Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 15

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 14 - Subtlizer[edit]

Bagian 1[edit]

Seorang sniper dengan rambut biru muda.

Sosok langsing dari gadis yang membentuk keserasian yang aneh dengan senapan besar dengan kaliber lima puluh.

Aku tidak dapat melihat wajahnya saat dia berbaring dalam posisi tiarap dengan punggungnya menghadap ke arahku, itu pasti meniru sebagai Lynx[1], menghiasi sosoknya dengan sangat indah.

Kosentrasinya layak menerima pujian, membidik ke bawah tanpa sedikitpun bergemetar, mata kanannya menekan pada scopenya dan jari telunjuknya menyentuh pada pelatuknya. Aku akan dengan senang hati terus menatapnya dari belakang untuk waktu yang sedikit lama, tapi aku hanya memiliki waktu yang tersisa sedikit juga.

Meninggalkan tempat persembunyianku, aku berjalan melewati lantai reruntuhan bangunan. Dengan hati-hati menghindari batu kecil, batang kayu, dan sisi metal itu, benda-benda kecil seperti itu tersebar di sekitar kakiku, aku mendekat pada punggung gadis itu dengan sangat tenang.

Punggung gadis itu tiba-tiba bergetar.

Apakah dia merasakan sesuatu yang entah membuat suara ataupun getaran? Intuisi itu sangat hebat, tapi sayangnya, itu sudah terlambat.

Tangan kananku yang terulur mencekik leher kurusnya saat tangan kiriku menekan kepalanya ke bawah dari belakang.

Itu mencekiknya dengan tenang namun dengan tujuan jelas.

Skill «Army Combative» menunjukkan hasilnya, hidup gadis itu–bar HPnya–mulai menurun dengan sangat cepat. Sniper itu menggeliat dengan susah payah, tapi ini adalah game VRMMO, «Gun Gale Online», itu hampir mustahil untuk melarikan diri dari serangan mencekik dari belakang yang sudah sukses. Tidak ada perbedaan dari dunia nyata, sayangnya.

Aku telah memprediksi bahwa sniper dengan rambut biru muda ini, yang aku paling nantikan untuk bertarung...Tidak, untuk memburunya diantara dua puluh sembilan peserta dari turnamen ini yang bernama «Bullet of Bullets», akan mencoba membidik sniperya dari atas gedung lantai lima.

Masalahnya adalah, jalan utama dari peta ini berada di dalam jangkauan baik dari lantai empat maupun lima. Aku perlu dengan cepat menentukan lantai berapa aku harus menyergapnya.

Secara logika, dia akan memilih lantai keempat dimana dia dapat mempersiapkan snipernya lebih cepat. Tetapi, intuisi dan penilaianku berbisik padaku pada saat aku melihat perpustakaan di lantai keempat. Intuisiku memberitahuku bahwa dia mungkin adalah siswa yang mungkin akan menghindari perpustakaan yang akan membawa ingatannya mengenai dunia nyata.

Prediksi itu tepat pada sasarannya. Sniper dengan rambut biru muda itu membuang sepuluh detik yang tidak dibutuhkan untuk naik satu lantai lagi dan memperlihatkan dirinya pada gudang di lantai lima.

Dan sekarang, hidup sementaranya akan menghilang seperti kupu-kupu yang menjadi terjebak pada jaring laba-laba.

Aah, jika ini tidak hanya pengurangan data biner pada dunia virtual, tapi kehilangan hidup dan jiwa yang sebenarnya.

Jika ini hanyalah merupakan tubuh yang hidup yang menggeliat di tanganku daripada avatar.

«Kejadian itu» akan benar-benar sangat manis.

HP sniper itu yang terlihat pada bagian atas kanan dari pandanganku berkurang hingga sampai lima persen. Tapi gadis itu terus berjuang dengan susah payah untuk melarikan diri dari cekikanku.

Bahkan sebagai musuhnya, aku merasa posisinya sangat berharga, mencoba yang terbaik meskipun kekalahannya sudah pasti, tidak mengeluarkan perkataan yang tidak berguna atau berubah menjadi lemas tidak berdaya.

Sementara memeluk gadis itu dengan erat, seperti kekasih yang dicintainya, mulutku mendekat pada telinganya dari belakang dan berbisik.


–Your soul will be so sweet.


Dia perlahan membuka kelopak matanya.

Itu kelihatannya dia telah tertidur tanpa sadar. Sofa yang dibuat di Italia yang dia beli minggu lalu kelihatannya terlalu lembut. Dengan tubuhnya masih terbungkus dengan selimut lembut, dia menatap pada jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya.

Siang hari, jam dua lewat dua puluh menit.

Berdiri, dia perlahan meluruskan punggunya sementara berjalan mendekat menuju dinding kaca yang berada di sisi selatan. Saat seluruh permukaannya adalah kaca yang dapat diputar dan sekarang dalam keadaan terbuka, itu memperlihatkan pemandangan indah tanpa henti dari tepi lain menuju ruangan eksekutif di lantai empat puluh tiga.

Pelabuhan itu dengan tenang bercahaya di bawah sinar dari gedung pencakar langit di sekitarnya. Tidak terhitung kapal besar sedang berlabuh di dermaga besar itu.

Bayangan menakutkan dengan bagian ujung tajamnya sama sekali bukan dari kapal pesiar yang mewah. Itu adalah kapal perang dari Armada Kapal Ketiga di bawah perintah Armada Pasifik Kapal Amerika Serikat.

San Diego, kota kedua California, sudah lama telah menjadi markasnya. Ekonomi berkumpul disekitar markas besar angkatan laut dimana lebih dari dua puluh lima ribu orang yang berhubungan dengan militer berada di dalamnya.

Tetapi, sektor industri terbaru mengalami ledakan dalam beberapa tahun belakangan ini. Industri berteknologi tinggi berhadapan dengan informasi, komunikasi, bio-technology, dan sesuatu seperti itu.

Dan terdapat beberapa perusahaan yang tergabung dalam permasalahan militer dengan teknologi canggih juga. Pada awalnya dipercayakan dengan tugas keamanan dan latihan oleh militer, perusahaan besar, dan sektor lainnya yang berhubungan, yang dapat dipanggil sebagai perusahaan militer pribadi bahkan mengerahkan kekuatan manusia untuk bertarung secara langsung di garis depan.

Gabriel Miller, kepala petugas teknologi dari «Sistem Pertahanan Glowgen» telah berada di kantor pusat di pusat kota San Diego, menatap ke bawah pada pemandangan malam dari pelabuhan dan memperlihatkan senyumannya tanpa sadar.

Mimpi yang dia lihat pada tidur singkatnya sebelumnya terasa menyejukkan, meskipun hanya sedikit.

Mimpi dari kejadian di dalam game full-dive yang dia ikuti beberapa hari yag lalu di ruangan eksekutif.

Gabriel sangat jarang bermimpi, tapi kapanpun dia bermimpi, itu akan menjadi pengulangan secara detail dari suatu kejadian di masa lalunya. Sensasi menggembirakan dari sniper berambut biru yang dengan susah payah berjuang masih tersisa di tangannya. Seolah-olah itu bukanlah mimpi, tapi kenyataan...

Tidak, itu sama sekali salah. Pertarungan itu tidak terjadi di dunia nyata, tapi di dunia virtual.

Teknologi Full-dive adalah penemuan yang sangat hebat. Kebanggaan untuk penciptanya, Akihiko Kayaba. Dia pasti akan terus dikejar jika dia masih hidup, bahkan jika itu membutuhkan miliaran dollar. Bahkan jika dia adalah kriminal terburuk di abad ini—tidak, pada dasarnya itu karena dia adalah orang seperti itu.

Tetapi, sementara pengalaman yang dibawa oleh AmuSphere menjadi meningkatkan kehidupan, kekurangan yang dapat dirasakan dari dunia nyata bahwa itu semua adalah palsu jauh lebih menguat. Seperti bagaimana seseorang yang haus tidak dapat dipuaskan dengan air laut, tidak peduli sebanyak apapun seseorang itu meminumnya.

Sebagai yang termuda diantara staff Glowgen DS dan pemegang saham terbesar, Gabriel menjalani hidupnya tanpa kekhawatiran terhadap kebutuhan yang dibutuhkannya. Tetapi, uang tidak dapat memenuhi keinginan yang dia miliki di dalam hatinya.

"...Your soul will be so sweet..."

Dia mengeluarkan perkataan yang diucapkan di dalam mimpinya sekali lagi.

Dia ingin untuk membisikkan kata-kata itu dalam Bahasa Jepang yang sudah dia pelajari semenjak tiga tahun lalu. Tapi mereka telah menganggap dia orang Amerika dengan tanda USA di bar HPnya dan dia ingin menghindari meninggalkan mereka kesan yang juah lebih kuat daripada yang dibutuhkan. Itu akan banyak kesempatan untuk mengucapkan bahasa itu pada akhirnya. Dia akan meninggalkan banyak pertanyaan pada saat itu.

Menyingkirkan senyuman samar-samar yang terlihat di mulutnya tanpa dia sadari, Gabriel menyentuh berbagai sensor sentuhan yang terpasang pada jendela dan meningkatkan tingkat kehitamnnya. Pada kaca jendela yang menghitam yang memantulkan bayangan dirinya.

Rambut pirang, ringannya terayun ke belakang, dengan mata birunya. Tubuhnya dengan tinggi 6 kaki, 1 inci yang ditutupi dengan pakaian kaos putih dan celana panjang berwarna abu-abu gelap. Sepatunya bermerk Cordovan, dibuat tangan. Itu hampir seperti bayangan dari sosok putihnya, itu cukup memalukan, namun Gabriel melihat tidak ada alasan lain untuk penampilannya sebagai cara untuk orang lain mengenalnya. Pada hari terakhir, daging ini tidak lebih dari tempat untuk jiwa.

Jiwa.

Hampir semua agama mengambil beberapa konsep mengenai jiwa. Tentu saja, umat Kristen mengambil konsep jiwa akan dikirim menuju surga atau neraka pada saat kematiannya berdasarkan perbuatan seseorang di dunia. Tetapi, itu bukan karena ajaran Protestan atau Katolik hingga Gabriel mempercayai keberadaan jiwa dan mencari hal tersebut.

Faktanya. Seseorang secara pribadi telah melihatnya, secara langsung.

Kumpulan cahaya, indah yang melebihi apapun yang dibandingkan dengannya, keluar dari dahi gadis itu pada saat dia menemui kematiannya di tangannya.

Gabriel Miller lahir di distrik Pacific Palisades di pinggiran kota Los Angeles, California, Maret, 1998.

Dia tidak memiliki saudara dan dia tumbuh dengan dipenuhi cinta dari orang tuanya yang kaya, baik secara emosi maupun kekayaan. Mansion tempat dia tinggal sangatlah luas dan tidak ada batas untuk tempat bermainnya, tapi apa yang paling disukai Gabriel muda adalah gudang peyimpanan koleksi ayahnya.

Ayahnya, pemilik dan manajer dari Glowgen Securities, pendahulu dari Sistem Pertahanan Glowgen, memiliki hobi mengumpulkan spesimen serangga dan gelas kaca berbaris di dalam gudang yang luas. Gabriel akan mengasingkan dirinya sendiri ketika dia memiliki waktu, melihat serangga dengan gelas yang hebat di tangan dan membenamkan dirinya sendiri pada imajinasinya secara tidak sadar saat dia duduk di sofa bagian tengah dari ruangan itu.

Rasa penasaran, emosi dalam itu menyerang Gabriel muda pada saat ketika dia berada seorang diri di ruangan gelap itu dengan langit-langit tingginya, dikelilingi oleh puluhan ribu dari serangga yang sudah mati itu.

Semua dari serangga itu pernah hidup sampai saat tertentu. Di padang rumput Afrika, padang pasir Asia Barat, hutan di Amerika Selatan, itu semua dengan bersemangat membuat sarang mereka dan mencari makanannya.

Tetapi, itu semua ditangkap oleh pemburu di suatu hari, ditangani dengan bahan kimia, dan berganti kepemilikan tidak terhitung jumlahnya melalui pelelangan sebelum dengan rapi ditata dalam gelas kaca oleh Miller. Dengan kata lain, sementara ruangan ini adalah ruangan koleksi dari spesimen serangga, itu juga adalah kuburan besar yang dipenuhi dengan puluhan ribu mayat pembantaian...

Gabriel menutup kelopak matanya dan membayangkan apa yang akan terjadi jika serangga di sekitarnya tiba-tiba menjadi hidup.

Keenam kakinya akan berusaha bergesekkan di udara, indera perasa dan sayapnya bergetar. Tidak terhitung gema saling bertabrakan dan mendekat menuju Gabriel sebagai gelombang keras.

Buzz, buzz.

Kelopak matanya dengan cepat terbuka. Kaki dari kumbang badak hijau di bagian ujung dari gelas kaca dihadapannya kelihatan bergerak, dia melompat dari sofanya. Dia berlari menuju gelas kaca itu, terpaku pada pandangannya, tapi serangga itu menjadi spesimen tidak bernyawa sekali lagi pada saat dia mencapai tempat itu.

Cangkangnya, dimana kaki dengan duri tajam keluar dari tempat di sekitar itu, dan matanya memiliki warna mata campuran yang menyerupai tautan kecil yang berwarna hijau permata dan sangat terang seperti metal. Gabriel berpikir apa sebenarnya yang pernah sekali memberikan kekuatan pada tubuh lemah itu, memberikan kemampuan untuk bergerak.

Ayahnya memberitahu dia bahwa serangga sama sekali tidak memiliki pemikiran yang dimiliki manusia. Dia bertanya, bagaimana itu dapat berpikir, dan ayahnya menunjukkan suatu video.

Itu menangkap belalang sembah yang sedang dalam masa perkawinan. Serangga jantan kecil itu menekan ke bawah serangga betina besar itu dari punggungnya, organ reproduksi mereka terhubung. Serangga betina itu terdiam untuk sesaat, namun dengan cepat menggenggam bagian atas serangga jantan itu dengan dua sabitnya, menghancurkan kepalanya, dan mulai memakannya tanpa ada peringatan sebelumnya. Serangga jantan itu terus bersikeras dalam perkawinannya bahkan saat Gabriel melihatnya dengan terkejut, akhirnya menarik organ reproduksinya pada saat kepalanya sepenuhnya tertelan. Serangga itu lalu mengangkat sabitnya dan melarikan pada saat itu juga, secepat yang itu bisa.

Meskipun sama sekali tidak memiliki kepala, belalang sembah jantan itu berjalan diantara daun tajam, naik menuju batang, dan secara mekanis melanjutkan pelariannya. Ayahnya berbicara sementara menunjuk pada potongan video itu.

Saraf yang tersebar pada seluruh tubuh dari serangga, termasuk belalang sembah, berperan dengan tujuan yang sama seperti otak. Karena itu, itu dapat hidup untuk beberapa saat bahkan setelah itu kehilangannya yang tidak lebih merupakan organ sensor.

Gabriel menghabiskan beberapa hari setelah dia melihat video itu sambil memikirkan dimana sebenarnya belalang sembah itu memiliki jiwanya. Jika itu dapat hidup bahkan dengan kepalanya dimakan, kehilangan semua kakinya seharusnya bukanlah masalah yang sangat besar. Maka mungkin di perutnya? Atau di dadanya? Tapi bahkan pada saat perutnya hancur atau dadanya tertusuk oleh peniti, serangga itu akan terus berjuang untuk beberapa saat, kakinya akan mengeliat secara terus menerus.

Jika itu tidak segera mati tidak peduli bagian mana dari tubuhnya yang hancur, mungkinkah jiwa dari belalang sembah itu secara samar-samar tersebar pada seluruh tubuhnya? Berumur delapan atau sembilan tahun pada saat itu, Gabriel menyimpulkan itu setelah tidak terhitung eksperimen yang dilakukan pada serangga yang dia tangkap di sekitar rumahnya.

Jiwa, kekuatan misterius yang menggerakkan makhluk yang dikenal sebagai serangga, bersikeras tetap berada di dalamnya tidak peduli bagian tubuh apapun yang dihancurkan. Tapi itu itu akan berpikir bahwa itu akan kehilangan tujuannya dan menyerah setelah beberapa saat, meninggalkan tubuhnya.

Gabriel dengan sungguh-sungguh berkeinginan untuk melihat jiwa yang terlepas itu, dan menangkap itu jika mungkin. Tetapi, dia bahkan tidak dapat melihat «sesuatu» yang keluar dari tubuh serangga, lupakan menangkapnya, tidak peduli bagaimana kerasnya dia menatap pada gelas indah itu, tidak peduli bagaimana hati-hatinya dia melakukan percobaannya. Keinginan jujurnya tidak menunjukkan hasil bahkan setelah menghabiskan banyak waktu dan kegiatannya di labolatorium rahasia yang dia buat di dalam hutan gelap di belakang mansionnya.

Gabriel muda secara insting mengetahui bahwa permintaannya tidak akan disetujui oleh orang tuanya. Itu adalah alasan kenapa dia tidak membuat pertanyaan lebih lanjut dengan cara yang sama kepada ayahnya setelah insiden belalang sembah itu. Tapi keinginannya kelihatannya menjadi lebih kuat dengan usahanya untuk menjaga itu agar tetap rahasia.

Gabriel memiliki teman yang berumur sama dengannya dan dia berteman sangat baik dengannya pada saat itu.

Gadis itu bernama Alicia Klingerman dan satu-satunya anak perempuan dari pengusaha yang hidup di mansion yang didirikan di bidang tanah yang berdekatan. Mereka masuk di sekolah dasar yang sama dan berteman dengan baik juga, seperti keluarga mereka. Dia adalah anak yang pemalu dan penurut, lebih menyukai membaca buku atau menonton video di rumah daripada bermain hingga berlumpuran dengan lumpur di luar rumah.

Normalnya, Gabriel menyembunyikan penelitian rahasianya dari Alicia dan tidak mengatakan apapun mengenai serangga dan jiwa.

Meskipun begitu, dia tidak dapat berhenti memikirkan tentang itu. Imajinasi Gabriel berpikir, dari waktu ke waktu, dimana sebenarnya jiwa Alicia berada saat dia perlahan menatap pada wajahnya dari sampingnya sementara dia tersenyum seperti malaikat, tenggelam pada membaca novelnya.

Serangga berbeda dari manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa kepala mereka. Karena itu, jiwa manusia seharusnya berada di kepala mereka...Di otak mereka.

Tapi Gabriel telah mempelajari bahwa luka di otak tidak berpengaruh secara langsung pada kehilangan hidup melalui internet di komputer ayahnya. Terdapat pekerja bangunan yang selamat dengan pipa besi tebal yang menusuk dari dahinya dan keluar dari kepalanya, terdapat doktor yang mencoba menyembuhkan penyakit mental dengan mengikis bagian dari otak pasiennya.

Jadi, apakah itu berada di suatu tempat di otak? Gabriel memikirkan itu pada saat dia melihat dahi Alicia, tertutupi oleh rambut pirang lembutnya. Jiwa Alicia tersembunyi dibalik kulit halus itu, dibalik tengkorak keras itu, dan bahkan dibalik jaringan lembut otak itu.

Dia pasti akan berakhir dengan menikahi Alicia, atau seperti itu yang Gabriel kecil bayangkan. Maka dia mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk melihat jiwa Alicia dengan matanya sendiri suatu saat nanti. Perkataan tidak mungkin mampu mendeskripsikan bagaimana indahnya jiwa dari Alicia yang baik itu.

Setengah dari permintaan Gabriel dikabulkan, lebih cepat daripada yang dia pernah duga.


Pada September 2008, kegagalan bank yang tersebar luas menjadi pemicu dari Krisis Keuangan Global.

Gelombang kemunduran ekonomi bahkan menyelimuti Pacific Palisades daerah dari pinggiran kota Los Angeles. Sejumlah besar dari mansion megah yang ditawarkan dengan harga murah dan sejumlah besar kendaraan kelas atas yang dikendarai di jalan menjadi sangat berkurang.

Itu cukup beruntung bahwa Perusahaan Keamanan Glowgen memiliki administrasi kuat dan mampu untuk menahan efeknya hingga menjadi minimum, namun perusahaan yang dikelola oleh tetangganya, Klingermans, bangkrut dibawah utang besar karena investasinya dalam bidang perumahan. Dengan keberuntungan mereka, termasuk mansionnya, telah menghilang pada bulan April tahun depan, mereka memutuskan untuk bergantung pada kerabat mereka yang bekerja di bidang pertanian dan bergerak di kota Kansas di daerah Midwest.

Itu membuat sedih Gabriel. Kecerdasan melebihi anak seusianya sebagai anak berumur sepuluh tahun dia mengerti bahwa dia tidak dapat membantu Alicia sebagai anak kecil berumur sepuluh tahun dan dapat dengan jelas membayangkan keadaan berat apapun yang dia akan hadapi mulai dari sekarang.

Mansion yang dijaga oleh keamanan tanpa cela, koki hebat yang selalu menyediakan makanan setiap hari, dan sekolah yang dipenuhi dengan anak baik yang berkecukupan, keistimewaan ini akan menghilang dari hidup Alicia selamanya, diganti oleh kemiskinan dan pekerjaan manual. Dan apa yang paling tidak dapat ditahan oleh Gabriel adalah bagaimana jiwa Alicia, yang seharusnya akan menjadi miliknya suatu hari nanti, akan dilukai seseorang yang tidak dikenal dan kehilangan cahayanya.

Jadi, dia berpikir untuk membunuhnya.


Pada hari ketika Alicia mengatakan kata-kata perpisahannya di sekolah, Gabriel mengundangnya menuju hutan di belakang rumahnya setelah dia keluar dari bus sekolah menuju rumahnya. Dengan sigap menghindari setiap kamera keamanan yang dipasang disepanjang jalan dan pagar, dia memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat sementara dia memasuki hutan dan berjalan pada kumpulan daun jatuh untuk menghindari membuat jejak kaki, memandu Alicia menuju «labolatorium rahasianya» dikelilingi oleh semak tebal.

Benar-benar tidak menyadari bahwa tidak terhitung serangga telah mati di tempat itu, Alicia dengan segera membalikkan tubuhnya ketika Gabriel melilitkan tangannya di sekitar tubuh langsingnya. Dengan tangisan pelan, Alicia mengatakan bagaimana dia tidak ingin pergi menuju tempat manapun, bagaimana dia ingin untuk tinggal di distrik ini dengan Gabe selamanya.

Membisikkan bahwa dia akan mengabulkan keinginannya di dalam hatinya, Gabriel memasukkan tangan kanannya pada saku kemejanya dan mengambil peralatan yang sudah dia siapkan sebelumnya. Apa yang ayahnya gunakan untuk berurusan dengan serangga, jarum empat inci dari baja dengan gagang kayu.

Perlahan memasukkan bagian tajam itu pada telinga kiri Alicia, dia pertama mengelus telinga kanannya dengan tangan kirinya sebelum menusukkan itu hingga menuju bagian dalamnya tanpa ada sedikitpun keraguan.

Alicia mengedipkan kedua matanya, tidak mengerti apa yang telah terjadi, sebelum tubuhnya menjadi sangat bergemetar. Mata birunya yang terbuka tiba-tiba kehilangan fokusnya beberapa detik kemudian, dan—

Gabriel melihat itu.

Sesuatu seperti awan kecil, bersinar dengan terang, terlihat dari bagian tengah dahi mulus Alicia. Itu melayang, di udara, saat itu mendekat menuju dahi Gabriel, hanya sama seperti itu, tanpa ada perlawanan apapun.

Sinar matahari dari siang hari di musim semi yang menyelimuti sekelilingnya menghilang. Itu kelihatannya seolah-olah sinar cahaya putih turun melalui batang dari pohon tinggi, dia bahkan samar-samar dapat mendengar suara lonceng.

Air mata mengalir dari mata Gabriel dari keindahan yang tidak dapat diungkapkan. Dia sekarang melihat pada jiwa Alicia...Tidak hanya itu, dia bahkan dapat melihat apa yang jiwa Alicia lihat, itu adalah apa yang insting Gabriel katakan pada dirinya.

Awan kecil, bercahaya melewati melalui kepala Gabriel selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya dan melanjutkan gerakan naiknya seolah-olah dipandu oleh cahaya dari langit, sebelum menghilang pada akhirnya. Sinar matahari di musim semi dan kicauan burung kecil kembali di keadaan sekitarnya.

Memeluk pada tubuh Alicia, dengan baik hidup dan jiwanya yang sekarang menghilang, Gabriel memikirkan apakah kejadian sebelumnya adalah kenyataan atau halusinasi yang diciptakan oleh dorongan kuat. Dan tidak peduli bagian yang mana itu, dia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengejar apa yang baru dia lihat.

Dia melempar mayat Alicia pada lubang besar yang terbuka di dekat akar dari pohon oak raksasa yang baru terlihat sebelumnya. Kemudian, setelah hati-hati memeriksa tubuhnya sendiri, dia mengambil dua helai rambut pirang yang tersangkut pada dirinya dan melemparkan itu pada lubang itu juga. Jarum itu dicuci dengan bersih sebelum dikembalikan menuju kotak peralatan ayahnya.

Bahkan peneyelidikan secara sungguh-sungguh dari polisi lokal yang menemukan bukti apapun yang mengarah pada Kasus Menghilangnya Alicia Klingerman dan pada akhirnya kasus itu menjadi dilupakan.


Setelah terbangun dari ingatan pendek dan dalamnya, Gabriel Miller yang berumur dua puluh tahun melihat dirinya, terpantul di cermin kaca, dan berjalan menuju meja kerjanya yang berada di dekat dinding barat. Pada saat dia duduk di kursi yang bersandar yang dibuat dari Nowergia, icon handphone terlihat pada panel layar tiga puluh inci yang tertempel pada permukaan meja kaca.

Dengan sebuah ketukan, itu menunjukkan wajah sekretaris peremepuannya sementara suaranya mengalir keluar.

[Tuan Miller, saya meminta maaf karena menganggu waktu istirahat anda. COO Ferguson telah meminta diri anda untuk menemaninya makan malam di esok hari. Bagaimana saya menjawabnya?]

"Beritahu dia bahwa aku sudah memiliki rencana sebelumnya."

Gabriel dengan segera menjawab dan sekretarisnya yang biasanya mengumpulkan data entah mengapa menunjukkan ekspresi yang gelisah. COO adalah wakil presiden eksekutif, orang terpenting kedua di Glowgen DS. Sebagai salah satu dari sepuluh petugas, Gabriel sangat sulit untuk dapat mampu menolak permintaan untuk makan bersama—normalnya.

Tetapi, ekspresi kebingungan sekretarisnya menghilang sebelum beberapa detik berlalu dan suara tenangnya berlanjut.

[Saya mengerti. Saya akan melakukannya seperti yang anda minta.]

Panggilan itu berakhir, dan Gabriel bersandar dengan dalam pada kursinya dengan menyilangkan kakinya.

Dia dapat menebak pada apa yang Ferguson inginkan. Itu pasti untuk menghentikan Gabriel dari berpartisipasi dalam suatu «operasi» khusus yang telah dia jadwalkan.

Tapi COO pasti berpikir sebaliknya di dalam dirinya. Orang tua itu pasti berharap dirinya untuk dengan santai berangkat menuju suatu tempat berbahaya untuk mendapat tempat di daftar KIA[2]. Setelah semua, Gabriel adalah anak dari presiden sebelumnya dan pemegang saham terbesar.

Tentu saja, Gabriel sendiri menyadari tentang bagaimana bodohnya itu akan berarti jika seorang petugas berpartisipasi dalam operasi dimana peluru berterbangan di sekitarnya. Bahkan jika dia memiliki pengalaman sebelumnya, pekerjaan CTO adalah untuk merencanakan seluruh operasi dari kantor utama yang aman tanpa perlu memperlihatkan dirinya pada bahaya dari medan pertarungan.

Tetapi, tidak peduli berapa bayarannya, dia harus berpartisipasi di dalam operasi ini yang harus diselesaikan dan benar-benar rahasia. Setelah semua, itu adalah masalah yang berhubungan dengan apa yang Gabriel telah mempertaruhkan hidupnya bahkan semenjak hari dia melihat jiwa Alicia.

Klien dari operasi ini bukanlah dari Departemen Pertahanan tidak peduli bagaimana itu akan menguntungkannya. Badan Keamanan Nasional—NSA—yang mereka telah beberapa kali berhubungan dengannya sebelumnya.

Dua agen NSA yang mengunjungi ruangannya sebulan yang lalu mampu untuk mengejutkan Gabriel, seseorang yang sangat sulit untuk merasakan emosi, tidak terhitung jumlahnya.

Pertama, operasi ini benar-benar melanggar hukum. Setelah semua, tim pernyerang dari Glowgen akan menaiki kapal selam angkatan laut dan melancarkan serangan pada kapal perang yang dimiliki oleh Jepang, sebuah negara sekutunya. Tidak perlu untuk mempedulikan mereka pada satupun korban yang terluka parah pada awak kapal itu juga.

Dan tujuan dari operasi itu adalah untuk mencuri suatu jenis teknologi.

Pada saat mendengar penjelasannya, suara Gabriel sedikit keluar, dipenuhi dengan keterkejutan—atau mungkin kegembiraan. Itu cukup beruntung bahwa agen itu tidak menyadarinya, sayangnya.

«Teknologi Soul TransLation». Mesin menakjubkan yang mampu membaca jiwa manusia yang diciptakan oleh organisasi kecil yang disebut «Rath» di JSDF.

Gabriel memiliki ketertarikan kuat terhadap teknologi full-dive yang diciptakan di Jepang hingga sekarang dalam pengejarannya pada jiwa. Karena itu dia bertarung melawan player dari Jepang dan mempelajari Jepang. Dia bahkan mendapatkan sebuah set dari «mesin menakutkan», Nerve Gear, itu seharusnya telah dihancurkan tanpa ada satupun yang tersisa dengan menghabiskan beberapa puluh ribuan dollar—tentu saja, dia tidak bermaksud untuk menggunakan itu pada dirinya, sayangnya.

Gabriel menduga bahwa pengembangan teknologi full-dive memudar dikarenakan kekacauan yang disebabkan oleh game kematian tersebut. Tetapi, mereka dengan diam-diam melanjutkan penelitiannya dan akhirnya hampir mendekati rahasia dari jiwa manusia.

Permintaan dari NSA itu terasa seperti takdir bagi Gabriel.

Glowgen DS mungkin adalah salah satu dari perusahaan militer pribadi terbesar yang ada, tapi seperti itulah mereka, mereka bahkan dapat menolak pada permintaan NSA yang sekarang bahkan memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan CIA sejak awal. Pemungutan suara terhadap kontrak itu telah diberikan dengan dua orang yang memimpin itu dalam rapat pengurus darurat. Untuk mencegah informasi dari kebocoran, itu sudah diputuskan bahwa tim penyerang akan terdiri dari pekerja sesuai kontrak yang ahli dalam pekerjaan kotor dengan sejarah kelam mereka untuk menutupi hal tersebut—

Gabriel menawarkan dirinya sebagai komandan operasi tersebut.

Normalnya, fakta bahwa Gabriel adalah petugas di Glowgen telah disembunyikan dari tim penyerang. Orang-orang itu kelihatannya akan mengkhianati perusahaan itu dengan segera jika mengetahui hal itu, menculik Gabriel untuk tebusan.

Gabriel harus pergi bahkan dengan resiko seperti itu.

Agen NSA mengatakan. Bahwa Rath tidak hanya berhasil membaca jiwa manusia, tapi juga menkloning itu melalui teknologi STL. Bahwa jika jiwa buatan yang diberikan kode nama «A.L.I.C.E.» telah diselesaikan dan dimasukkan pada senjata tidak berawak di Jepang, itu akan menghancurkan keseimbangan militer di Asia Timur.

Dia sama sekali tidak peduli jika perselisihan terjadi jauh di timur Asia—atau apapun yang terjadi di dunia. Tapi Gabriel menjadi yakin pada saat dia mendengar nama. Alice.

Dia akan membuat itu menjadi miliknya.

Dia akan mendapatkan perangkat kecil media penyimpanan, dikenal sebagai light cube, dengan jiwa yang ada di dalamnya dengan segala cara.

"Alice......Alicia......"

Bersandar pada kursi dengan punggungnya, dia perlahan mengatakan dua nama itu. Senyuman samar-samar terlihat pada mulutnya tanpa dia sadari.

Nama dari perusahaan yang didirikan oleh ayah Gabriel, Glowgen, diciptakan secara bersamaan dengan arti «menciptakan cahaya». Itu kelihatannya ayahnya memiliki cahaya kebahagiaan di pikirannya, tapi apa yang terpikir oleh Gabriel, penerusnya, tidak lebih dari cahaya emas yang melayang keluar dari dahi Alicia yang meninggal.

Menciptakan cahaya. Atau jiwa, dengan kata lain.

Itu adalah takdir, semua dari hal tersebut.

Gabriel dan sebelas orang dari tim penyerang akan terbang menuju Guam seminggu kemudian dan menginvasi perairan Jepang dengan kapal selam militer dari pangkalan angkatan laut di tempat itu. Sebelum memulai operasi, mereka akan berganti dengan menaiki kapal selam kecil dan melaksanakan penyerang di tujuan itu, kapal laut induk raksasa itu, «Ocean Turtle».

Mereka mungkin mampu menempati tempat itu tanpa menumpahkan darah, atau dengan korban yang ada pada sisi manapun—atau mungkin kedua sisi, bagaimanapun juga. Meskipun begitu, kepercayaan Gabriel tidak dapat tergoyahkan. Dia mengetahui bahwa dia akan mendapatkan «Alice» dan teknologi STL. Dia hanya membutuhkan satu salinan dari light cube dan dokumen dari NSA.

Sedikit lagi...Itu tinggal sedikit lagi. Dia akan mendapatkan arti sebenarnya dari jiwa yang selalu menolaknya tidak peduli meskipun melakukan eksperimen pada manusia lainnya, semenjak Alicia, hanya tinggal sedikit lagi.

Dia akan mampu untuk melihat awan indah, bersinar terang sekali lagi.

"...Your soul...will be so sweet......"

Gabriel membisikkan itu sekali lagi, kali ini dalam Bahasa Jepang, dan menutup kelopak matanya.

Bagian 2[edit]

Kapten Dario Giuliani yang memimpin kapal selam militer Seawolf-class[3], Jimmy Carter, kapal selam sebagai jati dirinya, meningkatkan status hingga posisi sekarang dari bagian pembersih pipa torpedo. Kapal selam yang pertama kali dia naiki adalah kapal selam antik Barbel-class[4] dengan mesin diesel dimana bau minyak dan suara mengikuti di sepanjang hala tidak peduli dimana seseorang itu akan pergi di dalam ruangan sempit yang panas.

Sebagai perbandingan, Seawolf-class memiliki harga lebih mahal dibandingkan dengan kapal selam lainnya di dunia hingga dapat dianggap Rolls-Royce. Giuliani telah memenuhi kapal dan krunya dengan cinta bahkan semenjak dia diangkat sebagai kaptennya di tahun 2020. Melalui latihan keras, lambung baja tinggi yang sangat tebal, reaktor S6W, dan seratus empat puluh anggota kru telah terikat seperti satu kesatuan, mampu menyelam seperti yang dia inginkan di lautan manapun selama itu memiliki kedalaman.

Jimmy Carter yang merupakan anak perempuan Giuliani. Itu sangat disayangkan bahwa dia harus mengundurkan diri dari tugas aktifnya dengan segera, dipaksa untuk bekerja di darat atau pensiun lebih cepat, tapi penerus yang dia rekomendasikan, petugas eksekutif, Guthrie, pasti akan memimpin kapal ini dengan sangat baik.

Meskipun begitu—

Seolah-olah untuk membuat malu tahun terakhir Giuliani, sebuah, perintah aneh yang berbahaya baru diserakan sepuluh hari yang lalu.

Jimmy Carter adalah kapal yang direncanakan untuk membantu operasi khusus dan memiliki berbagai cara untuk berkerja sama dengan SEAL. Kapal selam kecil yang dibawah geladak belakang adalah salah satu dari hal itu.

Tidak terhitung jumlahnya dia telah menjelajahi lautan tidak dikenal dengan seseorang dari SEAL menaikinya. Tapi tujuannya selalu untuk menjaga perdamaian dari negara atau seluruh dunia dan seseorang yang menaiki itu pasti akan merasakan tanggung jawab yang sama sebagai anak buah Giuliani saat mereka pergi menuju diambang kematian.

Tetapi, untuk kelompok yang naik dari Guam dua hari lalu—

Giuliani pergi untuk melihat wajah penumpangannya di bagian belakang untuk satu kali saja, tapi itu sudah cukup untuk dirinya untuk membuat hampir memerintahkan anak buahnya untuk mengusir mereka ke laut lepas.. Sepuluh orang berbaring di lantai tanpa ada ketertiban, seseorang meneriakkan suara mereka dari headphone mereka sementara orang lainnya bergembira, bermain judi dalam permainan kartu, tidak perlu dibilang bahwa kaleng bir kosong tersebar di segala tempat. Tidak ada pelaut yang benar dalam kelompok itu. Itu sangat meragukan bahwa mereka bahkan berasal dari militer.

Hanya terdapat satu orang yang memiliki konsep dari sopan santun, komandan tinggi dari petugas itu yang meminta maaf kepada Giuliani terhadap kekacauan yang dibuat oleh mereka.

Tetapi, laki-laki itu dengan mata biru yang mengejutkan itu—

Sementara menggenggam tangan kanan yang dia ulurkan dan bertemu dengan pandangannya, Giulo merasakan sensasi yang dia telah lupakan untuk waktu yang lama.

Itu berasal dari, ya, tepat sebelum dia memasuki angkatan laut. Dia berenang di laut Miami, ketika hiu putih raksasa berenang melewati sampingnya. Dia untungnya tidak terluka, Giuliani melihat mata hiu itu tepat di hadapannya. Mata itu yang menelan semua cahaya seperti lubang tidak berdasar.

Kehampaan yang terbentang keluar dari dalam mata orang itu...

"Kapten, terdapat sinyal dari pancaran sonar!"

Suara tiba-tiba dari teknisi sonar itu menarik keluar Giuliani dari pikirannya.

"Itu adalah turbin dari reaktor, kita akan memeriksanya sekarang...Itu cocok, itu sudah pasti adalah kapal raksasa melayang yang merupakan targetnya. Lima belas mil."

Membawa pikirannya kembali, dia dengan cepat memberikan perintah dari posisi perintah penyerang, di kursi kapten.

"Baiklah, tetap dalam kedalaman ini dan kurangi kecepatannya hingga lima belas knot."

Perintah itu bergema dan dia merasakan pengurangan kecepatan dalam sekejap.

"Dimana kapal penumpang dengan persenjataan Aegis?"

"Terdapat suara turbin gas yang dipastikan berada pada tiga mil di barat daya pada target itu...Pemeriksaan selesai, Itu adalah kapal Nagato JMSDF."

Giuliani menatap secara keras pada dua titik yang diperlihatkan pada monitor besar di depan.

Mengkesampingkan kapal perang Aegis, dia mendengar kapal besar yang melayang itu adalah kapal raksasa penelitian kelautan tanpa ada persenjataan apapun. Dan perintah kali ini adalah mendaratkan kelompok bersenjata untuk menginvasi itu. Tidak perlu dibilang bagaimana itu adalah kapal dari Jepang, negara aliansi. Itu kelihatannya sangat sulit operasi resmi seperti ini dengan persetujuan dari Presiden dan Sekretaris di bidang Pertahanan.

Perkataan dari orang-orang yang memakai pakaian hitam yang membawa perintah secara langsung dari Pentagon terlintas kembali di pikiran Giuliani.

—Jepang melakukan penelitian pada kapal raksasa melayang itu untuk menciptakan kembali perang di negara. Tidak ada pilihan lain selain dari menghancurkan penelitian itu untuk menjaga perdamaian diantara dua negara.

Giuliani bukanlah anak muda yang mampu menerima secara langsung perkataan mereka dengan tanpa penilaian.

Meskipun begitu, dia sudah cukup tua untuk mengerti bahwa dia tidak memiliki pilihan lain selain mematuhi perintah itu.

"Apakah penumpang kita sudah siap?"

Petugas eksekutif yang berdiri di sampingnya memastikan itu dengan suara dalam.

"Mereka telah bersiap di ASDS."

"Baiklah...Pertahankan kecepatan ini dan bawalah kapal selam ini menuju kedalaman seratus kaki!"

Udara padat dikeluarkan menuju air laut dari tangki pemberat dan menciptakan daya apung untuk mengangkat kerangka besar dari Jimmy Carter. Jarak dari titik cahaya itu perlahan namun pasti berkurang.

Apakah akan ada korban diantara peneliti Jepang? Kelihatannya seperti itu. Dia mungkin akan membawa ingatan kerja sama dalam operasi seperti ini sampai kematiannya.

"Lima mil menuju tujuannya!"

Menghiraukan keraguannya, Giuliani memerintah dengan ketetapan hatinya.

"Lepaskan ASDS!"

Getaran samar-samar yang dirasakan tubuhnya menyampaikan pelepasan bagasi mereka dari geladak belakang.

"Pelepasan selesai...Tenaga pendorong ASDS diaktifkan."

Kapal selam dengan kelompok anjing liar dan sebuah hiu[5] yang menaikinya menjadi cepat dalam sekejap mata dan menyerbu lurus menuju bagian tengah dari Ocean Turtle raksasa yang melayang di atas lautan.

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Lynx
  2. Killed In Action atau yang bisa diartikan menjadi terbunuh saat bertugas
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Seawolf-class_submarine
  4. http://en.wikipedia.org/wiki/Barbel-class_submarine
  5. Ini dimaksud kepada kelompok tim penyerang Gabriel

Bab 15 - Daerah Kerajaan Utara (Bulan ke-10 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

Menaruh piring yang dia selesai cuci pada mesin pengering piring, Alice Synthesis Thirty mengusap tangannya pada kerah dari apronnya saat dia mengangkat wajahnya ke atas.

Puncak pohon yang terlihat dibalik jendela kaca kecil yang telah kehilangan sebagian besar daunnya, berwarna merah dan kuning, dengan hawa dingin yang terasa beberapa hari ini. Kedatangan musim dingin memang lebih cepat dibandingkan dengan ibu kota Centoria Pusat.

Meskipun begitu, cahaya Solus yang bersinar ke bawah dari langit biru untuk pertama kalinya baru terlihat untuk sesaat, yang terasa hangat. Sepasang Kelinci Pemanjat Pohon berkumpul bersama di batang tebal pada pohon lurus di kejauhan, kelihatannya menikmati berjemur di matahari.

Alice tersenyum saat dia menatapnya untuk sesaat sebelum dia berbalik dan berbicara.

"Hei, kita sepertinya memiliki cuaca yang sangat bagus hari ini, jadi bagaimana kalau kita menunggu waktu makan siang dengan berjalan di sepanjang bukit timur?"

Tidak ada seorangpun menjawabnya.

Kabin kayu itu hanya memiliki dua ruangan, dan ruangan ini berperan sebagai ruang tamu, ruang makan, dan dapur dengan meja kayu polos tepat di bagian tengahnya.

Duduk di salah satu kursi, yang sama polosnya, adalah anak laki-laki berambut hitam. Bahkan tidak mengangkat kepalanya pada panggilan Alice, tatapan kosongnya hanya terus menatap pada salah satu tempat di atas meja.

Dia tidak pernah memiliki banyak daging pada tubuhnya, namun meskipun begitu, dia sudah jelas jauh lebih kurus bahkan jika dibandingkan dengan Alice yang sekarang. Sosok kurusnya bahkan terlihat dengan jubah longgar yang dia kenakan. Lengan baju kanan yang kosong yang tergantung ke bawah dengan lemah dari ujung bahunya hanya membuat dia jauh lebih tragis.

Cahaya sama sekali tidak ada di matanya, berwarna hitam legam seperti rambutnya. Kedua mata itu tidak lebih dari mengambarkan hatinya yang tertutup. Menahan rasa sakit yang ada di dadanya dia bahkan tidak dapat terbiasa dengan itu, Alice melanjutkan perkataannya dengan suara gembira.

"Ini mungkin sedikit berangin, jadi itu mungkin akan lebih baik untuk memakai pakaian tebal. Tunggu sebentar, aku akan mempersiapkannya dengan segera."

Setelah melepaskan apronnya dan menggantungnya di gantungan yang ada di samping tempat mencuci tangan, dia berbalik menuju kamar tidur di sebelah kamar tersebut.

Mengikat rambut panjang, pirangnya di belakang, dia membungkus syal kapas di sekitar dirinya. Bersamaan dengan penutup mata berwarna hitam kusam di sekitar mata kanannya yang masih belum memiliki cahaya. Dia pertama menaruh salah satu mantel wol dengan teratur di dinding, lalu kembali menuju ruang tamu dengan mantel lainnya di bawah tangannya.

Anak laki-laki berambut hitam itu sama sekali tidak membuat gerakan. Setelah mendorong dia dengan menaruh tangannya di punggung kurusnya, dia pada akhirnya berdiri dari kursi dengan gerakan canggung.

Tetapi, itu semua yang hanya dapat dilakukan oleh anak laki-laki itu, dia bahkan tidak dapat berjalan bahkan satu mel. Memakaikan mantel dari belakangnya, dia berputar menuju ke depan dan mengikat tali kulit di dekat kerah dari bagian leher di bajunya.

"Kau dapat melakukannya, teruslah seperti itu untuk beberapa saat."

Mengatakan seperti itu, dia berlari menuju sudut ruangan.

Kursi kuat yang dibuat dari kayu coklat muda yang terang berada di sana. Daripada memiliki empat kaki, itu memiliki dua pasang roda besi yang terpasang, salah satu pasang roda berukuran kecil dan lainnya berukuran besar. Itu dibuat oleh orang tua yang bernama Garitta yang tinggal di hutan dengan menyendiri.

Menggenggam pada gagang yang terpasang pada bagian belakang kursi roda itu, dia mendorong menuju belakang Kirito. Mendudukkan dirinya pada kursi kulit saat tubuhnya semakin bergoyang, dia kemudian dengan rapat menutupi kedua kakinya dengan selimut tebal di pangkuannya.

"Sudah! Apakah kita dapat pergi, kalau begitu?"

Dia menepuk bahu dari anak laki-laki itu, menggenggam gagang, dan hendak menggerakkan kursi roda itu menuju pintu yang berada pada sisi selatan dari ruangan itu.

Anak laki-laki itu tiba-tiba menggerakkan wajahnya dan mengulurkan tangan kirinya menuju dinding di sisi timur.

"Aah...aah."

Suara dalam, dan serak itu tidak dapat dipahami. Tetapi, Alice dengan segera menebak apa yang anak laki-laki itu inginkan.

"Ah, aku minta maaf. Aku akan mengambilnya dengan segera."

Tiga pedang terpasang pada peralatan penahan dari metal yang terpasang pada dinding ke arah dimana anak laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Di sisi kanan adalah «Fragrant Olive Sword» Alice.

Di sisi kiri adalah pedang panjang berwarna hitam legam yang pernah sekali dibawa oleh anak laki-laki di pinggangnya, «Night Sky Sword».

Dan di sisi tengah adalah pedang panjang berwarna putih yang sama sekali tidak memiliki pemiliknya untuk menggunakan benda tersebut, «Blue Rose Sword».

Alice pertama melepaskan Night Sky Sword, yang beratnya hampir sama seperti Fragrant Olive Sword, dari dinding dan menggenggam pada tangan kirinya.

Kemudian, dia mengangkat Blue Rose Sword juga. Beratnya hanya mencapai setengah atau kurang dari pedang hitam itu. Setelah semua, Pedang tersebut telah kehilangan lebih dari setengah bilah pedangnya dari sarungnya.

Dan pemilik dari pedang ini, anak laki-laki berambut kuning muda yang merupakan sahabat terbaik dari anak laki-laki ini, sudah tidak ada lagi...

Dia menutup matanya untuk sesaat dan menggenggam kedua pedang itu saat dia kembali menuju kursi roda itu. Pada saat menaruh itu secara perlahan pada pangkuannya, anak laki-laki itu meletakkan tangan kirinya pada itu sebelum wajahnya tertunduk sekali lagi. Dia dapat memperlihatkan keinginannya sendiri hanya melalui suara dan gerakan ketika mencari pedang hitam dan putih itu.

"Pastikan untuk terus memegang itu dengan erat atau itu akan terjatuh."

Alice memberitahu dia sementara menahan rasa sakit di dadanya yang sama sekali belum berkurang meskipun beberapa bulan telah berlalu. Mendorong kursi roda yang sekarang jauh lebih berat, mereka keluar melalui pintu.

Papan tebal terbentang di sepanjang jalan dari teras menuju jalan sebagai tempat untuk melangkah. Pada saat turun menuju taman dari tempat tersebut, angin lembut, dingin dan sinar matahari yang lembut menyelimuti mereka berdua.

Kabin kayu yang dibangun jauh di dalam hutan lebat, di padang rumput yang luas. Alice secara pribadi memotong, mengupas, dan menyusun kayu yang digunakan pada itu. Itu sama sekali tidak memiliki banyak hal untuk dilihat, tapi strukturnya sangat kuat karena hanya pohon dengan prioritas tinggi yang digunakan. Dia harus mengatakan dengan tidak terhitung komentar dari kakek Garitta, yang mengajarinya metode dari awal, tentang bagaimana dia tidak pernah meliha gadis dengan kekuatan seperti itu, bagaimanapun juga.

Padang rumput ini kelihatannya merupakan tempat dimana Alice dan Eugeo menjadikannya tempat bermain rahasia mereka ketika mereka masih anak-anak. Sayangnya, dia tidak memiliki ingatan waktu mengenai itu bagaimanapun juga. Semua ingatan dari sebelum dia menjadi Integrity Knight telah diambil melalui «Synthesis Ritual».

Dia telah memberitahu kakek Garitta dan penduduk desa bahwa dia telah kehilangan semua ingatan masa lalunya, tapi tidak memberitahu alasannya. Tapi kenyataannya, dirinya yang sekarang—Integrity Knight Alice Synthesis Thirty—tidak lebih dari kepribadian sementara yang menempati tubuh dari seseorang yang lahir dan dibesarkan di dunia ini, Alice Schuberg. Dia merasa harus mengembalikan ini jika dia bisa, tapi ingatan Alice asli telah pergi dari dunia ini bersama dengan Eugeo.

"...Sekarang, mari kita pergi."

Alice mengeluarkan suaranya untuk menyingkirkan pemikiran tersebut dan menggerakan kursi roda itu, keluar dari depan rumah tersebut.

Hampir semua padang rumput, berbentuk lingkarang dengan diameter tiga puluh mel, ditutupi dengan semak yang lembut, tapi sebagian besar rumput yang telah layu terkumpul hingga menumpuk di bagian timur. Itu terlihat seperti sarang dari monster raksasa—atau lebih tepatnya, itu memang benar—tapi pemilik dari sarang itu masih belum ada. Dia memperlihatkan tatapannya dan memikirkan dimana monster itu pergi bermain hari ini sementara keluar dari jalan kecil menuju barat laut dari padang rumput menuju hutan.

Jalan itu terpisah menuju barat dan timur lima mel ke depan. Desa bernama Rulid berada di barat, tapi dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengunjunginya tanpa tujuan. Memasuki jalan timur, dia pergi sementara berjalan melalui tanah yang berkilauan melalui sinar matahari yang tersebar. Dia perlahan melanjutkan perjalanan melalui hutan yang merupakan hasil dari musim gugur dimana daunnya berjatuhan dengan bulan kesepuluh akan segera mencapai akhir dari harinya.

"Apa kau kedinginan?"

Dia memanggil anak laki-laki itu tetapi tidak ada jawaban. Dia tidak akan mengatakan apapun bahkan jika memasuki badai salju yang sangat dingin. Dia melihat pada bahunya dan memastikan kerah dari mantel itu tertutup dengan rapat.

Tentu saja, menghangatkan diri mereka akan lebih mudah jika dia menciptakan satu atau dua thermal element. Tetapi, terdapat penduduk desa yang melihat mereka dengan curiga, jadi dia lebih baik menahan diri dari untuk tidak mendapatkan rumor tentang penyalahgunaan sacred artsnya tersebar.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit sementara menciptakan alur baru pada jalanan yang kasar, jalan yang di depan terlihat lebih cerah. Sedikit bukit yang menanjak terlihat di depan setelah meninggalkan hutan penuh dengan pepohonan. Jalan itu perlahan menjadi menanjak, tapi meskipun begitu, Alice mendorong kursi roda itu tanpa kesulitan.

Pemandangan dalam sekejap terbuka setelah mencapai puncak dari bukit itu.

Lurus ke arah timur terlihat permukaan biru dari Danau Ruhr. Dan rawa-rawa terbentang jauh di dalam itu. Hutan itu terus berlanjut menuju ke selatan. Pemandangan di arah utara memperlihatkan «Puncak Barisan Pegunungan», ditutupi salju putih murni, menjulang seolah-olah menembus menuju langit. Hari-hari dimana dia terbang di atas puncak itu menaiki naga terbangnya kelihatannya seperti mimpi yang jauh untuk sekarang.

Dia membutuhkan waktu lama untuk melihat pada pemandangan indah itu dengan kedua matanya. Energi yang berlimpah dari bumi dan matahari di tempat ini seharusnya mampu menyembuhkan mata kanannya yang telah hancur di dinding luar Katedral Pusat. Tetapi, dia tidak memiliki keinginan untuk menghapuskan satu-satunya lukanya melalui sacred arts.

Setelah semua, tatapan kosong anak laki-laki itu hanya terus melanjutkan tatapan kosongnya menuju tengah udara bahkan dengan pemandangan akhir musim gugur tanpa akhir terbentang dihadapannya.

Duduk di samping kursi roda itu, Alice bersandar pada roda besar itu.

"Sungguh indah. Lebih indah dibandingkan dengan bagian seni yang tergantung di dinding katedral."

Dia memanggil nama anak laki-laki itu dengan senyuman.

"...Ini adalah dunia yang kau lindungi, Kirito."

Seekor burung putih membuat riak di permukaan danau saat itu meluncur dan terbang menjauh.


Berapa lama waktu telah berlalu semenjak dia duduk?

Naiknya Solus telah sedikit lebih maju ketika dia akhirnya menyadarinya. Ini sudah waktunya untuk kembali ke kabin dan mempersiapkan makan siang. Dengan keadaannya sekarang, Kirito jarang untuk memakan apapun setiap waktu, jadi bahkan satu waktu makan yang terlewat akan menyebabkan menurunnya kapasitas maksimum Lifenya.

"Ini sudah telat. Mari kita segera kembali."

Itu adalah ketika dia berdiri dan menggenggam gagang kursi roda saat mengatakan seperti itu.

Menyadari langkah kaki ringan menginjak di atas rumput dan mendaki bukit, Alice segera berbalik.

Seseorang yang mendekat adalah gadis muda yang berpakaian pakaian sister berwarna hitam. Wajah cantiknya yang masih memiliki sisa dari sifat kekanakan memperlihatkan senyuman indah sementara dia dengan bersemangat mengayunkan tangan kanannya.

"Nee-samaa[1]!"

Angin lembut yang membawa suara indahnya dan Alice tersenyum juga sementara dia memperlihatkan sedikit ayunan tangannya.

Secara langsung melompat lebih dari sepuluh mel ke atas, gadis itu membutuhkan beberapa detik untuk memperbaiki nafasnya setelah langkahnya terhenti, dan sekali laigi berbicara dengan suara cerah.

"Selamat pagi, Alice-neesama!"

Melompat ke samping, dia memberikan salam dengan suara jelas pada Kirito yang duduk di kursi roda juga.

"Selamat pagi untukmu juga, Kirito!"

Senyuman lebarnya sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran terhadap kurangnya jawaban dari dirinya tergabung dengan kesedihan yang samar-samar pada saat dia mengarahkan pandangannya menuju dua pedang di pangkuan Kirito.

"...Selamat pagi, Eugeo."

Mengulurkan tangan kanannya saat dia membisikkan itu, dia perlahan menyentuh sarung Blue Rose Sword dengan ujung jarinya. Jika seseorang yang tidak dikenal melakukan itu, Kirito entah bagaimana akan menunjukkan respon bertahan, tapi dia sekarang membiarkannya seperti yang dia inginkan.

Setelah memberi salam pada kedua temannya, gadis itu menegakkan tubuhnya dan berbalik menuju Alice lagi.

Alice menjawab sementara menyadari kelembutan misterius di dalam hatinya.

"Selamat pagi, Selka. Bagaimana kau mengetahui lokasi kita berada?"

Itu membutuhkan satu bulan untuknya agar dapat berhenti memanggilnya Selka-san.

Dia benar-benar ingin untuk bertemu saudara perempuannya bahkan semenjak mengetahui keberadaannya melalui perkataan Kirito di Katedral Pusat setengah tahun yang lalu. Tetapi, sekarang keinginannya telah terkabul dan saat mengetahui jauh lebih berharganya Selka, jauh lebih kuat pertanyaan ini muncul di dalam dirinya, jika—seorang mantan Integrity Kngith dengan nama Alice Synthesis Thirty, dibandingkan dengan Alice Schuberg—memiliki hak untuk menjadi saudara perempuannya.

Selka mungkin, atau tidak mungkin menyadari masalah Alice yang tidak pernah selesai, tapi meskipun begitu, dia berbicara dengan senyuman yang terbebas dari mempedulikan terhadap masalah tersebut.

"Aku tidak mencari dengan sacred arts atau sesuatu seperti itu. Kalian sedang keluar pada saat aku berkunjung, jadi aku berpikir kalian akan datang ke tempat ini karena cuacanya sangat bagis. Aku meninggalkan susu segar serta pie apel dan keju yang baru saja aku panggang di pagi ini di meja, jadi pastikan memakan itu di saat makan siang."

"Terima kasih, itu sangat membantu. Aku sedang kebingungan dalam memikirkan apa yang ingin aku buat."

"Sebenarnya, Kirito mungkin akan berakhir berlari di suatu hari nanti karena makanan yang kau buat, setelah semua, nee-sama!"

Selka tertawa dan Alice menjawab sementara tersenyum juga.

"Sekarang kau mengatakan itu! Kau tahu, aku mampu memasak sebuah pancakes[2] tanpa membakarnya sekarang, setidaknya seperti itu!"

"Aku ingin tahu jika itu memang benar, kau pernah merubahnya menjadi abu ketika kau mencoba memasaknya dengan thermal elements untuk pertama kali setelah semua."

Alice mencoba menyelanya dengan sentilan menuju dahinya dengan jarinya, tapi Selka dengan cepat menghindari itu dan melompat menuju dada Alice. Dia perlahan memeluk saudara perempuannya hingga lebih mendekat saat dia menempelkan wajahnya pada dadanya.

Sword Art Online Vol 15 - 045.jpg

Itu hanya pada saat waktu seperti ini ketika dia sangat berharap bahwa dia dapat terbebas dari tekanan yang sangat kuat di dalam hatinya.

Sungguh sangat melegakan jika dia dapat melupakan rasa bersalah dari membalikkan punggungnya pada tugas sebagai Integrity Knight dan menghabiskan harinya, dengan tenang, di dalam hutan terpencil. Meski begitu, Alice mengetahui di saat yang sama bahwa dia tidak dapat melupakan itu. Akhir dari dunia mendekat dari balik Puncak Barisan Pegunungan, sedikit demi sedikit, bahkan sementara dia memeluk saudara perempuannya.


Pada akhir dari pertarungan hebat di Katedral Pusat Gereja Axiom—

Mendapati dirinya menderita luka yang cukup untuk menghabiskan Lifenya, Alice terbaring di lantai marbel, tidak dapat bergerak, samar-samar menyadari aliran dari pertarungan tersebut.

Pertarungan hingga mati diantara pemimpin tertinggi Administrator dan Kirito yang menggunakan dua pedang.

Kematian pemimpin tertinggi, terbakar dengan api yang dibuat Kepala Pemimpin Chudelkin yang terpikat dengan ilusinya.

Kematian sahabat terbaik Kirito, Eugeo, yang tubuhnya terbelah menjadi dua bersamaan dengan pedang kesayangannya.

Kirito yang terus merawat Eugeo secara keras berteriak pada layar kristal misterius itu yang terlihat di bagian ujung sisi utara dari aula tersebut. Pada akhir dari percakapan yang sangat sulit dimengerti oleh Alice, seluruh tubuh Kirito tiba-tiba menjadi kaku dan pada saat dia berpikir seperti itu, dia terjatuh ke lantai—dengan itu, dunia itu tenggelam dalam keheningan.

Tepat saat Alice memulihkan hanya, sedikit dari seluruh Lifenya dan menjadi mampu untuk bergerak, Solus yang telah tebit bersinar dari jendela timur. Dengan cahaya itu sebagai sumber dari sacred energy, Alice pertama menyembuhkan luka Kirito yang terbaring. Tetapi, kesadarannya masih menghilang dan dia dengan berat hati membaringkannya di bawah, dan lalu merawat dirinya dengan art penyembuh sebelum memeriksa layar kristal yang berbicara dengannya.

Tetapi, permukaan yang bersinar berwarna ungu pucat itu kehilangan hampir semua cahayanya dan tidak ada jawaban tidak peduli berapa banyak dia menyentuh atau berbicara pada itu.

Dengan kebingungan, Alice duduk di bawah.

Dia mempercayai perkataan Kirito dan bertarung melawan penguasa mutlak, Administrator, demi melindungi penduduk Dunia Manusia dan saudara perempuannya yang tinggal di suatu daerah terpencil, tapi dia sejujurnya meragukan bahwa dia dapat selamat.

Ketika tentara pedang aneh yang dipanggil pemimpin tertinggi «Sword Golem» menusuk ke dalam tubuhnya.

Ketika dia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai pada serangan petir tersebut.

Dan ketika dia melemparkan semua kekhawatirannya pada angin dan melompat pada saat hidup Kirito akan diambil oleh pedang yang terayun ke bawah—

Alice telah mempersiapkan diri untuk kematian tidak terhitung jumlahnya. Tetapi, pengorbanan penyihir Cardinal, laba-laba misterius Charlotte, dan Eugeo, bersamaan dengan pertarungan hebat Kirito telah menyelamatkan hidupnya.

—Kau menyelamatkanku, jadi bertanggung jawablah untuk itu!

Dia tanpa henti meneriakkan itu pada Kirito yang terbaring di sampingnya. Tapi anak laki-laki berambut hitam itu terus tertutup. Pikirkan jalan yang seharusnya kau ambil dari sekarang dan pilihlah itu untuk dirimu... kelihatannya bagi Alice dia seolah-olah mengatakan hal tersebut.

Setelah memeluk lututnya selama sepuluh menit, Alice akhirnya berdiri.

Mungkin disebabkan kematian dari pemilik ruangan tersebut, disk elevator itu berhenti bergerak seperti layar kristal, jadi dia menghancurkan itu dengan pedangnya dan melompat ke bawah menuju lantai kesembilan puluh sembilan dengan Kirito di punggungnya.

Pergi ke bawah dengan tangga yang panajng dari tempat itu, dia pergi melewati tetua yang melanjutkan mengucapkan arts, dan mencapai tangga besar dimana dia secara lurus pergi menuju masternya dalam ilmu pedang yang dia tinggalkan di pemandian besar—menuju dimana Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One berada.

Sejumlah besar air panas yang dibekukan oleh armament full control art Eugeo sebagian besar telah mencair dan tubuh Bercouli terbaring, mengapung di pemandian, untungnya terbebas dari art pembeku Chudelkin.

Pada saat menarik sosok besarnya menuju lorong dan menampar pipinya sementara meneriakkan "oji-sama", laki-laki besar itu mengeluarkan bersin keras sebelum dia membuka matanya.

Alice entah bagaimana mendapati dirinya harus menjelaskan situasi pada masternya yang pergi dan mengucapkan suatu kata-kata tanpa memperlihatkan ketegangan di wajahnya, "Oh, apakah ini sudah pagi?" Seperti yang telah diperkirakan, perkataannya mengubah ekspresi Bercouli menjadi serius dan dia mengatakan satu kalimat dengan suara tegas setelah mendengar itu semua.

Kerja yang bagus, nona kecil.

Perbuatan selanjutnya dari Komandan Integrity Knight sangatlah cepat. Mereka mengumpulkan Integrity Knight di «Grand Cloister of Spiritual Light» di lantai kelima puluh, dimulai dari Wakil Komandan Integrity Knight Fanation yang entah bagaimana sepenuhnya pulih dan tertidur di tengah taman mawar meskipun kalah melawan Kirito dan Eugeo, dan dilanjutkan dengan Integrity Knight lainnya yang kelihatannya terikat dengan art pembatu, seperti Deusolbert dan Eldrie, lalu menyebarkan fakta yang mereka bisa katakan.

Setelah pertarungan dengan dua orang swordsman-in-training dari Akademi Master Pedang Centoria Pusat, pemimpin tertinggi, Administrator, telah dikalahkan dan meninggal.

Bahwa pemimpin tertinggi mengerjakan suatu rencana mengerikan untuk mengubah setengah penduduk Dunia Manusia menjadi persenjataan dengan tulang yang dibuat dari pedang.

Bahwa Ruangan Para Tetua, yang jauh lebih tinggi dari Integrity Knight Order, pada dasarnya terdiri dari Kepala Pemimpin Chudelkin saja, dan dia, juga, mati bersama dengan pemimpin tertinggi.

Semua yang mereka masih sembunyikan adalah asal dari Integrity Knights—tidak, «jati diri» mereka. Bercouli menahan dampak dari kebenaran itu, membawa keraguan pada perkataan pemimpin tertinggi yang biasa katakan tentang dipanggil dari Celestial World dari awal, tapi memutuskan bahwa itu seharusnya hanya dapat dikomunikasikan dengan knight lainnya secara bertahap.

Meskipun begitu, Eldrie, Fanatio, dan knight lainnya terlihat terguncang. Itu adalah hal yang normal. Pemimpin tertinggi dengan kekuatan yang sebanding dengan dewi, penguasa mutlak yang memerintah selama ratusahn tahun, telah mati, itu seharusnya bukanlah tugas yang mudah untuk menerima kenyataan.

Pada akhir dari diskusi yang dipenuhi dengan kekacauan, knight itu memiih untuk mengikuti perintah Komandan Integrity Kngiht untuk sementara waktu, berkat ketenaran dan kemampuan Bercouli, dan juga mungkin operasi yang belum rusak dari «piety module». Tidak peduli dengan perubahan apapun, mereka masih knight yang setia Gereja Axiom dan sekarang Administrator dan Chudelkin telah meninggalkan Dunia Manusia, itu tidak dapat terbantahkan bahwa Komandan Integrity Knight Bercouli berada pada posisi teratas dari rantai komando gereja.

Dalam sekejap dia dipercayakan dengan hak untuk memerintah, Bercouli memfokuskan semua usaha mereka pada tugas asli mereka, untuk «melindungi Dunia Manusia». Dia pasti merasa bersalah dan menyalahkan dirinya. Dia mengetahui bahwa ingatan dari seseorang yang dia sayangi, diambil dari dirinya, sekarang berada di jangkauan tangannya setelah semua.

Meskipun begitu, dia memutuskan untuk menyegel secara aman tiga puluh pedang yang membentuk sword golem dan lebih dari tiga ratus prisma kristal di lantai keseratus dari katedral, dan untuk sementara menyembunyikan kematian pemimpin tertinggi dari semua orang kecuali Integrity Knight Order. Agar dapat memprioritaskan invasi besar yang akan datang dari Dark Territory daripada pemulihan ingatan Integrity Knight, termasuk dirinya.

Bercouli entah bagaimana mengumpulkan sebagian Integrity Knights Order yang telah hancur, dan lalu mengatur tugas besar dari mengatur dan melatih kembali Penjaga Empat Kerajaan dari Dunia Manusia yang sebelumnya tidak lebih dari tentara dengan nama, normalnya, Alice membantu juga. Dengan penutup mata darurat yang dibuat oleh Kirito menutupi disekitar mata kanannya, dia terbang menju bagian utara dan selatan Centoria.

Tetapi, waktunya di katedral sangatlah terbatas. Pengkhianat yang mengarahkan pedangnya pada Gereja Axiom—Kirito yang tidak sadarkan diri, dengan kata lain—dia harus dieksekusi, pemikiran seperti itu disampaikan oleh sebagian besar Integrity Knight dan bahkan beberapa bangsawan yang tidak menyadari kematian pemimpin tertinggi.

Di suatu fajar, ketika pekerjaan yang dibutuhkan telah sedikit berkurang untuk mereka untuk beristirahat, Alice pergi bersama dengan Kirito menaiki naga terbang. Itu sekitar dua minggu setelah pertempuran hebat, dan menegangkan itu.

Tapi bahkan keadaan sulit masih mengikuti mereka. Mata Kirito terus tertutup bahkan selama berkemah di malam hari yang dia sama sekali tidak terbiasa dan dia merasa bahwa dia membutuhkan atap yang pantas dengan tempat tidur hangat, tapi kurangnya dana untuk bahkan tinggal di penginapan kota, namun secara tegas menolak untuk menggunakan kekuasaannya sebagai Integrity Knight demi hal seperti itu.

Apa yang terlintas dipikiran adalah Rulid, nama dari desa yang diberitahu oleh Kirito pada dirinya di dinding luar dari katedral.

Memegang suatu harapan bahwa penduduknya menyambut mereka meskipun dia kehilangan ingatannya karena Eugeo dan dia lahir di tempat itu, Alice mengarahkan kekang naga terbangnya menuju utara. Dia terbang sementara merawat tubuh Kirito, jadi perjalanan dari Kerajaan Norlangarth menuju desa kecil yang berada di dasar dari Puncak Barisan Pegunungan membutuhkan tiga hari penuh.

Dia turun di hutan yang berjarak pendek dari desa agar menghindari menakutkan penduduk desa dan memerintah naga terbang untuk menjaga barang-barang mereka, sebelum pergi menuju desa dengan berjalan kaki dengan Kirito berada di punggungnya.

Pada saat mencapai jalan setelah melewati hutan dan ladang gandum, dia terlihat oleh beberapa penduduk desa. Tetapi, semua orang melihat mereka dengan terkejut dan curiga, dengan tidak ada seorangpun yang memanggil mereka.

Itu adalah ketika mereka sampai di Desa Rulid, dibangun di tempat tinggi, dan pada saat mencoba untuk melewati gerbang kayunya yang dibangun cukup besar dan anak muda melompat keluar dari tempat jaga yang dibangun di sampingnya. Darah mengalir pada wajahnya yang masih memperlihatkan sisa noda dan dia mengalangi jalan Alice, memasuki—

—Tunggu, orang luar tidak dapat memasuki desa tanpa izin!

Penjaga muda yang meneriakkan perkataan itu dengan tangannya berada pada pedang di pinggangnya seolah-olah memperlihatkan itu, sebelum keraguan terlihat pada ekspresinya pada saat melihat wajah Kirito sementara dia berada di punggung Alice. Dia berguman, "Huh, bukankah anak laki-laki ini." Sebelum menatap pada Alice lagi, mata dan mulutnya perlahan terbuka lebar.

—Kau...mungkinkah kau.

Alice merasakan sedikit kelegaan pada perkataan tersebut. Dia berbicara pada penjaga yang kelihatannya mengingatnya meskipun delapan tahun telah berlalu, berhati-hati dengan kata-kata yang dia ingin katakan.

—Aku adalah Alice. Tolong panggilkan kepala desa, Gasupht Schuberg.

Itu mungkin akan lebih baik untuk menamai dirinya sebagai Alice Schuberg, tapi dia tidak dapat mendapati dirinya untuk melakukan itu. Untungnya, nama itu sudah cukup saat wajah penjaga itu dalam sekejap berubah menjadi biru dari merah sementara mulutnya terbuka dan tertutup berulang kali sebelum berlari menuju ke dalam desa. Dia tidak mengatakan apapun mengenai menunggu, jadi Alice melewati gerbang itu dan berjalan mengikuti penjaga itu.

Desa itu dengan segera berubah menjadi ramai, seperti sarang lebah yang terusik, di siang hari. Puluhan penduduk desa memenuhi sisi jalan yang tidak terlalu lebar, meneriakkan keterkejutannya pada saat melihat Alice saat dia melewatinya.

Hampir tidak ada wajah mengekspresikan kelegaan pada kepulanganya, meskipun begitu. Sebaliknya, mereka bahkan dapat dikatakan penuh dengan keraguan, waspada, dan takut pada Alice, berpakaian armor metal yang tidak feminim dan Kirito, yang masih tertidur di punggungnya.

Jalan landai itu pada akhirnya tergabung dengan plaza lingkatan.

Air mancur dan sumur yang berada di tengahnya dengan gereja kecil, bersama salib dengan lingkaran berada di atapnya, yang berada di sisi utara. Ketika Alice segera berhenti di jalan masuk dari plaza itu dan penduduk desa mulai bertukar bisikan dengan ekspresi kekhawatiran dari kejauhan.

Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki melangkah dengan langkah kuat, melewati kerumunan itu melalui sisi timur. Alice dengan segera mengenal laki-laki di waktu puncak dari hidupnya dengan kumis abu-abu, yang rapi sebagai Gasupht Schuberg, kepala desa dari Desa Rulid, dan pernah sekali menjadi ayah Alice.

Gasupht menghentikan langkahnya di kejauhan, kemudian menatap Alice dan Kirito secara bergantian tanpa ada perubahan ekspesi sama sekali.

Kira-kira sepuluh detik berlalu sebelum dia mengeluarkan suara yang dalam dan bergema.

—Apakah kau Alice?

Alice menjawab pertanyaan dengan tidak lebih dari "Ya", namun kepala desa itu tidak berjalan maupun mengulurkan tangannya, melainkan menanyakan lebih jauh dengan suara yang lebih keras dibandinkan dengan sebelumnya.

—Kenapa kau berada di sini? Apakah kejahatanmu telah dimaafkan?

Dia tidak dapat menjawab secara langsung untuk kali ini. Dia sendiri tidak mengetahui kejahatan apa yang dia lakukan atau apakah itu sudah dimaafkan.

Kirito mengatakan alasan tegas kenapa Integrity Knight Deusolbert mengambil Alice Schuberg menuju ibu kota adalah «Melewati batas dari Dark Territory». Itu sudah jelas merupakan pelanggaran terhadap Taboo Index. Tetapi, sebagai Integrity Knight, Alice tidak lagi terikat oleh taboo. Perintah pemimpin tertinggi adalah satu-satunya hukum bagi knight tersebut. Tapi pemimpin tertinggi sudah tidak ada lagi. Dia sama sekali tidak memiliki pilihan lain selain memutuskan kejahatan apa dan bagaimana itu dapat dimaaflan, apa yang jahat dan apa yang baik untuk dirinya...

Alice menatap kembali dengan lurus pada mata kepala desa itu saat dia menjawab dengan pemikiran seperti itu di pikirannya.

—Aku telah kehilangan semua ingatan dari dimana aku tinggal di desa ini sebagai hukuman untuk kejahatanku. Aku tidak tahu jika aku dapat dimaafkan dengan itu. Tetapi, aku sekarang dapat pergi ke berbagai tempat termasuk ke desa ini.

Itu adalah perasaan Alice yang sebenarnya, yang sangat tulus.

Kelopak mata Gasupht tertutup saat kerutan terbentuk dengan sendirinya pada mulut dan dahinya. Tetapi, kepala desa itu mengangkat wajahnya tidak lama kemudian dan apa yang dia umumkan dengan cahaya tajam di matanya adalah kata-kata yang sangat menyakitkan.

—Pergilah. Desa ini sama sekali bukan tempat bagi seseorang yang melanggar taboo.


Wajah Selka terangkat, mungkin merasakan dalam sekejap bahwa tubuh Alice menjadi kaku, dan sedikit memiringkan lehernya.

"Nee-sama...?"

Alice memperlihatkan senyuman saat dia merespon pada bisikan khawatir dari saudara perempuannya.

"Itu tidak apa-apa, sungguh. Sekarang, ini waktunya untuk kita segera kembali."

"...Okay."

Setelah mengangguk dan melepaskan dirinya dari pelukan, Selka menghabiskan waktu sesaat untuk melihat ke arah Alice, tapi senyuman cerahnya segera kembali lagi.

"Aku akan mendorongnya sampai kita sampai di persimpangan!"

Dia mengatakan seperti itu dan dengan segera berdiri di belakang kursi roda yang Kirito duduki dan menggenggam gagangnya dengan tangan kecilnya. Kursi roda itu sendiri sudah cukup berat, tidak perlu dibilang bagaimana seorang anak laki-laki, meskipun kurus, bersama dengan satu dan setengah bagian pedang dengan rangking sacred tools membebani itu. Beban itu jauh terlalu besar untuk seseorang yang hanya berumur empat belas tahun dan berlatih sebagai murid sister yang tidak pernah terlibat dengan pekerjaan fisik—atau seperti itu yang Alice pikirkan untuk pertama kali pada saat Selka mencobanya—tapi dia mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kakinya berdiri dengan kuat, kursi roda itu mulai bergerak, meskipun hanya perlahan.

"Berhati-hatilah, kita akan menuruni bukit."

Selka tidak pernah membiarkan kursi roda itu terlepas, tapi dia masih tidak dapa melakukan apapun selain memanggil dengan nada yang sedikit gugup yang membuat Selka menjawab dengan, "Itu tidak apa-apa, kau orang yang sangat khawatir, nee-sama". Itu kelihatannya ketika Alice masih tinggal di Rulid, dia menunjukkan sedikit terlalu banyak perhatian terhadap saudara perempuannya meskipun telah melalui semua petualangan dan percobaan dengan Eugeo.

Apakah kepribadian dasarnya dipertahankan bahkan dengan ingatannya yang hilang, atau ini hanya kebetulan? Dia berpikir sementara berjalan di samping Selka yang mendorong kursi roda dengan ekspresi serius.

Pada saat mencapai kaki bukit, lereng halus itu berubah menjadi jalan datar. Selka dengan sungguh-sungguh melanjutkan meskipun beban di kursi roda itu bertambah. Sementara melihat ekspresi dari saudara perempuannya, pikiran Alice beralih ke masa lalu sekali lagi.

Itu adalah Selka yang memanggilnya, dari bawah rimbun bayangan pohon, agar Alice berhenti setelah dia meninggalkan Desa Rulid, dengan sedih dan kecewa, pada hari dimana dia ditolak dari kembali ke desanya. Jika itu bukan karena keberanian Selka, bertindak seperti yang dia ingin lakukan meskipun menyadari perbuatannya bertentangan dengan pemikiran ayahnya, kepala desa, dan keinginan baik dari kakek Garitta yang dia kenalkan pada Alice, Alice mungkin masih akan berkelana tanpa tujuan bahkan sampai sekarang.

Itu pasti bukan cerita yang sangat mudah untuk diterima oleh Selka juga.

Saudara perempuannya yang akhirnya kembali ke kampung halamannya telah kehilangan ingatan masa lalunya.

Kirito yang meninggalkan kesan dalam padanya melalui percakapan mereka hanya selama dua tahun lalu telah terbaring koma.

Dan Eugeo yang seperti saudara laki-lakinya telah mati—

Tetapi, Selka hanya memperlihatkan air matanya ketika dia mengetahui Eugeo tidak akan kembali lagi, dengan senyumannya yang tidak menghilang bahkan sekali di depan Alice setelah itu. Dia tidak dapat melakukan apapun selain lega dan memikirkan bagaimana dalam ketahanan mentalnya dan perhatiannya dengan setiap hari yang berlalu. Dia merasa bahwa kekuatan seperti itu yang jauh lebih berharga dan lebih kuat dari sacred arts bangsawan, atau bahkan pedang knight.

Dan di saat yang sama, dia setiap hari diingatkan bagaimana tidak berdaya dirinya, tanpa Gereja Axiom.

Setelah membangun kabin kecil namun kuat yang hanya berada dua kilolu dari desa, jauh di dalam hutan, dengan bantuan dari kakek Garitta, apa yang Alice segera lakukan adalah art penyembuhhebat pada Kirito yang masih belum sadar.

Di dalam hutan luas dimana berkah Terraria sangat berlimpah, dia memilih hari tanpa ada satupun awan di langit yang menghalangi cahaya Solus dan menyatukan sepuluh luminous elements dengan sacred energy yang sangat banyak yang diberikan dewi bumi dan matahari pada tempat itu, mengubah itu menjadi energi peneyembuh dan mengalirkan itu pada tubuh Kirito.

Art peyembuh Alice yang semuanya ditujukan pada dirinya sendiri untuk digunakan memiliki potensi untuk menyembuhkan luka secara sepenuhnya bahkan sejumlah besar Life dari naga terbang, lupakan luka dari manusia. Dia sangat yakin tidak peduli bagaimana buruknya luka Kirito, dia akan segera pulih bersama dengan tangan kanannya yang terpotong dan membuka matanya seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi.

Namun—

Tepat setelah cahaya spritual yang menyilaukan itu menghilang, mata Kirito memang terbuka namun mata berwarna hitam legam itu sama sekali tidak memiliki cahaya untuk suatu alasan. Meskipun Alice berulang kali memanggil namanya, menggoyangkan bahunya, dan bahkan berteriak padanya sambil memeluknya, dia hanya melihat ke atas langit dengan tatapan kosong. Alice bahkan gagal untuk memulihkan tangan kanannya.

Empat bulan telah berlalu semenjak hari itu, tapi tidak ada tanda-tanda pikiran Kirito akan kembali.

Selka terus mendukungnya dengan menegaskan bahwa Kirito pasti akan pulih menjadi dirinya yang dulu suatu hari nanti karena dia menaruh semua yang dimiliki untuk merawatnya. Meskipun begitu, Alice secara tersembunyi merasa takut bahwa itu mustahil untuk dirinya.

Setelah semua, dia tidak lebih dari suatu keberadaan yang diciptakan oleh pemimpin tertinggi, Administrator.

Selka yang dengan tenang mendorong kursi roda hingga sejauh ini menjadi terhenti sambil berkata, "Mari kita...Beristirahat.", membangunkan Alice dari pemikirannya sekali lagi.

Tangan kirinya perlahan menyentuh punggung saudara perempuannya sementara dia menghela nafas dengan keringat berkilauan ada di dahinya.

"Terima kasih, Selka, Aku akan mendorong mulai dari sini."

"Aku ingin mendorongnya, sepanjang perjalanan, sampai persimpangan..."

"Kau sudah mendorong lebih dari seratus mel dibandingkan dengan sebelumnya, bukan? Itu sudah sangat membantu."

Dia mengetahui dari desa bahwa situasi seperti ini akan menjadi dimana saudara perempuan, yang jauh lebih tua beberapa tahun, memberikan saudara perempuannya yang lebih muda sedikit uang, tapi sayangnya, dia sama sekali tidak memiliki sedikitpun uang perunggu di sakunya. Bahkan kehilangan sedikit bagian akan menjadi sangat buruk untuk situas keuangannya sekarang, jadi dia hanya akan membawa uang ketika pergi berbelanja.

Untuk mengganti hal itu, dia mengelus rambut coklat muda Selka. Saudara perempuannya tersenyum dengan nafasnya menjadi sedikit lebih tenang, tapi Alice menyadari kesedihan yang samar-samar pada ekspresinya dan memiringkan kepalanya.

"Ada apa, Selka? Apakah ada sesuatu yang menganggumu?"

Dia bertanya sementara memegang gagang kursi roda itu dan Selka membuka mulutnya setelah sedikit keraguan.

"...Erm...Terdapat permintaan lainnya untuk memotong pohon untuk mengosongkan lahan dari paman Barbossa untukmu, kakak..."

"Apakah, hanya itu saja? Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, terima kasih untuk memberitahu pesan ini."

Alice menjawab dengan senyuman, namun ekspresi kecewa saudara perempuannya terlihat dengan ekspresi cemberut yang merasa tidak puas.

"Tapi...Orang-orang itu hanya mempedulikan diri mereka saja. Bukankah kau juga berpikir seperti itu, Kirito?"

Dia bertanya pada Kirito, yang duduk di kursi roda, tapi anak laki-laki itu hanya melihat ke bawah tanpa memberikan respon. Meski begitu, nada bicara Selka berubah menjadi lebih kuat seolah-olah dia setuju.

"Baik Barbossa-san maupun Redack-san tidak berusaha untuk membuatmu tinggal di desa, jadi bagaimana mereka masih dapat membuatmu membantu mereka ketika mereka memiliki masalah? Aku tahu bahwa aku adalah seseorang yang mengantarkan pesan ini, tapi kau tidak perlu menerimanya jika kau tidak ingin melakukannya, kakak. Aku pasti akan membawakan makanan dari rumah untukmu."

Setelah mengeluarkan tawa yang terlepas dari perkataan itu, Alice menenangkan saudara perempuannya yang cemberut.

"Meskipun perasaanmu membuatku senang, ini benar-benar tidak perlu untuk terganggu dengan itu, Selka. Aku menyukai kabin itu dan aku merasa cukup bahagia, tinggal cukup dekat dengan desa....Aku akan segera pergi setelah Kirito selesai dengan makan siangnya. Dimana tempatnya?"

"...Tanah kosong di selatan, dia bilang."

Selka perlahan menjawab dan menghabiskan waktu beberapa saat dengan berjalan tenang di samping kursi roda itu.

Dengan hanya tinggal sedikit lagi ke persimpangan yang mengarah menuju kabin kayu itu, dia tiba-tiba berbicara dengan nada tegas.

"Kakak, waktu sebagai murid sister akan berakhir tahun depan dan aku akan mendapatkan sedikit gaji, bahkan jika itu tidak banyak. Ketika waktu itu telah tiba, kau dapat berhenti menolong orang tersebut, bukan? Jika itu untuk, kakak, dan Kirito, aku...Aku akan selalu..."

Alice perlahan memeluk Selka yang suaranya menjadi terhenti di situ.

Dia merasakan rambut coklatnya di pipinya, sensasi yang hampir sama meskipun sudah jelas berbeda warna, dan berbisik.

"Terima kasih...Tapi aku sudah merasa cukup bahagia hanya dengan kau berada di dekatku, Selka..."


Melepaskan kepergian Selka, yang mengayunkan tangannya tanpa henti karena tidak rela untuk berpisah, Alice kembali menuju kabin kayu dengan Kirito dan dengan cepat mempersiapkan makan siang.

Meskipun dia entah bagaimana menjadi mampu mengerjakan pekerjaan rumah akhir-akhir ini, kemampuannya dalam memasak saja yang masih tetap saja kurang. Dibandingkan dengan Fragrant Olive Sword, pisau dapur yang dibeli dari toko peralatan di desa kelihatannya tidak dapat diandalkan seperti mainan dan dua puluh atau tiga puluh menit akan berlalu dalam sekejap mata saat dia dengan hati-hati mengiris bahan-bahan tersebut.

Untungnya, Selka telah mengantarkan pie yang baru saja dipanggang hari ini, jadi dia memotongnya menjadi bagian kecil dan menyuapi Kirito. Dengan membawa pie itu ke mulutnya dengan garpu dan dengan sabar menunggu, mulutnya pada akhirnya akan sedikit terbuka, menerima itu ke dalam mulutnya. Dengan itu, Kirito akan perlahan, perlahan mengunyah itu seolah-olah mengulang kembali ingatannya tentang bagaimana dia terbiasa untuk makan.

Sementara mulut Kirito bergerak, dia akan memakan pie yang berisikan dengan apel dan keju kepada dirinya, menikmati rasanya. kelihatannya buatan Sadina Schuberg, istri kepala desa. Ibu dari Selka, dan Alice.

Ketika dia masih tinggal di Katedral Pusat, dia dapat dengan bebas memakan makanan langka di seluruh Dunia Manusia yang terkumpul di meja dari aula makan yang besar. Pie buatan Sadina baik penampilan dan rasanya cukup biasa jika dibandingkan, tapi tampaknya beberapa kali lebih lezat. Alice merasakan sedikit kesal bahwa kelihatannya membuat lebih banyak reaksi keluar dari Kirito dibandingkan dengan masakannya, sayangnya.

Pada saat selesai makan dan membersihkan semuanya, dia mendudukkan Kirito di kursi roda sekali lagi dan menaruh dua pedang di pangkuannya.

Taman di depan bersinar emas karena cahaya matahari di siang hari saat mereka meninggalkan kabin. Hari-hari berlalu terlalu cepat belakangan ini dan itu akan dengan cepat berubah menjadi cepat pada saat pikirannya berkeliaran. Mencapai persimpangan selatan dengan gerakan cepat, dia mengarahkan kakinya menuju barat untuk kali ini.

Hutan itu menjadi menghilang beberapa saat setelah dia berjalan lurus ke depan, dengan ladang gandum yang siap dipanen terbentang di depan. Desa Rulid yang terbangun rapat dapat dilihat dibalik pucuk gandum itu, terus terayun dengan menahan bebannya. Menara yang menjulang tinggi hingga dapat disadari di tengah atap merah tua, dibangun secara terbaris, adalah gereja dimana Selka tinggal.

Baik Selka maupun Azariya, sister yang dipercayakan oleh gereja, mengetahui Katedral Pusat yang mengatur organisasi Gereja Axiom di empat kerajaan yang ada di Dunia Manusia sekarang tidak lebih dari ilusi ajaib tanpa ada masternya. Meskipun begitu, gereja kecil yang berperan sebagai panti asuhan juga terus beroperasi tanpa ada masalah.

Bahkan dengan katedral berubah menjadi kekacauan dengan kematian pemimpin tertinggi, tidak memiliki dampak yang sangat besar pada penduduk manusia. Taboo Index berfungsi seperti biasanya, masih membatasi kesadaran dari penduduknya. Apakah mereka benar-benar dapat mengangkat senjata dan bertarung untuk melindungi Dunia Manusia?

Mereka kelihatannya akan patuh jika diperintah oleh Gereja Axiom atau raja. Tetapi, itu saja tidak akan dapat membawa mereka pada kemenangan melawan tentara kegelapan. Komandan Integrity Knight Bercouli pasti menyadari kenyataan menyedihkan itu setidaknya.

Apa yang akan menentukan arus dari pertarungan pada akhirnya bukanlah tingkat prioritas dari senjata maupun penggunaan kemampuan art, tapi kekuatan dari tekad seseorang. Perjuangan Kirito saat dia marah pada perbedaan potensi pertarungan yang tidak ada harapan, mengalahkan tidak terhitung Integrity Knight, Kepala Pemimpin Chudelkin, dan bahkan pemimpin tertinggi Administrator, berperan sebagai bukti untuk itu.

Mengambil pandangan sekilas pada penduduk desa yang bekerja di ladang gandum, dipenuhi dengan kewaspadaan dan kecemasan, dengan membusungkan dadanya, Alice membisikkan sesuatu pada masternya dalam ilmu pedang di dalam hatinya.

—Oji-sama, untuk penduduk manusia yang tinggal di Dunia Manusia, kedamaian mungkin bukanlah sesuatu untuk dilindungi namun sesuatu yang diberikan untuk semua orang selama-lamanya.

—Dan seseorang yang mengemukakan ide itu pasti...Gereja Axiom, Taboo Index, dan kita, Integrity Knights Order.

Bahkan sampai saat ini, Komandan Integrity Knight Bercouli seharusnya bekerja keras, melatih tentara dari empat kerajaan ibu kota Centoria Pusat dan menciptakan peralatan mereka. Atau mungkin dia sudah menggerakkan tentara menuju «Gerbang Besar Timur» perbatasan Kerajaan Eastabarieth dimana pertarungan akan menjadi sangat keras. Dia pasti bahkan menginginkan knight tambahan, baik sebagai asisten dengan pengalaman tempur dan kemampuan militer setelah perang itu dimulai.

—Dapat dikatakan, aku yang sekarang...

Melewati ladang gandum sementara tenggelam dalam pemikirannya, dia pergi menuju tanah kosong yang terbentang menuju sisi selatan dari desa. Menghentikan kursi rodanya tepat sebelum tanah hitam yang tergali, dia memeriksa di sekitar tanah kosong yang luas itu.

Itu dapat dikatakan hutan luas yang jauh lebih besar dibandingkan dengan di timur, dimana Alice dan Kirito tinggal, berada di tempat ini hanya sampai dua tahun lalu.

Tetapi, berkat Kirito dan Eugeo yang menebang Gigas Cedar, «pohon iblis» menjulang di atas itu semua saat itu menguasai semua hutannya dan tanpa henti sacred power, penduduk desa sekarang dapat menyibukkan diri mereka memperluas tanah mereka, atau seperti itu yang Selka katakan dengan ekspresi marah.

Sebuah batang kayu raksasa berwarna hitam legam di tengah tanah kosong dan di sisi selatan, suara memotong yang kuat terdengar dari kapak yang dimiliki sepuluh penduduk desa. Laki-laki berperut gemuk yang berdiri di ujung, memberikan perintah dengan suara keras pada semua orang tanpa kapak di tangannya, pemilik peternakan terbesar di desa, Nygr Barbossa.

Meskipun entah bagaimana merasa enggan melakukannya, Alice masih mendorong kursi roda pada jalan sempit, tidak rata ini. Kirito benar-benar tidak membuat reaksi bahkan saat dia melewati sisa-sisa, batang pohon yang pernah dia tumbangkan itu, kepalanya terus menunduk ke bawah saat dia memegang dua pedang itu.

Seseorang yang menyadari dua orang itu adalah laki-laki muda dari keluarga Barbossa, beristirahat di atas batang pohon yang baru saja tertebang. Tiga orang, kelihatannya berumur lima belas atau enam belas tahun, melihat Alice, yang memiliki syal yang menutupi rambut pirangnya, tanpa halangan sebelum mengalihkan pandangan mereka pada Kirito yang berada di kursi roda. Cemohan kasar dapat terdengar saat mereka saling bertukar dengan nada pelan. Pada saat menghiraukan mereka dan melewati mereka, salah satu anak muda itu berteriak dengan lambat.

"Pamaaan, dia ada di sini."

Nygr Barbossa, yang berteriak di segala tempat dengan tangannya di pinggang, dengan cepat berputar ke belakang dan menunjukkan senyuman pada wajah lingkarannya, yang berminyak. Mulut besar dan mata sipitnya mengingatkannya pada Kepala Pemimpin Chudelkin yang sangat gemuk.

Meski begitu, Alice kembali dengan senyuman terbaik yang dapai dia kerahkan dan memperlihatkan sedikit anggukan.

"Selamat siang, Barbossa-san. Aku mendengar kau memiliki pekerjaan untukku, jadi..."

"Oooh, ooh, jika ini bukanlah Alice, aku senang kau berada di tempat ini."

Keduanya terbuka lebar, mendekat perlahan, saat kaki bulatnya bergemetar, Alice sangat yakin bahwa dia menginginkan sebuah pelukan, tapi setelah melihat kursi roda yang ada di depannya, dia untungnya menyerah tentang itu.

Sebagai gantinya, Nygr hanya berdiri lima puluh cen di sisi kanannya sebelum memutar sosok besarnya dan menunjuk ke arah, pohon besar yang menjulang diantara hutan dan tanah kosong tersebut.

"Lihat, kau dapat melihatnya, bukan? Kita menghabiskan semua usaha kita pada pohon oak platina yang menyebalkan ini semenjak kemarin pagi, tapi hasil yang menyedihkan ini adalah bagaimana kemajuan yang berhasil dibuat bahkan dengan sepuluh laki-laki mengayunkan kapaknya pada itu."

Jari telunjuk dan jempol di tangan kanannya membentuk setengah lingkaran berukuran kecil.

Pohon besar berwarna putih dan coklat dengan batang berdiameter satu setengah mel telah menyebarkan akarnya ke dalam tanah, bersikeras menahan usaha pekerja itu. Dua laki-laki mengayunkan kapak besar mereka secara bergantian sampai sekarang, tapi lekukan yang terukir di batangnya cukup dangkal, bahkan kurang dari sepuluh cen.

Keringat mengalir ke bawah dari bagian atas tubuh laki-laki itu seperti air terjun. Dada dan otot tangan mereka cukup terbentuk dengan baik, tapi genggaman mereka sedikit kaku, mungkin dikarenakan kurangnya mengayun kapak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Salah satu dari laki-laki itu mendapati kaki kanannya terpeleset saat dia melihatnya dan menebas tempat yang salah dari sudut itu. Kapak itu menghantam bagian tengah dari penggunanya dan tawa yang tidak dapat ditahan dari teman kerjanya keluar dari dirinya saat dia terjatuh dengan keras pada punggungnya.

"Ya ampun, apa yang orang bodoh itu lakukan..."

Nygr mengeluh dan melihat Alice sekali lagi.

"Jika seperti ini, aku sama sekali tidak tahu berapa banyak hari yang akan dibutuhkan untuk satu pohon itu. Dan sementara kita tertahan dengan itu, orang-orang Redack sudah memperluas tanahnya sebanyak dua puluh mel ke segala arah!"

Setelah mengucapkan nama seseorang yang paling berpengaruh dalam usaha pertanian setelah Barbossas, Nygr menendang batu kerikil dengan kakinya. Nafasnya menjadi terputus-putus, tapi secara tiba-tiba, senyuman terlihat di wajahnya saat dia mengeluarkan suara membujuk.

"Dan seperti itu keadaannya, aku mengetahui bahwa perjanjian kita hanya sekali dalam sebulan, tapi dapatkah kau menganggap itu sebagai pengecualian untuk kali ini dan meminjamkan kekuatanmu, Alice? Kau mungkin tidak mengingatnya, tapi aku menghindari...Tidak, memberikanmu permen dari waktu ke waktu ketika kau masih anak-anak. Kau adalah anak perempuan yang sangat lucu pada saat itu, kau tahu, tidak, tidak, tentu saja, itu bukan berarti aku mengatakan bahwa ada perbedaannya sekarang..."

Alice memotong perkataan Nygr sementara menahan desahannya.

"Aku mengerti, Barbossa-san. Aku akan menganggap waktu yang sekarang sebagai pengecualian."

Menyingkirkan batu dan pohon, seperti pohon oak platinum dihadapannya, menahan untuk mengosongkan tanah tersebut adalah sacred task Alice yang sekarang—tidak, sumber pendapatan sementaranya.

Normalnya, itu bukanlah tugas resmi yang diberikan padanya. Terdapat insiden sekitar satu bulan setelah dia menikmati kehidupan damainya di pinggiran desa dimana batu raksasa yang terjatuh menyegel jalan menuju tanah kosong di barat. Kejadian dimana Alice menggelindikan batu itu dengan kekuatannya sendiri ketika dia menjumpai itu tersebar menuju desa sebagai rumor dan sebelum dia mengetahu itu, mereka bergantung pada bantuannya untuk tugas seperti ini.

Itu merupakan fakta bahwa uang dibutuhkan jika dia ingin untuk terus tinggal dengan Kirito, jadi dia berterima kasih terhadap permintaan itu. Meski begitu, saat Selka mengkhawatirkan orang-orang itu akan menganggunya dengan permintaan yang tidak ada habisnya jika dia mengerjakan pekerjaan fisik tanpa keluhan, dia memutuskan untuk membatasi bantuannya setiap satu bulan sekali untuk setiap usaha pertanian.

Nygr seharusnya terikat dengan setiap peraturan yang terbentang pada Taboo Index, hukum dasar Kerajaan Norlangarth, dan peraturan di desa, tapi itu sama sekali tidak mengejutkan untuknya bahwa dia akan mengirimkan dua permintaan dalam waktu satu bulan meskipun itu menjadi pelanggaran dari perjanjian. Meskipun dia belum memecahkan «segel di mata kanan»—apa yang merupakan «Code 871» berdasarkan perkataan pemimpin tertinggi—seperti Alice atau Eugeo, itu kelihatannya dia hanya merasa Alice berada di bawah dirinya. Dia pasti merasa tidak perlu dengan mudah mematuhi beberapa perjanjian yang dibuat dengan mantan tahanan yang tinggal di sebuah gubuk di pinggiran desa.

Bahkan dengan pemikiran seperti itu di pikirannya, Alice mengangguk pada Nygr sekali lagi sebelum berpisah dari kursi roda. Dia memeriksa keadaan Kirito, tapi dia sepertinya tidak mempedulikan keributan yang ada di sekitarnya. Setelah memberitahu bahwa dia akan kembali dengan segera di dalam hatinya, dia berjalan menuju pohon oak besar platinum tersebut.

Orang yang menyadari Alice menunjukkan senyuman sinis atau secara terang-terangan mendecakkan lidah mereka. Tetapi, sekarang terdapat beberapa orang yang menyadari kekuatan Alice, jadi mereka menjauhkan diri mereka dari pohon tanpa banyak kata-kata.

Mengambil tempat mereka dihadapan pohon tersebut, Alice dengan cepat menarik segel dari sacred letters dengan jari di tangan kanannya dan membawa keluar «Stacia Window». Jumlah Lifenya cukup banyak, seperti yang diduga dari pohon yang membuat repot sepuluh orang laki-laki untuk menebangnya. Menggunakan kapak yang biasanya akan membuktikan ketidakefektifan pada tingkat prioritasnya.

Kembali ke kursi roda dengan berlari untuk sesaat, dia membungkuk dan membisikkan kata-kata dengan suara pelan.

"Aku minta maaf, Kirito. Aku ingin kau meminjamkanku pedangmu untuk sebentar."

Dia perlahan menyentuh sarung pedang kulit hitam dengan tangan kirinya dan merasa tangan kirinya sedikit menengang saat itu memegang pedang.

Tetapi, setelah dengan sabar melihat pada mata kosongnya, pada akhirnya kekuatan meninggalkan tangan kirinya dan suara serak keluar dari tenggorokannya.

"...Aah..."

Ini kelihatannya merupakan bagian dari ingatannya dibandingkan dengan perasaannya benar-benar tersampaikan pada dirinya. Apa yang mengendalikan Kirito sekarang bukanlah pikirannya tetapi ingatan di hatinya.

"Terima kasih."

Membisikkan kata itu, dia perlahan mengangkat pedang hitam dari tangannya. Setelah memastikan Kirito terus terdiam, dia kembali lagi menuju pohon oak platinum itu.

Tapi meski begitu, ini adalah pohon yang hebat. Meskipun itu tidak dapat dibandingkan dengan pohon besar suci yang tumbuh di sekitar ibu kota Centoria Pusat, itu pasti berumur lebih dari seratus tahun.

Alice memberikan permintaan maafnya di dalam hatinya sebelum menstabilkan pijakannya.

Kaki kanannya ke depan dan kaki kirinya ke belakang. Dia perlahan menaruh tangan kanannya pada gagang dengan kulit hitam dari «Night Sky Sword» yang tidak rata di tangan kirinya. Dia memperhitungkan jarak pohon itu dengan mata kirinya.

"Hei, hei, kau pikir kau dapat menenbang pohon oak platinum itu dengan pedang tipis itu?"

Salah seorang laki-laki meneriakkan itu dan kerumunan orang itu mendadak menjadi ribut. Pedang itu akan patah, matahari akan terbenam sebelum itu, sementara ejekan terus keluar satu demi satu, suara khawatir Nygr Barbossa tercampur di dalam itu.

"Aah, Alice, jika mungkin, aku akan merasa lebih baik jika kau dapat melakukan pekerjaanmu dalam waktu satu jam, kau tahu?"

Dia telah menebang jatuh sepuluh pohon semenjak dia memulai pekerjaan ini, tapi itu membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit hampir di setiap waktu. Alasan dibalik keterlambatan ini adalah untuk menahan kekuatannya agar mencegah menghancurkan kapak yang dipinjamnya. Tapi dia tidak perlu mengkhawatirkan itu hari ini. Night Sky Sword adalah sacred instrument yang memiliki tingkat prioritas hampir sama seperti Fragrant Olive Sword Alice.

"Tidak, itu tidak akan membutuhkan waktu selama itu."

Menjawab dengan suara yang hampir seperti beguman, Alice menggenggam gagang pedang tersebut.

"...Haah!!"

Sebuah teriakan pendek. Awan debu berputar di bawah kakinya, menghantam dengan keras di tanah, seperti suatu jenis ledakan.

Itu sudah beberapa waktu telah berlalu semenjak dia mengayunkan pedang asli, tapi untungnya, dia belum melupakan tehniknya. Tebasan horizontal dari sisi kiri dengan gerakan yang sama seperti menarik itu dari sarungnya terhunus di udara seperti petir hitam.

Laki-laki disekitarnya kelihatannya tidak mampu mengikuti kecepatan dari tebasan itu sendiri. Bahkan saat Alice berdiri dari posisi terakhirnya, dengan pedang yang sudah diayunkan tepat di depannya, mereka hanya bisa merengut dengan kebingungan.

Itu tidak ada apa-apa selain dengan lekukan yang dibuat oleh laki-laki pada permukaan batang pohon oak platinum itu, itu sama sekali tidak mengalami kerusakan lainnya—atau seperti itu yang terlihat.

Kata "Apa, dia meleset?" pada akhirnya keluar dari seseorang dan beberapa dari mereka tertawa. Alice menatap pada seseorang yang mengatakan perkataan itu dan berbicara saat dia menyarungkan pedangnya.

"Itu akan terjatuh ke arah itu."

"Hah? Apa yang kau..."

Kedua mata laki-laki itu terbuka lebar dengan keterkejutan pada saat sampai di kata-kata itu. Dia perlahan melihat pohon oak platinum itu mulai terjatuh. Teriakan keluar dari dirinya dan beberapa orang disekitarnya saat mereka berlari ke belakang.

Pohon besar itu terjatuh dengan getaran hebat dimana laki-laki itu berada sampai tiga detik lalu.

Alice bergerak ke depan batang pohon yang tertebang saat dia menghalangi asap tebal dari debu yang terangkat itu dengan tangan kanannya. Cincin pohon yang bagus itu terlihat dengan jelas pada bagian potongan yang baru saja dibuat dan bersinar seolah-olah itu telah dipoles, tapi terdapat satu bagian di ujungnya yang sedikit tidak rata.

Mungkin kemampuannya telah berkurang, atau mungkin karena tidak ada mata kanannya untuk disalahkan—Alice berpikir seperti itu saat dia berbalik ke belakang.

Bagian atas tubuhnya tanpa sadar menjadi tegak beberapa saat kemudian. Nygr Barbossa memiliki senyuman di wajahnya dan berlari ke arahnya dengan langkah berat, tangannya terbentang keluar.

Dia secara insting mengangkat pedang di tangan kirinya dan Nygr menjadi segera berhenti pada suara dentingan yang dibuat dari pertahanan tersebut. Meski begitu, senyumannya masih tersisa dan dia menaruh tangannya yang terbuka di depan tubuhnya saat dia berteriak.

"H-He...Hebat! Sungguh kemampuan yang hebat! Jink, kepala penjaga, bahkan mungkin tidak dapat sebanding dengan itu! Itu benar-benar anugerah!"

Dia berjalan satu mel lebih dekat dan melanjutkan perkataannya dengan ekspresi dipenuhi baik dengan kekaguman dan keserakahan.

"B-B-Bagaimana dengan ini, Alice. Aku akan menggandakan pembayaranmu, jadi mari tidak membuat itu menjadi sekali dalam sebulan, bantu kami sekali dalam seminggu...tidak, sekali dalam sehari!!"

Alice perlahan menggelengkan kepalanya pada Nygr yang mengusap kedua tangannya secara bersamaan dengan cepat.

"Tidak, bayaran yang aku terima sekarang lebih dari cukup."

Jika dia hendak mengayunkan Fragrant Olive Sword dan menggunakan armament full control art, itu tidak akan menjadi skala satu pohon dalam satu hari, itu sangat mungkin untuk mengubah hutan ini menjadi tidak lebih dari tanah josong sejauh mata dapat melihatnya hanya dalam beberapa menit. Tapi jika dia melakukan itu, permintaan mereka akan meratakan tanah, menghancurkan batu, dan bahkan membuat hujan.

Nuhnhnhnhnh, Nygr mengeluh dengan suara dalam sebelum akhirnya tersentak, mengedipkan matanya, setelah "tolong, pembayaranku." dari Alice.

"O-Oh, itu benar, itu benar."

Memasukkan tangannya di saku, dia mengeluarkan pembayaran seratus Shear yang sudah disetujui, satu koin perak, dari tas kulit yang terlihat berat.

Menjatuhkan itu pada telapak tangan Alice, Nygr masih bersikeras menambahkan beberapa kata.

"Bagaimana dengan ini, Alice? Aku akan membayar satu koin perak lagi, jadi bagaimana kalau kau menolak permintaan dari Redack bulan ini jika mereka meminta bantuanmu..."

Pada saat itu, ketika dia menahan helaan nafasnya dan hendak menolak permintaannya lagi.

Suara keras mencapai telinganya. Wajahnya terangkat dan melihat kursi roda tergeletak di samping dengan Kirito terlempar ke tanah di kejauhan.

"...Kirito!"

Dia mengeluarkan teriakan serak dan dengan cepat melewati Nygr.

Dia dapat merasakan keputusasaan dari Kirito saat dia mengulurkan tangan kirinya dengan perutnya terbaring di tanah. Di depan dia terdapat anak muda yang sebelumnya beristirahat, dua orang yang sedang menahan pedang yang disarungkan di sarung pedang kulit putih di tanah saat mereka berteriak dengan gembira.

"Uohh, woah, ini sangatlah berat!!"

"Karena itu gadis itu bahkan dapat menebang jatuh pohon oak platinum itu dalam satu serangan, huh?"

"Diam dan pegang dengan benar!"

Anak ketiga itu berteriak dan menggenggam gagang Blue Rose Sword dengan kedua tangannya untuk menarik itu.

Alice mendengar suara giginya bergemeretak saat itu saling bergesekan. Apa yang dilepaskan dari tenggorokannya adalah teriakan tajam.

"Kau sialan...!!"

Mulut anak laki-laki itu terbuka lebar pada saat mereka melihat ke arah Alice.

Dia berlari dalam jarak dua puluh mel dalam sekejap dan segera berhenti dengan debu yang berterbangan. Mereka bertiga melihat wajah Alice sambil mundur dengan bergemetar.

Entah bagaimana menahan emosi kemarahan yang hendak keluar dengan nafas dalam, Alice pertama membantu Kirito yang terbaring. Sementara mendudukkannya di kursi roda, dia memerintah dengan suara serak.

"Pedang itu dimiliki oleh anak laki-laki. Kembalikan itu sekarang."

Ekspresi memberontak dengan sekejap terlihat pada wajah mereka bertiga. Mulut dari salah seseorang dengan tubuh besar dan hendak menarik Blue Rose Sword menjadi melengkung dan dia menunjuk ke arah Kirito.

"Kita telah bertanya pada laki-laki ini jika kita dapat meminjamkan pedang ini, kau tahu?"

Kembali ke kursi rodanya, tangan Kiriot masih terulur ke depan menuju pedang berwarna putih murni sementara suara lemahnya keluar.

Salah seorang anak laki-laki yang memegang sarung pedang itu membengkokkan mulutnya dengan mengejek saat dia melanjutkan.

"Dan lalu, dia dengan baik meminjamkan itu pada kita. Dengan teriakan aah, aah, kau tahu?"

Orang terakhir itu mengikuti aliran pembicaraan dan tertawa dengan kata "yep, yep".

Alice tidak dapat melakukan apapun selain mengeratkan genggaman tangan kanannya pada gagang kursi roda itu. Tangan itu tanpa kesalahan ingin untuk menarik Night Sky Sword yang dipegang di tangan kirinya.

Dia pasti akan menebas keenam tangan yang menyentuh Blue Rose Sword bahkan tanpa ada sedikitpun tanda dari keraguan setengah tahun yang lalu. Integrity knights berada di atas Taboo Index dan larangannya dalam melukai orang lain. Dan sejak awal, dengan segel di mata kanannya yang sekarang telah rusak, tidak ada lagi hukum apapun yang dapat menahan Alice dalam melakukan sesuatu.

Meski begitu—

Alice menggeretakkan giginya dengan sangat keras hingga itu terasa sakit saat dia menahan dorongan yang mengalir di dalam dirinya.

Anak laki-laki ini adalah bagian dari penduduk manusia di Dunia Manusia yang Kirito dan Eugeo megorbankan hidup mereka untuk melindunginya, Dia tidak dapat melukai mereka. Tidak ada satupun dari mereka menginginkan itu.

Alice terus terdiam tanpa bergerak satu cen sekalipun selama beberapa detik. Tapi dia kelihatannya gagal untuk menyembunyikan perasaan haus darah yang memancar dari tangan kirinya. Ketiga orang itu menghapus senyuman mereka dan mengalihkan pandangan mereka, dengan ketakutan.

"...Baiklah, tidak perlu untuk memperlihatkan ekspresi menakutkan itu."

Seseorang yang paling besar itu pada akhirnya meludah dengan marah dan melepaskan tangannya dari gagang pedang itu. Dua orang yang tersisa itu melepaskan sarungnya dengan wajah yang terlihat lega, mungkin sudah mencapai batasnya dalam menahan itu. Blue Rose Sword terjatuh dengan suara berat tepat dimana dia berada.

Mendekati itu tanpa ada perkataan tambahan, membungkuk ke depan, dan dengan tenang hanya menggunakan tiga jari di tangan kanannya untuk mengangkat sarung pedang kulit putih itu. Setelah menatap anak nakal itu tepat setelah dia berbalik ke belakang, dia kembali menuju kursi roda tersebut.

Dia membersihkan tanah yang mengotori sarung pedang itu dengan ujung syalnya, lalu menaruh baik pedang hitam maupun putih itu di pangkuan Kirito yang dia peluk dengan kuat sebelum segera berhenti.

Dia menatap Nygr Barbossa secara sekilas, melihat dia kelihatannya sama sekali tidak mempedulikan keributan itu. Alice perlahan membungkukkan badannya menuju punggungnya saat dia melanjutkan teriakannya, dan lalu mendorong kursi roda itu kembali ke sisi utara melaulu jalan sempit itu.

Kemarahan yang keluar dari dalam hatinya untuk pertama kalinya untuk beberapa saat berubah menjadi perasaan tenang yang sia-sia.

Itu bukanlah pertama kalinya berpikir seperti ini semenjak dia mulai tinggal di hutan di dekat Desa Rulid. Sebagian besar penduduk desa bahkan menghindar untuk berbicara dengan Alice dan untuk Kirito yang kehilangan kepribadiannya yang dulu, mereka bahkan tidak akan memperlakukannya sebagai manusia.

Dia tidak memiliki rencana untuk menyalahkan mereka. Alice kelihatannya masih seorang kriminal yang melanggar Taboo Index bagi mereka, setelah semua. Dia merasa cukup bersyukur pada mereka memberikan persetujuan diam mereka agar dia dapat terus tinggal di dekat desa, dan menjual makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Meski begitu, dia masih berpikir di ujung pikirannya. —Untuk apa?

Sebenarnya apa yang membuat dia menderita sangat banyak dan bertarung melawan pemimpin tertinggi, Administrator, hingga seperti ini? Pemimpin tertinggi lainnya, Cardinal, laba-laba hitam yang cerdas Charlotte, dan Eugeo kehilangan hidup mereka, Kirito kehilangan kemampuan berbicara dan emosinya, sebenarnya apa yang dilindungi setelah itu semua?

Pikiran yang terlintas itu berakhir dengan pertanyaan yang dia tidak akan pernah dapat mengatakannya.

Apakah perlu untuk melindungi orang-orang seperti Barbossa?

Keraguan itu adalah sebagian alasan yang membuat Alice melepaskan pedangnya dan tinggal di daerah terpencil ini.

Tentara sangat hebat dari daerah kegelapan semakin mendekat, sedikit demi sedikit, dibalik «Gerbang Besar Timur» di bagian ujung dari Kerajaan Eastabarieth. Itu sangat meragukan jika kelompok «Tentara Pertahanan Dunia Manusia» yang dibimbing oleh Komandan Integrity Knight Bercouli bahkan dapat diturunkan tepat waktunya. Saat Alice masih belum terbebas dari tugasnya sebagai Integrity Knight—seseorang yang mampu melakukan itu adalah pemimpin tertinggi yang sudah meninggal—mungkin dia harus bergerak cepat menuju Gerbang Besar untuk bergabung dengan mereka secepat yang dia bisa.

Tetapi, beban dari Fragrant Olive Sword yang sekarang jauh melebihi apa yang Alice dapat tahan.

Celestial World yang dia yakini sebagai asalnya sebenarnya merupaka tipuan. Gereja Axiom yang dia telah bersumpah dengan kesetiaannya dipenuhi dengan kebohongan. Tidak perlu dibilang dia sekarang mengetahui keburukan dan ketidaksopanan dari penduduk dari Dunia Manusia jauh terlalu jelas. Waktu ketika dia dapat mengayunkan pedangnya tanpa keraguan pada keadilannya sendiri dan berdoa pada dewi hanya jauh di masa lalu.

Seseorang yang sekarang Alice benar-benar ingin untuk lindungi hanya berjumlah sedikit. Ayahnya, ibunya, Selka, kakek Garitta, dan Kirito. Jika tidak ada apapun yang terjadi pada mereka, apa akan menjadi masalah jika dia mengabaikan tugasnya sebagai knight dan melanjutkan kehidupan damainya di tempat ini—?

Meninggalkan tanah kosong itu, langkah Alice berhenti tepat pada saat mereka mencapai jalan dibalik ladang gandum itu, dan dia berbisik pada Kirito.

"Dapatkah kita pergi berbelanja di desa melihat kita berada di tempat ini? Aku tidak akan membiarkan beberapa anak-anak nakal untuk menganggumu kali ini."

Tidak ada jawaban, tapi menilai kurangnya respon sebagai persetujuan, Alice mendorong kursi roda menuju ke utara.


Langit itu diwarnai dengan warna merah karena cahaya dari matahari tenggelam pada saat mereka membeli makanan untuk waktu selama satu minggu dan membayar dengan koin perak yang bernilai ratusan Shear yang dia dapatkan dan kembali menuju kabin di hutan.

Dia baru saja sampai di teras kabin ketika dia menyadari sebuah suara angin pelan mendekat. Sedikit turun dengan mendorong kursi roda itu, dia menunggu pemilik suara tersebut di bagian tengah padang rumput itu.

Apa yang membuat kemunculannya dihadapan puncak pohon, yang panjang dan gelap adalah hewan raksasa berwarna perak dengan dua sayap, leher panjang, dan sebuah ekor—naga terbang. Naga terbang Alice yang membawa mereka berdua ke sini dari ibu kota. Dengan nama, Amayori.

Naga terbang itu memutar langit tepat di atas padang rumput itu sebanyak dua kali sebelum turun secara perlahan. Menutup sayapnya dan menegangkan lehernya, dia pertama menyentuh dada Kirito dengan ujung hidungnya sebelum mengusap kepalanya pada Alice.

Pada saat mengusap sisi yang samar-samar berwarna kebiruan di bawah leher naga itu, suara rendah kururu terdengar keluar dari tenggorokannya.

"Amayori, kau menjadi sedikit gemuk. Kau terlalu banyak makan ikan yang ada di danau."

Setelah dimarahi dengan senyuman samar-samar, itu menghela nafas melalui hidungnya seolah-olah merasa malu, membalikkan tubuhnya yang panjang, dan berjalan menuju sarang yang berada di sisi timur kabin. Itu berbaring di atas sarang yang dibuat dari rumput kering tebal yang diletakkan di situ, memutar lehernya hingga sampai ke kepala.

Setengah tahun lalu, Alice melepaskan kekang kulit yang terpasang pada kepala Amayori dan melepaskan art pengikat pada hari dimana dia memutuskan membangun kabin di padang rumput ini. Dan dia bahkan sampai memberitahu bahwa itu sudah bebas sekarang dan kembali menuju sarang naga terbang di kerajaan barat, tapi naga terbang itu sama sekali tidak berusaha untuk meninggalkan Alice.

Membuat sarang dengan rumput yang dikumpulkan sendiri, naga itu bermain di hutan dan menangkap ikan di danau pada saat siang hari, tapi akan kembali di malam hari tanpa pengecualian. Meskipun tidak adanya sacred art yang mengikat sifat sombong, dan brutal yang dimiliki naga dan membuat itu berada di bawah perintah knight, itu masih misteri bagaimana dia tidak kembali ke tempat itu berasal.

Itu dapat dikatakan, dia hanya merasa lega bahwa Amayori, yang selalu bersama dengannya semenjak dia menjadi Integrity Knight, akan terus bersamanya melalui keinginannya sendiri, jadi dia sama sekali tidak berusaha untuk mengusirnya. Penduduk desa melihat naga itu terbang di suatu waktu kelihatannya meruapakan salah satu dari penyebab reputasi buruk dari Alice diantara mereka, tapi dia merasa tidak ada gunanya untuk terganggu dengan itu sekarang.

Setelah memberitahu Amayori salam sebelum tidur saat itu mulai mendengkur dengan suara pelan di atas rumput kering, Alice mendorong kursi roda itu ke dalam kabin.

Untuk makan malam, dia membuat sup dengan kacang yang berbenuk setengah lingkaran dan bakso. Kacang itu terasa sedikit keras dan bakso itu sama sekali tidak berbentuk sama, tapi itu kelihatannya memiliki rasa yang cukup baik. Normalnya, itu tidak seperti Kirito memberikan pendapatnya melalui perkataannya. Dia hanya mengunyah dan menelannya, seperti yang berasal dari ingatannya, kapanpun sendok kecil itu memasuki mulutnya.

Dia memikirkan bagaimana itu akan terasa baik jika dia mengetahui makanan kesukaannya dan tidak disukainya setidaknya, tapi dia menyadari bahwa dia hanya memiliki percakapan yang normal dengan anak laki-laki ini bahkan tidak lebih dari satu hari setelah memikirkan tentang itu. Selka yang tinggal bersamanya di gereja hanya pada saat dua tahun lalu, tapi dia hanya mengingat dia tidak memilih-milih dan menikmati apapun yang disajikan. Dia berpikir, itu juga, itu seperti dirinya yang dulu.

Itu terjadi setelah dia menggerakkan Kirito, yang mampu untuk menghabiskan sup itu setelah beberapa saat, pada samping kompor kecil bersamaan dengan kursi dan mencuci peralatan makan di wastafel, menyusun itu semua di tempat pengering.

Amayori yang biasanya tertidur sampai fajar tiba-tiba mengeluarkan teriakan dengan suara pelan rururuu diluar jendela.

Tangannya yang tersentak berhenti bergerak dan dia menajamkan pendengarannya. Suara yang tidak cocok dengan musim ini tercampur dengan angin malam yang berhembus melalui hutan, seperti angin musim dingin. Suara, seperti sayap besar, tipis yang terbang melawan angin

"......!"

Melompat keluar dari dapur, dia memastikan bahwa Kirito masih terus terdiam di kursi sebelum membuka pintu masuk itu. Menajamkan pendengarannya lagi, dia menduga suara angin yang mendekat, dan dengan segera pergi menuju halaman yang ada di depan, dan melihat ke arah atas pada langit malam.

Sosok hitam itu turun dengan posisi spiral dengan latar langit yang dipenuhi dengan bintang tanpa kesalahan berasal dari naga terbang. Dia melihat ke arah timur padang rumput hanya untuk memastikan, tetapi normalnya, Amayori masih merangkak di sarangnya saat dia melihat ke atas langit.

"Mungkinkah itu..."

Pada saat dia hendak kembali untuk mengambil pedangnya, setelah berpikir bahwa itu mungkin adalah Darkness Knight dari Dark Territory yang melewati Puncak Barisan Pegunungan, dia melihat sisik naga terbang bersinar perak dalam cahaya bulan. Dia sedikit mengurangi ketegangan di bahunya. Integrity Knight dari Gereja Axiom adalah satu-satunya yang menaiki naga terbang dengan sisik perak bahkan jika seseorang mencarinya di seluruh dunia.

Itu dapat dikatakan, itu masih terlalu cepat untuk merasa lega. Siapa sebenarnya yang akan terbang di daerah terpencil ini, dan untuk alasan apa? Apakah perdebatan mengenai eksekusi pengkhianat Kirito, bahkan masih berlajut selama setengah tahun ini dan katedral akhirnya mengirimkan seseorang untuk melakukan eksekusi tersebut?

Mungkin merasakan ketegangan Alice, Amayori merangkak keluar dari sarangnya sebelum mengangkat kepalanya dengan tinggi dan berteriak sekali lagi. Tetapi, nada dalam, menakutkannya dengan segera menghilang, diganti dengan suara tinggi, kyuun yang merendahkan diri.

Alice, juga, mengetahui itu dengan segera.

Naga terbang yang mendarat di bagian selatan dari padang rumput setelah berputar sebanyak tiga kali memiliki warna bulu yang sama seperti Amayori yang tumbuh di sekitar lehernya. Itu tidak lain, saudara tertua dari Amayori, naga bernama Takiguri. Dengan kata lain, seseorang yang mengendarai itu adalah—

Alice memanggil dengan nada kaku pada knight yang memakai armor perak yang mendarat di tanah dengan gerakan elegan.

"...Untuk berpikir bahwa kau akan menemukan tempat ini. Ada keperluan apa sampai kau berada di tempat ini, Eldrie Synthesis Thirty-one?"

Satu-satunya Integrity Knight yang memiliki jumlah angka yang lebih banyak dibandingkan dengan Alice, yang merupakan nomor tiga puluh, tidak segera berbicara dan sebagai gantinya, pertama dia membungkuk dengan dalam dengan tangan kanannya berada di dadanya.

Meluruskan tubuhnya, dia perlahan melepaskan helmnya. Rambut ungu muda yang berkilauan terurai dengan angin malam dan penampilan tampannya dengan ciri khas perkotaan terlihat. Dengan suara tinggi, halus, yang jarang bagi seorang laki-laki—

"Ini sudah lama, masterku, Alice-sama. Kecantikanmu tidak menghilang meskipun telah berganti pakaian. Aku tidak dapat melakukan apapun selain untuk dengan segera bertemu denganmu, master, dengan botol alcohol dari koleksiku yang berharga pada saat membayangkan keindahan dari kecantikanmu di bawah sinar bulan yang mulia di malam ini."

Tangan kirinya yang berada di belakang punggungnya terulur ke depan dan itu adalah botol wine [3]!!"

Alice menghela nafas saat dia menjawab perkataan orang yang kelihatannya memandang dia sebagai masternya.

"...Aku sangat senang bahwa lukamu sudah sembuh, tapi aku melihat kepribadianmu sama seperti biasanya. Aku baru saja menyadarinya, tapi cara bicaramu sedikit sama dengan Kepala Pemimpin Chudelkin."

Membalikkan punggungnya pada Eldrie yang mengeluarkan suara pelan ugh, dia berjalan menuju kabin.

"E-Erm, Alice-sama..."

"Aku akan mendengar kata-katamu di dalam jika itu penting. Jika tidak, tuangkan winemu untuk dirimu sendiri dan kembalilah ke ibu kota."

Alice segera menatap ke arah saudara naga itu yang bertemu kembali setelah setengah tahun, Takiguri dan Amayori, yang dengan bahagia mengendus kepala satu sama lain, lalu kembali ke dalam kabin dengan cepat.

Eldrie, yang dengan patuh mengikutinya, memeriksa keadaan pada kabin sempit itu dengan pandangan yang ingin tahu sebelum pandangannya terpaku pada Kirito yang melihat ke bawah di samping kompor. Tetapi, dia sama sekali tidak mengatakan apapun mengenai pemberontak yang pernah sekali bersilangan pedang denganya dan dengan cepat berlari ke meja dan menarik kursi untuk Alice.

"......"

Itu terlihat menggelikan untuk berterima kasih padanya, jadi dia justru menghela nafas dan duduk di kursi itu. Eldrie duduk di arah berlawanan dari Alice tanpa bertanya dan menaruh botol wine itu di meja. Wajahnya menjadi muram pada saat pandangan mereka bertemu secara langsung, kelihatannya menyadari perban hitam yang masih menutupi mata kanan Alice. Ekspresi itu dengan segera menghilang, bagaimanapun juga, dengan hidung Eldrie tersentak saat dia mengangkat wajahnya.

"...Kelihatannya terdapat suatu aroma yang ada di tempat ini, Alice-sama. Di sisi lain, aku masih belum sempat memakan makanan malam dikarenakan perjalanan yang aku lakukan terlalu cepat."

"Di sisi lain? Bahkan sejak awal, apa yang mendorongmu untuk membawa wine daripada sebuah ransum ketika terbang menuju daerah terpencil ini dari bu kota pusat?"

"Aku bersumpah pada tiga dewi bahwa aku tidak akan pernah memakan makanan kering, dan tidak berarturan itu selama hidupku. Jika aku harus memuaskan perutku dengan itu, akau akan lebih baik kelaparan dan menyerahkan Lifeku..."

Alice berdiri dari kursi tanpa mendengar alasan aneh dari Eldrie hingga akhir. Berjalan menuju dapur, dia menyajikan sisa sup dari panci metal yang ada di kompor pada piring kayu dan kembali ke meja.

Eldrie menatap pada mangkuk yang ditaruh dihadapan matanya dengan campuran dari kegembiraan dan kecurigaan.

"......Maafkan aku dengan pertanyaan yang mendadak, tapi mungkinkah ini dibuat oleh tangamu, Alice-sama...?"

"Hm, ya, itu benar. Kenapa menanyakan itu?"

"......Tidak, aku hanya merasa gembira hari ini, yang dimana aku dapat ikut serta dengan masakan yang dibuat masterku, lebih banyak dibandingkan dengan berkah dengan beberapa posisi pedang yang tersembunyi."

Memegang sendok dengan ekspresi gugup, dia membawa kacang itu menuju mulutnya.

Alice bertanya sekali lagi pada Eldrie yang mulutnya bergerak saat dia mengunyah

"Dan lalu, bagaimana kau dapat menemukan tempat ini? Tidak ada art yang dapat mencapai sejauh ini dari ibu kota pusat...dan aku sangat sulit untuk mempercayai Integrity Knight Order dapat mengirimkan naga terbang di setiap area hanya untuk mencariku saja dalam situasi sekarang."

Eldrie tidak memberikan jawaban untuk saat ini, berguman dengan komentar seperti "jadi ini tidak terlalu buruk, setelah semua." saat dia bersemangat menggerakkan sendoknya, tapi pada akhirnya dia mengangkat wajahnya dari piring yang sekarang kosong, lalu mengusap mulutnya dengan sapu tangan yang dia ambil dari suatu tempat sebelum melihat lurus kearah Alice.

"Aku datang megikuti, ikatan nasib yang menghubungkan kita, Alice-sama...Atau seperti itu yang ingin aku katakan, tapi sayangnya, ini sama sekali kebetulan saja."

Tangan kanannya terbuka dengan cepat dalam gerakan yang menyombongkan diri.

"Laporan mengenai goblin dan orc yang menyelinap di malam hari datang dari knight yang telah pergi menuju Puncak Barisan Pegunungan. Gua di utara, selatan, dan barat telah dihancurkan di bawah perintah Komandan Integrity Knight, tapi masih ada kemungkinan bahwa mereka bersikeras menggali itu, aku datang untuk memastikan masalah itu."

"...Gua...?"

Alice mengerutkan alisnya.

Diantara jalan masuk yang melewati Puncak Barisan Pegunungan gua di selatan, barat, dan salah satu yang sangat dekat dengan Desa Rulid, gua utara, yang sedikit sempit, menutup jalan masuk pada orcs dan giants yang memiliki badan besar pada tentara kegelapan. Karena itu, dia memperkirakan tentara musuh akan berkumpul di «Gerbang Besar Timur», tapi Komandan Integrity Knight Bercouli telah meruntuhkan tiga gua itu dengan segera pada saat memubuat perintah itu sebagai jaminan.

Itu adalah alasan yang tepat kenapa Alice membangun rumah rahasia di daerah ini, tapi situasi akan berubah jika musuh akan menggali melalui gua itu. Desa Rulid akan berubah dari daerah pebatasan yang damai menjadi garis depan medan perang dimana pertempuran akan pertama kali terjadi.

"Dan jadi...Apakah kau memastikan pergerakan dari tentara kegelapan?"

"Meskipun aku terbang di sekitar gua itu selama sehari penuh, aku bahkan tidak melihat satupun goblin, lupakan orc."

Eldrie sedikit mengangkat bahunya dan melanjutkan.

"Mungkin mereka salah mengira sekelompok hewan sebagai kekuatan militer."

"...Apa kau mengecek di dalam gua itu?"

"Normalnya, aku melihat dari sisi Dark Territory, tapi itu telah terkubur dengan batu sampai langit-langit. Mereka mungkin akan membutuhkan tentara berjumlah besar untuk menggali itu...Lalu Takiguri dengan aneh memberontak ketika aku menarik kekang untuk kembali ke ibu kota pusat. Aku membiarkannya terbang dan itu turun tepat lurus menuju tempat ini. Sejujurnya, aku sangat terkejut. Ini merupakan sebuah kebetulan...tidak, mungkin ini adalah panduan dari nasib setelah semua."

Setelah mengatakan bahasa vulgar pada perkataan yang diucapkan beberapa saat lalu, Eldrie memperlihatkan wajah tegas seorang knight dan melanjutkan. "Aku wajib melaporkan bahwa aku mendapati kesempatan untuk bertemu denganmu dalam kesempatan yang khusus ini. Alice-sama...Tolong kembalilah pada Integrity Knight Order! Dibandingkan dengan bantuan ribuan orang, apa yang kita butuhkan adalah pedangmu!!"

Alice perlahan mengarahkan pandangannya ke bawah seolah-olah menghindari pandangan kuat knight itu.

Dia tahu.

Dia mengetahui retakan pada dinding yang melindungi Dunia Manusia mulai hancur. Dan kesulitan Komandan Integrity Knight Bercouli dan Tentara Pertahanan yang baru terbentuk akan menderita jika bersandar pada itu.

Alice tidak akan pernah dapat membayar hutangnya pada Komandan Integrity Knight untuk perlindungan dan ajarannya, dan dia masih belum kehilangan perasaan kesatuannya dengan Integrity Knight Order, termasuk Eldrie. Itu dapat dikatakan, itu tidak cukup untuk membuat dia bergabung dengan pertempuran.

Kekuatan adalah kekuatan yang berasal dari tekad seseorang. Alice menyadari kebenaran itu melalu pertarungan di katedral. Jika kekuatan tekad dapat membuat seseorang membalikkan perbedaan hebat dalam kemampuan bertarung, seperti Kirito pada saat itu, maka itu dapat diubah menjad sacred instrument terkuat juga—

"...Aku tidak dapat melakukannya."

Alice perlahan menjawab.

Suara tajam Eldrie terdengar sekali lagi.

"Kenapa."

Tanpa menunggu jawabannya, pandangannya, tajam seperti cambuk, mengarah pada anak laki-laki yang duduk di kursi di samping kompor itu.

"Apa ini untuk anak laki-laki itu? Apakah hatimu masih disesatkan, Alice-sama, oleh anak laki-laki yang melarikan diri dari penjara katedral, dan mengarahkan pedangnya yang berbahaya pada banyak knight, Kepala Pemimpin, dan bahkan pemimpin tertinggi yang suci? Jika seperti itu, aku akan menebas sumber keraguanmu tepat sekarang juga."

Satu mata Alice menatap pada Eldrie saat dia menaruh kekuatan pada tangan kanannya yang memegang ujung meja itu.

"Hentikan!"

Meskipun satu kalimat itu dikatakan dengan volume suara yang tertahan, knight itu masih menegakkan bagian atas tubuhnya pada saat mendengar itu.

"Dia, juga, hanya bertarung demi keadilan yang dia percayai. Jika tidak, bagaimana dia dapat mengalahkan Integrity Knight, yang seharusnya dikatakan sebagai seorang yang terkuat, dan bahkan Wakil Komandan Integirty Knight? Kau seharusnya mengetahui beban dibalik pedangnya, setelah saling menyilangkan pedang secara langsung."

Sword Art Online Vol 15 - 086.jpg

Bahkan saat kerutannya menyatu secara bersamaan di dekat batang hidungnya, Eldrie perlahan melepaskan kekuatan di bahunya. Dia merendahkan pandangannya ke meja sementara berguman pada dirinya.

"...Memang benar, aku, juga, mengetahui bahwa itu sulit untuk diterima bahwa rencana Administrator-sama mengubah setengah penduduk manusia menjadi tentara tidak berjiwa dengan pedang tulang. Dan tanpa anak laki-laki itu...Kirito dan partnernya, Eugeo, itu mungkin tidak akan seorangpun menghentikan rencana itu untuk diwujudkan. Tidak perlu dibilang jika itu seperti yang Bercouli-dono katakan, seseorang yang memandu dua orang itu adalah seseorang yang pernah sekali sebanding dengan Administrator-sama, sebagai pemimpin tertinggi lainnya, Cardinal-sama, aku akan sangat sulit untuk menunjukkan kejahatan Kirito. Tetapi...Jika seperti itu, aku bahkan mengetahui bahwa itu sulit untuk diterima!!"

Seolah-olah mengeluarkan apa yang selalu ditahan di dalam hatinya, Eldrie berteriak.

"Jika kemampuan pemberontak, Kirito, bahkan melebihi kita sebagai Integrity Knight seperti yang kau katakan, Alice-sama, kenapa dia tidak berdiri mengambil pedangnya dan bertarung?! Kenapa dia sampai berubah menjadi kondisi menyedihkan ini dan terus menahanmu di daerah terpencil ini?! Jika dia membunuh Administrator-sama agar dapat melindungi penduduk manusia, maka bukankah dia seharusnya berlari menuju Gerbang Besar Timur pada saat ini?!!"

Perkataan Eldrie, seolah-olah seperti memuntahkan api, tidak menunjukkan tanda-tanda mencapai hati Kirito juga. Matanya yang setengah tertutup tidak mencerminkan apapun selain dari cahaya yang bergetar dari bara api di kompor.

Keheningan berat, yang terjadi terus menerus itu akhirnya terpotong dengan suara tenang Alice.

"...Aku minta maaf, Eldrie. Aku sama sekali tidak mampu untuk pergi denganmu, setelah semua. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan keadaan Kirito...Aku sudah kehilangan kekuatanku untuk mengayunkan pedangku. Aku bahkan ragu jik aku dapat bisa saling bersilangan pedang denganmu sekarang."

Kedua mata Eldrie terbuka dengan cepat seolah-olah dia terkejut. Wajah knight yang sombong itu berkerut seperti anak laki-laki muda.

Wajah itu menunjukkan senyuman yang menahan kepasrahan di saat itu.

"...Aku mengerti. Kalau begitu aku sama sekali tidak memiliki apapun lagi untuk dikatakan..."

Perlahan mengulurkan tangan kanannya, dia mulai mengucapkan sacred art. Pengucapan cepat yang mengikuti itu menciptakan dua crystal elements dan mengganti bentuknya menjadi gelas wine yang tipis.

Mengambil botol wine dari meja, dia menjentikkan penutup botol gabus yang keras itu hanya dengan ujung jarinya. Dia sedikit menuangkan cairan merah tua pada kedua gelas dari botol itu sebelum menaruh itu di meja.

"...Jika aku mengetahui kita akan membuat perpisahan satu sama lain dengan wine ini, aku akan membawa wine yang sudah berumur dua ratus tahun dari Kerajaan Timur dalam koleksiku."

Eldrie mengangkat salah satu gelas itu, meminumnya dengan satu tegukan, dan perlahan menaruh itu di meja. Dia segera membungkuk dan berdiri, mantel putih murninya berkibar.

"Aku mengucapkan perpisahanku di sini, master. Bimbinganmu pada ilmu pedang dan art akan selalu tidak kulupakan selama Eldrie hidup."

"...Itu semua yang terbaik. Aku akan mendoakan keselamatanmu."

Perlahan mengangguk kembali pada Alice yang mampu mengatakan perkataan itu melalui mulutnya entah bagaimana, Integrity Knight itu melangkahkan sepatu besinya pada lantai saat dia berjalan pergi. Alice tidak dapat melakukan apapun selain mengalihkan pandangannya dari punggungnya yang dipenuhi dengan harga diri yang tidak tergoyahkan.

Pintu itu terbuka dan tertutup. Sebuah teriakan keras datang dari Takiguri di halaman depan, diikuti dengan suara kepakan sayap. Suara Amayori, yang berasal dari hidungnya merasa enggan untuk berpisah dengan saudaranya, menusuk hati Alice.

Meskipun suara kepakan itu menghilang di kejauhan tidak lama kemudian, Alice terus duduk tanpa bergerak.

Tepat sebelum Life dari gelas yang terbuat dari crystal elements menghilang, dia perlahan mengangkat salah satu gelas itu ke mulutnya dengan ujung jarinya. Wine pertama yang dia rasakan selama setengah tahun ini meninggalkan rasa yang jauh lebih pahit dan asam dibandingkan dengan manis di lidahnya, Dua gelas kosong itu tersebar menjadi cahaya pudar pada saat itu hancur beberapa detik kemudian.

Dia mendorong penutup botol gabus pada botol itu, meskipun itu sudah kosong, dan berdiri. Bergerak menuju kompor, dia memanggil Kirito yang masih duduk dengan diam.

"...Aku minta maaf, kau pasti lelah. Ini sudah jauh melewati waktu tidur yang biasanya, setelah semua. Sekarang, sudah waktunya kita tidur."

Perlahan menepuk bahunya dengan tangannya untuk membuat dia berdiri, dia lalu memandunya menuju kamar tidur yang terhubung dengan ruangan itu. Dia mengganti jubah hitamnya dengan pakaian tidur yang tidak berwarna sebelum membaringkannya di tempat tidur dekat jendela.

Bahkan pada saat membawakan selimut yang terlipat di dekat kakinya dan menutupi hingga sampai lehernya dengan itu, mata Kirito hanya masih terus setengah terbuka, masih menatap ke arah langit-langit tanpa berkedip.

Ruangan itu dipenuhi dengan kegelapan biru pucat setelah dia meniup lampu[4] yang ada di dinding. Dia duduk di samping Kirito dan perlahan mengusap dadanya yang kurus dan bahunya yang hanya ada tulang selama beberapa menit, kelopak matanya hanya tertutup pada saat itu, seolah-olah suatu sumber kekuatan dari dirinya telah terputus.

Dia menunggu sampai nafas Kirito yang tertidur menjadi stabil sebelum meninggalkan tempat tidur dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur untuk dirinya. Kembali ke ruang tamu, dia memeriksa Amayori di jendela, lalu mematikan dua lampu yang ada dan kembali ke kamar tidur.

Dia mengangkat selimut yang ada di tempat tidur dan menyelinap ke samping Kirito saat kehangatan samar-samarnya menyelimuti tubuhnya.

Meskipun menutup matanya biasanya akan membiarkan dia untuk segera tertidur tanpa ada jeda, rasa kantuknya kelihatannya tidak ada untuk hari ini.

Mantel putih menyilaukan yang berkibar pada punggung Eldrie saat dia pergi masih tetap terlihat di dalam kelopak matanya, menusuk matanya.

Harga diri yang sama itu seharusnya masih memenuhi dirinya di hari-hari itu. Ketetapan hati yang tidak tergoyahkan yang keluar melalui tubuhnya sebagai energi untuk melindungi Dunia Manusia, penduduknya dan kekuasaaan Gereja Axiom dengan pedangnya.

Tetapi, setiap bagian dari energi itu telah meninggalkan dirinya.

Dia memiliki pertanyaan untuk Eldrie—untuk mantan muridnya. Sebenarnya apa yang membuatmu masih bertarung, sekarang baik gereja dan pemimpin tertinggi telah diketahui sebagai kebohongan?

Tapi dia tidak dapat menanyakan itu. Tidak ada satupun Integrity Knight yang mengetahui seluruh rencana mengerikan pemimpin tertinggi selain dari Bercouli dan dirinya. Bahkan Eldrie tidak mengetahui fakta bahwa «bagian ingatannya» dan «orang yang paling disayanginya», diubah menjadi bagian dari sword golem, terus berada di lantai tertinggi yang tersegel.

Karena itu, dia masih mempercayai konsep Gereja Axiom. Dia masih menunggu, berharap, hari dimana tiga dewi akan mengirimkan pemimpin tertinggi baru menuju katedral untuk memberikan bimbingan mutlak pada mereka.

Tapi apa yang harus dia lakukan, sebagai seseorang yang menyadari dewi dan Celestial World merupakan kebohongan besar?

Itu benar-benar dapat dimengerti, tapi Komandan Integrity Knight Bercouli harus menyembunyikan setengah kebenaran itu dari knight agar mempersiapkan diri pada perang yang akan datang. Keraguan yang ada di dalam hatinya akan tersebar pada knight lainnya jika dia ada di sana.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui jika Tentara Pertahanan yang dibentuk dengan terburu-buru akan dapat mengusir serangan yang terkordinasi dari tentara kegelapan. Jika mereka menembus melalui Gerbang Besar Timur, monster yang haus darah akan menyerbu menuju desa terpencil ini cepat atau lambat. Apakah tidak ada cara lain untuk menghindari bencana ini—sebuah suara tertentu terlintas kembali di pikiran Alice setiap kali dia memikirkan itu.

Dua kalimat yang berasal dari layar kristal misterius setelah pertarungan melawan pemimpin tertinggi, sebelum Kirito terjatuh.

— Pergilah menuju Altar Ujung Dunia.

—Berjalanlah lurus ke depan setelah kau keluar dari Gerbang Besar Timur.

Dia sama sekali tidak memiliki ingatan dari nama ini, «Altar Ujung Dunia» dalam Pengucapan Suci. Tetapi, dia mengetahui apa yang dapat ditemukan pada saat keluar dari Gerbang Besar Timur. Hutan belantara dari Dark Territory, tanah menghitam seperti abu dan langit berwarna darah terbentang keluar. Baik berjalan maju maupun melarikan diri bukanlah tugas yang mudah pada saat seseorang melangkahkan kakinya di sana.

Bahkan jika dia menghadapi kesulitan yang sangat besar untuk mencapai altar itu, apa yang menunggunya di tempat itu? Apakah benar-benar ada seseorang—atau sesuatu—yang mampu melindungi penduduk dari Dunia Manusia dari kekuatan kegelapan...?

Alice memiringkan kepalanya di atas bantal dan menatap pada anak laki-laki yang terbaring di sisi lain dari tempat tidur itu.

Menyelinap melalui selimut itu, dia bergerak ke samping Kirito. Mengulurkan tangannya setelah sedikit keraguan, dia menempel pada dirinya seperti anak-anak yang ketakutan terhadap mimpi buruk.

Tidak peduli bagaimana kerasnya Alice menarik tubuh kurus menyedihkannya lebih dekat, anak laki-laki yang membuat hatinya bimbang dengan kuat yang setara dengan api sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Denyut nadinya terus berdetak dengan lambat, kelopak matanya yang tertutup benar-benar tidak bergerak. Dia...tidak, itu mungkin bukanlah apapun selain dari cangkang kosong dengan jiwanya yang telah terbakar.

Jika pedangnya sekarang berada di tangan kanannya—

Dia dapat mengakhiri itu semua, menusukkan dua hati mereka yang saling bersentuhan agar menjadi satu.

Pikiran sesaat itu mengalir keluar dari mata Alice sebagai air mata dan terjatuh di leher Kirito.

"Beritahu aku, Kirito...Apa yang harus aku lakukan..."

Tidak ada jawaban yang datang untuk pertanyaannya.

"Apa...yang harus aku lakukan....."

Cahaya bulan yang bersinar dari celah tirai yang tersambung dan menghilang di dalam air mata yang terus mengalir.

Bagian 2[edit]

Keesokan harinya, di hari kedua puluh dua dari bulan kesepuluh, penurunan suhu di musim gugur telah tiba.

Membatalkan waktu jalan-jalan mereka, Alice dan Kirito menghabiskan waktu di samping perapian. Pada awalnya sebelum musim dingin yang sebenarnya telah tiba, dia ingin untuk mempersiapkan sejumlah besar kayu bakar saat kakek Garitta telah mengajarkannya untuk melakukan itu, tapi untuk sekarang itu kelihatannya tidak diperlukan lagi.

Itu membutuhkan seluruh hari penuh untuk menuliskan hanya dua buah kertas yang digunakan sebagai surat. Setelah menyelesaikannya, Alice merasakan keraguan untuk sesaat, dan menuliskan "Schuberg" dalam Pengucapan Umum, lalu menuliskan "Synthesis Thirty" dalam Pengucapan Suci.

Dia dengan hati-hati melipat surat itu, memasukkannya ke dalam dua amplop, menuliskan nama Selka pada salah satu surat itu, lalu meninggalkan surat lainnya di meja untuk kakek Garitta.

Itu adalah surat perpisahan dan permintaan maaf. Karena rumah yang ada di hutan telah ditemukan oleh Integrity Knight Eldrie, mereka tidak dapat lagi tinggal di sana. Berikutnya, itu bukan lagi Eldrie tapi Integrity Knight Bercouli yang akan datang. Alice tidak akan dapat membuat dirinya yang sekarang untuk mengatakan hal yang sama pada gurunya sendiri dalam ilmu pedang, ketika waktunya tiba.

Jadi mereka hanya dapat melarikan diri.

Setelah mengeluarkan nafas panjang, Alice mengangkat kepalanya dan melihat anak laki-laki berambut hitam yang duduk di sisi lain dari meja tersebut.

"Hei, Kirito. Dimanakah tempat yang kau ingin untuk pergi? Dataran tinggi di daerah utara sangatlah indah, kau tahu. Atau apakah hutan di daerah selatan jauh lebih baik? Bahkan aku belum pernah pergi ke tempat itu."

Meskipun dia menanyakan itu dengan suara yang lebih hidup dibandingkan dengan biasanya, Kirito benar-benar tidak merespon seperti biasanya.

Mata hitam itu dengan diam melihat ke arah meja. Fakta bahwa dia harus merawat luka dari anak laki-laki ini dengan hidup mengembara telah menyakiti hati Alice. Tapi dia tidak dapat meninggalkannya. Dia tidak dapat melepaskan keinginan tidak masuk akal dari murid sister Selka, dan Alice memiliki keinginannya sendiri juga. Sekarang, merawat Kirito adalah hampir sebagian besar alasan Alice untuk hidup.

"...Lupakan itu, mari kita biarkan tujuannya dipilih oleh Amayori. Baiklah...ini sudah telat, mari kita tidur. Kita harus bangun lebih cepat pada keesokan harinya."

Setelah mengganti pakaian Kirito dan membaringkannya ke bawah, dia mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur, mematikan lampu itu, dan menaiki tempat tidur itu.

Dia berbaring di dalam kegelapan dengan matanya yang tertutup selama beberapa menit, dan ketika nafas Kirito menjadi lebih dalam dan lambat di sampingnya, Alice membaringkan tubuhnya.

Dia menyandarkan kepalanya pada dada mulus dari anak laki-laki itu. Di samping telinganya terdengar detak jantung yang lambat namun stabil.

Hati Kirito sudah tidak lagi ada di sini. Detak jantung itu berdetak namun hanya bergema di masa lalu.

Dalam waktu berbulan-bulan semenjak dia terus tidur disampingnya sepanjang malam, Alice telah berpikir seperti itu, Tapi di saat yang sama, dia merasa bahwa detak jantung yang dalam dan stabil ini, masih terdapat—sesuatu yang masih tersisa.

Jika Kirito yang sekarang dalam kondisi «hati yang normal tapi tidak dapat mengekspresikan apapun», lalu cukup bagaimana dia dapat menjelaskan perbuatannya sekarang, Alice berpikir saat dia perlahan tersenyum dan mendekat, perlahan memasuki dunia mimpi.

Tiba-tiba, tubuh disampingnya sediki bergemetar.

Membuka kelopak mata beratnya dengan sulit, Alice melihat ke arah jendela timur, tapi langit yang terlihat melalui celah di gorden itu masih berwarna hitam legam. Menilai berdasarkan perasaannya, dia hanya tertidur selama dua atau tiga jam.

Kirito menegangkan tubuhnya sekali lagi dengan ketakutan.

"Ini masih malam...Mari kita tidur lagi..."

Alice mengatakan itu dengan pelan.

Dia menutup matanya sekali lagi, mengusap bahu Kirito dan bersiap untuk tidur dengannya lagi, tapi suara pelan yang dia dengar akhirnya membuat Alice mengetahui terdapat sesuatu yang salah dengan anak laki-laki ini.

"Ah...ah..."

"Kirito...?"

Kirito yang sekarang memperlihatkan keinginannya sendiri. Hawa dingin biasa, rasa lapar, atau sesuatu seperti itu seharusnya tidak akan dapat membangunkannya. Tapi anak laki-laki itu bergemetar lebih kuat, menendang selimut seolah-olah dia ingin untuk turun dari tempat tidur.

"Apa ada yang salah...?"

Ini sama sekali tidak normal, apakah dia mendapatkan kembali pemikirannya lagi? Alice berpikir seperti itu saat dia melompat ke arahnya dan secara langsung menciptakan luminous element bahkan tanpa menyalakan lampu.

Pupil di mata anak laki-laki itu yang samar-samar diterangi oleh cahaya putih sama sekali tidak memperlihatkan perubahan dari sebelumnya sama sekali dan mencerminkan kegelapan hampa yang sama, Alice merasa sedikit depresi. Tapi, apakah itu—

Pada saat itu, teriakan keras terdengar dari luar jendela.

"Guruuu, guruuu!"

Itu adalah teriakan yang berasal dari Amayori, yang seharusnya tertidur di ujung dari padang rumput itu. Teriakan tajam yang terdengar sangat keras seolah-olah itu hendak memberikan peringatan kepada masternya.

Alice melompat ke lantai, berlari dari kamar tidur menuju ruang tamu dan membuka pintu dengan keras. Angin malam yang membeku itu bertipu, tapi aroma normal dari angin hutan itu membawa sedikit aroma yang aneh. Ini adalah...Sesuatu yang terbakar...?

Dia berjalan dengan tanpa alas kaki menuju teras dan melihat ke arah langit dengan mata terbuka lebar. Dia terkejut.

Langit di sebelah barat—telah terbakar.

Sebuah cahaya merah yang menakutkan tidak dapat diragukan adalah pantulan dari api yang sangat besar. Menyipitkan matanya, dia dapat melihat beberapa bangunan di depan dipenuhi dengan asap hitam.

Kebakaran?!

Meskipun dia telah memikirkan itu dalam sekejap, Alice dengan segera menolak pemikiran itu. Melalui angin yang terbakar terdengar suara pelan dari benda metal saling berhantaman dan—teriakan.

Sebuah serangan musuh.

Tentara yang berasal dari Dark Territory telah menyerang Desa Rulid.

"...Selka..."

Teriakan serak keluar dari Alice saat dia berlari keluar dair dalam rumah. Lalu dia hanya bisa berdiri tanpa bisa bergerak.

Dia harus menyelamatkan saudara perempuannya tidak peduli apapun yang terjadi.

Tapi...Bagaimana dengan penduduk desa lainnya?

Jika dia hendak mencoba untuk menyelamatkan semua orang, dia akan secara langsung berhadapan dengan tentara kegelapan. Tapi apakah dia masih memiliki kekuatan itu sekarang?

Sumber kekuatan dari «Integrity Knight Alice» di masa lalu adalah kesetiaan mutlaknya terhadap Gereja Axiom. Kepercayaannya telah dihancurkan bersama dengan mata kanannya, dapatkah dia masih mengayunkan pedangnya dan menggunakan sacred art?

Alice yang terdiam itu mendengar—

Sebuah suara keras terdengar dari dalam rumah.

Dia berbalik ke belakang dengan terkejut dan melihat ke arah itu. Di sana terdapat kursi yang terjatuh dan anak laki-laki di samping itu, merangkak di lantai.

"...Kirito..."

Pada saat mantanya terbuka lebar, Alice dengan cepat berlari kembali ke dalam rumah itu dengan kaki yang berkeringat.

Mata Kirito masih belum memperlihatkan keinginannya. Tapi apa yang dia maksudkan dengan perbuatan pelannya sangatlah jelas.

Dia mengulurkan tangan kirinya lurus menuju tiga pedang yang tergantung di dinding.

"Kirito...kau..."

Alice merasakan gumpalan panas terangkat dari tengorokan dan dadanya. Dia mengetahui bahwa pandangannya menjadi samar-samar dan terdistorsi karena air matanya sendiri.

"...Ah...Ah..."

Mengeluarkan suara serak, Kirito bergerak tanpa henti menuju pedang itu. Alice mengusap air matanya denga kuat, berlari menuju anak laki-laki itu, dan lalu menahan tubuhnya yang lemah ke atas.

"Aku tahu...Jangan khawatir, aku akan pergi. Aku akan menyelamatkan semua orang. Kau cukup menunggu di sini dan beristirahat."

Suara menjadi lebih pelan, Alice memeluk Kirito dengan erat.

Thump, thump. Dadanya berdetak dengan sangat kuat.

Jauh di dalam hatinya tidak ada apapun yang tersisa selain tekadnya, meskipun itu hanya seperti api yang lemah, itu sudah pasti ada di sana. Sekarang, Alice dapat secara jelas menyadari hal ini.

Setelah dengan erat menekan pipinya pada anak laki-laki itu, Alice mengangkat tubuh lemah itu di atas kursi.

"Aku akan menyelamatkan mereka dan segera kembali."

Lalu dia segera mengambil armor dan sarung pedang yang tergantung di langit-langit dan memakai itu di atas pakaian tidurnya. Tanpa ada keraguan, dia segera berlari ke dinding timur dan menggenggam pedang kesayangannya.

Fragrant Olive Sword yang dia tidak pernah genggam selama setengah tahun benar-benar sangat berat, tapi Alice memasukkan itu ke dalam sarung pedangnya tanpa ada jeda dan menahannya dengan penjepit. Dia mengambil mantel dan mengenakan itu, memasukkan kaki di sepatu besinya dan berlari ke teras sekali lagi.

"Amayori!"

Dengan satu teriakan, bayangan besar bergerak cepat ke arahnya dan merendahkan kepalanya.

Alice memanjat pada leher panjangnya dan memerintah dengan suara keras.

"Pergilah!"

Whoosh! Mengepakkan sayap peraknya, naga itu segera berlari dan melayang di udara.

Setelah sampai di ketinggian tertentu, pemandanga menyedihkan dari Desa Rulid terlihat di pandangan Alice. Api hitam yang membakar itu sebagian besar berasal dari sisi utara dari desa itu. Seperti yang diduga, penyerang itu telah datang dari «Puncak Barisan Pegunungan».

Kemarin malam, Eldrie telah memastikan bahwa semua keadaan telah normal di «Gua Utara» yang telah dihancurkan di bawah perintah Bercouli, jadi mereka harus menggerakkan sejumlah besar reruntuhan itu dalam satu hari. Jika memang seperti itu, tentara yang dikerahkan setidaknya berjumlah dua puluh.

Di waktu dulu, terdapat beberapa kelompok pengintai yang memasuki gua tersebut dengan berlari di sepanjang Puncak barisan Pegunungan, merencanakan untuk menyerang Dunia Manusia. Kirito dan Eugeo telah mengatakan, sebelum mereka pergi menuju ibukota Centoria Utara, mereka telah bertarung melawan kelompok goblin di Gua Utara. Tapi dia tidak pernah mendengar dalam skala besar, lupakan pergerakan yang terlihat. Dengan melihat dari itu, seluruh Dark Territory telah bersiap untuk melancarkan serangan terhadap Dunia Manusia...

Saat Alice memikirkan itu, Amayori terbang di atas hutan dengan kecepatan penuh, mencapai langit di atas ladang gandum di perbatasan Rulid.

Tanpa ada tali kekang, Alice menggunakan tangannya untuk mengusap bagian atas leher dari naga tersebut agar dapat memberi sinyal untuk berhenti.

Alice berbaring di atas dan menatap ke bawah. Dia dapat melihat secara jelas, menyerang desa dari arah utara, bayangan dari beberapa penyerang di jalanan yang ramai itu. Tentara yang bertubuh pendek seharusnya adalah goblin yang lincah. Tidak jauh dibelakang, orc tinggi itu bergerak.

Tentara garis depan sudah sampai pada garis pertahanan sementara yang disusun dengan peralatan rumah dan kayu di sisi utara dari alun-alun pusat. Pedang putih terlihat berhantaman di sekitar penghalang itu.

Berhadapan dengan penyerang itu adalah penjaga desa. Tapi apakah itu jumlah, peralatan, atau pengalaman, mereka sama sekali tidak sebanding dengan pasukan goblin. Jika itu terus berlanjut, dengan segera teriakan seperti gempa bumi terdengar dari belakang, dinding yang perlahan mendekat dari orc raksasa akan tiba dan dalam sekejap akan menghancurkan perlawanan itu.

Alice menggeretakkan giginya dan bertarung melawan dorongan untuk segera menyerbu menuju pertarungan itu, sebaliknya memeriksa keadaan sekitar sekali lagi.

Api telah membakar jalanan timur dan barat, tapi alun-alun dan sisi selatan kelihatannya baik-baik saja. Sepertinya penduduk desa yang bukan bagian dari penjaga—tentu saja, itu akan termasuk Selka—telah mengungsi melalui gerbang selatan menuju hutan.

Alice menatap ke arah alun-alun pusat dan terguncang.

"Kenapa...?!"

Di alun-alun tepat di depan gereja terdapat ribuan orang. Dia tidak menyadari itu sebelumnya dikarenakan jumlah yang sangat besar. Itu seharusnya adalah populasi seluruhnya dari penduduk desa di Rulid.

Kenapa mereka tidak mengungsi keluar dari desa?

Pada saat kekuatan utama dari penyerang itu mencapai garis pertahanan utama, penjaga itu akan dengan segera tersebar. Itu bahakan sudah terlalu telat untuk mulai bergerak.

Melupakan keinginannya sendiri, Alice menerbangkan naganya di atas alun-alun desa dan berteriak.

"Amayori, bersiaplah sampai aku memanggilmu!"

Dengan satu nafas, dia melompat dari ketinggian sepuluh mel. Mantelnya berkibar oleh angin, dia menjatuhkan diri lurus ke bawah menahan udara malam yang dingin.

Formasi melingkar dari tiga ratus penduduk desa mungkin berencana untuk membuat posisi bertahan untuk beberapa saat, laki-laki yang memegang cangkul dan arit ditempatkan disekitar perbatasan, disamping dua orang dengan kuat memerintah mereka, Alice mendarat di tanah dengan suara yang menusuk telinga.

Batu bata di bawah sepatu besinya perlahan menjadi retak. Meskipun guncangan dari hantaman itu mengalir dari ujung kakinya menuju bagian atas kepalanya, sedikit mengurangi Lifenya, Alice menarik lebih banyak perhatian pada dirinya.

Dua laki-laki—Nigel Barbossa dan Kepala Desa Rulid Gasupht Schuberg—mengeluarkan tubuh mereka dari kerumunan untuk bereaksi pada bayangan yang turun secara tiba-tiba.

Alice melihat ke arah wajah ayahnya dan merasakan sedikit kekesalan di dalam hatinya, namun menghiraukan keheningan secara tiba-tiba itu dan berteriak.

"Tempat ini tidak dapat dipertahankan! Kumpulkan semua orang dan mengungsi melalui jalanan selatan sekarang!"

Mendengar suara dinginnya, dua laki-laki itu memperlihatkan keterkejutan yang lebih besar dan masih tetap terdiam.

Tapi beberapa detik kemudian, balasana datang dari perkataan kasar Barbossa.

"Apa yang kau katakan! Untuk kita meninggalkan rumah kita...Meninggalkan desa dan melarikan diri?!"

Kepada petani yang hidup berkecukupan itu, Alice membalas dengan mengatakan.

"Kita masih dapat pergi sebelum goblin itu mengejar kita! Hartamu atau hidupmu, diantara keduanya manakah yang jauh lebih penting?!"

Sebagai ganti dari Barbossa yang terdiam, Kepala Desa Gasupht mengatakan itu secara gugup dengan suara pelan.

"Kepala penjaga, Jink, memerintahkan kita untuk membentuk lingkaran pertahanan di alun-alun. Dalam situasi seperti ini, bahkan sebagai Kepala Desa, aku haya dapat mengikuti perintah dari kepala penjaga."

Sekarang giliran Alice yang menjadi terdiam.

Pada saat penyerangan, seseorang dengan sacred task kepala penjaga secara sementara akan mengambil kendali penuh pada semua orang, ini sudah jelas berdasarkan paragraf yang tertulis dalam Hukum Dasar Kerajaan Norlangarth Utara.

Tapi kepala penjaga yang dipanggil Jink adalah anak laki-laki muda yang mewarisi posisi itu dari ayahnya. Dalam situasi seperti in, Alice berpikir bahwa itu tidak masuk akal untuk menganggap Jink dapat dengan tenang membuat keputusan dan perintah, wajah Gasupth mempelihatkan perasaan frustasi yang dalam, tapi itu sudah dipastikan bahwa Kepala Desa memikirkan hal yang sama.

Tapi tidak peduli apapun yang terjadi, Hukum Kerajaan bersifat mutlak pada penduduk desa. Untuk dengan segera memulai evakuasi, Jink, yang mungkin masih memimpin pertarungan di garis pertahanan di utara, harus ditarik kembali dan dipaksa mengganti perintahnya. Tapi tidak peduli bagaimana Alice memikirkan itu, tidak ada waktu yang tersisa untuk itu.

Tapi apa yang seharusnya dia lakukan. Apa yang seharusnya—

Pada saat itu, Alice, yang masih berdiri tanpa bergerak, mendengar teriakan pelan namun penuh dengan tekad.

"Lakukan seperti yang nee-sama katakan, ayah!"

Dia berbalik dengan terkejut. Dalam kerumunan itu, terdapat sister muda yang lemah yang menggunakan sacred art untuk merawat penduduk desa yang kelihatannya menderita luka bakar.

"...Selka!"

Ini sangat membahagiakan, semua baik-baik saja. Sebelum Alice dapat melangkah menuju saudara perempuan kesayangannya, Selka selesai merawat semua penduduk desa, segera berdiri, dan berjalan melalui kerumunan menuju mereka bertiga.

Dia tersenyum pada Alice dan berbicara pada Gasupht, wajahnya menjadi tegang.

"Ayah, bahkan semenjak kita masih muda, apakah nee-sama pernah melakukan kesalahan? Tidak, dan bahkan aku mengetahui itu. Jika terus seperti ini, semua orang akan terbunuh."

"Tapi...tapi..."

Gasupht kehilangan kata-katanya dengan ekspresi menyedihkan. Kumisnya sedikit gemetar dan pandangannya terus berada di satu tempat.

Sebagai ganti dari Kepala Desa yang terdiam itu, Barbossa berteriak sekali lagi.

"Anak kecil seharusnya menutup mulutnya!! Kita harus melindungi desa kita!"

Mata merahnya mengarah menuju bangunan yang berdiri tidak jauh dari alun-alun, rumahnya sendiri. Lebih tepatnya, dia lebih melihat tumpukan dari simpanan gandum yang baru saja dipanen dan gudang emas yang menyimpan itu selama lebih dari satu tahun.

Melihat ke arah Alice dan Selka, Barbossa tiba-tiba berteriak dengan kata-kata yang tidak terduga.

"Sial...Jadi seperti ini, aku mengerti, aku mengerti! Seseorang yang menarik monster kegelapan dari tanah kegelapan menuju desa ini adalah kau, Alice!! Kau telah dikotori oleh kekuatan kegelapan ketika kau melewati Puncak Barisan Pegunungan, bukan!! Penyihir...Perempuan ini adalah penyihir!"

Pada saat ditunjuk dengan jari gemuknya, Alice kehilangan kata-katanya. Suara dari penduduk desa yang berbicara diantara mereka saja, suara pedang yang saling berhantaman di garis pertahanan, dan teriakan monster yang berasal dari sisi utara perlahan menjadi reda.

Ini sudah beberapa bulan semenjak Alice tinggal diluar desa, dia telah membantu Barbossa menebang jatuh pohon raksasa tidak terhitung jumlahnya. Setiap waktu, laki-laki ini berterima kasih dengan sikap melecehkan. Tapi, hanya demi melindungi kekayaannya sendiri, dia dapat mengatakan sesuatu seperti itu, apa maksud dari hal itu—

Alice mengalihkan pandangannya dari laki-laki jelek dengan ekspresi seperti setengah Orch dan berguman dengan suara pelan di dalam hatinya.

—Mungkin, kalian semua seharusnya melakukan seperti yang kalian inginkan.

—Aku tidak perlu memaksakan diriku seperti ini. Aku hanya bisa mengambil pergi Selka, kakek Garitta, orang tuaku dan Kirito dan meninggalkan desa ini untuk menemukan rumah baru yang jauh dari tempat ini.

Dia menggeretakkan giginya dengan erat dan menutup matanya.

Tapi Alice terus berpikir secara keras.

—Tapi kebodohan Nygr Barbossa dan penduduk desa lainnya yamg diperlihatkan, diciptakan oleh peraturan Gereja Axiom selama beratus-ratus tahun.

Dibawah Taboo Index, mereka menggunakan tidak terhitung hukum dan peraturan untuk membatasi orang-orang, memberikan kedamaian seperti air hangat yang sementara tanpa henti mengambil apa yang terpenting.

Itu adalah, kemampuan untuk berpikir, dan kemampuan untuk bertarung.

Dalam waktu yang terasa seperti selama-lamanya, dimana kekuatan tidak berbentuk itu tersimpan?

Itu hanya terdapat pada tiga puluh satu Integrity Knights.

Menghirup dan menghela nafas secara dalam, Alice membuka secara paksa matanya seperti tali yang terputus.

Dia melihat Barbossa terkejut saat menjatuhkan tangan kanannya, wajahnya kehilangan warnanya seolah-olah dia ketakutan terhadap sesuatu.

Itu berbalik dengan Alice, yang tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan yang sangat besar. Api pucat yang tenang namun sangat membakar. Itu adalah apa yang dia pikir bahwa dia telah kehilangan itu dalam pertarungan di lantai tertinggi di Katedral Pusat—kekuatan yang membuat Kirito, Eugeo, dan Alice memberontak melawan Pemimpin Tertinggi dari Dunia Manusia.

Setelah mengambil nafas dalam, Alice menyatakan.

"...Aku akan menarik kembali perintah dari kepala penjaga Jink. Aku memerintahkan kalian semua, bubarkan formasi ini dengan segera, seseorang dengan senjata, pimpinlah jalan untuk mengungsi menuju hutan selatan."

Meskipun suara itu sangatlah jelas, Barbossa tersentak seolah-olah diserang dengan sesuatu. Bahkan meskipun begitu, keberaniannya dalam membantah dengan suara bergetar patut dipuji.

"Pada...Pada kekuasaan apa, kau dapat mengatakan itu, gadis kecil yang diasingkan, mengatakan seperti itu..."

"Kekuasaan knight."

"Kn...Apa maksudmu dengan knight?! Tidak ada sacred task seperti itu di desa ini! Kau hanya mengetahui bagaimana mengayunkan pedang, dan kau dengan angkuh memanggil dirimu sebagai knight, jika knight di ibu kota pusat mengetahui itu, kau tidak akan dimaafkan..."

Menatap pada Barbossa yang menjadi berguman, Alice perlahan mengenggam pelindung bahu kanannya dari armornya dengan tangan kirinya.

"Aku...Namaku Alice. Aku, Integrity Knight ketiga puluh dari Gereja Axiom, yang mengawasi seluruh Centoria, Alice Synthesis Thirty!"

Dia berteriak dengan keras, dan melemparkan mantelnya.

Saat kain berat itu terlempar keluar, armor emasnya dan Fragrant Olive Sword dalam sekejap memperlihatkan warna dari api yang terbakar, bersinar dengan cahaya menyilaukan.

"Apa...I-I-Integrity Knight...?!"

Nada suara Barbossa benar-benar berubah dan dia terjatuh ke belakang pada punggungnya. Mata Gasupht terbuka lebar.

Gelar Alice sama sekali bukan kebohongan. Ini karena, di dunia ini, tidak ada manusia yang mampu menipu sebagai seorang Integrity Knight–seperti itu, karena memiliki kekuasaan dari Gereja Axiom. Satu-satunya orang yang dapat melawannya adalah Kirito dan Eugeo, tapi bahkan jika dia melarikan diri dari ibu kota pusat menuju tempat ini, itu bukan berarti Alice akan menyerahkan pedangnya yang memastikan statusnya sebagai knight.

Penduduk desa yang ribut itu dengan segera menjadi tenang. Suara dari hantaman pedang di garis pertahanan yang ada di utara, dan teriakan dari penjaga dan goblin itu perlahan mereda.

Seseorang yang pertama kali memecah keheningan itu adalah suara pelan Selka.

"Nee...sama...?"

Mengarahkan padangannya pada saudara perempuannya, yang mendekap tangannya di depan dadanya, Alice memperlihatkan senyuman indah.

"Maaf karena aku merahasiakan ini darimu, Selka. Ini adalah hukumanku yang sebenarnya. Di saat yang sama, ini adalah—tugasku yang sebenarnya."

Air mata mengalir dan keluar dari mata Selka.

"Nee-sama...Aku...Aku selalu mempercayai itu. Nee-sama tidak akan pernah menjadi seorang kriminal. Ini...benar-benar indah..."

Seseorang yang bergerak berikutnya adalah Gasupht.

Berlutut dengan suara keras, kepala desa itu berteriak dengan suara keras.

"Aku akan mematuhi perintahmu, Integrity Knight yang terhormat!"

Berdiri dengan cepat, dia berbalik menuju penduduk desa yang berada di belakangnya dan memperbesar suaranya.

"Semua orang berdiri!! Seseorang dengan senjata, tunjukan jalan menuju gerbang selatan!! Pada saat kau keluar dari desa, berlarilah menuju perbatasan hutan selatan!"

Diantara kerumunan yang duduk itu, keributan mulai tersebar. Tapi itu hanya untuk sesaat. Tidak ada penduduk desa yang tidak akan mematuhi perintah kepala desa, yang juga berasal dari Integrity Knight.

Dengan segera, petani yang terus melindungi garis perbatasan itu berdiri secara bersamaan, dan melindungi perempuan, anak-anak dan orang tua di dalam batas itu membentuk satu barisan. Gasupht bergabung dengan kelompok pemandu, mengambil cangkul berkarat untuk dirinya. Alice menatap pada matanya dan mengatakan itu dengan suara pelan.

"Ayah, tolong jagalah semua penduduk desa...Selka, dan ibu."

Mata Gasupht yang penuh dengan tekad menjadi bimbang untuk sesaat, dan dengan ragu-ragu menjawab.

"......Tolong tetaplah selamat, Integrity Knight yang terhormat."

Ayahnya sekarang tidak akan pernah menyebut Alice sebagai anak perempuannya. Ini adalah harga untuk kekuatan yang diberikan. Saat Alice mengubur itu di dalam ingatannya, dia perlahan mendorong punggung Selka, mendesak untuk bergerak ke samping Gasupht.

"Nee-sama...Tolong jangan terlalu memaksakan diri."

Tersenyum dan mengangguk pada saudara perempuannya yang menangis. Alice berbalik dan melihat ke arah utara.

Di saat yang sama, penduduk desa mulai bergerak.

"Ah...ahhh...Rumah...Rumahku..."

Merintih dengan ekspresi menyedihkan, Nigel Barbossa terus duduk di tanah. Matanya mengarah diantara penduduk desa yang berlari dan rumahnya yang hendak diselimuti dengan api. Silahkan jika kau ingin menjaga dirimu sendiri, pikir Alice saat dia berkosentrasi pada penduduk desa lainnya.

Meskipun penduduk desa telah berhasil bergerak, terdapat setidaknya 300 orang. Itu akan membutuhkan waktu untuk semua orang untuk meninggalkan desa ini, tapi garis pertahanan itu sudah hampir runtuh, dan langkah kaki dari musuh yang bergerak dari timur dan barat mendekat.

Tiba-tiba teriakan anak laki-laki datang dari alun-alun utara.

"Tidak! Lari! Lari—!"

Suara tersebut kedengarannya berasal dari kepala penjaga Jink. Mendengar itu, Barbossa tiba-tiba merengut pada Alice dengan kekuatan yang didapatkan kembali.

"K...Kau lihat!! Kita seharusnya tetap ada di sini dan bertahan!! Kita akan mati! Semua orang akan mati!!"

Alice mengangkat bahunya dan dengan tenang membalas.

"Tenanglah, aku dapat menggunakan ruangan bebas yang baru dibuat ini untuk bertarung. Aku akan melindungi tempat ini."

"Mustahil! Bagaimana kau dapat mampu mengatakan sesuatu seperti itu?! Bahkan...Bahkan jika kau Integrity Knight sebenarnya, sisi lain memiki banyak monster, apa yang dapat dilakukan oleh satu orang?!"

Bayangan dari goblin dan orc yang menyerang dari timur dan barat sekarang terlihat dan Barbossa masih berkata kasar. Menghiraukan dia lagi, Alice berputar dan meliat ke belakangnya, bahkan meskipun barisan dari penduduk desa masih memanjang hingga alun-alun, sekarang adalah jarak yang cukup jauh darinya.

Alice menggenggam kerah Barbossa dan melemparnya ke selatan, lalu menunjuk ke arah langit malam dan dengan keras memanggil naga kesayangannya.

"Amayori!"

Dengan segera, teriakan tajam berasal dari langit. Tangan Alice terayun dari timur ke barat, dan dia berteriak.

"—Bakarlah semuanya!"

Badai angin yang disebabkan sayap tersebut turun dari langit, Barbossa dan demi-human yang tidak normal—goblins yang berlari menuju alun-alun melihat ke atas.

Bayangan sayap melesat melewati langit berwaran merah dengan api, naga raksasa turun dari arah timur dan membuka mulutnya dengan lebat. Dari dalam tenggorokannya, cahaya putih pucat bersinar—

Whoosh!

Dari jalanan barat, api panas menebas melalui alun-alun pusat di depan Alice yang berdiri dan Barbossa yang duduk, memotong di jalanan timur. Dalam sekejap.

Api mengerikan yang menyala dan meledak di langit malam. Goblin yang terselimuti dengan itu terlempar ke udara, berteriak.

Sword Art Online Vol 15 - 113.jpg

Api naga itu dalam sekejap menghancurkan setidaknya dua puluh penyerang menguapkan air di air mancur yang ada di bagian tengah alun alun itu, uap putih menyelimuti keadaan sekitar. Alice memberi sinyal pada Amayori yang melewatinya untuk bersiap lagi, dan memeriksa keadaan di belakang.

Barbossa terbaring di batu bata seolah-olah dia menjadi membatu, matanya seolah-olah hendak keluar dari lubangnya.

"Ap...Ap...seekor naga...seekor naga...?!"

Saat Alice memikirkan tentang bagaimana dia membuat ekspresi tegang dari wajah orang tua itu menghilang, seperti memisahkan uap itu, penjaga Rulid yang memakai armor kulit itu berlari dari utara. Melarikan diri lebih awal terbukti menjadi pilihan yang penting, saat penjaga yang berjumlah kira-kira sepuluh orang menderita luka, tapi kelihatannya tidak ada yang mengalami luka berat.

Anak laki-laki tinggi yang berlari di belakang, kepala penjaga Jink, melihat alun-alun kosong dan berteriak.

"Di-dimana penduduk desa itu pergi?! Bukankah aku memberitahu mereka untuk tetap di sini dan bertahan?!"

"Aku memerintahkan mereka untuk melarikan diri menuju hutan selatan."

Alice menjawab seperti itu. Jink mengedipkan mata seolah-olah dia baru saja menyadarinya dan melihat dia dari atas ke bawah sebanyak beberapa kali.

"Kau adalah...Alice...? Kenapa kau...?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Apa semua penjaga ada di sini? Apakah masih ada seseorang yang tertinggal di belakang?"

"Ah... ahh, tidak, seharusnya tidak ada..."

"Baiklah, kalau begitu pergilah dengan orang lainnya. Ahh, tolong bawalah Barbossa-san bersama denganmu juga."

"T-tapi...mosnter itu tepat berada di belakang kita..."

Bahkan sebelum dia memiliki waktu menyelesaikan perkataannya—

"Giiiii!"

Teriakan serak memenuhi alun-alun.

"Dimanakah mereka pergi—! Dimanakah Iums putih pergi—!"

Menyerbu keluar dari uap yang ada di alun-alun adalah goblin, memakai armor metal yang berkarat, menggenggam pedang kasar yang menyerupai lembaran logam, dan memakai bulu panjang di kepala mereka. Dari penampilan mereka, mereka bukan berasal dari suku yang sama seperti kelompok yang baru saja dibakar oleh api Amayori, dan mereka jauh lebih terlatih.

Alice mengambil nafas dengan dalam dan mengenggam gagang pedangnya dengan tangan kanannya. Naga itu tidak dapat mengulangi nafas apinya. Sampai Amayori dapat mengumpulkan lagi thermal elements yang cukup, Alice harus menghadapi kekuatan utama dari tentara musuh seorang diri.

Salah satu goblin itu menyadari Alice yang mengenakan armor emas, dan warna dari perasaan haus darah dan nafsu terlihat di matanya yang bersinar emas saat dia berteriak.

"Gihii!! Gadis ium! Bunuh diaaa! Bunuh dia dan makan diaa!!"

Dengan tenang menghadapi demi-human yang menyerbu lurus ke arahnya sementara mengayunkan parangnya dengan tangannya yang benar-benar panjang, Alice berguman di dalam hatinya.

—Sungguh kekuatan mengerikan yang telah diberikan padaku. Keberadaanku benar-benar sebuah dosa.

Tubuh ini sebagai Integrity Knight.

"Gyaa——!!"

Parang berat itu terayun ke bawah saat dia melompat dan ditangkap oleh Alice yang dengan hati-hati mengulurkan tangan kirinya. Meskipun dia merasakan hantaman yang sangat kuat melalui telapak tangannya, itu tidak menghancurkan tulangnya maupun menggores kulitnya. Menggenggam pedang tumpul itu dengan lima jarinya, dia menghancurkan itu seolah-olah itu tidak lebih dari es tebal.

Bahkan sebelum bagian metal itu, rusak dan tersebar dengan jauh terlalu mudah, dan terjatuh ke tanah, Fragrant Olive Sword sudah ditarik oleh tangan kanannya dan menebas garis horizontal melalui badan goblin itu.

Cahaya emas yang menyilaukan dari pedang itu menyapu tiga goblin yang mendekat dari belakang dan menghempaskan kumpulan uap padat juga dalam waktu singkat. Bola mata emas dari empat tentara musuh itu terbuka lebar, seolah-olah tidak menyadari apa yang telah terjadi, sementara bagian atas tubuh mereka terpisah dengan bagian bawah tubuh mereka sebelum mereka dapat mengeluarkan satu kata, terjatuh secara kasar di tanah. Menghindari darah yang menyembur beberapa saat kemudian, dia berguman di dalam hatinya sekali lagi.

—Pemimpin Tertinggi Administrator. Kau salah, setelah semua.

—Kau mengumpulkan semua kekuatan ini hanya pada tiga puluh Integrity Knight dan membuat mereka menjadi boneka tanpa ada keinginan mereka sendiri.. Kau berpikir untuk menggenggam semua kekuatan yang seharusnya dibagi merata pada penduduk dari Dunia Manusia melalui itu. Tetapi, kekuatan yang sama sekali tidak dibagikan hanya berperan sebagai kebohongan dan tipuan baik pada pemiliknya dan seseorang yang ada di sekitarnya. Seperti bagaimana kau telah diberi dengan kekuatan hebat itu dan kehilangan perasaan manusiamu...

Kesalahan itu sekarang tidak dapat diperbaiki lagi dengan kematian Pemimpin Tertinggi.

Karena itu, setidaknya, dia harus mengeluarkan setiap kekuatan itu untuk penduduknya.

Tidak sebagai Integrty Knight dari Gereja Axiom, tapi sebagai satu swordswoman, dia harus berpikir dengan pemikirannya sendiri dan bertarung dengan tekadnya sendiri. Seperti bagaimana swordsman pemberani itu telah lakukan.

Mata kanannya yang tertutup selama mengayunkan pedang, Alice membuka itu dengan ketetapan hatinya.

Di saat yang bersamaan, garis pertahanan yang secara terburu-buru dibangun di bagian utara alun-alun itu dihancurkan menjadi bagian kecil dari sisi lainnya.

Unit utama dari penyerang itu menyerbu ke dalam seolah-olah memenuhi jalanan utama yang luas itu. Goblin yang berjumlah lebih dari lima puluh dan ditemani, meskipun berjumlah lebih sedikit, orcs yang bertubuh besar, dengan berbadan gemuk tertutupi dengan armor besi tebal, dengan setiap dari mereka memiliki trisula[5] di tangannya.

Pada saat melihat mereka yang mata emasnya bersinar, kemerah-merahan, dan teriakan yang dipenuhi dengan kebencian dan keinginan, rintihan keputusasaan keluar dari Jink, penjaga lainnya, dan Nygr Barbossa.

Tapi hati Alice sangat tenang.

Dia tidak mengandalkan bakat pertarungan yang dia dapatkan sebagai Integrity Knight. Bahkan tidak mungkin knight dapat terbebas dengan luka ringan jika mereka dikelilingi dengan jumlah seperti ini dan ditusukkan oleh tombak mereka.

Apa yang diberikan pada kekuatan Alice adalah kesadaran yang baru.

—Aku akan bertarung untuk apa, yang diriku, cari dari sekaraang. Aku akan bertarung untuk melindungi saudara perempuanku dan orangtuaku, bersamaan dengan penduduk Dunia Manusia yang Kirito dan Eugeo ingin lindungi.

Alice dengan jelas merasakan keraguan yang tersisa di dalam dirinya dan perasaan dari kegagalannya menghilang menjadi cahaya putih jauh di dalam hatinya. Cahaya itu keluar dari dalam dirinya, akhirnya berkumpul di mata kanannya, tertutupi oleh penutup mata berwarna hitam, dan menciptakan panas yang sangat kuat.

".........!"

Dia menggeretakkan giginya saat dia menahan rasa sakit yang sangat kuat yang menembus lubang dari matanya dari bagian belakang kepalanya. Tapi rasa sakit itu entah bagaimana terasa sangat merindukan, atau menenangkan hati. Alice menggenggam perban yang berada di kepalanya dengan tangan kirinya dan melepaskan itu secara bersamaan.

Kelopak mata kanannya yang telah tertutup semenjak hari itu yang hampir lebih dari setengah tahun yang lalu perlahan terbuka. Cahaya merah yang tersebar dari bagian pusat dari penglihatan gelapnya dan pada akhirnya berubah menjadi api menyilaukan. Pandangan rumah yang terbakar dengan api saling terpisah dan perlahan-lahan mendekat menjadi satu—akhirnya tergabung menjadi satu.

Alice melihat ke arah kain hitam yang digenggam di tangan kirinya dengan kedua matanya.

Kirito membuat penutup mata, berubah warna karena dicuci berkali-kali, dengan merobek itu dari pakaiannya. Kain yang terus melindunginya selama berbulan-bulan bahkan semenjak mata kanannya meledak bersama dengan segel itu mungkin akhirnya telah mencapai akhir dari Lifenya saat itu mulai menghilang dari ujungnya saat menghilang di udara. Alice menjadi tersadar sementara menatap pada pemandangan indah, selama sekilas.

Dia berpikir bahwa dia menjaga Kirito yang telah kehilangan tangan kanannya dan hatinya selama setengah tahun ini. Tetapi, dia sebenarnya justru seseorang yang dilindungi.

"...Terima kasih, Kirito."

Menekan kain hitam itu di mulutnya dengan segera sebelum itu benar-benar menghilang, dia berkata dengan suara pelan.

"...Aku baik-baik saja sekarang. Aku kelihatannya masih akan kebingungan, khawatir, dan menjadi putus asa di masa depan...tapi aku akan terus maju. Untuk kita berdua mencapai tujuan kita."

Kepalanya terangkat ke atas pada saat kain itu menghilang.

Kedua matanya menatap pemandangan yang jelas dari hampir ratusan goblin dan orc yang mengeluarkan berbagai macam teriakan saat mereka menyerbu ke depan. Suara langkah kaki melarikan diri dari penjaga dan Nygr Barbossa bergema dari belakang.

Tidak ada ketakutan yang ada di dalam hati Alice saat dia berhadapan dengan tentara musuh seorang diri.

Menghirup secara dalam udara dengan aroma terbakar, dia berteriak.

"—Aku adalah knight dari Dunia Manusia, Alice!! Tidak ada darah atau pembantaian yang kalian inginkan akan terjadi sementara aku berdiri di sini!! Kembalilah ke tanahmu melalui gua dimana kalian datang dalam sekejap!!"

Seolah-olah terpengaruh teriakan halus, dan jelasnya, goblin yang berlari secara langsung sedikit berkurang kecepatannya. Tetapi, orc raksasa di bagian tengah dari kelompok itu, mungkin pemimpinnya, dengan segera mengayunkan kapak dua tangan dengan teriakan mengerikan.

"Graaahh!! «Moricca Pemotong Kaki» disini akan membuat seorang gadis ium kecil akan berlutut tidak lama kemudian!!"

Suara itu memberikan kekuatan pada goblin. Alice menetapkann sebagian besar jarak diantara dia dan tentara musuh yang menyerbu seperti gelombang hitam yang sangat besar—

"Amayori!"

Bayangan raksasa dengan cepat menukik dari langit pada saat dia memanggil namanya. Meskipun thermal elements yang dikumpulkan masih belum cukup untuk menembakkan sinar panas untuk saat ini, naga terbang itu mengintimidasi demi-humans dengan tubuhnya dan teriakan kerasnya sementara dengan cepat melayang di atas kepala mereka. Kegelisahan dari tentara musuh yang terdiam jauh lebih meningkat dibandingkan dengan sebelumnya.

Tidak membiarkan kesempatan itu menjadi sia-sia, Alice mengangkat Fragrant Olive Sword yang digenggam tangan kanannya dan berteriak.

"—Enhance armament!!"

Itu sudah setengah tahun semenjak dia terakhir mengucapkan perkataan dari «armament full control art», tidak perlu dibilang bagaimana dia memendekkan pengucapan dari art itu, tapi pedang kesayangan Alice merespon pada tekadnya. Pedang emas itu terbagi menjadi kelopak kecil yang tidak terhitung jumlahnya dengan suara metal yang jelas dan melayang di langit malam sementara memantulkan cahaya api.

"Tersebarlah—bunga!"

Badai emas dari bunga itu menyerbu menuju tentara musuh dengan tidak terhitung tebasan cepat.

Monster pertama yang diselimuti dengan percikan darah adalah pemimpin orc yang memanggil dirinya Moricca. Seluruh tubuhnya tertusuk dengan banyak kelopak bunga, dalam sekejap menghabiskan Lifenya, dan dia terjatuh ke tanah dengan suara keras. Orc di sekitarnya, juga, terjatuh ke tanah dengan teriakan satu demi satu.

Fragrant Olive Sword adalah sacred instrument diantara sacred instrument dengan pohon tertua yang tumbuh di bagian tengah Dunia Manusia sebelum dunia itu dimulai sebagai sumbernya. Seperti nama lainnya, «Keabadian yang Terus ada», maksudkan, bahkan ketika terbagi menjadi ratusan kelopak bungan melalui armament full control artnya, setiap kelopak itu memiliki prioritas yang sebanding dengan pedang terkenal yang ditempa oleh pengrajin. Armor besi kasar yang tersusun tidak mungkin dapat bertahan melawan itu.

Penyerang itu menjadi gelisah karena kehilangan kekuatan utama mereka, termasuk pemimpin mereka, dalam sekejap. Gerakan menyerbu itu menjadi lebih lemah tidak lama kemudian dan menjadi berhenti pada jarak sepuluh mel dari alun-alun.

Alice dengan cepat mengayunkan tangan kanannya yang menggenggam gagang pedangnya pada goblin yang berbaris di depan, kebingungan entah untuk mengeikuti keserakahan atau ketakutan mereka. Ratusan kelopak bunga melayang di udara dengan tebasan cepat, membetuk garis vertical yang membatasi antara Alice dan tentara musuh.

Alice mengatakan pernyataan dengan suara lemah sementara menatap pada demi-humans melalui pagar yang bersinar emas.

"Ini adalah dinding yang memisahkan Dunia Manusia dan Dark Territory. Bahkan jika kalian menggali pada gua itu, kalian tidak akan dapat mengotori dunia ini selama para knight masih hidup. Pilihlah—untuk maju dan mati di tengah lautan darah, atau melarikan diri dan kembali menuju tanah kegelapan!!"

Bahkan tidak sampat lima detik berlalu sebelum tentara goblin itu berbalik kembali dengan kekuatan hebat.

Bagian 3[edit]

Sebuah gema dari palu yang dipukul terdengar di udara dan langit biru, secara jelas di musim dingin.

Alice mengangkat tangannya ke dahinya dan melihat Desa Rulid yang melingkar menjulang tinggi dibalik ladang gandum.

Hari ini bertepatan dengan satu minggu telah berlalu semenjak serangan tentara kegelapan.

Banyak rumah yang dibangun di bagian utara dari desa telah terbakar, tapi dengan pilihan kepala desa untuk menahan hampir semua sacred task setiap penduduk desa untuk bekerja pada itu, kemajuan dari pembangunan mereka sangatlah cepat. Dua puluh satu orang sayangnya terlalu lambat melarikan diri dan kehilangan hidup mereka, dan upacara pemakaman secara bersamaan diadakan untuk mereka di gereja tiga hari kemudian.

Setelah menghadiri upacara itu seperti yang diminta padanya, Alice menaiki naga terbangnya menuju gua utara untuk memastikan keadaannya.

Gua panjang yang seharusnya telah diruntuhkan berdasarkan perintah Bercouli telah digali bahkan hingga sampai sosok raksasa orc dapat dengan mudah melewati itu dan area yang paling mendekati Dark Territory menunjukkan tanda-tanda mereka berkemah selama beberapa malam.

Penyerang itu tidak menggali lubang di gua dalam satu malam. Mereka pasti berulang kali meruntuhkan pintu masuk itu setelah mengirimkan kelompok bertarung dari Dark Territory. Karena itu, seharusnya terdapat kelompok goblin yang tersembunyi di dalamnya, yang terus bekerja pada itu, ketika Integrity Knight Eldrie memeriksa pintu masuknya.

Kepedulian dan kecemasan yang tidak dapat dipercaya berasal dari goblin dan orc di waktu itu. Invasi ini hanya dapat dianggap tidak lebih dari penyelidikan, seperti yang mereka telah lakukan berkali-kali sebelumnya, dengan itu saja.

Sebagai ganti dari meruntuhkan gua itu sekali lagi, Alice menutupi sungai kecil yang mengalir dari tengah yang sebelumnya digunakan sebagai sarang naga putih di waktu dulu dan benar-benar membanjiri bagian dalam gua itu. Kemudian melepaskan cryogenic elements yang tidak terhitung jumlahnya yang dia ciptakan sebelumnya, dia menyegel gua dengan es daripada sebuah batu.

Sekarang, tidak ada seorangpun dapat melewati gua itu tanpa ada pengguna art yang kemampuannya sebanding dengan Alice dalam menciptakan thermal elements untuk melelehkan es.

Mengambil pandangan sekilas pada Desa Rulid dan Puncak Barisan Pegunungan yang menjulang dibalik itu, Alice mengikat tas terakhir dari barang bawaannya di kaki kiri Amayori.

"Erm...kakak."

Selka, yang telah membantunya dengan persiapannya untuk keberangkatan dengan senyuman indah sampai seajuh ini, membuka mulutnya sementara melihat ke bawah.

"...Ayah sebenarnya ingin untuk mengantarkan kepergianmu juga. Dia terus saja kebingungan semenjak pagi ini, kau tahu? ...Aku percaya bahwa dia seharusnya merasa bahagia di dalam hatinya bahwa kau telah kembali, kakak. Aku ingin kau mempercayai itu setidaknya."

"Aku tahu, Selka."

Alice memeluk tubuh kecil dari saudara perempuannya dan berbisik sebagai balasannya.

"Aku meninggalkan desa ini sebagai kriminal dan kembali sebagai Integrity Knight. Tapi di waktu berikutnya...Ketika aku menyelesaikan semua tugasku, aku akan kembali hanya sebagai Alice Schuberg. Itu akan menjadi hari ketika aku benar-benar dapat mengatakan ini. Aku kembali, ayah."

"...Baiklah. Hari itu pasti akan datang, bukan?"

Selka berguman dengan suara tangisan, mengangkat wajahnya, dan mengusap air mata itu dengan kerah dari pakaian sisternya.

Berpaling ke samping, dia memanggil anak laki-laki berambut hitam yang duduk di kursi roda tepat di sampingnya dengan suara gembira yang dapat dia kerahkan.

"Kau harus tetap sehat juga, Kirito. Cepatlah dan segera sembuh dan bantulah kakak perempuanku, kau mendengarku?"

Memegang kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangannya, sister, yang lebih muda dalam hal umur, menarik jimat yang penuh dengan berkat sebelum dia mengambil beberapa langkah ke belakang.

Alice mendekati Kirito, lalu perlahan mengambil dua pedang di tangannya dan menyimpan itu di tas yang di taruh pada pelana Amayori. Mengikuti itu, dia mengangkat Kirito, yang dengan mudah tumbuh, menjadi kurus dan mendudukkan dia di bagian depan dari pelana.

Dia sempat berpikir untuk meninggalkan Kirito di desa di bawah perawatan Selka. Setelah semua, jika mereka melanjutkan pergi ke Gerbang Besar Timur yang kelihatannya akan menjadi medan pertempuran yang menentukan pertarungan melawan tentara kegelapan, Alice akan berada di situ sebagai anggota dari Tentara Pertahanan Dunia Manusia dan tidak mampu untuk merawat Kirito disepanjang hari seperti yang dia selalu lakukan.

Tapi meskipun begitu, dia memutuskan untuk terus membawanya juga.

Kirito sudah pasti mencoba untuk mengambil pedangnya dan pergi menuju desa di malam ketika penyerangan terjadi seminggu yang lalu. Tekad untuk bertarung demi orang lain masih terus tersisa di dalam Kirito. Karena itu, medan pertempuran untuk melindungi Dunia Manusia dapat menjadi tempat terbaik untuk menemukan cara untuk mendapatkan kembali semangatnnya yang lalu.

Jika itu memang diperlukan, dia akan melindunginya bahkan jika itu mengharuskannya untuk mengikatnya di punggungnya dengan tali kulit.

Alice memberikan saudara perempuan yang sangat disayanginya satu pelukan erat untuk terakhir kalinya.

"...Aku akan pergi, kalau begitu, Selka."

"Ya. Jagalah dirimu...Dan pastikan untuk kembali lagi, kakak."

"Aku janji...Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada kakek Garitta-san juga...tetap sehat dan fokuslah pada pelajaranmu."

"Aku tahu. Aku akan menjadi sister hebat dengan pasti...dan suatu hari nanti, aku juga akan..."

Selka menjadi terdiam pada saat itu dan memperlihatkan senyuman muram, dan penuh dengan air mata.

Perlahan mengusap kepala saudara perempuannya sebelum melepaskannya, Alice menahan perasaan enggannya untuk pergi saat dia berjalan menuju naga kesayangannya dan menaiki itu dengan segera tepat di belakang dimana Kirito menduduki pelana itu.

Dia mengangguk pada saudara perempuannya di tanah dan menghadap ke arah langit biru.

Tali kekang itu perlahan tertarik dan naga itu mulai berlari di tanah diantara ladang gandum dengan kekuatan yang tidak menunjukkan tanda-tanda dua manusia dan tiga pedang membebaninya.

Dia pasti akan kembali lagi ke desa ini suatu hari nanti.

Bahkan jika dia harus memasuki medan pertempuran, semangatnya sudah pasti akan kembali, itu sudah pasti.

Alice mengusap air mata yang ada di kelopak matanya dan berteriak dengan suara keras.

"...Hah!"

Perlahan.

Sensasi melayang datang pada saat mereka meninggalkan tanah.

Setelah memahami gerakan udara di atas, Amayori bergerak melingkar saat itu melayang menuju langit.

Hutan dan ladang yang sangat luas, Desa Rulid di bagian tengah dengan atap yang baru dengan bagian tengahnya berkilauan, Selka melambaikan kedua tangannya saat dia secara sungguh-sungguh berlari, dia menyimpan pemandangan itu semua di kelopak matanya—

Alice membuat naga terbangnya mengarahkan kepalanya menuju langit timur.


Bab 16 - Serangan Di Ocean Turtle[edit]

Bagian 1[edit]

Bahkan seseorang yang menyatakan dirinya sangat genius Higa Takeru tidak mampu untuk memprediksi semua yang telah terjadi pada waktu dua jam yang lalu.

Tapi, situasi sekarang benar-benar dapat dianggap mengejutkan, dan hanya dapat dijelaskan sebagai peristiwa mencenggangkan.

Tidak dapat diduga, seorang gadis muda yang lemah dengan umur sekitar delapan belas atau sembilan belas menggunakan tangan kurusnya untuk menarik dan mengangkat kerah baju dari laki-laki yang lima belas sentimeter lebih tinggi darinya. Kemeja dari Hawaii yang tidak cocok itu digenggam sangat erat hingga hampir menjadi robek, sepasang sandalnya melayang di udara.

Dengan kedua matanya, bersinar sangat terang seolah-olah bercahaya, menatap lurus ke arah Jendral Kolonel Kikuoka Seijirou, Yuuki Asuna mengeluarkan perkataan tajam seperti pedang dari mulut merah cerinya.

"Jika Kirito-kun tidak dapat terbangun setelah semua ini, aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan dirimu."

Dari posisi Higa, tampak mustahil untuk melihat ekspresi Higa di bawah kaca mata berbingkai hitam yang memantukan cahaya lampu di langit-langit. Tapi anggota dari Self-Defense Force yang seharusnya berada pada sabuk hitam baik dalam judo dan kendo kelihatannya telah dihancurkan oleh perkataan Asuna, dia menelan ludahnya, dan perlahan mengangkat kedua tangannya baik di sebelah kiri maupun kanan, seolah-olah dalam posisi menyerah.

"Aku mengerti. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Aku akan memastikan Kirito-kun akan segera sembuh."

Keheningan singkat menyelimuti bagian dari Ruangan Kontrol Tambahan.

Tidak peduli jika itu adalah Higa, yang duduk di kursi di depan console, atau Koujiro Rinko, yang berdiri di sampingnya, atau tidak terhitung staff «RATH» di dalam ruangan itu, tidak ada seorangpun yang berani untuk berbicara. Itu jelas sangat mengejutkan mengenai aura mengerikan dari perempuan muda ini, Itu seolah-olah, perempuan muda ini pantas untuk julukan «Survivor»[6] dari medan pertarungan yang sebenarnya. Higa tidak dapat melakukan apapun selain memikirkan itu sekarang.

Akhirnya, Asuna tanpa mengatakan apapun melepaskan tangan kanannya. Kikuoka, setelah terbebas dari itu, mengeluarkan nafas panjang dengan ekspresi yang hampir terlihat seperti putus asa. Asuna melangkah ke belakang, berayun di tempat itu. Rinko dengan segera bergerak ke depan dan menahan punggung Asuna, jubah putihnya berkibar.

Ahli fisika perempuan yang merupakan senior Higa di fasilitas penelitian ini dengan erat memeluk Asuna pada dadanya, membisikkan perkataannya dengan ketetapan hatinya.

"Tidak apa-apa, semuanya akan menjadi baik-baik saja. Dia pasti akan segera kembali, menuju sisimu."

Suara lembutnya dengan sekejap menenangkan wajah Asuna yang menjadi sangat menegang.

"...Ya, kau benar. Aku minta maaf...karena menjadi sangat panik."

Mata Asuna mengeluarkan air mata yang bahkan sama sekali tidak ada ketika menahan penyerangan itu. Rinko perlahan mengusapnya dengan ujung jarinya.

Suara pintu geser yang terbuka menegangkan suasana yang sedikit menjadi lebih tenang lagi. Berlari ke dalam ruangan itu adalah Letnan Nakanishi.

Nakanishi, yang pakaian putih penuh dengan debu yang menjadi basah dengan keringat dan yang sarung di bahunya memperlihatkan gagang senapan yang besar, menatap ke arah Rinko dan Asuna dan mengatakan secara keras pada Kikuoka di belakangnya.

"Lapor! Penutupan secara sempurna dari pintu anti ledakan nomor satu dan dua, ditambah dengan selesainya mengevakuasi pekerja sipil telah diselesaikan!"

Kikuoka memperbaiki kerah dari kemeja Hawaii saat dia melangkah ke depan dan mengangguk.

"Kerja bagus. Berapa lama pintu anti ledakan itu dapat bertahan?"

"Ya...Itu akan bergantung pada peralatan penyerang, meskipun senjata api kecil tidak akan mampu menembusnya. Bahkan menggunakan ujung gergaji atau peralatan yang sama untuk memotong pintu tersebut setidaknya akan membutuhkan waktu setidaknya delapan jam. Jika peledak digunakan, pintu tersebut mungkin tidak bertahan...Aku menduga seperti, bagaimanapun juga, mereka tidak akan melakukannya, karena di dekat pintu anti ledakan..."

"Terdapat Light Cube Cluster."

Kikuoka menyelesaikan kalimatnya, mendorong kaca matanya ke atas batang hidungnya, dan tenggelam dalam pemikirannya.

Tapi dia dengan segera mengangkat kepalanya dan sedikit memeriksa ruangan kecil dari Ruangan Kontrol Tambahan.

"Baguslah, mari kita memikirkan situasinya. Nakanishi, laporkan korbannya."

"Baik pak. Kelompok peneliti sipil, tiga orang mengalami luka ringan, dalam perawatan di ruangan perawatan. Kelompok penjaga kita, dua orang mengalami luka berat, dua orang mengalami luka ringan, semua dalam perawatan dengan tidak ada resiko kematian, Siap untuk bertempur, enam orang, termasuk dua orang yang mengalami luka ringan."

"Dibawah serangan keras seperti itu, ini sudah keajaiban bahwa tidak terdapat kematian...Kalau begitu, laporkan kerusakan yang ada pada kapal."

"Terdapat banyak kerusakan disepanjang ruangan kontrol di lambung kapal. Sungguh mustahil untuk menutupi itu dalam jarak sejauh ini sekarang. Lorong dari lambung kapal menuju Ruangan Kontrol Utama juga sama, tapi itu hanya kerusakan kecil. Hal yang paling terparah adalah, karena sambungan listrik utama telah terputus...Meskipun sambungan tambahan dapat memberikan listirk yang stabil, jika tidak merestart sistem kontrol maka kita tidak dapat menyalakan baling-baling."

"Kura-kura laut tanpa insang. Dan perutnya telah tergigit oleh ikan hiu."

"Baik, pak. Zona Satu hingga Zona Dua Belas dari bagian bawah dan lambung bagian bawah benar-benar telah dikuasai."

Nakanishi yang memiliki rambut yang sangat pendek, yang wajahnya sendiri memperlihatkan semangat kuat, tidak ingin mengerutkan dahinya. Sebaliknya, Kikuoka memiliki penampilan seperti guru memutar rambut panjangnya, saat dia berbalik menuju konsol sementara menarik sandalnya dengan jari kakinya.

"Ruangan Kontrol Utama, Ruangan STL Satu, dan bahkan reaktor nuklir juga terjatuh di tangan mereka...Untungnya, tujuan mereka bukan untuk menghancurkannya."

"Apakah...Apakah seperti itu?"

"Jika mereka hanya ingin menghancurkannya, mereka tidak akan menggunakan kapal selam untuk melakukan serangan mendadak yang hebat ini. Menyerang kita dengan misile[7] pelacak atau torpedo[8] akan jauh lebih baik. Itu akan menimbulkan pertanyaan, siapa mereka...Higa-kun, apa yang kau pikirkan?"

Pada pertanyaan tiba-tiba tersebut, Higa mengedipkan matanya beberapa kali, memutar otaknya yang belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan.

"Uhh, ya, yeah."

Berguman tanpa arti saat dia berbalik menuju console itu, dia menggerakkan mouse dengan tangan kanannya dan memperlihatkan gambar kamera di dalam kapal yang merekam aksi penyeraangan di monitor besar.

Meskipun window video yang dibuka sangat gelap dan samar-samar, dia menghentikan rekaman tersebut di suatu adegan dan mengatur tingkat cahaya dan kejelasan. Apa yang terlihat adalah beberapa sosok dalam pakaian bertempur, berlari lurus dalam lorong di dalam kapal itu. Wajah mereka setengahnya ditutupi oleh helm dengan penghalang sinar yang memiliki banyak fungsi, dan mereka memegang senapan mesin yang terlihat sangat berbahaya.

"...Jadi, seperti yang kau lihat, dari kepala hingga kaki, tidak ada tanda dimanapun juga, seperti simbol, yang dapat mengidentifikasi mereka. Dari warna dan spesifikasi senjata mereka, mereka kelihatannya tidak berasal dari tentara normal. Senapan mereka adalah Steyrs[9], tapi itu adalah senjata yang umum...Satu-satunya hal yang dapat aku katakan, dari rata-rata penampilan fisik mereka, mereka kelihatannya bukan orang Asia."

"Itu berarti, mereka setidaknya bukan berasal dari Japanese Special Forces. Sungguh menggembirakan."

Kikuoka berbicara tanpa pikir panjang mengenai situasi mengerikan sementara mengusap dagunya. Mengeluarkan aura mengerikan dari matanya yang tenang yang biasanya menyipit, dia melihat kembali ke arah monitor.

"Kita hanya dapat memastikan satu hal...Orang-orang ini mengetahui keberadaan Project Alicization."

Higa mengangguk.

"Yeah, itu benar. Setelah serangan mereka dari lambung kapal bagian bawah, mereka dengan segera berlari menuju Ruangan Kontrol Utama. Tujuan mereka sangat jelas, untuk mengambil teknologi STL...Tidak, bottom-up AI yang sebenarnya «A.L.I.C.E.»."

Dengan kata lain, informasi sudah tersebar dalam waktu kerja yang sangat panjang. Tapi Higa tidak mengatakan itu secara langsung, dia menahan dorongan untuk melakukan scan pada setiap wajah dari pekerja «RATH» di ruangan ini untuk gerakan tiba-tiba, dan mengatakan ini dengan nada optimis.

"Sungguh beruntung, Ruangan Kontrol Utama dikuasai. Itu jauh lebih aman dibandingkan dengan menghancurkan konsol itu, aku memastikan perintah langsung menuju Underworld sudah tidak mungkin bisa. Campur tangan apapun terhadap simulasi eksperimen dan penarikan Fluctlight «A.L.I.C.E.» dari Light Cube Cluster sudah mustahil."

"Tapi, hal yang sama berlaku pada kita juga, bukan?"

"Benar. Menggunakan konsol tambahan, itu juga mustahil untuk melakukan perintah kekuasaan Administrator. Tidak peduli jika itu berasal dari sisi lain—Ruangan Kontrol Utama—atau sisi ini—Ruangan Kontrol Tambahan—Itu mustahil untuk menarik Fluctlight «A.L.I.C.E.» dengan perintah luar...Tapi Kiku-san, bukankah ini sama dengan kemenangan kita? Karena mereka tidak dapat mengakses Cluster dengan cara luar ataupun cara dari dalam, selama kita dapat memanggil kapal penyerang Aegis yang mengawal kita untuk mengeluarkan bala bantuan untuk serangan balasan, mereka semua adalah urusan kecil, urusan kecil."

"Aku tidak tahu apakah mereka urusan kecil...Tapi terdapat suatu masalah."

Ekspresi Kikuoka tepat serius saat dia bertanya pada Nakanishi.

"Bagaimana dengan kapal itu, apakah Nagato sudah bergerak?"

"Uh...Mengenai itu..."

Nakanishi menyalurkan kekuatan pada dagunya dalam usaha untuk menstabilkan suaranya, dan sedikit membungkukkan badannya.

"Nagato menerima perintah dari Armada Kapal Perang Yokosuka untuk menjaga jaraknya sekarang dan bersiap-siap. Kelihatannya Armada Kapal itu menganggap kita sebagai sandera."

"Ap..."

Mulut Higa terbuka lebar.

"Sandera? Tapi, semua orang telah melarikan diri dalam proses evakuasi!"

Seseorang yang menjawab dengan tenang adalah Kikuoka.

"Dapat dikatakan, orang-orang yang memakai pakaian hitam itu memiliki koneksi dengan petinggi dari Self Defense Force. Nagato telah ditarik dari Ocean Turtle pada jam delapan pagi ini, sekitar enam jam sebelum kumpulan orang itu menyusup. Pada saat Nagato menerima perintah untuk penyelamatan, mereka akan mengambil Light Cube «A.L.I.C.E.». Tentu saja, itu pasti memiliki batas waktu..."

"Itu berarti... Orang-orang ini sama sekali bukan teroris biasa. Ini sangat buruk...Jika mereka memiliki orang ahli di sisi lain juga, mereka mungkin akan mengetahui. Cara tersembunyi untuk menarik «A.L.I.C.E»..."

"Mengoperasi dari dalam Underworld, bukan...? Sekarang mereka telah mengambil kontrol Ruangan STL Satu, itu mungkin untuk mengatur konsol virtual yang terpasang di dalam Underworld untuk melakukan perintah penarikan itu..."

"Apa yang akan terjadi jika perintah itu dilaksanakan?"

Higa berbalik ke belakang dan menjawab pertanyaan mendadak dari Koujiro Rinko.

"Light Cube yang ditargetkan akan diambil dari Light Cube Cluster di dalam Bagian Utama dan dikirimkan menuju tabung kosong di ruangan kontrol manapun. Itu akan keluar di dunia ini."

Dia menunjuk lubang persegi yang ada di samping konsol, dan mengarahkan pandangan menuju pintu yang ada di dalam dinding tersebut.

Terdapat plat metal kecil yang terpasang di pintu aluminium, dengan kalimat [Ruangan STL Dua].

Di sisi lain dari pintu itu terdapat dua STL—kepanjangannya, «Soul Translators». Dalam salah satu mesin itu terbaring anak laki-laki dalam perawatan Suster dan Sersan Kelas Satu Aki Natsuki. Dia, Kirigaya Kazuto, telah memainkan peran penting semenjak awal dari Project Alicization, dan bahkan mengarahkan proyek ini sampai hari ini.

Kikuoka berbalik ke belakang dan menyilangkan tangannya, berbicara dengan nada tulus dan serius.

"Harapan terakhir kita akan bergantung pada pundaknya lagi. Higa-kun...Bagaimana kondisi Kirito?"

Mendengar nafas pelan, Higa mengangkat kepalanya dan secara langsung bertemu dengan pandangannya dengan tatapan tajam dari Asuna, yang sementara dipeluk Rinko.

Dia tenggelam pada keraguan bagaimana menyampaikan situasi sekarang padanya yang merupakan kekasih Kirito, tidak, kekasih Kirigaya Kazuto. Pada saat itu, dengan segera, suara serak namun penuh dengan ketetapan hati mencapai telinga Higa.

"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Tolong beritahu, situasi sebenarnya."

Mengambil nafas dalam, Higa mengangguk.

"Untuk menyingkat itu dalam satu kalimat...Itu mungkin... akan menjadi kondisi dimana kondisinya hampir mendekati kemungkinan terburuk."

Higa mengatakan itu dengan nada yang sangat serius, dan menggerakkan mouse sekali lagi.

Gambar dari penyerang itu menghilang dan window lainnya terbuka. Apa yang terlihat adalah gambar stereoscopic[10] berwarna yang bersinar secara tidak teratur.

"Ini adalah gambar dari Fluctlight Kirito-kun."

Semua orang di ruangan itu dengan tenang menatap ke arah laya.

"Seminggu lalu, semenjak dia disuntikkan dengan succinylcholine di Tokyo, jantung dan hatinya telah berhenti berfungsi normal. Untungnya, dia berhasil untuk bertahan hidup, tapi bagian dari otaknya...Lebih tepatnya, jaringan Fluctlightnya, telah rusak. Meskipun perawatan untuk itu akan sulit dengan metode medis yang sekarang, mungkin masih terdapat kesempatan untuk kesembuhannya jika teknologi STL digunakan. Karena itu, untuk menciptakan jaringan baru buatan, kita berusaha untuk memberikan energi dinamis pada Fluctlight Kirito-kun melalui STL yang tidak dibatasi."

Higa menghela nafas, mengambil botol air yang ada di atas konsol dan meminumnya. Dia sama sekali tidak terbiasa dengan jenis penjelasan panjang ini.

"Untuk melanjutkan perawatan ini, akan dibutuhkan bagi dirinya untuk melakukan dive di Underworld. Jika kita tidak membiarkan Fluctlightnya bergerak seolah-olah berada di dunia nyata, perawatan ini sama sekali tidak ada hasilnya. Karena itu, sama seperti divenya di cabang Roppongi, kita menyembunyikan ingatan Kirito-kun dan mendaratkannya di perbatasan Underworld...Ini yang awalnya kita rencakanan. Tapi, bahkan sampai hari ini kita tidak mengetahui alasannya...Aku takut bahwa alasannya adalah kerusakan Fluctlightnya, ingatannya sama sekali belum disembunyikan. Kirito-kun telah ditaruh di dalam Underworld dibawah kondisi dunia nyata sebagai Kirigaya Kazuto. Kita baru saja mengetahui hal tersebut dari perkataannya dari dalam..."

"Tunggu...Tunggu sebentar."

Koujiro Rinko menyela.

"Jadi, apakah dia, di Underworld dengan waktu yang dipercepat, menghabiskan hari-hari itu sebagai Kirigaya-kun? Berapa banyak bulan...di dalam..."

"...Sekitar dua tahun."

Mendengar jawaban Higa, tubuh Asuna yang dipeluk oleh Rinko sedikit bergemetar. Bahkan perkataannya kelihatannya sangat mengejutkan bagi dirinya, Higa melanjutkan, dengan mempercayai janjinya yang sebelumnya.

"Pada saat itu, Kirito-kun telah berhubungan dengan Fluctlights buatan di dunia tersebut. Aku takut, dia juga pada akhirnya mengetahui akhir Fluctlights, pada saat akhir dari eksperimen virtual sekarang ini, semuanya akan dihancurkan...Jadi, tujuannya berada di pusat dari Underworld, dan pada saat konsol penghubung di Desa Awal dengan dunia nyata. Kiku-san, dia berencana untuk memintamu melindungi semua Fluctlights."

Higa menatap ke samping, Kikuoka, yang kacamatanya memantulkan cahaya monitor masih menatap ke arah gambar stereoscoping. Dia berbalik kembali pada Rinko dan Asuna.

"...Ini sama sekali bukan sesuatu yang sederhana, karena konsol penghubung itu tersimpan di benteng dari pemerintahan yang berkuasa, yang sekarang disebut «Gereja Axiom». Karena Fluctlights yang berada di Gereja memiliki nilai status yang sangat tinggi, Kirito-kun, yang dikirim sebagai orang biasa, sama sekali tidak memiliki cara untuk bertarung melawan mereka. Awalnya, tidak lama setelah dia menyerang gereja, dia akan [Mati], dan log out dari Underworld...Tapi dia berhasil melakukannya. Setelah penyerangan itu, kita tidak dapat memastikan informasi lengkapnya dari log, tapi kita dapat menduga bahwa dia merekrut seseorang, yang tentu saja adalah Fluctlights buatan...sebagai, seorang partnernya. Dalam pertarungan melawan Gereja, partnernya berakkhir mati, dan sebagai hasilnya, ketika dia berhasil membuka sambungan menuju tempat ini, dia merasakan perasaan bersalah yang sangat dalam. Dapat dikatakan dia menyerang Fluctlightnya sendiri. Dalam sekejap, seseorang yang memakai pakaian hitam itu memutuskan kabel listrik utama, menciptakan sirkuit pendek yang dalam sekejap menusuk output STL. Sebagai hasilnya, dorongan Kirito-kun untuk menghancurkan dirinya menjadi kenyataan...Bagian [Kepribadiannya] telah berhenti bekerja..."

"Kepribadian...Berhenti bekerja? Apa maksudmu?"

Mendengar pertanyaan Rinko, Higa membalikkan badannya menuju konsol.

"...Tolong lihatlah ini."

Dia dengan cepat mengetik di keyboard dan memperbesar aktivtias hidup yang terjadi pada Fluctlight yang ditandai sebagai Kirigaya Kazuto.

Di dekat awan berwarna spectrum[11] yang bersinar secara tidak teratur, asap hitam kecil yang sangat gelap seperti dark nebula[12] telah terkumpul.

"Ini berbeda dari Fluctlight buatan yang berada di Light Cubes, kita masih cukup jauh sepenuhnya menganalisis struktur Fluctlight organik dari manusia. Tapi hasil dari pemetaan secara umum sudah selesai. Lubang hitam ini, yang pada awalnya ada di sini, pada dasarnya, adalah Kepribadian...[Subject]."

"Subject...Gambaran diri sendiri yang ditentukan oleh diri sendiri?"

"Ya. Semua pilihan manusia ditentukan oleh jalur Fluctlight Y/N[13] [Apakah ya atau tidak aku akan memproses sesuatu dalam kondisi ini.] Sebagai contoh, Rinko-senpai, apakah kau pernah memesan mangkuk kedua di restaurant gyudon?"

"...Tentu saja tidak."

"Bahkan tidak memiliki pemikiran sedikitpun dari 'aku masih ingin memakan itu' atau 'aku dapat memesan satu lagi'?"

"Tidak."

"Seperti itu, itu adalah hasil dari proses sirkuit kepribadian Rinko-senpai. Bagaimanapun juga, sebagian besar tidak ada pilihan yang dapat dibuat dan tidak ada gerakan yang dilakukan jika itu tidak melewati sirkuit ini. Dalam situasi Kirito, mayoritas Fluctlightnya tidak mengalami kerusakan. Tapi, karena sirkuit terpenting telah kehilangan fungsinya, tidak peduli jika proses input internal, ataupun output dari gerakan sadar, itu tidak dapat dilakukan. Apa yang dapat dia lakukan sekarang...Aku takut, itu semua adalah gerakan refleks yang tersimpan di ingatannya. Sebagai contoh, makan, tidur, dan tugas yang berhubungan dengan hal semacam itu."

Rinko menggigit mulutnya, seolah-olah dia sedang memikirkan tentang sesuatu. Dia pada akhirnya berbisik.

"Kalau...Kalau begitu sekarang, bagaimana kondisi pikirannya?"

"...Aku takut..."

Higa menjadi ragu, merendahkan kepalanya, dan melanjutkan.

"Dia tidak mengetahui siapa dia sebenarnya, atau apa yang dia ingin katakan atau apapun yang dilakukan...Itu mungkin adalah kondisinya yang sekarang..."

Keheningan tersebar di ruangan gelap itu untuk ketiga kalinya.

Bagian 2[edit]

"...Si..."

Bagian berikutnya dari kata itu benar-benar telah tenggelam pada suara keras yang diciptakan oleh sepatu yang terhentak di lapisan metal.

Anggota dari kelompok penyerang, Vassago Casals, kelihatannya tidak puas dengan memukul dinding sebanyak dua atau tiga kali, dan secara paksa menghancurkan kotak permen yang kosong dengan kakinya yang mungkin ditinggalkan teknisi RATH sepuluh menit lalu, sebelum akhirnya menghentikan perkataan kasarnya.

Sebagai bukti dari darah Latin yang mengalir melalui nadinya, dia menggerakkan tangannya, dari rambut panjang yang sedikit bergelombang, bergerak dengan cepat pada konsol dan mencengkram kerah dari jaket anti peluru dari salah satu rekannya dengan satu tangan.

"Coba katakan itu sekali lagi, orang sialan."

Vassago menggenggam laki-laki kurus, yang sangat lemah seperti tali. Rambut pirangnya dipotong pendek, dan kulitnya sangat putih seperti salju seolah-olah dia sedang sakit.

Laki-laki ini yang memakai sebuah kacamata berbingkai metal yang kasar adalah satu-satunya bukan tentara dalam team ini. Hacker[14] dengan nama Critter, secara tidak resmi dipekerjakan oleh Sistem Pertahahan Glowgen Departemen Operasi Cyber [CYOP][15].

Seseorang yang menyatakan dirinya kriminal internet dengan catatan penangkapan, dengan menggunakan nama internet daripada nama sebenarnya. Tapi Vassago juga sama. Vassago adalah salah satu dari 72 iblis yang tercatat dalam «Ars Goetia»[16], juga dikenal sebagai Pangeran Neraka. Tidak ada orang tua yang akan menamakan anak mereka dengan nama itu. Dia juga adalah pekerja dari CYOP dan sama sekali bukan ahli dalam komputer namun dalam pertempuran–tentu saja dalam kondisi Full Dive. Meskipun dia adalah laki-laki dengan catatan jauh lebih sedikit mencurigakan dibandingkan dengan Critter, kemampuan VRnya sangatlah hebat. Kenyataannya—

Dua belas anggota dari Team Penyerang «Ocean Turtle», selain dari pemimpin mereka, Gabriel Miller, semuanya memiliki masa lalu kelam, dan mengambil identitas baru sebagai ganti untuk diberi tugas seperti [Anjing].

Sebagai anjing di tengah kerumunan mereka, Critter tidak memperlihatkan ketakutan sedikitpun pada saat diangkat oleh Vassago, menjawab saat dia dengan keras menguyah permen karetnya.

"Aku akan mengatakan ini sebanyak yang aku inginkan. Dengar, konsol ini terkunci sangat keras seperti sampah kering, dan laptop yang kita bawa sama sekali tidak akan mampu menghitung kode pembuka sampai kalian orang sialan mati karena lelah menunggu. Mengerti?"

"Aku sama sekali tidak mengatakan itu, kacamata! Bukankah kau mengatakan bahwa itu menjadi terkunci karena kita bergerak terlalu lambat!?"

Vassago berteriak kembali dengan suara keras. Jika dia cukup berusaha keras, dengan rambut berantakannya, dia cukup tampan untuk menjadi model fashion yang sukses, tapi dia cukup menakutkan jika sedang marah.

"Hei, hei, aku hanya memberitahu kebenarannya saja, bukan?"

"Kau bergemetar seperti daun pada saat pertempuran, tapi kau adalah seseorang yang sangat angkuh sekarang!"

Rekan team lainnya hanya sedikit tertawa pada dua orang yang saling melemparkan kemarahan satu sama lain, daripada menghentikan mereka. Melihat waktu yang tepat, Gabriel menjentikkan jarinya untuk menarik perhatian mereka.

"OK, hentikan, kalian berdua. Tidak ada waktu untuk memutuskan siapa yang bertanggung jawab. Sekarang kita hanya perlu memikirkan langkah kita selanjutnya."

Lalu, Vassago tiba-tiba mengubah nada bicaranya seperti anak kecil.

"Tapi kakak, jika aku tidak memberinya pelajaran..."

Dia ingin untuk memberitahunya untuk tidak memanggilnya "kakak", tapi menelan perkataannya. Vassago memanggil Gabriel dengan kata ini karena mereka berdua mengakui kemampuan masing-masing dalam pertarung latihan VR satu lawan satu, tapi tidak peduli berapa banyak dia mendengar ini, itu terasa terlalu akrab. Bagi Gabriel, hubungan antara manusia yang tidak jelas yang hanya berdasarkan emosi, seperti teman atau partner, hanya suatu kata yang sangat sulit.

Cepat atau lambat, ketika teknologi mengeluarkan dan menyimpan jiwa menjadi miliknya, semua emosi manusia akan mampu mengelompokkannya sebagai warna atau bentuk dari «awan cahaya». Saat dia memikirkan hal itu, Gabriel mengatakan perkataan kepada dua orang itu dengan nada pemimpin.

"Dengarkan aku, Vassago, Critter. Aku benar-benar sangat puas dengan kemampuan tim ini sampai hari ini, saat kita berhasil mendapat tujuan pertama kita dari mengambil alih ruangan kontrol."

Mendengar itu, Vassago dengan sangat enggan melepaskan kerah pakaian Critter dan menaruh tangannya di pinggang.

"Tapi, kakak, itu sama sekali tidak ada artinya karena konsol terpenting ini terkunci. Tujuan terakhir kita, Light Cube Cluster atau apapun itu, berada di sisi lain dari dinding metal ini, bukan?"

"Lihat, kita hendak mendiskusikan cara untuk meruntuhkan dinding ini."

"Tapi, orang-orang JSDF tidak akan terus menjauh selamanya, bukan? Jika kita terus mengejar mereka, penjaga kura-kura besar bodoh ini, kapal penghancur Aegis akan mengirim seseorang ahli untuk menyerang kita, dan kita akan berada dalam masalah besar karena kita hanya memiliki sebelas orang dan satu orang tambahan."

Seperti yang diduga dari Wakil Kapten yang dipilih Gabriel, Vassago kemampuan mengontrol situasi di tangannya yang sama sekali bukan kemampuan dari anjing liar sederhana. Berpikir untuk sesaat, Gabriel mengangkat pundaknya dan mengatakan.

"...Seperti yang terlihat, klien kita memiliki suatu jenis transaksi rahasia dengan petinggi JSDF. Kapal penghancur Aegis tidak akan melakukan apapun dalam 24 jam semenjak serangan ini."

"...Hoo..."

Critter perlahan bersiul. Dibalik kacamata yang seperti kacamata pelindung, mata abu-abu terangnya menyipit.

"Jadi, operasi ini ternyata tidak lebih dari pencu... —Tidak, tidak. Itu lebih baik untuk tidak mengatakannya."

"Pikiranku sama denganmu."

Gabriel perlahan tersenyum dan mengangguk, memeriksa keadaan sekitar sekali lagi.

"Benar, mari kita memeriksa situasinya. Ini sudah jam 14.47, Standar Waktu Jepang. Dari waktu penyusupan hingga sekarang, 40 menit telah berlalu. Kita sekarang berada di Ruangan Kontrol Utama dari «Ocean Turtle». Meskipun kita berhasil mengambil alih fasilitas target, kita masih tidak mampu untuk menahan teknisi «RATH», dan sistem kontrol di sini telah terkunci. Tujuan kita selanjutnya adalah mengambil alih Ruangan Kontrol Tambahan... Brigg, dapatkah kau memotong pintu anti ledakan ini?"

Rekan timnya yang besar yang dipanggil olehnya perlahan melangkah ke depan dan menjawab.

"Ini sama sekali tidak terlalu bagus. Pintu tersebut kelihatannya berasal dari material sintesis terbaru. Menggunakan gergaji mesin portabel yang aku miliki, itu benar-benar mustahil dalam waktu 24 jam."

"Ekonomi Jepang masih hidup dan baik-baik saja. Hans, dapatkah kau meledakkan dinding dengan C4?"

Kali ini, rekan timnya yang kurus dengan kumis indah mengayunkan tangannya ke depan.

"Aku hanya bisa mengatakan kita harus melupakan cara itu. Di sisi lain dari dinding itu adalah tempat penyimpanan Light Cube Cluster, jadi aku tidak dapat menjamin tidak akan ada kerusakan pada barang itu sebelum meledakkan dinding ini."

"Mm."

Gabriel menyilangkan tangannya dan berpikir untuk sesaat, kemudian melanjutkan.

"...Misi kita, adalah untuk menemukan salah satu Light Cube dari sangat banyak Light Cube dan membawa itu bersama dengan penghubungnya. Kita sudah memiliki informasi dari ID Cube itu. Dengan kata lain, jika kita dapat mengoperasikan konsol ini, kita dapat dengan mudah mengambil Cube itu dan mengeluarkannya dari Cluster. Berdasarkan rencana, kita hampir dapat memilikinya di tas kita."

"Sialan, itu semua karena orang kacamata ini, yang selalu membanggakan 'kejahatanku adalah menyusup pada server utama dari Pentagon' atau apapun itu, tapi tidak dapat membuka kunci kecil."

"Ooh, aku ketakutan. Aku benar-benar dimarahi oleh gamer yang hanya menembakkan pistol yang terbuat dari poligon."

Menatap pada Vassago dan Critter yang hendak bertarung, Gabriel menguatkan nada bicaranya.

"Apa kalian semua ingin kembali dengan tangan kosong dan mendapatkan ejekan daripada hadiah?"

"Tidak!!"

Semua orang berteriak secara bersamaan.

"Apakah kalian semua hanyalah pemula yang bahkan tidak dapat mengalahkan teknisi amatir?"

"Tidak!!"

"Maka berpikirlah!! Buktikan bahwa objek bulat yang ada di atas leher kalian sama sekali tidak terisi dengan sereal!!"

Secara otomatis memperlihatkan kepribadian [Komandan Pantang Menyerah], Gabriel memikirkan itu pada dirinya dengan tenang.

Sebagai seseorang yang mencari jiwa, tujuan terbesar Gabriel adalah mendapatkan artificial intelligence sebenarnya yang pertama kali dibuat manusia «Alice» dan mengambil teknologi Soul Translator untuk dirinya. Setelah dia mendapatkan itu, dia berencana untuk menggunakan agen rahasia yang secara rahasia dia bawa untuk mengurus semua orang, dan lalu melarikan diri menuju Australia.

Tapi, hanya bisa mencapai tahap ini, perintah serangan yang NSA telah berikan pada dirinya entah bagaimana bergerak mendekati tujuan Gabriel. Sekarang, karena system commands telah diblokir melalui kekuasaan Administrator, mereka harus memikirkan cara lainnya untuk mengambil Light Cube «Alice».

«Alice»... «A.L.I.C.E.».

Seseorang yang memberitahu klien Gabriel, NSA, memiliki kode nama, sebagai informan di dalam «RATH», [Kelinci].

Gabriel masih belum mengetahui profile pribadi [Rabbit]. Tapi, dengan dorongan untuk mengkhianati organisasi dan menyebarkan informasi tapi masih belum menerima hadiah sangat besar, dia kelihatannya tidak akan memperlihatkan dirinya dalam situasi berbahaya dan berbuat sesuatu.

Dengan kata lain, mereka tidak dapat mengharapkan bantuan dari Kelinci, di sisi lain dari pintu anti ledakan ini. Mereka harus memanfaatkan informasi dan peralatan yang mereka miliki sekarang, dan mendapatkan tujuan mereka dalam waktu singkat.

Waktu—Itu semua masalah waktu.

Gabriel, yang tidak mengenal apa itu kegugupan dan kecemasan semenjak lahir, tidak dapat melakukan apapun selain merasakan tekanan ketika menghdapai dengan batas waktu yang perlahan mendekat dalam waktu 23 jam.

Ketika agen NSA mempercayakannya dengan misi penyerangan yang sangat rahasia, mereka telah mengatakan kepada Gabriel.

Kegiatan «RATH» sedikit mengganggu kepentingan kita dalam industri militer Jepang. Karena itu, petinggi dari Japan Self Defense Force akan terganggu dengan keberadaan dari «RATH» —Sebaliknya, terdapat banyak orang yang kita ingin untuk lindungi.

«RATH» sebagian besar terdiri dari pasukan muda dari Self-Defense Force yang tidak memiliki banyak kekuatan dalam politik. NSA sangat yakin dengan hal ini, dan menandatangani perjanjian rahasia dengan CIA dan beberapa petinggi yang ada di kedutaan. Kapal Penghancur Aegis Nagato yang melindungi markas pusat «RATH», «Ocean Turtle» tidak akan berbuat apapun dalam waktu 24 jam semenjak serangan itu, berdasarkan alasan [keselamatan sandera itu adalah yang paling penting].

Tapi, setelah beberapa waktu bersiap-siap, ketika memikirkan liputan media yang akan muncul, kapal penghancur Aegis pada akhirnya akan harus bertindak. Pada saat tentara dengan peralatan lengkap datang, tim penyerang Gabriel, yang kalah dalam jumlah, dan senjata, pada akhirnya akan dihancurkan.

Jika situasi ini benar-benar berubah menjadi kasus terburuk, dia masih akan dapat melarikan diri ke dalam kapal selam, seorang diri. Tapi di saat yang sama, tanpa mendapatkan Light Cube yang penting itu, perjalanan panjangnya untuk mencari jiwa itu akan menghilang hingga sampai pada kondisi tidak dapat diperbaiki lagi.

Gabriel dengan hati-hati telah merencakanan kehidupan panjangnya setelah serangan ini.

Pertama dia akan mengambil Alice dan melarikan diri ke Australia, menyembunyikan Light Cube dan teknologi STL dalam villa di Pulau Sovereign di Pesisir Emas. Kemudian, dia akan mengambil tiket pesawat menuju San Diego dan melaporkan kegagalan serangan itu pada NSA. Setelah itu semua telah terbongkar, dia akan kembali ke Australia, menyusun mesin STL di ruang bawah tanah yang luas di villanya, dan menciptakan dunia virtual mimpinya.

Penduduk dari dunia itu hanya terdiri dari «Alice» dan Gabriel untuk pertama kali. Tapi itu akan jauh terlalu sunyi. Karena tujuannya adalah mempelajari jiwa, dia harus meningkatkan sumber dayanya.

Dia akan mencari jiwa muda dan bersemangat yang ada pada orang di Sydney atau Cairns, menculik mereka, menggunakan STL untuk mengambil jiwa mereka dan membuang wadah yang tidak diinginkan. Terdapat hari dimana ketika dia akan melintasi laut dan melacak kembali kampung halamannya—dan negara dimana teknologi Full Dive berasal, Jepang.

Kekuatan stamina yang unik dari pemain game VR Jepang pernah sekali membuat bingung Gabriel. Tentu saja, tidak semua orang seperti ini, tapi satu kelompok dari pemain game yang hidup di sana, di dalam game VR, seolah-olah itu adalah kehidupan sebenarnya, dengan mudah memperlihatkan emosi mereka di dunia nyata. Kapanpun dia memikirkan gadis sniper yang dia temui di Gun Gale Online, dia akan merasakan rasa sakit yang berasal dari keinginan yang kuat.

Alasannya kelihatannya terhubung pada [Dunia Virtual Sebenarnya] yang sudah ada hanya semenjak dua tahun lalu di negara itu. Berdasarkan dari pembuatnya, anak-anak muda ini telah merasakan game kematian dengan aspek sebenarnya dari hidup dan mati. Jiwa dari [Survivors] memiliki kemampuan menyesuaikan diri di dunia virtual tidak seperti orang lainnya.

Jika itu dapat dilakukan, bahkan jika itu hanya satu, dia berharap untuk mendapatkan jiwa itu—terutama jiwa dari gamer elite yang disebut sebagai [Progressors]. Meskipun dia tidak mengetahui jika gadis sniper itu adalah salah satu dari mereka atau bukan, dia tentu saja berharap untuk mendapatkan jiwanya. Light Cube yang tersimpan dengan jiwa itu akan mengeluarkan sinar yang jauh lebih indah dibandingkan dengan permata apapun.

Cahaya indah dari taman bermain di dunia yang tidak akan mampu dibeli bahkan dengan sepuluh milyar dollar. Dia akan menyusun itu di dalam ruangan rahasianya, memilih apapun yang dia inginkan setiap hari dan memasukkan ke dalam dunia favoritnya, bermain dengan mereka sesuai dengan keinginannya.

Apa yang jauh lebih indah adalah jiwa yang dikeluarkan dari manusia dan disegel di dalam Light Cube dapat dengan mudah dicopy dan disimpan. Satu jiwa yang hancur, rusak, semuanya dapat dengan mudah disembuhkan dan benar-benar akan diciptakan sesuai dengan keinginan Gabriel. Itu hanya seperti memahat dan memoles batu biasa sampai itu menjadi bersinar dengan cahaya kuat.

Ketika dia mencapai tahap itu, perjalanan panjang Gabriel akan selesai, untuk pertama kalinya, tidak terhitung kegembiraan dan kebahagiaan dari awal muncul.

Ketika dia masih muda, di bawah pohon besar di hutan, dia melihat cahaya indah dari jiwa Alicia Clingerman.

Pemikiran itu terlintas di pikirannya, Gabriel menutup matanya, hawa dingin mengalir ke bawah dari punggunngya.

Ketika dia membuka matanya sekali lagi, dia kembali dengan sifat dinginnya.

Jika dia mengumpamakan jiwa dari anak kecil dari negara berbeda sebagai permata merah, hijau, dan biru dengan warna yang menyilaukan, yang mengelilingi mahkota raja, maka permata terbesar yang terpasang di tengah hanyalah «Alice». Hanya Alice, dengan jiwa terindah, yang tidak pernah disentuh, tidak cacat, yang akan pantas sebagai pasangan abadinya. Karenanya, dia harus memikirkan cara untuk mendapatkan Light Cubenya, tidak peduli apapun yang terjadi.

Tapi tanpa menghancurkan pintu anti ledakan dari ruangan penyimpanan Light Cube Cluster, dia tidak dapat mengambil Cube tersebut melalui cara fisik.

Karenanya, dia hanya dapat mengontrol itu dari sistem. Dapat dikatakan, bahkan kiriminal digital kelas satu Critter sama sekali tidak berdaya pada pengunci dari sistem ini.

Gabriel menggerakkan kakinya dan bergerak ke belakang Critter, yang membungkuk ke arah konsol itu, kedua tangannya bergerak sangat cepat.

"Bagaimana keadaannya?"

Kedua tangannya memukul meja sebagai jawabannya.

"Login sebagai Administrator sama sekali tidak bisa. Apa yang kita dapat lakukan hanya melihat dengan iri pada kerajaan seperti negeri dongeng dimana kelompok jiwa itu hidup bahagia di dalamnya."

Critter menggerakkan jarinya, sebuah window terbuka di monitor besar di dinding yang berada lurus di depan mereka dan memperlihatkan pemandangan mengagumkan.

Itu sedikit tidak seperti [kerajaan negeri dongeng]. Langit yang menyelimuti berwarna merah tua dan tanahnya berwarna hitam legam seperti aspal. Di bagian tengah dari gambar terdapat beberapa tenda primitif yang kelihatannya terbuat dari kulit binatang. Di sampingnya terkumpul sepuluh atau lebih dari mahluk aneh, yang botak, gemuk, yang menyebabkan suatu keributan yang tidak diketahui.

Mereka secara umum terlihat seperti manusia, tapi tidak peduli bagaimana kau melihat mereka, itu sama sekali bukan manusia. Punggung mereka membungkuk, tangan mereka hampir cukup panjang untuk menyentuh tanah, sementara kaki melengkung mereka sangatlah pendek.

"Goblin...?"

Gabriel berguman. Critter perlahan bersiul, mengatakan itu dengan kebahagiaan yang sangat jelas.

"Oh, kau cukup memiliki pengetahuan yang luas. Kapten. Itu benar, mereka sama sekali tidak terlihat seperti orc atau cannibals, jadi mereka seharusnya adalah goblin."

"Tapi, mereka jauh terlalu besar. Mereka mungkin adalah tentara kuat goblin."

Vassago melangkah di samping mereka dengan tangan di pinggangnya dan menambah komentarnya. Meskipun dia hanya seorang ahli dalam VR pertarungan, dia kelihatannya mengetahui terlalu banyak mengenai RPG fantasi.

Pada tempat dimana Gabriel melihatnya, pergerakan dari sepuluh [Tentara Kuat Goblin] akhirnya menjadi memanas. Pada akhirnya, dua dari mereka saling menyerang dada mereka satu sama lain, berkumpul secara bersamaan dalam perkelahian perebutan itu, dengan goblin di sekelilingnya mendukung mereka dengan tangan yang diangkat.

Sword Art Online Vol 15 - 154.jpg

"...Critter–"

Gabriel merasakan suatu intuisi yang samar-samar, dan mengatakan sesuatu pada orang berkepala seperti pendeta yang duduk di kursi.

"Huh?"

"Apakah...monster ini, apakah mereka adalah bagian dari sistem?"

"Hmm, mereka tidak terlihat seperti itu. Dari suatu sudut pandang, orang-orang ini adalah [manusia] sebenarnya. Mereka adalah artificial fluctlight yang terbaca dari Light Cubes...Fluctlights."

"Apakah benar?! Apa yang sebenarnya terjadi?!"

Vassago melompat dan berteriak dengan sangat keras.

"Tentara kuat ini adalah manusia!? Mereka memiliki jiwa yang sama seperti kita!? Perempuan tua yang tinggal di Frisco[17] akan mati jika mereka mendengar itu!!"

Memukul dengan telapak tangan secara perlahan pada kepala seperti pendeta, dia berteriak.

"Aku tidak dapat mempercayai bahwa orang-orang ini akan melakukan penelitan yang dapat menentang Tuhan. Benar, apakah benda bersinar itu dipenuhi dengan goblin, orc, atau apapun itu? Apakah Alice-chan kita juga salah satu dari mereka?"

"Tidak mungkin—"

Terganggu, Critter mendorong tangan Vassago menjauh dan membetulkan perkataannya.

"Dengar, dunia yang disebut Underworld yang diciptakan oleh peneliti «RATH» terbagi menjadi dua area. Berlokasi di bagian tengah, sedikit ke timut, adalah «Dunia Manusia» dimana manusia normal tinggal. Lalu, diluar itu adalaha «Dark Territory», dimana monster seperti ini akan berada di segala tempat. Alice tentu saja akan berada di suatu tempat di Dunia Manusia. Mustahil untuk menemukannya sekarang."

"Sebenarnya itu mudah. Jika ada manusia, bukankah mereka akan mengerti kita? Dapatkan kita cukup dive ke dalam Dunia Manusia dan menanyakan penduduk jika mereka mengetahui Alice?"

"Wow, orang bodoh. Di sini ada orang bodoh."

"Perkataan sialan apa yang kau ucapkan!!"

"Aku akan memberitahumu- orang-orang yang membuat Underworld adalah orang Jepang. Tentu saja, [penduduk yang hidup di sana] juga akan berbicara Bahasa Jepang. Dapatkah kau berbicara Bahasa Jepang?"

Mendengar perkataan Critter yang tercampur dengan tawa mengejek, Vassago memperlihatkan senyuman lebar.

"Jangan terlalu menganggapku rendah."

Sekarang, tidak hanya Critter, seluruh tim membuka lebar mata mereka. Vassago mengatakan kata Bahasa Jepang dengan sangat lancar bahkan sampai membuat Gabriel terkejut.

Laki-laki Latin muda itu kembali berbicara dengan Bahasa Inggris dan melanjutkan.

"Tidak ada masalah dengan komunikasi, bukan? Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan, kacamata?"

"Yeah...Yeah. Tentu saja."

Critter pulih dari keterkejutan dan mendengus.

"Terdapat sepuluh ribu orang yang tinggal di Dunia Manusia. Apa kau akan bertanya setiap dan...Semua orang dari jumlah tersebut..."

Critter menghentikan bantahannya seolah-olah dia menginspirasi dirinya melalui perkataannya sendiri dan tiba-tiba segera berdiri. Meskipun kepalanya yang seperti pendeta menghantam pada dagu Vassago, yang ingin mengeluarkan perkataan kasar, Critter berteriak tanpa keraguan.

"Tunggu. Tunggu sebentar. Itu—mungkin tidak perlu untuk salah satu dari kita untuk pergi..."

Mendengar ini, inspirasi samar-samar yang ada di pikiran Gabriel akhirnya benar-benar keluar menjadi suatu ide.

"...Yeah. Akun yang terpasang untuk login menuju Underworld... Tidak mungkin semuanya adalah penduduk normal dengan LV1[18]. Bukan, Critter?"

"Ya. Baiklah boss!!"

Critter mengetik di keyboard seperti instrumen perkusi, monitor besar itu dalam sekejap memperlihatkan daftar nama.

"Jika operator «RATH» menginginkan untuk login agar dapat memeriksa keadaan atau melakukan suatu perbuatan di dalam, akun mereka seharusnya memiliki identitas yang memiliki semua kemampuan. Petugas militer...Tidak, jenderal...Tidak, bangsawan, anggota kerajaan...Itu bahkan mungkin raja itu sendiri..."

"Oh. Oh!! Itu hebat!!"

Vassago berteriak, mengusap dagunya yang rasa sakitnya masih ada di situ.

"Dengan kata lain, kita dapat menggunakan jenderal, raja, atau profile siapapun untuk login ke dalam Underworld, dan dapat menbuat perintah apapun yang kita inginkan! Festival kerajaan! Benar, lakukan itu! Temukan Alice!!"

"...Kenapa ketika kau mengatakan hal tersebut, sesuatu yang sangat hebat dalam sekejap akan kehilangan artinya."

Melanjutkan perkataannya, Critter memanipulasi konsol dengan kecepatan mengerikan.

Tapi. Beberapa detik kemudian, bersamaan dengan ekspersi tidak menyenangkan yang jarang terlihat dari dirinya, daftar itu terhenti.

"Sial, tidak mungkin. Tidak hanya perintah langsung dari tempat ini, bahkan menggunakan akun berlevel tinggi untuk login dilindungi dengan password tingkat tinggi. Sayangnya, itu sepertinya kita hanya bisa dive ke dalam Dunia Manusia sebagai penduduk biasa."

"...Hmph..."

Ekspresi kekecewaan terlihat jelas pada wajah Critter dan Vassago, tapi Gabriel tetap saja tidak memiliki ekspresi dan sedikit memiringkan kepalanya. Tidak ada waktu untuk merasa ragu-ragu.

Tapi, itu hanyalah batas waktu di dunia nyata. Dibalik layar itu, Underworld yang tidak diketahui itu, waktu telah diubah menjadi seratus kali lipat dengan ratio yang mengaggumkan.

Dengan kata lain 23 jam yang tersisa sebanding dengan lebih dari satu tahun di Underworld. Dengan waktu sebanyak ini, bahkan jika mereka login sebagai penduduk normal, setelah menemukan dan menangkap [Alice], itu sama sekali tidak mustahil untuk menggunakan informasi di dalam konsol untuk mengeluarkannya menuju dunia nyata.

Tapi itu benar-benar tugas yang sangat panjang. Dibandingkan dengan tugas menghabiskan waktu untuk bertanya sana-sini, akan lebih baik untuk bertarung disepanjang perbatasan Dunia Manusia.

"Critter. Apakah ada beberapa akun berlevel tinggi yang berada di luar Dunia Manusia...Dipersiapkan di «Dark Territory»?"

"...Di luar? Tapi bukankah kesempatan Alice berada disana benar-benar mendekati nol?"

Meskipun di bertanya seperti itu, jari Critter bergerak dengan sangat cepat.

Gabriel melihat pada window baru dari Light Cube Cluster, menjawab.

"Mm, ya. Tapi, perbatasan itu bukan berarti sama sekali tidak dapat ditembus, bukan? Dengan parameter yang diberikan pada akun kita mungkin mampu untuk melewati perbatasan itu."

"Oh, seperti yang diharapkan dari kakakku! Pemikiranmu sangatlah unik seperti biasanya Itu seperti...Menggunakan jenderal demi-human, atau jenderal monster untuk bertarung agar dapat membuka jalanmu, bukan?! Itu benar-benar sangat menyenangkan!!"

Pada Vassago yang bersiul dan berteriak, Critter berteriak padanya dengan kebencian yang sangat dalam.

"Jika kau ingin terbakar, maka terbakarlah, jika kau adalah seseorang yang ingin login, maka kau akan menjadi goblin atau orc di dunia itu. Eh, kau akan cocok dengan peran itu bagaimanapun juga...Ah, aku mengerti, aku mengerti."

Dengan suara ketukan pada keyboard, dua window terbuka.

"Hm—Ini berbeda dari Dunia Manusia, hanya terdapat dua akun super...Baiklah, ini sama sekali tidak ada password!! Mari kita lihat...Salah satu dari itu adalah profile «Darkness Knight». Tingkatan levelnya...70! Kita dapat menggunakan akun ini!"

"Ooh, itu hebat! Aku akan menggunakan akun itu!!"

Menghiraukan Vassago yang membuat keributan, Critter memperlihatkan window lainnya.

"Lalu, akun lainnya...Apa ini? Profilenya kosong...Tidak ada tingkatan level, juga. Di sini hanya terdapat nama. Ini...Bagaimana kau mengatakan ini...? [Dewa...Vector]?"

"Oh, Dewa. Maka. Aku akan menggunakan akun ini..."

Gabriel menepuk bahu Critter dari belakang, saat Critter hendak melanjutkan perkataannya.

"Tidak, aku akan menggunakan akun ini."

"Eh? Tapi kakak, dapatkah kau berbicara Bahasa Jepang?"

"Tidak selancar yang kau bisa."

Gabriel menjawab dengan pengetahuannya dalam Bahasa Jepang selama tiga tahun. Meskipun dia telah menyerah pada membaca dan menulis dari sejak awal, dia sangat meyakini mengenai penggunaan dalam percakapan.

"Ho, kau cukup bagus. Maka kakakku akan menjadi Dewa, dan aku akan menjadi Darkness Knight. Sekarang kita selesai membicarakan itu! Kacamata, dapatkah kita login sekarang!?"

Benar-benar menghiraukan Vassago yang membuat keributan, Critter terus mengetik pada keyboard itu. Melihat kosentrasinya pada informasi di monitor itu, Gabriel berjalan di sampingnya dan bertanya dengan tenang.

"Ada apa, Critter, apakah ada masalah lainnya?"

"...Aku mungkin dapat mengatakan masalah, atau sedikit kekhawatiran...Terdapat kalimat aneh disepanjang semua data, aku benar-benar tidak mengerti tentang itu..."

"Oh? Kalimat apa?"

Critter mengambil nafas dalam dan menjawab pertanyaan Gabriel.

"«Final Load Experiment Phase»."

Bagian 3[edit]

Higa berpikir untuk memecah keheningan berat yang menyelimuti Ruangan Kontrol Tambahan.

"Bagaimana aku mengatakan ini. Tubuh fisiknya...Dengan kata lain, kondisi Kirigaya Kazuto di dunia nyata, benar-benar sama seperti apa yang telah aku jelaskan...sama sekali tidak terlalu bagus."

Melihat Asuna, yang bahunya digenggam oleh Rinko, dimana tubuh langsingnya bergemetar karena keterkejutan, Higa menambahkan perkataannya dengan panik. "T-tapi, seharusnya masih ada harapan!"

"...Apa maksudmu?"

Rinko bertanya dengan suara tajam, namun terdengar seperti suara berharap.

"Kirito-kun masih logged in di dalam Underworld."

Higa melihat ke arah monitor yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan Ruangan Kontrol Utama. Dia menggerakkan kursor, menekan beberapa kali, dan gambar itu telah berganti, pandangan mata burung yang melihat Underworld, dengan Dunia Manusia yang berbentuk lingkaran dikelilingi oleh Dark Territory, terlihat.

"Ini dapat dikatakan, meskipun kepribadiannya telah mengalami kerusakan, Fluctlightnya dalam keadaan dinamis, dan sedang diberikan dorongan. Karena itu, bahkan jika kita sama sekali tidak memiliki pilihan di dunia nyata, kita mungkin dapat menyembuhkan jiwanya di dalam Underworld. Karena dia sangat menyalahkan dirinya, dia menghancurkan jiwanya. Jika ada seseorang yang dapat [memaafkannya] ...Itu sangat sulit untuk dikatakan..."

Higa mengetahui perkataannya sama sekali tidak realistik.

Tapi itu semua adalah pikiran sebenarnya yang murni berasal darinya.

Mengsukseskan NerveGear adalah evolusi dari Mesin Penghubung Otak Medicuboid, Soul Translator. Tapi Higa telah mengetahui kuantum kesadaran manusia «Fluctlight» melalui pengembangannya dalam mesin tersebut, namun masih banyak hal hebat yang sama sekali dia tidak mengerti.

Apakah Fluctlight adalah fenomena fisik?

Atau, itu adalah konsep keberadaan yang tidak dapat dijelaskan oleh sains?

Jika itu yang kedua, luka Kirigaya’s Kazuto, pada jiwanya yang hampir menghilang mungkin hanya akan mampu disembuhkan oleh suatu kekuatan supernatural.

Sebagai contoh—seseorang yang dia cintai.

"...Aku akan pergi."

Seolah-olah pikiran Higa terbaca.

Suara lemah namun penuh dengan ketetapan hati terdengar di Ruangan Kontrol Tambahan.

Orang-orang di ruangan itu menatap, secara terkejut, pada pemilik suara itu. Yuuki Asuna mengangguk pada Koujiro Rinko, yang menahan bahunya, dan mengambil langkah ke depan, melanjutkan perkataannya.

"Aku akan memasuki Underworld. Aku akan menemukan Kirito-kun di tempat itu dan mengatakan ini padanya. Kau telah mencoba berusaha sangat keras, banyak hal menyedihkan dan hal buruk telah terjadi...Tapi kau telah mencoba yang terbaik."

Higa, yang mendedikasikan seluruh hidupnya pada penelitian tipe psikologi yang membuat orang terbangun, menjadi tidak dapat mengatakan apapun karena Asuna, mata coklatnya berkilauan dengan air mata.

Kikuoka, dengan ekspresi seolah-olah dia telah diserang oleh sesuatu, dengan segera menyembunyikan ekspresinya dengan lensa kacamatanya dan melihat ke arah ruangan STL yang ada disampingnya.

"...Memang benar, masih ada satu STL yang kosong."

Setelah mengatakan ini, kolonel itu memperlihatkan ekspresi rumit, kemudian melanjutkan.

"Tapi, kondisi dari Underworld yang sekarang masih belum stabil. Menurut rencana yang telah dipersiapkan, berdasarkan waktu kita, hanya ada beberapa jam sampai itu memasuki Final Load Experiment Phase."

"Final... Load Experiment Phase? Apa yang akan terjadi?"

Higa menjelaskan, menggunakan isyarat dengan tangannya pada Rinko, yang mengerutkan dahinya.

"Ini...Singkatnya, dinding bagian luar akan hancur. Nilai ketahanan dari «Gerbang Besar Timur» yang telah membatasi Dunia Manusia dan Dark Territory selama ratusan tahun akan berubah menjadi nol...Tentara monster akan menyerang Dunia Manusia. Jika manusia benar-benar memiliki kekuatan militer, mereka akan mampu untuk mengusirnya. Tapi, eksperimen kali ini...Kirito-kun telah menghancurkan bagian besar dari pemerintahan paling berkuasa, «Gereja Axiom», jadi...Kita benar-benar sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi..."

"Jika kau memikirkan itu secara hati-hati, mengenai situasi sekarang, salah seorang dari kita harus dive ke dalam tidak peduli apapun yang terjadi." Kikuoka berguman dengan menyilangkan tangannya.

"Pada saat invasi itu dimulai, dalam kekacauan, «Alice» di Dunia Manusia kelihatannya akan terbunuh. Jika berakhir seperti itu, waktu yang kita kumpulkan ketika kita dengan susah payah terkurung di dalam konsol, semuanya akan menjadi sia-sia...Jika kita dapat membiarkan seseorang untuk masuk dengan akun berlevel tinggi, melindungi Alice, dan membawanya menuju «Altar Ujung Dunia», kita dapat mengeluarkannya dari sana menuju Ruangan Kontrol Tambahan."

"Benar...Sebelum ini terjadi, kau memberitahu Kirito-kun mengenai itu, bukan?"

Mendengar perkataan Rinko, Kikuoka dengan tidak berdaya mengangguk.

"Mm. Jika dia baik-baik saja, dia pasti dapat melakukan itu, jika dia kebetulan bersama dengan Alice...Kau dapat mengatakan itu adalah sebuah keberuntungan di tengah musibah ini."

"Dengan kata lain, di waktu berbulan-bulan yang telah berlalu sesuai dengan waktu yang ada di dalam, kemungkinan mereka berdua masih bersama-sama sangatlah tinggi?"

Kali ini Higa adalah seseorang yang menjawab.

"...Kau dapat mengatakan seperti itu, Mungkin itu akan lebih baik jika kita membuat Asuna dive ke dalam...Selain dari komunikasinya dengan Kirito-kun, kita membutuhkan kemampuan bertarung untuk melindungi Alice. Diantara kita, seseorang yang paling akrab dengan kegiatan di dunia virtual sudah pasti adalah Asuna-san."

"Kalau begitu, akan lebih baik untuk menggunakan level tertinggi dari akun berlevel tinggi yang ada."

Mengangguk pada perkataan Kikuoka, Higa menggerakan jarinya disepanjang keyboard dengan kecepatan mengerikan.

"Maka, pilihlah yang kau inginkan. Knight, jenderal, bangsawan...Terdapat berbagai jenis dari akun berlevel tinggi."

"Hei, tunggu."

Rinko memotong perkataannya, sedikit khawatir.

"Apa?"

"...Penyerang itu, bukankah mereka seharusnya memikirkan hal yang sama? Bukankah kau baru saja mengatakan itu? Jalan pintas untuk mengamankan Alice adalah untuk mengoperasikannya dari dalam."

"Ah...Memang benar. Ini seharusnya pasti akan menjadi metode mereka. Di Ruangan Kontrol Utama di bawah, terdapat dua STL. Tapi mereka pasti tidak memiliki waktu untuk memecahkan password untuk login dengan akun berlevel tinggi. Mereka hanya bisa login sebagai penduduk normal LV1. Itu sangat sulit memahamai tindakan seperti itu dengan situasi pada saat Final Load Experiment Phase."

Sementara dia menjelaskannya dengan cepat—

Higa tiba-tiba merasakan sedikit kekhawatiran, seolah-olah dia merasa melupakan sesuatu yang penting.

Tapi kekhawatiran ini segera menghilang dengan daftar akun yang dengan cepat terlihat di monitor.


Bab 17 - Dark Territory (Bulan ke-11 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

Sebelum naga itu berhenti total, Darkness Knight Lipia Zankehl melompat ke bawah dari punggungnya dan berlari dengan kekuatan penuh dari pelana naganya menuju jembatan yang menghubungkan Istana Bangsawan itu.

Dengan cepat merasa sangat sulit untuk bernafas, dia menggunakan tangan kanannya untuk melepaskan helm yang menutupi wajahnya.

Rambut abu-abu kebiruan terurai dengan hembusan angin. Mengaturnya dengan tangan kirinya dan menguraikan rambutnya itu ke belakang punggungnya, Lipia lebih mempercepat larinya. Dia benar-benar ingin untuk melepaskan jubah dan armornya yang kaku, tapi dia tidak menginginkan konsul yang berkeliaran di sekitar Istana Bangsawan itu untuk melihat satu inci dari kulitnya.

Setelah berlari di sepanjang koridor berangin itu, diantara tiang lingkaran yang berada di sisi kanannnya, kota hitam raksasa didirikan dengan latar langit merah terlihat di pandangannya.

Istana Bangsawan Obsidia adalah struktur bangunan tertinggi dari semua daerah bebas dari Dark Territory—Tentu saja, itu tidak termasuk dengan daerah terlarang «Puncak Barisan Pegunungan»—yang terukir di pengunungan berbatu dan dibangun selama lebih dari ratusan tahun.

Dari kursi tahta di lantai tertinggi, dapat dikatakan bahwa itu sangat mungkin untuk memandang Puncak Barisan Pegunungan yang berdiri jauh di barat, dan gerbang besar yang terpasang di gunung itu.

Tapi, tidak ada seorangpun yang mampu untuk memastikan kebenaran dari rumor ini selama ratusan tahun.

Setelah Raja Pertama, juga Dewa Kegelapan Vector, kembali menuju kegelapan dari bawah tanah di masa kuno, Tahta Dark Territory selalu kosong. Pintu besar di lantai tertinggi terkunci dengan Life yang tidak terbatas, dibiarkan tidak terbuka selamanya.

Lipia mengalihkan pandangannya dari puncak istana berwarna hitam legam itu dan memanggil ogre yang menjaga gerbang istana yang ada di depan.

"Atas nama Darkness Knight kesebelas Zankehl! Bukalah gerbangnya!!"

Penjaga berkepala serigala memiliki badan yang tegap, namun perlahan membalikkan kepalanya, pada saat mereka menarik tuas mekanisme pembuka gerbang itu, Lipia telah sampai di depan gerbang besi kokoh itu.

Pintu itu membuat suara dalam yang terdengar "gu, gung" saat itu sedikit terbuka, Zankehl menyelinap ke dalam melalui celah.

Dia sama sekali belum melihat istana selama tiga bulan, namun apa yang menyambut Lipia adalah udara dingin yang sama.

[Kobolds] dengan giat menggosok koridor itu setiap hari, membuatnya menjadi bersih. Saat dia berlari, armornya berbunyi pada lapisan obsidian, dua perempuan nakal yang berpakaian dengan pakaian yang menunjukkan kulit mereka datang mendekat tanpa suara.

Di atas rambut bergelombang yang berkilauan, mereka memakai, topi runcing besar yang menunjukkan status mereka sebagai Penyihir Kegelapan. Lipia bermaksud menghiraukan mereka dan melewatinya, namun salah satu perempaun itu dengan tajam meninggikan suaranya dengan cara yang berlebihan.

"Uwa, sungguh berisik! Apakah itu adalah orc atau sesuatu seperti itu yang sedang berlari?!"

Kemudian, orang lainnya merespon dengan sedikit tawa.

"Itu tidaaak mungkin, getaran itu pasti berasal dari Raksasa!"

—Jika pertarungan sama sekali tidak dilarang didalam kota, dia sudah pasti akan menebas lidah mereka beberapa saat yang lalu.

Lipia berpikir seperti itu. Dia menghela nafas dan berlari.

Manusia perempuan yang terlahir di Dark Territory biasanya mendaftar di Guild Penyihir Kegelapan setelah lulus dari Sekolah Pelatihan. Guild itu adalah organisasi yang memanjakan mereka secara berlebihan, mengajarkan kenikmatan daripada aturan. Hasilnya, itu menciptakan orang-orang yang hanya tertarik untuk mempercantik diri mereka, sama seperti dua orang yang baru saja melewatinya.

Bahkan meskipun begitu, mereka memiliki rasa permusuhan yang sangat kuat pada perempuan yang memilih untuk menjadi knight. Ketika dia masih anak perempuan di Sekolah Pelatihan, Lipia terkena kutukan dengan racun serangga oleh Penyihir yang sama sekali tidak menyukainya. Hal itu berhasil diselesaikan setelah dia menarik pedangnya dan menebas rambut ikat kebanggaan Penyihir itu.

Singkatnya, mereka hanyalah orang bodoh yang sama sekali tidak memiliki ambisi di negara ini.

Selalu bersaing, tidak peduli jika itu adalah organisasi atau individual, setiap keputusan berdasarkan tingkat kekuatannya, Dark Territory sama sekali tidak ada masa depan.

Meskipun bahaya dapat diseimbangkan dengan «Pertemuan Sepuluh Pemimpin Bangsawan», itu tidak mampu untuk bertahan lebih lama lagi. Jika, dalam pertempuran yang sudah dekat melawan Dunia Manusia—yang disebut «Negara Ium» oleh orc dan goblin, beberapa dari Sepuluh Pemimpin Bangsawan akan mati, keseimbangan itu akan hancur, dan semuanya akan berubah menjadi kekacauan yang dipenuh pertumpahan darah sekali lagi.

Seseorang yang memberitahu masa depan ini kepada Lipia, adalah salah satu dari Sepuluh Pemimpin Bangsawan, Komandan Darkness Knight yang dia memberikan laporan secara langsung kepadanya, dan juga seseorang yang dicintainya.

Dan sekarang, Lipia memiliki informasi rahasia yang harus diberikan kepadanya.

Karena itu, dia tidak akan membuang satu detikpun pada beberapa ejekan Penyihir itu.

Berlari lurus melewati aula kosong itu dan melompat pada anak tangga besar dengan dua langkah setiap waktu. Bahkan dengan latihan yang cukup, dia bernafas dengan terputus-putus dan basah dengan keringat pada saat dia tiba di lantai yang benar.

Dengan Land of Darkness yang dibagi berdasarkan negosiasi diantara mereka, diantara Sepuluh Pemimpin Bangsawan. Lima diantaranya manusia, dua adalah goblin, dan sisanya adalah orc, ogres, dan raksasa. Setelah hampir ratusan tahun perang saudara, mereka akhirnya menyetujui sebuah dokumen yang sama seperti perjanjian, dan berakhir dengan peraturan yang menjaga Lima Bangsa mendapat perlakuan yang sama.

Karena itu, di lantai kedelapan belas, di dekat lantai tertinggi Obsidia, terdapat ruangan pribadi untuk setiap Sepuluh Pemimpin Bangsawan. Lipia melambatkan langkahnya di koridor lingkaran itu, dan perlahan mengetuk sebanyak tiga kali dengan tangan kanannya pada pintu ruangan paling dalam.

"Masuklah."

Suara dalam dengan segera menjawabnya.

Lipia melihat ke kiri dan ke kanan dari koridor itu, setelah memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di dalam, dia dengan cepat membuka pintu dan menyelinap masuk.

Dekorasi di dalam ruangan itu dibuat sesederhana mungkin. Menghirup aroma jantan yang melayang di udara, Lipia berlutut dan menundukkan kepalanya.

"Darkness Knight Lipia Zankehl, saya telah kembali."

"Kerja yang bagus, Masuk, dan duduklah."

Menahan kegembiraannya, Lipia mengangkat kepalnya dan melihat ke arah pemilik suara kuat tersebut.

Di sisi lain dari meja lingkaran itu, terdapat laki-laki yang duduk di kursi panjang dengan sandaran kaki yang tinggi. Komandan Darkness Knight—Biksul Ul Shasta, juga dikenal sebagai «Jenderal Kegelapan».

Sebagai manusia, dia memiliki sosok yang sangat memukau. Meskipun bahunya sama sekali tidak bidang seperti ogre, dia kelihatannya tidak akan kalah dalam hal ketinggian. Rambut hitam legamnya disisir dengan rapi, dan kumisnya sangat rapi.

Otot menonjolnya yang hampir membuat kancing dari kemeja kain polosnya terlepas, namun sama sekali tidak ada tanda lemak berlebihan pada pinggangnya. Meskipun dia menjaga tubuh sempurnanya yang tidak terlihat seperti tubuh yang berumur lebih dari 40, karena dia telah menaiki hingga tahta tertinggi dari Darkness Knight, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa dia terus melanjutkan untuk melalui latihan rutinnya yang keras setiap hari.

Melihat kekasihnya untuk pertama kalinya selama tiga bulan, Lipia menahan dorongan untuk menjatuhkan dirinya pada pelukannya, sebagai gantinya dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Shasta.

Shasta mengangkat bagian atas tubuhnya dan menyerahkan satu gelas kristal di meja pada Lipia, kemudian menghancurkan segel pada apa yang terlihat seperti wine tua.

"Aku ingin benar-benar meminum satu gelas wine ini denganmu, jadi aku mengambil satu botol wine dari ruang penyimpanan kemarin."

Membuka botol tersebut, dia menuangkan cairan merah, yang beraroma pada gelasnya. Ekspresinya terlihat seperti anak yang bandel, benar-benar sama seperti dirinya yang dulu.

"Te...Terima kasih, Komandan yang terhormat."

"Berapa kali aku harus memberitahumu agar untuk tidak memanggilku dengan seperti itu ketika kita hanya berdua?"

"Tapi...Saya masih dalam misi."

Shasta mengangkat bahunya dengan tidak berdaya dan mereka saling bersulang dengan gelas mereka secara sopan. Lipia meminum wine mahal itu dan merasa Life yang dia habiskan dalam perjalanan panjangnya perlahan pulih.

"...Baiklah, jadi."

Setelah meminum gelas wine untuk dirinya, dia menuangkan wine itu lagi dan berubah menjadi ekspresi serius, bertanya dengan nada rendah.

"[Permasalahan Utama] adalah kau telah mengirimkan familiar, untuk apa sebenarnya?"

"Itu..."

Lipia melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian mencondongkan badannya ke depan. Meskipun Shasta adalah orang yang jujur, dia cukup waspada. Ruangan ini memiliki sihir perlindungan yang hebat yang terpasang pada itu, bahkan Witch, pemimpin dari Guild Penyihir, tidak akan mampu untuk mendengarkan itu. Bahkan meskipun dia mengetahui itu, informasi yang dia miliki benar-benar sangat penting hingga dia tidak dapat menahan dorongan untuk merendahkan suaranya.

Menatap lurus ke arah mata Hitam Shasta, Lipia mengatakan itu secara singkat.

"Pemimpin Tertinggi dari Gereja Axiom yang ada di Dunia Manusia...telah mati."

Dalam sekejap, bahkan Jendral Kegelapan membuka matanya dengan lebar karena keterkejutan.

Nafas panjang, memecahkan keheningan itu.

"Apakah itu...benar...? Aku mengetahui bahwa itu tidak sopan untuk menanyakan ini, dan aku sama sekali tidak curiga dengan informasimu...tapi...undead[19]..."

"Ya...Saya benar-benar mengerti perasaanmu. Aku sendiri tidak mampu untuk mempercayai itu, tapi setelah satu minggu memastikan itu, sama sekali tidak terdapat kesalahan. Saya sudah memastikan itu dengan menanamkan «Mata-mata» di Katedral Pusat."

"Apa? Itu benar-benar sangat beresiko. Jika kau terlacak, kau tidak akan mampu meninggalkan ibu kota, dan dieksekusi sekarang."

"Ya. Tapi, karena sihir sehebat ini tidak mampu untuk dideteksi, itu membuktikan bahwa informasi ini benar."

"...Mm..."

Memenuhi gelasnya untuk kedua kalinya, wajah Shasta yang penuh dengan tekad sedikit merendah.

"—Kapan, itu sebenarnya terjadi? Juga, apa penyebabnya kematiannya?"

"Sekitar setengah tahun lalu..."

"Setengah tahun. Memang benar, penjaga mereka di Puncak Barisan Pegunungan mungkin sedikit mengendur pada saat itu."

"Ya. Mengenai penyebab kematian dari Pemimpin Tertinggi...Ini benar-benar tidak dapat dipercayai, tapi mereka mengatakan bahwa itu disebabkan [tebasan oleh pedang] ..."

"Dengan pedang. —Maksudmu seseorang menebas undead itu?"

"Mustahil."

Lipia menggelengkan kepalanya pada Shasta yang mulutnya terbuka lebar.

"Aku takut, bahkan jika itu undead, dia kelihatannya mendapati Lifenya telah habis. Tapi itu mungkin untuk menyelamatkan jiwa dari Pemimpin Tertinggi yang dikenal sebagai dewi, untuk mengatakan suatu perkataan yang tidak berarti seperti itu..."

"Mm...Dugaanku seperti itu juga. Tapi...kematian, Pemimpin Tertinggi Administrator..."

Shasta menutup matanya, menyilangkan tangannya, dan bersadar pada kursinya.

Setelah berpikir dengan dalam untuk sesaat hingga seperti ini, dia membuka matanya dengan perkataan singkat.

"Kesempatan."

Lipia dengan sekejap menahan nafasnya dan menjawab dengan suara pelan.

"Kesempatan apa?"

Dia dengan segera mendapatkan jawabannya.

"Sudah jelas...Perdamaian."

Saat perkataan yang terlalu berbahaya untuk diucapkan di dalam kota ini, itu dengan cepat menyatu dengan udara di dalam ruangan dan menghilang. "Apakah kau memikirkan...kemungkinan itu, Komandan yang terhormat?"

Berhadapan dengan Lipia yang menanyakan itu dengan suara pelan, Shasta mengarahkan pandangannya, pada cairan merah di dalam gelasnya, dan perlahan, namun dengan dalam, segera mengangguk.

"Tidak peduli jika itu mungkin atau tidak, kita harus mendapatkan itu tidak peduli apapun yang terjadi."

Meminum wine itu dengan satu tegukan, dia melanjutkan.

"Life «Gerbang Besar Timur» yang membatasi Dunia Manusia dan Dark Teritorry semenjak penciptaan dunia akan segera habis. Invasi berskala besar pada Dunia Manusia yang dipenuhi dengan tanah sangat subur dan sinar matahari yang telah ditunggu Tentara Lima Bangsa Kegelapan, kau dapat mengatakan itu sebagai anak panah pada busur. Dalam Pertemuan Sepuluh Pemimpin Bangsawan yang terakhir, terdapat pertengkaran tentang pembagian tanah, kekayaan, dan budak dari Dunia Manusia. Mereka benar-benar...sekelompok orang rakus yang tidak dapat disembuhkan."

Pada perkataan Shasta yang dikatakan secara langsung dan tanpa batasan, Lipia sedikit tersentak.

Berbeda dari Dunia Manusia yang memiliki «Taboo Index», buku tebal memuat peraturan, untuk mengatur daerah tersebut, hanya terdapat satu peraturan yang ada di Dark Teritorry. Itu adalah—mengambil dengan kekuatan.

Dalam artian tertentu, dibandingkan dengan sembilan Pemimpin Bangsawan lainnya yang sangat haus akan kekuatan yang tidak dapat memuasakan dirinya bahkan jika mereka mendapatkan kekuasaaan tertinggi, dapat dikatakan Shasta memikirkan perdamaian dengan Dunia Manusia adalah suatu ide sesat.

Tetapi, Lipia sangat terpesona dengan laki-laki ini karena pemikiran uniknya. Di samping itu, tidak seperti pelayan perempuan yang menemani pemilik mereka, Lipia tidak diambil dengan kekuatan. Shasta memberikan bunga sambil berlutut dan meyakinkan Lipia dengan perkataan jujurnya.

Tidak menyadari kekasihnya memikirkan permikiran seperti itu, Shasta melanjutkan dengan menambah tekanan pada nadanya.

"...Tapi, mereka terlalu meremehkan Dunia Manusia. Terutama, «Integrity Knights» yang melindungi Dunia Manusia selama tiga ratus tahun."

Mendengar nama itu, Lipia mengangguk, kepalanya terasa sangat dingin.

"Benar...Mereka sangat menakutkan hingga tingkatan yang menakutkan."

"Mereka, secara literal, memiliki kekuatan seribu orang dalam satu orang. Dalam sejarah panjang Darkness Knights, tidak terhitung telah dikalahkan oleh Integrity Knights, tapi itu tidak pernah terjadi sebaliknya. Ilmu pedang mereka sangatlah hebat, dan Sacred yang mereka miliki sangat kuat hingga tidak dapat diukur kekuatannya...Bahkan aku hanya dapat membuat orang itu menjadi terhenti sebanyak beberapa kali, tapi aku tidak mampu untuk membunuh mereka. Tentu saja, kekalahanku sudah pasti tidak terhitung jumlahnya."

"Itu...Dikarenakan penggunaan tehnik misterius mereka, seperti melepaskan api atau menembakkan cahaya menyilaukan dari pedang mereka..."

"«Armament Full Control Art». Bahkan meskipun kita membuat Departemen Penelitian Tehnik mempelajari itu untuk waktu yang lama, kita masih tidak mampu untuk memecahkan rahasia itu. Hanya untuk melawan kemampuan itu, bahkan ratusan tentara goblin tidak akan cukup."

"Bahkan meskipun kau mengatakan itu...Tentara kita berjumlah 50.000 sementara Integrity Knights hanya berjumlah sekitar tiga puluh. Dapatkah kita menahan mereka dengan jumlah saja...?"

Pada perkataan Lipia, Shasta mengusap kumisnya dengan ekspresi tajam.

"Bukankah aku baru saja mengatakan mereka memiliki kekuatan seribu orang dalam satu orang? Jika kau menghitung itu, kita akan kehilangan 30.000 dari keseluruhan tentara kita."

"Kenapa bisa...Itu tidak mungkin sebanyak itu."

"Hm, yeah. Bahkan meskipun metode perhitungan ini menyedihkan, kita akan berjalan menyerang ke depan dalam pertarungan dengan Darkness Knight, Ogre, dan Raksasa, Penyihir kegelapan akan menggunakan serangan ledakan jarak jauh dari ujung, dan kita pada akhirnya melelahkan Integrity Knights. Tapi setelah knight terakhir mereka kalah, itu akan sangat sulit membayangkan berapa banyak yang akan mati. Mungkin tidak sampai 30.000, tapi kehilangan setengah dari itu sangatlah mungkin."

Gelas kristal itu diletakkan di meja dengan suara keras.

Shasta mengulurkan tangannya untuk menghentikan Lipia, yang hendak mengisi kembali gelasnya, dan menyandarkan punggungnya pada kursi panjangnya.

"...Dan sebagai hasilnya, itu sudah pasti menyebabkan ketidakseimbangan kekuatan diantara Lima Bangsa Kegelapan. Pertemuan Sepuluh Pemimpin Bangsawan akan menjadi tidak berarti, dan perjanjian kesetaraan diantara Lima Bangsa hanya akan menjadi namanya saja. Jika itu berakhir seperti itu, «Jaman Perang Besi Dan Darah» yang berakhir ratusan tahun yang lalu akan kembali. Tidak, itu akan jauh lebih buruk. Karena kali ini, lautan yang dipenuhi dengan kekayaan dari Dunia Manusia akan berada di depan kita. Memutuskan bagaimana untuk membagi sebuah tanah itu akan membutuhkan lebih dari perang selama ratusan tahun..."

Ini adalah skenario masa depan terburuk yang selalu ditakutkan Shasta dan dingatkan berulang kali pada Lipia. Apa yang lebih buruk, sembilan Pemimpin Bangsawan lainnya selain dari Shasta tidak memikirkan itu sebagai masa depan yang buruk sama sekali—sebaliknya, mereka mengharapkan itu.

Lipia merendahkan kepalanya, menatap pada cahaya menyilaukan yang dipancarkan oleh armor tubuh berwarna hitam legamnya, yang menjadi partnernya semenjak dia mendaftar pada kelompok Darkness Knight.

Dua kali lebih pendek dibandingkan dengan anak lainnya ketika dia masih muda, Lipia tidak akan pernah dapat menjadi knight jika dia terlahir di «Jaman Perang Besi Dan Darah», dia akan dijual oleh pedagang manusia, atau ditelantarkan di luar kota, mengakhiri hidup singkatnya di tempat itu.

Meskipun itu sangat sederhana, dia masih cukup berterimakasih pada perjanjian perdamaian, karena dia tidak dijual sebagai budak dan sebagai gantinya memasuki Sekolah Pelatihan, memanfaatkan bakatnya yang dilatih sejak lama dalam ilmu pedang, dan naik hingga posisi tinggi yang hampir tidak dapat diraih oleh manusia perempuan.

Bahkan semenjak dia menjadi knight, Lipia telah mengumpulkan anak-anak yang diterlantarkan oleh orang tua mereka di daerah terpencil yang dipenuhi dengan penjual manusia, dan menjaga mereka sampai mereka mampu untuk memasuki sekolah. Dia hampir menggunakan seluruh penghasilannya untuk menjalankan pusat penitipan anak seperti ini.

Dia menjaga itu sebagai rahasia tidak hanya dari teman-temannya, tapi bahkan dari Shasta. Dia sendiri tidak mampu menjelaskan itu, kenapa dia melakukan sesuatu seperti itu.

Itu hanya—

Lipia tidak dapat melakukan apapun selain merasakan keanehan dari daerah ini, dimana kekuatan mendominasi semuanya. Meskipun dia sama sekali tidak memiliki kebijaksanaan Shasta, untuk mampu mengubah pemikirannya menjadi perkataan yang jelas, dia merasa bahwa seharusnya terdapat sesuatu yang lebih baik, bentuk yang jauh lebih baik dari daerah ini—tidak, seluruh Underworld, termasuk Dunia Manusia.

Lipia samar-samar mengerti dunia yang dapat disebut sebagai dunia baru, masih jauh dari kedamaian yang diinginkan oleh Shasta. Di saat yang bersamaan, sebagai perempuan dia berusaha untuk membantu laki-laki yang dia cintai agar dapat mewujudkan mimpinya.

Tapi.

"...Tapi, bagaimana kau berencana untuk meyakinkan Sepuluh Pemimpin Bangsawan lainnya, Komandan yang terhormat? Tidak perlu dibilang...Akankah Integrity Knights menerima negosiasi untuk kedamaian?"

Lipia bertanya dengan suara pelan.

"...Hm..."

Shasta menutup matanya, tangan kanannya bermain dengan kumis indahnya. Pada akhirnya, dia berguman dengan ekspresi masam.

"Mengenai Integrity Knights, masih terdapat orang yang jauh lebih baik. Karena Pemimpin Tertinggi sekarang sudah mati, komandan utama untuk sekarang seharusnya adalah kakek Bercouli. Meskipun dia adalah kakek tua yang licik, dia masih laki-laki yang lebih baik. Masalahnya...masih terdapat pada Pertemuan Sepuluh Pemimpin Bangsawan. Di sisi ini...meskipun ini mungkin bertentangan dengan tujuan kita..."

Di dalam kelopak matanya yang terbuka, kedua mata tajamnya menatap pada langit-langit.

"—Kelihatannya kita harus menebas beberapa orang. Setidaknya empat orang."

Lipia menahan nafas karena keterkejutan dan mencodongkan tubuhnya ke depan.

"Empat, kau katakan, Komandan yang terhormat...? Jika dugaanku benar, itu hanya mungkin dua pemimpin goblin, pemimpin orc, dan..."

"Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art. Perempuan itu selalu dipenuhi dengan keinginan buruk pada rahasia keabadian Administrator, dan pada hari dia naik menuju Tahta Raja. Dia sudah pasti tidak akan menerima rencana perdamaian."

"T-Tapi!"

Lipia membantah dengan suara serak.

"Itu terlalu berbahaya, Komandan yang terhormat! Bahkan meskipun pemimpin goblin dan orc sama sekali tidak akan memiliki kesempatan melawan pedangmu...Kita tidak mengetahui trik mengerikan apa yang digunakan Pengguna Darkness Art itu!"

Bahkan setelah Lipia menyelesaikan perkataan itu, Shasta tetap diam.

Tapi apa yang dia katakan benar-benar membuatnya sangat terkejut.

"Hei, Lipia. Berapa lama kau telah berada di sisiku?"

"Hah? Itu...S-sekitar...Bahkan semenjak umurku 21 tahun...Empat tahun telah berlalu."

"Itu sudah selama itu telah berlalu, huh...Aku meminta maaf untuk selalu membuatmu dalam kondisi dipenuhi dengan keraguan. Bagaimana kalau...Ini waktunya, uh, sebenarnya..."

Mengalihkan pandangannya dan mengusap kepalanya dengan suara gemerisik, Komandan Darkness Knight itu perlahan membuka mulutnya.

"...Akankah kau, secara resmi, menikahiku? Jika kau tidak keberatan dengan diriku sebagai laki-laki berumur cukup tua."

"K...Komandan yang terhormat..."

Lipia membuka matanya, tidak mampu untuk berbicara.

Dia merasakan panas yang perlahan mengalir keluar dari dalam hatinya, dan pada saat dia hendak untuk tanpa keraguan melompat menuju pelukan kekasihnya...

Dari sisi lain dari pintu besar tebal itu, suara keras, serta jelas yang tajam seperti cambuk menusuk tepat ke dalam ruangan luas.

"Berita besar!! Ini suatu berita besaaaaar!! Aaaaaaahhh, apa yang sebenarnya terjadi!! Pemimpin Bangsawan, ikutlah bersamaku, cepatlah, ceepaaatlaaah!!"

Dia samar-samar mengingat suara ini, suara ini berasal dari salah satu Pemimpin Bangsawan, pemimpin guild Perdagangan dan Industri.

Sosok besar yang tidak seperti biasanya, memiliki badan tegak dalam ingatan Lipia, teriakan yang terus berlanjut itu benar-benar tidak terduga.

"Ini adalah suatu kejadian peeentiiing yang pernah adaaaaaaa!!—Di-di dalam Ruangan Tahta! Kunci penyegel itu!! Berguncaaaang!!"

Bagian 2[edit]

Di bawah identitas Dewa Kegelapan Vector, Gabriel Miller, mendominasi Ruang Tahta, memeriksa Fluctlight buatan berlutut di lantai dengan ekspresi kekaguman.

Mereka semua adalah informasi photon yang tersegel di dalam Light Cube dengan panjang setiap sisi sekitar dua inci. Bahkan meskipun begitu, di dunia ini, mereka adalah manusia asli dengan pemikiran dan jiwa. Seperti yang diduga, namun, dari sepuluh orang yang berbaris paling depan, setengah dari mereka adalah monster yang terlihat aneh.

Sepuluh jenderal yang disebut «Pemimpin Bangsawan» dan Darkness Knight serta Penyihir yang berbaris di belakang mereka, dan tentara berjumlah 50.000 yang dipersiapkan di luar kota, adalah semua [Units] yang diberikan kepada Gabriel. Mulai sekarang, dia harus memanfaatkan pion berguna ini untuk menghancurkan pertahanan dari Dunia Manusia dan menangkap «Alice».

Tapi, tidak seperti game real-time strategy[20] di dunia nyata, unit ini tidak akan secara bebas dikendalikan dengan mouse dan keyboard. Mereka harus dipimpin dan diperintah dengan keberadaan dan perkataan yang dikatakan.

Gabriel berdiri dengan tenang dari tahta, mengambil beberapa langkah ke depan, dan berbalik untuk melihat cermin yang tergantung di dinding. Apa yang terlihat adalah dirinya, memakai pakaian yang sedikit terlihat buruk.

Hanya bentuk wajahnya dan rambut coklat terangnya yang benar-benar sama seperti penampilan Gabriel di dunia nyata. Tapi, mahkota besi hitam berhiaskan dengan kristal merah yang terpasang di kepalanya, di atas celana dan baju kulit hitam, dia memakai jaket beludru mewah yang terbuat dari bulu binatang. Sebuah rapier berkilauan dengan cahaya hitam fosfor terhantung di pinggangnya, dan sepatu serta sarung tangannya dijahit dengan benang perak. Di punggungnya, dia memakai jubah panjang berwarna merah darah.

Mengalihkan pandangannya ke kanan, satu langkah di bawah tahta itu, dia melihat Darkness Knight dengan kedua tangannya berada di belakang kepalanya, secara panik melihat keadaan sekitar.

Di dalam pakaian armor yang berkilauan dengan sinar ungu gelap seperti permata adalah Vassago Casal, yang logged in di waktu yang sama dengan Gabriel. Meskipun dia telah diberitahu untuk tidak berbicara tanpa menahan diri sebelum situasi ini berhasil dikendalikan, dia masih menahan untuk mengekspresikan kekagumannya dengan perkataan aneh bersama dengan ekspresi yang sulit, dia menghentakkan kakinya di tanah.

Gabriel perlahan menggelengkan kepalanya, dan menarik pandangannya kembali pada dirinya yang ada di cermin.

Dia sudah terbiasa dengan pakaian yang dibuat penjahit, jadi pakaian ini terasa sangat tidak nyaman bagaimanapun juga. Tapi ini adalah «Underworld», Gabriel sama sekali bukan CEO dari perusahaan keamanan pribadi.

Dia adalah raja yang memerintah Dark Territory yang sangat luas.

Juga—dia adalah dewa.

Gabriel menutup matanya, mengambil nafas pelan, yang dalam, dan mengeluarkannya.

Di suatu tempat di dalam kesadarannya, tugas yang dia perankan telah berganti dari [Komandan Keras] menjadi [Raja Kejam] dengan satu tombol.

Membuka matanya lagi, saat dia berbalik, menerbangkan jubah merahnya, Gabriel—Dewa Kegelapan, Vector, menatap pada sepuluh jenderal itu dan mengatakan dengan nada yang benar-benar tidak terdengar seperti manusia yang bergema di Ruang Tahta

"Angkat kepala kalian dan sebutkan nama kalian.—Kau yang pertama."

Laki-laki setengah baya yang berlutut di sebelah kiri dari barisan paling depan tersentak dengan gerakan yang benar-benar cepat dan menyebutkan namanya dengan Bahasa Jepang yang lancar.

"Y, y-ya, Raja yang terhormat! Aku adalah Lengil Gira Scobo, pemimpin Guild Perdagangan dan Industri!"

Di samping laki-laki yang merendahkan kepalanya dan berlutut sekali lagi, sosok yang benar-benar besar seperti gunung kecil mulai bergerak.

Dengan tubuh demi-human yang berdiri hampir 12 kaki tingginya, rantai hitam berkilauan tergantung bersama salib, dengan kulit dari suatu hewan liar mengeliling di sekitar pinggangnya. Dengan bersemangat mengangkat wajahnya bersamaan dengan hidung panjangnya, demi-human itu memperkenalkan dirinya sendiri dengan suara dalam, itu sangat rendah hingga itu terdengar seperti tanah itu bergemetar.

"Pemimpin Raksasa, Sigrosig."

Sementara Gabriel memiliki kesulitan dalam mempercayai fakta bahwa monster ini memiliki pemikiran dan jiwa, orang ketiga mengeluarkan suara serak, yang menjengkelkan.

"...Pemimpin Guild Assassin...Fer Za..."

Ketika dibandingkan dengan raksasa, sosok yang memakai jaket dengan tudung itu sangatlah kurus hingga itu kelihatan seperti tidak nyata, umurnya tidak dapat diketahui, lupakan jenis kelaminnya.

Meskipun Gabriel ingin memerintah selama beberapa detik untuk mengangkat kepalanya jadi dia dapat melihat wajahnya, dia memikirkan bahwa Assasin pasti memiliki suatu aturan yang melarang mereka untuk memperlihatkan penampilan mereka, jadi dia mengkesampingkan itu dan berbalik menuju jenderal berikutnya.

Kemudian, dengan usaha yang sangat besar, dia berhasil untuk menahan diri untuk mengerutkan dahinya.

Keberadaan yang merupakan penjelmaan mutlak dari kata "jelek" duduk tanpa bergerak di depannya. Itu tidak mampu berlutut karena kakinya terlalu pendek. Sebuah perut gemuk, yang besar dipenuhi dengan lemak yang memperlihatkan kilauan minyak, di leher yang tersambung dengan bahunya terdapat kalung tengkorak binatang kecil yang tergantung.

Kepala yang di atas terlihat 70% babi dan 30% manusia. Dengan hidung kecil, yang menonjol, dan sebuah mulut dengan giginya yang keluar, meskipun itu hanya kecil, mata lingkaran yang bercahaya dengan pemikiran manusia, membuat ini bahkan jauh lebih mengganggu.

"Pemimpin orc, Rilpirin."

Mendengar suara tajam dan bernada tinggi, Gabriel dengan segera memikirkan apakah dia adalah laki-laki atau perempuan, tapi dalam sekejap meninggalkan pemikiran tersebut. Karena dia adalah Orc, itu sudah pasti merupakan unit berlevel rendah di tentara. Itu hanya sesuatu yang dapat dibuang.

Kemudian, apa yang dapat dideskripsikan sebagai anak laki-laki mengangkat kepalanya dan dengan penuh semangat memberi hormat. Rambut merah keemasannya berbentuk keriting, dan dia hanya memakai sabuk kulit pada bagian atas tubuhnya yang memiliki kulit berwarna merah karena terbakar matahari. Memakai celana kulit yang ketat dan sandal pada bagian bawah tubuhnya, dan kedua tangannya diselimuti dengan sarung tangan tinju yang berhiaskan dengan kuku yang terbuat dari metal.

"Generasi Kesepuluh dari Juara di Guild Petarung, Iskhan!!"

Gabriel melihat kepada anak laki-laki yang berteriak dengan penuh semangat, dan berpikir untuk sesaat. Petarung jalanan adalah tinju, bukan? Tentara yang bertarung dengan tangan kosong?

Saat dia memikirkan itu, tiba-tiba terdengar suara "grrrh" seperti rintihan binatang.

Seseorang yang mengangkat kepalanya adalah demi-human yang sama sekali tidak tinggi dan berotot seperti raksasa, tapi memiliki tubuh yang jauh dari manusia itu. Bagian atas tubuhnya hampir seluruhnya ditutupi dengan rambut panjang. Menilai berdasarkan kepalanya yang benar-benar seperti hewan, rambut itu sama sekali bukan pakaian, melainkan bulunya sendiri.

Itu benar-benar terlihat seperti serigala. Sebuah moncong yang menonjol, gigi seperti gergaji, dan telinga berbentuk segitiga. Suara tidak jelas keluar dari mulutnya, dari dimana lidah itu menjulur keluar.

"Gurr... Pemimpin...Ogres...Furgur...Rrr..."

Meskipun Gabriel tidak mengetahui apakah itu adalah nama atau hanya berguman, dia perlahan mengangguk dan melihat ke arah posisi berikutnya.

Pada saat itu terdengar teriakan keras yang menusuk telinga.

"Aku adalah Hagasi, Pemimpin Goblin Gunung! Raja yang terhormat, tolong berikan bangsa pemberani kami sebuah posisi terhormat sebagai pasukan baris depan!!"

Pemiliki suara itu adalah demi-human pendek dengan kepala botak seperti monyet dengan dua telinga, panjang, yang tipis serta menonjol. Tidak peduli jika itu berdasarkan tinggi atau ototnya, itu jauh, bahkan sangat jauh dari raksasa, orc, ogre, atau bahkan manusia yang sebelumnya menyebutkan nama mereka.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan Critter sebelum mereka melakukan dive, ke dalam Dark Territory, tempat ini hanya memiliki satu aturan. Itu adalah, [kekuatan mendominasi semuanya]. Jika seperti itu, kekuatan apa yang dimiliki goblin agar dapat dipromosikan pada posisi yang dibandingkan dengan bangsa lainnya sementara mereka kelihatannya lebih lemah tidak peduli bagaimana dia melihatnya?

Tidak peduli apapun yang terjadi, meskipun itu adalah unit berlevel paling rendah, bahkan lebih rendah dari orc, Gabriel melihat wajah Goblin Gunung itu dengan sedikit ketertarikan, dan perlahan mengangguk pada dirinya sebagai tanda dari kesuksesan menjawab pertanyaannya sendiri, itu karena nafsu yang sangat kuat serta besar, terlihat di mata kecil Goblin Gunung itu.

Pada saat Pemimpin Goblin Gunung itu menyelesaikan kalimatnya, demi-human yang ada di sampingnya yang hanya berbeda warna kulitnya berteriak dengan nada suara yang sama.

"Itu menggelikan! Dibandingkan dengan orang irtu, kita akan melayani raja yang terhormat sepuluh kali lebih baik! Aku adalah Pemimpin Goblin Dataran Rendah, Kuberi!"

"Apa yang sebenarnya kau katakan, kau pemakan siput? Apakah otakmu menjadi membengkak karena lumpur basah!?"

"Kau adalah sesesorang yang mendapati otaknya telah terpanggang di bawah sinar matahari!!"

Di depan dua orang yang saling mengejek satu sama lain dengan suara keras—

Pachi! Percikan api biru terlempar saat pemimpin goblin itu melompat keluar dari jalurnya, sambil berteriak.

"—Kalian berdua sedang berada di hadapan Raja yang terhormat!"

Dengan suara menggoda, perempuan muda yang memakai pakaian yang jauh lebih memperlihatkan kulitnya menarik kembali tangan kanannya yang terangkat. Percikan api itu dengan segera menghilang saat dia mengusap ibu jari pada jari telunjuknya, seolah-olah menyalakan api dari pematik api.

Dia perlahan berdiri, membungkukkan badan seolah-olah dia memperlihatkan tubuhnya dan ekspresi menggodanya dan memberi hormat secara berlebihan. Di sisi kanan Gabriel, Vassago perlahan bersiul, seolah-olah dia tidak dapat memikirkan apapun selain itu.

Kulit berwarna gelapnya berkilauan seolah-olah itu telah dioleskan dengan minyak, dada dan pinggangnya hanya ditutupi dengan pakaian kulit yang halus. Sepatunya berbentuk jarum seperti sepatu hak tinggi. Di punggungnya tergantung mantel bulu berwarna hitam dan perak. Rambut berwarna perak tergantung ke bawah hingga pinggangnya.

Eyeshadow dan lipstiknya berwarna seperti air, menyipitkan mata biru terangnya dengan menggoda yang jauh lebih terang dibandingkan dengan riasanya, perempuan itu menyebutkan namanya.

"Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art, Dee Ai El. Aku memiliki 3.000 penyihir di bawah perintahku, dan tubuh serta jiwaku semuanya untuk Raja yang terhormat."

Pada gerakan menggoda dan suara merayu itu, Gabriel, yang sama sekali tidak pernah dikontrol oleh keinginan seksual, hanya mengangguk. Penyihir yang dipanggil Dee mengedipkan matanya beberapa kali, seolah-olah dia ingin untuk mengatakan sesuatu lagi, tapi hanya memberi salam dan berlutut sekali lagi.

Pilihan yang tepat, Gabriel berpikir seperti itu, dan mengarahkan pandangannya pada unit jenderal yang terakhir.

Sosok yang berlutut dengan tenang itu adalah manusia, tapi berusia paruh baya dengan tinggi yang mengejutkan.

Armor hitam pada tubuhnya memiliki goresan yang tidak terhitung jumlahnya, tapi itu masih bersinar dengan cahaya samar-samar. Pada wajah yang tertunduk, terdapat bekas luka tipis pada dahi dan batang hidungnya juga.

Tanpa mengangkat wajahnya ke atas, suara dengan nada bariton yang sedikit kasar keluar dari mulut laki-laki yang berlutut itu.

"Komandan Darkness Knight Biksul Ul Shasta. Sebelum mengabdikan pedangku padamu...Aku ingin bertanya pada Raja yang terhormat."

Wajah yang tiba-tiba terangkat itu memiliki ekspresi serius yang sama dengan beberapa [tentara asli] yang pernah Gabriel pernah lihat.

Terutama, dibalik mata tajamnya, terdapat suatu jenis tekad yang benar-benar menghilang dari sembilan jenderal lainnya. Knight yang disebut Shasta menatap pada Gabriel dengan tatapan yang terlihat seperti menusuk, dan melanjutkan perkataannya dengan suara pelan.

"Apa, yang diinginakan Raja yang terhormat, hingga kembali ke tahta pada saat ini?"

Seperti yang diduga—Orang-orang ini sama sekali bukan program.

Aku harus sering mengingatkan diriku tentang ini, Gabriel berpikir seperti itu, dan dengan ekspresi [Raja Kejam], dia menciptakan respon sedingin es.

"Darah dan kekacauan. Api dan kehancuran. Kematian dan teriakan."

Sword Art Online Vol 15 - 196.jpg

Suara keras Gabriel yang menyerupai metal yang ditebas bergema di aula, ekspresi dari semua jenderal itu dengan segera menjadi tegang.

Melihat satu demi satu dari sepuluh wajah itu, Gabriel menerbangkan jubahnya, mengangkat tangan kanannya dan menuju ke arah langit barat.

Dari dalam mulutnya, kalimat yang dipenuhi dengan keinginan palsu untuk penaklukan secara otomatis keluar.

"...Di daratan barat dipenuhi dengan kekuatan dari dewi yang mengusirku dari surga, perlindungan «Gerbang Besar Timur» akan segera runtuh. Aku telah kembali...Untuk menyatakan kekuatanku pada semua orang!!"

Dari Critter, dia telah mempelajari sebagian besar yang dia ketahui mengenai «Final Load Experiment Phase» yang hendak dimulai di waktu satu minggu lagi berdasarkan waktu di dunia ini. Gabriel menambahkan informasi pada perkataannya, serta melanjutkannya dengan nada dramatis.

"Ketika gerbang itu runtuh, Dunia Manusia akan jatuh ke tanganku, penduduk daerah kegelapan! Apa yang aku inginkan adalah «Gadis Suci» yang akan muncul di daerah itu di waktu sekarang! Aku akan memberikan kalian semua hak untuk melakukan apapun pada manusia lainnya seperti yang kalian inginkan! Waktu yang telah dijanjikan pada semua penduduk daerah kegelapan—telah tiba!!"

Udara yang menjadi hening sekali lagi—

Telah dipecahkan oleh teriakan keras, yang liar.

"Giiii!! Bunuuuh!! Bunuh Iiiuuums putih itu!!"

Seseorang yang menghentakkan kakinya dan berteriak adalah pemimpin orc, matanya dipenuhi dengan kemarahan dan keinginan. Dengan segera, dua goblin itu mengangkat tangan mereka dan melanjutkan dengan teriakan.

"Hooooou!! Perang!! Perang!!"

"Urra——!! Perang, perang——!!"

Teriakan pertempuran dalam sekejap tersebar pada jenderal lainnya dan perwira di belakang mereka. Orang berjubah hitam diantara Guild Assasin itu muncul bersamaan dengan tubuh yang sangat kurus seperti ranting, penyihir diantara Guild Penyihir Kegelapan melepaskan percikan api yang dipenuhi dengan warna dengan teriakan yang menggoda.

Di seluruh aula yang dipenuhi dengan teriakan kuat—

Gabriel menyadari hanya knight yang dipanggil Shasta yang terus berada dalam posisi berlutut, tanpa ada sedikitpun gerakan.

Apakah itu dikarenakan pengendalian diri sebagai tentara, atau itu karena terdapat suatu pemikiran di dalam pikirannya? Itu tidak dapati dijelaskan dari orang yang memakai armor yang seperti patung itu.


"Aku benar-benar tidak menduga kakak memiliki bakat seperti itu! Bukankah itu lebih baik kalau kau menjadi seorang aktor?!"

Gabriel mengehla nafas pada Vassago yang tersenyum dengan mengerikan, yang melemparkan botol wine kepada Gabriel.

"Hanya ketika dibutuhkan. Itu akan lebih baik untuk dirimu agar dapat mengingat cara berbicara seperti itu yang baru saja aku lakukan. Karena peringkatmu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka."

Dia membuka penutup botol itu dengan jarinya, mengalirkan suatu cairan berwarna merah pada mulutnya, dia memikirkan apakah dia seharusnya meminum itu pada saat menjalankan misi.

Vassago dengan terburu-buru meminum wine tua itu seolah-olah itu adalah bir, dia bersendawa dan menjawab saat dia mengusap mulutnya.

"Dibandingkan dengan memerintah atau bermain peran atau apapun itu, aku hanga ingin untuk membunuh di garis depan. Kau tidak selalu dive ke dalam VR menajubkan seperti ini setiap hari...Wine ini, botol ini, semuanya terlihat nyata bagi diriku."

"Sebaliknya, ini akan terasa sakit dan berdarah jika kau tertebas. Pain Absorber sama sekali tidak bekerja di game ini."

"Bukankah itu adalah hal yang bagus?"

Vassago tersenyum dan mengangkat bahunya. Gabriel meletakkan botolnya di atas meja dan berdiri dari atas sofa.

Lantai tertinggi dari Obsidia adalah ruang pribadi raja. Itu sama sekali tidak kalah ketika dibandinkan dengan dekorasi di kantor pusat dari GlowGen DS headquarters, dan sebagai tambahan, pemandangan jauh dari langit malam terlihat dari jendela yang sangat luas. Meskipun itu tidak seterang dan berwarna seperti San Diego, itu memiliki tampilan berbeda, dari suatu fantasi.

Sepuluh jenderal dengan status sebagai Pemimpin Bangsawan meninggalkan istana untuk mempersiapkan pertarungan, dan obor itu bergerak tanpa henti, dimiliki oleh pekerja yang menggerakkan sumber daya dari ruangan penyimpanan.

Pemimpin Guild Perdagangan dan Industri, yang memiliki tugas sebagai mengantarkan persediaan, telah memerintahkan untuk mengeluarkan seluruh persediaan makanan dan peralatan di dalam kota, jadi tentara sama sekali tidak akan menderita dari penyakit atau rasa lapar.

Mengalihkan pandangannya menjauh dari cahaya yang tidak terhitung jumlahnya, Gabriel berjalan menuju ujung ruangan tersebut, menyentuh layar kristal ungu yang terpasang di sana—system console.

Dia dengan cepat memanipulasi menu dan menekan tombol panggilan pengawas luar. Ratio waktu yang dipercepat telah berkurang, dan dengan perasaan aneh dimana rasio waktu kembali menjadi 1:1, dia mendengar suara Critter berbicara dengan cepat.

"Komandan?! Aku baru saja kembali menuju ruangan kontrol setelah melihat kalian dive in!!"

"Ini sudah sampai pada malam pertama. Meskipun aku mengerti tentang itu, percepatan waktu benar-benar sangat menakjubkan. Bagaimanapun juga, semuanya berjalan sesuai rencana. Persiapan unit akan selesai dalam waktu satu atau dua hari, dan dua hari berikutnya, sebuah serangan akan dilancarkan pada Dunia Manusia sesuai dengan yang direncanakan."

"Baguslah. Ingat, setelah menangkap «Alice», tolong bawalah dia menuju tempat ini dan gunakan menu untuk mengeluarkannya menuju Ruangan Kontrol Utama, kemudian Light Cube «Alice» akan menjadi milik kita. Juga, tolong beritahu Vassago bodoh itu apa yang aku katakan."

Seolah-olah dia mendengar perkataan Critter, perkataan kasar Vassago terdengar dari belakang.

"Aku tidak dapat mengoperasikan dengan kemampuan administrator untuk sekarang, jadi menyusun kembali akun data tersebut mustahil. Dengan kata lain, komandan, jika kau atau Vassago [mati] di dunia itu, kau tidak dapat menggunakan akun berlevel tinggi lagi. Kau hanya akan mampu memulai kembali sebagai tentara kecil!"

"Yeah...Aku tahu. Aku tidak akan pergi ke garis depan sekarang. Apa ada pergerakan dari JSDF?"

"Tidak ada pergerakan untuk sekarang. Itu kelihatannya mereka masih belum menyadari kalau kita sedang dive in."

"Baiklah, kalau begitu, aku akan memutuskan hubungan ini sekarang. Berikutnya ketika aku menghubungimu, itu akan menjadi waktu kita bersiap untuk pergi setelah menangkap Alice."

"Aku mengerti, semoga berhasil."

Dia menutup window komunikasi itu, dan dengan sedikit perasaan aneh, dunia itu kembali dalam rasio waktu yang dipercepat.

Vassago masih disampingnya, berguman dan berkata kasar sementara melepaskan bagian armornya, dan akhirnya melemparkan semua armor luarnya, dia berdiri dengan hanya memakai baju dan celana kulit.

"Hei, kakak. Kenapa kita tidak bersenang-senang di kota...Kita dapat melakukannya, bukan?"

"Cukup tahan godaan itu sekarang. Setelah mendapatkan target tersebut, aku akan memberikanmu waktu bebas."

"Aku mengerti. Jadi, tidak ada membunuh tidak ada perempuan hari ini...Kalau begitu aku akan pergi menuju kamar tidur seperti anak baik. Ruangan di sebelah sana adalah milikku."

Sendinya bergemeretak saat dia merenggangkan badannya, Vassago menghilang menuju kamar tidur di samping, dan Gabriel melepaskan mahkotanya, sambil menghela nafas.

Dia melepaskan pakaian dan jubahnya di sofa, dan menaruh pedangnya di atasnya.

Di dalam game VR yang dia mainkan sebelumnya, peralatan yang dia lepaskan akan kembali pada tempat penyimpanan item, tapi itu kelihatannya tidak ada sistem yang memudahkan itu di dunia ini. Setelah berbulan-bulan tinggal di ruangan ini, itu akan menjadi sangat bearantakan, tapi dia akan meninggalkan istana ini keesokan harinya, dan waktu berikutnya ketika dia kembali ke tempat ini adalah ketika hendak log out.

Saat dia membuka kancing dari pakaiannya dan membuka pintu di samping kamar Vassago, mata Gabriel menjadi menyipit karena keterkejutan. Di dalam kamar tidur yang sangat besar, di samping tempat tidur mewah besar—terdapat sosok kecil, berlutut di lantai.

Dia seharusnya telah memerintahkan semua orang, termasuk pelayan, untuk memasuki lantai di atas Ruang Tahta. Terdapat seseorang yang mampu melanggar perintah dari seorang dewa, siapa sebenarnya dia?

Untuk sepersekian detik dia ingin berbalik ke belakang dan mengambil pedangnya, namun Gabriel memasuki kamar tidur itu bagaimanapun juga, dan menutup pintu itu.

"...Siapa yang ada di sana?"

Dia memanggilnya dengan perkataan singkat.

Jawaban dari itu dikatakan dengan suara yang sedikit serak.

"...Tolong biarkan aku melayanimu sebagai teman tidurmu malam ini."

"Huh?"

Mengerutkan dahinya karena keterkejutan, Gabriel perlahan berjalan menuju tempat tidur di kamar tidur yang gelap.

Seseorang dengan kedua tangannya berada di lantai sebenarnya adalah perempuan muda dengan pakaian tipis. Rambut biru keabu-abuan diikat ke atas dengan hiasan ikat rambut. Dari sedikit garis tubuh yang terlihat, dia tidak dapat melihat tanda dari satupun senjata.

Dia duduk di kain seprai sutra yang berwarna cerah dan bertanya.

"Perintah siapa ini sebenarnya?"

Setelah sedikit jeda, perempuan itu menjawab dengan suara pelan.

"Tidak seorangpun...Ini hanyalah tugasku."

"Apakah seperti itu?"

Gabriel mengalihkan pandangannya dan membaringkan tubuhnya di bagian tengah tempat tidur itu.

Beberapa detik kemudian, perempuan itu meluruskan bagian atas tubuhnya dan berbaring di sisi kanannya tanpa ada suara.

"Permisi..."

Bahkan Gabriel tidak dapat melakukan apapun selain menganggumi kecantikan dari gadis yang terlihat eksotik yang berbisik padanya. Warna kulitnya sedikit gelap, tapi daerah sekitar pipinya memperlihatkan sifat bangsawan seperti seseorang dari suatu tempat di Eropa Utara.

Melihat perempuan itu perlahan melepaskan kancing pakaian tipisnya dan bersiap untuk melepaskan hiasan ikat rambutnya, Gabriel merasakan suatu pergerakan.

Kenapa Fluct light buatan dapat melakukan sesuatu seperti ini?

Bahkan jika perempuan ini sama sekali AI yang tidak sempurna? Jika seperti ini, sejauh apa penyelesaian yang akan dicapai oleh Alice yang telah sempurna?

Apa yang menggerakkan Gabriel, bukanlah suatu perbuatan perempuan yang menyerahkan tubuhnya.

Itu sama sekali bukan seperti itu—

Dia dengan cepat menarik pisau kecil, yang tajam dari rambutnya dan mengangkat itu tinggi seperti yang diprediksikan Gabriel.

Gabriel menggenggam tangan perempuan itu dengan mudah dan tangan lainnya bergerak, menahan tenggorokan perempuan itu dan menekan ke tempat tidur.

"Kuh...!"

Perempuan itu menggeretakkan giginya dengan erat dan melawan kembali dengan seluruh kekuatannya, berusaha untuk menusuk pisau kecil itu. Kekuatan pergelangan tangannya jauh lebih kuat dibandingkan dengan yang telah dia duga, tapi tidak cukup untuk membuat Gabriel menjadi gelisah. Dia memutar kembali tangan perempuan itu kembali seperti semua, dan perlahan menekan ibu jarinya pada tenggorokannya, menahan gerakannya.

Meskipun wajah perempuan itu mengerut karena rasa sakit yang luar biasa, ketetetapan hati yang bercahaya di mata abu-abunya tidak melemah sedikitpun. Dari ekspresi marahnya beberapa saat lalu, riasan wajahnya yang tidak sempurna dan tubuh langsing, dia sudah pasti bukan assassin perofesional. Itu berarti seseorang dengan pemikiran menentang itu sama sekali bukan pemimpin guild Assassins, Fer Za, tapi salah satu dari sembilan Pemimpin Bangsawan lainnya—kemungkinan besar di dalam jenderal manusia.

Menggerakkan wajahnya sedikit menggerak, Gabriel mengulangi lagi pertanyaan yang telah dia tanyakan sebelumnya.

"Perintah siapa ini sebenarnya?"

Dia menjawab dengan nada yang sama.

"Ini adalah keinginanku...sendiri."

"Lalu, pada siapa kau akan melaporkan ini?"

"...Tidak seorangpun."

"Hmph."

Gabriel berpikir seperti mesin tanpa ada sedikitpun perasaan.

«RATH» ingin untuk menghancurkan batas dari Fluct Light buatan, yang merupakan sifat mereka untuk tidak mampu melanggar semua peraturan, hukum, dan perintah dari seseorang yang jauh lebih tinggi posisinya.

Dibandingkan dengan Fluct Light Dunia Manusia yang terikat oleh hukum yang tidak terhitung jumlahnya penduduk dari Dark Territory kelihatannya mampu untuk hidup lebih bebas. Itu hanya kerena terdapat satu aturan untuk Fluct Light di tempat ini sehingga mereka merasa bebas di luarnya.

Peraturan itu adalah [kekuatan mendominasi semuanya]. Ini adalah dunia manusia memakan manusia[21] dimana orang yang lebih tinggi mendominasi orang-orang di bawah mereka. Jika eksperimen Rath berjalan seperti yang mereka rencanakan, Dunia Manusia yang teratur dan Tanah Kegelapan yang kacau akan mengalami pertempuran hebat bahkan tanpa ada campur tangan Gabriel, dan akan berakhir dengan mulainya perang.

Tapi dia tidak mengetahui alasannya, sebelum rencana berlanjut hingga tahap itu, terdapat Fluct Light di Dunia Manusia yang telah melampaui batas. Mata-mata di dalam Rath sama sekali belum mengirim satupun informasi mengenai keberadaan yang sama di Dark Territory.

Dengan kata lain, perempuan ini yang telah berencana untuk membunuh raja dengan pisau kecil juga merupakan jiwa yang terikat oleh peraturan mutlak. Bahkan meskipun begitu, dari situasi yang bahkan di bawah pertanyaan Gabriel sekarang, di bawah perintahnya, dia tidak memberitahu nama masternya. Itu membuktikan bahwa perempuan ini, bahkan di bawah perintah Gabriel, seorang raja yang juga seorang dewa, dia memprioritaskan kesetiaannya pada masternya. Jika seperti itu, dia berpikir masternya lebih kuat] dibandingkan dengan raja.

Jika seperti itu, untuk memastikan pertempuran itu berjalan lancar, itu dibutuhkan untuk memperlihatkan kekuatannya secara benar pada unit jenderal dan perwira, untuk menunjukkan pada mereka bahwa Gabriel—Dewa Vector adalah seseorang yang paling kuat di dunia ini. Tapi dia benar-benar tidak dapat menghancurkan unit jenderal yang berharga. Apa yang seharusnya dia lakukan—

Tidak.

Dia harus menghancurkan salah satu jenderal bagaimanapun juga. Seseorang yang menaruh keinginan membunuh pada perempuan ini.

Bagaiamana dia bisa menemukan pengkhianat itu? Apakah dia harus menghubungi Critter lagi, untuk membuat dia mengawasi unit jenderal dari luar? Tidak, itu akan membutuhkan pengaturan ratio waktu yang dipercepat menjadi 1:1, dan akan menghabiskan waktu yang berharga di dunia nyata.

Kalau begitu—

Memikirkan masalah ini dalam sekejap, Gabriel mengamati mata berwarna abu-abu perempuan itu lagi.

"Apa alasanmu untuk membunuhku? Apa kau diberikan uang? Atau status?"

Dia tidak perlu memikirkan apapun untuk pertanyaan. Tapi jawaban yang dia dengar dengan segera benar-benar tidak terduga.

"Untuk kebenaran!"

"Oh...?"

"Jika kau menciptakan perang sekarang, dunia ini akan kembali lagi menjadi dunia seratus tahun, tidak, dua ratus tahun lalu! Aku tidak dapat membiarkanmu untuk mengembalikan masa dimana seseorang yang lemah terus ditindas!!"

Lagi, Gabriel sedikit merasakan keterkejutan.

Apakah perempaun ini benar-benar dalam tahap sebelum pembatasnya hancur? Jika seperti itu, apakah masternya membuat dia mengatakan kalimat ini? Gabriel membawa kepalanya mendekar, menatap lurus pada mata abu-abu itu.

Sword Art Online Vol 15 - 207.jpg

Ketetapan hati. Kesetiaan. Perasaan yang jauh di dalamnya adalah...

Ah, jadi seperti itu.

Jika memang seperti itu, maka tidak ada lagi yang diperlukan dari perempuan ini. Lebih tepatnya, tidak ada lagi yang diperlukan dari Fluct Light perempuan ini.

Gabriel mengikuti keinginannya sendiri, dan tanpa ada perkataan lainnya, menggunakan kekuatan di tangan kirinya, yang menggenggam tenggorokan perempuan itu.

Dia merasakan tulang yang jancur. Mata perempuan itu terbuka lebar, dan mulutnya mengeluarkan teriakan pelan.

Dengan erat menahan anggota geraknya yang melawan, tanpa ampun mengeratkan genggamannya di sekitar lehernya, Gabriel merasakan keterkejutan yang tidak seperti yang dia telah rasakan sebelumnya.

Apakah ini benar-benar dunia virtual? Tidak peduli jika itu adalah perasaan dari otot dan tulang yang hancur, itu semua dirasakan oleh tangan kirinya, atau aroma mengerikan, dan menyakitkan yang berasal dari kulit halus, itu semua menstimulasi kelima indera Gabriel lebih realistik dibandingkan dengan dunia nyata.

Tubuhnya bergemetar tanpa sadar, dan tangan kirinya secara refleks mendekat.

Dengan suara pelan, tulang leher dari perempuan yang tidak bernama itu telah dihancurkan.

Lalu, Gabriel melihat itu.

Dari dahi perempuan dengan matanya tertutup dengan erat dan giginya bergemeretak.—prisma cahaya melayang.

Ini, sudah pasti hal itu—Awan Jiwa yang pernah dia lihat sekali ketika dia mengambil pergi hidup Alicia.

Dalam sekejap, Gabriel membuka mulutnya dengan lebar, dan menghisap setiap bagian dari jiwa perempuan itu.

Kebencian terhadap rasa takut, dan rasa sakit.

Rasa sakit dari penyesalan dan kesedihan.

Mengikuti itu, lidah Gabriel dibasahi dengan nektar manis yang sangat enak yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata.

Dibalik kelopak matanya yang tertutup, pemandangan samar-samar terlihat.

Anak kecil yang bermain di halaman depan dari rumah tua berlantai dua. Terdapat, manusia, goblin, dan ogre. Saat mereka melihatnya, senyuman cerah terlihat di wajah mereka, dan mereka berlari dengan tangan mereka terbuka lebar.

Pemandangan itu menghilang, dan diganti dengan seorang laki-laki yang tidak memakai baju. Dengan dada lebar, melalui latihan yang sangat keras, memeluknya dengan lembut dan kuat . "Aku...mencintaimu...Komandan yang terhormat..."

Suara kecil terdengar, bergema, dan menghilang.

Setelah itu semua menghilang, Gabriel masih dengan erat memeluk tubuh perempuan itu.

Indah. Sungguh pengalaman yang sangat indah.

Kesadaran Gabriel sangat bergoyang karena kegembiraan, tapi bagian dari logikanya berusaha untuk menemukan alasan terhadap fenomena ini.

Light Cube yang memiliki Fluct Light perempuan yang mati ini terhubung dengan Fluct Light Gabriel melalui STL. Karena itu, setelah Lifenya, atau Hit Points menjadi nol, bagian dari data kuantum yang terlepas dengan jumlah tidak normal mengalir menuju Gabriel melalui jaringan.

Tapi, teori sejenis itu sudah tidak berarti lagi bagi Gabriel.

Dia mengalami sekali lagi [fenomena] yang dia selalu kejar untuk seluruh hidupnya. Gabriel mengeluarkan dan merasakan semua jejak dari emosi terakhir perempuan itu—[cinta]. Itu seperti tetesan nektar yang terjatuh menuju padang pasir yang dingin.

Lebih banyak.

Lebih banyak.

Lebih banyak pembantaian.

Gabriel melemparkan tubuhnya dalam garis melengkung, dan dia mengeluarkan tawa tanpa kata-kata.


Memerintahkan sepuluh jenderal dan anggota utama dari setiap kelompok berbaris secara rapi lagi, Gabriel melihat mereka dengan ekspresi puas saat mereka dengan hormat berlutut.

Dibawah perintahnya, mereka benar-benar telah menyelesaikan persiapan untuk penyerangan dalam dua hari. Dengan melihat itu, mungkin unit ini jauh lebih baik dibandingkan dengan teman-temannya yang duduk dalam posisi sebagai direktor dari GlowGen DS.

Sesungguhnya, mereka seharusnya cukup dianggap sebagai [produk yang selesai]. Kemampuan sempurna dalam melakukan perintah, dengan ditambah kesetiaan. Sebagai AI yang mengendalikan robot dalam perang, apa lagi yang kau butuhkan selain hal itu?

Bahkan meskipun begitu, itu seharusnya tidak dapat dilupakan bahwa kesetiaan mereka berdasarkan bug[22] yang ada pada Fluct Light buatan Rath yang berusaha secara keras untuk disingkirkan. Itu hanya karena peraturan umum [kekuatan mendominasi semuanya] terukir pada jiwa mereka sehingga sepuluh orang ini akan mematuhi raja, Gabriel—tidak, Vector. Tapi di saat yang bersamaan, itu juga dapat berarti pada saat kekuatan Gabriel dicurigai, seseorang dapat memberontak di waktu kapanpun.

Kecurigaan ini telah terbukti benar.

Di malam hari dua hari yang lalu, assassin perempuan menyelinap di kamar tidurnya.

Perempuan itu berencana untuk membunuh raja, yang memiliki kekuasaan tertinggi. Di dalam hatinya, terdapat master dengan status lebih tinggi dibandingkan dengan Gabriel. Seseorang yang dia panggil [Komandan yang terhormat] di saat terakhirnya. Dan orang itu, hampir sudah pasti, adalah salah satu dari sepuluh jenderal yang ada di depannya.

Baginya, dibandingkan dengan Dewa Vector, masternya adalah seseorang yang lebih kuat. Karena itu, kemungkinan seseorang yang dipanggil "Komandan yang terhormat" tidak akan menyatakan kesetiaan mutlak pada Gabriel sangatlah tinggi. Jika dia mengambil unit seperti ini dalam pertempuran, maka akan terdapat kemungkinan terhadap pengkhianatan.

Karena itu, tugas terakhir sebelum mereka pergi menuju pertempuran adalah untuk menemukan dan menghancurkan [Komandan yang terhormat] dari sepuluh orang yang ada di depannya.

Di saat yang bersamaan, dia dapat memperlihatkan kekuatan raja pada sembilan orang yang tersisa, terukir selamanya sebagai identitas orang yang terkuat pada Fluct Light mereka.

Di saat ini, Gabriel Miller sama sekali tidak memikirkan kemungkinan salah satu dari sepuluh unit dihadapannya menyerangnya di saat yang lengah—dengan kata lain, mengalahkannya dalam pertarungan satu lawan satu. Baginya, Underworld tidak lebih dari perluasan dari game VR, dan masih dibawah pemikiran bahwa semua unit yang ada di sini adalah [NPCs].


Komandan Darkness Knight Biksul Ul Shasta mempertahankan posisi berlututnya, mengingat kembali perkataan gurunya dari waktu dua puluh tahun lalu, di markas utama lapangan pelatihan Darkness Knight.

"...Kepala guru dari guruku telah terpenggal dan dia mati dalam sekejap. Guruku kemudian tertebas di dada dan mati di perjalanan kembali menuju istana. Tapi bahkan meskipun aku kehilangan tanganku, aku masih hidup hari ini. Sebenarnya, itu sama sekali bukan sesuatu yang dapat dibanggakan, bagaiamanapun juga."

Gurunya mengatakan ini, duduk di lantai hitam mengkilap dengan melipat kakinya di bawah tubuhnya, saat dia memperlihatkan tangan kanannya yang terpotong secara tajam hingga sampai sikunya kepada Shasta. Luka yang hanya ditutupi dengan obat dan perban yang kelihatan menyakitkan hanya dengan melihatnya.

Seseorang yang memberikan luka ini sekitar tiga hari yang lalu, adalah musuh terbesar dari Darkness Knight, atau seorang swordsman terkuat di dunia, atau monster yang paling menakutkan—Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One.

"Apa kau mengetahui arti dibalik hal ini, Biksul?"

Biksul yang baru berumur dua puluh tahun hanya dapat menggaruk kepalanya dengan kebingungan. Gurunya memasukkan tangannya ke dalam pakaiannya, menutup matanya, dan melanjutkan secara perlahan.

"Kita mengejar, secara perlahan-lahan."

"Mengejar—kepada orang itu?"

Shasta yang muda sama sekali tidak dapat melakukan apapun selain mencampur ketidakpercayaan pada suaranya. Tiga hari yang lalu, Bercouli memperlihatkan ilmu pedang penghancurnya. Dalam sekejap tangan gurunya terbang tinggi, memancarkan darah, perasaan menusuk yang membekukan dirinya hingga ke tulang seperti pilar es masih bertahan sampai saat ini.

"Aku akan berumur 50 di tahun ini. Bahkan meskipun begitu, aku masih belum merasa bahwa aku sudah memegang pedang dengan cara terbaik, lupakan mengayunkannya. Aku berpikir dalam wakti lima hingga sepuluh tahun, itu tidak akan berubah bahkan setelah aku mati."

Gurunya mengatakan itu dengan tenang.

"...Dengan itu, kita orang yang memiliki umur pendek tidak akan mampu mencapai apa yang mahluk abadi yang telah hidup selama dua ratus tahun dapat lakukan. Meskipun itu cukup memalukan, bahkan dalam sekejap ketika pedang kita saling bersilangan, aku masih menyimpan itu di dalam pikiranku. Tapi setelah melarikan diri yang diikuti dengan kekalahan menyedihkan, aku menyadari bahwa itu salah. Selama bertahun-tahun, guruku dan semua knight di masa lalu tanpa henti telah menantang orang itu, tapi itu semua sama sekali tidak sia-sia...Biksul, apa yang terkuat dalam ilmu pedang?"

Pada pertanyaan tiba-tiba ini, Biksul menjawab secara refleks.

"«Tebasan Tanpa Pemikiran»."

"Sangat bagus. Melalui latihan panjang selama bertahun-tahun, kau bersatu dengan pedangmu. Satu serangan hingga kau tidak perlu memikirkan bagaimana menebas, menarik, atau bergerak akan menjadi ilmu pedang yang terkuat. Guruku telah mengajariku hal itu, dan aku mengajarimu hal yang sama. Tapi...Biksul, itu sama sekali bukan seperti itu. Terdapat sesuatu yang lebih kuat. Aku menyadari itu semenjak aku ditebas oleh moster itu."

Sebuah ekspresi kegembiraan terlihat pada wajah tua, berkerut dari gurunya. Shasta tetap dalam posisi duduk dengan melipat kakinya, mencondongkan badannya ke depan, dan bertanya.

"Sesuatu yang lebih kuat...Apa itu?"

"Sesuatu yang berbalik dari tanpa pemikiran. Kepercayaan kuat. Itu adalah kekuatan tekad, Biksul."

Tiba-tiba, gurunya berdiri dari lantai kayu, dan menggerakkan tangan kanannya yang terpotong dengan bersemangat.

"Kau tahu. Pada saat itu, aku menebas ke bawah dengan tebasan diagonal kanan. Itu benar-benar tebasan tanpa pemikiran, tebasan tercepat yang pernah aku lakukan dengan pedangku semenjak hidupku. Pada saat itu ketika aku menarik pedangku, aku sudah memiliki keuntungan."

"Ya...Aku berpikir seperti itu juga."

"Tapi...Tapi. Normalnya, pedangku seharusnya melewati pertahanannya, tapi dia menahan pedangku, dan tangan ini tertebas keluar...Dapatkah kau mempercayai itu, Biksul, pada saat itu, pedangnya bahkan tidak menyentuh tubuhku!"

Shasta tetap diam, dan menggelengkan kepalanya dengan penuh keraguan.

"B...Bagaimana mungkin..."

"Itu kebenarannya. Itu seperti...Jalur pedangnya, benar-benar diubah oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat. Itu bukan art, maupun Armament Full Control Art. Kita hanya dapat menjelaskannya seperti ini. Tebasan Tanpa Pemikiranku dikalahkan oleh kekuatan tekadnya yang dibangun oleh latihan keras selama dua ratus tahun. Karena dia membayangkan dimana dia menginginkan pedangnya menebas dengan sangat kuat, itu menjadi kebenaran yang tidak terbantahkan!"

Shasta tidak mampu untuk segera mempercayai perkataan gurunya.

Kekuatan tekad, sesuatu tidak nyata seperti itu dapat mengalahkan pedang asli, berat, dan keras, tidak peduli apapun yang terjadi, itu tidak mungkin benar-benar ada.

Itu kelihatannya guru Shasta menduga reaksi ini. Tiba-tiba kembali dalam posisi formalnya dalam duduk, pada lantai hitam yang mengkilap, dia dengan tenang memerintah.

"Baiklah, Biksul. Aku akan mengajarimu tehnik pedang terakhirku.—Tebas aku."

"Apa...Apa yang kau katakan! Ini sudah sangat sulit bagimu untuk..."

Bisa bertahan hidup hingga selama ini, Shasta hanya dapat menelan perkataan itu. Tiba-tiba, mata gurunya bersinar dengan cahaya kuat.

"Karena aku berhasil bertahan hidup, maka itu bahkan menjadi suatu keharusan bagi dirimu untuk menebasku. Karena aku dikalahkan oleh orang itu dalam satu serangan, aku tidak lagi orang yang terkuat di dalam hati. Selama aku masih hidup, kau tidak akan mampun untuk bertarung melawan orang itu dalam posisi yang sama. Tebas, tidak, bunuh aku, dan berdirilah di posisi yang sama dengan dirinya...Bercouli!!"

Gurunya menyelesaikan perkataannya dan berdiri, mengangkat tangan kanannya yang terpotong seolah-olah dia sedang menggenggam pedang.

"Sekarang, berdirilah! Tariklah pedangmu, Biksul!!"

Biksul menebas gurunya, dan mengakhiri hidupnya.

Di saat yang bersamaan, dia menyadari dengan tubuhnya arti dari perkataan gurunya.

Pedang tidak terlihat yang digenggam tangan kanan gurunya yang terpotong—pedang yang disebut [tekad], mengeluarkan percikan api saat itu bersilangan dengan pedang Shasta, dan menciptakan luka abadi pada wajahnya.

Wajahnya dikotori dengan air mata, dan darah, Shasta muda berdiri pada puncak yang melebihi «Tebasan Tanpa Pemikiran»—pada perbatasan «Tebasan Penjelmaan».

Waktu berlalu—Lima tahun yang lalu.

Shasta akhirnya menantang musuh terbesar dari Darkness Knight, Komandan Integrity Knight Bercouli. Dia masih berusia 37 tahun, tapi dia merasa pedangnya telah mencapai tingkat tertinggi.

Gurunya telah menukarkan tangannya demi hidupnya, tapi Shasta sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali dalam posisi kalah. Karena Shasta tidak memiliki murid sebagai penerusnya. Dia tidak menginginkan murid muda untuk memiliki tanggung jawab sebagai pengeksekusi, dan menanggung takdir mendapati hidupnya diakhiri dengan tertebas. Dia memutuskan untuk mempertaruhkan hidupnya di pertarungan ini, dan memutuskan siklus berlumuran darah sekarang dan di tempat ini.

Pedang yang disebut [tekad] yang membawa semua tekad dan kesadarannya, pada saat pertama kali saling bersilangan pedang dengan Bercouli, itu sama sekali tidak ditangkis. Tapi dalam sekejap, Shasta telah memprediksi kekalahannya sendiri. Dia tidak dapat berpikir bahwa dia dapat menciptakan tebasan dengan kekuatan seperti itu.

Tapi, saat mereka saling bersilangan pedang. Bercouli tertawa dengan suara keras.

"Ilmu pedangmu sama sekali tidak buruk. Jika kau hanya memiliki keinginan membunuh, kau tidak akan mampu untuk menahan pedangku. Kembalilah dan berpikir secara keras dalam waktu yang panjang tentang arti dibalik perkataanku, dan kembalilah setelah lima tahun lagi, anak muda."

Kemudian Komandan Integrity Knight itu berbalik dan pergi. Tapi Shasta sama sekali tidak mengetahui alasan kenapa dia tidak mampun untuk mengayunkan pedangnya pada punggung knight itu, yang terlihat penuh dengan celah.

Untuk mengerti arti dibalik perkataan Bercouli, itu membutuhkan waktu yang lama. Tapi dia akhirnya mengerti apa yang terjadi di waktu sekarang, lima tahun kemudian. Karena itu, jika Shasta mengayunkan pedangnya hanya dengan kebencian dan keinginan membunuh, dia dalam sekejap akan dikalahkan. Meskipun itu hanya satu pertarungan, dia mampu bertarung dengannya karena dia memiliki kesadaran yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan keinginan membunuh.

Itu adalah—perasaan berterima kasih kepada gurunya yang mempertaruhkan hidupnya dalam pertarungan untuk membagikan pengetahuannya, dan doa kepada seseorang yang lebih muda yang akan menjadi penerusnya.

Karena itu, setelah mendapatkan informasi berita mengenai kematian Pemimpin Tertinggi, Shasta dengan segera memutuskan negosiasi untuk kedamaian. Dia sangat yakin, jika pihak lain dipimpin Bercouli, dia sudah pasti akan menerimanya.

Untuk suatu alasan—

Dewa Vector, yang tiba-tiba muncul di Istana Obsidia dan memutuskan untuk melakukan perang tanpa mengatakan apapun, harus ditebas hingga mati oleh Shasta sendiri.

Bahkan saat dia berlutut dan menundukkan kepalanya, Shasta sedang membentuk [Penjelmaan] yang harus dia masukkan dalam tebasan membunuhnya.

Raja ini telah meninggalkan tanah kegelapan selama ratusan tahun dan tiba-tiba bangkit kembali sebagai laki-laki muda dengan kulit putih dan rambut perak, yang menyerupai penduduk dari Dunia Manusia. Penampilan dan sosoknya tidak terlalu berkharisma.

Tapi, hanya matanya yang berwarna sangat biru memperlihatkan bahwa raja ini sama sekali bukan manusia biasa. Di dalam itu terdapat [kekosongan]. Jurang tidak berdasar yang menghisap semua cahaya. Laki-laki ini menyembunyikan rasa lapar yang besar dan jahat.

Jika kekuatan penjelmaan yang dia lepaskan akan diselimuti oleh kekosongan dari raja itu, pedang ini tidak akan mampu mencapainya.

Jika itu terjadi, Darkness Knight Shasta akan kehilangan hidupnya. Namun, tekadnya kelihatannya akan digantikan oleh seseorang setelah dirinya.

Penyesalannya adalah dia tidak mampu untuk mengatakan ketetapan hatinya karena dia tidak sempat melihat Lipia kemarin. Dia mungkin sibuk dengan persiapan sebelum penyerangan, atau tinggal [rumah] pentingnya.

Jika dia memberitahu keinginannya untuk membunuh raja, dia kelihatannya tidak akan mendengarkan dan memohon untuk bergabung dengannya. Itu akan lebih baik dengan keadaan seperti ini.

Shasta perlahan mengambil nafas, mempersiapkan dirinya.

Dengan tangannya, dia perlahan menyentuh pedangnya yang dilepaskan dari sabuknya dan menaruh itu di lantai.

Dia hanya berjarak 15 mel dari tahta itu. Dia hanya membutuhkan dua langkah untuk mencapai tempat itu.

Dia harus tidak membiarkan orang lain menyadari itu. Dia harus menarik pedangnya tanpa pemikiran.

Mengisi dan mengikat Kekuatan Penjelmaannya sampai batasnya, dia memasukkan itu ke dalam pedangnya melalui jarinya. Kemudian, dia mengosongkan kekuatan di dalam tubuhnya.

Tangan kirinya menggenggam pedang itu—

Pada saat itu,

Raja itu berbicara dengan sikap santai dengan suara halus dan kaku seperti kaca.

"Tepat—malam sebelumnya, seseorang menyusup di dalam kamar tidurku. Dengan pisau pendek yang disembunyikan di dalam rambutnya."

Sebuah nafas yang tertahan menggetarkan udara di aula.

Pada barisan sembilan Pemimpin Bangsawan lainnya yang berada di sisi kiri Shasta, seseorang perlahan menahan nafas mereka, seseorang lainnya mengeluarkan rintihan pelan dari dalm tenggorokan mereka, dan seseorang lainnya menyembunyikan diri mereka dibalik jubah tebal mereka. Beberapa diantara perwira yang ada di belakang membuat suara seperti itu juga.

Shasta juga sama terkejutnya. Mempertahankan posisi dan stylenya sebelum menebas, dia berpikir dalam sekejap.

Disamping dirinya, terdapat orang lain yang mencapai kesimpulan untuk membunuh raja. Sayangnya, fakta bahwa raja masih hidup menunjukkan bahwa mereka telah gagal—tapi siapa dari sembilan orang itu yang mengirimkan assassin?

Tidak mungkin lima jenderal demi-human. Lupakan Raksasa, Ogre, dan Orc, bahkan goblin yang pendek kelihatannya tidak mampu menghindari pandangan dan pendengaran penjaga dan menyusup menuju lantai tertinggi.

Jika dia memikirkan empat jenderal manusia, dia pertama dapat mengeluarkan pemimpin muda Guild Petarung, Iskahn, dan pemimpin Guild Perdagangan dan Industri, Lengil. Iskahn adalah anak laki-laki jujur yang hanya ingin bertujuan meningkatkan kekuatan tempurnya dalam pertempuran tangan kosong hingga maksimal, dan Lengil akan menyukai membuat banyak uang dari perang.

Karena penyerang itu telah menyusup ke dalam kamar tidur, pemimpin Guild Assassin, Fer Za, adalah seseorang yang paling mencurigakan, dan dia sebenarnya memiliki beberapa gambaran dari apa yang orang itu pikirkan, tapi itu sangat membingungkan bahwa pisau pendek yang digunakan.

Jauh di dalam gua gelap, Guild Assassin meneliti secara khusus kekuatan ketiga selain dari Darkness Art dan Ilmu Bela Diri. [Racun]. Kelompok Fer Za adalah organisasi yang terbentuk untuk bertahan hidup, terdiri dari seseorang yang tidak diberikan prioritas dalam mengontrol senjata dan art. Mereka memiliki pembatas yang unik, senjata yang diperbolehkan oleh mereka adalah jarum tersembunyi dan panah tiup yang dilapisi racun. Pisau pendek sama sekali tidak termasuk.

Dengan alasan yang sama, pemimpin Guild Pengguna Darkness Art yang berlutut di samping Shasta, Dee Ai El, juga dapat dipertimbangkan. Perempuan ini hanya menginginkan status tinggi, meskipun dia juga dapat memikirkan mengambil dan membunuh hidup raja, menjadi penguasa tanah kegelapan, pengguna darkness art di bawah perintah Dee akan menggunakan art daripada pisau pendek.

Melihat dari itu semua, seseorang yang mengirimkan assassin itu sama sekali bukan dari sembilan jenderal.

Seseorang yang tersisa—hanyalah dirinya, Komandan Darkness Knight Shasta.

Tetapi, dia sama sekali tidak memiliki ingatan sedikitpun melakukan itu. Dia sudah memutuskan, ketika dia hendak membunuh raja, dia akan mengayunkan pedangnya dengan mempertaruhkan hidupnya senditi. Tentu saja, dia tidak memberikan perintah pembunuhan pada salah satu anak buahnya, atau bahkan pilihan itu telah dia rahasiakan, bahkan sekali—

Tidak.

Tidak...

Apakah itu mungkin?

Setelah raja menyelesaikan perkataannya, Shasta hanya berpikir dalam sekejap mata, dan menyadari jari tangan kirinya pada gagang pedangnya dalam sekejap menjadi sedingin es.

Apa yang awalnya adalah tekad kuat, yang sangat besar dalam sekejap berubah. Rasa takut. Kegelisahan. Ketakutan. Lalu—itu menjadi kemalangan yang pasti akan datang.

Hampir di saat yang bersamaan, Raja Vector membuka mulutnya untuk kedua kalinya.

"Aku tidak ingin mempertanyakan itu sekarang, mengenai nama dari seseorang yang mengirimkan assassin itu. Jiwa yang menggunakan kekuatan mereka dengan tujuan untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar sangatlah bagus. Jika kalian ingin memenggal kepalaku, tebas aku kapanpun punggungku berbalik."

Raja yang terlihat sombong di aula ramai itu, dan untuk pertama kalinya, sebuah emosi terlihat pada wajah putihnya—senyuman tipis, yang samar-samar.

"Tentu saja, aku berharap kalian semua mengerti bahwa pertaruhan seperti ini memiliki harga yang sebanding dengan itu. Sebagai contoh...Seperti ini."

Dari dalam jubah gelapnya, sebuah tangan terulur dan membuat gerakan pelan.

Kemudian, terpasang di samping tahta, pintu kecil yang berada di dinding timur dari Shasta terbuka tanpa suara, dan pelayan perempuan masuk ke dalam. Dia memegang mangkuk perak besar di tangannya, di dalamnya terdapat objek berbentuk kubus, tapi itu ditutupi dengan kain hitam, jadi itu tidak dapat dilihat dengan jelas.

Pelayan perempuan itu meletakkan mangkuk perak di depan tahta itu, menundukkan kepalanya dengan hormat kepada raja, dan keluar melalui pintu.

Dalam keheningan yang menusuk telinga, raja itu memperlihatkan senyuman jahat, membentangkan jari kakinya, menaruh itu pada kain yang menutupi mangkuk, dan menendangnya ke depan.

Shasta, yang seluruh tubuhnya, dan bahkan pikirannya terdiam, pandangannya menangkap—

Kubus es, sangat transparan seperti kristal yang paling sempurna.

Tersimpan di dalamnya, adalah wajah kekasihnya yang tertidur selamanya.

"Li...pia..."

Mulut Shasta bergerak tanpa suara.

Hawa dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya menghilang, dan digantikan dengan kekosongan kegelapan, yang dalam dan tidak berujung di dalam hatinya.

Shasta mengetahui Darkness Knight Lipia Zankehl secara rahasia menjalankan panti asuhan. Tidak mempedulikan bangsanya, dia menampung dan mendidik anak-anak yang kehilangan orang tua, saudara mereka, dan anak yang hendak mati di jalanan. Shasta melihat masa depan yang dapat diharapkan pada perbuatan Lipia.

Karena itu, Shasta hanya memberitahu Lipia keinginannya sendiri. Mimpi tidak berujung dimana perang negara dalam waktu yang sangat panjang antar Dunia Manusia akan berakhir, dan dunia yang saling membantu dimana tidak perlu harus mencuri atau merapas akan tercipta.

Tapi, perkataannya sendiri telah mendorong Lipia untuk berusaha membunuh raja, dan berakhir dengan hasil menyedihkan ini. Meskipun itu adalah raja yang membunuhnya—Shasta juga terlibat dengan hal tersebut.

Ketidakraguan.

Meskipun itu hanya dalam sekejap mata, kumpulan perasaan bersalah dan penyesalan yang tidak terukur terkumpul di dalam hati yang terasa kosong bagi Shasta.

Dalam sekejap, itu menjadi sebuah emosi gelap.

Keinginan membunuh.

Bunuh. Dia harus membunuh laki-laki yang tersenyum tipis yang duduk dengan menyilangkan kakinya di tahta, tidak peduli apapun yang terjadi.

Bahkan jika dia perlu mempertaruhkan hidupnya sendiri, dan masa depan Dark Territory dalam pertarungan itu.


Sekarang, siapa sebenarnya orang mencurigakan yang disebut [Komandan yang terhormat]?

Gabriel melihat pada sepuluh unit pemimpin yang berlutut di bawah pandangannya dengan sedikit ketertarikan.

Master dari assassin perempuan itu adalah seseorang yang dia cintai. Gabriel telah menghisap habis semua jejak emosi dari nektar yang terasa sangat enak, yang telah dilepaskan pada saat kematian perempuan itu, dia bahkan mengerti perasaan yang dimiliki [Komandan yang terhormat] terhadap perempuan itu sendiri—meskipun dia hanya menganalisi pola emosi sebagai data.

Karena itu, dia sangat yakin ketika dia memperlihatkan kepala perempuan itu, seseorang yang dipanggil komandan yang terhormat sudah pasti akan melakukan sesuatu. Dia akan tanpa ampun mengeksekusi unit pemberontak, yang melawan, dan meningkatkan kesetiaan unit lainnya melalui ketakutan. Tidak ada perbedaan dari game simulasi yang dia pernah mainkan untuk menghabiskan waktu di dunia nyata.

Sungguh kelompok orang yang menyedihkan dan bahagia.

Meskipun mereka memiliki jiwa yang sebenarnya, pengetahuan mereka terbatas, dan dapat diciptakan sebanyak yang seseorang inginkan bahkan jika mereka terbunuh dan terbunuh lagi. Pada akahirnya akan ada hari, ketika Underworld, Mainframenya, dan Light Cube itu menjadi milikku, rasa lapar yang menyiksaku bahkan semenjak aku kecil akan dipadamkan.

Menahan wajahnya pada telapak tangannya yang ditahan oleh sandaran tangan tahta itu, Gabriel menunggu, dengan santai.

Dia berada pada jarak sekitar 15 meter dari unit. Tidak peduli serangan apapun dari senjata apapun, dia dapat dengan mudah menangkis itu dengan pedang yang berada di pinggang kirinya.

Tentu saja, dia tidak akan mampu berhadapan dengan perintah serangan yang diawali dengan kata [System Call]. Tapi kegelisahan Gabriel benar-benar telah menghilang sebelum mereka logged in.

Akun berlevel tinggi «Dewa Kegelapan Vector» yang terpasang untuk pekerja RATH untuk melakukan operasi yang dipaksa pada Dark Territory. Karena itu, HP yang disebut Life akan sangat banyak, senjata yang dimilikinya akan menjadi terkuat, dan di atas semua itu, Vector memiliki kemampuan curang untuk mencegah semua perintah mentargetkannya.

Saat Gabriel dilindungi dibawah kondisi yang sangat banyak, bahkan saat kngiht paling kiri diantara sepuluh unit, berpakaian dengan armor hitam legam, membungkukkan punggungnya dengan keras.

Bahkan saat seluruh tubuhnya ditutupi dengan halo[23] seperti cahaya gelap.

Bahkan saat dia melihat tangan kiri knight itu menggenggam sarung pedang secepat kilat, mengangkat kepalanya di saat yang bersamaan, mata tajam yang bersinar warna merah yang kejam dari bagian tengah wajah kuatnya—

Dia sepenuhnya tidak mengerti apa yang terjadi secara berurutan saat dia gagal menyadari dua fakta di bawah.

Dunia ini, sama sekali bukan program yang dilaksanakan oleh server fisik, tapi juga «Mimpi yang Nyata» yang dibangun dengan photon sama yang membuat Fluct Light manusia.

Dan, karena ini, keinginan membunuh yang murni dan kuat oleh knight yang memakai armor hitam, dari Light Cubenya menuju Main Visualizer, dan melalui sirkuit penghubung photon, dapat mencapai STL yang digunakan Gabriel.


Di tengah-tengah pandangan Shasta yang berwarna merah darah, dia hanya dapat melihat sosok raja.

Dengan gerakan tercepat yang dia lakukan sepanjang hidupnya, dia menarik pedang dengan tangan kanannya.

Apa yang terlepas dari sarung pedangnya adalah Sacred Instrument yang dia wariskan dari gurunya, pedang panjang «Hazy Mist», tapi tidak dalam bentuk normal sebagai pedang abu-abu. Sesuai dengan namanya, kabut tebal seperti kabut malam mengelilingi pedang panjang itu, berputar menjadi badai.

Logika dibalik fenomena ini adalah hal yang sama dengan kemampuan terhebat dari Integrity Knight yang tidak dapat dijelaskan bahkan selama penelitian selama bertahun-tahun—Armament Full Control Art, tapi itu semua kelihatannya sudah tidak penting lagi.

"Bunuh!!"

Dengan teriakan yang sekejap, Shasta menaruh semua kemarahan, kebencian, dan kesedihan di dalam pedangnya, dan dengan kuat mengayunkan itu di atas kepalanya.

Bagian 3[edit]

Dari daerah paling ujung utara di Dunia Manusia, menuju daerah paling ujung timur.

Tidak peduli apakah itu adalah Integrity Knight Alice, atau Amayori, yang terlahir di Kerajaan Barat, ini adalah pertama kalinya mereka melangkah menuju tanah dengan misteri paling besar diantara empat kerajaan, Kerajaan Eastabarieth Timur.

Diantara puncak gunung yang melingkar, sungai bergelombang yang berwarna biru seperti kaca dan menghubungkan secara berliku. Desa dan jalananan yang terkadang terlihat di tepi sungai benar-benar berbeda dari struktur bangunan dari batu yang sangat terkenal di utara, hampir semuanya dibangun dengan kayu.

Orang-orang yang melihat ke atas dan menunjuk ke arah langit ke arah mereka semuanya berambut hitam. Kemudian Alice tiba-tiba mengingat Fanatio, Wakil Komandan Integrity Knight yang tidak dapat rukun dengannya lahir di tempat ini.

Menggerakkan pandangannya ke depan, Alice berpikir, Kirito yang bersandar di punggungnya dan menatap dengan tatapan kosong di langit juga memiliki rambut hitam legam, jadi apakah dia terlahir di daerah timur? Akankah dia mulai mendapatkan kembali ingatannya jika mereka mendarat di jalanan dan membiarkannya menyentuh penduduk di tempat ini? Dia segera membuang ide ini, saat mereka tidak dapat berhenti, bahkan tidak satu detikpun.

Berkemah di daerah pedesaan di malam hari, mereka telah terbang dengan kecepatan penuh selama tiga hari, hanya memakan buah kering dan ikan yang Amayori tangkap—

Di siang hari pada hari kedua di bulan kesebelas. Puncak Barisan Pegunungan yang menjulang sama seperti daerah utara, dan lembah sangat lurus seolah-olah itu terbelah oleh kapak, terlihat di pandangan mereka.

"...Dapatkah kau melihatnya, Kirito?"

Alice berguman, perlahan mengusap leher naga kesayangannya yang telah dia paksa untuk terbang dalam jarak jauh. Saat ini, karena sacred beast hampir punah, naga menjadi mahluk hidup dengan prioritas dan Life tertinggi. Tapi, itu sama sekali bukan hal mudah untuk membawa dua orang dan tiga Sacred Instrument. Kekuatan yang Amayori telah kumpulkan melalui konsumsi ikan yang tidak dibatasi benar-benar hampir habis.

Ketika kita mencapai perkemahan, aku pasti akan memberikannya daging domba segar dengan buatan sepenuh hati. Alice berpikir saat dia menarik tali kekang, Amayori menjawab dengan teriakan seperti kegelisahan dan dengan penuh semangat mengepakkan sayapnya.

Lembah yang retakannya terlihat tipis seperti kertas dari kejauhan sudah pasti tidak terlihat sama jika dilihat dari dekat.

Itu sekitar ratusan mel lebarnya, cukup lebar hingga tentara orc atau ogre untuk memasukinya jika mereka berbaris.

Di depan dari pintu masuk lembah yang secara lurus memisahkan gunung itu menjadi dua, adalah padang rumput yang terbentang seolah-olah mengeliling itu. Di lapangan itu, terdapat perkemahan yang sangat besar yang terdiri dari tenda putih yang didirikan secara berbaris dengan rapi. Uap panas yang berasal dari makanan yang dimasak terangkat ke atas, terdapat tentara yang berlatih dalam formasi. Alice hampir dapat merasakan kilaun pedang dan suasana serius yang terasa sampai ke atas.

Semangatnya sama sekali tidak rendah seperti yang dia takutkan—tapi tidak peduli apapun yang terjadi, jumlah mereka terlalu sedikit. Dari pandangan samar-samar, jumlah keseluruhan mereka kurang dari 3.000, penyerang Dark Territory pasti berjumlah setidaknya 50.000. Di dunia manusia, sacred task tentara dan penjaga yang diberikan kepada seseorang sangatlah sedikit sebaliknya, seseorang yang tinggal di dekat gnung tidak peduli jenis kelamin atau usianya adalah tentara.

Dalam situasi seperti ini, itu tidak akan membuat perbedaan yang sangat besar untuk Alice saja untuk mengikuti pertempuran ini. Cukup bagaimana Komandan Integrity Knight berencana untuk melindungi dunia...?

Alice memikirkan itu saat dia terbang di atas perkemahan, dia memandu naganya menuju lembah yang sedikit gelap.

"Maaf Amayori, hanya tinggal sedikit lagi."

Dia mengatakan itu, saat naganya merespon dengan "kururu", menuju puncak gunung yang diterangi cahaya Solus.

Pada saat mereka memasuki lembah itu, udara dingin dengan segera menyelimuti tubuh mereka. Tebing berbatu di sisi kiri dan kanan mereka yang tegak lurus dengan sempurna, permukaan halus yang hanya dapat diciptakan oleh dewi. Tidak ada hewan, bahkan tidak ada tanaman yang terlihat.

Setelah perlahan melayang selama beberapa menit—

Melalui kabut tebal, yang lembut, beberapa bangunan besar pada akhirnya menjadi terlihat.

"Ini adalah...«Gerbang Besar Timur»...?"

Pintu abu-abu yang berdiri secara vertical, itu mungkin memiliki tinggi sekitar tiga ratus mel dari atas hingga ke bawag. Meskipun itu sama sekali tidak setinggi Katedral Pusat Gereja Axiom yang memiliki tinggi lima ratus mel, gravitasi dari kedua bangunan itu sama sekali membedakan diantara ketinggiannya.

Fakta yang paling mengejutkan adalah pintu ini dibangun dengan satu potongan batu, tanpa ada cela sama sekali. Keberadaan sehebat ini normalnya tidak mungkin dapat diukir dengan tangan manusa, bahkan menciptakan dengan proses art akan benar-benar mustahil. Bangunan yang diciptakan pengguna art terkuat di dunia, Pemimpin Tertinggi Administrator di masa lalu adalah «Immortal Wall» yang membagi ibu kota Centoria Pusat menjadi empat, tapi potongan batu pada itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan pintu besar ini.

Dengan kata lain, pintu besar ini diletakkan di tempat ini oleh dewi pada saat awal penciptaan dunia. Untuk membagi dua dunia ini—agar dapat untuk mencegah tragedi yang akan datang tiga ratus tahun kemudian.

"Berhenti, Amayori."

Setelah Amayori berhenti di tengah udara, Alice melihat ke arah pintu besar dari jarak yang lebih dekat.

Untuk suatu alasan, di pintu, atau potongan batu akan jauh lebih tepat, terdapat Pengucapan Suci yang terukir.

"Kehancuran...Mencapai...Pada, tahap, terakhir..."

Meskipun dia mencoba kalimat Pengucapan Suci yang ada di tengahnya, dia tidak memiliki pengetahuan mengetahui artinya.

Pada saat dia memikirkan itu dengan memiringkan kepalanya, tiba-tiba, gelombang mengerikan dari suara retakan dan goresan mengguncangkan udara, mengejutkan Alice dan Amayori. Alice mengarahkan leher naga itu menuju suara, bagian dari pintu besar yang benar-benar halus sebelumnya, telah menimbulkan retakan yang menyerupai petir meluas hingga mencapai bagian bawah.

Retakan yang memiliki panjang sekitar sepuluh mel tiba-tiba berhenti, bagian kecil dari batu itu terlepas dari permukaannya dan mengenai permukaan lembah dengan suara hantaman yang keras.

Alice mengangkat kepalanya dan melihat ke arah gerbang besar itu, retakan dan batu yang terjatuh itu tidak hanya membatasi di satu area. Itu akan lebih baik untuk mengatakan gerbang besar itu hampir semuanya ditutupi dengan jalur celah dan retakan.

Alice perlahan menarik tali kekang, membujuk Amayori terbang menuju pintu besar itu sedekat mungkin.

Dia dengan hati-hati mengulurkan tangan kirinya, dengan cepat menarik segel Stacia di tengah udara, dan perlahan menyentuh permukaan pintu itu. Window ungu tercipta, dengan nama «Gerbang Besar Tmur», dengan kapasitas Life penuhnya dan jumlah nilainya di waktu sekarang.

Jumlah angka yang ada di kiri menunjukkan Life tertinggi yang pernah dia lihat—lebih dari tiga juta. Tapi Life yang ada di sisi kanannnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan seperpuluhan ribu dari itu, 2985. Lebih jauh lagi, angka yang paling kanan terus berkurang pada saat dia melihat itu.

Keringat membasahi telapak tangannya, Alice menghitung dengan suara keras, mengukur jumlah waktu yang dibutuhkan angka itu untuk berkurang. Dia kemudian memperkirakan waktu yang tersisa sampai Life itu benar-benar habis.

"... Itu tidak mungkin..."

Dengan ketidakpercayaan pada kesimpulannya sendiri, Alice berguman.

"...Lima hari...Hanya ada lima hari yang tersisa......?"

Pintu yang berdiri di ujung dunia yang berdiri dengan berwibawa selama lebih dari tiga ratus tahun, hanya memiliki kurang dari lima hari sampai itu akan runtuh—bagaimana itu mungkin terjadi?

Senyuman indah Selka, wajah coklat yang sangat berkerut, kakek Garitta, dan ekspresi mengerut dari ayahnya Gasupht—terlintas melalui pikiran Alice. Itu hanya beberapa hari yang lalu dia telah mengusir goblin yang telah menyerang mereka, dan menyegel gua itu dengan es. Dia berpikir pebuatan itu akan membawa kedamaian sementara pada Rulid.

Pada saat Gerbang Besar Timur itu runtuh dalam waktu lima hari kemudian, tentara kegelapan akan menyerbu seperti serangga, dan jika penjaga itu tidak mampu untuk bertahan, monster yang haus darah akan menyerbu ke dalam Dunia Manusia seperti banjir. Banjir ini akan dengan segera mencapai daerah perbatasan utara, dan Rulid akan diselimuti dengan itu.

"Kita harus...Kita harus memikirkan sesuatu..."

Alice berguman pada dirinya sendiri seolah-olah berada di dalam mimpi, saat dia tanpa sadar menarik tali kekang. Setelah menjauh dari potongan batu yang hendak runtuh, Amayori perlahan naik ke atas, dan berhenti kira-kira tiga ratus mel, di atas pintu itu.

Dibalik pintu itu, lembah itu terus berlanjut dengan arah yang sama, seolah-olah membelah gunung itu. Tetapi, apa yang terlihat sama sekali bukan langit biru dan padang rumput hijau, tapi langit berwarna merah darah dan daerah terpencil, hutan belantara berwarna hitam legam dari Dark Territory.

Alice tidak ingin untuk melihat pemandangan mengganggu, tapi saat dia menyipitkan matanya, memfokuskan—

Pada pemandangan hitam, yang samar-samar, cahaya kecil yang bergetar terlihat.

Menyuruh Amayori terbang lebih tinggi, dia mengarahkan pandangannya menuju kejauhan. Itu tidak hanya satu cahaya, tapi banyak cahaya tersebar ke segala arah dalam posisi tidak beraturan.

Api unggun.

Sebuah perkemahan. Pasukan dari tentara kegelapan, sudah dalam formasi tepat di depan mereka, hanya tinggal menunggu Gerbang Besar Timur itu untuk runtuh dan jalan menuju Dunia Manusia akan terbuka.

"Hanya ada...Lima hari..."

Alice berguman secara perlahan lagi.

Dengan segera, seolah-olah dia ingin melarikan diri dari kenyataan, dia mengarahkan naganya untuk berbalik ke belakang dan menelusuri kembali jalannya menuju pintu masuk lembah. Jika dia melihat api unggun yang tidak terhitung jumlahnya untuk waktu yang lama, dia merasa bahwa dia akan dipenuhi dengan dorongan yang sangat kuat untuk menyerang mereka seorang diri.

Jika itu benar-benar terjadi, jika musuhnya hanyalah goblin atau orc, dia masih yakin bahwa dia akan mampu mengambil hidup seratus atau dua ratus dari mereka sebelum melarikan diri. Tapi jika ada pemanah ogre atau kelompok Penyihir Kegelapan di dalam musuh tersebut, hal tersebut tidak akan mudah.

Meskipun itu dikatakan bahwa Integrity Knight memiliki kekuatan seribu dalam satu orang, itu seperti yang dideskripsikan, itu hanya untuk satu orang. Jika knight berhadapan dengan serangan jauh yang difokuskan dari jarak dimana ilmu pedang maupun tehniknya tidak mampu mencapainya, dia sudah pasti akan menderita luka. Bahkan jika itu adalah luka ringan, jika mereka terkena itu terus menerus, mereka pada akhirnya akan mencapai batas terakhir dari Lifenya. Itu adalah kelemahan terbesar dari pertahanan Dunia Manusia yang Komandan Integrity Knight Bercouli selalu khawatirkan selama bertahun-tahun.

Dengan seseorang yang berkeinginan mengumpulkan kekuatan, Administrator, sekarang mati, sejumlah besar senjata pertahanan yang tersimpan di dalam Katedral telah dibagikan diantara kelompok penjaga yang secara cepat dibentuk. Tapi waktu yang tersisa bagi mereka sangatlah sedikit. Setidaknya, jika mereka memiliki 10.000 tentara, dan satu tahun persiapan—

Dengan menghela nafas secara perlahan, Alice menyingkirkan pemikiran tidak berarti itu dan memerintahkan Amayori untuk mendarat.

Dengan lapangan yang berada di perkemahan kelompok penjaga memiliki lapangan besar. Melihat tenda besar di dalamnya, Alice mengetahui bahwa lapangan itu hanya dapat menjadi lapangan pendaratan untuk naga.

Terbang ke bawah dan mendarat dengan garis melengkung, Amayori mendarat di rumput itu dengan kukunya, berbalik menuju tenda, dan mengeluarkan teriakan dengan suara keras "kuruuu".

Dengan cepat, panggilan dengan suara sedikit pelan terdengar. Itu mungkin adalah saudara naganya, Takiguri. Pada saat naga itu berhenti, Alice membantu Kirito, melompat ke padang rumput, dan membantu Amayori mengeluarkan barang-barang berat di kakinya. Setelah itu, Amayori dengan penuh semangat berlari ke tenda, dan mengusap kepalanya dengan saudaranya, yang mengeluarkan kepalanya dari tenda.

Alice tidak dapat melakukan apapun selain tersenyum. Tetapi, dia dalam sekejap menyadari langkah kaki yang mendekat dari belakang, dan dengan cepat menegangkan ekspresi wajahnya. Dia memperbaiki rok putihnya dan menarik rambutnya yang terurai oleh angin ke belakang rambutnya.

Sebelum dia dapat berbalik ke belakang, suara santai, yang dikenalnya terdengar di sepanjang lapangan pendaratan.

"Master! Master Alice-sama!! Aku tahu bahwa kau akan datang!"

Seseorang yang berlari dengan langkah kaki yang berpola adalah Integrity Knight Eldrie Synthesis Thirty-One, yang telah berpisah dengan Alice sepuluh hari yang lalu. Meskipun mereka berada di perkemahan untuk waktu yang lama, rambut keriting berwarna ungu dan armor berwarna perak putih masih bersih seperti biasanya.

"...Kau kelihatan bersemangat."

Pada perkataan dingin Alice, bulu mata panjang Eldrie bergemetar karena sangat terkejut, dan ujung mulutnya yang kelihatannya seolah-olah ingin untuk mengatakan sesuatu—menjadi benar-benar terdiam.

Tentu saja, dia menyadari anak laki-laki berambut hitam yang Alice bantu berdiri dengan tangan kirinya.

Menegangkan bagian kiri dari wajahnya, mengalihkan wajahnya, knight muda memperlihatkan ekspresi ketidakpercayaan dan mengatakan.

"Kau membawanya...huh. Kenapa?"

Alice membusungkan dadanya dengan menantang dan menjawab.

"Tentu saja, karena aku telah bersumpah untuk melindunginya."

"Ta, tapi...Jika terdapat pertarungan, kita sebagai Integrity Knight akan dibutuhkan dalap pertempuran di garis depan. Apa yang akan terjadi ketika kita saling bersilang pedang dengan musuh? Kau tidak mungkin dapat bertarung sementara membawa dia di punggungmu."

"Jika aku perlu melakukan itu, aku akan melakukan itu."

Seolah-olah dia bersembunyi dari pandangan Eldrie, Alice sedikit membungkuk saat dia menahan tubuh lemah Kirito, yang tidak mampu untuk berdiri sedniri. Tapi, entah bagaimana, tentara dan beberapa Integrity Knight yang beristirahat semuanya telah berkumpul di sekitar lapangan pendaratan. Mereka melihat Alice dengan pandangan kekaguman, dan Kirito dengan ekspresi keterkejutan.

Untuk menengkan keributan seperti kegemparan, Eldrie berkata dengan suara tajam.

"Kau tidak dapat melakukannya, masterku! Tolong maafkan ketidaksopananku, tapi jika kau membawa orang tidak berguna ini di pertempuran, tidak hanya kekuatan kita menjadi setengah, tapi kau sendiri akan terjatuh dalam bahaya, ini sama sekali tidak bagus! Dalam pertarungan yang akan datang, Alice-sama akan..."

Dia menghentikan perkataannya sendiri, dan tiba-tiba menunjuk swordsman yang disekitarnya dengan hiasan pelindung tangan perak.

"...Bertanggung jawab sebagai pemimpin mereka di pertempuran! Bagaimana kau tidak mengerahkan semua kemampuanmu?!"

Dia ada benarnya. Meskipun dia sama sekali tidak salah, Alice tidak dapat menjawab dengan perkataan itu. Bagi dirinya, diantara—melindungi dunia, melindungi Kirito, keduanya sama-sama penting. Alice menggeretakkan giginya saat dia memikirkan cara untuk menjelaskan ini.

Di saat yang bersamaan, dia terkejut pada nada dan cara bicara Eldrie.

Terdapat suatu perubahan dari Integrity Knight Eldrie yang telah melewati pelajaran Alice dalam ilmu pedang. Kemudian, dia mengagumi Alice, dan mendengarkannya tidak peduli apa yang dia beritahu padanya.

Ini adalah hal yang pasti. Penduduk dari dunia ini mendapati mata kanan mereka tersegel oleh «Dewi Luar» yang misterius, benar-benar tidak dapat melanggar hukum atau kekuasaan. Berdasarkan pengetahuan Alice, seseorang yang berhasil menghancurkan segel itu adalah dirinya, dan swordsman pemegang Blue Rose Sword yakni Eugeo yang telah mati. Bahkan Administrator dan Cardinal, yang dapat dikatakan memiliki kekuasaan Pemimpin Tertinggi, tidak mampu untuk melawan segel itu.

Dengan kata lain, Eldrie seharusnya masih dalam pengaruh segel tersebut. Tapi sekarang—dia sama sekali tidak secara langsung membantah perkataan Alice, tapi dia seharusnya mematuhinya jika dia secara paksa memerintahnya. Tapi dia sama sekali tidak dalam kondisi [kesetiaan mutlak] seperti sebelumnya. Dia dapat berpikir untuk dirinya, dan menyampaikan pemikirannya sendiri.

Alasan untuk perubahan ini adalah Kirito dan Eugeo.

Meskipun dia hanya bertemu secara singkat dengan dua pengkhianat terbesar di dunia, mereka telah menggerakan jiwa Eldrie dengan dalam.

Saat Alice mengingat kembali, bahkan saudara perempuannya Selka yang tinggal di Rulid, terkadang memperlihatkan ketidakpuasan dengan peraturan formal di desa dan sosok berwibawa yang memiliki kekuasaan. Juga—dua siswa perempuan yang berjalan keluar dari kerumunan ketika Alice telah mengambil Kirito dan Eugeo dari Akademi Master Pedang. Sebagai penduduk normal, dan gadis muda, untuk benar-benar berbicara dengan keinginan mereka sendiri kepada Integrity Knight sendiri sudah mustahil.

Akhirnya—bahkan Alice sendiri telah terpengaruh.

Sebelum dia bersilangan pedang dengan Kirito dan terlempar keluar dari Katedral Pusat, dia sama sekali tidak memiliki sedikitpun keraguan pada struktur dunia, peraturan gereja, dan kesucian Pemimpin Tertinggi.

Tapi, pada saat dia harus untuk bergabung dengannya untuk mengusir bahaya, menerima tawaran bekerja sama, dan memanjat dinding luar, suara, pedang, dan mata hitam legam Kirito dengan kuat menggerakkan Alice—hingga pada akhirnya menghancurkan segel di mata kanan...

Ya, Kirito adalah palu yang diayunkan pada dunia yang dipenuhi dengan kebohongan ini. Seseorang yang mengeluarkan kekuatan dari tubuh dan jiwa terbatasnya, untuk menggerakkan dunia, mengguncang, dan pada akhirnya menghancurkan menara kuno yang menyebut dirinya sebagai Gereja Axiom, yang berada pada pusat dunia. Tapi, terdapat harga yang harus dibayar, dia mengorbankan sahabat terbaiknya Eugeo dan pemandunya Cardinal, dan bahkan kehilangan hatinya sendiri...

Alice dengan erat memerut tubuh seperti ranting yang dia tahan dengan tangan kirinya. Kemudian, dia secara langsung melihat ke arah Eldrie.

Dia ingin untuk mengatakan. Kau adalah seseorang yang seperti hari ini karena perjuangan anak laki-laki ini. Tapi dia sudah pasti tidak akan mengerti itu. Sejauh yang Integrity Knight pikirkan, Kirito akan selalu menjadi pengkhianat yang dibenci.

Kepada Alice yang berdiri dengan tenang, Eldrie memperlihatkan ekspresi terlihat seperti dia menahan rasa sakit yang berat, dan pada saat dia hendak melanjutkan.

Pada saat ini, kelompok orang-orang yang ada disekitar mereka, seolah-olah dipisahkan oleh tangan raksasa, tiba-tiba membuka jalan.

"Hei, tidak perlu untuk menjadi sangat marah seperti itu, Eldrie."

Knight muda menghentakkan kakinya dengan penuh gaya dan meluruskan punggungnya. Alice perlahan membalikkan kepalanya ke belakang juga.

Pakaian abu-abu terang yang berasal dari daerh timur dikenakan secara perlahan dan terlihat mencolok. Sebuah sabuk biru tua diikat sedikit ke bawah. Pedang panjang yang besar tersarung di pinggang kirinya. Tetapi, sepatu kayu aneh terpasang di kakinya.

Ini adalah pakaian santai yang jauh kurang efektif dibandingkan dengan pakaian yang dikenakan knight dan tentara disekitarnya. Tapi, tekanan yang dikeluarkan dari tubuh besar, yang benar-benar dilatih itu, lebih berat dibandingkan dengan armor apapun.

Mengusap rambut biru tuanya yang dipotong pendek, dan memiliki warna yang sama dengan pakaiannya, pemiliki suara itu tertawa, sambil menutup mulutnya.

"Oh, gadis kecil. Kau jauh lebih bersemangat dibandingkan dengan yang aku bayangkan, itu menenangkanku. Apakah wajahmu menjadi sedikit lebih gemuk?"

"...Master-sama. Sudah lama tidak bertemu."

Alice menahan kembali air matanya saat dia memaksakan keluar suaranya yang bergemetar, memaksakan senyuman tipis, dan memberi hormat kepada swordsman, terkuat dan tertua di dunia—Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One.

Dalam enam tahun hidup Alice sebagai Integrity Knight, dia hanya merasa terbuka pada satu orang, menganggap dia sebagai masternya, dan menghormati dia sebagai ayahnya. Di saat yang bersamaan, dia sangat yakin di dunia ini, hanya dia—selain dari Kirito—adalah satu-satunya orang yang dia tidak dapat menang melawan dirinya.

Karena itu, dia benar-benar tidak dapat menangis dihadapan dirinya.

Jika Bercouli mengatakan bahwa mereka tidak dapat menjaga Kirito di tempat ini, dia hanya dapat mematuhinya. Tentu saja, Alice yang sekarang tidak dapat dipaksa bahkan dengan perintah Bercouli. Tapi, jika dia tidak mematuhi itu di depan semua orang, itu akan mengganggu kelompok knight dan penjaga. Dalam situasi dimana mereka hanya memiliki lima hari sampai pertarungan penentuan, dia benar-benar tidak dapat mengganggu kekuasaan kepemimpinan Bercouli dengan cara apapun.

Seolah-olah dia benar-benar telah melihat pada keraguan di dalam hati Alice, Bercouli perlahan berjalan ke depan, sudut dari mulutnya memperlihatkan senyuman lembut.

Menatap pada mata Alice, dia mengangguk secara tegas.

Kemudian, Komandan Integrity Knight menatap ke arah belakangnya pada Eldrie, yang kelihatannya hendak mengatakan sesuatu, menahan dirinya, dan mengalihkan pandangannya menuju Kirito, di tangan Alice.

Bercouli menutup mulutnya. Cahaya seperti api putih kebiruan terkumpul pada mata tajam itu.

Bercouli mengambil nafas dalam. Kemudian, Alice merasakan udara di sekitarnya dengan cepat berubah menjadi dingin.

"...Master-sama..."

Alice memaksakan keluar suara serak.

Bercouli sedang mengumpulkan keinginan bertarungnya. Dia telah bersiap untuk melepaskan «Tebasan Penjelmaan» yang hanya dimiliki oleh Integrity Knights... Tehnik rahasia yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan «Tangan Penjelmaan» yang dapat menggerakkan benda dengan kekuatan dari tekad seseorang.

Memasukkan tekad yang terkosentrasi ke dalam pedangnya, dan melepaskannya. Pedang tidak terlihat yang terkadang dapat menangkis pedang nyata dari musuh. Armament Full Control Art dari Sacred Instrument Komandan Integrity Knight, «Time Piercing Sword» yang bahkan dapat menebas masa depan, adalah tehnik yang pertama kali muncul berdasarkan kekuatan tekad penghancur dari Bercouli.

Dengan kata lain—apakah Bercouli berencana untuk menebas Kirito?

Jika dia melakukan seperti yang dia katakan dan menebas masalah ini hingga selesai dengan pedang, maka itu akan menjadi suatu hal yang Alice tidak dapat terima. Jika itu menjadi seperti itu, Alice harus menarik pedangnya sendiri untuk melindungi Kirito.

Tertekan oleh keinginan bertarung yang hebat dari Komandan Integrity Knight, tidak peduli apakah itu adalah tentara di sekitar, atau Eldrie, atau bahkan naga yang berada di dalam tenda, semuanya tenggelam pada keheningan dalam. Di udara yang ditekan sangat kuat hingga titik sulit untuk berrnafas, Alice memerintahkan jari di tangan kanannya untuk bergerak dengan seluruh kekuatannya.

Tapi, pada saat Alice menyentuh gagang pedang kesayangannya, ujung dari mulut Bercouli merengut, dan suara seperti pikiran terdengar.

—Itu tidak apa-apa, nona kecil.

"......?!"

Dalam sekejap ketika Alice menahan nafasnya.

Tubuh Bercouli masih tetap terdiam, tapi kedua matanya bersinar dengan cahaya menyilaukan.

Di saat yang bersamaan, di tangan Alice, tubuh Kirito bergemetar dengan keras.

PIN!!! Dengan suara keras, celah diantara Bercouli dan Kirito bergema dengan cahaya perak.

—Ini?!

Alice menahan nafas dalam keterkejutan, tapi Bercouli tersenyum gembira seolah-olah keinginan bertarungnya beberapa saat yang lalu hanyalah fantasi.

"M...Master-sama...?"

Berbalik kembali menuju Alice yang berguman dengan terdiam, swordsman itu mengusap dagu lebarnya, sama seperti ketika mereka berlatih bersama sebelumnya.

"Nona kecil, apa kau melihat yang baru saja terjadi?"

"Ya...Ya, aku melihatnya. Bahkan meskipun itu dalam sekejap...Itu terlihat cahaya dari hantaman pedang...?"

"Yeah. Aku melepaskan pedang tipis dari Tebasan Penjelmaan yang belum selesai pada anak laki-laki itu. Jika itu menebasnya, itu mungkin akan hanya menebas sedikit kulit di wajahnya."

"Jika itu...menebasnya? Jadi itu berarti..."

"Benar, dia menghentikan itu. Anak laki-laki itu menggunakan «Penjelmaan» miliknya."

Alice tidak dapat melakukan apapun selain menatap pada wajah Kirito yang badannya ditahan oleh tangan kirinya.

Tapi, harapannya telah dihancurkan. Pada mata hitam yang sedikit terbuka, hanya terdapat kegelapan yang kosong. Tidak ada ekspresi apapun, seperti biasanya.

Tapi tubuhnya bergemetar beberapa saat yang lalu.

Alice menyentuh rambut Kirito dengan tangan kanannya, dan melihat ke arah Bercouli. Komandan Integrity Knight itu perlahan menggelengkan kepalanya, dan mengatakan untuk menenangkannya.

"Itu kelihatannya hati anak laki-laki itu sama sekali tidak berada di sini...Tapi, dia sudah pasti belum mati. Dengar. Seseorang yang ingin dilindungi oleh anak laki-laki itu beberapa saat lalu bukanlah dirinya, tapi dirimu, nona kecil. Jadi, pasti akan ada hari ketika dia akan kembali. Aku berpikir seperti itu. Di waktu ketika kau benar-benar dalam bahaya, nona kecil."

Alice hanya dapat menahan air matanya yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya.

—Ya, dia pasti akan kembali.

—Karena Kirito...Kirito adalah swordsman terkuat di dunia. Dia mengayunkan dua pedang dan bahkan membunuh manusia setengah dewi itu.

—Apakah itu untukku...? Aku tidak dapat mengatakan itu. Jika dia kembali demi seluruh penduduk yang tinggal di dunia ini...

Alice tidak dapat menahannya lebih lama lagi, dia menundukkan kepalanya, memeluk Kirito dengan erat dan menyandarkan kepalanya pada pundaknya. Suara mendidik dari Komandan Integrity Knight itu melewati kepalanya.

"Jadi, Eldrie. Jangan mengatakan sesuatu yang sangat egois seperti itu, dia hanyalah anak laki-laki, jadi jagalah dirinya."

"Tapi...Tapi..."

Integrity Knight Eldrie secara tajam memberikan jawabannya bahkan dengan semangat yang mengagumkan.

"Itu akan baik-baik saja jika dia memiliki setidaknya sedikit kekuatan, tapi dalam kondisi seperti ini...Di samping itu, bahkan jika dia pulih, apa yang siswa elite swordsman-in-training dapat lakukan...?"

"Hei, hei."

Dengan senyuman tenang, perkataan Bercouli sangat tajam seperti pisau.

"Apa kau telah melupakannya? Partner anak laki-laki ini adalah seseorang yang bahkan menang melawan diriku. Dia mengalahkan Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One."

Dalam sekejap, seluruh lapangan berumput menjadi hening sekali lagi.

"Anak laki-laki yang dipanggil Eugeo...Dia sangat kuat, jauh lebih kuat daripada yang kalian dapat bayangkan. Aku bahkan melepaskan Released Recollections dari Time Piercing Sword milikku. Dan aku masih kalah. Seperti kau, Deusolbert, dan Fanatio."

Sekarang, Eldrie kehilangan kata-katanya. Tentu saja, seorang swordsman menang dalam pertarungan satu lawan satu melawan Bercouli, tidak peduli diantara Integrity Knight, atau di Dark Territory yang berada sisi lain dari pintu itu, seharusnya sama sekali tidak ada—semua orang sangat mempercayai ini dalam Gereja Axiom.

Tapi, dalam artian tertentu, bukankah cara berpikir seperti ini sangatlah berbahaya?

Komandan Integrity Knight Bercouli mampu untuk memimpin penjaga yang dikumpulkan dengan kekuasaan sebagai orang yang terkuat. Tapi, dia membuat keberadaan swordsman Eugeo yang pernah mengalahkannya diketahui—dan bahkan mengakui bahwa Eugeo dan Kirito berada di posisi yang sama, maka...

Pada saat Alice berpikir, tepat saat dia hendak mengangkat kepalanya.

Bercouli tiba-tiba melihat ke arah langit dengan ekspresi yang terlihat seperti marah.

"Mas...Master-sama...?"

Pada pertanyaan Alice, Komandan Integrity Knight mengatakan sesuatu yang tidak terduga.

"Di suatu tempat yang jauh, sangat jauh, suatu gelombang dengan keinginan bertarung yang sangat besar meluas dalam sekejap, dan menghilang...Seseorang yang aku kenal telah mati..."

Bagian 4[edit]

Sepuluh Pemimpin Bangsawan yang membentuk Pertemuan Sepuluh Pemimpin Bangsawan di Dark Teritorry benar-benar berbeda dalam hal kepribadian, sifat, dan ambisi tersembunyi, tapi terdapat satu aspek yang mereka semua benar-benar sama.

Itu adalah pemahaman mereka yang jauh lebih baik dibandingkan dengan semua orang mengenai satu hukum [Kekuatan mendominasi semuanya].

Itu akan lebih baik mengatakan bahwa hukum ini telah terukir pada mereka semenjak mereka masih anak-anak, dan melalui ketekunan mereka tanpa henti—melatih diri mereka atau menghabisi seseorang yang tidak mematuhinya—mereka benar-benar telah mendaki menuju puncak dunia ini yang dibasahi dengan darah.

Karena itu, ketika sembilan Pemimpin Bangsawan lainnya, yang berdiri secara berbaris dengan Komandan Darkness Knight Shatsa di Ruangan Tahta, melihat Darkness Knight yang berada paling kanan menarik pedangnya pada gagang dengan gerakan yang tiba-tiba, tidak ada satupun dari mereka merasakan keterkejutan di dalam hati mereka.

Faktanya, sebagian besar orang mengerti sebagai "Oh, jadi kau cukup berani untuk membuat gerakan sekarang, kau benar-benar berani." Bahkan Pemimpin Orc dan Ogre yang kemampuan bahasa dan kecerdasannya telah menurun selama lebih dari tiga ratus tahun, berpikir "Sekarang kita dapat melihat kekuatan Raja ini," terlihat pada mata tajam mereka yang seperti hewan. Bahkan Pemimpin muda dari Guild Petarung Jalanan, yang menghormati pada Shasta sebagai seseorang yang sebanding yang berlatih lebih baik dengan tehnik bertarungnya, memberikan perkataan pelan yang mendukung. "Karena kau menarik pedangmu, tebaslah Raja itu."

Di antara mereka, hanya terdapat dua orang yang memprediksi situasi ini beberapa detik sebelum itu terjadi.

Salah satu diantara mereka adalah Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art, Dee Ai El. Dia memendam perasaan permusuhan yang dalam pada Shasta, cukup lama hingga berencana untuk menculik kekasih Komandan Darkness Knight itu, dia telah mengetahui penampilan Lipia sebelumnya.

Karena itu, dia sebaliknya bahkan merasa jauh lebih terkejut ketika dia melihat kepala Lipia yang dibekukan. Memprediksi bahwa ini mungkin akan menyebabkan Shasta dipenuhi dengan kemarahan dan menarik pedangnya, Dee memikirkan apa yang dia hendak lakukan pada situasi ini.

Meskipun dia ingin untuk menusuk punggung Shasta dan melakukan dukungan kepada Raja untuk memanfaatkannya, Dee pada akhirnya memutuskan untuk melihat dari samping. Jika Shasta kalah melawan Raja, maka itu semua akan berjalan baik, jika Shasta menang, dia akan dipenuhi dengan luka, dan kemudian dia akan menghanguskan musuhnya dan mengambil tahta Dark Teritorry untuk dirinya sendiri. Dee perlahan tertawa saat dia menahan kegembiraannya dengan menjilat mulutnya.

Tapi terdapat seseorang lainnya yang menyadari keinginan berkhianat dari Komandan Darkness Knight itu—

Dan sekarang dia segera melakukan tindakannya.


Dengan hanya kata "Bunuh" di pikirannya, Shasta dengan cepat mengayunkan pedang kesayangannya.

Jika tingkat kekuatan dari «Penjelmaan» yang tergabung dengan tebasan itu dapat diukur, itu sudah jelas bahwa itu melebihi serangannya pada saat dia saling bersilangan pedang dengan Integrity Knight Bercouli. Kemarahan dan teriakannya yang sangat kuat hingga Armament Full Control Art, yang biasanya akan membutukan pengucapan yang sangat panjang, dengan sekejap segera tercipta.

Pedang panjang Shasta «Hazy Mist» adalah objek dengan kelas Sacred Instrument yang secara otomatis tercipta dua ratus tahun lalu sebagai bagian dari paket VRMMO. Sifatnya adalah [Air], yang sekarang, mencerminkan keinginan membunuh yang sangat kuat dari Shasta, pedang itu berubah menjadi bayangan seperti kabut tanpa kehilangan kekuatan membunuh mutlaknya.

Kemampuan spesial dari Hazy Mist dalam kondisi Armament Full Control adalah benar-benar menghilangkan proses penyerangan dari apa yang dimiliki oleh semua pedang, [menyebabkan kerusakan dengan menyebarkan atau bergerak menuju objek yang ditargetkan dengan bilah tajam]. Dalam sekejap seseorang menyentuh aliran panjang dari kabut itu, kerusakan yang menyerupai tebasan normal akan mengurangi Lifenya. Dengan kata lain, selain dari menghindari itu, semua bentuk dari pertahanan sama sekali tidak akan berarti.

Dalam sekejap Shasta menarik pedangnya, Gabriel Miller, sebagai Raja Vector, menarik pedangnya sendiri dan hendak untuk menangkis serangan musuhnya. Jika hal itu akan berlanjut seperti ini, pedang kabut Shasta akan melewati pada pedang Gabriel, menyerang tubuh Gabriel, dan memasukkan semua niat membunuhnya yang telah terkumpul.

Tetapi, saat dia bergerak dengan sangat cepat, tepat sebelum dia melepaskan tebasan membunuh.

Shasta terdiam.

Dia tidak mengetahui kapan, tapi di bawah bahu kirinya pada armor berat Komandan Darkness Knight itu, di dalam ruas dari lapisan besi yang tebal itu, jarum lempar tertusuk dengan dalam di bagian itu.

Seseorang yang perlahan berdiri di belakangnya adalah sosok kurus yang seperti hantu yang seluruh tubuhnya ditutupi dengan jubah abu-abu gelap.

Pemimpin dari Guild Assassin, Fer Za. Seseorang yang bersembunyi di balik bayangan yang memiliki keberadaan terlemah diantara sepuluh Pemimpin Bangsawan dan hampir tidak mengatakan apapun pada saat pertemuan. Dia menyerbu ke depan, mungkin dengan cara menyerang yang paling jelas yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

Fer Za mampu untuk menyadari perbuatan Shasta sebelum semuanya terjadi karena dia adalah seseorang yang paling pengecut dan aneh dari sepuluh Pemimpin Bangsawan.

Guild Assassin sebenarnya adalah keluarga dimana orang lemah terkumpul. Itu adalah kelompok yang diciptakan untuk orang-orang yang terlahir tanpa bakat pada kemampuan fisik, art, kekayaan atau kemampuan lainnya, tapi menolak penyiksaan, kehidupan tidak bebas dari budak, agar dapat mengasah [Tehnik Racun] yang bahkan dijauhi oleh Dark Territory.

Objek beracun di Underworld, seperti bagian dari serangga, ular, dan tanaman, pada awalnya dimasukkan sebagai bagian dari Load Experiment Phase. Karena itu, efeknya hanya akan terbatas pada tingkatan dimana penduduknya dapat dengan mudah pulih jika mereka menggunakan pengetahuan yang dimiliki. Berbicara sebaliknya, hampir tidak mungkin terdapat cara untuk mendapatkan kekuatan yang cukup dari itu untuk berhadapan dengan upacara art atau pedang.

Tetapi, orang-orang yang membentuk Guild Assassin menemukan tehnik «pengembunan» yang bahkan tidak diketahui oleh teknisi «RATH», dan setelah periode waktu yang sangat panjang, menciptakan dan memperkuat racun dengan susah payah. Markas besar Guild Assassin yang berada di bawah jalanan kumuh dari istana yang berada di pusat kota bahkan memiliki panci besar yang merebus cairan buah beracun selama lebih dari ratusan tahun, dan tidak terhitung panci dari ular beracun yang dikumpulkan dari semua tempat untuk membuatnya memakan satu sama lain.

Tapi [Racun Mematikan] yang dengan susah payah diselesaikan justru menciptakan konflik di dalam yang sangat tragis, dipenuhi dengan pembunuhan secara rahasia di dalam Guild. Berbeda dari upacara art dan semua senjata, itu benar-benar sangat sulit untuk mencari penyerang racun karena efek dari racun itu mungkin akan tertunda.

Karena itu, itu tidak dapat dihindari bahwa pemimpin Guild itu tidak akan mampu untuk bertahan hidup jika dia benar-benar tidak paranoid[24]. Dia harus mampu menyadari pandangan yang tertuju padanya, tidak, bahkan mampu merasakan sedikit keinginan membunuh yang sedikit yang bersembunyi di balik udara.

Bagi Fer Za, keinginan membunuh yang dilepaskan oleh Shasta pada saat dia melihat kepala Lipia jauh lebih kuat bahkan dibandingkan dengan aroma darah. Dan Jenderal Kegelapan Shasta adalah seseorang yang Fer Za paling benci di dunia ini.

Jumlah dari rencana pembunuhan yang telah dia rencanakan dan dibuang sampai sekarang tidak terhitung jumlahnya. Dia sangat yakin bahwa dia dapat melakukan pembunuhan. Tetapi, jika penyebab kematian telah diketahui karena racun, semua orang akan mengetahui bahwa itu adalah perbuatan Guild Assassin. Satu jam setelah kematian Shasta, tidak terhitung Darkness Knight yang kuat akan menyerang markas utama Guild Assassin dan dengan cepat membunuh mereka semua. Pertarungan secara langsung akan berakhir tanpa kemenangan.

Tapi, sekarang, jika itu hanya dalam sekejap saja.

Dia berada pada posisi benar dengan menusuk tubuh musuhnya dengan jarum beracun yang sangat tajam. Karena di saat dia menarik pedang untuk mengambil hidup Raja itu, Shasta sama sekali bukan Komandan Darkness Knight, ataupun Pemimpin Bangsawan, dia hanyalah seorang pengkhianat.

Sesuatu yang Fer Za tarik keluar dari jubahnya dan melemparkannya adalah senjata rahasia yang diturunkan dari generasi ke generasi Pemimpin Guild Assassin. Itu adalah jarum metal yang sangat tipis dengan nama [Rubelir Toxic Steel], dipotong dari bijih besi yang berbahaya yang mampu mengeluarkan racun berbahaya, dan mampu disembunyikan di telapak tangan seseorang. Setelah itu dilubangi, berbagai racun dapat disimpan di dalam.

Tersimpan di dalamnya adalah racun mematikan, kumpulan dari inti tehnik Guild Assassin. Mengumpulkan parasit langka dengan nama [Lintah Pengkorosi Darah], menghancurkan lima puluh ribu darinya secara bersamaan, dan beberapa kali pengembunan dan penyaringan hanya akan menciptakan satu tetes dari racun beracun itu. Karena semua usaha untuk memelihara dan membesarkan lintah jenis ini terus gagal, cukup tugas untuk menciptakan satu tetes dari racun beracun ini akan membutuhkan usaha yang sangat besar.

Tentu saja, satu hal yang Fer Za tidak mungkin dapat ketahui adalah setiap mahluk yang bergerak di Underworld yang semuanya diciptakan oleh sistem berdasarkan pada nilai khusus setiap are per unit selain dari unit ternak, seperti domba dan sapi, semua pemeliharan mahluk lainnya sama sekali mustahil.

Dengan kata lain, jarum beracun yang Fer Za lepaskan adalah kosentrasi dengan semua kekuatan dari Guild Assassin yang berasal dari material yang digunakan cairan racun di dalamnya. Di saat yang bersamaan, itu juga dapat dianggap sebagai kumpulan dari kebencian dari seseorang yang lemah yang menderita selama ratusan tahun dari penyiksaan.


Saat Shasta mengkosentrasikan semua kekuatan tekadnya pada pedangnya yang dia ayunkan, dia hampir gagal menyadari rasa sakit dari jarum metal yang menusuk ke dalam tubuhnya.

Tapi dalam sekejap dia bersiap melompat tinggi menuju tahta itu, seluruh tubuhnya menjadi sangat berat seperti bongkahan besi, dan dia tiba-tiba membuka lebar matanya.

Kakinya kehilangan kekuatannya, saat dia terjatuh pada satu lututnya dengan suara keras, dia akhirnya merasaka benda asing yang berada di perut kirinya.

—Racun?

Setelah dalam sekejap memikirkan itu, sebelum perasaan mati rasa seperti es tersebar menuju tangan kirinya, dia dengan cepat mencabut jarum itu. Saat Shasta menyadari bahwa senjata, kecil seperti mainan yang bersinar dengan warna hijau terang, dia dengan cepat mengerti bahwa itu adalah Rubelir Toxic Steel yang terlarang dan dengan segera mengucapkan art untuk menyembuhkannya.

Tetapi, bergerak dengan kecepatang mengerikan, perasaan mati rasa tersebar menuju seluruh tubuhnya dari perut kirinya, dengan cepat mencapai mulutnya. Lidahnya kehilangan semua rasanya sebelum dia dapat menyelesaikan perintah pengaktifan perintah [System Call], dia bahkan tidak dapat menggeretakkan giginya.

Tangan kirinya juga menjadi lumpuh, jarum beracun membuat sedikit suara saat itu terlepas dari tangannya dan terjatuh menuju lantai marbel hitam. Akhirnya, tangan kanannya yang menggenggam pedang panjang secara tinggi perlahan turun, dan di saat yang bersamaan dengan kondisi Release Recollection dari pedang panjang itu juga terlepas, pedang yang berubah menjadi kabut abu-abu kembali menjadi bentuk aslinya dan ujungnya menyentuh lantai. Dia terdiam dalam posisi yang benar-benar sama seperti dia sebelum menarik pedangnya, lutut kirinya menyentuh lantai dengan kepalanya tertunduk. Kaki dari seseorang berjubah hitam itu perlahan terlihat pada pandangan Shasta.

—Fer Za.

—Aku benar-benar tidak menduga akan diserang oleh orang ini.

"...Kau pasti berpikir... 'Bagaimana aku dapat kalah dengan benda kecil yang tidak dapat disebut', bukan, Biksul."

Mendengar suara serak dari atas, Shasta hanya dapat menggerakkan pandangannya dan memperlihatkan ekspresi kesakitan.

—Apa yang membuat laki-laki sepertimu memanggilku dengan nada akrab seperti itu...?

"Kau ingin untuk mengatakan bahwa aku tidak memiliki alasan yang bagus untuk memanggilmu dengan namamu, bukan? Tapi, ini sudah pasti bukan pertama kalinya aku memanggilmu Biksul, kau tahu?"

Perlahan melipat jubahnya yang menyentuh lantai dan berlutut dengan tinggi yang sama, wajah Assassin itu terlihat pada sebagian besar pandangan Shasta. Tapi tudung yang benar-benar menghalangi cahaya dan semuanya diselimuti dengan kegelapan kecuali dagunya yang menonjol.

Dagu itu bergerak seolah-olah itu bergetar, dan bahkan suara yang jauh lebih serak mengalir keluar dari kegelapan.

"Kau...tidak mengingatnya, bukan? Wajah dari banyak anak-anak yang kau benar-benar kalahkan di Sekolah Pelatihan, dan salah satu dari mereka yang tidak dapat menahan penghinaan, melompat menuju saluran air, menghilang dari sekolah selamanya."

—Apa? Apa yang laki-laki ini katakan? Sekolah Pelatihan?

Sebagai anak yang terlahir dari Darkness Knight tidak bernama, Shasta yang dimasukkan pada Sekolah Pelatihan tergabung dengan Darkness Knight dari saat ketika dia dapat menggenggam pedang kayu, tidak peduli apakah dia setuju atau tidak. Semenjak itu, apa yang tersisa di ingatannya adalah latihan hari demi hari dimana hidupnya bergantung pada itu. Dia memenangkan hampir setiap ujian praktek, ketika dia berhasil menghirup nafas dia sudah diangkat sebagai petugas dari Darkness Knight, dipilih oleh gurunya, Komandan Darkness Knight sebelumnya—itu adalah setengah dari kehidupannya yang cepat berlalu, tidak ada kesempatan untuk melihat kembali ke belakang.

Tentu saja, dia tidak mampu untuk mengingat anak laki-laki yang mengayunkan pedang kayu bersama-sama dengan dirinya tiga puluh tahun lalu.

"...Tapi, aku tidak pernah melupakannya satu haripun, kau tahu. Dari waktu ketika aku mengapung di bawah saluran air bawah tanah, diambil oleh Guild Assassin, dimana aku disuruh secara bebas sebagai budak untuk waktu yang sangat lama, aku selalu mengingatnya...Aku mengumpulkan pengetahuanku, menciptakan banyak racun baru, dan pada akhirnya menjadi pemimpin Guild itu. Sebagai harga untuk membayarnya, aku kehilangan banyak hal...Tapi itu semua untuk balas dendam, Biksul."

Di saat yang bersamaan saat suara serak itu terputus, tudungnya sedikit bergetar, dan Fer Za memperlihatkan wajahnya di depan pandangan Shasta. Dia masih belum dapat mengingatnya. Tidak, bahkan jika Shasta benar-benar dapat mengingat teman sekelasnya di waktu dulu, dia tidak akan mampu untuk mengingat nama laki-laki ini, karena, mungkin disebabkan suatu efek yang tidak diketahui dari racun, wajah Fer Za sedikit terlihat, menjadi bentuk sangat mengerikan yang bahkan dapat membuat Orc akan ketakutan.

Di dalam tudung yang dikenakannya lagi, hanya terdapat dua mata yang bersinar dengan cahaya kuat.

"Racun yang sekarang ditusukkan ke dalam tubuhmu adalah racun yang secara khusus diciptakan untuk membunuhmu, dikumpulkan tetes demi tetes, menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang menjadi gila. Berdasarkan penelitianku, ini bahkan dapat membunuh Naga Bumi berukuran besar dengan Life lebih tinggi dari 30.000 dalam waktu satu jam. Dengan Lifemu, aku takut hanya ada waktu dua atau tiga menit tersisa. Jadi...Ini adalah waktunya pembalasan. Kebencian dan penghinaanku akan kumasukkan ke dalam dirimu."

—Kebencian, huh?

Shasta menggerakkan pandangannya menjauh dari Fer Za dan menatap pada jarum beracun yang tergeletak di lantai marbel hitam.

—Aku didorong oleh kemarahan dan kebencian untuk membunuh Raja. Fer Za menusukkan senjata ini dengan kekuatan yang benar-benar sama untuk membunuhku. Karena itu, tebasanku terhenti. «Penjelmaan Niat Membunuh» tidak dapat menang melawan «Penjelmaan Kebenaran». Sebelumnya, tehnik pedang yang aku kuasai ketika aku saling bersilangan dengan laki-laki itu...Komandan Integrity Knight Bercouli, sampai saat tekakhir, aku masih melupakan itu semua...

Bahkan tidak mampu untuk menahan posisinya dengan satu lutut tertahan di lantai, Shasta terjatuh ke sisi kiri dan terbaring di lantai.

Di tengah-tengah pandangannya yang samar-samar, dimana jarum itu mengarah—

Terdapat balok es yang berada di dalam mangkuk perak.

Fer Za, seorang pembalas dendam yang awalnya bernama Ferrius Zalgatis, membuka matanya dengan lebar, seolah-olah dia sedang menikmati hasil dari kerja kerasnya selama ini.

Jenderal Kegelapan Shasta, yang berada di posisi dengan kejayaan, sekarang terbaring di bawah kaki Fer Za. Kulitnya, yang sangat kuat untuk umurnya, telah berubah warna menjadi pucat, pandangan tajamnya perlahan memudar, dan nafasnya hampir akan segera berhenti.

Sungguh cara mati yang buruk dan menyedihkan.

Namun kematian Shasta juga membuktikan kenggulan tehnik racun dibandingkan dengan ilmu pedang dan darkness art. Dengan jenis racun baru yang sangat rumit yang terbuat dari Rubelir Toxic Steel dan Lintah Pengkorosi Darah, cukup satu jarum tidak hanya akan secara paksa mencegah musuh dari menarik pedang atau mengucapkan art, tapi juga menyebabkan kematian cepat mereka.

Setelah melihat pemandangan ini, Raja yang berada di tahta juga akan menyadari bagaimana berharganya Guild Assassin itu Ketika produksi massal dari racun itu telah selesai, maka tidak akan diperlukan lagi untuk mengangkat knight dan pengguna darkness art. Dia dapat membersihkan namanya, kembali menuju Keluarga Zalgatis yang menolak dirinya, dan mengambil alih keluarganya sebagai diktaktor baru...

Fer Za, yang seluruh tubuhnya bergemetar saat dia dipenuhi dengan kegembiraan yang sangat besar, hingga benar-benar mengabaikan fakta yang berada diluar pandangannya, bilah dari pedang Shasta perlahan berubah kembali menjadi pedang.


—Lipia.

Sebelum Lifenya habis, Shasta memanggil di dalam hatinya nama satu-satunya perempuan yang dia cintai.

Lipia pasti telah memutuskan untuk membunuh Raja karena dia berusaha mewujudkan datangnya zaman baru yang pernah dia bicarakan dengannya. Karena dia mempercayai, pada saat perang selama tiga ratus tahun berakhir, dan hukum dan peraturan baru tercipta yang dibiarkan untuk bersinar di Dark Teritorry, maka anak tanpa orang tua, bahkan seseorang yang sekarat karena kelaparan atau menjadi budak untuk sementara waktu akan mendapatkan hak untuk hidup dengan bahagia.

—Fer Za.

—Kau dikalahkan di Sekolah Pelatihan? Kau tidak dapat menerima kekalahan, jadi kau ingin untuk mengakhiri itu sendiri?

—Tapi, setidaknya kau memiliki kesempatanmu. Kau memiliki orang tua yang membayar biaya sekolah, tiga makanan setiap hari, tempat tidur hangat dan rumah untuk berlindung dari hujan. Di dunia ini, berapa banyak hidup anak-anak mendapati hak mereka diambil semenjak mereka lahir, digunakan seperti mereka adalah sampah, dan mati?

Untuk dunia ini, Lipia mempertaruhkan hidupnya untuk memperbaiki itu. Aku tidak akan membiarkan penjelmaannya menjadi sia-sia. Kebencian pribadimu yang menyedihkan akan——–

"...Jangan menghalangi jalanku!!"

Mulut Shasta, yang seharusnya benar-benar kaku, mengeluarkan teriakan mengerikan, di saat yang bersamaan, tornado abu-abu berputar tinggi ke udara dari tangan kanan Darkness Knight itu.

Ini adalah Releasing Recollection dari Sacred Instrument, hanya mampu digunakan oleh bahkan beberapa Integrity Knights. Penjelmaan Shasta yang sangat gigih mulai secara langsung menulis kembali Main Visualizer yang menyimpan dan menghitung semua informasi yang ada di seluruh Underworld.

Tornado abu-abu akhirnya menjadi sebuah tornado, dengan kekuatan penghancur yang hebat yang dapat menghancurkan semuanya yang menyentuhnya. Dengan tidak ada waktu untuk menghindari itu, jubah hitam tebal dari Fer Za dikelilingi oleh tornado, dengan suara keras, itu berubah menjadi awan debu dan tersebar.

Pria berumur cukup tua yang tidak memakai pakaian yang tubuhnya sangat kurus seperti ranting menggerakkan tangannya untuk menutupi wajahnya yang buruk rupa. Tapi, tangannya dengan cepat hancur menjadi bagian dari daging yang tidak terhitung jumlahnya dan terlempar—kemudian, seluruh tubuhnya menjadi kabut tebal darah, di tengah udara.


Dalam sekejap tornado aneh yang terangkat dari Jenderal Kegelapan yang sekarat, Pengguna Darkness Art yang terkuat Dee Ai El. merasakan perasaan yang sangat buruk, dan dengan kedua tangannya, menciptakan Element Angin dan terbang ke belakang dengan kecepatan penuh.

Tapi, saat dia melihat tornado yang menyentuh kaki kanannya, dan semua bagian yang berada di bawah lutut menghilang tanpa jejak, perasaan dingin itu menjadi keterkejutan terbesar yang dia pernah rasakan sepanjang hidupnya.

Bahkan ketika Dee sedang mandi atau tidur, dia dilindungi oleh tidak terhitung art pertahanan. Selain dari serangan art, art pertahanan ini meliputi pertahanan kuat yang mampu untuk menahan serangan, seperti senjata lempar, pedang, dan racun.

Tentu saja, jika sepuluh Pemimpin Bangsawan yang memiliki prioritas sama menyerang dengan kekuatan maksimal, terdapat kemungkinan serangan itu menembus melalui perisainya dan melukai kulitnya. Tetapi, secara langsung menebas tubuh fisiknya dan Lifenya hanya dengan menyentuh itu seolah-olah perisai itu tidak ada, sama sekali mustahil. Benar-benar mustahil.

Tapi, tidak peduli bagaimana dia menolak itu di pikirannyha, dia masih melihat tornado menakutkan itu mengejarnnya lebih cepat dari kecepatan terbangnya saat melarikan diri, dengan berat menahan kaki kanannya. Penyihir seperti Dee benar-benar dapat menyembuhkan dirinya sendiri dengan art peyembuhan tidak peduli seberat apa luka pada tubuh fisiknya, tapi hanya dalam kondisi dia masih hidup.

"Hiih...Aah...!!"

Akhirnya, teriakan keras keluar dari mulut Dee.

Tapi suaranya dengan segera tenggelam oleh teriakan dari dua Pemimpin Goblin yang terus berlari.

Pemimpin Goblin Gunung Hagasi dan Pemimpin Goblin Dataran Rendah Kubiri, yang berlutut di samping kiri Dee, berlari demi melindungi hidup mereka dengan kaki kecil mereka, ingin untuk melarikan diri dari tornado itu. Tapi itu mustahil untuk menghindari tornado yang meluas yang bahkan dapat sampai pada Dee, yang sedang terbang dengan kecepatan penuh.

"Kugyaaaaaah!!"

Dengan suara aneh, Hagasi terpeleset dan terjatuh ke lantai. Dia berusaha mengulurkan tangan kirinya dan menggenggam pergelangan kaki Kubiri dengan genggaman seperti cakar.

"Higyaaah! Lepaaaaskan!! Le—!!"

Crunch.

Dua Pemimpin Goblin itu dengan mudahnya berubah menjadi kabut darah dan tersebar.

Crack.

Kaki kanan Dee hancur hingga bagian tulang paha tanpa meninggalkan jejak.

Sword Art Online Vol 15 - 260.jpg


Kecantikannya sangat berkurang oleh ketakutan dan keputusasaan, Pemimpin Guild Penyihir Kegelapan melihat saat—tornado yang meluas itu secara ajaib berhenti.

Tubuh Shasta yang terbaring sama sekali tidak terlihat. Di sekitar tempat itu, diameter dan tinggi dari badai yang muncul secara tidak normal itu telah mencapai sekitar dua puluh mel. Enam Pemimpin Bangsawan lainnya, yang berada di posisi sedikit lebih jauh, dengan cepat berlari menuju dinding barat, dan perwira dari sepuluh tentara yang berbaris di sisi selatan dari aula tersebut hampir sama sekali tidak terluka.

Diantara permikirannya yang benar-benar kacau, dengan pemikirannya yang sangat hebat, Dee menduga alasan kenapa tornado yang meluas itu berhenti.

Untuk melindungi sepuluh atau lebih Darkness Knight berlevel tinggi. Dengan kata lain, tornado itu diciptakan dari kekuatan tekad Shasta setelah semua.

Seolah-olah membuktikan teorinya, bagian atas dari tornado itu perlahan berubah bentuk.

Apa yang terlihat adalah tubuh bagian atas yang transparan dari laki-laki raksasa, yang terbuat dari kabut.

Meskipun itu sangat besar, itu tanpa keraguan adalah bayangan dari Jenderal Kegelapan Shasta.


Saat Dewa Vector, Gabriel Miller tidak dapat melakukan apapun selain melihat tornado raksasa yang muncul dengan ekspresi yang terlihat seperti keterkejutan.

Secara terbuka memperlihatkan kepala assassin perempuan, knight yang berada paling kiri menarik pedangnya pada saat dia melihat itu—semuanya benar-benar sama seperti yang diprediksikan hingga kejadian itu. Kepada laki-laki yang hendak menebas kepada Gabriel, Pemimpin Guild Assassin menggunakan racun pelumpuh atau sesuatu seperti itu untuk menghentikannya, itu sama sekali tidak terlihat aneh, juga.

Meskipun itu berbeda dari rencananya untuk memenggal kepala pengkhianat dalam satu serangan dan memaksakan kesetiaan mutlak kepada sembilan unit lainnya yang tersisa, sebuah tindakan sukarela untuk melindungi raja dapat dianggap sebagai kesetiaan.

Itu karena pemikiran seperti ini dia masih duduk dan mengamati perkembangan dari kejadian itu—

Tapi tornado abu-abu yang tiba-tiba berputar dari tubuh yang terbaring dari unit pengkhianat itu, dan Pemimpin Guild Assassin yang diselimuti dengan itu dan dua Pemimpin Jenderal Goblin hancur dalam sekejap, bahkan Gabriel tidak dapat melakukan apapun selain menghentikan pemikirannya.

Unit Jenderal yang seharusnya memiliki level yang sama. Maka, jika mereka bertarung satu sama lain, itu seharusnya menjadi hal yang sama seperti VRMMO di dunia nyata, jika HP seseorang berkurang, itu akan sembuh kembali.

Tapi sekarang, bagaimana itu mungkin bahwa tiga unit dihancurkan hanya dalam waktu beberapa detik? Mungkinkah terdapat sistem atau teori yang dia sendiri tidak mengerti mengenai «Underworld»?

Pada saat dia memikirkan itu, tornado raksasa itu membuka mulutnya dan mengeluarkan teriakan yang menggetarkan dunia.

Di bawah tekanan yang sangat kuat, sebagian besar kaca dari jendela yang menghiasi Ruang Tahta tersebar ke segala arah.

Raksasa itu perlahan mengepalkan tangan kanannya yang membeku—

Dan mengarahkan itu ke bawah menuju Gabriel.

Gabriel menyadari dalam sekejap bahwa menarik pedang maupun menghindar sama sekali tidak akan memberikan efek apapun. Menatap pada sisi kiri dari pandangannya, dia melihat perwira Vassago hanya berdiri dan melompat keluar dari hadapannya, Gabriel tetap berada di tahta, dengan tenang menunggu tangan abu-abu datang untuk menghantam ke arahnya.

Tornado Kematian yang dilepaskan karena Penjelmaan Shasta sebelum kematiannya adalah fenomena yang melebihi perhitungan dari sistem Underworld.

Itu sama sekali bukan kekuatan serangan yang terukur yang mengurangi Life Fer Za dan menyebabkan kematian, [Tekad untuk Mati] secara langsung dikirimkan menuju Light Cube. Itu pertama menghancurkan Fluctlight dan melakukan perhitungan secara sebaliknya, menghancurkan tubuh fisik nyatanya. Karena itu, serangan menuju Gabriek, atau Raja Vector sama sekali tidak mempengaruhi Lifenya.

Tapi, keinginan membunuh yang diciptakan di Light Cube Shasta dikirimkan oleh sirkuit penghubung photon menuju STL yang digunakan Gabriel—

Kekuatan tekad yang sangat kuat dari seseorang yang dipanggil Jenderal Kegelapan Shasta yang merupakan sedikit dari swordsman kuat di Underworld dapat menciptakan serangan langsung pada inti dari Fluctlight Gabriel Miller—«Kepribadiannya».

Di saat yang bersamaan, Shasta merasakan bahwa dia benar-benar telah bersatu dengan serangan dari seluruh tubuhnya yang telah dia lepaskan, dan menyerbu menuju Raja Vector.

Itu sudah cukup untuk mengatakan, Life dari tubuh aslinya sudah habis. Seperti yang telah dideskripsikan, ini adalah tebasan pedang terakhir dengan hidup Shasta.

Penyesalannya adalah dia tidak dapat melihat Komandan Integrity Knight Bercouli sekali lagi. Tapi, laki-laki itu sudah pasti akan mengerti. Keinginan Komandan Darkness Knight itu, dan kenapa dia membunuh Raja.

Termasuk Pemimpin Guild Assassin Fer Za, dua Pemimpin Goblin, seseorang yang paling suka berperang diantara Sepuluh Pemimpin Bangsawan, sudah mati. Itu sangat disayangkan bahwa Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art Dee, berhasil melarikan diri, tapi itu sudah pasti akan mustahil untuk pulih dengan luka separah itu. Bersama dengan Komandan Darkness Knight, bahkan jika Raja mati, Pemimpin Bangsawan yang tersisa tidak akan dengan mudah menyatakan perang melawan Integrity Knight.

Jika hanya perjanjian perdamaian, bahkan meskipun sementara, dapat dibentuk dengan penduduk Dunia Manusia yang juga kehilangan penguasa mereka, jadi mereka dapat berbicara satu sama lain dan mengerti satu sama lain tanpa menarik pedang.

Diharapkan dari sekarang—dunia damai yang sangat diharapkan Lipia akan segera datang.

Bersatu dengan Penjelmaannya, Shasta menyerbu menuju dahi Raja Vector dan memasuki inti jiwa yang ada di dalamnya.

Jika hanya itu yang dihancukan, bahkan jika Vector adalah Dewa Kegelapan, dia sudah pasti akan mati dan benar-benar menghilang seperti Fer Za.

Dengan teriakan pelan, tekad Shasta bertabrakan dengan jiwa Raja—

Kemudian, dia merasaka keterkejutan terakhir dalam hidupnya.

Tidak ada.

Inti jiwa yang seperti awan cahaya, tempat yang seharusnya dipenuhi dengan inti dari kehidupan, hanya memiliki, kegelapan yang dalam.

Kenapa? Bahkan jiwa dari assassin Fer Za bersinar terang, mendedikasikan hidupnya bahkan sampai pada tahap serakah.

Penjelmaan Shasta tertelan oleh [Kegelapan] yang terbentang tanpa batas di dalam Raja.

Itu menghilang, kemudian menguap.

—Orang ini, laki-laki ini...

—Apakah dia sama sekali tidak mengerti apa itu hidup sebenarnya?

Laki-laki mengerikan yang tidak memiliki pengetahuan mengenai hidup, jiwa, atau cinta. Karena itu dia lapar. Karena itu dia sangat kehausan pada jiwa orang lain.

Tidak peduli bagaimana kuatnya Penjelmaan itu, «Tebasan dengan Keinginan Membunuh» tidak dapat membunuh laki-laki ini.

Karena jiwa laki-laki ini sama sekali tidak hidup.

Itu harus diberitahukan. Kepada siapa? Seseorang yang akan melawan monster ini di suatu saat nanti.

Siapa—Kepada siapa...

Tapi di saat yang bersamaan, kesadaran Shasta diselimuti dengan kegelapan tidak berdasar.

...Penyesalan...

...Lipia...

Setelah dua pemikiran itu segera terlintas secara terpisah, jiwa Jenderal Kegelapan Biksul Ul Shasta benar-benar telah hancur.


Ketika dia ditusuk oleh cahaya yang sangat kuat dari jiwa, Gabriel Miller jauh lebih bahagia dibandingkan dengan ketakutan.

Jiwa Darkness Knight yang dipenuhi dengan emosi yang lebih tebal dibandingkan dengan jiwa assassin perempuan yang dia makan dua hari lalu. Cinta kepada perempuan itu—dan sebuah sifat yang tidak diketahui yang sama dengan kebaikan, yang jauh lebih dikenal. Juga, keinginan membunuh yang terdorong oleh ini.

Cinta dan kebencian. Apakah ada yang jauh lebih lezat di dunia ini?

Di saat yang bersamaan, Gabriel benar-benar tidak menyadari bahwa dia telah membiarkan hidupnya dalam bahaya. Melihat tiga unit hancur menjadi bagian karena serangan Darkness Knight itu, Gabriel merasa jauh lebih haus untuk menelan jiwa knight itu dibandingkan dengan keselamatannya sendiri.

Jika Gabriel bertarung demi bertahan hidup karena takut pada serangan knight itu, keinginan membunuh Shasta akan terkirim melalui STL, menghancurkan keinginan hidup Gabriel, dan menghancurkan semuanya bersama dengan Fluctlightnya.

Tapi Gabriel Miller adalah seseorang yang [tidak mengerti hidup]. Baginya, termasuk dirinya, semua hidup hanyalah mesin otomatis sama seperti banyak serangga yang dia telah bunuh ketika dia masih anak-anak. Keinginan sebenarnya Gabriel adalah membuka [jiwa] yang merupakan sumber energi dari mesin ini—rahasia misterius dari awan bercahaya ini.

Karena itu, sinyal penghancur yang diciptakan oleh Fluctlight Shasta hanya melayang melewati kekosongan yang tersebar di dalam Fluctlight Gabriel dan menghilang tanpa menghantam apapun di dalamnya.

Gabriel sama sekali tidak mengetahui apapun tentang teori ini, tapi saat dia mengunyah jiwa knight itu, dia mengerti tentang dua hal.

Pertama, di dunia ini, terdapat metode serangan tanpa senjata atau penjelmaan seperti game VRMMO normal.

Kedua, metode serangan ini kelihatannya sama sekali tidak memiliki efek padanya.

Kemudian, dia seharusnya menyuruh Critter untuk memeriksa teori dibalik fenomena beberapa saat lalu. Saat dia berpikir seperti ini, Gabriel perlahan berdiri dari tahtanya.


Enam Pemimpin Bangsawan yang selamat—Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art Dee Ai El, Pemimpin Guild Petarung Iskahn, Pemimpin Guild Perdagangan dan Industri Langel, Pemimpin Bangsa Raksasa Siglosig, Pemimpin Bangsa Orc Lilpin dan Pemimpin Bangsa Ogre—menatap dengan terdiam pada sosok Raja Vector, beberapa dengan punggung tersandar di dinding, beberaoa dengan punggung mereka terbaring di lantai, beberapa merawat luka dari orang lain.

Semua yang tersisa di hati semua orang adalah rasa takkut.

Serangan sangat mengerikan dari Jenderal Kegelapan Shasta—serangan yang sangat menakutkan yang dalam sekejap menebas tiga jenderal menjadi berkeping-keping dan menghancurkan kaki kanan Dee, yang terlihat sebagai serangan terkuat diantara sepuluh Pemimpin Bangsawan, sama sekali tidak melukai sehelai rambut dari Raja yang menerima itu secara langsung.

Kekuatan mendominasi semuanya.

Semua orang sangat mempercayai bahwa Raja Vector memiliki kekuatan yang jauh lebih tidak terukur dibandingkan dengan enam Pemimpin Bangsawan dan ratusan perwira yang menunggu perintah di belakang mereka, bahkan jika digabungkan.

Seperti ombak yang bergerak, semua berlutut dan menyerahkan dirinya dihadapan Raja. Bahkan Darkness Knight yang kehilangan Komandan Darkness Knight yang disayangi oleh mereka sama sekali bukan pengecualian.

Dari atas kepala mereka, suara Raja bergema.

"...Pasukan yang kehilangan jenderal mereka dengan segera diperintahkan oleh perwira dengan peringkat paling tinggi. Satu jam dari sekarang, kita akan bergerak seperti yang direncakana."

Perkataan tanpa kemarahan atau perasaan pada pengkhianatan itu. Ini jauh lebih memprovokasi ketakutan yang lebih dalam di dalam hati jenderal itu.

Dee, yang bersusah payah menghentikan pendarahan di kaki kanannya, mengangkat tangan kanannya serta jarinya dengan tinggi di udara, dan berteriak.

"Hidup Raja yang agung!!"

Kemudian—

Suara saling menekan yang bersorak untuk raja menggetarkan seluruh kota.

Bagian 5[edit]

Alice melihat di sekitar bagian dalam tenda perkemahan yang dipersiapkan untuk dirinya, dan perlahan menghela nafas.

Sebuah tempat tidur sederhana yang diletakkan secara lurus, tanpa ada kerutan. Karpet kulit yang terbentang di tanah juga sangat baru, dan udaranya terasa kering dari sinar matahari. Tidak ada masalah dengan ini, tapi di saat yang bersamaan ini menandakan bahwa tenda itu tidak dipersiapkan secara terburu-buru untuk Alice. Dengan kata lain, Komandan Integrity Knight Bercouli telah mempercayai selama ini bahwa Alice akan mengikuti pertempuran ini, dan secara khusus mempersiapkan tenda tambahan untuk knight itu.

Meskipun ini membuktikan bahwa dia dipercayai, tapi itu akan lebih baik untuk mengatakan bahwa laki-laki itu telah memikirkan rencanaya sendiri.

Tidak—itu tidak benar. Bahkan jika dia adalah Komandan Integrity Knight, tidak mungkin dia dapat menduga bahwa Alice akan membawa Kirito bersamanya. Hanya terdapat satu tempat tidur yang berada di tenda ini.

Alice perlahan memeluk pinggang anak laki-laki berambut hitam, memandunya ke tempat tidur, memutar tubuhnya dan mendudukkannya. Tiba-tiba, suara pelan keluar dari tenggorokan anak laki-laki itu, dan dia berusaha mengulurkan tangan kirinya.

"Baiklah, tunggulah di sini untuk beberapa saat."

Berlari menuju kotak barang-barang yang ada di depan pintu masuk tenda itu, Alice menarik keluar pedang panjang hitam dan putih. Dia kembali ke samping tempat tidur dan meletekkan itu di pangkuan Kirito. Kemudian, Kirito memeluk dengan erat pedang itu dengan satu tangannya, kemudian segera diam.

Perlahan mengusap kepala berambut hitam yang tertunduk itu, Alice perlahan menggigit mulutnya dan segera tenggelam dalam pikirannya.

Meskipun dia mengatakan pada Eldrie bahwa dia akan membawa Kirito menuju pertempuran, kenyataannya, itu akan menjadi sedikit sulit. Itu tidak akan menjadi masalah jika itu hanya Kirito yang kurus, tapi jika dia harus membawa juga pedang yang sangat berat «Night Sky Sword» dan «Blue Rose Sword», gerakannya sudah pasti akan tertahan.

Meskipun dia memikirkan untuk mendudukkannya secara langsung pada pelana Amayori, jika musuhnya terdapat Darkness Knight yang dapat terbang, maka akan terdapat kemungkinan pertempuran udara.

Meskipun itu akan sangat disayangkan, mempercayakan Kirito pada pasukan penjaga persediaan setelah pertempuran itu terjadi akan menjadi rencana paling realistik.

Sahabat lamanya, Integrity Knights sudah pasti akan pergi menuju garis depan, dan dia tidak mengetahui satupun orang tentara yang dibuat dari penduduk biasa. Tapi sekarang dia merasa tidak nyaman untuk meminta eldrie untuk mengenalkannya pada seseorang yang cocok dengan pekerjaan itu.

"Kirito..."

Alice berlutut, memeriksa wajah anak laki-laki itu, dan menepukkan pipinya diantara kedua tangannya.

Dia tidak akan memikirkan Kirito sebagai beban. Pada saat dia mendapatkan kembali hatinya, anak muda ini akan menjadi swordsman yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan semua orang di pasukan penjaga. Dia membawanya menuju medan pertempuran untuk menemukan semua cara yang mungkin untuk mendapatkan kembali kesadarannya.

Komandan Integrity Knight Bercouli mengatakan sebelumnya bahwa Kirito telah menangkis «Tebasan Penjelmaan». Itu karena dia ingin untuk melindungi Alice.

Apakah itu benar-benar dapat dipercaya?

Ketika dia pertama kali bertemu denganya di Akademi Master Pedang, dia adalah seorang yang ditahan dan kriminal. Kemudian ketika mereka bertemu kembali di lantai kedelapan puluh dari Kathedral Pusat, dia adalah laki-laki yang dijatuhi hukuman dan pengkhianat. Kemudian dalam sekejap ketika mereka memiliki percakapan terakhir mereka di lantai tertinggi di Kathedral Pusat, tidak peduli bagaiamana hubungan mereka berkembang, itu hanyalah gencatan senjata.

—Kau benar-benar kehilangan hatimu sendiri semenjak pertarungan itu, jadi kenapa kau masih melindungiku dari serangan Oji-sama?

—Pada akhirnya...Siapa aku sebenarnya bagi dirimu?

Pertanyaang ini mengarah pada pandangan Kirito yang sangat kosong dan terlempar kembali.

Lalu, bagaimana dia sendiri melihat anak laki-laki ini?

Jika dia menggunakan satu kata untuk menjelaskan Kirito selama di kathedral, "benci" mungkin akan menjadi kata yang paling tepat. Dia hanyalah anak laki-laki yang tanpa henti mengatakan bagaimana Alice Synthesis Thirty adalah seorang yang [idiot].

Tapi, di pertarungan terakhir, bayangan Kirito yang berhadapan dengan Pemimpin Tertinggi Administrator—

Melihat ujung dar juba hitam itu berkibar dengan kencang dan sosok dengan kedua tangannya menggenggam pedang, Alice merasakan hatinya bergetar. Dengan sangat kuat, namun itu terasa sakit seolah-olah dia tertusuk.

Perasaan dari waktu itu selalu samar-samar bergetar di dalam hatinya.

—Karena aku adalah keberadaan buatan. Boneka yang hanya ada untuk bertarung, selalu menempati tubuh Alice Schuberg. Aku sama sekali tidak boleh memperlihatkan emosi selain dari rasa permusuhan.

Tetapi. Bagaimana jika.

Karena aku terus menahan perasaanku sendiri, aku tidak mampu untuk mengkomunikasikan suaraku padamu?

Jika, sekarang, aku melepaskan semua «Penjelmaanku» padamu, akankah kau merespon padaku?

Alice mengambil nafas dalam, dan menahan itu.

Pipi yang ditepukkan diantara tangannya sangatlah dingin. Tidak, itu adalah telapak tangannya yang terasa panas.

Perlahan, perlahan mendekati wajahnya, Dia sedikit memiringkan kepalanya, dan rambutnya terurai di wajahnya.

Dari jarak yang sangat dekat, menatap pada cahaya yang berada di dalam matanya, dia perlahan-lahan mendekatkan wajahnya—

Tiba-tiba suara bel terdengar jelas dengan [Riiing], dan Alice mundur ke belakang karena suara tersebut.

Dia dengan cepat melihat keadaan sekitar, tapi tidak ada seorangpun di dalam tenda. Kemudian dia menyadari bahwa sumber suara itu berasal dari bel yang terpasang pada pengetuk dari pintu masuk tenda.

Seorang tamu. Secara sengaja menjelaskan suara di tenggorokannya dan menguraikan rambutnya ke belakang punggungnya, Alice dengan cepat berjalan di tenda.

Itu pasti Eldrie yang datang untuk meyakinkannya lagi. Kali ini, dia harus meyakinkan dirinya secara jelas bahwa dia tidak akan bimbang, tidak peduli apa yang dia katakan.

Alice menyibak salah satu dari dua lapisan gorden dalam, menggeser ke dalam, dan membuka bagian gorden tebal dari bulu dengan tangan kirinya. Kemudian, mulutnya yang setengah terbuka dalam sekejap berhenti.

Tamu yang berada dihadapannya sama sekali bukan Integrity Knight, bahkan bukan tentara biasa. Dia tidak dapat melakukan apapun selain mengedipkan karena keterkejutan.

"I-Ini..."

Dengan suara pelan, yang sedikit malu, tamu itu memegang panci yang tertutup dengan kedua tangannya.

"Saya...Saya datang untuk mengantarkan makan malammu, Knight-sama."

"...Jadi seperti itu."

Alice menatap ke atas. Memang benar, cahaya merah dari matahari tenggelam perlahan tenggelam di balik gunung.

"Terima kasih...Kalian sudah bekerja sangat keras."

Alice memujinya saat dia menerima panci itu, dan melihat sosok itu dari atas ke bawah sekali lagi.

Dia masih kelihatan cukup muda, terlihat seperti gadis muda yang baru berumur lima belas atau enam belas tahun.

Rambut merah indahnya terurai hingga melewati bahunya. Mata besarnya memiliki warna yang sama seperti warna daun kemerahan. Kulit putih bersihnya dan hidung mancungnya menandakan bahwa dia berasal dari keturunan Kerajaan Utara.

Dia mengenakan armor tipis yang sederhana seperti armor dari penjaga, tapi dibaliknya terdapat seragam dan rok berwarna abu-abu, itu seharusnya adalah seragam sekolah.

Membawa anak-anak seperti ini ke medan peperangan...Alice mengerutkan dahinya, dan tiba-tiba memikirkan tentang sesuatu.

Dia kelihatannya pernah melihat penampilan gadis ini di suatu tempat. Tapi Alice yang tinggal di Katedral Pusat seharusnya tida memiliki kesempatan untuk bertemu penduduk biasa.

Pada saat itu, gadis lainnya yang kelihatannya bersembunyi di belakang gadis berambut merah dengan malu melangkah ke depan.

"Ini-ini...adalah roti, dan minuman untuk diminum..."

Alice tidak melakukan apapun selain sedikit tersenyum pada suara yang hampir tidak dapat terdengar dari gadis yang berambut berwarna coklat yang seperti teh yang hampir mendekati warna hitam, dan mengambil keranjang yang ditawarkan.

"Tidak perlu untuk merasa takut. Aku tidak akan memakan kalian."

Tepat saat dia mengatakan itu, Alice akhirnya mengingatnya.

Dia pernah sekali mendengar suara yang sangat gugup ini. Apakah mereka berdua berasal dari waktu itu...?

"Bolehkah aku bertanya...Apakah kalian berdua berasal dari...Akademi Master Pedang Centoria Utara...?"

Dengan ini, ekspresi kaku dari gadis itu dengan sekejap berubah menjadi kelegaan. Tapi dengan segera mereka menegapkan tubuh mereka, menghentakkan kaki mereka secara bersamaan dan mengucapkan nama mereka.

"Y-ya! Aku...Tentara Pertahanan Dunia Manusia Divisi Persediaan, Novice Trainee Tieze Shtolienen!"

"Aku berasal dari divisi yang s-sama, Novice Trainee Ronie Arabel!"

Seperti yang diduga, Alice berpikir seperti itu, dan secara refleks memberikan hormat kembali.

Mereka berdua adalah seseorang yang datang untuk mengucapkan perpisahan kepada Kirito dan Eugeo ketika aku mengambil pergi mereka dari akademi.

Tidak peduli bagaimana kurangnya Tentara Pertahanan dalam hal jumlah tentara, itu tidak mungkin akan memasukkan siswa. Karena itu, mereka berdua dengan rela meninggalkan kehidupan normal di Centoria Pusat untuk datang ke perbatasan daerah timur. Kenapa gadis yang terlihat seperti anak-anak melakukan ini hingga sampai seperti ini...?

Tangan kanannya memegang panci, tangan kirinya menggenggam keranjang, Alice tidak dapat melakukan apapun selain menatap pada mereka berdua. Melihat ini, gadis berambut coklat yang dipanggil Ronie bersembunyi di belakang punggung gadis berambut merah lagi. Gadis berambut merah yang dipanggil Tieze memeluknya dengan erat, tapi akhirnya membuka mulutnya dengan ekspresi putus asa.

"Aku...Aku...K-Knight-sama...Aku juga sangat mengetahui bahwa i-ini adalah perbuatan yang tidak sopan..."

Alice tidak dapat melakukan apapun selain tersenyum masam pada perkataan yang sangat berlebihan ini, dia memaksakan senyuman lembut dan memotong perkataannya.

"Bukankah aku mengatakan bahwa aku tidak perlu keformalan seperti itu? Di perkemahan ini, aku hanya swordswoman yang berkumpul di sini untuk melindungi Dunia Manusia. Cukup panggil aku Alice, Tieze-san, and... Ronie-san."

Tepat setelah perkataannya, Tieze dan Ronie yang mengeluarkan kepalanya dari belakang dengan segera keduanya membuka lebar mulutnya.

"...Ap-apa ada masalah?"

"Ah, tidak...Ini hanya...Dibandingkan dari sebelumnya, ketika kita bertemu di Akademi, kesan kita terhadap dirimu benar-benar berbeda..."

"Ben...Benarkah?"

Alice memiringkan kepalanya saat dia memikirkan tentang itu. Dia tidak merasakan apapun tentang itu bagi dirinya, tapi mungkin, selama setengah tahun dia menghabiskan waktu di Rulid, dia sedikit berubah tanpa mengetahui itu. Komandan Integrity Knight juga mengatakan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal mengenai wajahnya yang sedikit lebih gemuk.

Tapi sekarang dia memikirkan tentang itu, masakan Selka terasa sangat lezat, dan dia tidak dapat menolak bahwa dia makan lebih banyak dari jumlah normalnya...Tapi itu seharusnya tidak sampai tingkat bahwa itu terlihat diluar...

Pada senyuman yang terlihat pada wajahnya yang sedikit menengan, Alice melanjutkan.

"Kalau begitu...Apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan diriku?"

"Ah...Y-ya, itu benar."

Tieze merilekskan sikapnya yang sedikit gugup, menggigit mulutnya, dan mengatakan.

"Itu...Kita mendengar cerita bahwa ketika Knight-sa...Alice-sama datang dengan menaiki naga, kau membawa anak laki-laki berambut hitam...Jadi kita menebak...Bahwa dia...Mungkin...Seseorang yang kita kenal..."

"Ah...Jadi seperti itu, itu memang benar."

Akhirnya mengerti alasan kenapa gadis ini mengunjunginya, Alice mengangguk.

"Kalian berdua berhubungan baik dengan Kirito di Akademi, bukan...?"

Tepat setelah perkataan Alice, mereka berdua dalam sekejap tersenyum seperti kuncup bunga yang baru mekar. Ronie bahkan sedikit mengeluarkan air matanya dari matanya yang berwarna coklat.

"Seperti yang diduga...Itu Kirito-senpai..."

Tieze memegang tangan Ronie saat dia beguman, dan berteriak, penuh dengan harapan.

"Kalau begitu...Eugeo-senpai juga...!"

Mendengar nama ini, Alice menhirup nafas secara tajam dari udara dingin.

Mereka berdua pasti tidak mengetahui itu Pertarungan siang dan malam yang sudah berakhir yang berlangsung di Katedral. Mereka tidak memiliki cara untuk mengetahui itu. Semuanya, termasuk kematian Pemimpin Tertinggi Administrator yang meninggal di dalamnya, yang hanya diketahui oleh Integrity Knights.

Melihat Alice tidak mengatakan apapun, mereka berdua memperlihatkan ekspresi aneh. Alice melihat ke arah mata Tieze dan Ronie untuk beberapa detik, dan perlahan melihat ke bawah.

Semuanya telah berjalan hingga sampai sejauh ini,dia tidak dapat menyembunyikan apapun sekarang.

Di samping itu, mereka berdua memiliki hak untuk mengetahui itu. Mungkin mereka suka rela untuk menjadi tentara perbatasan dan datang ke tempat ini untuk melihat Kirito dan Eugeo lagi...

Alice mengangkat kepalanya dengan kuat dan perlahan membuka mulutnya.

"Untuk kalian berdua, ini mungkin terlalu kejam untuk menjadi kenyataan...Tapi aku mempercayai, sebagai murid Kirito dan Eugeo, kalian pasti akan mampu untuk menerima hal ini."

Kemudian dia melangkah ke belakang, mengangkat tirai bulu, dan meyuruh mereka masuk ke dalam tenda.

Berbalik dengan harapan Alice yang disimpan jauh di dalam hatinya, Kirito melihat Tieze and Ronie, tapi sama sekali tidak memperlihatkan reaksi lebih jauh.

Menahan kekecewaannya, Alice berdiri di samping dari tenda, melihat pada pemandangan menyedihkan yang ada di depannya.

Berlutut di depan Kirito yang duduk di tempat tidur, Ronie menggenggam tangan Kirito dengan kedua tangannya saar air mata mengalir di pipinya.

Tapi itu jauh lebih menyakitkan bagi Tieze, yang terjatuh pada karpet bulu, menatap pada Blue Rose Sword. Wajah putihnya yang seputih kertas kehilangan semua ekspresinya saat dia menerima kematian Eugeo. Tanpa mengatakan apapun, dia mengarahkan pandangannya pada pedang, yang terpotong di bagian tengah.

Alice hampir tidak memiliki kesempatan untuk berbicara secara langsung dengan anak laki-laki yang dipanggil Eugeo.

Ketika dia mengambil pergi dirinya menuju Katedral dan mengurungnya di penjara, dan ketika dia bertarung melawannya di lantai kedelapan puluh dari menara itu, hanya meninggalkan kesan ketika dia bertarung bersama dengannya di pertarungan terakhir di lantai tertinggi melawan Administrator.

Tidak hanya menang melawan Komandan Integrity Knight Bercouli, dia mengubah tubuhnya sendiri menjadi pedang, menghancurkan Sword Golem dan menebas salah satu tangan Pemimpin Tertinggi, Alice merasa hormat pada kekuatan tekadnya dari dalam hatinya, tapi kehidupan pribadinya adalah sesuatu yang dia hampir sebagian besar dengar dari Selka.

Berdasarkan perkataan Selka, Eugeo adalah anak laki-laki yang dewasa dan penuh dengan pemikiran. Dia sangat sering diseret secara paksa oleh teman masa kecilnya Alice Schuberg pada semua jenis petualangan yang berbeda. Kepribadian yang baik itu pasti merupakan partner yang baik untuk Kirito.

Kirito dan Eugeo pasti telah menciptakan berbagai kekacauan di akademi juga. Namun kedua gadis ini tertarik kepada mereka, dan benar-benar sangat terpengaruh. Sama seperti bagaimana Alice terpengaruh.

—Karena itu, kumohon, aku mohon kalian berdua menahan rasa sakit ini. Kirito dan Eugeo bertarung demi banyak hal yang sangat penting, dan terluka serta kehilangan hidup dan jiwa mereka.

Alice berdoa di dalam hatinya saat dia menatap ke arah mereka berdua.

Ketika mereka mengalami hantaman psikologis yang sangat mengerikan atau menyedihkan, penduduk yang tinggal di Dunia Manusia sering mengalami penyakit mental karena mereka tidak mampu menahan itu. Beberapa waktu yang lalu, Rulid, diinvansi oleh Tentara Kegelapan, juga memiliki beberapa penduduk desa yang tidak memiliki luka fisik namun masih terbaring di tempat tidur mereka.

Tieze pasti sangat mencintai Eugeo.

Di usia yang sangat muda, harus menahan hantaman yang sangat besar dari kematian seseorang yang sangat dia cintai sama sekali bukanlah tugas yang muda.

Di depan pandanga Alice, Tieze, terduduk dengan diam di lantai, jarinya yang bergemetar, terulur menuju pedang Blue Rose Sword.

Alice dengan cemas melihat semua gerakamn Tieze. Meskipun Blue Rose Sword terpotong menjadi setengah, itu sudah pasti merupakan Sacred Instrument dengan level tertinggi. Meskipun dia tidak memikirkan gadis itu akan mampu untuk mengayunkan itu, keputusasaan dan rasa sakit yang sangat dalam mungkin dapat berubah menjadi kekuatan yang tidak terduga. Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi.

Tieze mengulurkan jarinya yang bergemetar, akhirnya menyentuh pedang berwarna biru muda itu. Dia perlahan mengusap bukan pada bagian pedangnya, namun pada bagian sampingnya, yang permukaannya terasa halus hingga bagian bawahnya.

Kemudian, dalam sekejap—

Cahaya merah yang tertembak menuju tenda melalui cahaya dari langit yang menyinari di sekitarnya, Alice melihat cahaya biru yang lemah, namun menyilaukan terpancar dari pedang yang patah itu.

Di saat yang bersamaan, seluruh tubuh Tieze bergemetar dengan sangat kuat.

Merasakan sesuatu, Ronie segera berbalik untuk melihat temannya. Dalam suasana penuh dengan kegelisahan, air mata yang besar terlihat di mata Tieze dan terjatuh tanpa suara.

"...Beberapa saat yang lalu..."

Sebuah bisikan datang dari mulutnya yang berwarna merah terang.

"...Aku mendengarnya...Suara...Eugeo-senpai...Dia mengatakan, jangan menangis...Karena aku...Selalu...berada di sini...Dia mengatakan itu..."

Saat air matanya menjadi jauh dan jauh lebih mengalir, tiba-tiba, Tieze menempelkan wajahnya pada pedang dan mulai menangis dengan suara keras seperti anak kecil. Ronie juga menempel pada paha Kirito, dan menangis.

Sword Art Online Vol 15 - 282.jpg

Alice sangat tergerak oleh pemandangan yang terlihat menyedihkan hingga dia juga hendak menangis—

Tapi di suatu tempat di dalam pikirannya, dia memikirkan kembali tentang apakah fenomena sejenis ini benar-benar dapat terjadi.

Meskipun Alice tidak mendengar suara Eugeo, itu tanpa ada kesalahan bahwa dalam sekejap pedang itu melepaskan cahaya. Lalu, perkataan yang Tieze dengan benar-benar tidak dapat dianggap sebagai halusinasi.

Pada Blue Rose Sword, apakah masih ada sesuatu yang tersisa sama seperti jiwa Eugeo...Apakah seperti itu?

Ketika Alice melepaskan Armament Full Control Art, dia juga merasa bahwa Fragrant Olive Sword kelihatannya bersatu dengan kesadarannya. Situasi Eugeo sama sekali tidak sama seperti dirinya, dia sebenarnya menyatukan tubuhnya sendiri dengan Blue Rose Sword, dan terluka parah dalam proses tersebut. Karena itu, pemikiran bahwa bagian pedang yang tersisa masih dapat memiliki jiwa dari pemiliknya sangatlah mungkin.

Tapi, Tieze mengatakan bahwa Eugeo memanggilnya. Jika ini adalah kebenaran, lalu apa yang tersisa di pedang itu sama sekali bukanlah getaran jiwa, tapi kesadaran yang sebenarnya—atau Penjelmaan.

Halusinasi yang disebabkan oleh keinginan gadis itu? Atau...?

Ini sangat mengesalkan. Jika ini adalah Kirito, dia sudah pasti akan mengetahui rahasia dibalik fenomena ini. Setelah semua, dia berasal dari dunia luar dari dunia ini, dijatuhkan dari suatu tempat dimana Dewa itu tinggal.

Diantara pemikirannya yang kacau, seperti gelembung kecil, sebuah kalimat terlintas di pikiran Alice.

Altar Ujung Dunia.

Nama tempat yang sama sekali tidak dikenalnya kelihatannya seolah-olah itu memiliki jalan menuju dunia luar.

Jika mereka mampu sampai ke tempat itu, akankah semua misteri yang ada dalam sekejap akan segera terpecahkan? Mereka bahkan mungkin mampu mengembalikan kesadaran Kirito yang menghilang, bukan?

Tapi, Altar itu berada di luar Dunia Manusia, di sisi lain dari Gerbang Besar Timur. Dengan kata lain, perbatasan dari Dark Territory, dipimpin oleh bangsa kegelapan.

Jika mereka ingin pergi ke tempat itu, pertama, mereka tidak hanya harus bertahan melawan berbagai tentara dibalik Gerbang Besar Timur, mereka harus melewati itu.. Tidak, bahkan jika mereka dapat melewati tentara itu, mereka tidak dapat hanya meninggalkan pertahanan gerbang saja dan berlari ke timur. Sebagai Integrity Knight yang diberikan kekuatan yang sangat besar, Alice memiliki tugas untuk melindungi Dunia Manusia.

Dia seharusnya cukup menggunakan dirinya untuk memancing seluruh tentara musuh dan memandu mereka menjauh dari gerbang sementara pergi menuju Altar. Tapi, untuk penduduk dari Dark Territory, menginvasi Dunia Manusia menjadi keinginan mereka selama ratusan tahun. Tidak mungkin terdapat sesuatu yang lebih menggiurkan daripada itu...

Itu kelihatannya jika mereka ingin pergi ke Altar Ujung Dunia, mereka benar-benar harus menghabisi Tentara Kegelapan di depan mereka untuk pertama kali.

Pada kesimpulan ini, Alice tidak dapat melakukan apapun selain menutup matanya.

Meskipun dia sampai dengan solusi yang berlebihan seperti menghabisi seluruh musuh, pada situasi yang sekarang, hanya mengusir pasukan baris depan akan benar-benar sangat sulit. Tetapi, dia hanya dapat melakukan itu. Bahkan jika itu hanya untuk perlindungan Tieze dan Ronie, dan untuk Kirito.

Perlahan menghela nafas, Alice menghentikan pemikirannya yang sangat lama, dan berjalan ke arah dua orang gadis yang meratap sambil menangis.

Bagian 6[edit]

Solus yang telah tenggelam telah menghilang di arah barat, tapi di dalam langit Dark Territory, yang terlihat sempit di balik Gerbang Besar Timur, wana merah darah yang menakutkan masih terus terlihat mengguncang.

Seolah-olah mereka ingin untuk mengaburkan pemandangan itu, tenda putih yang didirikan baik menuju utara maupun selatan dari pusat perkemahan Tentara Pertahanan Dunia Manusia, lapangan rerumputan yang berperan sebagai tempat pendaratan naga di siang hari. Dengan bendera Gereja Axiom yang terkibar sangat tinggi, terdapat perkumpulan dari jumlah tiga puluh Integrity Knight dan Komandan Tentara Pertahanan, wajah mereka semua terlihat dengan ekspresi yang serius.

Alice menyadari bahwa knight dan tentara sama sekali tidak terpisah, dia menghentikan langkah kakinya dengan sedikit keterkejutan.

Integrity Knights memakai armor perak yang bersinar dan komandan tentara yang mengenakan armor besi hitam yang kurang dengan kemewahan, tapi meskipun begitu itu masih memiliki prioritas tinggi, kedua pihak melakukan diskusi yang penuh dengan semangat, menggenggam cangkir yang dipenuhi dengan air Siral. Saat dia mendengarkan itu, dia mengetahui perkataan tentara itu sudah kehilanga semua jejak kehormatan yang rumit.

"Meskipun ini adalah tentara darurat, ini masih cukup bagus, bukan, nona kecil?"

Suara pelan tiba-tiba datang dari sampingnya, Alice berbalik dengan panik.

Komandan Integrity Knight Bercouli, dengan kedua tangannya disilangkan pada pakaian bergaya Oriental, menghentikan Alice yang hendak memberi hormat dan melanjutkan.

"Dalam Tentara Pertahanan, semua hal yang berhubungan dengan kehormatan bodoh atau hal seperti itu telah dihilangkan. Untungnya, tidak ada peraturan dalam Taboo Index yang mengatakan bahwa [Penduduk biasa harus benar-benar menghormati knight sebelum berbicara dengannya]."

"Ha, haah...Aku juga berpikir bahwa itu benar-benar tidak diperlukan, tapi kesampingkan itu untuk sekarang..."

Alice mengarahkan pandangannya menuju diskusi tentara itu.

"—Dimana Integrity Knights lainnya? Sejauh yang aku dapat lihat, hanya ada sepuluh orang di tempat ini."

"Sangat disayangkan, ini adalah semua orang."

"Eh... EH?!"

Alice tidak dapat melakukan apapun selain menggunakan tangannya untuk menutupi suara kerasnya, dan melihat Komandan Integrity Knight, yang memiliki ekspresi sedikit muram pada wajahnya.

"Bagaimana...Bagaimana mungkin? Termasuk diriku, seharusnya terdapat tiga puluh satu Integrity Knights."

Ini sama seperti Thirty-One, nama yang diberikan pada Eldrie dalam Pengucapan Suci.

Jawaban Bercouli tercampur dengan perkataan pelan "Bahkan meskipun kau mengatakan itu".

"Kau mengetahui sebanyak yang aku ketahui, nona kecil. Mengenai pengaturan «Diproses kembali» yang dibuat Kepala Pemimpin Chudelkin yang menyebabkan kejanggalan ingatan di dalam knight, tujuh knight yang masih diproses kembali di dalam Katedral Pusat masih belum terbangun."

"...!"

Alice tidak dapat melakukan apapun selain membuka lebar matanya. Bercouli melanjutkan bahkan dengan suara yang jauh lebih sedih.

"Seseorang yang mengetahui pengucapan mantra untuk diproses kembali adalah Chudelkin dan Pemimpin Tertinggi. Mereka bedua sudah mati sekarang, ini mustahil untuk membangunkan ketujuhnya tanpa menghabiskan waktu untuk menguraikan mantra, dan tidak waktu untuk melakukan itu melihat kondisi sekarang. Terdapat satu knight yang tidak dalam kondisi diproses kembali tapi dalam keadaan statis, jika kita dapat memikirkan cara untuk membangunkan orang itu..."

Alice merasa bahwa Komandan Integrity Knight berguman, jadi dia bertanya.

"Bolehkah aku bertanya, siapa seseorang itu?"

"...Ini adalah «Silent» Zayta."

"......!"

Meskipun dia tidak pernah melihat orang itu secara langsung dan hanya mendengar beberapa rumor dari namanya, Alice masih menahan nafasnya. Alasannya adalah rumor itu hanya terlalu menakutkan.

Becouli segera terbatuk, menandakan bahwa mereka seharusnya mendiskusikan masalah ini di waktu lain. Kemudian, dia melanjutkan penjelasannya.

"...Singkatnya, hanya ada sekitar dua puluh empat Integrity Knight yang sadar untuk sekarang. Empat dari mereka tinggal di Katedral dan Centoria Pusat untuk pengelolaan dan empat diantara mereka berperan sebagai penjaga di Puncak Barisan Pegunungan. Enam belas orang yang tersisa...Ini adalah sejauh apa yang dapat kita miliki untuk menahan garis pertahanan mutlak ini. Tentu saja, itu juga terhitung diriku dan kau, nona kecil."

"Enam belas...?"

Alice ingin untuk menambahkan "hanya", tapi menggigit mulutnya dan menahan itu.

Jika mereka mengkonfirmasi situasi kita sekali lagi, setengah dari empat belas orang dalam pertemuan strategi sama sekali tidak memiliki Sacred Instrument—seperti itu, mereka adalah kngight berangking rendah yang tidak mampu menciptakan Armament Full Control Art. Bahkan jika mereka dapat diperhitungkan dalam pertarungan jarak dekat, mereka adalah tentara yang mampu membunuh seratus atau dua ratus goblin, tapi mereka tidak dapat diharapkan untuk memiliki kekuatan hebat untuk menstabilkan kondisi medan peperangan.

Pada Alice yang terdiam, Bercouli mengubah nada bicaranya.

"Kalau boleh mengatakan, apa yang ingin kau lakukan kepada anak laki-laki itu...? Bagaimana kalau aku pergi untuk menjadi penjaganya..."

"Ah...Tidak, jangan khawatir mengenai itu."

Pada kekhawatiran aneh dari Komandan Integrity Knight itu, Alice menggelengkan kepalanya dengan senyuman.

"Secara kebetulan, terdapat orang yang berasal dari Akademi Master Pedang dari tentara sukarelawan yang tetap berada bersamanya...Aku akan meninggalkannya pada penjagaan mereka pada saat pertempuran itu dimulai."

"Heh, itu bagus...Kalau begitu, bagaimana kabarnya? Apakah terjadi apapun ketika anak laki-laki berambut hitam itu ketika berhdapan dengan orang-orang yang pernah berbicara dengannya sebelumnya?"

Alice menggelengkan kepalanya dengan diam.

Bercouli menghela nafas secara perlahan, sambil berguman "Jadi seperti itu, huh".

"...Aku hanya akan mengatakan ini sekali. Sejujurnya, aku selalu berpikir mungkinkah seseorang yang benar-benar dapat memutuskan arah dari peperangan sebenarnya adalah anak laki-laki ini..."

Alice melihat ke atas secara tiba-tiba.

"Meskipun dia mendapatkan bantuan darimu, nona kecil, dan partnernya, untuk mampu menebas dan membunuh Chudelkin dan Pemimpin Tertinggi itu benar-benar sangat mengaggumkan. Jika kita berbicara tentang kekuatan Penjelmaannya, aku khawatir bahwa aku bahkan tidak dapat dibandingkan dengannya."

"...Bagaimana...Bagaimana mungkin...?"

Alice sama sekali tidak memiliki sedikitpun keraguan pada kekuatan Kirito, tapi Komandan Integrity Knight telah melatih Penjelmaannya selama lebih dari dua ratus tahun. Sebaliknya, Kirito masih seorang siswa yang masih berumur muda. Itu akan lebih baik untuk mengatakan, tidak peduli kemampuan fisik atau ilmu pedangnya, itu mustahil untuk menang melawan Komandan Integrity Knight dalam hal kekuatan tekad Penjelmaan.

Tapi Bercouli hanya membantah Alice dengan penuh keyakinan.

"Sebelumnya, ketika kita saling menghantamkan Penjelmaan kita, aku merasakannya secara jelas. Anak laki-laki ini telah mengumpulkan kemampuan pertarungan sebenarnya pada tingkat yang sama seperti aku. Sama seperti itu."

"Pertarungan sebenarnya...? Apa maksud dari itu...?"

"Bagaimana mengatakannya? Mempartaruhkan hidupmu hingga batasnya."

Ini bahkan jauh lebih menakutkan.

Penduduk yang tinggal di Dunia Manusia dilindungi, atau diatahan, oleh Taboo Index atau tidak terhitung peraturan di berbagai Kerajaan, selain dari latihan dengan pedang kayu, mereka biasanya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bertarung dengan pedang asli di kehidupan mereka.

Satu-satunya pengecualian ketika Integrity Knights melakukan pertarungan sebenarnya di Puncak Barisan Pegunungan dengan goblin atau Darkness Knights yang berusaha untuk menginvasi. Tapi karena itu sangat tidak mungkin untuk terjadi bahkan sekali atau dua kali diantara waktu yang sangat panjang, dan karena Integrity Knights memiliki kemampuan bertarung yang sangat hebat, mereka sejujurnya sangat sulit menghitung pertarungan yang membahayakan hidup mereka.

Berdasarkan itu, seseorang di Dunia Manusia dengan kemampuan bertarung sebenarnya yang paling banyak adalah Bercouli, yang bertarung dengan tentara kegelapan ketika Integrity Knight Order masih dalam bentuk kecil. Tapi kenyataannya, itu dapat dikatakan ketika dia baru saja menjadi Integrity Knight —meskipun itu sangat sulit dipercayai—dia dengan sangat menyedihkan dikalahkan oleh Darkness Knight dan hanya melarikan diri dengan hidupnya.

Dibandingkan dengan Bercouli, Kirito memiliki pengalaman pertarungan sebenarnya yang jauh lebih banyak?

Jika itu memang benar—itu tidak mungkin pengalaman dari dunia ini.

Itu berasal dari rumahnya yang sebenarnya, «Sisi Lain». Tapi itu seharusnya merupakan kerajaan dimana dewi yang menciptakan Underworld tinggal. Itu sudah jelas seperti itu, tapi apakah ada pertarungan di tempat itu? Dan melawan siapa yang membuat dia mempertaruhkan hidupnya?

Alice tidak mengetahui apa yang harus dipikirkan lebih jauh lagi, setelah merasakana keraguan sesaat, dia meyakinkan pikirannya.

Untuk sekarang, dia hanya dapat mengatakan itu secara jujur pada Bercouli. Keberadaan dari Sisi Lain—dan Altar Ujung Dunia yang dapat terhubung ke tempat itu.

"...Oji-sama...Sebenarnya, ketika aku bertarung melawan Pemimpin Tertinggi..."

Pada saat dia hendak mengucapkan perkataannya, saat itu mencapai ujung lidahnya.

Tiba-tiba, suara keras datang dari belakang Komandan Integrity Knight.

"Komandan yang terhormat, ini sudah waktunya."

Alice mengarahkan pandanganya menuju pemilik suara dan menjawab "Ya".

Seorang Integrity Knight berdiri di tempat itu, memakai armor ungu muda yang masih terlihat menyilaukan di waktu senja, dilengkapai dengan rapier putih keperakan di pinggang kirinya.

Pada saat dia melihat helm berbentuk seperti miniatur sayap burung yang benar-benar menghalangi wajah pemiliknya, Alice merasakan ratapan di dalam hatinya—mengatakannya secara langsung, itu adalah perasaan "Ahh".

Bagi Alice, ini mungkin adalah seseorang yang paling tidak dapat berteman dengan dirinya. Integrity Knight kedua dan Wakil Komandan Integrity Knight, Fanatio Synthesis Two.

Alice mencoba untuk tidak memperlihatkan pemikirannya, dan meletakkan tangan kanannya pada dada kirinya dalam posisi hormat kepada knight.

Dihadapannya, Fanatio melakukan gerakan yang sama, armornya berdenting. Tapi, berbeda dari Alice, yang berdiri secara lurus dengan kakinya sedikit terpisah, Fanatio mengarahkan pusat gravitasinya pada kaki kanannya dan melonggarkan bahu kirinya, menyembunyikan sosok langsingnya.

Ini adalah bagian dari orang ini yang aku hanya tidak dapat...Alice berguman dengan perlahan saat dia menjatuhkan tangannya.

Dia mungkin ingin untuk menyembunyikan itu dengan armor, helm dan nada seraknya, tapi pada saat seseorang dengan jenis kelamin yang sama melihatnya, sosok feminim yang disembunyikan oleh Fanatio akan terlihat dari perkataan dan perbuatannya seperti aroma dari bunga besar. Ini juga adalah «Tehnik» bagi Alice, yang diambil pergi menuju Katedral saat berusia anak-anak, tidak memiliki kesempatan untuk memujinya.

Ketika Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio bertarung melawan Kirito dan Eugeo di lantai kelima puluh dari Katedral, dia menderita luka yang sangat fatal dari serangan langsung Armament Full Control Art Kirito. Tapi berdasarkan knight lainnya yang berada di tempat itu, Kirito menggunakan art penyembuhan pada Fanatio, yang dia secara susah payah mengalahkannya, dan menggunakan art aneh untuk mengirimnya ke suatu tempat, menyelamatkan hidupnya.

Meskipun itu terdengan seperti apa yang Kirito akan lakukan, hati Alice sama sekali tidak tenang.

Di samping itu, meskipun orang ini selalu selama ratusan tahun, dia tetap setia kepada Komandan Integrity Knight Bercouli, dia menamakan empat knight lainnya yang terpukau oleh kecantikannya sebagai anak buahnya. Bukankah mereka, seseorang yang hanya menginginkan kerinduan untuk melihatnya, terlihat menyedihkan? Setidaknya berhenti memakai helm perak selama siang dan malam lalu perlihatkan wajahmu pada orang lainnya.

Saat Alice berguman di dalam hatinya, Fanatio tiba-tiba meletakkan tangannya pada kedua sisi dari helm itu.

Dia melepaskan itu dengan suara keras dan secara hati-hati menarik helm berwarna ungu muda. Rambut hitam yang berkilauan terurai keluar seperti kain sutra di bawah cahaya lentera.

Dia melihat wajah Fanatio secara langsung di katedral hanya jika mereka bertemu secara kebetulan di pemandian besar. Sejauh yang dia dapat ingat, ini akan menjadi pertama kalinya Wakil Komandan Integrity Knight melepaskan helmnya di tempat umum.

Dia menatap pada sosok cantiknya yang entah bagaimana kelihatan jauh lebih lembut dibandingkan dengan sebelumnya dan mengerti alasannya. Meskipun itu hanya tipis, mulutnya diwarnai kosmetik merah muda. Kosmetik, pada dirinya yang mencoba sangat keras untuk menyembunyikan sosok feminimnya—?

Fanatio memperlihatkan senyuman lembut pada Alice yang berdiri dengan terdiam.

"Ini sudah lama waktu telah berlalu, bukan, Alice? Aku sangat senang untuk melihatmu dalam keadaan sehat."

"......"

[Sudah]? [Sangat]?

Itu membutuhkan waktu sekitar tiga detik sebelum Alice menyadari dirinya untuk membalas salamnya.

"Ini...Ini sudah lama waktu telah berlalu, Wakil Komandan Integrity Knight."

"Aku merasa tidak apa-apa jika kau memanggilku Fanatio. Yang lebih penting, Alice, aku kebetulan untuk sedikit mendengar pecakapan sebelumnya, tapi...Itu kelihatannya kau membawa anak laki-laki berambut hitam denganmu?"

Alice menyampingkan perasaan keheranannya dari perkataan aneh itu dan menggantinya dengan kewaspadaan yang lebih tinggi.

Meskipun Kirito dan penyihir Cardinal, adalah seseorang yang menyembuhkan luka Fanatio, dia mungkin tidak menetahui itu. Itu sama sekali tidak aneh jika dendam dan kebencian yang mengarah pada Kirito yang telah mengalahkannya telah berkembang.

"Ya...ya."

Wakil Komandan Integrity Knight memperlihatkan senyuman manis dan mengangguk pada jawaban singkat dari Alice.

"Aku mengerti. Jadi, bolehkah aku bertemu dengannya untuk beberapa saat setelah peperangan berakhir?"

"...Kenapa, Fanatio-dono?"

"Itu tidak perlu mengerutkan dahi sampai seperti itu. Aku sama sekali tidak mengingikan keinginan untuk menebas anak laki-laki itu setelah semua untuk saat ini."

Menahan ekpresi masam yang tercampur pada senyumannya, Fanatio mengangkat bahunya.

"Aku hanya ingin untuk mengucapkan rasa terima kasih. Untuk merawatku setelah aku menderita luka yang sangat parah."

"...Jadi kau mengetahuinya? Meski begitu, aku yakin bahwa itu tidak perlu untukmu untuk mengucapkan rasa terima kasihmu kepada Kirito. Aku telah mendengar bahwa seseorang yang sebenarnya menyembuhkanmu, Wakil Komandan Integrity Knight, adalah Pemimpin Tertinggi sebelumnya, seseorang yang bernama Cardinal. Dan dia...sayangnya telah meninggal dalam pertarungan setengah tahun lalu."

Setelah Alice berbicara dengan sedikit kekuatannya terlepas dari bahunya, pandangan fanatio perlahan mengarah ke langit dan dia mengangguk.

"Ya...Aku mengingatnya secara samar-samar. Itu pertama kalinya aku merasakan art penyembuh yang sangat hangat dan kuat. Tapi itu adalah Kirito yang mengirimku pada Cardinal dan disamping itu...Aku ingin berterima kasih kepadanya mengenai masalah yang berbeda."

"Masalah yang berbeda...?"

"Ya.—Untuk bertarung dan mengalahkanku, kau tahu."

...Jadi apakah dia memiliki keinginan untuk menebas Kirito?

Fanatio menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sungguh-sungguh kepada Alice yang mengambil setengah langkah ke belakang.

"Ini adalah bagaimana yang aku rasakan sebenarnya. Setelah semua, anak laki-laki itu adalah satu-satunya laki-laki yang bertarung secara serius bahkan setelah menyadari aku adalah perempuan dalam waktu bertahun-tahun semenjak aku hidup sebagai Integrity Knight."

"Huh...? Apa yang kau...maksud..."

"Aku telah bertarung tanpa helm ini yang menyembunyikan wajahku di masa lalu sama seperti dirimu. Tapi aku menyadari saat itu. Bahwa mereka akan berubah menjadi sedikit lebih lambat dengan pedang mereka saat melawanku, tidak hanya diantara knight laki-laki yang aku hadapi selama latihan pertarungan, tapi bahkan Darkness Knight yang bertarung dengan mempertaruhkan hidupnya. Meremehkanku karena jenis kelaminku adalah penghinaan terburuk dibandingkan dengan dikalahkan dan menjadi terbaring di tanah."

Bukankah itu sama sekali tidak dapat dihindari, bagaimanapun juga? Seharusnya hanya ada sedikit orang yang mampu menghiraukan daya tarik memikat dari Fanatio dengan wajahnya yang terlihat.

Meskipun dia hanya mengerti itu setelah tinggal di daerah terpencil Rulid, perempuan sangat jarang untuk mengambil sacred tasks yang membutuhkan mereka untuk menggenggam pedang dari sebagian besar Dunia Manusia. Pengecualiannya hanya terbatas dari anak bangsawan dan kepala negara yang berarti perempuan biasa pada dasarnya tidak memiliki pilihan lain selain menikah, melakukan tugas rumah tanggan, dan melahirkan anak.

Itu akan menjadi permasalahan ironis jika tradisi selama bertahun-tahun yang mengikat hati laki-laki dengan cara yang sama seperti Taboo Index. Pemikiran bahwa perempuan itu seharusnya dilindungi oleh laki-laki pasti telah melemahkan kekuatan pedang mereka dihadapan penampilan cantik Fanatio. Darkness Knight yang tinggal di Dark Territory seharusnya sama sekali bukan pengecualian juga selama mereka berusaha menikah dan membesarkan anak-anak. Meskipun demi-human seperti goblin atau orc mungkin menilainya dengan berbeda dengan penampilan mereka yang benar-benar berbeda.

Tetapi, meskipun seorang knight perempuan juga, Alice tidak pernah memperhatikan knight laki-laki menjadi melemah atau sesuatu seperti itu. Dia sangat yakin bahwa kekuatannya telah melebihi musuhnya tidak peduli apakah musuhnya bersikap lunak atau mengeluarkan seluruh kemampuannya saat melawannya.

—Bukankah kemarahanmu merupakan bukti bahwa kau terganggu oleh sifat feminim dari dirimu?

Sama seperti yang Alice pikirkan, Fanatio mengatakan sesuatu yang benar-benar sama.

"—Aku telah menyembunyikan wajah dan suaraku dengan helm ini, dan mempelajari skill tebasan beruntun agar dapat menjauhkan diriku dari musuhku. Tapi itu karena aku terikat dengan jenis kelaminku, bukan? Tidak hanya anak laki-laki itu mengetahui itu dengan segera, dia menebasku dengan semua kekuatannya. Aku telah menghabiskan semua Lifeku pada tehnik pedang dan artku melawannya, dan kalah. Ketika Cardinal-sama menyelamatkan hidupku dan aku mendapatkan kembali kesadaranku, obsesi yang tidak berarti menghilang dari diriku...Seperti itu, aku hanya ingin untuk menjadi lebih kuat, cukup kuat untuk memaksakan lawanku untuk tidak bersikap lunak padaku. Ini sama sekali tidak aneh untukku untuk mengucapkan terima kasih kepada anak laki-laki itu yang membuatku menyadari kebenaran sederhana itu dan membiarkanku hidup, bukan?"

Setelah mengatakan itu dengan ekspresi serius, Fanatio tiba-tiba memperlihatkan senyuman jahil.

"Di samping itu...Aku sedikit kesal. Tentang bagaimana anak laki-laki itu tidak merasakan apapun dariku sebagai perempuan ketika helmku terlepas. Jadi, aku berpikir mencoba berbagai cara untuk melihat jika aku dapat membangunkan anak laki-laki itu."

"Apa..."

Omong kosong apa yang kau sarankan?

Jika Kirito dapat terbangun dari itu, sebenarnya apa yang membuat arti semua usahanya hingga sampai sejauh ini? Dan dia bahkan tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa kemungkinan itu nol jika masalah ini berhubungan dengan Kirito.

Tanpa ada usaha untuk menyembunyikan bagaimana suramnya yang terlihat diantara alisnya, Alice menjawab dengan nada tajam.

"Aku mengharagai perkataan, tapi dia sekarang masih beristirahat di dalam tenda. Aku akan secara pribadi melihat bagamana pemikiranmu disampaikan padanya, Fanatio-dono."

"Ya ampun."

Area di sekitar mata Wakil Komandan Integrity Knight itu tersentak.

"Aku akan membutuhkan izinmu untuk bertemu anak laki-laki itu? Waktu dulu di Katedral, aku mempercayai bahwa aku tidak pernah menolak permintaanmu untuk bertemu Komandan yang terhormat, ketika dia masih bekerja dikarenakan perasaan pribadiku, bukan?"

"Mengenai permasalahan itu, aku mempercayai bahwa izinmu tidak diperlukan untukku agar dapat bertemu paman yang terhormat Fanatio-dono. Memikirkan kembali tentang itu, sekarang aku memikirkan itu, bukankah itu akan baik-baik saja dengan dia jika kau hanya menginginkan untuk dikalahkan hingga terluka parah oleh knight laki-laki?"

"Oh ya ampun, mari tinggalkan Komadan yang terhormat untuk permasalahan ini. Dia adalah knight terkuat di dunia, jadi itu adalah hal yang normal jika dia bersikap lunak pada siapapun lawannya. Setelah semua, dia bahkan mengampuni Jenderal Kegelapan."

"Oh, apakah itu benar? Dia selalu serius hingga sampai pada dipenuhi dengan keringat ketika berlatih bertarung dengan pedang saat bersamaku, bagaimanapun juga?"

Sword Art Online Vol 15 - 299.jpg

"...Komandan yang terhormat! Apa yang dikatakannya memang benar!?"

"Bahkan sejak awal, itu karena kau selalu memanjakan orang ini...!"

Alice dan Fanatio mengalihkan pandangan mereka ke samping di saat yang bersamaan.

Tetapi, Komadan Integrity Knight sudah tidak lagi ada di tempat itu.

Hanya tersisa tumpukan rumput kering yang terjatuh di saat yang bersamaan dimana Bercouli berdiri beberapa menit yang lalu.


Pertemuan membahas perang dimulai jam enam pada sore hari dengan dengan suasana yang sedikit tegang dikarenakan semangat yang dikeluarkan oleh Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio Synthesis Two yang berperan sebagai fasilitator dan Integrity Knight Alice Synthesis Thirty yang baru saja bergabung untuk pertempuran ke depan.

Setelah dengan singkat memperkenalkan dirinya, Alice menyandarkan dirinya pada kursi yang dipersiapkan di barisan depan.

"...Alice-sama."

Mengambil cangkir air siral yang diberikan Eldrie yang duduk di sampingnya, dia meminum cairan, dingin, manis dan asam itu dalam satu tegukan. Mengambil nafas dalam, dia entah bagaimana mampu untuk melanjutkan.

—Meski begitu.

Hanya terdapat beberapa Integrity Knight berlevel tinggi yang memiliki sacred instrument. Seseorang yang dia ketahui nama dan wajahnya adalah Komandan Integrity Knight, «Time Piercing Sword» Bercouli, «Heaven Piercing Sword» Fanatio, «Frost Scale Whip» Eldrie, dan «Conflagrant Flame Bow» Deusolbert.

Selain mereka, Scheta Synthesis Twelve, dengan nama lain «Silent», dan Renri Synthesis Twenty-seven, knight laki-laki yang sangat muda, keduanya memiliki sacred instrument, tapi ini pada dasarnya adalah pertama kali bertemu dengan mereka, jadi dia bahkan tidak mengetahui apa tehnik mereka sebenarnya. Bagaimanapun juga, anggota yang terdiri dari tujuh Integrity Knight berlevel tinggi ketika termasuk dengan «Fragrant Olive Sword» Alice.

Sembilan orang yang tersisa adalah Integrity Knight berlevel sedang tanpa ada sacred instrument, termasuk «Four Oscillation Blades» di bawah Fanatio. Lebih jauh lagi, murid knight perempuan muda yang melakukan perbuatan nakal yang bahkan membuat Bercouli memiliki masalah untuk mengurus mereka, Linel Synthesis Twenty-eight dan Fizel Synthesis Twenty-nine, juga ada di sini. Mereka sekarang sedang duduk dengan patuh di ujung ruangan, tapi dapatkah mereka benar-benar dapat dikeluarkan di medan peperangan?

Bagaimanapun juga, hanya ada enam belas orang dari seluruh Integrity Knight Order yang dapat berada pada garis pertahanan mutlak ini.

Di sisi lain, sekitar tiga puluh perwira komandan dari Tentara Pertahanan dunia Manusia hadir. Meskipun semangat mereka sama sekali tidak rendah, perbedaan diantara kemampuan Integrity Knight dalam hal tehnik pedang jika dibandingkan dengan mereka sangatlah jelas bahkan dengan satu kali melihat. Itu bahkan tidak perlu dikatakan lagi oleh Integrity Knight berlevel tinggi seperti Alice, tapi bahkan oleh Integrity Knight berlevel sedang memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan tiga puluh dari mereka bahkan dalam pertarungan secara berlanjut...

"—Kita telah memikirkan tidak terhitung rencana selama empat bulan ini..."

Suara Fanatio terdengar bahkan tanpa diketahu oleh Alice dan menarik kesadarannya kembali.

"Untuk menyimpulkannya, itu akan sangat sulit untuk mengusir kembali tentara gabungan penyerangan musuh dengan kekuatan bertarung kita yang sekarang dan kita akan kehilangan semua kesempatan menang pada saat mereka mengepung kita."

Fanatio menunjuk pada bagian titik pada peta yang terpasang sedikit jauh dari meja pertemua dengan sarung pedang panjang dan tipis dari Heaven Piercing Sword sebagai pengganti untuk penunjuk.

"Seperti yang kau dapat lihat, ini sama sekali tidak ada apapun selain dari rumput dan bebatuan sepanjang tiga kilol dari sisi Puncak Barisan Pegunungan. Jika mereka mendorong kita hingga sejauh itu, kita hanya akan dikelilingi dan dimusnahkan oleh tentara musuh berjumlah lima puluh ribu. Karena itu, kita harus menyelesaikan pertarungan di lembah yang mengarah menuju Gerbang Besar Timur, dengan jarak lebar sekitar seratus mel dan panjang sekitar seribu mel. Kita akan menyebarkan tentara dalam barisan, sepenuhnya fokus pada berhadapan dengan mereka dan mengurangi jumlah mereka. Ini akan menjadi prinsip dasar dari strategi kita. Apakah ada seseorang yang memiliki ide untuk dikatakan setelah sampai pada sejauh ini?"

Eldrie adalah seseorang yang mengangkat tangannya dengan cepat. Berdiri saat rambut ungu mudanya bergerak, laki-laki muda itu bertanya dengan nada sombongnya yang tertahan.

"Jika tentara musuh hanya terdiri dari goblin dan orc, kita akan mampu menebas mereka bahkan jika mereka ada lima puluh ribu atau ratusan ribu. Tetapi, bahkan mereka menyadari hal itu. Terdapat kelompok kuat dari ogre yang dilengkapi dengan panah bersama juga Guild Penyihir Kegelapan yang melindungi mereka dari bahaya. Apa tindakan yang kita miliki untuk melawan serangan dengan jangkauan panjang yang ditembakkan dari belakang tentara mereka?"

"Ini mungkin taruhan yang beresiko..."

Mulut Fanatio terhenti untuk sesaat dan dia menatapAlice. Dia mendengarkan perkataan yang terus berlanjut sementara tanpa sadar meluruskan punggungnya.

"...Tidak ada sinar matahari yang mampu mencapai bagian dasar dari lembah itu bahkan di siang hari dan tidak ada rumput yang tumbuh di tanah itu. Dengan kata lain, hanya terdapat sedikit sacred power di udara. Jika kita benar-benar menghabiskan itu sebelum peperangan dimulai, itu dipastikan untuk menjadi alasan tentara musuh tidak akan mampu untuk melancarkan satupun art kuat."

Knight dan Komandan Perwira itu menjadi gaduh karena ide nekat Fanatio.

"Normalnya, hal yang sama juga berlaku pada kita. Tetapi, kita tidak memiliki lebih dari seratus pengguna sacred art bahkan sejak awal. Dalam pertarungan sacred art, konsumsi sacred power dalam pihak musuh seharusnya jauh di atas kita."

Itu mungkin sangat benar. Meski begitu—terdapat dua masalah dalam strategi Fanatio.

Itu adalah pengguna busur, Deusolbert, yang meminta izin untuk berbicara sebagai ganti dari Eldrie yang terdiam. Knight lebih tua bertanya dengan tenang dengan tubuhnya terbungkus armor perunggu berwarna kemerahan.

"Aku mengerti, perkataanmu cukup benar. Wakil Komandan Integrity Knight-dono. Tetapi, sacred arts tidak hanya digunakan untuk penyerangan. Jika sacred power habis, bukankah kita bahkan tidak dapat menyembuhkan Life seseorang yang terluka?"

"Karena itu aku menyebutnya taruhan. Kita telah membawa katalis berangking tinggi dan obat-obatan yang kita dapatkan dari ruangan penyimpanan katedral menuju perkemahan. Jika kita membatasi hanya dengan menggunakan art penyembuhan dan melengkapinya dengan obat-obatan, katalis itu saja seharusnya bertahan dua...tidak, tiga hari."

Teriakan keterkejutan di saat itu jauh lebih terasa dibandingkan dengan sebelumnya. Ruangan penyimpanan peralatan Katedral Pusat yang dikenal dengan keamanan yang sangat ketat itu sendiri berperan sebagai inti dari dongeng. Peralatan itu mungkin dibawa, tapi ini mungkin juga merupakan pertama kalinya dalam sejarah sesuatu dari tempat itu dibawa keluar.

Itu bahkan membuat knight hebat menjadi terdiam, ekspresi suram tercampur dengan keterkejutan terlihat pada wajahnya. Menunggu saat Deusolbert duduk di kursinya dengan rintihan pelan, Alice kemudian berdiri.

"Masih terdapat masalah lainnya, Fanatio-dono."

Melupakan keributan sebelumnya untuk beberapa saat, dia melemparkan permasalahan kedua secara langsung.

"Meskipun kau mengatakan berkah dari Solus dan Terraria sangatlah samar-samar, lembah ini bukan berarti tidak terkena cahaya ataupun terpisah dari bumi. Aku mempercayai bahwa itu memiliki jumlah yang sangat besar dari sacred power yang terkumpul di tempat itu selama ratusan tahun. Apa, sebenarnya, yang dapat secara penuh menggunakan kekuatan itu dalam waktu yang sangat singkat sebelum peperangan?"

Meskipun lembah melalui Puncak Barisan Pegunungan jauh lebih sempit dibandingkan dengan padang rumput yang terbentang di perkemahan, itu masih memiliki lebar seratus mel dan panjang seribu mel. Menghabiskan sacred power yang memenuhi tempat seluas itu dalam sekejap akan membutuhkan ratusan pengguna art secara bersamaan menciptakan art berangking tinggi, tapi Fanatio sendiri telah mengatakan sebelumnya bahwa Tentara Pertahanan hanya memiliki sedikit pengguna art.

Kemungkinan lainnya akan menjadi menghabiskan sacred power dengan menggunakan art berskala besar yang sebanding dengan bencana alam, tapi itu kelihatannya dua orang yang memiliki kekuatan seperti itu hanyalah Pemimpin Tertinggi Administrator dan Penyihir Cardinal yang sudah mati..

Tetapi, Wakil Komandan Integrity Knight menggelengkan kepalanya dengan kuat sementara menatap Alice dengan mata coklat keemasannya.

"Tidak, kita memilikinya. Kita memiliki satu orang yang mampu membuat itu menjadi kenyataan."

"......Satu orang...?"

Alice melihat wajah dari Tentara Pertahanan saat dia berguman.

Tetapi, nama yang keluar dari Fanatio dengan segera setelahnya adalah sesuatu yang melebihi perkiraannya.

"Itu adalah kau, Alice Synthesis Thirty."

"Eh...!?"

"Kau mungkin tidak menyadari itu, tapi kekuatanmu yang sekarang melebihi semua Integrity Knight. Kau seharusnya mampu melakukan itu dengan keadaanmu yang sekarang...Kekuatan sebenarnya dari dewi, untuk memisahkan langit, dan membelah bumi."

Bagian 7[edit]

"Apakah Integrity Knight berlevel tinggi itu sangat kuat?"

Gabriel Miller bertanya sementara bergoyang di atas tank besar—yang hanya merupakan kendaraan persegi, beroda empat tanpa ada meriam atau rantai—ditarik oleh monster berkepala dua yang menyerupai dinosaurus.

Bahkan meskipun bantalan sofa itu dapat menghilangkan getaran secara sepenuhnya, ini sama sekali bukan apa-apa dibandingkan dengan kurangnya kenyamanan yang dia sangat derita dari ketika mengendari kendaraan pertempuran pasukan Bradley sebagai tentara. Getaran itu hanya membuat suara aliran dari gelas wine yang ada di samping meja pada bagian terburuknya.

Meskipun itu telah tiga hari berlalu semenjak meninggalkan Istana Obsidia dan berpergian lebih lama dibandingkan dengan yang pernah dia alami di dunia nyata, dia hampir tidak merasakan kelelahan. Tidak diketahui bahwa itu berkat kenyamanan dari kursi di tank, meskipun itu mungkin dikarenakan berada di dunia virtual.

Gadis muda yang cantik, dengan menggoda bersandar pada kaki Gabriel yang berada di karpet tebal sementara mengusap kaki kanannya yang dibalut perban saat dia mengangguk.

"Itu memang benar. Mari kita lihat...Di perang ini yang berlanjut selama tiga ratus tahun, pengguna darkness art dan knight kita, tidak pernah membunuh bahkan satu orang Integrity Knight—apakah itu menjelaskan situasinya? Tentu saja, hal yang sebalkinya telah terjadi sebanyak bintang yang berada di langit."

"Hmm..."

Menggantikan Gabriel yang menutup mulutnya, Vassago, yang memegang botol berisi cairan saat dia duduk sambil menyilangkan kaki di samping dinding kabin yang luas, mengeluarkan suara yang penuh dengan keraguan.

"Tapi hei, nona Dee. Jika Integrity Knight itu sangatlah kuat, kenapa mereka tidak menginvansi kita?"

Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art, Dee Ai El, berbalik pada Vassago dengan senyuman yang jauh lebih malu dibandingkan dengan sebelumnya dan mengangkat jari telunjuknya.

"Aku senang kau bertanya, Vassago-sama. Meskipun setiap dari mereka adalah tentara mengerikan yang sebanding dengan seribu orang, mereka masih hanyalah satu orang pada akhirnya. Jika sepuluh ribu dari tentara kita mengepung mereka di area yang luas, kita dapat membuat luka pada mereka, sedikit demi sedikit, dan menghabiskan Life mereka, bukan? Karena itu, mereka tidak akan pernah meninggalkan Puncak Barisan Pegunungan dimana tidak ada resiko dikepung tidak peduli bagaimana pengecutnya itu."

"Ooh, Aku mengerti. Jadi seperti itu, huhu, tidak peduli bagaimana sulitnya mob itu, cukup dengan melakukan DoT[25] dari zona aman dan itu akan berkurang cepat atau lambat... "

"Huh...? Mob...?"

Menatap pada Vassago yang memberikan contoh pada Dee, fluctlight buatan, kata yang tidak akan pernah dimengerti, Gabriel mengeluarkan batuk kecil dan berbicara.

"Mari lupakan itu. Singkatnya, kita hanya perlu memancing Integrity Knight menuju medan peperangan yang cukup luas, dan kita akan mampu untuk mengepung dan menghabisi mereka?"

"Kita dapat melakukannya, secara teori. Meskipun jumlah goblin dan orc yang dikorbankan akan dengan mudah melebihi sepuluh ribu."

Dee tertawa, dan kemudian mengambil buah yang kelihatannya beracun menilai dari warnanya berdasarkan cangkir perak yang diletakkan di lantai dan mewarnai mulutnya dengan warna yang sama dengan warna merah di sekitarnya seolah-olah menjilat itu.

Itu bahkan tidak perlu untuk dikatakan bahwa Gabriel sama sekali tidak peduli dengan kehilangan apapun dari unit tentara. Sebaliknya, dia sama sekali tidak memiliki kecemasan mengenai menukar seluruh tentara Dark Territory, termasuk Dee yang berada dihadapannya, jika itu dapat menghancurkan tentara musuh. Dalam suatu pemikirannya, peperangan ini sama sekali tidak berbeda dari simulasi taktik yang dilaksanakan oleh departemen operasi penelitian di Perusahaan Sistem Pertahana Glowgen dalam kegiatan sehari-hari.

Dia dapat berjalan disepanjang tumpukan mayat, memerintah pada Dunia Manusia sebagai penguasa baru, dan memberikan perintah pertama dan terakhirnya pada daerah itu. Menemukan gadis bernama Alice dan membawanya padanya. Misi di dunia aneh ini akan berakhir pada saat itu.

Sampai pada pemikiran itu, dia merasa seperti dia akan merindukannya bahkan pada wine ini dengan rasa yang entah bagaimana terasa enak. Gabriel mengangkat gelasnya dan meneguk cairan berwarna ungu tua dengan satu tegukan.


Pada saat ini, pemburu jiwa, Gabriel Miller, tanpa sadar menggabungkan penampilan «Alice» di pikirannya dengan korban pertamanya yang memiliki nama yang sama, Alicia Klingerman. Terlihat suci, muda, dan langsing. Dia menyakini bahwa dia tinggal di kota yang menyerupai kampung halamannya, Pacific Palisades, sebagai gadis muda yang lembut dan cantik—yang sama sekali tidak berdaya.

Karena itu, Gabriel sama sekali tidak menyadari satu kemungkinan.

Itu benar-benar diluar dari dugaannya, bahwa «Alice» yang dia kejar sebenarnya merupakan Integrity Knight dan memimpin tentara musuh.

Barisan panjang pasukan yang berada di belakang kendaraan pemimpin yang mengibarkan bendera Raja perlahan namun pasti berjalan menuju perbatasan di barat.

Puncak Barisan Pegunungan, menonjol seperti gigi gergaji, perlahan terlihat pada pandangan dibalik langit yang berwarna merah darah.


Hari ketujuh dari bulan kesebelas, hari keempat semenjak mereka mulai bergerak.

Pasukan utama dari tentara Dark Territory telah tiba di lembah gunung yang yang telah mengetahui pemandangan dari Gerbang Besar yang hendak runtuh. Tidak terhitung tenda hitam yang dipersiapkan oleh kelompok sebelumnya terbaris di sekitar dataran yang luas.

Thump-thump.

Thump-thump.

Suara bass pelan yang menggetarkan tanah itu berasal dari drum perang yang dipukul oleh raksasa.

Dari bagian atas kendaraan komando pada penutupnya, Gabriel dengan tenang melihat pada satu barisan dari pasukan utama tersebar keluar seperti tidak terhitung sel darah yang terdorong oleh detak jantung yang sangat keras.

Resimen utama dari pasukan penjaga, batalion yang terdiri dari pasukan kelas ringan goblin dan pasukan kelas berat irc, yang berjumlah sekitar lima belas ribu. Mereka membentuk barisan secara berdesakan untul dapat masuk ke dalam lemba melalui Puncak Barisan Pegunungan. Tubuh besar dari raksasa berada di berbagai tempat diantara barisan seperti menara penjaga dan meskipun mereka berjumlah kurang dari lima ratus, mereka kelihatannya akan berperan sangat baik sebagai tanker[26] utama yang membantu unit tentara.

Demi-human yang mengikuti dibelakang adalah resimen kedua, lima ribu orang dari Guild Petarung Jalanan dan lainnya, juga, lima ribu orang dari Darkness Knights Order. Knight muda yang mewarisi posisi sebagai Jenderal Kegelapan yang baru memohon untuk berada pada posisi sebagai penyerang utama untuk menyingkirkan ketidaksopanan dari pendahulunya, tapi Gabriel mengusirnya. Menduga bahwa seluruh unit Darkness Knight menderita dari semangat tempur yang rendah, dia memutuskan untuk menyingkirkan element yang tidak pasti.

Resimen ketiga yang terdiri dari tujuh ribu ogre pemanah dan tiga ribu perempuan dari Guild Pengguna Darkness Art. Tugas mereka adalah untuk menyerang lembah dari belakang tentara dan menghabisi tentara musuh dengan serangan jarak jauh. Berdasarkan Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art, Dee, mereka akan mampu mengalahkan pasukan utama musuh, Integrity Knight, dengan mengkosentrasikan tembakan pada mereka selama mereka ada pada jangkauan pandangan mereka.

Untuk benar-benar sejujurnya, Gabriel mengakui bahwa dia memiliki keinginan secara pribadi berusaha untuk melawan Integrity Knight yang dianggap sangat kuat dan memakan jiwa mereka. Tetapi, dia akan kehilangan segalanya dengan akun berlevel tinggi ini jika terdapat insiden yang tidak terduga dan dia dapat menciptakan mereka dari Underworld, yang merupakan fluctlight buatan, sebanyak yang dia inginkan. Prioritas utamanya sekarang adalah menangkap «Alice» dan melarikan diri dari Ocean Turtle.

Delapan hari di dalam dan hampir lima belas menit telah berlalu di dunia nyata semenjak dia logged in. Untuk mengambil alih seluruh Dunia Manusia dan memberikan perintah untuk mencari Alice akan membutuhkan kira-kira sepuluh hari. Jika memang seperti itu, itu akan lebih baik untuk menyelesaikan peperangan ini secepat yang dia bisa paling lama dalam waktu satu hari.

"Aah, jadi aku tidak akan pergi?"

Vassago berguman dari sampingnya, memegang botol wine lainnya. Menatap padanya, dia memprotes dengan nada tajam.

"Aku melihatnya. Ketika jenderal bernama Shasta berubah menjadi tornado, kau meninggalkanku di belakang dan berlari melarikan diri, bukan?"

"Hehe, jadi kau melihatnya, setelah semua, kakak."

Vassago tersenyum lebar tanpa ada paksaan.

"Dengar, aku selalu mengkhususkan diriku di PvP[27]. Aku sama sekali tidak ahli dalam melawan suatu monster tanpa tubuh seperti itu."

Gabriel tidak mengetahui bagaimana seriusnya anak buahnya dengan alasan seperti itu dan dia menatapnya secara singkat sebelum bertanya secara langsung.

"Vassago, kenapa kau menjadi sukarelawan dalam operasi ini?"

"Operasi, yang kau maksud dive menuju Underworld? Sebenarnya, itu karena terdengar sangat menyenangkan, bagaimanapun juga..."

"Tidak, sebelum itu. Penyerangan menuju Ocean Turtle. Kau memang bekerja di Glowgen DS, tapi kau hanya mengkhusukan dalam operasi cyber, bukan? Apa motivasimu untuk berpartisipasi dalam operasi yang mungkin memenuhi dirimu dengan lubang peluru? Dari umurmu, kau sama sekali bukan anjing perang dari Timur Tengah seperti Hans atau Brig juga."

Sementara itu adalah pidato yang sangat bagus untuk Gabriel, dia normalnya tidak terlalu tertarik dengan manusia yang dipanggil Vassago Casals. Pertanyaan pada apa yang ada pada sikap sembarangan dari laki-laki muda ini hanya terlintas di dalam pikirannya.

Vassago hanya mengangkat bahunya dan menjawab dengan, "Itu juga sama".

"Jawaban untuk itu juga sama karena itu terdengar sangat menyenangkan, aku rasa."

"Oh...?"

"Jika berdasarkan tentang itu, kakak adalah seseorang yang lebih aneh, melangkah keluar menuju medan pertempuran meskipun menjadi seorang yang sangat elite yang lulus dari universitas. Bahkan dengan pengalamanmu sebagai tentara."

"Aku merasa lebih baik untuk mengotori tanganku."

Menjawab seperti itu, Gabriel berguman di dalam pikirannnya.

Vassago, apa yang kau inginkan untuk mendapat perasaan menyenangkan? Menembak pistol? Atau...membunuh dan sesuatu seperti itu?

Pada saat dia memikirkan apakah hendak memberikan pertanyaan lebih jauh atau menghentikan percakapan itu, suara langkah dari sepatu high heels terdengar keluar dari anak tangga yang terpasang di belakang kendaraan komando dan Pemimpin Guild Pengguna Darkness Art, Dee Ai El, memperlihatkan dirinya.

Dia memperlihatkan tundukan hormat dan menjilat mulutnya sebelum memberi laporan.

"Raja yang terhormat, seluruh tentara berada pada posisinya."

"Aku mengerti."

Selain dari pasukan utama yang terdiri dari tiga puluh lima ribu tentara ditempatkan di depan, terdapat sepuluh ribu pasukan cadangan yang sebagian besar terdiri dari goblin dan orc, dan unit transport yang berjumlah lima ribu dari Guild Perdagangan dan Industri yang menunggu di sisi kiri dan kanan kendaraan komando,

Tentara ini yang berjumlah lima puluh ribu adalah semua kekuatan yang diberikan pada Gabriel. Karena itu, jika dia gagal untuk menerebos secara paksa pertahanan tentara musuh bahkan setelah menghabiskan semua unit, dia akan dipaksa untuk memikirkan kembali dasar dari rencananya. Kemungkinan untuk menangkap Alice akan menurun secara drastis juga.

Itu dikatakan, tentara musuh berjumlah tiga ribu paling banyak berdasarkan pengintai Darkness Knight. Dengan kata lain , mereka tidak akan kalah selama mereka dapat menghabisi Integrity Knight seperti yang direncakan.

"Bagus. Berapa lama kita akan menunggu sampai Gerbang Besar runtuh?"

Dee menjawab pertanyaan Gabriel dengan wajahnya yang tertunduk.

"Kita mempercayai kira-kira sekitar delapan jam."

"Kalau begitu divisi pertama akan memasuki lembah itu satu jam sebelum itu runtuh. Bersiaplah sedekat mungkin dengan Gerbang besar dan seranglah di saat yang bersamaan ketika itu runtuh. Jika kita dapat menerebos pertahanan depan mereka, kirimkan divisi kedua dan ketiga dan musnahkan musuh dalam satu serangan."

"Ya. Kita akan mengirimkan kepala jenderal musus sebelum itu berakhir. Meskipun itu mungkin telah terbakar menjadi abu pada saat itu."

Tertawa, Dee dengan cepat menyampaikan perintah pada pembawa pesan dari pengguna art yang menunggu di belakang dan menunduk dengan dalam sebelum menuruni tangga.

Gabriel melihat ke arah gerbang batu raksasa yang berdiri di kejauhan dari atap kendaraan komando itu.

Meskipun itu lebih dari dua mil jauhnya, bebannya sangat terasa seolah-olah menghancurkan dirinya dari atas. Keruntuhan dari gerbang itu secara seluruhnya akan menjadi pemandangan yang cukup bagus.

Tetapi, itu akan menjadi ketika pertempuran sebenarnya dimulai. Pelepasan dan kehilangan ribuan jiwa sudah pasti akan menjadi pertunjukan yang sangat indah. Peneliti Rath yang menempati bagian atas dari Ocean Turtle pasti menyesal tidak mampu untuk melihat pemandangan megah berskala besar yang mereka telah jadwalkan dari dalam.

Thump-thump, thump-thump.

Thump, thum. Thump, thum.

Drum perang yang kelihatannya dibunyikan untuk membangkitkan rasa lapar dan kemarahan yang terpancar dari pasukan yang berjumlah puluhan ribu saat gerakan mereka menjadi lebih cepat.

Bagian 8[edit]

"Jadi...Tolong jagalah Kirito sebagai ganti dari diriku."

Alice menatap wajah gadis muda itu secara bergantian saat dia berbicara.

Mereka adalah novice trainees, tidak, mereka sudah menjadi swordswomen dengan kemampuan mereka sendiri, Tieze Shtolienen and Ronie Arabel mengangguk dengan punggung mereka yang lurus.

"Ya, tolong serahkan dia pada kami, Alice-sama."

"Kita pasti akan terus menjaga keselamatan Kirito-senpai."

Menjawab seperti itu, Tieze dan Ronie menggenggam dengan erat gagang kursi roda yang baru saja dibuat dengan tangan kanan dan kiri mereka secara bersamaan.

Kursi kecil yang bersinar abu-abu keperakan diubah dari satu set armor yang tersisa di tenda penyimpanan peralatan melalui art Alice. Itu jauh lebih ringan dibandingkan dengan kursi roda kayu yang digunakan Rulid dan memiliki kekuatan yang jauh lebih banyak juga.

Itu dapat dikatakan, tidak ada yang dapat dilakukan mengenai beban dari dua pedang yang dipeluk Kirito dengan erat saat dia sedang duduk. Meskipun dia merasakan keraguam di dalam hatinya jika gadis ini bahkan dapat menggerakkan itu, keduanya dengan tenang menyamakan waktu nafas mereka dan mendorong kursi roda lurus di depan Alice.

Ini berarti mereka tidak akan melambat bahkan jika diperintahkan melarikan diri pada saat itu. Bagaimanapun juga, mereka akan dipaksa untuk melarikan diri dari lembah hanya ketika Tentara Pertahanan sudah pasti dikelilingi dan dimusnahkan.

Jika dia ingin untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya, dia akan merasa lebih baik jika mereka melarikan diri menuju ke barat bersama dengan Kirito pada saat mereka melihat sedikit bahaya dalam situasi perang. Tetapi, itu akan memperlambat nasib mereka untuk beberapa bulan—tidak, beberapa minggu.

Jika Tentara Pertahanan kalah, empat Integrity Knight yang melindungi Puncak Barisan Pegunungan seharusnya melarikan diri juga dan mengevakuasi penduduk dari setiap kota dan desa saat mereka membuat dinding pertahanan di ibu kota, Centoria Pusat, sebagai garis pertahanan terakhir. Tetapi, itu akan menjadi perlawanan yang sia-sia. Tentara yang menginvansi itu akan menghancurkan mereka cepat atau lambat, dan baik ibu kota yang indah, dan menara marbel putih Katedral Pusat akan terbakar. Tidak ada jalan melarikan diri dari dinding penyegel Puncak Barisan Pegunungan...

Alice berlutut dan mengarahkan pandangannya sejajar dengan mata Kirito sebelum melihat ke dalamnya.

Dia telah berbicara kepada Kirito, memegang tangannya, memeluknya kapanpun dia menemukan waktunya selama lima hari ini semenjak dia tiba di perkemahan ini. Tetapi, dia tidak memperlihatkan satupun respon yang benar sampai hari ini.

"Kirito...Ini mungkin adalah perpisahan terakhir kita."

Memaksakan senyumannya untuk terus ada, Alice membisikkan sesuatu pada anak laki-laki berambut hitam itu.

"Paman yang terhormat mengatakan bahwa kau akan menentukan bagaimana pertarungan ini akan berjalan. Aku juga mempercayai, seperti itu. Kau adalah seseorang yang membentuk Tentara Pertahanan ini, setelah semua."

Faktanya, jika ini bukan Kirito dan Eugeo, itu akan menjadi Pemimpin Tertinggi Administrator dan Integrity Knight Order yang berbaris di sepanjang Gerbang Besar Timur bersama dengan tentara sword golem yang mengerikan di waktu sekarang.

Dengan dua atau tiga ribu dari sword golem dan kekuatan tempur mereka yang sangat luar biasa, pasukan Dark Territory yang berjumlah lima puluh ribu tidak akan mendekati cukup. Tetapi, itu sebanding dengan kehancuran Dunia Manusia. Sepuluh ribu penduduk Dunia Manusia akan berperan sebagai material dari golem. Kirito dan partnernya telah mencegah tragedi itu dengan mengorbankan hidup dan jiwa mereka.

Meskipun begitu, jika Tentara Pertahanan Dunia Manusia yang dipimpin Bercouli berakhir kalah saat itu berlanjut, tragedi yang lebih buruk akan tetap menimpa semua orang bahhkan jika itu dalam bentuk berbeda.

"...Aku akan mencoba sekeras yang aku bisa. Aku akan menghabiskan Life ini yang aku terima darimu tanpa ada sisa. Jadi...Jika aku hendak terjatuh dan memanggilmu dengan kekuatanku yang tersisa, pastikan untuk berdiri dan menarik pedang itu. Selama kau terbangun, jumlah dari musuh itu sama sekali tidak akan berarti, baik itu ribuan maupun puluhan ribuan. Keajaiban akan terjadi lagi dan selamatkan Dunia Manusia...serta semua orang. Setelah semua, kau..."

—Kau adalah swordsman terkuat yang mengalahkan Pemimpin Tertinggi.

Berguman seperti itu di dalam hatinya, Alice mengulurkan kedua tangannya dan dengan erat memeluk tubuh lemah Kirito.

Melepaskannya setelah memeluk dalam waktu yang dapat berlangsung entah dalam waktu sekejap ataupun beberapa menit lamanya, Alice berdiri dan menyadari pandangan Ronie, menatap dengan tajam padanya sementara cahaya rumit bersinar di mata birunya. Dia mengedipkan matanya dengan tidak pasti dan dengan segera menyadarinya.

"Ronie-san. Kau...mencintai Kirito, bukan?"

Pada saat mengatakan itu dengan senyuman, gadis kecil itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat dia berubah warna menjadi kemerahan dari pipinya hingga di sekitar telinganya. Kelopak matanya tertutup dan dia menjawab dengan suara pelan.

"T-Tidak, itu...Aku tidak mungkin dapat...Aku hanyalah valet novice traineenya, jadi..."

"Kau bisa, sudah pasti. Kau adalah keturunan dari keluarga bangsawan, bukan, Ronie-san? Aku terlahir di desa kecil, terpencil dan aku bahkan tidak mengetahui dimana Kirito berasal..."

Ronie tiba-tiba menggelengkan kepalanya dengan cepat saat dia memotong perkataan Alice.

"Bukan seperti itu! Aku...Aku..."

Air mata besar terlihat di mata Ronie saat suaranya pecah dan Tieze perlahan menahannya dengan tangan kanannya. Matanya yang berwarna seperti warna di musum gugur terlihat basah dan dia mulai berbicara dengan suara bergetar.

"Alice-sama...Apa kau mengetahui taboo yang dibuat oleh Kirito-senpai dan Eugeo-senpai?"

"Ya...ya. Aku mendengar terdapat perselisihan di akademi...dan mereka membunuh siswa lainnya."

Alice masih mengingat kembali keterkejutan yang sangat besar dari perintah penahanan yang berasal dari Ruangan Para Tetua setengah tahun lalu sebagai penjaga Gereja Axiom yang sama sekali tidak memiliki kepedulian. Taboo yang tidak dapat dipikirkan seperti membunuh siswa lain di akademi yang ada di ibu kota sama sekali tidak pernah terdengar bahkan di buku sejarah dalam gereja.

Alice mengangguk dan Tieze melanjutkan pertanyaannya.

"Kalau begitu...Apakah kau pernah mendengar alasan kenapa mereka melakukan taboo...?"

"Tidak...Aku belum pernah mendengarnya..."

Sebuah teriakan keras tiba-tiba terdengar kembali dari dalam telinganya pada saat dia menggelengjkan kepalanya.

Itu dengan segera setelah dia terlempar keluar dari dinding katedral bersama dengan Kirito, perkataan yang dia teriakkan ketika dia berteriak bahwa dia tidak membutuhkan bantuan dari kriminal...

[—Taboo Index sama sekali tidak melarangnya, jadi bangsawan kelas atas dapat melakukan yang mereka mau pada gadis yang bahkan tidak melakukan satu kejahatanpun, seperti Ronie dan Tieze...apa kau secara jujur mempercayai bahwa itu dapat dimaafkan?!]

Seperti itu. Aku mendengar nama mereka berdua pada saat itu.

"Bangsawan kelas atas" pasti ditunjukan pada siswa yang Kirito tebas. Dan untuk bagian "gadis yang bahkan tidak melakukan satu kejahatanpun"— Sebelum Alice dapat membuka lebar matanya, suara Tieze bergetar saat dia mulai berbicara.

"...Elite swordsmen-in-training Raios Antinous dan Humbert Zizek telah berulang kali memberikan perintah memalukan pada teman kita, Novice Trainee Frenica Szeski. Kita memprotes kepada mereka, tapi menggunakan kata yang dianggap tidak sopan pada kemarahan kita pada saat itu. Karena itu, melalui hak menghukum oleh bangsawan melalui Hukum Dasar Kerajaan..."

Itu pasti sangat sulit untuk mengingat apa yang terjadi setelah itu. Suara Tieze tertahan di tenggorokan dan Ronie mengeluarkan tangisan samar-samar dengan menundukkan kepalanya.

Tidak perlu untuk berbicara lebih jauh lagi, Alice berpikir seperti itu dan hendak mengatakan itu keluar, tapi gadis berambut merah itu melanjutkan ceritanya dengan tekadnya.

"...Kirito-senpai dan Eugeo-senpai menarik pedang mereka untuk menyelamatkan kita dari hukuman mengerikan itu. Jika aku sedikit lebih cerdas, insiden itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan bertarung melawan gereja untuk memperbaiki hukum dan tidak ada seorangpun yang akan mati. Kita...telah melakukan kejahatan yang tidak dapat dimaafkan. Jadi...kita tidak memiliki hak untuk mengatakan bahwa kita mencintai mereka bahkan jika kita harus kehilangan suara kita..."

Pada saat mengatakan semua yang dia rasakan, air mata akhirnya mengalir keluar dari mata Tizei juga. Gadis muda itu saling memeluk satu sama lain dan mengeluarkan tangisan kesedihan yang dipenuhi dengan penyesalan yang terlalu berat untuk umur mereka.

Alice menggeretakkan giginya secara keras saat dia melihat ke atas pada jendela kecil dengan cahaya yang masuk.

Dia berpikir bahwa dia mengetahui sikap buruk yang tersebar pada bangsawan di empat kerajaan. Ketamakan, keserakahan, dan penyelewengan.

Meski begitu, Integrity Knight Alice hanya berpikir bahwa dia akan terpengaruh jika dia mengetahui terlalu banyak dan mengalihkan pandangannya dari perbuatan bangsawan. Apapun yang mereka lakukan, itu sama sekali tidak pedulikan selama itu bukan taboo—setelah semua, dia dipanggil dari Celestial World untuk menjaga hukum. Dia terus mempercayai itu.

Tetapi, menutup telinganya adalah dosa itu sendiri. Apa yang Kirito benci, apa yang Taboo Index sama sekali tidak pedulikan, itu benar-benar dosa yang mengerikan. Dibandikang dengan dirinya yang tidak melakukan apapun, dua gadis yang ada dihadapan matanya jauh lebih berani.

Alice mengambil nafas dalam dan berbicara dengan nada yang dipaksakan.

"Tidak, kalian salah. Kalian berdua sama sekali tidak bersalah."

Seseorang yang dengan segera mengangkat wajahnya adalah Ronie. Meskipun kesannya dia selalu bersembunyi dibalik bayangan Tieze, gadis itu berteriak untuk satu kali lagi dengan cahaya kuat di matanya.

"Kau tidak akan mengerti, Alice-sama...Kau tidak akan mengerti sebagai Integrity Knight yang terhormat, Alice-sama! Laki-laki itu hendak melakukan sesuatu seperti yang mereka ingin pada tubuh kita dan menondai harga diri kita dengan dosa!"

"Tubuhmu tidak lebih dari tempat dimana hatimu berada."

Dia dengan kuat meletakkan telapak tangan kanannya pada bagian tengah dadanya saat dia menjawab seperti itu.

"Hati...Jiwa adalah sesuatu yang benar-benar penting. Dan kalian adalah seseorang yang menentukan bagaimana jiwa akan berada."

Alice menutup kelopak matanya dan memfokuskan kesadarannya di dalam dirinya.

Kira-kira dua minggu lalu, Alice berhasil mendapatkan kembali mata kanannya yang hilang melalui kekuatan hatinya—melalui penjelmaan, dengan kata lain—pada saat penyerangan Desa Rulid. Dia secara pribadi mengalamai bagaimana kuatnya, keinginannya yang sungguh-sungguh dapat menganti bagian tubuh tanpa bantuan art.

Meski begitu, itu saja tidak akan cukup untuk sekarang. Dia tidak hanya harus mengganti bagian tubuhnya, tapi pakaian di tubuhnya melalui kekuatan penjelmaan.

Itu seharusnya mungkin. Bukankah dia pernah melihat Kirito melakukan itu sekali? Ketika dia bertarung melawan Pemimpin Tertinggi Administrator dengan dua pedang, dia telah mengganti pakaiannya menjadi jubah panjang yang terbuat dari kulit hitam yang bersasal dari suatu tempat yang tidak diketahui yang benar-benar tidak seperti pakaiannya di saat itu.

Kembali lagi. Bagi Alice sebelum dia terbangun di menara berwarna putih bersih yang tidak dikenalnya dan menutup hatinya di dalam es tebal untuk menenggelamkan kegelisahan dan kesedihan dari kehilangan ingatannya.

—Aku sama seperti kalian, Ronie, Tieze. Aku terlahir sebagai manusia, membuat banyak kesalahan, menanggung dosa berat. Kau dapat mengatakan bahwa pembunuhan yang dilakukan Kirito dan Eugeo adalah kesalahan kalian...Tapi jika aku tidak melupakan tentang taboo dan tidak menyentuh daerah Dark Territory, mereka bahkan tidak akan pergi menuju ibu kota sejak awal.

Ya, itu adalah dosaku. Bahkan tanpa ada ingatan itu, Alice Schuberg sama sekali bukan orang lain, tapi seseorang yang dulu pernah menjadi diriku. Hari-hariku di Rulid telah mengajariku hal itu.

Bahkan dengan matanya yang tertutup, dia mengetahui cahaya putih, yang hangat menyelimuti tubuhnya.

Alice perlahan membuka kelopak matanya.

Saat wajahnya melihat ke bawah, apa yang pertama kali dia lihat adalah rok yang dia kenakan. Tetapi, itu sama sekali tidak berwarna putih bersih dengan lambang Gereja Axiom, tapi itu berwarna biru muda seperti langit di musim gugur.

Di atas rok itu adalah apron putih plos. Armor emas dan sarung tangan besi itu menghilang. Ketika dia menyentuh kepalanya dengan tangannya, ujung jarinya menyentuh pada pita besat. Rambutnya kelihatannya sedikit lebih pendek.

Mengangkat wajahnya, pandangannya bertemu dengan pandangan Ronie dan Tieze sementara mereka terdiam karena keterkejutan.

"...Lihat? Tubuh dan penampilanmu hanya berdasarkan pada hatimu."

Tentu saja, perubahan ini tidak akan bertahan selamanya. Dia kelihatannya akan kembali pada penampilan knight aslinya pada saat kosentrasi mentalnya terganggu. Meski begitu, gadis ini seharusnya mengerti. Bagaimana Alice, Kirito, dan Eugeo pikirkan.

"Tidak ada seorangpun yang dapat menodai hatimu. Ini adalah bagaimana aku seharusnya tumbuh, terlahir di desa terpencil. Tapi ketika aku berumur sebelas tahun, aku diambil pergi menuju Katedral Pusat dan menjadi Integrity Knight dengan ingatanku dihapus oleh art. Aku pernah sekali mengutuk nasibku..."

Sword Art Online Vol 15 - 323.jpg

Apa yang Alice katakan adalah rahasia terbesar yang hanya diketahui oleh Komandan Integrity Knight Bercouli selain dari dirinya. Tetapi, dia mempercayai bahwa mereka berdua dapat menerima itu dan melanjutkan perkataannya.

"Tapi...Aku memiliki banyak hal yang aku dapat lakukan, hal yang aku harus lakukan, Kirito telah mengajariku. Karena itu aku tidak akan goyah lagi. Aku telah memutuskan bahwa aku akan menerima diriku sendiri dan bergerak maju."

Mengangkat kedua tangannya, Alice menggenggam tangan Ronie dan Tieze dengan kekuatan.

"Kalian juga sama. Kalian memiliki jalan lurus, yang panjang dan lebar yang hanya dimiliki oleh kalian saja."

Tetesan air terpancar di tangan mereka yang digenggam.

Air mata yang mengalir di pipi gadis itu kelihatannya benar-benar berbeda dari sebelumnya, bersinar indah dengan cahaya berwarna.


Menarik Kirito yang duduk di kursi roda untuk satu pelukan kuat yang terakhir, Alice menyerahkannya pada Ronie Dan Tieze, dan meninggalkan tenda. Eldrie dengan segera berlari ke arahnya seolah-olah dia telah menunggunya sebelumnya dan memberikannya pujian.

"Oh, sungguh cantik...itu seolah-olah cahaya Solus telah fokus pada sosokmu...Kau terlihat dalam penampilan terbaikmu, masterku, Alice-sama..."

"Itu akan dikotori dengan lumpur dalam waktu satu jam di pertempuran, bagaimanapun juga."

Dia menatap pada dirinya sendiri sementara menjawab secara terus terang.

Fenomena perubahan sebelumnya sudah menghilang, dan pelindung dada emas dan rok putih bersih besinar di bawah sinar matahari. Dia melihat ke atas menuju langit di barat sementara memikirkan tentang menambahkan pakaian berwarna biru muda di suatu bagian jika dia berhasil bertahan hidup.

Solus sudah mulai tenggelam. Itu kira-kira tiga jam sebelum itu tenggelam dari langit di atas? Gerbang Besar Timur akan mendapati Lifenya habis pada saat itu. Segel yang menahan selama tiga ratus tahun akan terbuka pada akhirnya.

Dia melakukan apa yang dia dapat lakukan.

Alice ditambahkan dalam pelatihan Tentara Pertahanan selama lima hari ini dan dia berpikir kemampuan tentara itu dilatih secara bagus hanya dalam waktu setengah tahun. Apa yang mengejutkannya adalah mereka semua telah belajar skill pedang tebasan beruntun yang sama sekali tidak ada dalam traditional styles.

Ketika dia bertanya, itu kelihatannya Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio yang secara pribadi mengajari mereka tehnik yang dia poles selama bertahun-tahun. Meskipun tiga tebasan kelihatannya menjadi batas mereka, itu seharusnya berperang sebagai senjata yang cukup untuk melawan goblin dan orc yang mengayunkan golok mereka berdasarkan insting mereka.

Tentu saja, keberadaan Darkness Knight dengan skil tebasan beruntun akan menjadi beban terlalu berat bagi tentara. Integrity Knight akan menangani mereka, termasuk melawan petarung jalanan yang bahkan memiliki skill tebasan beruntun yang lebih cepat.

Hal yang paling penting adalah menahan pasukan demi-human yang akan menyerbu setelah pertempuaran itu dimulai. Kemudian adalah menahan serangan panah ogre dan art penyerangan jarak jauh dari pengguna darkness art dengan korban sedikit mungkin.

Hasil dari operasi ini akan sepenuhnya berada pada pundak Alice—

Menarik kembali pandangannya dari langit, dia melihat tidak terhitung kumpulan asap dari unit persediaan dibelakang sebagai makan malam terakhir. Dia seharusnya segera bertemu dengan Ronie, Tieze, dan Kirito, dan membawa mereka bersamanya, ke tempat itu.

Dia akan melindungi mereka. Tidak peduli apapun yang terjadi.

"Alice-sama, ini waktunya untuk..."

Mengangguk pada perkataan Eldrie, Alice menarik kembali kakinya untuk berbalik.

Tetapi, dia menghentikan kakinya di situ dan menatap pada satu-satunya muridnya.

"...A-Ada apa?"

Menatap pada knight muda yang mengedipkan matanya dengan keraguan, Alice sedikit menyantaikan mulutnya yang sedikit melengkung.

"...Kau telah melayani dengan sangat baik sampai saat ini, Eldrie."

"Ya...A-apa!?"

Dia perlahan meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya, sementara dia berdiri kebingunan, dan melanjutkan.

"Itu sangat melegakan dengan kau berada di sisiku. Kau meminta bimbingan dariku, tanpa ada penghargaan apapun selain namaku, daripada knight yang lebih senior seperti Deusolbert...dengan memperhatikan perasaanku, bukan?"

"Tidak...Aku sama sekali bukan seperti itu, aku sama sekali bukan orang yang sopan! Aku hanya merasakan kekaguman dari keindahan ilmu pedang Alice-sama jauh di bagian dalam hatiku..."

Alice mengenggam tangan Eldrie sementara dia terus menggelengkan kepalanya, menolak itu, melepaskan tangannya, dan tersenyum sekali lagi. "Aku terus mengalami perjalanan yang suram ini untuk mencapai hari hanya dengan bantuanmu. Terima kasih, Eldrie."

Air mata besar mengalir keluar secara tiba-tiba dari mata knight muda yang terdiam itu.

"......Alice-sama...Kenapa...Kenapa kau hanya membicarakan masa lalu?"

Suara seraknya bertanya.

"Kenapa kau berbicara seolah-olah perjalananmu akan berakhir di tempat ini, Alice-sama? Aku...Aku hanya baru mempelajari sedikit darimu. Aku masih belum cukup untuk mendekati tingkatanmu baik dari ilmu pedang maupun art. Kau harus terus melatih dan membimbingku dari sekarang juga...!"

Tepat sebelum tangan kanannya bergemetar, yang terulur mencapai dirinya—

Alice tiba-tiba mengubah perkataannya menjadi teriakan keras.

"Integrity knight, Eldrie Synthesis Thirty-one!"

"Ya...ya!"

Knight yang berdiri dengan perhatian di posisi dengan tangannya yang terdiam.

Aku akan memberikanmu perintah terakhir sebagai mastermu. Bertahan hidup. Bertahan hidup dan lihatlah kedamaian yang tiba dengan matamu sendiri, dan ambillah itu kembali. Hidupmu yang sebenarnya dan seseorang yang kau cintai."

«Bagian Ingatan» yang dimiliki semua Integrity Knight dari «seseorang yang dia sayangi» selain milik Alice masih tersegel di lantai tertinggi katedral bahkan sampai sekarang. Itu sudah pasti ada cara untuk mengembalikan mereka menjadi bagaimana mereka seharusnya.

Mengangguk pada Eldrie yang masih berdiri tegak sementara menghapus air matanya dengan tenang, Alice dengan cepat berbalik. Rambut pirangnya dan rok putih bersihnya terhembus oleh udara dingin di musim gugur.

Dia melihat lembah luas yang tenggelam di kegelapan dan Gerbang Besar Timur berada lurus dihadapan matanya.

Alice sekarang akan memulai mengucapkan sacred art dengan skala yang sangat besar untuk pertama kalinya. Dia akan menghabiskan sacred power yang memenuhi udara lembah itu untuk melakukan serangan keras pada pasukan musuh.

Jika dia membuat satu kesalahan dalam artnya—tidak, jika kosentrasinya terganggu meskipun itu sedikit, sacred art yang diciptakan itu akan meledak dan mungkin akan menghapus keberadaan Alice tanpa jejak.

Tetapi, dia tidak lagi merasakan takut. Dia telah menghabiskan waktu yang bermakna selama lima hari dengan Bercouli, Fanatio, dan Eldrie sebagai Integrity Knight, dan tinggal bersama saudara perempuannya, Selka, selama setengah tahun sebagai Alice dari Rulid.

Dan diatas itu semua, dia menemukan emosi manusianya—kesedihan, kemarahan, dan bahkan cinta—dengan bertemu Eugeo dan Kirito, dan saling menyilangkan pedang secara sungguh-sungguh dengan mereka.

Dia tidak mengharapkan apapun lagi.

Suara keras terdengar keluar dari armor Alice saat dia bergerak lurus menuju pusat dari Tentara Pertahanan, langkah demi langkah, menunggu dimulainya perang ini.


(Alicization Invading Selesai)

Catatan Pengarang[edit]

Halo semuanya, aku Kawahara. Sekarang aku menulis isi dari novel ini dengan suasana hati yang sangat gelisah. Alasan kenapa aku berada dalam konidis itu adalah karena aku melupakan menulis catatan pengarang selama beberapa hari!

Ah—Sekarang, kembali pada cerita. Terima kasih semuanya untuk membaca «Sword Art Online 15: Alicization Invading».

Di buku terakhir «Uniting», pemimpin Gereja Axiom Pemimpin Tertinggi Administrator, telah dikalahkan, tapi "bersambung" tertulis di akhir untuk suatu alasan, jadi apa yang sebenarnya terjadi berikutnya—adalah apa yang terjadi sekarang...Cerita kita yang berada di kurungan Dunia Manusia dan bergerak menuju Dark Teritorry yang tidak terbatas. Ocean Turtle yang Asuna dan orang-orang lainnya berada di dunia nyata juga menderita sebuah serangan, dan Kikuoka mengganti pakaiannya dari jubah mandi menjadi pakaian Hawai dan berbagai perkembangan seperti itu...

Dibawah keadaan seperti ini, buku berikutnya akhirnya berencana untuk memulai perang diantara Tentara Pertahanan Dunia Manusia dan Dark Territory. Cerita Alicization yang dimulai di Volume 9 perlahan mencapai klimaksnya, semua orang, tolong terus dukung aku di waktu yang akan datang!


Mengenai kejadian pribadi, aku, bersama dengan ilustratorku abec-san, acara anime terbesar di Amerika «Anime Expo» sebagai tamu. Meskipun ini pertama kalinya aku pergi ke Los Angeles (kedua kalinya pergi menuju Amerika, jika mengatakan itu), kota dan aula konvensi sangatlah besar! Juga, antusias dari fans anime dari seluruh Amerika yang berkumpul seluruhnya di aula konvensi benar-benar mengejutkan!

Tentu saja, terima kasih yang sangat besar kepada semua penggemar SAO yang mampu darang. Di saat yang bersamaan, aku menyadari kebaikan dukungan semua orang dalam waktu sepuluh tahun semenjak cerita ini akan dinamai SAO yang terbawa sampai hari ini, dari era web sampai Dengeki Bunko, dan adaptasi anime dan game.

Pada saat buku ini diterbitkan, penayangan season kedua dari anime televisi ini seharusnya telah dimulai. Berbeda dengan season pertama, ini memiliki «Dunia Pistol» sebagai panggungnya, tapi dari pengawasan semua pekerja dan pengisi suara, semua orang akan sepenuhnya menunjukkan style pertarungan tembakan, dan karakteristik dari SAO, yang tetap tidak berubah meskipun dengan keadaan ini. Aku sekali lagi meminta dukungan semua orang untuk versi anime.

Waktunya sudah hampir habis jadi aku akan membuat ucapan terima kasihku menjadi sederhana! abec-san, yang memperlihatkan daya tarik dari karakter baru secara terus menerus di panggung yang ada di volume ini, Miki-san yang datang ke LA bersama denganku sebagai editorku, Tsuchiya-san, yang mengambil posisi sebagai penjaga dan berperan sebagai wakil editor di Jepang sementara kita pergi, dan semua orang yang membaca sampai saat ini, terima kasih banyak!

Hari tertentu di bulan Juli 2014, Kawahara Reki

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Kakak perempuan
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Pancake
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Wine
  4. lampu di sini adalah lampu yang menggunakan api di dalamnya
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Trishula
  6. saya sengaja menggunakan Bahasa Inggris untuk kata ini
  7. http://en.wikipedia.org/wiki/Missile
  8. http://en.wikipedia.org/wiki/Torpedo
  9. http://en.wikipedia.org/wiki/Steyr_AUG
  10. Itu adalah ilusi gambar yang terjadi ketika melihat gambar 2 dimensi dan terlihat menjadi gambar 3 dimensi, itu disebabkan efek cahaya dan sudut pandangan
  11. http://en.wikipedia.org/wiki/Spectrum
  12. http://en.wikipedia.org/wiki/Dark_nebula
  13. maksudnya di sini adalah Yes or No
  14. Seseorang yang mengambil data dari suatu komputer dengan menggunakan koneksi internet
  15. Cyber Operation Department atau Bahasa Inggris dari Departemen Operasi Cyber
  16. http://en.wikipedia.org/wiki/Goetia
  17. http://en.wikipedia.org/wiki/Frisco,_Texas
  18. LV disini berarti level
  19. Undead adalah seseorang yang pernah mati kemudian hidup kembali, namun dalam cerita ini undead adalah seseorang yang tidak dapat mati
  20. real-time strategi adalah suatu game dimana kita harus mengatur sebuah pasukan atau negara untuk menyelesaikan misi yang telah ditentukan game tersebut
  21. Mungkin ini adalah dunia kejam dimana orang dapat mengorbankan orang lain
  22. Suatu program atau kesalahan yang ada di dalam suatu program sehingga menyebabkan rusaknya program tersebut
  23. Halo adalah suatu lingkaran cahaya yang ada di atas kepala malaikat
  24. http://en.wikipedia.org/wiki/Paranoia
  25. Damage Over Time atau biasanya melukai musuh dengan mengurangi Hpnya sedikit demi sedikit
  26. tanker adalah pemain dengan pertahanan sangat baik yang bertugas menahan serangan sehingga player lain dapat menyerang target
  27. Player Versus Player atau sistem dimana player bisa melawan player lainnya