Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 5 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 3[edit]

Senja.

Awan rendah ternoda kuning oleh matahari terbenam.

Di dalam padang gurun batu dan pasir, bayangan dari reruntuhan-reruntuhan bangunan yang tinggi semakin memanjang. Jika kita meneruskan untuk menunggu satu jam lagi, kita harus mempertimbangkan untuk beralih ke peralatan tempur khusus untuk malam hari.

Bertempur dengan kacamata night vision akan mengurangi kesenangan membunuh atau dibunuh, sehingga itu bukan metode yang disukai Sinon. Sebelum matahari tenggelam sepenuhnya, semoga kelompok sasaran kita muncul secepatnya, Sinon bergumam sambil meringkuk di belakang beton. Selain itu, kelima temannya yang juga sedang mununggu dengan murung dalam penyergapan tidak salah lagi pasti memikirkan hal yang sama.

Untuk menjawab keraguan yang tersembunyi di pikiran mereka semua, salah satu anggota baris depan menurunkan senjata berkaliber kecil bergagang pendeknya dan berbisik.

"Yang benar saja, berapa lama lagi kami harus menunggu... Hei Dyne, apa mereka benar-benar akan datang? Apakah informasinya bisa dipercaya?"

Orang yang ditanyakan, Dyne, dengan tubuhnya yang besar, padat dan berwajah kasar, adalah pemimpin skuadron mereka, dia menurunkan senapan assault yang besar dari bahunya dan berkata sambil menggelengkan kepala.

"Mereka telah menggunakan rute berburu yang sama untuk tiga minggu terakhir, pada saat yang sama setiap harinya. Aku secara pribadi telah mengkonfirmasikan informasi tersebut. Memang hari ini mereka agak terlambat, mereka pasti telah bertemu dengan beberapa Mob (Monster). Itu berarti bagian yang akan kita dapatkan juga akan bertambah, jadi berhentilah mengeluh."

"Tapi."

Prajurit barisan depan tersebut menjadi semakin tidak senang dan cemberut.

"Mangsa hari ini adalah kelompok yang sama dengan yang kita serang minggu lalu, kan? Mereka kemungkinan mengubah rute yang mereka pakai sebagai tindakan untuk mencegah hal itu..."

"Enam hari telah berlalu sejak penyergapan kita sebelumnya. Sejak itu, mereka selalu pergi ke tempat berburu yang sama. Mereka adalah skuadron khusus untuk berburu Mobs..."

Di wajah Dyne ada senyum yang mengejek.

"Tanpa mempedulikan berapa kali mereka diserang, bahkan jika pendapatan mereka dirampok, mereka berpikir bahwa mereka hanya perlu berburu lagi untuk menutupi kerugian itu. Untuk skuadron anti-personil seperti kita, mereka adalah mangsa yang terbaik dan kita bisa mengulangi hal ini dua sampai tiga kali lagi."

"Tapi itu sulit untuk dipercaya. Biasanya, kalau seseorang telah terserang sekali, mereka akan mempersiapkan sejenis cara untuk mencegah hal itu."

"Sehari setelah itu mereka mungkin akan waspada, tetapi manusia cenderung menjadi sembrono setelah beberapa saat. Mereka telah terbiasa bertempur melawan algoritma (pola serang) Mobs yang mudah diprediksi di medan perang setiap hari dan hanya memburu Mobs yang sama itu untuk waktu yang cukup lama untuk membuat mereka bertindak seperti Mobs itu sendiri. Hanya sekelompok orang tanpa harga diri."

Semakin banyak yang Sinon dengar, semakin tidak enak perasaannya, dan juga semakin dalam dia membenamkan wajahnya pada selendangnya. Fluktuasi emosional melambatkan jari yang ada di pelatuknya dan meskipun Sinon mengerti hal itu, mendengarkan ucapan yang kurang ajar dari Dyne membuat perasaan kesal meluap didalam hatinya.

Dyne, yang menertawai rombongan spesialisasi Mobs dengan skuadron PvP-nya (Anti-personil), yang terus menerus menyergap rombongan seperti itu sepertinya tidak melukai harga dirinya. Daripada menunggu berjam-jam di medan netral ini, akan lebih baik menghadapi skuadron level tinggi di reruntuhan bawah tanah yang akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Tentu saja peluang untuk kekalahan total, menjatuhkan peralatan dan balik ke jalan «Maut Kembali» juga tinggi. Tetapi itulah makna dari pertempuran yang sebenarnya dan hanya dari ketegangan seperti itulah jiwa dapat ditempa.

Sudah dua minggu berlalu sejak Sinon diundang ke skuadron yang dipimpin oleh Dyne dan dia menyesal telah ikut bergabung. Tujuan utama PVP mereka sepertinya hanya kebohongan belaka, karena mereka hanya menyerang musuh yang lebih lemah dibandingkan mereka sendiri. Dan bahkan jika ada tanda bahaya sekecil apapun, mereka akan mundur. Mereka adalah grup yang mengindahkan keselamatan terlebih dahulu.

Sejauh ini, Sinon telah mengikuti kebijakan skuadron ini tanpa merasa keberatan, diam-diam mengikuti instruksi dari Dyne dan menarik pelatuk senjatanya. Namun, Sinon tidak melakukan itu karena loyalitas. Sinon sedang mengumpuli data tentang cara berpikir Dyne, mempelajari gerak-geriknya. Semua itu dilakukan Sinon jika suatu saat nanti Dyne menjadi musuhnya dan Sinon perlu menembakkan pelurunya ke antara alis Dyne (headshot) di medan perang suatu saat nanti.

Sinon tidak menyukai kepribadian Dyne, tetapi di "Bullet of Bullets" sebelumnya, Dyne berada di ranking ke-18. Stats orang ini dan langkanya <<SIG SG 550[1]>> senapan serbu dibawah bahunya itu, yang menembakkan peluru 5.56mm kaliber, kekuatannya nyata. Oleh sebab itulah Sinon tidak berkata apa-apa, hanya matanya saja yang berkedip, mengumpulkan informasi yang dibocorkan oleh Dyne yang lengah.

Dyne melanjutkan pembicaraannya.

"Secara umum, untuk berburu Mobs mereka biasanya membawa senjata-senjata optik, jadi mereka kemungkinan tidak mempersiapkan puluru tajam anti-personil untuk mereka sendiri. Paling-paling, mereka hanya membawa satu orang dengan senjata api tipe mendukung (support) sebagai pilihan yang terbaik. Untuk menghancurkan orang itu, aku menyuruh Sinon membawa sniper-nya hari ini. Tidak ada titik buta di rencana pertempuran ini. Ya kan, Sinon?"

Menghadapi percakapan yang tiba-tiba dialihkan ke dirinya, Sinon mengangguk sedikit dengan wajahnya yang terbenam di selendangnya. Sinon tetap menutup mulutnya rapat, menunjukkan bahwa dia tidak berniat mengikuti percakapan.

Dyne mendengus bosan, tetapi salah satu anggotanya lalu menghadap ke Sinon sambil menyeringai dan berkata:

"Yah, itu benar. Tembakan jarak jauh Sinon adalah salah satu dari yang terbaik dan belum pernah berubah.- Ya kan, Sinon..."

Senyum menghiasi wajahnya, orang tersebut merangkak ke sisi Sinon tanpa meninggali bayang-bayang perlindungannya.

"Apakah kamu punya waktu setelah ini? Aku ingin saranmu untuk meningkatkan ketrampilan membidikku. Apa kamu mau minum teh denganku di suatu tempat hari ini?"

Sinon melihat sekilas senjata di pinggang orang tersebut. Senjata utamanya adalah senapan sub-mesin <<H&K UMP>> tipe peluru balistik. Dia tampaknya seperti tipe AGI, tingkat menghindarnya pada saat pertempuran satu-lawan-satu diatas rata-rata, tetapi level dan perlengkapannya tidak cukup untuk dianggap sebagai lawan yang layak untuk diingat. Sinon harus berpikir keras untuk mengingat namanya, dan Sinon menundukkan kepalanya sedikit.

"...Maaf, Ginrou-san. Hari ini aku agak sibuk di dunia nyata..."


Suara Sinon serupa, meskipun tidak sama dengan suaranya di dunia nyata. Suaranya yang tinggi, jelas dan manis, membuatnya lelah di dalam, alasan mengapa dia tidak suka berbicara. Pria yang bernama Ginrou tampaknya tidak peduli bahwa ia ditolak dan senyumannya yang gembira tidak pernah pudar dari wajahnya. Sepertinya untuk sebagian pemain laki-laki, hanya dengan mendengar suara Sinon membuat mereka merasa bergairah dan berpikir tentang hal itu membuat Sinon berkeringat dingin.

Ketika Sinon pertama kali memulai VRMMO-RPG <<Gun Gale Online>>, dia ingin avatar laki-laki yang kasar dan tanpa kepribadian. Dia kemudian baru tahu dari pilihan judul kalau kamu tidak dapat memilih jenis kelamin yang berbeda dari pemain nyata, jadi dia menginginkan tentara wanita yang tinggi dan berotot, pikirnya.

Namun, yang dihasilkan sesuai dengan acakan parameter adalah karakter perempuan berbentuk kecil dan elok, hampir seperti boneka. Sinon langsung berpikir untuk menghapus akun itu dan membuat yang baru. Tetapi temannya yang mengundangnya ke game ini berkata "Sayang sekali!". Karena desakannya yang kuat, dan karena Sinon telah meningkatkan levelnya cukup banyak sementara ini, dia tidak bisa memulai dari awal lagi.

Karena penampilannya, kejadian merepotkan seperti ini terjadi kadang-kadang. Untuk Sinon yang motivasi tunggalnya di game ini adalah bertempur, hal ini menyusahkannya.

"Oh begitu, Sinon, apakah kamu seorang murid di dunia nyata? Mahasiswi? Apakah kamu harus menulis laporan atau hal-hal lainnya?

"....Ya, begitulah...."

Jadi, jika dia telah gagal menolak sekali, maka ia kemungkinan akan menggunakan sekolah sebagai alasan untuk terus-menerus mengundangya. Sebenarnya Sinon hanyalah murid SMA, tetapi itu adalah sesuatu yang tak seorang pun akan mendengar dari mulut Sinon.

Kemudian, dua prajurit laki-laki barisan depan lainnya yang tadinya sedang menggerumit jendela status mereka, datang mendekati seolah-olah untuk menahan Ginrou. Salah satu dari mereka berdua, dengan kacamata pelindung lapis asap dan berambut hijau di depannya, membuka mulutnya.

"Ginrou-san, kamu bisa melihat bahwa Sinon-san merasa terganggu. Jangan berbicara tentang dunia nyata di sini."

"Itu benar, baik dia dan diriku adalah bujangan yang kesepian."

Temannya yang satu lagi, seorang pria dengan helm kamuflase, tersenyum menyeringai, lalu Ginrou mendorong kepala mereka berdua dengan tinjuan putarnya dan membalas,

"Walah, kalian berdua jelas belum mengalami musim semi dalam beberapa tahun."

Sinon menyusut tubuhnya lebih menyamping ke arah tiga orang "Hahaha" yang sedang tertawa tersebut dan harus bertanya-tanya di dalam hatinya.

Ketika perang adalah untuk bertempur melawan pemain-pemain lainnya, kamu seharusnya berkonsentrasi atau memeriksa perlengkapanmu atau melakukan hal-hal berguna lainnya untuk melewati waktu pada saat menunggu. Jika kamu hanya ingin mendapatkan uang untuk ditukar menjadi uang elektronik, maka bergabung dengan skuadron khusus berburu Mob lebih baik. Jika kamu hanya ingin bertemu dengan gadis-gadis, bahkan didalam game ini dimana jenis-kelamin sudah ditetapkan, kamu tidak harus berada di dunia pembunuhan yang tidak nyaman ini. Game dunia dongeng dengan jumlah pemain-pemain wanita lainnya adalah pilihan yang lebih baik. Untuk alasan apakah orang-orang ini datang ke dunia ini sih?

Dia membenamkan wajahnya lebih dalam lagi ke selendangnya, Sinon lalu menggunakan tangan kirinya untuk mengelus tubuh senapan besarnya yang dipijakkan ke pijakan berkaki dua di sebelahnya.

-Suatu hari nanti, akanku gunakan senjata ini untuk menghancurkan tubuh avatar kalian. Apakah kalian masih bisa berbicara sambil tersenyum setelah semua itu?

Sinon berbisik jauh didalam pikirannya dan seolah-olah iritasinya diserap oleh laras senapannya yang dingin, dia perlahan-lahan menjadi tenang.

"-Mereka segera tiba."

Bisik anggota terakhir dari rombongannya 20 menit kemudian, dia terus mengintai musuhnya dengan teropong di lubang dinding beton yang rusak.

Ketiga prajurit barisan depan dan Dyne berhenti percakapan mereka dan suasana tiba-tiba menjadi tegang.

Sinon memandang langit diatasnya. Awan kuning perlahan-lahan berubah menjadi merah, tetapi kecerahannya masih cukup memadai.

"Mereka akhirnya muncul."

Setelah bergumam pelan, Dyne bergerak merangkak dan mengambil teropong dari si pengintai. Dia melihat keluar untuk memeriksa kekuatan tempur musuh.

"...Itulah mangsa kita. Tujuh anggota...lebih banyak satu dibandingkan minggu lalu. 4 prajurit barisan depan dengan Peletus (Blasters) tipe optik. 1 prajurit dengan senapan laser berkaliber besar. Dan...ya, satu orang bersenjata <<Minimi[2]>>. Orang itu menggunakan senjata optik minggu sebelumnya, dia pasti terburu-buru mengganti senjatanya ke jenis balistik. Dialah yang akan kita tembak dahulu. Lalu prajurit terakhir...tertutup jubahnya jadi senjatanya tidak tampak..."

Mendengar ini, Sinon bergerak ke posisi menembaknya dan menempatkan wajahnya didekat scope berdaya tingginya.

Keenam orang dari skuadron Sinon sedang bersembunyi di reruntuhan sebuah peradaban yang dibangun sedikit lebih tinggi dari tempatnya. Reruntuhan dinding beton yang rusak dan rangka-rangka baja memberikan perlindungan yang memadai dan lokasi terbaik untuk mengamati padang gurun yang luas di depan mereka.

Sinon lalu memandang langit sekali lagi, memeriksa apakah matahari di dunia maya ini berada di tempat yang bisa memantulkan lensanya. Setelah ia memastikan kalau itu tidak bisa, dia membuka penutup scope depan dan belakang.

Sinon menempatkan matanya ke lensa, pada perbesaran terendah, dia memastikan titik-titik kecil bergerak di padang gurun. Dia menggunakan jarinya untuk mengubah tombol perbesaran. Dengan suara klik kecil, titik-titik hitam berukuran wijen itu membesar, sampai akhirnya berubah menjadi siluet tujuh prajurit musuh.

Seperti yang dikatakan Dyne, empat prajurit berlengkapan senjata tipe optik, dua dari empat prajurit tersebut menggunakan teropong di wajahnya. Mereka memeriksa sekelilingnya. Namun mustahil untuk menemukan skuadron Sinon yang sedang bersembunyi, kecuali mereka telah meningkatkan ketrampilan mencari musuh.

Di tengah kelompok musuh, ada dua orang sedang berjalan dengan senjata besar di pundaknya. Satu dari mereka bersenjata senapan semi-otomatis beroptik laser, yang satunya bersenjata senapan mesin ringan balistik <<FN Minimi>>. Di dunia nyata, Balai Pertahanan Jepang menggunakannya sebagai senjata pendukung yang unggul. Karena setengah dari daya rusak senjata optik bisa dikurangi oleh bidang pertahanan, senjata Minimi memiliki ancaman paling tinggi.

Dua jenis senjata yang bisa ditemukan di <<Gun Gale Online>>, senjata balistik dan senjata optik adalah dua senjata yang sangat berbeda.

Keuntungan dari peluru balistik adalah satu hit akan mengakibatkan kerusakan yang besar dan dapat menembus pertahanan. Tetapi kurugiannya adalah kamu harus membawa amunisi ekstra berat kemana-mana dan lintasan pelurunya dipengaruhi oleh angin dan kelembapan udara.

Sebaliknya, senjata optik sangatlah ringan dan bisa menembak mengenai sasaran jarak jauh dengan presisi tinggi. Juga, tenaga dari amunisinya kecil. Tetapi, kekurangannya adalah kekuatannya tersebar oleh pemain-pemain dengan perlengkapan pertahanan.

Oleh karena alasan-alasan di atas, senjata optik digunakan untuk menyerang monsters dan senjata balistik digunakan untuk menyerang pemain adalah teori umum. Untuk kedua kategori ini, selain karakteristik, kinerja mereka lumayan berbeda.

Itu karena semua senjata optik mempunyai nama dan bentuk yang keren, sedangkan senjata balistik mempunyai bentuk asli yang benar-benar ada di dunia nyata.

Itu sebabnya pemain-pemain seperti Dyne, Ginrou, dan sebagian banyak pemain lainnya dari GGO, adalah maniak senjata yang suka memakai senjata balistik. Mereka hanya beralih ke senjata optik jika mereka akan berburu Mobs.

Senapan yang berada di dekat pipi Sinon sekarang adalah jenis balistik. Tetapi sebelum dia tiba ke dunia ini, dia tidak tahu apapun tentang pembuat senjata. Untuk gaya permainan, dia diperlukan untuk menghafal senjata seperti sedang menghafal items, tetapi itu bukan berarti dia mempunyai minat ke senjata asli. Dia percaya bahwa senjata-senjata api yang jumlahnya tidak terbatas di dunia ini semuanya adalah objek 3D, karena dia bahkan tidak suka melihat senjata api di dunia asli.

Hanya satu hal di dunia pembantaian ini yang dia inginkan, yaitu menhancurkan musuh virtual dengan peluru virtual. Sampai hatinya menjadi sekeras batu dan darahnya mengalir beku.

Untuk alasan tersebut, hari ini juga Sinon akan menarik pelatukya.

Dia menepikan pemikirannya yang berlebih dan menggerakkan senapannya sedikit. Pada garis akhir barisan musuh, berjalanlah seorang prajurit dengan kacamata pelindung yang besar menutupi wajahnya dan berpakaian jubah kamuflase dengan mantel. Seperti yang dikatakan Dyne, perlengkapannya tidak terlihat.

Dia mempunyai tubuh yang besar. Kemungkinan dia membawa ransel yang membuat tonjolan di jubahnya. Tangannya yang mencuat dari lengan bajunya kosong. Dari penampilan perlengkangkapan pada pinggangnya, kemungkinan terbesar dia prajurit tipe pengguna senapan sub-mesin.

"Karena jubahnya, kamu tidak dapat melihat wajahnya?"

Terdengar suara Ginrou dari belakang Sinon. Dia kemungkinan sedang bercanda, tapi suaranya terdengar agak tegang lalu melanjutkan.

"Jangan-jangan itu dia? Yang dirumorkan...<<Death Gun>>."

"Ah, tidak mungkin. Itu bukan dia."

Dyne menjawab dengan cepat sambil tertawa.

"Dan juga, bukankan Death Gun seharusnya seorang pria kecil berpakaian setelan kamuflase Ghillie? Orang ini terlalu besar. Dia hampir mencapai dua meter. Kemungkinan...kurir tipe STR ekstrim. Sambil membawa items, amunisi dan paket energi yang ditemukannya. Dia tidak mungkin membawa senjata besar, jadi kita bisa mengabaikannya di pertempuran."

Sambil mendengar, Sinon dengan hati-hati melihat prajurit tersebut di lensanya.

Karena kacamata berlapis besinya yang kasar, ekspresinya tidak terlihat. Satu-satunya yang terlihat hanya mulutnya saja. Bibirnya tertutup rapat, tanpa gerakan sedikitpun. Anggota lainnya, bahkan pada saat waspada, sedang mengobrol dan menunjukkan gigi mereka yang putih. Hanya prajurit bertubuh besar itulah yang benar-benar diam. Dia hanya berjalan diam-diam dan menggerakkan kakinya tanpa gangguan sedikitpun.

Intuisi Sinon yang telah berkembang dari setengah tahun bermain di GGO mengatakan kepadanya kalau prajurit ini lebih kuat dibandingkan prajurit bersenjata Minimi. Namun, selain ranselnya, tidak ada tonjolan lainnya dari jubah prajurit tersebut. Dia kemungkinan menyembunyikan senjata langka ukuran kecil dengan kekuatan yang besar. Tetapi senjata seperti itu kebanyakan berjenis optik, yang tidak begitu berguna di pertempuran anti-personil. Apakah tekanan yang Sinon rasakan dari prajurit bertubuh besar ini hanyalah imajinasinya?

Tenggelam di pikirannya, Sinon berkata dengan pelan:

"Prajurit berjubah itu, aku ada firasat buruk. Aku ingin menyingkirnya terlebih dahulu."

Dyne melepaskan teropongnya dari wajahnya dan memandang Sinon, alisnya terangkat.

"Kenapa? Dia jelas tidak membawa senjata kuat apapun."

"...Meskipun tidak ada dasar yang mendukung. Karena ketidakpastiannya, aku mempunyai firasat buruk."

"Kalau kamu sedang berbicara tentang itu, Minimi jelas merupakan faktor ketidakpastian itu. Jika prajurit Peletus <<Blasters>> datang mendekat pada saat kita sedang menghadapi Minimi, maka itu akan menjadi berbahaya."

Meskipun perisai pertahan sangat efektif terhadap senjata optik, efek tersebut berkurang sesuai dengan jarak mendekat. Di pertempuran jarak dekat, jumlah tembakan yang tersedia di satu amunisi Peletus <<Blasters>> terlalu banyak. Sinon dengan enggan menarik kembali pendapatnya dan mengangguk.

"...Mengerti. Target pertama adalah si Minimi. Jika memungkinkan, aku ingin menembak prajurit berjubah setelah itu."

Setelah mengatakan itu, tembakan paling efektif adalah tembakan yang pertama, sebelum musuh mengetahui lokasi sniper. Setelah musuh mengetahui arah tembakannya, <<Jalur Prediksi Balistik>>(Garis Peluru) akan tertampak oleh musuh supaya mereka bisa dengan mudah menghindari serangan.

"Hei, kita tidak punya banyak waktu untuk mengobrol. Jarak 2500."

Si pengintai berkata setelah mengamati melalui teropong yang dia ambil kembali dari Dyne. Dyne mengangguk dan berpaling ke tiga penyerang di belakangnya.

"Oke. Menurut rencana kita, kita akan pergi menunggu di bawah bayangan gedung sampai musuh mendekat. -Sinon, pada saat kita bergerak kita tidak dapat melihat mereka, jadi informasikan kepada kita jika situasi berubah. Aku akan memberi instruksi selanjutnya pada saat kamu mulai menembak."

"Mengerti."

Setelah menjawab dengan singkat, mata kanan Sinon berbalik kembali ke scope senapan snipernya. Skuadron sasarannya masih belum berubah. Mereka tetap bergerak dengan kecepatan lambat seperti biasanya di padang gurun ini.

Diantara mereka dan Sinon adalah padang gurun dengan jarak 2,5 kilometer. Di tengah terdapat reruntuhan bangunan besar didekat sisi Sinon. Si lima orang, termasuk Dyne, akan menggunakan titik buta gedung tersebut dan bersembunyi di sana. Mereka berencana menyerang musuh dengan keras sekaligus.

"-Ok, mari kita mulai."

Atas perintah pendek Dyne, para anggota lainnya kecuali Sinon memberikan jawaban singkat. Suara dari sepatu bot meluncur di pasir dan suara pasir yang bergerak, mereka meluncur ke bawah ke sisi belakang bukit. Menunggu sampai angin malam menutupi jejak mereka, Sinon mengeluarkan sepasang headset kecil dari bawah selendang di lehernya dan menaruhnya di telinga kirinya.

Untuk beberapa menit kemudian, sebagai penembak jitu, Sinon harus terus menerus bertempur melawan tekanan dan kesunyian. Peluru pertamanya akan mempengaruhi pertempuran dengan besar. Dia hanya akan bergantung kepada jari dan senjata sengapnya. Tangan kirinya mengelus senjatanya yang besar di pijakan berkaki dua. Besi hitam itu membalas dengan kesunyian dingin padanya.

Alasan mengapa Sinon seorang penembak jitu yang langka di dunia ini dan pemain yang cukup terkenal karena keberadaan senjata berpeluru balistiknya.

Namanya <PGM Ultima Ratio Hecate II>>. Panjangnya 138cm, beratnya 13,8 kg, lumayan besar, 50 kaliber, yang menggunakan peluru ukuran 12.7mm diamater.

Di dunia nyata, senjata itu diklasifikasikan pada kategori anti-material. Yaitu, senjata yang digunakan terhadap gedung dan kendaraan. Karena kekuatannya yang luar biasa, menurut judul artikel majalah yang panjang, senjata itu seharusnya dilarangkan penggunaannya terhadap target manusia. Tentu saja, dunia ini tidak memiliki hukum tersebut.

Sinon mendapatkannya tiga bulan lalu, pada saat dia mulai menjadi pemain veteran GGO.

Iseng-iseng, dia pergi ke reruntuhan penjara bawah tanah di bawah ibukota SBC Gurokken sendirian. Karena kecerobohannya, dia jatuh ke perangkap saluran.

Gun Gale Online didirikan di tahap dimana umat manusia kembali dengan kapal luar angkasanya untuk hidup di dunia yang telah menjadi gurun akibat perang besar peradaban dulu. Jalan-jalan Gurokken awalnya adalah kapal luar angkasa dan dibawahnya ada reruntuhan kota besar dari masa perang. Didalam reruntuhan kota, terdapat mesin bertempur otomatis dan makhluk mutan dengan jumlah tidak terbatas. Mereka menunggu petualang yang bermimpi besar dalam mencapai cita-citanya dalam satu kali percobaan. Tempat dimana Sinon jatuh adalah lantai paling bawah dengan tingkat bahaya paling tinggi.

Tentu saja, dia tidak berharap untuk berbuat banyak sebagai pemain solo di tempat itu. Pertempuran pertamanya akan menjadi kekalahan yang mudah dan dia akan kembali ke jalan titik save sebagai <<Death Return>> / <<Kematian Kembali>>, dia tetap berjalan sambil menerima kenyataan itu. Di depannya terdapat ruang sirkular besar, seperti stadium, di mana makhluk berbentuk ganjil muncul.

Dari ukuran dan namanya, kemungkinan bos monster, tetapi Sinon belum pernah melihat ukuran seperti itu di situs-situs informasi. Ketika dia sadar akan hal itu, jiwa gamernya terangsang sedikit. Toh aku akan mati juga, akan kucoba bertempur melawan monster ini, sambil berpikir hal itu Sinon pergi menuju ventilasi udara di atas stadium dan menempatkan senapannya.

Pertempuran berlangsung tidak terduga. Dari sinar panas, cakar besi, gas beracun dan pola serangan bos monster tersebut, tidak satupun mampu mencapai tempat persembunyian Sinon. Di sisi lain, karena moster tersebut berada di titik ujung jangkauan tembakan senapan Sinon, kerusakan yang dihasilkan Sinon tidak begitu banyak. Berpikir tentang jumlah amunisi yang dia miliki, tanpa tembakan yang miss , dia harus menembak apa yang tampaknya menjadi titik lemah musuh, yaitu mata kecil yang ada di dahinya, kalau tidak maka tidak mungkin Sinon bisa membunuhnya.

Sinon menjadi sedingin es saat ia berkonsentrasi melakukan hal itu. Ketika bos akhirnya tumbang, tubuhnya yang besar meledak menjadi serpihan poligon. Pertempuran tersebut berlangsung selama tiga jam.

Barang yang dijatuhkan oleh bos monster itu adalah senapan besar yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Per peraturan game, NPCs atau pemain tidak dapat membuat senjata berpeluru balistik tingkat tinggi. Toko-toko di jalan hanya bisa menjual sebagian senjata tingkat rendah sedangkan yang tingkat menengah keatas hanya bisa didapat di reruntuhan. Senapan yang diperolehnya - <<Ultima Ratio Hecate II>> termasuk kelompok senjata langka yang bisa didapat.

Saat ini, termasuk Hecate II milik Sinon, hanya sekitar 10 senapan anti-material yang ada di server. Dengan demikian, harga mereka sangat tinggi dan harga senjata itu dalam lelang akhir-akhir ini adalah 20 Mega Credits, atau 20 juta dalam mata uang game ini. Kalau ditukar menjadi uang elektronik menggunakan rasio 100 banding 1, maka akan menjadi senilai 200.000 yen Jepang.

Sinon adalah seorang siswi murid SMA yang tinggal sendirian di dunia nyata dan biaya hidup yang ia terima setiap bulan hampir tidak cukup. Dihantui kesulitan ini, dia benar-benar tidak yakin dengan senjata yang ia temukan setelah ia tahu harga nilainya. Baru-baru ini ia mampu mengubah setengah dari harga sambungannya, 1500 yen, tetapi itu berarti setengah dari uang sakunya hilang. Oleh karena itu, jika ia menyelam lebih dari yang ia lakukan sekarang, maka ia akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan nilai sekolahnya. Namun, jika ia mempunyai 200.000 yen, maka ia dapat membayar semua biaya sambungannya dengan sisa uang yang banyak.

Tetapi, Sinon tidak menjual senjatanya. Alasan dia bermain GGO bukanlah untuk mendapatkan uang, tetapi adalah untuk membunuh musuh - khususnya semua orang yang lebih kuat dibandingkan dirinya; untuk menaklukkan kelemahnnya sendiri. Dan yang lebih penting lagi, untuk pertama kalinya ia merasakan di <<hati>>nya bahwa senjata ini bukanlah sekedar senjata biasa.

Hecate II, karena ukuran dan beratnya yang besar, jumlah STR menakutkan diperlukan dari pengaturannya. Sinon sebagai penembak jitu memiliki jumlah STR yang lebih tinggi dibandingkan AGInya, jadi dia bisa menggunakannya. Pertama kali dia membawa Hecate II ke medan perang, pada saat ia melihat musuh melalui scope-nya, dia merasakan beban dingin di tangannya. Sinon merasakan kekuatan dan niatnya Hecate II. Senjata ini mengukir pembantaian, pembawa pertanda maut. Sinon ingin memeluk perasaan itu, tanpa menyerah terhadap apapun, tanpa merasa goyah, tanpa setetes ketakutan, bentuk itu ada di senjata ini.

Tidak lama setelah itu, Sinon kemudian dikenal sebagai <<Hecate>>; dia mengetahui bahwa nama itu berasal dari mitologi Yunani, dewi yang memerintah dunia neraka. Sinon memutuskan pada saat itu bahwa senjata ini akan menjadi pasangan pertamanya dan pasangan terakhirnya.

Melalui scope-nya, Sinon melihat rombongan target terus bergerak.

Sinon mengangkat wajahnya untuk melihat padang gurun secara langsung, dia bisa melihat kelompok beranggota lima milik Dyne bergerak mendekati gedung antara target dan Sinon. Jarak antara dua kelompok berkurang menjadi sekitar 700meter. Mata kanannya kembali ke scope-nya dan menunggu instruksi selanjutnya dari Dyne.

Sepuluh detik kemudian, headsetnya berbunyi dengan suara Dyne dan keributan di sekitarnya.

"-Kami berada di posisi."

"Mengerti. Arah jalan musuh dan kecepatan tidak berubah. Mereka berada 400 meter dari posisimu dan 1500 meter dari posisiku."

"Masih jauh, kamu bisa melakukannya?"

Untuk pertanyaan Dyne, Sinon menjawab "Tidak masalah" dengan singkat.

"...Bagus. Mulai membidik."

"Mengerti."

Setelah percakapan singkat itu, Sinon menjadi diam dan tenang, jari telunjuk kanannya berpindah ke penjaga pemicu senjatanya.

Di padang gurun yang ia lihat melalui scope-nya, target pertama, prajurit dengan Minimi di bahunya, terus berjalan dan mengobrol seperti biasa.

Di pertarungan minggu lalu, Sinon tidak bertindak menjadi penembak jitu. Ia malah menggunakan senapan serbu dan menjadi pendukung posisi belakang. Dia seharusnya melihat orang itu di jarak sangat dekat, tetapi ia tidak bisa mengingatnya. Namun, karena prajurit itu bisa menggunakan senjata pendukung, berarti levelnya pasti sangat tinggi.

Dum, dum. Hati Sinon berdebar dengan cepat saat dia mencocokkan irama tersebut dengan gerakannya . Dilihat dari jarak, arah angin dan kecepatan gerakan target berarti Sinon harus membidik lebih dari semeter di sebelah kanan atas prajurit tersebut; Sinon memindahkan jarinya dan menyentuh pemicu pelatuknya.

Pada saat itu, di sudut pandang Sinon, sebuah lingkaran setengah transparan dengan cahaya hijau muda muncul.

Diameter lingkaran berubah secara tidak pasti dalam siklus-siklusnya. Ia berpusat ke dada prajurit itu, titik terlebar menuju lututnya. Itu adalah <<Prediksi Hit Peluru>> atau (Lingkaran Peluru) yang hanya tertampil di pandangan Sinon. Peluru yang ditembak akan mengenai daerah didalam lingkaran dengan acak. Pada ukuran lingkaran saat ini, tubuh prajurit itu ditutupi oleh 30% dari lingakaran. Dengan kata lain, akurasinya 30%. Jadi, tidak peduli betapa kuat kekuatan Hecate II, menembaki lengan atau kaki prajurit itu tidak mungkin cukup untuk membunuhnya. Rasio membunuh dalam satu tembakan terlalu rendah.

Ukuran Lingkaran Peluru tergantung pada jarak target, performa senjata, cuaca, level cahaya, keterampilan, dan jumlah stats. Parameter terpenting adalah detak jantung si penembak jitu.

Amusphere memantau detak jantung di dunia nyata dan mengirim data tersebut kembali ke sistem permainan.

Ketika detak jantung berdetak dengan detakan 'Dum', lingkaran akan berada pada ukuran terbesar. Ukurannya akan mengecil perlahan-lahan dan menjadi besar pada detakan selanjutnya. Artinya, untuk akurasi paling tinggi, tembakan harus dilakukan di celah antara setiap detak jantung.

Namun, keadaan santai adalah enam-puluh kali per menit - yaitu satu detik siklus dalam keadaan tenang. Tetapi ketegangan dari percobaan menembak akan berlipat ganda atau lebih. Hal itu mengakibatkan kecepatan pelebaran dan penyusutan lingkaran meningkat sesuai dengan respons. Mustahil untuk menembak diantara celah detakan jantung.

Untuk alasan itulah GGO memiliki jumlah penembak jitu yang sedikit.

Mereka tidak bisa menembak mengenai sasaran. Mereka tidak bisa menghentikan ketegangannya pada saat mereka dibutuhkan untuk menembak. Tentu saja dalam pertempuran jarak dekat, detak jantung membuat Lingkaran Peluru berdenyut. Tetapi kamu masih bisa menembak pada jarak dekat dengan itu. Apalagi dengan senapan sub-mesin full-otomatis dan senapan serbu. Namun, membidik pada jarak lebih dari 1000 meter, ukuran Lingkaran Peluru biasanya lebih besar dibandingkan ukuran manusia. Saat ini di pandangan Sinon, ukuran akurasi 30% sudah merupakan keajaiban.

-Tapi.

Sinon berbisik di dalam hati.

Tekanan, kecemasan dan teror ini mencapai sejauh mana. Sampai jarak sejauh 1500? Itu seperti melempar bola kertas ke keranjang sampah. Ya -

Dibandingkan dengan waktu itu.

Inti kepalanya menjadi dingin. Detak jantungnya melambat seperti kebohongan belaka.

- Es. Aku mesin pembunuh sedingin es. (Real translation: Aku mesin terbuat dari es dingin. Kayak mesin es cendol jadinya =_=)

Siklus perubahan Lingkaran Peluru semua melambat sekaligus. Pada saat yang sama, perasaan waktunya memanjang. Sinon bisa langsung mengetahui dengan jelas ketika lingkaran berada pada ukuran terkecil.

Satu...Dua...Saat lingkaran ketiga menyempit dan membidik ke arah jantung prajurit bersenjata Minimi tersebut, Sinon menarik pelatuknya.

Raungan seperti guntur mengguncang dunia.

Dari sisi depan moncong rem Hecate II, api besar meletus, melepaskan peluru yang memotong melalui suara senjata dan bergerak maju. Rekoil yang dihasilkan mendorong Sinon dan senapannya mundur. Kedua kakinya bersiap untuk menahan impak.

Di ujung titik tengah pisir, sang prajurit kemungkin melihat moncong mengkilat. Prajurit itu lalu menoleh kepalanya ke arah Sinon. Matanya saling berhadapan dengan Sinon yang sedang mengintip melalui scope -

Sword Art Online Vol 05 -091.jpeg

Secara instan, dada sampai bahu prajurit tersebut, termasuk kepalanya, berubah menjadi fragmen objek kecil dan melenyap. Sesaat setelah itu, anggota tubuhnya yang lain pecah seperti patung kaca yang dipukul dan disebar menjadi serpihan kecil. Sayangnya untuk prajurit itu, harga menakutkan dari Minimi yang dia bawa menjadi drop acak dan jatuh ke tanah berpasir. Yang pasti, setelah prajurit itu kembali ke titik awal jalan untuk hidup kembali, ia harus puas dengan syok kematian instan dan kehilangan senjata miliknya.

Sinon memastikan hal-hal di atas tanpa emosi, tangan kanannya bergerak otomatis dan menarik baut pegangan Hecate II. Dengan suara berlogam, kerangka peluru dikeluarkan, yang lalu menghilang setelah jatuh memukul batu di samping.

Saat mengisi amunisi berikutnya, Sinon menggeser senapannya sedikit ke kanan. Target kedua, yaitu prajurit tubuh besar berjubah berada di pandangannya. Wajahnya yang ditutupi dengan kacamata pelindung melihat lurus ke arah Sinon. Sambil membidik sedikit di atas tubuh prajurit itu, jari pelatuk Sinon mengetat sedikit. Lingkaran Peluru hijau muncul lagi, secara langsung menyempit menjadi titik.

Hanya tiga detik telah berlalu sejak tembakannya yang pertama. Senapan semi-otomatis bisa menembak terus menerus, tetapi senapan bolt-action Hecate II tidak dapat melakukan itu. Meski begitu, untuk rata-rata pemain, melihat rekan mereka tiba-tiba dihancurkan dapat mengakibatkan kekejutan dan kaget. Dan dari kekacauan itu, dibutuhkan waktu lima detik untuk memulihkan kondisi mental mereka, mengidentifikasi arah tembakan si penembak jitu dan siap-siap untuk menghindar. Kalau kamu menggunakan kekacauan itu, tembakan kedua kemungkinan akan sukses, tetapi-

Namun, prajurit berjubah itu tidak menunjukkan pertanda kebingungan. Dari kedalaman kacamata pelindungnya, ia menatap langsung ke Sinon. Prajurit ini pasti seorang veteran yang sangat berpengalaman dan seorang pemain terkenal, Sinon berpikir sambil menarik pelatuknya.

Pada titik ini, di sudut pandang prajurit itu, lintasan peluru yang melaju ke dirinya akan ditunjukkan sebagai <<Jalur Prediksi Balistik>> (Garis Peluru), sebuah cahaya merah setengah translusen. Untuk pertarungan senjata seperti ini, pihak game menambah kekonyolan seperti system assist untuk membuat pertarungan senjata lebih menarik. Jika pemain memiliki reaksi cepat, AGI tinggi dan keberanian yang cukup, maka ia bisa menghindar lebih dari 50% tembakan terus menerus dari senapan serbu dalam jarak 50 meter.

Keuntungan terbesar dari kelas "Penembak Jitu" hanyalah tembakan pertama yang tidak akan menunjukkan garis tembakan ke target. Namun, karena posisi Sinon sudah diketahui dari tembakan pertamanya, maka ia tidak lagi memiliki keuntungan itu.

Raungan terdengar lagi. Dari jari tanpa ampun Hecate II, dirilis kristalisasi peluru <<Kematian>> yang memotong cahaya atmosfer kuning dan terbang menjauh.

Tetapi seperti yang Sinon duga, prajurit itu dengan tenang mengambil satu langkah besar ke kanan. Setelah itu, peluru 12,7mm tersebut memotong melewati spasi satu meter dari tubuh besar prajurit tersebut. Peluru Sinon menghasilkan lubang di dinding beton padang gurun jauh di belakang prajurit itu.

Tangan kanan Sinon lalu bergerak sendiri, mengisi ulang tembakan berikutnya, jarinya kembali ke pegangan dan tidak menuju pelatuknya.

Setiap tembakan berikutnya akan menjadi sia-sia. Jika ia harus menembak lagi, ia harus bergerak meninggalkan posisi ini, bersembunyi dari hadapan prajurit itu dan menunggu 60 detik untuk info identifikasi diulang. Namun pada saat itu, arah pertempuran sudah diputuskan. Sambil mengintip melalui scope-nya, dia berbisik ke penerima.

"Target pertama sukses. Target kedua gagal."

Dyne lalu menjawab dengan cepat.

"Mengerti. Serangan dimulai...Go, Go, GO!!"

Zhaa! Suara pelan kaki menginjak tanah dan meninggalkan tempat mencapai pendengaran Sinon. Sinon mengembuskan napas yang ditahannya sedikit.

Misi yang Sinon terima selesai sekarang. Karena Hecate II adalah senjata ultra-langka, jika ia membawanya ke pertempuran tatap muka dan mati menjatuhkan Hecate II, hal itu akan menjadi situasi yang serius. Dyne berkata kalau Sinon diperbolehkan berada pada posisi standby setelah menembak. Tembakan keduanya yang tidak mengenai sasaran tetap berada di hatinya dan dia berharap kalau <<Perasaan Buruk>>nya tidak akan membuahkan hasil.

Sambil berpikir, Sinon sekali lagi memindahkan senapannya, dia menerendahkan pembesaran untuk melihat seluruh anggota kelompok musuh di scope-nya. Keempat prajurit garis depan dengan cepat melompat ke belakang batu terdekat atau dinding beton untuk bersembunyi. Di belakang mereka diikuti oleh pendukung posisi belakang bersenjata Peletus dan prajurit besar berjubah-

"Ah...!"

Sinon mengeluarkan suaranya tanpa ia sadari. Pada saat itu, prajurit besar tersebut menggerakkan kedua lengannya, melempar jubah kamuflase dari tubuhnya.

Kedua tangan prajurit itu tidak bersenjata. Di pinggangnya juga kosong.

Apa yang dia bawa di punggungnya, yang kita awalnya kira sebagai ransel transportasi item, akhirnya terungkap.

Di antara bahunya yang lebar, terdapat sebuah rak logam melengkung dan panjang. Yang tergantung di punggungnya adalah sebuah benda logam kasar dan ringkas.

Di dalam rangkai berbentuk Y yang menunjang itu, terdapat komponen mesin silinder. Bagian atasnya memiliki pegangan jinjing besar, dibawahnya terdapat enam tubuh barel klaster penembak. Panjangnya dengan mudah satu meter.

Komponen mesin itu terdapat sabuk penyambung didalamnya, yang terhubung dengan kotak amunisi besar yang menggantung dari rel yang sama.

Sinon hanya pernah melihat senjata berukuran besar dan seram itu sekali dari daftar senjata yang ada di Situs Informasi GGO.

Namanya <<GE M134 Minigun[3]>>. Diklasifikasikan di dalam senapan mesin berat (heavy machinegun). Salah satu dari senjata api terbesar yang debut di GGO. Keenam barel yang tersambung berputar dengan kecepatan tinggi untuk mengisi ulang, menembak, dan medepak kerangka peluru. Senjata ini menembakkan peluru berukuran 7,62mm dengan kecepatan 100 peluru per detik. Mimpi buruk adalah nama lain senjata ini - tidak, gamam ini.

Tentu saja, beratnya juga luar biasa. Tubuh utamanya saja 18kg, digabung dengan jumlah amunisinya yang bayak, berat totalnya lebih dari 40kg. Tidak peduli jenis apa prajurit STR murni ini, tidak mungkin semua itu berada di dalam batas berat yang bisa ia bawa. Tentu saja, karena kelebihan berat itu berarti ada hukuman ke gerakannya.

Alasan mengapa rombongan musuh bergerak begitu lambat bukanlah karena perpanjangan waktu berburu mereka. Tetapi itu semua karena kecepatan berjalan prajurit besar ini.

Sambil merasa ketakutan, Sinon mengintip melalui scope-nya. Ditengah-tengah sudut pandang Sinon, prajurt besar itu meraih pegangan Minigun tersebut. Senjata mesin besar itu dengan lancar meluncur di rel dan berputar 90 derajat ke sisi kanan tubuh orang tersebut. Kedua kakinya terbuka lebar, dengan posisi keenam barel senjata menghadap ke depan - mulut prajurit tersebut yang berada di bawah kacamata pelindungnya bergerak untuk pertama kalinya, membentuk sebuah senyuman yang bengis.

Sinon bergegas menyetelkan piringannya, mengurangi pembesaran scope sampai minimum.

Dari sudut pandang sisi kiri, Sinon melihat kelompok beranggota tiga penyerang milik Ginrou yang bersenjata senapan sub-mesin, bergerak ke depan. Peluru-peluru ringan dari Peletus Laser yang di siapkan oleh pelindung kelompok musuh menghasilkan ekor biru muda saat mereka menghadapi serangan. Semuanya meninggalkan riak/ombak, seperti yang ada di permukaan air, di sekitar satu meter di depan Ginrou dan yang lainnya, lalu lenyap. Itulah hasil tinggi dari efek <<Medan Pertahanan Terhadap Peluru Ringan>>.

Hanya karena mereka membalas menembak dengan semprotan senapan sub-mesin berpeluru balistik, salah satu anggota musuh bersenjata peletus yang sedang membungkuk keluar dari balik batu tertutup oleh dampak efek merah darah dengan suara 'pa pa' dan tumbang. Ginrou dan yang lainnya lalu maju bergerak ke arah bayangan dinding beton dekat musuh-

Pada saat itu, prajurit bertubuh besar itu dengan cepat merendahkan pinggangnya.

Barel Minigun berputar dengan kecepatan tinggi, mengeluarkan sebanyak-banyaknya sabuk berkilauan kira-kira 0,3 detik atau lebih.

Hanya dengan begitu, bersamaan dengan bagian dinding beton, avatar Ginrou hancur lalu lenyap. Semua ini terlalu cepat, bagaikan boneka pasir terhantam arus air.

"...!"

Sinon menggigit bibirnya lalu berdiri. Dia mengangkat Hecate II dari lantai, melipat kedua kaki pijakan senjatanya dan menyandang tali ke pundaknya.

Hecate II, dengan panjang total 138 cm, menggali ke bahu Sinon dengan berat. Tinggi Sinon bahkan tidak mencapai 155 cm, tetapi masih di batasan berat yang bisa ia bawa. Senjata sampingannya, <<H&K MP7[4]>>, adalah senapan sub-mesin ultra-kompak yang entah mengapa tidak melewati batas berat. Dia berpikir begitu karena jumlah tinggi STR Sinon hanya cukup untuk membawa 7 magasen untuk Hecate II.

Bahkan dengan mata telanjang, Sinon bisa melihat kedipan kembang api bermekaran dari moncong senjata di medan pertempuran satu dan setengah kilometer dari sini. Sinon tetap diam dan berlari dengan kecepatan penuh.

Karena situasi berakhir seperti itu, aliran pertempuran berbalik melawan Dyne dan lainnya. Jika prajurit Minigun itu sendirian, maka dengan mempertahankan jarak menengah dan terus bergerak pada kecepatan tinggi akan memberikan kesempatan untuk mengalahkan si Minigun tersebut. Namun, bersama prajurit bersenjata Peletus Laser yang menyediakan perlindungan ke Minigun, sesaat setelah kamu mendekati jarak dekat yang dapat membuat pertahanan berkurang, kamu tidak bisa menghindari musuh.

Meskipun Sinon adalah salah satu anggota skuadron, jika ia mundur, dia menduga tak seorang pun akan mengeluh. Itu karena dia telah menyelesaikan tujuan yang diperintahkan ke dirinya sebagai penembak jitu.

Namun, Sinon berlari lurus ke arah pertempuran. Dia tidak berpikir untuk menolong anggotanya. Hanya senyuman yang mengambang dari wajah prajurit Minigun itu yang membuat Sinon bergerak maju.

Orang itu bisa tersenyum di medan perang hanya karena dia memiliki kekuatan. Jumlah waktu permainan yang dibutuhkan untuk mendapatkan Minigun, hampir sama atau lebih langka dengan Hecate. Perlengkapan tersebut menuntut ketekunan untuk menumpuk STR yang cukup untuk menjadi tangguh. Sebagai tambahan, ia memiliki keberanian untuk menghadapi tembakan Sinon dengan tenang.

Untuk melawan musuh seperti itu dan dengan membunuhnya, diri lainku yang terlalu lemah - <<Asada Shino>> yang selalu menangis dan yang kurang dewasa dapat dihilangkan.

Untuk itu saja, Sinon menginvestasikan dirinya di dunia gila ini. Melarikan diri dari sini, maka semua hal yang ia perjuangkan sampai sejauh ini akan menjadi sia-sia.

Sambil menendang tanah kering dan meloncat pada kecepatan tertinggi yang diperbolehkan parameternya, ia meloncat melalui udara berdebu. Sinon kemudian berada pada puncak kecepatannya.

Sinon bergerak di sekitar pasir sarat berkerikil. Dia menghindari dan melompati batu menonjol, reruntuhan dinding dan rintangan lainnya. Dia bergegas ke daerah pertempuran hanya dalam beberapa puluhan detik.

Parameter AGInya dibuka menyeluruh untuk membantunya dalam membuat dash sengit berarah lurus. Dia bahkan tidak sedikitpun mempertimbangkan mencari tempat perlindungan. Kelompok musuh kemungkinan sudah menangkap sosok Sinon mendekat.

Dibanding dengan awal, area pertempuran kedua phihak telah bergeser secara signifikan. Tentu saja, yang mundur adalah kelompok Dyne. Dengan adanya Minigun yang secara paksa memberikan tembakan backup memberondong, kelompok pertahanan musuh menekan jarak dengan menetap. Untuk menghindari jarak efektif tembakan senjata optik, empat orang termasuk Dyne, terus-menerus mundur, bersembunyi dari satu perlindungan ke perlindungan lainnya.

Bergegas lurus ke padang gurun untuk kabur sudah bukan opsi yang memungkinkan. Jika mereka terlihat, secara langsung mereka akan dimandikan peluru Minigun seperti air terjun dan menjadi berlubang seperti sarang lebah. Selain itu, dinding beton yang dipercayakan oleh Dyne dan lain-lain sudah sebagian besar hilang dalam pelarian mereka. Satu-satunya yang tersisa adalah reruntuhan bangunan yang mereka manfaatkan pada awal penyergapan. Jika mereka kabur ke sana, maka mereka akan terjebak seperti tikus di dalam tas.

Sinon yang langsung mengetahui situasi tersebut, mencoba untuk melompat ke bayang-bayang dinding dimana Dyne dan yang lainnya bersembunyi untuk menarik napas. Pada saat itu, tiga garis cahaya merah muncul tepat di depan Sinon.

"Ku..."

Mengepalkan giginya, Sinon memasuki posisi menghindar. Garis merah itu adalah lintasan garis dari penyerang yang menggunakan Peletus Laser.

Pertama, Sinon merendahkan tubuhnya sampai batas dan menyelinap ke bawah Garis Peluru pertama. Setelah itu, dengan tepat menelusuri garis diatas kepalanya, sinar panas biru pucat menghanguskan ruangan tersebut. Di depan matanya, Garis Peluru kedua memanjang. Dia menendang tanah dengan kaki kanannya sekuat tenaga dan meloncat, tubuhnya menari di udara. Tembakan laser lalu menembak tepat ke perutnya, dan untuk sesaat pandangan Sinon memutih.

Garis Peluru ketiga lalu melintas sedikit di atas arah lompatan Sinon. Dia menyusutkan kepalanya sebisa mungkin untuk menghindari sinar panas, tetapi ujung rambut biru tipisnya terpotong sedikit oleh sinar panas tersebut, dengan retakan suara partikel cahaya menyebar.

Dengan cara apapun menghindari tembakan terus menerus Peletus Laser, Sinon mendarat. Di depan matanya -

Sebuah garis tebal merah darah yang mengerikan berdiameter 50 cm mengarah ke arah Sinon.

Tidak salah lagi, ini adalah Garis Peluru Minigun itu. Beberapa persepuluh detik kemudia nantinyan, ledakan peluru bagaikan badai akan menyerang.

Sinon menyambuk tubuhnya yang lumpuh karena ketakutan, membungkuk kaki kanannya yang baru saja menyentuh tanah dan meloncat sekali lagi sekuat tenaga. Dia membalikkan tubuhnya di udara, di bagian teratas loncatan tingginya itu tubuhnya terbaring rata.

Tepat setelah itu, lewatlah badai gelombang energi yang hampir menyentuh punggung Sinon, dimana ia merasa turbulensi dari serangan itu. Setelah kluster peluru balistik bercahaya putih melewati pandangannya, dinding reruntuhan gedung yang agak jauh darinya lalu hancur.

Sesaat sebelum ia mendarat di tanah berpasir, ia membalikkan tubuhnya lagi. Sinon lalu mendarat dengan tangan kakinya. Pada saat yang sama ia melemparkan tubuhnya ke depan sebisa mungkin. Setelah berguling beberapa kali, ia mencapai bayang-bayang dinding beton dimana kelompok Dyne bersembunyi.

Pemimpin skuadron menatap Sinon yang tiba-tiba muncul dengan khawatir. Tidak peduli kalau ini tampaknya seperti niat baik, matanya tidak bersinar dengan rasa syukur. Hanya keraguan bagi seseorang yang menjulurkan kepalanya di tempat berbahaya ini dengan sengaja.

Dyne lalu memalingkan wajahnya, melihat senapan serbu yang berada di tangannya. Dia lalu bergumam dengan suara rendah.

"...Bajingan-bajingan itu, mereka membawa pengawal."

"Pengawal?"

"Kamu tidak tahu? Dia pengguna Minigun. Namanya <<Behemoth>>, seorang pria berotot dan cerdas yang berbasis di benua utara. Ia bekerja sebagai pelindung atau semacamnya untuk skuadron-skuadron dengan uang tapi tanpa ketekunan."

Itu adalah cara bermain yang lebih terhormat dibandingkan kamu, Sinon berpikir, tapi tentu saja dia tidak mengatakannya. Sebaliknya, ia berpaling ke tiga penyerang di luar Dyne, yang melihat keluar sesekali dari perlindungan untuk menembak membabi-buta pada kelompok musuh. Sinon lalu berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar oleh seluruh kelompok.

"Kalau kita terus bersembunyi seperti ini, kita akan dibunuh sesaat lagi. - Sisa jumlah peluru si Minigun agak meragukan. Jika kita semua menyerang pada saat bersamaan, maka ia akan membantai kita tanpa peduli. Kita harus menghilangkan opsi tersebut. Kalian berdua yang menggunakan SMG (senapan sub-mesin) pergi ke arah kiri, Dyne dan aku akan ke sisi kanan, M4 tinggal di sini sebagai backup..."

Dyne memotong pembicaraan dengan suaranya yang serak.

"...Itu tidak akan berhasil, ada tiga pengguna Peletus Laser yang tersisa. Jika kita bergegas masuk, efek pertahanan mereka akan..."

"Kecepatan tembak terus menerus Peletus lebih lambat dibandingkan senjata balistik, kita bisa menghindari setengah dari itu."

"Mustahil!"

Dyne mengulang dengan keras kepala sambil menggeleng kepalanya.

"Bergegas masuk juga hanya akan menghancurkan kita...Meskipun agak disesalkan, mari kita menyerah. Kalau kamu terlalu bangga melihat mereka menang, logout di sini....."

Meskipun kamu logout di medan neutral, kamu tidak akan menghilang secara langsung. Avatarmu yang tanpa jiwa akan tetap berada disini untuk beberapa menit, rentan untuk diserang. Peluangnya rendah, tapi senjata dan armor akan jatuh secara acak kemungkinan akan terjadi.

Sejauh ini, Sinon berpikir waktu mundur pemimpin terlalu awal, tetapi dengan keputus-asaannya ini, juga temperamennya yang seperti anak kecil, Sinon tidak pernah menyangka ia akan membuat proposal seperti ini. Sinon menatap setengah tercengang ke wajah Dyne yang seharusnya veteran.

Sesaat setelah itu, Dyne menunjukkan giginya dan berteriak.

"Apa? Jangan menganggap serius game ini! Bagaimanapun juga hasilnya sama saja, jika kita bergegas kita akan mati sia-sia..."

"Lalu mati saja!"

Sinon berteriak sambil menjawab sebagai reaksinya.

"Setidaknya di game ini, cobalah mati menghadapi todongan-todongan senjata!"

Sesungguhnya, kenapa dia mengatakan hal seperti ini ke pria yang hanyalah targetnya masih belum ia ketahui. Itu juga berarti Sinon akan memutuskan hubungannya dengan skuadron ini.

Saat sebagian dari hatinya sedang berpikir itu, Sinon menggenggam kerah jaket kamuflase Dyne dan dengan paksa menariknya dengan kuat. Pada saat bersamaan, Sinon dengan cepat berkata kepada tiga orang lainnya dengan mata lebar.

"Tiga detik cukup, ambil perhatian Minigun, aku akan menghabisinya dengan Hecate."

"...Un. Aku mengerti."

Pria dengan kacamata pelindung di rambut hijaunya berpikir cukup lama akhirnya menjawab dan kedua rekannya yang lain mengangguk.

"Oke, kita bagi tim menjadi dua, tim kiri dan kanan maju bersamaan."

Sinon mendorong paha Dyne yang merajuk dan mereka berpindah ke ujung akhir tempat perlindungan. Sinon mengambil dua senjata sampingan MP7 dari pinggang kirinya dan mulai menghitung mundur dengan tangannya.

Tiga...dua...satu,

"GO!!"

Pada saat yang sama, Sinon menendang tanah dengan keras dan masuk satu detik lebih awal ke medan perang dimana kematian terus menunggu.

Pada saat itu, beberapa Garis Peluru muncul di depannya. Dia menurunkan tubuhnya sambil meluncur menhindari, kelompok musuh memasuki pandangannya.

Di depan sisi kanannya, dibelakang dinding sekitar dua puluh metar kedepan, dua orang dengan Peletus Laser menunggu. Yang lainnya berada sedikit di kiri. Manusia Minigun <<Behemoth>> yang berada di tengah sekitar 10 meter dari mereka, membidik rekannya Sinon yang muncul keluar dari sisi kiri.

Sementara Sinon berlari ke kanan, ia membidik MP7 di tangan kirinya ke prajurit-prajurit Peletus. Menekan pemicunya dengan sedikit memunculkan Lingkaran Peluru. Tidak mungkin ia bisa mengendalikan detak jantungnya sekarang. Lingkaran Peluru tersebut berdetak di sekitar tubuh-tubuh prajurit bidikannya.

Meskipun begitu, Sinon tetap menembak. Dia merasakan syok dari rekoil yang tidak bisa dibandingkan dengan Hecate di telapak tangannya dan mengosongkan magasen 20 peluru 4,6mm sekaligus.

Serangan sembrononya membuat musuh panik dan dua prajurit Peletus berusaha bersembunyi di balik dinding, tetapi sebagian dari peluru-pelurunya mengenai tubuh mereka. Itu tidak cukup untuk menjatuhkan HP mereka ke nol tetapi akan memberinya waktu beberapa detik.

"Dyne! Dukung aku!"

Sinon berteriak dan melemparkan dirinya ke tanah. Pada saat bersamaan, ia mengeluarkan Hecate II dari punggungnya dan melengkapinya di kedua tangan. Dia tidak punya waktu untuk mempersiapkan kedua kaki pijakan senjatanya. Menahan berat Hecate yang mengerikan, ia mengintip melalu scope-nya.

Karena pengaturannya masih di pembesaran terendah, dia bisa melihat seluruh tubuh atas Behemoth. Wajah <<Behemoth>> kemudian melihat ke arah Sinon. Sinon lalu menarik pelatuknya tanpa menunggu Lingkaran Peluru mengecil.

Raungan dan kematian pasti mengilat menembus angkasa - peluru tersebut menembus tepat di samping kepala Behemoth. Serangan itu melepaskan goggles dari kepala Behemoth, yang lalu berubah menjadi bubuk dan lenyap.

Dia gagal mengenai sasaran - !

Sinon menggigit bibirnya dan baru ingin berdiri, lalu pandangannya di scope berhadapan dengan Behemoth. Behemoth yang wajah aslinya akhirnya kelihatan, dengan kedua mata abu-abunya yang menyala, bibirnya tersenyum tanpa gentar.

Seluruh tubuh Sinon ditutupi cahaya merah besar.

Tidak bisa dihindari, Sinon langsung menyimpulkan. Dari posisi menembak bersujudnya, berdiri dan meloncat ke kiri atau kanan, tidak ada waktu untuk melakukan semua itu.

Setidaknya, tatapi moncong senjata -.

Mengikuti kata-katanya, Sinon berdiri dan menatap langsung ke Behemoth. Tiba-tiba, di beberapa tempat di tubuh besar itu meledak ringan dengan suara "Papaa!".

Itu Dyne. Sambil berlutut pada satu kaki di tanah dan mengenggam senapan serbunya, dia menembak dengan akurasi tinggi. Dalam situasi dan jarak ini, tanpa memedulikan kepribadiannya, fakta bahwa ia bisa mencetak begitu banyak tembakan membuktikan bahwa keterampilannya benar-benar menakjubkan. Sambil berpikir hal itu, Sinon melompat segenap tenaga ke sisi kanannya. Tepat setelah itu, tempat dimana ia berada sebelumnya ditembaki puluhan badai peluru.

"Dyne! Geser ke kanan sedikit lagi..."

Pada saat Sinon berteriak itu.

Dua prajurit bersenjata Peletus muncul dari persembunyian mereka, membidik Dyne yang sedang berdiri dan lalu menembaki anak-anak panah cahaya tanpa ampun ke arah Dyne.

Jaraknya terlalu dekat. Sinar panas menembus pertahanan Dyne dan mengenai tubuhnya satu demi satu.

Dyne memandang Sinon sesaat. Lalu ia menghadap depan -

"Uooo!!"

Dengan satu teriakan tunggal itu, ia mulai berlari lurus ke depan.

Badai peluru menghujani tubuh Dyne. Dia menghindar dan menyelinap melewati beberapa tembakan sambil bergegas dengan sengit. Tapi tentu saja, ia tidak bisa menghindari semua tembakan-tembakan tersebut.

Pada detik-detik terakhir, Dyne menarik jimat perlindungan Granat Plasma dari pinggangnya dan melemparnya ke persembunyian mereka. Pada saat yang sama, seluruh HP-nya habis, sementara avatarnya masih menghadap jauh dari Sinon. Lalu Dyne hancur berkeping-keping menjadi poligon dan melenyap.

Akibatnya, dunia dicat cahaya putih.

Palu raksasa Tuhan lau jatuh membuat impak ke tanah. Aliran energi hijau-putih menggila. Badai debu membaling ke atas. Tercampur di semua itu, tubuh seorang Peletus terbang di udara. Sebelum mencapai tanah, ia terhancur musnah.

-Keberanian Mengagumkan!

Sinon memberikan elegi singkat untuk Dyne yang telah keluar dari pertempuran. Sinon lalu menyipitkan matanya dari debu-debu di sekitar dan dengan cepat memeriksa medan pertempuran.

Salah satu dari rekan timnya yang mengambil sisi sayap kiri telah dibunuh oleh Minigun dan prajurit Peletus di sana tampaknya telah menghilang.

Di sayap kanan, karena pengorbanan bunuh diri Dyne, menjadi medan kekacauan. Dyne membawa serta satu musuh sebelum ia mati dan sisa satunya yang lain tertegun di tempat.

Kemudian - didalam asap debu yang secara perlahan-lahan mulai menipis, siluet besar mendekatinya dengan arah lurus.

Jika ini berlangsung, Behemoth dan dirinya akan bertempur tatap muka. Tetapi pada jarak itu, senapan snipernya tidak bisa menang melawan senapan mesin berat.

Dia harus menemukan posisi titik buta Minigun sambil mengambil posisi untuk menembak. Namun di pertempuran satu lawan satu, tidak ada titik buta...

- Tidak.

Sinon menahan napasnya sejenak. Pada saat asap debu hasil dari granat Dyne masih menutupi semuanya, Behemoth tidak tahu persis dimana posisi dirinya. Tentu saja, Sinon juga tidak dapat membidik Behemoth dengan jelas, tetapi kemungkinan ia bisa pergi ke satu tempat di area ini dimana badai peluru tidak dapat mencapainya.

Sambil memikirkan hal itu, Sinon berbalik dan berlari dengan sengit. Dia berlari menuju reruntuhan bangunan yang runtuh dan rusak di belakang medan pertempuran.

Melompat memasuki jalan masuk, Sinon tidak dapat melihat bagian belakang gedung yang sudah runtuh. Langit kuning masih terlihat. Tetapi Sinon berlari menuju sisi kanan dinding - dimana terdapat sebuah tangga naik. Sambil mencoba untuk tidak menginjak ubin-ubin rusak yang dapat menyebabkan suara, Sinon berlari dengan hati-hati.

Di tangga besi, dia harus melangkah dengan ringan, tetapi ia naik tanpa merepotkan hal itu.

Dia menendang dinding seperti penari untuk mengubah arahnya dan pergi naik ke atas lagi.

Dia mencapai lantai lima dalam waktu kurang dari dua puluh detik. Tangga tersebut berakhir di sana. Ada jendela besar di sebelah kiri.

Dari sini, Sinon seharusnya memiliki waktu beberapa detik untuk mengambil posisi membidik tanpa Behemoth sadari.

Sambil memikirkan itu, Sinon meletakkan Hecate II di bahunya dan memandang keluar jendela menghadap ke bawah medan pertempuran.

Tiba-tiba pandangannya memerah.

Beberapa puluhan meter di bawah, Behemoth mengangkat Minigun ke ketinggian maksimumnya lalu membidik Sinon secara langsung. Dia telah membaca gerakan Sinon. Pikiran dan rencana pertempurannya, seluruhnya.

Kuat sekali. Dia seorang pemain GGO sejati, bukan, dia seorang tentara.

Namun, lawan seperti inilah yang Sinon inginkan. Bunuh dia. Harus membunuhnya.

Sinon tidak ragu-ragu. Tanpa mengambil posisi membidik, ia meletakkan kaki kanannya di ambang jendela dan melompat keluar.

Pada saat sama, seperti nyala api, kilatan gelombang energi bergegas naik dari tanah. Whack!! Syok intens datang dari lutut kirinya Sinon. Kaki avatarnya lenyap dan bar HPnya menurun drastis.

Namun, Sinon masih hidup. Dia terjun melewati lintasan tembakan Minigun dan menari di udara. Sinon berada tepat di atas posisi Behemoth yang mengagumkan.

Behemoth kemungkinan ingin menembak sampai pelurunya habis, jadi ia bergerak mundur, mencoba menembak Sinon di lintasan tembakannya. Tetapi dia tidak bisa meraihnya. Untuk Minigun yang digantung pada rel di punggungnya, tidak ada cara lain untuk menembak ke atas.

Sambil jatuh, Sinon menempatkan Hecate II dibahunya dan menatap langsung melalui scopenya.

Sword Art Online Vol 05 -109.jpeg

Pandangan Sinon dipenuhi oleh wajah kasar Behemoth. Di wajah itu, senyuman biasanya menghilang. Dia menunjukkan giginya, dengan terkejut dan lentera amarah terbakar di matanya.

Sinon nyaris tidak menyadari bahwa mulutnya bergerak sendiri.

Apa yang muncul di wajah Sinon adalah sebuah senyuman. Senyuman liar, kejam, berhati dingin.

Masih dalam keadaan jatuh, Sinon tidak dapat menstabilkan tembakan jarak jauhnya. Tetapi jarak tembakan ini terlalu dekat. Ketika moncong senjatanya berada di jarak sekitar satu meter dari kepala Behemoth, Lingkaran Peluru hijaunya mengecil dan menetap di tengahnya wajah pria tersebut.

"The End!"

Sambil berbisik, Sinon menarik pelatuknya.

Di dunia ini, tombak energi terbesar dari jari Dewi Dunia Neraka terbebas keluar dari peluru tersebut.

Peluru itu dengan langsung menusuk lubang besar yang menikam melalui wajah Behemoth dan bagian atas tubuhnya, menembus reruntuhan tanah.

Kemudian, setelah suara ledakan itu berlalu, tubuh silinder Behemoth yang besar hancur terbongkar dan lenyap.


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Wikipedia. Gambar.
  2. Kependekan Prancis dari 'Mini Mitrailleuse', sejenis senapan mesin mini, kemungkinan FN Minimi. Gambar.
  3. Gambar
  4. Wikipedia. Gambar.