Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 4 Bab 7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 7[edit]

Di halaman, terdapat lapisan salju tipis menyelimuti tanah, dan hembusan udara dingin yang menyelimuti tubuhku. Meskipun begitu, sisa-sisa rasa kantuk tidak meninggalkan pikiranku.

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali dan kemudian berjalan menuju wastafel yang berada di pojok halaman. Aku memutar keran air antik yang berwarna perak dan meletakkan tanganku diantara air yang mengalir.

Aku mencipratkan sedikit air dingin ke arah wajahku, dan wajahku langsung meringis [1] karena perasaan mati rasa yang kurasakan, Aku kagum karena airnya tidak membeku. Mengabaikan perasaan mati rasa itu, aku mencipratkan air ke wajahku sebanyak dua-tiga kali, kemudian meneguk air yang keluar dari keran.

Ketika Aku menyeka mukaku dengan handuk yang bergantungan di leherku, pintu sorong yang terhubung dengan serambi pun terbuka dan Suguha menuruni tangga dengan menggunakan jerseynya. Biasanya, dia sangat aktif di pagi hari, tapi hari ini tidak, dia hanya setengah terbangun dengan kepalanya yang bergoyang-goyang.

"Selamat pagi, Sugu."

Mendengar suaraku , Suguha dengan sempoyongan berjalan didepanku, berkedip, dan berkata :

"Selamat pagi, Onii-chan."

"Kamu kelihatan sangat mengantuk. Kapan kamu tidur kemarin?"

"Sekitar jam empat."

Lebih dari sedikit terkejut, aku menggelengkan kepalaku.

“Ini sama sekali tidak baik, anak kecil tidak boleh tetap bangun hingga larut malam. Apa yang Kamu lakukan tadi malam?”

“Mmm... Aku bermain internet...”

Jawabannya sedikit mengejutkanku. Jika itu adalah Suguha yang dulu, aku tidak bisa membayangkan dia begadang karena internet hingga larut malam. Dia... telah tumbuh cukup baik dalam dua tahun terakhir selama aku tidak ada disini, pikirku sejenak.

"Selama itu tidak berlebihan - tapi aku juga bukan seseorang yang punya hak untuk mengatakan itu..."

Suaraku terdengar samar-samar saat mengatakannya di bagian terakhir , dan tiba-tiba aku teringat sesuatu yang terjadi semalam , lalu aku berkata :

"Hei Suguha, berbaliklah"

"....?"

Masih hanya setengah sadar dan memiringkan kepalanya sesuai permintaan ku, Suguha berbalik. Aku meletakan tangan kananku dibawah keran dan membasahi tanganku, kemudian aku menarik ujung atas jerseynya dan meneteskan setengah lusin air yang bersuhu rendah hingga menetes ke punggungnya.

"Piaaaaaa ----!!"

Suguha melompat dan mengeluarkan teriakan yang bergema dengan hebat.

Suguha terus menerus cemberut selama pemanasan dan berolahraga, tapi aku berjanji akan mengajaknya ke sebuah restoran keluarga terdekat untuk makan sebuah parfait krim raspberry yang mahal, dan dia dengan mudah mengembalikan moodnya.

Hari ini, karena kami berdua ketiduran, pada saat kami selesai latihan dan bergantian mandi, waktu sudah menunjukan jam 9. Ibu kami, seperti biasa, masih tidur nyenyak di kamarnya, sehingga Suguha dan aku membuat sarapan bersama-sama.

Aku mencuci beberapa tomat dan memotongnya menjadi 6 bagian sama rata, sementara Suguha memotong selada, kemudian Suguha melihat ke arahku dan bertanya:

“Onii-chan, apakah ada yang ingin Kamu lakukan hari ini?”

“Begini, aku mempunyai sebuah janji yang harus aku tepati siang nanti, tapi aku berencana untuk pergi ke rumah sakit pagi ini.”

“Ohh, aku mengerti.”

Setelah aku menyadari situasi Asuna, mengunjungi rumah sakit setiap hari sudah menjadi kebiasaanku yang paling penting.

Di dunia nyata, aku hanya berumur 16 tahun, dan hanya sedikit yang bisa kulakukan untuk Asuna. Tidak, orang bisa berkata bahwa aku tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali. Yang bisa kulakukan hanyalah memegang tangannya dan terus berdoa.

Foto-foto yang kuterima dari Agil muncul di pikiranku. Setelah menemukan petunjuk, aku melangkah menuju dunia imajiner Alfheim, dan setelah 2 hari, akhirnya aku tiba di dekat lokasi yang berada didalam foto, meskipun tidak ada bukti bahwa orang yang berada didalam foto adalah Asuna. Aku mungkin saja, mencari di arah yang salah.

Tetapi di dunia itu aku akan menemukan sesuatu - Aku yakin.

Sugou berharap Asuna akan tidur selamanya, dan ALfheim Online dikelola oleh perusahaan yang berada dibawah kekuasaan orang itu. Data karakter «Kirito» yang berada di dunia itu, dan kehadiran dari SAO mental care AI[2], «Yui»... Aku masih belum mengerti teka-teki apa yang akan tercipta dari bagian-bagian itu.

Aku bertujuan untuk menerobos tantangan akhir dari dunia peri dan memanjat «World Tree» hari ini, sesegera mungkin setelah perbaikan server ALO selesai. Setiap kali aku berpikir tentang hal itu, punggungku selalu merinding. Sepertinya aku tidak bisa menunggu dengan tenang waktu perbaikan dengan hanya duduk diam di ruanganku, bertanya kepada diri sendiri apakah aku mengikuti jalan yang benar atau tidak.

Oleh karena itu, sebelum kembali ke dunia peri aku ingin melihat Asuna yang asli dan merasakan kehangatannya. Sugou mungkin telah memberitahuku untuk tidak kembali menjenguknya, tapi pada dasarnya dia tidak bisa melakukan apa-apa tentang hal ini.

Setelah potongan tomat, selada, dan selada air dicampur didalam mangkuk, aku membumbuhinya dan mengaduknya. Disampingku Suguha yang dari tadi diam mengangkat wajahnya dan membuka mulutnya untuk bertanya:

“Hei, Onii-chan, bolehkah aku pergi bersamamu ke rumah sakit?”

“Oh..?”

Aku sedikit bingung. Sejauh ini Suguha tidak pernah menyinggung hal-hal mengenai SAO. Aku telah memberitahunya mengenai Asuna sebelumnya, selain hal itu aku tidak pernah memberitahukan nama karakterku atau hal lainnya.

Tadi malam, terbanjiri rasa bingung setelah mengetahui pernikahan Asuna dengan Sugou, aku menangis dihadapan Suguha. Meskipun aku masih merasa sedikit canggung, aku mengangguk dengan tenang.

“Oh.. tentu saja. Asuna akan sangat senang.”

Setelah mendengarnya, Suguha tersenyum dan mengangguk. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya terlihat kesedihan dalam wajahnya yang tersenyum pada saat aku menatap matanya. Tetapi Suguha berbalik, mengambil mangkuk dan berjalan ke arah meja dapur.

Setelah itu dia tidak menunjukkan keanehan, dan aku pun segera melupakan senyumnya itu.

“Onii-chan, bagaimana mengenai sekolah?”

Suguha bertanya sambil duduk diseberang meja, dengan bersuara mengunyah sayur yang mentah dan renyah.

Itu adalah pertanyaan yang masuk akal. Aku berumur 14 tahun dan saat musim gugur kelas 2 sekolah menengah pertama, aku terperangkap didalam SAO. Setelah berhasil keluar selama dua tahun terjebak, aku sekarang berumur 16 tahun. Harusnya aku naik kelas ke kelas 2 sekolah menengah atas pada April tahun ini, tapi aku tidak mengikuti ujian masuk. Meskipun aku mengikuti ujian sekarang, sebagian besar dari ingatanku dicurahkan untuk mengingat data SAO yang sangat banyak. Untuk melupakan harga suatu barang dan pola serangan dari monster, setelah itu menghafalkan Sejarah dan Bahasa Inggris akan memakan waktu yang lama.

Pada saat itu, seseorang yang memakai jas berdasi serta berkacamata dari Departemen Dalam Negeri dan Komunikasi[3] datang dan berbicara pada ku. Pada saat itu pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang berkaitan dengan Asuna, dan tidak terlalu banyak memperhatikan orang itu, meskipun begitu entah bagaimana aku ingat apa yang dia katakan.

“Sepertinya akan ada... rencana untuk menggunakan gedung sekolah yang ditinggalkan karena penggabungan dan reorganisasi, setelah itu mengubahnya menjadi sekolah sementara, yang berspesialisasi mengajar murid sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang kembali dari SAO. Semua murid akan diterima tanpa harus mengikuti ujian masuk dan dapat mengikuti ujian masuk universitas setelah lulus.”

“Oh, aku mengerti. Itu sebuah kabar baik... aku rasa …”

Suguha tersenyum, tapi kemudian dia mengerutkan dahinya, dan berkata dengan suara yang kecil:

“..Rasanya, seperti mendapat dukungan yang terlalu banyak...”

“Oh, Intuisimu bagus.”

Aku tersenyum lebar pada perkataan adik perempuanku.

“Aku pikir tujuan pemerintah hanya itu saja. Bagaimana pun juga kami telah menghabiskan waktu selama dua tahun didalam game kematian yang brutal. Para birokrat khawatir bagaimana kesehatan mental para player telah terpengaruhi. Jadi mereka mengumpulkan para player, dengan begitu mereka dapat mengelolanya di satu tempat, memberikan mereka ketenangan pikiran.”

“Bagaimana bisa...”

Wajah Suguha berubah karena jengkel, sehingga aku cepat-cepat menambahkan:

“Akan tetapi, aku harus berterima kasih kepada mereka untuk hal ini. Bahkan jika aku ingin mengikuti ujian masuk sekolah menengah atas biasa, aku harus menghafal selama setahun. Tentu saja, para player tidak diwajibkan untuk pergi ke sekolah sementara ini, kami dapat memilih belajar sendiri untuk menghadapi ujian jika kami mau.”

“Onii-chan bisa melakukannya, nilai-nilai Onii-chan kan bagus.”

“Itu adalah masa lalu, aku belum belajar selama 2 tahun.”

“Oleh karena itu aku akan mengajarimu!”

“Oh, jadi bisakah aku meminta bantuanmu dalam matematika dan pengolahan informasi?”

“Ugh....”

Sambil tersenyum ke Suguha, yang tampaknya kehilangan kata-kata, aku memasukan sepotong roti beroleskan mentega ke dalam mulutku.

Sebenarnya, aku tidak berada pada keadaan untuk memikirkan tentang sekolah ini. Masih ada situasi Asuna yang perlu dipertimbangkan, pada saat yang sama aku tidak punya perasaan nyata untuk menjadi pelajar.

Dalam dua bulan sejak kembali ke dunia nyata, aku sudah merasa tidak nyaman tanpa adanya dua pedang kesayanganku di punggungku. Aku mengerti bahwa ini adalah dunia nyata, tidak ada monster yang ingin menyerangku dan mengambil nyawaku, tapi aku masih merasa gelisah. Inti dariku, si «Swordsman Kirito», pergi kesekolah dan menghadiri kelas sebagai «Kirigaya Kazuto», masih terasa seperti sebuah ilusi.

Sekarang ini, didalam hatiku, Sword Art Online belum benar-benar berakhir. Sampai Asuna kembali ke dunia ini, aku tidak bisa meletakan pedangku. Setelah aku mengembalikan Asuna ke dunia ini - maka semuanya baru bisa dimulai.


Membayar tiket dengan mengunakan ponselku, Suguha dan aku menaiki bus hari ini. Sebelumnya aku selalu bersepeda ke rumah sakit, tapi aku memutuskan untuk mengambil sedikit istirahat dari latihan stamina hari ini.

Melihat ke rumah sakit, mata Suguha melebar dan dia berkedip karena terkejut.

"Waaah, rumah sakitnya besar."

"Didalamnya juga luar biasa, mirip dengan hotel."

Melambaikan tangan kepada penjaga, Sugaha dan aku masuk melalui pintu gerbang depan. Setelah berjalan beberapa menit di jalan yang mengejutkan karena sangat panjang dengan berjalan kaki, kami berjalan kearah gedung yang besar, dan berwarna cokelat gelap. Karena Suguha memiliki "kesehatan yang baik sebagai anugerah", mengunjungi rumah sakit adalah hal yang sama sekali jarang baginya, sehingga ia melihat-lihat tempat disekitar situ. Aku harus menarik kerahnya untuk sampai ke meja resepsionis sehingga aku bisa meminta kartu ijin. Naik lift ke atas, kami keluar ke koridor dengan yang pengunjungnya sedikit.

"Disini...?"

"Ya."

Aku menganggukkan kepalaku, sambil memasukkan kartu ijin kedalam lubang di pintu. Melihat pelat besi yang terletak disamping pintu, Suguha bergumam:

“Yuuki... Asuna-san... nama karakternya adalah nama aslinya, jarang sekali melihat orang yang seperti itu.”

“Oh, Kamu tahu banyak. Sejauh yang aku tahu, Asuna adalah satu-satunya orang yang menggunakan nama aslinya...”

Selagi kami bicara, aku menggesekan kartu pada tempatnya. Lampu LED yang berwarna orange pun berubah menjadi biru, dan dengan suara unik pintu pun terbuka.

Aroma wangi yang kuat tercium dari bunga-bunga yang ada didalam. Dengan menahan suara nafasku, aku melangkah masuk ke kamar tidur putri yang tenang. Suguha berpegangan padaku saat kami berjalan masuk, aku dapat merasakan ketegangan yang dia rasakan.

Pada saat meraih tirai putih yang bergantungan, seperti biasa, aku mengucapkan doa pendek.

Kemudian menariknya kesamping dengan lembut hingga terbuka.


* * *


Seakan lupa untuk bernapas, Suguha menatap gadis yang tertidur di tempat tidur besar itu. Awalnya, dia berpikir gadis itu bukanlah manusia, melainkan seorang peri - ALF legendaris yang tinggal dipuncak World Tree. Gadis itu memiliki aura yang lain dari biasanya.

Kazuto berdiri diam sejenak, kemudian akhirnya menghela nafasnya dan berkata:

“Aku akan memperkenalkanmu, dia ini Asuna... wakil ketua dari «Knights of Blood», Asuna the «Flash», yang mempunyai kecepatan dan ketepatan melebihi aku...”

Setelah diam sejenak, Kirito menurunkan pandangannya kearah gadis itu dan berkata:

“Asuna, ini adikku, Suguha.”

Suguha melangkah maju, kemudian berbicara dengan gugup:

“...Senang bertemu denganmu, Asuna-san.”

Tentu saja gadis yang tertidur itu tidak menjawab.

Suguha memindahkan pandangannya ke arah penutup kepala berwarna biru yang Asuna pakai. Setelah sering melihat benda itu hampir tiap hari, dia menjadi benci benda yang bernama «Nerve Gear». Hanya 3 lampu hijau yang menunjukkan keberadaan gadis itu, kesadaran Asuna.

Pada saat Onii-chan terperangkap didalam game itu selama dua tahun, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa, dan Kazuto pun merasakan hal yang sama. Hati Suguha pun gemetar seperti dedaunan pohon yang berada diatas permukaan air pada saat dia memikirkan hal itu.”

Jiwa gadis yang cantik dan seperti peri ini, terkurung di dunia antah-berantah. Hal ini terlalu kejam. Kami harus mengembalikannya secepat mungkin ke dunia ini, kembali ke sisi Kazuto, dan dia akan mendapatkan kembali senyumnya yang polos itu, pikir Suguha.

Tapi pada saat yang sama, Suguha berdiri disamping Kazuto; wajah Kazuto, dengan diam menatap gadis itu, hal ini adalah hal yang tidak ingin dilihatnya, jadi diam-diam Suguha menundukkan kepalanya. Meskipun hanya sedikit, dia menyesal datang ke tempat ini.

Ketika dia menawarkan diri untuk menemani Kazuto, dia berpikir dirinya dapat memastikan perasaannya pada hari ini.

Sejak ibunya, Midori, mengatakan hal yang sebenarnya, dia ingin meluruskan dua tahun yang berisi penyesalan dan hari-hari yang dipenuhi kerinduan yang dia alami. Apakah perasaan itu hanya kasih sayang terhadap Kazuto sebagai kakak laki-lakinya ataukah perasaan itu adalah perasaan jatuh cinta terhadap Kazuto sebagai seorang sepupu? Dia bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang bisa diharapkan dari Kazuto.

Ingin selalu bersama-sama - seperti hubungan yang baik antar saudara kandung. Apakah hanya itu saja? Berlatih dan makan bersama, apakah ada hal lain yang dia inginkan melebihi itu, atau haruskah dia berkata bahwa tidak ada perasaan apa-apa didalam hatinya dan berhenti?

Sejak Kazuto kembali dua bulan yang lalu, itu adalah pertanyaan yang dia telah tanyakan kepada dirinya berulang-ulang kali.

Dia pikir jawabannya akan muncul jika dia menemui wanita yang menempati hati Kazuto.

Saat ini, dia berdiri ditengah kesunyian yang menghuni ruangan berwarna keemasan itu, dan menyadari rasa takut yang ada didalam hatinya. Dia sangat takut untuk menemukan jawaban yang dicarinya.

Tanpa menatap wajah Kazuto, dia membuka mulutnya dan ingin berkata: ‘Aku akan keluar ke koridor, jadi aku tidak akan mengganggumu.’ tapi Kazuto tiba-tiba berjalan dan Suguha kehilangan kesempatan. Kazuto kemudian duduk disebuah kursi yang berada disamping tempat tidur. Pastinya, Kazuto berada didalam jarak pandang Asuna.


Sword Art Online 4 - 117.jpg

Kazuto memegang tangan Asuna yang terjatuh keluar dari bawah seperai putih dengan kedua tangannya, dan dengan diam menatap wajah gadis yang tertidur itu. Setelah Suguha melihat wajah Kazuto tersebut...

“Ugh...”

Rasa sakit yang hebat menusuk dalam hatinya.

Mata apa itu, pikir Suguha. Itu adalah mata seorang penjelajah yang mencari pasangan yang ditakdirkan untuknya... Tidak peduli berapa lama waktu yang diperlukan dikehidupan ini atau dikehidupan selanjutnya, tidak peduli berapa kali dia ber-renkarnasi. Mata yang dipenuhi oleh cahaya yang lembut dan tenang, dengan perasaan cinta yang kuat terkandung didalamnya. Bahkan warnanya terlihat berbeda dari biasanya.

Pada saat, itu Suguha tahu apa yang sungguh-sungguh diinginkan hatinya, dan pada saat yang sama, ia mengerti bahwa dirinya tidak akan dapat mencapainya.

Dia tidak ingat apa yang dibicarakannya dengan Kazuto pada perjalanan pulang.

Ketika dia sadar, dia sudah berbaring diatas tempat tidurnya, melihat poster berwarna biru langit di langit-langit kamar

Telepon genggam yang berada diheadboardnya [4] mengeluarkan suara . Bukannya mengeluarkan suara ringtone, yang keluar adalah suara alarm yand disetelnya sebelum tidur tadi malam. Waktu menunjukkan sekarang jam 3 siang, perbaikan server telah selesai, dan pintu menuju dunia itu terbuka sekali lagi.

Dia tidak ingin meneteskan air matanya di dunia nyata. Jika dia menangis, sebaliknya itu berarti dia tidak bisa menyerah, pikirnya.

Dia akan membiarkan dirinya menangis sedikit di dunia peri. Setelah itu, sebagai Lyfa yang periang, dia akan mendapatkan tawanya kembali.

Suguha mematikan alarmnya dan kemudian mengambil Amusphere yang terletak disamping telepon genggamnya. dia mengenakannya, kemudian berbaring diatas tempat tidur, menutup mata, dan membiarkan jiwanya terbang.

Si gadis Sylph terbangun di sebuah penginapan yang berada ditepi luar Ibukota Alfheim, «Aarun».

Tadi malam - tepatnya beberapa jam setelah hari berganti. Lyfa baru saja berhasil melarikan diri dari dunia bawah tanah, Jötunheimr. Terdapat pahatan tangga panjang yang terbuat dari akar World Tree. Dengan menaiki tangga tersebut, mereka akhirnya mencapai jalan di Aarun yang sudah mereka tunggu-tunggu. Beberapa detik setelah menapakkan kaki di Aarun, lubang besar yang ada dibelakang mereka tertutup dan tidak bisa dikatakan bahwa lubang itu benar-benar ada , bahkan lubang itu tidak bisa dibuka dari sini.

Setelah itu, mereka langsung mendaftarkan diri di penginapan pertama yang mereka temukan, dan, menggosok kedua matanya, Lyfa langsung tertidur setelah menjatuhkan dirinya keatas tempat tidur. Meskipun mereka hanya mampu untuk menyewa satu kamar saja.

Lyfa bangun dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Suara bising perkotaan, bau udara yang tercium, bahkan warna kulitnya sendiri, semuanya telah berubah, satu-satunya hal yang tidak berubah adalah rasa sakit yang menusuk hatinya. Seakan berubah bentuk, rasa sakit itu berkumpul di sudut matanya dan menetes keluar sebagai air mata.

Beberapa lusin detik kemudian, muncul bayangan lain yang disertai dengan efek suara yang keren. Lyfa perlahan-lahan mengangkat kepalanya.

Anak laki-laki yang memakai pakaian serba gelap itu melihat Lyfa dengan heran, dan langsung berbicara dengan suara lembut.

“Ada apa... Lyfa?”

Dia sangat mirip dengan Kazuto, dengan senyum yang lembut bagaikan angin sepoi-sepoi pada malam hari. Melihat wajahnya, air mata Lyfa menetes menuruni wajahnya kemudian menjadi sebutir cahaya yang menari di tengah udara. Kemudian Lyfa memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata:

“Kirito-kun... aku... aku ditolak dalam percintaan.”

Mata Kirito yang gelap menatap lurus kearah Lyfa. Cukup dewasa dalam penampilannya, Lyfa tergoda untuk menceritakan semuanya pada anak laki-laki yang misterius ini, tapi kemudian mengertakkan giginya dan mengurungkan niatnya.

“M... Maaf, mengatakan hal-hal aneh kepada orang yang baru saja aku temui. Ini melanggar aturan kan?, membawa permasalahan dunia nyata kesini...”

Kata Lyfa dengan cepat, mencoba untuk mempertahankan senyum diwajahnya. Namun, air mata yang mengalir turun diwajahnya tidak mau berhenti sama sekali.

Kirito dengan lembut mengulurkan tangannya, dan meletakkan tangannya yang bersarung tangan tipis diatas kepala Lyfa. Dua kali, tiga kali dia menggerakkan tangannya dengan lembut.

“Di sisi lain, ataupun disini, pada saat-saat susah, ada baiknya kita menangis. Hanya karena dunia ini adalah sebuah game, bukan berarti ada peraturan yang melarangmu untuk mengekspresikan emosimu.”

Di dalam dunia ilusi ini, selalu terdapat kekakuan saat melakukan suatu tindakan ataupun saat berbicara. Namun, suara Kirito yang berirama lembut, dan pergerakan tangannya yang menepuk kepala Lyfa sangat mulus. Hal ini perlahan-lahan menyelimuti saraf sensoriknya tanpa dihalangi apapun.

“Kirito-kun...”

Lyfa berbisik, kemudian Lyfa menyandarkan kepalanya pada dada pemuda yang duduk disampingya. Ketika air matanya jatuh ke baju Kirito, air mata itu berhamburan menjadi cahaya.

‘- Aku mencintai Onii-chan’

Jauh didalam hatinya, terdengar sebuah bisikan, seakan-akan ingin memastikan hal itu. Namun, bisikan itu berlanjut.

‘- Perasaan ini tidak boleh terlintas keluar dari bibirku. Perasaan ini harus dikunci dalam-dalam didalam hatiku. Sehingga suatu hari nanti perasaan ini akan terlupakan.’

Bahkan, jika mereka berdua adalah saudara sepupu, Kazuto dan Suguha dibesarkan sebagai kakak dan adik. Jika dia menunjukkan perasaannya maka Kazuto, Ayah, dan Ibunya akan merasa bingung dan kesusahan. Yang lebih penting lagi, satu-satunya wanita yang menempati hati Kazuto adalah gadis cantik itu..

Aku harus melupakan semuanya.

Merubah dirinya menjadi Lyfa, sambil menyandarkan kepalanya pada dada pemuda yang misterius itu, suatu hari dia pasti dapat melupakan hal itu, pikirnya.

Bertahan dalam keadaan itu pada waktu yang lama, Kirito terus-menerus mengelus kepala Lyfa tanpa berkata apa-apa.

Mendengar suara lonceng yang berasal jauh dari arah jendela, Lyfa mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kirito. Kali ini dia dapat mengeluarkan senyumnya yang biasa. Tanpa dia sadari, air matanya sudah berhenti menetes.

“...Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih, Kirito-kun, Kamu sangat baik.”

Mendengarnya, Kirito menggaruk-garuk kepalanya, dan terlihat sangat malu.

“Banyak orang yang berkata sebaliknya. Apakah Kamu ingin log out untuk hari ini? Aku berpikir untuk melakukan sesuatu meskipun hanya sendirian.”

“Tidak, aku telah sampai sejauh ini, jadi aku akan menemanimu sampai akhir.”

Lyfa meloncat dari tempat tidur dan berdiri. berputar kebelakang, menatap Kirito dan menjulurkan tangan kanannya.”

“Ayo kita pergi!”

Sambil tersenyum, Kirito menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan Lyfa. Setelah berdiri, dia melihat kearah langit-langit, seakan melupakan sesuatu.

“Yui, apakah Kamu disini?”

Sebelum kalimat itu selesai diucapakan, cahaya disekitar mulai berkumpul, dan figur seorang peri yang kecil muncul ditengah-tengah mereka. Sambil mengusap mata dengan tangan kanannya, dia menguap.

“Fuwaa~~ Selamat pagi Papa, Lyfa-san.”

Peri itu kemudian mendarat di pundak Kirito. Sambil melihat wajahnya, Lyfa membalas sapaan peri kecil itu dan kemudian bertanya.

“Selamat pagi, Yui-chan. Aku heran sejak kemarin... apakah peri-peri navigasi membutuhkan tidur pada waktu malam?”

“Sama sekali tidak, aku tidak melakukannya. Pada saat Papa tidak berada disini, sinyal inputnya akan terputus. Jadi aku mengambil kesempatan itu untuk memverifikasi dan mengorganisir data yang telah terakumulasi. Kamu bisa bilang itu adalah tindakan yang mirip dengan tidur bagi manusia.”

“Tapi baru saja, Kamu menguap...”

“Bukankah itu adalah hal yang dilakukan manusia pada saat mereka memulai harinya? Untuk Papa, biasanya sekitar 8 detik...”

“Kamu tidak perlu mengatakan hal-hal yang aneh.”

Kirito menyentilkan jari telunjuknya pada dahi Yui, kemudian memunculkan Navigation Window [5], dan mempersenjatai diri dengan pedang besar(Greatsword) yang dibawa di punggungnya.

“Ayo kita pergi sekarang!”

“Yeah!”

Lyfa mengangguk, dan meletakkan katana miliknya dipinggang.

Kedua orang itu kemudian keluar dari penginapan, matahari pagi sudah sepenuhnya terlihat di langit. Para NPC[6] yang menjalankan bisnis seperti menjual armor dan item-item lainnya, sudah membuka tokonya, sementara itu tempat-tempat malam seperti rumah minum, toko item yang aneh atau unik, dan industri-industri lain yang perlu dipertanyakan kejelasannya memliki tanda ‘Closed’ atau ‘Tutup’ di depannya.

Dalam waktu dunia nyata, waktu menunjukkan jam 3 PM lebih sedikit pada hari kerja. Setelah waktu perbaikan mingguan, monster-monster dan item-item yang ada direset kemudian dimunculkan kembali, jadi jumlah pemain yang ada jauh lebih banyak dari yang diperkirakan.

Meskipun pagi ini dia mengantuk sehingga tidak melihat-lihat ke sekitarnya, tapi sekarang, dia menjadi segar setelah terkejut melihat banyaknya jumlah player yang ada di jalan.

Disana ada Gnome berbadan kekar dan besar yang ditutupi armor terbuat dari logam tertentu, yang membawa kapak tempur dipunggungnya. Ada seorang Puca dengan badan kecil yang hanya setinggi pinggang Lyfa pada saat dia berdiri, memegang harpa perak ditangannya. Ada juga seorang Imp yang memiliki kulit berwarna ungu gelap, memakai armor yang terbuat dari kulit, sedang berjalan dan berbicara dengan karakter-karakter yang berbeda ras. Pada sebuah kursi batu didekat sana, seorang pemuda berambut biru dari ras Undine dan seorang gadis muda berambut merah dari ras Salamander, sedang memandang satu sama lain dengan intim, sementara seorang Caith Sith melintas dengan membawa seekor serigala besar disampingnya.

Tidak disangka-sangka, berbeda dengan pemandangan Sylvain yang seba hijau, pemandangan disini sangat cerah dan penuh warna, penuh dengan kehidupan yang membuat hati gembira. Entah bagaimana Lyfa melupakan rasa sakit yang berada didalam hatinya dan kemudian tersenyum.

Bahkan pasangan Spriggan-Sylph akan terlihat cocok disini - kemudian Lyfa cepat-cepat menghilangkan pikiran itu. Setelah itu memusatkan perhatiannya kembali pada jalan tersebut.

“Wow..”

Tapi, tiba-tiba muncul pemandangan yang luar biasa.

Aarun adalah pusat kota di ALfheim, dan di tengah kota itu berdiri sebuah struktur berbentuk kerucut yang sangat besar. Melihat Aarun bagaikan panorama, struktur itu mempunyai bentuk menyerupai cincin-cincin yang konsentris[7], saat ini mereka masih jauh dari tengah Aarun.

Ada banyak struktur yang tidak terbuat dari batu berwarna abu-abu berdiri tinggi dipermukaan jalan-jalan Aarun. Malahan, banyak silinder-silinder besar berwarna hijau-lumut yang bertumpuk keatas. Diameternya dapat menyamai bangunan dua lantai.

Silinder-silinder itu sebenarnya adalah akar dari World Tree. Dari Jötunheimr yang jauh dibawah, mereka menembus tanah yang tebal, tumbuh berliku dan berbelit-belit, menjadi besar dan bertemu diatas Aarun. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa Aarun mencerminkan es yang menggantung di atap gua Jötunheimr.

Lyfa melihat lebih tinggi. Pada saat itu dia merasakan gairah petualangan yang menuruni punggungnya.

Mulai dari akar-akarnya, kata-kata tidak dapat mendeskripsikan seberapa besar batang pohon yang menjulang tinggi ke langit itu. Diselimuti oleh lumut dan tanaman lainnya, batang pohon berwarna hijau keemasan yang menjulang tinggi ke langit itu seakan bercampur dan menjadi pudar di langit yang biru. Disekitar batang pohon itu, terdapat kabut putih yang menyelubunginya. Itu bukanlah kabut, melainkan awan. Awan-awan itu menandakan batas terbang yang dapat dicapai, tetapi batang pohon tersebut menjulang tinggi melewatinya.

Tepat dibawah bagian dimana batang pohon tersebut memudar karena menyatu dengan langit, entah bagaimana rasanya kamu bisa menggapai dahan yang menjulur keluar. Daun-daun yang tipis dan lebar menutupi lapisan luarnya hingga ketempat Lyfa sebagaimana mereka menghadangi langit. Melihat ukurannya yang sangat besar, puncak dari World Tree mungkin saja sudah melewati lapisan atmosfer ALfheim dan mencapai ruang angkasa - tentunya jika hal itu benar-benar ada - dan selebihnya.

“Itu adalah... The World Tree...”

Bisik Kirito dengan kagum.

“Ya... Luar Biasa...”

“Bukankah ada kota diatas pohon itu...”

“Raja peri Oberon dan peri cahaya ALF tinggal disana, dan ras pertama yang berhasil bertemu dengan sang raja akan menjadi ALF... Itulah yang telah dikatakan.”

“...”

Kirito memandangi pohon itu dengan diam, kemudian bertanya dengan ekspresi serius:

“Pohon itu, bisa kah Kamu memanjatnya dari luar?”

“Area disekitar batangnya adalah area terlarang, jadi tidak mungkin kita bisa memanjatnya. Bahkan dengan terbang pun kita tidak bisa mencapainya, Kamu akan membentur batas terbang yang ditentukan sebelum Kamu bisa mencapai puncaknya.”

“Aku pernah mendengar ada sekelompok orang yang terbang dengan cara menaiki pundak player lain pernah melewati batas itu...”

“Oh, cerita itu.”

Lyfa tertawa dan melanjutkan perkataanya:

“Mereka hampir berhasil mendekati dahan yang paling rendah. Para GameMaster sangat panik, dan akhirnya segera diperbaiki. Sekarang, sedikit diatas awan-awan itu, terdapat sebuah tembok.”

“...Ah begitu... tidak usah dihiraukan, ayo kita pergi ke dasar pohon ini.”

“Baiklah. Aku mengerti”

Setelah keduanya mengangguk, mereka mulai berjalan menyusuri jalan utama.

Setelah beberapa menit mereka berbelok-belok, maju dan mundur melewati kerumunan player yang terdiri dari macam-macam ras, mereka akhirnya sampai ke tangga batu berukuran besar yang menuju sebuah gerbang yang besar pula. Pusat kota Aarun, yang menjadi pusat dunia terletak dibalik gerbang itu. Menjulang tinggi ke langit, World Tree terlihat bagaikan dinding dari segala arah.

Ketika menghadapi suasana itu, mereka mulai menaiki tangga tersebut. Pada saat mereka akan melewati gerbang....

Yui tiba-tiba mengeluarkan kepalanya dari saku dada baju Kirito, dan dengan wajah yang serius melihat kearah langit.

“Oh, hei... ada apa?”

Kirito berbisik untuk menghindari perhatian player-player disekitarnya. Lyfa juga menatap wajah peri kecil itu. Namun, Yui tetap terdiam dengan mata yang terbuka lebar menatap kearah puncak World Tree. Setelah beberapa detik, dia mengeluarkan suara dari mulutnya.

“Mama... Mama ada disana.”

“Apa...”

Ekspresi Kirito tiba-tiba menjadi kaku.

“Benarkah!?”

“Tidak diragukan lagi! ID player ini adalah kepunyaan Mama... Koordinatnya tepat diatas sana.”

Kirito, yang mendengarkan kata-kata itu, melihat kearah langit dengan mata yang berapi-api. Wajahnya menjadi pucat dan dia menggertakkan giginya sampai-sampai Kamu bisa mendengar suara gertakan giginya--

Tiba-tiba, Kirito mengembangkan sayapnya. Tiba-tiba sayapnya berpijar pada saat Ia meregangkan sayapnya yang berwarna abu-abu gelap itu, Bang!! Dengan suara angin yang bagaikan ledakan itu, Kirito menghilang dari permukaan tanah.

“Tu... Tunggu, Kirito-kun!!”

Lyfa buru-buru berteriak, tapi anak laki-laki yang berpakaian hitam itu terus terbang keatas dengan kecepatan yang luar biasa. Tidak percaya dengan apa yang terjadi, Lyfa mengembangkan sayapnya dan menendang tanah tempat dia berpijak.

Terbang lurus keatas, sama seperti terbang lurus kebawah, adalah kemampuan yang dikuasai oleh Lyfa, tapi dia tidak dapat menyusul Kirito karena Ia terbang seperti roket pendorong, sosok berwarna hitam itu semakin mengecil dan akhirnya terlihat seperti titik dihadapan Lyfa.

Terbang melewati menara-menara yang berdiri di Aarun dan tidak terhitung jumlahnya lagi, butuh beberapa detik untuk keluar dari Aarun. Dari teras-teras menara, terlihat beberapa player yang ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi, Kirito terbang melewati hidung mereka dan terus terbang mengarah ke atas.

Bangunan-bangunan itu akhirnya tidak terlihat lagi, tergantikan oleh batang hijau-keemasan World Tree yang bagaikan tebing. Terbang sejajar dengan batang pohon itu, Kirito bagaikan peluru hitam yang meluncur di langit. Ketika Kirito terus mendekati awan yang ada didepannya, Lyfa mengikutinya dan berteriak sambil menahan tekanan angin yang dirasakannya.

“Hati-hati, Kirito-kun!! Pembatasnya ada di depanmu!!”

Tapi suara Lyfa tidak mencapai telinganya. Ia seperti panah yang menghubungkan surga dan bumi, bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi yang cukup untuk membuat lubang di dunia virtual.

Apa yang membuatnya sampai bertindak sejauh ini? Siapakah orang yang berada di puncak World Tree yang sangat penting baginya?

Yui memanggil orang itu «Mama». Seorang wanita -? Seseorang yang dapat membuat Kirito mencarinya sampai seperti ini -?

Pada saat dia memikirkannya, muncul rasa sakit yang tak asing di dalam hati Lyfa. Rasa sakit ini mirip dengan rasa sakit yang Kazuto sebabkan padanya, namun terasa palsu.

Konsentrasinya terganggu oleh rasa binggung, kecepatan terbangnya perlahan-lahan turun. Menyingkirkan kebingungannya, Lyfa memfokuskan konsentrasinya pada sayapnya.

Beberapa detik setelah Kirito, Lyfa memasuki lautan awan. Pandangannya dipenuhi oleh warna putih yang sangat banyak. Dia pernah mendengarnya sebelum ini, tepat diatas awan-awan itu terdapat area terlarang yang tidak bisa dimasuki, Lyfa memperlambat terbangnya saat melewati awan-awan itu.

Tanpa sebuah peringatan, dunia yang berwarna biru tua terbentang di depannya. Berbeda dengan pemandangan yang terlihat dari atas tanah, langit yang berwarna biru itu terbentang tanpa ujung ke segala arah. Diatasnya, World Tree dan dahannya memberikan kesan seperti tiang yang menunjang surga. Kirito mempercepat laju terbangnya ketika ia mencoba meraih satu diantara dahan-dahan yang ada.

Tiba-tiba, tubuhnya diselimuti oleh cahaya berwarna-warni bak pelangi.

Setelah beberapa detik, udara disekitarnya terguncang dengan benturan yang memiliki suara mirip dengan suara petir. Kirito menabrakkan dirinya pada pembatas yang tidak terlihat itu, dan bagaikan angsa berwarna hitam yang ditembak menggunakan senapan, dia terpental dan melayang di udara dengan lemah.

“Kirito-kun!!’

Lyfa berteriak, dan dengan terburu-buru terbang menuju Kirito. Jika kamu terjatuh dari ketinggian ini, Health Pointmu (HP) akan habis, dan efeknya akan terbawa ke dunia nyata setelah log out.

Tapi sebelum dia berhasil menangkap Kirito, Kirito kembali sadar. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dua-tiga kali, kemudian mencoba untuk melewati pembatas itu sekali lagi. Ia terhalang oleh pembatas itu lagi, kemudian hamburan cahaya muncul di sekitarnya, dan usahanya hancur seketika.

Akhirnya, Lyfa terbang ke ketinggian yang sama dengan Kirito dan meraih tangannya, kemudian berteriak:

“Hentikan, Kirito-kun!! Tidak mungkin bagi kita untuk pergi keatas sana!!”

Tapi, kedua mata Kirito bercahaya bagaikan terkena sihir, Ia tetap mencoba untuk maju.

“Aku harus pergi kesana... Aku harus pergi kesana tidak peduli apa pun yang terjadi!!”

Dia memfokuskan diri pada satu titik, dimana dahan World Tree tumbuh bagaikan membelah langit. Meskipun terlihat lebih jelas daripada saat melihatnya dari permukaan tanah, dahan itu tampaknya masih cukup jauh, dilihat dari detailnya yang rendah[8].

Pada saat itu, Yui terbang keluar dari saku dada baju Kirito. Memancarkan partikel cahaya yang berkilauan, Ia terbang menuju dahan itu.

Oh iya, mungkin peri navigasi dapat... pikir Lyfa secara mendadak, tetapi pembatas itu tidak memperbolehkan badan kecil Yui untuk lewat. Bagaikan gelombang pada permukaan air, cahaya tujuh-warna itu mendorong Yui kebelakang.

Tetapi, Yui tidak terlihat seperti program, Ia tampak hampir putus asa sambil mendorong tangannya ke pembatas itu, kemudian Ia membuka mulutnya.

“Mungkin mode peringatan suara[9] dapat melewati pembatas ini...! Mama! Ini aku!! Mama!!”


* * *


“...!!”

Tiba-tiba, Asuna mengangkat kepalanya yang diistirahatkan diatas meja pada saat Ia mendengar suara triakan yang samar-samar.

Kemudian melihat kesekitarnya dengan terburu-buru, tapi tidak ada siapapun didalam sangkar emas itu. Bahkan burung kecil biru yang terkadang datang untuk bermain pun tidak ada. Yang ada hanyalah banyangan yang diciptakan oleh matahari dari jeruji-jeruji sangkar itu.

Mengabaikan hal itu seakan ilusi, Asuna meletakkan kembali tangannya diatas meja.

“...Mama...!!”

Kali ini dia benar-benar mendengarnya. Asuna menjatuhkan kursinya dan berdiri.

Itu adalah suara milik seorang gadis kecil. Suara yang lemah itu bagaikan lonceng perak yang beresonansi dengan kuat terhadap ingatan yang sangat jauh.

“Yu... Yui-chan, Kamu kah itu...!?”

Asuna berkata dengan suara yang samar, kemudian dengan cepat berjalan menuju jeruji sangkarnya. Setelah menggenggam jeruji-jeruji besi itu dengan kedua tangannya, dia melihat kesekitar dengan panik.

“Mama... Aku disini...!!”

Suara itu sepertinya terdengar langsung didalam pikiran Asuna, tidak memberikan petunjuk dari mana asalnya. Tapi Ia dapat merasakannya. Suara itu berasal dari bawah, tidak peduli seberapa banyak ia mencarinya, lautan awan berwarna putih yang mengelilingi pohon besar itu menghalangi pandangannya, tetapi tanpa keraguan lagi, suara itu berasal dari bawah.

“Aku... Aku disini...!!”

Asuna berteriak sekencang yang dia bisa.

“Aku disini...!! Yui-chan...!!”

Jika Yui, «anak perempuan» yang dia temukan di dunia itu ada disini, maka «dia» pasti ada disini juga.

“...Kirito-kun --!!” Dia tidak tahu apakah suaranya dapat mencapai Kirito. Asuna melihat-lihat apa saja yang ada di dalam sangkar burung itu. Pasti ada sesuatu yang dapat digunakannya untuk membuat Kirito sadar akan keberadaan dirinya selain suaranya.

Sebuah benda, tapi semua benda diruangan ini terkunci oleh informasi posisinya masing-masing, tidak ada dari benda-benda tersebut yang dapat dikeluarkan dari sangkar ini, dia mengetahui hal itu. Lama sebelumnya, dia pernah menggunakan cangkir teh dan sebuah bantal kecil untuk mengirimkan pesan kepada para player dibawah, tapi hal itu tidak berhasil. Asuna dengan cemas memegang jeruji sangkar emas itu.

Tidak -

Ada. Hanya satu benda itu saja. Sebuah benda yang sebelumnya tidak ada ditempat ini. Sebuah benda yang lain dari yang lainya.

Asuna berlari ke tempat tidur, dan kemudian menarik benda tersebut dari bawah bantal. Benda itu adalah kartu kunci kecil berwarna perak. Dia kembali ke jeruji sangkar burung itu. Dia mengulurkan tangan kanannya yang memegang kartu dengan ketakutan. Jika sama seperti sebelumnya, maka ia akan dihalangi oleh pembatas itu.

“...!!”

Tangan kanannya mencapai bagian luar sangkar tanpa adanya perlawanan dari sistem. Kartu perak itu bersinar terang karena sinar matahari yang dipantulkannya.

‘...Kirito-kun... Tolong sadari hal ini!!”

Sambil berdoa, Asuna tidak ragu-ragu untuk membuka tangannya. Kartu itu menari di udara dengan tenang, dan jatuh menuju lautan awan dibawah dan berkelap-kelipkan cahaya.


* * *


Aku merasa tubuhku akan hancur menjadi ribuan potongan karena tercabik-cabik ketidaksabaran ini, dan kemudian aku menghantam pembatas itu dengan tangan kananku. Tinjuku dibalikkan dengan gaya tolak yang mirip dengan magnet berkutub sama yang didekatkan[10], dan terciptalah riak air berwarna-warni yang menyebar diudara.

“Ada apa ini... Benda ini...!”

Kataku dengan terbata-bata dan berketak gigi.

Akhirnya - Aku bisa sampai sejauh ini. Penjara yang menahan jiwa Asuna ada didepan sana. Namun, jalanku ini dihalangi oleh kode-kode program yang terdapat didalam «Sistem Game».

Sebuah dorongan yang dapat merusak diri sendiri mengalir ke seluruh tubuhku dengan kuat, dan menyebarkan semangat yang membara.

Setelah login ke dalam ALfheim selama 2 hari, aku menahan rasa ketidaksabaranku dan datang kesini dengan mengikuti peraturan permainan ini, tetapi kejengkelan yang terus terakumulasi didalam hatiku tak bisa ditahan lagi dan akhirnya meledak. Dengan memperlihatkan taringku yang seperti taring anjing, aku menggenggam gagang pedangku dengan tangan kananku.

- Pada saat itu.

Jauh diatas api putih yang ada dalam pandanganku, ada sebuah cahaya kecil yang bersinar.

“...Apa itu...?”

Aku melupakan kemarahanku dengan sekejap dan kemudian menatap cahaya itu. Sesuatu yang bersinar dengan terang jatuh perlahan-lahan ke arahku. Bagaikan salju yang turun ditengah musim panas, seperti bulu halus dandelion yang menjalani perjalanan panjang, benda itu jatuh kearahku.

Sambil mengambang di udara, aku melepaskan gagang pedangku dari genggaman, dan kemudian menjulurkan tanganku kearah cahaya itu. Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, cahaya putih itu perlahan jatuh ke dalam tanganku. Dengan perasaan hangat yang kurindukan, aku membuka tanganku dengan perlahan didepan dada.

Yui melihat dari sisi kiriku dan Lyfa melihat dari sisi kananku. Aku menatap diam pada benda yang ada digenggaman tanganku ini.

“...Sebuah kartu...?” Gumam Lyfa. Benda itu adalah kartu berbentuk persegi panjang kecil. Benda itu memiliki permukaan berwarna perak transparan tanpa tulisan maupun hiasan. Berputar ke arah Lyfa, aku berkata:

“Lyfa, apakah kamu tahu benda apa ini...?”

“Tidak... Aku tidak pernah melihat benda seperti ini. Mengapa kita tidak mencoba mengklik benda itu?”

Mengikuti sugesti Lyfa, aku mengklik permukaan kartu itu dengan ujung jariku. Sebuah klik pada item didalam game akan membuat sebuah jendela pop-out keluar, tapi tidak ada apa-apa yang muncul.

Yui membungkuk dan menyentuh ujung kartu itu, kemudian berseru:

“Ini... Ini kode akses menuju manajemen sistem!!”

“!?...”

Aku menahan nafasku, selagi melihat kartu yang ada di tanganku.

“...Jadi, jika aku mempunyai ini, aku dapat menggunakan kewenangan Game Master?”

“Tidak... Papa dapat mengakses sistemnya, tapi hal ini hanya bisa dilakukan melalui konsol yang sesuai... Bahkan aku tidak dapat memangil keluar menu sistem...”

“Ah begitu... Tapi barang seperti ini tidak akan jatuh tanpa ada alasan. Mungkin ini...”

“Benar, aku pikir Mama menyadari keberadaan kita dan menjatuhkan kartu itu.”

“...”

Aku menggenggam kartu itu dengan lembut. Belum lama ini, Asuna yang memegang kartu itu. Aku pikir, aku secara samar-samar dapat mengerti niatnya itu.

Asuna jg sedang bertarung. Dia melawan sekuat tenaga untuk keluar dari dunia ini. Aku pun mempunyai hal-hal yang harus aku lakukan

Aku menatap Lyfa, kemudian berkata:

“Lyfa, beritahu aku. Dimana gerbang yang menuju World Tree?”

.”Eh... Gerbang itu ada di kubah yang ada dipangkal pohon ini...”

Kata Lyfa dengan khawatir.

“Tapi, ini tidak mungkin. Tempat itu dilindungi oleh pasukan penjaga, tidak peduli seberapa besar kelompok yang masuk, mereka tidak bisa melewatinya.”

“Meskipun begitu, aku harus tetap pergi kesana.”

Aku memasukin kartu itu ke dalam saku dadaku dan menggapai tangan Lyfa.

Setelah dipikir-pikir, gadis Sylph ini selalu membantuku. Ketika aku sedang terburu-buru dan tidak tahu apa-apa mengenai dunia ini, dan akhirnya sampai disini. Itu semua berkat pengetahuan yang dimilikinya dan senyumannya yang menyemangatiku untuk sampai sejauh ini. Suatu hari nanti, aku akan menjelaskan situasi ini dan berterima kasih padanya di dunia nyata... Sambil memikirkan hal itu, aku membuka mulutku.

“Terima kasih banyak untuk selama ini, Lyfa. Dari sini, aku akan pergi sendiri.”

“...Kirito-kun...” Aku memegang erat tangan Lyfa, yang tampakny sebentar lagi akan menangis, kemudian melepaskannya. Kemudian Yui duduk diatas pundakku ketika aku mundur.

Akhirnya, setelah melihat gadis dengan rambut ikat ekor kudanya yang bergoyang pada saat dia terbang untuk terakhir kalinya, aku membungkukkan badanku. Kemudian membalikkan tubuhku.

Setelah menutup sayapku, aku menaiki dorongan yang kudapat dari laju jatuhku pada saat melesat tepat kepangkal World Tree.

Pusing, setelah menerjunkan diri selama berpuluh-puluh detik, pangkat World Tree dan kota berliku-liku yang mengelilinginya, Aarun, mulai terlihat. Terdapat beranda yang sangat besar diantara akar World Tree dan Aarun, aku pun memulai persiapan untuk mendarat.

Aku mengembangkan sayapku sepenuhnya untuk mengerem sambil mengarah menuju titik pendaratan. Aku menjulurkan kakiku, dan mencoba berhenti pada saat kakiku membentur jalanan. Suara yang kencang bergema disekitar, suara itu berasal dari gelombang udara yang menyertai pendaratanku. Beberapa player yang ada di beranda untuk melihat pemandangan sekitar langsung mengalihkan pandangannya padaku dan terlihat terkejut.

Menunggu mereka berpaling ke arah lain, aku berbicara kepada Yui yang masih duduk di pundakku dengan suara rendah.

“Yui, apakah Kamu tahu jalan menuju kubah itu?”

“Ya, gerbang tersebut tepat diatas tangga itu. Tapi, apakah ini akan baik-baik saja, Papa? Menurut informasi yang ada, sangat sulit untuk menerobos gerbang itu.”

“Kita hanya bisa untuk memaksakannya. Bahkan jika hal itu gagal, bukan berarti aku akan mati.”

“Itu benar, tapi...”

Aku mengulurkan tanganku dan dengan lembut mengusap kepala Yui.


“Bagaimanapun juga, aku merasa bisa menjadi gila jika aku membuang-buang waktuku walaupun itu hanya satu detik lagi. Bahkan Yui ingin secepat mungkin bertemu dengan Mama bukan?”

“...Iya.”

Yui mengangguk dan menggosokkan hidungnya pada pipiku selagi aku menaiki tangga.

Tampaknya kami sudah mencapai puncak kota Aarun, pada saat kami mendekati puncak tangga. Akar-akar yang berbentuk kerucut besar itu berkumpul di satu batang yang berada didepan kami. Yang hanya dapat dilihat dari sana adalah dinding sederhana yang melengkung, diameter kubah itu sangat besar.

Didekat tembok itu, terdapat dua patung ksatria peri yang berdiri tinggi, tingginya hampir 10 kali dari tinggi player. Diantara kedua patung itu terdapat sebuah gerbang batu yang dihias dengan sangat baik. Gerbang ini adalah titik awal dari quest utama[11], dan tidak ada player lain yang terlihat disini. Mungkin saja, cerita bahwa quest ini «impossible to breakthrough»[12] sudah menjadi pengetahuan umum.

Tapi aku harus melewati gerbang ini, melewati para penjaganya dan mencapai gerbang yang ada di dalamnya.

‘- Tunggu aku, Asuna. Aku akan kesana sekarang juga...”

Itu adalah janji yang ku ukir didalam hatiku.

Setelah berjalan beberapa meter kedepan, aku berdiri didepan gerbang itu, ketika itu pula, patung yang berada disebelah kanan bergerak dan mengeluarkan suara rendah yang bergema. Tidak terduga, patung itu melihat kesekelilingnya, kemudian muncul cahaya berwarna pucat di kedua mata patung itu. Patung itu melihat kebawah ke arahku dan membuka mulutnya. Muncul suara membosankan yang bergema bagaikan batu besar yang berguling-guling.

“Apakah Kau yang tidak mengetahui tingginya surga, ingin mencapai istana raja?” Pada saat yang sama, muncul jendela pop-out didepanku, bertanya kepadaku apakah aku ingin menerima tantangan terakhir itu. Untuk memastikan kehendakku, muncul dua buah tombol: [YES] dan [NO]. Tanpa ragu-ragu lagi, aku menekan tombol [YES].

Kali ini, patung yang berada di kiri mengeluarkan suara keras.

“Mulai dari sini dan seterusnya, Kau akan mendapatkan kekuatan tanpa batas untuk menggunakan sayapmu.”

Sebelum suara gemuruh yang menggema itu hilang, gerbang yang ada disana terbelah menjadi dua dari tengah. Tanah disekitarnya bergetar ketika pintu gerbang itu terbuka ke dalam kiri dan kanan.

Suara gemuruh ini, mengingatkan aku saat akan melawan boss monster ditiap lantai Aincrad. Hawa dingin mengalir menuruni tulang belakangku, ketegangan yang bangkit kembali ini membuatku lupa untuk bernafas.

Di dunia ini, mati bukan berarti akan benar-benar mati, kataku terhadap diri sendiri, kemudian menyingkirkan pemikiran itu. Ini adalah perjuangan untuk memperoleh kebebasan Asuna, dalam beberapa aspek, pertempuran ini lebih penting daripada semua pertempuran yang pernah aku alami.

“Kita mulai, Yui. Pastikan Kamu bersembunyi dengan baik.”

“Papa... Lakukan yang terbaik.”

Aku menepuk kepala Yui disaat dia masuk ke dalam saku dada bajuku, kemudian aku menarik pedangku.

Suara gemuruh itu berhenti ketika gerbang batu itu sepenuhnya terbuka. Di dalamnya sangat gelap, aku berpikir untuk menggunakan sihir Night Vision. Belum aku mengangkat tangan kananku, tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan mata dari arah atas. Tanpa sadar aku langsung menyipitkan mataku.

Ruang didalamnya ternyata cukup besar. Kubah ini mengingatkanku pada ruangan boss di lantai 75 Aincrad dimana aku bertarung dengan Heathcliff, hanya saja, diameternya lebih besar beberapa kalinya.

Bagian dalam kubah ini ternyata mirip bagian dalam pohon, akar-akar besar tersusun satu sama lain membentuk lantai. Tanaman merambat tumbuh dari lantai dan menutupi dinding-dindingnya hingga puncak.

Kubah tersebut memiliki kanopi berbentuk setengah lingkaran yang bening, tanaman merambat yang tumbuh keatas itu melilit satu sama lain dan membentuk pola bagaikan kaca berwarna[13], yang menjadi tempat masuknya cahaya.

Di dekat puncak kanopi, aku melihat sebuah gerbang. Gerbang berbentuk cincin itu dihiasi dengan hiasan-hiasan yang indah dan sebuah tanda salib membagi pintu itu menjadi empat bagian. Jalan menuju puncak pohon pasti ada dibalik gerbang itu.

Dengan memegang Greatswordku dengan kedua tanganku, aku mengambil nafas. Sambil menempatkan tenaga dikaki, aku mengembangkan sayapku.

“- Maju!!”

Teriakku dengan keras kepada diriku sendiri, kemudian menendang tanah dengan kuat.

Sebelum aku sempat terbang untuk satu detik, terlihat satu keanehan pada cahaya yang masuk melalui kanopi diatas. Satu bagian dari jendelanya itu brubah menjadi putih dan berbuih seakan mendidih, tampaknya akan terjadi sesuatu. Dalam sekejap, bagian itu jatuh dan mengambil wujud seperti manusia, dan mengembangkan empat sayap bercahaya sambil mengaum.

Badan penjaga yang besar itu ditutupi sepenuhnya dengan armor berwarna perak, kepalanya ditutupi dengan topeng bagaikan cermin, sehingga mukanya tidak terlihat. Tangan kanannya memegang pedang yang lebih besar dari milikku. Tidak diragukan lagi, ini adalah penjaga yang Lyfa katakan.

Ksatria penjaga itu memalingkan wajahnya padaku yang sedang terbang keatas dengan cepat, dan kemudian menukik turun dengan berteriak sebagai ganti suara manusia yang tidak dimilikinya.

“Jangan halangi aku!!”

Aku berteriak dan mengayunkan pedangku. Jarak diantara kami pun hampir tidak ada, muncul perasaan dingin yang memainkan otakku, perasaan lancar itu adalah perasaan yang selalu kurasakan pada saat aku bertarung hingga batas kemampuanku di dunia itu. Wajahku terpantul di topengnya pada saat aku berhadapan dengannya, lalu aku mengayunkan pedangku kebawah tanpa ragu-ragu.

Pedang ksatria penjaga itu dan milikku bersilangan satu sama lain ditengah udara, dan ruangan itu terguncang oleh cahaya yang bagaikan petir. Ksatria itu mengangkat pedangnya yang terpantul ke atas kepalanya dan bersiap untuk menyerang kembali, tapi aku membiarkan pedangku bergerak dengan sendirinya dan menyerang dada ksatria itu. Aku menangkap leher ksatria yang lebih besar dua kali dariku dengan tangan kiriku, sambil menjaga jarak yang dekat dengannya.

Pada saat melawan monster yang dikendalikan oleh komputer, aku akan mencari tahu seberapa jauh jarak serangannya dan kemudian menjaga jarak agar selalu berada diluar jarak serangannya, tetapi untuk kasus monster yang berukuran besar, sering kali kelemahannya muncul pada saat yang tidak tepat. Tentu saja, sangat berbahaya untuk mempertahankan posisi itu untuk waktu yang lama, tapi akan ada waktu dimana dia akan mencoba untuk pulih setelah kuda-kudanya hancur.

Dengan menggunakan pedang ditangan kananku, aku menusuk bagian leher ksatria yang tidak terlindungi apa-apa.

“Raaa!!”


Sword Art Online 4 - 143.jpg

Aku mengepakkan sayapku dengan kencang, dan mengalihkan seluruh berat tubuhku untuk mendorong pedangku. Gatsu!! Pedangku menembus leher ksatria itu dengan suara benda keras yang pecah.

“Gogaaaaa!!”

Tidak seperti penampilannya yang mengagumkan, ksatria itu mengeluarkan auman yang liar, kemudian menjadi kaku. Setelah itu, badan besarnya diselimuti oleh «End Frame», dan hancur dengan cepat.

“- Aku dapat melakukannya!!”

Hatiku bersorak gembira. Status ksatria penjaga itu masih lebih rendah dari pada boss monster yang ada disetiap lantai SAO. Dalam pertarungan satu-lawan-satu, aku mempunyai keuntungan.

Aku mengibaskan api putih yang masih menempel pada ku dan melihat ke arah gerbang diatas. Aku melihat pemandangan yang membuat senyum senyum diwajahku seakan membeku.

Kanopi yang besar itu seperti berada dalam keadaan yang kacau balau, muncul banyak ksatria yang ditutupi armor silver dari Stained Glass yang ada diatas sana. Mereka ada lusinan - tidak, mereka ada ratusan.”

“- Uoooooo!!”

Aku menyadarkan diriku yang gentar sesaat dan kemudian berteriak. Tidak peduli seberapa banyak yang datang, aku hanya perlu memmbunuh mereka semua. Aku mengepakkan sayapku dan kemudian melesat kencang.

Beberapa dari ksatria yang baru saja lahir, menuruni kanopi dan berusaha menghadangiku. Aku membidik ksatria yang berada didepan dan menggerakkan pedangku.

Kali ini, aku berusaha untuk menghindari hilangnya keseimbangan yang disebabkan bersilangnya pedang ku dengan pedang ksatria itu, dan memusatkan konsentrasiku pada ujung pedang milik lawan, aku memutar tubuhku, dan kemudian menghindarinya. Tidak berhasil menghindari serangan itu sepenuhnya, pedang musuh menggores pundakku dan menyebabkan damage yang kecil, tapi aku mengabaikannya, dan memfokuskan diri untuk menyerang musuhku.

Pedang ku yang besar bergerak dalam garis lurus, membentur topeng musuh, dan membunuh musuh keduaku. Api putih keluar dari dalam badannya, sebelum efek itu hilang, ksatria lain datang dan menggantikan posisinya.

Ksatria itu memulai serangannya, aku menggertakkan gigiku. Setelah memutuskan bahwa aku tidak mempunyai cukup waktu untuk menghindarinya, aku mengangkat tangan kiri ku dan menghadangnya dengan armorku.

Aku melihat HP barku berkurang 10% disisi kiri penglihatanku, hal ini disebabkan oleh serangan yang seakan membentur tulang itu. Tapi ayunan pedang musuh itu teralihkan oleh tangan kiriku, sehingga kuda-kudanya hancur. Sambil membidik lehernya, ku ayunkan pedang yang ada ditangan kananku.

Tapi kali ini kecepatanku berkurang, sehingga aku tidak bisa membunuhnya dalam satu serangan. Terlebih lagi, muncul satu ksatria yang melesat dari samping kanan. Aku memutarkan tubuhku kearah kanan dan menendangkan kaki kiriku pada kepala ksatria yang sudah rusak itu.

Memiliki status «Swordsman» Kirito terbawa kedunia ini adalah sebuah keberuntungan bagiku, termasuk keterampilan bertempur tanpa senjata yang kukira tidak akan berguna disini. Tendanganku menghabiskan sisa HP ksatria itu. Badannya yang besar diselimuti api putih, dan mengeluarkan teriakan yang terganggu oleh efek itu.

Aku menghalang pedang ksatria ketiga dengan pedang ku pada saat-saat terakhir.

“Seaaaa!!”

Sambil berteriak, aku mengepalkan tangan kiriku dan meninju topeng cerminnya. Krack!! Dengan suara itu muncul retakan pada tempat yang mengalami benturan dan ksatria itu mengeluarkan teriakan seakan menderita.

“Pergi!! Pergi dari hadapanku!!”

Teriakku. Perasaan ini tidak seperti pada saat melawan pasukan Undine di Jötunheimr, melainkan sebuah dorongan kuat untuk menghancurkan menguasai ku. Pedang di tangan kananku menebas leher ksatria itu, kemudian aku meninju ksatria itu dengan tangan kiri ku terus -menerus.

Itu benar - Aku pernah tinggal di dunia ini. Berkelana sendirian dibagian paling dalam dungeon, bertarung disamping kematian untuk menempa jiwaku, aku menggunakan mayat-mayat monster itu untuk membangun kuburanku dan terus mengayunkan pedangku.

Tinjuku akhirnya berhasil menghancurkan topeng ksatria itu, dan menyemburkan cahaya yang terang benderang. Aku masih dikuasai oleh keinginan untuk menghancurkan itu, kemudian aku menikamkan tangan kiriku ke arah cahaya itu. Ketika tanganku berhasil menembus kepalanya, badan ksatria itu meleleh dan hancur, kemudian api putih menyelimuti tubuhku.

Pada saat itu, hatiku terasa sekeras dan segersang batu. Menyelesaikan game atau membebaskan pemain tidak penting lagi bagiku. Aku menolak orang lain dan kemudian mendorong diriku ke petermpuran berikutnya.

Empat atau lima ksatria itu mengangkat pedangnya yang bercahaya, kemudian mereka menjatuhkan diri dengan suara bagaikan burung yang memberitahukan pertanda buruk. Senyuman yang bengis muncul di wajahku, dan aku meleset kearah ksatria-ksatria itu dengan sayapku yang membelah udara. Semua syaraf ditubuhku bergetar saking cepatnya, getaran listrik yang menghubungkan badanku dengan otakku menjadi percikan putih yang melintasi penglihatanku.

“Uoooaaaaa!!”

Dengan teriakan yang menggelora, aku mengayungkan pedang yang kupegang dengan dua tangan ini secara horizontal. Aku menangkis pedang ksatria-ksatria itu. Kemudian berputar seperti kincir angin, aku melesat cepat hingga kebatas kemampuanku dan membidikkan pedangku pada leher ksatria-ksatria itu.

Chop, Chopp!! Setelah mengeluarkan suara yang tumpul, kedua kepala yang memakai topeng kaca itu terbang diudara. Api yang muncul pada saat terakhir mereka, membentuk mawar putih yang kemudian membasuhi kewarasanku , dan mengirimkan lebih banyak rasa panas ke seluruh tubuhku.

Aku bisa melihat nyawaku yang berada di dekat kematian. Melempar diriku sendiri ke dalam menit-menit akhir pertempuran, dengan semangat yang membara sampai akhir, kemudian gagal dan jatuh, aku pikir itu adalah satu-satunya jalan untuk menebus orang-orang yang mati didepan mataku.

Aku berbalik, dan tanpa mengurangi kekuatan putaranku, aku menggunakan ujung kaki kananku untuk menyerang seperti bor. Kakiku menghantam bagian dada ksatria itu, kemudian aku merasakan kelembaban yang lembut pada saat kakiku menembus badan ksatria itu dengan suara yang tidak enak didengar. Pada saat badanku sedang berhenti ditengah «End Frame» ksatria yang baru saja kukalahkan, muncul dua pedang yang mendekatiku dari arah kiri dan kanan seperti sebuah gunting. Aku menghadang pedang yang ada diarah tanganku dengan pedangku, dan pedang yang ada kiriku dengan tangan ku, kemudian aku membalasnya tanpa memperhatikan HP bar milikku.

Dengan cepat, aku menangkap pergelangan tangan ksatria yang ada di samping kanan ku,

“Guuuuooooo!!”

Sambil berteriak, aku mengayunkan ksatria yang kanan keatas kepalaku dan menabrakkannya dengan ksatria yang ada di kiri. Kemudian aku menikam kedua ksatria yang sedang dalam posisi terkunci itu, dan memberikan mereka damage yang fatal.

Aku pikir, aku dapat terus bertarung dan membantai semua musuh yang muncul. Pada saat itu, aku membakar diriku dengan api seorang pembunuh, kemudian menempa hati menjadi sekeras batu -.

Tidak - bukan seperti itu...

Ada pula orang-orang yang tanpa putus asa menyiramkan air pada hatiku yang gersang. Klein, Agil, Silica, Lisbeth, dan Asuna.

Aku... Aku akan menolong Asuna, aku datang kesini, untuk membuat dunia itu benar-benar berakhir -

Aku mengangkat kepalaku dan berputar ke arah kanopi diatas, aku melihat gerbang batu yang ternyata sudah cukup dekat.

Saat aku berjuang terbang kesana, sesuatu menusuk kakiku.

Itu adalah anak panah yang dingin, dan bercahaya. Seakan mereka sudah menungguku untuk berhenti bergerak, anak panah berjatuhan bagaikan hujan. Aku terkena dua, tiga panah berturut-turut, dan HPku berkurang sangat banyak.

Aku tidak tahu sejak kapan, tetapi pada saat aku melihat ke sekelilingku, ksatria-ksatria penjaga itu sudah mengepungku dari jauh, mereka semua menunjuk ku dengan tangan kiri mereka, dan melantunkan mantra-mantra sihir dengan suara yang aneh. Kemudian gelombang kedua anak panah cahaya terbang kearahku dengan suara nyaring.

“Uooooo!”

Aku mengayunkan Greatswordku disekitarku, memblokir banyak anak panah, tetapi masih ada beberapa yang mengenaiku, membuat HP ku jatuh ke dalam zona kuning. Aku mengangkat wajahku, dan melihat gerbang itu.

Sangat sulit untuk mengalahkan musuh jarak jauh sendirian. Aku terbang kedepan, mencoba untuk menerobos dan mencapai gerbang itu. Anak-anak panah cahaya itu terus menusuki badanku, tapi tujuanku ada di depan sana. Menahan serangan-serangan itu, aku menjulurkan tangan kiriku untuk menyentuh gerbang batu itu.

-

- Tapi.

Beberapa detik yang lalu, aku merasakan benturan yang keras di punggungku. Pada saat aku berbalik, seorang ksatria penjaga mendekat dengan senyuman ku yang rusak bentuknya melihat kearahku, dia telah menusukkan pedangnya ke punggungku. Postur terbangku hancur dan percepatanku turun.

Lalu, bagaikan sekelompok burung berwarna putih yang menukik untuk memangsa, lusinan ksatria penjaga itu melesat maju dari segala arah. Dengan suara Dotsu-dotsu, badanku ditusuk pedang demi pedang. Aku tidak sempat memeriksa HPku.

Tiba-tiba penglihatanku terisi oleh api hitam yang terang. Butuh waktu agak lama untuk menyadari bahwa api itu adalah «End Frame»ku sendiri. Di atas api itu, terdapat tulisan berwarna ungu yang muncul. [You are dead].

Beberapa saat kemudian, terdengar suara datar dan badanku menghilang.

Seperti mematikan saklar satu demi satu, aku tidak bisa merasakan badanku lagi.

Ketika aku terbunuh pada pertarungan terakhir melawan Heathcliff di lantai 75 Aincrad. Aku mengingatnya dengan jelas ketika aku jatuh. Ketika ingatan akan hal itu terputar ulang di dalam kepalaku, perasaan terror yang hebat menyelimutiku.

Tapi tentu saja, kesadaranku tidak terganggu. Apakah aku setengah sadar? Aku pernah merasakan «mati di dalam game», tapi tidak pernah merasakannya lagi setelah masa beta test SAO.

Perasaan ini sangat aneh. Penglihatanku mulai kehilangan warnanya dan memudar menjadi ungu monoton. Di tengah-tengah penglihatanku terdapat huruf-huruf berwarna seperti warna peringatan sistem yang berbunyi [Remaining Revival Time] dengan angka yang terus berkurang di samping kanannya. Di sisi jauh penglihatanku, terlihat para ksatria penjaga yang tampaknya puas setelah membunuhku dan kembali ke kanopi yang berada di atas.

Aku tidak dapat merasakan tangan dan kakiku. Aku tidak dapat bergerak, yang tersisa dari diriku hanyalah bara api dari Remain Light milikku, seperti milik player lain yang kubunuh di dunia ini. Aku tersesat dalam ketidak berdayaan, kesedihan, dan ketidak berhargaan.

Ya - Aku sangat menyedihkan. Mungkin di suatu tempat di dalam hatiku, aku masih merasa bahwa ini hanyalah sebuah game, dan mungkin ini adalah ganjaran karena aku merasa seperti itu. Bagaimanapun juga, kekuatanku hanyalah angka-angka yang berada di data statusku. Namun, diatas batas-batas game, melebihi batas-batasan itu , aku berpikir aku dapat melakukan segalanya.

Aku ingin bertemu Asuna. Aku ingin memeluknya dengan tanganku, untuk melepaskan pikiran dan perasaan ini dan merasa terobati. Tapi saat ini, tanganku tidak dapat mencapainya.

Detik yang ditunjukkan terus berkurang. Aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi ketika detik itu menjadi nol, aku tidak bisa ingat.

Tidak peduli apapun yang terjadi, hanya ada satu hal yang dapat aku lakukan. Aku akan merangkak kembali ketempat ini dan menantang ksatria-ksatria penjaga itu lagi. Tidak peduli berapa kali aku gagal, bahkan jika aku tidak bisa menang - bahkan hingga jiwa ku lelah, sampai aku hilang dari dunia ini - …

Pada saat itu, muncul sebuah bayangan hitam melintasi pandanganku yang melihat kebawah.

Seseorang masuk ke dalam kubah yang terbuka ini dan terbang kearahku dengan kecepatan yang luar biasa.

‘Jangan kesini’, aku berusaha untuk berteriak, tapi suaraku tidak keluar. Melihat ke arah kanopi yang berada diatasku, aku melihat kanopi itu sekali lagi mengeluarkan warna putih dan memproduksi ksatria-ksatria penjaga itu lagi.

Raksasa putih itu berteriak saat mereka melewati sisi ku dan melesat tepat ke arah penyusup itu. Dari pengalamanku sebelumnya, aku sudah tahu bahwa satu orang saja tidak akan bisa menghadapi mereka. ‘Cepat, pergi dari sini’, aku berdoa dengan sungguh-sungguh, tapi bayangan itu melesat cepat tepat kearah ku.

Ksatria-ksatria penjaga yang berada dibarisan depan mulai menggenggam pedang mereka dan turun secara berurutan untuk menyerang. Dengan gerakan yang cepat dan tajam, penyusup itu menghindari serangan mereka, tapi serangan yang tertunda waktu itu akhirnya menyentuh sang penyusup. Badannya yang lemah itu jatuh dan terguling.

Tapi penyusup itu memanfaatkan hal ini untuk maju lebih jauh, menyelinap melewati barisan ksatria-ksatria itu dan terus terbang keatas. Saat penyusup itu sudah mulai mendekati ku, muncul lebih banyak ksatria yang mencoba menghentikannya, dengan berpaduan suara yang aneh, mereka terbang disekitar.

Tangan kanan bayangan itu memegang sebuah Katana, tapi dia hanya menggunakannya untuk bertahan. Menghindari kelompok-kelompok musuh dan menangkis dengan gerakan yang mempesona, dia semakin dekat. Dia terbang mati-matian kesini.

Pada saat dia tiba didepanku, air matanya bertaburan dan kemudian berteriak:

“- Kirito-kun!!”

Dia adalah Lyfa. Gadis Sylph itu kemudian menjulurkan tangannya dan memelukku dengan erat menggunakan kedua tangannya.

Kami berdua sudah sangat dekat dengan gerbang itu, tetapi ksatria-ksatria itu tidak membiarkan kami untuk maju lebih jauh, mereka berkumpul di langit, dan menciptakan tembok tebal berlapis-lapis yang terbuat dari makhluk hidup. Tapi, setelah mengamankanku, Lyfa berbalik dan terbang dengan cepat, kali ini mengarah lurus menuju pintu keluar.

Dari arah belakang, mantra-mantra bagaikan kutukan mulai diucapkan. Seketika, anak-anak panah terbang kemari. Lyfa terbang kesana-kemari, menghindari bidikan musuh, tapi anak panah yang jatuh sangat banyak sehingga tidak mungkin untuk menghindari semuanya. Satu dari anak panah yang banyak itu mengenainya, bahkan Aku merasakan goncangannya.

“Ug...!!”

Lyfa tersedak, tetapi kecepatan menukiknya tidak berkurang sama sekali. Tubuh Lyfa tertusuk anak-anak panah secara berurutan. Dalam pandanganku, HPnya berkurang setengah dengan cepat.

Tidak hanya anak panah cahaya yang mengejar kami. Ada dua ksatria penjaga yang mengejar dengan cepat dan marah. Aku dapat melihat pedang turun dari kiri dan kanan membentuk tanda silang.

Lyfa berputar dengan cepat, menghindari satu pedang, tapi, pedang yang lain mengenainya tepat di punggungnya.

“Ah...”

Lyfa berteriak, kemudian terlempar seperti bola, lalu jatuh ketanah. Setelah melambung beberapa kali, kami meluncur diatas tanah, dan kemudian berhenti. Setelah itu, beberapa ksatria turun untuk memberikan serangan akhir.

Lyfa mendorong tubuhnya keatas dengan tangannya yang bergetaran, dan kemudian mengepakkan sayapnya sekali lagi. Hal itu membuatnya berguling kedepan - cahaya yang terang tiba-tiba memenuhi penglihatanku. Kami berdua sudah ada di depan kubah.


* * *


Berhasil selamat dari situasi yang kritis itu, Lyfa mereganggkan tubuhnya yang kedingin karena rasa takut yang dialaminya diatas jalan berbatu itu. Kemudian berbalik, menyadari waktu yang diberikan untuk menjalani quest tersebut sudah habis, gerbang itu tertutup dan raksasa-raksasa putih didalamnya tetap berdiri dibalik gerbang itu.

Terdapat api kecil yang berkedip-kedip di atas tangannya. Kirito-kun -, Lyfa menangis di dalam hatinya. Tapi tidak ada waktu untuk hanyut dalam perasaan sedih ini. Kemudian dia duduk, dan menyandarkan dirinya pada kaki patung batu besar di depan gerbang, melambaikan tangannya, dia membuka jendela pop-out untuk item.

Karena Lyfa tidak menguasai sihir beratribut air dan beratribut suci, dia tidak dapat menggunakan sihir pembangkit tingkat tinggi. Jadi dia mengubah «Sap of the World Tree»[14] menjadi sebuah item, dan setelah itu mengambil botol biru kecil yang tercipta.

Setelah menyingkirkan jendela pop-out itu, dia membuka sumbat botol biru kecil yang dipegangnya dan memercikkan cairan yang bercahaya itu di atas Remain Light milik Kirito. Sebuah lingkaran sihir tiga dimensi yang mirip dengan lingkaran sihir pembangkit, muncul dalam sekejap. Beberapa detik kemudian, muncul wujud anak laki-laki berbaju hitam.

“...Kirito-kun...”

Sambil duduk, Lyfa memanggil namanya, tersenyum dalam tangisnya. Lalu Kirito berlutut diatas jalan batu itu dengan tersenyum, kemudian meletakkan tangannya diatas tangan Lyfa.

“Terima kasih, Lyfa... Tapi, jangan bertindak gegabah seperti itu lagi. Aku akan baik-baik saja... Aku tidak ingin menyusahkan mu lebih lanjut. “Menyusahkan... aku...”

‘Tidak sama sekali terbebani’, adalah hal yang ingin Lyfa katakan, tetapi Kirito lebih dulu berdiri. Dia berpaling dariku, kemudian mulai berjalan - berjalan ke arah gerbang yang menuju World Tree.

“Ki, Kirito-kun!!”

Lyfa tercengang dengan kagum. Kemudian menempatkan kekuatannya pada kedua kakinya yang bergetar, dan entah bagaimana, dia berdiri.

“Tu, tunggu... Itu mustahil untuk dilewati sendirian.”

“Mungkin begitu... Tapi aku harus pergi kesana...”

Bisik Kirito dengan membelakanginya. Lyfa merasa seperti gambar kaca yang terdesak hingga diambang batas, berusaha keras untuk mencari kata-kata untuk diucapkan. Tapi akhirnya Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata yang membakar tenggorokannya. Dengan sekejap Lyfa merentangkan tangannya, dan kemudian memegang badan Kirito dengan erat.

Lyfa merasakan perasaan tertarik yang kuat. Untuk bisa melupakan Kazuto, dia memaksakan hatinya untuk mencintai orang ini, pada saat yang sama, mungkin semuanya akan baik-baik saja, pikirnya.

“Cukup... Hentikan... Kembalilah menjadi Kirito yang biasanya... aku... aku, Kirito-kun...”

Kirito memegang tangan kanan Lyfa dengan lembut menggunakan kedua tangannya. Suara yang tenang tapi kuat, mengalir ke telinga Lyfa.

“Lyfa... Maafkan aku... Jika aku tidak pergi kesana, tidak akan ada berakhir, dan tidak akan ada yang mulai. Aku harus melihatnya, lagi...”

“Melihat... Asuna...”

Sejenak, Lyfa tidak mengerti apa yang didengarkannya. Pikirannya kosong, kemudian gema suara Kirito perlahan-lahan memudar.

“...Tadi... tadi, apa... yang Kamu katakan...?”

Kirito memiringkan kepalanya, terlihat sedikit binggung, kemudian menjawab:

“Ah... Asuna, itu adalah nama orang yang aku cari.”

“Tapi... maksudku, orang itu...”

Lyfa mengambil setengah langkah kebelakang sambil menutup mulutny dengan kedua tangannya.

Pada saat pikirannya sedang membeku, bayang-bayang ingatannya muncul.

Ingatan beberapa hari yang lalu, pada saat dia berlatih dengan Kazuto di dojo.

Ingatan ketika mereka bertemu, Kirito mengalahkan pasukan Salamander di hutan kuno itu.

Kedua orang didalam ingatannya itu, mengayunkan pedangnya dengan tangan kanannya kemudian menyimpannya di punggung mereka setelah bertarung. Dengan menggunakan gerakan yang benar-benar sama.

Setelah mengamatinya lebih lanjut, kedua bayangan itu melebur menjadi satu. Mata Lyfa terbuka lebar, kemudian dari bibirnya yang bergetar, keluar sebuah suara.

“...Apakah Kamu... Onii-chan?”

“Huh...?”

Kirito mendengar kata-kata itu, dan kemudian alis matanya naik karena terkejut. Matanya yang gelap menatap langsung ke mata Lyfa. Cahaya yang megambang di pupil matanya bagaikan bulan yang bergoyang diatas permukaan air, kemudian -

“- Sugu... Suguha...?”

Spriggan yang berpakaian serba gelap itu membisikkan suara yang nyaris tidak terdengar lagi, memanggil nama itu.

Jalan batu itu, tempat di sekeliling Aarun, dan seluruh dunia dengan World Tree seakan runtuh. Lyfa / Suguha melangkah mundur dengan terhuyung-huyung.

Selama berpetualang dengan orang itu beberapa hari lamanya, Lyfa merasa dunia maya itu terkesan lebih hidup. Hatinya sangat senang ketika terbang bersampingan dengannya.

Suguha mencintai Kazuto, Lyfa menyukai Kirito, dia akan berbohong jika dia tidak bilang dirinya merasa tidak bersalah. Namun, Kirito lah yang mengajarkannya bahwa ALfheim bukan hanya pengembangan dari simulator penerbangan virtual yang dipikirkannya selama ini, melainkan sebuah realitas yang baru. Itu kenapa Lyfa dapat merasakan perasaan yang dia punya di dunia ini bukan hanya sekedar data digital, melainkan perasaannya yang sesungguhnya.

Suguha dengan tegas membekukan perasaannya yang menginginkan Kazuto, bahkan dia merasa, rasa sakit yang terkubur jauh di dalam hatinya pun akan terlupakan jika dia tinggal di sisi Kirito. - Memang benar «realita» ini dibentuk oleh jiwa manusia yang «nyata» yang ingin datang ketempat ini, tapi tetap saja hal ini sangat tidak terduga.

“...Kejamnya... Ini sudah keterlaluan, ini...”

Lyfa berbicara seperti orang yang kehilangan kewarasannya sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dia tidak ingin ada ditempat itu lebih lama lagi, meskipun hanya satu detik lebih lama. Dia berpaling dari Kirito, dan melambaikan tangan kirinya.

Kemudian menyentuh ujung kiri bawah dari jendela yang keluar, dia hampir saja mengabaikan pesan konfirmasi yang keluar, dan akhirnya menekan tombol untuk keluar dari dunia itu. Di bawah kelopak mata yang tertutup itu, muncul warna pelangi yang kemudian memudar, dan meninggalkan kegelapan.

Setelah bangun di tempat tidurnya, hal pertama yang dia lihat adalah langit ALfheim yang berwarna biru. Warna itu selalu membawanya pada perasaan nostalgia dan kerinduan yang dalam, tapi yang ada sekarang hanyalah rasa sakit.

Suguha kemudian melepas Amusphere yang dia kenakan dari kepalanya, kemudian memegangnya di depan kedua matanya.

“U... u...”

Isak tangis yang tidak bisa ditahannya, akhirnya muncul dari dalam tenggorokannya. Kemudian Ia meletakkan sedikit kekuatan pada kedua tangannya, memegang mesin halus yang berhiaskan dua lingkaran. Lingkaran itu melengkung dengan mulus.

Dia bisa saja menghancurkan Amusphere ditangannya dan menutup jalan ke dunia itu untuk selamanya. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukannya. Nasib gadis bernama Lyfa, yang berada di sisi dunia itu sangatlah menyedihkan.

Setelah melempar mesin itu ke tempat tidurnya, Suguha berdiri. Dia menapakkan kakinya di lantai, menutup kedua matanya, dan menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin berpikir apa-apa untuk sementara waktu.

Kesunyian itu dipecahkan oleh sebuah ketukan yang rendah. Kemudian, dari balik pintu terdengar suara yang berbeda dari suara Kirito, tapi memiliki irama yang sama.

“- Sugu, bolehkah aku masuk?”

“Berhenti!! Jangan buka pintunya!”

Suguha berteriak karena refleks.

“Tinggalkan aku sendiri... untuk sementara waktu...”

“- Apa yang terjadi, Sugu? Aku juga terkejut, tapi...”

Kazuto melanjutkan perkataannya dengan bingung.

“...Jika Kamu marah karena aku menggunakan Nerve Gear lagi, aku minta maaf. Tapi benda itu benar-benar dibutuhkan.”

“Bukan. Bukan tentang itu.”

Sword Art Online 4 - 161.jpg

Setelah beberapa saat, perasaan yang bertentangan menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia melompat dari tempat tidurnya, dan kemudian berjalan ke arah pintu.

Dia memutar gagang pintu tersebut dan membuka pintunya, terlihat sosok Kazuto dibaliknya. Matanya dipenuhi oleh kekhawatiran pada saat melihat Suguha.

“Aku... Aku...”

Dia memberitahukan perasaannya, sambil mengeluarkan air mata.

“Aku - menghianati hatiku. Menghianati perasaan ku yang mencintai Onii-chan.”

Akhirnya Suguha bisa berkata ‘cinta’ pada orang yang disukainya secara langsung, tapi seperti ada pedang yang menusuk dada, tenggorokan, dan bibirnya. Sambil merasakan rasa sakit yang membakarnya, Dia melanjutkan perkataannya dengan suara serak.

“Aku pikir aku sudah melupakan semuanya, menyerah, dan mulai mencoba untuk mencintai Kirito. Tidak, aku sudah merasa cukup - tetapi... meskipun...”

“Apa...”

Untuk beberapa detik, Kazuto kehilangan kata-kata, kemudian dia berkata dengan berbisik.

“Cinta... Aku... Tapi, kita kan...”

“Aku tahu”

“...Apa...?”

“Aku sudah tahu semuanya”

‘Aku tidak boleh memberitahukan hal ini’, pikirnya. Tapi dia tidak dapat berhenti. Dengan matanya yang menatap Kazuto dan berisikan perasaannya yang kuat, dia mengucapkan sebuah pernyataan melalui bibirnya yang bergetar.

“Onii-chan dan aku bukan saudara kandung, aku sudah mengetahuinya sejak dua tahun yang lalu!!”

Oh tidak. Ibunya ingin dia menunggu saat yang tepat untuk memberitahukan Kazuto bahwa dia sudah mengetahui hal ini, bukan untuk menggunakannya sebagai senjata untuk perasaanya. Alasan Ibunya meminta dirinya untuk menunggu adalah untuk menggunakan waktu yang ada untuk memikirkan tentang hal tersebut , pikirnya.

“Alasan Onii-chan menyerah dari Kendo dan kemudian menjauhiku, itu semua karena Onii-chan sudah tau ini semua sejak lama bukan? Karena aku bukan adik kandungmu, Onii-chan mulai menjauhi aku kan? Lalu, kenapa Onii-chan sangat baik padaku sekarang!!”

Dia tidak dapat menahannya lagi, tidak peduli seberapa kasar kata-katanya. Secara perlahan mata hitam Kazuto kehilangan ekspresinya pada saat suara Suguha bergema di koridor yang dingin itu.

“Aku... sangat senang ketika Onii-chan kembali dari SAO. Aku senang kita akhirnya dapat kembali ke hubungan kita pada saat kita masih anak-anak. Aku pikir, Onii-chan akhirnya memperhatikanku."

Dia tidak bisa menahannya lagi, akhirnya, air matanya keluar dan jatuh membasahi wajahnya. Suguha mengusap kedua matanya dengan kasar, memaksakan suaranya untuk keluar dari dalam dadanya.

“...Tapi... jika aku tahu hal ini akan terjadi, akan lebih baik jika Onii-chan tetap berprilaku dingin padaku. Jika hal itu terjadi, aku tidak akan menyadari bahwa aku mencintai Onii-chan... Atau mencari tahu mengenai Asuna dan merasa sedih... Lalu aku tidak akan harus mencintai Kirito untuk menggantikanmu!!”

Mata Kazuto terbuka sedikit lebar pada saat mendengarkan kata-kata itu, kemudian dia terlihat kaku. Setelah beberapa detik waktu terasa berhenti, Kazuto menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata dengan sedih:

“...Maafkan aku...”

Sejak bangun dua bulan yang lalu, mata Kazuto yang melihat Suguha selalu mempunyai cahaya yang lembut dan mengandung kepedulian, bersinar di dalamnya. Tapi sekarang, cahaya itu meredup dan sebagai gantinya, terlihat kegelapan yang dalam di dalamnya. Suguha dipenuhi rasa sakit yang kuat, hatinya bagaikan di potong dengan pedang yang terbuat dari penyesalan.

“...Tolong, tinggalkan aku sendiri.”

Dia tidak ingin melihat wajah Kazuto lebih lama lagi. Saat sedang dihancurkan oleh rasa bersalah dan benci akan dirinya sendiri, Suguha menutup pintu kamarnya untuk melarikan diri, kemudian mundur beberapa langkah. Tumitnya menyentuh tempat tidurnya, kemudian dia menjatuhkan diri ke atas tempat tidurnya seakan ambruk.

Pada saat Ia meringkuk dengan selimut yang menyelimuti badannya, pundaknya bergetar dengan isak tangis yang menyiksa badannya. Kemudian air matanya mulai jatuh, meninggalkan tanda pada seperai berwarna putih yang menyerapnya.


* * *


Aku berdiri sejenak disana, bersama pintu yang tertutup di depanku.

Kemudian, aku berbalik dan menyenderkan punggungku pada pintu kamarnya, yang kemudian perlahan-lahan meluncur kebawah menuju lantai.

Tuduhan Suguha, bahwa aku menjauhinya karena dia bukanlah adik perempuan ku yang sebenarnya hampir benar. Aku telah mencari di internet mengenai dokumen-dokumen keluargaku [15], yang hanya aku temukan adalah catatan yang mengatakan dokumen tersebut sudah dihapus, lalu aku bertanya pada ‘orang tua’ku mengenai hal itu. Saat itu aku masih berumur sepuluh tahun. Kemudian aku mulai menjaga jarak dengan Suguha tanpa alasan yang benar-benar jelas.

Pada saat itu, aku tidak mengerti arti dari menjaga jarak dari orang lain.

Aku tidak mempunyai ingatan apapun mengenai kedua orang tuaku yang asli, Kirigaya Minetaka dan Kirigaya Midori memberitahukan kebenarannya padaku, tapi cinta mereka kepadaku tidak berubah, sehingga aku tidak benar-benar terluka. Namun, dalam diriku tertanam bibit perasaan aneh, pada saat bibit itu sudah bertunas, bibit itu sudah tertanam dengan kuat.

Dengan kata lain, seseorang yang bahkan tidak mengetahui kerabatnya, siapakah sebenarnya orang itu? Itu adalah pertanyaanku. Aku mulai berpikir seperti seseorang yang tahu segalanya, bahwa sebuah keluarga terdiri dari satu set kenalan yang memiliki hubungan yang panjang. Aku ingin tahu, akan jadi seperti apakah orang itu. Apakah aku tahu orang yang seperti itu?

Rasa ketidaksesuaian itu menjadi salah satu alasan yang membawaku terjun ke dunia game online. Disana, Avatar-avatar[16] yang bertemu di dalam game, semuanya berbeda. Tidak ada yang benar-benar tahu satu sama lainnya. Atas dasar pemikiran itu, kami berinteraksi satu sama lain, bisa dikatakan dunia itu adalah dunia yang palsu, tapi aku merasa nyaman. Pada saat aku berada di kelas 5 atau 6, aku sudah ketagihan bermain game online, tanpa melihat kesamping, aku tetap berjalan lurus. Akhirnya, aku terperangkap di dalam dunia virtual itu selama dua tahun.

Dunia Sword Art Online bisa dikatakan sebagai semacam utopia[17] untukku, jika tidak ada peraturan kematian disana. Sebuah mimpi dimana aku tidak akan terbangun. Sebuah dunia virtual yang tidak akan pernah berakhir.

Di dunia itu, aku menjadi Kirito, seseorang yang tidak diketahui siapa pun.

Namun, di situasi abnormal permainan internet Full Dive dimana aku tidak bisa log out, tanpa kekuatan aku dituntun ke pada kebenaran yang tak terelakkan.

Apakah dunia itu adalah dunia nyata atau dunia maya, kedua dunia itu pada dasarnya identik satu sama lain.

Karena manusia memahami dunia mereka melalui informasi yang mereka dapatkan melalui 5 indra mereka yang kemudian diproses otak. Alasan yang menyatakan game internet adalah dunia yang palsu adalah Kamu dapat meninggalkannya dengan menekan tombol off pada mesin.

Dunia yang diakui oleh otak kita melalui aliran listrik, dunia dimana Kamu tidak bisa keluar.

Kata-kata itu adalah kata-kata yang mendeskripsikan dunia nyata itu sendiri.

Ketika aku menyadari hal itu, aku akhirnya menyadari kekosongan pertanyaan yang membuatku bingung sejak umurku sepuluh tahun. Mengkhawatirkan orang lain adalah sesuatu yang tidak berarti. Hal yang dapat Kamu lakukan adalah mempercayai apa yang Kamu lihat, dan menerimanya. Seseorang yang aku akui adalah seseorang yang nyata.

Dari balik pintu tempat aku bersender, terdengar isak tangis Suguha.

Ketika aku kembali ke dunia nyata, aku sangat senang pada saat aku melihat wajahnya. Aku ingin memperpendek jarak yang aku buat dulu karena pertanyaanku yang sama sekali tidak berarti, kami akan membangun ikatan kami kembali, aku ingin mendekatinya karena aku ingin.

Namun, sepertinya Suguha menyadari sesuatu yang baru dariku selama dua tahun terakhir ini. Dia sudah tahu bahwa kakak laki-lakinya ternyata adalah sepupunya, dan mungkin mencoba memperdekat jarak yang aku tempatkan diantara kami berdua. Aku yang berpikir bahwa dia masih belum mengetahui kebenarannya, tidak dapat menyadari perasaannya.

Kepada Suguha, aku sudah memperlihatkan perasaanku terhadap Asuna berkali-kali. Aku menangis memikirkan Asuna di depannya. Tidak sulit untuk membanyangkan seberapa dalam aku telah menyakiti Suguha.

Tidak, tidak hanya itu.

Mungkin alasan Suguha yang gagap teknologi komputer, mulai bermain game VRMMO adalah aku. Untuk mengetahui duniaku, Suguha terjun kedalam dunia virtual, dan menuntun dirinya yang lain. Lyfa, orang yang berkali-kali menolongku di ALfheim - sebenarnya adalah Suguha.

Yui membuat hipotesis, bahwa alasan aku bertemu dengannya pada saat baru pertama kali login adalah karena ada seseorang di lingkunganku yang terhubung ke ALO pada saat yang sama denganku. Karena kami bermain bukan dari lingkungan yang sama, melainkan dari rumah yang sama, alamat IP global kami identik. Jadi, setelah aku bertemu Lyfa, satu-satunya yang ada di dalam kepalaku adalah Asuna, dan kemudian aku menyakiti Lyfa sama seperti aku menyakiti Suguha.

Aku menutup mata ku dengan erat, sampai dimana pada saat aku membukanya, mataku akan mengeluarkan suara, kemudian berdiri dengan seluruh kekuatan dikakiku.

Sekarang, aku akan melakukan apa yang dapat kulakukan untuk Suguha. Ketika kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan sesuatu, ulurkanlah tanganmu, banyak orang mengajariku hal itu dengan sepenuh hati di dunia SAO.


* * *


Suara ketukan yang keras terdengar di pintu, menarik Suguha keluar dari keadaannya. Lalu meringkuk karena refleks.

Dia ingin berteriak, ’Jangan buka pintunya’, tapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara yang tidak jelas. Namun, Kazuto mulai berbicara tanpa memutar kenop pintu itu.

“Sugu... Aku akan menunggumu di atas beranda di sisi utara Aarun.”

Itu adalah suara yang tenang, dan lembut. Dia merasa Kazuto sudah bergerak dari depan pintu kamarnya. Setelah terdengan suara pintu terbuka, kemudian tertutup diseberang lorong, muncul kesunyian.

Suguha memejamkan matanya rapat-rapat kemudian meringkuk lagi. Air matanya mulai berjatuhan lagi, membuat suara tetesan.

Suara Kazuto tidak sedikitpun terguncang. Apakah Kazuto sudah menelan bulat-bulat kata-kata kasar yang dia hujankan padanya?

‘- Dia sangat kuat, kakak laki-lakiku. Aku tidak bisa menjadi sekuat dirinya...”

Sambil membisikan kata-kata itu di hatinya, dia mengingat malam beberapa hari yang lalu.

Malam itu, Kazuto seperti dirinya sekarang, meringkuk diatas tempat tidurnya. Berpikir hal yang sama, berpikir mengenai orang yang dicintainya tetapi tidak dapat diraihnya. Bagaikan seorang anak yang tersesat.

Hari berikutnya dia bertemu Kirito. Pada saat itu, Kazuto sudah tahu, bahwa pada saat badan Asuna tertidur, kesadarannya ada di ALfheim - di World Tree yang menjulang tinggi ke atas. Dia melemparkan dirinya kedalam dunia virtual lagi. Menghapus air matanya, kemudian memegang pedang dengan tangannya.

- Pada saat itu, dia berkata semoga beruntung kepada anak laki-laki itu. Dia memberitahukan anak laki-laki itu untuk tidak menyerah. Namun, dirinya sendiri terus-menerus menangis seperti ini...

Suguha membuka matanya dengan perlahan. Sebuah mahkota mulia berbentuk bundar diletakkan di depannya.

Dia mengambilnya kemudian mengenakan mahkota itu di kepalanya.

Sinar matahari tumpah dari langit yang setengahnya dipenuhi awan dan menyinari jalan-jalan kuno Aarun dengan lembut.

Melihat kesekitar tempat dia login, sosok Kirito tidak dapat ditemukan. Dengan memeriksa peta yang ada, dia dapat melihat dirinya berada di alun-alun selatan di luar kubah World Tree, di sisi utara, terdapat beranda besar yang sepertinya digunakan untuk acara-acara atau event. Dia mungkin sedang menunggu Lyfa disana.

Meskipun dia sudah datang kesini, dia masih takut untuk bertemu Kirito. Dia tidak tahu apa yang ingin dia katakan atau apa yang ingin didengarnya. Setelah berjalan beberapa langkah dengan putus asa, Lyfa duduk di kursi yang berada di pinggiran alun-alun itu.

Dia tidak yakin sudah berapa lama dia duduk dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba, ada seseorang yang mendarat didepannya. Tubuhnya menjadi tegang karena refleks dan kemudian menutup kedua matanya.

Namun, orang yang memanggil namanya itu adalah orang yang tidak diduga-duga.

“Akhirnya... Aku mencarimu dari tadi, Lyfa-chan!”

Sebuah suara yang akrab, ceria, tapi tidak dapat diandalkan bergema. Dia mengangkat kepalanya dengan tercengan, di depannya, berdiri sosok seorang anak laki-laki Sylph yang mempunyai rambut berwarna kuning kehijauan.

“...R,Recon!?”

Melihat wajahnya yang tak terduga ini, Lyfa lupa akan segala rasa sakit yang dia rasakan, dan bertanya kepadanya, kenapa dia ada disini. Recon menempatkan kedua tangannya di atas pinggulnya, membusungkan dadanya lalu berkata:

“Jadi, setelah Sigurd pergi, status paralysis ku memudar, jadi aku membunuh 2 player Salamander itu dengan racun, kemudian melarikan diri dari jalur air bawah tanah itu. Aku berencana membunuh Sigurd dengan menggunakan racun, tetapi dia tidak ada di ibukota Sylph, jadi aku memutuskan untuk pergi ke Aarun. Aku kesini melewati pegunungan, melatih monster-monster agresif[18] yang ada dengan player di tengah jalan, dan akhirnya aku sampai di Aarun pagi ini. Perjalanan itu memakan waktu semalaman penuh.”

“...Kau, itu benar-benar murni MPK[19]

“Jangan khawatir dengan rincian kecilnya untuk saat ini!”

Recon tidak peduli dengan kata-kata Lyfa yang menuduhnya, dia terlihat senang, kemudian dia duduk disamping Lyfa. Dia bingung melihat Lyfa yang sendirian, setelah melihat kesekitar, bertanya:

“Apa yang terjadi dengan Spriggan itu? Apakah Kamu membubarkan Partymu?”

“Sebenarnya...”

Mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan, Lyfa menjadi gelisah, kemudian menggeser pinggulnya dengan tidak menentu. Namun, seperti ada gumpalan rasa sakit di dalam dadanya, dan tidak ada alasan yang cakap muncul di pikirannya. Ketika dia sadar, dia sudah mengatakan apa yang tertimbun di dalam hatinya.

“...Aku, sudah mengatakan sesuatu yang buruk kepada orang itu... Meskipun aku mencintainya, aku mengatakan hal-hal yang harusnya tak kuucapkan untuk menyakitinya... aku, bodoh...”

Air matanya hampir tumpah lagi, tetapi Lyfa berusaha mati-matian untuk menahannya. Recon / Nagata hanyalah teman sekelasnya, diatas semua itu, ini adalah dunia virtual, dia tidak ingin emosinya membuat Recon bingung. Jadi Ia berbalik dengan cepat kemudian berbicara dengan cepat.

“Aku minta maaf, karena mengatakan hal yang tidak-tidak. Tolong lupakan apa yang aku katakan. Aku tidak akan bertemu orang itu lagi... Ayo kita pulang, ke Sylvain.”

Meskipun dia ingin kabur di dunia ini, di dunia nyata, fakta bahwa Ia hanya terbaring beberapa meter darinya tidak terbantahkan. Tapi dia masih takut untuk bertemu Kirito. Dia akan kembali ke Sylfain tanpa pergi ketempat pertemuannya, kemudian setelah mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman dekatnya di dunia ini, dia akan membuat «Lyfa» tidur selamanya, pikirnya.

Setelah menentukan apa yang ingin Ia lakukan, Lyfa melihat keatas dan melihat wajah Recon. Dia sangat terkejut dan tidak sengaja bersandar pada kursi.

“A...Apa!?”

Wajah Recon memerah semerah tomat, matanya terbuka lebar, mulutnya terbuka dan tertutup tanpa mengeluarkan kata-kata. Untuk beberapa saat, dia bertanya-tanya apakah ada yang menggunakan sihir penyesak nafas beratribut air pada saat itu, Lyfa lupa bahwa mereka sedang ada di tengah kota. Pada saat itu, tiba-tiba Recon bergerak dengan kecepatan yang hebat, meraih tangan Lyfa, dan meletakkannya di atas dadanya.

“Ad- Ada apa!?”

“Lyfa-chan!”

Player-player disekitar melihat kearah mereka setelah mendengarkan suaranya yang kencang. Dia terus menjulurkan lehernya sambil bergerak mendekati Lyfa yang sedang menyender sampai batas.

“Ly, Lyfa-chan Kamu tidak boleh menangis! Jika Kamu tidak selalu tersenyum, maka Kamu bukanlah Lyfa-chan! Aku, aku akan selalu ada di sampingmu... Di dunia ini maupun di dunia nyata, aku tidak akan meninggalkan mu sendirian... Aku, aku, aku cinta kamu Lyfa-chan... Suguha-chan!”

Setelah berbicara terus-terusan seperti keran air yang rusak, dia memajukan kepalanya tanpa menunggu jawaban Lyfa. Terdapat cahaya aneh yang bersinar di matanya yang biasanya malu-malu, bibirnya mengembang di bawah hidung yang tampak membengkak pada saat dia mendekati Lyfa.

“Ah, itu, tungg...”

Penyergapan dan serangan kejutan adalah kemampuan yang dikuasai Recon, Lyfa terkejut dan badannya menjadi tegang karena kata-kata dan tindakan yang tidak terduga itu. Recon menyandarkan badannya untuk menutupi Lyfa, Lyfa yang berdiam diri seakan menyetujui tindakannya itu, kemudian dia terus mendekati Lyfa.

“Hei... tunggu...”

Lyfa kembali sadar setelah merasakan nafas Recon di wajahnya, kemudian dia mengepalkan tangan kirinya.

“Aku bilang.. tunggu!!”

Sambil berteriak, Lyfa memutar tubuhnya dan menghantam solar plexus[20]milik Recon dengan pukulan yang kuat.

“Guhoo!!”

Karena ini terjadi di dalam kota, maka tidak ada damage yang diterima, tetapi efek terpukul mundur masih dapat dirasakan, badan Recon melayang setinggi satu meter di udara, kemudian jatuh kembali ke bangku itu. Dia mengeluarkan suara kesakitan sambil memegangi perutnya dengan kedua tangan miliknya.

“Uguguguuuu... K, Kejamnya, Lyfa-chan!!”

“Siapa suruh!! Tiba-tiba mengatakan sesuatu yang sangat bodoh!”

Lyfa merasa mukanya menjadi panas dan kemudian berdiri. Wajahnya menyala panas seperti nafas naga yang bercampur dengan rasa marah dan malu saat dia menyadari bibirnya hampir saja dicium. Sekarang dia mengangkat Recon melalui kerah bajunya, dan kemudian meninjunya beberapa kali dengan tangan kanannya.

“Uge! Ugee! M, maaf, aku minta maaf!!”

Recon terguling jatuh dari bangku itu, dan kemudian memegang badannya dengan tangan kanannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lyfa menurunkan kuda-kuda serangannya, dan kemudian duduk bersila diatas bangku, dan menundukkan kepalanya.

“Oh.... Anehnya... aku pikir, setelah semua yang terjadi, yang tersisa ialah apakah aku mempunyai keberanian untuk menyatakan cintaku atau tidak...”

“...Kenapa kamu...”

Lyfa kagum, dan kemudian berkata jujur dengan nada yang cocok.

“...Apa kamu benar-benar bodoh.”

“Ugu...”

Melihat wajah Recon yang terluka seperti anak anjing yang baru saja dimarahi, Lyfa tertawa dengan takjub. Dengan campuran nafas dan tawa, Lyfa merasa ada hal lain yang ikut keluar. Pada saat yang sama, dia merasa beban di hatinya menjadi lebih ringan.

Aku rasa selama ini aku terus memendam semuanya sampai sekarang, pikirnya. Merasa takut dia akan terluka, dia mengatupkan giginya dan menanggung semuanya. Oleh karena itu, dia terbanjiri oleh emosinya yang meluap-luap, dan akhirnya melukai orang yang dicintainya.

Dia mungkin sudah terlambat - tapi paling tidak dia ingin jujur kepada dirinya sendiri. Pundak Lyfa menjadi santai pada saat dia memikirkan hal itu, kemudian dia melihat ke arah langit, kemudian berkata:

“- Tapi, aku tidak membenci sisi dirimu yang seperti ini.”

“Apa!? Benarkah, benarkah!?”

Recon meloncat ke atas bangku itu, dan mencoba meraih tangan Lyfa tanpa belajar dari kesalahannya.

“Jangan senang dulu!”

Lyfa menarik tangannya, kemudian terbang ke langit.

“- Sesekali, aku akan mencoba belajar darimu. Tunggu disini sebentar.- Jika kamu mengikutiku, maka Aku akan memberikan ganjaran yang lebih besar!”

Lyfa menjuruskan tinju tangan kanannya ke arah muka Recon dengan kencang, kemudian membukanya dan melambaikan tangan, kemudian berbalik. Dia mengepakkan kedua sayapnya dengan kuat, kemudian terbang menuju World Tree.

Sebuah beranda yang luas terlihat setelah terbang di sekitar World Tree selama beberapa menit. Sepertinya tempat itu sering digunakan sebagai tempat pasar loak dan terkadang tempat acara Guild, tapi hari ini tempat itu sama sekali kosong. Sisi utara Aarun tidak mempunyai bangunan-bangunan berarsitektur hebat, sehingga tidak terlihat turis sama sekali disini.

Ada bayangan hitam seseorang yang berdiri di tepian jalan yang berada ditengah-tengah teras itu. Orang itu memiliki sayap abu-abu yang tajam, dan membawa pedang besar yang terikat di punggungnya.

Lyfa menarik nafas dalam-dalam, kemudian mendarat didepannya dengan tekad yang bulat.

“...Hai.”

Kirito melihatnya dengan sedikit tegang, dan dengan senyum santai miliknya yang biasa, kemudian menyapanya dengan singkat.

“Maaf membuatmu menunggu.”

Lyfa juga membalas dengan tersenyum. Keheningan yang ada bertahan selama beberapa detik. Hanya ada suara angin yang berhembus di antara mereka berdua.

“Sugu...”

Kirito akhirnya membuka mulut. Dia mempunyai mata yang serius. Lyfa mengangkat tangannya dengan lembut dan menyela Kirito sebelum Kirito selesai berbicara. Lyfa mengepakkan sayapnya sekali, dan mundur satu langkah.

“Onii-chan, ayo kita bertanding. Bertanding sebagai lanjutan dari pertarungan kemarin.”

Lyfa meraih katananya selagi dia berbicara, dan Kirito menatapnya dengan mata terbuka sedikit lebar. Mulutnya bergerak, seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian berhenti.

Kirito melihatnya dengan mata hitam yang sama dengan mata yang dimilikinya di dunia nyata, setelah beberapa detik, Kirito menganggukkan kepalanya. Dia juga mulai mengepakkan sayapnya, kemudian membuat jarak di antara mereka berdua.

“- Baiklah. Aku tidak akan mengalah kali ini.”

Kirito membalasnya dengan tersenyum, kemudian menggerakkan tangannya untuk meraih pedang di punggungnya.

Mereka berdua menarik pedangnya masing-masing disaat bersamaan. Suara keren dua pedang besi yang ditarik bertindihan satu sama lain. Lyfa memegang katananya dengan middle stance favoritnya, menatap lurus kearah Kirito. Kirito menundukkan badannya, dengan kuda-kuda yang rendah pedangnya menyentuh tanah. Cara yang digunakannya sama seperti hari itu.

“Kamu tidak perlu berhenti sebelum memukul.- Ayo kita mulai!!”

Lyfa menendang tanah pada saat dia berbicara.

Aku melihat jarak di antara kami memendek dalam sekejap - pikir Lyfa. Hari itu, ketika kami berlatih, aku berpikir bahwa kuda-kuda yang digunakan Kazuto tidak masuk akal, tapi kuda-kuda itu adalah kuda-kuda yang diasanya di dunia virtual. Kazuto mempelajarinya dari pengalaman selama dua tahun bertarung dengan pedang sungguhan, dengan mempertaruhkan nyawanya.

Dia berpikir dengan serius, bahwa dia ingin mengerti untuk pertama kalinya. Apa yang dilihat Kazuto disana, apa yang dipikirkannya, bagaimana dia hidup di dunia yang dibenci itu, di dalam game kematian, dia ingin tahu semuanya.

Lyfa mengangkat tinggi pedangnya, kemudian memotong lurus kebawah. Di Sylvain, sering dikatakan bahwa serangan Lyfa tidak dapat dihindari, tapi Kirito tampak bergerak seperti aliran udara, bergeser sedikit, dan menghindarinya. Tepat setelah itu, muncul pedang besar dengan gerakan memutar. Lyfa menarik kembali katananya dan menghadang pedang itu, tapi kedua tangan mereka terkejut karena hantaman yang kuat itu.

Mereka berdua menggunakan pantulan senjata mereka untuk menendang tanah, kemudian mengepakkan sayap mereka masing-masing. Mereka berdua terbang memutar seperti helix[21] dengan cepat, pedang mereka bentrok satu sama lain pada saat mereka bertemu. Efek suara dan cahaya bagaikan ledakan menggelegar di udara, seakan menggetarkan dunia.

Lyfa tidak dapat menahan dirinya melihat gerakan Kirito dengan kagum, baik sebagai juara kendo maupun sebagai seorang peri swordswoman. Tidak ada gerakan yang berlebih, seperti tarian serangan berkesinambungan dan bertahan yang indah.

Lyfa merasa dirinya berada diatas batas yang pernah di rasakannya pada saat menjadi satu dengan irama milik Kirito, dan terus mengayunkan pedangnya. Setelah memikirkannya lagi, dari semua duel yang dilakukannya di dunia ini, tidak sekalipun dia pernah merasa puas seperti ini. Lyfa pernah kalah sebelumnya, entah karena serangan tak terduga senjata lain ataupun karena sihir, tetapi dia tidak pernah sekalipun dalam pertarungan pedang yang murni

Pendekar pedang yang bosan itu akhirnya bersuka cita pada saat menghadapi orang yang ia cintai lebih dari apapun. Dia berpikir, meskipun hati mereka berdua tidak akan bersilangan lagi, hal ini sudah cukup baginya. Tanpa Lyfa sadari, air matanya mulai terbentuk di sudut-sudut matanya.

Seperti waktu-waktu sebelumnya dimana pedang mereka berdua bertemu pada pertempuran mereka yang hebat, Lyfa terdorong kebelakang, kali ini dia menambah kekuatan sayapnya dan kemudian membuat jarak yang lebar di udara diantara mereka. Sayapnya mengembang, dia melayang ditempat itu, kemudian mengangkat pedangnya setinggi yang dia bisa.

Ini akan menjadi pukulan terakhir yang menentukan pertarungan kita, Lyfa mengekspresikan perasaannya ini kepada Kirito. Kirito pun bersiap-siap, dia memegang pedangnya jauh dibelakang tubuhnya.

Pada saat ini, kesunyian yang ada bagaikan permukaan air yang tenang.

Air mata mulai mengalir turun menuruni wajah Lyfa, kemudian menetes jatuh, menyebarkan riak dalam kesunyian. Kemudian kedua orang itu bergerak pada waktu yang sama.

Dia terbang dengan terbakar, udara disekitarnya memanas pada saat Lyfa melewatinya. Katananya membuat lengkungan cahaya yang terang di langit. Dia melihat di depannya, Kirito melakukan hal yang sama. Kelap-kelip cahaya putih keluar dari pedangnya pada saat pedang itu membelah langit.

Pada saat katananya dipegang diatas kepalanya, dia melepas kedua tangannya.

Pedang yang kehilangan pemiliknya itu menjadi panah cahaya dan terbang tinggi di langit. Lyfa mengabaikannya dan kemudian merentangkan kedua tangannya, bersiap menerima pedang Kirito.

Hal ini tidak akan membuat Kirito / Kazuto puas akan pertarungan mereka. Namun, Lyfa / Suguha tidak dapat memikirkan cara lain untuk meminta maaf, atas perkataan bodohnya menyakiti hati Kirito.

Paling tidak, aku dapat menyerahkan tubuh ini yang sebenarnya adalah diriku yang lain kepada pedangnya, pikir Lyfa.

Dengan tangannya yang terbuka lebar, matanya yang setengah tertutup, Lyfa menunggu saat-saat itu.

Namun - Cahaya putih itu perlahan meleleh dan hilang, Kirito terbang kemari, tapi kedua tangannya tidak memegang pedang, sama sepertiku.

“...!?”

Lyfa membuka kedua matanya karena terkejut. Di pinggir penglihatannya, dia bisa melihat pedang besar Kirito berputar menjauh, sama seperti pedang miliknya. Pada saat yang sama Lyfa melepaskan pedangnya, Kirito juga melempar pedangnya.

Kenapa - dia bahkan tidak mempunyai waktu untuk berpikir pada saat mereka berdua bertemu di tengah udara. Sama dengannya, Kirito juga merentangkan tangannya, mereka berdua bertabrakan, dan tabrakan itu membuatnya berhenti bernafas saat dia secara tidak sadar berpegang erat pada Kirito.

Hal itu tidak menghabiskan energi inertial[22] mereka, mereka berputar di udara, ketika kedua orang itu seperti menjadi satu. Langit yang biru dan pepohonan hijau melintasi penglihatan mereka pada saat mereka berputar-putar.

“Kenapa -”

Lyfa mengatakan hal itu. Dari jarak yang sangat-sangat dekat Kirito menatapnya dan kemudian berbicara.

“Kenapa -”

Hening, kedua mata itu masih bertemu, mereka berdua terus berputar karena inertia yang terdapat di udara ALfheim. Setelah beberapa lama, Kirito mengembangkan sayapnya, menghentikan putaran dan mengontrol posisi mereka berdua, kemudian membuka mulutnya.

“Aku - ingin minta maaf kepada Sugu - Tapi... aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat... aku pikir paling tidak aku dapat menerima pedangmu...”

Tiba-tiba, Lyfa dapat merasakan kedua tangan Kirito yang memeluknya dengan lebih erat.

“Maafkan aku... Sugu. Setelah akhirnya aku kembali.. aku, tidak benar-benar menyadarimu. Aku terobsesi dengan masalahku sendiri... aku tidak dapat mendengar apa yang kamu katakan. Maaf...”

Air mata Lyfa meluap pada saat kata-kata itu memasuki telinganya.

“Aku... Aku lebih...”

‘Lebih dari itu’ tidak menjadi kata-kata yang dapat diucapkannya. Dia membenamkan wajahnya di dada Kirito dan menangis dengan keras.

Tampaknya butuh waktu yang sangat lama untuk mereka berdua mendarat dengan perlahan di atas rumput. Lyfa terisak-isak sepanjang waktu, Kirito dengan lembut menepuk kepalanya, dan beberapa menit kemudian, mulai berbicara dengan suara yang lembut.

“Aku... sebenarnya, masih belum kembali dari dunia itu. Aku masih belum menyelesaikannya. Hidupku yang nyata masih belum bisa dimulai hingga dia membuka matanya... Jadi, untuk sekarang, aku masih belum yakin untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan Sugu...”

“...Ok.”

Lyfa menganggukkan kepalanya dengan pelan, dan kemudian berbisik.

“Aku, akan menunggu. Menunggu waktu Onii-chan akan benar-benar kembali kerumah. ...Jadi, aku akan membantu. Jelaskan padaku, mengenai orang itu... Kenapa, Onii-chan datang ke dunia ini...”


Referensi[edit]

  1. Bermuka masam.
  2. AI (Artificial Intelligence) yang bertugas dalam perawatan mental / batin
  3. Ministry of Internal Affairs and Communications.
  4. Headboard = Furnitur yang dipasang diujung tempat tidur / matras, biasanya terbuat dari kayu.
  5. Jendela interfensi yang biasanya membantu operasional game online
  6. Non-Player Characters : Karakter yang tidak dikontrol oleh player.
  7. Konsentris : Mempunyai pusat yang sama
  8. ALO menggunakan «Sistem Pemfokusan Digital» yang berasal dari server SAO. Sistem itu merupakan sistem yang menampilkan detil yang lebih halus dari sebuah objek hanya saat seorang pemain menunjukkan ketertarikannya dan fokus dengan objek itu. (Vol. 2 Bab.1), karena masih cukup jauh, agak susah untuk memfokuskan dahan itu, maka yang terlihat adalah dahan berdetail rendah (low detail)
  9. Warning Mode Voice: Peringatan berbentuk suara
  10. Magnet berkutub sama akan menolak satu sama lainnya
  11. Quest: Tugas yang diberikan kepada player oleh NPC / sistem, yang dapat diselesaikan untuk mendapatkan hadiah
  12. Tidak bisa dilewati
  13. Stained Glass: Kaca berwarna yang disusun menyerupai pola terntentu yang membentuk benda/makhluk hidup, contoh penggunaan: Sebagai jendela di gereja.
  14. Getah dari World Tree
  15. Sistem Koseki di Jepang, dimana pemerintah mewajibkan penduduknya untuk melaporkan kejadian mengenai kelahiran, kematian, adopsi, pernikahan serta perceraian kepada pemerintah setempat, dokumen-dokumennya hanya bisa diisi oleh anggota keluarga yang bersangkutan.
  16. Avatar: Representasi grafis seorang user, dalam hal game online, bisa diartikal sebagai Karakter
  17. Utopia: Keadaan sempurna yang hanya ada di dalam bayangan, dan sulit atau tidak dapat diwujudkan dalam kenyataan.
  18. Istilah game MMO - berlari melewati monster-monster agresif agar dikejar. Melatih disini mempunyai bahasa inggris ‘Train’, dalam hal ini kata itu berujuk pada kereta api.(Lari dengan banyak monster yang mengejar dibelakang, tampak seperti kereta api)
  19. Monster Player Killing: mengumpulkan monster-monster agresif untuk membunuh player lain.
  20. Jaringan syaraf yang kompleks, yang terletak di sekitar bagian atas perut http://en.wikipedia.org/wiki/Celiac_plexus
  21. Helix: Berputar seperti pegas.http://id.wikipedia.org/wiki/Heliks
  22. Inertia: Resistansi objek fisik atas perubahan pergerakannya / kecendrungan objek fisik untuk menolak semua perubahan pada pergerakannya.