Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 6 Bab 8

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 8[edit]

“Orang itu…”

KRAK!

“…BENAR-BENAR MEMBUATKU MARAH!”

Menyerukan kata-kata ini dari mulutnya, Asada Shino menggunakan jari-jari dari sepatu sneaker yang dipakainya untuk menendang ayunan.

Ini adalah pojok di taman kecil dekat rumah Shino. Langit sudah gelap, dan taman ini adalah tempat sederhana hanya dengan 2 peralatan rekreasi dan setumpuk kerikil, jadi, tidak anak yang akan bermain disini saat hari Minggu.

Duduk disamping Shino di ayunan adalah Shinkawa Kyouji, yang melebarkan matanya.

“Jarang sekali, Asada-san…untukmu mengkritik seseorang secara langsung.”

“Karena dia benar-benar…”

Shino memasukkan tangannya kedalam rok denimnya, menyandarkan punggungnya di tiang miring, menekuk bibirnya dan melanjutkan,

“…Sangat berkulit tebal, suka melakukan pelecehan seksual, suka bertindak keren…omong-omong, siapa yang menggunakan pedang untuk bertarung di GGO!”

Setiap kali Shino akan berbicara tentang betapa menjengkelkan «orang itu» baginya, dia akan menendang kerikil kecil disebelah kakinya.

“Juga, orang itu bahkan menyamar menjadi seorang perempuan tepat di awal, dan bahkan dia memintaku memilihkan pakaian untuknya! Aku hampir meminjamkan dia uang juga!, AAAAHHHHHH!! SIALAN, APANYA ‘BISAKAH KAU MENYERAH!’!”

Gerutuan ini berlangsung hingga tidak ada lagi batu yang berukuran sesuai disekitar. Shino merendahkan kepalanya, melihat kesampingnya, dan menemukan kalau Kyouji sangat terkejut saat dia menggunakan ekspresi lembut untuk menatapnya.

“…Ada apa, Shinkawa-san?”

“Tidak…itu tidak jarang, tapi kurasa ini pertama kalinya kamu menghina orang sebanyak itu…”

“Eh…benarkah?”

“Un, karena kamu biasanya tidak nampak tertarik pada orang lain…”

“…”

Ketika mendengarkan lelaki itu mengatakan ini, dia baru menyadari,

Biasanya, dia tidak akan begaul dengan orang lain dengan antusias. Bahkan jika seseorang mengerjainya?seperti Endou dan yang lainnya, dia hanya akan merasa terganggu karena dia merasa kalau tidak perlu menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk marah pada mereka.

Jika dia perlu mengatakannya, Shino bahkan tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Siapa yang punya waktu untuk berurusan dengan orang lain? Walaupun begitu, «orang itu» benar-benar membuatnya marah sekali untuk alasan yang tidak dapat dipahami. Kurang dari 24 jam sejak mereka bergaul untuk pertama kalinya di hari Sabtu siang, dan orang itu tetap tinggal di ingatannya, dan dia tidak dapat menghapusnya.

Tapi tidak aneh kalau dia akan semarah ini.

Sudah satu setengah tahun sejak Shino mulai bermain VRMMORPG «GGO». Namun, dia belum pernah bertemu pemain yang telah melanggar privasinya seperti ini. Dan juga, dia sangat terkejut ketika dia menyentuh tangannya saat periode istirahat setelah ronde pertama di babak penyelisihan, dan juga sangat terguncang ketika dia melewatkan dua tembakan dari jarak sedang di ronde kedua setelahnya.

“…Ja, jangan melihatku seperti ini. Aku jadi mudah marah.”

Shino dengan mudah menyeret batu yang jauh dengan jari kakinya dan menendangnya dengan keras ke arah semak-semak ketika dia mengatakan itu.

“Fufu~ benarkah begitu.”

Kyouji terus menatap Shino, tapi dia nampak mengingat sesuatu ketika dia dengan tiba-tiba meloncat dari ayunan dan berkata dengan antusias,

“Lalu…apakah kamu mau menjebaknya dia di arena latihan? Jika kamu mau menembak, Aku akan menjadi umpan…tapi lebih bagus balas dendam dari depan kan? Aku bisa mengumpulkan 2, 3 penembak mesin hebat untuk menolong. Menggunakan materi sinar untuk men-stun dia lalu melakukan MPK juga tidak buruk.”

Shino yang terkejut mengedipkan matanya pada Kyouji, yang merencanakan seluruh jenis PK, lalu mengangkat tangan kanannya untuk memotongnya.

“Erm, baiklah…Aku tidak bermaksud begitu. Bagaimana harus kukatakan…meskipun dia membuatku marah, cara bertarungnya cukup jujur. Aku ingin bertarung dengannya secara adil. Aku kalah kemarin…Tapi Aku tahu cara bertarung dengannya, dan ada kesempatan untuk balas dendam juga.”

Shino mendorong ke atas kacamata sederhana, dan lalu mengeluarkan handphone-nya dari kantung roknya untuk memeriksa waktu.

“3 setengah jam lagi sebelum final BoB mulai. Aku akan membuat lubang besar padanya saat event besar itu.”

Shino mengacungkan jari telunjuk kanannya ke arah langit di barat, dan tepat dimana dia menunjuk, bulan merah terlihat terbit.


Kemarin malam, di malam Desember ketiga belas, diadakan turnamen penyisihan untuk yang terkuat di GGO?«Bullet of Bullets ke-3».

Shino di grup K berhasil memenangkan jalannya, tapi pada akhirnya, yang muncul didepannya, adalah orang yang seharusnya adalah seorang pemula?bahkan dia merasa bahwa dia akan bertemu dengannya, «orang itu».

Namanya adalah «Kirito», seorang gamer yang memindahkan semua data uniknya menggunakan platform «The Seed» dari VRMMO yang tidak diketahui Shino ke GGO.

Shino yang sedang dalam perjalanan ke ibukota GGO, «SBC Gurokken» menara presidensil dimana dia bertemu Kirito, yang baru saja masuk dalam permainan. Dia bertanya pada Shino dimana letak toko senjata, dan Shino, yang biasanya akan menunjukkan jalan dengan dinginnya dan pergi, berinisiatif untuk membimbingnya.

Dan alasannya adalah—avatar Kirito terlihat seperti perempuan bagaimanapun orang melihatnya.

Shino baru mengetahui kalau model M ini dalam GGO disebut «seri 9000», sebuah avatar yang tidak beda dari model F. Karena model ini sangat jarang, akun tersebut akan sangat mahal jika dijual. Secara logis, penampilan Kirito pantas dianggap cantik untuk harga itu. Rambut lurus panjang, mata lebar yang nampak memancarkan cahaya kegelapan, kulit putih seperti salju dan tubuh yang mungil. Jujur saja, itu lebih feminim dari model asli yang dimiliki Shino.

Setelah bermain GGO selama satu setengah tahun, Shino belum pernah bertemu «pemain perempuan pemula».Tentu saja, Shino mengenal sedikit gamer perempuan, tapi mereka semua lebih berpengalaman dari Shino—semuanya pemain lama. Waktu yang mereka habiskan untuk saling tembak-menembak akan lebih lama dari waktu yang dihabiskan untuk berbincang-bincang.

Jadi, Shino melihat gadis berambut hitam—yang sebenarnya adalah seorang laki-laki—yang tersesat, dan langsung mengingat masa lalunya, dan lalu tertarik padanya dan menjadi pemandunya.

Mereka berdua memilih perlengkapan mereka di sebuah toko besar, dan Shino lalu mengajarinya sistem pertarungan unik yang dimiliki GGO, «jalur peluru», dan bahkan memberitahunya cara mendaftar di menara presidensil. Setelah itu, mereka pergi ke kubah tunggu dibawah menara tersebut dan kedalam tempat istirahat untuk berganti perlengkapan jalanan mereka ke perlengkapan bertarung. Shino lalu melepaskan semua perlengkapannya kecuali untuk pakaian dalamnya—dan pada saat itu, Kirito memberi tahu nama aslinya dan jenis kelaminnya.

Shino dengan sangat malu, menamparnya dengan keras dan lalu berkata,

Kau harus masuk ke babak final. Untuk pelajaran terakhir, Aku akan mengajarimu rasanya menjadi pecundang dengan sebuah peluru.

Tapi jujur saja, dia tidak berpikir kalau dia akan punya kesempatan.

Kirito hanya seorang pemula yang baru saja berpindah ke GGO, dan dia tidak tahu apa yang orang ini pikirkan karena senjata utamanya bukan sebuah senapan ataupun senapan mesin, tapi sebuah «pedang photon» yang digunakan untuk pertarungan jarak dekat.

Itu adalah sebuah mimpi menggunakan pedang untuk mengalahkan pengguna senapan, Shino pikir dan akan melupakan Kirito—

Tapi, Kirito dengan tidak terduga memenuhi janjinya dengan Shino, dan dalam babak penyisihan grup F dimana 64 orang bertarung, dia berhasil memenangkan jalannya dari ronde 1 hingga ronde 5 menggunakan pedang laser dan pistol kaliber kecil sebagai senjata sampingan saat dia menerjang ke babak final dimana Shino menunggu.

Di jalan raya di bawah matahari tenggelam yang menjadi panggung dari final babak penyelisihan, Shino menyaksikan kemampuan bertarung Kirito yang hebat. Dia menggunakan pisau energi dari pedang photon untuk menangkis peluru kaliber 50 yang ditembakkan Shino dari «Ultima Ratio Hecate II» kesayangannya—atau lebih tepat, memotongnya.

Kirito berlari dengan agresif diantara peluru yang dipotong menjadi dua, mendekati Shino, mengarahkan pedangnya ke arah lehernya, dan bergumam di jarak dekat,

“Bisakah kau menyerah? Aku tidak terlalu suka membunuh perempuan.”

“~~~~~~~~~~!”

Hanya mengingat itu saja membuatnya merasakan penghinaan yang dialaminya lagi. Lalu Shino dengan kasar menurunkan tangan kanan yang diarahkan ke bulan.Dia mencari kerikil di sekitarnya yang bisa dia tendang, tapi sayangnya, mereka semua sudah ditendang ke rumput. Jadi, dia hanya bisa menggunakan sol sepatu sneakernya untuk menendang tiang logam tersebut.

“…Kau lebih baik bersiap. Akan kubayar penghinaan itu beserta dua kali bunganya…”

Karena dia terengah-engah, Kyouji bangun dari ayunan dan terlihat terganggu karena dia mengerutkan dahinya pada wajah Shino.

“…A, ada apa?”

“Erm…apakah kamu baik-baik saja? Apakah tidak apa-apa kamu melakukannya…”

Kyouji melihat kearah tangan kanan Shino. Tanpa sepengetahuannya, tangannya yang dikepalkan sekarang mengacungkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk sebuah pistol.

“Ah…”

Dia dengan gelisah menggoyangkan tangannya. Memang benar tindakan ini membuat orang memikirkan sebuah «senapan», dan jantung Shino akan berdebar-debar setiap saat. Namun, tidak adanya perasaan seperti itu saat ini, bisa dijelaskan.

“U, un, itu tidak apa-apa…mungkin karena aku marah, tapi itu tidak seberapa.”

“Aku mengerti…”

Kyouji merendahkan kepalanya dan terus melihat kearah mata Shino. Dia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menyentuh tangan kanan Shino.Perasaan hangat dan agak berkeringat dari telapak tangan membuat Shino melihat kebawah secara insting.

“A…ada apa, Shinkawa-kun?”

“Aku sering merasa…sangat khawatir…Asada-san berbeda dari biasanya…Ya…jika, jika ada yang bisa aku bantu, Aku mau melakukannya. Aku hanya bisa mendukungmu dari layar…tapi, jika ada hal lain yang bisa kulakukan…Aku…”

Shino melihat Kyouji untuk sesaat. Wajah lembut itu hanya memiliki mata yang memancarkan emosi dari dalam dan memberikan kehangatan dan cahaya.

“Se…seperti apa aku yang biasa…”

Dia tidak bisa mengingat bagaimana dia biasanya terlihat dan berbicara. Lalu, tangan Kyouji mulai memberikan tekanan, dan dia membuka mulutnya untuk berbicara,

“Asada-san biasanya terlihat keren…selalu terlihat seperti tidak ada yang bisa mengganggumu…kamu mendapat perlakuan sama sepertiku di sekolah, tapi kamu tidak lari dari sekolah sepertiku…Kamu sangat kuat, sangat hebat. Aku selalu mengagumi kepribadian Asada-san…ini bisa dianggap mimpiku.”

Tertekan oleh kehadiran Kyouji, Shino ingin mundur, tapi tiang ayunan tidak akan membiarkannya.

“Ta, tapi…Aku tidak kuat sedikit pun. Aku, kamu tahu…ketika aku melihat senapan aku akan bereaksi…”

“Tapi Sinon berbeda.”

Kyouji melangkah ke depan.

“Dia bisa menggunakan menggunakan senjata yang kuat sesuka hati…dan dia adalah salah satu pemain terkuat di GGO. Aku pikir dia adalah Asada-san yang asli. Asada-san di dunia nyata akan menjadi menjadi seperti itu, jadi kamu tidak perlu khawatir…melihatmu ragu dan marah karena itu, Aku…Aku benar-benar ingin menolong…”

--Tapi, Shinkawa-san.

Berpaling sedikit untuk sesaat, Shino berkata didalam hatinya.

--Dulu, Aku akan menangis dan tertawa seperti orang biasa. Aku tidak menjadi «aku yang sekarang» atas keinginanku.

Memang benar Shino ingin menjadi sekuat Sinon yang sekarang.Tapi, dia ingin menghadapi ketakutannya atas senapan, dan bukan meninggalkan semua perasaannya.

Mungkin didalam hatinya, dia masih ingin tertawa dan berbicara dengan temannya seperti orang biasa, itulah mengapa dia menolong orang itu tidak seperti biasanya ketika dia melihat gadis pemula yang tersesat di jalan Glockenspiel, dan dia marah setelah dia mengetahui bahwa orang itu adalah seorang laki-laki.

Shino senang karena Kyouji sangat mengkhawatirkannya, tapi walaupun begitu, dia merasa kalau perasaan ini disalah tempatkan.

--Aku...Aku, apa yang aku mau...

“Asada-san…”

Suara lembut tiba-tiba terdengar di sebelah telinga Shino, menyebabkan matanya terbelalak. Tanpa diketahui, lengan Kyouji sedang memeluknya besama dengan tiang logam.


Meskipun taman kosong itu gelap, tapi, masih banyak orang lewat berjalan dijalan berlawanan arah dari trotoar dengan trotoar dengan pohon yang telah menggugurkan daunnya. Saat ini, jika seseorang melihat Shino atau Kyouji sekarang, mereka akan mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Memikirkan ini, Shino lalu mendorong tubuh Kyouji secara insting.

“…”

Kyouji melihat ke arah Shino dengan ekspersi terluka. Shino terkejut dan cepat-cepat menjelaskan,

“Ma, maaf. Aku senang kalau kamu mengatakan itu…Hanya kamu temanku disini, tapi…Aku tidak punya perasaan seperti itu saat ini, karena aku hanya bisa menyelesaikan masalahku dengan bertarung…”

“…Aku mengerti…”

Melihat Kyouji menundukkan kepalanya kesepian, gadis itu mempunyai perasaan bersalah.

Kyouji harusnya sudah tahu tentang masa lalu Shino?Kejadian itu. Sebelum dia menolak untuk datang ke sekolah, Endou dan temannya menyebarkan berita ini ke seluruh sekolah, tapi bahkan setelah mengetahui itu, dia masih mau berteman dengannya. Haruskah dia menyatakan perasaannya sekarang? Tentu saja, bukannya Shino tidak mengetahui hal itu. Dia tahu kalau dia akan sangat kesepian jika Kyouji meninggalkannya dengan sedih.

Tapi, di suatu sudut di lubuk hatinya tidak akan membiarkannya melupakan tentang orang itu, wajah Kirito. Dia terlalu percaya diri pada kemampuannya sendiri. Shino ingin melawannya jadi dia bisa bertarung dengan sekuat tenaga.

Ya?saat ini, keinginan Shino satu-satunya adalah untuk menghancurkan cangkang yang menyelimuti hatinya dan melepaskan dirinya dari ingatannya yang menakutkan. Untuk melakukannya, dia ingin bertarung di matahari terbenam gurun dan menang.

“Jadi…bisakah kamu menunggu?”

Dia berkata dengan suara yang lembut. Kyouji melihat Shino dengan mata yang mempunyai banyak perasaan, dan setelah beberapa saat, tersenyum. Dia menunjukkan ‘terima kasih’ dengan bibirnya, dan Shino tersenyum juga.


Setelah meninggalkan taman dan berpamitan dengan Kyouji, Shino cepat-cepat pulang dan membeli beberapa air mineral dan yogurt lidah buaya untuk makan malam. Dia biasanya akan memasak makanan dengan gizi seimbang untuknya, tapi setelah lebih dari 3 jam bermain, akan ada banyak alasan kenapa banyak gamer tidak boleh makan terlalu banyak.

Kaki kaki gadis yang memegang tas yang bersuara itu, berlari menaiki tangga, melangkah ke rumahnya, cepat-cepat menyalakan gembok listrik, pergi melalui dapur, lalu sampai di kamar 6 tatami didalam dan melirik kearah jam di dinding.

Masih ada waktu sebelum babak final BoB dimulai, jam 8.30 malam, tapi Shino ingin log in awal dan menghabiskan waktu untuk mengumpulkan perlengkapan, amunisi, dan berkonsentrasi.

Dia dengan cepat melepaskan rok jumper denim tebal dan kemeja katun dibawahnya, menggantung mereka di gantungan pakaian, dan melepas pakaian dalam bagian atasnya dan melemparnya kedalam keranjang di pojok. Dia menggulungkan badannya karena udara dingin di lantai ketika dia memakai trainer dan celana pendek untuk membuatnya terasa nyaman.

Setelah mengatur pendingin udara sehingga udaranya tidak terlalu panas, dan menyalakan pelembab, Shino mengambil nafas yang dalam dan duduk di kasur. Dia mengeluarkan botol PET dari tas plastik, membuka tutupnya dan meminumnya sedikit.

Fungsi penyela sensor AmuSphere bisa memotong 99% dari seluruh fungsi ketika diving. Namun, Shino telah mengetahui banyak cara untuk membuat lingkungan bermain yang nyaman. Makan sedikit sebelum diving dan menggunakan toilet adalah hal yang sangat dipentingkan. Juga, kau harus mencatat temperatur, kelembaban, dan juga memakai pakaian yang tidak memberatkannya. Dia pernah log in saat libur musim panas setelah minum banyak air es, dan merasakan sakit perut luar biasa di tengah pertarungan sebelum diganggu oleh AmuSphere yang mendeteksi kalau ada yang salah. Tentu saja, saat sakit perutnya membaik dan dia mencoba untuk menyambung lagi, karakternya sudah mati dan respawn kembali ke jalanan.

Gamer VRMMO setia yang punya banyak uang akan mencari penyela sensor penuh dan memasuki tempat bernama «tangki isolasi». Sekarang ini, kafe internet berkelas yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat mulai mempunyai tangki ini, dan Kyouji telah mengundang Shino ke toko semacam itu sebulan yang lalu.

Ruangan untuk satu orang. Setelah mandi didalam kamar mandi yang tersedia di kamar, pengguna akan benar-benar telanjang dan berbaring didalam sebuah kapsul yang memakai setengah ruangan kamar. Bagian dalam kapsul itu benar-benar luas, cairan kental yang sudah diatur, sedalam 40cm.

Saat berbaring didalam, tubuh akan mengambang, dan pengguna tidak akan merasakan bantal yang menopang leher. Ketika pengguna memakai AmuSphere yang bergantung didalam kapsul dan menutupnya, tangki tersebut akan dengan segera dikellingi oleh kegelapan dan kesunyian.

Sebenarnya, perasaan mengambang didalam ruangan itu adalah pengalaman yang cukup menarik, tapi karena dia telah setuju untuk menemui Kyouji di GGO, Shino memasuki dunia VR.

Saat me-log in, informasi yang diproses ke lima indra dari dunia virtual benar-benar jernih. Kyouji mengatakan ini karena indra tubuh telah mencapai minimum, dan jadi, tidak suara apapun yang muncul dari «kebocoran penyela sensor» sama sekali. Mengabaikan kegunaan ini, perasaan macam itu dimana dia bahkan dapat mendengar langkah kaki musuh di pasir menunjukkan nilainya padanya.

Tapi, dia merasakan perasaan cemas yang tidak bisa jelaskan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Atau mungkin, itu lebih seperti dia khawatir akan tubuhnya ketika dia dipindahkan dari dunia nyata. Saat dia masuk ke dunia VR, dia akan berbaring di kasur di dunia nyata seperti sebuah boneka, dan kekhawatiran ini yang disebabkan oleh fakta ini akan diperkuat oleh kapsul.

Tentu saja, dibandingkan dengan «Mesin Iblis» NervGear, peralatan keamanan di AmuSphere terlalu banyak. Tidak hanya mencegah penyela sensor untuk berkerja—itulah kenapa sebuah kapsul dibutuhkan—tapi juga suara, cahaya, getaran dan rangsangan lain untuk aktif dengan mudah sebagai bagian dari system keamanan dan membawa pengguna kembali ke kenyataan.

Walaupun begitu, tubuh yang telah masuk benar-benar tanpa pertahanan. Dalam suatu hal, ini lebih mirip tidur, tapi Shino tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang menyengat dilehernya ketika dia me-log in melalui kapsul isolasi. Pada akhirnya, dia membuat sebuah kesimpulan—kamar kecilnya adalah tempat teraman dimana dia bisa log in dengan aman meskipun akan ada suara dari luar.

Shino berpikir saat sendok di tangannya masuk ke mulutnya. Yogurt itu akhirnya habis dimakan. Setelah menaruh wadah tersebut ke bak cuci piring dan mencucinya, dia membuangnya ke tas daur ulang. Dia lalu pergi ke kamar mandi menggosok gigi, menggunakan toilet, mencuci tangan dan muka sebelum kembali ke kamar.

“—Oke!”

Pitan. Dia menampar pipinya dan berbaring di kasur. Handphonenya telah diubah ke mode diam, dan pintu juga jendela alumuniun telah benar-benar terkunci. Dia telah menyelesaikan PR yang akan diserahkan pada hari Senin saat siang, dan semua hal sepele yang dia khawatirkan di dunia nyata telah teratasi.

Dia memakai AmuSphere dan menekan saklar untuk mematikan lampu. Saat ini, wajah pemain yang ingin dia kalahkan terus muncul di langit-langit itu menjadi gelap sebelum menghilang.

Akhirnya, apa yang muncul di hadapannya adalah pendekar cahaya yang mempunyai rambut hitam mempesona dan bibir merah segar—Kirito. Tangan kirinya menggenggam pistol, dan pedang photon di tangan kanannya diarahkan kebawah. Dia tersenyum senang sambil menatap lurus pada Shino.

Semangat bertarung dengan segera menyala di dalam Shino karena orang ini mungkin saja musuh terkuat yang bisa dia temukan di belantara keras yang luas itu. Dia bisa menolong Shino menghancurkan kekuatan masa lalu, dan dalam suatu hal—dia adalah harapan terakhirnya.

Aku akan melawannya dengan seluruh kekuatanku, dan aku akan menang.

Mengambil nafas yang dalam dan menghembuskannya, Shino menutup matanya dan bersiap untuk mengatakan kata kunci yang akan memindahkan jiwanya. Selanjutnya, kamar itu dengan jelas memantulkan suaranya yang cukup kencang.

“LINK START!”

Gravitasi horizontal yang tubuh itu rasakan tiba-tiba menghilang, dan perasaan melayang menggantikannya.

Selanjutnya, langit dan bumi nampak berputar 90 derajat. Jari kaki Sinon menyentuh lantai keras seperti tergelincir sedikit, dan hanya membuka matanya saat indra dari tubuh palsunya sepenuhnya tersambung.

Pertama, apa yang muncul di depan matanya adalah hologram neon merah besar yang melayang sambil menyeret ekornya melintasi langit malam tanpa bintang. Kata-kata merah ‘Bullet of Bullets 3’ bersinar di menara.

Sinon muncul di tengah jalan Glockenspiel bagian utara plaza didepan kompleks presidensial. Biasanya, tempat ini jarang dikunjungi orang, tapi hari ini, tempat ini penuh akan pemain, dan mereka semua memegang makanan dan minuman dan sedang berpesta ria. Sebenarnya, ini sudah dipastikan. Sekarang, pertaruhan untuk babak final BoB yang akan dilaksanakan telah dimulai, dan lebih dari setengah uang yang ada di GGO berkumpul di plaza ini.

Nilai bayaran ditunjukkan di hologram di udara, dan juru taruh yang berpakaian bagus—apa yang menakutkan adalah bahwa mereka bukan pemain, tapi «juru taruh NPC resmi» yang diciptakan oleh perusahaan pengoperasian—dan penjual informasi yang menjual informasi mencurigakan yang berkeliaran. Sinon tiba-tiba mengingat sesuatu dan pergi ke dekat seorang juru taruh NPC, dan lalu melihat ke atas kearah jendela, untuk menemukan kalau bayarannya cukup tinggi. Ini pasti karena bagaimana dia kalah kemarin. Memikirkan ini, dia mencari nama Kirito, untuk menemukan kalau dia adalah salah satu orang dengan bayaran tinggi juga.

Fu, Sinon mendengus dan berpikir mau mempertaruhkan seluruh hartanya pada dirinya sendiri. Tapi setelah berpikir kalau ini akan melemahkan tujuan utamanya, gadis itu berputar untuk meninggalkan kerumunan. Karena penampilannya dikenal oleh semuanya, dan sebagai seorang pelanggan di babak final GGO, ada banyak pandangan dari seluruh penjuru saat mereka melihatnya pergi. Namun, tidak ada yang berani mendekatinya karena semua orang tahu kalau Sinon adalah «seorang gadis tipe kucing liar yang akan beraksi tanpa belas kasih saat dia mengetahui seseorang sebagai musuh».

Dia ingin memasuki kubah tempat menunggu untuk mengumpulkan konsentrasinya, dan jadi bergerak ke arah menara presidensil. Setelah berjalan untuk beberapa saat, seseorang tiba-tiba memanggil namanya dari belakang.

“Sinon!”

Hanya ada satu pemain di dunia GGO yang akan memanggilnya seperti itu. Saat dia berputar, dia melihat Shinkawa Kyouji, yang dia tinggalkan beberapa menit lalu di dunia nyata, mengendalikan avatarnya «Spiegel» sambil melambaikan tangannya padanya dan berlari. Sebuah avatar model M yang tinggi dan kurus yang memakai pakaian kota nampak sedikit merah karena senang.

“Sinon, kenapa kamu lambat sekali? Aku mengkhawatirkan kamu—ada apa?”

Spiegel merasa aneh setelah melihat Sinon tersenyum.

“Bukan apa-apa. Hanya saja rasanya mengagumkan kalau aku bertemu seseorang di sebuah game setelah bertemu dengannya di dunia nyata.”

“…Aku pikir, aku tidak terlihat keren di dunia nyata daripada aku di dunia virtual. Bagaimana denganmu? Bagaimana kesempatanmu untuk menang? Apakah kamu punya taktik?”

“Jika aku harus mengatakan kesempatan menangku…Aku hanya bisa mengatakan kalau aku akan berusaha sebaik mungkin. Pada dasarnya, aku akan mencari lawan terus-menerus, menembak dan bergerak.”

“Itu benar, itu benar. Tapi…Aku percaya kalau Sinon pasti akan menang.”

“Un, terima kasih. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Baiklah…Aku hanya bisa melihat siaran langsung dari suatu hotel…”

“Oke, saat sudah selesai, Aku akan menemuimu di hotel. Apakah kita akan merayakannya untukku, atau apakah kamu akan minum anggur denganku untuk menenangkan diri.”

Sinon tersenyum lagi saat dia mengatakan ini, dan Spiegel menunduk lagi sebelum melihat ke atas lagi. Dia tiba-tiba mengambil tangan kanan Sinon dan menyeretnya ke suatu pojok di plaza. Spiegel tidak mempedulikan apakah pemain lain dapat melihat mereka ketika dia memutar kepalanya dengan cepat melihat Sinon yang terlihat sedikit gugup, yang hanya bisa mengedipkan matanya.

“Sinon….bukan, Asada-san.”

Spiegel harusnya tahu betapa kasarnya memanggil orang dengan nama aslinya di VRMMO, dan ini benar-benar mengejutkan Sinon.

“A…apa…?”

“Bisakah aku percaya kata-katamu tadi?”

“Kata-kataku tadi…”

“Kamu bilang kamu mau aku menunggu, kan…? Asada-san, kamu bilang setelah kamu menentukan kemampuanmu, kamu dan aku…”

“Kenapa, kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu!?”

Merasakan pipinya memanas, Sinon menyembunyikan wajahnya kedalam syal, tapi Spiegel melangkah ke depan dan lagi menggenggam tangan kanan Sinon.

“Aku…Aku, aku benar-benar menyukaimu Asada-san…”

“Maaf, bisakah kamu tidak membahas ini sekarang?”

Setelah mengatakan itu dengan mode sedikit tegas, Sinon menggelengkan kepalanya.

“Aku harus berkonsentrasi di turnamen ini sekarang…Aku harus bertarung dengan seluruh kemampuanku agar bisa menang…”

“…Aku mengerti, kamu benar…”

Spiegel melepaskan tangannya.

“Tapi aku, aku akan percaya padamu. Aku akan percaya, dan menunggumu.”

“U, un…kalau begitu, aku, aku pikir sudah waktunya bersiap…aku harus pergi.”

Sinon mungkin akan masuk turnamen dengan hati yang bimbang jika dia terus berbicara dengan Spiegel, dan jadi dia mundur.

“Lakukan yang terbaik. Aku akan mendukungmu.”

Dia mengganggukkan kepalanya pada Spiegel, yang suaranya penuh dengan semangat, dan memberikan senyum kaku sebelum pergi. Saat dia keluar dari pojok gelap suatu bangunan dan dengan cepat menuju pintu masuk bangunan presidensial, Sinon merasakan tatapan itu yang nampak membakar punggungnya.

Setelah melewati pintu kaca dan sampai didalam gedung dengan sedikit orang, gadis itu akhirnya mengendurkan bahunya.

Memikirkan apakah sikapnya membuat dia salah paham, dia bersandar di tiang batu.

Rasa sayang Kyouji untuknya diungkapkan dengan terang-terangan, tapi jujur saja, sudah sulit untuknya mengurus masalahnya sendiri.

Sinon tidak bisa mengingat wajah almarhum ayahnya sama sekali. Baginya, wajah laki-laki yang paling berkesan adalah penjahat yang merampok kantor pos hari itu. Saat masalah terjadi, phobianya akan muncul, dan wajah orang itu akan muncul dikepalanya. Kedalaman yang tanpa akhir dalam ekspresi bengis seperti bersembunyi dalam kegelapan disekitar Sinon, melihatnya.

Seperti mendapatkan pacar seperti gadis-gadis lain, mengobrol ditelepon, berkencan saat akhir pekan, hal-hal ini bukanlah hal yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya. Tapi, jika dia berpacaran dengan Kyouji seperti ini, suatu hari, dia akan melihat «mata itu» di dirinya. Inilah yang paling dia takuti.

Jika penyebab phobianya bukan hanya «senapan», tapi kalau dia akan merasa takut saat melihat seorang «pria»—akan sangat sulit untuknya bertahan.

Dia hanya bisa bertarung. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.

Gash! Sinon dengan kencang menghentakkan solnya pada lantai dan menuju lift yang ada didalam atrium.

Tapi, seseorang lagi memanggilnya dari belakang. Suara ini yang memanggil namanya terdengar jernih dan sedikit serak, berbeda dari suara Spiegel yang dalam. Sinon hanya bisa menutup matanya mendengar suara ini memanggilnya.

Ketika dia berbalik dengan perasaan jengkel, orang yang berdiri didepannya tentu—«orang itu» yang sangat dia benci.