Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 4 Bab 5

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 5[edit]

"Achoo!"

Lyfa, seorang gadis swordman dari ras Sylph, dengan cepat menutupi mulutnya dengan kedua tangan setelah mengeluarkan bersin yang bagaikan ledakan dan tidak wajar bagi seorang gadis.

Dia memandang menghadap pintu masuk kuil, takut bila dewa-jahat mendengar bersinnya dan meyodok wajah besarnya masuk.

Untungnya, satu-satunya yang melayang masuk hanyalah salju. Salju yang jatuh mendekati nyala api lalu menjadi kepulan uap dan menghilang. Lyfa meringkukkan badannya di dinding belakang sambil mengelus kerah bulu tebal di mantelnya.

"Haa..."

Sambil menghela nafas, Lyfa mulai menghangatkan dirinya di dekat nyala api. Dia merasa lebih nyaman dan dengan segera mendapati dirinya terkantuk-kantuk untuk tidur.

Di kuil batu kecil dimana mereka berada memiliki panjang, lebar dan ketinggian sekitar empat meter. Dinding dan langit-langitnya dihiasi dengan relief monster menakutkan yang seolah-olah bergerak di cahaya api; Ini bukanlah interior yang paling menyamankan. Tatapannya lalu beralih ke samping menangkapi bayangan temannya bersandar di dinding dan mulai tertidur. Wajahnya yang tenang---atau nekat--- mengangguk atas bawah seperti kapal yang terapung-apung di pelabuhan.

"Hei, bangun-"

Sambil berbisik, Lyfa menarik telinga Kirito yang runcing dan menunjuk. Jawabannya hanyalah gumaman yang terdengar seperti "munyamunya". Di pangkuannya terdapat pixie navigator yang tertidur pulas sambil meringkuk seperti bola.

"Hei, kalau kamu jatuh tertidur akan log-out sendiri!"

Lyfa menarik telinga Kirito sekali lagi. Hal ini membuat kepala Kirito berpindah ke paha Lyfa. Kepalanya lalu berguling-guling seolah-olah mencari posisi yang nyaman.

Tubuh Lyfa menegang sebal, tangannya mengepal sia-sia saat ia berpikir metode apa lagi yang harus dicobanya untuk membangunkan Kirito.

Tidak mengherankan kalau Kirito jatuh tertidur. Lyfa baru sadar setelah ia melihat ke kanan bawah bidang penglihatannya. Sekarang sudah lewat jam 2:00 pagi di dunia nyata. Biasanya, Lyfa sudah log-out dan tertidur nyenyak di tempat tidurnya.

Itu benar, Jötunheimr dan ALfheim adalah dunia hasil produksi dari sebuah perusahaan game. Di suatu tempat di dunia nyata, di kota metropolitan Tokyo Jepang, terdapat mesin server dan di dalam mesin itulah dunia ini ini berada. Lyfa dan temannya berwujud di sini sebagai manusia yang menggunakan mesin interface FullDive bernama <<AmuSphere>>.

Sebenarnya cukup mudah meninggalkan virtual world. Cukup dengan menjulurkan jari telunjuk dan jari tengah di tangan kirinya dan lalu melambaikannya untuk membuka menu game. Setelah itu tekanlah tombol <<Log Out>>. Atau anda bisa berbaring dan tertidur; Amusphere akan merasakan menurunnya tingkat aktivitas gelombang otak pengguna dan secara otomatis memutuskan sambungan. Keesokan harinya pengguna akan bangun dengan nyaman di tempat tidur mereka sendiri.

Namun, ada alasan tertentu kenapa Lyfa dan temannya ini tidak boleh tertidur di sini.

Akhirnya, Lyfa memutuskan tindakan nakalnya. Lyfa mengepalkan tangan dengan tangan kirinya dan dengan tajam mencatuk kepala Kirito yang berambut hitam dan berduri.

Whoosh! Seiring dengan ledakan suara yang menyegarkan, cahaya kuning yang menandai serangan peluru sihir diaktifkan. Kirito lalu membuat suara kaget yang aneh dan langsung terduduk dengan tegak. Sambil memegang kepalanya yang sakit dengan kedua tangannya, ia memandang sekeliling dan melihat Lyfa yang tersenyum.

"Selamat pagi, Kirito-kun."

"...Oh, selamat pagi."

Teman Lyfa adalah seorang pendekar Spriggan. Dia agak berkulit gelap, berambut hitam dan jika bukan untuk ekspresinya yang depresi, kemungkinan bisa salah kenal untuk seorang pahlawan dalam manga shounen.

"...Aku, Aku tertidur?"

"Dan kamu bahkan mendapatkan bantal pangkuan gratis, kamu harus bersyukur dilepaskan dari ini hanya dengan satu pukulan kecil."

"...Jadi aku tidak sopan, sebagai permintaan maaf, kamu dapat menggunakan pangkuanku sebagain bantal kalau kamu ingin, Lyfa..."

"Tidak perlu!"

Lyfa berpaling dengan cepat, mengalihkan lirikan menyamping ke Kirito.


"Jangan mengatakan hal bodoh---apa kamu bermimpi sebuah ide bagus untuk melarikan diri?"

"Ngomong soal mimpi, aku baru saja bermimpi memakan puding yang tampaknya lezat dengan sampingan seporsi besar es krim."

Berpikir dirinya bodoh untuk bertanya, bahu Lyfa merosot ke bawah dan berbalik ke arah pintu masuk kuil. Salju menari di atas angin yang bertiup melalui kegelapan, tetapi tidak ada yang bergerak.

Itu dia---alasan kenapa mereka tidak log out. Kirito, Lyfa dan Yui, yang tertidur di pangkuan Kirito, terjebak di Jötunheimr tanpa bisa kabur keluar ke permukaan.

Tentu saja, jika mereka hanya ingin meninggalkan permainan, itu dengan mudah memungkinkan. Tetapi, kuil ini bukanlah zona aman atau tempat penginapan. Jadi, jika mereka ingin kembali ke realitas sekarang, tubuh virtual mereka akan ditinggal di sini tanpa jiwa untuk jangka beberapa waktu. Tubuh virtual yang ditinggalkan cenderung menarik perhatian monster dan tubuh mereka yang tak berdaya tersebut akan dihancurkan sampai tidak tersisa apa-apa. Hal itu menyebabkan <<Kematian>> mereka dalam waktu singkat. Mereka kemudian akan kembali ke <<Sylvian>>. Jika itu terjadi maka apa makna perjalan mereka ke sini dari wilayah Sylph.

Tujuan dari perjalanan Lyfa dan Kirito adalah untuk mencapai pusat kota ALfheim: <<Aarun>>.

Mereka meninggalkan Slyvian sebelum hari ini ---- kemarin malam tepatnya. Setelah melewati kawasan hutan luas dan kemudian melalui serangakaian terowongan pertambangan, mereka disergap oleh sekelompok Salamander. Setelah mengalahkan mundur serangan musuh, mereka lalu bertemu dengan Penguasa Sylph Sakuya, yang berterima kasih dan lalu pergi. Peristiwa-peristiwa kemudian mulai menenangkan diri beberapa waktu lamanya setelah sekitar jam 1:00 pagi.

Pada waktu tersebut, Lyfa dan Kirito sudah FullDive selama delapan jam terus menerus, dikurangi dengan waktu yang dibutuhkan untuk istirahat ke kamar mandi. Dengan situasi dimana Aarun tidak terlihat dan sejujurnya masi jauh, mereka memutuskan untuk berhenti di desa pertama yang mereka temukan lalu log off. Tepat pada saat itu, kedua pasangan melihat desa di tengah hutan dan sambil bersorak pada keberuntungan mereka, kemudian mendarat di dalamnya.

Pada saat itu, meskipun itu akan menjadi merepotkan, mereka seharusnya memeriksa peta untuk memastikan nama desa dan jika ada tempat penginapan. Siapa yang bakal mengira...

"...Siapa yang bakal kira kalau desa itu adalah monster peniru...."

Kirito, yang tampaknya sedang mengingat hal yang sama, mendesah. Lyfa juga mendesah dan mengangguk.

"Itu benar...Siapa yang mengatakan tidak ada monster yang muncul di Dataran Tinggi Aarun?"

"Aku yakin itu kamu."

"Aku tidak ingat mengatakan hal seperti itu."

Dengan olok-olokan yang tidak berguna, mereka mendesah lagi pada saat bersamaan.

Setelah mendarat di desa misterius, mereka tidak melihat warga desa---para NPC---pada saat mereka melihat sekeliling desa. Masih berpikir bahwa paling tidak seharusnya ada pemilik sebuah penginapan, mereka pergi memasuki gedung terbesar di desa ketika...

Semua tiga bangunan di desa runtuh. Apa yang dulunya penginapan dengan segera mengungkapkan sebuah benjolan berdaging. Namum, mereka tidak punya waktu untuk dikejutkan ketika lantai di kaki mereka terbelah dan menjadi lubang menganga yang terbuat dari subtans berdaging yang sama. Ini adalah seekor jenis monster cacing tanah yang menunggu di bawah tanah dengan lipatan yang diproyeksikan di atas tanah untuk menarik mangsa.

Kirito, dengan Yui di sakunya, dan Lyfa ditarik ke dalam mulut cacing tanah oleh isapan yang kuat. Saat meluncur ke bawah tenggorokan cacing, Lyfa yakin bahwa kematian dengan cara dilarutkan oleh pencernaan cacing tanah adalah kemungkinan kematian terburuk yang ia alami dalam pengalamannya bermain ALO selama setahun.

Keberuntungan mereka tampaknya baik karena monster cacing tanah itu sepertinya tidak memiliki perut. Tur mereka di saluran pencernaannya berlangsung selama tiga menit sebelum mereka dikeluarkan dari ujung pantat cacing tersebut. Lendir yang menutupi tubuh Lyfa memberinya rasa jijik dan membuatnya merinding. Saat Lyfa mencoba memperlambat jatuhnya dengan menggunakan sayap, ia mulai panik.

Dia tidak bisa terbang. Tidak peduli betapa banyaknya kekuatan yang ia masukkan ke tulang belikatnya, dia tidak bisa mengepakkan sayapnya. Lurus ke bawah kegelapan mereka jatuh, dengan Kirito di belakangnya, dan dengan keras, mereka mendarat di timbunan salju tebal.

Lyfa-lah yang pertama pulih dan berjuang keluar dari timbunan salju dan setelah melihat ke atas, dia tidak melihat bulan dan bintang, tetapi kanopi dari batu yang memanjang sejauh yang bisa ia lihat. 'Tidak heran aku tidak bisa terbang, kita berada di gua,' Lyfa berpikir sambil memeriksa sekelilingnya.

Sambil terus melihat sekelilingnya, sebuah bentuk aneh muncul di dekat timbunan salju di mana mereka pertama kali jatuh. Tidak diragukan lagi, itu adalah <<monster jenis dewa-jahat>>, yang ia pernah lihat sebelumnya di gambar.

Di sampingnya, Kirito menjulurkan kepalanya keluar dari salju. Sebelum ia mengatakan sesuatu, Lyfa dengan cepat menutupi mulutnya Kirito, memahami situasi mereka yang benar-benar buruk. Mereka berada di dunia bawah tanah tak berujung, «Jötunheimr», medan paling menyulitkan di ALO. Dengan kata lain, monster cacing tanah raksasa tadi bukanlah perangkap untuk menangkap mangsa untuk dimakan, tetapi untuk membawa pemain ke dunia es ini.

Monster Dewa-Jahat berkaki banyak ini yang setinggi hampir lima lantai akhirnya berpindah. Kelompok Lyfa yang kemudian menemukan kuil ini untuk bersembunyi dan merenungkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Sayangnya, tidak ada cara mudah dan cepat untuk keluar dari sini ketika penerbangan dilarang. Mereka telah melihat ke api unggun sambil duduk dengan punggung mereka di dinding selama sekitar satu jam, yang membawa semua hal yang terjadi hingga saat ini.

"Yah...sebelum aku membuat rencana untuk keluar dari sini, aku perlu tahu tentang Jötunheimr mengingat kembali bahwa aku memiliki pengetahuan nol tentang tempat ini..."

Kirito akhirnya berhasil mengusir kantuknya, lalu melihat keluar ke dalam kegelapan dengan mata hitamnya yang tajam dan berbicara.

"Memang, sebelum ke sini, Penguasa Sylph mengatakan sesuatu ketika aku menyerahkan koin. 'Aku pikir untuk mendapatkan uang sebanyak ini, kamu perlu berburu monster dewa-jahat di Jotunheimr,' atau sesuatu seperti itu."

"Ah, ya, dia mengatakan itu."

Lyfa mengangguk, mengingat kembali hal itu.

Sebelum mereka ditelan cacing, Kirito dan Lyfa telah bertemuan dengan Penguasa Sylph dan Penguasa Cait Sith di konferensi mereka dan berjuang melawan pasukan musuh Salamander yang menyerang mereka dengan kejutan. Setelah itu, Kirito memberikan jumlah uang yang banyak kepada penguasa yang sama ketika ia mendengar bahwa mereka kekurangan dana. Saat mereka menerima dana tersebut, Penguasa Sylph Sakuya memberi beberapa pernyataan yang menyerupai itu.

"...Bicara tentang hal itu, Kirito-kun, kamu mendapatkan uang sejumlah itu dari mana?"

Pertanyaan tidak terduga itu menggelincirkan kereta pikiran Kirito dan menyebabkan kata-katanya tersandung.

"Itu, ahh, beberapa orang yang aku kenal memberikannya kepadaku. Mereka dulunya sering bermain game ini, tetapi sekarang mereka telah berhenti bermain..."

"Yah, kalau kamu mengatakan demikian...baiklah"

Itu adalah cerita yang cukup umum. Seorang pemain yang mulai pensiun dari game, memberikan uang dan perlengkapannya kepada teman atau kenalannya. Lyfa memutuskan untuk memercayai cerita itu dan kembali ke pembicaraan semula.

"Lalu apa masalahnya? Ada apa dengan pernyataan Sakuya?"

"Begini, jika seorang penguasa mengatakan hal seperti itu, jadi seharusnya ada pemain yang berburu disini kan?"

"Harusnya ada beberapa."

"Jadi, disamping cacing tanah raksasa itu yang bertindak sebagai perjalanan satu arah, harusnya ada cara lain untuk masuk dan keluar dari sini."

Setelah akhirnya memahami apa yang Kirito maksud, Lyfa mengangguk setuju.

"Sepertinya ada...tapi seperti kamu, ini juga pertama kalinya aku pernah di sini jadi aku belum pernah ke sana. Di kota Aarun ada ruang bawah tanah besar ke Timur, Barat, Selatan dan Utara dan masing-masing memiliki lantai terbawah yang seharusnya memiliki tangga menuju Jötunheimr. Lokasinya harus berada di..."

Lyfa mengeluarkan tampilan menu dengan tangan kirinya dan membuka peta. Dia bisa melihat Jotunheimr yang tampaknya bundar dengan segala sesuatu di sekitarnya. Yang tidak berada di peta adalah lokasi mereka saat ini yang berwarna abu-abu karena belum pernah ada sebelumnya. Lyfa menyentuh peta dengan jari telunjuk kanannya,menunjukkan titik di atas, bawah, kiri dan kanan.

"Mereka seharusnya berada di sini, sini, sini dan sini. Kita sekarang berada di kuil antara dinding pusat dan dinding barat daya sehingga tangga terdekat seharusnya berada di Selatan atau Barat. Tapi..."

Lyfa merosotkan bahunya sebelum mengatakan pernyataan berikunya.

"Semua tangga ruang bawah tanah akan ada penjaga kelas dewa-jahat menunggu di sana."

"Mereka para dewa-jahat, seberapa kuatkah mereka?"

Lyfa tampak tidak percaya pada Kirito sebelum menjawab pertanyaanya.

"Tidak peduli sekuat apa dirimu, kali ini tidak akan cukup. Rumor mengatakan saat tempat ini pertama kali dibuka, Salamander mengirim pasukan besar masuk. Mereka semua dihancurkan oleh monster kelas dewa-jahat pertama yang mereka hadapi. Jendral Eugene, yang bahkan kamu berjuang untuk lawan, tidak bertahan lebih dari sepuluh detik saat menantangnya."

"...Itu benar-benar sesuatu..."

"Untuk berburu di sini, kamu harus mempunyai pemain-pemain berlengkapan berat pakaian berlapis baja sebagai perisai manusia, penyerang berkekuatan tinggi. dan sedikitnya delapan pemain yang berfokus pada dukungan dan pemulihan. Kita adalah dua pemain swordman bersenjata ringan; sebelum kita bisa melakukan sesuatu kita akan diinjak-injak sampai rata dan terbunuh."

"Aku ingin menghindari itu."

Kirito mengangguk, tetapi sebelum mendengar tentang tantangan seperti itu tampaknya ada sesuatu yang membuatnya bersemangat sampai bahkan lubang hidungnya buka-tutup. Lyfa yang melihat ini memastikan untuk menambahkan peringatan lainnya.

"Tetapi sebelum itu, ada kemungkinan 99% kita tidak akan mencapai tangga. Berlari sejauh itu akan menarik perhatian dewa-jahat dan kita akan mati sebelum dapat menarget mereka.

"Begitu...dan kita tidak dapat terbang di sini."

"Ya. Untuk mengembalikan kekuatan penerbangan, kita akan membutuhkan sinar matahari atau sinar bulan. Tetapi seperti yang kamu lihat, tidak ada satupun dari cahaya itu ada di sini. Satu-satunya pengecualian adalah player Imp yang dapat terbang sedikit di bawah tanah..."

Di sini, kata-katanya terputus dan mereka melihat sayap satu sama lain. Sayap hijau gelap Sylph Lyfa dan sayap abu-abu Spriggan Kirito telah kehilangan cahaya mereka dan melayu. Satu-satunya yang menandai mereka sebagai peri adalah telinga mereka yang runcing menunjuk karena mereka tidak bisa terbang.

"Jadi harapan kita yang terakhir adalah untuk bertemu dengan salah satu tim berburu dewa-jahat berskala besar yang Lyfa sebutkan sebelumnya dan mencari kembali jalan keluar ke permukaan."

"Kedengarannya benar."

Lyfa mengalihkan tatapannya le luar kuil kecil ini dan mengangguk.

Menembusi kegelapan biru tipis, melewati hutan luas bersalju dan es, berdirilah sebuah bangunan seperti benteng. Tentu saja, tempat itu dikuasai oleh Bos Monster kelas dewa-jahat terkuat dan anak buahnya; mendekati tempat itu akan berarti kematian yang tidak menyenangkan. Jadi tidak ada pemain lain yang dapat ditemukan di daerah tersebut.

"Jötunheimr menggantikan ruang bawah tanah di permukaan sebagai tingkat level tersulit yang baru ditambahkan. Jadi, jumlah kelompok yang ke bawah sini untuk berburu kurang dari sepuluh. Kemungkinan mereka datang ke kuil ini dengan tidak sengaja lebih rendah dibandingkan kita mengalah monster kelas dewa-jahat sendirian."

"Jadi ini kemungkinan akan menjadi uji keberuntungan kita."

Kirito tersenyum lemah, lalu menggunakan jari telunjuk kanannya untuk menyodok kepala gadis setinggi hampir sepuluh sentimeter yang tertidur di pangkuannya.

"Hei Yui...bangun."

Setelah mengedipkan matanya yang disertai dengan bulu matanya yang panjang dua tiga kali, tubuh kecilnya yang ditutupi dengan gaun pink tiba-tiba melonjak. Dia meletakkan tangan kanannya ke pipinya, meregangkan lengan kirinya tinggi ke atas dan menguap lebar. Gerakan ini begitu indah sehingga Lyfa hanya bisa menatap dengan kagum.

"Fuwaaa...Selamat pagi Papa, Lyfa-san."

Peri kecil ini menyambut mereka dengan suaranya yang indah seperti lonceng. Kirito kemudian berbicara kepadanya dengan suara yang sangat lembut.

"Selamat pagi, Yui. Sayangnya, sekarangnya masih malam dan kita masih berada di bawah tanah. Maaf untuk menganggumu tetapi apa kamu bisa mencari pemain lain di sekitar kita?"

"Baiklah, aku paham. Tunggu sebentar..."

Yui mengangguk kepalanya dan menutup matanya.

Nama resmi dari peri kecil ini, Yui, yang dibawa oleh Kirito berkeliling adalah <<Pixie Navigasi>>. Selama pemain membayar sejumlah biaya tambahan, mereka bisa memanggil pixie dari tampilan menu. Tetapi dari apa yang didengar oleh Lyfa, pixie navigasi seharusnya hanya bisa memberi informasi dasar yang sistem anggap relevan. Mereka juga seharusnya berbicara dengan suara sintetis dan tidak memiliki emosi. Lyfa belum pernah mendengar pixie dengan kepribadian atau bahkan dengan nama.

'Jika kamu terus-menerus memanggil pixie navigasi yang sama dalam jangka waktu yang lama, apa itu akan membuatnya ramah?' pikir Lyfa sambil menunggu balasan Yui.

Ketika Yui membuka matanya, telinganya terkulai dalam kekecewaan dan dia menggelengkan rambutnya yang berkilauan dan panjang sehitam gagak.

"Maaf, aku tidak dapat melihat respon yang menunjukkan pemain lainnya di kisaran koleksi dataku. Sebelum itu, jika aku bisa lebih cepat sadar tentang desa itu tidak terdaftar di peta..."

Melihat peri kecil itu menundukkan kepalanya dengan sedih dari tempat dia bertengger di lutut kanannya Kirito, Lyfa menggunakan ujung jarinya untuk mengelus kepala Yui dengan lembut.

"Tidak, itu bukan salahmu, Yui-chan. Saat itu aku memintamu untuk memperingati kamu dari pemain terdekat sebagai prioritas utama. Jadi janganlah bersedih."

"...Terima kasih, Lyfa-san."

Melihat mata Yui yang lembab, Lyfa merasa sulit untuk percaya kalau peri kecil ini hanyalah potongon sederhana dari kode program. Dia tersenyum dari hatinya, menyentuh wajah Yui sedikit dan mengalihkan perhatiannya kembali ke Kirito.

"Yah, karena telah terjadi, yang bisa kita lakukan sekarang hanya mencoba sebaik mungkin."

"Coba...coba apa?"

Kirito hanya bisa mengedipkan matanya kebingungan ke arah Lyfa yang sedang tersenyum tanpa kenal takut.

"Aku hanya ingin mencobanya---apakah kita berdua bisa mencapai tangga menuju permukaan. Duduk-duduk di sini hanya akan membuang waktu."

"Tapi, tapi, kamu kan yang mengatakan kalau itu mustahil..."

"Aku mengatakan bahwa itu 99% mustahil. Tapi aku ingin mengambil risiko kemungkinan 1% itu. Selama kita mengetahui gerakan dewa-jahat dan menghindari pandangan mereka, gerakan maju yang hati-hati seharusnya memungkinkan."

"Lyfa-san, kamu menakjubkan!"

Yui menepuk tangannya dan Lyfa menanggapi itu dengan mengedipkan salah satu matanya sebelum berdiri.

Namun, Kirito menggenggam lengan Lyfa dan menariknya kembali.

"A-Apa?"

Lyfa jatuh kembali ke tempat duduknya. Dia mulai memprotes, tetapi mata gelap Kirito yang melihat dirinya dari dekat menenangkannya. Selagi ia membalas tatapannya, Kirito yang biasanya santai kali ini memanggilnya dengan nada tegas.

"Tidak, kamu harus log out sekarang. Aku akan melindungi avatarmu sampai ia menghilang."

"Eh?! Ke-Kenapa?"

"Sekarang sudah jam setengah tiga. Bukannya kamu mengatakan kalau kamu seorang siswi? Hari ini kamu sudah berada dalam keadaan FullDive selama delapan jam berturut-turut demi diriku. Aku tidak bisa membiarkanmu berada di sini lebih dari itu."

"..."

Komentar Kirito yang tiba-tiba membuat Lyfa terdiam mencari kata-kata yang tepat, tetapi Kirito hanya melihatnya dan dengan tenang terus berbicara.

"Bahkan jika kita terus berjalan, kita tidak tahu berapa lama ini semua akan berlangsung. Jika kita menghindari jangkauan deteksi monster, itu akan menambah jarak perjalanan. Bahkan jika kita mencapai tangga, itu akan terjadi sekitar pagi hari. Aku mempunyai alasan untuk pergi ke Aarun, tetapi hari ini adalah hari kerja/sekolah, jadi aku pikir kamu lebih baik log out."

"Tidak, aku akan baik-baik saja. Hanya satu malam begadang..."

Memaksa tersenyum, Lyfa menggelengkan kepalanya.

Kirito melepaskan genggamannya dari lengan Lyfa, menundukkan kepalanya lalu berkata untuk akhirnya.

"Terima kasih telah datang sejauh ini denganku, Lyfa. Jika bukan karenamu, aku kemungkinan akan mengambil beberapa hari untuk mengumpulkan informasi. Berkat kamu, aku hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk ke sini. Tidak peduli sebanyak apa aku mengucapkan terima kasih ke dirimu tidak akan cukup."

"..."

Lyfa tidak dapat melawan rasa sakit yang muncul di dadanya dari kometar-komentar mengejutkan ini. Dia hanya dapat mengepalkan tangannya dengan sia-sia.

Lyfa tidak yakin mengapa kata-kata ini menyakiti hatinya begitu dalam, tetapi mulutnya kemudian bergerak dengan sendiri dan dengan kasar mengatakan.

"...Aku tidak melakukan ini hanya untukmu."

"Eh?"

Kirito mengangkat wajahnya. Lyfa menghindari kontak mata dengan Kirito dan melanjutkan dengan suara keras.

"Aku...Aku ingin mengikutimu, itulah mengapa aku sekarang berakhir di sini. Aku berharap kamu mengerti setidaknya. Apa-apaan ini tentang perjalanan paksa? Apa kamu berpikir aku benci datang sejauh ini ke sini denganmu?"

Emosinya yang meledak-ledak terdeteksi oleh AmuSphere, dan ia mencoba membuat air mata menutupi matanya---Lyfa terpaksa mengedipkan matanya dengan cepat untuk membersihkannya. Untuk menghindari tatapan panik dari wajah Yui diantara dia dan Kirito, Lyfa berbalik menghadapi pintu masuk kuil dan berdiri.

Sword Art Online 4 - 027.jpg

"Aku...pikir kalau petualangan hari ini adalah yang terbaik yang pernah aku alami selama aku bermain di ALO. Ada begitu banyak hal yang menarik. Akhirnya aku juga mulai berpikir kalau dunia ini adalah kenyataan lain, aku baru mulai percaya!"

Lyfa mengusap matanya dengan tangan kanannya dan baru hendak pergi keluar ketika tiba-tiba---

Sebuah suara aneh dan besar yang bukan guntur atau gempa terdengar dari jarak dekat.

"BORURURURU!" Raungan itu, tidak salah lagi berasal dari mulut seekor monster raksasa.

Akibatnya, tanah mulai bergetar dan ada suara gemuruh langkah kaki.

'Oh tidak! Teriakanku yang sebelumnya pasti telah menarik perhatian dewa-jahat! Aku sangat bodoh! Bodoh!' Sambil menyalahkan dirinya di dalam pikiran, Lyfa dengan cepat memutuskan untuk menjadi umpan monster tersebut dengan berlari.

Kirito menginterupsinya dengan meraih pergelangan tangan kirinya Lyfa. Lyfa sendiri bahkan tidak tahu Kirito telah berada di belakangnya. Genggamannya yang kuat mencegah Lyfa lari ke sana.

"Lepaskan aku! Aku akan menarik perhatian musuh dan kamu gunakan kesempatan ini untuk keluar dari sini..."

Lyfa mendesak Kirito dengan suara rendah, tetapi Kirito menangkap sesuatu dan mengingatkan Lyfa.

"Tidak, tunggu. Ini agak aneh."

"Aneh apanya..."

"Bukan hanya ada satu."

Setelah mendengar ini, Lyfa mendengar dengan cermat; Memang benar, ada dua raungan dewa-jahat. Satunya adalah suara mesin raksasa yang menghasilkan suara bas rendah, tetapi yang satu lagi seperti campuran suara seruling kayu. Lyfa menahan nafasnya, lalu mengibaskan tangannya dari genggaman Kirito.

"Kalau ada dua itu bahkan lebih buruk! Jika keduanya menyasarimu, semua akan terlambat! Setelah kamu mati, kamu akan mengulang dari Sylvain lagi!"

"Tidak, bukan itu maksudku, Lyfa-san!"

Teriakan kecil itu berasal dari Yui, yang terduduk di bahu Kirito.

"Kedua monster dewa-jahat dekat sini...mereka sedang bertarung satu sama lain!"

"Eh?!"

Lyfa dengan cepat menutup matanya dan berkonsentrasi mendengar. Benar, raungan gemuruh jejak kaki itu tidak terdengar seperti berpacu pada garis lurus tetapi melainkan seperti bergerak tidak beraturan.

"Te...Tetapi, monster berkelahi satu sama lain, bagaimana..."

Lyfa bergumam kagum, lupa total dengan kesedihan yang ada di hatinya. Kirito sepertinya telah memutuskan sesuatu dan berbicara.

"Mari kita pergi dan lihat. Apalagi kuil ini bukan area aman."

"Benar juga."

Lyfa mengangguk dan menaruh tangannya di gagang katana di pinggangnya, lalu mengikuti Kirito keluar dari kegelapan yang penuh dengan tarian salju.

Setelah berlari beberapa langkah, suara berisik mengungkapkan dua monster dewa-jahat. Mereka dengan pelan mendekat dari sisi timur, gerakan mereka seperti getaran gunung kecil. Hampir setinggi dua puluh meter, kedua monster itu unik dengan warna biru-keabuannya.

Setelah melihat dengan dekat, kedua monster kelas dewa-jahat berbeda dalam ukuran. Yang mengeluarkan suara "BORURURU!" adalah yang paling besar dari mereka, sekitar dua kali lebih tinggi dari monster lainnya yang membuat suara kicauan "Hyuruhyuru!".

Monster yang lebih besar berbentuk samar-samar seperti manusia tetapi ia mempunyai tiga wajah berjejer vertikal dan empat lengan. Kedua lengannya berada di dua sisi masing-masing---itu dapat disebut raksasa. Setiap sudut wajahnya memberi kesan dewa berhala. Setiap wajah masing-masing mengeluarkan tangisannya, ketiganya dengan bersama membuat suara "BORURURU" yang terus menerus seperti mesin. Di setiap 4 tangannya, terdapat pedang yang tampaknya seperti gelagar baja yang besar, dengan bilahan berat yang diayunkan seolah-olah ringan.

Sebaliknya, lebih sulit untuk memahami monster kecil yang satunya lagi. Telinga besar, belalai panjang seperti gajah dan tubuh seperti bakpao yang didukung oleh dua puluh kaki bercakar seperti kait. Kesan keseluruhannya adalah ubur-ubur berkepala gajah.

Monster ubur-ubur berkepala gajah itu memanjangkan cakar kaitnya untuk menekan raksasa berwajah tiga, tetapi keempat pedang besi itu diayunkan secepat badai kilat dan dengan mudah menahan serangan musuhnya. Cakarnya dengan sia-sia berusaha mencapai wajah raksasa. Di sisi lain, pedang raksasa tersebut dengan mudah menyakiti tubuh monster ubur-ubur, cairan tubuh yang gelap melayang pergi seperti kabut.

"Apa...Apa yang sedang terjadi..."

Lyfa berbisik kaget dan lupa total untuk bersembunyi karena takjub.

Di game ALO, pertempuran antara monster bisa terjadi tapi hanya untuk tiga alasan. Yang pertama, jika salah satu monster telah dijinakkan oleh pemain Cait Sith dengan kemampuan penjinakan tingkat tinggi; Dengan kata lain, <<hewan peliharaan>>. Kedua, jika Puca memainkan melodi yang menyebabkan status bingung atau gelisah ke monster. Dan yang ketiga adalah ketika salah satu monster dihipnotis oleh sihir ilusi dan dipaksa untuk bertempur.

Di pertempuran yang terjadi di depan mereka, tidak salah satupun memungkinkan. Jika salah satu monster adalah hewan peliharaan, kursornya seharusnya berwarna kuning-kehijauan. Tetpi kedua monster dewa-jahat mempunyai kursor kuning. Tidak ada musik yang bisa didengar dari gemuruh tanah dan teriakan yang memenuhi udara. Dan juga, tidak ada efek cahaya yang diakibatkan oleh sihir ilusi yang hadir.

Tampaknya kedua monster dewa-jahat tidak mengetahui keberadaan kelompok Lyfa dan melanjutkan pertarungan sengit mereka. Namun, raksasa berwajah tiga itu tampaknya memiliki keuntungan, sedangkan gerakan ubur-ubur berkepala gajah itu tampaknya melamban. Akhirnya, dengan ayunan pedangnya, raksasa itu memotong salah satu kaki bercakar ubur-ubur tersebut. Kakinya jatuh ke tanah dekat Lyfa dengan dampak tanah bergetar.

"Hei, bukankah tampaknya sedikit berbahaya berada di sini...?"

Kirito berbisik di sampingnya. Lyfa mengangguk tetapi tidak bisa menggerakkan dirinya. Darah dari luka ubur-ubur tersebut terpercik ke salju putih, mewarnainya hitam, dan Lyfa tidak dapat melepaskan pandangannya dari dewa-jahat berkepala gajah itu.

Luka monster ubur-ubur tersebut memaksanya berteriak nyaring selagi mencoba kabur. Raksasa itu tidak akan membiarkannya pergi, namun mengayun pedang besinya dengan lebih kuat lagi ke tubuh ubur-ubur itu. Tidak tahan dengan tekanan itu, ubur-ubur itu berteriak selagi berusaha meringkuk ke tanah, teriakannya perlahan-lahan melemah. Raksasa itu tetap mengayun pedangnya tanpa ampun, mengukir luka kejam di kulit abu-abu ubur-ubur tersebut.

"...Selamatkan dia, Kirito-kun."

Mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya, Lyfa terkejut dengan dirinya sendiri. Ekspresi dari wajah Kirito tiga kali lebih mengejutkan darinya. Menatap Lyfa dan kedua monster dewa-jahat, Kirito menanyai Lyfa dengan suara bingung.

"Yang mana?"

Memang, dibandingkan dengan raksasa berwajah tiga, ubur-ubur itu lebih aneh bentuknya. Tapi dalam situasi ini, tidak perlu ragu-ragu.

"Tentu saja monster yang sedang disakiti."

Lyfa menjawab langsung, tetapi Kirito menjawab dengan pertanyaan yang wajar.

"Gimana?"

"Uhm..."

Lyfa menjawab tanpa respons. Sebagian besar karena fakta bahwa dia tidak memiliki ide untuk melakukan itu. Selama periode keraguan Lyfa, lebih banyak luka muncul di belakang punggung biru-keabuan dewa jahat berkepala gajah tersebut.

"...Kirito-kun, lakukan sesuatu!"

Lyfa menangis sambil menggengam kedua tangan ke dadanya. Pemuda Spriggan itu tidak melakukan apa-apa selain menggaruk rambut hitamnya.

"Meski kamu bilang itu..."

Tiba-tiba tangan Kirito berhenti bergerak dan menatap ke monster dewa-jahat lagi. Matanya menyipit sedikit, kedipan matanya mengkilap mengikuti kecepatan jalan pikiran di otaknya.

"...Bentuk seperti itu, kalau ada maknanya..."

Kirito bergumam. Kemudian ia melihat sekeliling daerah itu dan berbisik ke Yui yang sedang duduk di bahunya.

"Yui, apa ada air dekat sini? Sungai atau danau!"

Mendengar itu, pixie itu menutup matanya tanpa bertanya alasan dari Kirito dan mulai mengangguk kepalanya hampir dengan segera.

"Ada, Papa! Sekitar dua ratus meter ke utara ada sebuah danau beku!"

"Bagus...Lyfa, larilah ke sana seperti nyawamu bergantung padanya."

"Eh...Hah?"

Sepertinya Kirito sedang membicarakan bentuk raksasa berwajah tiga dan berlengan empat tetapi apa hubungannya dengan air yang dia bicarakan?

Lyfa bingung tetapi Kirito tidak berkata apa-apa sambil membungkuk dan menarik keluar paku panjang dan gemuk dari sabuknya. 'Itu pasti pasak pelempar' pikir Lyfa meskipun tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Karena ALO mempunyai serangan sihir jarak jauh yang sangat kuat, tidak ada gunanya melatih teknik senjata dasar jarak jauh.

Namun Kirito benar-benar melakukannya. Dia memutarkan paku sepanjang dua belas sentimeter itu di atas bahunya dan menggenggam paku tersebut hanya dengan ujung jarinya.

"...Nah!"

Dengan teriakannya, lengan kanan Kirito bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat Lyfa dan paku besi itu melaju lurus dengan aliran cahaya biru...

Rudal paku itu menghantam tepat diantara mata merah-gelap bercahaya di wajah tertinggi raksasa berwajah tiga itu.

Lyfa terkejut saat ia mencermati HP bar raksasa tersebut yang menunjukkan bahwa HP-nya berkurang dengan sangat sedikit. Dengan senjata sekecil itu yang menembus pertahanan luar biasa monster kelas dewa jahat tidak dapat dilakukan tanpa teknik melempar tingkat tinggi.

Sementara dengan kerusakan seperti itu ke monster dewa jahat itu yang mempunyai HP bar tinggi, kerusakan yang dilakukannya penting sekali di sini karena---

"BORURURURU!"

Sebuah raungan amarah terdengar dari raksasa berwajah tiga itu dengan keenam matanya terfokus semua ke Kirito dan Lyfa, menandakan perubahan target dari ubur-ubur ke pemain.

"...Kabur demi nyawamu!!"

Kirito berteriak sambil berlari ke utara, menyemprotkan salju ke segala arah sambil melarikan diri dengan kecepatan tertinggi.

"Tungg-..."

Sambil menggerakkan mulutnya, Lyfa buru-buru mengikuti si Spriggan yang berlari jauh di depan. Kemudian, tepat dari belakangnya terdengar suara ranguan seperti petir dan suara sesuatu menginjak-injak tanah. Raksasa tersebut sedang mengejar mereka berdua.

"Tunggu...Tidaaaaaaaak!"

Lyfa menjerit sambil melesat kencang dengan kecepatan tinggi. Namu, Kirito sudah berlari jauh di depannya memiliki bentuk yang bahkan pelari Olimpiade akan merasa iri sambil berlari semakin jauh dan jauh dari Lyfa. Lyfa telah pernah mengalami kecepatan lari Kirito saat mereka kabur dari <<Koridor Ruger>>, tetapi ditinggali kabur sendirian adalah hal yang berbeda lagi.

"Jahaaaaat sekaliiiiii!"

Sambil menjerit dengan putus asa, suara getaran dari belakangnya terdengar semakin mendekat. Raksasa itu setinggi sekitar tiga belas kali lebih besar dibandingkan dirinya, jadi setiap langkahnya memiliki rasio yang sama dibandingkan langkah kaki Lyfa. Ketakutannya akan pedang setinggi balok beton itu mengayun ke dirinya membuat Lyfa memaksa seluruh tubuhnya ke titik batas---yaitu, sinyal gerakan pikirannya bekerja lebih cepat dalam upaya mengejar Kirito.

Tiba-tiba, di depannya, pemuda berpakaian hitam itu berhenti di kepulan awan salju. Dia berbalik dan menangkap Lyfa dengan uluran tangannya. Meskipun sedang berada dalam situasi menakutkan ini, Lyfa dapat merasakan wajahnya memanas sambil melihat ke arah belakang mereka.

Raksasa berwajah tiga itu cukup dekat dengan mereka untuk menjadi mengerikan. Raksasa itu akan mengerjar mereka dalam hitungan beberapa detik. Jika mereka dihantam oleh pedang besi raksasa itu, Kirito dan Lyfa yang berpakaian lapisan baja ringan akan kehilangan semua HP mereka dalam satu tebasan.

'...Apa yang ingin kamu lakukan!!'

Lyfa ingin bertanya pada Kirito yang sedang memeluknya mendekat erat padanya. Pada saat bersamaan...

Krak krak krak...terdengar dari tanah sambil meledak keluar.

Kaki raksasa tersebut yang sebesar batang pohon telah menembus es yang terbaring di bawah salju. Kirito telah berhenti di tengah danau beku besar yang tertutup salju. Es sebesar 15 meter mengelilingi raksasa tenggelam tersebut, mengekspos air gelap tembus pandang. Raksasa berwajah tiga itu terjun tenggelam ke danau buatannya sendiri yang menyebabkan kolom air terpancur dengan derasnya ke atas udara.

"Tenggelamlah seperti itu..."

Lyfa berkata dengan sangat memohon, tetapi solusi semudah itu tidak terjadi. Satu setengah dari wajah-wajah raksasa tersebut muncul di atas permukaan air dan perlahan-lahan mendekat. Sepertinya di bawah air itu kedua tangannya bertindak sebagai dayung; Meskipun dengan tubuhnya yang seperti batu, dia bisa berenang dengan baik. Jika Kirito bertaruh pada tenggelamnya raksasa itu, sepertinya ia kalah.

Ingin mulai berlari lagi, Lyfa berbalik hanya untuk melihat Kirito yang berdiri tidak bergerak. Dia menggenggam tangan Lyfa dengan cukup kuat untuk mengaktifkan peringatan pelecehan, tetapi Kirito tetap menatap raksasa tersebut.

"...Ah, kamu, tidak mungkin ingin..."

'Kirito ingin mati di sini'

Pikiran itu melintas di benak Lyfa.

Dia tidak mungkin ingin melakukan apa yang Lyfa ingin coba sebelumnya, yaitu mengorbankan dirinya untuk membiarkan Lyfa log out, mati dan kembali ke titik save point di ibukota Sylph, Sylvian.

Lyfa tidak dapat membiarkan itu. Kirito mempunyai alasan yang kuat untuk pergi ke Aarun, atau lebih khususnya ke <<World tree>>, setelah Lyfa mengetahuinya dari satu hari perjalanan dengan Kirito. Satu-satunya alasan pemuda Spriggan itu bermain ALO adalah untuk bertemu seseorang di puncak <<World tree>> dan dia telah melewati banyak tantangan untuk mencapai sejauh ini.

"Tidak, kamu harus kabur..."

Lyfa menangis dengan lemah sambil mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Kirito, tetapi ia diinterupsi oleh suara percikan lain.

Terkejut, Lyfa menoleh kepalanya dan melihat kolom air baru muncul di belakang raksasa berwajah tiga.

"Yururururu!" Raungan itu pasti berasal dari dewa-jahat berkepala gajah yang disiksa oleh raksasa berwajah tiga tadinya. Meskipun mereka berhasil mengusir raksasa itu darinya, dia kembali mengejar raksasa berwajah tiga daripada kabur.

Lyfa secara langsung melupakan situasinya, matanya terbuka lebar dari perasaan takjub ketika melihat-

Sambil memotong menembus air, sekitar dua puluh anggota lengannya bangkit dan melingkar di sekitar wajah dan tangan raksasa tersebut.

"BORUBORU!" Raksasa itu mengaum dengan marah, mencoba mengayun pedang besinya. Namun, mereka sudah bergerak ke dalam air dengan perlahan dan tidak dapat menebas kulit ubur-ubur itu.

"...Be-Begitu..."

Lyfa berbisik dengan suara serak.

Monster ubur-ubur berkepala gajah itu sebenarnya monster air. Ketika dia berada di darat, sebagian besar dari lengannya di butuhkan untuk mendukung tubuh berbentuk mangkuknya. Sekarang pada saat dia berada di danau, dengan tubuhnya yang mengapung di air, seluruh lengannya dipakai untuk menyerang. Di sisi lain, raksasa itu membutuhkan kedua tangannya untuk berenang, yang mengakibatkan kurangnya kekuatan serangannya sampai 50%.

<<Bentuk>> yang Kirito bicarakan sebelumnya mengacu pada ubur-ubur itu. Menyadari bahwa itu adalah hal yang alami untuk seekor ubur-ubur berada di air, Lyfa tidak menyadari hal itu sehingga ia menggenggam kedua tangannya dengan erat. Dewa-jahat berkepala gajah itu seperti ikan berada di air, kekuatannya memaksa kepala raksasa itu ke bawah permukaan air. Pertarungan sengit kedua monster berukuran super itu menyebabkan gelombang tinggi, menyemprotkan sejumlah besar air dan es ke segala arah.

Ubur-ubur gajah itu mengaum raungan intens, tubuhnya bersinar cahaya biru-keputihan. Cahaya itu lalu berubah menjadi sengatan listrik yang mengalir melalui kedua-puluh lengannya.

"Ah..."

"Bagus!"

Kirito dan Lyfa berteriak bersamaan. HP raksasa berwajah tiga itu mulai berkurang dengan kecepatan yang luar biasa. Menggunakan teknik identifikasi, mereka bisa melihat jumlah ratusan dari ribuan HP menghilang setiap kali percikan listrik menyetrum.

Kemungkinan darah raksasa itu mendidih, tetapi beberapa kedipan cahaya merah menyala di air dengan kolom uap air menguap naik; Hal ini tidak berpengaruh kepada HP ubur-ubur tersebut. Akhirnya, frekuensi suara tangisan "BORUBORU" melambat berhenti----diikuti dengan ledakan poligon yang jumlahnya dapat menutup penglihatan Lyfa.

Lyfa mengalihkan pandangannya sejenak. Lalu setelah ia melihat kembali, ia hanya melihat satu kursor yang tertampil.

"Yurururururururu..." dengan auman kemenangannya, si ubur-ubur berkepala gajah itu mengangkat kakinya yang banyak dan menurunkannya kembali ke dalam air. Lalu ia berenang kembali dengan lancar didalam danau.

Air mengalir ke bawah seperti air terjun dari tubuhnya yang besar saat ia menyeret dirinya naik ke tepi danau. Ubur-ubur itu lalu berjalan melalui es mendekati mereka. Lyfa menahan nafasnya sambil melihat.

Dengan jejak kakinya yang bergoyang mendekati dengan suara "Don Don", ia berhenti tepat di depan Kirito dan Lyfa---Lyfa sekali lagi terpesona oleh ukuran tubuhnya yang besar. Saat bertempur melawan raksasa tadi, tentakel raksasa ini tampaknya seperti lengan yang tipis, tetapi setelah melihatnya sedekat ini dia baru sadar kalau dia tidak dapat mengelilingi tentakel itu dengan lengannya terbuka lebar. Tinggi di atas tentakel yang seperti batang pohon ini adalah tubuhnya yang bundar, tetapi hanya konturnya lah yang terlihat.

Tidak peduli bagaimana kamu melihatnya, kepalanya memang kepala gajah. Tetapi selain telinga yang menggantung di sisi wajahnya yang bundar adalah pelengkap seperti lengan yang ditutupi oleh embel-embel yang merupakan insangnya. Dibawah wajahnya yang bundar tergantung hidungnya yang sepanjang tentakelnya. Matanya agak aneh dengan tiga sisi bulatan lensa hitam-legam berdampingan. Berbaris seperti bola-nasi, mereka sebenarnya memberi ekspresi yang agak lucu.

"...Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kirito bergumam.

Lyfa memang meminta menolong monster mirip gajah ini, tetapi dia belum sempat berpikir apa yang harus mereka lakukan setelah itu. Dewa-jahat menakutkan yang berada di depan matanya mempunyai kursor kuning, menandai bahwa ia musuh dan kemungkinan dapat membunuh mereka dengan satu pijakan dari kakinya yang bercakar.

Namun, fakta bahwa monster ini belum menyerang mereka dapat berarti perkembangan yang tidak terduga. Ketika berbicara soal ruang bawah tanah yang sulit seperti Jötunheimr, adalah hal yang biasa jika monster menyerang pemain ketika mereka melihatnya. Karena ubur-ubur ini belum melakukan itu, dapat berarti ia akan meninggalkan mereka jika mereka menunggu.

Pikiran Lyfa dikhianati satu detik kemudian. Dengan suara "Yurururu", dewa-jahat ini mengulurkan belalainya yang panjang ke mereka berdua.

"Akh..."

Saat Kirito sedang memundurkan dirinya, Yui, yang tetap diam sampai sekarang, menyambar telinga Kirito dan berusaha menenangkan pemuda Spriggan ini.

"Tidak apa-apa, Papa. Anak ini tidak marah."

'...Anak?' pikir Lyfa, tetapi dia dengan segera tidak memiliki waktu untuk merenungkan pertanyaan itu lebih jauh.

Belalai panjang itu dengan lembut melingkari tubuh kedua orang itu dan mengangkat mereka naik dari tanah.

"Hieeee!"

Kirito menjerit sedangkan Lyfa terdiam. Gajah dewa-jahat ini dengan perlahan mengangkat mereka naik beberapa puluhan meter ke udara dan terlihat seperti akan memasukkan mereka ke mulutnya---untungnya sebelum hal itu terjadi, namun ia hanya menjatuhkan mereka berdua ke punggungnya.

Mereka berdua mendarat dengan pantat mereka dan terpental sekali sebelum berhenti. Dilihat dari jauh, punggung gajah ubur-ubur ini terlihat halus, tetapi setelah dilihat dari dekat punggungnya ditutupi oleh rambut keabu-abuan. Melihat Kirito dan Lyfa duduk di tengah-tengah punggungnya, gajah ubur-ubur itu sepertinya tampak puas. Hal itu membuatnya bersuara senang sebelum bergerak seperti tidak ada apa-apa yang terjadi.

"..."

Lyfa dan Kirito memandang satu sama lain sebelum gadis Sylph berhenti mencoba menganalisa situasi saat ini, memutuskan untuk dengan santai melihat pemandangan di sekitarnya.

Kerajaan gelap Jotunheimr tidak sepenuhnya gelap. Langit-langit ditutupi dengan es yang melepaskan cahaya pucat. Cahaya biru pucat menyinari pemandangan yang ditutupi oleh salju, dan meskipun tempat ini adalah daerah ultra-berbahaya, pemandangannya sangatlah indah. Sebuah kastil tua di tengah hutan hitam, tebing curam dan menara yang dibangun untuk menghubungkan dunia ini dengan dunia di permukaan. Lyfa dapat melihat semua ini dengan jelas dari tenggerannya yang berada puluhan meter dari tanah.

Ubur-ubur gajah itu berjalan dengan kedua-puluh lengannya dan setelah satu menit perjalanan di punggungnya yang bergoyah, Kirito berbisik menanyai ke rekannya.

"Jadi ini...awal sebuah quest?"

"Hmmm..."

Tampak sedikit bingung, Lyfa merumuskan jawabannya dengan tenang.

"Jika ini adalah quest, pada saat dimulai, tampilan Start-log akan muncul di daerah ini..."

Lyfa melambaikan tangan kirinya ke daerah kosong kiri atas pandangannya.

"Karena tidak ditampilkan di sini, ini jelas bukan permintaan quest. Jika memang demikian, kemungkinan sejenis event...Ini bisa menjadi sedikit merepotkan."

"Seperti apa?"

"Jika memang sebuah quest, akan selalu ada bermacam-macam hadiah akhir quest. Tetapi sebuah event lebih seperti pemain berpartisipasi dalam sebuah pentas drama---biasanya tidak selalu berakhir dengan akhir yang indah."

"...Maksudmu kita kemungkinan akan berakhir dengan salah satu akhiran tragis, kan?"

"Mungkin saja. Dulu, aku memilih pilihan yang salah di event jenis horor dan tewas di tangan seorang nenek sihir yang merebusku di pancinya."

"Game yang menarik."

Kirito tertawa dan tersenyum ketat, lalu memulai menyisir rambut tebal di bawahnya.

"...Nah, karena ini telah terjadi, kita sebaiknya tetap berada di kapal ini--tidak, maksudku ubur-ubur. Toh, bahkan jika kita meloncat dari ketinggian ini kita akan menerima damage yang cukup serius. Jadi lebih baik menumpanginya sampai selesai...Bagaimanapun juga, kemungkinan sudah terlambat..."

"A, apa?"

Lyfa memberikan tatapan bingung ke pemuda Spriggan ini. Kirito menunduk sambil menjawab.

"...Aku minta maaf untuk hal sebelumnya, Lyfa. Aku membuat ringan perasaanmu...Kemungkinan aku memandang rendah dunia ini dan tidak cukup serius menghadapinya. Ini hanyalah sebuah game...Tetapi mau ini nyata atau tidak, apa yang kamu rasakan dan pikirkan semuanya nyata, aku harusnya mengetahui itu..."

Kirito, dengan kepalanya menunduk ke bawah, mengenakan ekspresi sedih di wajahnya.

Lyfa yang menatapnya dari samping dan tidak dapat menahan perasaan déjà vu, berpikir ia pernah melihat ekspresi ini sebelumnya. Lyfa menepis perasaan itu dan menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"I, iya...aku juga meminta maaf...Kamu telah berjuang keras untuk menyelamatkan diriku dan rasku. 'ALO hanyalah sebuah game', kamu tidak akan mungkin berpikir seperti itu, aku pasti yang paling memahami itu..."

<<VRMMO-RPG>>, termasuk ALFheimOnline, adalah sebuah game bergenre baru--di suatu tempat kemungkinan mereka menguji pemain mereka. Akhir-akhir ini, Lyfa merasakan dengan kuat hal itu.

Pengujian, untuk melebih-lebihkannya, berarti bahwa ini kemungkinan adalah sbuah tantangan. Karena ini sebuah game, kamu tidak bisa selalu menang. Kadangkala perangkap dari ras bermusuhan akan menghentikanmu untuk maju ke depan, atau mereka hanya akan menyerangmu dari depan dan menghapusmu.

Pada saat itu, betapa seriusnya diri anda berjuang atau jika kamu bisa menahan dadamu dengan tinggi meskipun dalam kekalahan, game ini menguji hal itu. Di display panel datar (MMORPG Komputer), selain perintah gerakan, avatarmu tidak akan berubah sedikitpun; Kamu hanya akan mengetik kekalahanmu dengan cara apapun yang kamu inginkan. Sekarang, di keadaan FullDive, avatarmu dengan setia akan menghasilkan perasaan pemain. Bahkan memungkinkan untuk meneteskan air mata akibat malu.

Kebanyakan orang membenci menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya; Saat situasi berbalik melawan mereka sendiri, sebagian mencoba menetertawakannya, dengan cara log out saat akan dikalahkan. Bahkan Lyfa sendiri tidak ingin orang lain melihat wajahnya yang menangis kalau dia bisa.

Tetapi pemuda Spriggan misterius di depannya tidak ada hubungannya dengan proses berpikir yang disebutkan sebelumnya. Bahkan ketika terjebak oleh serangan yang memihak sisi Salamander di Koridor Ruger atau selama pertarungannya melawan Jendral Eugene dimana ia didorong mundur oleh pedang iblis, Kirito tidak pernah ragu-ragu menunjukkan amarah dan penyesalannya. Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukannya, melewati hambatan di perjalanannya dan akhirnya menang. Ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang memandang rendah dunia ini sebagai <<hanyalah permainan>>.

"...Hei, kamu..."

'Sebelum kamu tiba di sini, game seperti apa yang kamu mainkan? Orang seperti apakah dirimu sebenarnya di dunia nyata?'

Dia ingin menanyai itu, tetapi menutupi bibirnya dengan ketat. Di VRMMOs, mengajukan pertanyaan tentang kehidupan nyata seseorang adalah sesuatu yang bahkan teman terdekatmu harus menahan diri dari itu.

Kirito memiringkan kepalanya ke arah Lyfa, dia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, diam-diam mengatakan 'tidak ada apa-apa'.

"...Jadi, kita sudah memutuskan sekarang. Aku bisa berada di sini selama dibutuhkan. Absensi sekolah sudah menjadi opsi tambahan bagiku."

Selesai mengatakan itu, Lyfa menawarkan tangan kanannya. 'Baiklah' Kirito sepertinya mengatakan sambil tertawa sebelum menyalami tangan Lyfa. Lyfa terus menerus menggelengkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia kemudian menyadari Yui, yang sedang duduk di bahu Kirito sambil tertawa senang, dan membuat Lyfa menjadi semakin malu. Saat ia melepaskan tangannya, bahkan ujung telinganya pun memanas, sehingga ia memalingkan wajahnya.

Tidak peduli dengan pertukaran ketiga orang di punggungnya, dewa jahat itu terus bergerak maju dengan cepat. Melihat ke kejauhan, Lyfa langsung lupa dengan perasaannya yang memanas di wajahnya dan alisnya mengkerut.

"Apa yang terjadi?"

Oleh suara Kirito, Lyfa mengulurkan tangan kanannya dan menunjuk ke kejauhan.

"Ingat apa yang aku katakan tentang pergi ke tangga terdekat di Barat atau Selatan? Anak ini tampaknya bergerak ke arah yang berlawanan...Lihat ke sana."

Di arah yang ditunjuk oleh Lyfa, siluet raksasa mulai muncul dari kegelapan. Membentuk busuran di langit-langit Jotunheimr, sebuah struktur besar berbentuk kerucut digantung. Seperti sebuah jaring, cabangnya merajut dan menenun bersama-sama untuk menahan es yang besar di tempatnya.

Dilihat dari efek kabur dari jarak ini, setidaknya sepuluh kilometer jauhnya. Tetapi bentuknya yang besar benar-benar mengganggu indera penglihatan pemain. Beberapa poin bercahaya terjebak didalam es, memberikan ilusi mata raksasa yang berkedip dengan anggun.

"...Apa-apaan itu yang berkelok-kelok di dalam es itu...?"

"Aku hanya pernah melihatnya di sebuah foto...ini pasti akar-akarnya World tree."

"Apa...?"

Lyfa menyipitkan matanya dan mengirimkan tatapan tajam ke sosok Kirito, sebelum sempat berkomentar, dia melanjutkan:

"Akar yang menembus melalui tanah ALFheim menggantung di atap Jotunheimr. Jadi bukannya membawa kita ke ujung sisi Jotunheimr, dewa-jahat ini membawa kita langsung ke pusatnya."

"Hmm...World tree, tetapi itu kebetulan tujuan akhir kita...Jadi kalau kita memanjat akar-akarnya apakah kita bisa keluar dari sini?"

"Aku belum pernah mendengar hal itu. Apalagi, lihat sana---akar-akarnya hanya menjulur sampai pertengahan langit-langit dan tanah. Itu berarti lebih dari 200 meter dari tanah. Karena kita tidak bisa terbang di sini, ketinggian itu tidak dapat dicapai."

"Begitu..."

Setelah mendesah kecil, Kirito akhirnya tertawa tidak berdaya.

"Nah, sekarang kita hanya perlu menyerahkan semuanya ke kumbang atau bathynomous giganteus[1] Entah kita akan disambut di Dragon Palace[2] atau kita akan menjadi sarapan mereka."

"Hei, tunggu dulu. Apa maksudmu dengan bathyno-apapun itu? Harusnya kan gajah atau ubur-ubur."

Ketika Lyfa mencemberut dan kembali bertanya, Kirito hanya mengangkat alisnya atas respon tak terduga itu.

"Oh, kamu tidak tahu? Namanya yang lain adalah isopod raksasa...Ia tinggal di lautan dalam, jadi tampaknya seperti Armadilidium vulgare[3] melihat ukurannya..."

Kirito membentangkan kedua tangannya hingga sekitar ukuran memeluk. Tubuh bagian atas Lyfa bergetar sambil mengubah topik.

"Aku mengerti, mari kita memberinya nama! Nama yang lucu!"

Dengan kepala bundar dan tubuh bagian bawahnya yang penuh dengan tentakel, nama seperti gajah, nama seperti gajah...Lyfa berpikir dengan keras.

"Yuuzou'...bukan...'Zooringen'...itu juga bukan...

"Kalau begitu, Tonkii."

Kirito tiba-tiba mengatakan, yang mendapatkan tatapan kosong dari Lyfa. Itu tentu saja nama yang lucu tetapi bagaimana caranya dia memikirkan itu? -Gajah Tonkii, nama itu terdengar akrab.

Jawabannya muncul tepat dua detik kemudian setelah ia mulai mengaduk-aduk ingatannya. Ketika ia masih kecil, ia memiliki buku bergambar, dan itulah nama gajah yang ada di buku tersebut. Di bukunya, pada akhir perang panjang dulu, diberikan sebuah perintah untuk membuang semua hewan ganas di kebun binatang. Sambil menangis, si penjaga kebun binatang menaruh racun di pakan hewan, tetapi Tonkii si gajah cerdas tidak memakannya; Ia mati kelaparan sambil menerima sorakan mengulang, itulah plot ceritanya. Setiap kali ibunya menceritakan bagian itu, dia tidak bisa menahan tangisannya.

"...Aku rasa nama itu tidak akan membawa kita keberuntungan."

Lyfa berbisik, Kirito juga menganggukkan kepalanya dengan ekspresi meminta maaf di wajahnya.

"Mungkin saja begitu, tetapi itulah hal pertama yang muncul di pikiranku."

"Oh, jadi kamu tahu buku bergambar itu juga. Yah, baiklah. Kita gunakan nama itu."

Lyfa menepuk tangannya, lalu menepuk rambut pendek di dekat kakinya.

"Hei, dewa-jahat, mulai sekarang kamu akan dipanggil sebagain Tonkii."

Tentu saja, monster ini tidak memberikan respon, tetapi ia tidak menolak sehingga mereka berasumsi nama itu diterima. Namun, Lyfa belum pernah mendengar anggota ras Caith Sith yang menguasai teknik menjinak yang bisa membuat dewa-jahat taat. Yui, yang duduk di bahu Kirito, juga melambaikan tangannya yang kecil mengikuti Lyfa, memanggil monster yang ratusan kali lebih besar dari dirinya.

"Tonkii-san, senang bertemu denganmu! Mohon bantuannya!"

Kali ini, seolah-olah mengerti itu dengan tidak sengaja, dewa-jahat itu membuka-tutup insang di sisi kepalanya.


Si ubur-ubur gajah, yang sekarang bernama Tonkii, terus bergerak ke arah utara mengikuti sungai beku.

Lebih dari satu dua kali, mereka nyaris menghindari pertempuran dengan dewa-jahat lainnya yang berkeliaran di daerah ini. Tetapi untuk alasan yang tidak diketahui, dewa-jahat lainnya hanya melihat dari pepohonon atau bukit mereka, lalu pergi.

Mereka mungkin berpikir Lyfa dan Kirito adalah milik Tonkii, tetapi kenapa raksasa berwajah tiga itu menyerang Tonkii awalnya? Mungkin ada satu atau dua dewa jahat yang sama jenis dengan Tonkii, tetapi kebanyakan dari mereka mempunyai bentuk berbeda dari Tonkii maupun si raksasa.

Lyfa berpaling ke sisinya, ingin mendapatkan pendapat Kirito, tetapi pemuda Spriggan itu memejamkan matanya dan tampaknya mengantuk lagi. Lyfa menyiapkan tinjunya lagi dan baru ingin melaksanakan tinjuannya, dimana tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya; dia mengambil satu kepalan salju yang telah terjatuh di punggung Tonkii.

Sebelum bola salju tersebut menghilang, Lyfa dengan cepat mendorongnya ke bawah kerah hitam Kirito dan memasukkannya ke dalam punggungnya.

"Dingin!!"

Dihantam langsung oleh efek dingin, Kirito menjerit sambil melompat. Setelah mengatakan 'Selamat pagi' ke Kirito, Lyfa menanyakan keraguannya yang sebelumnya ke Kirito. Pemuda Spriggan itu kelihatan mencela untuk sementara, tapi tidak lama setelah itu ia berbicara sambil berpikir.

"...Dengan kata lain, bahkan di antara dewa-jahat, yang berbentuk manusia dan mereka yang berbentuk binatang sering bertarung dengan teratur..."

"Mungkin...Tetapi kemungkinan jenis humanoid hanya menyerang dewa jahat jenis seperti Tonkii..."

Area Jotunheimr baru ditambahkan bulan lalu sebagai bagian dari update penting, namun sebagian besar dari area itu masih belum dijelajahi karena tingginya tingkat kesulitan. Jika itu adalah semacam event, kemungkinan merekalah yang pertama untuk mengetahui eksistensi tersebut. Jika mereka hanya kelompok berburu normal yang melihat pertempuran Tonkii dengan raksasa, kemungkinan mereka hanya akan menontonnya dan setelah Tonkii tewas, mereka baru akan bertarung melawan raksasa---itulah hasil yang mereka duga.

"Yah, bagaimanapun juga hanya desainer dan Tonkii yang mengetahui bagaimana event ini akan berakhir, jadi mari kita kemana semua ini akan menuju."

Setelah mengatakan demikian, Kirito membaringkan dirinya kembali dan menggunakan tangannya sebagai bantal lalu menyilangkan kakinya. Yui terbang dari bahu Kirito dan mendarat di dadanya, lalu berbaring di posisi yang sama dengan pemuda berpakaian hitam itu. Sambil mendesah saat melihat betapa santainya mereka berdua, Lyfa memutuskan untuk membangunkan mereka dengan mantra sihir es jika mereka jatuh tertidur lagi. Melihat jam di tepi pandangannya, angka hijau pucat sudah melewati jam 3:00 pagi beberapa waktu yang lalu.

Sejauh ini, Lyfa tidak pernah berada di game melebihi jam 2:00 pagi dan apa yang berada di depannya adalah wilayah yang tidak diketahui. Lyfa dengan lembut membelai rambut-rambut pendek didekat kakinya, dengan perasaan campur aduk tentang game online yang dia mainkan sepanjang malam untuk pertama kalinya.

Dewa-jahat aneh ini, tanpa menyadari apa yang terjadi di punggungnya, tetap bergerak pada kecepatan yang sama...

Perjalanan mereka tiba-tiba berhenti di bukit yang tertutup es dan salju.

"Uwaa..."

Berpindah ke depan kepala Tonkii, Lyfa memandang ke depan dan dengan tidak sengaja tersentak kaget.

Itu sebuah lubang.

Skalanya tidak biasa. Sebuah lubang vertikal yang saking lebarnya sampai sisi jauhnya memudar menjadi kabut berwarna biru. Tebing terjal yang ditutupi salju tebal dan es yang dalam dimana terlihat tembus-pandang di atas dan dengan perlahan memudar menjadi warna biru muda, lalu dari warna biru menjadi biru nila dan menetap didalam gua gelap yang makin menjauh jika dilihat. Tetapi, tidak peduli jika mata seseorang menatap, bagian pangkalnya diselimuti kegelapan yang dalam, membuatnya terlihat tanpa dasar.

"...Aku ingin tahu apa yang terjadi jika seseorang jatuh ke sana..."

Kirito berkata dengan suara yang tertekan. Yui, yang kembali ke bahunya, menjawab dengan suara yang serius:

"Bagian dasar struktur tidak didefinisikan di data peta yang bisa kuakses."

"Wow, jadi itu benar-benar jurang maut tanpa dasar."

Kirito dan Lyfa perlahan-lahan bergerak mundur, kembali ke atas punggung Tonkii. Sebelum itu, dewa-jahat itu bergerak lagi.

'- Tidak mungkin, apa ia ingin melempar kita ke dalam lubang?!'

Lyfa menjerit di hatinya, tapi untungnya, dewa-jahat itu tampaknya tahu berterima-kasih. Ia melipat kedua-puluh kakinya dan memindahkan punggungnya horisontal sambil duduk.

Setelah beberapa detik, Tonkii akhirnya duduk di salju dengan suara jedukan keras. Yururu, ia berseru dengan suara rendah, lalu menarik masuk belalainya dan Tonkii benar-benar berhenti bergerak.

"..."

Kirito dan Lyfa melirik satu sama lain, lalu dengan hati-hati turun dari punggung Tonkii.

Setelah beberapa langkah, mereka berbalik untuk melihat ubur-ubur itu kembali, tetapi apa yang terbaring di sana bukan lagi gajah maupun ubur-ubur. Dengan tangan dan kepalanya diselipkan ke bawah tubuhnya, semua itu terlihat seperti sebuah bakpao raksasa yang diabadikan dalam salju.

"...Tonkii ini, sedang apa dia...."

Lyfa berjalan beberapa langkah maju untuk berdiri di samping Kirito, yang mengucapkan itu dengan takjub. Lyfa lalu mengetuk bulu abu-abu tebal tersebut.

"Hei, Tonkii, apa yang harus kita lakukan sekarang?!"

Tidak ada jawaban. Lyfa menepuk sisi dewa-jahat sedikit lebih keras dengan tangan kanannya dan merasakan adanya perubahan sedikit. Ketika Tonkii memberi mereka tumpangan, kulitnya seperti bantal urethane, tetapi sekarang berubah menjadi keras.

Tidak mungkin, apa dia meninggal ketika mencapai tujuannya? Sambil berpikir itu, Lyfa bergegas ke sisinya dan memaksa telinganya ke bawah bulunya. Sebuah suara bas 'boom boom, boom boom' yang samar dan terus menerus dapat didengarnya, Lyfa yang lega lalu melepaskan kepalanya dari sisi si dewa-jahat.

Dia masih hidup. Lyfa berpaling untuk melihat HP bar-nya yang telah pulih dari pertempuran dengan raksasa berwajah tiga dan sekarang telah pulih sampai penuh.

"Ini berarti...dia hanya tertidur? Ketika kita telah berjuang keras sepanjang malam?"

Lyfa cemberut, dia lalu memanjat ke punggung Tonki dan baru hendak menarik bulunya untuk balas dendam, ketika Kirito meninggikan suaranya dari belakang.

"Hei Lyfa, lihat ke atas, sungguh menakjubkan!"

"Apa...?"

Lyfa menoleh ke atas untuk melihat pemandangan, dan memang, itu adalah pemandangan yang menakjubkan.

Akar World tree dan lilitan kerucut terbalik yang mereka lihat sebelumnya sekarang berada tepat di atas kepala mereka. Meskipun masih sulit diperkirakan, diameter dari es kerucut di atas kemungkinan sama dengan lubang yang melebar di bawah. Jika dilihat dengan cermat, ada kemungkinan untuk dapat melihat beberapa struktur di dalam es itu. Ruang transparan dan koridor yang diterangi api, menerangkan cahaya biru terang melalui es.

"Sungguh luar biasa...jika ini semua bagian dari satu dungeon, tidak dapat diragukan lagi inilah yang terbesar di ALO."

Lyfa mendesah dan tanpa disadari menggapai ke arah itu. Namun, tentu saja ada jarak 200 meter atau lebih ke dasar es besar itu. Itu adalah jarak yang bahkan anggota ras Imp, yang bisa terbang di bawah tanah, tidak akan mampu menyeberang.

"Bagaimana bisa menyeberang ke sana..."

Lyfa bertanya Kirito, tapi sebelum dia bisa menjawab, pixie kecil yang duduk di bahu pemuda berpakaian hitam ini berbicara dengan suara menusuk.

"Papa, ada pemain-pemain lain yang mendekat dari arah timur! Satu... tidak, dibelakangnya ada... dua puluh tiga!"

"...!!"

Lyfa menarik napas yang dalam.

Dua puluh empat orang. Ini jelas party yang dibentuk untuk berburu dewa-jahat.

Awalnya, merekalah yang ingin kita temui. Jika kita beritahu mereka situasi kita dan setuju untuk bergabung, kita dapat menggunakan dungeon dengan tangga dan keluar ke atas permukaan.

Namun, sekarang. Singkat kata, tujuan dari pemain-pemain ini mendekat di situasi ini adalah...

Lyfa menggigit bibirnya, menatap ke arah timur, dan beberapa detik kemudian mendengar suara gemerisik kaki samar yang bergerak melalui salju. Itu adalah suara yang agak sulit didengar jika tidak untuk pendengarannya yang tajam sebagai anggota dari ras Sylph. Lyfa tidak dapat melihat mereka, jadi kemungkinan mereka menggunakan sihir menyembunyikan diri.

Lyfa dengan cepat mengangkat tangannya, bersiap-siap untuk menggunakan sihir yang dapat memungkinkan dirinya untuk melihat mereka. Namun, ada jarak yang tidak lebih dari sepuluh meter mulai mendistorsi seperti lapisan air. Seorang pemain tunggal muncul.

Dia adalah seorang pria berkulit putih pucat dan berambut biru muda dengan bayangan kebiruan panjang. Tidak diragukan lagi, dia berasal dari ras Undine. Ukiran-ukiran di armor kulit abu-abunya menirui wujud sisik, dan sebuah busur kecil menggantung di bahunya.

Pria ini mungkin bertanggung jawab dengan tugas pengintaian dan menemukan posisi musuh, dengan kata lain seorang pengintai. Dilihat dari gerakannya yang lentur dan perlengkapan tingkat tinggiya, bisa dikatakan dia adalah pemain tingkat tinggi.

Dengan matanya yang mengkilat dengan tajam, pengintai ini melangkah maju dan mengatakan kata-kata yang paling ditakuti Lyfa.

"Hei kalian, dewa-jahat itu, apa akan kalian buru atau tidak?"

Tentu saja, orang ini mengacu pada Tonkii, yang meringkuk seperti bola disebelah Lyfa.

Saat Lyfa tidak menjawabnya, wajah pria itu mulai menajam, dan ia lanjut berkata.

"Kalau kamu akan membunuhnya, lakukan dengan cepat. Jika tidak, enyahlah dari sini, atau kamu akan terjebak dalam serangan jarak jauh kami."

Sebelum menyelesaikan kalimatnya, suara jejakan-jejakan kaki mulai terdengar dari balik punggung pria tersebut. Sepertinya pasukan utama party tersebut telah tiba.

Jika mereka party yang dibentuk dengan gabungan ras-ras yang berbeda di zona netral, maka masih ada harapan...

Tetapi harapan Lyfa dengan cepat dikhianati setelah melihat lebih dari dua puluh pemain berjalan melintasi salju. Mereka semua memiliki kulit putih dan rambut biru yang sama. Dengan kata lain, mereka adalah tim Undine elit berburu dewa-jahat, kemungkinan dari <<Crescent Moon Bay>>, jauh di sebelah timur.

Seandainya itu adalah pasukan gabungan yang dibentuk oleh pemain <<buangan>> yang telah meninggalkan wilayah mereka masing-masing, mereka kemungkinan akan mengabaikan kombinasi dari Sylph dan Spriggan. Tetapi, jika mereka semua adalah anggota terhormat dari ras Undine, maka mereka tidak akan bertindak baik. Mereka juga dapat menumpuk "poin kehormatan" jika mereka membunuh grup gabungan antara Kirito dan Lyfa. Mereka kemungkinan akan menganggap mereka berdua permainan yang adil. Oleh karena itu, kita dapat bersyukur mereka hanya memperingatkan kita dengan repot-repot.

'-Tapi, untuk saat ini kita hanya harus bertindak keterlaluan. Kita tidak dapat membiarkan mereka membunuh teman kami, Tonkii.'

Lyfa berpikir dari lubuk hatinya, dan berdiri di antara Tonkii dan pengintai berambut biru lalu berkata dengan nada rendah:

"...Aku meminta dengan risiko berperilaku buruk. Dewa-jahat ini, biar kami yang urus."

Mendengar itu, pria tersebut dan batalion pemain-pemain di belakangnya memberikan senyuman ringan yang pahit.

"Di wilayah berburu tingkat bawah mungkin akan kami beri, tetapi mengatakan hal ini di Jotunheimer adalah hal yang lain lagi. 'Tempat ini milikku' dan 'Monster ini milikku' tidak ada artinya di sini. Kalau kamu datang ke sini, kamu harus menjadi veteran dan harus memahami ini."

Apa yang dikatakan orang ini sebetulnya benar. Memaksa hak atas wilayah atau monster, jika situasinya dibalik, maka Lyfa juga akan takjub. Tentu saja, prioritas diberikan ketika bertempur dengan monster, tetapi saat ini Tonkii hanya meringkuk dan Undine ingin menyerang, Lyfa tidak berhak ikut campur.

Hal itu sungguh menyakitkan. Saat Lyfa sedang menggigit bibirnya, sebuah bayangan melangkah maju. Itu adalah Kirito.

Lyfa tiba-tiba menghirup napas dengan dalam. Tidak mungkin, Kirito akan melakukan hal yang tidak masuk akal lagi, seperti saat ia menentang Jendral Eugene dan pasukan Salamandernya, itu - apa ia akan menentang mereka? Apa dia akan menghunuskan pedangnya melawan musuh sebanyak ini?

Ini akan menjadi pertarungan yang sia-sia. Ada dua puluh empat pemain di depan mereka, dan mereka pasti pemain-pemain veteran super, jika tidak, mereka tidak mungkin berada di Jotunheimer. Mereka berada di tingkat level yang sama sekali berbeda dibandingkan pasukan Salamder di Koridor Ruger. Prajurit-prajurit berlapis baja berat dan penyihir-penyihir dengan tongkat menunjukkan perbedaan yang jelas.

Namun, tindakan yang dilakukan Kirito sungguh tidak terduga.

Spriggan berpakaian hitam ini, tanpa menyentuh pedangnya, berlutut di atas salju dan menundukkan kepalanya.

"Aku mohon padamu."

Suara yang keluar dari mulutnya sungguh-sungguh serius.

"...Meskipun kursornya berwarna kuning, dewa-jahat ini adalah rekan kami...Tidak, dia teman kami. Kami datang sejauh ini setelah ia hampir mati. Hingga akhir, kami ingin melakukan apa yang harus ia lakukan."

Dengan itu, Kirito menundukkan kepalanya lebih rendah lagi, pengintai berambut biru itu menutup matanya untuk beberapa detik.

Saat pengintai itu membuka matanya, dia mengeluarkan suara tawa yang besar. Suara tawa lainnya dengan cepat bergema dari pemain-pemain yang mendekat dari belakangnya.

"Hei...Hei, apa kamu benar-benar pemain? Kamu bukan NPC, kan?"

Dengan suara tertawa yang terakhir, si pengintai itu menyebarkan tangannya dan menggelengkan kepalanya. Lalu ia meraih bahunya dan mengambil busurnya yang didesain dengan elegan. Dia menarik panah perak dari tabung panahnya dan menekukkannya di busurnya.

"...Maaf, tapi kami tidak hanya bermain-main di wilayah ini. Beberapa saat yang lalu, kami semua dilenyapkan oleh dewa-jahat besar. Merupakan hal yang sulit mengumpulkan semua Remain Lights dan menghidupkan party kami. Ketika aku melihat mangsa mudah di depanku, aku ingin membunuhnya. Karena aku pria yang baik...Akan aku berikan waktu sepuluh detik untuk enyah dari sini. Saat waktu habis, kami tidak akan melihat kalian. Kelompok penyihir, mulai siapkan sihir pendukung."

Pria itu melambaikan tangannya, dan pemain-pemain di barisan belakang memulai sihir mereka. Satu demi satu, efek cahaya warna-warni mulai muncul, memberikan bermacam-macam peningkatan stat ke prajurit-prajurit di depannya.

"Sepuluh...Sembilan...Delapan..."

Tingkat kebisingan meningkat beberapa kali lipat dengan suara sihir ketika pengintai itu memulai hitungan mundurnya.

Lyfa mengepalkan tinjunya begitu keras hingga ruas ruas jarinya berderak dan seluruh tubuhnya bergetar dengan kemarahan. Menghadap punggung Kirito, Lyfa berseru:

"...Mari kita mundur, Kirito."

"...Ok."

Kirito berbisik dengan kepalanya menghadap bawah, ia berbelok ke arah barat, dan bergerak sepanjang tepian jurang tanpa dasar. Lyfa juga berjalan dengannya, berdampingan. Si pengintai itu meneruskan hitungan mundurnya di belakang mereka.

"Tiga...Dua...Satu...Mulai serang."

Tanpa semangat juang, Lyfa mendengar instruksi yang tenang tersebut, lalu setelah itu...

Suara serangan sihir yang ganas tumpang tindih dengan suara logam yang bergema ketika para prajurit memulai serangan mereka.

Tepat di belakang mereka, suara sukses ledakan-ledakan besar mengguncang tanah, yang lalu diikuti oleh semburan udara panas yang mengakibatkan rambut hijau ponytail Lyfa di depannya.

Kirito dan Lyfa lalu berbalik setelah mereka bergerak mundur sekitar 30 langkah.

Para delapan prajurit meneruskan serangannya untuk beberapa detik sebelum bergerak mundur beberapa langkah. Begitu para prajurit bergerak menjauh, tembakan serangan-serangan sihir kedua yang telah diselesaikan penyihir lalu dilepaskan bersama dengan tembakan-tembakan panah yang dilepaskan oleh beberapa pemanah.

Sword Art Online 4 - 061.jpg

Serangan sihir tersebut menyebabkan ledakan mengerikan yang menelan Tonkii secara menyeluruh, meskipun ia seinggi empat meter lebih. Dengan pilar api itu, kulit mengkilapnya menghangus, membakarnya. Dengan itu, sekitar sepuluh persen dari total HP Tonkii menghilang. Disamping suara kobaran api, mereka bisa mendengar suara gemuruh seperti seruling Yururuuu, Yururuuu.

Itu sudah pasti suara tangisan Tonkii. Tangisan itu bahkan lebih tipis dan tragis dibandingkan ketika ia ditindas oleh dewa-jahat raksasa berwajah tiga sebelumnya.

Tidak ingin melihat adegan itu lagi, Lyfa memalingkan wajahnya ke kiri.

Karena itu, adegan yang menusuk hatinya Lyfa mulai terlihat. Kirito berdiri dengan tangannya mengepal keras, dan dari saku dadanya, pixie kecil Yui, menunjukkan wajahnya dan mengepalkan tangannya dengan erat di atas tepi saku itu.

Wajahnya yang cantik meringis sedih, dari matanya yang gelap, air mata mulai menetes satu demi satu. Melihat tahanan air mata pixie tersebut yang berusaha menahan jeritannya dengan bahu yang berguncang, Lyfa merasakan sesuatu yang panas mencair keluar dari matanya.

'-Seandainya saja pasukan Undine ini hanyalah kelompok PK yang kejam!'

Kemudian Lyfa dapat membenci mereka. Jadi Lyfa dapat bersumpah untuk membalas dendam untuk Tonkii yang sekarat.

Tetapi saat ini mereka hanya melaksanakan hak mereka sebagai pemain dari game MMO. Membunuh monster untuk mendapatkan uang dan experience adalah alasan pertama untuk bermain, hal itu dimulai dari meja permainan game RPG bertahun-tahun lalu, yang akhirnya berkembang menjadi jenis permainan FullDive. Baik sopan santun maupun peraturan ALfheim tidak dapat mengizinkan Lyfa untuk berbicara melawan Undines.

Namun, meskipun Tonkii seekor monster, karena ia menjadi rekan dan teman perjalanan, perilaku seperti apa yang tidak membiarkanmu melindunginya? 'Anak ini adalah teman jadi jangan membunuhnya', kalau kita tidak dapat mengatakannya, apa arti dari peraturan jadinya?

Lyfa percaya bahkan di dunia ini ada <<jiwa kebebasan>>. Lyfa percaya bahwa hal itu memungkinkan emosi untuk muncul di sini, dimana kita bahkan tidak akan menunjukkannya di dunia nyata. Namun, karena pemain-pemain meningkatkan status mereka, mengenakan perlengkapan yang langka dan lebih kuat, pangkat mereka naik, tetapi pada saat yang sama, sayap mereka terikat oleh rantai. Pada suatu waktu, bahkan mereka awalnya hanyalah pemain pemula yang tidak tahu mana kiri dan mana kanan. Saat mereka melihat monster non-aktif di suatu wilayah, beberapa dari mereka mungkin berpikir monster tesebut imut dan tidak ingin membunuhnya.

Dengan serangan beruntun yang terus terdengar, Lyfa berdiri tanpa terhibur. Ketika suara serangan-serangan tersebut mulai mengeras, tangisan Tonkii, yang berbanding balik, menjadi semakin lemah. HP Tonkii telah menghilang sebanyak 50% lebih. Ada waktu dua menit - tidak, hanya tersisa enam puluh detik.

"...Kirito-kun."

"Lyfa."

Mereka berdua berbicara hampir bersamaan.

Lyfa memandangkan matanya untuk melihat ke arah mata hitam si Spriggan dan berkata:

"...Aku akan membantunya."

"Aku juga."

'Tujuanmu adalah Aarun, jadi kaburlah', Lyfa menelan kembali kata-katanya dan mengangguk. Jika mereka berdua menginterupsi, maka mereka berdua akan tewas dalam waktu sepuluh detik atau kurang. Tidak ada makna yang berarti di balik tindakan mereka.

Tetapi, sama seperti Kirito, kepercayaan Lyfa tidak akan membiarkannya untuk duduk di pinggir dan tidak melakukan apa-apa. Mereka berdua telah menyelamatkan Tonkii dari sang raksasa berwajah tiga dan Tonkii menyelamatkan mereka sebagai balasannya. Meskipun dewa-jahat tidak lebih hanya sekelompok kode yang terpendam di sudut server, mereka telah menjadi teman, dan bahkan mereka memberinya nama, tidak mungkin mereka hanya akan berdiri di sana dan melihatnya dibunuh, jika tidak, tidak ada artinya mereka bermain VRMMO.

"...Kamu tahu, hari ini aku akan membantumu dalam perjalanan dari Sylvian ke Aarun lagi."

Lyfa berkata dengan cepat, Kirito mengangguk dan menaruh tangannya ke gagang pedangnya.

"Terima kasih...Yui, sembunyilah dengan baik."

"Ya...Papa, Lyfa-san...semoga berhasil!"

Yui bersembunyi di dalam saku Kirito, wajahnya bebas dari air mata. Kirito dan Lyfa menghunuskan pedangnya bersamaan. Dari suara besi yang tajam, seorang penyihir Undine mengubah pandangannya ke samping dengan tampang bingung.

Kita akan menyerang penyihir dengan pertahanan yang rendah dulu. Dikonfirmasi dengan kontak mata, mereka berdua bergegas maju dengan kecepatan penuh. Salju tersebar tinggi ketika udara bergetar dari kekuatan jalur lintasan mereka.

Lyfa juga bergegas maju sampai batas kecepatannya, lalu mengayunkan katananya ke bawah dengan kedua tangannya ketika ia mencapai target serangannya.

"Eyaa!!"

Katana tersebut mengiris kebawah dengan momentum yang sengit. Bagaikan petir hijau, katana tersebut menggigit bahu lengan penyihir yang berada di tepi kiri.

Jubah biru muda yang dikenakannya merupakan perlengkapan yang cukup langka, dan HP-nya baru berkurang sekitar 30%. Saat ia hendak mengayun tongkatnya ke atas, sebuah kilatan hitam menghantam tubuhnya secara horisontal. Beberapa saat kemudian, efek suara ledakan keras menggelegar. HP penyihir tersebut lalu berkurang 40% akibat serangan Kirito yang secepat dewa dengan menggunakan pedang besarnya.

Tanpa menunjukkan belas kasihan, Lyfa tanpa henti meneruskan serangannya ke pemain yang mengambang dengan diam di udara. Dengan setiap serangan, HP penyihir itu berkurang sampai pukulan terakhir yang mengakibatkan HP-nya menjadi nol.

Kemudian, didalam kolom air biru avatar penyihir itu menghilang. Yang tersisa hanyalah Remain Light, dan mengusirnya, Lyfa berbalik menghadap musuh berikutnya.

Pada titik ini, penyihir-penyihir lainnya yang sedang menfokuskan serangannya ke Tonkii dengan serangan sihir jarak jauh akhirnya sadar ada yang salah. Dengan ekspresi tercengang, salah satu dari mereka mulai berteriak.

"...Apa kamu serius?"

"Nah, apa...menurutmu!"

Berteriak menanggapi itu, Lyfa menendang salju.

Mereka memang pasukan elit Undine, reaksi mereka sangatlah cepat. Mereka menghentikan mantra sihir jarak jauhnya dan beralih ke serangan sihir kecepatan tinggi jarak dekat. Namun, kecepatan Lyfa dan Kirito sedikit lebih tinggi. Di posisi yang menggunakan penyihir kedua sebagai perisai, mereka meneruskan serangan-serangan menyilang. Para Penyihir tetap melepaskan serangan sihir mereka, tetapi kebanyakan yang terjadi adalah pakaiann mereka tergores saat mereka menggunakan serangan sihir yang bergerak lurus.

Lyfa mengerutkan keningnya saat melihat satu atau dua sihir jenis gertakan yang tercampur dalam serangan mereka menghantam. Membunuh penyihir yang kedua, Lyfa berbalik untuk melihat Kirito yang telah bergegas maju ke target berikutnya. Dengan ayunan pedangnya, Kirito meretakkan tanah pijakannya, menyebabkan salju tersebar ke segala arah.

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara ketika sebuah panah perak tenggelam ke bahu kiri Kirito. Berbalik melihat si pemimpin pengintai, yang berdiri di jarak lumayan jauh, dengan wajah datar bersiap memanah tembakan kedua. Membuka mulutnya, ia memerintah dengan keras:

"Tim prajurit, mundur! Tim penyihir sedang diserang!"

Panah kedua ditembak ke arah dada Lyfa, jejak perak membuntuti bagaikan meteor. Terlalu cepat untuk menghindar, Lyfa menghalangnya dengan tangan kirinya. Thunk! Dengan suara benturan, HP Lyfa berkurang lebih dari sepuluh persen. Sementara Lyfa sedang terhuyung-huyung oleh serangan itu, aliran air tekanan tinggi yang lebih mirip laser menembus kaki kanannya. Tentu saja, Lyfa tidak merasakan kesakitan, tetapi wajahnya mengiris dengan perasaan kaku yang tidak menyenangkan.

Saat Kirito bertempur melawan musuh yang ketiga, yang sudah kehilangan lebih dari setengah dari HP-nya, Kirito dilalap tornado es. Lyfa mendekat, bersiap-siap untuk menggunakan sihir pemulihan, tetapi ia menemukan para penyihir berkumpul menyiapkan serangan sihir skala besar. Selain itu, para prajurit yang tadinya sedang menyerang Tonkii datang bergegas dengan wajah bertampang setan.

'-Sejauh ini sajakah kita pergi?'

Hampir lima puluh detik telah berlalu sejak pertempuran dimulai, dan mereka berdua telah bertempur cukup baik mengingat jumlah musuh. Dengan ini, tanpa diragukan lagi Tonkii akan memaafkan mereka berdua.

Lyfa menutup matanya dan meletakkan kepalanya di dada Kirito, menunggu momen saat pedang, panah atau sihir meniup HP mereka pergi.

Namun, sebelum suara serangan itu muncul, terdengar suara seruling tangisan yang ribuan kali lebih keras. Udara yang sangat dingin mulai menggigil, suara itu bergema dari bukit salju dari jarak lumayan jauh, suara itu milik Tonkii, tetapi berbeda total dari tangisan lemahnya yang sebelumnya.

Tidak mungkin, apa Tonkii akhirnya mati? Lyfa berpikir sambil memalingkan wajahnya yang merintih kesakitan ke arah puncak bukit itu.

Tubuh oval itu terukir bekas-bekas luka, tetapi salah satu terutama lebih panjang dan dalam dibandingkan lainnya. Lyfa melihat sambil retakan tersebut memanjang sampai kedua ujung terhubung.

"Oh..."

Lyfa berbisik. Dia kira akan melihat darah hitam dewa-jahat memancar keluar dari celah tubuhnya.

Tetapi-

Yang memancar keluar adalah cahaya silau putih murni.

Cahaya putih itu melesat keluar dengan resonansi nyaring yang menyelimuti para prajurit, penyihir dan pengintai, tanpa meninggalkan satupun Undine. Aura sihir pendukung dari sekitar tubuh mereka menjadi asap dan menghilang dan efek serangan sihir menguap.

...Dispel Field!

Sebuah kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh bos monster tingkat tinggi. Untuk kemampuan dewa-jahat tingkat rendah, kemampuan itu terlalu kuat. Tanpa memahami apa yang terjadi, Lyfa, Kirito dan kedua puluh dua Undine hanya terpaku di tempat untuk sesaat.

Dengan semua mata terkumpul, cahaya yang menyelimuti Tonkii diam-diam tersebar. Tidak, bukan hanya itu. Hanya cangkangnya yang keras dan tebal menggebrak keluar. Sumber cahaya terus memanjang seperti menara spiral.

Ujung spiral cahaya bergerak dan Lyfa mengerti.

Bahwa sumber cahaya itu, strip-strip putih murni, adalah delapan sayap bersinar yang meluas, empat di setiap sisinya.

"...Tonkii..."

Seperti mendengar suara Lyfa, wajah bagaikan gajah itu terangkat menjauh dari sayap-sayapnya. Belalainya yang panjang terangkat tinggi dan telinganya berkibar menyebar dengan luas-

Yurururuuu. Suara keras itu terdengar lagi dari si dewa-jahat yang tidak lagi berupa ubur-ubur. Dengan kibasan kedelapan sayapnya, ia melonjak ke langit.

Tubuhnya yang sebelumnya bundar sekarang telah menjadi halus dan langsing. Dari 20 tentakel yang juga sebelumnya menjuntai dari perutnya, sekarang tidak lagi berupa antena dengan cakar, tetapi lebih seperti rambatan tanaman. HP-nya, yang tadinya menurun sekitar 10%, telah pulih sepenuhnya.

Setelah mencapai ketinggian sekitar sepuluh meter, Tonkii melayang sejenak, dan tiba-tiba tanpa peringatan warnanya berubah sampai ia memancarkan cahaya biru.

"Ah...Itu buruk..."

Kirito berbisik, tiba-tiba ia memutar balik untuk menangkap Lyfa dan menyeretnya ke bawah lantai salju.

Sesaat setelah itu, Tonkii mengeluarkan petir berukuran luar biasa dari masing-masing kakinya, satu demi satu.

Tanpa memiliki waktu untuk bahkan menjerit, para Undine disambar dan meledak dengan suaranya. Beberapa penyihir dan pemanah hancur berkeping-keping dalam satu hit, tetapi para prajurit tampaknya masih bertahan.

"Mundur ke dasar bukit! Tutupi formasi pertempuran untuk pemulihan dan dukungan!"

Sang pemimpin pengintai, melihat tidak adanya kesempatan untuk memulihkan anggotanya, berteriak. Kurang dari dua puluh orang yang selamat, semuanya berlari menuruni lereng bersama-sama. Para prajurit membangun dinding perisai sementara para penyihir yang tersisa melafalkan sihir di belakangnya.

Namun, Tonkii perlahan-lahan meluncur mengejar melalui udara, kali ini diselimuti oleh cahaya putih murni.

Kuaa... suara menggema saat cincin-cincin cahaya menghujan turun, melumpuhkan setiap kekuatan sihir. Juga, semua lantunan sihir yang belum lengkap berubah menjadi asap dan menghilang.

"Sialan!"

Pemimpin pengintai berteriak akhirnya setelah kehilangan ketenangannya. Ia mengangkat tangannya ke arah langit. Panah-panah asap meledak, menciptakan tabir perlindungan asap, menyembunyikan semua Undine.

"Mundur, mundur!"

Sementara perintah sedang diteriaki, para pasukan Undine melarikan diri dalam garis lurus, terlihat dengan jelas dari tempat Lyfa berdiri. Mereka kabur dengan sangat cepat, dan dengan segera mereka tidak terlihat di atas punggung bukit dari kejauhan.

Tentu saja untuk Tonkii yang sekarang bisa terbang, menyusul para pemain yang mencoba melarikan di tanah adalah hal yang mudah. Tetapi ia hanya mengeluarkan lolongan kemenangan, lalu mengepakkan keempat sayapnya di satu sisi untuk mengubah haluan.

Setelah itu ia terbang perlahan-lahan sampai ia melayang tepat di atas kepala Lyfa dan Kirito. Dari kepala sang gajah yang sekarang putih, tiga pasang mata bergeser melihat bawah ke mereka.

"...Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Kirito mengatakan sesuatu yang Lyfa pernah dengar sebelumnya.

Tonkii hanya memanjangkan belalainya menjawab. Hidungnya menggeliat dan melilit Lyfa dan Kirito, mengangkat mereka berdua tanpa penjelasan. 'Sesuai dugaanku!' Sementara berpikir itu, mereka berdua dijatuhkan ke punggung Tonkii dan mendarat dengan pantat mereka bersamaan dengan suara don.

Mereka berdua saling memandang satu sama lain dan menyarungkan pedang mereka. Lyfa mulai membelai bulu putih Tonkii. Mungkin itu hanya imajinasinya, tetapi bulunya sekarang tampak lebih panjang dan lebih halus dibandingkan sebelumnya.

"...Setelah semua kejadian itu, benar-benar hal yang baik kamu masih hidup, Tonkii."

Lyfa berkata, setelah itu Yui menjulurkan kepalanya keluar dari saku Kirito dan menepukkan tangannya, lalu berkata:

"Aku juga sungguh senang! Hidup berarti hal-hal baik akan terjadi!"

"Itu bakal menyenangkan..."

Kirito berkata sambil melihat ke atas dan ke bawah.

Setelah ini, Tonkii kemungkinan akan pergi ke suatu tempat. Di depan mereka terdapat lubang besar di tengah Jötunheimr - jika itu adalah tujuannya Tonkii, maka situasi akan menjadi lebih membingungkan. Untungnya, setelah berteriak, Tonkii terbang ke atas, ke arah akar World tree.

Setiap kali ia mengepakkan sayapnya yang bagaikan gelombang, rambutnya menyelimuti tubuhnya, sang dewa-jahat mulai terbang ke atas melalui udara. Ia terbang naik secara melingkar, sampai Lyfa mampu melihat seluruh wilayah Jotunheimr.

"Wow..."

Lyfa hanya bisa berseru kagum. Dia mulai melirik dunia es yang indah dan mematikan ini.

Di area ini, penerbangan tidak memungkinkan, sehingga untuk melihat pemandangan ini di ketinggian ini hanya sesuatu yang pernah dilihat oleh Lyfa dan Kirito. Lyfa tanpa sadar membuka menu jendelanya dan mengeluarkan item untuk mengambil foto, tetapi setelah ia berpikir-pikir, ia berhenti. Pemandangan dapat dipertahankan melalui screenshot, tetapi suasana hati tidak dapat direkam. Kesedihan dan kegembiraan, kemurungan dan perasaan bebas semuanya bercampur-aduk membentuk perasaan yang ajaib.

Apakah Tonkii tahu bagaimana perasaan Lyfa atau tidak, ia melambatkan kecepatan terbangnya sedikit dan memutar kecil, lalu sekali lagi memperkuat kekuatan sayapnya.

Tiba-tiba dari atas, sebuah objek memasuki pandangannya dari jarak dekat. Lyfa tidak dapat menebak apa itu.

Kerucut es biru transparan terbalik. Es itu dililiti oleh jala-jala hitam seperti tabung, akar World tree.

Menurut efek jarak dekat, panjang dari es besar itu kira-kira dua ratus meter atau lebih. Seperti yang mereka kira di tanah sebelumnya, es itu dibagi menjadi beberapa bagian didalamnya, membentuk suatu dungeon es.

Tanpa bersuara, Lyfa membuka matanya lebar-lebar, dengan hati-hati mengawasinya. Tiba-tiba, di bagian bawah es itu - didalam ujung tajamnya, kilatan cahaya keemasan menarik perhatiannya.

Tidak peduli ia berkonsentrasi sebanyak apapun, ia tidak dapat menebak apa itu. Lyfa tanpa sadar mengangkat tangan kanannya dan melantunkan sihir pendek.

Air mulai memancar keluar dari tangannya, dan dengan segera membeku membentuk kristal datar. Kirito dengan cepat berbalik menatapnya dan bertanya:

"Apa itu?"

"Sebuah jenis sihir untuk melihat jarak jauh yang dibuat dengan kristal es. Sini, lihat ke arah ujung es itu, kamu bisa melihat sesuatu yang bersinar..."

Setelah mendengar itu, Kirito melihat lebih dekat melalui lensa es tersebut. Cahaya keemasan yang bergetar itu perlahan-lahan menetap, sampai akhirnya memberikan gambar yang jelas.

"Oh WOW!"

Begitu Lyfa melihat apa itu sebenarnya, Lyfa menjerit seperti gadis kecil.

Disegel di ujung es tersebut, berdirilah sebuah pedang emas mematikan namun indah. Dilihat dari pendar yang melilit bilah pedang tersebut dan dekorasinya, tidak diragukan lagi kalau itu adalah pedang legendaris. Tidak, bahkan sebelum itu, Lyfa sudah mengetahui nama pedang tersebut.

"Itu adalah <<Holy Sword Excaliber[4]>>. Aku telah melihat gambarnya di website resmi ALO... Pedang ini satu-satunya yang melampaui <<Demonic Sword Gram>> milik Jendral Eugene, satu-satunya pedang terkuat...Sejauh yang kutahu, belum ada pemain yang menemukan lokasinya."

"T,Terkuat..."

Dengan penjelasan Lyfa yang penuh dengan keajaiban. Kirito menelan ludahnya dan meneguk dengan gugup.

Pedang tersegel itu terletak di bagian bawah tangga spiral, yang tampaknya dihubungkan ke dungeon es. Artinya, hanya pemain yang telah berjuang menembus seluruh dungeon itu yang dapat memperoleh pedang terkuat tersebut.

Sang dewa-jahat, Tonkii, membawa dua peri kecil, terbang melingkari es dan terbang naik secara melingkar. Melepaskan pandangannya dari pedang suci itu, Lyfa melihat ke atas dan menemukan dua hal.

Hal pertama yang dilihat Lyfa adalah balkon berbentuk platform yang mendongak keluar dari bagian tengah es besar. Jalur penerbangan Tonkii akan melewati tempat itu. Sangat memungkinkan untuk melompat dari punggung Tonkii dan mencapai balkon itu.

Hal kedua, di bagian atas Jötunheimr yang diselimuti salju tergantung sebuah tangga yang terukir. Tangga tersebut terus naik dan terus melewati langit-langit. Itu pasti rute untuk keluar ke atas permukaan tanah dari Alfheim.

Tidak ada hubungan antara tangga yang menjulur ke permukaan tanah dan balkon yang mengarah ke dungeon. Kalau kamu meloncat ke balkon untuk kesempatan mengambil pedang suci, maka tidak ada cara lain untuk sampai ke tangga.

Kirito tampaknya telah tiba pada kesimpulan yang sama. Matanya terus bergeser bolak-balik antara balkon dan tangga. Sambil melakukan hal itu, mereka mulai mendekat ke arah balkon. Setelah dua puluh... tidak... jika mereka tidak membuat keputusan dalam waktu sepuluh detik...

Dalam keheningan itu, Tonkii tiba di balkon, ia terbang horisontal seolah-olah memberi mereka kesempatan. Untuk pemain VRMMO seperti Kirito dan Lyfa, insting pertama mereka adalah untuk melompat turun, dan tubuh mereka bergetar.

- Tapi tentu saja mereka tidak melompat turun.

Mereka berdua saling memandang satu sama lain, mengenakan senyuman agak malu, lalu Lyfa berbicara.

"...Kita harus datang ke sini lagi, tapi dengan banyak rekan."

"Kamu benar. Dungeon ini kemungkinan yang tersulit di seluruh Jotunheimr. Dengan hanya kita berdua, tidak ada kemungkinan untuk menerobos."

"Ah, kamu, memiliki terlalu banyak penyesalan!"

Sementara mereka berdua tertawa, Tonkii terbang melewati balkon tanpa merasa bingung dan terus terbang naik. Melihat ke bawah melewati area masuk persegi dungeon tersebut, terdapat bayangan mengerikan dewa-jahat. Ia menyerupai dewa-jahat raksasa berwajah tiga yang menyerang Tonkii sebelumnya, tetapi ia tampaknya tipe humanoid yang jauh lebih kuat.

Kemungkinan monster terkuat di dungeon terdalam Jotunheimr berasal dari spesis yang sama. Dewa-jahat itu kemungkinan tipe yang spesis Tonkii lihat sebagai musuh, kemungkinan karena itulah mereka bertanggung jawab untuk mengangkut pemain di sini. Itulah mengapa raksasa itu mencoba membunuh Tonkii sebelum ia berubah.

Jika mereka bergabung dengan kelompok berburu dewa-jahat dan bertempur, mereka tidak akan pernah berpikir untuk hanya membunuh dewa-jahat tipe raksasa, dan menyelamatkan jenis gajah ubur-ubur. Jika mereka berdua tidak jatuh ke sini, event ini, tidak, persahabatan ini tidak akan terjadi.

Sementara Lyfa sedang berspekulasi, Tonkii mendekati kanopi. Akar dengan tangga berukir itu terlihat jelas, tergantung menurun dari sudut es tersebut.

Dengan suara Yururu, Tonkii melebarkan sayapnya dan melambatkan kecepatannya. Sambil melayang, ia memanjangkan belalainya, melilitnya di sekitar akar pohon dekat tangga seperti tali dan berhenti.

Melihat tangga kayu itu bergoyang, Lyfa berdiri.

Secara alami memengang tangan Kirito di tangannya, mereka berdua berpindah ke anak tangga di dasar.

Dengan goyangan kecil, Tonkii memastikan hilangnya beban dan melepaskan belalainya dari akar. Ia berbalik naik ke atas bersiap-siap untul terjun.

Saat Tonkii berbalik, Lyfa meraih ujung belalainya dengan satu tangan.

"...Aku akan datang lagi, Tonkii. Berhati-hatilah sampai saat itu. Jangan biarkan dewa-jahat lainnya mengganggumu."

Setelah selesai berbisik, Lyfa melepaskankan genggamannya. Kirito menggenggam belalainya dan Yui terbang keluar dari saku dada Kirito, memegang sekelompok bulu yang menggantung di belalai tersebut dengan kedua tangannya.

"Kita akan berbincang lebih banyak lagi, Tonkii-san."

Si pixie kecil berbicara sambil tersenyum. Si dewa-jahat menjawab Furururu dan berbalik dan melipatkan sayapnya.

Ia lalu terjun kebawah dengan kecepatan luar biasa, mulai menyusut sambil waktu berlalu.

Sayapnya kemudian bersinar untuk terakhir kalinya, sang dewa-jahat misterius memudar di dalam kegelapan Jotunheimr. Ia pasti sekarang sudah dapat hidup bebas dari siksaan, sambil terbang dengan bebas di angkasa. Dan, jika kita ada kesempatan untuk balik ke tempat ini dan memanggilnya, Tonkii pasti akan memberi mereka tumpangan di punggungnya lagi.

Lyfa menyeka air matanya yang mulai menetes dari sudut matanya, dan menemui tatapan mata Kirito, mulai tertawa.

"Ayo! Aku cukup yakin Aarun berada tepat di atas!"

Setelah mendengar kata-kata yang bersemangat itu, Kirito membentang dan lalu menjawab:

"Ya, mari kita selesaikan sisa akhir perjalanan ini... Lyfa, saat kita tiba di puncak, mari kita rahasiakan apa yang kita ketahui tentang pedang suci itu."

"Oh kamu, mengatakan sesuatu yang merusak momen penting ini..."

Pemuda Spriggan berpakaian hitam itu mengangkat bahunya, sambil bergandengan tangan, mulai berlari menaiki tangga spiral yang melalui akar World tree.

Perjalanan yang mengambil waktu kurang dari tiga menit ketika mereka jatuh melalui cacing tanah raksasa, lebih memakan banyak waktu ketika melakukan perjalan kaki. Saat mereka berjalan naik melewati jalan remang-remang oleh jamur bercahaya, Lyfa kemudian menyerah menghitung langkahnya. Setelah melewati waktu lebih dari sepuluh menit, seberkas cahaya tipis muncul dengan terang di depan.

Kirito dan Lyfa saling memandang satu sama lain, dan dengan satu dorongan terakhir bergegas ke pintu keluar. Melangkahi dua anak tangga sekaligus, mereka menjulurkan kepala mereka keluar dari lubang sebuah dinding pohon.

Sword Art Online 4 - 079.jpg

Melompat keluar dari tangga, mereka menemukan diri mereka di teras batu berlumut. Mereka melakukan putaran penuh dari momentum itu, lalu duduk di trotoar batu.

Setelah membuka mata mereka yang tertutup saat mereka keluar, mereka mengambil pemandangan di depan mereka dengan dalam -

Pemandangan itu adalah pemandangan malam dari kota megah yang indah.

Seolah-olah sisa-sisa peradaban kuno, batu bangunan dari berbagai ukuran tersebar ke segala arah. Api-api kuning, cahaya biru lampu sihir, dan lampu mineral merah muda berkedip-kedip di segala arah seolah-olah debu bintang ditaburkan ke segala penjuru kota. Tidak ada kesatuan ras di antara siluet para pemain yang bergerak di bawah cahaya ini, tetapi jumlah yang sama dari masing-masing sembilan ras peri.

Setelah mendapati pemandangan kota pada malam hari, Lyfa mengangkat wajahnya.

Di atas biru gelapnya langit malam, sebuah bayangan dalam bentuk pohon memisah kegelapan malam.

"...World tree..."

Lyfa berbisik, ia memandang Kirito di sampingnya dan melanjutkan:

"...Tidak diragukan lagi, ini adalah <<Aarun>>. Pusat Alfheim. Kota terbesar di dunia ini."

"Iya... Kita akhirnya berada di sini."

Kirito mengangguk, Yui mengeluarkan kepalanya dari saku Kirito, mengungkapkan senyuman yang brilian.

"Wow! Ini pertama kalinya aku berada di sebuah kota dengan orang sebanyak ini!"

Sama dengan Lyfa. Orang-orang yang meninggalkan wilayah rumah mereka dan menikmati petualangan bebas, hal itu belum pernah melintas di pikirannya.

Mereka berdua hanya duduk di tepi teras, menikmati suasana kota yang ramai.

Segera, suara berat dari organ pipa terdengar, melepaskan Lyfa dari introspeksinya. Suara itu kemudian diikuti oleh suara wanita yang mengambang turun dari langit. 'Ini adalah pemberitahuan dari pemeliharaan rutin sistem mingguan, yang akan dimulai pukul 4 pagi, server akan ditutup', pengumuman sistem. Lyfa belum pernah berada di game selama ini, jadi ini pertama kali dia mendengarnya.

Sesungguhnya, banyak 'pertama kali' yang terjadi sejak kemarin. Sambil memikirkan hal itu, Lyfa menggerakkan kakinya ke depan dan berdiri.

"Kita harus berhenti di sini hari ini. Yuk kita cari penginapan dan logout."

Kirito berdiri dan mengangguk sekali, sang Spriggan bertanya:

"Kapan maintenance berakhir?"

"Maintenance berlangsung sampai siang hari."

"Oke, baiklah..."

Setelah melihat ke bawah sedikit, Kirito tiba-tiba menatap langit.

Cabang-cabang world tree terbuka, menyebar ke segala arah.

Mata hitam Kirito menyipit sedikit, mulutnya tampak bergerak, melihat itu, Lyfa teringat alasan Kirito datang ke Alfheim.

Dia ingin bertemu <<seseorang>> di puncak World tree.

Aku ingin tahu siapa itu. Jika itu bukan NPC quest, mungkin anggota staf operasi, atau...

Sebelum Lyfa dapat berpikir lebih jauh, Kirito telah kembali ke ekspresi sebelumnya dan berkata:

"Yuk kita cari penginapan. Aku miskin sekarang, suatu tempat yang tidak terlalu mewah kedengarannya bagus."

"...Sok keren, kamu memberikan semua uangmu kepada dua penguasa? Setidaknya simpan sedikit untuk biaya hidup!"

Lyfa menertawakan kesulitan Kirito, kemudian berkata kepada Yui di saku dadanya.

"Itu yang Papamu katakan. Apa ada penginapan yang murah dekat sini?"

Anehnya, Pixie Navigasi itu mengerutkan alisnya yang mengernyit, melihat ke World tree, ia lalu tersenyum segera dan menjawab.

"Ya, di bawah sana tampaknya terdapat tempat yang super murah!"

"S, super murah..."

Tidak peduli dengan keraguan Lyfa, Kirito mulai berjalan cepat, jadi Lyfa mengikutinya.

Meskipun dia seharusnya merasa ngantuk karena begadang semalam ini, dia merasa sedikit gelisah dan menatap World tree sekali lagi.

Tentu saja, dengan dedaunan yang menghilang dengan gelapnya langit malam, tidak ada yang terlihat.


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Wikipedia[1],Gambar[2] Jenis-jenis kumbang isopod yang tampaknya lucu dan menjijikkan. Silakan lihat gambar.
  2. Dragon Palace translasi: Istana Naga. Di mitos Jepang, Ryūgū-jō (Istana Raja Naga) adalah istana bawah laut Ryūjin, sang Dewa Naga Laut.
  3. Wikipedia[3], Gambar[4]
  4. Translasi: Pedang Suci Excaliber.