Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 10 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 3 - Turnamen Seni Pedang Zakkaria (Bulan ke-8 Kalender Dunia Manusia 378)[edit]

Bagian 1[edit]

—Benar-benar bocah yang gak bisa dipahami.

Melihat kebawah kearah wajah tidur yang polos dari atas balok yang tinggi, ia tanpa sadar berfikir seperti itu.

Dua bocah itu menggunakan jerami kering dan keras yang ditumpuk di gudang yang sangat tua sebagai tempat tedur, tertidur nyenyak. Secara penampilan, mereka gak terlihat terlalu aneh. Bocah yang tertidur secara horizontal itu memiliki rambut berwarna kuning muda, dan mata yang sedang tertutup itu berwarna hijau tua. Keduanya adalah warna yang bisa ditemukan dimana saja di area NNM... «Norlangarth Northern Middle». Tinggi badan dan fisik mereka semuanya sesuai rata-rata yang dimiliki bocah seumuran mereka.

Sebaliknya, bocah yang tertidur di kiri yang kakinya terbuka lebar mempunyai rambut dan mata yang berwarna hitam pekat, benar-benar langka. Kesempatan melihat warna gelap lebih umum di area Timur dan Selatan, dan peluang untuk melahirkan anak dengan mata dan rambut hitam di wilayah Utara sangatlah langka, bahkan ada yang bilang kalau peluang itu gak ada sama sekali. Berhubung populasi dari Kerajaan Manusia telah berkembang sampai sedemikian luas, mungkin hal itu bisa terjadi. Bentuk tubuh nya sangat mirip dengan bocah yang disebelah nya, seolah-olah mereka adalah saudara kembar.

163 hari yang lalu, ia diperintahkan oleh «Master» untuk secara langsung mengamati dua bocah itu. ia datang jauh-jauh kesini dari Central Centoria, dan entah kenapa merasa kecewa. Entah itu karena penampilan atau veralism, mereka gak terlihat terlalu berbeda dari orang-orang yang seumuran dengan mereka, tapi ia merasa kalau perencanaan dan kemampuan mereka untuk menghindari bahaya dalam kondisi yang berbahaya itu dibawah rata-rata.

Sudah setengah tahun lamanya ia mengikuti dua bocah itu, berhati-hati agar gak ketauan.

Musim hujan sudah lewat, dan saat musim panas hampir lewat, ia pelan-pelan mengerti kenapa «Master» menyukai kedua bocah itu.

Kurangnya perencanaan dan mematuhi peraturan hanyalah wujud dari rasa ingin tau mereka. Dan juga, imajinasi dan gerakan bocah berambut hitam itu mengagetkan bahkan baginya, yang sudah hidup di dunia ini selama lebih dari 200 tahun. Sejak ia mulai memperhatikan mereka, sering kali ia merasa khawatir kalau bocah itu akan melanggar Taboo Index.

Memikirkan hal itu dengan seksama— itu bukanlah masalah. Bocah itu gak akan bisa melakukan hal seperti itu. Dia melakukan hal yang mirip dengan [dia] yang «Master» anggap sebagai musuh bebuyutan nya, menghancurkan perbatasan permanen yang berserakan di seluruh dunia dalam beberapa hari...

Pada saat ini, bocah berambut hitam yang tertidur mulai menggerakkan kaki nya seolah-olah melihat sesuatu. Baju yang berperan sebagai piyama nya itu terbuka sedikit, dan ia hanya bisa menghela nafas, dan bocah itu mulai bergerak-gerak lagi tanpa peduli kalau pusar nya kelihatan.

Musim panas sudah berakhir, dan angin malam terasa agak dingin di wilayah yang bisa disebut wilayah Norlandgarth utara. Banyak celah di gudang ini, dan kalau bocah itu terus tidur di atas jerami dengan pusar terbuka, kemungkinan «Life» miliknya mendapat sedikit penyakit akan sangat besar. Hari berikutnya— Kalender Dunia Manusia 387, Agustus 28th bisa dibilang adalah rintangan terbesar selama perjalanan untuk mereka.

Mereka hanya bisa menghasilkan uang dengan bekerja di peternakan ini selama musim panas, dan meskipun ia berkali kali ingin memberitau agar mereka setidaknya tidur di penginapan di kota, ia gak bisa berinteraksi dengan mereka secara langsung. Sembari ia memperhatikan mereka dengan cemas, kedua bocah itu melanjutkan tidur mereka di gudang yang simpel itu—

Dan pada akhirnya, berakhir seperti ini.

...Mau gimana lagi. Kalau aku ikut campur dengan cara sepert ini, «Master» akan memaafkan ku, pasti.

Ia berdiri diatas balok tinggi dan melambaikan tangan kanan nya. Mengucapkan sebuah mantra, ujung jari nya mengeluarkan cahaya berwarna hijau, membentuk cahaya dari «Elemen Angin».

Ia secara hati-hati membiarkan «Elemen Angin» itu jatuh disamping bocah berambut hitam, 30 cen menuju jerami kering, dan pelan-pelan «melepaskan» nya.

Sedikit angin sepoi-sepoi tercipta dari cahaya itu, menggulung tumpukan jerami yang pelan-pelan menyelimuti pusar bocah yang terbuka itu. Benda itu bukan selimut yang bagus, tapi sepertinya cukup untuk menghalangi angin dingin yang berhembus dari celah gudang.

Ia menurunkan tangan nya dan meneruskan untuk menatap kearah dua bocah yang gak sadar apa yang terjadi sebelum mulai memikirkan apa yang akan dilakukan setelahnya.

Life itu beku permanen, dan penyihir itu sudah menjalankan tugas yang mirip dari «Master» itu selama hampir 200 tahun. Namun, ia gak pernah punya ingatan apapun tentang dirinya merasa tertarik dengan pihak yang diamati. Tapi, ia harus menjadi sebuah fungsi yang tak memiliki «emosi». Tubuh ini bukan tubuh yang dimiliki manusia... Atau lebih tebatnya, bukan sebuah Unit Manusia di «UnderWorld» ini.

Meskipun ia bisa memprediksi kalau bocah itu akan terkena flu tepat sebelum ujian penting nya, masalahnya adalah kenapa ia gak mengacuhkan hal ini, tapi malah menggunakan sihir untuk ikut campur. Atau bahkan, jika bocah itu ambruk, jika sihir itu gagal, misi panjang nya untuk mengamati mereka akan berakhir, dan ia bisa kembali ke pojokan dari perpustakaan besar yang ia rindukan...

Dengan kata lain... bukannya pulang, perjalan nya dengan dua bocah itu akan berakhir seperti ini saja?

Mustahil. Hal ini terlalu gak logis. Ini seperti aku terpengaruh oleh gerak-gerik tak wajar dari mereka berdua.

Aku gak boleh terus memikirkannya. Ini bukan bagian dari misi. Yang harus aku lakukan hanyalah mengikuti dan memperhatikan mereka berdua. Aku harus memperhatikan kedua orang ini— bocah berambut kuning muda Eugeo dan bocah berambut hitam Kirito, pergi ke tempat tujuan mereka.

Ia melengkungkan tubuhnya mundur 5 mil dan melompat dari balok. Ia gak boleh membuat Life nya capek dengan tubuh yang kecil ini, dan ia gak perlu menggunakan sihir. ia mendarat seperti jerami yang mendendap, dan pelan-pelan memindahkan kaki kurus nya ke posisi yang biasanya— ke dalam rambut hitam yang agak panjang dari bocah yang bernama Kirito.

Ia mengencangkan badannya di berbagai helai rambut yang mempunyai warna yang sama dengan nya, dan untuk suatu alasan, menegur dirinya sendiri untuk tubuh kecil nya.

Kedamaian, kenyamanan, keyakinan; di tengah-tengah semua ini, ada semacam emosi yang kuat dari semua hal itu... Dan ia gak bisa berfikir kenapa ia merasa demikian.

—Benar benar bocah yang gak bisa dipahami.

Ia lagi-lagi mempunya pemikiran seperti ini, menutup matanya, dan kemudian tertidur.


Bagian 2[edit]

Besok adalah hari terakhir dari bulan Agustus, dan merupakan pagi hari yang sangat jelas.

Kirito meregangkan pungung nya dan membuka mata nya. Ia terlihat agak terkejut saat ia meraih tumpukan jerami yang menyelimuti tubuh nya, dan bangun dengan segera. Ia menggelengkan kepalanya untuk membangunkan dirinya, dan si pengamat yang bersembunyi di rambut nya mengeluarkan lengan dan kaki nya keluar.

Ia pindah ke ujung dari beberapa helai rambut hitam itu dan pindah ke sisi samping nya. Itu adalah tempat yang ia tetapkan untuk mengobservasi. Berhubung Kirito kadang-kadang suka menggaruk kepalanya, ia harus selalu waspada. Life yang dibekukan hanya berarti agar gak berkurang secara natural karena umur, dan Life tetap berkurang saat tubuh mengalami luka. Namun, nilai maksimum dari Life milik nya jauh lebih besar dari pada manusia, dan setelah tubuhnya menyusut, hampir seluruh ketangguhannya masih tersimpan, jadi pukulan mendadak atau apapun itu masih bisa ditahan.

Kirito gak menyadari si pengamat sebesar butiran beras yang bersembunyi di rambut nya dan menyingkirkan tumpukan jerami itu. Ia menggapai tangannya ke pundak partner nya yang sedang tertidur.

"Oi Eugeo. Bangun. Udah pagi."

Goncangan yang kasar dari Kirito menyebabkan bulu mata bocah yang warna nya sama dengan rambut nya menyentak sedikit saat ia membuka matanya. Mata hijau itu terlihat pusing, tapi setelah mengedip keras beberapa kali ia sepertinya meringis dan menyempitkan nya.

"...Pagi, Kirito. Kau masih sama seperti biasanya, bangun pagi-pagi banget setiap hari."

"Kamu nya saja yang kesiangan mulu, bangun, bangun! Kita harus menyelesaikan apa yang harus kita lakukan pagi hari; ayo latihan beberapa «style» sebelum sarapan. Aku masih gak terlalu ngerti «Style» ke-7.”

"Itulah kenapa aku bilang padamu untuk latihan «styles» mu daripada latih tanding melulu... Sulit dipercaya yah kamu itu, jadi 'all-nighter'[1] pada pagi hari turnamen...Eh, agak aneh bilang gitu di pagi hari. Yah..."

"Lupakan tentang 'all-morning' atau 'all-nighter' atau apapun itu, kita hanya punya satu kesempatan ini."

Ucap Kirito lalu memaksa Eugeo untuk bangun, mengumpulkan jerami yang ia gunakan sebagai tempat tidur, dan menyimpan nya di tong kayu di dekat tembok. Ia mengangkat tong kayu yang berisi jerami itu dan pergi menuju pintu keluar.

Pada saat ia berjalan keluar gudang, cahaya yang bersinar dari matahari menyambut matanya. Si pengamat menjauhkan diri dari sinar itu dan bersembunyi di dalam rambut hitam Kirito. Mungkin ia masih terbiasa di pojok perpustakaan besar yang gelap, ia sepertinya terlalu sensitif terhadap cahaya matahari. Namun, Kirito dengan riang mengambil nafas dari udara pagi dan mengatakan hal ini entah kepada siapa.

"Udara pagi memang sangat sejuk. Beruntung aku gak kena flu pada hari yang penting ini."

"Bisa-bisa nya kau berkata seperti itu. Aku gak akan menolong lagi kalau kau tidur dengan pusar terbuka seperti kemarin." Ucap si pengamat dalam hati, dan Eugeo, yang bergerak kebelakang Kirito, berkata,

"Cepat atau lambat kita pasti bakal muak tidur di gudang itu dengan tumpukan jerami. Bagaimana kalau kita gunakan uang kita untuk tidur di penginapan mulai besok?"

"Gak, gak perlu."

Kirito nyengir —tentu saja, mustahil untuk melihat wajahnya dari belakang kulit kepala nya, tapi Eugeo bisa tau kalau ia sedang nyengir nakal— dan berkata,

"Karena, mulai besok, kita akan tinggal di Asrama Zakkaria."

"...Tolong beritau aku darimana kamu mendapat kepercayaan diri seperti iu. Ampun deh..."

Yare yare. Eugeo menggelengkan kepalanya sembari mengangkat tong kayu berisi jerami, seperti yang dilakukan Kirito. Mereka berdua terlihat bersantai, tapi berat dari tong kayu kokoh yang berdiameter 1-mil ini sangat mengejutkan walaupun hanya terisi kumpulan jerami. Seorang anak muda biasa yang seumuran mereka mungkin hanya mampu berjalan 20 langkah sambil mengangkat tong itu.

Alasan mengapa dua bocah kurus ini bahkan gak berkeringat, itu karena «Object Control Authority»[2] milik mereka sangat tinggi. Mereka berdua mampu menggunakan pedang panjang yang bersender di dinding gudang— sebuah objek Kelas 45 «Divine Instrument», semau mereka.

Lalu, bagiamana bisa mereka berdua yang terlihat seperti anak muda yang normal, yang tinggal di pedesaan, memiliki «Object Control Authority» yang sangat besar? Sudah setengah tahun aku mengamati mereka, tapi aku masih gak mengerti kenapa. Tapi, setidak nya bisa dibilang kalau latihan biasa atau latih tanding sampai sekarang gak akan bisa menghasilkan nilai sebesar itu. Mungkin mereka bertarung melawan monster liar level tinggi, tapi monster-monster yang berkeliaran disekeliling desa seharusnya sudah diburu sampai hampir punah. Lebih penting nya lagi, mereka berdua gak punya «Hunter» sebagai Sacred Task kedua mereka, dan jika mereka memburu monster liar lebih dari yang diizinkan, mereka harusnya sudah melanggar dua pasal dari Taboo Index. Jika anak yang sangat aktif dan energetik seperti Kirito gak bisa melakukan itu, berarti anak yang loyal dan jujur seperti Eugeo juga gak mungkin—

Ada satu kemungkinan lagi yang tersisa; mereka mengalahkan musuh yang memberikan peningkatan besar pada «Object Control Authority» mereka yang bahkan gak bisa didapatkan dengan mengalhkan monster liar saja... suatu «Penyusup dari Dark Territory». Tapi pada sisi lain, hal ini gak mungkin dilakukan. Mereka berdua bukan penjaga, dan mustahil bagi mereka untuk melawan Dark Army. Dan juga, Dark Knight yang suka berdatangan, dan goblin pemantau seharusnya sudah dibereskan oleh Integrity Knights yang dikirim dari ibu kota Centoria ke «Mountain Range at the Edge».

Jika di dekat desa Kirito terjadi «invasi» mendadak... itu merupakan masalah yang lebih besar dibanding pertumbuhan mereka yang abnormal. Mungkin itu adalah sebuah pertanda. Hal itu dapat menjadi «Waktu yang Dijanjikan» yang akan tiba suatu hari nanti, yang tadinya disangka akan terjadi lebih jauh lagi di masa depan...

Menyembunyikan dirinya di dalam rambut hitam dan merenungkan tentan hal ini, kedua anak muda telah memindahkan tong yang berisi jerami itu ke kandang disamping gudang. Mereka mengisi penuh ember berisi makanan untuk sepuluh kuda dan mengambil sikat untuk menyikat tubuh kuda saat mereka mulai makan. Pekerjaan ini adalah hal pertama yang harus Kirito dan Eugeo lakukan di pagi hari berhubung mereka tinggal sementara di «Peternakan Wilde» yang berada di pinggiran Zakkaria.

Setelah bekerja selama lebih dari 5 bulan, teknik yang mereka berdua lakukan dalam menyisir kuda bisa membuat orang mengira kalau mereka memiliki Sacred Task «Merawat Kuda». Mereka berdua selesai menyisir kuda terakhir, dan semua kuda telah menghabiskan makanan nya. Kemudian, suara lonceng jam 7 tepat berbunyi dari gereja Zakkaria yang jauhnya 3 kilolu dari sini. «Bell of Time-Telling» yang dibangun Gereja Axiom di seluruh desa dan kota dapat terdengar dengan jelas dalam radius 10 kilolu yang suaranya gak akan melemah sama sekali, tapi akan sulit mendengar nya diluar radius itu. Ini mungkin adalah pemikiran psikologis untuk memastikan agar Unit Manusia gak berfikir untuk pergi terlalu jauh, tapi sepertinya hal itu sama sekali gak berpengaruh ke pihak Kirito.

Mereka berdua menggunakan ember yang berisi air untuk membersihkan tangan mereka dan menggantung sikat kuda ke gantungan di pillar. Mereka menggunakan tangan kanan mereka untuk mengangkat tong kosong, dan meninggalkan kandang. Pada momen ini, sambutan yang penuh semangat dapat terdengar, sepertinya sedang menunggu mereka berdua.

““Selamat pagi, Kirito, Eugeo!””

Ke dua suara itu bertumpang tindih satu sama lain. Pemilik suara itu adalah anak gadis kembar berumur 9 tahun dari pemilik peternakan— Telin dan Telulu. Rambut dan mata mereka berwarna coklat kemerahan, dan baju dan rok yang mereka pakai benar-benar sama persis. Satu-satu nya cara untuk membedakan mereka yaitu dengan melihat warna dari pita yang mereka pakai di ponytail mereka. Saat mereka memperkenalkan diri mereka, gadis dengan pita merah adalah Telin, dan gadis dengan pita biru adalah Telulu. Namun, dua gadis yang sangat mirip ini sering kali menukar pita mereka untuk membuat Kirito dan Eugeo salah mengidentifikasi mereka.

"Selamat pagi, Teli..."

Eugeo hampir membalas sambutan mereka seperti biasa, tapi Kirito menghentikan nya dari belakang.

"Tunggu dulu! ada yang sedikit aneh disini..."

Kedua gadis yang mendengar ini menatap satu sama lain, lalu tertawa,

"Ada yang aneh?" "Itu cuma imajinasi mu?"

Suara mereka, wajah mereka, jumlah bintik-bintik di wajah mereka benar-benar sama persis. Kirito dan Eugeo berfikir dan bergumam, menoleh kedepan dan belakang.

Alasan mengapa ada Unit Manusia yang kembar... atau lebih langka nya kembar tiga, bahkan «Master» sendiri gak mengerti sepenuh nya. Setelah berturut-turut ada beberapa kasus kematian Unit Manusia yang terjadi di area sekitar, jumlah anak kembar yang lahir semakin meningkat. Ini mungkin merupakan bagian dari sistem pengaturan populasi manusia, dan kalau itu benar penyebab nya, harusnya gak perlu membuat semuanya sama. Namun, gak ada kelemahan atau kekuatan yang bisa digunakan untuk memastikan hal itu.

—Meski begitu, si «Pengamat» hanya perlu melihat Status Window dari Unit itu secara normal...dalam istilah mereka, disebut «Stacia Window», jadi mudah saja untuk membedakan kedua anak kembar yang menukar pita mereka itu. Dengan kata lain, insting Kirito benar.

Percayalah dengan insting mu sendiri. Si pengamat yang berbaring diatas akar rambut hitam kirito itu bergumam. Kirito gak mendengar suara itu, tapi ia mengangkat tangan kirinya dan menunjuk gadis dengan pita merah.

"Selamat pagi, Telulu!"

Kemudian, ia menunjuk gadis dengan pita biru.

"Selamat pagi, Telin!"

Pada saat ia selesai, gadis kembar itu menatap satu sama lain dan berseru, "Kau benar!" mereka menggerakkan tangan mereka yang bersembunyi dibalik badan mereka ke depan, masing-masing memegang keranjang rotan persegi panjang.

"Ini hadiah mu karena sudah menebak dengan benar. Sarapan pie Mulberry!"

"Kami sangat antusias dalam memetik mulberries! Kami menghabiskan waktu seharian untuk memetik nya jadi kalian berdua bisa memenangkan turnamen hari ini!"

"Oh. Aku sangat senang. Terima kasih, Telulu, Telin."

Kirito meletakkan tong kayu kesamping kaki nya dan menjulurkan kedua tangan nya untuk membelai kepala kedua gadis itu. Gadis kembar itu tersenyum dan menatap Eugeo dengan ekspresi agak khawatir.

"...Apa kamu gak senang, Eugeo?"

"Jangan bilang kalau kamu benci mulberry?"

Segera, anak dengan rambut kuning muda nya itu melambaikan tangan nya dengan buru-buru.

"Enggak, bukan seperti itu. Aku juga suka! ...Aku hanya memikirkan masa lalu. Terima kasih."

Mendengar hal itu, gadis kembar itu menunjukkan senyum lega dan berlari ke meja bundar yang terletak diantara kandang dan lahan pengembalaan. Kirito memalingkan wajah dari kedua gadis yang sedang menyiapkan sarapan dengan gerakan yang segar kemudian berjalan menuju Eugeo dan menepuk pundak nya dari belakang.

"Kita harus memenangkan turnamen hari ini dan segera menjadi ranking top dari prajurit jadi kita bisa pergi menuju Centoria tahun depan... Menuju Alice. Ya kan, Eugeo?"

Eugeo mengangguk keras lalu berkata dengan suara yang lembut namun juga kuat.

"Ya, itu benar. Aku menghabiskan waktu lima bulan mempelajari «Aincrad-Style» darimu untuk tujuan itu, Kirito."

Memang hanya percakapan singkat, tapi terkandung banyak pesan penting didalam nya.

Diantara pesan-pesan tersebut, ada istilah yang si pengamat, yang sudah hidup selamat lebih dari 200 tahun sebagai penyihir, gak tau— yaitu nama dari sword style yang gak bisa dibayangkan itu"

Dan juga, ada satu tujuan akhir dari mereka berdua— Unit yang dipanggil «Alice».

Jika Alice yang disinggung disini adalah Unit yang sama dengan Alice yang ada di ingatan nya... keinginan mereka berdua akan sangat jauh dan samar.

Itu karena dia ada di tempat yang sangat, sangat tinggi di «Centoria Cathedral» yang ada di Centoria pusat...

"Kirito! Eugeo! Apa yang kalian berdua lakukan!"

"Cepat kesini! Atau Telin dan Aku akan menghabiskan sarapan nya!"

Gadis kembar yang telah menyelesaikan persiapan nya berseru, dan Kirito segera mendorong pundak Eugeo dan berlari.

Sentakan ini menginterupsi pikiran si pengamat dan menyebabkan nya kembali ke kenyataan. Selama lebih dari 5 bulan, ia telah berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa berfikir bukanlah pekerjaan yang pengamat lakukan. Tapi pada akhirnya ia selalu juga berfikir... Bukan, ia khawatir akan masa depan kedua bocah itu.

Ia berpegangan erat pada sehelai rambut hitam dan menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini.


Setelah sarapan yang berisik, gadis kembar itu meninggalkan sebuah kata-kata, "Kami akan mendukung kalian!" dan pergi.

Mereka menyiapkan sepuluh kuda ke ladang peternakan dan membersihkan kandang. Biasanya, mereka akan menggunakan pedang kayu untuk berlatih, namun hari ini berbeda. Mereka berdua membersihkan tubuh dan rambut mereka disamping sumur —pada saat ini, si pengamat meninggalkan kepala Kirito dan sembunyi di atas pohon yang dekat— dan mereka mengganti pakaian kerja nya dengan pakaian mereka sendiri. Mereka kemudian menghadap ke rumah petani yang gak terlalu jauh.

Istri dari pemilik peternakan, Toriza Wilde mempunyai kepribadian yang polos sebagai pemilik dari peternakan. Itu mungkin alasannya kenapa ia dengan tulus hati menerima mereka berdua yang terlihat agak aneh. Hal itu sama dengan hari ini saat ia menyemangati Kirito dan Eugeo, yang datang untuk menyapa nya, dengan suara lembut dan menyiapkan bekal mereka. Saat ia menyuruh mereka pergi, ia kemudian berkata "Kalau kalian gagal, lupakan tentang menjadi prajurit di kota ini. Jadilah suami Telin dan Telulu!", dan perkataan ini membuat kedua anak muda itu menunjukkan senyum yang agak ruwet.

Mereka meninggalkan rumah itu dan berjalan 3 kilolu di jalanan yang mengarah ke kota. Mereka berdua pada dasarnya gak pernah bicara satu sama lain, dan situasi itu sendiri gak pernah terjadi sebelum nya. Kemungkinan besar, itu karena perasaan gugup. Tiap tahun, pada tanggal 28 Agustus, kota Zakkaria akan mengadakan «Kompetisi ahli pedang area Norlangarth Utara», dan banyak orang dari lebih dari 50 kota atau desa sekeliling yang ikut serta. Pada dasarnya, seluruh peserta adalah orang yang memiliki Sacred Task «Penjaga», dan Kirito dan Eugeo adalah satu-satunya yang ikut tanpa peran seperti itu.

Hanya dua orang bisa bergabung ke pasukan prajurit Zakkaria, yaitu satu perwakilan dari blok timur dan satu dari blok barat, dan mereka berdua gak boleh gagal kalau mereka ingin mewujudkan mimpi mereka, yang merupakan rintangan terberat bagi mereka. Namun, masalah nya adalah apa yang akan terjadi jika mereka berdua berada di blok yang sama, dan kedua anak muda ini mungkin sama sekali gak memikirkan hal itu—

Seiring mereka membiarkan pikiran mereka kemana-mana, suara retakan dari sesuati, *BON*, dapat terdengar.

Ia menjulurkan kepalanya keluar dari kulit kepala Kirito, dan melihat ke jalanan yang ada di sisi lain dari bukit pendek, terbuat dari batu pasir yang berwarna coklat kemerahan. Itu pasti kota terbesar di area NNM, Zakkaria. Pada saat ini, populasi nya berjumlah 1950, dan angka itu gak sampai 10% dari populasi Central Centoria, tapi harusnya hari ini akan tetap ramai di turnamen terbesar yang diadakan tiap tahun ini.

Seiring mereka berjalan ke gerbang Barart, Eugeo berbisik,

"...Sebenarnya, kalau Aku gak melihat nya langsung, Aku mungkin mengira-mengira apakah kota Zakkaria itu benar-benar ada."

"Kenapa?"

Anak berambut kuning muda itu tersenyum mendengar pertanyaan Kirito,

"Itu karena... Pada dasarnya gak ada satupun orang dewasa di Desa Rulid yang pernah melihat Zakkaria. Mantan kepala-penjaga Doyke punya hak untuk ikut serta dalam turnamen, tapi gak pernah melakukan nya sampai kemudian ia pensiun. Aku bahkan gak pernah mendapat kesempatan untuk pergi ke Zakkaria atau semacam nya sebagai «Penebang Gigas Cedar». Kalau itu adalah tempat yang gak ada satupun dari orang-orang di desa pernah kesana sebelumnya, dan tempat yang aku gak bisa lihat..."

"Jadi kamu membuktikan nya dengan mata kepalamu sendiri."

Kirito menggumam menggantikan Eugeo, kemudian tersenyum dan menambahkan.

"Baguslah Zakkaria itu benar-benar ada. Jika kota ini ada, itu menjadi bukti kalau Centoria bukanlah sekedar kebohongan."

"Ya. Itu... benar-benar sulit dipahami. Kita melakukan perjalanan dari Rulid selama lebih dari 5 bulan, dan meskipun kita tau kalau dunia ini bukan hanya desa itu saja, itu masih berasa luar biasa sekarang... Benar-benar luar biasa."

Meski ia dapat mengerti kata-kata yang diucapkan Eugeo, ia merasa kalau kekaguman Eugeo benar-benar aneh. Penyihir yang mengabdi pada «Master» yang sudah hidup bertahun-tahun lamanya sudah melihat Centoria dan seluruh dunia manusia yang besarnya 1.500 kilolu. Kapasitas informasi nya jauh melebihi seluruh Unit Manusia kecuali para «Integrity Knights». Namun, ada area yang gak diketahui juga. Itu adalah sisi lain dari «Mountain Range at the Edge» yang mengitari dunia manusia... Dark Territory. Hanya ada beberapa rumor seperti bagaimana disana ada beberapa kota dan desa dan bagaimana disana bahkan ada kota hitam pekat yang sangat besar disana... Suatu hari, ia pasti akan mendapatkan kesempatan untuk membuktikan eksistensi itu dengan mata kepala nya sendiri.

Mustahil... Semua itu hanya khayalan tanpa dasar, tapi jika kami terus mengamati kedua bocah ini, mungkin suatu hari—

Sepertinya, ia berfikir tentang hal seperti itu.

Goncangan yang tak diduga hampir membuat ia meloncat keluar dari kepala Kirito. Ia dengan panik berpegangan erat ke rambut hitam dan melihat kedepan tanpa berfikir apa-apa.

Yang terlihat oleh mata nya adalah seekor kuda yang mengangkat kaki depan nya. "Hihihihihi", kuda itu mengeluarkan suara yang seolah-olah sedang menangis dan kelihatan sedang mengusir penjaga Zakkaria yang sedang naik diatas nya. Goncangan yang tadi mungkin adalah Kirito yang membungkukkan badan nya, mencoba untuk menghindari amukan kuda.

Di gerbang Barat 10 Mel dari kota, penjaga yang mengendarai kuda ada di atas jembatan batu di depan parit, dan kuda itu mulai mengamuk tanpa kendali saat Kirito sedang menyebrang jembatan itu.

"Be...Berhenti, BERHENTI!"

Penjaga yang duduk diatas pelana itu mati-matian mencoba untuk menarik tali kekang, mencoba untuk menenangkan kuda itu, tapi sepertinya gak berpengaruh apa-apa. Binatang hidup seperti kuda butuh Control Auhority yang besar, tapi Unit yang memiliki «Penjaga» sebagai Sacred Task nya seharusnya dapat memenuhi kondisi ini.

Kalau begitu, ada beberapa alasan mengapa kuda itu gak mau mendengar pengendara nya dan mengamuk. Contohnya, kurangnya makanan atau air yang menyebabkan Life nya berkurang, atau kuda itu merasakan adanya monster buas yang berbahaya sedang mendekat— Namun, sepertinya dua kondisi ini gak ada hubungan nya.

Saat ia lanjut untuk mencari kesimpulan, kuda yang mengamuk itu mulai mengangkat kaki depan nya. Kirito, yang ada tepat dibawah nya yang menunduk untuk menghindari nya, gak bisa sepenuh nya menghindar. Orang-orang yang lewat, yang melihat situasi aneh yang sedang terjadi ini, berteriak. Bahkan Life pria dewasa bisa berkurang setengah jika diinjak oleh kuda dengan momentum seperti itu...

"BA-BAHAYA...!"

Seseorang berteriak, dan dalam sekejap, Kirito bergerak, bukan kebelakang — namun kedepan. Ia menghindari nya dengan mengelak ke samping kaki kuda itu, menggunakan tangan nya untuk menahan kepala kuda dengan kencang, lalu berkata dengan nada yang tajam,

"Eugeo, belakang!"

Saat ia berkata seperti itu, si partner sudah bergerak terlebih dahulu. Sementara Kirito menahan kuda itu, Eugeo pergi kebelakang dan dengan cepat menarik ujung ekor nya yang dari terus bergerak-gerak dengan kedua tangan nya. Tangan nya yang secepat kilat mengambil sesuatu dari ekor coklat kuda itu, kemudian, kuda yang mengamuk itu tiba-tiba menjadi tenang.

Kirito dengan lembut membelai hidung kuda yang terengah-engah itu.

"Oke, oke, udah gak apa-apa sekarang— Tuan penjaga, tolong lepaskan tali itu."

Penjaga yang masih muda yang ada diatas pelana itu menganggukkan kepala nya yang pucat dan mengendorkan tali kekang yang terikat dengan ketat. Pada saat yang sama, Kirito menggerakkan tangan nya menjauhi kepala kuda itu dan melangkah kebelakang. Kuda itu kemudian berbalik kebelakang dan dipacu kembali ke lokasi yang ditentukan di samping kanan dari jembatan batu. Penonton yang ramai itu mengeluarkan suara lega.

Si pengamat yang masih berada di rambut Kirito menghembuskan nafas dengan lega bersamaan dengan penonton. Tanpa sadar menjulurkan tangan nya untuk melindungi dirinya sendiri dari depan. Ia hampir saja menggunakan sihir pelindung nya untuk melindungi Kirito dari tendangan kuda itu. Gak, jika saat itu Kirito gak mengambil tindakan, ia mungkin sudah menggunakan sihir itu. Sebagai pengamat, hal itu adalah sesuatu yang gak boleh dilakukan.

Bocah yang gak tau tentang keberadaan penumpang kecil diatas kepalanya menghela nafas nya sembari menaruh tangan nya didekat dada nya, berjalan ke samping partner nya, dan berbisik,

"...Seekor «Lalat Rawa»?"[3]

"Tepat."

Eugeo membalas nya dengan pelan dan meliha kesekitar. Setelah ia mengecek para pejalan kaki yang tadinya berhenti dan kembali berjalan dan penjaga yang sedang fokus ke kuda kesayangan nya, ia memberikan sesuatu yang ada di tangan kanan-nya kepada Kirito.

Yang ada di tangan nya adalah serangga bersayap yang panjang nya 4 cen dengan belang merah dan hitam di daerah perutnya. Itu terlihat seperti lebah, tapi gak ada sengatan beracun di badan nya. Namun, ada satu tonjolan tajam di mulut nya.

Diantara «serangga berbahaya» yang ada untuk membatasi gerakan Unit Manusia, serangga ini gak berbahaya karena gak akan memberikan gangguan langsung kepada manusia. Meskipun bisa saja memberikan sedikit serangan ke Life setelah menghisap darah, serangga itu hanya menyerang kuda, hewan ternak, dan kambing. Alasan mengapa kuda kesayangan penjaga itu mengamuk karena kuda itu telah digigit oleh Lalat Rawa dibagian bokong.

"Rasanya aneh..."

Kirito bergumam sembari meraup serangga yang terbunuh saat tertangkap oleh tangan Eugeo.

"Seharusnya gak ada rawa-rawa disekitar sini, kan?"

"Ya. Aku diberitau pada hari pertama kita bekerja di peternakan Wilde. Rawa terdekat ada di dekat hutan di barat, dan kita seharusnya gak boleh membawa kuda kesitu."

"Hutan di timur itu sekitar... 7 kilolu dari Zakkaria. Harusnya gak mungkin bagi Lalat Rawa yang tinggal di rawa itu terbang jauh ke sini."

Merespon pertanyaan Kirito, Eugeo memiringkan kepalanya sedikit, dan kemudian berkata dengan nada yang samar,

"Meskipun begitu... Masih mungkin bagi mereka untuk menyelinap ke barang bawaan suatu pedagang yang datang kesini, kan?"

"...Yah, mungkin saja."

Seiring mereka berbincang, serangga yang ada di antara jari-jari Kirito kehilangan warna merah nya dengan cepat. Life dari serangga itu sangat rendah, dan «Serangga Mati» bahkan mempunyai Life yang lebih rendah, jadi mayat mereka hanya akan bertahan sekitar satu menit.

Segera, Lalat Rawa yang berwarna abu-abu terang mengeluarkan suara pelan lalu hancur seperti pasir, membebaskan dirinya dari tubuh yang kecil yang kemudian lenyap.

"Fuu", Kirito meniup jari-jari nya, dengan acuh melihat kesekeliling, dan kemudian sedikit mendengus.

"Yah, mau itu kau atau aku, kita benar-benar beruntung gak terluka tepat sebelum turnamen yang penting ini. Syukurlah kita tinggal dengan kuda di peternakan setiap hari."

"Ah, iya. Kalau kita menjadi prajurit, bagaimana kalau kita mencoba jadi pasukan berkuda?"

"Kita datang jauh-jauh kesini, jangan bilang kata-kata 'kalau', Eugeo. Kita pasti menjadi prajurit tak peduli apapun rintangan yang menghadang."

Eugeo menatap balik wajah nyengir Kirito dengan ekspresi yang terkaget.

"Rintangan... Kita harus memenangkan turnamen, jadi pasti akan ada banyak lawan."

"Ah... Ya, itu benar. Yang ingin aku katakan adalah, jangan sampai lengah sebelum turnamen. Mungkin saja akan ada banyak kejadian tak terduga seperti yang terjadi barusan."

"Eh, sangat tak terduga kalau ternyata kamu itu orang yang sangat hati-hati, Kirito."

"Tentu saja. Aku gak bisa akrab dengan orang-orang ceroboh yang gak berfikir dulu sebelum bertindak."

Setelah berkata seperti itu, Kirito menepuk punggung Eugeo,

"Oke, ayo isi perut kita dulu sebelum turnamen."

Bagian 3[edit]

Zakkaria adalah sebuah kota yang dikelilingi oleh tembok persegi panjang dari timur ke barat.

Ukuran kota ini sepanjang 900 Mel dari Utara ke Selatan dan 1300 Mel dari Timur ke Barat. Luas nya sekitar 5 kali lipat dari desa Rulid di utara tempat mereka berdua berasal. Berhubung desa itu berada ditengah-tengah padang rumput, gak ada sungai atau danau yang dekat dengan desa itu, dan sumber air yang digunakan adalah air dari sumur. Demikian, desa itu terlihat seperti tempat yang kering, tapi disana ada lebih banyak tanaman dibanding Kerjaan Utara yang dipenuhi oleh kota-kota.

Jalanan dan bangunan pada dasarnya terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan, dan penduduk yang datang dan pergi memakai pakaian berdasarkan warna merah juga. Jadi, pakaian dengan warna dasar biru yang dipakai dua anak muda itu, yang datang dari Utara, terlihat mencolok. Eugeo menundukkan kepalanya, terlihat khawatir akan pandangan orang-orang lain, tapi Kirito kelihatan acuh sembari melihat-lihat ke toko-toko yang ada dipinggir jalan.

"Oh, roti daging yang dijual di toko ini keliatan enak... tapi toko kebab itu menjualnya lebih murah 2 Shears[4]. Ah...Eugeo, kamu mau makan yang mana?"

Ucap Kirito dengan santai lalu membalikkan kepalanya. Ia kemudian menyadari sikap yang partner nya itu tunjukkan. Mata hitam nya berkedip dengan bingung.

"...Oi, Eugeo. Ini udah ketiga kali nya kita di Zakkaria. Gak perlu tegang begitu."

"Ah benar juga, ini udah ketiga kalinya... Tapi ini pertama kali aku melihat begitu banyak orang setelah meninggalkan desa."

"Kalau kamu bilang kayak gitu setelah melihat orang-orang di Zakkaria, apa yang bakal kamu bilang saat kita pergi ke Centoria? Dan juga, akan ada seratusan orang yang akan ikut turnamen pedang nanti. Dan juga, Paman dan Bibi bilang mereka akan membawa Telin dan Telulu siang ini untuk mendukung kita. Jangan sampai mereka melihat mu yang dalam kondisi seperti itu."

Egueo, yang pundak nya ditepuk oleh Kirito, dengan ekspresi iri.

"...A-Aku mengerti. Aku hanya iri dengan sifat santai mu itu, Kirito..."

"Kau masih bisa berkata seperti itu dengan wajah pucat begitu, Eugeo-kun. Bersikap santai adalah salah satu trik dari teknik pedang Aincrad-style."

"Eh, be-beneran?"

"Beneran, beneran?"

Seiring mereka mengobrol, mereka sudah berjalan menuruni jalan utama Timur yang jarak nya sekitar 500 Mel. Bangunan panjang terlihat tepat didepan mereka. Itu adalah «Meeting Venue», fasilitas terbesar di Zakkaria. Alun-alun berbentuk persegi panjang yang terlihat lebih kecil secara proporsional karena dipenuhi oleh para penonton yang beridiri. Alun-alun itu adalah tempat serbaguna yang sering digunakan untuk pidato, konser dan pertunjukan, dan tentu saja, digunakan untuk turnamen ilmu pedang hari ini.

Berhubung gratis, banyak penduduk yang berkumpul disini bahkan 2 jam sebelum pembukaan turnamen dimulai. Bagi Unit Manusia yang dengan ketat dikekang oleh «Sacred Task», «Taboo Index» dan hukum-hukum lain nya, turnamen yang diselenggarakan setahun sekali adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk mendapatkan hiburan.

Namun, atmosfir yang intensif yang datang dari arena sepertinya menambah tekanan yang Eugeo rasakan, wajah nya sudah jadi lebih putih daripada Kirito dan pucat.

"...Apa, apakah kita benar-benar harus bertarung ditempat ini...?"

Kirito menggenggam lengan partner nya yang berkata seperti itu dengan suara yang serak, mengacuhkan emosi dan komplein darinya dan menyeret nya kesana, ke tempat pendaftaran yang ada di pintu masuk Meeting Venue.

Mungkin saja sebagian besar dari peserta, yang tinggal di kota ini atau sudah menjadi penduduk Zakkaria, sudah selesai mendaftarkan diri. Penjaga yang agak tua yang berjenggot duduk di dekat meja kios sementara itu. Kirito tanpa rasa takut berjalan ke meja itu dan berkata dengan lantang.

"Dua orang. Kami ingin mendaftar."

Mendengar hal itu, si penjaga menaikkan alis abu-abu nya, dan melihat Kirito dan Eugeo dengan ekspresi yang ragu sebelum sedikit batuk, dan berkata,

"Orang yang bisa ikut serta dalam turnamen ini hanya orang yang punya Sacred Task sebagai penjaga dari kota dan desa di utara, atau mangang penjaga di Zakkaria, atau secara alternatif..."

"Kami «alternatif». Sepertinya."

Kirito menyikut Eugeo dari samping, yang dengan buru-buru menggerakkan tangan nya ke kantung baju nya, mengeluarkan amplop kertas, dan mengeluarkan sebuah surat.

"Coba sini kulihat...fm, jadi ini surat tertulis dari kepala desa di Rulid. 'Dua anak muda yang dipercayakan membawa surat ini telah menyelesaikan Sacred Task mereka yang diberikan oleh God Stacia. Mereka ingin mencari jalur yang baru, dan ini adalah buktinya' Aku mengerti."

Pada saat ini, penjaga paruh baya itu menggaruk jenggot nya.

"Dengan kata lain, dua bocah dari Rulid, desa paling utara, yang bukanlah seorang penjaga, ingin mencari Sacred Task baru dan ingin menjadi salah satu dari penjaga di Zakkaria."

"Itu benar."

Kirito membalas nya dengan senyum yang tanpa takut, dan kemudian berkata,

"Tapi kami gak akan lama menjadi penjaga disini. Berikutnya, kami akan pergi ke Cen—”

Eugeo menjitak nya di samping kepala. Ia kemudian meneruskan perkataan partner nya yang terdiam dengan nada yang cepat,

"Ya-Ya begitulah. Tolong izinkan kami untuk mendaftar untuk turnamen pedang selanjutnya."

"Fm. Oke."

Penjaga itu mengangguk, membuka taplak meja dan memberikan pulpen yang terbuat dari tembaga merah.

"Tulis nama, tempat lahir dan sekolah pedang kalian."

"...Se-Sekolah, kau bilang?"

Tangan Eugeo yang ingin mengambil pulpen itu berhenti, dan Kirito mengambil pulpen itu dari samping. Kertas itu bukan kertas yang awet, tapi merupakan kertas naskah yang terbuat dari rumput sutra putih. Ada berbagai nama dengan gaya tulisan yang berbeda, memenuhi kertas.

Anak berambut hitam menuliskan nama Kirito dengan bahasa umum di Dunia Manusia ini dan tempat lahirnya di desa Rulid. Ia meletakkan pulpen nya sebentar, dan kemudian meneruskan untuk menulis nama sekolah. «Aincrad Style».

Sudah lebih dari lima bulan lamanya semenjak si pengamat memperhatikan kedua anak itu, dan dari berbagai keraguan yang ia rasakan, yang paling besar adalah nama ini. Kira-kira ada 30 sword style di dunia ini, tapi ini pertama kali nya ia mendengar nama Aincrad-style.

Mungkin itu adalah style yang diciptakan Kirito yang nakal itu setelah mendapat beberapa sword skill. Itulah yang pertama aku pikirkan, tapi sepertinya gak gitu. Sekolah Aincrad yang misterius ini berbeda dengan sekolah lain nya; bukan hanya memiliki satu «Secret Style»,sekolah itu mungkin memiliki minimal 10...

sembari ia merenung, Eugeo telah mengisi pendaftaran nya setelah Kirito —dan tentu saja, sekolah yang diisi sama— dan mengembalikan pulpen itu kembali kepada penjaga. Penjaga itu menaruh kembali pulpen itu, mengambil kertas pendaftaran nya kembali, dan menaikkan alis nya lagi.

"Fm. Dulu aku menggunakan pedang untuk waktu yang sangat lama, tapi aku gak pernah mendengar tentang sekolah ini sebelum nya. Apakah di dekat Rulid ada sekolah seperti itu?"

Pertanyaan si penjaga sudah bisa diperkirakan. Meskipun ada lebih dari 50 nama peserta yang tertulis di kertas pendaftaran, setengah dari mereka menggunakan «Zakkalight Style», dan sekitar setengah nya lagi berasal dari «Norgal Style» yang tersebar luas ke penjuru Kerajaan Norlandgarth. Gak ada nama sekolah kecil yang aneh seperti ini.

Namun, Kirito menunjukkan ekspresi yang tenang.

"Sekolah itu baru akhir-akhir ini dibuat."

Ia menjawab, dan wajah Eugeo yang agak pucat mengangguk juga. Tentu saja, si penjaga gak akan menolak pendaftaran hanya karena nama sekolah, dan setelah mengangguk 'Aku mengerti', ia memberikan mereka dua piringan perunggu, masing-masing diukir dengan nomor. Kirito mendapat '55' dan Eugeo mendapat '56'

"Tolong pergi ke tempat istirahat peserta sebelum 11.30. Kami akan membagi peserta ke blok timur dan barat melalui undian. Pada jam 12, kami akan mengadakan babak penyisihan, yang menggunakan pertunjukan ilmu pedang untuk mengurangi 8 peserta dari tiap blok. Kalian harus menampilkan 1 sampai 10 gerakan secara berurut. mengerti?"

Setelah mendengar pertanyaan penjaga, Eugeo dengan segera mengangguk, dan Kirito menunjukkan ekspresi yang agak ragu lalu mengangguk.

"Sip. Berikut nya adalah pertunjukan utama. Kami akan mengadakan pertandingan untuk mengurangi jumlah peserta dari 8 menjadi 4, menjadi 2 dan akhirnya menjadi 1... pemenang dari tiap blok akan dianugrahkan Sacred Task menjadi penjaga Zakkaria."

Pada saat ini, mereka berdua mengangguk bersamaan. Pengamat yang bersembunyi di rambut Kirito menggeleng dan mulai berfikir hal yang sama dengan yang ia pikirkan sekitar satu jam yang lalu.

Tujuan mereka berdua adalah menjadi penjaga. Demikian, mereka berdua harus ada di masing-masing blok Timur dan Barat, lolos babak penyisihan dan memenangkan turnamen. Tapi, kalau mereka berdua ada di blok yang sama, rencana mereka akan gagal. Tentang masalah ini, kedua bocah ceroboh ini seharus nya punya suatu rencana...

-Ia mendapatkan jawaban nya saat mereka berdua menyelesaikan pendaftaran mereka, pergi ke alun-alun terdekat, dan membagi roti daging dan kebab.

"...Oiya, Eugeo... Apa yang akan kita lakukan kalau kita ada di grup yang sama?"

Kirito, yang dengan cepat menghabiskan roti daging yang dibagi dua itu, bertanya.

"...Apa yang kau katakan, Kirito?"

Eugeo, yang menyelesaikan kebab nya, menjawab.

Dengan kata lain, mereka berdua gak memikirkan nya. Hal itu memang sudah diduga, tapi kepala si pengamat terasa seperti mau copot.MIKIR! ia berusaha untuk mencegah keinginan nya untuk berteriak dan menarik rambut pelan-pelan untuk menghilangkan frustasi nya. Kirito mengangkat tangan kanan nya, dan si pengamat buru-buru pindah tempat sementara Kirito menggaruk rambut nya. Pada keadaan seperti ini pun, anak ini hanya mengatakan sesuatu yang optimis.

"Yah, jangan khawatir. Kita pasti ada di blok yang berbeda. Aku sudah berdoa kepada Stacia-sama dan Solus-sama dan Te...Teriri..."

"Terraria-sama!"

"Yup, Aku memohon kepada Terraria-sama itu."

"Haa", pengamat yang ada di kepala Kirito menghela nafas sedikit yang bersamaan dengan Eugeo. Ia kembali ke posisi awal nya dan bergumam dalam hati.

...Gak ada yang bisa kalian lakukan. Tapi apa itu gak apa-apa, anak muda?


30 menit kemudian, tepat saat bel mau berbunyi pada jam 11.30. mereka berdua memasuki ruangan istrirahat peserta.

Ruangan lebar yang panjang nya kira-kira 20 Mel mempunyai 4 bangku panjang yang kelihatan kokoh di sisi barat ruangan; dan para peserta menghadap ke timur. Ada 4 kursi yang kelihatan mewah terletak disana. Kursi itu kosong untuk sementara, namun ada penjaga di resepsionis.

Saat Kirito dan Eugeo melangkah masuk ke ruangan ini, mereka ditatap oleh 54 peserta lain nya.

Para orang dewasa semuanya kelihatan nya memiliki kemampuan yang hebat. Diantara mereka, 10 dari mereka mengenakan seragam magang penjaga Zakkaria. Kebanyakan dari mereka masih muda, tapi orang-orang dari kota tetangga yang terpilih sebaga penjaga sepertinya sedang dalam kondisi prima mereka. Ada juga orang dengan jenggot panjang dan orang yang memiliki bekas luka yang menyeramkan.

Eugeo menguatkan punggung nya karena kaget ditatap oleh orang-orang kuat dan menyeramkan itu, tapi Kirito terlihat tenang dan melihat-lihat kesekliling dan dengan halus berkata,

"...Bagus..."

"A-Apanya yang bagus?"

Kirito menengok ke arah Eugeo, yang mengatakan hal itu dengan suara yang tegang, dan dengan halus menjawab,

"Gak ada peserta perempuan."

"...Oalah, Kirito..."

"Kamu juga sama. Akan sulit bagimu kalau lawan nya perempuan."

"Me-Memang benar... atau begitulah kira-kira. Aku gak pernah memikirkan kemungkinan seperti itu sebelum nya."

"Kalau mungkin. Aku benar-benar berharap situasi seperti itu gak akan terjadi sampai kita mencapai Turnamen Persatuan Empat Kerajaan itu atau yang semacam nya."

"Jangan bilang begitu. Kudengar sebelumnya kalau Kerajaan Barat mempunyai pasukan ksatria yang semua anggota nya perempuan."

“.........Ah!?”

Dan begitulah, mereka memulai pembicaraan normal mereka tanpa rasa tegang dan 54 peserta menakutkan itu kehilangan rasa tertarik mereka terhadap kedua anak muda tersebut, memalingkan wajah mereka yang sepertinya berkata 'dua anak muda ini seperti nya akan terelminiasi di babak penyisihan' dan mulai mengecek pedang yang dipinjamkan panitia dan mengatur sarung tangan kulit mereka.

Kirito melihat-lihat kesekeliling lagi, terlihat seperti memikirkan sesuatu, berjalan menjauhi Eugeo, dan menuju ke bangku panjang yang diduduki para peserta. Kirito pindah ke tengah-tengah kursi panjang dan menghela nafas berat dengan cepat dan gak ada yang bisa bilang kenapa dia melakukan hal itu.

Setelah melihat-lihat selama sekitar 5 menit, Kirito selesai menginspeksi smua peserta, dan kemudian kembali kedekat Eugeo. Ia mendekatkan mulut nya ke telinga partner nya yang bingung, dan bergumam,

"Jangan gerakkan kepalamu. Bangku kedua, pria yang paling jauh, kau bisa melihat nya?"

Eugeo menyempitkan matanya dan mengikuti apa yang Kirito bilang, dan mengangguk.

"Ya, pria yang memakai seragam magang penjaga?"

"Hati-hati kalau kau melawan pria itu. Dia mungkin akan melakukan sesuatu."

Mendengar hal itu, si pengamat, yang sama kaget nya dengan Eugeo, menjulurkan kepala nya dari rambut Kirito. Ada seorang pria dengan rambut berwarna pasir yang melengkung kan badan nya sedikit, dan ia memakai seragam berwarna coklat kemerahan. Dilihat dari data dari «Stacia Window», dia berumur 18 tahun dan Life dan juga Object Control Authority nya dibawah rata-rata, jadi seharusnya gak ada untung nya memperhatikan nya.

"Eh...Apa dia seseorang yang kau tau?"

Eugeu menggumam dan Kirito menggelengkan kepalanya.

"Enggak, tapi... Tapi kamu mungkin mengerti kalau aku menjelaskan nya seperti ini. Orang itu memiliki sifat yang mirip dengan Jink."

Unit yang bernama Jink adalah kapten penjaga di Rulid dimana mereka berdua lahir. Bagi mereka, orang itu sangat picik dan gak ramah.

Unit Manusia harus menuruti banyak peraturan dan ketentuan, tapi itu bukan berarti mereka semua ramah. Contoh nya, kalau ada orang yang dengan tulus kepada orang lain dengan baik seperti di peternakan Wilde, ada juga orang yang memandang rendah kepada orang lain, mengganggu orang lain atau memanfaatkan orang lain dengan cara yang gak ada di pasal. Jink dari Rulid adalah orang yang seperti itu, dan kalau perkataan Kirito itu benar, magang penjaga yang kelihatan tak berbahaya itu akan—

Sword Art Online Vol 10 - 173.jpg

"...Seseorang yang seperti Jink. Ia mungkin akan melakukan sesuatu seperti menaruh jus rumput Shikami di pedang ku atau yang lainnya."

Eugeo mengerutkan dahi sembari mengatakan hal itu, dan Kirito memiringkan kepala nya.

"Yah... Bukannya hal itu gak melanggar peraturan?"

"Hal itu gak akan mengurangi Life dari pedang, tapi itu bisa digunakan untuk memoles pedang. Sangat susah mencium nya sekali dipoles dengannya. Aku dikerjai Jink berkali-kali saat aku masih kecil, dan gak bisa konsentrasi dalam latihan, jadi aku harus memberikan pedang ku kepada nya."

"...Aku mengerti. Kalau begitu, jangan kehilangan pedang yang kamu pinjam ini. Jangan lengah saat pertandingan. Gak apa-apa dimasukkan dalam grup yang sama dengan pria itu, tapi..."

"Kalau hal itu terjadi, jangan lakukan hal yang berlebihan meskipun dia melakukan sesuatu, Kirito."

"...Akan kucoba."

Kirito tertawa kecil dengan tenang sembari mengangguk dan berbalik arah. Ia pergi ke tempat pendaftaran, mendaftar menggunakan papan perunggu nya. Ini adalah pertandingan, namun bukan pedang kayu, tapi pedang logam, yang digunakan. Meskipun prioritas nya rendah, kekuatan nya sudah cukup untuk mengurangi Life manusia. Tentu saja, ada peraturan kalau mereka hanya bertarung sampai mereka hampir terkena serangan langsung, dan pasti— gak mungkin mengalami pendarahan

Mereka berdua memegang pedang nya erat-erat, dan 4 pria berjalan dari pintu yang masuk yang gelap dan duduk di kursi depan. Mereka adalah penjaga yang memakai seragam merah terang, dan penjaga berjenggot yang ada di tempat pendaftaran sebelum nya ada di antara mereka.

Pria tua berumur 40 taun dengan emas pemimpin di bahunya memberikan sambutan singkat, dan prajurit muda memindahkan box yang sangat besar ke ruang istirahat. Pemimpin itu menepuk box itu dan berkata,

"Di box ini, terdapat bola-bola kecil berwarna biru dan merah, masing-masing bernomor 1 sampai 28, seluruhnya ada 56. Masing-masing dari kalian harus memasukka tangan kalian ke lubang yang ada diatas box ini dan mengambil bola tersebut. Warna merah berarti blok timur, dan warna biru berarti blok barat. Penampilan dari tiap penyisihan diurutkan berdasarkan nomor. Kalau gak ada pertanyaan, silahkan ambil masing-masing satu bola, dimulai dari yang paling depan..."

Sebelum pemimpin itu menyelesaikan kata-kata nya, Kirito dengan segera berdiri dan berjalan keara box. Eugeo buru-buru mengikutinya, dan segera, peserta lain nya mulai pada berdiri. *Gatagata*

Ia pindah dari rambut Kirito ke ujung rambut dan melihat, dan it dapat melihat lubang yang kira-kira berdiameter 10 cen di box kayu itu. Namun, sangat gelap didalam, dan mata pengamat hanya bisa mengidentifikasi bentuk dari bola itu. Pada saat yang bersamaan, Kirito mengilik lidah nya, dan si pengamat mengerti maksud nya untuk mengambil duluan. Kalau banyak bola yang tersisa di dalam box, masih mungkin untuk melihat warna dari bola yang berada di paling atas melalui lubang. Ia mungkin menunggu momen-momen itu.

Benar-benar, bagaimana dia masih bisa santai? Ia pasti bocah yang handal, tapi sayang sekali, ia kurang pengetahuan. Di dunia ini, ada aturan kalau 'cara mengintip biasa gak akan berhasil kalau mencoba nya pada box pengundian yang gak bisa dilihat dari dalam'. Ia harus punys sesuatu yang bisa menyingkirkan sifat box itu- seperti sihir yang menciptakan sinar cahaya didalam box atau sihir untuk meningkatkan pengelihatan

"Ada masalah, anak muda? Ambil satu."

Ucap si pemimpin, dan Kirito pelan-pelan menjulurkan tangan kanan nya kedalam box itu. Ia hanya bisa bergantung kepada keberuntungan agar Eugeo dan dia gak masuk kedalam blok yang sama berhubung mereka gak bisa melihat warna dari bola itu, tapi-

...Kali ini aku akan menolongmu.

Si pengamat menggumamkan pikiran nya sembari ia tiba-tiba melompat dari rambut Kirito pada saat Kirito menjulurkan tangan kanan-nya kedalam box. Ia memanfaatkan bayangan dari lengan Kirito untuk sembunyi dan mengendap kedalam lubang dan masuk ke dalam box.

Tangan yang masuk kedalam box itu meraih bola pertama yang ia sentuh, dan mengeluarkan nya. Si pengamat mampu melihat warna dari bola itu dari dalam box. Kirito mengambil bola berwarna biru - blok barat.

Setelah ia mengetahui hal itu, ia mengatur ukuran tubuhnya dari 5 mil ke 10 cen. 20 kali lipat dari ukuran sebelum nya; meskipun masih sangat kecil dibanding ukuran nya yang sebenar nya, ukuran ini sudah cukup. Lengan nya meraih bola kayu dan mengangkat nya sedikit. Tentu saja, bola yang berwarna merah.

Beberapa detik kemudian, lengan putih menggapai box, dan meskipun tanpa «window», ia bisa tau kalau itu milik Eugeo. Si pengamat mendorong bola merah kearah tangan yang bergerak-gerak dengan liar, berbeda dengan Kirito yang yakin. Tangan itu tersentak dengan agak kaget, tapi dengan cepat mencengkram sebuah bola dan mengeluarkan nya dengan cepat. Dan pada saat yang bersamaan, ia mengeluarkan suara "Ehh!", yang terdengar sangat penuh kegembiraan.

Mungkin perlu beberapa detik bagi nya untuk membuka tangan nya, dan setelah itu, terdengar teriakan, "Yeah, Kirito! Warna merah!" Setelah itu, mereka berdua berlarian dan terlihat digerutui oleh peserta ke 3.

...Benar-benar, selalu menyusahkan orang lain.

Ia menggerutu, menyusutkan badan nya, dan saat hampir keluar dari box pengundian, ia tiba-tiba memikirkan sesuatu.

Kenapa Kirito sangat khawatir akan magang penjaga muda dengan rambut pasir nya itu? Si pengamat itu sangat ingin tau alasan nya. Yah, kalau begitu. Dari pada melawan Eugeo, aku akan membiarkan pria itu melawan Kirito.

Aku akan keluar sekarang dan kembali lagi nanti, atau mungkin aku sebaiknya tetap didalam untuk sementara. Siapapun yang membuka box ini dan melihat kedalam pasti akan kaget. Ukuranku hanya sebesar 10 Cen, tapi disini gak ada organisme Unit Manusia yang sekecil ini.

Ia menyembunyikan keberadaan nya untuk beberapa menit. Setelah beberapa saat, lengan yang agak kurus masuk kedalam, dan dilihat dari «window», ia bisa tau kalau lengan itu adalah lengan milik si magang penjaga. Ia memberikan nya bola biru yang sudah ia siapkan kearah tangan yang sedang mencari-cari dengan sikap yang agak gila. Pria itu gak mencurigai apapun dan menarik tangan nya keluar untuk mengecek, dan si pengamat menghela nafas lega. Kali ini, ia menyusutkan badan nya sekecil-kecil nya dan keluar dengan menaiki lengan yang masuk selanjut nya.

Ia berpegangan erat ke lengan orang itu sampai ia mencapai kursi panjang, dan mengambil resiko dengan berlari di lantai kearah kaki milik anak yang duduk di bagian paling jauh. Ia kemudian mendaki sepatu kulit nya yang ada beberapa retakan, melewati bagian belakang dari baju berwarna cyan, dan bersembunyi didalam rambut hitam. Ia kembali ke bagian depan rambut dan menghela nafas berkali-kali.

Apapun yang terjadi, ikut campur dalam pengundian menentang tugas sebagai pengamat. Kalau «Master» mengetahui hal ini, Aku bisa dimarahi.

Enggak. Aku mungkin bisa mengamati mereka lebih efisien dengan memisahkan Kirito dan Eugeo ke blok yang berbeda, dan Aku memasukkan Kirito dan magang penjaga itu kedalam blok yang sama untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut. Aku benar-benar gak berfikir selain hal itu. Meskipun kalau- magang penjaga itu mempunya niat buruk, Aku gak akan ikut campur dengan menggunakan sihir dalam pertandingan nya melawan Kirito. Aku pasti gak akan melakukan hal seperti itu.

Bagian 4[edit]

«Bell of Time-Telling» di Gereja Zakkaria berbunyi dengan lantang di tengah hari.

Ditengah-tengah suara tepuk tangan, 56 peserta turnamen berbaris dalam dua barisan, berjalan keluar dari ruang istirahat menuju ke arena. Barisan Eugeo berbelok ke kanan menuju panggung untuk blok Timur, dan barisan Kirito belok kanan menuju blok Barat. Ke 56 peserta berbaris didekat panggung dan membungkuk ke pemimpin Zakkaria yang duduk di blok Selatan, bangku VIP.

Pemimpin saat ini, Kelgam Zakkalight menyelesaikan pidato singkat nya, para penonton memberikan tepuk tangan singkat, dan akhirnya turnamen dimulai. Meskipun begitu, ini hanyalah babak penyisihan yang akan mengurangi jumlah peserta tiap blok dari 28 menjadi 8. Kontestan berjalan menuju panggung Timur dan Barat satu persatu, dan menampilkan «Style» mereka.

Istilah 'style' disini mengacu pada ilmu pedang, dan tentu saja, mengacu pada rangkaian gerakan teknik pedang. Yang dinilai adalah ketepatan gerakan, keganasan dan keanggunan dari style mereka. Bagi si pengamat yang telah memperhatikan latihan kedua anak itu selama 5 bulan, lupakan Eugeo, merasa aneh pada Kirito. Ia memiliki «Aincrad-style» misterius yang ia ciptakan, tapi turnamen ini menyatakan kalau style yang ditunjukkan harus berasal dari Zakkalight style, dan yang memberi penilaian adalah penjaga Zakkaria dan beberapa penduduk kota. Mereka memperhatikan peserta yang aneh dengan tatapan galak, dan kelihatan nya mereka gak akan ragu-ragu.

Sembari ia menonton dengan khawatir turnamen yang sedang berjalan, nomor Eugeo di blok Timur disebutkan. Wajah nya masih pucat seperti sebelum nya, tapi ia tetap memanggil keberanian nya pada momen-momen penting, menunduk di panggung dan gak memperlihatkan sedikitpun kekakuan lalu menghunus pedang nya.

Eugeo menghabiskan sekitar 10 detik tiap style, 100 detik total nya untuk menunjukkan style nya tanpa melakukan kesalahan, menunjukkan sesuatu yang anggun bagaikan tarian. Sepertinya ini adalah hasil dari latihan keras siang dan malam nya, dan juga karena mempunyai Object Control Authority yang sangat besar. Baginya, pedang yang ia gunakan di turnamen ini mungkin sangatlah ringan bagaikan sebuah ranting.

Para penonton bersorak dan bertepuk tangan melihat penampilan Eugeo dan suara nya jauh lebih keras dibanding para peserta sebelum nya, berhubung ia bukan seorang penjaga atau magang penjaga. Para juri sepertinya memberikan peserta misterius ini nilai yang besar dari hatinya, tapi gak bisa bertindak atas dorongan hati mereka karena ada nya suatu pembatasan dalam pasal yang 'Mereka hanya bisa mendapatkan nilai berdasarkan performa'. Akan beda ceritanya jika mereka gak dikekang oleh peraturan para «Bangsawan Kerajaan» tingkat bawah.

Eugeo, yang telah menyelesaikan penampilan nya, turun dari panggung, mengelap keringat di dahi nya, dan nyengir kehadapan partner nya yang sedang menunggu giliran nya di sisi panggung Barat. Kirito mengacungkan jempol sebagai balasan dari cengiran Eugeo, Tapi benar-benar deh, kamu itu membuat orang khawatir saja

Setelah 2 menit, nomor Kirito akhirnya dipanggil. Ia berjalan kearah tangga lebar panggung Barat, gak menunjukkan sedikitpun rasa tegang, tapi hal ini membuat cemas si pengamat. Jangan menunjukkan aksi yang mencolok untuk sekarang. Lakukan dengan normal. Si pengamat menyembunyikan dirinya dibagian depan rambutnya, berharap untuk memberi komando pada Kirito seperti ini, tapi berhasil menahan nya.

Kirito berdiri di panggung yang tanpa celah, gak terbuat dari batu pasir, tapi dari marmer merah. Ia membungkuk kepada pemimpin yang ada di tempat duduk VIP, dan langsung menghunus pedang nya. Aksi yang gak sabaran seperti itu membuat juri yang duduk tepat dibawah kanopi itu mengerutkan dahi. Namun, Kirito sama sekali gak memikirkan hal itu dan mengangkat pedang yang ada di tangan kanan nya. Pertama-tama, style pertama—

*Zun*, sabetan yang kuat mengguncangkan seluruh arena. *Buush*, angin yang meluncur dari ayunan pedang meraih penonton yang berdiri 20 Mel jauh nya. Teriakan kaget dan sedikit teriakan takut menyebabkan para bangsawan meninggalkan tempat duduk nya sementara. Hal itu bisa dimaklumi karena style yang Kirito harusnya butuh waktu 10 detik untuk menyelesaikan nya, dilakukan dalam waktu 2 detik dengan sangat memaksa.

Apa yang kau pikirkan!? Si pengamat ingin merobek rambut nya, dan menyadari suatu hal penting pada saat ini. Di peraturan nya, saat menampilkan style, gak ada indikasi berapa detik yang dibutukan untuk menyelesaikan nya. Dengan kata lain, menyelsaikan nya dengan secepat mungkin itu gak melanggar peraturan... Tapi tetap saja.

Ia mengatur postur tubuh nya yang sedang mengayun pedang, menghadap ke penonton yang ada di utara dan menampilkan style kedua. Angin dari amukan pedang itu tertiup lagi menyebabkan rambut para penonton di bangku depan menari-nari, dan kali ini, meskipun teriakan rasa takut bercampur, suara sorakan terdengar jauh lebih keras. Lalu, seiring Kirito melanjutkan ke style nomor 3, 4 dengan sangat cepat, suara dukungan menjadi lebih keras, dan terus dihujani suara tepuk tangan. Kalau dipikir-pikir, akan sangat membosankan bagi penonton untuk melihat aksi yang sama terus menerus. Itu mungkin alasan kenapa turnamen ini dibagi menjadi dua blok.

Kirito sama sekali gak melambatkan gerakan nya dan kemudian menyelesaikan sepuluh style. Ia menyarungkan pedang nya dan membungkukkan badan, dan disambut oleh tepuk tangan yang amat ramai dan dukungan yang menghujani nya dari seluruh arena. Ia melihat-lihat ke arah para penonton yang antusias, dan melihat gadis kembar Wilde di bangku penonton blok Barat, Telin dan Telulu. Seperti yang telah dijanjikan, mereka dibawa kesini oleh orang tua mereka untuk mendukung Eugeo dan kirito.

Tentu saja, yang berlarik kecil kearah Kirito, yang melambai ke penonton blok barat dan berjalan begitu saja adalah Eugeo. Ia terlihat menahan hasrat nya untuk menarik baju Kirito, tapi ia dengan bijak hanya memekik dengan suara yang sangat halus,

"A-Apa yang kamu lakukan?"

"Yah, Aku hanya merasa kalau akan sangat lama untuk melihat performa orang lain... Jadi, kupikir lebih baik menyelesaikan hal ini secepat nya."

"Itu mungkin gak melanggar peraturan, tapi kamu gak bisa yah melakukan nya dengan normal?"

"Kalau aku melakukan nya dengan cepat, meskipun ada sedikit kesalahan, para juri gak akan bisa melihat nya, kan..."

“...”

Eugeo menunjukkan ekspresi yang 70% kaget dan 30% kagum, menurunkan bahu nya, dan menghela nafas berat.

"...Berdoa saja kalau para juri akan menilai kita berdasarkan tepuk tangan..."

Mendengar perkataan lemas Eugeo, si pengamat hanya bisa berfikir Otak yang bagus berfikir sama.

Babak penyisihan berlangsung selama satu jam kemudian, dan selesai saat bel berbunyi pada jam 2pm. Para peserta berdiri di atas panggung, dan perwakilan dari juri memanggil nomor dan nama peserta yang lolos dan dapat ikut serta di final.

Si pengamat merasa lega setelah mendengar nama Eugeo lolos penyisihan, disusul oleh Kirito beberapa detik kemudian. Ia gak pernah punya perasaan ini dalam beberapa tahun ini, dan merenung.

—Benar-benar, kapan terakhir kali aku sangat emosional saat mengamati seseorang? Enggak, Aku bisa bilang ini pertama kalinya.


40 Peserta lain menurunkan bahunya dengan sedih sembaru meninggalkan area, dan hanya 16 pendekar pedang yang menunggu di ruang tunggu arena. Mereka semua diberi Air Siral dari sumur yang dalam dan makanan ringan, dan pada saat ini, para penonton sedang beristirahat sejenak. Setelah istirahat 30 menit telah berlalu, final akan dimulai. Pada turnamen eliminasi ini, 3 ronde pertandingan akan diadakan, dan pemenang akan ditentukan dari kedua blok Timur dan Barat.

Menurut perkataan pemilik peternakan Wilde, Banou menjelaskan kepada Kirito dan Eugeo, kalau beberapa dekade sebelum nya, ada pertandingan final yang diadakan antara pemenang dari blok Timur dan Barat. Alasan mengapa acara itu dibatalkan karena ada insiden yang terjadi pada suatu tahun karena pertarungan yang sengit dari final itu, menumpahkan darah yang seharusnya gak boleh terjadi.

Di seluruh wilayah Norlandgarth, di Turnamen Zakkaria— Enggak, di seluruh turnamen ahli pedang yang diadakan di seluruh Dunia Manusia, peraturan ini diberlakukan dengan ketat.

Peraturan ini berdasarkan Taboo Index yang absolut «Didalam situasi yang gak berhubungan dengan pasal lain, dilarang membahayakan nyawa orang lain secara sengaja». Itulah mengapa kemampuan yang bersifat paradoksikal dibutuhkan di turnamen ini— Jadi mereka bisa menjaga keselamatan orang lain sambil membuat mereka menyerah.

Alasan mengapa tiap sekolah fokus dengan «styles» mereka adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan dengan memastikan pernafasan petarung dan lawan ada di tingkat yang sama. Style vs Style; ini merujuk pada mengulang serangan dan pertahanan yang sama, dan yang pertama capek dan kehilangan konsentrasinya bisa dibilang akan kalah. Satu-satu nya momen dimana darah dibolehkan untuk tumpah adalah saat turnamen tingkat tinggi di Centoria dimana peraturan «First Strike» atau saat organisasi bergengsi seperti Integrity Knight atau Master Arts Academy ikut serta.

Namun, Unit Manusia mempunyai suatu hal yang objek hidup lain gak punya, sesuatu yang bernama «perasaan». Karena hal inilah mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa, tapi bisa juga kehilangan ketenangan nya dan melakukan hal-hal yang tak terduga.

Insiden yang Banou Wilde bicarakan adalah hasil dari perasaan 'ingin menang' dari kedua pendekar, menyebabkan kedua pedang yang seharusnya beradu malah menghunus tubuh satu-sama lain. Tentu saja, gak ada luka fatal —kalau masalah nya seserius itu, Gereja Axiom sudah akan campur tangan— Namun, hanya beberapa tetes darah menyebabkan penduduk kota menjadi ketakutan. Tentu saja, bisa dimengerti kenapa pertarungan final antara blok Timur dan Barat dihilangkan.

Tentu saja, dua pendekar muda itu gak tau tentang hal ini. Tujuan mereka adalah menjadi pemenang di turnamen ini, berada di peringkat atas para penjaga, mendapatkan hak untuk mengikuti ujian masuk ke Master Arts Academy di Centoria, melewati rintangan satu demi satu, dan suatu hari, mereka berharap untuk bertemu «Alice» di Centoria Cathedral milik Gereja Axiom.

Hal itu sangat mengejutkan, tapi mereka berdua sedang menuju kearah yang benar. Hal ini sangat merepotkan dan sangat jauh, tapi sebuah jalan pasti akan membimbing mereka menuju ke Cathedral. Namun...jika Kirito dan Eugeo berhasil mendapatkan hak untuk memasuki menara puti, mereka berdua akan...

Pikiran tersebut terputus oleh bel yang berbunyi pada jam 2.30pm Setelah itu, orkestra yang berbaris di pojok bangku penonton memainkan March yang megah, menunjukkan bahwa final akan dimulai.

Kedua anak muda, yang telah menyelesaikan makanan simpel nya, berdiri dengan sigap dari kursi lipat yang ada di ruang tunggu. Mata hitam dan hijau bertukar pandang satu sama lain, dan mengadu tinju mereka, berbalik arah seolah-olah gak ada kata-kata yang perlu disampaikan kemudian pergi menuju panggung blok Timur dan Barat. Bangku penonton yang ada beberapa yang kosong saat babak penyisihan, terisi penuh sekarang, dan hujan sorakan turun seperti angin yang menderu.

Para penjaga yang ditugaskan untuk tugas yang bermacam-macam memindahkan papan besar dan kertas biasa menuju para juri di atrium. Huruf-huruf yang tertulis dengan tinta hitam menunjukkan tabel final turnamen yang bersistem eliminasi. Pada blok Timur, pertandingan pertama Eugeo adalah pertandingan ketiga. Pertandingan Kirito juga ada di pertandingan ketiga— tapi pandangan si pengamat sepertinya tertarik dengan magang penjaga muda yang bernama Egome, orang yang entah kenapa dicemaskan oleh Kirito.

Aku telah membiarkan pria itu ada di blok yang sama dengan Kirito. Tubuh 5 mil itu merasakan feeling yang misterius yang ia gak rasakan saat pengundian. Ia berfikir tanpa dasar. Ia gak mungkin mempunyai fungsi yang sama dengan manusia.

Perhatian Kirito sangat berbeda dengan si pengamat yang gak bereaksi bahkan setelah melihat nama Egome. Setelah pidato dari pemimpin berakhir, ia kemudian berjalan menuruni panggung dan duduk di kursi di ruang tunggu blok Barat. Eugeo datang kesini saat mereka sedang memakan makanan mereka, tapi pada saat ini, ia hanya bisa tinggal diam di area blok Timur, jadi gak ada kesempatan untuk berbicara padanya.

Ia menonton pertandingan pertama dan kedua dari kepala Kirito, dan melihat pertandingan nya dimenankan dengan lancar.

Peserta yang menyerang terus dengan teknik dasar setelah gerakan ketiga dan keempat, dan peserta yang bertahan terus menerima serangan tanpa memperlihatkan celah, membuat suara gemerincing. Kemudian, peran mereka bertukar saat suara keras dari pedang yang beradi dapat didengar. Orang mungkin bisa salah kira ini latihan, tapi mereka menggunakan pedang logam sungguhan. Siapapun yang bertahan atau menyerang, Life mereka akan berkurang karena kelelahan. Saat Life mereka berkurang pada titik tertentu, gerakan mereka akan membuka celah, dan pertahanan mereka akan menjadi aneh. Peserta yang gagal mempertahankan dirinya akan membuat ujung pedang lawan menyentuh bagian kanan dari tubuh nya— 'Sudah cukup!' atau seperti itu lah kira-kira.

Hal ini terasa sangat berbeda dengan kecepatan turnamen tingkat-Central yang para petarung nya akan berlari dan mundur. Namun, turnamen yang diselenggarakan di Utara seharusnya juga seperti itu. Pria bernama Egome seharusnya gak punya kemampuan yang mencolok, dan kalau begitu, pertandingan ketiga dari turnamen ini akan dimenangkan Kirito dengan mudah berhubung ia mempunyai Object Control Authority yang lebih besar. Si pengamat menghilangkan pemikiran cemas nya kemudian ia memasuki panggung marmer merah itu bersama Kirito, yang namanya telah dipanggil.

Beberapa saat kemudian, nama Eugeo dipanggil di blok Timur. Namun, setelah dilihat-lihat, ia bisa tau kalau lawan Eugeo terlalu antusias dan sudah keringatan, jadi sudah gak perlu khawatir lagi. Pada sisi lain, Kirito dan Egome saling berhadapan di panggung barat, dan mata dibawah rambut berwarna pasir itu menatap Kirito dengan ganas. Ia mengecek Stacia window lagi, tapi status nya lebih rendah dari rata-rata peserta turnamen. Jadi kenapa Kirito sangat waspada terhadap nya—?

Mereka berdua mulai berjalan, menarik pedang mereka pelan-pelan. Kemudian juri mengangkat tangan kanan nya dan mengayunkan nya kabawah, berteriak,

“—MULAI!”

Pada saat yang sama, Egome mulai bertindak. Normal nya, kedua sisi pertama-tama akan menatap satu sama lain dan memulai pertandingan setelah mengecek pola nafas lawan, jadi ada sedikit kegaduhan dari penonton. Namun, hal ini gak melanggar aturan. Meskipun menyerang tiba-tiba untuk menang gak dianjurkan, hal itu adalah strategi bertarung.


“OHHH!”

Egome mengayunkan pedang dari sisi kanan atas dengan sangat kuat, dan Kirito berlari kearah nya untuk menerima serangan itu. *KLANG!* Terdengan suara metalik misterius yang gak pernah didengar di turnamen hingga saat ini, dan cahaya kuning yang meledak menyala pada wajah mereka.

Pedang yang seharus nya terpental itu terus beradu satu sama lain, bergemetar sedikit. Kirito membalas nya dengan kecepatan yang luar biasa, benar-benar mengacuhkan fakta kalau dirinya akan lebih lambat kalau mengayunkan pedang nya keatas, menyebabkan tekanan pada lawan. Kedua pedang mengeluarkan suara gerinda yang menggema kepenjuru blok barat yang sunyi.

Pada saat ini, Kirito bergerak maju, mendekatkan wajah nya pelan-pelan ke batang hidung wajah Egome yang mengertukan dahi—dan bergumam,

"Ada bau Nedge Lezta ditubuh mu."

"...Terus kenapa?"

Egome mengeluarkan suara yang seperti suara logam menggiling. Kirito kemudian berkata dengan suara yang lebi dalam,

"Hanya ada satu kegunaan Nedge Lezta. Ketika dikeringkan dan dibakar, asap yang dihasilkan nya akan mengundang serangga beracun. Contohnya... «Lalat Rawa».”

“...”

Mata Egome yang sempit kemudian melebar, dan pada saat yang bersamaan, si pengamat yang bersembunyi di kepala Kirito mengedip.

Itu berarti Kirito berjalan-jalan di tengah-tengah para peserta di ruang istirahat itu untuk mencari seseorang yang memiliki bau Nedge Lezta. Kalau begitu, alasan nya untuk—

"...Pagi ini, di Gerbang barat Zakkaria. Kau yang menaruh Lalat Rawa itu... serangga yang menyebabkan kuda itu mengamuk kan?"

Merespon pertanyaan tajam ini, Egome hanya mencemooh dengan licik.

"Aku gak perlu menjawab gelandangan sepertimu. Tapi meskipun begitu... yang aku lakukan hanya melepaskan serangga yang gak akan membahayakan siapapun. Aku gak melanggar peraturan atau Taboo Index."

Yang magang penjaga katakan itu adalah benar. Kalau Lalat Rawa itu bisa membahayakan manusia secara langsung... kalau organisme itu bisa mengurangi Life, membawanya ke dalam area dimana manusia tinggal akan dinyatakan ilegal. Namun, melepaskan serangga yang hanya menggigit kuda gak akan melanggar peraturan apapun sama sekali.

Namun, hal itu tidak lah simpel. Gak peduli semuda apapun orang nya, mereka seharusnya mengerti kalau Lalat Rawa yang terbang disekitar kuda akan menggigit kuda itu... untuk mengurangi Life kuda. Bisa dibayangkan kalau kuda itu akan mengamuk dan bisa melukai orang-orang dijalanan.

Kebanyakan Unit Manusia yang menyadari kemungkinan ini mungkin akan mengurungkan ide untuk membiarkan Lalat Rawa pergi. Hal ini dikarenakan peraturan Taboo Index yang «Tidak boleh mengurangi Life orang lain» diingat oleh tubuh mereka. Namun, meskipun tau kalau hal ini akan melukai Kirito atau Eugeo... Gak, itu karena menginginkan Kirito dan Eugeo terluka, pria yang bernama Egome itu melepaskan Lalat Rawa itu. Bagi mereka, itu adalah pemikiran «Aku hanya membebaskan serangga yang gak akan membahayakan manusia. Aku gak tau apa yang akan terjadi selanjut nya», pemikiran yang melampaui peraturan Taboo Index.

...Darah bangsawan.

Pria ini menyebabkan rumor-rumor sisi gelap dari bangsawan. Ia benar-benar berbeda dengan orang-orang di peternakan Wilde, orang yang mempercayai bahwa «Apapun yang gak melanggar peraturan itu diperbolehkan».

“...Kenapa?”

Egome terlihat meludah dan menjawab pertanyaan singkat Kirito,

"Aku gak menyukaimu. Gelandangan sepertimu, yang gak punya Sacred Task, ingin menantangku? Egome Zakkalight-sama ini? Kau ingin bergabung dengan pasukan penjaga kami? Aku gak akan emmbiarkan mu. Aku ingin menghancurkan mu saat Aku melihat mu datang untuk mengambil kertas peraturan turnamen bulan lalu."

"...Aku mengerti, salah seorang bangsawan. Tapi meskipun kamu punya latar belakang yang penting, kau hanya orang rendahan yang melakukan hal ini. Maaf, bisakah kita segera menyelesaikan hal ini sekarang?"

Meskipun setelah mendengar kalau Egome sedarah dengan pemimpin Zakkaria, Kirito gak merasa takut sedikitpun saat mengatakan hal itu. Ia mengerahkan tenaga kedalam pedang nya yang masih saling berbenturan satu sama lain, kelihatan nya mencoba untuk membuat jatuh lawan nya. Tapi pada saat itu,

Egome lagi-lagi nyengir, dan setelah itu, ada suara retakan yang terdengar. Kirito menunjukkan sedikit rasa kaku. Kalau dilihat-lihat, saat kedua pedang itu berbenturan, hanya pedang Kirito lah yang mengeluarkan bunyi retakan kecil.

Kenapa hanya satu pedang yang terkena efek nya, padahal kedua pedang itu sama-sama dipinjamkan dari turnamen? ia buru-buru membuka «Window» kedua pedang, dan ada sesuatu yang tak terduga disana.

Pedang Kirito adalah objek level 10, sementara pedang Egome berlevel 15. Kalau dilihat lebih dalam, sepertinya ada perbedaan kecil dari cahaya dari pedang mereka.

“Ku...!”

Kirito mengerang sambil menarik kembali pedang nya. Kali ini, Egome yang menyerang maju. *Pnk*, *pnk*. Suara retakan itu terus terdengar sembari hanya pedang Kirito yang Life nya terus berkurang.

"Omong-omong, hal ini gak melanggar peraturan juga."

Egome bergumam sambil menunjukkan wajah nya yang penuh kemenangan.

"Menurut ketentuan turnamen, semua peserta harus bertarung menggunakan pedang logam yang dipinjamkan oleh juri. Kalau begitu... gak melanggar peraturan kalau ada pedang tajam yang tercampur dengan pedang-pedang yang lain dan Aku lah yang mendapatkan nya."

"...Jadi kau menyogok penjaga untuk meminjamkan pedang yang bagus."

"Aku gak tau apa-apa. Tapi apa gak apa-apa melanjutkan pertandingan ini, heh pengembara? Bagaimanapun kau mencoba, kau hanya akan mengurangi Life dari pedangmu itu."

Egome berkata hal itu sambil terus mengayun pedang nya dengan sekuat tenaga, sementara Kirito melakukan sesuatu yang tak terduga.

Kirito gak melawan musuh secara frontal namun sengaja jatuh dan menyelinap melewati lengan lawan. Pedang Egome mengeluarkan suara keras *GLANK* karena berbenturan dengan marmer yang besar. Recoil nya membuat tubuh Egome tercengang, sementara Kirito menggunakan kesempatan ini untuk melompat kebelakang dan menjaga jarak nya.

Pada momen ini, para penonton menonton nya dengan cemas ramai bersorak. Mereka gak pernah melihat aksi seperti menyelinap kebawa lengan lawan ditengah-tengah pedang yang beradu, dan mereka, yang gak tau apa yang mereka berdua bicarakan, menghujani mereka dengan tepuk tangan yang sangat meriah.

Egome akhirnya pulih dari kesemutan dan menghadap Kirito dengan wajah yang marah.

Ini berbahaya. Insting pengamat menyadari hal ini. Tentu saja, sebagai bangsawan, dia tetap gak bisa melanggar Taboo Index, jadi ia gak akan menggunakan pedang untuk melukai Kirito secara langsung— Namun, pada sisi lain, kalau Kirito terluka karena kecelakaan kecil, masih dianggap gak apa-apa. Hebat sekali dia bisa berfikir sesuatu seperti ini. Fikir si pengamat.

Namun hipotesis seperti itu dibalikkan oleh gerakan Egome selanjut nya.

Ia mengangkat pedang level 15 yang ia pakai dengan tangan kanan nya, dan berhenti pada ketinggian sebahu— Terlihat seperti ia menaruh nya di bahu nya. Lalu, ia sepertinya menunggu sesuatu sembari menghabiskan beberapa detik untuk mengatur posisi nya. Akhirnya, pedang itu di kelilingi oleh cahaya terang berwarna biru.

"...Serangan Penghabisan Zakkalight Secret Art, «Azure Wind Slash»”[5]

Para penonton lagi-lagi bertepuk tangan dengan keras— termasuk tepuk tangan dari blok Timur. Wasit yang ada di panggung terlihat kesulitan dan melihat kearah bangku juri, tapi seperti nya kondisi mereka juga sama seperti wasit. Seperti namanya, «Secret Arts Styles» disini mengacu pada serangan penghabisan dari tiap sekolah, gerakan yang normal nya gak bisa digunakan, tapi gak ada ketentuan seperti itu di peraturan yang harus dipatuhi, jadi para peserta boleh memilih untuk menggunakan nya atau tidak. Saat Egome memutuskan untuk menggunakan nya, gak ada siapapun yang bisa menghentikan nya.

Namun, masalah nya adalah kekuatan dari «Secret Arts» yang lebih besar dibanding style normal yang lain, dan sekali diaktifkan, gak bisa dihentikan ditengah jalan. Tubuh pengguna nya akan bergerak dengan sendirinya, bukan oleh kemauan nya, tapi oleh kekuatan supernatural yang mirip dengan Sacred Arts. Dengan kata lain, jika pertahanan Kirito gagal, itu bukan hanya akan memojokkan nya, tapi akan menghancurkan tubuh nya. Egome mengerti hal ini dengan jelas, dan meskipun begitu, ia ingin menggunakan Secret Art itu— Kemungkinan besar, ia berfikir kalau meskipun ada darah yang tumpah, itu adalah kesalahan peserta yang bertahan karena gak bisa menahan nya dengan baik.

Namun, masih ada cara untuk menghentikan gerakan Egome.

Yaitu membiarkan Kirito menaruh pedang nya dan pasrah dihadapan serangan musuh. Pada saat ini, keteguhan Egome akan hancur, dan menggunakan Secret Art disini akan dianggap melanggar Taboo Index. Gak peduli darah bangsawan apapun yang ia punya, ia gak akan bisa mengabaikan kewenangan Taboo Index, kekuatan dari Gereja Axiom. Hal itu adalah pembatas absolut yang tertanam pada diri Unit Manusia.

Letakkan pedang mu. Si pengamat menahan sekuat mungkin niat nya untuk memberi saran pada Kirito. Meskipun aku gak bilang begitu, dia pasti menyadari hal ini. Cepat, letakkan pedang itu...

"...Jadi kau akan menggunakan teknik rahasia."

Tiba-tiba, Kirito bergumam dengan suara yang bahkan si pengamat dikepala nya itu gak bisa dengar.

ia memindahkan tangan kirinya dari gagang pedang, seperti yang Egome lakukan, dan mengatur posisi nya dengan posisi seperti menaruh pedang di sisi kiri dari pinggang nya. Saat tubuh nya berhenti bergerak, cahaya ungu bersinar dari pedang nya.

Melihat hal ini, para penonton dan juri menahan nafas mereka. Eugeo, yang ada di panggung sebelah, menggelengkan kepalanya yare yare. Ia ingat kalau kapanpun pemandangan ini terjadi, semuanya akan berakhir.

Wajah Egome gemetar dan bengkok sembari menguatkan gigi nya.

“KYYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAA—!!”

Dengan teriakan seperti Objek burung yang besar, teknik itu diaktifkan. Ia mengambil langkah yang berat kedepan dengan kaki kiri nya, mengangkat pedang logam yang ada di bahu nya, dan mengayun pedang nya secara diagonal yang diarahkan ke Kirito.

Aku harus menghentikan pertandingan ini. Pada saat ini, si pengamat dengan serius memikirkan tentang hal ini. Namun, sudah terlambat untuk menggunakan Sacred Art sekarang. Aku harus lompat dari kepala Kirito dan memperlihatkan wujud ku yang sebenarnya. Hal itu akan benar-benar melanggar peraturan— Tapi meskipun aku harus menerima hukuman apapun dari Master, itu masih jauh lebih baik daripada membiarkan orang yang kuamati...

Tapi pada saat ini.

*—Shuu!!*

Kirito menunjukkan momentum yang tajam dan ia pun bergerak.

Tanpa rasa takut ia melesat kearah cahaya biru yang dikeluarkan Egome. Tangan kanan nya bergerak dan mengeluarkan garis terang berwarna ungu di cahaya dari kiri ke kanan, dan juga serangan yang lain nya— dari kanan ke kiri.

*KIIN!!* Suara logam yang tajam terdengar, melewati tembok arena, dan sepertinya dapat terdengar sampai jalanan dan pojokan Zakkaria.

Sepotong cahaya menari-nari di udara, memantulkan cahaya dari Solus dilangit dan kemudian pelan-pelan mendarat. Pedang yang terpotong ujung nya menusuk panggung dari marmer merah itu.

Sword skill Kirito sangat cepat bahkan si pengamat itu sama sekali gak menyadarinya. Namun, ia melihat momen yang sangat penting.

Pedang yang berayun dari kiri ke kanan dan tiba-tiba berayun dari kanan ke kiri. Karena kecepatan nya itu sangat cepat, kelihatan nya seperti Kirito menyerang dengan dua pedang dari sisi kiri dan kanan. Tapi faktanya, hanya ada satu suara metalik. Dua serangan ini menyerupai gigitan hewan buas yang dengan sangat akurat nya menggigit titik yang sama— dan menghancurkan pedang Egome. Dengan pedang turnamen yang Life nya sudah berkurang setengah, pedang tajam yang lebih tinggi 5 level itu...

Mata Egome melebar sambil terdiam. Ia, yang mengayun pedang nya kebawah dari kiri secara vertikal, tak bisa menahan gemetaran nya. Kirito, yang juga mempertahankan posisi ayunan pedang nya, berbisik ke telinga kanan Egome dari posisi yang dekat,


Sword Art Online Vol 10 - 195.jpg

“Aincrad style Skill Tebasan-kembar-beruntun... «Snake Bite»”


Mendengar kata-kata itu—

Si pengamat merasa seluruh rambut nya berdiri.

Manusia bernama Kirito ini... benar-benar memiliki hal yang unik yang jauh melampaui perkiraan nya. Meskipun dalam sejarah 378 tahun UnderWorld, melihat orang seperti dia sangtlah langka... Bahkan mungkin ia berdiri sejajar dengan Master, «Orang itu».

Ia terus merasakan perasaan yang gak bisa dijelaskan itu, enggak, perasaan ini yang bahkan ia gak sadar, ia hanya memikirkan satu hal.

Aku ingin menyaksikan akhir dari perjalanan mereka berdua, Kirito dan Eugeo.

Disana, disana pasti akan—


Di Kalender Dunia Manusia 378, pemenang blok Barat dan Timur dari turnamen pendekar pedang Zakkaria adalah anak muda yang gak mempunyai Sacred Task, yang datang dari sebuah desa di utara. Sesuai tradisi, mereka mendapatkan hak untuk bergabung dengan pasukan penjaga.


Pada akhirnya, hanya pertandingan pertama yang agak merepotkan Kirito, dan ia gak pernah menggunakan «Dua-serangan Beruntun» setelah nya. Musim semi berikut nya, Kirito dan Eugeo mendapat surat rekomendasi untuk masuk Royal Swordsmanship Academy, alasan nya sudah jelas dan gak perlu dipertanyakan lagi.


Referensi[edit]

  1. all-nighter : orang yang bekerja semalaman tanpa tidur, contohnya A belajar semalaman untuk ujian besok
  2. Object Control Authority : status di underworld, bisa dibilang seperti 'tenaga', semakin besar status nya maka semakin mudah untuk memakai benda yang lebih kuat atau lebih berat. contoh nya jika suatu pedang mempunyai syarat authority 50, tapi authority eugeo kurang dari itu, eugeo gak bisa memakai pedang itu
  3. Large Marsh Horsefly = lalatkuda besar yang tinggal di rawa. karena terlalu panjang dan gak efisien jika digunakan ditengah-tengah kalimat maka disingkat jadi lalat rawa saja
  4. mata uang di Underworld
  5. 蒼風斬