Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 6 Bab 11

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 11[edit]

“Mereka belum benar-benar menangkap onii-chan di kamera—”

Lyfa berkata sambil menggoyangkan poni pirangnya yang tampak berwana kehijauan, dan di sebelahnya, Silica menggerakkan telinga kucingnya yang keluar dari rambut coklat terangnya sebagai tanda respon.

“Itu benar-benar tidak terduga…Aku kira Kirito-san pasti akan masuk dan menunjukkan semua skill nya.”

“Tidak tidak tidak. Jangan berpikir dia seperti itu. Orang itu sangat perhitungan. Mungkin ia bersembunyi di suatu tempat dan menunggu jumlah peserta turun sebelum keluar.”

Klein, yang ada di meja bar di pojok ruangan, berkata dengan santai. Asuna, yang duduk di tengah ruangan dengan Lyfa dan Silica, memberi senyuman masam mendengarnya.

“Aku pikir… Kirito-kun tidak mungkin melakukan hal seperti itu…”

Asuna berkata dengan halus. Pada saat itu, pixie kecil yang duduk di bahu kiri Asuna mulai mengepakkan membrane sayapnya yang tipis. Ini adalah AI Yui, yang mana «putri» dari Asuna dan Kirito.

“Ya itu benar. Papa pasti akan bergerak di belakang musuh dengan kecepatan yang kamera bahkan tidak bisa tangkap dan melancarkan serangan kilat!”

Mendengar kesimpulan yang masuk akal dari Yui itu, Lisbeth yang duduk di sebelah kiri mulai tertawa.

“Ahaha, itu juga mungkin. Dan lagi, ia menggunakan pedang dibanding senjata di game penuh dengan senjata tembak.”

Saat itu, semua membayangkan keadaan Kirito, dan kemudian seisi ruangan tertawa terbahak-bahak. Naga kecil 'Pina' melingkar di pangkuan Silica.

Sudah lama sejak kelima orang dan pixie ini berkumpul bersama, dan sekarang ini, mereka tidak ada di dunia nyata, tetapi di VRMMO RPG «ALfheim Online» di mana semuanya telah bergabung. Dunia virtual yang luas di dalam ALO berisi sebuah «World Tree» raksasa di peta, dan bahkan ada sebuah kota di langit disebut «Yggdrasil City». Kirito dan Asuna menyewa sebuah kamar bersama di sudut kota itu, dan tempat itu menjadi tempat berkumpul malam ini.

Seperti yang diharapkan dari sebuah ruangan berharga 2.000 Yurudo per bulan, dalamnya cukup luas. Lantai tanah dipoles cemerlang, dan satu set sofa ditempatkan di tengah ruangan. Ada juga sebuah meja bar private menghadap ke dinding. Beraneka botol wine terpampang rapi di rak. Botol-botol itu ditemukan bersama setumpuk benda-benda yang didapatkan Klein di dunia virtual dari tanah dengan 9 roh dan bawah tanah Jötunheimr. Dikatakan ada sebuah barang fantastic yang ‘tidak akan membuat siapapun mabuk tetapi rasanya lebih nikmat dari Scotts Whiskey berusia 30 tahun’. Tentu saja Asuna yang di bawah umur masih tidak mengerti nilai dari wine-wine ini.

Sisi selatan dari ruangan adalah dinding yang sepenuhnya terbuat dari kaca, dan biasanya, ini akan memperlihatkan indahnya pemandangan Yggdrasil city. Tetapi hari ini, mereka tidak bisa menikmati pemandangan malam kota itu. Itu karena dinding kaca itu juga bisa menjadi sebuah layar besar yang menyiarkan kejadian dari dunia lain. Itu adalah—TV jaringan «MMO Stream» menyiarkan keadaan live dari turnamen «Bullet of Bullets ke-3» di «Gun Gale Online».

Tujuan utama mereka berkumpul hari ini adalah untuk menyemangati Kirito, yang mengikuti turnamen ini tanpa mengatakan apapun, dan mengkritik kebiasaannya di luar. Kurang beruntungnya, sekutu mereka, pejuang berkapak Agil tidak hadir karena café nya yang ada di dunia nyata sedang ramai-ramainya. Meskipun demikian, Asuna sendiri tidak di rumah, ia log in dari lantai 2 tokonya, «Dicey Café». Ini memperbolehkannya mengomeli Kirito yang ada di tengah kota di suatu tempat dan menceramahinya untuk kebaikan.

“Tetapi mengapa Kirito memindahkan avatarnya dari ALO ke GGO hanya untuk mengikuti turnamen?”

Lisbeth memegang secangkir gelas yang penuh dengan wine anggur berwarna giok saat ia mengatakannya dengan nada bingung. Di kirinya, Lyfa kemudian melihat Asuna. Sekarang ini, hanya Asuna, Lyfa, dan Yui yang mengetahui kalau Kirito menerima permintaan seorang teman di ALO, penyihir Undine «Chrysheight»—sebenarnya, orang yang mengontrol avatar adalah seorang pejabat dari ‘Virtual Division’, Kikuoke Seijirou—untuk menyelidiki GGO. Dari cara Lyfa memberikan pandangan ‘Aku serahkan semuanya kepadamu’, Asuna merenung beberapa saat sebelum menjawab,

“Yah…kelihatannya ia menerima pekerjaan yang aneh. Aku mendengar ia harus menyelidiki suatu VRMMO, atau lebih tepatnya keadaan «The Seed Nexus». GGO adalah satu-satunya game dengan Money Trading System», sehingga dipilih untuk diinvestigasi.”

Itu adalah kata-kata persis yang diucapkan Kirito, tetapi Asuna tidak berpikir itu adalah kebenarannya. Tentu saja, ia tidak merasa Kirito akan berbohong kepadanya, tetapi itu tidak berarti ia tidak menyembunyikan sesuatu yang penting darinya. Beberapa hari lalu, setelah mereka selesai berkencan dan akan pulang ke rumah, Kirito menjelaskan alasan mengapa ia harus berpindah game, dan pada saat itu, Asuna dapat mengetahui dari ekspresi, nada, dan tingkah Kirito jika sesuatu sedang terjadi.

Saat itu, ia memberitahu dirinya sendiri untuk tidak menanyakan banyak pertanyaan karena pasti ada alasan tertentu mengapa Kirito tidak mengatakannya. Selain itu, Asuna percaya kalau alasan itu pasti tidak mengkhianati kepercayaannya.

Jadi, Asuna hanya mengatakan ‘lakukan yang terbaik’ sebelum melihat Kirito pergi. Saat ini, ia hanya dapat berjalan-jalan dengan sedikit teman, menunggu di dunia yang jauh, dan menonton siaran langsung—

Tetapi ia tidak bisa menyangkal kalau ia terus merasakan perasaan sangat gelisah untuk beberapa alasan selama beberapa hari terakhir.

Bukannya ia tidak mempercayai Kirito, tetapi lebih ke firasat samar-samar. Sesuatu akan terjadi, tidak itu benar-benar terjadi. Ini seperti tempat berliku-liku di Aincrad di masa lalu, dikelilingi oleh banyak monster di luar jangkauan pencarian dan semakin mereka mendekat—

Suara Asuna dan ekspresinya seharusnya tidak menunjukkan kekhawatirannya, tetapi sebagai teman baiknya, Lisbeth mungkin merasakan ada sesuatu yang tidak benar melalui indera ke enamnya karena ia mengangguk dengan ekspresi tidak pasti.

“Aku mengerti… Orang itu adalah tipe orang yang akan segera terbiasa dengan game apapun dan lebih cocok dengan pekerjaan seperti ini…”

“Tetapi bukankah tidak perlu juga untuk mendadak ikut turnamen PvP, kan? Kalau itu hanya untuk menyelidiki, ia seharusnya berbicara kepada pemain-pemain yang lain.”

Mendengar Klein, yang menunggu di dinding, bertanya, keempatnya, termasuk Asuna dan Lyfa merasa kebingungan juga. Beberapa saat kemudian, Silica berbicara dengan gagap dan berkata,

“Mungkin ia…bermaksud untuk menghasilkan uang yang banyak dengan memenangkan turnamen ini dan mengetes sistem penukaran uangnya? Aku dengar kalau rate penukaran terendahnya cukup tinggi…”

Mendengar kata-kata ini, Yui, yang ada di bahu Asuna, segera menyindir,

“Situs resminya tidak mempunyai data apapun, tetapi berdasarkan berita dari situs lain, nilai penukaran terendahnya adalah 100.000 poin di GGO, dan rate penukarannya ke yen adalah 100 banding 1, sehingga itu dapat ditukar dengan 1.000 yen. Perusahaan yang mengoperasikan kelihatannya akan mengirimkan nilai tambahan uang digital ke email para pemain yang log in. Hadiah kemenangan untuk tropi ini adalah 3 juta poin, sehingga itu adalah 30.000 yen.”

Yui mengatakannya dengan singkat, tetapi itu adalah hasil setelah ia mencari informasi melalui jaringan data yang luas. Kemampuan pencarian dan keakuratan informasinya adalah sesuatu yang bahkan «ahli pencari» tidak mampu menandingi. Tidak mengherankan jika Kirito sering memintanya mengerjakan tugas laporannya, dan sebenarnya, Asuna dan yang lain kadang-kadang mengerjakannya.

“Terima kasih, Yui-chan.”

Asuna menepuk kepala pixie itu dengan jarinya dan termenung sambil berkata,

“Sepertinya sistem penukaran uangnya tidak terlalu rumit…kita juga mengirimkan uang digital yang sudah dienkripsi[1] melalui e-mail. Kirito-kun tidak harus menyelidikinya sendiri...”

“Mungkin ia tertarik dengan hadiah uang 30.000 itu.”

Mendengar Klein mengatakan komentar langsung itu, semua tersenyum masam. Lisbeth segera memberinya tatapan ‘Kirito tidak sepertimu’ dan kembali bersikap biasa.

“Tetapi dalam kasus turnamen PvP, biasanya tidak mungkin untuk keluar sebagai juara pertama dengan bersembunyi di suatu tempat. Aku ingat ALO memiliki turnamen seperti ini, dan jika mereka bersembunyi di tempat yang sama, akan ada sihir pencari yang otomatis aktif dan tidak akan membiarkan mereka bersembunyi, benar kan?”

“…Dan sejujurnya, kepribadian onii-chan tidak akan membiarkannya melakukan hal semacam itu. Jika ia mendengar seseorang bertarung, ia kemungkinan tidak akan cukup sabar untuk menunggu dan bersembunyi di tempat tertentu.”

Seperti yang diharapkan dari Lyfa yang hidup bersama Kirito dalam jangka waktu yang lama, kata-katanya benar-benar meyakinkan. Semua merasa bahwa Kirito adalah tipe orang yang seperti ini.

Saat mereka sedang berpikir, di layar besar yang kira-kira 300 inci lebarnya, ada banyak siaran langsung berkedip-kedip. Kalau itu adalah game penembakan, mereka biasanya merekam siaran langsung dari suatu tempat di belakang pemain. Saat kamera mengikuti pemain, bagian bawah layar akan menunjukkan nama pemain. Tetapi, layar itu dibagi menjadi 16 siaran yang berbeda dan tidak pernah menunjukkan ‘nama Kirito’. Kamera biasanya menunjukkan pemain bertarung, dan selama 30 menit sampai sekarang, Kirito belum bertarung.

Apakah dia menjadi berhati-hati setelah pindah dari dunia penuh pedang dan sihir ke dunia senjata yang tidak ia kenal? Tetapi Kirito yang ia tahu adalah seseorang yang akan menerima sebuah tantangan tidak peduli keadaannya. Seperti yang Lyfa katakan, mengikuti sebuah turnamen besar itu jarang, sehingga tidak mungkin untuknya tidak bertemu pemain lain selama 30 menit dan bersembunyi. Kalau ia pergi untuk melawan pemain favorit di turnamen dan dikalahkan dengan baik—itu akan cocok dengan kepribadiannya, tetapi daftar peserta di kanan layar menunjukkan kalau Kirito masih ‘HIDUP’.

“…Yang berarti ada sesuatu yang lebih penting daripada terlibat dalam sebuah turnamen?”

Saat Asuna bergumam, pusat dari 16 layar itu menunjukkan pertarungan yang seru-serunya.

Pemain utama yang terlibat bernama ‘Dyne’. Ia menyiapkan sebuah senjata mesin di akhir jembatan yang sudah berkarat dan terus menembak. Tetapi, musuh yang berbaju biru dan putih dengan mudah melompat ke jembatan seperti sesosok Cait Sith sebelum mendekatinya. Kemudian, sang musuh menembakkan senjata besar yang penjahat-penjahat di film Hollywood biasa gunakan dan membunuh Dyne.

Saat ini, Lisbeth nampaknya menyaksikan gambar yang sama, dan bersiul.

“Wow, orang itu benar-benar luar biasa. Sepertinya GGO cukup menarik juga. Aku tidak tahu apakah aku bisa membuat senjataku sendiri…”

Seperti dia di SAO, avatar Lisbeth adalah seorang Leprechaun pandai besi. Ini terdengar persis seperti dia, menyebabkan Asuna tergelak,

“Hey, hey, jangan berpikir untuk pindah ke GGO. Masih ada banyak level di New Aincrad untuk dijelajahi!”

“Itu benar, Liz-san! Mereka membuka update di atas level 20!”

Bahkan Silica, yang duduk disebelah Lyfa, ikut menyela pembicaraan nya. Lisbeth hanya dapat mengangkat tangannya dan menyerah.

“Aku tahu, aku tahu. Aku hanya berpikir kalau ‘mereka adalah orang hebat tidak peduli game apapun itu~’. Orang berbaju biru itu sekarang harusnya menjadi salah satu favorit di turnamen ini…”

Hanya setelah ia mengatakannya, «orang berbaju biru» di layar yang sama itu rubuh. Kamera segera terfokus ke pemain berbaju biru yang rubuh ke lantai ini. Terdapat nama ‘Pale Rider’ di sana.

Meskipun ia terjatuh, ia tidak terlihat mati. Sekarang ini, sekilas percikan terlihat keluar dari lubang peluru di bahu kanannya. Sepertinya pemain ini telah dilumpuhkan.

“Itu seperti sihir angin «Lightning Curtain Seal»...”

Mendengar penyihir dan petarung Slyph, Lyfa mengatakan hal ini, ahli pedang Salamander Klein segera menyibak rambut merahnya yang dibuat tegak lurus oleh ikat kepala kualitas buruknya, dan berkata,

“Aku paling benci hal-hal itu. Lagipula, kemampuan untuk melacak sudah terlalu bagus, ya kan!?”

“Kau membenci semua jenis mantra pelumpuh! Tingkatkan kemampuan anti-sihirmu sedikit, dong!”

“Lucuu, siapa yang peduli? Pejuang sepertiku tidak akan memilih sebuah skill dengan kata ‘sihir’. Aku tidak akan memilih meskipun kau membunuhku!”

“Aku bilang, banyak pejuang di RPG lama adalah pejuang-pejuang yang tahu sihir hitam!”

Asuna hanya bisa memberi senyum kecut melihat Klein dan Lisbeth bertengkar. Ia meraihkan tangannya ke arah gambar yang pantas diperhatikan sebelum membesarkannya dengan dua jari. Gambar Pale Rider di tanah segera menjadi lebih besar dari gambar-gambar lain yang tersisih ke samping.

Sudah lebih dari 10 detik sejak ia tiba-tiba lumpuh, tetapi tidak ada seorang pun muncul di kamera. Mereka hanya dapat melihat tanah berwarna teh, jembatan logam, sungai yang mengalir di bawah, dan hutan yang jauh di sisi sebaliknya yang samar oleh debu—

‘PAM!’

Suara ini tiba-tiba berdering menyebabkan 5 orang tersentak kaget. Saat ini, sebuah kain hitam memasuki layar kamera dari kiri. Kamera menyorot ke belakang, dan pemain baru akhirnya muncul di layar terakhir.

“…Hantu…?”

Apakah suara parau itu dari Lisbeth, Silica—atau Asuna sendiri?

Itu adalah seorang lelaki dengan mantel abu-abu tua terkoyak yang tertiup angin. Bagian kepalanya benar-benar tertutup bayangan, yang membuatnya susah ditebak. Mereka hanya bisa melihat dua will-o-wisp[2] seperti mata merah jauh di dalam. Penampakan ini terlalu mirip dengan monster tipe-hantu yang semua terkena masalah karenanya di masa lalu di Aincrad.

Asuna berkedip dan kemudian melihat lagi ke layar. Tentu saja, orang yang berdiri di sana bukanlah hantu, tetapi pemain yang mengikuti turnamen. Orang bermantel koyak ini seharusnya salah satu yang menggunakan peluru elektrik untuk melumpuhkan Pale Rider. ALO punya banyak petarung yang menggunakan sihir mengikat untuk waktu yang lama untuk menghentikan musuh dan membunuhnya dari jarak dekat. Ini adalah skillset yang cukup terkenal di sebuah game.

Orang bermantel koyak itu nampaknya memastikan pemikiran Asuna karena ia menjulurkan tangan kanannya ke mantel dekat dadanya dan mengeluarkan sebuah pistol hitam. Tetapi, kalau itu adalah senjata utamanya yang mampu menyebabkan damage besar pada lawan, itu kecil…apa…

“…Terlalu menyakitkan, kan?”

Di sudut ruangan, Klein terlihat merasakan hal yang sama dan menimbulkan keraguan. Ia mengusap jenggotnya di dagunya, dan berkata,

“Melihat dari sisi manapun, senjata sniper yang ada di bahunya terlihat jauh lebih kuat. Bukankah menyelesaikan musuh akan lebih mudah dengan senjata itu…?”

“Mungkin pelurunya mahal? Bukankah ALO seperti ini? Ada banyak katalis yang dibutuhkan untuk sihir yang lebih ampuh.”

Saat semuanya mempertimbangkan apa yang Lyfa katakan, orang bermantel itu menyentil pengaman yang ada di belakang pistol hitam itu dan mengarahkannya ke arah Pale Rider, yang masih berada di tanah.

Tetapi, ia terlihat mempermainkan musuhnya—atau mood penonton karena ia masih belum menekan pelatuknya. Ia mengangkat tangan kirinya, melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia menempelkan ibu jarinya ke dahi, dada, bahu kiri dan bahu kanan berurutan.

Sekarang ini—

Asuna merasakan sedikit kebingungan di dalam pikirannya.

Itu bukanlah simbol tangan yang khusus. Itu hanyalah sebuah «Tanda Salib». Selain melihatnya di film-film Barat, ada banyak pemain penyembuh profesional di VRMMO yang sering melakukan ini sebelum mengucapkan mantra. Tentu saja, seorang Kristiani sungguhan yang melihat ini tidak akan senang, tetapi Asuna bukanlah seorang Kristiani, dan perasaan saat ini bukanlah kemarahan akan ketidaksukaan. Kalau ia harus mengatakannya—itu terasa seperti jari-jarinya melepaskan simpul yang seharusnya tidak ia lepaskan…

Tubuh Asuna menegang secara tidak sadar melebarkan matanya. Ia melihat orang bermantel di layar selesai membuat tanda salib dan kemudian meletakkan tangan kirinya pada pistol. Ia mundur setengah langkah dengan kaki kanannya, berpindah ke arah Pale Rider, dan menekan pelatuknya—

“Ah…?”

Seseorang tiba-tiba mengeluarkan suara terkejut.

Orang bermantel itu terlihat berpikir tentang sesuatu karena ia mendadak membungkuk mundur.

Tetapi, 0,1 detik kemudian, Asuna dan yang lainnya segera mengetahui mengapa ia melakukan hal itu. Ada sebuah peluru besar oranye yang terbang dari luar layar. Peluru itu menyerempet mantel terbukanya melewati tempat di mana jantung avatar seharusnya berada tetapi malah mengenai udara yang kosong…

Seseorang pasti sudah menembak ke arah orang bermantel itu dari jauh. Selain itu, Asuna juga melihat peluru itu terlihat datang dari sisi kirinya. Ia benar-benar menghindar dari serangan itu dengan sudut dan kecepatan yang luar biasa, dan bahkan dunia game nya berbeda, ia tau bahwa itu adalah teknik yang cukup luar biasa.

Orang bermantel itu menghindari peluru yang tiba-tiba ditembakkan ke arahnya dan kemudian dengan lemas membawa badannya tegap kembali. Kemudian ia menatap ke arah kirinya. Meskipun wajahnya tidak bisa terlihat dari dalam tudungnya karena bayangan, Asuna dapat merasakan kalau ia memberikan senyuman remeh.

Saat itu, rasa sakit yang tajam terasa di dalam pikiran Asuna.

—Apa yang terjadi? Apakah perasaan ini? Ini…ingatan? Tapi bagaimana mungkin…Aku belum pernah ke GGO sebelumnya. Aku bahkan belum melihat screencap[3] nya…

Orang bermantel itu nampaknya ingin mematahkan keraguan Asuna karena ia mengangkat pistolnya lagi.

Saat ini, ia akhirnya menekan pelatuk ke arah pemain yang rubuh karena kelumpuhan. Suara tembakan. Catridge[4] kosong perunggu terlempar dan terjatuh di tanah tandus sebelahnya.

Peluru yang ditembakkan mengenai Pale Rider yang ada di tanah tepat di tengah, menciptakan sebuah percikan kecil di tubuhnya. Tetapi, ini tidak terlihat seperti tembakan kuat yang bisa menghilangkan HP sepenuhnya.

Satu detik kemudian, Pale Rider sendiri membuktikan kalau Asuna tidak salah karena ia akhirnya pulih dari keadaan lumpuhnya dan berbalik, meletakkan senjata besar di tangan kanannya tepat ke arah dada orang bermantel itu.

“Woah, suatu kemunculan kembali yang hebat…”

Asuna juga memprediksi kalau semua akan berjalan seperti Lisbeth katakan. Tetapi…

Jangankan suara tembakan atau percikan, bahkan tidak ada suara pelatuk ditekan. Senjata Pale Rider jatuh ke tanah.

Kemudian, pemilik senjata itu perlahan jatuh ke kanan—sebelum rubuh ke tanah lagi.

Di bawah helm silver-abu-abu, mereka dapat melihat hidung ramping Pale Rider dan bibirnya yang tertutup rapat. Bibirnya bergetar, dan tiba-tiba ia membuka mulutnya. Kemudian, ada emosi terdiam yang hebat dari dalam tenggorokannya. Insting Asuna memberitahunya bahwa pemain yang mengontrol avatar itu sedang shock dan ketakutan.

“Ap…Apa yang terjadi…?”

Saat Lyfa membisikkan[5] sesuatu dan mengatakannya, sesuatu yang lebih tidak terduga terjadi. Pale Rider, yang berbaring rata di tanah, membeku seperti ada sebuah tombol pause yang ditekan dan hilang dengan sebuah efek spesial statis yang putih.

Efek spesial itu masih berada di udara bahkan setelah avatarnya menghilang sebelum membentuk sebuah kata. Tetapi, kata yang menunjukkan tulisan ‘putus koneksi’ diinjak oleh sebuah sepatu boot gelap. Orang bermantel itu mengembalikan tangan kirinya ke mantel dan maju.

Sepertinya ia tahu di mana kamera berada karena ia mengangkat pistol di tangan kanannya dan menunjuk kearah layar. Ini membuat Asuna merasa kalau dinding antara dunia GGO dan ALO—tidak, dunia nyata dan dunia virtual telah dihancurkan, bahwa tubuh aslinya ditodong pistol, menyebabkan gemetar di punggungnya. Dalam kegelapan jauh di dalam tudungnya, mata merah bercahaya berkedip. Saat itu, sebuah suara seperti robot berbicara tergagap melalui layar.

“…Namaku, dan nama senjata ini, adalah «Death Gun»...«Death Pistol»!”

Suara seperti robot itu memiliki suara tidak beraturan tetapi mengandung emosi yang kuat. Mendengar suara itu, suatu celah terbentuk dalam ingatan Asuna. Hal itu menghentikan napasnya dan menaikkan detak jantungnya. Matanya mengamati wajah tersembunyi yang tidak dapat terlihat di layar, dan wajah itu menurunkan dagunya. Suara itu berbunyi lagi,

“Suatu saat, aku akan, muncul di depan kalian, lagi. Dan kemudian, menggunakan senjata ini, untuk membawa kematian yang nyata untuk kalian. Aku memiliki, sebuah kekuatan, seperti itu.”

Pistol hitam itu mengeluarkan suara perlahan. Kalau ia menekan pelatuknya sekarang, peluru itu akan serasa benar-benar melayang melalui layar imajinasi itu. Ini membuat Asuna waspada. Orang bermantel itu seperti sudah membaca ketakutannya dan memberi sebuah senyum dari dalam tudungnya. Dan kemudian, ia berkata—

“Jangan lupa. Tidak ada, yang selesai. Tidak ada, yang, selesai—ini adalah pertunjukkan—“

Mendengar kata-kata Inggris gagap itu, Asuna seperti menghadapi serangan terakhir atau semacamnya.

—Aku tahu orang itu.

Aku tidak mungkin salah. Aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Aku bahkan pernah berbicara dengannya. Tetapi di mana…

Tidak, aku sudah tahu jawabannya. Di kota terapung itu…Aincrad. Bukan dunia duplikat yang aman yang melayang di langit ALO sekarang ini, tetapi dunia nyata unik yang aku habiskan waktu di dalamnya. «Sword Art Online» belumlah selesai. Terutama, orang itu mengatakan kata-kata seperti apa yang baru saja dikatakannya.

—Siapa dia? Siapa pemain yang mengontrol avatar bermantel itu…?

Asuna terlihat lupa, tetapi ia berpikir dengan cepat. Ia hampir melompat dari sofa saat dia mendengar sesuatu jatuh ke lantai.

Melihat ke belakang, ia melihat kalau Klein, yang duduk di bangku bar membiarkan cangkir kristal di tangan kanannya terjatuh ke lantai. Cangkir yang ia jatuhkan ke lantai pecah menjadi banyak fragmen segi enam dan menghilang. Tetapi, ia tidak memikirkan kalau set mahal buatan pemain itu hancur sama sekali karena ia membuka matanya lebih lebar di bawah ikat kepalanya.

“Oi, apa yang kau lakukan…”

Klein menghentikan Lisbeth yang menggerutu dengan suara rendah dan parau.

“Tid…tidak mungkin…orang itu…mana mungkin…”

Mendengar ini, Asuna benar-benar melompat dari sofa. Ia berbalik dan berteriak pada Klein,

“Klein, kau tau dia? Siapa sebenarnya orang itu?”

“Tidak, tidak terlalu…Aku tidak bisa mengingat nama lamanya…tapi…aku yakin…”

Ahli pedang ini memiliki rasa takut yang dalam di matanya saat ia melihat ke arah Asuna, dan kemudian berkata,

“Orang itu…seorang anggota «Laughing Coffin».”

“...!”

Kali ini, Asuna, dan bahkan Lisbeth dan Silica terkejut. Bahkan untuk kedua gadis yang tinggal di level tengah ini, kekejaman pembunuhan yang dilakukan red guild «Laughing Coffin» ini meninggalkan kesan mendalam.

Asuna secara tidak sadar meletakkan tangannya di bahu mereka dan dengan takut bertanya pada Klein,

“Mung…mungkinkah..pemimpin orang-orang itu, adalah yang memakai sebuah pisau jagal…?”

“Tidak…itu «PoH». Cara berbicara mereka benar-benar berbeda. Tetapi… kata-kata ‘ini adalah pertunjukan’ adalah frasa yang suka dikatakan oleh ‘PoH’. Orang ini pastinya seorang yang berlevel tinggi selain dia…”

Klein terlihat mengeluh tentang suatu dan berhenti berbicara kemudian melihat ke layar. Asuna dan ketiga lainnya melihat ke sana juga.

Tepat di tengah layar besar itu, orang bermantel itu menyimpan pistol hitamnya dan mulai berjalan menjauh. Ia berjalan dengan pergerakan meluncur seperti hantu dan tiba di jembatan yang ada di ujung jauh layar. Tetapi, ia tidak menyeberang secara langsung, tetapi pergi ke batas jembatan sebelum mencapai sungai. Kontras dengan bayangan tajam yang disebabkan oleh matahari terbenam yang merah, mantel abu-abu gelap itu segera menghilang ke bayang-bayang jembatan logam itu dan menghilang.

Saat ini, suara Lyfa yang lemah memecah atmosfir berat di ruangan.

“Err…Apa itu «Laughing Coffin»...?”

“Itu…”

Silica, yang duduk di sebelahnya, menjelaskan ke Lyfa, karena Lyfa satu-satunya bukan pemain SAO, kekejaman pembunuhan yang dilakukan oleh red guild itu dan bagaimana mereka dikalahkan.

Mendengar itu, Lyfa segera menggigit bibirnya dan melihat lurus kearah Asuna dengan mata jade hijaunya.

“Asuna-san, Aku rasa onii-chan mungkin tahu kalau orang itu ada di GGO.”

“Eh…?”

“Ia kembali sangat malam kemarin malam, dan aku merasa ada sesuatu yang aneh tentangnya ketika aku sampai rumah…mungkin…ia pergi ke GGO untuk menyelesaikan sebuah rasa dendam…”

Mendengar kata-kata itu, Asuna tiba-tiba terdiam, dan saat ini, Lisbeth perlahan meraih tangannya. Gadis itu dengan paksa meraih tangan temannya itu untuk menenangkannya dan menyentakkan rambut pendek pink nya untuk menanyakan suatu pertanyaan,

“Tapi kalau itu masalahnya…bagaimana dengan pekerjaannya? Bukankah Kirito pergi untuk menyelidiki GGO karena permintaan?”

Ya itu benar. Yang meminta Kirito melakukan ini adalah Kikuoka Seijirou dari Virtual Division. Bahkan jika ia adalah orang yang bertugas di «SAO Case Victims Rescue Force», ia seharusnya mengetahui hubungan antara Laughing Coffin dengan bermacam-macam guild.

Tetapi pada saat yang sama, pemindahan Kirito dan keberadaan orang bermantel itu tidak mungkin hanyalah sebuah kebetulan. Pasti ada suatu hubungan khusus, sesuatu yang membuat Kikuoka menyadari GGO dan meminta Kirito untuk membantu.

Asuna dengan paksa menarik napas dalam-dalam, masih memegang tangan Lisbeth yang memegangnya dan berkata,

“Aku pergi duluan untuk mengetahui apakah aku bisa menghubungi orang yang meminta Kirito-kun.”

“Eh? Asuna-chan, kau tau orangnya?”

“Yeah. Semua mengetahui dia…Aku akan memanggilnya untuk mengaku. Ia pasti tahu alasan di balik ini. Yui-chan, saat aku pergi, bisakah kau memeriksa catatan yang relevan dari GGO untuk melihat kalau ada data tentang pemain bermantel itu?”

“Oke, mama!”

Pixie berambut hitam yang ada di bahunya itu terbang ke arah meja dan menutup matanya untuk memulai mencari melalui informasi penting lewat aliran jaringan yang luas.

“…Oke, tunggu aku, semuanya!”

Setelah Asuna selesai berteriak, ia menggoyangkan rambut berwarna aquamarine[6] nya, melompat dari sofa dan dengan cepat membuka window. Ia sekali lagi mengangguk ke arah semuanya, dan segera menekan tombol log out. Warna pelangi segera menyelimuti tubuh Asuna, membuat jiwanya terbang dari World Tree di dunia virtual ke dunia nyata yang jauh.


Referensi[edit]

  1. proses mentransfer informasi menggunakan algoritma yang memungkinkannya terbaca oleh semua orang. http://en.wikipedia.org/wiki/Encryption
  2. yang dimaksud di sini adalah mata Jack-o-Lantern (labu untuk Halloween).
  3. gambar yang diambil oleh pengguna komputer dari layarnya. http://en.wikipedia.org/wiki/Screenshot
  4. semacam pelindung luar untuk peluru dan biasanya terjatuh ketika peluru ditembakkan. http://en.wikipedia.org/wiki/Cartridge_(firearms)
  5. dalam terjemahan Inggrisnya adalah ‘cupped her mouth with her hand’ yang artinya membisikkan sesuatu.
  6. warna antara hijau dan biru. http://en.wikipedia.org/wiki/Aquamarine