Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 2

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Ilustrasi Novel[edit]

Novel Illustrations[edit]

Dibawah ini adalah ilustrasi novel yang ada di volume 2


Prolog[edit]

Sebuah kastil besar yang terbuat dari batu dan baja melayang di langit tak berujung.

Hanya itulah isi dari dunia ini.

Butuh waktu sebulan bagi berbagai kelompok pengrajin untuk meninjau lantai dasar yang berdiameter sekitar 10 kilometer — cukup luas untuk memasukkan seluruh Setagaya[1] ke dalamnya. Di atasnya terdapat 100 lantai yang tersusun lurus ke atas; ukurannya sangat luar biasa. Sekedar menebak berapa banyak data yang digunakan untuk membuatnya pun mustahil.

Di dalamnya terdapat beberapa kota besar, dengan banyak kota dan desa kecil, hutan serta padang rumput, dan bahkan danau. Hanya satu tangga yang menghubungkan setiap lantai, dan tangga itu berada di dungeon[2] tempat monster-monster berkeliaran. Karena itu, menemukan dan melewatinya bukan hal yang mudah. Namun, ketika seseorang melewatinya dan tiba di sebuah kota di lantai atas, «Gerbang Teleportasi» antara lantai itu dan semua kota di lantai bawah akan terhubung, sehingga semua orang dapat bergerak dengan bebas dari lantai ke lantai.

Di bawah kondisi ini, kastil raksasa itu terus menerus ditaklukkan sejak dua tahun lalu. Garis depan sekarang ada di Lantai ke-74.

Nama kastil itu adalah «Aincrad», sebuah dunia pertarungan pedang yang terus melayang, melingkupi kurang lebih enam ribu orang di dalamnya. Dikenal juga dengan nama...

«Sword Art Online»


Sword Art Online Volume 2 Chapter 1 Sang Pendekar Hitam (Lantai ke-35 Aincrad, Februari 2024)[edit]

Silica adalah salah satu dari «Beast Tamer[3]» yang langka di SAO, atau mungkin lebih tepatnya “pernah”. Familiar[4] miliknya, simbol dari seorang beast tamer, sudah tidak ada lagi.

Beast Tamer bukanlah class[5] atau skill[6] yang diberikan oleh sistem, melainkan istilah yang digunakan oleh para pemain.

Dalam suatu kejadian yang langka, monster yang agresif menunjukkan ketertarikannya terhadap para pemain. Kalau kalian tidak melewatkan kesempatan itu, kalian bisa berhasil menjinakkan monster tersebut dengan memberikannya sesuatu untuk dimakan. Lalu si monster akan menjadi «Familiar» si pemain dan mengabdi sebagai rekan yang berharga yang membantu si pemain dengan berbagai cara. Para pemain menyebut mereka yang telah berhasil melakukan hal itu sebagai beast tamer disertai campuran pujian dan rasa iri.

Tentu saja, tidak semua monster bisa menjadi familiar; hanya sedikit sekali ragam monster yang bisa. Kondisi untuk memicu terjadinya event[7] tersebut pun tidak jelas, namun satu-satunya syarat yang diyakini semua orang adalah eventnya tidak akan terjadi jika si pemain membunuh terlalu banyak monster jenis itu.

Ini adalah kondisi yang lumayan susah jika kalian pikirkan lagi. Bahkan jika seseorang mencoba untuk mendapatkan seekor familiar dengan menemui monster itu berulang-ulang, monster-monster tersebut bersifat agresif dan sang pemain tidak bisa menghindari pertarungan dengan mereka. Dengan kata lain, jika seseorang berkeinginan untuk menjadi seorang Beast Tamer, mereka harus terus menemui monster yang diinginkan, dan jika eventnya tidak terjadi mereka harus terus kabur. Tidak sulit untuk membayangkan betapa merepotkannya semua hal tersebut.

Kalian bisa bilang Silica sangat beruntung dalam perkara ini.

Dengan tanpa pengetahuan tentang permasalahan tadi, ia telah memasuki suatu hutan tanpa alasan apapun di lantai yang ia kunjungi hanya karena ia sedang ingin saja. Monster pertama yang ia jumpai tidak menyerangnya, tetapi hanya mendekatinya. Kemudian ia memberikan monster itu sebuah kacang yang ia beli hari sebelumnya tanpa banyak pikir, dan ternyata kacang itu adalah makanan yang disukai oleh si monster.

Monster tersebut adalah seekor «Naga Berbulu». Seluruh tubuhnya dilapisi oleh bulu-bulu biru pucat yang lembut, dan ia memiliki dua bulu yang panjang sebagai ganti dari ekor. Naga kecil tersebut adalah monster yang sangat jarang dijumpai. Mungkin Silica adalah orang pertama yang berhasil menjinakkannya, karena ia langsung menjadi pusat perhatian saat ia kembali ke kota asalnya «Friben» di lantai delapan dengan si naga kecil menduduki pundaknya. Hari berikutnya, tak terhitung banyaknya pemain yang mencoba untuk menjinakkan Naga Berbulu setelah mendengar informasi dari Silica, namun tidak ada yang berhasil.

Silica menamai naga kecil tersebut «Pina». Nama itu sama dengan nama yang ia berikan pada kucing miliknya di dunia nyata.

Monster-monster familiar dikenal memiliki stats[8] yang rendah untuk pertarungan sebenarnya dan Pina bukanlah pengecualian. Tapi sebagai gantinya mereka memiliki sejumlah skill spesial: kemampuan memindai yang memperingatkan sang pemain bahwa ada monster yang mendekat, skill yang sedikit menyembuhkan si pemain, dan sebagainya. Semua skill tersebut lumayan berguna dan menjadikan perburuan sehari-hari jauh lebih mudah. Tapi yang paling menyenangkan Silica adalah kehangatan dan kenyamanan yang dibawa oleh keberadaan Pina.

AI[9] dari seekor familiar memang tidak begitu hebat. Tentu saja, familiar tidak bisa bicara, dan mereka hanya bisa mengerti beberapa lusin perintah. Tapi bagi Silica, yang memasuki game tersebut saat dia hanya berusia dua belas dan tengah diliputi rasa takut dan gelisah, Pina adalah penyelamat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa «Petualangan» Silica --- yang sebenarnya berarti «Hidup» di sini --- dimulai oleh Pina.

Setelah setahun, Silica dan Pina telah naik level dengan lancar dan kemampuannya sebagai pemakai pisau sudah cukup baik. Itulah yang membuatnya lumayan terkenal diantara para pemain level pertengahan sebagai salah satu yang terbaik dari mereka.

Tentu saja, dia masih jauh dari para petarung kelas atas yang bertempur di garis depan; tapi di sisi lain, beberapa ratus orang yang bertekad untuk menyelesaikan game ini diantara total tujuh ribu pemain lebih jarang terlihat dibanding para beast tamer. Karena itulah, menjadi terkenal diantara para pemain rata-rata kurang lebih sama dengan menjadi seorang idola di dalam game ini.

Karena pemain perempuan itu agak jarang, apalagi yang seumurannya, tidak butuh waktu lama bagi «Dragon Master Silica[10]» untuk menjadi pemain terkenal dengan banyak penggemar. Ia menerima banyak sekali undangan dari kelompok dan guild[11] yang menginginkan seorang pemain idola dan bagi Silica yang baru berusia tiga belas tahun, menjadi terlalu bangga dengan dirinya sendiri sudah tak terhindarkan lagi. Tetapi akhirnya, harga diri itu menyebabkannya melakukan kesalahan yang tidak dapat dia ubah lagi sebesar apapun penyesalannya.

Sebuah pertengkaran karena hal kecil memulai semuanya.

Waktu itu Silica berada di dalam hutan yang sangat luas di utara lantai tigapuluh lima, dikenal sebagai «Hutan Pengembaraan», dengan kelompok yang ia jumpai dua minggu sebelumnya. Saat itu, garis depan sudah jauh di lantai limapuluh lima, jadi lantai tigapuluh lima sudah terselesaikan. Tapi para petarung kelas atas tidak peduli dengan hal selain menyelesaikan area labirin, jadilah sub-dungeon[12] seperti «Hutan Pengembaraan» populer sebagai target bagi para pemain rata-rata.

Karena kelompok enam orang yang dimasuki Silica tersusun dari para petarung tangguh, mereka telah bertempur dari pagi dan menemukan item yang lumayan banyak, termasuk beberapa peti harta karun. Tapi ketika matahari mulai terbenam dan mereka semua mulai kehabisan ramuan penyembuh, mereka mulai berjalan pulang ke area tempat tinggal. Seorang pemain wanita yang langsing yang menggunakan tombak lalu mengucapkan sesuatu, mungkin untuk mengatur Silica.

"Kita akan membagikan item-itemnya begitu sampai. Tapi karena kamu disembuhkan kadalmu, kamu ga akan butuh kristal penyembuhnya kan?"

Silica merasa tersinggung lalu menyerang balik.

"Kamu bahkan tidak maju ke depan dan cuma berkeliaran di belakang kelompok, jadi kamu juga tidak perlu memakai kristal."

Setelah itu, pertengkaran semakin memanas, dan usaha sang ketua tim, seorang pengguna pedang dan perisai, untuk menghentikannya sama sekali diabaikan. Akhirnya, dalam kemarahan Silica berkata:

"Aku tidak butuh item-itemnya. Aku tidak akan sekelompok dengan kalian lagi. Lagian banyak orang yang ingin sekelompok denganku!"

Mengabaikan saran sang ketua untuk setidaknya tetap bersama dengan kelompok sampai mereka keluar dari hutan tersebut dan sampai di area tempat tinggal, dia meninggalkan grup itu dan berjalan tanpa arah di sebuah jalur kecil.

Walaupun dia sendirian, dia telah menguasai tujuhpuluh persen skill pisaunya dan mempunyai Pina untuk mendukungnya, jadi monster-monster lantai tigapuluh lima bukan masalah baginya. Dia dapat melalui hutan itu dan kembali ke area tempat tinggal tanpa masalah apapun. Itu, kalau dia tidak tersesat.

Bukan tanpa alasan hutan itu dijuluki «Hutan Pengembaraan».

Hutan yang sangat besar itu dipenuhi pohon-pohon besar yng menjulang tinggi dan terbagi menjadi area-area seperti papan catur; satu menit setelah kalian menjejakkan kaki di sebuah area, area itu akan disambungkan oleh warp[13] ke area lain yang sama sekali berbeda secara acak. Jika kalian ingin keluar dari hutan itu, kalian harus melalui setiap area dalam satu menit, atau membeli peta yang mahal dari sebuah toko di area tempat tinggal, yang memeriksa area-area yang tersambung dengan lokasi kalian ketika kalian melewati hutan tersebut.

Tapi satu-satunya orang dengan peta itu hanyalah si ketua. Karena menggunakan kristal teleport di dalam Hutan Pengembaraan justru menteleport[14] kalian ke area lain di hutan bukannya kembali ke kota, Silica harus mencoba melewati tiap area. Namun berlarian diantara akar pohon yang besar-besar dan mengikuti jalan setapak yang berliku-liku ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Silica memutuskan untuk terus menuju arah utara, tetapi karena batas waktunya selalu terlewat persis sebelum dia dapat mencapai ujung area tersebut, maka dia selalu berakhir di suatu area tak dikenal lagi dan lagi. Sebentar kemudian dia mendekati batas kesadarannya sebelum pingsan karena kelelahan. Cahaya merah dari matahari terbenam semakin menua dan dia merasa semakin cemas melihat langit menggelap dan peluangnya keluar dari dungeon tersebut makin mengecil.

Akhirnya, Silica berhenti berlari dan mulai berjalan, berharap dia bisa sampai ke area di ujung hutan secara kebetulan. Tapi keberuntungan tidak berpihak padanya, dan banyak monster yang menyerangnya setiap kali dia tersandung. Bahkan dengan levelnya yang jauh lebih tinggi, saat hari semakin gelap dia bahkan tidak bisa melihat apa yang ada di tanah dengan jelas. Walau dia memiliki Pina untuk menolongnya, dia tidak berhasil keluar dari setiap pertarungan tanpa terluka dan akhirnya dia menghabiskan tidak hanya ramuannya yang tersisa tapi juga ramuan penyembuh darurat miliknya.

Seakan merasakan kegelisahan Silica, Pina membelai pipi Silica dengan kepalanya selagi mendengkur di bahunya. Silica menyesali ketergesaan dan harga dirinya yang telah membuatnya terjebak dalam situasi ini seraya membelai leher panjang partnernya dengan gaya menenangkan.

Sambil berjalan dia bergumam dalam pikirannya:

"Maafkan aku. Aku tak lagi berpikir aku ini istimewa. Jadi tolong biarkan aku keluar dari hutan ini saat aku melakukan warp berikutnya."

Dia melangkah ke zona warp lain sambil berdoa. Setelah gelombang memusingkan yang singkat, yang muncul di hadapannya adalah hutan belantara yang sama dengan yang telah ia lihat di waktu-waktu sebelumnya. Bahkan tidak ada tanda-tanda dataran di kegelapan dibalik pohon-pohon tinggi itu.

Ketika Silica yang kecewa mulai berjalan lagi, Pina dengan cepat mengangkat kepalanya dan mengeluarkan pekikan tajam. Sebuah peringatan. Silica segera mengambil pisaunya dan mengarahkannya ke arah yang ditatap Pina dari tadi.

Beberapa detik kemudian, sebuah geraman pelan terdengar dari balik sebuah pohon besar yang tertutup lumut. Begitu Silica memfokuskan pandangannya, muncul sebuah kursor kuning. Mereka ada beberapa. Dua, bukan... tiga. Nama monsternya «Kera Mabuk». Mereka salah satu monster terkuat di Hutan Pengembaraan. Silica menggigit bibirnya.

Walaupun begitu---

Mereka tidak seberbahaya itu jika hanya melihat levelnya. Ketika pemain level menengah, seperti Silica, pergi ke medan perburuan, sudah menjadi akal sehat untuk beberapa level lebih tinggi dari monster yang muncul. Biasanya, level mereka cukup tinggi untuk mengalahkan lima monster sendirian tanpa menggunakan item penyembuh.

Alasannya adalah, tidak seperti para petarung kelas atas di garis depan, pemain-pemain kelas menengah berpetualang untuk mendapatkan coll yang cukup untuk hidup sehari-sehari, untuk mendapatkan cukup experience[15] supaya dapat bertahan di kisaran level rata-rata, dan terakhir untuk menghilangkan kebosanan. Diantara alasan-alasan ini, tidak satupun yang patut untuk mempertaruhkan nyawa kalian untuknya. Bahkan, masih ada sekitar seribu pemain di «Starting City» yang menolak untuk meningkatkan kemungkinan tewas sekecil apapun.

Tapi seseorang butuh penghasilan tetap untuk makan dan tidur. Ditambah lagi, semua pemain MMORPG[16] seperti terkena wabah yang membuat mereka merasa tidak aman jika mereka setidaknya berada di level rata-rata. Karena inilah, setelah satu setengah tahun setelah game ini dimulai, kebanyakan pemain sekarang bepergian ke medan perburuan dengan level yang jauh lebih tinggi untuk menikmati petualangan di dunia ini.

Karenanya, para Kera Mabuk, yang dibanggakan sebagai salah satu dari monster terkuat di lantai tigapuluh lima, bukan benar-benar tantangan bagi Silica; setidaknya begitulah yang seharusnya.

Silica mengangkat pisaunya seraya memaksa pikirannya untuk berkonsentrasi. Pina juga melayang naik sebagai persiapan bertarung.

Monster-monster yang muncul dari belakang pohon tersebut merupakan antropoid yang tertutup bulu merah tua. Mereka memegang pentungan kasar di tangan kanannya dan sejenis kundur[17] yang diikat oleh sebuah benang di tangan kirinya.

Begitu kera-kera tersebut mengangkat pentungannya dan memperlihatkan gigi mereka untuk meraung, Silica menyerbu ke arah kera yang di depan untuk melakukan serangan pertama. Dia berhasil melakukan pukulan telak dan mengurangi HP[18] kera itu lumayan banyak dengan «Rapid Bite», sebuah skill pisau tipe menyerbu kelas menengah, lalu melakukan sebuah combo[19] berkecepatan tinggi yang merupakan salah satu keuntungan terbesar dari menggunakan pisau.

Para Kera Mabuk menggunakan skill-skill gada tingkat rendah, dan walaupun setiap pukulan memiliki kekuatan yang dahsyat, mereka lamban dan tidak memiliki kombo multi-pukulan. Silica menghujani Kera Mabuk itu dengan serangan lalu mundur sejenak hanya untuk menyerbu lagi untuk memulai penyerangan baru. Setelah melakukannya beberapa kali, HP Kera Mabuk tersebut telah berkurang banyak dalam waktu sebentar. Kadang-kadang, Pina juga menggunakan serangan nafasnya yang seperti gelembung untuk membingungkan musuh.

Tetapi persis sebelum dia akan menggunakan skill keempatnya «Fad Edge» dan membunuh kera pertama...

Seekor lawan baru muncul dari belakangnya, bertukar dengan si kera pertama selama waktu jeda yang singkat. Silica tidak punya pilihan selain mengganti sasarannya dan mulai menyerang si kera kedua. Si kera pertama lalu mundur dan mengayunkan kundurnya dengan tangan kirinya—

Silica terkejut begitu dia melihat sekilas bar HP si Kera Mabuk pertama. Bar HP nya terisi kembali dengan kecepatan mengagumkan. Tampaknya kundur tersebut mengandung sejenis cairan penyembuh.

Dia telah menghadapi Kera Mabuk di lantai tigapuluh lima sebelumnya, tetapi waktu itu mereka hanya berdua, dan dia membunuh keduanya sebelum mereka punya kesempatan untuk bertukar, jadi dia tidak mengetahui skill spesial ini. Silica mengertak giginya dan berkonsentrasi untuk menghabisi si kera kedua dengan benar.

Namun begitu dia mengurangi bar HP si kera ke zona merah dan memperlebar jarak diantara mereka untuk memulai serangan terakhirnya, kera itu bertukar dengan kera lainnya. Kera mabuk yang ketiga. Pada saat itu kera yang pertama sudah hampir mengisi penuh bar HP nya.

Kalau begini terus tidak akan ada akhirnya. Mulut Silica mengering karena gelisah.

Silica memang sebenarnya hampir tidak punya pengalaman bertarung solo sama sekali. Walaupun dia mempunyai keuntungan karena perbedaan level yang besar sekali, itu hanyalah angka-angka; kemampuan sebenarnya si pemain adalah hal yang sama sekali berbeda. Kegelisahan yang muncul di pikiran Silica mulai berubah menjadi rasa bingung. Dia mulai lebih sering meleset, sehingga memberikan ruang untuk lawannya menyerang balik.

Ketika dia berhasil mengurangi sekitar setengah HP kera mabuk ketiga, usahanya untuk terus melakukan combo menyebabkannya terjerembab. Sang kera tidak melewatkan kesempatan itu dan menyerang balik, yang berhasil mendaratkan sebuah pukulan telak.

Gada kayu nya dibuat dengan kasar, namun damage dasar dari beratnya dikombinasikan dengan kekuatan si Kera Mabuk menyebabkan HP Silica berkurang hampir tigapuluh persen. Rasa takut pun menyerang sekujur tubuhnya.

Fakta bahwa dia telah kehabisan ramuan penyembuh menambah kegugupannya. Nafas Pina memulihkan sekitar sepuluh persen HP nya, namun kemampuan itu bukanlah sesuatu yang bisa Pina gunakan terlalu sering. Bahkan dengan kemampuan itu pun, jika dia terkena serangan seperti itu tiga kali lagi --- dia akan mati.

Mati. Silica membeku begitu kemungkinan tersebut melintas dalam pikirannya. Tangannya tidak mau terangkat. Kakinya tidak mau bergerak.

Sampai sekarang, bertarung selalu mengasyikkan, tetapi selalu jauh dari bahaya sesungguhnya. Silica sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa bertarung itu terhubung dengan «Kematian» sesungguhnya---

Saat dia berdiri membeku di depan Kera Mabuk yang meraung dan mengangkat pentungannya lagi, Silica menyadari untuk kali pertama arti sebenarnya dari bertarung dengan monster di SAO. Ini sebuah kontradiksi; SAO adalah sebuah game, tapi di saat yang sama SAO bukanlah sesuatu untuk dimainkan.

Dengan suara tumpul gada yang membelah udara, serangan tersebut membentur Silica begitu dia berdiri dengan tegar. Dia tidak mampu menerima dampaknya dan roboh ke tanah. HP nya berkurang banyak dan berubah menjadi oranye.

Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dia bisa melarikan diri. Dia bisa menggunakan kristal teleport. Masih ada pilihan lain yang bisa dia buat, namun dia hanya terpana melihat pentungan itu saat si kera mengangkatnya untuk kali ketiga.

Senjata yang kasar itu mengeluarkan sebuah kilauan merah, dan ketika dia akan menutup matanya secara refleks---

Sebuah sosok kecil melompat ke ruang diantara Silica dan gada si kera. Sebuah suara yang berat dan menakutkan terdengar. Bulu-bulu biru langit berhamburan seketika begitu bar HP yang kecil itu turun ke angka nol.

Pina menatap Silica dengan matanya yang bulat dan biru setelah dia jatuh ke lantai. Ia mengeluarkan geraman lemah lalu berhamburan menjadi polygon yang tak terhitung banyaknya. Sebuah bulu ekor yang panjang melayang turun bagai sedang menari.

Sesuatu meletup dalam diri Silica. Benang yang telah menjaganya sudah menghilang. Sebelum rasa sedih sempat menyeruak, dia merasa marah: marah kepada dirinya sendiri karena tidak dapat bergerak hanya karena telah terkena satu serangan; dan sebelum itu, marah kepada dirinya sendiri karena takabur untuk mencoba melalui hutan itu sendirian hanya karena ia merasa kesal oleh pertengkaran kecil.

Dengan gerakan yang luwes Silica melangkah mundur, menghindari serangan yang diayunkan ke arahnya oleh si monster. Dia lalu menyerbu dengan sebuah teriakan. Pisau di tangan kanannya berkilau begitu menghujani si kera dengan serangan.

Silica bahkan tidak mencoba untuk menghindari pentungan kera yang bertukar dengan temannya setelah melihat HP temannya itu berkurang, namun malah menangkisnya dengan tangan kirinya. HP nya berkurang, walaupun tidak sebanyak jika terkena langsung. Tetapi ia mengabaikannya dan mengejar kera ketiga, kera yang telah membunuh Pina.

Silica memanfaatkan perawakannya yang kecil, menerjang langsung ke arah si kera, dan menusukkan pisaunya ke kera tersebut. Dengan sebuah efek pukulan kritikal yang menyilaukan, HP musuhnya habis tak bersisa. Pertama suara jeritan, lalu suara benda pecah yang terdengar.

Diantara sisa-sisa yang sedang berhamburan, Silica memalingkan tubuhnya dan menyerbu ke arah sasaran baru. Bar HP nya sudah menjadi berwarna merah yang berarti bahaya, tapi dia sudah tak peduli lagi. Dia hanya melihat musuh yang harus ia bunuh, seakan diperbesar untuk memenuhi pandangan matanya.

Dia bahkan lupa rasa takutnya terhadap kematian dan baru akan mencoba melakukan sebuah serbuan mematikan di bawah gada yang sedang mengayun.

Sebuah cahaya putih bersih memotong kedua Kera Mabuk itu begitu mereka berdiri berdampingan.

Badan kedua kera itu masing-masing terbelah dua dalam sekejap; lalu mereka pecah dan menghilang.

Silica berdiri dengan lunglai ketika dia melihat seorang pemain pria dibalik pecahan-pecahan yang berhamburan. Dia berambut hitam dan memakai mantel hitam. Dia memang tidak terlalu tinggi, namun aura keberadaan yang luar biasa terpancar dari dirinya. Silica melangkah mundur begitu dia merasakan rasa takut yang naluriah. Mata mereka bertemu.

Tetapi matanya sunyi dan sedalam kegelapan. Anak laki-laki itu menyarungkan pedang satu tangannya ke dalam sarung pedang di punggungnya dengan bunyi berderang lalu membuka mulutnya.

"Maafkan aku. Aku gagal menyelamatkan temanmu"

Dia kehilangan tenaga begitu mendengarnya. Dia tidak dapat lagi menahan air mata membasahi pipinya. Dia bahkan tidak menghiraukan pisaunya terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Segera setelah dia melihat bulu biru langit di tanah, dia langsung berlutut di hadapannya.

Setelah kemarahannya hilang, perasaan sedih dan kehilangan menguasainya. Mereka mewujud dalam bentuk air mata dan bergulir menuruni pipinya tanpa henti.

Familiar tidak diprogram untuk menghentikan serangan sebagai perilaku normalnya. Pina telah menghadang serangan itu dengan kemauannya sendiri --- bisa dibilang itulah hasil dari cintanya terhadap Silica, yang telah menghabiskan waktu setahun bersamanya.

Sambil mencengkram dirinya sendiri, Silica bergumam sambil menangis.

"Kumohon... jangan tinggalkan aku sendiri... Pina..."

Namun bulu biru langit itu tidak memberikan jawaban apapun.


"...Aku minta maaf."

Ucap si pemuda berpakaian serba hitam itu lagi. Silica menggelengkan kepalanya dan mencoba mati-matian menghentikan air matanya.

"...Tidak... Aku yang... bertindak bodoh... terima kasih...telah menyelamatkanku..."

Dia berhasil untuk memaksakan diri mengucapkan kata-kata tersebut begitu dia berhenti menangis.

Pemuda itu berjalan perlahan ke arah Silica lalu berlutut di depannya sebelum bertanya ragu-ragu.

"...Bulu itu, apa mungkin bulu itu punya nama item?"

Terkejut oleh pertanyaan yang diluar perkiraan itu, Silica mengangkat kepalanya. Dia menyeka air matanya lalu memalingkan tatapannya ke arah bulu yang dimaksud.

Sekarang ketika dia memikirkannya lagi, memang aneh cuma bulunya yang tersisa. Baik itu monster maupun manusia, makhluk di dunia ini biasanya tidak meninggalkan apa-apa setelah mati, bahkan equipmentnya pun tidak. Silica dengan ragu meraih bulu tersebut dengan tangannya lalu mengklik permukaannya dengan jari telunjuk. Layar setengah transparan yang muncul memperlihatkan nama dan berat bulu tersebut.

«Pina's Heart»

Begitu Silica akan mulai menangis lagi setelah melihatnya, si pemuda menghentikannya.

"Tu-tunggu-tunggu. Kalau hatinya tertinggal, kamu bisa menghidupkannya lagi."

"Apa!?"

Silica mengangkat kepalanya dengan tajam. Dia menatap wajah si pemuda dengan mulut setengah terbuka.

"Itu ditemukan beberapa waktu lalu, jadi masih banyak orang yang belum tahu. Ada dungeon bernama «Bukit Kenangan» di wilayah utara lantai empatpuluh tujuh. Lumayan susah walaupun namanya begitu... tapi katanya bunga yang mekar di puncaknya adalah item penghidup famili-."

"Be-Benarkah!?"

Silica berdiri dan bersorak sebelum si pemuda selesai bicara. Rasanya harapan membanjiri dadanya, yang dipenuhi rasa duka. Tapi—

"...Lantai empatpuluh tujuh..."

Silica bergumam dan mengendurkan bahunya. Itu dua belas lantai di atas level ini, lantai tigapuluh lima. Pastinya bukan area yang aman bagi Silica.

Persis ketika ia memalingkan matanya yang kecewa ke lantai.

"Hmm—"

Pemuda di hadapannya berkata dengan suara terganggu.

"Aku bisa mengambilkannya buatmu kalau kamu memberiku ongkos dan sejumlah biaya, tapi mereka bilang bunga itu hanya muncul kalau beast tamer yang kehilangan familiarnya ikut pergi..."

Silica tersenyum kepada swordsman yang tak disangka-sangka ternyata baik itu dan berkata:

"Tidak... Aku senang dengan informasi yang kamu kasih. Kalau aku bekerja keras untuk naik level, suatu hari aku akan bisa..."

"Alasan kenapa kamu ga bisa melakukan itu adalah, katanya familiar cuma bisa dihidupkan lagi dalam waktu empat hari setelah mereka mati. Setelah itu, nama itemnya akan berubah dari «Heart» menjadi «Remains»..."

"Apa...!"

Silica tidak mampu menahan dirinya berteriak.

Sekarang levelnya empatpuluh empat. Kalau SAO merupakan RPG biasa, lantai dungeon akan sesuai kesulitannya dengan pemain berlevel sama. Tapi karena SAO adalah game kematian yang gila, area yang aman adalah sekitar sepuluh level di bawah sang pemain.

Dengan kata lain, untuk menjelajahi lantai empatpuluh tujuh, Silica harus setidaknya mencapai level limapuluh lima. Tetapi bagaimanapun ia memikirkannya, tidak mungkin naik sepuluh level hanya dalam empat hari... tidak, dua hari kalau dia menghitung waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dungeonnya. Dia cuma berhasil mencapai levelnya sekarang karena dia berpetualang dengan tekun.

Silica menjatuhkan kepalanya dan keputusasaan menguasainya sekali lagi. Dia mengambil bulu Pina dari tanah dan memeluknya dengan lembut di dadanya. Air matanya bermunculan saat dia mengutuk kebodohan serta ketidakberdayaannya.

Silica menyadari si pemuda mulai berdiri lagi. Ia pikir dia akan pergi dan ia setidaknya harus mengucapkan selamat jalan, namun ia tidak memiliki energi lagi untuk membuka mulutnya—

Tapi tiba-tiba, layar setengah transparan muncul di hadapannya. Sebuah layar transaksi. Saat Silica mengangkat kepalanya, dia melihat pemuda itu sedang memanipulasi layar lainnya. Item-item mulai bermunculan satu per satu dalam seksi transaksi. «Silver Thread Armor», «Ivory Dagger»... Semuanya adalah equipment yang Silica bahkan belum pernah melihatnya.

"Errm..."

Ketika dia membuka mulutnya ragu-ragu, si pemuda menjelaskan dengan santai:

"Ini seharusnya cukup untuk sekitar lima, enam level. Kalau aku pergi denganmu seharusnya tidak apa-apa."

"Apa...?"

Silica berdiri dengan mulut sedikit terbuka. Dia tidak bisa mengira apa yang dipikirkan pemuda itu, jadi dia melihat langsung ke arahnya. Tapi karena sistemnya SAO, yang dapat dilihatnya hanyalah bar HP si pemuda; dia bahkan tidak bisa mengetahui nama atau levelnya.

Sulit untuk menebak berapa umurnya. Equipmentnya berwarna serba hitam. Kekuatan dan ketenangan yang terpancar darinya membuatnya terlihat beberapa tahun lebih tua dari Silica, namun matanya yang tertutup oleh poninya yang panjang entah mengapa tampak tidak berdosa, dan garis-garis wajahnya yang feminin membuatnya terlihat sedikit seperti perempuan. Silica dengan hati-hati bertanya:

"Kenapa... kamu baik sekali...?"

Sebenarnya, dia sangat waspada.

Sampai sekarang, beberapa pemain pria yang jauh lebih tua dari Silica telah mencoba mendapatkan cintanya; bahkan dia pernah mendapatkan lamaran sekali. Bagi Silica, yang baru berusia tiga belas tahun, pengalaman-pengalaman ini hanya memberinya rasa takut. Dia bahkan belum pernah mendapatkan pernyataan cinta di dunia nyata.

Tidak terelakkan lagi, Silica jadi mulai menghindari pemain pria yang tampak memiliki ketertarikan semacam itu. Lagipula, «selalu ada motif dibalik kata-kata manis» adalah akal sehat di Aincrad.

Pemuda itu menggaruk kepalanya lagi, seakan kehabisan jawaban. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, lalu menutupnya lagi. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya, kemudian bergumam dengan suara pelan:

"...Yah, ini bukan komik... Aku akan bilang kalau kamu janji tidak akan tertawa."

"Aku tidak akan tertawa."

"Itu karena... kamu mirip sama adikku."

Mendengar jawaban seperti manga ini, Silica tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia menutup mulutnya dengan tangannya, tapi dia tidak bisa menahan tawanya yang meluap-luap.

"Kamu, kamu bilang kamu tidak akan ketawa..."

Ekspresi terluka terlihat di wajah si pemuda lalu dia mengendurkan bahunya sambil mulai mendongkol. Membuat tawa Silica semakin keras lagi.

Sword Art Online Vol 02 - 033.jpg

—Dia bukan orang jahat...

Sambil tertawa, Silica memutuskan untuk mempercayai kebaikan pemuda ini. Dia sudah pernah bertekad untuk mati. Kalau untuk menyelamatkan Pina, tidak ada alasan baginya untuk menahan diri.

Silica membungkuk dan berkata:

"Kuharap kita berteman baik. Kamu sudah menolongku, dan bahkan menawarkan untuk melakukan hal seperti ini untukku..."

Dia menatap layar transaksi itu lalu memasukkan semua Coll[20] yang dimilikinya. Ada lebih dari sepuluh equipment yang diberikan pemuda itu, dan semuanya terlihat seperti item langka yang tidak bisa dibeli di toko.

"Yah... mungkin ini terlalu kecil, tapi..."

"Tidak, kamu tidak perlu bayar. Ini semua hanya cadangan dan ini juga berhubungan dengan alasan kenapa aku datang ke sini..."

Ketika dia mengucapkan sesuatu yang tidak dapat dimengerti Silica, si pemuda menekan tombol OK tanpa menerima uang sedikitpun.

"Terima kasih. Sungguh.... Oh, aku Silica."

Saat dia mengucapkan namanya, dia setengah berharap pemuda itu terkejut karenanya, tapi nampaknya pemuda itu tidak mengenal namanya. Dia merasa terabaikan untuk sejenak, tetapi kemudian dia ingat bahwa sisinya yang inilah yang membuatnya berakhir seperti ini.

Si pemuda mengangguk kecil lalu menjulurkan tangan kanannya.

"Aku Kirito. Salam kenal."

Mereka berjabatan tangan.

Pemain yang dipanggil Kirito itu mengeluarkan sebuah peta Hutan Pengembaraan dari kantong yang tergantung di ikat pinggangnya. Dia melihat area yang terhubung dengan pintu masuk lalu mulai berjalan. Sambil mengikutinya, Silica membenamkan bulu Pina ke bibirnya dan bergumam dalam pikirannya.

Tunggu, Pina. Sebentar lagi aku akan menghidupkanmu...


Area tempat tinggal di lantai tigapuluh lima diliputi suasana pedesaan dengan bangunannya yang putih-putih serta atapnya yang merah-merah. Desanya sendiri memang tidak begitu besar, namun merupakan area berpetualang utama bagi para pemain level menengah saat ini, jadi ada lumayan banyak orang yang berjalan kesana kemari.

Kota asal Silica adalah Desa Friben, yang terletak di lantai delapan; namun karena ia belum membeli rumah, tinggal di penginapan manapun di lantai berapa saja tidak begitu terasa berbeda baginya. Yang paling penting adalah rasa dari makanan yang disajikan. Silica menyukai cheesecake yang dimasak NPC disini, jadi dia telah tinggal disini sejak dua minggu lalu saat dia mulai berpetualang di Hutan Pengembaraan.

Sewaktu ia memandu Kirito, yang seakan terpesona melihat sekelilingnya, beberapa wajah yang ia kenal memulai percakapan dengannya. Mereka mencoba membujuk Silica untuk bergabung dengan kelompoknya setelah mendengar rumor dia telah keluar dari kelompok lamanya.

"Erm, Yaa... terima kasih atas tawarannya, tapi..."

Dia membungkuk saat menolak tawaran-tawaran itu agar mereka tidak sakit hati. Kemudian dia melirik Kirito, yang berdiri di sampingnya, dan melanjutkan perkataannya:

"...Aku akan sekelompok dengan orang ini untuk beberapa waktu..."

Apa!? Beneran!? Ucap orang-orang yang mengerumuni Silica dengan marah lalu menatap Kirito dengan curiga.

Silica sudah melihat sedikit kemampuan Kirito; tapi ketika kalian memperhatikan swordsman[21] hitam yang cuma berdiri disana, dia tidak terlihat sekuat itu.

Dia tidak memakai equipment mahal satupun—dia tidak memakai armor sama sekali dan hanya memakai sebuah jaket tua yang terlihat usang di atas kaosnya—yang ia miliki hanyalah sebuah pedang satu tangan yang sederhana; dia bahkan tidak punya tameng.

"Hei, kau—"

Pengguna dua pedang berpostur tinggi yang tadi paling gigih mengajak Silica bergabung berjalan ke arah Kirito. Sambil meremehkan Kirito dia membuka mulutnya:

"Kau wajah baru, tapi kau ga boleh memotong antrian. Kami sudah mengincar Silica lumayan lama."

"Yah, aku ga tahu; entah kenapa kita berakhir seperti ini..."

Kirito menggaruk kepalanya dengan muka bermasalah.

Dia setidaknya bisa berdebat sedikit, pikir Silica dengan sedikit kecewa, kemudian ia berkata ke si pengguna dua pedang:

"Erm, itu aku yang minta. Aku minta maaf!"

Silica membungkuk untuk terakhir kalinya lalu melangkah pergi sambil menarik ujung jaket Kirito.

"Aku akan mengirim pesan untuk kalian lain kali~."

Silica berjalan dengan cepat, hendak melepaskan diri dari kerumunan itu, yang belum sepenuhnya menyerah, secepat mungkin. Dia memotong melewati gerbang plaza menuju jalan utama.

Ketika mereka akhirnya tidak dapat menjumpai para pemain itu lagi, Silica mengambil nafas panjang dan melihat ke arah Kirito.

"...Aku, aku minta maaf. Karena telah membuatmu mengalami semua masalah ini."

"Tidak apa-apa."

Kirito menjawab dengan senyuman kecil seakan dia tidak terganggu sama sekali.

"Silica-san lumayan populer ya."

"Tolong panggil aku Silica saja... Itu bukan karena aku populer; mereka cuma mengajakku bergabung dengan kelompoknya untuk menjadi semacam maskot, sungguh. Tapi... Kupikir aku ini spesial... dan masuk ke hutan sendirian... dan akhirnya..."

Air matanya mengalir alami begitu dia teringat dengan Pina.

"Tenanglah."

Ujar Kirito dengan suara kalem.

"Kita pasti akan menghidupkan Pina lagi, jadi jangan khawatir."

Silica menghapus air matanya dan tersenyum pada Kirito. Cukup aneh memang, rasanya dia mempercayai kata-kata orang ini.

Akhirnya, mereka dapat melihat sebuah bangunan dua lantai di sebelah kanan mereka. Itu penginapan yang sering digunakan Silica: «Weathercock Tavern». Sekarang begitu mereka sudah sampai, Silica sadar bahwa dia telah membawa Kirito ke sini tanpa mengatakan apa-apa.

"Ah, rumahmu dimana, Kirito onii-chan?"

"Oh, di lantai limapuluh.... Tapi terlalu merepotkan untuk pergi ke sana sekarang, jadi kayaknya aku akan bermalam di sini saja."

"Ah, oke!"

Silica kegirangan karena beberapa alasan lalu menepukkan kedua tangannya.

"Cheesecake disini benar-benar enak."

Dia baru saja akan mengajak Kirito masuk ke penginapan dengan menarik jaketnya ketika empat pemain keluar dari toko disebelah mereka berdua. Mereka adalah anggota kelompok yang berburu bersamanya selama dua minggu terakhir. Pemain-pemain pria yang muncul pertama tidak melihat Silica dan langsung menuju ke plaza, tapi pemain wanita yang muncul belakangan menoleh ke belakang dan refleks, mata mereka bertemu.

"...!"

Itu wajah yang paling tidak ingin dilihat Silica saat ini. Pengguna tombak yang menyebabkan pertikaian yang membuat Silica keluar dari kelompoknya. Dia baru saja akan melangkah masuk ke penginapan dengan kepala ditundukkan tapi...

"Oh, bukannya ini Silica?"

Panggil si pengguna tombak, menyebabkan Silica tidak punya pilihan selain berhenti melangkah.

"...Iya."

"Ho~, entah bagaimana kamu berhasil keluar dari hutan itu. Itu melegakan."

Pemain bernama Rosalia itu, dengan rambut merah tuanya yang keriting acak-acakan, berkata dengan senyum miring.

"Tapi kamu sudah telat. Kita sudah membagi-bagikan item-itemnya."

"Sudah kubilang aku ga membutuhkannya! — Aku sedang sibuk sekarang jadi selamat tinggal!"

Silica mencoba mengakhiri percakapan itu, tapi tampaknya pihak yang satu lagi tidak berniat membiarkannya pergi saja.

"Oh? Apa yang terjadi sama kadal itu?"

Silica menggigit bibirnya. Kalian tidak bisa menaruh familiar di inventaris atau menitipkannya ke orang lain. Dengan kata lain, hanya ada satu alasan mengapa familiarnya tidak ada. Rosalia kemungkinan besar juga mengetahuinya, tetapi dia melanjutkannya dengan senyuman kecil.

"Oh, apa mungkin...?"

"Mati.... Tapi!"

Silica membelalak kepada si pengguna tombak.

"Aku akan menghidupkan Pina lagi!"

Rosalia, yang tengah tersenyum dengan sangat puas, melebarkan matanya. Dia bahkan melakukan siulan pelan.

"Ho, jadi kamu mau pergi ke «Bukit Kenangan»? Tapi memangnya kamu bisa sampai ke sana dengan level segitu?"

"Bisa."

Umum Kirito sebelum Silica sempat menjawab. Dia menyembunyikan Silica di belakang jaketnya seakan untuk melindunginya.

"Dungeonnya tidak sesulit itu juga sih."

Rosalia melihat Kirito ke atas dan ke bawah dengan tatapan kasar kemudian mengejeknya:

"Kau satu lagi yang naksir dia? Kau ga kelihatan kuat."

Silica mulai gemetar dengan geram. Dia melihat ke bawah sambil mencoba menahan air matanya.

"Ayo pergi."

Kirito meletakkan sebelah tangannya di bahu Silica, kemudian Silica mulai berjalan ke arah penginapan yang mereka tuju.

"Yah, semoga beruntung."

Suara tawa Rosalia terdengar di belakangnya, tapi dia tidak menengok ke belakang.


Lantai pertama dari «Weathercock Tavern» adalah restoran besar. Kirito mendudukkan Silica di sebuah meja lalu berjalan ke konter depan dimana seorang NPC sedang menunggu. Setelah dia selesai check in, dia mengklik menu di konter kemudian kembali dengan cepat.

Segera setelah Kirito duduk di hadapannya, Silica membuka mulutnya untuk meminta maaf karena dia telah membuat Kirito mengalami situasi yang begitu tidak menyenangkan. Namun Kirito menghentikannya dengan mengangkat tangannya kemudian tersenyum.

"Ayo kita makan dulu."

Seorang pelayan membawa dua cangkir panas tepat pada waktunya. Kedua cangkir di depan mereka itu dipenuhi cairan merah; sebuah aroma misterius tercium darinya.

"Untuk pembentukan kelompok kita."

Mereka menepukkan cangkir mereka masing-masing saat Kirito bersulang. Silica lalu meneguk seisap cairan panas itu.

"...Enak..."

Bau dan rasa asam manisnya serupa dengan anggur yang dibolehkan oleh ayahnya untuk dicoba di waktu silam. Tapi walaupun Silica sudah mencoba setiap minuman yang ada di restoran ini selama dua minggu terakhir, dia tidak ingat pernah mencoba yang ini.

"Erm, ini apa...?"

Kirito tersenyum sebelum dia menjawab:

"Kamu bisa bawa minuman botol denganmu ke restoran NPC. Ini item yang kusebut «Ruby Ichor». Kalau kamu minum ini secangkir, ketangkasanmu akan naik satu poin."

"Ini, ini sangat berharga...!"

"Yah, alkohol juga ga akan tambah enak kalau kusimpan di inventarisku juga sih, dan aku ga kenal banyak orang jadi aku ga punya banyak kesempatan untuk meminumnya..."

Kirito mengangkat bahunya dengan konyol. Silica tertawa kemudian meneguk seisap lagi. Cita rasa yang entah bagaimana merindukan pelan-pelan melembutkan hatinya, yang telah mengeras dikarenakan banyaknya hal menyedihkan yang terjadi hari ini.

Setelah selesai minum, Silica menempelkan cangkirnya ke dadanya seakan ia masih menantikan kehangatannya. Lalu dia menurunkan tatapannya ke meja dan berkata pelan:

"...Kenapa... mereka bicaranya sekejam itu sih..."

Ekspresi Kirito berubah serius begitu ia meletakkan cangkirnya dan kemudian membuka mulutnya.

"Apa SAO MMORPG pertamamu?"

"Iya."

"Oh iya — Di game online manapun, ada banyak pemain yang kepribadian berubah begitu mereka memakai karakter mereka sebagai topeng. Ada yang menjadi baik, ada juga yang menjadi jahat… Dulu mereka menyebutnya roleplaying, tapi kupikir di SAO itu berbeda."

Tatapan Kirito menajam.

"Padahal kita lagi dalam situasi sulit... Yah, memang tidak mungkin untuk semua pemain bekerjasama menyelesaikan game ini. Tapi terlalu banyak orang yang senang melihat penderitaan orang lain, mencuri item—dan bahkan mereka yang membunuh sesamanya."

Kirito melihat lurus ke arah Silica. Tampak ada kesedihan yang mendalam di balik kemarahannya.

"Menurutku orang yang melakukan kejahatan disini juga benar-benar sampah di dunia nyata."

Dia hampir mengatakan ini. Tapi kemudian dia sadar bahwa Silica sedikit gemetar ketakutan, jadi dia tersenyum dan meminta maaf:

"Maaf... Aku bahkan tidak dalam posisi untuk membicarakan orang lain. Aku jarang membantu orang lain. Bahkan aku—menyebabkan kematian rekan-rekanku..."

"Kirito onii-chan..."

Silica menyadari kalau swordsman hitam yang duduk di hadapannya memikul bekas luka yang mendalam di dirinya. Dia ingin menghiburnya, namun ia membenci fakta bahwa kata-kata terlalu dangkal untuk menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan. Ia malah menggenggam tangan Kirito secara tidak sadar, yang terkepal di atas meja, dengan kedua tangannya.

"Kirito onii-chan adalah orang baik. Onii-chan sudah menyelamatkan aku."

Pertama-tama, Kirito terkejut dan mencoba menarik kembali tangannya, tapi dia segera tenang. Sebuah senyuman lembut tampak di bibirnya.

"...Nampaknya malah aku yang dihibur. Terima kasih, Silica."

Saat itu juga, Silica merasakan sebuah perasaan menyakitkan, seakan jantungnya mengerut. Detak jantungnya bertambah cepat tanpa alasan. Wajahnya terasa panas.

Dia dengan cepat menarik tangannya dan menekankannya di dadanya. Tetapi rasa sakitnya tidak berhenti.

"Kamu ngapain...?"

Begitu Kirito bersandar mencondong ke depan di atas meja, Silica menggelengkan kepalanya dan berhasil tersenyum.

"Bu, bukan apa-apa! Ah, Aku lapar!"


Setelah mereka selesai makan roti dan stew mereka dengan beberapa cheesecake sebagai penutup, sudah jam delapan lewat. Mereka memutuskan untuk cepat tidur sebagai persiapan untuk pergi ke lantai empatpuluh tujuh besok. Dua orang itu naik ke lantai dua, dimana ada kamar-kamar yang tak terhitung banyaknya di kedua sisi koridor.

Kamar yang disewa Kirito, secara kebetulan, berada disamping kamar Silica. Mereka saling mengucapkan selamat malam dengan senyuman.

Sesaat setelah memasuki kamarnya, Silica memutuskan sebelum dia berganti pakaian, dia akan melatih beberapa combo untuk membiasakan diri dengan pisau baru yang diberikan Kirito padanya. Dia mencoba untuk berkonsentrasi pada senjatanya, yang sedikit lebih berat dari yang biasa ia pakai, tapi sakit di dadanya menyulitkannya.

Setelah dia entah bagaimana berhasil merangkai lima serangan beruntun, dia membuka layarnya, melepas perlengkapannya, dan kemudian berbaring di kasur dengan pakaian dalamnya. Kemudian dia mengetuk dinding untuk mengeluarkan menu pop-up lalu mematikan lampunya.

Seluruh tubuhnya terasa sangat letih, jadi ia pikir ia bisa tidur dengan mudah. Namun untuk beberapa alasan, dia bahkan merasa kurang mengantuk dibanding biasanya.

Semenjak mereka menjadi sahabat, dia selalu tidur dengan badan Pina yang lembut di lengannya, jadi kasur yang luas itu seperti terasa kosong. Dia berguling dan memutar badannya bolak-balik sebentar sebelum ia menyerah untuk tidur dan kembali duduk. Dia terus memandang ke arah sebelah kirinya—tempat berdirinya dinding yang terhubung dengan kamar Kirito.

Ia ingin mengobrol lebih banyak lagi dengannya.

Dia terkejut kepada dirinya begitu memikirkan ini. Orang ini adalah pemain pria yang baru ia kenal kurang dari sehari. Dia sudah menghindari pemain-pemain pria sampai sekarang, tapi kenapa swordsman yang ia tidak tahu apa-apa tentangnya ini terus muncul di pikirannya?

Dia tidak bisa menjelaskan perasaannya sendiri. Saat dia melirik jam yang berada di bagian bawah penglihatannya, sudah jam sepuluh. Dia sudah tidak bisa mendengar suara langkah kaki pemain-pemain lain dari jendelanya, hanya suara anjing menggonggong di kejauhan.

'Yah, itu ga masuk akal, jadi ayo tidur saja lah.'

Pikir Silica dalam kepalanya. Tetapi untuk beberapa alasan, dia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah pelan ke lantai. Setelah mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia hanya akan mengetuk pintu lalu melambaikan tangannya, dia membuka layar menu, memilih baju tercantik yang ia miliki, kemudian memakainya.

Dia berjalan beberapa langkah di koridor yang diterangi lilin itu. Lalu, setelah ragu-ragu di depan pintu selama beberapa puluh detik, dia mengetok pintu itu dua kali.


"Huh? Ada masalah?"

"Yaa---"

Silica baru sadar kalau dia belum menyiapkan alasan yang tepat untuk datang lalu kebingungan. 'Aku hanya ingin mengobrol' terdengar terlalu kekanak-kanakan.

"Yah, itu err—ah, aku ingin tahu lebih banyak tentang lantai empatpuluh tujuh!"

Untungnya, Kirito tidak mencurigai apa-apa dan langsung mengangguk.

"Oke kalau begitu. Apa kita perlu ke bawah?"

"Enggak usah, yaa—kalau boleh, di kamar onii-chan..."

Ia menjawab tanpa berpikir lalu dengan cepat menambahkan:

"Ka-karena, kita tidak bisa membiarkan orang lain mendengar informasi yang berharga!"

"Erm... yaa... iya sih, kamu benar. Tapi..."

Kirito menggaruk kepalanya dengan sedikit ekspresi tidak nyaman, kemudian...

"Yah, kurasa tidak apa-apa."

Gumamnya, lalu dia membuka pintunya dengan sopan lalu mundur selangkah.

Tentu saja, kamarnya Kirito sama dengan kamarnya sendiri: sebuah kasur di sebelah kiri, ditambah sebuah meja dan kursi sedikit lebih jauh lagi. Itulah semua perabotan yang ada disitu.

Kirito menawarkan kursinya sebelum ia duduk di kasur dan membuka sebuah layar. Dia memanipulasinya dengan cepat dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Kotak yang telah diletakkan di meja itu memiliki sebuah bola kristal kecil di dalamnya. Bola kristal itu bersinar di bawah cahaya lentera.

"Indahnya... ini apa?"

"Ini item bernama «Mirage Sphere»."

Saat Kirito mengklik bola kristal tersebut, muncul sebuah layar menu. Dia dengan cepat memanipulasinya dan memencet tombol OK.

Segera setelahnya, bola kristal itu mulai memancarkan sebuah cahaya biru muda, lalu muncullah sebuah hologram besar berbentuk bola. Gambarnya tampak seperti keseluruhan sebuah lantai di Aincrad. Kristal itu menampilkan desa-desa dan setiap pohon dengan sangat detil, dan sama sekali berbeda dengan peta sederhana yang bisa ditemukan di menu sistem.

"Uwaa...!"

Silica terpaku memandang peta setengah transparan itu. Rasanya kristal itu dapat menunjukkan orang-orang berjalan kesana kemari jika ia terus menatapnya.

"Ini area tempat tinggalnya, dan ini Bukit Kenangan. Kamu harus melewati jalan ini... dan ada sejumlah monster kuat di sekitar sini..."

Kirito menunjuk ke sini dan ke sana seraya menjelaskan geografi lantai empatpuluh tujuh tanpa berhenti. Silica merasa hangat hanya dengan mendengarkan suara yang kalem itu.

"Dan setelah kamu melewati jembatan ini kamu bisa melihat bu..."

Tiba-tiba Kirito berhenti bicara.

"...?"

"Shh..."

Saat dia mengangkat kepalanya, dia melihat expresi Kirito dan dia sedang menaruh sebuah jari di bibirnya. Dia membelalak ke arah pintu dengan tatapan tajam.

Kirito langsung beraksi. Dia melompat dari kasur dengan kecepatan cahaya dan membuka pintunya.

"Siapa disitu...!?"

Silica dapat mendengar suara langkah orang lari. Dia berlari menyusul dan melihat keluar dari bawah badan Kirito, dimana dia melihat bayangan seseorang sedang berlari menuruni tangga.

"I-itu tadi apa!!?"

"...Kupikir dia tadi menguping."

"Apa...? Tapi kita ga bisa mendengar apa-apa dari balik tembok kan?"

"Bisa kalau level mengupingnya cukup tinggi. Walaupun... tidak banyak... orang yang melatih skill ini..."

Kirito menutup pintunya dan berjalan kembali ke kamarnya. Dia duduk di kasur dengan ekspresi merenung di wajahnya. Silica duduk di sebelahnya and membelitkan kedua tangannya ke sekeliling badannya. Dia diliputi oleh rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan.

"Kenapa orang itu menguping...?"

"Kita akan tahu sebentar lagi, mungkin. Aku punya pesan untuk dikirim, bisa kamu menunggu sebentar?"

Kirito tersenyum kecil sebelum dia menutup map kristal itu dan membuka sebuah layar. Dia mulai menggerakkan jari-jarinya di atas sebuah keyboard holografik.

Silica menggelut di kasur Kirito. Sebuah kenangan lama dari dunia nyata kembali padanya. Ayahnya adalah seorang reporter. Dia selalu berada di depan sebuah PC lama, mengetikkan sesuatu dengan ekspresi serius. Silica suka memperhatikan punggung ayahnya saat dia melakukan itu.

Silica tidak merasa takut lagi. Saat dia mengamati wajah Kirito dari belakang, rasanya seakan dia diliputi kehangatan yang telah dilupakannya begitu lama. Sebelum ia mengetahuinya, matanya sudah terpejam dengan sendirinya.


Silica terbangun mendengar bunyi bising yang berdering di telinganya. Itu adalah alarm pagi yang hanya bisa didengar olehnya. Waktu yang diaturnya adalah jam tujuh pagi.

Dia membuka selimutnya lalu duduk. Biasanya ia sulit untuk bangun pagi-pagi, namun hari ini dia bisa membuka matanya dengan perasaan baik. Kepalanya terasa segar, seakan semuanya telah tercuci bersih oleh tidurnya yang lelap.

Setelah meregangkan badannya, Silica baru saja akan turun dari tempat tidur ketika ia membeku.

Ada seseorang yang sedang tidur terlentang; cahaya matahari pagi yang melalui jendela menyinarinya. Persis saat Silica menarik nafas untuk berteriak, disangkanya orang itu seorang penyusup, dia ingat dimana ia jatuh tertidur tadi malam.

---Aku, di kamar Kirito onii-chan...

Segera setelah dia menyadari fakta tersebut, wajahnya memanas seperti telah terkena serangan nafas api. Karena di SAO emosi ditampilkan agak berlebihan, mungkin uap memang benar-benar keluar dari wajahnya saat ini. Tampaknya Kirito membiarkan Silica tidur di kasur sedangkan ia tidur di lantai. Silica mengerang sambil menutupi mukanya karena rasa malu dan sesal.

Setelah berhasil menenangkan dirinya selama beberapa lusin detik, Silica diam-diam turun dari tempat tidur dan berdiri. Kemudian dia berjalan ke arah Kirito dengan langkah kaki tak bersuara lalu menatap wajahnya.

Wajah tidur sang swordsman hitam itu terlihat begitu tidak berdosa hingga Silica tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Silica kira dia beberapa tahun lebih tua darinya karena tatapannya yang tajam. Namun yang mengejutkan, ketika Silica melihatnya seperti sekarang ini, dia tidak tampak seberbeda itu dengannya.

Menyenangkan bagi Silica untuk mengamati wajah tidurnya; tapi ia tidak bisa begini terus, jadi dia dengan lembut menggoyangkan bahunya lalu berkata padanya.

"Kirito onii-chan, sudah pagi~."

Kirito membuka matanya lebar-lebar lalu berkedip beberapa kali begitu dia menatap wajah Silica dengan tatapan kosong selama beberapa saat. Kemudian ekspresinya berubah menjadi malu dengan cepat.

"Ah... Ma-maaf!"

Dia tiba-tiba menundukkan kepalanya.

"Aku ingin membangunkan onii-chan tapi onii-chan tidurnya nyenyak banget... dan aku ga bisa membuka pintu ke kamar onii-chan, jadi..."

Kamar yang disewa pemain diatur oleh sistem agar tidak bisa ditembus, jadi tidak mungkin kalian bisa masuk ke dalamnya kecuali kalian adalah teman pemain tersebut. Silica dengan cepat mengibaskan tangannya dan bilang:

"Enggak, enggak, aku yang harusnya minta maaf! Sudah mengambil tempat tidurnya onii-chan... "

"Enggak, gapapa kok. Kita ga akan nyeri otot bagaimanapun kita tidur disini."

Setelah berdiri, Kirito merenggangkan lehernya, yang membuat bunyi retak-retak, kontradiksi dengan kata-kata yang baru ia ucapkan. Dia kemudian mengangkat tangannya dan merenggangkannya. Dia memandang Silica seakan dia baru saja terpikir sesuatu sebelum membuka mulutnya:

"...Omong-omong, selamat pagi."

"Se-selamat pagi."

Keduanya melihat satu sama lain dan tersenyum.


Hari sudah terang ketika mereka melangkah keluar setelah menyantap makanan sebagai persiapan menjelajahi «Bukit Kenangan» di lantai empatpuluh tujuh. Pemain-pemain yang bersiap memulai harinya dan para pemain yang baru kembali dari petualangan malam mereka mempunyai ekspresi yang kontras.

Setelah mengisi persediaan ramuan mereka di sebuah toko di sebelah penginapan mereka, keduanya berjalan menuju gerbang plaza. Untungnya, mereka berhasil mencapai gerbang teleport tanpa harus bertemu dengan orang-orang yang ingin merekrut Silica ke dalam kelompoknya seperti kemarin. Persis sebelum dia akan mulai berlari ke area teleport yang berwarna biru berkilauan, Silica berhenti.

"Ah... aku ga tahu nama desa di lantai empatpuluh tujuh..."

Dia baru akan memeriksa petanya ketika Kirito menawarkan tangan kanannya.

"Tidak apa-apa. Aku akan mengatur tempatnya."

Silica merasa berterima kasih seraya dia menggenggam tangan Kirito.

"Teleport! Floria!"

Segera setelah Kirito berkata, sebuah cahaya membutakan meliputi mereka berdua.

Setelah cahaya tersebut pudar, diikuti terasanya sebuah perasaan transportasi, warna-warna yang tak terhitung banyaknya meledak di pengelihatan Silica.

"Uwa..."

Tanpa sadar dia bersorak.

Gerbang plaza lantai empatpuluh tujuh dibanjiri oleh bunga-bunga. Dua jalan kecil memotong plaza itu dengan bentuk palang. Disamping itu, sisa tempat yang ada seluruhnya ditempati oleh petak-petak bunga, setiap petak bunga tersebut dikelilingi oleh bata-bata merah dan dipenuhi dengan bunga yang tidak diketahui Silica.

"Indahnya..."

"Lantai ini juga disebut «Taman Bunga», karena bukan hanya desanya tapi juga seluruh lantainya dilimpahi bunga-bunga. Kalau kita punya waktu, kita juga bisa pergi ke «Hutan Bunga Raksasa» di utara..."

"Aku ingin bisa datang ke sana lain waktu."

Silica tersenyum pada Kirito sebelum dia membungkuk di depan sebuah petak bunga. Dia mendekatkan wajahnya ke sebuah bunga kebiru-biruan yang serupa dengan cornflower[22] lalu menghirup aromanya.

Bunga tersebut dibuat dengan detil yang mengejutkan: mulai dari vena-vena bunganya, kelima kelopaknya, benang sarinya yang putih, sampai tangkainya yang hijau.

Tentu saja tidak semua benda di Aincrad, termasuk taman bunga ini, dan seluruh tanaman serta bangunan lain, digambarkan sedetil tadi setiap saat. Kalau mereka membuatnya seperti itu, maka mainframe SAO sekalipun, setinggi apapun performanya, akan kekurangan sumber daya untuk sistemnya.

Untuk menghindari hal tersebut sembari tetap memberikan para pemain lingkungan yang sedetil dan semirip mungkin dengan kenyataan, SAO menggunakan «Sistem Pemfokusan Digital». Sistem itu merupakan sistem yang menampilkan detil yang lebih halus dari sebuah objek hanya saat seorang pemain menunjukkan ketertarikannya dan fokus dengan objek itu.

Setelah Silica mendengar tentang sistem ini, dia menjadi takut kalau ketertarikannya pada suatu benda akan membebani sistem SAO; tetapi dia tidak bisa menahan dirinya sendiri saat ini dan tetap memandangi bunga yang bermacam-macam itu.

Ketika dia akhirnya berhasil menghentikan dirinya berjalan tanpa sadar sambil menikmati aroma harum di sekitarnya, Silica memandang sekelilingnya.

Kebanyakan orang yang berada disini adalah pasangan pria dan wanita. Semuanya saling bercakap-cakap dengan senang, entah sambil berpegangan tangan atau sambil bergandengan lengan. Sepertinya tempat ini sudah menjadi tempat-tempat semacam itu. Silica memandang Kirito, yang sedang melamun disampingnya.

---Apa kita juga kelihatan seperti itu...?

Setelah memikirkan hal ini, Silica berkata dengan keras untuk menutupi fakta kalau mukanya memerah:

"Ayo-ayo kita cepat pergi ke luar!"

"Hah? Ah, iya."

Kirito terpaku berkedap-kedip untuk beberapa detik sebelum dia mengangguk dan mulai berjalan disamping Silica.

Mereka meninggalkan gerbang plaza hanya untuk menemukan bahwa jalan utama desa tersebut pun diselimuti oleh bunga-bunga. Seraya mereka berdua berjalan beriringan, Silica ingat saat dia pertama kali bertemu Kirito. Dia tak percaya baru satu hari terlewati sejak saat itu. Swordsman itu sudah menjadi sosok yang penting di hatinya.

Silica melirik ke arahnya dan bertanya-tanya bagaimana perasaannya, namun Kirito masih diliputi perasaan misterius dan sulit untuk menebak apa yang ada di pikirannya. Silica ragu-ragu untuk beberapa saat sebelum dia mempersiapkan diri dan membuka mulutnya:

"Ermm... Kirito onii-chan. Boleh aku bertanya tentang adik perempuanmu..."

"Ke-kenapa tiba-tiba?"

"Kirito onii-chan bilang aku mengingatkanmu pada dia. Jadi, aku penasaran saja..."

Membicarakan dunia nyata adalah salah satu hal yang paling tabu di Aincrad. Ada banyak alasan, tapi yang terbesar adalah jika gagasan bahwa 'dunia ini virtual dan karenanya adalah dunia palsu' mengakar di dalam pikiran para pemain, maka mereka tidak akan bisa terima kalau «kematian» di SAO sebagai kenyataan.

Tapi Silica ingin bertanya tentang adik perempuan Kirito, yang kata Kirito mirip dengannya. Dia ingin tahu apakah Kirito menginginkan sesuatu darinya sebagai seorang adik perempuan.

"...Kita...ga sedekat itu kok..."

Kirito mulai bicara.

"Aku pernah bilang dia itu adik perempuanku, tapi sebenarnya dia itu sepupuku. Karena suatu keadaan, dia tumbuh besar bersama dengan keluargaku sejak lahir. Dia ga tahu ini sih. Yah, mungkin karena ini... tapi aku terus menjaga jarak darinya tanpa maksud yang jelas. Aku bahkan menghindari untuk bertemu dengannya di rumah."

Kirito mendesah kecil.

"...Ditambah lagi, kita punya kakek yang keras. Dia memaksaku ikut dojo kendo waktu aku berumur delapan tahun, tapi aku tidak bisa benar-benar berminat melakukannya lalu berhenti setelah dua tahun. Kakekku memukulku lumayan keras... tapi saat dia melakukan itu, adikku mulai menangis dan melindungiku dengan bilang kalau dia bahkan akan melakukan bagianku supaya kakekku berhenti. Setelah itu, aku mulai main komputer dan tenggelam di dalamnya, tapi adikku benar-benar mengabdikan dirinya buat kendo dan bahkan berhasil sampai cukup jauh di kejuaraan nasional sebelum kakekku meninggal. Itu sudah cukup untuk menyenangkan bahkan dia sekalipun... Tapi aku selalu merasa bersalah; aku selalu ingin tahu kalau adikku benar-benar ingin melakukannya dan apa dia benci padaku. Karena itulah aku terus menghindarinya... dan akhirnya kita jadi seperti ini."

Kirito berhenti bicara dan melirik wajah Silica.

"Jadi mungkin aku menyelamatkanmu untuk memuaskan diriku sendiri, untuk menebus masa laluku... Maaf."

Silica masih anak-anak jadi dia tidak bisa mengerti benar semua perkataan Kirito. Namun karena beberapa alasan, dia merasa seakan dia dapat mengerti adik perempuan Kirito itu.

"...Adiknya Onii-chan... dia ga benci Onii-chan. Kalau dia tidak menyukainya, maka dia ga mungkin bisa sebaik itu. Kemungkinan besar dia sangat suka kendo."

Selagi Silica berucap, memilih kata-katanya dengan hati-hati, Kirito tersenyum.

"Kayaknya aku terus yang dihibur... Apa benar seperti itu? ...Baguslah kalau benar seperti itu."

Silica merasa sesuatu yang hangat menjalar di hatinya. Dia senang Kirito telah terbuka padanya.

Keduanya segera tiba di gerbang masuk utara desa itu. Bunga putih yang tak terhitung tumbuh dari tumbuhan merambat yang melilit busur logam langsing berwarna perak. Jalan utama desa melewatinya dan terus merentang hingga menjadi jalan besar yang dikelilingi bukit-bukit hijau sebelum menghilang dalam kabut.

"Yah... petualangan kita akhirnya dimulai."

"Iya."

Silica menjauh dari lengan Kirito, memantapkan ekspresinya, lalu mengangguk.

"Dengan level dan equipment kamu, monster-monster di sekitar sini harusnya tidak terlalu susah untuk dikalahkan. Tapi…”

Seraya berkata, Kirito mengobrak-abrik kantong yang bergantung di ikat pinggangnya, mengeluarkan sebuah kristal berwarna biru langit, dan kemudian meletakkannya di tangan Silica. Benda itu adalah Kristal Teleport.

"Kita ga tahu apa yang akan terjadi di lapangan nanti. Jadi camkan ini dalam pikiranmu. Kalau terjadi sesuatu yang diluar perkiraan dan aku menyuruhmu untuk kabur, maka gunakan kristal itu untuk pergi. Desa manapun ga masalah. Kamu ga usah mengkhawatirkanku."

"Ta-tapi..."

"Janjilah padaku. Aku... pernah menghancurkan satu kelompok. Aku ga mau mengulangi kesalahan yang sama lagi."

Ekspresi Kirito begitu serius hingga Silica tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengangguk. Setelah Kirito menerima jawabannya dia tersenyum lega.

"Kalau begitu, ayo berangkat!"

"Oke!"

Silica memastikan pisaunya sudah melengkapi sisinya lalu memantapkan keyakinan dalam pikirannya; setidaknya dia tidak akan kebingungan seperti kemarin dan dia akan bertarung sebaik-baiknya.

Tetapi---

"Kya-aaaaaa!? Itu apa--!? Itu, itu kelihatan mengerikan-----!!"

Mereka bertemu monster pertama hanya dalam beberapa menit setelah mereka mulai berjalan ke arah utara di medan perburuan lantai empatpuluh tujuh.

"U-uwaa!! Pergi sana----!"

Makhluk yang muncul dan berjalan menembus semak-semak memiliki bentuk yang tak pernah terbayangkan oleh Silica. «Sebuah bunga berjalan» mungkin deskripsi yang paling tepat untuk menggambarkannya. Dengan batang hijau tua yang setebal lengan manusia dan berdiri dengan akar-akarnya yang terbagi di beberapa tempat. Batang atau badannya menopang sebuah bunga kuning besar yang serupa dengan bunga matahari. Mulutnya terbuka, gigi-giginya menyembur keluar, mengungkapkan kilasan-kilasan merah dari dalamnya.

Tanaman itu memiliki dua cabang yang menjalar dari bagian tengah batangnya, yang mengingatkan orang pada lengan yang dimiliki binatang. Tampaknya, tanaman itu menggunakan lengan-lengan tersebut beserta mulutnya untuk menyerang. Tanaman pemakan orang itu berlari menuju Silica dengan tersenyum sambil mengayunkan lengan-lengannya yang mirip tentakel. Makhluk yang terlihat seperti karikatur yang sangat aneh ini membuat Silica merasa jijik.

"Kubilang pergi---!"

Silica mengayunkan pisaunya dengan liar dengan matanya hampir tertutup. Kirito, yang berdiri di sebelahnya, berkata dengan suara bingung:

"Te-tenang saja. Monster itu sangat lemah. Kalau kamu mengincar bagian putih tepat di bawah bunganya, maka kamu dengan mudah bisa..."

"Ta-tapi itu kelihatan mengerikan--!"

"Kalau makhluk itu saja terlihat mengerikan maka perjalanan ini akan susah. Ada juga monster yang punya banyak bunga, ada yang terlihat seperti tumbuhan karnivora, dan bahkan ada yang punya banyak tentakel lengket...

"Kya----!!"

Sambil berteriak saat Kirito berbicara, Silica mengaktifkan sebuah skill pedang; tentu saja, skill itu hanya memotong udara kosong. Selama jeda yang singkat setelahnya, dua tentakel membelit kedua kaki Silica lalu mengangkatnya dengan kekuatan yang mengejutkan.

"Uwah!?"

Sword Art Online Vol 02 - 062.jpg

Silica mendapati dirinya tergantung terbalik beserta penglihatannya sementara roknya, setia dengan gravitasi virtual, merosot ke bawah.

"Uaaa!?"

Dia dengan cepat menahan ujung roknya dan mencoba memotong cabang yang menjalar itu. Namun karena posisinya yang memalukan, upayanya itu tidak begitu berhasil. Silica berteriak dengan wajah merah:

"Ki-Kirito onii-chan, tolong! Jangan lihat saja dan tolong aku!!"

"I-Itu sedikit sulit."

Dengan tangan kirinya menutupi kedua matanya, Kirito menjawab dengan ekspresi tidak nyaman sementara bunga raksasa itu terus mengayunkan Silica kesana kemari.

"Berhenti!"

Silica tidak punya pilihan selain melepaskan roknya, menggenggam cabang menjalar itu, dan memotongnya. Bagian belakang leher bunga tersebut masuk ke dalam jangkauannya begitu dia jatuh lalu dia menggunakan sebuah skill pedang. Kali ini skill itu mengenai sasarannya, dan seraya kepalanya jatuh, seluruh badannya meledak lalu lenyap. Silica, yang mendarat dengan halus diantara hujan debris[23] poligon, langsung bertanya pada Kirito segera setelah dia berbalik.

"...Tadi lihat ya?"

Swordsman hitam itu memandang Silica melalui celah-celah diantara jari-jarinya dan menjawab:

"...Enggak, aku ga lihat."


Mereka membutuhkan lima pertarungan lagi sampai terbiasa dengan monster-monster disini sebelum mempercepat ritme mereka; walau Silica hampir pingsan saat sebuah monster yang mirip anemon laut mencengkramnya dengan tentakel yang lengket.

Kirito tidak berpartisipasi banyak dalam pertarungan dan kebanyakan dia hanya membantu Silica, sekali-sekali menahan serangan saat Silica dalam bahaya. Experience kelompok terbagi sesuai dengan jumlah damage yang diberikan setiap anggota kelompok ke monster. Karena Silica mengalahkan monster-monster berlevel tinggi, dia memperoleh poin experience beberapa kali lebih cepat dari biasanya dan dia pun lekas naik level.

Selagi mereka terus mengikuti jalan batu bata merah yang tak berujung, muncul sebuah jembatan yang melewati sungai kecil. Setelahnya terlihat sebuah bukit besar, dan jalan tersebut tampak menuju ke puncaknya.

"Itulah «Bukit Kenangan»."

"Sepertinya tidak ada persimpangan jalan."

"Iya. Kita cuma harus terus naik, jadi ga perlu khawatir akan tersesat. Tapi katanya ada banyak monster. Kita berhati-hati saja."

"Oke!"

Sebentar, sebentar lagi dia bisa menghidupkan Pina. Begitu Silica memikirkan ini, langkah kakinya refleks makin cepat.

Saat mereka mulai berjalan melalui jalan menanjak yang penuh dengan bunga-bunga yang sedang mekar, mereka dihadang lagi oleh monster-monster seperti yang telah diprediksi. Monster-monster berjenis tumbuhan itu juga jauh lebih besar, tetapi pisau hitam Silica ternyata jauh lebih kuat dari yang ia kira, membuatnya bisa mengalahkan kebanyakan dari mereka hanya dengan sebuah combo.

Tapi kemampuan Kirito bahkan lebih mengejutkan lagi.

Silica telah menduga kalau dia adalah swordsman yang levelnya lumayan tinggi setelah menyaksikannya mengalahkan dua Kera Mabuk dengan sebuah ayunan pedang. Namun setelah naik dua belas lantai sekalipun, dia masih tidak kehilangan ketenangannya sedikitpun. Ketika sejumlah besar monster muncul, dia menolong Silica dengan mengalahkan mereka semua kecuali satu.

Seraya mereka melanjutkan perjalanan, Silica tidak dapat berhenti bertanya-tanya apa yang dilakukan pemain berlevel setinggi itu di lantai tigapuluh lima.

Berdasarkan perkataannya, sepertinya ia punya sesuatu yang harus ia lakukan di «Hutan Pengembaraan». Namun Silica tidak pernah mendengar kalau ada monster atau item langka disitu.

Akan kutanya dia setelah petualangan ini selesai--- pikir Silica selagi dia mengayunkan pisaunya; selagi dia melakukan ini pun, jalan yang sempit itu perlahan-lahan makin curam. Merekapun terus menembus hutan yang lebat itu sambil mengalahkan monster-monster yang makin lama semakin agresif---

Mereka telah sampai di puncak bukit.

"Uwa--!"

Silica menahan diri sambil dia berlari beberapa langkah ke depan dan berseru.

Taman langit--- tempat ini memang benar-benar sesuai dengan namanya. Ruang terbuka yang dikelilingi hutan lebat itu penuh dengan bunga-bunga yang saling berdesakan satu sama lain selagi mereka mekar.

"Akhirnya kita sampai."

Ujar Kirito seraya dia berjalan ke arah Silica dan menyarungkan pedangnya.

"Bunganya... disini...?"

"Iya. Ada batu di tengah-tengah dan diatasnya..."

Silica sudah berlari bahkan sebelum Kirito selesai bicara. Dia memang bisa melihat sebuah batu putih yang bersinar di tengah-tengah petak-petak bunga itu. Dia berlari kesana, mengambil nafas pendek, dan kemudian dengan hati-hati memeriksa bagian atas batu yang setinggi dadanya itu.

"Huh......?"

Tetapi tidak ada apa-apa disana. Hanya ada sedikit rumput di tengah-tengah lekukan batu tersebut; tidak ada sesuatu apapun yang dapat disebut sebagai bunga.

"Bunganya... Bunganya ga ada, Kirito onii-chan!"

Dia berteriak pada Kirito, yang telah berlari ke sisinya. Air mata mulai bermunculan di matanya.

"Ga mungkin... ---Ah, lihat."

Silica mengikuti tatapan Kirito dan memandang lagi batu tersebut. Kemudian---

"Ah..."

Sebuah tunas kecil tumbuh di tengah-tengah rumput yang lembut itu. Begitu Silica melihatnya, sistem fokus menjadi aktif dan tanaman muda itu pun terlihat lebih detil. Dua daun putih terbuka bagai sebuah kerang dan sebuah batang tumbuh darinya dengan cepat.

Batang itu meninggi dalam sekejap, persis seperti yang ia lihat saat pelajaran sains bertahun-tahun lalu, kemudian sebuah kuncup kecil muncul di ujungnya. Kuncup kecil berbentuk tetesan hujan itu memancarkan cahaya berwarna putih mutiara.

Selagi Kirito dan Silica mengamatinya sambil menahan nafas, ujung kuncup tersebut mulai terbuka; kemudian--- dengan bunyi mirip gemerincing lonceng, kuncup itupun terbuka. Sebuah bintik cahaya menari-nari di udara.

Keduanya terpaku mengamati tumbuhnya sebuah bunga putih tanpa bergerak sedikitpun. Tujuh kelopak bunga menggapai keluar seperti sinar bintang, dan dari tengah-tengahnya terpancar kilauan cahaya, bercampur dengan cahaya langit.

Silica memandang Kirito, ia merasa kalau seharusnya ia tidak menyentuh bunga ini. Kirito tersenyum lembut lalu mengangguk.

Silica membalas dengan anggukan dan kemudian menyentuh bunga itu dengan tangan kanannya. Saat ia menyentuhnya, batang yang setipis benang sutra itu hancur seakan seperti terbuat dari es, dan hanya tinggal bunganya yang tertinggal di tangan Silica. Dia kemudian menyentuh bunga itu dengan halus seraya bernafas lembut. Layar namanya muncul tanpa suara. «Bunga Pneuma»---

"Sekarang... kita bisa menghidupkan Pina lagi..."

"Ya. Kamu cuma harus meneteskan tetesan air dalam bunga itu ke hati Pina. Tapi ada banyak monster yang kuat disini, jadi lebih baik melakukannya setelah kita kembali ke desa. Lebih baik kita sabar sedikit dan lekas pulang sekarang.

"Oke!"

Silica mengangguk lalu membuka layar utamanya sebelum menaruh bunganya disana. Dia memastikan bunga itu berada di inventaris item sebelum menutup layar tersebut.

Sesungguhnya, dia ingin menggunakan sebuah kristal teleport untuk langsung kembali ke desa, namun Silica menahan dirinya dan mulai berjalan. Sudah menjadi aturan tidak tertulis untuk tidak pernah menggunakan kristal yang mahal itu kecuali keadaannya benar-benar berbahaya.

Untungnya, mereka tidak berjumpa dengan banyak monster saat perjalanan pulang. Tidak lama kemudian mereka sampai di tepi sungai setelah turun dengan tempo yang cepat.

Sekarang aku bisa bertemu Pina paling lama sejam lagi---

Silica memeluk dadanya, yang terasa seperti mau meledak, dan persis sebelum menyebrangi jembatan---

Tiba-tiba Kirito memegang bahunya. Dia menoleh ke belakang, jantungnya berdetak kencang, dan melihat Kirito membelalak ke arah kumpulan pepohonan yang tebal di seberang jembatan dengan ekspresi yang menakutkan. Kemudian dia membuka mulutnya lalu berkata dengan suara yang rendah dan menegangkan:

"---Kalian yang bersembunyi untuk menyergap kami, keluar sekarang juga."

"Apa...!?"

Silica segera melihat tepi lain sungai tersebut, namun disana tidak ada siapa-siapa. Setelah beberapa detik yang menegangkan, dedaunan mulai bergerak dengan suara gemerisik. Muncul sebuah kursor yang mewakili pemain. Warnanya hijau, jadi dia bukan kriminal.

Anehnya --- orang yang muncul di seberang jembatan pendek itu adalah seseorang yang dikenal Silica.

Rambut merah api, dengan bibir berwarna sama; petarung bertombak itu memegang sebuah tombak berbentuk palang yang ramping dan memakai armor berwarna hitam yang bersinar seperti lapisan email.

"Ro-Rosalia-san...!? Kenapa kamu ada di tempat seperti..."

Rosalia tersenyum miring dan mengabaikan pertanyaan Silica yang matanya terbuka lebar dengan dipenuhi rasa terkejut.

"Ga nyangka ternyata kau bisa tahu persembunyianku; sepertinya skill scanmu lumayan tinggi, swordsman. Apa aku sedikit meremehkanmu?"

Lalu dia berpaling ke arah Silica:

"Sepertinya kamu dengan beruntung berhasil dapetin «Bunga Pneuma». Selamat, Silica."

Silica, yang tidak dapat memahami tujuan Rosalia yang sebenarnya, mundur beberapa langkah ke belakang. Dia merasakan perasaan buruk yang tidak dapat dijelaskan tentang ini.

Rosalia tidak mengkhianati ekspektasinya dan mulai berbicara sedetik kemudian:

"Serahkan bunga itu sekarang juga."

Silica tidak tahu harus berkata apa.

"...!? Apa... kamu bilang apa...?"

Kemudian, Kirito, yang dari tadi diam saja, melangkah maju dan membuka mulutnya:

"Aku ga bisa membiarkanmu melakukan itu, Rosalia-san. Enggak--- harusnya aku memanggilmu pemimpin guild oranye «Titan's Hand»."

Alis Rosalia mengerut naik dan senyum menghilang dari wajahnya.

Dalam SAO, pemain-pemain yang melakukan tindakan yang dianggap kriminal, seperti mencuri, menyakiti pemain lain, atau membunuh mereka, warna kursornya berubah dari hijau menjadi oranye. Karenanya, orang-orang menyebut para kriminal individu sebagai pemain oranye dan guild yang terdiri dari mereka sebagai guild oranye. Silica tahu tentang ini, tetapi dia belum pernah bertemu mereka sebelumnya.

Tetapi kursor HP Rosalia, yang bisa dia lihat tepat di depan matanya, berwarna hijau bagaimanapun cara dia melihatnya. Silica menengadah ke wajah Kirito, yang berdiri disampingnya, dan bertanya dengan suara kering:

"Hei... tapi... lihatlah... barnya Rosalia-san, warnanya hijau..."

"Di guild oranye sekalipun, seringkali tidak semua anggotanya oranye. Anggota-anggota yang hijau mencari mangsa dan bersembunyi diantara kelompok mereka sebelum memancing mereka ke tempat penyergapan. Orang yang semalam menguping pembicaraan kita pasti anggota kelompoknya juga."

"A-apa..."

Silica memandang Rosalia dengan rasa terkejut dan benci.

"Ka---kalau gitu, alasan dia bergabung dengan kelompokku selama dua minggu terakhir adalah..."

Rosalia sekali lagi tersenyum berbisa dan berkata:

"Iya~ Aku mengecek sekuat apa kelompok itu, dan disaat bersamaan menunggu mereka gemuk dengan uang yang mereka dapat dari berpetualang. Sebenarnya, aku akan mengurus mereka hari ini."

Dia menjilat lidahnya sambil tetap menatap Silica.

"Aku sedang keheranan kenapa orang yang paling ingin kuburu tiba-tiba pergi, terus aku dengar kamu ingin dapetin item langka. «Bunga Pneuma» sekarang ini lumayan mahal. Ngumpulin informasi itu ternyata memang penting~"

Kemudian dia berhenti bicara sesaat, memandang Kirito, lalu mengangkat bahunya.

"Tapi swordsman, kau bermain dengan bocah ini walaupun kau tahu itu? Kau ini bodoh ya? Atau kau benar-benar naksir dia?"

Muka Silica memerah dengan amarah mendengar penghinaan Rosalia. Tangannya bergerak untuk mengambil pisaunya. Namun Kirito memegang pundaknya.

"Enggak, bukan hal semacam itu."

Ujar Kirito, suaranya dingin.

"Aku juga sedang mencarimu, Rosalia-san."

"---Apa maksudmu?"

"Kau yang menyerang guild «Silver Flag» sepuluh hari lalu di lantai tigapuluh delapan, kan? Dimana empat aggotanya tewas dan cuma ketuanya yang selamat."

"Ah~, para gelandangan itu?"

Rosalia bahkan tidak bergeming saat dia mengangguk.

"Ketuanya itu... dia mencari seseorang untuk membalaskan dendam timnya di gerbang plaza di garis depan, menangis dari pagi hingga malam."

Rasa dingin yang menakutkan terasa dari ucapan Kirito. Rasanya seperti pedang es yang telah diasah untuk memotong apapun yang mendekat.

"Tapi waktu aku menerima permohonannya, dia tidak memintaku untuk membunuhmu. Ia hanya minta kepadaku untuk menjebloskan kalian semua ke penjara di Kastil Besi Hitam --- bisakah kau mengerti perasaannya?"

"Tidak sama sekali."

Rosalia menjawab seperti dia tidak peduli sama sekali.

"Apa? Kenapa kau serius banget? Kau bodoh ya? Bagaimanapun ga ada bukti kalau orang itu mati di kehidupan nyata kalau kau bunuh mereka disini. Lagipula, ini ga akan jadi perbuatan kriminal saat kita kembali ke dunia nyata. Kita bahkan ga tahu apa kita bisa kembali, tapi disini kau ngomongin keadilan dan aturan; itu bahkan ga lucu. Aku paling benci orang sepertimu --- orang yang bawa-bawa logika aneh saat mereka datang ke dunia ini."

Mata Rosalia makin dipenuhi rasa marah.

"Jadi, kau ingin mengatakan padaku kalau kau menganggap serius ucapan seseorang yang bahkan ga bisa mati dengan benar dan mencari kami? Kau benar-benar ga punya kerjaan ya. Yah, kuakui aku termakan umpanmu. Tapi... apa kau benar-benar berpikir kalau kau bisa berbuat sesuatu hanya dengan dua orang...?"

Sebuah senyum kejam muncul di mukanya lalu Rosalia melambaikan tangannya dua kali di udara.

Pada saat itu juga, pepohonan di sisi lain tepi sungai itu bergoncang kasar, dan sekelompok orang muncul dari baliknya. Kursor-kursor memasuki penglihatan Silica satu demi satu. Kebanyakan oranye. Jumlahnya mereka mencapai sepuluh orang. Kalau saja mereka menyebrangi jembatan itu tanpa sadar bahwa mereka akan disergap, maka mereka sudah terkepung sekarang. Ada seorang hijau lagi diantara para pemain oranye--- gaya rambut jabriknya, tak diragukan lagi, sama dengan yang mereka lihat kemarin malam di penginapan.

Para bandit yang baru muncul semuanya adalah pemain pria yang berpakaian norak. Mereka semua memiliki aksesori berwarna perak dan sub-equipment bergantungan di sekujur tubuhnya.

Silica bersembunyi dibalik mantel Kirito begitu rasa muak semakin meliputinya. Dia berbisik pelan:

"Ki-Kirito onii-chan... musuhnya terlalu banyak. Kita harus lari...!"

"Tenang saja. Siapkan saja kristal kamu sampai kuberi tanda untuk lari."

Kirito menjawab dengan suara kalem, membelai rambut Silica, kemudian berjalan ke sisi lain jembatan tersebut. Silica hanya terdiam dengan kaget. Ini terlalu nekat. Pikir Silica, lalu dia memanggil Kirito:

"Kirito onii-chan...!"

Begitu suaranya terdengar---

"Kirito...?"

Gumam salah satu bandit. Senyumnya memudar dan dia terpana; bola matanya bergerak dari satu sisi ke sisi lain seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.

"Pakaian itu... pedang satu tangan tanpa perisai... «The Black Swordsman»...?"

Wajahnya berubah pucat seraya dia melangkah mundur.

"Ini serius Rosalia-san! Bajingan itu... dia seorang beater dan... clearer...!"

Mendengar kalimat itu, ekspresi seluruh anggota lainnya mengeras kaget. Silica juga terkejut. Dia hanya menatap bahu Kirito, yang tidak bisa dibilang lebar, benar-benar tercengang.

Silica tahu bahwa dia adalah pemain yang berlevel cukup tinggi setelah melihatnya bertarung. Namun dia bahkan tidak pernah bermimpi kalau dia adalah salah seorang «Clearer», grup elit dari para pemain kelas atas yang bertarung di dungeon garis depan, dimana tidak seorangpun pernah menjejakkan kakinya, dan bahkan mengalahkan para bos. Dia pernah dengar bahwa mereka berkonsentrasi sepenuhnya untuk menyelesaikan SAO, dan bahkan sangat sulit untuk bertemu mereka di lantai pertengahan---

Rosalia sekalipun terdiam disana dengan mulut terbuka untuk beberapa detik sebelum dia tersadar dan berteriak:

"Ke-kenapa seorang clearer berkeliaran di sekitar sini!? Dia mungkin cuma menyebut dirinya sendiri begitu untuk menakuti kita! Yang dipakainya hanyalah sebuah cosplay. Dan--- kalau pun dia benar-benar «The Black Swordsman», dia pasti kalah dengan orang sebanyak ini!!"

Sepertinya semangat mereka telah dikembalikan oleh kata-katanya, pengguna kapak raksasa yang berdiri di depan para pemain oranye itu menyahut:

"I-iya! Kalau dia seorang clearer pastinya dia punya banyak item dan uang juga kan!? Ini bener-bener kesempatan besar!"

Semua bandit itu sepakat lalu mengeluarkan senjata mereka. Kepingan-kepingan logam itu mengilatkan cahaya jahat.

"Kirito onii-chan... kita ga mungkin menang, ayo lari!!"

Silica berteriak mati-matian dengan kristal tergenggam erat di tangannya. Seperti yang dikatakan Rosalia, Kirito tidak mungkin menang melawan musuh sebanyak ini sekuat apapun dia. Tapi Kirito tidak bergerak. Ia bahkan tidak mengeluarkan senjatanya.

Sepertinya mereka menganggapnya sebagai bentuk kepasrahan; kesembilan pemain tersebut, tidak termasuk Rosalia dan pemain hijau lain, seluruhnya mengeluarkan senjata mereka dan berpacu satu sama lain untuk menyerang Kirito. Mereka menerjang melewati jembatan kecil itu dan lalu---

"Yiaaa!!"

"Mati kauuu!!"

Mereka mengepung Kirito, yang kepalanya tertunduk, dalam formasi setengah lingkaran sebelum mereka semua menyerangnya dengan senjata masing-masing. Badan Kirito bergetar hebat akibat kekuatan sembilan serangan itu.

"Tidak---!!"

Silica berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Enggak! Berhenti! Kirito onii-chan akan, m...mati!!"

Tapi mereka tidak mendengarkan.

Beberapa dari mereka tertawa gila, sementara yang lain terus mengucapkan sumpah serapah selagi mereka menyerang Kirito bagai dimabukkan oleh rasa kejam. Rosalia, yang berdiri di tengah-tengah jembatan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya selagi dia menatap tragedi tersebut sambil menjilati jarinya.

Silica menyeka air matanya lalu menggenggam gagang pisaunya. Dia tahu kalau dia tidak dapat berbuat apa-apa sekalipun ia ikut bertarung, tapi dia tidak lagi bisa untuk hanya berdiri disitu dan menonton. Kemudian, persis sebelum dia melangkah ke arah Kirito--- dia menyadari sesuatu dan berhenti.

Bar HP Kirito tidak berkurang.

Tidak, sebenarnya bar HP itu hanya berkurang sedikit sekali, meskipun digempur hujan serangan yang tidak berkesudahan. Itupun akan terisi kembali setelah beberapa detik.

Bandit-bandit itu akhirnya sadar kalau swordsman hitam di depan mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan tumbang. Ekspresi bingung muncul di wajah mereka.

"Kalian pada ngapain sih!? Bunuh dia!!"

Mendengar perintah Rosalia, hujan serangan pun berlanjut selama beberapa detik kemudian. Namun situasinya tidak berubah.

"Hei... apa yang terjadi...?"

Salah satu bandit membuat wajah seakan dia telah melihat sesuatu yang benar-benar ganjil sebelum dia berhenti bergerak dan melangkah mundur. Keterkejutannya itu dengan cepat menyebar ke delapan orang lainnya, yang kemudian berhenti menyerang lalu menjauhkan diri mereka dari Kirito.

Tempat itu hening seketika, kemudian di tengahnya, Kirito pelan-pelan mengangkat kepalanya. Sebuah suara pelan terdengar:

"---Sekitar 400 setiap 10 detik? Itu jumlah damage yang kalian bersembilan berikan padaku. Aku level 78, HP ku 14,500… ditambah aku otomatis mendapat 600 poin setiap 10 detik dengan «Battle Healing». Kalian semua tidak akan bisa mengalahkanku walau terus memukulku berjam-jam."

Sword Art Online Vol 02 - 076.jpg

Bandit-bandit itu terdiam di tempat dengan mulut terbuka lebar, seperti terkena syok. Akhirnya, si pengguna dua pedang, yang sepertinya adalah wakil ketua mereka, berkata dengan suara kering.

"Ini... apa benar bisa begini...? Ini bahkan sama sekali ga masuk akal..."

"Iya lah."

Kirito pun mengeluarkan ucapan ini:

"Cuma perbedaan angka saja akan membuat perbedaan kekuatan yang sangat besar; itulah bagian ga masuk akal dari sistem level MMORPG!"

Para bandit itu melangkah mundur, seakan mereka terintimidasi oleh suara Kirito, yang tampak seperti menyembunyikan sesuatu dibaliknya. Wajah-wajah kaget mereka digantikan dengan muka ketakutan.

"Che."

Rosalia menggerutu lalu kemudian mengeluarkan sebuah kristal teleport dari pinggangnya. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi dan membuka mulutnya:

"Teleport---"

Bahkan sebelum dia dapat menyelesaikan kalimatnya, udara tampak bergetar selama sepersekian detik dan kemudian Kirito sudah berdiri tepat di depannya.

"Ack..."

Begitu Rosalia membeku sesaat, Kirito merebut kristal dari tangannya, lalu menggenggam kerahnya dan menariknya kembali ke arah bandit-bandit lainnya.

"Le-lepaskan aku!! Kau ingin melakukan apa brengsek!!"

Kirito melemparnya ke arah sekelompok bandit tersebut, yang sedang berdiri terpana, dan kemudian mulai mengobrak-abrik kantongnya tanpa berkata apa-apa. Kristal yang dikeluarkannya juga berwarna biru. Tapi warnanya jauh lebih tua daripada kristal teleport.

"Orang yang memintaku melakukan ini membeli kristal koridor ini dengan semua uang yang dimilikinya. Katanya dia sudah mengatur Kastil Besi Hitam sebagai tempat keluarnya.. Jadi aku akan menteleport kalian semua ke penjara, terus «The Army» bisa mengurus sisanya dari situ."

Rosalia, yang sedang duduk di bawah, terdiam selama beberapa saat sebelum dia tersenyum seperti itu hanya gertakan.

"—Dan kalau aku bilang aku ga mau?"

"Akan kubunuh kalian semua."

Senyum di wajahnya membeku begitu mendengar jawaban singkat Kirito.

"—adalah yang ingin kukatakan... tapi jika begitu maka aku akan menggunakan ini."

Kirito mengambil sebuah pisau kecil dari dalam mantelnya. Jika diperhatikan dengan seksama, terlihat sebuah cairan hijau yang samar-samar di permukaannya.

"Racun pelumpuh; ini racun level lima, jadi kalian ga akan bisa bergerak untuk sekitar sepuluh menit. Waktu segitu cukup untuk memasukkan kalian semua ke koridor... Jalan sendiri, atau kujebloskan; itu pilihanmu."

Tidak ada yang menggertak sekarang. Setelah melihat mereka semua menundukkan kepalanya tanpa suara, Kirito melepaskan pisaunya, mengangkat kristal biru tua itu tinggi-tinggi, kemudian berteriak.

"Koridor terbukalah!"

Kristal itu pecah berkeping-keping dalam sekejap lalu muncul sebuah pusaran biru cahaya.

"Dasar sial..."

Pengguna kapak yang berpostur tinggi adalah yang pertama berjalan ke koridor dengan bahu tergantung. Sisa pemain-pemain oranye kemudian lenyap di dalam cahaya satu demi satu, beberapa dengan diam, beberapa lagi sambil menyumpah-nyumpah ketika berjalan memasukinya. Setelah pemain hijau yang mengumpulkan informasi mengikuti mereka, yang tersisa hanyalah Rosalia.

Bandit berambut merah itu mencoba bergerak sekalipun tidak bahkan setelah semua kawanannya lenyap ke koridor. Dia duduk dengan kaki bersila dan menatap Kirito seperti mau menantangnya.

"...Yah, coba saja kalau bisa. Kalau kau menyakiti pemain hijau kau akan menjadi pemain oranye..."

Kirito menggenggam kerahnya bahkan sebelum ia selesai bicara.

"Kuberitahu kau: aku ini solo; menjadi oranye untuk sehari dua hari ga berarti apa-apa bagiku."

Kirito berkata dengan dingin sebelum menyeretnya ke koridor. Rosalia melawan dengan memukul-mukulkan lengan dan kakinya.

"Tunggu, kumohon, berhenti! Maafkan aku! Huh?! ...Ah, benar, kau, maukah kau bekerja denganku? Dengan kemampuanmu kita bisa mengalahkan guild manapun..."

Rosalia tidak pernah menyelesaikan perkataannya. Kirito melempar Rosalia ke koridor dengan kepala duluan. Setelah dia menghilang, koridor itu bersinar terang selama sesaat kemudian lenyap.

Semuanya menjadi tenang lagi.

Padang bunga yang penuh dengan suara-suara alami, kicauan burung dan aliran air, menjadi sepi kembali seakan semua yang baru saja terjadi hanyalah sebuah kebohongan. Tapi Silica tidak bisa bergerak. Kekagetannya terhadap identitas asli Kirito, kelegaannya terhadap perginya para bandit, semua emosi ini membanjir secara bersamaan, membuatnya tidak mampu untuk membuka mulutnya sekalipun.

Kirito memiringkan kepalanya dan diam-diam mengamati Silica yang sedang terkesima selama beberapa saat sebelum dia akhirnya mengatakan sesuatu hampir seperti bisikan:

"...Maaf, Silica. Sepertinya aku malah menggunakanmu sebagai umpan. Aku sudah mempertimbangkan untuk memberitahumu sendiri... tapi kupikir kamu akan ketakutan sehingga aku tidak jadi melakukannya."

Silica mati-matian mencoba menggelengkan kepalanya, namun ia tidak bisa; saking banyaknya pikiran-pikiran yang berputar membanjiri kepalanya.

"Aku akan mengantarmu ke desa."

Ujar Kirito lalu dia mulai berjalan. Silica entah bagaimana berhasil memaksa suaranya keluar menuju Kirito.

"Kakiku—kakiku tidak mau bergerak."

Kirito menengok ke belakang dan menawarkan tangan kanannya disertai sebuah senyuman; Silica akhirnya tersenyum begitu ia memegang erat tangan itu.


Keduanya tetap terdiam sampai mereka tiba di Weathercock Tavern di lantai tigapuluh lima. Ada banyak sekali hal yang ingin dikatakan Silica, tapi ia tak mampu mengatakannya, seakan ada batu koral yang tersangkut di kerongkongannya.

Ketika mereka naik ke lantai dua dan memasuki kamar Kirito, cahaya merah matahari terbenam sudah mengalir masuk melalui jendela. Silica akhirnya berhasil berbicara dengan suara gemetar kepada Kirito, yang sudah tampak seperti siluet hitam karena cahaya matahari.

"Kirito onii-chan... kamu mau pergi...?"

Setelah terdiam lama, siluet itu pun mengangguk pelan.

"Iya... aku sudah pergi dari garis depan selama lima hari. Aku harus kembali mulai menyelesaikan game ini lagi secepat mungkin..."

"...Benar juga..."

Sebenarnya, Silica ingin memintanya untuk membawa serta dirinya.

Tapi ia tidak bisa.

Levelnya Kirito 78. Levelnya dia 45. Dengan selisih level 33--- perbedaan yang memisahkan mereka jelas sangat menyakitkan. Jika dia mengikuti Kirito ke garis depan, Silica akan mati dalam sekejap. Walaupun mereka berada dalam game yang sama, dinding yang lebih tinggi dari apapun di kehidupan nyata berdiri diantara dunia mereka yang begitu berbeda.

"...A...Aku..."

Silica menggigit bibirnya dan mati-matian berusaha untuk menahan emosinya yang terancam meluap; dua aliran air mata yang terbentuk sebagai hasil dari perasaannya itu lalu bergulir menuruni pipinya.

Tiba-tiba, dia merasakan tangan Kirito di pundaknya. Sebuah suara pelan yang lembut berbisik tepat disampingnya:

"Level itu cuma angka-angka. Kekuatan di dunia ini tak lebih dari sebuah ilusi. Ada hal-hal yang jauh lebih penting dari itu. Jadi ayo kita bertemu lagi di dunia nyata. Kalau kita bertemu lagi, kita akan bisa berteman lagi."

Sebenarnya, Silica ingin bersandar ke Kirito di depannya. Namun begitu ia merasakan ucapan Kirito menyebarkan kehangatannya dalam hatinya yang sedang hancur, ia menyadari kalau dia tidak boleh berharap lebih darinya. Kemudian dia menutup matanya dan bergumam:

"Oke. Ini—ini janji ya."

Dia memisahkan dirinya dari Kirito, menatap wajahnya, dan akhirnya dia bisa tersenyum dengan sungguh-sungguh. Kirito juga tersenyum lalu berkata:

"Jadi, ayo kita panggil Pina."

"Oke!"

Silica mengangguk lalu melambaikan tangan kanannya untuk memunculkan layar utama. Dia menggulung inventaris itemnya dan mengeluarkan «Pina's Heart».

Dia meletakkan bulu biru langit yang keluar dari layar di meja lalu dia juga mengeluarkan «Bunga Pneuma».

Dengan bunga putih mutiara di tangannya, dia menutup layar itu lalu memandang Kirito.

"Yang harus kamu lakukan hanyalah meneteskan tetesan air yang ada di tengah-tengah bunga itu ke bulu Pina. Setelah kamu melakukan itu Pina akan kembali."

"Oke..."

Sambil memandangi bulu biru langit itu, Silica berbisik dalam pikirannya.

Pina... aku punya banyak sekali cerita untukmu; tentang petualangan menakjubkan yang kualami hari ini... dan tentang orang yang menyelamatkanmu, orang yang menjadi kakakku hanya untuk sehari.

Dengan air mata di matanya, Silica memiringkan bunga di tangan kanannya menuju bulu tersebut.

(Selesai)


Sword Art Online Volume 2 Chapter 2 Kehangatan Hati (Lantai ke-48 Aincrad, Juni 2024)[edit]

Kincir air yang besar itu berputar dengan mantap, memenuhi seluruh toko dengan suara menenangkan.

Walaupun ini hanya rumah kecil untuk digunakan kelas support diantara perumahan khusus pemain, harganya naik seperti pasang karena kincir air itu. Saat aku pertama menemukan rumah ini di distrik utama Lindus di lantai 48, pikiranku tiba-tiba berkata 'ini dia!', tepat sebelum harganya mengejutkanku.

Sejak saat itu, aku mulai bekerja keras membanting tulang, meminjam uang dari berbagai tempat, dan berhasil mengumpulkan tiga juta Coll[20] hanya dalam dua bulan. Kalau ini adalah dunia nyata, tubuhku akan dipenuhi otot dari semua pengalamanku memukulkan palu, dan tangan kananku akan penuh dengan kapalan tebal.

Tapi semua itu terbayar sudah, aku memperoleh sertifikatnya hanya selangkah lebih dulu dari pesaingku dan membuka "Toko Senjata Spesial Lizbeth" di rumah berkincir air ini. Ini terjadi tiga bulan lalu saat musim semi yang sejuk.

Bagian 1[edit]

Setelah meminum kopi pagiku dengan cepat --- untungnya ini Aincrad --- sambil mendengarkan berputarnya kincir air seperti mendengarkan BGM[24], aku memakai seragam blacksmith[25]ku dan melirik pantulanku di cermin besar yang tergantung di dinding.

Meskipun aku menyebutnya seragam blacksmith, sebenarnya pakaianku ini sekedar mirip pun tidak, tapi pakaianku ini sebenarnya lebih mirip seragam pelayan wanita: sebuah atasan merah tua dengan lengan baju yang menggembung dan sebuah rok layang dengan warna yang sama, ditambah sebuah celemek putih bersih diatasnya dan sebuah pita merah di dadaku.

Bukan aku yang memilih pakaian ini; seorang pelanggan setia sekaligus temanku lah yang memilihnya. Menurutnya, 'wajahmu baby face jadi pakaian kaku ga cocok buatmu.'

Nah itulah yang dia bilang, dan aku tuh seperti 'urus urusanmu sendiri!' Tapi penjualan naik dua kali lipat sejak aku mulai memakai seragam ini, jadi aku ga punya pilihan selain terus memakainya.

Nasehatnya tidak berhenti di pakaianku, tapi bahkan sampai juga ke rambutku; sekarang rambutku sudah dirombak menjadi sangat pink dan halus. Tapi berdasarkan respon pelanggan, sepertinya penampilan ini cocok denganku.

Aku, Lisbeth si blacksmith, berumur lima belas saat aku pertama kali masuk ke SAO. Dulu di dunia nyata kudengar aku terlihat lebih muda dari usiaku, tapi di dunia ini aku bahkan terlihat lebih muda lagi. Ketika rambut merah mudaku, mata besarku yang biru, dan bibirku yang mungil dikombinasikan dengan celemek bergaya kuno, pantulanku di cermin terlihat hampir seperti boneka.

Karena di dunia lain aku hanya anak SMP yang tidak peduli dengan mode, jurangnya pun makin melebar. Entah bagaimana aku telah terbiasa dengan penampilanku, namun karena kepribadianku tidak berubah sama mudahnya, aku sudah beberapa kali menakuti pelangganku dengan tingkahku dari waktu ke waktu.

Aku memeriksa apa ada yang terlupa kusiapkan sebelum aku ke bagian depan toko dan membalik tanda 'TUTUP'. Aku memandang beberapa pemain yang telah menunggu bukanya tokoku, lalu memperlihatkan senyum terbaikku dan menyapa mereka.

"Selamat pagi! Silakan!"

Sebenarnya, belum terlalu lama sejak aku bisa melakukan ini secara alami.

Mengelola sebuah toko sudah menjadi mimpiku sejak lama, tapi melakukannya di dalam game ternyata sangat berbeda dengan di dunia nyata. Aku mengalami sendiri bagaimana susahnya penyambutan dan pelayanan ketika aku pertama mulai sebagai pedagang jalanan dengan sebuah penginapan sebagai markasku.

Karena menahan senyum terlalu sulit bagiku, aku memutuskan untuk menang melalui kualitas, dan sepertinya menaikkan level skill[6] weaponsmith[26]ku adalah jawabannya, terbukti dengan banyaknya pelanggan setiaku yang terus menggunakan senjataku bahkan setelah aku membuka toko ini. Setelah selesai menyapa mereka, aku meninggalkan resepsionis ke pegawai NPC[27] ku lalu menyembunyikan diri di ruang kerja yang tersambung ke toko milikku. Ada sekitar sepuluh item[28] yang harus kubuat hari ini.

Segera setelah aku menarik tuas di dinding, kekuatan mekanik dari kincir air mulai digunakan oleh puputan untuk meniupkan udara ke kompor arang, pemoles pun mulai berputar. Aku mengeluarkan sebongkah logam mahal dari inventarisku dan memasukkannya ke kompor arang yang baru mulai memanas. Setelah cukup panas, aku memindahkannya ke landasan tempa menggunakan sepasang penjepit. Aku berlutut dengan satu kaki dan menggenggam paluku, lalu memanggil menu pop-up dan memilih benda yang ingin kubuat. Sekarang yang harus kulakukan hanyalah memukul bongkahan logam itu sebanyak jumlah yang diperlukan dan benda itu pun tertempa. Tidak ada teknik yang diperlukan untuk ini dan kualitas senjata yang dihasilkan pun acak; tapi kupikir hasil akhirnya bergantung dengan sekuat apa konsentrasiku, jadi aku menegangkan semua otot-ototku dan mengangkat palunya pelan-pelan. Kemudian, persis saat aku akan menghantam logam itu---

"Hei, Lis!"

"Ahh!"

Pintu ruang kerjaku terbuka dengan keras dan aku pun meleset; alih-alih membentur logam, aku malah mengenai alas tempaku dengan dentang yang menyedihkan dan percikan-percikan bunga api.

Begitu aku mengangkat kepalaku, pengacau itu sedang menggaruk kepalanya dan tersenyum dengan lidahnya terjulur keluar.

"Maaf~ Lain kali aku akan hati-hati."

"Kira-kira udah berapa kali ya aku dengar kata-kata itu--- ...Yah, seenggaknya ini terjadi sebelum aku mulai."

Aku berdiri sambil menghela nafas panjang dan mengembalikan bongkahan logam itu ke dalam kompor arang sebelum menempatkan kedua tanganku di pinggang dan berbalik. Kemudian aku memandang gadis yang sedikit lebih tinggi dariku.

"...Hei, Asuna."

Sahabatku dan seorang pelanggan setia, si pengguna rapier[29] Asuna, berjalan melintasi ruangan ke arahku lalu duduk di atas sebuah kursi kayu. Lalu dia menekan rambut coklat kemerah-merahannya yang panjang yang melewati bahunya dengan tangannya. Semua pergerakannya seperti bersinar, seakan dia adalah seorang bintang film, dan membuatku terpana meskipun aku sudah lama mengenalnya.

Aku pun duduk di kursi di depan alas tempaku itu dan menyandarkan paluku ke dinding.

"...Jadi, hari ini ada apa? Kamu datang lebih pagi dari biasanya."

"Ah, aku ingin kamu merawat ini."

Asuna mengeluarkan rapiernya, dengan bilahnya masih disarungkan, kemudian melemparnya. Aku menangkapnya dengan satu tangan lalu menariknya keluar. Rapier itu sedikit tumpul karena sudah lama digunakan, namun tidak cukup tumpul untuk menyebabkan masalah memotong pada bilahnya.

"Kondisinya masih lumayan bagus kan? Terlalu awal untuk dirawat."

"Iya kamu benar. Tapi aku ingin ini jadi benar-benar berkilau."

"Hmmm?"

Aku menatap Asuna dengan teliti. Pakaian ksatrianya yang putih bercorak palang merah dan rok mininya tetap sama seperti biasanya, namun sepatunya bersinar seperti baru dan dia bahkan memakai sepasang anting perak.

"Kamu lagi aneh~ Aku baru kepikiran sekarang, hari kan ini hari kerja. Gimana tentang kuota clearing[30] guild[11] kamu? Bukannya kamu bilang kalian lagi kesusahan di lantai enam puluh tiga?"

Mendengar ucapanku, Asuna tersenyum malu:

"Ya--- aku dapet cuti hari ini. Karena nanti aku punya janji dengan seseorang..."

"Ohh~!"

Aku bergeser mendekat ke Asuna sambil tetap duduk di kursiku.

"Kasih tahu aku dong. Kamu mau ketemu siapa?"

"Ra-rahasia!"

Asuna memerah dan menghindari tatapanku. Aku menyilangkan lenganku, menggangguk, lalu berkata:

"Ah~ Kupikir aneh kamu menjadi lebih cerah belakangan ini. Jadi akhirnya kamu dapet pacar."

"Eng-enggak kayak gitu!!"

Pipi Asuna memerah makin tua. Dia terbatuk lalu menanyakanku sebuah pertanyaan sambil sedikit melirik-lirik:

"...Apa aku, bener-bener seberbeda itu sekarang...?"

"Tentu saja~ Waktu aku pertama ketemu kamu, kamu selalu berkonsentrasi menyelesaikan dungeon! Waktu itu kupikir kamu sedikit terlalu kaku, tapi kemudian, mulai musim semi ini, kamu mulai berubah sedikit; seperti beristirahat dari menyelesaikan game waktu hari kerja --- dulu kamu ga akan pernah melakukan itu."

"Be-bener ...mungkin aku memang telah terpengaruh...

"Jadi, siapa dia? Aku kenal ga?"

"Ku... kurasa enggak... kayaknya."

"Lain kali bawa dia kesini."

"Ga kayak gitu! Ini masih, yah... satu arah..."

"Hmm...?"

Kali ini aku benar-benar terkejut. Asuna adalah sub-leader[31] dari guild terkuat, KoB, dan salah satu dari lima cewek tercantik di Aincrad. Laki-laki yang menginginkan perhatian Asuna ada sebanyak bintang di langit, tapi aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau kebalikannya itu ada.

"Begini lho, dia orang yang bener-bener aneh."

Ucap Asuna dengan kedua matanya merenung ke dalam kejauhan. Senyum lembut terlihat di bibirnya. Kalau ini adalah komik percintaan, maka sekarang di latarnya akan ada kelopak-kelopak bunga.

"Menurutku dia ga bisa ditebak, atau dia cuma melakukan semuanya dalam temponya sendiri... tapi walaupun begitu, dia bener-bener kuat."

"Oh, lebih kuat dari kamu?"

"Iya, beneran; kalau kita duel, aku bertahan semenit saja ga akan bisa."

"Ohh~ Aku bisa menghitung orang yang mampu melakukan itu dengan jari."

Segera setelah aku mulai memeriksa daftar clearer di kepalaku, Asuna mulai mengibaskan tangannya.

"Ah, jangan bayangkan dia~!"

"Yah, aku menantikan untuk segera melihatnya. Dan kalau begitu ceritanya, aku akan mengandalkanmu untuk promosi juga!"

"Kamu ga pernah melewatkan kesempatan ya. Akan kukenalkan dia ---ah, oh! Cepet dirawat!"

"Iya, iya. Akan kuselesaikan sekarang juga jadi tunggu sebentar."

Aku berdiri dengan rapier Asuna di tanganku dan berjalan ke pemoles yang berputar di pojok ruangan.

Aku mengeluarkan pedang tipis itu dari sarungnya. Senjata ini dikategorikan sebagai «Rapier» dengan nama unik «Lambent Light». Termasuk salah satu pedang terbaik yang pernah kubuat. Walau aku menggunakan bahan mentah terbaik, palu terbaik, alas tempa terbaik, dan segalanya yang terbaik sekalipun, kualitas senjata yang dihasilkan masih berbeda-beda dikarenakan faktor acak. Karena itulah, aku hanya bisa membuat pedang berkualitas seperti ini setiap sekitar tiga bulan.

Pelan-pelan aku menempelkan pedang itu ke pemoles dengan kedua tanganku. Teknik yang terlibat dalam memoles senjata juga tidak ada, tapi aku tidak berniat untuk mengabaikannya.

Aku meluncurkan pedang itu dari pangkal hingga ujungnya. Bunga-bunga api berlompatan keluar dengan terang, suara metalik terdengar, dan di saat yang bersamaan kilau gemerlapan kembali ke pedang tersebut. Begitu proses pemolesan selesai, rapier itu kembali ke ke penampilan keperak-perakannya, bersinar dengan cahaya matahari pagi.

Aku menyarungkan bilahnya lagi dan melemparkannya ke Asuna. Lalu aku menangkap koin perak 100 coll yang dilemparkannya pada saat yang bersamaan dengan ujung-ujung jariku.

"Makasih!"

"Aku juga akan memintamu memperbaiki armorku nanti... tapi aku kehabisan waktu sekarang jadi daaah!"

Asuna berdiri dan menggantung rapier itu di sisi pinggangnya.

"Aku penasaran dia seperti apa sih~ Mungkin aku harus ikut pergi."

"Ehh, ja-jangan!"

"Hahaha, aku bercanda. Tapi lain kali bawa dia ya."

"Se-segera."

Asuna melambaikan tangannya dan keluar dari ruang kerjaku seakan dia melarikan diri. Aku menghela nafas panjang dan roboh lagi ke kursiku.

"...Pasti enak."

Aku tersenyum dengan sedikit pahit mendengar ucapan yang terlontar dari mulutku.

Satu setengah tahun sudah lewat sejak aku datang ke dunia ini. Karena kepribadianku, aku tidak bersenang-senang dan malah menuangkan segalanya untuk mengembangkan tokoku hingga seperti sekarang ini. Tetapi sekarang aku telah memiliki sebuah toko dan hampir menyempurnakan skill smithku, aku juga mulai merindukan pertemanan lagi, kemungkinan besar karena aku tidak punya tujuan yang jelas lagi.

Karena tidak ada banyak perempuan di Aincrad, lumayan banyak lelaki yang mencoba mendekatiku, tapi karena beberapa alasan aku tidak pernah merasa ingin menanggapinya. Jadi ketika topik ini dibicarakan aku merasa cukup iri pada Asuna.

"Kapan ya aku bakal ngerasain «Pertemuan Bersejarah» juga~"

Aku bergumam, lalu menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh ini dan berdiri. Aku mengambil bongkahan logam yang sekarang sudah merah panas, mengeluarkannya dari kompor arang dan meletakkannya kembali ke alas tempa. Sepertinya dialah yang akan menjadi rekanku untuk sementara waktu ini. Dengan pikiran-pikiran ini bergelayutan di kepalaku, kuangkat paluku dan menghantamkannya. Hiiyaa.

Bunyi berirama logam yang menggaung di ruang kerjaku biasanya membuat pikiranku jernih, tapi hari ini ganjalan-ganjalan di hatiku itu tidak mau pergi.

Siang keesokan harinya dia mengunjungi toko milikku.


Aku menyelesaikan semua pesanan senjata kemarin dan sekarang aku terlelap di kursi batu di depan toko.

Aku bermimpi. Mimpi tentang saat aku masih SD. Dulu aku anak yang rajin dan pendiam, tapi aku punya kebiasaan tertidur saat pelajaran siang pertama. Guru-guru sering mencecarku karena tertidur.

Saat itu aku mengagumi guru lelaki muda ini yang baru saja lulus dari universitas. Aku masih merasa malu ketika ditegur, namun untuk beberapa alasan aku sangat menyukai caranya dia membangunkanku. Dia akan menggoyang-goyangkan bahuku dengan pelan dan bicara dengan suara yang pelan dan halus---

"Erm, maaf tapi..."

"I-iya, maafkan aku!"

"Appaa?!"

Aku berteriak dan melompat seperti pegas. Didepanku berdiri seorang pemain laki-laki dengan ekpresi terkejut terpasang di wajahnya.

"Huh...?"

Aku melihat sekelilingku. Yang terlihat bukanlah ruang kelas yang berisi barisan-barisan meja. Pepohonan yang tertanam di sepanjang jalan, jalur air yang mengiringi jalanan batu yang luas, halaman yang tertutup rerumputan; rumah keduaku, Lindus.

Tampaknya aku tadi melamun untuk pertama kalinya setelah beberapa lama. Aku batuk untuk menyembunyikan rasa maluku dan menyambut orang yang kelihatannya adalah pelanggan.

"Se-selamat datang. Kamu mencari senjata?"

"Erm, iya."

Pemuda itu mengangguk.

Dia tidak terlihat seperti seseorang yang berlevel sangat tinggi. Dia tampak hanya sedikit lebih tua dariku; rambut hitam dengan baju, celana, dan sepatu yang simpel. Satu-satunya persenjataan yang dia miliki hanyalah pedang satu tangan di punggungnya. Senjata-senjata di tokoku memerlukan stats yang tinggi dan aku khawatir apa levelnya dia cukup tinggi, tapi aku tidak memperlihatkan kekhawatiranku dan memandunya ke dalam toko.

"Bagian pedang satu tangan di sebelah sana."

Melihatku menunjuk ke arah bagian senjata-senjata dasar, dia tersenyum sedikit canggung dan berkata.

"Ah, begini, aku ingin memesan yang buatan sendiri..."

Aku makin tambah khawatir. Bahkan senjata pesanan yang termurah pun, yang butuh bahan-bahan khusus untuk menempanya, berharga lebih dari seratus ribu coll. Kalau dia mulai panik mendengar harganya, aku juga jadi malu, jadi kucoba menghindari situasi itu.

"Harga logam sekarang lagi agak tinggi, jadi kupikir harganya akan sedikit mahal..."

Begitu kuberitahu, pemuda berpakaian serba hitam itu mengucapkan hal yang sama sekali tak bisa dipercaya dengan ekpresi cuek.

"Ga usah khawatir terhadap harganya. Tolong tempa saja pedang terbaik yang kamu bisa sekarang."

"..."

Aku terbelalak menatap wajahnya selama beberapa saat kemudian entah bagaimana aku berhasil membuka mulutku.

"...Yaa, walau kamu bilang begitu... aku harus punya gambaran tentang kualitasnya..."

Intonasiku sedikit lebih kasar dari biasanya, tapi nampaknya dia tidak peduli dengan itu dan hanya mengangguk.

"Bener juga. Kalo gitu..."

Dia mengambil pedang di punggungnya, masih disarungkan, dan memberikannya padaku.

"Gimana kalau pedang dengan kualitas sama atau lebih bagus dari yang ini?"

Tidak terlihat seperti senjata yang hebat. Gagangnya dililit oleh bahan kulit berwarna hitam; warna yang sama dengan pangkalnya. Tapi saat aku mengambilnya dengan tangan kananku---

Berat!!

Aku hampir menjatuhkannya. Persyaratan stat kekuatannya luar biasa tinggi. Sebagai seorang blacksmith dan pengguna gada, aku cukup percaya diri dengan kekuatanku. Tapi aku ga akan pernah bisa mengayunkan pedang ini.

Dengan ragu-ragu aku menariknya dari sarungnya dan pedang yang hampir hitam sempurna itu berkilat. Aku tahu pedang ini adalah pedang berkualitas tinggi hanya dengan melihatnya sekilas. Kuklik pedang itu dengan jariku untuk memanggil layar popup: kategori «Pedang-Panjang/Satu Tangan», nama uniknya «Elucidator». Tidak ada nama pembuatnya, berarti pedang ini bukanlah buatan seorang blacksmith.

Kalian bisa memisahkan semua senjata di Aincrad menjadi dua kelompok.

Satu adalah "Buatan pemain", artinya senjata yang dibuat oleh kami, para blacksmith. Yang satunya lagi adalah senjata yang diperoleh dari berpetualang sebagai "Benda yang dijatuhkan monster". Tak perlu dikatakan lagi, para blacksmith tidak begitu suka senjata-senjata yang dijatuhkan itu. Aku bahkan tidak bisa memulai untuk menghitung semua nama seperti 'Tidak bernama' atau 'Tidak bermerek' yang diberikan pada senjata-senjata tersebut.

Tetapi pedang ini tampak seperti benda yang sangat langka diantara benda yang dijatuhkan monster. Jika kalian membandingkan kualitas rata-rata senjata buatan pemain dan senjata yang dijatuhkan monster, yang lebih baik adalah yang pertama. Tapi sekali-sekali, «Pedang Setan» seperti ini muncul — begitulah yang kudengar.

Bagaimanapun, harga diriku sekarang menjadi taruhannya. Sebagai seorang blacksmith, ga mungkin aku akan kalah dengan senjata jatuhan. Aku mengembalikan pedang yang berat itu dan mengambil sebuah pedang panjang yang tergantung di dinding belakang toko. Aku menempa pedang ini sebulan lalu dan inilah pedang terbaik yang bisa kutempa sekarang. Pedang yang kutarik dari sarungnya itu dibubuhi warna kemerah-merahan, seakan-akan diliputi oleh api.

"Ini pedang terbaik di tokoku sekarang. Kemungkinan besar ga akan kalah dengan pedangmu."

Dia mengambil pedang itu tanpa bicara, mengayunkannya dengan satu tangan, kemudian memiringkan kepalanya.

"Sedikit enteng ya."

"...Aku menggunakan logam tipe kecepatan untuk membuatnya..."

"Hmm..."

Ekpresi curiga terlihat di wajahnya dan dia mengayunkan pedang itu beberapa kali lagi sebelum memalingkan tatapannya ke arahku dan bertanya.

"Boleh aku mengetesnya sedikit?"

"Tes apanya...?"

"Ketahanan."

Pemuda itu menarik pedangnya, yang ia pegang di tangan kirinya dari tadi, lalu meletakkannya di atas konter. Kemudian dia berdiri di sampingnya dan perlahan-lahan mengangkat pedang yang kemerah-merahan dengan lengan kanannya.

Menyadari apa yang ingin dia lakukan, aku mencoba menghentikannya.

"Tu-tunggu! Kalau kamu lakukan itu pedangnya akan rusak!"

"Kalau pedang ini rusak semudah itu maka ini tidak berguna. Kalau itu terjadi akan kuurus nanti."

"Itu..."

Itu benar-benar gila, adalah yang ingin kukatakan, tapi kuhentikan diriku. Dia memegang pedangnya di atas kepalanya dan matanya bersinar tajam. Segera, pedang itu mulai bersinar dengan cahaya biru.

"Hyah!"

Dengan sebuah pekikan, dia mengayunkan pedang itu dengan kecepatan luar biasa. Kedua pedang tersebut saling beradu satu sama lain sebelum aku sempat berkedip, dan dentumannya bergema keras di dalam toko. Karena kilatan yang dihasilkannya terlalu terang, aku memicingkan mataku untuk melihatnya, lalu mundur selangkah ke belakang...

Bilahnya terbelah dua dengan rapi dan telah benar-benar hancur.

---Pedang karya terbaikku.

"AHHHHHH!!"

Aku berteriak dan buru-buru menggapai tangan kanannya. Kuambil setengah bagian yang tersisa dan memeriksanya dengan hati-hati dari semua sudut.

...Reparasi... sudah tidak mungkin.

Begitu sampai pada kesimpulan itu bahuku terkulai lemas, setengah yang sisanya lagi berhamburan menjadi pecahan poligon. Setelah beberapa detik yang hening lewat, aku mengangkat kepalaku pelan-pelan.

"Wha...wha..."

Aku menggenggam kerahnya selagi bibirku gemetaran.

"Kamu mau ngapain sekarang---!! Ini rusak---!!"

"Ma-maaf! Aku ga pernah mengira kalau pedang yang kuayun akan patah..."

...Snap.

"Dengan kata lain, kamu ingin mengatakan kalau pedangku lebih lemah dari yang kamu kira!?"

"Errr---ummm--- yaa, iya."

"Ah!! Sekarang kamu langsung jujur gitu aja!?"

Aku lepaskan kerahnya, kuletakkan kedua tanganku di pinggul dan menegakkan dadaku.

"Ku--- kuberitahu kamu! Kalau aku punya bahan yang tepat aku bisa membuat senjata-senjata yang bisa mematahkan pedangmu sebanyak apapun yang aku mau!"

"—Oh?"

Dia tersenyum mendengar ucapan yang kukatakan dalam kondisi marah itu.

"Kalau begitu aku ingin memintamu untuk membuatnya; sesuatu yang bisa mematahkan pedang ini begitu saja."

Dia mengambil pedang di konter dan menyarungkannya. Darah akhirnya menyerbu naik ke kepalaku dan---

"Jadi gitu ya!? Oke! Kalo gitu kamu bantuin juga! Mulai dengan membantuku mendapatkan bahan-bahannya!"

Aku tahu kalau aku baru saja membuat kesalahan, tapi nasi sudah menjadi bubur. Ga mungkin aku mundur sekarang. Tapi dia tidak bergeming sama sekali dan mencermatiku dengan kasar.

"...Begini, aku tidak keberatan, tapi bukannya lebih baik kalau aku pergi sendiri? Akan jadi masalah kalau kamu menyulitkanku."

"Argh--!!"

Ternyata orang yang sehebat ini dalam memanas-manasi orang benar-benar ada. Aku mengibas-ngibaskan tanganku dengan liar dan protes seperti anak kecil.

"Ja-jangan meremehkanku! Begini begini, aku seorang pengguna gada!"

"Whew~"

Pemuda itu bersiul. Sekarang dia cuma asyik sendiri.

"Kalau begitu, aku akan menantikannya. ---Omong-omong, akan kubayar pedang yang kupatahkan."

"Ga usah melakukan itu! Inget aja kalau aku membuat pedang yang lebih bagus dari pedangmu, akan kubuat kamu membayar segunung!"

"Oke, sebanyak apapun yang kamu mau. ---Aku Kirito. Kuharap kita berteman baik sampai pedangnya selesai."

Aku menyilangkan tanganku dan membuang pandangan.

"Kuharap kita berteman baik, Kirito."

"Uwa, kamu langsung memanggil namaku seperti itu? Yah, aku oke oke saja sih. Kuharap kita berteman baik, Lisbeth."

"Kaaah--!!"

---kesan pertama terburuk yang pernah ada untuk membentuk sebuah kelompok.

Bagian 2[edit]

Rumor tentang «Logam Itu» mulai beredar diantara para blacksmith sekitar sepuluh hari yang lalu. Tentu saja, tujuan utama SAO adalah mencapai lantai teratas dan mengalahkan gamenya. Tapi selain itu, terdapat juga berbagai jenis quest[32] lainnya: misi dari para NPC, misi pengawalan, mencari harta karun, dan lain-lain. Tetapi karena hadiahnya biasanya termasuk equipment yang diinginkan, kebanyakan quest tersebut memiliki waktu jeda setelah diselesaikan sebelum tersedia lagi. Bahkan ada juga quest yang hanya bisa diselesaikan sekali saja, alhasil quest itu pun benar-benar menarik perhatian para pemain.

Salah satu dari misi-misi semacam itu ditemukan di dusun kecil di sudut lantai 55. Seorang NPC kepala desa berjanggut putih berkata--- Ada naga putih yang hidup di pegunungan bagian barat, yang menyantap kristal setiap hari sebagai makanannya dan menimbunnya dalam jumlah besar di dalam perutnya hingga menciptakan suatu logam yang langka dan sangat berharga. Jelas ini adalah misi yang hadiahnya berupa bahan material yang menakjubkan, jadi sejumlah besar orang langsung membentuk kelompok penyerangan yang bisa mengalahkan naga tersebut dengan mudahnya. ---Namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Naga itu hanya menjatuhkan sedikit Coll dan beberapa equipment berkualitas rendah, yang bahkan tidak bisa menutupi biaya ramuan penyembuh dan kristal yang digunakan.

Setelah itu, semua orang menduga kalau logam itu hanya berpeluang untuk dijatuhkan, oleh karena itu banyak kelompok berbicara pada tetua tadi dan mengalahkan naga tersebut, tapi masih belum ada orang yang menemukan logam itu. Dalam seminggu, tak terhitung banyaknya jumlah naga putih yang terbunuh, tetapi tidak ada kelompok yang berhasil menemukan logam itu. Seseorang akhirnya mengusulkan bahwa ada kondisi khusus yang harus dipenuhi, jadi sekarang semua orang berusaha keras untuk mencari tahu apa kondisi yang dimaksud.

Setelah mendengarkan penjelasanku, pemuda yang bernama Kirito, yang menghirup teh yang tidak ingin kubuat, yang duduk di kursi ruang kerjaku dengan kakinya disilangkan, menjawab 'ah...' dan mengangguk pelan.

"Aku juga pernah denger tentang ini. Sepertinya memang ada kemungkinan memperoleh material langka. Tapi sejauh ini belum ada orang yang mendapatkannya kan? Apa kita bisa mendapatkan sesuatu kalau kita pergi sekarang?"

"Diantara teori-teori yang beredar, salah satunya mengklaim kalau 'harus ada blacksmith di dalam kelompok', karena tidak banyak blacksmith yang melatih skill bertarung mereka dengan baik."

"Jadi itu sebabnya; kedengarannya bener juga sih--- kalau benar begitu, kita harus segera berangkat."

"......"

Aku menatap wajah Kirito dengan marah.

"Aku heran kamu bisa hidup sampai hari ini dengan akal sehat yang kurang kayak gitu. Ini bukan berburu goblin! Kita harus membentuk kelompok yang bagus dan..."

"Tapi kalau kita melakukan itu, maka nantinya jika material itu jatuh pun, ada kemungkinan kita ga akan mendapatkannya kan? Naga putih itu ada di lantai berapa?"

"...Lantai 55."

"Heh--- Kalau gitu aku sendirian pun bisa; kamu bahkan ga perlu bantuin."

"...Kamu ini kuat banget, apa cuma bodoh banget? Biarlah, aku ga peduli, pemandangan kamu menangis sambil teleport melarikan diri juga kedengaran lumayan menarik."

Kirito hanya tergelak, menghabiskan tehnya tanpa membalas, dan menaruh cangkirnya kembali di atas meja.

"Aku siap berangkat kapan aja; gimana dengan kamu, Lisbeth?"

"Ah--- sudahlah, karena kamu ga akan menambahkan sebutan kehormatan juga, panggil aja aku Lis... gunung naga putih itu ga terlalu besar, jadi kita harusnya bisa kembali hari ini juga. Aku bersiap-siap dulu sebentar ya."

Setelah membuka layar pengaturan-ku, pertama aku memasangkan armor sederhana di atas rok-ku, lalu memastikan kalau gada milikku berada di dalam inventaris dan aku memiliki cukup ramuan dan kristal.

Aku menutup layar itu dan berkata oke, kemudian Kirito kembali berdiri. Untungnya, tidak ada pelanggan yang terlihat selama kita menuju pintu toko dari ruang kerjaku. Aku lekas membalik tanda di pintu.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat keluar; cahaya matahari yang masuk masih terang, jadi masih ada waktu lumayan banyak sebelum hari menjadi gelap. Apakah kita akan mendapatkan logam itu atau tidak--- yang terakhir sepertinya lebih mungkin bagaimanapun aku memikirkannya--- Aku tidak ingin pulang terlalu malam.

Walaupun begitu.

---Bagaimana aku berakhir di situasi aneh ini...

Setelah meninggalkan toko, aku berjalan menuju gerbang plaza sambil merenung.

Aku pastinya punya kesan buruk terhadap lelaki berpakaian serba hitam yang berjalan dengan santainya di sampingku--- seperti yang seharusnya. Bukan saja apapun yang dikatakannya membuatku marah, dia juga seorang megalomaniak yang sombong, dan yang paling penting, dia menghancurkan mahakaryaku.

Tapi tetap saja, aku berjalan beriringan dengan orang yang baru saja kukenal. Kita bahkan membentuk sebuah kelompok dan bersiap untuk memburu monster di lantai lain; ini benar-benar seperti--- seperti ken...

Sampai disini, aku langsung memutus pemikiran itu dengan paksa. Aku belum pernah mengalami hal seperti ini sampai sekarang. Walau aku lumayan dekat dengan beberapa pemain laki-laki, aku selalu membuat alasan untuk menghindar pergi bersama mereka hanya berdua saja. Aku ingin memastikan kalau orang pertama yang berpasangan denganku adalah orang yang benar-benar kusukai, setidaknya begitulah rencanaku.

Tapi ketika aku sadar, aku sudah bersama orang aneh ini... kenapa bisa sampai kayak gini sih!

Sama sekali tidak menyadari kegalauanku, Kirito melihat seorang penjual makanan di dekat gerbang plaza dan buru-buru mendatanginya. Sewaktu ia berbalik, di mulutnya sudah ada sebuah hot dog raksasa.

"Kaamu vau nuga?"

...Pergolakan batinku seketika dipenuhi dengan rasa tak berdaya dan aku merasa seperti orang idiot karena menjadi satu-satunya yang galau. Jadi aku berteriak membalas:

"Iya!"

Rasa renyah hot dog itu--- lebih tepatnya, makanan misterius yang terlihat seperti hot dog--- masih tersisa di mulutku ketika ketika sampai di dusun yang dirumorkan itu di lantai 55.

Kita juga tidak bermasalah dengan monster-monster di sini.

Mempertimbangkan bahwa garis depannya adalah lantai 63 sekarang, monster-monster disini lumayan kuat. Tapi levelku sekitar 65, dan si sombong Kirito itu harusnya sekuat itu juga, jadi kita melalui pertempuran-pertempuran nyaris sama sekali tidak terluka.

Satu-satunya kesalahan adalah tema lantai ini melibatkan padang es dan salju---

"Achoo!"

Aku bersin dengan keras segera setelah kita memasuki desa kecil itu dan rileks. Dikarenakan semua lantai lainnya sedang berada di awal musim panas, aku menjadi lengah. Bukan saja tanah disini dilapisi salju, namun setiap bangunan masih memiliki stalagtit es raksasa bergantung di atapnya.

Dinginnya musim salju yang menusuk tulang ini menyebabkan seluruh badanku menggigil hebat. Kirito, yang berdiri di sampingku, memasang ekspresi menjengkelkan dan berkata:

"...Kamu ga bawa baju lagi?"

"...Enggak."

Kemudian, Kirito yang tampaknya berpakaian tipis itu mengoperasikan layarnya. Terwujudlah sebuah mantel bulu hitam, yang dipakaikannya pada kepalaku.

"...Kamu sendiri gapapa?"

"Ini semua cuma masalah tekad."

Setiap kalimat yang diucapkan orang ini membuatku kesal. Tetapi mantel bulu itu terlihat cukup hangat, jadi aku tidak mampu menolaknya dan memakainya dengan cepat. Aku menghela nafas lega begitu dinginnya terpaan angin itu menghilang seketika.

"Umm... menurut kamu rumahnya tetua itu yang mana?"

Mendengar ucapan Kirito, aku mengamati desa kecil ini, dan menemukan sebuah rumah yang besarnya tidak biasa di seberang plaza utama.

"Rumahnya yang itu kan?"

"Iya."

Kita berdua mengangguk dan mulai berjalan.

---Beberapa menit kemudian.

Sesuai prediksi, kita menemukan NPC tetua berjanggut putih dan sukses mengawali pembicaraan. Ceritanya penuh dengan detil-detil tidak berguna yang dimulai dari masa kanak-kanaknya yang panjang dan membosankan, masuk ke tahun-tahun remajanya, melewati hari-hari kesusahannya saat dewasa, dan kemudian tiba-tiba menyebutkan seekor naga putih di pegunungan di barat. Ketika dia akhirnya selesai, cahaya oranye matahari terbenam sudah telanjur meliputi seluruh desa.

Kita meninggalkan rumah tetua desa itu merasa benar-benar kehabisan tenaga. Salju yang menutupi rumah-rumah ternodai warna oranye ketika matahari terbenam. Benar-benar pemandangan yang indah tiada tara, namun---

"...Aku ga pernah mengira kalau menerima quest aja menghabiskan waktu sebanyak itu..."

"Tidak bisa dipercaya... yah, sekarang gimana? Apa kita nunggu sampai besok aja?"

Aku memalingkan kepalaku dan memandang Kirito.

"Hmmm--- tapi kudengar naga putih itu nokturnal. Apa gunungnya yang itu?"

Memandang arah yang ditunjuk oleh Kirito, aku melihat sebuah puncak putih yang mencakar langit. Walau aku mengatakan seperti itu, batasan struktural Aincrad berarti tingginya tidak mungkin melebihi 100 meter, jadi mendakinya seharusnya tidak sulit.

"Oke, ayo kita pergi. Aku juga ingin cepat-cepat melihat muka nangismu."

"Asal jangan terpukau dengan skill pedangku yang hebat aja."

Kita berdua membuang muka dari satu sama lain dengan sebuah 'hmph'. Tapi entah mengapa, bagaimana ya, meskipun aku berdebat dengan Kirito, hatiku mulai terasa sedikit goyah---

Aku menggelengkan kepalaku dengan paksa demi menghilangkan pikiran-pikiran bodoh ini dan kemudian mulai merintis jalanku melewati salju.

Meskipun kecuraman gunung naga putih itu terlihat berbahaya dari jauh, ternyata sebenarnya sangat mudah didaki.

Sewaktu kupikirkan lagi, banyak tim dadakan yang berhasil melakukan ini tanpa masalah, jadi ga mungkin pendakian ini susah.

Walaupun sudah petang, yang mempengaruhi kekuatan monster yang muncul, monster terkuat yang mungkin muncul sekarang hanyalah tengkorak es bernama «Frost Bone». Apalagi, monster bertipe tulang bukanlah tandingan bagi gada milikku. Aku dengan mudah terus meremukkan mereka dengan suara rekah yang jelas.

Setelah berjalan melalui jalanan berlapis salju selama beberapa lusin menit dan berbelok menuju tebing es yang curam, kita sudah mencapai puncaknya.

Bagian bawah lantai selanjutnya sangatlah dekat. Tiang-tiang raksasa dari pilar-pilar kristal yang rekah menonjol dari lapisan salju yang tebal. Cahaya ungu dari matahari terbenam terbiaskan oleh tiang-tiang ini dan terhambur menjadi spektrum warna-warni pelangi, melukis pemandangan yang hanya bisa digambarkan dalam mimpi-mimpi.

"Waah...!"

Begitu aku bersorak tanpa ditahan dan akan berlari ke sana, Kirito menggenggam kerahku untuk menghentikanku.

"Oi... Kamu ngapain!"

"Hei, siap-siap memakai kristal dulu."

Menghadapi ekspresinya yang sangat serius, aku hanya bisa mengangguk tanpa perlawanan. Aku mewujudkan kristalnya lalu menaruhnya ke dalam kantong celemekku.

"Dan juga, dari sekarang akan mulai berbahaya, jadi sebaiknya aku melanjutkan sendiri saja. Begitu naga putihnya muncul, sembunyi aja dibalik pilar kristal sebelah sana dan jangan sekali-kali keluar."

"...Kenapa? Levelku juga lumayan tinggi! Aku juga mau membantu!"

"Tak Boleh!"

Bola mata Kirito yang hitam menatap langsung kedua mataku. Begitu pandangan kita bertemu, aku mengerti bahwa orang ini benar-benar khawatir terhadap keselamatanku dari lubuk hatinya, jadi aku menghela desahan panjang dan mengalah. Aku tidak berkata apapun dan hanya mengangguk kecil.

Sebuah senyuman menjalar di wajah Kirito selagi dia membelai kepalaku dan berkata "ya sudahlah, ayo pergi." Aku hanya terus mengangguk.

Rasanya seperti atmosfernya tiba-tiba berubah sama sekali.

Setelah berpergian sejauh ini dengan Kirito, apa mungkin perasaanku berubah? Atau aku terbawa suasana--- yang manapun, aku sama sekali tidak merasa kalau ini adalah pertemuan yang mengancam nyawa.

Lebih dari setengah pengalamanku adalah menempa senjata, jadi aku belum pernah memasuki medan tempur yang kejam.

Tapi aku merasa orang ini berbeda. Dia punya tatapan yang hanya dimiliki oleh orang yang bertarung setiap hari di tempat paling berbahaya yang mungkin.

Aku terus berjalan dengan emosi campur aduk sebelum sebentar kemudian kita tiba di bagian tengah puncak.

Dengan cepat kita melihat kesana-kemari, tapi tidak menemukan tanda apapun dari naga putih. Namun, kita melihat sebuah wilayah yang tersegel oleh pilar-pilar kristal---

"Wow..."

Di situ terdapat sebuah mulut gua raksasa yang berdiameter setidaknya sepuluh meter. Cahaya yang terpantul di dinding menjangkau jauh ke dalam lubang, sementara kegelapan yang tak tertembus menutupi wilayah yang lebih dalam lagi.

"Dalem banget..."

Kirito menendang sebuah bongkahan kecil kristal ke dalam lubang itu. Kristal yang jatuh itu berkilau sesaat sebelum sama sekali menghilang tanpa suara.

"Jangan jatuh."

"Ga bakalan!"

Tidak lama setelah aku menjawab, sebuah lengkingan liar yang tajam menembus keluar dari gua itu dan menjalar ke seluruh gunung melalui udara yang ternoda biru oleh matahari terbenam.

"Sembunyi di balik situ!"

Kirito menunjuk ke arah sebuah pilar raksasa terdekat dan berbicara dengan nada memerintah. Aku buru-buru mengikuti instruksinya sambil melambai berlebihan pada bayangan Kirito dan berteriak:

"Hei... serangan naga putih itu adalah sayatan menggunakan kedua cakar, tiupan yang membekukan, dan serangan badai salju... h- hati-hati!"

Setelah dengan cepat menambahkan kalimat terakhir itu, aku melihat Kirito, yang menjaga punggungnya tetap ke arahku, sok keren memberi tanda oke dengan tangan kirinya. Ruang kosong di depannya mulai bergetar, dan sebuah sosok besar meledak keluar dari lubang tersebut.

Berbagai macam poligon-poligon besar berbentuk aneh muncul dalam aliran yang berkelanjutan. Selagi terus bermunculan--- mereka saling bersambungan satu dengan yang lain dan identitas sosok besar itu pun makin jelas. Jeritan yang menggentarkan orang menggaung tak terkendali sekali lagi. Tak terhitung banyaknya pecahan yang terhambur keluar ke semua arah sebelum menghilang ke dalam sinar cahaya.

Seekor naga putih yang ditutupi semacam sisik dari kaca es muncul. Pelan-pelan dia mengepakkan sayapnya yang besar selagi melayang-layang di langit. Situasinya menakutkan--- atau mungkin lebih pantas digambarkan sebagai sangat sangat indah. Dia membelalak dengan matanya yang besar, terwarnai merah delima, memberikan tatapan merendahkan pada kita berdua.

Kirito dengan tenang menggapaikan tangannya menuju punggungnya dan menghunuskan pedang satu-tangannya yang hitam legam dengan nada sempurna. Kemudian, seakan suara itu mengirimkan sebuah sinyal, sang naga putih membuka rahang raksasanya--- dan dengan suara keras, menyemprotkan gas putih yang bergelombang.

"Itu tiupannya! Lari dari situ!"

Meskipun aku berteriak, Kirito tidak bergeming. Dia berdiri tegak sempurna dan melambung ke atas dengan pedang di tangan kanannya.

Ga mungkin senjata setipis itu bisa menangkis sebuah serangan tiupan---

Segera setelah aku memikirkannya, pedang Kirito mulai berputar seperti kincir angin yang berpusat di tangannya. Berdasarkan efeknya yang berwarna hijau muda, pastilah itu sebuah skill pedang. Dalam hanya sedetik, pedang tersebut mencapai kecepatan yang tak terlihat oleh mata manusia dan tampak seperti perisai cahaya.

Tiupan es itu mengalir langsung ke arah perisai cahaya selagi memancarkan cahaya putih yang memusingkan, memaksaku untuk mengalihkan kedua mataku. Tapi, saat menghantam pedang-perisainya Kirito, udara dingin itu terhambur seperti teruapkan.

Aku lekas fokus pada badan Kirito untuk memastikan HP nya.

Mungkin memang mustahil untuk benar-benar menangkis tiupan itu, karena bar nyawanya pelan-pelan terkuras. Tapi yang mengejutkan adalah, luka yang diterimanya sudah pulih hanya dalam beberapa detik. Ini pasti skill bertarung «Battle Healing» yang levelnya sangat tinggi--- tapi untuk menaikkan skill ini, orang tersebut harus menerima luka pertarungan yang sangat banyak. Mempertibangkan lantai yang sekarang, mustahil melakukan itu tanpa membahayakan dirinya.

Kirito--- siapa dia...?

Baru sekarang aku mulai benar-benar penasaran mengenai identitas swordsman hitam ini. Kekuatannya yang tak masuk akal membuatnya terlihat seperti pemain kunci strategis. Tapi namanya tidak termasuk ke dalam daftar pemain guild terkuat yang didominasi KOB.

Saat ini, Kirito, yang telah memprediksi dengan akurat akhir dari serangan es yang gencar ini, mulai bergerak. Dia menerobos kabut bersalju dan meloncat menuju sang naga yang tengah mengambang di udara.

Normalnya, ketika menghadapi musuh yang terbang, seseorang harusnya menyerang pertama kali dengan tombak atau sejenis senjata lempar; hanya setelah senjata jarak jauh tersebut memukul jatuh musuh ke darat dahulu baru para pemakai senjata jarak dekat ikut bertarung. Tapi secara mengejutkan, Kirito terbang ke atas sampai dia hampir menyentuh kepala naga putih itu, dimana dia mulai mengawali kombinasi teknik pedang berturut-turut di udara.

Dengan dentingan tajam, serangan gencar Kirito menghantam torso naga putih pada kecepatan lebih cepat dari yang bisa diikuti mata manusia. Meski naga putih itu membalas dengan kedua cakarnya, perbedaan kemampuan mereka berdua terlalu jauh.

Saat Kirito sudah pelan-pelan mendarat ke tanah, bar HP naga putih itu sudah berkurang lebih dari sepertiganya.

---Ini pembantaian satu arah. Menonton pertarungan luar biasa ini membuat badanku tak henti-hentinya bergidik.

Tiba-tiba naga putih itu menyasar Kirito yang mendarat dan meletuskan tiupan esnya, tapi kali ini dia berlari untuk menghindari serangan itu dan kemudian kembali meloncat ke udara. Dengan suara yang berat dan dalam, sebuah serangan yang kuat menghantam sasarannya, dan HP naga putih itu pun berkurang signifikan.

Bar HP nya langsung berubah dari kuning ke merah, pertarungan itu harusnya berakhir hanya dengan satu atau dua serangan lagi. Aku memutuskan kali ini aku akan memuji kemampuan Kirito dengan jujur dan mengambil langkah maju dari balik pilar kristal.

Saat itu juga, seakan dia punya mata di belakang kepalanya, Kirito tiba-tiba berteriak:

"Bodoh! Jangan keluar dulu!"

"Apa? Jelas-jelas sudah mau selesai kan? Cepet selesaikan aja deh..."

Begitu aku menjawab dengan suara keras---

Naga itu, terbang lebih tinggi lagi dari yang tadi, membentangkan penuh sayapnya. Begitu sayapnya terkepak ke depan, salju yang tepat di bawah naga itu meletup beterbangan.

"......?"

Aku berdiri membeku terkejut oleh adegan di hadapanku. Kirito menancapkan pedangnya ke tanah beberapa meter di depanku dan menggerakkan mulutnya seperti ingin memberitahuku sesuatu, namun sosoknya segera terhalangi oleh salju. Sesaat kemudian sebuah tekanan yang hebat, seperti sebuah dinding angin, menghantam dan dengan mudah meniupku ke udara.

Sial... serangan badai salju!

Saat aku terguling di udara, aku akhirnya ingat apa yang aku sendiri ucapkan mengenai serangan naga putih. Untungnya, skill ini daya serangnya tidak besar, jadi aku hampir tidak mendapat luka apapun. Aku membuka lebar kedua lenganku dan mengambil postur mendarat.

Tapi begitu saljunya menghilang--- tidak ada pijakan di tanah di hadapanku.

Itu lubang raksasa yang ada di puncak gunung. Aku telah tertiup ke udara tepat di atas lubang raksasa ini.

Pikiranku langsung berhenti; seluruh tubuhku benar-benar membeku.

"Kau pasti bercanda..."

Dengan pikiranku yang sama sekali lumpuh, aku hanya bisa menggumamkan kata-kata itu, seraya tangan kananku menggapai udara sia-sia---

---Sebuah tangan yang hanya ditutupi sarung tangan kulit berwarna hitam tiba-tiba menyambar jemariku.

Mataku yang tak fokus tiba-tiba terbelalak.

...!

Kirito, yang tadi menghadapi naga putih itu di tempat yang jauh, berpacu ke sini dengan kecepatan menakutkan dan melompat ke udara tanpa ragu-ragu. Dia menarik tangan kanannya untuk menggenggam tangan kananku lalu menarikku dalam dekapannya. Setelah itu dia melonggarkan lengan kanannya untuk melingkarkannya pada punggungku dan memelukku dengan erat.

"Pegangan yang kuat!"

Mendengar suara Kirito bergaung di samping telingaku, aku lupa diriku sendiri dan memeluk erat badannya dengan kedua lenganku. Kita mulai jatuh sekejap kemudian.

Di tengah mulut gua itu, kita berdua jatuh lurus ke bawah sambil berpelukan satu sama lain. Angin menderu-deru di telinga dan mantel kita berkibar liar.

Kalau lubang ini terus memanjang ke bawah sampai ke permukaan lantai, maka jatuh dari ketinggian ini artinya kematian yang pasti. Pikiran ini tiba-tiba melintas di benakku, tapi aku hanya tidak merasa ini benar-benar terjadi sekarang. Yang bisa kulakukan hanyalah terbengong menatap lingkaran cahaya putih yang menghilang.

Tiba-tiba, lengan kanan Kirito yang memakai pedang mulai bergerak. Dia mengangkat pedang itu dengan paksa dan mengayunnya ke depan. Sebuah kilatan cahaya meletup, ditemani oleh gema keras 'clang' dari logam yang saling berbenturan.

Gaya tolaknya mengubah lintasan jatuh kita, mendorong kita menuju dinding gua. Dinding beku yang biru pelan-pelan mendekat, dan aku tak bisa berbuat apapun selain menggigit gigiku. Kita akan tabrakan---!

Tepat sebelum kita akan membentur dinding, Kirito mengangkat pedang di tangan kanannya sekali lagi dan menusukkannya ke dinding dengan kekuatan penuh. Percikan api meledak keluar seakan senjata itu membentur batu asah. Serangan tiba-tiba itu mengurangi kecepatan jatuh kita, namun tidak mampu untuk benar-benar menghentikan kita jatuh.

Suara lengkingan dari logam yang memotong berlanjut selagi pedang Kirito terus memotong dinding esnya. Aku memutar leherku untuk melihat ke bawah dan sadar bahwa kita sudah bisa melihat dasar gua yang tertutup salju. Aku mengamatinya makin dekat dan dekat, sampai hanya ada sekitar beberapa detik lagi yang tersisa sebelum kita tabrakan. Aku setidaknya ingin menahan diri dari berteriak, jadi aku menggigit bibirku dan memeluk erat Kirito.

Kirito melepaskan pedangnya, menggunakan kedua lengannya untuk memelukku dengan erat, dan memutar badannya supaya dia yang berada di bawah. Lalu---

Sebuah benturan. Suaranya amat keras.

Kepingan-kepingan salju yang terlempar ke udara oleh gaya yang dihasilkan oleh jatuhnya kita mulai mendarat dengan pelan di pipiku sebelum meleleh.

Sensasi dinginnya menarik kembali pikiran-pikiranku yang terpencar. Aku membuka mataku, dan pandanganku bertemu dengan bola mata hitam Kirito yang berbaring sangat dekat sekali dariku.

Kirito masih memelukku dengan erat; dia mengangkat sudut mulutnya dan tersenyum lemah.

"...Masih hidup?"

Aku balas mengangguk dan menjawab:

"Iya, masih hidup."

Selama beberapa lusin detik--- atau mungkin beberapa menit, kita hanya berbaring diam dalam posisi itu. Panas dari tubuh Kirito membuatku bisa tenang dan mengosongkan pikiran.

Setelah beberapa saat, Kirito melepaskan lenganku dan kembali berdiri pelan-pelan. Pertama dia mengambil pedangnya yang jatuh dekat situ dan mengembalikannya ke inventarisnya, setelah itu menarik keluar sebuah botol yang sepertinya adalah ramuan penyembuh kelas atas dari kantong di pinggangnya, dia juga mengambil sebotol lagi untukku.

"Udah, minum aja."

"...Oke."

Aku mengangguk dan duduk untuk menerima ramuan itu sambil memeriksa bar HP ku sendiri. Aku masih punya sekitar sepertiga, tapi Kirito, yang langsung membentur tanah, sudah sampai di zona merah.

Aku menarik sumbatnya dan meneguk cairan manis itu dalam satu tarikan nafas, lalu berpaling pada Kirito. Masih dalam posisi rileks, aku mulai menggerakkan bibir yang kesulitan mengatakan hal baik.

"Ummm... ma-makasih udah menyelamatkanku..."

Kirito memperlihatkan dengan lemah seringainya yang biasa dan menjawab:

"Masih terlalu cepat berterima kasih kepadaku."

Dia melirik langit sesaat.

"...Syukurlah naga putih itu tidak mengejar kita, tapi gimana caranya kita keluar dari sini..."

"Eh... kita ga bisa teleport aja?"

Aku menggapai saku celemekku dan mengambil sebuah kristal biru berkilauan untuk menunjukkan pada Kirito. Tapi---

"Sepertinya itu ga bisa, perangkap ini dibuat khusus untuk pemain, aku ragu kita bisa keluar segampang itu."

"Kenapa bisa begini..."

Kirito mengisyaratkan padaku dengan matanya untuk mencobanya, jadi aku menggenggam kristal itu dengan erat dan memberi perintah:

"Teleport! Lindus!"

---Teriakanku menggema kosong pada dinding yang beku sebelum akhirnya menghilang. Kristal itu hanya terus berkedip dengan bisu.

Kirito meremas pelan bahuku tanpa membuat suara apapun.

"Kalau kupikir kita bisa memakai kristal, pastinya tadi sudah kupakai waktu kita jatuh. Tapi karena tempat ini rasanya adalah zona anti kristal..."

"..."

Kepalaku jatuh dalam keputusasaan; Kirito meletakkan tangannya di kepalaku dengan sebuah 'pat' dan mengusutkan rambutku.

"Udah udah, jangan nangis. Kalau kita ga bisa memakai kristal, pasti ada jalan lain untuk keluar dari sini."

"...Mungkin enggak, mungkin ini adalah lubang tak bisa keluar yang menjamin kematian... atau harus kubilang, kita sudah mati!"

"Hmmm, kamu bener juga."

Menonton Kirito mengangguk setuju sekali lagi membuatku kehilangan semua energi di badanku.

"Si... sikap kamu gimana! Kamu bisa sedikit lebih positif lagi ga sih?"

Setelah aku tiba-tiba berteriak, Kirito tersenyum dan berkata:

"Ekspresi marah itu jauh lebih seperti kamu, pertahankan terus ya!"

"Wha......"

Pipiku bersemi merah dan tubuhku membeku di tempat. Kirito lalu mengangkat tangannya dari kepalaku dan kembali berdiri.

"Yah, ayo kita coba beberapa hal. Ada ide?"

"..."

Aku tersenyum pahit pada Kirito, yang jelas-jelas tidak terpengaruh oleh situasi kita sekarang dan mempertahankan sikapnya yang biasa. Merasa sedikit lebih gembira, aku menampar pipiku dengan kedua tangan lalu berdiri.

Aku mengamati sekelilingku; bagian bawah gua ini adalah permukaan es yang datar dengan sedikit salju. Diameternya harusnya sekitar 10 meter persis seperti mulut gua. Dinding es di dekat puncaknya terus memantulkan cahaya matahari terbenam, namun tempat ini sebentar lagi akan benar-benar ditelan kegelapan.

Aku mengamati sekitarku, tetapi tidak ada jalan keluar yang kelihatan baik di dinding maupun di lantai. Aku menaruh kedua tanganku di pinggang, memeras otakku, dan memberi tahu Kirito ide pertama yang terpikir olehku.

"Mm... bisa kita minta tolong seseorang?"

Kirito menyangkalnya seketika:

"Uh–-- kayaknya tempat ini dianggap sebuah dungeon."

Pemain yang didaftarkan sebagai 'teman', seperti Asuna dalam kasusku, bisa berkomunikasi melalui sejenis pesan disebut 'pesan pribadi'. Tetapi, fungsi tersebut tidak bisa digunakan di dalam dungeon, 'sistem jejak' juga tidak bisa digunakan untuk menemukan mereka.

Aku membuka layar pesan dalam harapan buta, tapi seperti kata Kirito, memang tidak bisa.

"jadi... gimana kalau kita berteriak pada pemain lain yang datang memburu naga itu?"

"Kurasa kita sekitar 80 meter jauhnya dari atas, jadi kuduga suara kita ga akan mencapai sejauh itu."

"Kurasa iya... Tunggu! Sekarang kamu yang ngasih ide!"

Ketika aku mengecam Kirito, kesal karena dia terus menerus menyangkal ide-ideku, dia menjawab dengan sesuatu yang tak masuk akal:

"Lari di dinding."

"......Kamu bodoh ya?"

"Yaaa, ayo kita cari tahu."

Selagi aku menatapnya dengan ekspresi tercengang, Kirito berjalan ke salah satu sisi gua dan mulai berlari menuju dinding di sisi yang berlawanan dengan kecepatan yang tak wajar. Salju beterbangan dari lantai dan badai angin menerpa mukaku.

Persis sebelum dia menabrak dinding, Kirito menundukkan badannya dan melompat ke atas dengan gaya ledakan. Dia menginjak dinding di ketinggian yang tak bisa dipercaya dan kemudian mulai berlari secara diagonal di dinding tersebut.

"Ya tuhan..."

Selagi aku menonton dengan kagum, Kirito sudah jauh di atasku dan berlari ke atas dalam pola spiral di dinding seperti salah satu ninja dari film kelas tiga. Siluetnya semakin kecil dan kecil---

Lalu, ketika dia sepertiga perjalanan ke atas, tiba-tiba dia terpeleset.

"Ahhhhhhhh!!!"

Kirito menggelepar selagi dia jatuh menuju kepalaku.

"Kyaaaaa!!!"

Begitu aku mengelak mundur sambil berteriak, muncul lubang berbentuk manusia tepat di tempat aku berdiri tadi. Semenit kemudian, setelah Kirito menghabiskan ramuan penyembuhnya yang kedua, aku duduk di sampingnya dan mengeluh.

"Aku tahu kamu itu idiot, tapi aku ga pernah kebayang kalau kamu sebodoh ini..."

"Aku bisa berhasil kalau ancang-ancangnya lebih panjang lagi."

"Ga mungkin."

Aku langsung membalas dengan pelan.

Kirito mengabaikan ucapanku dan kembali memasukkan botol ramuan yang kosong ke kantongnya. Setelah merenggangkan lengannya, dia berkata:

"Yah, udah terlalu gelap, jadi kita berkemah di sini aja.

"Untungnya, kupikir ga akan ada monster yang akan muncul di lubang ini."

Matahari sudah terbenam, dan dasar lubang ini sudah menjadi lumayan gelap.

"Sepertinya iya..."

"Kalau begitu..."

Kirito membuka sebuah layar dan mewujudkan beberapa barang. Sebuah lentera, panci, beberapa kantong kecil yang aku tidak tahu gunanya apa, dan dua gelas pun muncul.

"...Kamu selalu bawa-bawa ini?"

"Aku lumayan sering berkemah di luar."

Ujarnya dengan ekspresi begitu serius hingga aku tidak berpikir kalau dia bercanda.

Dia mengklik lenteranya; lentera itu menyala dengan suara fwoosh dan menerangi sekitarnya dengan cahaya oranye yang lembut. Kirito menaruh pancinya di atas lentera itu, kemudian memasukkan beberapa bongkah salju sebelum menuangkan isi kantong kecil tadi. Dia menutup panci itu dengan tutupnya dan meng-dobel klik-nya; sebuah layar timer memasak pun muncul.

Aku segera mencium aroma herbal. Sekarang aku baru sadar, aku belum makan apa-apa selain hotdog tadi pagi. Perutku tiba-tiba menuntut makanan dengan keras seakan baru saja ingat kalau dia kelaparan.

Timer masaknya menghilang dengan suara 'pin pon,' kemudian Kirito membagi isi panci itu ke dalam dua gelas.

"Jangan terlalu berharap, keahlian memasakkku nol."

"Makasih..."

Kehangatannya berpindah ke tanganku melalui gelas yang diserahkan Kirito padaku. Isinya adalah sop sederhana dari daging kering dan bumbu-bumbu dari tumbuhan, namun level bahan-bahannya sepertinya tinggi dan rasanya lebih dari enak. Panasnya juga menyebar ke seluruh tubuhku yang dingin.

"Perasaan ini misterius banget... Aku ga merasa kalau ini nyata."

Aku bergumam sambil meminum sopnya.

"Maksudku situasi ini, berkemah di wilayah yang belum terjamah dan makan bersama orang tak dikenal..."

"Ah, iya juga... itu karena kamu pengrajin. Aku melakukan PuG[33] dengan pemain-pemain lain dan lumayan sering berkemah dengan mereka."

"Hmm, beneran? ...ceritain dong padaku, tentang dungeon-dungeon dan semuanya."

"Huh? Mm...oke. Walau menurutku sih ga menarik... oh tunggu, sebelum aku mulai......"

Kirito mengumpulkan gelas-gelas yang kosong serta panci, lalu mengembalikannya ke dalam inventarisnya. Dia membuka panelnya lagi dan mewujudkan dua benda yang terlihat seperti bongkahan pakaian yang tergulung.

Setelah dia membukanya, terungkap bahwa itu adalah kantong tidur. Penampilannya sama persis dengan yang di dunia nyata, hanya saja lebih besar.

"Ini barang-barang kelas atas. Menjaga panas dengan sempurna, ditambah efek sembunyi dari monster agresif."

Dia melemparkan satu kepadaku sambil tersenyum. Sewaktu aku menghamparkannya di atas salju, ukurannya nampak bisa memuat tiga orang seukuranku. Tercengang oleh ukurannya, aku berkata pada Kirito:

"Kamu hebat juga membawa barang-barang ini kemana-mana, dua lagi......"

"Yaa aku harus memanfaatkan inventarisku untuk sesuatu kan."

Kirito lekas menanggalkan equipmentnya dan berbaring di kantong tidur sebelah kiri. Aku juga menanggalkan mantel dan gadaku, lalu berguling masuk ke dalam kantong tidur. Memang barang kelas atas; di dalamnya sangat hangat, dan jauh lebih lembut dari kelihatannya. Kita terpisah sejauh satu meter dengan lentera diantaranya. Tapi aku masih merasa sedikit... malu, jadi aku berbicara lagi untuk menghilangkan kesunyian:

"Mm... iya, lanjut dengan ceritanya..."

"Oh, tentu..."

Kirito pelan-pelan mulai bercerita setelah dia meletakkan kepalanya di atas tangannya. Dia bercerita waktu dia dijebak oleh MPK--- para kriminal yang dengan sengaja mengumpulkan massa untuk menyergap pemain-pemain lain di dalam dungeon, dan bertarung melawan gerombolan bos dengan damage kecil tapi HPnya ga kira-kira untuk dua hari penuh dengan bergiliran tidur dengan pemain-pemain lain. Ada juga waktu dia melempar dadu dengan seratus pemain lain untuk sebuah item langka. Semua ceritanya menggetarkan, menyenangkan, dan sedikit menggelikan. Cerita-ceritanya juga membuat satu hal menjadi jelas--- dia adalah seorang Clearer, mereka yang mempertaruhkan nyawa di garis depan. Tapi juga berarti orang ini dibebankan dengan nasib ribuan pemain. Dia bukan jenis orang yang harus membahayakan nyawanya hanya untuk menyelamatkanku.

Aku berpaling pada Kirito dan memandang wajahnya. Matanya yang hitam memantulkan cahaya dari lentera.

"Hei... Kirito, boleh aku tanya sesuatu...?"

"---Kenapa tiba-tiba serius?"

"Kenapa kamu menolongku waktu itu...? Ga ada jaminan kamu bakal berhasil. Yah, lebih mungkin kalau kamu cuma akan mati bersamaku, jadi... kenapa......?"

Ekspresi Kirito mengeras untuk sesaat, tetapi dia segera mengendur ke wajahnya yang biasa dan merespon dengan suara tenang:

"...Aku lebih memilih mati bersama mereka daripada menyaksikan orang lain mati tanpa melakukan apa-apa. Apalagi kalau orang itu adalah cewek seperti kamu, Lis."

"...Kamu memang bener-bener idiot. Kamu mungkin cuma satu-satunya orang yang bakal ngomong kayak gitu."

Walau aku membalas dengan ketus, mataku tidak mampu menahan air matanya. Sebagian hatiku sakit, dan aku mencoba sekeras mungkin untuk mengendalikan dan menyembunyikannya. Aku belum pernah mendengar kata-kata sekeras kepala, setulus, dan sehangat itu semenjak aku datang ke dunia ini. Tidak, aku bahkan belum pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya di dunia nyata.

Perasaan tersiksa dari kesendirian dan keinginan untuk lebih berinteraksi dengan orang lain yang telah terkubur dalam di sudut hatiku tiba-tiba berkobar dan menelanku seperti badai. Aku ingin kehangatan Kirito cukup dekat untuk hatiku merasakannya---

Tanpa menyadarinya, kata-kata itu tercurah keluar dari mulutku:

"Maukah kamu... menggenggam tanganku?"

Sword Art Online Vol 02 - 131.jpg

Aku berbalik ke arah Kirito, menarik lengan kananku keluar dari kantong tidur, dan menggapaikannya ke sebelah kiriku.

Mata Kirito sedikit terbelalak, tapi dia menjawab 'iya' dengan suara pelan lalu mengulurkan tangan kirinya. Begitu jemari kita bersentuhan, kita berdua menyentakkan tangan masing-masing untuk menjauh sesaat, tapi kemudian mengulurkannya lagi untuk saling berpegangan tangan.

Aku menggenggam erat tangan Kirito, yang jauh lebih hangat dari sop yang baru saja kumakan. Meski punggung tanganku masih terletak di atas es, aku tidak merasa kedinginan. Aku merasakan kehangatan manusia. Aku merasa aku akhirnya memahami kerinduan apa yang mengendap di sudut hatiku semenjak aku datang ke dunia ini.

Karena aku takut menjadi sadar dengan fakta bahwa dunia ini adalah sebuah ilusi--- bahwa tubuh asliku berada di suatu tempat yang jauh, tidak terjangkau seberapapun kerasnya aku mencoba, aku terus membuat tujuan untuk diriku dan memfokuskan segalanya pada pekerjaanku. Aku meyakinkan diriku kalau menaikkan level skill blacksmithku dan mengembangkan tokoku adalah kenyataanku.

Tetapi sebagian diriku selalu menyadari kalau semua ini palsu, tidak lebih dari sekedar data. Yang kudambakan adalah kehangatan manusia asli.

Tentu saja, badan Kirito juga adalah data. Kehangatan yang kurasakan sekarang hanyalah sinyal-sinyal elektronik untuk direspon otakku. Namun aku akhirnya menyadari bahwa itu tidak masalah. Aku bisa merasakan hatinya--- baik di dunia nyata maupun di dunia buatan ini, inilah satu-satunya kebenaran yang ada.

Begitu aku menggenggam erat tangan Kirito, aku tersenyum dan menutup mataku. Walaupun jantungku berdetak sangat cepat, sayangnya aku cepat tertidur dan kesadaranku terseret ke kegelapan yang nyaman.

Bagian 3[edit]

Wangi manis yang menyegarkan perlahan-lahan singgah di hidungku; Pelan-pelan kubuka mataku dan melihat seluruh dunia diliputi oleh sinar putih. Cahaya fajar, yang sudah terpantul beberapa kali oleh dinding es, membuat salju di dasar gua tampak gemerlapan.

Aku menggeser mataku dan melihat sebuah teko bertengger di atas lentera, dengan uap yang bergoyang di atasnya. Sepertinya wangi ini berasal dari situ. Di depan lentera itu duduk seseorang yang wajahnya hanya bisa kulihat dari samping. Namun begitu aku melihat sosoknya, nampaknya api kecil dalam hatiku telah menyala.

Kirito menolehkan kepalanya, mengungkapkan senyuman kecil, dan berucap:

"Pagi."

"......Pagi."

Jawabku. Selagi aku bersiap untuk bangun, aku sadar bahwa tangan kananku, yang harusnya bergantung keluar saat aku pergi tidur, sudah terletak kembali dengan rapi di dalam kantong tidur. Kubawa kehangatan yang tertinggal di telapak tangan ke bibirku, lalu melonjak seketika.

Kirito membawakanku cangkir panas, yang baru saja menggeliat keluar menuju salju. Setelah mengucapkan terima kasih, kuterima cangkir itu dan duduk di sampingnya. Isinya adalah sejenis teh bunga beraroma mirip mint yang belum pernah kurasa sebelumnya. Pelan-pelan aku meminumnya seteguk demi seteguk. Memperkenankannnya tenggelam dengan lembut ke dalam badanku. Hatiku menghangat gembira.

Aku menggeser badanku, menyandarkannya tepat pada Kirito. Begitu aku memutar kepalaku, mata kita bertemu sekejap sebelum lekas berpisah. Selama sebentar, hanya suara dua orang meminum teh yang terdengar.

"Hei......"

Akhirnya, berbisik dengan suara pelan selagi mataku terus menatap cangkirku.

"Hmmm?"

"......Kalau kita benar-benar gak bisa keluar dari sini, kita mau ngapain?"

"Tidur setiap hari."

"Cepet banget jawabnya. Pikirkan sedikit lebih serius lagi dong!"

Aku tersenyum sambil mendorong lengan Kirito dengan sikuku.

"......Tapi, itu gak buruk juga sih......"

Setelah mengatakannya, aku mulai menyandarkan kepalaku menuju bahu Kirito—

"Ah......!?"

Tiba-tiba Kirito menjerit dan condong ke depan. Aku, kehilangan sandaran, berakhir jatuh ke tanah dengan bunyi gedebur.

"Duuh, tadi itu kenapa!"

Aku mengeluh marah selagi menegakkan kembali batang tubuhku, namun Kirito berdiri bahkan tanpa menoleh kembali. Menyusul kemudian, ia berlari menuju bagian tengah lubang melingkar ini.

Karena curiga, aku juga bangun dan mengikutinya.

"Apaan sih?"

"Oh, tunggu sebentar......"

Kirito berlutut di lantai dan mulai menyingkirkan salju, yang menumpuk di tanah, dengan kedua tangannya. Dia lekas menggali lubang yang dalam selagi bunyi kikisan berkumandang. Lalu-

"Ah!?"

Sorot cahaya keperakan tiba-tiba berkilas ke dalam mataku. Sesuatu yang terkubur jauh di dalam salju memantulkan sinar matahari terbit.

Kirito menggali keluar benda itu, mengambilnya dengan kedua tangan, lalu kembali berdiri. Tak mampu menahan rasa penasaran, aku mengintainya dari jarak yang teramat dekat.

Benda itu persegi empat, putih keperakan, transparan. Cuma sedikit lebih besar dari kedua tangan Kirito. Bentuknya familiar, dengan ukuran yang familiar— sebongkah material logam. Tapi aku belum pernah lihat yang berwarna seperti ini.

Kusentuh pelan material itu dengan jari tangan kananku. Sebuah layar otomatis langsung muncul. Nama benda itu "Bongkahan Crystalite".

"Ini— ini bukannya..."

Saat aku memandang wajah Kirito, dia pun, mengangguk dengan wajah bingung.

"Ya... Ini logam yang kita cari... kenapa ada di sini ya..."

"Tapi, kenapa itu bisa terkubur di sini?"

"Hmm......"

Kirito terus menatap bongkahan yang tergenggam di tangan kanannya seraya berpikir, sebelum melepas keluar ucapan singkat, "Ah..."

"...Naga putih itu memakan kristal...... yang disuling di perutnya menjadi...... Hehe, jadi begitu!"

Tampaknya dia telah memahaminya dan mulai tersenyum, lalu melemparkan bongkahan logam itu ke arahku. Aku buru-buru menangkapnya dengan kedua tangan dan menahannya di dekat dadaku.

"Hei, apaan sih! Jangan cuma berhenti setelah paham sendiri!"

"Gua ini bukan jebakan. Ini sarang sang naga."

"Eh- Eeh?"

"Dengan kata lain, bongkahan itu adalah ekskresi sang naga. Fesesnya."

"Fe..."

Saat pipiku kejang-kejang, aku menjatuhkan pandangan pada bongkahan di dadaku.

"Geeee"

Tanpa berpikir, aku melemparnya kembali pada Kirito.

"Woah"

Yang dipukul mundur oleh Kirito dengan cekatan menggunakan ujung-ujung jarinya. Setelah saling melempar satu sama lain seperti anak kecil, akhirnya kita berhenti dengan Kirito bekerja cepat mengembangkan bidang itemnya untuk menyimpan bongkahan itu.

"Yah, kalau begitu, tujuan kita sudah tercapai. Sekarang, yang tersisa adalah......"

"Kalau saja kita bisa keluar dari sini..."

Kita berdua menghela nafas seraya bertukar pandangan.

"Untuk sementara waktu, gak ada pilihan lagi selain mencoba apapun yang terpikir."

"Kurasa begitu. Aah, coba aku punya sayap seperti naga..."

Saat aku mengatakannya. Sadar akan sesuatu, kubiarkan mulutku termangu, kehilangan kata-kata.

"...Kenapa, Lis?"

Menghadapi Kirito, yang mengamatiku, dengan kepalanya miring ke samping.

"Hei. Kata kamu tempat ini sarang naga kan?"

"Ah. Selama ada fesesnya, itu..."

"Itu gak penting! Naga itu nokturnal, sekarang sudah pagi, bukannya dia akan pulang ke sarangnya..."

"..."

Selama sebentar, pandanganku dan pandangan Kirito bertemu, yang terdiam, kemudian kita berdua menengadah ke langit di pintu masuk lubang. Tepat pada saat itu...

Jauh di atas, tinggi di udara, diantara potongan melingkar cahaya putih, lahirlah bayangan hitam remang-remang. Bayangan itu bahkan bertambah besar selagi kita menatapnya. Hanya butuh sekejap sebelum aku dapat melihat sepasang sayap, ekor yang panjang dan empat kaki bersenjatakan cakar.

"Dia... dia..."

Kita mundur bersama. Sayangnya, tentu saja, tidak ada tempat buat kabur.

"Dia datang———"

Kita berdua menjerit sambil mengeluarkan senjata masing-masing.

Sang naga putih, yang menukik turun ke dalam lubang, menyadari keberadaan kita dan mengeluarkan raungan bernada tinggi, berhenti persis sebelum menghantam tanah. Kedua mata merahnya dengan pupil vertikal dipenuhi rasa bermusuhan yang jelas pada penyusup-penyusup di sarangnya. Akan tetapi, tidak ada tempat bersembunyi di bawah lubang sempit itu. Kusiapkan gadaku seraya menekan rasa gugup.

Sama halnya, Kirito menyiapkan pedang satu tangannya dan maju ke hadapanku, berkata dengan cepat.

"Dengar, tetap di belakangku. Langsung minum ramuan setelah kehilangan HP walau sedikit."

"I- Iya..."

Aku cuma mengangguk patuh kali ini.

Sang naga membuka mulutnya yang besar dan meraung sekali lagi. Kedua sayapnya menciptakan hembusan angin yang menghempaskan salju ke udara.

"Bitan!" "Bitan!" Ekor panjang sang naga menyentak tanah, setiap hentakan menggali parit yang dalam di permukaan bersalju itu.

Mengacungkan pedang di tangan kanannya tanpa jeda, untuk memperoleh inisiatif, Kirito mendadak menghentikan pergerakannya tepat sebelum dia akan menyerbu maju.

"...Ah... Mungkin..."

Ia berujar dengan suara pelan.

"A- Ada apa?"

"Enggak..."

Tanpa menjawab pertanyaanku, Kirito menyimpan pedangnya ke dalam sarung, dan tiba-tiba berbalik lalu merangkulku dengan erat menggunakan lengan kirinya.

"Ehh!?"

Tanpa mengerti apapun, aku panik dan aku diangkat naik setinggi bahu Kirito.

"H- Hei, kamu mau— Wahh!!"

Suara "Zuban!" berbunyi berbarengan dengan hentakannya, dan bersama dengan itu, pemandangan di sekeliling menjadi kabur. Kirito berlari menuju dinding dengan tenaga kasar. Persis sebelum menabrak, ia melakukan lompatan hebat, dan seperti upaya kemarin untuk keluar, ia mulai berlari di permukaan dinding yang cekung. Namun, seakan tidak punya niat untuk naik, orbitnya tetap datar. Kepala sang naga yang penuh nafsu makan berputar dan terus menyasar kita, akan tetapi Kirito terus berlari dengan kecepatan melampaui yang bisa diikuti sang naga.

Beberapa detik kemudian, ketika Kirito akhirnya mendarat di dasar lubang, mataku benar-benar pusing. Akhirnya kubuka mataku setelah mengedipkannya tak terhingga kali, di hadapanku adalah bagian belakang sang naga. Ia telah kehilangan kita dan mengayunkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan gelisah.

Baru saja kupikir Kirito berencana untuk menyerang dari belakang, ia secara mengejutkan diam-diam mendekati sang naga— Dengan tangan kanannya terulur, dia menggenggam paksa ujung ekor sang naga yang berayun-ayun.

Di saat itu, sang naga mengeluarkan pekikan bernada tinggi. Jeritan kaget— atau mungkin itu cuma khayalanku saja. Merasa makin tidak mampu memahami maksud Kirito, aku juga baru akan berteriak.

Tiba-tiba sekali, sang naga putih membentangkan kedua sayapnya dan mulai naik dengan tajam dengan kecepatan yang menakutkan.

"Oof!"

Angin menerpa wajahku. Tanpa waktu untuk memikirkan tentang itu sekalipun, tubuh kita melayang di udara dengan gaya seperti ditembakkan panah. Selagi kita berpegangan pada ekor sang naga, ia bergoncang ke kiri dan ke kanan sambil berlari mendaki lubang. Bagian bawah lubang yang melingkar itu sangat cepat terpisah jauh.

"Lis! Pegangan!!"

Merespon suara Kirito, kupegang erat kepalanya tanpa sadar. Cahaya matahari menyinari bubungan es di sekitar yang menjadi semakin cerah terus menerus dengan puncak suara angin yang menusuk berubah dengan rumit— Saat itu kukira dunia meledak dalam cahaya putih, kita terbang keluar dari lubang.

Saat kubuka mataku yang berkedap-kedip, pemandangan dari atas lantai 55 yang luas menyebar di bawahku.

Tepat di bawah adalah gunung salju berbentuk kerucut yang cantik. Sedikit lebih jauh, sebuah desa kecil. Di balik padang salju yang sangat luas dan hutan tebal, atap tirus dari setiap rumah di distrik utama tergabung bersama. Adegan dimana ini semua berkilauan, diwarnai cerahnya cahaya mentari, bahkan membuatku lupa dengan kengeriannya, tanpa sadar aku bersorak.

"Waa..."

"Yea—!!"

Kirito juga berteriak keras, dan melepaskan tangan kanannya dari ekor sang naga. Dia membawaku seperti anak-anak dan mempercayakan dirinya pada inersia, menari di udara.

Penerbangan itu cuma beberapa detik, tapi terasa seperti sepuluh kalinya. Aku yakin aku tersenyum. Luapan angin dan cahaya menyapu bersih hatiku. Emosiku terhaluskan.

"Kirito— Kamu tahu, aku!!"

Aku berteriak dengan sepenuh hati.

"Apa!?"

"Aku, aku suka kamu!!"

"Apa!? Aku gak dengar!!"

"Bukan apa-apa!!"

Berpegang erat ke kepalanya, tawaku meledak. Pada akhirnya, momen yang rasanya hampir seperti keajaiban ini berakhir, kita mendekat ke tanah. Berputar untuk satu ronde terakhir, Kirito melebarkan kedua kakinya dan mengambil sikap mendarat.

Saljunya berbunyi, "Bafun!", saat terbang ke udara. Terbang layang yang panjang. Kita meneruskan perjalanan menembus kristal putih bagai penggerus salju selagi melambat, kita akhirnya berhenti di dekat puncak gunung.

"...Fuu."

Kirito menghirup nafas dan meletakkanku ke tanah. Dengan ragu, aku memalingkan kepala dan melepaskan lenganku darinya.

Kita berdua memandang ke arah lubang besar itu bersama; sang naga yang sepertinya kehilangan jejak kita pelan-pelan berputar-putar di langit.

Kirito menempatkan tangannya di pedang yang ada di punggungnya, sedikit menarik bilahnya, namun segera mengembalikannya ke sarungnya dengan bunyi cling. Dengan senyum lembut di wajahnya, ia menghadap sang naga dan berkata lembut.

"...Kamu pasti kesusahan karena mereka yang datang memburumu sampai sekarang. Begitu cara mendapatkan itemnya tersebar, orang-orang yang datang untuk membunuhmu juga harusnya hilang. Jadi mulai sekarang, hiduplah dengan tenang."

—Menghadapi seekor monster, yang hanya bergerak sesuai algoritma yang diatur sistem, dan melakukan hal semacam itu; adalah hal yang kuanggap bodoh sampai kemarin. Namun karena beberapa alasan, entah kenapa sekarang aku merasa aku bisa menyambut lembut ucapan Kirito ke dalam hatiku. Menggapai dengan tangan kananku, dengan lembut kugenggam tangan kiri Kirito.

Kita berdua tanpa suara mengamati adegan ini saat sang naga putih menolehkan kepalanya, sebelum mengeluarkan pekik panjang yang jelas dan turun ke sarangnya. Hening.

Sebelum lama, Kirito melirikku, dan bicara.

"Kalo gitu, ayo pulang?"

"Kurasa iya."

"Mau pakai kristal?"

"...Enggak, jalan aja yuk."

Aku menjawab seraya tersenyum dan melangkah maju memegang tangan Kirito. Lalu aku menyadari sesuatu dan memandang wajahnya.

"Ah...Lentera dan kantong tidur dan sebagainya, kita tinggalin ya."

"Kamu baru bilang sekarang... Yah, gapapa sih. Mungkin ada orang yang mau pakai."

Kita bertukar pandang dan tertawa, kali ini dengan yakin, kita mulai berjalan pelan melalui jalan setapak gunung, mengikuti jalan pulang. Kulihat sekilas lingkungan di sekitarku, langitnya jernih, tanpa satu pun awan di langit.

"Aku pulang!"

Aku membuka pintu rumah tersayangku dengan penuh semangat.

"Selamat datang."

Meski si NPC wanita penjaga toko yang berdiri di konter hanya membalas salamku dengan sopan, kulambaikan tanganku dan berbalik, memandang sekeliling tokoku. Aku pergi cuma sekedar sehari, namun anehnya, tokoku terlihat segar.

Kirito, yang telah membeli makanan take-out[34] dari kios yang sama dengan kemarin memasuki toko di belakangku, dengan hot dog di mulutnya.

"Bagaimanapun sekarang hampir siang, jadi kamu harusnya makan di kios itu saja."

Selagi aku mengutarakan protes, Kirito menyeringai seraya menggerakkan tangan kirinya, memunculkan sebuah layar.

"Sebelum itu, ayo kita buat dulu, pedangnya."

Memanipulasi inventarisnya dengan cekatan, ia mewujudkan bongkahan perak. Menangkapnya dengan hati-hati— mengabaikan asalnya untuk sementara— aku mengangguk.

"Benar, ayo lakukan. Sini ke ruang kerjaku."

Membuka pintu di belakang konter, bunyi berdebam kincir air menjadi terdengar jelas lebih keras. Menarik turun tuas di dinding, puputan mulai bergerak, mengirim udara masuk. Tungku perapian langsung mulai menyala merah terang.

Dengan lembut kujatuhkan bongkahan itu ke tungku, dan berbalik ke arah Kirito.

"Pedang satu tangan yang lurus aja kan?"

"Yep. Aku mengandalkanmu."

Kirito mengangguk sambil ia duduk di bangku bundar yang diperuntukkan bagi pengunjung.

"Dimengerti. —Cuma peringatan, tapi hasil akhirnya dipengaruhi oleh faktor acak, jadi jangan berharap terlalu banyak ya."

"Kita tinggal pergi lagi kalau ini gagal. Kali ini dengan tali."

"...Ya, tali yang panjang."

Mengingat jatuh yang hebat itu, tanpa kusadari aku tersenyum. Menjatuhkan pandanganku ke tungku, aku sadar kalau bongkahannya telah cukup terbakar. Kukeluarkan ia dengan penjepit, lalu kuletakkan di alas tempa.

Aku mengambil palu smith terbaikku dari dinding, melakukan pengaturan di menu, dan sekali lagi melirik wajah Kirito. Menjawab anggukan tanpa suaranya, aku tersenyum, dan dengan gagah mengangkat palu ke atas kepalaku.

Kutempa semangatku saat aku memukul logam yang bersinar kirmizi[35]; bersamaan dengan bunyi "Kan!" yang jelas, kilatan api yang terang melimpah berhamburan di sana sini.

Di dalam seksi smith di Bantuan Referensi, mengenai proses pembuatan, "Sesuai dengan jenis senjata yang dibuat, dan tingkat logam yang digunakan, bongkahan perlu dihantam sebanyak jumlah tertentu." adalah semua yang tertulis untuk mendeskripsikannya.

Dengan kata lain, selama menghantam logam dengan palu, kemampuan pemain tidak berpengaruh; beginilah seharusnya cara membacanya, tetapi ada berbagai macam jenis rumor dan teori-teori gaib yang beredar tentang SAO, bahwa presisi dari ritme hantaman dan semangat bertarung sang blacksmith bisa mempengaruhi hasilnya, pendapat ini sudah melekat erat di benak masyarakat.

Aku menganggap diriku orang yang rasional, tapi aku cuma yakin dengan teori ini karena pengalamanku yang panjang. Oleh karena itu, aku menghilangkan semua pikiran lain selagi memproduksi senjata, mengkonsentrasikan kesadaranku di tangan kanan yang memukulkan palu, menghantam tanpa henti dengan pikiran kosong— itulah yang kupercaya.

Tetapi.

Sewaktu memukul bongkahan itu, menghasilkan bunyi gemerincing yang menyegarkan, berbagai pikiran berputar di kepalaku sekarang, tak bisa keluar.

Kalau pedang ini sukses dibuat, dan permintaannya selesai— Kirito tentu akan kembali menyelesaikan game di garis depan, dan seharusnya tak akan ada banyak kesempatan untuk bertemu. Meski dia datang untuk perawatan pedangnya, paling bagus sepuluh hari sekali.

Yang seperti itu— Aku tidak mau yang seperti itu. Aku merasa ada suara yang berteriak dalam diriku.

Selagi lapar akan kehangatan orang lain— enggak, itulah mengapa, itulah alasannya mengapa aku bimbang untuk memperpendek jarak dengan pemain pria manapun sampai sekarang. Aku takut musim salju kesepian di dalamku berubah drastis dengan cinta. Hal itu bukanlah cinta sejati, hanya angan-angan yang tercipta oleh dunia ilusi; tadinya aku berpikir begitu.

Tapi tadi malam, saat merasakan kehangatan dari tangan Kirito, aku sadar, perasaan ragu itu adalah duri ilusi yang telah membelengguku. Aku adalah aku— si blacksmith, Lisbeth, dan di saat bersamaan, Shinozaki Rika. Kirito juga sama. Bukan karakter dari game, tapi manusia sungguhan yang hidup. Karenanya, cintaku untuknya; perasaan ini juga nyata.

Jika aku berhasil menempa pedang yang memuaskan, aku akan menyatakan perasaanku kepadanya. Bahwa aku ingin dia berada di sisiku, bahwa aku ingin dia kembali ke rumah ini dari labirin, setiap hari, itulah yang akan kukatakan padanya.

Di saat bongkahannya ditempa, kilauannya bersinar sangat terang, perasaan di dalam diriku juga, tampaknya sudah menegaskan diri. Aku merasa perasaanku mengalir keluar dari tangan kananku, mengucur pada senjata yang lahir dari paluku itu.

—Dan akhirnya, saat itu pun datang.

Aku tak tahu berapa banyak hantaman sejauh ini— mungkin berada diantara dua ratus sampai dua ratus lima puluh kali— segera menyusul bunyi palu, bongkahannya melepaskan curahan cahaya putih yang jelas menyilaukan.

Objek persegi panjang itu berubah bentuk sedikit demi sedikit selagi bersinar. Bagian depan dan belakangnya mulai membesar, lalu kemudian, tonjolan yang menyerupai pangkal pedang menggelembung keluar.

"Ohh..."

Melepaskan bisikan kagum dengan nada rendah, Kirito beranjak dari kursi, dan mendekat. Begitu kita menonton berhadapan, penciptaan objek itu selesai dalam hitungan detik, akhirnya menyingkapkan bentuknya sebagai pedang satu tangan panjang.

Cantik; pedang yang benar-benar cantik. Sebagai pedang satu tangan panjang, ia terlihat indah. Bilahnya pucat, dan ramping, walau tidak seramping rapier. Seakan mewarisi sifat bongkahannya, ia bisa terlihat sedikit bening. Bilahnya berwarna putih menyilaukan. Gagangnya perak, dengan sedikit bubuhan warna biru.

«Dunia Dimana Pedang Melambangkan Pemainnya»; bagai mendukung slogan itu, variasi senjata yang terpasang di SAO terlalu banyak. Jika seseorang menulis nama khas senjata-senjata di setiap kategori dari awal, katanya panjangnya akan mencapai ribuan baris.

Berbeda dengan RPG biasa, keanekaragaman nama senjata makin bervariasi semakin tinggi tingkat senjatanya. Senjata kelas rendah, misalnya, untuk pedang panjang satu tangan, «Bronze Sword», «Steel Sword»; untuk yang bernama pasaran semacam itu, tak terhitung banyaknya jumlah pedang seperti itu yang ada di dunia ini, tapi bagi senjata-senjata tingkat tertinggi seperti yang ada di sini sekarang; ambillah misalkan «Lambent Light» Asuna, kemungkinan besar hanya ada satu di dunia, objek tunggal-untuk-jenisnya secara harfiah.

Tentu saja, rapier dengan tingkat kekuatan yang sama, baik buatan pemain atau drop dari monster, mungkin memang ada. Tetapi setiap dari mereka memiliki penampilan yang berbeda. Dan dengan itu, senjata level tinggi punya daya tarik tertentu, menjadi sesuatu seperti rekan tempatmu berbagi jiwa.

Karena nama senjata dan penampilannya diputuskan oleh sistem, bahkan kami, sang pembuatnya tidak begitu mengerti. Kuangkat pedang yang gemerlapan di atas alas tempa itu— atau setidaknya, aku mencoba mengangkatnya; aku kaget dengan beratnya, yang tidak sesuai dengan penampilan luarnya yang elegan. Persyaratan kekuatan fisiknya tidak kalah dengan pedang hitam milik, «Elucidator». Menegangkan punggungku, kuangkat pedang itu setinggi dada sambil menjerit.

Menyentuh dengan jari tangan kananku menopang dasar bilah pedang, aku mengkliknya sekali. Aku melihat layar pop-up yang bangkit ke permukaannya.

"Yah, sepertinya namanya «Dark Repulser». Aku baru pertama kali mendengarnya, jadi aku tidak percaya ini disebutkan di daftar informasi toko sekarang. —Nih, coba aja."

"Aah."

Kirito mengangguk dan menjangkaukan tangan kanannya, ia mencengkram gagang pedang ini. Dia mengangkatnya seakan tak terpengaruh dengan beratnya. Melambaikan tangan kirinya untuk memunculkan menu utama, ia manipulasi sosok equipmentnya, menyasar sang pedang putih. Dengan ini, pedang itu akan terpasang pada Kirito dalam sistem, memperkenankan potensi numeriknya untuk dipastikan.

Namun Kirito langsung menutup layarnya, dan setelah mundur beberapa langkah, ia menukarnya ke tangan kiri, mengayunkannya berulang kali dengan bunyi kibasan.

"—Gimana?"

Tanpa menunggu aku bertanya. Kirito diam menatap bilah pedangnya sejenak, namun— segera, dia tersenyum lebar.

"Berat juga ya. ...Pedang yang bagus."

"Beneran!? ...Yesss!!"

Aku melakukan pose kejayaan dengan tangan kananku tanpa pikir. Dengan tangan itu terulur, kuadukan ia dengan kepalan tangan kanan Kirito.

Sudah lama sejak aku merasa seperti ini.

Dulu sekali— saat aku berjualan dari kios di jalan utama lantai sepuluh, aku merasa seperti ini ketika senjata yang kubuat asal-asalan dipuji pelanggan. Aku senang aku menjadi seorang blacksmith, itulah perasaanku sejujurnya, dari dasar hatiku di detik itu. Saat aku terus mengasah kemampuanku dan pindah untuk berbisnis hanya dengan pemain berlevel tinggi, aku sudah melupakan perasaan ini sebelum aku menyadarinya.

"...Masalah dengan hatiku, hah... semuanya..."

Menanggapi ucapanku yang keluar sambil lalu, Kirito memiringkan kepalanya dengan muka penasaran.

"Eng- Enggak, bukan apa-apa. -Ngomong-ngomong, minum di suatu tempat yuk. Aku laper."

Meninggikan suara untuk menyembunyikan rasa maluku, kudorong punggung Kirito dari belakangnya. Aku bermaksud untuk keluar dari ruang kerja dengan sikap begitu, tapi— sebuah pertanyaan mendadak menghampiriku.

"...Hei."

"Hm?"

Kirito menoleh ke belakang. Yang tergantung di bahunya; pedang satu tangan yang hitam.

"Ngomong-ngomong— Di awal, kamu pernah bilang, pedang yang setara dengan yang ini, iya kan. Pedang putih itu pastinya pedang yang bagus, tapi menurutku gak beda jauh dengan pedang drop monster itu. Kenapa kamu perlu dua pedang yang serupa satu sama lain?"

"Aah..."

Kirito berbalik, menatapku dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia ragu-ragu akan sesuatu.

"Yah, aku gak bisa menjelaskan semuanya. Kalau kamu gak akan bertanya lebih jauh dari itu, aku bisa ngasih tahu."

"Apaan tuh, sok keren."

"Minggir sedikit."

Setelah aku melangkah mundur ke dinding ruang kerja, dengan pedang putih masih tergantung, Kirito menarik pedang hitam, dari punggungnya dengan bunyi bernada tinggi, menggunakan tangan kanannya.

"...?"

Aku tak bisa memahami tujuannya. Setelah tadi memanipulasi sosok equipmentnya, dengan sistem sekarang, status equipmentnya seharusnya hanya pedang di tangan kirinya; menggenggam senjata lain di tangan kanannya semestinya tidak berguna sama sekali. Sebaliknya, dengan sesuatu yang terhitung sebagai status equipment yang aneh seperti itu, mengaktifkan skill pedang tidak dimungkinkan.

Melirik sekilas wajahku yang kebingungan, Kirito dengan tenang memasang kuda-kuda dengan pedang kiri dan kanannya. Pedang kanan di depan, pedang kiri di belakang. Merendahkan pinggulnya sedikit, dan dengan itu, tepat di detik berikutnya.

Sword Art Online Vol 02 - 152.jpg

Efek kilasan kirmizi meledak, mewarnai ruang kerja dengan warnanya.

Pedang di tangan Kirito saling bergantian, menyerang sisi depannya dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata. "Kyubabababa!", bunyi ini menimulkan tekanan di udara, dan meski tidak menyasar apapun, objek di dalam ruangan bergoyang.

Jelas itu teknik pedang yang diatur oleh sistem. Tapi— aku gak pernah dengar ada skill yang memakai dua pedang!

Di depanku, berdiri diam selagi aku menarik nafas, Kirito mengangkat badannya, usai menyelesaikan teknik serangan berturutan yang mungkin mencapai sepuluh serangan berantai.

Menyimpan kedua pedang— mengembalikan hanya pedang di tangan kanan ke punggungnya, dia memandang wajahku dan bicara.

"Dan jadi, begitulah. —aku perlu sarung buat pedang ini. Boleh aku milih satu?"

"Ah... I-Iya."

Entah sudah berapa kali aku dibuat tercengang oleh Kirito. Walau aku harusnya sudah terbiasa sekarang, untuk sementara, aku memutuskan untuk menahan pertanyaanku, menggapaikan tanganku ke dinding, menampilkan menu utama.

Menggulung layar penyimpanan, aku mengamati ringkasan dari stok sarung pedang yang kukumpulkan dari pengrajin yang dekat denganku. Memilih satu yang agak mirip dengan yang dipakai Kirito di punggungnya, terbuat dari kulit berwarna hitam, aku mewujudkannya. Setelah kupasangkan logo kecil tokoku, aku menyerahkannya pada Kirito. Kirito yang telah menyimpan pedang putih ke sarungnya dengan bunyi singkat, membuka sebuah layar dan menyimpannya. Kupikir dia akan memasang keduanya di punggung, tapi tampaknya tidak seperti itu.

"...Jadi ini rahasia? Yang tadi itu."

"Nn, yaa, iya. Jangan bilang siapa-siapa ya."

"Oke."

Informasi skill adalah garis hidup terpenting seseorang, jadi kalau dia menyuruhku untuk tidak bertanya, aku tak akan menanyakannya. Disamping itu, aku senang dia bahkan membolehkanku mengintip rahasianya, dan mengangguk dengan senyuman kecil.

"...Kalau begitu."

Kirito meletakkan tangannya di pinggul dan ekspresinya berubah.

"Ini menjadi akhir dari permohonanku. Aku akan membayar pedang ini. Berapa harganya?"

"Aah, tentang itu..."

Aku menggigit bibir sejenak— kuverbalkan jawaban yang selalu bergolak di dalamku.

"Aku gak butuh, pembayaran apapun."

"...Eeh?"

"Sebagai balasannya, Aku ingin Kirito membuatku jadi smith ekslusifmu."

Mata Kirito menunjukkan sedikit tanda terkejut.

"...Maksudmu, apa...?"

"Kapanpun kamu selesai clearing, datanglah ke sini, dan biarkan aku merawat equipmentmu... —Setiap hari, dari sekarang, terus menerus."

Detak jantungku meninggi tanpa batas. Baik perasaan ini dari badan virtualku, atau mungkin dari jantungku sebenarnya, yang juga berdebar dengan cara yang sama— aku penasaran tentang itu di sudut pikiranku. Kedua pipiku terbakar. Setiap bagian wajahku pasti telah benar-benar berwarna merah sekarang.

Bahkan Kirito, yang selalu menjaga poker face[36]-nya, sepertinya sudah sadar makna dibalik ucapanku, menundukkan kepalanya karena malu. Aku selalu mengira kalau dia lebih tua, tapi setelah melihatnya dalam kondisi begitu, kelihatannya dia dari generasi yang sama, atau bahkan mungkin lebih muda dariku.

Kukumpulkan keberanianku dan maju selangkah ke depan, merangkul lengannya.

"Kirito... aku..."

Aku meneriakkan kata-kata itu begitu keras saat kita kabur dari sarang naga, tapi saat membicarakannya sekarang, lidahku menolak bergerak. Aku terus menatap bola mata hitam Kirito, berharap kata itu keluar entah bagaimana— Saat itulah.

Pintu ruang kerjaku dibuka dengan paksa. Aku refleks melepaskan tangan Kirito, dan terloncat.

"Lis, aku khawatir banget!!"

Orang itu, yang menyerbu masuk seketika, memelukku dengan kekuatan yang sama dengan suatu hantaman badan selagi berteriak dengan suara besar. Rambut panjang berwarna kastanye itu menari lembut di udara.

"Ah, Asuna..."

Asuna lanjut berbicara tanpa jeda, menatap wajahku dari dekat, terkunci dalam ekspresi tercengang, setiap saat.

"Pesan-pesan tidak bisa sampai ke kamu; posisimu di peta bahkan tidak bisa dilacak; ditambah lagi pelanggan-pelanggan setiamu tidak ada yang tahu apa-apa, jadi kemana kamu pergi kemarin malam! Aku sampai pergi ke Kastil Besi Hitam untuk mengeceknya, tahu!"

"Ma- Maaf. Aku terjebak di labirin sebentar..."

"Dungeon!? Lis, kamu pergi sendiri!?"

"Nah, bersama orang itu..."

Aku menunjuk ke arah diagonal di belakang Asuna dengan lirikanku. Asuna berputar ke belakang, dan usai menyadari swordsman berpakaian hitam yang berdiri di situ, terlihat bosan, ia membeku dengan mata dan mulutnya terbuka kosong. Mengikutinya, dengan suara satu oktaf lebih tinggi—

"Ki- Kirito-kun!?"

"Eeh!?"

Kali ini, aku yang terkejut. Aku memandang Kirito, yang sedang berdiri tegak, seperti Asuna.

Dia terbatuk kecil, lalu bicara seraya mengangkat tangan kanannya.

"Yah, Asuna, lama tidak berjumpa... tidak juga sih, sebenarnya. Cuma beberapa hari."

"I-Iya. ...Mengejutkan ya. Jadi begitu, kamu langsung datang ke sini. Padahal kalau kamu memberitahu aku, aku bisa menemanimu."

Asuna menyembunyikan telapak tangannya di belakang, dan tergelak malu, mengetuk lantai berulang-ulang dengan tumit sepatunya. Kulihat pipinya itu dibubuhi bayangan berwarna merah muda bunga sakura.

Aku mengerti keseluruhan situasinya.

Bukan kebetulan Kirito datang ke toko ini. Menepati janjinya kepadaku, Asuna merekomendasikan tempat ini... pada seseorang di hatinya.

—Aku harus bagaimana... aku harus bagaimana.

Yang meliuk berputar-putar di pikiranku, hanyalah kalimat itu. Aku merasa panas dari seluruh tubuhku pelan-pelan mengalir keluar dari ujung kaki. Aku tak punya kekuatan. Aku tak mampu bernafas. Emosiku bertingkah, tanpa ada cara untuk melepaskannya...

Berbalik menghadap aku yang sedang kaku, Asuna berkata dengan santai.

"Orang ini, apa dia mengatakan hal yang kasar pada Lis? Dia mungkin meminta satu dua hal yang aneh, kan?"

Dan dengan itu, dia sedikit memiringkan kepalanya ke samping.

"Eh... Tapi artinya, kamu bersama Kirito-kun tadi malam?"

"Y... Yaaa..."

Seketika itu juga aku maju selangkah, menggenggam tangan kanan Asuna, dan membuka pintu ruang kerjaku. Kulihat Kirito sejenak, dan lekas bicara sambil mencoba untuk tidak memandang wajahnya.

"Tolong tunggu sebentar. Kita akan segera kembali, jadi..."

Kutarik tangan Asuna seperti itu, keluar lewat konter. Menutup pintunya, kami pergi keluar toko melalui celah diantara display windows.

"Tunggu, tunggu, Lis, ada masalah apa?"

Meski mendengar suara Asuna bertanya, tanpa suara aku mengarah ke jalan utama, terus berjalan dengan tempo cepat.

Aku cuma, tidak kuat lagi untuk berdiri di hadapan Kirito. Jika aku tidak kabur, sepertinya aku akan sadar bahwa aku kehilangan jalan.

Bagai sudah menyadari kondisiku yang aneh, Asuna mengikuti tanpa bicara. Dengan lembut kulepaskan tangan gadis itu.

Kami memasuki jalan kecil yang menghadap timur, berjalan sebentar, lalu menemukan sebuah kafe kaki lima yang terlihat seperti tersembunyi oleh dinding batu yang tinggi. Tidak ada pelanggan sama sekali. Kupilih meja di pinggir, dan duduk di kursi berwarna putih.

Asuna mengamati wajahku sambil ia duduk di sisi yang berlawanan, tak memberikan kesan apapun dari pikirannya.

"...Kenapa, Lis...?"

Aku menegang untuk mengumpulkan sedikit tenaga yang kubisa, senyuman besar di wajahku. Senyum yang sama seperti biasanya, senyum yang sama dengan saat kita berbagi gosip dengan ceria.

"...Yaaa, itu orangnya, kan..."

Menyilangkan lenganku, aku bersandar maju untuk memandang wajah Asuna.

"E- Eeh?"

"Orang yang disukai Asuna!"

"Ah..."

Asuna menjatuhkan pandangannya, bahunya terlihat menciut. Ia mengangguk dengan pipinya bersemu.

"...Iya."

Jleb; seraya mengabaikan rasa sakit tajam yang menusukkan diri ke dadaku, kutampilkan senyuman lebar lagi.

"Yah, tentunya dia orang yang aneh; sangat."

"...Apa Kirito-kun melakukan sesuatu...?"

Kukumpulkan seluruh kekuatanku dan membalas dengan anggukan, pada Asuna yang tampak khawatir.

"Dia cuma datang tiba-tiba dan menghancurkan pedang terbaik di tokoku kok."

"Wah... Ma- Maaf..."

"Ini bukan sesuatu yang Asuna harus minta maaf kok."

Melihat Asuna yang menyilangkan tangan seakan dia sendiri yang melakukannya, sesuatu yang jauh di dalam hatiku berdebar lebih jauh lagi.

Sedikit lagi... Tinggal sedikit lagi, terus berjuang, Lisbeth.

Berbisik pada diriku sendiri dalam hati, entah bagaimana aku berhasil mempertahankan senyumanku.

"Nah, jadinya, untuk membuat jenis pedang yang diminta orang itu, ternyata dibutuhkan logam yang langka, jadi kita pergi ke lantai atas untuk mendapatkannya. Selagi melakukan itu, kita terjebak dalam sebuah perangkap kecil gitu; kita kesusahan keluar dari perangkap itu, makanya aku tidak pulang."

"Jadi begitu... Harusnya kamu panggil aku saja, ah, pesan tidak bisa dikirim juga, hah..."

"Harusnya aku mengajak Asuna juga, maaf ya."

"Tidak, guildku ada aktivitas clearing kemarin, jadi... jadi, kamu tempa pedangnya?"

"Ah, iya. Duh, aku tidak akan mau melakukan pekerjaan menyusahkan seperti ini lagi."

"Kamu benar-benar harus menagih dia harga yang sangat mahal untuk itu."

Kita mulai tertawa bersamaan.

Kusimpan senyuman kecil di mukaku, menyebutkan satu komentar terakhir.

"Yah, dia aneh, tapi pastinya bukan orang jahat. Aku akan mendukungmu, jadi lakukan yang terbaik ya, Asuna."

Itu batasku. Akhir ucapanku gemetar.

"I- Iya, makasih..."

Saat Asuna mengangguk, dia mencondongkan kepalanya ke samping dan memandang wajahku. Sebelum dia bisa melihat apa yang tersembunyi di bawah kelopak mataku, aku mendadak berdiri, dan berkata.

"Ah, oh iya! Aku, aku ada janji untuk membeli sejumlah stok. Aku mau pergi sebentar!"

"Eh, di toko... Kirito-kun gimana?"

"Temani dia, Asuna! Aku mengandalkanmu!"

Aku berpaling, dan mulai berlari. Kulihat Asuna, di belakangku, dan buru-buru melambaikan tanganku padanya. Tidak mungkin aku bisa berbalik.

Setelah aku berlari menuju plaza gerbang, ke tempat dimana aku tidak bisa melihat kafe terbuka itu, kuambil belokan pertama, membelok ke salatan. Aku bertahan di ujung kota, menyasar wilayah tanpa pemain, berlari tanpa jeda untuk satu tujuan.

Saat penglihatanku kabur, aku menyekanya dengan tangan kananku. Menyekanya lagi dan lagi selagi berlari.

Saat kusadari, aku sudah mencapai dinding kastil yang mengelilingi kota. Sebelum rentangan dinding yang melengkung lembut itu, pohon-pohon besar ditanam dengan jarak teratur satu sama lain. Aku memasuki bayangan salah satunya, berdiri diam dengan tanganku di batangnya.

"Uguu... Uu..."

Suaraku merembes dari tenggorokan, tanpa upaya apapun untuk meredamnya. Air mata yang telah kutahan mati-matian mengalir keluar satu demi satu, lenyap setelah mereka mengucur menuruni pipiku.

Ini kedua kalinya aku menangis sejak datang ke dunia ini. Sejak waktu aku panik dan menangis di hari pertama aku masuk, aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak akan pernah menangis lagi. Kupikir aku tidak butuh air mata ini, yang dipaksa mengalir oleh sistem ekspesi emosi. Tapi aku tidak pernah merasakan air mata yang lebih panas, lebih menyakitkan dari yang mengalir di pipiku sekarang, meski dibandingkan dengan yang di dunia nyata sekalipun.

Saat aku mengobrol dengan Asuna, ada satu hal yang tidak pernah berhasil keluar. "Aku juga suka dia," ucapan ini nyaris keluar berkali-kali. Tetapi, gak mungkin aku bisa mengatakannya.

Di tokoku, sesaat setelah aku menyaksikan Kirito dan Asuna berbicara satu sama lain, aku mengerti bahwa tidak ada tempat untukku di samping Kirito. Sebabnya adalah— Di gunung bersalju itu, aku membahayakan nyawa Kirito. Tidak seorangpun bisa berdiri di sampingnya, selain orang yang memiliki hati sama kuatnya. Ya... Misalnya, seseorang seperti Asuna...

Keduanya terhubung oleh gaya tarik yang kuat, layaknya sepasang pedang dengan sarungnya yang dibuat dengan cermat. Itulah yang sangat kurasakan. Dan di atas segalanya, Asuna sudah memikirkan Kirito berbulan-bulan, dan dengan kerja keras yang dilakukannya agar jarak diantara mereka menyempit sedikit demi sedikit, hari demi hari, gak mungkin aku bisa melakukan sesuatu seperti tiba-tiba melemparkan diriku ke hubungan tersebut.

Benar... Aku baru mengenal Kirito selama seharian penuh. Pergi melakukan petualangan yang aku tidak terbiasa bersama orang yang tak dikenal, hatiku pasti cuma terkejut karenanya. Ini bukan kebenaran. Ini bukanlah perasaanku yang sesungguhnya. Jika aku jatuh cinta, aku tak akan buru-buru; pelan-pelan memikirkannya— Aku seharusnya selalu, selalu berpikir seperti itu.

Tapi kenapa, kenapa air mata ini terus saja mengalir.

Suara Kirito, kelakuannya, semua ekspresi yang ditunjukkannya selama dua puluh empat jam ini mengambang di depan kelopak mataku yang tertutup satu demi satu. Sensasi dia membelai rambutku, memegang lenganku, tangannya menggenggam tanganku. Kehangatannya, panas dari jantung yang berdetak itu- Selagi ingatan membara mengenai hal-hal itu menghampiriku, rasa sakit yang tajam menggema jauh di dalam dadaku.

Lupakan. Semua itu mimpi. Cuci semuanya dengan air mata ini.

Memegang erat batang pohon di pinggir jalan, aku menangis. Memandang ke bawah sambil meredam suaraku, aku terus menangis. Air mata ini akan kering cepat atau lambat di dunia nyata, akan tetapi nampaknya cairan pencuci yang meluap dari mataku ini tak punya niat untuk berhenti mengalir.

Dan— dari belakangku, terdengar suara itu.

"Lisbeth."

Seluruh badanku gemetar kaget begitu namaku dipanggil. Suara yang halus, lembut itu, masih tersisa dengan gema dari nada kelaki-lakian aslinya.

Ini pasti mimpi. Gak mungkin dia bisa ada di sini. Memikirkan hal itu, kupalingkan wajahku ke atas, bahkan tak menghiraukan untuk menyeka air mataku.

Kirito berdiri di situ. Mata dibalik gombak hitam itu, memperlihatkan rasa sakit dari duka yang unik untuknya, memandangku. Aku balas melirik sepintas pada mata itu, lalu segera berbisik disertai gemetar dalam suaraku.

"...Ini gak bagus, datang ke sini sekarang. Aku juga baru akan kembali ke Lisbeth yang semangat seperti biasa sebentar lagi."

"..."

Kirito maju selangkah tanpa suara; ia mencoba menjangkauku dengan tangan kanannya. Kugelengkan kepalaku dengan ringan, menghentikannya.

"...Bagaimana kamu menemukan tempat ini?"

Mendengarnya, Kirito termenung, dan menunjuk ke arah tengah kota.

"Dari sana..."

Di ujung jari itu, jauh sekali dari sini, puncak menara gereja, dibangun berlawanan dengan gerbang plaza, menonjol di atas riak-riak bangunan.

"Aku mengamati seluruh kota, dan menemukan kamu."

"He, he."

Air mataku diam-diam terus mengalir turun seperti sebelumnya, namun setelah mendengarkan jawaban Kirito, senyum mengambang ke mulutku.

"Kamu tak masuk akal seperti biasanya, hah."

Bagiannya yang itu pun... Aku menyukainya. Hingga tingkat yang sia-sia.

Aku merasa gelora menangis lain lagi memancar di dalam diriku. Aku menahannya dengan panik.

"Maaf, aku... baik-baik saja, lihat kan. Buruan dan kembali ke Asuna sana."

Saat dimana aku berhasil berucap dan baru akan berbalik, Kirito melanjutkan perkataannya.

"Aku— aku ingin berterima kasih ke Lis."

"Eh...?"

Bingung oleh ucapan tak terduga itu, kutatap wajahnya.

"...Aku, dulu, ada saat dimana anggota guildku terbunuh... Dengan itu, aku memutuskan untuk jangan lagi, untuk pernah dekat dengan orang lain."

Kirito sepintas bermuka masam, mengunyah bibirnya.

"Itulah kenapa, biasanya, aku menghindari membentuk kelompok dengan siapaun. Meski begitu, kemarin, momen dimana Lis mengajakku untuk melakukan quest itu, hasilnya baik-baik saja entah mengapa. Aku selalu berpikir bahwa ini aneh sepanjang hari itu. Kenapa aku berjalan beriringan orang ini..."

Aku lupa rasa sakit di dadaku untuk sekejap, kupandang Kirito.

Artinya— Artinya, aku...

"Sampai sekarang, siapapun yang memintanya, kutolak mereka semua. Saat mereka yang kukenal... Enggak, bahkan mereka yang namanya aku tidak tahu pun, cuma dengan menonton orang lain bertarung, aku cuma membeku ketakutan. Aku merasa ingin melarikan diri saja. Itulah kira-kira kenapa aku selalu mengasingkan diri di tempat terdepan di bagian terdepan dari garis depan, dimana orang jarang datang. -Waktu kita jatuh ke lubang itu, aku bahkan berpikir kalau lebih baik untuk mati bersama daripada menjadi yang ditinggalkan; itu jelas bukan bohong."

Ia menunjukkan senyuman samar. Rasanya seperti sejumlah tak terbatas rasa menyalahkan diri sendiri terletak jauh di dalamnya, nafasku terambil.

"Tapi kamu hidup. Aku tak menyangka, namun fakta bahwa aku bisa terus hidup bersama Lis membuatku sangat senang. Dan, malam itu... Saat kamu memberikan tanganmu padaku, semuanya terbuka jelas. Tangan Lis terasa hangat... Orang ini masih hidup, itulah yang kupikir. Aku, dan juga semua orang, kita pastinya tidak hidup hanya demi menyambut kematian suatu hari nanti; Aku yakin kita hidup demi melanjutkan hidup. Jadi... Terima kasih, Lis."

"..."

Kali ini, senyuman sejati bangkit jauh dari dalam hatiku. Dikendalikan oleh emosi kuat yang misterius, kubuka mulutku.

"Aku juga sama... aku juga sama; Aku selalu mencarinya. Untuk sesuatu istimewa yang sejati, di dunia ini. Buatku, itu adalah kehangatan tangan kamu."

Mendadak sekali, duri es yang menusuk jauh di dalam hatiku mencair dengan lembut, rasanya mirip seperti itu. Air mataku juga telah berhenti beberapa saat lalu. Untuk jangka waktu yang singkat, kita menatap satu sama lain tanpa suara. Sensasi yang muncul sewaktu kita terbang berjalan masuk sekali lagi, bersentuhan dengan hatiku hanya untuk sekejap, dan lenyap.

Aku diganjar. Itulah yang kuyakini.

Kata-kata dari Kirito tadi menelan kepingan-kepingan hancur dari cintaku yang telah merekah, dan kurasakan mereka tenggelam jauh di suatu tempat dalam diriku.

Aku mengedipkan mataku sekali dengan cepat, melepaskan tetesan-tetesan kecil, dan membuka mulutku untuk bicara dengan senyuman.

"Kata-kata tadi, pastikan Asuna mendengarnya juga. Gadis itu juga menderita. Bagaimanapun, ia ingin kehangatan Kirito."

"Lis..."

"Aku tidak apa-apa."

Aku mengangguk lembut, kugenggam dadaku dengan kedua tangan.

"Demam ini akan membekas hanya sedikit lebih lama lagi. Jadi... kumohon, Kirito, akhiri dunia ini. Aku pasti akan bekerja keras sampai saat itu. Tapi, begitu kita kembali ke dunia nyata..."

Aku menyeringai dengan senyuman nakal.

"Kita langsung masuk ronde kedua."

"..."

Kirito juga tersenyum, mengangguk dalam-dalam. Selanjutnya, ia mengayunkan tangan kirinya, membuka sebuah layar. Saat aku penasaran apa yang ingin ia lakukan, «Elucidator» dilepas dari punggungnya, disimpan ke inventaris. Mengikutinya, ia memanipulasi susunan equipmentnya, mewujudkan sebuah pedang baru menggantikan pedang sebelumnya. «Dark Repulser», pedang putih itu diisi oleh emosiku.

"Mulai hari ini, pedang ini menjadi rekanku. Biayanya akan... diselesaikan untuk di dunia lain."

"Oh, sekarang kamu sudah bilang begitu. Harganya akan cukup lumayan."

Sambil berbagi tawa, kita beradu tinju satu sama lain.

"Yah, balik ke toko yuk. Asuna pasti sudah capek nungguin... Aku juga laper sih, sebenernya."

Kukatakan itu, dan mulai berjalan setelah beranjak di depan Kirito. Untuk kali terakhir, kuseka mataku dengan tegas, menghamburkan air mata-air mata terakhir yang masih berada di sudut mataku, dan mereka pun lenyap menjadi butiran cahaya.

Bagian 4[edit]

Hari ini dinginnya lebih menusuk dari biasanya,

Aku masuk ruang kerjaku sambil menggosok-gosokkan kedua tanganku. Menarik tuas di dinding, kuhangatkan tanganku di atas tungku perapian yang langsung menyala, terbakar merah panas. Setidaknya bunyi menggebuk kincir air masih tetap sama, tapi awal musim dingin sekarang sudah sedingin ini, kalau pertengahan musim dingin tiba dan sungai kecil di belakang membeku, aku khawatir entah apa yang akan terjadi padaku.

Aku berpikir keras selama sejenak sebelum kembali sadar dengan kaget, dan berunding dengan jadwalku. Masih ada delapan item yang menumpuk di daftar pesanan hari ini. Hari akan segera berakhir jika aku tidak bergegas dan menyelesaikannya.

Pesanan pertama adalah pedang lurus satu tangan tipe ringan. Kutelusuri daftar bongkahanku, kupilih satu yang merupakan kompromi bagus antara performa dan biaya sebentar kemudian, lalu melemparkannya ke tungku perapian.

Di waktu sekarang ini, penguasaan paluku sudah bertambah, dan bahkan aku memperoleh beberapa logam baru, jadi aku sudah bisa menempa senjata tingkat tinggi terus menerus. Memilih waktu di saat apinya telah panas mencapai suhu yang sesuai, kuletakkan bongkahan itu di alas tempa. Menyiapkan palunya, kuayunkan ia turun dengan tenaga tinggi.

Tapi, berbicara mengenai pedang lurus satu tangan— Tidak satu pedang pun yang mampu melampaui pedang satu itu yang kutempa musim panas lalu tahun ini. Fakta itu membuatku frustasi, namun melegakan.

Pedang yang telah mengubur pecahan hatiku itu mungkin masih terus mengamuk dengan bersemangat di garis depan yang jauh lagi hari ini. Meski aku memang merawatnya di batu asah di depan mataku ini sekali-sekali, berbeda dengan senjata biasa, transparansi bilahnya tampak bertambah setiap digunakan. Untuk beberapa alasan, sepertinya ia berbeda dengan barang konsumsi numerik yang akan habis cepat atau lambat; rasanya lebih seperti ia akan hancur berkeping-keping begitu tugasnya selesai— itu prediksiku.

Ah tapi, hal itu mungkin masih berupa masa depan yang tak akan terwujud beberapa saat lagi. Garis depan sekarang di lantai tujuh puluh lima. Pedang itu masih harus bertugas lebih lama lagi. Di tangan kanan orang itu— Kirito.

Waktu kusadari, tampaknya aku sudah selesai memukulnya sebanyak jumlah yang diperlukan; bongkahan itu mulai berubah bentuk seraya bersinar dengan cahaya merah. Kuamati perubahan gaib seketika ini dengan nafas tertahan, dan mengambil pedang yang segera muncul untuk memeriksanya.

"...Biasa, sepertinya."

Membisikkan ucapan itu, kuletakkan pedang ini di atas meja kerja. Tanpa jeda, aku mulai memilih-milih bongkahan berikutnya. Kali ini adalah kapak dua tangan, dengan fokus pada jangkauannya...

Lama setelah siang dimulai, aku entah bagaimana berhasil menyelesaikan semua pesanan, dan berdiri. Menggerakkan kepalaku berputar melingkar, kurenggangkan badanku kuat-kuat. Selagi aku mengambil nafas lega, sebuah foto kecil yang tergantung di dinding memasuki penglihatanku.

Membuat tanda damai sambil berpelukan, Asuna dan aku. Di samping Asuna, berdiri setengah langkah ke bawah, Kirito dengan senyum masam. Diambil di depan bangunan ini. Sekitar setengah bulan lalu— saat berita pernikahan mereka berdua datang.

Siapapun yang mungkin kalian tanya, mereka berdua pastinya serasi satu sama lain, tapi mencapai tujuan itu akhirnya memakan waktu setengah tahun penuh. Aku menjadi tidak sabar, dan mencoba ikut campur dalam hubungan mereka dengan berbagai cara, dan ketika aku pada akhirnya diberitahu berita pernikahan mereka, aku benar-benar senang buat mereka. Tapi tetap— terasa sedikit, sakit yang mengoyak hati.

Aku masih menyaksikan yang terjadi malam itu dalam mimpi-mimpiku. Mengingat satu malam bagai mimpi yang berinar bak permata sederhana selama dua tahun yang hanya ada sedikit naik-turun. Sampai saat ini pun, setelah tiga bulan berlalu, ia masih menghangati hatiku layaknya bara api yang menyala.

"...Walaupun begitu..."

Saat itu memang mengagumkan, bisikku dalam hati, dan jariku menelusuri foto itu dengan lembut. Walau aku menilai diriku sebagai realis yang rasional, aku memiliki watak seterus terang itu benar-benar tidak kusangka dan tidak kusadari sama sekali.

"Aku selalu mencintaimu, sampai akhir."

Usai mengetuk kuat suatu titik tertentu di foto itu, kupalingkan pikiranku. Bertanya-tanya apa aku memasak makanan sederhana untuk makan siangku yang telat, atau mungkin makan di luar untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu ini, kuinjakkan kakiku keluar dari ruang kerja— Lalu hal itu terjadi.

Sebuah efek suara yang belum pernah kudengar sampai sekarang bergema keras dari atas. Ding, ding, suara yang menyerupai alarm lonceng... Seketika kutatap langit-langit, namun tampaknya suara itu berasal dari tempat yang lebih tinggi lagi, berkumandang dari arah lantai atas.

Aku baru saja akan buru-buru keluar, saat sesuatu yang membuatku bahkan terkejut lebih jauh lagi terjadi. Meski alasan di baliknya jelas, NPC penjaga toko, yang berdiri di konter, tak membutuhkan seharipun istirahat sejak toko ini dibuka, mendadak lenyap tanpa suara sedikitpun.

"...!?"

Kukedipkan mataku, dan menatap tempat gadis itu berdiri hingga tadi, tetapi tidak ada tanda ia kembali. Situasinya menjadi makin dan makin kusut.

Buatku, yang tersandung saat menuju keluar, pengalaman yang bahkan lebih mengherankan lagi menjadikanku berdiri kaku.

Di bawah lantai atas yang membentang, seratus meter di atas, tepat sebelum atap abu-abu polos itu- tergantung huruf-huruf merah raksasa, terletak rapat-rapat. Aku terhanyut menatapnya; dua kalimat berbahasa Inggris, "Warning", and, "System Announcement", tertata dalam pola papan catur.

"System... Announcement..."

Kejadian ini pernah kusaksikan sebelumnya. Tidak mungkin aku akan pernah melupakannya. Dua tahun lalu, di hari game kematian ini dimulai, tontonan yang sama persis muncul di balik avatar hampa yang mengumumkan perubahan peraturan pada sepuluh ribu pemain.

Akhirnya melihat sekeliling setelah membeku melihatnya selama beberapa detik penuh, kutemukan banyak pemain lain, yang melihat ke atas sambil berdiri tegak, sama sepertiku. Aku berkerut saat merasa ada sesuatu yang aneh mengenai pemandangan ini, alasannya terpikir seketika olehku.

Biasanya, selagi berjalan menyusuri jalan, ada NPC-NPC menjajakan dagangan mereka; tak seorang pun ada di sekitarku. Aku yakin mereka kemungkinan menghilang di waktu yang sama dengan menghilangnya perawat tokoku, tapi... kenapa sih—

Tiba-tiba sekali, bunyi dering alarm itu berhenti. Setelah beberapa saat yang sunyi, kali ini, yang terdengar adalah suara halus wanita, dalam volume yang sama kerasnya.

[Kami sekarang akan mengumumkan pemberitahuan penting ke semua pemain.]

Sama sekali berbeda dengan suara sang Game Master, Kayaba Akihiko, dari dua tahun lalu, merupakan suara sintetis buatan bercampur dengan bunyi gaduh elektronik. Jelas ini merupakan pengumuman yang dibuat melalu sistem game, tapi dengan hampir tidak adanya kehadiran manajemen di SAO, ini adalah pertama kalinya aku mendengar pengumuman disampaikan seperti ini. Kutegangkan telingaku untuk mendengar sambil menahan nafas.

[Game sekarang akan memasuki mode administrasi paksa. Semua monster dan item akan ditangguhkan. Semua NPC akan diberhentikan. HP semua pemain akan disesuaikan menjadi jumlah maksimal masing-masing.]

Sistemnya error? Apa ada bug fatal yang muncul...?

Itu yang ada di pikiranku dalam sekejap. Hatiku dicengkram rasa tidak tenang. Tapi di saat berikutnya—

[Waktu Standar Aincrad, tujuh November, empat belas-lima puluh lima, game telah diselesaikan.]

—Demikianlah yang dilaporkan suara sistem.

Gamenya, sudah diselesaikan.

Aku tak mengerti arti dari perkataan itu untuk beberapa detik. Pemain-pemain lain di sekitarku juga, masih terdiam dengan ekspresi mereka membeku. Akan tetapi, mendengar kalimat yang mengikutinya, mereka semua melonjak gembira.

[Semua pemain akan log out secara berurutan. Cukup menunggu di posisi anda sekarang. Kami ulangi...]

Tiba-tiba, "Wooah!", dan sorak-sorai gembira seperti itu meletus. Tanahnya, bukan, seluruh Kastil Melayang Aincrad bergetar. Semua orang saling berpelukan satu sama lain, bergulingan di lantai, berteriak keras-keras dengan tangan mereka terangkat menuju langit.

Aku tidak bergerak, tidak berkata apapun, hanya berdiri diam di depan toko milikku. Entah bagaimana aku berhasil mengangkat kedua tanganku, menutupi mulutku.

Jadi dia berhasil. Dia— Kirito berhasil. Dengan kenekatannya yang biasa...

Itulah yang kupercaya. Bagaimanapun, garis depan yang paling depan masih di lantai tujuh puluh lima, tapi dengan selesainya permainan ini seperti ini, konyol, ceroboh, tindakan nekat ini pastinya ulah Kirito.

Aku merasa aku mendengar bisikan lembut di dekat telingaku.

—Aku, menjaga kata-kataku...

"Iya... Iya... Akhirnya, kamu berhasil..."

Dengan itu, air mata yang panas menetes dari mataku. Tak menghiraukan untuk menyekanya, kulontarkan tangan kananku dengan seluruh kekuatan, melompat naik dan turun tanpa henti.

"O— oh!!"

Kututupkan kedua tangan ke mulutku, untuk menggapainya, yang berada jauh di lantai atas, aku berteriak sekeras mungkin.

"Kita pasti akan bertemu lagi, Kirito—!! ...Aku mencintaimu!!"

(Selesai)


Gadis Embun Pagi (Lantai ke-22 Aincrad, Oktober 2024)[edit]

Bagian 1[edit]

Asuna selalu menyetel alarm paginya ke pukul tujuh lewat limapuluh.

Jika kamu bertanya mengapa pada pukul tersebut, ini karena alarm pagi Kirito yang berbunyi tepat pada pukul delapan.

Pagi ini, Asuna sekali lagi terbangun dengan suara lembut dari instrumen tiup kayu dan terus berbaring, menatap wajah tidur Kirito sambil merebahkan kepalanya di atas tangannya.

Dia jatuh cinta setengah tahun yang lalu. Mereka menjadi partner clearing dua minggu yang lalu. Dan baru enam hari berlalu semenjak mereka menikah dan pindah ke tempat ini, di dalam hutan lantai ke duapuluh dua. Meskipun sebagai pasangan tercintanya, masih banyak hal tentang Kirito yang tidak dia ketahui. Sempat, sambil mengintip wajah tidurnya, dia pelan-pelan menjadi ragu akan usianya.

Baru beberapa waktu lalu, karena sifatnya yang tidak peduli dan suka menyendiri, ia menduga bahwa dia seharusnya lebih sedikit tua darinya. Namun, melihat kirito yang terlelap dalam tidur, dengan kepolosan yang begitu naif, membuat dirinya terlihat seperti anak yang masih kecil, tidak lebih tua dari Asuna.

Menanyakan hal seperti usia mungkin— bukanlah masalah. Namun, melanggar batas ke permasalahan di dunia nyata kuranglah disukai, dan lagipula, keduanya telah menjadi suami istri. Daripada usia, bertemu lagi setelah kembali ke dunia nyata, bertukar informasi dari nama dan alamat asli sampai ke rincian kontak, akan lebih meyakinkan.

Akan tetapi, Asuna tidak berani untuk mengatakannya dengan suara keras.

Dia takut kalau membicarakan permasalahan dunia nyata, «kehidupan pernikahan» ini akan terasa hanyalah seperti khayalannya yang bukan-bukan. Untuk Asuna yang sekarang, satu kenyataan yang paling penting baginya, adalah hari-hari tenang di rumah hutan ini; bahkan jika tidak bisa melarikan dari dunia ini, dengan tubuh mereka yang di dunia nyata menyambut kematian, ia masih akan tetap puas, dapat terus hidup seperti ini hingga akhir, meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.

Itulah sebabnya dia enggan untuk bangun dari mimpi ini dulu— Berpikir demikian, Asuna perlahan mengulurkan tangannya dan membelai wajah tidur Kirito.

Biarpun begitu, wajah tidur itu memanglah kekanak-kanakan.

Pada saat ini, memang sewajarnya kemampuan Kirito tidak perlu diragukan. Dengan jumlah pengalaman yang sangat besar dari saat bermain pada masa beta test, serta status numerik yang didapat lewat pertempuran yang tidak ada hentinya, dan menggunakan semua itu secara efektif, penilaian dan tekad. Dia mungkin kalah kepada pemimpin Knight of the Blood, «Holy Sword» Heathcliff, tapi Kirito adalah pemain terkuat yang pernah dikenal Asuna. Meski bagaimanapun memburuknya kondisi di medan pertempuran, dia tidak akan pernah merasa takut dengannya yang berada di sisinya.

Namun, saat ia menatap Kirito yang terbaring, entah bagaimana ada satu perasaan yang begitu kuat berusaha untuk keluar dari dadanya bahwa dia hanya seperti adik kecil yang naif dan rapuh. Perasaan bahwa ia harus melindunginya.

Sambil bernafas dengan lembut, Asuna membungkuk, menyelubungi tubuh Kirito dengan tanganya. Dengan pelan dia kemudian berbisik.

“Kirito… Aku mencintaimu. Tinggallah bersamaku selamanya, oke?”

Pada saat itu, Kirito bergerak dengan pelan, dan perlahan membuka kelopak matanya. Pasangan itu saling bertukar pandang, dengan wajah mereka yang didepan satu sama lain.

“Waa!!”

Asuna segera mundur dengan panik. Mengalihkan dirinya ke sikap berlutut pada tempat tidur, dia kemudian berbicara dengan wajah yang tersipu malu.

“Se-Selamat Pagi, Kirito, …Apakah kamu… dengan yang baru aku bilang…?”

“Selamat pagi. Tadi… eh, emang ada apa?”

Menghadap Kirito yang bangkit dan menjawab sambil menahan menguap, Asuna dengan kuat menggoyangkan-goyangkan tangannya.

“T-Tidak, tidak ada apa- apa!”

Menyelesaikan sarapan pagi telor ceplok dengan roti gandum, salad dan kopi lalu merapikan meja dalam beberapa detik, Asuna kemudian menepuk kedua tangannya.

“Baiklah! Kemana kita akan bermain hari ini?”

"Oh, kamu."

Dan Kirito tersenyum kecut.

"Jangan membicarakan hal itu secara blak-blakan,"

"Tapi setiap hari sangatlah menyenangkan!"

Ini adalah pemikiran Asuna yang nyata dan murni.

Berpikir kebelakang hanyalah membawa duka, tetapi dalam satu setengah tahun, dari saat ia menjadi tawanan SAO sampai ia jatuh cinta dengan Kirito, Asuna telah menempa dan mengeraskan hatinya.

Mengorbankan tidur untuk meningkatan skillnya, dipilih menjadi sub-leader dari clearing guild, Knights of the Blood, dia telah terjun ke banyak labirin dengan begitu cepatnya bahkan cukup untuk membuat anggotanya menyerah sesekali.

Semua yang ada dihatinya itu hanyalah semata-mata untuk menyelesaikan game ini dan melarikan diri; sehingga ia berkesimpulan bahwa semua aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan itu adalah sia-sia.

Dengan pemikiran yang seperti ini, Asuna tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyesal tidak bertemu Kirito lebih awal. Hari-hari setelah bertemu dengan Kirito sangatlah berwarna, penuh dengan begitu banyak kejutan yang bahkan melewati kehidupannya yang lalu di dunia nyata. Jika bersama Kirito, semua waktu yang telah dihabiskan disini dapat dianggap sebagai pengalaman yang langka.

Itulah sebabnya bagi Asuna, akhirnya bisa mendapakatkan hari dimana mereka berdua dapat menghabiskan waktu bersama, tiap-tiap detik dapat dianggap perhiasan berharga dengan sendirinya. Dia ingin pergi, sebagai pasangan, ke banyak dan lebih banyak tempat lagi bersama dan membicarakan banyak hal yang berbeda.

Asuna meletakkan tangannya di pinggang dan berbicara sambil cemberut.

“Apakah Kirito-kun tidak ingin pergi ke suatu tempat dan bermain?”

Menanggapi itu, Kirito tersenyum lebar dan melambaikan tangan kirinya, memunculkan peta. Mengubahnya menjadi mode agar bisa terlihat, dia menunjukkannya kepada Asuna

"Tepat disekitar ini."

Apa yang ditunjuk adalah sudut hutan, tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

Menjadi salah satu dari lantai bawah, Lantai ke duapuluh dua cukuplah luas. Diameter dari seluruh wilayah ini mungkin lebih dari delapan kilometer. Sebuah danau raksasa berada di tengah dan sampai ke pantai selatan, disana terdapat kota utama, «Coral» Village. Di pantai utara terdapat labirin. Sisa dari wilayah tersebut ditutupi oleh hutan konifer yang indah. Rumah kecil milik Asuna dan Kirito berada di dalam sebuah area di tepi selatan lantai ini, dan apa yang sekarang ditunjuk Kirito sekitar dua kilometer jauhhnya, di arah timur laut.

"Well, Ini tentang rumor yang aku dengar di desa kemarin.. Di daerah sini, dimana hutan semakin rimbun...”itu” tampaknya akan keluar."

"Hah?"

Kepada Kirito yang sedang tersenyum lembut, Asuna dengan ragu menjawab.

"Apanya?"

"...H-Hantu."

Asuna diam sejenak, dengan takut dia bertanya

"...Itu berarti, seekor monster dari tipe Astral? Sesuatu seperti roh atau banshee?"

"Bukan, ini hantu asli. Seorang player... jadi, roh manusia. Sepertinya seorang wanita."

"Aah..."

Asuna tanpa sadar menjengit. Mengarah ke topik seperti ini, Asuna yakin bahwa dia akan terpengaruh jauh lebih buruk dari rata-rata orang. Dia cukup tidak baik dengan hal semacam itu bahkan sampai memikirkan alasan yang sembarangan untuk tidak mengikuti clearing labirin kastil tua, membentangi lantai enampuluh lima dan enampuluh enam yang terkenal karena tema horornya.

“T-Tapi lihat, ini adalah dunia virtual permainan. Sesuatu seperti— hantu yang keluar, sesuatu seperti ini tidak akan pernah terjadi.”

Memaksa dirinya untuk tetap tersenyum, dia mulai memprotes dengan suara keras.

“Benar atau tidaknya, aku juga ingin tahu…”

Namun untuk Kirito, yang tahu bahwa Asuna lemah terhadap hantu, ia dengan antusias lanjut menyerang.

“Misalnya… Seorang pemain yang mati dengan penyesalan, merasuki NervGear yang masih dipakai dan aktif… mengeluyuri wilayah, malam demi malam…”

“Hentik--!”

“Wahahaha, maaf, ini hanya lelucon. Yah, aku ragu kalau roh akan benar-benar muncul, tapi kalau kita mau pergi ke suatu tempat, lebih baik menuju ke tempat yang lebih tinggi memiliki kemungkinan untuk terjadi sesuatu, kan?”

“Aaah…”

Mengerutkan bibirnya memberi muka masam, Asuna mengganti fokusnya ke luar jendela.

Meskipun musim dingin yang mendekati, cuacanya sangat baik. Sinar matahari terasa hangat dan lembut, membasuh halaman kebun. Waktu yang paling tidak cocok untuk acara seperti penampakan hantu. Karena bagaimana Aincrad terancang, sungguh tidak mungkin untuk melihat matahari secara langsung kecuali pada awal pagi dan sore hari, berkat pencahayaan sekitar yang memadai, wilayahnya jelas ternyala.

Asuna berbalik ke arah Kirito dan menjawab, dengan kepalanya yang terangkat tinggi.

“Baiklah, Mari kita pergi. Untuk membuktikan kalau sesuatu seperti hantu tidaklah nyata."

“Jadi begitu, --Kalau kita tidak menemukannya hari ini, lain kali kita akan pergi di tengah malam, oke?”

“Tidak mungkin!! ….Aku tidak akan membuatkan makanan untuk orang yang jahat seperti itu.”

“Gah, lupakan itu. Kau tidak mendengar apa-apa.”

Cemberut kepada Kirito untuk terakhir kalinya, Asuna kemudian tersenyum lebar dan tertawa.

“Nah, mari kita selesaikan persiapan. Aku akan memanggang ikan, jadi Kirito-kun potong rotinya, oke?"

Dengan cepat memasukkan kotak makan siang dengan burger ikan, sekitar jam sembilan pagi ketika mereka meninggalkan rumah.

Melangkah ke rumput di kebun, Asuna berbalik kembali ke arah Kirito dan berbicara.

"Hei, biarkan aku naik di bahumu."

"Biarkan kamu naik di bahuku!?"

Kirito menjawab secara liar, kembali bertanya.

"Kau lihat, selalu melihat dari ketinggian yang sama terasa membosankan, seharusnya kan enteng dengan status kekuatan fisik Kirito-kun, kan?."

"Baiklah, mungkin itu benar ... Ya ampun, berapa sih umurmu ..."

"Usia tidak ada hubungannya dengan itu. Bukankah itu benar? Lagipula tidak ada yang melihat."

"Ba-baiklah, kurasa .."

Terkejut, Kirito berjongkok dan berbalik ke arah Asuna sambil geleng-geleng kepala. Mengangkat roknya, dia mengangkat kakinya ke bahu.

"Nah, ayo pergi. Tapi aku akan pastikan memukulmu jika kamu melihat ke belakang, Ok.."

"Itu sungguh tak beralasan ...?"

Menggerutu tentang situasi tersebut, Kirito dengan gesit berdiri, sehingga menaikan sudut pandang.

"Waa! Lihat, kamu bahkan dapat melihat danau dari sini!"

"Aku tidak bisa melihatnya!"

"Kalau begitu aku akan juga melakukannya untukmu nanti."

"..."

Menempatkan tangannya di atas kepala Kirito, yang telah merosot lebih karena kelelahan atas kejadian tersebut, Asuna berbicara.

"Sekarang, saatnya untuk berangkat! dari utara ke timur laut"

Tertawa riang diatas bahu Kirito sambil terus berjalan ke depan, Asuna mampu memahami betapa berharganya hari ini, mampu hidup bersama. Dia sepenuh hati bisa percaya bahwa ini adalah saat ia merasa paling «hidup» di semua tujuh belas tahun dari hidupnya.


Berjalan di sepanjang jalan-Kirito adalah satu-satunya yang benar-benar berupaya, tapi-Setelah sekitar sepuluh menit, salah satu danau yang menghiasi lantai duapuluh dua akhirnya muncul dipandangan. Mungkin tergoda akan cuaca cerah, sudah ada beberapa player yang berada di sana sejak pagi, memancing ke danau, dimana umpannya menggantung di air. Jalan berliku di sekitar danau, menjaadi tanjakan, cukup jauh dari tepi danau. Tapi saat mereka mendekat, melihat player yang berpaling ke arah mereka dan melambaikan tangan. Tampaknya setiap orang yang mereka lihat tersenyum pada mereka dan beberapa bahkan tertawa keras.

"... sepertinya banyak orang yang melihat kita!"

"Ahaha, jadi ada orang-orang di sekitar ... Hei, Kirito-kun, lambaikan tangan pada mereka juga."

"Aku tak mau melakukannya."

Meski mengeluhkan, Kirito tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menurunkan Asuna. Asuna mengerti jika Kirito malu atas peristiwa tersebut.

Jalannya tiba-tiba menurun, ke arah kanan, menuju ke dalam hutan. Melalui celah antar pohon konifer besar yang menyerupai cedar, menjulang di atas segalanya, mereka berjalan beriringan. Gemerisik daun, deru aliran air, dan kicau burung kecil terdengar. Semua suara ini adalah pelengkap untuk suasana hutan, yang menjadi satu dalam warna-warna musim gugur.

Asuna memalingkan matanya ke arah puncak pohon, yang lebih dekat daripada biasanya.

"Pohon itu sungguh besar ... Hei, apakah kamu pikir kamu bisa mendaki pohon itu ...?"

"Hm ... Mm ..."

Menanggapi permintaan Asuna tersebut, Kirito memikirkannya untuk sementara waktu.

"Mungkin dalam batas-batas dari sistem ... Ingin mencobanya?"

"Nah, mari kita pikirkan itu lain kali. -Sekarang. Aku berpikir tentang mendaki."

Asuna membentangkan tubuhnya yang berada pada bahu Kirito dan memandang ke arah tepi luar Aincrad, melalui celah-celah di antara pepohonan.

"Benda yang berada di sekitar tepi, tampaknya saling terhubung, itu menghubungkan semua jalan ke lantai berikutnya, benar kan? aku bertanya-tanya ...? Apa yang akan terjadi jika kita naik dari situ?"

"Ah, aku pernah mencoba itu sebelumnya."

"Eeh!?"

Mengendalikan tubuhnya, dia berbalik dan menatap Kirito.

"Kenapa kau tidak mengundangku juga."

"Yah, itu ketika kita tidak mengenal satu sama lain dengan baik."

"Apa, itu hanya karena Kirito-kun terus melarikan diri."

"... A-Apakah aku benar-benar melakukan hal tersebut?"

"Itu benar. Aku selalu mencoba mengundangmu,. Tapi kau bahkan tidak mau menemaniku untuk minum teh."

"I-Itu ... Ba-baiklah, kesampingkan hal itu."

Kemudian percakapan yang mulai aneh kembali ke topik semula, Kirito melanjutkan.

"Jika kau menilai berdasarkan secara logis, memanjatnya pasti gagal. Memanjat dari bagian batu-batu yang kasar sangat mudah,. Tapi setelah naik sekitar delapanpuluh meter, pesan kesalahan muncul, 'Anda tidak bisa melampaui daerah ini' dan membuatku jengkel. "

"Ah ha ha, jadi seperti yang diharapkan, kecurangan tidak bekerja, ya."

"Ini bukan bahan tertawaan, tanganku tergelincir. terkejut dan aku jatuh dari ketinggian ...."

"E-Eh!? Bukankah kamu bisa mati karena sesuatu seperti itu?"

"Ya. Aku pikir aku akan ditakdirkan mati dan tertulis dalam daftar pemain yang tewas, akan tetapi aku dengan segera menggunakan kristal teleport.."

"Ya ampun, itu berbahaya. Pastikan dirimu tidak mengulanginya, Oke."

"Itulah yang ingin kukatakan!"

Berjalan-jalan sambil bertukar percakapan tanpa tujuan, hutan berangsur-angsur menjadi lebih rimbun. Bahkan kicauan burung mulai samar-samar, begitu juga sinar matahari yang terpancar melalui pepohonan mulai memudar.

Asuna memandang berkeliling sekali lagi, ia bertanya pada Kirito.

"Hei, itu ... tempat dalam rumor, apakah jalan itu?"

"Yah, itu ..."

Kirito melambaikan tangannya, memeriksa posisi mereka di peta.

"Ah, kita cukup dekat dengan tujuan. Kita akan mencapainya dalam beberapa menit.."

"Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang hal tersebut?"

Dia tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak tahu apapun membuatnya gelisah, dan mendorongnya untuk bertanya.

"Nah, sekitar seminggu yang lalu, seorang pengrajin kayu telah datang ke sini untuk mengumpulkan beberapa kayu. Kayu yang dapat dipanen dari hutan ini memiliki kualitas yang cukup bagus, dan keika pemain sibuk dengan pekerjaannya, hari mulai gelap... Pemain tersebut bergegas untuk kembali, tetapi tertutup oleh rimbunnya pohon-pohon ... ada pemandangan putih sekilas. "

"..."

Ini sudah menjadi batas untuk Asuna, namun Kirito tanpa ampun melanjutkan.

"Pemain tersebut dengankebingungan berpikir bahwa sosok tersebut adalah seekor monster, tapi rupanya bukan, itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, seorang pemain yang tadi aku sebutkan. Berpakaian putih dan memiliki rambut hitam panjang. Secara perlahan ia menghampiri menuju rimbunnya pepohonan. Jika bukan seekor mosnter, itu pastilah seorang pemain, sambil berpikir seperti itu, ia menatap sosoknya."

"..."

"-Tidak ada kursor."

"Ee ..."

Sebuah teriakan keluar dari tenggorokan Asuna.

"Tidak mungkin. Meskipun berpikir seperti itu, pemain tersebut semakin mendekat.. Dan bahkan memanggilnya. Melakukan hal tersebut, gadis tersebut menghentikan gerakannya... dia secara bertahap berbalik ke arahnya ..."

"Cu-Cu-Cukup..."

"Lalu, pria itu akhirnya menyadari sesuatu. Gadis itu, karena cahaya bulan menyinari baju putihnya, pohon-pohon yang berada di sampingnya-bisa dilihat tembus melalui dirinya."

"-!!"

Menyesakkan jeritan, Asuna mencengkeram rambut Kirito erat-erat.

"Ini akhir hidupku jika dia berbalik, si pengrajin berpikir lalu berlari. Akhirnya pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti... kelelahan, ia berbalik lalu melihat ke belakang .. . "

"- Ap!?"

"Dan tidak ada siapa pun di sana. Lalu ia hidup bahagia selamanya.."

"... Ki- Ki- Kirito-kun, kamu bodoh-!!"

Melompat turun dari bahu Kirito, Asuna mengangkat tinjunya, bersiap-siap dengan serius untuk melepaskan pukulan di punggungnya- pada saat itu.

Jauh di dalam rimbunnya dan gelapnya hutan, meskipun masih tengah hari, pada jarak Kirito dan Asuna, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.

Diserang oleh aura menyeramkan, Asuna membeku ketakutan. Bahkan jika tidak setakut Kirito, skill persepsi milik Asuna yang telah disempurnakan melalui pengalaman. menggunakan skill tersebut, dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun ketika ia memfokuskan sesuatu.

Sesosok putih tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan rincinya, itu adalah gaun satu setel dengan garis-garis yang berbeda. Mengintip keluar gaun tersebut adalah dua buah kaki.

Gadis itu masih berdiri. Seperti yang Kirito jelaskan, dia adalah seorang gadis muda yang mengenakan gaun satu satu setel yang berwarna putih, tidak bergerak, ia diam-diam menatap Asuna dan Kirito.

Merasa takut karena kesadarannya akan hilang, Asuna entah bagaimana berhasil membuka mulutnya. Dia membisikkan sesuatu dengan suara serak.

"Ki... Kirito-kun, di sana."

Kirito segera mengikuti arah tatapan Asuna. Segera, dia juga, membeku.

"I-Ini pasti bohongan ..."

Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari mereka, tatapannya tertuju pada Asuna dan Kirito. Pada saat itu, Asuna menguatkan dirinya sendiri, berpikir bahwa ia pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.

Tubuh gadis itu bergoyang-goyang. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan tenaga, ia jatuh ke tanah. Sebuah bunyi ringan terdengar.

"Itu ..."

Saat itu, Kirito menyipitkan matanya.

"Tidak mungkin itu hantu!"

Dan berlari sambil berteriak.

"Tu-Tunggu, Kirito-kun!"

Meskipun permohonan untuk berhenti dari Asuna yang tertinggal, Kirito bergegas menuju gadis yang jatuh itu, bahkan tanpa melihat ke belakang.

"Ya ampun!"

Asuna dengan enggan berdiri dan mengejarnya. Meski hatinya masih gemetar, ia belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak mungkin kecuali pemain.

Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifer, dia menemukan gadis itu sudah tertidur dalam lengan Kirito. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, ditutupi oleh bulu mata yang panjang, tangan lemahnya tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya yang memakai gaun, dan Asuna memastikan kembali jika itu tidak tembus pandang.

Sword Art Online Vol 02 - 191.jpg

"Ap-apa dia baik-baik saja?"

"Hmm..."

Kirito berbicara, mengintip ke wajah gadis itu.

"Nah, sejujurnya.. kita tidak perlu bernapas di dunia ini, begitu pun detak jantung"

Dalam SAO, fungsi gerak manusia dapat dibuat, tetapi dihilangkan. Hal ini mungkinkan kita untuk menarik nafas, bersama dengan sensasi udara yang berhembus melalui saluran pernafasan, tetapi avatar tidak perlu bernapas secara sadar dan tidak akan melakukannya. Demikian juga detak jantung, meskipun detak jantung terasa semakin kencang melalui ketegangan dan kegembiraan, tidak mungkin untuk merasakan yang lain.

"Tapi tetap saja, dia tidak menghilang... jadi kurasa dia masih hidup. Tapi ini... jelas saja aneh..."

Setelah Asuna selesai berkomentar, Kirito memiringkan kepalanya ke samping.

"Apa yang Aneh?"

"Dia tidak mungkin hantu, berhubung aku bisa menyentuhnya seperti ini. Tapi kursornya... masih belum muncul..."

"Ahh..."

Asuna sekali lagi mengkonsentrasikan pengelihatannya ke badan gadis itu. Bagaimanapun, kursor berwarna akan segera muncul ketika objek di Aincrad, seperti player, monster, maupun NPC ketika ditargetkan, tidak terjadi disaat ini. Itu fenomena yang tidak pernah terjadi sampai sekarang.

"Apakah mungkin bug, atau semacam itu?"

"Mungkin benar. Dalam situasi seperti ini, Seseorang biasanya menghubungi GM di permainan online lain, tapi tidak ada GM dalam SAO... Tetap saja, bukan kursornya saja. Untuk seorang pemain, dia masih sangat muda."

Itu benar. Tubuh yang ditahan Kirito luar biasa kecil. Dia tidak terlihat lebih tua dari 10 tahun. Seharusnya ada batasan usia ketika menyeting Nerve Gear, sebelum bisa sign up, melarang anak kecil, mungkin dibawah 13 tahun, untuk bisa menggunakannya.

Asuna mengulurkan tangannya dengan lembut, mengusap dahi gadis itu. Rasanya agak dingin dan halus saat disentuh.

"Mengapa.. ada gadis semuda ini didalam SAO..?"

Menggigit bibirnya dengan kuat, Kirito berbicara saat ia bangkit berdiri.

"Untuk saat ini, kita tidak bisa meninggalkan dia sendiri. Kita harus menemukan sesuatu ketika dia bangun. Ayo kita membawanya kembali bersama kita."

"Ya, Itu benar."

Kirito berdiri sambil membawa gadis itu di tangannya. Asuna dengan santai menoleh ke sekitarnya, namun tidak mampu menemukan apapun selain tunggul kayu besar yang busuk, dia tidak berhasil mengetahui alasan keberadaan gadis itu di daerah ini.

Mereka berlari hampir di sepanjang jalan, tapi gadis itu tidak sadar, bahkan setelah mereka keluar dari hutan dan kembali ke rumah. Meletakkan gadis itu di tempat tidur Asuna dan menyelimutinya, pasangan itu duduk, berdampingan, di tempat tidur yang berdekatan milik Kirito.

Ada keheningan sesaat di udara, sebelum Kirito dengan santai memecah kesunyian.

"Nah, ada satu hal yang kita bisa yakin, yaitu bahwa dia bukan NPC karena kita bisa membawanya kesini."

"Ya... itu benar."

NPC dibawah kendali sistem memiliki posisi tetap mereka masing-masing serta rentang koordinat tertentu dan dengan demikian, tidak dapat dipindahkan sesuai dengan keinginan pemain. Jika pemain mencoba menyentuh atau memegang mereka, jendela laporan pelecehan akan muncul dalam hitungan detik, memberi pemain kejutan menyakitkan dan melempar mereka pergi.

Mengangguk ringan setuju dengan pendapat Asuna, dilanjutkan dengan potongan oleh Kirito.

"Juga, hal seperti itu tidak mungkin awal mula terjadinya suatu quest. Jika pembukaan suatu quest, maka jendela quest seharusnya akan muncul begitu kita menyentuhnya… Dengan kata lain, anak ini pastilah seorang pemain yang tersesat... Atau setidaknya, pasti ada kesimpulan yang masuk akal."

Menggeser tatapannya ke tempat tidur secara cepat, kirito melanjutkan pemikirannya.

"Tidak memiliki kristal, mungkin tidak khawatir tentang cara berkelana, aku yakin dia tidak pernah berani keluar menuju field, dan hanya menetap di «Starting City». Aku tak tau mengapa dia datang sejauh ini ke suatu tempat seperti ini, namun di Starting City, kita mungkin menemukan seseorang yang mengenalinya... mungkin juga kita bisa menemukan orang tuanya atau pengasuhnya."

"Yeah. Aku berpikir seperti itu juga. Aku tak percaya bahwa anak sekecil ini berkeliaran sendiri. Dia seharusnya datang bersama keluarganya atau seorang seperti itu... Meskipun, aku berharap mereka aman."

Setelah mengucapkan kalimat terakhir dengan kesulitan, Asuna berbalik dan menghadap Kirito.

"Hei, gadis ini akan bangun kan?"

"Ah. Jika dia belum menghilang, dia seharusnya masih mengenakan Nerve Gear. Kondisinya pasti tidak jauh berbeda dengan tidurnya. Itulah mengapa, cepat atau lambat, dia akan bangun... aku yakin."

Menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, kata–kata Kirito penuh dengan harapan.

Karena Asuna bangun, dia berlutut di depan tempat tidur dimana si gadis sedang tertidur, dia mengulurkan tangan kanannya dan dengan lembut membelai kepala si gadis tersebut.

Dia memang gadis yang cantik. Dibandingkan dengan anak-anak, kehadirannya bisa dikatakan lebih menyerupai seorang peri. Kulitnya mirip dengan batu pualam, halus dan putih bersih. Rambut panjang hitamnya yang berkilau elegan, dan wajahnya yang enak dipandang, tanpa keraguan, dia akan mempesona jika telah membuka matanya dan tersenyum.

Kirito juga lebih mendekat, menurunkan tubuhnya di samping Asuna. Menjulurkan tangan kanannya dan membelai rambut si gadis dengan ragu–ragu.

"Dia tidak terlihat berusia sepuluh tahun... Mungkin sekitar delapan tahun?"

"Seharusnya sekitar segitu... Dia pemain termuda yang pernah aku temui."

"Benar. Aku bertemu beast tamer perempuan sebelumnya, namun tampaknya dia berusia sekitar tiga belas tahun."

Mendengar sesuatu yang belum pernah dia dengar, secara naluri Asuna menatap Kirito.

"Hmm, jadi kamu memiliki teman imut seperti itu, huh."

"Ah, kami hanya bertukar email hingga sekarang dan... ti- tidak, Cuma itu, tak ada hal lain!"

"Aku heran. Kirito-kun itu menyebalkan."

Dan Asuna berbalik dengan emosi mengerikan.

Karena merasa pembicaraan telah menuju arah yang aneh, Kirito berdiri dan berbicara.

"Ah, sudah selarut ini. Ayo kita makan."

"Tentang cerita itu, aku akan memastikan bahwa kamu harus menjelaskan semua detailnya di lain hari, oke."

Memelototi Kirito sekali lagi, Asuna juga berdiri, tertawa karena dia tidak mempermasalahkan masalah tersebut untuk saat ini.

"Well, mari kita makan. Aku akan membuatkan teh."

Sore hari di musim gugur dilalui dengan damai, bahkan ketika langit memerah karena matahari terbenam di ufuk timur, si gadis masih belum terbangun dari tidurnya.

Ketika menutup tirai dan menyalakan lampu di dinding, Kirito telah kembali dari perjalanannya ke desa. Menggelengkan kepalanya perlahan, dia gagal menemukan petunjuk tentang si gadis.

Tidak dalam kondisi menyenangkan untuk menikmati makan malam untuk memilih sepasang sop atau roti, lalu Kirito memulai berusaha setelah melihat berbagai macam koran yang dia bawa.

Meskipun disebut koran, namun tidak seperti koran yang ada di dunia nyata dimana lembaran kertas diikat secara bersamaan, namun sebaliknya, merupakan selembar perkamen yang ukurannya mirip dengan majalah. Koran ini dapat digambarkan seperti sistem layar jendela, dan dengan mengeditnya seperti website, dapat digunakan untuk mengatur serta menampilkan informasi yang telah dikumpulkan.

Isi korannya juga mirip dengan situs walkthrough game yang diatur oleh pemain, yang terdiri dari : berita, petunjuk bagi pemula, FAQs, daftar item, dll. Disamping itu, ada juga bagian Hilang & Temukan / Q&A, dimana mataku tertuju. Aku berfikir bahwa ada kemungkinan jika ada seseorang yang mencari seorang anak perempuan. tetapi—

"...Tak ada, eh..."

"Tidak ada, huh..."

Menghabiskan sepuluh menit melihat seluruh isi koran, dua kali melihat lagi dan akhirnya merilekskan ketegangan yang ada di bahuku. Tak ada yang bias kulakukan hingga si gadis terbangun dan menjelaskan seluruh kejadiannya.

Pada malam yang biasa, Kirito dan Asuna akan terjaga hingga larut malam dan berbincang–bincang, bermain game, bahkan berjalan–jalan di malam hari, atau aktifitas tak terhitung lainnya yang jarang mereka lakukan, tapi keduanya tidak dalam mood untuk melakukan hal–hal itu malam ini.

"Sepertinya satu hari telah terlewat."

"Hm. Aku kira juga begitu."

Asuna merespon kata–kata Kirito dengan anggukan.

Mematikan lampu yang berada di ruang tamu, mereka berdua menuju ke dalam kamar tidur. Karena si gadis menempati salah satu tempat tidur, salah satu dari Kirito atau Asuna harus tidur harus tidur satu sama lain— well, hal seperti itu sudah pernah dilakukan setiap malam, tapi— dan mereka berdua cepat-cepat berganti pakaian tidur.

Lampu di kamar tidur juga dipadamkan, dan keduanya berbaring ke kasur.

Kirito benar–benar memiliki beberapa skills unik dan aneh; Namun, skill mudah tidur tampaknya termasuk ke dalam skill aneh yang dimilikinya. Ketika Asuna mempunyai mood untuk mengobrol, dia berbalik ke arah kirito, dan telah terdengar suara nafas ktika tidur.

"Ya ampun."

Sedikit berguman atas ketidakterimaannya, Asuna berbalik ke sisi lain, menghadap kasur dimana si gadis kecil masih tertidur. Dalam pucatnya malam, si gadis berambut hitam masih tetap tertidur seperti sebelumnya. Meskipun Asuna belum pernah melakukan upaya nyata untuk mengungkap masa lalu si gadis ini, pikirannya secara perlahan memikirkan ke arah itu ketika Asuna tetap menatap si gadis.

Jika si gadis ini tinggal dengan pengasuhnya sampai sekarang, seperti orang tua ataupun saudaranya, hal itu masih baik. Tetapi, jika kasusnya bahwa dia datang ke dunia ini sendiri dan menghabiskan dua tahun dalam ketakutan dan pengasingan— untuk anak usia delapan atau sembilan tahun, hari–hari itu pastilah tidak menyenagkan. Jika gadis ini dalam situasi seperti itu, dia mungkin tidak bias mempertahankan kewarasannya.

Mungkinkah— Asuna memperkirakan kesimpulan terburuk. Mungkin, alasan mengapa dia berkeliaran di tengah hutan dan tak sadarkan diri karena beberapa alasan yang disebabkan kondisi mentalnya. Tentunya, tidak ada psikoterapi dalam Aincrad; juga tidak ada sistem administrator untuk hal seperti itu. Prediksi paling optimis untuk menyelesaikan game ini masih setengah tahun lagi setidaknya, dan tidak bisa dicapai hanya oleh usaha Asuna dan Kirito saja. Berdasarkan fakta, keduanya masih absen dari garis depan, jumlah pemain pada level yang setingkat dengan Asuna dan Kirito akan berkurang dua, serta menciptakan party yang seimbang pasti juga lebih sulit.

Terlepas dari seberapa dalam penderitaan yang dilalui gadis ini, Asuna tidak mempunyai kemampuan untuk menyelamatkannya— Menyadari hal itu, Asuna merasakan sakit dalam dadanya. Dia secara sadar berpindah ke sisi si gadis kecil yang masih tidur.

Membelai rambut si gadis untuk sesaat, Asuna berbalik secara lembut untuk menyelimiti dan berbaring di sampingnya. Dengan kedua tangannya, Asuna memeluk tubuh kecilnya dengan erat. Meskipun gadis tersebut tidak bergerak bahkan satu inci pun, ekspresinya telihat tampak nyaman, lalu Asuna berbisik secara pelan.

"Selamat malam. Pasti akan menyenangkan jika kamu segera bangun besok..."

Bagian 2[edit]

Bermandikan cahaya pagi, sebuah nada merdu terdengar dalam kesadaran Asuna yang masih mengantuk. Suara itu adalah suara jam alarm dengan nada yang memainkan oboe[37]. Berada dalam sensasi di ujung bangunnya, Asuna menikmati melodi tersebut, entah mengapa berisi bernostalgia. Belum lama ini, gema menyegarkan yang berasal dari instrument senar dan klarinet saling berkaitan satu sama lain, bersamaan suara senandung samar

—Senandung?

Asuna bukanlah orang yang bersenandung. Asuna membuka matanya.

Dalam pelukannya, kelopak mata si gadis berambut hitam masih tertutup... namun, dia bersenandung bersamaan dengan melodi yang berasal dari jam alarm milik Asuna.

Si gadis bahkan tidak melewatkan satupun nada. Bagaimanapun, hal itu mustahil. Karena Asuna mengatur alarm tersebut hanya untuk didengarkan olehnya saja, tak mungkin orang lain dapat menghafal nada seperti bernyanyi bersamaan melodi di dalam pikirannya.

Setidaknya, Asuna memilih untuk mengesampingkan keraguan tersebut untuk saat ini. Dibandingkan itu—

"Ki- Kirito-kun, ya ampun, Kirito-kun!!"

Tanpa bergerak satu inci pun, dia memanggil Kirito yang sedang tertidur di kasur belakang. Ada tanda dari Kirito yang berguman sedikit menandakan dia terbangun.

"...Selamat pagi. Ada sesuatu?"

"Cepat, kesini!"

Terdengar derit lantai kayu. Mengganti tatapannya pada Asuna yang berada di kasur, Kirito membuka matanya lebar-lebar dengan segera.

"Dia bernyanyi...!?"

"Y- Yeah..."

Asuna secara pelan menggoncangkan si gadis dengan kedua tangannya dan memanggilnya.

"Hei, bangun... buka matamu."

Si gadis menghentikan gerakan bibirnya. Segera, bulu matanya yang panjang bergetar lemah dan perlahan terangkat.

Dengan matanya yang berair, dia mengintip langsung ke dalam mata Asuna, tepat sebelum melihat Asuna. Berkedip beberapa kali, dia hampir membuka bibirnya yang sedikit kecil dan tak berwarna.

"Aa... uu..."

Suara si gadis terdengar, seperti perak yang sedikit bergetar, sebuah suara yang indah. Asuna berdiri, masih memegang si gadis.

"...Syukurlah, kamu akhirnya bangun. Apakah kamu mengetahui sesuatu, well, apa yang terjadi padamu?"

Ketika berbicara seperti itu, si gadis tetap terdiam setelah beberapa detik lalu menggelengkan kepalanya sedikit.

"Aku paham... Siapa namamu? Bisakah kamu memberitahunya?"

"N... aama... nama.. ku... "

Karena si gadis memiringkan kepalanya, rambut hitamnya yang berkilau jatuh ke pipinya.

"Yu... i. Yui. Itu... namaku..."

"Owh, Yui-chan? Sungguh nama yang cantik. Aku Asuna. Dan orang itu adalah Kirito."

Karena Asuna berbalik, si gadis yang memanggil dirinya sendiri Yui mengikuti dan menggeser pandangannya. Melihat kesana kemari di antara Asuna dan Kirito yang setengah membungkuk ke depan, lalu ia membuka mulutnya.

"A... una. Ki... to."

Dengan bibirnya yang goyah, dia berbicara dengan suara terputus-putus. Ketakutan Asuna dari malam sebelumnya kembali. Penampilan luar si gadis setidaknya berusia delapan tahun; jika kamu mempertimbangkan waktu yang telah berlalu sejak dia log in, usia sebenarnya seharusnya mencapai usia sepuluh tahun sekarang. Namun, kata-kata gemetar si gadis ini, seolah-olah keluar dari seorang bayi yang baru saja memperoleh kesadaran.

"Hei, Yui-chan. Mengapa kamu berapa di lantai duapuluh dua? Apakah ayah atau ibumu mungkin, berada di sekitar sini?"

Yui menggerakkan bibirnya kebawah dan tenggelam dalam diam. Tetap terdiam selama beberapa saat, dia menggelengkan kepalanya kebelakang dan depan.

"Aku tidak... tahu... Aku tidak...tahu, apapun..."

Setelah duduk di kursi pada meja makan dan menawarkan segelas susu manis hangat, si gadis memegang cangkir di dada dengan kedua tangannya lalu meminumnya. Mengawasinya dari sudut matanya, Asuna mendiskusikan situasi ini dengan Kirito dengan jarak terpisah dari si gadis.

"Hei, Kirito-kun. Apa yang kamu pikirkan...?"

Kirito menggigit bibirnya dengan ekspresi serius, tapi segera berbicara dengan wajah tertunduk.

"Tampaknya... dia telah kehilangan ingatannya. Tetapi, dengan reaksi seperti itu... seperti, pikirannya juga mendapat kerusakan atau..."

"Yeah... kamu juga berpikir seperti itu kan, huh..."

"Sial."

Wajah Kirito berubah, tampaknya hendak mengeluarkan air mata.

"Di dunia ini... aku telah melihat banyak hal mengerikan... tapi, hal ini... yang paling buruk. Ini terlalu kejam..."

Melihat mata Kirito berair, Asuna juga merasakan sesuatu yang meledak dari dadanya. Menggenggam tangan Kirito, dia berbicara.

"Hal ini pasti akan baik-baik saja kan, Kirito-kun. ...jika itu kita, pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan."

"...Yeah. benar..."

Kirito mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil, menepuk tangannya ke pundak Asuna dan kembali ke meja makan. Asuna mengikuti di belakangnya.

Pindah ke kursi dengan dentuman, Kirito duduk di samping Yui lalu memulai percakapan dengan suara menyenangkan.

"Aah, Yui-chan....Bolehkah aku memanggilmu Yui?"

Mengangkat mukanya dari cangkir, Yui mengangguk.

"Aku mengerti. Lalu, Yui bisa memanggilku, Kirito."

"Ki... to."

"Itu, Kirito. Ki, ri, to."

"..."

Yui memasang ekspresi rumit dan tetap terdiam untuk beberapa saat.

"...Kiito."

Kirito tersenyum lebar dan meletakkan tangannya di kepala Yui.

"Mungkin itu sedikit sulit. Kamu bisa memanggilku dengan nama lain yang lebih mudah kamu inginkan."

Yui sekali lagi terdiam untuk sementara waktu. Dia tidak mengaduk isi gelasnya sedikitpun, bahkan ketika Asuna mengambil cangkir dari atas meja dan mengisi kembali dengan susu.

Cukup lama menunggu, Yui menaikkan wajahnya perlahan dan menatap Kirito, dengan takut - takut, dia membuka mulutnya.

"...Papa."

Lalu, Yui berbalik kearah Asuna dan berbicara.

"Auna adalah... Mama."

Asuna tak bisa mengendalikan gemetarannya. Dia tidak tahu jika gadis ini salah paham jika Kirito dan Asuna adalah orang tua sebenarnya, atau mungkin— bahwa orang tuanya tidak ada di dunia ini sama sekali, dan dia menginginkan keduanya; tapi sebelum berurusan dengan kecurigaan tersebut, Asuna dengan panik mencoba untuk menahan perasaan yang mengisi hatinya dan mencoba untuk keluar, lalu Asuna mengangguk sambil tersenyum.

"Betul... Ini Mama, Yui-chan."

Mendengar itu, Yui tersenyum untuk pertama kalinya. Di bawah rambutnya yang lurus, matanya yang berseri tanpa ekspresi, dan dalam waktu singkat, warna tampaknya telah kembali ke wajahnya seperti boneka.

"...Mama!"

Melihat lengan yang terentang ke arahnya, Asuna merasakan sakit di dalam dadanya.

"Uu..."

Dengan sungguh-sungguh menahan air mata yang akan keluar, Asuna entah bagaimana berhasil untuk mempertahankan senyumnya. Dia membawa Yui dari atas kursi dan memeluknya, Asuna meneteskan sebuah air mata yang terisi dengan berbagai macam emosi, lalu menetes di pipinya.


Setelah selesai meminum susu hangat dan menghabiskan roti kecil miliknya, Yui tampaknya telah mengantuk sekali lagi, karena kepalanya bergoyang kesana kemari sambil duduk di atas kursi.

Melihat tingkah laku si gadis sambil duduk di sisi lain meja, Asuna mengusap matanya dengan tangannya lalu melihat kearah Kirito yang duduk di sebelahnya.

"A- Aku..."

Meskipun membuka mulutnya, Asuna tak bisa membentuk kata-kata yang ingin ia ucapkan.

"Maaf, aku tak tahu harus aku lakukan..."

Kirito menatap Asuna dengan mata iba, tapi segera berbicara dengan suara mendesah.

"...Hingga anak ini mendapatkan kembali ingatannya, kamu ingin tinggal dan menjaganya kan? Aku mengerti... perasaan tersebut. Aku juga merasakan hal yang sama... hal ini sungguh menyakitkan... jika kita melakukannya, kita tak bisa kembali untuk menyelesaikan game sementara waktu, dan dengan hal tersebut, waktu untuk membebaskan anak ini juga akan tertunda..."

"Yeah... itu semua benar..."

Menyandarkan dirinya kesamping, Asuna mulai berpikir. Bukannya melebih - lebihkan, tapi kehadiran Kirito sebagai seorang clearing player berada di atas rata - rata, dia menyediakan peta perjalanan di dalam area labirin dengan jumlah di atas rata-rata guild terkemuka sambil menjadi seorang solo player. Sementara merencanakan hal tersebut hanya terlewat beberapa minggu karena bulan madu setelah menikah, memonopoli Kirito oleh dirinya sendiri seperti ini cukup membuatnya merasa sedikit bersalah.

"Untuk sekarang, mari lakukan apa yang kita bisa."

Melihat ke arah Yui yang telah tertidur, Kirito melanjutkan perkataannya.

"Pertama - tama, mari pergi ke Starting City dan lihat apakah kita bisa menemukan orang tua atau saudaranya. Dengan kehadirannya sebagai pemain, aku yakin setidaknya ada sekelompok orang yang mengenalinya."

"..."

Hal itu sebuah kesimpulan yang alami. Namun, Asuna menyadari perasaannya yang tidak ingin berpisah dari gadis ini. Ini adalah kehidupan dimana ia bisa hidup berduaan dengan Kirito, yang mana pernah ia impikan; tapi entah mengapa, Asuna tidak keberatan jika hidup bertiga bersama Yui. Hal ini mungkin disebabkan karena ia merasa jika Yui bisa menjadi putri dari Kirito dengannya...Mendapat pikiran seperti itu, Asuna terkejut dan kembali ke kesadarannya, dan tersipu.

”...? Kenapa sih?"

"B- Bukan apa - apa!!"

Asuna berbalik dari Kirito yang tampak curiga, dan menggoncangkan kepalanya ke belakang dan depan.

"I- Itu benar. Ketika Yui-chan bangun, mari pergi ke Starting City. Kita juga bisa mencari sesuatu di pojok tanya jawab pada koran ketika dalam perjalanan."

Masih tidak bisa melihat wajah Kirito, Asuna berbicara dengan cepat sambil merapikan meja makan dengan tergesaa - gesa. Ketika ia melihat ke arah Yui yang tertidur di atas kursi, mungkin ini hanya imajinasinya saja, namun wajah tertidurnya terlihat berbeda dari kemarin, kali ini tampak lebih cerah.

Dipindahkan ke kasur, Yui tertidur sepanjang pagi, dan bertanya-tanya apakah dia kembali koma, Asuna benar-benar khawatir; tapi untungnya, dia terbangun ketika persiapan untuk makan siang telah selesai.

Meskipun memanggang kue buah-buahan yang jarang Asuna buat. Karena untuk Yui, ketika Yui menduduki tempatnya di meja makan, daripada kue, Yui menunjukkan ketertarikan lebih pada sandwich penuh mustard yang digigit oleh Kirito hingga menjadi dua.

"Ah, Yui, yang ini benar-benar pedas lho."

"Uu... Yui ingin punya makanan yang sama dimiliki Papa."

"Aku mengerti. Aku tidak akan menghentikanmu jika Yui telah membuat pilihan. Pengalaman adalah segalanya."

Setelah menyerahkan sandwich, Yui melebarkan mulut mungilnya dengan sekuat tenaga lalu mengambil gigitan pertama tanpa ragu - ragu.

Kirito dan Asuna menahan nafas mereka ketika melihatnya mengunyah makanan dengan ekspresi rumit, dan akhirnya Yui berhasil menelannya menuju tenggorokan dengan tegukan lalu berseri riang.

"Yummy."

"Anak ini punya nyali juga."

Kirito tersenyum lalu mengusap kepala Yui.

"Ayo kita coba tantangan dengan memakan hidangan makan malam yang sangat pedas."

"Ya ampun, jangan terbawa! Tak mungkin aku membuat makanan seperti itu!"

Tapi jika Kirito dan Asuna menemukan pengasuh Yui di Starting City, orang yang kembali ke sini hanya mereka berdua. Berpikir seperti itu, Asuna merasakan kesepian yang berada di hatinya.

Asuna menatap ke arah Yui yang telah selesai memakan sisa sandwich dan sedang meminum susu dengan tatapan puas, sebelum berbicara.

"Oh, Yui-chan, ayo pergi keluar di sore ini."

"Pergi keluar?"

Menatap lurus ke arah wajah Yui yang kebingungan, Asuna berhenti sejenak, bertanya-tanya bagaimana menjelaskannya ketika Kirito memotong.

"Kita pergi mencari teman-teman Yui."

"Teman... Apa itu?"

Bereaksi atas jawaban tersebut, keduanya bertukar pandang secara reflek. Ada banyak keganjilan pada «sindrom» yang diderita Yui. Bukan hanya kemunduran mental, sindrom ini lebih memberi kesan bahwa kepingan ingatannya hilang.

Untuk memulihkan kondisinya, menemukan pengasuh sebenarnya pastilah cara terbaik... mengatakan hal seperti itu pada dirinya sendiri, Asuna menatap Yui lalu menjawab.

"Well, teman itu adalah orang yang bisa membantu Yui-chan. Sekarang, ayo siap - siap."

Ekspresi Yui masih menunjukkan sedikit keraguan, namun ia mengangguk lalu berdiri.

Baju putih satu setel yang di kenakan gadis ini memiliki lengan pendek dan terbuat dari bahan tipis, pastilah dingin jika pergi keluar ketika musim seperti ini, awal musim dingin. Tentunya, merasa dingin, atau mungkin bisa masuk angin, menderita karena damage, hal seperti itu tak akan terjadi— well, namun akan lain ceritanya jika kamu telanjang dan pergi ke area dingin, tapi— fakta bahwa seseorang biasanya akan merasa gelisah tidaklah berubah.

Asuna menggerakkan daftar item miliknya, mematerialkan pakaian tebal satu persatu, dan akhirnya Asuna menemukan sebuah sweater yang cocok untuk Yui, ia mendatanginya lalu tiba-tiba berhenti.

Umumnya, ketika mengequipkan pakaian, seseorang akan memanipulasi equipment melalui jendela status. Baju, cairan dan benda-benda halus lainnya tidak dibuat secara baik di SAO, oleh karena itu, dibandingkan sebuah benda terpisah secara sendiri, pakaian dianggap sebagai bagian dari tubuh itu sendiri.

Menyadari keragu-raguan Asuna, Kirito menanyai Yui.

"Yui, tentang jendela milikmu, dapatkah kamu membukanya?"

Seperti yang diduga, si gadis menggelengkan kepalanya sebagai tanda ketidaktahuan.

"Well, coba gerakkan jari pada tangan kananmu. Seperti ini."

Kirito mengayunkan jarinya, lalu sebuah jendela persegi berwarna ungu muncul di bawah tangannya. Melihat hal itu, Yui meniru gerakan tersebut dengan tangan gemetar, tetapi jendela miliknya tidak terbuka.

"...Seperti dugaanku, ada semacam bug pada sistemnya. Tetapi, tidak bisa membuka jendela status milik sendiri itu masalah serius... kamu tidak bisa melakukan apapun jika seperti itu."

Karena Kirito menggigit bibirnya, merasa terganggu, Yui yang baru saja melambaikan jari pada tangan kanannya, kini melambaikan tangan kirinya. Tepat pada saat itu, sebuah jendela keunguan muncul di bawah tangannya.

"Jendelanya keluar!"

Diatas Yui yang menyeringai penuh kepuasan, Asuna bertukar pandang dengan Kirito, yang melihat kembali sambil terkejut. Asuna tak tahu apa yang baru saja terjadi.

"Yui-chan, bolehkah aku melihat-lihat."

Asuna membungkuk dan memandang dengan tajam ke dalam jendela milik Yui. Bagaimanapun juga, status pemain biasanya tersembunyi untuk semua orang, kecuali pemiliknya, dan apa yang bisa Asuna lihat hanyalah layar sederhana yang kosong.

"Maaf, bolehkah kupegang tanganmu sebentar."

Asuna memegang tangan Yui dengan tangannya, menggerakkan jari kecilnya, mengklik di sekitar tempat dimana ia pikir tombol visibility mode berada.

Tujuan utama Asuna adalah agar fitur layar jendela segera terlihat keluar dengan efek suara kecil. Biasanya, melihat status orang lain bisa dianggap suatu etika paling buruk, meskipun dalam situasi yang tidak biasa, Asuna mencoba yang terbaik agar bisa melihatnya dan yang terbuka hanya penyimpanan, tatapi...

"Ap- Apa ini!?"

Memandang untuk kedua kalinya pada bagian atas layar, ia benar-benar kaget.

Bagian atas menu jendela memang terlihat normal, terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pengaturan ada di bagian paling atas, nama ditampilkan dalam bahasa inggris bersamaan dengan bar HP dan EXP yang panjang dan tipis, lalu dibawahnya, pada bagian kanan tengah, merupakan bagian equipment figure, sedangkan bagian kiri sisanya merupakan rangkuman dari tombol perintah. Ada begitu banyak contoh desain untuk memodifikasi icon dan semacamnya, tetapi layout default tak bisa diganti. Dengan kata lain, pada bagian paling atas dari jendela milik Yui, hanya nama aneh yang ditampilkan yaitu «Yui-MHCP001», dengan tidak adanya bar HP ataupun bar EXP, dan juga level yang tidak ditampilkan. Meskipun bagian equipment figure ada, jumlah tombol perintah sangat sedikit dari biasanya, hanya ada «Item» dan «Option».

Menyadari Asuna yang terdiam membeku, Kirito juga mendekat dan mengintip kedalam jendela milik Yui, dan menahan nafasnya ketika ia melihat. Yui, yang tidak mengetahui keanehan jendela miliknya, menatap keduanya dengan tatapan ingin tahu apa yang terjadi.

"Apakah ini juga... sebuah bug pada sistem...?"

Asuna berguman, dan erangan keluar dari tenggorokan Kirito.

"Untuk beberapa alasan... dibandingkan sebuah bug, tampaknya jendela ini lebih terlihat seperti sebuah desain yang benar-benar awal... Sial, aku tak pernah berfikir untuk lebih kesal karena tidak ada GM sebelumnya, namun hal ini."

"Umumnya, di dalam SAO, jarang ada bug ataupun lag untuk dibicarakan, jadi kita jarang membutuhkan bantuan GM... Aku kira tidak ada gunanya merenung akan masalah ini lagi sekarang..."

Mengangkat bahunya, Asuna menggerakkan jari Yui sekali lagi, membuka penyimpanan. Menempatkan sweater yang ia ambil dari atas meja kedalamnya, item akan tersimpan kedalam jendela penyimpanan dengan sekejap. Selanjutnya, Asuna menyeret nama sweater menuju menu equipment figure, dan menjatuhkannya disana.

Bersamaan efek suara yang terdengar seperti sebuah bel, tubuh Yui diselimuti cahaya, menampilkan sweater berwarna pink ke dalam bentuk nyata pada Yui.

"Waah..."

Memperlihatkan ekspresi senang, Yui melebarkan tangannya dan melihat ke seluruh bagian tubuhnya sendiri. Asuna mengikuti, memakai baju yang memiliki warna yang agak mirip dengan celana hitam, dan sepatu merah lalu mengequipkan item tersebut satu sama lain, akhirnya setelah mengembalikan baju satu setel miliknya kedalam penyimpanan, Asuna menghilangkan jendela miliknya.

Selesai berpakaian, Yui terlihat senang, lalu ia menggosok pipinya dengan sweater lembut dan menarik roknya.

"Sekarang, ayo berangkat."

"Um. Papa, gendong."

Menanggapi reaksi Yui yang membuka kedua tangannya tanpa peduli, Kirito dengan malu memberikan senyum masam lalu mengangkat tubuh si gadis. Ketika melakukan itu, ia memandang Asuna lalu berbicara.

"Asuna, dalam masalah ini, bersiaplah untuk bertarung kapanpun. Kita tidak seharusnya pergi ke kota, tetapi... karena kota itu adalah daerah kekuasaan milik «The Army»..."

"Hm... lebih baik tidak menurunkan kewaspadaanmu."

Dengan satu anggukan, Asuna mengecek kembali penyimpanan miliknya lalu berjalan menuju pintu dengan Kirito. Pastilah baik jika pengasuh gadis ini berhasil ditemukan; hal ini adalah perasaan jujur milik Asuna, tapi membayangkan membuat party dengan Yui membuatnya merasa tidak nyaman. Mereka baru saja satu hari bertemu, namun tampaknya Yui telah mengambil sebagian hati milik Asuna.


Sebenarnya telah berbulan-bulan berlalu sejak kunjungannya menuju lantai pertama, «Starting City».

Merasakan emosi yang komplek dalam hatinya, Asuna masih berdiri di dekat gerbang keluar teleport, menatap plaza yang besar ini dan jalan-jalan membentang diluarnya.

Tentu saja, karena ini adalah kota terbesar dalam Aincrad, membandingkan fasilitas penting untuk berpetualang disini dengan kota-kota lain, benar-benar tak ada kompetisi disini. Harga-harga secara umum rendah, dan segala macam penginapan bisa ditemukan disini. Dilihat dari segi efisiensi, kota ini adalah tempat yang paling cocok untuk digunakan sebagai kota awal.

Akan tetapi, jika kamu pergi bersama Asuna, tidak ada seorangpun yang berlevel tinggi tinggal di Starting City hingga sekarang. Penindasan dari «The Army» menjadi salah satunya, tapi mungkin lebih disebabkan karena fakta ketika berdiri di central plaza dan melihat ke atas langit, ia tak bisa mengingat apa yang terjadi pada waktu itu.

Awal dari semua itu adalah suatu kehendak.

Terlahir dari hubungan dari ayah seorang pebisnis dan ibu seorang sarjana, Asuna—Yuuki Asuna, telah dididik untuk mematuhi harapan orang tuanya sejak pertama kali ia memperooleh kesadaran. Kedua orang tuanya adalah orang yang tanpa ampun jika berurusan dengan mereka, sementara bertindak dengan lembut terhadap Asuna, dan karena itulah, Asuna menjadi khawatir atas reaksi mereka jika ia tidak bisa hidup atas harapan keduanya.

Kakaknya juga mungkin sama. Asuna dan kakanya telah memilih sekolah privat atas kehendak orang tuanya, dan tanpa hambatan, secara bertahap mereka mendapatkan hasil yang memuaskan.

Sejak kakaknya akhirnya mencapai umur untuk diterima di universitas dan meninggalkan rumah, ia hidup tanpa apa-apa dalam pikirannya, tetapi semata-mata hanya hidup untuk memenuhi harapan orang tuanya. Mengambil pelajaran untuk beberapa kegiatan, bersosialisasi dengan teman yang hanya diterima oleh orang tuanya, namun karena ia melalui hidup seperti itu, Asuna akhirnya merasa jika dunianya lama-lama menjadi semakin kecil. Jika ia terus berjalan pada jalan yang telah ditentukan— masuk ke SMA dan universitas yang telah ditentukan oleh kedua orang tuanya, menikah dengan pasangan yang ditentukan oleh kedua orang tuanya, ia yakin nahwa ia telah terjebak dalam cangkang yang benar-benar sangat keras, meskipun lebih kecil ketika sebelumnya, dan tidak bisa untuk lari darinya; hal ini adalah ketakutan yang selalu ia derita.

Itulah mengapa, ketika kakaknya telah bekerja di perusahaan yang di kelola ayahnya dan pulang kerumah, ia berbicara penuh antusias tentang Nerve Gear dan salinan game SAO yang ia peroleh melalui koneksinya, tentang seperti apa dunia «VRMMO» pertama, meskipun Asuna belum pernah memainkan suatu konsol permainan sebelumnya, ia merasakan ketertarikan tentang dunia tersebut.

Tentunya, jika kakaknya menggunakan Nerve Gear di dalam kamarnya, Asuna mungkin akan segera lupa dan tidak akan merasa terganggu tentang suatu hal seperti Nerve Gear. Akan tetapi, karena momen yang tak begitu baik, kakaknya harus pergi dalam perjalanan bisnis keluar negeri pada hari pertama dimulainya SAO, dan begitulah, Asuna akhirnya meminjam Nerve Gear dari kakaknya hanya untuk satu hari karena keinginannya. Merasakan hasrat untuk melihat dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya, semua itu penyebabnya—

Lalu, semuanya berubah.

Hingga sekarang, Asuan masih mengingat keisengan pada hari itu, ketika ia beubah dari Asuna menjadi "Asuna", mencari jati dirinya sendiri di jalanan yang tak dikenal, diantara orang-orang yang tak mengenalnya.

Tetapi secara tiba-tiba setelahnya, ketika dewa kekosongan turun dan mengumumkan tentang game kematian ini, dengan ketidakmungkinan untuk melarikan diri dari dunia ini, hal pertama yang Asuna pikirkan adalah tugas matematika miliknya yang belum ia kerjakan.

Jika ia tidak segera kembali dan mengerjakannya, ia akan dimarahi oleh gurunya pada saat pelajaran. Demi kehidupan Asuna yang telah ia tempuh sejauh ini, pastilah menjadi suatu kegagalan yang tak bisa ia maafkan... tapi tentu saja, kerasnya situasi tersebut bikanlah hambatan.

Satu minggu, dua minggu, bahkan tiap hari terlewati dengan santainya, tak ada tanda-tanda adanya bantuan dari luar. Mengasingkan diri sendiri di salah satu penginapan di Starting City, meringkuk di atas tempat tidur, Asuna terus menerus mengalami kepanikan. Menjerit setiap saat, bahkan memukul tembok ketika ia meratap. Hari tersebut adalah musim salju pada tahun ketiganya di SMP. Ujian sekolahnya akan segera dimulai, dan setelah itu, ujian masuk SMA. Menjadi seorang yang telah tergelincir dari jalan yang ditempuh sama saja merupakan kehancuran bagi hidup Asuna.

Asuna menghabiskan hari-harinya penuh masalah, merasa sangat malu, merasa tak percaya.

Daripada mengkhawatirkan kondisi tubuh anaknya, orang tua Asuna pasti sangat kecewa atas putrinya yang telah gagal atas ujiannya karena sebuah konsol game. Teman- temannya, daripada bersedih, mungkin mereka mengasihaninya yang di keluarkan dari kelompok mereka, atau mungkin malah mencibirnya.

Ketika ia melalui saat-saat kritis dengan pikiran kelam, Asuna akhirnya membuat sebuah keputusan—untuk meninggalkan penginapan. Tidak menunggu untuk di selamatkan, tetapi untuk melarikan diri dari dunia ini dengan kekuatannya sendiri. Untuk menjadi seorang penyelamat yang mengakhiri insiden ini. Tanpa menempuh jalan itu, ia kemungkinan besar tidak akan mampu menahan kehadirannya bersama orang-orang disekitarnya tak lama lagi.

Asuna menyiapkan beberapa equipment, mengingat seluruh referensi manual, dan menuju ke field. Waktu untuk tidur setiap hari ia batasi selama dua jam, tiga jam, dan sisa waktu miliknya ia kerahkan untuk meningkatkan levelnya. Sebagai hasil memfokuskan kebijakan miliknya dan keinginan kuat untuk menyelesaikan permainan, hal tersebut tidak terlalu lama sebelum ia masuk dalam daftar pemain tingkat atas. Inilah bagaimana si swordswoman yang bersemangat, Asuna the «Flash» terlahir.

Kembali ke masa kini— dua tahun telah berlalu, dan saat ini Asuna telah berusia tujuh belas tahun, ia menatap kembali pada saat-saat itu dengan peresaan pahit. Bukan, tidak hanya ketika waktu permainan ini dimulai. Semua hal yang terjadi sebelumnya, bahwa dirinya hidup dalam dunia yang keras dan sempit, ia teringat bahwa sebagian besar masa lalunya penuh dengan kesedihan.

Asuna rasanya tidak mengerti arti dari, «untuk hidup». Semua hal yang pernah ia lakukan hanyalah tentang masa depan yang ideal, pengorbanan masa kini. «Masa Kini» adalah suatu hal yang sia-sia untuk mewujudkan masa depan yang sempurna, dan karenanya, dengan hilangnya hal tersebut, tak ada yang tersisa. Hal tersebut menghilang dalam ketiadaan.

Hal tersebut tidaklah baik jika satu sama lain. Menghadapi dunia SAO, ia menyimpulkannya secara serius.

Ia yang mengejar masa depan akan menjadi seorang Asuna yang dulu, maju ke depan untuk menyelesaikan permainan ini, sementara ia yang menempel di masa lalu akan tetap menjadi seseorang yang meringkuk di kamar penginapan lantai pertama. Dan ia yang hidup untuk saat ini akan mencari kesenagan sementara sebagai seorang kriminal.

Tetapi meskipun berada di dunia ini, ada orang-orang yang menikmati masa kini, membuat suatu kenangan satu sama lain sementara bekerja keras untuk lari dari dunia ini. Seseorang yang mengajarinya adalah si pendekar pedang berambut hitam yang ia temui setahun lalu. Cara hidupnya— ketika hal itu memasuki pikirannya, warna dari kehidupannya telah berubah.

Sekarang, jika dunia ini adalah dunia nyata, ia merasa seperti bisa untuk menghancurkan cangkang yang menutupi hidupnya. Ia percaya jika ia akan bisa hidup untuk dirinya sendiri. Selama orang ini berada di sisinya—

Asuna perlahan mendekati Kirito dengan malu menyembunyikan perasaan terdalamnya sambil menatap jalanan. Rasa sakit yang ia rasakan lagi, ketika menatap atap lantai di atasnya kini telah sedikit berkurang.

Menggelengkan kepalanya sekali lagi seolah-olah ingin menghilangkan pemikiran tadi, Asuna mengintip ke wajah Yui yang masih digendong oleh Kirito.

"Yui-chan, apa kamu memiliki ingatan tentang bangunan- bangunan, atau hal seperti itu?"

"Uu..."

Dengan ekspresi rumit, Yui melihat sekeliling pada struktur bangunan, lalu memandang keluar dari plaza, dan akhirnya ia menggelengkan kepalanya.

"Aku tak tahu..."

"Well, Starring City memang sangat luas."

Kirito berbicara sambil mengusap kepala Yui.

"Well, suatu hal pasti akan membuatnya teringat sesegera jika kita tetap berkeliling. Ayo kita cek pusat tempat belanja untuk sekarang ini."

"Mungkin ada benarnya juga."

Mengangguk sepakat, keduanya mulai berjalan menuju jalan utama di selatan.

Akan tetapi— ketika ia berjalan, Asuna memandang plaza sekali lagi dengan suatu keraguan. Hanya ada beberapa orang di sekitar.

Gerbang plaza dari Starting City sungguh lebar seperti yang kira, bisa menampung sepuluh ribu pemain dua tahun yang lalu pada acara pembukaan server SAO. Di tengah jalan berbatu adalah tempat kosong dalam bentuk bulat sempurna, terdapat subuah menara jam yang menjulang tinggi dengan gerbang teleport yang berkedip kebiruan di bagian yang lebih rendah. Bunga-bunga bermekaran ditanam di sekeliling menara, dan dengan elegan, bangku putih berada di antara keduanya. Tidaklah mengherankan jika plaza ini akan penuh dengan orang-orang yang mencari tempat untuk istirahat di sore hari; namun, tak ada orang-orang yang berada di sekitar gerbang ataupun menuju keluar plaza, dan hampir tidak ada orang yang duduk di bangku yang berada di sini.

Untuk jalan utama dari kota lantai atas, gerbang plazanya akan selalu ramai karena para pemain yang sangat banyak. Menggosip, mencari anggota party, berkumpul di toko pinggir jalan, sebagai hasilnya karena orang yang berkumpul sungguh banyak, untuk berjalan saja sungguh menyulitkan, tetapi—

"Hey, Kirito-kun."

"Hm?"

Asuna bertanya pada Kirito yang berbalik.

"Sekitar berapa jumlah pemain yang berada di lantai pertama saat ini?"

"Hmm, well... jumlah pemain yang masih hidup sekitar enam ribu, dan tiga puluh persen diantaranya masih berada di Starting City jika kita menghitung «The Army»; jadi seharunya jumlah para pemain di bawah angka dua ribu, kan?"

"Menyadari jumlah itu, bukankah menurutmu ada sedikit pemain di sini?"

"Ketika kamu berkata seperti itu... Mungkin mereka hanya berkumpul di sekitar toko?"

Bagaimanapun juga, ketika memasuki jalan utama plaza, bahkan ketika mereka mendekat ke area belanja dengan toko dan gerobak berbaris, jalanan masih tetap sepi. Teriakan-teriakan promosi dari NPC penjaga toko bergema sia-sia melewati jalanan.

Meskipun begitu, keduanya akhirnya bisa menjumpai seseorang yang sedang duduk di bawah pohon besar di tengah jalan, lalu Asuna menghampiri dan mencoba memanggilnya.

"Ah, permisi."

Si pria, menatap ke atas puncak pohon dengan ekspresi yang sangat aneh, dan berbicara tanpa menyesuaikan pandangannya meskipun hal tersebut terlihat mengganggu.

"Ada apa."

"Well... Di sekitar sini, apakah ada tempat untuk mencari orang hilang?"

Mendengar ucapan tersebut, si pria akhirnya menggeser pandangannya menuju Asuna. Ia memandang wajah Asuna tanpa berbalik.

"Apa, jadi kamu orang luar."

"Ah, iya. Well... kami sedang mencari pengasuh dari anak ini..."

Asuna menunjuk Yui, yang masih tertidur sementara di lengan Kirito.

Karena mengenakan seragam sehingga sulit untuk mengetahui tingkat class miliknya, si pria melebarkan matanya sedikit ketika ia memandang sekilas pada Yui, tapi ia segera berpaling ke pandangan awalnya pada puncak pohon.

"...Seorang anak hilang, huh, sungguh jarang terjadi.... Pada gereja di sisi lain sungai pada distrik ke tujuh di timur, ada sekelompok pemain anak-anak yang berkumpul dan tinggal disana, jadi cobalah kalian mencari di sana."

"Te- Terima kasih."

Mendapat informasi yang benar-benar mengejutkan, Asuna menundukkan kepalanya dengan cepat. Setelah melakukan hal itu, ia mencoba mengajukan pertanyaan lain.

"Ahh... Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Dan juga, mengapa hanya ada sedikit pemain di sekitar?"

Si pria tersebut hanya membuat senyuman kecil, ia menjawab, tampaknya ia tidak terganggu.

"Info ini mungkin sangat rahasia, atau seperti itulah aku menyebutnya. Well, melihat kamu orang luar... Lihat, kamu bisa melihatnya kan? Cabang pohon tertinggi yang berada di sana."

Asuna mengikuti arah jari yang si pria tunjuk. Cabang-cabang yang menjorok dari pohon yang cukup besar dengan jalan yang cukup jelas berwarna kecoklatan, tapi jika kalu lebih fokus dan menatap mereka, kamu bisa melihat beberapa buah berwarna kuning bermunculan dalam bayang-bayang dedaunan.

"Tentunya, karena pohon-pohon yang berada di pinggir jalan adalah objek yang tak bisa dihancurkan, meskipun kamu mencoba menaikinya, kamu tak akan bisa mendapatkan selembar daunnya sekalipun."

Si pria melanjutkan perkataannya.

"Setiap hari, ada beberapa saat ketika buahnya terjatuh dari pohon... Hanya ada beberapa menit sebelum buah tersebut membusuk lalu menghilang, namun jika kamu tidak melewatkan kesempatan dan berhasil mengambilnya, kamu bisa menjualnya ke NPC dengan harga murah. Belum lagi rasanya sungguh enak."

"Ohhh."

Untuk Asuna, yang telah menguasai skill mamasaknya, berdiskusi tentang bahan-bahan adalah suatu kesenangan tersendiri.

"Sekitar berapa harga buah itu kalau dijual?"

"...Jangan menyebarkan info ini. Setiap satu buah bisa laku lima coll."

"..."

Melihat tatapan bangga si pria, Asuna tak bisa berkata - kata. Ia terkejut karena betapa murahnya harga terebut. Dalam hal ini, bekerja keras dengan bersandar di pohon ini dan menunggu buah terjatuh sepanjang waktu tidaklah sesuai dengan hasil yang didapat.

"Ah, well... jika seperti itu, sepertinya usahamu sungguh sia - sia, atau lebih tepatnya... jika kamu mengalahkan satu ekor worm di field, kamu bisa mendapat tiga puluh coll."

Pada saat ia berkata seperti itu, si pria memandang penuh tanya kali ini. Dia tidak menyalahkan Asuna karena tidak benar dalam pikirannya, tetapi ia berbalik menuju Asuna dengan ekspresi yang menunjukkan betapa tak jelasnya apa yang telah ia lakukan.

"Kamu serius berkata seperti itu. Jika kamu pergi dan bertarung melawan monster di field... kamu mungkin akan benar-benar mati kan."

"..."

Asuna tak bisa memikirkan sebuah jawaban. Itu karena si pria ini telah berkata; bertarung melawan monster selalu menimbulkan bahaya kematian yang selalu menyertainya. Tetapi, dengan mental Asuna saat ini, hal tersebut hanyalah seperti kekhawatiran akan terjadinya kecelakaan ketika menyebrangi jalan di dunia nyata selama siang dan malam; tak ada gunanya takut akan hal seperti itu.

Kalaupun inderanya sendiri telah menjadi tumpul karena menghadapi kematian di SAO, atau kalaupun si pria ini menjadi terlalu gugup, Asuna tak bisa menyalahkannya secara tiba - tiba, Asuna masih berdiri tak bergerak. Mungkin, keduanya tak dapat dianggap sebagai pihak yang benar. Pada Starting City, apa yang dikatakan pria ini adalah hal yang umum.

Tak menyadari kondisi mental Asuna yang rumit, si pria melanjutkan perkataannya.

"Dan, apa ya, alasan mengapa tidak ada orang di sekitar? Itu karena mereka bukan tidak ada di sekitar. Semuanya mengunci dirinya sendiri di kamar penginapan. Mereka mungkin bertemu dengan pasukan The Army penagih pajak di siang hari."

"Pe- Penagih pajak... apa maksudnya itu?"

"Hanya suatu pemerasan dalam cara sopan. Tetap jaga kewaspadaanmu; orang-orang ini tidak akan mengampunimu meskipun kamu orang luar. Oh lihat, tampaknya ada yang jatuh... cukup sekian obrolan kita kali ini."

Menutup mulutnya, si pria mulai menatap langit secara serius. Asuna dengan cepat menunduk sebagai tanda terima kasih, dan menyadari bahwa Kirito telah terdiam selama percakapan tadi, berbalik menghadap Asuna.

Di tempat tersebut, adalah sosok Kirito yang fokus menatap buah berwarna kuning dengan tatapan serius, tidak seperti menatap worn di tengah pertarungan. Tampaknya ia bermaksud untuk menunggu buah selanjutnya terjatuh.

"Hentikan tatapan itu, ya ampun!"

"T- Tapi kamu lihatkan, apakah itu mengganggumu?"

Mencengkram tenguk Kirito, Asuna mulai berjalan sambil menyeretnya.

"Ah, ahh... dan tampaknya buah itu terasa enak..."

Menjewer telinga Kirito, dengan penyesalan yang masih tersisa, Asuna mendorongnya untuk berbalik.

"Dibanding itu, jalan mana yang menuju distrik tujuh di timur? Tampaknya ada pemain-pemain muda yang tinggal disana, ayo segera pergi kesana."

"...Yeea."

Sambil menggendong Yui yang telah benar-benar tertidur, dan berpegang erat padanya, Asuna menatap peta sambil menjaga kecepatan berjalannya di samping Kirito.

Karena Yui memiliki tubuh luar sekitar umur sepuluh tahun, menggendongnya seperti ini di dunia nyata akan menyebabkan lengannya capek dalam beberapa menit, namun bersyukurlah karena ada keuntungan dari parameter kekuatan fisiknya, Asuna tidak merasakan berat apapun dibanding guling yang terisi bulu.

Berjalan menuju tenggara melalui jalan-jalan lebar selama sepuluh menit, dan cukup berpapasan dengan orang- orang sebelumnya, mereka akhirnya sampai ke area taman yang luas. Hutan yang luas- pohon-pohon berdaun dengan warna yang telah berubah, melambaikan kesedihannya karena angin dingin pada awal musim salju.

"Ayo kita lihat, tempat ini menunjukkan distrik timur ketujuh pada peta, namun... aku bertanya-tanya dimanakah gereja itu sebenarnya."

"Ah, bukankah yang itu?"

Dibalik hutan, membentang di sisi kanan jalan, Asuna melihat menara tinggi yang unik dan kokoh dalam arah pandangan yang ditunjuknya. Pada puncak menara yang beratap biru pucat, sebuah logam ankh[38] terbentuk dengan menyatukan sebuah salib dan lingkaran, bercahaya. Itu adalah sebuah tanda dari gereja. Sebuah bangunan yang berdiri setidakanya satu di setiap kota dan melalui altar di dalamnya, tugas-tugas seperti melenyapkan serangan unik dari monster, «Curse», dan memberkati senjata untuk melawan monsters undead menjadi mungkin. Dalam SAO, dimana komponen berbasis sihir ada, gereja bisa dianggap tempat paling misterius.

Juga, selama coll ditawarkan secara teratur, sebuah ruangan didalam gereja bisa di sewa dan digunakan sebagai pengganti sebuah penginapan.

"Tu- tunggu sebentar."

Asuna tanpa disadari memanggil Kirito untuk berhenti, ketika ia hampir berjalan menuju gereja tersebut.

"Hm? Ada apa?"

"Ah, tidak... Well... jika, kita berhasil bertemu dengan pengasuh Yui di sana, kita akan... meninggalkan Yui-chan disini kan...?"

"..."

Mata hitam Kirito melunak penuh simpati terhadap Asuna. Ia menarik tangannya lebih dekat dengan lembut dan merangkul tubuh Asuna bersama Yui yang sedang tertidur.

"Aku juga tak ingin menjadi bagian darinya. Bagaimana mengatakannya ya... dengan kehadiran Yui, rumah kita yang berada di hutan sungguh terasa seperti rumah sesungguhnya... well, seperti itulah rasanya... Namun, ini tidak seperti kamu tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Jika Yui berhasil mendapatkan ingatannya kembali, ia pasti akan datang dan berkunjung lagi.”

"Hm... Betul si."

Memberi anggukan kecil, Asuna membawa Yui yang masih di lengannya lebih dekat dan sedikit menyentuh pipinya sebelum berjalan kedepan, setelah perasaanya terasa lebih baik.

Bangunan gereja terlihat kecil jika dibandingkan skala kota ini. Gereja tersebut berlantai dua, dengan puncak menara tunggal sebagai simbolnya. Tetapi, ada berbagai macam gereja didalam Starting City, dan gereja yang ada di dekat gerbang plaza seukuran kastil kecil.

Setelah sampai di depan pintu ganda yang berukuran besar, Asuna mendorong salah satunya dengan tangan kanannya. Menjadi fasilitas umum, suatu gereja pastilah tidak terkunci. Interior didalamnya redup, dan hanya ada penerangan dari lilin yang menghiasi altar di depan dan menerangi lantai dari batu. Tak ada tanda –tanda kehidupan pada awalnya.

Memunculkan tubuh bagian atasnya melalui pintu masuk, Asuna memanggil.

"Ahh, adakah orang di sini?"

Meskipun suaranya bergema, tak seorangpun terlihat keluar.

"Apakah tak ada orang...?"

Saat Asuna memiringkan kepalanya ke samping, Kirito membantahnya dengan suara pelan.

"Nah, tampaknya ada orang di sini. Tiga di ruang sebelah kanan, empat di sebelah kiri... dan masih banyak lagi di lantai dua."

"...Dengan skill deteksi milikmu, kamu bahkan bisa mengetahui jumlah orang-orang yang ada di balik tembok?"

"Tingkat kemahiran skill punyaku sudah sembilan ratus delapan puluh. Skill ini sungguh efisien, kamu seharusnya meningkatkan juga."

"Tak mau, latihan yang membosankannya akan membuatku gila.... Kesampingkan itu, ngomong-ngomong mengapa mereka bersembunyi..."

Asuna perlahan melangkah ke dalam bangunan gereja. Kondisi di dalamnya sungguh sepi, tapi entah mengapa ia bisa meresakan kehadiran orang lain yang sedang menahan nafas mereka..

"Ah, permisi, kami sedang mencari seseorang!"

Ia mencoba memanggil dalam suara keras. Dengan hal itu— pintu di sisi kanan sedikit terbuka, dan suara gemetar seorang perempuan terdengar dari sana.

"...kamu bukan dari the «Army» kan?"

"Bukan. Kami datang dari lantai atas."

Asuna dan Kirito tidak membawa pedang mereka, bahkan tidak mengenakan armor untuk bertarung. Pemain yang masuk ke the Army mengenakan seragam yang terbuat dari armor berat sepanjang waktu, jadi seseorang seharusnya bisa mengenali bahwa Asuna dan Kirito tidak ada hubungannya dengan the Army jika dilihat melalui penampilan.

Cukup lama, pintu tersebut terbuka, dan seorang pemain wanita muncul dengan ketakutan.

Sebuah kepala berambut biru dengan kacamata besar berbingkai hitam, dan mata berwarna hijau terbuka lebar terisi penuh ketakutan muncul. Mengenakan gaun polos sederhana berwarna biru tua, ia memiliki belati yang tertutup sarung belati di tangannya.

"Kamu benar - benar... bukan dari kelompok penagih pajak the Army kan...?"

Asuna memberikan senyuman tenag. Lalu mengangguk.

"Ya, kami hanya mencari seseorang dan baru saja turun dari atas hari ini. Kami benar-benar tak ada hubungannya dengan the Army."

Seketika itu juga—

"Dari atas!? Maksudmu, kamu benar-benar seorang swordsmen!?"

Bersamaan dengan sorakan bernada tingginya, pintu di belakang si wanita terbuka lebar, beberapa sosok pemain berlarian tak berarutan. Secara tiba-tiba, pintu di sebelah kiri altar juga ikut terbuka, beberapa orang lalu keluar secara berdesakan.

Terkejut akan hal itu, Asuna dan Kirito memantau pemandangan tersebut tanpa bisa berkata - kata, yang berbaris di kedua sisi si wanita berkaca mata adalah semua pemain muda yang bisa dikatakan hanya anak - anak laki-laki dan perempuan. Pemain yang paling muda mungkin sekitar dua belas tahun, sementara yang paling tua mungkin sekitar empat belas tahun. Semuanya memandang Asuna dan Kirito dengan penuh ketertarikan.

"Hei, kalian semua, Aku bilang untuk tetap bersembunyi di dalam ruangan kan!"

Hanya si wanita yang mendorong anak-anak tersebut dalam kebingungan, sepertinaya ia berusia sekitar duapuluh tahun. Tampaknya tak seorang pun anak mematuhi perintahnya.

Tetapi setelah itu, anak pertama yang keluar dari ruangan, seorang anak lelaki berambut merah pendek yang sedang berdiri di ujung, berteriak dengan nada penuh kekecewaan.

"Apaan sih, kamu bahkan tidak memegang sebuah pedang. Hei, bukankah kamu dari lantai atas? Seharusnya kamu memiliki senjata?" Hampir separuh perkataan itu ditujukan kepada Kirito.

"B- Bukan, ini tidak seperti yang terlihat, tapi..."

Kirito membalas ketika ia mendaratkan matanya penuh keterkejutan, dan wajah anak-anak tersebut bersinar sekali lagi. Ijinkan aku melihat, ijinkan aku melihat, mereka semua memohon secara bersamaan.

"Lihat, kalian tidak boleh berbicara tak sopan kepada orang yang baru saja kalian temui—

Maaf, kami jarang menerima tamu belakangan ini, jadi..."

Menghadapi si wanita berkacamata yang memohon maaf sambil menunduk, Asuna berbicara segera.

"Bu- Bukan, Bukan itu masalahnya. —Hei, Kirito-kun, kamu masih memiliki beberapa di dalam penyimpananmu, bisakah kamu memperlihatkan pada mereka?"

"Y- Yea."

Mengangguk karena persetujuan Asuna, Kirito membuka jendela miliknya dengan jarinya, mengubah sepuluh senjata ke dalam bentuk nyata secara bersamaan, lalu menumpuknya pada meja panjang terdekat. Senjata tersebut adalah item yang dijatuhkan monster ketika petualangan terakhir dan terlupakan karena ia tak memiliki waktu untuk menjualnya.

Kirito lalu menutup jendelanya, dengan semua item yang berlebih kecuali beberapa pasang equipment yang telah diambil, anak-anak ini bersorak dan menyerbu di sekitar meja. Mengetahui rasa menyentuh pedang, palu dan semacamnya satu sama lain, mereka merengek karena "Berattt" dan "Keren". Pemandangan ini akan meninggalkan keoverprotektifan orang tua, namun tak peduli bagaimana senjata di pegang di dalam kota, tak mungkin mengakibatkan damage ketika tergores.

"—Aku benar-benar minta maaf..."

Meskipun si wanita meminta maaf karena masalah yang ditimbulkan, sebuah senyum tampak di wajahnya karena melihat anak-anak yang senang, ia lalu berbicara.

"...Ah, karena telah datang sejauh ini. Aku akan membuatkan teh, jadi..."

Dipandu ke dalam ruangan kecil di dalam tempat ibadah, Asuna dan Kirito meneguk teh hangat yang dihidangkan pada keduanya.

"Jadi... kamu bilang bahwa kamu datang untuk mencari seseorang...?"

Si pemain wanita yang duduk berlawanan meja mengajukan pertanyaan tersebut dengan memiringkan sedikit kepalanya.

"Ah, iya. Er... Aku Asuna, dan orang ini adalah Kirito."

"Ahh, maaf, aku bahkan belum memperkenalkan diri. Namaku Sasha."

Ia lalu menunduk karena memperkenalan dirinya.

"Lalu, anak ini bernama Yui."

Sambil membelai rambut Yui yang masih tertidur di pangkuannya Asuna melanjutkan.

"Anak ini tersesat di tengah hutan pada lantai ke duapuluh dua. Dia... tampaknya kehilangan ingatannya, jadi..."

"Astaga..."

Si wanita yang memanggil dirinya Sasha melebarkan mata kehijauannya yang tersembunyi di balik kacamata lebih lebar.

"Ia bahkan tak memiliki apapun selain pakaian yang terequip, jadi tampaknya ia tidak tinggal di lantai bagian atas... Dan juga, mungkin pengasuhnya berada di Starting City... atau mungkin orang yang mengenali anak ini mungkin bisa di temukan, kami berpikir kemungkinan tersebut, lalu kami datang ke sini untuk menemukan mereka. Selain itu, ketika kami mendengar bahwa pemain anak-anak berkumpul di gereja ini..."

"Itulah cerita singkatnya..."

Sasha meraih cangkir teh dengan tangannya, lalu menjatuhkan pandangannya ke meja.

"...Sekarang ini, ada duapuluh orang pemain yang tinggal di gereja ini, anak-anak dari sekolah dasar hingga tingkat smp. Aku kurang lebihnya yakin, semua pemain anak-anak di sekitar kota ini. Pada waktu ketika game dimulai..."

Sasha mulai berbicara dalam suara berbisik, tapi masih bisa didengar.

"Hampir semua anak-anak menjadi panik dan mengalami trauma mental. Tentu saja, ada anak-anak yang terbiasa lalu meninggalkan kota, tapi aku percaya mereka adalah pengecualian."

Hal seperti itu juga pernah Asuna alami, di tahun ketiga smpnya pada waktu itu. Ketika ia mengunci dirinya sendiri di kamar penginapan, ia yakin bahwa pikirannya akan hancur karena merasa terpojok.

"Seperti yang diharapkan; mereka masih dalam usia ketika mereka masih ingin dimanjakan orang tuanya. Lalu tiba-tiba diberitahu seseorang bahwa mereka tidak bisa keluar dari sini, mungkin juga tak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata— anak-anak tersebut menjadi down, dan di dalam pikiran mereka... tampaknya ada sesuatu yang hilang."

Mulut Sasha menjadi kaku.

"Selama sebulan ketika game dimulai, aku berpikir untuk menyelesaikan game ini dan berencana berlatih di field, tetapi... suatu hari, aku melihat salah satu dari anak-anak tersebut di sudut jalanan, aku tak bisa meninggalkan anak tersebut sendiri begitu saja; jadi aku membawa anak-anak bersamaku dan memulai hidup di penginapan. Selanjutnya, ketika aku berpikir bahwa masih ada anak-anak sepertinya, aku mulai berkeliling kota, dan mencari anak-anak tersebut. Sebelum aku menyadarinya, semuanya telah berakhir seperti ini. Itulah mengapa... meskipun ada orang-orang yang bertarung di lantai atas seperti kalian berdua, aku merasa tak bisa memaafkan diriku sendiri karena tak bisa membantu menyelesaikan game ini."

"Itu... Itu tidak-"

Sambil menggelengkan kepalanya, Asuna berusaha untuk menemukan kata-kata yang tepat, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Mengambil alih pembicaraan, Kirito berbicara.

"Itu tidak sepenuhnya benar. Kamu berjuang dengan sangat berani... bahkan lebih hebat daripada orang sepertiku."

"Aku sungguh berterima kasih. Namun aku tidak cukup melakukan hal ini tanpa adanya tanggung jawab. Sungguh menyenangkan hidup bersama anak-anak ini."

Sasha tersenyum manis sambil menatap Yui yang sedang tertidur pulas.

"Itulah mengapa... selama dua tahun ini, setiap hari kami berkeliling di semua bangunan yang ada di setiap area, mengecek jika ada anak-anak yang membutuhkan bantuan. Jika ada sejumlah anak-anak yang masih tertinggal, kami akan segera menyadarinya. Maaf untuk mengatakan ini... tetapi tampaknya anak ini, aku tak yakin jika ia pernah tinggal di Starting City."

"Begitu ya..."

Asuna menundukkan kepalanya ke bawah sambil memeluk Yui. Ia menarik diri lalu memandang ke arah Sasha.

"Er, tampaknya ini akan mengganggu privasimu, tetapi bagaimana kamu memperoleh penghasilan untuk keperluan sehari-hari dan semacamnya?"

"Ah, hal itu, selain aku, ada beberapa anak-anak yang lebih dewasa yang melindungi tempat ini...mereka berada pada level yang menjamin keselamatan mereka selama mereka berada di field sekitar kota ini, jadi kami masih bisa menyimpan cadangan makanan. Kami tak bisa hidup dalam kemewahan."

"Oh, sungguh mengagumkan... menilai dari apa yang kudengar sebelumnya di kota ini, sesuatu seperti berburu monster di dalam field bisa dianggap suatu tindakan bunuh diri yang bertentangan dengan akal sehat."

Sasha mengangguk atas perkataan Kirito.

"Pada dasarnya, aku percaya bahwa pikiran seperti itulah yang dipikirkan pemain yang masih tersisa di kota ini. Aku tidak menyangkat hal tersebut; hal itu tak akan membantumu, ketika kamu mengira akan adanya bahaya kematian... Bagaimanapun juga, pikiran tersebut juga manjadi alasan mengapa kita mengumpulkan uang di atas rata-rata pemain di kota ini."

Itu memang benar; untuk mengatur pengeluaran di gereja ini, seratus coll setidaknya di butuhkan setiap harinya. Jumlah ini melebihi pendapatan harian si pemburu buah sebelumnya.

"Itulah mengapa aku terus mengawasi mereka akhir-akhir ini..."

"...Mengawasi siapa?"

Mata lembut Sasha berubah dalam sekejap. Ketika ia membuka mulut untuk melanjutkan perkataannya, pada saat itu...

"Sensei! Sasha-sensei! Ini mengerikan!!"

Pintu pada ruang ini terbanting terbuka, dan beberapa anak membanjiri ruang ini seperti longsor salju.

"Hei, kalian tak sopan pada tamu!"

"Itu tak penting sekarang!!"

Si rambut merah yang sebelumnya kini berteriak, dengan air mata yang akan tumpah dari matannya.

"Kak Gin dan lainnya telah tertangkap oleh the Army!"

"—Dimana!?"

Bangun dengan cara yang begitu tegas bahwa ia merasa seolah-olah dirinya menjadi orang lain, Sasha menanyai anak ini.

"Di lahan kosong di belakang toko bekas pada distrik timur kelima. The Army telah memblokir lorongnya dengan sepuluh orang atau lebih. Hanya Kotta yang berhasil melarikan diri."

"Mengerti, aku akan pergi kesana sekarang. —Maaf, tapi..."

Berbalik menghadap wajah Asuna dan Kirito, Sasha menundukkan kepalanya.

"Aku tak bisa mengabaikan anak-anak ini. Kita akan melanjutkan percakapan ini nanti..."

"kami juga akan pergi, sensei!!"

Karena anak berambut merah menangis, seluruh anak-anak yang dibelakang juga berteriak karena sepakat. Bergegas menuju samping Kirito, si anak laki-laki yang memiliki ekspresi putus asa berbicara.

"Kak, pinjami kami senjata sebelumnya sebentar saja! Jika kami memiliki senjata itu, orang-orang dari the Army akan melarikan diri!"

"Aku tak terima!"

Sasha menolak dengan tegas.

"Kalian semua akan menunggu di sini!"

Saat itu juga, Kirito yang telah mengamati keadaan secara diam -diam, mengangkat tangan kanannya seolah-olah menenangkan anak-anak. Ia jarang membaca sejauh mana isi pembicaraan sekarang ini, tetapi hanya kali ini, ia menunjukkan suatu harapan yang segera menenagkan semua anak-anak.

"—Sayang sekali—"

Kirito mulai berbicara dalam nada tenang.

"Parameter yang dibutuhkan untuk senjata itu terlalu tinggi, sehingga kau tak akan bisa mengequipkannya. Kami akan membantu kalian. Meskipun terlihat seperti itu, kakak perempuan yang disana sungguh sangat kuat."

Melirik Kirito, Asuna juga mengangguk. Berdiri, Asuna menuju Sasha dan membuka mulutnya.

"Ijinkan kami untuk membantu. Memiliki kekuatan lebih seharusnya lebih baik."

"—Terima kasih, aku akan bergantung padamu."

Sasha mengangguk dalam, menarik kacamatanya lalu berbicara.

"Nah, maafkan aku, tapi kita akan berlari!"


Bergegas keluar dari gereja, Sasha mulai berlari kedepan sambil membawa belatinya di pinggang. Menggendong Yui, Asuna juga mengejar di belakangnya bersama Kirito. Saat Asuna melirik punggungnya sambil berlari, ia menyadari segerombol anak mengikuti mereka di belakang, tetapi tampaknya Sasha tak memiliki niat untuk menyuruh mereka pulang.

Berlari melalui rimbunnya pohon, mereka memasuki distrik timur keenam dan menuju gang-gang belakang. Tampaknya Sasha mengambil jalan pintas yang paling pendek menuju lokasi, karena ia melewati toko-toko NPC, taman milik rumah pribadi dan semacamnya, mereka melihat sekelompok orang yang memblokir jalan kecil didepan. Tampaknya setidaknya ada sepluh orang. Berpakaian seragam hijau keabu-abuan dan equipment baja hitam, tidak salah lagi mereka adalah anggota the «Army».

Sasha yang berlari tanpa keraguan melewati lorong-lorong akhirnya berhenti, ia menarik perhatian para pemain the Army, dan mereka berbalik dengan senyum lebar.

"Oh, si pengasauh ada di sini."

"...Tolong kembalikan anak-anak."

Sasha berbicara dengan suara yakin.

"Jangan rusak reputasi kami seperti itu. Kami akan segera mengembalikan mereka; kami hanya ingin mengajari mereka sopan santun."

"Ya, ya. orang-orang kota memiliki kewajiban untuk membayar pajak."

Si pria itu lalu tertawa wa-ha-ha-ha, dan semakin keras. Sasha makin mendekat.

"Gin! Kain! Semuanya!! Kalian disana!?"

Ketika Sasha memanggil seperti itu, suara ketakutan terdengar membalas.

"Sensei! Sensei... tolong kami!"

"Jangan khawatirkan masalah uang, serahkan saja semuanya!"

"Sensei... kami tak bisa...!"

Kali ini, suara anak si rambut merah terdengar.

"Nha, ha, ha."

Salah satu anggota Army yang memblokir jalan tertawa sangat keras.

"Well, semua ini karena kalian belum membayar pajak... Uangnya tidak akan cukup kalau hanya segini, eh."

"Benar, sangat benar. Kami ingin kalian juga menyerahkan equipment. Semua armor kalian... setiap lembar armor."

Melihat senyum mesum si pria tersebut, Asuna langsung bisa menebak kondisi mereka di dalam jalanan sempit ini. «Pasukan Penagih Pajak» ini tanpa diragukan lagi akan menuntut kelompok anak - anak, termasuk juga perempuan untuk menyerahkan pakaian mereka. Darah dalam diri Asuna mulai mendidih karena kemarahan.

Sasha tampaknya juga telah mengambil kesimpulan yang sama, ia mendekat menuju anggota the Army dengan hawa permusuhan.

"Minggir... jangan menghalangi! Jika tidak..."

"Jika tidak akan apa hah, pengasuh bayi? Kau akan membayar pajak di tempat ini?"

Orang-orang tersebut menyeringai tanpa ada niat untuk menyingkir.

Di dalam kota, atau setidaknya dalam ruang jangkauan kota, program yang dikenal sebagai Kode Anti Kriminal selalu aktif, mencoba untuk membuat kerusakan, begitu juga untuk memindahkan pemain lain di luar kehendak mereka benar-benar tak mungkin. Akan tetapi, para pemain yang memblokir jalan ini juga begtu. Menyegel jalan dengan cara berdiri di sini, dengan maksud memblokir; bahkan beberapa orang mengelilingi target secara langsung untuk melumpuhkan si korban ke dalam «Area»; keberadaan metode tak bermoral ini bisa di perbolehkan.

Seperti itulah, tindakan tersebut hanya efektif dalam kasus dimana seseorang telah bergerak kedalamnya. Asuna menatap Kirito, lalu berbicara.

"Ayo maju, Kirito-kun."

"Yea."

Mengangguk setuju, mereka bersama-sama menendang tanah tempat mereka berpijak.

Mereka berdua melompat ke depan dengan mengggunakan ketangkasan dan kekuatan yang mereka miliki, Sasha dan anggota the Army hanya bisa melihat tercengang ke atas ketika mereka melewati halangan dengan begitu mudah, dan akhirnya mendarat di ruang yang tertutup dari segala sisi.

"Woah!?"

Beberapa orang melompat mundur karena ketakutan.

Di pojok area tersebut, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan di usia sepuluh tahunan meringguk kaku bersama-sama. Armor mereka telah dicopot, hanya berpakaian pakaian dalam. Asuna menggigit bibirnya, lalu melangkah menuju anak-anak tersebut, dan berbicara sambil tersenyum.

"Sudah tak apa-apa sekarang. Kalian bisa mendapatkan kembali equipment kalian."

Mereka akhirnya mengangguk dengan mata terbuka, mengambil kembali armor mereka yang berada di dekat kaki dengan panik, dan mulai mengoperasikan jendela mereka.

"Oi... Oi, oi, oi!!"

Pada saat itu, seorang pemain dari the Army akhirnya datang dan berteriak keras.

"Apa urusan kalian!! Jangan berani-berani menghalangi pekerjaan the Army!!"

"Tunggu, tunggu sebentar."

Menghentikan teriakan si pria, pemain dengan armor berat melangkah ke depan. Tampaknya ia adalah pemimpin grup ini.

"Kami belum pernah menjumpai kalian di sekitar sini, tetapi apakah kau tau jika tindakanmu itu menentang pasukan pembebasan? Jika kalian masih bermaksud seperti itu, kami bisa menginterogasimu di markas pusat."

Mata sipit si pemimpin tersebut bersinar penuh kekejian. Mencabut pedang besar dari pinggangnya,ia melangkah sambil berulang kali mengasar mata pedangnya di telapak tangannya dengan tujuan tertentu. Permukaan pedang tersebut berkilau karena cahaya matahari yang hampir terbenam. Sebuah kilauan ciri khas suatu senjata yang tak pernah digunakan ataupun diperbaiki dari kerusakan bahkan satu kalipun.

"Atau kamu ingin melunasi «persahabatan dari luar» ini, persahabatan dari luar? Eh!?"

Pada saat Asuna mendengar kalimat tersebut.

Gemertak gigi Asuna bisa terdengar. Ia berpikir jika masalah ini bisa diselesaikan dengan damai, akan tetapi ketika ia melihat anak-anak yang ketakutan, amarahnya sudah melewati batasnya.

"...Kirito-kun, aku serahkan Yui-chan padamu."

Yui diserahkan pada Kirito, dan sebelum seorangpun tahu apa yang terjadi, ia telah mematerialkan rapier miliknya dengan satu tangan. Menghunus rapier yang diterimanya, ia lalu bergerak cepat menuju si pemimpin.

"A.... Ah...?"

Menghadapi si pria yang masih belum memahami situasi dengan mulutnya yang setengah terbuka, Asuna tiba-tiba memusatkan kekuatannya dalam serangan tusukan satu tangan.

Area sekitar tiba-tiba di selimuti cahaya keunguan. Suara hantamannya seperti sebuah ledakan. Wajah si pria terdorong, dan ia jatuh ke belakang dengan linglung karena matanya masih terbuka.

"Jika kau sebegitu inginnya bertarung, tak perlu jauh-jauh pergi ke field."

Melangkah menuju hadapan si pria, Asuna sekali lagi mengacungkan tangan kanannya. Cahaya tersebut terulang lagi, dan suara yang memekakan telinga bergemuruh lagi. Si pemimpin grup ini terdorong kebelakang seolah-olah ia ditolak.

"Jangan khawatir, HP milikmu tak akan menurun. Well, terima kasih karenanya, aku tak perlu menahan lagi."

Menatap Asuna yang perlahan mendekat dengan bibirnya gemetar, si pemimpin tampaknya menyadari maksud tersirat Asuna.

Dalam jangkauan Kode Anti Kriminal, bahkan jika menyerang kepada pemain lain, serangan tersebut akan dihentikan oleh dinding yang tak terlihat dan tak ada damage yang diberikan. Akan tetapi aturan ini juga memiliki celah tertentu: yaitu si penyerang tak perlu khawatir jika ia berubah warna menjadi pemain orange.

Sword Art Online Vol 02 - 241.jpg

Sebagai contohnya celah tersebut bisa digunakan «Dalam Jangkauan Pertarungan», biasanya digunakan untuk pertarungan palsu untuk latihan. Bagaimanapun juga, karena tingkat status dan skill si penyerang, suara dari hantaman dan terangnya warna yang diciptakan oleh sistem, pada waktu yang sama kode tersebut diaktifkan, dan serangan akan ditingkatkan sesuai status si penyerang; dan ditambah dengan kekuatan sword skill yang digunakan, meskipun sedikit, efek dorongan ke belakang akan tetap dihasilkan. Untuk orang yang belum terbiasa, efek tersebut tidaklah mudah untuk ditahan, meskipun kamu tahu bahwa HP tak akan menurun.

"Eek... h- henti..."

Terdorong ke tahan karena serangan Asuna, ia menjerit.

"Kalian... jangan cuma menonton... lakukan sesuatu...!!"

Akhirnya mendapat kesadaran karena suara si pemimpin, para anggota the Army mengeluarkan senjata mereka satu persatu.

Para pemain yang sebelumnya memblokir jalan, kini merasakan ketidaknormalan pada situasi ini akhirnya berlari dari jalanan utara dan selatan.

Dikelilingi oleh pemain the Army dalam bentuk setengah lingkaran, Asuna menatap mereka dengan mata yang berkobar - kobar, seolah-olah ia telah kembali ke waktu ketika ia menjadi seorang pemain yang bersemangat. Menendang tanah tanpa berkata - kata, ia menerjang pasukan tersebut yang tepat dihadapannya.

Dalam waktu singkat, jalanan sempit itu terisi oleh raungan-raungan bagaikan petir.

Sekitar tiga menit kemudian.

Setelah Asuna mendapatkan kembali kesadarannya, ia berhenti melangkah ke depan dan menurunkan pedangnya, apa yang terbaring di area tersebut adalah para pemain the Army yang telah kalah. Satu-satunya yang masih tersisa telah meninggalkan pemimpin mereka dan ia telah kabur.

"Whew..."

Mengambil nafas dalam - dalam, Asuna menyarungkan rapier miliknya dan berbalik kebelakang— apa yang ia lihat adalah sosok Sasha dan anak-anak dari gereja yang masih berdiri penuh shok, kehilangan kata-kata.

"Ah..."

Asuna mundur selangkah sambil menahan nafas. Ia yakin nahwa ia telah menakuti anak-anak tersebut ketika sangat marah dan mengancam the Army sebelumnya, lalu ia memalingkan matanya penuh depresi.

Pada saat itu, si anak laki-laki yang seperti biasa berdiri kedepan di hadapan anak lainnya, sambil menyisir rambut merahnya kembali, bersorak sambil matanya berbinar.

"Mengagumkan... itu mengagumkan kak!! Itu pertama kalinya aku melihat hal seperti itu!!"

"Aku bilang juga apa, kakak ini benar-benar kuat kan?"

Kirito melangkah maju dengan senyum lebar. Memegang Yui dengan tangan kirinya, sebuah pedang dibawa di tangan kanannya. Tampaknya ia juga ingin menghadapi beberapa di antara mereka.

"...A- Ahaha."

Asuna tertawa karena hal tersebut, lalu anak-anak tiba-tiba menyoraki dan melompat ke arahnya.

Sasha memegang kedua tangannya erat-erat di dadanya, tersenyum sambil matanya hendak meneteskan air mata.

"Semuanya.... Perasaan semuanya-"

Suara kecil namun bisa didengar jelas. Asuna mengangkat wajahnya karena kaget. Dalam lengan Kirito, Yui yang telah terbangun tanpa seorangpun menyadari, menatap ke atas pada udara hampa dan mengacungkan tangan kanannya.

Asuna melihat ke arah yang ditunjuk, namun tak ada apapun disana.

"Perasaan semuanya..."

"Yui! Ada apa, Yui!!"

Kirito berteriak, lalu Yui berkedip dua hingga tiga kali, melihat dengan ekspresi kosong. Asuna juga berlari penuh kebingungan lalu menggenggam tangan milik Yui.

"Yui-chan... mungkinkah, kamu mengingat sesuatu!?"

"...Aku... Aku..."

Sambil mengerutkan kening, ia menundukkan kepalanya.

"Aku, tidak pernah... disini... aku selalu sendirian dalam kegelapan..."

Sambil mengerutkan kening seolah-olah ia teringat sesuatu, Yui menggigit bibirnya. Dan, pada saat itu...

"Wa... aa... aaah!!"

Memalingkan kepalanya ke belakang, sebuah jeritan bernada tinggi keluar dari tenggorokannya.

"...!?"

Zsh, zsh, suara yang mirip mesin elektronik bergema dalam telinga Asuna untuk pertama kalinya sejak ia berada dalam SAO. Tiba-tiba setelah hal itu, tubuh Yui mulai bergetar di sana-sini seolah-olah akan runtuh.

"Yu... Yui-chan...!"

Asuna menjerit dan membungkus tangannya di sekitar tubuh Yui secara panik.

"Mama... menakutkan... Mama...!!"

Memeluk tubuh lemah Yui dalam lengan Kirito, Asuna memeluknya erat dalam dadanya. Beberapa detik kemudian, fenomena aneh tersebut menenang, dan tenaga menghilang dari tubuh Yui yang kaku.

"Sebenarnya apa yang terjadi barusan..."

Bisikan kosong dari Kirito samar-samar mengalir dalam keheningan.

Bagian 3[edit]

"Semuanya, masing-masing ambillah satu potong roti!"

"Hei, minumannya akan tumpah jika kamu tak memperhatikan!"

"Aah, sensei! Gin mengambil telur goreng matahari milikku!"

"Aku telah memberikan wortelku sebagai gantinya kan!"

"Ini... sungguh mengagumkan..."

"Ya, sungguh..."

Baik Asuna dan Kirito menatap adegan sarapan yang tampak seperti medan perang di depan mereka, dan berguman satu sama lain dalam kebingungan.

Pada Starting City, tepatnya di ruang tamu dalam gereja pada distrik timur ketujuh. Piring besar penuh telur, sosis, salad sayur dan sejenisnya berbaris di sepanjang meja makan yang besar, meja tersebut hampir terpenuhi oleh duapuluh anak-anak atau lebih dalam keributan.

"Tetapi, tampaknya mereka menikmatinya."

Pada meja lingkaran yang sedikit jauh, Asuna duduk bersama Kirito, Yui, dan Sasha yang tersenyum setelah meminum secangkir teh.

"Seperti inilah setiap harinya. Keadaan ini tak akan tenang tak peduli berapa kali kamu menyuruh mereka diam."

Setelah berkata seperti itu, Sasha menyipitkan matanya yang terisi kasih sayang dari dalam lubuk hatinya ketika ia menatap anak-anak.

"Kamu sungguh menyayangi anak-anak kan?"

Asuna berkata dan Sasha hanya tersenyum malu.

"Di dunia nyata, aku telah berlatih untuk menjadi seorang guru di universitas. Kamu mengerti kan, kekacauan dalam kelas selalu menimbulkan masalah. Kemampuan untuk bisa mengarahkan anak - anak; aku selalu terpancing akan hal tersebut. Namun ketika aku tiba di sini, ketika aku memulai hidup bersama anak-anak tersebut, semuanya tampak berbeda dari apa yang aku yakini... rasanya aku menjadi yang bergantung pada mereka; bahwa mereka telah mendukung aku lebih banyak. Namun, yah hal itu mungkin baik-baik saja... aku mulai mempecayai bahwa hal tersebut hanyalah hasil alami."

"Yah, aku menjadi mengerti entah bagaimana."

Asuna mengangguk, sambil mengusap kepala Yui yang telah memasukkan sendok kemulutnya dengan lembut. Kehangatan yang dibawa oleh kehadiran Yui mengejutkan Asuna. Kehangatan tersebut berbeda dari kehangatan cinta yang ia rasakan di dadanya ketika bersentuhan dengan Kirito; kehangatan seperti dimasukkan kedalam bulu yang tak bisa dilihat, sebelum tersadar sekali lagi; sebuah ketenangan terasa.

Kemarin, setelah pingsan secara tiba - tiba, Yui secara beruntung bangun setelah beberapa menit. Bagaimanapun juga, karena Asuna tidak ingin membuat perjalanan panjang ataupun menggunakan gerbang teleport lagi, dan juga karena undangan Sasha, Kirito dan Asuna akhirnya meminjam salah satu kamar yang tersedia di gereja untuk menginap.

Kondisi Yui tampaknya semakin membaik sejak pagi hari, jadi Asuna serta Kirito menjadi senang karena hal tersebut, tetapi asal usul asli Yui belum diketahui. Berdasarkan ingatan samar-samar yang telah Yui dapatkan, ia tampaknya tak pernah datang ke Starting City, dan lebih parahnya lagi, ia tidak tinggal bersama seorang pengasuh. Dalam hal ini, penyebab rusaknya ingatan milik Yui, atau gejala kemunduran otaknya benar-benar tak di ketahui dan mereka berdua bingung apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Namun Asuna telah bersabar dari perasaan yang ada di dalam hatinya.

Juga hingga sekarang, ia akan melanjutkan hidupnya bersama Yui hingga ingatannya kembali. Bahkan jika cutinya akan berakhir, dan ia harus kembali ke garis depan, pasti ada suatu cara untuk—

Karena Asuna terdiam karena kecemasannya ketika membelai rambut Yui, Kirito meletakkan cangkirnya dan mulai berbicara.

"Sasha-san..."

"Ya?"

"...Well, ini tentang the Army. Sejauh pengetahuanku, meskipun kekejaman dari meraka sungguh luar biasa, mereka masih bertekad untuk menjaga ketertipan umum. Melihat kembali tindakan orang-orang kemarin, tampaknya mereka bertindak seperti seorang kriminal... sejak kapan hal seperti itu terjadi?"

Sasha menjawab dengan tegang.

"Waktu ketika aku merasakan ada perubahan dalam tujuan mereka telah terjadi setengah tahun yang lalu... ada beberapa orang yang melakukan tindakan pemerasan dengan dalih pemungutan pajak, begitu juga di sisi lain, yang ingin menumpas tindakan pemerasan tersebut.

Aku juga pernah melihat sesama anggota the Army saling berhadapan satu sama lain beberapa kali. Berdasarkan rumor, tampaknya ada perebutan kekuasaan diantara para petingginya atau hal semacam itulah..."

"Yeaa... Well, mereka masih sebuah organisasi besar yang memiliki anggota lebih dari seribu sekarang ini. Tak ada pikiran yang terlintas ketika mereka akan memonopoli... Akan tetapi, jika apa yang terjadi kemarin adalah kegiatan harian mereka, mereka tidak seharusnya dibiarkan... Asuna."

"Apa?"

"Apakah pria itu tahu akan situasi ini?"

Menebak siapa orang yang dimaksud dengan kata-kata enggan, orang itu, Asuna berbicara sambil menahan senyum.

"Well, aku kira ia akan tahu... Ketua Heathcliff itu orang yang serba tahu, bahkan tentang gerakan the Army. Berbicara tentangnya, bagaimana caranya aku mengatakan ini ya, ia tampaknya tak tertarik pada apapun selain pemain level atas... ia pernah menanyai berbagai macam hal tentang Kirito-kun ketika sebelumnya, tetapi pada saat penaklukan guild pembunuh, «Laughing Coffin», berlangsung, ia hanya meninggalkan kita dengan satu pasukan untuk pergi, Aku akan menyerahkannya padamu. Bagaimanapun, aku percaya ketua mungkin tak akan mengerahkan grup penyelesai demi memperngaruhi the Army."

"Well, tampaknya hal itu mungkin juga jika kamu menganggap seperti itu... Tetapi dalam kasus ini, kita tak bisa bertindak banyak jika hanya kita berdua."

Mengerutkan alisnya ketika ia meminum teh, Kirito tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap pintu masuk gereja.

"Seseorang disini. Satu orang..."

"Eh... Mungkinkah tamu lain..."

Menegaskan kata-kata Sasha, sebuah ketukan terdengar di dalam bangunan gereja.

Seseorang yang memasuki ruang tamu bersama Sasha yang membawa sebuah belati tergantung di pinggangnya, dan Kirito, yang juga mengikuti Sasha untuk memastikan, adalah seorang pemain wanita berpostur tinggi. Rambut keperakan yang diikat ekor kuda memberikan kesan sosok yang berwawasan, serta mata berwarna biru langitnya terisi penuh semangat, wajah yang cantik.

Gaya rambut, warna rambut, bahkan warna pupil mata bisa di atur sesuka hati dalam SAO, tetapi karena kebanyakan sistem yang bekerja adalah buatan Jepang, pemain dengan corak warna kuat seperti ini bisa dikatakan cukup jarang. Asuna juga pernah sekali mencoba sekuat tenaga untuk mewarnai rambutnya menjadi merah muda; kejadian itu adalah sebuah masa lalu yang tak boleh dikatakan dimana ia akhirnya mengembalikan warnanya menjadi coklat karena kecewa.

Ia adalah wanita yang cantik, dan setelah mendapat kesan pertama juga termasuk bahwa ia adalah wanita dewasa, Asuna menjatuhkan pandangannya sekali lagi menuju equipment yang dikenakan si wanita tersebut, lalu ia terkejut secara reflek.

Meskipun equipment tersebut tersembunyi oleh jubah abu - abu, pada tubuh si pemain wanita ini, ia mengenakan sebuah mantel hijau kehitaman dengan bawahan berwarna sama hingga pahanya; armor metal dengan warna pudar ini tak salah lagi adalah seragam dari the «Army». Di sisi kanan pinggangnya ada sebuah pedang pendek, dan sebuah cambuk menggulung di sisi kirinya.

Anak-anak yang menyadari kehadiran si wanita langsung terdiam secara bersamaan dan berhenti bergerak sementara mata mereka terisi penuh kewaspadaan. Akan tetapi, Sasha tersenyum kepada mereka dan berbicara seolah ia menghapus rasa ketidak percayaan mereka.

"Semuanya, tenanglah, jangan khawatir atas kehadiran wanita ini. Lanjutkan sarapan kalian."

Anak-anak memandang penuh tanya, tetapi dengan kata-kata Sasha yang mereka percayai, semuanya melepaskan ketegangan yang ada di pundak mereka dengan perasaan senang, lalu keributan kembali hadir di ruang tamu tersebut. Si pemain wanita yang telah berjalan menuju meja bundar di tengah-tengah semuanya dan mengambil tempat duduk yang telah disediakan oleh Sasha, ia akhirnya duduk dengan sedikit membungkuk.

Tidak memaham situasi ini, ia menatap Kirito dengan penuh tanya, dan Kirito yang juga telah duduk di kursi menundukkan kepalanya kesamping hingga ia menghadap Asuna lalu berbicara.

"Er, well, orang ini bernama Yuriel-san. Tampaknya ia memiliki suatu hal untuk dibicarakan dengan kita." Pemain berambut silver pengguna cambuk yang telah diperkenalkan sebagai Yuriel menatap lurus ke arah Asuna untuk sesaat, sebelum akhirnya ia menundukkan kepalanya dan membuka mulutnya.

"Senang bertemu denganmu, Namaku Yuriel. Aku masuk dalam sebuah Guild, namanya ALF."

"ALF?"

Asuna bertanya akan nama guild tersebut yang ia dengar untuk pertama kalinya, dengan cepat si wanita menundukkan kepalanya.

"Ah, maafkan saya. Nama itu adalah sebuah singkatan untuk the Aincrad Liberation Force. Aku tak begitu suka nama resminya, jadi..." Suara si wanita terdengar begitu elegant. Perasaan iri tumbuh semakin besar dalam hati Asuna yang selalu berpikir bahwa suaranya kekanak-kanakan, jadi ia kembali memperkenalkan dirinya.

"Senang berkenalan denganmu. Aku dari guild Knights of the Blood's— ah, tidak, aku sedang liburan untuk sementara waktu, kamu bisa memanggilku Asuna. Lalu anak ini bernama Yui."

Setelah menghabiskan sup dan sedang menikmati jus buahnya, Yui mengangkat wajahnya tiba - tiba, memperhatikan Yuriel lebih dekat. Ia sedikit mencondongkan kepalanya, lalu ia segera memberikan sebuah senyum manis, lalu memundurkan tatapannya.

Pada saat nama Knights of the Blood sampai di telingan Yuriel, ia membuka mata biru langitnya lebih lebar.

"KoB... aku mengerti, tak heran jika orang-orang itu dikalahkan dengan mudah."

Asuna yang menyadari siapa orang yang dimaksud, meningkatkan kewaspadaannya sambil berbicara.

"...Dengan kata lain, kamu kesini untuk menanyakan kejadian kemarin, benar begitu kan?"

"Bukan, bukan, bukan untuk itu aku kemari. Malah kebalikannya; aku ingin mengungkapkan rasa terima kasihku karena kalian melakukan hal seperti itu."

"..."

Menatap Kirito dan Asuna yang terdiam karena tidak memahami maksudnya,Yuriel berterus terang akan maksud tujuannya kemari.

"Hari ini, aku datang ke sini karena aku ingin meminta bantuan kalian berdua."

"S-sebuah permintaan...?"

Rambut silvernya bergoyang karena mengangguk, si swordswoman dari the Army melanjutkan perkataannya.

"Iya. Aku akan memulai penjelasanku dari sangat awal. Apa yang kita kenal sebagai the Army, bukanlah nama yang terkenal jika dulu... alasan mengapa ALF menjadi nama Army saat ini dikarenakan fakta bahwa si wakil ketua yang mendirikan guild ini, seorang pria yang bernama Kibaou, sekarang ia menjadi pemimpin yang menguasai guild ini. Pada awalnya, ia memilih nama guild, MTD... pernahkan kamu mendengarnya?"

Asuna tidak mengingat jika pernah mendengar nama itu sebelumnya, namun Kirito memberikan balasan tiba-tiba.

"Nama itu mungkin sebuah singkatan dari «MMO Today». Pada waktu ketika SAO dimulai, nama tersebut adalah situs perkumpulan informasi game terbesar di jepang. Orang yang membentuk guild seharusnya menjadi seorang administrator dari sana. Jika aku tak salah, namanya adalah..."

"Sinker."

Pada saat nama tersebut diucapkan, wajah Yuriel sedikit berubah.

"Dia... dulunya tidak ingin membuat organisasi sok kuasa seperti sekarang ini. Apa yang ia inginkan hanyalah kesetaraan pembagian informasi serta sumber makanan diantara pemain sebanyak mungkin..."

Bahkan setelah Asuna mengetahui keinginan serta gagalnya the «Army» ketika waktu itu melalui desas-desus. Keinginan untuk memburu monster dengan banyak orang, mengurangi tingkat bahaya sebanyak mungkin, melalui itu semua mereka bisa mendapatkan pemasukan tetap dan pengeluaran yang seimbang, tindakan seperti itu bukanlah suatu aib. Tatapi inti dari MMORPGs adalah perebutan sumber daya oleh pemain untuk mereka sendiri, dan hal tersebt tidaklah berubah bahkan bagi orang yang tak dikenal, tidak hanya kondisi extreme yang ada di permainan seperti SAO. Tidak, sebenarnya, bisa dikatakan bahwa kondisi seperti itu malahan semakin menguatkan.

Terlebih lagi, rencana serta kepemimpinan yang kuat bagi sebuah organisasi sangat penting untuk mewujudkan keinginan organisasi, untuk tambahan juga, the Army terlalu besar. Persembunyian dari item yang diperoleh semakin merajalela, pemberontakan secara tiba-tiba terjadi satu persatu, lalu pemimpin guild secara perlahan kehilangan kendali atas guildnya.

"Dan seseorang yang datang untuk memperkuatnya adalah laki-laki bernama Kibaou."

Yuriel berbicara dalam nada yang tidak senang.

"Dia mendukung konsep individualise dari Sinker, lalu memulai memperkuat struktur organisasi dengan pemain-pemain berlevel tinggi yang memiliki pandangan yang sama, dan mengubah nama guild menjadi Aincrad Liberation Force. Untuk tambahan saja, dia mendukung perburuan kriminal dan memonopoli field dengan keefektifan diatas rata - rata, melalui penggunaan kebijakan resmi. Dia setidaknya mempertimbangkan hubungan dengan guild lain dengan cara mempertahankan etika berburu pada area-area setelahnya, dia tetap memonopoli dalam periode waktu lama melalui berbagai cara kekerasan, meningkatkan keuntungan guild dengan tajam, serta menyebabkan pendukung Kibaou memperoleh kekuasaan politik secara cepat. Akhirnya, Sinker secara cepat menjadi tak lebih dari pemimpin palsu... sedangkan pemain-pemain dari kelompok Kibaou telah memulai tindakan pemerasan dibalik dalih «penagihan pajak» bahkan di dalam batas kota. Kemarin, orang yang menyebabkan kalian menemui keadaan berbahaya adalah bagian dari kelompok tersebut."

Yuriel mengmbil nafas, meminum teh yang Sasha buat lalu melanjutkan.

"Bagaimanapun juga, meskipun kelompok Kibaou memiliki kelemahan. Mereka tak mencari apapun selain pengumpulan kekayaan, mereka juga hampir tidak melanjutkan penyelesaian permainan ini. Kepercayaan pada mereka menyebabkan suatu akhir, dan menjadi pembicaraan populer diantara para pemain yang mengikuti Kibaou... Untuk mengendalikan ketidakpuasan tersebut, Kibaou akhirnya memilih bertaruh. Bersama bawahannya, dia membentuk sebuah party yang terdiri dari sepuluh pemain yang memiliki level paling atas, lalu mengirim mereka untuk mengalahkan boss paling atas."

Asuna secara sengaja bertukar pandang dengan Kirito. Pemain dari the Army yang bernama Colbert menantang boss lantai tujuh puluh empat «The Gleameyes», tanpa persiapan yang tepat dan akhirnya tewas secara tragis, sungguh kenangan yang buruk bagi Asuna.

"Bagaimanapun juga betapa tingginya levelmu sejak awal, ketika dibandingkan dengan grup penyelesai, kita tak bisa menolak kurangnya kecapakan yang dimiliki ... hingga akhirnya, party tersebut dihancurkan, dan yang terburuk adalah si pemimpin party tersebut tewas. Kibaou menyalahkan hasil tersebut. Kita sedikit lagi hampir bisa untuk mengeluarkannya dari guild, tetapi..."

Kerutan terbentuk di batang hidung Yuriel, lalu ia menggigit bibirnya.

"Tiga hari lalu, Kibaou mengambil tindakan berlebih karena ia diburu lalu memasang sebuah perangkap kepada Sinker. Dia menggunakan kristal koridor yang telah diatur menuju dungeon terdalam pada pintu keluarnya, dan Sinker secara singkat langsung terbuang menuju dungeon tersebut. Pada waktu itu, Sinker pergi tanpa membawa equipment miliknya karena percaya pada perkataan Kibaou, 'Ayo berbincang tanpa menggunakan senjata,' serta di dungeon tersebut seseorang tak akan bisa melewati mob monster dari bagian paling dalam dan bisa kembali sendiri. Tampaknya ia juga tak membawa kristal teteport..."

"T- tiga hari telah berlalu...!? Sinker-san pasti...?"

Menghadap Asuna yang memberikan pertanyaan, Yuriel mengangguk ringan.

"Namanya pada «Monument of Life» masih belum terconteng, jadi tampaknya ia berhasil menuju area aman. Akan tetapi, karena lokasi dungeonnya kemungkinan berlevel tinggi, kami tak bisa mengambil tindakan apapun... kamu tahu kan, pesan tak bisa dikirimkan jika di dalam dungeon, dan jendela penyimpanan guild tak bisa diakses dari dalam sana, jadi kami juga tak bisa mengirimkan kristal teleport."

Semenjak menggunakan Kristal koridor bisa mengirimkanmu ke tujuan kematian, hal tersebut adalah salah satu teknik dasar yang biasa dikenal sebagai, «Portal PK», Sinker seharusnya tahu akan hal tersebut. Akan tetapi, ia mungkin tidak mempertimbangkan jika wakil ketua pada guild yang sama akan melakukan tindakan seperti itu bahkan penuh kebencian diantara mereka berdua. Atau mungkin, Sinker hanya tidak ingin mempercayai fakta tersebut.

Karena kelihatannya ia bisa membaca pikiran Asuna, Yuriel berguman, "Dia hanya orang yang terlalu baik," lalu melanjutkan.

"...seseorang yang hanya bisa memanipulasi bukti seorang pemimpin guild, the «Scroll of Contracts», adalah Sinker dan Kibaou, jika terus seperti ini, dengan tidak kembalinya Sinker, manajemen guild dan semacamnya, bahkan masalah keuangan; semua hal tersebut akan dikendalikan oleh Kibaou. Kewajiban untuk mencegah Sinker jatuh kedalam perangkap bersama asistennya, adalah aku, dan aku tak punya pilihan lain serta menyelamatkannya. Namun aku tak mungkin melewati dungeon yang sulit demgam levelku saat ini; begitu juga memanggil dukungan dari pemain the «Army»."

Ia menggigit bibirnya rapat, sebelum menatap lurus menuju Kirito lalu ke Asuna.

"Dan pada waktu itu, aku mendengar kabar burung jika sepasang pemain yang sangat kuat muncul di kota ini, oleh karenanya aku datang ke sini untuk meminta bantuan, aku tak bisa mengabaikan situasi ini dan tak melakukan apapun. Kirito-san— Asuna-san." Yuriel membungkuk dalam, lalu berbicara.

"Aku yakin ini sungguh tindakan yang lancang karena kita baru saja bertemu, tetapi kumohon, bisakah kalian membantuku untuk menyelamatkan Sinker?"

Asuna menatap Yuriel sungguh-sungguh yang telah menyelesaikan cerita panjangnya.

Ini menyedihkan untuk dikatakan sebenarnya, tetapi dalam SAO, kata-kata dari orang lain tak bisa dipercaya sebegitu mudahnya. Bahkan untuk masalah seperti ini, kemungkinan hal ini adalah konspirasi untuk memancing Kirito dan Asuna menuju batas luar kota lalu melukai mereka berdua tak bisa diabaikan begitu saja. normalnya, selama memiliki pengetahuan yang cukup tentang permainan ini, mungkin bisa menemukan kebohongan pada cerita ini, namun tak beruntungnya, Asuna dan teman-temannya mengetahui lebih motif asli yang melibatkan the «Army».

Bertukar pandang dengan Kirito, Asuna membuka mulutnya untuk berbicara dengan sopan.

"—Jika ada sesuatu yang bisa kami lakukan, kami seharusnya meminjamkan kekuatan kami—itulah apa yang aku yakini. Tetapi tentang masalah yang terjadi, pertama-tama kami harsu melakukan penyelidikan terlebih dahulu setidaknya untuk mengkonfirmasi ceritamu..."

"Seperti yang kuharapkan, aku seharusnya..."

Yuriel mengangguk sedikit.

"Aku menyadari bahwa ini mungkin permintaan yang tak masuk akal... bagaimanapun juga, aku tak ingin garis horizontal terukir pada nama Sinker lebih dulu pada «Monument of Life» di Black Iron Castle sekarang ini..."

Mata si pengguna cambuk berambut silver tampak meredup untuk mempengaruhi perasaan Asuna. Ia ingin untuk percaya. Tetapi pada waktu yang sama, pengalaman yang telah ia kumpulkan lebih dari dua tahun di dunia ini memperingatkannya, bel alarm tentang bahaya menggoyahkan emosinya..

Melihat ke arah Kirito, ia juga tamapaknya kehilangan arah pikirannya sekali lagi. Mata hitamnya bermaksud menampilkan gejolak hatinya, keinginan untuk membantu Yuriel dan kuatir akan kesehatan Asuna.

—Kemudian itu terjadi. Yui yang terdiam cukup lama hingga kini tiba-tiba mengangkat kepalanya dari cangkir lalu berbicara.

"Tak apa Mama. Orang ini tak berbohong kok."

Asuna kaget dan menatap Yui. Mengesampingkan isi perkataannya, kata-kata Yui sungguh bahasa jepang yang fasih, tampaknya perkataan terputus-putusnya kemarin suatu kebohongan.

"Yu... Yui-chan, apa kamu bisa memahami hal seperti itu...?"

Ditanyai pertanyaan oleh Asuna yang menatap wajahnya, Yui memberikan anggukan.

"Un. Aku tak bisa... mencari kata-kata yang tepat, tapi aku mengerti..."

Setelah mendengar kata-kata tersebut, Kirito mengangkat tangan kanannya, menyentuh kepala Yui. Kirito menatap Asuna lalu menyeringai. "Ayo percaya padanya, daripada mencurigainya. Ayo pergi. Kita akan menangani ini."

"Kamu selalu tak memikirkan seperti sebelumnya, huh."

Menggoyangkan kepalanya ketika membalas, Asuna juga membelai rambut Yui dengan tangannya.

"Maaf ya Yui-chan. Kami akan terlambat mencari teman-temanmu untuk satu hari, maafkan kami ya."

Asuna berbisik dalam suara kecil, meskipun ia yakin jika Yui memahaminya Yui tersenyum lebar dan mengangguk. Menggerakkian rambut hitamnya sekali lagi, Asuna berbalik menghadap Yuriel dan berkiata sambil tersenyum.

"...Kami mungkin tak bisa membantu banyak, tetapi ijinkan kami menemanimu. Keinginan menolong orang yang penting denganmu; aku juga mengerti perasaan itu..."

Air mata menetes dari mata berwarna biru langit milik Yuriel, ia lalu membungkuk dalam.

"Terima kasih... terima kasih banyak..."

"Simapn saja terima kasihnya setelah kita menyelamatkan Sinker-san."

Asuna memberikan senyum lainnya, dan Sasha yang sejauh ini melihat dalam keheningan, menepukkan kedua tangannya.

"Maka dari itu, pastikan kalian mengisi perut dulu! Masih ada makanan yang tersisa, kamu juga makanlah Yuriel-san." Cahaya matahari yang bersinar lemah di awal musim dingin berwarna merah terang setelah melewati puncak pohon di jalanan, menciptakan bayangan pada jalanan berbatu. Hampir tidak ada seorangpun melalui jalanan di Starting City, dan jalanan yang membentang si kejauhan, kesan suram benar-benar tak bisa ditolak.

Asuna mempercepat mengenakan equipmentnya melewati jalanan bersama Kirito yang menggendong Yui dibawah panduan Yuriel.

Asuna umumnya akan meninggalkan Yui bersama Sasha, akan tetapi Yui bersikeras untuk ikut pergi bersama, akhirnya ia membawa Yui. Tantunya, sebuah kristal teleport telah disiapkan didalam kantongnya. Jika situasi semakin memburuk—meskipun mengganggu Sasha—mereka akan segera mundur dari dungeon.

"Ah, sekarang aku kepikiran sesuatu, kamu masih belum menyebutkan hal penting."

Kirito memanggil Yuriel yang berjalan di depan.

"Dungeon tersebut ada di lantai berapa?"

Yuriel memberi sebuah jawaban sederhana.

"Di sini."

"...?"

Asuna menolehkan kepalanya secara naluri.

"Di sini... eh?"

"Itu, yah, di Starting City... ada sebuah dungeon besar di dalam tanah pada pusat kota. Sinker mungkin... ada di bagian paling dalam..."

"Serius?"

Kirito berbicara seperti sedang mengerang.

"Tak ada dungeon seperti itu ketika beta test. Mungkin salah..."

"Pintu masuk menuju dungeon tersebut ada di Black Iron Castle— dengan kata lain markas pusat the Army. Dungeon tersebut bukanlah jenis dungeon yang akan terbuka jika kamu menyelesaikan lantai atas, serta dungeon tersebut baru ditemukan ketika Kibaou datang untuk memperkuat, mereka tampaknya ingin memonopoli dungeon tersebut dengan kelompok mereka sendiri. Dungeon tersebut masih menjadi rahasia untuk sementara waktu bahkan dari Sinker, dan tentunya dari aku..."

"Jadi begitu. Ada banyak item langka yang muncul ketika di dalam dungeon yang masih belum dijelajahi. Mereka pasti mendapat keuntungan dari itu."

"Well, tidak sepenuhnya benar si."

Nada Yuriel kehilangan kesenangan.

"Meskipun dungeon itu ada di bawah tanah, tingkat kesulitannya benar-benar tinggi... bahkan diantara monster bawah tanah, level mereka hampir mendekati monster yang ada di lantai enam puluh. Party yang dipimpin Kibaou beberapa waktu yang lalu dihancurkan dan mereka melarikan diri dengan berteleport keluar. Bersyukurlah karena mereka terburu-buru menggunakan kristal, kita bisa masuk sejauh ini."

"Hahaha, aku mengerti."

Yuriel membalas tawa Kirito dengan senyuman, tetapi langsung hilang tergantikan kemurungan.

"Bagaimanapun juga sekarang ini, itulah alasan menyelamatkan Sinker menjadi sulit. Kristal koridor yang digunakan Kibaou menempatkannya agak dalam, lalu ia berlari kesana kemari, menjauhi monster-monster... Sinker mungkin berada di ujungnya. Tak mungkin bagiku untuk menangani monster tersebut jika satu lawan satu, dan melawan mereka yang saling berkaitan sungguh tak mungkin. —Maaf, tapi kalian berdua akan..."

"Ah, yah jika mereka berlevel sekitar enam puluhan..."

"Kami seharusnya bisa menanganinya."

Mengikuti pernyataan Kirito, Asuna mengangguk. Untuk dungeon lantai enam puluh, level 70 bisa menanganinya, akan tetapi level Asuna yang kini ia telah capai adalah level 87, sementara Kirito telah mencapai level 90. Dengan ini, kelihatannya kita mungkin bisa melalui dungeon ini sambil melindungi Yui, dan Asuna melepas ketegangan di pundaknya dengan senang. Bagaimanapun juga, Yuriel melanjutkan perkataannya tanpa kehilangan ekspresi cemasnya.

"...Dan juga, ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Informasi ini aku dapat dari pemain yang ikut serta dalam party sebelumnya, di dalam dungeon ini... monster besar terlihat; kelihatannya seperti boss..."

"..."

Asuna bertukar pandang dengan Kirito.

"Boss ini mungkin berlevel sekitar enam puluhan... bagaimana penampilan boss dari lantai enam puluhan?"

"Eh, yah, aku yakin... boss itu kelihatan seperti seorang kesatria berarmor yang terbuat dari batu."

"Ah, yang itu huh. ... tak terlalu sulit jika aku tak salah..."

Menghadap Yuriel, ia mengangguk sekali lagi.

"Well, kita mungkin bisa dengan mudah mengatasinya."

"Syukurlah kalau begitu!"

Yuriel akhirnya mengurangi ketegangannya lalu melanjutkan perkataannya sambil berkedip, karena ia kira ia melihat sesuatu yang mempesona.

"Benar... kalian berdua telah berpengalaman dengan pertarungan melawan boss... Maaf telah mengambil waktu berharga kalian..."

"Tidak, kami masih berlibur kok."

Asuna melambaikan tangannya.

Setelah mereka bercakap - cakap, bentuk dari bangunan besar yang berkilau hitam mulai tampak di jalan didepan mereka.. bangunan ini adalah bangunan terbesar yang ada di Starting City, the «Black Iron Castle». Di ruang depan setelah masuk melalui gerbang utama, «Monument of Life» dengan nama setiap pemain tercatat, berdiri tegak disana, meskipun setiap orang bisa masuk hingga titik ini, kebanyakan ruang yang lebih dalam telah dikontrol sepenuhnya oleh the Army.

Yuriel tidak masuk melalui pintu utama, melainkan melalui pintu belakang. Tembok kastil tinggi serta parit dalam mengelilingi kastil ini, menolak penyusup hingga selamanya. Bebar-benar tak ada manusia yang melewatinya..

Setelah berjalan beberapa menit, tempat yang Yuriel datangi adalah jalanan menurun, turun hingga dimana dekat dengan permukaan air parit. Mengintip kedalam, ada jalan lebar terbuka di sisi kanan tangga.

"Kita akan masuk ke aliran pembuangan kastil dari sini dan menuju pintu masuk dungeon. Mungkin akan sedikit gelap dan sempit..."

Yuriel menghentikan perkataannya disana, memandang Yui yang masih di lengan Kirito dengan penuh perhatian. Karena hal ini, Yui tak senang dan terlihat marah,

"Yui tak takut!"

Setelah itu. Sebuah senyum keluar dari Asuna karena meluhat situasi ini.

Kepada Yuriel, Yui mengatakan tak lebih dari, "Kami tinggal bersama." Ia tak mencoba untuk mengetahui lebih dari itu, namun Yuriel mungkin keberatan membawa Yui kedalam dungeon.

Asuna berbicara untuk mengurangi kekhawatirannya.

"Tak apa; anak ini lebih waspada dari penampilannya."

"Yep. Ia pasti menjadi seorang swordswoman yang kuat di masa depan."

Dengan kata-kata Kirito, Asuna memandangnya dan tersenyum, lalu Yuriel mengangguk

"Okelah, ayo pergi!"


"Nuooooo"

Pedang di tangan kanan memotong monster dengan sebuah tebasan,

"Ryaaaaaaa"

Dan pedang di tangan kiri meledakkannya.

Mengequip dua pedang untuk pertama kalinya sementara, Kirito melepaskan energi yang di simpannya selama liburan ini, menebas musuh-musuh tanpa berhenti satu sama lain. Asuna yang memegang tangan Yui, serta Yuriel yang menggenggam cambuk metalnya tak memiliki kesempatan untuk membantu. Setiap kali kelompok musuh yang terdiri dari monster katak besar yang di selubungi smile, monster type udang yang memiliki pencapit hitam kemilau, dan semacamnya muncul, Kirito menebas mereka semua dengan penuh kemarahan dari pedang di tangan kanan dan kirinya tanpa menyisakan apapun.

Dalam pikiran Asuna hanya terlintas, "Oh, ya ampun," akan tetapi Yuriel ternga-nga menatap Kirito yang sedang dalam mode mengamuk dengan penuh kekaguman. Mungkin ini tontonan yang terlalu berbeda diluar pengetahuannya . sementara Yui menyoraki dengan polosnya untuk mengurangi ketegangan yang ada di udara "Papa, lakukan yang terbaik,"

Beberapa menit telah berlalu sejak mereka memasuki gelapnya bawah tanah yang penuh air, hingga menyerbu dungeon ini dari batu hitam sebelumnya. Tempat ini lebih lebar, dalam, dan terisi oleh monster daripada yang diharapkan, tetapi Kirito menerobos keseimbangan game, mengayunkan sepasang pedangnya dengan penuh kekuatan, sementara dua swordswomen hanya terdiam.

"We... Well, aku sungguh minta maaf karena membiarkan kalian mengurus ini..."

Menatap Yuriel yang penuh penyesalan sambil menunduk, Asuna hanya tersenyum masam.

"Tidak, pertarungan tadi benar-benar memikat... tak apa kok membiarkannya melakukan hal itu."

"Hei, apa-apaan itu, itu mengerikan."

Kirito kembali dengan kesal setelah menghancurkan kelompok monster karena perkataan Asuna sampai di telinganya.

"Jadi ingin switch?"

"...Se- sedikit lagi."

Asuna dan Yuriel akhirnya tersenyum setelah saling tatap.

Setelah si pengguna cambuk berambut silver melambaikan tangan kirinya karena ingin menampilkan peta, ia menunjuk titik bercahaya yang melambangkan tanda seorang teman, menunjukkan posisi Sinker. Karena ia tak memiliki peta dungeon, jalanan menuju titik bercahaya masih kosong, akan tetapi mereka telah mencapai tujuh puluh persen dari jarak total.

"Posisi Sinker tidak berubah setelah beberapa hari. Aku yakin ia berada di area aman. Jika kita bisa sampai kesana, kita bisa menggunakan kristal untuk mundur, jadi... maaf, aku akan mengandalkan kalian sedikit lagi."

Yuriel menundukkan kepalanya, Kirito bingung sambil melambaikan tangannya.

"T- tidak, kami melakukan ini karena kami ingin, dan juga ada item yang dijatuhkan, jadi..."

"Oh?"

Asuna menjawab secara reflek.

"Apa ada item bagus yang jatuh?"

"Yup."

Kirito memanipulasi jendelanya dengan cepat, lalu daging merah kehitaman muncul dari sana dengan suara gemerincing. Wajah Asuna membeku memikirkan bagaimana anehnya yang ia rasakan.

"Ap... Apa sih itu sebenarnya?"

"Daging katak! Kamu pasti berkata jika daging ini enak jika dibandingkan dengan daging lain, pastikan untuk memasaknya nanti ya."

"Aku. Tak akan memasaknya!!"

Asuna berteriak dan juga membuka jendelanya. Membuka penyimpanan yang terhubung dengan Kirito, ia menggeser item yang bernama «Scavenger Meat x24», lalu tanpa ampun membuangnya ke tanda tempat sampah.

"Ah! Aaaaaa..."

Menatap Kirito yang terlihat kesal dan mengomel, Yuriel tak bisa membantu namun tertawa sambil memegangi perutnya, meskipun ia mencoba untuk menahannya. Tepat pada saat itu,

"Kakak akhirnya bisa tertawa!"

Yui berteriak gembira. Yuriel juga menyeringai lebar.

Melihat hal tersebut, Asuna mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Hari sebelumnya, ketika Yui mengejang juga tepat setelah anak-anak tertawa bersama setelah mengalahkan orang-orang dari the Army. Tampaknya gadis ini memiliki sensifitas yang unik terhadap orang-orang di sekitarnya. Apakah ia terlahir dengan kepribadian seperti itu, atau mungkin karena perasaan sakit yang selama ini ia derita— Asuna menggenggam tangan Yui, memeluknya lebih dekat. Ia bersumpah akan selalu tersenyum di sisi gadis ini.

"Well, ayo kita lanjutkan!"

Merespon suara Asuna, party tersebut melangkah semakin dalam menuju dungeon.

Kelompok monster kebanyakan terdiri dari makhluk air sejak mereka memasuki dungeon, kini telah berubah menjadi type hantu, seperti zombie serta hantu, karena mereka menuruni tangga, udara dingin terasa sampai ke hati Asuna, namun sepasang pedang milik Kirito masih lanjut menebas sosok-sosok musuh yang muncul secara sekejap tanpa menunjukka keragu-raguan.

Normalnya, sedikit tak terhormat bagi pemain berlevel atas untuk berburu ke area di bawah level mereka, tetapi hal tersebut tak perlu dipikirkan saat ini karena tak ada seorangpun disini. Jika ada waktu luang, akan jadi kesempatan bagi Yuriel yang bertugas sebagai penduking untuk naik level, kan tetapi menyelamatkan Sinker lebih diprioritaskan saat ini.

Dalam dua jam yang telah berlalu sekejap mata, jarak mereka dengan posisi Sinker yang berada di area aman dalam peta semakin berkurang. Tak tahu berapa banyak monster yang ditumbangkan karena pedang milik Kirito menghancurkan swordsmen tengkorak hitam menjadi berkeping-keping, dan mereka akhirnya menangkap sedikit cahaya tepat di depan mereka.

"Ah, itu zona aman!"

Ketika Asuna berucap, Kirito juga mengangguk untuk memastikan dengan skill deteksinya.

"Ada seseorang di dalam sana. Dia aman."

"Sinker!"

Yuriel berteriak lalu berlari dengan armornya yang berdenting, ia tak bisa menahan dirinya lebih lama. Kirito menurunkan dua pedangnya dan mengikuti di belakangnya bersama Asuna yang memegang Yui.

Mereka berlari menuju cahaya itu. Ketika mereka melewati jalanan yang berbelok ke kanan setelah beberapa detik, di depan cabang dari jalan tersebut sebuah ruang kecil dapat terlihat.

Karena mata mereka membiasakan diri terhadap kegelapan, ruang tersebut terisi cahaya yang cukup terang yang bisa menyilaukan mereka, dan seorang laki-laki berdiri di pintu masuknya. Wajahnya tak terlihat karena cahaya di belakangnya, akan tetapi ia melambaikan tangannya dengan liar menuju arah sini.

"Yurieeel!!"

Pada saat ia meyakinkan sosok tersebut, si laki-laki meneriakkan nama Yuriel. Yuriel juga melambaikan tangan kirinya sambil berlari lebih cepat.

"Sinkerrr!!"

Suaranya tercampur dengan air mata, tangisan si pria—

"Jangan datang lebih dekat!! Jalanannya...!!"

Mendengar hal itu, Asuna melambatkan langkahnya penuh tanya. Tampaknya kata-kata tersebut tak sampai ke telinga Yuriel. Ia tetap berlari menuju ruang di depannya.

Pada saat itu juga.

Beberapa meter sebelum area aman, di titik buta pada sisi kanan, pada jalan kecil yang memotong jalanan tempat mereka bertiga berlari, kursor kuning yang tak di harapkan muncul. Asuna dengan cepat mengecek namanya. Yang bisa ditampikan adalah «The Fatal-scythe»— Dengan arti nama scythe yang memotong takdir, nama itu juga memiliki "The" yang terlampir. Sebuah bukti jika monster itu adalah boss. "Jangan!! Yuriel-san, mundurlah!!"

Asuna berteriak. Kursor kuning bergerak perlahan ke sisi kiri, mendekati persimpangan jalanan. Jika seperti ini, Yuriel akan berlari ke persimpangan tersebut. Hanya tersisa beberapa detik.

"Ku-!!"

Tiba-tiba Kirito yang berlari di sisi kiri Asuna telah menghilang. Kenyataannya, ia telah berlari dengan kecepatan yang dasyat. Tembok di sekeliling bergetar karena suara tubrukannya.

Ia telah sampai beberapa meter dengan kecepatan seperti teleport, lalu Kirito memegang Yuriel dari belakang dengan tangan kanannya, ia mendorong pedang di tangan kirinya ke jalanan batu di bawahnya dengan seluruh kekuatannya. Suara logam terdengar hebat sekali. Percikan bunga api tak terhitung banyaknya muncul. Mengeluarkan rem mendadak bisa membakar udara, di tempat Kirito dan Yuriel berhenti tepat di depan persimpangan, tanahnya meraung seperti suatu getaran karena raksasa bayangan hitam melewatinya.

Kursor kuning yang menyergap pada jalanan di sisi kiri akhirnya berhenti setelah sepuluh meter. Monster yang tingginya tak diketahui ini merubah arahnya dan muncul sekali lagi.

Kirito melepaskan Yuriel dan menarik pedangnya yang tertancap ke lantai, ia melompat ke kiri. Asuna mengikuti dalam bingung.

Menggoncangkan Yuriel yang terjatuh karena syok, Asuna mendorongnya menuju sisi yang berlawanan persimpangan. Menurunkan Yui dari lengannya dan menyerahkannya ke Yuriel, Asuna hanya memberikan sedikit perintah.

"Mundurlah ke area aman bersama anak ini!"

Si pengguna cambuk mengangguk dengan wajah pucatnya, ia menyetujui untuk membawa Yui ke dalam ruangan, Asuna menghunus rapier miliknya sambil berbelok kea rah kiri.

Sosok punggung Kirito masih berdiri dengan dual blades miliknya memasuki pandangan Asuna. Apa yang terlihat di sana adalah sesosok humanoid berjubah hitam setinggi dua setengah meter.

Dengan tudungnya, tangan si boss yang bergelayut mengintip dari jubah benar-benar hitam. Di dalamnya tampak wajah yang suram, di dalamnya hanya ada sepasang bola mata penuh energi, urat nadinya bisa terlihat seolah menatap Kirito dan Asuna. Dia memegang sabit besar berwarna hitam di tangan kanannya. Dari sisi sudutnya, noda merah menetes turun, tetes demi tetes. Secara keseluruhan, boss ini memiliki tubuh seperti seorang dewa kematian.

Bola mata sang dewa kematian berputar lalu menatap lurus ke arah Asuna. Tepat setelahnya, hawa dingin merasuki seluruh tubuhnya seolah hatinya di cengkram oleh ketakutan.

Tampaknya level boss ini masih bisa diatasi.

Dengan pikiran seperti itu di kepalanya, saat ia menyiapkan rapier miliknya sekali lagi, Kirito berkata keras dari depannya. "Asuna, temani mereka bertiga ke area aman lalu larilah dengan kristal."

"Eh...?"

"Boss ini sungguh kuat. Bahkan skill identifikasiku tak bisa menemukan data apapun. Dalam hal kekuatan, rangking boss ini mungkin sekitar lantai Sembilan puluh."

"...?"

Asuna kehilangan nafasnya serta terdiam kaku. Bahkan ketika saat ini si dewa kematian perlahan bergerak melewati udara, mendekati mereka berdua.

"Aku akan mengulur waktu, cepatlah keluar dari sini!!"

"Ki- Kirito juga, kita berdua harus..."

"Aku akan mengerjarmu! cepatlah...!!"

Jika kristal teleport digunakan sebagai pilihan terakhir untuk mundur, kristal itu bukanlah alat yang cukup kuat. Diantara celah ketika memegang kristal dan menentukan tujuan, lalu melakukan teleportasi, ada jeda waktu beberapa detik. Jika seseorang menerima serangan dari monster di antara jeda waktu itu, teleportasinya akan gagal. Ketika serangkaian perintah gagal dalam sebuah party, karena orang-orang mundur atas keinginan mereka sendiri, maka sisanya akan menjadi korban karena tak bisa mengulur waktu untuk teleport.

Asuna tampak bimbang. Jika mereka berempat melakukan teleport terlebih dahulu, dengan kemampuan berlari Kirito, ia bisa berlari menuju area aman. Akan tetapi, perubaha kecepatan yang di tunjukkan si boss sebelumnya benar-benar mengerikan. Jika— ia lari terlebih dahulu lalu setelahnya jika Kirito tidak muncul. Pikiran seperti itulah yang tak bisa Asuna tahan.

Asuna memandang jalan si sisi kanannya.

—Maaf Yui-chan. Meskipun aku berkata akan selalu bersama...

Berbisik seperti itu dari dalam hatinya, ia berteriak.

"Yuriel-san, aku akan menyerahkan Yui padamu! Kalian bertiga cepatlah lari!"

Yuriel menggelengkan kepalanya, ekspresinya tampak membeku.

"Aku tak bisa... melakukannya..."

"Cepat!!"

Ketika itu. Si dewa kematian mengayunkan sabit lebarnya dengan sepenuh tenaga, racun menyebar dari dalam tudungnya.

Kirito menyilangkan pedang di tangannya, memaksakan berdiri di hadapan Asuna. Asuna secara panik mendekat dari belakang, bertemu dengan dua pedang milik Kirito dengan rapier di tangan kanannya. Si dewa kematian tanpa memedulikan ketiga pedang, masih menebaskan sabitnya ke bawah, mengincar kepala mereka berdua.

Sebuah kilatan merah. Sebuah hantaman.

Asuna merasakan dirinya berputar beberapa kali. Pertama, ia terlempar ke tanah, lalu menghantam langit - langit, dan terjatuh kembali ke tanah sekali lagi. Nafasnya terhenti, dan pandangannya mulai berubah gelap.

Kesadarannya mulai kabur, ia melihat HP bar milik Kirito dan miliknya sendiri, keduanya telah berkurang hingga setengah dalam sekali pukul. Indikator kuning sebagai tanda paralyze semakin membuat Asuna khawatir, mereka tak mampu untuk bertahan dari serangan selanjutnya. Ia harus berdiri. Itulah yang ia pikirkan, akan tetapi tubuhnya tak bisa bergerak—

—Tepat pada saat itu.

Langkah pendek demi langkah pendek terdengar, ia mendengar langkah kaki tersebut semakin mendekat dengan pendengarannya. Menolehkan pandangannya, ia bingung, suara langkah kaki anak-anak, langkah kaki tersebut mendekat tanpa mempedulikan bahaya yang memasuki pandangannya.

Tangan dan kaki langsing. Rambut hitam panjang. Itu Yui yang seharusnya berada di dalam area aman dibelakang mereka. Mamandang tanpa ketakutan, ia menatap lurus menuju si dewa kematian yang begitu besar.

"Idiot!! Cepat lari!!"

Berjuang untuk menggerakkan tubuh bagian atasnya, Kirito berteriak. Si dewa kematian memegang sabitnya ke atas secara perlahan sekali lagi. Jika Yui menerima serangan dalam jarak seperti ini, HP milik Yui akan benar-benar habis. Asuna juga berusaha untuk menggerakkan mulutnya. Tetapi karena mulutnya kaku, ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Tetapi sesaat kemudian, sesuatu yang tak bisa dipercaya terjadi.

"Tak apa-apa, Papa, Mama."

Bersama kata-kata tersebut, tubuh Yui perlahan mengambang di udara.

Itu bukan lompatan. Ia tampaknya bergerak dengan sayap tak terlihat, Yui berhenti pada ketinggian dua meter. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan di tengah udara.

"Jangan...! Menyingkirlah!! Menyingkirlah Yui-chan!!"

Bersamaan dengan teriakan Asuna, sabit si dewa kematian terayun tanpa belas kasihan, memperlihatkan garis cahaya hitam kemerahan. Ujung sabit mengarah langsung menuju telapak tangan putih milik Yui—

Tepat sebelum itu terjadi, tangan Yui terhalangi oleh pelindung keunguan, diikuti dentuman yang begitu keras. Sistem tag yang mengambang di tangan Yui menyebabkan Asuna diam membatu.

[Immortal Object], itulah apa yang tertulis disana. Immortality— bukanlah atribut pemain yang bisa diperoleh.

Mata si dewa kematian berputar, seolah ia bingung. Secara tiba-tiba setelahnya sebuah fenomena yang mengejutkan Asuna terjadi.

"Gouu!!," bersama dengan suara itu, api merah muncul, menggulung-gulung di depan dengan tangan Yui sebagai pusatnya. Api tersebut menyebar semakin luas secara tiba - tiba, sebelum akhirnya memadat dan bergabung menjadi bentuk panjang nan tipis.. sekilas, api tersebut berubah menjadi pedang panjang. Sebuah pedang yang menyala dari api terbentuk dari api sebelumnya, kini semakin memanjang tanpa batas.

Pedang besar yang muncul di tangan kanan Yui kini memiliki panjang yang melampaui tinggi tubuhnya. Pancaran cahaya dari pinggir logam tampaknya menyinari seluruh lorong. Karena memegang api dari pedang, pakaian musim salju yang dikenakan Yui terbakar seketika. Dari baliknya, baju putih satu setel yang dikenakan pertama kalinya muncul. Cukup aneh karena angin dari api tak membakar baju tersebut, begitu juga rmbut hitam panjangnya seolah tak terkena efek.

Yui mengayunkan pedang yang melampaui tingginya secara sederhana—

Tanpa menunjukkan keragu-raguan, Yui menantang si dewa kematian seolah ia memukulkan api.

Meskipun tindakannya tersebut tak lebih dari algoritma sederhana dari sistem, dalam mata merah si monster, Asuna yakin ia melihatnya penuh dengan ketakutan yang sangat jelas.

Mengggunakan pedang yang terbuat dari api, Yui mengubah udara menjadi raungan yang memekakan. Si dewa kematian mengangkat sabitnya dan membuat posisi bertahan, tampaknya ia terlihat ketakutan oleh si gadis yang lebih kecil darinya. Maju ke depan, Yui mengayunkan pedang besar menyalanya dengan sepenuh kekuatan.

Sword Art Online Vol 02 - 276.jpg

Pedang memancarkan api yang begitu hebat bertubrukan dengan sabit. seketika, gerakan keduanya terhenti.

Tanpa menunggu waktu untuk berpikir, pedang api milik Yui bergerak sekali lagi. Logamnya tampak berkobar dengan jumlah api yang begitu banyak, cahaya dari pedang menggerogoti gagang sabit secara perlahan. Dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan apapun, akan tetapi rambut panjang dan baju satu setelnya juga jubah si dewa kematian berkelap-kelip di belakangnya, menyebabkan percikan cahaya pada saat yang sama, menyinari bangunan dalam dungeon menjadi orange.

Tanpa lama—

Bersamaan dengan suara ledakan, "Gou," sabit si dewa kematian patah menjadi dua. Diikuti pedang besar kini telah berubah menjadi tiang api, menyerang langsung ke tengah-tengah wajah si boss.

"-h...!!"

Asuna dan Kirito mengedipkan mata mereka serta melindungi wajahnya secara reflek karena bereaksi terhadap kekuatan yang hebat dari bola api yang muncul pada saaat itu. Pada saat yang sama Yui menebaskan pedangnya ke bawah, bola api tersebut meledak, si dewa kematian tertelan oleh putaran api yang mengalir ke lorong-lorong. Dalam raungan tersebut, suara menderita dari si dewa kematian terdengar. Ketika mereka membuka mata karena silau dari api, sosok monster boss tak lagi tampak. Api kecil tersisa di sisi belakang lorong, membuat suara gemericik. Dan di tengahnya, masih berdiri sendiri, dengan tatapan putus asa. Pedang api yang masih berdiri di tanah, hancur lalu menghilang seperti saat pedangnya di materialisasikan.

Asuna berdiri setelah memperoleh kekuatan di tubuhnya, perlahan berdiri menggunakan rapier miliknya sebagai pembantu. Kirito juga berdiri setelahnya. Mereka berdua menghampiri si gadis dengan langkah terbata-bata.

"Yui... chan..."

Asuna memanggilnya dengan suara serak, si gadis berbalik tanpa membuat suara. Bibir kecilnya menunjukkan subuah senyuman, akan tetapi mata hitamnya berlinang air mata yang begitu banyak.

Yui manatap Asuna dan Kirito kemudian ia berkata lirih.

"Papa... Mama... Sekarang aku mengingat segalanya..."

Area aman dari bagian terdalam labirin bawah tanah Black Iron Castle berbentuk kotak sempurna. Hanya ada satu pintu masuk, dan di tengahnya batu hitam halus berbentuk kubus tampak seperti meja. Asuna dan Kirito menatap Yui yang duduk di tengah, ia terdiam.. Yuriel dan Sinker yang di minta lari terlebih dulu, jadi hanya ada mereka bertiga sekarang ini.

Ingatanku telah kembali, dengan kata tersebut, Yui selama beberapa menit tak bicara. Ekspresinya entah bagaimana tampak berduka seolah ia ragu-ragu untuk berbicara, namun Asuna memantapkan hatinya lalu bertanya.

"Yui-chan... Apakah kamu mengingat...? Semuanya hingga sekarang..."

Yui masih terlihat putus asa, akan tetapi ia akhirnya mengangguk dengan ekspresi campuran antara tersenyum dan menangis, lalu ia membuka bibir mungilnya.

"Iya... aku akan menjelaskan semuanya— Kirito-san, Asuna-san."

Saat Asuna mendengar nada bicara sopannya, hati Asuna tertekan oleh dugaan muram. Percaya karena sesuatu akan segera berakhir.

Di dalam ruang berbentuk kotak ini, kata-kata Yui perlahan terucap.

"Dunia ini bernama «Sword Art Online», ia diatur oleh satu sistem yang besar. Nama sistem tersebut adalah «Cardinal». Dunia ini diatur berdasarkan keputusan Cardinal. Pertama - tama, Cardinal tidak dirancang untuk keperluan manusia. Dengan dua program inti yang saling melakukan koreksi kesalahan secara bersamaan, dan tak terhitung jumlah program-program rendah, ia mengatur isi dunia ini... AI untuk monster dan untuk NPC, keseimbangan peredaran item serta uang, apaun dan semuanya diatur oleh kelompok program dibawah perintah Cardinal. —Akan tetapi, ada satu hal yang harus diserahkan kepada manusia. Gagasan masalah dalam kondisi mental para pemain; itulah hal yang hanya bisa diselesaikan oleh manusia sendiri... untuk tujuan itu, berlusin-lusin anggota staf harus disiapkan."

"GM..."

Kirito berbicara dengan sedikit menghembuskan nafas.

"Yui, dengan singkatnya, apa kamu seorang gamemaster...? staf dari Argus...?"

Setelah beberapa detik terdiam, Yui menggelengkan kepalanya perlahan.

"...Ketika pengembang Cardinal mempercayakan kondisi pemain pada sistem, mereka mengetes beberapa program. Menggunakan fitur unik dari Nerve Gear, program tersebut memonitori kondisi emosi pemain secara mendetail, dan program tersebut akan muncul di sisi pemain ketika menemukan masalah untuk didengarkan... «Mental Health - Counselling Program», MHCP versi 1, codename, «Yui». Itulah aku sebenarnya." Nafas Asuna seolah tertarik keluar saking shoknya. Ia tak bisa menahan apa yang baru saja Yui katakan.

"Progam...? Maksudmu seorang AI...?"

Asuna berbicara dengan suara lirih. Yui mengangguk, senyuman sedih tampak dari wajahnya.

"Untuk menenangkan para pemain, aku diberikan fungsi emosi tiruan. —Palsu, semuanya ini palsu... bahkan air mata ini... Maaf Asuna-san..."

Air mata menetes dari mata Yui, lalu menjadi pertikel cahaya dan menghilang. Asuna mengambil satu langkah kedepan menuju Yui. Ia membuka tangannya, namun Yui sedikit menggelengkan kepalanya. Seolah jika— Yui tak berhak untuk menerima pelukan Asuna.

Masih tak mempercayai situasi ini, Asuna memaksa mengeluarkan kata-katanya.

"Tapi... tapi, ingatanmu yang hilang...? Apakah mungkin hal seperti itu terjadi pada seorang AI...?"

"...Dua tahun lalu... hari ketika layanan SAO dimulai secara resmi..."

Yui menurunkan matanya sambil melanjutkan penjelasannya.

"Meskipun aku tak tahu secara detail atas apa yang sebenarnya terjadi, Cardinal memberiku perintah yang tak direncanakan kepadaku. Sebuah larangan untuk berinteraksi dengan semua pemain.. tak diijinkan untuk mengadakan kontak dengan mereka secara nyata, aku dengan enggan tak melakukan apapun, hanya memonitori kondisi kesehatan mental para pemain."

Asuna bereaksi; ia menduga jika «perintah tak direncana» adalah manipulasi yang dilakukan oleh GM SAO, Kayaba Akihiko. Yui menggerakkan bibir kecilnya sekali lagi, wajahnya tampak tenggelam dalam duka cita.

"Situasi itu— benar-benar terburuk... dengan mudah emosi para pemain dikuasai oleh emosi negative seperti ketakutan, keputus-asaan, dan kemarahan sepanjang waktu; pada saat itu, ada beberapa yang menjadi gila. Aku terus melihat kedalam hati orang-orang itu. Pada dasarnya, aku tak bisa menghentikan diriku untuk mendatangi para pemain tersebut, mendengarkan cerita mereka lalu menylesaikan masalahnya... tetapi aku tak bisa melakukan kontak dengan mereka pada saat itu... karena merasakan perlawanan antara kewajibanku namun dihalangi oleh wewenang dari Cardinal, aku perlahan mengalami eror dan akhirnya rusak..."

Di dalam labirin bawah tanah, suara Yui terasa hening, seperti getaran perak. Asuna dan Kirito tak bisa membantu namun mendengarkan penuh perhatian tanpa mengutarakan sepatah katapun.

"Suatu hari, ketika aku memonitori seperti biasa, aku menyadari parameter mental milik sepasang pemain yang berbeda dari pemain lainnya. Aku tak pernah menjumpai pola pikir seperti itu. Kenikmatan... kedamaian... bukan hanya itu saja... apa sebenarnya perasaan tersebut; memikirkan itu, aku melanjutkan melihat mereka berdua. Hasrat misterius tumbuh semakin tinggi dalam diriku ketika aku mengintip percakapan dan tindakan mereka. Rutinitas seperti itu tak pernah ada, namun... aku ingin lebih dekat dengan mereka berdua... untuk mengenalnya, aku ingin bercakap-cakap dengan mereka secara langsung... berharap utuk semakin lebih dekat, bahkan mengenalnya, aku bertanya-tanya setiap hari, melalui sistem konsol terdekat di rumah pasangan tersebut tinggal. Aku yakin jika aku rusak pada waktu itu..."

"Dan di hutan lantai duapuluh dua...?"

Yui mengangguk sedikit.

"Iya. Kirito-san, Asuna-san... aku selalu ingin bertemu... bertemu dengan kalian berdua... di hutan itu ketika aku melihat kalian berdua... aku benar-benar merasa senang... sungguh aneh; tak mungkin jika aku bisa berpikir seperti itu... aku tak lebih dari, sebuah program..."

Berlinangan air mata, Yui menutup mulutnya. Asuna tertusuk oleh perasaan yang tak bisa dideskripsikan, memegang kedua tangannya dengan erat, sebelum ke dadanya.

"Yui-chan... kamu seorang true AI kan? Jadi kamu memiliki kecerdasan yang sebenarnya kan...”

Ia berbisik, Yui menurunkan kepalanya sedikit lalu menjawab.

"Aku.. tak mengerti... sebenarnya, apa yang telah terjadi padaku..."

Pada saat itu, Kirito yang terdiam selama ini, melangkah kedepan.

"Yui bukanlah sebuah program yang dikendalikan sistem. Terlebih lagi, kamu bisa mengataklan keinginanmu sendiri." Kirito berkata dengan suara lembut

"Apa yang kamu inginkan, Yui?"

"Aku... Aku ingin..."

Yui merentangkan lengan mungilnya kearah Kirito dan Asuna.

"Untuk selalu, bersama dengan... Papa... Mama...!"

Tanpa mengusap air mata yang menetes di wajahnya, Asuna berlari ke arah Yui memeluk erat tubuh kecilnya.

"kita akan selalu bersama Yui-chan."

Setelahnya, Kirito juga melingkarkan lengannya di antara Yui dan Asuna.

"Aah... Yui adalah anak kami. Ayo pulang ke rumah. Kita akan hidup bersama... selamanya..."

Akan tetapi— di dalam pelukan Asuna, Yui menggelengkan kepalanya perlahan.

"Eh..."

"Sudah... sudah terlambat..."

Kirito bertanya kebingungan.

"Mengapa... mengapa terlambat..."

"Alasan mengapa aku mendapatkan kembali ingatanku... karena aku menyentuh batu itu."

Yui menatap tengah ruangan dimana batu berbentuk kubus berada. "Ketika Asuna mendorongku ke dalam area aman sebelumnya, aku menyentuh batu itu tanpa sengaja, dan menjadi mengerti. Batu itu bukanlah sekedar objek pajangan... batu tersebut adalah konsol yang digunakan untuk meminta akses darurat kepada GM."

Sepertinya ada perintah tersembunyi dalam kata-kata Yui, beberapa garis cahaya bermunculan menuju batu hitam itu. Secara tiba-tiba, dengan suara beep, keyboard berwarna biru muda mujcul pada permukaannya.

"Aku yakin jika monster boss sebelumnya telah diletakkan disini untuk menjauhkan para pemain. Aku mengakses sistem menggunakan console tersebut dan memusnahkannya dengan pemanggilan «Object Eraser». Pada saat itu, dengan kemampuan koreksi kesalahan milik Cardinal, kerusakan dalam berbahasa milikku telah disembuhkan, tapi... pada saat yang sama, Cardinal juga menemukanku yang sebelumnya ditinggalkan hingga sekarang. Sekarang ini, sistem utama masih menscan program milikku. Sistem tersebut telah menyimpulkan jika aku adalah keberadaan asing, dan tampaknya aku akan segera dihapus. Aku... tak memiliki banyak waktu tersisa..."

"Itu... Itu..."

"Tak bisakah kita melakukan sesuatu! Jika kita keluar dari tempat ini..."

Yui memberikan senyum yang dipaksakan terhadap kata-kata itu. Air mata menetes dari pipi Yui sekali lagi.

"Papa, Mama, terima kasih. Mungkin ini adalah perpisahan kita."

"Tak mungkin! Aku tak menginginkan hal seperti ini!!"

Asuna berteriak putus asa.

"Ini hanyalah awal!! Dari sekarang, kita akan hidup bahagia selamanya... tinggal penuh kedamaian satu sama lain..."

"Di dalam kegelapan... ketika aku rusak dan tak tahu kapan akhirnya, kehadiran Papa dan Mama menghibur hatiku."

Yui menatap lurus ke arah Asuna. Cahaya redup mulai menutupi tubuhnya.

"Yui, jangan pergi!!"

Kirito memegang tangan Yui. Jemari Yui kini digenggam oleh Kirito.

"Ketika aku bersama Papa dan Mama, semuanya bisa tersenyum... aku sungguh senang karenanya. Ini permintaanku; dari sekarang... menggantikan posisiku... tolonglah semua orang... kebahagiaan..."

Rambut hitam serta baju satu setel milik Yui mulai menghilang menjadi partikel cahaya, seperti embun pagi. Wajah tersenyum Yui perlahan menjadi transparan. Tubuhnya semakin menghilang.

"Tidak! Aku tak ingin hal seperti ini!! Jika Yui tak ada di sini, aku tak akan bisa tersenyum!!"

Dikelilingi oleh cahaya yang menyebar, Yui tersenyum manis. Ia membelai dada Asuna dengan tangannya diambang menghilang.

—Mama, tersenyumlah...

Suara lemah bergema di dalam pikiran Asuna, cahaya mempesona mulai membanjiri; seketika itu pula menghilang, tak ada apapun di dalam lengan Asuna.

"Uwaaaaaa!!"

Menaikkan suaranya sendiri dengan tak terkontrol, Asuna jatuh pada kakinya. Berlutut di atas ubin batu, ia menangis begitu kencang seperti seorang anak kecil. Air matanya terjatuh ke tanah, tetes demi tetes, bergabung bersama cahaya yang tertinggal dari Yui yang telah lenyap.

Bagian 4[edit]

Hawa dingin yang dirasakan kemarin seolah suatu kebohongan, hembusan angin hangat bertiup melewati rerumputan. Mungkin menarik beberapa burung kecil yang hinggap di ranting pohon, burung-burung tersebut tampak mengawasi orang-orang dengan penuh ketertarikan.

Pesta kebun yang diadakan oleh Sasha tanpa mempedulikan musim di pekarangan luas depan gereja, meja besar dari ruang makan telah dipindahkan disini. Makanan telah diangkat dari alat pemanggang seperti sebuah sihir, semakin membuat keramaian dari anak-anak.

"Tak pernah terpikir jika makanan selezat ini... benar-benar ada di dunia ini..."

Kepala pemimpin dari «Army» yang baru saja diselamatkan malam sebelumnya, Sinker, menggigit barbeque yang Asuna buat dengan kemampuannya, lalu berkomentar kagum. Disisinya, Yuriel melihat keadaan sambil tersenyum. Ketika pertama kali melihatnya, ia tampak seperti kesatria wanita berkepala dingin, akan tetapi ketika ia disisi Sinker, ia terlihat seperti istri muda yang penuh ceria.

Begitu pula bagi Sinker, meskipun tak memiliki waktu untuk berkenalan dengannya kemarin, ketika duduk pada meja yang sama seperti saat ini, ia adalah pribadi yang memancarkan aura lembut, tak seperti orang perkedudukan atas seperti organisasinya.

Dengan postur sedikit lebih tinggi dari Asuna, namun lebih pendek dari Yuriel. Pakaian yang dikenakan tubuhnya tampak sederhana, bahkan ia tidak membawa satupun senjata. Disampingnya, Yuriel juga tak mengenakan seragam the Army miliknya.

Sinker menerima botol wine yang ditawarkan Kirito ke gelasnya, dan tampaknya tidak pertama kalinya ia memberikan tundukan ramah.

"Asuna-san, Kirito-san. Kami benar-benar harus berterima kasih pada kalian. Bagaimana cara kami melakukannya..."

"Tidak, aku juga berhutang budi pada «MMO Today» kok."

Kirito menjawab sambil tersenyum.

"Itu nama yang sungguh berkenang."

Senyum lebar tampak pada wajah bulat Sinker ketika mendengarnya.

"Pada saat itu, dengan beban untuk memperbaharui situs setiap hari, aku berpikir jika aku tidak seharusnya membuat situs berita, namun ketika dibandingkan dengan menjadi seorang pemimpin sebuah leader, tampaknya membuat situs terlihat lebih mudah. Aku juga sebaiknya menjalankan situs berita disini, huh."

Tawa ramah terdengar dari meja.

"Dan, yah... bagaimana dengan the «Army»...?"

Asuna menanyakan lalu Sinker mengubah ekspresinya.

"Kibaou dan pengikutnya telah diasingkan. Aku seharusnya melakukan hal itu lebih awal... dengan pribadiku yang sangat buruk jika berargumen, situasinya malah memburuk... —Aku juga berpikir untuk membubarkan the Army."

Asuna serta Kirito membuka mata mereka dengan cepat karena terkejut.

"Kamu... harus mempertimbangkan hal seperti itu."

"The Army telah menjadi terlalu besar... aku akan membubarkan guild dan setelahnya aku akan menciptakan organisasi yang lebih damai untuk menolong sesama sekali lagi. Membubarkan the army dan meninggalkannya hanyalah bentuk ketidaktanggungjawaban."

Yuriel memegang tangan Sinker dengan lembut dan melanjutkan perkataannya.

"—Kami percaya, kami akan membagi aset-aset milik the army yang telah dikumpulkan sejauh ini bukan hanya untuk para anggota, tapi juga akan membaginya kepada semua penduduk kota ini. Kami telah membuat banyak masalah hingga kini... Sasha-san, kami sungguh minta maaf."

Yuriel dan Sinker tiba-tiba membungkuk dalam, menyebabkan mata Sasha berkedip karena terkejut. Ia melambaikan tangannya di depan wajahnya karena bingung.

"Tidak, itu terlalu berlebihan. Anak-anak juga menerima bantuan dari anggota the Army yang baik dalam field juga kok."

Dengan penolakan terus terang dari Sasha, tempat ini terisi oleh tawa sekali lagi.

"Well, kesampingkan itu..."

Menggelengkan kepalanya, Yuriel berbicara.

"Gadis yang kemarin, Yui-chan... bagaimana kabarnya...?"

Asuna bertukar pandang dengan Kirito, lalu membalas dengan tersenyum.

"Yui telah... kembali ke rumahnya..."

Asuna menggerakkan jari tangan kananya perlahan menuju dadanya. Ada sebuah kalung kecil berkilat yang sebelumnya tidak ada sejak kemarin. Di ujung rantai keperakan yang begitu cantik, sebuah bandul yang juga berwarna perak menggantung dengan permata yang bersinar didalamnya. Batu permata tersebut berbentuk tetes air mata, tampaknya bandul itu menyebarkan kehangatan menuju jari-jari Asuna.


Pada saat itu—

Setelah Yui diselubungi cahaya lalu menghilang disisi Asuna yang menangis tanpa henti sambil berlutut diatas ubin batu, Kirito lalu berteriak.

"Cardinal!!"

Sambil mengangkat wajahnya, Kirito menatap langit-langit ruangan tersebut dan berteriak.

"Jangan pikir jika hal ini akan berakhir seperti yang kau inginkan..!!"

Menekan dirinya sendiri dengan kuat, Kirito melompat mendadak menuju konsol hitam yang berada di tengah-tengah ruangan. Ia dengan cekatan menekan keyboard hologram yang masih ditampilkan. Keterkejutan Asuna menghilangkan duka miliknya secara langsung, Asuna menangis sambil melihat apa yang dilakukan Kirito.

"Ki- Kirito-kun... Apa yang...!?"

"Jika masih... Jika masih sempat sekarang ini, aku mungkin masih bisa mengganggu kedalam sistem menggunakan akun GM...."

Dihadapan mata Kirito, yang masih melanjutkan menekan tombol keyboard sambil berkomat-kamit, sebuah jendela besar muncul bersamaan bunyi beep, lalu cahaya dari Kirito bergulung melewati ruangan secara cepat. Asuna menatapnya penuh keheranan, Kirito memasuki beberapa printah program dengan sukses. Jendela kecil bar progress muncul, dan ketika bar horizontal mencapai sisi paling kanan—

Seluruh konsol yang terbuat dari batu hitam tiba-tiba bercahaya putih kebiruan, lalu setelahnya Kirito terlempar bersamaan dengan bunyi ledakan yang terdengar.

"Ki- Kirito-kun!!"

Karena panik, Asuna menghampirinya yang telah terjatuh ke tanah.

Menggelengkan kepalanya sambil mencoba berdiri, Kirito memberikan senyum tipis didalam ekspresinya; ia menatap Asuna dan mengulurkan tangan kanannya. Tak mengerti apa yang sedang terjadi, Asuna menggapai tangannya.

Apa yang jatuh dari tangan Kirio menuju tangan Asuna adalah kristal besar yang berbentuk sebuah air mata. Di tengah segi batu yang luas, detakan, detakan, sebuah cahaya putih berkedip.

"In- Ini adalah...?"

"...Sebelum sumber otoritas yang diaktifkan Yui diputus, aku mencoba mati-matian untuk memutuskan program milik Yui dari sistem dan mengubahnya menjadi sebuah objek... Didalam kristal itu, hati milik Yui berada..."

Sete;ah mengatakan itu, Kirito terjatuh ke tanah seolah ia kehabisan tenaga, lalu ia menutup matanya.

"Yui-chan... kamu... disana, huh... Yui-chan-ku..."

Sekali lagi, air mata Asuna mengalir tanpa henti. Cahaya remang seolah menjawab Asuna dari dalam kristal, kristal itu berkelip dengan kuat satu kali.


Meraka berdua dengan enggan melambaikan tangan pada Sasha, Yuriel, Sinker, dan pada anak-anak, serta pada udara dingin yang menuiupkan bau khas dari hutan, Asuna serta Kirito kembali ke lantai duapuluh dua dari gerbang teleport. Meskipun perjalanan ini terjadi selama tiga hari, namun seolah terasa lebih lama, lalu Asuna mengambil nafas dalam-dalam.

Sungguh dunia yang luas—

Asuna sekali lagi memikirkan dunia melayang ini. Pada tiap-tiap lapisan dunia ini, ada orang yang tinggal di dalamnya, melewati hari-hari dengan air mata dan tertawa. Bukan, kejadian-kejadian menyakitkan tampaknya menjadi lebih umum untuk kebanyakan orang-orang. Akan tetapi semuanya memiliki pertarungan mereka sendiri setiap hari.

Tempat yang seharusnya aku ...

Asuna menatap jalanan menuju rumah mereka berdua, lalu menatap pada dasar lantai diatas mereka.

—Mari kembali ke garis depan. Asuna tiba-tiba berpikir seperti itu.

Di masa depan mendatang. Aku hanya bisa mengangkat pedang milikku sekali lagi lalu kembali menuju pertempuranku sendiri. Aku tak tahu berapa lama lagi pertempuran ini akan berlangsung, akan tetapi aku akan bertarung hingga dunia ini selesai, untuk menunjukkan senyum mereka sekali lagi. Untuk memberikan kebahagian bagi semuanya— Itulah apa yang Yui harapkan.

"Hei, Kirito-kun."

"Hmm?"

"Jika permainan ini selesai dan dunia ini menghilang, apa yang akan terjadi pada Yui-chan?"

"Aah... Well, ini mungkin akan sedikit memotong kapasitasnya. Aku telah mengubahnya menjadi data yang berhubungan dengan client program serta menyimpan Yui kedalam Memory Local Nerve Gear milikku. Dengan kata lain, ini mungkin sedikit sulit untuk membukanya kembali sebagai Yui... namun entah bagaimana seharusnya masih mungkin untuk dilakukan."

"Aku mengerti."

Asuna membalik tubuhnya lalu memeluk erat Kirito.

"Well, lalu pastikan kita bertemu Yui-chan sekali lagi di dunia nyata. Anak pertama kita."

"Iya. Pasti."

Asuna menatap kristal gemerlip yang berada diantara dadanya. Mama, lakukan yang terbaik... Asuna seolah mendengar redup itu dari dalam telinganya.

(Tamat)


Bagian 1[edit]

«Vorpal Strike» bersinar didalam kegelapan, dan dengan cahaya berwarna darah itu dua HP monster serangga berkurang hingga kosong.

Setelah mengkonfirmasi dengan melihat sekeliling bahwa poligon-poligon itu telah tersebar, aku menarik pedangku tepat setelah aku kembali dapat bergerak, dan berbelok ke samping untuk menahan sebuah serangan dari rahang yang besar, dan tajam. Aku lalu menggunakan «Sword Skill» yang sama untuk menghabisinya; monster itu mengeluarkan teriakan Giii sebelum miring ke belakang dan mati.

Teknik serangan satu-tangan yang berat ini pertama muncul didalam daftarku hanya tiga hari yang lalu, ketika «Teknik Pedang Satu-tangan»-ku mencapai level 950, dan yang mengherankan teknik ini sangat mudah. Walaupun teknik ini memiliki periode pendinginan yang lama dimana pemain tidak dapat bergerak, jangkauannya dua kali lebih panjang daripada mata pedang yang sebenarnya; dan kenyataan bahwa kekuatannya itu sebanding dengan pole-arm[39] berat dua-tangan itu lebih dari cukup untuk menyeimbangkan kekurangannya. Tentu saja, bila digunakan dalam pertarungan dengan pemain lain, mereka akan membaca waktu serangannya denga segera. Tetapi gerakan yang sederhana dari AI monster tidak dapat melawannya. Kamu dapat dengan mudah menggunakannya sebagai spam[40] dan membinasakan kelompok-kelompok musuh dengan light effect berwarna merah tua.

Walaupun telah mengatakan hal itu, setelah bertempur secara terus-menerus selama satu jam di bawah cahaya obor yang lemah ini, aku memang merasakan konsentrasiku memudar. Aku tidak dapat lagi bereaksi dan melawan rahang mereka yang besar, yang berusaha menggigit ataupun lendir asam mereka sebaik sebelumnya. Walaupun mereka menyerang dalam jumlah yang besar, monster-monster ini bukanlah musuh yang remeh. Daerah ini berada hanya tiga lantai di bawah garis depan yang sekarang yaitu lantai ke 49, dan mereka adalah monster-monster yang sangat kuat. Walaupun monster ini berada dalam batas aman bila mengingat perbedaan levelnya, bila sejumlah monster yang sangat besar menyerang dan mengepungku, HP-ku akan dengan cepat menurun ke daerah kuning.

Untuk berani menghadapi bahaya-bahaya ini dan datang ke lantai yang sudah diselesaikan, hanya ada satu alasan untuk itu. Tempat ini adalah tempat paling efisien untuk mendapatkan experience point di antara tempat-tempat latihan yang sekarang diketahui. Semut-semut raksasa yang datang dari gua-gua di sekeliling bukit di sini memiliki tingkat serangan yang kuat, tetapi HP dan pertahanan mereka sangat lemah. Selama kamu dapat terus menghindari serangan-serangan mereka, kamu dapat dengan cepat membunuh monster-monster ini dengan cepat. Tetapi seperti yang dikatakan sebelumnya, sekali kamu diserang dan dikepung, kamu mungkin bahkan tidak dapat bertahan, dengan demikian mengarah kepada kematian, jadi area ini tidak dapat dilihat sebagai daerah latihan yang cocok bagi pemain solo. Karena ini adalah tempat yang begitu populer, setiap kelompok hanya diperbolehkan berburu selama satu jam. Aku adalah satu-satunya pemain solo di sini. Bahkan sekarang, terdapat wajah-wajah yang kukenal dari berbagai guild mengantri di pintu masuk lembah. Seharusnya terdapat sebaris ekspresi wajah yang bosan yang terlihat seperti mereka baru saja dilangkahi. Bila itu hanya ketidaksabaran tidak masalah. Tetapi para pemain yang bersemangat tim tinggi berpikir aku adalah “Orang bodoh Terkuat” atau “Anomik[41] Beater” – tetapi, tentu saja aku tidak tahu mengenai hal itu.

Penunjuk timer di sisi kiriku menunjukkan angka 57 menit. Aku memutuskan untuk selesai setelah membersihkan gelombang monster berikutnya. Aku menghela napas banyak-banyak dan menunggu, untuk mengeluarkan semua konsentrasiku yang tersisa.

Sementara semut-semut mendatangiku baik dari kiri dan kanan, aku menghadap salah satunya yang berada di kanan, dan melemparkan sebuah pisau untuk menghentikan gerakkannya sebelum membunuh salah satu yang ada di sebelah kiri dengan teknik tiga kali serangan «Sharpnail». Sementara aku berbelok, aku menggunakan <Vorpal Strike> untuk memotong rahang yang besar dan terbuka dari semut lainnya. Selama pendinginan teknikku, aku menggunakan sarung tangan yang kupakai di tangan kiriku untuk mengelap asam hijau yang telah mengenaiku. Dengan suara jiyuu HP bar-ku menurun, dan kemudian aku melompat tinggi dari tanah. Di tengah lompatanku di udara, aku memotong bagian terlemah dari perut semut itu dan membunuhnya. Untuk dua semut yang terakhir, aku menggunakan setengah dari teknik serangan berantai yang aku tahu, sebuah serangan berantai sepanjang enam kali serangan, untuk mengalahkan mereka. Sebelum sekumpulan semut berikutnya muncul dari sarang mereka, aku tiba-tiba berlari cepat menjauh.

Setelah berlari sepanjang tigapuluh meter dari lembah semut ini dalam lima detik, aku bergulir keluar dari pintu masuknya yang kecil sebelum menghembuskan napasku. Terengah-engah untuk mendapatkan udara segar, aku bertanya-tanya apakah rasa sakit ini adalah secara mental ataukah tubuh nyataku juga berhenti bernapas. Bagaimanapun juga , aku merasakan perutku mengejang, dan karena tidak dapat menahan rasa mual setingkat ini, aku terjatuh seperti kain yang jatuh ke dalam tanah di musim dingin yang beku.

Suara dari banyak langkah kaki mencapai telingaku sementara aku terbaring di tanah. Walaupun mereka adalah orang-orang yang aku kenal, aku bahkan tidak dapat mengatakan hal kepada mereka. Melambaikan tangan kananku dengan lemah untuk meminta mereka untuk terus maju, aku lalu mendengar suara yang kasar dan sebuah hembusan napas besar.

"Levelku dan kalian sudah jauh berbeda, jadi aku tidak akan ikut dalam pertempuran hari ini. Dengar. Jangan biarkan lingkarannya terputus, dan selalu awasi tentang keadaan orang-orang di sekitarmu. Pastikan kalian tak perlu malu bila berhadapan dengan sesuatu yang berbahaya, langsung saja berteriak minta tolong padaku. Dan juga, segera lari bila ratunya keluar.”

Setelah menerima arahan pemimpin mereka, enam atau tujuh orang menjawab dengan sebuah “Ya!” atau “Ho!”, dan suara langkah kaki yang berdersak-dersik secara bertahap terdengar menjauh. Aku bernapas dengan berat untuk beberapa kali, dan setelah akhirnya berhasil mengatur napasku, aku mengangkat diriku dengan tangan kananku dan bersandar pada sebuah pohon di dekatku.

"Tangkap!”

Aku dengan berterima kasih menangkap healing potion itu, membuka gabus penutupnya dengan ibu jariku, dan meminumnya dengan rakus. Walaupun rasanya sedikit terasa seperti jus jeruk nipis, aku rasa potion itu enak. Aku melemparkan botol yang telah kosong itu ke tanah, melihatnya mengeluarkan sebuah cahaya merah saat botolnya menghilang dan melihat ke atas.

Klein, yang adalah pemimpin dari guild «Fuurinkazan[42]» yang telah aku temui pada awal dari permainan kematian SAO ini, masih memakai bandanna-nya yang vulgar itu, membuka mulut yang berada di atas janggutnya yang kasar itu dan berkata:

"Kirito, tidak peduli bagaimana kamu melakukannya, ini lebih dari sedikit tidak masuk akal. Sejak kapan kamu berada di sini hari ini?"

"Eh... sekitar jam 8 malam."

Setelah aku menjawab dengan suara yang serak, Klein menunjukkan sebuah ekspresi ketidakpuasan yang berlebihan.

"Oi, oi, ini sudah jam dua pagi, berarti kamu telah berada di sini selama enam jam. Pada zona latihan yang berbahaya seperti ini, bila kamu menghabiskan kekuatanmu hal ini akan berarti kematian seketika."

"Tidak masalah. Aku dapat beristirahat hingga dua jam selama menunggu."

"Bila tidak ada yang datang lalu kamu berencana untuk terus bertarung!"

"Itu adalah alasan mengapa aku secara khusus memilih waktu ini untuk datang. Bila aku datang pada pagi hari maka aku mungkin harus menunggu lima atau enam jam."

Klein mencampurkan suara dari orang yang tercengang dengan ungkapan "Kamu bodoh". Dia lalu melepaskan katana-nya dari pinggangnya, dan duduk dengan berat di depanku.

"...yah, mengenai kekuatanmu, dari hari pertama SAO aku mengerti mengenai itu tanpa ada keraguan sedikitpun... berapa levelmu sekarang?"

Untuk dapat merahasiakan stats seperti level adalah garis kehidupan seorang pemain. Oleh karena itu untuk tidak menanyakannya telah menjadi sebuah peraturan tidak terucap didalam SAO.Tetapi sampai sekarang tidak ada alasan untuk menyembunyikannya dari Klein, jadi aku menjawabnya dengan jujur.

"Hari ini aku mencapai level 69."

Tangan yang sedang menggosok dagunya berhenti dengan tiba-tiba, dan kedua mata yang setengah tertutup oleh bandanna-nya terbuka lebar karena terkejut.

"...hey, yang benar? Sejak kapan kamu berada sepuluh level di atasku – dan, aku tidak mengerti. Belakangan ini kecepatanmu menaikkan level sudah menjadi tidak biasa. Kamu pasti telah berlatih bahkan selama waktu di siang hari ketika daerah-daerah latihan jarang terisi dengan pemain lainnya, Mengapa kamu harus berusaha sekeras ini? Aku tidak mau mendengar salah satu dari kata itu......"untuk menyelesaikan permainan ini". Bahkan bila kamu menjadi lebih kuat seorang diri, kecepatan penyelesaian masih akan ditentukan oleh para guild yang kuat seperti KoB."

"Jangan mengkhawatirkanku; aku telah menjadi seorang pecandu untuk menaikkan level. Hanya mendapatkan experience point membuatku merasa enak."

Melihatku mengatakan itu dengan senyum yang memalukan, Klein membalasnya dengan memasang ekspresi wajah serius.

"Jangan bercanda... bahkan akupun tahu betapa melelahkannya untuk melakukan grind[40] seperti ini. Untuk bermain solo itu sangat berat di pikiran... bahkan bila levelmu itu mendekati 70, untuk sendirian di area ini jelas tidak aman. Kamu ingin mengambil resiko, tetapi kamu juga pasti mempunyai batasan. Apa gunanya menaikkan level di tempat seperti ini dimana kamu dapat mati kapanpun juga?

Fuurinkazan adalah guild yang intinya terdiri dari teman-teman Klein dari sebelum SAO. Anggotanya adalah kumpulan orang yang tidak menyukai mencampuri urusan yang tidak perlu dan, pemimpinnya, Klein, tidak terkecuali.

Orang ini adalah orang yang baik, tetapi untuk orang yang baik ini untuk cemas hingga sejauh ini mengenai seorang beater yang tidak tahu malu sepertiku, aku takut itu karena dia harus, karena aku dapat mengerti apa alasannya. Untuk membantu Klein, yang tidak terlalu pintar berkata-kata, aku membuka mulutku dengan sebuah senyum.

"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu berpura-pura khawatir lagi. Kamu ingin tahu apakah targetku adalah Flag mob[40] itu, kan?"

Flag Mob adalah monster yang diatur untuk menjadi syarat penyelesaian sebuah quest. Monster itu mungkin entah muncul sekali setiap beberapa hari atau terkadang beberapa jam, tetapi sesekali satu unit monster akan muncul yang sangat dekat dengan monster bos, jadi tentu saja kekuatannya tidak dapat diremehkan. Jadi, untuk mengalahkannya, para pemain biasanya membentuk sebuah kelompok sebesar kelompok yang menarget bos.

Klein dengan terus terang menunjukkan sebuah ekspresi kesulitan dan menggosok rahangnya.

"...Aku tidak berusaha untuk terutama mengetahui hal itu..."

"Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi. Fakta bahwa kamu membeli informasi mengenai pembelian informasi mengenai bos natal dari Argo... informasi ini juga aku beli darinya."

"Apa?!"

Klein membuka lebar kedua matanya dan tidak dapat berkata-kata.

"Argo itu... Nama panggilannya, si Tikus, bukan hanya hiasan."

"Gadis itu akan menjual informasi apapun, bahkan stats-nya sendiri. Lagipula, kita tahu bahwa target masing-masing adalah bos natal itu, dan aku telah membeli semua informasi yang ada yang dapat didapatkan dari NPC. Jadi, kamu seharusnya tahu aku akan mendapatkan experience point seperti ini tanpa akhir dan tidak peduli saran seperti apa yang diberikan aku tidak mempunyai alasan untuk berhenti."

"Ah... kesalahanku. Itu juga sesuatu yang akan aku tolak juga."

Klein memindahkan tangannya dari dagunya dan menggaruk kepalanya, meneruskan perkataannya.

"Hari ini adalah 5 hari sebelum malam Natal... setiap guild sama saja, mereka semua ingin meningkatkan kemampuan bertarung mereka sebelum kedatangan bos itu, walaupun hanya sedikit. Tetapi di malam yang sangat dingin seperti ini, jarang ada orang bodoh yang mengunci diri mereka sendiri didalam area latihan. Tetapi... untungnya guild kami memiliki hampir sepuluh orang anggota, kami akan memiliki kesempatan yang baik bahkan bila target kami adalah sang bos. Kamu tahu, karena ini adalah Flag Mob besar «Sekali Setahun », ini bukanlah sesuatu yang dapat kamu buru seorang diri.

"......."

Tidak dapat menyanggah, aku melihat ke bawah kepada rerumputan liar kering, yang berwarna coklat muda.

Satu tahun setelah SAO dimulai, sebelum Natal kedua, sebuah rumor mulai menyebar ke seluruh Aincrad. Satu bulan yang lalu, para NPC di setiap lantai mulai memperbincangkan mengenai quest yang sama.

Dikatakan bahwa setiap Bulan Holly[43], yaitu tengah malam dari tanggal 24 Desember, didalam suatu hutan di bawah dahan-dahan dari sebuah pohon yang sangat besar, monster legendaris «Nicholas the Renegade»[44] akan muncul. Bila kamu dapat mengalahkannya, kamu akan mendapat semua harta dari kantong besar yang dibawa di punggungnya.

Bahkan untuk para guild yang kuat yang selalu hanya tertarik untuk pergi ke dungeon, kali ini mereka menunjukkan ketertarikan yang besar. Mereka mengerti bahwa harta itu, uang dan senjata langka akan banyak membantu dalam pertempuran melawan bos sebuah lantai. Bila kita berkata bahwa ini adalah sistem dari SAO, yang sejauh ini hanya mengambil banyak hal dari para pemain, sekarang dengan niat baik memberi hadiah Natal, lalu bagaimana ada orang yang dapat menolaknya?

Tetapi seorang pemain solo sepertiku, pada awalnya, tidak tertarik dengan rumor ini. Bahkan tanpa Klein mengataknnya, aku sudah tahu bahwa musuh ini bukanlah tandingan bagi hanya seorang pemain saja. Lagipula, dengan uang yang aku dapat dari proses-penyelesaian permainan, bila aku ingin, aku bahkan dapat membeli sebuah rumah. Dan yang terpenting adalah, aku tidak ingin, sebagai hasil bertarung dengan Flag Mob yang ingin dilawan oleh semua orang, menjadi terkenal, dan mendapatkan perhatian yang tidak perlu.

Tetapi dua minggu yang lalu – perasaanku berubah 180 derajat setelah mendengar informasi dari NPC. Setelah itu, aku datang ke tempat berburu yang populer ini setiap hari, dengan ditertawai oleh yang lain, dan menaikkan levelku seperti orang gila.

Klein, yang tetap diam didekatku, berkata dengan suara pelan:

"Jadi itu ternyata memang berhubungan dengan informasi itu – Mengenai «Resurrection Item»."

"...Ah."

Sekarang karena percakapannya sudah mencapai sejauh ini, tidak perlu menyembunyikannya lagi. Setelah aku dengan tenang mengakuinya, aku menghela napas beberapa kali yang tidak dapat aku hitung berapa banyaknya, dan menekan keluar kata-kataku.

"Aku mengerti perasaanmu... aku tidak pernah mengira akan ada item impian seperti itu. «Didalam kantong Nicholas terdapat sebuah item legendaris yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati.» ...tetapi... seperti kebanyakan orang, aku rasa itu hanyallah sebuah kebohongan. Atau daripada menyebutkannya sebagai sebuah kebohongan, maksudku itu mungkin adalah sebuah perkataan dari para NPC yang tersisa dari saat SAO adalah sebuah VRMMO biasa... yaitu, pada awalnya, item ini akan dapat menghidupkan kembali orang tanpa kondisi dari «Death Penalty» yang ada. Tetapi SAO yang sekarang tidak memiliki hal seperti itu. Hanya ada satu penalti, dan itu adalah nyawa pemain itu sendiri. Aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, tetapi hal ini dikatakan pada hari pertama proses penyelesaian oleh Kayaba itu."

Aku mengingat insiden tutorial yang diberikan oleh GM palsu Akihiko di tempat kosong itu pada hari pertama itu. Seorang pemain yang HP-nya mencapai nol akan menghilang dari server ini, tidak akan pernah kembali ke tubuh fisiknya.

Aku tidak merasa bahwa kata-kata yang diucapkannya adalah sebuah kebohongan, tetapi... walaupun begitu...

"Tidak ada seorangpun yang dapat mengkonfirmasi hal ini, bahwa kematian didalam dunia ini itu sama dengan kematian yang sebenarnya."

Aku mengatakan kata-kata ini seakan-akan aku berusaha menyangkal kata-katanya. Ketika itu, Klein mengerutkan hidungnya dan menjatuhkan sangkalanku:

"Kita akan mati dan kembali ke sisi lain dalam keadaan hidup, dan Kayaba akan menemui kita dan mengatakan kepada kita «Aku bohong» ? Hentikan itu, pertanyaan ini sudah terjawab satu tahun yang lalu. Bila hal ini hanyalah lelucon payah seperti ini, lalu tarik saja Nerve Gear milik semua pemain, dan insiden ini akan selesai. Karena kita tidak dapat melakukan hal itu, permainan kematian ini nyata. Ketika HP menjadi nol, Nerve Gear akan menjadi sebuah tungku microwave dan menggoreng otakmu. Bila tidak seperti itu, lalu mereka semua yang dibunuh oleh para bajingan itu atau para monster, yang berteriak "Aku tidak ingin mati" sementara mereka menghilang, apa arti itu semua?"

"Diam!"

Berteriak cukup keras untuk mengejutkan diriku sendiri, aku memotong kata-kata Klein.

"Bila kamu benar-benar berpikir bahwa aku bahkan tidak mengerti hal seperti ini, berarti aku tidak memiliki hal lain untuk dikatakan kepadamu... Benar, Kayaba memang mengatakan hal itu di hari pertama, tetapi, beberapa waktu yang lalu, bahkan pemimpin dari para penyelesai permainan di garis depan, pemimpin dari KOB Heathcliff mengatakan hal ini: selama masih ada bahkan satu persen kesempatan untuk menyelamatkan nyawa seorang teman seperjuangan, lalu kita harus melakukan yang terbaik untuk mengejar kesempatan itu, dan mereka yang tidak dapat melakukan hal ini tidak pantas untuk membentuk kelompok apapun. Walaupun aku tidak menyukai orang itu, apa yang dia katakan itu benar. Aku sekarang sedang mengejar kesempatan itu. Seandainya mereka yang mati di dunia ini tidak kembali ke dunia nyata ataupun benar-benar mati, dan sebaliknya dipindahkan kedalam semacam ruang tunggu, menunggu untuk hasil akhir dari permainan ini. Lalu, kita telah memiliki alasan untuk mendapatkan «Resurrection Item» itu."

Dengan sebuah kata-kata panjang lebar yang jarang aku lakukan, aku mengajukan skenario yang baru saja aku buat ini untuk membantuku. Klein mengesampingkan kemarahannya, dan sebaliknya melihatku dengan rasa kasihan.

"Begitukah?"

Suara yang dia keluarkan barusan itu benar-benar berbeda dengan sebelumnya, sangat tenang.

"Kirito...kamu masih belum melupakan mengenai itu, huh, bahwa guild-mu yang terakhir... Dan ini sudah hampir setengah tahun setelah itu..."

Aku membalikkan kepalaku, dan memuntahkan kata-kata untuk membela diriku sendiri.

"Seharusnya dikatakan, bagaimana aku dapat melupakannya setelah hanya setengah tahun... semuanya mati, kecuali aku..."

"Guildnya bernama «Black Cats of the Full Moon» kan? Mereka bahkan bukan sebuah guild penyelesai permainan, tetapi tetap pergi ke tempat yang dekat dengan garis depan, dan pada akhirnya beberapa pencuri mengaktifkan perangkap alarm. Itu bukanlah salahmu, dan tidak ada yang akan menyalahkanmu atas hal itu. Sebaliknya, kamu akan dipuji karena dapat selamat."

"Bukan seperti itu... itu adalah kesalahanku. Baik soal menghentikan mereka untuk pergi ke garis depan, memberitahukan mereka untuk mengacuhkan hartanya, atau memastikan semua orang dapat melarikan diri segera sesudah alarmnya berbunyi; semuanya ini harusnya dapat aku lakukan."

—Bila aku tidak menyembunyikan tingkat keahlianku dari para rekanku. Rasa sakit yang datang karena tidak memberitahukan Klein kenyataan ini tanpa henti menyerang dadaku. Sebelum pengguna katana ini mengatakan kata-kata untuk menghibur yang tidak sesuai dengan dirinya, aku memaksakan diriku untuk menyelesaikan kata-kataku:

"Memang, mungkin bahkan tidak ada satu persen kesempatan untuk hal ini. Tetapi baik mengenai kemungkinan menemukan Bos Natal, mengalahkannya seorang diri, mengenai keberadaan Ressurection item itu, atau disimpannya kesadaran dari para pemain yang mati... semuanya ini seperti mencari sebutir pasir di padang pasir. Akan tetapi... akan tetapi, kemungkinannya bukan nol. Karena kemungkinannya bukan nol, aku harus memberikan usaha terbaikku. Terlebih lagi... Klein, tidak mungkin kamu akan memberi dirimu sendiri hal yang membuat sakit kepala ini hanya untuk uangnya, bukan? Jadi kamu akan menggunakannya sebagai sebuah alasan untuk melakukannya tepat sepertiku, kan?"

Sebagai jawaban dari pertanyaanku, Klein mendengus, menjawab sementara memegang sarung pedangnya yang ada di lantai:

"Aku bukanlah pemimpi yang sama sepertimu. Hanya saja... sebelumnya, aku juga memiliki seorang teman yang tereliminasi. Bila aku tidak melakukan segala yang aku bisa untuknya, lalu aku tidak akan dapat tidur di malam hari..."

Menghadap Klein yang telah berdiri, aku tersenyum sedikit.

"Jadi sama saja."

"Tidak sama. Tujuan utama kami masih tetap harta itu, dengan apa yang baru saja kita perbincangkan barusan... dengan hanya kelompok orang seperti itu, akan buruk bila sebuah semut raksasa muncul. Aku akan pergi dan melihat situasinya."

"Ah, ah."

Sedikit menganggukkan kepalaku, aku menutup kedua mataku dan bersandar penuh kepada batang pohon itu. Bisikkan kata-kata dari pengguna katana itu bergerak pelan kearahku.

"Dan, aku khawatir mengenai dirimu. Itu bukan hanya untuk mendapatkan informasi, tolol. Bila kamu mati karena memberanikan diri di tempat seperti ini, aku jelas tidak akan menggunakan ressurection item itu kepadamu!"


Bagian 2[edit]

“Terima kasih atas bantuanmu. Lalu kami akan dengan hormat menerimanya. Tolong lindungi kami hingga kami mencapai pintu keluarnya."

Ini adalah kalimat pertama yang dikatakan oleh pemimpin dari guild «Black Cats of the Full Moon», Keita katakan kepadaku.

Lima bulan telah berlalu semenjak sore musim semi ketika permainan kematian bernama SAO dimulai. Untuk mengumpulkan material untuk senjata, aku pergi ke labirin sepuluh lantai dibawah garis depan pada yang sekarang.

Sebagai seorang Beater, aku telah dengan segera berlari sejak awal, menggunakan pengalamanku sebagai seorang beta tester. Memakai cara pemain solo yang sulit, telah memungkinkanku untuk mendapat experience point dengan sangat efisien. Hal ini mencapai tahap dimana aku bahkan dapat mengalahkan para monster di garis depan seorang diri. Karena itu, berburu dengan levelku yang sekarang menjadi begitu mudah dan santai sehingga hal ini menjadi sebuah tugas yang membosankan. Dengan menghindari pemain lainnya, aku dapat memperoleh sebuah set dari jumlah yang dibutuhkan dalam dua jam. Sementara aku bersiap untuk bergerak ke depan kearah pintu keluar, aku bertemu dengan sebuah kelompok yang sedang mundur, sebuah grup besar monster mengejar mereka.

Sebagai pemain solo, aku dengan segera memiliki pendapat bahwa kelompok itu benar-benar tidak seimbang. Dengan kelompok beranggotakan lima orang, satu-satunya pemain yang dapat mengambil peran depan adalah seorang pria yang membawa sebuah mace[39] dan perisai. Yang lainnya adalah seorang pencuri yang dilengkapi dengan sebuah pisau belati, seorang pengguna tongkat yang membawa tongkat dua tangan dan dua pengguna tombak panjang. Akan tetapi ketika HP dari pengguna gada itu berkurang secara drastis, tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya. Sebagai hasilnya, kelompok seperti ini hanya dapat mundur perlahan.

Untuk menentukan keadaan semua orang, aku memeriksa HP mereka. Kelihatannya, masih lebih dari cukup untuk mereka untuk mundur dengan aman ke pintu keluar. Akan tetapi, penilaian itu tidak lagi berlaku bila mereka bertemu dengan grup monster lainnya saat mundur. Setelah sedikit ragu-ragu, aku berlari keluar dari jalur tempatku bersembunyi dan berbicara kepada pengguna tongkat yang kelihatannya adalah pemimpinnya.

“Apakah kamu ingin aku membantu sebagai pendukung di depan?"

Pengguna tongkat itu melihat kepadaku dengan kedua matanya terbuka lebar dan menganggukkan kepalanya setelah sesaat ragu-ragu.

“Lalu, maaf merepotkanmu, tetapi tolong segera mundur bila terdapat bahaya."

Aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti dan menarik sebilah pedang di punggungku sebelum berteriak dari belakang pengguna gada itu untuk melakukan pergantian. Lalu, aku berlari menyerang para monster itu.

Musuhnya adalah satu grup goblin[45] yang telah banyak aku kalahkan sesaat yang lalu ketika berburu sendirian. Monster ini dapat dengan cepat dikalahkan bila aku maju dengan segenap tenaga dengan teknik pedangku. Bahkan bila aku tidak dapat bertahan terhadap serangan dari mereka, aku akan dapat bertahan lama dengan bergantung kepada skill «battle healing» untuk mengisi HP milikku. Akan tetapi, aku pada saat itu juga khawatir. Walaupun aku tidak takut kepada para goblin itu, aku benar-benar khawatir mengenai apa yang dipikirkan oleh para pemain yang dibelakangku itu.

Umumnya, bagi para pemain dengan level tinggi yang menyebabkan sebuah gangguan besar sementara berlatih di lantai lebih bawah akan dianggap sebagai sebuah kelakuan yang buruk. Bila berlangsung untuk waktu yang lama, pemain itu akan mendapat teguran keras ketika permohonan itu diajukan kepada sebuah guild di lantai yang lebih atas untuk menyelesaikannya. Pemain itu akan berakhir didalam daftar pemain dengan etika yang buruk di koran dan akan dihadapkan kepada beberapa hukuman. Walaupun ini seharusnya bukan masalah karena aku menganggapnya sebagai sebuah situasi darurat, hal ini mengkhawatirkanku. Bila tidak dilakukan dengan baik, mereka akan menyebutku sebagai seorang Beater dibandingkan dengan mengucapkan terima kasih.

Karena itu, aku dengan sengaja memperlama waktu yang dibutuhkan untuk mengalahkan sekelompok goblin dengan membatasi penggunaan teknik pedangku. Pada saat itu, aku masih tidak sadar bahwa keputusanku itu akan mengarah kepada sebuah kesalahan yang tidak dapat diperbaiki.  


Keseluruhan kelompok goblin itu akhirnya dikalahkan setelah beberapa giliran rotasi dengan pengguna gada itu, yang telah secara terus menerus memulihkan HPnya dengan potion. Aku terkejut ketika kelompok yang terdiri dari lima orang yang tidak diketahui ini mulai bersorak sorai dengan keras. Mereka secara bergantian memberi masing-masing tos (!) bergembira karena kemenangan ini.

Walaupun tidak dapat berkata apa-apa, aku masih memasang senyum yang belum biasa aku lakukan sementara menjabat tangan semua orang. Satu-satunya pemain wanita didalam kelompok, seorang pengguna tombak berambut hitam adalah yang terakhir menggenggam tanganku dengan kedua tangannya sementara secara berulang-ulang mengatakan kepadaku diantara tangisnya:

“Terima kasih...... Terima kasih banyak. Aku benar-benar takut...... ketika kamu datang menyelamatkan kami, aku sangat senang. Aku benar-benar menghargai bantuanmu."

Mendengar kata-kata itu sementara melihat aliran air mata, terdapat sebuah emosi yang tidak dapat dijelaskan mengalir didalam dadaku. Aku mengingat saat aku menolong mereka, terasa sangat enak bahwa aku cukup kuat untuk dapat melakukannya.

Walaupun aku telah menjadi seorang pemain solo sejak mulainya permainan ini, ini bukanlah kali pertama aku membantu kelompok lainnya di garis depan. Akan tetapi didalam sebuah kelompok strategis, itu adalah sebuah pemahaman tak terucap bahwa kami seharusnya membantu satu sama lain didalam medan pertempuran. Karena akan ada hari ketika aku akan membutuhkan bantuan mereka sebagai balasannya, aku akan membantu orang lain tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Lebih jauh lagi, mereka yang dibantu hanya akan memberi salam singkat sebagai balasnya. Ini adalah cara terbaik untuk dengan cepat mengatasi keheningan pasca pertarungan sebelum mulai dari pertarungan berikutnya. Cara berpikir sederhana itu ada sebagai cara untuk secara terus menerus dan efisien memperkuat diri sendiri.

Akan tetapi, mereka – para «Black Cats of the Full Moon» berbeda. Keseluruhan kelompok dipenuhi dengan kesenangan besar hanya karena satu kemenangan dalam pertempuran, dan memuji usaha masing-masing. Hal ini terlihat seperti suara terompet kemenangan di akhir sebuah stand-alone RPG ketika aku mengusulkan untuk menemani mereka ke pintu keluar. Itu mungkin dipengaruhi oleh suasana seperti keluarga yang mereka punya antara mereka sendiri. Untuk menjelaskannya lebih lanjut, aku merasa bahwa kenyataannya mereka adalah yang menyelesaikan permainan gila bernama SAO ini.

“Aku juga sedkit khawatir mengenai jumlah obat-obatan penyembuh yang tersisa yang aku punya...... Bila kamu tidak keberatan, mari mengarah ke pintu keluar bersama."

Keita mengangguk sementara tertawa lebar terhadap kebohonganku.

“Terima kasih banyak untuk bantuanmu."

Tidak, ketika aku akhirnya menyadari bahwa itu hanya aku yang merasakan hal itu sebagai sebuah pengalaman yang menyegarkan, sudah enam bulan sejak hilangnya «Black Cats of the Full Moon». Sebagai seseorang yang telah mengadopsi kebijaksanaan sebagai seorang pemain solo untuk mengumpulkan kekuatan, melindungi seseorang yang jauh lebih lemah dariku memberi sebuah perasaan yang mirip dengan menjadi tempat bergantung. Itu hanyalah bagaimana keadaan saat itu.

Sementara berada di area jalan utama setelah meninggalkan labirin, aku telah menyetujui undangan Keita ke sebuah ale house[46], mereka yang membayar. Karena itu, kami melakukan toast[47] untuk merayakan kemenangan ini dengan anggur merah yang akan dianggap mahal oleh mereka. Ketika aku selesai memperkenalkan diriku sendiri, Keita dengan ragu-ragu bertanya mengenai levelku sekarang dengann berbisik setelah suasananya telah tenang.

Aku telah kurang lebih menduga pertanyaan ini akan ditanyakan. Karena itu, aku telah memikirkan tentang sebuah angka palsu yang cocok beberapa waktu yang lalu. Angka yang aku katakan kepada mereka sebenarnya adalah tiga level lebih tinggi dari rata-rata level mereka...... tetapi, sebenarnya dua puluh level lebih rendah dari levelku yang sebenarnya.

“Huh! Kamu dapat bermain solo di tempat ini dengan levelmu yang sekarang?"

Ekspresi wajahku yang masam ketika membalas Keita mengejutkannya.

“Tidak perlu berbicara seperti itu...... bahkan bila bermain solo, tetapi aku pada dasarnya hanya memilih musuh yang terpisah untuk diserang sementara menghindari deteksi yang lainnya. Akan tetapi dalam hal efisiensi, hal ini tidak terlalu tinggi."

“Oh...... Memang, lalu…... Walaupun ini agak mendadak....... Tetapi aku pikir beberapa guild akan mengundangmu untuk menjadi anggotanya dalam waktu sangat dekat...... Bila kamu bersedia, maukah kamu begabung dengan guild kami?"

“Huh......?”

Menghadapiku yang tidak yakin bagaimana untuk membalas, wajah Keita yang telah menjadi merah, menjadi lebih bersemangat sementara dia berbicara

“Begini, berdasarkan level kita sekarang, kita dapat dengan aman berlatih didalam labirin tempat kita berada sebelumnya. Mengenai keahlian untuk bergerak lebih tinggi...... kamu pasti mengerti mengenai keadaan kami sekarang ini. Satu-satunya orang yang dapat berperan sebagai pemain depan adalah Tetsuo. Tidak peduli bagaimana, tingkat pemulihannya tidak dapat menandingi tingkat berkurangnya. Karena itu, kondisi dalam pertarungan hanya akan menjadi lebih buruk. Bila kami mempunyai rekan lainnya untuk bergabung dengan kami, keadaan akan menjadi lebih baik. Lebih dari itu...... Sachi, ke sini sebentar."

Keita menaikkan tangannya dan memanggil dengan keras kepada pengguna tombak berambut hitam itu. Gadis mungil bernama Sachi ini datang sementara memegang segelas anggur merah dan dengan malu-malu mengangguk kepadaku. Keita meletakkan tangannya di kepala Sachi sebelum meneruskan dan berkata:

“Keahlian utama gadis ini seperti yang dapat kamu lihat, adalah menggunakan tombak panjang dua-tangan. Tetapi keahliannya termasuk rendah dibandingkan dengan pengguna tombak panjang lain kami. Karena itu, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengubah dia menjadi pembawa perisai dan pengguna pedang satu-tangan. Hanya saja kami tidak pernah memiliki kesempatan untuk berlatih sebelumnya. Terlebih lagi, kami juga tidak terbiasa dengan pedang satu-tangan. Bila kamu bersedia, maukah kamu menjadi pelatihnya?"

Sword Art Online Vol 02 - 315.jpg

“Apa ini! Memperlakukanku seperti anak kecil!"

Sachi mengangkat pipinya dan sedikit menjulurkan lidahnya keluar sementara tersenyum dan berkata:

“Ini karena aku selalu bertanggung jawab untuk menyerang musuh dari jauh. Bila kamu tiba-tiba memerlukanku untuk bergerak maju dan melawan musuh dalam pertarungan jarak dekat, aku akan menjadi takut."

“Tidak masalah selama kamu berlindung dibalik perisaimu. Berapa kali aku perlu mengulanginya sebelum kamu mengerti...... yang benar saja. Kamu terlalu mudah takut sejak dulu.”

Aku hanya mengetahui mengenai garis depan dari SAO yang penuh dengan pembunuhan. Tidak, dalam pendapatku semua pemain berlomba-lomba untuk mendapatkan bahan-bahan didalam MMORPG. Karena itu, interaksi diantara mereka itu benar-benar menarik dan mengagumkan. Ketika Keita menyadari bahwa aku sedang melihatnya, dia dengan malu-malu tersenyum dan berkata:

“Ah....... Anggota guild kami sebenarnya adalah anggota dari klub komputer dari SMP yang sama di dunia nyata. Sebenarnya, dia tinggal sangat dekat denganku …... Ah, tolong jangan khawatir karena semua orang di sini sangat ramah. Kamu pasti akan dapat akrab dengan yang lainnya dengan cepat."

Semua orang didalam grup itu, termasuk Keita, adalah orang-orang yang baik. Itu adalah sesuatu yang sudah aku ketahui semenjak aku menghabiskan waktu dalam perjalanan pulang dari labirin itu dengan mereka. Aku merasa sangat bersalah membohongi mereka ketika aku memaksakan sebuah senyum dan mengangguk.

“Lalu...... Tolong perbolehkan aku untuk bergabung dengan kalian semua. Juga, tolong bimbing aku."


Dengan pemain depan kedua, keseimbangan dari kelompok Black Cat itu meningkat drastis.

Tidak, bila salah satu dari mereka memiliki sebuah keraguan, mereka akan menemukan bahwa HP-ku tidak akan berkurang untuk suatu alasan yang aneh. Akan tetapi, teman-teman yang baik ini semua percaya kepadaku karena apa yang aku katakan, bahwa aku membuat mantel ini dari beberapa material langka—dan ini bukanlah sebuah kebohongan—dan mereka tidak pernah meragukanku.

Selama sebuah pertarungan kelompok, aku hanya bertugas dalam pertahanan, dan membiarkan anggota yang lain di belakangku untuk mengatasi para musuh dan mendapatkan experience point. Keita dan lainnya dengan cepat menaikkan level mereka, dan setelah aku bergabung selama seminggu, kami telah berlatih di tempat berburu satu lantai lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Kami duduk berdekatan didalam sebuah area aman didalam dungeon. Keita sedang memakan bento[48] yang dibuat oleh Sachi sementara dia dengan bersemangat memberitahukan kepadaku impiannya,

“Tentu saja, keselamatan dari teman-teman kami adalah yang terpenting. Tetapi…bila, bila kita hanya ingin selamat, kita hanya perlu mengunci diri kita didalam kota sejak awal. Karena kami telah berlatih dan meningkatkan level kami seperti ini, kami berharap setidaknya berada didalam grup penyelesai. Walaupun garis depannya masih jauh dari kami, kami hanya dapat menyerahkannya kepada guild-guild terkuat seperti Knights of the Blood atau Sacred Dragon Alliance untuk menaklukannya... eh, Kirito, apa bedanya antara mereka dan kita?"

“Eh…un, informasi. Mereka mempunyai informasi mengenai area mana yang merupakan tempat paling efektif untuk berlatih, bagaimana mendapatkan senjata terkuat didalam permainan ini dan berbagai hal lain."

Itu adalah alasan mengapa aku berada didalam regu penyerang, tetapi Keita kelihatannya tidak senang dengan jawaban ini.

“Itu... jelas adalah sebuah alasan. Tetapi aku merasa bahwa itu adalah semangat. Keinginan mereka untuk melindungi teman-teman mereka, semua pemainnya menjadi kuat. Itu karena kekuatan inilah sehingga mereka dapat menang didalam pertempuran-pertempuran yang berbahaya dengan para bos. Kami adalah mereka yang dilindungi, tetapi perasaan kami tidak akan kalah dengan mereka. Jadi... aku merasa bahwa jika kita terus bekerja keras seperti ini, kita dapat mengejar mereka."

“Yah... kamu benar."

Walaupun aku mengatakan hal itu, aku merasa itu bukanlah karena alasan yang menakjubkan seperti itu. Alasan kenapa para grup penyelesai memiliki motivasi mereka adalah karena mereka selalu memiliki seorang pendekar pedang yang berada di atas ribuan pemain lainnya. Buktinya adalah bila mereka bertujuan untuk menyelesaikan SAO hanya untuk melindungi para pemain, para pemain kelas atas tersebut seharusnya telah menyediakan semua informasi dan perlengkapan yang mereka dapat kepada para pemain kelas menengah. Lalu mereka dapat meningkatkan level dari semua pemain, dan jumlah orang yang bergabung dengan grup-grup penyelesai akan bertambah.

Alasan mereka melakukan hal itu adalah karena mereka berharap untuk menjadi yang terkuat. Tentu saja, aku juga sama. Pada saat itu, aku akan menyelinap keluar dari tempat peristirahatan kami dan pergi ke garis depan untuk terus meningkatkan level-ku. Perbuatan ini terus menjauhkan perbedaan level antara aku dan para anggota dari Black Cats. Walaupun aku mengetahui bagaimana akhirnya, aku terus menerus mengkhianati mereka.

Tetapi pada saat itu, aku kurang lebih percaya bahwa bila level dari para anggota Black Cats meningkat, kami dapat bertarung di garis depan. Pada saat itu, aku rasa cita-cita dari Keita mungkin dapat mengubah sifat tertutup dari para grup penyelesai.

Sebenarnya, dapat dikatakan bahwa level dari para anggota Black Cats meningkat dengan kecepatan yang tidak normal. Area latihan yang kami gunakan adalah tempat yang sebelumnya aku selesaikan sebagai bagian dari garis depan. Aku tahu semua mengenai tempat itu, baik tempat-tempat berbahayanya atau tempat-tempat efektif untuk berlatih. Aku terus menerus memandu mereka tanpa mengkhawatirkan apa-apa, terus menerus memikirkan rencana paling efisien dalam berburu, menyebabkan level rata-rata anggota guild Black Cats untuk berada sangat jauh di atas level rata-rata pemain secara keseluruhan. Ketika aku bergabung, kami masih berada sepuluh lantai di bawah garis depan, tetapi celahnya dengan cepat menyempit menjadi lima. Kami terus menerus menambah kecepatan dan col, dan sepertinya kami segera akan memiliki cukup col untuk membeli sebuah rumah untuk guild.


Akan tetapi, ada satu masalah. Transformasi Sachi menjadi pendekar pedang berperisai tidak dapat diteruskan.

Tetapi hal itu tidak dapat dihindarkan. Ketika menghadapi monster-monster ganas pada jarak dekat, apa yang lebih penting daripada jumlah dalam level adalah keberanian untuk menahan rasa takut dan bertarung terus hingga akhir. Segera setelah SAO dimulai, banyak pemain meninggal karena mereka menjadi panik dan tenggelam dalam kekacauan. Bila aku benar-benar harus mengatakannya, Sachi termasuk seorang penakut yang kelihatannya tidak dapat berperan sebagai pemain depan.

Aku merasa tidak perlu bagi Sachi untuk mengganti tipe karena aku memiliki status yang jauh melebihi yang dibutuhkan untuk menjadi perisai mereka. Akan tetapi, anggota yang lainnya tidak merasa begitu. Setidaknya, mereka kelihatannya sedikit menyesal bahwa aku harus menjadi seorang pemain depan, yang akan sangat melelahkan. Walaupun dia tidak mengatakannya karena semangat dalam grup sangat baik, Sachi merasa bahwa tekanannya menjadi lebih kuat.

Pada suatu malam, Sachi tiba-tiba menghilang dari tempat peristirahatan.

Semuanya mengira alasan mereka tidak dapat menemukan lokasinya dari daftar anggota guild adalah karena dia sedang sendirian didalam dungeon. Hal ini membuat para anggota dari Keita panik, dan mereka segera pergi keluar untuk mencari.

Akan tetapi, aku adalah satu-satunya yang bersikeras untuk mencari di luar dungeon. Alasanku adalah ada beberapa tempat yang tidak dapat dilacak. Tetapi kenyataannya, aku telah memiliki keahlian 'Trace' tingkat tinggi yang membolehkanku mencari musuh. Tentu saja, aku tidak dapat menjelaskan hal ini kepada teman-temanku.

Sementara Keita dan lainnya berlari ke arah dungeon di lantai itu, aku pergi ke kamar Sachi, mengaktidkan fungsi pelacak, dan mengikuti langkah kaki berwarna hijau muda yang muncul.

Langkah kaki kecil itu mengarah ke arah yang semua orang, termasuk aku, tidak diduga sama sekali. Dia menghilang ke dalam tempat pembuangan air yang termasuk jauh dari jalan utama. Aku menelengkan kepalaku dan berjalan masuk, dan melihat di pinggiran luar dari kegelapan tempat itu dimana tetesan air menetes, Sachi sedang duduk berjongkok dengan sebuah mantel yang baru saja dia dapat, yang memiliki fungsi tidak terlihat.

“…Sachi.”

Ketika aku mengatakan hal itu, dia menggelengkan rambut hitamnya yang sepanjang bahu dan melihat ke atas, menggumam kaget,

“Kirito…bagaimana kamu tahu aku aku ada di sini?"

Aku ragu-ragu mengenai bagaimana untuk menjawabnya, dan akhirnya berkata.

“Insting.”

“…Begitu."

Sachi tersenyum dan sekali lagi menyandarkan wajahnya kepada lututnya yang sedang dipeluknya. Aku mencoba sebaik mungkin untuk memikirkan kata-kata, dan mengatakan sesuatu yang kurang kreatif,

“…Semuanya khawatir mengenaimu. Mereka bahkan mengirim orang ke dungeon untuk mencarimu. Segeralah kembali."

Kali ini, terdapat keheningan panjang. Setelah satu atau dua menit, aku ingin mengatakan hal yang sama lagi, tetapi kali ini, suara yang lemah dari Sachi keluar sementara dia menurunkan kepalanya,

“Hei, Kirito, mari kita lari."

Aku bertanya secara naluriah,

“Lari... dari mana?"

“Dari kota ini, semuanya yang ada di Black Cats, para monster... dari SAO."

Aku tidak begitu akrab dengan para gadis—atau bahkan manusia umumnya sehingga aku tidak dapat menjawabnya dengan segera. Setelah berpikir panjang, aku dengan takut-takut bertanya,

“Apakah kamu... bermaksud untuk melakukan bunuh diri bersama?"

Setelah keheningan sesaat, Sachi tersenyum.

“Fufu…yah, seharusnya tidak masalah... tidak, maaf. Aku berbohong. Bila aku memiliki keberanian untuk melakukan bunuh diri, aku tidak akan bersembunyi didalam kota... jangan berdiri terus. Duduklah juga."

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi aku duduk sedikit dekat di samping Sachi di lantai batu itu. Dari pintu keluar berbentuk setengah lingkaran dari tempat pembuangan air ini, aku dapat melihat cahaya kotanya yang sekecil bintang-bintang.

“…Aku takut akan kematian. Karena aku takut, aku bisa dibilang tidak dapat tidur selama ini."

Akhirnya, Sachi menggumam.

“Mengapa hal seperti ini terjadi? Mengapa kita tidak dapat keluar dari permainan ini? Mengapa kita dapat mati walaupun ini hanyalah sebuah permainan? Apa yang dapat didapat oleh Kayaba itu dengan melakukan hal ini? Apa arti dari hal ini...?"

Sebenarnya, aku dapat memberi sebuah jawaban untuk masing-masing dari kelima pertanyaan itu. Tetapi bahkan akupun tahu bahwa Sachi tidak mencari jawaban semacam itu. Aku berusaha sebaik yang aku bisa untuk berpikir dan berkata,

“Kemungkinan besar, tidak ada artinya... dan tidak ada yang dapat memperoleh keuntungan dari ini. Pada saat dunia menjadi seperti ini, semuanya kehilangan hal terpenting dari yang mereka miliki."

Aku menahan air mataku sementara aku mengatakan sebuah kebohongan besar kepada gadis ini. Hal itu karena aku berbohong kepada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat, dan merasakan kepuasan dari rahasia ini ketika aku memasuki kelompok dari para Black Cats. Bisa dibilang, aku jelas-jelas mendapatkan keuntungan bagi diriku.

Pada saat itu, aku seharusnya mengatakan semuanya kepada Sachi. Bila aku memiliki sepotong kecil saja kejujuran, aku seharusnya sudah menunjukkan egoismeku yang buruk ini keluar. Pada keadaan itu, Sachi mungkin dapat mengeluarkan sebagian dari tekanan yang ada pada dirinya, dan dia bahkan mungkin merasa agak tenang.

Akan tetapi, apa yang dapat aku katakan hanyalah sebuah kebohongan untuk lebih menguatkan diriku.

“…Kamu tidak akan mati."

“Mengapa kamu mengatakan hal itu?"

“…Bahkan dalam keadaan kita yang sekarang, Black Cats tetaplah sebuah guild yang kuat. Kita juga telah mencapai batas aman. Bila kamu tetap didalam guild itu, kamu dapat terus hidup dengan aman. Juga, kamu tidak benar-benar perlu berganti menjadi seorang pendekar pedang."

Sachi mengangkat kepalanya dan menunjukkan kepadaku sebuah ekspresi kepercayaan. Akan tetapi, aku tidak dapat menatap langsung kepada kedua mata itu dan merendahkan kepalaku.

“…Benarkah? Aku dapat terus hidup hingga akhir? Kembali ke dunia nyata?"

“Ahh…kamu tidak akan mati. Kamu akan terus hidup hingga hari dimana permainan ini terselesaikan."

Kata-kata itu adalah kata-kata yang tidak meyakinkan dan tidak memiliki pengaruh apapun didalamnya. Walaupun begitu, Sachi bersandar kepadaku, menyandarkan wajahnya kepada bahu kiriku dan menangis untuk beberapa lama.


Setelah beberapa lama, aku mengirim pesan kepada Keita dan kawan-kawan dan membawa Sachi kembali ke tempat menginap kami. Sachi kembali ke ruangannya untuk beristirahat, dan aku menunggu di lantai pertama dari meja minum menunggu kembalinya Keita dan kawan-kawan. Aku memberitahu kepada mereka beberapa hal—Sachi membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi seorang pendekar pedang, dan bila mungkin, dia lebih baik terus menjadi seorang pendekar tombak. Juga, aku dapat terus menjadi pemain depan.

Keita dan lainnya bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi antara Sachi dan aku, tetapi mereka dengan gembira menyetujui rencanaku. Aku menghela napas lega, tetapi ini tidak akan menyelesaikan masalah sesungguhnya.

Dari malam berikutnya dan seterusnya, Sachi akan datang untuk tidur di kamarku. Dia berkata bahwa bila terus bersamaku dan mendengar bahwa dia tidak akan mati, dia akan dapat tidur dengan tenang. Sekarang aku benar-benar tidak dapat menyelinap keluar pada malam hari untuk mendapat experience. Walaupun begitu, hal ini tidak berarti rasa bersalahku karena berbohong kepada Sachi dan lainnya menghilang.

Untuk alasan tertentu, ingatan mengenai hal itu terpadatkan seperti gumpalan salju, jadi aku tidak dapat mengingat banyak. Walaupun begitu satu hal yang pasti adalah Sachi dan aku tidak memiliki hubungan yang romantis. Kami tidak pernah tidur bersama di tempat tidur yang sama, tidak pernah berpelukan satu sama lain, berbicara mengenai cinta atau bahkan melihat satu sama lain.

Hubungan kami lebih seperti kucing yang hilang yang saling menjilati luka yang lain. Sachi akan sedikit melupakan mengenai ketakutannya karena kata-kataku, dan aku akan bergantung kepadanya untuk melupakan rasa bersalahku karena aku adalah seorang beater.

Benar—Itu karena aku mengacuhkan masalah-masalah dari Sachi sehingga aku menemukan sisi ini dari insiden SAO yang telah berubah menjadi sebuah permainan kematian. Aku secara sistematis mengalahkan monster dengan level rendah yang aku kalahkan selama beta test, terus menaikkan level dan menjaganya dalam batas aman. Aku bukanlah seperti Heathcliff sang Paladin [49], tetapi didalam ingatanku, life point-ku tidak pernah turun ke daerah berbahaya.

Aku bergantung kepada sumber daya yang luas yang aku dapat dengan mudah. Ketika aku mengetahui—bahwa ada banyak pemain yang takut akan kematian seperti ini, aku akhirnya menemukan sebuah cara untuk menghilangkan rasa bersalahku. Tentu saja, cara itu adalah untuk terus melindungi Sachi dan para anggota Black Cats.

Untuk kepuasanku sendiri, aku lupa bahwa aku menyembunyikan levelku sebelum memasuki guild ini, melupakan ingatan bahwa aku adalah yang pada akhirnya menjadi orang yang melindungi mereka, melatih mereka untuk menjadi sebuah guild tingkat atas. Setiap malam, aku akan berada di sisi tempat tidur, menenangkan Sachi yang meringkuk dalam kecemasan, mengatakan kepadanya 'kamu tidak akan mati, kamu tidak akan mati, kamu akan terus hidup' seperti sebuah mantra. Setelah aku mengatakan hal itu, Sachi akan menunjukkan sebuah senyum kecil dari balik selimut, menatapku dan memasuki tidur yang ringan.



Akan tetapi, Sachi tetap meninggal pada akhirnya.

Kurang dari sebulan setelah malam itu di tempat pembuangan air, dia terbunuh secara kejam oleh seekor monster di depanku, dan seluruh tubuh dan jiwanya semuanya tersebar.

Pada hari itu, Keita ingin membeli sebuah rumah sebagai rumah untuk guild kami, membawa seluruh uang yang akhirnya kami kumpulkan dan pergi menemui para pemain yang bekerja di bidang penjualan bangunan. Sachi, aku dan ketiga anggota lainnya sedang tertawa sementara kita sedang melihat kolom barang bersama dari anggota guild yang tidak memiliki item satupun didalamnya sementara kita menunggu Keita untuk kembali. Tetapi setelah beberapa saat, pengguna gada Tetsuo itu berkata,

“mari pergi ke dungeon sebelum Keita kembali, mengisi kolomnya dan menakutinya."

Kelima dari kami memasuki dungeon yang tidak pernah kami masuki sebelumnya, sebuah dungeon yang berada hanya tiga lantai di bawah garis depan yang sekarang. Tentu saja, aku pernah bertarung di tempat itu sebelumnya, dan aku tahu bahwa tempat itu adalah sebuah tempat yang mudah untuk mendapatkan uang tetapi memiliki banyak sekali jebakan. Akan tetapi, aku tidak memberitahu mereka mengenai itu.

Didalam dungeon, level kami masih berada didalam area aman, jadi perburuan kami berjalan mulus. Setelah satu jam, kami mendapatkan sejumlah uang yang kami tentukan, dan ketika semuanya sedang bersiap untuk kembali dan membeli barang-barang, salah satu anggota yang merupakan seorang pencuri menemukan sebuah peti harta.

Pada saat itu, aku dengan keras berpendapat untuk mengacuhkannya. Tetapi ketika aku ditanyai mengenai alasannya, aku tidak dapat mengatakan bahwa tingkat kesulitan dari perangkapnya telah meningkat setingkat mulai dari lantai ini, dan hanya dapat berkata terbata-bata dan menekankan bahwa peti itu terlihat berbahaya.

Perangkap alarm-nya berbunyi dengan keras, dan para monster bergerak menuju ruangan seperti sebuah gelombang pasang. Segera sesudah mengetahui bahwa keadaannya sedang berbahaya, aku segera berkata kepada semuanya untuk menggunakan jalan keluar darurat untuk melarikan diri. Akan tetapi, ruangan itu didesain sebagai sebuah tempat dimana kristal tidak dapat digunakan—pada saat itu, semua orang, termasuk aku, pada akhirnya menjadi panik secara ringan maupun berat.

Yang pertama mati adalah pencuri itu yang mengaktifkan alarm-nya. Lalu, si pengguna gada Tetsuo, dan pendekar tombak pria di belakangnya.

Karena panik, aku terus menerus mengayunkan teknik pedang tingkat tinggi yang aku sembunyikan dan membunuh gelombang demi gelombang dari para monster. Tetapi mereka berjumlah terlalu banyak, dan aku tidak memiliki kesempatan untuk menghancurkan peti harta yang terus berbunyi.

Sementara HP dari Sachi benar-benar menghilang setelah dikelilingi oleh sekumpulan monster, dia meraihkan tangan kanannya kepadaku seakan-akan dia ingin mengatakan sesuatu. Kedua mata yang melebar itu masih menunjukkan sebuah warna terang yang menunjukkan bahwa dia mempercayaiku, sama seperti setiap malam, sehingga hal ini terasa sangat menghancurkan hatiku.


Aku tidak dapat mengingat bagaimana aku selamat. Setelah aku pulih, kumpulan monster dan keempat temanku tidak berada didalam ruangan itu. Tetapi bahkan dalam situasi itu, HP bar-ku menurun hingga sekitar setengahnya.

Tidak dapat berpikir, aku dengan hampa kembali ke penginapan.

Keita, yang meletakkan kunci rumah guild yang benar-benar baru di atas meja dan menunggu kami kembali, mendengarkan ceritaku—bagaimana keempat dari mereka meninggal, bagaimana aku selamat, dan menatapku tanpa ekspresi. Dia berkata kepadaku mengenai bagaimana beater sepertiku tidak memiliki hak apapun untuk bergabung dengan mereka.

Dia berlari keluar dari kota di Aincrad, dan kemudian melompati pagar tanpa keraguan sementara aku mengikutinya dari belakang, menuju kedalam kehampaan tiada akhir.

Apa yang Keita katakan adalah kenyataannya. Hal itu tidak dapat diperdebatkan. Itu adalah kesombonganku yang membunuh keempat anggota dari Black Cats of the Full Moon—bukan, 5. Bila mereka tidak pernah bertemu denganku, mereka akan terus berada di daerah tengah yang aman, dan mereka tidak akan memicu apa yang ternyata adalah sebuah perangkap.

Untuk bertahan hidup didalam SAO, apa yang kita butuhkan bukanlah refleks ataupun jumlah secara angka dalam level, tetapi informasi yang memadai. Aku menaikkan level mereka dengan efisiensi yang tinggi tetapi tidak memberitahukan kepada mereka informasi. Itu adalah sebuah tragedi yang aku sebabkan dengan kedua tanganku, dan aku sendirilah yang membunuh Sachi yang telah aku janjikan untuk aku lindungi.

Mengenai apakah dia ingin untuk mengutukku dengan kejam pada saat terakhirnya, aku harus menahannya. Alasan mengapa aku terus menerus mencari mengenai revival item yang dirumorkan adalah hanya untuk mendengar kata-kata itu.

Bagian 3[edit]

Selama empat hari yang tersisa sebelum Natal, levelku naik sekali lagi, menjadi 70.

Selama masa ini, aku tidak tidur sedikitpun. Ini adalah harganya. Kadang-kadang aku merasakan sakit kepala yang menusuk, seakan-akan aku tertusuk oleh paku, tetapi aku merasa bahwa bahkan bila aku berbaring, aku tidak akan dapat tertidur.

Semenjak perjumpaan itu, guild Fuurinkazan dari Klein tidak pernah berada ke lembah semut ini lagi. Aku terus menerus mengantri dengan guild-guild lainnya, memburu semut-semut mekanis itu sendirian. Ekspresi wajah dari para pemain yang melihat mataku juga pada akhirnya berubah dari mengejek menjadi jijik. Walaupun masih ada beberapa pemain yang merespon sapaanku, segera setelah siapapun memasuki lapangan pandangku, wajahnya akan segera berpaling dariku.

Diantara sekelompok pemain yang targetnya adalah hadiah Natal itu, pertanyaan terbesarnya adalah dimana pohon fir[50] raksasa dimana «Nicholas the Renegade» akan muncul di bawahnya—mengenai pertanyaan ini, aku memanfaatkan waktu menunggu di lembah semut itu, dan mendapatkan sebuah jawaban yang hampir pasti.

Aku telah pergi ke semua koordinat yang aku beli dari berbagai penjual informasi, tetapi walaupun dari luarnya mereka tampak seperti pohon Natal, tetapi mereka ternyata bukanlah pohon fir, tetapi pohon pinus[50]. Daunnya yang seperti duri yang ada di pohon pinus tidak sama. Bagian depan dari daun fir berbentuk oval tipis dan memanjang. Karena di dunia nyata aku telah melihat kedua tipe pohon ini di halaman belakangku, aku mengetahuinya.

Beberapa bulan yang lalu, aku berada di area latihan di lantai tigapuluh tiga dimana terdapat sebuah dungeon yang mentransfer pemain secara acak yang dinamakan "Lost Forest", dan di sebuah ujung tertentu dari hutan itu aku menemukan sebuah pohon raksasa yang berlekuk. Aku merasa bahwa terdapat beberapa arti tersembunyi dari bentuknya, mungkin tempat mulai dari sebuah quest yang tidak diketahui jadi aku dengan teliti menyelidikinya, tetapi tidak menemukan apa-apa. Bila aku meninjau ulang, pohon raksasa itu adalah sebuah pohon fir. Pada malam Natal– yaitu, malam ini, sebuah monster spesial bernama «Nicholas the Renegade» akan muncuk di bawah pohon itu.

Aku mendengarkan suara yang menandakan bahwa aku sekarang level 70 tanpa perasaan apapun, dan setelah gerombolan semut di dekatku sudah dibereskan, aku mengambil dari tasku sebuah teleport crystal. Tanpa menyapa para pemain yang sedang mengantri, aku langsung pergi ke lantai di garis depan dimana aku menginap, di jalan utama lantai ke empatpuluh sembilan.

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat menara jam di gerbang alun-alun kota, untuk melihat bahwa masih ada tiga jam sebelum tengah malam. Mungkin karena mereka ingin menghabiskan malam natal bersama, didalam alun-alun penuh dengan pasangan pemain. Aku dengan cepat melewati mereka untuk kembali ke tempatku menginap.

Berlari ke ruanganku sendiri, aku segera membuka tempat penyimpanan yang dipasang didalam ruangan, mengambil dari item window yang muncul semua kristal pemulihan, detoksifikasi dan potion dan semacamnya. Walaupun ini semua sudah berjumlah besar dalam perhitungan neraca keuanganku, aku tidak akan merasa kasihan bahkan bila mereka semua terpakai.

Segera sesudah aku mengambil sebuah pedang satu-tangan dari koleksiku, mengecek kembali durabilitasnya, aku mengambil pedang di punggungku yang sebelumnya aku gunakan untuk melawan semut-semut itu dan menukarnya. Lalu aku juga menukar mantel kulit dan pelindungku dan semuanya yang aku pakai dengan item baru. Ketika aku telah selesai, aku baru saja akan menutup window-nya ketika aku melihat inventory-ku dan menghentikan tanganku.

Di sana, sebagai tambahan dari milik «Sendiri» yang tertulis disana, inventory page milikku, terdapat label lain yang tertulis dengan nama «Sachi».

Ini adalah hasil dari hubungan yang sangat baik antara dua pemain, tetapi tidak berlanjut ke dalam «Pernikahan» —pemain seperti mereka menentukkan item window bersama mereka. Hal ini berbeda dengan bagaimana semua item didalam pernikahan digunakan bersama dimana hanya item yang ditaruh didalam window yang berbeda ini yang digunakan bersama.

Sachi, yang tidak pernah meminta untuk pengakuan cinta atau untuk berpegangan tangan sebelumnya, meminta pada tak lama sebelum kematiannya untuk membuat window ini. Ketika aku bertanya mengenai alasannya, dia memberikan sebuah jawaban yang sulit diterima, yaitu untuk dengan mudah bertukar healing potion dan item yang serupa—bila ini adalah maksudnya, disana dengan jelas terdapat sebuah window didalam guild yang terbuka yang dapat digunakan untuk itu. Tetapi meskipun demikian aku setuju, dan mengatur window ini untuk berbagi hanya antara Sachi dan aku.

Walaupun Sachi meninggal, window ini masih ada. Tentu saja, daftar temannya akan tetap memiliki nama Sachi, tetapi namanya akan berwarna abu-abu karena dia tidak dapat dihubungi. Dan beberapa healing potion yang tersisa didalam inventory yang digunakan bersama, ini juga tidak akan digunakan. Setelah setengah tahun, walaupun halaman guildnya terhapus tanpa perasaan apapun, aku tidak dapat menghilangkan label dengan nama Sachi didalamnya. Tentu saja—alasannya bukan karena aku percaya bahwa dia dapat dihidupkan kembali—Aku hanya tidak dapat memaafkan diriku sendiri yang akan dapat merasa lebih baik setelah menghapus namanya.

Aku baru pulih dan menutup window-nya setelah melihat nama Sachi selama sepuluh menit. Sekarang adalah dua jam sebelum tengah malam.

Sementara aku berjalan keluar dari ruangan dan menuju ke arah transfer gate, aku terus berpikir mengenai ekspresi wajah Sachi pada saat terakhirnya, apa yang dia pikirkan, dan, apa yang sebenarnya dia ingin katakan.

Berpindah ke gerbang yang ada di lantai ke limapuluh lima, aku datang ke alun-alun yang benar-benar berbeda dengan kota yang sebelumnya ataupun di garis depan, sebuah alun-alun yang sangat sepi. Mungkin karena masih ada jarak antara tempat ini dengan daerah pertempuran utama dari pemain tingkat menengah, area jalan utamanya secara sederhana tidak cukup berharga untuk dipakai jalan-jalan. Tetapi tetap saja, aku tetap menarik kerah dari mantelku keatas untuk menghindari mata dari beberapa pemain yang ada di area, dengan cepat meninggalkan jalan.

Tidak ingin menghabiskan waktu melawan musuh yang lemah, aku mulai berlari setelah memeriksa bahwa tidak ada yang mengejarku dari belakang. Dengan level yang berhasil aku dapat selama satu bulan terakhir, agility-ku meningkat banyak, dan kedua kakiku yang menapak salju terasa seringan bulu. Rasa sakit yang menusuk yang datang dari pelipisku tidak pernah menghilang, tetapi hal itu menyebabkan pikiranku tidak dapat tidur sama sekali.

Setelah sekitar 10 menit berlari, aku tiba di pintu masuk dari forest maze. Dungeon yang ada di medan ini terpisah menjadi berbagai poligon berujung 4, dan karena setiap areanya saling berhubungan, dapat dikatakan tidak mungkin untuk dapat menembusnya tanpa peta.

Setelah membuka peta, aku menatap ke arah area yang ditandai dan yang telah aku lalui. Setelah mengingat jalurnya didalam pikiranku, aku berangkat sendirian ke hutan yang sunyi itu.

Setelah dua pertarungan yang tidak dapat aku hindari, aku memasuki area di depan semua pohon yang berada di sekitar sasaran tanpa kesulitan apapun. Masih ada lebih dari tigapuluh menit tersisa.

Lalu, aku akan bertarung dengan monster bos sendirian yang mungkin akan mengambil nyawaku—sebuah kemungkinan yang tinggi untuk itu. Aku tidak dapat merasakan rasa takut apapun didalamku. Sebaliknya, mungkin ini adalah apa yang aku harapkan. Untuk mati didalam pertarungan untuk menghidupkan kembali Sachi mungkin adalah satu-satunya jalan aku dapat menerima kematian—

Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang heroik seperti aku mencari tempat peristirahatanku. Aku menyebabkan Sachi dan keempat temanku yang lain untuk mati tanpa arti, dan aku tidak memiliki hal apapun untuk mencari sebuah kematian yang berarti.

Apa gunanya melakukan hal ini? Sachi sebelumnya bertanya kepadaku. Dan aku menjawabnya, tidak ada gunanya.

Sekarang ini, aku akhirnya dapat mengubah kata-kata itu menjadi sebuah kenyataan. Sachi meninggal tanpa arti didalam permainan kematian SAO ini yang tanpa arti yang dibuat oleh orang jenius yang gila Kayaba Akihiko itu. Dengan itu, aku akan mati di sebuah tempat yang tidak akan diketahui orang lain, tidak diingat oleh siapapun, dan untuk meninggal tanpa arti seperti itu.

Bila, aku mengalahkan bosnya dan hidup, revival item itu akan berubah dari sebuah rumor menjadi sebuah kenyataan. Itu adalah apa yang aku pikirkan. Jiwa Sachi akan kembali dari jalan kematian atau Sungai Styx, dan kemudian aku akhirnya dapat mendengar kata-kata terakhirnya. Akhirnya—pada akhirnya, biarkan aku menunggu untuk saat ini...

Tepat ketika aku sudah siap untuk melangkah ke depan dan selesai menjalani beberapa meter terakhir, beberapa pemain muncul dari warp point di belakangku. Aku melompat mundur karena kaget sementara aku memegang pangkal pedang yang ada di belakangku.

Apa yang muncul adalah sebuah grup yang terdiri dari 10 orang, dan berdiri tepat di depan mereka adalah seorang samurai dengan pelindung ringan, sebuah katana di pinggangnya, dan sebuah ikat kepala—Klein.

Anggota utama dari guild Fuurinkazan masing-masing terlihat gelisah sementara mereka bergerak mendekat ke arahku dari warp point yang ada di belakang mereka. Aku terus melihat wajah Klein dan mengeluarkan sebuah suara yang serak.

“…Apakah kamu mengikutiku?"

Klein memegang rambutnya yang menjadi tegak karena bandana itu dan mengangguk.

“Yah. Kami memiliki seseorang dengan keahlian melacak yang baik."

“Mengapa aku?"

“Karena aku membeli informasi bahwa kamu membeli semua koordinat pohon, dan untuk alasan keamanan, aku berangkat untuk melihat dari gerbang penjaga di lantai ke 49, tetapi mengetahui bahwa kamu sedang bergerak ke arah lantai dimana tidak ada informasi sama sekali. Aku merasa bahwa kemampuan bertarungmu dan insting pemainmu sangat kuat, lebih kuat dari grup penyelesai... bahkan lebih dari Heathcliff. Jadi, Kirito, kamu tidak boleh mati di tempat seperti ini."

Klein mengulurkan tangan kanannya, menunjukkan jarinya kepadaku dan berteriak,

“MENYERAHLAH MENGENAI SERANGAN SOLO YANG GEGABAH ITU DAN BERKELOMPOKLAH BERSAMA KAMI! BIARKAN ORANG YANG MENDAPAT REVIVAL ITEM DROP ITU YANG MENYIMPANNYA, OKE!?"

“…Bila begitu..."

Aku tidak dapat percaya bahwa Klein mengatakan hal itu kepadaku karena dia melihatku sebagai seorang teman, bahwa dia mengkhawatirkanku.

“Bila begitu, tidak ada gunanya... Aku harus menyerang seorang diri..."

Aku menggenggam erat pangkal pedangku, dan pikiranku terbakar oleh kegilaan dan entah bagaimana tanpa sadar berpikir.

—Mari bunuh saja semuanya.

Di masa lalu, ketika permainan kematian ini dimulai, aku meninggalkan Klein, pemula ini yang tidak tahu apa-apa, dan pergi ke kota berikutnya. Aku menyesali hal ini untuk waktu yang lama, dan lega karena Klein dapat terus hidup dengan cara seperti itu.

Pada saat itu, aku benar-benar bertanya-tanya, apakah aku harus mencapai tujuanku bahkan bila aku harus membunuh satu dari teman-temanku yang sedikit ini dan jatuh sebagai seorang pemain merah? Hatiku dengan lemah berteriak bahwa hal ini tidak ada gunanya, tetapi terpukul mundur secara mutlak oleh sebuah raungan yang sangat keras.

Aku benar-benar percaya bahwa bila aku sedikit saja menghunus pedangku kemudian, aku tidak akan dapat menghentikan diriku sendiri mulai dari saat itu. Dan Klein sedang melihatku dengan sedih sementara tangan kananku gemetar dan terus berusaha menolaknya.

Pada saat itu, sebuah grup ketiga pengganggu datang.

Juga, grup ini bukanlah sebuah grup yang hanya beranggotakan 10 orang, tetapi sekitar tiga kali kelompoknya. Aku menatap dengan kosong kepada kelompok besar itu dan menggumam kepada Klein, yang berbalik dengan sikap terkejut yang serupa,

“Kelihatannya kalian juga diikuti, Klein."

“…Ahh, kelihatannya begitu..."

Di perbatasan yang kelihatannya sekitar 50 meter jauhnya, terdapat orang-orang yang baru saja aku lihat di bukit semut, dengan diam menatap kepada Fuurinkazan dan aku. Pendekar pedang Fuurinkazan yang berdiri disebelah Klein menyondongkan diri ke sebelah wajah pemimpinnya dan berbisik,

“Mereka adalah orang-orang dari «Divine Dragon Alliance», sekelompok orang yang dapat menjadi pemain oranye hanya untuk menyerang flag boss."

Aku sering juga mendengar nama itu. Nama mereka sama terkenalnya dengan Knights of the Blood, guild terbesar diantara grup penyelesai. Masing-masing dari mereka seharusnya berada di bawahku dalam level, tetapi aku tidak percaya dapat mengalahkan orang sebanyak itu.

Tetapi—mungkin hasil akhirnya akan sama.

Tiba-tiba aku merasa bahwa entah aku dibunuh oleh monster bos atau sebuah guild, itu semuanya adalah sias-sia. Tetapi, setidaknya itu adalah sebuah pilihan yang lebih baik daripada bertarung melawan Klein, bukan?

Aku memutuskan untuk menghunus pedang dari punggungku. Aku bahkan malas untuk berpikir. Aku hanya perlu menjadi seperti robot dan terfokus untuk mengayunkan pedangku, menghancurkan semua yang ada di depanku hingga aku hancur.

Akan tetapi, teriakkan Klein menyebabkan tanganku terhenti.

“TERKUTUK! PARA BAJINGAN ITU!"

Pengguna katana itu menghunus senjata di pinggangnya lebih cepat dari aku dan menggeram kepadaku dari belakang.

“Pergi kesana, Kirito! Serahkan hal ini kepadaku! Pergi kalahkan bos-nya! Tetapi aku tidak akan membolehkanmu untuk mati! Aku tidak akan memaafkanmu bila kamu berani untuk mati di depanku! Tidak akan pernah!"

“…”

Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Aku membalikkan punggungku kepada Klein dan memasuki warp point terakhir tanpa berkata terima kasih.


Pohon-pohon fir yang besar itu, lokasi yang aku ingat, dan lekukan dari ingatan-ingatanku, mereka semua berada di situ membisu. Kelihatannya tidak ada area bersisi 4 dengan pepohonan lainnya karena datarannya bercahaya dengan salju yang putih murni, dan kelihatan seperti tanah tandus dimana semua kehidupan telah sirna.

Sementara timer yang berada di ujung mataku mencapai angka nol, sebuah alarm terdengar entah dari mana, dan aku menengadahkan kepalaku dan melihat di atas puncak pohon.

Langit yang hitam kelam, atau bisa dibilang, dari dasar dari lantai atas sebagai latar belakang, garis-garis cahaya itu terus menerus mendekat. Melihat lebih dekat ke arah hgaris-garis itu, aku menemukan bahwa itu adalah seekor monster berbentuk aneh yang menarik sebuah kereta luncur raksasa.

Ketika kereta itu mencapai puncak pepohonan, sebuah bayangan hitam terbang turun dari kereta luncurnya, dan aku mundur beberapa langkah.

Apa yang mendarat dengan keras dan menyebarkan salju adalah seekor monster yang 3 kali ukuranku. Monster itu masih memiliki penampilan seperti manusia, tetapi kedua lengannya sangat panjang, dan karena tubuhnya membungkuk ke depan, kedua lengannya hampir menyentuh tanah. Kedua mata merah kecilnya bercahaya di bawah tonjolan yang abnormal dari kening bayangan itu. Bagian bawah dari wajahnya penuh dengan janggut ikal berwarna abu-abu, dan panjangnya mencapai pinggang.

Anehnya, monster ini memakai sebuah kemeja berwarna merah dan putih, sebuah topi berbentuk kerucut yang berwarna sama, membawa sebuah kapak di tangan kanannya, dan sekantong besar penuh barang-barang di tangan kirinya. Orang yang mendesain monster ini mungkin ingin membuat sekelompok besar pemain untuk takut tetapi terhibur ketika mereka melihat versi yang sangat jelek dari seorang bos Sinterklas. Tetapi untukku yang melawan «Nicholas the Renegade» ini seorang diri, penampilan dari bosnya tidak penting.

Nicholas mungkin akan memulai kata-kata untuk misi ini sementara dia bersiap menggerakkan janggutnya yang bertautan.

“Diam!"

Sementara aku menggumamkan hal ini, aku menghunus pedangku, dan kaki kananku menjejak keras lapisan salju tebal.


Bagian 4[edit]

Sudah lebih dari satu tahun sejak aku mulai bermain SAO, tetapi ini adalah pertama kalinya HP bar-ku memasuki zona merah.

Setelah poligon dari target yang terkalahkan itu pecah, dia hanya meninggalkan sebuah kantong. Tidak ada satupun restoration crystal yang tersisa dalam inventory-ku, aku tidak pernah berada sedekat ini dengan kematian sebelumnya. Walaupun aku selamat, tidak ada kegembiraan ataupun ketenangan didalam hatiku. Sebaliknya, aku merasakan sebuah emosi yang lebih dekat dengan kekecewaan. Mengapa aku selamat?

Sementara aku menyarungkan pedangku kembali, kantong itu bercahaya dan kemudian menghilang. Semua item yang dijatuhkan oleh target seharusnya masuk ke dalam inventory-ku. Menarik napas dalam, aku menaikkan tanganku yang gemetaran dan memanggil inventory window.

Inventory window itu memiliki banyak tabel yang akan membuat jengkel kebanyakan pemain. Senjata dan pelindung, Perhiasan/Ore, Kristal, dan bahkan Bahan makanan, aku mencari didalam window yang dipenuhi dengan tabel item untuk mencari sebuah item.

Beberapa detik kemudian, item yang aku cari memasuki jarak pandangku.

Item itu dinamakan «Divine Stone of Returning Soul».

Jantungku mulai berdetak sangat kencang, hal ini terasa seakan-akan darah baru mulai mengalir ke dalam bagian dari hatiku yang telah mati rasa selama beberapa hari terakhir - beberapa bulan terakhir.

Da... Dapatkah aku menghidupkan Sachi kembali? Bila hal ini dapat dilakukan, tidakkah ini berarti bahwa, Keita, Tetsuo, dan jiwa dari setiap pemain yang telah kehilangan nyawa mereka didalam SAO semenjak permulaan belum di hancurkan...?

Ini mungkin adalah satu-satunya kesempatanku untuk bertemu Sachi kembali. Hanya memikirkan hal itu membuat jantungku berhenti berdetak sesaat. Tidak peduli kutukan atau sumpah serapah macam apa yang mungkin dilemparkan kepadaku atau konsekuensi apapun yang mungkin terjadi karena semua kebohonganku, kali ini aku akan memeluknya dengan erat dengan kedua lenganku dan melihat kepada sepasang mata berwarna kehitaman itu dan mengatakan kata-kata yang ada di lubuk hatiku. Aku sebenarnya tidak berkata bahwa kamu tidak akan pernah mati, tetapi mengenai akulah yang akan melindungimu. Untuk memenuhi janji itu, aku akan bekerja jeras untuk membuat diriku menjadi lebih kuat.

Setelah beberapa usaha gagal untuk memilih batu yang ada di window itu karena tanganku yang gemetaran, aku akhirnya berhasil mematerialisasikan «Divine Stone of Returning Soul» itu. Mengambang di atas inventory window adalah sebuah batu permata seukuran telur yang begitu indahnya sehingga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

"Sachi.......Sachi....."

Memanggil namanya, aku menyentuh batu permata itu, lalu memilih help menu yang ada pada window, penjelasan singkat muncul di atas panel dengan model cetakan huruf yang kukenal.


[Item ini dapat digunakan melalui shortcut menu dari pemain atau memegang item yang telah dimaterialisasikan dan berteriak «Revive .. (Nama Pemain)», efeknya hanya bekerja dan menghidupkan kembali pemain dalam kerangka waktu antara kematian dari pemain hingga menghilangnya efek cahaya item. (kurang lebih 10 detik)]


Kurang lebih 10 detik.

Ucapan ini yang sepertinya ditambahkan secara sengaja, dengan jelas dan kejam mengumumkan bahwa Sachi tidak akan pernah dapat dihidupkan kembali.

Kurang lebih 10 detik. Ini adalah waktu antara ketika HP seorang pemain jatuh menjadi nol, dan tubuhnya terpecah menjadi berbagai poligon, hingga Nerve Gear mengirimkan sinyal elektronik untuk memanggang otak pemainnya di dunia nyata. Aku tidak dapat menahan diriku untuk membayangkan apa yang pasti dirasakan oleh Sachi selama jeda waktu 10 detik yang pendek itu, dari tubuhnya yang menghilang hingga Nerve Gear memanggang otak dari pemiliknya. Hal itu pasti sangat menyakitkan baginya. Didalam jeda waktu 10 detik ini, apa yang dia pikirkan? Aku berulang-ulang mengutuk diriku sendiri.....

"Ugg..Ahhhhhh. Ahhhhhhhhhhhhhhhh..."

Aku mengeluarkan sebuah teriakan yang seperti binatang.

Menggenggam Divine Stone of Returning Soul yang mengambang di atas inventory tab itu, aku melemparkannya dengan sekuat tenagaku ke tanah yang bersalju itu.

"Ahh... Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

Aku menginjak-injak kristal itu dengan penuh kemarahan dengan sepatuku sementara berteriak. Akan tetapi, kristal itu terus bersinar dengan mantap tanpa terpengaruh oleh penginjakan ini, bahkan tidak ada satu goresan pun, terlebih lagi retakan apapun pada kristal itu. Aku berteriak dengan sekuat tenagaku, menyekopkan kedua tanganku ke tanah dan menggunakan jemariku aku menggenggam salju yang terkumpul itu, pada akhirnya aku terus meneruskan teriakkanku sementara aku berguling di salju.

Tidak ada artinya, semuanya tidak ada artinya. Tidak peduli bila Sachi meninggal sementara dia sedang ketakutan dan kesakitan, atau diriku menantang target spesial pada masa Natal, TIDAK, hidup di dunia ini atau fakta bahwa 10,000 pemain terperangkap disini benar-benar tidak mempunyai arti. Aku akhirnya menyadarinya sekarang, ini adalah satu-satunya kebenaran yang ada disini.

Aku tidak tahu berapa lama aku melakukan hal ini, tidak peduli bagaimana aku berteriak, bagaimana aku berseru, aku tidak memiliki keinginan apapun untuk menangis. Itu karena tubuh buatanku ini tidak memiliki fungsi itu? AKhirnya, dengan lelah aku berdiri, mengambil holy crystal yang terkubur didalam salju itu dan bergerak menuju portal yang mengarahkanku ke area sebelumnya dari dungeon ini.

Hanya ada Klein dan anggota dari «Fuurinkazan» yang tersisa di hutan. Para anggota dari «Divine Dragon Alliance» tidak dapat terlihat dimanapun. Sementara aku berjalan ke arah pengguna katana yang sedang duduk di tanah, aku memeriksa untuk mengetahui bahwa jumlah mereka tidak berkurang.

Jelas bahwa Klein adalah satu-satunya yang kelelahan, tetapi tidak selelah aku. Aku hanya dapat menebak bahwa dia bernegoisasi dengan para anggota Divine Dragon Alliance dan bertarung dalam sebuah duel. Akan tetapi, hatiku tidak merasa bersyukur.

Pengguna katana itu melihatku datang mendekat, dan ekspresi wajahnya menunjukkan sebuah kelegaaan. Akan tetapi, bibirnya menjadi kaku setelah melihat ekspresi wajahku.

"...........Kirito............"

Aku menjatuhkan holy crystal itu di lutut Klein yang memanggil namaku dengan suara yang rendah dan kasar.

"Ini adalah revival item itu, tetapi ini tidak dapat digunakan kepada orang yang telah lama mati. Ambillah dan selamatkan orang berikutnya yang mati di depanmu."

Sementara aku bersiap untuk mengarah ke pintu keluar setelah mengatakan hal itu, Klein menggenggam mantelku.

"Kirito... Kirito......"

Hal ini mengejutkanku untuk melihatnya dengan air mata yang mengalir turun ke pipinya yang berjanggut.

"Kirito... Kamu... Kamu harus selamat.... Bahkan bila semua orang yang lain menghilang... Kamu harus selamat hingga akhir....."

Aku menarik lengan mantelku dari tangan Klein, yang terus menangis sementara dia mengulang kata-katanya untukku agar terus hidup.

Selamat tinggal.

Setelah mengatakan hal itu, aku berjalan keluar dari hutan seperti orang yang tersesat.


Pada saat aku sadar mengenai sekelilingku, aku telah kembali berada di ruanganku didalam sebuah penginapan di lantai ke- 49 tanpa ingatan apapun mengenai bagaimana aku dapat kembali kesini.

Waktunya sekarang adalah sekitar jam 3 pagi.

Aku mulai berpikir mengenai apa yang harus aku lakukan mulai saat ini hingga ke depan. Selama satu bulan terakhir, revival item itu adalah motivasi untukku untuk terus hidup. Walaupun item itu benar ada, itu bukanlah item yang aku inginkan.

Setelah berpikir untuk beberapa lama, aku memutuskan untuk pergi keluar dan bertarung dengan bos dari lantai ini ketika fajar sudah menyingsing. Bila aku mengalahkan bos itu, aku akan meneruskannya dengan mengalahkan bos dari lantai ke-50, lalu kemudian aku akan meneruskannya ke bos lantai ke-51.

Aku tidak dapat memikirkan akhir lainnya untuk pelawak bodoh ini. Setelah membuat keputusan ini, perasaanku mulai tenang, dan aku hanya duduk di kursi seperti itu. Tidak melihat apapun, tidak memikirkan mengenai apapun, tetapi menunggu untuk datangnya pagi.

Cahaya bulan yang bersinar turun melalui jendela mulai berubah posisi sedikit demi sedikit, dan akhirnya, cahaya itu digantikan oleh cahaya kelabu dari fajar. Aku tidak tahu berapa jam aku tidak tidur, tetapi terasa enak untuk pagi terakhir setelah malam terburuk.

Sementara jam di dinding berdetik menuju jam 7 pagi, aku bersiap untuk banghit dari kursi, dan sebuah alarm yang aneh berbunyi di telingaku.

Melihat sekeliling, aku tidak dapat menemukan sesuatu yang dapat menjadi sumber dari suaranya. Akhirnya, di sudut penglihatanku, aku menemukan sebuah sinyal ungu penunjuk dari main window yang berkedip, dan aku menggerakkan jemariku.

Apa yang bercahaya adalah item window bersama antara Sachi dan aku. Disana terdapat sebuah item dengan penggunaan terbatas. Aku menggulung turun halamannya dalam keadaan bingung, dan menemukan pesan dalam record crystal yang diaktivasikan dengan timer.

Aku mengeluarkan kristalnya, menutup windownya dan meletakkan kristal itu di meja.

Setelah memilih kristal yang bersinar itu, aku mendengar suara Sachi yang kurindukan.




Kirito, Selamat Natal.


Pada saat kamu mendengar pesan ini, aku mungkin sudah mati. Hal itu karena bila aku masih hidup, aku telah memutuskan untuk mengambil kristal ini dari inventory bersama pada malam Natal dan membiarkanmu mendengar apa yang ingin aku katakan secara langsung.


Bahwa... Biarkan aku menjelaskan alasan mengapa aku merekam pesan ini.


Aku, mungkin, tidak akan dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama. Tentu saja, ini bukan karena aku meragukan kemampuan dari Kirito dan guild «Black Cats of the Full Moon». Karena Kirito sangat kuat dan anggota lainnya juga menjadi semakin kuat setiap harinya.


Bagaimana aku menjelaskannya..... Teman perempuan yang sangat dekat denganku dari guild yang lain kehilangan nyawanya. Karena dia adalah seorang yang penakut sepertiku, dia hanya berburu di area aman tetapi karena nasib buruknya, dia terbunu oleh para mob pada jalan kembali ke kota. Setelah itu aku memikirkan mengenai berbagai hal dan aku akhirnya mencapai sebuah kesimpulan. Untuk terus hidup di dunia ini, tidak peduli sekuat apa teman seperjalananmu, bila kau tidak mempunyai semangat untuk hidup atau tekad untuk selamat tidak peduli apa yang terjadi, kematian jelas menunggu.


Untukku... Sejujurnya, mulai saat aku melangkah ke tempat latihan pemula aku telah dan masih tetap sangat takut. Sebenarnya, aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan Starting City. Walaupun aku sangat dekat dengan para anggota dari Black Cats of the Full Moon di dunia nyata dan aku menikmati waktu yang kami habiskan bersama, tetapi aku benci pergi ke dalam pertarungan. AKu mungkin akan mati pada akhirnya bila aku terus memiliki sikap seperti ini didalam pertarungan. Ini tidak disebabkan oleh siapapun, masalahnya ada pada diriku sendiri.


Sejak malam itu, kamu terus memberitahukanku bahwa itu tidak apa-apa setiap malam dan bahwa aku tidak akan mati. Itulah mengapa bila aku entah mengapa mati, kamu pasti akan menyalahkan dirimu sendiri untuk itu dan tidak akan memaafkan dirimu sendiri. Ini juga adalah alasan mengapa aku berpikir untuk merekam pesan ini. Aku ingin mengatakannya kepada Kirito, ini bukanlah salahmu. Bila ada masalah, itu adalah karena diriku. Tanggal dari pesan ini diatur untuk hari Natal berikutnya, karena aku setidaknya akan berusaha untuk tetap hidup hingga saat itu, berharap untuk berjalan di jalanan yang bersalju bersamamu.


Sebenarnya.... Aku tahu seberapa kuat Kirito sebenarnya. Suatu hari, ketika aku bangun dari tempat tidur Kirito, aku tanpa sengaja melihat levelmu dari status window-mu yang terbuka dari belakangmu.


Bahkan setelah berpikir panjang dan keras, aku masih tidak dapat menemukan alasan apapun mengenai kenapa Kirito-kun menyembunyikan level-nya yang sebenarnya dan membentuk kelompok dengan kami. Tetapi aku tidak mengatakan hal ini keapda anggota kelompok yang lain, karena aku percaya bahwa suatu hari kamu akan mengatakan langsung kepada kami alasannya.... Aku gembira ketika aku mengetahui bahwa kamu sangat kuat. Setelah mengetahui hal itu, aku mulai dapat tidur dengan tenang selama aku berada di sisimu. Mungkin untukmu, bersama denganku mungkin memiliki suatu arti bagimu, hal ini juga membuatku sangat senang. Bila ini memang benar, disana benar-benar ada artinya bagiku untuk datang ke lantai yang lebih tinggi bahkan bagi orang yang penakut sepertiku.


Itu... Sebenarnya, apa yang ingin aku katakan adalah, bahkan bila aku mati, kamu harus terus berusaha untuk bertahan hidup. Teruslah hidup, lihatlah dunia ini hingga akhirnya, tolong bantu aku menemukan alasan mengapa dunia ini dibuat, arti dari orang yang penakut sepertiku di dunia ini, pentingnya pertemuan kita. Itu adalah harapanku.


Ah... Kelihatannya masih ada beberapa waktu yang tersisa. Kristal ini dapat merekam banyak hal. Hmmm, lalu, karena Natal adalah suatu saat yang spesial, aku akan menyanyikan sebuah nyanyian Natal. Aku memang lumayan percaya diri dengan suaraku. Aku rasa aku akan menyanyikan Rudolph, sang rusa berhidung merah[51]. Sebenarnya aku lebih memilih menyanyikan lagu lain seperti Winter Wonderland[52], dan White Christmas[53] yang lebih banyak diketahui, tetapi sayangnya aku hanya dapat menyanyikan lirik dari lagu ini.


Mengapa aku hanya mengingat lirik dari Rudolph, sang rusa berhidung merah? Malam sebelumnya, Kirito berkata sesuatu kepadaku, "Tidak peduli siapa dirimu, kamu pasti akan membuat sebuah perubahan didalam kehidupan seseorang." Mengatakan kepadaku bahwa bahkan bila itu aku, masih ada tempat untukku berada. Setelah aku mendengar kata-kata itu, aku menjadi amat sangat senang dan mengingat lagu ini. Aku tidak tahu mengapa tetapi mungkin itu karena aku menganggap diriku sendiri sebagai Rudolph dan kamu sebagai Sinterklas.... bila aku harus mengatakannya, kamu terasa seperti seorang ayah. Ayahku meninggalkanku ketika aku masih sangat muda, karena itulah setiap malam ketika aku tidur disampingmu, aku terus bertanya-tanya bila itu adalah perasaan yang akan diberikan oleh seorang ayah. Ah, baiklah, aku akan mulai menyanyi.


Sword Art Online Vol 02 - 349.jpg

Rudolph, sang rusa berhidung-merah
mempunyai sebuah hidung yang sangat terang.
Semua rusa yang lainnya
dahulu tertawa dan memanggilnya dengan berbagai nama.
Lalu pada suatu malam Natal
Santa datang berkata:
"Rudolph dengan hidungmu yang begitu terang, maukah kamu memandu kereta luncurku malam ini? "
Rudolph yang selalu menangis, mulai tersenyum malam itu.


...... Untukku, kamu akan selalu seperti sebuah bintang terang yang bersinar dan membimbingku dari ujung lain dari sebuah lorong yang gelap. Selamat-tinggal, Kirito. Aku sangat beruntung untuk dapat bertemu denganmu dan berada bersamamu.

Terima kasih.

Selamat tinggal.

(Selesai)


Catatan Pengarang[edit]

Lama tak jumpa; atau mungkin akan lebih tepat untuk memanggil ini pertemuan pertama. Aku Kawahara. Terima kasih banyak untuk membaca <Sword Art Online 2: Aincrad>.

Setelah jilid pertama terbit, aku menerima banyak nasehat mengenai "Bagaimana aku bisa melanjutkan ini dari akhir seperti itu?" Bagaimanapun kamu melihatnya, permainannya sudah benar-benar selesai, dan dunianya telah runtuh. Bahkan ketika aku sendiri membacanya, aku merasa kalau benar-benar tak ada faktor yang bisa kulanjutkan lebih jauh.

Lalu, ada lanjutan yang menyakiti otakku, namanya, buku ini. Maafkan aku, waktunya kembali ke masa lalu. Dan selain itu, ini adalah koleksi dari cerita pendek. Aku benar-benar minta maaf.

Sebelumnya, aku juga sudah bermain di beberapa game online. Tapi, tak peduli di game apa, aku tak pernah menjadi bagian dari kelompok tingkat tinggi. Aku hanya iri pada pemain-pemain yang selalu kuat dengan peralatan terbaik dan reputasi itu, dengan mudahnya mengalahkan monster satu per satu, dan setelah itu merasa kalau mereka "Sangat hebat! Sangat kuat!" (haha)

Oleh karena itu, aku mau menulis tak hanya tentang tokoh utama di jilid satu, Kirito dan Asuna dan tipe <Game Clearer> mereka seperti pemain kelas atas, tapi lebih mau menulis sesuatu tentang cerita dari pemain-pemain tingkat menengah biasa; dan empat cerita pendek dari jilid kedua ini, benar-benar mempunyai isi seperti itu. Tanpa memperhatikan cerita siapa, mereka pada dasarnya tentang Kirito memulai debutnya dan menyebabkan masalah besar; dan perasaan kalau dia "Sangat hebat! Sangat kuat!" seperti yang Silica dan Lizbet rasakan, adalah benar-benar apa yang kurasakan setiap tahun sejak menjadi pemain MMO. Sekali saja cukup, aku benar-benar mau tahu bagaimana rasanya memamerkan ke orang lain sebuah senjata yang hanya ada tiga buah di seluruh server.

Selain itu, ada satu hal lagi yang aku harus minta maaf ke semua orang. Walaupun keempat karakter perempuan di buku ini berbeda, pasangan laki-laki mereka, seperti yang didiskusikan sebelumnya, selalu Kirito-san. Walaupun aku benar-benar tak bisa menjelaskan ke semua orang tentang ini dengan semestinya, aku akan menarik diriku dan menyuruh semuanya untuk tolong menggunakan pola pikir "walaupun kriminal dan korbannya selalu berganti, sang detektif selalu orang yang sama" yang kau punya ketika membaca seri novel detektif... kamu bisa melakukannya, kan? Maaf, maaf.

Pada akhirnya, kepada Abec-sensei yang menggambar semua pahlawan perempuan yang terus bermunculan dengan kepribadian dan kecantikan, dan kepada Miki-san yang memberiku banyak ide yang berkaitan dengan semua keadaan dan pengaturan sistem permainan yang kompleks dan aneh: kamu lagi-lagi sudah mengurusku.

Dan kepada kalian yang membaca buku ini sampai akhir, aku benar-benar berterima kasih.

26 Mei 2009 -Kawahara

Referensi[edit]

  1. Setagaya adalah nama dari salah satu distrik di Jepang
  2. Arti harfiahnya adalah gua, tapi sebenarnya dungeon itu adalah tempat untuk berburu yang monsternya lebih banyak dari tempat lain dan biasanya ada bosnya
  3. Secara harfiah, artinya penjinak binatang buas.
  4. Semacam pengikut, baca Zero no Tsukaima untuk lebih jelasnya.
  5. Artinya profesi atau pekerjaan
  6. 6.0 6.1 Artinya jurus atau kemampuan Cite error: Invalid <ref> tag; name "Skill" defined multiple times with different content
  7. Artinya kurang lebih suatu kejadian yang dipicu suatu syarat tertentu, banyak terjadi dalam game.
  8. Maksudnya kemampuan yang dimiliki, misalnya kemampuan bertahan, menyerang, kecerdasan, dll.
  9. Artificial Intelligence alias Kecerdasan Buatan
  10. Silica si Penguasa Naga
  11. 11.0 11.1 Sejenis organisasi untuk petarung, banyak ada di game online Cite error: Invalid <ref> tag; name "Guild" defined multiple times with different content
  12. Arti harfiahnya adalah gua, tapi sebenarnya dungeon itu adalah tempat untuk berburu yang monsternya lebih banyak dari tempat lain dan biasanya ada bosnya
  13. Dalam konteks ini artinya pintu yang memindahkan pemain dari suatu area ke area lain
  14. Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain secara instan
  15. Experience alias pengalaman adalah sejenis parameter/syarat untuk naik level dalam game
  16. Massive Multiplayer Online Role Playing Game, sejenis tipe game online dimana kita bisa bertemu banyak orang lainnya dan berpetualang
  17. http://www.gourdfarmer.com/node/12
  18. HP(Health Point) atau biasa disebut darah di Indonesia adalah ukuran kehidupan sang pemain, kalau habis maka si pemain tersebut mati. Kalau bar HP maksudnya persegi panjang warna hijau yang biasanya ada di pojok atas game berantem.
  19. Serangan berturut-turut yang cepat
  20. 20.0 20.1 Mata uang di SAO Cite error: Invalid <ref> tag; name "Coll" defined multiple times with different content
  21. Swordman disini maksudnya ahli pedang; disebut swordsman mungkin karena Kirito menggunakan 2 pedang
  22. http://en.wikipedia.org/wiki/Cornflower
  23. Reruntuhan/sisa-sisa/pecahan dari suatu benda
  24. Background Music = Musik Latar.
  25. Blacksmith = Tukang senjata.
  26. Weaponsmith = Kemampuan menempa senjata.
  27. NPC(Non-Player Character) = Karakter game yang tidak bisa dimainkan
  28. Item = benda dalam game.
  29. Rapier = Sejenis pedang.
  30. Clearing = Menyelesaikan game
  31. Sub-Leader = Wakil Ketua.
  32. Quest = Sejenis misi dalam game. Biasanya tidak wajib dilakukan
  33. PuG = singkatan dari pickup groups, kumpulan orang-orang yang membentuk grup untuk menyelesaikan sebuah quest dalam MMORPG
  34. Take-out = Makanan yang bisa dimakan sambil jalan
  35. Kirmizi = Merah padam
  36. Poker face = http://en.wikipedia.org/wiki/Poker_face
  37. Oboe, suatu alat musik tiup yang berbentuk seperti seruling. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Oboe
  38. Ankh, seperti salib tapi dengan lingkaran di bagian atasnya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Ankh
  39. 39.0 39.1 Pole-arm. Gada.
  40. 40.0 40.1 40.2 Istilah pertama: Game Spam. Istilah kedua: Level grinding. Istilah ketiga: Mob
  41. Anomik/Anomie; bisa dibilang orang yang tidak tahu malu
  42. Fuurinkazan
  43. Holly adalah sebuah tipe tanaman yang biasanya digunakan sebagai karangan bunga untuk mendekorasi pohon Natal. Tetapi gaya berbicara dengan memanggil bulan Desember "Bulan" Holly ini pastinya entah untuk menyamarkan nama bulannya atau mungkin istilah buatan, karena aku tidak pernah mendengar hal ini ataupun menemukannya di tempat lain
  44. Untuk versi anime & resmi. Versi sebelumnya adalah «Nicholas the Apostate». Seorang "Renegade (menurut kamus, arti pertama)" atau "Apostate" adalah seseorang yang telah meninggalkan agamanya (Apostate/Apostasy[1][2]), entah karena atheisme[3][4], heresi[5][6] atau berpindah ke agama lain; berbeda dengan "Apostle" [7] [8]. Jelas saja, hal ini merupakan referensi kepada Santo Nicholas[9][10][11][12] (Tokoh Aslinya) → yang kisahnya diubah dan dibuat dongeng menjadi Santa Claus/Santa[13] (nama versi bahasa umum) → SinterKlaas[14] (Nama versi Bahasa Belanda) → Sinterklas[15] (Nama versi Bahasa Indonesia) yang memberikan hadiah dari atas kereta rusanya pada malam Natal. Tetapi di sini, dia dijadikan seeekor monster bukan seorang santo, karena itulah terdapat bagian "Renegade/Apostate" dalam namanya.
  45. Goblin
  46. Pub/tempat minum, hampir mirip dengan Tavern/kedai minum atau perkembangan dari tavern, Inn/penginapan. Dimana pub hanya menyediakan minuman (beralkohol dan tidak), tavern menyediakan makanan dan minuman, sementara inn adalah tavern dengan ijin untuk tempat menginap bagi tamu.
  47. Toast
  48. Bento; Secara umum adalah semacam makanan bekal yang dikemas dalam kemasan praktis agar dapat dengan mudah dibawa dan dimakan dengan beberapa ciri khas tertentu. Secara lebih spesifik adalah Ekiben, Kyaraben, dan Makunouchi.
  49. Bisa dibilang sebagai "Kesatria kerajaan" (kamus).
  50. 50.0 50.1 Fir: Semacam pohon cemara. Sedikit berbeda dengan pohon Pinus.
  51. Rudolph the Red-Nosed Reindeer
  52. Winter Wonderland
  53. White Christmas