Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 6 Bab 16

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 16[edit]

Pada saat ini, langit yang luas itu akan membuat orang berpikir tentang galaksi luas yang tersembunyi dibelakangnya.

Perasaan «Langit yang Luas» ini adalah perasaan yang tidak bisa dirasakan di dunia virtual. Kehangatan musim gugur yang telah lewat tampaknya telah dilupakan semua orang, dan di langit biru tampak awan tebal yang seperti kawanan domba yang sedang berkumpul di langit. Di atas kabel telepon itu terdapat dua ekor burung pipit yang sedang bersiul, dan pesawat militer yang terbang di udara dan memantulkan sinar matahari.

Shino menatap pemandangan luas dan tak berujung ini, dan dia tampak tidak terganggu oleh pemandangan itu.

Angin sekarang harusnya hangat pada pertengahan Desember, dan kebisingan dari siswa yang pulang sekolah tidak akan mencapai bagian belakang sekolah. Biasanya, langit di ibukota Tokyo akan ditutupi dengan abu-abu tipis, tapi hari ini, itu tampak seperti sebuah kota di utara. Shino duduk di hamparan bunga dan menempatkan tasnya di atas lututnya. Dan kemudian, ia membiarkan jiwanya bergerak menuju angkasa selama sekitar 10 menit.

Namun, beberapa saat kemudian, beberapa langkah disertai dengan tawa terdengar saat mereka tiba dekat Shino dan menariknya kembali dari langit ke bumi.

Dia memutar lehernya, menarik selendang putihnya dan menunggu orang-orang itu berjalan mendekat. Endou dan dua sahabatnya datang dari daerah barat laut dari gedung sekolah dan incinerator yang besar. Mereka menyeringai saat melihat Shino dan menunjukkan senyum kejam. Tangan kiri Shino mengambil tas dan berkata, "Karena kamu yang mengundangku, sebaiknya jangan terlambat."

Setelah mendengar Shino mengatakan hal itu, seorang teman Endou mengedipkan kelopak matanya, tetap tersenyum dan berteriak, "Asada, kau benar-benar jahat saat ini, kan!"

Pesuruh lainnya berkata dengan nada yang sama, "Ya ~ bukankah itu terlalu kejam untuk temanmu ini?"

3 orang, yang sekitar 2m dari Shino, tatapan mereka seperti sedang memberi ancaman pada Shino. Shino menatap tajam tajam -seperti mata predator pada Endou yang berdiri di tengah. Keduanya tetap diam selama beberapa detik. Endou kemudian tersenyum dan mengangkat dagu.

"Oh yahh, lagi pula kita teman. Oh ya, jika kita memiliki masalah, kamu harus membantu kami. Kami sedikit kesulitan di sini..."

Mendengar dia mengatakan itu, dua lainnya mulai tertawa.

"Jadi pinjami kami ¥ 20.000 terlebih dahulu."

Endou mengatakannya seperti orang yang meminjam penghapus.

Shino melepas kacamatanya NXT optik yang bahkan tidak berlensa, dan memasukkannya ke dalam saku roknya. Dia memberikan tatapan kasar pada trio Endou, dan mengatakan setiap kata dengan jelas.

"Aku mengatakan itu sebelumnya. Aku tidak punya uang untuk meminjamkanmu."

Pada saat ini, mata Endou menyipit seperti kabel. Dia memberikan pandangan keras dari wajahnya dan berkata dengan suara yang lebih dalam,

"... Jangan berpikir kamu bisa menyombongkan dirimu. Omong-omong, aku benar-benar membawa benda itu dari nii-san, jadi jangan lari dan menangis, Asada."

"... Terserah."

Shino berpikir bahwa orang-orang tidak akan begitu berani untuk mengeluarkan pistol dekat sekolah, namun Endou sebenarnya menyeringai dan mengulurkan tangannya ke dalam tas sekolahnya.

Sebuah pistol otomatis hitam yang ia keluarkan dari tas itu yang memiliki banyak boneka tergantung di atasnya. Adegan ini benar-benar memberi sedikit rasa komedi yang suram. Endou hati-hati mengeluarkan pistol model besar dan kemudian mengarahkannya pada Shino dengan tangan kanannya.

"Aku mendengar bahwa ini dapat melubangi karton tebal. Nii-san mengatakan kepadaku untuk tidak menggunakannya untuk menembak seseorang, tetapi kamu tidak akan mendengarkannya kan, Asada? Kamu terbiasa untuk itu."

Mata Shino langsung terpusat pada pistol hitam itu.

Mempercepat detak jantungnya. Suara di telinganya menyebabkan semua suara lainnya untuk menghilang. Dia mulai terengah-engah, dan perasaan dingin mulai beranjak naik di ujung jarinya.

Namun, Shino mengertakkan gigi dan mengerahkan kekuatan mentalnya untuk berpaling dari profil senjata itu. Matanya pindah dari tangan kanan Endou yang memegang pistol, kemudian mulai bergerak ke lengan, dan kemudian ke bahu, rambut dicat dan akhirnya wajah Endou.

Mata Endou yang sedang berdenyut dengan pembuluh darahnya menunjukkan kegembiraan, dan iris yang berubah menjadi hitam jelek. Pemilik pistol itu hanya cacing menyedihkan yang mabuk dalam kekerasan.

Teror yang sebenarnya bukanlah pistol itu sendiri, tetapi orang yang memegangnya. Mungkin karena Shino tidak memberikan respon yang diharapkan, Endou cemas mencibir dan mengatakan kata-kata ini.

"Menangislah, Asada. Berlutut dan meminta pengampunan. Atau aku benar-benar akan menembak."

Kemudian, dia mengarahkan pistol model di bahu kiri Shino sebelum tersenyum. Bahu dan lengannya tersentak sedikit, dan Shino segera tahu bahwa ia akan menekan pelatuk. Namun, pelurunya tidak keluar.

"Sialan, apa yang terjadi!?"

Meskipun dia meremas pelatuk beberapa kali lagi, dia hanya bisa mendengar suara menggosok plastik terhadap satu sama lain.

Shino mengambil napas dalam-dalam, mendapatkan kekuatan di seluruh tubuhnya, melemparkan tas ke lantai dan mengayunkan lengannya.

Dia menggunakan ibu jari kirinya untuk menekan keras pada pergelangan tangan kanan Endou, dan merampas pistol itu sementara cengkeramannya melemah. Dia kemudian meluncurkan jari telunjuk ke dalam pemicunya, dan pegangannya dengan mudah mendarat di tangannya. Pistol itu terasa seperti plastik, tapi itu berat.

"A 1911 Government? Kakakmu benar-benar menyukai desain tradisional sepertinya. Hanya saja tidak sesuai dengan seleraku."

Shino mengatakan itu dan menunjukkan sisi kiri pistol di Endou.

"Government memiliki hand safety dan grip safety, dan kamu tidak bisa menembak tanpa membuka kedua safeties."

  • Clak, clak *. Dengan dua suara, kedua safeties itu telah dihilangkan.

"Juga, itu adalah single action gun, sehingga kamu harus menarik pendorongnya dari awal."

Shino menjentikkan pendorongnya dengan ibu jari, dan pelatuknya bergerak sedikit dengan suara sedikit yang keras.

Dia mengarahkan matanya pada Endou yang tertegun mengikutinya dan melihat sekeliling, menemukan deretan sampah plastik biru sekitar 6m jauhnya di samping insinerator, dan kebetulan ada kaleng di atasnya.

Shino kemudian menempatkan tangan kirinya pada pegangan dan masuk ke posisi menembak senjata dengan satu tangan. Dia menyejajarkan mata kanannya dengan penglihatannya, mengarahkannya pada kaleng kosong, mempertimbangkannya untuk sementara, mengangkat senjata naik sedikit, menahan napas, dan menarik pelatuknya. 'PA'. Dengan suara lembut, recoil kecil itu dikirim ke tangan Shino. Government ini benar-benar mengeluarkan recoil, dan peluru oranye terbang keluar.

Sepertinya Shino tidak akrab dengan lintasan senjata ini, dia berpikir bahwa peluru pertama akan meleset. Namun, peluru untungnya menyerempet bagian atas kaleng kosong, yang mengejutkan Shino sendiri. Aluminium itu mengeluarkan suara 'Klang', berputar seperti gasing dan akhirnya jatuh dan turun dari tempat sampah.

  • Fuu *, Shino mendesah dan menempatkan pistolnya ke bawah. Arogansi Endou sudah lama pergi karena dia hanya bisa berdiri di sana shock. Saat Shino menatap matanya, dia ketakutan menutup mulutnya dan mengambil setengah langkah mundur.

"Tidak.. tidak..."

Setelah mendengar suara ketakutan nya, Shino dengan santai sekilas menegaskan.

"... Memang benar bahwa lebih baik tidak menggunakan ini untuk menembak orang lain."

Dia mengatakannya saat ia memiringkan pendorongnya kembali sebelum menutup 2 safeties. Saat Shino menyerahkan pistol itu, tubuh Endou tersentak, tapi masih mengulurkan tangan untuk mengambil pistol model dengan takut-takut.

Shino menyambar tas sekolahnya dan lagi menarik-narik kerudungnya. Dia mengucapkan selamat tinggal kepada 3 orang di belakangnya dan mulai berjalan ke depan. Namun, Endou dan pengikutnya tidak menanggapi sama sekali. Ketiganya hanya bisa berdiri di sana dengan tatapan kosong sampai Shino berjalan ke tikungan dan tak terlihat lagi.

Saat dia tidak bisa melihat Endou, kaki Shino segera kehilangan kekuatannya dan ia hampir jatuh ke lantai. Dia akhirnya berhasil berdiri dengan mendorong dirinya di gedung sekolah.

Sebuah petir berdering dalam telinga Shino, dan darah itu mengalir cepat melalui pelipisnya. Arus balik asam membuat tenggorokannya sedikit sakit. Jika ada orang yang memberitahunya untuk melakukan apa yang dia lakukan barusan, dia akan mengatakan bahwa dia tidak akan bisa melakukannya lagi. Meski begitu -hal ini dapat dianggap sebagai langkah pertama.

Shino memaksa dirinya untuk menggerakkan kaki yang lemah dan membuat dirinya menjauh. Berat pistol model yang dingin itu masih terikat di tangannya dan tidak bisa melepaskannya, tapi setelah meletakkan tangannya di bawah angin kering yang dingin, sentuhannya akhirnya mulai pulih. Dia mengeluarkan kacamatanya dengan jarinya yang sedang mati rasa dan memakainya.

Dia menyeberangi koridor yang menghubungkan tangga barat sekolah dan gedung olahraga, mencapai sisi lapangan setelah berjalan untuk beberapa saat, melewati anggota klub olahraga yang sedang berlari dan bersorak-sorai pada diri mereka sendiri, melewati hutan kecil di selatan jalan, dan gerbang utama muncul di depannya.

Siswa pulang dengan berkelompok, dan ketika Shino hendak melewati orang-orang itu dan saat pintu gerbang berada di depan matanya, dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa siswa perempuan yang berdiri di sisi dinding sekolah, melihat dari gerbang sekolah, dan sedang membicarakan sesuatu yang tidak ia ketahui.

Shino menyadari bahwa ada 2 anak perempuan dari kelas yang memiliki hubungan agak baik dengannya, dan dia berjalan ke mereka.

Seorang gadis dengan rambut panjang dan kacamata berbingkai hitam melihat Shino, tersenyum dan mengangkat tangannya.

"Asada-san, kau mau pulang sekarang?"

"Ya -apa yang kalian lakukan?"

Saat ia menjawabnya, gadis lain dengan rambut berwarna coklat yang diikat menjadi dua kepangan mengangkat bahu, tersenyum dan menjawab,

"Dengarkan aku. Ada seorang pria di gerbang sekolah dengan seragam yang bukan berasal dari sekolah terdekat. Ia memarkir motornya di sana dan bahkan memiliki dua helm. Sepertinya dia sedang menunggu seorang siswa dari sekolah kita. Ini sedikit seperti gosip, tapi kami hanya ingin tahu siapa yang begitu berani mengundang pacarnya ke pintu gerbang untuk menjemputnya?"

Saat dia mendengar jawaban ini, Shino segera menyadari bahwa wajahnya memucat. Dia melihat jam tangannya dan berteriak dalam hati 'tidak mungkin'.

Ia setuju untuk bertemu dengannya di gerbang sekolah saat ini, dan orang itu bahkan mengatakan bahwa 'tidak usah membuang ongkos transportasimu, aku akan menjemputmu'. Namun, ia tidak perlu terlalu jauh hingga memarkir kendaraannya di depan gerbang sekolah-

Tidak... orang itu pasti akan melakukan itu.

Shino dengan takut-takut mendekatkan tubuhnya di pagar dan mengintip ke luar dari gerbang sekolah. Segera setelah itu, ia merasa benar-benar lemah. Bahwa siswa laki-laki yang mengenakan seragam yang ia belum pernah lihat sebelumnya bersandar pada kendaraan kecil yang bersinar yang memiliki standar dibawah. Dia memegang dua helm dan melihat ke langit dengan bingung- tidak diragukan lagi, dia adalah anak laki-laki yang ia kenali dua hari yang lalu.

Ketika berpikir untuk menyapanya dan mengambil kursi belakang kendaraan dengan puluhan orang melihatnya, Shino tidak bisa menahan malu. Dia bergumam dalam hatinya 'Aku benar-benar ingin log out dari sini', dan mengumpulkan keberaniannya sebelum berbalik menghadap teman-teman sekelasnya di sampingnya.

"Eh... baik... dia... dia temanku..."

Dia berkata dengan suara lembut yang hampir tidak bisa didengar. Mata para gadis berkacamata melebar.

"Eh... Asada-san?"

"Teman seperti apa?"

Gadis lain berteriak seperti ini juga. Memperhatikan tatapan yang mengarah padanya karena suara keras ini, Shino hanya bisa memeluk tasnya dan mundur kebelakang...

"Ma ... maaf!"

Kemudian, dia mulai meminta maaf dan melarikan diri untuk beberapa alasan.

Shino sudah pergi melewati gerbang hijau perunggu itu dan mendengar suara dari belakang yang berteriak padanya.

"Jelaskan semuanya dengan jelas kepadaku besok! ~"

Meskipun ia tiba di sampingnya, orang ini masih tampak bingung seperti saat ia melihat ke langit tadi.

"Yah..."

Setelah berbicara dengannya, ia mengerjapkan matanya dan berbalik sebelum menunjukkan senyum malas di wajahnya.

"Ah, selamat siang, Sinon."

Pertemuan di bawah matahari cerah seperti ini lagi, rasanya seperti Kirito di dunia nyata memiliki transparansi yang membuat bayangannya hampir tak terlihat. Rambut hitamnya yang sedikit panjang membuat kulitnya terlihat lebih cerah, dan tubuh langsing yang tampak mengejutkan seperti gadis tampak mirip dengan avatar di dunia virtual.

Perasaan yang lemah ini, atau lebih tepatnya, perasaan yang membuat Shino ingat bahwa ia pernah menghabiskan dua tahun di penjara virtual, dan menyebabkannya untuk menjaga kata-kata pedas nya.

"... Selamat siang... maaf untuk membuatmu menunggu."

"Tidak apa-apa. Aku juga baru saja tiba—ngomong-ngomong... mengapa rasanya seperti..."

Pada saat ini, Kirito akhirnya melihat para siswa yang sedang menonton dari dekat gerbang sekolah. Dia melihat sekeliling dan berkata,

"... Semua orang memandangi kita..."

"To... tolong..."

Suara Shino seperti memiliki beberapa keengganan.

"Bukankah orang lain akan melihat jika kamu memarkir kendaraanmu di gerbang sekolah orang lain!?"

"B... begitukah? Lalu..."

Anak itu tiba-tiba menyemburkan senyum menggoda. Shino pernah melihat senyuman itu beberapa kali di dunia maya.

"Jika kita terus tinggal di sini, akankah guru BK kesini dan memarahi kita? Tampaknya menarik."

"Ja.. jangan bercanda!"

Bahkan, para guru benar-benar bisa datang. Shino secara naluriah berbalik untuk melihat gerbang sekolah dan kemudian berkata lembut,

"Hu, bergegas dan pergi!"

"Oke oke..."

Kirito menyerahkan helm hijau muda yang ia pegang untuk Shino sambil terus tersenyum.

Orang ini mengacaukan mentalku seperti setan nakal, seperti saat di GGO. Aku tidak bisa tertipu oleh penampilannya—Shino mengatakan pada dirinya jauh di dalam hatinya saat ia menerima helm pengaman. Dia memiringkan tasnya ke samping dan mengenakan helmnya. Setengah mengenakannya ia kemudian berhenti karena dia tidak tahu bagaimana cara memakainya. Pada saat ini...

"Permisi.. sedikit."

Kirito menggenggam lengannya dengan cepat dan memakaikan helmnya ke atas. Wajah Shino saat ini terasa panas saat ia buru-buru mengarahkan mukanya ke bawah. Dia sudah mulai bertanya-tanya bagaimana dia akan menjelaskan hal-hal kepada semua orang dihari berikutnya.

"... Sinon, emm... apakah rokmu baik-baik saja?"

"Aku memiliki celana pendek olahraga."

"Tidak, tidak masalah."

"Lagipula kamu tidak bisa melihatnya dari depan."

Setelah mengambil kesempatan balas dendam, Shino dengan cepat duduk di kursi belakang kendaraan. Seperti saat ia menumpang dibelakang kakek nya yang menunggangi Coyote Honda 90, "Hh... Kamu lebih baik pegangan erat-erat."

Kirito memutar kunci, dan mesin pembakaran internal yang langka ini mengeluarkan raungan keras. Shino menarik lehernya ke belakang. Namun, getaran yang mencapai pinggang dan bau gas yang mengingatkannya kembali yang membuatnya tidak bisa menahan senyum. Dia kemudian memeluk tubuh ramping Kirito itu.


Ini akan menjadi sedikit merepotkan baginya untuk pergi dari daerah Bunkyo dari Yushima ke tujuan mereka, daerah pusat Ginza, jika dia harus mengambil kereta bawah tanah. Akan lebih mudah untuk bergerak di atas tanah.

Mereka melaju dari Ochinomizu, ke Chiyoda raya sebelum mencapai Koukyo. Motor bergerak perlahan-lahan di sekitar parit untuk alasan keamanan, tapi untungnya, cuaca hari ini baik-baik saja, dan angin yang bertiup melewati wajahnya membuatnya merasa agak nyaman. Setelah bergerak melalui gerbang utama, mereka pergi melewati jalan raya Uchibori kemudian Harumi Avenue, berbelok ke kiri, melewati jembatan JR, dan kemudian tiba di Ginza Yonchome.

Meskipun kecepatan laju mereka memiliki perbedaan yang besar seperti saat naik motor beroda tiga dan lari dari Death Gun, mereka masih harus menghabiskan kurang dari 15 menit untuk mencapai tujuan. Setelah sampai, Kirito segera memarkir kendaraannya.

Shino memegang helm di tangannya saat ia mengikuti Kirito ke sebuah kafe kelas tinggi yang ia belum pernah datangi sebelumnya. Saat dia mendorong pintu ke samping, para pelayan dengan mengenakan kemeja putih dan dasi hitam membungkuk dalam-dalam untuk mereka. Shino agak panik dan tampak agak malu. Mendengar pelayan bertanya apakah itu untuk berdua, dia merasa apakah itu seperti... dan panik bahkan lebih. Namun, suara yang tanpa menahan diri tiba-tiba terdengar, memecahkan atmosfer dari suasana kelas tinggi. "Oi~ Kirito-kun, di sini!"

"Ah... kita punya janji dengan orang itu."

Seperti yang Kirito katakan, pelayan menunjukkan bahwa ia mengerti tanpa mengubah ekspresi wajahnya, membungkuk sambil berjalan ke depan. Toko itu penuh dengan ibu rumah tangga kaya yang pergi berbelanja, dan seragam sekolah mereka tampak sangat jelas. Shino hanya bisa meringkuk kembali dan hati-hati berjalan di lantai yang dipoles sehingga menjadi bersinar.

Seorang pria jangkung dan kurus, yang mengenakan jas kelas tinggi dengan gaya kebarat-baratan, dasi bermotif dan kacamata berbingkai hitam, bangkit dari meja yang keduanya tuju. Shino mendengar bahwa dia adalah seorang pegawai pemerintahan, namun ia mempunyai kerah berwarna putih yang membuatnya terlihat seperti seorang pelajar juga.

Ketika mereka duduk di meja yang orang itu tunjukkan, handuk hangat dan buku menu muncul di depan mereka.

"Silahan, nikmati."

Shino membuka menunya seperti yang diminta oleh suara orang itu, dan segera tidak bisa mengatakan apa-apa. Bukan hanya sandwich dan pasta, bahkan makanan penutup pun memiliki 4 digit angka di belakang nya.

Shino begitu terkejut dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, di sampingnya, Kirito mendengus dingin dan berkata,

"Lebih baik jangan bersikap baik padanya. Kita menghabiskan uang dari warga negara pekerja keras."

Gadis itu melirik dan melihat pria berkacamata itu tersenyum dan mengangguk juga.

"Ja, jadi... Aku akan memesan kue keju istimewa ini dengan saus cranberry di atasnya... dan juga Earl Grey."

Shino mengatakan di hatinya 'Wow, 2200 yen [2]!' Hijau. Tanpa diduga, Kirito, yang di sampingnya, mengatakan-

"Aku ingin puding panggang apel, mont blanc dan espresso."

Itu adalah hal yang luar biasa. Shino bahkan tidak bisa membayangkan berapa banyak uang yang akan dikeluarkan.

Petugas membungkuk dan berjalan menjauhi pria berkacamata. Pria ini merogoh sakunya dan mengeluarkan tempat dari sejumlah kartu hitam. Dia mengambil kartu nama dari tempatnya dan kemudian menyerahkan kartu nama itu ke Shino. "Halo. Aku Kikuoka dari Kementerian Dalam Negeri dan Teknologi Komunikasi. "

Dia mengatakan namanya dengan suara mantap. Shino buru-buru mengambil kartu bisnis dan membungkuk kembali. "Ha, halo... aku Asada... Shino."

Setelah ia mengucapkan hal itu, orang yang disebut Kikuoka ini memberikan pandangan menyenangkan dan berkata,

"Ini karena kecerobohan kita dan menyebabkan Asada-san berada dalam situasi berbahaya seperti ini. Aku benar-benar minta maaf."

"Tidak.., tidak usah khawatir. Kau terlalu baik."

Saat Shino buru-buru menunduk lagi, Kirito menyela dari sampingnya.

"Lebih baik baginya untuk meminta maaf. Jika Kikuoka-san menyelidiki dengan lebih teliti, kita tidak akan menemui bahaya."

"... Yang kau katakan membuatku berkeringat."

Kikuoka menurunkan kepalanya seperti seorang anak yang sedang diceramahi, tapi kemudian mengangkat matanya dan melanjutkan.

"Tapi Kirito-kun, kamu tidak pernah berpikir bahwa «Death Gun» adalah sekelompok orang, kan?"

"Itu benar..."

Setelah mengatakan itu, Kirito bersandar di kursi yang tampak seperti sebuah benda antik, yang kemudian mengeluarkan suara berderit.

"Pokoknya... pertama ceritakan apa yang kamu ketahui sampai sekarang, Kikuoka-san."

"Tentu saja... tapi itu hanya 2 hari karena kita tahu dari kejahatan mereka. Ini akan memakan waktu untuk menjelaskan semuanya..."

Kikuoka mengambil cangkir kopi yang tepat di depannya, meneguk minuman, dan kemudian melanjutkan.

"Sementara aku mengatakan bahwa ada sebuah kelompok, sebenarnya hanya ada 3 anggota. Setidaknya dari apa yang pemimpin Shinkawa Shoichi katakan, mereka memiliki tiga orang."

"Pria yang bernama Shoichi adalah orang bermantel yang menyerang Sinon dan aku di BoB, kan?"

Kikuoka dengan lembut menganggukan kepalanya pada pertanyaan Kirito itu.

"Aku rasa itu benar. Dari catatan AmuSphere yang kami dapatkan dari rumahnya, kami mampu untuk memeriksa bahwa ia melakukan login ke Gun Gale online pada waktu itu."

"Rumah... pria bernama Shinkawa Shoichi, orang macam apa dia? Apakah dia dalangnya?"

"... Untuk menjelaskan semua itu, kita harus mulai dari insiden SAO pada tahun 2022. Tapi sebelum itu..."

Pelayan hanya begitu kebetulan tiba pada saat ini sambil mendorong troli dengan banyak piring makanan di atasnya. Setelah menunggu pelayan untuk mengatur piring ini ke meja dan meninggalkan mereka, Kikuoka kemudian memberi isyarat pada Shino untuk tidak menahannya.

Dia tidak benar-benar memiliki nafsu makan banyak, tapi dia masih harus bisa memakannya. Setelah mengatakan 'Terima kasih atas makanan nya' dengan Kirito, Shino mengambil garpu emas.

Dia mengiris sedikit dari blok putih susu yang dicelup dalam saus merah terang dan meletakkannya di dalam mulutnya. Selain rasa berat keju tebal menyebar di mulutnya, kue itu sendiri meleleh dalam. Terkejut, Shino segera memiliki pemikiran untuk meminta resep, tapi berpikir tentang hal itu, ia tahu bahkan jika dia bertanya kepada kokinya, mereka tidak akan mengungkapkannya.

Tanpa sadar, dia makan sekitar setengah dari kue sebelum meletakkan garpu ke bawah dan mengambil cangkir teh merah. Dia meneguk cairan hangat yang memiliki tang orange kecil di dalamnya, dan perasaan tegang jauh di dalam dirinya itu mereda.

"Ini benar-benar enak..."

Shino bergumam. Mendengar itu, Kikuoka dengan gembira mengatakan,

"Biasanya, makanan harus diiringi dengan topik bahagia. Tapi itu baik-baik saja. Kita bisa datang di lain waktu."

"Aku- aku mengerti..."

Kirito terus memakan makanan cokelat keemasan mont blanc di depannya, dan pada titik ini, tertawa dan menghancurkan suasana hati Kikuoka.

"Aku akan menyarankanmu untuk tidak melakukannya. «Topik yang menarik» yang orang ini bicarakan adalah hal kotor atau menjijikkan."

"Itu- itu terlalu berlebihan. Aku agak percaya diri dalam pengalaman perjalananku di Asia Tenggara... oh ya, mari kita bicara tentang ini dulu."

Kikuoka mengeluarkan tablet PC dari tas kantornya, dan kemudian menyentuh layar dengan jari-jari yang panjang.

Tubuh Shino tegang sedikit ketika dia bersiap-siap untuk mendengar apa yang orang ini katakan, yang tampak seperti guru, jika harus kukatakan.

Tentu saja, ia ingin tahu semua tentang insiden «Death Gun». Namun, di lubuk hatinya, ada sedikit suara bergumam bahwa dia tidak ingin memiliki hubungan apa-apa lagi dengan hal ini.

Mungkin bagian tertentu jauh di dalam dirinya masih percaya dengan Shinkawa Kyouji. Bahkan ketika jarum suntik yang menakutkan ditempatkan di lehernya, Shino masih belum bisa membenci Kyouji sepenuhnya, dan tidak bisa melepaskan semua perasaannya untuk dia. Orang itu bukan dirinya yang sebenarnya, sesuatu yang menyusup ke pikirannya menyebabkan dia melakukan ini- Shino masih percaya pada kata-kata ini.

Sudah sekitar 40 jam sejak apa yang terjadi pada hari Minggu malam.

Malam itu Kirito pergi ke kamar mandinya untuk mencuci wajahnya dan ganti baju, lalu polisi pun tiba di rumahnya.

Shinkawa Kyouji, yang kepalanya mengalami trauma berat dan setengan tersadar, segera diangkat dan dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Untuk alasan keamanan, Shino dan Kirito dibawa ke rumah sakit lain dan dibuat untuk mengambil pemeriksaan wajib. Dokter yang bertugas mengatakan bahwa Shino tidak memiliki apa-apa selain beberapa memar. Segera setelah itu, polisi memulai investigasi mereka di rumah sakit, dan dia mencoba untuk menjernihkan pikirannya yang masih kabur oleh lapisan kebingungan, dan mengatakan kepada polisi persis seperti apa yang terjadi di dalam ruangan.

Dia sendiri tidak menyadarinya, tetapi dokter mendiagnosis dirinya bahwa tingkat stres emosionalnya berada pada batasnya, sehingga penyelidikan polisi berhenti sekitar jam 2 pagi. Shino kemudian menghabiskan malam di kamar rumah sakit, dan setelah bangun pukul 6 pagi, ia menolak untuk menerima usulan dokter untuk kembali ke apartemennya dan bukannya pergi ke sekolah.

Sama seperti itu, dia grogi ketika pergi pada hari Senin, kemarin. Meskipun Kyouji terus bolos sekolah, ia masih harus didaftarkan ke sekolah, sehingga Shino berpikir bahwa sekolah akan tahu tentang hal itu. Pada akhirnya, tidak ada yang berbicara tentang hal itu di sekolah.

Saat Shino mengabaikan Endou dan menenangkan pikirannya dan kembali ke apartemennya, polisi sudah menunggunya di pintu. Setelah ganti baju, Shino dan polisi pergi ke rumah sakit itu kemarin, dan Shino mengambil diagnosis kedua dari dokter. Kali ini, Shino mengajukan banyak pertanyaan tentang Kyouji, tetapi polisi mengatakan kepadanya bahwa Kyouji baik-baik saja, tapi dia diam saja saat sedang diinterogasi.

Karena «alasan keamanan», polisi ingin Shino untuk tetap berada di rumah sakit. Setelah makan malam dan mandi, dia membuat panggilan singkat untuk kakek dan ibunya di rumah lamanya sebelum tidur di kamar rumah sakit yang telah disiapkan untuknya. Saat ia berbaring di tempat tidur, Shino segera tenggelam ke dalam tidur nyenyak, dan ingatannya terputus dari sana. Rasanya seperti dia bermimpi panjang, tapi ia tidak bisa mengingat apa-apa sama sekali.


Pada hari Selasa, pagi ini, polisi kembali mengantarnya ke apartemennya. Saat dia turun, polisi mengatakan kepadanya bahwa interogasinya akan selesai. Meskipun itu adalah hal yang baik, bagaimana dia tahu tentang perkembangannya dari sekarang... Shino pikir dia harus bersiap-siap untuk sekolah. Tepat ketika ia sedang memotong tomat untuk sarapan, telepon tiba-tiba berdering. Itu dari Kirito. Hal pertama yang dia tanyakan adalah apakah Shino bebas setelah sekolah, dan Shino dengan reflek menjawab ”ya”.

Itulah yang terjadi, sekarang Shino duduk di samping Kirito dan menunggu «associate» -pria pegawai pemerintahan itu untuk berbicara.


Kikuoka berpaling untuk mencari tablet Vandroidnya dan kemudian menurunkan volumenya, mungkin ia takut orang lain mendengar ucapannya.

"Direktur Rumah Sakit Umum yang menangani kakak Shinkawa Kyouji mengatakan bahwa Shoichi sudah sakit-sakitan sejak ia masih muda, dan sering berpindah antara rumah sakit satu dengan rumah sakit lainnya sejak dia lulus dari sekolah menengah. Dia bahkan terdaftar di SMA terlambat 1 tahun... Dengan demikian, ayahnya sudah menyerah membiarkan Shoichi mengambil alih bisnis keluarga dan menyerahkan beban ini kepada Kyouji, yang 3 tahun lebih muda darinya. Direktur kemudian mulai memberikan pembelajaran di rumah untuk Kyouji dan bahkan mengajarinya sendiri, dan akan meninggalkan Shoichi sendirian. Shoichi memang tidak memiliki harapan lagi, tapi adiknya merasa telah terdorong dalam keputusasaan karena memiliki harapan yang besar... itulah yang ayah mereka katakan ketika ia diinterogasi."

Kikuoka berhenti sebentar dan membasahi bibirnya dengan kopi.

Shino menatap permukaan meja dan mencoba membayangkan seperti apakah «harapan orang tua» mereka. Meskipun begitu, dia tidak dapat membayangkan hal itu.

Meskipun keduanya begitu dekat, ia tidak pernah menyadari bahwa Kyouji berada pada begitu banyak tekanan. Aku hanya mempedulikan masalahku sendiri dan tidak pernah benar-benar berpikir untuk berinteraksi dengan orang lain dengan sesungguhnya -ketika Shino menyadari hal ini lagi, dadanya merasakan nyeri yang tajam.

Kikuoka melanjutkan,

"Tapi-bahkan dalam situasi ini, saudara-saudaranya cukup akrab. Setelah Shoichi drop out dari SMA, ia berpaling ke internet sebagai surga bagi dirinya dan mulai bermain MMORPG, dan ini membuat saudaranya ikut tertarik. Setelah itu, sang kakak akhirnya menjadi tawanan «Sword Art Online» dalam keadaan koma di rumah sakit ayahnya selama 2 tahun. Setelah ia selamat dan kembali, Kyouji melihat kakaknya sebagai seorang idola... atau bahkan memperlakukannya bak pahlawan."

Pada saat ini, Shino menyadari orang yang berada disampingnya, Kirito terdengar agak tegang saat ia bernapas. Namun, suara Kikuoka yang dalam dan tenang kemudian berlanjut.

"Setelah Shoichi selamat, dia tidak menyebutkan tentang apa yang terjadi di SAO untuk sementara waktu, tetapi setelah dia mengakhiri penyembuhan dan kembali ke rumah, dia mulai membual tentang bagaimana dia membunuh banyak pemain di dunia itu, berapa banyak orang yang takut padanya, ini pembunuhan nyata... Bagi Kyouji yang sedang mengalami masa buruk di sekolah dan dalam ancaman kakak kelasnya, apa yang Shoichi katakan tidak mengganggunya, tapi bahkan membuatnya merasa lega dan puas."

"Jadi..."

Shino berbicara pelan. Kikuoka mengangkat kepalanya dan memiringkan lehernya seolah-olah untuk meminta nya untuk melanjutkan.

"Hal-hal ini... dikatakan oleh Shinkawa-kun, tidak, Kyouji, kan?"

"Tidak, ini berdasarkan kesimpulan yang dibuat dari kesaksian kakaknya. Shoichi terus berbicara selama investigasi polisi, dan bahkan ia mengatakan tentang isi hati adiknya. Namun, Kyouji benar-benar berbeda dari saudaranya dan tetap bungkam bahkan sampai sekarang."

"Jadi begitu..."

Shino benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa jiwa Kyouji yang sedang melayang. Dia bahkan merasa bahwa jika dia masuk ke GGO, dia bisa melihat Spiegel yang sedang menunggunya di sana di bar tempat di mana mereka bertemu... meskipun itu tidak mungkin.

"Ah, silakan lanjutkan ..."

Kikuoka menganggukkan kepalanya setelah mendengar kata-kata Shino dan sekali lagi melirik tablet Vandroidnya.

"Kami tidak tahu faktor kunci apa yang membuat dua bersaudara itu turun ke «road of no return», jadi kami hanya bisa menebak... tapi Shoichi seharusnya mulai bermain Gun Gale Online atas saran Kyouji. Shoichi tidak memiliki fobia tentang dunia VR yang dimiliki banyak mantan pemain SAO, tapi ia tidak antusias ketika ia mulai bermain. Dia mengatakan bahwa daripada berlatih keterampilan dengan melawan monster, mungkin dipikirannya lebih baik menunggu di jalanan untuk mengamati pemain lain dan membayangkan cara membunuh mereka. Namun, sejak ia mendapat «mantel tak terlihat» dari sistem RMT, segalanya berubah."

"RMT..."

Shino tidak bisa menahan ucapannya. Mantel yang Death Gun miliki, «Camouflage Optical metamaterial», seharusnya item yang benar-benar langka yang bos-seperti monster jatuhkan dengan persentase yang sangat rendah. Harganya seharusnya jauh lebih mahal daripada Hecate II.

"Yah... Aku rasa itu benar-benar mahal..."

Setelah dia mengatakan itu, Kikuoka menganggukan kepalanya, kemudian menggeleng dengan ekspresi tak percaya.

"Diperkirakan harganya lebih dari 300.000 yen. Namun, Shoichi akan mendapatkan 500.000 yen [3] dari ayahnya setiap bulan."

"Itu berarti... senapan sniper besar dan Estoc yang terbuat dari bahan langka itu dibeli melalui uang tunai... hal terbaik dari SAO adalah sistemnya tidak memiliki kawasan perdagangan atau RMT..."

Saat Kirito bergumam, dia tidak terlihat seperti sedang bercanda sama sekali. Juga, Kikuoka mengangguk serius dan meneruskan.

"Itu benar -sejak Shoichi bisa membuat dirinya menghilang dengan mantel itu, dia telah berlatih cara untuk mengaburkan dirinya dari orang lain. Pada saat ini, dia hanya merasa bahwa itu menarik untuk menguntit seseorang dari belakang... Namun, pada hari tertentu, ia menemukan bahwa orang yang dia ikuti masuk ke gedung presidensial untuk mengoperasikan terminal permainan. Shoichi punya ide dan mengeluarkan teropongnya untuk mencoba dan melihat layar dari balik pilar. Dan kemudian, ia segera menemukan nama asli orang tersebut dan alamat dan data pribadi lainnya di dunia nyata... "

"Dengan kata lain... dia tidak membeli mantel tak terlihat itu untuk mendapatkan informasi, tetapi sebaliknya... dia sudah mempunyai mantelnya sebelum melakukan hal seperti itu..."

Kirito mendesah dan kemudian menyandarkan punggungnya di kursi.

"... Dari yang sebelumnya, setiap MMO akan memiliki semacam keterampilan «Hiding», dan jarang untuk melihat mereka tidak memilikinya. Tapi... Aku merasa bahwa invisible di VRMMO dapat digunakan untuk melakukan banyak hal buruk. Seharusnya itu dilarang untuk digunakan di jalanan... Kamu harus menyampaikan ini pada Zasker, Sinon."

Topik tiba-tiba bergeser kepadanya, Shino hanya bisa buru-buru menjawab.

"K, kamu saja yang melakukannya... tapi, itu berarti mantel itu adalah alasan «Death Gun» muncul."

Bagian terakhir dari kata-kata itu jelas dikatakan Kikuoka. Pegawai pemerintah berkacamata itu menganggukkan kepalanya dan kemudian memutar matanya untuk melihat tablet Vandroid-nya lagi. Setelah melihat senyum kecilnya, Shino tiba-tiba memiliki perasaan yang aneh, tapi itu tidak penting sekarang, sehingga Shino tidak mengatakannya. Kikuoka terus berbicara seperti matahari tenggelam yang bersinar di permukaan meja.

"... Aku kira kamu bisa mengatakannya seperti itu. Shoichi segera menghafalkan informasi pribadi di otaknya dan menuliskannya setelah ia log out. Pada saat ini, ia tidak benar-benar memiliki beberapa rencana untuk melakukan kejahatan ini, namun mampu mendapatkan informasi nyata dari pemain membuatnya bahagia. Setelah itu, ia akan menghabiskan berjam-jam di gedung presidensial dan menunggu pemain untuk datang dan menulis alamat yang mereka cantumkan. Akhirnya, ia mendapat total 16 nama asli pemain dan alamatnya. Di antara mereka... Asada Shino-san, kamu disertakan."

"..."

Shino mengangguk. Sejak dimulai sebelum September, sebelum turnamen BoB 2. Ada sekitar 500 pemain yang terdaftar. Bahkan jika hanya setengah dari mereka didata nama asli mereka dan alamat untuk mendapatkan pistol model, itu tidak akan mungkin untuk mencuri informasi kehidupan nyata 16 pemain'.

Kikuoka terus menjelaskan. "Pada hari tertentu pada bulan Oktober, Kyouji muda menunjukkan kepada Shoichi bahwa ia punya masalah dengan perkembangan karakternya. Pada saat itu, ia tampaknya marah 'karena informasi palsu tentang «Zexceed» menyebar', dan Shoichi ingat bahwa ia memiliki nama asli Zexceed dan alamatnya lalu mengatakannya kepada Kyouji."

Itu benar. Mungkin pada saat itu dinding antara imajinasi Kyouji dan dunia nyata mulai pecah.

"Shoichi mengatakan bahwa itu bukanlah rencana yang hanya dilakukan satu orang saja."

Suara tenang Kikuoka meluncur ke telinga Shino.

"Dikatakan bahwa dua dari mereka membahas tentang bagaimana menangani informasi pribadi Zexceed itu, rencana untuk membuat karakter «Death Gun» pun mulai terbentuk. Namun, Shoichi menyebutkan bahwa mereka hanya bercanda pada awalnya. Menembak dalam permainan dan membunuh pemain di dunia nyata... ini terdengar mudah, namun sebenarnya ada beberapa kesulitan ketika melakukannya. Setelah berdiskusi, mereka perlahan-lahan mulai mengatasi satu demi satu kendalanya. Dan kendala terbesar yang mereka hadapi adalah kunci master yang bisa mematahkan kunci elektronik dan cara untuk menyuntikkan obat itu..."

"Sebuah Rumah Sakit Umum seharusnya memiliki kunci master yang legal untuk membuka rumah pasien ketika dalam keadaan darurat. Aku kira rumah sakit ayah mereka..."

Setelah mendengarnya dari Kirito, Kikuoka tampak seperti sedang meniup peluit dengan pelan saat ia menutup bibirnya.

"Seperti yang dikatakan oleh Kirito. Sebenarnya, pemerintah mempromosikan pintu sensor keyless kunci untuk menambahkan kontrol ke tempat tinggal pribadi yang mungkin tidak mudah rusak... tapi informasi itu diklasifikasikan. Pokoknya, mereka berdua bekerja keras untuk mencuri mekanisme pembuka itu, dan mencuri jarum suntik tekanan tinggi succinylcholine dari rumah sakit ayah mereka. Menurut Shoichi, melaksanakan rencana itu sendiri adalah seperti permainan. Dia mengatakan bahwa ini adalah benar-benar sama dengan mengumpulkan intel pada target di SAO, mempersiapkan peralatan mereka dan melakukan serangan. Ia menambahkan itu kepada polisi yang sedang mengintrogasinya 'Bukankah sama?'. Tampaknya ia berbicara tentang permainan tentang petualangan yang berbicara dengan NPC di mana-mana, mengumpulkan informasi, menangkap buronan dan menyerahkannya untuk mengumpulkan uang, dan bahwa apa yang polisi lakukan itu tidak ada bedanya."

"Aku berpikir bahwa kamu lebih baik tidak percaya kata-katanya sepenuhnya."

Saat Kirito tiba-tiba berbicara, Kikuoka mengerutkan kening dan bertanya,

"Sungguh?"

"Ya. Shoichi mungkin memiliki beberapa bagian dari dirinya yang benar-benar merasa seperti itu, tetapi sebagai «Red-Eyed XaXa», meskipun ia terus memberitahu orang-orang di sekelilingnya bahwa ini hanya permainan, ia tahu bahwa pemain benar-benar akan mati dan seperti telah kecanduan membunuh. Baginya, apakah itu dunia maya atau dunia nyata, hal-hal yang hanya bermanfaat bagi dirinya yang nyata. Dia hanya mempunyai sedikit perasaan realita... ini mungkin sisi gelap VRMMO."

"Aku paham. Lalu... bagaimana dengan realitasmu?"

Shino berpikir bahwa Kirito akan memberikan senyum nakal yang biasanya akan diberikan saat ia mendengar pertanyaan Kikuoka itu. Namun, ia memberikan ekspresi yang serius saat ia menatap tempat tertentu.

"... Memang benar bahwa aku meninggalkan bagian dari diriku di dunia itu. Saat ini, nilai pribadiku telah menurun."

"Tidakkah kau ingin kembali?"

"Tolong jangan tanya itu, bisakah? Itu privasi pribadiku."

Kali ini, Kirito benar-benar tertawa kecut, dan kemudian melirik Shino.

"-tentang hal ini, apa yang kamu pikirkan, Sinon?"

"Err..."

Setelah diminta dengan tiba-tiba, Shino menahannya tetapi merasa agak ada yang janggal. Dia membalik pikirannya dalam kata-kata, yang dia tidak benar-benar kenal, tapi dia akhirnya mencoba untuk mengungkapkan pikiran sendiri.

"Yah ... Kirito, apa yang kamu katakan tadi itu berbeda dari apa yang kamu katakan sebelumnya."

"Eh...?"

"Kau pernah berkata bahwa 'tidak ada dunia maya'. Dan mengatakan bahwa di mana pun orang itu berada itulah kenyataannya. Meskipun sudah ada banyak game VRMMO, gamer tidak dapat merubah sifatnya setelah pergi ke dunia nyata, kan? Saat ini, aku..."

Shino mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh pergelangan tangan kiri Kirito dengan ujung jarinya.

"Dunia ini adalah dunia nyata. Bahkan jika ini adalah dunia maya yang diciptakan oleh AmuSphere, itu masih sebuah dunia nyata bagiku... itulah yang kupikirkan. "

Kirito membelalakkan matanya dan menatap Shino untuk sementara waktu, yang membuat Shino malu. Kemudian, dia menunjukkan senyum yang tidak memiliki kerusakan di dalamnya.

"... Aku mengerti. Kau benar."

Setelah mengatakan nya, Kirito berpaling untuk melihat Kikuoka dan berkata,

"Kamu lebih baik mendengarkan apa yang Sinon katakan. Itu mungkin salah satu kebenaran dalam insiden ini."

" -Jangan bercanda denganku."

Tangan kanan Shino menepuk bahu Kirito dengan lembut sebelum berbalik ke depan. Pada saat ini, Kikuoka menatap Shino untuk beberapa alasan, dan mungkin merasa canggung ia langsung memindahkan matanya ke piring kue yang kosong.

"Ya, kau benar. Dan kondisi Shoichi ini—benar-benar berbeda dari Asada-san. Ia berakhir di tempat yang tidak memiliki realita sama sekali..."

"Orang itu terus mengulang kata-kata 'ini belum berakhir'. Mungkin orang yang masih belum sepenuhnya kembali dari Aincrad... tujuan ini 'dunia baru yang telah diciptakan' yang Akihiko Kayaba buat- mungkin dapat membuktikan bahwa kastil melayang itu sudah sepenuhnya runtuh..."

"Jangan mengatakan hal-hal menakutkan seperti itu. Kematiannya masih memiliki banyak misteri di balik itu... tapi itu tidak ada hubungannya dengan hal ini. Mari kita meringkas ini... Shoichi tidak memiliki hambatan psikologis pada tahap perencanaan ketika ia ingin masuk ke rumah target dan menyuntikkan obat. Pada saat itu, korban pertama adalah «Zexceed»... Shigemura Tamotsu, dan orang yang membunuhnya adalah Shoichi. Pada sekitar pukul 11 pada tanggal 9 November, ia menggunakan kunci pembuka untuk membuka ruang target dan memasukinya. Sekitar 11:30 pm, dia menggunakan jarum suntik tekanan tinggi pada Shigemura yang mengenakan AmuSphere saat ia mengambil bagian dalam wawancara di «MMO Streaming», ia mendapat suntikkan di rahang bawah. Obat yang digunakan adalah Klorida suksametonium, juga dikenal sebagai succinylcholine, relaksan otot, dan pernapasan. Detak jantung korban Shigemura berhenti dan mati. Dengan kata lain, orang yang menembak Zexceed di GGO adalah saudaranya- Kyouji muda..."

Mendengar nama Kyouji itu, bahu Shino bergidik. Pada malam dua hari yang lalu, saat Kyouji di tempatnya, dia menyebutkan Zexceed, dan suara raungannya masih berdering di telinganya. Karena informasi palsu Zexceed tersebar yang menyebabkan kesalahan dalam status Kyouji, dia tidak bisa mendapatkan gelar «Yang Terkuat» -meskipun «Yamikaze» adalah tipe AGI-super yang benar-benar kuat, yang sebenarnya dapat menghentikan pikiran Kyouji, tapi kebenciannya pada Zexceed jauh lebih kuat daripada kakak kelasnya di dunia nyata yang menyiksanya dan mengintimidasinya.

Tidak- aku salah... pada saat itu, bagi Kyouji, dunia nyata sudah...

"Korban kedua adalah Usujio Tarako, dan Shoichi lah yang membunuhnya di dunia nyata. Metode itu hampir sepenuhnya sama. Mereka memilih 7 orang sebagai target, dan kondisi umum di antara target ini adalah bahwa mereka semua tinggal di Tokyo dan memiliki kunci model lama yang tidak akan meninggalkan jejak ketika dibuka, atau di mana ada kunci cadangan di dekat pintu..."

"Ini mungkin membutuhkan beberapa waktu untuk mengumpulkan informasi sebanyak ini."

Setelah mendengar Kirito mengatakannya dengan takjub, wajah Kikuoka menegang dan menganggukkan kepala.

"Ini akan menyita banyak waktu dan usaha. Tapi—setelah mengambil kehidupan dua orang, tampaknya tidak ada yang percaya dengan legenda «Death Gun»."

"Ya... semua orang hanya merasa bahwa itu hanya laporan bodoh— aku adalah salah satu dari mereka."

Shino bergumam, dan Kikuoka setuju dengan pandangannya sepenuhnya.

"Ya. Kirito-kun dan aku akan mencoba segala macam kemungkinan, tetapi pada akhirnya, kita semua bisa menyimpulkan bahwa 'ini hanya rumor'. Namun, dugaan kami sudah salah..."

"Jika... jika kita bisa melihat kebenaran sehari sebelumnya, kita bisa melindungi kehidupan dua pemain yang masuk final itu..."

Setelah mendengar kata-kata sedih Kirito, Shino menundukkan kepalanya dan berkata kepadanya,

"Tapi kau- menyelamatkanku."

"Tidak, aku tidak membantumu sama sekali. Itu semua karena kekuatanmu sendiri."

Shino melirik Kirito, dan memiliki pikiran bahwa ia tidak mengucapkan terima kasih dengan baik, tapi pada saat ini, Kikuoka berkata lagi,

"Kalau bukan karena kalian berdua, 7 orang di namelist akan dibunuh oleh mereka sebelum mendapat banyak perhatian dari banyak orang, sehingga kalian berdua tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri."

"Bukan hanya itu... hanya saja aku tidak senang jika rating VRMMO akan menjadi lebih buruk lagi."

"Benih yang tumbuh dengan «The Seed» tidak begitu lemah sehingga mereka tidak akan gugur karena hal ini. Saat ini, para kecambah yang tak terhitung jumlahnya berkumpul menjadi sebuah pohon raksasa menjulang yang bisa menandingi Pohon Dunia. Sungguh, aku tidak tahu siapa yang melakukan ini!"

"... Kau tahu. Kamu lebih baik melanjutkan pembicaraan kita."

Kirito terbatuk datar dan meminta Kikuoka untuk melanjutkan.

"Ya... Namun, aku rasa kamu harus tahu apa yang terjadi selanjutnya. Keduanya menemukan bahwa ancaman Death Gun tidak banyak menyebar dan mereka merasa benar-benar marah, dan mereka memutuskan menggunakan plot yang lebih menakutkan. Kakaknya memutuskan untuk membunuh 3 orang di turnamen yang ke-3 untuk memutuskan yang terkuat, biasanya disebut Bullet of Bullets finals.

Dan pemain yang menjadi target mereka adalah... «Pale Rider», «Garret» dan «Sinon»... Kamu, Iya Kamu- Asada-san."

"..."

Mendengar itu, Shino menganggukan kepalanya. Shino tahu korban ke-4, Garret. Dia adalah seorang pria trendi yang memegang senapan kuno Winchester. Shino ingat topi koboi yang menjadi ciri khasnya dan diam-diam berdoa untuknya jauh dilubuk hatinya. Pada saat itu, tiba-tiba ia melihat sesuatu dan berkata,

"Ah... ngomong-ngomong, ini mungkin hanya kebetulan..."

"Apa itu?"

"Sasaran ke-7 nya mungkin memiliki poin yang sama. Termasuk aku, setiap orang dari mereka bukan dari jenis-AGI."

"Oh...? Apa maksudnya itu...? "

"Shinkawa-kun... tidak, Kyouji hanya menambah stat AGI nya, jadi dia terjebak dalam permainan. Aku kira... ia harus memiliki beberapa perasaan yang rumit terhadap jenis lain... seperti mereka yang menumpuk di STR."

"Hmm..."

Kikuoka tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan hanya bisa melihat ke layar tablet Vandroid kitkat terbarunya.

"Apa yang kau maksudkan bahwa... motifnya selalu dari permainan... sekarang jaksa akan menghadapi beberapa kesulitan silang untuk memeriksanya... tapi apakah benar seperti itu..."

Kikuoka tampaknya tak percaya sambil terus menggeleng. Pada saat ini, Kirito meratap,

"Tidak... Aku merasa bahwa itu benar-benar mungkin. Untuk pemain MMO, statistik karakter adalah harta berharga mereka. Aku tahu beberapa orang yang bercanda ketika mereka menyenggol teman mereka dengan tangan saat mereka menyesuaikan statistik mereka, menyebabkan temannya kehilangan HP-nya dan kemudian mereka berdua akan bertengkar dan mulai saling membunuh dalam permainan selama berbulan-bulan... tentu saja, ini semua dalam permainan. "

Shino juga bisa memahami mengapa hal seperti itu terjadi. Namun, Kikuoka hanya melebarkan matanya dan kemudian menggeleng.

"Sepertinya jaksa, pengacara, dan hakim harus memiliki pengalaman dive ke VRMMO. Tidak- sudah waktunya kita menetapkan beberapa undang-undang yang berhubungan dengan mereka... hmm, tapi itu bukan apa yang kita perlu khawatirkan. Err... sampai mana kita tadi?"

Dia melirik tablet Vandroidnya dan kemudian menganggukkan kepalanya.

"Itu benar, kita berbicara tentang bagaimana mereka memilih 3 orang itu sebagai target. Namun tidak seperti- dua pembunuhan terakhir, ada masalah besar dengan pelaksanaan rencananya di final BoB. Seperti «Death Gun» yang berada di dalam permainan dan orang luar yang di luar permainan tidak bisa menghubungi satu sama lain, akan sulit bagi kedua belah pihak untuk menembak pada saat yang sama. Akhirnya, masalah ini hampir tidak diselesaikan dengan siaran televisi langsung dari luar permainan, tapi..."

"Itu sulit dilakukan, kan? Dan juga pergerakannya."

Kirito yang merasa terganggu dengan ini memasang ekspresi cemberut di wajahnya dan melanjutkan,

"Aku memikirkan ini dan berpikir bahwa hanya ada 2 Death Gun..."

"Aku mengerti. Mereka tampaknya telah memilih 3 orang itu yang dekat dengan rumah mereka... seperti bagaimana Pale Rider tinggal di Omori, Ota, dan Garret tinggal di Kawasaki, Musashi Kosugi, yang tidak terlalu jauh. Namun Bunkyo, Yushima wilayah Asada-san tinggal agak jauh. Juga, Kyouji, yang selalu ingin menjadi Death Gun, bersikeras untuk menjadi pembunuh di dunia nyata. Shoichi memiliki motor, tetapi Kyouji tidak memiliki SIM -jadi Shoichi mengundang rekan baru ke dalam rencana. Ya... nama orang itu disebut Kanemoto Atsushi, umurnya 19 tahun sekarang, seorang kenalan lama Shoichi-atau lebih tepatnya..."

Kikuoka melirik Kirito.

"Mitranya dalam guild selama SAO. Nama karakternya adalah... «Johnny Black» kau pernah mendengarnya kan?"

"Ya."

Kirito menunduk dan mengangguk kepalanya.

"Dia adalah rekan XaXa di «Laughin Coffin», pemain yang menggunakan belati beracun. Pada saat itu, mereka berdua menyerang beberapa pemain dan membunuh mereka ... sialan ... jika aku tahu... Aku harus..."

Sebelum ia bisa mengatakan itu, Shino dengan cepat menggerakkan tangan kanannya keluar untuk meraih tangan kiri Kirito. Pada saat yang sama, ia menatap mata Kirito dan perlahan-lahan menggelengkan kepalanya.

Kirito segera tahu apa maksudnya.

Kirito segera tampak seperti bayi yang sedang menangis dan tersenyum, menunjukkan bahwa ia tahu, tapi ekspresinya segera menghilang dan menjadi wajah pokernya seperti biasanya. Pada saat ini, Shino memindahkan jari-jarinya menjauh dari tangan dingin itu dan berbalik ke depan. Kikuoka, yang telah menatap mereka dari sisi yang berlawanan, melanjutkan dengan penjelasannya.

"... Disini tidak disebutkan apakah Johnny Black- yang juga dikenal sebagai Kanemoto-terlibat dalam rencana ini dalam kesaksian Shoichi. Untuk Shoichi, Kanemoto tampaknya menjadi orang yang benar-benar sulit untuk memahami..."

"Kenapa kau tidak bertanya pada Kanemoto?"

Jawaban Kirito sesederhana seperti biasanya, namun Kikuoka menggeleng.

"Kami belum menangkapnya."

"Eh..."

"Shinkawa Kyouji ditangkap di apartemen Asada-san, dan 40 menit kemudian, saudaranya Shoichi ditangkap di rumahnya sendiri. Kemudian, polisi mengikuti kesaksian Shoichi dan tiba di apartemen di mana Ota Kanemoto berada, tetapi tidak ada orang di dalam apartemennya. Apartemen itu masih dalam pengawasan, tapi masih belum ada berita bahwa mereka telah menangkap Kanemoto."

"... Bisakah kita mengkonfirmasi bahwa dialah yang membunuh «Pale Rider» dan «Garret» di final?"

"Aku kira dia pelakunya. Shoichi tidak menyebutkan bahwa ia menyerahkan jarum suntik obat yang sama kepadanya dan Kyouji. Kami tidak menemukan senjata, tapi kami menemukan rambut yang cocok dengan DNA Kanemoto di rumah-rumah korban."

"Jarum suntik..."

Shino tidak dapat menahan perasaan dingin yang merasuk dalam dirinya setelah memikirkan benda yang membuatnya ingat tentang istilah ini yang akan mengingatkannya pada nama obat itu. Suara Kyouji 'ini adalah Death Gun yang nyata' ketika ia menempatkan jarum suntik di lehernya, itu terus menggema di pikirannya.

Kirito tampaknya memiliki pikiran yang sama seperti Shino saat dia melihat dan berkata,

"Apakah penggunaan obat selesai setelah membunuh dua target lainnya?"

Tapi Kikuoka menggeleng untuk menyangkalnya.

"Tidak .. jarum suntik kecil succinylcholine akan cukup fatal, tapi untuk keamanan tambahan, Shoichi memberinya tiga jarum suntik obat, sehingga ida mungkin masih memiliki satu yang tersisa. Itu sebabnya polisi bersikeras melindungimu mulai Senin pagi, terutama Asada-san yang masih mungkin dalam bahaya."

"... Kau mengatakan bahwa Johnny Black dapat terus menyakiti Sinon...?"

"Tidak, itu hanya untuk pencegahan tambahan. Polisi merasa bahwa itu tidak perlu terlalu ketat. Karena image Death Gun telah runtuh, tidak akan ada manfaat apapun untuk menyerang Asada-san. Selain itu, Kanemoto dan Asada-san tidak punya alasan untuk menyakiti satu sama lain atau dendam pribadi. Saat ini, kamera jaringan identifikasi otomatis di pusat Tokyo telah memulai uji coba, jadi aku kira dia tidak akan bisa lari lebih lama lagi. "

"Apa itu...?"

"Ini biasa disebut sistem S2. Komputer secara otomatis akan menganalisa wajah dari semua orang yang terlihat di kamera dan kemudian mencari buronan... baik, rinciannya juga termasuk."

"Itu benar-benar menakjubkan."

Kirito mengerutkan kening sambil meneguk kopi.

"Aku memiliki perasaan yang sama juga. Ngomong-ngomong, aku pikir itu hanya masalah waktu sebelum Kanemoto ditangkap. Mari kita kembali ke masalah dan meringkas ini..."

Jari Kikuoka berpindah ke tablet Vandroid nya, dan kemudian mengangkat bahu, mengangkat kepalanya dan berkata,

"Kamu harusnya lebih akrab dengan yang lain daripada yang aku lakukan. Shinkawa Kyouji segera datang ke rumah Asada-san untuk menyerang setelah turnamen berakhir, tapi untungnya, dia ditangkap tanpa dapat mennyelesaikan tujuannya. Shinkawa Shoichi kemudian ditangkap berikutnya, dan Kanamoto Atsushi sedang menjadi buron. Kakaknya sedang diinterogasi di cabang Fuji. Maaf untuk menghabiskan waktu yang lama... tapi laporanku berakhir di sini. Itu semua informasi yang aku miliki sekarang... apakah kamu memiliki pertanyaan?"

"Yah..."

Dia merasa bahwa ini mungkin menjadi pertanyaan yang tidak bisa dijawab, tapi Shino tidak bisa menahan diri untuk bertanya,

"Shinkawa-kun... Kyouji, apa yang akan terjadi padanya mulai sekarang...?"

"Mu..."

Kikuoka mendorong kacamatanya dengan jari-jarinya dan bingung.

"Shoichi saat ini berumur 19 tahun, dan Kyouji berumur 16 tahun, sehingga mereka akan diadili berdasarkan hukum remaja... tapi kasus ini adalah kasus besar yang melibatkan 4 nyawa, sehingga pengadilan anak-anak mungkin akan mengirim kasus ini kembali ke jaksa. Juga, mereka mungkin membutuhkan evaluasi psikiatri. Meskipun kita harus menunggu untuk mengakhirinya ... tapi melihat tindakan mereka, aku pikir ada kemungkinan besar bahwa mereka akan dikirim ke penjara untuk remaja. Itu karena keduanya telah kehilangan rasa realitas mereka..."

"Tidak... Aku tidak berpikir mereka kehilangan rasa realitasnya."

Setelah mendengar Shino bergumam, Kikuoka berkedip dan menginstruksikan dengan matanya untuk melanjutkan.

"Aku tidak benar-benar memahami kakaknya... tapi Kyouji... untuk Kyouji, Gun Gale online adalah dunia nyata baginya, karena itulah ia memutuskan-"

Dia mengangkat tangan kanannya, jarinya menunjuk lurus, dan kemudian di turunkan lagi.

"Untuk meninggalkan segala sesuatu di dunia ini dan menuju ke dunia yang disebut GGO. Mungkin orang-orang di dunia ini... akan merasa bahwa ia hanya melarikan diri, tapi..."

Shinkawa Kyouji adalah salah satu orang yang ingin membunuh Shino. Rasa takut dan putus asa yang ia berikan pada Shino tidak terukur jumlahnya. Tapi meskipun demikian, Shino masih belum bisa marah kepadanya dan merasa enggan. Ini perasaan menyakitkan yang menyebabkan Shino untuk terus berbicara,

"Tapi aku berpikir game online tidak hanya menjadi permainan untuk melakukan hal yang ingin kita lakukan dan waktu yang telah dihabiskan di tingkat tertentu. Pengalaman produktif dan uang untuk menjadi lebih kuat benar-benar suatu hal yang merepotkan dan sulit. Tentu saja, itu bagus untuk bermain dengan teman sesekali... tapi ada banyak tekanan jika mereka terus bermain seperti sedang bekerja hanya untuk menjadi yang terkuat, seperti apa Kyouji lakukan."

"Stres... disebabkan oleh bermain game? Tapi... bukankah itu kebalikan dari tujuannya?"

Kikuoka berbicara dengan kaget, dan Shino mengangguk padanya dan melanjutkan.

"Ya. Kyouji... mengganti dunia ini dengan dunia itu."

"Tapi... kenapa? Kenapa dia begitu rela mengorbankan begitu banyak untuk mendapatkan gelar ini, disebut sebagai yang terkuat...? "

"Aku tidak terlalu yakin tentang hal itu... Aku hanya ingin mengatakan itu sebelumnya, bagiku, dunia ini dan dengan dunia virtual semua terhubung... Kirito, tahukah kau mengapa demikian?"

Shino melihat ke kanan, dan melihat Kirito menyandarkan punggungnya di kursi, menutup matanya dan berpikir. Segera, ia membuka mulutnya dan bergumam.

"Karena kau ingin menjadi yang terkuat."

Shino menutup bibirnya, memikirkan kalimat pendek ini, dan kemudian menganggukan kepalanya perlahan.

"... Itu benar. Aku sama seperti yang terakhir kali. Mungkin setiap pemain VRMMO memiliki pemikiran yang sama... hanya mencoba untuk menjadi lebih kuat..."

Shino membalikkan tubuhnya dan menghadap Kikuoka.

"Lalu... kapan aku bisa mengunjungi Kyouji?"

"Yah... mungkin dia akan tetap dalam tahanan setelah kami memeriksanya. Kita harus menunggu sampai dia dikirim ke pusat pengamatan remaja."

"Aku mengerti- aku akan pergi menemuinya. Setelah aku melihat dia, aku ingin mengatakan kepadanya apa yang aku pikirkan sebelumnya... dan apa yang aku pikirkan sekarang."

Tidak peduli bagaimana akhirnya, tak peduli betapa dia tidak mau mendengarkannya, Shino merasa bahwa dia harus melakukan hal ini. Kali ini, Kikuoka akhirnya menunjukkan wajah seperti senyum dengan sepenuh hati.

"Kau benar-benar orang yang kuat. Ya, silakan lakukan. Aku akan membuat janji dengan manajemennya nanti dan mengirim email kepadamu."

Dia kemudian melihat jam di pergelangan tangan kirinya dan berkata,

"Maaf- sudah waktunya aku pergi. Aku tidak mempunyai banyak waktu luang, aku harus menangani banyak hal."

"Tentu. Maaf mengganggumu."

Shino juga mengucapkan terima kasih setelah Kirito.

"Yah... terima kasih."

"Tidak perlu begitu baik. Ini adalah keteledoranku yang menyebabkan kalian berdua berada dalam bahaya, jadi aku semestinya melakukan hal ini. Aku akan memberitahumu jika aku mendapatkan beberapa informasi baru."

Kikuoka menempatkan tablet Vandroid-nya ke dalam tas kantor di sampingnya dan berdiri dari kursinya. Tepat ketika ia akan meraih tagihan di meja-tiba-tiba dia berhenti.

"Oh ya, Kirito-kun..."

"... Apa itu?"

"Ini adalah apa yang kamu ingin dapatkan."

Dia mengambil sepotong kecil kertas dari dalam saku jas ala Barat dan menyerahkannya kepada Kirito.

"Death Gun... tidak, Red-Eyed XaXa- Shinkawa Shoichi, mendengar hal yang kamu tanyakan, dia menjawab tanpa ragu-ragu. Namun, dia meminta kami untuk mengirim pesan kembali kepadamu. Tentu saja, Kamu tidak perlu peduli sama sekali, dan setiap pesan dari tersangka tidak dapat terungkap dalam penyelidikan, sehingga polisi tampaknya telah menolak permintaannya... jadi, apakah kamu ingin mendengarnya?"

Wajah Kirito itu tampak seperti dia hanya minum kopi yang benar-benar pahit, namun ia masih menganggukan kepalanya pada akhirnya.

"Karena kamu membawanya ke sini, aku akan mendengarkan."

"Lalu... Umm..."

Kikuoka mengambil bagian kedua kertas, melihat isinya, dan membaca,

".. ’Ini belum berakhir. Kamu tidak memiliki kekuatan untuk mengakhiri segalanya. Kamu akan segera melihat. Ini waktunya pertunjukan' hanya itu-".

"... Suaranya seperti orang sakit."

Sudah sekitar 10 menit setelah Kikuoka tersenyum sambil melambaikan tangannya dan pergi.

Karena keduanya meninggalkan kafe dan menuju tempat kendaraan diparkir, tiba-tiba Shino menggerutu.

"... Siapa orang itu? Ia menyebut dirinya seorang Pegawai Dalam Negeri Kementerian... tapi entah bagaimana..."

Shino berpikir bahwa dia benar-benar orang yang misterius dan mengatakan hal ini kepada Kirito. Namun, Kirito hanya mengangkat bahu dan menjawab,

"Yah, aku bisa yakin bahwa dia di bawah sektor Manajemen dunia VR. Setidaknya untuk saat ini."

"Saat ini?"

"Pikirkan tentang hal itu. Hal yang terjadi hanya kurang dari 2 hari yang lalu. Tidakkah kamu merasa bahwa dia tahu terlalu banyak tentang apa yang terjadi di dalam kepolisian? Departemen keamanan Jepang tidak akan terlibat dalam departemen masing-masing, sehingga mereka seharusnya tidak bekerja bersama-sama."

"... Apa maksudmu?"

"Dia awalnya mengatakan bahwa ia tidak benar-benar dalam suatu organisasi, seperti polisi atau sesuatu... itu tidak benar-benar mungkin, tapi dia..."

"...?"

"Aku pernah bertemu dia di sini sebelumnya dan mengikutinya ketika dia kembali."

Shino memberikan tampilan percaya saat dia melihat Kirito berjalan di sampingnya. Namun, anak itu tampak seperti tidak ada yang terjadi dan melanjutkan.

"Pada akhirnya, ada 3 sedan besar menunggu di tempat parkir bawah tanah di dekatnya, dan sopir yakin tidak akan terlihat oleh seorangpun seperti seseorang yang ingin main-main dengan rambut pendek dan setelan hitam. Aku mengikuti mereka dengan motorku, tapi mungkin mereka menyadarinya... Kikuoka turun di depan stasiun Ichigaya, dan dia menghilang sementara aku sedang mencari tempat parkir. "

"Ichigaya? Tidak Kasumigaseki? "

"Ya. Kementrian dalam negeri di Kasumigaseki... tapi seharusnya di Ichigaya... hanya ada Departemen Pertahanan."

"Dep..."

Shino tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan hanya bisa terus berkedip.

"Ini berarti bahwa... dia dari Self Defence Force?"

"Jadi aku katakan itu tidak benar-benar mungkin. Hubungan polisi dengan kementerian pertahanan seharusnya lebih buruk dari pada dengan kementrian dalam negeri."

Kirito mengangkat bahu sedikit. Pada saat ini, Shino akhirnya memikirkan sesuatu.

"Ah... omong-omong, Kikuoka-san mengenakan... Aku kira, kacamata dengan lensa yang sangat kecil atau mungkin tidak ada, karena lensanya tidak benar-benar memantulkan cahaya."

"Berarkah begitu? Aku paham."

Shino melihat anak laki-laki yang tampaknya mengerti dan kemudian berkata,

"Tapi... bahkan jika orang itu memiliki beberapa hubungan dengan kementerian pertahanan, mengapa dia harus menyelidiki VRMMO? Seharusnya keduanya tidak berhubungan sama sekali, iya kan?"

"Yah... Aku mendengar bahwa mereka ingin menggunakan teknologi FullDive untuk melatih tentara, bahkan bersama dengan tentara Amerika Serikat."

"Ap, apa?"

Kali ini, Shino yang kaget dan berhenti. Kirito kemudian berhenti dan menjabat tangan kanannya.

"Seperti misalnya... hm... bisa kita berbicara tentang senjata?"

"Y, ya... tidak apa-apa jika itu hanya mendengarkan."

"Baik. Sebagai contoh, jika aku memberi kamu senapan sniper yang nyata, dapatkah kamu mereloadnya hingga ditembakkan?"

"..."

Shino ingat bagaimana dia menembak kaleng dengan senapan Model Government beberapa jam yang lalu dan menganggukkan kepalanya.

"Aku rasa begitu... jika itu hanya menembak. Tapi di dunia nyata, aku tidak tahu bagaimana untuk menurunkan ketakutan itu, jadi aku tidak mungkin bisa mencapai target."

"Tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana untuk mereload peluru. Jika kita dapat melatih senjata dan belajar pengoperasian dasarnya di dunia maya, kita mungkin dapat menyimpan banyak amunisi dan bahan bakar."

"Be... benarkah...?"

Shino tidak bisa menahannya dan melihat tangan kanannya. Skala yang Kirito bicarakan itu terlalu besar, dan benar-benar sulit untuk membayangkan situasi seperti itu.

"Tentu saja, ini hanya kemungkinannya. Hanya tahun ini saja, kita tidak tahu untuk berapa banyak keperluan teknologi FullDive yang dapat dimanfaatkan, sehingga tidak akan aneh untuk melihat hal baru yang terjadi di masa depan. Jadi- sebaiknya lebih berhati-hati dengan orang itu."

Setelah mengatakannya dengan santai, Kirito berjalan ke kendaraan dan melepas kunci pada roda belakang. Saat ia menyerahkan helm ke Shino, Ia mengatakan sesuatu dengan sikap ragu yang sepertinya langka baginya,

"Yah..."

"...? Apa itu?"

"... Sinon, apakah kamu memiliki beberapa waktu setelah ini...?"

"Aku tidak melakukan apa-apa setelah ini. Mungkin aku tidak akan mau untuk login ke GGO untuk sementara waktu."

"Aku mengerti- maaf, aku punya sesuatu yang ingin kuminta kepadamu untuk membantuku..."

"Apa itu?"

"Gambar di gua selama final BoB yang dilihat oleh orang-orang... mantan pemain SAO- teman-teman ku. Dan mereka tahu bahwa aku adalah «Kirito»... baik... jika kamu dapat membantuku menjelaskan kepada teman-temanku bahwa kita tidak memiliki hubungan apapun, aku akan benar-benar bahagia."

"Heh...?"

Shino mulai merasa bahwa itu menarik dan memberi senyum. Meskipun ia merasa sangat malu dengan hal itu, setelah mendengar anak ini mengatakan bahwa dia peduli tentang dugaan dirinya memiliki hubungan dengannya, dia berpikir 'sekarang apa yang akan kamu lakukan?'. "Tapi bahkan jika mereka teman-teman lamamu, itu menakjubkan bahwa mereka bisa mengenalimu dari namamu."

"Ya... mereka mengetahui keterampilan pedangku."

"Baik, aku mengerti -tidak apa-apa untuk membantumu, tetapi kau berutang satu padaku. Kamu harus mentraktirku kue kapan-kapan."

Setelah mendengar dia berbicara seperti itu, Kirito memberikan wajah malu dan berkata,

"Apakah... kita akan kembali ke toko sebelumnya lagi...?"

"Aku tidak akan melakukan hal kejam seperti itu."

"Itu bagus. Lalu... sekarang ikut aku ke Ochinomizu sebentar. Ini tidak akan menghabiskan banyak waktu."

"Apa, bukankah itu tepat di samping Yushima? Itu dalam perjalanan pulang."

Dia menerima helm dan meletakkannya di kepalanya. Setelah Kirito memasangkan itu untuknya, Shino berpikir 'Aku harus belajar bagaimana untuk mengenakan helm di GGO untuk menyelamatkan diri dari kesulitan'.


Setelah melewati Ginza ke Showa dan bergerak ke utara untuk sementara waktu, mereka tiba di tempat renovasi di sisi timur stasiun Akihabara. Mereka melewati gedung pencakar langit yang tampak keperakan di sisi jalan-jalan dan masuk Gurokken dekat Okachimachi. Lingkungan yang memiliki suasana seperti kota tua.

Kendaraan itu berbalik ke gang-gang seperti banteng tua yang menyeret gerobak, dan mereka akhirnya berhenti di sebuah toko kecil.

Shino turun dari kursinya, melepas helm dan mendongak. Bangunan kayu hitam bersinar memberikan perasaan sejuk, dan hanya papan logam yang dibentuk oleh dua dadu di pintu menerangkan dan segera menyadari bahwa itu adalah sebuah kafe. Melihat ke bawah, kata-kata «Dicey Cafe» yang diukir, yang seharusnya itu nama tokonya. Sebuah tanda tergantung di pintu sedingin es itu membalik ke sisi «Tutup».

"... Di sini?"

"Ya."

Kirito mengangguk dan mengambil kunci kendaraannya sebelum mendorong pintu tanpa ragu-ragu. Tempo lambat musik jazz menemani 'Clink' sebagai nada pintu dibuka.

Shino memasuki toko itu dan menghirup aroma kopi yang menarik. Di bawah lampu oranye, papan kayu pun terlihat bersinar juga. Seluruh ruangan terlihat kecil, tapi memiliki kehangatan yang tak bisa diungkapkan. Hal ini membuat bahu tegang Shino menjadi rileks dan santai.

"Selamat datang ..."

Setelah memasuki toko Shino melihat sekeliling, dirinya melihat seorang pria besar dengan kulit berwarna kecoklatan berdiri di belakang bar. Seperti wajah seorang veteran tua yang tampak menakutkan, tapi kemeja putih dan dasi kupu-kupu kecil dengan simpul kupu di kerah nya memberikan perasaan yang lucu.

Sudah ada dua pelanggan yang berada di toko. Di kursi bulat di depan bar counter, ada dua gadis mengenakan seragam sekolah. Shino menyadari bahwa seragam mereka memiliki corak yang sama dengan seragam Kirito.

"Kau terlambat!"

Salah satunya, seorang gadis dengan rambut panjang keriting sebahu melompat dari kursi bulat dan berseru untuk Kirito.

"Maaf, maaf, Kikuoka berbicara terlalu banyak."

"Aku makan 2 pai apel sambil menunggumu. Kirito! Ini akan menjadi kesalahanmu jika aku tumbuh gemuk! "

"Kenapa, mengapa itu kesalahanku...?"

Gadis lain dengan rambut lurus sedikit kecokelatan, terberai lurus sampai ke tengah punggungnya, hanya tertawa saat ia mendengar percakapan mereka di awal, tetapi segera setelah itu, dia turun dari bangku dan terganggu dengan nada yang tampaknya ingin ia gunakan saat ini.

"Cepat dan perkenalkan kepada kami, Kirito-kun."

"Ah... kau benar."

Setelah Kirito menyenggol punggungnya, Shino tiba di tengah-tengah toko. Dia berusaha untuk menekan rasa takutnya saat bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan memberi salam pada mereka.

"Ini adalah pemenang ke-3 dari Gun Gale Online, Sinon, nama aslinya, Asada Shino."

"Ja, jangan katakan itu."

Shino memprotes sedikit setelah mendengar perkataan tak terduga dari Kirito, namun Kirito hanya tertawa dan melanjutkan. Ia menunjuk pada gadis energik yang mengomelinya dan berkata, "Ini adalah blacksmith yang curang, Lisbeth, nama sebenarnya adalah Shinozaki Rika."

"Kau sialan..."

Gadis bernama Rika segera memberi tampilan yang buruk dan menyerang Kirito. Ia berkelit dan mengangkat tangan kirinya ke arah gadis lain.

"Dan ini adalah master healer, Asuna, nama aslinya Yuuki Asuna."

"It, itu terlalu berlebihan!"

Asuna protes, tapi wajahnya masih tersenyum. Dia kemudian menatap Shino dengan mata yang bersih dan indah dan kemudian mengangguk padanya.

"Dan itu..."

Kirito akhirnya menunjuk penjaga toko di dalam bar.

"Itu Iron Wall, Agil."

"Oi oi, aku kenapa aku dipanggil Iron Wall? Ibuku memberiku nama yang bagus, kan?"

Hal yang mengejutkan adalah bahkan penjaga toko di sini adalah pemain VRMMO. Raksasa itu tertawa dan meletakkan tangan kanannya di dada kokohnya dan berkata,

"Halo. Aku dipanggil Andrew Gilbert Mills. Aku berharap kita bisa berteman."

Apa yang dia katakan itu semua dalam bahasa Jepang fasih kecuali namanya yang dalam bahasa Inggris, Shino hanya dapat berkedip beberapa kali dan buru-buru menundukkan kepalanya untuk menyambutnya.

"Mari kita duduk dan bicara lebih dulu."

Ada dua meja dengan 4 kursi pada masing masing mejanya berada di dalam toko. Kirito berjalan menuju salah satu nya dan menarik kursi keluar. Setelah menunggu Shino, Asuna dan Rika untuk duduk, ia menjentikkan jari kepada penjaga toko.

"Agil, aku ingin ginger ale. Apa yang kamu inginkan, Sinon?"

"Ah... sama."

"Ginger ale di sini benar-benar pedas."

Kirito tertawa dan berkata 'dua gelas' menuju meja, dan kemudian menangkupkan tangannya di atas meja.

"Lalu, aku akan menjelaskan kepada Lisbeth dan Asuna apa yang terjadi akhir pekan lalu."


Meskipun Kirito dan Shino telah menyusun apa yang terjadi selama final BoB dengan apa yang Kikuoka katakan, itu menghabiskan lebih dari 10 menit untuk menjelaskan semuanya kepada mereka.

"Jadi- hal ini belum disebarkan pada media, nama asli dan informasi rincinya tidak boleh diungkapkan, tapi itulah dasarnya."

Setelah menyimpulkan hal ini, Kirito tampak agak lelah saat ia meletakkan tubuhnya yang lelah di kursi dan selesai menghabiskan cangkir kedua ginger ale. "... Kau, untuk beberapa alasan... Kamu benar-benar masuk ke dalam banyak masalah."

Rika menggelengkan kepala dan mendesah saat ia berkomentar. Namun, Kirito menunduk dan menggeleng.

"Tidak... Yah, aku tidak bisa benar-benar mengatakan ini. Kejadian ini memang melibatkanku setelah ini semua."

"... Begitukah -ahhh, aku tahu aku seharusnya berada di sana. Aku punya banyak sekali hal yang ingin aku katakan pada Death Gun."

"Orang itu tidak hanya satu-satunya yang masih memiliki jiwa sebagai SAO player. Ada banyak orang yang hampir seperti mereka."

Pada saat ini, Asuna tersenyum untuk mengusir suasana murung.

"Tapi aku merasa bahwa banyak jiwa yang diselamatkan, seperti aku. Tentu saja, tidak berarti bahwa aku setuju dengan SAO... tindakan pemimpin guild itu... karenanya lah banyak orang meninggal... Tetapi meskipun demikian, aku tidak akan menyangkal dua tahun aku hidup di situ, dan aku tidak akan menyesalinya sama sekali."

"Ahh... kau benar. Selama pertempuran terakhir dengan Death Gun, jika bukan karena Asuna yang memegang tanganku, aku tidak akan dapat melangkah. Aku kira... itu karena dua tahun di SAO... kehangatan tanganmu mencapaiku..."

Tentu saja, Shino tidak bisa memahami apa yang dimaksud Kirito. Anak itu terlihat tampak bingung dan tersenyum dengan cara yang malu sebelum menjelaskan.

"Bukankah aku mengatakan bahwa aku dive dari rumah sakit di Ochinomizu pada malam final? Aku tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang tempat itu, dan Asuna telah tersiksa dan menginterogasi Kikuoka sebelum ia mengatakan itu."

"K, kamu tidak harus mengatakannya!"

Setelah Asuna mengatakannya, ia mengisap pipinya dengan marah. Kemudian, Kirito tersenyum nakal dan berkata,

"Dan kemudian, ia dive dari toko ini, tapi setelah mengetahui lokasinya, ia bergegas ke rumah sakit di mana aku berada. Pada saat itu... aku sedang bertarung melawan Death Gun, dan ia meraih tanganku erat-erat. Dan luar biasa... aku merasakan kehangatan Asuna pada saat itu. Berkat dia aku menarik pistol FiveSeven yang sudah kulupakan itu."

"... Aku mengerti..."

Shino mengangguk diam-diam. Meskipun ia berpikir apakah mereka berdua berpacaran, dia segera memikirkan hal lain. Untungnya, Kirito tidak melihat ini situasi abnormal dan perlahan-lahan terus.

"Tapi itu tidak semua. Setelah turnamen berakhir, aku log out, dan Asuna mengatakan kepadaku... bahwa log nama «Sterben» Death Gun sebenarnya bahasa Jerman, dan seharusnya dibaca seperti itu. Artinya «Kematian». Tapi nama ini hanya dokter dan perawat yang menggunakannya di Jepang, dan lalu... aku ingat bahwa kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu memiliki seorang teman anak seorang dokter, dan kau akan memanggilnya ke rumahmu, jadi aku punya firasat buruk. Setelah aku berpikir akan terlalu terlambat jika memanggil polisi, aku mengendarai motorku ke Yushima... tapi aku tidak benar-benar membantumu..."

Kata-kata ini mengguncang Shino dalam diam tentunya.

"... Sterben. Tidak Steven... "

Dia bergumam, memejamkan mata, berpikir dan berkata,

"... Istilah Rumah Sakit, itu berarti kematian... kenapa dia memilih nama seperti itu...?"

"Mungkin dia ingin memberontak terhadap ayahnya yang seorang dokter. Pokoknya- itu bukan hal yang kita bisa pikirkan."

Kirito mendesah. Duduk diagonal berlawanan dengannya, tepat di depan Shino adalah Asuna, yang mengatakan dengan nada optimis,

"Lebih baik untuk tidak berpikir terlalu banyak ke dalam makna dari nama karakter VRMMO. Setelah kamu mengetahui kebenaran tertentu, kamu akan kehilangan lebih banyak lagi. "

Di sampingnya, Rika langsung tertawa dan menjawab,

"Oh ~, seperti yang diharapkan dari seseorang yang menggunakan nama aslinya sebagai nama karakter, itu benar-benar meyakinkan!"

"Hei!"

Asuna segera menyerang dengan siku kanannya, dan Rika pura-pura tampak kesakitan. Shino sengaja tersenyum saat dia melihat interaksi mereka satu sama lain, dan saat ini, Asuna tiba-tiba menatapnya. Mata berwarna teh mengkilap yang bersinar dengan terang, dan Shino merasakan kekuatan dalam kerendahan hati itu.

"Yah... Asada-san..."

"Ap, ada apa?"

"Kata-kata ini mungkin tidak cocok bagiku untuk mengatakannya, tapi... Maafkan aku, karena membiarkanmu melihat hal menakutkan seperti itu."

"Tidak... jangan bilang begitu..."

Shino buru-buru menggelengkan kepala dan mengatakan setiap kata satu per satu.

"Kejadian ini mungkin disebabkan olehku. Karena kepribadianku, gaya bermainku... hal-hal masa laluku dan lainnya. Pokoknya, selama turnamen, aku panik... Untungnya, Kirito membuatku tenang. Nah, apa yang ditayangkan adalah bahwa ia menghibur Sinon..."

Dan kemudian, Kirito melompat dengan segera dan menumpahkankan kata-kata yang keluar dengan cepat.

"It, itu benar. Aku hampir lupa tentang hal yang paling penting. Itu darurat, kita sedang diburu oleh pembunuh dalam situasi itu. Jangan berpikir terlalu banyak ke dalamnya!"

"Baiklah... kalau begitu, kita akan percaya padamu untuk saat ini. Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan..."

Rika terus bergumam sambil menatap Kirito, tapi masih bertepuk tangan dan menunjukkan senyum hidupnya.

"Tapi aku senang mengetahui pemain VRMMO perempuan di dunia nyata."

"Itu benar. Aku masih memiliki banyak hal yang aku ingin tanyakan tentang GGO. Bertemanlah denganku, Asada-san."

Asuna tersenyum normal sebelum meregangkan tangan kanannya di atas meja. Setelah melihat tangan putih dan lembut itu.

Shino merasa agak terintimidasi.

Teman. Kata itu merasuki hatinya, ia merasakan kerinduan yang terbakar, tetapi juga rasa sakit yang tajam dalam kecemasan.

'Teman'. Sejak kejadian itu, ia merindukan kata-kata itu berkali-kali, tetapi ia selalu dikhianati berkali-kali, sampai akhirnya ia mengatakan pada hatinya bahwa dia tidak boleh berharap dengan hal tersebut.

Aku ingin berteman dengannya. Untuk memegang tangannya yang penuh kasih- gadis bernama Asuna ini, untuk merangkulnya dalam kehangatan. Aku ingin pergi keluar dan bermain dengannya, untuk berbicara dengannya, untuk melakukan apa yang gadis normal lakukan.

Tetapi dalam situasi itu, itu akan menjadi masalah waktu sebelum dia tahu bahwa Shino pernah membunuh orang sebelumnya, bahwa tangannya berlumuran dengan darah.

Dia takut bahwa Asuna akan memberinya ekspresi kesal. Untuk menyentuh manusia yang bertindak layaknya orang biasa kemungkinan akan menjadi sesuatu yang akan selalu ditolak padanya.

Dia berpikir bahwa ia hanya harus kembali seperti itu, bahwa kata-kata 'berteman dengannya' belaka akan cukup untuk menghangatkan hatinya untuk sementara waktu. Saat ia bersiap-siap untuk meminta maaf-

"Sinon..."

Gumaman kecil membuat Shino goyah karena kesadarannya menyusut. Tubuhnya tersentak, dan dia kemudian menatap Kirito di sampingnya.

Saat mereka saling bertatapan, Kirito menganggukan kepalanya sedikit tapi tegas. Matanya mengatakan kepada Shino bahwa ini akan baik-baik saja. Dengan demikian, Shino membalik matanya kembali ke Asuna seolah-olah dia terhipnotis.

Gadis itu masih tersenyum, dan tangan kanannya masih terlihat di depan untuk Shino.

Lengan Shino terasa berat seperti mendapat sebuah beban. Namun, dia mulai melawan belenggu ini saat dia perlahan-lahan mengangkat lengannya. Dibandingkan dengan mengisolasi dirinya sendiri karena dia tidak ingin meragukan orang lain atau takut dikhianati, dia lebih suka mempercayai orang lain dan dilukai oleh mereka. Itu adalah pertama kalinya Shino berpikir tentang hal ini sejak kejadian itu.

Rasanya seperti tangan Asuna menjauh. Dengan jarak yang semakin menjauh, kepadatan udara meningkat, merasa seperti ada dinding untuk membangkitkan tangan Shino kembali. Namun, jari-jarinya akhirnya menyentuh tangan orang di depannya.

Saat ini, tangan kanan Shino dengan erat menggenggam tangan Asuna.

Kehangatan yang benar-benar tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kehangatan yang melewatinya mulai bergerak dari ujung jari dan atas lengan, bahu, dan seluruh tubuh sebelum akhirnya mencairkan darah beku Shino.

"Ah..."

Shino sadar dan menghela napas. Untuk berpikir bahwa itu akan mehangatkannya. Dia sudah lama melupakan sesuatu-sentuhan tangan manusia yang dapat menggerakkan jiwanya. Pada saat ini, Shino merasa bahwa ini adalah kenyataan. Dia melepaskan beban yang berasal dari ketakutan yang dimilikinya, bagaimana dia terus lari dari dunia ini, dia akhirnya terikat pada realita yang nyata sekarang.

Lalu, beberapa detik berlalu, tidak, banyak detik...

Pada saat ini, Shino melihat Asuna tersenyum menunjukkan keragu-raguan pada bibirnya. Saat dia secara naluriah berusaha menarik tangannya kembali, Asuna menggenggamnya lebih kuat lagi. Saat ini, Asuna sepertinya sedang merangkai kata-kata di otaknya saat ia perlahan-lahan berkata kepada Shino yang bingung.

"... Yah, Asada-san... Shino-san. Ada alasan lain mengapa kami mengundangmu di sini hari ini. Hal ini mungkin tidak membuatmu nyaman... dan mungkin membuatmu marah. Tapi, kita, kita harus memberitahumu... tidak peduli apa..."

"Alasan...? Aku, marah...?"

Dia tidak memahami situasinya. Tetapi pada saat ini, Kirito, yang duduk di sebelah kiri, berkata dengan suara gugup,

"Sinon, itu, aku harus minta maaf kepadamu terlebih dahulu."

Setelah itu, anak itu menundukkan kepalanya ke bawah menunjukkan permintaan maaf. Kemudian ia menggunakan mata hitam lebarnya yang tengah-tengahnya terdapat poni sedikit panjang dan avatar kekanak-kanakan itu menatap Shino.

“... Aku memberitahu Asuna dan Lisbeth tentang apa yang pernah kamu alami sebelumnya. Itu karena aku membutuhkan bantuan mereka.”

“Eh...?”

Saat Shino mendengar bahwa Kirito memberitahu mereka, ia tak dapat mendengar apa-apa lagi selanjutnya.

—Mereka mengetahui apa yang terjadi di kantor pos? Asuna dan Rika tahu apa yang 5-tahun lalu Shino lakukan?

Saat ini, Shino menggunakan semua kekuatannya untuk melepaskan genggaman Asuna.

Tapi dia tidak berhasil. Gadis putih yang dipanggil Asuna itu memegang tangan kanan Shino 'dengan kekuatan yang tidak ia ketahui.Tapi—Apa yang ia ingin katakan? Apakah ada sesuatu untuk dikatakan kepadaku bahkan setelah ia mengetahui bahwa tanganku pernah berlumuran darah?

"Shino... sebenarnya, aku, dan Lisbeth, Kirito- semua mengambil cuti pada hari Senin dari sekolah, dan pergi ke kota..."

"-!!"

Selama beberapa detik, dia tidak bisa mengerti apa yang dimaksud Asuna.

Bibir tipis dan mengkilap milik gadis itu menyebutkan sebuah lokasi. Dan kota itu adalah tempat tinggal Shino hingga dia lulus dari sekolah menengah, tempat di mana insiden itu terjadi, tempat di mana dia benar-benar ingin melupakannya dan tidak ingin kembali.

Kenapa, kenapa, kenapa?

Shino hanya mempunyai pertanyaan ini di kepalanya. Akhirnya, ia bertanya,

"Kenapa... kamu melakukan hal seperti itu...?"

Dia terus menggeleng dan tergerak untuk bangkit saat ia buru-buru mencoba untuk melarikan diri dari sini.

Tapi sesaat sebelum Shino berdiri, tangan Kirito menepuk bahu kirinya dan menahannya.

“Itu karena kamu belum pernah bertemu dengan orang yang seharusnya kau temui, Sinon... dan kau belum mendengarkan hal yang seharusnya kau dengar. Aku berpikir bahwa kamu akan terluka... tapi aku, aku tidak bisa duduk dan membiarkan ini terjadi. Jadi aku menggunakan database pers untuk menyelidiki insiden itu... Aku berpikir bahwa itu tidak akan jelas untuk mengatakannya di telepon, jadi aku pergi ke kantor pos di mana insiden itu terjadi, dan meminta mereka untuk memberitahu aku bagaimana untuk menghubungi orang itu."

“Orang... yang harus aku temui...? Kata-kata yang harus kudengarkan...?”

Shino hanya bisa mengulangi kata-kata itu, dan duduk di sampingnya, Rika memberikan Kirito sebuah tatapan, berdiri dan pergi ke dalam toko. Melewati pintu dengan Tanda PRIVATE di depannya, seseorang muncul.

Itu adalah wanita berusia tiga puluhan. Dia mempunyai rambut sepanjang bahu. Dia juga mengenakan pakaian seperti orang yang sudah tua. Dia lebih seperti seorang ibu rumah tangga daripada seorang wanita kantor.

Dan kemudian, hal ini membuktikan bahwa kesan Shino benar. Seorang gadis kecil yang tampaknya masih belum masuk sekolah dasar, datang berlari keluar. Mereka tampak benar-benar mirip, dan mereka mungkin ibu dan anak.

Tetapi bahkan setelah melihat dua orang itu, Shino hanya merasa bingung. Dia tidak tahu siapa pasangan ibu ini dan anak itu. Dia belum pernah bertemu mereka sebelumnya di kota kelahirannya, apalagi Tokyo.

Saat wanita itu melihat Shino berdiri di sana dengan cara yang bingung, dia tampak sedih namun bahagia untuk beberapa alasan, dan kemudian membungkuk dalam-dalam di depan Shino. Gadis di sampingnya membungkuk juga.

Setelah beberapa waktu, Rika mendorong mereka untuk pindah ke meja di depan Shino. Asuna bangkit untuk membiarkan wanita itu duduk di depan Shino, dan gadis kecil duduk di samping ibunya. Saat ini, pemilik toko berjalan keluar diam-diam dari bar, melayani secangkir café au lait menaruhnya di depan ibu dan menaruh susu telur “JOYA” cuma seribu harganya di depan gadis itu sebelum menuju ke belakang.

Bahkan pada jarak dekat, Shino masih tidak tahu siapa mereka. Mengapa Kirito mengatakan bahwa wanita ini harus menjadi seseorang yang 'aku harus temui'? Apakah ada yang salah atau sesuatu ...?

- Tidak

Tidak, rasanya seperti... jauh di bagian tertentu dari ingatannya, percikan tiba-tiba dibuat. Dia tidak mengenal mereka, jadi mengapa-

Pada saat ini, wanita itu lagi-lagi membungkuk dalam-dalam di depan Shino dan mengatakan namanya dengan suara yang sedikit gemetar.

"Senang bertemu Anda. Anda harusnya Asada... Shino-san, kan? Nama saya Oosawa Sachie. Gadis ini bernama Mizue, dan dia berumur empat tahun."

Seperti yang diharapkan, ia tidak punya ingatan tentang kedua nama itu sama sekali. Omong-omong, Shino sendiri tidak akan memiliki hubungan dengan ibu dan anak kecil ini, tapi ingatannya terus sakit.

Shino bahkan tidak bisa menyapa mereka sambil melebarkan matanya saat duduk di kursi. Ibu yang bernama Sachie ini mengambil napas dalam-dalam dan berkata dengan suara yang jelas,

"... Aku pindah ke Tokyo setelah melahirkan anak ini. Di masa lalu, saya bekerja di kota... dan lokasi di mana saya bekerja adalah..."

Saat dia mendengar beberapa kata berikutnya, Shino mengerti segalanya.

"... Kantor Pos di Third Street."

"Ah..."

Shino mengeluarkan suara lembut dari mulutnya. Kantor pos kecil di mana insiden itu terjadi. Lima tahun lalu, Shino dan ibunya pergi ke sana, dan dia memiliki insiden yang menyebabkan perubahan terbesar dalam hidupnya.

Penjahat dengan pistol membunuh orang di jendela, dan kemudian tampak seperti dia tidak tahu apakah akan menembak dua pekerja perempuan di counter atau ibu Shino. Namun, Shino kehilangan kendali dirinya dan melesat ke pria itu, menyambar pistol -dan menarik pelatuknya.

Itu benar... ibu bernama Sachie ini tidak diragukan lagi salah satu pekerja perempuan yang ditemuinya di kantor pos.

Dengan kata lain... Kirito sengaja pergi dengan Asuna dan Rika ke kantor pos, mendapat alamat dari pekerja perempuan yang mengundurkan diri dan pindah ke Tokyo, dan setelah membangun kontak dengan dia, mengundangnya untuk datang menemui Shino .

Shino sekarang mengerti tentang apa yang terjadi, tapi masih ada pertanyaan besar dalam dirinya.

Kenapa? Mengapa Kirito melakukan hal seperti itu bahkan ia harus mengambil cuti?

"... Maafkan saya, saya benar-benar minta maaf, Shino-san."

Sachie, yang duduk di depan Shino, terharu saat ia berbicara.

Shino tidak mengerti mengapa dia meminta maaf sama sekali dan hanya bisa tetap di tempat duduknya dengan pikiran kosong. Dan lawan bicaranya melanjutkan dengan suara gemetar.

"Saya benar-benar minta maaf. Saya... seharusnya bertemu anda sebelumnya... tapi saya benar-benar ingin melupakan insiden itu... Jadi saya pindah ke Tokyo dengan menggunakan alasan bahwa suami saya telah dipindah tugaskan ke Tokyo... Saya bisa mengerti dan memahami bahwa anda merasa benar-benar sakit... Tapi saya malahan tidak berterima kasih atau bahkan meminta maaf kepada anda..."

Air mata di matanya mengalir keluar lalu mengalir di wajahnya. Gadis -yang rambutnya dikepang di sampingnya -Mizue tersebut tampaknya khawatir pada ibunya sendiri saat dia mendongak. Sachie diam-diam menepuk kepala gadis itu.

"... Selama insiden itu. Ga, gadis ini masih di perutku. Jadi Shino-san, Anda tidak hanya menyelamatkan saya waktu itu... Anda menyelamatkan anak ini juga. Benar-benar... benar-benar, terima kasih banyak, terima kasih banyak..."

"... Saya menyelamatkan nyawa Anda...?"

Shino hanya mengulangi kata-kata itu.

Dalam kantor pos, Shino, yang hanya berumur 11 tahun, meremas 3 kali pemicu pistol dan mengambil kehidupan seseorang. Itulah yang Shino lakukan, dan itulah yang selalu ia pikirkan. Namun- wanita di depannya dengan jelas mengatakan.

Bahwa dia diselamatkan oleh Shino.

"Sinon."

Di sampingnya, Kirito berkata dengan suara gemetar,

"Sinon, kamu telah menyalahkan diri sendiri selama ini, menghukum diri sendiri. Aku tidak bisa mengatakan bahwa apa yang kau lakukan adalah salah, tapi- kau juga memiliki hak untuk memikirkan orang-orang yang terselamatkan karenamu. Dalam hal ini, kamu akan menemukan bahwa dirimu memiliki hak, untuk memaafkan diri sendiri. Itulah yang... aku ingin katakan kepadamu..."

Kemudian, Kirito tampak seperti tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan lagi dan hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

Melihat jauh dari anak itu, Shino memandang Sachie lagi. Dia tahu bahwa dia harus mengatakan sesuatu, tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia bahkan tidak bisa bicara, atau bahkan memikirkan apapun dalam hal ini...

Untuk-melanjutkan.

Pada saat ini, suara langkah kaki ringan terdengar.

Itu gadis 4 tahun bernama Mizue melompat dari kursinya dan berlari mengitari meja untuk mendekati Shino dalam langkah-langkah kecil. Sachie seharusnya menjadi orang yang mengikat rambutnya yang tampak begitu halus dan mulus. Wajahnya yang bulat itu menunjukkan warna pink lucu, dan mata besar nya yang menunjukkan cahaya paling murni dan tidak berdosa di dunia ini.

Mizue seharunya mengenakan seragam TK saat ia memiliki tas kecil di punggungnya. Dia meraih tangannya ke dalam tasnya dan mengambil sesuatu.

Itu adalah kertas gambar yang dilipat menjadi bentuk persegi panjang. Dia membuka kertas itu dengan kikuk dan memberikannya pada Shino.

Gambar yang digambar dengan krayon segera terbaca oleh mata Shino. Di tengah gambar adalah wajah seorang wanita dengan rambut panjang. Wajah tersenyum itu seharusnya milik ibunya- Sachie. Dan gadis dikepang di sisi kanan seharusnya dirinya sendiri. Orang berkacamata di sebelah kiri adalah ayahnya.

Pada bagian atas gambar, ada kata-kata «Shi-no-o-ne-e-san-he» (Untuk Shino onee-san) yang ditulis dalam hiragana, mungkin hanya belajar di sekolah.

Mizue menyerahkan gambar dengan kedua tangan, dan Shino menerimanya dengan kedua tangan juga. Mizue tersenyum dan mengambil napas dalam-dalam.

Tampaknya gadis itu berlatih berkali-kali sebelumnya saat ia mengatakan setiap kata satu per satu dengan suara polos dan lembut.

"Shino onee-san, terima kasih untuk menyelamatkan mama dan Mizue."

Pada saat ini, mata Shino ditutupi-dengan warna pelangi, dan kemudian, itu semua tercampur aduk.

Setelah beberapa saat, ia mendapati dirinya menangis. Sebelum hari ini, dia tidak tahu bahwa kehangatan yang jelas, seperti itu dan air mata yang bisa mencuci noda apapun yang melewatinya.

Shino terus menangis ketika tangannya terus memegang potongan gambar besar.

Sebuah tangan kecil yang begitu lembut agak malu malu kemudian menyambar tangan kanan Shino dengan erat.

Dan apa yang terlihat adalah titik hitam, di mana bubuk mesiu yang tertinggal di tangan kanannya-

Untuk menerima semua masa laluku mungkin akan memerlukan beberapa waktu. Meski begitu, aku mulai menyukai dunia ini sekarang.

Hidupku akan memiliki rasa sakit lebih banyak mulai hari ini dan seterusnya, dan jalan di depanku akan memiliki banyak duri.

Tapi aku percaya bahwa aku bisa terus melewatinya.

Karena tangan kananku yang digenggam dan air mata di wajahku yang begitu hangat.

(END)