereka hanya bisa membuat style nya sendiri sebagai pengganti. Hal ini menyebabkan tercipta nya suatu bentuk «Inferioritas» di hatinya. Karena hal ini, mau gak mau ia dikalahkan oleh Uolo-senpai, yang mempunyai keyakinan yang kuat terhadap sword skill milik nya... Mungkin seperti itu.

Namun, Aku ingin Rina-senpai menang kali ini. Ini bukan karena bagaimana komposisi dan imajinasi dunia ini akan ditulis ulang, tapi Aku ingin ia berdiri dengan bangga dan lulus dari Akademi ini. Senpai mempunyai hak dan kehormatan untuk hal ini. Pada tahun ini, diantara 12 pendekar elit, senpai—

"...Senpai, kamu menghabiskan waktu yang lebih banyak dari pada siapapun untuk berlatih keras, termasuk Uolo-senpai. Apakah hal itu belum cukup untuk membuat mu lebih percaya diri...?"

Mendengar hal itu, Rina-senpai terdiam sejenak, dan dengan lembut menggelengkan kepalanya,

"Ya... Sepertinya masih belum cukup. Semakin banyak Aku melatih Celulute style, semakin banyak pula aku memikirkan nya. Apa yang akan terjadi kalau itu bukan sparing menggunakan pedang kayu, tapi menggunakan pedang besi; apa yang akan terjadi kalau cambuk dan pisau bisa digunakan. Kalau hal itu bisa digunakan, gak perlu khawatir akan ceroboh melawan Norlangarth style. Tapi itu semua hanya alasan. Di Dunia Manusia ini, sparing sebenarnya... pertarungan sebenarnya gak akan terjadi. Sampai Aku berhenti membuat alasan untuk kegagalan ku ini, Aku gak akan pernah bisa untuk melawan serangan dari pedang Uolo..."

Sebelum Aku sempat memberi respon, senpai tersenyum sedikit dan melanjutkan,

"Tapi kamu berbeda, Kirito. Aku gak bisa merasakan sedikitpun perasaan inferioritas meskipun kamu juga pengguna style yang unik. Aku selalu memperhatikan mu selama setahun ini, dan akhirnya mengerti alasan nya. Aku mengatakan ini sebelum nya... Itu bukan seluruh nya dari «Aincrad Style», kan? Seharus nya ada lebih banyak lagi skill luar biasa yang kamu punya, makanya hatimu gak pernah goncang. Itu seperti hal yang kamu sebutkan sebelum nya, pohon besar yang terletak di hutan dekat kampung halaman mu... Gigas Cedar itu."

Tanpa sadar, lengan kami menjadi rileks dan juga pedang kayu yang berbentrokan satu sama lain itu. Meskipun begitu, senpai gak menggerakkan tubuh nya; atau malahan, ia memiringkan tubuh nya kedepan, mencoba menggunakan kekuatan tubuh nya untuk mendorong ku kebawah. Ia kemudian mengatakan suatu hal degan suara yang agak berat untuk seorang wanita.

"Pohon itu sudah tertanam didalam hatimu, kurasa. Gak peduli seberapa kuat angin nya, pohon itu gak akan bengkok, dan terus melihat keatas ke Solus di langit... Kirito, Aku ingin melihat kekuatan yang kamu sembunyikan."

“...”

"Ini gak ada hubungan nya dengan pertandingan melawan Uolo. Tapi hanya, Aku ingin melihatnya... Bukan, Aku ingin tau. Aku ingin tau semua nya tentang dirimu sebagai pendekar pedang sebelum Aku lulus dari Akademi ini."

Jauh didalam mata biru nya, sebuah bintang kecil terlihat bersinar tepat didepan mata ku.

Wajah cantik yang terlihat dapat mengambil jiwa siapapun itu tanpa kusadari jarak nya hanya 5mm dari ku. Pada saat ini, sedikit nyeri terjadi tepat didepan rambut ku, menyebabkan ku untuk pulih segera. Aku mengedip dan mulai berfikir lagi.

Sword Art Online Vol 10 - 216.jpg

Aku gak pernah menunjukkan Aincrad style yang «luar biasa», sword skill tingkat tinggi kepada Rina-senpai, bukan karena suatu alasan yang licik seperti menyimpan nya sebaga senjata rahasia.

Itu karena Aku gak bisa menggunakan nya dengan pedang kayu level 15 yang digunakan untuk latihan dan kompetisi. Yang terbaik yang bisa kugunakan adalah skill dua serangan beruntun «Snake Bite» dan «Vertical Arc». Sekeras apapun Aku mencoba, Aku gak bisa mengeluarkan tiga serangan beruntun. Aku mencoba nya dengan pedang besi yang level nya sama, tapi hasil nya nihil. Aku hanya bisa mengeluarkan sword skill empat serangan beruntun saat aku menggunakan Divine Tool level 45, «Blue Rose Sword» yang menebang jatuh Gigas Cedar. Aku masih gak tau kenapa, tapi gak ada batasan seperti itu di SAO dulu.

Bagaimanapun juga, berhubung senpai ingin melihatku mengeluarkan «seluruh nya», Aku gak bisa menipu nya hanya dengan menggunakan dua serangan beruntun. Hanya ada satu cara yang tersisa. Aku harus meminjam Blue Rose Sword dari Eugeo, pada saat itu, Aku bisa mengeluarkan skill 4 serangan beruntun terkuat dengan pedang itu.

Kalau aku meminta Eugeo, ia pasti akan membolehkan nya, tapi sejujur nya, Aku masih merasa agak ragu. Blue Rose Sword adalah milik Eugeo, dan sebuah pedang mempunyai jiwa seorang pendekar. Kepercayaan ini sudah tertanam didalam pikiran ku. Untuk suatu alasan, Aku gak bisa membayangkan diriku mengeluarkan skill terbaik-ku karena batas kesadaran kalau aku menggunakan benda yang kupinjam. Namun, Aku gak bisa meminjam pedang dengan prioritas tertinggi dari toko senjata Akademi, dan itu bukanlah pedang milik ku.

Memang gak ada cara lain. Sepertinya aku harus meminjam Blue Rose Sword. Aku membuat keputusan itu dan berkata,

"—Aku mengerti. Tapi maaf, tolong berikan aku waktu satu hari. Besok, pada saat yang sama, Aku pasti akan menunjukkan nya padamu... sword skill terbaik yang kupunya."

Setelah Aku selesai, bibir Rina-senpai menunjukkan sedikit senyuman di wajah nya, tapi sepertinya segera menyadari sesuatu dan mengerutkan dahi,

"Tapi besok adalah hari istirahat. Dilarang untuk berlatih. Kamu gak bisa menggunakan lapangan latihan ini."

"...Ini bukan latihan."

Jawabku. Untuk suatu alasan, senpai menunjukkan ekspresi yang agak tertarik sembari memiringkan kepalanya,

"Terus, apaan dong?"

"Eh, itu..."

Aku menyusun kata-kata ku sebentar dan mengatakan apa yang kupikirkan,

"Itu hadiah. Kamu mengajarkan ku berbagai hal selama setahun ini, senpai. Kudengar ada tradisi di Akademi ini, kalau valet harus memberikan hadiah kepada senior nya pada hari sebelum kelulusan. Aku akan memberikan mu sword skill, senpai. Kalau itu hadiah, gak apa-apa meskipun besok adalah hari istirahat."

Kata-kata ku ini menyebabkan senpai menunjukkan sedikit senyum masam.

"Kamu gak berubah sama sekali. Aku gak pernah dengar menggunakan sword skill sebagai hadiah kelulusan sebelum nya... Tapi pada saat ini, Aku sebaiknya mengatakan hal ini kepadamu..."

"Eh... Apaan tuh?"

"Sebenarnya, aku menunjuk mu sebagai valet itu sudah melanggar tradisi. Sebuah tradisi bodoh disini... kalau «Anak bangsawan harus memilih bangsawan lain yang kelas nya lebih rendah pada saat memilih valet». Saat aku menunjuk mu, banyak perwakilan bangsawan datang ke asrama untuk protes."

"Fufufu." Rina-senpai mengeluarkan ketawa yang agak aneh, tapi mau gak mau jadi kaku karena ini pertama kali nya Aku mendengar hal seperti ini...

Bangasawan yang senpai maksud mengacu pada kelas spesial dari Kerajaan Norlangarth, mereka semua diranking dari «Bangsawan Kelas-1» sampai «Bangsawan Kelas-6», dan ranking diatas mereka adalah keluarga kerajaan. Keluarga Uolo Levanteinn adalah Bangsawan Kelas-2, sementara keluarga Celulute adalah Kelas-3. Dengan kata lain, posisi mereka lebih tinggi daripada keluarga pemimpin Zakkaria yang merupakan Kelas-5.

Sebalik nya, diriku di dunia ini (dan di dunia nyata) hanyalah penduduk normal, dan tak diragukan lagi, Aku berada di populasi kelas paling rendah. Kalau kita bicara tentang seseorang yang bukan bangsawan, tapi sangat terkenal di dunia sosial dan mempunya banyak tanah— Aku akan menyebut nama kepala desa dari Rulid, Gasupht Schuberg, dan Bano Wilde, yang Eugeo dan Aku menetap disana. Mereka mempunyai nama keluarga setelah nama mereka itu sendiri, tapi orang terendah dari yang terendah gak dibolehkan untuk melakukan hal itu.

Hanya setelah Eugeo dan Aku berhasil masuk di Imperial Master Sword Academy yang sebagian besar murid nya kebanyakan adalah bangsawan dan anak dari saudagar kaya; mereka yang kelahiran biasa hanya 20% dari seluruh nya. Itu adalah standard saat penerimaan siswa. Eugeo dan Aku menghabiskan waktu setengah tahun untuk mendapatkan surat rekomendasi dari kapten di Zakkaria untuk ikut tes masuk, tapi setelah Aku melihat kalau bangsawan bisa ikut serta tanpa kondisi apapun, Aku merasa ingin mengirim surat komplein ke Liberal Arts Department.

Toh, setelah Aku masuk, dengan peraturan sekolah, bangsawan gak diperlakukan berbeda dengan yang kelahiran biasa... Tapi ada perbedaan yang tak terlihat. Aku (dan Eugeo kemungkinan besar juga sama), menjalani satu tahun mengacukan rumor yang orang lain sebarkan, tapi Aku gak pernah sekalipun berfikir ini karena Rina-senpai memilihku sebagai valet nya.

"Meskipun... Meskipun ada tradisi seperti itu, mengapa kamu masih memilih ku...? Kalau berdasarkan ranking, ada 6 orang lain yang berada diatas ku. Mereka semua bangsawan, jadi kalau kamu memilih salah satu dari mereka, mungkin gak akan ada yang protes..."

"Tapi 6 orang itu hanya mendapat poin dari performa, kan? Aku sama sekali gak tertarik dengan ke indahan suatu style. Bagi ku, performa-mu lah yang paling menarik dibandingkan dengan yang para instruktur pilih. Enggak, dari pada dibilang menarik, Aku harus bilang kalau..."

Rina-senpai gak meneruskan kata-kata nya lalu menutup mulutnya, menunjukkan sedikit senyum, dan melanjutkan kata-katanya,

"...Untuk sekarang, Aku gak akan bilang kenapa Aku memilih mu. Itu karena sebentar lagi Aku akan lulus. Yang lebih penting, tentang besok. Kalau hadiah yang akan kau berikan padaku adalah penampilan dari teknik rahasia Aincrad-style, dengan senang hati akan kuterima, Kirito."

"Ah, i-iya. Aku senang kamu menyukai nya."

"...Namun, Aku sedikit kepikiran. Dari penjelasan yang kamu berikan tadi, sepertinya kamu memutuskan hal ini disini karena kamu lupa kalau kamu harus memberikan ku hadiah— Kupikir Aku bisa menganggap nya seperti itu..."

"Enggak, tentu saja enggak, aku sama sekali gak lupa! Aku udah memikirkan nya sejak awal. Beneran!"

Buru-buru aku menolak nya. "Kalau begitu sudah cukup untuk hari ini." Rina-senpai menunjukkan ekspresi yang cool, kemudian berubah,

"Kita simpan hal itu untuk nanti. Ini waktunya untuk menentukan pemenang dari pertandingan kita."

“Eh? —Ah.”

Pada saat ini, Aku baru ingat kalai kami masih ditengah-tengah pertandingan sparing. Namun, sebelum aku sempat merespon, pedang kayu yang bersentuhan satu sama lain itu memberikan dorongan yang kuat. Itu bukan sword skill, tapi lebih tepat nya, salah satu dari sedikit teknik menangkis dari Celulute style «Still Water» yang digunakan untuk mementalkan musuh ketika kedua pedang saling bersentuhan.

Aku melompat kebelakang dengan sekuat tenaga, gak menerima serangan itu langsung. Gak seperti «Active Water» sebelumnya, «Still Water» memberikan beban yang berat ke kaki, dan setelah menggunakan nya, akan ada sedikit jeda. Dan juga, senpai gak punya cambuk di tangan kiri nya.

Mari akhiri ini dengan lompatan kedepan. Aku mendarat, dan mengangkat tinggi pedang ku.

Pada momen ini, Aku merasakan hawa dingin di tulang belakang ku.

Rina-senpai benar-benar menggenggam pedang kayu itu dengan kedua tangan— Tapi cambuk yang seharus nya ada dibelakang nya menghilang. Kemana cambuk itu menghilang? Aku melebarkan mataku, namun Aku gak bisa menghentikan sword skill ku. Serangan menerobos satu-tangan «Sonic Leap» telah teraktifkan, dan pedang ku mengeluarkan cahaya biru...

Pada saat yang bersamaan dengan aktif nya sword skill ku.

Tangan kiri Rina-senpai pindah dari pedang kayu menuju keatas. Ia terlihat sedang menggenggam sesuatu dan kemudian melemparkan nya. Sebuah benda putih yang seperti ular terbang dari genggaman nya, menuju kearah ku, melilit tubuh ku yang sudah siap untuk menyerbu.

Cambuk yang kukira terbang jauh ternyata ada di atap diatas lapangan. Cambuk itu sudah menggantung disana sementara pedang kami beradu.

Menyadari hal ini, Aku terjatuh kearah belakang dan bagian belakang kepalaku membentur lantai.

Aku dengan tatapan hampa melihat kearah bintang yang muncul di pandangan ku, dan tampak merasakan menarik nafas panjang 'haa' datang dari kepalaku.

Bagian 2[edit]

Kerajaan Norlangarth, kota terbesar di Dunia Manusia «Centoria» adalah yang dibentengi oleh tembok yang melingkar mengelilingi nya dan berdiameter 10km... atau dengan satuan di dunia ini, 10 KiloMel.

Lantai pertama dari kastil melayang Aincrad juga berbentuk bundar dengan diameter 10km. Dengan kata lain, dua area besar ini serupa dari segi bentuk dan luas, Kota ini mempunyai ukuran yang gak bisa dijelaskan untuk sebuah kota di dunia virtual, dan populasi nya mencapai 20.000.

Juga, kota ini mempunyai struktur yang unik. Tembok kuat dari kota ini bertemu pada sebuah titik, membentuk perpotongan X dan membagi kota menjadi empat area. Penjelasan lain nya, 4 tembok ini memotong dengan sudut 90 derajat membuat bentuk kipas saat mereka bertemu. Yang paling mengagetkan adalah empat kota ini bernama «Centoria Utara», «Centoria Timur», «Centoria Barat» dan «Centoria Selatan», ibu kota dari 4 Kerajaan yang menguasai seluruh Dunia Manusia.

Dengan kata lain— ibu kota 4 Kerajaan Besar semuanya ada di tengah-tengah Dunia Manusia, hanya dipisahkan oleh sebuah dinding.

Aku sangat kaget saat mendengar hal ini. Raja dan pasukan utama, Markas besar para Ksatria, pasti ada disuatu tempat di ibu kota. Bukan nya akan langsung menjadi 'final battle' kalau terjadi perang? — Aku hampir mengatakan hal itu kepada Eugeo, tapi masih sempat menghentikan diriku sendiri. Di dunia ini, dimana pencurian, dan pembunuhan gak akan terjadi sama sekali, akan sangat mustahil terjadi nya perang antar Kerajaan.

Meskipun butuh identifikasi untuk melewati tembok marmer besar ini —yang sepertinya disebut «Immortal Wall»— melihat lebih dalam Centoria Utara dimana kita berada, terdapat lumayan banyak orang-orang berambut hitam dari Kerajaan Timur, orang berkulit coklat dari Selatan dan orang kurus dari Barat yang merupakan pedagang atau turis. Mereka semua orang asing, tapi mungkin menggunakan bahasa yang sama (meskipun ada beberapa logat), gak ada perselisihan antara mereka.

Aku bahkan gak bisa merasakan perasaan permusuhan antar kerajaan, apalagi perang. Alasan nya sudah pasti adalah menara putih murni yang berdiri kokoh di tengah-tengah ibu kota, pusat dari Dunia Manusia.

Centoria Cathedral milik Gereja Axiom.

Atap nya selalu terselimuti, seperti bersatu dengan langit, jadi Aku gak bisa melihat pasti berapa ratus meter tinggi nya menara itu. Mungkin akan terlihat sangat megah jika dilihat dari bawah, tapi tanah Gereja yang melingkar juga dikelilingi oleh tembok yang tinggi, jadi gak mungkin untuk mengintip kedalam. «Immortal Wall» yang ada di tengah-tengah Centoria tersambung dengan erat ke empat penjuru dari tembok Cathedral... atau lebih tepatnya, akan lebih baik mengatakan kalau tembok itu menjulur keluar dari Cathedral.

Sedikit tambahan, Immortal Wall ini gak hanya menyelimuti jalanan Centoria. Itu juga mencapai pilar kota, yang membentang keluar melewati padang rumput, hutan, padang pasir, dan sampai ujung dari «Mountain Range at the Edge», 750km jauh nya.[2]. Secara natural, dunia ini gak punya mesin konstruksi atau semacam nya, jadi benar-benar menakutkan membayangkan berapa lama dan berapa jumlah pekerja untuk membangun tembok seperti ini.

Itu berarti kewenangan Gereja Axiom adalah absolut.

Menara yang mencengangkan ini, kastil ini, dimana orang bisa melihat 4 Kerajaan tempat para Raja tinggal dari atas, berdiri dipusat Dunia Manusia. Mungkin, di UnderWorld ini, pembedaa antara orang-orang dari negara yang berbeda hampir sama seperti «penduduk Tokyo» dan «penduduk Saitama» bagiku— itu adalah feeling yang kurasakan.

Kalau begitu, apa guna nya membagi Dunia Manusia yang bahkan populasi nya gak sampai 100.000 menjadi 4 Negara? Fikiran ku mempunyai pertanyaan seperti ini, dan sampai sekarang, Aku masih belum menemukan jawaban nya. Pada saat yang sama, Aku sama sekali gak bisa tau alasan kenapa ada Gereja Axiom yang eksis diatas negara.

Di Gereja Axiom, ada petugas sipil seperti «pendeta» dan «patriark», dan juga petugas militer yang bernama «Integrity Knight», tapi jumlah mereka gak banyak. Sepertinya jumlah mereka gak lebih dari 100. Rina-senpai memberitaukan hal ini sebelum nya. Sebaliknya, jumlah total dari ksatria dan prajurit di 4 Kerajaan berjumlah sekitar 2000 orang. Namun, gak ada sejarah raja menentang Gereja sebelum nya... Apakah ini karena bahkan seorang raja gak bisa melawan Gereja dan Taboo Index? Atau karena beberapa Integrity Knights masih lebih kuat dari pada pasukan 2000 orang? Atau karena kedua nya—?

Keagungan dari Centoria Cathedral yang memanjang keangkasa bisa dilihat darimanapun dari kampus Master Swords Academy. Setelah Aku menyelesaikan yang bisa-disebut-latihan dengan Rina-senpai, Aku dengan capat berjalan keluar asrama pendekar elit, melewati udara dingin sore dari musim semi, dan melihat keatas kearah menara putih besar yang terlihat oranye dan biru dari kejauhan.

Pada saat ini, si pengamat, yang berdiri di atap menara itu dan melihat kebawah ke Dunia Manusia ini, seseorang dari dunia nyata seperti ku? Atau apakah ia seseorang dari UnderWorld, sebuah Fluctlight buatan? Meskipun rencana kami sukses, akan butuh waktu satu setengah tahun lagi untuk menemukan jawaban pertanyaan ini. Tentu saja, kalau akselerasi berjalan 1000 kali tanpa gangguan, hanya 10 jam berlalu di dunia nyata, tapi itu masih sangat lama dari pandangan ku.

Sudah dua tahun lamanya sejak aku bangun di hutan dekat Rulid. Selama dua tahun ini, Aku telah diburu oleh malam tanpa tidur yang membuat ku gemetar, oleh kegelisahan akan tak mengertinya situasi ku dan keinginan untuk bertemu Asuna, Suguha, orang tua dan teman-teman ku.

Tapi pada saat yang sama— Aku sedikit merasa takut untuk menemukan «pintu keluar» di puncak Cathedral. Sekali aku log out dari dunia ini, itu berarti Aku akan mengucapkan selamat tinggal kepada banyak orang di dunia ini. Selka dan anak-anak lain yang sudah lama tidak kutemui, beberapa teman ku di sekolah, Solterina-senpai yang selalu melatih ku sebagai valet nya selama setahun ini, dan tentu saja, satu-satu nya «partner» ku, Eugeo.

Sejak lama sekali, Aku gak bisa memperlakukan mereka seperti AI. Selain perbedaan kecil yaitu berada di medium jiwa yang berbeda, mereka adalah manusia seperti ku juga. Kami membutukan waktu dua tahun pindah dari Rulid ke Zakkaria, dan akhirnya ke Centoria, dan aku punya perasaan yang kuat tentang hal ini sekarang.

Enggak, itu bukan hanya persahabatan dan kasih sayang yang simpel dengan Eugeo dan yang lain nya. Ke dunia yang indah dan sangat luas ini, Aku...

Aku memotong pikiran ku, mengambil nafas panjang, dan mengubur nya dalam-dalam.

Aku melihat kearah tempat yang kutuju, bangunan yang terlihat tua yang ada di depan pandangan ku. Bangunan batu yang tinggi nya 2 lantai, dan atap nya diletakkan dengan ubin batu hijau. Ini adalah asrama dimana 120 murid di Centoria Master Swords Academy tinggal.

Kalau bisa, Aku benar-benar ingin melompat ke atap dari lantai kedua dan kembali ke ruangan ku untuk lebih simpel, tapi menurut aturan asrama, Aku gak bisa melakukan nya. Gak seperti asrama pendekar elit yang santai, asrama murid pemula dan menengah yang berlokasi agak berdekatan mempunyai aturan yang ketat seperti Knight of Blood di SAO.

Aku meyakinkan pikiran ku dan berjalan menaiki tangga batu di pintu masuk, berhati-hati dan mendorong pintu asrama. Aku untuk sementara melangkah ke lobi, mengambil 1, 2 langkah maju— dan tiba-tiba ada suara batuk dari sisi kanan. Dengan deg-degan, Aku berbalik arah untuk melihat sumber suara itu, dan saling memandang dengan wanita yang duduk dibelakang counter. Rambut berwarna teh nya diikat dengan rapi, dan penampilan nya adalah perwujudan dari istilah 'galak'. Wanita itu berumur 25 tahun.

Aku meletakkan tangan kiri ku dekat dengan pinggang, meletakkan kepalan tangan kanan di sisi kiri dadaku, memberikan 'Salam Ksatria', dan dengan keras berseru,

"MURID PEMULA KIRITO TELAH KEMBALI KE ASRAMA!"

"...Tapi sepertinya kau terlambat dari waktu yang ditentukan selama 38 menit."

Gak ada jam didunia ini, jadi manusia hanya bisa mengecek jam dengan «Bells of Time-Telling» yang ada di seluruh penjuru kota, termasuk di Akademi, yang berbunyi tiap 30 menit. Normalnya, butuh sihir spesial tingkat tinggi untuk menentukan waktu dengan akurat, tapi untuk suatu alasan, wanita itu— Nyonya Azurika, supervisor asrama, sepertinya menggunakan kemampuan sistem luar atau apapun itu untuk mengetahui kalau sekarang jam 5.38pm.

Aku mempertahankan posisi salam ku, menurunkan suara ku sedikit, dan menjawab,

"Itu karena Saya mendapat pelajaran tambahan dan tips praktis dari mentor ku, pendekar elit Celulute."

Mendengar perkataan itu, Suster[3] Azurika menatap ku dengan mata hijau kebiruan nya. Entah karena aura galak yang mengelilingi nya atau karena nama yang familiar, Aku teringat akan seseorang. Aku pernah berfikir ingin bertanya sebelum Aku pergi "Apa kamu punya saudara di Utara bernama Suster Azariya?" , tapi sayang sekali, Aku gak pernah punya kesempatan untuk melakukan nya. Kapan pun Aku berbicara dengan nya, Aku selalu mendapatkan peringatan, seperti sekarang.

"...Memang gak bisa diapa-apain berhubung tugas valet adalah untuk menerima bimbingan dari pendekar elit. Tapi Murid Pemula Kirito, mungkin kamu gak pernah menggunakan nya sebagai tugas, tapi sebagai alasan untuk telat pulang... Kamu gak pernah menghapuskan kecurigaan ku selama ini."

Mendengar hal ini, Aku melepaskan Salam Ksatria ku, meletakkan tangan kanan ku kebelakang kepala, melemaskan otot-ku dan tersenyum dengan paksa,

"A-Anda benar-benar suka bercanda yah, Nyonya Azurika. Tujuan ku hanya mengembangkan sword skill, Telat pulang hanyalah efek samping nya. Saya gak pernah pulang telat dengan sengaja, gak akan pernah!"

"Aku mengerti. Jadi kamu menghabiskan setahun bekerja keras sampai melanggar jam lama. Sepertinya kau mungkin sudah melatih dirimu sendiri sampai tingkat yang terolah. Kalau kamu benar-benar ingin melihat hasil latihan mu, Aku akan benar-benar senang untuk menjadi lawan tanding mu, kau mau?"

"Hukk." Aku membeku lagi saat mendengar hal ini.

Sacred Task Nyonya Azurika adalah menjadi 'Supervisor Asrama Murid Pemula, Master Swords Academy Centoria Utara', dan bukan sebagai instruktur. Namun, semua orang dewasa di akademi ini pada dasarnya lulusan Akademi ini, jagi dengan kata lain, kemampuan sword skill mereka bukan main. Setiap murid disini tau kalau murid yang gak melanggar peraturan, tapi melakukan sesuatu yang menentang nya, akan diberikan remedial spesial yang mengerikan dari nya, seorang pengguna Nolgea-style.

Kalau begitu, apa yang akan terjadi jika ada murid yang melanggar peraturan— Untunglah, hal seperti itu gak akan terjadi. Orang-orang yang tinggal di dunia ini, Fluctlight buatan mempunyai sifat unik yang 'gak bisa melanggar peraturan'. Hanya ada satu pengecualian, Aku, seseorang dari medium Fluctlight yang berbeda.

Memikirkan hal itu, benar-benar ajaib bahwa Aku gak pernah sekalipun melanggar peraturan sekolah ini selama setahun kebelakang. Aku menelan pikiran ini dan menggelengkan kepalaku dengan keras.

"Enggak, kenapa Saya berani-berani nya merepotkan mu, Azurika-sensei? Saya baru saja menyelesaikan tahun pertama latihan saya."

"Beneran? Kalau begitu, tunjukkan hasil latihan mu padaku setelah kamu menyelesaikan tahun kedua mu."

"...Ya, pasti."

Aku harus menundukkan kepala ku dan berdoa sungguh-sungguh agar ia melupakan tentang hal ini tahun depan. Nyonya Azarika akhirnya memalingkan mata nya menuju dokumen di tangan nya dan berkata,

"Waktu makan malam 17 menit lagi. Jangan telat."

"Y-Ya! Permisi!"

Aku kemudian menunduk, dengan cepat berbalik arah, dan berlari keatas melalui tangga besar didepan dengan kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Eugeo dan Aku tinggal di ruangan 206 di lantai dua. Ada 10 orang yang tinggal di ruangan, tapi 8 orang lain nya semuanya baik-baik. Mereka dari ruangan 106, tempat perempuan tinggal, dan ruangan 206 ini semuanya adalah murid dengan latar belakang rakyat jelata. 100 orang lain nya semuanya anak bangsawan dan anak saudagar kaya. Ini dilakukan untuk mencegah interaksi yang canggung di ruangan... dan beberapa alasan lain. Aku dengan mulus menghindari murid yang sedang berbincang dan tertawa di koridor sambil menuju ke kantin, membuka pintu di ujung bagian barat, dan pada saat aku memasuki ruangan—

"Kau sangat lambat, Kirito!"

Sebuah suara menyambut ku.

Tentu saja, yang berbicara adalah partner yang duduk di tempat tidur kedua dari belakang di sisi kanan...bukan, partner yang sudah berdiri, Eugeo.

Tubuh yang berdiri dengan kedua tangan di pinggang nya lebih tinggi 3cm dibanding 2 tahun yang lalu, dan fisik nya terlihat lebih kuat. Sudah dapat diperkirakan, berhehubung ia berumur 19 tahun ini— Namun, wajah ramah dan kilauan di mata hijau nya sama sekali gak berubah sejak pertama kali Aku bertemu dengan nya. Selama dua tahun ini, ada beberapa kejadian yang gak menyenangkan, mau itu pada tahun pertama saat masa-masa menjadi pasukan penjaga Zakkaria, atau pada tahun kedua saat kami belajar di Akademi ini, tapi jiwa yang teguh itu gak pernah menunjukkan sedikit pun kegoyahan.

Sebaliknya, kalau berbicara tentang diriku, secara personal Aku gak pernah berubah, tapi yang menakutkan adalah fisik ku sudah berubah seperti partner ku. Aku tambah tinggi, dan otot ku tambah kuat. Aku berumur 17 saat masuk kedalam dunia ini. Dengan kata lain, ada perbedaan waktu 2 tahun antara diriku yang ada di UnderWorld dengan diriku yang ada di dunia nyata.

Setelah menghabiskan waktu 2 tahun di SAO sebelum bebas, Aku bisa mengatasi ketidaknyamanan itu, tapi ketika aku melihat kondisi yang sekarang, sepertinya aku mungkin harus menghabiskan 3-4 tahun sebelum berasil keluar... sambil berfikir tentang hal seperti itu di pikiran ku, Aku berjalan kearah partner ku, membuat isyarat 'maaf' dengan tangan kanan ku, lalu berbicara,

"Maaf membuatmu menunggu. Latihan ku dengan Rina-sanpai kali ini extra panjang..."

"...Yah, hari ini adalah yang terakhir, jadi bukan nya aku gak ngerti."

Ucap Eugeo sambil menatap ku. Setelah itu, ia tiba-tiba menunjukkan sedikit senyum.

"Tapi sebenarnya, Aku juga telat 12 menit. Aku keasyikan ngorol dengan Gorgolosso-senpai di ruangan nya."

"Apa, jadi kamu baru sampai juga... Tapi benar-benar gak terduga. Kupikir Golosso-senpai itu orang yang akan menggunakan pedang nya untuk memberikan pelajaran terakhir nya."

Aku berjalan melewat Eugeo, menuju ke tempat tidur paling jauh yang dekat dengan tembok dan menyatu dengan meja, dan menaruh sarung tangan, pelindung siku dan pelindung lutut diatas laci. Kalau ini di dunia nyata, alat pelindung untuk kendo pasti akan mengeluarkan bau yang menjijikkan kalau aku tinggalkan seperti ini, tapi gak perlu khawatir tentang hal seperti itu saat bakteri gak eksis di dunia ini. Seragam yang tadinya basah karena keringat saat latihan sekarang sudah mengering dengan ajaib — meskipun Rina-senpai gak pernah berkeringat sama sekali dari awal sampai akhir.

Setelah melepaskan beban dari tubuh ku, Aku mengangkat kepala ku, dan Eugeo memberikan senyum masam dan menjawab.

"Kamu harusnya gak melihat Gosso-senpai seperti itu, ia sebenarnya banyak fokus ke masalah teori juga... Bukan, kurang tepat kalau aku mengatakan nya begitu. Ia bilang kalau aspek mental dan estetika sangat penting juga..."

"Ahh, Aku bisa mengerti itu. Valto style yang pria itu gunakan terasa lebih fokus ke one-hit-ko dibanding dengan Nolgea style."

"Itu benar. Dasar dari Aincrad style kita untuk merespon pada saat genting. Namun, senpai sering bilang padaku, 'Sesekali, pendekar pedang harus mempertaruhkan segala nya pada momentum kuat yang gak bisa digoyahkan untuk melancarkan serangan yang kuat!'"

"Aku mengerti. Hal itu mungkin benar. Sekarang kau mengatakan nya, Kurasa gerakan pedangmu menjadi lebih berat akhir-akhir ini... Tapi kalau aku bilang begitu, bagaimana kalau Aku menggabungkan Aincrad-style dimana Aku harus merespon pada situasi genting dengan Celulute-style yang terus berubah?"

—Kami berdua berjalan keluar kamar sambil bertukar pikiran seputar topik ini.

Sepertinya 8 orang lain nya sudah keluar ke kantin berhubung kami gak bisa melihat mereka di koridor. Asrama ini, satu-satu nya peraturan tentang makan malam ialah kami harus menyelesaikan makanan kami sebelum jam 7pm, jadi kami harus sampai disana jam 5 lewat sedikit, tapi kami akan mendapat masalah kalau kami ketinggalan waktu berdoa sebelum makan malam. Bagi murid-murid lain yang seorang bangsawan, kami hanyalah 'cowok arogan yang hanya rakyat jelata, tapi terpili menjadi salah satu dari 12 valet'.

Kami berjalan secepat nya dan menuju ke kantin besar di sisi paling Timur. Bukan suatu kebetulan bahwa kamar rakyat jelata berada paling jauh dari kantin. Kudengar asrama pendekar elit juga sama-sama terletak paling jauh bagi rakyat jelata, tapi pada bulan April, kami gak perlu melewati jalan panjang ini— Kupikir. Itu karena kami akan menjadi salah satu dari 12 murid top saat ujian kenaikan pada akhir bulan, dan dipastikan menjadi pendekar pedang elit.

Pada saat ini, seperti nya Eugeo memikirkan hal yang sama dan dengan pelan berkata,

"...Sudah gak banyak lagi sisa hari dimana kita harus 'berjalan melewati koridor dengan cepat'"

"Ahh, dibandingkan disini, asrama pendekar elit benar-benar kebebasan... Tapi Eugeo, ada sesuatu yang Aku belum terbiasa tentang kehidupan pendekar elit..."

"Gak perlu kamu bilang juga Aku udah tau. Ini tentang memiliki valet, kan?"

"Jawaban yang bagus. Aku senang Aku bisa membantu Rina-senpai melakukan sesuatu dan menerima bimbingan nya... Tapi kalau Aku ada di posisi senpai..."

"Ya... Aku gak tau apa yang akan terjadi kalau anak bangsawan menjadi valet kita..."

Kami berdua menghela nafas yang panjang.

Pada saat ini, kami akhirnya melewati koridor yang panjang. Kami mendorong pintu didepan kami, dan atmosfir yang berdegung keluar dari dalam, mengelilingi kami. Kantin ini menduduki lantai pertama dan kedua, dan satu-satu nya fasilitas umum yang laki-laki dan perempuan gunakan bersama-sama. Kebanyakan dari laki-laki, yang merupakan mayoritas dari 120 murid, duduk berkelompok di meja mereka, sama juga seperti perempuan, tapi di tengah, ada beberapa orang berkemampuan tinggi dari jenis kelamin yang berbeda asyik ngobrol dan tertawa. Hal itu gak terlalu berbeda dengan dunia nyata.

Eugeo dan Aku buru-buru menuruni tangga, mengambil nampan yang makan malam nya sudah disiapkan dari counter, dan pergi ke meja kosong di pojokan. Kemudian bel jam 6 berbunyi. Sepertinya kami gak telat. Aku sedikit menghela dengan lega.

Murid laki-laki (tentu saja, bangsawan kelas atas) yang merupakan ketua asrama berdiri dan menjunjungkan doa kepada Gereja Axiom. Semua murid mengucapkan sebuah kata-kata bersama-sama «Awai Ardmina». Aku sama sekali gak tau apa arti kata-kata ini. Akhirnya, waktunya untuk makan.

Menu makan malam hari ini adalah whitefish goreng yang diberi saus vanilla, salad, sup sayuran dan dua roti. Ini gak terlalu berbeda dengan makanan yang disiapkan Gereja di Rulid dan peternakan Zakkaria, jadi benar-benar mengejutkan untuk melihat sekolah berisi banyak bangsawan menyediakan makanan pribumi, tapi mereka gak menunjukkan rasa gak puas dan dengan normal memakan nya.

Itu karena, meskipun mereka bangsawan, gaya hidup mereka tak terduga ternyata simpel— atau enggak. Sepertinya «Sumber Daya» yang unik dari UnderWorld adalah alasan nya.Untuk menjelaskan hal ini, ada sebuah sistem, 'batasan dari berapa banyak objek yang bisa diproduksi di area tertentu'. Itu berarti mereka hanya bisa mendapatkan beberapa jumlah hasil panen, ternak, hewan liar dan ikan pada waktu tertentu, dan batasan itu gak bisa dirusak.

Kalau ada bangsawan yang memonopoli makanan dalam jumlah besar, berarti akan ada beberapa dari rakyat jelata yang akan mati kelaparan. Life mereka akan berkurang. Ini adala sesuatu yang melanggar Taboo Index 'tidak boleh mengurangi Life orang lain tanpa alasan yang valid', dan bahkan bangsawan atau raja pun gak bisa melanggar nya. Demikian, dengan cara ini, desakan untuk memiliki berbagai jenis makanan itu berhubungan dengan mempertahankan Life, dan memonopoli makanan itu sudah terlarang dari awal... atau seperti itulah masalah nya kira-kira."

Tapi meskipun mereka gak menuntut makanan mewah, bukan berarti kalau semua bangsawan itu orang baik.

"...Itu benar-benar bikin iri, Tuan Raios!"

Pada saat kami tak sengaja mendengar kata-kata itu dari belakang kami, Eugeo dan Aku menunjukkan wajah yang jengkel.

Sword Art Online Vol 10 - 237.jpg

"Kita bekerja keras dan berkeringat membersihkan kantin, tapi beberapa orang hanya perlu datang dengan santai dan tinggal makan. Bukan nya itu bikin ngiri?"

Suara yang lain mengucapkan kata-kata itu yang sangat jelas ingin orang lain mendengar,

"Yah, jangan bilang begitu, Wanbell. Valet juga bekerja keras di tempat yang gak bisa kita lihat."

"Kuku, bener juga. Kudengar kalau valet harus menuruti semua kata-kata mentor nya."

"Kalau, kita bertemu mentor yang latar belakang nya rakyat jelata atau latar belakang terlarang, kita gak akan tau akan dipaksa melakukan apa saja."

Kami akan terjebak pancingan mereka kalau kami bereaksi. Karena itulah Aku hanya membelakangi mereka dan berkonsentrasi menggerakkan garpu ku. Tapi meskipun Aku bisa menahan tindakan ku, Aku gak bisa menahan kemarahan didalam hatiku. Bukan masalah kalau hanya Eugeo dan aku, tapi yang mereka singgung 'rakyat jelata' disini adalah mentor Eugeo, Gorgolosso-senpai, dan 'terlarang' merujuk pada mentor ku, Solterina-senpai.

Pola mereka mengejek kami bukan hanya terbatas pada mengejek mentor kami. Mereka sudah berusaha memancing kami dari awal saat mereka berkata 'beberapa orang hanya perlu datang dengan santai'. Meskipun ada banyak valet lain disini selain Eugeo dan aku, hanya kami berdua yang masuk saat hampir makan malam dimulai. Dengan kata-lain, ejekan itu memang sudah ditargetkan pada kami.

Kami bertemu beberapa orang yang mengesalkan di Zakkaria sebelum nya. Saat turnamen, orang itu, Egome Zakkalight yang menjadi lawan ku adalah orang yang agak standard dari segi kearoganan nya, tapi cara sinting mereka menentang kami di Akademi benar-benar membuatku terkesan. Ini adalah salah satu alasan kenapa 'semua penduduk didunia ini adalah Fluctlight buatan, AI' dihapus seluruh ingatan nya, dan itu mungkin karena kaya akan kosakata yang mereka punya.

"...Cukup bertahan selama beberapa hari."

Yang berbicara dengan pelan adalah Eugeo, yang duduk disamping ku sambil merobek roti.

Kata-kata itu mempunyai arti dari 'kita akan menjadi pendekar elit, kita akan pergi ke asrama yang berbeda dengan orang-orang itu'. Bagi Eugeo, mungkin ini kata-kata yang kompetitif, tapi bukan berarti pemikiran tanpa dasar.

Dari 120 Murid, hanya 12 yang akan menjadi «Valet», dan mereka semua dipilih oleh 12 «Pendekar Elit» murid tahun kedua dari murid kelas satu yang top.

Kalau menjadi valet, mereka gak perlu membersikan asrama atau memperbaiki peralatan mereka. Namun, setelah sekolah, valet harus pergi ke kamar pendekar elit, mentor mereka, membersihkan kamar mereka, melayani mereka, dan menjadi lawan sparing mereka.

Gak ada dari mereka berdua yang mengucapkan kata-kata sarkasme yang menjadi valet, itu berarti nilai mereka lebih rendah dari pada Eugeo dan Aku pada saat penerimaan. Selama satu taun ini, mereka selalu mondar-mandir diantara peringkat 20 sampai 30, jadi Eugeo bukan hanya asal memprediksi kalau mereka gak akan menjadi pendekar elit.

...Tapi sebenarnya, apa yang terjadi...?



Aku bergumam dalam hati sambil memegang pisau makan, menatap sosok dibelakang ku yang terpantul di pisau silver yang berkilau ini.

Dua orang yang duduk di meja yang agak jauh terus melanjutkan pembicaraan sarkastik mereka sambil melihat kesini. Orang yang duduk dikiri dengan rambut abu-abu yang disisir kebelakang, menutupi bagian belakang kepala, bernama Wanbell Jezeku, dan dia adalah anak bangsawan kelas-4. Di kanan, murid dengan rambut pirang keriting yang diikat kebelakang adalah anak tertua dari suatu bangsawan kelas-3 bernama Raios Antinos. Di akademi ini, gak ada bangsawan kelas-1 (sepertinya mereka sudah memanggil guru privat sendiri dan menjadi murid mereka), dan mereka yang bangsawan kelas-2 ialah Uolo Levanteinn dan beberapa orang lain nya. Kemudian, bangsawan kelas-3 disini adalah golongan yang dihormati disini.

Namun, gak semua bangsawan kelas atas seperti mereka. Aku sebenar nya gak banyak berinteraksi dengan mereka, tapi Uolo-senpai adalah tipe prajurit yang selalu diam, dan Rina-senpai, yang merupakan bangsawan kelas-3 seperti Raios, adalah orang yang sangat jujur dan beradab.

Dengan kata lain, Raios dan Wanbell benar-benar tipe 'tuan muda yang cuman bisa ngomong dan gak bisa apa-apa'... Tapi apa cuma begitu saja? Aku bertanya-tanya. Aku gak pernah bertanding melawan mereka sebelum nya, tapi ada kemungkinan kalau mereka hanya main-main saat melakukan ujian tiap 3 bulan... Atau bahkan saat tes masuk.

Tentu saja, alasan kenapa mereka melakukan hal itu karena 12 murid top semuanya akan dipilih menjadi valet pendekar elit. Dan di Akademi, hal ini biasanya adalah suatu kebanggaan, tapi bagi Raios dan yang lainnya yang punya harga diri paling besar di sekolah, mereka mungkin merendahkan ranking mereka dengan sengaja agar enggak menjadi valet dan disuruh ini dan itu oleh mentor mereka.

Tentu saja, ini hanya tebakan asal, tapi di latihan yang sebenarnya, Aku merasakan sedikit tekanan saat melihat «styles» mereka. Aku merasakan rasa tinggi-diri absolut yang dimiliki hanya oleh bangsawan kelas atas, dan kekuatan imajinasi yang keluar dari hal itu.

"...Oi Kirito, piring nya udah kosong tuh."

Eugeo menyenggol ku dengan siku, dan Aku akhirnya sadar. Aku telah menggunakan garpu di tangan kiriku untuk mencoel salad yang ternyata sudah habis. Aku buru-buru menurunkan pisau di tangan kanan ku dan berniat untuk memotong ikan goreng, tapi ternyata ikan goreng itu sudah menghilang tanpa sadar. Aku seperti nya terlalu fokus kepada grup Raios dan gak punya waktu untuk menikmati momen makan malam-ku, yang merupakan momen kedua dimana aku paling bahagia. Kayak nya Aku udah terpancing oleh mereka.

Dan juga, hal yang membuat ku paling senang, yaitu latihan ku dengan Rina-senpai sudah berakhir hari ini—...

Belum, belum berakhir. Tugas ku sebagai valet resmi nya berakhir hari ini, tapi besok, pada hari istirahat, ada janji yang penting. Janji untuk menunjukkan sword skill milik ku.

Aku akhirnya mengingat sesuatu yang penting, menaruh garpu dan pisau ku, dan mendekatkan wajah ku ke Eugeo,

"Dengarkan aku, Eugeo. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu nanti. Setelah makan malam, datang ke halaman bersama ku."

"Aku mengerti, oke. Aku penasaran gimana kabar 'kebun bunga' mu, Kirito."

"Fufu, lancar. Pasti cukup waktu nya untuk upacara kelulusan."

"Heh, Aku menantikan hal itu."

Setelah kami menyelesaikan bisik-bisik kami, kami mengangkat nampan kami dan berdiri. Kami melewati grup Raios yang masih mengoceh, meninggalkan mereka dan buru-buru pergi karena hidung kami hampir mati-rasa karena mencium aroma tajam mereka yang seperti binatang itu.

Setelah kami mengembalikan alat makan kami ke counter, kami berjalan keluar kantin dan menghela nafas berat secara bersamaan.

Bel yang berbunyi beberapa menit yang lalu berbunyi lagi, jadi sekarang, waktu nya sudah lewat 6.30pm. Jam bebas dari sekarang sampai 10pm, tapi kami gak boleh keluar asrama, dan pada jam 8pm, kami harus kembali ke kamar kami. Demikian, kami hanya bisa berlatih atau belajar pada saat ini— Tapi ada satu PR yang harus aku kerjakan setelah makan malam setiap hari.

Disisi barat asrama (lawan arah dari kantin), ada pintu kecil, dan ada kebun kecil diluar. Kebun itu dikelilingi pagar besi yang tinggi, dan meskipun gak ada atap, disini masih dihitung area asrama.

Kebun yang kotak terbagi menjadi 4 blok petak bunga. Tiap petak mempunyai tanaman yang berbeda, yang tumbuh, ataupun yang mekar. Beberapa murid ditugaskan untuk menjaga bunga ini, tapi bunga ini bukan cuman berfungsi untuk dipandang. 4 jenis bunga ini adalah material katalis yang digunakan untuk pelajaran Sacred Arts. Bunga-bunga ditanam tiap 3 bulan, jadi buah nya bisa dibudidayakan sepanjang tahun. Kalau buah yang kering dihancurkan dengan jari, Sacred power akan keluar dari nya, dan murid-murid menggunakannya sebagai sumber daya latihan Sihir.

Tentu saja, Bumi dan Matahari terus menerus memberikan sumber daya, tapi kekuatan Bumi di kota sangat lemah, dan Matahari suka terpengaruh oleh cuaca. Harus ada energi dengan bentuk selain kedua hal itu jadi 120 murid setiap tahun dapat menggunakan sihir mereka dengan handal.

Seperti hal nya musim semi ini, bunga yang mekar musim ini adalah Anemone biru yang ada di sisi Timur Laut. Sepertinya adalah prioritas tinggi seperti Marigold di Musim Panas, Dahlia di Musim Gugur dan Cattleya di Musim Dingin... Dengan kata lain, bunga-bunga inilah yang memberikan sumber daya terbesar.

Selama kira-kira 380 tahun UnderWorld ada, segala bentuk kehidupan mempunyai perubahan unik mereka tersendiri, tapi mereka tetap sama jenis nya dengan seperti di dunia nyata. Aku bisa mengerti penting nya tanaman ini, tapi Aku gak begitu yakin kalau mereka sama seperti yang di dunia nyata.

Setelah bunga layu, mereka akan menghasilkan buah yang berbentuk seperti bola. Jika seseorang menggunakan jari nya untuk menghancurkan nya, cahaya hijau (Sacred Power) akan mengapung... Jadi hal ini sama sekali gak ada hubungan nya dengan yang dunia nyata.

Selama pelajaran Sacred Arts, guru pernah menyebutkan sebelum nya kalau selain «4 Bunga Suci», ada tanaman ajaib bernama «Mawar» yang memberikan sumber daya yang besar dan menghasilkan bunga berkali-kali setiap tahun. Para penduduk, dan bahkan bangsawan dan raja gak dibolehkan menanam nya. Kalau ingin melihat nya, mereka harus pergi ke tempat langka dimana mawar itu tumbuh di sebuah gunung. Begitu mendengar nya, Aku menyadari kalau Aku gak pernah melihat mawar asli sejak Aku datang ke dunia ini. Kalau begitu, berarti mawar itu mungkin digunakan sebagai tanda Sacred Tool.

Aku terus menikmati dan menatap Anemones yang indah itu saat Aku segera melewati jalanan berbentuk X dan pergi ke arah barat. Ada gudang yang besar di ujung, dan sekop, selang dan alat-alat bercocok tanam lain nya ditaruh disana dengan rapi.

Di tempat tertutup di gudang, ada pot bunga keciil. Eugeo dan Aku jongkok di depan nya.

"Benar, tumbuh dengan baik. Bukannya akan menghasilkan buah disini?"

Aku mengangguk mendengar perkataan partner ku,

"Udah gagal 3 kali. Baguslah kalau bisa mekar kali ini..."

Yang kami besarkan di pot bunga ini adalah tanaman dengan daun yang tajam yang hampir seluruhnya biru. Tanaman yang bernama Zephyria, dan sepertinya merupakan tanaman langka di UnderWorld. Memang gak menghasilkan banyak sumber daya, tapi memiliki keindahan yang sangat luar biasa... setidak nya menurut kami seperti itu. Alasan kenapa kami gak tau? Itu karena Eugeo dan Aku dan semua orang di Kerajaan Norlangarth gak pernah melihat Zephyria asli sebelum nya.

Bunga Zephyria ini adalah tanaman yang tumbuh di sisi lain dari «Immortal Wall», tanaman dari «Kerajaan Wesdarath». Gak ada yang menanam ini di Kerajaan Utara.

Ada transaksi antar kerajaan meskipun bunga bukan hal utama, jadi gak mengagetkan untuk melihat bunga-bunga dan apapun yang berhubungan dengan bercocok tanam. Namun, bukan begitu yang terjadi. Alasan kenapa gak ada Sacred Task seperti «Tukang Bunga» adalah karena 'bunga yang gak bisa dimakan seharus nya ditanam untuk kepentingan pribadi. Mubazir Sacred Power kalau dijual'. Ada yang namanya 'penjual herbal', dan mereka menanam tanaman di perkebunan, tapi hanya 4 tanaman suci. Dunia ini memanfaatkan ideologi ini dengan efektif.

Kalau begitu, darimana Aku mendapatkan bunga Zephyria ini—?

"Aku yakin ini pasti dari sekumpulan biji yang kamu dapatkan, kan, Kirito?"

Aku mengangguk mendengar pertanyaan Eugeo.

"Ahh, ini yang terakhir... kesempatan terakhir. Paman dari toko rempah itu bilang suplai selanjutnya akan datang musim gugur berikut nya."

—Ya, meskipun gak ada yang menjual bunga, tapi ada orang yang menjual biji. Saat biji Zephyria ditumbuk menjadi bubuk, mereka mengeluarkan aroma harum vanilla. Demikian, beberapa biji akan di impor dari kerajaan Barat sebagai bumbu dari suatu makanan... ini adalah sesuatu yang kudapat musim gugur terakhir.

Pada waktu itu, Aku pada dasarnya gak pernah menggunakan uangku, gaji yang kudapatkan sebagai penjaga Zakkaria, jadi Aku membeli sebanyak mungkin dari pedagang rempah —namun, ia hanya memiliki kantung kecil penuh biji— dan aku mencoba untuk membesarkan nya.

Ada dua alasan kenapa Aku tiba-tiba tertarik bercocok tanam.

Pertama, ini adalah eksperimen terhadap sesuatu yang tersembunyi didalam dunia ini, yang kunamakan «Imagine System».

Paman dari Toko Rempah bilang padaku kalau bunga Zephyria gak akan bisa tumbuh di tanah Norlangarth. Aku berfikir untuk menggunakan tanah dari Kerajaan Barat untuk membesarkan nya, dan bahkan berlari sepanjang jalanan di pinggir Central dan menggali sedikit tanah. Namun, biji pertama yang kutaruh gak pernah tumbuh, dan kemudian, Life nya berkurang menjadi 0 kemudian menghilang di pot bunga. Namun, hal ini gak ditentukan oleh orang-orang di dunia nyata yang mendesain dan mengoperasikan UnderWorld ini. Bunga ini berbeda dengan Anemone dan Cattleya dan yang lainnya; bunga ini gak ada di dunia nyata.

Kalau begitu, kenapa bunga Zephyria bisa tumbuh di Kerajaan Barat, tapi enggak di Kerajaan Utara?

Itu pasti karena— orang-orang di dunia ini percaya dengan kuat akan hal itu. Imajinasi yang para penduduk sebut ilmu pengetahuan menyebabkan parameter dari «Zephyria» di memori pokok menjadi seperti itu. Terus, kalau, kalau Aku punya imajinasi yang 10 kali lebih kuat dari pada «akal sehat para penduduk» dan mengumpulkan nya di biji ini, apakah Aku bisa menulis ulang paramter itu, meskipun hanya untuk sementara...?

Menggunakan kekuatan imajinasi satu orang untuk melampaui ribuan orang mungkin terdengar mengada-ngada, tapi, apa yang akan terjadi?

Yang ingin kutantang adalah pengetahuan umum yang kuno yang telah menyebar dari kata-kata sejak beratus ratus tahun yang lalu. Di UnderWorld yang sekarang, gak banyak orang yang berfikir Zephyria hanya bisa tumbuh di Kerajaan Barat! ...atau mungkin gak ada satupun. Dengan kata lain, parameter Zephyria di memori utama gak punya belenggu yang kuat.

Kalau begitu, kalau aku meneruskan hal ini setiap hari, kalau aku mengumpulkan imajinasi ku pada biji ini... Enggak, kalau Aku berdoa agar biji ini mekar setiap hari, mungkin kah bagiku untuk melampaui pengetahuan umum yang kuno ini?

Mempertimbangkan hal ini, Aku mulai menyiram bunga ini dari musim gugur terakhir dengan air dan imajinasi.

Pertama-tama gagal, dan kemudian gagal kedua kalinya. Tapi untuk yang ketiga, biji itu tumbuh sekitar 5mm. Memang hampir layu, tapi ini sudah menjadi hasil dari melakukan hal yang 'mustahil'. Aku mengacuhkan sisa biji yang lain di eksperimen ke empat ini, dan akan datang kesini setiap hari, sebelum Aku masuk kelas pagi hari, dan setelah makan malam, dan menggumam kepada nya sambil mengumpulkan lebih banyak konsentrasi dari yang sebelumnya, mengucapkan "Kamu pasti akan tumbuh, berkembang dan menjadi bunga yang indah."

Akhir-akhir ini, kalau aku menggumamkan hal itu kepadanya, Aku kadang-kadang melihat kilauan yang samar-samar dari kecambah lunak nya. Apapun itu, hal ini pasti kesalahan mataku...atau kesadaran ku, tapi aku percaya kalau 23 kecambah yang kulihat di bunga ini pasti akan tumbuh menjadi bunga yang indah.

"Nih, Kirito. Aku bawa air."

"...Ah, maaf ngerepotin."

Sepertinya Eugeo telah mengisi penyiram untuk ku saat Aku sedang jongkok didepan pot bunga ini. Aku berterima kasih pada nya, menerima penyiram itu, dan partner ku tersenyum sambil berkata,

"Tapi omong-omong, Kirito, kita udah bersama-sama selama dua tahun, tapi Aku gak tau kalau kamu tertarik akan hal yang beginian."

"Yah anu, sebenarnya, Aku sebenarnya juga gak tau kenapa..."

Itu hanya jawaban asal, dan gak ada makna tertentu dibalik nya. Namun, ekspresi Eugeo berubah saat ia mendekatiku, sebelum berkata,

"Gak, ini adalah tanda kalau ingatan mu mulai pulih. Kamu mungkin merawat bunga di rumah sebelum muncul di Rulid, Kirito... Atau mungkin Sacred Task aslimu adalah sesuatu seperti ini atau semacam nya."

Mendengar hal itu, Aku menunjukkan tatapan kosong ke wajah partner ku. Kemudian buru-buru berdehem dan berkata,

"Oh-Oh begitu...kenapa yah? Aku gak tau apapun tentang tanaman. Yang kulakukan hanya belajar dari tukang kebun Miller dan yang lain nya."

Aku sebenarnya hampir lupa akan hal ini, tapi Aku adalah «Lost Child of Vector»... Manusia yang ingatan nya diambil oleh Dewa Kegelapan Vector dan dilempar ke tempat yang jauh dari desa. Di Akademi, tempat lahir ku adalah Rulid, jadi hanya Eugeo lah yang tau asal usul ku. Dan juga, akhir-akhir ini dia gak pernah membicarakan apapun tentang ingatan ku, jadi kupikir dia udah gak memikirkan nya— tapi kayaknya gak gitu.

Mendengar jawaban ku, Eugeo mengangguk, tapi gak meneruskan nya dan memalingkan pandangan nya ke pot bunga,

"Sip, ayo cepat siram bunga nya. Mereka menyuruh kita untuk bergegas."

"Oh, jadi sekarang kamu bisa mendengar mereka, Eugeo-kun?"

"Tentu saja, Aku sudah mengurus mereka bersama Kirito-kun."

Itu semua hanya candaan lalu Aku bersiap-siap didepan pot bungi dan mulai bergumam dalam hati.

...Pot ini memang kecil, tapi itu adalah negara mu. Gak ada yang bisa mengancam mu. Kamu harus besenang-senang dibawah matahari, serap air ini dan tumbuhlah menjadi bunga.

Aku membiarkan imajinasi ku ini masuk kedalam air di penyiram, dan menyiram nya dengan tangan kanan ku. Tetesan air mendarat di batang biru yang agak tipis dan daun dari Zephyria, melembabkan nya, mengalir kebawa dan menghilang di tanah hitam.

Pada saat ini, Aku sepertinya melihat kilauan hangat yang menyelimuti ke 23 kecambah.

Apakah ini imajinasi sepert sebelumnya? Ataukah— selagi aku berfikir seperti ini, Aku berbalik untuk melihat Eugeo yang ada disamping ku, tapi ia sepertinya menutup mata nya dan gak menyadari hal ini. Saat aku memalingkan pandangan ku kembali ke pot bunga, cahaya putih telah hilang tanpa jejak.

Aku merasa segan ke Eugeo, yang melakukan hal ini bersama ku demi kesenangan pribadi ku (alasan untuk sebuah experimen), tapi Aku gak pernah bilang kepadanya kalau ini adalah bunga Zephyria. Ia pikir ini hanyalah biji yang gak diketahui yang kudapatkan dari toko.

Alasan kenapa Aku gak mengatakan kebenaran kepadanya adalah karena kalau Aku bilang kepada nya, akal sehat Eugeo akan terkikis oleh imajinasi ku. Tujuan dari eksperimen ku bukan untuk bertarung di pertarungan kehendak melawan partner ku, dan ini sudah pasti bukan lah keinginan pribadi ku. Jujur saja, Aku selalu takut kalau saat kami menjalani ujian sparing antara pendekar elit, Aku akan melawan Eugeo...

“...Hey, Kirito.”

Tiba-tiba, Aku dipanggil oleh Eugeo, yang melebarkan matanya. Secara naluri Aku menengok untuk melihat, tapi, meskipun ini bukan suara dari hatiku, yang Eugeo katakan benar-benar tak kuduga,

"Kirito, kalau ingatanmu kembali, apa yang akan kau lakukan setelah nya...?"

"Eh...? Apa yang akan kulakukan? Apa maksudmu?"

"Kau tau, Kirito, kamu bekerja keras, belajar untuk menjadi pendekar elit di Akademi ini... untuk akhirnya menjadi Integrity Knight. Kamu hanya perlu menemani ku untuk mencapai tujuan ku, benar kan? Tujuan ku adalah untuk menemui Alice, yang dibawa pergi oleh Gereja Axiom 8 tahun yang lalu, tapi... Kalau ingatan mu pulih dan memikirkan kampung halaman mu..."

...Kamu pasti ingin kembali, kan?

Eugeo gak mengatakan hal itu tapi bertanya dengan mata nya.

Apa Aku ingin kembali ke kampung halaman ku? —Tentu saja, jawaban ku adalah 'ya'. Tapi, kampung halaman ku gak ada dimanapun di UnderWorld. Tempat dimana rumahku berada, dimana orang-orang menunggu ku, adalah negara yang bernama Jepang di dunia nyata, diluar dunia ini.

Kalau Aku ingin log out dari sini, Aku harus menemukan Sistem Admin atau Sistem Konsol atau semacam nya. Dan kalau Aku harus menebak dimana letak benda seperti itu, jawaban nya adalah area Pusat dari Centoria Cathedral, Gereja Axiom. Demikian, Aku mempunyai alasan yang berbeda untuk menjadi Integrity Knight dibandingkan dengan alasan Eugeo.

Aku menahan keinginan ku untuk memberitau partner ku, bukan, teman baikku; memindahkan botol kosong ke tangan kiri nya dan menepuk pundak nya dengan tangan kanan ku. Aku menaruh tangan kanan ku di pundak nya dan berkata dengan pelan,

"...Enggak, meskipun jika ingatanku benar-benar pulih, Aku gak akan kembali. Aku benar-benar merasa kalau aku adalah «Pendekar Pedang» dari tempat Aku berasal... Meskipun aku punya ketertarikan akan menanam bunga, bukannya tujuan akhir ku adalah mencapai Turnamen Persatuan Empat Kerajaan di Centoria?"

“...”

Mendengar kata-kata ku, bahu Eugeo sedikit gemetaran.

Ia tetap berada dalam posisi jongkok nya sambil menundukkan kepala dengan rambut berwarna kuning muda nya dan berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"...Aku, benar-benar orang yang lemah. Kalau aku gak bertemu dengan mu dibawah Gigas Cedar, Aku mungkin masih akan mengayunkan kapak ku setiap hari. Aku hanya akan menggunakan Sacred Task ku sebagai alasan dan gak pernah serius berfikir akan meninggalkan desa... dan akhirnya, melupakan tentang Alice..."

Eugeo menatap kearah batu bata disamping nya, dan ia mengutarakan apa yang ia pikirkan selama ini dengan suara yang amat kecil.

"...Itu juga sama dengan saat Aku bergabung dengan pasukan penjaga di Zakkaria, dan sama dengan saat Aku bisa pergi ke Centoria dan masuk ke Akademi ini. Itu semua karena kamu ada didepan ku jadi Aku bisa melakukan semua itu, Kirito. Jadi setidaknya... Aku harus menjadi sekuat dirimu sebelum Aku lulus, Kirito, itu yang kupikirkan. Tapi, saat kamu bilang gak akan kembali ke kampung halaman mu meskipun ingatan mu pulih... Aku merasa lega..."

Tangan ku merasakan sedikit gerakan karena terkejut.

Aku menyalurka tenaga ke tangan kanan ku, dan mulai menggumam dalam hati seperti yang kulakukan terhadap bunga. Kamu sangat kuat, kamu lah yang memutuskan untuk meninggalkan desa untuk mencapai tujuanmu di dunia yang penuh dengan berbagai hukum, aturan, dan segala batasan ini. Aku bergumam.

"...Dengarkan aku, Aku gak mungkin bisa mencapai Central sendirian."

Sembari Aku bergumam dalam hati, Aku mengatakan hal ini kepadanya.

"Aku gak tau jalan nya, Aku gak mungkin bisa mengingat hukum-hukum Kerajaan... Dan yang paling penting, Aku bahkan gak punya sepeserpun Shears. Alasan kenapa kita bisa sampai ke Akademi ini karena kita berdua menjalani nya bersama-sama. Hal itu akan sama dengan hari ini dan seterus nya. Kalau kita enggak bekerja sama, kita gak mungkin bisa mengalahkan para bangsawan muda dan para elit Imperial Knight yang sudah belajar saat mereka baru belajar berjalan. Sangat terlambat untuk berusaha keras sendirian dan menjadi Integrity Knight."

“...”

Bahkan setelah mendengar kata-kata ku, Eugeo tetap terdiam. Tapi setelah beberapa saat, ia balas berbisik,

"Ahh... Ahh, benar. Kita sudah sampai sejauh ini. Jadi kita harus sampai di menara putih itu."

"Ya. Untuk itu, kita harus menjadi top 12 pada tes bulan ini... Selain skill praktis, Aku benar-benar gak terlalu ngerti tentang Sacred Arts... Ajarin aku dengan cara yang mudah setelah kita kembali ke kamar."

"...Haha, oke. Kita mulai dari «Compressed Power» lagi."

"O-Oke."

Aku menepuk pundak Eugeo dan berdiri.

Eugeo, yang berdiri agak belakangan, meninggalkan senyuman tenang yang biasanya. Pada saat ini, partner ku memiringkan kepalanya, dan sepertinya mengingat sesuatu lalu berkata,

"Omong-omong, apa yang mau kamu bicarakan dengan ku di kantin?"

"Eh...? Aah, ahh, iya, Aku hampir lupa tentang hal itu.:

Aku membalikkan badan ku dan menghadap nya, lalu berbicara dengan nada ku yang biasanya.

"Eugeo, boleh kupinjam «Blue Rose Sword» mu untuk kugunakan besok?"

“Hmm, okay.”

Eugeo sepertinya setuju dengan sepenuh hati sambil mengangguk, dan kemudian memiringkan kepalanya.

"Tapi kenapa? Bukannya kamu bilang akan lebih baik berlatih dengan pedang kayu karena kau bilang feel nya bakal ilang?"

"Itu yang Aku bilang tapi... Masalah nya seperti ini. Aku kemarin berjanji pada Rina-senpai kalau Aku akan menunjukkan sword skill ku yang sebenar nya untuk yang terakhir kali. Aku mungkin hanya bisa mengeluarkan skill dua serangan beruntun dengan pedang kayu."

"Oh, jadi begitu. Kalau begitu, kamu harus sepenuhnya menunjukkan Aincrad-style yang sebenarnya. Kamu bisa memakai Blue Rose Sword, tapi..."

Pada saat ini, Eugeo berhenti sejenak, dan kemudian berkata dengan ekspresi yang agak bingung,

"Haduh, Kirito, apa kau lupa? Hari istirahat besok adalah 'hari itu'."

"Eh? 'Hari itu' apaan..."

"Oi oi, tanggal 6 Maret. Kamu sangat menanti hari itu kan."

"...Ah, ahh, benarkah? Hari benda itu selesai? ...Yah, bukannya Aku lupa...tapi Aku gak mengira kalau akan makan waktu setahun...."

"Bukannya kamu udah lupa?"

Ahaha, Eugeo tertawa, dan bertanya lagi,

"Jadi, bagaimana? Blue Rose Sword, atau..."

"Enggak, Aku ingin menggunakan pedang ku sendiri. Sepertinya Stacia-sama benar-benar telah membimbing ku. Kamu bilang kamu bersedia meminjamkan pedang mu, maaf."

"Gak apa-apa. Kalau begitu, ayo kembali ke kamar, oke? Aku akan mengajarimu dengan benar sampai lampu mati."

"...Mo-Mohon bimbingan nya."

Aku meletakkan alat penyiram kembali ke gudang dan berlari mengejar Eugeo, yang berjalan keluar.

Aku menengok kebelakang melihat pot bunga untuk terakhir kali, dan melihat puncak dari pohon muda itu, terdapat tetesan air di kuncup bunga yang menunjuk kearah langit malam.

Alasan kedua kenapa Aku memutuskan untuk menanam Zephyria untuk eksperimen ini— Jujur saja, Aku merasa ragu setiap Aku memikirkan tentang hal itu.

Karena alasan nya itu sedikit, enggak, sangat memalukan.

Bagian 3[edit]

Di UnderWorld, terdapat berbagai macam Sacred Task, tapi diantara nya, mustahil untuk menemukan sesuatu yang masuk kedalam kategori 'penjelajah'.

'Pedagang' yang melewati batas negara untuk berjualan terlihat mirip dengan 'penjelajah', tapi sedikit rumit untik mendeskripsikan pergerakan mereka sama seperti 'penjelajah'. Itu karena mereka hanya memindahkan barang-barang mereka dari satu penjuru dari Central yang bulat ini ke tempat lain, seperti dari Centoria Utara ke Centoria Timur, atau sebalik nya. Jarak nya juga paling jauh hanya 5km.

Desa di perbatasan terlihat efisien, dan obat-obatan atau barang-barang logam yang diproses yang mereka gak bisa produksi semuanya dikirim dari kota terdekat menggunakan kereta kuda (contoh nya, seperti Zakkaria bagi Rulid). Sacred Task seperti «Penghibur Keliling» dan «Penyanyi Jalanan» gak ada, jadi mereka yang ingin pergi berlibur saat waktu bebas nya akan ada waktunya saat hari istirahat tiap minggu.

Satu-satu nya pengecualian ialah «Integrity Knights» yang bisa terbang menggunakan wyvern dari Centoria ke Mountain Range at the Edge 750km, tapi Sacred Task itu terlalu unik.

Demikian, penduduk di UnderWorld pada dasar nya gak akan berpindah terlalu jauh. Namun, hal ini bukan berarti kalau bepergian itu dilarang. Mereka bisa dibolehkan pergi jauh selama mereka mengikuti aturan Sacred Task mereka seperti agen furnitur Centoria yang pergi ke Zakkaria di Utara yang jauh. Di samping itu, Aku sendiri mengikuti peraturan dunia ini dan bahkan telah melewati sebuah negara.

Dengan kata lain, tergantung kepribadian mereka ingin pergi melakukan perjalanan atau tidak. Dan untuk kepribadian, 99% dari penduduk UnderWorld semuanya konservatif.

Namun, bukan berarti kalau gak ada satupun orang yang punya selera yang tinggi akan petualangan.

Salah satunya adalah seorang pengrajin, Satore, yang membuka toko nya di distrik ke-7 Centoria Utara


"Lihatlah benda ini!"

Selagi suara yang kasar itu berbunyi, beberapa beberapa lempengan batu berbentuk persegi panjang dilempar tepat didepan ku dan Eugeo, mengeluarkan suara gemeretak. Tablet batu hitam yang mempunyai tekstur yang halus terlihat seperti batu asah dari Kerajaan Timur. Namun, saat ini, tebal semua batu itu telah menjadi kurang dari 2cm, dan bagaimanapun juga, sepertinya gak bisa digunakan lagi.

"Batu asah Corengan hitam ini bisa digunakan untuk 3 tahun, tapi benda milikmu itu sudah menghancurkan 6 milikku!"

"Be-benarkah begitu...Sa-Saya minta maaf..."

Aku terus meminta maaf pada pemilik toko yang menggelegak merah.

Di toko «Satore Metalcraft» ini, peralatan dari besi, ornamen dan bahkan senjata semuanya berjejer. Diantara nya, yang paling menarik perhatian sudah pasti pedang-pedang yang tergantung di tembok didalam toko ini. Kenapa sebuah pengrajin tangan mempunyai pedang? Pertama kali Eugeo dan Aku datang kesini, kami dgn takut menanyakan ini kepada pemilik toko yang kelihatan galak. Ia sendiri memberikan jawaban yang simpel, "Orang tua ini ingin menjadi padai besi, jadi orang tua ini membuat pedang."

Aku menanyakan nya tentang apa perbedaan antara pandai besi dan pengrajin di dunia ini, dan tak terduga, hanya peralatan lah yang membedakan mereka. Pandai besi bekerja menggunakan tungku pembakaran, landasan dan palu untuk membuat produk. Sebalik nya, pengrajin menggunakan pahatan, palu dan alat ukir. Dengan kata lain, itu hanya perbedaan menempa dan mengukir.

Di dunia nyata, Aku menggunakan dua jenis peralatan, «aluminum tempa» dan «aluminum pahat» di sepeda gunung ku, jadi kupikir disini agak sama... dan jadi saat Aku asal mengatakan 'kalau mereka berdua memproduksi pedang, gak apa-apa buat nyuruh pengrajin'. Namun, saat aku mengatakan hal itu, si pemilik toko Satore memelototi ku dengan pandangan yang tajam dan berkata, "Meskipun jenis besi yang digunakan sama, hasil jadi nya gak akan sama".

Dari caranya mengucapkan hal ini, seperti nya meskipun besi yang sama persis digunakan, pedang yang ditempa diengan temperatur tinggi akan mempunyai prioritas yang lebih besar (Level Objek atau semacam nya) dibanding memahat pedang. Karena hal inilah, Satore dipandang sebagai seorang 'penempa palsu' saat ia mulai membuat pedang.

Pada saat itu, jiwa muda dan petualang Satore membawa dengan amarah dan motivasi. Ia bekerja keras untuk menyiapkan produk yang setahun nilai nya, menitipkan tokonya kepada istri dan murid nya, dan melakukan perjalanan panjang untuk menemukan material yang bisa membuat pedang yang lebih bagus dipahat daripada ditempa.

Tapi meskipun itu adalah perjalanan, seorang pengrajin gak akan mendapatkan izin untuk meninggalkan negara, jadi ia hanya bisa pindah ke Centoria Utara. Untuk beberapa bulan, ia pindah dari kota ke kota, desa ke desa, menemukan beberapa material prospektif tapi mereka gak bisa memenuhi harapan nya. Akhirnya ia mencapai pohon besar yang tumbuh melewati awan di hutan dekat perbatasan Utara.

Itu adalah sebuah pohon cedar besar berwarna hitam pucat yang tak terkalahkan yang gak akan terbakar oleh api, dan gak akan hancur oleh ayunan pedang atau kapak... tentu saja, itu adalah «Pohon Iblis» Gigas Cedar.

Pada saat itu, ia bertemu «Penebang» si tua Garitta (yang seharusnya masih muda pada saat itu) dan menjadi teman. Ia berniat untuk memotong cabang dari Gigas Cedar untuk mendapatkan material untuk sebuah pedang, jadi ia memanjat pohon itu melalui pertolongan Garitta, menggunakan parutan untuk mencoba menggilas cabang yang ia sukai, tapi bahkan gak bisa membuat sedikitpun potongan selama 3 hari 3 malam.

Satore mulai menangis saat ia menyerah akan niat nya itu, dan bilang pada si tua Garitta untuk mengabari nya kalau suatu hari pohon ini berhasil ditebang. Pada saat itu, ia pasti akan kembali ke hutan ini untuk mengambil cabang nya.

Si tua Garitta memenuhi permohonan Satore dengan cara yang agak berbeda.

Bulan Maret terakhir, saat kami akhirnya mencapai tujuan dari perjalanan panjang kami, Centoria Utara, kami mengikuti perkataan si tua Garitta dan mengunjungi toko besi Satore. Satore terdiam tak bisa berkata-kata selama 3 menit saat ia melihat sebuah cabang disajikan kepadanya. Ia menghabiskan waktu 5 menit untuk memeriksa nya, lalu berkata,

-Beri aku waktu setahun. Setahun kemudian, cabang ini akan menjadi pedang yang tak bisa dipercaya.

—Saking tak bisa dipercaya nya sampai-sampai divine tool milik Integrity Knights gak akan bisa dibandingkan dengan nya.

Dan kemudian, setelah satu tahun— pada suatu hari, Kalender Dunia Manusia Tahun 380, Hari ke-7 dari bulan Maret, hari ini, si pemilik menyambut Eugeo dan aku, yang mengunjungi toko nya ini, dengan ekspresi yang menggelora.

"Te-Terus... A-Apa pedang nya udah selesai?"

Aku dengan takut menyela komplein tak berakhir dari Satori.

Tutup mulutmu. Si pemilik toko yang menatap langsung kearah ku dengan jenggot abu-abu nya mengeluarkan dengusan dan membungkuk kebawah. Satore mengeluarkan bungkusan paket yang panjang dan sempit dari bawah kasir dengan kedua tangan nya, mengerahkan tenaga dari tubuh keras nya untuk mengangkat paket itu.

*GONK!* Paket itu mengeluarkan suara tumpul ketika mendarat di kasir. Si pemilik toko enggak membukanya langsung.

Ia membiarkan paket nya begitu saja ditangan kanan nya, menggunakan tangan kiri nya untuk menggaruk jenggot nya, lalu berbicara,

"Anak muda, Aku masih belum bicara tentang pembayaran."

“Ugh.”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Master Swords Academy dikelola oleh negeri, jadi bayaran sekolah nya gratis. Tapi selama ini, Aku telah menggunakan uang ku untuk makanan atau hal lain saat hari istirahat, jadi Aku menghabiskan cukup banyak uang yang kutabung dari pasukan penjaga Zakkaria. Saat ini, pembayaran untuk pedang (belum lagi biaya usaha 1 tahun dan 6 batu asah tingkat tinggi) sepertinya gak murah disini.

"...Jangan khawatir, Kirito. Aku membawa smua uang ku kesini untuk jaga-jaga."

Aku benar-benar sangat lega mendengar perkataan Eugeo yang ada dibelakang ku, tapi untuk suatu alasan, Aku mempunya perasaan yang sangat buruk tentang hal ini.

Jika, hanya jika, total uang kami masih belum cukup untuk membayar ini... apakah kami akan melanggar Taboo Index? Apakah polisi, bukan, para Integrity Knights akan segera datang terbang kesini untuk menangkap dan mengirim kami ke penjara...?

"—Bukannya aku gak bisa memberikan nya secara gratis."

Setelah beberapa saat, Satore akhirnya mengatakan kata-kata ini, jadi Eugeo dan Aku punya keinginan untuk menghela nafas panjang yang lega. Namun, tepat sebelum itu, ia meneruskan "Tapi",

"...Tapi, anak muda, kalian harus bisa memakai monster ini. Benda ini dan material nya sendiri sangat lah berat, dan sepertinya kalian punya cukup kemampuan untuk menenteng material ini jauh dari Utara sampai ke Centoria... benda ini mungkin akan menjadi lebih berat ketika menjadi pedang. Penempa dan pengrajin semuanya dilindungi oleh God Terraria, jadi gak peduli seberapa kuat pedang nya, seharusnya gak akan ada masalah memindahkan nya... tapi bahkan orang tua ini hanya bisa mengangkat nya setinggi 1 Mel meskipun sudah sekuat tenaga."

"...Monster, huh?"

Aku menggumamkan kata-kata ini selagi menurunkan kepalaku untuk melihat paket itu.

Meskipun dibungkus dengan karung yang sangat tebal, Aku bisa merasakan eksistensi yang mendistorsi ruangan keluar darinya. Untuk suatu alasan, Aku gak bisa bergerak menuju benda yang sangat menggiurkan bagiku... atau mungkin tubuhku ini termagnetasi oleh nya selagi Aku ragu.

2 tahun yang lalu, Eugeo dan Aku melakukan perjalanan ke Selatan.

Eugeo mempunyai Blue Rose Sword, yang disimpan di bawah tempat tidur asrama murid pemula, diikat di pinggang nya, dan Aku mempunyai cabang pohon hitam pekat yang kupotong dari Gigas Cedar. Si tua Garitta meminta tolong padaku langsung untuk meminta pengrajin Satore untuk mengolah nya, tapi pada momen itu, Aku dikendalikan niatan apakah Aku harus menguburnya dalam-dalam di hutan atau tidak.

Meskipun sampai sekarang, Aku masih gak ngerti kenapa. Logis nya, akan lebih nyaman bagi dua pendekar pedang untuk masing-masing memiliki pedang nya sendiri dibanding harus berbagi, dan lebih natural. Demikian, Aku harusnya senang kalau ada cara untuk membuat pedang yang setara dengan Blue Rose Sword.

Aku menepis sedikit firasat ini dengan akal sehat logika ku dan Aku membawa cabang Gigas Cedar ini ke Centoria dan memberikan nya ke Satore.

Dan kemudian, pada hari ini, setahun kemudian, cabang ini akhirnya berubah menjadi sebuah pedang, menungguku untuk membuat kontak pertama dengan nya dibalik karung goni.

Aku mengambil nafas panjang, menghembuskan nya, dan menjulurkan tangan kiri ku. Aku menggenggam paket itu dan mengangkat nya dari kasir. Perasaan tebal dan berat bertekanan tinggi terasa, dan berat nya seperti nya mirip dengan Blue Rose Sword.

Karung goni itu hanya menyelimuti paket itu sedikit, jadi bagian atas nya akan jatuh kalau dinaikkan keatas, menampakkan gagang nya.

Pelana nya berbentuk gelendong yang simpel, dan ada lapisan dari kulit tipis yang diukir membungkus nya dengan kuat. Knuckle-guard nya terlihat agak kecil, mungkin karena itu adalah cabang. Gagang pedang nya berwarna hitam transparan dari Gigas Cedar, dan kulit yang membungkus nya hitam berkilau.

Sarung yang membungkus pedang juga dibuat dari kulit berwarna hitam. Aku menjulurkan tangan kanan ku, membiarkan jari-jariku membungkus disekitar pegangan, dan mengerahkan tenaga dalam satu terjangan.

Sampai saat ini, Aku telah memakai banyak pedang, tapi sebagian besar darinya adalah equipment di dunia VRMMO. Pengecualian nya hanyalah pedang bambu tua di rumah. Tapi meski begitu— atau lebih tepat nya, karena hal ini, Aku merasakan suatu jenis feeling kapanpun Aku menggenggam gagang pedang. Perasaan seperti es menjulur ke telapak tangan kanan ku, melewati pergelangan tangan, lengan, bahu, dan punggung.

Pada lantai pertama Aincrad, saat Aku memakai «Anneal Blade» yang kudapatkan dari misi pertama.

Pada lantai sembilan, saat Aku memakai «Queen's Knightsword» yang diberikan dark elf queen.

Pada lantai 50, saat Aku memakai longsword hitam «Elucidator» yang didrop oleh boss.

Saat Aku memakai longsword putih «Dark Repulser» yang blacksmith Lizbeth tempa untukku.

Dan di dunia peri ALFheim, saat Aku memakai senjata legendaris «Excaliber» setelah usaha keras dan menyakitkan—

Perasaan dingin yang sama, atau mungkin kuat, menjulur ke seluruh tubuh ku, membuatku gak bisa bergerak untuk sementara waktu, Kemudian getaran itu menghilang dan Aku mengerahkan tenaga ku kedalam daerah perutku, menarik pedang dari sarung pedang hitam itu.

*Jiiinnn—!!* Suara pedang yang lebih berat dari Blue Rose Sword menggema keseluruh ruangan. Pedang ini berat, tapi gak ada rasa kalau ini adalah besi yang keras. Tentu saja, ini berbeda dengan pedang kayu. Ini adalah suara yang menunjukkan tingkat kekerasan yang tak terdefinisikan, dan juga menunjukkan kekokohan yang jauh lebih besar. Aku membalikkan pergelangan tangan ku dan mengarahkan pedang itu ke langit, *riiiin*, dan bilah pedang nya mengeluarkan sedikit seruan.

“Mu...”

Pengrajin Satore bergumam,

“Wa...!”

Eugeo mengeluarkan sedikit suara.

Dan Aku menahan nafas ku, terpikat oleh pedang di tangan kanan ku.

Panjang bilah pedang nya bisa dikatakan sama persis dengan pedang lama kesayangan ku «Elucidator», tapi Aku lah yang memotong cabang ini dari Gigas Cedar, dan Aku lah yang mengira-ngira panjang nya, jadi hal itu sudah bisa diduga.

Bilah pedang nya juga ditutupi warna hitam pekat seperti gagang nya. Namun, ada sedikit rasa transparan ketika cahaya matahari menyinari nya melewati jendela dari sebuah sudut, mengeluarkan cahaya emas. Bentuk nya seperti pedang lurus satu-tangan yang biasa, tapi sedikit lebih lebar dibanding Blue Rose Sword.

Ujung pedang nya terlihat menakutkan, dan sepertinya kulit ku akan terpotong kalau Aku menyentuhnya bahkan di bagian terlembut nya dengan tangan ku.

"...Bisakah kau mengayun nya?" Ucap Satore dengan suara yang berat.

Aku gak menjawab, tapi melihat kesekeliling untuk melihat gak ada pelanggan lain. Murid yang masih muda gak terlihat akan pergi meninggalkan toko.

Aku menggerakkan tubuh ku dan berpose paralel dengan counter yang panjang. Ada ruang lebih dari 5m panjang nya kedepan, dan itu akan cukup untuk mengetes pedang ini. Aku menggenggam sarung pedang dengan tangan kiri ku, melebarkan kaki-ku dan condong ke bawah. Aku membuat postur untuk tebasan vertikal satu-tangan berhubung Aku gak ada niat untuk menggunakan sword skill.

Tepat didepan ku ada perisai bundar yang terbuat dari besi. Aku menggunakan benda itu yang kira-kira berjarak 5m dari ku sebagai target imajiner dan mengayunkan pedang ku.

Selama setahun ini, Aku selalu berlatih hanya dengan pedang kayu dengan tangan kanan, dan pedang hitam ini terasa sangat berat. Namun, itu bukanlah hal yang buruk. Pedang ini seperti memotivasi ku atau memohon padaku untuk menggunakan nya dengan baik, perasaan berat yang nyaman.

Selagi pedang ini mengarah ke atas, Aku mengambil langkah kedepan. Menggunakan momentum yang dihasilkan dari pergeseran bukannya dari kekuatan pergelangan tangan ku dan mengumpulkan imajinasi ku. Dengan seluruh energi yang terkumpul di ujung pedang— Aku mengambil langkah tajam kedepan dan melepaskan momentum ku.

“Sh...!”

Cahaya hitam melesat di garis lurus. Setelah setelah sesaat, *swoosh*, suara robekan bisa terdengar di udara. Ujung pedang berhenti tepat sebelum menyentuh lantai, tapi kekuatan ayunan nya melesat keluar dan membuat lantai nya bergetar.

Aku pelan-pelan bangun. Eugeo mulai bertepuk tangan, dan Satore berkata dengan kasar.

"Oh... jadi, murid dari Akademi bisa mengayun benda itu, huh?"

"Ini adalah pedang yang bagus."

Aku merasa kalau gak perlu mengatakan hal yang lain sembari menjawab. Mendegar hal ini, si pengrajin akhirnya menunjukkan senyum dan menggaruk jenggot nya sambil berkata,

"Benar-benar kata-kata yang berlebihan. Benda itu menghabiskan 6 batu asah Corengan... Tapi, janji adalah janji. Aku gak akan meminta bayaran. Tapi setelah kau menjadi terkenal, cukup sebarkan kata-kata kalau pedangmu itu dibuat oleh pengrajin Satore. Benda itu menjadi milikmu sekarang."

"...Saya benar-benar bersyukur."

Aku menundukkan kepalaku, dan Eugeo melakukan hal yang sama. Mengangkat kepalaku dan menyarungkan pedang ini.

Satore menatap pedang hitam ini selama dua detik, dan kemudian tertawa kecil.

"Kau bisa menentukan nama pedang itu. Pedang itu akan menjadi tanda toko ku. Jangan berikan nama yang aneh-aneh."

“Uu...”

Aku sedikit terdiam mendengar kata-kata ini. Kemungkinan besar, itu karena semua equipment ku sebelumnya sudah mempunyai nama, jadi Aku gak terlalu handal memberi nama.

"...Sa-Saya akan memikirkan nya dengan hati-hati. Terus, kalau Life pedang ini turun, Saya akan datang kesini untuk meminta memperbaiki nya..."

"Um. Pertama-tama aku akan mengatakan ini. Jangan harap untuk mendapatkan nya gratis selanjutnya."

"Te-Tentu saja."

Kami bertukar kata-kata, dan Aku menunduk lagi untuk terakhir kalinya sebelum melangkah kearah pintu keluar dengan Eugeo.

Pada saat ini, *GLANK!* Suara keras logam bisa terdengar dari belakang, membuat ku sedikit melompat karena kaget. Aku membalikkan kepalaku dan melihat mata Satore yang melebar melihat kearah tembok barat.

Aku mengikuti pandangan nya, dan yang Aku lihat adalah perisai yang untuk dijual terbelah dua dan bagian kanan nya jatuh ke lantai.


1. Dengan sengaja menghancurkan barang jualan di toko itu melanggar Taboo Index.

2. Tak membayar barang yang hancur secara tak sengaja itu melanggar Taboo Index

3. Kalau si pemilik toko memaafkan orang yang bersangkutan di 2, hal itu gak akan melanggar Taboo Index.

Aku mengingat hal ini saat Aku ingin buru-buru kembali ke Akademi. Disebelah ku, Eugeo membisikkan tentang apa yang terjadi sekarang ini dengan ekspresi pucat.

"...Itu hanya mengetes pedang. Gak perlu ngeluarin teknik rahasia! Siapapun bisa menduga kalau suatu barang akan hancur saat kau menggunakan gerakan seperti itu tadi!"

"I-Iya— ...tapi Aku gak pernah berniat untuk menggunakan sword... enggak, teknik rahasia atau semacam nya..."

"Jangan boong. Aku melihatnya, Kirito. Saat kau mengayun pedang itu kebawah, pedang itu mengeluarkan sedikit cahaya. Apakah itu teknik rahasia selain teknik Aincrad-style yang hanya diketahui oleh ku?"

"I-Iya... tapi kesan ku kayaknya Aincrad-style gak punya gerakan seperti itu..."

Kami melanjutkan pembicaraan kami, dan tiba-tiba, aroma harum secara tak sadar masuk kedalam hidungku, menyerang kepalaku.

Jalanan di Centoria Utara terbagi dalam beberapa area. Area paling utara, area 1 (yang paling dekat dengan Gereja Axiom) adalah kota imperial, area 2 adalah Area Pemerintah Kerajaan, 3 dan 4 adalah jalanan untuk rumah bangsawan. Bangsawan kelas atas yang membangun mansion di area 3 sangat mewah yang bahkan mansion milik Asuna gak ada bandingan nya, yang lebih mengagetkan lagi adalah bangsawan kelas 1 sampai kelas 3 mempunyai tanah luas yang mereka sebut «Tanah Pribadi» diluar jalanan Centoria.

Tanah pribadi itu mempunyai desa kecil didalam nya, dan penduduk disana diperlakukan seperti pelayan bangsawan. Terkadang, anak yang tumbuh di suasana seperti itu akan menjadi tuan muda yang tak beradab seperti Raios dan Wanbell.

Dan kemudian, di area 5, ada fasilitas dengan nama «Imperial», seperti markas ksatria dan arena. Tentu saja, Imperial Master Sword Academy terletak disana juga.

Area 6 dan 7 adalah distrik bisnis, dan di area utara 8, 9, 10, adalah jalanan dimana penduduk Centoria tinggal.

Berdasarkan apa yang kupelajari saat pelajaran geografi, struktur nya sama persis dengan ibu kota Kerajaan yang lain, Centoria Timur, Barat, dan Selatan. Bagaimanapun Aku memikirkan nya, hal ini pasti bukanlah kebetulan, tapi merupakan hal yang mustahil untuk membayangkan 4 raja berkumpul bersama dan ngobrol dengan ramah. Kupikir ini adalah hal yang dirancang oleh atasan dari Geraja.

Lalu—

Kalau Aku ingin kembali dari toko besi Satore di area 7 ke Master Sword Academy di area 5, Aku harus melewati area 6, dan area 6 adalah distrik bisnis dipenuhi dengan toko makanan dan restoran, tempat yang penuh godaan. Aku harus bilang kalau seluruh koin perunggu dan perak yang ada di dompetku semuanya kugunakan disini kapanpun Aku pergi selama tahun ini.

Yang paling membahayakan adalah saat jam 2pm pada hari istirahat siang ini. Ada restoran di Jalan Timur 3 bernama «Jumping Deer Inn», dan saat mereka memanggang pai madu ciri khas mereka, aroma harum nya akan menyebar kesepanjang jalanan, menggoyahkan dan mengetes niat ku untuk berhemat. Aku gak pernah bisa melewati tes ini dengan sukses sebelum nya.

"...Hey, Eugeo. Untunglah kita gak disuruh mengganti rugi perisai yang rusak itu."

Aku melambat saat Aku mengatakan nya, dan partner ku mengangguk dan menjawab,

"...Iya. Aku baru tau setelah kita masuk Akademi kalau Satore-san adalah orang terkenal yang mempunyai bukti sebagai pengrajin kelas-satu. Kalau kita membayar perisai itu, mungkin total uang kita masih gak akan cukup untuk membayar nya."

"Heh... —Kalau begitu, ini memang agak telat... tapi apa yang akan terjadi kalau gak cukup? Apakah kita akan ditangkap ditempat?"

"Mereka gak akan melakukan sejauh itu. Pada saat itu, dia akan mencatat nya, dan kamu harus datang membayarnya dengan bunga tiap bulan."

"O-Oh begitu..."

Gak seperti Aincrad, yang menggunakan sistem «Cardinal» untuk mengontrol sistem pertukaran col[4], dunia ini sepertinya kurang lebih mempunyai aktifitas ekonomi nya dengan penduduk. Kemudian, sebagai murid yang miskin, haruskah Aku bekerja keras untuk mendapatkan kemakmuran ini?

Aku menyimpan motif bangsawan ini dan meminta sesuatu ke Eugeo,

"...Berhubung kita udah menyelesaikan masalah uang, bagaimana kalau 3?"

Partnerku menghela nafas dengan perasaan Aku tau ini akan terjadi,

"Paling banyak dua."

Ia menjawab. Aku nyengir dan mengangguk, dan merubah posisi kaki ku ke sisi kiri atas sebelum berlari ke onee-san penjaga toko yang menyajikan pai madu yang baru dipanggang itu di corner take-out.

Tanpa sadar, tubuhku sudah benar-benar terbiasa dengan pedang hitam ini, yang ada di punggung ku dengan tali pengikat, dan sepertinya gak merasakan berat itu lagi. Aku merasa seperti pedang itu sudah berada disana selama beberapa tahun.

Bagian 4[edit]

Harmoni dari madu dan gula yang cair menari-nari, menghasilkan sebuah simfoni. Saat kami sampai di Akademi, Aku berpisah dengan Eugeo, yang ingin pergi ke kamar Gorgolosso-senpai, dan pergi ke Kantor di asrama pemula. Hal ini kulakukan untuk mendapat izin dari manajer asrama, Nyonya Azurika untuk menyimpan pedang ini sebagai barang pribadi ku.

Di dunia nyata, kalau Aku membawa barang tajam yang panjang nya lebih dari 1m, Aku pasti akan di marahi oleh guru, atau bahkan memanggil polisi untuk menangkap ku. Namun, Akademi ini, di dunia lain ini, adalah organisasi yang penuh dengan pendekar pedang. Asalkan Aku hanya punya satu pedang asli, Aku akan diperbolehkan untuk membawa nya.

Alasan kenapa Aku hanya boleh membawa satu, itu karena di dunia ini, semua senjata, termasuk pedang, akan menyerap Sacred Power sedikit demi sedikit— menyerap sumber daya. Lebih spesifik nya, senjata yang Life nya berkurang sedikit dalam pertarungan akan memulihkan Life nya pelan-pelan jika disarungkan dengan benar... Jadi pedang pada dasar nya menyerap Sacred Power di sekeliling. Tentu saja, kalau pedang nya menjadi tumpul dan gak bisa pulih dengan sendirinya, Aku harus mencari pengasah, dan tukang besi kalau hancur atau semacam nya.

Kalau gak ada pembatasan dari memperbolehkan murid untuk membawa pedang mereka sendiri, murid yang seorang maniak senjata mungkin akan membawa seratusa pedang, dan setelah itu, kamar nya akan menyerap jumlah Sacred Power yang abnormal. Sepertinya ini lah alasan kenapa satu orang hanya boleh memasukkan satu pedang kedalam.

Karena sekarang hari istirahat, Nyonya Azurika gak ada di counter resepsi, tapi duduk di ruangan kantor dengan pintu yang terbuka, sedang menyorting dokumen. Setelah mendengar ketukan ku, ia mengangkat kepala nya dan mengedipkan mata biru ke abu-abuan nya.

"Ada apa, Murid Pemula Kirito?"

"Permisi... Saya kesini hari ini untuk meminta izin untuk memiliki pedang sebagai barang pribadi."

Aku menunduk, berjalan masuk dari pintu, dan melihat-lihat dengan singkat. Banyak folder kulit yang tertutup di rak buku disamping tembok, tapi hanya ada sebuah meja dan kursi. Dengan kata lain, wanita ini sendirian mengurus kinerja asrama yang diisi 120 murid ini.

Setelah mendengar kata-kata ku, Nyonya Azurika memiringkan kepala nya sedikit, tapi segera bangun, dan mengambil folder dari dokumen yang ada di rak buku tanpa ragu. Ia kemudian mengambil salah satu dari dokumen dan menaruh nya tepat didepan ku.

"Tulis keterangan yang perlu disitu."

"Ya, mengerti."

Aku untuk sementara menurunkan kepalaku dan melihat-lihat. Di formulir ini, ada hal-hal yang simpel seperti nama, nomor murid dan prioritas pedang. Selagi Aku memikirkan tentang bahwa Aku gak perlu tanda tangan wali saat ini, Aku mengisi nama dengan katakana 'Kirito', nomor murid '7' —dan tiba-tiba, Aku berhenti menggerakkan pulpen. Aku mengingat-ingat, dan meskipun Aku mencoba mengayunkan pedang ini sebelumnya, Aku gak pernah membuka «window» untuk mengecek.

Dengan Nyonya Azurika menatapku, Aku buru-buru melepas karung goni di punggung ku dan melepas tali kulit yang terikat. Aku membuka sedikit sisi, berniat untuk membuka window dengan menunjukkan gagang nya, dan pada saat itu,

“...!”

Aku mengangkat kepalaku saat mendengar engahan tajam itu. Yang terlihat dimata ku adalah Nyonya Azurika yang melebarkan matanya yang jarang kulihat karena biasanya ia selalu menunjukkan ekspresi yang tenang.

"A-Ada apa?"

Nyonya Azurika berkedip beberapa kali setelah mendengar suara ku, dan kemudian menggelengkan kepalanya, "Enggak, gak ada apa-apa." . Sepertinya gak ada hal lain yang ingin ia sampaikan tentang hal ini, jadi Aku memalingkan pandangan ku kembali ke pedang, dan menggunakan dua jari tangan kanan ku untuk memasuki layar command. Aku menyentuh gagang pedang itu dengan pelan, dan window properti nya muncul dengan efek suara yang berbunyi.

Prioritas yang terlihat adalah—«Level 46».

Prioritas nya lebih tinggi 1 level daripada Divine Tool Blue Rose Sword. Pantas saja pedang ini sangat berat. Setelah Aku mengisi angka di kolom ketiga, Aku mengembalikan pedang ini ke kondisi sebelum nya, dan menyerahkan formulir yang sudah kuisi.

...Apakah ada masalah. Jangan bilang kalau ada batasan di prioritas? Pikirku dengan tak sabar.

"Murid Pemula Kirito."

"Y-Ya."

"Kau punya... memori tentang pedang itu..."

Ia berbicara sampai sini, tapi tiba-tiba berhenti. Nyonya Azurika menutup mata nya, dan saat ia menaikkan alis nya kembali, mata nya kembali ke mata galak supervisor asrama yang biasa nya.

"...Gak, lupakan. Aku telah menerima aplikasimu. Kupikir gak perlu bagiku untuk menegaskan hal ini, tapi ingat, pedang sungguhan hanya boleh digunakan untuk latihan sendiri. Gak bisa digunakan di ujian dan latihan berkelompok, mengerti?"

"Mengerti!"

Aku dengan semangat menjawab nya dan menaruh pedang hitam yang disarungkan itu dipunggung ku, dan bertanya-tanya apakah Aku harus menanyakan tentang hal yang tadi ingin dikatakan Nyonya Azurika. Tapi sepertinya, Aku gak akan mendapatkan jawaban darinya. Demikian, Aku hanya melakukan salam ksatria dan meninggalkan kantor.

Aku berjalan melewati koridor depan, dan berfikir dengan bingung,

Memori... pedang?

Benar-benar kata-kata yang gak bisa dijelaskan. Memang benar kalau di dunia ini, semua barang, termasuk pedang disimpan dengan bantuan Mnemonic Visual. Tapi itu adalah teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan «RATH» di dunia nyata, jadi penduduk UnderWorld seharusnya gak akan bisa menyadari hal ini.

Dengan kata lain, 'ingatan pedang' yang Nyonya Azurika sebutkan tadi mengartikan hal yang lain. Pedang hitam ini mempunyai suatu bentuk memori. Tapi memori seperti apa itu? Apa yang ia lihat di pedang hitam ini...?

Aku mencari-cari jawaban dari keraguan ini selagi Aku berjalan keluar asrama, dan mendengar melodi bel jam 3pm yang berbunyi dari menara bel yang memanjang dari atap. Suara nya lebih dalam dari bel yang kudengar di Gereja Rulid, tapi melodi nya sendiri sama persis.

Waktu yang dijanjikan Rina-senpai adalah jam 5pm.

Aku gak bisa merasakan sedikitpun perasaan aneh saat Aku mengetes nya di toko Satore... Aku bisa bilang terasa agak lega, seolah-olah pedang tercintaku bangkit lagi dari waktu Aku ada di SAO. Namun, akan lebih baik bagiku untuk mengetes apakah Aku bisa menggunakan nya dengan teknik rahasia Aincrad, atau sword skill.

Hari istirahat ini berlangsung tiap minggu, dan hampir semua murid yang lahir di Centoria pulang kerumah, beberapa murid yang lahir di tempat lain biasanya pergi keluar untuk berjalan-jalan, dan lapangan Akademi yang luas ini terasa kosong. Dan juga, ada hutan dan sungai di lapangan kampus, jadi ada beberapa tempat untukku untuk melatih gerakan ku— meskipun Aku bilang begitu, Aku masih ingin menghapuskan kemungkinan orang lain melihat ku. Itu karena Aku ingin berlatih «Skill Serangan Beruntun» yang gak dimiliki style yang ada di dunia ini.

Kenapa ada sword skill di UnderWorld?

Kenapa gak ada skill serangan beruntun?

Aku telah berada di dunia ini selama hampir dua tahun, tapi bahkan samapi sekarang, Aku masih belum menemukan jawaban nya. Satu-satunya hal yang bisa kubayangkan adalah saat teknisi RATH yang mengkonstruksi UnderWorld, dia mungkin menggunakan paket «The Seed» dengan suatu cara... Tapi meskipun itu adalah faktanya, hal itu masih belum menjelaskan seluruhnya.

Untuk kenapa, itu karena «The Seed» yang beredar dengan bebas— versi simpel dari sistem «Cardinal» gak punya sword skill didalam nya. Saat ini, ditahun 2026, diantara sekian banyak VRMMO, hanya ALO, duplikat copy dari server lama SAO, mempunyai sword skill. Sangat gak mungkin kalau perusahaan «Ymir», operator ALO, membantu RATH disini.

Setelah itu, Aku hanya bisa memikirkan berbagai tebakan yang sama sekali gak berdasar. Kalau Aku ingin mengetahui kebenaran, Aku harus bertemu dengan pemimpin di puncak Centoria Cathedral, dan gak ada jalan lain.

Lalu— teknik rahasia dari para pendekar pedang di UnderWorld ini semuanya adalah skill satu-tebasan; seperti «Vertical» dan «Avalanche».

Untuk alasan dibalik masalah ini, Aku sudah mempunyai sebuah bentuk deduksi. Sepertinya hal ini adalah alasan kenapa UnderWorld gak punya pertarungan yang sebenarnya. Dengan hukum absolut dari Taboo Index, dengan prajurit tak terkalahkan dari Integrity Knight melindungi UnderWorld, seluruh pertarungan pastinya akan menjadi sebuah «pertandingan». Yang menunjukkan kemenangan yang indah dan elegan. Apakah ini hal yang para pendekar di dunia ini cari selama ratusan tahun? Untuk melakukan pose yang perkasa dari kejauhan sebelum menggunakan skill satu-serangan untuk menang?

Dan juga, alasan yang lain mungkin untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Pertandingan di turnamen lokal berlangsung sampai satu pihak terpojok, dan bahkan di tingkat Central dan turnamen level tinggi, kemenangan hanya ditentukan dengan sistem first-strike.

Di situasi seperti ini, kekuatan lengan dan fisik akan mendapatkan keunggulan, berhubung mereka akan mendapatkan kepercayaan diri yang absolut pada kekuatan dari satu serangan mereka... Jadi sudah bisa ditebak kalau orang-orang seperti kepala pendekar elit, Uolo Levanteinn yang merupakan pengguna mighty sword bisa menjadi kuat.

Ini juga adalah alasan yang sama kenapa Solterina-senpai terus terusan kalah oleh Uolo-senpai selama dua tahun ini.

Meskipun Aku menunjukkan skill serangan beruntun kepada Rina-senpai, mustahil baginya untuk mempelajarinya. Bahkan Eugeo, yang gak punya pengalaman apa-apa dengan style yang ada, butuh beberapa bulan untuk belajar skill dua-serangan-beruntun «Vertical Arc».

Namun, kalau Aku bisa menunjukkan kalau sword skill itu bukan hanya tentang tebasan hebat dari atas, kalau aku bisa menggoyahkan kebimbangan di hati senpai tentang bagaimana Aincrad-style dan Celulute-style itu berbeda dengan Norlangarth-style tingkat tinggi, ia seharusnya bisa mempunyai peluang untuk menang di duel kelulusan.

Aku terus memikirkan tentang hal ini selagi berjalan ke timur, dan tanpa sadar, Aku telah sampai di sisi timur dari kampus.

Kampus sekolah yang dikelilingi oleh tembok berbentuk kipas mempunyai kampus pusat, arena latihan yang besar, perpustakaan, asrama murid dan instruktur, asrama pendekar elit dan banyak bangunan lain nya, dan masih banyak ruang yang kosong. Tembok di sisi utara dan selatan mempunyai gerbang besar, ada bukit yang agak tinggi di sisi barat, dan hutan yang agak besar di sisi timur. Dimanapun itu, Aku gak melihat satupun murid disekeliling.

Meskipun begitu, Aku memilih hutan dengan banyak nya halangan untuk jaga-jaga. Aku menemukan ruang kosong di hutan dan berhenti. Rumput yang tipis dan pendek tumbuh berapatan seperti rumput di lapangan football, jadi seharusnya gak ada tempat yang bisa membuatku tersandung. Aku melihat kesekeliling, mengecek dan hanya ada 2-3 kupu-kupu disekitarku, dan menjulurkan tangan ku kebelakang punggung.

Aku mencari, melepaskan kain karung, dan memegang gagang pedang yang tampak. Setelah merasakan pegangan yang terasa seperti menempel ke tangan ku, Aku segera menarik pedangku keluar.

Longsword hitam pekat yang disinari oleh cahaya matahari melewati ranting dan dedaunan aslinya terbuat dari cabang Gigas Cedar, jadi secara teknis, pedang ini adalah «Pedang Kayu». Tapi bilah pedang nya memantulkan sinar yang gak bisa dibayangkan siapapun. Pengrajin terkenal Satore menghabiskan waktu setahun untuk membuat pedang ini, pada pandangan pertama, orang bisa merasakan jumlah prioritas yang menakutkan... Tapi Aku gak bisa melihat apapun yang seperti «memori» dari benda yang gak bisa berbicara ini.

Aku mengesampingkan keraguan ku dan memperagakan postur dasar. Kali ini, pikiranku berimajinasi dengan kuat, gak seperti saat Aku mengetes pedang ini di toko. Aku mengimajinasikan sword skill satu-serangan diagonal yang telah kugunakan berkali-kali sampai tak terhitung— «Slant».

Setelah mengumpulkan dengan sekejap, bilah pedang ku mengeluarkan cahaya terang berwarna air. Aku menggunakan belakang kaki ku dan tangan kanan untuk mengakselerasi sword skill dan tubuhku bergerak seperti didorong tangan yang tak terlihat.

*Shoobash!* Suara tajam dapat terdengar, dan lintasan dari tebasan keluar di udara. Garis yang miring itu menghilang seperti api matahari selagi angin dari tebasan melintas lurus, meniup rerumputan di tanah.

Aku menahan tubuhku di posisi menebas kebawah dan menatap kearah ranting pohon yang berada 5m didepan ku. Namun, gak ada tanda-tanda ranting pohon itu hancur bahkan setelah efek dari skill itu menghilang.

Hal ini sudah bisa ditebak. Jarak skill dasar «Slant» hanya 2.5m. Kekuatan nya gak bisa meraih jarak yang dua kali lebih jauh.

Tapi, meskipun kalau begitu... perisai bundar yang jaraknya sama-sama 5m di toko pengrajin seharusnya gak terbelah. Mustahil kalau pada saat itu, Life perisai itu secara kebetulan sudah hampir habis, dan Aku benar-benar gak mengeluarkan sword skill apapun. Eugeo mengatakan kalau 'pedang nya bersinar'... Tapi Aku sama sekali gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku benar-benar gak tau apa-apa. Aku masih belum tau banyak hal tentang dunia ini.

Aku menghela nafas dan berdiri tegak. Aku mengatur nafasku dan masuk ke posisi untuk skill selanjut nya.

Aku menebas kebawah dari atas kanan, dan tepat saat pedang hampir menyentuh tanah, Aku menarik ujung pedang keatas kembali seolah-olah terpantul keatas dan mengayunnya keatas lagi. Skill dua-serangan-beruntun «Vertical Arc». Angin dari tebasan nya lebih ganas dari sebelum nya terbang dan menggoyangkan tanah berumput dengan kasar.

Sampai sekarang, Aku telah melatih sword skill yang bisa kugunakan dengan pedang kayu. Aku mengubah postur kaki ku, menaruh pedang di pinggang ku, dan memutar tubuhku ke kanan.

“...!'”

Aku mengumpulkan tenaga dan mengeluarkan tebasan horizontal ke kiri. Tebasan nya terlihat seperti menabrak suatu benda yang tak terlihat didepanku selagi gerakan horizontal tiba-tiba berhenti dan berbelok ke kanan atas. Aku melangkah kedepan dan mengeluarkan tebasan jarak-pendek yang kuat kearah depan. Ini adalah skill tiga-serangan-beruntun «Savage Fulcrum».

Aku tanpa suara menatap jejak berwarna merah tua yang berbentuk seperti angka 4 Arab[5] menghilang di udara. Aku mengangguk dan lanjut untuk menyiapkan sword skill berikut nya. Aku mengangkat pedang ku tepat keatas ku dan melakukan ayunan dari belakang kepala.

Aku melakukan tebasan level-tinggi, tebasan level-rendah, dan tebasan kedepan yang dihubungkan, dan kemudian mengangkat pedang kebelakang punggung ku sebelum melepaskan tebasan yang ganas. Cahaya biru yang melesat di udara terus berputar sambil maju kedepan. Jarak nya sangat jauh, dan hanya ada sedikit celah. Ini adalah sword skill yang kusukai di SAO, «Vertical Square».

Aku berhasil melakukan 4 jenis sword skill dengan sukses tanpa pengecualian.

Kalau begitu, ini berarti pedang hitam ini mempunyai level prioritas yang sama dengan Divine Tool «Blue Rose Sword» milik Eugeo. Namun, Aku sudah menebaknya saat Aku membuka «window» di kantor asrama dan melihat angka level 46.

Sepertinya Aku bisa menepati janji ku untuk menunjukkan sword skill tingkat tinggi ku kepada Rina-senpai. Sebelum Aku menghela nafas lega, ada feeling lain yang bergemuruh di pikiran ku.

Kapanpun Aku menggunakan Blue Rose Sword, Aku hanya bisa menggunakan sword skill sampai empat-serangan-beruntun. Tak peduli berapa kali kucoba, Aku gak bisa mengeluarkan skill 5-serangan-beruntun atau lebih. Kalau begitu, bagaimana dengan pedang hitam ini? Berhubung Aku harus melakukan nya cepat atau lambat, dan berhubung gak ada orang disekitar, bukannya sekarang kesempatan yang bagus?

Aku memegang pedang ku dengan erat, mengambil langkah besar kedepan dengan kaki kanan, dan mengumpulkan imajinasi yang terisi dengan kekuatan kearah pedang yang ada di bahu kiri ku, siap diluncurkan.

Tanpa sadar, Aku merasakan sedikit rasa nyeri dari poni ku, seperti memberi peringatan padaku, tapi Aku menghilangkan pikiran yang tak perlu itu dan fokus untuk membuat sword skill ku.

*Chka*, *chka*, Aku melihat bilah pedang ku mengeluarkan kilatan oranye.

Itu adalah cahaya samar-samar yang berbeda dengan efek cahaya yang kulihat selama ini. Aku berusaha semampu ku untuk membayangkan sword skill dan mempertahankan sikap siap, tapi kilatan itu terus terbang dan gak ada tanda-tanda akan tenang.

Aku terus bersikeras sampai postur yang udah gak stabil ini gak bisa menahan nya lebih lama, dan segera memulai gerakan ku.

“Uooh...!”

Aku tanpa sadar mengeluarkan geraman yang dalam, dan kaki kanan yang melangkah menggetarkan tanah. Pedang yang mengayun dari sisi atas kiri ke kanan bawah mengeluarkan tebasan tajam dengan sudut yang tajam dengan bantuan sistem— seharusnya begitu. Namun, pedang nya gak berhenti dan menabrak landasan.

Recoil yang sangat kuat terasa di tangan kanan ku. Kalau Aku memaksa untuk menarik pedang ku kembali, Aku pasti akan terluka saat ini, ini adalah keputusan yang dengan sekejap kubuat. Aku menggertakkan gigi ku dan menarik pedang yang menancap di tanah sedalam 20cm, kelihatan nya menancap saat Aku terjatuh kebelakang.

*ZPANG!* Suara dampak yang tumpul berbunyi dibelakang ku. Aku berbalik kebelakang dan punggung ku mendarat di tanah penuh rumput.

—Jadi Aku gagal? Apa yang kurang? Level ku? Prioritas pedang? Ataukah keduanya...?

Yang terlihat oleh mata dari tubuhku yang berbaring di tanah—

Banyak tanah dan rumput yang terbang oleh tebasan itu.

Dan sosok pria yang berdiri di pojokan sunyi dari ruang kosong ini di sisi lain.

Yang menutupi tubuh tinggi dan kurus itu adalah seragam sekolah, tapi warnanya bukan berdasarkan warna abu-abu. Terlihat garis biru kobalt terang di seragam yang sepertinya berwarna dasar putih mutiara. Itu adalah hak istimewa bagi pendekar elit untuk bisa memodifikasi warna seragam mereka semau nya.

Rina-senpai berwarna ungu. Gorgolosso-senpai berwarna hijau tua. Dan untuk putih mutiara dengan biru... itu seharusnya warna milik kepala pendekar Uolo Levanteinn—

Rambut pirang terang nya dibuat pendek, dan tak salah lagi, orang yang menatap ku dengan mata biru tanpa emosi itu adalah pria terkuat di Akademi ini.

Sembari berbaring di tanah, Aku menatap ke noda tanah hitam di bagian seragam putih itu, yang diterbangkan pedang ku.


Jujur saja, bukan nya aku gak pernah punya pikiran untuk melarikan diri.

Kalau ini Aincrad, dan lawan nya adalah atasan dari Guild Divine Dragon Alliance, Aku mungkin sudah kabur tanpa ragu. Tapi di dunia ini, kabur adalah pilihan terburuk kalau Aku membuat suatu masalah. Akan ada hukuman atas kejahatan ku, dan pada akhirnya, akan «melanggar Taboo Index» yang menakutkan.

Demikian, Aku hanya bisa terdiam selama beberapa saat, dan segera berlutut sambil menaruh pedang ku di tangan kananku ke tanah —untuk menunjukkan respek paling tinggi— menundukkan kepala ku dan berseru,

"SAYA BENAR-BENAR MINTA MAAF, TUAN PENDEKAR ELIT LEVANTEINN!! MOHON MAAFKAN SIKAP TAK TERHORMAT INI!"

Satu-satu nya saat lain Aku meminta pengampunan dengan mati-matian sepertinya saat di lantai 61 Aincrad saat Asuna menghajarku di ruangan nya. Aku terus memikirkan tentang hal yang tak berguna itu selagi berlutut.

"Kalau tidak salah, seperti nya kau adalah valet dari pendekar elit Celulute."

Aku mendengar suara yang dalam.

Aku untuk sementara mengangkat kepala ku, dan melihat mata biru baja nya segera sebelum menganggukkan kepala.

"Ya, Saya Murid Pemula Kirito."

"Begitukah."

Pendekar elit itu menatap pedang hitam di tanah berumput, dan kemudian melanjutkan dengan suara pria bernada tinggi,

"Menurut aturan Akademi 'mengotori baju senior' akan mendapatkan hukuman karena merupakan perbuatan kurang ajar..."

Mendengar hal ini, Aku gak bisa menahan untuk mengerang dalam hati.

«Hak menghukum» ini adalah hak yang dimiliki pendekar elit. Mereka boleh menghukum murid yang melanggar peraturan ringan akademi dengan cara gak sengaja tergantung kebijaksanaan nya. Aku telah berkali-kali diberikan latihan mengayun karena Aku telat datang ke kamar Rina-senpai.

Lalu, apa yang akan mereka lakukan kepada orang yang melanggar keras peraturan akademi— Di dunia ini, hal seperti itu gak akan terjadi. Tentu saja, melanggar keras peraturan secara natural bukanlah sesuatu yang bisa terjadi karena gak sengaja, dan Fluctlight buatan itu sendiri gak bisa melanggar peraturan ini dengan sendiri nya. Satu-satu nya orang yang bisa disini hanyalah Aku, sebuah Fluctlight natural, tapi untunglah, Aku gak melakukan apapun yang menarik perhatian dan berhasil bertahan selama setahun dengan aman. —Namun.

Untuk mengotori seragam Uolo-senpai dengan kotoran tanah... hal itu bisa jadi kejahatan yang parah disini...

"—Namun, Aku gak membencimu karena sembunyi-sembunyi dari yang lain dan berlatih pada hari istirahat, meskipun kau gak peduli kalau «berlatih pada hari istirahat» itu sendiri melanggar peraturan."

Gehhh—Lagi-lagi Aku mengeluarkan tangisan dalam hati.

Saat ini— mungkin itu masalah nya. Namun, kalau Aku setuju tentang hal ini sekarang, mungkin akan berakhir dengan menambah kemungkinan hukuman yang akan diberikan. Tapi aku gak tau apakah hal ini percuma atau tidak, tapi Aku harus berjuang.

"I-Ini bukan seperti yang anda pikirkan, Tuan Uolo. Ini bukan latihan... EH, erm, yah, Saya hanya mengetes pedang baru ku. Perbaikan dari pedang ini yang kuminta pada sebuah toko di area 7 sudah selesai, dan Saya gak bisa nunggu sampai besok..."

Pada saat ini, Aku akhirnya menyadari suatu hal penting.

Pria berambut pirang pendek ini... Kapan ia pertama kali melihatku? Bukan, sebelum itu, kenapa dia ada disini?

Aku sengaja datang jauh-jauh ke hutan ini untuk berlatih «skills serangan beruntun» yang tak dimiliki sword skill di UnderWorld. Alasan Aku melakukan hal ini adalah untuk menunjukkan nya kepada Rina-senpai. Namun, pria ini melihat nya sebelum Aku sempat menunjukkan nya kepada senpai. Bukannya ini benar-benar kebalikan dari apa yang ingin kulakukan?

—Kelihatan nya pria terkuat di Akademi ini menyadari pikiran ku dan memberikan senyum masam.

"...Kau bilang kau ada disini untuk mengetes pedang mu, tapi teriakan mu terlihat terlalu kuat. Omong-omong, Aku hanya melihatmu menggunakan pedang itu untuk menebas ke tanah dan terlempar kebelakang. Aku hanya akan menyikapi nya sebagai... gak bisa berdiri dengan tegak saat menggunakan pedang yang belum terbiasa kau gunakan, itu saja. Aku akan menganggap kalau kau gak melanggar peraturan berlatih di hari istirahat, berhubung Aku datang kesini untuk alasan yang sama."

Selagi Aku merasa lega mendengar hal ini, Aku memiringkan kepalaku dengan bingung,

"Alasan... yang sama?"

"Anggap saja bukan hanya kau yang mencoba mengayunkan pedang pada hari istirahat untuk alasan ini."

Bibir nya menunjukkan senyuman penuh percaya diri lalu Uolo memalingkan pandangan nya ke tanah kosong tempat Aku berlatih.

"Tapi Aku menemukan tempat ini duluan. Dan setuju untuk meninggalkan tempat ini untuk valet ku setelah Aku lulus. Jadi kau harus mencari tempat lain."

—Oh begitu. Pantas saja. Pikir ku. Pria yang berdiri didepan ku telah menemukan alasan kalau ini bukanlah latihan, tapi hal yang lain, dan datang kesini untuk berlatih pada hari istirahat... Ruang kosong ini biasa digunakan untuk berlatih, dan Aku hanya kebetulan tiba ditempat ini pada waktu yang sama, itu saja. Alasan kenapa tanah berumput ini sangat rapi karena Life nya ter-reset setiap minggu saat Uolo menginjak nya.

Kalau begitu Aku akan mencari tempat dengan lebih banyak rumput. Aku membuat keputusan seperti itu didalam hati dan menundukkan kepalaku lagi.

"...Saya mengerti, Saya akan melakukan nya. Terima kasih atas kemurahan hati anda..."

"Terlalu cepat untuk mengucapkan terima kasih padaku, murid pemula Kirito."

"A-Apa?"

"Aku memang bilang kalau Aku gak akan mempermaslahkan tentang berlatih pada hari istirahat, tapi Aku gak pernah bilang kalau Aku akan memaafkan mu tentang hal ini."

Aku pelan-pelan mengangkat kepala ku, dan melihat sang pendekar elit itu menaikkan tangan kanan nya dengan ekspresi serius di wajah nya sambil menunjuk ke dada di seragam nya. Ia menunjuk kearah noda hitam di baju putih mutiara nya.

"Ta-Tapi, senpai, bukannya tadi senpai bilang 'gak membenci' saya karena hal itu..."

"Ahh, Aku bilang seperti itu. Karena itulah Aku gak akan memberikan mu hukuman seperti membersihkan seluruh asrama atau menulis 1000 baris kalimat sihir."

Phew. Aku merasa mendengar hal itu.

Pendekar terkuat berambut pendek itu menggunakan jarinya untuk membersihkan noda di seragam nya dan mengatakan sesuatu yang tak bisa dipercaya.

"Murid pemula Kirito, hukuman mu adalah sparing melawan ku satu kali. Bukan menggunakan pedang kayu, tapi menggunakan pedang yang kau gunakan itu. Aku akan menggunakan pedang ku juga."

Pada momen ini, Aku akhirnya menyadari kalau pedang yang ada di pinggang kiri dari pendekar elit itu mempunyai gagang berwarna emas murni dan sarung pedang berwarna biru tua. Siapapun bisa tau kalau itu adalah pedang sungguhan dengan prioritas yang sangat tinggi.

"...Spa-Sparing...? Di-Dimana?"

"Istilah sparing hanya berarti 'berlatih dengan format bertarung', gak ada yang lain. Namun, tempat ini mempunyai ruang yang terlalu sedikit. Arena latihan yang besar seharusnya kosong pada hari istirahat, jadi ayo pindah kesana."

Setelah mengatakan nya dengan sangat lancar, kepala pendekar itu hanya berbalik kebelakang.

Selama dua detik, Aku menatap kosong ke punggung putih yang terlihat melancar dibawah pepohonan. Setelah pikiranku akhirnya memahami situasi ini, Aku dengan serius memikirkan apakah Aku harus kabur, tapi «gak melakukan hukuman ku» akan menjadi pelanggaran serius kali ini. Aku gak bisa membiarkan diriku diusir dari Akademi ini kalau Aku ingin menadi pendekar elit saat ujian promosi pada akhir bulan ini seperti Uolo.

Aku mengangkat pedang hitam yang berbaring didepan ku dan menyarungkan nya dibelakang ku sebelum berdiri. Gak ada kemauan untuk menyerah, Aku menatap dua kali ke tembok batu dari Akademi yang terlihat melewat pepohonan, membuat keputusan dengan segan, dan mengejar pria berambut pirang pendek itu.

Ada segala macam gulma dan rumput menjuntai disekitar kaki dari tanah kosong satu langkah jauh nya, tapi Uolo gak pernah menunjukkan sedikitpun tanda terkejut.

...Bukannya sangat mudah bagi pria ini untuk menghindari atau memukul jatuh tumpukan kotoran itu?

Pada momen ini, Aku menyadari hal itu, tapi semuanya sudah terlambat.

Bagian 5[edit]

Aku berjalan keluar hutan, mengejar Uolo di jalanan batu, dan bel jam 4pm berbunyi.

Tanpa sadar, langit sudah diwarnai dengan warna langit malam, dan kampus mulai menunjukkan tanda-tanda para murid kembali dari jalanan. Mereka semua melebarkan mata mereka ketika mereka melihat sosok dengan seragam putih dan biru berjalan didepan ku.

Hal ini sudah diperkirakan. Sejak saat Uolo Levanteinn menjadi pendekar pedang elit, ia bisa dibilang gak pernah muncul selain di asrama. Ia adalah karakter yang jarang sekali muncul bahkan selain valet nya, murid lain hanya akan melihat nya pada saat tes yang diadakan 4 kali dalam setahun. Bahkan Aku, valet Rina-senpai, hanya melihatnya beberapa kali di koridor bahkan setelah keluar masuk asrama nya setiap hari. Kalau harus bilang, ini adalah pertama kalinya Aku benar-benar bertemu dengan nya.

Dan tepat dibelakang eksistensi legendaris ini adalah murid pemula yang adalah rakyat jelata... dan lokasi nya adalah arena besar untuk latihan, jadi pasti akan menarik perhatian. Namun, yang paling menakutkan pada saat ini adalah beberapa murid yang mengetahui hal ini segera berlari dari kampus ke asrama nya. Pada saat ini, seluruh akademi seperti 'Ada sesuatu yang menarik di arena latihan!', dan berita ini pasti sudah tersebar kemana-mana.

Jam malam pada hari istirahat adalah jam 7pm, yang masih agak lama, jadi lebih dari setengah murid-murid masih berada di luar pada saat ini. Tapi meskipun begitu, ada sekelompok besar murid-murid yang berdatangan kemari untuk mengamati, bukan, menonton hal ini. Dalam kasus ini, Aku hanya perlu buru-buru, menyelesaikan hal ini, dan sembunyi di kamar Rina-senpai sampai keributan berakhir.

"Eh, tunggu. Bagaimana cara nya menenangkan keributan ini..."

Seperti yang Uolo katakan, «sparring» di akademi ini pada dasarnya adalah duel yang tak tuntas yang lebih dari latihan. Peraturan nya adalah kami bertarung sampai satu sisi terpojok, tapi kalau kedua pihak setuju, peraturan «first strike wins» seperti di era SAO akan dilakukan. Dengan kata lain, saat satu sisi mendapat pukulan dari lawan, pertarungan akan berakhir.

Dalam situasi ini, yang kalah pasti akan menerima beberapa luka. Hal ini adalah salah satu pengecualian untuk peraturan «Dengan sengaja mengurangi Life orang lain» di Taboo Index yang terlarang. Duel 'first strike win' yang bahkan gak dibolehkan di penjaga Zakkaria diperbolehkan di Akademi ini, dan alasan untuk itu adalah medical office sudah mengumpulkan berbagai macam obat mahal dan para guru dapat mengeluarkan Sacred Arts level tinggi. Dengan kata lain, meskipun mendapatkan luka berat pada sparing, akan baik-baik saja kalau bisa dirawat.

Meskipun Aku bilang begitu, Uolo bilang ia akan menggunakan pedang sungguhan pada sparing ini, jadi peraturan nya harusnya kami bertarung sampai satu sisi terpojok. Kalau Aku ingin menang, Aku hanya perlu menghindar atau menangkis serangan dari atas kepala nya yang kuat itu, dan memastikan pedang ku berhenti sebelum Aku mengenai nya saat membalas.

"Tentu saja, Aku bisa bilang kalau hal itu sangat sulit. Enggak, sebelum itu, apakah Aku benar-benar harus menang?"

Uolo adalah tujuan terbesar Rina-senpai yang ingin ia kalahkan. Apakah boleh bagiku, seorang valet yang menjalani latihan dari senpai, untuk mengalahkan lawan nya? Apakah Rina-senpai benar-benar akan senang kalau Aku menang...

Selagi Aku mulai menundukkan kepalaku dan memikirkan hal ini, dua pasang langkah kaki yang terburu-buru tanpa sadar memasuki telinga ku.

Aku tiba-tiba tersadar, mengangkat kepala ku dan melihat ke arah kiri. Yang terlihat dimataku adalah pemandangan Pendekar Elit Solterina Celulute dengan rok panjang nya yang berkibar selagi ia berlari kesini dan partner ku Eugeo yang berlari dibelakang nya. Mereka berdua gak berlari melewati jalanan, tapi pergi langsung melewati bukit yang tertutup rerumputan.

Kesampingkan Eugeo, Aku gak pernah melihat Rina-senpai terengah-engah ketika berlari sampai saat ini. Uolo, yang berjalan didepanku, tiba-tiba berhenti dan menengok ke kiri.

Rina-senpai hanya memerlukan beberapa detik untuk sampai ke jalanan, memberikan ku ekspresi khawatir, dan menghadap Uolo. Ia merapikan rok ungu ke abu-abuan nya, menegakkan punggung nya, dan berkata,

"...Levanteinn-dono, apa maksudnya ini?"

Di Akademi ini, Rina-senpai adalah satu-satu nya murid yang gak menggunakan kata-kata formal kepada Uolo. Murid-murid disekeliling dari kejauhan menjadi ribut.

Pendekar top itu menatap tajam mata biru tua itu tanpa bergeming. Kepala berambut pirang pendek itu memiringkan kepalanya sedikit dan dengan tenang menjawab,

"Seperti yang kau lihat, Celulute-dono, valet mu ini melakukan sesuatu yang tidak sopan. Aku mempertimbangkan kalau akan agak tidak pantas untuk menghukum nya pada hari istirahat... Jadi Aku berniat untuk latih tanding melawan nya."

Keributan disekeliling kami bertambah keras.

Rina-senpai akhirnya menyadari noda hitam di badan seragan Uolo. Seperti nya ia bisa mendeduksi apa yang telah terjadi saat ia dengan lembut mengigit bibir nya.

Sementara pendekar elit peringkat satu dan dua berhadapan satu sama lain, Aku menyelinap kearah partner ku yang menatap kosong dekat kedua tembok manusia itu. Wajah nya menunjukkan ekspresi yang sangat familiar— campuran dari ekspresi 'Apa yang kau lakukan kali ini' dan 'Jangan bilang kalau... Kau melakukan nya lagi...?'

"...Cepat sekali kau sampai kesini."

Aku berbisik. Eugeo mengangguk beberapa kali.

"Aku ada di kantin di asrama, dan valet Zobun-senpai datang berlari dan mengatakan kalau Uolo-senpai akan bertarung melawanmu. Aku kemudian berfikir 'Bagaimana mungkin?', tapi berlari kesini bersama Celulute-senpai... Tapi, seperti nya gak mustahil sama sekali."

"Ahh, yah... begitulah."

Aku mengangguk. Eugeo sepertinya ingin mengatakan sesuatu ketika mengambil nafas yang dalam, tapi setelah jeda beberapa detik, ia hanya menghela nafas.

"...Enggak, udah keajaiban bagi kamu udah gak membuat masalah apapun sampai sekarang, Kirito. Jadi, tunjukan semua masalah yang telah kamu kumpulkan selama setahun untuk yang satu ini."

"Seperti yang diharapkan darimu yang sudah sangat lama bersamaku, partner."

Aku secara tak sadar tertawa. Eugeo menepuk pundak ku, membuatku untuk melihat kearah lain.

Rina-senpai masih menatap Uolo-senpai dengan ekspresi yang galak, tapi bahkan Aku, yang sulit mengingat peraturan, tau kalau keluar dari jalan buntu ini mustahil.

Aku meninggalkan Eugeo dan pergi ke sisi Senpai, mengangguk dengan lembut ke mentor tercinta ku.

"Aku sangat minta maaf telah membuatmu khawatir, senpai. Tapi Aku baik-baik saja... Atau lebih tepatnya, Aku merasa beruntung bisa berhadapan melawan Uolo-senapi."

Aku berbisik selagi Aku menatap mata biru tua senpai, mencoba untuk membaca perasaannya. Aku ingin tau apa yang ia rasakan tentang valet nya yang akan berhadapan dengan lawan terbesarnya.

Namun— Aku tiba-tiba merasakan penyesalan akan tindakan ku. Aku hanya bisa melihat kekhawatiran jauh di mata senpai.

"Kirito... Bagaimana caramu untuk memenangkan sparing ini?"

Pertanyaan ini terlalu tiba-tiba, jadi Aku mengedip dan menjawab,

"Eh...? Kami menggunakan pedang sungguhan, jadi kupikir kami akan bertanding sampai terpojok..."

"Oh iya, Aku lupa menjelaskan."

Uolo menyela lalu menjelaskan dengan ekspresi tenang nya,

"Aku gak akan melakukan sparing dimana kita bertarung sampai satu sisi terpojok karena itu hanya akan menumpulkan serangan pedang ku. Ujian yang Akademi tentukan adalah sesuatu yang diluar kehendakku, tapi secara pribadi, Aku selalu menggunakan peraturan 'first strike' di pertarungan ku."

"Eh...? Kalau begitu, dengan kata lain..."

Kepala pendekar itu menunjukkan sedikit perubahan ekspresi yang mengejutkan ku. Ia terlihat seperti memamerkan... atau lebih tepatnya, memperlihatkan taring nya seperti karnivora.

"Tapi omong-omong, kita hanya bisa melakukan pertandingan first strike atas persetujuan dua pihak. Hal ini ditentukan oleh Taboo Index, jadi prioritas nya melebihi aturan hukuman dari pendekar elit... Aku membiarkan mu untuk memilih, Kirito."

Keributan yang diam-diam berdengung tiba-tiba mereda.

Tentu saja kamu harus memilih bertarung sampai satu sisi terpojok! Sepertinya Aku mendengar suara Eugeo, dan Aku gak perlu mendengar Rina-senpai berbicara untuk memberitau kalau sangat ceroboh untuk melaksanakan pertandingan first strike dengan pedang sungguhan, dan lawan nya adalah pria terkuat di Akademi.

Itulah yang Aku rasakan, tapi—

"Aku akan membiarkanmu memilih, Levanteinn-dono. Aku lah orang yang dihukum."

Namun, kata-kata itu seperti keluar dari mulutku secara otomatis.

Helaan nafas Eugeo yang murung bisa terdengar dari belakang, Rina-senpai menguatkan tinju nya keras-keras dan menahan helaan nafas nya. Dan juga, seseorang terasa menghela nafas di rambut ku, 'yare yare' — itulah yang kurasakan.


Nama 'Master Swords Academy Large Practice Field' mungkin terdengar menakjubkan, tapi kenyataan nya, itu hanyalah lapangan olahraga yang besar. Lantai putih di poles cerah, dan ada empat arena sparing berwarna hitam. Tempat duduk penonton dibangun disekeliling, kapasitas nya sampai 260— cukup untuk menampung seluruh murid dan guru pada saat acara terbesar di akademi, ujian ilmu pedang.

Aku berdiri di arena timur yang dipilih Uolo, dan melihat sudah ada 50 murid disekeliling. Berhubung sekarang hanya tepat sebelum jam malam untuk hari istirahat hari ini, sepertinya seluruh murid yang tinggal di Akademi semuanya kembali kesini. Ada sekitar tiga instruktur, dan yang mengejutkan adalah bahkan supervisor asrama murid pemuli Nyonya Azurika ada disana.

Dan juga, yang paling mengagetkan diantara para murid-murid yang menonton, adalah keberadaan dua bangsawan kelas atas yang menjengkelkan... Raios dan Wanbell. Mungkin mereka datang kembali dari mansion mereka lebih cepat dari biasanya. Mereka duduk di tempat duduk terdepan, menunjukkan nyengir yang keji saat melihat kesini. Kelihatannya wajah mereka mengatakan kalau mereka ingin melihatku dicincang oleh Uolo.

Saat Uolo membiarkan ku memilih, Aku mengatakan dengan terang-terangan kepadanya kalau 'Dia bisa menentukan peraturan nya', dan Aku gak menyesali nya... Atau lebih tepatnya, di situasi sekarang, Aku gak punya pilihan lain.

Tapi pada sisi lain, ada keraguan lain yang bersemayam di pikiran ku.

Haruskah Aku sparing melawan Uolo?

Aku ingin menantang pendekar pedang yang dibilang paling kuat di akademi ini. Aku gak bisa menggoyahkan pikiranku itu. Pada dasarnya, objektif ketiga saat Aku datang jauh-jauh dari Rulid yang berada di ujung utara ke Central Centoria ini adalah untuk tujuan kuno dalam bermain, yaitu keinginan untuk 'bertarung melawan lawan yang kuat'.

Tapi pada saat ini, di hati ku, ada permintaan yang jauh lebih kuat dibanding bertarung melawan Uolo.

Aku ingin membiarkan Rina-senpai menang melawan pria ini di pertarungan terakhir. Untuk membiarkan nya mengalahkan pria ini dan membebaskan nya dari keadaan terikat nya. Selama setahun Aku melayani nya, Aku gak pernah melihat senyuman tulus dari nya sebelum nya.

Selagi hatiku diganggu oleh pemikiran ini, Aku terus menatap Uolo, yang berdiri di sisi lain arena, memeriksa bilah yang tajam dari pedang tercinta nya—

“Kirito.”

Suara Rina-senpai datang dari belakang ku, membuatku berpaling kebelakang seperti terlempar.

Pendekar peringkat dua itu menatap tepat kearah ku dengan mata biru-laut nya, dan berbisik kepada ku dengan suara yang nyaris tak terdengar,

"Aku percaya akan kekuatan mu, Kirito. Aku mempercayai mu, jadi Aku akan mengatakan hal ini kepadamu. Keluarga Levanteinn yang mengajarkan ksatria Kerajaan mempunyai ajaran keluarga rahasia yang disebut 'Pedang meminum darah dari yang kuat. Kekuatan akan menjadi milikku'."

"...Darah, huh?"

Senpai mengangguk balik kepada ku yang berbisik.

"Ya. Uolo mungkin telah melakukan pertandingan first strike yang cukup banyak di tanah pribadi nya sebelum dia masuk Akademi. Pengalaman itu mungkin menciptakan pedangnya yang kuat dan menakutkan itu. Dan saat ini, dia... ingin mengubah kekuatan dari pedang mu itu menjadi darah segar dan menyerapnya seperti makanan."

Kata-kata itu sulit dimengerti dengan langsung, tapi Aku mengubah nya ke pemahaman yang Aku sudah familiar di otak ku, dan segera menjawab "Oh begitu" dan mengangguk.

Itu semua karena «Imagine Power». Seperti hal nya bagaimana pendekar pedang dari keluarga Celulute dikekang oleh pemikiran kalau 'Celulute-style adalah style rendahan karena mereka terlarang untuk mewariskan sword style tradisional', generasi keluarga Levanteinn mempunyai imajinasi dari 'Semakin pedang diwarnai oleh darah dari lawan yang kuat, semakin kuatlah mereka', dan hal ini memberikan Uolo kekuatan kepada pedang nya.

Kemungkinan besar, pria itu melihat tebasan dari serangan beruntun milikku di ruang kosong di hutam itu dan pedang hitam dengan prioritas tinggi dan menganggap ku sebagai lawan yang berharga untuk pedang nya diwarnai oleh darahku. Itu terdengar terhormat, tapi faktanya, itu gak jauh beda dari 'mangsa berkualitas tinggi'.

Dengan kata lain, kalau Aku mendapat serangan di sparing ini dan berdarah, imajinasi Uolo akan bertambah kuat, dan jujur saja, kemungkinan hal itu akan terjadi sangat tinggi.

Aku gak boleh membiarkan diriku menolong musuh sebelum pertarungan terakhir Rina-senpai. Pada saat ini, Aku harus menarik kembali kata-kata ku dan mengganti aturan menjadi pertandingan sampai terpojok... saat Aku berfikir tentang ini.

Senpai menepuk pundakku yang merunduk tanpa sadar dan berkata,

"Tapi Aku akan mengatakan ini lagi. Aku mempercayaimu. Aku percaya kalau kamu bukanlah pendekar yang akan menerima gerakan pria itu dengan mudah... Kamu enggak lupa tentang hal yang kamu janjikan hari ini, kan?"

"Yang Aku janjikan...?"

Aku mengulangnya, dan mengangguk dengan keras,

"Ya. Aku berjanji padamu kalau Aku akan memperlihatkan mu segalanya, senpai."

"Oke. Kondisinya memang agak berbeda sekarang, tapi tunjukan saja disini, Kirito. Keluarkan seluruh kekuatan dan skill yang kamu punya dan kalahkan Uolo Levanteinn."

Saat Aku mendengar kata-kata itu, Aku merasakan seluruh keraguan dalam diriku lenyap.

Keraguan ku akan mengabaikan senpai dan melawan Uolo, dan ketakutanku akan membuat musuh menjadi lebih kuat setelah kekalahan ku, itu semua hanyalah alasan terburuk yang hanya dipikirkan oleh pecundang. Aku hampir memberikan kekacauan itu kepada senpai yang kuhormati sebagai hadiah. Sekali Aku menggenggam pedang, Aku hanya perlu memfokuskan seluruh jiwaku kedalam nya dan mengayunnya dengan semua yang kupunya. Aku mungkin datang sampai kesini dengan menggunakan hal itu sebagai filosofi nomor 1 ku.

Aku tersenyum kepada senpai, mengangguk, dan menengokkan kepalaku ke kanan. Aku bertukar tatapan dengan Eugeo, yang sepertinya menyenderkan tubuhnya di pegangan tangga bangku penonton. Aku menyengir kearah nya, dan ia memberikan ku ekspresi khawatir yang biasanya sambil menaikkan kepalan tinju nya kearah ku.

Aku menjawab dengan tindakan yang sama, dan berpaling ke Rina-senpai lagi.

"Aku akan memenuhi janjiku."

Aku hanya mengatakan kata-kata ini, dan senpai mengangguk tanpa berkata apa-apa sebelum melangkah pergi. Suara yang mantap kemudian datang dari sisi lain arena, sepertinya menunggu untuk momen ini.

"Sepertinya kau sudah selesai, Murid Pemula Kirito."

Aku pelan-pelan berbalik arah, berjalan kearah ujung dari arena hitam, dan menjawab "Ya". Uolo dan Aku kemudian memberikan salam ksatria yang simpel dengan menaruh kepalan tangan kanan ke dada kiri. Berhubung ini bukan kontes sparing resmi, gak ada instruktur yang menjadi wasit. Namun, Aku gak merasa ragu sama sekali tentang kondisi kemenangan. Yang pertama terpukul pedang lawan dan berdarah akan kalah.

Aku mengambil langkah kedepan dan melangkah keatas arena. 2 langkah, 3 langkah, setelah Aku mengambil 4 langkah, Aku berdiri di garis mulai yang ditandakan dengan warna putih.

Kami menarik pedang kami, lawan ku menarik dari pinggang kiri nya, dan Aku dari punggung. Aku melihat pedang Uolo yang gagang nya berwarna emas dan bilah berwarna besi yang telah ditempa, dan murid-murid disekeliling mengeluarkan teriakan kagum "Ohh". Setelah melihat pedang ku, kata-kata itu menjadi gumaman ragu. Gak ada yang pernah melihat pedang sungguhan dengan gagang dan bilah berwarna hitam.

"Oh astaga, astaga. Berfikir bahwa orang desa akan mempunyai pedang khusus yang diwarnai dengan tinta hitam, Raios-dono!"

Wanbell, yang duduk di bangku penonton, berpura-pura berbisik selagi ia mengucapkan nya dengan suara yang lantang yang cukup untuk bisa didengar semua orang.

"Jangan bilang begitu, Wanbell. Valet-dono ini gak punya waktu untuk memoles pedang nya."

Rainos namun berkata dengan kata-kata sarkasme nya yang biasanya, menyebabkan para murid bangsawan disekeliling menjadi terhibur.

Namun, sekejap saat Uolo mulai mengayun pedang nya, atmosfir disekeliling menjadi diam. Mungkin itu karena respek yang mereka punya terhadap kepala pendekar, tapi Aku menebak kalau mereka merasakan tekanan yang kuat dari postur nya itu.

—Sebesar itu kah perbedaan antara pedang kayu dan pedang sungguhan?

Aku bergumam dalam hati.

Sebagai valet Rina-senpai, Aku telah menyaksikan gerakan yang Uolo Levanteinn gunakan pada tiga ujian yang dilaksanakan di arena— Northlangarth style «Avalanche», beberapa kali. Namun, tekanan yang kurasakan benar-benar berbeda saat lawan menggunakan pedang sungguhan daripada pedang kayu, dan lawan nya saat ini adalah Uolo.

Uolo yang berambut pirang dan pendek, yang sedikit lebih kurus daripada ku, mempunyai kesan pilgrim. Namun, Aku akhir mengerti pada saat ini kalau itu adalah kesalahan yang serius. Saat ini, mata biru-baja nya itu memiliki suatu bentuk cahaya tersembunyi didalam nya, cahaya dari seorang pendekar pedang pengamuk yang hanya ingin menggunakan pedang besi nya untuk merobek tubuh lawan.

Di dunia game ini, pedang Uolo bisa diklasifikasikan sebagai «Bastard Sword». Uolo menggunakan kedua tangan untuk mengangkat gagang dan bilah pedang yang agak panjang. Bilah nya terasa seperti dikelilingi oleh api membara dari matahari, dan itu bukanlah ilusi. Itu adalah prioritas dari pedang dan 'kekuatan' yang dihasilkan dari kekuatan imajinasi pemilik nya yang menyebabkan ruangan ini bergetar.

*Zun*. Suara gemuruh yang berat terbebaskan, dan kepala pendekar itu telah menyelesaikan postur diatas kepalanya.

Sekali ia menarik pedang nya jauh kebelakang, «Heavens and Mountains Break»... yang bisa juga disebut serangan menusuk dua-tangan «Avalanche», akan teraktifkan.

Ini seperti waktu dulu sekali, tapi terasa seperti baru kemarin saat Aku menghabiskan waktu ku di kastil melayang Aincrad. Aku melakukan banyak pertarungan, termasuk pertandingan satu lawan satu. Salah satu dari pengguna pedang dua-tangan yang memberi kesan terbesar pada diriku adalah seseorang dari guild «Knights of Blood», pengawal dari wakil ketua Asuna, pria bernama Kuradeel.

Aku, yang ditantang duel oleh nya, membaca serangan pertama nya «Avalanche» dan menggunakan serangan tusukan yang mirip, «Sonic Leap» untuk mengincar sisi senjata dan berhasil mencapai tujuan ku untuk menghancurkan senjata nya dengan skill Arms Blast.

Memori ini muncul lagi, membuat ku tiba-tiba mempertimbangkan apakah Aku harus menggunakan taktik yang sama seperti yang dulu atau tidak. Namun, Aku dengan cepat membuang ide ini. Jangan kan menghancurkan pedang Uolo, Aku mungkin akan berakhir menghancurkan pedangku sendiri— pedang ku pasti akan dimentalkan, dan Aku akan ditebas oleh nya di pundak.

Bentuk original dari «Heavens and Mountains Break» adalah «Avalanche», tapi gerakan yang Uolo lakukan benar-benar berbeda dengan Kuradeel dari sisi kecepatan dan kekuatan. Ia mempunya kepercayaan yang tinggi kepada kekuatan serangan nya, membuat pedang nya bertambah kuat karena nya. Kalau Aku gak bisa menemukan imajinasi yang cukup kuat untuk menahan nya... Sebuah imajinasi menghancurkan organ dan tubuh sampai ujung pedang nya menembus ke sisi lain, Aku gak akan bisa berdiri sejajar dengan nya.

Sekarang bukan waktunya untuk menganggap hal ini sparing biasa. Aku harus menggunakan serangan-beruntun.

Jadi Aku memikirkan gerakan yang mempunyai skill level paling tinggi yang dapat kulakukan sampai sekarang— 4-serangan-beruntun «Vertical Square». Skill ini memang membutuhkan kontrol tingkat tinggi, tapi Aku harus nya bisa menggunakan serangan pertama, kedua, dan ketiga untuk meniadakan Avalanche lawan dan balas menyerang dengan yang keempat untuk menang.

Aku mengangkat pedang di tangan kanan ku, menghadap wajah Uolo, dan menunjukkan postur yang kokoh. Saat menggunakan sword skill untuk melawan sword skill yang lain, timing sangatlah penting. Aku harus menggunakan sword skill ku sementara menepatkan timing aktivasi sword skill lawan. Dengan kata lain, Aku harus 'aktivasi belakangan, serang duluan'.

Ujung pedang hitam yang bergerak melengkung pelan-pelan ke puncak dari lingkarang yang tergambar dan mulai sedikit memiring. Pada saat itu,

“...HAA!!”

Uolo mulai melakukan tindakan sambil mengeluarkan raungan yang menggetarkan tulang.

Bilah dari broadsword dikelilingi oleh cahaya emas kemerahan. Tebasan dua-tangan dari atas kepala yang menghancurkan «Cyclone» milik Rina-senpai tiga kali itu terlihat seperti nyala api yang semakin mendekat.

Pada saat ini, tubuhku mulai bergerak. Aku melangkah dengan kuat untuk mengaktifkan «Vertical Square» dengan waktu persiapan minimum, dan tebasan pertamaku berakselerasi mengeluarkan tusukan yang terbang selagi bergerak maju.

*KIINN!!* Selagi suara keras logam berbunyi, tubrukan kuat terasa di tangan kanan ku. Serangan pertama ku dalam sekejap dijatuhkan dengan muda. Murid-murid dan instruktur di sekeliling mungkin berfikir kalau gerakan ku barusan adalah teknik rahasia Norlangarth «Lighting Strike», skill satu tebasan «Vertical». Kalau memang begitu, pemenang nya sudah ditentukan sekarang. Namun, pertunjukan sebenarnya dimulai sekarang.

Meskipun Aku bertubrukan dengan gerakan musuh, kalau postur ku enggak goyah, sword skill yang aktif akan dilanjutkan. Serangan kedua dari Vertical Square adalah menebas ke kanan atas dari bawah. Sword skill ku belum berakhir.

“ZAA!!”

Aku membelokkan seluruh tubuh ku ke kiri, dan mengayun pedang ku keatas dengan tajam. Suara tubrukan terdengar kembali. Cahaya biru yang menyelimuti pedang ku bercampur dengan cahaya oranye milik pedang Uolo, membentuk cahaya putih yang menyilaukan yang menerangi arena latihan yang agak gelap.

Kali ini, pedang ku terpantulkan lagi. Namun, Avalanche lawan juga melambat. Aku menggertakkan gigi ku dan segera mengeluarkan serangan ketiga, tebasan vertikal kebawah.

*GAGIINN!!* Suara yang jauh lebih keras dari sebelum nya berbunyi saat kedua pedang beradu.

Ternyata benar, serangan ketiga ku gak cukup untuk mementalkan pedang Uolo, tapi gerakan Uolo terhenti.

Kalau Aku bisa menekan nya sekarang, Avalanche akan terhenti, tapi Aku masih punya serangan terakhir dari 4 serangan ku.

“U...ohhh!!!”

“Nu...nn!!”

Uolo dan Aku mengerang bersamaan, mati-matian untuk menangkis masing-masing pedang lawan.

Pada saat ini, kekuatan serangan dari sword skill ku dan bantuan sistem atau apapun itu tak berarti. Ini sudah menjadi imajinasi vs imajinasi, pertarungan tekad. Kedua pedang yang bertabrakan mengeluarkan cahaya putih terang dari perpotongan nya, mengeluarkan kilatan kecil yang terang. Lantai dari arena ini mengeluarkan suara berderik, menahan tekanan yang sangat besar dari duel kami.

Kalau ada seseorang mengamati main memory installasi dari seluruh UnderWorld pada saat ini, ia akan melihat kalau ada cahaya putih yang terang di medium quantum. Fluctlight kami mengeluarkan sinyal, mati-matian mencoba menghancurkan satu sama lain untuk menang. Lawan ku sudah kehilangan ketenangan nya dan di wajah nya, dahi nya sudah mengerut dan bibir nya sudah melengkung. Wajah ku mungkin juga mengeluarkan ekspresi yang sama.

This situation remained for 2, 3, 4 seconds— at that moment. Pada saat itu Situasi ini bertahan selama 2, 3, 4 detik—

Aku melihat sesuatu yang tak terduga.

Disamping dan dibelakang pendekar elit Uolo Levanteinn, Aku melihat samar-samar lebih dari 5 sosok yang mirip, tapi jelas berbeda dengan nya.

Yang bisa kulihat adalah tubuh transparan yang memegang pedang dengan postir yang sama dengan Uolo, tapi instingku mengatakan kalau pendekar itu pasti adalah pemimpin keluarga Levanteinn dari generasi sebelum nya yang mewariskan julukan instruktur Imperial Knight turun temurun keluarga nya.

Dengan kata lain, ini adalah Uolo yang hanya seorang murid tanggung menjadi pemimpin keluarga... Atau lebih tepatnya, yang ia dipaksa untuk menanggung nya. Sumber sebenarnya dari kekuatan yang tersembunyi dalam tebasan Uolo.

—Aku... gak boleh kalah disini!!

Aku sepertinya mendengar raungan ini. Pada saat selanjut nya, kekuatan yang jauh lebih berat dan tekanan yang lebih mendesak dari sebelum nya menyerang bahu ku.

Broadsword yang diselimuti cahaya oranye seperti api mendorong pedang hitam ditangan ku ini, terlihat seperti mencoba menghancurkan nya. Aku mati-matian mencoba untuk bertahan, tapi kaki-ku pelan-pelan terdorong kebelakang.

Kalau Aku terdorong sampai 10... enggak, 5cm, sword skill ku akan terhentikan dengan paksa. Pada saat itu, pedang ku akan dipentalkan, dan tubuh ku akan tertebas dengan keras.

380 tahun.

Kata-kata itu tiba-tiba muncul di benak ku.

Sejumlah waktu ini telah lewat sejak UnderWorld tercipta. Meskipun dilindungi oleh hukum absolut, meskipun dunia ini menjadi dunia yang gak ada pertarungan sebenarnya, pendekar pedang yang lahir disini terus menerus menurunkan sword skill yang mereka tempa untuk generasi selanjutnya selama sejarah ratausan tahun ini. Hasil nya sudah jauh melampaui konsep «skill serangan game VRMMO».

*Zuu*. Kaki kanan ku terdorong kebelakang lagi, dan cahaya yang menyelimuti pedang hitam ku mulai bergetar dan berkelap kelip.

—Namun.

Aku pastinya bukan bertarung hanya untuk menambah exp atau semacam nya.

Demi teman baik ku yang pertama kali kutemui, yang melampaikan tangan hangat nya kepada ku, Eugeo. Demi Rina-senpai, yang dengan lembut dan juga galak membimbing ku dan mengajari ku berbagai hal, dan demi orang-orang di dunia nyata yang menunggu ku untuk kembali, Asuna, Suguha, Klein, Liz, Sinon, Agil, Silca dan banyak lain nya.

"Aku juga... GAK BOLEH KALAH DISINI...!!!"

Yang membalas raungan respon ku bukanlah sebuah suara—

*DOKUN!* Pedang di tangan kanan ku bergemetar.

Cahaya emas muncul di tengah-tengah cahaya biru yang hampir menghilang. Cahaya itu terus berlipat ganda, akhirnya memenuhi seluruh pedang. Sementara fenomena ini terjadi, sekeliling tiba-tiba menjadi lebih gelap secara drastis, tapi Aku sepertinya gak menyadari hal ini.

Itu karena sesuatu yang lebih aneh sedang terjadi pada pedang ku sendiri.

*KIN*, *KIN*. Pedang ku pelan-pelan berkembang. Diselimuti oleh efek cahaya yang kuat, hanya Uolo dan Aku yang bisa melihat kalau pedang ku hanya berkembang beberapa centimeter. Namun, hal itu sudah jelas dan pasti bukanlah sebuah ilusi.

Bilah pedang, dan bahkan gagang nya sedikit bertambah panjang. Aku menjulurkan tangan kiri ku, seperti dibimbing, dan menggunakan kedua tangan untuk menggenggam gagang pedang berwarna hitam.

Kalau ini adalah Aincrad, ini akan menjadi equipment yang irregular, dan sword skill akan berakhir dengan paksa. Tapi pada saat ini, cahaya biru dari Vertical Square yang hampir musnah sekali lagi memperoleh cahaya nya saat tangan kiriku menggenggam nya, menyatu dengan cahaya emas didalam pedang, dan sepertinya berputar seperti pusaran air.

Aku melihat kekuatan liar yang keluar dari pedang hitam di tangan ku, dan untuk suatu alasan, mengingat bentuk asli nya... Aku mengingat «Gigas Cedar». Gigas Cedar yang menjulang tinggi ditengah-tengah hutan utara dari Rulid, Aku mengingat bagaimana pohon itu menyerap sejumlah besar dari sumberdaya dari bumi dan matahari, pohon raksasa hitam pekat yang gak pernah tumbang selama lebih dari 300 tahun.

...Memori... pedang.

Kata-kata itu bangkit lagi di telingaku, dan segera ditutupi dengan raungan ku.

“O...OOOOOOOHHHH!!!”

Aku mengeluarkan seluruh kekuatan dan tekad ku yang tersisa, dan mengangkat kaki kanan ku—maju.

*ZUN*. Pada saat kaki kanan ku mendarat di lantai, intensitas dari energi yang disebabkan oleh bentrokan antara dua pedang melewati batas dan meledak.

Hal itu disebabkan oleh sihir Sacred Art level tinggi yang mudah terbakar, melempar Uolo dan aku sementara kami gak bisa menahan nya. Namun, kami berdua menolak untuk mundur dan lanjut untuk menatap kedepan dan menguatkan kaki kami. Sol yang sudah keras bergesekan dengan lantai arena, dan bau dari asap tercium. Kami menyeret dua garis tanda terbakar dan Uolo dan Aku berhenti tepat di tepi arena.

Kedua sisi pedang nya terpentalkan dengan keras. «Avalanche» milik Uolo berakhir dan cahaya oranye nya pelan-pelan menghilang.

Namun— «Vertical Square» ku masih terus aktif dengan kedua tangan ku menggenggam pedang.

“SEIAAAAHHH!!”

Aku mengeluarkan momentum ku, melangkah kebelakang dan mengeluarkan serangan terakhir dengan melepaskan tebasan dari atas kepala. Pedang ku melancarkan garis biru terang... tepat kearah dada Uolo yang tak terlindungi.

*Chuu*. Pelan-pelan merayap, dan berhenti tepat didepan ubin lantai yang rusak. Vertucal Square bukanlah serangan menyergap. Aku berusaha semampuku untuk melebarkan jarak serangan nya, tapi itu belum cukup untuk mencapai seluruh arena.

Uolo dan Aku menatap satu sama lain dari jarak dekat... Pada saat itu, suara yang tajam berbunyi.

"SUDAH CUKUP!!"

Aku secara insting melompat kebelakang, melebarkan jarak ku dan menurunkan pedang ku. Uolo melakukan hal yang sama di sisi lain dan merelakskan mode bertarung nya.

Sword Art Online Vol 10 - 308.jpg

Menyadari hal ini, Aku melihat kearah sumber dari suara itu dengan ragu-ragu, bertanya-tanya siapa yang berani-berani nya mengganggu sparing kepala pendekar yang gak punya wasit ini. Lalu, Aku kaget tak bisa berkata apa-apa saat Aku melihat Nyonya Azurika, si supervisor asrama murid pemula.

Kenapa dia, seorang supervisor asrama dan bukan seorang instruktur, membuat keputusan yang seperti wasit itu? Dan kenapa Uolo mendengarkan nya dengan patuh?

Aku menatap kosong sementara dua keraguan ini mengelilingi ku. Pada saat ini, kepala pendekar yang menurunkan pedang nya berisik pada ku dari kiri,

"Keputusan nyonya itu harus ditaati."

"...Eh, anu... Kenapa begitu?"

"Karena wanita itu adalah perwakilan pendekar pertama dari Kerajaan Norlangarth pada saat turnamen Persatuan Empat Kerajaan 7 tahun yang lalu."

EHH—!?

Uolo Levanteinn kembali menghadap ku, dengan mata ku yang nyaris keluar, dan mengagguk dengan ekspresi pilgrim, bukannya dengan ekspresi pendekar pengamuk yang seperti sebelum nya.

"Hukuman untuk mu telah berakhir, murid pemula Kirito. Harap berhati-hati untuk tidak menodai baju orang lain dengan kotoran lagi."

Setelah mengatakan itu, Uolo menyarungkan pedang nya kembali ke pinggang kiri dan berbalik.

Seragam putih dan biru itu dengan santai melewati seluruh arena, dan pada saat ia menghilang keluar dari pintu keluar—

"UWAAHHH!!" Tepuk tangan yang amat meriah menghujani seluruh lapangan latihan yang besar ini. Terkejut, Aku melihat ke sekeliling, dan melihat hampir 100 murid dan bahkan guru-guru di bangku penonton bertepuk tangan. Di barisan terdepan, berdiri tepat disamping supervisor asrama Azurika, yang bertepuk tangan dengan ekspresi serius yang biasanya, adalah partner ku yang mengeluarkan air mata— Eugeo, bertepuk tangan. Aku mengangkat kepalan tinju kiri ku kepadanya dengan lembut. Disebelah nya adalah tubuh besar mentor nya, Gorgolosso-senpai yang muncul tanpa kusadari.

Akhirnya, Aku menatap pedang yang ada di tangan kanan ku, mengecek apakah pedangku kembali ke ukuran yang semula, dan menyarung kan nya dengan bunyi chiin— sesaat.

*BOSSN!*

Bahu ku dipukul dengan keras, membuatku melompat sedikit. Tangan putih mulus secara sembrono membalikkan badan ku, dan Aku melihat Solterina-senpai memberikan tangisan yang lebih parah daripada Eugeo.

"...Kupikir tadi kau akan ditebas."

Aku mendengar nya dengan suara yang mungkin hanya Aku yang bisa dengar, dan mengangguk.

"Iya... Kupikir juga begitu."

"...Kamu tau itu dan tetap gak menyerah...... Kamu, dasar bodoh."

Senpai menutup matanya, dan bulu matanya mengejang sedikit. Namun, kelihatan nya ia akhirnya bisa menghentikan tangisan nya dan kemudian ia mengambil nafas yang dalam dan membuka lebar matanya. Mata biru-laut nya memiliki cahaya lembut yang gak pernah kulihat sebelumnya.

"Tadi itu benar-benar indah... Benar-benar pertandingan yang seru, Kirito. Izinkan Aku untuk berterimakasih. Sayang sekali Aku gak bisa melakukan nya... Tapi, kamu telah menunjukkan pertarungan dengan seluruh kekuatan mu seperti yang telah kamu janjikan... Terima kasih."

"Eh... Tapi, hasil nya seri..."

"Apa kau masih gak senang hasilnya seri, meskipun lawan nya adalah Levanteinn itu?"

"Bu-Bukan, bukannya begitu."

Melihat kepala ku yang menggeleng seperti gelombang, senpai mengeluarkan tertawa genit yang sangat jarang terlihat, mendekatkan bibir nya ke telinga ku dan berbisik.

"Ini bukan masalah menang atau kalah. Performa mu di pertandingan tadi menunjukkan sesuatu yang penting... Sesuatu yang sangat penting. Aku merasa sangat bangga menjadi pewaris Celulute-style... dan senang... karena bisa menjadi mentor mu juga."

*Pon*. Rina-senpai menepuk bahu ku, menegakkan tubuh nya, dan berkata dengan beberapa bekas senyuman di bibir nya,

"Masih ada waktu sampai jam malam tiba. Bagaimana kalau kamu datang ke kamar ku untuk merayakan nya? Kamu bisa mengajak Eugeo-kun juga... Untuk mentor nya, yah, Aku akan mengizinkan nya juga."

Mendengar perkataan senpai, Aku nyengir dan mengangguk. Aku berbalik, mengangkat tangan ku kearah Eugeo, dan menunjuk kearah pintu keluar. Aku melihat nya dan Gorgolosso-senpai berjalan kesana, dan Aku berjalan bersebelahan dengan Rina-senpai keluar dari arena yang masih penuh semangat ini.

Kali ini, yang 70% ada dipikiran ku bukanlah red wine milik senpai yang ia sembunyikan, bukan tentang penjelasan penuh hasrat tentang sejarah sword skill dari Gorgolosso-senpai—

...Aku bisa saja menyerah saat sparing hukuman itu berlangsung!!!

Tapi hal itu.

Dari tepi mata ku, Aku bisa melihat Raios dan Wanbell memberikan pandangan yang aneh kearah sini, tapi Aku gak ambil repot dan mengacuhkan mereka.


Bagian 6[edit]

Di kastil melayang Aincrad yang pernah tercipta, ada minuman beralkohol yang seperti red wine dan bir.

Tapi berbicara secara logika, meskipun Aku meneguk satu tong besar penuh alkohol kuat, mustahil bagiku untuk mabuk. Itu karena tubuh fisik yang berbaring di dunia nyata gak meneguk setetespun alkohol.

Disini, yang paling mengagetkan adalah di dunia ini, alkohol adalah benda asli— Dengan kata lain, Aku akan mabuk kalau Aku meminum nya. Teori dibalik ini kemungkinan besar karena Fluctlight memiliki sinyal «Kondisi mabuk» dan membisikkan nya. Namun, seperti nya pendesain yang mendesain dunia tak kenal ampun itu memiliki sedikit kesadaran meskipun mabuk, itu adalah 'kondisi aktif dimana orang gak kehilangan pikiran nya'. Berhubung gak akan ada pemabuk yang akan membuat kerusuhan dan mulai berteriak, gak akan ada orang yang melanggar hukum karena sedang mabuk.

—Meskipun begitu, gak ada yang bisa menjamin apakah fitur protektif ini akan efektif terhadap ku, jadi Aku berhenti setelah meminum dua gelas anggur di 'perayaan' yang berlangsung di kamar Rina-senpai. Namun, senpai membuka rahasia yang sudah tersimpan selama lebih dari 100 tahun, membuat ku, seorang amatir kalau masalah anggur, menyerukan kalau ini adalah anggur yang bagus, jadi membutuhkan tekad yang banyak dariku agar bisa menahan diri menjaga rahasia ini.

Senpai, Eugeo, Golgosso-senpai dan Aku berkumpul dan mengobrol tentang kenangan selama setahun ini, prediksi kami untuk duel promosi/kelulusan, dan ajaran penuh hasrat tentang sword skill dan style. Waktu berjalan, dan sekarang sudah 15 menit sebelum jam malam asrama murid pemula.

Aku ogah-ogahan pergi dari asrama pendekar elit dan kembali ke asrama kami bersama Eugeo. Aku meninggalkan partner ku yang mabuk berat di kamar dan pergi ke pot bunga di sisi barat. Meskipun ini hari istirahat, Aku harus menyiram bunga Zephyria. Aku berjalan turun tangga dari lantai kedua dan membuka gerbang di asrama.

Saat Aku membaringkan Eugeo di kamar dan menaruh pedang hitam ku didekat lemari, jejak terakhir dari cahaya menghilang dari langit, dan diluar diselimuti oleh kegelapan malam.

Aku menutup mataku dengan lembut dan perlahan merasakan angin sepoi malam hari yang dingin dan harum Anemone— Sementara Aku melakukan nya, secara tak sadar Aku mengerutkan dahi. Ada bentuk aroma lain yang berbeda dari bunga-bunga yang kutanam, bau lengket seperti binatang tercampur sedikit. Dan juga, Aku mempunyai impresi terhadap bau ini. Itu adalah bau yang kucium saat makan malam terakhir... Tapi, ini adalah bau yang seharusnya gak ada.

Aku tiba-tiba membuka lebar mataku, memfokuskan pandangan ku ke jalanan yang membagi petak bunga menjadi dua sisi, dan dua sosok muncul di sisi lain dari kegelapan. Mereka mengenakan seragam abu-abu, seperti ku, seragam murid pemula. Namun, mereka gak mengenakan lebih dari 3 kancing didepan dada nya, sepertinya memamerkan kaos yang warnanya aneh yang ia kenakan didalam. Yang memakai kaos merah berkilau adalah Raios Antinos, dan yang memakai kaos berwarna kuning neon terang adalah Wanbell Jezeku.

Kenapa mereka, yang gak ditugaskan untuk menanam dan gak terlihat kalau mempunyai ketertarikan untuk menanam, ada di kebun... Ketika pikiran ini muncul di otak ku, sebuah firasat buruk mencapai ku. Aku, yang mengambil langkah kebelakang dari pintu tembok barat di asrama, gak bisa bergerak. Tepat didepan ku, Rainos dan Wanbell datang tepat kearah ku, dan kemudian berhenti 1m jauh nya dariku.

"Oh astaga, astaga. Benar-benar kebetulan sekali, Kirito."

Rainos menggunakan suara yang kasar... dan licik yang penuh niat buruk.

"Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Hal ini akan menghemat pekerjaan."

Wanbell, yang berdiri dibelakang, mengeluarkan kotekan yang penuh semangat, seperti memberikan melodi ke kata-kata itu. Aku menengok kembali ke Raios, dan dengan dingin berkata,

"...Apa yang kalian inginkan?"

Mendengar kata-kata dingin itu, wajah Wanbell menggeliat, tapi Raios mengayun tangan kanan nya untuk menghentikan nya dan menjawab pertanyaan ku.

"Tentu saja, Aku ingin memuji mu untuk pertandingan yang bagus tadi. Siapa yang menduga kalau seorang valet yang diberi kekangan bisa bertanding seimbang melawan Levanteinn-dono itu?"

"Oh astaga, astaga, itu benar. Sword skill yang seperti mainan itu benar-benar membuat chairman-dono kesulitan."

"Ku ku ku." Mereka berdua mengkotek bersamaan setelah mereka selesai. Aku merendahkan suaraku, dan berkata,

"Apa kalian memuji ku? Atau kalian ingin membuat ku menjual pertarungan untuk kalian?"

"Hahaha. Bagaimana mungkin? Bangsawan kelas atas gak akan pernah meminta orang desa untuk menjual apapun! Tentu saja, asrama tetap akan menjadi asrama!"

Setelah tertawa dengan riang untuk beberapa saat, tangan kiri Raios menggapai kantung seragam nya, dan mengeluarkan sesuatu yang tipis dan panjang.

"Untuk memuji aksi mu... permisi, untuk duel yang sangat berani mu tadi, izinkan Aku untuk memberikan ini. Kamu harus menerima nya."

Raios mengambil langkah kedepan dan menaruh sesuatu kedalam kantung dada di seragam ku.

"...Kalau begitu, kami pergi duluan. Mimpi indah, Kirito-dono."

Raios bergumam sedikit kepadaku dari jarak dekat sambil menyeringai. Ia menggelengkan rambut pirang nya dan melewati ku. Wanbell kemudian mengikuti nya dan memperlihatkan wajah nya kesini.

"Jangan terlalu belagak, anak desa tanpa nama keluarga."

Ia meninggalkan kata-kata itu dan mengikuti Raios.

*BAM!* Bahkan setelah mereka berdua berjalan ke pintu dan menutup nya dengan membanting, Aku gak bisa bergerak untuk sementara. Itu karena—

Yang Raios taruh di kantung ku adalah tunas bunga yang mempunyai daun yang hampir berwarna biru dan hampir mengeluarkan nya. Aku menggunakan tangan kanan ku yang dingin seperti es untuk mengeluarkan nya dari kantung ku dan menatap nya dengan hati-hati.

Batangnya yang lembut dengan kejam terputus, dan itu bukan salah satu dari «4 Sacred Flowers» yang tumbuh di petak bunga. Itu adalah bunga dari Kerajaan Barat, bunga Zephyria yang terus kurawat dengan susah payah gak peduli seberapa banyak Aku gagal selama setengah tahun ini.

Saat Aku menyadari hal ini, Aku menggertakkan gigiku dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan tunas itu. Kalau Aku memegang pedang sekarang, mungkin Aku sudah berlari ke asrama dan mencincang Raios dan Wanbell menjadi serpihan. Aku menggenggam kencang tunas bunga berwarna air di tangan kanan ku dan berlari kearah kebun. Aku berlari melewati persimpangan X dan ke gudang dekat tembok. Porselein putih yang tertanam diletakkan di sudut gudang memasuki mata ku.

“...Ah, ahhh....”

Tenggorokan ku mengeluarkan suara yang serak.

23 bibit Zephyria yang tumbuh dari benih yang kubeli dari pedagang rempa, benih yang biasanya tumbuh di negeri asing, dan hampir saja tumbuh— semuanya dengan kejam tersentak terbelah dua.

Kuncup bunga bundar hancur dan jatuh disekitar penanam, dan mereka kehilangan warna biru kehijauan yang unik itu. Batang yang tersisa di tanah merosot, dan sudah jelas, Life mereka berkurang drastis.

Ditengah-tengah bunga yang mati ini, senjata yang melakukan kekejaman ini menancap seperti batu nisan. Itu adalah sabit yang panjang dan miring yang digunakan untuk tanaman dengan buah yang bundar. Seseorang... Bukan, Raios dan Wanbell mengayunkan sabit ini dan dengan kejam menghancurkan bunga ini.

Kaki ku kehilangan seluruh kekuatan nya, dan Aku berlutut didepan pot itu dengan gedebuk.

Aku menatap kosong kearah bunga yang yang tersebar-sebar, berfikir dengan pikiran yang udah setengah mati.

Kenapa? Sementara Aku mengetahui motif dan cara nya dengan jelas, tapi kenapa mereka bisa melakukan sesuatu seperti ini? Dengan sengaja menghancurkan benda milik orang lain itu melanggar Taboo Index. Bahkan bangsawan kelas atas seharusnya gak bisa melanggar hukum absolut ini.

Di UnderWorld, hak kepemilikan dari seluruh barang ditentukan tanpa error. Aku tau hal itu setelah melakukan perjalanan. Saat membuka «window» ku yang unik, benda yang hak kepemilikan nya adalah milikku akan mempunyai tanda P kecil di pojok. Pada sisi lain, benda yang gak punya tanda P berarti bukan milikku, jadi mustahil bagi mereka untuk mencuri atau menghancurkan nya.

Memang benar kalau tanaman yang tumbuh ini bukan milik siapa-siapa, tapi kepemilikan pupuk, dan tanah adalah milik semuanya. Tanaman yang ditanam di tanah siapapun akan menjadi milik orang itu. Anemone yang tumbuh di petak bunga adalah milik Akademi. Dan juga, Kupikir bunga Zephyria yang ada di pot ini adalah barang personal milikku karena Aku membeli nya dari toko di distrik 6 dan menanam nya di pot didepan ku. Itu yang kupikirkan.

Pikiranku, yang bercampur aduk dengan amarah dan keputusasaan, berfikir sampai sini. Aku memikirkan sesuatu yang membuat ku melebarkan mataku.

Tanah. Tanah hitam yang ada di pot... gak digali dari tanah di Akademi ataupun dibeli dari toko. Itu dibawa dari tanah diluar Central, dari alam liar yang bukan milik siapa-siapa. Aku pernah mengatakan ini ke Miller dari komite tanaman dan yang lain. Raios dan kelompok nya tau hal ini dan memutuskan,

"Berhubung tanah ini dari alam liar yang bukan milik siapa-siapa, bunga ini berarti bukan milik siapa-siapa juga, kan?"

Kalau masalah nya seperti ini, kalau begitu, ini adalah kesalahan yang kubuat. Berhubung Aku meninggalkan nya di kebun bunga yang bisa diakses siapapun, Aku harusnya berhati-hati dan memikirkan tentang masalah kepemilikan.

Orang-orang di UnderWorld gak akan melanggar hukum. Tapi bukan berarti semua penduduk dunia ini ramah-ramah. Beberapa dari mereka adalah orang yang bahkan berfikir kalau 'apapun yang gak dilarang hukum berarti boleh dilakukan'.

Aku seharusnya menyadari hal ini semenjak turnamen di Zakkaria.

"...Maaf..."

Aku mengambil tunas bunga yang terpisah-pisah di lantai dengan tangan kanan ku dan mengumpulkan nya di tangan kiri. Namun, yang tadinya berwarna biru kehijauan sekarang berubah warna menjadi lebih abu-abu di tangan ku.

Saat Aku mengambil seluruh 23 batang dan tunas bunga, Life mereka berkurang menjadi 0. Tunas bunga membentuk partikel cahaya biru kehijauan yang seperti mimpi dan menghilang di udara.

Tanpa sadar air mata telah mengalir dari mata ku.

Aku memaksakan bibir ku untuk tersenyum, kelihatan seperti mencoba untuk mentertawakan diri sendiri karena telah membiarkan anak yang jahat merusak bunga ku. Namun, pipiku mati rasa. Air mata yang kuhasilkan akhirnya jatuh, dan genangan kecil mendarat di batu bata disamping ku.

Aku akhirnya mengerti apa yang kuharapkan saat menanam bunga Zephyria ini.

Alasan pertama membesarkan bunga ini adalah untuk mengetes kekuatan imajinasi di UnderWorld.

Alasan kedua... untuk mengabulkan permohonan Rina-senpai, yang pernah bilang kepadaku 'Aku ingin melihat bunga Zephyria yang asli sekali saja'.

Namun, ada alasan ketiga yang gak pernah Aku temukan sampai saat ini. Aku benar-benar mencoba untuk menggunakan bunga ini sebagai peninggalan ku dengan mati-matian mencoba untuk menumbuhkan bunga ini di negeri asing. Aku ingin membagi beban ku dengan bunga ini, kesepian dan beban... dari meninggalkan orang-orang yang kucintai di dunia nyata, tanpa tau kapan Aku akan kembali...

Air mata terus berjatuhan dan meluncur di pipi ku, menetes ke lantai.

Aku mati-matian menahan tangisan ku dan meringkuk, mencoba untuk menggunakan tangan ku untuk menghibur diriku sendiri di lantai.

Aku lagi-lagi mengingat suara itu.


—Terus dan Percaya.

—Terus dan Percaya akan kekuatan dari bunga yang akan tumbuh di negeri asing. Dan juga, percaya akan kekuatan mu sendiri karena telah menumbuhkan bunga itu sampai sekarang.

Aku mendengar suara yang tak dapat dijelaskan ini berkali-kali saat melakukan perjalanan panjang ku. Sepertinya suara perempuan, tapi itu bukan suara yang familiar dengan ku. Dan juga, itu bukanlah suara dari gadis muda yang kudengar di gua yang melewati Mountain Range of the Edge 2 tahun yang lalu. Suara ini tenang, bijaksana, lembut dan hangat...

"...Tapi, semuanya... sudah tiada."

Aku bergumam. Suara itu dengan tenang menjawab.

—Tidak masalah.

—Batang yang tumbuh di dunia ini masih mencoba sekuat tenaga untuk bertahan hidup. Dan...kamu merasakan nya. Seluruh Sacred Flower di petak bunga ini mencoba untuk menolong teman kecil mereka. Mereka ingin memberikan kekuatan Life nya. Kamu bisa mengabulkan permohonan ini ke batang Zephyria.

"...Aku gak bisa melakukan nya. Aku gak bisa menggunakan Sacred Arts level tinggi itu."

—Sihir hanyalah sebuah cara untuk menyusun pikiran dan membimbing «emosi»... Kekuatan imajinasi yang digunakan lewat mulut. Saat ini, sihir dan medium tidak diperlukan.

—Ayo, hapus air matamu dan berdiri. Pergi rasakan, rasakan doa dari bunga-bunga itu.

—Rasakan, hukum dari dunia ini...


Suara itu berakhir disini, seperti menghilang disuatu tempat di tengah-tengah langit malam.

Aku mengambil nafas yang dalam ke dadaku yang masih gemetar, mengeluarkan nya, menggunakan lengan seragam ku untuk mengelap air mata, menguatkan diri dan berdiri.

Aku pelan-pelan berbalik, dan pemandangan yang tak bisa dipercaya muncul tepat didepan ku. 4 Sacred Flower yang tumbuh di 4 bagian petak bunga... Anemone yang mekar, Marigold yang bahkan belum bertunas, Dahlia yang tumbuh batang kecil dan bahkan Cattleya yang bersembunyi dibawah tanah semuanya memberikan cahaya hijau di malam yang gelap.

Sacred Power. Sumber daya. Kata-kata itu semuanya gak berarti dihadapan cahaya yang hangat, stabil tapi sangat kuat.

Aku menjulurkan lengan ku ke 4 Sacred Flower itu,

"...Tolong, berikan Aku kekuatan... Life, berikan sebagian untuk ku."

Aku menggumam sedikit dan membayangkan. Aku membayangkan Sacred Flower memberikan Life, menggunakan diriku sebagai katalis dan mengalir ke sisa bunga Zephyria di pot ini.

Sangat banyak garis hijau yang berkelip muncul di petak bunga. Mereka kemudian saling mendekat dengan satu sama lain, menenun dengan satu sama lain, dan akhirnya menjadi ikatan tebal yang tak terhitung jumlah nya. Aku melambaika jariku, dan mereka menari di udara sebelum akhirnya bergerak ke satu titik.

Pada saat ini, Aku hanya perlu melihat mereka. Ikatan cahaya menyelimuti pot yang hanya disisakan batang yang layu, tampaknya menyelimutinya berkali-kali... dan tampaknya membentuk bunga besar saat mereka diserap oleh tanah dan menghilang.

Dan kemudian,

Ke 23 batang pelan-pelan tumbuh dalam kecepatan yang bisa dilahat mata telanjang.

Tunas bunga pelan-pelan berkembang, tampak nya menyebarkan daun-daun nya yang tajam seperti pedang, dan tampak dilindungi oleh nya.

Aku melihat pemandangan ini, dan untuk kedua kali nya mengeluarkan air mata.

Ini benar-benar... dunia yang tak dapat dijelaskan. Semuanya seharusnya hanyalah benda virtual, tapi itu mempunyai keindahan yang bahkan dunia nyata gak bisa menyaingi... kekuatan dari Life... dan dari tekad yang kuat.

"...Terima kasih."

Aku berterimakasih kepada 4 Sacred Flowers di petak bunga dan pemilik dari suara misterius itu. Aku merenung sementara, dan mengeluarkan emblem sekolah dari baju seragam ku yang menempel dengan pin. Aku menjulurkan tangan ku, menaruh nya di pojokan pot, dan tampaknya berseru: Ini adalah teritori-ku.

Saat Aku kembali ke kamar, Aku akan meminta maaf pada pedang hitam yang bersender di lemari... kepada cabang Gigas Cedar. Dan kemudian, Aku akan berterimakasih kepadanya karena telah menolongku saat duel melawan Uolo.

Selagi memikirkan hal ini, Aku terus menatap bunga Zephyria yang memulihkan Life nya. Bel 7.30pm berbunyi, dan Aku akhirnya berdiri dari petak bunga dan berjalan menuju asrama.

Aku tanpa sengaja menengokkan kepalaku tepat didepan pintu, dan segalanya, pagar batu yang mengelilingi petak bunga, bagian belakang dari atap arena latihan dan Centoria Cathedral milik Gereja Axiom yang kelihatan seperti memotong langit malam penuh bintang ini memasuki mataku. Cahaya oranye keluar dari banyak jendela seperti pencakar langit di dunia nyata, tapi itu jauh lebih tinggi dan lebih indah dibanding pencakar langit itu.

—Tiba-tiba, sebuah cahaya meninggalkan menara dari menara yang tinggi.

Bagaimana bisa? Aku menatap cahaya itu, tapi itu bukan kesalahan mataku atau ilusi. Buktinya titik cahaya itu terus bertambah terang nya dan mendekat di jalanan Centoria Utara. Cahaya itu kemudian mempertahankan ketinggian nya lalu pelan-pelan meluncur, identitas aslinya adalah...

"...Naga yang terbang!"

Aku gak mungkin salah sekarang. Itu adalah cahaya dari lampu besar di armor naga yang terbang di udara. Itu bukanlah sebuah cahaya sinyal atau peringatan, tapi lampu untuk membiarkan orang-orang di tanah menunjukkan ketakutan dan kekaguman nya. Yang mengendarai punggung naga itu adalah salah satu dari penegak hukum terkuat di dunia ini— seorang «Integrity Knight».

Naga besar itu membuka sayap nya, tampak nya meluncur melewati langit malam dan terbang ke timur laut. Kemungkinan besar sedang menjalankan tugas nya untuk melindungi dunia manusia dan terbang ke Mountain Range of the Edge. Eugeo dan Aku menghabiskan waktu setahun untuk melewati 750km itu, namun naga itu hanya memerlukan waktu sehari.

Cahaya dari lampu itu menghilang, Aku berbalik untuk menyaksikan kemegahan Cathedral. Integrity Knight itu mungkin terbang dari ¾ ketinggian nya. Mungkin ada tempat semacam bandara disana. Aku terus melihat keatas, dan lantai tertinggi nya bercampur dengan langit malam, jadi Aku gak bisa melihatnya. Seharusnya ada pintu yang terhubung dengan dunia nyata, yang kucari-cari.

Namun— Ada feeling yang lemah akan ingin pulang kerumah, bertambah besar hari demi hari. Apakah itu hanya imajinasi ku? Aku juga merasakan feeling ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia ini, berbeda dengan yang Aku inginkan. Apakah Aku terlalu banyak berfikir...?

Aku menghirup aroma bunga-bunga ini dan pelan-pelan menghembuskan nya. Aku berpaling dari Cathedral dan dengan halus mendorong gerbang besar tua untuk keluar.

Pada akhir bulan maret—

Pendekar elit peringkat dua Solterina Celulute mengalahkan pendekar elit peringkat satu Uolo Levanteinn saat pertandingan seleksi kelulusan yang terakhir, dan lulus sebagai murid top dari Norlangarth Master Swords Academy.

Saat ia pergi, Aku memberiakn nya pot yang berisi penuh dengan bunga Zephyria. Rina-senpai menunjukkan seyuman yang berseri-seri untuk pertama kalinya, ditemani dengan air mata.


Dua minggu setelah ia lulus, ia ikut serta dalam «Empire Swordsmanship Tournament» yang diselenggarakan di arena kerajaan, tapi dicocokkan melawan anggota dari Ksatria Norlangarth. Sayang sekali, setelah pertandingan yang sengit, ia kalah.


Referensi[edit]

  1. status dalam game
  2. kalau sulit membayangkan nya, lihat gambar ini : http://www.baka-tsuki.org/project/images/thumb/9/9c/Sword_Art_Online_Vol_11_-_008.jpg/402px-Sword_Art_Online_Vol_11_-_008.jpg
  3. inggris : sister; suster disini bukannya suster yang kerja di rumah sakit, tapi 'suster' yang suka ada di gereja katolik
  4. mata uang di Aincrad
  5. ٤ or 4.