Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 3 Prolog

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

Tiga titik cahaya berwarna hijau tua, tersusun bagaikan gugusan bintang.

Kirigaya Suguha menjulurkan jari tangan kanannya dan menyentuh lampu tersebut.

Indikator LED tersebut menunjukkan status operasi dari mesin VR tipe FullDive, «NERvGear». Pada bagian depan headgear, indikatornya menunjukkan sumber tenaga listrik, koneksi jaringan, dan koneksi otak. Disaat lampu indikator tenaga listrik berubah merah, otak si pengguna gear akan hancur.

Pemilik gear tersebut sedang berbaring di atas kasur gel besar yang terletak di tengah-tengah kamar berwarna putih di rumah sakit, berada dalam keadaan koma. Bukan, bukan koma. Jiwanya sekarang sedang bertarung siang dan malam dalam suatu dunia paralel——bertarung untuk kebebasannya bersama ribuan pemain lain yang juga terjebak.

"Kakak..."

Suguha memanggil kakaknya yang sedang tidur dengan tenang, Kazuto.

"Dua tahun sudah lewat.... Aku——sebentar lagi aku masuk SMA, lho.... Kalau kakak tidak kembali juga, lama-lama aku bakal melewati kakak..."

Suguha menurunkan jarinya dari LED, mengikuti garis pada pipi kakaknya. Selama koma panjang ini, otot Kazuto mulai mengecil, dan garis tubuhnya yang menipis itu memberi kesan feminim, meskipun sejak awal dia kurus dan langsing seperti wanita. Bahkan ibunya bergurau, memanggilnya, si «Putri Tidur».

Bukan hanya bagian mukanya saja yang menjadi kurus. Seluruh tubuhnya menjadi kurus dan lemah-dia terlihat sangat menyedihkan dibandingkan dengan Suguha, yang terus berlatih kendo sejak masih kecil-tubuh Kazuto jelas-jelas tidak cukup berat badan. Suguha pikir, kalau ini berlanjut terus, apakah dia akan terus menyusut sampai tidak ada yang tersisa...? Akhir-akhir ini seringkali pikiran menakutkan seperti itu muncul.

Tapi Suguha telah berjuang untuk tidak menangis selama berada di dalam kamar rumah sakit sejak setahun yang lalu. Pada saat itu, seorang anggota «SAO Incident Countermeasure Team» dari kementrian urusan internal dan komunikasi sudah mengabari mereka. Seorang pegawai pemerintah-dengan poni panjang yang menutupi kacamatanya yang ber-frame hitam, dan memakai pakaian yang dapat disebut terhormat-mengabari mereka dengan suara yang samar: Bahwa «level» kakaknya termasuk dalam persentase kecil yang berada di atas seluruh kelompok dalam permainan-bahwa dia terus bertarung di garis depan yang berbahaya dan satu dari sedikit pemain yang bertujuan menyelesaikan permainan.

Hal itu pun ditegaskan hari ini juga, kakaknya bertarung berdampingan dengan kematian. Oleh karena itu Suguha tidak akan menangis di sini. Disamping itu, dia berpikir memegang tangannya untuk mendukungnya.

"Berjuanglah.... Berjuanglah, Kakak".

Seperti biasa, tangan kanan Kazuto yang kurus digenggam oleh kedua tangannya-sambil berdoa dengan sungguh-sungguh dalam keheningan, tiba-tiba muncul suara di belakangnya.

"Ah, kamu datang, Suguha".

Dia menoleh dengan gugup.

"Oh, ibu..."

yang berdiri di sana adalah Ibunya, Midori. Pintu geser rumah sakit ini menggunakan penggerak motor, oleh karena itu suara membuka dan menutupnya sangatlah senyap; hal ini menyebabkan Suguha tidak menyadari kedatangan Ibunya.

Kemudian Midori dengan cekatan mengatur seikat bunga kosmos yang berada di tangan kanannya ke dalam vas disamping ranjang, duduk di kursi yang terletak di samping Suguha. Sepertinya dia baru kembali dari tempat kerjanya, dia memakai kemeja katun dengan celana jean ketat dan blus kulit di atasnya, memberinya penampilan kasar. Dengan makeup-nya yang tipis dan rambut yang hanya diikat dibelakang punggungnya, orang tidak dapat membayangkan dari penampilannya dia adalah wanita yang sudah berumur 40 tahun lebih. Walaupun pekerjaannya sebagai kepala editor dari sebuah majalah informasi komputer mungkin salah satu penyebabnya, orangnya sendiri tidak ada keinginan untuk bersikap sesuai dengan umurnya-jadi untuk Suguha, dapat dianggap bahwa ibunya lebih seperti kakak perempuan.

"Ibu datang pada waktunya. Bukankah koreksi bacaan belum selesai?"

Kata Suguha, dan Midori pun tertawa.

"Aku kabur secara paksa dan datang. Aku tidak selalu datang cukup sering, tapi paling tidak untuk hari ini."

"Benar.... Hari ini Kakak... Ulang tahun, bukan?"

keduanya diam untuk beberapa saat, mengamati Kazuto yang sedang tidur di ranjang dengan seksama. Gorden di ruangan tersebut berkibar pada saat angin berwarna matahari tenggelam memasuki kamar, menghembus sedikit aroma dari bunga kosmos ke udara.

"Kazuto su... Sudah berumur 16 tahun, ya..."

Midori menghela napas and bergumam.

"...Sampai sekarang, kejadian kemarin membuatku teringat akan sesuatu. Waktu itu pada saat Minetaka-san dan Aku sedang menonton film di ruang keluarga, dan Kazuto mendadak berkata dari belakang, 'Tolong beritahu aku tentang orang tuaku yang asli' ".

Suguha dengan diam menatap bibir menawan dengan lisptik tipis, yang mengingatkannya pada tawa ringan yang sarkastik dan merupakan sesuatu yang dia rindukan.

"Pada waktu itu, aku sangat terkejut. Kazuto baru saja berumur 10 tahun. Jauh sebelum Suguha memasuki SMP... Itu adalah sebuah rahasia yang sudah disimpan selama 7 tahun dan itu merupakan tujuan kami dengan membiarkan Kazuto menyadarinya sendiri catatan yang dihapus dari Juki Net."

Sewaktu Suguha mengetahui tentang hal tersebut pertama kali, awalnya dia terkejut, dan kemudian memberikan tawa pahit seperti ibunya.

"Itu benar-benar seperti Kakak, ya?"

"Kami tidak terlalu terkejut, dikarenakan kita berpura-pura tidak peduli dan terluka. Itu sepertinya merupakan strategi Kazuto, dan kemudian Minetaka-san entah bagaimana membendinya kemudian karena merasa tertipu.

"Ah, haha," keduanya tertawa, dan untuk beberapa saat mereka menatapi Kazuto yang sedang tertidur tanpa berkata apa-apa.

Sang kakak, Kirigaya Kazuto, yang selalu hidup bersama dengan Suguha sejak dia memiliki kesadaran akan sekelilingnya, ternyata, adalah sepupunya.

Kirigaya Minetaka dan Midori, anak dari suami dan istri itu adalah Suguha, sedangkan Kazuto adalah anak dari saudara perempuan Midori, ini berarti dia adalah anak dari bibinya Suguha. Bibinya dengan suaminya, tanpa pilihan, meninggalkan anak mereka satu-satunya, yang bahkan belum berumur 1 tahun, dan meninggal dalam kecelakaan. Keseriusan dari luka yang mereka dapatkan akhirnya mengakhiri hidup mereka, dan Midori berinisiatif untuk mengurus Kazuto.

Suguha diberitahu kenyataan tersebut oleh orang tuanya pada saat musim dingin 2 tahun yang lalu, pada waktu itu, Kazuto terjebak dalam virtual reality game, bernama Sword Art Online. Suguha yang sudah menerima kejutan besar dari kejadian tersebut, dalam kondisi sangat kebingungan; dia pergi kepada Midori, bertanya kenapa dia tidak diberitahu lebih awal dan kenapa dia baru diberitahu sekarang, dan melampiaskan kebingungannya kepada Midori.

Dua tahun sudah berlalu, dan hingga sekarang di dalam lubuk hatinya, perasaan diasingkan masih tersisa, karena hanya dia seorang diri yang tidak tahu apa-apa. Tetapi, selama masa itu akhirnya dia menyadari perasaan orang tuanya pada saat itu.

Rencana awal mereka, tentang memberitahu Suguha tentang kenyataan setelah dia memasuki SMA, telah dipercepat, dengan kata lain, dia diberitahu kebenaran tentang keluarganya sementara Kazuto masih hidup, yang merupakan keputusan pahit yang telah diambil oleh kedua orang tuanya. Dalam waktu sebulan dari kejadian SAO, terdapat jumlah kematian yang tidak masuk akal yang mencapai angka 2000. Dalam situasi tersebut, tidak dapat melakukan apa-apa kecuali membuat keputusan yang seharusnya terhadap kematian Kazuto yang pasti. Paling tidak setelah semuanya berakhir, mereka tidak akan menyesal kalau Suguha tidak mengetahuinya, yang pasti telah dipikirkan oleh kedua orang tuanya.

Suguha, yang masih memiliki emosi yang saling bertentangan, cukup sering mengunjungi kamar rumah sakit ini, di mana Kazuto dirawat, dan terus berpikir dengan sungguh-sungguh. Masalah bahwa kakaknya bukanlah saudara kandungnya, dan apa saja yang hilang.

Tidak lama kemudian, dia mencapai jawaban bahwa ini bukanlah apa-apa.

Bahwa tidak akan ada yang berubah. Tidak ada satu hal pun yang menyakitkan. Seperti sebelum dia mengetahui kebenarannya dan setelahnya, dia, seperti biasa, hanya perlu berdoa untuk keselamatan dan kembalinya Kazuto.

Yang akhirnya selama dua tahun tersebut, hanya setengah dari doa Suguha yang telah dikabulkan.

"...Hei, Ibu."

Sambil menatap raut muka kakaknya, Suguha mengeluarkan suara pelan.

"Ya?"

"...Kakak, sejak dia masih di SMP pada waktu itu, dia hanya selalu bermain permainan online, benar... Apakah ada hubungannya?"

Pertanyaan tersebut, yang menghilangkan beberapa kata, yang dengan dia bukan merupakan anak dari keluarga Kirigaya, menyebabkan Midori menggelengkan kepalanya dengan segera.

"Tidak, tidak ada hubungannya. Hal tersebut dikarenakan sewaktu anak ini berumur enam, dia merakit sendiri sebuah mesin dari barang rongsokan di ruanganku. Sepertinya, kemaniakan PC-ku terwariskan. Secara mental."

Tersenyum dengan lembut, Suguha menyikut tangan ibunya.

"Berbicara soal itu, sewaktu aku kecil, aku juga menyukai permainan, kau dapat mengetahuinya dari nenekmu."

"Itu benar; Aku sudah bermain permainan online sejak masih SD. Kazuto bagaimanapun tidak perlu dikhawatirkan."

Sekali lagi, keduanya tertawa sepenuh hati, Midori memfokuskan pandangan penuh kasih menuju ranjang.

"...tetapi, tidak peduli di permainan manapun, aku tidak pernah menjadi pemain top. Aku tidak mempunyai kesabaran dan keteguhan hati yang cukup. Semangat tersebut tidak sama denganku tetapi denganmu. Terus melanjutkan Kendo selama 8 tahun, kau memiliki semangat yang sama, yang dengan bagaimana Kazuto dapat bertahan selama ini. Pada akhirnya, dia mungkin mendadak kembali."

'Plop', Midori meletakkan tangannya pada kepala Suguha dan berdiri.

"Jadi, aku akan pergi dulu. Kau juga jangan pulang terlalu malam."

"Oke, aku mengerti."

Suguha mengangguk, dan Midori menatap Kazuto sekali lagi, dan berkata "Happy Birthday" dengan pelan. Setelah itu, dia melakukan beberapa kedipan singkat, berbalik badan dan dengan segera meninggalkan kamar rumah sakit tersebut.

Suguha menggenggam ujung dari rok seragamnnya dengan kedua tangan, mengambil nafas dalam-dalam, dan melihat kembali kepada indikator LED di penutup kepala yang menutupi kepala kakaknya.

Lampu-lampu hijau tersebut, yang menampilkan status koneksi online dan koneksi otak, secara berulang berkedip dengan cepat.

Sekarang ini, pada sisi lain di jaringan, terdapat server SAO dan kesadaran Kazuto, dan melalui Nerve Gear, sinyal yang tidak terhitung sedang saling bertukar.

Mengenai di mana kakaknya sekarang. Dia bisa saja sedang mengembara dengan peta di satu tangan dalam dungeon yang suram. Dia bisa saja sedang dalam penilaian dalam toko barang bekas. Atau mungkin, Menghadapi monster mengerikan, dia bisa saja dengan berani bertukar pedang dengan monster tersebut.

Dia dengan pelan menjulurkan tangannya, dan membungkusnya lagi di sekitar tangan kanannya yang putih.

Indera sentuhan Kazuto ditiadakan oleh NERvGear pada medulla oblongata, sebelum mencapai otak. Tetapi, melihat pada kulit yang disentuh oleh Suguha, dia percaya bahwa dukungannya pasti dapat mencapainya.

Hal ini dikarenakan Suguha dapat merasakannya sekali lagi. Pemuda ini, kakaknya, yang, untuk lebih tepatnya, adalah sepupunya, jiwannya memancarkan suhu yang kuat. Dia memiliki tujuan yang pasti dan pada akhirnya bertahan dan kembali ke dunia nyata.

Dibalik sisi gorden putih, cahaya emas yang berkedip dengan segera berganti menjadi merah terang dan kemudian berubah lagi menjadi ungu; walaupun ini adalah waktu di mana ruangan di rumah sakit terbungkus oleh cahaya redup, Suguha terus bertahan di sana. Tanpa bergerak, dia mendengarakan dengan penuh perhatian pada nafas kakaknya yang rendah.

Berita penting, tentang bangunnya Kazuto, dikabarkan dari rumah sakit. Itu adalah sebulan kemudian, tanggal 7 November 2024.