Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 7 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 3[edit]

Lantai 24 Aincrad adalah lantai limnetik yang hampir seluruhnya terisi oleh air. Corak-nya sangat mirip dengan kota danau yang belum dirilis «Salemburg» di lantai 61, tempat dimana Asuna pernah tinggal.

Blok utamanya bernama «Panareze». Terdesain sebagai pulau buatan manusia di tengah danau besar, terhubung dengan pulau-pulau kecil yang tak terhitung banyaknya melalui jembatan melayang tersebar ke semua arah.

Asuna terkesima pada Panareze yang begitu meriah dari seberang danau, dan menyandarkan kepalanya di pundak Kirito.

Mereka berdua saat ini sedang duduk di pesisir selatan pada pulau kecil di sedikit arah utara dari blok utama. Pohon besar di belakang mereka bertunas, ombak kecil menyapu kaki mereka. Angin hangat berhembus di sekitar danau meskipun saat ini sedang musim dingin, dan rumput di sekitar bergemerisik lembut.

“Hei, apa kamu masih ingat? Saat pertama kali kamu datang ke rumahku.” Dia mengangkat wajahnya dan bertanya, Kirito membalas dengan senyum lemah.

“Bukannya aku sombong, tapi aku cukup percaya diri kalau aku punya ingatan yang buruk—“

“Eh—“

“—Tapi, aku masih teringat jelas waktu itu.”

“... Sungguh?”

“Tentu saja. Waktu itu, aku mendapatkan bahan makanan yang super langka, dan Asuna membuatnya menjadi stew. Ah... Daging itu begitu lezat... Sampai sekarang, aku masih sering membayangkannya.”

“Benar-benar deh! Hal yang kamu ingat cuman makan!”

Asuna mengeluh dan memukul dada Kirito, namun terdapat gambaran senyuman pada kata-katanya.

“...Yah, aku juga masih sering membayangkannya.”

“Apa- berarti kamu tidak boleh memprotes orang lain dong... Hei, stew itu, apa mungkin untuk dibuat ulang di dunia nyata?”

“Uh~huh... Pada dasarnya itu mirip dengan daging ayam, mungkin kalau aku membuat saus-nya... Tapi tetap saja, mungkin lebih baik kalau itu tersimpan dalam kenangan kita. Masakan yang tidak akan pernah kamu rasakan lagi, bukannya itu lebih baik?”

“Mmn, iya, itu benar.”

Memandang Kirito menggangguk dengan menyesal, Asuna sekali lagi tersenyum, Kirito pun tersenyum, dan berkata seakan dia teringat akan sesuatu.

“Ah, benar juga... Hei.”

“Ada apa?”

“Tanpa sadar kita sudah menyimpan cukup banyak Yurudo, kalau update lantai 60 sudah diperkenalkan, kenapa kita tidak membeli rumah di Salemburg? Rumah Asuna ada di sana di masa lalu.”

“Soal itu...”

Asuna memikirkan sejenak mengenai usulan Kirito, dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak deh. Aku tidak punya kenangan indah di tempat tersebut. Pakai uang itu untuk membantu Agil untuk membuka toko di Algade.”

“Membantu membangun kembali toko keji itu? Bunganya sepuluh persen setiap sepuluh hari.”

“Wah, kamu terlalu jahat.”

Mereka bisa berbicara tanpa henti tentang kenangan yang mereka rasakan di Aincrad. Sembari mereka berbicara dan tersenyum, Asuna menyadari peningkatan jumlah pemain yang terbang dari Panareze ke pulau ini. Yang lain terbang melewati mereka berdua, menuju pohon besar di tengah pulau.

“Ah, sebentar lagi waktunya. Aku harus pergi.”

Sambil mengatakan itu, Asuna masih enggan untuk berpisah dengan kehangatan yang sedang bersamanya. Pada saat itu, Kirito berkata dengan ekspresi serius di wajahnya-

“Asuna. Kalau kamu melawan Zekken...”

“...Eh?”

“Er... Well, tidak, orang itu... benar-benar kuat, sungguh.”

Mendengar sedikit gagap di nada bicara Kirito, Asuna memiringkan kepalanya.

“Aku sudah mendengar cukup banyak soal kekuatan Zekken dari Lisbeth dan yang lain. Terlebih lagi, Kirito berhasil dikalahkannya. Dari awal, aku tidak pernah merasa akan menang. Aku hanya ingin melihat pedang itu... Selain itu, aku benar-benar tidak percaya Kirito-kun bisa kalah.”

“Untuk saat ini sudah banyak orang yang lebih kuat dariku. Well, bahkan dari antara mereka, Zekken termasuk spesial.”

“Ngomong-ngomong, Lyfa bilang kalau kamu mengatakan sesuatu saat pertarungan. Apa itu?”

“Ah tentang itu, ada sesuatu yang membuatku sedikit penasaran...”

“Apa itu?”

“Ini dan itu..”

Asuna menyadari dengan teliti kecemasan di wajah Kirito. Asuna menjadi lebih dan lebih bingung, lalu berkedip.

Tidak peduli betapa kuatnya pemain yang dipanggil Zekken, ini bukanlah SAO. Meskipun kamu tidak menyerah dan kehilangan seluruh HP-mu, kamu bisa hidup kembali saat itu juga selama ada seseorang yang menggunakan ‘ressurection spell / mantra menghidupkan’. Bahkan meski kamu kehilangan seluruh experience dikarenakan death penalty / penalti kematian, kamu hanya perlu melakukan hunt untuk beberapa jam untuk mendapatkannya kembali.

Akan tetapi, dengan suara pelan Kirito mengatakan hal yang tidak Asuna perkirakan.

“Aku bertanya pada orang itu – Kamu benar-benar penghuni dunia ini kan? Jawabannya hanyalah senyum ringan dan skill charge yang sungguh cepat dan brutal. Kecepatan itu... melampaui batas...”

“...Boleh dibilang, pemain yang sangat kecanduan?”

Asuna memiringkan kepalanya dan bertanya, menjawab pertanyaannya, dengan segera Kirito menggelengkan kepalanya.

“Bukan, aku tidak menunjuk pada dunia VRMMO, aku berbicara tentang seluruh «The Seed server», bukan itu juga salah. Boleh kubilang, itu adalah produk dari lingkungan hasil ciptaan full diving... Itulah apa yang aku rasakan.”

“Apa... maksudnya itu...?”

“—Lebih baik tidak membuat kesan awal terlalu cepat. Aku ingin kamu merasakannya sendiri. Aku pikir kamu akan mengerti kalau kamu melawannya.”

Sembari Asuna mengedipkan matanya ketika Kirito mengelus kepalanya, suara orang-orang yang mendarat terus terdengar dari pohon di belakang mereka. Lalu, mereka mendengar suara keras.

“Sedikit saja aku mengalihkan pandanganku dan kalian sudah kabur ke tempat seperti ini.”

Mendengar suara langkah di atas rumput, Asuna berdiri.

Lisbeth mengenakan dress apron berjalan dari balik pohon, berdiri dengan tangan di pinggangnya, melihat Asuna dan berkata.

“Maaf ya kalau aku mengganggu saat kalian sedang sibuk, tapi sudah hampir waktunya.”

“A, Aku tahu.”

Mengangkat dirinya dengan sayap di belakangnya, Asuna segera berdiri dan memastikan equipment-nya. Sebuah jaket dengan benang biru keperakan dan rok dengan jenis yang sama. Sepatu boot dan sarung tangan terbuat dari kulit naga air. Tergantung di ikat pinggang pedang yang melingkari pinggangnya adalah sebuah rapier dengan gagang kristal. Semuanya adalah harta karun grade tertinggi yang saat ini bisa didapatkan. Dengan begitu dia tidak dapat menyalahkan equipment-nya apabila dia kalah.

Menyelesaikan pemeriksaan barang-barangnya seperti tipe asesoris magis yang di-equip, dia melihat jam.

Masih ada sedikit waktu sebelum pukul 3 sore di dunia nyata. Asuna memandang sekilas Kirito yang berdiri di sisinya, berputar, melihat Lisbeth, Silica dan Lyfa yang berada di belakangnya, begitu juga Yui yang berada di atas kepalanya dan berkata.

“–Jadi, ayo kita berangkat.”

Mereka terbang rendah dalam satu baris, menuju tengah pulau yang tak bernama. Bukit tinggi membumbung di pandangan mereka sambil mereka bergerak menembus pepohonan yang makin menjauh. Cabang-cabang pohon mencuat dari pohon besar pada puncaknya, dan kumpulan besar pemain telah berkumpul melingkar di dasarnya. Sorak sorai bergemuruh bagai tsunami.

Ketika mereka menyadari terdapat ruang di antara penonton dan mendarat, seorang pemain terjatuh jauh dari atas disertai dengan jeritan. Secara brutal dia jatuh dengan kepala terlebih dahulu di dasar pohon, menghasilkan awan debu tebal.

Swordsman yang nampaknya seorang Salamander terlentang di lantai untuk sementara sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan menghentak. Dengan ekspresi yang masih menunjukkan benturan akibat terjatuh, dia mengangkat kedua tangannya dan berteriak.

“Aku kalah! Aku menyerah! Aku berhenti!”

Di saat yang sama, suara yang menandakan akhir dari duel berbunyi dan suara tepuk tangan dan sorak sorai menjadi lebih kencang.

Luar biasa, ini sudah menjadi ke-67 kali kemenangan berturut-turut, tidak adakah yang bisa menghentikan orang itu, teriakan seperti itu yang tak terhitung banyaknya dipadu dengan pujian dan riuh. Mendengar itu, Asuna menyipitkan matanya dan melihat seolah untuk memastikan pemenangnya.

Di dalam pancaran sinar matahari yang membekas di antara cabang-cabang pepohonan, sebuah siluet pemain berputar turun.

Zekken lebih kecil dari yang dia bayangkan. Dari namanya, Asuna membayangkan dia akan seperti pria besar dengan otot-otot yang membengkak, namun Zekken bisa dibilang cukup kurus. Detailnya makin terlihat sembari Zekken turun perlahan berselimutkan cahaya.

Warna kulitnya putih susu dengan sedikit gambaran warna ungu, karakteristik unik dari Imp. Rambut panjangnya yang hitam-keunguan terlihat begitu berkilauan dan indah. Obsidian Armor yang melindungi dadanya sedikit menonjol, blus dan dress dibawahnya berwarna ungu biru-botol. Pada pinggangnya tergantung sarung hitam tipis.

Di hadapan pandangan tercengang Asuna, swordswoman tak terkalahkan «Zekken» dengan cepat berputar dan mendarat ringan dan anggun. Lalu dia mengangkat ujung roknya, meletakkan tangan di depan dadanya dan membungkuk layaknya seorang aktris. Di saat yang sama, lelaki di sekitarnya bersiul dan bersorak.

Zekken mengangguk perlahan dan berdiri, wajahnya dipenuhi senyuman dan dengan polos membuat tanda V. Dia jelas lebih pendek dari Asuna. Terdapang lesung pipit wajahnya yang kecil, hidung yang agak ke atas serta matanya yang besar dan bersinar seperti kilau Amethyst.

Asuna belum tersadar dari keheranannya, menyentuh abdomen Lisbeth dengan siku-nya.

“...Hei, Liz.”

“Ada apa?”

“Zekken – seorang gadis?”

“Uh-huh, apa aku tidak bilang sebelumnya?”

“Tidak, kamu tidak bilang! ...Ah, apa mungkin...”

Sekarang dia memandang sekilas wajah Kirito yang berdiri di sisinya yang lain.

“Alasan Kirito kalah...”

“Tidak, bukan itu.”

Kirito menggelengkan kepalanya dengan serius dan berkata

“Aku tidak meremehkannya karena dia seorang gadis. Aku sudah bertarung dengan serius. Sungguh... Paling tidak sampai pertengahan.”

“Siapa tahu?”

Asuna berputar menjauh darinya dengan kesal.

Saat itu sang Salamander bangkit berdiri, tersenyum meskipun dia kalah dan menjabat tangan Zekken sebelum berbalik arah dan kembali ke sudut penonton. Gadis yang mengenakan bando merah pada rambutnya yang hitam menggunakan sihir penyembuhan level terendah pada dirinya sendiri dan memandang sekitar.

"Lalu, penantang berikutnya, apakah ada?"

Suaranya pun adalah suara gadis muda yang tinggi dan memikat. Nada suaranya terdengar cemerlang dan tidak berdosa, membuatnya sulit untuk menghubungkannya sebagai seorang pejuang yang berpengalaman.

ALO tidak mendukung pergantian jenis kelamin, maka pemain itu pastilah perempuan, namun tubuh virtual yang terbentuk secara acak tidak merefleksikan umur dan fisik seseorang. Meskipun begitu, sikap nyata dari «Zekken» membuat orang lain percaya bahwa itulah umur dan penampilan aslinya.

'Kenapa kamu tidak pergi', 'Tidak mungkin, aku akan terbunuh dalam beberapa detik', percakapan seperti ini terus berdatangan dari sekitar, namun tidak seorangpun yang berani. Saat ini giliran Lisbeth yang menyikut perut Asuna.

"Hei, majulah"

"Tidak... Sebentar, aku harus menemukan temponya dulu..."

"Kamu bisa menemukannya dalam satu babak dengan anak itu. Sekarang, maju cepat!"

"Wah."

Gedebuk, punggungnya didorong, dan Asuna terjatuh ke depan beberapa langkah. Dengan segera ia mengembangkan sayapnya untuk mencegahnya terjatuh, bangkit tegak berdiri dan menemukan dirinya bertatap muka dengan sang gadis dengan nama sebutan Zekken.

"Nona, mau mencoba?"

Tersenyum dengan kejang, Asuna tidak bisa melakukan apapun kecuali,

"Soal itu... Well, aku siap."

Merespon dengan pelan seperti itu. Sebelum pertempurannya dengan Zekken yang dibayangkannya seperti pria yang besar dan buas, dia mengharapkan akan menjadi adu mulut yang mengadu kehebatan satu dengan yang lain, namun terlalu banyak hal yang sudah merusak temponya.

Namun, sorak sorai sekitar tetap saja riuk pikuk. Banyak orang mengetahui bahwa Asuna sering memenangkan turnamen bulana, dan suara yang memanggil namanya bisa terdengar.

"OKE!"

Gadis itu menjetikkan jarinya dan memberikan isyarat pada Asuna.

Bernapas dalam-dalam, Asuna memantapkan hatinya dan berjalan ke tengah-tengah dinding manusia. Setelah suara sekitar mulai berhenti perlahan, pertama-tama dia memastikan kondisi untuk pertarungannya.

"Tentang itu, bisakah kamu menjelaskan peraturannya?"

"Tentu saja. Kamu bisa menggunakan sihir dan item bila kamu mau. Namun, aku (boku) hanya akan menggunakan ini."

Gadis yang sungguh cocok dengan penggunaan kata panggilan orang pertama «boku» menepuk pangkal pedangnya dengan tangan kiri ketika merespon. Kepercayaan dirinya yang begitu naif memprovokasi hasrat Asuna untuk bertarung.

...Kalau begitu, aku juga tidak akan menggunakan cara-cara untuk mengekangnya seperti serangan sihir jarak jauh. Pertarungan terang-terangan diantara swordswomen adalah apa yang aku harapkan, bisik Asuna dalam hatinya sambil meletakkan tangan kanannya di ujung pangkal rapiernya, saat itu.

Zekken berbicara sesuatu dengan lantang yang lebih terkesan tidak terburu-buru.

"Ah, betul. Nona, pertarungan di darat atau udara, mana yang lebih kamu suka?"

Awalnya berpikiran pasti akan menjadi pertarungan udara, Asuna terkejut dan berhenti menghunus pedangnya.

"...Salah satunya boleh?"

Zekken menyeringai dan mengangguk. Asuna menjadi memikirkan apakah ini adalah sebuah taktik dari dirinya. Namun, tidak tersirat tanda-tanda kejahatan dari gadis Imp ini. Boleh dikatakan, dia sungguh-sungguh yakin bahwa dirinya dapat menang tidak peduli apapun jenis pertarungannya.

"Jadi, pertarungan di darat."

"Oke. Boleh melompat, tapi tidak boleh menggunakan sayap!"

Zekken segera menyetujuinya, dan melipat kembali sayap khas yang seperti bayangan pada punggungnya. Warna sayapnya yang berbentuk seperti sayap kelelawar seketika berpudar dan menjadi hampir tidak kelihatan. Dalam waktu bersamaan, Asuna juga menggunakan perintah untuk menghilangkan sayapnya, kedua tulang belikatnya merapat sepenuhnya dan tetap disana selama dua detik. Suara gemerincing terdengar dari belakangnya, dan dia mengetahui bahwa sayapnya telah menghilang.

Asuna kurang lebih sudah menguasai «Voluntary Flight» tanpa joystick di hari pertamanya di ALO sebagai pemain normal, dan sekarang teknik udaranya tidak lebih buruk dari veteran-veteran yang sudah bermain semenjak sebelum patch Aincrad.

Meskipun begitu, seperti yang diharapkan, pergerakan yang menyebar ke seluruh tubuhnya selama 2 tahun pertarungan di SAO tidak melemah sedikitpun. Sebenarnya, pertarungan di darat cukup sulit. Menggerakkan jari kakinya, dia merasakan kerasnya daratan yang berasal dari bawah sepatu botnya.

Selanjutnya, Asuna memastikan «Multicolor Pointer» dari gadis yang dikenal sebagai Zekken.

Jendela kecil ini secara otomatis muncul di dekat orang yang kamu fokuskan. Selain menampilkan nama target, HP, MP, dan ikon kecil untuk buff dan debuff, warna jendela juga menunjukkan hubunganmu dengan si target. Kondisi seperti ras yang sama, ras netral, ras musuh, teman, guild, party, dan yang lainnya akan merubah warnanya, karena itulah disebut sebagai multicolor pointer / pointer multiwarna.

Namun, karena inilah pertama kalinya Asuna dan gadis itu bertemu, namanya tidak akan tertampil, dan tidak ada apapun diatas HP bar-nya. Secara komparatif, di bagian kirinya terdapat ikon kecil. Yang dikenal sebagai «Guild Emblem». Seperti tersirat dari namanya, berarti orang tersebut tergabung dalam sebuah guild. Emblem dapat diedit dengan bebas, emblem gadis tersebut terlihat begitu lucu dengan hati merah muda dan dua sayap mengembang di sisinya. Asuna sendiri bukanlah bagian dari guild manapun, maka tidak ada emblem di pointernya. Beberapa kali, dia dan teman-temannya mengatakan untuk membentuk sebuah guild, tapi untuk alasan tertentu tetap saja tertinggal seperti itu.

Gadis itu mungkin juga sedang memandang pointer Asuna, setelah terfokus sedikit jauh dari Asuna sekali lagi dia memandang langsung dirinya dengan mata ungunya yang indah. Dia tersenyum, melambaikan tangan kanannya dan dengan mahirnya mengatur jendela sistem yang muncul. Setelah itu, permintaan untuk duel muncul di pandangan Asuna disertai dengan efek suara yang menggerakkan hati. Baris atasnya tertulis—

'Yuuki menantangmu'.

Dibaca Yuuki, mungkin adalah nama karakter gadis itu. Imut namun mengesankan, nama yang sangat cocok untuk dirinya.

Seperti di SAO terdapat 3 mode pilihan di bagian bawah jendela menu. Dimulai dari yang paling atas, yaitu «First Strike Mode», «Half Loss Mode» dan «Total Loss Mode». Di Aincrad sebelumnya, pada dasarnya semua duel dilakukan dalam first strike mode (mode pukulan pertama). Tentu saja tidak mungkin kehilangan seluruh HP, bahkan di dalam half loss mode (mode kekalahan sebagian), sangat mungkin mengurangi HP seseorang menjadi zona bahaya apabila serangan penentunya berupa serangan kritikal.

Sword Art Online Vol 07 -073.jpeg

Namun untuk saat ini, jelas sekali pilihannya adalah total loss mode (mode kekalahan total)

Merasakan perubahan waktu di sudut pikirannya, Asuna meng-klik OK. Nama Yuuki muncul di pointer multiwarna gadis tersebut. Di saat yang bersamaan, pointer yang sedang dilihatnya juga akan menampilkan nama Asuna.

Jendela menu duel menghilang secara otomatis, digantikan dengan timer selama 10 detik. Asuna dan sang gadis— «Zekken» Yuuki menghunus pedang mereka bersamaan, *ka-chink*, dua suara jernih saling bertautan.

Senjata Zekken adalah pedang lurus satu tangan dengan dua mata. Terlihat tembus cahaya dengan corak obsidian hitam seperti armornya. Menilai dari sinar dan detailnya, level senjata tersebut kurang lebih sama dengan rapier Asuna. Boleh dikatakan, kemungkinan pedang tersebut tidak mempunyai efek tambahan unik dan langka, senjata legenda.

Yuuki memposisikan pedangnya di depan pinggangnya, dan secara alami merendahkan tubuhnya. Sementara, Asuna meletakkan tangan kanannya di sisi tubuhnya, rapiernya tergenggam hampir tegak lurus. Dalam saat yang bersamaan, sorak sorai di sekitarnya menghilang seperti tersapu ombak.

Sementara dia menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam, hitungan di timer mencapai angka nol.

Dalam sekejap kata 'DUEL' tersiar, Asuna mengentakkan kaki dari tanah dengan seluruh tenaganya. Memperpendek jarak sekitar 7 meter dalam sekejap, dia memutar tubuhnya ke kanan.

"Ha!"

Diiringi teriakan tersebut, tangan kanan Asuna menusuk layaknya sebuah panah. Tusukan tersebut dipenuhi putaran dan kelembaman menghasilkan dua kali serangan sedikit ke kiri dari pusat tubuh Zekken, dan tusukan lain dengan mahir ke sebelah kanannya beberapa saat kemudian. Itu hanyalah sebuah skill reguler dan bukanlah sword skill, meskipun tidak cepat, namun bidikannya lebih terarah. Apabila dia menghindari dua tusukan pertama, dia tidak akan bisa menghindari yang berikutnya.

Seperti yang Asuna perkirakan, tubuh Yuuki bergerak sedikit ke kanan untuk menghindari dua serangan pertama. Ketika gerakannya terhenti, Asuna memasuki zona serangan untuk serangan ketiga—

Namun, saat ujung rapier hendak mengenai armor dadanya, tangan kanan Yuuki bergerak secara tidak jelas. Dalam waktu yang sama, percikan muncul di sisi kanan rapier Asuna, dan arah tusukannya sedikit bergeser.

Zekken secara akurat menghindari rapiernya yang bergerak dengan kecepatan ultra-tinggi, seketika otaknya menyadari hal tersebut, ujung rapiernya menggores armor Zekken dan serangannya mengenai udara.

Mengharapkan adanya serangan balasan, kulit di leher Asuna menjadi kaku. Namun, bila dia menarik kembali rapiernya saat ini, maka kuda-kudanya akan menjadi kaku. Mengikuti kelembaman skillnya, dia memantapkan hatinya dan berputar ke sebelah kirinya.

Dalam waktu yang sama, cahaya hitam yang mengincar lehernya terlintas dalam pandangannya.

"——!!"

Gemetar memenuhi tubuh Asuna ketika dia menghadapi kecepatan mengerikan seperti kilat. Dia menggertakkan giginya dan memutar tubuhnya hingga batasnya, kekuatan yang dihasilkan oleh kaki kanannya hampir saja mengkikis permukaan tanah.

Perbedaan antara rumput yang tumbuh secara rapat di bawah kakinya diatur sedikit pendek dibandingkan dengan bebatuan atau tanah kosong. Nilai ini mengkhianati Asuna dan kaki kanannya terpeleset. Dengan segera, tubuhnya miring secara tiba-tiba.

Namun, untungnya, pedang milik Zekken hanya melintas melewati dada Asuna. *Klang!* Tumbukan melewati dekat telinganya. Apabila rambut memiliki hitboxes (daerah hit), rambut biru muda panjang Asuna mungkin hanya akan tersisa setengah dari panjang aslinya. Dari sudut luar matanya, dia melihat energi terlepas menyebar ke udara.

Asuna mengembalikan keseimbangannya, menjejak tanah dengan sepatu bootnya dan melompat ke kanan. Dia melompat sekali lagi dengan kaki kirinya dan berhenti pada jarak yang aman.

Meskipun Asuna membungkuk rendah sebagai persiapan untuk serangan pengejaran, Zekken tetap dalam senyum yang sama, berhenti bergerak dan sekali lagi mengangkat pedangnya di pinggangnya. Asuna menenangkan detak jantungnya dan membalas senyumannya- tetapi didalam, dia dipenuhi keringat dingin.

Jalur tusukan yang menuju arahnya hanyalah poin tunggal. Pada dasarnya, kamu dapat menghindarinya menggunakan gerakan kaki, namun Zekken dengan akurat menangkis rapier Asuna.

Dibandingkan kecepatan serangan balasan, Asuna lebih terkejut pada kecepatan reaksinya yang luar biasa. Meskipun dia terus mendegar tentang betapa kuatnya Zekken, wajah manis tak terduga sang musuh membuatnya lengah. Awalnya dia mengira alasan Kirito kalah adalah karena kelengahan atau keleluasaan ketika melawan seorang perempuan, tetapi hal itu sepenuhnya tidak semestinya diberikan. Bahkan Kirito pun tidak mampu dengan sukses menangkis tusukan sepenuh tenaga Asuna sekalipun.

Sekali lagi Asuna menarik nafas dalam-dalam dan menahannya. Ia memang benar-benar musuh yang mengerikan, tapi menyerah hanya dalam satu ronde akanlah memalukan.

Tak diduga, suara bergaung di dalam telinganya.

—Pedang apa. Hal seperti itu, ini hanyalah sebuah permainan...

Asuna menggertakkan giginya dan membuang jauh suara dalam pikirannya. Dunia ini sudah menjadi dunia nyata, pertarungan di tempat ini adalah pertarungan sebenarnya. Dia harus menganggapnya seperti itu.

Sembari memacu dirinya, Asuna menggoncang rapiernya, mengangkatnya ke pundak kanannya dan siap menghadapi lawannya.

Kalau skill normal tidak bisa, maka dia harus bersiap menghadapi resiko menggunakan sword skill mulai sekarang. Namun sword skill mempunyai recovery time, apabila semua serangannya berhasil dihindari, dia pasti akan menerima serangan balasan yang fatal. Dia harus memikirkan cara untuk menghancurkan postur lawannya dan menghasilkan situasi dimana serangannya pasti mengenainya. Asuna mengepalkan tangan kirinya.

Sekali lagi dia mengentakkan kaki dari tanah dan melompat, kali ini pikirannya begitu jernih. Sesuatu yang jarang dia rasakan selama pertarungan di dunia ALO, perasaan ketika kegelisahannya terbakar dan pemikirannya dipercepat meliputi dirinya.

Kali ini, Zekken juga melompat ke depan. Senyum di sudut bibirnya terhapus dan cahaya bersinar di mata amethistnya.

Pedang obsidiannya datang meraung secara diagonal dari kanan atas, Asuna mendorongnya menjauh ke kiri. Tumbukan melengkung datang dari tangan kanannya beserta percikan dan suara metalik. Menggunakan pedangnya yang tertangkis, Zekken dengan cepat kembali mengayunkanya seolah dia tidak merasakan berat dari senjatanya, dia menyerang lagi dan lagi. Kecepatannya begitu tinggi sehingga sangat mustahil untuk bereaksi ketika kamu melihat serangannya. Memfokuskan seluruh pandangan pada lawannya, Asuna memprediksi arah serangan selanjutnya dari gerakannya dengan menangkis atau menghindarinya. Adakalanya pedang mereka bertemu dan menggores tubuh satu dengan yang lain, menyebabkan kedua HP mereka berkurang sedikit, namun tidak ada satupun serangan bersih.

Mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba Asuna merasa khawatir.

Memang betul, serangan dan kecepatan reaksi Yuuki sang Zekken sungguh mengerikan. Menilai hanya dari kecepatannya saja, dia mungkin diatas Kirito. Meskipun begitu alasan Asuna mampu bertahan hingga saat ini bukan hanya karena banyaknya pengalaman bertarung yang dia alami di SAO, tetapi juga karena serangan lawannya terlalu biasa. Mulai dari awal hingga akhir, dia tidak menggunakan satupun tipuan, yang bisa merusak irama pertarungan dalam seketika.

Asuna merasakan bahwa mungkin, Yuuki tidak memiliki begitu banyak pengalaman melawan pemain lain. Kalau seperti itu, meskipun hanya sekilas, dia memiliki kesempatan untuk menang apabila dia mengejutkannya.

Memasuki celah diantara kombo tiga hit yang berdatangan dari kanan atas, kiri atas, dan sisi kirinya, tanpa ampun Asuna mendekati bagian dada Zekken. Keduanya hampir menempel antara satu dengan yang lain. Dengan begitu, tidak ada satupun dari mereka yang dapat menghindari serangan dengan pergerakan kaki.

Asuna membungkuk begitu dalam, rapier di tangannya terarah tepat ke pusat dari tubuh lawannya, dan tanpa ragu menusuk ke depan—

Zekken merespon, dan menangkis rapier itu dari bawah-

Saat itu juga, tiba-tiba Asuna menarik kembali tangan kanannya, dan di saat yang sama, mengepalkan tangan kirinya dan memukul sisi kanan Zekken. Ini adalah skill «Boxing» yang dia pelajari ketika dia mengunjungi tempat latihan dari ibukota Gnome yang berada sangat jauh. Meskipun serangan tidak memiliki kekuatan lebih karena dia tidak mengenakan senjata tipe knuckle, serangan itu menyebabkan sentakan yang tidak mungkin dihasilkan bila tidak menggunakan skill.

  • Dong *, tumbukan datang dari tangan kirinya, Zekken membelalakkan matanya dalam keterkejutan. Ini adalah peluang pertama dan terakhirnya. Asuna tidak ragu dan mengaktifkan empat-hit sword skill «Quadruple Pain».

Rapier Asuna bersinar merah terang dan disaat yang sama tangan kanannya terkontrol oleh sistem, memecah udara layaknya kilat.

Asuna yakin serangannya akan masuk. Kuda-kuda dari lawannya sudah goyah dan tidak mungkin untuk menghindarinya dalam hal jarak.

Namun, membiarkan sistem mempercepat gerakan tangan kanannya, Asuna melihat wajah Zekken, dan sekali lagi gemetar memenuhi seluruh tubuhnya. Meskipun mata Zekken terbuka lebar, tidak ada sedikitpun kepanikan terpancar di mata ungunya. Kedua matanya terfokus pada ujung dari rapier.

Dia mampu melihat tusukan ini-?

Seketika juga pikiran ini terlintas di benak Asuna, pedang Zekken bersinar.

Seperti pedang yang diletakkan di roda pengasah, suara kikisan keras terdengar empat kali terus menerus. Empat-hit kombo Asuna secara akurat berhasil ditangkisnya, bawah, kiri dan kanan, tidak satupun mengenainya. Asuna hanya dapat melihat bayangan tipis yang seperti tinta tersisa di pedang milik Zekken.

Hit-nya yang terakhir berhasil ditangkis, Asuna membeku dalam posisi tangan kanannya teregang ke depan untuk sepersepuluh detik- recovery time tanpa harapan ini mengambil alih tubuh Asuna. Zekken tidak membuang-buang kesempatan ini.

Dengan suara * klang *, dia menarik kembali pedang obsidiannya, pedang itu memancarkan sinar ungu.

Sebuah counterattack-sword skill!

"Aaah!"

Untuk pertama kalinya dalam pertarungan itu, Yuuki mengeluarkan teriakan penuh semangat yang mengaggumkan. Lalu dia menusuk dengan kecepatan yang akan sangat sulit untuk dihindari meskipun Asuna sedang tidak dalam masa recovery time, langsung mengenai pundak kiri Asuna. Menebas langsung ke arah kanan bawah, dia melakukan lima-hit kombo tanpa jeda. Semuanya tereksekusi dengan indah dan dengan cepat HP Asuna menjadi kuning. Dia tidak ingat skill pedang satu-tangan seperti itu, maka tidak salah lagi itu adalah sebuah «Original Sword Skill». Jadi dia mampu menghasilkan lima-hit kombo secepat itu.

Sword Art Online Vol 07 -081.jpeg

Ketika Asuna kebingungan dan memikirkan hal tersebut, cahaya dari pedang milik Yuuki tidak menghilang dan dia mengangkatnya ke kiri-atas.

Ternyata tidak berakhir dalam lima kombo. Serangannya masih berlanjut. Akhirnya terbebas dari waktu recovery dari skillnya, Asuna memulihkan dirinya dan sekali lagi bergetar ngeri.

Misalkan Yuuki menusuknya lima kali lagi, tidak salah lagi HP-nya akan habis. Akan tetapi, itu sangatlah tidak mungkin untuk dihindari.

Daripada mencoba melarikan diri sia-sia dan terkena serangan dari belakang, lebih baik untuk bertaruh pada sebuah kemungkinan kecil. Asuna meletakkan semua energinya pada tangan kanannya dan sekali lagi mengaktifkan sword skill. Satu-satunya OSS lima-hit yang berhasil ia buat, yang diberinya nama «Starry Tear».

Cahaya biru dan merah saling bertautan. Mulai dari pundak kanan Asuna menuju bagian kiri-bawah, ujung pedang Yuuki bertemu dengan hit sebelumnya dan membuat sebuah salib.

Akan tetapi, rapier Asuna akhirnya mengenai Zekken. Menghasilkan puncak dari bintang kecil, skill tusukan lima hit menembus armor hitamnya.

Mereka selesai bertukar lima hit, dan keheningan terjadi. Tidak satupun dari mereka terjatuh.

HP Zekken berkurang lebih dari setengah dan berubah menjadi kuning. Sementara bar HP Asuna memasuki zona merah, dan hanya tersisa sedikit lagi. Pada awalnya, Asuna yang karakter datanya diwariskan dari SAO, memiliki HP yang lebih tinggi dibandingkan pemain ALO. Sepuluh-hit kombo mengherankan itu berhasil menghabisi hampir semuanya, kekuatan dari Zekken benar-benar mengerikan, akan tetapi...

Tidak. Pedang Yuuki masih menghasilkan sinar berwarna ungu, sword skillnya belum berakhir.

Sekali lagi menarik pedangnya, dia mengarahkannya ke pusat tubuh Asuna, di titik pertemuan dari efek berbentuk salib.

Boleh dibilang, inikah OSS menakjubkan yang dipertaruhkan Zekken dalam duel ini? Asuna menghela napas panjang.

Kekuatan dan kecepatan yang melampaui akal sehat, terlebih keindahan yang melampaui itu semua. Aku tidak menyesal bila kalah dari sword skill semacam ini. Menyatakan ini di dalam hatinya, Asuna menunggu hit yang terakhir.

Tanpa ampun hit ke-sebelas datang- tapi berhenti tiba-tiba tepat sebelum menembus Asuna. Sistem support yang dipaksa berhenti menghasilkan kilatan cerah dan hentakan itu dilepaskan ke udara sekeliling, menyebabkan rumput sekitarnya jatuh perlahan.

"—?!"

Di hadapan Asuna yang tercengang, Zekken meletakkan pedangnya dan untuk beberapa alasan dengan segera berjalan ke arahnya. Dia menepuk bahu Asuna dengan tangan kirinya, tersenyum cerah. Membuka bibirnya, dan dengan penuh semangat berkata,

"Ya, sungguh luar biasa! Aku memilihmu!!"

"Ap...Eh...?"

Asuna sudah tidak mengerti sama sekali dan hanya bisa mengeluarkan suara yang linglung.

"Bagaimana, itu... Bagaimana hit terakhir duel ini...?"

"Aku sudah cukup dengan bertarung seperti ini. Apa kamu mau melanjutkannya sampai selesai?"

Mendengarkan dia berkata demikian sambil tersenyum, Asuna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apapun yang terjadi, apabila Zekken tidak menghentikan serangannya yang terakhir, pastilah HP Asuna berkurang sampai habis.

"Aku terus, terus menerus mencari orang yang kuat. Kali ini aku berhasil menemukannya! Hei nona, ada yang kamu lakukan setelah ini?"

"Itu... uh. Tidak..."

"Maka, ikutlah denganku sebentar!"

Sang Zekken, Yuuki menyarungkan kembali pedang miliknya di sarungnya yang berada di pinggang dengan bunyi denting dan dengan penuh semangat mengulurkan tangan kanannya. Asuna juga menyarungkan pedangnya sejenak dan dengan gelisah menggenggam tangannya.

Di saat yang bersamaan, Yuuki melebarkan punggungnya dan mengaktifkan perintah untuk mengembangkan sayapnya. Sayap kelelawar yang tembus pandang kembali muncul, mengangkat tubuhnya sedikit.

"Ah, iya."

Dengan segera Asuna mengulurkan kedua tulang belikatnya, memunculkan sayap miliknya dan menghentakkan dirinya dari dasar. Yuuki tersenyum sekali lagi, menggenggam tangan Asuna, berbalik dan dengan cepat terbang ke atas seperti roket.

"Hei, Asuna, kamu pergi kemana?!"

Menengok ke arah sumber suara tajam tersebut, Asuna melihat Lisbeth dengan wajah yang terlihat setengah-kaget dan setengah-bingung, berteriak dengan tangan di mulutnya. Lyfa, Silica dan juga Yui yang duduk di kepala Kirito semuanya tampak tercengang, namun Spriggan berpakaian hitam itu hanya tersenyum tenang, seolah-olah dia sudah memperkirakan perkembangan ini.

Disemangati oleh ekspresinya, Asuna tersenyum dan menarik napas dalam-dalam.

"Yah, soal ini... Aku akan menghubungi kamu nanti!"

Setelah dia meneriakkan hal itu kepada Lisbeth, di depannya, sayap Yuuki mengeluarkan cahaya ungu dan dia langsung memasuki ledakan kecepatan. Dengan tangan kanannya yang sedang ditarik, dengan panik Asuna mengepakkan sayap di punggungnya, mencoba mengikuti punggung dari swordswoman muda misterius tersebut.

Zekken terbang langsung ke arah selatan melewati danau lantai 24 itu, melalui sebuah lubang di batas Aincrad dan menuju ke luar tanpa keraguan.

"Uwah!"

Di saat yang bersamaan, awan tebal mengenai wajah Asuna. Mereka terus bergerak maju di dalam ruang putih murni itu selama beberapa detik sebelum tiba-tiba memotong lapisan awan, langit biru membentang tanpa batas di hadapan mereka.

Di sudut kanan bawah matanya, dia bisa melihat kerucut hijau terbentang saat mereka menembus lapisan awan. Itu adalah puncak dari World Tree yang menjulang di tengah Alfheim. Melihat di bawahnya, samar-samar dia dapat melihat permukaan biru. Dilihat dari bentuk melingkar yang meraup keluar dari garis pantai, sepertinya Aincrad terbang di atas «Crescent Gulf» di wilayah Undine.

Sembari Asuna bertanya-tanya kemanakah mereka akan pergi, Zekken yang terbang dihadapannya tiba-tiba berbalik 90 derajat dan mulai terbang ke atas. Memutar tubuhnya, Aincrad terlihat di hadapannya, bentuknya yang besar dan berlekuk menjulang tinggi seperti tebing yang curam. Melewati seratus meter lantai satu per satu, Zekken terus terbang semakin tinggi.

-Meskipun kamu bisa mengatakan seperti itu, kenyataanya kamu dapat bebas masuk dan keluar dari Aincrad untuk lantai yang sudah diselesaikan. Batas luar dari lantai yang belum diakses adalah zona tidak dapat diakses. Asuna sedikit khawatir dan ingin bertanya kepadanya sekedar untuk mengkonfirmasi, namun tepat ketika dia menarik napas dalam-dalam dan bersiap-siap untuk berteriak, sekali lagi sudut penerbangan mereka berubah 90 derajat.

Sepertinya tujuan Zekken adalah di lantai 27. Jika Asuna ingat dengan benar, itu adalah posisi garis depan saat ini. Melalui celah di dinding berlumut, mereka terbang ke dalam dengan keras. Seketika itu juga, keadaan di sekitar mereka menjadi gelap.

Lantai ke-27 Aincrad adalah negara dengan kegelapan abadi. Ada bukaan sedikit di bagian eksterior dan sinar matahari tidak bersinar bahkan saat siang hari. Sejumlah besar stalaktit bergantung tidak merata dari langit-langit di dalam, dan di atasnya terdapat permata prismatik besar di sana-sini, menghasilkan cahaya biru yang buram. Dalam hal kesan, keadaain ini mirip dengan bawah tanah dari wilayah Gnome di utara Alfheim.

Gadis imp itu, yang penglihatan pada malam harinya hampir sama baiknya dengan ras Spriggan, menarik tangan Asuna dan terbang di antara stalaktit. Dari waktu ke waktu, sekelompok «Gargoyles» datang ke hadapan mereka, tapi Yuuki tidak tertarik untuk bertempur, dan dengan terampil terus menghindari jarak pandang mereka dan terus terbang.

Setelah terbang ke jurang yang muncul dan meluncur perlahan-lahan selama satu menit lebih, sebuah kota kecil mulai terlihat di bagian bawah dengan lembah yang melingkar. Ini adalah kota di lantai 27 bernama «Ronbaru».

Gang dan tangga secara kompleks saling silang-menyilang di kota ini, tampak seolah-olah diukir dari blok batu dengan cahaya oranye bersinar di atasnya. Seperti api unggun yang terbakar di malam yang dingin, terlihat begitu menenangkan.

Jejak cahaya biru muda dan ungu membentang dari Yuuki dan Asuna dalam kegelapan saat mereka terbang dan secara perlahan mendarat di plaza melingkar di pusat kota.

BGM tenang yang menandakan bahwa mereka telah memasuki kota itu terdengar di telinganya, dan sedikit aroma daging panggang yang tercium menggelitik hidungnya- ketika Asuna berpikir tentang hal itu, dia mendarat di lantai batu dengan perlahan.

Asuna mengatur nafasnya dan melihat sekeliling. Ronbaru adalah kota night elf, menyesuaikan setting tersebut tidak ada satupun bangunan besar. Sebuah workshop kecil, toko dan penginapan terbuat dari batu cyan terhubung dengan rapat. Di bawah cahaya oranye, pemandangan ini memiliki keindahan seperti-fantasi dan keramaian festival malam.

Selama di SAO, bahkan ketika mereka sedang menyelesaikan lantai, orang-orang berkumpul di kota ini hanya untuk sementara waktu dikarenakan ada tidak ada fasilitas penting di sini. Asuna juga ingat hanya tinggal di kota ini selama beberapa hari saja. Tetapi sekarang, karena ini adalah garis depan, banyak pemain dengan bangga berjalan di sekitar, suara gemericing berasal dari baju besi mereka. Orang-orang tampaknya membawa emosi temperamen dan atmosfer yang tajam dari seorang pejuang. Melihat itu, perasaan rindu bercampur dengan kepahitan melayang ke dalam hati Asuna.

Untuk mendapatkan rumah kayunya, Asuna berada di garis depan terus menerus sampai mereka telah menyelesaikan lantai 22, tapi dia hampir tidak pernah berpartisipasi dalam pertarungan boss setelah itu. Dia merasa bahwa kegembiraan «memasuki kota baru» harus diberikan kepada para petualang dari Aincrad yang baru untuk dinikmati. Selain itu, ingatannya di garis depan tidak semuanya menyenangkan.

Setelah menutup matanya dan dengan perlahan menggelengkan kepalanya untuk membuang semua sentimennya, Asuna memandang ke arah Zekken yang berdiri di sampingnya.

"...Hei, kenapa kamu membawaku ke sini? Apa ada sesuatu di kota ini?"

Menanggapi pertanyaan itu, Zekken tersenyum dan sekali lagi menarik tangan Asuna.

"Sebelum itu, mari kukenalkan teman-temanku! Sebelah sini!"

"Ah, sebentar..."

Mengikuti punggung Zekken yang tiba-tiba mulai berlari, Asuna memasuki salah satu gang sempit yang diperpanjang secara radial dari plaza.

Mendaki dan menuruni tangga kecil, melewati jembatan dan terowongan, mereka tiba di depan apa yang tampaknya seperti sebuah hotel. Mengetuk di samping tanda berbentuk seperti pot terbuat dari besi dengan «INN» tertulis di atasnya, mereka masuk melalui pintu tersebut. Mereka melewati seorang NPC berjenggot yang tertidur dan melangkah jauh ke dalam pub dan restoran. Pada saat ini-

"Selamat datang, Yuuki! Apa kamu berhasil menemukannya?!"

Suara riuh seorang anak laki-laki menyambut mereka berdua.

Lima orang duduk di meja bundar di tengah kedai. Tidak ada orang yang lain. Zekken berjalan di depan mereka, dengan cepat berbalik dan menghadap Asuna, dengan bahagia membuka tangan kanannya, menegakkan dada dan berkata,

"-Mari kuperkenalkan, ini adalah guildku, sahabatku dari «Sleeping Knights»."

Dia berbalik sekali lagi, dan kali ini memberi isyarat pada Asuna.

"Dan ini-..."

Tiba-tiba kata-katanya terhenti di sana. Yuuki mengerut, memutar matanya dan dengan imut menjulurkan lidahnya.

"...Maaf, aku masih belum bertanya siapa namamu."

Kelima pemain itu jatuh dari kursi mereka secara bersamaan dengan berisik. Melihat hal ini, Asuna tidak bisa menahan tawa dan setelah menekuk lutut, dia mengatakan namanya kepada mereka.

"Senang bertemu dengan kalian. Namaku Asuna."

Dan kemudian, di sisi paling kiri Asuna, seorang Salamander pendek berdiri dengan semangat yang besar. Menggoyangkan rambut oranyenya yang dikepang di belakang kepalanya, berkata dengan suara bersemangat.

"Aku Jun! Halo Asuna-san!"

Di sisinya ada seorang Gnome besar. Dengan mata berseri tersembunyi dibalik rambut bergelombangnya yang berwarna coklat pasir membuatnya tampak ramah. Dia menarik perutnya yang mencuat, membungkuk, dan menyebutkan namanya dengan nada santai.

"Ah, tentang itu, nama saya Thatch. Semoga kita bisa berteman dengan baik."

Yang selanjutnya berdiri adalah pemuda Leprechaun yang kurus. Rambut berwarna kuningan dan bulat rapi, dengan kacamata berbingkai besi memberinya kesan seperti seorang mahasiswa. Dia melebarkan mata kecilnya, membungkuk dan tersipu malu sambil memperkenalkan dirinya dengan tergugup.

"Aku, aku, itu, namaku Taruken. Mohon bantuannya... Aduh!"

Teriakan di akhir kalimatnya dikarenakan pemain perempuan yang duduk di sebelah kirinya menendang dengan keras tulang keringnya dengan sepatu botnya.

"Cukup, Taru, berhenti seperti itu. Kamu selalu seperti ini di hadapan gadis!"

Mengatakan ini dengan nada yang gelisah dan berkesan, dia bangkit dari kursinya. Dia melebarkan matanya dan tersenyum kepada Asuna, menggaruk rambutnya yang hitam yang panjang keluar seperti matahari dan menyebutkan namanya.

"Aku Nori. Senang bertemu denganmu, Asuna-san."

Dilihat dari kulitnya yang hitam dan sayapnya yang abu-abu, sepertinya dia adalah seorang Spriggan, namun alis tebal, bibir dan fisik yang besar tidak kelihatan seperti Spriggan sama sekali.

Dan kemudian, yang terakhir adalah seorang pemain Undine wanita seperti Asuna. Rambutnya panjang biru mudanya yang hampir berwarna putih murni tergantung dari bahunya. Mata birunya yang dalam dan tenang bersinar di bawah bulu matanya yang terkulai. Hidungnya yang panjang, bibir berkilau dan tubuhnya yang begitu ramping benar-benar memberikan kesan sebagai seorang healer Undine.

Wanita itu berdiri dengan anggun dan dengan tenang memperkenalkan dirinya.

"Senang bertemu denganmu, aku Shiune. Terima kasih telah datang ke sini."

"Dan yang terakhir—"

Akhirnya, Zekken melompat ke kanan, berdiri bersama lima orang yang lain dan dengan mata besarnya yang bersinar berkata,

"Aku, yang juga pemimpin guild, Yuuki! Asuna-san..."

Dia melangkah maju dan menjabat tangan Asuna,

"Mari kita berjuang bersama!"

"Berjuang... untuk apa?"

Asuna kembali tersenyum dan bertanya, Yuuki agak terkejut dan sekali lagi menjulurkan lidahnya.

"Eh, aku belum bilang sama sekali!"

  • Gubrak! * Melihat kelimanya sekali lagi terjatuh dari kursi mereka, Asuna tidak bisa menahan diri lagi. Dia tertawa terbahak-bahak, dan dengan segera Yuuki dan yang lain juga tertawa riang.

Ketika akhirnya dia berhenti tertawa, Asuna sekali lagi memandang para anggota «Sleeping Knights»- Dan kemudian, dia merasa sedikit merinding di belakang punggungnya.

Mereka semua sangat kuat. Asuna bisa melihat ini dari setiap gerakan mereka. Keenam orang ini sudah terbiasa sepenuhnya bergerak di dunia VR. Jika mereka semua bertarung, mungkin mereka hampir sekuat Zekken.

Asuna, mungkin juga Kirito, Liz dan yang lain, mereka tahu tentang keberadaan kelompok yang kuat ini. Jika mereka juga ditransfer dari dunia yang berbeda seperti Zekken, mereka pastilah kelompok yang terkenal di dunia VR di mana mereka berasal.

Apa alasan mereka pindah ke ALO, membuang karakter dan semua item mereka... Sementara Asuna bertanya-tanya tentang hal ini, Zekken- Yuuki, yang akhirnya berhenti tertawa, menggaruk kepalanya yang dihiasi oleh hairband merah dan dengan malu-malu berkata.

"Maaf, Asuna-san. Aku membawamu ke sini tanpa memberitahu kenapa. Aku gembira akhirnya aku menemukan seseorang yang hampir sama kuatnya sepertiku, dan hanya... Artinya, aku akan meminta tolong padamu sekali lagi. Aku... Tolong bantu kami!"

"Membantu... kalian?"

Memiringkan kepala dan mengulangi hal ini, Asuna terpikir berbagai kemungkinan dalam seketika.

Mungkin ini tidak hanya membantu mencari uang, item atau skill point. Guild ini sudah berada pada level tinggi, menambahkan Asuna harusnya tidak membuat banyak perbedaan.

Demikian pula, sulit untuk dipercaya bahwa mereka bertujuan untuk mencari sesuatu seperti rare item atau tempat tinggal. Ini berbeda dari SAO di mana informasi itu sendiri diperdagangkan dengan harga tinggi, tumpukan informasi tentang ALO secara bebas dipublikasikan di situs eksternal. Jika kamu mengacu kepada itu dan mencari di sana, hampir barang seperti apapun dapat diperoleh pada akhirnya.

Perlu dicatat bahwa «Kekuatan» yang sedang Zekken cari bukanlah murni secara numerik, termasuk juga mengetahui bagaimana caranya untuk bertempur. Yang dibutuhkan lebih untuk pertempuran melawan pemain lain dan bukan monster. Selain itu, karena dia memperkenalkan guildnya, maka kemungkinan ini adalah pertempuran dalam skala besar dan bukanlah duel satu-lawan-satu seperti apa yang Zekken lakukan sampai saat ini- Jadi secara sederhana, ini adalah pertempuran tanpa aturan melawan guild lain.

Mengingat ini, Asuna menggigit bibir perlahan dan berkata dengan cemas.

"Tentang itu... Jika kamu memerlukan bantuan dalam konflik melawan guild lain, aku minta maaf..."

Dalam pertempuran melawan pemain lain di mana aturan kompetisi dan sistem duel dihapus, perasaan menyimpang selalu ada. Tentu saja, pemain yang tidak akan membiarkan konflik berlalu setelah terjadi sangatlah sedikit, tapi kemungkinan itu akan membawa masalah pada masa depan teman-temannya dan bukan hanya itu- Asuna juga tidak dapat dikesampingkan.

Jadi meskipun Asuna bertemu dengan orang yang bertindak tidak masuk akal saat sedang berburu, dia tidak akan menghunuskan pedangnya untuk melawan mereka.

Untuk menjelaskan hal ini sesingkat mungkin, Asuna sekali lagi membuka mulutnya. Namun, mata Zekken melebar sesaat sebelum dia menggeleng.

"Bukan, bukan, kita tidak akan melakukan sesuatu seperti berperang melawan orang lain. Tentang itu... itu, kami... mungkin kamu akan tertawa..."

Menurunkan kepalanya, Zekken malu-malu mengerutkan bibirnya, menatap Asuna dan mengatakan sesuatu yang tidak terduga.

Sword Art Online Vol 07 -095.jpeg

"...Tentang itu, kami ingin mengalahkan boss lantai ini."

"Oh, begitu... Hah?!"

Terceplos suara tersebut, ini benar-benar di luar ekspektasinya. Dia awalnya mengira bahwa dia mendengar tujuan yang lebih parah daripada konflik antar guild, tapi ternyata mengalahkan boss lantai ini, tujuan yang sangat normal dan lurus. Para pemain yang saat ini berada di garis depan tidak diragukan lagi memiliki tujuan yang sama.

"Boss...? Boss yang berada di bagian paling dalam dungeon...? Bukan mob bernama yang akan respawn pada waktu tertentu?"

"Iya. Yang hanya bisa kita kalahkan sekali."

"Aku mengerti... Jadi begitu... boss, huh~"

Asuna diam-diam melirik wajah dari kelima anggota guild yang lain, mereka semua berkedip dan menunggu tanggapannya.

Dengan kata lain, mereka ingin bergabung dengan guild yang dibentuk secara khusus untuk mengalahkan boss tiap lantai, sebuah «Clearing Guild». Mereka baru saja ditransfer dan tidak punya koneksi sama sekali, jadi mereka meminta dirinya untuk membantu memperkenalkan mereka kepada kelompok veteran- Apakah seperti itu?

"Tentang itu... Erm, Ze... bukan, Yuuki, karena kamu sangat kuat..."

Perkembangan seperti ini sedikit di luar perkiraannya, Asuna memejamkan mata, mengubah caranya berpikir dan mempertimbangkan kemungkinan sebenarnya. Di antara para pemain yang saat ini berada di garis depan Aincrad, sekitar 80% dari mereka asli berasal ALO dan 20% berasal dari SAO. Saat ini kelompok dari ALO dan SAO telah membuat perdamaian, dan guild clearing benar-benar telah bercampur. Namun, ketika saat pertama kali upgrade, hubungan mereka sangatlah kaku. Karena di satu sisi ALO menjadi game pertama yang menggunakan AmuSphere, sementara di sisi lainnya SAO adalah VRMMO realistis yang pertama, baik «Fairies» dan «Swordsman» sama-sama memiliki ego yang kuat. Begitu pun Asuna.

Dan tiba-tiba, ada kelompok yang baru melakukan transfer dari game lain tanpa diundang mengatakan 'Ijinkan kami bergabung', tentu saja tidak dapat bergabung dengan grup raid semudah itu- Namun, kekuatan Yuuki sang «Zekken» berada di atas rata-rata. Jika kelima anggota lainnya berada pada tingkat yang sama dan mereka menunjukkannya, bisa saja ada kemungkinan.

"Memang... untuk pemetaan lantai ini sudah dekat dengan ruang boss, aku tidak tahu apakah kalian akan diijinkan bergabung melawan boss jika kalian secara tiba-tiba meminta. Bahkan jika itu tidak mungkin untuk saat ini, jika kamu bergabung mulai dari awal lantai berikutnya, dengan kekuatan kalian, kalian mungkin dapat bergabung dengan grup raid boss... jumlah maksimum orang dalam grup raid adalah 49 orang, jadi aku tidak tahu apakah kalian berenam dapat bergabung... "

Ketika Asuna berbicara sambil berpikir dan mencapai poin ini-

Sekali lagi Yuuki menyusut dengan malu-malu, dan mengatakan sesuatu diluar imajinasi Asuna.

"Tentang itu. Ini sedikit berbeda dari apa yang Asuna katakan. Kami tidak ingin bergabung dengan kelompok besar... Kami ingin menang dengan kami berenam ditambah Asuna-san."

"...Eh, apa?!"

Suara terkeras yang dia buat semenjak dia dibawa ke penginapan ini keluar dari mulut Asuna.

Alasannya sangatlah sederhana.

Dibandingkan dengan SAO yang awal, mob yang menjaga rute ke lantai berikutnya dalam Aincrad yang baru ini telah dikotori dengan power-up. Tentu saja, perubahan substansial dalam sistem ini tidak dapat begitu saja dibandingkan, tetapi dengan kehati-hatian, para boss di masa lalu dapat dikalahkan tanpa jatuhnya korban satupun, sementara boss yang baru menyerang pemain seperti biji dandelion dengan menggunakan serangan dan skill yang sangat kuat. Kekuatan mereka nyaris irasional.

Tentu saja, strategi yang digunakan harus berubah. Mengumpulkan jumlah orang maksimum dalam penyerangan dan mempersiapkan penyembuh dengan perkiraan akan ada banyak kematian adalah strategi yang solid. Daripada satu orang yang mengorbankan hidupnya untuk menerima 10 damage, lebih baik fokus menempatkan 10 orang untuk terus menerima 11 damage. Penyerangan terakhir yang Asuna ikuti adalah pada lantai ke-21, meskipun pada lantai rendah dan mereka telah membentuk 7 kelompok dengan 7 orang, ada saat-saat tak terhitung dimana mereka menghadapi bahaya yang dapat menghancurkan mereka.

Tentu saja, kekuatan boss meningkat seiring semakin tinggi lantainya. Akhir dari 20 lantai yang dibuka pada Natal kemarin secara bertahap dapat dilihat, dia mendengar bahwa lantai 26 akhirnya diselesaikan dengan mengumpulkan beberapa guild elit besar.

Dengan kata lain, tidak peduli seberapa kuat Yuuki dan yang lainnya, meskipun Asuna bergabung, mengalahkan bos dengan 7 orang saja dapat dikatakan mustahil.

Asuna memilih kata-katanya, dan secara singkat menjelaskan hal ini.

"...Jadi... dengan 7 orang, kupikir ini agak mustahil..."

Setelah ia selesai mengatakan ini, Yuuki dan yang lain melirik satu sama lain dan untuk beberapa alasan, mereka semua tertawa malu-malu. Yuuki berbicara sebagai wakil mereka.

"Yah, itu benar-benar tidak mungkin. Sebenarnya, kami juga menantang boss lantai 25 dan 26."

"Eh?! Hanya... Hanya dengan 6 orang?!"

"Ya. Kami berusaha cukup keras... tapi potion MP dan HP kami tidak bisa mengembalikan MP dan HP kami. Saat kami sedang mengumpulkan uang, bos dikalahkan oleh kelompok besar."

"Ah... ternyata begitu... Kamu benar-benar serius."

Asuna sekali lagi memandang dalam-dalam ke-6 wajah mereka.

Ini jelas dapat dianggap sebagai tantangan yang bodoh, tapi dia menyukai semangat mereka. Pemain yang terbiasa bermain dapat membedakan apa yang mungkin dan apa yang mustahil, dan dengan segera menyerah pada hal yang mustahil. Semangat menghadapi tantangan para anggota «Sleeping Knights» mencerminkan sesuatu yang sangat segar dan sedikit nostalgia di mata Asuna.

"Tapi... Kenapa? Kenapa kalian tidak mau pergi dengan guild lain dan harus mengalahkan boss sendirian?"

Tentu saja, kamu dapat memperoleh jumlah uang yang abnormal, item dan equipment langka apabila mengalahkan bos hanya dengan satu guild saja. Tapi dia merasa bahwa tujuan semacam ini tidak sesuai dengan keenam orang itu.

"Tentang... Tentang itu."

Yuuki melebarkan mata amethisnya, dan menggerakkan mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun, dia tidak mengatakan apapun. Seolah-olah ada sesuatu yang menyesakkannya, ia membuka dan menutup mulutnya beberapa kali, seolah dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Pada saat ini, Undine tinggi di sebelah Yuuki bernama Shiune berbicara untuk membantunya.

"Tentang itu, biarkan aku yang menjelaskan. Sebelum itu, silakan duduk."

7 orang termasuk Asuna duduk mengelilingi meja, dan NPC membawakan minuman yang mereka pesan. Shiune dengan lembut menyilangkan jari-jarinya di atas meja, dan mulai berbicara dengan suara tenang.

"Mungkin Asuna-san sudah menyadari, tapi kami tidak bertemu di dunia ini. Kami bertemu di sebuah komunitas online di luar game.... dan dengan segera akrab dan menjadi teman. Hal ini sudah berlangsung... selama dua tahun."

Bulu mata Shiune jatuh seakan mengenang, dan berhenti berbicara sejenak.

"Kami benar-benar sahabat yang terbaik. Bersama-sama, kami pergi ke banyak dunia berbeda, dan mengalami berbagai petualangan. Namun, masalahnya, kami hanya dapat melakukan perjalanan bersama-sama sampai musim semi ini. Setiap orang... sibuk karena berbagai alasan. Jadi kami memutuskan sebelum kami berpisah, kami akan membuat kenangan yang tidak akan pernah kami lupakan. Dalam dunia VRMMO yang tak terhitung banyaknya ini kami akan menemukan dunia yang paling menyenangkan, paling indah, paling menarik dan bekerjasama untuk menyelesaikan sesuatu di sana. Jadi kami terus melakukan transfer ke berbagai tempat, dan dunia inilah yang kami temukan."

Shiune memandang sekeliling wajah temannya. Jun, Thatch, Taruken, Nori dan Yuuki, wajah kelimanya berkilauan, dan mereka mengangguk. Shiune juga tersenyum lembut, dan terus berbicara.

"Dunia ini- ALfheim, rumah dari elf, serta kastil melayang Aincrad, sungguh fantastis. Kami semua tidak akan pernah melupakan saat-saat ketika kami menghabiskan waktu terbang di kota-kota yang indah, hutan, dataran, World Tree, dan juga di sekitar kota ini. Ada satu hal lagi yang ingin kami lakukan... kami ingin meninggalkan jejak kaki kami di dunia ini."

Mata birunya yang sedikit tertutup memancarkan sinar keseriusan.

"Jika kami mengalahkan bos, kami dapat mengukir nama kami pada «Swordsman's Stele» di Black Iron Prison di dalam «Starting City» di lantai 1."

"Ah..."

Mata Asuna melebar sejenak, dan mengangguk. Dia hampir lupa tentang hal ini, tetapi nama-nama pemain yang telah mengalahkan bos akan disimpan di dalam Black Iron Prison. Nama Asuna sendiri tertulis pada kolom lantai 21.

"Tentang itu... Meskipun hanya untuk kepuasan diri, apapun yang terjadi kami ingin nama kami terukir di sana. Namun, ada satu masalah. Jika hanya satu party yang mengalahkan bos, maka nama semua anggota akan terukir, namun jika ada beberapa party, hanya nama para pemimpin yang akan terukir."

"Ah... ternyata itu. Ya, hal itulah yang akan terjadi."

Asuna menanggapi sambil berpikir tentang interior dari Black Iron Prison.

«Swordsman's Stele» adalah objek 3D di dalam dunia virtual, jadi tentu saja ukurannya terbatas. Pada akhirnya mereka harus mencapai lantai 100 dan tidak ada cukup ruang untuk mencatat nama semua anggota penyerang untuk setiap lantai. Maksimal, hanya 7 nama pemain terukir untuk setiap lantai. Jadi, seperti kata Shiune, nama semua anggota di sini dapat terukir pada prasasti jika hanya satu party yang mengalahkan boss, sementara pada kelompok penyerang hanya nama pemimpin grup yang akan terukir.

Shiune berhenti sejenak seolah menunggu Asuna untuk memahami, kemudian dengan ringan mengangguk dan melanjutkan pembicaraan,

"Dengan kata lain, jika kami ingin meninggalkan semua nama dari anggota «Sleeping Knights», kami hanya dapat menantangnya dengan satu party. Kami berusaha sangat keras di lantai 25 dan 26, namun apapun yang terjadi, kami selalu gagal ketika hal itu sudah dalam genggaman... Kemudian, setelah berdiskusi bersama-sama, kami memutuskan. Anggota maksimal dalam satu party adalah 7 orang, masih ada satu ruang kosong. Meskipun agak lancang, kami memutuskan untuk mencari seseorang yang berada pada level yang sama atau lebih kuat dari Yuuki, yang paling kuat di antara kami, dan meminta orang tersebut untuk bergabung dengan kelompok kami."

"Jadi begitu... Karena itu semua hal ini terjadi."

Asuna mengambil nafas dalam-dalam, dan tatapannya tertuju pada taplak meja putih di hadapannya.

Meninggalkan nama mereka pada «Swordsmen's Stele». Keinginan ini bisa dimengerti.

Tidak hanya VRMMO, tetapi hal seperti game online menyita banyak waktu pemain, banyak orang yang berhenti di musim semi karena alasan seperti melanjutkan pendidikan ataupun pekerjaan. Tak bisa dipungkiri, banyak guild yang telah berjalan selama bertahun-tahun tidak dapat menghindari pembubaran guild mereka. Berkeinginan untuk menggoreskan kenangan pada monumen yang akan terus ada selama dunia ini ada adalah hal yang wajar.

Jangankan orang lain, Asuna sendiri tidak tahu berapa lama dia bisa terus bermain ALO. Jika ibunya melakukan pendekatan yang lebih kuat, dia mungkin akan dilarang menggunakan AmuSphere. Ingin menghabiskan setiap menit dan detik pada sesuatu yang bermakna karena waktu yang terbatas, pemikirannya ini sama seperti mereka.

"... Bagaimana? Apa kamu setuju? Kami baru-baru ini saja melakukan transfer, jadi kami mungkin tidak mampu menyiapkan hadiah yang cukup sebagai ucapan terima kasih..."

Asuna mengulurkan tangannya dan menghentikan Shiune dari pengoperasian trade window yang menunjukkan jumlah yang akan ditulisnya.

"Ah, tidak usah, hal-hal yang membutuhkan pendanaan kalian cukup menumpuk seperti gunung, uang itu lebih baik kalian simpan. Aku bisa mengambil apapun dari drop boss sebagai hadiah...."

"Jadi, kamu setuju?"

Wajah Shiune dan kelimanya bersinar. Melihat ekspresi mereka bergiliran, Asuna menyerah memikirkan bagaimana hal ini bisa berakhir seperti ini. Awalnya, ia hanya sedikit tertarik pada rumor dari swordmaster misterius sang «Zekken». Kemudian dia dibawa dari tempat kompetisi ke garis depan, diperkenalkan kepada sahabat Yuuki dan bahkan diundang untuk menantang bos lantai dengan dirinya. Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari satu jam. Orang yang menarik Asuna ke dalam perkembangan secepat jet ini, «Zekken» Yuuki, melebarkan mata berwarna amethis yang berkilau sebanyak yang dia inginkan dan menunggu respon dari Asuna. Kamu boleh bilang dia orang yang tidak sabaran, dan kamu juga boleh bilang bahwa dia orang yang pantang menyerah, tapi pertemuan aneh semacam ini juga salah satu kesenangan yang bisa dijumpai di VRMMO. Yang paling penting adalah jauh di dalam hatinya, salah satu firasat kabur tertentu telah tumbuh. Dia pasti bisa menjadi teman baik dari pendekar pedang misterius ini.

"Tentang itu... Tunggu sebentar."

Itu karena ia tidak bisa berurusan dengan hal semacam ini dengan gegabah. Asuna sekali lagi mengambil nafas dalam-dalam, menetapkan tatapannya pada gelas di atas meja dan menenangkan pikirannya yang kacau. Dia membuang jauh keraguan dan kekagetannya dan memfokuskan pikirannya pada tujuan baik Yuuki dan anggota yang lain untuk sejenak.

Beberapa waktu yang lalu, sebagai sub-leader dari guild yang sudah tidak ada lagi, Asuna merencanakan serangan melawan banyak bos.

Dia tidak ingat berapa jam yang dia habiskan untuk berdiskusi dengan guild lain dan para pemain solo, berdebat satu sama lain, dan bahkan bersujud dan memohon pertolongan ketika tidak cukup banyak orang. Dia bekerja sangat keras karena di dunia itu, ada satu persyaratan yang harus dijaga. Tidak boleh ada satupun yang mati.

Tapi sekarang, semuanya telah berubah. Hanya ada satu kewajiban dan hak yang pemain miliki di rumah elf ini, dan itu adalah untuk menikmatinya. Bisakah kamu menikmati permainan ini jika kamu mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu hanya bisa mundur jika kamu tidak memiliki kesempatan untuk menang? Yuuki dan yang lainnya telah menantang bos dari lantai 25 dan 26 hanya dengan 6 orang, dan sepertinya mereka melakukannya cukup baik.

Daripada memikirkan tentang apa yang akan terjadi jika kamu gagal, pergilah tanpa memikirkan apapun terlebih dahulu. Sudah lama dia tidak bermain dengan gegabah. Walaupun mereka dikalahkan, satu-satunya hal yang hilang dari mereka adalah sedikit experience point.

"... Jika kita akan melakukannya, ayo kita lakukan. Kali ini, kesampingkan hal-hal seperti tingkat keberhasilan."

Asuna mengangkat wajahnya, dan tersenyum nakal. Pada saat yang sama, senyum terlukis di wajah menggemaskan Yuuki. Dalam sorak-sorai yang luar biasa dari lima temannya, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan meraih tangan kanan Asuna dari meja.

"Terima kasih, Asuna-san! Bahkan di awal, ketika kita saling bertarung dengan pedang, aku tahu kamu akan mengatakan ini!"

"Panggil aku Asuna."

Asuna tersenyum dan menjawab, Yuuki tersenyum dan berkata.

"Maka kamu juga harus memanggilku Yuuki!"


Setelah berjabat tangan dengan lima orang yang buru-buru mengulurkan tangan mereka dan bersulang dengan bir buah yang baru mereka pesan, Asuna menanyai Yuuki pertanyaan tiba-tiba yang datang ke pikirannya.

"Omong-omong, Yuuki-sa... Yuuki, kamu mencari orang yang kuat melalui duel, kan?"

"Ah, ya."

"Kalau begitu, seharusnya ada banyak orang yang lebih kuat sebelumku. Khususnya, seorang Spriggan berpakaian hitam yang menggunakan pedang satu tangan, apa kamu masih mengingatnya? Aku merasa bahwa orang itu mungkin akan lebih berguna daripada aku..."

"Ah..."

Yuuki teringat Kirito hanya dengan hal itu. Dia terus mengangguk, dan memegang lengannya dengan ekspresi yang rumit untuk beberapa alasan.

"Aku ingat. Orang itu juga benar-benar kuat!"

"Lalu ... Mengapa kamu tidak meminta bantuannya?"

"Yah..."

Yuuki terdiam secara tidak biasa, dan senyum misterius melintas di wajahnya.

"Seperti yang kupikirkan, orang itu tidak akan mau melakukannya."

"Kenapa... Kenapa begitu?"

"Dia mengetahui rahasia kami."

Yuuki dan Shiune terlihat tidak ingin mengatakan apa-apa lagi tentang hal ini, dan tidak ada cara untuk mengetahuinya lebih lanjut. Mungkin «Rahasia» ini berhubungan dengan kekuatan luar biasa sang Zekken Yuuki, Asuna memikirkan hal ini, tapi dia tidak bisa melihat sama sekali apa yang Kirito sadari.

Saat dia memiringkan kepalanya dan berpikir, Leprechaun Taruken berbicara seolah-olah untuk mengubah topik.

"Lalu... rencana spesifik dari penyerangan ini, bagaimana... bagaimana kita akan mengaturnya?"

"Ah... Biarkan aku berpikir..."

Asuna mengguyur pertanyaan itu di dalam mulutnya dengan bir buah, dan mengangkat jari telunjuknya.

"Pertama-tama, hal yang paling penting adalah memahami pola serangan bos. Hindari ketika kamu harus menghindar, blok ketika kamu harus memblok dan serang dengan semua kekuatanmu ketika kamu harus menyerang, dengan cara itu kita mungkin memiliki kesempatan untuk menang. Masalahnya adalah, bagaimana kita bisa mendapatkan informasi tentang hal ini... Mungkin akan sia-sia meskipun kita bertanya pada guild besar yang mengkhususkan diri dalam berburu bos. Kupikir kita harus mencoba menantangnya sekali dengan pemikiran bahwa kita akan dikalahkan."

"Ya, tidak masalah dengan itu! Hanya saja... Lantai sebelumnya, dan juga satu lantai sebelumnya, boss itu langsung dikalahkan setelah kami kalah."

Yuuki menampakkan ekspresi sedih, dan pemuda Salamander Jun diseberang meja mengerutkan kening dan melanjutkan.

"Pertempuran itu sudah berakhir ketika kami sampai di sana tiga jam kemudian. Mungkin aku terlalu banyak berpikir.... tapi aku merasa mereka terus menunggu kami gagal..."

"Benarkah...?"

Asuna menempatkan tangannya di samping mulutnya dan berpikir. Baru-baru ini ia mendengar desas-desus tentang perselisihan antar kelompok penyerang. Utamanya pada guild besar yang suka memerintah, tetapi akankah kelompok seperti itu memperhatikan sebuah guild dengan hanya 6 orang? Informasi ini tidak dapat diabaikan begitu saja.

"Benar, untuk saat ini, kita harus membuat persiapan untuk menantang bos segera setelah kita dikalahkan. Kapan kalian memiliki waktu luang?"

"Ah, maaf. Taruken dan aku tidak bisa saat malam hari. Bagaimana kalau besok pukul satu siang?"

Spriggan tinggi Nora menggaruk rambutnya yang hitam dan meminta maaf.

"Ya, aku tidak masalah dengan hal itu. Kalau begitu, mari bertemu di penginapan ini besok jam satu!"

'OK, aku mengerti', semua orang menanggapi dengan berbagai cara. Menghadapi anggukkan «Sleeping Knights», Asuna sekali lagi tersenyum, dan dengan keras mengatakan.

"Mari kita coba yang terbaik!"

Asuna mengelus kepala Yuuki selagi Yuuki terus berbicara tentang betapa bersyukurnya dia. Dia dengan enggan meninggalkan penginapan, dan kembali ke tempat Lisbeth dan yang lainnya berada. Mereka mungkin akan terkejut oleh hasil tak terduga ini, jantung Asuna berdebar saat ia berjalan cepat menuju gerbang teleport di plaza Ronbaru.

Mengandalkan memori yang tak dapat ia percayai saat ia melewati gang, plaza meriah akhirnya muncul di depan matanya, pada saat ini. Bunyi * Beep *, seolah-olah tombol power ditekan, dunia gelap. Semua indranya menghilang, Asuna tertinggal ke dalam kegelapan total.