Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 9 Selingan I

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Selingan I[edit]

Suhu tubuh manusia adalah sesuatu yang ganjil.

Tiba-tiba Yuuki Asuna memiliki pikiran seperti itu.

Hujan telah berhenti, dan dibawah langit biru gelap, dengan bagian dari awan tercampur dengan warna orange, mereka berdua berjalan secara perlahan sambil bergandengan tangan. Di sampingnya, Kirigaya Kazuto, orang yang memiliki ekspresi cemberut bahkan semenjak dia memikirkan sesuatu dari beberapa menit yang lalu, merendahkan pandangannya ke jalan berbatu tanpa mengatakan apapun.

Asuna yang tinggal di Setagaya dan Kazuto yang hendak kembali menuju Kawagoe, biasanya berpisah di stasiun Shinjuku saat mereka menaiki kereta yang bebeda, tetapi hari ini, untuk suatu alasan, Kazuto mengatakan "Aku akan mengantarmu sampai di rumah." Bahkan meskipun dia itu membutuhkan satu jam lebih lama untuk kembali ke rumahnya dari Shibuya, saat Kazuto memiliki ekspresi yang tidak biasanya di matanya, Asuna mengangguk setuju.

Saat mereka keluar dari stasiun Miyanosaka di jalur Setagaya, yang merupakan stasiun yang paling dekat dengan rumah Asuna, mereka masih bergandengan tangan.

Sementara melakukan ini, Asuna samar-samar mengingat kejadiaan itu. Itu tidak hanya manis, tapi juga sangat menyakitkan di saat yang bersamaan, jadi itu sebenarnya adalah ingatan yang tidak selalu muncul di kesadarannya, tetapi, ingatan itu kembali muncul setiap kali dia memegang tangan Kazuto.

Itu bukan ingatan di dunia nyata, tapi kota di menara besi «Grandum» di Aincrad lantai 55, yang tidak lagi ada.

Pada saat itu, Asuna menjadi sub-leader di guild Knights of the Blood. Pendampingnya adalah pengguna pedang hebat bernama Kuradeel, orang yang mengawasinya sepanjang waktu. Kuradeel, seseorang yang memiliki obsesi yang aneh dengan Asuna, dia telah menggunakan racun pelumpuh pada Kazuto/Kirito, yang menyebabkan Asuna mengundurkan diri dari guild.

Kuradeel telah membunuh dua anggota dalam aksinya, Asuna yang baru saja sampai di waktu tepat sebelum Kirito kehilangan nyawanya, menarik rapiernya dengan kemarahan dan tanpa ampun, HP Kuradeel telah berkurang hingga sampai pada tingkat dimana satu serangan dapat menghabisinya, tapi dia menjadi ragu. Kuradeel mengambil kesempatan untuk membalas tetapi Kirito telah sembuh dari racun pelumpuh saat itu, dan dia menghabisi Kuradeel dengan tangan kosong.

Keduanya kembali ke markas dari Knights of the Blood di lantai 55. Setelah menginformasikan tentang pengunduran dirinya dari guild, mereka berjalan tanpa tujuan sambil bergandengan tangan di Grandum.

Ketika dia bersikap tenang di permukaan saat itu, di dalam hati Asuna, dia merasakan perasaan bersalah pada dirinya karena dia tidak membunuh Kuradeel. Perasaan bersalah pada Kirito yang membuatnya menanggung beban berat itu menyelimuti di sekitarnya. Dia merasa bahwa dia tidak memenuhi syarat untuk memanggil dirinya sebagai bagian dari grup penyelesaian, bahwa dia memiliki hak untuk berdiri di samping Kirito. Tapi, ketika dia menderita dari perasaan ini, dia mendengar suara. Hanya kau, aku ingin mengantarmu sampai di dunia nyata tidak peduli apapun yang terjadi.

Pada saat itu, sebuah perasaan kuat mengalir di dalam Asuna. Berikutnya aku akan melindungimu dengan kedua tanganku. Tidak, tidak hanya berikutnya tapi setiap saat. Tidak peduli di dunia manapun itu berada.

Asuna samar-samar dapat mengingat tangannya, yang tidak merasakan apapun selain dari hawa dingin di udara meskipun memegang tangan Kirito, pada saat itu, menjadi hangat seolah-olah mereka duduk di dekat api unggun. Setelah kastil melayang itu terjatuh, berpetualang pada dunia peri, dan kembali ke dunia nyata, ketika dia memegang tangannya, dia masih dapat mengingat perasaan hangat di tangannya di saat itu.

Sungguh, suhu tubuh manusia adalah sesuatu yang ganjil. Bahkan meskipun dia tahu bahwa panas yang dihasilkan berasal dari energi untuk menjaga tubuh, pertukaran kehangatan dari tangan mereka terasa seperti itu memiliki sejumlah informasi. Karena, Asuna dapat mengerti Kazuto, orang yang berjalan sementara terdiam sampai sekarang, memiliki sesuatu yang ragu-ragu untuk dikatakan.

'Jiwa manusia adalah kuanta cahaya yang berada di dalam unsur struktur microscopic di sel otak mereka' adalah sesuatu yang Kazuto telah katakan. Tapi, cahaya itu tidak hanya berada di sel otak, tapi juga di semua sel di dalam tubuh. Medan kuantum, yang menyusun partikel cahaya dan membuat wujud manusia, telah terhubung melalui tangan mereka. Mungkin itulah bagaimana kehangatan itu dapat dirasakan.

Asuna menutup kelopak matanya dengan lembut, sebelum membisikkan sesuatu dipikirannya.

——Lihat, ini akan baik-baik saja, Kirito. Aku akan selalu menjagamu. Itu karena kita adalah pasangan terhebat dalam saling membantu.

Kazuto tiba-tiba berhenti, membuat Asuna juga melambatkan langkahnya. Matanya terbuka lebar, Ini sudah jam tujuh? Saat lampu jalan antik mengeluarkan cahaya orange di atas kepala.

Di sore hari setelah hujan, tidak ada seorangpun yang terlihat di jalan selain dari mereka berdua. Kazuto perlahan menggerakkan kepalanya, mata hitamnya melihat Asuna.

"Asuna......"

Seolah-olah di akhirnya menepis keraguannya, dia mengambil langkah ke depan——

"......Aku masih berpikir untuk pergi."

Asuna, yang mengerti alasan dari perhatiaannya, tersenyum saat dia bertanya.

"Amerika?"

"Yeah. Aku menghabiskan waktu setahun untuk meneliti, dan aku berpikir penelitian «Brain Implant Chip» di universitas Santa Clara benar-benar penerus teknologi FullDive. Brain Machine Interface mungkin menuju perubahan. Aku benar-benar ingin melihatnya, dimana dunia selanjutnya akan ada.

Asuna melihat langsung pada mata Kazuto sebelum memperlihatkan anggukannya.

"Tidak hanya ingatan menyenangkan, tapi juga ingatan sedih dan menyakitkan juga. Tujuannya, adalah tujuan kastil itu, kau ingin mengetahui tentang itu, bukan?"

"......Aku bahkan tidak yakin seribu tahun adalah waktu yang cukup untuk memahami hal itu."

Kazuto tersenyum samar-samar dan menjadi terdiam sekali lagi.

Itu benar-benar sulit untuk berbicara tentang perpisahan itu adalah pemikiran Asuna. Tanpa menghapus senyumnya, dia mencoba untuk mengatakan jawaban yang disimpan di dalam hatinya——tetapi sebelum dia dapat melakukan itu, Kazuto membuat ekspresi yang sama ketika dia di Aincrad-ekspresi yang sama ketika dia mengajukan pernikahan padanya-saat dia mengatakannya dalam keadaan gugup.

"Karena itu......Aku ingin kau pergi bersamaku, Asuna. Aku tidak ingin hidup tanpamu. Aku tahu apa aku mengatakan sesuatu yang tidak beralasan. Aku tahu bahwa Asuna memiliki jalan sendiri. Tapi, bahkan meskipun begitu aku......"

Pada saat itu, dia menghentikan perkataanya seolah-olah dia dalam keadaan bingung. Mata Asuna terbuka lebar dan dia suara tertawa yang pelan.

"Eh......?"

"M......Maaf aku tertawa. Tapi......mungkin itu, itu adalah apa yang membuat Kirito-kun bermasalah sampai sekarang?"

"Y-Yeah."

"Apaaa. Jika itu tentang jawabanku. Aku telah memutuskannya semenjak waktu yang lalu."

Tangan kirinya menggenggam erat tangan kanannya, yang masih memegang tangan Kazuto. Setelah mengangguk dengan dalam, dia memberitahunya.

"Tentu saja, Aku akan pergi...Kita akan pergi bersama. Jika bersamamu. Aku dapat pergi ke manapun itu."

Mata Kazuto terbuka lebar saat dia mengedipkan matanya beberapa kali, dan lalu senyuman cerah terlihat di wajahnya. Di saat yang sama, dia menaruh tangan kanannya di bahu Asuna.

Asuna merespon dengan memeluk erat Kazuto dengan kedua tangannya.

Saat mulut mereka bertemu, perasaan dingin segera pergi dari mulut mereka, diganti oleh perasaan hangat, Asuna sekali lagi, merasakan pertukaran informasi melalui cahaya tidak terbatas yang terdiri dari jiwa mereka satu sama lain. Bahkan di masa depan, tidak peduli di dunia mana, tidak peduli berapa lama kita akan pergi, hati kita tidak akan terpisahkan, aku yakin tentang itu.

Tidak, hati kita sebenarnya telah terikat semenjak dahulu. Di langit yang telah jatuh Aincrad, ketika itu menghilang saat dibungkus oleh pelangi aurora —— atau bahkan mungkin jauh sebelum itu, hari di saat kita bertemu di dugeon gelap, sebagai seorang solo player yang kesepian.

"Bagaimanapun juga."

Beberapa menit kemudian, saat mereka berjalan di atas jalan sambil bergandengan tangan, Asuna menanyakan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Jadi kau berpikir Soul Translator yang kau teliti bukanlah penerus dari teknologi FullDive? Brain Chip yang bersatu dengan sel otak pada tingkatan yang sama dengan Nerve Gear, tapi STL lebih jauh dari itu, dan menggunakan level kuantum, bukan?"

"Hmmm......"

Kazuto dengan perlahan mendorong batu menggunakan ujung metal dari payung di tangan lainnya saat dia menjawab.

".....Desain konsepnya sudah pasti jauh lebih maju dibandingkan dengan Brain Chip. Tapi bagaimana mengatakannya...... mungkin itu terlalu canggih. Agar dapat membuat mesin itu dapat digunakan di pasaran, itu tidak hanya membutuhkan waktu beberapa tahun, tapi membutuhkan beberapa dekade untuk itu. Aku memiliki perasaan STL bukanlah mesin yang dibuat manusia untuk Full Dive menuju dunia virtual dengan ......"

"Ehh? Lalu itu untuk apa?"

"Mungkin itu mesin untuk memahami pikiran manusia...... the Fluctlight."

"Hmm......"

Jadi maksudmu STL bukanlah tujuannya tapi metodenya? Saat Asuna memikirkan apa pengertian jiwa manusia yang dia pikirkan, Kazuto melanjutkan berbicara.

"Di samping itu. Aku berpikir STL adalah...... bagian dari ide Heathcliff. Orang itu, untuk alasan tertentu dia membuat Nerve Gear, dia mengorbankan ribuan orang, membakar otaknya sendiri, dan lebih dari itu, dia bahkan menyebarkan «The Seed» menuju seluruh dunia...... Aku tidak tahu bahkan jika dia memiliki tujuan bahkan dari semenjak pertama, tapi aku merasakan kehadirannya melayang di suatu tempat di Soul Translator. Bahkan meskipun aku ingin tahu apa yang dia inginkan, aku tidak ingin ini berefek pada tujuanku. Aku tidak ingin merasa seperti aku berjalan di atas tangannya"

Sebuah wajah dari seseorang muncul di dalam otak Asuna dengan sekejap, dan dia mengangguk.

".....Aku mengerti............Hei, kesadaran Ketua Guild, pikiran programnya masih ada di suatu tempat di server, bukan? Seperti yang Kirito-kun katakan sebelumnya."

"Yeah, tapi hanya sekali. Mesin yang digunakan orang itu untuk bunuh diri adalah original prototype dari STL. Agar dapat membaca Fluctlight, diperlukan high-powered beam yang cukup untuk membakar sel otak. Mungkin, dia telah menderita lebih lama dan rasa sakit yang lebih panjang...... Untuk tujuan membuat dirinya yang lain, aku tidak berpikir bahwa ini tidak berhubungan RATH dengan STL sekarang. Mungkin sesuatu di hatiku masih berpikir......Aku ingin melihat suatu jenis resolusi, yang membuatku menerima permintaan Kikuoka......"

Pada saat dia mengatakan itu, pandangan Kazuto berbalik menuju langit yang menghilang oleh senja berwarna orange kemerahan. Saat dia melihat wajahnya untuk sesaat, Asuna memegang tangannya dengan kuat, sebelum membisikkan.

"......Berjanjilah, cukup satu hal. Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya."

Kazuto, yang berbalik padanya, tersenyum dan mengangguk.

"Tentu saja, Aku janji. Aku akan pergi ke Amerika dengan Asuna musim panas mendatang bagaimanapun juga."

"Sebelum itu, kau seharusnya menghawatirkan tentang belajar agar dapat mendapat nilai bagus di Ujian Scholastic Assessment?"

"Uu......"

Kazuto kehilangan katanya untuk sesaat, sebelum dia perlahan terbatuk dan mengubah topik,

"Bagaimanapun juga, aku harus secara pantas menyapa keluarga Asuna terlebih dahulu. Aku telah bertukar email dengan Shouzoushi-shi dari waktu ke waktu, namun ingatan ibumu terhadapku cukup buruk......"

"Tidak masalah, tidak masalah, akhir-akhir ini ingatannya menjadi sedikit membaik. Ah, ya......Kenapa tidak pergi sekarang saja?"

"Ehh!? T-tidak......Mungkin lebih baik pergi setelah ujian akhir saja, yeah."

"Benarkah..."

Mereka telah sampai di taman di dekat rumah Asuna saat mereka berbicara, Ini adalah dimana Kazuto biasanya mengatakan perpisahan sebelum melepasnya. Asuna berhenti saat dia merasa berat hati sebelum berbalik. Dia melihat wajah Kazuto, dan pandangannya juga sama dengannya.

Jarak di antara mereka hanya kurang dari lima puluh sentimeter. Tiba-tiba, langkah berat yang dapat didengar dari belakang, dan secara refleks Asuna melangkah ke belakang.

Saat dia memutar kepala, sesosok manusia muncul berlari dari arah jalan berbentuk T. Orang itu adalah seorang pria pendek mengenakan pakaian hitam. Pandangannya terhenti pada Asuna dan Kirito sebelum mengatakan "Permisi," dengan suara keras.

"Erm, apa kau tahu dimana stasiun berada?"

Pria muda itu merendahkan wajahnya saat dia bertanya, Asuna menunjuk barat dengan tangan kirinya.

"Ikuti jalan ini sebentar, dan belok kiri ketika lampu lalu lintas pertama......lalu..."

Tiba-tiba, Kazuto, yang ada di belakangnya, secara paksa menarik bahu Asuna. Lalu dia melangkah ke depan sambil melindungi Asuna dibelakangnya.

"A-Apaa......"

"Kau....yang mengikuti kita dari Dicey Café bukan? Siapa kau?"

Dengan nada tajam, Kazuto mengatakan sesuatu yang bahkan Asuna tidak sadari. Dia lalu menarik nafas sambil melihat wajah orang itu sekali lagi.

Dia memiliki rambut panjang tidak rata yang kusut. Garis pipi yang kurus secara keseluruhan di tutupi oleh janggut. Di telinganya terdapat anting perak, dan di lehernya juga ada kalung perak. Dia memakai T-Shirt hitam yang memiliki warna yang sama dengan celananya. Sebuah rantai besi tergantung di pinggangnya membuat suara gemerincing. Kakinya memakai sepatu boot denga tali panjang yang terlihat berat di musim ini, dan secara keseluruhan dia memberikan kesan lusuh.

Mata sipitnya terlihat dari rambut berantakan dari dahinya, seolah-olah dia sedang tersenyum. Orang itu mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya seolah-olah dia tidak mengerti apa yang Kazuto katakan—— lalu tiba-tiba, mata kecilnya bercahaya dengan sinar yang menakutkan.

"......Jadi serangan mendadak tidak bekerja, huh."

Dengan ujung mulutnya dengan erat , Asuna tidak tahu jika dia tersenyum atau jengkel.

"Sebenarnya siapa kau?"

Kazuto mengulang pertanyaannya. Pria itu mengangkat bahunya, menggelengkan kepalnya dua kali, tiga kali, sebelum dia menghela nafas panjang.

"Hei, hei, bukan begitu, Kirito-san. Apa kau melupakan wajahku...... oh, disana aku memakai topeng, bukan? Tapi...Aku tidak pernah melupakan tentangmu meskipun untuk satu hari."

"Kau......"

Ketegangan muncul di punggung Kazuto. Dia menarik kembali tangan kanannya saat dia merendahkan pinggangnya.

"——«Johnny Black»!"

Dengan teriakan pelan, tangan kanan Kazuto begerak cepat seperti cahaya dan memegang udara di punggungnya. Itu pernah sekali menjadi tempat pedang kesayangan «Black Swordsman» yakni «Elucidator».

"Bu... Ku... Kuhahahahahaha! Tidak ada pedang!!"

Orang yang dipanggil Johnny Black memutar bagian atas tubuhnya saat dia tertawa keras. Kazuto menurunkan tangan kanannya di saat seluruh tubuhnya tetap tegang.

Asuna tahu nama itu. Itu adalah nama yang aktif sebagai pembunuh di Aincrad, seorang yang terkenal bahkan di antara pemain merah. Berasal dari guild PK «Laughing Coffin» dan menjadi duo dengan «Red-eyed XaXa», yang membutuhkan lebih dari sepuluh orang untuk menangkapnya.

............XaXa. Dia pernah mendengar nama itu setengah tahun yang lalu. Orang yang dibalik insiden buruk «Death Gun Incident».

Dia mendengar itu setelah XaXa sendiri, Shinkawa Shouichi telah ditahan bersama adik mudanya, tapi meninggalkan rekannya saat pelarian. Orang ketiga, yang dia pikir telah tertangkap lebih dulu, namanya mungkin Kanemoto......dengan kata lain, seseorang yang didepannya adalah————

"Kau......masih melarikan diri?"

Kazuto berkata dengan suara serak. Johnny Black, Kanemoto tersenyum sambil mengulurkan kedua jari telunjuknya.

"Te——tentu saja. Kau pikir aku akan menyerah setelah XaXa ditangkap? Aku adalah anggota terakhir Laughing Coffin. Aku menemukan kedai kopi itu lima bulan lalu, dan aku telah mengawasimu hampir selama sebulan.....setiap hari dipenuhi dengan kebencian—"

Saat dia berbicara, Kanemoto memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Tapi, Kirito-san, tanpa pedang......kau hanya seseorang yang terlihat lemah, bukan? Bahkan meskipun wajahmu masih sama, itu sangat sulit untuk berpikir bahwa kau adalah Swordsman-sama yang telah mengalahkanku dengan sangat memalukan."

"Itu juga berlaku untukmy......Apa yang dapat kau lakukan tanpa senjata beracun kebanggaanmu?"

"Hei, itu sangat tidak profesional untuk menilai senjata dari penampilannya."

Kanemoto menggerakkan tangan kanannya di belakang punggungnya dengan sangat cepat, dan menarik keluar sesuatu dari bajunya.

Itu adalah benda asing. Dari cylinder yang terbuat dari plastic halus, ada gagang kuat yang seperti mainan. Asuna berpikir itu hanya pistol air untuk sesaat, tapi dia menarik nafas saat dia melihat Kazuto menjadi sangat kaku. Kebingungannya berubah menjadi ketakutan saat Kazuto bersuara.

"Itu...... the «Death Gun»......!"

Tangan kananya menuju ke belakang, menyuruh Asuna untuk mundur. Di saat yang sama, dia mengarahkan ujung payung di tangan kirinya ke arah Kanemoto.

Satu langkah, dua langkah, saat dia tanpa sadar mundur ke belakang, mata Asuna masih fokus pada «Pistol» plastik. Itu bukan hanya pistol air, tapi suntikan menggunakan gas bertekanan tinggi, di dalamnya ada bahan kimia mengerikan yang dapat menghentikan jantung.

"Aku punya—, aku punya senjata beracun— Aku meminta maaf karena ini bukan pisau—"

Saat dia mengeluarkan jarumnya, yang satu-satunya bagian yang terbuat dari metal, Kanemoto membuat suara seperti tertawa. Kazuto memegang payungnya dengan kedua tangan sementara dengan hati-hati memperhatikan Kanemoto, lalu sambil bersuara pelan.

"Asuna, larilah! Panggil seseorang untuk membantu!"

Setelah beberapa saat dalam keraguan, Asuna mengangguk, lalu berputar dan mulai berlari. Dari belakang, suara Kanemoto dapat didengar.

"Oi, «The Flash»! Pastikan semua orang tahu.....bahwa orang yang mengambil hidup dari «Black Swordsman» adalah Johnny Black!"

Bell dari rumah terdekat sekitar tiga puluh meter.

"Seseorang......tolong!!"

Saat dia berlari sambil memanggil dengan suara paling keras. Bukankah salah untuk meninggalakan Kazuto dan berlari? ..... Jika kita bekerja sama, bukankah kita dapat menghentikan senjata itu? Dia melewati separuh jalan dan saat dia berpikir seperti itu, pada saat itu, sebuah suara terdengar di telinganya.

Seperti ketika tutup dari minuman bersoda terbuka, atau cat semprot yang digunakan, sebuah suara tajam terdengar. Tapi, dia segera mengerti maksudnya pada saat itu juga, Asuna menahan rasa takutnya, menghentikan langkahnya, terhuyung, dan menahan tangannya di batu basah.

Asuna perlahan menengok dan melihat melalui bagian atas bahunya.

Sebuah kejadian mengerikan terlihat di pandangannya.

Poros dari payung di tangan kiri Kazuto menusuk pada bagian bawah paha kanan Kanemoto.

Dan suntikan di tangan Kanemoto ditusuk pada bahu kiri Kazuto.

Secara bersamaan, tubuh mereka terpisah satu sama lain, sebelum terjatuh dengan keras di jalan.


Beberapa menit kemudian setelah kejadian itu terasa tidak nyata, itu seperti dia melihat film hitam putih.

Dia berlari menuju tubuh Kazuto yang tidak bergerak. Dia menarik Kazuto dari Kanemoto, yang memegang kakinya dengan kesakitan, "Bertahanlah," dia memanggilnya saat dia mengambil terminal mobile dari sakunya dan membukanya.

Dia tidak dapat merasakan apapun di jarinya, seolah-olah itu telah membeku. Ujung jarinya yang kaku mengoperasikan layar sentuh, dan dia melaporkan lokasi dan situasi pada operator dari pusat bantuan darurat, dengan terengah-engah dan kehabisan nafas.

Banyak penonton yang penasaran bermunculan. Lalu, seorang polisi muncul dari kerumunan. Asuna hanya dengan singkat menjawab pertanyaan saat dia dengan erat memeluk Kazuto.

Pernafasan Kazuto menjadi lambat dan pelan. Di bawah rasa sakitnya, dia membisikkan dua kata pendek. "Maaf, Asuna."

Beberapa menit kemudian yang terasa seperti keajaiban. Kazuto dibawa oleh satu dari dua mobil ambulans yang telah tiba, dan Asuna juga berada di mobil yang sama.

Saat Kazuto terbaring tidak sadarkan diri di tandu, seorang paramedis menggerakkan wajahnya di dekat wajah Kazuto untuk mengecek pernafasannya, lalu memanggil paramedis yang lain.

"Respiratory gagal! Berikan aku tas darurat!"

Untuk membantu pernafasan dengan cepat, mulut dan hidung Kazuto ditutupi oleh masker transparan.

Asuna entah bagaimana berhasil untuk menahan dorongannya tidak berteriak melalui tenggorokannya, saat dia menginformasikan pada paramedis nama bahan kimia yang secara ajaib dapat dia ingat.

"Erm, s-succinylcholine......dia telah disuntik dengan obat itu. Di bahu kirinya."

Paramedis itu melihat dia dengan takjub untuk sesaat, lalu dia memberi instruksi yang baru dengan cepat.

"IV suntik epinephrine......tidak, gunakkan atropine! Buatlah menjadi IV!

Sebuah jarum transfusi ditusuk di tangan kiri Kazuto, di bagian bajunya yang terkoyak. Mesin elektroda dari ECG monitor di taruh di dadanya. Sebagai tambahan suara udara di sekitar, suara sirine memecahkan keheningan.

"Detak jantung menurun!"

"Mulailah menekan jantungnya!"

Wajah Kazuto dengan kelopak matanya tertutup, terlihat sangat pucat di bawah panel internal LED light. "Tidak...tidak ... Kirito-kun...Bukan sesuatu yang seperti ini..." sebuah suara kecil yang keluar dari mulut Asuna tanpa dia sadari untuk sesaat.

"Detak jantung berhenti!"

"Teruslah menekan!"

Kirito-kun, ini bohong, bukan? Kau tidak akan meninggalkanku, bukan? Kau mengatakan bahwa kita akan terus bersama selamanya.....bukankah kau mengatakan itu?

Pandangan Asuna menunduk menuju terminal mobile yang ada ditangannya.

Hati yang terlihat di monitor itu perlahan berdetak sekali lagi, sebelum itu berhenti berdetak.

Angka monitor digital itu berubah dengan kejam dan berhenti di nol, saat semuanya menjadi hening.